EFEKTIVITAS IMUNOMODULATOR EKSTRAK JINTAN HITAM
|
|
|
- Deddy Kusnadi
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 EFEKTIVITAS IMUNOMODULATOR EKSTRAK JINTAN HITAM (Negila Sativa) TERHADAP KADAR ANTI - HBs PADA TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI VAKSIN HEPATITIS B SKRIPSI RAHMAD HIDAYAT KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA JURUSAN ANALIS KESEHATAN 2017
2 EFEKTIVITAS IMUNOMODULATOR EKSTRAK JINTAN HITAM (Negila Sativa) TERHADAP KADAR ANTI- HBs PADA TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI VAKSIN HEPATITIS B Skripsi ini diajukan Sebagai salah satus yarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Terapan RAHMAD HIDAYAT NIM. P KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA JURUSAN ANALIS KESEHATAN 2017 i
3 LEMBAR PERSETUJUAN EFEKTIVITAS IMUNOMODULATOR EKSTRAK JINTAN HITAM (Nigella sativa) TERHADAP KADAR ANTI-HBs PADA TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI VAKSIN HEPATITIS B Oleh RAHMAD HIDAYAT NIM : P Skripsi ini telah diperiksa dan disetujui isi serta susunannya sehingga dapat diajukan pada Ujian Sidang Skripsi yang diselenggarakan oleh Jurusan Analis Kesehatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya Surabaya, Juli 2017 Menyetujui : Pembimbing I Pembimbing II Evy Diah Woelansari,S.Si,M.Kes NIP Wisnu Istanto, M.Pd NIP Mengetahui : Ketua Jurusan Analis Kesehatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya Drs. Edy Haryanto, M.Kes NIP ii
4 LEMBAR PENGESAHAN EFEKTIVITAS IMUNOMODULATOR EKSTRAK JINTAN HITAM (Nigella sativa) TERHADAP KADAR ANTI-HBs PADA TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI VAKSIN HEPATITIS B Oleh RAHMAD HIDAYAT NIM : P Skripsi ini telah dipertanggungjawabkan di hadapan Tim Penguji Skripsi Jenjang Pendidikan Tinggi Diploma 4 Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Surabaya Surabaya, Juli 2017 Tim Penguji, Tanda tangan Penguji 1 : Evy Diah Woelansari, S.Si, M.Kes... NIP Penguji 2 : Wisnu Istanto, M.Pd... NIP Penguji 3 : Suhariyadi, S.Pd, M.Kes... NIP Mengetahui, Ketua Jurusan Analis Kesehatan Politeknik Kesehatan Surabaya Drs. Edy Haryanto, M.Kes NIP iii
5 ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas imunomodulator ekstrak jintan hitam (Nigella sativa) terhadap kadar anti-hbs tikus wistar yang diinduksi vaksin hepatitis B. Vaksin hepatitis B dipilih untuk menggantikan strain virus hepatitis B murni, dikarenakan tingkat penyebaran dan penularan serta infektifitas virus hepatitis B yang tinggi. Vaksin hepatitis B mengandung komponen virus hepatitis B yang telah dilemahkan yaitu protein spesifik surface hepatitis B (HBsAg). Pemberian vaksin dosis konversi manusia ke tikus dikalikan 10x untuk menkondisikan tikus menjadi hepatitis. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental laboratoris dengan rancangan penelitian Post Test Only Control Group Disegn. Penelitian dilakukan di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga dan di PT. Media Diagnostika pada bulan juni - juli 2017 dengan menggunakan 24 ekor tikus wistar jantan yang dibagi menjadi 4 kelompok. Dosis ekstrak jinta hitam yang diberikan adalah 75 mg/kgbb dan 150 mg/kgbb. Hasil penelitian menunjukkan ada peningkatan nilai rata-rata kadar antara pemberian dosis 75 mg/kgbb yaitu sebesar 2,08 miu/ml dan pemberian dosis 150 mg/kgbb sebesar 8,28 miu/ml. Pada hasil analisa data statistik menggunakan uji Anova One Way diketahui bahwa nilai signifikan p = 0,000 pada α = 0,05 yang artinya nilai signifikan lebih kecil dari alfa (p < α), oleh karena itu H0 ditolak dan menerima H1 yang artinya pemberian ekstrak jintan hitam berpengaruh dalam meningkatkan kadar anti-hbs pada tikus wistar yang diinduksi vaksin hepatitis B, sehingga ekstrak jintan hitam dapat diaplikasikan sebagai upaya pencegahan maupun terapi pada hepatitis B. Kata Kunci : Hepatitis B, Anti-HBs, Ekstrak Jintan Hitam (Nigella sativa). v
6 ABSTRACT This study was conducted to determine the effectiveness of black cumin extract (Nigella sativa) as an immunomodulatory of anti-hbs on Wistar rats were induced hepatitis B vaccine. The hepatitis B vaccine was chosen to replace the pure strain of hepatitis B virus, because the level of distribution and its transmission virus infectivity is high. The hepatitis B vaccine contains a hepatitis B virus component that has been attenuated of specific protein surface hepatitis B (HBsAg). The vaccine dosage of human converted to rats dosage and multiplied 10 times to make the condition of the mice into hepatitis. The type of research used in this study is laboratory experimental with Post Test Only Control Group Disegn. The research was conducted at the Faculty of Veterinary Medicine of Airlangga University and at PT. Media Diagnostics in June - July 2017 using 24 male wistar rats divided into 4 groups. The dose of black cumin extract given is 75 mg per kilogram of body wieght and 150 mg per kilogram of body wieght. The results showed no increase in the average value between the dose levels of 75 mg per kilogram of body wieght to 2.08 miu/ml and a dose of 150 mg per kilogram of body wieght to 8.28 miu/ml. On the results of statistical data analysis using One Way Anova known that the significant value of p = at α = 0.05, which means a smaller significant value of alpha (p <α), hence H0 refused and accept H1, which means cumin extract black influence in increasing levels of anti-hbs in wistar rats induced hepatitis B vaccine, so that black cumin extract can be applied as a preventive and therapeutic hepatitis B. Keywords: Hepatitis B, Anti-HBs, Black Cumin Extract (Nigella sativa). vi
7 DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... i LEMBAR PERSETUJUAN... ii LEMBAR PERSEMBAHAN... iii MOTTO DAN PERSEMBAHAN... iv ABSTRAK... v ABSTRACT... vi KATA PENGANTAR... vii UCAPAN TERIMAKASIH... viii DAFTAR ISI... xi DAFTAR SINGKATAN... xiv DAFTAR TABEL... xv DAFTAR GAMBAR... xvi DAFTAR LAMPIRAN... xvii BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah Batasan Masalah Tujuan Penelitian Tujuan Umum Tujuan Khusus Manfaat Penelitian... 5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Penyakit Hepatitis B Definisi Hepatitis B Etiologi Hepatitis B Epidemiologi Penularan Hepatitis B Patogenesis Hepatitis B Replikasi Virus Respon Imun Terhadap Infeksi Hepatitis B Respon Imun Antibodi Hepatitis B surface (Anti-HBs) Manifestasi Klinis Hepatitis B Dignosis Hepatitis B Pencegahan dan Pengobatan Hepatitis B Jintan Hitam Deskripsi Tumbuhan Klasifikasi Ilmiah Morfologi dan Karakteristik Jintan Hitam Kandungan Jintan Hitam Manfaat Jintan Hitam Imunomodulator Ekstraksi xi
8 2.4.1 Definisi Ekstraksi Metode Ekstraksi Tikus Putih (Rattus norvegicus) Galur Wistar Standar Pemeliharaan dan Perlakuan Hewan Coba Tiga Prinsip Dasar Etik Pelaksanaan Penelitian Menggunakan Hewan Coba Prinsip Etik Penggunaan Hewan Percobaan (3R) Prinsip Etik Pemeliharaan / Perlakuan Terhadap Hewan Percobaan Prosedur Penanganan Hewan Coba BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESA Kerangka Konsep Penjelasan Kerangka Konsep Hipotesis BAB 4 METODE PENELITIAN Jenis dan Rancangan Penelitian Waktu dan Tempat Penelitian Populasi dan Sampel Penelitian Populasi Sampel Penelitian Besar Sampel Variabel Penelitian Definisi Operasional Alat dan Bahan Penelitian Alat Penelitian Bahan Penelitian Teknik Pengumpulan Data Prosedur Penelitian Proses Pembuatan Bahan Uji Jintan Hitam Penentuan Dosis Pemberian Ekstrak Jintan Hitam (Nigella sativa) Penentuan Dosis Pemberian Induksi Vaksin Hepatitis B Pada Tikus Galur Wistar (Rattus norvegicus) Perlakuan Terhadap Hewan Coba Prosedur Pemeriksaan Anti-HBs Teknik Analisa Data Alur Penelitian BAB 5 HASIL PENELITIAN Gambaran Umum Sampel Hasil Penelitian Analisa Data Uji Normalitas Uji Homogenitas Uji Anova One Way Uji Post Hoc xii
9 BAB 6 PEMBAHASAN BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN xiii
10 DAFTAR SINGKATAN ACIP ALP APC CAH CCC CTL DNA ELISA HBcAg HBeAg HBsAg HCC HCV HLA HSG IFN IgG IgM IL ISG MAF NF-Kb NK PAMP PCR PMN PRRs RIA RNA SGOT SGPT TLR TNF-α VHB WHO : Advisory Committe on Immunization Practices : Alkali Phospatase : Antigen Precenting Cell : Chronic Active Hepatitis : Covalently Closed Circular : Cytotoxic T-lymphocyte : Deoxyribo Nucleic Acid : Enzim linked Immunosorbent Assay : Hepatitis B core Antigen : Hepatitis B envelope Antigen : Hepatitis B surface Antigen : Hybrid Capture Chemiluminescence : Hepatitis C Virus : Human Lymphocyte Antigen : Immune Serum Hyperimmune : Interferon : Imunoglobulin G : Imunoglobulin M : Interleukin : Immune Serum Globulin : Macrophage Activiting Factor : Nucear Factor kappa B : Natural Killer : Phatogen Asociated Molekuler Pattern : Polymerase Chain Reaction : Polymhorponuclear : Pattern Recognition Receptors : Radioimmunoassay : Ribonucleic Acid : Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase : Serum Glutamic Piruvic Transaminase : Toll Like Receptor : Tumor Nekrosis Faktor α : Virus Hepatitis B : World Health Organitation xiv
11 Daftar Tabel Tabel 2.1 Komposisi Kimia Jintan Hitam Tabel 2.2 Komposisi Minyak Volatil Jintan Hitam Tabel 2.3 Komposisi Asam Lemak Jintan Hitam Tabel 4.1 Perlakuan Pada Hewan Coba Tabel 5.2 Nilai rata-rata hasil pemeriksaan anti-hbs pada sampel xv
12 Daftar Gambar Gambar 2.1 Struktur Virus Hepatitis B... 8 Gambar 2.2 Tanaman Jintan Hitam Gambar 2.3 Biji Jintan Hitam Gambar 4.1 Skema Alur Penelitian Gambar 5.1 Grafik Hasil Pemeriksaan Anti-HBs xvi
13 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 1. Lembar Kartu Bimbingan Proposal Skripsi 2. Lembar Bukti Revisian Proposal Skripsi 3. Lembar Kartu Bimbingan Skripsi 4. Lembar Bukti Revisi Skripsi 5. Surat Permohonan Izin Untuk Pengekstrakkan Simplisia Jintan Hitam di Unit Layanan Pengujuian Fakultas Farmasi Universitas Airlangga. 6. Surat Permohonan Izin Peminjaman Kandang dan Penelitian di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. 7. Surat Izin Peminjaman Kandang dan Penelitian di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga 8. Surat Permohonan Peminjaman Alat dan Penelitian di PT. Media Diagnostika. 9. Surat Izin Penggunaan Alat dan Penelitian di PT. Media Diagnostika. 10. Lembar Persetujuan Etik Hewan Coba Lampiran 2 1. Hasil Penelitian Pemeriksaan Anti-HBs 2. Hasil Uji Normalitas 3. Hasil Uji Homogenitas 4. Hasil Uji Anova One Way 5. Hasil Uji Post Hoc Lampiran 3 1. Proses Ekstraksi Jintan Hitam 2. Proses Pembuatan Dosis Ekstrak Jintan Hitam 3. Proses adaptasi Hewan Coba 4. Proses Pemberia Ekstrak Jintan Hitam Dan Induksi Vaksin Hepatitis B 5. Proses Pengambilan Darah Pada Tikus 6. Pemeriksaan Anti-HBs (Persiapan Alat dan Bahan) 7. Pemeriksaan Anti-HBs metode Double Antigen Sandwich ELISA. xvii
14 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Virus Hepatitis B (VHB) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di seluruh dunia. Hepatitis B merupakan penyakit infeksi hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis B (VHB) bersifat akut maupun kronis yang dapat menyebabkan sirosis hati, kanker hati dan kematian (WHO, 2015). Jumlah penderita di dunia diperkirakan terdapat 350 juta (Astuti, 2014), dengan prevalensi tertinggi di sub- Sahara Afrika dan Asia Timur. Kebanyakan orang di wilayah ini terinfeksi dengan virus Hepatitis B selama masa anak-anak, 5-10% dari populasi orang dewasa terinfeksi secara kronis (WHO, 2015). Prevalensi rata-rata Hepatitis B di Indonesia adalah 10%, dengan variasi antara 3,4-20,3% di setiap daerah (Astuti, 2014). Jumlah kasus Hepatitis B di Jawa Barat tahun 2012 yaitu 1673 kasus, dengan jumlah penderita laki-laki 993 kasus dan perempuan 680 kasus. Di Bandung tahun 2012, didapatkan 246 kasus hepatitis B dengan jumlah laki-laki 164 kasus dan perempuan 82 kasus (Depkes, 2012). Hepatitis B secara umum dapat ditularkan melalui kegiatan transfusi darah, kontak seksual dengan orang yang terinfeksi, penggunaan jarum non steril atau berbagi jarum suntik pada tato, injeksi obat dan akupunktur, dan paparan perinatal dari ibu yang terinfeksi (Yogarajah, 2013). Virus Hepatitis B (VHB) yang masuk tubuh akan dipresentasikan oleh antigen precenting cells (APC) kepada sel T helper (CD4) spesifik yang mengenali kompleks molekul HLA II dan peptida HbsAg pada permukaan APC. Sel T CD4 memacu sel B menjadi sel plasma melalui mediator IL2. Sel plasma akan mengeluarkan antibodi spesifik terhadap HBsAg yang dikenal 1
15 2 sebagi anti-hbs. Anti-HBs muncul apabila seseorang pernah terinfeksi virus Hepatitis B (VHB) ataupun setelah melakukan vaksinasi Hepatitis B. (Rosalina, 2012). Anti-HBs diinterpretasikan sebagai kekebalan atau dalam masa penyembuhan penyakit hepatitis B. Pemeriksaan anti-hbs adalah salah satu parameter pemeriksaan serologi penanda infeksi hepatitis B. Selain itu pemeriksaan anti-hbs, terutama yang kuantitatif digunakan untuk menilai hasil vaksinasi hepatitis B (Andini, 2016). Hepatitis B merupakan salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi. Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP), WHO dan International Group of Hepatitis Experts menggunakan kadar anti-hbs lebih dari 10 miu/ml sebagai kadar protektif pasca vaksinasi Hepatitis B. Pengobatan untuk Hepatitis B pada umumnya menggunakan obat kimia. Akan tetapi, penggunaan obat kimia dalam jangka waktu tertentu memiliki dampak efek samping bagi tubuh. Dibutuhkan bahan alami yang memiliki efek samping lebih kecil dari obat kimia yang mampu meningkatkan kekebalan tubuh. Di Indonesia sangat banyak bahan-bahan alami yang memiliki khasiat sebagai imunomodulator yaitu bahan atau suatu senyawa yang dapat meningkatkan fungsi sistem imun pada manusia, salah satunya adalah jintan hitam. Jintan hitam (Nigella sativa L.) yang juga dikenal dengan black cumin merupakan tanaman herba tahunan yang termasuk dalam keluarga Ranunculaceae. Tanaman ini berasal dari daerah laut mediterania. Biji jintan hitam dipercaya dapat menjaga kesehatan manusia. Selain itu jintan hitam juga penting untuk memelihara fungsi hati, dan digunakan untuk meningkatkan sistem imun. Secara tradisional biji
16 3 ini sering digunakan oleh masyarakat khususnya di Timur Tengah dan beberapa negara Asia (Sulisti dan Radji, 2014). Penelitian terhadap biji jintan hitam telah membuktikan kemampuannya untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Aspek farmakologis yang telah dieksplorasi mencakup kemampuan jintan hitam sebagai imunomodulator dan dapat mencegah gangguan fungsi hati. (Suryohastari., 2016). Zat aktif utama pada jintan hitam yang memiliki potensi sebagai imunomodulator adalah Thymoquinone. Thymoquinone pada jintan hitam menunjukkan bahwa zat ini mempunyai efek anti bakterial, antioksidan, antihistamin, anti inflamasi, anti diabetik, analgesik, anti piretik dan anti neoplastik (Barnianto, 2012). Thymoquinone juga memiliki fungsi proteksi melawan nefrotoksisitas dan hepatotoksisitas. Pada penelitian lain Thymoquinone terbukti mampu meningkatkan fungsi sel-sel imun baik seluler maupun humoral (Yusuf, 2014). Jintan hitam dapat memberikan efek imuno stimulan yang digambarkan dengan adanya peningkatan sel sel imun, respon imun humoral dan ekspresi gen sitokin yang membantu mempercepat menghilangkan virus serta mengurangi patogenitas virus Avian Influenza (H2N9) di Turki dengan menghambat replikasi virus (Umar dkk, 2016). Pemberian jintan hitam dapat mengakibatkan penurunan jumlah infeksi virus yang signifikan, rata-rata tingkat RNA HCV (PCR) ( ,2 ± ,6) secara signifikan relatif menurun terhadap tingkat dasar nilai rata-rata tingkat RNA HCV ( ,7 ± , P = 0,001) dengan 16,67% dari pasien menjadi seronegatif, dan 50% menunjukkan penurunan yang signifikan dalam jumlah virus kuantitatif (Barakat dkk., 2013). Penurunan jumlah infeksi virus juga ditunjukan pada pasien hepatitis C setelah melakukan pengobatan selama satu bulan dengan
17 4 campuran ekstrak jintan hitam dan jahe, dan ada lima kasus yang menunjukkan veremia negatif (Monniem dkk, 2013). Berdasar data di atas, maka peneliti akan melakukan penelitian tentang efektivitas jintan hitam terhadap kadar anti-hbs pada hewan coba tikus wistar yang diinduksi vaksin Hepatitis B. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang masalah tersebut, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: Apakah jintan hitam (Negila sativa L.) berpengaruh dalam meningkatkan kadar anti-hbs secara efektif pada tikus wistar (Rattus norvegicus) yang diinduksi vaksin Hepatitis B? 1.3 Batasan Masalah Dalam skripsi ini penulis membatasi ruang lingkup penelitian sabagai berikut: 1. Virus yang digunakan untuk menginfeksi hewan coba diambil dari Vaksin Hepatitis B Engerix yang didapat dari Kimia Farma Surabaya. 2. Bahan penelitian yang digunakan adalah ekstrak jintan hitam. 3. Penelitian ini menggunakan hewan coba tikus galur wistar (Rattus norvegicus) jantan, umur 2 3 bulan, berat gram. 1.4 Tujuan Penelitian Tujuan Umum Untuk mengetahui efektivitas imunomodulator ekstrak jintan hitam (Negila sativa L.) terhadap kadar anti-hbs pada hewan coba tikus wistar (Rattus norvegicus) yang diinduksi vaksin Hepatitis B.
18 Tujuan Khusus 1. Mengetahui kadar anti-hbs pada hewan coba tikus wistar (Rattus norvegicus) yang diinduksi vaksin Hepatitis B yang telah diberi ekstrak jintan hitam. 2. Mengetahui dosis jintan hitam yang efektif sebagai imunomodulator terhadap virus Hepatitis B. 1.5 Manfaat Penelitian 1. Dengan hasil penelitian yang dilakukan diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah akan manfaat jintan hitam bagi kesehatan terutama sebagai bahan imunomodulator. 2. Memberikan informasi ilmiah tentang efektifitas jintan hitam sebagai bahan imunomodulator alami dalam upaya pencegahan dan sebagai terapi penyakit hepatitis.
19
20 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penyakit Hepatitis B Definisi Hepatitis B Hepatitis B adalah infeksi hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B (VHB) (WHO, 2015). Virus hepatitis B dapat menyebabkan peradangan hati akut atau kronis yang pada sebagian kecil kasus dapat berlanjut menjadi sirosis hati atau kanker hati. Hepatitis B merupakan peradangan hati yang bersifat sistemik, akan tetapi hepatitis bisa bersifat asimtomatik (Wijayanti, 2016). Secara klinis, infeksi virus hepatitis B dapat dibagi menjadi infeksi akut dan kronis (Slamet dkk., 2014). Dikatakan Hepatitis B akut jika perjalanan penyakit kurang dari 6 bulan sedangkan dikatakan Hepatitis B kronis bila penyakit menetap, tidak menyembuh secara klinis atau laboratorium atau pada gambaran patologi anatomi selama 6 bulan (Marinda, 2015). Infeksi hepatitis B akut ditandai dengan adanya HBsAg dan immunoglobulin M (IgM) antibodi terhadap antigen inti, HBcAg. Selama fase awal infeksi, HBeAg pasien juga positif. Infeksi kronis ditandai dengan positifnya HBsAg ( lebih dari 6 bulan), dengan atau tanpa HBeAg. HBsAg adalah penanda utama risiko untuk berkembang menjadi penyakit hati kronis dan karsinoma hepatoseluler di kemudian hari. Adanya HBeAg mengindikasikan bahwa darah dan cairan tubuh dari individu yang terinfeksi sangat menular (WHO, 2015). Virus hepatitis B pertama kali ditemukan oleh Blumberg dan kawan kawan pada tahun 1965 pada saat mereka melakukan penelitian untuk mencari antibodi yang timbul terhadap lipoprotein. Pada penelitian tersebut ia menemukan suatu 6
21 7 antibodi dari seorang penderita hemophilia yang sering mendapatkan transfusi darah. Dimana antibodi ini dapat dipergunakan untuk mendeteksi suatu antigen dalam darah seorang amborigin Australia yang dikenal dengan nama antigen Australia (Au-Ag). Antigen australia lebih dikenal dengan nama antigen permukaan virus hepatitis B atau HbsAg (Saleh., 2012) Etiologi Hepatitis B Hepatitis B disebabkan oleh virus hepatitis B yang terbungkus serta mengandung genoma DNA (Deoxyribo Nucleic Acid) yang berasal dari suatu genus Orthohepadnavirus anggota famili Hepadnavirus berdiameter nm dengan inti nukleokapsida, densitas elektron, diameter 27 nm. Selubung luar lipoprotein dengan ketebalan 7 nm. Inti virus hepatitis B mengandung double-stranded DNA partial (3,2 kb) dan protein polimerase DNA dengan aktivitas reverse transkriptase. Antigen hepatitis B core (HBcAg) merupakan protein struktural. Antigen hepatitis B e (HBeAg) protein non-struktural yang berkorelasi secara tidak sempurna dengan replikasi aktif virus hepatitis B. Selubung lipoprotein virus hepatitis B mengandung antigen permukaan hepatitis B (HBsAg) dengan tiga selubung protein: utama, besar, dan menengah. Lipid minor dan komponen karbohidrat. HBsAg dalam bentuk partikel non infeksius dengan bentuk sferis 22 nm atau tubular (Ekasari, 2016). Masa inkubasi virus hepatitis B berkisar antara hari dengan rata-rata Virus ini dapat terus berkembang biak dalam sel-sel hati atau hepatosit dan merusak fungsi hati. Akibat serangan virus hepatitis B sistem kekebalan tubuh kemudian akan memberi respon dan melawan virus hepatitis B. Apabila tubuh berhasil melawan maka virus akan terbasmi habis, tetapi jika gagal virus akan tetap
22 8 tinggal dan menyebabkan hepatitis B kronis dimana pasien menjadi karier atau pembawa virus seumur hidup. Infeksi virus hepatitis B terjadi bila partikel utuh virus hepatitis B berhasil masuk ke dalam hepatosit, kemudian kode genetik virus hepatitis B masuk ke dalam sel hati untuk memerintahkan sel hati memproduksi protein-protein yang merupakan komponen virus hepatitis B. Virus yang ada dalam tubuh penderita dibuat sendiri oleh hepatosit penderita dengan genom virus hepatitis B yang pertama masuk sebagai cetak biru. Adanya infeksi dari virus hepatitis B secara alamiah akan mendorong respon imun tubuh untuk bereaksi melawan virus yang masuk baik secara humoral maupun seluler. Apabila proses ini berhasil maka virus dapat dibasmi habis. Namun jika gagal virus akan tetap tinggal dan menyebabkan hepatitis B. Virus hepatitis B pada dasarnya memiliki 3 jenis antigen spesifik HBsAg, HBeAg dan HBcAg. Protein pada selubung virus membentuk HBsAg, sedangkan pada inti virus terdapat HBcAg dan pada nucleocapsid terdapat HBeAg (Andini, 2016). Gambar 2.1 : Struktur Virus Hepatitis B (Sumber : Andini, 2016)
23 Epidemiologi Virus Hepatitis B (VHB) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di seluruh dunia (WHO, 2015). Virus hepatitis B merupakan penyebab utama penyakit hepatitis B karena dapat menyebabkan penyakit hati kronis dan hepatoma di seluruh dunia dan merupakan penyebab utama dari terjadinya penyakit kanker hati di dunia. Hepatitis yang disebabkan oleh virus hepatitis B menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia karena manifestasinya sebagai hepatitis akut dengan segala komplikasinya serta risiko menjadi kronik. Penyakit hepatitis B sangat berbahaya karena penderita Hepatitis B dapat berbentuk carrier chronic yang merupakan sumber penularan bagi lingkungan dan dapat berkembang menjadi penyakit hati kronik seperti Chronic Active Hepatitis (CAH), sirosis dan Hepatoselular Carsinoma (Aminah, 2013). World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa lebih dari 2 milyar populasi dunia pernah terpajan virus hepatitis B. Jumlah penderita di dunia diperkirakan terdapat 350 juta (Astuti, 2014) dan 240 juta orang secara kronis terinfeksi virus hepatitis B di seluruh dunia, yang merupakan penyebab utama dari penyakit hati, sirosis dan karsinoma hepatoseluler (Pham dkk, 2016). Di wilayah Asia Tenggara diperkirakan 100 juta orang hidup dengan Hepatitis B kronis. Setiap tahun di wilayah tersebut, Hepatitis B menyebabkan hampir 1,4 juta kasus baru dan kematian. Menurut data WHO, penyakit hepatitis B menjadi pembunuh nomer 10 di dunia dan endemis di China dan bagian lain di Asia termasuk Indonesia. Indonesia menjadi negara dengan penderita hepatitis B ketiga terbanyak setalah China dan India, sementara di Jakarta diperkirakan satu dari 20 penduduk menderita penyakit hepatitis B (Mutiara, 2013). Prevalensi rata-rata hepatitis B di
24 10 Indonesia adalah 10%, dengan variasi antara 3,4-20,3% di setiap daerah (Astuti, 2014). Infeksi kronis lebih sering dialami bayi dan anak-anak dibanding orang dewasa. Mereka yang tertular dengan kronis bisa menyebarkan virus hepatitis B pada orang lain, sekalipun jika mereka tidak tampak sakit. Hingga 1,4 juta penduduk Amerika mungkin menderita infeksi Hepatitis B yang kronis (Mustofa & Kurniawaty, 2013) Penularan Hepatitis B Penularan dari virus hepatitis B seringkali berasal dari paparan infeksi darah atau cairan tubuh yang mengandung darah (Wijayanti, 2016). Penularan hepatitis B dapat terjadi bila seseorang mengalami kontak dengan cairan tubuh pasien hepatitis B di daerah yang mengalami luka. Virus hepatitis B dapat ditemukan di cairan tubuh penderita seperti darah, air liur, cairan serebrospinalis, peritoneum, pleura, amnion, semen, cairan vagina, dan cairan tubuh lainnya, namun tidak semuanya memiliki kadar virus yang infeksius (Slamet dkk., 2014). Virus hepatitis B juga dapat menetap di berbagai permukaan benda yang berkontak dengannya selama kurang lebih satu minggu, seperti ujung pisau cukur, meja, noda darah, tanpa kehilangan kemampuan infeksinya. Virus hepatitis B tidak dapat melewati kulit atau barier membran mukosa, dan sebagian akan hancur ketika melewati barier. Kontak dengan virus terjadi melalui benda-benda yang bisa dihinggapi oleh darah atau cairan tubuh manusia, misalnya sikat gigi, alat cukur dan lain sebagainya. Infeksi virus hepatitis B merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius dimana infeksi bisa ditularkan melalui hubungan seksual, kontak parenteral atau dari ibu yang terinfeksi kepada bayinya saat lahir dan apabila sudah menginfeksi sejak awal
25 11 kehidupan, dapat menyebabkan penyakit hati kronik, termasuk sirosis dan karsinoma hepatoseluler (Andini, 2016). Secara umum, penularan bisa terjadi secara vertikal maupun horizontal. Pola transmisi di Indonesia umumnya terjadi secara vertikal. Penularan secara vertikal adalah penularan yang terjadi pada masa perinatal, yaitu penularan dari ibu kepada anaknya yang baru lahir. Infeksi yang terjadi saat neonatus akan menyebabkan kronisitas pada 90% kasus, sedangkan infeksi yang terjadi saat dewasa hanya 10% yang akan mengalami kronisitas. Penularan hepatitis secara horizontal yang lebih umum terjadi adalah lewat hubungan seksual yang tidak aman. Selain itu, transmisi horizontal hepatitis B juga bisa terjadi lewat penggunaan jarum suntik bekas pasien hepatitis B, transfusi darah yang terkontaminasi virus hepatitis B, pembuatan tato, penggunaan pisau cukur, sikat gigi, dan gunting kuku bekas pasien hepatitis B. Kebanyakan orang yang terinfeksi tampak sehat dan tanpa gejala, namun bisa saja bersifat infeksius (Marinda, 2015). Kelompok yang beresiko tinggi tertular virus hepatitis B antara lain yaitu penyalahgunaan obat intravena atau pengguna narkoba jarum suntik, homoseksual dan heteroseksual yang sering berganti pasangan, bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg positif, karyawan rumah sakit, pasien dengan immunocompromised serta pasien yang sering mendapatkan transfuse darah (Telaumbanua, 2012) Patogenesis Hepatitis B Beberapa penelitian melaporkan bahwa virus hepatitis B bukan merupakan suatu virus yang sitopatik. Kelainan sel hati yang terjadi akibat infeksi virus heptitis
26 12 B disebabkan karena reaksi imun tubuh terhadap sel heptosit yang terinfeksi virus hepatitis B dengan tujuan mengeliminir virus tersebut (Pasaribu, 2014). Masa inkubasi virus hepatitis B bervariasi, yaitu sekitar hari, dengan rata-rata hari, dimana setelah 2 minggu infeksi virus hepatitis B terjangkit, HbsAg dalam darah penderita sudah mulai dapat dideteksi (Andini, 2016). Variasi masa inkubasi virus hepatitis B tergantung jumlah virus yang menginfeksi, cara penularan, dan faktor host. Sel hati manusia merupakan target organ bagi virus hepatitis B (Mustofa & Kurniawaty, 2013). Virus hepatitis B masuk ke dalam tubuh secara parenteral. Dari peredaran darah masuk ke dalam hati dan terjadi proses replikasi virus. Virus ini mula-mula melekat pada reseptor spesifik di membran sel hati kemudian akan masuk ke dalam sitoplasma sel hati. Dalam sitoplasma, virus hepatitis B melepaskan mantelnya (selubung) sehingga melepaskan nukleokapsid. Selanjutnya nukleokapsid akan menembus dinding sel hati. Selanjutnya sel-sel hati akan memproduksi dan mensekresi partikel Dane utuh, partikel HBsAg bentuk bulat dan tubuler dan HBeAg yang tidak ikut membentuk partikel virus (Ekasari, 2016). Kemudian DNA virus hepatitis B ditransport ke nukleus sel penjamu untuk selanjutnya membentuk covalently closed circular (ccc) yang disajikan sebagai bahan untuk transkripsi (Pham dkk, 2016). Hasil transkripsi dan translasi virus di dalam sel hati akan memproduksi protein-protein virus seperti protein surface, core dan polimerase. Protein tersebut akan dibungkus oleh retikulum endoplasma dan dikeluarkan dari sel hati sebagai antigen, salah satunya yaitu HbsAg. Antigen virus hepatitis B diekspresikan pada permukaan hepatosit dan melalui antigen presenting cell (APC) akan dipresentasikan kepada sel T helper. Sel T helper yang teraktivasi
27 13 akan meningkatkan pembentukan sel B yang distimulasi antigen menjadi sel plasma penghasil antibodi dan meningkatkan aktivasi sel T sitotoksik. Sel T sitotoksik bersifat menghancurkan secara langsung sel hati yang terinfeksi. Hal ini yang diperkirakan menjadi penyebab utama kerusakan sel hati. Sel T sitotoksik juga dapat menghasilkan interferon-γ dan tumor nekrosis faktor alfa (TNF-α) yang memiliki efek antivirus tanpa menghancurkan sel target (Marinda, 2015). Apabila proses eliminasi virus berlangsung efisien maka infeksi virus hepatitis B dapat di akhiri, sedangkan bila proses tersebut kurang efisien maka terjadilah infeksi virus hepatitis B yang menetap. Proses eliminasi virus hepatitis B oleh respon imun yang tidak efisien dapat disebabkan oleh faktor virus ataupun faktor penjamu. Faktor virus antara lain : terjadinya imunotoleransi terhadap produk virus hepatitis B, hambatan terhadap CTL yang berfungsi melakukan lisis sel-sel terinfeksi, terjadinya mutan virus hepattis B yang tidak memproduksi HBeAg, integrasi genom virus hepatitis B dalam genom sel hati. Faktor penjamu dipengaruhi oleh faktor genetik, kurangnya produksi IFN, adanya antibodi terhadap antigen nukleokapsid, kelainan fungsi limfosit, respons antiidiotipe, faktor kelamin atau hormonal (Ekasari, 2016) Replikasi Virus Replikasi merupakan suatu cara virus untuk tetap bertahan hidup. Virus hepatitis B memiliki DNA beruntai ganda namun terdapat bagaian yang beruntai tunggal sehingga terbentuk gap atau jarak. Replikasi virus hepatitis B terjadi pada bagian DNA virus (Andini, 2016). Siklus hidup virus hepatitis B dimulai dengan attachment atau menempelnya partikel Dane pada hepatosit. Penempelan tersebut dapat terjadi dengan perantara protein pre S1, protein pre S2 dan lain lain.
28 14 Penempelan virus hepatitis B akan diikuti proses penetrasi virus hepatitis B kedalam hepatosit, kemudian ditranspor kedalam sitoplasma dan kemudian terjadi pelepasan DNA kedalam nukleus. DNA virus hepatitis B yang masuk ke dalam nukleus mulamula berupa dua rantai DNA yang tidak sama panjang. Kemudian terjadi proses DNA repair berupa pemanjangan rantai DNA yang pendek (DNA (+) strand) sehingga menjadi dua untai DNA yang sama panjang atau covalently closed circle DNA (cccdna). Selanjutnya terjadi pregenom RNA dan beberapa Mrna. Translasi pregenom RNA akan menghasilkan protein core (HbcAg), HbeAg dan enzim polymerase. Selanjutnya terjadi proses encapsidation yaitu uptake pregenom RNA kedalam protein core (HbcAg), dilanjutkan dengan proses perakitan di dalam sitoplasma. Proses maturasi genom dimulai dengan proses reserved transcription pregenom RNA menjadi DNA untai (-). Proses ini terjadi bersamaan dengan degradasi pregenom RNA. Dilanjutkan denga proses maturasi dengan cara sintesa DNA (+) strand. Proses envelopment partikel core yang telah mengalami maturasi genom terjadi di dalam retikulum endoplasma. Disamping itu disini juga terjadi sintesa partikel virus hepatitis B lainnya yaitu partikel tubular dan pertikel bentuk bulat yang tidak mengandung partikel core dan genom virus heptitis B. Selanjutnya melalui aparatus golgi, partikel partikel dane, partikel tubular, partikel bentuk bulat dan juga HBeAg, disekresikan dengan cara budding atau lisis langsung kedalam sirkulasi darah (Pasaribu, 2014) Respon Imun Terhadap Infeksi Hepatitis B Tubuh manusia memiliki suatu sistem pertahanan terhadap benda asing dan patogen yang disebut sebagai sistem imun. Sistem imun didefinisikan sebagai suatu proses dan mekanisme pertahanan tubuh. Respon imun timbul karena
29 15 adanya reaksi yang dikoordinasi sel-sel, molekul-molekul terhadap mikroba dan bahan lainnya. Mekanisme sistem imun secara umum dibagi menjadi dua yaitu sistem imun alamiah atau non spesifik (natural/innate/native) dan sistem imun didapat atau spesifik (adaptive/acquired). Baik sistem imun non spesifik maupun spesifik memiliki peran masing-masing, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan namun sebenarnya ke dua sistem tersebut memiliki kerja sama yang erat. Sistem imun non-spesifik merupakan mekanisme pertahanan alamiah yang dibawa sejak lahir (innate) dan dapat ditujukan untuk berbagai macam agen infeksi atau antigen. Sistem non-spesifik meliputi kulit, membran mukosa, sel-sel fagosit, komplemen, lisozim, dan inteferon. Sistem imun ini merupakan garis pertahanan pertama yang harus dihadapi oleh agen infeksi yang masuk ke dalam tubuh. Jika sistem imun non-spesifik tidak berhasil mengatasi patogen, barulah sistem imun adaptif berperan (Lepe, 2013). Respon imun tubuh manusia pada infeksi virus heptitis B dapat menyebabkan keadaan berikut : 1. Tidak terjadi proses peradangan dan sel hati masih berfungsi normal tetapi produksi virus berlangsung terus yang biasanya disebut dengan infeksi persisten. Infeksi persisten adalah keadaan dimana pasien tetap sehat dengan titer HBsAg yang tinggi. 2. Terjadi proses peradangan pada sel hati dan sistensi virus ditekan yang disebut sebagai hepatitis Akut. 3. Terjadi proses peradangan yang berlebihan yang mana dengan keadaan ini akan menyebabkan kerusakan sel hati, yang disebut dengan hepatitis fulminant (Telaumbanua, 2012).
30 16 Pada infeksi hepatitis B akut, reaksi imunologik yang timbul di dalam tubuh individu dapat bersifat humoral maupun seluler. Reaksi humoral dilihat dengan timbulnya anti HBs, anti HBc, maupun anti Hbe. Sedangkan reaksi imunologik seluler ditandai dengan aktifasi sel sitotoksik yang dapat menghancurkan HBcAg atau HBsAg yang terdapat pada dinding sel hati. Pada seseorang individu yang terkena infeksi virus hepatitis B tergantung pada aktivitas terpadu sistem pertahanan tubuh individu yang terdiri dari interferon dan respon imun. Bila aktivitas sistem pertahanan ini baik, akan terjadi infeksi hepatitis B akut yang diikuti oleh proses penyembuhan, sebaliknya bila salah satu sistem pertahanan ini terganggu akan terjadi proses infeksi hepatitis B kronis (Panggabean, 2010) Respon Imun Antibodi Hepatitis B Surface (Anti-HBs) Virus heptitis B merangsang respon imun tubuh yang pertama kali dirangsang adalah respons imun nonspesifik (innate immune respons) karena dapat terangsang dalam waktu pendek, dalam beberapa menit sampai beberapa jam. Proses eliminasi nonspesifik ini terjadi tanpa restriksi HLA yaitu dengan memanfaatkan sel-sel NK dan NK-T. Proses eradikasi virus hepatitis B lebih lanjut diperlukan respons imun spesifik yaitu dengan mengaktifkan sel limfosit T dan sel limfosit B (Ekasari, 2016). Virus hepatitis B (HBsAg) yang menginfeksi tubuh akan dipresentasikan oleh antigen precenting cells (APC) kepada sel T helper (CD4) spesifik yang mengenali kompleks molekul HLA II dan peptida HBsAg pada permukaan APC. Sel T CD4 memacu sel B menjadi sel plasma melalui mediator IL2. Sel plasma akan mengeluarkan antibodi IgG spesifik terhadap HBsAg yang disebut anti-hbsag IgG yang dikenal sebagi anti-hbs (Rosalina, 2012). Fungsi anti-hbs adalah netralisasi partikel virus hepatitis B bebas dan mencegah
31 17 masuknya virus ke dalam sel. Dengan demikian anti-hbs akan mencegah penyebaran virus dari sel ke sel (Ekasari, 2016). Anti-HBs merupakan antibodi spesifik untuk HBsAg. Anti-HBs adalah imunitas humoral yang timbul setelah kontak dengan HBsAg, setelah sembuh dari infeksi virus hepatitis B atau setelah vaksinasi hepatitis B yang menunjukkan sudah terjadi kekebalan terhadap infeksi virus hepatitis B. Anti-HBs muncul lebih lambat dari anti-hbc maupun anti-hbe yaitu pada fase penyembuhan beberapa saat setelah HBsAg menghilang dari peredaran darah. Kecepatan pembentukan anti-hbs tergantung pada kecepatan pembersihan HBsAg dari darah. Biasanya muncul di darah 1 4 bulan setelah terinfeksi virus hepatitis B. Anti-HBs diinterpretasikan sebagai kekebalan atau dalam masa penyembuhan penyakit hepatitis B. Anti-HBs dapat bertahan dalam tubuh dalam waktu yang lama. Vaksinasi hepatitis B dapat membentuk anti-hbs yang mampu memberikan perlindungan lebih dari 20 tahun pada individu yang sehat melalui imun memori spesifik HBsAg yang tetap ada. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa titer anti-hbs masih memberikan proteksi pada 2-4 tahun, bahkan sampai 10 tahun setelah vaksinasi primer. Kadar antibodi hepatitis B dikatakan protektif bila kadar antibodi anti-hbs lebih dari 10 mlu/ml. Beberapa faktor yang mempengaruhi kadar anti-hbs setelah vaksinasi, seperti status imun, genetik, kualitas dan kuantitas vaksin, penyakit keganasan, dan penyakit kronik. Pemeriksaan anti-hbs dilakukan untuk mengetahui adanya antibodi spesifik terhadap virus hepatitis B pada serum pasien. Pemeriksaan anti-hbs dapat dilakukan dengan metode rapid test, EIA dan ELISA (Andini, 2016).
32 Manifestasi Klinis Hepatitis B Pada fase awal, penderita hepatitis belum merasakn gejala yang spesifik. Keluhan yang dirasakan antara lain mual, muntah, tidak ada nafsu makan, badan terasa lemas dan mudah lelah. Berkurangnya nafsu makan yang drastis dijumpai pada penderita hepatitis B akut atau jika telah terjadi sirosis (Saleh, 2012). Hepatitis B menunjukkan gejala klinis yang bervariasi mulai dari asimtomatik, gagal hati fulminan, dan menjadi kronis. Gejala klinis ini dapat bervariasi tergantung pada usia mereka saat terinfeksi VHB. Gejala klinis muncul kurang dari 10 % pada anakanak di bawah usia 5 tahun, sementara pada orang dewasa sekitar %. (Wirayuda, 2014). Manifestasi klinis infeksi VHB pada pasien dengan hepatitis akut cenderung ringan. Kondisi asimtomatik ini terbukti dari tingginya angka pengidap tanpa adanya riwayat hepatitis akut. Apabila menimbulkan gejala hepatitis, gejalanya menyerupai hepatitis virus yang lain tetapi dengan intesitas yang lebih berat. Infeksi hepatitis B yang akut terjadi dalam waktu 30 sampai 180 hari setelah virus memasuki tubuh. Pengaruh infeksi hepatitis B pada banyak kasus tidak menunjukkan gejala klinis yang khas. Sementara pada sebagian orang menunjukkan gejala klinis yang klasik seperti dimulai dengan gejala prodromal atau gejala pertama yang dirasakan oleh pasien adalah demam tidak terlalu tinggi, rasa tidak selera makan, mual, dan kadang-kadang muntah serta timbul kuning atau ikterus dan pembesaran hati yang akan berakhir setelah 6-8 minggu. Gejala lainnya juga terjadi seperti misalnya rasa lemas, sakit kepala, rasa takut cahaya, tenggorokan sakit ketika menelan, batuk dan pilek. Setelah gejala-gejala tersebut, timbul fase resolusi yang biasanya berada dalam rentang waktu 2-12 minggu. Pada
33 19 fase ini, ikterus dan pembesaran hati akan berangsur kembali normal. Demikian juga dengan hasil pemeriksaan laboratorium fungsi hati seperti SGOT dan SGPT berangsur-angsur mencapai normal kembali. Hepatitis B akut yang tidak mengalami komplikasi, akan mengalami fase resolusi lengkap yang berkisar antara 3 sampai 4 bulan. Apabila pemeriksaan fungsi hati tidak mencapai normal dalam waktu 6 bulan atau lebih, maka disebut sebagai Hepatitis B kronis (Andini, 2016). Saat dilakukan pemeriksaan fisik pada penderita hepatitis maka akan terlihat warna kuning pada kulit, bola mata bagian putih dan kuku. Perut kanan atas teraba membesar karena terjadi pembesaran hati, dan juga teraba adanya tegangan didaerah hati. Selain itu, dapat juga terjadi penurunan berat badan ringan sebanyak 2-5 kg (Saleh, 2012) Diagnosis Hepatitis B Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis umumnya tanpa keluhan, mempelajari riwayat tarnsmisi seperti transfusi darah, seks bebas, riwayak sakit sebelumnya. Pemeriksaan fisik didapatkan heptomegali. Pemeriksaan penunjang terdiri dari pemeriksaan laboratorium, USG abdomen dan Biopsi hepar. Pemeriksaan USG abdomen tampak gambaran hepatitis kronis, selanjutnya pada biopsi hepar dapat menunjukkan gambaran peradangan dan fibrosis hati (Mustofa & Kurniawaty, 2013). Pemeriksaan laboratorium pada infeksi virus hepatitis B terdiri dari pemeriksaan biokimia, serologis, dan molekuler. 1. Pemeriksaan Biokimia Stadium akut virus hepatitis B ditandai dengan meningkatnya nilai AST dan ALT lebih dari 10 kali nilai normal, serum bilirubin normal atau hanya
34 20 meningkat sedikit, terjadi peningkatan Alkali Fosfatase (ALP) lebih dari 3 kali nilai normal, dan kadar albumin serta kolestrol dapat mengalami penurunan. Stadium kronik virus hepatitis B ditandai dengan nilai AST dan ALT kembali menurun hingga 2 10 kali nilai normal dan kadar albumin rendah tetapi kadar globulin meningkat. 2. Pemeriksaan Serologis Indikator serologi awal dari infeksi virus hepatitis B akut dan kunsi penanda infeksi hepatitis B kronis adalah HBsAg, dimana infeksi bertahan di serum lebih dari 6 bulan. Pemeriksaan HBsAg berhubungan dengan selubung permukaan virus. Sekitar 5-10% pasien, HBsAg menetap dalam darah yang menandakan terjadinya hepatitis kronis atau carrier. Setelah HBsAg menghilang, anti-hbs terdeteksis dalam serum pasien sampai batas waktu yang tidak terbatas, karena terdapat variasi waktu timbulnya anti-hbs, kadang terdapat suatu tenggang waktu (window periode) beberapa minggu atau lebih yang memisahkan hilangnya HBsAg dan timbulnya anti-hbs. Selama periode tersebut, anti-hbc dapat menjadi bukti serologi pada infeksi virus hepatitis B. Hepatitis B core antigen (HBcAg) dapat ditemukan pada sel hati yang terinfeksi, tetapi tidak ditemukan dalam serum. Hal tersebut dikarenakan HBcAg terpencil dalam selubung mantel HBsAg. Penanda anti-hbc dengan cepat terlihat dalam serum, dimulai dalam 1 hingga 2 minggu pertama timbulnya HBsAg dan mendahului terdeteksinya kadar anti-hbs. Beberapa metode yang digunakan untuk mendiagnosis hepatitis adalah Immunochromatography (ICT), Enzim-linked immunosorbent assay (ELISA), EIA dan PCR. Metode EIA dan PCR tergolong mahal dan hanya tersedia pada
35 21 laboratorium yang memiliki peralatan lengkap. Peralatan rapid diagnostic ICT adalah metode pemeriksaan yang tergolong lebih murah dan tidak emerlukan peralatan kompleks, tetapi hasil yang dikeluarkan bersifat kualitatif. Pemeriksaan dengan metode ELISA adalah pilihan yang tepat untuk digunakan karena hasil yang dikeluarkan bersifat kuantitatif dan pemeriksaannya tidak semahal metode EIA dan PCR. Enzim-linked immunosorbent assay (ELISA) atau dalam bahas Indonesia disebut sebagai uji penentuan kadar imunosorben taut-enzim, merupakan teknik pengujian serologi yang didasarkan pada prinsip interaksi antara antibodi dan antigen. Pada awalnya, teknik ELISA hanya digunakan dalam bidang imunologi untuk mendeteksi keberadaan antigen maupun antibodi dalam suatu sampel seperti mendeteksi antibodi IgM, IgG, dan IgA pada ssat terjadi infeksi. Namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknik ELISA juga diaplikasikan dalam bentuk lain termasuk menganalisis kadar hormon yang terdapat dalam suatu organisme. Antigen yang berlabel dan antigen yang tidak berlabel saling bersaing untuk berikatan dengan antibodi yang terdapat dalam jumlah terbatas. ELISA diperkenalkan pada tahun 1971 oleh Peter Perlmann dan Eva Engvall untuk menganalisis adanya interaksi antigen dengan antibodi di dalam suatu sampel dengan menggunakan enzim sebagai pelapor. Prinsip pemeriksaan ELISA adalah reaksi antigen-antibodi (Ag-Ab) dimana setelah penambahan konjugat yaitu antigen atau antibodi yang dilabel enzim dan subtrat akan terjadi perubahan warna. Perubahan warna ini yang akan diukur intensitasnya dengan spektofotometer atau ELISA reader dengan menggunakan panjang gelombang
36 22 tertentu. Ada beberapa macam metode ELISA diantaranya ada Direct, Inderect, Sandwich dan Kompetitif (Andini, 2016). 3. Pemeriksaan Molekuler Pemeriksaan molekuler menjadi standar pendekatan secara laboratorium untuk mendeteksi dan mengukur DNA virus hepatitis B dalam serum atau plasma. Pengukuran kadar secara rutin bertujuan untuk mengidentifikasi carrier, menentukan prognosis, dan monitoring pengobatan antiviral. Metode pemeriksaannya antara lain: Radioimmunoassay (RIA), Hybrid Capture Chemiluminescence (HCC), Branched DNA/Bdna, dan Polymerase Chain Reaction (PCR) (Andini, 2016) Pencegahan dan Pengobatan Hepatitis B Masalah hepatitis B merupakan masalah kesehatan masyarakat, pecegahan adalah upaya terbaik yang dapat dilakukan untuk menurunkan angka kesakitan maupun kematian akibat infeksi virus hepatitis B (Rozalina, 2012). Upaya pencegahan yang dapat dilakukan meliputi pencegahan primordial, primer, dan sekunder. Pencegahan primordial adalah upaya untuk memberikan kondisi pada masyarakat yang memungkinkan penyakit tidak mendapat dukungan dari kebiasaan, gaya hidup, maupun kondisi lain yang merupakan faktor risiko untuk munculnya suatu penyakit. Pencegahan primer meliputi segala kegiatan yang dapat menghentikan kejadian suatu penyakit atau gangguan sebelum terjadi penyakit ketika seseorang sudah terpapar faktor resiko. Pencegahan primer yang dilakukan antara lain seperti program promosi kesehatan dan program imunisasi. Pencegahan sekunder merupakan upaya yang dilakukan terhadap orang yang sakit agar lekas
37 23 sembuh dan menghambat progresifitas penyakit melalui diagnosis dini dan pengobatan yang tepat (Panggabean, 2010). Ada tiga strategi untuk mencegah penularan infeksi virus hepatitis B, yaitu melalui : a. Mengubah Pola Hidup Virus hepatitis B ditularkan secara vertukal dan horizontal. Penularan virus terjadi melalui kulit atau selaput lendir. Mencegah penularan melalui kulit diupayakan agar seseorang menghindari tatto, tindik, suntikan yang tidak aman (narkoba), dan menjamin sterilitas alat medis serta menjamin ketersediaan darah untuk donor yang bebas dari kontaminasi hepatitis B. Menghindari hubungan seks bebas berarti menghindari penularan melalui selaput lendir. b. Imunisasi Pasif Pemberian imunisasi pasif atau pemberian hepatitis B imunoglobulin /HBIg harus segera dilakukan pada mereka yang baru saja terpapar virus hepatitis B. HBIg merupakan suatu sediaan yang mengandung antibodi yang sudah siap untuk menetralisir virus heptitis B (berisi anti HBs titer tinggi). HBIg digunakan untuk mencegah virus heptitis B pasca paparan,yaitu pencegahan infeksi yang dilakukan ketika paparan terhadap sumber infeksi virus heptitis B telah terjadi sebelum tindakan pencegahan dilakukan. Misalnya pada bayi yang lahir dari ibu dengan hepatitis B kronis atau pada mereka yang baru saja melakukan hubungan seks dengan pasangan yang menderita heptitis B.
38 24 c. Imunisasi Aktif Pencegahan terhadap infeksi virus hepatitis B melalui vaksinasi. Tidak ada cara pencegahan terhadap penyakit infeksi yang lebih efektif dibandingkan dengan vaksinasi (Rozalina, 2012) Pengobatan hepatitis B bertujuan untuk mengurangi peradangan hati serta untuk mencegah atau menghentikan radang hati (liver injury) dengan cara menekan replikasi dari virus hepatitis B atau menghilangkan infeksi. Pengobatan bahkan digunakan untuk mencegah terjadinya fibrosis. Dalam pengobatan hepatitis B, titik akhir yang sering dipakai adalah hilangnya pertanda replikasi virus yang aktif secara menetap seperti HBeAg dan DNA virus hepatitis B. Saat ini terdapat dua kelompok terapi yang digunakan untuk hepatitis B yaitu kelompok terapi antiviral dan kelompok imunomodulasi. Pengobatan atau terapi antiviral seperti Lamivudin, Adefovir Dipivoxil, Entecavir, Telbivudine dan Tenofovir harus diberikan sebelum virus sempat berintegrasi ke dalam denom penderita. Jadi pemberiannya dilakukan sedini mungkin sehingga kemungkinan terjadinya sirosis dan hepatoma dapat dikurangi. Sedangkan pengobatan atau terapi dengan imunomodulator seperti interferon (IFN), thymosin alfa 1 dan vaksinasi terapi digunakan untuk menekan atau merangsang sistem imun (Wirayuda, 2014). 2.2 Jintan Hitam (Nigella sativa) Deskripsi Jintan Hitam Jintan hitam merupakan tumbuhan herbal yang banyak ditemukan di wilayah Mediterania dan kawasan yang beriklim gurun seperti Timur Tengah, Eropa Timur dan Asia Tengah. Jintan hitam merupakan spesies tumbuhan semak rendah. Jintan hitam selama berabad-abad telah dipercaya berkhasiat dan digunakan
39 25 sebagai obat tradisional atau rempah-rempah dari minyak yang di peroleh dengan cara memeras oleh orang-orang Asia, Timur Tengah dan Afrika (Clorinda, 2012). Jintan hitam sering digunakan sebagai obat-obatan tradisional untuk mengobati berbagai penyakit seperti demam, flu, sakit kepala, asma, rematik, infeksi oleh mikroba, untuk mengatasi cacing pada saluran pencernaan dan juga untuk meningkatkan status kesehatan (Yusuf, 2014) Klasifikasi Ilmiah Berdasarkan penggolongan dan tata nama tumbuhan, klasifikasi ilmiah dari tanaman jintan hitam adalah sebagai berikut : Kingdom : Plantae Sub Kingdom : Traceabionta Super Divisi Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Spermatophyta : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Ranunculales : Ranunculaceae : Nigella Linn. : Nigella sativa Nama lain dari jintan hitam adalah : Kalonji (bahasa Hindi), Kezah (Hebrew), Hamuskha (Rusia), Habbatus Suda (Arab), Siyah daneh (Persian), Fennel Flower / Black Carraway / Nutmeg Flower / Roman Coriander / Black Onion Seed / Black Cumin (Inggris), Jintan Hitan (Indonesia) (Zikriah, 2014).
40 Morfologi dan Karakteristik Jintan Hitam Jintan hitam merupakan tanaman herba tahunan, tegak, dengan tinggi berkisar antara 30 sampai 60 cm. Daun berbentuk lanset, linearis, ujung lancip. Dan bewarna hijau keabu-abuan, halus dan berbulu. Bunga bewarna hijau pucat ketikas muda dan biru terang ketika masak, kemudain menjadi biru pucat atau putih. Daun bagian bawah bertangkai dan bagian atas duduk. Daun membalut bunga kecil. Memiliki lima kelopak bunga, berbentuk bulat telur, ujungnya meruncing sampai agak tumpul, pangkal mengecil membentuk sudut pendek dan besar. Mahkota bunga pada umumnya ada delapan, berbentuk agak memanjang, lebih kecil dari kelopak bunga, berbulu jarang dan pendek. Bibir bunga ada dua, bibir bunga bagian atas pendek, lanset, ujung memanjang beerbentuk benang, ujung bunga bagian bawah berbentuk tumpul. Benang sari banyak, gundul. Kepala sari jarang dan sedikit tajam, bewarna kuning. Buah berbentuk bulat telur atau agak bulat. Bunga memiliki nektar yang banyak, umunya ada 10 dan berbentuk seperti saku bulat (Zikriah, 2014). Gambar 2.2 Tanaman Jintan Hitam (Sumber : Rahmi 2011) Biji jintan hitam berukuran kecil dengan berat antara 1-5 mg berwarna abuabu gelap atau hitam, trigonal, panjang 1,5 3 mm dengan permukaan kulit yang
41 27 berkerut. Mahkota bunganya berjumlah 8 berwarna putih kekuningan dengan benang sari yang banyak dan berwarna kuning. Buahnya berupa kapsul yang besar dan menggembung terdiri dari 3-7 folikel yang menjadi satu, dimana masingmasing folikel ini mengandung beberapa biji. Biji ini biasanya digunakan sebagai bumbu dapur. Biji jintan hitam berujung tajam saperti bentuk biji wijen, keras, dan lebih menggelembung. Pada awalnya bijinya berwarna putih, lalu seiring dengan proses pematangan warna bijinya menjadi hitam. Memiliki bau khas seperti rempah-rempah dan agak pedas, yang akan semakin tajam baunya setelah dikunyah. Gambar 2.3 Biji Jintan Hitam (Sumber : Rahmi 2011) Biji jintan hitam juga mengandung lebih dari 100 nutrisi berharga. Minyak esensial dari jintan hitam diperoleh senyawa carvacrol, t-anethole, 4- terpineol, dan thymoquinone yang berperan sebagai penangkal radikal bebas hingga antitumor. senyawa dalam jintan hitam itu aman digunakan dalam jangka panjang (Yusuf, 2014) Kandungan Kimia Jintan Hitam Jintan hitam mengandung nutrisi monosakarida yang dengan mudah diserap oleh tubuh sebagai sumber energi, juga mengandung non-starch polisakarida yang
42 28 berfungsi sebagai sumber serat, fixed oil, essensial oil, protein, alkaloid, dan saponin. Di dalam biji jintan hitam, essensial oil, thymoquinone menjadi komponen kandungan yang utama, p-cymene, a-pinene, dithymoquinone, carcrol dan thymohidroquinone. Jintan hitam juga mengandung beberapa vitamin, yaitu betakaroten, B1, B2, B6, C, dan Niasin (Puspowardjojo, 2016) Biji jintan hitam mengandung 36% 38% fixed oil, protein, tannin, alkaloid, saponin dan 0.4% 2,5% minyak esensial yang bersifat volatile (mudah menguap). Komponen utama dari fixed oil yaitu asam lemak tak jenuh dan asam eicosadienoic. Terdapat dua senyawa baru yaitu 2(IH)-naphthalenone dan isoquinoline. Senyawa baru yang ditemukan sebuah monodesmosidic tripertene saponin yaitu a-hederin. Senyawa ini sebelumnya juga ditemukan pada daun Hedera helix (Yusuf, 2014) Ekstrak biji Nigella sativa mengandung komponen komponen yang terdapat dalam tabel di bawah ini Tabel 2.1 Komposisi Kimia Jintan Hitam Komposisi Minyak 31-35,5 Protein 16-19,9 Karbohidrat Lain-lain (Sumber : Barnianto, 2012) Range%(w/w) Komponen utama minyak volatil yang ditemukan dalam jintan hitam adalah timoquinon (57,8%) pertama kali berhasil diisolasikan oleh El- Dakhakhny dkk. pada tahun Komponen minyak volatil Nigella sativa dapat dilihat pada tabel di bawah ini
43 29 Tabel 2.2 Komposisi minyak volatil jintan hitam Komposisi Thymoquinone s/d 57% α pinene 9.3 Carvacrol Isopropyl toluene terpineol Longifolene 1-8 t anethole benzene Ester ester lain 16 (Sumber : Barnianto, 2012) Range % (w/w) Jintan hitam juga mengandung asam lemak yang tinggi yaitu asam linoleat atau omega 6 (56%) dalam fixed oil sebagai zat aktif lain selain timoquinon. Komposisi asam lemak jintan hitam dalam fixed oil seperti pada tabel di bawah ini Tabel 2.3 Komposisi Asam Lemak Jintan Hitam Komposisi Asam linoleat 44,7-56 Asam Oleat 20,7-24,6 Asam Linolenat 0,6-1,8 Asam Arachidonat 2-3 Asam Palmitoleat 3 Asam Eikosadienoit 2-2,5 Asam Palmitat 12-14,5 Asam Stearat 2,7-3 Asam Miristat 0,16 Sterol 0,5 (Sumber : Barnianto, 2012) Range % (w/w) Thymoquinone sebagai komponen zat aktif terbesar minyak volatil pada jintan hitam menunjukkan bahwa zat ini mempunyai efek anti bakterial, antioksidan, antihistamin, anti inflamasi, anti diabetik, analgesik, anti piretik dan anti neoplastik (Barnianto, 2012). Selain thymoquinone, yang termasuk zat aktif jintan hitam adalah p-cymene, a-pinene, dithymoquine, dan thymohydroquinone.
44 30 Efek zat aktif jintan hitam : 1. Thymoquinone [ 2-isopropyl-5-methylbenzo-1,4-quinone] a. Perlindungan terhadap stress oksidatif b. Aktivitas anti-inflamasi c. Inhibisi lipid perosidasi d. Free radical scavenging property 2. Dithymoquinone Scavenger radikal bebas 3. Hidrothymoquinone Scavenger radikal bebas (Puspowardjojo, 2016). Thymoquinone yang terdapat dalam biji jintan hitam ini memiliki fungsi proteksi melawan nefrotoksisitas dan hepatotoksisitas. Thymoquinone berfungsi sebagai anti-inflamasi dengan cara menghambat jalur siklo-oksigenase dan lipooksigenase yang berfungsi sebagai mediator alergi dan peradangan. Pada suatu studi ilmiah, ekstrak biji jintan hitam terbukti mampu meningkatkan fungsi sel polymorphonuclear (PMN). Penelitian lain juga membuktikan efek jintan hitam dalam menstimulasi sitokin Macrophage Activating Factor (MAF) sehingga meningkatkan fungsi makrofag yang berperan dalam sistem imun seluler (Yusuf, 2014) Manfaat Jintan Hitam Biji jintan hitam dipercaya dapat menjaga kesehatan manusia dan dapat digunakan untuk mengobati berbagai penyakit seperti flu, sakit kepala, demam, asma, hipertensi, reumatik, dan mengobati berbagai infeksi bakteri. Selain itu penting untuk memelihara fungsi ginjal, empedu, liver, dan digunakan untuk
45 31 meningkatkan sistem imun. Secara tradisional biji ini sering digunakan oleh masyarakat khususnya di Timur Tengah dan beberapa negara Asia (Sulisti dan Radji, 2014). Ekstrak jintan hitam memiliki banyak kegunaan berdasarkan berbagai penelitian yang telah dilakukan. Rahmi (2011), memaparkan beberapa khasiat jintan hitam, yaitu: a. Memperkuat sistem kekebalan tubuh, kandungan etanol di dalam biji jintan hitam dapat meningkatkan jumlah sel limfosit dan monosit. Jintan hitam dapat meningkatkan rasio antara sel-t helper dengan sel-t supresor sebesar 72%, yang berarti meningkatkan aktivitas fungsional sel kekebalan tubuh. b. Memiliki aktivitas antihistamin. Histamin adalah zat yang diproduksi oleh jaringan tubuh yang dapat menyebabkan reaksi alergi, seperti asma. Nigellone (dimer dari dithymoquinone) yang diisolasi dari minyak atsiri jintan hitam dapat menekan gejala dari asma pada cabang tenggorokan. c. Antitumor karena jintan hitam mengandung asam lemak berantai panjang yang dapat mencegah pembentukan Ehrlich Ascites Carcinoma (EAC) dan sel Dalton s Lymphoma Ascites (DLA) yang merupakan jenis sel kanker yang umum ditemukan. Zat thymoquinone yang terkandung di dalam biji jintan hitam dapat menghentikan pembentukan sel darah bagi sel kanker. d. Antibakteri karena kandungan minyak atsiri dan volatil pada jintan hitam efektif melawan bakteri seperti Vibrio cholera, Escherichia coli, Shigella sp.
46 32 e. Antiradang, minyak jintan hitam berguna untuk mengurangi efek radang sendi. Turunan dari fixed oil jintan hitam yaitu thymoquinone merupakan agen anti peradangan. Thymoquinone juga menunjukkan aktivitas antioksidan di dalam sel. f. Meningkatkan laktasi, meningkatkan kesehatan tubuh, menyediakan energi dengan cepat, meningkatkan metabolisme, memperlancar peredaran darah, meningkatkan aliran susu ibu, meningkatkan jumlah sperma. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa ekstrak jintan hitam memiliki efek sebagai imunomodulator. Serbuk jintan hitam dapat meningkatkan rasio limfosit T-helper terhadap T-suppresor sebesar 72% dan meningkatkan jumlah dan fungsi sel T-killer, sedangkan minyak jintan hitam memberikan peningkatan rasio sel T CD4 terhadap CD8 sebesar 55% dan dapat peningkatan aktivitas sel NK. Selain itu fraksi etil asetat dan fraksi air yang didapat melalui kromatografi kolom, juga diketahui dapat meningkatkan respon proliferasi pada concovalin-a, tetapi tidak terhadap mitogen lipopolisakarida pada sel B. Hal ini mengindikasikan bahwa kandungan senyawa dari jintan hitam memiliki efek potensiasi yang baik terhadap imunitas seluler yang diperantarai sel T. Efek imunostimulasi jintan hitam diperkirakan dengan cara meningkatkan respon imunitas seluler (Sulisti dan Radji, 2014). Jintan hitam mampu menstimulasi sumsum tulang dan sel imun, melindungi sel normal dari perusakan sel oleh virus, menghancurkan sel tumor dan meningkatkan jumlah antibodi yang diproduksi oleh sel B. Selain itu, ekstrak jintan hitam juga memiliki
47 33 efek terapi seperti bronkhodilatator, imunomodulator, antibakteri dan hepatoprotektor (Mayasafira, 2012). 2.3 Imunomodulator Imunomodulator adalah suatu bahan atau senyawa yang dapat meningkatkan fungsi sistem imun pada manusia (Sulisti & Radji, 2014). Imunomodulator merupakan zat yang dapat memodulasi (mengubah atau memengaruhi) sistem imun tubuh menjadi ke arah normal. Imunomodulator terutama menginduksi sistem imun non spesifik baik melaui mekanisme pertahanan seluler maupun humoral. Induktor seperti ini bekerja sebagai mitogen, yaitu menaikkan poliferasi sel yang berperan pada imunitas. Induktor sistem imun non spesifik biasa menginduksi sel makrofag, granulosit, limfosit T dan B, untuk,menstimulasi mekanisme pertahanan seluler (Handoyo, 2013). Zat yang berperan sebagai imunomodultor diharapkan dapat memperbaiki dan mengembalikan ketidakeseimbangan sistem imun yang fungsinya terganggu atau menekan fungsinya yang berlebihan (Zikriah, 2014). Menurut Handoyo (2013), berdasarkan cara kerjanya imunomodulator dibagi menjadi tiga cara : 1. Imunorestorasi Imunorestorasi merupakan suatu cara untuk mengembalikan fungsi sistem imun yang terganggu dengan memberikan berbagai komponen sistem imun, seperti: imunoglobulin dalam bentuk immune seum globulin (ISG), hyperimmune serum globulin (HSG), plasma dan transplantasi sumsum tulang, jaringan hati dan timus.
48 34 2. Imunostimulasi / Imunopotensiasi Imunostimulasi merupakan cara memperbaiki fungsi sistem imun dengan menggunakan bahan imunostimulan yaitu bahan yang merangsang sistem tersebut. 3. Imunosupresi Imunosupresi merupakan suatu tindakan untuk menekan respon imun, kegunaannya di klinik terutama pada transplantasi alat tubuh dalam usaha mencegah reaksi penolakan dan pada penyakit autoimun untuk menghambat pembentukan antibodi. 2.4 Ekstraksi Definisi Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu bahan (solute) dari campurannnya dengan menggunakan pelarut yang saling tidak bercampur. Ekstrak adalah hasil dari proses ekstraksi. Ekstrak merupakan sediaan pekat yang diperoleh dengan menginfeksi zat aktif dari simplisia nabati atau hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan (Hatijah, 2016). Prinsip dari ekstraksi adalah menggunakan pelarut yang kepolarannya hampir sama dengan kelarutan senyawa dalam simplisia yang akan diekstraksi. Tujuan dari ekstraksi adalah untuk memisahkan komponen utama dari zat pengotor sehingga diperoleh larutan yang lebih murni. Yang harus diperhatikan dalam proses ekstraksi antara lain: a. Jumlah simplisia yang akan diekstrak b. Derat kehalusan simplisia
49 35 c. Jenis pelarut yang digunakan (Sari, 2016) Menurut Maghfiroh (2014) untuk memperoleh hasil yang baik, pemilihan pelarut untuk ekstraksi dapat ditentukan berdasarkan beberapa pertimbangan sebagai berikut : 1. Selektifitas, yaitu pelarut hanya melarutkkan komponen target yang diinginkan dan bukan komponen lain. 2. Kelarutan, yaitu kemampuan pelarut untuk melarutkan ekstrak yang lebih besar dengan sedikit pelarut. 3. Toksisitas, yaitu pelarut tidak beracun. 4. Penguapan, yaitu pelarut yang digunakan mudah diuapkan. 5. Ekonomis, yaitu harga pelarut relative murah. Biasanya pelarut yang digunakan untuk melarutkan suatu zat adalah air. Ada beberapa hal yang memungkinkan pelarut selain air, dalam hal ini biasanya pelarut yang digunakan adalah pelarut organik. Pelarut organik merupakan pelarut yang umumnya mengandung atom karbon dalam molekulnya. Dalam pelarut zat organik, zat terlarut didasarkan pada kemampuan koordinasi dan konstanta dieletriknya. Pelarut organik dapat bersifat polar dan non polar bergantung pada gugus kepolaran yang dimilikinya. Pada proses kelarutan dalam pelarut organik, biasanya reaksi yang terjadi berjalan lambat sehingga perlu energi yang didapat dengan cara pemanasan untuk mengoptimumkan kondisi kelarutan. Contoh pelarut organik adalah, alkohol, eter, ester, etil asetat, keton dan sebagainya (Usman, 2016) Metode Ekstraksi Metode ekstraksi dapat dibedakan berdasar suhu yaitu cara dingin dan cara panas. Ada beberapa jenis metode ekstraksi, baik itu yang merupakan cara dingin
50 36 maupun cara panas, yaitu: maserasi, digesti, perkolasi, sokletasi, penylingan dan refluks. a. Maserasi Maserasi adalah proses penyarian simplisia menggunakan pelarut dengan perendaman dan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan (kamar). Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif yang akan larut, karena adanya perbedaan kosentrasi larutan zat aktif di dalam sel dan di luar sel maka larutan terpekat didesak keluar. Proses ini berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di dalam dan diluar sel. Cairan penyari yang digunakan dapat berupa air, etanol, metanol, etanol-air atau pelarut lainnya. Remaserasi berarti dilakukan penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat pertama, dan seterusnya. Remaserasi berarti dilakukan penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat pertama, dan seterusnya. Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana yang mudah diusahakan. b. Perkolasi Ekstraksi secara perkolasi dilakukan dengan cara dibasahkan 10 bagian simplisia dengan derajat halus yang cocok, menggunakan 2,5 bagian sampai 5 bagian cairan penyari dimasukkan dalam bejana tertutup sekurang-kurangnya 3 jam. Massa dipindahkan sedikit demi sedikit ke dalam perkolator, ditambahkan cairan penyari. Perkolator ditutup dibiarkan selama 24 jam, kemudian kran dibuka dengan kecepatan 1 ml/menit, sehingga simplisia tetap
51 37 terendam. Filtrat dipindahkan ke dalam bejana, ditutup dan dibiarkan selama 2 hari pada tempat terlindung dari cahaya. c. Refluks Ekstraksi dengan cara ini pada dasarnya adalah ekstraksi berkesinambungan. Bahan yang akan diekstraksi direndam dengan cairan penyari dalam labu alas bulat yang dilengkapi dengan alat pendingin tegak, lalu dipanaskan sampai mendidih. Cairan penyari akan menguap, uap tersebut akan diembunkan dengan pendingin tegak dan akan kembali (Putri, 2014). d. Sokletasi Metode ini dilakukan dengan menempatkan serbuk sampel dalam sarung selulosa (dapat digunakan kertas saring) dalam klonsong yang ditempatkan di atas labu dan di bawah kondensor. Pelarut yang sesuai dimasukkan ke dalam labu dan suhu penangas diatur di bawah suhu reflux. Keuntungan dari metode ini adalah proses ektraksi yang kontinyu, sampel terekstraksi oleh pelarut murni hasil kondensasi sehingga tidak membutuhkan banyak pelarut dan tidak memakan banyak waktu. Kerugiannya adalah senyawa yang bersifat termolabil dapat terdegradasi karena ekstrak yang diperoleh terus-menerus berada pada titik didih (Mukhriani, 2014) e. Digesti Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu) pada temperatur ruangan, yaitu secara umum dilakukan pada temperatur C.
52 38 f. Infus Ekstrasi dengan pelarut air pada temperatir penangas air (belanja infus tercelup dalam penangas air mendidih, temperatur terukur C selama waktu tertentu (15-20 menit). g. Dekok Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama (suhu lebih dari 30 C) dan temperatur sampai titik didih air. h. Destilasi Uap Destilasi uap adalah ekstrasi senyawa kandungan menguap (minyak atsiri) dari bahan (segar/simplisia) dengan uap air berdasarkan peristiwa tekanan parsial senyawa kandungan menguap dengan fase uar air dari ketel secara kontinu sampai sempurna diakhiri dengan kondensasi fase uap campuran (senyawa kandungan menguap ikut terdestilasi) menjadi destilat air bersama senyawa kandungan yang memisah sempurna atau memisah sebagian (Istiqomah, 2013). 2.5 Tikus Putih (Rattus norvegicus, L.) Klasifikasi tikus putih (Ratus norvegicus, L.) Kingdom Filum Kelas Famili Genus : Animalia : Chordata : Mammalia : Muridae : Rattus Spesies : Rattus norvegicus, L.
53 39 Di Indonesia, binatang percobaan ini sering dinamakan tikus putih besar, akan tetapi jika lebih kecil lagi dinamakan mencit. Dibandingkan dengan tikus liar, tikus percobaan lebih cepat dewasa yang tidak ditunjukkan oleh musim kawin dan seringnya berbiak. Tikus liar dapat hidup sampai 4-5 tahun, sedangkan tikus percobaan jarang yang lebih dari 3 tahun. Dua karakteristik yang membedakan tikus putih dengan binatang percobaan yang lain adalah tikus tidak dapat memuntahkan makanan karena susunan anatomi esophagus yang menyatu di perut, serta tikus tidak mempunyai kantung empedu. Kelebihandari tikus putih sebagai binatang percobaan antara lain bersifat omnnivora (pemakan segala), mempunyai jaringan yang hampir sama dengan manusia dan kebutuhan gizinya juga hampir sama dengan manusia. Selain itu dari segi ekonomi harganya murah, ukurannya kecil dan perkembangannya cepat. Tikus percobaan strain wistar yang dikembangkan secara luas sangat mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Makanan tikus juga mempunyai variasi dalam susunannya, sebagai contoh komposisinya meliputi: protein %, karbohidrat 45-50%, serat 5%. Juga harus mengandung vitamin A, vitamin D, alfa tokoferol, asam linoleat, thiamin, riboflavin, panthothenat, biotin, serta mineral, phospor, magnesium, potasium, tembaga, iodin, besi dan timah. Setiap hari seekor tikus dewasa membutuhkan makanan antara gr, serta minum air antara ml, serta mineral, besi sebesar 35 mg/kg. Data tentang fisiologi tikus putih antara lain: Jangka hidup Produksi ekonomi Kehamilan Umur saat disapih : 2-3 tahun, ada yang dapat hidup selama 4 tahun : 1 tahun : hari : 21 hari
54 40 Umur ketika dewasa : hari Berat lahir Volume darah Sel darah merah Sel darah putih Trombosit : 5-6 gram : ml/gr : 7,2-9,6 x 106 /mm3 : 5,0-13,0 x 106 /mm3 : x 103 /mm3 Tikus putih jenis (Rattus norvegicus) sejak dulu sudah sering digunakan sebagai hewan uji laboratorium karena anatomi fisiologi dari organ-organ hewan tersebut sistematis kerjanya hampir sama dengan fungsi anatomi organ manusia (Syari, 2012). 2.6 Standar Pemeliharaan dan Perlakuan Hewan Coba Tiga Prinsip Dasar Etik Pelaksanaan Penelitian Menggunakan Hewan Percobaan 1. Respect for Animals Setiap peneliti yg menggunakan hewan coba harus menhormati hewan percobaan tersebut 2. Beneficence Bermanfaat bagi manusia dan mahluk lain 3. Justice B Bersikap adil dalam memanfaatkan hewan percobaan. Contoh sikap tidak adil : a. Hewan dibedah berulang kali untuk menghemat jumlah hewan percobaan
55 41 b. Memakai euthanasia yg menimbulkan rasa nyeri karena harganya lebih murah Prinsip Etik Penggunaan Hewan Percobaan (3R) 1. Reduction Penggunaan hewan dalam jumlah sekecil mungkin tetapi memberikan hasil penelitian yang sahih. 2. Replacement a. Relatif: mengganti hewan percobaan dengan memakai organ, jaringan hewan dari rumah potong, atau dari orde yang lebih rendah. b. Absolut: mengganti hewan percobaan dengan memakai kultur sel jaringan/tissu culture, program komputer. 3. Refinement Mengurangi rasa di stress dengan memakai obat analgetik, sedativa, anastesi. Atau dengan melakukan procedur secara benar oleh tenaga ahli teknisi yg terlatih Prinsip Etik Pemeliharaan / Perlakuan Terhadap Hewan Percobaan 1. Freedom for hungger dan thirst tikus Hewan coba harus terjaga makanannya, diberikan makanan standar hewan coba. a. Kandungan nutrisi pakan : Protein : %, Lemak : 10-12%, Pati : %, Serat kasar : Max 4%,
56 42 Abu : 5-6%. Plus vit A : IU/Kg, Vit D: IU/kg, Vit E :50 mg/kg, Asam linoleat: 5-10 g/kg, B1 : mg/kg, Vit B12 : 30 ug/kg dll. b. Jumlah yg dimakan : 3 g - 5 g per hari. 2. Freedom From Pain,Injury,Diseases (bebas dari rasa nyeri, trauma dan penyakit) Caranya: a) Program promotif b) Pencegahan penyakit : bioskuriti,vaksinasi dan medikasi(obat cacing, antibiotik, dll) c) Pengobatan : sesuai penyakitnya d) Meminimalkan rasa nyeri : analgesik, anasthesia dan euthanasia 3. Freedom from discomfort Caranya: membuatkan kandang dengan ukuran yang sesuai dengan lingkungan yang nyaman sebagai tempat tinggal. Seperti suhu, kelembaban, Lampu penerangan, ventilasi, kebersihan kandang 4. Freedom from Fear and Distres Caranya: a. Memberi kondisi(lingkungan, perlakuan) kandang yang nyaman. b. Memberikan masa adaptasi dan latihan sebelum diberi perlakuan.
57 43 c. Personil menangani hewan coba yang profesional. 5. Express Natural Behavior a. Memberikan ruang dan fasilitas yang sesuai (pengayaan lingkungan yang sesuai dengan biologi dan tingkah laku spesies) : mencari makan, dll. b. Memberikan sarana untuk kontak sosial(bagi species yang bersifat sosial) : pengandangan berpasangan atau berkelompok. Memberikan kesempatan untuk prooming, mating, bermain, dll. c. Program pengayaan lingkungan (environmental dan Enrichment) Prosedur Penanganan Hewan Coba 1. Cara memegang hewan percobaan sehingga siap untuk diberi sediaan uji. a. Ujung ekor tikus diangkat dengan tangan kanan diletakkan pada suatu tempat yang permukaannya tidak licin misal ram kawat pada penutupkandang sehingga ketika ditarik mencit akan mencengkram. b. Kulit tengkuk dijepit dengan telunjuk dan ibu jari tangan kiri, ekornya tetap dipegang dengan tangan kanan. c. Posisi tubuh tikus dibalikkan sehingga permukaan perut menghadap kita dan ekor dijepitkan antara jari manis dan kelingking tangan kiri. 2. Cara memberikan bahan atau obat pada hewan percobaan a. Oral : Cairan obat diberikan dengan menggunakan sonde oral. Sonde oral ditempelkan pada langit-langit mulut atas tikus kemudian
58 44 perlahan lahan dimasukkan sampai ke esofagus dan cairan obat dimasukkan b. Sub Kutan : kulit di daerah tengkuk diangkat dan bagian bawah kulit dimasukkan obat atau bahan dengan spuit 1 ml. c. Intra Vena : tikus dimasukkan ke dalam kandnag retriksi mencit, dengan ekornya menjulur keluar. Kemudian ekornya dicelupkan ke dalam air hangat agar pembuluh darah vena ekor mengalami dilatasi sehingga memudahkan pemberian obat dan bahan ke dalam pembuluh vena. Pemberian obat dilakukan dengan menggunakan jarum suntik no 24. d. Intramuskular : Obat atau bahan disuntikkan pada paha posterior dengan jarum suntik no. 24. e. Intra peritonial : pada saat penyuntikan posisi kepala lebih rendah dari abdomen. Jarum disuntikkan dengan sudut dari abdomen pada daerah yang sedikit menepi dari garis tengah agar jarum suntik tidak mengenai kandung kemih 3. Cara menganastesi hewan percobaan Senyawa-senyawa yang dapat digunakan untuk anestesi adalah a. Eter / Kloroform, Digunakan untuk anestesi singkat. Caranya adalah obat diletakkan dalam suatu wadah, kemudian hewan dimasukkan dan wadah ditutup. Hewan sudah kehilangan kesadaran, sehingga hewan dapat dikeluarkan dan siap dibedah. b. Halotan, Obat ini digunakan untuk anestesi yang lebih lama.
59 45 c. Uretan. Uretean diberikan pada dosis mg/kg secara intraperitonial dalam bentuk larutan 25% dalam air. (Bagus, 2015).
60 BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS 3.1 Kerangka Konsep Virus Hepatitis B Infeksi Virus Hepatitis B Sel Makrofag Sel PMN HBcAg HBeAg HBsAg Imunomodulator Ekstrak Jintan Hitam Zat Aktif Utama Jintan Hitam Thymoquinone Kandungan Jintan Hitam Alkoloid, Minyak Volatile, Vitamin, Asam Amino, Asam Lemak, Fitosterol Menstimulasi Aktivitas Sel B Anti-HBs Kadar Anti-HBs Keterangan : : Diteliti : Tidak Diteliti Gambar 3.1 Skema Kerangka Konsep Efektivitas Imunomodulator Jintan Hitam (Nigella sativa) Terhadar Kadar Anti-HBs Pada Tikus Wistar (Rattus norvegicus) Yang Diinfeksi Virus Hepatitis B. 46
61 Penjelasan Kerangka Konsep Virus hepatitis B masuk ke dalam tubuh secara parenteral. Dari peredaran darah masuk ke dalam hati dan terjadi proses replikasi virus. Sel-sel hati akan memproduksi dan mensekresi partikel Dane utuh, partikel HBsAg bentuk bulat dan tubuler dan HBeAg yang tidak ikut membentuk partikel virus (Ekasari, 2016). Kemudian DNA virus hepatitis B ditransport ke nukleus sel penjamu untuk selanjutnya membentuk covalently closed circular (ccc) yang disajikan sebagai bahan untuk transkripsi. Hasil transkripsi dan translasi virus di dalam sel hati akan memproduksi protein-protein virus seperti protein surface, core dan polimerase. Protein tersebut akan dibungkus oleh retikulum endoplasma dan dikeluarkan dari sel hati sebagai antigen, salah satunya yaitu HbsAg. Antigen virus hepatitis B diekspresikan pada permukaan hepatosit dan melalui antigen presenting cell (APC) akan dipresentasikan kepada sel T helper. Sel T helper yang teraktivasi akan meningkatkan pembentukan sel B yang distimulasi antigen menjadi sel plasma penghasil antibodi dan meningkatkan aktivasi sel T sitotoksik. Jintan hitam merupakan tumbuhan herbal yang dipercaya dapat menjaga kesehatan manusia dan untuk meningkatkan sistem imun (Sulisti dan Radji, 2014). Aspek farmakologis yang telah dieksplorasi mencakup kemampuan jintan hitam sebagai imunomodulator dan dapat mencegah gangguan fungsi hati (Bhintarti.,2016). Jintan hitam mengandung nutrisi monosakarida yang dengan mudah diserap oleh tubuh sebagai sumber energi, juga mengandung non-starch polisakarida yang berfungsi sebagai sumber serat, fixed oil, essensial oil, protein, alkaloid, dan saponin. Di dalam biji jintan hitam, essensial oil, thymoquinone menjadi komponen kandungan yang utama, p-cymene, a-pinene, dithymoquinone,
62 48 carcrol dan thymohidroquinone. Jintan hitam juga mengandung beberapa vitamin, yaitu betakaroten, B1, B2, B6, C, dan Niasin (Puspowardjojo, 2016). Thymoquinone yang terdapat dalam biji jintan hitam ini memiliki fungsi proteksi melawan nefrotoksisitas dan hepatotoksisitas (Yusuf, 2014). Jintan hitam dapat meningkatkan rasio limfosit T-helper terhadap T-suppresor sebesar 72% dan meningkatkan jumlah dan fungsi sel T-killer, minyak jintan hitam yang memberikan peningkatan rasio sel T CD4 terhadap CD8 sebesar 55% dan dapat peningkatan aktivitas sel NK (Sulisti dan Radji, 2014). Jintan hitam mampu menstimulasi sumsum tulang dan sel imun, melindungi sel normal dari perusakan sel oleh virus, menghancurkan sel tumor dan meningkatkan jumlah antibodi yang diproduksi oleh sel B (Mayasafira, 2012). Antibodi spesifik yang dihasilkan oleh sel B terhadap infeksi HBsAg adalah anti-hbs. Fungsi anti-hbs adalah netralisasi partikel virus hepatitis B bebas dan mencegah masuknya virus ke dalam sel. Dengan demikian anti-hbs akan mencegah penyebaran virus dari sel ke sel (Ekasari, 2016). Adanya antibodi spesifik terhadap virus hepatitis B dapat memberikan kekebalan tubuh terhadap infeksi virus hepatitis B. 3.3 Hipotesis H0: Pemberian jintan hitam tidak berpengaruh dalam meningkatkan kadar anti- HBs pada tikus wistar yang diinduksi vaksin hepatitis B. H1: Pemberian jintan hitam berpengaruh dalam meningkatkan kadar anti-hbs pada tikus wistar yang diinduksi vaksin hepatitis B.
63 BAB 4 METODEOLOGI PENELITIAN 4.1 Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental laboratoris dengan rancangan penelitian posted only control group design yaitu mengukur adanya pengaruh perlakuan pada kelompok eksperimen dengan membandingkan kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol yang bertujuan untuk mengetahui efektivitas imunomodulator pemberian ekstrak jintan hitam (Nigella sativa) terhadap kadar anti-hbs pada tikus wistar (Rattus norvegicus) yang diinduksi vaksin hepatitis B. 4.2 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei Juli 2017 di Unit Infeksius Pengembangan dan Penelitian Hewan Coba Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya untuk proses perlakuan terhadap hewan coba, di PT. Media Diagnostika untuk pemeriksaan kadar anti-hbs dan di Unit Layanan Pengujian (ULP) Universitas Airlangga Surabaya untuk proses ekstraksi bahan uji. 4.3 Populasi dan Sampel Penelitian Populasi Populasi dari penelitian ini adalah tikus (Rattus norvegicus) galur wistar yang ada di Laboratorium Hewan Coba Fakultas Farmasi Universitas Widya Mandala Surabaya pada bulan Mei Sampel Penelitian Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah tikus (Rattus norvegicus) galur wistar berjenis kelamin jantan, usia 2-3 bulan, dengan berat
64 50 gram sebanyak 24 ekor yang didapat dari Laboratorium Hewan Coba Fakultas Famasi Universitas Widya Mandala Surabaya. Tikus diambil secara acak kemudian diberi makan dan minum hingga mencapai berat sesuai kriteria. Tikus kemudian di bagi menjadi 4 kelompok perlakuan. 4.4 Besar Sampel Dalam penelitian ini sampel dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan yaitu kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif, kelompok perlakuan 1 dan 2. Jumlah sampel ditentukan dengan menghitung replikasi yang dilakukan menggunakan rumus Frederer sebagai berikut: (t-1) (r-1) 15 (4-1) (r-1) 15 3 (r-1) 15 3r r 18 r 6 Keterangan : t = Jumlah perlakuan r = Jumlah replikasi Pada penelitian ini dilakukan 4 perlakuan, yaitu kelompok kontrol negatif (tanpa perlakuan), kelompok kontrol positif (hanya diinduksi vaksin hepatitis B), kelompok perlakuan 1 (pemberian ekstrak jintan hitam dengan dosis 75 mg/kgbb dan diinduksi vaksin B), dan kelompok perlakuan 2 (pemberian ekstrak jintan hitam dengan dosis 150 mg/kgbb dan diinduksi vaksin hepatitis B).
65 51 Replikasi atau ulangan dari penelitian ini adalah pengulangan dalam setiap kelompok yang akan digunakan untuk penelitian. Dalam penelitian ini jumlah perlakuan yang dilakukan sebanyak 4 perlakuan sehingga didapat jumlah replikasi sebanyak 6 sesuai hasil perhitungan rumus yang artinya replikasi dalam penelitian ini dilakukan minimal enam kali. 4.5 Variabel Penelitian Variabel pada penelitian ini terdiri dari : 1. Variabel bebas : ekstrak jintan hitam (Nigella sativa) 2. Variabel terikat : Kadar anti-hbs 4.6 Definisi Operasional 1. Ekstrak jintan hitam adalah hasil ekstraksi jintan hitam yang sudah dihaluskan, dan direndam dengan pelarut etanol 96% selama 3 hari, kemudian pelarut diuapkan dengan menggunakan rotary evaporator. 2. Anti-HBs merupakan antibodi spesifik untuk HBsAg. Anti-HBs adalah imunitas humoral yang timbul setelah kontak dengan HBsAg. Anti-HBs diinterpretasikan sebagai kekebalan atau dalam masa penyembuhan penyakit hepatitis B. Anti-HBs dapat bertahan dalam tubuh dalam waktu yang lama. Fungsi anti-hbs adalah netralisasi partikel virus hepatitis B bebas dan mencegah masuknya virus ke dalam sel. Dengan demikian anti- HBs akan mencegah penyebaran virus dari sel ke sel. 4.7 Alat dan Bahan Penelitian Alat Penelitian Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain alat untuk membuat simplisia jintan hitam yaitu blender. Alat untuk membuat ekstrak jintan hitam
66 52 metode maserasi yang meliputi neraca analitik, shaker waterbath, Buchner, rotary evaporator dan alat-alat gelas seperti gelas ukur dan beaker glass. Alat untuk penelitian laboratorium meliputi kandang tikus, sonde, syringe, dan alat untuk pemeriksaan anti-hbs metode ELISA seperti ELISA reader, ELISA washer, well plate, tabung reaksi, centrifuge dan mikropipet yelow tips dan blue tips Bahan Penelitian 1. Jintan Hitam Jintan hitam yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari pasar Pabean Surabaya yang kemudia dibuat menjadi ekstrak jintan hitam. 2. Bahan ekstrak jintan hitam Bahan yang digunakan pada penelitian ini yaitu ekstrak jintan hitam dengan dosis 75 mg/kgbb dan 150 mg/kgbb. 3. Pelarut Pelarut yang digunakan dalam penelitian ini adalah etanol 96 %, dan NaCMC 0,5%. 4. Bahan untuk menginfeksi hewan coba Bahan yang digunakan untuk menginfeksi hewan coba adalah vaksin Hepatitis B jenis Engerix yang diperoleh dari Kimia Farma Surabaya. 5. Hewan Coba Dalam penelitian ini hewan coba yang digunakan adalah tikus (Rattus norvegicus) galur wistar berjenis kelamin jantan, berusia 2-3 bulan dan memiliki berat badan 200 gram yang didapatkan dari Laboratorium Hewan Coba Fakultas Farmasi Universitas Widya Mandala Surabaya.
67 53 6. Bahan pemeriksaan anti-hbs metode ELISA Bahan yang digunakan untuk pemeriksaan anti-hbs metode ELISA antara lain Reagen Kit anti-hbs (blocking buffer, washing buffer, antigen, antibodi monoklonal, dan suatu subtrat). 4.8 Teknik Pengumpulan Data Pada penelitian ini dilakukan teknik pengumpulan data eksperimental, yaitu dengan menentukan kadar anti-hbs pada darah tikus. Darah diambil dari tikus yang telah diberi perlakuan ekstrak jintan hitam dan diinduksi dengan vaksin Hepatitis B. Penentuan kadar anti-hbs dilakukan menggunakan metode ELISA. Data dalam penelitian merupakan data kuantitatif dan merupakan data primer. 4.9 Prosedur Penelitian Proses Pembuatan Bahan Uji Jintan Hitam a. Persiapan bahan uji jintan hitam Melakukan penyortiran biji jintan hitam yang diperoleh dari Pasar Pabean Surabaya dengan memilih biji yang terbaik. Biji jintan hitam yang telah disortir kemudian dicuci dengan air mengalir kemudian dikeringkan dengan cara dianginanginkan. Proses pengeringan hendaknya dihindarkan dari panas matahari langsung. Biji jintan hitam yang telah kering kemudian dihaluskan dengan blender sampai menjadi serbuk. b. Proses ekstraksi Proses ekstraksi dilakukan di Unit Layanan Pengujian (ULP) Universitas Airlangga Surabaya. Jintan hitam yang telah di haluskan dimasukkan ke dalam maserator, direndam dalam pelarut etanol 96% dengan perbandingan 1: 3 (1000 gram jintan hitam : 3000 ml etanol 96%) kemudian menghomogenkan selama 2-3
68 54 jam untuk mencapai kondisi homogen dalam shaker waterbath dengan kecepatan 120 rpm selama 1 jam. Larutan dimaserasi selama 24 jam pada suhu kamar. Setelah 24 jam, larutan difiltrasi atau dipisahkan dengan menggunakan penyaring Buchner. Mengangin-anginkan residu penyaringan dan melakukan remaserasi ulang selama 24 jam, maserasi diulang sampai 3 kali. Filtrat dari masing-masing hasil maserasi dicampur dan dipekatkan dengan rotary vacum evaporator pada suhu 50 sampai didapatkan ekstrak kental (Bhumi, 2014) Penentuan Dosis Pemberian Ekstrak Jintan Hitam (Nigella sativa L.) Penentuan dosis pemberian ekstrak jintan hitam (Nigella sativa L.) kepada hewan coba dilakukan untuk mengetahui dosis yang efektif sebagai efek imunomodulator. Pada penelitian ini ekstrak jintan hitam dibuat dalam dua dosis, yaitu 75 mg/kgbb dan 150 mg/kgbb. Untuk pembuatan dosis tersebut, ekstrak jintan hitam ditimbang sesuai dengan perhitungan kemudian dilarutkan dengan pelarut NaCMC 0,5%. Menurut Larasati (2016), perhitungan pemberian dosis pada tikus, konsentrasi yang dibuat, ekstrak yang ditimbang, volume sediaan yang dibuat, serta volume sediaan yang diberikan pada masing-masing hewan percobaan adalah sebagai berikut : 1. Konsentrasi yang dibuat Rumus : a 100b % Keterangan : a = dosis b = persen pemberian (1% untuk pemberian oral) a) 75 mg/kgbb = %= 0,75% b) 150 mg/kgbb = = 1,5 % Jadi, konsentrasi yang harus dibuat untuk mendapatkan dosis ekstrak jintan hitam 75 mg/kgbb adalah 0,75 % dan dosis 150 mg/kgbb adalah 1,5 %.
69 55 2. Ekstrak yang ditimbang untuk dibuat sediaan dengan berat tikus 200 gram. Rumus = dosis berat hewan a) 75 mg/kgbb = 75mg/KgBB 200 grambb = 75 mg/kgbb x 0,2 kgbb = 15 mg untuk satu ekor tikus b) 150 mg/kgbb = 150 mg/kgbb 200 grambb = 150 mg/kgbb x 0,2 kgbb = 30 mg untuk satu ekor tikus Jadi, ekstrak yang ditimbang untuk mendapatkan konsentrasi ekstrak 0,75 % adalah 15 mg untuk satu ekor tikus dan konsentrasi ekstrak 1,5 % adalah 30 mg untuk satu ekor tikus. 3. Volume sediaan untuk melarutkan ekstrak jintan hitam yang telah ditimbang Rumus = Berat ekstrak konsentrasi 15 mg a) 75 mg/kgbb = = 15 mg 0,75 % 100 ml 0,75 gram = 2 ml untuk satu ekor tikus = 15 mg 0,75 gram 100 ml = 15 mg 100 ml 750 mg b) 150 mg/kgbb = = 30 mg 1,50 gram 100 ml = 30 mg 100 ml 30 mg 1,5 % 1,50 gram = 2 ml untuk satu ekor tikus = 30 mg 100 ml 1500 mg Jadi, untuk mendapatkan ekstrak jintan hitam dengan dosis 75 mg/kgbb dan 150 mg/kgbb masing-masing dibutuhkan 15 mg dan 30 mg ekstrak yang kemudian dilarutkan dalam 2 ml pelarut per satu ekor tikus (Larasati, 2016) Penentuan Dosis Pemberian Induksi Vaksin Hepatitis B pada Tikus Galur Wistar (Rattus norvegicus) Pada penelitian ini pemberian vaksin dilakukan secara intraperitoneal pada hewan coba di hari ke-7 (setelah pengkondisian). Volume vaksin Hepatitis B yang
70 56 diberikan dihitung berdasarkan dosis pemberian pada manusia yang dikonversikan untuk dosis tikus dengan perhitungan sebagai berikut : Rumus = faktor konversi manusia ke tikus x dosis pemakaian = 0,018 1 ml = 0,018 ml Kemudian dikalikan 10x pemakaian untuk membuat kondisi tikus menjadi hepatitis, sehingga perhitungannya adalah = 0,018 ml 10 = 0,18 ml Jadi, volume vaksin hepatitis B yang diinduksikan pada satu ekor tikus adalah 0,18 ml (Prastiwi, 2009) Perlakuan Terhadap Hewan Coba Tikus yang digunakan adalah tikus (Rattus norvegicus) jantan galur Wistar yang memiliki berat badan 200 gram dan berusia 2-3 bulan. Jumlah tikus yang akan digunakan sebanyak 24 ekor yang dibagi dalam 4 kelompok perlakuan dengan masing-masing kelompok perlakuan terdiri dari 6 ekor tikus. Sebelum digunakan, semua hewan coba diletakkan pada kandang hewan coba bersih, terdapat sirkulasi udara, dan terlebih dahulu diaklimatisasi terhadap lingkungan selama ± 7 hari. Hewan coba diberi makan dan minum setiap hari hingga mencapai berat badan sesuai kriteria. Berikut masing-masing perlakuan pada tiap kelompok : 1. Perlakuan kontrol negatif Enam ekor tikus tidak diberi perlakuan (tidak diberi ekstrak jintan hitam dan tidak diinduksi vaksin hepatitis B), hanya diberi pakan berupa pellet dan minum air. Kemudian dilakukan pengambilan darah untuk menghitung kadar anti-hbs.
71 57 2. Perlakuan kontrol positif Enam ekor tikus hanya diberi pakan berupa pellet dan air minum atau aquadest lalu diinduksi vaksin hepatitis B. Kemudian dilakukan pengambilan darah untuk menentukan kadar anti-hbs. 3. Perlakuan pertama Enam ekor tikus diberi ekstrak jintan hitam dengan dosis 75 mg/kgbb sebanyak 2 ml selama 7 hari secara oral dan diberi pakan berupa pellet. Pada hari ke-7 tikus diinduksi vaksin hepatitis B (0,18 ml) secara intraperitoneal lalu diinkubasi selama 14 hari, pemberian ekstrak jintan hitam tetap dilakukan. Pada hari ke-21, mengambil darah tikus untuk menentukan kadar anti-hbs. 4. Perlakuan kedua Enam ekor tikus diberi ekstrak jintan hitam dengan dosis 150 mg/kgbb sebanyak 2 ml selama 7 hari secara oral dan diberi pakan berupa pellet. Pada hari ke-7 tikus diinfeksi virus hepatitis B (0,18 ml) secara intraperitoneal lalu diinkubasi selama 14 hari, pemberian ekstrak jintan hitam tetap dilakukan. Pada hari ke-21, mengambil darah tikus untuk menentukan kadar anti-hbs. Tabel 4.1 Perlakuan Pada Hewan Coba Kelompok Perlakuan Perlakuan Hewan Coba Kontrol Negatif Kontrol Positif Perlakuan 1 Perlakuan 2 Tidak diberi perlakuan (Tidak diberi ekstrak jintan hitam) dan tidak diinduksi vaksin hepatitis B. Tanpa perlakuan, Hanya diinduksi vaksin heptitis B (0,18 ml). Diberi ekstrak jintan hitam dengan dosis 75 mg/kgbb (2 ml) dan diinduksi vaksin hepatitis B (0,18 ml). Diberi ekstrak jintan hitam dengan dosis 150 mg/kgbb (2 ml) dan diinduksi vaksin hepatitis B (0,18 ml)..
72 Prosedur Pemeriksaan Kadar Anti-HBs a. Pengambilan Sampel Darah Sampel darah diambil pada hari ke 21 yaitu setelah pemberian ekstrak jintan hitam selama penelitian dan setelah proses infeksi virus hepatitis B pada hari ke 7. Pengambilan darah pada tikus dilakukan dengan punksi jantung setelah tikus dianestesi dengan kloroform. Darah yang diperoleh dari jantung kemudian disentrifus (Fahrimal dkk, 2014). b. Prosedur Pemeriksaan Kadar Anti-HBs Pemeriksaan kadar anti-hbs dilakukan dengan menggunakan metode ELISA. Metode ELISA yang dipakai dalam penentuan antibodi anti-hbs adalah double antigen sandwich ELISA. Dalam teknik ini, anti-hbs yang terdapat dalam sampel (sera atau plasma) akan diikat oleh HBsAg yang dilapiskan pada permukaan sumur lempengan mikrotiter. Konjugat HBsAg peroksidase yang ditambahkan akan diikat oleh sisa Fab dari anti-hbs yang terikat pada fase padat. Kelebihan konjugat dibuang dengan pencucian, dan aktivitas enzim yang terikat pada fase padat ditentukan. Reaksi enzimatik dihentikan dengan penambahan asam sulfat. Intensitas perubahan warna berbanding lurus dengan kadar anti-hbs dalam sampel. Cara pemeriksaan : 1. Memasukkan 50µl kontrol positif, kontrol negatif dan sampel dalam masing-masing well. 2. Menambahkan 50µl conjugate reagent kedalam masing-masing well, menutup dengan parafilm dan goyang selama 20 detik. 3. Inkubasi pada suhu 37ºc selama 30 menit.
73 59 4. Well di cuci 5 kali dengan larutan pencuci 350 µl. 5. Menambahkan masing-masing reagen chromogen solution A 50µl dan B 50µl, digoyang selama 20 detik. 6. Menutup dengan cover hitam, inkubasi suhu 37ºC selama 15 menit. 7. Menambahkan 50 µl larutan stop solution H2SO4 2 N, goyang 20 detik. 8. Baca pada ELISA reader dengan panjang gelombang 450 atau 630 dalam waktu 10 menit ( Faisal, 2010 ) Teknik Analisa Data Teknik analisa data disajikan dalam bentuk tabel secara kuantitatif. Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan analisa uji normalitas data yaitu uji Kolmogorov-Sminorv, data dinyatakan berdistribusi normal apabila nilai signifikansi yang diperoleh lebih besar dari nilai alfa (p > α) pada α = 0,05. Kemudian dilanjutka dengan uji homogenitas untuk melihat varian data yang diuji, data dikatan homogen apabila nilai signifikansi yang diperoleh lebih besar dari nilai alfa (p > α) pada α = 0,05. Apabila data berdistribusi normal dan homogen makan akan dilanjutkan dengan uji One Way Anova untuk melihat adanya pengaruh perlakuan. Jika hasil pada uji One Way Anova didapatkan nilai signifikansi lebih kecil dai nilai alfa (p < α ) pada α = 0.05 maka hasil menolak H0 dan menerima H1. Untuk melihat perbedaan pengaruh yang signifikan antar kelompok perlakuan dilanjutkan dengan uji Post Hoc. Apabila data berdistribusi tidak normal, maka akan diuji menggunakan uji non parametrik Kruskal-Wallis.
74 Alur Penelitian Tikus Galur Wistar Jantan, 2-3 bulan, berat gram Adaptasi selama 7 hari Kontrol Negatif 6 ekor tikus Kontrol Positif 6 ekor tikus Perlakuan 1 6 ekor tikus perlakuan 2 6 ekor tikus Pakan standar + minum (aquadest) Pakan standar + minum (aquadest) Pakan standar + minum (aquadest), ekstrak jintan hitam dosis 75 mg/kgbb sebanyak 2 ml ( 1 x 1 selama 7 hari) Pakan standart + minum (aquadest), ekstrak jintan hitam dosis 150 mg/kgbb sebanyak 2 ml (1x1 selama 7 hari) Diinduksi vaksin Hepatitis B pada hari ke 7 dengan volume 0,18 ml secara intraperitoneal Kontrol Positif Pakan standart + minum. Perlakuan 1 Pakan standart +minum (aquadest), ekstrak jintan hitam dosis 75 mg/kgbb dalam 2 ml larutan Perlakuan 2 Pakan standart + minum (aquadest), ekstrak jintan hitam dosis 150 mg/kgbb dalam 2 ml larutan Mengambil darah tikus pada hari ke 21 untuk menghitung kadar anti-hbs Analisis Data Gambar 4.1 Skema Alur Penelitian
75 Kadar Anti-HBs BAB 5 HASIL PENELITIAN 5.1 Gambaran Umum Sampel Penelitian ini menggunakan sampel serum yang diambil dari tikus wistar jantan usia 2 3 bulan dengan berat 200 gram yang telah dilakukan perlakuan sebanyak 24 ekor. Serum yang diuji dalam keadaan baik tidak hemolisis. 5.2 Hasil Penelitian Sampel dilakukan pemeriksaan anti-hbs dengan metode Double antigen sandwich ELISA menggunakan alat Humareader Single Plus dan reagen HBsAb ELISA kit 96 S C-BIOS. Hasil pemeriksaan dapat dilihat pada grafik berikut; Gambar 5.1 Grafik Hasil Pemeriksaan Anti-HBs 2,5 Hasil Pemeriksaan Anti-HBs 2 1,5 1 0, Sampel Kontrol Negative Kontrol Positive Perlakuan 1 Perlakuan 2 (Sumber : Data primer) 61
76 62 Distribusi sampel berdasarkan hasil pemeriksaan anti-hbs Tabel 5.2 Nilai rata-rata hasil pemeriksaan anti-hbs pada sampel. Kelompok Perlakuan Hasil (miu/ml) Rata Rata (miu/ml) Kontrol Negative 0,3 0,3 0,2 0,4 0,4 0,4 1,67 Kontrol Positive 0,4 0,3 0,4 0,4 0,5 0,5 2,08 Perlakuan 1 0,7 0,9 0,7 0,8 0,7 1 3,97 Perlakuan 2 2,1 1,6 1,1 1,6 1,6 1,7 8,28 (Sumber : Data primer) Tabel 5.2 menunjukkan nilai rata-rata hasil pemeriksaan anti-hbs dengan metode ELISA sandwich yaitu pada kelompok perlakuan kontrol negatif didapatkan hasil sebesar 1,67 miu/ml yang diperoleh dai rata-rata 6 sampel, pada kelompok perlakuan kontrol positif didapatkan hasil sebesar 2,08 miu/ml, pada kelompok perlakuan 1 (pemberian dosis ekstrak jintan hitam 75 mg/kgbb) didapatkan hasil sebesar 3,97 miu/ml, dan pada kelompok perlakuan 2 (pemberian dosis ekstrak jintan hitam 150 mg/kgbb) didapatkan hasil sebesar 8,28 miu/ml. 5.3 Analisa Data Uji Normalitas Data Hasil uji normalitas data menggunakan uji Kolmogorov-Sminorv, didapatkan nilai signifikan atau nilai probabilitas data pada kelompok kontrol negatif adalah 0,682 pada α = 0,05. Nilai signifikansi atau nilai probabilitas data pada kelompok kontrol positif adalah 0,833 pada α = 0,05. Nilai signifikansi atau nilai probabilitas data pada kelompok perlakuan 1 adalah 0,713 pada α = 0,05. Nilai signifikansi atau nilai probabilitas data pada kelompok perlakuan 2 adalah 0,601 pada α = 0,05. Nilai signifikansi atau nilai probabilitas data yang didapat dari semua kelompok perlakuan lebih besar dari alfa (p > α). Maka hasi uji normalitas menunjukkan bahwa data penelitian berdistribusi normal.
77 Uji Homogenitas Hasil uji homogenitas menunjukkan nilai signifikan atau nilai probabilitas yang diperoleh adalah sebesar 0,294 pada α = 0,05 yang artinya nilai signifikansi lebih besar dari alfa (p > α). Maka, dari hasil uji homogenitas menunjukkan bahwa data penelitian memiliki varian yang sama atau homogen Uji Anova One Way Hasil uji Anova One Way mendapatkan nilai signifikansi atau nilai probabilitas 0,00 pada α = 0,05 (p < α) yang berarti ada pengaruh pemberian ekstrak jinta hitam (Nigella sativa.) terhadap anti-hbs pada tikus wistar yang diinduksi vaksin hepatitis B Uji Post Hoc Uji Post Hoc dilakukan apabila hasil dari uji Anova One Way memiliki nilai p < 0,05, analisis ini dilakukan untuk mengetahui letak perbedaan pengaruh kelompok perlakuan yang signifikan terhadap kadar anti-hbs dengan cara membandingkan kelompok perlakuan. Hasil uji Post Hoc mendapatka nilai signifikasi kontrol positif terhadap kelompok perlakuan 1 sebesar 0,001 pada α = 0,05 (p < α) yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan atara kelompok kontrol positif dengan kelompok perlakuan 1. Nilai signifikansi kontrol positif terhadap kelompok perlakuan 2 sebesar 0,00 pada α = 0,05 (p < α) yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan atara kelompok kontrol positif dengan kelompok perlakuan 2. Nilai signifikansi kelompok perlakuan 1 terhadap kelompok perlakuan 2 sebesar 0,00 pada α = 0,05 (p < α) yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan atara kelompok perlakuan 1 dengan kelompok perlakuan 2.
78 BAB 6 PEMBAHASAN Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental laboratoris menggunakan hewan coba yang bertujuan untuk mengetahui efektivitas imunomodulator ekstrak jintan hitam (Nigella sativa) terhadap kadar anti-hbs pada tikus wistar (Rattus norvegicus) yang di induksi vaksin hepatitis B. Analisa data pada uji Anova One Way menunjukkan hasil bahwa ekstrak jintan hitam memberikan pengaruh terhadap kadar anti-hbs pada tikus wistar jatan yang diinduksi vaksin hepatitis B. Pengaruh yag diberikan ekstrak jintan hitam terhadap kadar anti-hbs yaitu berupa peningkatan nilai kadar anti-hbs kelompok perlakuan dibandingkan dengan kelompok kontrol positif, serta hasil uji Post Hoc menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan atara kelompok kontrol positif dengan kelompok perlakuan 1 dan kelompok perlakuan 2, perbedaan yang signifikan juga terlihat pada perlakuan 1 terhadap perlakuan 2 yaitu kelompok dengan perlakuan pemberian ekstrak jintan hitam dengan dosis 75 mg/kgbb dan 150 mg/kgbb pada masing-masing kelompok perlakuan selama 7 hari dan diinduksi vaksin hepatitis B pada hari ke 7 dan pemberian ekstrak jintan hitam dilajutkan selama 14 hari setelah diinduksi vaksin hepatitis B. Pada kelompok kontrol negatif yaitu kelompok tanpa perlakuan hanya diberi pakan dan minum standar didapatkan hasil rata-rata sebesar 1,67 miu/ml± 0,075. Pada kelompok kontrol positif yaitu kelompok yang hanya diberi vaksin hepatitis B sebayak 0,18 ml (dosis mengkondisikan tikus menjadi hepatitis) didapatkan hasil rata-rata sebesar 2,08 miu/ml±0,069. Hasil ini menunjukkan 64
79 65 bahwa terjadi peningkatan kadar anti-hbs pada kelompok kontrol positif apabila dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif. Peningkatan kadar anti-hbs pada kelompok kontrol positif dikarenakan respon imun pada kelompok kontrol positif dipicu oleh antigen HBsAg yang teradapat pada vaksin hepatitis B yang telah diinduksikan pada sampel kelompok kontrol positif. Pada kelompok perlakuan 1 yaitu kelompok yang diberi ekstrak jintan hitam dengan dosis 75 mg/kgbb sebanyak 2 ml selama 7 hari, kemudian diinduksi vaksin hepatitis B sebanyak 0,18 ml pada hari ke 7 dan pemberian ekstrak jintan hitam sebanyak 2 ml dilanjutkan hingga 14 hari setelah diinduksi vaksin hepatitis B. Setelah itu dilakukan pemeriksaan kadar anti-hbs dan didapatkan hasil dengan nilai rata-rata sebesar 3,97 miu/ml±0,12. Hasil ini menunjukkan adanya peningkatan kadar anti-hbs pada kelompok perlakuan 1 apabila dibandingkan dengan kelompok kontrol positif dan kelompok kontrol negatif. Peningkatan kadar anti-hbs pada kelompok perlakuan 1 terjadi karena respon imun pada kelompok perlakuan 1 dipicu oleh antigen HBsAg yang terdapat pada vaksin hepatitis B yang telah diinduksikan pada sampel kelompok perlakuan 1 serta respon imun pada kelompok perlakuan 1 mendapat stimulasi zat aktif yang terkandung dalam ekstrak jintan hitam yang berperan sebagai imunomodulator sehingga respon imun pada kelompok perlakuan 1 bekerja lebih baik. Pada kelompok perlakuan 2 yaitu yaitu kelompok yang diberi ekstrak jintan hitam dengan dosis 150 mg/kgbb sebanyak 2 ml selama 7 hari, kemudian diinduksi vaksin hepatitis B sebanyak 0,18 ml pada hari ke 7 dan pemberian ekstrak jintan hitam sebanyak 2 ml dilanjutkan hingga 14 hari setelah diinduksi vaksin hepatitis B, kemudian dilakukan pemeriksaan kadar anti-hbs dan
80 66 didapatkan hasil rata-rata sebesar 8,28 miu/ml±0,29. Hasil ini menunjukkan adanya peningkatan kadar anti-hbs yang signifikan pada kelompok perlakuan 2 apabila dibandingkan dengan kelompok kontrol positif dan kelompok perlakuan 1. Peningkatan kadar anti-hbs pada kelompok perlakuan 2 terjadi karena adanya amtigen HBsAg yang terdapat pada vaksin hepatitis B diinduksikan pada kelompok perlakuan 2 sehingga memicu respon imun pada kelompok perlakuan 2. Respon imun pada kelompok perlakuan 2 bekerja lebih efektif dengan adanya stimulasi dari zat aktif ekstrak jintan hitam yang berperan sebagai imunomodulator dengan pemberian dosis yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok perlakuan 1. HBsAg (vaksin hepatitis B) yang diinduksikan pada tikus wistar kelompok kontrol positif, kelompok perlakuan 1 dan kelompok perlakuan 2 merangsang respon imun tubuh, yang pertama kali dirangsang adalah respons imun nonspesifik (innate immune respons) karena dapat terangsang dalam waktu pendek, dalam beberapa menit sampai beberapa jam. Proses eliminasi nonspesifik ini terjadi tanpa restriksi HLA yaitu dengan memanfaatkan sel-sel NK dan NK-T. Proses eradikasi virus hepatitis B lebih lanjut diperlukan respons imun spesifik yaitu dengan mengaktifkan sel limfosit T dan sel limfosit B (Ekasari, 2016). HBsAg (vaksin hepatitis B) merupakan protein surface spesifik dari virus hepatitis B diekspresikan pada permukaan hepatosit dan melalui antigen presenting cell (APC) dipresentasikan kepada sel T helper. Sel T helper yang teraktivasi memicu pembentukan sel B yang distimulasi antigen menjadi sel plasma penghasil antibodi dan meningkatkan aktivasi sel T sitotoksik. Sel T sitotoksik bersifat menghancurkan secara langsung sel hati yang terinfeksi (Marinda, 2015). Apabila proses eliminasi virus berlangsung efisien maka infeksi virus hepatitis B dapat
81 67 di akhiri, sedangkan bila proses tersebut kurang efisien maka terjadilah infeksi virus hepatitis B yang menetap. Proses eliminasi virus hepatitis B oleh respon imun yang tidak efisien dapat disebabkan oleh faktor virus ataupun faktor penjamu. Faktor virus misalnya terjadinya imunotoleransi terhadap produk virus hepatitis B. Faktor penjamu dipengaruhi oleh faktor genetik, kurangnya produksi IFN, adanya antibodi terhadap antigen, kelainan fungsi limfosit, respons antiidiotipe, faktor kelamin atau hormonal (Ekasari, 2016). Adanya peningkatan produksi antibodi terhadap antigen spesifik HBsAg dapat mengeliminasi antigen spesifik HBsAg lebih efesien. Pada penelitian ini peningkatan produksi antibodi dari setiap kelompok perlakuan disebabkan oleh zat aktif yang terkandung di dalam ekstrak jintan hitam. Kandungan zat aktif utama dari ekstrak jinta hitam adalah thymoquinone (57,8%). Thymoquinone yang terdapat dalam ekstrak jintan hitam ini memiliki fungsi proteksi hepatotoksisitas. Efek ekstrak jintan hitam dapat menstimulasi sitokin Macrophage Activating Factor (MAF) sehingga meningkatkan fungsi makrofag yang berperan dalam sistem imun seluler. Thymoquinone mampu meningkatkan fungsi sel-sel imun baik seluler maupun humoral (Yusuf, 2014). Efek imunostimulasi jintan hitam yaitu dengan cara meningkatkan respon imunitas seluler (Sulisti dan Radji, 2014). Ekstrak jintan hitam mampu menstimulasi sumsum tulang dan sel imun, melindungi sel normal dari perusakan sel oleh virus, dan meningkatkan jumlah antibodi yang diproduksi oleh sel B (Mayasafira, 2012). Thymoquinone pada ekstrak jintan hitam menstimulasi kerja Toll like receptor (TLR). TLR berperan penting dalam meningkatkan respon imun innate. TLR merupakan salah satu alat yang terdapat pada sel dendritik. Melalui pattern
82 68 recognition receptors (PRRs) TLR berperan mendeteksi atau mengenal komponen struktur HBsAg yang masuk tubuh sehingga menghasilkan suatu signaling untuk aktivasi dari respon imun inate melalui aktivasi dan transkripsi faktor NF-kB yang merupakan regulator utama dari respons imun maupun proses inflamasi. TLR yang berhubungan dengan patofisiologi di hati khususnya TLR 9 dan TLR 2. Gen TLR2 terdapat pada transmembran sel dan mempunyai reseptor untuk mengenali virus hepatitis B, TLR2 terdapat pada sel kuffer dan hepatosit. Adanya stimulasi pada TLR oleh thymoquinone maka kerja TLR dalam membentuk signaling untuk mengenali komponen struktur HBsAg (vaksin hepatitis B) lebih efektif. Peran TLR sagat penting dalam timbulnya respon imun inate, maka stimulasi fungsi TLR oleh zat aktif thymoquinone dalam mengenal, maturasi, migrasi, serta fungsi lainnya secara langsung memberikan efek pada sel T CD4 dan sel B, sehingga dapat menstimulasi pembentukan antibodi terhadap antigen vaksin hepatitis B tersebut. Setelah antigen dikenali atau terdeteksi denga baik, HBsAg (vaksin hepatitis B) yang berupa protein spesifik surface hepatitis B yang masuk ke dalam tubuh dipresentasikan oleh antigen precenting cells (APC) kepada sel T helper (CD4) spesifik yang mengenali kompleks molekul HLA II dan peptida HBsAg pada permukaan APC. Sel T CD4 memacu sel B menjadi sel plasma melalui mediator IL2. Sel plasma mengeluarkan antibodi spesifik terhadap HBsAg yang dikenal sebagi anti-hbs (Rosalina, 2012). Anti-HBs dapat dideteksi dengan pemeriksaan serologi metode ELISA. Hasil pemeriksaan ELISA bersifat data kuantitatif sehingga dapat diketahui kadar anti-hbs yang diperiksakan. Pada penelitian ini pemeriksaan kadar anti-
83 69 HBs menggunakan metode Double Antigen Sandwich ELISA. Pemeriksaan ELISA Double Antigen Sandwich memiliki tingkat sensitivitas yang relatif lebih tinggi karena antibodi yang diinginkan harus dapat berinteraksi dengan dua jenis antigen, yaitu antigen penangkap dan antigen detector, dan mampu mengikat secara selektif antibodi yang dikehendaki.
84 BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai efektivitas imunomodulator ekstrak jintan hitam (Nigella sativa) terhadap kadar anti-hbs pada tikus wistar (Rattus norvegicus) yang diinduksi vaksin hepatitis B, dapat disimpulkan bahwa: 1. Ekstrak jintan hitam berpengaruh terhadap peningkatan kadar anti-hbs pada tikus wistar yang diinduksi vaksin, dengan nilai kadar rata-rata 2,08 miu/ml untuk pemberian dosis 75 mg/kgbb dan 8,28 miu/ml untuk pemberian dosis 150 mg/kgbb. 2. Pemberian dosis 150 mg/kgbb lebih efektif dalam meningkatkan kadar anti- HBs dibandingkan dengan pemberian dosis 75 mg/kgbb. 7.2 Saran 1. Kepada masyarakat dapat memanfaatkan ekstrak jintan hitam sebagai imunomodulator untuk memperkuat daya tahan tubuh khususnya dalam upaya pencegahan dan sebagai bahan komplementer dalam terapi hepatitis B. 2. Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian mengenai jintan hitam dengan metode PCR untuk dapat melihat ekspresi virus hepatitis B terhadap pemberian ekstrak jintan hitam. 3. Kepada peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian mengenai efek imunomodulator ekstrak jintan hitam terhadap peran sel T CD8. 70
85 Daftar Pustaka Aminah Analisis Ketepatan Pemberian Imunisasi HB-0 di Wilayah Kerja Puskesmas Patiluban Mudik Kecamatan Natal Tahun Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Medan. Skripsi. Andini, Septi Tri Titer Anti-HBs Dengan Variasi Waktu Pembacaan Absorbansi Pada Elisa Reader. Jurusan Analis Kesehatan Universitas Muhamadiyah Semarang. Semarang. Skripsi. lib.unimus.ac.id Astuti, Hutari Puji & Estri Kusumawati Kajian Efektivitas Pemberian Vaksinasi Hepatitis B Terhadap Pembentukan Antibodi Anti-HBs. Jurnal KesMaDaSka Diakses Desember Bagus, Ida K Etika Menggunakan Hewan Percobaan Dalam Penelitian Kesehatan. Komisi Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Denpasar. Pelatihan Etika Dasar Pelatihan. Barakat, Eman M.F., Lamia Mohamed El Wakeel & Radwa Samir Hagag Effects of Nigella sativa on outcome of hepatitis C in Egypt. World J Gastroenterol..19: PMC /. Diakses Desember Barnianto,Ambrosius Issa Efek Ekstrak Nigella Sativa Terhadap Jumlah Sel T CD 4+ dan Sel T CD 8+ Jaringan Adenokarsinoma Payudara Mencit C3H. Program Pascasarjana Magister Ilmu Biomedik Dan Program Pendidikan Dokter Spesialis I Ilmu Bedah Universitas Diponegoro. Semarang. Tesis. Diakses Januari Bhumi, Lintang Suryaning Uji Efektivitas Ekstrak Jintan Hitam (Nigella sativa) Terhadap Pertembuhan Bakteri Pseudomonas aeruginosa. Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Jakarta. Skripsi. repository.uinjkt.ac.id. Diakses Februari
86 72 Clorinda, Freicillya Rebecca Uji Kemampuan Minyak Jintan Hitam (Nigella sativa) Menghambat Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus Secara In Vitro. Fakultas Kedokteran Universitas Jember. Jember. repository.unej.ac. id/handle/ /3017. Diakses Desember Ekasari, Nur Korelasi Serum GP73 Terhadap Derajat Fibrosis Hati Pasien Hepatitis B dan C. Program Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret. Surakata. Tesis. Fahrimal, Yudha., Eliawardani, Afira Rafina, Al Azhar & Nuzul Asmilia Profil Darah Tikus Putih (Rattus norvegicus) Yang Diinfeksikan Trypanosoma Evansi Dan Diberikan Ekstrak Kulit Batang Jaloh (Salix tetrasperma Roxb). Jurnal Kedokteran Hewan. 8: unsyiah.ac. id/jkh/article/download/2654/2506. Diakses Januari Faisal Perbandingan Prevalensi HBsAg Positif Pada Penderita Yang Memeriksakan Diri Di Rumah Sakit Islam Gondang Legi Malang Dengan Metode ELISA. Akademi Analis Kesehatan. Malang. Journal Healthy Science AAK Malang 1 : 2. Handoyo, Maria Larizza Efek Ekstrak Etanolik Buah Labu Air (Langenaria siceraria (Mol.) standley) sebagai Imunomodulator Melalui Pengamatan Kapasitas dan Indeks Fagositosis Makrofag Pada Tikus Jantan Sprague Dawley yang Dipenjani Doksorubisin. Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta. Skripsi. _ Full.pdf. Diakses Februari Hatijah, Ninik Daya Hambat Ekstrak Rimpang Temu Kunci (Boesenbergia rotunda) Terhadapa Perteumbuhan Jamur Aspergillus flovus Secara In Vitro. Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Surabaya. Surabaya. Karya Tulis Ilmiah. Istiqomah Perbandingan Metode Ekstraksi Maserasi dan Sokletasi Terhadap Kadar Piperin Buah Cabe Jawa (Piperis retrofracti fructus). Program Studi Farmasi Universitas Negeri Islam Syarif Hidayatullah.
87 73 Jakarta. Skripsi. repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/ /24306, Diakses Februari Kemaladina, Intan, Huriatul Masdar & Dasril Efendi, Identifikasi Status Vaksinasi Hepatitis B Dan Kadar Anti-HBs Pasca Vaksinasi Pada Mahasiswa Kepaniteraan Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Riau. repository.unri.ac.id. Diakses Desember 2016 Larasati, Kifia Desi Pengaruh Pemberian Ekstrak Temulawak ( Curcuma xanthorriza Roxb) terhadap Kadar LDL (Low Density Lipoprotein) pada Mencit (Mus musculus). Program Studi DIII Analis Kesehatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya. Surabaya. Karya Tulis Ilmiah. Lepe, Feibi Felisca Cakupan Vaksinasi Hepatitis B Pada Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kesehatan UKSW Angkatan 2009 dan Alasan Yang Mendasari. Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Kristen Satya Wacana. Salatiga. Skripsi. repository.uksw.edu. Diakses Desember Maghfiroh Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Bunga Melati (Jasminum sambac Ait.) Terhadap Pertuumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus ATCC dan Shigella flexneri ATCC Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Yogyakarta. jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/ prosbio/article/view/4811. Diakses Februari Marinda, Ferina Dwi Uji Diagnostik RAPID TEST HBsAg DIASPOT Untuk Mendiagnosis Infeksi Hepatitis B Di Rumah Sakit Urip Sumoharjo Bandar Lampung. Lampung. Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. digilib.unila.ac.id/6558/. Diakses Desember Marlinda, Lita Effectivityof Black Cumin Seeds Extract To Increase Phagocytosis. J Majority. 4 : Diakses Desember Mayasafira, Dian Pengaruh Pemberian Ekstrak Minyak Jintan Hitam (Nigella sativa) Terhadap Gambaran Diferensiasi Leukosit dan Luasan Sumsum Tulang Mencit (Mus musculus). Fakultas Kedokteran Hewan Institut
88 74 Pertanian Bogor. Bogor. Skripsi. repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/ /56414/2/B12dma.pdf. Diakses Desember Moneim, Adel A., Basant M Morsy, Ayman M Mahmoud, Mohamed A Abo-Seif & Mohamed I Zanaty Beneficial Therapeutic Effects Of Nigella sativa and/or Zingiber officinale In Hcv Patients In Egypt, EXCLI Journal. 12: Diakses Desember Mukhriani Ekstraksi, Pemisahan Senyawa, Dan Identifikasi Senyawa Aktif. Jurnal Kesehatan. 7 : Dikases Februari Mustofa S. & Kurniawaty E Manajemen gangguan saluran serna : Panduan bagi dokter umum. Bandar Lampung: Aura Printing & Publishing. hlm digilib.unila.ac.id/6556/20/daftar%20pustaka.pdf. Diakses Januari Panggabean, Elizabeth Loloan Karakteristik Penderita Hepatitis B Rawat Inap di RSUD Rantau Prapat Kabupaten Labuhan Batu Tahun Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Medan. repository.usu.ac.id/bitstream/ /20831/7/cover.pdf. Diakses Desember Pasaribu, Dona Mesina R, Patogenesis Virus Hepatitis B. Jurnal Kedokteran Meditek 15.39A. portalgaruda.ilkom.unsri.ac.id. Diakses Desember Pham, E.A, R.B. Perumpail, B.J. Fram, J.S. Glenn, A. Ahmed & R.G. Gish Future Therapy for Hepatitis B Virus : Role of Immunomodulators. Curr Hepatology Rep. 15: PMC /. Diakses Desember Prastiwi, Rini Efek Hepatoprotektor Brotowali (Tinospora cordifolia Miers) Terhadap Virus Hepatitis B. download.portalgaruda.org/article.php. Diakses Desember Puspowardojo, Irena Aryani, Pengaruh Pemberian Ekstrak Jintan Hitam (Nigella Sativa) Terhadap Kadar Superoxide Dismutase (Sod) Plasma Pada
89 75 Tikus Sprague Dawley Yang Terpapar Asap Rokok. Program Pendidikan Sarjana Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Semarang. Laporan Karya Tulis Ilmiah. eprints.undip.ac.id. Diakses Desember Putri, Dea Alvicha Pengaruh Metode Ekstraksi Dan Konsentrasi Terhadap Aktivitas Jahe Merah (Zingiber Officinale Var Rubrum) Sebagai Antibakteri Escherichia coli. Jurusan Pendidikan Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Bengkulu. Bengkulu. Skripsi. repository.unib.ac.id. Diakses Februari Rahmi, Annisa Pengaruh Pemberian Ekstrak Minyak Jintan Hitam (Nigella sativa) Terhadap Gambaran Histopatologi Organ Testis Mencit (Mus musculus). Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. Bogaor. Skripsi. repository.ipb.ac.id. Diakses Desember Rosalina, Ina., Hubungan Polimorfisme Gen Tlr 9 (Rs ) Dan TLR 2 (RS Dan RS ) dengan Pembentukan Anti-HBs Pada Anak Pascavaksinasi Hepatitis B. IJAS. 2 : jurnal.unpad.ac.id Beranda Vol 2, No 3 (2012). Diakses Desember Rozalina Perilaku Ibu Dalam Pemberian Imunisasi Hepatitis B Pada Bayi 0-7 Hari Diwilayah Kerja Puskesmas Sukamara Kabupaten Sukamara Propinsi Kalimantan Tengah. Program Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Depok. Skripsi. lib.ui.ac.id/file?file=digital/ S_Rozalina.pdf. Diakses Saleh, Nurmala M Gambaran Faktor-Faktor Yang Menpengaruhi Perilaku Ibu Dalam Pemberian Imunisasi Hepatitis B 0 Pada Bayi 0-7 Hari di Desa Manggeloreng, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Propinsi Sulawesi Selatan. Program Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Depok. Skripsi. lib.ui.ac.id. Diakses Januari Sari, Ismi Kurnia Daya Hambat Ekstrak Jintan Hitam (Nigella sativa) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococus aureus dan Salmonelola thypi Secara In Vitro. Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Surabaya. Surabaya. Karya Tulis Ilmiah.
90 76 Slamet & Nugrahini, Naning. Pedoman Tatalaksana dan Rujukan Hepatitis B di Fasyankes Edisi Pertama. Kementerian Kesehatan Repubik Indonesia. Jakarta. Sulisti, Farida & Maksum Radji Potensi Pemanfaatan Nigella sativa L. sebagai Imunomodulator dan Antiinflamasi. Pharm Sci Res ISSN 1: psr.ui.ac.id/index.php/journal/article/download/3182/605. Diakses Desember Suryohastari, Bhintarti Analisis Protein Defensin Dari Biji Jinten Hitam (Nigella Sativa L.) Pada Mencit (Mus Musculus) Yang Diberi Biji Jinten Hitam Melalui Teknik SDS-PAGE. Al-Kauniyah Jurnal Biologi. 9: journal.uinjkt.ac.id/index.php/kauniyah/article/download/3251/pdf. Diakses Januari Syari, Tutik Novita. Pengaruh Pemberian Ekstrak Brotowali (Tinospora Crispa, L.) Terhadap Perkembangan Folikel Ovarium Tikus Putih (Rattus Norvegicus, L.). Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta, Tesis. eprints.uny.ac.id/8 322/. Diakses Januari Telaumbanua, Sepniman Jaya Pemeriksaan Jumlah Leukosit pada Penderita Hepatitis B Yang Dirawat Inap di RSU Advent Medan Tahun Akademi Analis Kesehatan Sari Mutiara. Medan. Umar, Sajid., Muhammad Tanveer Munir, Sabir Subhan, Tariq Azam, Qamar un Nisa, Muhammad Irfan Khan, Wajid Umar, Zaib ur Rehman, Abdul Sattar Saqib & Muhammad Ali Shah Protective and Antiviral Activities of Nigella sativa Against Avian Influenza (H9N2) in Turkeys. Jurnal of the Saudi Society of Agricultural Sciences. Diakses Desember Usman, Shelvy Khadijah Aktivitas Antioksidan Dan Antibakteri Ekstrak Biji Lamtoro (Leucaena leucocaphala). Jurusan Teknologi Pertanian Universitas Jember. Jember. Skripsi. repository.unej.ac.id/handle/ / Diakses Januari 2017.
91 77 WHO Hepatitis B Disease. Available from : mediacentre/factsheets/fs317/en/index.html Access on : 20 Desember Wijayanti, I.B Efektivitas HBsAg Rapis Screening Test untuk Deteksi Dini Hepatitis B. Surakarta. Program Studi D-III Kebidanan Stikes Kusuma Husada Surakarta. Wirayuda, Andreas Hubungan Antara Beberapa Faktor Penyebab Terhadap Terjadinya Hepatitis B Di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Pada Tahun Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara. Medan. Yogarajah, Haneetha., AA Wiradewi Lestari & IWP Sutirta Yasa Laboratory Diagnosis Of Hepatitis B. E-Jurnal Udayana Medica. 1: Diakses Desember Yusuf, Mentari Syahirah Efektivitas Penggunaan Jintan Hitam (Nigella sativa) Dalam Proses Percepatan Penyembuhan Luka Setelah Pencabutan Gigi. Bagian Ilmu Bedah Mulut Universitas Hasanuddin. Makassar. Skripsi. repository.unhas.ac.id. Diakses Desember Zikriah Uji Imunomodulator Ekstrak Etanol Jinten Hitam (Nigella sativa L.) Terhadap Jumlah Total Leukosit, Presentase Monosit Dan Kadar Interleukin 1β Pada Mencit Balb/C. Program Studi Farmasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Jakarta. Skripsi. repository.uinjkt.ac.id. Diakses Desember 2016.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Hepatitis B adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hepatitis B 2.1.1 Etiologi Hepatitis B adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B (HBV). HBV merupakan famili Hepanadviridae yang dapat menginfeksi manusia.
BAB I PENDAHULUAN. Hepatitis merupakan penyakit inflamasi dan nekrosis dari sel-sel hati yang dapat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hepatitis merupakan penyakit inflamasi dan nekrosis dari sel-sel hati yang dapat disebabkan oleh infeksi virus. Telah ditemukan lima kategori virus yang menjadi agen
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hepatitis B adalah infeksi hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B (VHB) yang dapat menyebabkan penyakit akut maupun kronis (WHO, 2015). Penularan hepatitis virus
BAB I PENDAHULUAN. Insiden penyakit ini masih relatif tinggi di Indonesia dan merupakan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit hepatitis virus masih menjadi masalah serius di beberapa negara. Insiden penyakit ini masih relatif tinggi di Indonesia dan merupakan masalah kesehatan di beberapa
RESPON PEMBERIAN EKSTRAK JINTAN HITAM
RESPON PEMBERIAN EKSTRAK JINTAN HITAM (Nigella sativa Linn) TERHADAP KADAR C-Reactive Protein (CRP) PADA TIKUS WISTAR YANG DIINDUKSI VAKSIN HEPATITIS B SKRIPSI PUTRI RAHAYU KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK
BAB II TINJUAN PUSTAKA
BAB II TINJUAN PUSTAKA 2.1 Hepatitis B 2.1.1 Definisi Virus hepatitis adalah gangguan hati yang paling umum dan merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia.(krasteya et al, 2008) Hepatitis B adalah
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sikap Sikap merupakan suatu respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Manifestasi sikap tidak langsung dilihat akan tetapi harus ditafsirkan
VIRUS HEPATITIS B. Untuk Memenuhi Tugas Browsing Artikel Webpage. Oleh AROBIYANA G0C PROGRAM DIPLOMA III ANALIS KESEHATAN
1 VIRUS HEPATITIS B Untuk Memenuhi Tugas Browsing Artikel Webpage Oleh AROBIYANA G0C015009 PROGRAM DIPLOMA III ANALIS KESEHATAN FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN UNUVERSITAS MUHAMADIYAH SEMARANG
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Infeksi Menular Seksual (IMS) atau Sexually Transmited Infections (STIs) adalah penyakit yang didapatkan seseorang karena melakukan hubungan seksual dengan orang yang
Hepatitis Marker. oleh. dr.ricke L SpPK(K)/
Hepatitis Marker oleh dr.ozar Sanuddin SpPK(K)/ dr.ozar Sanuddin SpPK(K)/ dr.ricke L SpPK(K)/ Hepatitis Marker Adalah suatu antigen asing a antibodi spesifik thdp antigen tsb. Penanda adanya infeksi, kekebalan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. VHB (Virus Hepatitis B) termasuk dalam anggota famili Hepadnavirus
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hepatitis B VHB (Virus Hepatitis B) termasuk dalam anggota famili Hepadnavirus yang memiliki 3 jenis antigen spesifik yaitu HBsAg, HBeAg dan HBcAg. Protein pada selubung virus
BAB I PENDAHULUAN. Perbedaan antara virus hepatitis ini terlatak pada kronisitas infeksi dan kerusakan jangka panjang yang ditimbulkan.
BAB I PENDAHULUAN Hati adalah salah satu organ yang paling penting. Organ ini berperan sebagai gudang untuk menimbun gula, lemak, vitamin dan gizi. Memerangi racun dalam tubuh seperti alkohol, menyaring
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B terdistribusi di
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B terdistribusi di seluruh dunia. Penderita infeksi hepatitis B diperkirakan berjumlah lebih dari 2 milyar orang
Etiology dan Faktor Resiko
Etiology dan Faktor Resiko Fakta Penyakit ini disebabkan oleh virus hepatitis C (HCV). Virus hepatitis C merupakan virus RNA yang berukuran kecil, bersampul, berantai tunggal, dengan sense positif Karena
BAB I PENDAHULUAN. kronik dan termasuk penyakit hati yang paling berbahaya dibandingkan dengan. menularkan kepada orang lain (Misnadiarly, 2007).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hepatits B disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV) yang termasuk virus DNA, yang menyebakan nekrosis hepatoseluler dan peradangan (WHO, 2015). Penyakit Hepatitis B
MENJELASKAN STRUTUR DAN FUNGSI ORGAN MANUSIA DAN HEWAN TERTENTU, KELAINAN/ PENYAKIT YANG MUNGKIN TERJADI SERTA IMPLIKASINYA PADA SALINGTEMAS
MENJELASKAN STRUTUR DAN FUNGSI ORGAN MANUSIA DAN HEWAN TERTENTU, KELAINAN/ PENYAKIT YANG MUNGKIN TERJADI SERTA IMPLIKASINYA PADA SALINGTEMAS KD 3.8. Menjelaskan mekanisme pertahanan tubuh terhadap benda
BAB I PENDAHULUAN. tersering dan terbanyak dari hepatitis akut. Terdapat 6 jenis virus hepatotropik
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Hepatitis didefinisikan sebagai suatu penyakit yang ditandai dengan terdapatnya peradangan pada organ tubuh yaitu hati. Hepatitis merupakan suatu proses terjadinya
BAB I PENDAHULUAN. Hepatitis B (VHB). Termasuk famili Hepadnavirus ditemukan pada cairan tubuh
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit peradangan hati akut atau menahun disebabkan oleh virus Hepatitis B (VHB). Termasuk famili Hepadnavirus ditemukan pada cairan tubuh seperti saliva, ASI, cairan
Mekanisme Pertahanan Tubuh. Kelompok 7 Rismauzy Marwan Imas Ajeung P Andreas P Girsang
Mekanisme Pertahanan Tubuh Kelompok 7 Rismauzy Marwan Imas Ajeung P Andreas P Girsang Imunitas atau kekebalan adalah sistem mekanisme pada organisme yang melindungi tubuh terhadap pengaruh biologis luar
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Hati Hati adalah organ intestinal terbesar dengan berat rata-rata 1500 gram pada badan orang dewasa dan merupakan pusat metabolisme tubuh dengan fungsi sangat kompleks yang
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penyakit Hepatitis B 2.1.1. Pengertian Hepatitis merupakan suatu proses peradangan (infeksi) pada jaringan hati yang memberikan gambaran klinis yang khas, dan dapat disebabkan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Hepatitis 2.1.1. Definisi Hepatitis virus adalah radang hati yang disebabkan oleh virus. Dikatakan akut apabila inflamasi (radang) hati akibat infeksi virus hepatitis yang berlangsung
BAB I PENDAHULUAN. Penelitian ini dibatasi pada pemeriksaan HBsAg strip test pada perawat di RSI PKU Muhammadiyah Palangka Raya.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sekitar 8,98 juta kasus hepatitis di Asia dengan kematian sekitar 585.800 kematian (WHO, 2011.b). Di Asia Tenggara ditemukan kejadian hepatitis B sekitar 1.380.000
1 Universitas Kristen Maranatha
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gangguan pada hepar dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor, antara lain virus, radikal bebas, maupun autoimun. Salah satu yang banyak dikenal masyarakat adalah
KAJIAN ILMIAH TEMATIK HARI HEPATITIS SEDUNIA 19 MEI 2016
KAJIAN ILMIAH TEMATIK HARI HEPATITIS SEDUNIA 19 MEI 2016 EPIDEMIOLOGI HEPATITIS Penyakit Hepatitis merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk di Indonesia, yang terdiri dan Hepatitis A, B,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Hepatitis karena infeksi virus merupakan penyakit. sistemik yang menyerang hepar. Penyebab paling banyak
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hepatitis karena infeksi virus merupakan penyakit sistemik yang menyerang hepar. Penyebab paling banyak dari hepatitis akut yang berhubungan dengan virus pada
CATATAN SINGKAT IMUNOLOGI
CATATAN SINGKAT IMUNOLOGI [email protected] Apakah imunologi itu? Imunologi adalah ilmu yang mempelajari sistem imun. Sistem imun dipunyai oleh berbagai organisme, namun pada tulisan ini sistem
Hepatitis Virus. Oleh. Dedeh Suhartini
Hepatitis Virus Oleh Dedeh Suhartini Fungsi Hati 1. Pembentukan dan ekskresi empedu. 2. Metabolisme pigmen empedu. 3. Metabolisme protein. 4. Metabolisme lemak. 5. Penyimpanan vitamin dan mineral. 6. Metabolisme
Hepatitis: suatu gambaran umum Hepatitis
Hepatitis: suatu gambaran umum Hepatitis Apakah hepatitis? Hepatitis adalah peradangan hati. Ini mungkin disebabkan oleh obat-obatan, penggunaan alkohol, atau kondisi medis tertentu. Tetapi dalam banyak
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hepatitis B disebabkan oleh virus Hepatitis B (HBV). HBV ditemukan pada tahun 1966 oleh Dr. Baruch Blumberg berdasarkan identifikasi Australia antigen yang sekarang
PATOGENESIS DAN RESPON IMUN TERHADAP INFEKSI VIRUS. Dr. CUT ASMAUL HUSNA, M.Si
PATOGENESIS DAN RESPON IMUN TERHADAP INFEKSI VIRUS Dr. CUT ASMAUL HUSNA, M.Si PATOGENESIS INFEKSI VIRUS Port d entree Siklus replikasi virus Penyebaran virus didalam tubuh Respon sel terhadap infeksi Virus
SISTEM IMUN. Pengantar Biopsikologi KUL VII
SISTEM IMUN Pengantar Biopsikologi KUL VII SISTEM KEKEBALAN TUBUH Imunologi : Ilmu yang mempelajari cara tubuh melindungi diri dari gangguan fisik, kimiawi, dan biologis. . SISTEM IMUN INNATE : Respon
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Inflamasi merupakan reaksi yang kompleks terhadap agen penyebab jejas, seperti mikroba dan kerusakan sel. Respon inflamasi berhubungan erat dengan proses penyembuhan,
ACQUIRED IMMUNE DEFICIENCY SYNDROME ZUHRIAL ZUBIR
ACQUIRED IMMUNE DEFICIENCY SYNDROME ZUHRIAL ZUBIR PENDAHULUAN Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) adalah penyakit yg disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) HIV : HIV-1 : penyebab
BAB I PENDAHULUAN. I.A. Latar Belakang. Hepatitis B merupakan penyakit infeksi menular. berbahaya yang disebabkan oleh virus hepatitis B (VHB).
BAB I PENDAHULUAN I.A. Latar Belakang Hepatitis B merupakan penyakit infeksi menular berbahaya yang disebabkan oleh virus hepatitis B (VHB). Virus ini menginfeksi melalui cairan tubuh manusia secara akut
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Hepatitis B 2.1.1. Definisi Hepatitis B merupakan penyakit peradangan hati yang disebabkan oleh VHB. Hepatitis B yang berlangsung kurang dari 6 bulan disebut hepatitis B akut
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Virus hepatitis B (VHB) merupakan virus yang dapat. menyebabkan infeksi kronis pada penderitanya (Brooks et
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Virus hepatitis B (VHB) merupakan virus yang dapat menyebabkan infeksi kronis pada penderitanya (Brooks et al., 2008). Virus ini telah menginfeksi lebih dari 350 juta
BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Infeksi Virus Hepatitis B (VHB) merupakan masalah. kesehatan global, terutama pada daerah berkembang.
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Infeksi Virus Hepatitis B (VHB) merupakan masalah kesehatan global, terutama pada daerah berkembang. Sepertiga dari populasi dunia atau lebih dari dua miliar orang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Inflamasi merupakan reaksi lokal jaringan terhadap infeksi atau cedera dan melibatkan lebih banyak mediator
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Inflamasi merupakan reaksi lokal jaringan terhadap infeksi atau cedera dan melibatkan lebih banyak mediator dibanding respons imun yang didapat. Inflamasi dapat diartikan
Mengenal Hepatitis C dan B. Buklet ini ditujukan untuk masyarakat agar lebih mengetahui informasi seputar Hepatitis C dan B.
Mengenal Hepatitis C dan B Buklet ini ditujukan untuk masyarakat agar lebih mengetahui informasi seputar Hepatitis C dan B. 1 3 Pengantar H E P A T I T I S C 4 5 5 5 6 7 8 10 11 13 14 14 15 15 16 16 17
TINJAUAN TENTANG HIV/AIDS
BAB 2 TINJAUAN TENTANG HIV/AIDS 2.1 Pengenalan Singkat HIV dan AIDS Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, HIV adalah virus penyebab AIDS. Kasus pertama AIDS ditemukan pada tahun 1981. HIV
BAB 1 PENDAHULUAN. disebabkan oleh Human Papillomavirus (HPV) tipe tertentu dengan kelainan berupa
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kondiloma akuminata (KA) merupakan infeksi menular seksual yang disebabkan oleh Human Papillomavirus (HPV) tipe tertentu dengan kelainan berupa fibroepitelioma pada
BAB 2 PENGENALAN HIV/AIDS. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala
BAB 2 PENGENALAN HIV/AIDS Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh virus yang disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV). 10,11 Virus ini akan
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan Sistem Immunitas Niken Andalasari Sistem Imunitas Sistem imun atau sistem kekebalan tubuh
Hepatitis C: Bom Waktu didalam Hati
Hepatitis C: Bom Waktu didalam Hati Apa hati itu? Hati adalah organ terbesar dalam tubuh manusia. Berat sekitar 1,5-3 kg pada orang dewasa. Apa saja fungsi hati? Membuat bahan yang diperlukan tubuh u/
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Hepatitis B adalah suatu penyakit hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis B,
10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Hepatitis B Hepatitis B adalah suatu penyakit hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis B, suatu anggota famili hepadnavirus yang dapat menyebabkan peradangan hati
Tuberkulosis merupakan penyakit yang telah lama ada. Tetap menjadi perhatian dunia Penyebab kematian kedua pada penyakit infeksi
LOGO Pendahuluan Tuberkulosis merupakan penyakit yang telah lama ada. Tetap menjadi perhatian dunia Penyebab kematian kedua pada penyakit infeksi Kasus baru didunia : 8,6 juta & Angka kematian : 1,3 juta
BAB I PENDAHULUAN. benda tajam ataupun tumpul yang bisa juga disebabkan oleh zat kimia, perubahan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perlukaan merupakan rusaknya jaringan tubuh yang disebabkan oleh trauma benda tajam ataupun tumpul yang bisa juga disebabkan oleh zat kimia, perubahan suhu,
PENGARUH VOLUME SAMPEL SERUM DAN WAKTU INKUBASI TERHADAP KADAR ASAM URAT SKRIPSI FITRI JUNITASARI
PENGARUH VOLUME SAMPEL SERUM DAN WAKTU INKUBASI TERHADAP KADAR ASAM URAT SKRIPSI FITRI JUNITASARI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA JURUSAN ANALIS KESEHATAN
BAB III KERANGKA TEORI, KONSEP DAN HIPOTESIS
BAB III KERANGKA TEORI, KONSEP DAN HIPOTESIS A. Kerangka Teori dan Konsep Penelitian 1. Kerangka Teori HIV masuk ke dalam tubuh manusia melalui berbagai cara yaitu secara vertical, horizontal dan transeksual.
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai obat antihipertensi (Palu et al., 2008). Senyawa aktif yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) dikenal masyarakat Indonesia sebagai obat antihipertensi (Palu et al., 2008). Senyawa aktif yang terkandung seperti polisakarida,
BAB 1 PENDAHULUAN. membuat kadar kolesterol darah sangat sulit dikendalikan dan dapat menimbulkan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pola makan modern yang banyak mengandung kolesterol, disertai intensitas makan yang tinggi, stres yang menekan sepanjang hari, obesitas dan merokok serta aktivitas
BAB I PENDAHULUAN. masalah kesehatan masyarakat dunia termasuk Indonesia (global epidemic). World
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi kronis menular yang masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dunia termasuk Indonesia (global epidemic). World Health Organization
DAFTAR ISI... HALAMAN JUDUL... LEMBAR PENGESAHAN... SURAT PERNYATAAN... PRAKATA... DAFTAR SINGKATAN... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL...
DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... LEMBAR PENGESAHAN... SURAT PERNYATAAN... PRAKATA... DAFTAR ISI... DAFTAR SINGKATAN... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR LAMPIRAN... INTISARI... i ii iii iv vii
APLIKASI BIOTEKNOLOGI DALAM BIDANG FARMASI APLIKASI BIOTEKNOLOGI DALAM BIDANG FARMASI
APLIKASI BIOTEKNOLOGI DALAM BIDANG FARMASI APLIKASI BIOTEKNOLOGI DALAM BIDANG FARMASI Aplikasi Bioteknologi mampu meningkatkan kualitas suatu organisme dengan memodifikasi fungsi biologis suatu organisme
PATOLOGI SERANGGA (BI5225)
1 PATOLOGI SERANGGA (BI5225) 3. Mekanisme Pertahanan Tubuh dan Imun pada Manusia PENDAHULUAN Perubahan lingkungan (suhu, suplai makanan), luka, serangan Sistem pertahanan : imuniti (Immunity) Immunity
BAB I PENDAHULUAN. Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan agen penyebab Acquired
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan agen penyebab Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) dan AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi HIV. AIDS didefinisikan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Malaria merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi penyakit endemis di beberapa daerah tropis dan subtropis dunia. Pada tahun 2006, terjadi 247 juta kasus malaria,
BAB I PENDAHULUAN. 1. Enzim yang berkaitan dengan kerusakan hati antara lain SGOT, SGPT, GLDH, LDH.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hati adalah salah satu organ yang paling penting. Organ ini berperan sebagai gudang untuk menimbun gula, lemak, vitamin dan gizi. Memerangi racun dalam tubuh seperti
Patogenesis Virus Hepatitis B
Tinjauan Pustaka Patogenesis Virus Hepatitis B Donna Mesina R. Pasaribu* *Bagian Mikrobiologi FK UKRIDA Alamat Korespondensi : Jl Terusan Arjuna No. 6 Jakarta Barat Abstrak Penyakit hepatitis yang disebabkan
BAB I PENDAHULUAN I.A. LATAR BELAKANG MASALAH. Infeksi virus hepatitis B (VHB) merupakan salah. satu masalah kesehatan utama dengan tingkat morbiditas
1 BAB I PENDAHULUAN I.A. LATAR BELAKANG MASALAH Infeksi virus hepatitis B (VHB) merupakan salah satu masalah kesehatan utama dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi di dunia meskipun vaksin
BAB 1 PENDAHULUAN. penduduk dunia terinfeksi oleh Virus Hepatitis B (VHB). Diperkirakan juta diantaranya
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Infeksi Hepatitis B merupakan masalah kesehatan utama di dunia. Lebih dari dua milyar penduduk dunia terinfeksi oleh Virus Hepatitis B (VHB). Diperkirakan 400-450 juta
TEORI SISTEM IMUN - SMA KELAS XI SISTEM IMUN PENDAHULUAN
TEORI SISTEM IMUN - SMA KELAS XI SISTEM IMUN PENDAHULUAN Sistem Imun merupakan semua mekanisme pertahanan yang dapat dimobilisasi oleh tubuh untuk memerangi berbagai ancaman invasi asing. Kulit merupakan
HASIL DAN PEMBAHASAN
18 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil uji tantang virus AI H5N1 pada dosis 10 4.0 EID 50 /0,1 ml per ekor secara intranasal menunjukkan bahwa virus ini menyebabkan mortalitas pada ayam sebagai hewan coba
ABSTRAK Penggunaan asam glycyrrhizic yang merupakan bahan aktif dari Viusid Pet sudah lazim digunakan untuk meningkatkan respon imun.
ii ABSTRAK Penggunaan asam glycyrrhizic yang merupakan bahan aktif dari Viusid Pet sudah lazim digunakan untuk meningkatkan respon imun. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh Viusid Pet terhadap
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada dasarnya semua manusia memiliki sistem imun. Sistem imun diperlukan oleh tubuh sebagai pertahanan terhadap berbagai macam organisme asing patogen yang masuk ke
ABSTRAK. EFEK PROPOLIS TERHADAP PENINGKATAN KADAR KOLESTEROL HDL PADA TIKUS (Rattus norvegicus) GALUR WISTAR JANTAN
ABSTRAK EFEK PROPOLIS TERHADAP PENINGKATAN KADAR KOLESTEROL HDL PADA TIKUS (Rattus norvegicus) GALUR WISTAR JANTAN Richard Ezra Putra, 2010. Pembimbing I: Sylvia Soeng, dr., M.Kes. Pembimbing II: Fen Tih,
BAB I PENDAHULUAN. Infeksi Human immunodeficiency virus (HIV) merupakan salah satu. Penurunan imunitas seluler penderita HIV dikarenakan sasaran utama
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Infeksi Human immunodeficiency virus (HIV) merupakan salah satu infeksi yang perkembangannya terbesar di seluruh dunia, dalam dua puluh tahun terakhir diperkirakan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Penyakit infeksi dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Penyakit infeksi dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue I, II, III, dan IV yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegepty dan Aedes albopticus.
ABSTRAK. EFEKTIVITAS EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) TERHADAP PENURUNAN BERAT BADAN TIKUS WISTAR JANTAN
ABSTRAK EFEKTIVITAS EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) TERHADAP PENURUNAN BERAT BADAN TIKUS WISTAR JANTAN Linda Lingas, 2016 ; Pembimbing I : Lusiana Darsono, dr., M.Kes Pembimbing II
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. jenis teripang yang berasal dari Pantai Timur Surabaya (Paracaudina australis,
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak tiga jenis teripang yang berasal dari Pantai Timur Surabaya (Paracaudina australis,
Mekanisme Pembentukan Kekebalan Tubuh
Mekanisme Pembentukan Kekebalan Tubuh Apabila tubuh mendapatkan serangan dari benda asing maupun infeksi mikroorganisme (kuman penyakit, bakteri, jamur, atau virus) maka sistem kekebalan tubuh akan berperan
ETIOLOGI : 1. Ada 5 kategori virus yang menjadi agen penyebab: Virus Hepatitis A (HAV) Virus Hepatitis B (VHB) Virus Hepatitis C (CV) / Non A Non B
HEPATITIS REJO PENGERTIAN: Hepatitis adalah inflamasi yang menyebar pada hepar (hepatitis) dapat disebabkan oleh infeksi virus dan reaksi toksik terhadap obat-obatan dan bahan kimia ETIOLOGI : 1. Ada 5
Famili : Picornaviridae Genus : Rhinovirus Spesies: Human Rhinovirus A Human Rhinovirus B
RHINOVIRUS: Bila Anda sedang pilek, boleh jadi Rhinovirus penyebabnya. Rhinovirus (RV) menjadi penyebab utama dari terjadinya kasus-kasus flu (common cold) dengan presentase 30-40%. Rhinovirus merupakan
REAKSI ANTIGEN-ANTIBODI DAN KAITANNYA DENGAN PRINSIP DASAR IMUNISASI. Oleh : Rini Rinelly, (B8A)
REAKSI ANTIGEN-ANTIBODI DAN KAITANNYA DENGAN PRINSIP DASAR IMUNISASI Oleh : Rini Rinelly, 1306377940 (B8A) REAKSI ANTIGEN DAN ANTIBODI Pada sel B dan T terdapat reseptor di permukaannya yang berguna untuk
BAB I PENDAHULUAN. patogen di lingkungan, seperti bakteri, virus, jamur, dan parasit yang dapat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tubuh memiliki sistem imun sebagai pelindung dari berbagai jenis patogen di lingkungan, seperti bakteri, virus, jamur, dan parasit yang dapat menyebabkan infeksi. 1
BAB I PENDAHULUAN. dapat menyerang banyak orang sehingga menimbulkan wabah. Demam
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Demam tifoid adalah penyakit sistemik akut akibat infeksi Salmonella typhi. Demam tifoid masih merupakan salah satu masalah kesehatan yang penting di Indonesia, penyakit
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Indonesia sebagai negara berkembang memiliki berbagai masalah kesehatan antara lain masih banyak dijumpai penyakit-penyakit infeksi. Salah satu penyakit infeksi yang
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengetahuan Pengetahuan merupakan wujud penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan tersebut terjadi melalui panca indera manusia, yaitu indera penglihatan, pendengaran,
Asuhan Keperawatan Hepatitis D
Asuhan Keperawatan Hepatitis D Hepatitis D (sering disebut Hepatitis Delta) adalah suatu peradangan pada sel-sel hati yang disebabkan oleh virus hepatitis D (HDV). Virus Hepatitis D (HDV) adalah virus
SISTEM IMUN. ORGAN LIMFATIK PRIMER. ORGAN LIMFATIK SEKUNDER. LIMPA NODUS LIMFA TONSIL. SUMSUM TULANG BELAKANG KELENJAR TIMUS
SISTEM IMUN. ORGAN LIMFATIK PRIMER. ORGAN LIMFATIK SEKUNDER. LIMPA NODUS LIMFA TONSIL. SUMSUM TULANG BELAKANG KELENJAR TIMUS Sistem Imun Organ limfatik primer Sumsum tulang belakang Kelenjar timus Organ
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. penyakit akibat tubuh tidak mampu melawan zat asing yang masuk ke dalam
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penurunan sistem imun dapat menjadi penyebab timbulnya berbagai penyakit akibat tubuh tidak mampu melawan zat asing yang masuk ke dalam tubuh (Murphy et al.,
I. PENDAHULUAN. Demam tifoid merupakan masalah kesehatan yang penting di negara-negara
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam tifoid merupakan masalah kesehatan yang penting di negara-negara berkembang, salah satunya di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica
BAB I PENDAHULUAN. imunologi sel. Sel hati (hepatosit) mempunyai kemampuan regenerasi yang cepat,
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hati merupakan organ yang sangat penting dalam pengaturan homeostasis tubuh meliputi metabolisme, biotransformasi, sintesis, penyimpanan dan imunologi sel. Sel hati
ABSTRAK. EFEKTIVITAS EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) TERHADAP PENINGKATAN KADAR KOLESTEROL HDL PADA TIKUS WISTAR JANTAN
ABSTRAK EFEKTIVITAS EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) TERHADAP PENINGKATAN KADAR KOLESTEROL HDL PADA TIKUS WISTAR JANTAN Steffanny H H Katuuk, 1310114, Pembimbing I : Lusiana Darsono,
BAB I PENDAHULUAN. virus DEN 1, 2, 3, dan 4 dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegepty dan Aedesal
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Infeksi dengue masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dan menimbulkan dampak sosial maupun ekonomi. Infeksi dengue disebabkan oleh virus DEN 1,
SISTEM PERTAHANAN TUBUH
SISTEM PERTAHANAN TUBUH Sistem Pertahanan Tubuh Sistem Pertahanan Tubuh Non spesifik Sistem Pertahanan Tubuh Spesifik Jenis Kekebalan Tubuh Disfungsi sitem kekebalan tubuh Eksternal Internal Struktur Sistem
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN Penurunan jumlah ookista dalam feses merupakan salah satu indikator bahwa zat yang diberikan dapat berfungsi sebagai koksidiostat. Rataan jumlah ookista pada feses ayam berdasarkan
I. PENDAHULUAN. Rifampisin (RFP) dan isoniazid (INH) merupakan obat lini pertama untuk
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Rifampisin (RFP) dan isoniazid (INH) merupakan obat lini pertama untuk terapi anti tuberkulosis (TB), tetapi hepatotoksisitas yang dihasilkan dari penggunaan obat
EFEK CENDAWAN ULAT CINA
ABSTRAK EFEK CENDAWAN ULAT CINA (Cordyceps sinensis [Berk.] Sacc.) TERHADAP KADAR INTERLEUKIN 1 PADA MENCIT (Mus musculus L.) YANG DIINDUKSI PARASETAMOL Banu Kadgada Kalingga Murda, 2009. Pembimbing I
Imunisasi Hepatitis B Manfaat Dan Kegunaannya Dalam Keluarga
Imunisasi Hepatitis B Manfaat Dan Kegunaannya Dalam Keluarga Chairuddin P. Lubis Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara PENDAHULUAN Virus Hepatitis B (HVB) merupakan
IMUNITAS HUMORAL DAN SELULER
BAB 8 IMUNITAS HUMORAL DAN SELULER 8.1. PENDAHULUAN Ada dua cabang imunitas perolehan (acquired immunity) yang mempunyai pendukung dan maksud yang berbeda, tetapi dengan tujuan umum yang sama, yaitu mengeliminasi
1 Universitas Kristen Maranatha
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hepar merupakan organ terbesar dalam tubuh manusia, dengan berat 1.200-1.500 gram. Pada orang dewasa ± 1/50 dari berat badannya sedangkan pada bayi ± 1/18 dari berat
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. dari seluruh penduduk dunia adalah pembawa kronis penyakit hepatitis B (Zanetti et
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Infeksi hepatitis B merupakan masalah global, diperkirakan 6% atau 387 juta dari seluruh penduduk dunia adalah pembawa kronis penyakit hepatitis B (Zanetti et al., 2008).
Imunisasi: Apa dan Mengapa?
Imunisasi: Apa dan Mengapa? dr. Nurcholid Umam K, M.Sc, Sp.A Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia Jogjakarta Penyebab kematian pada anak di seluruh dunia Campak
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. infeksi akut maupun kronis. Risiko kronisitas tergantung pada usia saat terjadi infeksi
7 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Hepatitis B 1,3 Hepatitis B adalah infeksi virus yang menyerang hati dan dapat menyebabkan infeksi akut maupun kronis. Risiko kronisitas tergantung pada usia saat
