8 RANGKAIAN PENYEARAH

dokumen-dokumen yang mirip
DIODA SEBAGAI PENYEARAH (E.1) I. TUJUAN Mempelajari sifat dan penggunaan dioda sebagai penyearah arus.

menetapkan olahraga perlu makin ani bagi setiap anggota masyarakat, nasional yaitu memasyarakatkan masyarakat. Tak hanya itu saja

TRANSISTOR EFEK-MEDAN (FIELD-EFFECT TRANSISTOR)

PERTEMUAN 4 RANGKAIAN PENYEARAH DIODA (DIODE RECTIFIER)

TEORI DASAR. 2.1 Pengertian

Modul 03: Catu Daya. Dioda, Penyearah Gelombang, dan Pembebanan. 1 Alat dan Komponen. 2 Teori Singkat. Reza Rendian Septiawan February 11, 2015

SEMIKONDUKTOR. Komponen Semikonduktor I. DIODE

EL2005 Elektronika PR#03

Laporan Praktikum Analisa Sistem Instrumentasi Rectifier & Voltage Regulator

Laporan Praktikum Pengukuran Tegangan AC dan DC Via Arduino (Wattmeter)

Dioda Semikonduktor dan Rangkaiannya

12/26/2006 PERTEMUAN XIII. 1. Pengantar

1. PRINSIP KERJA CATU DAYA LINEAR

RANGKAIAN PENYEARAH ARUS OLEH : DANNY KURNIANTO,ST ST3 TELKOM PURWOKERTO

RANGKAIAN PENYEARAH GELOMBANG (RECTIFIER) OLEH: SRI SUPATMI,S.KOM

DAN RANGKAIAN AC A B A. Gambar 4.1 Berbagai bentuk isyarat penting pada sistem elektronika

MAKALAH KELOMPOK 2. Converter AC to DC

BAB II LANDASAN TEORI

VERONICA ERNITA K. ST., MT. Pertemuan ke - 5

ANALISIS FILTER INDUKTIF DAN KAPASITIF PADA CATU DAYA DC

TUGAS DASAR ELEKTRONIKA

RESONANSI PADA RANGKAIAN RLC

Adaptor/catu daya/ Power Supply

Adaptor. Rate This PRINSIP DASAR POWER SUPPLY UMUM

KONVERTER AC-DC (PENYEARAH)

TRANSISTOR 9.1 Dasar-dasar Transistor

MODUL 1 PRINSIP DASAR LISTRIK

Modul 2. Asisten : Widyo Jatmoko ( ) : Derina Adriani ( ) Tanggal Praktikum : 17 Oktober 2012

SIMBOL DAN STRUKTUR DIODA

Materi 2: ELEKTRONIKA DAYA (2 SKS / TEORI) SEMESTER 106 TA 2016/2017 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRONIKA

KOMPONEN-KOMPONEN ELEKTRONIKA

hubungan frekuensi sumber tegangan persegi dengan konstanta waktu ( RC )?

BAB II LANDASAN TEORI

SAMBUNGAN P-N. Diode Sambungan p-n 63

LAPORAN PRAKTIKUM ELEKTRONIKA DASAR 1 PENYEARAH SETENGAH GELOMBANG

CATU DAYA MENGGUNAKAN SEVEN SEGMENT

KARAKTERISTIK DIODA, PENYEARAH DAN FILTER

MODUL PRAKTIKUM RANGKAIAN ELEKTRONIKA DASAR

FASOR DAN impedansi pada ELEMEN-elemen DASAR RANGKAIAN LISTRIK

BAB II PENYEARAH DAYA

TINJAUAN PUSTAKA. Sistem kontrol adalah suatu alat yang berfungsi untuk mengendalikan,

Sumber AC dan Fasor. V max. time. Sumber tegangan sinusoidal adalah: V( t) V(t)

REKAYASA CATU DAYA MULTIGUNA SEBAGAI PENDUKUNG KEGIATAN PRAKTIKUM DI LABORATORIUM. M. Rahmad

DAYA ELEKTRIK ARUS BOLAK-BALIK (AC)

INSTRUMENTASI INDUSTRI (NEKA421) JOBSHEET 12 (OSILATOR COLPITTS)

Gambar 3. (a) Diagram fasor arus (b) Diagram fasor tegangan

ANALISIS RANGKAIAN RLC

TEKNIK MESIN STT-MANDALA BANDUNG DASAR ELEKTRONIKA (1)

PENYEARAH SETENGAH GELOMBANG

BAB II LANDASAN TEORI. telur,temperature yang diperlukan berkisar antara C. Untuk hasil yang optimal dalam

1. Perpotongan antara garis beban dan karakteristik dioda menggambarkan: A. Titik operasi dari sistem B. Karakteristik dioda dibias forward

I D. Gambar 1. Karakteristik Dioda

TUGAS DAN EVALUASI. 2. Tuliska macam macam thyristor dan jelaskan dengan gambar cara kerjanya!

PENYEARAH ARUS S1 INFORMATIKA ST3 TELKOM PURWOKERTO

CIRCUIT DASAR DAN PERHITUNGAN

3.1 Pendahuluan Dioda mempunyai dua kondisi atau state: - Prategangan arah maju - Prategangan arah mundur

BAB II. Dasar Teori. = muatan elektron dalam C (coulombs) = nilai kapasitansi dalam F (farad) = besar tegangan dalam V (volt)

MEMBUAT LAMPU 220V DENGAN LED

MODUL I RANGKAIAN SERI-PARALEL RESISTOR

DAN TEGANGAN LISTRIK

BAB I TEORI RANGKAIAN LISTRIK DASAR

ELEKTRONIKA DASAR. Pertemuan Ke-3 Aplikasi Dioda Dalam Sirkuit. ALFITH, S.Pd,M.Pd

ARUS BOLAK-BALIK Pertemuan 13/14 Fisika 2

Konduktor dan isolator

BAB II LANDASAN SISTEM

LEMBAR KERJA SISWA (LKS) /TUGAS TERSTRUKTUR - - INDUKSI ELEKTROMAGNET - INDUKSI FARADAY DAN ARUS

Antiremed Kelas 12 Fisika

Conductor dan Dielektrik

PRAKTEK TV & DISPLAY

BAB VI RANGKAIAN DIODA

Rangkaian Listrik. 4. Ebtanas Kuat arus yang ditunjukkan amperemeter mendekati.. a. 3,5 ma b. 35 ma c. 3,5 A d. 35 A e. 45 A

RANGKAIAN INVERTER DC KE AC

BAB II ELEMEN RANGKAIAN LISTRIK

Politeknik Negeri Bandung

II. TINJAUAN PUSTAKA. Transformator merupakan suatu peralatan listrik yang berfungsi untuk

DAFTAR ISI ABSTRAK... DAFTAR ISI...

INDUKSI EM DAN HUKUM FARADAY; RANGKAIAN ARUS BOLAK BALIK

BAB I PENDAHULUAN. pemasangan atau pembuatan barang-barang elektronika dan listrik.

LAMPIRAN A RANGKAIAN CATU DAYA BEBAN TAK LINIER. Berikut adalah gambar rangkaian catu daya pada lampu hemat energi :

RANCANG BANGUN PENYEARAH AC TO DC RESONANSI SERI DENGAN ISOLASI TERHADAP FREKUENSI TINGGI

ANALISA PERENCANAAN CATU DAYA TEGANGAN DC PADA REPEATER DENGAN INPUT AC/PLN YANG MENGHASILKAN OUTPUT TEGANGAN DC STABIL

Materi. Pengenalan elektronika Dasar. Pertemuan ke II. By: Khairil Anwar, ST.,M.Kom. Create: Khairil Anwar, ST., M.Kom

LAPORAN PRAKTIKUM LISTRIK MAGNET Praktikum Ke 1 KUMPARAN INDUKSI

Rangkaian Seri Perhatikan rangkaian hambatan seri pada Gambar 6. Gambar 6

RANCANGBANGUN TRANSFORMATOR STEP UP

PERTEMUAN II KONSEP DASAR ELEMEN-ELEMEN RANGKAIAN LISTRIK

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN ANALISIS

MODUL FISIKA. TEGANGAN DAN ARUS BOLAK-BALIK (AC) DISUSUN OLEH : NENIH, S.Pd SMA ISLAM PB. SOEDIRMAN

BAB IV PENYEARAH TERKENDALI (KONVERTER)

PERTEMUAN II KONSEP DASAR ELEMEN-ELEMEN RANGKAIAN LISTRIK

Fisika EBTANAS Tahun 1994

Materi 3: ELEKTRONIKA DAYA (2 SKS / TEORI) SEMESTER 106 TA 2016/2017 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRONIKA

E 8 Pengisian dan Pengosongan Kapasitor

Elektronika daya. Dasar elektronika daya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 2.1 Penampang kumparan rotor dari atas.[4] permukaan rotor, seperti pada gambar 2.2, saat berada di daerah kutub dan

Mekatronika Modul 6 Penyearah Gelombang menggunakan SCR

e. muatan listrik menghasilkan medan listrik dari... a. Faraday d. Lenz b. Maxwell e. Hertz c. Biot-Savart

BAB II LANDASAN TEORI

RANGKAIAN ARUS BOLAK-BALIK.

Transkripsi:

8 ANGKAIAN PENYEAAH 8.1 Pendahuluan Peralatan kecil portabel kebanyakan menggunakan baterai sebagai sumber dayanya, namun sebagian besar peralatan menggunakan sember daya AC 220 volt - 50Hz. Di dalam peralatan tersebut terdapat rangkaian yang sering disebut sebagai adaptor atau penyearah yang mengubah sumber AC menjadi DC. Bagian terpenting dari adaptor adalah berfungsinya diode sebagai penyearah (rectifier). Pada bagian ini dipelajari bagaimana rangkaian dasar adaptor tersebut bekerja. 8.2 Penyearah Diode Setengah Gelombang Perhatikan rangkaian pada gambar 8.1-a, dimana sumber masukan sinusoida dihubungkan dengan beban resistor melalui sebuah diode. Untuk sementara kita menganggap keadaan ideal, dimana hambatan masukan sinusoida sama dengan nol dan diode dalam keadaan hubung singkat saat berpanjar maju dan keadaan hubung terbuka saat berpanjar mundur. Besarnya keluaran akan mengikuti masukan saat masukan berada di atas tanah dan berharga nol saat masukan di bawah tanah seperti diperlihatkan pada gambar 8.1- b. Jika kita ambil harga rata-rata bentuk gelombang keluaran ini untuk beberapa periode, tentu saja hasilnya akan positif atau dengan kata lain keluaran mempunyai komponen DC. Kita juga melihat komponen AC pada keluaran. Kita akan dapat mengurangai komponen AC pada keluaran jika kita dapat mengusahakan keluaran positif yang lebih besar, tidak hanya 50% seperti terlihat pada gambar 8.1-b.. 78 EEKTONIKA DASA

! Gambar 8.1 Penyearah setengah gelombang % & " " # $ ' & -. / 0 1 2 1 3 ( ) * +, Gambar 8.2 angkaian penyearah gelombang penuh 8.3 Penyearah Diode Gelombang Penuh Terdapat cara yang sangat sederhana untuk meningkatkan kuantitas keluaran positip menjadi sama dengan masukan (100%). Ini dapat dilakukan dengan menambah satu diode pada rangkaian seperti terlihat pada gambar 8.2. Pada saat masukan berharga negatif maka salah satu dari diode akan dalam keadaan panjar maju sehingga memberikan keluaran positif. Karena keluaran berharga positif pada satu periode penuh, maka rangkaian ini disebut penyearah gelombang penuh. Pada gambar 8.2 terlihatbahwa anode pada masing-masing diode dihubungkan dengan ujung-ujung rangkaian sekunder dari transformer. Sedangkan katode masingmasing diode dihubungkan pada titik positif keluaran. Beban dari penyearah dihubungkan antara titik katode dan titik center-tap (CT) yang dalam hal ini digunakan sebaga referensi atau tanah. angkaian Penyearah 79

4 D E F G A C A B >? @ < = 5 6 7 8 9 : 9 ; Gambar 8.3 Keluaran dari penyearah gelombang penuh Mekanisme terjadinya konduksi pada masing-masing diode tergantung pada polaritas tegangan yang terjadi pada masukan. Keadaan positif atau negatif dari masukan didasarkan pada referensi CT. Pada gambar 8.3 nampak bahwa pada setengah periode pertama misalnya, v1 berharga positif dan v2 berharga negatif, ini menyebabkan D1 berkonduksi (berpanjar maju) dan D2 tidak berkonduksi (berpanjar mundur). Pada setengah periode ini arus i D1 mengalir dan menghasilkan keluaran yang akan nampak pada hambatan beban. Pada setengah periode berikutnya, v2 berharga positif dan v1 berharga negatif, menyebabkan D2 berkonduksi dan D1 tidak berkonduksi. Pada setengah periode ini mengalir arus i D2 dan menghasilkan keluaran yang akan nampak pada hambatan beban. Dengan demikian selama satu periode penuh hambatan beban akan dilewati aris i D1 dan i D2 secara bergantian dan menghasilkan tegangan keluaran DC. 8.4 Penyearah Gelombang Penuh Model Jembatan Penyearah gelombang penuh model jembatan memerlukan empat buah diode. Dua diode akan berkondusi saat isyarat positif dan dua diode akan berkonduksi saat isyarat 80 EEKTONIKA DASA

N K H \ Y V negatif. Untuk model penyearah jembatan ini kita tidak memerlukan transformator yang memiliki center-tap. Seperti ditunjukkan pada gambar 8.4, bagian masukan AC dihubungkan pada sambungan D1-D2 dan yang lainnya pada D3-D4. Katode D1 dan D3 dihubungkan degan keluaran positif dan anode D2 dan D4 dihubungkan dengan keluaran negatif (tanah). Misalkan masukan AC pada titik A berharga positif dan B berharga negatif, maka diode D1 akan berpanjar maju dan D2 akan berpanjar mundur. Pada sambungan bawah D4 berpanjar maju dan D3 berpanjar mundur. Pada keadaan ini elektron akan mengalir dari titik B melalui D4 ke beban, melalaui D1 dan kembali ke titik A. Pada setengah periode berikutnya titik A menjadi negatif dan titik B menjadi positif. Pada kondisi ini D2 dan D3 akan berpanjar maju sedangkan D1 dan D4 akan berpanjar mundur. Aliran arus dimulai dari titik A melalui D2, ke beban, melalui D3 dan kembali ke titik B. Perlu dicatat di sini bahwa apapun polaritas titik A atau B, arus yang mengalir ke beban tetap pada arah yang sama. M O P Z [ ] ^ _ ` a b a c I J W X Q S T U Gambar 8.4 Penyearah gelombang penuh model jembatan angkaian jembatan empat diode dapat ditemukan di pasaran dalam bentuk paket dengan berbagai bentuk. Secara prinsip masing-masing bentuk mempunyai dua terminal masukan AC dan dua terminal masukan DC. 8.5 Penyearah Keluaran Ganda Pada berbagai sistem elektronik diperlukan sumber daya dengan keluaran ganda sekaligus, positif dan negatif terhadap referensi (tanah). Salah satu bentuk rangkaian penyearah gelombang penuh keluaran ganda diperlihatkan pada gambar 8.5. Perhatikan bahwa keluaran berharga sama tetapi mempunyai polaritas yang berkebalikan. angkaian Penyearah 81

j d e n q x Diode D1 dan D2 adalah penyearah untuk bagian keluaran positif. Keduanya dihubungkan dengan ujung transformer. Diode D3 dan D4 merupakan penyearah untuk keluaran negatif. Titik keluaran positif dan negatif diambil terhadap CT sebagai referensi atau tanah. { o p y w v z k k l m h i f g r s v w t u Gambar 8.5 Penyearah keluaran ganda Misalkan pada setengah periode titik atas transformer berharga positif dan bagian bawah berharga negatif. Arus mengalir lewat titik B melalui D4, 2, 1, D1 dan kembali ke terminal A transformator. Bagian atas dari 1 menjadi positif sedangkan bagian bawah 2 menjadi negatif. Pada setengah periode berikutnya titik atas transformer berharga negatif dan bagian bawah berharga positif. Arus mengalir lewat titik A melalui D3, 2, 1, D2 dan kembali ke terminal B transformator. Bagian atas dari 1 tetap akan positif sedangkan bagian bawah 2 berpolaritas negatif. Arus yang lewat 1 dan 2 mempunyai arah yang sama menghasilkan tegangan keluaran bagian atas dan bagian bawah pada 1 dan 2. 8.6 Tapis (Filter) Pada prinsipnya yang diinginkan pada keluaran penyearah adalah hanya komponen DC, maka perlu adanya penyaringan untuk membuang komponen AC. 82 EEKTONIKA DASA

ˆ ˆ ˆ Secara praktis kita dapat memasang sebuah kapasitor besar pada kaki-kaki beban, karana kapasitor dapat bersifat hubung terbuka untuk komponen DC dan mempunyai impedansi yang rendah untuk komponen AC. Œ Š ˆ š Ž } ~ ƒ Gambar 8.6 Arus beban sebagai fungsi dari tegangan keluaran untuk tapis-c dan tapis- Berdasarkan jenis komponen yang digunakan, tapis penyearah dapat dikelompokkan menjadi dua. Kelompok pertama dilakukan dengan memasang kapasitor atau disebut sebagai tapis kapasitor atau tapis masukan-c. Kelompok lain dilakukan dengan memasang induktor atau kumparan disebut sebagai tapis induktif atau tapis masukan-. Keluaran tapis-c biasanya mengalami penurunan saat beban meninggi. Sedangkan tapis- cenderung mempertahankan keluaran pada harga yang relatif konstan. Namun demikian tegangan keluaran tapis- relatif lebih rendah dibandingkan tapis-c. Gambar 8.6 memperlihatkan hubungan besarnya tegangan keluaran sebagai fungsi dari arus beban untuk tapis-c dan tapis-. 8.6.1 Tapis Kapasitor Tapis kapasitor sangat efektif digunakan untuk mengurangi komponen AC pada keluaran penyearah. Pertama akan kita lihat karakter kapasitor sebagai tapis dengan memasang langsung pada keluaran penyearah tanpa memasang beban. a. Penyearah Tanpa Beban angkaian tanpa beban dengan pemasangan kapasitor beserta bentuk keluarannya diperlihatkan pada gambar 8.7. Saat sumber tegangan (masukan) dihidupkan, satu diode berkonduksi dan keluaran berusaha mengikuti tegangan transformator. Pada angkaian Penyearah 83

kondisi ini tiba-tiba tegangan kapasitor menjadi besar dan arus yang mengalir menjadi besar (dalam ini, i = C dv / dt; dv / dt = ). Saat masukan membesar keluaran juga akan membesar, namun saat masukan menurun tegangan kapaasitor atau keluaran tidak mengalami penurunan tegangan karena tidak ada proses penurunan tegangan. Dalam keadaan ideal ini, tegangan keluaran DC akan sama dengan tegangan puncak masukan dan akan ditahan untuk seterusnya. a) œ ª «ª ž Ÿ ± ² ³ ³ µ b) Gambar 8.7 Penyearah tanpa beban : a) angkaian dengan tapis kapasitor dan b) bentuk keluaran Beberapa implikasi dari anggapan ideal tersebut adalah: i) Arus dari transformr tergantung pada hambatan kumparan dan mungkin tergantung pada kemampuan magnet dari intinya, sehingga kemungkinan tegangan keluarannya berubah-ubah. ii) Diode bukan konduktor yang sempurna saat berpanjar maju, untuk silikon biasnya akan mengalami penurunan tegangan sekitar 0,6 sampai dengan 1,0 volt dan juga bukan merupakan isolator yang sempurna saat berpanjar mundur. iii) Tegangan kapasitor biasanya meluruh, baik karena adanya penurunan arus yang terambil melalui beban atau karena terjadi kebocoran pada kapasitor sendiri atau pada diode. 84 EEKTONIKA DASA

Ê b. Penyearah Setengah Gelombang Dengan Beban Dan Tapis Kapasitor Pada gambar 8.8-a kita menambahkan sebuah kapasitor sebagai tapis pada penyearah setengah gelombang. Pada setengah periode positif (1), diode berpanjar maju dan arus mengalir dari B menuju A melewati C, beban dan diode. Kapasitor C akan dengan cepat terisi seharga tegangan puncak masukan, pada saat yang sama arus juga mengalir lewat beban. Arus awal yang mengalir pada diode biasanya berharga sangat besar kemudian berikutnya akan mengalami penurunan (lihat gambar 8.8-b). ¼ ½ ¾ À Á Â Ã Â Ä a) ¹ ¹ º» Ë Ì Å Æ Ç È É Tegangan masukan Tegangan diode b) Arus diode, I d Gambar 8.8 Penyearah setengah gelombang dengan tapis kapasitor: a) angkaian dasar dan b) bentuk isyarat masukan, tegangan diode, tegangan keluaran, arus beban dan arus diode. angkaian Penyearah 85

Pada saat masukan negatif (2) diode berpanjar mundur. Pada kondisi ini diode tidak berkonduksi dan tegangan pada C akan dilucuti melalui hambatan berupa arus pelucutan yang mengalir lewat C dan diode dalam kondisi tidak berkonduksi, resistor pengosongan kapasitor tersebut. Akibatnya, tegangan pada harga yang relatif tinggi.. Hasilnya. Dengan demikian walaupun tetap mendapatkan aliran arus akan tetap terjaga pada Proses pengosongan C terus berlanjut sepanjang periode negatif. Menjelang akhir setengah periode negatif terjadi penurunan keluaran dengan harga V terendah sebelum akhirnya periode positif berikutnya datang. Kemudian diode akan berpanjar maju lagi dan C mengalami proses pengisian lagi. Dalam proses pengisian ini diperlukan arus diode (I d ) yang lebih rendah. proses di atas akan terus berulang pada periode positif dan negatif berikutnya. adalah : Efektivitas kapasitor sebagai tapis tergantung pada beberapa faktor, diantaranya 1. Kapasitas/ukuran kapasitor 2. Nilai beban yang dipasang 3. Waktu Ketiga faktor tersebut mempunyai hubungan T = C (8.1) dimana T adalah waktu dalam detik, adalah hambatan dalam ohm dan C adalah kapasitansi dalam farad. Perkalian C disebut sebagai konstanta waktu merupakan ukuran seberapa cepat tegangan dan arus tapis (kapasitor) merespon perubahan pada masukan. Kapasitor akan terisi sampai sekitar 62,2% dari tegangan yang dekenakan selama satu konstanta waktu. Demikian saat dikosongkan selama satu konstanta waktu, maka tegangan kapasitor akan turun sebanyak 62,2%. Untuk mengisi kapasitor sampai penuh diperlukan waktu sekitar 5 kali konstanta waktu. Tapis kapasitor seperti pada gambar 8.8 akan terisi dengan cepat selama periode positif pertama. Namun kecepatan pengosongan C akan sangat tergantung pada harga. Jika sebaliknya jika berharga rendah proses pengosongan akan berlangsung dengan cepat, berharga besar proses pengosongan akan berlangsung lebih lambat. 86 EEKTONIKA DASA

Tapis yang baik adalah jika proses pengosongan berlangsung lambat sehingga V mengalami sedikit perubahan. Tapis-C akan bekerja dengan baik jika berharga relatif tinggi. Jika berharga rendah, yaitu jika penyearah mengalami pembebanan yang terlalu berat, maka tegangan riak (ripple) akan lebih nampak pada keluarannya. c. Penyearah Gelombang Penuh Dengan Beban Dan Tapis Kapasitor Seperti halnya pada penyearah setengah gelombang, pada gambar 8.9-a kita tambahkan satu diode dan resistor sebagai beban pada rangkaian keluaran. Keluaran masih ditarik dari puncak v1 (atau v2) saat v1 (atau v2) mencapai harga tegangan ini. Namun demikian saat v1 dan v2 berharga rendah, C akan berusaha pada kondisi termuati dan kemudian kedua diode akan hubung terbuka seperti pada penyearah setengah gelombang. Selanjutnya C akan dilucuti dengan arus i = v /, sehinga akan kehilangan muatan menurut dq = i = dt v (8.2) dan mengalami penurunan tegangan menurut dv dt = 1 dq C dt v =. C (8.3) Untuk penyearah gelombang penuh ini, proses pengosongan tegangan hanya berlangsung paling tidak 1 2 T = 10 ms, saat diode yang lainnya mulai berkonduksi. Jika harga konstanta waktu C cukup besar dibandingkan dengan periode T, penurunan tegangan akan relatif kecil dibandingkan harga v mula-mula. angkaian Penyearah 87

Ü ä Ù Ø a) Ô Ô Õ Ö Ø Ð Ñ Ú Û Ý Þ ß à á â á ã Ò Ó ô õ ö ø ù ø ú ú û ø ü ø å æ ç è é ê é ë ì æ ë í æ î é ï é ë b) ð ñ ò ó Gambar 8.9 Penyearah gelombang penuh dengan beban: a) angkaian dengan pemasangan tapis kapasitor dan beban resistor dan b) Bentuk isyarat keluaran. Sebagai gambaran, misalnya transformator yang digunakan memberikan tegangan puncak ± 10 V(p), C = 100 Í Î, = 1 kï. Dengan demikian dv/dt = v/ C 9 4 1 = 10 10 10 = 100 V/s. Dalam T = 10 ms, tegangan output turun sekitar 1 volt 2 atau sekitar 10%. Dari gambaran di atas dapat diperkirakan bahwa besarnya tegangan riak (ripple) pada keluaran cukup besar dan mengganggu, karena terjadi penurunan dv/dt saat v mengalami penurunan akibat proses pengosongan tidak berlangsung sampai penuh T 10 ms (llihat gambar 8.9-b). Pada contoh di atas, hasil perhitungan menunjukkan 1 = 2 bahwa proses pengosongan dimulai sekitar 0,3 ms setelah puncak dan selesat 1,4 ms sebelum puncak. 88 EEKTONIKA DASA

d. Komponen DC dan Tegangan iak Misalkan pada gambar 8.9 kita mempunyai v1 = A sin ω t, v2 = A sin ω t, dimana ω = 2 π 50 Kita berasumsi bahwa tegangan keluaran mencapai puncak A bersamaan dengan masukan, dan mengalami penurunan menurut v dv / dt = C A/ C (8.4) untuk setengah-periode penuh (full half-period), dibandingkan dengan harga prediksi praktis sebesar 65-95% dari setengah periode. Besarnya keluaran akan berada pada harga `δ v yang diberikan oleh δv = 1 ( dv dt) ( T ) / 2 A C 2 1 f (8.5) dengan demikian tegangan riak (ripple) puncak-ke-puncak dapat dituliskan sebagai prosentase tegangan keluaran, diberikan oleh ( v A) % riak ( ripple) = 100 δ / ( 2 C f ) 100 / (8.6) berharga A Besarnya tegangan keluaran (rata-rata) secara jelas bukan A, tetapi kira-kira 2 1 δv. Dengan demikian jika beban keluaran meningkat maka tegangan riak juga meningkat dan rata-rata tegangan keluaran akan menurun. Misalnya sebuah penyearah gelombang penuh menggunakan tapis kapasitor 100 ý þ dengan beban 100 Ω. Persentase tegangan riak adalah 100 / 2 3 ( 2 10 10 50) = 10% angkaian Penyearah 89

yaitu, tegangan DC turun 5% dan harga tegangan akan berubah-ubah pada harga 90% - 100% dari nilai puncak. Jika penyearah hanya mendapatkan beban yang rendah, pendekatan di atas dapat kita gunakan. Namun jika beban terlalu besar maka diperlukan pendekatan baru seperti akan dibahas pada bagian berikut ini. e. Penyearah Komponen Non-Ideal Pada bagian sebelumnya kita telah mempelajari penyearah dengan menganggap semua komponen dalam keadaan ideal. Pada kenyataannya beberapa hal perlu diperhatikan, misalnya efek dari hambatan kumparan. Faktor ini berpengaruh terhadap besarnya tegangan DC maupun tegangan riak keluaran. Besarnya arus konduksi sesaat diode adalah dimana i ( v v v ) D = t D o / v t = tegangan sesaat transformator hubung-terbuka (8.7) v D = tegangan diode ( 0,8 volt) v o = tegangan keluaran (pada kapasitor) = hambatan kumparan ÿ ω " #! Gambar 8.10 Bentuk isyarat keluaran untuk beberapa variasi arus diode 90 EEKTONIKA DASA

8 ; > Nampak jelas bahwa saat arus beban meningkat, v o harus mengalami penurunan untuk menaikkan arus diode. Ini juga berarti bahwa diode akan berkonduksi lebih lama. Sekarang v o tidak lagi mencapai harga puncak transformator (lihat gambar 8.10, memperlihatkan isyarat keluaran untuk variasi arus diode). 8.6.2 Tapis Induktor Induktor adalah komponen elektronika yang memiliki kemampuan untuk menyimpan dan melepaskan energi. Penyimpanan energi dilakukan dengan mengalirkan arus dan mengubahnya menjadi medan magnet. Kenaikan arus yang mengalir pada induktor mengakibatkan naiknya medan magnet. Penurunan arus pada induktor mengakibatkan jatuhnya harga medan magnet dan energi akan terlepas. Kemampuan induktor untuk menyimpan dan melepaskan energi dapat digunakan untuk proses penyaringan. Tegangan induksi karena adanya perubahan medan magnet akan dilawan oleh kenaikan arus yang mengalir melalui induktor. Penurunan arus yang mengalir akan mendapatkan reaksi yang sama. Pada prinsipnya, induktor akan berusaha melawan terjadinya perubahan arus yang melaluinya. Tapis- sangat cocok untuk penyearah dengan arus beban yang besar (lihat gambar 8.6). Penyearah dengan tapis- diperlihatkan pada gambar 8.11, dimana induktor cukup dipasang secara seri dengan diode dan beban. Arus yang masuk pada beban akan selalu melewati induktor. Tapis- tidak menghasilkan tegangan keluaran setinggi yang dihasilkan tapis-c. Induktor cenderung akan menahan arus pada harga rata-ratanya. < = 9 :, -? @. / 01 2 3 2 4 5 6 7 5 / $ % & ' ( ) ( * + Gambar 8.11 Penyearah dengan tapis- angkaian Penyearah 91

T W Z t Secara praktis induktor tunggal jarang digunakan sebagai tapis. Kombinasi C lebih banyak digunakan, yaitu dengan memasang seri antara induktor dan kapasitor yang dihubungkan secara paralel dengan beban (lihat gambar 8.12). Induktor akan mengontrol perubahan besar pada arus beban sedangkan kapasitor digunakan untuk menjaga tegangan keluaran pada harga yang konstan. Kombinasi C ini dapat menghasilkan tegangan keluaran DC yang relatif lebih halus. U V X Y H I [ \ ] J K M N O N P Q S Q K A B C D E F E G Gambar 8.12 Penyearah dengan tapis C ^ _ ` a _ b c b d e f g h i f j k l m n o p q r s u v w x Gambar 8.13 Tapis-C (Pi) 92 EEKTONIKA DASA

8.6.3 Tapis-Pi Penyearah Pi dibuat dengan menambahkan sebuah kapasitor pada penyearah tapis-c. Kedua kapasitor terhubung secara paralel dengan beban dan seri dengan induktor. Seperti terlihat pada gambar 8.13, penempatan komponen ini membentuk huruf Yanani pi (Π) sesuai dengan nama tapis ini. Pengoperasian tapis-pi dapat dipahami dengan melihat dan C2 sebagai tapis C. Bagian rangkaian ini berfungsi sebagai tegangan keluaran dari input tapis C1. Sedangkan C1 terisi oleh puncak masukan penyearah. Tentu saja keluaran ini akan memiliki tegangan riak identik dengan tapis-c. Tegangan ini diumpankan ke C2 melalui induktor. C2 kemudian menahan muatannya pada intervaal waktu sesuai konstanta waktu C2. Hasil ini akan mendapatkan proses penyaringan lebih lanjut oleh dan C2. Dengan demikian tegangan riak pada tapis ini akan jauh lebih rendah dibandingkan dengan tapis-c tunggal. Namun demikian terdapat penurunan tegangan keluaran akibat melewati induktor. 8.6.4 Tapis-C Jika diinginkan pemasangan tapis yang lebih sederhana makan tapis-pi dapat digantikan dengan tapis-c. Seperti diperlihatkan pada gambar 8.14, untuk membuat tapis-c cukup dengan mengganti induktor pada tapis-pi dengan sebuah resistor. Ini sangat praktis mengingat induktor mempunyai bentuk fisik yang lebih besar, lebih berat dan berharga jauh lebih mahal. Namun kualitas tapis-c tidak sebagus tapis-pi, biasanya terjadi penurunan keluaran DC dan terjadi kenaikan tegangan riak. y z { z } ~ } ƒ ˆ Š Œ Ž Gambar 8.14 angkaian penyearah dengan tapis-c angkaian Penyearah 93

í Dalam pengoperasiannya, C1 termuati oleh keluaran penyearah jembatan sampai pada harga puncak. Saat masukan dari penyearah mengalami penurunan, maka akan terjadi proses pengosongan C1`melalui resistor dan. Penurunan tegangan pada akan menurunankan tegangan keluaran. Kapasitor C2 akan termuati pada harga puncak tegangan. Besarnya tegangan DC tapis akan tergantung pada besarnya arus beban. Arus beban yang terlalu tinggi akan mengakibatkan tegangan pada semakin menurun. Pada prakteknya tapis-c digunakan untuk catu daya dengan arus beban kurang dari 100mA. 8.7. egulasi Tegangan Keluaran tegangan DC dari penyearah tanpa regulasi mempunayi kecenderungan berubah harganya saat dioperasikan. Adanya perubahan pada masukan AC dan variasi beban merupakan penyebab utama terjadinya ketidakstabilan. Pada sebagian peralatan elektronika, terjadinya perubahan catu daya akan berakibat cukup serius. Untuk mendapatkan pencatu daya yang stabil diperlukan regulator tegangan. Blok diagram seperti diperlihatkan pada gambar 8.15 memperlihatkan dimana regulasi tegangan dipasang. š œ ž Ÿ «± ² ª ³ ± µ µ ¹ º Ì Í Î Ï Ð Ñ Î Ï» ¼ ½ ¾ À Á Â Ã Ä Å Æ Ç È É Ê È Ã Ä Ç Ë Ä Ç Ë Ò Ó Ô Õ Ö Ó Ø Õ Ù Õ Ú Õ Ö Gambar 8.15 Blok diagram penyearah dengan regulator Û Ü Ý Þ ß Ü à á â ø ù ú û ü ý ø þ ù ÿ ý ø î ï ð ñ ò ó ô õ ö ã ä å æ ç è ç é ç ê ë ì Gambar 8.16 Pemasangan diode zener sebagai regulator tegangan 94 EEKTONIKA DASA

! " % & ' Sejumlah rangkaian regulator sudah digunakan untuk meningkatkan kualitas catu daya. Salah satu cara yang paling banyak digunakan adalah dengan memasang diode zener seperti diperlihatkan pada gambar 8.16. Diode zener dipasang paralel atau shunt dengan. egulator ini hanya memerlukan sebuah diode zener terhubung seri dengan resistor S. Perhatikan bahwa diode zener dipasang dalam posisi berpanjar mundur. Dengan cara pemasangan ini, diode zener hanya akan berkonduksi saat tegangan mundur mencapai tegangan patah (break-down). * +, # $ & ( ) -. / 0 Gambar 8.17 angkaian pencatu daya dengan regulator zener Skema pencatu daya dengan regulasi diode zener diperlihatkan pada gambar 8.17. Penyearah berupa rangkaian diode bentuk jembatan dengan proses penyaringan dengan tapis-c. esistor seri pada rangkaian ini berfungsi ganda. Pertama, resistor ini menghubungkan C1 dan C2 sebagai rangkaian tapis. Kedua, resistor ini berfungsi sebagai resistor seri untuk regulator. Diode zener dapat dipasang dengan sebarang harga tegangan patah, misalnya sebesar 9 V. angkaian Penyearah 95