BAB I PENDAHULUAN. maka peningkatan kebutuhan sarana dan prasarana perkotaan pun ikut bertambah,

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. dalam pemenuhannya masih sulit dijangkau terutama bagi penduduk berpendapatan

BAB I: PENDAHULUAN Latarbelakang.

BAB 1 PENDAHULUAN. perkembangan kawasan kawasan permukiman kumuh. Pada kota kota yang

BAB I PENDAHULUAN. Kawasan(PLP2K-BK) 1 Buku Panduan Penanganan Lingkungan Perumahan dan Permukiman Kumuh Berbasis

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Permukiman adalah kawasan lingkungan hidup baik di perkotaan maupun di

Konsep Hunian Vertikal sebagai Alternatif untuk Mengatasi Masalah Permukiman Kumuh, Kasus Studi Kampung Pulo

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Sejak tahun 2000 persentase penduduk kota di Negara Dunia Ketiga telah

BAB I PENDAHULUAN. lainnya. Oleh karena itu,bukan suatu pandangan yang aneh bila kota kota besar di

BAB 1 PENDAHULUAN. berpenghasilan rendah (MBR) dapat juga dikatakan sebagai masyarakat miskin atau

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. persoalan kecenderungan meningkatnya permintaan dan kurangnya penyediaan di

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PEREMAJAAN PEMUKIMAN RW 05 KELURAHAN KARET TENGSIN JAKARTA PUSAT MENJADI RUMAH SUSUN

BAB I PENDAHULUAN TA Latar Belakang PENATAAN KAWASAN PERMUKIMAN SUNGAI GAJAH WONG DI YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan penduduk yang berlangsung dengan pesat telah. menimbulkan dampak terhadap berbagai aspek kehidupan bangsa terutama di

KEBIJAKAN DAN PENANGANAN PENYELENGGARAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kota-kota besar di negara-negara berkembang umumnya mengalami laju

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. bantaran sungai Bengawan Solo ini seringkali diidentikkan dengan kelompok

2.4. Permasalahan Pembangunan Daerah

BAB I PENDAHULUAN. Respon risiko..., Juanto Sitorus, FT UI., Sumber data : BPS DKI Jakarta, September 2000

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang. (DIY) memiliki peran yang sangat strategis baik di bidang pemerintahan maupun

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan jumlah penduduk dan urbanisasi merupakan salah satu

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 komposisi penduduk

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PEREMAJAAN PEMUKIMAN KAMPUNG PULO DENGAN PENDEKATAN PERILAKU URBAN KAMPUNG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

DAFTAR ISI. Abstrak... Prakata... Daftar Isi... Daftar Gambar... Daftar Tabel... Daftar Lampiran... Daftar Pustaka...

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kota merupakan sebuah tempat permukiman yang sifatnya permanen

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I. PENDAHULUAN A.

PENGARUH PEMBANGUNAN KAMPUNG PERKOTAAN TERHADAP KONDISI FISIK LINGKUNGAN PERMUKIMAN DAN KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT

BAB I PENDAHULUAN. laju pertumbuhan penduduk yang pesat sebagai akibat dari faktor-faktor

BAB I PENDAHULUAN. yang terletak di bantaran Sungai Deli, Kelurahan Kampung Aur, Medan. Jika

Komposisi Penduduk DKI Jakarta 2012

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

RUMAH SUSUN SEDERHANA DI SEMARANG

BAB I PENDAHULUAN. Tingkat pertumbuhan jumlah penduduk di Kota Medan saling berkaitan

BAB I PENDAHULUAN I - 1. Sumber data statistic BPS DKI Jakarta. Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

3.3 KONSEP PENATAAN KAWASAN PRIORITAS

berkembang seperti Indonesia dewasa ini adalah tingginya pertumbuhan penduduk terutama pada pusat-pusat perkotaan, dimana terpusatnya

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. perlunya perumahan dan pemukiman telah diarahkan pula oleh Undang-undang Republik

BAB 1 PENDAHULUAN. Kondisi dan kecenderungan perkembangan kawasan di perkotaan khususnya

RUMAH SUSUN MILIK DI JAKARTA DENGAN PENENKANAN DESAIN MODERN-GREEN Sevi Maulani, 2014 BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. untuk kalangan menengah ke-atas (high-middle income). lebih dari batas UMR termasuk golongan menengah ke atas.

RANCANGAN PERDA KUMUH KOTA YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latarbelakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pembangunan adalah upaya memajukan, memperbaiki tatanan, meningkatkan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. mengakibatkan kebutuhan akan tempat tinggal semakin tinggi. Menurut Susanti

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Tabel 1. Luas Wilayah, Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kabupaten/Kota Provinsi DKI Jakarta Tahun 2011

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. penduduknya. Peningkatan pendapatan di negara ini ditunjukkan dengan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Pendahuluan

EVALUASI STRATEGI PENGEMBANGAN KAWASAN PERUMAHAN MELALUI PENDEKATAN URBAN REDEVELOPMENT DI KAWASAN KEMAYORAN DKI JAKARTA TUGAS AKHIR

BAB I PENDAHULUAN. dilakukannya penelitian ini terkait dengan permasalahan-permasalahan

BAB 1 PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Lokasi Kampung Pulo Sumber: hasil olahan pribadi

Gambar 5.30 Peta Jalur Transportasi Publik Kawasan Manggarai Gambar 5.31 Peta rencana Jalur Transportasi Publik Kawasan Manggarai...

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Bontang terletak 150 km di utara Samarinda. Dengan wilayah yang relatif kecil dibandingkan kabupaten

BAB V STRATEGI PRIORITAS PENANGANAN KAWASAN PERMUKIMAN CILOSEH

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. 1.2 Pemahaman Judul dan Tema

Rumah Susun Sewa Di Kawasan Tanah Mas Semarang Penekanan Desain Green Architecture

Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

KETERKAITAN KEMAMPUAN MASYARAKAT DAN BENTUK MITIGASI BANJIR DI KAWASAN PEMUKIMAN KUMUH

Persepsi Masyarakat terhadap Permukiman Bantaran Sungai

BAB I PENDAHULUAN. Tinggi terletak pada LU dan BT. Kota Tebing Tinggi

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN PERMASALAHAN RELOKASI BANTARAN SUNGAI (STUDI KASUS: KAMPUNG PULO KE RUSUNAWA JATINEGARA BARAT)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENGANTAR Latar Belakang. Dewasa ini tantangan pembangunan, kebijaksanaan dan langkah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. pertumbuhan sebesar 1,49 % pada tahun Badan Pusat Statistik (BPS,

BAB I PENDAHULUAN. yang hidup dalam lingkungan yang sehat. Lingkungan yang diharapkan adalah yang

Kata kunci : sanitasi lingkungan, pemukiman nelayan, peran serta masyarakat

BAB 1 PENDAHULUAN. tingkat urbanisasi. Tingkat urbanisasi yang tinggi berakibat pada ruang fisik

BAB I PENDAHULUAN. secara tidak terencana. Pada observasi awal yang dilakukan secara singkat, Kampung

BAB I PENDAHULUAN. maupun badan hukum. Usaha pemerintah ini tidak terlepas dari tujuan negara

BAB IV KONSEP DAN STRATEGI PENCEGAHAN DAN PENINGKATAN KUALITAS PERMUKIMAN KUMUH

PLPBK RENCANA TINDAK PENATAAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN BAB III GAMBARAN UMUM KAWASAN PRIORITAS KELURAHAN BASIRIH BANJARMASIN BARAT

`BAB I PENDAHULUAN. tertentu. Pada dasarnya pembangunan dalam sektor permukiman adalah

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan sebuah kota pada hakikatnya disebabkan oleh pertambahan penduduk baik pertambahan secara alami maupun karena migrasi, diikuti dengan perkembangan kegiatan usaha masyarakatnya. Sejalan dengan perubahan tersebut, maka peningkatan kebutuhan sarana dan prasarana perkotaan pun ikut bertambah, salah satunya adalah kebutuhan perumahan. Namun, pada kenyataannya pengadaan rumah di daerah perkotaan masih sangat terbatas dan sulit dipecahkan terutama perumahan bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah. Akibatnya sebagian penduduk yang kurang mampu tersebut mencari tempat tinggal pada lingkungan yang kurang tepat, yaitu kawasan yang menurut peraturan yang berlaku merupakan kawasan yang dilarang untuk mendirikan bangunan perumahan sehingga disebut sebagai permukiman liar (squatter) 1 seperti bantaran sungai dan bantaran rel kereta api. Ditambah lagi dengan merosotnya kondisi hunian yang mengakibatkan kemunculan permukiman kumuh (slums) 2. Padahal, Kota sebagai sumber kehidupan seharusnya memberikan hak dan kesempatan yang sama untuk semua orang agar dapat tumbuh dan berkembang sebagai manusia seutuhnya. Jakarta sebagai Ibukota negara Republik Indonesia dan juga kota terbesar di Indonesia memiliki lebih dari 10 juta penduduk 3 merupakan tempat yang memiliki magnet kuat dalam menggiring masyarakat dari daerah untuk mencari kehidupan yang 1 Squatter : A person who unlawfully occupies an uninhabited building or unused land https://en.oxforddictionaries.com/definition/squatter, diakses tanggal 12/12/16 2 Slums : A squalid and overcrowded urban street or district inhabited by very poor people; A house or building unfit for human habitation https://en.oxforddictionaries.com/definition/slum, diakses tanggal 12/12/16 3 BPS DKI Jakarta, https://jakarta.bps.go.id, diaksses tanggal 24/01/2017 1

lebih baik mereka dan anak-anak mereka, di Jakarta ada begitu banyak kesempatan untuk belajar dan bekerja. Para pendatang yang berbondong-bondong tersebut, karena kondisi sosial ekonominya yang rendah, biasanya mengakibatkan tumbuhnya permukiman liar (squatter) dan lebih lanjut mengakibatkan penurunan kondisi hunian yang mereka tempati menjadi permukiman kumuh (slum). Apabila tidak ditangani, maka permukiman kumuh akan berdampak pada proses pembangunan dan kehidupan perkotaan. Hunian liar pada dasarnya adalah pelanggaran hukum, sebab didirikan secara ilegal di atas tanah yang bukan miliknya dan dibangun secara ilegal tanpa memenuhi ketentuan yang berlaku (misalnya IMB). Jika hal ini dibiarkan, maka kecenderungannya akan meluas dan menjurus pada ketidaktertiban umum. Kondisi permukiman yang sangat padat dan kumuh menimbulkan rendahnya derajat kesehatan masyarakat, memberi peluang kriminalitas, dan terganggunya norma tata susila. Dengan tidak mengindahkan persyaratan teknis dan tidak teraturnya tata guna tanah maka pada permukiman kumuh akan memicu terjadinya kebakaran dan sering menimbulkan banjir sehingga memperburuk kondisi lingkungan perkotaan secara keseluruhan. Permasalahan penyediaan permukiman di DKI Jakarta bukan sekedar permasalahan kuantitas, tetapi juga kualitas. Permasalahan kuantitas tersebut berimbas kepada masalah kualitas, terbatasnya ketersediaan perumahan yang disediakan pemerintah dan tidak terjangkaunya harga perumahan yang disediakan oleh pihak swasta membuat masyarakat yang berpenghasilan rendah akhirnya memilih untuk tinggal di bantaran sungai. Dalam upaya memenuhi kewajibannya dalam kebijakan pemenuhan kebutuhan hunian yang layak dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menemui 2

kendala yaitu pada terus meningkatnya kebutuhan rumah seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan keluarga baru, dan masalah keterbatasan lahan di Jakarta sehingga berakibat pada tingginya harga lahan. Gambar 1. 1 Permukiman Kumuh di Jakarta Sumber : Internet, 2016 Adapun kawasan yang menjadi perhatian utama penyelesaian permasalahan permukiman Pemerintah Provinsi DKI Jakarta adalah kawasan yang dilalui oleh Kali Ciliwung, Perhatian ini telah berjalan sejak tahun 1992, karena Kali Ciliwung merupakan daerah aliran sungai yang dianggap sebagai penyebab terjadinya bencana banjir tahunan di Jakarta, ditambah lagi dengan kondisi permukiman di bantaran Kali yang tidak memenuhi kualitas lingkungan. Beberapa periode pemerintahan di DKI Jakarta memberikan kebijakan penanganan Kali Ciliwung, namun pada implementasinya sering menghadapi kendala-kendala. Pada tahun 2015, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ikut mengeluarkan kebijakan permukiman kembali bagi warga yang ada di pinggir Kali Ciliwung, khususnya masyarakat Kampung Pulo untuk kemudian dipindahkan ke rumah susun Jatinegara Barat. Kampung Pulo adalah kawasan yang ada di Kelurahan Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara Barat, Jakarta Timur. Sesuai dengan namanya yang terinspirasi dari daratan yang seolah-olah terpisah dari daratan membentuk pulau ketika air di Sungai Ciliwung naik. Kampung ini memiliki lokasi yang sangat 3

strategis, terletak di daerah perkotaan Jatinegara, memiliki aksesibilitas yang baik dihubungkan oleh Jalan Jatinegara Barat yang menghubungkan Jakarta Timur dengan Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan, lengkap dengan fasilitas sarana prasarana pendidikan dan kesehatan. Hal ini menjadi alasan warga tetap bertahan walaupun setiap tahunnya Kampung Pulo rutin mendapat kiriman banjir. Pelaksanaan program permukiman kembali tidak seluruhnya berjalan mulus. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendapatkan penolakan dan demo baik dari warga Kampung Pulo maupun dari LSM yang merasa program pemerintah ini lebih banyak merugikan masyarakat dan menjadikan masyarakat Kampung Pulo sebagai korban perkembangan kota. Namun pemerintah DKI Jakarta yang pada saat itu ada di bawah pimpinan Bapak Basuki Tjahaja Purnama dengan komitmen yang besar tetap melaksanakan kebijakan permukiman kembali warga Kampung Pulo. Menggunakan berbagai kebijakan tambahan yang bersifat insentif, pada Agustus 2015 penduduk Kampung Pulo dari 3 RT, yaitu RT 1, 2, dan 3 berhasil dipindahkan ke rumah susun Jatinegara Barat dan kebijakan permukiman kembali pun berhasil dilaksanakan. Pemerintah DKI Jakarta memastikan kebetahan warga yang direlokasi untuk dapat melanjutkan kehidupannya di tempat yang baru. 1.2 Rumusan Masalah Kegagalan pembangunan sering kali bersumber dari kegagalan pemerintah dalam mengimplementasikan sebuah kebijakan. Bagaimana cara pemerintah mengatasi masalah implementasi kebijakan dalam mencapai tujuan pembangunan menjadi penting dalam permasalahan permukiman kembali masyarakat yang ada di pinggiran sungai di sekitar Kota Jakarta dan telah menjadi masalah menahun yang 4

mengakibatkan banyak permasalahan lain yang timbul seperti munculnya permukiman kumuh, masalah kesehatan warga pinggir sungai, banjir, penurunan kualitas lingkungan sungai, dan lain-lain. Ada begitu banyak kebijakan yang diciptakan untuk menanggulangi permasalahan ini, namun dalam implementasinya selalu menemui kendala yang mengakibatkan tidak terlaksananya program. Pada tahun 2015 yang lalu, kebijakan permukiman kembali warga Kampung Pulo telah berhasil dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dilihat dari tingkat kebetahan warga yang sampai dengan tahun 2017 masih bertahan di rumah susun Jatinegara Barat. Sehingga perlu diteliti bagaimana strategi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara cepat dan tepat berinisiatif memberikan kebijakan tambahan yang dapat menangani implementasi pelaksanaan kebijakan permukiman kembali agar warga yang direlokasi dapat bertahan dan betah di lokasi permukiman yang baru dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi kebijakan tersebut.. Sehingga strategi tersebut dapat diimplementasikan pada kebijakan permukiman lainnya. Berdasarkan rumusan masalah tersebut, penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab beberapa pertanyaan mengenai implementasi kebijakan permukiman di Provinsi DKI Jakarta, antara lain : 1. Bagaimana strategi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menyelesaikan masalah permukiman kembali warga bantaran Kali Ciliwung? 2. Apa saja faktor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi kebijakan permukiman kembali warga bantaran Kali Ciliwung khususnya di Kampung Pulo, Kampung Melayu? 5

1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ditujukan untuk mengetahui bagaimana strategi implementasi yang dilaksanakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam permukiman kembali masyarakat Kampung Pulo sehingga nantinya dapat dijadikan rekomendasi yang dapat membantu Pemerintah Daerah untuk mengetahui langkah-langkah strategis yang mungkin dan harus dilakukan. Berdasarkan pertanyaan penelitian di atas, penelitian ini bertujuan: 1. Menjelaskan strategi implementasi kebijakan permukiman kembali yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kepada warga bantaran Kali Ciliwung 2. Menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi kebijakan permukiman kembali warga Kali Ciliwung khususnya di Kampung Pulo, Kampung Melayu 1.4 Manfaat Penelitian Kebijakan (policy) adalah sebuah instrumen pemerintahan yang terdiri dari keputusan-keputusan atau pilihan-pilihan tindakan yang secara langsung mengatur pengelolaan dan pendistribusian sumber daya alam, finansial dan manusia demi kepentingan publik, yakni rakyat banyak, penduduk, masyarakat atau warga negara. Kebijakan dibuat untuk mengatasi masalah, intervensi pemerintah untuk mencari cara pemecahan masalah untuk mendukung proses pembangunan yang lebih baik. Dari uraian di atas, bagi peneliti penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan informasi kepada masyarakat umum mengenai kebijakan permukiman kembali, memberikan rekomendasi mengenai pemecahan masalah dalam usaha permukiman 6

kembali warga relokasi kepada Pemerintah Daerah yang menghadapi permasalahan yang sama, memberikan informasi untuk perumusan kebijakan permukiman yang cepat dan tepat bagi terwujudnya kualitas hidup yang lebih baik di masa yang akan datang, dan memberikan referensi pada kajian-kajian selanjutnya dalam bidang penelitian serupa. 1.5 Batasan penelitian Relokasi permukiman di Kampung Pulo sepenuhnya dijalankan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merupakan salah satu usaha pemerintah dalam membantu masyarakat untuk mendapatkan permukiman yang aman dan layak, dengan permukiman yang layak diharapkan kualitas hidup dari masyarakat dapat meningkat. Selain itu, relokasi ini dimaksudkan dalam rangka mengembalikan fungsi ruang sempadan Kali Ciliwung untuk menghindari banjir tahunan yang melanda Provinsi DKI Jakarta. Untuk itu, penelitian ini membatasi pembahasan pada kebijakan yang ada di dokumen perencanaan dan implementasinya pada penduduk Kampung Pulo yang direlokasi ke Rumah Susun Jatinegara Barat yang secara langsung merasakan implementasi kebijakan permukiman kembali. Sedangkan untuk batasan temporalnya adalah implementasi kebijakan permukiman kembali yang dilakukan pada tahun 2015 dengan batasan lokasi penelitian adalah sebagai berikut : 7

Lokasi penelitian : Rumah susun Jatinegara barat, Jalan Jatinegara Barat, Nomor 142, Bali Mester, Jatinegara, Jakarta Timur Gambar 1. 2 Lokasi Penelitian Sumber : GooleEarth, 2016 1.6 Kerangka Alur Penelitian Secara garis besar, alur penelitian ini dapat disusun menjadi sebuah kerangka bahwa permasalahan pemenuhan kebutuhan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan permasalahan banjir perkotaan telah menjadi perhatian pemerintah DKI Jakarta dalam waktu yang lama. Pemerintah telah menjalankan kebijakan-kebijakan, namun dalam implementasinya menemui kendala-kendala, baru pada tahun 2015 kebijakan permukiman kembali ini dapat terlaksana. Keberhasilan implementasi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, untuk itu dibutuhkan teori-teori yang mendukung implementasi kebijakan. Dapat diilustrasikan sebagai berikut : 8

Gambar 1. 3 Kerangka Alur Penelitian Sumber : Penulis, 2017 9

1.7 Keaslian Penelitian Ada beberapa penelitian yang ditemukan peneliti terkait permukiman kembali masyarakat, di antaranya : 1. Penelitian dengan judul Faktor faktor yang mempengaruhi pencapaian proses relokasi permukiman masyarakat Suku Bajau di Desa Kalumbatan, Kabupaten Banggai Kepulauan yang dilakukan oleh Muhammad Yasser pada tahun 2012, Magister Perencanaan Kota dan Daerah, Universitas Gadjah Mada. Penelitian ini mengupas hubungan manusia dengan lingkungan terkait konteks ruang dan tempat tinggal. Menurut Yasser (2012), proses relokasi permukiman masyarakat Suku Bajau di Desa Kalumbatan diukur berdasarkan kondisi rumah, peningkatan pendapatan dan tingkat kebetahan masyarakat. Proses relokasi sangat dipengaruhi oleh faktor internal (tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, kepemilikan lahan, dan hubungan kekerabatan) dan faktor eksternal (sarana prasarana lingkungan, aksesibilitas, dukungan pemerintah, dan kondisi alam). Lebih lanjut, Yasser meneliti faktor tersebut dengan kebetahan masyarakat Suku Bajau di tempat relokasi. Dari ketiga alat ukur di atas, yang paling berhasil adalah tingkat kebetahan, sedangkan kondisi rumah dan tingkat pendapatan masih dalam range cukup berhasil. 2. Penelitian dengan Judul Implementasi Program Penataan Kawasan Permukiman di Sungai Jingah Kota Banjarmasin oleh Yunita Ramadhany pada tahun 2012, Magister Perencanaan Kota dan Daerah, Universitas Gadjah Mada. Penelitian ini membahas mengenai implementasi, efektivitas, dan faktor yang mempengaruhi implementasi program penataan kawasan permukiman oleh pemerintah. Menurut Ramadhany (2012), program penataan kawasan permukiman di Kelurahan Sungai 10

hanya terwujud dalam perbaikan dan pengadaan jaringan jalan, pedestrian, dermaga dan drainase. Sedangkan program penataan koridor rumah tradisional, pengadaan street furniture, pembebasan lahan tepian Sungai Martapura, perbaikan fasade, dan pembebasan pagar rumah masih gagal dilakukan. Adapun hal-hal yang dianggap mengakibatkan kegagalan program tersebut antara lain : ketidakmatangan proses perencanaan sehingga sumber dana dan waktu yang diasumsikan tidak mencukupi, tumpah tindih tanggung jawab mewarnai pelaksanaan program. Dan tidak adanya upaya publikasi dan sosialisasi kepada masyarakat. 3. Penelitian dengan judul Fleksibilitas Pemanfaatan Ruang Pada Permukiman Rawan Banjir kampung Pulo, Jakarta Timur oleh Freddy Masito Sitorus pada tahun 2015, Magister Perencanaan Kota dan Daerah, Universitas Gadjah Mada. Penelitian ini membahas mengenai strategi adaptasi dari masyarakat Kampung Pulo dalam menghadapi bencana banjir tahunan yang datang setiap tahunnya. Menurut Freddy (2015), terjadi fleksibilitas fungsi dan pemanfaatan ruang permukiman di daerah Kampung Pulo. Adapun fleksibilitas tersebut dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu, fleksibilitas vertikal dan fleksibilitas horizontal. Fleksibilitas ruang ini dapat berubah pada 3 waktu tertentu seperti pada saat keadaan normal, situasi akan banjir, dan ketika banjir terjadi. 4. Penelitian dengan judul Taktik dalam Penyesuaian Praktik Usaha Yang Bertumpu Pada Rumah Tangga Di Rusunawa Jatinegara Barat, Jakarta Timur Oleh Wita Indriani pada tahun 2016, Program Pasca Sarjana Departemen Arsitektur, Universitas Indonesia. Penelitian ini membahas mengenai penyesuaian praktik usaha oleh penghuni rumah susun. Menurut Wita (2016), strategi pemerintah dalam usaha permukiman kembali hanya menitikberatkan pada fisik perumahan, namun 11

kurang memperhatikan pada penyesuaian mata pencaharian. Akibatnya, usaha pemenuhan kebutuhan hidup warga relokasi menjadi terhambat dan akhirnya warga akan melanggar dan menyiasati regulasi dan kondisi fisik yang ada, dalam hal ini adalah usaha berdagang. Indriani (2016) menemukan 2 bentuk taktik spasial yang dilakukan warga rumah susun Jatinegara Barat, yaitu: (1) penambahan fungsi ruang atau penggunaan ruang yang tidak sesuai fungsinya; (2) menyiasati/modifikasi ruang dengan penambahan perabot atau atribut pada ruang; pengaturan tata ruang; atau pengaturan waktu penggunaan ruang. Adapun penerapan taktik meruang tersebut ditemui dalam (1) pemanfaatan unit sarusunawa dan pemanfaatan trotoar sebagai ruang usaha, (2) cara mendapatkan dan pemanfaatan halaman sebagai ruang usaha. Oleh karena itu, aktivitas usaha warga relokasi perlu di fasilitasi dan didukung agar mereka dapat menjalankan usahanya dengan baik dan hidup dengan mandiri. Tabel 1. 1 : Perbandingan Penelitian Terdahulu No. Judul dan Nama Peneliti Lokasi 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian proses relokasi permukiman masyarakat Suku Bajau di Desa Kalumbatan, Kabupaten Banggai Kepulauan oleh Muhammad Yasser pada tahun 2012 Desa Kalumbatan, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah Metode Penelitian Pendekatan deduktif, metode analisis kuantitatif Fokus Penelitian Pencapaian proses permukiman yang dilakukan masyarakat Suku Bajau 2. Implementasi Program Penataan Kawasan Permukiman di Sungai Jingah Kota Banjarmasin oleh Yunita Ramadhany pada tahun 2012 Kawasan Sungai Jingah, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan Pendekatan eksploratif, metode analisis kualitatif Identifikasi program penataan kawasan permukiman dan faktor yang mempengaruhi keberhasilan 12

No. Judul dan Nama Peneliti Lokasi Metode Penelitian Fokus Penelitian implementasi program. 3. Fleksibilitas Pemanfaatan Ruang Pada Permukiman Rawan Banjir kampung Pulo, Jakarta Timur Kampung Pulo, Kecamatan Jatinegara, Kota Jakarta Timur Pendekatan induktif kualitatif, dengan pendekatan fenomenologi Strategi adaptasi masyarakat Kampung Pulo dalam menghadapi banjir tahunan. 4. Taktik dalam Penyesuaian Praktik Usaha Yang Bertumpu Pada Rumah Tangga Di Rusunawa Jatinegara Barat, Jakarta Timur Kampung Pulo, Kecamatan Jatinegara, Kota Jakarta Timur Pendekatan deduktif. Metode campuran Adaptasi ruang usaha oleh warga relokasi dalam menjalankan usaha di Rusunawa Sumber : penulis, 2016 1.8 Sistematika Penulisan Sistematika pembahasan ini menjelaskan urutan dan isi setiap bab dalam penelitian. Adapun sistematika penulisan proposal penelitian ini antara lain : BAB I PENDAHULUAN Pendahuluan berisi tentang latar belakang, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, ruang lingkup penelitian yang mencakup ruang lingkup wilayah dan ruang lingkup materi, keaslian penelitian, kerangka pemikiran dan sistematika pembahasan BAB II TINJAUAN PUSTAKA Tinjauan pustaka berisi literatur yang akan menjadi acuhan dalam analisis data, penelitian sejenis yang menunjang penelitian dan juga kerangka teori yang akan digunakan untuk memudahkan dalam mengidentifikasi dan mengaplikasikan tiap-tiap teori yang akan dijadikan acuhan dalam menganalisis suatu masalah. 13

BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian berisi metode-metode yang akan digunakan dalam penelitian yang akan dimulai dari jenis penelitian, diagram alir, metode pengumpulan data, metode analisis data dan desain survei yang berfungsi sebagai pedoman dalam penelitian. BAB IV DESKRIPSI WILAYAH PENELITIAN Menggambarkan secara detail wilayah yang menjadi objek penelitian secara administratif maupun kondisi sosial ekonominya. BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Menguraikan tentang hasil penelitian yang terkait dengan tema penelitian dengan cara membandingkan teori pada bab I dan Bab II dikaitkan dengan hasil temuan di lapangan yang merupakan realitas empiris. BAB VI PENUTUP Berisi kesimpulan hasil, saran dan rekomendasi. 14