BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Irwan Adi Sugiarto
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN 4.1 Profil Perusahaan Penelitian ini dilakukan di PT. Tirta Makmur Perkasa yang beralamat di Jalan Telaga Sari RT. 36 No. 4B Martadinata, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. PT. Tirta Makmur Perkasa merupakan perusahaan di bawah naungan Indofood Group yang bertugas mendistribusikan air mineral dalam kemasan dengan merk dagang CLUB di Kota Balikpapan dan sekitarnya. Awal berdirinya tahun 2008 bernama PT. Allesia International, di mana perusahaan tersebut bertugas memproduksi dan mendistribusikan air mineral CLUB untuk wilayah Balikpapan dan sekitarnya. Namun, per tanggal 27 Januari 2014, seiring dengan diambil alihnya perusahaan oleh Indofood Group, maka perusahaan dipecah menjadi dua perusahaan, di mana PT. Allesia International bertugas untuk memproduksi air mineral CLUB, sedangkan PT. Tirta Makmur Perkasa bertugas untuk mendistribusikan air mineral CLUB tersebut. Lokasi kedua perusahaan tersebut berdiri berdampingan dalam satu tempat. Visi dan misi dari PT. Tirta Makmur Perkasa pada intinya yaitu: Menjadikan CLUB menjadi merk AMDK nasional & internasional yang terpercaya. Logo dari merk CLUB seperti yang dapat dilihat pada Gambar 4.1 berikut ini: Gambar 4.1 Logo merk CLUB 23
2 PT. Tirta Makmur Perkasa saat ini dipimpin oleh Bapak Arief Anggoro Nurutomo dengan jumlah karyawan sebanyak 62 orang, dengan struktur organisasi seperti pada Gambar 4.2 berikut: Branch Manager Mgr. Marketing Ka. Depo Balikpapan Mgr. HR/GA Ka. Kendaraan/ Distribusi Spv. Accounting Adm. Penjualan Admin Gudang Payroll Bagian Umum Driver Adm. Piutang/FA Adm. Pajak Sales Helper Gudang Kod. Pengaman Helper FI Purchasing Security Gambar 4.2 Struktur organisasi PT. Tirta Makmur Perkasa Perusahaan memiliki pelanggan sekitar 700 pelanggan, dengan pembagian pelanggan Horeka (Hotel, Restoran, dan Perkantoran) berjumlah sekitar 300 pelanggan, dan pelanggan Outlet (Retail, Toko, dan Minimarke t) berjumlah sekitar 400 outlet namun untuk saat ini jumlah outlet yang masih aktif berlangganan hanya berjumlah sekitar 300 outlet saja. Perusahaan mempunyai komitmen untuk mempoduksi produk yang baik dan halal secara konsisten dalam rangka memenuhi kebutuhan komitmen termasuk konsumen muslim, dimana seluruh produk akhir, bahan dan peralatan, serta sistem produksi yang telah diuji dan disertifikasi oleh LPOM MUI. Produk merk CLUB yang diproduksi dan dipasarkan adalah kemasan cup 240 ml, botol 330 ml, botol 600 ml, botol 1500 ml, dan galon 19 liter. 24
3 4.2 Pengumpulan Data Pada tahap pengumpulan data ini dilakukan pengambilan data-data yang dibutuhkan untuk menyelesaikan kasus permasalahan distribusi pengiriman air mineral CLUB di wilayah Kota Balikpapan pada PT. Tirta Makmur Perkasa dengan menggunakan metode saving heuristic dan metode sweep. Awalnya dilakukan pengukuran jarak dari depot ke seluruh outlet di Kota Balikpapan dan jarak sebaliknya maupun jarak antar outlet. Jarak diukur secara aktual dengan speedometer kendaraan. Pengumpulan data jarak untuk seluruh outlet dilakukan karena akan dijadikan sebagai database ketika setiap kali dilakukan penentuan rute distribusi air mineral CLUB dari depot ke outlet-outlet Data Outlet dan Permintaan Air Mineral CLUB Data outlet dan permintaan yang yang diperoleh dari PT. Tirta Makmur Perkasa untuk laporan hari Kamis tanggal 3 April Terdapat 28 outlet dengan lokasi yang tersebar di wilayah Kota Balikpapan dan jumlah permintaan yang berbeda-beda. Data outlet dan permintaan air mineral CLUB dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut ini: Tabel 4.1 Data outlet dan permintaan No Kode Outlet Nama Outlet Permintaan Jarak (Km) Tk. Hidayat 30 Car. Cup 240 ml 19, Tk. Rahayu 30 Car. Cup 240 ml 12, Tk. Bu Yuni 5 Btl. Gallon 19 L 1 Car. Bottle 600 ml 15,2 1 Car. Bottle 1500 ml Tk. Cahaya Sidenreng 10 Car. Cup 240 ml 11, Tk. Neva 30 Car. Cup 240 ml 10 Car. Bottle 1500 ml 15, Tk. Babul Hasan 10 Car. Bottle 600 ml 17, B-Mart 5 Car. Bottle 330 ml 10 Car. Bottle 600 ml 1,6 10 Car. Bottle 1500 ml Tk. Meymey 30 Car. Cup 240 ml 2, Tk. Selly 10 Car. Cup 240 ml 2, Tk. Karida 20 Btl. Gallon 19 L 7, Tk. Minak Jinggo 10 Car. Cup 240 ml 1, Tk. Sugus 20 Btl. Gallon 19 L 3, Tk. Mario 30 Car. Cup 240 ml 10 Car. Bottle 600 ml 5, Tk. Harum 10 Btl. Gallon 19 L 9, Tk. Rani 30 Car. Cup 240 ml 9, Tk. Sulis 10 Btl. Gallon 19 L 8,3 25
4 Tabel 4.1 Data outlet dan permintaan (lanjutan) No Kode Outlet Nama Outlet Permintaan Jarak (Km) Tk. Kevin 10 Car. Cup 240 ml 10 Car. Bottle 600 ml 8,5 10 Car. Bottle 1500 ml Tk. Ani 30 Car. Cup 240 ml 10 Car. Bottle 1500 ml 5, Tk. Kembar 120 Car. Cup 240 ml 8, Tk. Rindu 100 Car. Cup 240 ml 6, Tk. Sidik 100 Btl. Gallon 19 L 100 Car. Cup 240 ml 4, Nikmat Catering 75 Car. Cup 240 ml 5 Car. Bottle 600 ml 2, Tk. Palapa 4 Btl. Gallon 19 L 1, I-DC Mart 10 Btl. Gallon 19 L 30 Car. Cup 240 ml 10, Tk. Feni 15 Car. Cup 240 ml 2 Car. Bottle 600 ml 12,3 3 Car. Bottle 1500 ml Tk. Mama Alwi 30 Car. Cup 240 ml 1, Abiel 27 Cell 7 Car. Bottle 600 ml 4 Car. Bottle 1500 ml 6, Tk. Fatimah 20 Car. Cup 240 ml 13, Data Jarak dan Letak Lokasi Pada penelitian ini, jarak yang diukur menggunakan jarak aktual. Pengukuran jarak dilakukan dengan bantuan argometer pada kendaraan. Jarak bolak-balik kendaraan dari depot ke outlet dan sebaliknya maupun jarak antar outlet tidak selalu sama, dikarenakan pada kondisi aktual terdapat jalan-jalan yang dapat dilewati maupun jalan yang tidak dapat dilewati. Acuan tersebut diperoleh dari hasil wawancara dengan supir kendaraan angkut (truk engkel) maupun wawancara dengan sales karena supir sangat mengetahui jalur jalan raya yang dilewati, sedangkan sales yang sangat mengetahui lokasi/letak dari masing-masing outlet yang menjadi pelanggan dari PT. Tirta Makmur Perkasa. Data jarak tersebut dapat dilihat seperti pada Lampiran 1. Selain data jarak, dilakukan pula pengumpulan data letak lokasi depot maupun outlet berdasarkan koordinat garis khayal bumi (garis bujur timur (BT) dan garis lintang selatan(ls)). Data koordinat untuk seluruh lokasi disajikan pada Tabel 4.2 berikut ini: 26
5 Tabel 4.2 Data lokasi berdasarkan garis khayal bumi Kode Lokasi Nama Lokasi Jarak (km) Koordinat-BT Koordinat-LS D0000 Depot 0,0 116,833 1, Tk. Hidayat 19,5 116,966 1, Tk. Rahayu 12,5 116,917 1, Tk. Bu Yuni 15,2 116,937 1, Tk. Cahaya Sidenreng 11,8 116,905 1, Tk. Neva 15,1 116,937 1, Tk. Babul Hasan 17,2 116,952 1, B-Mart 1,6 116,839 1, Tk. Meymey 2,1 116,841 1, Tk. Selly 2,9 116,842 1, Tk. Karida 7,8 116,873 1, Tk. Minak Jinggo 1,3 116,838 1, Tk. Sugus 3,1 116,839 1, Tk. Mario 5,6 116,840 1, Tk. Harum 9,4 116,860 1, Tk. Rani 9,2 116,859 1, Tk. Sulis 8,3 116,855 1, Tk. Kevin 8,5 116,856 1, Tk. Ani 5,0 116,825 1, Tk. Kembar 8,9 116,859 1, Tk. Rindu 6,0 116,821 1, Tk. Sidik 4,6 116,834 1, Nikmat Catering 2,0 116,843 1, Tk. Palapa 1,2 116,840 1, I-DC Mart 10,7 116,868 1, Tk. Feni 12,3 116,884 1, Tk. Mama Alwi 1,7 116,843 1, Abiel 27 Cell 6,3 116,818 1, Tk. Fatimah 13,5 116,884 1,198 Selain memperhitungkan jarak, proses pendistribusian pada penelitian ini juga mempertimbangkan waktu tempuh. Waktu tempuh adalah waktu yang dibutuhkan kendaraan dalam melakukan perjalanan distribusi dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Waktu tempuh digunakan untuk menghitung waktu penyelesaian. Waktu tempuh ini berbanding lurus dengan jumlah jarak yang ditempuh. Waktu tempuh didapat dari jarak tempuh dibagi dengan kecepatan rata-rata kendaraan dan dikalikan dengan 60 menit. 27
6 4.2.3 Data Kendaraan Angkut Jumlah kendaraan yang dimiliki PT. Tirta Makmur Perkasa untuk pendistribusian air minum CLUB di Kota Balikpapan adalah 3 unit dengan jenis kendaraan berupa truk engkel roda empat dengan No.Pol: KT 8978 LB, KT 8765 AR, dan KT 9476 AK. Kapasitas muatan truk engkel per unitnya adalah maksimal 3 ton/unit (3000 kg/unit), dengan dimensi box sebesar 3,1 m x 1,7 m x 1,7 m, atau volumenya setara dengan 8,96 m 3. Kapasitas maksimum apabila seluruh muatan truk adalah produk jenis cup 240 ml, maka jumlah muatan yang dapat diangkut maksimum yaitu sekitar 249 unit karton jika seluruh muatan truk adalah produk jenis gallon 19 L, maka jumlah muatan yang dapat diangkut maksimum yaitu sebanyak 156 unit botol. Apabila kendaraan angkut membawa muatan yang berbeda-beda jenisnya, maka kapasitas maksum akan disesuaikan dengan batasan kapasitas maksimum muatan 3 ton (3000 kg) dan batasan volume box sebesar 8,96 m 3. Pemakaian bahan bakar solar untuk setiap kendaraan truk engkel yaitu sebesar 90 L, sehingga pemakaian bahan bakar per liternya adalah 6 km/liter, dengan kecepatan ratarata kendaraan adalah konstan 30 km/jam. Bahan bakar kendaraan yang digunakan adalah BBM jenis Solar HSD ( High Speed Diesel) non subsidi dengan harga per liter yaitu Rp ,40. Kecepatan rata-rata kendaraan pada setiap pengiriman tersebut telah mempertimbangkan banyak muatan, jenis muatan, dan kemacetan di jalan Data Dimensi Kemasan Produk Produk air mineral CLUB dikemas dengan berbagai macam jenis, yaitu kemasan cup 240 ml, botol 330 ml, botol 600 ml, botol 1500 ml, dan gallon 19 L. Produk-produk tersebut dikemas dalam karton maupun botol. Dimensi kemasan tersebut berguna untuk menentukan jumlah unit produk yang dapat diangkut oleh kendaraaan angkut pada saat pemuatan produk yang untuk didistribusikan. Kemasan produk air mineral CLUB tersebut dimensinya berbeda-beda, yang dapat dilihat seperti pada Tabel 4.3 berikut: 28
7 Tabel 4.3 Data dimensi kemasan No Produk Unit Dimensi Unit (cm) Volume (m 3 ) Bruto (kg) 1 Cup 240 ml Karton 36 x 24 x 21 0,018 12,02 2 Botol 330 ml Karton 36 x 24 x 18 0,016 8,42 3 Botol 600 ml Karton 36 x 26 x 24 0,023 14,90 4 Botol 1500 ml Karton 36 x 26 x 33 0,031 18,50 5 Gallon 19 L Botol D27 x 49 0,089 19,20 6 Gallon kosong Botol D27 x 49 0,089 0,20 Apabila pada saat pendistribusian produk jenis gallon ke outlet-outlet, kendaraan angkut juga mengangkut gallon kosong dari outlet yang ditukar dengan gallon 19 L tersebut untuk kemudian gallon kosong tersebut dibawa kembali ke depot. Jumlah unit gallon kosong yang diangkut kembali ke depot selalu sama dengan jumlah unit gallon 19 L yang didistribusikan ke outlet Data Waktu Loading dan Unloading Waktu loading merupakan waktu yang dibutuhkan dalam kegiatan mengangkut barang (karton dan galon) masuk ke dalam box mobil. Waktu unloading merupakan waktu yang dibutuhkan dalam kegiatan mengangkut barang keluar dari box mobil. Waktu loading dan unloading untuk masing-masing unit produk dapat dilihat pada Tabel 4.4 berikut: Tabel 4.4 Data waktu loading dan unloading No Jenis Produk Unit Waktu Loading Waktu Unloading 1 Cup 240 ml Karton 4 unit/30 detik 4 unit/30 detik 2 Botol 330 ml Karton 4 unit/30 detik 4 unit/30 detik 3 Botol 600 ml Karton 3 unit/30 detik 3 unit/30 detik 4 Botol 1500 ml Karton 2 unit/30 detik 2 unit/30 detik 5 Gallon 19 L Botol 2 unit/30 detik 2 unit/30 detik 6 Gallon kosong Botol 4 unit/30 detik 4 unit/30 detik Data Waktu Pelayanan dan Waktu Administrasi Waktu yang digunakan untuk pelayanan pendistribusian ke outlet adalah sama dengan waktu jam kerja supir, yaitu dari pukul 8.00 sampai dengan pukul 17.00, dengan istirahat selama 60 menit yaitu dari pukul sampai dengan pukul Pada 29
8 waktu istirahat tersebut, gudang di depot ditutup sehingga tidak ada barang yang di loading ke dalam truk. Waktu administrasi meliputi waktu pendataan jumlah galon yang berpindah tangan baik pada saat di depot maupun di outlet. Waktu administrasi pada setiap lokasi yaitu selama 3 menit. 4.3 Pembentukan Rute Distribusi Pembentukan rute distribusi produk air mineral CLUB di wilayah Kota Balikpapan pada hari Kamis dilakukan dengan menggunakan dua metode, yaitu metode sweep dan metode saving heuristic Pembentukan Rute dengan Metode Sweep Pada pembentukan rute distribusi dengan metode sweep ini dilakukan perhitungan dengan menggunakan 2 metode yaitu metode cluster first route second dan metode route first cluster second. Sebelum dilakukan perhitungan data dengan dua metode tersebut, terlebih dahulu dilakukan pengumpulan data untuk pemetaan seluruh lokasi dalam sebuah koordinat cartesius. Koordinat cartesius ini disusun berdasarkan bantuan google maps dalam menentukan posisi wilayah lokasi tersebut. Koordinat-X akan mewakilkan garis bujur timur, sedangkan koordinat-y mewakilkan garis lintang selatan. Setelah diketahui lokasi depot maupun outlet-outlet berdasarkan garis khayal bumi, selanjutnya data koordinat garis khayal bumi tersebut dikonversikan ke dalam koordinat-x maupun koordinat-y, dengan lokasi depot (116,833 BT; 1,269 LS) sebagai titik pusat (0,0). Dengan menggunakan Persamaan 2.1 dan 2.2 makadilakukan perhitungan sebagai berikut: 1. Pengukuran koordinat-x lokasi outlet (Tk. Hidayat) yaitu: X 1 = BT 1 BT 0 = 116, ,833 = 0,133 30
9 2. Pengukuran koordinat-x lokasi outlet (Tk. Rahayu) yaitu: X 2 = BT 2 BT 0 = 116, ,833 = 0, Pengukuran koordinat-x lokasi outlet (Tk. Bu Yuni) yaitu: X 3 = BT 3 BT 0 = 116, ,833 = 0, Pengukuran koordinat-y lokasi outlet (Tk. Hidayat) yaitu: Y 1 = LS 0 LS 1 = 1,269 1,222 = 0, Pengukuran koordinat-y lokasi outlet (Tk. Rahayu) yaitu: Y 2 = LS 0 LS 2 = 1,269 1,259 = 0, Pengukuran koordinat-y lokasi outlet (Tk. Bu Yuni) yaitu: Y 3 = LS 0 LS 3 = 1,269 1,246 = 0,023 Perhitungan yang sama dilanjutkan untuk penentuan seluruh lokasi lainnya guna mengkonversikan letak lokasi ke dalam bentuk koordinat cartesius tersebut menggunakan Persamaan 2.1 dan Persamaan 2.2 yang disajikan pada Tabel 4.5 berikut ini: Tabel 4.5 Letak lokasi berdasarkan koordinat cartesius Kode Outlet Nama Outlet Jarak (Km) Koordinat-X Koordinat-Y D0000 Depot 0,0 0,000 0, Tk. Hidayat 19,5 0,113 0, Tk. Rahayu 12,5 0,084 0, Tk. Bu Yuni 15,2 0,104 0, Tk. Cahaya Sidenreng 11,8 0,072 0,015 31
10 Tabel 4.5 Letak lokasi berdasarkan koordinat cartesius (lanjutan) Kode Outlet Nama Outlet Jarak (Km) Koordinat-X Koordinat-Y Tk. Neva 15,1 0,104 0, Tk. Babul Hasan 17,2 0,119 0, B-Mart 1,6 0,006-0, Tk. Meymey 2,1 0,008-0, Tk. Selly 2,9 0,009-0, Tk. Karida 7,8 0,040 0, Tk. Minak Jinggo 1,3 0,006 0, Tk. Sugus 3,1 0,006-0, Tk. Mario 5,6 0,007 0, Tk. Harum 9,4 0,027 0, Tk. Rani 9,2 0,026 0, Tk. Sulis 8,3 0,022 0, Tk. Kevin 8,5 0,023 0, Tk. Ani 5,0-0,008 0, Tk. Kembar 8,9 0,026 0, Tk. Rindu 6,0-0,011 0, Tk. Sidik 4,6 0,001 0, Nikmat Catering 2,0 0,010 0, Tk. Palapa 1,2 0,007 0, I-DC Mart 10,7 0,035 0, Tk. Feni 12,3 0,051 0, Tk. Mama Alwi 1,7 0,010 0, Abiel 27 Cell 6,3-0,014 0, Tk. Fatimah 13,5 0,052 0,071 Selanjutnya, letak seluruh lokasi berdasarkan Tabel 4.5 tersebut kemudian digambarkan ke dalam sebuah scatter diagram yang berfungsi untuk menunjukkan letak lokasi depot maupun seluruh outlet yaitu ditunjukkan pada Gambar 4.3 berikut ini: 32
11 33
12 Setelah dilakukan pemetaan untuk seluruh lokasi, baik depot maupun outlet-outlet ke dalam sebuah peta, kemudian dilakukan pembentukan rute berdasarkan metode cluster first route second dan metode route first cluster second berikut ini: Metode Sweep Cluster First Route Second Proses penyusunan rute pada metode cluster first route second ini awalnya dilakukan dengan membentuk kelompok dengan cara menarik garis pada peta wilayah ke arah mana saja, dengan rotasi garis berlawanan arah jarum jam ataupun searah dengan jarum jam. Selanjutnya dalam tiap kelompok dilakukan penentuan rute pengiriman untuk masing-masing lokasi. Adapun pembentukan kluster dan penyusunan rute yang dilakukan untuk iterasi awal yaitu dapat dilihat pada Gambar 4.4. Klaster rute pengiriman yang terbentuk dari iterasi awal pengklasteran tersebut yaitu: 1. Klaster 1 (Rute biru): D D Klaster 2 (Rute hijau): D D Klaster 3 (Rute kuning): D D Klaster 4 (Rute coklat): D D0000 Gambar pembentukan klaster dan gambar penyusunan rute iterasi awal yaitu dapat dilihat pada Gambar 4.4 berikut ini: 34
13 35
14 Setelah rute pengiriman telah disusun berdasarkan klaster, kemudian dilakukan uji kelayakan pada masing-masing klaster yang telah terbentuk tersebut dengan menggunakan batasan kapasitas kendaraan angkut dalam sekali pengiriman dengan kapasitas maksimal sebesar 3000 kg (3 ton). Adapun uji kelayakannya ditunjukkan pada Tabel 4.6 sebagai berikut: Klaster Tabel 4.6 Iterasi pertama metode cluster first route second Jalur Rute Penambahan Muatan Jumlah Muatan (kg) (kg) Kelayakan D ,6+178, , D ,5 Tidak layak D ,6+240,4+265, ,2+1442,4+360, ,0 Tidak layak D ,2 D , , ,6+360,6+360,6+120,2 3462,8 Tidak layak D ,8 D D ,1+360,6+120, ,9 Layak Total Muatan (kg) 14081,2 Berdasarkan perhitungan iterasi pertama pada Tabel 4.6, dapat dilihat bahwa pada rute 1, rute 2, dan rute 3 mengalami muatan yang berlebih dalam sekali pengirimannya. Pada rute 1, jumlah muatan barang yang dikirim dalam 1 pengiriman menyebabkan kelebihan kapasitas yang disebabkan oleh outlet (Tk. Sidik), karena outlet tersebut jumlah permintaan barang yang dikirim melebihi kapasitas truk dalam sekali pengiriman, maka dari itu untuk pengiriman ke outlet akan dilakukan 2 kali pengiriman, sehingga setelah pengiriman pertama, truk akan kembali ke depot dan kembali lagi mengantar kiriman ke outlet lalu kembai lagi ke depot. Pada rute 2, jumlah muatan lebih besar 820 kg daripada batasan kapasitas kendaraan yaitu 3000 kg, sedangkan pada rute 3 jumlah muatan lebih besar 462,8 dari batasan kapasitas kendaraan. Pada rute 4 memenuhi kelayakan kapasitas namun jauh lebih kecil daripada batasan muatan maksimal. Oleh karena itu akan dilakukan perbaikan pengelompokkan dan penyusunan rute agar pembagian klaster tetap memenuhi syarat kelayakan kendaraan namun kapasitas kendaraan tetap dapat dimaksimalkan. 36
15 Pengklasteran lokasi untuk iterasi kedua dan perbaikan penyusunan rute iterasi kedua dapat dilihat pada Gambar 4.5. Dapat dilihat bahwa untuk pengklasteran pada iterasi kedua diperoleh 5 kelompok lokasi, sehingga akan terbentuk 5 klaster rute pengiriman. Klaster rute pengiriman yang terbentuk dari iterasi kedua pengklasteran tersebut yaitu: 1. Klaster 1 (Rute biru): D D D Klaster 2 (Rute hijau): D D Klaster 3 (Rute merah): D D Klaster 4 (Rute kuning): D D Rute 5 (Rute coklat): D D0000 Gambar pembentukan klaster dan gambar penyusunan rute iterasi kedua yaitu dapat dilihat pada Gambar 4.5 berikut ini: 37
16 38
17 Setelah rute pengiriman iterasi kedua telah disusun berdasarkan klaster, kemudian dilakukan kembali uji kelayakan pada masing-masing klaster yang telah terbentuk tersebut dengan kapasitas maksimal sebesar 3000 kg (3 ton). Adapun uji kelayakan iterasi kedua ditunjukkan pada Tabel 4.7 sebagai berikut: Klaster Tabel 4.7 Iterasi kedua metode cluster first route second Jalur Rute Penambahan Muatan Jumlah Muatan (kg) (kg) Kelayakan D , ,3+540, D ,6 2976,4 Layak D D ,1 2581,1 Layak D ,4+265,6+552, D ,2 1704,8 Layak D ,4+360, D ,6+120,2 2859,8 Layak D , ,2+360, ,6+129, , D ,2 Layak D D ,1+360,6+120, ,9 Layak Total Muatan (kg) 14081,2 Berdasarkan perhitungan iterasi kedua yang ditunjukkan pada Tabel 4.7, dapat dilihat bahwa pada seluruh rute sudah tidak mengalami muatan yang melebihi kapasitas, dengan pada rute 1 terjadi dua kali pengiriman untuk outlet (Tk. Sidik). Langkah selanjutnya adalah penentuan kunjungan pengiriman untuk masing-masing lokasi di setiap klaster. Penentuan urutan lokasi yang akan dikunjungi pada masingmasing klaster ini disusun berdasarkan jarak terdekat dari lokasi satu ke lokasi lainnya di dalam satu klaster tersebut. Perhitungan untuk penentuan urutan rute pengiriman pada rute 1, rute 2, rute 3, rute 4, dan rute 5 tersebut dapat dilihat pada Lampiran 2. Adapun hasil penentuan urutan rute pengiriman untuk seluruh rute pada masing-masing kluster yang dihasilkan berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan yaitu dapat dilihat pada Tabel 4.8 berikut ini: 39
18 40
19 Dari hasil yang diperoleh dapat dilihat bahwa rute yang dibentuk dengan menggunakan metode sweep cluster first route second ini menghasilkan sebanyak 5 klaster dengan 5 rute perjalanan, dimana apabila rute 4 dan rute 5 digabung ke dalam satu rute, ata dengan kata lain bahwa klaster 4 dan klaster 5 digabung menjadi 1 klaster, maka akan dihasilkan rute pengiriman sebanyak 4 rute, yaitu ada 1 kendaraan truk engkel yang melayani 2 rute dalam sehari, dan ada 2 kendaraan truk engkel yang masing-masing melayani 1 rute dalam sehari. Rekapitulasi penentuan rute dengan metode sweep cluster first route second ini dapat dilihat pada Tabel 4.9 berikut ini: Klaster Tabel 4.9 Rekapitulasi penentuan rute dengan metode sweep cluster first route second Rute Pngiriman Total Jarak (km) Total Waktu (menit) Total Muatan (kg) Utilitas (%) Muatan Waktu 16,7 118, ,4 99,21 49,30 19,7 133, ,8 95,33 55,58 42,5 176, ,2 90,61 73,47 D D0000 D D0000 9,5 116, ,1 86,04 48,65 D ,9 123, ,8 56,83 51,27 D0000 D D0000 D D0000 D D0000 5,2 62, ,9 41,36 26,24 Total 122,5 730, ,2 469,38 304,51 Rata-rata 20,42 121, ,9 78,23 50,75 Setelah seluruh penyusunan rute dilakukan, pada Tabel 4.9 dapat dilihat bahwa didapatkan sebanyak 4 rute dengan 6 kali pengiriman dari depot ke outlet dan kembali ke depot lagi. Adapun total jarak yang ditempuh yaitu sebesar 122,5 km, total waktu pengiriman (waktu complete) selama 730,83 menit atau setara dengan 12,18 jam (12 jam 11 menit) dan total muatan yang didistribusikan sebesar 14081,2 kg atau setara dengan 14,08 ton. Selanjutnya dilakukan perhitungan dengan menggunakan metode sweep route first cluster second. 41
20 Metode Sweep Route First Cluster Second Proses penyusunan rute pada metode route first cluster second ini awalnya dilakukan dengan membentuk rute terlebih dahulu, kemudian dilakukan pengelompokkan lokasi pengiriman ke dalam klaster. Pemetaan untuk wilayah lokasi pengiriman seperti metode sweep cluster first route second yaitu pada Gambar 4.3. Selanjutnya disusun sebuah rute yang dapat melayani seluruh lokasi pemberhentian dengan tujuan untuk meminimumkan jarak tempuh rute. Pembentukan rute ini awalnya dilakukan tanpa memperhatikan batasan kapasitas maupun waktu tempuh kendaraan. Permasalahan ini diselesaikan dengan metode nearest neighbour, dimana prinsipnya yaitu dengan melayani lokasi pengiriman (outlet) yang jaraknya paling dekat dengan outlet sebelumnya yang menjadi acuan. Perhitungan untuk pembentukan sebuah rute awal pada metode sweep route first cluster second ini dapat dilihat seperti pada Tabel 4.10 berikut ini: Tabel 4.10 Penentuan rute awal dengan metode sweep route first cluster second Iterasi Rute Outlet Terdekat Jarak (km) 1 D ,2 2 D ,8 3 D ,5 4 D ,0 5 D ,2 6 D ,8 7 D ,8 8 D ,5 9 D ,0 10 D ,7 11 D ,7 12 D ,6 13 D ,4 14 D ,3 15 D ,2 16 D ,0 42
21 Tabel 4.10 Penentuan rute awal dengan metode sweep route first cluster second (lanjutan) Iterasi Rute Outlet Terdekat Jarak (km) 17 D000 D , D , D , D , D , D , D , D , D , D , D , D , D D0000 6,6 D Total jarak tempuh (km) 75, D0000 Setelah dilakukan penyusunan sebuh rute pada Tabel 4.10 untuk pengiriman ke seluruh outlet tanpa memperhatikan batasan muatan dan waktu tempuh kendaraan, selanjutnya dilakukan pengklasteran sesuai dengan batasan kapasitas muatan kendaraan angkut serta 43
22 waktu tempuh maksimal dalam sekali pengiriman. Adapun pengklasterannya yaitu seperti yang disajikan pada Tabel 4.11 berikut ini: Klaster Tabel 4.11 Pengklasteran wilayah berdasarkan metode route first cluster second Jalur Rute Penambahan Muatan Jumlah Muatan (kg) (kg) Kelayakan D ,8+376,1+360,6+120, ,2+360, ,5 Layak D D D ,0 Layak D , ,2+1442, D ,6 2958,8 Layak D ,2+360, ,6+129, , D ,4 Layak D , ,3+552, D ,6+240,4 2984,5 Layak Total Muatan (kg) 14081,2 Berdasarkan perhitungan pengklasteran wilayah pengiriman yang ditunjukkan pada Tabel 4.11, dapat dilihat bahwa diperoleh sebanyak 4 klaster dengan 5 jalur rute pengiriman, dimana pada klaster 1 terjadi dua kali pengiriman untuk outlet (Tk. Sidik), dan seluruh rute tersebut sudah tidak mengalami muatan yang melebihi kapasitas truk engkel. Langkah selanjutnya adalah dilakukan uji kelayakan berdasarkan waktu complete maksimal dalam sekali pengiriman. Perhitungan uji kelayakan waktu complete pada pengiriman pada rute 1, rute 2, rute 3, rute 4, dan rute 5 tersebut dapat dilihat pada Lampiran 3. Adapun hasil penentuan urutan rute pengiriman yang terbentuk berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan yaitu dapat dilihat pada Tabel 4.12, sedangkan gambar pembentukan klaster berdasarkan penyusunan rute tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.6 berikut: 44
23 45
24 46
25 Dari hasil yang diperoleh dapat dilihat bahwa rute yang dibentuk dengan menggunakan metode sweep route first cluster second ini menghasilkan sebanyak 4 klaster dengan 5 rute perjalanan, dimana ada klaster 1 terdapat 2 rute perjalanan, karena adanya 2 kali pengiriman untuk outlet (Tk. Sidik), sehingga akan ada 1 kendaraan truk engkel yang melayani 2 klaster dalam sehari, dan ada 2 kendaraan truk engkel yang masingmasing melayani 1 klaster dalam sehari. Rekapitulasi penentuan rute dengan metode sweep route first cluster second ini dapat dilihat pada Tabel 4.13 berikut ini: Klaster Tabel 4.13 Rekapitulasi penentuan rute dengan metode sweep route first cluster second Rute Pengiriman Total Jarak (km) Total Waktu (menit) Total Muatan (kg) Utilitas (%) Muatan Waktu 16,7 141, ,5 98,88 59,13 D D0000 D D0000 9,5 120, ,0 97,67 50,21 D ,1 125, ,8 98,63 52,45 D0000 D D0000 D D ,8 182, ,4 74,71 75,84 33,1 157, ,5 99,48 65,81 Total 124,2 728, ,2 469,37 303,44 Rata-rata 20,98 145, ,2 93,87 60,69 Setelah seluruh penyusunan rute dilakukan, pada Tabel 4.13 dapat dilihat bahwa didapatkan sebanyak 4 klaster dengan 5 kali pengiriman dari depot ke outlet dan kembali ke depot lagi. Adapun total jarak yang ditempuh yaitu sebesar 124,2 km, total waktu pengiriman (waktu complete) selama 728,24 menit atau setara dengan 12,14 jam (12 jam 08 menit) dan total muatan yang didistribusikan sebesar 14081,2 kg atau setara dengan 14,08 ton Pembentukan Rute dengan Metode Saving Heuristic Pada pembentukan rute distribusi dengan metode saving heuristic ini, data jarak yang disajikan pada Lampiran 1 berfungsi untuk melakukan perhitungan saving matriks. 47
26 Perhitungan nilai saving (penghematan) matriks ini dapat dilakukan dengan menggunakan Persamaan 2.3 berikut ini: 1. Pengukuran saving matriks untuk penghematan jarak outlet (Tk. Hidayat) dengan outlet (Tk. Rahayu) yaitu: S 12 = C o1 + C o2 C 12 = 19,5 + 12,5 7,8 = 24,2 2. Pengukuran saving matriks untuk penghematan jarak outlet (Tk. Hidayat) dengan outlet (Tk. Bu Yuni) yaitu: S 13 = C o1 + C o3 C 13 = 19,5 + 15,2 4,5 = 30,2 3. Pengukuran saving matriks untuk penghematan jarak outlet (Tk. Hidayat) dengan outlet (Tk. Cahaya Sidenreng) yaitu: S 14 = C o1 + C o4 C 14 = 19,5 + 11,8 9,3 = 22,0 4. Pengukuran saving matriks untuk penghematan jarak outlet (Tk. Rahayu) dengan outlet (Tk. Hidayat) yaitu: S 21 = C 1o + C 2o C 21 = 19,5 + 13,1 7,0 = 25,6 5. Pengukuran saving matriks untuk penghematan jarak outlet (Tk. Bu Yuni) dengan outlet (Tk. Hidayat) yaitu: S 21 = C 1o + C 3o C 31 = 19,5 + 15,2 4,5 = 30,2 6. Pengukuran saving matriks untuk penghematan jarak outlet (Tk. Cahaya Sidenreng) dengan outlet (Tk. Hidayat) yaitu: S 21 = C 1o + C 3o C 31 = 19,5 + 12,1 8,9 = 22,7 48
27 Perhitungan saving matriks tersebut dilakukan hingga seluruh jarak dari kombinasi dua outlet telah dihitung seluruhnya. Hasil perhitungan data saving matriks yang telah dihitung menggunakan Persamaan 2.3 yang disajikan pada Lampiran 4. Setelah melakukan penyusunan saving matriks dari masing-masing pasangan outlet berdasarkan Persamaan 2.3 seperti yang disajikan pada Lampiran 4, maka langkah berikutnya yaitu dilanjutkan dengan memilih pasangan outlet dengan nilai saving terbesar untuk dimasukkan ke dalam rute. Di awal dialokasikan bahwa tiap outlet memiliki rute yang berbeda. Outlet-outlet tersebut dapat digabungkan sampai pada batas kapasitas truk yang ada dan horison perencanaan yang berlaku. Pengecekan kelayakan kapasitas dan waktu terhadap pasangan outlet terpilih. Kelayakan kapasitas berdasarkan muatan truk maksimal yaitu 3000 kg (3 ton) per unit truk. Berat produk yang diangkut dikonversi menjadi kilogram (kg), dimana massa jenis air = 1 kg/liter, sehingga berat kotor produk (bruto) per unitnya yaitu berat bersih isi produk (netto) ditambah dengan berat kemasan, atau pada penelitian ini dilakukan penimbangan berat produk per unit per jenis kemasan (karton 240 ml, 330 ml, 600 ml, 1500 ml dan galon 19L serta galon kosong) secara langsung, sehingga dapat langsung diperoleh berat produk per unit per jenis kemasan. Kelayakan waktu yaitu selama 2 x 240 menit, yaitu sebelum dan setelah jam istirahat siang. Jika total muatan dan total waktu keseluruhan sudah melebihi kapasitas, maka tur selesai dan pengiriman ke pelanggan terakhir dibatalkan dan kembali memilih pasangan outlet dari nilai saving tersbesar untuk menyusun rute baru. Penentuan rute distribusi dengan metode saving heuristic dilakukan berdasarkan langkah-langkah tersebut. Penentuan rute untuk pendistribusian air mineral CLUB pada tanggal 3 April 2014 ini diawali dengan melakukan penyusunan rute 1. Penyusunan rute 1 ini diawali dengan mengkombinasikan pengiriman pada outlet (Tk. Hidayat) dengan outlet (Tk. Babul Hasan) karena memiliki nilai saving terbesar yaitu 34,4. Jumlah muatan yang diangkut untuk kedua outlet tersebut yaitu sebanyak 30 karton cup 240 ml dan 10 karton 600 ml atau sama dengan 509,6 kg. 49
28 Dilihat dari kelayakan kapasitas, rute penggabungan kedua outlet ini adalah layak karena 509,6 kg < 3000 kg. Jarak yang ditempuh untuk rute D D0000 adalah sebesar 39 km dengan waktu tempuh perjalanan selama 78 unit. Pengecekan kelayakan pendistribusian tidak hanya disesuaikan dengan kapasitas, namun juga disesuaikan dengan waktu keseluruhan (waktu complete). Waktu untuk loading dan unloading barang di depot selama 5,42 menit, dan loading serta unloading barang di outlet adalah sebesar 5,42 menit, dengan total waktu administrasi untuk empat lokasi yaitu selama 12 menit, sehingga waktu complete untuk rute ini yaitu selama 100,84 menit. Dilihat kelayakan waktu untuk rute D D0000 ini adalah layak karena 100,84 menit < 240 menit. Kelayakan kapasitas maupun waktu masih terpenuhi sehingga masih dapat dilakukan penambahan tujuan outlet di dalam rute 1 ini. Setelah dilakukan perhitungan dari iterasi 1 hingga iterasi kesepuluh pada rute 1 diperoleh bahwa alternatif rute D D0000 adalah alternatif rute yang memiliki kelayakan kapasitas dan kelayakan waktu dengan nilai saving jarak terbesar dengan nilai 2,2 diantara alternatif rute lain yang memenuhi syarat kelayakan. Jumlah muatan kendaraan pada rute 1 ini adalah sebanyak 2849,2 kg dengan waktu complete selama 232,84 menit. Selanjutnya masih dilakukan penambahan rute ke dalam rute 1 ini karena kapasitas kendaraan maupun batasan waktu pengiriman masih mencukupi. Pada rute 1 kemudian masih dilakukan penambahan lokasi lainnya, akan tetapi setiap penambahan lokasi lainnya pada rute ini ternyata mengakibatkan pelanggaran terhadap kelayakan kapasitas maupun waktu complete. Oleh karena itu, tidak ada lagi lokasi pengiriman yang dapat dikombinasikan pada rute D D0000 ini, sehingga harus dibentuk rute baru lagi untuk melayani pengiriman-pengiriman pada outlet yang belum terlayani. Pada rute 1 terdapat 12 outlet yang terlayani, sehingga masih tersisa 16 outlet yang belum terlayani. Untuk seluruh proses perhitungan dari iterasi pertama sampai dengan iterasi kesepuluh pada rute 1 ini dapat dilihat pada Lampiran 5. 50
29 Selanjutnya, pembentukan rute baru untuk melayani outlet-outlet yang belum terlayani ini diawali dengan melakukan perhitungan iterasi pertama rute 2 dengan langkahlangkah sama seperti pada pembentukan rute 1. Setelah dilakukan proses perhitungan yang sama, dimana kapasitas muatan kendaraan beserta waktu complete dalam pengiriman adalah menjadi batasan dari setiap pembenrukan rute tersebut. Pembentukan rute tersebut terus dilakukan hingga seluruh outlet telah terlayani dan seluruh permintaan dari masing-masing outlet telah terdistribusi. Seluruh proses perhitungan setiap iterasi untuk seluruh rute dapat dilihat pada Lampiran 5. Secara keseluruhan, penyusunan rute distribusi air mineral CLUB untuk metode saving heuristic ini menghasilkan jumlah rute sebanyak 6 rute dengan 6 kali pengiriman, dimana masing-masing kendaraan melakukan perjalanan sebanyak 2 rute. Seluruh hasil perhitungan dengan menggunakan metode saving heuristic ini secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 6. Hasil dari penentuan urutan rute pengiriman yang terbentuk berdasarkan hasil perhitungan dengan metode saving heuristic yang telah dilakukan yaitu dapat dilihat pada Tabel 4.14, sedangkan gambar pemetaan pembentukan rute tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.7 berikut: 51
30 52
31 53
32 Berdasarkan Tabel 4.14, pada rute 5 untuk penggabungan kedua outlet (10773 dan 10560) pada rute yang sama tidak dapat dilakukan karena jumlah permintaan untuk outlet melebihi kapasitas muatan 1 unit truk, yaitu 3122 kg > 3000 kg. Penggabungan kedua rute tersebut dapat dilakukan apabila dilakukan pemecahan jumlah barang yang dikirim untuk outlet ke dalam dua unit truk yang datang secara bergantian ke outlet tersebut. Keputusan tersebut tidak melanggar aturan karena pada varian VRP with multiple trips and fixed fleet split delivery ini, satu kendaraan boleh melayani lebih dari satu rute dan satu pelanggan boleh dilayani/dikunjungi lebih dari satu kali dengan jumlah kendaraan yang dimiliki adalah tetap. Oleh karena itu, dilakukan penyusunan iterasi selanjutnya untuk rute 5 ini dapat diberlakukan sesuai dengan keputusan tersebut. Pemecahan jumlah pengiriman barang dari depot ke outlet (Tk. Sidik) ini yaitu dengan rincian sebanyak 100 karton cup 240 ml dikirim pada pengiriman rute 5, yaitu penggabungan pengiriman outlet dan outlet 10560, sedangkan untuk 100 botol gallon 19 L beserta pengangkutan kembali botol gallon kosong dari outlet tersebut ke depot dilakukan oleh truk lainnya pada rute 6. Dari hasil yang diperoleh dapat dilihat bahwa rute yang dibentuk dengan menggunakan metode saving heuristic ini menghasilkan sebanyak 6 rute perjalanan, dimana masingmasing kendaraan truk engkel yang melayani 2 rute dalam sehari. Rekapitulasi penentuan rute dengan metode saving heuristic ini dapat dilihat pada Tabel 4.15 berikut ini: No. Rute 1 2 Tabel 4.15 Jalur Pengiriman D D0000 D D0000 Rekapitulasi penentuan rute dengan metode saving heuristic Total Jarak (km) Total Waktu (menit) Total Muatan (kg) Utilitas (%) Muatan Waktu 62,0 238, ,4 98,98 99,32 58,9 220, ,2 96,24 91,83 54
33 No. Rute Tabel 4.15 Jalur Pengiriman Rekapitulasi penentuan rute dengan metode saving heuristic (lanjutan) Total Jarak (km) Total Waktu (menit) Total Muatan (kg) Utilitas (%) Muatan Waktu 3 D D ,2 143, ,6 97,19 59,93 4 D D0000 5,2 44,90 744,6 24,82 18,71 5 D D ,8 104, ,4 88,15 43,58 6 D D0000 9,5 103, ,0 64,00 42,92 Total 184,6 855, ,2 469,38 355,75 Rata-rata 30,8 142, ,9 78,23 59,29 Setelah seluruh penyusunan rute dilakukan, pada Tabel 4.35 dapat dilihat bahwa didapatkan sebanyak 4 rute dengan 6 kali pengiriman dari depot ke outlet dan kembali ke depot lagi. Adapun total jarak yang ditempuh yaitu sebesar 184,6 km, total waktu pengiriman (waktu complete) selama 855,05 menit atau setara dengan 14,25 jam (14 jam 15 menit) dan total muatan yang didistribusikan sebesar 14081,2 kg atau setara dengan 14,08 ton Penentuan Rute Berdasarkan Kebijakan Perusahaan Penentuan rute pengiriman barang dari depot ke outlet jika berdasarkan metode yang digunakan di perusahaan dilakukan berdasarkan area wilayah kecamatan dari setiap outlet. Perusahaan membagi wilayah distribusi air mineral CLUB di wilayah Kota Balikpapan menjadi 3 area, yaitu area 1 untuk wilayah kecamatan Balikpapan Selatan dan Balikpapan Timur, area 2 untuk wilayah kecamatan Balikpapan Tengah dan Balikpapan Kota, sedangkan area 3 untuk wilayah kecamatan Balikpapan Utara dan Balikpapan Barat. Perusahaan saat ini hanya menugaskan setiap truk engkel hanya melayani areanya masing-masing, namun dapat dimungkinkan kebijakan penetapan area untuk setiap unit kendaraan tersebut mengalami perubahan apabila ada kondisi lain yang dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan. Pada kondisi ini, penentuan rute yang terbentuk berdasarkan kebijakan perusahaan saat itu ditunjukkan pada Tabel 4.16 berikut ini: 55
34 Tabel 4.16 Area No.Pol Truk Jalur Rute 1 KT 8978 LB 2 KT 8765 AR 3 KT 9476 AK Jalur rute pengiriman berdasarkan kebijakan perusahaan Jarak Tempuh (km) Waktu Complete (menit) Jumlah Muatan (kg) Utilitas (%) Muatan Waktu D D000 40,4 142, ,4 55,51 59,47 D ,8 132, ,5 72,75 55, D0000 D D0000 4,0 37,42 976,0 32,53 15,59 D D ,2 113, ,3 97,21 47,11 D D0000 9,5 93, ,2 88,04 38,75 D D ,4 123, ,2 88,04 51,30 D D ,1 97, ,6 35,29 40,47 Total 138,4 738, ,2 469,37 307,77 Rata-rata 19,77 105, ,6 67,05 43,97 Berdasarkan Tabel 4.16 dapat dilihat bahwa penentuan rute berdasarkan kebijakan perusahaan pada saat ini didapatkan sebanyak 7 rute pengiriman, dimana untuk truk KT 8978 LB yang melayani area 1 melakukan 1 rute pengiriman dari depot menuju 6 outlet di wilayah kecamatan Balikpapan Selatan dan Balikpapan Timur. Truk KT 8765 AR yang melayani area 2 melakukan 2 rute pengiriman dari depot menuju 9 outlet di wilayah kecamatan Balikpapan Tengah dan Balikpapan Kota. Truk KT 9476 AK yang melayani area 3 melakukan 4 rute pengiriman dari depot menuju 13 outlet di wilayah Balikpapan Barat dan Balikpapan Utara. Adapun total jarak yang ditempuh yaitu sebesar 138,4 km, total waktu pengiriman (waktu complete) selama 738,64 menit atau setara dengan 12,31 jam (12 jam 19 menit) dan total muatan yang didistribusikan sebesar 14081,2 kg atau setara dengan 14,08 ton Perbandingan Tiga Metode yang Digunakan Setelah dilakukan pengolahan data untuk mendapatkan penentuan rute pengiriman air mineral CLUB dari depot ke outlet-outlet di Kota Balikpapan dengan menggunakan metode saving heuristic, metode sweep cluster first route second dan metode sweep route first route second yang hasilnya kemudian dibandingkan dengan perhitungan data 56
35 berdasarkan kebijakan perusahaan, maka hasil yang diperoleh dapat dilihat pada Tabel 4.17 berikut ini: Tabel 4.17 Perbandingan hasil perhitungan tiga metode No Metode Jarak Waktu Jumlah Utilitas Rata-rata Jumlah Tempuh Complete Muatan (%) Rute (km) (menit) (kg) Muatan Waktu 1 Sweep Cluster First Route Second 6 122,5 730, ,2 78,23 50,75 2 Sweep Route First Cluster Second 5 124,2 728, ,2 93,87 60,69 3 Saving Heuristic 6 184,6 855, ,2 78,23 59,29 4 Kebijakan Perusahaan 7 138,4 738, ,2 67,05 43,97 Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan dan hasilnya disajikan oleh Tabel 4.17, maka ada dua pilihan yang dapat dijadikan metode terpilih untuk penentuan rute pengiriman ini. Pilihan pertama yaitu metode sweep cluster first route second karena memiliki total jarak terpendek dibandingkan dengan metode lainnya, dan jarak tempuh tersebut lebih singkat 15,9 km serta waktu pengiriman lebih singkat 7,81 menit jika dibandingkan dengan rute yang ditentukan berdasarkan kebijakan perusahaan, namun utilitas rata-rata muatan kendaraan dalam setiap kali pengiriman ini hanya sebesar 78,23%, artinya muatan yang diangkut masih jauh dari maksimal. Pilihan kedua yaitu metode sweep route cluster second karena memiliki total waktu complete yang paling singkat yaitu sebesar 728,24 menit, atau lebih singkat 2,59 menit daripada metode sweep cluster first route second, dan lebih singkat 10,40 menit dibandingkan dengan kebijakan perusahaan. Utilitas muatan kendaraan untuk setiap kali pengiriman pada metode sweep route cluster second ini juga yang paling tinggi yaitu sebesar 93,87%, artinya muatan yang diangkut oleh setiap truk dalam satu rute pengirian hampir selalu mencapai kapasitas maksimal, meskipun total jarak tempuh sebesar 124,2 km atau lebih besar 1,7 km dari metode sweep cluster first route second, namun jarak tersebut masih lebih pendek sebesar 14,2 km dari kebijakan perusahaan. Kedua hal inilah yang menjadi pertimbangan untuk dipilih sebagai metode terpilih. 57
36 4.3.5 Perhitungan Biaya Bahan Bakar Kendaraan Biaya bahan bakar berbanding lurus dengan jumlah jarak tempuh yang dilalui oleh kendaraan pada saat pengiriman barang. Bahan bakar yang digunakan adalah BBM jenis Solar HSD ( High Speed Diesel) non-subsidi dengan harga per liternya yaitu Rp ,40, dimana 1 liter solar ini kendaraan dapat menempuh jarak sejauh 6 km. Perhitungan biaya bahan bakar kendaraan untuk masing-masing metode yang digunakan yaitu disajikan pada Tabel 4.18 berikut ini: Tabel 4.18 Perbandingan perhitungan biaya bahan bakar kendaraan No Metode Jarak Pemakaian Biaya BBM Tempuh (km) BBM (liter) (Rp) 1 Sweep Cluster First Route Second 122,5 20, ,49 2 Sweep Route First Cluster Second 124,2 20, ,48 3 Saving Heuristic 184,6 30, ,57 4 Kebijakan Perusahaan 138,4 23, ,29 Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan dan hasilnya disajikan oleh Tabel 4.18, maka diperoleh bahwa metode sweep cluster first route second memiliki jarak tempuh yang paling singkat sehingga menghasilkan pemakaian bahan bakar minyak (BBM) solar yang paling minimum yaitu sebanyak 20,42 liter dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk harga BBM solar non-subsidi tersebut sebesar Rp , Penentuan Metode Terpilih Berdasarkan perhitungan maupun perbandingan data yang telah dilakukan, maka metode terpilih untuk penentuan rute pendistribusian air mineral CLUB di PT. Tirta Makmur Perkasa di wilayah Kota Balikpapan apabila perusahaan ingin melihat dari total jarak yang dihasilkan dan biaya bahan bakar yang paling minimal adalah metode sweep cluter first route second. Metode ini terpilih karena memiliki jarak tempuh yang paling singkat untuk pengiriman barang dari depot ke outlet-outlet yang dituju. Jarak tempuh yang singkat ini memengaruhi jumlah pemakaian bahan bakar kendaraan yang semakin kecil. Jarak tempuh kendaraan jika menggunakan metode cluster first route second ini adalah sebesar 122,5 km, sehingga jumlah pemakaian bahan bakar kendaraan untuk menempuh jarak sejauh 122,5 km ini jika perliter solar mampu menempuh jarak 58
37 sejauh 6 km, maka jumlah solar yang dibutuhkan untuk pendistribusian ini adalah sebanyak 20,42 liter, dengan harga per liter solar non subsidi ini adalah sebesar Rp ,40 maka jumlah biaya pemakaian bahan bakar solar yang harus dikeluarkan oleh perusahaan adalah sebesar Rp ,49. Metode ini tetap dipilih meskipun memiliki total waktu tempuh yang lebih besar 2,57 menit daripada metode sweep route first cluster, namun karen keputusan pemilihan rute ini diputuskan berdasarkan jumlah pemakaian bahan bakar yang paling minimum, maka yang dipilih adalah metode sweep cluster first route class. Tingkat utilitas muatan (keterisian muatan) pada metode cluster first route second ini adalah sebesar 78,23% per rute per unit kendaraan. Artinya, setiap kali satu unit kendaraan melakukan satu rute pengiriman, satu unit kendaraan tersebut rata-rata mengangkut muatan sebanyak 2346,9 kg, atau lebih dari ¾ dari kapasitas muatan truk yang terisi. Metode sweep cluster route second ini juga secara sederhana sudah diterapkan oleh perusahaan, dimana kebijakan perusahaan saat ini adalah sudah membagi wilayah lokasi outlet-outlet yang ada di Kota Balikpapan menjadi 3 area, yaitu area 1, area 2, dan area 3. Hanya saja, perusahaan belum mempunyai metode untuk menetapkan outlet mana yang terlebih dahulu dikunjungi dan outlet mana yang dikunjungi paling terakhir. Metode terpilih selanjutnya adalah metode sweep route first cluster second. Metode ini dapat dipilih oleh perusahaan apabila perusahaan memprioritaskan waktu tempuh pengiriman dan utilitas muatan kendaraan. Waktu tempuh pengiriman dapat diprioritaskan perusahaan apabila perusahaan ingin melayani konsumen, dalam hal ini adalah outlet secara cepat sehingga tidak mengalami keterlambatan pengiriman dan dapat meningkatkan kualitas pelayanan. Waktu tempuh pengiriman yang singkat pada metode sweep route first cluster second ini diperoleh karena tingkat utilitas kendaraan yang tinggi ketika membawa muatan dari depot ke outlet dalam satu rute pengiriman, yaitu sebesar 93,87% sehingga dalam sekali pengiriman, kendaraan dapat mengirim barang ke lebih banyak outlet dan mengurangi 59
38 waktu administrasi, karena semakin banyak rute bolak balik kendaraan dari depot ke outlet dan kembali lagi ke depot, maka waktu administrasi yang terpakai di setiap lokasi juga akan semakin besar. Karena pada metode sweep route first cluster second ini menghasilkan jumlah rute pengiriman yang paling sedikit, yaitu 5 rute pengiriman, maka menyebabkan jumlah waktu administrasi juga akan semakin berkurang karena jumlah kendaraan yang keluar dan masuk ke depot juga berkurang. Oleh sebab itu, meskipun jarak tempuh pada metode sweep route first cluster second ini sedikit lebih besar daripada metode sweep cluster first route second (lebih besar 1,7 km) namun karena tingkat keterisian muatan kendaraan yang tinggi (93,87%) maka jumlah rute keluar dan masuk ke depot juga berkurang, dan waktu administrasi pun menjadi berkurang, sehingga waktu total pengiriman juga berkurang, dimana metode ini menghasilkan waktu tempuh sebesar 728,24 menit. Sehingga apabila perusahaan menetapkan kriteria total waktu tempuh sebagai prioritas pembentukan rute pendistribusian, maka metode sweep route first cluster second ini merupakan metode yang layak untuk dipilih oleh perusahaan. Metode saving heuristic pada penelitian ini tidak disarankan untuk digunakan oleh perusahaan karena menghasilkan jarak tempuh yang sangat besar, sehingga menyebabkan waktu tempuh dan jumlah pemakaian bahan bakar yang paling besar pula, bahkan ketiga variabel itu lebih besar daripada penentuan rute berdasarkan kebijakan perusahaan, sehingga hasil perhitungan yang berasal dari metode saving heuristic pada kasus ini tidak disarankan untuk perusahaan. 4.5 Analisa Terhadap Rute yang Terbentuk Berdasarkan Metode Terpilih Pada metode terpilih, yaitu metode sweep cluster first route second maupun metode sweep route first cluster second ini masing-masing menghasilkan pembentukan rute yang berbeda-beda. Untuk pembentukan rute pada metode sweep cluster first route second ini menghasilkan rute sebanyak 6 rute di dalam 5 klaster. Karena pada setiap rute tersebut masih dapat memungkinkan penggabungan waktu pengiriman pada 240 menit pertama ( ) maka beberapa rute dan beberapa klaster digabungkan ke 60
39 dalam 240 menit pertama, dengan tujuan agar outlet-outlet yang dalam hal ini berperan sebagai pelanggan dapat dilayani pengiriman barang secara cepat, dan dapat meningkatkan kualitas pelayanan pengiriman barang dari depot ke outlet. Penggabungan rute maupun klaster dalam waktu pengantaran 240 menit pertama pada metode sweep cluster first route second ini dapat dilihat pada Tabel 4.19 berikut ini: Tabel 4.19 Klaster Rute No. Pol Truk Analisis rute metode sweep cluster first route second Berat Muatan (kg) Waktu Complete (menit) KT 9476 AK 2976,4 118,32 D D0000 D D0000 KT 9476 AK 2581,1 116,75 D KT 8765 AR 1704,8 123,05 D0000 D D0000 D D0000 D D0000 KT 8765 AR 1240,9 62,98 Sisa Waktu (menit) 4,93 53,97 KT 8978 LB 2718,2 176,334 63,67 KT 8978 LB 2859,8 133,40 106,60 Keputusan Diantar pada 240 menit pertama Diantar pada 240 menit pertama Diantar pada 240 menit pertama Diantar pada 240 menit kedua Berdasarkan analisis rute berdasarkan Tabel 4.19 dapat dilihat bahwa untuk rute 1 dan rute 2 pada klaster 1 dapat dilakukan pengiriman selama 240 menit pertama. Itu dikarenakan pada pengantaran kedua rute tersebut secara berkelanjutan di dalam jangka waktu 240 menit pertama layak dilakukan dimana masih didapatkan sisa waktu selama 4,93 menit sebelum pukul Truk KT 9476 AK mulanya melakukan pengiriman untuk rute 1, setelah seluruh outlet pada rute 1 telah dilayani, truk segera kembali ke depot dan melakukan loading barang lalu kembali melakukan untuk melayani rute 2. Outlet dilayani secara 2 kali pengiriman karena jumlah berat muatan yang akan didistribusikan ke outlet (Tk. Sidik) tersebut jika dalam sekali pengiriman akan melebihi kapasitas maksimal truk engkel, yaitu 3122 kg > 3000 kg, sehingga perlu dilakukan dua kali proses pengiriman pada outlet tersebut. Keputusan tersebut tidak melanggar aturan karena pada varian VRP with multiple trips and fixed fleet split delivery ini, satu kendaraan boleh melayani lebih dari satu rute dan satu pelanggan 61
40 boleh dilayani/dikunjungi lebih dari satu kali dengan jumlah kendaraan yang dimiliki adalah tetap. Selanjutnya untuk truk KT 8765 AR juga melakukan dua kali pengiriman selama 240 menit pertama, dimana pertama kali truk tersebut melayani pengiriman untuk rute pada klaster 2, lalu setelah seluruh outlet di klaster 2 terlayani, truk kembali ke depot dan melakukan loading kembali kemudian segera melakukan pengiriman untuk rute pada klaster 5. Waktu pengiriman untuk rute di klaster 5 ini digabung ke dalam 240 menit pertama bersama rute pada klaster 2 karena kombinasi total waktu tempuh dari kedua rute pada kedua klaster ini adalah yang paling minimum, dengan total waktu sebesar 186,03 menit dan sisa waktu sebelum pukul yaitu sebesar 53,97 menit. Adapun truk KT 8978 LB yang melayani pengiriman pada rute 3 dan 4 dimana kedua rute tersebut waktu pengirimannya tidak dapat digabung ke dalam 240 menit pertama, sehingga akan lebih baik jika truk KT 8978 LB pada 240 menit pertama melayani pengiriman rute klaster 4 karena terdapat jumlah outlet yang dilayani lebih banyak daripada rute klaster 3, yaitu 8 outlet berbanding 6 outlet. Kemudian apabila truk tersebut telah melayani rute klaster 4, truk kembali ke depot, dan loading muatan beserta pengirimannya dilakukan mulai pukul setelah istirahat siang yaitu pada 240 menit kedua. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari metode sweep cluster first route second tersebut maka masing-masing truk melakukan 2 kali rute pengiriman, yaitu 2 truk melayani 2 rute pengiriman pada 240 menit pertama, dan 1 truk melayani pengiriman 1 rute pengiriman pada 240 menit pertama dan 1 rute pengiriman pada 240 menit kedua. Pada metode terpilih selanjutnya yaitu metode sweep route first cluster second menghasilkan rute sebanyak 5 rute pengiriman di dalam 4 klaster yang terbentuk. Pada metode ini tidak dapat dilakukan penggabungan waktu pengiriman untuk 240 menit pertama maupun 240 menit kedua seperti yang diterapkan pada metode sweep cluster first route second sebelumnya. Itu terjadi karena kombinasi total waktu tempuh untuk 2 rute selalu melebihi 240 menit (>240 menit), sehingga dari 5 rute yang terbentuk 62
41 menghasilkan waktu pengantaran yaitu ada 3 rute yang dilayani pada 240 menit pertama, dan ada 2 rute yang dilayani pada 240 menit kedua. Penentuan waktu pendistribusian pada metode sweep route first cluster second ini dapat dilihat pada Tabel 4.20 berikut ini: Tabel 4.20 Klaster Rute No. Pol Truk D D0000 Analisis rute metode sweep route first cluster second Berat Muatan (kg) Waktu Complete (menit) Sisa Waktu (menit) KT 9476 AK 2966,5 141,9 98,1 D D0000 KT 9476 AK 2930,0 120,5 119,5 D D0000 D D0000 D D0000 KT 8765 AR 2958,8 125, ,132 KT 8765 AR 2241,4 182,018 57,982 KT 8978 LB 2984,5 157,95 82,05 Keputusan Diantar pada 240 menit pertama Diantar pada 240 menit kedua Diantar pada 240 menit kedua Diantar pada 240 menit pertama Diantar pada 240 menit pertama Berdasarkan Tabel 4.20 dapat dilihat bahwa tidak ada rute yang waktu pengirimnannya dapat digabung ke dalam 240 menit pertama maupun ke dalam 240 menit kedua. Oleh karena itu, masing-masing truk melakukan pengiriman ke satu rute pada 240 menit pertama, dan setelah melayani seluruh outlet pada pengiriman di 240 menit pertama, seluruh truk kembali ke depot. Kegiatan loading kembali dilakukan setelah jam istirahat siang atau pada 240 menit kedua. Namun pada 2 rute pengiriman di 240 menit kedua ini hanya dilayani oleh dua truk saja yaitu truk KT 9476 AK dan KT 8765 AR, sedangkan satu unit truk lainnya yaitu KT 8978 LB hanya berada di depot saja pada saat 240 menit kedua karena pengiriman untuk seluruh outlet sudah terlayani. Pada 240 menit pertama, truk KT 9476 AK mulanya melakukan pengiriman untuk rute 1 di klaster 1, setelah seluruh outlet pada rute 1 telah dilayani, truk segera kembali ke depot. Truk tidak dapat kembali melakukan pengantaran barang untuk rute selanjutnya 63
42 karena waktu pengiriman yang dibutuhkan tidak mencukupi terhadap waktu pelayanan yang tersisa pada 240 menit pertama, sehingga truk ini baru dapat melakukan loading barang lalu kembali melakukan untuk melayani rute 2 pada 240 menit kedua, atau pada pukul setelah waktu istirahat siang. Outlet dilayani secara 2 kali pengiriman karena jumlah berat muatan yang akan didistribusikan ke outlet (Tk. Sidik) tersebut jika dalam sekali pengiriman akan melebihi kapasitas maksimal truk engkel. Selanjutnya untuk truk KT 8765 AR juga melakukan dua kali pengiriman, dimana 1 rute pengiriman di klaster 3 pada 240 menit pertama dan 1 rute pengiriman di klaster 2 pada 240 menit kedua. Klaster 3 lebih dahulu dilayani karena jumlah outlet yang dilayani lebih banyak daripada jumlah outlet yang terdapat di rute pada klaster 2, sehingga pada 240 menit pertama, dimana pertama kali truk tersebut melayani pengiriman untuk rute pada klaster 3, lalu setelah seluruh outlet di klaster 3 terlayani, truk kembali ke depot. Truk kembali melakukan loading dan pengiriman untuk rute pada klaster 2 pada pukul 13.00, atau setelah waktu istirahat siang. Adapun truk KT 8978 LB hanya melayani pengiriman pada sebanyak 1 rute pada klaster 4 dimana seluruh outlet pada klaster 4 tersebut dilayani pada 240 menit pertama. Setelah itu truk kembali ke depot, dan pada 240 menit kedua, truk KT 8978 LB ini hanya berada di depot saja karena seluruh outlet sudah terlayani seluruhnya. 64
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang PT. Tirta Makmur Perkasa adalah perusahaan di bawah naungan Indofood yang bertugas mendistribusikan produk air mineral dalam kemasan dengan merk dagang CLUB di Kota
BAB III KEGIATAN RISET
BAB III KEGIATAN RISET 3.1 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian yaitu di PT. Tirta Makmur Perkasa, Jalan Telaga Sari RT. 36 No. 4B Martadinata, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. 3.2 Waktu Penelitian Waktu
APLIKASI VEHICLE ROUTING PROBLEM PADA PENENTUAN RUTE DISTRIBUSI AIR MINERAL CLUB DI KOTA BALIKPAPAN (Studi Kasus: PT Tirta Makmur Perkasa Balikpapan)
APLIKASI VEHICLE ROUTING PROBLEM PADA PENENTUAN RUTE DISTRIBUSI AIR MINERAL CLUB DI KOTA BALIKPAPAN (Studi Kasus: PT Tirta Makmur Perkasa Balikpapan) Hijri Virgiawan, Wahyuda, & Muriani Emelda Isharyani
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Supply Chain Management Supply chain adalah jaringan perusahaan-perusahaan yang secara bersama-sama bekerja untuk menciptakan dan menghantarkan produk ke tangan pemakai akhir.
BAB I PENDAHULUAN. Bab ini berisi tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, batasan
BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisi tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan. 1.1. Latar Belakang Masalah Setiap
BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISA
BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISA 4.1 Pengumpulan Data Pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini diantaranya adalah mencari lokasi dan alamat outlet penjualan roti tawar citarasa bakery yang diantarkan
BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA Pada bab ini akan diuraikan mengenai proses pengumpulan dan pengolahan data hingga terbentuk rute distribusi usulan serta perancangan alat bantu hitung yang
BAB I PENDAHULUAN. Alat transportasi merupakan salah satu faktor yang mendukung berjalannya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Alat transportasi merupakan salah satu faktor yang mendukung berjalannya kegiatan atau aktivitas manusia dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu kegiatan manusia
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN Bab 1 pendahuluan ini berisikan tentang apa-apa saja yang menjadi latar belakang permasalahan yang terjadi pada distribusi pengiriman produk pada distributor PT Coca Cola, posisi penelitian,
BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN
BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN 4.1 Pengolahan Data Harian Divisi operasional di JNE Logistics and Distribution bertanggung jawab untuk memastikan bahwa komoditas dari vendor-vendor yang memakai jasa JNE Logistics
Penentuan Rute Distribusi Tabung Gas Menggunakan Metode (1-0) Insertion Intra Route (Studi Kasus di PT X) *
Reka Integra ISSN: 2338-508 Jurusan Teknik Industri Itenas No.0 Vol.03 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Januari 205 Penentuan Rute Distribusi Tabung Gas Menggunakan Metode (-0) Insertion Intra
BAB I PENDAHULUAN. Dengan menentukan rute distribusi secara optimal dapat membantu perusahaan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Perusahaan yang bergerak di bidang industri harus dapat mengefektifkan penggunaan jalur distribusi dalam menghemat pengeluaran biaya transportasi. Dengan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendistribusian suatu barang merupakan persoalan yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari baik oleh pemerintah maupun oleh produsen. Dalam pelaksanaannya
BAB I PENDAHULUAN. Penulis mengambil studi kasus pada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penulis mengambil studi kasus pada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang distribusi minuman berisotonik yang terletak di daerah Bojonegoro. Perusahaan tersebut
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Transportasi adalah kegiatan manusia yang sangat penting dalam menunjang dan mewujudkan interaksi sosial serta ekonomi dari suatu wilayah kajian. Salah satu
BAB 5 ANALISIS DATA. Kapasitas Kendaraan. Gambar 5.1. Influence Diagram
BAB 5 ANALISIS DATA Analisis data yang dilakukan pada penelitian ini meliputi pembuatan Influence Diagram, pembuatan model matematis, pembuatan rute pengiriman, pembuatan lembar kerja elektronik, penentuan
BAB I PENDAHULUAN. hingga ke luar pulau Jawa. Outlet-outlet inilah yang menjadi channel distribusi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah PT. Indoberka Investama merupakan perusahaan nasional yang bergerak di bidang kontruksi, pabrikasi, dan distributor rangka atap. Bentuk badan usaha dari PT
BAB I PENDAHULUAN Tahun
Volume Produksi (Miliyar Liter) BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisikan latar belakang penelitian, perumusan masalah, tujuan penelitian, batasan masalah, dan sistematika penulisan. 1.1 Latar Belakang Air merupakan
PENENTUAN RUTE PENDISTRIBUSIAN KERTAS KARTON MODEL STUDI KASUS: PT. PAPERTECH INDONESIA UNIT II MAGELANG
PENENTUAN RUTE PENDISTRIBUSIAN KERTAS KARTON MODEL STUDI KASUS: PT. PAPERTECH INDONESIA UNIT II MAGELANG Hafidh Munawir, Agus Narima Program Studi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Surakarta, Jl.
BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM. mengacu kepada SDLC model waterfall berdasarkan referensi Ian Sommerville,
BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM Pengembangan perangkat lunak dalam penelitian ini dilakukan dengan mengacu kepada SDLC model waterfall berdasarkan referensi Ian Sommerville, yang terbagi atas 4
BAB III PEMBAHASAN. Berikut akan diberikan pembahasan mengenai penyelesaikan CVRP dengan
BAB III PEMBAHASAN Berikut akan diberikan pembahasan mengenai penyelesaikan CVRP dengan Algoritma Genetika dan Metode Nearest Neighbour pada pendistribusian roti di CV. Jogja Transport. 3.1 Model Matetematika
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Studi Pendahuluan Studi pendahuluan dilaksanakan untuk memperoleh masukan mengenai objek yang akan diteliti. Pada penelitian perlu adanya rangkaian langkah-langkah yang
BAB 4 ANALISIS DAN PENGOLAHAN DATA
43 BAB 4 ANALISIS DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Pengumpulan Data Data-data yang di peroleh dari perusahaan berasal dari departemen logistic dan purchasing. Adapun data-data yang di kumpulkan adalah data permintaan
MINIMASI BIAYA DALAM PENENTUAN RUTE DISTRIBUSI PRODUK MINUMAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX
MINIMASI BIAYA DALAM PENENTUAN RUTE DISTRIBUSI PRODUK MINUMAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX Supriyadi 1, Kholil Mawardi 2, Ahmad Nalhadi 3 Departemen Teknik Industri Universitas Serang Raya [email protected],
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
7 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Distribusi Distribusi adalah suatu kegiatan untuk memindahkan produk dari pihak supplier ke pihak konsumen dalan suatu supply chain (Chopra, 2010, p86). Distribusi terjadi
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Penggunaan teknologi dalam mendukung aktivitas perusahaan bukanlah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penggunaan teknologi dalam mendukung aktivitas perusahaan bukanlah barang baru. Teknologi dinilai mampu memberikan banyak kemudahan bagi organisasi. Sistem
BAB I PENDAHULUAN. Pada proses bisnis, transportasi dan distribusi merupakan dua komponen yang
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pada proses bisnis, transportasi dan distribusi merupakan dua komponen yang mempengaruhi keunggulan kompetitif suatu perusahaan karena penurunan biaya transportasi dapat
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Transportasi adalah salah satu bagian dari sistem logistik yang sangat penting. Transportasi itu sendiri digunakan untuk mengangkut penumpang maupun barang
BAB I PENDAHULUAN. konsumen adalah kemampuan untuk mengirimkan produk ke pelanggan secara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu hal yang berpengaruh dalam meningkatkan pelayanan terhadap konsumen adalah kemampuan untuk mengirimkan produk ke pelanggan secara tepat waktu dengan jumlah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Suatu sistem transportasi memegang peran penting dalam masalah pendistribusian, karena harus menjamin mobilitas produk di antara berbagai sistem dengan efisiensi tinggi
OPTIMASI SISTEM DISTRIBUSI PADA DISTRIBUTOR SEPEDA DI PD. TRIJAYA SEMARANG
OPTIMASI SISTEM DISTRIBUSI PADA DISTRIBUTOR SEPEDA DI PD. TRIJAYA SEMARANG TUGAS AKHIR Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana Teknik Industri VINCENTIA ADELINA HARTONO 11
BAB III METODELOGI PENELITIAN
BAB III METODELOGI PENELITIAN 3.1 Metodologi Penelitian Metodologi penelitian adalah seperangkat aturan, kegiatan, dan prosedur yang digunakan oleh para pelaku disiplin. Metodologi juga merupakan analisis
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kegiatan operasional pendistribusian suatu produk dilakukan menyusun jadual dan menentukan rute. Penentuan rute merupakan keputusan pemilihan jalur terbaik sebagai upaya
Penentuan Rute untuk Pendistribusian BBM Menggunakan Algoritma Nearest neighbour (Studi Kasus di PT X)
Reka Integra ISSN: 2338-5081 Jurusan Teknik Industri Itenas No.04 Vol. 01 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Maret 2014 Penentuan Rute untuk Pendistribusian BBM Menggunakan Algoritma Nearest neighbour
USULAN RANCANGAN RUTE PENDISTRIBUSIAN AIR GALON HANAANG MENGGUNAKAN ALGORITMA NEAREST NEIGHBOUR DAN LOCAL SEARCH *
Reka Integra ISSN: 2338-5081 Jurusan Teknik Industri Itenas No.04 Vol.03 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Oktober 2015 USULAN RANCANGAN RUTE PENDISTRIBUSIAN AIR GALON HANAANG MENGGUNAKAN ALGORITMA
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Peranan jaringan distribusi dan transportasi sangatlah vital dalam proses bisnis dunia industri. Jaringan distribusi dan transportasi ini memungkinkan produk berpindah
Pembentukan Rute Distribusi Menggunakan Algoritma Clarke & Wright Savings dan Algoritma Sequential Insertion *
Reka Integra ISSN: 2338-508 Jurusan Teknik Industri Itenas No.02 Vol. 02 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Oktober 204 Pembentukan Distribusi Menggunakan Algoritma Clarke & Wright Savings dan Algoritma
PERENCANAAN RUTE DISTRIBUSI VCD PEMBELAJARAN KE GUDANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX UNTUK MEMINIMALKAN BIAYA
PERENCANAAN RUTE DISTRIBUSI VCD PEMBELAJARAN KE GUDANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX UNTUK MEMINIMALKAN BIAYA TRANSPORTASI DI CV. SURYA MEDIA PERDANA SURABAYA SKRIPSI Oleh : TRI PRASETYO NUGROHO
BAB I PENDAHULUAN. produksi air minum dalam kemasan (AMDK) bermerek AQUA. PT. Tirta
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang PT. Tirta Sibayakindo merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi air minum dalam kemasan (AMDK) bermerek AQUA. PT. Tirta Sibayakindo memiliki rantai
PENENTUAN RUTE PENDISTRIBUSIAN GAS LPG DENGAN METODE ALGORITMA NEAREST NEIGHBOUR
PENENTUAN RUTE PENDISTRIBUSIAN GAS LPG DENGAN METODE ALGORITMA NEAREST NEIGHBOUR Dian Kurniawati Program Studi Magister Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Surakarta [email protected] Agus
BAB 1 PENDAHULUAN. Pengiriman barang dari pabrik ke agen atau pelanggan, yang tersebar di berbagai
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pengiriman barang dari pabrik ke agen atau pelanggan, yang tersebar di berbagai tempat, sering menjadi masalah dalam dunia industri sehari-hari. Alokasi produk
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI Bab II dalam penelitian ini terdiri atas vehicle routing problem, teori lintasan dan sirkuit, metode saving matriks, matriks jarak, matriks penghematan, dan penentuan urutan konsumen.
DAFTAR ISI ABSTRAK...
DAFTAR ISI ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... iii DAFTAR ISI... v DAFTAR GAMBAR... vii DAFTAR TABEL... viii DAFTAR GRAFIK... x BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang Masalah... 1 1.2 Rumusan Masalah...
BAB III METODE PENELITIAN
21 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Objek dari penelitian ini ada di PT. Citra Cahaya Gasindo yaitu sebagai agen resmi tabung gas LPG 3 Kg yang berada di Jl. Raya Pematang Reba Pekan Heran
USULAN RANCANGAN RUTE PENDISTRIBUSIAN MINUMAN TEH KEMASAN BOTOL MENGGUNAKAN ALGORITMA NEAREST NEIGHBOUR DAN LOCAL SEARCH *
Reka Integra ISSN: 2338-5081 Jurusan Teknik Industri Itenas No.01 Vol.03 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Januari 2015 USULAN RANCANGAN RUTE PENDISTRIBUSIAN MINUMAN TEH KEMASAN BOTOL MENGGUNAKAN
BAB I PENDAHULUAN I.1
I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Semakin tingginya perkembangan industri membuat persaingan setiap pelaku industri semakin ketat dan meningkat tajam. Setiap pelaku industri harus mempunyai strategi
BAB III LANDASAN TEORI
BAB III LANDASAN TEORI 3.1. Konsep Supply Chain Supply Chain adalah jaringan perusahaan-perusahaan yang secara bersama-sama bekerja untuk menciptakan dan menghantarkan suatu produk ke tangan pemakai akhir.
PERENCANAAN RUTE DISTRIBUSI VCD PEMBELAJARAN KE GUDANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX UNTUK MEMINIMALKAN BIAYA
PERENCANAAN RUTE DISTRIBUSI VCD PEMBELAJARAN KE GUDANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX UNTUK MEMINIMALKAN BIAYA TRANSPORTASI DI CV. SURYA MEDIA PERDANA SURABAYA SKRIPSI Oleh : TRI PRASETYO NUGROHO
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 2.1. Tinjauan Pustaka 2.1.1. Penelitian Terdahulu Transportasi merupakan bagian dari distribusi. Ong dan Suprayogi (2011) menyebutkan biaya transportasi adalah salah
BAB I PENDAHULUAN. pengiriman produk kepada pelanggan harus memiliki penentuan rute secara tepat,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Distribusi merupakan salah satu faktor penting bagi perusahaan untuk dapat melakukan pengiriman produk secara tepat kepada pelanggan. Ketepatan pengiriman produk kepada
4 PENYELESAIAN MASALAH DISTRIBUSI ROTI SARI ROTI
24 4 PENYELESAIAN MASALAH DISTRIBUSI ROTI SARI ROTI 4.1 Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kegiatan distribusi roti Sari Roti di daerah Bekasi dan sekitarnya yang dilakukan setiap
PENENTUAN RUTE PENDISTRIBUSIAN GAS LPG DENGAN METODE ALGORITMA NEAREST NEIGHBOUR (Studi Kasus Pada PT. Graha Gas Niaga Klaten)
PENENTUAN RUTE PENDISTRIBUSIAN GAS LPG DENGAN METODE ALGORITMA NEAREST NEIGHBOUR (Studi Kasus Pada PT. Graha Gas Niaga Klaten) Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata II pada
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Transportasi Menurut Nasution (2004), Transportasi diartikan sebagai pemindahan barang dan manusia dari tempat asal ke tempat tujuan. Proses pengangkutan merupakan gerakan
Tugas Akhir. Diajukan Sebagai Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta
Tugas Akhir PENENTUAN RUTE DALAM PENDISTRIBUSIAN MINYAK KAYU PUTIH UNTUK MEMINIMALKAN BIAYA TRANSPORTASI DENGAN METODE TRAVELING SALESMAN PROBLEM (Studi Kasus di Pabrik Minyak Kayu Putih Krai) Diajukan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Penelitian dan analisis mengenai Salesman Problem (TSP) telah banyak dilakukan khususnya yang berkaitan dengan permasalahan operasional pengiriman. Penelitian yang dilakukan oleh
UN SD 2011 Matematika
UN SD 2011 Matematika Kode Soal Doc. Name: UNSD2011MAT999 Version: 2012-10 halaman 1 01. 4.506 + 13.035-11.491 =. (A) 6.150 (B) 6.090 (C) 6.050 (D) 6.020 02. 6.048 : 16 x 2 =. (A) 756 (B) 378 (C) 336 (D)
BAB I PENDAHULUAN. Radar Malang merupakan salah satu grup Radar terbesar di Jawa Pos.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Radar Malang merupakan salah satu grup Radar terbesar di Jawa Pos. Berdiri sejak 15 Desember 1999, menjadi suplemen Jawa Pos. Perkembangan Radar Malang sangat pesat
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Data Produk yang Dihasilkan Perusahaan Sampai sekarang ini PT. Jakarana Tama telah memproduksi 7 jenis produk GAGA mie 100. Ketujuh jenis ini dibedakan berdasarkan
Usulan Perbaikan Rute Distribusi Menggunakan Metode Clarke Wright Savings Algorithm (Studi Kasus : PT Pikiran Rakyat Bandung) *
Reka Integra. ISSN; 2338-5081 Jurusan Teknik Industri Itenas No.01 Vol. 02 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Juli 2014 Usulan Perbaikan Rute Distribusi Menggunakan Metode Clarke Wright Savings
Usulan Rute Distribusi Tabung Gas Menggunakan Algoritma Ant Colony Systems di PT. Limas Raga Inti
Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2012 ISBN No. 978-979-96964-3-9 Usulan Rute Distribusi Tabung Gas Menggunakan Algoritma Ant Colony Systems di PT. Limas Raga Inti Fifi Herni Mustofa 1), Hari Adianto
BAB I PENDAHULUAN I - 1
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Dalam sistem distribusi pupuk terdapat beberapa masalah yang mucul. Masalah sistem distribusi pupuk antara lain berupa masalah pengadaan pupuk, penentuan stock, proses
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menerapkan kombinasi algoritma NN dan metode heuristik untuk membuat program bagi kasus Sequential 2L-CVRP dengan memberikan usulan rute dan peletakan barang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang PT. Tirta Sibayakindo merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi air minum dalam kemasan (AMDK) bermerek AQUA. PT. Tirta Sibayakindo memiliki rantai
Penentuan Rute Distribusi Es Balok Menggunakan Algoritma Nearest Neighbour dan Local Search (Studi Kasus di PT. X)*
Reka Integra ISSN: 2338-5081 Jurusan Teknik Industri Itenas No.02 Vol.02 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Oktober 2014 Penentuan Rute Distribusi Es Balok Menggunakan Algoritma Nearest Neighbour
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Distribusi merupakan proses penyaluran produk dari produsen sampai ke tangan masyarakat atau konsumen. Kemudahan konsumen dalam menjangkau produk yang diinginkan
USULAN RUTE DISTRIBUSI TABUNG GAS 12 KG MENGGUNAKAN ALGORITMA NEAREST NEIGHBOUR DAN ALGORITMATABU SEARCH DI PT. X BANDUNG *
Reka Integra ISSN: 2338-5081 Jurusan Teknik Industri Itenas No.02 Vol.03 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional April 2015 USULAN RUTE DISTRIBUSI TABUNG GAS 12 KG MENGGUNAKAN ALGORITMA NEAREST NEIGHBOUR
BAB I PENDAHULUAN. yang berpengaruh dalam meningkatkan pelayanan konsumen adalah. meningkatkan daya saing perusahaan tersebut.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini perkembangan dunia bisnis sangat pesat, hal ini di tandai dengan adanya tingkat persaingan yang semakin meningkat. Mengingat hal ini, maka pelaku bisnis
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Travelling Salesman Problem (TSP) merupakan permasalahan pedagang keliling dalam mencari lintasan terpendek dari semua kota yang dikunjunginya. Dengan syarat kota tersebut
USULAN RANCANGAN RUTE PENDISTRIBUSIAN PRODUK KARPET DENGAN MENGGUNAKAN METODE (1-0) INSERTION INTRA ROUTE *
Reka Integra ISSN: 2338-5081 Jurusan Teknik Industri Itenas No.04 Vol.03 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Oktober 2015 USULAN RANCANGAN RUTE PENDISTRIBUSIAN PRODUK KARPET DENGAN MENGGUNAKAN METODE
BAB I PENDAHULUAN. adanya variasi produk serta pengiriman yang tepat waktu. Kebijakan yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan semakin ketatnya persaingan dalam bidang usaha, menuntut perusahaan untuk menggunakan berbagai cara agar dapat memenangkan persaingan. Diantaranya kepuasan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang LPG merupakan bahan bakar berupa gas yang dicairkan (Liquified Petroleum Gasses) dan merupakan produk minyak bumi yang ramah lingkungan dan banyak digunakan oleh rumah
BAB 1 PENDAHULUAN. tempat tujuan berikutnya dari sebuah kendaraan pengangkut baik pengiriman melalui
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam masalah pengiriman barang, sebuah rute diperlukan untuk menentukan tempat tujuan berikutnya dari sebuah kendaraan pengangkut baik pengiriman melalui darat, air,
BAB I PENDAHULUAN. Dinas lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta adalah dinas
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dinas lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta adalah dinas pemerintahan yang bergerak di bidang lingkungan hidup daerah yang meliputi kegiatan dalam melakukan pengawasan,
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini, akan dijelaskan hal-hal yang mendasari penelitian ini. Hal-hal tersebut meliputi latar belakang dan rumusan masalah dari penelitian. Bab ini juga akan membahas tujuan, manfaat,
PENYELESAIAN CAPACITATED VEHICLE ROUTING PROBLEM MENGGUNAKAN SAVING MATRIKS, SEQUENTIAL INSERTION, DAN NEAREST NEIGHBOUR DI VICTORIA RO
Penyelesaian Capacitated Vehicle (Marchalia Sari A) 1 PENYELESAIAN CAPACITATED VEHICLE ROUTING PROBLEM MENGGUNAKAN SAVING MATRIKS, SEQUENTIAL INSERTION, DAN NEAREST NEIGHBOUR DI VICTORIA RO SOLVING CAPACITATED
Manajemen Transportasi dan Distribusi. Diadopsi dari Pujawan N
Manajemen Transportasi dan Distribusi Diadopsi dari Pujawan N Pendahuluan Kemampuan untuk mengirimkan produk ke pelanggan secara tepat waktu, dalam jumlah yang sesuai dan dalam kondisi yang baik sangat
RUTE PENDISTRIBUSIAN AIR MINERAL DALAM KEMASAN MENGGUNAKAN METODE NEAREST NEIGHBOUR DAN BRANCH AND BOUND DI PT. AGRONESIA BMC *
Reka Integra ISSN: 2338-5081 Jurusan Teknik Industri Itenas No.02 Vol. 4 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional April 2016 RUTE PENDISTRIBUSIAN AIR MINERAL DALAM KEMASAN MENGGUNAKAN METODE NEAREST NEIGHBOUR
BAB I PENDAHULUAN. usaha produksi dan pendistribusian air minum isi ulang dalam kemasan (AMDK)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kemajuan teknologi informasi menjadikan persaingan di sektor bisnis menjadi semakin kompetitif, temasuk di daerah Bali, daerah dengan sektor bisnis wisata yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan dunia usaha mengalami persaingan yang begitu ketat dan peningkatan permintaan pelayanan lebih dari pelanggan. Dalam memenangkan persaingan tersebut
BAB IV Hasil Dan Pembahasan
BAB IV Hasil Dan Pembahasan 4.1 Proses yang sedang berjalan Proses pemenuhan order pelanggan dan distribusi diawali dengan datangnya order dari pelanggan. PT. TAC memiliki 3 jenis pelanggan, pertama adalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Distribusi merupakan salah satu komponen dari suatu sistem logistik yang bertanggungjawab akan perpindahan material antar fasilitas. Distribusi berperan dalam membawa
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN Dalam cakupan kegiatan disribusi, perusahaan harus bisa merancang jaringan distribusi yang tepat. Keputusan tentang perancangan jaringan distribusi harus mempertimbangkan tradeoff antara
OPTIMALISASI RUTE DISTRIBUSI AIR MINUM QUELLE DENGAN ALGORITMA CLARKE & WRIGHT SAVING DAN MODEL VEHICLE ROUTING PROBLEM
OPTIMALISASI RUTE DISTRIBUSI AIR MINUM QUELLE DENGAN ALGORITMA CLARKE & WRIGHT SAVING DAN MODEL VEHICLE ROUTING PROBLEM Ade Irman SM, Ratna Ekawati 2, Nuzulia Febriana 3 Jurusan Teknik Industri, Fakultas
PENENTUAN RUTE DISTRIBUSI LPG DENGAN PENDEKATAN MODEL MATEMATIS
PENENTUAN RUTE DISTRIBUSI LPG DENGAN PENDEKATAN MODEL MATEMATIS Annisa Kesy Garside, Xamelia Sulistyani, Dana Marsetiya Utama Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Malang,
Penentuan Rute Kendaraan Distribusi Produk Roti Menggunakan Metode Nearest Neighbor dan Metode Sequential Insertion *
Reka Integra ISSN: 2338-5081 Jurusan Teknik Industri Itenas No.03 Vol.01 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Januari 2014 Penentuan Kendaraan Distribusi Produk Roti Menggunakan Metode Nearest Neighbor
MANAJEMEN TRANPORTASI DAN DISTRIBUSI
MANAJEMEN TRANPRTASI DAN DISTRIBUSI PENDAHULUAN Kemampuan untuk mengirimkan produk ke pelanggan secara tepat waktu, dalam jumlah yang sesuai dan dalam kondisi yang baik sangat menentukan apakah produk
BAB I PENDAHULUAN. Sebuah perusahaan melakukan proses produksi untuk menghasilkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan Sebuah perusahaan melakukan proses produksi untuk menghasilkan produk yang siap jual. Setelah menghasilkan produk yang siap jual, maka proses selanjutnya
PENENTUAN RUTE DISTRIBUSI PRODUK OBAT MENGGUNAKAN METODE SEQUENTIAL INSERTION DAN CLARKE & WRIGHT SAVINGS (Studi Kasus di PT X Bandung)*
Reka Integra ISSN: 2338-5081 Jurusan Teknik Industri Itenas No.02 Vol. 02 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Juli 2014 PENENTUAN RUTE DISTRIBUSI PRODUK OBAT MENGGUNAKAN METODE SEQUENTIAL INSERTION
BAB I PENDAHULUAN. ekspedisi. Permasalahan distribusi tersebut mencakup kemudahan untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Distribusi suatu barang memegang peranan penting pada perusahaan ekspedisi. Permasalahan distribusi tersebut mencakup kemudahan untuk mendapatkan suatu produk kapan
Penentuan Rute Kendaraan dalam Pendistribusian Beras Bersubsidi Menggunakan Algoritma Genetika (Studi Kasus Perum Bulog Sub Divre Cirebon) *
Reka Integra ISSN: 2338-5081 Jurusan Teknik Industri Itenas No.01 Vol.03 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Januari 2015 Penentuan Kendaraan dalam Pendistribusian Beras Bersubsidi (Studi Kasus Perum
Penentuan Rute Kendaraan Proses Pendistribusian Beras Bersubsidi di Kota Pekanbaru
Petunjuk Sitasi: Hartati, M., & Putra, I. R. (2017). Penentuan Rute Kendaraan Proses Pendistribusian Beras Bersubsidi di Kota Pekanbaru. Prosiding SNTI dan SATELIT 2017 (pp. H46-51). Malang: Jurusan Teknik
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Diagram Alir Metodologi penelitian berperan untuk membantu agar masalah dapat diselesaikan secara lebih terarah dan sistematis. Dalam metodologi penelitian, akan diuraikan
