Lampiran 1. Hasil Wawancara Pelaksanaan Program Remedi
|
|
|
- Iwan Jayadi
- 7 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 LAMPIRAN 93
2 Lampiran 1. Hasil Wawancara Pelaksanaan Program Remedi Sekolah : SMA N 1 Sentolo Hari, tanggal wawancara : Selasa, 18 April 2017 Jam wawancara : selesai Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melaksanakan program Guru :Ya, saya melaksanakan program remedi. Setelah melaksanakan ulangan harian, kemudian hasilnya dianalisis. Apabila terdapat peserta didik yang belum mencapai nilai KKM maka dilaksanakan remedi. Peneliti : Bagaimana Bapak/Ibu Guru menentukan peserta didik yang harus mengikuti program Guru : Berdasarkan nilai ulangan harian, peserta didik yang belum mencapai KKM mengikuti ulangan remedi. Peneliti : Selain berdasarkan nilai ulangan harian, apakah ada informasi lain yang digunakan dalam menetapkan peserta didik yang harus mengikuti program Guru : Tidak. Hanya berdasar nilai KKM saja. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melakukan observasi terhadap peserta didik yang menunjukkan tanda-tanda tidak konsentrasi, mengalami kesulitan memahami konsep, dan memiliki motivasi belajar rendah? Guru : Tidak. Itu termasuk hambatan. Remedi hanya untuk memperbaiki nilai saja. Peneliti :Apakah Bapak/Ibu Guru membandingkan hasil observasi dan tes formatif dengan hasil tes inteligensi? Guru : Saya belum mengaitkan nilai hasil ulangan dengan observasi peserta didik. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru mengidentifikasi kelompok peserta didik yang harus mengikuti program Guru : Tidak ada pengelompokkan peserta didik yang mengikuti remedi. Berdasarkan kurikulum 2013, tidak boleh membeda-bedakan peserta didik. Peneliti : Bentuk pelaksanaan remedi apa yang Bapak/Ibu Guru laksanakan? Guru : Pelaksanaan remedi yang saya lakukan berupa pemberian tes ulang. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melaksanakan tes ulang setelah pembelajaran Guru : Ya, tes ulang yang dilakukan berupa ulangan remedi. Peneliti : Siapa saja yang melaksanakan tes ulang tersebut? Guru : Peserta didik yang mengikuti remedi hanya peserta didik yang belum tuntas (belum mencapai KKM). 94
3 Peneliti :Bagaimana Bapak/Ibu Guru menentukan nilai akhir peserta didik yang mengkuti program Guru : Nilai maksimal peserta didik yang mengikuti remedi yaitu tepat nilai KKM. Peneliti : Apabila setelah melakukan program remedi, ternyata masih ada peserta didik yang belum mencapai kompetensi, langkah apa yang dilakukan oleh Bapak/Ibu Guru? Guru : Setelah remedi apabila masih terdapat peserta didik yang belum tuntas maka dilaksanakan remedi sampai peserta didik benar-benar tuntas. Kalau peserta didik baru bisa tuntas setelah 3-4 kali remedi. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program Guru : Tidak ada evaluasi pelaksanaan remedi. Namun, saya melakukan telaah, misalnya banyak peserta didik yang remedi,kemudian ditelusuri penyebabnya apakah karena tingkat kesulitan materinya atau memang karena peserta didiknya. Hasil Wawancara Pelaksanaan Program Remedi Sekolah : SMA N 1 Wates Hari, tanggal wawancara : Rabu, 19 April 2017 Jam wawancara : selesai Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melaksanakan program Guru : Ya, melaksanakan program remedi. Peneliti : Bagaimana Bapak/Ibu Guru menentukan peserta didik yang harus mengikuti program Guru : Penentuan peserta didik yang harus mengikuti remedi hanya berdasarkan nilai ulangan harian saja. Peneliti : Selain berdasarkan nilai ulangan harian, apakah ada informasi lain yang digunakan dalam menetapkan peserta didik yang harus mengikuti program Guru : Tidak ada. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melakukan observasi terhadap peserta didik yang menunjukkan tanda-tanda tidak konsentrasi, mengalami kesulitan memahami konsep, dan memiliki motivasi belajar rendah? Guru : Saya belum melakukan observasi terkait hal tersebut. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru membandingkan hasil observasi dan tes formatif dengan hasil tes inteligensi? Guru : Tidak. Sementara ini belum dibandingkan dengan hasil tes inteligensi. 95
4 Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru mengidentifikasi kelompok-kelompok peserta didik yang harus mengikuti Guru : Belum melakukan pengelompokkan peserta didik karena peserta didik yang memiliki nilai dibawah KKM yang mengikuti remedi. Peneliti : Bentuk pelaksanaan remedi apa yang Bapak/Ibu Guru laksanakan? Guru : Peserta didik melakukan belajar mandiri kemudian pada waktu yang telah ditentukan dilaksanakan tes ulang. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melaksanakan tes ulang setelah pembelajaran Guru : Ya, ada tes ulang remedi. Peneliti :Apabila setelah melakukan program remedi, ternyata masih ada peserta didik yang belum mencapai kompetensi, langkah apa yang dilakukan oleh Bapak/Ibu Guru? Guru : Harusnya diremedi lagi, pada kenyataannya tidak saya lakukan. Peneliti : Bagaimana Bapak/Ibu Guru menentukan nilai akhir peserta didik yang mengkuti program Guru : Nilai akhir peserta didik yang mengikuti remedi yaitu tepat KKM. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program Guru : Ada evaluasi terkait pelaksanaan remedi. Pada blangko analisis evaluasi, termuat analisis penyebab kegagalan peserta didik yang dapat berasal dari peserta didik itu sendiri ataupun dari soal dan tingkat kesulitan materi. Peserta didik yang mengikuti remedi cenderung sama, hanya peserta didik itu-itu saja. Hasil Wawancara Pelaksanaan Program Remedi Sekolah : SMA N 1 Girimulyo Hari, tanggal wawancara : Kamis, 4 Mei 2017 Jam wawancara : selesai Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melaksanakan program Guru : Ya, saya menyelenggarakan remedi. Peneliti : Bagaimana Bapak/Ibu Guru menentukan peserta didik yang harus mengikuti program Guru : Berdasarkan nilai ulangan. Sekolah ini kan masih menerapkan KTSP, jadi kelas X belum ada penjurusan. Hal tersebut memiliki pengaruh dalam jumlah peserta didik yang mengikuti remedi. Karena belum ada penjurusan, minat belajar peserta didik belum terfokus. Karena belum penjurusan terkadang peserta didik mengelak dengan alasan nantinya kan 96
5 juga masuknya jurusan IPS. Jadi untuk mempelajari fisika, kimia, dan biologi rendah karena peserta didik minatnya ke jurusan IPS. Untuk peserta didik kelas XI IPA, paling tidak hanya satu atau dua peserta didik saja yang mengikuti remedi. Menurut pendapat saya, jumlah peserta didik yang mengikuti remedi dipengaruhi oleh minat peserta didik. Untuk kelas X pada Kurikulum KTSP, peserta didik itu baru mencari minatnya dimana, senangnya dimana. Itu perbedaan antara kelas X dan XI. Peneliti : Selain berdasarkan nilai ulangan harian, apakah ada informasi lain yang digunakan dalam menetapkan peserta didik yang harus mengikuti program Guru : Kalau saya biasanya menggunakan nilai ulangan harian saja. Jadi, nilai ulangan harian kalau belum mencapai KKM harus mengikuti remedi. Jadi, hanya berdasarkan nilai ulangan harian untuk menetapkan peserta didik yang harus mengikuti remedi. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melakukan observasi terhadap peserta didik yang menunjukkan tanda-tanda tidak konsentrasi, mengalami kesulitan memahami konsep, dan memiliki motivasi belajar rendah? Guru : Tidak. Biasanya kelas X, yang biasanya bermasalah, tapi kalau kelas XI biasanya peserta didik itu sudah memang tahu kesenangannya itu memang disini jurusan IPA. Minat belajarnya sudah ada dan usahanya sudah maksimal kemudian hasilnya memang seperti itu kan sudah hasil akhirnya. Yang terpenting dari semuanya adalah prosesnya. Kalau kita itu belajar misalnya satu kelas, terdapat dua atau tiga peserta didik yang belum berhasil kan wajar saja. Dalam suatu kelas kan tidak mungkin bisa tuntas semuanya. Disini nilai ketuntasannya tinggi yaitu 75, baik kelas X, kelas XI maupun kelas XII. Jadi semua mata pelajaran nilai ketuntasan minimalnya 75. KKM sebenarnya yang menentukan adalah guru, tapi disini yang menetakan sekolah untuk keperluan akreditasi. Sebaiknya penentuan nilai KKM berdasarkan nilai masuknya peserta didik atau NEM rata-rata. Kalau kelas XI sih terserah. Kalau nilai KKM 75 menurut pelaksana itu sudah tinggi sekali, ya paling tidak 70. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru membandingkan hasil observasi dan tes formatif dengan hasil tes inteligensi? Guru : Tidak. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru memperhatikan faktor psikis peserta didik dalam menentukan peserta didik yang harus mengikuti program Guru : Peserta didik yang mengalami masalah psikologis saya pertimbangkan. Biasanya guru, terutama wali kelas dan guru BK, lebih mengetahui tentang masalah yang dialami peserta didik. Sebagai guru memperhatikan kalau terdapat peserta didik yang tidak tuntas ulangan harian 3 kali dan 97
6 mengikuti remedi berulang kali, ditelusuri apakah ada masalah atau tidak, atau memiliki daya tangkap yang kurang. Terdapat peserta didik yang memiliki problem di rumah tetapi juga memiliki daya tangkap yang rendah (masalah internal). Dalam satu kelas setidaknya peserta didik yang mengikuti remedi hanya dua atau tiga orang. Kalau misalkan peserta didik yang mengikuti remedi jumlahnya terlalu banyak nantinya yang disalahkan adalah gurunya. Peneliti : Bentuk pelaksanaan remedi apa yang Bapak/Ibu Guru laksanakan? Guru : Kalau saya, saya suruh belajar, paling nggak gini, saya umumkan dulu kemudian nanti ditentukan kapan pelaksanaan remedi, yang belum dikuasai peserta didik nomer sekian sekian sekian. Kemudian saat pertemuan ada perbaikan (remedi) dan pengayaan. Jadi untuk peserta didik yang sudah tuntas kan mengikuti pengayaan. Kalau hanya ada remedi, nanti yang tuntas gimana? Yang sudah tuntas nilainya sudah 75, paling tidak setelah pengayaan dapat 78 atau berapa. Kalau peserta didik yang remedi kan nanti paling nggak dapat 75. Peneliti : Bagaimana Bapak/Ibu Guru menentukan strategi pelaksanaan program Guru : Sebetulnya yang namanya remedi kan secara idealnya, ada strateginya. Tapi kadang-kadang namanya guru, kadang-kadang yang ideal itu belum dilaksanakan. Harusnya ada strateginya, ada pembelajarannya, kemudian ada RPP-nya, berapa yang remedi. Jadi diberi pembelajaran dulu. Tapi kalau pembelajaran seperti itu kan diluar jam pelajaran. Nah itu kendala dalam melaksanakan remedi. Pelaksanaan remedi harus diluar jam pelajaran. Kalau saat jam pelajaran kan sulit, misalnya ada yang belajar, ada yang remedi kan nantinya target tidak tercapai. Kalau banyak peserta didik yang remedi kan nanti waktunya banyak tersita untuk remedi, sementara tuntutan KD menjadi tidak tercapai. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melaksanakan tes ulang setelah pembelajaran Guru : Kalau saya cenderung saya berikan ulangan materi yang belum dikuasai atau nomer soal yang masih salah atau bobotnya yang masih kurang. Misalnya bobotya 10 tetapi baru mendapat 2 jadi perlu diperbaiki. Misalnya 5 nomer dengan bobot setiap nomernya 10 totalnya 50, ada yang baru mendapat skor 2 atau 3 kemudian nomer tersebut yang dikerjakan lagi. Misalnya sudah mendapat skor 7 atau 8 berarti kan dianggap peserta didik sudah menguasai. Peneliti : Misalnya terdapat peserta didik yang dipandang mampu dan biasanya tuntas ulangan, tetapi pada suatu saat peserta didik tersebut mengalami kegagalan, apakah Bapak/Ibu Guru menelusuri penyebabnya? 98
7 Guru : Iya, mencari tahu dengan konsultasi ke guru BK. Itu untuk peserta didik kelas X, apakah minatnya kurang, atau memang karena ada masalah karena kelas X belum penjurusan. Ya mungkin alasannya karena belum penjurusan karena masih menerapkan KTSP. Biasanya nilai peserta didik kelas X dan kelas XI terdapat perbedaan. Kelas XI nilainya lebih kelihatan karena sudah sesuai minatnya memilih jurusan IPA. Ya harapannya sih sudah tuntas semua. Ya semisal kalau belum tuntas ya dikasih tugas. Kalau ada tugas kan peserta didik ada usaha juga to, usaha belajar lagi untuk menguasai materi tersebut. Peneliti : Bagaimana Bapak/Ibu Guru menentukan nilai akhir peserta didik yang mengkuti program Guru : Nilai akhir peserta didik yang mengikutti remedi ya 75 sesuai KKM kalau melebihi nanti gimana. Kalau peserta didik yang pengayaan kan dari 75 harus naik. Kalau saya perbaikan maksimal nilai KKM (75). Idealnya kan jumlah peserta didik yang mengikuti pengayaan lebih banyak daripada peserta didik yang mengikuti remedi. Jadi, pembelajaran dikatakan sukses bila peserta didik yang remedi paling tidak berjumlah 5 peserta didik. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program Guru : Tidak ada evaluasi khusus untuk remedi, mungkin evaluasi bisa dilihat dari hasil analisis ulangan. Hasil Wawancara Pelaksanaan Program Remedi Sekolah : SMA N 1 Kalibawang Hari, tanggal wawancara : Kamis, 4 Mei 2017 Jam wawancara : selesai Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melaksanakan program Guru : Ya. Peneliti : Bagaimana Bapak/Ibu Guru menentukan peserta didik yang harus mengikuti program Guru : Berdasarkan KKM. Untuk remedi orientasinya hanya berdasarkan KKM. Kemudian perlu diperhatikan dari hasil ulangan. Nah, nanti pelaksanaan yang ada kita ambil dari peserta yang dibawah KKM, kemudian diambil dari analisis yang ada yang gagalnya di item atau indikator yang mana. Dari situ diharapkan representasi dari pelaksanaan remedi itu bisa lebih tercapai. 99
8 Peneliti : Selain berdasarkan nilai ulangan harian, apakah ada informasi lain yang digunakan dalam menetapkan peserta didik yang harus mengikuti program Guru : Tidak ada, hanya berdasar KKM saja. Peneliti : Apabila terdapat peserta didik yang belum tuntas KKM disebabkan karena masalah psikologis, apakah Bapak/Ibu Guru membantu menangani masalah tersebut terlebih dahulu? Guru : Kalau saya secara pribadi juga melakukan itu. Kan kita ada suatu aturan, namanya guru mapel harusnya juga menguasai untuk konseling dengan menerapkan prinsip-prinsip konseling. Konseling yang ada kita buka walaupun tidak terlalu formal karena nanti jika terlalu formal bisa saja malah anak menadi tidak terbuka. Nanti dengan pendekatan tertentu kita bisa beri masukan, kira-kira apa? Apa karena pola belajarnya, atau mungkin lagi ada trouble-trouble keluarga di rumah atau macam-macam. Kalau remedi KD itu seperti target. Nah KD itu target. Ketika kompetensi belum tercapai, maka apapun problemnya kita lakukan pendekatan sehingga anak tersebut bisa mencapai. Peneliti : Bagaimana Bapak/Ibu Guru menangani peserta didik yang memiliki masalah psikologis? Guru : Kita biasanya pendekatan dengan BK. Bu, anak itu ada problem, minta tolong atasi karena nanti itu mengganggu dalam KBM. Kemudian kalau kita pendekatan langsung dengan anak, kita coba inventarisasi ada masalah apa. Apa Bapak bisa bantu untuk dipecahkan? Kemudian kita nanti juga ada suatu keterbukaan bahwa untuk berbagai macam hal terkait dengan kompetensi yang harus dia capai atau apapun, nah kita buka lewat mungkin kontak kita, lewat apapun, lewat wa oke, lewat bbm oke, lewat facebook oke, dan itu ternyata mereka ada yang menembus lewat line, lewat facebook juga. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melakukan observasi terhadap peserta didik yang menunjukkan tanda-tanda tidak konsentrasi, mengalami kesulitan memahami konsep, dan memiliki motivasi belajar rendah? Guru : Untuk yang KTSP ada buku hambatan peserta didik. Nah, dari situ nanti kalau ada pendampingan di kelas misalnya saja nanti kalau ada keluarga yang trouble itu nanti kita berikan bimbingan. Nah, dengan bimbingan itu harapannya nanti sudah kelar kan, tapi nanti bisa dilihat, ternyata mungkin pada waktu itu sudah kelar tetapi ketika ulangan menjadi tidak kelar. Kadang-kadang ada anak-anak tertentu misalnya saja ada materi yang agak rumit, pada saat pembelajaran ok ok, tetapi pada saat ulangan ada beberapa anak yang mungkin fail. 100
9 Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru membandingkan hasil observasi dan tes formatif dengan hasil tes inteligensi? Guru : Tidak. Peneliti : Bentuk pelaksanaan remedi apa yang Bapak/Ibu Guru laksanakan? Guru : Remedi itu nanti dilakukan secara bertahap dengan kita beri penugasan. Kalau dengan penugasan, berhasil atau tidak? Kalau tidak berhasil mungkin nanti perlu pendampingan lebih lanjut sehingga nanti untuk indikator itu bisa tercapai. Peneliti : Bagaimana Bapak/Ibu Guru menentukan strategi pelaksanaan program Guru : Pelaksanaan remedi dilakukan dengan pemberian tes, tetapi tergantung, apabila lebih dari 50% yang mengikuti remedi kita mengadakan remedial teaching, kemudian tes, apabila setelah tes masih trouble, kita beri penugasan. Aturan main yang ada apabila kegagalan lebih dari 50% itu harus ada remedi teaching tapi kalau dibawah itu pendekatannya berbeda. Pendekatan yang ada tadi, kalau saya orientasinya dari hasil analisis tadi. Misal ada 14 soal, yang gagal pada nomer berapa berapa berapa, kemudian itu kita florkan, ada masalah atau tidak, kemaren cuma tidak belajar kok, Pak. Ya sudah. Sudah siap? Dalam artian siap memperoleh soal dengan grade yang sama, dengan sesuatu yang tampak berbeda. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melaksanakan tes ulang setelah pembelajaran Guru : Keberhasilan remedi dilakukan dengan tes, rata-rata yang kita lakukan tes. Tapi kalau itu belum ya dengan penugasan, artinya kita tidak ada suatu waktu formal sekali sehingga kalau kita dengan bisa jadi di kelas dengan tugas mandiri yang terstruktur begitu tapi kalau itu nanti masih trouble ya sudah untuk selanjutnya kita berikan keleluasaan untuk dikerjakan di rumah dengan referensi yang terbuka dengan sumber yang bisa lebih dicari. Kadang-kadang kita batasi, 5 soal targetnya nomer sekian ini dengan sekian menit saja. Kadang-kadang kalau begitu saja mereka bisa dikatakan sulit. Tapi kalau kita beri keleluasaan dengan diberikan soalsoal, nanti dikerjakan di rmah ya, sumbernya ini ini ini atau kalau mau browsing silahkan. Itu efektif. Tapi kalau tetap kita berikan soal yang tetap dikerjakan tidak di luar waktu yang kita tentukan. Kalau nanti masih trouble berarti dia tidak harus mengerjakan di sekolah, dia harus mencari referensi, dia harus membuka buku, berarti tugas kita berikan kemudian kita berikan dan kerjakan di rumah. Peneliti : Bagaimana Bapak/Ibu Guru menentukan nilai akhir peserta didik yang mengkuti program 101
10 Guru : Penentuan nilai akhir untuk peserta didik yang remedi biasa sesuai KKM, kalau kita ada dua alternatif yang kita atur. Tapi ada beberapa pengawas yang mengatakan, entah sumbernya darimana, untuk memberikan keleluasaan, keadilan itu yang nantinya yang nilai-nilainya sudah lebih dari KKM diberikan tawaran untuk mau memperbaiki nilai atau tidak. Nah ini kenapa? Mereka kasian, mereka sudah KKM tapi nanti yang remedi nilainya cuma sama dengan KKM. Kenapa yang awal berhasil tidak lebih tinggi, begitu. Nah, ada pengawas yang memiliki kebijakan seperti itu. Kalau saya tidak mengampil peluang itu. Ketika mendapat nilai sekian, mau ikut lagi nggak? Jadi, kadang-kadang waktu sangat terbatas, sehingga untuk pengayaan itu kurang memungkinkan, itu sulit tai kita memberikan keterbukaan untuk mereka yang punya cita-cita yang tidak setinggi rekan yang lain, yang memiliki orientasi saya harus ke perguruan tinggi maka nilai saya harus lebih, maka kita mengarahkan ke beberapa referensi. Tolong pelajari soal-soal yang seperti ini. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program Guru : Evaluasi kalau kita misalnya ada 5 indikator, 5 indikator itu yang kita nilai, seperti itu, kemudian nilanya bagaimana. Hal itu menjadi catatan bagaimana selanjutnya menetapkan soal yang sedikit berbeda, tapi itu ternyata susah, memungkinkan, ada anak yang seperti itu, entah bawaan, entah pola belajar atau bagaimana, untuk berikutnya nanti perlu pendampingan. Hasil Wawancara Pelaksanaan Program Remedi Sekolah : SMA N 1 Lendah Hari, tanggal wawancara : Jumat, 5 Mei 2017 Jam wawancara : selesai Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melaksanakan program Guru : Remedi ada, karena disini kan sekolah pinggiran. Sekolah pinggiran kan sini itu. Ya ada batas KKM, jadi anak yang belum mencapai batas KKM mengikuti remedi, gitu. Peneliti : Bagaimana Bapak/Ibu Guru menentukan peserta didik yang harus mengikuti program Guru : Berdasarkan nilai ulangan harian, kalau dibawah KKM kan diremedi. Peneliti : Selain berdasarkan nilai ulangan harian, apakah ada informasi lain yang digunakan dalam menetapkan peserta didik yang harus mengikuti program 102
11 Guru : Nggak, cuma berdasarkan KKM saja. Kita fokusnya ke nilai. Kalau perilaku kan beda, perilaku tidak diremedi. Kalau perilaku mungkin didekatilah, gimana. Kalau remedi dari nilainya saja. Nanti kan bentuknya bisa mengerjakan soal kembali, bisa interview, tergantung situasi dan kondisi. Peneliti : Bagaimana peserta didik yang harus mengikuti program remedi disebabkan masalah psikologis? Guru : Itu juga bisa, tetapi kita menerima nilai itu kan nggak melihat flashbacknya si anak, yang penting nilainya segitu berarti anak punya masalah, entah itu masalah dalam penangkapan materi, atau psikologinya. Peneliti : Apabila peserta didik memiliki masalah psikologis, apakah Bapak/Ibu Guru menangani terlebih dahulu sebelum melaksanakan program Guru : Ya, enggak ditangani, nanti kan larinya ke guru BK. Kita kan guru mapel langsung ke nilai. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melakukan observasi terhadap peserta didik yang menunjukkan tanda-tanda tidak konsentrasi, mengalami kesulitan memahami konsep, dan memiliki motivasi belajar rendah? Guru : Itu nanti hasil akhirnya, kalau pas nilai rapor itu kan ada 3 nilai, nilai psikomotor, afektif dan kognitif. Yang psikomotor kan ketrampilan, kemudian yang kognitif kan nilai tadi (ulangan, dll.), nilai afektif kan sikap. Kita harus menilai sikap dari observasi sehari-hari selama kita di sekolah dan dengan dicocokkan dengan nilai kognitif. Kan nggak mungkin nilainya 50 tapi sikapnya A. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru membandingkan hasil observasi dan tes formatif dengan hasil tes inteligensi? Guru : Kelas X memang ada tes IQ, kalau nggak salah yang menangani BK. Guru mapel nggak perlu ngikuti itu. Peneliti : Apakah mpernah menanyakan hasil tes IQ dengan guru BK? Guru : Tidak. Peneliti : Bentuk pelaksanaan remedi apa yang Bapak/Ibu Guru laksanakan? Guru : Ditetapkan oleh kita. Misalnya sekarang lagi bagi hasil ulangan, minggu depan kita remedi, gitu. Kalau nggak kan nanti anaknya nggak belajar, nggak siap, sama aja. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melaksanakan tes ulang setelah pembelajaran Guru : Ya, tes lagi. Dan biasanya kan misal soalnya 5, misal si A nggak tuntas di soal nomer 1, ya sudah yang dikerjakan yang nomer 1 itu. Tetapi juga tergantung situasi kondisi, kadang anak mengerjakan soal semuanya, kadang yang dikerjakan anak yang salah saja. Disesuaikan dengan situasi 103
12 dan kondisi. Nggak saklek gitu juga nggak. Kan kita ya sekolah pinggiran ya, jadinya harus menyesuaikan, yang enak aja gimana. Peneliti : Apabila dalam sekali remedi terdapat peserta didik yang masih belum tuntas, apa yang Bapak/Ibu Guru lakukan? Guru : Kalau sekali belum tuntas nanti remedi lagi. Soal yang digunakan setipe dengan soal ulangan, tapi kalau nanti masih belum tuntas soalnya dibuat sama. Peneliti : Bagaimana Bapak/Ibu Guru menentukan nilai akhir peserta didik yang mengkuti program Guru : Yang digunakan pas KKM. Karena nanti misalnya ya, ada si A dan si B, si A nilainya 30, KKM 75, si B 80, si B kan nggak remedi, yang remedi kan yang A, hasil akhir yang remedi itu 90, kalau kita ambil 90 kan nggak adil, karena 90 dari hasil remedi sementara 80 murni. Nah makanya yang remedi meski nilainya 90 nilai akhirnya KKM. Nanti kan kalo nilai akhirnya 90 kan nggak adil, 80 murni tapi 90 karena remedi. Kasian yang 80 murni. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program Guru : Itu nanti kita ada analisis ulangan harian, nanti kan bisa kita baca, tingkat kesukaran soalnya bagaimana, tapi ya kalau sini kan sekolah pinggiran, trus memang juga anaknya. Karena biasanya Bapak/Ibu Guru itu kalau bikin soal nggak jauh dari materi bahkan kadang plek materi, tapi kan karena anak itu. Motivasi anak untuk belajar itu belum termotivasi, jadi begitulah. Mungkin kalau di SMA-SMA bagus, SMA-SMA favorit beda kasusnya dengan SMA pinggiran. Hasil Wawancara Pelaksanaan Program Remedi Sekolah : SMA N 2 Wates Hari, tanggal wawancara : Senin, 15 Mei 2017 Jam wawancara : selesai Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melaksanakan program Guru : Ya, remedi mesti. Soalnya kan ada anak yang belum tuntas. Peneliti : Bagaimana Bapak/Ibu Guru menentukan peserta didik yang harus mengikuti program Guru : Berdasarkan ketuntasan, sudah tuntas atau belum. Nilai KKM. Peneliti : Selain berdasarkan nilai ulangan harian, apakah ada informasi lain yang digunakan dalam menetapkan peserta didik yang harus mengikuti program 104
13 Guru : Nggak. Biasanya hanya KKM, nilai sudah tuntas atau belum. Kalau belum tuntas ya diremedi. Nggak ada pertimbangan. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melakukan observasi terhadap peserta didik yang menunjukkan tanda-tanda tidak konsentrasi, mengalami kesulitan memahami konsep, dan memiliki motivasi belajar rendah? Guru : Ya, sering. Biasanya misalkan di kelasnya bisa kok di ulangan kok gak bisa, itu diobservasi kembali. Biasanya saya observasi kemudian dituliskan pada analisis. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru membandingkan hasil observasi dan tes formatif dengan hasil tes inteligensi? Guru : Kalau tes IQ kan, biasanya kita hanya pas awal-awal, hanya pas awal kelas X. Kalau dulu kan pas mau penjurusan, tapi kalau sekarang kan pas kelas X. Kalau dikaitkannya, tapi kadang dilihat dulu IQ-nya bagus. Tapi kan biasanya nggak sesuai. Kadang nggak sesuai antara hasil IQ dengan peserta didiknya. Peneliti : Apakah masalah non-akademis (masalah psikologis) peserta didik juga diperhatikan? Guru : Kalau itu nanti kerja sama dengan guru BK ya, sebetulnya kalau seperti itu, kenapa ini kok seperti ini, lha nanti kalau misalkan kok memang dari pihak keluarga itu muncul ya kerja sama dengan BK. Peneliti : Apakah setiap kali remedi konsultasi dengan guru BK mengenai masalah peserta didik? Guru : Tidak, itu hanya anak-anak tertentu yang khusus, kenapa anak-anak ini kok penurunan seperti ini, makanya saya tanya dengan guru BK, pie. Nanti biasanya saya tanyakan, apa ada masalah. Saya tanya ke BK, kok nilainya begini ya, mapel lain juga begini, oo ini karena apa, nanti kita pendekatan lagi individual. Kalau kondisinya belum bisa menerima keadaan ya kita pendekatan. Kalau saya ya melakukan pendekatan individual. Kalau yang lainnya kan BK. Apalagi kalau saya yang menjadi walinya ya saya yang melakukan pendekatan. Peneliti : Bentuk pelaksanaan remedi apa yang Bapak/Ibu Guru laksanakan? Guru : Remedinya biasanya mengerjakan soal setelah pembahasan, mungkin ada anak yang masih bingung, tak bahas kemudian tak kasih soal. Pembelajaran ulang yang diakhiri dengan soal. Pembelajaran dilakukan secara klasikal, kadang juga individual, tergantung jumlah pesertanya. Kalau misal sedikit, individual. Kalau banyak, klasikal. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru menerapkan strategi yang berbeda dalam melaksanakan program Guru : Kadang iya, kadang enggak, tergantung materinya, tergantung jumlah peserta didik yang remedi, studi literatur, kadang-kadang, nggak mesti. 105
14 Tergantung nanti bagaimana kesulitannya, tapi tidak pernah saya praktikum ada ulangan remedinya. Jumlah peserta didik yang mengikuti remedi nggak mesti, kalo yang kelas X IIS lumayan, kalo yang MIA ya lebih lumayan dari yang IIS. Kalau disini, kalau yang tuntas kurang dari 85% biasanya itu pembelajaran remedi, kalau yang tuntas lebih dari 85% itu pembelajaran ulang. Peneliti : Apakah ada pertimbangan dari kesulitan yang dialami peserta didik? Guru : Ada, biasanya peserta didik yang nggak bisa di bagian mana, nanti tak bahas. Jadi dilihat dari materinya. Peneliti : Apabila ada peserta didik yang biasanya tuntas kemudian suatu saat tidak tuntas, mungkin karena mengantuk, sakit, atau masalah lainnya, apakah juga harus Guru : Mungkin nanti kalau sudah diremedi kan nilainya bagus lagi, kan didukung sama nilai harian juga, dari presentasi ada nilainya juga. Misalkan keaktifan kan juga ada nilainya. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melaksanakan tes ulang setelah pembelajaran Guru : Ya, dengan tes remedi. Peneliti : Siapa saja yang mengikuti tes ulang? Guru : Ya yang ikut remedi saja. Kalau yang sudah tuntas ada pengayaan. Kalau saya biasanya pengayaannya dalam bentuk penugasan, misalnya suruh membuat apa, gitu. Pengayaan itu hanya untuk yang ingin nilainya naik, tidak wajib kalau pengayaan. Ditawarkan kepada peserta didik, kalau sudah tuntas nggak usah nggak apa-apa. Peneliti : Bagaimana Bapak/Ibu Guru menentukan nilai akhir peserta didik yang mengkuti program Guru : Kalau disini itu yang remedi nilainya hanya sebatas KKM. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program Guru : Sebenarnya harusnya ada, tapi cuma saya nggak dilakuin. Harusnya ada. Peneliti : Apakah ada kendala dalam melaksanakan program Guru : Kendala ada, waktunya kurang. Apalagi kalau kelas X, ada banyak kegiatan, semester 1 ada tonti, dan lain sebagainya. Selain itu uga mapelnya juga banyak, ada 1. Jadi, cari waktunya susah. Hasil Wawancara Pelaksanaan Program Remedi Sekolah : SMA N 1 Temon Hari, tanggal wawancara : Senin, 15 Mei 2017 Jam wawancara : selesai 106
15 Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melaksanakan program Guru : Ada remedi. Saya menyelenggarakannya. Peneliti : Bagaimana Bapak/Ibu Guru menentukan peserta didik yang harus mengikuti program Guru : Berdasarkan KKM. KKMnya 65. Peneliti : Selain berdasarkan nilai ulangan harian, apakah ada informasi lain yang digunakan dalam menetapkan peserta didik yang harus mengikuti program Guru : Enggak ada. Peneliti : Apakah ada pertimbangan khusus dalam melaksanakan remedi bagi peserta didik yang berpikir lambat? Guru : Tidak, semua diberi perlakuan yang sama soalnya ada kriterianya. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melakukan observasi terhadap peserta didik yang menunjukkan tanda-tanda tidak konsentrasi, mengalami kesulitan memahami konsep, dan memiliki motivasi belajar rendah? Guru : Ya dilakukan observasi, secara tertulisnya ada. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru membandingkan hasil observasi dan tes formatif dengan hasil tes inteligensi? Guru : Biasanya kelas X ada tes IQ. Hasilnya tidak saya gunakan untuk pertimbangan dalam menetapkan remedi. Kalau kelas X kan sudah penjurusan karena sudah Kurikulum Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru menanyakan kepada peserta didik penyebab peserta didik tersebut tidak tuntas? Guru : Yang pertama alasannya karena belajarnya tidak maksimal. Kemudian ada masalah, masalah dengan teman atau masalah di rumah. Peneliti : Apabila ada masalah, apakah Bapak/Ibu Guru membantu mengatasi masalah tersebut sebelum mengadakan Guru : Kalau disini kan ada extra PIRR (Pusat Informasi Reproduksi Remaja). Kebanyakan kaitannya dengan pacar. Disini kan ada extra PIRR, nah biasanya ada anak-anak yang saya suruh membantu memecahkan masalah, ada ruangan khusus dimaksudkan agar jangan ada orang lain yang lihat. Anak-anak memang ada yang jadi petugas, biasanya membantu menangani masalah itu. Dibantu menyelesaikan masalahnya. Setelah itu kemudian di tes lagi, diberikan soal yang sama dengan yang lain. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melakukan konsultasi kepada guru BK terkait masalah yang dialami peserta didik? Guru : Ya memang kadang-kadang dilakukan, wali kelas kan bekerja sama dengan guru BK. Wali kelas dengan guru mata pelajaran. Konsultasi dengan guru BK, biasanya anak ini di jam saya kok sering terlambat. Nah 107
16 hal ini kan bisa membuat nilainya untuk pelajaran saya menjadi rendah atau kalau ada anak yang tidak mengikuti jam saya atau apa. Peneliti : Bentuk pelaksanaan remedi apa yang Bapak/Ibu Guru laksanakan? Guru : Remedi itu macam-macam. Yang pertama, pemberian tugas, kemudian yang kedua mengerjakan materi dengan kisi-kisi yang sama tetapi soal berbeda, kemudian memanfaatkan tutor sebaya. Peneliti : Seperti apa tutor sebaya yang Ibu terapkan? Guru : Peserta didik yang pintar mengajari peserta didik yang belum tuntas. Tutor sebaya ini dilakukan terbimbing. Misalnya materi tentang apa, kemudian peserta didik membuat daftar pertanyaan yang berkaitan dengan materi tersebut. Saya sebagai guru memantau. Peneliti : Apa yang menjadi landasan Ibu dalam perbedaan menetapkan jenis Guru : Berdasarkan ketuntasannya, tapi saya agak lupa. Kalau ketuntasannya itu lebih dari 85% itu dengan pembelajaran individu, kayaknya 50-85% pembelajaran klasikal, kemudian dibawah 50% RPP-nya yang diubah, pembelajaran ulang. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melaksanakan tes ulang setelah pembelajaran Guru : Kalau perbaikan ya ada tesnya lagi mbak. Misalnya pembelajaran individual ya, nanti diberi soal lagi. Kalau yang pemberian tugas ya dari nilai tugas rumah itu, nanti dikumpulkan. Kalau dari tes ya belum tuntas ya diberi tes lagi sampai tuntas. Tapi remedi kalau hanya beberapa orang saya tes secara lisan. Kalau hanya atau 3 orang ya cuma secara lisan. Peneliti : Apabila dalam sekali remedi terdapat peserta didik yang masih belum tuntas, apa yang Bapak/Ibu Guru lakukan? Guru : Saya beri tes lagi. Kalau sudah 3 kali ternyata masih belum tuntas saya beri tugas. Peneliti : Bagaimana Bapak/Ibu Guru menentukan nilai akhir peserta didik yang mengkuti program Guru : Untuk remedi ya sesuai dengan KKM. Untuk pengayaan itu dilakukan hanya untuk mengetahui peserta didik itu lebih menguasai atau tidak. Nilai pengayaan ditambahkan dengan nilai ulangan kemudian dibagi dua untuk nilai akhir yang mengikuti pengayaan. Kadang juga malah merugikan peserta didiknya sendiri. Tapi ya biar adil. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program Guru : Iya, o ternyata yang sulit itu materi apa apa apa, untuk mengetahui selanjutnya harus menerapkan metode yang bagaimana supaya materi ini dapat tercapai. Jadi, evaluasi dilakukan untuk perbaikan pembelajaran. 108
17 Kalau remedi seperti ini kan kita tidak bisa langsung menyalahkan peserta didiknya, mungkin saya sendiri yang kurang bisa menyampaikan. Permasalahan selama ini ya materi, ya sarana, kan LCD banyak yang mati, tapi kadang saya pake LKS sendiri. Hasil Wawancara Pelaksanaan Program Remedi Sekolah : SMA N 1 Pengasih Hari, tanggal wawancara: Senin, 15 Mei 2017 Jam wawancara : selesai Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melaksanakan program Guru : Ya, di siang hari, di luar jam pelajaran. Peneliti : Bagaimana Bapak/Ibu Guru menentukan peserta didik yang harus mengikuti program Guru : Analisis ulangan harian. Sebenarnya nggak dianalisispun kalau nilainya kurang dari KKM ya peserta didik tersebut remedi. Peneliti : Selain berdasarkan nilai ulangan harian, apakah ada informasi lain yang digunakan dalam menetapkan peserta didik yang harus mengikuti program Guru : Tidak. Tapi mungkin kalau pas ulangan ada yang ketahuan nyontek kemudian peserta didik tersebut harus remedi. Peneliti : Apakah Ibu menyelidiki penyebab peserta didik tidak tuntas? Guru : Kita nggak mampu kalau sampe itu. Kita nggak mampu kalau sampai ke masalahnya. Peneliti : Apakah Ibu melakukan konsultasi dengan guru BK? Guru : Mungkin juga, tapi saya juga jarang menemui. Tapi yang kelas 3 ini ada bocah yang mengalami agak pripun ngoten, mengikuti remedi remedi remedi, ternyata anaknya agak depresi atau gimana gitu. Jadi memang diurusi oleh BK. Tapi kalau saya belum pernah menemui. Jadi sepertinya yang lain normal-normal seperti biasa. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melakukan observasi terhadap peserta didik yang menunjukkan tanda-tanda tidak konsentrasi, mengalami kesulitan memahami konsep, dan memiliki motivasi belajar rendah? Guru : Kalau seperti itu kan nanti jadi kasus, dimasukkan ke kasus, nanti terus ditanya-tanya kenapa kok selalu mengikuti remedi. Melakukan pendekatan secara individual. Kalo yang nilainya ketuntasan kan 76 tapi kalau dia dapat 74 atau 71 langsung diremedi. Kalau nilainya jauh dibawah KKM baru kenapa kenapa kok bisa. Kan banyak yang remedi karena 109
18 nilainya kurang sedikit, halah Bu, kula mboten usah remedi. Teko remedi wae. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru membandingkan hasil observasi dan tes formatif dengan hasil tes inteligensi? Guru : Tidak. Peneliti : Bentuk pelaksanaan remedi apa yang Bapak/Ibu Guru laksanakan? Guru : Kalau seharusnya, melaksanakan remedi itu harus melaksanakan pembelajaran dulu, tapi kalau pembelajaran itu waktunya nggak ada. Nggih kon sinau riyin mawon. Jadi bisa belajar sendiri atau bisa tanya ke teman sebaya kemudian dites ulang. Ada pemberian tugas tapi kalau benar-benar waktunya nggak ada. Tapi kalau masih ada waktu, tetep pakai tes ulang. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melaksanakan tes ulang setelah pembelajaran Guru : Ya, dites dengan dikasih soal. Peneliti : Apabila dalam sekali remedi terdapat peserta didik yang masih belum tuntas, apa yang Bapak/Ibu Guru lakukan? Guru : Biasanya sekali remedi sih sudah tuntas, tapi kalau ada yang belum terus saya tes lagi tapi dengan suruh buka buku. Peneliti : Bagaimana Bapak/Ibu Guru menentukan nilai akhir peserta didik yang mengkuti program Guru : Untuk yang remedi tetap KKM, nggak bisa melebihi yang nggak remedi. Peneliti : Apakah Bapak/Ibu Guru melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program Guru : Dari hasil analisis kan bisa. Kalau dari hasil remedinya dianalisis, mboten. 110
19 Lampiran 2. Tabel 2. Data identitas guru 111
20 Tabel 3. Pelaksanaan Program Remedi oleh Guru 93
21 94
22 95
23 96
24 97
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dilaksanakan kepada guru berdasarkan kriteria dengan sampel jenuh dengan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Hasil Penelitian Informasi yang diperoleh pada penelitian ini mengungkapkan keadaan nyata di lapangan berupa deskripsi mengenai pelaksanaan program remedi oleh
PELAKSANAAN PROGRAM REMEDI PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI SMA NEGERI DI KABUPATEN KULON PROGO
Pelaksanaan Program Remedi... (Olivia Kurnia Hatami) 291 PELAKSANAAN PROGRAM REMEDI PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI SMA NEGERI DI KABUPATEN KULON PROGO IMPLEMENTATION OF REMEDIAL PROGRAM ON BIOLOGY LEARNING
BAB I PENDAHULUAN. Teknologi semakin diperbaharui dan sumber daya manusia dituntut untuk
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan mengalami banyak perubahan seiring berkembangnya zaman. Teknologi semakin diperbaharui dan sumber daya manusia dituntut untuk mengikuti perkembangan teknologi.
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang masalah. Pendidikan merupakan sesuatu yang tidak terlepas dan bersifat sangat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang masalah Pendidikan merupakan sesuatu yang tidak terlepas dan bersifat sangat penting dalam kehidupan manusia, karena pendidikan memiliki peranan stategis dalam menyiapkan
BAB IV ANALISIS PELAKSANAAN PROGRAM REMEDIAL PADA MATA PELAJARAN PAI KELAS XI SMK NURUL UMMAH PANINGGARAN
BAB IV ANALISIS PELAKSANAAN PROGRAM REMEDIAL PADA MATA PELAJARAN PAI KELAS XI SMK NURUL UMMAH PANINGGARAN Pada bab IV akan membahas tentang analisis Pelaksanaan Program Remedial Pada Mata Pelajaran PAI
PERATURAN AKADEMIS SMA NEGERI 2 MADIUN TAHUN PELAJARAN 2011/2012. C. Landasan
PERATURAN AKADEMIS SMA NEGERI 2 MADIUN TAHUN PELAJARAN 2011/2012 A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Undang-undang RI No. 20 tahun 2003 dan peraturan pemerintah RI No. 19 tahun 2005 mengamanatkan ; setiap
BAB IV HASIL PENELITIAN
BAB IV HASIL PENELITIAN Pada Bab IV ini akan dijelaskan hasil perolehan data di lapangan yang selanjutnya dianalisis untuk memperoleh deskripsi profil berpikir probabilistik siswa dalam menyelesaikan masalah
Bab IV Hasil dan Pembahasan
Bab IV Hasil dan Pembahasan 4.1 Gambaran umum subjek penelitian Penelitian yang dilaksanakan termasuk dalam penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang menggunakan kelas XII IPA 3 sebagai kelas
PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR BAHASA INDONESIA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN JIGSAW PADA SISWAKELAS VIII U SMP NEGERI 1 LUBUK PAKAM
PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR BAHASA INDONESIA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN JIGSAW PADA SISWAKELAS VIII U SMP NEGERI 1 LUBUK PAKAM Rustini Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SMP Negeri 1 Lubuk
III. METODE PENELITIAN. Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas XI IPA1 SMA PGRI 1
19 III. METODE PENELITIAN A. Subjek Penelitian Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas XI IPA1 SMA PGRI 1 Tumijajar semester ganjil pada pokok bahasan Impuls dan Momentum tahun pelajaran
I. PENDAHULUAN. Salah satu bagian penting dari pelaksanaan pembelajaran yang tidak dapat
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu bagian penting dari pelaksanaan pembelajaran yang tidak dapat diabaikan adalah pelaksanaan penilaian (assessment). Dalam kurikulum pendidikan di sekolah, baik
BAB IV HASIL PENELITIAN
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi dan Analisis Hasil Penelitian 1. Subjek S 1Untuk mengetahui kemampuan translasi model representasi dari Real Script menjadi Gambar Statis subjek S 1, maka diberikan
BAB I PENDAHULUAN. Peraturan akademik ini disusun untuk meningkatkan kualitas layanan pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan di SMA Negeri 1 Pare.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-undang RI No. 20 tahun 2003 dan peraturan pemerintah RI No. 19 tahun 2005 mengamanatkan; Setiap satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah wajib
BAB II PERSIAPAN, PELAKSANAAN, DAN ANALISIS HASIL
BAB II PERSIAPAN, PELAKSANAAN, DAN ANALISIS HASIL A. Persiapan Untuk mempersiapkan mahasiswa dalam melaksanakan PPL baik yang dipersiapkan berupa persiapan fisik maupun mental untuk dapat mengatasi permasalahan
Wawancara Partisipan 1
55 Verbatim Partisipan Wawancara Partisipan 1 S Isi Percakapan Kode P Selamat pasi mas 1 P1 Selamat pagi juga mbak 2 P Bisa minta waktunya sebentar mas sekitar 5-10 menit 3 P1 Iya bisa 4 P Perkenalkan
DATA HASIL OBSERVASI KELAS. No Aspek yang diobservasi Deskripsi hasil observasi 1 Persiapan Mengajar (Silabus dan RPP)
DATA HASIL OBSERVASI KELAS No Aspek yang diobservasi Deskripsi hasil observasi 1 Persiapan Mengajar (Silabus dan RPP) RPP meneruskan minggu lalu. Guru tidak menggunakan RPP dan Silabus dalam mengajar.
KISI KISI SOAL TES. Bentuk Soal. No. Soal. Uraian Mengenali bentuk aljabar dan unsur-unsurnya
LAMPIRAN LAMPIRAN KISI KISI SOAL TES Nama Sekolah : SMP Negeri 2 Badegan Kelas / Semester : VIII / 2 Materi : Aljabar Standar Kompetensi : Memecahkan Masalah Berkaitan Dengan Aljabar. Alokasi Waktu :
PEDOMAN WAWANCARA MENDALAM (INDEPTH INTERVIEW) Adapun pertanyaan yang disusun dalam melakukan Indepth Interview untuk
PEDOMAN WAWANCARA MENDALAM (INDEPTH INTERVIEW) Adapun pertanyaan yang disusun dalam melakukan Indepth Interview untuk menggali informasi dari informan adalah : 1. Bisakah ibu menceritakan bagaimana ibu
BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1 Latar Belakang
BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Latar Belakang Undang-undang RI No. 20 tahun 2003 dan peraturan pemerintah RI No. 19 tahun 2005 mengamanatkan; Setiap satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah
I. PENDAHULUAN. erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, oleh karena itu pembelajaran harus
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Fisika merupakan salah satu cabang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, oleh karena itu pembelajaran harus mengajarkan
PERATURAN AKADEMIK SMA NEGERI 1 PARE
PERATURAN AKADEMIK SMA NEGERI 1 PARE BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Latar Belakang Undang-undang RI No. 20 tahun 2003 dan peraturan pemerintah RI No. 19 tahun 2005 mengamanatkan; Setiap satuan pendidikan
BAB I PENDAHULUAN A. Analisis Situasi
BAB I PENDAHULUAN Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan salah satu mata kuliah wajib yang harus ditempuh oleh seluruh mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta. Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan
BAB II PERSIAPAN, PELAKSANAAN, DAN ANALISIS HASIL
BAB II PERSIAPAN, PELAKSANAAN, DAN ANALISIS HASIL A. PERSIAPAN Sebelum pelaksanaan PPL banyak hal yang perlu dipersiapkan dan dilaksanakan oleh mahasiswa. Beberapa hal yang dilakukan mahasiswa dalam rangka
BAB I PENDAHULUAN. Dalam rangka memasuki era globalisasi, remaja sebagai generasi penerus
BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Masalah Dalam rangka memasuki era globalisasi, remaja sebagai generasi penerus bangsa diharapkan dapat meneruskan pembangunan di Indonesia. Upaya yang dapat dilakukan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
25 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Pra Siklus Sebelum penelitian dilakukan, dalam kegiatan pembelajaran IPS di Kelas 4 guru masih menggunakan metode pembelajaran tradisional.
SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) NEGERI 17. Jl. Mangga Besar IV/i No. 27, Kel. Kec. Tamansari, Telp , Fax Jakarta Barat 11150
SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) NEGERI 17 Jl. Mangga Besar IV/i No. 27, Kel. Kec. Tamansari, Telp.021-6392046, Fax.021-6492322 Jakarta Barat 11150 1 KETETAPAN RAKER SMAN 17 JAKARTA TAHUN AJARAN 2017/2018 TENTANG
Mari belajar keliling dan Luas Lingkaran.
LAMPIRAN 95 96 Lampiran 1 Instrumen tes pemecahan masalah open-ended materi lingkaran Mari belajar keliling dan Luas Lingkaran. Nama : Kelas/ No urut : Petunjuk Pengisian: 1. Berdoalah terlebih dahulu
LAPORAN MINGGUAN PELAKSANAAN PPL NAMA SEKOLAH : SMA N 1 BANGUNTAPAN NAMA MAHASISWA : RACHMAWATI RATNA T.
LAPORAN MINGGUAN PELAKSANAAN PPL F02 Untuk Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta NAMA SEKOLAH : SMA N 1 BANGUNTAPAN NAMA MAHASISWA : RACHMAWATI RATNA T. Ngentak, Baturetno, ALAMAT SEKOLAH/LEMBAGA : Banguntapan,
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. bersertifikat pendidik pada SMP Negeri 7 Seluma. Guru yang telah
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Pada bab ini dipaparkan hasil penelitian tentang audit kinerja guru bersertifikat pendidik pada SMP Negeri 7 Seluma. Guru yang telah mendapatkan
KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL (KKM)
KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL () KELAS X 3 Bahasa Indonesia 65 B 5 Matematika 60 B 6 Fisika 60 B 7 Biologi 60 B 8 Kimia 60 B 9 Sejarah 65 B 10 Geografi 65 B 11 Ekonomi 65 B 12 Sosiologi 65 B 13 Kesenian
BAB I PENDAHULUAN. melalui proses pembelajaran. Guru sangat berperan penting dalam peningkatan mutu
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah adalah melalui proses pembelajaran. Guru sangat berperan penting dalam peningkatan mutu pembelajaran,
Lampiran 1. Kisi-kisi Pre Test Menulis Kalimat Sederhana Siswa Kelas II A SD Negeri Sinduadi 1 Mlati. 2. Menulis kembali kalimat. dan tanda titik.
Lampiran 1. Kisi-kisi Pre Test Menulis Kalimat Sederhana Siswa Kelas II A SD Negeri Sinduadi 1 Mlati No Kompetensi Dasar Indikator Bentuk Soal Item 1 Menulis kalimat 2. Menulis kembali kalimat Uraian 1
BAB IV HASIL PENELITIAN
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Data 1. Studi Pendahuluan Penelitian dengan judul Kemampuan Berpikir Kreatif dalam Menyelesaikan Soal Matematika Ditinjau dari Gaya Belajar Siswa Kelas VIII MTs Ma
BAB IV HASIL PENELITIAN
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Paparan Data 1. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian Penelitian dengan judul Tingkat Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa dalam Menyelesaikan Soal Barisan dan Deret Kelas XI APK 3 SMK
BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISA DATA
BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISA DATA A. Deskripsi Data MAN Purwodadi adalah Madrasah Aliyah Negeri yang terletak di kabupaten Grobogan jawa tengah, tepatnya di jalan diponegoro no. 22 Purwodadi. Sekolah tersebut
Wawancara. Pertanyaan 1: Siapakah yang mengelola perpustakaan saat ini? (pustakawan/ pustakawan guru/ tenaga honorer) dan berapa jumlahnya?
LAMPIRAN 1 : Hasil Wawancara Wawancara Pertanyaan 1: Siapakah yang mengelola perpustakaan saat ini? (pustakawan/ pustakawan guru/ tenaga honorer) dan berapa jumlahnya? Hay (206) Bja (215) oleh Mas Dodi,
BIDANG KURIKULUM (www.sman48-jkt.sch.id) Sugiyanta (SMAN 48 Jakarta) /
BIDANG KURIKULUM (www.sman48-jkt.sch.id) Sugiyanta (SMAN 48 Jakarta) [email protected] 08128533491/0817804183 Tujuan Umum : Mewujudkan Visi dan Misi SMAN 48 Tujuan Khusus : Meningkatkan Pencapaian Kompetensi
LAMPIRAN 9 HASIL WAWANCARA DENGAN GURU
yang yang bersertifikasi mapun nonsertifikasi? LAMPIRAN 9 HASIL WAWANCARA DENGAN GURU Pertanyaan ZM JH TA DW SM 1. Apakah semua Iya Iya Iya wajib Iya semua Semua guru harus buat wajib membuat guru wajib
LAMPIRAN I PEDOMAN WAWANCARA
LAMPIRAN I PEDOMAN WAWANCARA Penelitian ini menggunakan wawancara sebagai teknik dalam pengumpulan data dan dalam pelaksanaannya akan dilakukan wawancara yang mendalam dan terstruktur guna mendapatkan
BAB IV HASIL PENELITIAN
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Paparan Data Penelitian tentang profil kemampuan penalaran matematis ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana kemampuan penalaran matematis dalam menyelesaikan soal bilangan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan kebutuhan primer dalam kehidupan manusia. Tanpa pendidikan dunia ini tidak ada apa-apanya, karena semua berasal dari pendidikan. Pendidikan
SKALA MOTIVASI BELAJAR SMA AL-MUAYYAD SURAKARTA. Sebelum Uji Coba
LAMPIRAN 113 SKALA MOTIVASI BELAJAR SMA AL-MUAYYAD SURAKARTA Sebelum Uji Coba PENGANTAR Skala motivasi belajar ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat motivasi belajar siswa di SMA Al-Muayyad. Skala motivasi
II. TINJAUAN PUSTAKA. perhatian anak didik agar terpusat pada yang akan dipelajari. Sedangkan menutup
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kemampuan Membuka Dan Menutup Pelajaran Guru sangat memerlukan keterampilan membuka dan menutup pelajaran. Keterampilan membuka adalah perbuatan guru untuk menciptakan sikap mental
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
digilib.uns.ac.id BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMP IIS PSM (Islamic International School Pesantren Sabilil Muttaqien) Magetan pada
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
DAFTAR ISI ABSTRAK... KATA PENGANTAR... UCAPAN TERIMAKASIH... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR GRAFIK... DAFTAR LAMPIRAN... BAB I PENDAHULUAN v A. Latar Belakang Masalah... 1 B. Rumusan
BAB II PERSIAPAN, PELAKSANAAN, DAN ANALISIS HASIL
BAB II PERSIAPAN, PELAKSANAAN, DAN ANALISIS HASIL Kegiatan PPL ini dilaksanakan selama kurang lebih waktu aktif dua bulan, terhitung mulai tanggal 1 Juli 2014 sampai dengan 17 September 2014. Sebelum pelaksanaan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Deskripsi Kondisi Prasiklus Gambaran yang dijadikan pangkal menentukan permasalahan upaya peningkatan hasil belajar IPA di kelas V SD menggunakan
BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISA DATA
BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISA DATA A. Deskripsi Data Deskripsi data yang akan disajikan dari hasil penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran secara umum mengenai penyebaran data yang diperoleh di
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Budhi Karya Kecamatan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Tahap Identifikasi Masalah Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Budhi Karya Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat. Sebelum melakukan
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Satuan Pendidikan Mata pelajaran :Sekolah dasar : Matematika Kelas/semester Materi Alokasi waktu : II/I : Operasi Hitung Bilangan : x 5 menit ( x pertemuan) A. Standar
BAB I PENDAHULUAN. dan nilai-nilai. Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan selalu berlangsung dalam suatu lingkungan, yaitu lingkungan pendidikan. Lingkungan ini mencakup lingkungan fisik, sosial, budaya, politis, keagamaan, intelektual,
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Ilum Pengetahuan Alam merupakan ilmu yang berkaitan dengan cara mencari tahu tentang fenomena alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan
BAB I PENDAHULUAN. membahas suatu permasalahan atau fenomena dalam bidang ilmu tertentu dengan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Skripsi adalah istilah yang digunakan di Indonesia untuk mengilustrasikan suatu karya tulis ilmiah berupa paparan tulisan hasil penelitian sarjana S1 yang membahas
Lampiran 1. Hasil Wawancara. Informan : Bapak AS Jabatan : Kepala Sekolah Hari,tanggal : Kamis, 26 Mei 2016
Hasil Wawancara Lampiran 1 Informan : Bapak AS Jabatan : Kepala Sekolah Hari,tanggal : Kamis, 26 Mei 2016 NO Pertanyaan Konteks 1 Apa yang melatarbelakangi sekolah ini pendidikan inklusi? 2 Apa yang menjadi
BAB II PERSIAPAN, PELAKSANAAN, DAN ANALISIS HASIL A. PERSIAPAN
BAB II PERSIAPAN, PELAKSANAAN, DAN ANALISIS HASIL A. PERSIAPAN Kegiatan PPL dilaksanakan di SMA Negeri 1 Gamping, kelurahan Banyuraden, kecamatan Gamping, Sleman, Yogyakarta. Kegiatan PPL dimaksudkan agar
BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA PENELITIAN. Tabel 4.1 Jadwal Waktu dan Kegiatan Penelitian
45 BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA PENELITIAN Dalam penelitian ini terdapat tahap-tahap kegiatan dalam pengerjaannya. Rincian waktu dan kegiatan penelitian yang dilakukan dapat dilihat pada tabel berikut:
BAB IV HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Data Pratindakan Peneliti terlebih dahulu melakukan tahap pratindakan sebelum melaksanakan proses penelitian. Tujuannya adalah untuk mengetahui
PENDAHULUAN. Layanan pendidikan menyangkut tentang keseluruhan upaya yang. dilakukan untuk mengubah tingkah laku manusia demi menjaga kesinambungan
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Layanan pendidikan menyangkut tentang keseluruhan upaya yang dilakukan untuk mengubah tingkah laku manusia demi menjaga kesinambungan dan peningkatan kualitas
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Meningkatan hasil belajar bagi siswa yang kurang mampu dalam memahami mata pelajaran biologi merupakan penelitian tindakan kelas yang direncanakan pelaksanaannya
A. LAMPIRAN PEDOMAN WAWANCARA 1. WAWANCARA DENGAN PENGURUS PANTI 2. WAWANCARA DENGAN ANAK PANTI ASUHAN
A. LAMPIRAN PEDOMAN WAWANCARA 1. WAWANCARA DENGAN PENGURUS PANTI ASUHAN 2. WAWANCARA DENGAN ANAK PANTI ASUHAN 80 PEDOMAN WAWANCARA 1. Pedoman Wawancara Dengan Pengurus Panti Asuhan : a) Apa permasalahan
APPENDICES. Pewawancara:Selamat sore bu, bisakah saya mewawancarai Ibu untuk skripsi saya?
APPENDICES Appendix 1 Pewawancara:Selamat sore bu, bisakah saya mewawancarai Ibu untuk skripsi saya? Narasumber: bisa,silahkan. Pewawancara:hmm... oke,terimakasih atas kesediaan dan waktunya bu. Narasumber:
BAB IV PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN. 1. Aktivitas Siswa Saat Penerapan pembelajaran Berbasis E-Learning
52 BAB IV PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN A. Observasi 1. Aktivitas Siswa Saat Penerapan pembelajaran Berbasis E-Learning Berlangsung Untuk mengetahui apa saja yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran
KUNCI JAWABAN. 1. 2x-y = 4 dan 2x + 3y = 12 a. Metode Grafik 2x-y = 4 2x + 3y = 12 x 0 2 x 0 6 y -4 0 y 4 0
Nama : Kelas : No : SOAL! 1. Tentukan himpunan penyelesaian dari sistem persamaan 2x y = 4 dan 2x + 3y = 12, dengan menggunakan a. Metode Grafik b. Metode Eliminasi c. Metode Subtitusi d. Metode Gabungan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pendahuluan Pada Bab I telah dipaparkan masalah yang akan dipecahkan dalam penelitian Pemetaan dan Pengembangan Mutu Pendidikan di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) sebagai
Lampiran 1 (hasil analisis pretest dan soal)
60 Lampiran 1 (hasil analisis pretest dan soal) Lampiran 2 (soal test) 1. Tentukan nilai dari bilangan berpangkat berikut 2. Tentukan nilai dari bilangan berpangkat berikut 3. Tentukan nilai x dari soal
BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran siswa dapat memahami konsep yang dipelajarinya. mengingat dan membuat lebih mudah dalam mengerjakan soal-soal
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pemahaman konsep matematika merupakan salah satu hal yang terpenting dalam pembelajaran. Pemahaman konsep membuat siswa lebih mudah dalam menyelesaikan permasalahan
BAB II PERSIAPAN, PELAKSANAAN, DAN ANALISIS HASIL
BAB II PERSIAPAN, PELAKSANAAN, DAN ANALISIS HASIL Kegiatan PPL ini dilaksanakan selama kurang lebih waktu aktif satubulan, terhitung mulai tanggal 10 Agustus sampai dengan 12 September. Sebelum pelaksanaan
Tabel 4.1 Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa pada Pra Siklus No Aspek yang Diamati Kategori Kemunculan Jumlah Siswa
26 dapat dilihat dari hasil observasi yang penulis laksanakan terhadap aktivitas belajar siswa seperti yang disajikan dalam tabel 4.1 di halaman berikut. Tabel 4.1 Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa
BAB IV DESKRPSI DAN ANALISIS DATA. sebelumnya, maka untuk menjawab pertanyaan penelitian tersebut dilakukan
BAB IV DESKRSI DAN ANALISIS DATA A. Deskripsi Data Sehubungan dengan pertanyaan penelitian yang dikemukakan sebelumnya, maka untuk menjawab pertanyaan penelitian tersebut dilakukan pembahasan dalam bentuk
BAB I PENDAHULUAN. pendidikan formal di Indonesia setelah lulus Sekolah Dasar (SD). Di
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah jenjang pendidikan pada pendidikan formal di Indonesia setelah lulus Sekolah Dasar (SD). Di Indonesia, SMP berlaku sebagai
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian Hasil observasi awal dilakukan di kelas VII F SMP N 2 Susukan semester 2 tahun ajaran 2013 / 2014 pada kompetensi dasar mendiskripsikan Potensi
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI UNTUK MEMPERBAIKI PEMAHAMAN KONSEP FISIKA SISWA DI KELAS XI MIA-5 SMA NEGERI 1 PERCUT SEI TUAN T.A.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI UNTUK MEMPERBAIKI PEMAHAMAN KONSEP FISIKA SISWA DI KELAS XI MIA-5 SMA NEGERI 1 PERCUT SEI TUAN T.A.2014/2015 Martogi Bangun Sianturi Guru Mata Pelajaran Fisika SMA
BAB III METODE PENELITIAN
16 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian 3.1.1 Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN 6 Tanjungrejo Jekulo Kudus tahun pelajaran 2012/2013
BAB IV HASIL PENELITIAN
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi dan Analisis Data Tes Pemecahan Masalah dan Wawancara Subjek dengan Gaya Kognitif Field Dependent 1. Deskripsi dan Analisis Data Tes Pemecahan Masalah dan Wawancara
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. berlangsung di kelas V MI Mafatihul Ulum Balesono Ngunut Tulungagung.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Hasil Penelitian Data hasil penelitian yang akan dipaparkan peneliti di sini adalah data hasil rekaman tentang seluruh aktivitas dari pelaksanaan tindakan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian Hasil observasi awal dilakukan di kelas VIII E SMP N 2 Susukan semester I tahun ajaran 2012 / 2013 pada kompetensi dasar mendiskripsikan hubungan
BAB I PENDAHULUAN. kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya. Ketercapaian tujuan pendidikan dapat diwujudkan melalui program
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan adalah usaha sadar, sistematis, dan berkelanjutan untuk mengembangkan potensi yang dibawa manusia, menanamkan sifat dan memberikan kecakapan sesuai dengan
PENILAIAN HASIL BELAJAR DAN PENGELOLAAN NILAI
TUJUAN PENILAIAN HASIL BELAJAR DAN PENGELOLAAN NILAI BERDASARKAN PERMENDIKBUD NOMOR 53 TAHUN 2015 TENTANG PENILAIAN HASIL BELAJAR OLEH PENDIDIK DAN SATUAN PENDIDIKAN PADA PENDIDIKAN DASAR DAN PENDIDIKAN
BAB V DISKUSI HASIL PENELITIAN. subjek penelitian dalam pembelajaran matematika dan (b) temuan lain. Uraian
BAB V DISKUSI HASIL ENELITIAN ada bagian ini akan dibahas dua hal yaitu: (a) perbandingan proses matematisasi subjek penelitian dalam pembelajaran matematika dan (b) temuan lain. Uraian lengkap tentang
BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan masalah yang harus diselesaikan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dewasa ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat sangat membantu proses perkembangan di semua aspek kehidupan bangsa. Salah satunya adalah aspek
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. dengan NPSN: Data peserta didik di SMA N 1 Purwodadi untuk
digilib.uns.ac.id BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMA N 1 Purwodadi yang beralamat di Jl. R. Suprapto No. 82 Purwodadi, Kecamatan Purwodadi,
BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA PENELITIAN
BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA PENELITIAN A. Deskripsi Data Penelitian 1. Deskripsi Data Subjek A a. Soal Nomor 1 Hasil jawaban subjek A dalam menyelesaikan soal nomor 1 dapat dilihat di halaman lampiran.
Pedoman Wawancara. Lampiran 1 : Pedoman Wawancara. Data Pelaksanaan Wawancara. Tempat dan Tanggal Wawancara : Waktu Wawancara : Data Key Informant
Lampiran 1 : Pedoman Wawancara Pedoman Wawancara Data Pelaksanaan Wawancara Tempat dan Tanggal Wawancara : Waktu Wawancara : Data Key Informant Nama : Jenis Kelamin : Usia : Organisasi/Sekolah : Jabatan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas IV SDN Sidorejo Lor 05 Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga Provinsi Jawa Tengah. Penelitian
-1- RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
-1- RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Sekolah Mata pelajaran Kelas/Semester Materi Pokok Alokasi Waktu : SMAN 85 JAKARTA : FISIKA : XII MIPA/GANJIL : Rangkaian Listrik Arus Searah : 8 x 45 menit (2 x pertemuan)
Wawancara Presiden RI dg Nelayan pd Blusukan ke TPI Panimbang, di Pandeglang,Banten tgl. 23 Feb 2015 Senin, 23 Pebruari 2015
Wawancara Presiden RI dg Nelayan pd Blusukan ke TPI Panimbang, di Pandeglang,Banten tgl. 23 Feb 2015 Senin, 23 Pebruari 2015 WAWANCARA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DENGAN NELAYAN PADA BLUSUKAN KE TPI PANIMBANG
BAB II PERSIAPAN, PELAKSANAAN, ANALISIS HASIL DAN REFLEKSI
BAB II PERSIAPAN, PELAKSANAAN, ANALISIS HASIL DAN REFLEKSI Agar kegiatan PPL yang dilaksanakan sejak 2 Juli sampai 17 September 2014 berjalan dengan baik sesuai dengan tujuan maka diperlukan adanya persiapan
PELAKSANAAN REMEDIAL TEACHING DALAM MENCAPAI KETUNTASAN BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN FISIKA DI SMA NEGERI SE-KOTA PEKANBARU
PELAKSANAAN REMEDIAL TEACHING DALAM MENCAPAI KETUNTASAN BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN FISIKA DI SMA NEGERI SE-KOTA PEKANBARU Resiana Heri Agusti 1, Azhar 2, Azizahwati 2 Email : [email protected]
BAB IV ANALISIS PROBLEMATIKA METODE TANYA JAWAB DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SD NEGERI 04 MAJALANGU WATUKUMPUL PEMALANG
BAB IV ANALISIS PROBLEMATIKA METODE TANYA JAWAB DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SD NEGERI 04 MAJALANGU WATUKUMPUL PEMALANG A. Analisis Penggunaan Metode Tanya Jawab Dalam Pembelajaran PAI
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. penelitian dilakukan dalam 2 (dua) siklus. Setiap siklus terdiri dari tiga kali
41 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di kelas XI IPS 3 di SMA Muhammadiyah 5 Yogyakarta. Sebagaimana diuraikan pada bab III, tindakan penelitian
BAB II PERSIAPAN, PELAKSANAAN, DAN ANALISIS HASIL
BAB II PERSIAPAN, PELAKSANAAN, DAN ANALISIS HASIL A. PERSIAPAN Mahasiswa yang bisa mengikuti kegiatan PPL adalah mahasiswa yang terdaftar sebagai mahasiswa UNY Program S1 program kependidikan pada semester
PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TUTOR SEBAYA PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS VIII G SMP NEGERI 1 LUBUK PAKAM
PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TUTOR SEBAYA PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS VIII G SMP NEGERI 1 LUBUK PAKAM Rentha Naibaho Guru Mata Pelajaran IPA SMP Negeri 1 Lubuk Pakam
PENYUSUNAN LAPORAN HASIL BELAJAR (LHB) PESERTA DIDIK SMA
PENYUSUNAN LAPORAN HASIL BELAJAR (LHB) PESERTA DIDIK SMA Departemen Pendidikan Nasional LAPORAN HASIL BELAJAR (LHB) Setiap akhir semester, guru menelaah hasil pencapaian belajar setiap peserta didik (semua
III. METODE PENELITIAN. Lampung Tahun Ajaran 2009/2010 dengan jumlah siswa 29 orang yang terdiri
III. METODE PEELITIA A. Setting Penelitian Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 4 SMA egeri 10 Bandar Lampung Tahun Ajaran 2009/2010 dengan jumlah siswa 29 orang yang terdiri dari 10 orang siswa
Muhamad Mahmud Surel : Guru Mata Pelajaran IPA SMP Negeri 1 Lubuk Pakam
MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR IPA SISWA KELAS IX-A DENGAN MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING BERBANTUKAN MEDIA REALIA SMP NEGERI 1 LUBUK PAKAM Muhamad Mahmud Surel : [email protected]
