PENGEMBANGAN MODEL TRACKING DAN TRACING DALAM DISTRIBUSI KOMODITI PERTANIAN
|
|
|
- Erlin Sugiarto
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Jurnal Ilmiah Teknik Industri, Vol. 10, No. 1, Juni 2011 IN PENGEMBANGAN MODEL TRACKING DAN TRACING DALAM DITRIBUI KOMODITI PERTANIAN Pendahuluan Yandra Rahadian Perdana 1 Abstrak: Kegagalan distribusi komoditi pertanian dapat berdampak pada penurunan dan kehilangan nilai baik secara kualitas dan kuantitas karena suatu perubahan dimensi waktu-jarak atau suhu serta sarana pengangkutan dalam setiap mata rantai aktivitas distribusi. Model tracking dan tracing system dapat menjadi strategi untuk menjamin keberhasilan distribusi komoditi pertanian secara tepat baik kuantitas maupun kualitas. Model tracking dan tracing komoditi pertanian adalah sebuah sistem proaktif yang real time yang dilengkapi dengan komponen pendukung proses distribusi dengan data yang akurat, terpercaya, berguna, dan cepat dengan memberikan informasi posisi barang atau sarana moda transportasinya. Kata kunci: distribusi, komoditi pertanian, tracking dan tracing, real time Kemampuan untuk tracking dan tracing sangat penting bagi upaya mempertemukan pasokan dan permintaan suatu komoditi. chiefer dan Gerhard (2008), menyatakan dengan tersedianya tracking and tracing system yang handal, akan diperoleh manfaat atau keuntungan, antara lain: (a) prosedur identifikasi dan penyusuran serta penelusuran produk/komoditi dari tahap produksi, distribusi, dan instalasi; (b) ketersediaan informasi tentang bagian-bagian yang terdapat dalam sebuah produk/komoditi, seperti spesifikasi, status produk/komoditi, jumlah, dan lain-lain; (c) ketersediaan informasi tentang isi yang tepat tentang produk/komoditi tersebut; dan (d) membantu ke arah pencapaian process control. elain itu, fungsi tracking pada suatu komoditi akan membantu konsumen maupun produsen untuk mengetahui para pelaku bisnis dalam rantai pasok tersebut, termasuk di dalamnya bagaimana cara para pelaku dalam menangani produk/komoditi. Keberadaan tracking and tracing system pada akhirnya akan menjamin kepastian kuantitas dan kualitas suatu produk atau komoditi secara tepat (Boehlje et al, 1999). Dalam proses distribusi komoditi, kebutuhan tracking and tracing system perlu didenifisikan secara jelas. aat ini, dalam dunia perdagangan, dikenal dua model mekanisme tracking and tracing system, yaitu: (1) terpusat (centralized); dan (2) terdesentralisi (decentralized). Masing-masing mekanisme ini memiliki kelebihan dan kelemahan, dan sangat dipengaruhi oleh karakteristik rantai pasok (supply chain) jenis komoditi dan mekanisme perdagangannya (Jalbar et al, 2003). Untuk itu, desain tracking and tracing system yang akan diterapkan perlu dikonsepsikan di awal agar sistem berjalan efektif dalam mendukung kualitas komoditi pertanian. Kajian ini sangat penting artinya untuk mendukung formulasi kebijakan di sektor pertanian melalui penyelenggaraan tracking and tracing system. Keberadaan tracking and tracing system komoditi yang handal pada gilirannya diharapakan akan memberikan manfaat yang signifikan bagi para pelaku pertanian, yang terlibat dalam rantai pertanian. 1 Jurusan Teknik Industri, Universitas Islam Negeri unan Kalijaga. Jalan Adi ucipto no. 1, Yogyakarta, 55281, Indonesia [email protected] Naskah diterima: 12 April 2011, direvisi: 10 Mei 2011, disetujui: 30 Mei
2 Metodologi ecara konseptual, supply chain komoditi pertanian merupakan suatu sistem ekonomi yang mendistribusikan manfaat serta risiko di antara pelaku yang terlibat di dalamnya. Keterkaitan dari berbagai proses harus dapat menciptakan nilai tambah komoditi pertanian, sehingga setiap partisipan rantai untuk mengkoordinasikan aktivitasnya baik secara kuantitas, lokasi dan waktu yang tepat untuk memuaskan kebutuhan pelanggan (Wang, 2010). Pengelolaan supply chain akan bisa berjalan secara optimal apabila ada suatu sinergi antara seluruh komponen yang terlibat dalam setiap akitivitas dari hulu hingga hilir (Ketchen dan Hult, 2007). Dalam menyusun model tracking dan tracing seluruh faktor yang terlibat dalam proses bisnis komoditi pertanian harus digunakan sebagai acuan. Dengan kata lain, suatu model tracking dan tracing harus mampu menerjemahkan seluruh proses yang sederhana hingga yang sangat kompleks ke dalam keputusan-keputusan operasi seperti yang terilustrasi pada Gambar 1 (Taylor, 2004). Model upply Chain Petani Industri Distributor Retai Konsumen Business Process Pemahaman Prediksi Kontrol Real Word upply Chain DC P DC P DC1 DC Gambar 1. Modeling upply Chain Pengembangan konsep model sistem tracking and tracing melalui tahapan kegiatan berikut: a. melakukan identifikasi sumber komoditi pertanian, b. melakukan identifikasi komoditi pertanian yang didistribusikan dari tingkat petani ke terminal atau pasar, dengan fokus/obyek penelitian pada jenis komoditi yang memiliki potensi/bernilai ekspor, c. menghitung kehilangan (loss) selama proses distribusi dari lapangan ke penyimpanan sementara dan selanjutnya ke pasar, d. mencatat semua tahapan dan saluran distribusi yang dilalui oleh sayuran tersebut sampai ke end user, serta kondisi distribusi yang dilakukan untuk menjaga kualitas produk tersebut, e. menyusun model tracking and tracing produk pertanian (sayur-mayur). Berdasar tahapan di atas maka diharapkan akan diperoleh konsep model tracking and tracing yang sesuai dan dapat dikembangkan untuk mendukung proses distribusi komoditi pertanian dalam tujuannya menjaga kualitas produk hingga ke tujuan akhir. 2
3 Hasil dan Pembahasan Tracking and tracing system merupakan salah satu indikator penting kinerja logistik pada suatu negara atau yang disebut dengan Logistics Performance Index (LPI). LPI menunjukkan daya saing suatu bangsa ditinjau dari sektor logistik. alah satu parameter penilaian kinerja logistik yang dilakukan oleh World Bank adalah kemampuan dalam tracking and tracing. Kinerja LPI Indonesia ditinjau dari parameter tersebut menunjukkan kondisi yang semakin menurun. Pada 2007, kinerja tracking and tracing untuk Indonesia dinilai dengan score 3,30 dan pada tahun 2010 turun dengan score 2,77 (World bank, 2010). Kondisi tersebut mengindikasikan kinerja logistik nasional yang tidak semakin membaik, tetapi sebaliknya. Dalam konteks supply chain management, tracking and tracing system dapat menjadi strategi untuk menjamin keberhasilan distribusi produk/komoditi secara tepat baik kuantitas maupun kualitas (Widodo, 2003). Kegagalan sistem distribusi dapat berdampak pada penurunan bahkan kehilangan nilai sebuah produk/komoditi yang ditransport. Penurunan atau kehilangan nilai (kualitas dan kuantitas) sebuah produk/komoditi selama aktivitas distribusi dapat terjadi karena suatu perubahan dalam dimensi waktu-jarak atau suhu serta media/sarana pengangkutan dalam setiap mata rantai aktivitas distribusi (Bogataj et. al, 2004). ebagai contoh, tingkat kehilangan atau penyusutan produk buahbuahan akibat proses biologis, mirkobiologi, fisik-mekanis dan kimiawi diperkirakan 25% hingga 80%. Dalam kondisi semacam ini, nilai aktivitas dan nilai tambah pada rantai pasok (supply chain) produk/komoditi mengalami ketidakpastian, sehingga hal ini dapat mempengaruhi kualitas produk/komoditi tersebut. Akibatnya, reduksi kuantitas dan menurunnya kualitas suatu komoditi dalam jumlah besar tentu saja akan menimbulkan kerugian bagi produsen maupun konsumen (upartono et al, 2009). Penjagaan kualitas (quality assurance) pada produk atau komoditi yang memiliki sifat-sifat: bulky (volumenya besar), perishable (mudah rusak) dan seasonal (musiman) menjadi hal penting bagi produsen dalam rangka memberikan produk yang berkualitas kepada konsumen. Dengan demikian, upaya untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen akan kualitas produk atau komoditi menjadi hal penting bagi para produsen (Regattieri et al, 2007). Penurunan kualitas komoditi pertanian terkait dengan aktivitas distribusi produk komoditi pertanian hingga ke konsumen dikarenakan suatu perubahan dalam dimensi waktu-jarak atau suhu serta media/sarana pengangkutan dalam setiap mata rantai aktivitas distribusi. Nilai aktivitas sekarang dan nilai tambah pada supply chain produk pertanian seperti sayur-mayur mengalami ketidakpastian, sehingga hal ini semakin kuat dapat mempengaruhi kualitas produk. Dengan total loss yang begitu besar untuk produk sayurmayur berarti terjadi kesalahan atau ketidakseimbangan selama proses pemanenan dan pengiriman produk baik untuk jumlah dan waktu. Apabila kondisi ini terus berlangsung, maka akan menimbulkan kerugian bagi petani sebagai produsen dan masyarakat sebagai konsumen. Penerapan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam proses distribusi sudah banyak dikembangkan (Turban et al, 2004). Penggunaan TIK dalam proses distribusi di negara-negar Eropa, mayoritas (56%) untuk mendukung fungsi routing dan perencanaan, sedangkan fungsi layanan yang lain adalah untuk fungsi tracking (33%) armada pengangkut (termasuk barangnya/komoditi), dan fungsi telematik (13%). Penerapan tracing di Korea menunukkan adanya peningkatan sebesar 82,8%. Kebijakan yang ditempuh Korea dalam penerapan tracing system adalah dengan menetapkan kebijakan atau regulasi yang ketat untuk meminimalisir kesalahan data, penggunaan labeling, dan perlunya sertifikasi kepada para pelaku perdagangan. 3
4 istem tracking dan tracing suatu produk pangan pada prinsipnya berbasis pada 4 (empat) pilar utama, yaitu: (1) product identification; (2) data to trace; (3) product routing; dan (4) traceability tools (Regattieri et al, 2007). Product identification atau identifikasi produk merupakan langkah awal (fundamental) dalam penyusunan model tracking dan tracing. edangkan data to trace terkait dengan kebutuhan data sebagai dalam sistem pengelolaan data. Pilar ketiga adalah product routing, sistem ini akan melakukan proses pencatatan produk. istem harus mendukung catatan product life sepanjang rantai pasok. Pilar terakhir adalah traceability tools, yaitu perangkat pelacak informasi keberadaan produk selama proses distribusi. Perangkat yang dimaksud dapat beragam. Untuk saat ini, jenis perangkat yang paling mutakhir untuk mendukung sistem traceability adalah RFID. Tabel 1 merupakan kerangka model tracking dan tracing yang dikembangkan Regattieri et al (2007). Tabel 1. Kerangka Traceability Produk Identifikasi Produk Pelacakan Data Routing produk Perangkat Instrumen Pelacakan Produk Dimensi Jumlah iklus produksi Kompatibilitas produk Volume Tipe Kegiatan Kompatibilitas proses Berat Tingkat kerincian Lead time Jumlah data terbaca Kondisi permukaan Tingkat perubahan Peralatan Jumlah data tercatat Tingkat Kerentanan yarat Manual operasi Derajat otomatisasi penyimpanan data Pengemasan Tingkat Otomatisasi Keakurasian data kerahasiaan operasi Harga Cek dan pengingat istem pergerakan Kelayakan data Umur produk istem pengetahuan perusahaan penyimpanan truktur harga produk istem pembiayaan ebuah rantai supply chain pertanian terdiri dari aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh beberapa pelaku, maka pengelolaannya tidak mudah. Kompleksitas permasalahan yang terus meningkat harus diikuti pertimbangan yang tepat dalam pengelolaan aliran produk, finansial dan informasi dalam lingkungan keseluruhan supply chain. Entitas tracking and tracing produk pertanian akan melibatkan banyak pihak, antara lain (upartono et al, 2009): 1) upplier (petani). upplier berperan sebagai sumber penyedia bahan pangan, tinjauan kritisnya adalah supplier berada pada beberapa sentral produksi dan mengelompok menjadi beberapa kelompok besar dalam satu kesatuan manajemen. Dengan hal ini akan mempermudah dalam trasportasi untuk penyimpannya. 2) Penyimpanan (gudang). Bahan baku pangan dari petani akan disimpan pada beberapa gudang yang guna mengatur stabilitas dan ketersedian bahan pangan. Tinjauan kritisnya gudang penyimpanan memiliki teknologi yang cukup baik untuk menghindari kerusakan seperti jamur dan membusuknya bahan pangan. Lokasi gudang setidaknya berdekatan atau mudah dijangkau oleh perusahan pangan. 3) Industri pangan. Dengan kemudahan akses dan ketersedian bahan pangan maka diharapkan industri pangan dapat memaksimalkan produksinya dari aspek kualitas dan juga kuantitas dan dapat melakukan distribusi produk secara efektif. 4) Konsumen akhir. Konsumen memegang peranan penting dalam industri pangan, perilaku dan tingkat komsumsinya akan menetukan perkembangan industri pangan. Hal penting adalah memperlajari perilaku konsumen, menjamin ketersedian pangan dan menjaga hubung dengan konsumen dalam kepuasan penggunaan produk. 4
5 5) Transportasi. Optimasi cost supply dengan meminimalkan biaya transportasi dapat dilakukan dengan cara mengatur lokasi gudang dan industri, mengelompokan supplier dan merancang pola distribusi yang efektif ke konsumen. Kualitas transportasi harus diperhatikan untk menghindari kerusakan pangan. Karena kerusakan bahan pangan akan menurunkan harga dan kualitas pangan secara keseluruhan. kema tracking dan tracing dikembangkan dengan dasar sistem monitoring pada sebuah proses pergerakan/pengangkutan produk dari titik asal hingga titik akhir. Kompleksitas hubungan antar tujuan pergerakan sangat bergantung pada karakteristik jenis produknya, dalam jaringan distribusi (Hannus et al., 2003). Kompleksitas yang dihadapi dalam sistem ini (tracking dan tracing) mencakup permasalahan berikut: (a) negosiasi, mediasi, engagement dan investasi; (b) proses pengorganisasian yang menggambarkan hubungan antara persyaratan dalam proses tracking, tracing, kualitas, dan jaminan; dan (c) organisasi, pengelolaan dan pengoperasian terhadap pertukaran informasi, mencakup interface, jaringan data, basis data, kegiatan pengolahan data, dan utilisasi data dalam sebuah produk bisnis yang dikelola secara profesional. Kesimpulan Pada prinsipnya, model tracking dan tracing komoditi pertanian adalah sebuah sistem proaktif yang real time yang dilengkapi dengan komponen pendukung proses distribusi dengan data yang akurat, terpercaya, berguna, dan cepat dengan memberikan informasi posisi barang atau sarana moda transportasinya. Hal ini memungkinkan pelaku bisnis pertanian meningkatkan manajemen dan pengambilan keputusan berbasis waktu dan mendukung profil perencanaan bisnis. truktur model tracking dan tracing komoditi pertanian harus mampu mengakomodir dua keputusan penting, yaitu dari sisi produsen dan konsumen. Dari sisi produsen adalah bagaimana produk dapat tersedia dan tersebar (spread) sedangkan dari sisi konsumen adalah bagaimana konsumen bisa memperoleh produk dengan kuantitas, lokasi dan waktu yang tepat. Daftar Pustaka Boehlje, M.D., Hofing,.L., and chroeder, R.C., 1999, Value Chains in the Agricultural Industries, Ag Education and Consulting LLC, UA, Bogataj, M., Ludvik, B., and Robert, V., 2004, tability of Perishable Goods in Cold Logistic Chains, International Journal Production Economics, 93-94, Hannus, T., Poignée, O., and chiefer, G., 2003, The Implementation of a Web Based upply Chain Information ystem. Experiences with a Regional Quality Grain Program. In: Harnos, Herdon, Wiwczaroski (eds). Information technology for a better agri-food sector, environment and rural living. Proceedings EFITA2003, Debrecen-Budapest. Jalbar, A., Gutierrez, J., Puertob, and icilia, J., 2003, Policies for inventory/distribution systems:the Effect of Centralization vs. Decentralization, International Journal of Production Economics, : Ketchen, D.J., and Hult, G.T., 2007, Bridging Organization Theory And upply Chain Management: The Case Of Best Value upply Chains, Journal of Operations Management, 25: pp Regattieri A., Gamberi, M., and Manzini, R., 2007, Traceability Of Food Products: General Framework And Experimental Evidence, Journal of Food Engineering, 81 (2007): pp chiefer., G., 2008, Tracking and Tracing A Challenge for ystem Organization and IT, Journal of Information Technology in Agriculture, Vol. 3. No 1. upartono, W., oemardjito, J., dan Indarto, E., 2009, Pengembangan Model Tracking and Tracing dalam Proses Distribusi untuk Mendukung Kualitas Produk Pertanian, Riset Unggulan trategis Nasional. Pustral UGM. Yogyakarta. Taylor, D, A upply Chain : Manager Guides. Pearson Education. 5
6 Turban, 2004, Information Technology for Management, 4th edition, John Wiley & ons, Inc. Widodo, K.H., 2003, A Need of upply Chain Management Models for Agricultural Fresh Product as Perishable Item Based on Its Properties and Literature Review, Journal of Indonesian cientific Meeting, Osaka University, 12, World Bank, 2010, Connecting to Compete 2010, Trade Logistics in the Global Economy: The Logistics Performance Index and Its Indicators. Wang, Y, L International Fishery upply Chain Risk Management and Insurance. Management of Innovation and Technology (ICMIT), IEEE International Conference. ingapore. 6
MODEL TRACKING DAN TRACING PADA SISTEM TRACEABILITY RANTAI PASOK MINUMAN SARI APEL
MODEL TRACKING DAN TRACING PADA SISTEM TRACEABILITY RANTAI PASOK MINUMAN SARI APEL Dwi Iryaning Handayani Jurusan Teknik Industri Universitas Panca Marga Probolinggo Jalan Yos Sudarso 107 Pabean Dringu
BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Jumlah Tenaga Kerja Penduduk Indonesia (Badan Pusat Statistik, 2014)
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian di bidang pertanian. Seperti yang terdapat pada Gambar 1.1, dari 110.804.042
BAB I PENDAHULUAN I-1
BAB I PENDAHULUAN Bab ini menjelaskan mengenai latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan masalah, dan asumsi yang digunakan dalam penelitian ini. 1.1 Latar Belakang
PENGEMBANGAN MODEL TRACKING AND TRACING DALAM PROSES DISTRIBUSI UNTUK MENDUKUNG KUALITAS PRODUK PERTANIAN
PENGEMBANGAN MODEL TRACKING AND TRACING DALAM PROSES DISTRIBUSI UNTUK MENDUKUNG KUALITAS PRODUK PERTANIAN Wahyu Supartono a, Joewono Soemardjito b, dan Eka Indarto b a Jurusan Teknologi Industri Pertanian
OPTIMALISASI SISTEM PERSEDIAAN DAN DISTRIBUSI PADA PUSAT DISTRIBUSI MINIMARKET BERJARINGAN
OPTIMALISASI SISTEM PERSEDIAAN DAN DISTRIBUSI PADA PUSAT DISTRIBUSI MINIMARKET BERJARINGAN Jazuli Fakultas Teknik Universitas Dian Nuswantoro, Semarang Email:[email protected] ABSTRAK Pusat distribusi
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Di zaman yang global ini persaingan bisnis berjalan cukup ketat dan mengharuskan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Di zaman yang global ini persaingan bisnis berjalan cukup ketat dan mengharuskan manajemen untuk memberikan terobosan yang strategis untuk tetap dapat mengembangkan
PENENTUAN PENURUNAN HARGA PRODUK MAKANAN PERISHABLE DENGAN MEMPERTIMBANGKAN BIAYA PENYIMPANAN DI FASILITAS BERPENDINGIN
PENENTUAN PENURUNAN HARGA PRODUK MAKANAN PERISHABLE DENGAN MEMPERTIMBANGKAN BIAYA PENYIMPANAN DI FASILITAS BERPENDINGIN Yelita Anggiane Iskandar 1, *), Ahmad Rusdiansyah 2) dan Imam Baihaqi 3) 1) Teknik
MODEL ALAT BANTU PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS SPREADSHEET UNTUK ANALISIS RESIKO RANTAI PASOK BAHAN BAKU (Studi kasus PTEI)
MODEL ALAT BANTU PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS SPREADSHEET UNTUK ANALISIS RESIKO RANTAI PASOK BAHAN BAKU (Studi kasus PTEI) Sutrisna Hariyati, Ahmad Rusdiansyah Program Studi Magister Manajemen Teknologi
DASAR-DASAR FREIGHT TRANSPORTATION
DASAR-DASAR FREIGHT TRANSPORTATION 6-7 Oktober 2010 Latar Belakang Pengetahuan akan unsur transportasi, intermodalitas, strategi, prinsip penyelenggaraan dan kinerja transportasi, serta regulasi yang menjadi
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem Logistik Nasional memiliki peran strategis dalam menyelaraskan kemajuan antar sektor ekonomi dan antar wilayah demi terwujudnya sistem pertumbuhan ekonomi yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian The International Journal of Bussiness and Management
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Persaingan dalam dunia perindustrian di era globalisasi saat ini semakin ketat dengan kemajuan teknologi informasi. Kemajuan dalam teknologi informasi menjadikan
SUPPLY CHAIN MANAGEMENT ( SCM ) Prof. Made Pujawan
SUPPLY CHAIN MANAGEMENT ( SCM ) Prof. Made Pujawan Pendahuluan Pelaku industri mulai sadar bahwa untuk menyediakan produk yang murah, berkualitas dan cepat, perbaikan di internal perusahaan manufaktur
Rantai Pasokan Global (Global Supply Chains)
Rantai Pasokan Global (Global Supply Chains) McGraw-Hill/Irwin Copyright 2013 by The McGraw-Hill Companies, Inc. All rights reserved. Gambaran rantai pasokan global Kondisi Ekonomi global sebagai alasan
BAB I PENDAHULUAN. mempunyai nilai sangat strategis. Dari beberapa jenis daging, hanya konsumsi
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Daging merupakan salah satu bahan pangan yang sangat penting dalam mencukupi kebutuhan gizi masyarakat, serta merupakan komoditas ekonomi yang mempunyai nilai
: Yan Ardiansyah NIM : STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
KARYA ILMIAH E-BUSSINESS SUPPLY CHAIN MANAGEMENT disusun oleh : Nama : Yan Ardiansyah NIM : 08.11.2024 Kelas : S1TI-6C JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA JENJANG STRATA SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN
BAB I PENDAHULUAN. Supply chain (rantai pasok) merupakan suatu sistem yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Supply chain (rantai pasok) merupakan suatu sistem yang mengintegrasikan seluruh proses bisnis pada suatu produk mulai dari hulu hingga ke hilir dengan tujuan menyampaikan
BAB 1 PENDAHULUAN. kejadian yang saling bergantung dan mempengaruhi suatu sama lain itulah akan
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Ditengah bentuk koordinasi yang kompleks dan juga berbagai aktivitas dan kejadian yang saling bergantung dan mempengaruhi suatu sama lain itulah akan muncul
V. PENDEKATAN SISTEM 5.1. Analisis Kebutuhan Pengguna 1.) Petani
V. PENDEKATAN SISTEM Sistem merupakan kumpulan gugus atau elemen yang saling berinteraksi dan terorganisasi untuk mencapai suatu tujuan atau serangkaian tujuan. Pendekatan sistem merupakan metode pemecahan
STUDI KELAYAKAN BISNIS PENINGKATAN KAPASITAS MESIN PENUNJANG DENGAN KONSEP 7 WASTE LEAN THINKING STUDI KASUS PT. NSBI CILEGON
Journal Industrial Manufacturing Vol. 2, No. 2, Juli 2017, pp.92-96 P-ISSN: 2502-4582, E-ISSN: 2580-3794 STUDI KELAYAKAN BISNIS PENINGKATAN KAPASITAS MESIN PENUNJANG DENGAN KONSEP 7 WASTE LEAN THINKING
KEBIJAKAN PERGUDANGAN DI INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERDAGANGAN DALAM NEGERI KEMENTERIAN PERDAGANGAN
Disampaikan pada Policy Dialogue Series dengan Tema Pengembangan Subsektor Jasa Pergudangan Dalam Meningkatkan Daya Saing Sektor Jasa Logistik di Indonesia Jakarta, 22 September 2015 KEBIJAKAN PERGUDANGAN
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahan makanan alami atau yang tidak mengandung bahan pengawet buatan merupakan bahan yang diinginkan oleh konsumen. Selain alasan kesehatan, soal rasa pun bahan makanan
BAB I PENDAHULUAN. memenuhi kriteria kepuasan konsumen seperti ketepatan dalam pengiriman, cost yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sekarang ini terjadi perubahan paradigma mengenai kualitas. Suatu produk yang berkualitas tidak hanya merupakan produk dengan kinerja yang baik tetapi juga
1. PENDAHULUAN. Universitas Kristen Petra
1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Seiring dengan munculnya perusahaan-perusahaan baru dalam dunia bisnis global, persaingan di dunia industri semakin meningkat. Pelanggan mulai bisa membedakan
BAB II KERANGKA TEORETIS. pemasaran (yang sering disebut dengan istilah saluran distribusi). Saluran
BAB II KERANGKA TEORETIS 2.1. Teori Tentang Distribusi 2.1.1. Pengertian Distribusi Kebanyakan produsen bekerja sama dengan perantara pemasaran untuk menyalurkan produk-produk mereka ke pasar. Mereka membantu
BAB I PENDAHULUAN. pokok masyarakat, salah satunya adalah sayur-sayuran yang cukup banyak
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki tanaman pangan maupun hortikultura (buah dan sayuran) yang beraneka ragam. Iklim tropis menjadi kemudahan dalam menanam
Pembahasan Materi #11
1 EMA402 Manajemen Rantai Pasokan Pembahasan 2 Konsep, Pengelolaan, Kolaborasi SCM Sistem Informasi Terpadu Tahapan Evolusi Pengembangan Aspek Pengembangan 6623 - Taufiqur Rachman 1 Konsep SCM 3 SCM Memperlihatkan
Seminar Nasional IENACO 2016 ISSN: ANALISIS KETELUSURAN RANTAI PASOK HORTIKULTURA BERORIENTASI EKSPOR DENGAN METODE SCOR (STUDI KASUS)
ANALISIS KETELUSURAN RANTAI PASOK HORTIKULTURA BERORIENTASI EKSPOR DENGAN METODE SCOR (STUDI KASUS) Albertus S. I. Putra 1*, Yusuf Priandari 2, Yuniaristanto 3 1,2,3 Program Studi Teknik Industri, Fakultas
MANAJEMEN RANTAI PASOKAN. Suhada, ST, MBA
MANAJEMEN RANTAI PASOKAN Suhada, ST, MBA MATERI Supply Chain Supply Chain Management ERP MODULES (POSISI SCM, CRM) ERP Modules (Posisi SCM, CRM) SUPPLY CHAIN Sebuah rangkaian atau jaringan perusahaan-perusahaan
Supply Chain Management. Tita Talitha,MT
Supply Chain Management Tita Talitha,MT 1 Materi Introduction to Supply Chain management Strategi SCM dengan strategi Bisnis Logistics Network Configuration Strategi distribusi dan transportasi Inventory
BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi dalam suatu negara salah satunya ditandai dengan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi dalam suatu negara salah satunya ditandai dengan meratanya distribusi kebutuhan sandang, pangan dan papan melalui berbagai macam moda transportasi.
STUDI PENERAPAN MANAJEMEN RANTAI PASOK PENGADAAN MATERIAL PROYEK KONSTRUKSI
STUDI PENERAPAN MANAJEMEN RANTAI PASOK PENGADAAN MATERIAL PROYEK KONSTRUKSI Steven 1, Richard Ch Ali 2, Ratna Setiawardani Alifen 3 ABSTRAK : Pengadaan material dalam sebuah proyek konstruksi merupakan
BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan dunia bisnis yang cepat dan kompleks sebagai akibat dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan dunia bisnis yang cepat dan kompleks sebagai akibat dari gelombang globalisasi menuntut para pelaku usaha atau perusahaan untuk lebih responsif dalam menghadapi
Seminar Nasional IENACO 2015 ISSN
ANALISIS PERMINTAAN PRODUK DENGAN MENGGUNAKAN METODE BULLWHIP EFFECT DI INDUSTRI KECIL OBAT TRADISIONAL Studi Kasus : CV. Annuur Herbal Indonesia Yandra Rahadian Perdana Jurusan Teknik Industri, Fakultas
III. METODOLOGI PENELITIAN
A. KERANGKA PEMIKIRAN III. METODOLOGI PENELITIAN Produksi bunga krisan yang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun memberikan kontribusi yang positif kepada petani dalam peningkatan kesejahteraan mereka.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Mulai. Perumusan Masalah. Mengidentifikasi Entitas atau Anggota Rantai Pasok
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada bab ini berisi mengenai metodologi penelitian. Metodologi penelitian merupakan tahapan-tahapan yang dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan dalam penelitian. Berikut
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan menjelaskan pendahuluan dari penelitian yang diuraikan menjadi enam sub bab yaitu latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian
PENDAHULUAN. semakin berkembangnya zaman, maka semakin tinggi pula tingkat inovasi
I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini semakin berkembangnya jumlah permintaan produk pangan, semakin berkembangnya zaman, maka semakin tinggi pula tingkat inovasi perusahaan untuk memproduksi pangan
SAP PRODUCT LIFECYCLE MANAGEMENT
Karya Ilmiah E-Business SAP PRODUCT LIFECYCLE MANAGEMENT Manajemen Siklus Hidup Produk SAP Disusun oleh : Nama : Achmad Mustagfiri NIM : 09.11.2962 Kelas : 09-S1TI-06 SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA
BAB 1 PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Grafik Jumlah Penduduk DKI Jakarta Sumber : bappedajakarta.go.id
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penduduk di Indonesia khususnya di Ibukota Jakarta semakin bertambah Setiap harinya. Berdasarkan dari data yang ada, terhitung pada tahun 2013 jumlah penduduk di Jakarta
Risiko dan Keberlanjutan (Risk and Sustainability)
Risiko dan Keberlanjutan (Risk and Sustainability) McGraw-Hill/Irwin Copyright 2013 by The McGraw-Hill Companies, Inc. All rights reserved. Gambaran tentang risiko rantai pasokan dan Perkembangan tanggung
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kopi organik telah menjadi salah satu komoditi ekspor unggulan di Aceh Tengah karena merupakan salah satu jenis kopi arabika dengan nilai harga jual tertinggi di dunia
Muhammad Bagir, S.E.,M.T.I. Pengelolaan Rantai Pasokan
Muhammad Bagir, S.E.,M.T.I Pengelolaan Rantai Pasokan 1 Rantai Pasok(Supply Chain) Suatu konsep atau mekanisme untuk meningkatkan produktivitas total perusahaan dalam rantai suplai melalui optimalisasi
SISTEM INFORMASI MANUFAKTUR DALAM KERANGKA KERJA SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
JURNAL TEKNIK INDUSTRI VOL. 3, NO. 2, DESEMBER 2001: 80-86 SISTEM INFORMASI MANUFAKTUR DALAM KERANGKA KERJA SISTEM INFORMASI MANAJEMEN Bernardo Nugroho Yahya Dosen Fakultas Teknologi Industri, Jurusan
PERANCANGAN STRATEGI MITIGASI RESIKO SUPPLY CHAIN DI PT ATLAS COPCO NUSANTARA DENGAN METODA HOUSE OF RISK
PERANCANGAN STRATEGI MITIGASI RESIKO SUPPLY CHAIN DI PT ATLAS COPCO NUSANTARA DENGAN METODA HOUSE OF RISK Retno Utari 1) dan Imam Baihaqi 2) 1) Program Studi Magiter Manajemen Teknologi Manajemen Proyek
KONSEP SI LANJUT. WAHYU PRATAMA, S.Kom., MMSI.
KONSEP SI LANJUT WAHYU PRATAMA, S.Kom., MMSI. PERTEMUAN 3 KSI LANJUT Supply Chain Management (SCM) Pemahaman dan Fungsi Dasar SCM. Karakter Sistem. Arsitektur Pengembangan dan Tantangan SCM. Peran Internet
KONSEP SI LANJUT. WAHYU PRATAMA, S.Kom., MMSI.
KONSEP SI LANJUT WAHYU PRATAMA, S.Kom., MMSI. PERTEMUAN 3 KSI LANJUT Supply Chain Management (SCM) Pemahaman dan Fungsi Dasar SCM. Karakter Sistem SCM. Arsitektur Pengembangan dan Tantangan SCM. Peran
RANGKUMAN SIM Ch. 9 MENCAPAI KEUNGGULAN OPERASIONAL DAN KEINTIMAN PELANGGAN MELALUI APLIKASI PERUSAHAAN
RANGKUMAN SIM Ch. 9 MENCAPAI KEUNGGULAN OPERASIONAL DAN KEINTIMAN PELANGGAN MELALUI APLIKASI PERUSAHAAN (Achieving Operational Excellence and Customer Intimacy: Enterprise Applications) Rangkuman ini akan
Bab 9 KONSEP e SUPPLY CHAIN DALAM SISTEM INFORMASI KORPORAT TERPADU
Bab 9 KONSEP e SUPPLY CHAIN DALAM SISTEM INFORMASI KORPORAT TERPADU Sistem Informasi Korporat Terpadu Konsep manajemen supply chain memperlihatkan adanya proses ketergantungan antara berbagai perusahaan
BAB I PENDAHULUAN. maju dalam produk susu, hal ini terlihat akan pemenuhan susu dalam negeri yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peternakan sapi perah nasional menghadapi tantangan dari negara-negara maju dalam produk susu, hal ini terlihat akan pemenuhan susu dalam negeri yang saat ini masih
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Pada masa sekarang ini industri manufaktur telah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada masa sekarang ini industri manufaktur telah berkembang sangat pesat. Persaingan dalam dunia industri menjadi sangat ketat. Untuk menyikapi fenomena tersebut perusahaan
Julian Adam Ridjal PS Agribisnis UNEJ.
Julian Adam Ridjal PS Agribisnis UNEJ http://adamjulian.web.unej.ac.id/ A. Supply Chain Proses distribusi produk Tujuan untuk menciptakan produk yang tepat harga, tepat kuantitas, tepat kualitas, tepat
TUGAS E-BISNIS ANALISIS SUPPLY CHAIN MANAGEMENT
TUGAS E-BISNIS ANALISIS SUPPLY CHAIN MANAGEMENT disusun oleh : NANANG PURNOMO 11.21.0616 S1 TI-TRANSFER JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER AMIKOM YOGYAKARTA 2012
BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangannya di perusahaan manufaktur, selain
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan perkembangannya di perusahaan manufaktur, selain bersaing dalam dunia pasar yang semakin memunculkan teknologi informasi yang canggih, perusahaan juga
Laudon, K. C., & Laudon, J. P. (2010). Management Information Systems : Managing the Digital Firm, 11th Edition. New Jersey: Prentice Hall.
REFERENSI Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian. (2013). Panduan Pengelolaan Cadangan Pangan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota. Jakarta: Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian. Badan
BAB I PENDAHULUAN. majunya gizi pangan, masyarakat semakin sadar akan pentingnya sayuran sebagai
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sayuran dibutuhkan oleh semua lapisan masyarakat. Dengan semakin majunya gizi pangan, masyarakat semakin sadar akan pentingnya sayuran sebagai asupan gizi. Oleh karena
MANAJEMEN TRANPORTASI DAN DISTRIBUSI
MANAJEMEN TRANPRTASI DAN DISTRIBUSI PENDAHULUAN Kemampuan untuk mengirimkan produk ke pelanggan secara tepat waktu, dalam jumlah yang sesuai dan dalam kondisi yang baik sangat menentukan apakah produk
Rancang Bangun Aplikasi Sistem Informasi Manajemen Rantai Pasok Distribusi Daging Sapi Nasional
A817 Rancang Bangun Aplikasi Sistem Informasi Manajemen Rantai Pasok Distribusi Daging Sapi Nasional Lidra Trifidya, Sarwosri, dan Erma Suryani Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi,
BAB II LANDASAN TEORI. tujuan yang sama. Menurutnya juga, Sistem Informasi adalah serangkaian
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Informasi Menurut Hall (2009), Sistem adalah kelompok dari dua atau lebih komponen atau subsistem yang saling berhubungan yang saling berfungsi dengan tujuan yang sama.
STRATEGI PEMERINTAH DALAM PENGEMBANGAN TRANSPORTASI MULTIMODA. Sekretaris Badan Litbang Perhubungan KEMENTERIAN PERHUBUNGAN Jakarta, Februari 2013
STRATEGI PEMERINTAH DALAM PENGEMBANGAN TRANSPORTASI MULTIMODA Sekretaris Badan Litbang Perhubungan KEMENTERIAN PERHUBUNGAN Jakarta, Februari 2013 TRANSPORTASI MULTIMODA Menurut United Nations Conference
MANAJEMEN OPERASIONAL. BAB VI Supply Chain
MANAJEMEN OPERASIONAL BAB VI Supply Chain Pengertian Supply Chain Supply chain adalah jaringan perusahaan yang bekerja sama untuk menciptakan dan mengantarkan suatu produk ke tangan pemakai akhir. Perusahaan-
DESIGN FRAMEWORK QUALITY RISK MANAGEMENT FOR SUPPLY CHAIN AT PT COCA-COLA AMATIL INDONESIA, SURABAYA PLANT
DESIGN FRAMEWORK QUALITY RISK MANAGEMENT FOR SUPPLY CHAIN AT PT COCA-COLA AMATIL INDONESIA, SURABAYA PLANT Anantamurti. Hapsari 1), I Nyoman Pujawan 2) dan Putu Dana Karningsih 2) Fakultas Teknik Industri,Institut
RANCANG BANGUN SISTEM PENELUSURAN DAGING SAPI DI PT.X
1 RANCANG BANGUN SISTEM PENELUSURAN DAGING SAPI DI PT.X Harwiyani, Anissa dan Vanany, Iwan Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Kampus ITS Sukolilo,
BAB I PENDAHULUAN. logistik sudah digunakan untuk mengatasi berbagai jenis kebutuhan manusia dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Logistik bukanlah hal yang baru di dunia industri. Sepanjang sejarah logistik sudah digunakan untuk mengatasi berbagai jenis kebutuhan manusia dan mengirimkannya ke
BAB I PENDAHULUAN. mutu lebih baik, dan lebih cepat untuk memperolehnya (cheaper, better and
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dalam era globalisasi ini, distribusi dan logistik telah memainkan peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan perdagangan dunia. Terlebih lagi persaingan
BAB 1 PENDAHULUAN. Internet telah mengalami perkembangan yang luar biasa di berbagai penjuru
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Internet telah mengalami perkembangan yang luar biasa di berbagai penjuru dunia. Pengguna internet telah berlipat ganda dari hari ke hari seperti lompatan kuantum dalam
SUPPLY CHAIN MANAGEMENT
SUPPLY CHAIN MANAGEMENT Disusun Oleh: Puput Resno Aji Nugroho (09.11.2819) 09-S1TI-04 PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER (STMIK) AMIKOM YOGYAKARTA Jalan
Disain Jejaring (Network Design)
Disain Jejaring (Network Design) McGraw-Hill/Irwin Copyright 2013 by The McGraw-Hill Companies, Inc. All rights reserved. Gambaran Disain Jejaring Jejaring Fasilitas Perusahaan Kebutuhan pergudangan Analisis
Manajemen Tranportasi dan Distribusi. Dosen : Moch Mizanul Achlaq
Manajemen Tranportasi dan Distribusi Dosen : Moch Mizanul Achlaq Pendahuluan Kemampuan untuk mengirimkan produk ke pelanggan secara tepat waktu, dalam jumlah yang sesuai dan dalam kondisi yang baik sangat
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. output. Manajemen operasi dapat di terapkan pada perusahan manufaktur maupun jasa.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tiga tahapan utama dalam manajemen operasi adalah pengaturan input, proses dan output. Manajemen operasi dapat di terapkan pada perusahan manufaktur maupun jasa.
Pengembangan Model Vendor Managed Inventory dengan Mempertimbangkan Ketidakpastian Leadtime yang Memaksimasi Service Level Jonathan Rezky, Carles Sitompul Jurusan Teknik Industri, Universitas Katolik Parahyangan
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Setiap perusahaan, baik itu perusahaan jasa ataupun perusahaan manufaktur, selalu memerlukan persediaan. Tanpa adanya persediaan, pengusaha akan dihadapkan pada resiko
BAB I PENDAHULUAN. turut meningkatkan angka permintaan produk peternakan. Daging merupakan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesejahteraan yang meningkat pada masyarakat Indonesia diikuti peningkatan kesadaran akan pemenuhan gizi khususnya protein hewani juga turut meningkatkan angka permintaan
PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM MENDUKUNG PERUBAHAN PROSES BISNIS DI PERUSAHAAN MANUFAKTUR (Studi Kasus : Perusahaan Benang Polyester X )
Media Informatika Vol.13 No.2 (2014) PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM MENDUKUNG PERUBAHAN PROSES BISNIS DI PERUSAHAAN MANUFAKTUR (Studi Kasus : Perusahaan Benang Polyester X ) Hartanto Sekolah Tinggi
SUPPLY CHAIN MANAGEMENT
LAPORAN E-BISNIS SUPPLY CHAIN MANAGEMENT disusun oleh : PHAZA HENDRA KUMARA (08.11.2243) S1 TI 6F JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA JENJANG STRATA SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER STMIK AMIKOM
BAB V ANALISIS Analisis SCOR (Supply Chain Operation Reference)
BAB V ANALISIS Bab ini berisi tentang analisis yang dilakukan pada pengolahan data yang telah diolah. Pada bab ini berisi mengenai analisis SCOR (Supply Chain Operation Reference) dan analisis desain traceability.
BAB I PENDAHULUAN. ini, pemenuhan pelayanan berkualitas bagi perusahaan kemudian tidak jarang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seiring dengan kemajuan kondisi perekonomian, maka dunia industri semakin mendapat tuntutan yang tinggi dari masyarakat. Tuntutan yang dimaksud salah satunya
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ketersediaan barang baik bahan baku, bahan setengah jadi, maupun produk akhir dari suatu perusahaan seringkali menjadi isu penting dalam sebuah perusahaan. Ketersediaan
BAB I PENDAHULUAN. diera informasi ini, perilaku konsumen akan semakin diperhatikan. Hal ini
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin berkembang diera informasi ini, perilaku konsumen akan semakin diperhatikan. Hal ini disebabkan karena
I. PENDAHULUAN. Persentase Produk Domestik Bruto Pertanian (%) * 2009** Lapangan Usaha
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sumber pertumbuhan ekonomi yang sangat potensial dalam pembangunan sektor pertanian adalah hortikultura. Seperti yang tersaji pada Tabel 1, dimana hortikultura yang termasuk
BAB I PENDAHULUAN. Dalam bisnis global dimana ketidakpastian akan berbagai risiko sangat tinggi,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam bisnis global dimana ketidakpastian akan berbagai risiko sangat tinggi, maka setiap perusahaan harus sadar akan kebutuhan untuk perencanaan darurat (contingency
Deskripsi Mata Kuliah
Materi #1 EMA402 Manajemen Rantai Pasokan Deskripsi Mata Kuliah 2 Manajemen Rantai Pasokan (Supply Chain Management/SCM) merupakan mata kuliah yang akan membahas pengelolaan kegiatan-kegiatan dalam rangka
PENILAIAN PERSEPSI RISIKO MANAJEMEN RANTAI PASOK PADA PROYEK KONSTRUKSI GEDUNG DI SURABAYA. Disampaikan Oleh: Hendro Sutowijoyo (
PENILAIAN PERSEPSI RISIKO MANAJEMEN RANTAI PASOK PADA PROYEK KONSTRUKSI GEDUNG DI SURABAYA Disampaikan Oleh: Hendro Sutowijoyo (3107.203.002) 1. Pendahuluan Latar Belakang Perumusan Masalah Batasan Masalah
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia mulai menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada awal. ekonomi kawasan ASEAN yang tercermin dalam 4 (empat) hal:
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Indonesia mulai menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada awal tahun 2016, yang merupakan sebuah integrasi ekonomi yang didasarkan pada kepentingan bersama
BAB I PENDAHULUAN. setiap perusahaan adalah memperoleh keuntungan maksimum. memberikan pelayanan yang baik serta kepuasan kepada pelanggan.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Munculnya era globalisasi menyebabkan terjadinya perkembangan di berbagai bidang, salah satunya pada bidang ekonomi. Seiring dengan perkembangan bidang ekonomi di Indonesia
II. TINJAUAN PUSTAKA. Pengertian Supply Chain Management menurut para ahli, antara lain :
6 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Supply Chain Management Pengertian Supply Chain Management menurut para ahli, antara lain : 1. Levi, et.al (2000) mendefinisikan Supply Chain Management (Manajemen Rantai
Merancang Jaringan Supply Chain
Merancang Jaringan Supply Chain Pendahuluan Perancangan jaringan supply chain juga merupakan satu kegiatan penting yang harus dilakukan pada supply chain management. Implementasi strategi supply chain
MRP Pertemuan 6 BAB 6 IMPLIKASI STRATEGI MANAJEMEN RANTAI PASOKAN
BAB 6 IMPLIKASI STRATEGI MANAJEMEN RANTAI PASOKAN Implikasi Secara Umum 1. Pengembangan manajemen logistik Manajemen Rantai Pasokan pada hakikatnya pengembangan lebih lanjut dari manajemen logistik, yaitu
ANALISIS PERBANDINGAN PAIRWISE REVENUE SHARING CONTRACT DENGAN SPANNING REVENUE SHARING CONTRACT PADA MULTI ECHELON SUPPLY CHAIN
ANALISIS PERBANDINGAN PAIRWISE REVENUE SHARING CONTRACT DENGAN SPANNING REVENUE SHARING CONTRACT PADA MULTI ECHELON SUPPLY CHAIN Rescha Dwi A. Putri 1, *), Ahmad Rusdiansyah 2) dan Naning A. Wessiani 3)
Manajemen Transportasi dan Distribusi. Diadopsi dari Pujawan N
Manajemen Transportasi dan Distribusi Diadopsi dari Pujawan N Pendahuluan Kemampuan untuk mengirimkan produk ke pelanggan secara tepat waktu, dalam jumlah yang sesuai dan dalam kondisi yang baik sangat
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Lingkungan bisnis yang kompetitif dan turbulen mengakibatkan persaingan bisnis yang begitu ketat. Persaingan bisnis yang semakin ketat menuntut perusahaan
BAB I PENDAHULUAN. sistem distribusi barang. Pada dasarnya sistem distribusi dimulai dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu faktor penting dalam dunia industri modern saat ini adalah sistem distribusi barang. Pada dasarnya sistem distribusi dimulai dari pengiriman barang dari
Hakikat Rantai Pasokan
1 EMA402 Manajemen Rantai Pasokan Hakikat Rantai Pasokan 2 Jaringan organisasi yang menyangkut hubungan ke hulu (upstreams) dan ke hilir (downstreams), dalam proses dan kegiatan yang berbeda yang menghasilkan
BAB 1 PENDAHULUAN. meningkatkan performa mereka. Salah satu dari banyak manfaat yang bisa
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Teknologi informasi dan komunikasi yang semakin maju dan berkembang saat ini memberikan banyak pilihan dan kemudahan bagi dunia bisnis dalam meningkatkan performa
Pembahasan Materi #5
1 EMA402 Manajemen Rantai Pasokan Pembahasan 2 Latar Belakang Kunci Sukses SCM Manajemen Logistik Fungsi dan Kegunaan Pengendalian Logistik Konvensional dan Logistik Mengelola Jaringan SC Strategi Proses
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada kurun waktu terakhir, persaingan dalam bidang ekonomi semakin kuat. Dipengaruhi dengan adanya perdagangan bebas, tingkat kompetisi menjadi semakin ketat. Hal
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Dari tiga belas faktor yang diteliti ada dua belas (panah biru) faktor saling
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN V.1. KESIMPULAN Dari tiga belas faktor yang diteliti ada dua belas (panah biru) faktor saling terkait mendukung perlunya integrasi ke hulu agar perusahaan mendapatkan pasokan
5 KINERJA, SUMBER RISIKO, DAN NILAI TAMBAH RANTAI PASOK BUAH MANGGIS DI KABUPATEN BOGOR
5 KINERJA, SUMBER RISIKO, DAN NILAI TAMBAH RANTAI PASOK BUAH MANGGIS DI KABUPATEN BOGOR 5.1 Kinerja Rantai Pasok Kinerja rantai pasok merupakan ukuran kinerja secara keseluruhan rantai pasok tersebut (Chopra
