BAB VIII PEMBAHASAN UMUM

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB VIII PEMBAHASAN UMUM"

Transkripsi

1 BAB VIII PEMBAHASAN UMUM Biodeteriorasi kayu mengakibatkan penurunan mutu dan tidak efisiennya penggunaan kayu. Selain itu umur pakai kayu menjadi lebih pendek dan berakibat konsumsi kayu menjadi meningkat, yang secara tidak langsung dapat mengganggu kelestarian hutan. Salah satu bentuk perhatian terhadap bahaya pelapukan ini seperti di Amerika, Australia, dan beberapa negara lainnya adalah telah dibuatnya peta kelas bahaya pelapukan. Peta bahaya pelapukan tersebut diperlukan sebagai pertimbangan bagi para arsitek, perusahaan konstruksi, instansi pemerintah terkait dan masyarakat umum dalam memilih jenis kayu dan tindakan pengawetan serta melakukan langkah-langkah penanggulangan serangan jamur pelapuk pada bangunan untuk memaksimumkan masa pakainya. Dalam Bab IV diuraikan mengenai peta bahaya pelapukan kayu di Pulau Jawa berdasarkan indeks pelapukan Scheffer (1971) yang telah dihasilkan dalam penelitian ini. Pada umumnya kota dan kabupaten di Pulau Jawa termasuk kelas bahaya pelapukan sangat tinggi dan tinggi dengan persentase masing-masing 47% dan 40%, sisanya termasuk kelas bahaya pelapukan sedang. Banyak kota-kota penting di Pulau Jawa yang pada umumnya padat penduduk, berada dalam kelas bahaya pelapukan sangat tinggi. Rumah-rumah di DKI Jakarta yang merupakan daerah terpadat penduduknya yaitu jiwa/km 2 (BPS 2010a) juga berada dalam kelas bahaya pelapukan kayu sangat tinggi. Sebagai ibukota negara Republik Indonesia dan pusat bisnis, pada kenyataannya tidak hanya bangunan rumah penduduk yang terancaman pelapukan kayu, tapi juga berbagai gedung pemerintahan, perkantoran, pertokoan dan infrastruktur pendukung lainnya yang tidak terlepas dari penggunaan kayu. Demikian pula halnya di kota Bogor, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan berbagai kota besar dan penting lainnya, memiliki potensi pelapukan kayu sangat tinggi. Indeks pelapukan Scheffer yang digunakan sebagai dasar klasifikasi bahaya pelapukan sendiri ternyata memiliki korelasi yang baik dengan degradasi kayu yang terjadi dalam uji lapang pelapukan kayu tidak menyentuh tanah di sejumlah

2 97 kota dan kabupaten di Pulau Jawa. Sementara itu di antara unsur-unsur iklim, faktor jumlah hari hujan bulanan memiliki korelasi yang paling baik dengan tingkat degradasi kayu di berbagai daerah percobaan. Dengan demikian peta bahaya pelapukan yang telah dibuat tersebut sangat layak untuk dipakai di lapangan. Pelapukan kayu oleh jamur merupakan masalah bangunan yang menjadi beban masyarakat luas dan sangat merugikan. Rata-rata sekitar 87% rumahrumah di kota dan kabupaten di Pulau Jawa mengalami masalah pelapukan. Nilai kerugian ekonomi akibat pelapukan bangunan rumah dalam skala daerah cukup besar yaitu dari Rp400 juta/tahun (di Tegal) hingga lebih dari Rp7 milyar/tahun (di Semarang). Dalam lingkup Pulau Jawa kerugian tersebut diperhitungkan tidak kurang dari Rp411,2 milyar/tahun. Berdasarkan laju pertumbuhan penduduknya, diperkirakan pada tahun 2025 Pulau Jawa akan dihuni oleh sekitar 163 juta penduduk yang menghuni sekitar 39,4 juta bangunan rumah. Volume kayu gergajian yang terpapar lingkungan sebagai komponen bangunan rumah pada tahun 2010 sekurang-kurangnya adalah 131,9 juta m 3, maka pada tahun 2025 volume kayu gergajian tersebut sebanyak 157,6 juta m 3. Bila tidak ada peningkatan manajemen dan teknik perlindungan bangunan rumah secara nyata oleh masyarakat maka kerugian ekonomi akibat pelapukan kayu pada bangunan rumah di Jawa pada tahun 2025 bisa lebih dari Rp492,5 milyar/tahun. Selain faktor iklim, resiko pelapukan kayu pada bangunan rumah juga ditentukan oleh faktor posisi dan kondisi komponen kayu pada bangunan sebagaimana diilustrasikan dalam Gambar 42. Lisplang dan rangka atap adalah komponen rumah yang paling banyak ditemukan mengalami serangan jamur pelapuk. Hal ini terjadi karena komponen rumah tersebut paling sering mengalami pembasahan dari air hujan baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti karena adanya rembesan atau kebocoran air dari atap rumah yang rusak atau karena tidak berfungsi dengan baik. Pembasahan komponen kayu bangunan rumah merupakan pemicu utama terjadinya pelapukan berbagai komponen kayu pada bangunan rumah. Sekitar 55% kasus pembasahan komponen kayu bangunan rumah disebabkan oleh kerusakan sistem atap, salah

3 98 satu contoh sederhananya adalah genting pecah atau bergeser. Selain itu pembasahan komponen bangunan banyak juga disebabkan oleh masalah desain dan kualitas pembangunan rumahnya terutama pada sistem atap, dinding dan lantainya. Atap dan talang harus dirancang agar efektif membuang air hujan jauh dari fondasi menuju saluran drainase sehingga tidak ada komponen kayu bangunan yang mengalami pembasahan secara terus menerus oleh air hujan. Gambar 41 Diagram keterkaitan empat faktor resiko pelapukan kayu pada bangunan rumah. Sambungan kayu pada lisplang, kusen jendela, dan rangka atap sering kali menjadi awal serangan jamur pelapuk, karena air lebih mudah masuk dan tertampung di dalamnya sehingga kadar air kayu disekitarnya menjadi lebih tinggi daripada di bagian lainnya. Serangan jamur pelapuk juga sering berawal pada ujung komponen yang merupakan bidang lintang kayu. Pada arah longitudinal air lebih cepat terserap dan masuk ke dalam kayu. Oleh karena itu bagian sambungan

4 99 dan ujung kayu harus diberi pendempulan yang sempurna disertai bahan penolak air dan coating (penutupan) dengan cat. Pada bagian eksterior lainnya, serangan jamur pelapuk diawali dengan rusaknya cat pelindung dan retakan kayu sehingga air hujan dapat membasahi kayu. Dengan demikian, aplikasi berkala perlindungan kayu pada komponen eksterior dengan cat perlu dilakukan sebelum cat mengalami kerusakan atau terkelupas. Selain air hujan, sumber air pembasahan kayu juga terjadi dari air penggunaan rumah tangga, dari kondensasi uap dalam ruang yang ventilasinya kurang baik, ataupun dari tanah terutama jika komponen kayu menyentuh tanah. Oleh karena itu ventilasi udara di ruang yang banyak menghasilkan uap seperti di dapur, tempat mencuci dan kamar mandi harus diatur dengan baik. Drainase tapak bangunan yang tidak baik juga dapat menjadi sumber pembasahan pada komponen kayu bangunan. Air yang tergenang di bawah bangunan dapat naik membasahi lantai dan dinding secara kapiler sehingga kayu yang bersentuhan dengannya menjadi basah dan ruanganpun cenderung lembab. Menurut Community Development Department of Burbank (2004) tanah yang berhubungan langsung dengan bangunan harus miring minimal 2%. Jarak saluran air dari bangunan sebaiknya tidak kurang dari 1,5 m. Fakta lapangan menunjukkan bahwa banyaknya penggunaan kayu tidak awet oleh masyarakat juga menyebabkan serangan jamur pelapuk sangat tinggi. Pada kayu awet dan terlindung oleh cat, perkecambahan spora jamur agak tertahan sampai terjadinya kerusakan cat dan berkurangnya kandungan ekstraktif kayu awet karena pengaruh cuaca, tercuci oleh air hujan, dan terkena sinar matahari. Kayu tidak awet tersebut berasal dari pohon-pohon berumur muda yang berasal dari hutan rakyat dan hutan tanaman seperti sengon dan manii. Hal ini karena semakin tingginya harga kayu komersial yang awet yang sehingga penduduk lebih memilih kayu-kayu yang terjangkau harganya walaupun kurang awet. Intensitas pelapukan kayu pada bangunan rumah juga ditentukan oleh perilaku manusia dalam teknik dan manajemen pemeliharaan bangunan. Kekurang-pedulian masyarakat dalam pemeliharaan bangunan banyak

5 100 dilatarbelakangi dengan masalah ekonomi. Selain itu juga banyak yang tidak memahami dampak luas pelapukan kayu pada bangunan. Dengan semakin tingginya jumlah dan kepadatan penduduk, maka masalah pelapukan bangunan rumah ini bisa semakin besar. Hal sederhana yang penting dilakukan dalam pemeliharaan bangunan diantaranya adalah inspeksi berkala yang dilakukan terutama pada awal musim hujan. Dengan demikian penetrasi air dan pembasahan komponen bangunan bisa terdeteksi dan ditanggulangi secara dini. Potensi jamur pelapuk di berbagai daerah di Pulau Jawa juga menentukan resiko pelapukan kayu pada bangunan rumah. Perkecambahan spora jamur pelapuk pada kayu basah yaitu berkadar air lebih dari 20%, merupakan awal mekanisme serangan jamur pelapuk pada bangunan. Hifa-hifa yang terbentuk dapat mengeluarkan enzim pengurai kayu dan menyerap nutrisi dari substrat. Hifa mengalami pertumbuhan, pembelahan sel dan percabangan ke berbagai arah sehingga membentuk koloni yang kemudian diameternya cenderung bertambah yang disebut miselium. Pada kayu basah sering juga ditemukan jamur pewarna dan kapang yang bisa menginfeksi kayu lebih awal sebagai pengkoloni primer, sedangkan jamur pelapuk menjadi pengkoloni sekundernya. Meskipun pada kondisi tertentu jamur pelapuk juga dapat menjadi pengkoloni primer. Bersamaan dengan kolonisasi jamur, kayu mengalami degradasi sebagai akibat reaksi enzimatik oleh jamur pelapuk dalam mendapatkan makanannya. Selama air cukup tersedia dan faktor lingkungan lainnya mendukung, biodeteriorasi kayu semakin masuk ke dalam kayu dan meluas, bahkan dapat terjadi invasi miselium ke komponen bangunan lainnya dan menurunkan daya dukung struktur komponen bangunan tersebut. Untuk menjaga kelangsungan hidupnya, jamur pelapuk juga bereproduksi dengan menghasilkan tubuh buah yang pada perkembangannya akan mengeluarkan spora-spora yang bisa terbawa angin, aliran air atau serangga ke tempat lain yang sesuai untuk berkecambah menjadi individu baru. Tahapan pembentukan struktur reproduksi jamur berupa tubuh buah pada umumnya terjadi setelah pelapukan kayu berlangsung dalam waktu berbulan-bulan.

6 101 G. applanatum dan S. commune adalah jamur pelapuk yang sering menyerang bangunan rumah-rumah di Pulau Jawa. Hasil uji pertumbuhan kedua jamur tersebut menunjukkan bahwa suhu optimum pertumbuhan jamur G. applantum dan S. commune adalah 37 o C dan 29 o C. Pertumbuhannya terhenti pada suhu 45 o C (S. commune) dan 50 o C (G. applanatum). Kedua jamur tersebut juga lebih menyukai kondisi media yang asam. Pertumbuhan optimumnya terjadi pada ph 4,8 (S. commune) dan 4,6 (G. applanatum). Pada ph 7 pertumbuhan S. commune sangat lambat, sedangkan G. applanatum tidak tumbuh. Data respon jamur terhadap suhu dan ph tersebut bisa digunakan sebagai pertimbangan dalam pengendalian pertumbuhan kedua jamur kayu tersebut. S. commune dan G. applanatum merupakan jamur pelapuk putih yang dapat mengakibatkan pelapukan simultan pada kayu. Hal ini ditunjang dengan fakta terjadinya kerusakan kayu oleh kedua jenis jamur tersebut, yaitu terbentuknya banyak lubang dan rongga-rongga dalam kayu. Indikasi pelapukan simultan juga terbukti dari hasil analisis kimia yang menunjukkan bahwa kedua jenis jamur menimbulkan degradasi komponen selulosa yang lebih tinggi daripada degradasi komponen lignin dan hemiselulosa. Gejala delignifikasi kayu oleh kedua jamur tersebut juga tampak dalam pemucatan warna media serbuk kayu dari coklat menjadi coklat muda. Hasil analisis mikroskopik dan ultramikroskopik telah mengungkap mekanisme invasi jamur G. applanatum dan S. commune ke dalam kayu. Pada bidang lintang kayu, spora-spora jamur lebih mudah menempel karena pada umumnya lebih banyak rongga dan lebih kasar. Spora-spora berkecambah membentuk hifa-hifa yang dengan mudah masuk ke dalam kayu pada arah longitudinal terutama melalui sel pembuluh (pada kayu daun lebar) atau saluran interseluler (pada kayu daun jarum). Hifa-hifa jamur juga dapat masuk ke dalam kayu dan bergerak pada arah radial melalui sel jari-jari. Pergerakan hifa secara lateral juga terjadi melalui noktah-noktah pada dinding sel pembuluh, sel jari-jari, dan sel parenkim lainnya. Untuk mendapatkan selulosa yang banyak terkandung dalam dinding sel kayu, hifa-hifa jamur harus melalui rintangan lamela tengah dan dinding primer yang kaya kandungan lignin. Jalur yang relatif mudah dilewati

7 102 terutama pada tahap awal serangan ke dalam sel kayu adalah melalui noktah dengan mendegradasi membran tipis secara enzimatik bahkan secara fisik oleh hifa-hifa jamur yang halus. Hifa-hifa yang masuk ke dalam lumen, tumbuh dan mendegradasi dinding sel dari dalam secara lebih mudah. Karena hifa jamur banyak yang masuk ke dalam jari-jari, sel pembuluh dan saluran interseluler, maka sel-sel kayu disekitarnya banyak terdegradasi sehingga terbentuk ronggarongga dalam kayu yang menjadikan kayu keropos dan mengalami penurunan kekuatan. Berdasarkan fakta degradasi sifat-sifat kayu yang terjadi, tampak bahwa G. applanatum lebih destruktif daripada S. commune. G. applanatum menyebabkan kehilangan masa kayu lebih banyak yaitu rata-rata untuk kayu pinus, kamper dan sengon selama 12 minggu adalah 5,4%, 7,9%, dan 12,6%, sedangkan S. commune mengakibatkan penurunan berat rata-rata 3,7%, 4,2%, dan 6,7%. Degradasi kayu juga terbukti dengan penurunan sifat mekanis kayu. G. applanatum dan S. commune mengakibatkan penurunan sifat mekanis kayu yang cukup besar selama 12 minggu yaitu lebih dari 14% baik untuk modulus lentur maupun modulus patah. Walaupun degradasi kayu dalam pemakaian yang berukuran besar tidak secepat itu, tapi serangan jamur pelapuk ini dapat menurunkan fungsi struktural komponen bangunan rumah dan membahayakan bagi penghuninya. Dengan mencermati mekanisme serangan jamur pelapuk tersebut serta dampaknya terhadap bangunan, maka pengendalian pelapukan kayu pada bangunan perlu mendapat perhatian yang serius. Upaya menghilangkan sumber infeksi jamur berupa kayu lapuk di dalam dan di sekitar bangunan adalah langkah preventif yang baik. Pertumbuhan kapang dan jamur pewarna pada kayu perlu diwaspadai karena menjadi indikasi lingkungan yang mendukung pertumbuhan jamur dan bisa disusul dengan pertumbuhan jamur pelapuk. Kemunculan tubuh buah jamur pelapuk menunjukkan serangan jamur sudah pada tahap lanjut. Pada kondisi tersebut, walaupun tidak terlihat dipermukaan, hifa jamur telah menjalar jauh dari sekitar tubuh buah, sehingga dalam perbaikannya, bagian kayu yang dibuang setidaknya berjarak 50 cm dari bagian yang lapuk. Selain itu kayu

8 103 pengganti harus diawetkan dan dikeringkan untuk mencegah infeksi baru dari hifa yang tertinggal dalam kayu yang masih utuh. Penggunaan kayu dalam fungsi eksterior tanpa menyentuh tanah di Bogor, Serang, Jakarta, Bandung, Semarang, Malang, Surabaya dan kota atau kabupaten lainnya yang tergolong daerah kelas bahaya pelapukan tinggi dan sangat tinggi, harus mendapat perlakuan pengawetan dengan penetrasi dan retensi yang tinggi, misalnya dengan teknik tekanan sebagaimana yang juga direkomendasikan oleh FPL (2000). Hal ini diantaranya adalah untuk mempertahankan bahan pengawet agar tidak mudah tercuci oleh hujan dan bisa melindungi kayu dari serangan jamur pelapuk. Adapun di daerah kelas bahaya pelapukan sedang, pengawetan kayu untuk penggunaan eksterior yang tidak menyentuh tanah cukup dengan teknik rendaman. Alternatif lainnya agar umur pakai kayu cukup panjang adalah dengan menggunakan kayu yang awet alami (kelas awet I atau II). Demikian pula halnya dalam penggunaan kayu yang sering terkena air seperti pintu kamar mandi, maka kayu harus diawetkan, serta diberi bahan penolak air (water repellent) dan cat yang sesuai agar kayu relatif aman dari serangan jamur. Rangka atap yang jarang terperiksa, sebaiknya diawetkan juga terutama yang berpotensi mengalami pembasahan, seperti dekat talang air. Hal ini untuk mencegah pembasahan kayu. Walaupun rembesan air kecil ataupun air dari kondensasi, bila terakumulasi bisa cukup memicu pertumbuhan jamur pelapuk. Dengan demikian dapat menekan biaya perbaikan dan penggantian komponen bangunan yang lapuk terserang jamur. Dalam bangunan sebaiknya digunakan kayu kering dan harus menjaganya tetap kering (kadar air < 20%) serta terhindar dari pembasahan. Komponen konstruksi dari kayu yang tidak dikeringkan sangat rawan dari serangan jamur. Selain itu cat pelindungnya akan lebih cepat terkelupas dan ukurannya bisa mengalami perubahan sehingga dapat menurunkan kualitas struktur bangunan. Hal yang sangat penting juga adalah peraturan pemerintah tentang pengawetan kayu bahan konstruksi dengan teknik tekanan terutama di daerahdaerah yang tergolong kelas bahaya pelapukan tinggi dan sangat tinggi perlu dilaksanakan secara serius. Pengawetan tersebut diutamakan pada kayu yang

9 104 digunakan pada komponen bangunan yang terkena pengaruh cuaca (hujan dan sinar matahari) langsung, komponen yang sering terkena air dan komponen kayu yang menyentuh tanah. Pengontrolan lapangan pelaksanaan peraturan dapat diprioritaskan kepada para pengusaha bangunan perumahan. Pemerintah dan perusahaan swasta perlu mendorong kegiatan dan usaha pengawetan dan pengeringan kayu serta memasyarakatkan produk-produk bahan pengawet kayu yang sudah terstandarisasi dan murah terutama di kota ataupun kabupaten yang masih berkembang. Pemerintah perlu mengatur peredaran dan penggunaan bahan pengawet kayu yang memudahkan dan melindungi masyarakat. Pemerintah perlu meningkatkan sosialisasi bahaya pelapukan kayu pada bangunan rumah dalam rangka meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap upaya pengendalian pelapukan kayu terutama di daerah yang tergolong kelas bahaya pelapukan tinggi. Masyarakat perlu memahami cara bijaksana dalam menggunakan kayu bahan konstruksi, perlu menyadari pentingnya pengeringan dan pengawetan kayu bahan konstruksi serta lebih memperhatikan pemeliharaan bangunan. Langkah-langkah pencegahan dan penanggulangan dini pelapukan harus lebih diutamakan, selain biaya dapat lebih murah, juga bisa terhindar dari resiko kerusakan struktur bangunan. Pemerintah juga perlu mendorong tersedianya tenaga-tenaga terampil dan bersertifikat di bidang pengawetan dan pengeringan kayu. Sudah saatnya peraturan konstruksi kayu diterapkan secara lebih serius terutama di daerah yang tergolong kelas bahaya pelapukan tinggi. Selain itu, pemerintah juga harus mendorong peningkatan teknologi pengawetan yang tepat guna dan ramah lingkungan. Sebagai contoh menurut Clausen dan Yang (2006) bahan pengawet kayu dalam ruangan harus tidak membahayakan bagi penghuni, tidak volatil, tidak berbau dan dapat memberikan perlindungan yang lama pada kayu walau dalam kondisi lembab. Diantara contohnya adalah biosida multi komponen berbahan dasar borat. Teknologi perlindungan kayu non kimia juga perlu dikembangkan, diantaranya seperti yang dilakukan Leithoff dan Peek (2001) yaitu dengan pemanasan diatas 200 o C yang terbukti meningkatkan ketahanan bambu dari jamur pelapuk Basidiomycetes dan jamur pelapuk lunak.

10 KESIMPULAN Ancaman pelapukan kayu pada bangunan rumah di Pulau Jawa sangat tinggi. Hal ini tercermin dari 47% kota dan kabupaten tergolong kelas bahaya pelapukan sangat tinggi dan 40% tergolong kelas bahaya pelapukan tinggi. Bogor, Serang, Semarang dan Malang adalah daerah yang tergolong kelas bahaya pelapukan sangat tinggi, sedangkan Tangerang, Subang, Surakarta, dan Gresik tergolong kelas bahaya pelapukan tinggi. Pelapukan kayu pada bangunan rumah merupakan masalah yang serius mengingat 87% rumah mengalami serangan jamur pelapuk. Tingginya ancaman pelapukan kayu di Jawa ini dipengaruhi oleh iklim terutama jumlah hari hujan bulanan, yaitu minimal 7 hari hujan per bulan. Pelapukan kayu pada bangunan perumahan telah menjadi beban masyarakat banyak. Kerugian ekonomi akibat serangan jamur pelapuk kayu pada bangunan rumah di berbagai kota dan kabupaten yang diteliti berkisar antara Rp 0,4-7,7 milyar/tahun, bahkan di Pulau Jawa nilai kerugiannya menjadi sangat besar, yaitu lebih dari Rp411 milyar/tahun. Dampak ekonomi dari pelapukan kayu bangunan rumah ini akan semakin besar seiring dengan pertumbuhan penduduk dan diperkiran pada tahun 2025 akan bernilai Rp492,5 milyar/tahun. Selain faktor iklim, keawetan dan kondisi kayu pada bangunan menentukan tingginya resiko pelapukan, karena hal tersebut berkaitan dengan keterbukaan komponen bangunan terhadap pengaruh iklim dan pembasahan. Selain itu, buruknya perawatan bangunan rumah di kalangan masyarakat luas menjadikan masalah pelapukan kayu ini cenderung semakin parah. Resiko pelapukan kayu juga dipengaruhi oleh potensi jamur pelapuk yang ada. Ganoderma applanatum dan Schizophylum commune merupakan jamur terpenting yang banyak menyerang bangunan rumah di Pulau Jawa. Keduanya mengakibatkan pelapukan simultan sehingga kayu menjadi keropos dan hilang kekuatannya (lebih dari 14%). Hal ini dapat menjadikan struktur bangunan jadi tidak stabil dan berpotensi membahayakan penghuninya. Peta kelas bahaya pelapukan kayu di Jawa dapat menjadi acuan bagi perumusan kebijakan pemerintah dalam pembangunan perumahan berbasis

11 106 kondisi wilayah. Dengan demikian penggunaan kayu dapat lebih efisien karena umur pakai komponen kayu bangunan dapat ditingkatan.

BAB V FREKUENSI DAN INTENSITAS SERANGAN JAMUR PELAPUK PADA BANGUNAN RUMAH SERTA KERUGIAN YANG DITIMBULKANNYA

BAB V FREKUENSI DAN INTENSITAS SERANGAN JAMUR PELAPUK PADA BANGUNAN RUMAH SERTA KERUGIAN YANG DITIMBULKANNYA BAB V FREKUENSI DAN INTENSITAS SERANGAN JAMUR PELAPUK PADA BANGUNAN RUMAH SERTA KERUGIAN YANG DITIMBULKANNYA Hasil penelitian menunjukkan bahwa serangan jamur pelapuk rata-rata terjadi pada 87% rumah di

Lebih terperinci

BAB VII DAMPAK SERANGAN JAMUR PELAPUK TERHADAP SIFAT-SIFAT KAYU

BAB VII DAMPAK SERANGAN JAMUR PELAPUK TERHADAP SIFAT-SIFAT KAYU BAB VII DAMPAK SERANGAN JAMUR PELAPUK TERHADAP SIFAT-SIFAT KAYU Pengaruh Serangan Jamur Pelapuk terhadap Struktur Anatomi Kayu Kayu memiliki struktur kompleks dan dapat menyimpan air yang sangat penting

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengujian Empat Jenis Kayu Rakyat berdasarkan Persentase Kehilangan Bobot Kayu Nilai rata-rata kehilangan bobot (weight loss) pada contoh uji kayu sengon, karet, tusam,

Lebih terperinci

DIKTAT PENGERINGAN KAYU. Oleh: Efrida Basri

DIKTAT PENGERINGAN KAYU. Oleh: Efrida Basri 1 DIKTAT PENGERINGAN KAYU Oleh: Efrida Basri I. Konsep Dasar Pengeringan Kayu Pengeringan kayu adalah suatu proses pengeluaran air dari dalam kayu hingga mencapai kadar air yang seimbang dengan lingkungan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Badan Standardisasi Nasional (2010) papan partikel merupakan

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Badan Standardisasi Nasional (2010) papan partikel merupakan TINJAUAN PUSTAKA Papan Partikel Menurut Badan Standardisasi Nasional (2010) papan partikel merupakan papan yang terbuat dari bahan berlignoselulosa yang dibuat dalam bentuk partikel dengan menggunakan

Lebih terperinci

PENGAWETAN KAYU. Eko Sri Haryanto, M.Sn

PENGAWETAN KAYU. Eko Sri Haryanto, M.Sn PENGAWETAN KAYU Eko Sri Haryanto, M.Sn PENGERTIAN Pengeringan kayu adalah suatu proses pengeluaran air dari dalam kayu hingga mencapai kadar air yang seimbang dengan lingkungan dimana kayu akan digunakan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian ini berlangsung di kebun manggis daerah Cicantayan Kabupaten Sukabumi dengan ketinggian 500 700 meter di atas permukaan laut (m dpl). Area penanaman manggis

Lebih terperinci

Struktur dan Konstruksi II

Struktur dan Konstruksi II Struktur dan Konstruksi II Modul ke: Material Struktur Bangunan Fakultas Teknik Christy Vidiyanti, ST., MT. Program Studi Teknik Arsitektur http://www.mercubuana.ac.id Cakupan Isi Materi Materi pertemuan

Lebih terperinci

BAB VI JENIS DAN KARAKTERISTIK JAMUR PENYEBAB PELAPUKAN PADA BANGUNAN RUMAH

BAB VI JENIS DAN KARAKTERISTIK JAMUR PENYEBAB PELAPUKAN PADA BANGUNAN RUMAH BAB VI JENIS DAN KARAKTERISTIK JAMUR PENYEBAB PELAPUKAN PADA BANGUNAN RUMAH Identifikasi Jamur Pelapuk Kayu Jamur pelapuk yang banyak menyerang bangunan rumah diisolasi dan diberi kode DE, SC dan PB. Jamur

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. sesuai dengan SNI no. 03 tahun 2002 untuk masing-masing pengujian. Kayu tersebut diambil

BAB III METODE PENELITIAN. sesuai dengan SNI no. 03 tahun 2002 untuk masing-masing pengujian. Kayu tersebut diambil BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Persiapan Penelitian Jenis kayu yang dipakai dalam penelitian ini adalah kayu rambung dengan ukuran sesuai dengan SNI no. 03 tahun 2002 untuk masing-masing pengujian. Kayu

Lebih terperinci

CARA TUMBUHAN MEMPERTAHANKAN DIRI DARI SERANGAN PATOGEN. Mofit Eko Poerwanto

CARA TUMBUHAN MEMPERTAHANKAN DIRI DARI SERANGAN PATOGEN. Mofit Eko Poerwanto CARA TUMBUHAN MEMPERTAHANKAN DIRI DARI SERANGAN PATOGEN Mofit Eko Poerwanto [email protected] Pertahanan tumbuhan Komponen pertahanan: 1. Sifat-sifat struktural yang berfungsi sebagai penghalang fisik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Jamur ini bersifat heterotrof dan saprofit, yaitu jamur tiram

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Jamur ini bersifat heterotrof dan saprofit, yaitu jamur tiram BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jamur tiram putih ( Pleurotus ostreatus ) atau white mushroom ini merupakan salah satu jenis jamur edibel yang paling banyak dan popular dibudidayakan serta paling sering

Lebih terperinci

II. PENGAWETAN IKAN DENGAN PENGGARAMAN & PENGERINGAN DINI SURILAYANI

II. PENGAWETAN IKAN DENGAN PENGGARAMAN & PENGERINGAN DINI SURILAYANI II. PENGAWETAN IKAN DENGAN PENGGARAMAN & PENGERINGAN DINI SURILAYANI 1. PENGERINGAN Pengeringan adalah suatu proses pengawetan pangan yang sudah lama dilakukan oleh manusia. Metode pengeringan ada dua,

Lebih terperinci

SANITASI DAN KEAMANAN

SANITASI DAN KEAMANAN SANITASI DAN KEAMANAN Sanitasi adalah.. pengendalian yang terencana terhadap lingkungan produksi, bahan bahan baku, peralatan dan pekerja untuk mencegah pencemaran pada hasil olah, kerusakan hasil olah,

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Perkembangan industri kelapa sawit yang cukup potensial sebagai penghasil devisa negara menyebabkan luas areal dan produksi kelapa sawit di Indonesia semakin meningkat. Sampai

Lebih terperinci

BAB 2 HUBUNGAN AIR DAN KAYU: AIR DI DALAM KAYU

BAB 2 HUBUNGAN AIR DAN KAYU: AIR DI DALAM KAYU BAB 2 HUBUNGAN AIR DAN KAYU: AIR DI DALAM KAYU 2.1. Perspektif Hubungan Kayu dan Air Hubungan antara air dan kayu dapat dilihat dari dua perspektif atau dua sudut pandang. Sudut pandang pertama dilakukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Banyaknya kegunaan kayu sengon menyebabkan limbah kayu dalam bentuk serbuk gergaji semakin meningkat. Limbah serbuk gergaji kayu menimbulkan masalah dalam penanganannya,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. meningkat. Hampir setiap produk menggunakan plastik sebagai kemasan atau

BAB I PENDAHULUAN. meningkat. Hampir setiap produk menggunakan plastik sebagai kemasan atau BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemajuan teknologi plastik membuat aktivitas produksi plastik terus meningkat. Hampir setiap produk menggunakan plastik sebagai kemasan atau bahan dasar. Material plastik

Lebih terperinci

BAB VII PEMBAHASAN MASALAH KERETAKAN PADA BETON. Beton merupakan elemen struktur bangunan yang telah dikenal dan banyak

BAB VII PEMBAHASAN MASALAH KERETAKAN PADA BETON. Beton merupakan elemen struktur bangunan yang telah dikenal dan banyak BAB VII PEMBAHASAN MASALAH KERETAKAN PADA BETON 7.1 Uraian Umum Beton merupakan elemen struktur bangunan yang telah dikenal dan banyak dimanfaatkan sampai saat ini. Beton banyak mengalami perkembangan,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL dan PEMBAHASAN A. HASIL 1. Laju pertumbuhan miselium Rata-rata Laju Perlakuan Pertumbuhan Miselium (Hari)

BAB IV HASIL dan PEMBAHASAN A. HASIL 1. Laju pertumbuhan miselium Rata-rata Laju Perlakuan Pertumbuhan Miselium (Hari) BAB IV HASIL dan PEMBAHASAN A. HASIL Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan selama satu bulan penanaman jamur tiram putih terhadap produktivitas (lama penyebaran miselium, jumlah badan buah dua kali

Lebih terperinci

PENGETAHUAN DASAR KAYU SEBAGAI BAHAN BANGUNAN

PENGETAHUAN DASAR KAYU SEBAGAI BAHAN BANGUNAN PENGETAHUAN DASAR KAYU SEBAGAI BAHAN BANGUNAN Pilihan suatu bahan bangunan tergantung dari sifat-sifat teknis, ekonomis, dan dari keindahan. Perlu suatu bahan diketahui sifat-sifat sepenuhnya. Sifat Utama

Lebih terperinci

Generated by Foxit PDF Creator Foxit Software For evaluation only. LAMPIRAN

Generated by Foxit PDF Creator Foxit Software  For evaluation only. LAMPIRAN LAMPIRAN 116 Lampiran 1 Suhu udara, kelembaban udara, curah hujan bulanan, dan jumlah hari hujan bulanan di kabupaten/ kota di Pulau Jawa Kabupaten / Kota Suhu ( o C) RH (%) Curah Hujan Bulanan (mm) Jumlah

Lebih terperinci

ANALISA EKONOMIS PERBANDINGAN KAPAL KAYU SISTEM LAMINASI DENGAN SISTEM KONVENSIONAL

ANALISA EKONOMIS PERBANDINGAN KAPAL KAYU SISTEM LAMINASI DENGAN SISTEM KONVENSIONAL ANALISA EKONOMIS PERBANDINGAN KAPAL KAYU SISTEM LAMINASI DENGAN SISTEM KONVENSIONAL Syahrizal & Johny Custer Teknik Perkapalan Politeknik Bengkalis Jl. Bathin Alam, Sei-Alam, Bengkalis-Riau [email protected]

Lebih terperinci

PASCA PANEN BAWANG MERAH

PASCA PANEN BAWANG MERAH PASCA PANEN BAWANG MERAH Oleh : Juwariyah BP3K Garum Indikator Keberhasilan : Setelah selesai mempelajari modul ini peserta diharapkan mampu : a. Menjelaskan kembali pelayuan dan pengeringan bawang merah

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi Tanaman Jengkol Klasifikasi tanaman jengkol dalam ilmu tumbuh-tumbuhan dimasukkan dalam klasifikasi sebagai berikut (Pitojo,1992). Divisi : Spermatophyta Kelas : Dicotyledonae

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. Indonesia terletak pada 6 08 LU sampai LS sehingga memiliki

BAB I. PENDAHULUAN. Indonesia terletak pada 6 08 LU sampai LS sehingga memiliki 1 BAB I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Indonesia terletak pada 6 08 LU sampai 11 15 LS sehingga memiliki iklim tropis lembab basah dengan ciri khas: curah hujan yang tinggi namun penguapan rendah, suhu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. Kebutuhan kayu yang semakin meningkat membutuhkan kenaikan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. Kebutuhan kayu yang semakin meningkat membutuhkan kenaikan BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Kebutuhan kayu yang semakin meningkat membutuhkan kenaikan pasokan bahan baku, baik dari hutan alam maupun hutan tanaman. Namun, produksi kayu dari hutan alam menurun

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 17 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Isolasi dan Seleksi Mikrob pada A. malaccensis Populasi bakteri dan fungi diketahui dari hasil isolasi dari pohon yang sudah menghasilkan gaharu. Sampel yang diambil merupakan

Lebih terperinci

Apa Itu UPVC? Keunggulan UPVC?

Apa Itu UPVC? Keunggulan UPVC? Apa Itu UPVC? UPVC adalah pengembangan dari Kusen PVC. Kusen PVC yang biasanya hanya digunakan sebagai material indoor, kurang kuat dan mudah patah. Namun tidak demikian halnya dengan UPVC. Material yang

Lebih terperinci

KESEHATAN DAN SANITASI LINGKUNGAN TIM PEMBEKALAN KKN UNDIKSHA 2018

KESEHATAN DAN SANITASI LINGKUNGAN TIM PEMBEKALAN KKN UNDIKSHA 2018 KESEHATAN DAN SANITASI LINGKUNGAN TIM PEMBEKALAN KKN UNDIKSHA 2018 PENYEBAB??? Status kesehatan suatu lingkungan yang mencakup perumahan, pembuangan kotoran, penyediaan air bersih dan sebagainya. Pentingnya

Lebih terperinci

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 75 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Perpustakaan BPHN merupakan perpustakaan khusus dalam bidang hukum. Namun, keberadaannya sebagai sebuah lembaga pembinaan hukum nasional dalam pemenuhan kebutuhan

Lebih terperinci

Jenis-jenis kayu untuk konstruksi Bangunan

Jenis-jenis kayu untuk konstruksi Bangunan Jenis-jenis kayu untuk konstruksi Bangunan Jenis-jenis kayu untuk konstruksi di proyek- Pada kesempatan ini saya akan berbagi informasi tentang Jenis-jenis kayu untuk konstruksi Bangunan Kayu adalah material

Lebih terperinci

TEKNIK PASCAPANEN UNTUK MENEKAN KEHILANGAN HASIL DAN MEMPERTAHANKAN MUTU KEDELAI DITINGKAT PETANI. Oleh : Ir. Nur Asni, MS

TEKNIK PASCAPANEN UNTUK MENEKAN KEHILANGAN HASIL DAN MEMPERTAHANKAN MUTU KEDELAI DITINGKAT PETANI. Oleh : Ir. Nur Asni, MS TEKNIK PASCAPANEN UNTUK MENEKAN KEHILANGAN HASIL DAN MEMPERTAHANKAN MUTU KEDELAI DITINGKAT PETANI Oleh : Ir. Nur Asni, MS Peneliti Madya Kelompok Peneliti dan Pengkaji Mekanisasi dan Teknologi Hasil Pertanian

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Alexopoulus dan Mims (1979), klasifikasi jamur C. cassiicola. : Corynespora cassiicola (Berk. & Curt.) Wei.

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Alexopoulus dan Mims (1979), klasifikasi jamur C. cassiicola. : Corynespora cassiicola (Berk. & Curt.) Wei. 19 TINJAUAN PUSTAKA Biologi Penyakit Menurut Alexopoulus dan Mims (1979), klasifikasi jamur C. cassiicola adalah sebagai berikut : Divisio Sub Divisio Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Eumycophyta : Eumycotina

Lebih terperinci

PERAWATAN DAN PEMELIHARAAN BANGUNAN GEDUNG

PERAWATAN DAN PEMELIHARAAN BANGUNAN GEDUNG Pertemuan ke-15 Materi Perkuliahan : Sistem perawatan dan pemeliharaan bangunan baik pada internal dan eksternal PERAWATAN DAN PEMELIHARAAN BANGUNAN GEDUNG Pemeliharan (maintenance) bangunan adalah sangat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sumberdaya air bersifat dinamis dalam kualitas dan kuantitas, serta dalam

BAB I PENDAHULUAN. Sumberdaya air bersifat dinamis dalam kualitas dan kuantitas, serta dalam 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan sumber kehidupan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Selain sebagai air minum, air juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan keperluan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1 perbandingan bahan Sifat Beton Baja Kayu. Homogen / Heterogen Homogen Homogen Isotrop / Anisotrop Isotrop Isotrop Anisotrop

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1 perbandingan bahan Sifat Beton Baja Kayu. Homogen / Heterogen Homogen Homogen Isotrop / Anisotrop Isotrop Isotrop Anisotrop BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Dunia konstruksi di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat. Saat ini, di berbagai tempat dibangun gedung-gedung betingkat, jembatan layang, jalan, dan

Lebih terperinci

Gambar 1.1. Tanaman Sagu Spesies Mitroxylon Sago

Gambar 1.1. Tanaman Sagu Spesies Mitroxylon Sago 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tanaman sagu (Metroxylon sago) merupakan tanaman yang tersebar di Indonesia, dan termasuk tumbuhan monokotil dari keluarga Palmae, marga Metroxylon, dengan ordo

Lebih terperinci

KAJIAN RUMAH PLASTIK PENGERING KOPRA KASUS DESA SIAW TANJUNG JABUNG TIMUR. Kiki Suheiti, Nur Asni, Endrizal

KAJIAN RUMAH PLASTIK PENGERING KOPRA KASUS DESA SIAW TANJUNG JABUNG TIMUR. Kiki Suheiti, Nur Asni, Endrizal KAJIAN RUMAH PLASTIK PENGERING KOPRA KASUS DESA SIAW TANJUNG JABUNG TIMUR Kiki Suheiti, Nur Asni, Endrizal Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jambi Jl. Samarinda Paal Lima Kota Baru Jambi 30128

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. (a) (b) (c) Gambar 10 (a) Bambu tali bagian pangkal, (b) Bambu tali bagian tengah, dan (c) Bambu tali bagian ujung.

BAB IV PEMBAHASAN. (a) (b) (c) Gambar 10 (a) Bambu tali bagian pangkal, (b) Bambu tali bagian tengah, dan (c) Bambu tali bagian ujung. 22 BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Sifat Anatomi Bambu 4.1.1 Bentuk Batang Bambu Bambu memiliki bentuk batang yang tidak silindris. Selain itu, bambu juga memiliki buku (node) yang memisahkan antara 2 ruas (internode).

Lebih terperinci

PROSES PENGAWETAN KAYU. 1. Persiapan Kayu untuk Diawetkan

PROSES PENGAWETAN KAYU. 1. Persiapan Kayu untuk Diawetkan PROSES PENGAWETAN KAYU 1. Persiapan Kayu untuk Diawetkan Tujuan dari persiapan kayu sebelum proses pengawetan adalah agar 1 ebih banyak atau lebih mudah bahan pengawet atau larutannya meresap ke dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kebutuhan energi semakin meningkat seiring dengan laju pertumbuhan

BAB I PENDAHULUAN. Kebutuhan energi semakin meningkat seiring dengan laju pertumbuhan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebutuhan energi semakin meningkat seiring dengan laju pertumbuhan penduduk. Sumber energi yang digunakan masih mengandalkan pada energi fosil yang merupakan sumber

Lebih terperinci

Sanitasi Penyedia Makanan

Sanitasi Penyedia Makanan Bab 6 Sanitasi Penyediaan Makanan Sanitasi Penyedia Makanan Sanitasi Jasa Boga Sanitasi Rumah Makan & Restoran Sanitasi Hotel Sanitasi Rumah Sakit Sanitasi Transportasi Penggolongan Jasa Boga Jasa boga

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Adapun klasifikasi Colletotrichum gloeosporioides Penz. Sacc. menurut. : Colletotrichum gloeosporioides Penz. Sacc.

TINJAUAN PUSTAKA. Adapun klasifikasi Colletotrichum gloeosporioides Penz. Sacc. menurut. : Colletotrichum gloeosporioides Penz. Sacc. TINJAUAN PUSTAKA Biologi Penyakit Adapun klasifikasi Colletotrichum gloeosporioides Penz. Sacc. menurut Dwidjoseputro (1978) sebagai berikut : Divisio Subdivisio Kelas Ordo Family Genus Spesies : Mycota

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Faktor Lingkungan Tumbuh Kelapa Sawit

TINJAUAN PUSTAKA. Faktor Lingkungan Tumbuh Kelapa Sawit TINJAUAN PUSTAKA Faktor Lingkungan Tumbuh Kelapa Sawit Tanaman kelapa sawit semula merupakan tanaman yang tumbuh liar di hutan-hutan maupun daerah semak belukar tetapi kemudian dibudidayakan. Sebagai tanaman

Lebih terperinci

Lampiran 1. Pengukuran tingkat penerapan Good Manufacturing Practice

Lampiran 1. Pengukuran tingkat penerapan Good Manufacturing Practice 113 LAMPIRAN 113 114 Lampiran 1. Pengukuran tingkat penerapan Good Manufacturing Practice 1 Lokasi Lokasi produksi harus jauh dari tempattempat yang menjadi sumber cemaran, seperti: tempat pembuangan sampah,

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Kayu-kayu dari hutan tanaman baik hutan tanaman industri (HTI) maupun hutan rakyat diperkirakan akan mendominasi pasar kayu pada masa mendatang seiring berkurangnya produktifitas

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Fakultas Kehutanan Univesitas Sumatera Utara Medan. mekanis kayu terdiri dari MOE dan MOR, kerapatan, WL (Weight loss) dan RS (

METODE PENELITIAN. Fakultas Kehutanan Univesitas Sumatera Utara Medan. mekanis kayu terdiri dari MOE dan MOR, kerapatan, WL (Weight loss) dan RS ( 12 METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2017 - Juni 2017. Penelitian dilakukan di Laboratorium Teknologi Hasil Hutan Fakultas Kehutanan, dan Workshop Fakultas

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR PENGARUH PERUBAHAN TEMPERATUR PENGERING TERHADAP KUALITAS KAYU SUREN, SENGON, DAN MAHONI

TUGAS AKHIR PENGARUH PERUBAHAN TEMPERATUR PENGERING TERHADAP KUALITAS KAYU SUREN, SENGON, DAN MAHONI TUGAS AKHIR PENGARUH PERUBAHAN TEMPERATUR PENGERING TERHADAP KUALITAS KAYU SUREN, SENGON, DAN MAHONI Tugas Akhir ini Disusun Guna Memperoleh Gelar Sarjana S-1 Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kondisi Umum Penelitian. Tabel 3. Pertumbuhan Aspergillus niger pada substrat wheat bran selama fermentasi Hari Fermentasi

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kondisi Umum Penelitian. Tabel 3. Pertumbuhan Aspergillus niger pada substrat wheat bran selama fermentasi Hari Fermentasi HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian Selama fermentasi berlangsung terjadi perubahan terhadap komposisi kimia substrat yaitu asam amino, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral, selain itu juga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Hasil hutan tidak hanya sekadar kayu tetapi juga menghasilkan buahbuahan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Hasil hutan tidak hanya sekadar kayu tetapi juga menghasilkan buahbuahan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hasil hutan tidak hanya sekadar kayu tetapi juga menghasilkan buahbuahan dan obat-obatan.namun demikian, hasil hutan yang banyak dikenal penduduk adalah sebagai sumber

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Morfologi Cabai

TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Morfologi Cabai 3 TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Morfologi Cabai Cabai (Capsicum annuum L.) termasuk dalam genus Capsicum yang spesiesnya telah dibudidayakan, keempat spesies lainnya yaitu Capsicum baccatum, Capsicum pubescens,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Botani Tanaman Bayam Bayam (Amaranthus sp.) merupakan tanaman semusim dan tergolong sebagai tumbuhan C4 yang mampu mengikat gas CO 2 secara efisien sehingga memiliki daya adaptasi

Lebih terperinci

PENGOLAHAN BUAH LADA

PENGOLAHAN BUAH LADA PENGOLAHAN BUAH LADA Oleh: Puji Lestari, S.TP Widyaiswara Pertama I. PENDAHULUAN Lada memiliki nama latin Piper nigrum dan merupakan family Piperaceae. Lada disebut juga sebagai raja dalam kelompok rempah

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN B. Tahapan Proses Pembuatan Papan Serat 1. Pembuatan Matras a. Pemotongan serat Serat kenaf memiliki ukuran panjang rata-rata 40-60 cm (Gambar 18), untuk mempermudah proses pembuatan

Lebih terperinci

PENGANTAR TENTANG KAYU

PENGANTAR TENTANG KAYU Kelompok 9 Anggota Kelompok : 1. Sugi Suryanto 20130110121 2. Badzli Zaki Tamami 20130110123 3. Ega Arief Anggriawan 20130110110 4. M Dede Dimas Wahyu 20130110125 5. Yusli Pandi 20130110112 6. Tanaka Dynasty

Lebih terperinci

Belajar Konstruksi Kayu Langsung dari Tukang Bangunan

Belajar Konstruksi Kayu Langsung dari Tukang Bangunan Belajar Konstruksi Kayu Langsung dari Tukang Bangunan 2 6 Juni 2015 Tidak semua orang tinggal di bangunan baru. Kebanyakan orang membeli rumah yang sudah pernah ditinggali oleh seseorang dan memutuskan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Broiler adalah ayam yang memiliki karakteristik ekonomis, memiliki

I. PENDAHULUAN. Broiler adalah ayam yang memiliki karakteristik ekonomis, memiliki 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Broiler adalah ayam yang memiliki karakteristik ekonomis, memiliki pertumbuhan cepat sebagai penghasil daging, konversi pakan sangat irit, siap dipotong pada

Lebih terperinci

III. DASAR PERENCANAAN

III. DASAR PERENCANAAN III. DASAR PERENCANAAN Persamaan kekuatan secara umum dapat dituliskan seperti pada Persamaan 3.1, dimana F u adalah gaya maksimum yang diakibatkan oleh serangkaian sistem pembebanan dan disebut pula sebagai

Lebih terperinci

SNI 2404:2015 dan SNI 2405:2015 SEBAGAI WUJUD IPTEK YANG BERKELANJUTAN UNTUK MENDUKUNG INFRASTRUKTUR BIDANG PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN YANG HANDAL

SNI 2404:2015 dan SNI 2405:2015 SEBAGAI WUJUD IPTEK YANG BERKELANJUTAN UNTUK MENDUKUNG INFRASTRUKTUR BIDANG PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN YANG HANDAL SNI 2404:2015 dan SNI 2405:2015 SEBAGAI WUJUD IPTEK YANG BERKELANJUTAN UNTUK MENDUKUNG INFRASTRUKTUR BIDANG PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN YANG HANDAL K E M E N T E R I A N P E K E R J A A N U M U M D A N P

Lebih terperinci

International Quality Waterproofing

International Quality Waterproofing International Quality Waterproofing Hidup di negara tropis, kita dihadapkan pada cuaca yang cukup ekstrim yang datang silih berganti, yaitu panas matahari yang terik dan curah hujan yang tinggi. Menghadapi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 24 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Sifat Fisis Data hasil pengujian sifat fisis kayu jabon disajikan pada Tabel 4 sementara itu untuk analisis sidik ragam pada selang kepercayaan 95% ditampilkan dalam

Lebih terperinci

OPTIMASI KADAR HIDROGEN PEROKSIDA DAN FERO SULFAT

OPTIMASI KADAR HIDROGEN PEROKSIDA DAN FERO SULFAT VI. OPTIMASI KADAR HIDROGEN PEROKSIDA DAN FERO SULFAT Pendahuluan Penelitian pada tahapan ini didisain untuk mengevaluasi sifat-sifat papan partikel tanpa perekat yang sebelumnya diberi perlakuan oksidasi.

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kitin dan Bakteri Kitinolitik Kitin adalah polimer kedua terbanyak di alam setelah selulosa. Kitin merupakan komponen penyusun tubuh serangga, udang, kepiting, cumi-cumi, dan

Lebih terperinci

ke segala arah dan melepaskan panas pada malam hari. cukup pesat. Luas wilayah kota Pematangsiantar adalah km 2 dan

ke segala arah dan melepaskan panas pada malam hari. cukup pesat. Luas wilayah kota Pematangsiantar adalah km 2 dan Kota memiliki keterbatasan lahan, namun pemanfaatan lahan kota yang terus meningkat mengakibatkan pembangunan kota sering meminimalkan ruang terbuka hijau. Lahan-lahan pertumbuhan banyak yang dialihfungsikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Industri pengolahan kayu yang semakin berkembang menyebabkan

BAB I PENDAHULUAN. Industri pengolahan kayu yang semakin berkembang menyebabkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Industri pengolahan kayu yang semakin berkembang menyebabkan ketidakseimbangan antara pasokan dan kebutuhan bahan baku kayu. Menurut Kementriaan Kehutanan (2014), data

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. Kayu memiliki berat jenis yang berbeda-beda berkisar antara

BAB III LANDASAN TEORI. Kayu memiliki berat jenis yang berbeda-beda berkisar antara BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Berat Jenis dan Kerapatan Kayu Kayu memiliki berat jenis yang berbeda-beda berkisar antara 0.2-1.28 kg/cm 3. Berat jenis kayu merupakan suatu petunjuk dalam menentukan kekuatan

Lebih terperinci

Macam Kayu Menurut Susunannya. Pengetahuan Bahan

Macam Kayu Menurut Susunannya. Pengetahuan Bahan Macam Kayu Menurut Susunannya Pengetahuan Bahan Bagian Melintang Permukaan Kayu KAYU MASAK Gambar ini menunjukkan pohon yang mempunyai kayu gubal dan kayu teras, dengan nama lain pohon kayu teras Perbedaan

Lebih terperinci

1 BAB I PENDAHULUAN. mungkin memiliki keseimbangan antara sistem pembangkitan dan beban, sehingga

1 BAB I PENDAHULUAN. mungkin memiliki keseimbangan antara sistem pembangkitan dan beban, sehingga 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Teknik tenaga listrik sudah mengalami kemajuan yang cukup signifikan dalam sistem penyaluran tenaga listrik. Namun, masih ada daerah yang masih sulit dijangkau

Lebih terperinci

Dasar-Dasar Rumah Sehat KATA PENGANTAR

Dasar-Dasar Rumah Sehat KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR Guna menunjang program pemerintah dalam penyediaan infrastruktur perdesaan, Puslitbang Perumahan dan Permukiman, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. menjadi tegas, kering, berwarna terang segar bertepung. Lembab-berdaging jenis

TINJAUAN PUSTAKA. menjadi tegas, kering, berwarna terang segar bertepung. Lembab-berdaging jenis 16 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Ada 2 tipe akar ubi jalar yaitu akar penyerap hara di dalam tanah dan akar lumbung atau umbi. Menurut Sonhaji (2007) akar penyerap hara berfungsi untuk menyerap unsur-unsur

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. perabot rumah tangga, rak, lemari, penyekat dinding, laci, lantai dasar, plafon, dan

TINJAUAN PUSTAKA. perabot rumah tangga, rak, lemari, penyekat dinding, laci, lantai dasar, plafon, dan TINJAUAN PUSTAKA A. Papan Partikel A.1. Definisi papan partikel Kayu komposit merupakan kayu yang biasa digunakan dalam penggunaan perabot rumah tangga, rak, lemari, penyekat dinding, laci, lantai dasar,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penelitian Pendahuluan Pengeringan yang dilakukan dua kali dalam penelitian ini bertujuan agar pengeringan pati berlangsung secara merata. Setelah dikeringkan dan dihaluskan

Lebih terperinci

Rumah Sehat. edited by Ratna Farida

Rumah Sehat. edited by Ratna Farida Rumah Sehat edited by Ratna Farida Rumah Adalah tempat untuk tinggal yang dibutuhkan oleh setiap manusia dimanapun dia berada. * Rumah adalah struktur fisik terdiri dari ruangan, halaman dan area sekitarnya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Iklim merupakan faktor yang sangat penting dalam kehidupan di bumi. Dimana Iklim secara langsung dapat mempengaruhi mahluk hidup baik manusia, tumbuhan dan hewan di dalamnya

Lebih terperinci

STAF LAB. ILMU TANAMAN

STAF LAB. ILMU TANAMAN STAF LAB. ILMU TANAMAN Suhu Suhu merupakan faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman Suhu berkorelasi positif dengan radiasi mata hari Suhu: tanah maupun udara disekitar

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

BAHAN DAN METODE PENELITIAN BAHAN DAN METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2011 di lahan percobaan Fakulas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Bahan dan Alat Penelitian Adapun

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kerusakan hutan alam di Indonesia periode antara tahun 1985-1997 mencapai 1,6 juta ha setiap tahunnya. Pada periode antara tahun 1997-2000 kerusakan hutan mencapai rata-rata

Lebih terperinci

I. TINJAUAN PUSTAKA. A. Botani dan Morfologi Jamur Tiram. Dari segi botani, jamur tiram termasuk jenis jamur kayu yang mudah

I. TINJAUAN PUSTAKA. A. Botani dan Morfologi Jamur Tiram. Dari segi botani, jamur tiram termasuk jenis jamur kayu yang mudah I. TINJAUAN PUSTAKA A. Botani dan Morfologi Jamur Tiram Dari segi botani, jamur tiram termasuk jenis jamur kayu yang mudah dibudidayakan. Jamur tiram termasuk familia Agaricaceae atau Tricholomataceae

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Colletotrichum capsici dan Fusarium oxysporum merupakan fungi

BAB I PENDAHULUAN. Colletotrichum capsici dan Fusarium oxysporum merupakan fungi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Colletotrichum capsici dan Fusarium oxysporum merupakan fungi patogen tular tanah (Yulipriyanto, 2010) penyebab penyakit pada beberapa tanaman family Solanaceae

Lebih terperinci

Kayu lapis untuk kapal dan perahu

Kayu lapis untuk kapal dan perahu Standar Nasional Indonesia Kayu lapis untuk kapal dan perahu ICS 79.060.10 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah, definisi,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Jati Tectona grandis Linn. f. atau jati merupakan salah satu tumbuhan yang masuk dalam anggota famili Verbenaceae. Di Indonesia dikenal juga dengan nama deleg, dodolan, jate,

Lebih terperinci

MATERI KESEHATAN LINGKUNGAN

MATERI KESEHATAN LINGKUNGAN MATERI KESEHATAN LINGKUNGAN TEMPAT PENGOLAHAN MAKANAN dr. Tutiek Rahayu,M.Kes [email protected] TEMPAT PENGOLAHAN MAKANAN 1 syarat LOKASI KONSTRUKSI Terhindar dari Bahan Pencemar (Banjir, Udara) Bahan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 19 4.1. Sifat Fisis IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat fisis papan laminasi pada dasarnya dipengaruhi oleh sifat bahan dasar kayu yang digunakan. Sifat fisis yang dibahas dalam penelitian ini diantaranya adalah

Lebih terperinci

PANEN DAN PASCAPANEN JAGUNG

PANEN DAN PASCAPANEN JAGUNG PANEN DAN PASCAPANEN JAGUNG Oleh : Sugeng Prayogo BP3KK Srengat Penen dan Pasca Panen merupakan kegiatan yang menentukan terhadap kualitas dan kuantitas produksi, kesalahan dalam penanganan panen dan pasca

Lebih terperinci

BAB XIII PENGECATAN A.

BAB XIII PENGECATAN A. BAB XIII PENGECATAN A. Pekerjaan Pengecatan Pada saat melakukan pengecatan baik itu tembok lama maupun baru, hal pertama yang harus dilakukan adalah memilih warna yang sesuai dengan fungsi dinding yang

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Pengaruh Media terhadap Pertambahan biomassa Cacing Tanah Eudrilus eugeniae.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Pengaruh Media terhadap Pertambahan biomassa Cacing Tanah Eudrilus eugeniae. Pertambahan bobot (gram) BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pengaruh Media terhadap Pertambahan biomassa Cacing Tanah Eudrilus eugeniae. Pengambilan data pertambahan biomassa cacing tanah dilakukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi dan kemajuan industri yang semakin berkembang pesat memacu peningkatan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi dan kemajuan industri yang semakin berkembang pesat memacu peningkatan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi dan kemajuan industri yang semakin berkembang pesat memacu peningkatan pembangunan disegala sektor kehidupan, seiring dengan peningkatan

Lebih terperinci

PENGUJIAN KARAKTERISTIK MEKANIK GENTENG

PENGUJIAN KARAKTERISTIK MEKANIK GENTENG TUGAS AKHIR PENGUJIAN KARAKTERISTIK MEKANIK GENTENG Disusun : YULLI ARIYADI NIM : D.200.02.0067 NIRM : 02.6.106.03030.50067 JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA Juni

Lebih terperinci

RUMAH SEHAT. Oleh : SUYAMDI, S.H, M.M Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Karanganyar

RUMAH SEHAT. Oleh : SUYAMDI, S.H, M.M Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Karanganyar RUMAH SEHAT Oleh : SUYAMDI, S.H, M.M Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Karanganyar Pengertian Rumah Rumah Adalah tempat untuk tinggal yang dibutuhkan oleh setiap manusia dimanapun dia berada. * Rumah adalah

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Ordo : Liliales ; Famili : Liliaceae ; Genus : Allium dan Spesies : Allium

TINJAUAN PUSTAKA. Ordo : Liliales ; Famili : Liliaceae ; Genus : Allium dan Spesies : Allium 14 TINJAUAN PUSTAKA Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Dalam dunia tumbuhan, tanaman bawang merah diklasifikasikan dalam Divisi : Spermatophyta ; Sub Divisi : Angiospermae ; Class : Monocotylodenae ;

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Secara keseluruhan daerah tempat penelitian ini didominasi oleh Avicennia

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Secara keseluruhan daerah tempat penelitian ini didominasi oleh Avicennia BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi umum daerah Wonorejo Kawasan mangrove di Desa Wonorejo yang tumbuh secara alami dan juga semi buatan telah diputuskan oleh pemerintah Surabaya sebagai tempat ekowisata.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum 13 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Curah hujan harian di wilayah Kebun Percobaan PKBT IPB Tajur 1 dan 2 pada Februari sampai Juni 2009 berkisar 76-151 mm. Kelembaban udara harian rata-rata kebun tersebut

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. bekas tambang, dan pohon peneduh. Beberapa kelebihan tanaman jabon

TINJAUAN PUSTAKA. bekas tambang, dan pohon peneduh. Beberapa kelebihan tanaman jabon TINJAUAN PUSTAKA Jabon (Anthocephalus cadamba) merupakan salah satu jenis tumbuhan lokal Indonesia yang berpotensi baik untuk dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman maupun untuk tujuan lainnya, seperti

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Botani

TINJAUAN PUSTAKA Botani 3 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman mentimun berasal dari kaki pegunungan Himalaya. Domestikasi dari tanaman liar ini berasal dari India utara dan mencapai Mediterania pada 600 SM. Tanaman ini dapat tumbuh

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Jagung (Zea mays) adalah tanaman semusim yang berasal dari Amerika

II. TINJAUAN PUSTAKA. Jagung (Zea mays) adalah tanaman semusim yang berasal dari Amerika 4 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tanaman jagung Jagung (Zea mays) adalah tanaman semusim yang berasal dari Amerika Tengah (Meksiko Bagian Selatan). Budidaya jagung telah dilakukan di daerah ini, lalu teknologi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. jenis pohon, tempat tumbuh, dan iklim tempat tumbuh menghasilkan pohon

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. jenis pohon, tempat tumbuh, dan iklim tempat tumbuh menghasilkan pohon BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 LATAR BELAKANG Kayu adalah suatu bahan yang dihasilkan oleh pohon pohonan. Perbedaan jenis pohon, tempat tumbuh, dan iklim tempat tumbuh menghasilkan pohon pohonan yang sangat

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Kondisi lingkungan tumbuh yang digunakan pada tahap aklimatisasi ini, sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan planlet Nepenthes. Tjondronegoro dan Harran (1984) dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kering tidak lebih dari 6 bulan (Harwood et al., 1997). E. pellita memiliki

BAB I PENDAHULUAN. kering tidak lebih dari 6 bulan (Harwood et al., 1997). E. pellita memiliki BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Eucalyptus pellita F. Muell (E. pellita) merupakan spesies cepat tumbuh yang mampu beradaptasi dengan lingkungan tropis yang lembab dengan musim kering tidak lebih

Lebih terperinci

Jurnal Ilmu dan Teknilogi Hasil Hutan 3(1): (2010)

Jurnal Ilmu dan Teknilogi Hasil Hutan 3(1): (2010) 26 BIODETERIORASI KOMPONEN KAYU RUMAH DI BEBERAPA DAERAH YANG BERBEDA SUHU DAN KELEMBABANNYA Biodeterioration of Wooden House Components in Some Places with Different Temperature and Humidity Trisna PRIADI

Lebih terperinci