SISTEM PENGOLAHAN ISYARAT

dokumen-dokumen yang mirip
SISTEM PENGOLAHAN ISYARAT

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 7 Transformasi Fourier. Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

SISTEM PENGOLAHAN ISYARAT

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 8 Transformasi Fourier. Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

SOAL UAS PENGOLAHAN SINYAL DIGITAL WADARMAN JAYA TELAUMBANUA

BAB III METODE PENELITIAN DAN PERANCANGAN SISTEM. penelitian laboratorium. Studi kepustakaan dilakukan untuk mencari teori atau

KULIAH 9 FILTER DIGITAL

MATERI PENGOLAHAN SINYAL :

Analisa Suara Jantung Normal Menggunakan Discrete Wavelet Transform (DWT) dan Fast Fourier Transform (FFT)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. terjadi karena bergetarnya suatu benda, yang menyebabkan udara di sekelilingnya

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 5 Edge Sharpening. Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 4 Neighborhood Processing. Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

KOMPRESI CITRA MEDIS MENGGUNAKAN METODE WAVELET

BAB II PENCUPLIKAN DAN KUANTISASI

1. Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 2 LANDASAN TEORI. program pengurangan noise pada citra digital. Teori-teori ini mencakup penjelasan

PERBAIKAN KUALITAS CITRA BERWARNA DENGAN METODE DISCRETE WAVELET TRANSFORM (DWT)

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 5 Neighboorhood Processing. Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 8 Filtering in Frequency Domain. Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

PENERAPAN DISCRETE DAUBECHIS WAVELET TRANSFORM D A L A M W A T E R M A R K I N G C I T R A D I G I T A L

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM

BAB VI FILTER DIGITAL

BAB III METODE PENELITIAN DAN PERANCANGAN SISTEM

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. waktu adalah suatu deret observasi yang berurut dalam waktu. Analisis data

BAB III METODE PENELITIAN DAN PERANCANGAN SISTEM

MODUL 5 FILTER FIR DAN WINDOW

BAB II LANDASAN TEORI

PERBANDINGAN MOTHER WAVELET PADA PROSES DENOISING PADA SIMULASI PENGOLAHAN SINYAL RADAR

SATUAN ACARA PERKULIAHAN EK.353 PENGOLAHAN SINYAL DIGITAL

MODUL 4 PEMFILTERAN PADA SINYAL WICARA

PENINGKATAN MUTU CITRA (IMAGE ENHANCEMENT) PADA DOMAIN FREKUENSI. by Emy 2

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 9 Filtering in Frequency Domain. Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

BAB VI FILTER DIGITAL

KOMPRESI IMAGE DALAM SOURCE CODING MENGGUNAKAN METODE TRANSFORMASI WAVELET

Jaringan Syaraf Tiruan pada Robot

LAPORAN PRAKTIKUM DSP

BAB III WAVELET. yang memenuhi

SINYAL DISKRIT. DUM 1 September 2014

MODUL 4 ANALOG DAN DIGITAL FILTER

BAB III PROTEKSI TRANSFORMATOR DAYA MENGGUNAKAN TRANSFORMASI WAVELET. 1980, dalam bahasa Prancis ondelette, yang berarti gelombang kecil.

BAB III METODE PENELITIAN DAN PERANCANGAN SISTEM

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 2 LANDASAN TEORI. mencakup teori speaker recognition dan program Matlab. dari masalah pattern recognition, yang pada umumnya berguna untuk

BAB III METODE PENELITIAN DAN PERANCANGAN SISTEM. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah denoising

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Oleh : Page 1

SIMULASI HASIL PERANCANGAN LPF (LOW PASS FILTER) DIGITAL MENGGUNAKAN PROTOTIP FILTER ANALOG BUTTERWORTH

SINYAL DISKRIT. DUM 1 September 2014

Kuliah 8 KONVOLUSI DAN KORELASI

Deret Fourier untuk Sinyal Periodik

BAB I PENDAHULUAN. PSD Bab I Pendahuluan 1

Kata kunci: Fourier, Wavelet, Citra

BAB III PERANCANGAN SISTEM PENYAMA

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 13 Kompresi Citra. Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

HAND OUT EK. 353 PENGOLAHAN SINYAL DIGITAL

DETEKSI KERUSAKAN ROTOR BAR MOTOR INDUKSI MENGGUNAKAN ANALISIS ARUS OUTPUT INVERTER BERBASIS WAVELET

SIMULASI REDUKSI DERAU SINYAL SUARA PADA GEDUNG KEBUN RAYA PURWODADI PASURUAN DENGAN METODE DWT

Watermarking Video Menggunakan Transformasi Wavelet Diskrit

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM

STMIK AMIKOM PURWOKERTO PENGOLAHAN CITRA DIGITAL. Transformasi Citra ABDUL AZIS, M.KOM

Sistem Transmisi Telekomunikasi Kuliah 2 Penjamakan Digital

PERANCANGAN DAN SIMULASI LOW PASS FINITE IMPULSE RESPONSE DENGAN METODE WINDOWING

BAB II DASAR TEORI. Dalam bab ini penulis akan menjelaskan teori teori yang diperlukan untuk

Hubungan 1/1 filter oktaf. =Frekuesi aliran rendah (s/d -3dB), Hz =Frekuesi aliran tinggi (s/d -3dB), Hz

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM. yang akan menjalankan perintah-perintah yang dikenali. Sistem ini dibuat untuk

BAB 4 MODEL RUANG KEADAAN (STATE SPACE)

MODUL. Nyquist dan Efek Aliasing, dan Transformasi Fourier Diskrit

BAB II LANDASAN TEORI. terdiri dari bagian atas yang disebut serambi (atrium) dan bagian bawah yang

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 2 Point Processing. Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

ANALISA PERBANDINGAN KOMPRESI 2 GAMBAR TIFF DAN BMP MENGGUNAKAN METODE TRANSFORMASI WAVELET. Oleh: FIRU AL FARIZI

BAB II KOMPRESI DATA PENGINDERAAN JAUH

Penyusun Tugas Akhir Alvian Adi Pratama [ ] Dosen Pembimbing Diana Purwitasari, S.Kom, M.Sc. Dr. Eng. Nanik Suciati, S.Kom., M.Kom.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tuning merupakan proses menentukan frekuensi standar dan

MODUL 6 ANALISA SINYAL DALAM DOMAIN FREKUENSI

COMPARISON OF ONE DIMENSIONAL DCT AND LWT SPARSE REPRESENTATION

BAB II. TEORI DASAR. f(x1,y1) x Gambar 2.1. Citra Digital

Gambar 2.1 Perangkat UniTrain-I dan MCLS-modular yang digunakan dalam Digital Signal Processing (Lucas-Nulle, 2012)

PENGOLAHAN SINYAL DAN SISTEM DISKRIT. Pengolahan Sinyal Analog adalah Pemrosesan Sinyal. bentuk m dan manipulasi dari sisi sinyal dan informasi.

IMAGE ENHANCEMENT MENGGGUNAKAN METODE LINEAR FILTERING DAN STATIONARY WAVELET TRANSFORM

ANALISIS PERFORMANSI FILTER DIGITAL IIR DARI PROTOTYPE BUTTERWORTH DAN CHEBYSHEV 1

IMPLEMENTASI TEMU KEMBALI CITRA TEKSTUR MENGGUNAKAN ROTATED WAVELET FILTER

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Design FIR Filter. Oleh: Tri Budi Santoso Group Sinyal, EEPIS-ITS

PERANCANGAN AUDIO WATERMARKING BERBASIS DISCRETE WAVELETE TRANSFORM DAN MODIFIED DISCRETE COSINE TRANSFORM DENGAN OPTIMASI ALGORITMA GENETIKA

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 3 Pengolahan Titik (Point Processing) Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

DERET FOURIER DAN APLIKASINYA DALAM FISIKA

TKE 3105 ISYARAT DAN SISTEM. Kuliah 5 Sistem LTI. Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

SATUAN ACARA PERKULIAHAN UNIVERSITAS GUNADARMA

SISTEM PENGOLAHAN ISYARAT. Kuliah 1 Sinyal Deterministik

Gambar IV-1. Perbandingan Nilai Korelasi Antar Induk Wavelet Pada Daerah Homogen Untuk Level Dekomposisi Pertama

MKB Teknik Pengolahan Citra Operasi Ketetanggaan Piksel pada Domain Frekuensi. Genap 2016/2017

MATEMATIKA DI BALIK CITRA DIGITAL

SATUAN ACARA PERKULIAHAN UNIVERSITAS GUNADARMA

Transkripsi:

TKE 2403 SISTEM PENGOLAHAN ISYARAT Kuliah 9 Analisis Wavelet : Alihragam Wavelet Diskret Indah Susilawati, S.T., M.Eng. Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Mercu Buana Yogyakarta 2009 1

KULIAH 9 SISTEM PENGOLAHAN ISYARAT Analisis Wavelet : Alihragam Wavelet Diskret Alihragam wavelet kontinyu (CWT) bersifat sangat redundan; terlalu banyak koefisien yang dibangkitkan melebihi yang dibutuhkan untuk secara unik menspesifikasikan suatu sinyal tertentu. Redundansi semacam ini tidak terlalu menjadi masalah dalam aplikasi yang telah dibahas pada pertemuan yang lalu (contoh 1 dan 2), namun akan menjadi sangat mahal jika digunakan untuk merekontruksi kembali sinyal aslinya. Untuk merekontruksi sinyal asli maka semua koefisien yang ada harus digunakan dan dengan demikian akan membutuhkan komputasi yang sangat besar (tak berhingga karena dalam bentuk kontinyu akan ada tak berhingga koefisien). Alihragam wavelet diskret (DWT: Discrete Wavelet Transform) membatasi variasi dalam pergeseran dan skala, biasanya dalam perpangkatan 2, sehingga redundansi menjadi berkurang. Saat skala diubah dalam perpangkatan 2, alihragam wavelet diskret juga disebut dengan istilah Dyadic Wavelet Transform (DWT). DWT seringkali dinyatakan dalam bentuk alihragam sbb. (13) Dalam hal ini k dihubungkan ke a dengan a = 2 k dan b dihubungkan ke l dengan b = 2 k l, dan d(k, l ) adalah hasil pencuplikan dari W(a,b) pada titik-titik diskret k dan l. Dalam DWT dipergunakan konsep baru yang disebut fungsi skala (scaling function), yaitu sebuah fungsi yang memungkinkan dilakukannnya komputasi DWT. Untuk menerapkan DWT secara efisien, terlebih dahulu dihitung resolusi terbaiknya. Komputasi yang selanjutnya menggunakan resolusi yang lebih kasar. 2

Komputasi ini tidak dilakukan menggunakan sinyal asli namun menggunakan versi sinyal yang telah diperhalus (smoothed version). Sinyal yang telah diperhalus ini diperoleh dengan bantuan smoothing function. Definisi fungsi skala menggunakan persamaan berikut. (14) Dengan c(n) adalah deretan skalar yang menentukan fungsi skala. Persamaan ini melibatkan dua skala waktu (t dan 2t) dan dapat menjadi persamaan yang sangat sulit untuk diselesaikan. Dalam DWT, wavelet dapat didefinisikan dari fungsi skala, (15) Dengan d(n) adalah deretan skalar yang berhubungan dengan sinyal x(t) (persamaan (13)) dan yang menentukan wavelet diskret dalam bentuk fungsi skala. Meskipun DWT dapat diimplementasikan dengan menggunakan persamaan-persamaan di atas, namun biasanya DWT diimplementasikan menggunakan teknik filter banks. Filter Banks Untuk sebagian besar aplikasi pemrosesan sinyal dan citra, analisis berbasis DWT paling baik jika dinyatakan sebagai filter banks. Pengggunaan sekelompok filter untuk membagi sinyal menjadi berbagai komponen spektral disebut dengan istilah subband coding. Implementasi paling sederhana dari DWT adalah menggunakan dua filter dalam filter banks seperti diperlihatkan pada Gambar 6. Sinyal yang dianalisis dibagi menjadi menjadi dua komponen y lp (n) dan y hp (n) oleh filter digital H 0 (ω) dan H 1 (ω). Karakteristik spektral kedua filter harus dipilih dengan hati-hati yaitu H 0 (ω) mempunyai karakteristik spektral lowpass dan H 1 (ω)mempunyai karakteristik spektral highpass. Filter highpass sama dengan penerapan wavelet pada sinyal asli sedangkan filter lowpass sama dengan 3

penerapan fungsi skala atau fungsi smoothing. Jika filter-filter tersebut invertible maka dimungkinkan untuk menemukan suatu filter inversnya (yaitu filter yang mempunyai spektrum invers dari H 0 (ω) dan H 1 (ω)), sehingga akan dapat pula ditemukan kembali sinyal asli dari kedua sinyal subband y lp (n) atau y hp (n). Sinyal asli juga seringkali dapat ditemukan kembali meskipun kedua filter tidak invertible, namun dalam hal ini kedua sinyal subband harus digunakan. Gambar 6. Filter banks sederhana terdiri atas 2 filter yang diaplikasikan pada sinyal yang sama. Filter mempunyai karakteristik spektral lowpass dan highpass. Keluaran filter terdiri atas subband lowpass y lp (n) dan subband highpass y hp (n). Proses recoveri sinyal (menemukan kembali sinyal asli) diperlihatkan pada Gambar 7. Pada gambar tersebut sepasang filter yang kedua yaitu G 0 (ω) dan G 1 (ω), bekerja pada sinyal subband highpass dan lowpass dan jumlahannya digunakan untuk merekontruksi kembali sinyal aslinya yaitu x (t). Filter banks yang mendekomposisi sinyal asli biasanya disebut dengan filter analisis (analysis filters) dan filter banks yang merekontruksi sinyal disebut filter sistesis (syntheses filters). Filter-filter FIR banyak digunakan karena kestbilannya dan kemudahannya untuk diimplementasikan. Memfilter sinyal asli x(n) hanya untuk recoveri sinyal asli merupakan operasi yang kurang bermakna (biasanya memfilter sinyal asli merupakan proses awal saja sebelum dilakukan operasi yang lebih penting lagi). Dalam beberapa aplikasi analisis hanya sinyal-sinyal subband saja yang menjadi perhatian dan 4

rekontruksi sinyal tidak diperlukan. Namun dalam beberapa aplikasi wavelet dilakukan operasi pada sinyal-sinyal subband y lp (n) dan y hp (n) sebelum rekontruksi sinyal keluaran (lihat Gambar 7). Pada kasus yang demikian, keluaran tidak akan tepat sama dengan masukan. Jika keluaran tepat sama dengan masukan maka proses disebut tanpa rugi-rugi (lossless) dan jika tidak maka prosesnya disebut dengan rugi-rugi (lossy). Hal yang seperti ini misalnya terjadi pada aplikasi kompresi data. Gambar 7. Aplikasi wavelet menggunakan filter banks yang terdiri atas dua filter. Sinyal masukan didekomposisi menjadi dua subband menggunakan filter analisis. Suatu proses diterapkan pada sinyal hasil filtering sebelum rekontruksi. Rekontruksi dilakukan oleh filter sintesis. Dengan menggunakan skema seperti yang ditunjukkan pada Gambar 7, maka dapat dipahami bahwa dibutuhkan proses yang dua kali lipat besarnya jika dibandingkan dengan proses langsung pada sinyal asli x(n). Semakin banyak filter yang digunakan dalam filter banks maka masalahnya juga semakin besar. Jelas bahwa terjadi redundansi informasi pada sinyal y lp (n) dan y hp (n), karena keduanya dibutuhkan untuk menyatakan x(n), namun jumlah titik-titiknya menjadi dua kali lipat. Jika filter analisis dapat dengan tepat dipilih maka dimungkinkan untuk mengurangi panjang y lp (n) dan y hp (n) menjadi setengahnya dan juga masih dimungkinkan untuk proses recoveri sinyal asli. Untuk mengurangi sampel sinyal menjadi setengahnya dan tetap mempertahankan periodanya, maka dapat dilakukan dengan cara menghilangkan titik-titik yang bernomor ganjil. Operasi ini 5

dikenal dengan istilah downsampling dan akan disimbolkan dengan 2. Sebagai contoh, sinyal y(n) yang telah dikenakan downsampling hanya akan terdiri atas sampel-sampel yang berindeks genap yaitu [y(2), y(4), y(6),...] dari hasil filtering. Jika digunakan downsampling maka harus ada metode untuk recoveri sampel yang sebelumnya telah dihilangkan sehingga sinyal aslinya dapat diperoleh kembali. Operasi yang disebut upsampling (yang disimbolkan dengan 2) menyelesaikan masalah ini dengan cara mengganti titik-titik yang sebelumnya dihilangkan dengan nilai nol. Sinyal hasil recoveri tidak akan mempunyai nilai nol pada titik-titik tersebut karena filter sintesis G 0 (ω) dan G 1 (ω) akan mengisi titik-titk tersebut. Gambar 8 memperlihatkan aplikasi wavelet yang menggunakan tiga filter banks dan juga melibatkan operasi downsampling dan upsampling. Amplitude downsampling kadang-kadang diskala dengan 2 (dapat menyederhanakan perhitungan filter jika digunakan metode matriks). Gambar 8. Aplikasi wavelet menggunakan tiga filter. Sebagaimana pada Gambar 7, beberapa proses dapat dilakukan pada sinyal y lp (n) dan y hp (n) sebelum proses rekontruksi. 6

Perancangan filter dalam filter bank wavelet menjadi cukup menantang karena filter harus memenuhi beberapa kriteria. Yang terpenting adalah bahwa sinyal asli harus dapat diperoleh kembali setelah melalui filter analisis dan filter sintesis. Recoveri yang tepat juga diperumit dengan adanya proses downsampling. Perlu dicatat bahwa proses downsampling sama artinya dengan mencuplik sinyal asli dengan setengah frekuensi pencuplikan (fs/2). Untuk beberapa sinyal hal ini akan menyebabkan aliasing. Jika filter bank terdiri atas dua tipe filter (highpass dan lowpass) maka kriteria yang harus dipenuhi untuk mencegah aliasing adalah (16) Dengan H 0 (z) adalah fungsi transfer filter lowpass analisis, H 1 (z) adalah fungsi transfer filter highpass analisis, G 0 (z) adalah fungsi transfer filter lowpass sintesis, G 1 (z) adalah fungsi transfer filter highpass sintesis. Syarat lain yang harus dipenuhi agar memungkinkan recoveri sinyal asli adalah (17) Dengan N adalah jumlah koefisien filter (yaitu orde filter) sehingga z N hanyalah merupakan tunda dari filter. Dalam beberapa analisis diperlukan untuk memperoleh sinyal-sinyal subband yang ortogonal. Beberapa jenis filter dibangun sehingga dapat memenuhi sifat ini. Misalnya filter Daubechies yang merupakan filter wavelet dengan 4 atau lebih koefisien. Koefisien filter lowpass, h 0 (n), untuk filter Daubechies 4 koefisien diberikan berikut ini. (18) Supaya keluaran filter highpass menjadi ortogonal terhadap keluaran filter lowpass, karakteristik frekuensi filter highpass dan lowpass harus mempunyai hubungan khusus sebagai berikut. (19) 7

Kriteria pada persamaan (19) dapat diimplementasikan dengan cara menerapkan algoritma alternating flip pada koefisien-koefisien h 0 (n) sebagai berikut. (20) Dengan N adalah jumlah koefisien dalam h 0 (n). Setelah filter analisis dipilih maka filter sintesis yang akan digunakan untuk rekontruksi dibatasi oleh ketentuan yang dinyatakan pada persamaan (14) dan (15). Persamaan (17) dapat dipenuhi dengan membuat G 0 (z) = H 1 (-z) dan G 1 (-z) = - H 0 (-z). Dengan demikian maka fungsi transfer filter analisis terhubung dengan fungsi transfer filter sintesis menurut persaman (21) (22) Implementasi persamaan-persamaan di atas dapat dilakukan dengan menggunakan algoritma order flip sebagai berikut. (23) (24) Hubungan antara Pernyataan Analitis dan Filter Banks Secara teori dapat dibangun wavelet dan fungsi skala dari koefisien filter dan juga sebaliknya. Kenyataanya adalah bahwa koefisien c(n) dan d(n) pada persamaan (14) dan (15) merupakan versi terskala dari koefisien filter, Dengan substitusi c(n) dalam persamaan (14), persamaan fungsi skala (persamaan dilasi) menjadi (25) (26) 8

Untuk menemukan φ dapat digunakan representasi dalam domain frekuensi. Dengan mengambil alihragam Fourier pada kedua sisi pada persamaan (26) maka diperoleh, (27) Catat bahwa skala waktu 2t menjadi ω/2 dalam domain frekuensi. Suku kedua pada persamaan (27) dapat dipecah menjadi H 0 (ω/4) Φ(ω/4) sehingga dimungkinkan untuk menulis kembali persamaan tersebut sebagai (28) Jika N maka perrsamaan (29) menjadi (29) (30) Hubungan antara φ(t) dan koefisien filter lowpass dapat diperoleh dengan mengambil invers alihragam Fourier dari persamaan (30). Setelah fungsi skala ditentukan, fungsi wavelet dapat diperoleh langsung dengan persamaan (16) dengan 2h 1 (n) disubstitusikan untuk d(n), (31) Persamaan (30) menunjukkan kriteria lain untuk koefisien filter lowpass h 0 (n) yang belum disebutkan sebelumnya. Supaya hasilkali menjadi konveergen maka H 0 (ω/2 j ) harus mendekati 1 saat j. Hal ini menghendaki syarat bahwa H 0 (0) = 1; dan hal ini merupakan syarat yang mudah dipenuhi oleh sebuah filter lowpass. 9

Contoh 3 Buatlah filter bank untuk analisis yang terdiri atas L dekomposisi, yaitu sebuah filter lowpass dan L filter highpass. Dekomposisilah sebuah sinyal yang terdiri atas 4 sinusoida yang berderau dan bentuklah kembali sinyal aslinya menggunakan filter bank sintesis. % Contoh 3 : Contoh DWT % Membentuk sinyal yang terdiri atas 4 sinusoid plus derau % Mendekomposisi sinyal dalam 4 level, mem-plot tiap level dan % merekontruksi kembali % Menggunakan filter Daubechies 6 elemen clear all; close all; clc; fs = 1000; % Frekuensi sampling N = 1024; % Jumlah titik dalam sinyal t = linspace(0,1,n); % Sumbu waktu t x = 1.2*sin(2*pi*.63*t)+ sin(2*pi*1.1*t)+1.2*sin(2*pi*2.7*t)+.75*sin(2*pi*5.6*t); x1 = x+.25*rand(size(t)); load db6 h0 = db6; an = analyze(x1,h0,4); y = synthezise(an,h0,4); figure plot(t,x,'k',t,x1-4,'m',t,y-8,'c'); ----------------------------------------------------------------- % Fungsi untuk menghitung filter analisis % an = analyze(x, h0, L) % x = sinyal input dalam bentuk kolom yg panjangnya tidak lebih dari 2^L+L % dan merupakan perpangkatan dari 2 % h0 = koefisien filter (lowpass) % L = level dekomposisi (jumlah filter highpass dalam filter banks) function an = analyze(x, h0, L) lf = length(h0); lx = length(x); an = x; % Panjang filter % Panjang data % Inisialisasi output % Menghitung koefisien highpass dari koefisien lowpass for i = 0:(lf-1) h1(i+1)=(-1)^i*h0(lf-i); % Alternating flip end 10

% Menghitung output filter untuk semua level for i = 1:L a_ext = an; lpf = conv(a_ext,h0); % Filter lowpass FIR hpf = conv(a_ext,h1); % Filter highpass FIR lpf = lpf(1:lx); % Remove extra points hpf = hpf(1:lx); % Remove extra points lpfd = lpf(1:2:end); % Downsampling hpfd = hpf(1:2:end); % Downsampling an(1:lx) = [lpfd hpfd]; % Output lowpass pd awal array lx = lx/2; subplot (L+1,2,2*i-1); % Plot kedua output filter plot (an(1:lx)); % Output lowpass if i == 1 title('output Lowpass') end subplot(l+1,2,2*i); plot(an(lx+1:2*lx)); if i == 1 title('output Highpass') end end HPF = abs(fft(h1,256)); LPF = abs(fft(h0,256)); freq = (1:128)*1000/256; subplot(l+1,2,2*i+1); plot(freq, LPF(1:128)); text(1,1.7,'filter Lowpass'); xlabel('frekuensi (Hz)')' subplot(l+1,2,2*i+2); plot(freq, HPF(1:128)); text(1,1.7,'filter Highpass'); xlabel('frekuensi(hz)')' % Menghitung dan menggambar % fungsi transfer dari HPF % dan LPF % Misal fs = 1000 Hz % Plot dari 0 hingga fs/2 Hz ----------------------------------------------------------------------- % Fungsi untuk menghitung filter sintesis % an = synthesize(a, h0, L) % a = output bank filter analisis (hasil fungsi analyze.m % h0 = koefisien filter (lowpass) % L = level dekomposisi (jumlah filter highpass dalam filter banks) function y = synthezise(a, h0, L) lf = length(h0); lx = length(a); lseq = lx/(2^l); y = a; g0 = h0(lf:-1:1); % Panjang filter % Panjang data % Panjang segment lowpass dan % highpass pertama % Inisialisasi output % Koefisien lowpass dgn order flip % Menghitung koefisien highpass h1(n) dari koefisien lowpass % menggunakan alternating flip for i = 0:(lf-1) 11

h1(i+1)=(-1)^i*h0(lf-i); end g1 = h1(lf:-1:1); % Koefisien filter highpass dgn % order flip % Menghitung output filter untuk semua level for i = 1:L lpx = y(1:lseq); % Ambil segmen lowpass hpx = y(lseq+1:2*lseq); % Ambil segmen highpass up_lpx = zeros(1,2*lseq); % Inisialisasi upsampling up_lpx(1:2:2*lseq) = lpx; % Upsampling lowpass up_hpx = zeros(1,2*lseq); % Inisialisasi upsampling up_hpx(1:2:2*lseq) = hpx; % Upsampling highpass syn = up_lpx + up_hpx; % Filter dan gabungkan y(1:2*lseq) = syn(1:(2*lseq)); % Remove extra points lseq = lseq*2; % Menggandakan panjang segmen % utk yg berikutnya 12