BUPATI POLEWALI MANDAR PROVINSI SULAWESI BARAT

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BUPATI POLEWALI MANDAR PROVINSI SULAWESI BARAT"

Transkripsi

1

2

3 BUPATI POLEWALI MANDAR PROVINSI SULAWESI BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN POLEWALI MANDAR NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN POLEWALI MANDAR TAHUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI POLEWALI MANDAR, Menimbang : a. bahwa berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, rencana pembangunan jangka menengah untuk jangka waktu lima tahun merupakan penjabaran visi, misi dan program Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dengan memperhatikan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN); b. bahwa berdasarkan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) ditetapkan dengan Peraturan Daerah paling lama 6 (enam) bulan setelah Kepala Daerah dilantik; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a, dan huruf b, maka perlu menetapkan Peraturan Daerah tentang Rencana ii

4 Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Polewali Mandar Tahun ; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); 2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); 3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); 4. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2004 tentang Pembentukan Provinsi Sulawesi Barat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 105, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4422); 5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 6. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); iii

5 7. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700); 8. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725); 9. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234); 10. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578); 11. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2005 tentang Perubahan Nama Kabupaten Polewali Mamasa Menjadi Kabupaten Polewali Mandar (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 160); 12. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); 13. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 19, Tambahan iv

6 Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4815); 14. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817); 15. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833); 16. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tugas dan Wewenang serta Kedudukan Keuangan Gubernur Sebagai Wakil Pemerintah di Wilayah Provinsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 44, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5209); 17. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun ; 18. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 310); 19. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 517); v

7 20. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 927); 21. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Kajian Lingkungan Hidup Strategis Dalam Penyusunan Atau Evaluasi Rencana Pembangunan Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 994); 22. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Barat Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Sulawesi Barat Tahun (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2010 Nomor 05); 23. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Barat Nomor 01 Tahun 2013 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Sulawesi Barat Tahun (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2013 Nomor 01); 24. Peraturan Daerah Kabupaten Polewali Mandar Nomor 4 Tahun 2012 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Polewali Mandar Tahun (Lembaran Daerah Kabupaten Polewali Mandar Tahun 2012 Nomor 4); 25. Peraturan Daerah Kabupaten Polewali Mandar Nomor 2 Tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Polewali Mandar Tahun (Lembaran Daerah Kabupaten Polewali Mandar Tahun 2013 Nomor 2). vi

8 Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN POLEWALI MANDAR dan BUPATI POLEWALI MANDAR MEMUTUSKAN : Menetapkan : P E R AT U R A N D A E R A H T E N TA N G R E N C A N A PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN POLEWALI MANDAR TAHUN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini, yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kabupaten Polewali Mandar. 2. Bupati adalah Bupati Polewali Mandar. 3. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan perangkat daerah sebagi unsur penyelenggara pemerintahan daerah. 4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, selanjutnya disingkat DPRD, adalah DPRD Kabupaten Polewali Mandar. 5. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Polewali Mandar. 7. Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. vii

9 8. Pembangunan Daerah adalah pemanfaatan sumber daya yang dimiliki untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat yang nyata, baik dalam aspek pendapatan, kesempatan kerja, lapangan berusaha, akses terhadap pengambilan kebijakan, berdaya saing, maupun peningkatan indeks pembangunan manusia. 9. Perencanaan Pembangunan Daerah adalah suatu proses penyusunan tahapan-tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan didalamnya, guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber daya yang ada dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial dalam suatu lingkungan wilayah/daerah dalam jangka waktu tertentu. 10. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun yang selanjutnya disebut RPJPN adalah dokumen Perencanaan Pembangunan Nasional untuk periode 20 (dua puluh) tahun terhitung sejak tahun 2005 sampai dengan tahun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun yang selanjutnya disebut RPJMN adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional untuk periode 5 (lima) tahunan. 12. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Sulawesi Barat Tahun yang selanjutnya disebut RPJPD Sulawesi Barat adalah dokumen perencanaan pembangunan daerah Provinsi Sulawesi Barat untuk periode 20 (dua puluh) tahun. 13. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Sulawesi Barat Tahun yang selanjutnya disebut RPJMD Sulawesi Barat adalah dokumen perencanaan pembangunan daerah Provinsi Sulawesi Barat untuk periode 5 (lima) tahunan. 14. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Polewali Mandar Tahun yang selanjutnya disebut RPJPD Polewali Mandar adalah dokumen perencanaan pembangunan daerah Kabupaten Polewali Mandar untuk periode 20 (dua puluh) tahun. 15. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Polewali Mandar yang selanjutnya disebut RPJMD Polewali Mandar adalah dokumen perencanaan pembangunan daerah Kabupaten Polewali Mandar untuk periode 5 (lima) tahunan yang merupakan penjabaran dari visi, misi dan program Bupati/Wakil Bupati dengan berpedoman pada RPJPD dan RTRW Kabupaten serta memperhatikan RPJMN, RPJMD Provinsi, RPJMD dan RTRW kabupaten lainnya. 16. Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Polewali viii

10 Mandar yang selanjutnya disebut Renstra SKPD adalah dokumen perencanaan SKPD untuk periode 5 (lima) tahun. 17. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Kabupaten Polewali Mandar yang selanjutnya disebut RKPD adalah dokumen perencanaan untuk periode 1 (satu) tahun atau disebut dengan rencana pembangunan tahunan daerah. 18. Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Polewali Mandar yang selanjutnya disebut Renja SKPD adalah dokumen perencanaan SKPD untuk periode 1 (satu) tahun. 19. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Polewali Mandar yang selanjutnya disebut RTRW Kabupaten adalah hasil perencanaan tata ruang wilayah yang mengatur struktur dan pola ruang Kabupaten Polewali Mandar. 20. Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. 21. Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. 22. Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. 23. Kebijakan adalah arah atau tindakan yang diambil oleh Pemerintah Daerah untuk mewujudkan tujuan. 24. Program adalah instrumen kebijakan yang berisi 1 (satu) atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh SKPD untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran, atau kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh SKPD. 25. Kabupaten lainnya adalah kabupaten lainnya yang ditetapkan sebagai satu kesatuan wilayah pembangunan dan/atau yang memiliki hubungan keterkaitan atau pengaruh dalam pelaksanaan pembangunan. 26. Bersifat indikatif adalah bahwa data dan informasi, baik tentang sumber daya yang diperlukan maupun keluaran dan dampak yang tercantum didalam dokumen rencana, hanya merupakan indikasi yang hendak dicapai dan tidak kaku. 27. Pemangku kepentingan adalah pihak-pihak yang langsung atau tidak langsung mendapatkan manfaat atau dampak dari perencanaan dan pelaksanaan pembangunan daerah. ix

11 BAB II KEDUDUKAN RPJMD Pasal 2 RPJMD Kabupaten Polewali Mandar Tahun merupakan : a. Penjabaran dari visi, misi dan program Bupati dan Wakil Bupati ke dalam arah kebijakan keuangan daerah, tujuan dan sasaran, strategi pembangunan daerah, kebijakan umum, dan program prioritas pembangunan daerah dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. b. Dokumen perencanaan pembangunan daerah yang memberikan arah sekaligus acuan bagi seluruh komponen pelaku pembangunan daerah dalam mewujudkan pembangunan daerah yang berkesinambungan. BAB III MAKSUD DAN TUJUAN Pasal 3 Maksud dan tujuan penetapan RPJMD adalah untuk menetapkan pedoman perencanaan pembangunan daerah sebagai acuan dalam : a. Penyusunan Renstra SKPD, RKPD, Renja SKPD dan perencanaan penganggaran; b. Mewujudkan perencanaan pembangunan daerah yang sinergis dan terpadu antara perencanaan pembangunan Nasional, Provinsi dan Kabupaten serta dengan Kabupaten yang berbatasan. BAB IV SISTEMATIKA RPJMD Pasal 4 (1) Sistematika RPJMD terdiri dari : BAB I : PENDAHULUAN BAB II : GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH BAB III : GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN BAB IV : ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS BAB V : VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN BAB VI : STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VII : KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH BAB VIII : INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS YANG DISERTAI x

12 KEBUTUHAN PENDANAAN BAB IX : PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH BAB X : PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN (2) Isi dan uraian RPJMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tecantum dalam lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.` BAB V PENGENDALIAN DAN EVALUASI Pasal 5 (1) Pemerintah Daerah melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap pelaksanaan RPJMD Kabupaten Polewali Mandar Tahun (2) Tata cara pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJMD Kabupaten Polewali Mandar Tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1), mengacu pada peraturan yang berlaku. BAB VI KETENTUAN PENUTUP Pasal 6 Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut oleh Bupati. Pasal 7 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Polewali Mandar. xi

13 Ditetapkan di Polewali pada tanggal 3 Juli 2014 BUPATI POLEWALI MANDAR, ANDI IBRAHIM MASDAR Diundangkan di Polewali pada tanggal 7 Juli 2014 SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN POLEWALI MANDAR, ISMAIL, AM LEMBARAN DAERAH KABUPATEN POLEWALI MANDAR TAHUN 2014 NOMOR 1 NOREG PERATURAN DAERAH KABUPATEN POLEWALI MANDAR, PROVINSI SULAWESI BARAT : (NOMOR 7/TAHUN 2014) xii

14 PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN POLEWALI MANDAR NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN POLEWALI MANDAR TAHUN I. UMUM Bahwa dalam rangka memberikan arah dan tujuan pembangunan daerah sesuai dengan visi, misi Bupati dan Wakil Bupati, dan berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah serta Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2012 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Polewali Mandar Tahun , maka perlu disusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar Tahun untuk kurun waktu 5 (lima) tahun mendatang. RPJMD Kabupaten Polewali Mandar merupakan penjabaran visi, misi dan program Bupati dan Wakil Bupati untuk jangka waktu 5 tahun yaitu sejak tahun 2014 sampai dengan tahun 2019, yang penyusunannya berpedoman pada RPJPD dan RTRW Kabupaten, serta memperhatikan RPJMN, RPJMD Provinsi, RPJMD dan RTRW Kabupaten lainnya. RPJMD Kabupaten Polewali Mandar ini, memuat arah kebijakan keuangan daerah, tujuan dan sasaran pembangunan daerah, strategi pembangunan daerah, kebijakan umum, dan program prioritas pembangunan daerah dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. RPJMD digunakan sebagai pedoman dalam penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) yaitu dokumen perencanaan daerah untuk periode 1 (satu) tahun yang memuat kerangka ekonomi daerah, program prioritas pembangunan daerah, rencana kerja dan pendanaanya, baik yang dilaksanakan langsung oleh Pemerintah Daerah maupun ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. Berdasarkan ketentuan Pasal 150 ayat (3) huruf e dan Pasal 15 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, RPJMD ditetapkan dengan Peraturan Daerah dan ditetapkan paling lama 6 (enam) bulan setelah Kepala Daerah dilantik. xiii

15 II. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Istilah-istilah dalam pasal ini dimaksudkan untuk mencegah timbulnya salah tafsir dan salah pengertian dalam memahami dan melaksanakan pasal-pasal dalam Peraturan Daerah ini. Pasal 2 Huruf a - Yang dimaksud dengan visi, misi dan program Bupati dan Wakil Bupati dalam pasal ini adalah merupakan keadaan masa depan yang diharapkan dan berbagai upaya yang akan dilakukan melalui program-program pembangunan yang ditawarkan oleh Bupati dan Wakil Bupati terpilih. - Yang dimaksud dengan arah kebijakan keuangan daerah dalam pasal ini adalah merupakan pedoman dan gambaran dari pelaksanaan hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah. - Yang dimaksud dengan strategi pembangunan daerah dalam pasal ini adalah merupakan langkah-langkah berisikan programprogram indikatif untuk mewujudkan visi dan misi dalam rangka pemanfaatan sumber daya yang dimiliki, untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat yang nyata baik dalam aspek pendapatan, kesempatan kerja, lapangan berusaha, akses terhadap pengambilan kebijakan, berdaya saing, maupun peningkatan indeks pembangunan manusia. - Yang dimaksud dengan kebijakan umum dalam pasal ini adalah memberikan arah perumusan rencana program prioritas pembangunan yang disertai kerangka pengeluaran jangka menengah daerah dan menjadi pedoman bagi SKPD dalam menyusun program dan kegiatan Renstra SKPD. Huruf b Cukup jelas. Pasal 3 Cukup jelas. Pasal 4 Cukup jelas. xiv

16 Pasal 5 Ayat (1) Ayat (2) Pasal 6 Pasal 7 - Pengendalian terhadap pelaksanaan RPJMD dimaksudkan untuk menjamin tercapainya tujuan dan sasaran pembangunan yang tertuang dalam RPJMD. - Evaluasi terhadap pelaksanaan RPJMD adalah bagian dari kegiatan perencanaan pembangunan yang secara sistematis mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi untuk menilai pencapaian sasaran, tujuan dan kinerja pembangunan. Cukup jelas. Cukup jelas. Cukup jelas. TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN POLEWALI MANDAR TAHUN 2014 NOMOR 10 xv

17 BUPATI POLEWALI MANDAR KATA PENGANTAR Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan yang Maha Kuasa, karena atas segala limpahan rahmat dan hidayah-nya sehingga penyusunan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar Tahun dapat diselesaikan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Penyusunan RPJMD Kabupaten Polewali Mandar Tahun didasarkan kepada Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008, serta Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah. Tujuan penyusunan RPJMD adalah untuk memberikan arah bagi perencanaan dan pelaksanaan pembangunan selama 5 (lima) tahun ke depan. Secara umum materi RPJMD bersisi tentang visi, misi, tujuan, sasaran dan program Kepala Daerah. Sehingga RPJMD Kabupaten Polewali Mandar ini menjadi pedoman bagi seluruh pemangku kepentingan, baik itu pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, maupun dunia usaha dalam mewujudkan Visi dan Misi Kabupaten Polewali Mandar Tahun secara sinergis, koordinatif dan saling melengkapi. Harapan kami dalam mengemban amanah sebagai Bupati dan Wakil Bupati Polewali Mandar masa bakti adalah mengajak seluruh pemangku kepentingan secara bersama-sama berbuat untuk membenahi dan mensejahterakan masyarakat Polewali Mandar secara lahir dan batin. Dengan bekerja keras dan dengan ketulusan hati serta penuh rasa tanggung jawab Insya Allah kita dapat mewujudkan Visi : Terwujudnya Pembangunan yang Merata dan Berkeadilan Menuju Masyarakat Polewali Mandar yang Sejahtera''. xvi

18 Sebagai penutup, saya menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada DPRD Polewali Mandar dan semua pihak yang telah membantu penyusunan dokumen RPJMD ini. Semoga segala upaya yang mulia dari kita dalam menata pembangunan Polewali Mandar ke depan selalu mendapatkan bimbingan dan ridho Allah SWT, sehingga membuahkan hasil yang berdaya guna dan memberikan maslahat bagi masyarakat Polewali Mandar. Polewali, 4 Juli 2014 BUPATI POLEWALI MANDAR ANDI IBRAHIM MASDAR xvii

19 DAFTAR ISI Kata Pengantar...xvi Daftar Isi...xviii Daftar Tabel...xx Daftar Grafik...xxviii Daftar Gambar...xxx BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Landasan Hukum Hubungan Antar Dokumen Sistematika Penulisan Maksud dan Tujuan...8 BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Aspek Geografi dan Demografi Karakteristik Lokasi dan Wilayah Potensi Pengembangan Wilayah Wilayah Rawan Bencana Demografi Aspek Kesejahteraan Masyarakat Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi Fokus Kesejahteraan Sosial Fokus Seni Budaya dan Olahraga Aspek Pelayanan Umum Fokus Layanan Urusan Wajib Fokus Layanan Urusan Pilihan Aspek Daya Saing Daerah Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah Fokus Fasilitas Wilayah/ Infrastruktur Fokus Iklim Berinvestasi Fokus Sumber Daya Manusia BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN Kinerja Keuangan Masa Lalu Kinerja Pelaksanaan APBD Neraca Daerah Kebijakan Pengelolaan Keuangan Masa Lalu Kebijakan Pendapatan Daerah Kebijakan Belanja Daerah xviii

20 3.2.3 Kebijakan Pembiayaan Daerah Kerangka Pendanaan Analisis Pengeluaran Periodik Wajib dan Mengikat Serta Prioritas Utama Analisis Proyeksi Data BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS Permasalahan Pembangunan Daerah Isu Strategis BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN Visi Misi Tujuan dan Sasaran BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH BAB VIII INDIKASI RENCANA PROGRAM YANG DISERTAI KERANGKA PENDANAAN BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH BAB X PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN Pedoman Transisi Kaidah Pelaksanaan xix

21 DAFTAR TABEL BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Tabel 2.1 Luas Wilayah Menurut Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.2 Letak Geografi dan Ketinggian dari Permukaan Laut Menurut Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.3 Luas Penyebaran Kelas Topografi dan Kelas Lereng Kabupaten Polewali Mandar...15 Tabel 2.4 DAS (Daerah Aliran Sungai) Kabupaten Polewali Mandar...16 Tabel 2.5 Jumlah Curah Hujan Menurut Bulan (dalam mm) Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.6 Luas Lahan Sawah dan Bukan Sawah Menurut Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.7 Produksi Buah Buahan Kabupaten Polewali Mandar (Ton), Tabel 2.8 Kriteria Kesesuaian Lahan Untuk Perkebunan...21 Tabel 2.9 Jumlah Ternak yang Keluar dari Kabupaten Polewali Mandar (Ekor), Tabel 2.10 Produksi Perikanan Tangkap Komoditi Andalan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.11 Produksi Perikanan Budidaya dan Rumput Laut Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.12 Infrastruktur (Jalan, Jembatan dan Irigasi) Tambak Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.13 Nama Perusahaan, Jenis Izin dan Lokasi Tambang Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.14 Jumlah Perusahaan, Tenaga Kerja Industri Kecil dan NilaiProduksi Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.15 Jumlah Bencana Alam Menurut Jenis Bencana (dalamkk) Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.16 Titik Evakuasi Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.17 Jumlah Laki-Laki dan Perempuan Menurut Umur Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.18 Sumber Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Polewali Mandar (persen), xx

22 Tabel 2.19 Perkembangan Jumlah Pasar Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.20 Distribusi PDRB Kabupaten Polewali Mandar Atas Dasar Harga Berlaku, Tabel 2.21 Distribusi PDRB Kabupaten Polewali Mandar Atas Dasar Harga Konstan, Tabel 2.22 Jumlah Organisasi Kesenian dan Pemuda Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.23 Jumlah Kegiatan Pemuda Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.24 APK Anak Usia 0 6 tahun Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.25 Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.26 Angka Partisipasi Sekolah (APS) Menurut Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.27 Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.28 Jumlah Guru dan Murid Pendidikan Dasar Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.29 Jumlah dan Rasio Rumah Sakit Per Jumlah Penduduk Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.30 Jumlah Tenaga Medis Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.31 Jumlah Dokter Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.32 Jumlah Dokter umum Menurut Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.33 Jumlah Tenaga Non-Medis Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.34 Jumlah Tenaga Non-Medis Menurut KecamatanKabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.35 Jumlah Lahir Hidup, Jumlah Kematian Bayi, AKB dan AKHB Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.36 Jumlah Lahir Hidup, Jumlah Kematian Bayi, AKB dan AKHB Menurut Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.37 Jumlah Posyandu dan Balita Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.38 Jumlah Posyandu dan Balita Menurut Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.39 Jumlah Puskesmas, Poliklinik dan Pustu Kabupaten Polewali Mandar, xxi

23 Tabel 2.40 Jumlah Puskesmas, Poliklinik dan Pustu Menurut Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.41 Panjang Jalan Keseluruhan Berdasarkan Kondisi Jalan (Km) Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.42 Rasio Jaringan Irigasi Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.43 Jumlah Tempat Ibadah dan Jumlah Pemeluk Agama Menurut Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.44 Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.45 Indikator Perumahan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.46 Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah Perkotaan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.47 Rasio Bangunan ber-imb per Satuan Bangunan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.48 Rasio Bangunan ber-imb per Satuan Bangunan Menurut Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.49 Dokumen Perencanaan Pembangunan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.50 Rasio Ijin Trayek Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.51 Rasio Ijin Trayek Menurut Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.52 Jumlah Uji Kir Angkutan Umum Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.53 Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.54 Jumlah Volume Sampah dan Produksi Sampah Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.55 Jumlah TPA Sampah, Daya Tampung dan Volume Produksi Sampah Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.56 Jumlah Tanah yang Bersertifikat Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.57 Jumlah Penduduk kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.58 Persentase Partisipasi Perempuan di Lembaga Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.59 Indeks Pembangunan Gender (IPG) Menurut Variabel Pembentuknya Kabupaten Polewali Mandar, xxii

24 Tabel 2.60 Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) Menurut Variabel Pembentuknya Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.61 Rasio KDRT Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.62 Rata-rata Jumlah Anak per Keluarga Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.63 Persentase Peserta KB Aktif Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.64 Jumlah Tenaga Penyuluh KB Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.65 Jumlah Tenaga Penyuluh KB Menurut Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.66 Jumlah Klinik KB Pemerintah dan Swasta Menurut Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.67 Persentase Keluarga (Pra-S) Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.68 Persentase Keluarga Sejahtera I (KS I) Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.69 Jumlah Keluarga Pra Sejahtera (Pra-S) dan Keluarga Sejahtera I (KS I) Menurut Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.70 Penduduk Rawan Sosial dan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.71 Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Dirinci Menurut Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan Kerja serta Jenis Kelamin Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.72 Jumlah Tenaga Kerja Indonesia yang Bekerja di Luar Negeri Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.73 Jumlah Perusahaan Penyalur Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.74 Jumlah Pencari Kerja yang Terdaftar dan Terserap Lapangan Kerja Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.75 Jenis dan Jumlah Izin yang Dilayani oleh Kantor Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.76 Indikator Kebudayaan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.77 Jumlah Karang Taruna Kabupaten Polewali Mandar, xxiii

25 Tabel 2.78 Jumlah Partai Politik, Jumlah Pemilih, Jumlah Ormas dan Kegiatan Pembinaan Politik Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.79 Rasio Jumlah Polisi Pamong Praja Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.80 Jumlah Peraturan Daerah dan Peraturan Bupati tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan Pengelolaan Keuangan Daerah, Tabel 2.81 Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Polewali Mandar Sebagai Pelaksana Urusan Pemerintahan Daerah...81 Tabel 2.82 Skor Pola Pangan Harapan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.83 Status Kewaspadaan Gizi dan Pangan Per Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.84 Persentase Koperasi Aktif Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.85 Persentase Aktif Koperasi Sektor Riil Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.86 Indikator Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.87 Indikator Statistik Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.88 Indikator Kearsipan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.89 Jaringan Komunikasi Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.90 Jumlah Surat Kabar Nasional/Lokal Kabupaten Polewali Mandar, 2009 dan Tabel 2.91 Jumlah Penyiaran Radio/TV Lokal Kabupaten Polewali Mandar, 2009 dan Tabel 2.92 Jumlah Perpustakaan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.93 Jumlah Pengunjung Perpustakaan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.94 Produksi dan Produktivitas Tanaman Pangan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.95 Perkembangan Kondisi Lahan Persawahan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.96 Perkembangan Infrastruktur Pertanian Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.97 Jumlah Produksi Komoditi Andalan Peternakan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 2.98 Perkembangan Jumlah Kelompok Tani Kabupaten Polewali Mandar, xxiv

26 Tabel 2.99 Perkembangan Komoditi Kehutanan Non Kayu Kabupaten Polewali Mandar, Tabel Perkembangan Komoditi Kehutanan MPT s (Pohon) Kabupaten Polewali Mandar, Tabel Perkembangan Jumlah Kelompok Kehutanan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel Luas Areal dan Produksi Tanaman Perkebunan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel Kinerja Sektor Kelautan dan Perikanan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel Perkembangan Jumlah Kelompok Perikanan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel Distribusi Listrik PLN dan Non PLN Menurut Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel Jumlah Objek Wisata dan Kunjungan Wisatawan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel Kontribusi Sektor Perdagangan terhadap PDRB ADHK Kabupaten Polewali Mandar, Tabel Jumlah Perusahaan dan Tenaga Kerja Industri Kecil Kabupaten Polewali Mandar, Tabel Jumlah Pemberangkatan Transmigran Kabupaten Polewali Mandar, Tabel Rasio Panjang Jalan Per Jumlah Kendaraan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel Luas Wilayah Produktif (Ha) Kabupaten Polewali Mandar, Tabel Jumlah Orang/ Barang yang Terangkut Angkutan Umum Kabupaten Polewali Mandar, Tabel Persentase Rumah Tangga (RT) Yang Terlayani Air Bersih Kabupaten Polewali Mandar, Tabel Telepon dan Sarana Telekomunikasi Kabupaten Polewali Mandar, Tabel Jenis dan Jumlah Bank dan Cabang-cabangnya Kabupaten Polewali Mandar, Tabel Jenis, Kelas dan Jumlah Penginapan/Hotel Kabupaten Polewali Mandar, 2008 dan Tabel Perkembangan Jumlah Restoran/ Rumah Makan Kabupaten Polewali Mandar, 2012 dan Tabel Jumlah Kasus Perlindungan Konsumen Kabupaten Polewali Mandar, Tabel Angka Kriminalitas Kabupaten Polewali Mandar (Kasus), 2012 dan xxv

27 Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Jumlah Demonstrasi Kabupaten Polewali Mandar, Simpanan Dana Masyarakat Menurut Jenisnya Kabupaten Polewali Mandar, Lama Proses Perizinan Kabupaten Polewali Mandar, Jumlah dan Macam Insentif Pajak dan Retribusi Daerah yang Mendukung Iklim Investasi Kabupaten Polewali Mandar, Jumlah Angkatan Kerja Menurut Tingkat Pendidikan yang Ditamatkan Kabupaten Polewali Mandar (Jiwa), Rasio Ketergantungan Penduduk Kabupaten Polewali Mandar, BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN Tabel 3.1 Rata-rata Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Daerah Tahun Tabel 3.2 Penerimaan Pajak Daerah Menurut Jenisnya Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 3.3 Realisasi Belanja Daerah Kabupaten Polewali Mandar (Rp.000), Tabel 3.4 Proporsi Anggaran Belanja Tidak Langsung Menurut Jenisnya Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 3.5 Realisasi Anggaran Belanja Langsung Menurut Jenisnya Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 3.6 Target dan Realisasi Belanja Modal Menurut Jenisnya Kabupaten Polewali Mandar (Rp.000), Tabel 3.7 Neraca Daerah Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 3.8 Analisis Rasio Keuangan Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 3.9 Penutup Defisit Riil Anggaran Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 3.10 Realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 3.11 Pengeluaran Periodik Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 3.12 Asumsi Makro Ekonomi Kabupaten Polewali Mandar, xxvi

28 Tabel 3.13 Proyeksi Pendapatan Daerah Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 3.14 Proyeksi Belanja dan Pembiayaan Wajib, Mengikat serta Prioritas Utama Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 3.15 Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah Untuk Mendanai Pembangunan Daerah Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 3.16 Rencana Penggunaan Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 3.17 Kerangka Pendanaan Alokasi Kapasitas Riil Keuangan Daerah BAB V BAB VI VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN Tabel 5.1 Keterkaitan Visi, Misi, Tujuan, Sasaran, Indikator dan Target Kinerja Pembangunan Daerah Kabupaten Polewali Mandar STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Tabel 6.1 Strategi dan arah kebijakan pembangunan daerah Kabupaten Polewali Mandar, BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH Tabel 7.1 Kebijakan umum dan program pembangunan Kabupaten Polewali Mandar, BAB VIII INDIKASI RENCANA PROGRAM YANG DISERTAI KERANGKA PENDANAAN Tabel 8.1 Indikasi rencana program prioritas yang disertai dengan kebutuhan pendanaan BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH Tabel 9.1 Penetapan Indikator Kinerja Pembangunan Daerah Kabupaten Polewali Mandar, Tabel 9.2 Penetapan Indikator Kinerja Daerah Terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Kabupaten Polewali Mandar, xxvii

29 DAFTAR GRAFIK BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Grafik 2.1 Perkembangan Jumlah Penduduk Kabupaten Polewali Mandar, Grafik 2.2 Persentase Penduduk Usia 15 Tahun yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Kabupaten Polewali Mandar, Grafik 2.3 Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan yang Ditamatkan Kabupaten Polewali Mandar, Grafik 2.4 Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama Kabupaten Polewali Mandar, Grafik 2.5 Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Polewali Mandar, Grafik 2.6 Perbandingan Kontribusi PDRB Kabupaten Terhadap PDRB Provinsi Sulawesi Barat, Grafik 2.7 Pertumbuhan PDRB Perkapita Kabupaten Polewali Mandar Tahun Grafik 2.8 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Kabupaten Polewali Mandar, Grafik 2.9 Perbandingan IPM Kabupaten Polewali Mandar dengan Provinsi Sulawesi Barat, Grafik 2.10 Angka Melek Huruf Kabupaten Polewali Mandar, Grafik 2.11 Rata rata Lama Sekolah Kabupaten Polewali Mandar, Grafik 2.12 Angka Partisipasi Kasar SD, SMP dan SMA Kabupaten Polewali Mandar, Grafik 2.13 Angka Partisipasi Murni SD, SMP dan SMA Kabupaten Polewali Mandar, Grafik 2.14 Angka Harapan Hidup (AHH) Kabupaten Polewali Mandar, Grafik 2.15 Persentase Balita Gizi Buruk Kabupaten Polewali Mandar, Grafik 2.16 Jumlah Rumah Ibadah Kabupaten Polewali Mandar, Grafik 2.17 Rasio Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan Polewali Kabupaten Polewali Mandar, Grafik2.18 Jumlah Penumpang Angkutan Umum Kabupaten Polewali Mandar, Grafik2.19 Perkembangan Indeks Pembangunan Gender (IPG) dengan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) kabupaten Polewali Mandar, xxviii

30 Grafik2.20 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja dan Tingkat Kesempatan Kerja Kabupaten Polewali Mandar, Grafik 2.21 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kabupaten Polewali Mandar, Grafik 2.22 Jumlah PNS Kabupaten Polewali Mandar, Grafik 2.23 Persentase Industri Kecil Berdasarkan Komoditi Kabupaten Polewali Manda, Grafik 2.24 Pendapatan Perkapita Riil Disesuaikan Kabupaten Polewali Mandar, Grafik 2.25 Pengeluaran Konsumsi Makanan dan Non-Makanan Perkapita Sebulan Kabupaten Polewali Mandar, 2008 dan BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN Grafik 3.1 Proporsi Realisasi Belanja Langsung Menurut Jenisnya Kabupaten Polewali Mandar, Grafik 3.2 Proyeksi Komposisi Belanja Daerah Kabupaten Polewali Mandar, xxix

31 DAFTAR GAMBAR BAB I BAB II PENDAHULUAN Gambar 1.1 Pola Hubungan Dokumen RPJMD dengan Dokumen Perencanaan Lainnya...7 GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Gambar 2.1 Peta Administrasi Kabupaten Polewali Mandar...12 Gambar 2.2 Peta Geologi Kabupaten Polewali Mandar...15 Gambar 2.3 Peta Kawasan Hutan Kabupaten Polewali Mandar...18 Gambar 2.4 Piramida Penduduk Kabupaten Polewali Mandar, BAB VIII INDIKASI RENCANA PROGRAM YANG DISERTAI KERANGKA PENDANAAN Gambar 8.1 Indikasi Rencana Program Prioritas RPJMD xxx

32

33 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perencanaan pembangunan nasional terdiri atas perencanaan pembangunan yang disusun secara terpadu oleh kementerian/lembaga dan perencanaan pembangunan oleh pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya. Perencanaan pembangunan nasional dan daerah menghasilkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP/RPJPD), Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM/RPJMD), dan Rencana Pembangunan Tahunan/Rencana Kerja Pemerintah (RKP/RKPD). RPJP/RPJPD adalah dokumen perencanaan untuk periode 20 (dua puluh) tahun. Sedangkan RPJM/RPJMD adalah dokumen perencanaan untuk periode 5 (lima) tahun, dan RKP/RKPD adalah dokumen perencanaan untuk periode 1 (satu) tahun. Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) merupakan pelaksanaan amanat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Dokumen RPJMD merupakan dokumen perencanaan 5 (lima) tahunan yang penyusunannya berpedoman pada RPJPD dan RTRW kabupaten serta memperhatikan RPJMN, RPJMD Provinsi, RPJMD dan RTRW kabupaten lainnya. RPJMD Kabupaten Polewali Mandar Tahun merupakan tahapan pembangunan 5 (lima) tahun ketiga di dalam RPJPD Kabupaten Polewali Mandar Tahun Pada tahapan ini pembangunan daerah lebih diorientasikan pada peningkatan daya saing daerah. Sasaran utama peningkatan daya saing daerah adalah meningkatnya arus penanaman modal, meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi, berkembangnya Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) terutama agroindustri, menurunnya angka pengangguran terbuka dan berkembangnya komoditas unggulan terutama dari hasil industri pengolahan. Target utama yang ingin dicapai pada tahapan ini adalah keluarnya Kabupaten Polewali Mandar dari status sebagai daerah tertinggal dan membaiknya indeks daya saing daerah. Di dalam RPJPD Kabupaten Polewali Mandar, tahapan ini dinamakan tahapan akselerasi. Sebagai dokumen perencanaan jangka menengah, RPJMD Kabupaten Polewali Mandar Tahun ini memuat visi, misi, dan program kepala daerah terpilih yang selanjutnya dijabarkan ke dalam strategi pembangunan daerah, kebijakan umum, program prioritas, dan arah kebijakan keuangan daerah. Proses penyusunannya menggunakan beberapa pendekatan, yaitu pendekatan politik, teknokratik, dan partisipatif. 2

34 Pendekatan politik memandang bahwa pemilihan Kepala Daerah adalah proses penyusunan suatu rencana karena rakyat pemilih menentukan pilihannya berdasarkan program-program pembangunan yang ditawarkan masing-masing calon Kepala Daerah. Oleh karena itu, rencana pembangunan adalah penjabaran dari agenda-agenda pembangunan yang ditawarkan Kepala Daerah pada saat kampanye ke dalam rencana pembangunan jangka menengah. Pendekatan teknokratik dilaksanakan dengan menggunakan metode dan kerangka berpikir ilmiah oleh lembaga atau satuan kerja yang secara fungsional bertugas untuk itu. Pendekatan partisipatif dilaksanakan dengan melibatkan semua pihak yang berkepentingan (stakeholders) terhadap pembangunan daerah. Pelibatan mereka dimaksudkan untuk mendapatkan saran dan masukan, mengakomodir aspirasi, dan menciptakan rasa memiliki. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, maka dokumen RPJMD ditetapkan dengan Peraturan Daerah paling lama 6 (enam) bulan setelah Kepala Daerah dilantik. Penyusunan RPJMD Kabupaten Polewali Mandar dilakukan melalui beberapa tahapan yang merupakan suatu rangkaian proses yang berurutan sebagaimana diatur di dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008, yaitu meliputi : (1)persiapan penyusunan RPJMD; (2)penyusunan rancangan awal RPJMD; (3)penyusunan rancangan RPJMD; (4)pelaksanaan musrenbang RPJMD; (5)perumusan rancangan akhir RPJMD; dan (6)penetapan Peraturan Daerah tentang RPJMD. Keberadaan RPJMD ini akan menjadi pedoman kerja bagi Kepala Daerah terpilih beserta perangkatnya dalam melaksanakan tugas-tugasnya selama 5 (lima) tahun mendatang dalam penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pelayanan kepada masyarakat, dan juga digunakan sebagai tolok ukur Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dalam menilai pertanggungjawaban Kepala Daerah pada setiap akhir tahun anggaran dan pada akhir masa jabatan. RPJMD akan dijabarkan setiap tahunnya ke dalam Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) dan menjadi pedoman dalam penyusunan Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra-SKPD) Landasan Hukum Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar Tahun dilakukan dengan berlandaskan kepada sejumlah peraturan perundang-undangan, antara lain : 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, 3

35 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); 2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); 3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); 4. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2004 tentang Pembentukan Provinsi Sulawesi Barat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 105, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4422); 5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang- Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 6. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); 7. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700); 8. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725); 9. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234); 10. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578); 11. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2005 tentang Perubahan Nama Kabupaten Polewali Mamasa Menjadi Kabupaten Polewali Mandar (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 160); 4

36 12. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); 13. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4815); 14. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817); 15. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833); 16. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2010 tentang Tatacara Pelaksanaan Tugas dan Wewenang serta Kedudukan Keuangan Gubernur Sebagai Wakil Pemerintah di Wilayah Provinsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 44, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5209); 17. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun ; 18. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 310); 19. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 Tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 517); 20. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 927); 21. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2012 tentang 5

37 Pedoman Pelaksanaan Kajian Lingkungan Hidup Strategis Dalam Penyusunan atau Evaluasi Rencana Pembangunan Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 994); 22. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Barat Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Sulawesi Barat Tahun (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2010 Nomor 05); 23. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Barat Nomor 01 Tahun 2013 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Sulawesi Barat Tahun (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2013 Nomor 01); 24. Peraturan Daerah Kabupaten Polewali Mandar Nomor 4 Tahun 2012 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Polewali Mandar Tahun (Lembaran Daerah Kabupaten Polewali Mandar Tahun 2012 Nomor 4); 25. Peraturan Daerah Kabupaten Polewali Mandar Nomor 2 Tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Polewali Mandar Tahun (Lembaran Daerah Kabupaten Polewali Mandar Tahun 2013 Nomor 2) Hubungan Antar Dokumen Pemerintah Daerah dalam membuat perencanaan pembangunan menghasilkan beberapa jenis dokumen perencanaan dan penganggaran yaitu: Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD), Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD), dan Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja SKPD). RPJMD yang merupakan penjabaran dari visi, misi dan program Kepala Daerah, penyusunannya berpedoman pada visi, misi dan arah kebijakan yang termuat dalam RPJPD Kabupaten Polewali Mandar Tahun RPJMD Kabupaten Polewali Mandar tahun merupakan tahap ketiga dari tahapan pelaksanaan RPJPD Kabupaten Polewali Mandar tahun Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Polewali Mandar telah ditetapkan arah pengembangan pembangunan dan tata ruang wilayah sehingga penyusunan RPJMD memperhatikan arah kebijakan pembangunan dalam RTRW melalui penyelarasan tujuan, sasaran, strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah dengan pola pemanfaatan ruang kabupaten. RPJMD ini juga menjadi pedoman dalam penyusunan Renstra SKPD yang 6

38 berfungsi sebagai dokumen perencanaan teknis operasional untuk jangka waktu 5 (lima) tahun yang disusun oleh setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Selanjutnya, untuk setiap tahun selama periode perencanaan, RPJMD sebagai dokumen strategik dijabarkan ke dalam kebijakan tahunan berupa Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) yang akan menjadi acuan bagi SKPD dalam menyusun Rencana Kerja (Renja) SKPD dan Rencana Kerja Anggaran (RKA) SKPD. RKPD Kabupaten Polewali Mandar akan menjadi pedoman bagi penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Kabupaten Polewali Mandar. Pola hubungan antara RPJMD dengan dokumen perencanaan lainnya di daerah dapat dilihat pada gambar di bawah ini : Gambar 1.1 Pola Hubungan Dokumen RPJMD dengan Dokumen Perencanaan Lainnya diperhatikan dipedomani dijabarkan dijabarkan diperhatikan diacu 1.4. Sistematika Penulisan Sistematika yang digunakan dalam penyusunan RPJMD ini sepenuhnya mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun Dokumen RPJMD Kabupaten Polewali Mandar Tahun terdiri atas 10 (sepuluh) bab dengan sistematika sebagai berikut : Bab I Pendahuluan, memuat uraian beberapa hal yang menjadi latar belakang, maksud dan tujuan, landasan hukum, hubungan RPJMD dengan dokumen perencanaan lainnya, serta sistematika penulisan. Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah, berisi deskripsi mengenai kondisi 7

39 umum Kabupaten Polewali Mandar yang terdiri atas aspek geografi dan demografi, aspek kesejahteraan masyarakat, aspek pelayanan umum, dan aspek daya saing. Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah serta Kerangka Pendanaan, pada bab ini diuraikan gambaran pengelolaan keuangan daerah dan kerangka pendanaan yang meliputi kinerja keuangan masa lalu, kebijakan pengelolaan keuangan masa lalu, dan kerangka pendanaan. Bab IV Analisis Isu-isu Strategis, membahas analisis isu-isu strategis tentang permasalahan pembangunan daerah yang harus diatasi dan isu strategis yang merupakan kondisi eksternal yang berpengaruh positif dan negatif terhadap daerah di masa yang akan datang. Bab V Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran, memuat visi beserta penjabarannya, misi, tujuan dan sasaran pembangunan daerah untuk periode Tahun Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan, berisi tentang strategi dan arah kebijakan pembangunan daerah guna mendukung pencapaian visi dan pelaksanaan misi. Bab VII Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah, menjelaskan kebijakan umum dan program pembangunan daerah. Bab VIII Indikasi Rencana Program Prioritas yang Disertai Kebutuhan Pendanaan, memuat program prioritas berdasarkan urusan pemerintahan, indikator kinerja program prioritas, target kinerja program prioritas, serta pagu anggaran untuk setiap program prioritas. Bab IX Penetapan Indikator Kinerja Daerah, dalam bab ini ditetapkan dan dijelaskan mengenai indikator kinerja daerah Kabupaten Polewali Mandar dalam 5 (lima) tahun ke depan. Bab X Pedoman Transisi dan Kaidah Pelaksanaan, menjelaskan mengenai pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan RPJMD Kabupaten Polewali Mandar Tahun Maksud dan Tujuan Maksud penyusunan RPJMD Kabupaten Polewali Mandar Tahun adalah untuk memberikan arah dan pedoman bagi seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, maupun dunia usaha dalam membangun kesepahaman, kesepakatan dan komitmen guna mewujudkan visi dan misi Kabupaten Polewali Mandar tahun Sedangkan tujuan penyusunan RPJMD Kabupaten Polewali Mandar Tahun adalah sebagai berikut : 8

40 1. Menjabarkan visi misi, dan program Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Polewali Mandar melalui serangkaian tujuan, sasaran, strategi, arah kebijakan dan program prioritas pembangunan yang dilaksanakan dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2019; 2. Menyediakan dokumen perencanaan pembangunan untuk 5 (lima) tahun yang akan menjadi acuan utama dalam menyusun Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra-SKPD), Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD), Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD), dan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD); 3. Memudahkan seluruh jajaran aparatur pemerintah daerah dalam mencapai tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah daerah dengan cara menyusun program dan kegiatan secara terarah, terpadu dan terukur; 4. Menjadikan instrumen pelaksanaan fungsi pengawasan DPRD dalam mengendalikan penyelenggaran pembangunan daerah dan aspirasi mesyarakat sesuai dengan prioritas dan sasaran program pembangunan yang ditetapkan dalam peraturan daerah tentang RPJMD. 9

41 10

42

43 BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2.1 Aspek Geografi dan Demografi Karakteristik Lokasi dan Wilayah a. Luas dan Batas Wilayah Administrasi Kabupaten Polewali Mandar merupakan salah satu dari enam kabupaten yang berada di wilayah Provinsi Sulawesi Barat. Dengan luas 2 2 wilayah darat ± Km dan luas wilayah laut ±460 km, serta panjang 2 garis pantai ±94,12 Km. Berdasarkan letak geografis, Kabupaten Polewali Mandar berbatasan dengan : Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Mamasa Sebelah Selatan berbatasan dengan Selat Makassar Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Pinrang Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Majene Gambar 2.1 Peta Administrasi Kabupaten Polewali Mandar Sumber Data : RTRW Kabupaten Polewali Mandar, Secara administratif, Kabupaten Polewali Mandar terbagi ke dalam 16 (enam belas) kecamatan yang terdiri atas 144 desa dan 23 2 kelurahan dengan luas wilayah 2.022,30 Km. Kecamatan Tubbi Taramanu merupakan kecamatan yang terluas dengan luas wilayah 2 356,95 Km atau 17,65 persen dari seluruh luas wilayah Kabupaten Polewali Mandar. Sementara kecamatan dengan luas wilayah terkecil 12

44 2 adalah Kecamatan Tinambung dengan luas 21,34 Km atau hanya 1,06 persen dari total luas wilayah Kabupaten Polewali Mandar. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 2.1 Luas Wilayah Menurut Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, 2012 No. Kecamatan Luas Area Persentase Terhadap Luas (Km2) Kab. Polewali Mandar (%) 1 Tinambung 21, Balanipa 37, Limboro 47, Tubbi Taramanu 356, Alu 228, Campalagian 87, Luyo 156, Wonomulyo 72, Mapilli 91, Tapango 125, Matakali 57, Polewali 26, Binuang 123, Anreapi 124, Matangnga 234, Bulo 229, Sumber Data Kab. : BPS Polewali Kab. Polewali Mandar Mandar, ,30 100,00 Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, 2013 b. Letak dan Kondisi Geografi Secara geografi, Kabupaten Polewali Mandar terletak pada posisi ' ' 5,28 Lintang Selatan dan ' 58, ' 35,8 Bujur Timur. Untuk lebih jelasnya, letak geografi perkecamatan dan ketinggian dari permukaan laut dapat dilihat pada tabel di bawah ini : 13

45 Tabel 2.2 Letak Geografi dan Ketinggian dari Permukaan Laut Menurut Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, 2012 Letak Geografi No. Kecamatan Lintang Selatan Bujur Timur 1 Tinambung o 03 30' 10,3" o ' 36,6" 2 Balanipa o 03 30' 08,9" o ' 48,0" 3 Limboro o 03 26' 12,6" o ' 38,7" 4 Tubbi o 03 20' 34,6" o ' 33,1" Taramanu 5 Alu o 03 25' 36,6" o ' 34,0" 6 Campalagian o 03 28' 13,2" o ' 26,0" 7 Luyo o 03 22' 24,8" 8 Wonomulyo o 03 23' 51,0" 9 Mapilli o 03 24' 14,8" 10 Tapango o 03 19' 18,2" 11 Matakali o 03 23' 00,1" 12 Polewali o 03 24' 27,2" 13 Binuang o 03 26' 53,8" 14 Anreapi o 03 23' 01,3" 15 Matangnga o 03 07' 41,4" 16 Bulo o Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, 2013 o ' 09,2" o ' 36,4" o ' 52,3" o ' 54,2" o ' 59,3" o ' 33,5" o ' 09,6" o ' 04,7" o ' 03,6" o 03 13' 50,1" ' 06,6" Ketinggian dari Permukaan Laut c. Topografi Dari sisi topografi, sebagian besar atau >41 persen dari luas Kabupaten Polewali Mandar memiliki topografi berbukit, >39 persen dari luas kabupaten memiliki topografi bergunung, dan sisanya sekitar 20 persen dari luas kabupaten memiliki topografi datar, dengan kelas lereng dominan antara 5-15 persen dan persen (>70% dari luas kabupaten). Dengan kondisi topografi seperti ini, maka perencanaan pembangunan di Kabupaten Polewali Mandar harus dilakukan dengan ekstra hati-hati agar sumberdaya alam yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini: 14

46 Tabel 2.3 Luas Penyebaran Kelas Topografi dan Kelas Lereng Kabupaten Polewali Mandar No. Topografi Kelas Lereng (%) Luas (Ha) Persen (%) 1 Datar ,43 2 Landai ,89 3 Bergelombang ,09 4 Berbukit ,65 5 Bergunung > ,94 Sumber Data : Hasil Perhitungan Peta, Bappeda 2010 d. Geologi Berdasarkan peta geologi, Sulawesi skala 1: lembar Majene dan Bagian Barat lembar Palopo, Sulawesi (Puslitbang Geologi, 1998) Kabupaten Polewali Mandar terdiri dari enam formasi batuan, yaitu (Qa) ALUVIUM; (Qpps) NAPAL PAMBAUANG; (Tmpi) BATUAN TEROBOSAN; (Tmpv) BATUAN GUNUNG API WAILIMBONG; (Tmm) FORMASI MANDAR; (Tmpm) FORMASI MAPI; (Tmav) BATUAN GUNUNG API ADANG; dan (Kls) FORMASI LATIMOJONG. Gerakan-gerakan sesar banyak terdapat di sebelah barat dengan arah yang bervariasi tapi umumnya berarah Barat Laut Tenggara. Sesar ini sebagian besar berada pada Formasi Mandar. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada gambar di bawah ini : Gambar 2.2 Peta Geologi Kabupaten Polewali Mandar Sumber Data : RTRW Kabupaten Polewali Mandar,

47 e. Hidrologi Kabupaten Polewali Mandar mempunyai beberapa sungai yang merupakan sumber air. Sungai sungai ini selanjutnya dapat menjangkau pengembangan berbagai keperluan. Sungai mempunyai multifungsi yang sangat vital diantaranya sebagai sumber air minum, industri dan pertanian atau juga pusat listrik tenaga air serta sebagai sarana rekreasi air. Wilayah Sungai Kalukku Karama yang merupakan wilayah sungai lintas provinsi dengan Daerah Aliran Sungai (DAS). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.4 DAS (Daerah Aliran Sungai) Kabupaten Polewali Mandar No DAS Wilayah Kecamatan Luas (Ha) 1 MANDAR Alu, Balanipa, Limboro, Luyo, Tinambung, Tubbi taramanu ,74 2 MALOSSO Alu, Bulo, Campalagian, Limboro, Luyo, Mapilli, Matangnga, ,51 Tapango, Tubbi Taramanu, Wonomulyo 3 MATAKALI Anreapi, Binuang, Bulo, Mapilli, Matakali, Matangnga, ,63 Polewali, Tapango, Wonomulyo 4 BINUANG Anreapi, Binuang, Polewali ,08 5 SILOPO Binuang 3.014,35 6 TIMBO Balanipa, Campalagian, Limboro, Tinambung 5.583,39 Jumlah ,60 Sumber Data : Peta Digital, 2010 f. Klimatologi Selama tahun 2012, jumlah hari hujan di Kabupaten Polewali Mandar tercatat 155,6 hari hujan dengan curah hujan sebesar 2.061,2 mm. Jumlah hari hujan tertinggi terjadi pada bulan Februari (17,6 hari) sedangkan jumlah curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember (289,8 mm). curah hujan menurut bulan dapat dilihat pada tabel di bawah ini : 16

48 Tabel 2.5 Jumlah Curah Hujan Menurut Bulan (dalam mm) Kabupaten Polewali Mandar No Bulan Januari , , ,2 2 Februari , , ,2 3 Maret , , ,4 4 April , , ,7 5 Mei , , ,5 6 Juni , , ,9 7 Juli , , ,4 8 Agustus 44 26, , ,8 9 September , , ,3 10 Oktober ,830 79, ,6 11 November , , ,4 12 Desember , ,8 Jumlah , , ,2 Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, 2013 g. Penggunaan Lahan Dari sisi penggunaan lahan, sebagian besar wilayah Kabupaten Polewali Mandar berupa lahan perbukitan dan pegunungan yang ditutupi hutan dan belukar. Lahan yang relatif datar diusahakan untuk pertanian yang terdiri dari persawahan irigasi, sawah tadah hujan, tambak, tegalan, perkebunan kakao rakyat, perkebunan cengkeh rakyat, pertanian lahan kering/tegalan, dan kebun campuran. Lahan non-pertanian terdiri atas hutan, semak belukar dan rumput-rumputan, gawir dan lahan miring curam, lahan permukiman/ pekarangan, dan pulau karang. Penyebaran hutan primer dan sekunder masih dijumpai di daerah perbukitan dan pegunungan. Dari hasil pengamatan di lapangan, juga ditemukan beberapa perbukitan/gunung yang telah gundul akibat penebangan kayu serta diusahakan petani untuk perkebunan kakao, durian, langsat, dan cengkeh. Perubahan penggunaan lahan di wilayah Kabupaten Polewali Mandar terjadi karena pertambahan penduduk dan terbukanya jaringan jalan sehingga memungkinkan penduduk untuk membuka usaha pertanian terutama pengembangan tanaman kakao pada lahan-lahan miring. Sedangkan pada wilayah dataran rendah, terutama yang masih dekat dengan laut, sebagian lahan persawahan telah diubah menjadi lahan tambak dan sebagiannya lagi telah dijadikan lahan perkebunan dan permukiman. Sebagian besar wilayah Kabupaten Polewali Mandar merupakan kawasan hutan yang mencapai Ha. Terdiri dari Ha Hutan Lindung, Ha Hutan Produksi dan 900 Ha Cagar Alam. Berdasarkan proporsi luas kawasan hutan ini maka dapat dikatakan masih cukup ideal, namun pada kenyataannya banyak 17

49 Kawasan Hutan Lindung yang sudah tidak berfungsi lagi sebagai kawasan lindung. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini : Gambar 2.3 Peta Kawasan Hutan Kabupaten Polewali Mandar Sumber Data : RTRW Kabupaten Polewali Mandar, Potensi Pengembangan Wilayah Kabupaten Polewali Mandar memiliki banyak kawasan budidaya yang memiliki potensi untuk dikembangkan sehingga bisa menjadi kawasan yang produktif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, seperti pada kawasan pertanian, kawasan perikanan, kawasan pertambangan, kawasan industri, kawasan pariwisata, dan kawasan permukiman. a. Kawasan Pertanian Tanaman Pangan di Kabupaten Polewali Mandar merupakan salah satu daerah penghasil tanaman pangan di Provinsi Sulawesi Barat yang tersebar di beberapa kecamatan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini : 18

50 Tabel 2.6 Luas Lahan Sawah dan Bukan Sawah Menurut Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, 2012 No Kecamatan Lahan Lahan Bukan Sawah (Ha) Sawah (Ha) Lahan Kering Lainnya Jumlah 1 Tinambung Balanipa Limboro Tubbi 4 Taramanu Alu Campalagian Luyo Wonomulyo Mapilli Tapango Matakali Polewali Binuang Anreapi Matangnga Bulo Jumlah Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, 2013 b. Kawasan Pertanian Hortikultura, yang tersebar di Kecamatan : Binuang, Anreapi, Matakali, Tapango, Matangnga, Wonomulyo, Polewali, Campalagian dan Tubbi Taramanu. Perkembangan produksi pertanian Holtikultura di Kabupaten Polewali Mandar dapat dilihat pada tabel di bawah ini : 19

51 Tabel 2.7 Produksi Buah-Buahan Kabupaten Polewali Mandar (Ton), No Tanaman Holtikultura Belimbing Duku/ Langsat Durian Jambu Biji Jambu Air Jeruk , Mangga Nangka Nanas Pepaya , Pisang , Rambutan , Salak Bawang Merah Bawang Daun Petsai Kacang Panjang ,7 18 Cabe ,3 36,5 19 Tomat ,2 67,6 20 Terong Ketimun Kangkung Bayam Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, 2013 c. Kawasan Perkebunan, yang mencakup tiga kawasan, yaitu: (1) kawasan perkebunan kakao tersebar di Kecamatan Tapango, Polewali, Balanipa, Alu, Anreapi, Wonomulyo, Binuang, Matangnga, Limboro, Campalagian, Bulo dan Mapilli; (2) kawasan perkebunan kelapa tersebar di Kecamatan Tapango, Polewali, Balanipa, Alu, Anreapi, Wonomulyo, Binuang, Matangnga, Tinambung, Tubbi Taramanu, Matakali, Limboro, Campalagian, Bulo dan Mapilli; dan (3) kawasan perkebunan kopi robusta tersebar di Kecamatan Binuang, Anreapi, Tapango, Bulo, Alu, Limboro, Tubbi Taramanu dan Matangnga. Pembangunan pada sektor perkebunan ini menempuh strategi pemberdayaan di hulu dan memperkuat di hilir guna menciptakan nilai tambah dan daya saing serta melibatkan partisipasi masyarakat perkebunan guna penerapan organisasi modern berdasarkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Kriteria lahan yang dibutuhkan bagi pengembangan tanaman perkebunan sangat beragam sesuai dengan jenis komoditinya, pada dasarnya berbagai jenis tanaman perkebunan dapat tumbuh dengan 20

52 baik pada ketinggian antara meter diatas permukaan laut. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.8 Kriteria Kesesuaian Lahan Untuk Perkebunan No Kriteria Sesuai Sesuai Bersyarat Tidak Sesuai 1 Jenis Tanah Litosol, Andosol, Alluvial, Grumosol, Mediteran, Podsolik Regosol Litosol 2 Kelerengan 0-15% 15-40% >40% 3 Solum Tanah >60 cm cm >30 cm 4 Tekstur Tanah Berliat, Berdebu, Berliat, Berdebu, halus Kasar Berkuarsa 5 Prositas Tinggi-Sangat Tinggi Sedang dan Rendah Sangat Rendah 6 Curah Hujan mm - <400 7 Drainase Baik Agak Cepat Sangat Cepat 8 Banjir genangan musiman,genangan Tanpa Genangan Antara 24 Bulan >4 Bulan Sumber Data : RTRW Kabupaten Polewali Mandar Tahun d. Kawasan Peternakan, yang terbagi atas tiga kawasan budidaya, yaitu: (1) kawasan budidaya ternak besar tersebar di Kecamatan Binuang, Matakali, Anreapi, Wonomulyo, Mapilli, Tapango, Bulo, Campalagian, Tubbi Taramanu dan Matangnga; (2) kawasan budidaya ternak kecil tersebar di Kecamatan Luyo, Campalagian, Balanipa, Tinambung, Limboro, Alu dan Tubbi Taramanu; dan (3) kawasan budidaya ternak unggas tersebar di Kecamatan Binuang, Matakali, Wonomulyo, Campalagian, Tinambung dan Limboro. Kesesuaian lahan untuk peternakan hanya mengacu pada kelas kesesuaian lahan untuk padang pengembalaan (pasture), hal ini disebabkan komoditas peternakan tidak menghendaki persyaratan tanah dan iklim yang spesifik. Kabupaten Polewali Mandar memiliki potensi pengembangan ternak besar maupun ternak kecil dan unggas khusus untuk ternak besar pemasarannya melalui perdagangan antar pulau, sedangkan ternak kecil sebagai konsumsi lokal. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di berikut ini : Tabel 2.9 Jumlah Ternak yang Keluar dari Kabupaten Polewali Mandar (Ekor), No Kecamatan Sapi Kerbau Kuda Kambing Ayam Itik Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar,

53 e. Kawasan Perikanan, yang terdiri atas tiga kawasan yaitu: kawasan perikanan tangkap, kawasan budidaya perikanan dan kawasan pengolahan dan pemasaran hasil perikanan. Potensi kelautan Kabupaten Polewali Mandar tersebar di 8 kecamatan dan 27 Desa/Kelurahan dengan panjang garis pantai 89,07 km yang membentang dari Desa Paku Kecamatan Binuang hingga Desa Tandung Kecamatan Tinambung yang di dalamnya terdapat 7 buah pulau. Kabupaten Polewali Mandar juga memiliki beberapa komoditi tangkap unggulan. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.10 Produksi Perikanan Tangkap Komoditi Andalan Kabupaten Polewali Mandar, No Jenis Komoditi Produksi (Ton/Tahun) Perikanan Andalan Tuna 3.116, , , , ,50 2 Cakalang 3.146, , , , ,50 3 Tongkol 3.508, , , , ,50 4 Telor Ikan Terbang 10,21 8,50 6,50 6,00 6,00 5 Layang 1.428, , , , ,50 6 Kakap/Kerapu 168,40 175,50 186,03 211,00 211,05 7 Cumu-cumi 15,23 15,93 16,25 16,26 16,40 Sumber Data : Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Polewali Mandar, 2013 Tabel 2.11 Produksi Perikanan Budidaya dan Rumput Laut Kabupaten Polewali Mandar, No Jenis Budidaya Budidaya Air Tawar Luas Kolam (ha) 61,70 61,70 82,00 98,10 99,85 Produksi Ikan Nila (ton) 56,00 80,55 90,90 101,30 126,5 Produksi Ikan Mas (ton) 38,30 45,55 50,35 58,35 65,2 Produksi Ikan Lele (ton) 10,33 18,50 20,23 22,54 25,6 2 Budidaya Tambak Luas Tambak (Ha) 5.123, , , , ,32 Produksi Bandeng (Ton) 8.069, , , ,50 Produksi Udang (Ton) 795,20 723,25 795,58 798,50 805,25 3 Budidaya Rumput Laut Luas lahan Budidaya (Ha) 100,0 150,0 300,0 690,0 700 Produksi Rumput Laut basah (Ton) 2.250, , , , ,0 Sumber Produksi Data : Dinas Rumput Kelautan Laut Kering dan Perikanan Kab. Polewali Mandar, ,0 330,0 530,0 (Ton) 1.215, ,0 Sumber Data : Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Polewali Mandar, 2013 Guna mendukung asksesibiltas produksi perikanan khususnya tambak diperlukan jalan tambak dengan rasio perbandingan setiap 40 Ha tambak membutuhkan 1 km jalan tambak sedangkan dalam rangka meningkatkan produktifitas diperlukan saluran irigasi tambak yang memadai 22

54 dengan perbandingan setiap 20 Ha tambak membutuhkan 1 km saluran irigasi tersier. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.12 Infrastruktur (Jalan, Jembatan dan Irigasi) Tambak Kabupaten Polewali Mandar, No. Infrastruktur Panjang (Km) Perikanan Jalan Tambak 22,2 22,2 22,2 22,2 22,2 2 Jembatan Tambak 0,060 0,060 0,060 0,060 0,065 3 Jaringan Irigasi a. Primer 6,4 6,4 6,4 6,4 6,4 b. Sekunder 22,2 22,2 22,2 22,2 22,2 c. tersier 86,25 86,25 86,25 86,25 86,25 Sumber Data : Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Polewali Mandar, 2013 Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Tahun 2013, bahwa tahun panjang jalan tambak yang terbangun adalah 22,2 km yang artinya dalam rangka meningkatkan aksesibilitas produksi perikanan masih diperlukan sekitar 105,88 km jalan tambak, dan saluran irigasi tersier tambak yang telah terbangun adalah 86,25 km yang artinya jika ingin meningkatkan produktifitas tambak diperlukan 169,92 km saluran irigasi tersier. f. Kawasan Pertambangan terbagi atas tiga kawasan, yaitu: kawasan pertambangan mineral dan batubara, kawasan pertambangan gas dan minyak bumi, dan kawasan pertambangan panas bumi. Komoditi pertambangan andalan Kabupaten Polewali Mandar terdiri dari tambang tembaga, biji besi, granit dan sienit, mika, lempung, pasir kuarsa dan zeloit. Lahan pertambangan ini pada umumnya memiliki luas 5000 Ha dan tersebar di beberapa kecamatan. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : 23

55 Tabel 2.13 Nama Perusahaan, Jenis Izin dan Lokasi Tambang Kabupaten Polewali Mandar, 2012 No Perusahaan Jenis Izin 1 PT. Isco Iron 2 3 PT. Hendrix International Mineral PT. Coswourth International 4 PT. Inti Karya Polman 5 PT. Risda Utama Bersatu 6 PT. Isco Polman Resources 7 PT. Bumi Pertiwi Makmur Operasi Produksi IUP/ Eksplorasi IUP/ Eksplorasi IUP/ Operasi Produksi IUP/ Eksplorasi IUP/ Operasi Produksi IUP/ Eksplorasi Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, 2013 Bahan Tambang Biji Besi DMP Biji Besi DMP Biji Besi DMP Timbal/ Galena DMP Bijih Besi DMP Timbal/ Galena DMP Bijih Besi DMP Lokasi Tambang Desa Tapango dan Desa Riso, Kec. Tapango Desa Pasiang, Kec. Matakali, dan Desa Papandangan, Kecamatan Anreapi Desa Tapango, dan Riso, Kec. Tapango dan Desa Indomakkombong, Kec. Matakali Desa Kunyi dan Batetangnga, Kec. Anreapi Desa Indomakkombong, Kec. Matakali dan Desa Tapango, Kec. Tapango Kec. Anreapi Desa Tapango Barat, Kec. Tapango, Desa Tapua Kec. Matangnga dan Desa Andau Kec. Mapilli g. Kawasan Industri terbagi atas tiga kawasan, yaitu: kawasan industri pengolahan hasil pertanian, kawasan industri pengolahan hasil peternakan, dan kawasan industri pengolahan hasil perikanan. Kawasan industri tersebar di semua kecamatan namun paling banyak terdapat di Kecamatan Polewali dan Wonomulyo yang pada umumnya merupakan Industri Kecil Menengah (IKM). Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : No Tabel 2.14 Jumlah Perusahaan, Tenaga Kerja Industri Kecil dan Nilai Produksi Kabupaten Polewali Mandar, 2012 Jenis Industri Perusahaan (unit) Tenaga Kerja (orang) (Rp.000) 1 Ind. Pengeringan Ikan Ind. Pembuatan Minyak Kelapa Ind. Pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO) Ind. Pengupasan Kemiri dan Kakao Ind. Pengasapan Kopra Ind. Pembuatan Roti dan Kue Kering Ind. Pembuatan Gula Merah Ind. Pengolahan Kopi Bubuk Ind. Es Balok Ind. Kecap Ind. Tempe Ind. Tahu Ind. Makanan lainnya (wajek, madu, kerupuk, Nata De Coco dan Garam Beriodium)

56 No Jenis Industri Perusahaan (unit) Tenaga Kerja (orang) (Rp.000) 14 Ind. Minuman Ringan Ind. Ayaman Rotan dan Bambu Ind. Kerajinan Kayu Ind. Meubel Kayu Ind. Meubel Rotan Ind. Percetakan Ind. Abu Gosok dari Sekam Ind. Pabrik Tegel/ Teraso Ind. Genteng Pres dari Semen Ind. Gerabah dari Tanah Liat Ind. Batu Bata Ind. Rotan Polis Ind. Moulding dan Komponen Bahan Bangunan Ind. Pemintalan Benang Sutera Ind. Pertenunan Kain Sutera Ind. Pemintalan Tali Ind. Kasur dan Kapuk Ind. Pakaian Jadi daritekstil Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, 2013 h. Kawasan Pariwisata adalah kawasan yang secara teknis dapat digunakan untuk kegiatan pariwisata serta tidak mengganggu kelestarian budaya, keindahan alam, dan lilngkungan hidup. Kawasan Pariwisata ini terbagi atas dua kawasan, yaitu: kawasan wisata budaya da bn kawasan wisata alam. Kawasan Pariwisata Budaya terdiri dari : - Pariwisata Budaya Tradisional Mandar di Kecamatan : Tinambung, Limboro, Balanipa, Alu, Campalagian, Luyo, dan Tubbi Taramanu. - Pariwisata Budaya Tradisional Jawa di Kecamatan Wonomulyo. Kawasan Pariwisata Alam terdiri dari : - Wisata Pantai Pulau Pasir Putih di Kecamatan Binuang, Pantai Bahari di Kecamatan Polewali, Pantai Labuang di Kecamatan Campalagian, Pantai Palippis di Kecamatan Balanipa, Tanjung Mampie di Kecamatan Wonomulyo. - Wisata Bawah laut (penyelaman/snorkeling) di sebelah Utara Pulau Pasir Putih Kecamatan Binuang, perairan Pantai Labuang di Kecamatan Campalagian, Perairan Palippis di Kecamatan Balanipa. - Wisata Air Terjun di Kecamatan Tapango, Binuang dan Anreapi. 25

57 2.1.3 Wilayah Rawan Bencana Sesuai dengan posisi geografis, topografi wilayah, dan kondisi alam, Kabupaten Polewali Mandar cukup rentan terhadap bencana alam. Wilayah rawan bencana alam di kabupaten, antara lain : a. Bencana tanah longsor meliputi wilayah Kecamatan Alu, Tubbi Taramanu, Balanipa, Mapilli, Anreapi, Bulo, Tapango, Matangnga dan Binuang. b. Abrasi dan erosi pantai tersebar di wilayah pesisir meliputi Kecamatan Tinambung, Balanipa, Campalagian, Mapilli, Wonomulyo, Matakali, Polewali dan Binuang c. Kawasan gelombang pasang dan banjir tersebar di wilayah pesisir meliputi Kecamatan Tinambung, Balanipa, Campalagian, Mapilli, Wonomulyo, Matakali, Polewali dan Binuang. d. Kawasan rawan banjir meliputi wilayah Kecamatan Tinambung, Limboro, Campalagian, Luyo, Mapilli, Wonomulyo, Tapango, Matakali, Binuang dan Polewali. e. Kawasan rawan gempa bumi berdasarkan riwayat kegempaan terutama di wilayah Kecamatan Wonomulyo, Mapilli, Luyo, Campalagian, Balanipa, Tinambung, Limboro, Alu dan Tubbi Taramanu. f. Kawasan rawan gerakan tanah adalah kawasan yang sering terjadi gerakan tanah pada kawasan perbukitan terjal tersebar di Kecamatan Alu, Tubbi Taramanu, Bulo, Anreapi, dan Matangnga. g. Kawasan rawan tsunami adalah kawasan pantai yang berada pada zona kerawanan tinggi dengan daerah topografi yang landai dengan ketinggian <10 meter di atas permukaan laut terutama di bagian pesisir Kecamatan Tinambung, Balanipa, Campalagian, Mapilli, Wonomulyo, Matakali, Polewali dan Binuang. h. Kawasan rawan intrusi air laut meliputi wilayah pesisir Kecamatan Tinambung, Balanipa, Campalagian, Mapilli, Wonomulyo, Matakali, Polewali dan Binuang. Bencana Alam yang sering terjadi di Kabupaten Polewali Mandar serta titik evakuasi pada saat terjadi bencana. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : 26

58 Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, 2013 Tabel 2.15 Jumlah Bencana Alam Menurut Jenis Bencana Kabupaten Polewali Mandar (dalam KK), No Jenis Bencana Banjir Kebakaran Angin Topan Abrasi Gempa Bumi Longsor Bencana Sosial Jumlah Tabel 2.16 Titik Evakuasi Kabupaten Polewali Mandar, 2012 No. Kecamatan Titik Evaluasi MDPL 1 Mapilli - Lap. Sepakbola Tenggelang 38 2 Luyo - Kantor Camat & SMKN Luyo 27 - SMPN Luyo 25 - SDN 52 Mambu 26 - Lap. Tembak Lelo 44 - Masjid Nurul Huda Ugi Baru 25 3 Alu - Perbukitan Alu Puskesmas & MTS Prama Tutallu 58 - Kantor Desa & Pustu Todang-Todang MI DDI Libukang 30 - TPA Dusun Teppo Tinambung - Puskesmas & MTS Prama Tutallu 58 5 Limboro - Kantor Desa & Pustu Todang-Todang MI DDI Libukang 30 - TPA Dusun Teppo 48 - SDN 027 Renggeang 28 - Masjid Nurul Bashar Tandung 30 - SDN 059 Inpres Limboro 31 - SMPN 4 Tinambung 29 - MA DDI Tinambung 32 - SMPN 5 Tinambung 35 Sumber Data : Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kab. Polewali Mandar,

59 2.1.4 Demografi Berdasarkan data BPS hasil proyeksi tahun 2012, jumlah penduduk Kabupaten Polewali Mandar mencapai jiwa yang terdiri atas jiwa laki-laki (48,74 persen) dan jiwa perempuan (51,26 persen). Jika dibandingkan lima tahun lalu, jumlah penduduk Kabupaten Polewali Mandar meningkat sekitar 10,29 persen. Pertumbuhan penduduk tertinggi terjadi pada tahun 2010, yaitu sebesar 6,12 persen yang disebabkan oleh perbedaan metode perhitungan. Data penduduk tahun 2010 merupakan hasil sensus, sedangkan data tahun sebelum dan sesudah 2010 merupakan data proyeksi. Jumlah penduduk Kabupaten Polewali Mandar di dominasi oleh kelompok usia produktif (15-64 tahun) yang mencapai 60,6 persen dari total penduduk. Penduduk usia muda (0-14 tahun) menempati urutan kedua terbesar dengan proporsi 34,12 persen dari total penduduk. Sedangkan, penduduk usia tua (65 tahun keatas) hanya sekitar 5,25 persen total penduduk. Secara implisit, rendahnya proporsi penduduk usia tinggi mengindikasikan rendahnya usia harapan hidup penduduk di Kabupaten Polewali Mandar. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik dan gambar di bawah ini : Grafik 2.1 Perkembangan Jumlah Penduduk Kabupaten Polewali Mandar, Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar,

60 Gambar 2.4 Piramida Penduduk Kabupaten Polewali Mandar, 2012 Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, 2013 Rasio jenis kelamin (sex ratio) Kabupaten Polewali Mandar sebesar 95,1 yang berarti jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari pada laki-laki, dengan perbandingan setiap 100 perempuan terdapat 95 orang laki-laki. Komposisi ini disebabkan oleh usia penduduk perempuan yang relatif lebih panjang ketimbang laki- laki. Tingkat kepadatan penduduk Kabupaten Polewali 2 Mandar mencapai 203 ribu jiwa/km pada tahun Kecamatan Polewali 2 mencatat tingkat kepadatan tertinggi, yaitu jiwa/km, disusul Kecamatan 2 Tinambung (1.085 jiwa/km ). Sedangkan tingkat kepadatan penduduk terendah 2 adalah Kecamatan Matangnga (22 jiwa/km ). Fakta ini menegaskan bahwa penyebaran penduduk di Kabupaten Polewali Mandar sangat tidak merata antar wilayah kecamatan. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : 29

61 Tabel 2.17 Jumlah Laki-Laki dan Perempuan Menurut Umur Kabupaten Polewali Mandar, No Kelompok Umur Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan Jumlah Dari sisi lapangan usaha, sebagian besar penduduk di Kabupaten Polewali Mandar bekerja di sektor pertanian, yang mencapai 52,68 persen dari seluruh penduduk usia 15 tahun yang bekerja. Sektor perdagangan menempati urutan kedua dengan persentase sebesar 17,67 persen. Sedangkan sektor industri mencatat angka terendah dengan persentase sebesar 6,78 persen. Meskipun demikian, persentase sektor perdagangan dan sektor industri cenderung meningkat, dan sebaliknya, persentase sektor pertanian cenderung menurun. Gambaran ini tampaknya dipengaruhi oleh pergeseran struktur ekonomi Kabupaten Polewali Mandar dari sektor pertanian ke sektor perdagangan. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada grafik di bawah ini : 30

62 Grafik 2.2 Persentase Penduduk Usia 15 Tahun yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, 2013 Kabupaten Polewali Mandar termasuk daerah dengan tingkat pendidikan yang relatif rendah. Ini terlihat dari jumlah penduduk usia 7-12 tahun yang lulus SD sebanyak jiwa pada tahun 2012 tidak sebanding dengan penduduk usia tahun yang lulus SMP hanya sebanyak jiwa, yang berarti ada sekitar jiwa lulusan SD tidak melanjutkan pendidikan di tingkat SMP atau setidaknya tidak mampu menamatkan pendidikan SMP. Begitupun dengan lulusan SMP pada tahun 2012 yang tidak melanjutkan pendidikan di tingkat SMA atau setidaknya tidak mampu menamatkan pendidikan SMP yang mencapai jiwa. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada grafik di berikut ini: Grafik 2.3 Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan yang Ditamatkan Kabupaten Polewali Mandar, Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar,

63 Berdasarkan data BPS Kabupaten Polewali Mandar, komposisi penduduk berdasarkan agama pada tahun 2012 didominasi oleh Agama Islam sebanyak jiwa atau (96,22 persen), sedangkan jumlah pemeluk Agama Kristen sebanyak jiwa (2,71 persen), Katholik jiwa (1,07 persen), dan Hindu 4 jiwa. Secara umum kondisi kehidupan antara umat beragama di Kabupaten Polewali Mandar cukup kondusif. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada grafik di bawah ini : Grafik 2.4 Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama Kabupaten Polewali Mandar, 2012 Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, Aspek Kesejahteraan Masyarakat Kesejahteraan masyarakat merupakan salah satu tujuan utama pembangunan Kabupaten Polewali Mandar. Tingkat kesejahteraan masyarakat dimaksud dinilai dari tiga fokus yaitu: Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi; Fokus Kesejahteraan Sosial; Fokus Seni Budaya dan Olahraga Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi Pada fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi Kabupaten Polewali Mandar, menjelaskan kondisi dan perkembangan masalah Pertumbuhan Ekonomi, Struktur Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB), PDRB Perkapita, Laju Inflasi, dan Kondisi Kemiskinan. a. Pertumbuhan Ekonomi Secara umum, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Polewali Mandar cukup kuat terutama dalam tiga tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi tertinggi terjadi pada tahun 2010, yaitu mencapai angka dua digit (10,55 persen). Meskipun pada tahun berikutnya mengalami sedikit perlambatan, namun tetap mencapai angka di atas 9,5 persen per tahun, yang menempatkan Kabupaten Polewali Mandar sebagai salah satu kabupaten dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi di Provinsi Sulawesi Barat. 32

64 Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada grafik di bawah ini : Grafik 2.5 Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Polewali Mandar, Pertumbuhan Ekonomi (persen) Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, 2013 Sumber pertumbuhan ekonomi Kabupaten Polewali Mandar berasal dari sektor pertanian, sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor jasajasa. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Polewali Mandar sebesar 9,91 persen pada tahun 2012, bersumber dari sektor pertanian sebesar 3,97 persen, sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 2,80 persen, dan sektor jasa-jasa sebesar 1,90 persen. Ini mengindikasikan bahwa peranan ketiga sektor tersebut sangat penting bagi perekonomian Kabupaten Polewali mandar. Dengan kata lain, jika terjadi perlambatan pertumbuhan pada ketiga sektor tersebut, maka pertumbuhan ekonomi Kabupaten Polewali Mandar secara keseluruhan akan mengalami perlambatan. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.18 Sumber Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Polewali Mandar (persen), No Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar,

65 Dibandingkan dengan kabupaten lainnya di Provinsi Sulawesi Barat, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Polewali Mandar juga relatif besar. Pada tahun 2012, dengan PDRB sebesar Rp Milyar, Kabupaten Polewali Mandar menyumbang sekitar 30,77 persen terhadap pembentukan PDRB Provinsi Sulawesi Barat, yang menempatkannya pada posisi kedua terbesar setelah Kabupaten Mamuju yang menyumbang sebesar 31,00 persen. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada grafik di bawah ini : Grafik 2.6 Perbandingan Kontribusi PDRB Kabupaten Terhadap PDRB Provinsi Sulawesi Barat, Sumber Data : BPS Provinsi Sulawesi Barat, Majene Polewali Mandar Mamasa Mamuju Mamuju Utara Salah satu faktor utama yang mendukung perkembangan sumbersumber pertumbuhan ekonomi Kabupaten Polewali Mandar adalah ketersediaan sarana dan prasarana pemasaran berupa fasilitas pasar sebagai tempat transaksi jual beli barang dan jasa yang beredar. Perkembangan jumlah pasar yang dikategorikan sebagai pasar kecamatan dan pasar desa tahun tidak terlalu mengalami pertambahan dari segi jumlah, dan pasar desa tidaklah menunjukkan pertambahan. Pada tahun pasar kecamatan bertambah menjadi 2 unit yaitu Pasar Kecamatan Bulo dan Pasar Kecamatan Binuang. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.19 Perkembangan Jumlah Pasar Kabupaten Polewali Mandar, No Jumlah Pasar Pasar Kecamatan Pasar Desa Jumlah Pasar Keseluruhan Sumber Data : Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kab.Polewali Mandar,

66 Pasar kecamatan dan Pasar Desa di Kabupaten Polewali Mandar yang melayani keperluan kebutuhan pokok masyarakat mampu menyerap pelaku pasar sebanyak pedagang pasar yang menempati sarana dan prasarana pasar yang 100 persen merupakan milik Pemerintah Daerah dengan kondisi 42 persen tanpa bangunan, 42 persen semi permanen dan 17 persen bangunan permanen. b. Struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Struktur ekonomi Kabupaten Polewali Mandar masih didominasi oleh sektor pertanian yang menyumbang sekitar setengah terhadap total PDRB. Namun kontribusi sektor pertanian cenderung melemah dalam tiga tahun terakhir. Sektor perdagangan, hotel dan restoran merupakan kontributor terbesar kedua terhadap PDRB dengan peran yang fluktuatif. Kontribusi sektor perdagangan, hotel dan restoran terhadap PDRB rata- rata hampir 23 persen selama periode tahun Sedangkan sektor jasa-jasa menempati urutan ketiga dengan kontribusi rata-rata sekitar 16,5 persen per tahun dan cenderung konstan dalam tiga tahun terakhir. Secara umum, perekonomian Kabupaten Polewali Mandar tidak mengalami perubahan struktur ekonomi yang berarti dalam lima tahun terakhir. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel PDRB baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan di bawah ini : Tabel 2.20 Distribusi PDRB Kabupaten Polewali Mandar atas Dasar Harga Berlaku, No Lapangan Usaha Pertanian , , , , ,44 2 Pertambangan & Penggalian 4.964, , , , ,13 3 Industri Pengolahan , , , , ,07 4 Listrik,Gas & Air Bersih , , , , ,83 5 Bangunan , , , , ,22 6 Perdagangan, Hotel & Restoran , , , , ,62 7 Pengangkutan & Komunikasi , , , , ,71 8 Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan , , , , ,86 9 Jasa-Jasa , , , , ,43 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, , , , , ,31 35

67 Tabel 2.21 Distribusi PDRB Kabupaten Polewali Mandar Atas Dasar Harga Konstan, No. Lapangan Usaha Pertanian , , , , ,77 2 Pertambangan & Penggalian 3.681, , , , ,34 3 Industri Pengolahan , , , , ,36 4 Listrik,Gas & Air Bersih 6.885, , , , ,26 5 Bangunan , , , , ,06 6 Perdagangan, Hotel & Restoran , , , , ,00 7 Pengangkutan & Komunikasi , , , , ,04 8 Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan , , , , ,63 9 Jasa-Jasa , , , , ,76 Produk Domestik Regional Bruto ,11 (PDRB) Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, , , , , 22 c. PDRB Perkapita Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, PDRB per kapita Kabupaten Polewali Mandar juga bertumbuh secara konsisten. Selama periode , PDRB per kapita Kabupaten Polewali Mandar meningkat dari Rp menjadi Rp atau meningkat rata-rata 16 persen per tahun. Kenaikan PDRB yang bergerak lebih cepat dibandingkan dengan kenaikan jumlah penduduk, menyebabkan PDRB per kapita mengalami peningkatan. Namun capaian tersebut masih berada di bawah PDRB per kapita Provinsi Sulawesi Barat yang pada tahun 2012 telah mencapai Rp 11,83 juta. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada grafik di bawah ini : Grafik 2.7 Pertumbuhan PDRB Perkapita Kabupaten Polewali Mandar, Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar,

68 d. Kondisi Kemiskinan Persoalan kemiskinan, masih menjadi isu utama dalam konteks pembangunan nasional dan daerah. Penanganan permasalahan kemiskinan memerlukan adanya keterpaduan dalam pelaksanaan kebijakan dan program-program pembangunan di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, infrastruktur, dan pemberdayaan masyarakat. Penanggulangan kemiskinan menjadi agenda prioritas yang harus ditangani secara terintegrasi yang menunjukkan adanya keberpihakan pada masyarakat kurang mampu, serta memfasilitasinya agar mampu memenuhi dan mengakses berbagai pelayanan kebutuhan masyarakat, guna mengurangi penduduk miskin. Penduduk miskin Kabupaten Polewali Mandar masih relatif tinggi dan mengalami penurunan yang cukup lambat dari tahun ke tahun. Penurunan hanya berlangsung dari 21,80 persen pada tahun 2008 menjadi 19,30 persen pada tahun 2012, yang menjadikan Kabupaten Polewali Mandar sebagai daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Provinsi Sulawesi Barat. Secara absolut, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Polewali Mandar mencapai 79,1 ribu jiwa pada tahun 2012, menurun dari 84,3 ribu jiwa pada tahun Kecamatan Balanipa, Limboro, Tinambung, dan Campalagian merupakan wilayah konsentrasi penduduk miskin di Kabupaten Polewali Mandar. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada grafik di bawah ini : Grafik 2.8 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Kabupaten Polewali Mandar, ,000 80,000 Jumlah Penduduk Miskin (Jiwa) 84,300 78,300 76,580 Persentase Penduduk Miskin (Persen) 80,400 79, ,000 60, , Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, Fokus Kesejahteraan Sosial Pada fokus kesejahteraan sosial ini, kita dapat melihat beberapa aspek yang terdiri dari : aspek Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Angka Melek Huruf (AMH), Rata-rata Lama Sekolah (RLS), Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM), dan Angka Harapan Hidup (AHH). 37

69 a. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Capaian kualitas hidup tercermin melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Dalam lima tahun terakhir, IPM Kabupaten Polewali Mandar mengalami peningkatan paling akseleratif dibanding kabupaten lainnya di Provinsi Sulawesi Barat. Namun demikian, IPM Kabupaten Polewali Mandar masih menjadi yang terendah di Provinsi Sulawesi Barat dengan nilai IPM sebesar 68,44 (2012). Capaian ini menunjukkan bahwa kualitas pembangunan manusia di Kabupaten Polewali Mandar masih berada di bawah rata-rata Provinsi Sulawesi Barat (70,73) dan Nasional (72,77). Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada grafik di bawah ini : Grafik 2.9 Perbandingan IPM Kabupaten Polewali Mandar dengan Provinsi Sulawesi Barat, Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, 2013 b. Angka Melek Huruf (AMH) Angka Melek Huruf (AMH) di Kabupaten Polewali Mandar dalam lima tahun terakhir mengalami peningkatan sebesar 2,50 point. Pada tahun 2008, AMH di Kabupaten Polewali Mandar sebesar 83,50 persen, meningkat menjadi 86,00 persen pada tahun Angka ini menunjukkan bahwa masih ada 14 persen penduduk usia 15 tahun ke atas di Kabupaten Polewali Mandar yang buta huruf. Capaian ini masih berada di bawah AMH Provinsi Sulawesi Barat yang mencatat angka 88,79 persen pada tahun AMH Kabupaten Polewali Mandar juga cenderung konstan dalam tiga tahun terakhir. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada grafik di bawah ini : 38

70 Grafik 2.10 Angka Melek Huruf Kabupaten Polewali Mandar, AMH Polewali Mandar AMH Sulawesi Barat Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, 2013 c. Rata-rata Lama Sekolah (RLS) Angka Rata-rata Lama Sekolah (RLS) mengalami peningkatan, meskipun relatif lambat. RLS Kabupaten Polewali Mandar meningkat dari 6,81 tahun (2008) menjadi 7,07 tahun (2012). Capaian ini menunjukkan bahwa penduduk Kabupaten Polewali Mandar yang berusia 15 tahun keatas secara rata-rata hanya mampu menyelesaikan pendidikan hingga kelas dua SMP. Angka RLS Kabupaten Polewali Mandar masih berada di bawah angka RLS Provinsi Sulawesi Barat. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada grafik di bawah ini : Grafik 2.11 Rata-rata Lama Sekolah Kabupaten Polewali Mandar, RLS Polewali Mandar RLS Sulawesi Barat Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, 2013 d. Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) Angka Partisipasi Kasar (APK) untuk semua jenjang pendidikan menunjukkan tren positif. Peningkatan paling signifikan terjadi pada APK SMA, yang meningkat dari 50 persen pada tahun 2010 menjadi 90 persen pada tahun APK SMP meningkat dari 63 persen menjadi 95 persen pada periode yang sama. Peningkatan paling kecil terjadi pada APK SD yang hanya meningkat dari 104 persen menjadi 112 persen pada periode yang 39

71 sama. Peningkatan ini mengindikasikan membaiknya akses penduduk usia sekolah terhadap layanan pendidikan. Paralel dengan peningkatan APK, Angka Partisipasi Murni (APM) di Kabupaten Polewali Mandar juga meningkat secara konsisten untuk semua jenjang pendidikan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik di bawah ini : Grafik 2.12 Angka Partisipasi Kasar SD, SMP dan SMA Kabupaten Polewali Mandar, Sumber Data : Dinas Pendidikan Kab. Polewali Mandar, 2014 Grafik 2.13 Angka Partisipasi Murni SD, SMP dan SMA Kabupaten Polewali Mandar, Sumber Data : Dinas Pendidikan Kab. Polewali Mandar, 2014 e. Angka Harapan Hidup (AHH) Angka Harapan Hidup (AHH), yang menunjukkan derajat kesehatan masyarakat secara umum, mengalami tren positif di Kabupaten Polewali Mandar. Meskipun demikian, AHH Kabupaten Polewali Mandar bergerak perlahan dari 64,18 tahun pada tahun 2008 menjadi 65,53 tahun pada tahun Capaian ini berada di bawah AHH Provinsi Sulawesi Barat yang telah mencapai 68,27 tahun. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada grafik berikut : 40

72 Grafik 2.14 Angka Harapan Hidup (AHH) Kabupaten Polewali Mandar, AHH Polewali Mandar AHH Sulawesi Barat Sumber Data: BPS Kab. Polewali Mandar, Fokus Seni Budaya dan Olahraga Fokus Pembangunan pada bidang seni budaya dan olahraga berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan daerah. Semakin banyak organisasi kesenian dan organisasi pemuda, maka menunjukkan ketersediaan fasilitas penunjang oleh pemerintah daerah dalam memberdayakan masyarakat. a. Jumlah Organisasi Kesenian, Pemuda dan Olahraga Jumlah organisasi kesenian, pemuda dan olah raga menunjukkan peningkatan dalam lima tahun terakhir. Peningkatan paling tajam tampak pada organisasi olah raga yang meningkat hampir lima kali lipat selama periode Hampir semua kecamatan memiliki organisasi olah raga, tetapi tidak semua kecamatan memiliki organisasi pemuda. Jumlah organisasi olahraga paling banyak terdapat di Kecamatan Polewali dan Binuang. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.22 Jumlah Organisasi Kesenian dan Pemuda Kabupaten Polewali Mandar, No Uraian Jumlah Organisasi Kesenian Jumlah Organisasi Pemuda Jumlah Organisasi Olah raga Sumber Data : Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kab. Polewali Mandar, 2014 b. Jumlah Kegiatan Kepemudaan dan Olahraga Peningkatan jumlah organisasi pemuda dan olahraga tampaknya tidak berjalan paralel dengan peningkatan kegiatan kepemudaan dan olah raga. Jumlah kegiatan kepemudaan dan olah raga cenderung stagnan dalam lima tahun terakhir. Bahkan pada tahun 2013, jumlah kegiatan olah raga justru menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel berikut : 41

73 Tabel 2.23 Jumlah Kegiatan Pemuda Kabupaten Polewali Mandar, No Uraian Jumlah Kegiatan Pemuda Jumlah Kegiatan Olah Raga Jumlah Lapangan Olahraga Sumber Data : Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kab. Polewali Mandar, Aspek Pelayanan Umum Fokus Layanan Urusan Wajib 1. Pendidikan Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan potensi peserta didik, oleh karena itu pembangunan pada bidang pendidikan di Kabupaten Polewali Mandar me rupakan sebuah strategi sebagai cerminan tingginya peradaban bangsa. Bahwa bangsa yang beradab adalah bangsa yang sadar akan siapa dirinya (jati diri) dan apa yang menjadi tujuan bersama sebagai bangsa (cita-cita nasional). a. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Pergerakan Angka Partisipasi Kasar PAUD di Kabupaten Polewali Mandar dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang sangat tipis bila kita menghitung partisipasi anak usia 0-6 tahun seperti dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.24 APK Anak Usia 0 6 tahun Kabupaten Polewali Mandar, Jumlah Penduduk Jumlah AUD Kecamatan 0-6 Thn Terlayani APK PAUD Tinambung ,95 18,50 Balanipa ,20 41,40 Limboro ,88 50,00 Tubbi Taramanu ,93 16,53 Alu ,35 35,01 Campalagian ,78 28,51 Luyo ,16 24,63 Wonomulyo ,66 30,71 Mapilli ,13 23,33 Tapango ,73 65,39 Matakali ,16 20,76 Polewali ,78 17,41 Binuang ,07 15,50 Anreapi ,78 52,14 Matangnga ,49 55,93 Bulo ,51 53,20 Kab. Polewali Mandar ,49 29,34 Sumber Data : Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kab. Polewali Mandar,

74 Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa APK PAUD tahun 2011 hanya sebesar persen dan pada tahun 2012 naik menjadi persen atau naik sebesar 5.85 persen, sedangkan target nasional adalah sebesar 75 persen tahun b. Pendidikan Dasar dan Menengah Angka Partisipasi Sekolah (APS) merupakan ukuran daya serap lembaga pendidikan terhadap penduduk usia sekolah. APS di Kabupaten Polewali Mandar untuk kelompok umur 7-12 tahun (SD/MI) dan tahun (SMP/MTs) menunjukkan tren positif. Meskipun APS 7-12 tahun lebih tinggi dibandingkan dengan APS tahun, namun APS tahun menunjukkan peningkatan yang cukup tajam. APS tahun meningkat dari 57,63 persen pada tahun 2009 menjadi 84,23 persen pada tahun 2012, sedangkan APS 7-12 tahun meningkat dari 94,63 persen (2009) menjadi 108,51 persen (2012). Peningkatan ini menunjukkan membaiknya akses masyarakat terhadap layanan pendidikan dan meningkatnya daya serap lembaga pendidikan di Kabupaten Polewali Mandar, sedikitnya dalam lima tahun terakhir. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.25 Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Kabupaten Polewali Mandar, No Jenjang Pendidikan SD/MI Jumlah murid Usia thn 1.2 Jumlah Penduduk kelompok usia 7-12 thn APS SD/MI SMP/MTs 2.1 Jumlah murid Usia thn Jumlah Penduduk kelompok usia thn APS SMP/MTs Sumber Data : Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kab. Polewali Mandar,

75 Tabel 2.26 Angka Partisipasi Sekolah (APS) Menurut Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, 2012 SD/MI SMP/MTs Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Pendudu No. Kecamatan Pendudu Murid Murid 7- APS k usia k usia thn thn thn thn APS 1 Tinambung , ,17 2 Balanipa , ,39 3 Limboro , ,97 4 Tubbi , Taramanu ,40 5 Alu , ,90 6 Campalagian , ,79 7 Luyo , ,87 8 Wonomulyo , ,21 9 Mapilli , ,73 10 Tapango , ,70 11 Matakali , ,45 12 Polewali , ,80 13 Binuang , ,62 14 Anreapi , ,76 15 Matangnga , ,69 16 Bulo , ,94 Kab. Polewali Mandar , ,23 Sumber Data: Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kab. Polewali Mandar, 2013 c. Rasio Penduduk Usia Sekolah terhadap Jumlah Sekolah Rasio penduduk usia sekolah terhadap jumlah sekolah, baik untuk SD/MI maupun SMP/MTs, cenderung semakin membaik. Rasio untuk SD/MI menurun dari 137 orang per sekolah menjadi 134 orang per sekolah selama periode , Sedangkan untuk SMP/MTs, menurun dari 370 orang per sekolah menjadi 338 orang per sekolah pada periode yang sama. Membaiknya rasio tersebut, mengindikasikan bahwa jumlah gedung sekolah, baik SD/MI maupun SMP/MTs, bertambah lebih cepat dibandingkan dengan jumlah anak usia sekolah. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel berikut ini : 44

76 Tabel 2.27 Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Kabupaten Polewali Mandar, No Jenjang Pendidikan SD/MI 1.1 Jumlah gedung sekolah Jumlah penduduk kelompok usia 7-12 thn Rasio 0,70 0,73 0,75 0,71 0,74 2 SMP/MTs 2.1 Jumlah gedung sekolah Jumlah penduduk kelompok usia thn Rasio 0,29 0,31 0,35 0,35 0,35 Sumber Data: Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kab. Polewali Mandar, 2013 d. Rasio Murid Guru (RMG) Rasio murid terhadap guru (RMG), baik untuk SD/MI maupun SMP/MTs, cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Untuk SD/MI, RMG meningkat dari 12,80 murid per guru menjadi 13,44 murid per guru selama periode Untuk SMP/MTs, juga mengalami peningkatan dari 11,63 murid per guru menjadi 12,26 murid per guru pada periode yang sama. Capaian ini sudah lebih baik dari target Standar Pelayanan Miminum (SPM) yaitu 14 murid per guru. Membaiknya rasio tersebut, mengindikasikan bahwa jumlah guru, baik untuk SD/MI maupun SMP/MTs, bertambah lebih cepat dibandingkan dengan jumlah murid. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.28 Jumlah Guru dan Murid Pendidikan Dasar Kabupaten Polewali Mandar, No Jenjang Pendidikan SD/MI 1.1 Jumlah guru Jumlah murid Rasio SMP/MTs 2.1 Jumlah guru Jumlah murid Rasio Sumber Data : Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kab. Polewali Mandar,

77 1. Kesehatan Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pentingnya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat disertai dengan ketersediaan saranan dan prasarana kesehatan. a. Jumlah Rumah Sakit Jumlah Rumah Sakit di Kabupaten Polewali Mandar tidak mengalami perubahan selama lima tahun terakhir, yaitu hanya tiga unit, yang terdiri atas 1 unit Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan dua unit Rumah Sakit TNI dan Polri. Akibatnya, rasio Rumah Sakit terhadap penduduk terus membesar karena jumlah penduduk terus meningkat. Pada tahun 2009, rasio Rumah Sakit terhadap penduduk meningkat dari pada tahun 2009 menjadi pada tahun Angka yang disebut terakhir menunjukkan bahwa setiap Rumah Sakit di Kabupaten Polewali Mandar akan melayani orang. Rasio ini tampaknya terlalu besar dan masih jauh dari kondisi ideal. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.29 Jumlah dan Rasio Rumah Sakit Per Jumlah Penduduk Kabupaten Polewali Mandar, No Uraian Jumlah Rumah Sakit Umum (Pemerintah) Jumlah Rumah Sakit Jiwa/Paru dan penyakit khusus lainnya milik pemerintah 3. Jumlah Rumah Sakit AD/AU/ AL/POLRI * Jumlah Rumah Sakit Umum Daerah Jumlah seluruh Rumah Sakit Jumlah Penduduk 371, , , , , Rasio , Sumber Data : Dinas Kesehatan Kab. Polewali Mandar, 2013 Ket : * Kategori Rumah Sakit Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama b. Jumlah Tenaga Medis Secara keseluruhan, jumlah tenaga medis di Kabupaten Polewali Mandar menunjukkan peningkatan, dari 542 orang pada tahun 2008 menjadi 655 orang pada tahun Jumlah dokter (dokter umum,dokter ahli, dokter gigi dan PTT) juga menunjukkan tren meningkat, meskipun sedikit menurun pada tahun Sedangkan jumlah tenaga medis lainnya (bidan, bidan PTT, perawat, dlll.) cenderung berfluktuasi dengan tren meningkat. Pada tahun 2012, jumlah dokter (termasuk dokter PTT) telah mencapai 85 orang, dan tenaga medis lainnya mencapai 570 orang. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel berikut : 46

78 Tabel 2.30 Jumlah Tenaga Medis Kabupaten Polewali Mandar, No Uraian Dokter Umum Dokter Gigi Dokter Ahli Dokter PTT Bidan Bidan PTT Perawat, dll Jumlah Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, 2013 c. Jumlah Dokter Jumlah dokter (umum, ahli dan gigi) di Kabupaten Polewali Mandar menunjukkan kecenderungan meningkat, meski mengalami sedkit penurunan pada tahun 2012, dari 86 dokter pada tahun sebelumnya menjadi 71 dokter (tidak termasuk dokter PTT). Akibatnya rasio dokter terhadap penduduk meningkat dari penduduk untuk setiap dokter (2011) menjadi penduduk untuk setiap dokter (2012). Meski demikian, rasio ini sudah jauh lebih rendah dibandingkan dengan rasio lima tahun lalu. Secara umum, rasio ini masih sangat tinggi dibandingkan dengan rasio ideal, yaitu penduduk untuk setiap dokter. Kecamatan Matangnga mencatat rasio paling rendah, dan sebaliknya, Kecamatan Luyo mencatat rasio paling besar. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.31 Jumlah Dokter Kabupaten Polewali Mandar, No Uraian Jumlah Dokter (Umum, Ahli, Gigi) Jumlah Penduduk , , , ,648 3 Rasio Penduduk - Dokter Sumber Data : Dinas Kesehatan Kab. Polewali Mandar,

79 Tabel 2.32 Jumlah Dokter Umum Menurut Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, 2012 No Kecamatan Jumlah Penduduk Jumlah Dokter Umum Rasio 1 Tinambung Balanipa Limboro Tubbi Taramanu Allu Campalagian Luyo Wonomulyo Mapilli Tapango Matakali Polewali Binuang Anreapi Matangnga Bulo Kab. Polewali Mandar Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, 2013 d. Jumlah Tenaga Non-Medis Seperti halnya dengan jumlah dokter, jumlah tenaga non-medis secara absolut menunjukkan penurunan pada tahun Jumlah paramedis pada tahun 2011 sebanyak 60 orang dan menurun menjadi 48 orang pada tahun Peningkatan jumlah tenaga non-medis paling tajam terjadi pada tahun 2010 yang meningkat 50 persen dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2012, rasio tenaga non-medis terhadap jumlah penduduk sebesar Artinya, setiap tenaga non-medis di Kabupaten Polewali Mandar akan melayani orang. Kecamatan Matangnga mencatat rasio tenaga nonmedis paling rendah, dan sebaliknya, Kecamatan Tapango mencatat rasio paling besar. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.33 Jumlah Tenaga Non-Medis Kabupaten Polewali Mandar, No Uraian Jumlah Tenaga Non-Medis Jumlah Penduduk ,648 3 Rasio Sumber Data : Dinas Kesehatan Kab. Polewali Mandar,

80 Tabel 2.34 Jumlah Tenaga Non-Medis Menurut Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, 2012 No Kecamatan Jumlah Penduduk Jumlah Tenaga Rasio Non-Medis 1 Tinambung Balanipa Limboro Tubbi Taramanu Allu Campalagian Luyo Wonomulyo Mapilli Tapango Matakali Polewali Binuang Anreapi Matangnga Bulo Kab. Polewali Mandar Sumber Data : Dinas Kesehatan Kab. Polewali Mandar, 2013 e. Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kelangsungan Hidup Bayi (AKHB) Angka Kematian Bayi (AKB) mengukur kasus kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun. AKB di Kabupaten Polewali Mandar menunjukkan kecenderungan menurun dari 12,94 bayi (2009) menjadi 12,46 bayi per kelahiran hidup (2012). Capaian ini tampak positif karena jumlah kelahiran hidup cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Namun tetap penting dicatat bahwa AKB ini merupakan kasus kematian yang dilaporkan (facility based) dan tidak sepenuhnya mencerminkan kasus kematian bayi yang sesunggguhnya (community based). AKB tertinggi terjadi di Kecamatan Tapango dan Luyo, sedangkan AKB terendah terjadi di Kecamatan Matangnga dan Limboro. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di berikut ini: 49

81 Tabel 2.35 Jumlah Lahir Hidup, Jumlah Kematian Bayi, AKB dan AKHB Kabupaten Polewali Mandar, No. Uraian Jumlah Lahir Hidup Jumlah Kematian Bayi Angka Kematian Bayi (AKB) Angka Kelahiran Hidup Bayi (AKHB) Sumber Data : Dinas Kesehatan Kab. Polewali Mandar, Angka Kelangsungan Hidup Bayi (AKHB) merupakan probabilitas bayi hidup sampai dengan usia satu tahun. AKHB di Kabupaten Polewali Mandar menunjukkan angka yang konstan, kecuali pada tahun AKHB tertinggi terjadi di Kecamatan Matangnga dan terendah di Kecamatan Luyo. Ini mudah dipahami karena AKHB berkebalikan dengan AKB, dimana daerah dengan AKB yang tinggi akan memperlihatkan AKHB yang rendah, demikian pula sebaliknya. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.36 Jumlah Lahir Hidup, Jumlah Kematian Bayi, AKB dan AKHB Menurut Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, 2012 No Kecamatan Jumlah kematian bayi Jumlah Kelahiran AKB per 1000 AKHB usia di bawah 1 tahun Hidup Kelahiran Hidup 1 Tinambung Balanipa Limboro Tubbi Taramanu Allu Campalagian 7 1, Luyo Wonomulyo 16 1, Mapilli Tapango Matakali Polewali 17 1, Binuang Anreapi Matangnga , Bulo Kab. Polewali Mandar Sumber Data : Dinas Kesehatan Kab. Polewali Mandar,

82 f. Persentase Balita Gizi Buruk Persentase balita gizi buruk di Kabupaten Polewali Mandar menunjukkan penurunan yang cukup signifikan dalam lima tahun terakhir. Jika mengacu pada data tahun 2008, maka persentase balita gizi buruk menurun separuh pada tahun Penurunan paling tajam terjadi pada tahun 2010 yang merupakan angka persentase balita gizi buruk paling rendah, yaitu 0,5 persen. Angka ini menunjukkan bahwa setiap 200 balita, satu diantaranya menderita gizi buruk. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada grafik di bawah ini : Grafik 2.15 Persentase Balita Gizi Buruk Kabupaten Polewali Mandar, 2012 Sumber Data: Dinas Kesehatan Kab. Polewali Mandar, 2013 g. Jumlah Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Meskipun jumlah posyandu cenderung meningkat dari tahun 2009 hingga 2013, namun rasio posyandu terhadap balita tidak mengalami perubahan berarti. Ini disebabkan oleh pertambahan jumlah balita yang meningkat secara paralel dengan pertambahan jumlah posyandu. Pada tahun 2013, rasio posyandu terhadap balita sebesar 93, yang berarti bahwa secara rata-rata setiap posyandu melayani 93 balita. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, rasio tersebut mengalami sedikit peningkatan. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.37 Jumlah Posyandu dan Balita Kabupaten Polewali Mandar, No Uraian Jumlah posyandu Jumlah balita Rasio Sumber Data : Dinas Kesehatan Kab Polewali Mandar,

83 Tabel 2.38 Jumlah Posyandu dan Balita Menurut Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, 2012 No Kecamatan Jumlah Posyandu Jumlah Balita Rasio 1. Tinambung Balanipa Limboro Tubbi Taramanu Allu Campalagian Luyo Wonomulyo Mapilli Tapango Matakali Polewali Binuang Anreapi Matangnga Bulo Kab. Polewali Mandar Sumber Data : Dinas Kesehatan Kab. Polewali Mandar, 2013 h. Jumlah Puskesmas, Poliklinik dan Puskesmas Pembantu (Pustu) Dari berbagai jenis fasilitas kesehatan, Puskesmas Pembantu (Pustu) yang menunjukkan peningkatan paling signifikan. Jumlah Pustu meningkat dari 59 unit pada tahun 2009 menjadi 71 unit pada tahun Sedangkan jumlah Puskesmas dan Poliklinik masing-masng hanya bertambah satu unit selama periode Akibatnya, rasio Puskesmas terhadap penduduk terus meningkat, dan sebaliknya, rasio Pustu terhadap penduduk cenderung menurun. Laju pertumbuhan penduduk yang relatif lebih cepat ketimbang pertambahan Puskesmas telah menyebabkan rasio Puskesmas terhadap penduduk cenderung menurun. Keberadaan Puskesmas menyebar di seluruh wilayah kecamatan, dan bahkan beberapa kecamatan telah memiliki Puskesmas lebih dari satu, seperti Kecamatan Campalagian, Wonomulyo, Polewali dan Binuang. 52

84 Tabel 2.39 Jumlah Puskesmas, Poliklinik dan Pustu Kabupaten Polewali Mandar, No. Uraian Jumlah Puskesmas Jumlah Poliklinik Jumlah Pustu Jumlah Penduduk Rasio Puskesmas persatuan penduduk 6. Rasio Pustu persatuan Penduduk Sumber Data : Dinas Kesehatan Kab. Polewali Mandar, 2013 No Kecamatan Tabel 2.40 Jumlah Puskesmas, Poliklinik dan Pustu Menurut Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, 2012 Jumlah Penduduk Puskesmas Poliklinik Pustu Jumlah Rasio Jumlah Rasio Jumlah Rasio 1 Tinambung Balanipa Limboro ,757 4 Tubbi Taramanu Allu Campalagian Luyo Wonomulyo Mapilli Tapango Matakali Polewali Binuang Anreapi Matangnga Bulo Kab. Polewali Mandar Sumber Data : Dinas Kesehatan Kab. Polewali Mandar, Pekerjaan Umum a. Panjang Jaringan Jalan Secara umum, kualitas jalan di Kabupaten Polewali Mandar terus membaik. Ini ditandai dengan meningkatnya, baik secara absolut maupun relatif, panjang jalan dalam kondisi baik dan sedang. Secara absolut, panjang jalan dalam kondisi baik meningkat sekitar tiga kali lipat selama kurun waktu Secara relatif, proporsi panjang jalan dalam kondisi baik meningkat dari 22,43 persen menjadi 60,27 persen pada periode yang sama. Sebaliknya, panjang jalan dalam kondisi rusak ringan dan berat menunjukkan penurunan, 53

85 baik secara absolut maupun relatif. Capaian ini menjadi tampak istimewa karena total panjang jalan juga terus meningkat dari tahun ke tahun. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.41 Panjang Jalan Keseluruhan Berdasarkan Kondisi Jalan (Km) Kabupaten Polewali Mandar, Panjang Jalan (km) No. Kondisi Jalan Baik 294,18 343,99 689,48 699, ,69 2. Sedang 161,00 161,00 417,09 429,82 285,04 3. Rusak 730,82 735,35 323,81 308,56 330,25 4. Rusak Berat 278,00 293,40 252,76 269,55 70,79 5. Total 1.464, , , , ,77 Sumber Data : BPS Provinsi Sulawesi Barat, 2013 b. Jaringan Irigasi Panjang jaringan irigasi, baik primer, sekunder maupun tersier, di Kabupaten Polewali Mandar menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun selama periode Panjang jaringan irigasi primer meningkat dari Km (2009) menjadi Km (2013). Pada saat yang sama, panjang jaringan irigasi sekunder meningkat dari Km (2009) menjadi Km (2013). Sedangkan panjang jaringan irigasi tertier meningkat dari Km (2009) menjadi Km (2013). Proporsi jaringan irigasi tertier mencapai lebih dari setengah terhadap total panjang jaringan irigasi. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.42 Rasio Jaringan Irigasi Kabupaten Polewali Mandar, Panjang Jaringan No. Jaringan Irigasi Jaringan primer Jaringan Sekunder Jaringan Tersier Total Panjang Jaringan Sumber Data : Dinas Pekerjaan Umum Kab. Polewali Mandar, 2013 c. Jumlah Tempat Ibadah Mengingat mayoritas penduduk Kabupaten Polewali Mandar beragama Islam, maka jumlah tempat ibadah juga didominasi oleh Masjid dan Mushola. Sampai dengan tahun 2012, jumlah Masjid di Kabupaten Polewali Mandar sebanyak 763 unit dan Mushola sebanyak 39. Sedangkan jumlah gereja protestan dan gereja katolik masing-masing sebanyak 45 unit dan 9 unit. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada grafik dan tabel di berikut ini : 54

86 Grafik 2.16 Jumlah Rumah Ibadah Kabupaten Polewali Mandar, Unit 9 Unit 39 Unit 763 Unit Masjid Mushola Gereja Protestan Gereja Katolik Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, 2013 No Tabel 2.43 Jumlah Tempat Ibadah dan Jumlah Pemeluk Agama Menurut Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, 2012 Kecamatan Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, 2013 Masjid Musholah Jumlah Pemeluk Gereja Protestan Gereja Katolik Pura (unit) (unit) (unit) Pemeluk (unit) Pemeluk (unit) Pemeluk 1 Tinambung Balanipa Limboro Tubbi Taramanu Allu Campalagian Luyo Wonomulyo Mapilli Tapango Matakali Polewali Binuang Anreapi Matangnga Bulo* Kab. Polewali Mandar d. Rumah Tinggal Bersanitasi Selama kurun waktu , jumlah rumah tinggal bersanitasi di Kabupaten Polewali Mandar, cenderung meningkat. Pada tahun 2009, jumlah rumah tinggal bersanitasi sebesar RT, dan meningkat menjadi RT pada tahun 2013 atau meningkat 63,9 persen. Peningkatan ini jauh besar dibandingkan dengan peningkatan jumlah rumah tinggal secara keseluruhan. Akibatnya proporsi rumah tinggal bersanitasi terhadap total rumah tinggal, juga menunjukkan kecenderungan meningkat. Pada tahun 2013, proporsi rumah tinggal bersanitasi sebesar 63,54 persen, meningkat dari 41,01 persen pada 55

87 tahun Namun capaian ini sesungguhnya masih tergolong rendah, mengingat masih ada sekitar 36,5 persen rumah tinggal yang tidak memiliki akses terhadap sanitasi. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.44 Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi Kabupaten Polewali Mandar, No Uraian Jumlah rumah tinggal berakses sanitasi 2. Jumlah rumah tinggal Persentase 41,01 48,42 44,82 59, Sumber Data : Dinas Kesehatan Kab. Polewali Mandar, Perumahan Informasi tentang perumahan menjadi penting untuk melihat sejauhmana masyarakat telah menikmati rumah. Dengan melihat kondisi rumah, dapat dijadikan sebagai salah satu indikator untuk mengukur tingkat sosial masyarakat dan keberhasilan pembangunan dibidang perumahan. Penyediaan perumahan di Kabupaten Polewali Mandar masih didominasi oleh rumah milik sendiri. Penyediaan jaringan/instalasi listrik maupun air PDAM dari tahun ke tahun pun terus meningkat. Untuk mengetaui indikator perumahan tahun pada tabel di bawah ini : Tabel 2.45 Indikator Perumahan Kabupaten Polewali Mandar, No URAIAN TAHUN SATUAN Status Kepemilikan 1. a. Rumah Milik Sendiri 91,41 89,08 b. Rumah Dinas/Bebas sewa 8,59 10,92 - Persen 2. Rumah Menurut Jenis Lantai a. Bukan Tanah 97,27 96,51 - Persen b. Tanah 2,73 3,49 Rumah Menurut Jenis Dinding a. Tembok 30,82 33,62 3. b. Kayu 52,82 46,95 c. Bambu 5,51 4,35 - Persen d. lainnya 10,81 15,09 4. Jumlah Sambungan Rumah Tangga (PLN) a. Analog RT b. Prabayar RT Jumlah RT 5. Jumlah Sambungan Rumah Tangga (PDAM) RT 6. Luas Permukiman Kumuh Ha 7. Jumlah rumah tinggal layak huni Ha 8. Jumlah Rumah Tinggal Tidak Layak Huni Unit Sumber Data : Berbagai Sumber (BPS, PLN, PDAM dan Dinas Tata Ruang dan Permukiman Kab. Polewali Mandar),

88 5. Penataan Ruang a. Ruang Terbuka Hijau (RTH) Ruang terbuka hijau berfungsi sebagai wadah bersosialisasi bagi warga, tempat berkumpul, tempat evakuasi jika terjadi bencana alam, juga sebagai tempat bermain bagi anak-anak yang semakin sulit bagi mereka dapatkan terutama di wilayah perkotaan. Rasio ruang terbuka hijau pada wilayah perkotaan di Kabupaten Polewali Mandar dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.46 Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah Perkotaan Kabupaten Polewali Mandar, No. Uraian Luas Ruang Terbuka Hijau (Ha) Luas wilayah ber HPL/HGB (Ha) Luas Wilayah Rasio Ruang Terbuka Hijau Sumber Data : Dinas Tata Ruang dan Permukiman Kab. Polewali Mandar, Grafik 2.17 Rasio Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan Polewali Kabupaten Polewali Mandar, 2013 Sumber Data : Dinas Tata Ruang dan Permukiman Kab. Polewali Mandar, b. Rasio Bangunan Ber-IMB Per Satuan Bangunan Jumlah bangunan di Kabupaten Polewali Mandar yang memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB) masih sangat kecil. Dari total bangunan sebanyak unit, hanya 826 unit yang memiliki IMB, atau hanya 0,93 persen. Dengan kata lain, setiap bangunan di Kabupaten Polewali Mandar hanya sekitar 9 bangunan yang memiliki IMB. Jika dilihat berdasarkan wilayah kecamatan, proporsi bangunan ber-imb paling tinggi terdapat di Kecamatan Polewali dan disusul Wonomulyo. Ini mudah dipahami karena kedua wilayah tersebut merupakan wilayah perkotaan. Lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel berikut: 57

89 Tabel 2.47 Rasio Bangunan ber-imb per Satuan Bangunan Kabupaten Polewali Mandar, No Uraian Jumlah Bangunan ber-imb Jumlah Bangunan Proporsi Bangunan ber-imb Sumber Data : Dinas Tata Ruang dan Permukiman Kab. Polewali Mandar, 2014 Tabel 2.48 Rasio Bangunan ber-imb per Satuan Bangunan Menurut Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, 2013 No Kecamatan Jumlah Jumlah Bangunan Rasio Bangunan Bangunan ber-imb ber-no. IMB 1 Tinambung ,13 2 Balanipa ,04 3 Limboro ,02 4 Tubbi Taramanu Alu Campalagian ,02 7 Luyo Wonomulyo ,45 9 Mapilli ,08 10 Tapango ,08 11 Matakali ,63 12 Polewali ,32 13 Binuang ,50 14 Anreapi Matangnga Bulo ,93 Kab. Polewali Mandar ,20 Sumber Data : Dinas Tata Ruang dan Permukiman Kab. Polewali Mandar, Perencanaan Pembangunan Penyelarasan secara terpadu dokumen perencanaan pembangunan nasional yaitu RPJM Nasional, RPJMD Sulawesi Barat dengan RPJMD Kabupaten Polewali Mandar Tahun untuk menyelesaikan permasalahan dan isu strategis sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagaimana diubah terakhir kali dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pemerintah Daerah, perlu semakin ditingkatkan. Pelaksanaan perencanaan lima tahunan RPJMD dijabarkan dalam RKPD yang merupakan implementasi target tahunan RPJMD yang ditetapkan dengan Peraturan Bupati setiap tahunnya. Selain dijabarkan dalam dokumen RKPD, 58

90 RPJMD juga dijabarkan ke dalam Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD). Ketersediaan dokumen perencanaan tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.49 Dokumen Perencanaan Pembangunan Kabupaten Polewali Mandar, No Indikator Tersedianya dokumen RPJPD Kabupaten Polewali Mandar yang telah ditetapkan dengan Perda Tersedianya dokumen RPJMD yang telah ditetapkan dengan Perda Tersedianya dokumen RKPD yang telah ditetapkan dengan Perkada Persentase Renstra SKPD yang Selaras dengan RPJMD, (%) Persentase Renja SKPD yang Selaras dengan RKPD, (%) Sumber Data : Bappeda Kab. Polewali Mandar, 2014 Tahun Tidak Ada Tidak Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Perhubungan a. Jumlah Arus Penumpang Angkutan Umum Jumlah penumpang angkutan umum di Kabupaten Polewali Mandar terus meningkat dari tahun ke tahun selama periode Pada tahun 2009, jumlah penumpang angkutan umum sebanyak orang dan kemudian meningkat menjadi pada tahun 2013 atau meningkat hampir 40 persen. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa penduduk Kabupaten Polewali Mandar memiliki tingkat mobilitas yang cukup tinggi. Mobilitas penduduk d ilakukan dengan mengunakan kendaraan Bis dan Kapal Laut. Penduduk di Kecamatan Wonomulyo dan Polewali memiliki tingkat mobilitas yang paling tinggi. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada grafik dan tabel berikut : 59

91 Grafik 2.18 Jumlah Penumpang Angkutan Umum Kabupaten Polewali Mandar, Sumber Data: Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kab. Polewali Mandar, 2014 b. Rasio Ijin Trayek Ijin trayek angkutan umum jalan berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dikelompokkan atas Angkutan trayek tetap dan teratur dan angkutan tidak dalam trayek yang dikenal sebagai izin operasi. Dapat dilihat rasio ijin trayek pada tabel di bawah ini : Tabel 2.50 Rasio Ijin Trayek Kabupaten Polewali Mandar, No Uraian Izin trayek perkotaan Izin trayek perdesaan Jumlah izin trayek Jumlah penduduk Rasio izin trayek Sumber Data : Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kab. Polewali Mandar,

92 Tabel 2.51 Rasio Ijin Trayek Menurut Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, 2012 Jumlah Izin Trayek Total Jumlah Izin Rasio No Kecamatan Jumlah Izin Perkotaan Perdesaan Trayek Penduduk Trayek 1 Tinambung Balanipa Limboro Tubbi Taramanu Allu Campalagian Luyo Wonomulyo Mapilli Tapango Matakali Polewali Binuang Anreapi Matangnga Bulo Kab. Polewali Mandar Sumber Data : Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kab. Polewali Mandar, 2013 c. Jumlah Uji Kir Angkutan Umum Kir adalah uji kelayakan kendaraan bermotor roda empat, yang gunanya untuk menilai apakah komponen-komponen kendaraan tersebut masih layak untuk berada di jalanan. Jumlah kendaraan umum di Kabupaten Polewali Mandar yang telah melakukan uji kir dapat dilihat pada tabel di bawah ini : No Angkutan Umum 1. Mobil Penumpang Jmlh Jmlh KIR % Jmlh Jmlh KIR % Jmlh Jmlh KIR % Jmlh Jmlh KIR % Jmlh Jmlh KIR , Mobil Bus Mobil Barang Tabel 2.52 Jumlah Uji Kir Angkutan Umum Kabupaten Polewali Mandar, Jumlah Sumber Data : Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kab. Polewali Mandar, 2014 d. Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Tabel 2.53 Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Kabupaten Polewali Mandar, No. Uraian Jumlah pelabuhan laut Jumlah pelabuhan udara Jumlah terminal bis Sumber Data : Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kab. Polewali Mandar, 2014 % 61

93 8. Lingkungan Hidup a. Persentase Penanganan Sampah Volume sampah di Kabupaten Polewali Mandar terus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010, jumlah 3 3 sampah sebesar 91 m dan meningkat menjadi 114 m pada tahun Meskipun mengalami peningkatan volume, namun persentase sampah yang mampu ditangani memperlihatkan tren meningkat. Pada tahun 2010, volume sampah yang bisa ditangani kurang dari setengah, dan pada tahun 2013, volume sampah yang bisa ditangani telah mencapai 89,47 persen. Namun capaian ini juga mengisyaratkan bahwa masih ada sekitar 10 persen sampah yang belum bisa ditangani. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.54 Jumlah Volume Sampah dan Produksi Sampah Kabupaten Polewali Mandar, No Uraian Jumlah volume produksi sampah (M3) Jumlah sampah yang ditangani (M3) Persentase sampah yang ditangani (%) 49,45 49,45 88, Sumber Data : Dinas Tata Ruang dan Permukiman Kab. Polewali Mandar 2014 b. Rasio Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Per Satuan Penduduk Jumlah tempat pembuangan sampah di Kabupaten Polewali Mandar meningkat dari tahun ke tahun. Jika mengacu pada data lima tahun lalu, tempat pembuangan sampah meningkat lebih dari dua kali lipat. Peningkatan tempat pembuangan sampah telah berdampak terhadap peningkatan daya tampung tempat pembuangan sampah dan volume sampah yang juga meningkat lebih dari dua kali lipat. Meskipun demikian, volume produksi sampah masih lebih besar dibandingkan dengan daya tampung tempat pembuangan sampah. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.55 Jumlah TPA Sampah, Daya Tampung dan Volume Produksi Sampah Kabupaten Polewali Mandar, No Uraian Jumlah TPA Sampah (Unit) Jumlah Daya Tampung TP A Sampah (M3) Persentase sampah Sampah yang ditangani Sumber Data : Dinas Tata Ruang dan Permukiman Kab. Polewali Mandar,

94 9. Pertanahan Urusan pertanahan dilaksanakan untuk meningkatkan penataan pertanahan dan tercapainya perumusan kebijakan dalam urusan pertanahan. Indikator urusan pertanahan di Kabupaten Polewali Mandar tahun dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.56 Jumlah Tanah yang Bersertifikat Kabupaten Polewali Mandar, No Uraian Tahun Satuan 1 Jumlah Tanah yang bersertifikat (bangunan/gudang) per tahun a. Hak Milik Dokumen b. Hak Guna Dokumen c. Hak Pakai Dokumen 2 Persentase konflik tanah yang teridentifikasi dan melibatkan Persen pemerintah daerah yang ditindaklanjuti 3 Persentase sertifikat proda yang terbit Persen Sumber Data : - Bagian Pemerintahan Setda Kab. Polewali Mandar, Kantor Pertanahan Kab. Polewali Mandar, Kependudukan dan Catatan Sipil Pelayanan bidang kependudukan dan pencatatan sipil merupakan salah satu sasaran utama dalam pembangunan. Keberadaan penduduk yang merupakan salah satu modal utama pembangunan perlu mendapatkan perhatian agar penerapan adminstrasi kependudukan berjalan sesuai dengan amanat undang-undang yang berlaku. Penerapan sistem informasi administrasi kependudukan seperti yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Pendudukan dan Pencatatan Sipil serta Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2009 tentang Penerapan KTP Berbasis NIK Secara Nasional, memerlukan koordinasi, fasilitasi dan pembinaan di bidang kependudukan dan catatan sipil yang baik antara Pemerintah Pusat, Provinsi dengan Kabupaten/Kota. Implementasi sistem informasi administrasi kependudukan (SIAK) on line perlu mendapatkan dukungan dengan peningkatan kapasitas SDM dalam rangka pengoperasiannya termasuk pelatihan pemeliharaan peralatan jaringan SIAK on line. Menurut catatan dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, jumlah penduduk Kabupaten Polewali Mandar tahun 2013 adalah orang dengan komposisi penduduk perempuan sebanyak orang dan orang laki-laki. Pelayanan administrasi kependudukan di Kabupaten Polewali Mandar yang dilakukan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil antara lain pelayanan KTP, KK, Akta Kelahiran, Akta Kematian, Akta Perkawinan, dan Akta Perceraian. Pelayanan ini harus diberikan kepada semua masyarakat dan juga 63

95 ada beberapa jenis pelayanan yang telah mempunyai standar pelayanan minimal (SPM) yang harus dicapai. Tabel 2.57 Jumlah Penduduk Kabupaten Polewali Mandar, No Jenis Data Tahun Satuan 1 Jumlah Penduduk Jiwa a. Laki-laki Jiwa Laki-laki Persen b. Perempuan Jiwa Perempuan Persen 2 Persentase ketersediaan data base kependudukan Persen 3 Persentase enrolment KTP-e 0 8, ,2 Persen 4 Persentase kepemilikan kartu keluarga 46,8 66,7 82,9 94,2 Persen 5 Persentase kepemilikan akta kelahiran 56,2 64,4 72,9 79,4 Persen Sumber Data : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kab. Polewali Mandar, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak a. Partisipasi Perempuan di Lembaga Pemerintah Secara umum, partisipasi perempuan di lembaga pemerintahan Kabupaten Polewali Mandar cukup tinggi. Dari seluruh pegawai di lingkungan pemerintahan Kabupaten Polewali, sekitar 30,34 persen berjenis kelamin perempuan. Dengan kata lain, setiap tiga orang pegawai, satu diantaranya perempuan. Tingkat partisipasi perempuan di lembaga perempuan dari tahun ke tahun terus meningkat. Jika diamati berdasarkan jabatan, persentase perempuan yang menduduki jabatan eselon III dan IV juga sudah menunjukkan angka yang cukup baik. Namun, untuk eselon II, tingkat partisipasi perempuan masih relatif kecil, meski pada tahun 2013 mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Saat ini, persentase perempuan yang menduduki eselon II hanya 9,37 persen, yang berarti bahwa setiap 10 orang yang menduduki eselon II, hanya satu yang berjenis kelamin perempuan. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel berikut : 64

96 Tabel 2.58 Persentase Partisipasi Perempuan di Lembaga Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar, No. Uraian Persentase perempuan jabatan eselon II Persentase perempuan jabatan eselon III Persentase perempuan jabatan eselon IV.a Persentase perempuan jabatan eselon IV.b 34,9 15, Jumlah pekerja perempuan di lembaga pemerintah Persentase pekerja perempuan di lembaga Pemerintah Sumber Data : Badan Kepegawaian dan Diklat Daerah Kab. Polewali Mandar, 2014 b. Indeks Pembangunan Gender (IPG) dan Indeks Pemberdayaan Gender Indeks Pembangunan Gender (IPG) merupakan indeks pencapaian kemampuan dasar pembangunan manusia dengan memperhatikan ketimpangan gender. IPG dapat digunakan untuk mengetahui kesenjangan pembangunan manusia antara laki-laki dan perempuan. Selama tahun 2012 IPG Kabupaten Polewali Mandar tercatat sebesar persen naik 2 persen dibanding IPG tahun 2009 sebesar persen. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tahun Tabel 2.59 Indeks Pembangunan Gender (IPG) Menurut Variabel Pembentuknya Kabupaten Polewali Mandar, AHH AMH RLS Sumbangan Pendapatan Perempuan IPG (%) L P L P L P L P Sumber Data : Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 2013 Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) merupakan indeks yang digunakan untuk mengkaji lebih jauh peran aktif perempuan dalam kehidupan ekonomi dan politik. Dimensi dari IDG mencakup partisipasi berpolitik direpresentasikan dengan keterwakilan perempuan dalam parlemen; partisipasi ekonomi dan pengembilan keputusan direpresentasikan perempuan sebagai tenaga profesional, teknisi, kepemimpinan dan ketatalaksanaan serta penguasaan sumber daya ekonomi yaitu sumbangan perempuan dalam pendapatan kerja. Perkembangan IDG Kabupaten Polewali Mandar dari dari tahun 2009 sebesar persen mengalami peningkatan sekitar 8 persen di tahun 2012 menjadi persen. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel berikut : 65

97 Tahun Tabel 2.60 Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) Menurut Variabel Pembentuknya Kabupaten Polewali Mandar, Keterlibatan Perempuan di Parlemen Perempuan sebagai tenaga manager, profesional, teknis Sumbangan perempuan dalam pendapatan kerja IDG (%) Sumber Data : Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 2013 Grafik 2.19 Perkembangan Indeks Pembangunan Gender (IPG) dengan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) Kabupaten Polewali Mandar, Sumber Data : Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 2013 c. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Baik secara absolut maupun relatif, jumlah kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di Kabupaten Polewali Mandar terus meningkat. Hal ini disebabkan oleh tingkat kesadaran masyarakat untuk melaporkan kasus KDRT semakin meningkat. Secara absolut, jumlah kasus KDRT meningkat lebih dari tiga kali lipat selama periode , yaitu dari 7 kasus KDRT (2009) menjadi 23 kasus KDRT (2012). Secara relatif, rasio KDRT terhadap jumlah rumah tangga, meningkat dari 0,009 (2009) menjadi 0,025 (2012). Rasio ini menunjukkan bahwa terjadi satu kasus KDRT setiap rumah tangga di Polewali Mandar. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : 66

98 Tabel 2.61 Rasio KDRT Kabupaten Polewali Mandar, No. Uraian Jumlah KDRT Jumlah Rumah Tangga Rasio KDRT terhadap Jumlah RT 0,009 0,022 0,027 0,025 Sumber Data : BKKB dan Pemberdayaan Perempuan Kab. Polewali Mandar, 2013 d. Pengembangan Kabupaten Layak Anak Kabupaten layak anak adalah kota/kabupaten yang menjamin hak setiap anak sebagai warga negara. Sedangkan pengertian anak sendiri adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Indikator Kabupaten Layak Anak berdasarkan Permeneg PP dan PA No. 12 Tahun 2012 yang harus dipenuhi Kabupaten Polewali Mandar sebagai berikut : (1) Kelembagaan; (2) Hak Sipil dan Kebebasan; (3) Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif; (4) Kesehatan Dasar dan kesejahteraan; (5) Pendidikan, Pemanfaatan waktu luang dan Kegiatan Seni; dan (6) Perlindungan khusus. Sedangkan Prinsip kota layak anak, yaitu : (1) non diskriminansi, (2) Kepentingan terbaik untuk anak, (3) Setiap anak mempunyai hak hidup, (4) Mendengar dan menghormati pandangan anak. Pengembangan Kabupaten layak anak di Kabupaten Polewali Mandar dalam memenuhi indikator berdasarkan Permeneg PP dan PA No. 12 Tahun 2012 sudah 40 persen. 12.Keluarga Berencana (KB) Dan Keluarga Sejahtera (KS) a. Rata-rata Jumlah Anak Per Keluarga Jumlah rata-rata anak per keluarga yang ada di Kabupaten Polewali Mandar adalah 1,5 anak per keluarga pada tahun 2011 dan mengalami penurunan pada tahun 2013 menjadi 1,4 anak per keluarga. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.62 Rata-rata Jumlah Anak per Keluarga Kabupaten Polewali Mandar, No. Uraian Jumlah anak Jumlah keluarga Rata-rata jumlah anak per keluarga 1,5 1,5 1,4 Sumber Data : BKKB dan Pemberdayaan Perempuan Kab. Polewali Mandar,

99 b. Persentase Peserta KB Aktif Jumlah pasangan usia subur di Kabupaten Polewali Mandar cenderung meningkat selama tahun Demikian pula jumlah peserta KB aktif juga menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Namun persentase peserta KB aktif berfluktuasi. Kadang meningkat dan kadang menurun. Hal ini disebabkan karena terjadi drop atau ganti cara penggunaan alat kontrasepsi. Pada tahun 2013, terjadi drop dari 84,64 persen di tahun 2012 menurun menjadi 64,58persen. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.63 Persentase Peserta KB Aktif Kabupaten Polewali Mandar, No. Uraian Jumlah Peserta KB Aktif Jumlah pasangan usia subur Persentase Peserta KB Aktif 72,45 59,89 68,22 84,64 64,58 Sumber Data : BKKB dan Pemberdayaan Perempuan Kab. Polewali Mandar, 2014 c. Jumlah Tenaga Penyuluh KB Secara keseluruhan, jumlah tenaga penyuluh KB di Kabupaten Polewali Mandar menunjukkan peningkatan, dari 7 orang pada tahun 2009 menjadi 23 orang pada tahun 2010 sampai Jumlah Pengawas Penyuluh KB (PPLKB)/Koordinator juga menunjukkan tren meningkat dari tidak ada tahun 2009 meningkat menjadi 15 orang tahun 2010 sampai Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.64 Jumlah Tenaga Penyuluh KB Kabupaten Polewali Mandar, No Uraian PPLKB/Koordinator PKB/PLKB Jumlah Sumber Data : BKKB dan Pemberdayaan Perempuan Kab. Polewali Mandar,

100 Tabel 2.65 Jumlah Tenaga Penyuluh KB Menurut Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, 2013 No Kecamatan Jumlah PPLKB/Koordinator Jumla h PKB/PLKB 1 Tinambung Balanipa Limbo ro Tubbi Taramanu Allu Campalagian Luyo Wonomul yo Mapilli Tapan go Matakali Polewali Binuang Anreapi Matangn ga Bulo 1 1 Kab. Polewali Mandar 15 8 Sumber Data : BKKB dan Pemberdayaan Perempuan Kab. Polewali Mandar, 2014 d. Jumlah Klinik KB Klinik KB adalah fasilitas yang mampu dan berwenang memberikan pelayanan kontrasepsi, berlokasi dan terintegrasi di fasilitas pelayanan kesehatan dasar atau Rumah Sakit dikelola oleh pemerintah termasuk TNI dan Polri maupun swasta dan lembaga swadaya organisasi masyarakat (LSOM) serta telah terdaftar di dalam data K/O/KB. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini: 69

101 Tabel 2.66 Jumlah Klinik KB Pemerintah dan Swasta Menurut Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, 2013 No Kecamatan Pemerintah Swasta Jumlah 1 Tinambung Balanipa Limboro Tubbi Taramanu Alu Campalagian Luyo Wonomulyo Mapilli Tapango Matakali Polewali Binuang Anreapi Matangnga Bulo Kab. Polewali Mandar 23 2 Sumber Data : BKKB dan Pemberdayaan Perempuan Kab. Polewali Mandar, 2014 e. Persentase Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I Tahapan Keluarga Pra Sejahtera adalah keluarga yang tidak memenuhi salah satu dari 6 (enam) indikator Keluarga Sejahtera I (KS I) atau indikator kebutuhan dasar keluarga (basic needs). Indikator tahapan KS I atau indikator kebutuhan dasar keluarga (basic needs), yaitu : (1) Pada umumnya anggota keluarga makan dua kali sehari atau lebih, (2) Anggota keluarga memiliki pakaian yang berbeda untuk di rumah, bekerja/sekolah dan bepergian, (3) Rumah yang ditempati keluarga mempunyai atap, lantai dan dinding yang baik, (4) Bila ada anggota keluarga sakit dibawa ke sarana kesehatan, (5) Bila pasangan usia subur ingin ber-kb pergi ke sarana pelayanan kontrasepsi dan (6) Semua anak umur 7 15 tahun dalam keluarga bersekolah. Tahapan Keluarga Sejahtera I (KS I) adalah keluarga mampu memenuhi 6 (enam indikator tahapan KS I, tetapi tidak mampu memenuhi salah satu dari 8 (delapan) indikator KS II atau indikator kebutuhan psikologis (psychological needs) keluarga. Indikator Keluarga Sejahtera II (KS II) atau indikator kebutuhan psikologis (psychological needs) keluarga, yaitu : (1) Pada umumnya anggota keluarga melaksanakan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing, (2) Paling kurang sekali seminggu seluruh anggota keluarga makan daging/ikan/telur, (3) Seluruh anggota keluarga memperoleh paling kurang satu stel pakaian baru dalam setahun, (4) Luas lantai rumah paling kurang 8 m² untuk setiap penghuni rumah, (5) Tiga bulan terakhir 70

102 keluarga dalam keadaan sehat sehingga dapat melaksanakan tugas/fungsi masing-masing, (6) Ada seorang atau lebih anggota keluarga yang bekerja untuk memperoleh penghasilan, (7) Seluruh anggota keluarga umur tahun bisa baca tulisan latin, (8) Pasangan usia subur dengan anak dua atau lebih menggunakan alat/obat kontrasepsi. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.67 Persentase Keluarga Pra Sejahtera (Pra-S) Kabupaten Polewali Mandar, No Uraian Pra-S 23,113 18,617 18,213 19, Jumlah 25,38 18,89 17,99 18,32 Sumber Data : BKKB dan Pemberdayaan Perempuan Kab. Polewali Mandar, 2014 Tabel 2.68 Persentase Keluarga Sejahtera I (KS I) Kabupaten Polewali Mandar, No Uraian KS I 25,682 26,010 26,834 28, Jumlah Keluarga 91,058 98, , ,079 Jumlah 28,20 26,39 26,54 26,40 Sumber Data : BKKB dan Pemberdayaan Perempuan Kab. Polewali Mandar, 2014 Tabel 2.69 Jumlah Keluarga Pra Sejahtera (Pra-S) dan Keluarga Sejahtera I (KS I) Menurut Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, 2013 No Kecamatan Pra-S KS I Jumlah 1 Tinambung 1,880 1,650 3,530 2 Balanipa 2,356 2,221 4,577 3 Limboro 2,149 1,497 3,646 4 Tubbi Taramanu 634 1,549 2,183 5 Allu 1,239 1,622 2,861 6 Campalagian 1,861 3,178 5,039 7 Luyo 615 2,670 3,285 8 Wonomulyo 2,432 2,783 5,215 9 Mapilli 143 2,510 2, Tapango 2,471 1,871 4, Matakali , Polewali 1,551 1,821 3, Binuang 380 1,207 1, Anreapi , Matangnga , Bulo 46 1,881 1,927 Kab. Polewali Mandar 19,795 28,535 48,330 Sumber Data : BKKB dan Pemberdayaan Perempuan Kab. Polewali Mandar,

103 13. Sosial Usaha pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat meliputi berbagai bidang. Di bidang sosial, pemerintah dan lembaga swasta melakukan aktifitas-aktifitas sosial diantaranya dengan memberikan santunan kepada korban bencana alam, dan memberikan kursus keterampilan bagi penduduk usia produktif yang masih menganggur maupun kepada penduduk yang mengalami cacat fisik agar dapat meningkatkan kesejahteraannya. Permasalahan sosial di Kabupaten Polewali Mandar sampai dengan tahun 2013 masih menunjukkan angka yang cukup tinggi, khususnya pada masalah sosial penyandang cacat, lanjut usia terlantar, anak terlantar. Dari data permasalahan yang ditangani oleh Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Polewali Mandar diperlukan fokus dan prioritas dalam penanganan masalah sosial serta prioritas penganggaran. Tabel 2.70 Penduduk Rawan Sosial Kabupaten Polewali Mandar, 2013 No Uraian Tahun Anak balita terlantar 45 2 Anak terlantar Anak nakal/anak berhadapan 7 dengan hukum 4 Anak jalanan 2 5 Anak dengan kedisabilan 16 6 Lanjut usia terlantar Tuna susila 1 8 Penderita NAPZA 5 9 Korban bencana alam Orang dengan HIV/AIDS 5 11 Gepeng 1 Sumber Data : Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Polewali Mandar, Ketenagakerjaan a. Angkatan Kerja Pada tahun 2012, jumlah penduduk usia kerja di Kabupaten Polewali Mandar sebanyak orang atau 66,79 persen dari total penduduk. Sekitar 68,39 persen dari jumlah penduduk usia kerja merupakan angkatan kerja, dan sisanya, 31,61 persen bukan angkatan kerja. Jumlah angkatan kerja laki-laki lebih besar dari perempuan. Bahkan hampir setengah dari seluruh perempuan usia kerja memutuskan untuk tidak bekerja atau mencari pekerjaan. Dari seluruh angkatan kerja tersebut, 97,82 persen bekerja dan selebihnya menganggur. Sedangkan dari seluruh bukan angkatan kerja, sebagian besar (79,60 persen) mengurus rumah tangga, 72

104 dan selebihnya sekolah dan lainnya. Lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.71 Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Dirinci Menurut Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan Kerja Serta Jenis Kelamin Kabupaten Polewali Mandar, 2012 No Uraian Laki-laki Perempuan Jumlah 1 ANGKATAN KERJA 86,11 52,39 68,39 a. Bekerja 84,10 51,37 66,90 b. Pengangguran 2,01 1,02 1,49 2 BUKAN ANGKATAN KERJA 13, ,61 a. Sekolah ,79 b. Mengurus RT ,74 25,16 c. Lainnya ,91 5,66 3. TPAK (tingkat partisipasi angkatan kerja) 86,11 52,39 68,39 4. TPT (tingkat pengangguran terbuka) 2,33 1,95 2,18 Sumber Data : Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Polewali Mandar, 2013 Berdasarkan tabel di atas, penduduk usia 15 tahun ke atas menurut angkatan kerja dan bukan angkatan kerja berdasarkan jenis kelamin bahwa dari 68,39 persen angkatan kerja terdapat 66,90 persen yang bekerja dan 1,49 persen yang masih menganggur. Dari 66,90 persen angkatan kerja yang bekerja tersebut berdasarkan data tahun 2010 s/d 2013 pada Tabel Jumlah Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di Luar Negeri terdapat kontribusi jumlah masyarakat kita yang bekerja di luar negeri sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yaitu pada tahun 2010 terdapat 375 orang TKI dan terus mengalami penurunan hingga tahun 2013 tersisa sekitar 199 orang. Tenaga Kerja Wanita mempunyai jumlah yang cukup besar dari total jumlah Tenaga Kerja yang bekerja di luar negeri. Tabel 2.72 Jumlah Tenaga Kerja Indonesia yang Bekerja di Luar Negeri Kabupaten Polewali Mandar, Tenaga Kerja Indonesia No yang Bekerja di Luar Negeri LK PR LK PR LK PR LK PR 1 Jumlah TKI Jumlah Total Sumber Data : Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Polewali Mandar, 2014 Saat ini, di Kabupaten Polewali Mandar juga telah berkembang Perusahaan Penyalur Tenaga Kerja Indonesia Swasta yang disingkat PPTKIS. Jumlah PPTKIS tersebut dari tahun 2010 hingga 2013 terus mengalami peningkatan dan saat tahun 2013 terdapat 17 perusahaan penyalur tenaga kerja. 73

105 Tabel 2.73 Jumlah Perusahaan Penyalur Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) Kabupaten Polewali Mandar, No. Perusahaan Penyalur Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) Jumlah PPTIKS Jumlah Sumber Data : Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Polewali Mandar, 2014 b. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dan Tingkat Kesempatan kerja (TKK) Dalam lima tahun terakhir, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Kabupaten Polewali Mandar menunjukkan tren meningkat. Angka TPAK meningkat 64,03 persen pada tahun 2008 menjadi 72,10 persen pada tahun 2011, dan kemudian menurun menjadi 68,39 persen pada tahun Kecenderungan ini secara umum menunjukkan semakin banyaknya proporsi Angkatan Kerja di Kabupaten Polewali Mandar yang memilih untuk bekerja atau mencari pekerjaan. Peningkatan TPAK ini seiring dengan semakin berkembangnya perekonomian Kabupaten Polewali Mandar dalam beberapa tahun terakhir. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada grafik di bawah ini : Grafik 2.20 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja dan Tingkat Kesempatan Kerja Kabupaten Polewali Mandar, Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, 2013 c. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Sejak tahun 2009, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT di Kabupaten Polewali Mandar menurun secara konsisten. TPT pada tahun 2009 sebesar 6,23 persen dan kemudian menurun tajam menjadi 2,18 persen pada tahun Angka ini menunjukkan bahwa dari seluruh Angkatan Kerja di Kabupaten Polewali Mandar, hanya 2,18 persen yang tidak bekerja atau belum memperoleh pekerjaan (menganggur). Penurunan ini menjadi tampak istimewa karena berlangsung di tengah meningkatnya TPAK. Pertumbuhan 74

106 ekonomi yang cukup kuat (di atas 9,5 persen per tahun) tampaknya berkontribusi terhadap penurunan TPT dan peningkatan TPAK. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada grafik di bawah ini : Grafik 2.21 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kabupaten Polewali Mandar, Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, 2013 Trend penurunan tingkat pengangguran terbuka tahun sebagaimana ditampilkan pada grafik di atas, sejalan dengan trend penurunan jumlah pencari kerja dan jumlah pencari kerja yang diserap lapangan kerja dari tahun Daya serap lapangan pekerjaan dari tahun ke tahun terlihat cukup menggembirakan hal ini disebabkan semakin terbuka dan terciptanya lapangan kerja baru, pencari kerja khususnya perempuan dari tahun ketahun terus mengalami peningkatan dibandingkan dengan laki-laki. Pada tahun 2013 saja jumlah pencari kerja perempuan sebanyak orang sedangkan laki-laki hanya 877 orang. Tabel 2.74 Jumlah Pencari Keja yang terdaftar dan Terserap Lapangan Kerja Kabupaten Polewali Mandar, No Pencari Kerja LK PR LK PR LK PR LK PR 1 Jumlah Pencari Kerja Terdaftar Jumlah Pencari Kerja yang terserap Sumber Data : Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Polewali Mandar,

107 15. Penanaman Modal Dalam rangka mengoptimalkan potensi perekonomian daerah, maka Kabupaten Polewali Mandar masih memerlukan aliran penanaman modal baik Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA). Dengan keanekaragaman sumber daya yang ada di Kabupaten Polewali Mandar, Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar berupaya menawarkan kepada para investor untuk menanamkan modalnya di Polewali Mandar yakni untuk mengeksplorasi dan memanfaatkan potensi yang ada untuk kesejahteraan masyarakat dan pemilik modal. Jenis dan jumlah izin yang dilayani oleh Dinas Pendapatan dan Perizinan selama tahun dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.75 Jenis dan Jumlah Izin yang Dilayani Oleh Dinas Pendapatan dan Perizinan Kabupaten Polewali Mandar, No Jenis Izin Tahun SITU/HO/Izin gangguan SIUP a. SIUP Mikro b. SIUP Kecil c. SIUP Menengah d. Siup Besar TDP Izin Usaha Industri (IUI) IUJK Formulir IUJK 7 Izin Pemasangan Reklame IMB Kartu Pengawasan Izin Praktek Dokter Umum Izin Praktek Dokter Gigi Izin Praktek Dokter Spesialis Izin Praktek Bidan Izin Praktek Perawat D3 (Asuhan Keperawatan) Izin Pendirian Apotek Izin Usaha Sarana Pariwisata Sumber Data : Dinas Pendapatan dan Perizinan Kab. Polewali Mandar,

108 16. Kebudayaan Penyelenggaraan festival seni dan budaya secara rutin di Kabupaten Polewali Mandar serta pelestarian benda, situs dan kawasan cagar budaya merupakan upaya pemerintah Kabupaten Polewali Mandar untuk mengajak masyarakatnya mengenal dan melestarikan kesenian dan kebudayaan khususnya kebudayaan asli Polewali Mandar yang beragam. Untuk mengetahui perkembangan kebudayaan di Kabupaten Polewali Mandar dapat dilihat pada capaian kinerja urusan kebudayaan sebagai berikut : Tabel 2.76 Indikator Kebudayaan Kabupaten Polewali Mandar, No Jenis Data Tahun Penyelenggaraan festival seni dan budaya 1 kali 1 kali 1 kali 1 kali 2 Jumlah organisasi/kelompok kesenian/kebudayaan yang dibina Klp 25 Klp 3 Persentase organisasi kesenian dan budaya yang berperan aktif dalam pengembangan seni dan budaya 100% 100% 100% 100% Sumber Data : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Polewali Mandar, Kepemudaan dan Olah Raga Pelaksanaan urusan kepemudaan dan keolahragaan di Kabupaten Polewali Mandar didukung oleh beberapa program yaitu pengembangan dan keserasian kebijakan pemuda, peningkatan peranserta kepemudaan, peningkatan upaya penumbuhan kewirausahaan dan kecakapan, pembinaan dan pemasyarakatan olahraga serta program peningkatan sarana dan prasarana olahraga. Pembinaan terhadap generasi muda dilakukan dengan melakukan fasilitasi/pembinaan organisasi kepemudaan, pendidikan dan pelatihan dasar kepemimpinan, pengembangan jiwa kewirausahaan dan kemandirian bagi pemuda. Tabel 2.77 Jumlah Karang Taruna Kabupaten Polewali Mandar, Tahun Kriteria Tumbuh Berkembang Maju Percontohan Jumlah Sumber Data : Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kab. Polewali Mandar,

109 Untuk bidang olahraga, masyarakat Kabupaten Polewali Mandar termasuk masyarakat yang dinamis dan gemar olahraga. Sampai dengan tahun 2013 organisasi/klub olahraga yang ada tercatat sebanyak 115 organisasi/klub, dan jumlah kegiatan olahraga sebanyak 112 kegiatan. 18. Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri Pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk mewujudkan kondisi kehidupan masyarakat yang berwawasan kebangsaan, mempunyai kemauan dan kesadaran untuk bernegara serta mengerti dan bersedia untuk menggunakan hak politiknya. Berkenaan dengan hal tersebut, pemerintah Kabupaten Polewali Mandar melalui Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat melakukan fasilitasi/ pembinaan terhadap organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan. Tabel 2.78 Jumlah Partai Politik, Jumlah Pemilih, Jumlah Ormas dan Kegiatan Pembinaan Politik Kabupaten Polewali Mandar, No Uraian Tahun Satuan 1 Partai Politik a. Jumlah Parpol di Daerah Parpol b. JumlahParpol Peserta Pemilu Parpol 2 Jumlah Pemilih Jiwa a. Laki-laki Jiwa b. Perempuan Jiwa 3 Persentase kasus perselisihan partai politik yang terselesaikan Persen 4 Jumlah Ormas terdaftar dan aktif Jumlah kegiatan pembinaan politik di daerah Sumber Data : Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat Kab. Polewali Mandar, 2014 Rasio jumlah polisi pamong praja per penduduk di Kabupaten Polewali Mandar cenderung menurun selama periode , dimana rasio tersebut menurun dari 0,38 persen pada tahun 2009 menjadi 0,34 persen pada tahun Ini disebabkan oleh jumlah posisi pamong praja mengalami penurunan secara absolut, dan pada saat yang sama jumlah penduduk terus bertambah. Pada tahun 2012, jumlah polisi pamong praja sebanyak 140 orang, menurun dari 142 orang pada tahun Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.79 Rasio Jumlah Polisi Pamong Praja Kabupaten Polewali Mandar, No Uraian Jumlah polisi pamong praja Jumlah penduduk 373, , , , Rasio jumlah polisi pamong praja 0,38 0, ,34 per penduduk Sumber Data : Satuan Polisi Pamong Praja Kab. Polewali Mandar,

110 19. Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian Pemerintahan daerah adalah pelaksanaan fungsi-fungsi pemerintahan daerah yang dilakukan oleh lembaga pemerintah daerah yaitu Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Dalam menjalankan roda pemerintahan, Pemerintah Daerah memiliki fungsi ganda yaitu sebagai penyelenggara pemerintahan sekaligus sebagai penyelenggara utama dalam pembangunan di daerah. Sebagai penyelenggara pemerintahan di daerah berperan utama mengatur tatanan kehidpan bermasyarakat di daerah dalam kerangka regulasi, sedangkan sebagai penyelenggara utama dalam pembangunan daerah berperan sebagai pelaksana dan sebagai penanggungjawab utama dalam keseluruhan proses pembangunan yang dilaksanakan di daerah yaitu dalam kerangka investasi dan penyediaan barang serta pelayanan publik. Untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik dalam era persaingan global yang menuntut efisiensi dan akurasi, pelayanan birokrasi yang cepat, murah dan berorientasi pada kebutuhan serta kepuasan klien sudah menjadi kebutuhan umum. Peningkatan pelayanan tersebut merupakan konsekuensi penyelenggaraan desentralisasi sebagai salah satu asas mendasar dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan daerah mensyaratkan pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah dengan pemerintahan daerah. Dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah, telah ditentukan urusan pemerintahan mana yang menjadi kewenangan mutlak Pemerintah dan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah provinsi, dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. Urusan pemerintahan terdiri dari urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah dan urusan pemerintahan yang dikelola secara bersama antar tingkatan dan susunan pemerintahan atau konkuren. Urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah adalah urusan dalam bidang politik luar negeri, pertanahan, keamanan, moneter, dan fiskal nasional, yustisi, dan agama. Urusan pemerintahan yang dapat dikelola secara bersama antar tingkatan dan susunan pemerintahan atau konkuren adalah urusan-urusan pemerintahan selain urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi urusan pemerintah, sehingga dalam setiap bidang urusan pemerintahah yang bersifat konkuren senantiasa terdapat bagian urusan yang menjadi kewenangan pemerintah, pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. Urusan yang menjadi kewenangan daerah terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan. Urusan pemerintahan wajib adalah urusan pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang terkait dengan 79

111 No pelayanan dasar (basic services) bagi masyarakat, seperti pendidikan dasar, kesehatan, lingkungan hidup, perhubungan, kependudukan dan sebagainya. Penyelenggaraan urusan wajib harus berpedoman kepada Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang ditetapkan Pemerintah dan dilaksanakan secara bertahap. Urusan pemerintahan yang bersifat pilihan adalah urusan pemerintahan yang diprioritaskan oleh pemerintahan daerah untuk diselenggarakan yang terkait dengan upaya pengembangan potensi ungulan (core competence) yang menjadi kekhususan daerah. Pengelolaan keuangan daerah harus dilaksanakan secara transparan mulai proses perencanaan, penyusunan dan pelaksanaan anggaran. Selain itu akuntabilitas dalam pertanggungjawaban publik dalam arti bahwa proses perencanaan, penyusunan dan pelaksanaan anggaran dapat dilaporkan dan dipertanggugjawabkan kepada masyarakat. Dengan demikian diharapkan akan dihasilkan pengelolaan keuangan daerah yang benar-benar mencerminkan kepentingan dan pengharapan masyarakat secara ekonomis, efisien, efektif, transparan dan bertanggungjawab. Dalam pengelolaan keuangan daerah, ditetapkan dengan peraturan perundangan baik berupa Peraturan Daerah maupun Peraturan Bupati seperti terlihat pada tabel berikut : Tabel 2.80 Jumlah Peraturan Daerah dan Peraturan Bupati tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan Pengelolaan Keuangan Daerah, Uraian 1 APBD : * Peraturan Daerah *Peraturan Bupati 2 Pengelolaan Keuangan Daerah Peraturan Daerah - Peraturan Bupati 9 Sumber Data : Bagian Hukum dan Perundang-Undangan Setda Polewali Mandar, 2014 Tahun Dengan ditetapkannya paket reformasi birokrasi dibidang keuangan Negara dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Keuangan Negara serta untuk menciptakan Good Governance melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara yang Bebas KKN, maka diperlukan Sistem Pengendalian Intern dalam mengelola keuangan Negara. Selanjutnya terkait dengan pemeriksaan pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan Negara, yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan dan Pertanggungjawaban Pengelolaan Keuangan Negara disebutkan dalam Pasal 12 bahwa dalam rangka pemeriksaan keuangan dan/atau kinerja, pemeriksa melakukan pengujian dan penilaian atas pelaksanaan sistem pengendalian intern pemerintah

112 Untuk menyelenggarakan pemerintahan, Kabupaten Polewali Mandar didukung oleh pegawai sebanyak orang PNS pada akhir tahun 2013, yang tersebar pada seluruh SKPD. Adapun data jumlah PNS dari tahun sebagaiman tersaji dalam grafik berikut : 7,500 7,000 6,500 6,000 5,500 5,000 6,065 Grafik 2.22 Jumlah PNS Kabupaten Polewali Mandar, ,752 7,176 7,217 7, Sumber Data : Badan Kepegawaian dan Diklat Daerah Kab. Polewali Mandar, ,915 Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Polewali Mandar Nomor 9 Tahun 2009 Tanggal 29 Juli tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Bappeda dan Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Polewali Mandar, jabatan struktural di lingkungan Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar sebanyak 836 jabatan, terdiri dari eselon II = 31 jabatan, eselon III.a = 55 jabatan, eselon III.b = 97 jabatan, eselon IV.a = 472 jabatan, eselon IV.b = 181 jabatan. Tabel 2.81 Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Polewali Mandar Sebagai Pelaksana Urusan Pemerintahan Daerah No Urusan Pemerintahan SKPD Pelaksana Urusan Wajib, Bidang : 1 Pendidikaan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga 2 Kepemudaan dan Olahraga Dinas Kesehatan 3 Kesehatan RSUD Badan Lingkungan Hidup 4 Lingkungan Hidup Dinas Tata Ruang dan Permukiman 5 Pekerjaan Umum Dinas Pekerjaan Umum 6 Perumahan Dinas Tata Ruang dan Permukiman 8 Penataan Ruang 7 Perencanaan Pembangunan Bappeda 9 Statistik Dinas Pendapatan dan Perizinan 10 Penanaman Modal Sekretariat Daerah Bappeda 11 Koperasi dan UKM Dinas Koperasi, UMKM 12 Kependudukan dan Catatan Sipil Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Dinas Sosial,Tenaga Kerja dan Transmigrasi 13 Ketenagakerjaan 14 Sosial 81

113 No Urusan Pemerintahan SKPD Pelaksana 15 Ketahanan Pangan BP4KKP Dinas Pertanian dan Peternakan Dinas Kehutanan dan Perkebunan 16 Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Badan Koordinasi Keluarga Berencana dan 17 Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan Keluarga Sejahtera 18 Pemberdayaan Masyarakat dan Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Desa 19 Perhubungan 20 Komunikasi dan Informatika Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika 21 Pertanahan Sekretariat Daerah Otonomi Daerah, Pemerintahan Sekretariat Daerah Dinas Pendapatan dan Perizinan 22 Umum, Administrasi Keuangan Inspektorat Daerah, Perangkat Daerah, BKDD Kepegawaian, dan Persandian Sekretariat DPRD Badan Penanggulangan Bencana Daerah 23 Kesatuan Bangsa dan Politik Kantor Kesbang dan Linmas Dalam Negeri Satuan Polisi Pamong Praja 24 Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata 25 Kearsipan 26 Perpustakaan Urusan Pilihan, Bidang : 1 Pertanian 2 Kehutanan 3 Kelautan dan Perikanan Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Dinas Pertanian dan Peternakan Dinas Kehutanan dan Perkebunan BP4KKP Dinas Kehutanan dan Perkebunan BP4KKP Dinas Kelautan dan Perikanan BP4KKP 4 Energi dan Sumber Daya Mineral Dinas Pertambangan, Energi dan Mineral 5 Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata 6 Industri 7 Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan 8 Ketransmigrasian Dinas Sosial,Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sumber Data : Bappeda Kab. Polewali Mandar, 2014, diolah 20. Ketahanan Pangan Kualitas konsumsi pangan ditunjukkan dengan Skor Pola Pangan Harapan (PPH) yang dipengaruhi oleh keragaman dan keseimbangan konsumsi antar kelompok makanan. PPH biasanya digunakan untuk perencanaan konsumsi, kebutuhan dan penyediaan pangan yang ideal di suatu wilayah. Berdasarkan data pada periode tahun Skor Pola Pangan Harapan Kabupaten Polewali Mandar mengalami fluktuasi mulai dari 71,3 persen tahun 2009 mengalami penurunan tahun 2010 dan kembali meningkat secara signifikan pada tahun 2011 sebesar 89,1 persen namun kembali mengalami penurun pada tahun 2012 sebesar 3 point menjadi 86,0 persen. Berkenaan 82

114 dengan hal tersebut, sehingga penganekaragaman pangan menjadi salah satu pilar utama untuk mewujudkan ketahanan pangan menuju kemandirian dan kedaulatan pangan. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel-tabel di bawah ini : Tabel Skor Pola Pangan Harapan Kabupaten Polewali Mandar, No. Kelompok Pangan Skor Pola Pangan Harapan Padi -padian Umbi -umbian 2,5 2,5 2,5 2,5 3 Pangan hewani 24 14, Minyak dan Lemak Buah/biji berminyak Kacang -kacangan 1,5 0,5 5,1 4,0 7 Gula 2,5 2,5 2,5 2,5 8 Sayur dan Buah 9, Total 71,3 66,4 89,1 86,0 Sumber Data : BP4KKP Kab. Polewali Mandar, 2013 No. Kecamatan Tabel Status Kewaspadaan Gizi dan Pangan Per Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, Status Kewaspadaan Gizi dan Pangan Tinambung Waspada Waspada Rawan Rawan 2 Balanipa Rawan Rawan Rawan Rawan 3 Limboro Rawan Rawan Rawan Rawan 4 Tubbi Taramanu Rawan Waspada Rawan Rawan 5 Alu Rawan Rawan Rawan Rawan 6 Campalagian Waspada Waspada Aman Aman 7 Luyo Waspada Rawan Rawan Rawan 8 Wonomulyo Waspada Waspada Aman Aman 9 Mapilli Waspada Rawan Rawan Aman 10 Tapango Aman Aman Rawan Rawan 11 Matakali Aman Waspada Aman Aman 12 Polewali Aman Aman Aman Aman 13 Binuang Waspada Aman Aman Aman 14 Anreapi Waspada Aman Rawan Rawan 15 Matangnga Waspada Waspada Rawan Rawan 16 Bulo Waspada Waspada Rawan Rawan Sumber Data : BP4KKP Kab. Polewali Mandar,

115 Berdasarkan data yang diolah oleh Badan Penyuluhan Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Kehutanan dan Ketahanan Pangan (BP4KKP) Kabupaten Polewali Mandar Tahun 2013 dengan menggunakan 3 (tiga) aspek indikator utama ketahanan pangan yaitu ketersediaan pangan, akses terhadap pangan dan pemanfaatan pangan, dapat disimpulkan bahwa dalam kurun waktu tahun 2009 s/d 2012 Kecamatan Balanipa dan Limboro status kewaspadaan Gizi dan Pangan masuk dalam kategori rawan, dan hanya Kecamatan Polewali yang masuk dalam kategori Aman dan khusus tahun 2011 s/d 2012, terdapat 11 (sebelas) kecamatan yang terkategori rawan. 21. Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Jumlah koperasi di Polewali Mandar mengalami peningkatan dalam lima tahun terakhir. Pada tahun 2009, jumlah koperasi sebanyak 238 unit dan kemudian meningkat menjadi 291 unit pada tahun Namun tidak semua koperasi dalam keadaan aktif dan memperoleh pembinaan dari pemerintah daerah. Pada tahun 2012, pemerintah daerah menargetkan jumlah koperasi aktif sebesar 60 persen dari seluruh koperasi yang ada. Target tersebut dapat dilewati dengan capaian kinerja sebesar 74 persen. Angka ini terus membaik pada tahun 2013, dimana persentase koperasi aktif sudah mencapai 78,69 persen. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.84 Persentase Koperasi Aktif Kabupaten Polewali Mandar, No Uraian Jumlah koperasi aktif Jumlah koperasi Persentase koperasi aktif 63,44 66, Sumber Data : Dinas Koperasi, UMKM Kab. Polewali Mandar, 2014 Berdasarkan dara perkembangan jumlah koperasi dan prosentase koperasi aktif, pada tahun 2013 dari 291 Koperasi terdapat 61 Koperasi diantaranya bergerak di sektor riil atau sekitar 21 persen terdiri dari koperasi sektor Pertanian, Sektor perkebunan, sektor perikanan, sektor kehutanan dan sektor industri. Dari 61 Koperasi sektor riil tersebut 74 persen masih aktif dan 26 persen sisanya terkategori sebagai koperasi yang tidak aktif yang dapat dilihat pada tabel berikut ini : 84

116 Tabel 2.85 Persentase Aktif Koperasi Sektor Riil Kabupaten Polewali Mandar (Persen), 2013 No Uraian Aktir Tidak Aktif Koperasi Sektor Riil 1 Pertanian Perkebunan Peternakan 3-4 Perikanan Kehutanan 1-6 Industri 4 2 Persentase Sumber Data : Dinas Koperasi, UMKM Kab. Polewali Mandar, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Dalam upaya meningkatkan pemberdayaan masyarakat, lebih dititikberatkan pada aspek pengembangan kemampuan dan kemandirian masyarakat dalam pembangunan melalui penguatan kapasitas pengembangan lembaga masyarakat dan pengembangan pola pembangunan partisipatif, pemantapan nilai-nilai sosial dasar bagi masyarakat, pengembangan usaha ekonomi produktif, pengembangan partisipatif masyarakat dalam pengelolaaan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan hidup dengan mendayagunakan teknologi tepat guna. Penyelenggaraan urusan pemberdayaan masyarakat dan desa di Kabupaten Polewali Mandar digambarkan oleh capaian indikator kinerja urusan pemberdayaan masyarakat dan desa sebagai berikut : Tabel 2.86 Indikator Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Polewali Mandar, No Uraian Jumlah desa/kelurahan yang difasilitasi penataan dan pemgembangan kemasyarakatan Persentase lembaga pemberdayaan masyarakat yang aktif Jumlah bahan peralatan/hasil expo Teknologi Tepat Guna (TTG) 10 Desa 20 Desa 40 Desa 64 Desa 10 Persen 10 Peralatan 20 Persen 30 Persen 80 Persen 15 Peralatan 20 Peralatan 25 Peralatan 4 Jumlah BUMDES Unit Sumber Data : BPMPD Kab. Polewali Mandar,

117 23. Statistik Sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik, BPS menangani urusan statistik dasar dan statistik khusus, sedangkan statistik sektoral menjadi tanggungjawab instansi pemerintah di daerah sesuai dengan tugas dan fungsinya secara mandiri. Dalam pelaksanaan urusan statistik, program yang dilaksanakan adalah Program Pengembangan Data/ Informasi/ Statistik Daerah. Penyelenggaraan urusan statistik di Kabupaten Polewali Mandar digambarkan oleh capaian indikator kinerja urusan statistik sebagai berikut : Tabel Indikator Statistik Kabupaten Polewali Mandar, No Uraian Ketersediaan Buku Daerah Dalam Angka (DDA) Ada Ada Ada Ada 2 Ketersediaan Buku Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Ada Ada Ada Ada 3 Ketersediaan Buku Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Ada Ada Ada Ada 4 Ketersediaan Buku Indeks Kesejahteraan Rakyat (Inkesra) Ada Ada Ada Ada 5 Ketersediaan Buku Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) Ada Ada Ada Ada Sumber Data : Bappeda Kab. Polewali Mandar, 2014 Beberapa persoalan yang dihadapi dalam pelaksanaan urusan statistik adalah sebagai berikut : 1. Urusan statistik masih memiliki persoalan terkait dengan validasi data. Karena ditangani secara bersama antara BPS, SKPD di daerah dan instansi serta lembaga terkait lainnya, sering terjadi perbedaan angka atau data. Hal ini berakibat timbulnya kesulitan dalam pertanggungjawaban produk data. 2. Data statistik yang bersifat dinamis menyebabkan penentuan data akhir masih sulit dilakukan secara cepat, tepat dan akurat. 3. Munculnya berbagai versi data statistik yang diakibatkan oleh tuntutan peraturan perundang-undangan yang sering tumpang tindih antara peraturan perundang-undangan yang satu dengan yang lain, yang mengakibatkan kesulitan bagi SKPD/Instansi/Lembaga terkait penanggungjawab data dalam penyediaannya. 24. Kearsipan Pelaksanaan urusan kearsipan di Kabupaten Polewali Mandar dilaksanakan oleh Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah dengan jumlah SDM dan sarana prasarana masih terbatas. Untuk mengetahui capaian kinerja urusan kearsipan di Kabupaten Polewali Mandar dapat dilihat pada tabel berikut : 86

118 Tabel 2.88 Indikator Kearsipan Kabupaten Polewali Mandar, No Jenis Data Tahun Satuan Jumlah lembaga pencipta arsip yang telah menyerahkan arsip inaktif ke LKD Instansi 2. Jumlah pengunjung yang memanfaatkan layanan arsip (informasi, Orang jasa, rujukan) 3. Jumlah SDM pengelola arsip di LKD Orang 4. Box Arsip Unit Sumber Data : Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kab. Polewali Mandar, Komunikasi dan Informatika a. Jumlah Jaringan Komunikasi Sejak tahun 2009, jaringan telepon di Kabupaten Polewali Mandar tidak mengalami perubahan signifikan. Selama periode , jumlah jaringan telepon stasioner tidak bertambah, sedangkan jumlah jaringan telepon seluler hanya bertambah satu unit. Sampai dengan tahun 2013, total jaringan telepon sebanyak tujuh unit, yang terdiri atas 6 unit jaringan telepon seluler dan 1 unit jaringan telepon stasioner. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.89 Jaringan Komunikasi Kabupaten Polewali Mandar, No. Uraian Jumlah jaringan telepon seluler Jumlah jaringan telepon stasioner Total jaringan komunikasi Sumber Data : Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kab. Polewali Mandar, 2014 b. Jumlah Surat Kabar Nasional/Lokal Jumlah surat kabar (koran) yang beredar di Kabupaten Polewali Mandar sebanyak 10 jenis, dimana lima jenis merupakan koran terbitan nasional dan lima jenis lainnya merupakan koran terbitan lokal. Jenis koran terbitan nasional yang beradar di Kabupaten Polewali Mandar, antara lain, Harian Kompas, Harian Seputar Indonesa, Harian Fajar, Harian Pedoman Rakyat, Harian Tribun Timur. Sedangkan koran terbitan lokal yang beredar di Kabupaten Polewali Mandar, antara lain, Harian Radar Sulbar, Harian Polewali Pos, Harian Sulbar Ekspress, Harian Sandeq Pos, Harian Pare Pos. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel berikut: 87

119 Tabel 2.90 Jumlah Surat Kabar Nasional/Lokal Kabupaten Polewali Mandar, 2009 dan 2013 No Uraian Jumlah jenis surat kabar terbitan nasional Jumlah jenis surat kabar terbitan lokal Total jenis surat kabar Sumber Data : Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kab. Polewali Mandar, 2014 c. Jumlah penyiaran radio/ TV lokal Jumlah penyiaran radio dan televisi di Kabupaten Polewali Mandar meningkat dari 13 unit pada tahun 2009 menjadi 16 unit pada tahun Peningkatan jumlah tersebut dikontribusi oleh pertambahan jumlah penyiaran televisi nasional. Sedangkan jumlah penyiaran radio, baik lokal maupun nasional, tidak bertambah dalam lima tahun terakhir. Di Kabupaten Polewali Mandar juga belum ada televisi lokal yang beroperasi. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.91 Jumlah Penyiaran Radio/TV Lokal Kabupaten Polewali Mandar, 2009 dan 2013 No. Uraian Jumlah pe nyia ran radio lokal Jumlah pe nyia ran radio nasional Jumlah pe nyia ran TV lokal Jumlah pe nyia ran TV nasional Total pe nyia ran radio/tv lokal Sumber Data : Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kab. Polewali Mandar, Perpustakaan a. Jumlah perpustakaan Jumlah perpustakaan, termasuk perpustakaan sekolah, di Kabupaten Polewali Mandar meningkat pesat dalam lima tahun terakhir. Mengacu pada data tahun 2009, jumlah perpustakaan meningkat hampir 15 kali lipat hingga tahun Jumlah perpustakaan pada tahun 2013 telah mencapai 108 unit, dimana 103 diantaranya merupakan milik pemerintah daerah dan 5 unit merupakan milik non pemerintah (perpustakaan Perguruan Tinggi dan sekolah swasta). Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel berikut ini : 88

120 No. Tabel 2.92 Jumlah Perpustakaan Kabupaten Polewali Mandar, Uraian Jumlah Perpustakaan milik Pemerintah Daerah (pemda) Jumlah Perpustakaan milik non pemda Total Perpustakaan (1+2) Sumber Data : Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kab. Polewali Mandar, 2014 b. Jumlah Pengunjung Perpustakaan Per Tahun Sering dengan peningkatan jumlah perpustakaan, jumlah pengunjung perpustakaan juga terus meningkat dari tahun ke tahun. Dalam lima tahun terakhir, jumlah pengunjung meningkat sembilan kali lipat, dari orang (2009) menjadi orang (2013). Peningkatan jumlah pengunjung paling tajam terjadi pada tahun Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.93 Jumlah Pengunjung Perpustakaan Kabupaten Polewali Mandar, No. Uraian Jumlah pengunjung perpustakaan milik pemerintah daerah (pemda) Jumlah pengunjung perpustakaan milik non pemda 3. Total pengunjung Perpustakaan Sumber Data : Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kab. Polewali Mandar, Fokus Layanan Urusan Pilihan 1. Pertanian a. Tanaman Pangan Secara umum, volume produksi tanaman pangan khususnya padi dan palawija di Kabupaten Polewali Mandar selama tahun menunjukkan tren positif. Komoditas kacang kedelei menunjukkan peningkatan paling signifikan, yaitu meningkat hampir lima kali lipat dari 2009 hingga Peningkatan ini dikontribusi oleh pertambahan luas areal sebesar dua kali lipat pada periode yang sama. Beberapa komoditas menunjukkan penurunan luas areal, seperti padi ladang dan jagung, namun tetap menunjukkan peningkatan produktivitas. Ubi jalar merupakan satu-satunya komoditas tanaman pangan yang menunjukkan penurunan tingkat produktivitas. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel berikut ini : 89

121 Tabel 2.94 Produksi dan Produktivitas Tanaman Pangan Kabupaten Polewali Mandar, No. Jenis Tanaman Padi Sawah Produksi (Ton) Produktivitas (Kw/Ha) 70,1 69,9 70,0 70,7 2. Padi Ladang Produksi (Ton) Produktivitas (Kw/Ha) 24,0 35,2 35,0 33,4 3. Jagung Produksi (Ton) Produktivitas (Ton) 30,2 43,7 43,5 42,0 4. Kacang Kedelai Produksi (Ton) 328,34 6, , ,29 Produktivitas (Kw/Ha) 21,6 22,0 37,3 48,1 5. Ubi Jalar Produksi (Ton) ,47 Produktivitas (Kw/Ha) 87,5 90,0 89,8 85,1 Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, 2013 b. Infrastruktur Pertanian Berdasarkan data luas lahan persawahan di Kabupaten Polewali Mandar tahun mengalami fluktuasi, tahun 2009 tercatat lahan persawahan seluas Ha mengalami peningkatan pada tahun 2010 seluas Ha, namun pada tahun terus mengalami penurunan hingga mencapai Ha tetapi masih diatas luas lahan persewahan tahun Salah satu hal yang mempengaruhi berkurangnya lahan pertanian adalah alih fungsi lahan persawahan menjadi pemukiman khususnya pada daerah perkotaan dan tercatat dari tahun 2010 hingga tahun 2012 luas lahan yang beralih fungsi sebanyak 15, 46 Ha. Tabel 2.95 Perkembangan Kondisi Lahan Persawahan Kabupaten Polewali Mandar, No. Kondisi Lahan Persawahan Luas (Ha) Beralih Fungsi - - 4,16 10,6 0,7 2 Percetakan Sawah Sumber Data : Dinas Pertanian dan Peternakan Kab.Polewali Mandar, 2013 Dalam rangka meningkatkan produktifitas petani dan meningkatkan mobilitas hasil produksi pertanian ke sentra-sentra pemasaran, maka dibutuhkan infrastruktur pendukung berupa jalan tani dan jaringan irigasi, dalam kurun waktu telah dibangun jalan tani sepanjang meter bersama 3 unit jembatan tani dan meter saluran irigasi tersier untuk sarana pengairan. 90

122 Tabel 2.96 Perkembangan Infrastruktur Pertanian Kabupaten Polewali Mandar, No. Infrastruktur Pertanian Panjang Jalan Tani (Meter) Jembatan Tani (Unit) Jaringan Irigasi Tersier (Meter) Sumber Data : Dinas Pertanian dan Peternakan Kab.Polewali Mandar, Rasio jalan tani terhadap luas lahan persawahan saat ini adalah 1 : yang artinya dalam Ha persawahan hanya ada 1 kilometer jalan tani, hal ini tentunya masih sangat jauh dari kondisi ideal. Demikian pula rasio lahan persawahan terhadap jaringan irigasi tersier yaitu 1 : 384 yang artinya setiap 1 kilometer jaringan irigasi tersier melayani sekitar 384 ha lahan persawahan dan ini juga masih sangat jauh dari kondisi ideal. c. Perternakan Komoditi andalan peternakan di Kabupaten Polewali Mandar adalah Sapi dan Kambing, khusus ternak sapi, selama kurun waktu 5 (lima) tahun dari 3 (tiga) jenis yaitu sapi perah, sapi brahman dan sapi bali terus mengalami trend peningkatan yang signifikan. Tahun 2012 sapi perah sudah mulai memproduksi susu dengan kuantitas produksi namun mangalami penurunan pada tahun 2013 yang disebabkan menurunnya jumlah populasi dari 50 ekor tahun 2011 terus menurun hingga tersisi 39 ekor di tahun Untuk jenis sapi brahman terus mengalami trend peningkatan yang positif dengan laju pertumbuhan rata-rata tahun adalah 74 ekor per tahun. Produksi daging untuk komoditi ternak sapi lokal jenis sapi bali, mempunyai kecenderungan penurunan berkisar 141,988 ton per tahun. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : 91

123 Tabel 2.97 Jumlah Produksi Komoditi Andalan Peternakan Kabupaten Polewali Mandar, No. Ternak Sapi Perah - Jumlah (Ekor) Produksi Susu (Liter) Sapi Brahman - Jumlah (Ekor) Sapi Bali - Jumlah (Ekor) Produksi Daging (Ton) Kambing PE - Jumlah (Ekor) Sumber Data : Dinas Pertanian dan Peternakan Kab.Polewali Mandar, 2014 Salah satu penunjang utama peningkatan produksi hasil pertanian (Tanaman Pangan, Perkebunan dan peternakan) adalah kemampuan Sumber daya Manusia petani dalam mengorganisasikan diri dalam bentuk kelembagaan kelompok tani. Berdasarkan data dari BP4KKP Kab.Polewali Mandar, bahwa jumlah kelompok tani di Kabupaten Polewali Mandar yang dibina kurun waktu adalah sebanyak kelompok dan tidak mengalami perkembangan kecuali dalam hal pembinaan terhadap klasifikasi kelompok yaitu Pemula, Lanjut, Madya dan Utama. Berdasarkan data BPS Tahun 2012, bahwa 52,68 persen atau sekitar Jiwa penduduk Kabupaten Polewali Mandar bekerja di sektor pertanian, dengan asumsi bahwa terdapat 30 orang dalam 1 kelompok tani, maka terdapat sekitar jiwa petani yang sudah berkelompok atau hanya sekitar 22,63 persen dari total jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat perkembangan kelompok tani pada tabel di bawah ini : Tabel 2.98 Perkembangan Jumlah Kelompok Tani Kabupaten Polewali Mandar, No Klasifikasi Kelompok Jumlah Kelompok Tani Pemula Lanjut Madya Utama Jumlah Sumber Data : BP4KKP Kab.Polewali Mandar,

124 2. Kehutanan Produksi hutan Kabupaten Polewali Mandar pada tahun 2012 berupa meter kubik kayu, sedangkan hasil lainnya yaitu rotan sebesar 9.583,6 ton. Komoditi tanaman kehutanan di Kabupaten Polewali Mandar terdiri dari Tanaman Kehutanan Non Kayu dan Tanaman Kehutanan Multi Purpose Tree's atau MPTs. Untuk Tanaman kehutanan non kayu, komoditi aren dan rotan merupakan komoditi utama, kedua komoditi ini saat ini terus berkembang khususnya pada produk hilir dalam bentuk produk jadi. Komoditi aren misalnya, hampir semua produk makanan tradisional khas Polewali Mandar berbahan baku dari aren, demikian pula halnya dengan komoditi rotan saat ini terus berkembang produk hilir/produk jadi komoditi rotan. Komoditi murbey sebagai bahan baku utama pertenunan sutera, dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun terakhir terus mengalami perkembangan baik dari luasan lahan maupun produksi murbey dan kokon yang dihasilkan. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.99 Perkembangan Komoditi Kehutanan Non Kayu Kabupaten Polewali Mandar, No Jenis Kehutanan Non Kayu 1 Murbey 2 Rotan Luas Lahan (ha) Produksi (ton) Luas Lahan (Ha) Produksi (Ton) Aren Luas Lahan (Ha) 979, ,55 855,86 767,31 Produksi (Ton) 227,80 227,80 223,34 435,03 Sumber Data : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab.Polewali Mandar, 2013 Tanaman kehutanan MPT's yang potensi untuk dikembangkan di Kabupaten Polewali Mandar adalah sukun, mangga, durian, rambutan, mahoni, gmelina, jati lokal, sengon dan glodokan. Komoditi utama yang saat ini gencar untuk dikembangkan adalah gmelina yang dimulai sejak tahun 2009 dengan jumlah pohon pohon dan terus meningkat hingga tahun 2012 sebanyak pohon. Jumlah total 9 jenis tanaman kehutanan MPT's yang telah dikembangkan hingga tahun 2012 adalah sebanyak pohon yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Polewali Mandar, khususnya pada daerah-daerah kawasan hutan yang kritis dan rawan terhadap penggundulan hutan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut : 93

125 Tabel Perkembangan Komoditi Kehutanan MPT's Kabupaten Polewali Mandar (Pohon), No Komoditi Kehutanan MPT s Sukun Mangga Durian Rambutan Mahoni Gmelina Jati Lokal Sengon Glodokan Sumber Data : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab.Polewal Mandar, 2013 Pengembangan 9 jenis komoditi tanaman kehutanan di atas merupakan implikasi dari semakin tingginya laju kawasan hutan kritis yang disebabkan angka perambahan hutan dan kasus illegal logging yang disebabkan tingginya nilai ekonomi komoditi hasil hutan. Salah satu penunjang utama peningkatan produksi hasil hutan dan pemeliharaan terhadap hutan lindung adalah kemampuan Sumber Daya Manusia dalam mengorganisasikan diri dalam bentuk kelembagaan. Berdasarkan data dari BP4KKP Kabupaten Polewali Mandar, bahwa jumlah kelompok kehutanan di Kabupaten Polewali Mandar yang dibina kurun waktu tahun terus mengalami peningkatan, tahun 2009 sebanyak 30 Kelompok dan meningkat terus menjadi 43 Kelompok yang terdiri dari 41 Kelompok pemula dan 2 Kelompok kategori lanjut. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel Perkembangan Jumlah Kelompok kehutanan Kabupaten Polewali Mandar, No. Klasifikasi Kelompok Kehutanan Jumlah Kelompok Pemula Lanjut Madya Utama Jumlah Sumber Data : BP4KKP Kab.Polewali Mandar, 2014 Jika diamati dari besaran luas areal dan volume produksi, kelapa dalam dan kakao merupakan dua komoditas penting bagi Kabupaten Polewali Mandar. Pada tahun 2012, komoditas kelapa dalam mencatat luas areal dan produksi masing-masing Ha dan ton. Sedangkan kakao mencatat luas areal 94

126 dan produksi masing-masing Ha dan ton. Komoditas kelapa dalam menunjukkan tren menurun, baik luas areal maupun volume, dan sebaliknya, komoditas kakao menunjukkan tren meningkat. Dari tahun 2009 hingga 2012, produksi kakao meningkat sektar 30 persen, sedangkan kelapa dalam menurun sekitar 3 persen. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel Luas Areal dan Produksi Tanaman Perkebunan Kabupaten Polewali Mandar, No. Jenis Tanaman Kelapa Dalam Luas Areal (Ha) , , ,77 Produksi (Ton) , , , ,07 2. Kelapa Hibrida Luas Areal (Ha) 3.791, , , ,13 Produksi (Ton) 2.267, , , ,04 3. Kopi Robusta Luas Panen (Ha) 1.765, , , ,95 Produksi (Ton) 207,91 207,93 194,32 554,20 4. Kopi Arabika Luas Panen (Ha) 213,10 210,20 317,14 314,04 Produksi (Ton) 58,70 57,40 42,65 82,94 5. Cengkeh Luas Panen (Ha) 499,27 504,47 399,89 422,36 Produksi (Ton) 53,81 52,10 50,75 46,76 6. Kakao 7. Kemiri Luas Panen (Ha) , , , ,92 Produksi (Ton) , , , ,30 Luas Panen (Ha) 3.431, , , ,60 Produksi (Ton) 1.017, ,70 902, ,61 Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, 2013 Berdasarkan data BPS Tahun 2013, luas areal tanaman perkebunan rakyat di Kabupaten Polewali Mandar sebesar ,99 Ha. Dari luas tersebut, ,70 Ha atau 67,61 persen merupakan luas areal tanaman perkebunan rakyat yang menghasilkan. Luas areal tanaman perkebunan yang menghasilkan meningkat 8.191,16 Ha (14,67 persen) dari tahun Tanaman perkebunan yang tertinggi produksinya adalah tanaman kakao dan kelapa dalam. Produksi masing-masing mencapai ,30 ton dan ,07 ton. 95

127 3. Kelautan dan Perikanan Produksi perikanan di Kabupaten Polewali Mandar didominasi oleh perikanan tangkap. Rata-rata kontribusi perikanan tangkap terhadap total produksi perikanan mencapai 67,83 persen. Produksi perikanan budidaya masih didominasi oleh sektor pertambakan yang kontribusinya mencapai 90,37 persen, yang sebagian besar berada dalam kawasan minapolitan perikanan. Secara umum, jumlah produksi perikanan dari tahun telah melampaui target dengan rata rata tingkat capaian sebesar 100,69 persen per tahun. Capaian di bawah target hanya terjadi pada tahun 2012 yang disebabkan oleh terjadinya penurunan produksi perikanan budidaya rumput laut. Namun secara keseluruhan produksi perikanan di Kabupaten Polewali Mandar terus menunjukkan tren positif dengan peningkatan rata-rata sebesar 215,09 ton per tahun. Pada tahun 2013, volume produksi perikanan telah mencapai ,66 ton yang merupakan pencapaian tertinggi dari empat kabupaten lainnya di Provinsi Sulawesi Barat. Tabel Kinerja Sektor Kelautan dan Perikanan Kabupaten Polewali Mandar, No. Uraian Rata-rata 1. Capaian Produksi Perikanan 100,59 100,44 102,23 99,51 100,69 2. Capaian Jumlah Konsumsi Ikan 101,06 100,89 100,00 100,00 100,49 Cakupan Binaan Kelompok 3. Nelayan (%) 18,67 21,00 22,40 26,21 22,07 Produksi Perikanan Kelompok 4. Binaan (%) 6,91 10,31 13,37 17,99 12,15 Sumber Data : Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Polewali Mandar, 2013 Jumlah kelompok nelayan binaan di Kabupaten Polewali Mandar dari tahun terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2012, jumlah kelompok nelayan yang telah memperoleh pembinaan dari Dinas Kelautan dan Perikanan sebesar 26,21 persen dari seluruh kelompok nelayan yang ada di Kabupaten Polewali Mandar. Jumlah kelompok nelayan yang mendapat bantuan melalui APBD sebanyak 38 kelompok sedangkan melalui APBN sebanyak 26 kelompok yang tersebar di tujuh kecamatan pesisir yang ada di Kabupaten Polewali Mandar. Selain itu, jumlah kelompok nelayan di Kabupaten Polewali Mandar juga terus mengalami peningkatan, yang pada tahun 2012 telah mencapai 145 kelompok. Salah satu penunjang utama peningkatan produksi hasil perikanan (Perikanan Tangkap dan Budidaya) adalah kemampuan sumber daya manusia nelayan dalam mengorganisasikan diri dalam bentuk kelembagaan. Berdasarkan 96

128 data dari BP4KKP Kabupaten Polewali Mandar, bahwa jumlah kelompok tani di Kabupaten Polewali Mandar yang dibina kurun waktu tahun adalah sebanyak 230 kelompok dan mengalami peningkatan tahun 2011 sebanyak 236 dan tetap stabil hingga tahun 2013 sebanyak 236 Kelompok, pembinaan dilakukan terhadap klasifikasi kelompok yaitu Pemula, Lanjut, Madya dan Utama. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel Perkembangan Jumlah Kelompok Perikanan Kabupaten Polewali Mandar, No. Klasifikasi Kelompok Jumlah Kelompok Perikanan Pemula Lanjut Madya Utama Jumlah Sumber Data : BP4KKP Kab.Polewali Mandar, Energi dan Sumber Daya Mineral Penyediaan pasokan energi listrik di Kabupaten Polewali Mandar disediakan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang sebagian besar digunakan oleh konsumen rumah tangga. Berdasarkan data BPS Polewali Mandar sampai tahun 2012 persentase rumah tangga yang menggunakan listrik PLN sebagai sumber penerangan sebesar 74,70 persen atau meningkat dari tahun 2011 (70,24 persen). Berdasarkan data Dinas Pertambangan, Energi dan Mineral Kabupaten Polewali Mandar, pada tahun 2013 jumlah rumah tangga pengguna listrik PLN sebesar RT, sedangkan rumah tangga pengguna listrik non PLN sebesar RT. Tabel berikut memperlihatkan distribusi listrik PLN dan listrik non PLN dirinci berdasarkan kecamatan. 97

129 Tabel Distribusi Listrik PLN dan Non PLN Menurut Kecamatan Kabupaten Polewali Mandar, 2013 No Kecamatan Jumlah RT RT Pengguna RT Pengguna Listrik Listrik PLN Non PLN 1 Matangga Bulo Tubbi Taramanu Alu Anreapi Tapango Luyo Balanipa Limboro Binuang Campalagian Wonomulyo Tinambung Matakali Mapilli Polewali Jumlah Sumber Data : Dinas Pertambangan, Energi dan Mineral Kab. Polewali Mandar, 2014 Berdasarkan tabel di atas, sampai tahun 2013 masih terdapat rumah tangga di Kabupaten Polewali Mandar yang belum menggunakan listrik, baik listrik PLN maupul listrik non PLN. 5. Pariwisata Kepariwisataan merupakan kegiatan jasa yang memanfaatkan kekayaan alam dan lingkungan hidup yang khas, seperti: hasil budaya, peninggalan sejarah, pemandangan yang indah dan iklim yang nyaman. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik di Kabupaten Polewali Mandar dari tahun mengalami peningkatan yang cukup tinggi dikarenakan adanya upaya pemerintah mengelolah dan mengembangkan obyek wisata yang ada sehingga jumlah wisatawan yang berkunjung mengalami peningkatan. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel berikut : 98

130 Tabel Jumlah Objek Wisata dan Kunjungan Wisatawan Kabupaten Polewali Mandar, No. Uraian Objek Wisata Kunjungan Wisatawan Mancanegara (orang) Kunjungan Wisatawan Domestik (orang) Sumber Data : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Polewali Mandar, Perdagangan Sektor perdagangan merupakan sektor sebagai penyumbang terbesar kedua dalam pembentukan PDRB setelah sektor pertanian. Sebagai sektor strategis, sektor perdagangan memegang peranan yang penting dalam pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Polewali Mandar karena sangat terkait dengan sektor-sektor lain seperti sektor pertanian, industri, pariwisata dan lainnya. Capaian kinerja urusan perdagangan di tunjukkan oleh meningkatnya kontribusi sektor perdagangan terhadap PDRB tahun 2010 sampai dengan tahun Tabel Kontribusi Sektor Perdagangan terhadap PDRB ADHB Kabupaten Polewali Mandar, Tahun Lapangan Usaha Sektor Perdagangan 21,71 22,00 22,37 22,53 Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, Industri Berbagai aspek yang terkait dengan Industri kecil di Kabupaten Polewali Mandar menunjukkan peningkatan selama periode tahun Pada tahun 2008, jumlah industri kecil sebesar unit dan kemudian meningkat menjadi unit pada tahun Peningkatan tersebut telah berdampak terhadap penyerapan tenaga kerja, peningkatan nilai investasi dan peningkatan nilai produksi. Pada tahun 2012, nilai produksi telah mencapai Rp 172 milyar atau meningkat sebesar 23,11 persen dibanding lima tahun lalu. Seperti halnya dengan Koperasi, tidak semua industri kecil memperoleh pembinaan dari pemerintah daerah. Pada tahun 2012, cakupan pembinaan industri kecil yang dilakukan oleh pemerintah daerah hanya sekitar seperempat (24,2 persen) dari total industri kecil yang ada. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel berikut ini : 99

131 Tabel Jumlah Perusahaan dan Tenaga Kerja Industri Kecil Kabupaten Polewali Mandar, No Uraian Jumlah Sentra (Unit) Jumlah Perusahaan (Unit) Jumlah Tenaga Kerja (Orang) Nilai Investasi (Rp juta) Nilai Produksi (Rp juta) Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, 2013 Perkembangan jumlah industri kecil yang membentuk sentra terus mengalami peningkatan pada kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir Pada tahun 2008 jumlah sentra industri kecil sebanyak 92 dan meningkat secara signifikant hingga tahun 2012 sebesar 192 sentra yang di tandai dengan semakin banyaknya bermunculan pusat-pusat penjualan produk industri kecil. Perkembangan jumlah sentra ini tidak didukung oleh kualitas daya saing produk khususnya pengembangan kemasan yang lebih baik, hal ini tentunya sangat dipengaruhi oleh rendahnya kualitas sumber daya manusia pelaku usaha yang berimbas kepada minimnya inovasi dan kreatifitas pelaku usaha dalam meraih peluang pasar. Grafik 2.23 Persentase Industri Kecil Berdasarkan Komoditi Kabupaten Polewali Mandar, 2012 Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, 2013 Berdasarkan grafik diatas, klaster industri sandang dalam hal ini pemintalan benang, pertenunan tradisional dan industri pakaian jadi mempunyai prosentase pelaku usaha yang sangat besar yaitu sebesar 59,41 persen dari total pelaku usaha industri kecil sekitar unit usaha, Industri pangan, Industri Kerajinan dan Penggilingan Gabah masing-masing 19,77 persen, 13,88 persen dan 4,52 persen ketiga jenis komoditi ini merupakan komoditi unggulan Kabupaten 100

132 Polewali Mandar yang banyak digeluti oleh masyarakat dan mempunyai posokan bahan baku yang berlimpah. 8. Ketransmigrasian Capaian kinerja layanan umum pada urusan ketransmigrasian di Kabupaten Polewali Mandar diukur dengan indikator kinerja: Transmigrasi Swakarsa Mandiri (TSM), dan jumlah lokasi transmigrasi baru. Tabel Jumlah Pemberangkatan Transmigran Kabupaten Polewali Mandar, Tahun No Jenis Transmigran Satuan TSM Non Program KK 2 Jumlah Lokasi Transmigrasi Baru Lokasi Sumber Data : Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Polewali Mandar, Aspek Daya Saing Daerah Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah a.pengeluaran Konsumsi Perkapita Riil Disesuaikan Seiring dengan kemajuan ekonomi di Kabupaten Polewali Mandar, pendapatan per kapita riil juga memperlihatkan peningkatan yang konsisten dari tahun ke tahun. Pendapatan per kapita riil meningkat dari Rp pada tahun 2008 menjadi Rp pada tahun 2012 atau meningkat rata-rata 0,39 persen per tahun. Capaian ini berada di atas angka Provinsi Sulawesi Barat dan menempatkan Kabupaten Polewali Mandar pada posisi kedua tertinggi setelah Kabupaten Majene. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada grafik berikut : 101

133 Grafik 2.24 Pendapatan Perkapita Riil Disesuaikan Kabupaten Polewali Mandar, Sumber Data : BPS Prov. Sulawesi Barat, 2013 b. Pengeluaran Konsumsi Makanan dan Non-Makanan Perkapita Sebulan Pada tahun 2012, pengeluaran per kapita sebulan di wilayah perdesaan hanya sekitar tiga per empat dari wilayah perkotaan. Total pengeluaran perkapita sebulan di wilayah perkotaan dan perdesaan masingmasing sebesar Rp dan Rp Penduduk di wilayah perdesaan juga mengalokasikan anggaran dengan proporsi yang lebih besar untuk konsumsi bahan makanan ketimbang penduduk di wilayah perkotaan. Sekitar 57 persen dari total pengeluaran penduduk wilayah perdesaan dialokasikan untuk konsumsi bahan makanan, sedangkan penduduk di wilayah perkotaan hanya sekitar 51 persen. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada grafik di bawah ini : Grafik 2.25 Pengeluaran Konsumsi Makanan dan Non-Makanan Perkapita Sebulan Kabupaten Polewali Mandar, 2008 dan 2012 Sumber Data: BPS Kab. Polewali Mandar,

134 2.4.2 Fokus Fasilitas Wilayah/ Infrastruktur a. Rasio Panjang Jalan Per Jumlah Kendaraan Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan di Kabupaten Polewali Mandar terus meningkat dari tahun ke tahun. Ini disebabkan oleh jumlah kendaraan yang bertambah lebih cepat ketimbang panjang jalan. Fakta ini juga menunjukkan bahwa jaringan jalan di Kabupaten Polewali Mandar semakin padat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2012, rasio panjang jalan per jumlah kendaraan sebesar 24,14 yang berarti bahwa terdapat 24 unit kendaraan untuk setiap Km panjang jalan. Padahal lima tahun lalu, rasio tersebut hanya sebesar 16,00. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel Rasio Panjang Jalan per Jumlah Kendaraan Kabupaten Polewali Mandar, No Uraian Panjang Jalan (Km) 1.464, , , , ,77 2. Jumlah Kendaraan (Unit) Rasio 16,00 18,00 20,00 22,74 24,14 Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar,2013 b. Luas Wilayah Produktif Lahan Produktif adalah lahan yang mempunyai nilai ekonomis, atau memiliki kemampuan untuk berproduksi. Kabupaten Polewali Mandar memiliki beberapa kawasan yang produktif untuk lahan pertanian, perkebunan, perikanan dan kehutanan. Untuk lebih jelasnya dapat, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel Luas Wilayah Produktif (Ha) Kabupaten Polewali Mandar, Komoditas Sawah (Padi Sawah dan Padi Ladang) Holtikultura (Sayuran) Kelapa (Kelapa Dalam dan Hibrida) , , , ,53 Kakao , , , ,70 Kopi (Kopi Robusta dan Arabika) 1.978, , , ,76 Kemiri 3.431, , , ,48 Kawasan Pemeliharaan Ikan (Kolam, Tambak dan Sawah) 5.246, , , ,17 Kawasan Hutan Lindung dan Hutan Produksi Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar,

135 c. Jumlah Orang/Barang yang Terangkut Angkutan Umum Mobilitas penduduk Kabupaten Polewali Mandar pada umumnya melalui transportasi darat. Jumlah orang yang terangkut dengan angkutan umum, baik melalui terminal maupun dermaga, menunjukkan kecenderungan yang berfluktuasi. Sedangan jumlah barang yang terangkut cenderung konstan dalam tiga tahun terakhir. Pada tahun 2012, dari seluruh orang yang terangkut, sekitar 99 persen melalui terminal, selebihnya melalui dermaga. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : No Uraian Tabel Jumlah Orang/Barang yang Terangkut Angkutan Umum Kabupaten Polewali Mandar, Orang Barang Orang Barang Orang Barang Orang Barang Orang Barang 1. Dermaga , , ,0 2. Bandara Terminal Jumlah , , ,0 Sumber Data : Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kab. Polewali Mandar, 2013 d. Ketersediaan Air Bersih Air bersih merupakan salah satu kebutuhan manusia untuk memenuhi standar kehidupan manusia secara sehat. Ketersediaan air bersih yang ada belum dapat melayani semua permintaan masyarakat baik di perkotaan maupun pedesaan. Oleh karena itu, ketersediaan air dapat mengurangi penyakit karena air (waterborne disease), sekaligus dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Ketersediaan air bersih yang terjangkau dan berkelanjutan menjadi bagian terpenting bagi setiap individu, baik yang tinggal di wilayah perkotaan maupun pedesaan. Terdapat 5 Kecamatan yang belum terjangkau air bersih di Kabupaten Polewali Mandar yaitu : Kecamatan Bulo, Tutar, Matangnga, Luyo dan Balanipa. Sedangkan 11 kecamatan lainnya telah telah terjangkau ketersediaan air bersih tetapi tidak untuk semua wilayah pedesaan. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada persentase rumah tangga (RT) yang terlayani air bersih pada tabel berikut ini : 104

136 Tabel Persentase Rumah Tangga (RT) yang Terlayani Air Bersih Kabupaten Polewali Mandar, 2013 Kecamatan yang Terlayani PDAM Persentase RT yang Terlayani 1. Polewali 52% 2. Matakali 25% 3. Binuang 25% 4. Anreapi 10% 5. Wonomulyo 90% 6. Mapilli 20% 7. Tapango 20% 8. Campalagian 15% 9. Tinambung 25% 10. Limboro 25% 11. Alu 15% Sumber Data : Bappeda Kab. Polewali Mandar, 2013 f. Fasilitas Listrik Fasilitas wilayah lainnya yang sangat penting adalah jaringan listrik. Pada tahun 2012, jumlah KWH terjual oleh PT. PLN sebanyak KWH dengan jumlah pelanggan unit. Dari jumlah tersebut, unit (93,73 persen) merupakan pelanggan rumah tangga. Jika dibandingkan dengan total rumah tangga yang ada di Kabupaten Polewali Mandar, yang mencapai rumah tangga, maka PLN hanya mampu melayani kurang dari 60 persen. Kemampuan PLN untuk menyediakan listrik bagi seluruh RT di Polewali Mandar yang masih relatif terbatas, menuntut Pemerintah Daerah untuk mengupayakan listrik non-pln di wilayah-wilayah yang tidak mampu dilayani oleh PLN. Pada tahun 2012, jumlah RT yang telah menggunakan listrik non-pln di wilayah yang tidak terlayani PLN sebanyak RT. Capaian ini, meskipun telah sesuai dengan target pemerintah daerah namun masih tergolong rendah. Jumlah RT di Polewali Mandar saat ini, menurut data BPS, sebanyak RT. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 58,64 persen ( RT) diantaranya yang telah terlayani oleh listrik PLN. Ini berarti bahwa masih terdapat sebanyak 41,36 persen ( RT) yang belum terlayani listrik PLN. Dengan demikian, target dan capaian sebesar RT sesungguhnya masih sangat rendah karena hanya 4,88 persen dari seluruh RT yang tidak terlayani listrik PLN. g. Fasilitas Telepon dan Sarana Telekomunikasi Kecuali Warung Telekomunikasi (Warnet), semua sarana telekomunikasi di Kabupaten Polewali Mandar menunjukkan peningkatan selama tahun Jumlah pelanggan telepon meningkat dari sambungan (2009) menjadi sambungan (2012). Pada periode yang sama, 105

137 KKI meningkat dari 298 menjadi 329 dan WiFi bertambah dari 9 menjadi 10. Sebaliknya, warnet menurun dari 52 unit menjadi 42 unit dalam empat tahun terakhir. Pada tahun 2012, warnet dan KKI hanya terdapat di lima kecamatan, yaitu Tinambung, Wonomulyo, Mapilli, Polewali dan Binuang. Sedangkan WiFi hanya terdapat di dua kecamatan, yaitu Wonomulyo dan Polewali. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel Telepon dan Sarana Telekomunikasi Kabupaten Polewali Mandar, No Telepon dan Sarana Telekomunikasi Pelanggan Telepon Warnet KKI Wifi Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, 2013 g. Jenis dan Jumlah Bank serta Cabang-Cabangnya Jenis dan jumlah lembaga keuangan bank di Kabupaten Polewali Mandar terus bertambah dari ke tahun tahun. Pada tahun 2012, jumlah kantor bank telah mencapai 20 unit atau bertambah 5 unit dibandingkan tahun Dalam lima tahun terakhir, telah bertambah masing-masing satu unit kantor BRI, Bank Mandiri dan telah beroperasi jenis bank baru yaitu BTPN, BPR Nurul Ikhwan, dan Bank Yustima. Pertambahan jenis dan jumlah bank di Kabupaten Polewali Mandar mengindikasikan semakin membaiknya kegiatan ekonomi di daerah ini. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel Jenis dan Jumlah Bank dan Cabang-cabangnya Kabupaten Polewali Mandar, No Nama Bank BRI Bank Sulselbar BNI Bank Danamon Bank Mandiri BTPN BPRS Nurul Ikhwan Bank Yustima Jumlah Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar,

138 h. Ketersediaan Hotel/Penginapan Jumlah hotel dan penginapan di Kabupaten Polewali Mandar mengalami peningkatan dari 15 unit pada tahun 2008 menjadi 19 unit pada tahun Seiring dengan peningkatan jumlah hotel dan penginapan, jumlah kamar dan tempat tidur juga menunjukkan peningkatan. Selama periode 2008 dan 2012, jumlah kamar dan tempat tidur meningkat lebih dari dua kali lipat. Sebagian besar dari jumlah tersebut adalah hotel klas melati dan penginapan, sedangkan hotel berbintang 1 hanya satu unit. Di Kabupaten Polewali Mandar belum ada hotel berbintang 2 ke atas. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel Jenis, Kelas dan Jumlah Penginapan/Hotel Kabupaten Polewali Mandar, 2008 dan Jenis No Jumlah Penginapan Jumlah Jumlah Tempat Jumlah Jumlah Jumlah /Hotel Hotel Kamar Tempat Tidur Hotel Kamar Tidur 1. Hotel Bintang Hotel Bintang Hotel Bintang Hotel Bintang Hotel Bintang Hotel Non Bintang 6. (hotel melati dan penginapan lainnya) 7. Jumlah penginapan/hotel Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, 2013 I. Ketersediaan Restoran/ Rumah Makan Restoran atau rumah makan merupakan istilah untuk menyebut usaha yang menyajikan hidangan kepada masyarakat serta menyediakan tempat guna menikmati hidangan, dan juga menetapkan biaya tertentu untuk makanan dan pelayanannya. Perkembangan jumlah restoran/rumah makan di Kabupaten Polewali Mandar pada tahun 2012 sebanyak 49 unit dan mengalami penurunan sebanyak 3 unit sehingga menjadi 46 unit di tahun Untuk melihat perkembangan jumlah restoran /rumah makan di Kabupaten Polewali Mandar, dapat dilihat pada tabel berikut ini: 107

139 Tabel Perkembangan Jumlah Restoran/ Rumah Makan Kabupaten Polewali Mandar, 2012 dan 2013 No. Uraian Restoran/ Rumah Makan Sumber Data : Dinas Pendapatan dan Perizinan Kab. Polewali Mandar, Fokus Iklim Berinvestasi a. Perlindungan Konsumen Jumlah kasus perlindungan konsumen di Kabupaten Polewali Mandar selama periode terus mengalami penurunan. Dari 471 kasus pelanggaran perlindungan konsumen yang ditemukan tahun 2010 menurun menjadi 430 kasus pada tahun 2013, kasus perlindungan konsumen yang mempunyai prosentase terbesar adalah kasus-kasus alat Ukur Takar Timbang dan Perlengkapannya (UTTP) yang belum di tera sebesar 45 persen selanjutnya adalah barang-barang kadaluarsa (expired date) sebesar 24 persen, berikutnya adalah bahan-bahan yang mengandung zat pewarna dan zat pengawet. Tabel Jumlah Kasus Perlindungan Konsumen Kabupaten Polewali Mandar, No Kasus Perlindungan Konsumen Alat UTTP belum di tera dan tera ulang Barang Kadaluarsa (Expire) Barang -barang tidak ber SNI Barang Elektronik tanpa garansi/petunjuk berbahasa Indonesia Cara pencantuman klausul baku Kosmetik dan Obat-obatan kadaluarsa dan di indikasikan mengandung bahan pengawet Makanan dan minuman yang diindikasikan mengandung zat pewarna Daging/ikan di indikasikan mengandung zat pengawet (borax/formalin) Pengaduan Konsumen atas penggunaan barang/jasa Jumlah Sumber Data : Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kab.Polewali Mandar,

140 b. Angka Kriminalitas Faktor yang mempengaruhi iklim berinvestasi salah satunya adalah tingkat keamanan dan ketertiban. Keamanan, ketertiban dan penanggulangan kriminalitas merupakan salah satu aspek strategis yang perlu dijaga untuk mewujudkan stabilitas daerah. Angka Kriminalitas di Kabupaten Polewali Mandar pada tahun 2012 sebanyak 374 kasus, meningkat sebanyak 76 kasus di tahun 2013 menjadi sebanyak 450 kasus. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat jumlah kriminalitas yang terjadi setiap bulan pada tabel di bawah ini : Angka Kriminalitas Tabel Angka Kriminalitas Kabupaten Polewali Mandar (Kasus), 2012 dan 2013 Bulan Jumlah Tahun Tahun Sumber Data : Polres Kab. Polewali Mandar, 2014 c. Jumlah Demonstrasi Jumlah demonstrasi dan unjuk rasa di Kabupaten Polewali Mandar dalam dua tahun terakhir menunjukkan penurunan yang cukup signifikan. Pada tahun 2012, jumlah demonstrasi sebanyak 7 kali dan menurun menjadi 4 kali pada tahun Isu politik dan isu ekonomi menjadi pemicu terjadinya demonstrasi. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel Jumlah Demonstrasi Kabupaten Polewali Mandar, No. Uraian Bidang Politik Ekonomi Kasus pemogokan kerja Jumlah Demonstrasi/ Unjuk Rasa Sumber Data : Satuan Polisi Pamong Praja Kab. Polewali Mandar, 2014 d. Simpanan Dana Masyarakat Jumlah simpanan dana masyarakat di lembaga keuangan berfluktuasi dengan kecenderungan yang meningkat. Pada tahun 2011, jumlah simpanan meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya, tetapi kemudian menurun sekitar 17 persen pada tahun Dari ketiga jenis simpanan, tabungan yang menunjukkan peningkatan yang stabil. Giro mengalami penurunan, sedangkan simpanan berjangka sangat fluktuatif. Pada tahun 2012, total simpanan dana masyarakat di Kabupaten Polewali Mandar telah mencapai Rp 1,16 triliun. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel berikut ini : 109

141 Tabel Simpanan Dana Masyarakat Menurut Jenisnya Kabupaten Polewali Mandar, No Jenis Simpanan Giro (Rp Juta) Simpanan Berjangka (Rp Juta) Tabungan (Rp Juta) Jumlah (Rp Juta) Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar, 2013 e. Kemudahan Perijinan Dari berbagai Layanan perizinan di Kabupaten Polewali Mandar, menunjukkan bahwa layanan IMB memiliki waktu pengurusan lebih lama (17 hari) dibanding layanan perizinan yang lain (rata-rata 3 hari). Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel Lama Proses Perizinan Kabupaten Polewali Mandar, 2013 No Uraian Lama mengurus (hari) Jumlah persyaratan (dokumen) Biaya resmi (rata-rata maks Rp) 1. SIUP TDP IUI TDI IMB /M 6. HO Sumber Data : Dinas Pendapatan dan Perizinan Kab. Polewali Mandar, 2013 f. Pengenaan Pajak Daerah (Jumlah dan macam pajak dan retribusi daerah) Tabel Jumlah dan Macam Insentif Pajak dan Retribusi Daerah yang Mendukung Iklim Investasi Kabupaten Polewali Mandar, No Uraian Jumlah Pajak yang dikeluarkan Jumlah Insentif Pajak yang mendukung iklim investasi 3. Jumlah Retribusi yang dikeluarkan Jumlah Retribusi yang mendukung iklim investasi Sumber Data : Dinas Pendapatan dan Perizinan Kab. Polewali Mandar,

142 Fokus Sumber Daya Manusia a. Kualitas Tenaga Kerja Secara umum, kualitas angkatan kerja/tenaga kerja di Kabupaten Polewali Mandar masih sangat rendah. Dari seluruh angkatan kerja di Kabupaten Polewali Mandar, sekitar sepertiga diantaranya tidak pernah sekolah dan tidak tamat SD. Sedangkan angkatan kerja yang hanya tamat SD sekitar seperempat dari total angkatan kerja. Namun jumlah angkatan kerja yang tidak pernah sekolah dan tidak tamat SD maupun yang hanya tamat SD terus menurun. Sebaliknya, jumlah angkatan kerja yang tamat SMP, SMA dan Univesitas semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2012, proporsi angkatan kerja yang mampu menyelesaikan pendidikan diploma dan sarjana, telah mencapai 10 persen dari total angkatan kerja, padahal dua tahun sebelumnya hanya 5 persen. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel Jumlah Angkatan Kerja Menurut Tingkat Pendidikan yang Ditamatkan (Jiwa) Kabupaten Polewali Mandar, No Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Tidak /belum pernah sekolah dan tidak/belum tamat SD SD SMP SMA Diploma dan Universitas Jumlah Sumber Data : Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Polewali Mandar, 2013 b. Tingkat Ketergantungan Tingkat atau rasio ketergantungan penduduk di Kabupaten Polewali Mandar cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2009, rasio ketergantungan sebesar 0,67. Rasio ini menunjukkan bahwa setiap penduduk usia produktif (umur tahun) hanya menanggung 0,62 penduduk usia tidak produktif (<15 tahun dan >64 tahun). Penurunan rasio ini juga mengindikasikan membaiknya struktur penduduk yang disebabkan oleh pertumbuhan penduduk usia produktif yang lebih cepat ketimbang pertumbuhan usia tidak produktif. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini : 111

143 Tabel Rasio Ketergantungan Penduduk Kabupaten Polewali Mandar, No. Uraian Jumlah Penduduk Usia < 15 tahun Jumlah Penduduk usia > 64 tahun Jumlah Penduduk Usia Tidak Produktif (1+2) 4. Jumlah Penduduk Usia tahun 5. Rasio ketergantungan (3/4) 0, ,65 0,62 Sumber Data : BPS Kab. Polewali Mandar,

144 113

145 BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN Kebijakan keuangan daerah sangat ditentukan oleh seberapa besar kemampuan keuangan daerah dibandingkan dengan kebutuhan daerah dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi pemerintah. Pengelolaan keuangan pemerintah Kabupaten Polewali Mandar dilakukan dengan mengacu pada batasan pengelolaan keuangan daerah sebagaimana diatur di dalam: (1)Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah; (2)Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah; (3)Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 juncto Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah; dan (4)Peraturan Daerah Kabupaten Polewali Mandar Nomor 11 Tahun 2008 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah. Berbagai peraturan perundangan yang mendasari pengelolaan keuangan daerah tersebut menekankan perlunya pemerintah daerah untuk melakukan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumber daya keuangan daerah dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat dan perbaikan pelayanan publik. Kerangka pengelolaan keuangan pemerintah Kabupaten Polewali Mandar secara garis besar terdiri dari penyusunan anggaran daerah, penatausahaan dan pertanggungjawaban, yang kesemuanya mengacu pada prinsip-prinsip ekonomis, efisiensi dan efektivitas. 3.1 Kinerja Keuangan Masa Lalu Kinerja Pelaksanaan APBD Untuk dapat memahami kemampuan keuangan Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar, maka perlu dicermati kondisi kinerja keuangan daerah, baik kinerja keuangan masa lalu maupun kebijakan yang melandasi pengelolaannya. a. Kinerja Pendapatan Daerah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Pasal 157 menyebutkan bahwa sumber pendapatan daerah terdiri dari Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan, dan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah. Pengelolaan pendapatan daerah bertujuan untuk mengoptimalkan sumber pendapatan daerah dalam rangka peningkatan kapasitas fiskal daerah guna memaksimalkan penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam memberikan pelayanan dan kesejahteraan kepada masyarakat sebagai hakikat penyelenggaraan pemerintahan. 114

146 No 1 Tabel 3.1 Rata-rata Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Daerah Tahun (dalam Miliar rupiah) Rincian Pendapatan Daerah Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013* Rata-rata pertumbuhan (%) Pendapatan 486,82 545,60 653,71 700,74 809, Pendapatan Asli Daerah 10,9 17,25 22,74 27, Pajak Daerah 1,96 4,39 4,34 6,53 5,63 57, Retribusi Daerah 5,57 8,64 12,16 15,14 16,35 40, Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan 1,37 1,18 1,42 1,72 1,72 9, Lain-lain PAD yang 2,01 3,05 sah 4,83 4,32 6,84 33,03 2 Dana Perimbangan 432,2 429,34 482,94 584,60 669,17 10, Dana Bagi Hasil Pajak /Bagi Hasil Bukan 24,29 30,65 28,83 28,16 31,27 5,98 Pajak 2.2. Dana Alokasi Umum 342,59 351,26 400,40 484,10 555,95 12, Dana Alokasi Khusus 65,34 47,43 53,72 71,44 81,96 6,28 3 Lain-lain Pendapatan Daerah yang sah 43,71 99,00 148,03 88,45 109,72 45, Hibah 8,47 582,29 1,77 1,06 1,94 23, Dana Darurat Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah daerah - 8,78 9,64 11,42 11,00 9,38 lainnya 3.4. Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus 35,24 89,64 136,62 72,85 85,48 53, Bantuan Keuangan dari Propinsi atau Pemerintah Daerah lainnya ,12 11,30 33,33 Sumber Data : Dinas Pendapatan & Perizinan Kab. Polewali Mandar, 2013 Ket : *) Angka sementara Dalam kurun waktu , pemerintah Kabupaten Polewali Mandar telah menunjukkan hasil yang cukup signifikan dalam pencapaian realisasi pendapatan daerah. Hal ini terlihat dari realisasi pendapatan daerah pada tahun 2009 sebesar Rp.486,817 milyar dan meningkat menjadi Rp.700,742 milyar pada tahun Selama kurun waktu tersebut, pendapatan daerah Kabupaten Polewali Mandar bertumbuh rata-rata 13,21 persen per tahun. Peningkatan total pendapatan daerah dikontribusi oleh peningkatan PAD, Dana Perimbangan, dan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah. Dari struktur pendapatan daerah, dana perimbangan merupakan penyumbang terbesar terhadap pendapatan daerah Polewali Mandar. Selama periode , rata-rata kontribusi dana perimbangan mencapai 81,19 115

147 persen dengan kecenderungan menurun. Pada tahun 2009, dana perimbangan sebesar Rp 432,206 milyar (88,78 persen dari total pendapatan daerah) dan meningkat menjadi Rp 584,593 milyar (83,42 persen) di tahun 2012 atau bertumbuh rata-rata 10,96 persen per tahun. Jenis dana perimbangan terbesar adalah Dana Alokasi Umum (DAU) yang bertumbuh rata-rata 12,55 persen per tahun. Pada periode yang sama ( ), PAD bertumbuh rata-rata sebesar 37,28 persen, namun kontribusinya terhadap APBD hanya rata-rata 3,21 persen per tahun. Sementara kontribusi lain-lain pendapatan daerah yang sah sebesar 15,60 persen dari total pendapatan daerah Kabupaten Polewali Mandar. Besarnya sumbangan lain-lain pendapatan daerah yang sah terutama dikontribusi oleh dana penyesuaian. Dengan mencermati kondisi struktur pendapatan daerah Kabupaten Polewali Mandar, mengindikasikan bahwa tingkat ketergantungan pemerintah Polewali Mandar masih relatif tinggi jika dibandingkan dengan mobilisasi pendapatan yang bersumber dari PAD yang hanya menyumbang sekitar 3,21 persen per tahun. Meskipun peran PAD terhadap pendapatan daerah secara keseluruhan masih cukup rendah, namun realisasi PAD Kabupaten Polewali Mandar tahun 2012 sebesar Rp.26,699 milyar meningkat cukup signifikan jika dibandingkan dengan tahun 2009 yang hanya sebesar Rp.10,904 milyar atau bertumbuh rata-rata 37,28 persen per tahun. Ini menunjukkan ada upaya yang terus dilakukan oleh pemerintah Polewali Mandar untuk mendorong peningkatan PAD. Diantara keempat objek penerimaan yang bersumber dari PAD, retribusi daerah merupakan sumber utama PAD, kemudian disusul oleh lain-lain PAD yang sah dan pajak daerah. Jenis pajak daerah yang memberikan penerimaan terbesar bagi PAD adalah pajak penerangan jalan, dimana pada tahun 2009 sebesar Rp.1,244 milyar meningkat tiga kali lipat menjadi Rp.3,809 milyar pada tahun Kontribusi pajak penerangan jalan terhadap pajak daerah rata-rata 72,56 persen. Selain pajak penerangan jalan, beberapa jenis pajak daerah yang mempunyai prospek cukup baik adalah pajak pengambilan galian C yang mencapai Rp.678,392 juta di tahun 2012 meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya, pajak restoran yang mencapai Rp.355,121 juta di tahun 2012, dan BPHTB sejak tahun 2011 telah memberikan penerimaan sebesar Rp.633,499 juta dan meningkat menjadi Rp.1,266 milyar pada tahun

148 Tabel 3.2 Penerimaan Pajak Daerah Menurut Jenisnya Kabupaten Polewali Mandar, No. Jenis Pajak Daerah Pajak Hotel Pajak Restoran Pajak Hiburan Pajak Reklame 241,831, Pajak Penerangan Jalan (PPJ) Pajak Golongan C Pajak Air Bawah Tanah Pajak Walet Pajak Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) Total 1,540,460, Sumber Data : Dinas Pendapatan & Perizinan Kab. Polewali Mandar, 2013 Ket : *) Angka sementara Pada periode yang sama, peningkatan penerimaan retribusi daerah dikontribusi oleh ketiga jenis retribusi daerah, namun yang terbesar adalah retribusi jasa umum sebesar 89,04 persen per tahun. Pada tahun 2009, retribusi jasa umum sebesar Rp.4,7 milyar meningkat menjadi Rp.13,6 milyar atau bertumbuh rata-rata 43,46 persen selama periode Penerimaan retribusi jasa umum terbesar berasal dari retribusi pelayanan kesehatan, yang mencapai 85,22 persen, disusul oleh retribusi pelayanan sebesar 9,41 persen. b. Kinerja Belanja Daerah Dalam kurun waktu empat tahun terakhir, realisasi belanja daerah mengalami pertumbuhan yang cenderung linear. Pada tahun 2009, realisasi belanja sebesar Rp.473,624 milyar, kemudian meningkat menjadi Rp.707,846 milyar pada tahun Selama periode , belanja daerah bertumbuh rata-rata 14,61 persen per tahun. Porsi terbesar belanja daerah dialokasikan pada belanja tidak langsung rata-rata sebesar 62,34 persen, sementara porsi belanja langsung rata-rata 37,66 persen per tahun. Tabel 3.3 Realisasi Belanja Daerah Kabupaten Polewali Mandar, No Jenis Belanja Daerah Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013* A Belanja Tidak Langsung , , , ,28 440,872, , Belanja Pegawai , , ,46 418,395,461,734, Belanja Bunga , ,00 1,628,170,274,82 232,324,870,00-3 Belanja Subsidi , ,00 5,497,506,000, Belanja Hibah , ,00 7,773,253,000,00 3,682,950,000, Belanja Bantuan Sosial , ,00 8,040,038,480,00 2,000,000, Belanja Bagi Hasil , , Belanja Bantuan , ,00 17,011,186,000,00 18,559, , Keuangan 8 Belanja Tidak Terduga , B Belanja Langsung ,18 196,820,676,388,16 239,743,342,752,68 266,974,477,527, Belanja Pegawai , ,00 14,464,950,030,00 22,167,503,900, Belanja Barang dan Jasa , ,11 95,089,208,181,66 120,449,203,811, Belanja Modal , ,05 130,189,184,541,02 124,357,769,815, Total , ,16 667,014,554,229,96 707,846,542,623, Sumber Data : Bagian Pengelola Keuangan Setda Kab. Polewali Mandar, 2013 Ket : *) Angka sementara 117

149 No 1. Belanja Tidak Langsung Belanja tidak langsung merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan atau belanja non kegiatan yang terdiri dari belanja pegawai, bunga, subsidi, hibah, bantuan sosial, belanja bagi hasil, bantuan keuangan, dan belanja tidak terduga. Tabel 3.4 Proporsi Anggaran Belanja Tidak Langsung Menurut Jenisnya Kabupaten Polewali Mandar, Uraian Belanja Tidak Langsung * 1. Belanja Pegawai 85,35% 88.24% 90.65% 94.90% 90.89% 2. Belanja Bunga 0,22% 0.11% 0.38% 0.05% 0.00% 3. Belanja Subsidi 1,79% 1.49% 1.29% 0.00% 0.06% 4. Belanja Hibah 3,85% 2.76% 1.82% 0.84% 5.07% 5. Belanja Bantuan Sosial 2,96% 2.50% 1.88% 0.00% 0.29% 6. Belanja Bagi Hasil 0, % 0.00% 0.00% 0.05% 7. Belanja Bantuan Keuangan 5,27% 4.82% 3.98% 4.21% 3.43% 8. Belanja Tidak Terduga 0,48% 0.00% 0.00% 0.00% 0.10% Sumber Data: Diolah dari Data Bagian Pengelola Keuangan Setda Kab. Polewali Mandar, 2013 Ket : *) Angka sementara Realisasi belanja tidak langsung untuk empat tahun terakhir menunjukkan tren meningkat, dimana pada tahun 2009 jumlah belanja tidak langsung sebesar Rp.284,37 milyar, meningkat pada tahun 2011 menjadi Rp.427,27 milyar, dan kemudian meningkat lagi pada tahun 2012 menjadi Rp.440,87 milyar. Peningkatan tersebut terutama dikontribusi oleh peningkatan belanja pegawai. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, porsi belanja pegawai cenderung meningkat dari 85,35 persen menjadi 94,90 persen pada tahun Pada periode yang sama, rata-rata pertumbuhan belanja pegawai sebesar 20 persen. Hal ini berarti hampir 100 persen belanja tidak langsung terserap ke dalam belanja pegawai. Belanja bantuan keuangan juga memperoleh alokasi belanja cukup besar, berkisar antara Rp.15 milyar hingga Rp.18,559 milyar dalam kurun waktu Proporsi belanja bantuan keuangan terhadap total belanja tidak langsung rata-rata sebesar 4,57 persen per tahun. 2. Belanja Langsung Belanja langsung merupakan belanja suatu kegiatan yang terdiri dari tiga jenis belanja yang terdiri atas belanja pegawai, belanja barang dan jasa, dan belanja modal. Belanja langsung merupakan alokasi pembiayaan strategis yang sifatnya direct fund atau terarah secara spesifik terhadap target-target pembangunan yang telah diprioritaskan. Dalam kurun waktu empat tahun ( ) belanja langsung mengalami peningkatan dari Rp.189,25 milyar menjadi Rp.266,97 milyar atau bertumbuh rata-rata 12,39 persen per tahun. 118

150 No. Tabel 3.5 Realisasi Anggaran Belanja Langsung Menurut Jenisnya Kabupaten Polewali Mandar, Uraian Belanja Langsung Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013* 1. Belanja Pegawai 16,43 14,66 14,47 22, Belanja Barang dan Jasa ,09 120, Belanja Modal ,19 124, Sumber Data : Diolah dari Data Bagian Pengelola Keuangan Setda Kab. Polewali Mandar, 2014 Ket : *) Angka sementara Belanja langsung terbesar dialokasikan untuk belanja modal. Ratarata proporsi belanja modal terhadap total belanja langsung mencapai 55,62 persen per tahun. Porsi belanja barang dan jasa menempati urutan kedua dengan rata-rata 36,76 persen per tahun. Meskipun porsi belanja modal merupakan yang terbesar diantara jenis belanja langsung lainnya, namun menunjukkan kecenderungan menurun dari tahun ke tahun. Sebaliknya, belanja pegawai meskipun memperoleh alokasi belanja langsung terkecil, akan tetapi proporsinya cenderung meningkat Grafik 3.1 Proporsi Realisasi Belanja Langsung Menurut Jenisnya Kabupaten Polewali Mandar, * Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal Sumber Data : Diolah dari Data Bagian Pengelola Keuangan Setda Kab. Polewali Mandar, 2014 Ket : *) Angka sementara Kecenderungan penurunan proporsi belanja modal di tahun 2012 turut dipengaruhi oleh rendahnya capaian realisasi belanja modal yang hanya sebesar 86,27 persen dari target. Ketidakmampuan pencapaian tersebut antara lain dipicu oleh realisasi belanja modal tanah yang hanya Rp sementara alokasi anggaran yang disiapkan mencapai Rp 1,45 milyar. 119

151 Tabel 3.6 Target dan Realisasi Belanja Modal Menurut Jenisnya Kabupaten Polewali Mandar (Rp.000), No Uraian Belanja Modal * Target Realisasi (%) Target Realisasi (%) Target Realisasi (%) 1 Tanah 1,454,625, ,447,067, ,182, Peralatan & Mesin 3 Gedung & Bangun 4 Jalan & Jar. Irigasi 5 Aset tetap lainnya 19,050,852, ,891,272, ,158, ,560,096, ,864,165, ,813, ,743,788, ,738,037, ,894, ,430,394, ,000, ,068, Sumber Data : Diolah dari Data Bagian Pengelola Keuangan Setda Kab. Polewali Mandar, 2013 Ket : *) Angka sementara Terdapat lima jenis rencana peruntukkan belanja modal di tahun 2011 dan 2012, namun tidak satupun yang terealisasi 100 persen dari yang ditargetkan. Yang paling rendah capaian realisasinya adalah belanja gedung dan bangunan yang hanya terealisasi 58,21 persen dan tanah sebesar 66,89 persen (2011). Pada tahun 2012, alokasi belanja modal untuk tanah semakin menurun dari tahun sebelumnya, yaitu hanya 14,38 persen Neraca Daerah Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2001 tentang Informasi Keuangan Daerah, Neraca Daerah adalah neraca yang disusun berdasarkan standar akuntansi pemerintah daerah secara bertahap sesuai dengan kondisi masing-masing pemerintah daerah. Neraca daerah memberikan informasi mengenai posisi keuangan berupa aset, kewajiban (utang), dan ekuitas dana pada tanggal neraca tersebut dikeluarkan. Aset, kewajiban, dan ekuitas dana merupakan rekening utama yang masih dapat dirinci lagi menjadi sub rekening sampai level rincian obyek. Sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, Neraca Daerah merupakan salah satu laporan keuangan yang harus dibuat oleh pemerintah daerah. Laporan ini sangat penting bagi manajemen pemerintah daerah, tidak hanya dalam rangka memenuhi kewajiban peraturan perundang-undangan yang berlaku saja, tetapi juga sebagai dasar untuk pengambilan keputusan yang terarah dalam rangka pengelolaan sumber-sumber daya ekonomi yang dimiliki oleh daerah secara efisien dan efektif. Dengan adanya neraca daerah, pemerintah daerah dapat menilai sejauh mana kemampuan keuangan pemerintah daerah melalui perhitungan rasio likuiditas, solvabilitas dan rasio aktivitas serta kemampuan aset daerah 120

152 untuk penyediaan dana pembangunan daerah. Dari data yang tersedia, tampak jelas bahwa aset pemerintah Kabupaten Polewali Mandar dalam kurun waktu bertumbuh ratarata 7 persen. Porsi pertumbuhan terbesar terdapat pada piutang pemerintah daerah yang meningkat dari Rp.5,04 milyar pada tahun 2009 menjadi Rp.10,02 milyar pada tahun 2012 atau meningkat sekitar dua kali lipat. Kewajiban, baik jangka pendek maupun jangka panjang, memberikan informasi tentang utang pemerintah daerah kepada pihak ketiga atau klaim pihak ketiga terhadap arus kas pemerintah daerah. Kewajiban umumnya timbul karena konsekuensi pelaksanaan tugas dan tanggung jawab di masa lalu yang dalam penyelesaiannya mengakibatkan pengorbanan sumber daya ekonomi di masa yang akan datang. Jumlah kewajiban Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar khususnya dalam hal Utang Dalam Negeri - Pemerintah Pusat berkurang sebesar 91 persen dari Rp ,97 pada tahun 2009 menjadi Rp ,88 pada akhir tahun 2012 dan direncanakan akan selesai pada tahun Hal ini menunjukkan bahwa Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar selama kurun waktu selalu dapat melaksanakan kewajiban jangka pendek finansialnya dengan tepat waktu. Tabel 3.7 Neraca Daerah Kabupaten Polewali Mandar, No Uraian Pertum buhan 1 ASET 1.1. ASET LANCAR 10,70 24,37 40,67 25,20 16,58 31% Kas 9,14 17,57 30,33 10,69 805,378, % Piutang 5,697, ,03 7,87 9,10 10, % Persediaan 1,57 1,77 2,47 5,43 5,76 45% INVESTASI JANGKA PANJANG Investasi Non Permanen Investasi dalam Dana Bergulir 22,99 21,17 15,17 16,66 17,87-5% 13,27 11,46 10,62 10,60 10,33-6% 13,27 11,46 10,62 10,6 10,33-6% Investasi Permanen 9,72 9,72 4,54 6,04 7,55 1% Penyertaan Modal Pemda pada Bank 4,40 4,40 4,40 5,90 7,40 15% Sulsel Penyertaan Modal Pemda pada ,20 0,145 0,145 0,145-7% Perusahaan Daerah Penyertaan Modal Pemda pada PDAM Kab. Polewali Mandar 5,32 5, % 1.2. ASET TETAP 644,33 766,70 722,19 732,84 855,85 8% Tanah 27,86 30,40 177,37 178,57 179,35 123% Peralatan dan mesin 108,8 121,28 109,38 127,24 142,32 7% Gedung dan bangunan 219,85 266,42 338,55 382,29 412,88 17% Jalan, irigasi, dan jaringan 252,74 311,35 79,50 149,37 183,67 15% Aset tetap lainnya 19,20 20,22 4,49 5,92 6,08-10% Konstruksi dalam pengerjaan 15,90 17,05 12,93 11,64 53,72 84% Akumulasi Penyusutan ,16-122,16 0% 121

153 No Uraian Pertum buhan 1.3. ASET LAINNYA 5,70 5,52 5,72 6,93 6,76 5% Tagihan penjualan angsuran 0, % Tagihan tuntutan ganti kerugian daerah % Kemitraan dengan pihak kedua ,39 0,52 0,39 2% Aset tak berwujud % 0% 0% 0% Aset Lainnya 5,65 5,52 5,33 6,40 6,36 3% JUMLAH ASET DAERAH 683,70 817,75 783,74 781,63 897,05 7% 2 KEWAJIBAN 7,02 5,02 3,70 15,26 6,97 51% 2.1. KEWAJIBAN JANGKA PENDEK 2,24 1,79 2,03 14,24 6,54 135% Utang perhitungan pihak ketiga 0, , ,08 133,57 206, % Bagian Lancar Utang Dalam Negeri- Pemerintah Pusat 1,97 1,50 1,80 488,48 441,00-21% Bagian Lancar Utang Dalam Negeri- 172,635, Pemerintah Daerah ,022, ,997, % lainnya Bagian Lancar Utang Jangka Panjang Lainnya 0,20 0, % Utang Jangka Pendek Lainnya--Utang Pajak , ,450,744, ,736,501, % 2.2 KEWAJIBAN JANGKA PANJANG 4,79 3,25 1,67 1,01 428,876, % Utang Dalam Negeri % Utang Dalam Negeripemerintah Pusat 4,79 3,25 1,67 441,002, % Utang Dalam Negeripemerintah Daerah Lainnya ,931, ,876, % 3 EKUITAS DANA 676,69 812,72 780,03 766,37 890,08 8% 3.1. EKUITAS DANA LANCAR 8,53 22,59 38,63 10,98 10,04 39% SILPA 8,95 16,32 29,97 10,27 388,167, % Cadangan piutang 59,088, ,03 7,87 9,09 10, % Cadangan persediaan 1,57 1,77 2,48 5,43 5,76 45% Pendapatan Yang 297,750, ,704, ,144,760, ditangguhkan ,351, ,118, % Dana yang harus - - disediakan untuk (1,679,968,020.41) (1,978,443,7 (2,157,747,263.17) 14,100,238,157. 6,332,502,746.8 pembayaran Utang 97.76) 03 8 Jangka Pendek 138% EKUITAS DANA INVESTASI Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang Diinvestasikan dalam aset tetap Diinvestasikan dalam aset lainnya Dana yang harus disediakan untuk pembayaran Utang Jangka Panjang 668,16 790,14 741,40 755,40 880,04 8% 22,99 21,17 15,17 16,66 17,87-5% 644,33 766,70 722,19 732,84 855,85 8% 5,65 5,52 5,72 6,93 6,76 5% (4,79) (3,25) (1,67) (1,01) (428,876,845.66) -44% JUMLAH KEWAJIBAN 683,70 817,75 783,74 781,63 897,05 7% DAN EKUITAS DANA Sumber Data : Diolah dari Data Bagian Pengelola Keuangan Setda Kab. Polewali Mandar,

154 Adapun total hutang yang masih menjadi tanggungan pemerintah Kabupaten Polewali Mandar pada akhir tahun 2012 sebesar Rp.1,02 milyar. Beberapa rasio dapat diterapkan untuk menilai kemampuan keuangan pemerintah daerah, diantaranya rasio likuiditas, rasio solvabilitas, dan rasio utang. Rasio likuiditas atau rasio lancar menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam membayar kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih. Kualitas pengelolaan keuangan daerah dikategorikan baik apabila nilai rasio lebih dari satu. Rasio kas (cash ratio) dan rasio cepat (quick ratio) menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam memenuhi atau membayar kewajiban jangka pendek berdasarkan nilai aktiva lancar tanpa memperhitungkan nilai persediaan. Tabel 3.8 Analisis Rasio Keuangan Kabupaten Polewali Mandar, No Uraian (%) (%) (%) (%) (%) 1 Rasio lancar (current ratio) 4,788 13,656 19,949 1,771 2,535 2 Rasio cepat (quick ratio) 4,090 12,667 18,737 1,390 1,655 3 Rasio total hutang terhadap total asset 0,010 0,006 0,005 0,020 0,008 4 Rasio hutang terhadap modal 0,010 0,006 0,005 0,020 0,008 5 Rata-rata umur piutang (Hari) - 1,89 4,32 4,75 4,98 Sumber Data : Diolah dari Data Bagian Pengelola Keuangan Setda Kab. Polewali Mandar, 2013 Hasil analisis rasio menunjukkan bahwa rasio lancar pemerintah Kabupaten Polewali Mandar selama kurun waktu tergolong baik, yang berarti bahwa pemerintah Kabupaten Polewali Mandar dapat memenuhi kewajiban yang jatuh tempo. Rasio cepat (quick ratio) pemerintah Kabupaten Polewali Mandar menunjukkan angka lebih dari 1. Angka ini mengindikasikan bahwa pemerintah Kabupaten Polewali Mandar mampu untuk membayar kewajiban jangka pendeknya dalam waktu dekat. 3.2 Kebijakan Pengelolaan Keuangan Masa Lalu Kebijakan Pendapatan Daerah Dengan mencermati gambaran umum pendapatan daerah, terlihat pada kebijakan pendapatan daerah lebih diarahkan pada upaya mobilisasi peningkatan pendapatan asli daerah. Hal ini ditunjukkan oleh laju pertumbuhan PAD cukup cepat sebesar 37,27 persen per tahun dalam periode tahun , meskipun proporsinya terhadap total pendapatan relatif kecil. Sumber PAD yang terbesar adalah retribusi daerah dan pajak daerah. Ini menggambarkan bahwa penekanan arah kebijakan peningkatan PAD berasal dari retribusi daerah dan pajak daerah. Pada periode yang sama, penerimaan dari dana perimbangan cenderung meningkat hingga tahun 2012 dengan laju pertumbuhan yang cukup lambat sekitar 10,95 persen per tahun. Dengan memperhatikan kebijakan pendapatan daerah di masa lalu, peningkatan pendapatan daerah untuk lima tahun ke depan tetap 123

155 melanjutkan kebijakan pendapatan yang potensial dan menyempurnakan kelemahan sistem pengelolaan pendapatan pada periode yang lalu. Adapun kebijakan pendapatan daerah yang diarahkan pada peningkatan PAD pada masa sebelumnya adalah: 1. Peningkatan penerimaan dari objek pajak yang telah memberikan kontribusi yang cukup besar dengan melakukan penagihan lebih intens kepada subjek pajak; 2. Menggali sumber-sumber pendapatan baru; 3. Mengoptimalkan penerimaan dari objek-objek pajak yang belum tergarap dengan baik; 4. Melakukan pendampingan dan asistensi SKPD dalam proses penetapan target-target penerimaan retribusi; 5. Melakukan uji petik terhadap sumber-sumber PAD potensial untuk mengoptimalkan realisasi penerimaan; 6. Melakukan penegakan hukum dan peraturan perundang-undangan untuk meningkatkan ketaatan membayar pajak dan retribusi daerah; 7. Memberikan reward and punishment kepada wajib pajak atas ketaatan dalam membayar pajak; 8. Memberikan kampanye Taat Pajak agar masyarakat semakin mengerti akan posisi dan peran strategis pajak dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan; 9. Melakukan pelayanan mobile kepada wajib pajak secara periodik; 10. Melakukan konsolidasi internal berupa perbaikan sistem dan prosedur, peningkatan SDM, dan peningkatan kualitas layanan. Selain kebijakan peningkatan PAD, pemerintah daerah tetap melakukan langkah-langkah strategis yang terkait dengan sumber pendapatan daerah yang lain seperti lain-lain pendapatan daerah yang sah. Hal ini dapat dilihat dari kontribusinya terhadap pendapatan daerah cukup berarti Kebijakan Belanja Daerah Sebagaimana amanah RPJMD Kabupaten Polewali Mandar Tahun , belanja daerah dipergunakan dalam rangka membiayai pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah yang terdiri dari urusan wajib, urusan pilihan dan urusan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu yang dapat dilaksanakan bersama antara pemerintah dan pemerintah daerah yang ditetapkan dengan ketentuan perundang-undangan. Kebijakan belanja daerah diarahkan untuk menyediakan kebutuhan dasar masyarakat (basic needs) meliputi pelayanan bidang pendidikan, kesehatan, sarana dan prasarana dasar, dan berbagai pelayanan umum lainnya, serta dalam rangka pemenuhan layanan 124

156 pengembangan potensi unggulan daerah (core competency). Mencermati perkembangan realisasi belanja daerah pada periode tergambar bahwa kebijakan belanja daerah diarahkan pada belanja tidak langsung dengan proporsi yang lebih besar daripada belanja langsung. Kebijakan belanja tidak langsung tetap didominasi oleh pembayaran gaji pegawai sebagai belanja wajib dan mengikat. Sementara pada belanja langsung, kebijakan diarahkan pada pembiayaan program prioritas sebagaimana termuat dalam RPJMD Kabupaten Polewali Mandar Tahun Adapun bentuk kebijakan pada program prioritas adalah : a. Peningkatan kualitas manajemen dan administrasi pembangunan yang diarahkan pada peningkatan kualitas perencanaan, pengembangan sistem pelayanan publik, peningkatan kinerja sumber daya aparatur, peningkatan akuntabilitas manajemen keuangan dan aset, penataan organisasi dan tata kerja birokrasi daerah, serta peningkatan sistem pengendalian intern pemerintahan daerah; b. Pembangunan daya saing ekonomi daerah akan diarahkan kepada peningkatan sarana dan prasarana jalan dan jembatan, peningkatan sumber daya manusia pelaku ekonomi, peningkatan produktifitas pertanian, peternakan, perkebunan, kehutanan, dan perikanan, serta perwilayahan komoditas unggulan, peningkatan iklim usaha yang kondusif dan pengembangan daya saing usaha masyarakat, penguatan lembaga keuangan mikro, koperasi dan UMKM, optimalisasi pengelolaan pertambangan, pengembangan home-industry dan IKM, promosi dan penanaman modal, pengembangan sarana dan prasarana BLK, optimalisasi pengelolaan potensi kepariwisataan, peningkatan kapasitas penelitian dan pengembangan kepariwisataan; c. Peningkatan pendayagunaan sumber daya alam dan pengelolaan lingkungan hidup yang diarahkan kepada optimalisasi pengawasan tata ruang dan pengendalian lingkungan hidup; d. Peningkatan kualitas SDM dan kesejahteraan sosial diarahkan pada penguatan implementasi nilai keagamaan dalam kehidupan masyarakat, pemeliharaan nilai-nilai budaya lokal, peningkatan APK dan APM pada semua tingkat satuan pendidikan berbasis kinerja, peningkatan peran pemuda dalam pembangunan, peningkatan indeks pemberdayaan gender, peningkatan angka usia harapan hidup, penurunan prevalensi kurang gizi anak balita, penurunan angka kematian anak dan ibu, peningkatan kualitas pelayanan rumah sakit umum daerah, peningkatan kualitas pembangunan kependudukan dan keluarga berencana, peningkatan kehidupan sosial bagi penyandang cacat, anak terlantar, yatim piatu dan fakir miskin; 125

157 e. Penguatan demokrasi, politik, hukum dan hak asasi manusia diarahkan pada peningkatan pemahaman dan penegakan hukum dan HAM, perwujudan kehidupan politik yang demokratis dan kondusif Kebijakan Pembiayaan Daerah Analisis pembiayaan dimaksudkan untuk memberi gambaran atau informasi pengaruh kebijakan pembiayaan daerah pada tahun anggaran sebelumnya terhadap surplus atau defisit belanja daerah. Gambaran ini menjadi bahan untuk menentukan kebijakan pembiayaan pemerintahan daerah pada periode terutama terkait dengan penghitungan kapasitas pendanaan pembangunan daerah. Berdasarkan analisis pendapatan dan belanja daerah pada bagian sebelumnya, diperoleh gambaran bahwa pada periode sebelumnya pemerintah Kabupaten Polewali Mandar menganut anggaran surplus pada tahun , kemudian anggaran defisit pada tahun Dengan memperhitungkan komponen pembiayaan, besaran pengeluaran pembiayaan setiap tahun ( ) sangat berfluktuasi, sehingga turut mempengaruhi perolehan defisit riil. Pada tahun 2011, defisit riil Kabupaten Polewali Mandar sebesar Rp.32,515 milyar menurun di tahun 2012 menjadi Rp.10,622 milyar (Tabel 3.11). Penurunan defisit riil pada tahun 2012 disebabkan oleh adanya pertumbuhan perolehan pendapatan daerah yang lebih cepat sebesar 7,20 persen dibandingkan dengan pertumbuhan belanja sebesar 6,12 persen. Tabel 3.9 Penutup Defisit Riil Anggaran Kabupaten Polewali Mandar, No Uraian Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013* 1 Realisasi Pendapatan Daerah Dikurangi realisasi: , , , , ,00 2 Belanja Daerah , ,16 667,014,554,229,96 707,846,542,623, ,00 3 Pengeluaran Pembiayaan Daerah , , , , ,780,00 A Defisit riil , ,54 ( ,12) ( ,96) ,00 Ditutup oleh realisasi Penerimaan Pembiayaan: , , , , ,99 4 Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Tahun Anggaran sebelumnya , , , , ,99 5 Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah Yang di Pisahkan Penerimaan Pinjaman Daerah , Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman Daerah , , , , Penerimaan Piutang Daerah , ,00 - Total Realisasi Penerimaan Pembiayaan Daerah , , , , ,99 Sisa lebih pembiayaan anggaran tahun berkenaan ,939, , , , Sumber Data : Diolah dari Data Bagian Pengelola Keuangan Setda Kab. Polewali Mandar, 2013 Ket : *) Angka Sementara Surplus yang terjadi pada tahun 2009 dan 2010 menggambarkan bahwa seluruh belanja daerah pemerintah Kabupaten Polewali Mandar dapat ditanggulangi dengan pendapatan daerahnya. Akan tetapi, di tahun 126

158 No dan 2012 belanja daerah harus ditutupi dari penerimaan pembiayaan. Terlebih pada tahun 2011 dengan nilai defisit yang cukup tinggi, sehingga pemerintah daerah Kabupaten Polewali Mandar harus mengambil kebijakan dengan melakukan pinjaman sebesar Rp.16 milyar dan menggunakan SiLPA tahun lalu. Dari seluruh komponen penerimaan pembiayaan, SiLPA tahun lalu merupakan sumber penerimaan pembiayaan terbesar dimana pada tahun 2009 mencapai Rp. 9,076 milyar, namun menurun di tahun 2012 menjadi Rp.7,662 milyar. Berdasarkan Tabel 3.9 terlihat bahwa Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan cenderung mengalami penurunan dari Rp.16,314 milyar pada tahun 2009 menjadi Rp.932 juta pada tahun Tabel 3.10 Realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Kabupaten Polewali Mandar, Uraian (Rp.000) % dari SiLPA (Rp.000) % dari SiLPA (Rp.000) % dari SiLPA (Rp.000) Sumber Data : Diolah dari Data Bagian Pengelola Keuangan Setda Kab. Polewali Mandar, 2013 Ratarata pertum buhan (%) 1. Jumlah SiLPA ,53 100, , , , ,09% 2. Pelampauan penerimaan PAD ( ) -85,6 ( ) -30,6 ( ) - 113,8 % dari SiLPA ( ,51) ,31% 3. Pelampauan penerimaan dana perimbangan ( ) -11, ,7 ( ) -92,9 ( ,00) ,19% 4. Pelampauan penerimaan lain-lain pendapatan daerah yang sah 5. Sisa penghematan belanja atau akibat lainnya , ,4 ( ) - 185,4 ( ,00) ,31% , , , ,70% Pada periode , terlihat bahwa PAD selalu tidak dapat mencapai target yang telah ditetapkan. Demikian juga dengan komponen Dana Perimbangan, hanya pada tahun 2010, realisasi penerimaan berada di atas target, sementara periode lainnya tidak melampaui target. Ini berarti, beberapa komponen dana perimbangan tidak terealisasi 100 persen. Secara keseluruhan dapat dijelaskan bahwa SiLPA yang terjadi pada tahun disebabkan oleh adanya penerimaan lain-lain pendapatan daerah yang sah yang berada di atas target dan sisa penghematan belanja atau akibat lainnya. Sisa penghematan belanja berlangsung hingga tahun 2012 dengan besaran nilai yang cenderung meningkat dari Rp.17,5 milyar di tahun 2009 menjadi Rp.599,29 milyar di tahun Kerangka Pendanaan Berdasarkan Permendagri Nomor 54 Tahun 2010, kerangka pendanaan adalah program dan kegiatan yang disusun untuk mencapai sasaran hasil pembangunan yang pendanaannya diperoleh dari anggaran pemerintah/daerah, sebagai bagian integral dari upaya pembangunan daerah 127

159 secara utuh. Analisis kerangka pendanaan bertujuan untuk menghitung kapasitas riil keuangan daerah yang akan dialokasikan untuk pendanaan program pembangunan jangka menengah daerah Kabupaten Polewali Mandar selama 5 (lima) tahun ke depan yakni tahun Suatu kapasitas riil keuangan daerah adalah total penerimaan daerah setelah dikurangkan dengan berbagai pos atau belanja dan pengeluaran pembiayaan yang wajib dan mengikat serta prioritas utama. Oleh karena itu, untuk mengetahui kapasitas fiskal riil keuangan daerah, maka yang pertama dianalisis adalah seluruh pengeluaran periodik wajib dan prioritas utama Kabupaten Polewali Mandar pada masa sebelumnya. Selanjutnya dilakukan perhitungan dan analisis proyeksi pendapatan daerah dan belanja daerah dengan terlebih dahulu melakukan proyeksi asumsi makro ekonomi daerah seperti pertumbuhan ekonomi, dan tingkat pengangguran. Tujuan dari perhitungan asumsi makro adalah untuk mengetahui besaran pendapatan dan belanja yang diperlukan dalam lima tahun ke depan. Selain itu, proyeksi pendapatan dan belanja daerah serta pembiayaan disamping dipengaruhi oleh asumsi makro juga dipengaruhi kebijakan pemerintah daerah dan kebijakan pemerintah pusat. Pada bagian ini akan dijelaskan proyeksi keuangan daerah yang akan dikelola Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar selama lima tahun ke depan yaitu tahun anggaran yang meliputi proyeksi pendapatan daerah, proyeksi belanja yang harus dilakukan pemerintah daerah, yang meliputi belanja tidak langsung maupun belanja langsung, serta proyeksi penerimaan pembiayaan maupun pengeluaran pembiayaan dalam rangka menutup surplus maupun defisit anggaran yang direncanakan. Penyusunan proyeksi keuangan daerah Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar selama lima tahun ke depan tersebut didasarkan pada asumsi-asumsi yang diperoleh berdasarkan analisis data historis keuangan daerah beberapa tahun sebelumnya berupa tren pertumbuhan pendapatan, belanja serta pembiayaan, prediksi kondisi makro ekonomi ke depan, prediksi belanja-belanja wajib serta yang direncanakan yang akan terjadi selama lima tahun ke depan Analisis Pengeluaran Periodik Wajib dan Mengikat Serta Prioritas Utama Pada periode tahun , terlihat bahwa selama tiga tahun terakhir, total pengeluaran wajib dan mengikat pemerintah Kabupaten Polewali Mandar rata-rata Rp.327,27 milyar atau bertumbuh dengan rata-rata 11,47 persen. Untuk komponen belanja tidak langsung wajib dan mengikat rata-rata per tahunnya sebesar Rp.314,99 milyar (11,44 persen) selama tiga tahun terakhir ( ). Belanja gaji dan tunjangan mendominasi struktur belanja tidak langsung wajib dan mengikat dengan rata-rata 93,31 persen dan sebesar rata-rata 5,57 persen teralokasi pada belanja bantuan keuangan, serta 128

160 selebihnya teralokasi pada belanja anggota DPRD dan belanja bunga. Sementara belanja langsung wajib dan mengikat rata-rata Rp.5,52 milyar atau atau bertumbuh dengan rata-rata 9,54 persen. Dalam periode tahun , belanja wajib dan mengikat pemerintah daerah terkait dengan pembiayaan adalah pembayaran pokok utang, dimana pada tahun 2011 besarannya cukup besar, namun pada tahun berikutnya menurun drastis. Tabel 3.11 Pengeluaran Periodik Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama Kabupaten Polewali Mandar, No Uraian * Rata-Rata Pertumbuhan , (%) A Belanja Tidak Langsung ,44 1 Belanja Gaji dan Tunjangan ,83 2 Belanja Penerimaan Anggota dan Pimpinan DPRD serta Operasional KDH/WKDH ,78 3 Belanja Bunga ,19 4 Belanja Bagi Hasil (0,50) 5 Belanja Bantuan Keuangan Kepada Provinsi/Kabupaten/Kota dan Pemerintah Desa ,27 B Belanja Langsung ,54 1 Belanja Beasiswa Pendidikan ,52 PNS 2 Belanja Jasa Kantor ( khusus tagihan bulanan kantor seperti Listrik, Air, Telepon dan sejenisnya ) ,63 C Pembiayaan Pengeluaran ,60 1 Pembentukan Dana Cadangan 2 Pembayaran Pokok Utang ,60 TOTAL ( A+B+C) ,47 Sumber Data : Bagian Pengelola Keuangan Setda Kab. Polewali Mandar, 2013 Ket: *) Angka Sementara Analisis Proyeksi Data a. Proyeksi Pendapatan Tahun Selama periode tahun , ketergantungan fiskal pemerintah Kabupaten Polewali Mandar terhadap pemerintah pusat cukup besar. Hal ini ditandai oleh proporsi dana perimbangan terhadap total pendapatan sebesar 81,19 persen, sementara proporsi pendapatan asli daerah hanya sebesar 3,21 persen. Untuk menghasilkan pengelolaan keuangan yang lebih efisien dan efektif terutama terkait dengan proyeksi peningkatan pendapatan daerah, belanja pemerintah, dan defisit anggaran yang tidak melampaui ambang batas sesuai dengan peraturan yang ada, penetapan asumsi-asumsi yang mendasari rencana pengelolaan keuangan daerah menjadi prasyarat yang harus dipenuhi. Ada dua asumsi yang digunakan terkait dengan proyeksi keuangan daerah, yaitu: (1) perkembangan ekonomi makro daerah, seperti pertumbuhan ekonomi dan tingkat pengangguran; dan (2) pokok-pokok kebijakan fiskal yang ditetapkan oleh pemerintah yaitu PAD dan Dana perimbangan. 129

161 Selama periode tahun , pertumbuhan ekonomi Kabupaten Polewali Mandar berkisar antara 4,92 persen dan 10,55 persen atau rata-rata 8,76 persen per tahun. Prestasi pertumbuhan ekonomi tersebut dikontribusi oleh sektor pertanian dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran. Untuk periode lima tahun ke depan, pertumbuhan ekonomi diprediksikan lebih akseleratif dengan kisaran rata-rata persen per tahun dengan harapan bahwa kebijakan nasional tetap konsisten dalam mendukung penganggaran Kabupaten Polewali Mandar melalui dana perimbangan, kebijakan pemerintah daerah Polewali Mandar terkait dengan sektor pertanian dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran, serta kebijakan yang mendukung kerjasama dengan sektor swasta. Selain itu, asumsi tersebut juga harus diiringi oleh tingkat inflasi yang relatif stabil dan tingkat pengangguran berada pada rata-rata 3-4 persen per tahun. Meskipun pada periode sebelumnya kecenderungan tingkat pengangguran menurun, namun dengan mencermati kondisi ketenagakerjaan, tingkat partisipasi angkatan kerja meningkat relatif lebih cepat terhadap tingkat kesempatan kerja. Hal ini berarti jumlah angkatan kerja yang mampu terserap ke dalam lapangan kerja relatif lebih lambat. Prediksi pertumbuhan ekonomi akan berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan daerah dalam lima tahun ke depan terutama peningkatan PAD. Tabel 3.12 Asumsi Makro Ekonomi Kabupaten Polewali Mandar, Variabel Makro-Ekonomi Rata-rata Pertumbuhan (%) Pertumbuhan Ekonomi (%) 10,05 10,32 10,51 10,78 11,12 2,25 Inflasi (%) 3,0 3,8 3, 6 3,4 3,2 2 3 Tingkat Pengangguran Terbuka (%) 2,14 2,10 2,07 2,04 2,01 (1,54) Persentase Penduduk Miskin (%) 16,55 15,13 13,76 12,34 10,92 (10,49) PAD (Milyar) 41,09 46,11 51,12 56,23 62,02 10,84 Dana Perimbangan (Milyar) 706,58 743,31 819,19 904,49 985, 72 8,70 Sumber Data : Data Proyeksi Berdasarkan proyeksi pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi dan tingkat pengangguran, maka PAD diprediksikan meningkat dari Rp.41,09 milyar pada tahun 2014 menjadi Rp.62,02 milyar pada tahun 2018 atau bertumbuh dengan rata-rata 10,84 persen. Tingkat pertumbuhan tersebut lebih lambat dibandingkan dengan periode sebelumnya ( ) yang mencapai 37,28 persen per tahun. 130

162 Tabel 3.13 Proyeksi Pendapatan Daerah Kabupaten Polewali Mandar, Uraian Rata-Rata Pertumbuhan (%) Pendapatan Daerah 851,341,575, ,631,101,383 1,038,530,886,279 1,137,354,729,861 1,233,208,154,157 9,71 PAD 41,092,820,900 46,106,302,597 51,119,784,294 56,231,762,724 62,023,634,284 10,84 Dana Perimbangan 706,584,516, ,314,751, ,190,551, ,491,389, ,721,363,448 8,70 Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah 103,664,237, ,210,047, ,220,550, ,631,577, ,463,156, ,39 Sumber Data : Data Proyeksi Ket : Data tahun 2014 bersumber dari Proyeksi APBD Kab. Polewali Mandar Untuk mencapai angka tersebut, Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar melakukan berbagai upaya yang signifikan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi sumber-sumber pendapatan daerah antara lain : melakukan penyempurnaan berbagai regulasi yang ada, identifikasi objek dan wajib pajak, identifikasi objek retribusi, dan pengelolaan sumber daya daerah lain yang produktif, dapat menjadi upaya kongkrit bagi peningkatan peran PAD dalam membentuk pendapatan dana pembangunan daerah Kabupaten Polewali Mandar. Salah satunya adalah memanfaatkan peluang pengalihan pajak PBB dan BPHTB yang menurut Undang-Undang Pajak yang baru akan dialihkan pengelolaannya kepada Pemerintah Daerah. Terkait dengan berbagai upaya tersebut, kontribusi PAD terhadap pendapatan daerah diprediksikan meningkat setiap tahun dengan rata-rata 4,93 persen per tahun. Sementara pendapatan daerah yang berasal dari dana perimbangan meskipun sangat tergantung pada kebijakan pemerintah pusat, namun diprediksikan masih tetap mengalami peningkatan sebagai sumber pendapatan daerah Kabupaten Polewali Mandar, namun peningkatannya diprediksikan 9,30 persen atau lebih lambat dari periode sebelumnya ( ) yang mencapai rata-rata 10,96 persen per tahun. Hal ini terutama akibat dari kebijakan dana bagi hasil pajak PBB dan BPHTB yang diserahkan kepada daerah. Pendapatan daerah yang bersumber dari lain-lain pendapatan daerah yang sah, juga mengalami peningkatan dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 16,13 persen per tahun. Secara keseluruhan, pendapatan daerah masih didominasi oleh pendapatan yang berasal dari dana perimbangan, namun proporsinya direncanakan mengalami penurunan dan diganti oleh kontribusi PAD dengan prediksi yang cenderung meningkat. Total pendapatan daerah diprediksikan mencapai rata-rata Rp.1,04 triliun pada periode atau bertumbuh rata-rata sebesar 9,87 persen per tahun. Penyusunan proyeksi belanja daerah menggunakan asumsiasumsi yang didasarkan pada data historis perkembangan pertumbuhan belanja langsung dan belanja tidak langsung beberapa tahun sebelumnya, 131

163 serta rencana-rencana strategis pemerintah Kabupaten Polewali Mandar lima tahun ke depan dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat. Disamping itu juga mempertimbangkan proyeksi pendapatan daerah, serta proyeksi penerimaan pembiayaan daerah terutama proyeksi SiLPA yang dalam beberapa tahun terakhir memiliki jumlah yang sangat signifikan. Hingga tahun 2012, komposisi belanja daerah Kabupaten Polewali Mandar terdiri atas pos belanja tidak langsung (62,28 persen) dan pos belanja langsung (37,72 persen). Total belanja keseluruhan diprediksikan meningkat seiring dengan semakin berkembangnya kebutuhan masyarakat yang diakomodasi oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Hal ini sejalan dengan upaya pencapaian visi dan misi, kebijakan dan strategis kepala daerah. Untuk itu, kebijakan belanja pemerintah daerah Kabupaten Polewali Mandar diarahkan pada peningkatan proporsi belanja langsung yaitu rata-rata 35,35 persen per tahun dari total belanja daerah yang direncanakan, sedangkan belanja tidak langsung berisi belanja pegawai, belanja hibah dan bantuan sosial rata-rata 64,65 persen per tahun. Hal ini berarti pada periode tahun , kebijakan belanja daerah masih didominasi belanja tidak langsung dengan proporsi yang relatif sama dengan periode sebelumnya. Alokasi belanja langsung tetap diarahkan pada belanja modal dengan proporsi yang lebih besar melebihi rata-rata proporsi belanja modal pada periode sebelumnya. Pada periode yang sama, belanja tidak langsung dialokasikan pada belanja pegawai dengan proporsi yang lebih besar dibandingkan dengan jenis belanja wajib lainnya. Pertumbuhan belanja daerah diproyeksikan rata-rata sebesar 9,52 persen per tahun, yang terdiri atas pertumbuhan belanja langsung ratarata sebesar 9,13 persen per tahun dan pertumbuhan belanja tidak langsung rata-rata sebesar 9,75 persen per tahun selama periode Grafik 3.2 Proyeksi Komposisi Belanja Daerah Kabupaten Polewali Mandar, Belanja Langsung Proporsi Langsung Belanja Tidak Langsung Proporsi Tidak Langsung Sumber Data : Data proyeksi 132

164 Pada periode tahun , belanja wajib mengikat yang setiap tahun harus dianggarkan oleh pemerintah dikelompokkan ke dalam dua komponen, yaitu: (i) belanja wajib pada belanja tidak langsung seperti belanja gaji pegawai dan tunjangan serta belanja untuk pejabat pemerintah dan legislatif, (ii) belanja langsung seperti belanja telepon, listrik, dan air bersih. Berdasarkan data realisasi belanja wajib dan mengikat pada periode tahun , tergambar total belanja (langsung dan tidak langsung) dan pembiayaan mengalami peningkatan dari Rp.286,95 milyar menjadi Rp.355,18 milyar. Dengan mengacu pada data realisasi periode sebelumnya disertai dengan kebijakan pemerintah daerah, baik pada aspek pembiayaan maupun pada aspek belanja, yang mempengaruhi belanja wajib dibidang pendidikan serta dukungan asumsi ekonomi makro, maka untuk periode lima tahun ke depan, belanja dan pembiayaan wajib dan mengikat diprediksikan meningkat setiap tahun dengan rata-rata 8,57 persen per tahun (Rp.528,56 milyar pada tahun 2014 meningkat menjadi Rp. 733,36 milyar pada tahun 2018). Dari angka proyeksi tersebut, porsi terbesar ditempati oleh belanja tidak langsung terutama belanja gaji dan tunjangan pegawai. Tabel 3.14 Proyeksi Belanja dan Pembiayaan Wajib, Mengikat serta Prioritas Utama Kabupaten Polewali Mandar, (Milyar Rupiah) No. A B C Uraian Belanja Tidak Langsung Belanja Langsung Pengeluaran Pembiayaan Total Belanja dan pembiayaan wajib, mengikat serta prioritas Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2018 Rata-Rata Pertumbuhan (%) 518,14 588,90 636, ,53 8,56 8,42 9,26 10,19 11,21 12,33 10,00 2,00 2,50 2,50 2,50 2,50 6,25 528,56 Sumber Data : Data Proyeksi b. Perhitungan Kerangka Pendanaan 600,66 649,36 691, ,57 Kerangka pendanaan bertujuan untuk menghitung kapasitas riil keuangan daerah yang akan dialokasikan untuk pendanaan program pembangunan jangka menengah daerah selama 5 (lima) tahun ke depan. Berdasarkan proyeksi penerimaan daerah dan belanja serta pengeluaran pembiayaan yang wajib dan mengikat serta prioritas utama serta belanja tidak mengikat, maka dapat diproyeksikan kapasitas riil keuangan daerah yang akan digunakan untuk membiayai program/kegiatan selama 5 (lima) tahun ke depan ( ). Selama periode lima tahun ke depan, pertumbuhan pendapatan daerah diprediksikan lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan belanja daerah. Hal ini sejalan dengan kebijakan anggaran pemerintah 133

165 daerah yang mengarah kepada kebijakan surplus anggaran. Pemanfaatan surplus diarahkan pada penyertaan modal pemerintah dan pembayaran pokok hutang. Setelah memperhitungkan seluruh komponen belanja dan pengeluaran pembiayaan yang wajib dan mengikat dan perkiraan perolehan pendapatan daerah, maka kapasitas fiskal riil pemerintah Kabupaten Polewali Mandar dapat dilihat dalam Tabel Kapasitas fiskal riil direncanakan mengalami peningkatan dari Rp.322,84 milyar pada tahun 2014 menjadi menjadi Rp.500,02 milyar pada tahun 2018 atau meningkat setiap tahun dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 11,58 persen per tahun. Besaran kapasitas riil fiskal tersebut dialokasikan sesuai dengan skala prioritas. Total rencana pengeluaran untuk Prioritas I yang meliputi belanja langsung setelah diperkurangkan dengan belanja langsung wajib dan pengeluaran pembiayaan berkisar antara Rp.296,56 milyar sampai dengan Rp.420,44 milyar pada periode tahun Sementara untuk total belanja prioritas II yang meliputi belanja tidak langsung setelah dikurangi belanja tidak langsung mengikat berkisar antara Rp.28,73 milyar hingga Rp.74,44 milyar. Ini berarti kebijakan penggunaan kapasitas fiskal riil diarahkan pada bobot yang lebih besar pada belanja langsung. Setelah memperkurangkan kapasitas fiskal riil dan rencana seluruh pengeluaran baik pada prioritas I maupun pada prioritas II, pemerintah daerah Kabupaten Polewali Mandar menetapkan rencana surplus anggaran dalam masa periode dengan rata-rata Rp.1,29 milyar per tahun. Tabel 3.15 Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah untuk Mendanai Pembangunan Daerah Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar, Uraian Tahun Proyeksi No Pendapatan 851,34 949, , , Pencairan Dana Cadangan Sisa Lebih Riil Perhitungan Anggaran 0,053 0,071 0,095 0,13 0,17 Total Penerimaan 851,39 949, , , ,38 Dikurangi: Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan yang Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama 528,56 600, ,36 Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Sumber Data : Data Proyeksi 322,84 349,04 389, ,

166 No Tabel 3.16 Rencana Penggunaan Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah Kabupaten Polewali Mandar, Tahun Proyeksi Uraian I Kapasitas riil kemampuan keuangan 322,84 349,04 389,26 446,23 500,02 Rencana alokasi pengeluaran prioritas I II.a Belanja Langsung 306,98 332,00 364,18 400,60 435,28 II.b Pembentukan dana cadangan II.c II.d II Dikurangi: Belanja Langsung yang wajib dan mengikat serta prioritas utama 8,42 9,26 10,18 11,21 12,33 Pengeluaran pembiayaan yang wajib mengikat serta prioritas utama Total Rencana Pengeluaran Prioritas I (II.a+II.b-II.c-II.d) Sisa kapasitas riil kemampuan keuangan daerah setelah menghitung alokasi pengeluaran prioritas I (I-II) ,50 2,50 2,50 2,50 296,56 320,24 351,49 386,90 420, ,81 37,77 59,34 79,58 Rencana alokasi pengeluaran prioritas II III.a Belanja Tidak Langsung 546,86 617,64 673,54 734,10 792,97 Dikurangi: III.b III Belanja tidak langsung yang wajib dan mengikat serta prioritas utama 518,14 588,90 636, ,54 718,53 Total rencana pengeluaran prioritas II (III.a-III.b) 28,73 28,73 36,86 56,56 74,44 Surplus anggaran riil (I-II-III)* ,07 0,91 2,78 5,14 Sumber Data : Data Proyeksi Dari total dana alokasi pagu indikatif yang tersedia, kemudian dialokasikan ke berbagai program/kegiatan sesuai urutan prioritas. Prioritas program/kegiatan dipisahkan menjadi prioritas I, prioritas II dan prioritas III, dimana prioritas I mendapatkan prioritas pertama sebelum prioritas II. Prioritas III mendapatkan alokasi anggaran setelah prioritas I dan II terpenuhi kebutuhan dananya. Prioritas I Prioritas I merupakan program pembangunan daerah dengan tema atau program unggulan (dedicated) Kepala Daerah sebagaimana diamanatkan dalam RPJMN dan amanat/kebijakan nasional yang definitif harus dilaksanakan oleh daerah pada tahun rencana, termasuk untuk prioritas bidang pendidikan 20 persen. Program prioritas I harus berhubungan langsung dengan kepentingan publik, bersifat monumental, berskala besar, dan memiliki kepentingan dan nilai manfaat yang tinggi, memberikan dampak luas pada masyarakat dengan 135

167 Jenis Dana Prioritas I Prioritas II Prioritas III daya ungkit yang tinggi pada capaian visi dan misi daerah. Di samping itu, prioritas I juga diperuntukkan bagi prioritas belanja yang wajib sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Prioritas II Program Prioritas II merupakan program prioritas di tingkat SKPD yang merupakan penjabaran dari analisis per urusan. Suatu prioritas II berhubungan dengan program/kegiatan unggulan SKPD yang paling berdampak luas pada masing-masing segmentasi masyarakat yang dilayani sesuai dengan prioritas dan permasalahan yang dihadapi, serta berhubungan dengan layanan dasar serta tugas dan fungsi SKPD termasuk peningkatan kapasitas kelembagaan yang berhubungan dengan itu. Prioritas III Prioritas III merupakan prioritas yang dimaksudkan untuk alokasi belanjabelanja tidak langsung seperti tambahan penghasilan PNS, belanja hibah, belanja bantuan sosial organisasi kemasyarakatan, belanja bantuan keuangan kepada provinsi/kabupaten/kota dan pemerintahan desa serta belanja tidak terduga. Pengalokasian dana pada prioritas III harus memperhatikan (mendahulukan) pemenuhan dana pada prioritas I dan II terlebih dahulu. Sumber Data : Data Proyeksi Tabel 3.17 Kerangka Pendanaan Alokasi Kapasitas Riil Keuangan Daera Alokasi % Rp % Rp % Rp % Rp % Rp , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,02 136

168

169 4.1. Permasalahan Pembangunan Daerah Perencanaan pembangunan daerah dilaksanakan dalam kerangka keterpaduan perencanaan pembangunan nasional maupun regional. Oleh karena itu tahap awal dari perencanaan pembangunan daerah dimulai dengan melakukan analisis terhadap hasil pembangunan dan permasalahannya. Tujuannya adalah agar perencanaan pembangunan daerah dapat bersinergi dan memberikan kontribusi dalam pemecahan permasalahan pembangunan baik di daerah, regional maupun tingkat nasional. Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar telah menghasilkan berbagai kemajuan yang cukup berarti namun masih menyisakan berbagai permasalahan pembangunan daerah yang merupakan kesenjangan antara kinerja pembangunan yang dicapai saat ini dengan yang direncanakan yang bermuara pada tercapainya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan analisis atas kondisi umum daerah, capaian indikator kinerja pembangunan dan hasil evaluasi pembangunan lima tahun terakhir, maka secara rinci identifikasi permasalahan menurut fungsi dan urusan pemerintahan daerah sebagai perumusan kebijakan umum dan programprogram pembangunan untuk lima tahun ke depan adalah sebagai berikut : A. Urusan Wajib : BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS 1. Urusan Pendidikan a. Ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan yang berkualitas di semua jenjang/tingkatan pendidikan masih terbatas terutama di daerah-daerah terpencil; b. Masih tingginya angka buta huruf; c. Masih rendahnya angka partisipasi sekolah khususnya pada jenjang/tingkatan pendidikan SMP/MTs dan SMA/SMK/MA; d. Kualitas guru masih rendah dan distribusinya belum merata; e. Kemampuan penyediaan layanan PAUD relatif masih rendah; f. Fasilitas/sarana penunjang pendidikan termasuk pengembangan perpustakaan dan laboratorium sebagai sarana minat dan budaya baca belum memadai; g. Lokasi dan sarana prasarana sekolah umumnya belum mewadahi kebutuhan tumbuh dan kembang anak; h. Penguasaan dan pengembangan IPTEK masih rendah. 2. Urusan Kesehatan a. Ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan yang berkualitas masih 138

170 terbatas terutama di daerah-daerah terpencil; b. Sumber daya manusia khususnya tenaga kesehatan medis dan paramedis masih terbatas dan belum memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitas sehingga pelaksanaan tugas belum mencapai tingkat maksimal; c. Sistem layanan kesehatan di RSU Daerah belum optimal; d. Status kesehatan ibu dan anak masih rendah yang ditunjukkan oleh masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), dan Angka Kematian Balita (AKABA); e. Status gizi masyarakat masih rendah yang ditunjukkan oleh masih tingginya angka gizi buruk; f. Kurangnya pengetahuan masyarakat terkait Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS); g. Ketersediaan air bersih di setiap rumah tangga belum maksimal; h. Ketersediaan sanitasi di setiap rumah tangga belum maksimal; i. Belum optimalnya sistem jaminan pelayanan kesehatan; j. Pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kesehatan belum optimal. 3. Urusan Pekerjaan Umum a. Masih tingginya persentase panjang jaringan jalan dan jembatan kabupaten dalam kondisi rusak; b. Masih tingginya persentase panjang jaringan jalan dan jembatan provinsi dalam kondisi rusak; c. Masih belum optimalnya rasio panjang jaringan irigasi terhadap luas areal persawahan; d. Masih rendahnya partisipasi petani pemakai air dalam pengelolaan jaringan irigasi; e. Masih rendahnya kualitas dan kuantitas drainase, terutama di daerah perkotaan; f. Masih rendahnya aksesibilitas penduduk terhadap air minum perpipaan terutama pada daerah terpencil dan masyarakat miskin. 4. Urusan Perumahan a. Masih banyak hunian/rumah yang kondisinya tidak layak huni; b. Masih kurangnya kesadaran masyarakat untuk menciptakan hunian/rumah yang sehat dan layak; c. Masih terbatasnya ketersediaan sarana, prasarana, dan utilitas perumahan; d. Masih terbatasnya lahan yang siap bangun untuk dijadikan sebagai lahan perumahan. 139

171 5. Urusan Penataan Ruang a. Adanya konflik kepentingan dalam pemanfaatan ruang antara fungsi lindung dan budidaya (pertanian, pertambangan, energi, infrastruktur, dan lain-lain) yang berpotensi menimbulkan terjadinya konflik sosial, ekonomi, lingkungan hidup, pertanahan dan pemerintahan; b. Masih terjadi disparitas pertumbuhan wilayah antara wilayah pesisir dengan wilayah pegunungan; c. Masih banyaknya pemanfaatan ruang yang belum memiliki izin; d. Banyaknya bangunan yang melanggar garis sempadan; e. Tingginya alih fungsi lahan pertanian yang beririgasi menjadi kawasan terbangun; f. Tingginya alih fungsi kawasan hutan menjadi non hutan; g. Belum tersedianya rencana rinci yang menjadi acuan dalam pemanfaatan ruang. 6. Urusan Perencanaan Pembangunan a. Tingkat konsistensi dokumen perencanaan masih rendah; b. Masih rendahnya kapasitas sumber daya perencanaan; c. Belum optimalnya ketersediaan data dan informasi pembangunan daerah yang akurat, mutakhir dan dapat dipertanggungjawabkan; d. Belum optimalnya pelaksanaan pengendalian dan evaluasi perencanaan pembangunan daerah. 7. Urusan Perhubungan a. Terbatasnya sumber daya manusia sesuai kualifikasi yang dibutuhkan; b. Belum optimalnya fungsi terminal angkutan darat; c. Belum berfungsinya pelabuhan pengumpan Silopo; d. Masih minimnya prasarana perhubungan. 8. Urusan Lingkungan Hidup a. Tingginya degradasi kawasan hutan yang mengakibatkan merosotnya ketersediaan air baku untuk air minum dan irigasi, ancaman banjir, kekeringan, tanah longsor dan menurunnya keanekaragaman hayati; b. Penurunan kualitas lingkungan hidup akibat meningkatnya pembangunan yang tidak ramah lingkungan, aktifitas transportasi dan industri terutama di kawasan perkotaan; c. Tingginya kerusakan terumbu karang, padang lamun dan hutan mangrove akibat aktifitas pembangunan dan kegiatan masyarakat; d. Masih kurangnya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL); e. Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) masih sangat terbatas di wilayah perkotaan; 140

172 f. Belum adanya rencana induk sistem persampahan yang dapat dijadikan pedoman dalam mengelola sampah yang semakin meningkat volumenya; g. Terbatasnya sarana pengumpul sampah (mobil, motor/gerobak pengangkut sampah dan tenaga pekerja); h. Masih rendahnya kesadaran dan tanggung jawab masyarakat akan lingkungan bersih dan sehat. 9. Urusan Pertanahan a. Masih banyaknya tanah milik pemerintah daerah yang belum bersertifikat karena belum memiliki alas hak untuk proses pensertifikatan; b. Rendahnya kesadaran masyarakat untuk mensertifikatkan tanahnya; c. Rendahnya kepatuhan masyarakat terhadap putusan pengadilan terkait konfik tanah. 10. Urusan Kependudukan dan Catatan Sipil a. Masih terdapat 11,45 persen penduduk yang belum memiliki e-ktp; b. Masih terdapat anak yang belum memiliki akte kelahiran; c. Belum optimalnya pengelolaan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK); d. Masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam memberikan laporan pada peristiwa penting kependudukan; e. Belum tersedia dokumen kearsipan kependudukan di tingkat kelurahan dan desa. 11. Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak a. Masih rendahnya keterlibatan perempuan atau kesetaraan gender dalam jabatan politik, dan jabatan publik; b. Masih kurangnya peran perempuan dalam pengambilan keputusan; c. Masih kurangnya penganggaran yang pro gender dan anak; d. Masih terdapatnya anak di bawah umur yang dipekerjakan; e. Masih tingginya jumlah kekerasan dalam rumah tangga; f. Pengembangan kabupaten layak anak. 12. Urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera a. Masih tingginya PUS yang ingin ber-kb tidak dilayani (unmet need) sekitar 21 persen; b. Belum meratanya pengetahuan masyarakat tentang kesehatan reproduksi; c. Kualitas dan kuantitas petugas lapangan KB belum optimal; d. Pemuktahiran data kependudukan dan keluarga (SIDUGA) belum optimal. 141

173 13. Urusan Sosial a. Pelayanan program kesejahteraan sosial masih sangat terbatas; b. Jumlah penduduk miskin masih relatif tinggi; c. Masih terbatas dan rendahnya kualitas sumber daya manusia di bidang pelayanan sosial; d. Masih tingginya jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). 14. Urusan Ketenagakerjaan a. Masih tingginya angka pengangguran; b. Kemampuan dan keterampilan tenaga kerja belum memadai; c. Terbatasnya lapangan kerja yang tersedia, khusunya pada sektor formal; d. Kurangnya informasi tentang potensi penciptaan lapangan kerja; e. Minimnya perlindungan terhadap tenaga kerja. 15. Urusan Koperasi, Usaha Kecil Menengah a. Belum optimalnya pengelolaan kelembagaan usaha, utamanya sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan dan UMKM; b. Masih rendahnya jumlah koperasi di sektor riil; c. Rendahnya kualitas sumber daya manusia pengelola koperasi dan UMKM; d. Lemahnya akses permodalan pelaku UMKM kepada bank maupun lembaga keuangan formal lainnya; e. Lemahnya jaringan usaha dan kemampuan kemitraan pasar usaha kecil. 16. Urusan Penanaman Modal a. Lemahnya jaminan kepastian hukum dan kepastian usaha khususnya transparansi dalam proses perizinan dan tata cara penanaman modal; b. Iklim usaha yang tidak kondusif untuk menumbuhkembangkan Usaha Kecil dan Menengah (UKM); c. Minimnya investasi baik domestik maupun asing. 17. Urusan Kebudayaan a. Aktualisasi nilai-nilai budaya daerah mulai menurun; b. Masih kurangnya perhatian terhadap pelestarian seni budaya, situs dan kawasan cagar budaya, sehingga masih terdapat kawasan yang belum mendapat perhatian pemerintah; c. Masih kurangnya dokumentasi sejarah kebudayaan. 18. Urusan Kepemudaan dan Olahraga a. Kualitas sumber daya manusia yang belum memadai; 142

174 b. Belum tersedianya data yang akurat tentang klub olahraga bagi pemuda; c. Minimnya pencapaian prestasi olahraga; d. Belum optimalnya penanganan/pembinaan terhadap kelompok pemuda dan olahraga. 19. Urusan Kesatuan Bangsa dan Politik dalam Negeri a. Belum optimalnya pembinaan wawasan kebangsaan dan watak budaya demokrasi; b. Kurangnya fasilitas infrastruktur politik; c. Koordinasi pembinaan kesatuan bangsa dan perlindungan masyarakat yang belum optimal. 20. Urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian a. Belum dikembangkannya jabatan fungsional khusus dan jabatan fungsional umum; b. Masih kurangnya sistem informasi berbasis data base yang dikembangkan oleh SKPD; c. Distribusi PNS dan pengembangan karir PNS belum terlaksana dengan optimal; d. Hasil-hasil pengawasan belum sepenuhnya menjadi input perencanaan pembangunan; e. Rendahnya pengembangan dan optimalisasi sumber-sumber PAD; f. Kegiatan penanggulangan bencana masih pada tahapan tanggap darurat dan rehabilitasi rekonstruksi sehingga belum menjadikan kegiatan pengurangan resiko bencana sebagai prioritas; g. Sarana dan prasarana penanggulangan bencana yang masih kurang; h. Proses identifikasi, kajian dan pemantauan resiko bencana serta penetapkan sistem peringatan dini masih kurang; i. Banyak potensi sumber daya pada daerah yang dapat menjadi konflik apabila tidak diatur dalam bentuk perjanjian kerjasama, dan akan memberikan manfaat bagi daerah apabila diatur dalam bentuk perjanjian kerjasama, baik dengan pemerintah daerah yang berbatasan, maupun dengan pihak lain yang terkait; j. Penataan batas wilayah administrasi antar desa/kelurahan dan kecamatan serta kabupaten yang belum tertata dengan baik; k. Pelaksanaan pelayanan administrasi terpadu di kecamatan yang merupakan pendelegasian kewenangan bupati kepada camat untuk 143

175 lebih mendekatkan pelayanan kepada masyarakat dan memaksimalkan potensi pendapatan daerah yang belum berjalan secara optimal dan merata. 21. Urusan Ketahanan Pangan a. Berkurangnya luasan lahan yang digunakan untuk kegiatan pertanian akibat alih fungsi atau konversi lahan pertanian; b. Rendahnya pengembangan dan pemanfaatan pangan lokal khususnya daerah terpencil; c. Belum optimalnya peran penyuluh pertanian, perikanan, dan kehutanan terhadap upaya diseminasi dan peningkatan produksi; d. Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai pola konsumsi masyarakat khususnya bahan pangan yang sehat, bergizi, dan aman untuk dikonsumsi. 22. Urusan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa a. Masih rendahnya sumber daya manusia (pengetahuan dan keterampilan) aparat desa; b. Masih kurangnya jumlah kelembagaan masyarakat desa; c. Belum memadainya kelembagaan ekonomi desa dalam mengelola potensi desa; d. Masih kurangnya kesadaran masyarakat untuk melaporkan secara cepat permasalahan yang terjadi di pemerintahan desa. 23. Urusan Statistik a. Kualitas sumber daya manusia di bidang kestatistikan belum memadai; b. Belum optimalnya koordinasi antar pemangku kepentingan (stakeholder) maupun antar instansi dalam proses pengumpulan dan analisa data bagi perencanaan pembangunan; c. Belum optimalnya dukungan seluruh SKPD yang terkait dengan proses pembangunan data base yang valid dan akurat; d. Sarana dan prasarana pengelolaan data dan statistik belum memadai; e. Kesadaran dan komitmen terhadap pentingnya data masih rendah. 24. Urusan Kearsipan a. Sarana dan prasarana kearsipan belum memadai; b. Kualitas dan kuantitas sumber daya manusia belum memadai; c. Manajemen arsip belum dilaksanakan secara menyeluruh; d. Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan arsip belum optimal. 25. Urusan Komunikasi dan Informatika a. Masih minimnya infrastruktur jaringan telekomunikasi dan informatika; b. Masih rendahnya kualitas infrastruktur jaringan telekomunikasi dan informatika; 144

176 c. Masih adanya wilayah yang belum terjangkau jaringan telekomunikasi dan informatika. 26. Urusan Perpustakaan a. Sarana dan prasarana pengelolan perpustakaan belum memadai; b. Kualitas dan kuantitas sumber daya manusia (pustakawan) belum memadai; c. Minat baca masyarakat masih rendah. B. Urusan Pilihan : 27. Urusan Pertanian a. Rendahnya kemampuan dan keterampilan sumber daya manusia petani; b. Jumlah penduduk miskin yang bekerja disektor pertanian, perkebunan dan peternakan sebesar 64,02 persen; c. Rendahnya penerapan teknologi tepat guna pertanian, perkebunan, dan peternakan; d. Kurangnya upaya untuk peningkatan produktivitas dan mutu produk pertanian, perkebunan, dan peternakan; e. Ketersediaan sumber daya manusia yang mau dan mampu mengelola di bidang pertanian, perkebunan, dan peternakan sudah semakin berkurang karena rendahnya regenerasi petani; f. Belum maksimalnya pemberantasan hama/penyakit tanaman pertanian, perkebunan, dan peternakan; g. Menurunnya produktivitas lahan akibat intensifikasi berlebihan dan penggunaan pupuk kimia secara terus menerus; h. Belum terbenahinya lembaga penyuluh untuk peningkatan target produksi pertanian, perkebunan, dan peternakan; i. Kurang efektifnya penyuluhan bagi pelaku usaha agrobisnis dan agroindustri; j. Masih banyak lahan terlantar karena tidak didukung dengan infrastruktur yang memadai seperti jalan usaha tani dan jalan produksi yang baik; k. Kurangnya prasarana dan sarana pendukung/penunjang di kawasan sentra-sentra produksi pertanian, perkebunan, dan peternakan. 28. Urusan Kehutanan a. Rendahnya pelibatan masyarakat dalam upaya pelestarian sumber daya hutan; b. Rendahnya pengawasan terhadap aktivitas pemanfaatan/pengelolaan hutan; c. Rendahnya kualitas dan kuantitas aparat pengawas kehutanan; d. Kurangnya upaya intensifikasi tanaman hutan non kayu; e. Rendahnya kapasitas tenaga penyuluh sektor kehutanan. 145

177 29. Urusan Energi dan Sumber daya Mineral a. Masih terdapat rumah tangga yang belum terlayani listrik; b. Masih banyaknya penambang yang tidak memiki izin; c. Rendahnya kesadaran penambang terhadap resiko dampak lingkungan dan keselamatan kerja. 30. Urusan Pariwisata a. Sarana dan prasarana pariwisata belum memadai; b. Pengelolaan potensi dan obyek wisata yang belum optimal; c. Masih terbatasnya obyek wisata; d. Rendahnya pengembangan potensi kepariwisataan daerah; e. Kurangnya intensitas promosi dan publikasi destinasi pariwisata. 31. Urusan Kelautan dan Perikanan a. Rendahnya kemampuan dan keterampilan sumber daya manusia nelayan; b. Kurangnya kemampuan nelayan mengakses dan memanfaatkan sarana dan prasarana tangkap berbasis teknologi informasi; c. Semakin berkurangnya hasil tangkapan khususnya daerah-daerah pesisir; d. Rendahnya upaya pengembangan perikanan darat khususnya daerah terpencil; e. Rendahnya minat masyarakat dalam memanfaatkan sarana tempat pelelangan ikan; f. Minimnya penguatan kapasitas nelayan dalam kegiatan pengolahan pangan hasil perikanan; g. Kurangnya upaya untuk peningkatan produktivitas dan mutu produk perikanan. 32. Urusan Perdagangan a. Rendahnya kemampuan manajemen pelaku usaha perdagangan; b. Minimnya informasi harga-harga komoditi bagi pelaku usaha perdagangan; c. Minimnya upaya promosi usaha dan potensi-potensi komoditi unggulan lokal; d. Rendahnya kemitraan usaha perdagangan. 33. Urusan Industri a. Rendahnya kemampuan pelaku usaha industri/pengrajin; b. Rendahnya kualitas produk unggulan daerah khususnya daya saing pengemasan; c. Pengembangan industri pengolahan hasil-hasil pertanian, perikanan, peternakan dan kehutanan belum maksimal; d. Minimnya pengembangan kawasan pemasaran produk industri yang 146

178 berbasis sumber daya lokal; e. Rendahnya pemanfaatan dan penerapan teknologi pengolahan tepat guna. 34. Urusan Ketransmigrasian a. Belum optimalnya bimbingan dan penyuluhan kepada para transmigran; b. Terbatasnya sarana dan prasarana permukiman dan sarana pendukung di lokasi transmigrasi ISU STRATEGIS Isu-isu strategis Kabupaten Polewali Mandar diidentifikasi berdasarkan permasalahan serta tantangan yang dihadapi Kabupaten Polewali Mandar ke depan, serta mengakomodir berbagai isu strategis pembangunan regional maupun nasional. Sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Provinsi Sulawesi Barat, Kabupaten Polewali Mandar perlu memperhatikan isu dan permasalahan yang menjadi penekanan pemerintah pusat dan provinsi pada periode pembangunan yang tengah berlangsung agar program pembangunan daerah yang akan dilaksanakan nantinya dapat selaras dan terintegrasi dengan arah kebijakan pemerintah pusat dan provinsi. A. ISU STRATEGIS GLOBAL DAN NASIONAL 1. Pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) Tujuan pembangunan Milenium yang terdiri dari 8 (delapan) tujuan pembangunan manusia yang secara langsung dapat memberikan dampak bagi pengentasan kemiskinan ekstrim, yang harus dicapai pada tahun 2015 oleh 189 Negara yang menandatangani rumusan Deklarasi Milenium pada September tahun 2000 termasuk Indonesia. Untuk mencapai tujuan MDGs tahun 2015 diperlukan koordinasi, kerjasama serta komitmen dari seluruh pemangku kepentingan terutama pemerintah dan masyarakat (nasional dan daerah) untuk bersama-sama memastikan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai telah dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia dan Kabupaten Polewali Mandar pada khususnya. 2. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) Dalam waktu yang tidak terlalu lama (2015), negara-negara ASEAN telah bersepakat untuk memberlakukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang pada intinya tidak ada lagi hambatan terhadap arus barang dan jasa, manusia dan modal antara negara-negara anggota ASEAN. Liberalisasi perdagangan ini akan berimbas pada meningkatnya intensitas persaingan di pasar domestik akibat membanjirnya produkproduk dari negara-negara ASEAN serta meningkatnya persaingan di pasar 147

179 ekspor karena tidak adanya lagi restriksi dalam perdagangan internasional lingkup ASEAN. Kabupaten Polewali Mandar tak terkecuali, akan menerima dampak atas kondisi ini dan karena itu perlu mengantisipasinya dengan meningkatkan kualitas produk, efisiensi produksi, produktifitas, dan kemampuan berinovasi terhadap pelaku ekonomi lokal. 3. Pemanasan Global (Global Warning) Peningkatan suhu rata-rata di permukaan bumi merupakan ancaman yang serius bagi planet bumi dan seluruh mahluk di dalamnya, sehingga perlu langkah terpadu dalam penanggulangan dan pencegahan serta pengawasan sebab dan dampak yang dihasilkan oleh pemanasan global tersebut, yang salah satu penyebabnya adalah pembentukan beberapa jenis gas rumah kaca yang dihasilkan oleh peternakan, pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor, pabrik-pabrik modern, serta pembangkit tenaga listrik dan lainnya. 4. Implementasi Desentralisasi dan Otonomi Daerah Implementasi desentralisasi dan otonomi daerah dalam satu dasawarsa terakhir, bukan hanya berimplikasi pada besarnya kewenangan pemerintah daerah dalam mengelola pembangunannya, tapi juga menuntut tumbuhnya potensi sumberdaya pembangunan daerah yang lebih mandiri dalam jangka panjang. Kemandirian pembangunan daerah dalam era desentralisasi dan otonomi daerah sejatinya diperlukan untuk memperkuat pembangunan nasional. Untuk itu diperlukan pelaksanaan pembangunan daerah yang terintegrasi, bersinergi, efisien dan menjamin terkelolanya sumber daya alam secara maksimal dalam rangka pemerataan, keadilan sosial yang memperkuat sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara dalam semangat NKRI. Salah satu implikasi penting dari desentralisasi dan otonomi daerah, menuju kemandirian pembangunan setiap daerah adalah reformasi birokrasi dan tata kelola pemerintahan, menuntut aparat pemerintah daerah yang profesional disertai pelayanan publik yang prima berpotensi meningkatkan daya tarik daerah di mata investor, baik lokal maupun asing. Investasi diperlukan bukan hanya untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan menekan pengangguran, tetapi juga untuk mendorong tumbuhnya entrepneurship lokal. Pelayanan publik yang efisien juga mengurangi beban pengeluaran rumah tangga miskin. 5. Pembangunan Kawasan Perbatasan dan Pulau-Pulau Terpencil Kebijakan pembangunan nasional untuk mendorong pembangunan kawasan perbatasan, daerah tertinggal dan terpencil memberi peluang untuk berkembangnya pembangunan pada daerahdaerah yang sebagian wilayahnya masih terbelakang dan aksessibilitas 148

180 terbatas, termasuk Polewali Mandar. Keterisolasian dan ketimpangan tingkat kesejahteraan masyarakat berpotensi menimbulkan konflik horizontal sehingga harus diatasi oleh pemerintah pusat dan daerah, bukan hanya melalui pembangunan fisik semata, tetapi juga melalui pengembangan kerjasama antar wilayah. B. ISU REGIONAL SULAWESI 1. Optimalisasi Pengembangan Sektor Unggulan yang Berdaya Saing Tinggi di Wilayah Sulawesi Dominasi sektor-sektor primer dalam perekonomian wilayah Sulawesi menunjukkan belum optimalnya peningkatan nilai tambah sektor dan komoditas unggulan. Sementara keragaman komoditas unggulan antar daerah memungkinkan dikembangkannya gugus (cluster) industri unggulan secara simultan. Kabupaten Polewali Mandar harus mengambil peran dalam pengembangan komoditas unggulan regional, terutama yang terkait dengan bidang pertanian, perkebunan, perikanan dan bidang-bidang strategis lainnya. 2. Interkonektivitas Domestik Intrawilayah Integrasi jaringan transportasi domestik sangat strategis dalam mendukung penguatan ketahanan perekonomian domestik. Di samping itu, posisi strategis wilayah Sulawesi memainkan peranan penting bagi penguatan integrasi perekonomian KBI dan KTI. Sebagai pintu gerbang Sulawesi Barat dalam jalur transportasi Trans Sulawesi, Kabupaten Polewali Mandar merupakan daerah yang sangat strategis dalam arus mobilisasi barang dan manusia antar provinsi di Sulawesi. Posisi strategis ini harus dapat dimanfaatkan untuk peningkatan aktivitas sosial ekonomi masyarakat. 3. Konservasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup serta Mitigasi Bencana Wilayah Sulawesi dikaruniai keragaman hayati yang cukup tinggi dan unik yang berbeda dengan flora dan fauna wilayah lainnya di Indonesia. Spesies endemik sejumlah flora dan fauna Pulau Sulawesi ini harus dapat dilestarikan dengan baik, dimana setiap pemerintah daerah harus berperan dan berkomitmen dalam program pembangunannya masing-masing. Pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan yang berlebihan dapat mengancam potensi tersebut. Di sisi lain, wilayah ini memiliki kerawanan akan terjadinya bencana alam, sehingga penanganan dan antisipasi dini secara terintegrasi bukan hanya dengan pemerintah pusat, tetapi juga antar pemerintah daerah sangat penting dilaksanakan. 149

181 C. ISU PROVINSI SULAWESI BARAT Beberapa isu strategis pembangunan daerah Provinsi Sulawesi Barat yang teridentifikasi dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah provinsi, antara lain : 1. Keterbelakangan dan Ketertinggalan Dengan mengacu pada kriteria yang disusun oleh Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, seluruh kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Barat terkategori sebagai daerah tertinggal. Dari lima kabupaten, Kabupaten Mamasa dan Kabupaten Mamuju Utara merupakan daerah yang paling tertinggal. Di kedua daerah ini, infrastruktur jalan sangat buruk, fasilitas listrik dan air bersih sangat terbatas, jaringan telepon sama sekali belum tersedia, sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan jauh dari memadai, dan seterusnya. Akses ke Kabupaten Mamasa yang hanya bisa melalui wilayah Kabupaten Polewali Mandar, menempatkan daerah ini dalam posisi penting dalam mengurangi ketertinggalan daerah-daerah di Sulawesi Barat secara keseluruhan. Apalagi Kabupaten Mamasa merupakan wilayah pemekaran dari Kabupaten Polewali Mandar. 2. Tingginya Tingkat Kemiskinan Meskipun tingkat kemiskinan sudah jauh membaik dibandingkan ketika daerah ini baru memisahkan diri dari Provinsi Sulawesi Selatan, namun angkanya masih jauh berada di atas rata-rata nasional. Berada pada posisi ke- 28 dari 33 provinsi di Indonesia. Kabupaten Polewali Mandar merupakan salah satu yang berkontribusi besar dalam tingginya tingkat kemiskinan di Provinsi Sulawesi Barat, sehingga kebijakan pengentasan kemiskinan provinsi akan berimplikasi kuat pada kebijakan pembangunan daerah Kabupaten Polewali Mandar secara keseluruhan. 3. Mutu Pembangunan Manusia Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Sulawesi Barat telah mengalami perbaikan signifikan. Meskipun demikian, secara relatif, IPM Provinsi Sulawesi Barat tidak mengalami perubahan berarti, yaitu posisi ke-29 dari 33 provinsi di Indonesia dan masih jauh berada di bawah angka nasional. Kebijakan pembangunan provinsi yang mengedepankan perbaikan mutu pembangunan manusia akan berimplikasi kuat terhadap kebijakan pembangunan daerah lingkup Provinsi Sulawesi Barat, termasuk Kabupaten Polewali Mandar yang juga berkontribusi pada rendah dan lambannya peningkatan mutu pembangunan manusia di Provinsi Sulawesi Barat secara keseluruhan. Salah satu isu penting yang dituju dalam perbaikan mutu pembangunan manusia ini adalah peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) secara menyeluruh. Sejumlah indikator kualitas SDM di Provinsi Sulawesi Barat tampak sangat rendah dan berada di bawah rata-rata nasional, seperti angka melek huruf, rata-rata lama sekolah, serta proporsi penduduk 150

182 yang menyelesaikan tingkat pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan perguruan Tinggi (PT), juga relatif sangat rendah. Kondisi ini akan berimplikasi pada kebijakan pembangunan daerah Kabupaten Polewali Mandar yang juga mencatat indikator-indikator kualitas SDM yang masih rendah. 4. Infrastruktur Secara keseluruhan kuantitas dan kualitas infrastruktur di wilayah Provinsi Sulawesi Barat sangat terbatas. Hampir setiap tahun, jalur utama yang menghubungkan antar kabupaten selalu terputus akibat jembatan yang rusak atau tanah longsor. Layanan listrik dan air bersih hanya mampu melayani rumah tangga dengan jumlah yang sangat terbatas. Begitu pula layanan telepon hanya mampu melayani rumah tangga di tiga kabupaten dari lima kabupaten dengan jumlah yang sangat terbatas. 5. Pelayanan Publik Berbagai bentuk layanan publik relatif sangat terbatas, baik dari segi kuantitas dan kualitas maupun dari segi jangkauan dan sebaran. Layanan pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan pemerintahan, belum mampu menjangkau seluruh kelompok masyarakat. Terbatasnya infrastruktur dan kapasitas kelembagaan/aparat serta anggaran menjadi penyebab utama terbatasnya berbagai layanan publik. Kebijakan pembangunan Provinsi Sulawesi Barat yang mendorong peningkatan pelayanan publik juga akan berimplikasi pada implementasi kebijakan pembangunan Kabupaten Polewali Mandar. 6. Komoditas Unggulan Sebagai daerah yang berbasis pada sektor pertanian, pengembangan komoditas unggulan menjadi sebuah keniscayaan. Dari hasil identifikasi, sedikitnya ada empat komoditas unggulan Provinsi Sulawesi Barat yaitu kakao, kopi, kelapa sawit, dan kelapa dalam. Namun keempat komoditas unggulan tersebut masih diperhadapkan pada berbagai masalah, seperti rendahnya tingkat produtivitas, kualitas, dukungan teknologi, pemasaran dan stabilitas harga. Artinya, upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah provinsi juga harus menjadi perhatian pokok Pemerintah Daerah Kabupaten Polewali Mandar lima tahun ke depan. 151

183 D. ISU KABUPATEN POLEWALI MANDAR Berdasarkan isu-isu strategis global dan nasional, serta regional Sulawesi dan Provinsi Sulawesi Barat yang diidentifikasi sebelumnya, maka dapat dirumuskan sejumlah isu strategis yang akan dihadapi Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar dalam pelaksanaan pembangunan daerah lima tahun ke depan. Isu-isu strategis ini harus mendapatkan perhatian dan penanganan serius guna mewujudkan masyarakat Polewali Mandar yang sejahtera, antara lain : 1. Peningkatan Kualitas Sumber daya Manusia Kondisi kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Polewali Mandar yang masih rendah ditandai oleh Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang rendah. Meskipun IPM Kabupaten Polewali Mandar menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun, namun IPM Kabupaten Polewali Mandar merupakan yang terendah dari seluruh kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat. Karena itu masih dibutuhkan upaya pembangunan yang serius dan konsisten di bidang pendidikan dan kesehatan, serta peningkatan kemampuan ekonomi masyarakat agar kualitas sumber daya manusia Kabupaten Polewali Mandar dapat sejajar dan bahkan melebihi kabupaten lainnya di Sulawesi Barat, bahkan daerah lainnya di Indonesia. 2. Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten Polewali Mandar sampai saat ini masih menghadapi masalah kemiskinan yang ditunjukkan oleh tingginya jumlah dan persentase penduduk miskin di Kabupaten Polewali Mandar. Hingga tahun 2012 sebaran penduduk miskin di Sulawesi Barat, dominan berada di Kabupaten Polewali Mandar. Kondisi ini memaksa kebijakan pembangunan daerah Kabupaten Polewali Mandar lima tahun ke depan harus secara terintegrasi dan terpadu antar sektor serta terkoordinasi secara vertikal untuk secara sinergis mengimplementasikan program-program penanggulangan kemiskinan secara nyata. 3. Pembangunan Infrastruktur Belum Memadai Ketersediaan infrastruktur dasar seperti prasarana jalan, jaringan irigasi, listrik dan air bersih di Kabupaten Polewali Mandar masih belum memadai, sehingga perlu ditingkatkan secara optimal baik sisi kuantitas maupun kualitasnya. Masalah infrastruktur menjadi masalah yang akan sangat berpengaruh bagi pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Polewali Mandar, selain terkait dengan akses masyarakat terhadap sumber-sumber ekonomi, hal tersebut juga akan sangat terkait dengan kelancaran investasi di daerah. Oleh karena itu isu pemerataan pembangunan infrastruktur masih perlu mendapatkan perhatian pada kurun waktu 5 (lima) tahun ke depan. Pembangunan infrastruktur (khususnya jalan dan jembatan) di daerah-daerah terisolir/terpencil perlu dilaksanakan guna membuka akses transportasi dan arus ekonomi antar 152

184 desa. 4. Pengembangan Ekonomi Kerakyatan Ketersediaan sumber daya alam yang melimpah di Kabupaten Polewali Mandar belum bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara memadai. Karena itu pengembangan potensi perekonomian rakyat baik pada sektor pertanian sebagai sektor basis maupun sektor-sektor lainnya seperti perdagangan, perindustrian, koperasi, ketenagakerjaan dan penanaman modal perlu terus ditingkatkan. Selain itu peran UMKM, industri kecil/rumah tangga, dan koperasi perlu didorong guna memberikan kontribusi yang nyata bagi penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, dan pertumbuhan ekonomi daerah. Orientasi perbesaran skala ekonomi dan peningkatan produktivitas harus menjadi isu pokok agar masyarakat dapat keluar dari lingkaran kemiskinannya. 5. Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Secara Berkelanjutan Isu tentang lingkungan hidup di Kabupaten Polewali Mandar telah menjadi permasalahan regional dan nasional. Pembangunan Kabupaten Polewali Mandar yang sangat strategis harus berwawasan lingkungan, sehingga diperlukan upaya-upaya untuk mewujudkan fungsi sumber daya alam dan lingkungan hidup yang serasi dalam mendukung fungsi ekonomi, sosial dan budaya masyarakat secara berkesinambungan serta mengoptimalkan produktivitas pemanfaatan dan pengendalian tata ruang sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Demikian juga upaya pelestarian sumber daya hutan dan pengembangan kawasankawasan terbuka hijau perlu mendapatkan perhatian guna menjaga keseimbangan ekosistem. Antisipasi dini pada sejumlah daerah rawan bencana juga harus menjadi perhatian dalam lima tahun ke depan. 6. Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola Seiring dengan perkembangan permasalahan sosial, ekonomi, budaya, dan politik yang semakin dinamis, terbuka dan kritis di Kabupaten Polewali Mandar, maka dibutuhkan sebuah birokrasi yang kuat, terpercaya, dan akuntabel. Dalam perkembangan penataan birokrasi pemerintah Kabupaten Polewali Mandar, masih menghadapi beberapa permasalahan pada aspek kelembagaan, ketatalaksanaan, manajemen SDM aparatur, pengawasan, akuntabilitas kinerja, pelayanan publik, dan penataan peraturan perundang-undangan, sehingga diperlukan penanganan secara mendasar, terencana dan sistematis. Selain penataan kelembagaan pemerintah daerah, peningkatan kualitas aparat juga menjadi sebuah keharusan untuk menjamin peningkatan kapasitas dan profesionalisme pemerintah daerah dalam menjalankan pelayanan publik yang juga semakin kompleks. 153

185 154

186

187 Visi dan Misi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar Tahun merupakan penjabaran dari Visi dan Misi Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten Polewali Mandar, sebagaimana tertuang di dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Polewali Mandar Tahun , yaitu: Polewali Mandar yang Maju, Mandiri, dan Sejahtera. 5.1 V I S I BAB V VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN Dengan mempertimbangkan potensi, kondisi, permasalahan, tantangan dan peluang yang ada di Kabupaten Polewali Mandar serta mempertimbangkan budaya yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, maka Visi Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar yang hendak dicapai pada tahun 2019 adalah : Terwujudnya Pembangunan yang Merata dan Berkeadilan Menuju Masyarakat Polewali Mandar yang Sejahtera Visi di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: Pembangunan yang Merata didefinisikan sebagai keinginan yang kuat dari pemerintah Kabupaten Polewali Mandar untuk memenuhi hak-hak dasar masyarakat dan menyediakan pelayanan publik secara merata kepada seluruh masyarakat, serta keinginan untuk mencapai tingkat kemajuan ekonomi dan sosial yang serasi dan seimbang di seluruh wilayah Kabupaten Polewali Mandar. Pembangunan yang Berkeadilan diartikan sebagai bentuk komitmen dari pemerintah Kabupaten Polewali Mandar untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat dan pelaku pembangunan, berdasarkan jenis kelamin, suku, ras, golongan, status sosial, wilayah dan kemampuan yang berbeda, baik dari aspek akses, partisipasi, pengawasan maupun manfaat. Polewali Mandar yang Sejahtera dimaknakan sebagai suatu kondisi kehidupan masyarakat yang sejahtera secara fisik-material dan mentalspiritual. Sejahtera secara fisik-material ditandai dengan terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan dan papan, sedangkan sejahtera secara mental-spritual ditandai dengan keselarasan hubungan antara manusia dengan Tuhannya, antara sesama manusia (yang harus dilandaskan pada nilai-nilai budaya SIPAMANDAR yaitu saling menguatkan, bersinergi, sipakala'bi, sipakaraya, dan siasayangi), dan antara manusia dengan lingkungan alamnya. 156

188 5.2 M I S I Untuk mewujudkan visi pembangunan Kabupaten Polewali Mandar di atas, maka ditetapkan misi pembangunan Kabupaten Polewali Mandar Tahun , sebagai berikut: 1. Mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas dengan berlandaskan pada nilai-nilai agama dan budaya. 2. Mengembangkan ekonomi kerakyatan berbasis pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. 3. Meningkatkan infrastruktur guna mendorong daya saing daerah. 4. Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih serta menyediakan pelayanan publik yang berkualitas. 5.3 TUJUAN DAN SASARAN Dengan mengacu pada visi dan misi di atas, dirumuskan tujuan dan sasaran sebagai berikut: 1. Meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan Sasaran-sasaran yang ingin dicapai adalah : a. Membaiknya indeks pendidikan yang ditandai dengan meningkatnya angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah; b. Membaiknya indeks kesehatan yang ditandai dengan bertambahnya angka harapan hidup. 2. Meningkatkan kualitas kehidupan beragama, bermasyarakat dan berbangsa Sasaran-sasaran yang ingin dicapai adalah : a. Meningkatnya implementasi nilai-nilai keagamaan, budaya dan kebangsaan yang ditandai dengan persentase organisasi antar dan intra umat beragama yang dibina, persentase organisasi kesenian dan budaya yang berperan aktif dalam pengembangan seni dan budaya, jumlah kegiatan pembinaan pendidikan wawasan kebangsaan; b. Meningkatnya keamanan dan ketertiban masyarakat yang ditandai dengan jumlah konflik sosial. 3. Mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender Sasaran-sasaran yang ingin dicapai adalah : a. Membaiknya indeks pembangunan dan pemberdayaan gender yang ditandai dengan meningkatnya indeks pembangunan gender dan indeks pemberdayaan gender. 4. Meningkatkan usaha ekonomi kerakyatan berbasis pemberdayaan potensi usaha ekonomi lokal 157

189 Sasaran-sasaran yang ingin dicapai adalah : a. Membaiknya kinerja perekonomian daerah yang ditandai dengan meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi; b. Berkembangnya usaha industri mikro, kecil, dan menengah yang ditandai dengan bertambahnya nilai produksi UMKM, membesarnya kontribusi industri pengolahan terhadap PDRB (ADHK); c. Berkembangnya pariwisata daerah yang ditandai dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisata per tahun; d. Meningkatnya aktifitas perdagangan, restoran, dan hotel yang ditandai dengan membesarnya kontribusi sektor perdagangan, restoran, dan hotel terhadap PDRB. 5. Meningkatkan kualitas kesejahteraan masyarakat Sasaran-sasaran yang ingin dicapai adalah : a. Membaiknya taraf hidup masyarakat yang ditandai dengan menurunnya persentase penduduk miskin; b. Meningkatnya pendapatan masyarakat yang ditandai dengan meningkatnya pendapatan (PDRB) perkapita dan pengeluaran perkapita; c. Meningkatnya pemenuhan pangan bagi penduduk secara merata dan terjangkau yang ditandai dengan menurunnya persentase penduduk yang rawan pangan. 6. Meningkatkan kesempatan kerja dan berusaha Sasaran-sasaran yang ingin dicapai adalah : a. Meningkatnya keinginan masyarakat untuk bekerja dan berusaha yang ditandai dengan membaiknya tingkat partisapisi angkatan kerja; b. Tersedianya lapangan kerja bagi pencari kerja baru yang ditandai dengan menurunnya tingkat pengangguran terbuka. 7. Meningkatkan produktivitas dan pengelolaan potensi sumber daya alam yang berkelanjutan Sasaran-sasaran yang ingin dicapai adalah : a. Meningkatnya produksi dan mutu produk komoditi pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan unggulan daerah membesarnya kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB, meningkatnya jumlah produksi perikanan darat dan laut; b. Terkendalinya luasan lahan pangan berkelanjutan guna mendukung Polewali Mandar sebagai lumbung pangan Sulawesi Barat yang ditandai dengan meningkatnya proporsi luas lahan persawahan terhadap luas wilayah, membesarnya kontribusi produksi padi Polewali Mandar terhadap Sulawesi Barat; c. Meningkatnya konservasi dan rehabilitasi hutan dan lahan kritis, serta 158

190 pemeliharaan keanekaragaman hayati yang ditandai dengan meningkatnya proporsi luas hutan lindung terhadap luas kawasan hutan, meningkatnya proporsi luas kawasan hutan mangrove; d. Meningkatnya pembinaan dan pengawasan usaha pertambangan yang ditandai dengan meningkatnya persentase penambang yang memilik izin yang memenuhi good mining practice; e. Meningkatnya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang ditandai dengan meningkatnya proporsi luas RTH terhadap luas kawasan perkotaan, meningkatnya persentase kasus pengaduan lingkungan yang terselesaikan, meningkatnya cakupan penghijauan/penanaman vegetasi untuk produksi biomassa di wilayah rawan kerusakan tanah, meningkatnya cakupan layanan informasi status kualitas air dan udara; f. Terwujudnya pengembangan wilayah yang terencana dan terkendali yang ditandai dengan meningkatnya persentase kawasan strategis yang ditetapkan melalui Perda, meningkatnya cakupan penanganan kawasan rawan bencana. 8. Meningkatkan ketersediaan infrastruktur pekerjaan umum, perhubungan, komunikasi dan informatika Sasaran-sasaran yang ingin dicapai adalah : a. Meningkatnya kuantitas dan kualitas jaringan jalan dan jembatan kabupaten yang ditandai dengan meningkatnya panjang jalan kabupaten dalam kondisi baik, meningkatnya panjang jalan kabupaten dalam kondisi sedang, meningkatnya persentase jalan desa dalam kondisi baik, meningkatnya jumlah jembatan dalam kondisi baik; b. Meningkatnya ketersediaan infrastruktur irigasi dan sumber daya air lainnya yang ditandai dengan meningkatnya rasio jaringan irigasi dengan luas lahan sawah; c. Meningkatnya sarana dan prasarana transportasi yang ditandai dengan meningkatnya persentase ketersediaan sarana dan prasarana transportasi, meningkatnya persentase ketersediaan sarana dan prasarana keselamatan transportasi darat; d. Meningkatnya pelayanan akses informasi yang ditandai dengan meningkatnya cakupan layanan akses informasi. 9. Meningkatkan ketersediaan infrastruktur perumahan dan permukiman Sasaran-sasaran yang ingin dicapai adalah : a. Meningkatnya kualitas lingkungan permukiman yang ditandai dengan berkurangnya luas kawasan kumuh; b. Meningkatnya kualitas rumah tidak layak huni yang ditandai dengan meningkatnya jumlah rumah tidak layak huni yang tertangani; c. Meningkatnya cakupan layanan air minum yang ditandai dengan 159

191 meningkatnya cakupan layanan air minum perpipaan; d. Meningkatnya cakupan layanan persampahan yang ditandai dengan meningkatnya persentase layanan sampah terangkut ke TPA; e. Meningkatnya akses penduduk terhadap ketenagalistrikan yang ditandai dengan meningkatnya rasio elektrifikasi. 10. Memperkuat kelembagaan pemerintahan daerah Sasaran-sasaran yang ingin dicapai adalah : a. Meningkatnya kualitas manajemen pemerintahan daerah yang ditandai dengan membaiknya predikat LAKIP, peringkat LPPD dan opini pengelolaan keuangan daerah; b. Meningkatnya kualitas perencanaan pembangunan daerah dan pengelolaan data yang ditandai dengan meningkatnya persentase usulan masyarakat melalui musrenbang yang diakomodir dalam dokumen perencanaan pembangunan, dan meningkatnya persentase data SKPD yang terintegrasi ; c. Meningkatnya kualitas dan profesionalisme SDM aparatur yang ditandai dengan meningkatnya proporsi pemenuhan kompetensi SDM aparatur yang memenuhi standar kompetensi; d. Terwujudnya tertib administrasi kependudukan yang ditandai dengan meningkatnya proporsi penduduk yang telah memiliki dokumen kependudukan dan pencatatan sipil. 11. Meningkatkan kualitas pelayanan publik Sasaran-sasaran yang ingin dicapai adalah : a. Meningkatnya kualitas layanan perizinan yang ditandai dengan menurunnya lama waktu rata-rata penyelesaian perizinan; b. Terwujudnya layanan pemerintahan yang efisien, efektif, dan transparan yang ditandai dengan membaiknya indeks kepuasan masyarakat, meningkatnya persentase sarana dan prasarana pemerintahan dalam kondisi baik. 160

192 Tabel 5.1 Keterkaitan Visi, Misi, Tujuan, Sasaran, Indikator dan Target Kinerja Pembangunan Daerah Kabupaten Polewali Mandar VISI : Terwujudnya Pembangunan yang Merata dan Berkeadilan Menuju Masyarakat Polewali Mandar yang Sejahtera MISI TUJUAN SASARAN INDIKATOR Misi 1 : Mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas dengan berlandaskan pada nilainilai agama dan budaya Misi 2 : Mengembangkan ekonomi kerakyatan berbasis pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan 1. Meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan 2. Meningkatkan kualitas kehidupan beragama, bermasyarakat, dan berbangsa 3. Mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender 1. Meningkatkan usaha ekonomi kerakyatan berbasis pemberdayaan potensi usaha ekonomi lokal 2. Meningkatkan kualitas kesejahteraan masyarakat 1. Membaiknya indeks pendidikan Angka Melek Huruf (AMH) Rata-rata Lama Sekolah (RLS) TARGET AKHIR RPJMD (TAHUN 2018) 92 persen 8,13 tahun 2. Membaiknya indeks kesehatan Angka Harapan Hidup (AHH) 67,21 tahun 1. Meningkatnya implementasi nilainilai keagamaan, budaya dan kebangsaan 2. Meningkatnya keamanan dan ketertiban masyarakat Membaiknya indeks pembangunan dan pemberdayaan gender 1. Membaiknya kinerja perekonomian daerah 2. Berkembangnya usaha industri mikro, kecil dan menengah 3. Berkembangnya pariwisata daerah 4. Meningkatnya aktifitas perdagangan, restoran, dan hotel 1. Membaiknya taraf hidup masyarakat 2. Meningkatnya pendapatan masyarakat 3. Meningkatnya pemenuhan pangan bagi penduduk secara merata dan terjangkau Persentase organisasi antar dan intra umat beragama yang dibina Persentase organisasi kesenian dan budaya yang berperan aktif dalam pengembangan seni dan budaya Jumlah kegiatan pembinaan pendidikan wawasan kebangsaan 100 persen 100 persen 40 kegiatan Jumlah konflik sosial 0 kasus Indeks Pembangunan Gender (IPG) 71,75 Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) 78,26 Pertumbuhan ekonomi 11,12 persen Nilai produksi UMKM Kontribusi industri pengolahan terhadap PDRB (ADHK) (juta Rp) 5,56 persen Jumlah kunjungan wisata per tahun wisatawan Kontribusi sektor perdagangan, restoran dan hotel terhadap PDRB 30,12 persen Persentase penduduk miskin 10,92 persen Pendapatan (PDRB) perkapita Rp Pengeluaran perkapita riil Rp Persentase penduduk yang rawan pangan 10,92 persen 161

193 VISI : Terwujudnya Pembangunan yang Merata dan Berkeadilan Menuju Masyarakat Polewali Mandar yang Sejahtera MISI TUJUAN SASARAN INDIKATOR 3. Meningkatkan kesempatan kerja dan berusaha 4. Meningkatkan produktivitas dan pengelolaan potensi sumberdaya alam yang berkelanjutan 1. Meningkatnya keinginan masyarakat untuk bekerja dan berusaha 2. Tersedianya lapangan kerja bagi pencari kerja baru 1. Meningkatnya produksi dan mutu produk komoditi pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan unggulan daerah 2. Terkendalinya luasan lahan pangan berkelanjutan guna mendukung Polewali Mandar sebagai lumbung pangan Sulawesi Barat 3. Meningkatnya konservasi dan rehabilitasi hutan dan lahan kritis serta pemeliharaan keanekaragaman hayati 4. Meningkatnya pembinaan dan pengawasan usaha pertambangan 5. Meningkatnya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup TARGET AKHIR RPJMD (TAHUN 2018) Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) 73 persen Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) 2,01 persen Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB (ADHK) Jumlah produksi perikanan darat Jumlah produksi perikanan laut Proporsi luas lahan persawahan terhadap luas wilayah Kontribusi produksi padi Polewali Mandar terhadap Sulawesi Barat Proporsi luas hutan lindung terhadap luas kawasan hutan Proporsi luas kawasan hutan mangrove Persentase penambang yang memiliki izin yang memenuhi good mining practices Proporsi luas RTH terhadap luas kawasan perkotaan Persentase kasus pengaduan lingkungan yang terselesaikan Cakupan penghijauan/ penanaman vegetasi untuk produksi biomassa di wilayah rawan kerusakan tanah Cakupan layanan informasi status kualitas air dan udara 56,95 persen ,45 ton ,62 ton 8 persen 53 persen 64 persen 77 persen 100 persen 30 persen 100 persen 50 persen 80 persen 162

194 VISI : Terwujudnya Pembangunan yang Merata dan Berkeadilan Menuju Masyarakat Polewali Mandar yang Sejahtera MISI TUJUAN SASARAN INDIKATOR Misi 3 : Meningkatkan Infrastruktur guna mendorong daya saing daerah 1. Meningkatkan ketersediaan infrastruktur pekerjaan umum, perhubungan, komunikasi dan informatika 6. Terwujudnya pengembangan wilayah yang terencana dan terkendali berbasis mitigasi bencana 1. Meningkatnya kuantitas dan kualitas jaringan jalan dan jembatan kabupaten Persentase kawasan strategis yang ditetapkan melalui Perda 100 persen Cakupan penanganan kawasan rawan bencana 100 persen Panjang jalan kabupaten dalam kondisi baik Panjang jalan kabupaten dalam kondisi sedang Persentase jalan desa dalam kondisi baik Jumlah jembatan dalam kondisi baik TARGET AKHIR RPJMD (TAHUN 2018) 137,20 kilometer 250 kilometer 50 persen 2. Meningkatkan ketersediaan infrastruktur perumahan dan permukiman 2. Meningkatnya ketersediaan infrastruktur irigasi dan sumberdaya air lainnya 3. Meningkatnya sarana dan prasarana transportasi 4. Meningkatnya pelayanan akses informasi 1. Meningkatnya kualitas lingkungan permukiman 2. Meningkatnya kualitas rumah tidak layak huni 3. Meningkatnya cakupan layanan air minum 4. Meningkatnya cakupan layanan persampahan 5. Meningkatnya akses penduduk terhadap ketenagalistrikan 71 unit Rasio jaringan irigasi dengan luas lahan sawah 75,42 persen Persentase ketersediaan sarana dan prasarana transportasi Persentase ketersediaan sarana dan prasarana keselamatan transportasi darat 100 persen 90 persen Cakupan layanan akses informasi 100 persen Luas kawasan kumuh 20 Ha Jumlah rumah tidak layak huni yang tertangani unit Cakupan layanan air minum perpipaan 75 persen Persentase layanan sampah terangkut ke TPA 55 persen Rasio elektrifikasi 100 persen 163

195 VISI : Terwujudnya Pembangunan yang Merata dan Berkeadilan Menuju Masyarakat Polewali Mandar yang Sejahtera MISI TUJUAN SASARAN INDIKATOR Misi 4 : Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih serta menyediakan pelayanan publik yang berkualitas 1. Memperkuat kelembagaan pemerintahan daerah 1. Meningkatnya kualitas manajemen pemerintahan daerah 2. Meningkatnya Kualitas perencanaan pembangunan daerah dan pengelolaan data Predikat LAKIP Peringkat LPPD Opini Pengelolaan Keuangan daerah Persentase usulan masyarakat melalui musrenbang yang diakomodir dalam dokumen perencanaan pembangunan TARGET AKHIR RPJMD (TAHUN 2018) B Peringkat 70 WTP 40 persen Persentase data SKPD yang terintegrasi 100 Persen 2. Meningkatkan kualitas pelayanan publik 3. Meningkatnya kualitas dan profesionalisme SDM aparatur 4. Terwujudnya tertib administrasi kependudukan 1. Meningkatnya kualitas layanan perizinan 2. Terwujudnya layanan pemerintahan yang efisien, efektif, dan transparan Proporsi pemenuhan kompetensi SDM aparatur yang memenuhi standar kompetensi 70 persen Proporsi penduduk yang telah memiliki 97,33 persen dokumen kependudukan dan pencatatan sipil Lama waktu rata-rata penyelesaian perizinan 1 hari kerja Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) Persentase sarana dan prasarana pemerintahan dalam kondisi baik 70 persen 73 persen 164

196

197 BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi dan arah kebijakan merupakan rumusan perencanaan komprehensif mengenai bagaimana pemerintah daerah mencapai tujuan dan sasaran RPJMD dengan efektif dan efisien. Selain melakukan perencanaan komprehensif, perencanaan strategik juga dapat digunakan untuk melakukan transformasi, reformasi dan perbaikan kinerja birokrasi serta meningkatkan kapasitas kelembagaan pemerintahan daerah. Peningkatan kesejahteraan masyarakat dan peningkatan kualitas sumber daya manusia akan menjadi fokus utama dari strategi dan arah kebijakan pembangunan daerah Kabupaten Polewali Mandar dalam lima tahun ke depan. Ini mudah dipahami karena fakta empiris menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat masih relatif rendah (ditandai dengan tingginya angka kemiskinan) dan kualitas sumber daya manusia juga masih relatif rendah (ditandai dengan rendahnya Indeks Pembangunan Manusia). Kedua dimensi pembangunan ini telah menjadi penyebab utama mengapa Kabupaten Polewali Mandar masih dikategorikan sebagai kabupaten tertinggal. Kedua dimensi pembangunan ini juga menjadi substansi penting Visi, Misi, dan Program Bupati/Wakil Bupati Terpilih dan telah menjadi sorotan berbagai stakeholder pembangunan di Kabupaten Polewali Mandar dalam beberapa tahun terakhir. Strategi merupakan langkah-langkah yang berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Menjadi salah satu rujukan penting dalam perencanaan pembangunan daerah dan merupakan pernyataan yang menjelaskan bagaimana tujuan dan sasaran akan dicapai yang selanjutnya diperjelas dengan serangkaian arah kebijakan. Berdasarkan rumusan strategi, selanjutnya dirumuskan arah kebijakan pembangunan daerah yang berfungsi mengarahkan rumusan strategi yang dipilih agar lebih terarah dalam mencapai tujuan dan sasaran dari waktu ke waktu selama 5 (lima) tahun ke depan. Rumusan arah kebijakan merasionalkan pilihan strategi agar lebih fokus dan sesuai dengan pengaturan pelaksanaannya. Visi dan misi pembangunan daerah yang telah dirumuskan, selanjutnya menderivasi tujuan dan sasaran sebagaimana yang telah dirumuskan dalam Bab V, menjadi dasar dalam merumuskan strategi dan arah kebijakan pembangunan 166

198 Tabel 6.1 Strategi, Arah dan Kebijakan Kabupaten Polewali Mandar Tahun Visi: Terwujudnya Pembangunan yang Merata dan Berkeadilan Menuju Masyarakat Polewali Mandar yang Sejahtera Misi 1: Mewujudkan Sumber Daya Manusia yang Berkualitas Berlandaskan Pada Nilai-Nilai Agama dan Budaya Tujuan Sasaran Strategi Arah Kebijakan Meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan Meningkatkan kualitas kehidupan beragama, bermasyarakat dan berbangsa Membaiknya indeks pendidikan Meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan dua belas tahun yang berkualitas di seluruh wilayah kecamatan Memperluas pelayanan pendidikan formal dan informal serta program kejar paket A, B, dan C Menfasilitasi dan mendorong anak usia sekolah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi Membaiknya indeks kesehatan Meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan yang berkualitas di seluruh wilayah kecamatan Meningkatnya implementasi nilai-nilai keagamaan, budaya dan kebangsaan Meningkatnya keamanan dan ketertiban masyarakat Meningkatkan mutu layanan kesehatan bagi ibu hamil, ibu melahirkan, ibu pasca persalinan, bayi dan balita, penyakit beresiko, pen yakit menular dan tidak menular, lansia dan sakit jiwa Memperluas layanan kesehatan masyarakat dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Meningkatkan kegiatan-kegiatan keagamaan, kebudayaan dan kebangsaan terutama bagi generasi muda Pemerataan sarana dan prasarana pendidikan yang berkualitas di seluruh wilayah kecamatan, khususnya pada wilayah dengan tingkat aksesibilitas yang rendah Penyebarluasan sarana dan prasarana layanan pendidikan non-formal dan informal, serta pengintensifan program kejar paket A,B dan C Penurunan angka putus sekolah dan peningkatan angka melanjutkan pendididkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi Peningkatan mutu sarana dan prasarana kesehatan dasar di seluruh wilayah kecamatan, khususnya pada wilayah dengan tingkat aksesibilitas yang rendah Peningkatan kualitas layanan RSUD Penyediaan layanan kesehatan bagi ibu melahirkan, ibu pasca persalinan, bayi dan balita, penyakit beresiko, penyakit menular dan tidak menular, lansia dan sakit jiwa Penyebarluasan dan pemerataan sarana dan prasarana layanan dasar dan kesehatan, serta fasilitasi dan sosialisasi tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Mengintensifkan kegiatan-kegiatan keagamaan, kebudayaan dan kebangsaan terutama bagi generasi muda Mengintensifkan sistem keamanan swakarsa Peningkatan keterlibatan warga dalam menjaga keamanan dan ketertiban lingkungannya 167

199 Visi: Terwujudnya Pembangunan yang Merata dan Berkeadilan Menuju Masyarakat Polewali Mandar yang Sejahtera Misi 1: Mewujudkan Sumber Daya Manusia yang Berkualitas Berlandaskan Pada Nilai-Nilai Agama dan Budaya Tujuan Sasaran Strategi Arah Kebijakan Mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender Membaiknya indeks pembangunan dan pemberdayaan gender Misi 2: Mengembangkan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Pengelolaan Sumber Daya Alam Secara Berkelanjutan Pengarus Utamaan Gender (PUG) Pembangunan yang responsif gender (kebijakan yang diarahkan pada upaya-upaya pembangunan yang memperhatikan aspirasi, kebutuhan dan pengalaman perempuan dan laki-laki yang diintegrasikan ke dalam perencanaan dan penganggaran yang responsif gender) Tujuan Sasaran Strategi Arah Kebijakan Meningkatkan Usaha ekonomi kerakyatan berbasis pemberdayaan potensi usaha ekonomi lokal Meningkatnya kualitas kesejahteraan masyarakat Membaiknya kinerja perekonomian daerah Berkembangnya usaha industri mikro, kecil dan menengah Berkembangnya pariwisata daerah Meningkatnya aktifitas perdagangan, restoran, dan hotel Membaiknya taraf hidup masyarakat Pemberdayaan badan usaha ekonomi desa melalui pengembangan ekonomi lokal Mengembangkan kerjasama antar pihak swasta dengan sektor UMKM dari hulu hingga hilir Meningkatkan dan memperluas pembinaan dan pendampingan kepada UMKM berbasis keaksaraan fungsional (Vokasional) Mengembangkan dan memberdayakan kelembagaan usaha ekonomi masyarakat Mengembangkan kemitraan antara pelaku usaha sektor UMKM dengan swasta Peningkatan kegiatan pembinaan dan pendampingan UMKM dalam bentuk bantuan permodalan, manajemen usaha, peralatan dan keterampilan Memperluas dan menata obyek-obyek wisata Peningkatan kerjasama dengan para pelaku usaha yang bergerak di sektor pariwisata Meningkatkan dan memperluas usaha dan kegiatan perdagangan, restoran dan hotel Memperluas akses penduduk terhadap kegiatan ekonomi Peningkatan intensitas promosi dan publikasi obyek -obyek wisata Pemberian kemudahan bagi para pelaku usaha perdagangan, restoran dan hotel Perluasan dan pemerataan kegiatan ekonomi hingga ke perdesaan Mensinergikan kegiatan penanggulangan kemiskinan secara terpadu dan tepat sasaran 168

200 Visi: Terwujudnya Pembangunan yang Merata dan Berkeadilan Menuju Masyarakat Polewali Mandar yang Sejahtera Misi 2: Mengembangkan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Pengelolaan Sumber Daya Alam Secara Berkelanjutan Tujuan Sasaran Strategi Arah Kebijakan Meningkatkan kesempatan kerja dan berusaha Meningkatkan produktivitas dan pengelolaan potensi sumber daya alam yang berkelanjutan Meningkatnya pendapatan masyarakat Meningkatnya pemenuhan pangan bagi penduduk secara merata dan terjangkau Meningkatnya keinginan masyarakat untuk bekerja dan berusaha Tersedianya lapangan kerja bagi pencari kerja baru Meningkatnya produksi dan mutu produk komoditi pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan unggulan daerah Memperluas sumber-sumber pendapatan masyarakat dengan memperluas kesempatan kerja dan kesempatan berusaha Meningkatkan ketersediaan dan keterjangkauan pangan bagi masyarakat berbasis sumber daya local Meningkatkan minat masyarakat, terutama penduduk usia kerja untuk bekerja dan berusaha Meningkatkan dan memperluas usaha-usaha ekonomi berbasis potensi sumber daya lokal Menciptakan iklim usaha dan investasi yang kondusif Meningkatkan produktivitas dan mutu pertanian, peternakan dan perikanan unggulan daerah Penganekaragaman produk olahan berbasis komoditi unggulan daerah Penyediaan pangan bagi penduduk khususnya daerah terpencil melalui pola pemberdayaan masyarakat Penyediaan dan penyebarluasan informasi mengenai potensi dan peluang kerja Menciptakan lapangan kerja baru melalui pemberdayaan masyarakat dan ekonomi lo kal Mengidentifikasi kebutuhan dan penyempurnaan regulasi yang mendukung iklim usaha dan investasi Menfasilitasi para investor dalam melakukan kegiatan penanaman modal Intensifikasi dan ekstensifikasi pengelolaan lahan pertanian melalui peningkatan ketersediaan dan keterjangkauan sarana dan prasarana produktivitas hingga ke daerah terpencil dengan pola pemberdayaan masyarakat Peningkatan ketersediaan dan keterjangkauan sarana dan prasarana produktivitas sektor perkebunan hingga ke daerah terpencil dengan pola pemberdayaan masyarakat Intensifikasi dan ekstensifikasi komoditi peternakan berbasis pemberdayaan masyarakat melalui penyediaan sarana dan prasarana produktivitas hingga ke daerah terpencil 169

201 Visi: Terwujudnya Pembangunan yang Merata dan Berkeadilan Menuju Masyarakat Polewali Mandar yang Sejahtera Misi 2: Mengembangkan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Pengelolaan Sumber Daya Alam Secara Berkelanjutan Tujuan Sasaran Strategi Arah Kebijakan Terkendalinya luasan lahan pangan berkelanjutan guna mendukung Polewali Mandar sebagai lumbung pangan Sulawesi Barat Meningkatnya konservasi dan rehabilitasi hutan dan lahan kritis serta pemeliharaan keanekaragaman hayati Meningkatnya pembinaan dan pengawasan usaha pertambangan Meningkatnya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup Terwujudnya pengembangan wilayah yang terencana dan terkendali berbasis mitigasi bencana Meningkatkan kualitas, kuantitas, sarana dan prasarana tenaga penyuluh Menjaga dan mempertahankan luasan lahan sawah potensial Meningkatkan peranserta masyarakat dalam upaya konversi dan rehabilitasi hutan, mangrove dan lahan kritis Melaksanakan pembinaan dan pengawasan usaha pertambangan Meningkatkan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup Melaksanakan dan mengendalikan pengembangan kawasan sesuai dengan rencana tata ruang Intensifikasi dan ekstensifikasi pengelolaan sumber daya perikanan laut melalui penyediaan sarana dan prasarana produktivitas Pengembangan lahan budidaya perikanan darat hingga ke daerah terpencil Peningkatan kinerja tenaga penyuluh pertanian, peternakan dan perikanan terhadap kelompok tani yang dibina Pengendalian alih fungsi lahan terutama bagi lahan persawahan Pencetakan lahan persawahan baru Intensifikasi dan ekstensifikasi lahan persawahan dataran tinggi Peningkatan keterlibatan masyarakat dalam konservasi dan rehabilitasi hutan dan lahan kritis Peningkatan keterlibatan masyarakat dalam upaya konservasi dan rehabilitasi mangrove Meningkatkan pengelolaan usaha pertambangan Melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap pengelolaan lingkungan Penyusunan rencana rinci tata ruang kawasan strategis kabupaten Meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana Peningkatan penanganan kawasan rawan bencana 170

202 Visi: Terwujudnya Pembangunan yang Merata dan Berkeadilan Menuju Masyarakat Polewali Mandar yang Sejahtera Misi 3: Meningkatkan Infrastruktur Guna Mendorong Daya Saing Daerah Tujuan Sasaran Strategi Arah Kebijakan Meningkatkan ketersediaan infrastruktur pekerjaan umum, perhubungan, komunikasi dan informatika Meningkatkan ketersediaan infrastruktur perumahan dan permukiman Meningkatnya kuantitas dan kualitas jaringan jalan dan jembatan kabupaten Meningkatnya ketersediaan infrastruktur irigasi dan sumber daya air lainnya Meningkatnya sarana dan prasarana transportasi Meningkatnya pelayanan akses informasi Meningkatnya kualitas lingkungan permukiman Meningkatnya kualitas rumah tidak layak huni Meningkatnya cakupan layanan air minum Meningkatnya cakupan layanan persampahan Meningkatnya akses penduduk terhadap ketenagalistrikan Meningkatkan kondisi jaringan jalan dan jembatan Meningkatkan infrastruktur irigasi dan sumber daya air lainnya Meningkatkan sarana dan prasarana transportasi Pengembangan jaringan jalan dan jembatan Mewujudkan pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi partisipatif Pengembangan sarana dan prasarana transportasi darat, laut dan penyeberangan Meningkatkan layanan akses informasi Peningkatan kapasitas media layanan akses informasi Meningkatkan kualitas lingkungan permukiman kumuh Peningkatan kualitas lingkungan permukiman kumuh Meningkatkan kualitas rumah tidak layak huni Peningkatan kualitas rumah tidak layak huni Meningkatkan cakupan layanan air minum perpipaan Peningkatan cakupan layanan air minum perpipaan Meningkatkan cakupan layanan persampahan Peningkatan cakupan layanan persampahan Membangun dan mengembangkan infrastruktur ketenagalistrikan Penyediaan tenaga listrik di wilayah-wilayah terpencil 171

203 Visi: Terwujudnya Pembangunan yang Merata dan Berkeadilan Menuju Masyarakat Polewali Mandar yang Sejahtera Misi 4 : Mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik dan Bersih Serta Menyediakan Pelayanan Publik yang Berkualitas Tujuan Sasaran Strategi Arah Kebijakan Memperkuat kelembagaan pemerintahan daerah Meningkatkan kualitas pelayanan publik Meningkatnya kualitas manajemen pemerintahan daerah Meningkatnya kualitas perencanaan pembangunan daerah dan pengelolaan data Meningkatnya kualitas dan profesionalisme SDM aparatur Terwujudnya tertib administrasi kependudukan Meningkatnya kualitas layanan perizinan Terwujudnya layanan pemerintahan yang efisien, efektif, dan transparan Meningkatkan kinerja dan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan daerah Mewujudkan perencanaan yang berkualitas dan akuntabel Mewujudkan integrasi data melalui pengelolaan satu data pembangunan Meningkatkan kompetensi sumber daya manusia dalam berbagai bidang sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya Mengembangkan dan menata sistem administrasi kependudukan Meningkatkan kualitas administrasi pelayanan pemerintah melalui penataan proses layanan Meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pemerintahan Peningkatan kualitas dan ketepatan waktu penyusunan laporan kinerja dan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan daerah Peningkatan pengawasan kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah Peningkatan partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan daerah yang berkualitas Peningkatan pengendalian dan evaluasi pembangunan sebagai umpan balik bagi perencanaan Mewujudkan pengelolaan data yang akurat, relevan dan terkini dengan membangun koneksi data SKPD untuk mendukung proses perencanaan pembangunan daerah Pengembangan pendidikan formal dan pelatihan keterampilan Pengembangan perangkat keras dan lunak administrasi kependudukan Pengembangan sistem Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Pengembangan standar pelayanan publik dan pelayanan administrasi terpadu kecamatan Peningkatan sarana dan prasarana pemerintahan 172

204

205 BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH Perumusan kebijakan umum dan program pembangunan daerah bertujuan untuk menggambarkan keterkaitan antara bidang urusan pemerintahan daerah dengan rumusan indikator kinerja sasaran yang menjadi acuan penyusunan program pembangunan jangka menengah daerah berdasarkan strategi dan arah kebijakan yang ditetapkan. Melalui rumusan kebijakan umum, diperoleh sarana untuk menghasilkan atau diperolehnya berbagai program yang paling efektif untuk mencapai sasaran. Sedangkan dari perumusan program pembangunan daerah menghasilkan rencana pembangunan yang konkrit dalam bentuk program prioritas yang secara khusus berhubungan dengan capaian sasaran pembangunan daerah, dan merupakan pernyataan program kepala daerah Kabupaten Polewali Mandar selama periode tahun Dalam mewujudkan capaian keberhasilan pembangunan, pemerintah daerah Kabupaten Polewali Mandar menetapkan rangkaian program sesuai dengan Urusan Wajib dan Urusan Pilihan yang dilaksanakan oleh SKPD di lingkungan pemerintah daerah Kabupaten Polewali Mandar. Penetapan program pembangunan dan penanganan urusan pembangunan yang disesuaikan dengan misi pembangunan daerah adalah sebagai berikut : 1. Misi : Mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas dengan berlandaskan pada nilai-nilai agama dan budaya Program untuk mendukung misi ini adalah : Urusan Pendidikan Program pendidikan anak usia dini Program wajib belajar dasar sembilan tahun Program pendidikan menengah Program peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan Program pendidikan non-formal Program manajemen pelayanan pendidikan Urusan Perpustakaan Program pengembangan budaya dan pembinaan kepustakaan Urusan Kesehatan Program pengadaan, peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas/ pustu dan jaringannya Program pengadaan obat dan perbekalan kesehatan Program standarisasi pelayanan kesehatan Program pelayanan kesehatan badan layanan umum daerah 174

206 Program pengadaan, peningkatan sarana dan prasarana rumah sakit/ rumah sakit jiwa/ rumah sakit paru-paru/ rumah sakit mata Program pemeliharaan sarana dan prasarana rumah sakit/ rumah sakit jiwa / rumah sakit paru-paru/ rumah sakit mata Program peningkatan keselamatan ibu melahirkan dan anak Program peningkatan pelayanan kesehatan anak balita Program perbaikan gizi masyarakat Program pencegahan dan penanggulangan penyakit menular Program peningkatan pelayanan kesehatan lansia Program upaya kesehatan masyarakat Program kemitraan peningkatan pelayanan kesehatan Program pengembangan lingkungan sehat Program promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat Urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian Program pembinaan dan pengembangan organisasi antar dan intra umat beragama Urusan Kebudayaan Program pengembangan nilai budaya Program pengelolaan keragaman budaya Program pengelolaan kekayaan budaya Urusan Kesatuan Bangsa dan Politik dalam Negeri Program pengembangan wawasan kebangsaan Program peningkatan keamanan dan kenyamanan lingkungan Program pemeliharaan kantrantibmas dan pencegahan tindak kriminal Program pemberantasan penyakit masyarakat Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Program peningkatan peran serta dan kesetaraan gender dalam pembangunan Program penguatan kelembagaan pengarusutamaan gender dan anak Program peningkatan kualitas hidup dan perlindungan hidup perempuan Urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Program pembinaan keluarga berencana Program pelayanan kontrasepsi 175

207 2. Misi : Mengembangkan ekonomi kerakyatan berbasis pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan Program untuk mendukung misi ini adalah : Urusan Koperasi, Usaha Kecil Menengah Program peningkatan kualitas kelembagaan koperasi Program pengembangan sistem pendukung usaha bagi UMKM Program pengembangan kewirausahaan dan keunggulan kompetitif UKM Program penciptaan iklim UKM yang kondusif Urusan Industri Program peningkatan kemampuan teknologi industri Program pengembangan industri kecil menengah Program pengembangan sentra-sentra industri potensial Urusan Perdagangan Program pembinaan pedagang kaki lima dan asongan Program perlindungan konsumen dan pengamanan perdagangan Program peningkatan efisiensi perdagangan dalam negeri Urusan Pertanian Program peningkatan pemasaran hasil produksi pertanian/perkebunan Program peningkatan pemasaran hasil produksi peternakan Program peningkatan produksi pertanian/perkebunan Program peningkatan penerapan teknologi pertanian/perkebunan Program peningkatan sarana dan prasarana infrastruktur pertanian/perkebunan Program pencegahan dan penanggulangan penyakit ternak Program peningkatan produksi hasil peternakan Program peningkatan penerapan teknologi peternakan Urusan Kehutanan Program perlindungan dan konservasi sumber daya hutan Program rehabilitasi hutan dan lahan Urusan Ketahanan Pangan Program peningkatan kesejahteraan petani Program peningkatan ketahanan pangan pertanian/perkebunan Program pemberdayaan penyuluh pertanian/perkebunan lapangan Urusan Kelautan dan Perikanan Program pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir Program pengembangan kawasan budidaya laut, air payau, dan air tawar Program pengembangan perikanan tangkap Program pengembangan budidaya perikanan Program pengembangan sistem penyuluh perikanan Program pemberdayaan masyarakat dalam pengawasan dan 176

208 pengendalian sumber daya kelautan Urusan Pemberdayaan Masyarakat Desa Program peningkatan keberdayaan masyarakat perdesaan Program pengembangan lembaga ekonomi pedesaan Urusan Pariwisata Program pengembangan destinasi pariwisata Program pengembangan kemitraan Program pengembangan pemasaran pariwisata Urusan Sosial Program pemberdayaan fakir miskin, Komunitas Adat Terpencil (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) lainnya Program pelayanan dan rehabilitasi kesejahteraan sosial Urusan Ketenagakerjaan Program peningkatan kesempatan kerja Program peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja Urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian Program pencegahan dini dan penanggulangan korban bencana alam Program penanganan darurat bencana Program tanggap darurat bencana Urusan Penataan Ruang Program perencanaan tata ruang Program pengendalian pemanfaatan ruang Urusan Lingkungan Hidup Program pengelolaan ruang terbuka hijau Program pengendalian pencemaran dan pengrusakan lingkungan hidup Program rehabilitasi dan pemulihan cadangan SDA Program perlindungan dan konservasi SDA Program peningkatan pengendalian polusi Urusan Energi dan Sumber Daya Mineral Program pembinaan dan pengembangan geologi dan sumber daya mineral Program pembinaan dan pengawasan bidang pertambangan Urusan Penanaman Modal Program peningkatan dan promosi kerjasama investasi Urusan Perencanaan Pembangunan Program perencanaan pembangunan ekonomi Urusan Perumahan Program peningkatan kesiagaan dan pencegahan bahaya kebakaran 177

209 Urusan Pekerjaan Umum Program pembangunan turap/talud/bronjong 3. Misi : Meningkatkan infrastruktur guna mendorong daya saing daerah Program untuk mendukung misi ini adalah : Urusan Pekerjaan Umum Program pembangunan jalan dan jembatan Program rehabilitasi/pemeliharaan jalan dan jembatan Program inspeksi kondisi jalan dan jembatan Program pengembanngan wilayah strategis dan cepat tumbuh Program pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi dan infrastruktur sumber daya air lainnya Program pembangunan saluran drainase/gorong-gorong Program pengembangan infrastruktur perdesaan Urusan Perumahan Program pengembangan perumahan Urusan Lingkungan Hidup Program pengembangan pengelolaan persampahan Urusan Perhubungan Program pembangunan prasarana dan fasilitas perhubungan Program pembanguan sarana dan prasarana perhubungan Program rehabilitasi dan pemeliharaan prasarana dan fasilitas LLAJ Program peningkatan pelayanan angkutan Urusan Komunikasi dan Informatika Program pengembangan komunikasi, informasi dan media massa Program kerja sama informasi dengan mass media Urusan Energi dan Sumber Daya Mineral Program pembinaan dan pengembangan ketenagalistrikan dan energi 4. Misi : Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih serta menyediakan pelayanan publik yang berkualitas Program untuk mendukung misi ini adalah : Urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian Program penguatan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah Program penguatan reformasi birokrasi Program peningkatan dan pengembangan pengelolaan keuangan daerah Program peningkatan tertib pengelolaan keuangan dan asset daerah Program peningkatan sistem pengawasan internal dan pengendalian pelaksanaan kebijakan KDH 178

210 Program penataan dan penyempurnaan kebijakan sistem dan prosedur pengawasan Program peningkatan kapasitas sumber daya aparatur Program pembinaan dan pengembangan aparatur Program peningkatan kapasitas lembaga perwakilan rakyat daerah Program peningkatan pelayanan kedinasan kepala daerah/wakil kepala daerah Program peningkatan kualitas pelayanan publik Urusan Kependudukan dan Catatan Sipil Program penataan administrasi kependudukan Urusan Perencanaan Pembangunan Program perencanaan pembangunan daerah Program peningkatan kapasitas kelembagaan perencanaan pembangunan daerah Program perencanaan pembangunan ekonomi Program perencanaan pembangunan sosial budaya Program perencanaan prasarana wilayah dan SDA Program pengembangan data/informasi Urusan Statistik Program pengembangan data/informasi/statistik daerah Urusan Pekerjaan Umum Program peningkatan sarana dan prasarana pemerintahan Urusan Penanaman Modal Program peningkatan dan promosi kerjasama investasi 179

211 Tabel 7.1 Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Kabupaten Polewali Mandar Tahun Misi 1. Mewujudkan Sumber Daya Manusia yang Berkualitas dengan Berlandaskan Pada Nilai-Nilai Agama dan Budaya No Sasaran Strategi Arah Kebijakan/ Indikator Capaian Kinerja Program Pembangunan Bidang Urusan SKPD Penanggung Kebijakan Umum Daerah Jawab (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) 1 Membaiknya Meningkatkan ketersediaan Pemerataan sarana dan - Angka Melek 88% 92% - Program pendidikan anak Pendidikan Dinas Pendidkan, Indeks pendidikan sarana dan prasarana pendidikan dua belas tahun yang berkualitas di seluruh wilayah kecamatan Memperluas pelayanan pendidikan formal dan informal serta program kejar paket A, B, dan C Menfasilitasi dan mendorong anak usia sekolah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi prasarana pendidikan yang berkualitas di seluruh wilayah kecamatan, khususnya pada wilayah dengan tingkat aksesibilitas yang rendah Penyebarluasan sarana dan prasarana layanan pendidikan non -formal dan informal, serta pengintensifan program kejar paket A,B dan C Penurunan angka putus sekolah dan peningkatan angka melanjutkan pendididkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi Huruf (AMH) - Rata -rata Lama Sekolah (RLS) 7,25 Tahun 8,13 Tahun usia dini - Program wajib belajar dasar sembilan tahun - Program pendidikan menengah - Program Peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan - Program pendidikan non - formal - Program manajemen pelayanan pendidikan Pendidikan Pendidikan Pendidikan Pendidikan Pendidikan Pemuda & Olahraga Dinas Pendidkan, Pemuda & Olahraga Dinas Pendidkan, Pemuda & Olahraga Dinas Pendidkan, Pemuda & Olahraga Dinas Pendidkan, Pemuda & Olahraga Dinas Pendidkan, Pemuda & Olahraga 2 Membaiknya Indeks Kesehatan Meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan yang berkualitas di seluruh wilayah kecamatan Peningkatan mutu sarana dan prasarana kesehatan dasar di seluruh wilayah kecamatan, khususnya pada wilayah dengan tingkat aksesibilitas yang rendah Peningkatan kualitas layanan R umah Sakit Umum Daerah Angka Harapan Hidup (AHH) 66,08 Tahun 67,21 Tahun - Program pengembangan Perpustakaan budaya dan pembinaan kepustakaan - Program pengadaan, peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana PKM, pustu, dan jaringannya - Program pengadaan obat dan perbekalan kesehatan Kesehatan Kesehatan Kantor Perpustakaan & Arsip Daerah Dinas Kesehatan Dinas Kesehatan 180

212 No Sasaran Strategi Arah Kebijakan/ Indikator Capaian Kinerja Program Pembangunan Bidang Urusan SKPD Penanggung Kebijakan Umum Daerah Jawab (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) Meningkatkan mutu layanan kesehatan bagi ibu hamil, ibu melahirkan, ibu pasca persalinan, bayi dan balita, penyakit beresiko, penyakit menular dan tidak menular, lansia dan sakit jiwa Memperluas layanan kesehatan masyarakat dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Penyediaan layanan kesehatan bagi ibu melahirkan, ibu pasca persalinan, bayi dan balita, penyakit beresiko, penyakit menular dan tidak menular, lansia dan sakit jiwa Penyebarluasan dan pemerataan sarana dan prasarana layanan dasar dan kesehatan, serta fasilitasi dan sosialisasi tentang Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) - Program standarisasi pelayanan kesehatan - Program pelayanan kesehatan badan layanan umum daerah - Program pengadaan, peningkatan sarana dan prasarana rumah sakit/ rumah sakit jiwa/ rumah sakit paru-paru/ rumah sakit mata - Program pemeliharaan sarana dan prasarana rumah sakit/ rumah sakit jiwa/ rumah sakit paruparu/ rumah sakit mata Kesehatan Kesehatan Kesehatan Kesehatan Dinas Kesehatan RSUD RSUD RSUD - Program peningkatan keselamatan ibu melahirkan dan anak Kesehatan Dinas Kesehatan - Program peningkatan pelayanan kesehatan anak balita Kesehatan Dinas Kesehatan - Program Perbaikan Gizi Masyarakat Kesehatan Dinas Kesehatan 181

213 No Sasaran Strategi Arah Kebijakan/ Indikator Capaian Kinerja Program Pembangunan Bidang Urusan SKPD Penanggung Kebijakan Umum Daerah Jawab (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) - Program pencegahan dan penanggulangan penyakit menular Kesehatan Dinas Kesehatan - Program peningkatan pelayanan kesehatan lansia Kesehatan Dinas Kesehatan - Program upaya kesehatan masyarakat Kesehatan Dinas Kesehatan - Program kemitraan peningkatan pelayanan kesehatan Kesehatan Dinas Kesehatan - Program pengembangan lingkungan sehat Kesehatan Dinas Kesehatan - Program promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat Kesehatan Dinas Kesehatan 3 Meningkatnya implementasi nilai-nilai keagamaan, budaya dan kebangsaan Meningkatkan kegiatankegiatan keagamaan, kebudayaan dan kebangsaan terutama bagi generasi muda Mengintensifkan kegiatankegiatan keagamaan, kebudayaan dan kebangsaan terutama bagi generasi muda - Persentase organisasi antar dan intra umat beragama yang dibina 10% 100% 100% 100% - Program pembinaan dan pengembangan organisasi antar dan intra umat beragama Otoda, Pem. Umum, Adm. Keu. Daerah, Perangkat Daerah, Kepeg. & Persandian Sekretariat Daerah 182

214 No Sasaran Strategi Arah Kebijakan/ Indikator Capaian Kinerja Program Pembangunan Bidang Urusan SKPD Penanggung Kebijakan Umum Daerah Jawab (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) - Persentase organisasi kesenian dan budaya yang berperan aktif dalam pengemban gan seni dan budaya 4 Kegiatan 40 Kegiatan - Program pengembangan nilai budaya - Program pengelolaan keragaman budaya Kebudayaan Kebudayaan Dinas Kebudayaan & Pariwisata Dinas Kebudayaan & Pariwisata - Jumlah kegiatan pembinaan pendidikan wawasan kebangsaan - Program pengelolaan kekayaan budaya - Program pengembangan wawasan kebangsaan Kebudayaan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri Dinas Kebudayaan & Pariwisata Kantor Kesatuan Bangsa & Linmas 4 Meningkatnya keamanan dan ketertiban masyarakat Mengintensifkan sistem keamanan swakarsa Peningkatan keterlibatan warga dalam menjaga keamanan dan ketertiban lingkungannya Jumlah konflik sosial 2 Kasus 0 Kasus - Program peningkatan keamanan dan kenyamanan lingkungan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri Kantor Kesatuan Bangsa & Linmas - Program pemeliharaan kantrantibmas dan pencegahan tindak kriminal Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri Satuan Polisi Pamong Praja - Program pemberantasan penyakit masyarakat Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri Kantor Kesatuan Bangsa & Linmas 183

215 No Sasaran Strategi Arah Kebijakan/ Indikator Capaian Kinerja Program Pembangunan Bidang Urusan SKPD Penanggung Kebijakan Umum Daerah Jawab (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) 5 Membaiknya indeks pembangunan dan pemberdayaan gender Pengarus Utamaan Gender (PUG) Pembangunan yang responsif gender (kebijakan yang diarahkan pada upaya-upaya pembangunan yang memperhatikan aspirasi, kebutuhan dan pengalaman perempuan dan laki-laki yang diintegrasikan ke dalam perencanaan dan penganggaran yang responsif gender) - Indeks Pembanguna n Gender (IPG) - Indeks Pemberday aan Gender (IDG) 65,95 70,46 71,75 78,26 - Program peningkatan peran serta dan kesetaraan gender dalam pembangunan - Program penguatan kelembagaan pengarus utamaan gender dan anak - Program peningkatan kualitas hidup dan perlindungan hidup perempuan Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak Badan Koordinasi KB & Pemberdayaan Perempuan Badan Koordinasi KB & Pemberdayaan Perempuan Badan Koordinasi KB & Pemberdayaan Perempuan - Program pembinaan keluarga berencana Keluarga Berencana & Keluarga Sejahtera Badan Koordinasi KB & Pemberdayaan Perempuan - Program Pelayanan Kontrasepsi Keluarga Berencana & Keluarga Sejahtera Badan Koordinasi KB & Pemberdayaan Perempuan 184

216 Misi 2. Mengembangkan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Pengelolaan Sumber Daya Alam Secara Berkelanjutan No Sasaran Strategi Arah Kebijakan / Kebijakan Umum Indikator Capaian Kinerja Program Pembangunan Daerah Bidang urusan SKPD Penanggung Jawab (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) Mengembangkan Pertumbuhan 10,05% 11,12% - Program peningkatan Koperasi dan Dinas Koperasi, 1 Membaiknya kinerja perekonomian daerah Pemberdayaan badan usaha ekonomi desa melalui pengembangan ekonomi lokal Mengembangkan kerjasama antar pihak swasta dengan sektor UMKM dari hulu hingga hilir dan memberdayakan kelembagaan usaha ekonomi masyarakat Mengembangkan kemitraan antara pelaku usaha sektor UMKM dengan swasta ekonomi kualitas kelembagaan koperasi - Program peningkatan pengembangan lembaga ekonomi pedesaan - Program pengembangan kewirausahaan dan keunggulan kompetitif UKM UKM Pemberdayaan Masyarakat Desa Koperasi dan UKM UMKM Badan Pemberdayaan Masyarakat & Pemdes Dinas Koperasi, UMKM - Program pengembangan sistem pendukung usaha bagi UMKM Koperasi dan UKM Dinas Koperasi, UMKM 2 Berkembangnya usaha industri mikro, kecil dan menengah Meningkatkan dan memperluas pembinaan dan pendampingan kepada UMKM berbasis keaksaraan fungsional (Vokasional ) Peningkatan kegiatan pembinaan dan pendampingan UMKM dalam bentuk bantuan permodalan, manajemen usaha, peralatan dan keterampilan - Nilai produksi UMKM - Kontribusi industri pengolahan Rp. ( juta ) ,95% Rp. ( juta ) ,56% - Program peningkatan kemampuan teknologi industri - Program pembinaan pedagang kaki lima dan asongan Industri Perdagangan Dinas Perindustrian & Perdagangan Dinas Perindustrian & Perdagangan 185

217 No Sasaran Strategi 3 Berkembangnya pariwisata daerah 4 Meningkatnya aktifitas perdagangan, restoran, dan hotel 5 Membaiknya taraf hidup masyarakat Memperluas dan menata obyek -obyek wisata Meningkatkan dan memperluas usaha dan kegiatan perdagangan, restoran, dan hotel Memperluas akses penduduk terhadap kegiatan ekonomi Arah Kebijakan / Kebijakan Umum Peningkatan kerjasama dengan para pelaku usaha yang bergerak di sektor pariwisata Peningkatan intensitas promosi dan publikasi obyek - obyek wisata Pemberian kemudahan bagi para pelaku usaha perdagangan, restoran, dan hotel Perluasan dan pemerataan kegiatan ekonomi hingga ke perdesaan Mensinergikan kegiatan penanggulangan kemiskinan secara terpadu dan tepat sasaran Jumlah kunjungan wisata per tahun Kontribusi sektor perdagangan, restoran dan hotel Persentase penduduk miskin Indikator W isatawan Capaian Kinerja W isatawan - Program Pembangunan Daerah Program pengembangan destinasi pariwisata - Program pengembangan kemitraan - Program pengembangan pemasaran pariwisata 28,76% 30,12% - Program perlindungan konsumen dan pengamanan perdagangan - Program peningkatan efisiensi perdagangan dalam negeri 16,55% 10,92% - Program peningkatan kesejahteraan petani - Program pengembangan industri kecil menengah - Program pemberdayaan fakir miskin, komunitas adat terpencil (KAT) dan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) lainnya Bidang urusan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) Pariwisata Pariwisata Dinas Kebudayaan & Pariwisata Dinas Kebudayaan & Pariwisata Pariwisata Dinas Kebudayaan & Pariwisata Perdagangan Perdagangan Ketahanan Pangan Industri Sosial SKPD Penanggung Jawab Dinas Perindustrian & Perdagangan Dinas Perindustrian & Perdagangan BP 4KKP Dinas Perindustrian & Perdaganga n Dinas Sosial, Tenaga Kerja & Transmigrasi 186

218 No Sasaran Strategi Arah Kebijakan / Kebijakan Umum Indikator Capaian Kinerja Program Pembangunan Daerah Bidang urusan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) SKPD Penanggung Jawab - Program perencanaan pembangunan ekonomi Perencanaan Bappeda Pembangunan 6 Meningkatnya pendapatan masyarakat 7 Meningkatnya pemenuhan pangan bagi penduduk secara merata dan terjangkau 8 Meningkatnya keinginan masyarakat untuk bekerja dan berusaha Memperluas sumber -sumber pendapatan masyarakat dengan memperluas kesempatan kerja dan kesempatan berusaha Meningkatkan ketersediaan dan keterjangkauan pangan bagi masyarakat berbasis sumber daya lo kal Meningkatkan minat masyarakat, terutama penduduk usia kerja untuk bekerja dan berusaha Penganekaragaman produk olahan berbasis komoditi unggulan daerah Penyediaan pangan bagi penduduk khususnya daerah terpencil melalui pola pemberdayaan masyarakat Penyediaan dan penyebarluasan informasi mengenai potensi dan peluang kerja - Pendapatan (PDRB) perkapita - Pengeluaran perkapita riil Persentase pendududk yang rawan pangan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Rp Rp Rp Rp Program pelayanan dan rehabilitasi kesejahteraan so sial - Program peningkatan pemasaran hasil produksi pertanian / perkebunan - Program peningkatan pemasaran hasil produksi peternakan 16,55% 10,92% Program peningkatan ketahanan pangan (pertanian/ perkebunan) 69,6% 73,0 % Program peningkatan kesempatan kerja Sosial Pertanian Pertanian Ketahanan Pangan Dinas Sosial, Tenaga Kerja & Transmigrasi Dinas Pertanian & Peternakan Dinas Pertanian & Peternakan BP4KKP Ketenagakerjaan Dinas Sosial Tenaga Kerja & Transmigrasi

219 No Sasaran Strategi 9 Tersedianya lapangan kerja bagi pencari kerja baru Meningkatkan dan memperluas usaha-usaha ekonomi berbasis potensi sumber daya lokal Menciptakan iklim usaha dan investasi yang kondusif Arah Kebijakan / Kebijakan Umum Menciptakan lapangan kerja baru melalui pemberdayaan masyarakat dan ekonomi lokal Mengidentifikasi kebutuhan dan penyempurnaan regulasi yang mendukung iklim usaha dan investasi Menfasilitasi para investor dalam melakukan kegiatan penanaman modal Indikator Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Capaian Kinerja Program Pembangunan Daerah 2,14% 2,01% - Program peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja - Program peningkatan keberdayaan masyarakat perdesaan - Program pengembangan sentra-sentra industri potensial - Program pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir - Program penciptaan iklim usaha kecil menengah yang kondusif Bidang urusan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) Ketenagakerjaan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Industri Kelautan dan Perikanan Koperasi dan UMKM SKPD Penanggung Jawab Dinas Sosial Tenaga Kerja & Transmigrasi Badan Pemberdayaan Masyarakat & Pemdes Dinas Perindustrian & Perdagangan Dinas Kelautan & Perikanan/ BP4KKP Dinas Koperasi, UMKM - Program peningkatan promosi dan kerjasama investasi Penanaman Modal Bappeda/ Dinas Pendapatan & Perizinan 188

220 No Sasaran Strategi 10 Meningkatnya produksi dan mutu produk komoditi pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan unggulan daerah Meningkatkan produktivitas dan mutu pertanian, peternakan dan perikanan unggulan daerah Arah Kebijakan / Kebijakan Umum Intensifikasi dan ekstensifikasi pengelolaan lahan pertanian melalui peningkatan ketersediaan dan keterjangkauan sarana dan prasarana produktivitas hingga ke daerah terpencil dengan pola pemberdayaan masyarakat Peningkatan ketersediaan dan keterjangkauan sarana dan prasarana produktivitas sektor perkebunan hingga ke daerah terpencil dengan pola pemberdayaan masyarakat Intensifikasi dan ekstensifikasi komoditi peternakan berbasis pemberdayaan masyarakat melalui penyediaan sarana dan prasarana produktivitas hingga ke daerah terpencil Indikator - Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB (ADHK) - Jumlah produksi perikanan darat - Jumlah produksi perikanan laut 55,45% ,63 Capaian Kinerja Ton ,15 Ton 56,95% ,45 Ton ,62 Ton Program Pembangunan Daerah - Program peningkatan produksi pertanian / perkebunan - Program peningkatan penerapan teknologi pertanian / perkebunan - Program pen ingkatan sarana dan prasarana infrastruktur pertanian / perkebunan - Program pencegahan dan penanggulangan penyakit ternak - Program peningkatan produksi hasil peternakan - Program peningkatan penerapan teknologi peternakan - Program pengembangan kawasan budidaya laut, air payau, dan air tawar - Program pengembangan perikanan tangkap Bidang urusan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Pertanian Kelautan dan Perikanan Kelautan dan Perikanan SKPD Penanggung Jawab Dinas Pertanian & Peternakan / Dinas Kehutanan & Perkebunan Dinas Pertanian & Peternakan / Dinas Kehutanan & Perkebunan Dinas Pertanian & Peternakan / Dinas Kehutanan & Perkebunan Dinas Pertanian & Peternakan Dinas Pertanian & Peternakan Dinas Pertanian & Peternakan Dinas Kelautan & Perikanan Dinas Kelautan & Perikanan 189

221 No Sasaran Strategi Arah Kebijakan / Kebijakan Umum Indikator Capaian Kinerja Program Pembangunan Daerah Bidang urusan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) SKPD Penanggung Jawab Meningkatkan kualitas, kuantitas, sarana dan prasarana tenaga penyuluh Intensifikasi dan ekstensifikasi pengelolaan sumber daya perikanan laut melalui penyediaan sarana dan prasarana produktivitas Pengembangan lahan budidaya perikanan darat hingga ke daerah terpencil Peningkatan kinerja tenaga penyuluh pertanian, peternakan dan perikanan terhadap kelompok tani yang dibina - Program pengembangan budidaya perikanan - Program pemberdayaan penyuluh pertanian / perkebunan lapangan - Program pengembangan sistem penyuluh perikanan Kelautan dan Perikanan Ketahanan Pangan Kelautan dan Perikanan Dinas Kelautan & Perikanan / BP4KKP BP4KKP Dinas Kelautan & Perikanan / BP4KKP 190

222 No Sasaran Strategi 11 Terkendalinya luasan lahan pangan berkelanjutan guna mendukung Polewali Mandar sebagai lumbung pangan Sulawesi Barat Menjaga dan mempertahankan luasan lahan sawah potensial Arah Kebijakan / Kebijakan Umum 1. Pengendalian alih fungsi lahan terutama bagi lahan persawahan 2. Pencetakan lahan persawahan baru 3. Intensifikasi dan ekstensifikasi lahan persawahan dataran tinggi Indikator - Proporsi luas lahan persawahan terhadap luas wilayah - Kontribusi produksi padi Polewali Mandar terhadap Sulawesi Barat 8% 52,4% Capaian Kinerja % 53,0% Program Pembangunan Daerah - Program Peningkatan ketahanan pangan pertanian/ perkebunan - Program peningkatan sarana dan prasarana infrastruktur pertanian - Program peningkatan produksi pertanian/ perkebunan - Program peningkatan penerapan teknologi pertanian/perkebunan Bidang urusan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) Ketahanan Pangan Pertanian Pertanian Pertanian SKPD Penanggung Jawab BP4KKP Dinas Pertanian & Peternakan Dinas Pertanian & Peternakan Dinas Pertanian & Peternakan 12 Meningkatnya konservasi dan rehabilitasi hutan dan lahan kritis serta pemeliharaan keanekaragam an hayati Meningkatkan peran serta masyarakat dalam upaya konversi dan rehabilitasi hutan, mangrove dan lahan kritis Peningkatan keterlibatan masyarakat dalam konservasi dan rehabilitasi hutan dan lahan kritis Peningkatan keterlibatan masyarakat dalam upaya konservasi dan rehabilitasi mangrove - Proporsi luas hutan lindung terhadap luas kawasan hutan - Proporsi luas kawasan hutan mangrove 64% 76,86% 64% 77,00% - Program perlindungan dan konsevasi sumber daya hutan - Program rehabilitasi hutan dan lahan - Program pemberdayaan masyarakat dalam pengawasan dan pengendalian sumber daya kelautan Kehutanan Kehutanan Kelautan dan Perikanan Dinas Kehutanan & Perkebunan/ BP4KKP Dinas Kehutanan & Perkebunan/ BP4KKP Dinas Kelautan & Perikanan 191

223 No Sasaran Strategi 13 Meningkatnya pembinaan dan pengawasan usaha pertambangan Melaksanakan pembinaan dan pengawasan usaha pertambangan Arah Kebijakan / Kebijakan Umum 1. Meningkatkan pengelolaan usaha pertambangan Indikator Persentase Penambang yang memiliki izin yang memenuhi good Mining Practice Capaian Kinerja Program Pembangunan Daerah 40% 100% - Program pembinaan dan pengembangan geologi dan sumber daya mineral - Program pembinaan dan pengawasan bidang pertambangan Bidang urusan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) Energi dan Sumber Daya Mineral Energi dan Sumber daya Mineral SKPD Penanggung Jawab Dinas Pertambangan, Energi & Mineral Dinas Pertambangan, Energi & Mineral 14 Meningkatnya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup Meningkatkan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup Melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap pengelolaan lingkungan - Proporsi luas RTH terhadap luas kawasan perkotaan - Persentase kasus pengaduan lingkungan yang terselesaikan - Cakupan penghijauan/ penanaman vegetasi untuk produksi bio massa di wilayah rawan kerusakan tanah - Cakupan layanan informasi status kualitas air dan udara 21% 100% 30% 18,89% 30% 100% 50% 80% - Program pengelolaan ruang terbuka hijau - Program pengendalian pemanfaatan ruang - Program pengendalian pencemaran dan pengrusakan lingkungan hidup - Program rehabilitasi dan pemulihan cadangan SDA - Program perlindungan dan konservasi SDA - Program peningkatan pengendalian polusi Lingkungan Hidup Penataan Ruang Lingkungan hidup Lingkungan Hidup Lingkungan Hidup Lingkungan Hidup Badan Lingkungan Hidup/ Dinas Tata Ruang & Permukiman Dinas Tata Ruang & Permukiman Badan Lingkungan Hidup Badan Lingkungan Hidup Badan Lingkungan Hidup Badan Lingkungan Hidup 192

224 No Sasaran Strategi Arah Kebijakan / Kebijakan Umum Indikator Capaian Kinerja Program Pembangunan Daerah Bidang urusan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) SKPD Penanggung Jawab 15 Terwujudnya pengembangan wilayah yang terencana dan terkendali berbasis mitigasi bencana Melaksanakan dan mengendalikan pengembangan kawasan sesuai dengan rencana tata ruang Meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana 1. Penyusunan rencana rinci tata ruang kawasan strategis kabupaten 1. Peningkatan penanganan kawasan rawan bencana Persentase kawasan strategis yang ditetapkan melalui Perda Cakupan penanganan kawasan rawan bencana 16,67% 80% - Program perencanaan tata ruang 100% 100% - Program pencegahan dini dan penanggulangan korban bencana alam Penataan Ruang Otoda, Pem. Umum, Adm. Keu. Daerah, Perangkat Daerah, Kepeg. & Persandian Dinas Tata Ruang & Permukiman Badan Penaggulangan Bencana Daerah - Program peningkatan kesiapsiagaan dan pencegahan bahaya kebakaran Perumahan Dinas Tata Ruang & Permukiman - Program penanganan darurat bencana Otoda, Pem. Umum, Adm. Keu. Daerah, Perangkat Daerah, Kepeg. & Persandian Badan Penaggulangan Bencana Daerah - Program tanggap darurat Otoda, Pem. Badan bencana Umum, Adm. Penaggulangan Keu. Daerah, Bencana Daerah Perangkat Daerah, Kepeg. & Persandian - Program pembangunan turap/ talud/ bronjong Pekerjaan Umum Dinas Pekerjaan Umum 193

225 Misi 3. Meningkatkan Infrastruktur Guna Mendorong Daya Saing Daerah No Sasaran Strategi Arah Kebijakan / Kebijakan Umum Indiakator Kinerja Capaian Kinerja Program Pembangunan Daerah Bidang Urusan SKPD Penanggung Jawab (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) 51 Km 137,20 Km 1 Meningkatnya kuantitas dan kualitas jaringan jalan dan jembatan kabupaten 2 Meningkatnya ketersediaan infrastruktur irigasi dan sumber daya air lainnya Meningkatkan kondisi jaringan jalan dan jembatan Meningkatkan infrastruktur irigasi dan sumberdaya air lainnya Pengembangan jaringan jalan dan jembatan Mewujudkan pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi partisipatif - Panjang jalan kabupaten dalam kondisi baik - Panjang jalan kabupaten dalam kondisi sedang - Persentase jalan desa dalam kondisi baik - Jumlah jembatan dalam kondisi baik Rasio jaringan irigasi dengan luas lahan sawah 50 Km 20% 53 Unit 250 Km 50% 71 Unit - Program pembangunan jalan dan jembatan - Program rehabilitasi/ pemeliharaan jalan dan jembatan - Program inspeksi kondisi jalan dan jembatan - Program pengembangan wilayah strategis dan cepat tumbuh 74,14% 75,42% - Program pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi dan infrastruktur sumber daya air lainnya Pekerjaan Umum Pekerjaan Umum Pekerjaan Umum Pekerjaan Umum Pekerjaan Umum Dinas Pekerjaan Umum Dinas Pekerjaan Umum Dinas Pekerjaan Umum Dinas Pekerjaan Umum Dinas Pekerjaan Umum 3 Meningkatnya sarana dan prasarana transportasi Meningkatkan sarana dan prasarana transportasi Pengembangan sarana dan prasarana transportasi darat, laut dan penyeberangan - Persentase ketersediaan sarana dan prasarana transportasi 25% 100% - Program pembangunan prasarana dan fasilitas perhubungan - Program pembangunan sarana dan prasarana perhubungan Perhubungan Perhubungan Dinas Perhubungan, Kominfo Dinas Perhubungan, Kominfo 194

226 No Sasaran Strategi Arah Kebijakan / Kebijakan Umum Indiakator Kinerja Capaian Kinerja Program Pembangunan Daerah Bidang Urusan SKPD Penanggung Jawab (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) - Persentase ketersediaan sarana dan prasarana keselamatan trasnportasi darat 60% 90% - Program rehabilitasi dan pemeliharaan prasarana dan fasilitas LLAJ - Program peningkatan pelayanan angkutan Perhubungan Dinas Perhubungan, Kominfo Perhubungan Dinas Perhubungan, Kominfo 4 Meningkatnya pelayanan akses informasi Meningkatkan layanan akses informasi Peningkatan kapasitas media layanan akses informasi Cakupan layanan akses informasi 19% 100% - Program pengembangan komunikasi, informasi dan media massa Komunikasi dan Informatika Dinas Perhubungan, Kominfo - Program kerja sama informasi dengan mass media Komunikasi dan Informatika Sekretariat Daerah/ Dinas Perhubungan, Kominfo 5 Meningkatnya kualitas lingkungan permukiman 6 Meningkatnya kualitas rumah tidak layak huni Meningkatkan kualitas lingkungan permukiman kumuh Meningkatkan kualitas rumah tidak layak huni Peningkatan kualitas lingkungan permukiman kumuh Peningkatan kualitas rumah tidak layak huni Luas kawasan kumuh Jumlah rumah tidak layak huni yang tertangani 40 Ha 20 Ha Program pembangunan saluran drainase/ gorong-gorong 400 Unit Unit Program pengembangan perumahan Pekerjaan Umum Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Dinas Tata Ruang & Permukiman 195

227 No Sasaran Strategi Arah Kebijakan / Kebijakan Umum Indiakator Kinerja Capaian Kinerja Program Pembangunan Daerah Bidang Urusan SKPD Penanggung Jawab (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) 7 Meningkatnya cakupan layanan air minum 8 Meningkatnya cakupan layanan persampahan 9 Meningkatnya akses penduduk terhadap ketenagalistrikan Meningkatkan cakupan layanan air minum perpipaan Meningkatkan cakupan layanan persampahan Membangun dan mengembangkan infrastruktur ketenagalistrikan Peningkatan cakupan layanan air minum perpipaan Peningkatan cakupan layanan persampahan Penyediaan tenaga listrik dan energi di wilayah-wilayah terpencil Cakupan layanan air minum perpipaan Persentase layanan sampah 55% 75% Program pengembangan infrastruktur perdesaan 35% 55% Program pengembangan kinerja pengelolaan Pekerjaan Umum Lingkungan Hidup Dinas Pekerjaan Umum Dinas Tata Ruang & Permukiman/ terangkut ke TPA persampahan Badan Lingkungan Hidup Rasio elektrifiksi 82% 100% Program pembinaan dan pengembangan ketenagalistrikan dan energi Energi dan Sumber daya mineral Dinas Pertambangan, Energi & Mineral 196

228 Misi 4. Mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik dan Bersih Serta Menyediakan Pelayanan Publik yang Berkualitas No Sasaran Strategi Arah Kebijakan / Kebijakan Umum Indikator Capaian Kinerja Program Pembangunan Daerah Bidang urusan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) - Predikat LAKIP CC B 1 Meningkatnya kualitas manajemen pemerintahan daerah Meningkatkan kinerja dan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan daerah Peningkatan kualitas dan ketepatan waktu penyusunan laporan kinerja dan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan daerah Peningkatan pengawasan kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah - Peringkat LPPD - Opini pengelolaan keuangan daerah 100 WDP 70 WTP - Program penguatan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah - Program penguatan reformasi birokrasi - Program peningkatan dan pengembangan pengelolaan keuangan daerah Otoda, Pem. Umum, Adm. Keu. Daerah, Perangkat Daerah, Kepeg. & Persandian Otoda, Pem. Umum, Adm. Keu. Daerah, Perangkat Daerah, Kepeg. & Persandian Otoda, Pem. Umum, Adm. Keu. Daerah, Perangkat Daerah, Kepeg. & Persandian SKPD Penanggung Jawab Sekretariat Daerah Sekretariat Daerah Sekretariat Daerah/ Dinas Pendapatan & Perizinan - Program peningkatan tertib pengelolaan keuangan dan aset daerah Otoda, Pem. Umum, Adm. Keu. Daerah, Perangkat Daerah, Kepeg. & Persandian Sekretariat Daerah - Program peningkatan sistem pengawasan internal dan pengendalian pelaksanaan kebijakan KDH Otoda, Pem. Umum, Adm. Keu. Daerah, Perangkat Daerah, Kepeg. & Persandian Sekretariat Daerah/ Inspektorat - Program penataan dan penyempurnaan kebijakan sistem dan prosedur pengawasan Otoda, Pem. Umum, Adm. Keu. Daerah, Perangkat Daerah, Kepeg. & Persandian Sekretariat Daerah/ Inspektorat 197

229 No Sasaran Strategi 2 Meningkatnya kualitas perencanaan pembangunan daerah dan pengelolaan data Mewujudkan perencanaan yang berkualitas dan akuntabel Mewujudkan integrasi data melalui pengelolaan satu data pembangunan Arah Kebijakan / Kebijakan Umum Peningkatan partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan daerah yang berkualitas Peningkatan pengendalian dan evaluasi pembangunan sebagai umpan balik bagi perencanaan Mewujudkan pengelolaan data yang akurat, relevan dan terkini dengan membangun koneksi data SKPD untuk mendukung proses perencanan pembangunan daerah Indikator - Persentase usulan masyarakat melalui musrenbang yang diakomodir dalam dokumen perencanaan pembangunan - Persentase data SKPD yang terintegrasi. Capaian Kinerja % 40% - Program perencanaan pembangunan daerah 50% 100% Program Pembangunan Daerah - Program peningkatan kapasitas kelembagaan perencanaan pembangunan daerah - Program perencanaan pembangunan ekonomi - Program perencanaan sosial budaya - Program perencanaan prasarana wilayah dan sumber daya alam Bidang urusan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) Perencanaan Pembangunan Perencanaan pembangunan Perencanaan pembangunan Perencanaan pembangunan Perencanaan pembangunan SKPD Penanggung Jawab Bappeda Bappeda Bappeda Bappeda Bappeda - Program pengembangan data/ informasi Perencanaan pembangunan Bappeda - Program Statistk Bappeda pengembangan data/ informasi/ statistik daerah 198

230 No Sasaran Strategi 3 Meningkatnya kualitas dan profesionalisme SDM aparatur Meningkatkan kompetensi SDM dalam berbagai bidang sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya Arah Kebijakan / Kebijakan Umum Pengembangan pendidikan formal dan pelatihan keterampilan Indikator Proporsi pemenuhan kompetensi SDM aparatur yang memenuhi standar kompetensi Capaian Kinerja Program Pembangunan Daerah 30% 70% - Program peningkatan kapasitas sumber daya aparatur - Program Pembinaan dan Pengembangan Aparatur Bidang urusan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) Otoda Pemerin. Umum, Adm. Keu. Daerah, Perangkat Daerah, Kepeg. & Persandian Otoda Pemerin. Umum, Adm. Keu. Daerah, Perangkat Daerah, Kepeg. & Persandian SKPD Penanggung Jawab BKDD/ Seluruh SKPD BKDD - Program peningkatan kapasitas lembaga perwakilan rakyat daerah Otoda Pemerin. Umum, Adm. Keu. Daerah, Perangkat Daerah, Kepeg. & Persandian Sekretariat DPRD 4 Terwujudnya tertib administrasi kependudukan 5 Meningkatnya kualitas layanan perizinan Mengembangkan dan menata sistem administrasi kependudukan Meningkatkan kualitas administrasi pelayanan pemerintah melalui penataan proses layanan Pengembangan perangkat keras dan lunak administrasi kependudukan Pengembangan sistem Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Proporsi penduduk yang telah memiliki dokumen kependudukan dan pencatatan sipil Lama waktu penyelesaian perizinan - Program peningkatan pelayanan kedinasan kepala daerah/ wakil kepala daerah 90,83% Program penataan administrasi kependudukan 3 Hari Kerja 1 Hari Kerja Program peningkatan dan promosi kerjasama investasi Otoda Pemerin. Umum, Adm. Keu. Daerah, Perangkat Daerah, Kepeg. & Persandian Kependudukan dan Catatan Sipi Sekretariat Daerah Dinas Kependudukan & Catatan Sipil Penanaman Modal Dinas Pendapatan & Perizinan 199

231 No Sasaran Strategi 6 Terwujudnya layanan pemerintahan yang efisien, efektif, dan transparan Meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pemerintahan Arah Kebijakan / Kebijakan Umum Pengembangan standar pelayanan publik dan pelayanan administrasi terpadu kecamatan Peningkatan sarana dan prasarana pemerintahan Indikator Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) Persentase sarana dan prasarana pemerintahan dalam kondisi baik Capaian Kinerja Program Pembangunan Daerah 50% 70% Program peningkatan kualitas pelayanan publik 54% 73% Program peningkatan sarana dan prasarana pemerintahan Bidang urusan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) Otoda Pemerin. Umum, Adm. Keu. Daerah, Perangkat Daerah, Kepeg. & Persandian SKPD Penanggung Jawab Sekretariat Daerah Pekerjaan Umum Dinas Pekerjaan Umum 200

232

233 BAB VIII INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS YANG DISERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN lndikasi rencana program prioritas di dalam RPJMD Kabupaten Polewali Mandar tahun berisi program-program baik untuk mencapai visi dan misi pembangunan jangka menengah maupun untuk pemenuhan layanan SKPD dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah. Adapun pagu indikatif sebagai wujud kebutuhan pendanaan adalah jumlah dana yang tersedia untuk penyusunan program dan kegiatan tahunan. Program-program prioritas yang telah disertai kebutuhan pendanaan atau pagu indikatif selanjutnya dijadikan sebagai acuan bagi SKPD dalam penyusunan Rencana Strategis SKPD, termasuk dalam menjabarkannya ke dalam kegiatan prioritas beserta kebutuhan pendanaannya. Pencapaian target kinerja program (outcomes) di masing-masing urusan sesungguhnya tidak hanya didukung oleh pendanaan yang bersumber dari APBD Kabupaten Polewali Mandar namun juga dari sumber pendanaan lainnya (APBN, APBD Provinsi, dan sumber-sumber pendanaan lainnya). Namun demikian, pencantuman pendanaan di dalam Gambar 8.1 hanya yang bersumber dari APBD Kabupaten Polewali Mandar. Gambar 8.1 Indikasi Rencana Program Prioritas RPJMD BAB VII BAB VIII Program-program untuk mencapai visi-misi pembangunan jangka menengah INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS Target Kinerja Program (Outcomes) APBN APBD PROVINSI Sumber Lainnya APBD Kab. Polewali Mandar Kinerja Program (Outcomes) Program-program untuk pemenuhan layanan SKPD dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah Perumusan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan dilakukan berdasarkan kompilasi hasil verifikasi terhadap rencana program, kegiatan, indikator kinerja, kelompok sasaran dan pendanaan indikatif dari setiap rancangan Renstra SKPD. Seluruh rencana program tersebut diklasifikasikan berdasarkan urusan pemerintahan dan dan disertai dengan kerangka pendanaan yang dirinci per tahun selama rentang waktu lima tahun ke depan. Program-program dimaksud selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut ini : 202

234 Tabel 8.1 Indikasi Rencana Program Prioritas yang Disertai dengan Kebutuhan Pendanaan No. Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan Indikator Kinerja Program Kondisi Awal RPJMD (Tahun 2013) Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2018 Kondisi Kinerja Pada Akhir Periode RPJMD Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp SKPD Penanggung Jawab (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) BELANJA TIDAK LANGSUNG 546,864,443, ,631,101, ,530,218, ,096,561, ,971,702,382 3,365,094,027,510 Semua SKPD BELANJA LANGSUNG 306,977,132, ,000,000, ,183,681, ,602,049, ,267,452,295 1,839,030,315, ,977,132, ,000,000, ,183,681, ,602,049, ,267,452,295 1 URUSAN WAJIB 275,423,225, ,017,129, ,048,106, ,952,917, ,332,171,857 1,658,773,551, PENDIDIKAN 43,154,468,000 45,436,831,125 47,681,694,246 52,449,863,670 57,121,682, ,844,539,343 Cakupan pelayanan administrasi Dinas Pendidikan Pemuda Program Pelayanan Administrasi Perkantoran 100% 100% 824,371, % 844,980, % 866,104, % 952,715, % 1,000,351, % 4,488,522,340 perkantoran secara tepat waktu & Olahraga Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Cakupan pelayanan sarana dan Dinas Pendidikan Pemuda % 100% 156,010, % 159,910, % 163,908, % 180,298, % 189,313, % 849,440,810 Aparatur prasarana aparatur & Olahraga Persentase sumber daya Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Dinas Pendidikan Pemuda % 100% 39,327, % 40,310, % 41,317, % 45,449, % 47,722, % 214,127,035 aparatur yang memiliki Aparatur & Olahraga kompetensi sesuai bidangnya Program Peningkatan Pengembangan Sistem Tingkat ketepatan menyerahkan Dinas Pendidikan Pemuda % 100% 33,109, % 33,936, % 34,785, % 38,263, % 40,176, % 180,271,366 Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan laporan kinerja dan keuangan & Olahraga!PS anak usia dini menjadi? 67 Dinas Pendidikan Pemuda Program Pendidikan Anak Usia Dini 46,20% 50,32% 8,202,796,300 57,45% 8,612,936,115 63,45% 9,043,582,921 69,70% 9,947,941,213 75,45% 10,843,255,922 75,45% 46,650,512,471 & Olahraga APM SD/MI 93,4 % 92,05% 92,50% 92,60% 92,70% 93,1% 93,40% 93,40% Angka Putus Sekolah SD/MI 0,87% 0,87% 0,85% 0,80% 0,75% 0,70% 0,70% Dinas Pendidikan Pemuda Program Wajib Belajar Dasar Sembilan Tahun 13,625,978,500 14,307,277,425 15,022,641,296 16,524,905,426 18,012,146,914 77,492,949,561 APM SMP/MTS 61,90% 61,95% 62% 62,5% 63,50% 64,5% 64,5% & Olahraga Angka Putus Sekolah SMP/MTs 0,65% 0,65% 0,60% 0,55% 0,50% 0,45% 0,45% Angka kelulusan SMP/MTs 94,44% 94,05% 94,06% 94,07% 95% 96% 96% Angka butu huruf 14% 12% 10% 8% 6% 5% 5% Dinas Pendidikan Pemuda Program Pendidikan Non-Formal Persentase kelulusan paket A,B 1,795,599,500 2,036,339,625 2,138,156,606 2,351,972,267 2,563,649,771 10,885,717,769 80% 85% 85% 90% 90% 90% 90% & Olahraga dan C Persentase guru yang berijazah 62% 62,5% 62,6% 62,7% 62,8% 62,9% 62,9% Program Peningkatan Mutu Pendidik dan S1 Dinas Pendidikan Pemuda ,446, ,268, ,732, ,005, ,995,987 1,458,449,071 Tenaga Kependidikan Jumlah tenaga pendidik & Olahraga 1953 orang 2381 orang orang orang orang profesionalisme (sertifikasi) orang orang Angka Partisipasi Murni Sekolah 79,81% 79,83% 79,85% 79,90% 79,95% 80% 80% Menengah Dinas Pendidikan Pemuda Program Pendidikan Menengah Persentase Anak Putus Sekolah 17,884,180,200 18,778,389,210 19,717,308,671 21,689,039,538 23,641,053, ,709,970,714 0,20% 0.19% 0,18% 0,17% 0,16% 0,15% 0,15% & Olahraga SMA/SMK Angka kelulusan SMP/MTs 95% 95% 96% 97% 98% 99% 99% Persentase Standar Pelayanan 80% 80% 85% 90% 100% 100% 100% Minimal (SPM) Dinas Pendidikan Pemuda Program Manajemen Pelayanan Pendidikan SD 61% SD 61% 336,650,000 SD 62% 353,482,500 SD 63% 371,156,625 SD 65% 408,272,288 SD 65% 445,016,793 SD 65% 1,914,578,206 Persentase sekolah yang & Olahraga SMP 23% SMP 25% SMP 26% SMP 27% SMP 30% SMP 30% SMP 30% terakreditasi B SMA 36% SMA 37% SMA 38% SMA 39% SMA 40% SMA 40% SMA 40% 1 02 KESEHATAN 34,909,562,087 42,604,353,099 53,995,940,250 64,521,860,031 72,160,494, ,192,209, % 100% 676,195, % 693,099, % 710,427, % 781,470, % 820,543, % 3,681,735,970 Dinas Kesehatan Cakupan pelayanan administrasi Program Pelayanan Administrasi Perkantoran perkantoran secara tepat waktu Rumah Sakit Umum 100% 100% 1,657,471, % 1,698,908, % 1,741,381, % 1,915,519, % 2,011,295, % 9,024,577,103 Daerah Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Cakupan pelayanan sarana dan 100% 100% 688,500, % 705,712, % 723,355, % 795,690, % 835,475, % 3,748,734,042 Dinas Kesehatan Aparatur prasarana aparatur Rumah Sakit Umum 100% 100% 2,617,798, % 1,262,960, % 1,294,534, % 1,423,987, % 1,495,186, % 8,094,466,170 Daerah Tingkat disiplin aparatur yang 100% 100% 30,000, % 30,750, % 31,518, % 34,670, % 36,404, % 163,343,531 Dinas Kesehatan Program Peningkatan Disipiln Aparatur menggunakan pakaian dinas dan Rumah Sakit Umum pakaian hari tertentu 100% 100% 72,600, % 74,415, % 76,275, % 83,902, % 88,098, % 395,291,346 Daerah 100% 100% 346,656, % 355,322, % 364,205, % 400,626, % 420,657, % 1,887,467,172 Dinas Kesehatan Persentase sumberdaya aparatur Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya yang memiliki kompetensi sesuai Aparatur Rumah Sakit Umum bidangnya 100% 100% 500,000, % 512,500, % 525,312, % 577,843, % 606,735, % 2,722,392,188 Daerah % 203

235 Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Kondisi Awal Bidang Urusan Pemerintahan dan Program No. Indikator Kinerja Program RPJMD SKPD Penanggung Jawab Prioritas Pembangunan Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017 (Tahun 2013) Tahun 2018 Kondisi Kinerja Pada Akhir Periode RPJMD Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp 100% 100% 94,954, % 97,328, % 99,761, % 109,737, % 115,224, % 517,006,778 Dinas Kesehatan Program Peningkatan Pengembangan Sistem Tingkat ketepatan menyerahkan Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan laporan kinerja dan keuangan Rumah Sakit Umum 100% 100% 39,823, % 40,819, % 41,839, % 46,023, % 48,324, % 216,830,371 Daerah Persentase layanan obat dan Program Pengawasan Obat dan Makanan 95% 95% 31,567,000 95% 33,145,350 95% 50,000,000 95% 55,000, % 59,950, % 229,662,350 Dinas Kesehatan makanan yang memenuhi syarat Persentase pelayanan kesehatan yang distandarisasi terhadap 25% 30% 18,702,000 30% 19,637,100 35% 35,000,000 40% 38,500,000 45% 41,965,000 50% 153,804,100 Dinas Kesehatan Program Standarisasi Pelayanan Kesehatan seluruh pelayanan kesehatan Persentase dokumen standar Rumah Sakit Umum - 100% 166,668, % 175,001, % 183,751, % 202,126, % 220,318, % 947,865,500 kesehatan yang disusun Daerah Program Pengadaan Obat dan Perbekalan Persentase ketersediaan obat % 95% 2,454,359, % 2,572,077, % 2,700,681, % 2,970,749, % 3,238,116, % 13,935,984,740 Dinas Kesehatan Kesehatan terhadap kebutuhan obat Mengendalikan angka kesakitan sampai di bawah 15% dari 15% 20% 3,048,226,240 16% 3,195,045,190 15% 3,354,797,450 15% 3,690,277,194 15% 4,022,402,142 15% 17,310,748,216 Dinas Kesehatan Program Upaya Kesehatan Masyarakat jumlah penduduk Persentase tenaga kesehatan Rumah Sakit Umum 100% 100% 5,780,675, % 5,780,675,000 yang mendapat jasa pelayanan Daerah Program Promosi Kesehatan dan Persentase PHBS rumah tangga 45% 45% 460,905,000 50% 483,950,250 55% 508,147,763 60% 558,962,539 65% 609,269,167 65% 2,621,234,718 Dinas Kesehatan Pemberdayaan Masyarakat Persentase kenaikan berat Program Perbaikan Gizi Masyarakat badan anak balita sampai 43% 45% 1,208,289,500 50% 1,262,703,975 60% 1,325,839,174 65% 1,458,423,091 80% 1,589,681,169 80% 6,844,936,909 Dinas Kesehatan dengan di atas 80% Persentase ODF sampai diatas Program Pengembangan Lingkungan Sehat 65% 65% 113,429,000 70% 119,100,450 75% 125,055,473 80% 137,561,020 85% 149,941,512 85% 645,087,454 Dinas Kesehatan 60% Cakupan penjaringan kasus Program Pencegahan dan Penanggulangan penyakit menular sampai diatas 25% 25% 810,570,700 45% 851,099,235 65% 893,654,197 75% 983,019,616 85% 1,071,491,382 85% 4,609,835,130 Dinas Kesehatan Penyakit Menular 80% Program Pengadaan, Peningkatan Perbaikan Rasio poskesdes/ pustu Sarana dan Prasarana PKM, Pustu dan 1 : : ,436,007,247 1 : ,642,807,609 1 : ,874,947,990 1 : ,362,442,789 1 : ,845,062,640 1 : ,161,268,275 Dinas Kesehatan terhadap jumlah penduduk Jaringannya Program Peningkatan Keselamatan Ibu Penurunan kematian ibu per ,160, ,068, ,000, ,000, ,700, ,272,928,000 Dinas Kesehatan Melahirkan dan Anak Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Penurunan angka kematian bayi ,505, ,930, ,626, ,589, ,432, ,083,939 Dinas Kesehatan Anak Balita per 1000 kelahiran hidup Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Penurunan angka kesakitan usia % 45% 22,925,000 50% 24,071,250 65% 50,000,000 75% 55,000,000 85% 59,950,000 85% 211,946,250 Dinas Kesehatan Lansia lanjut (< 20%) Jumlah fasilitasi kesehatan Program Kemitraan Peningkatan Pelayanan (Puskesmas) dengan pelayanan 87% 90% 121,704,000 90% 127,789,200 95% 134,178,660 95% 147,596,526 96% 160,880,213 96% 692,148,599 Dinas Kesehatan Kesehatan JKN standar Persentase sanitasi TTU,TPM Program Pengawasan dan Pengendalian yang direkomendasikan 75% % 25,000,000 77% 40,000,000 77% 44,000,000 80% 47,960,000 80% 156,960,000 Dinas Kesehatan Kesehatan Makanan memenuhi syarat Program Pengadaan, Peningkatan Sarana dan Tingkat pemenuhan sarana dan Rumah Sakit Umum % 100% 9,099,870, % 3,342,110, % 4,509,215, % 4,960,137, % 5,406,549, % 27,317,883,925 Prasarana Rumah Sakit/ Rumah Sakit Jiwa/ prasarana RSUD Daerah Rumah Sakit Paru-Paru/ Runah Sakit Mata Program Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Cakupan pemeliharaan sarana Rumah Sakit Umum % 100% 165,000, % 165,000,000 Rumah Sakit/ Rumah Sakit Jiwa/ Rumah Sakit dan prasarana RSUD Daerah Paru-Paru/ Rumah Sakit Mata Program Pelayanan Kesehatan Badan Layanan Persentase layanan jaminan Rumah Sakit Umum % 20,000,000, % 29,182,432, % 37,227,001, % 42,655,877, % 129,065,312,003 Umum Daerah kesehatan Daerah 1 03 PEKERJAAN UMUM 86,607,507,000 90,937,882,350 97,421,798, ,413,978, ,291,765, ,672,931,593 Cakupan pelayanan administrasi Program Pelayanan Administrasi Perkantoran 100% 100% 610,402, % 625,662, % 641,303, % 705,433, % 740,705, % 3,323,507,272 Dinas Pekerjaan Umum perkantoran secara tepat waktu Cakupan pelayanan sarana dan 100% 100% 100% 666,810, % 683,480, % 751,828, % 789,419, % Program Peningkatan Sarana dan Prasarana prasarana aparatur ,358,825,000 15,250,363,214 Dinas Pekerjaan Umum Aparatur Persentase sarana dan prasarana pemerintahan dalam Kondisi 45% 5% % baik Tingkat disiplin aparatur yang Program Peningkatan Disipiln Aparatur menggunakan pakaian dinas dan 100% 100% 42,000, % 43,050, % 44,126, % 48,538, % 50,965, % 228,680,944 Dinas Pekerjaan Umum pakaian hari tertentu 204

236 No. Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan Indikator Kinerja Program Kondisi Awal RPJMD (Tahun 2013) Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2018 Kondisi Kinerja Pada Akhir Periode RPJMD Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp SKPD Penanggung Jawab (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) Persentase sumber daya Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya aparatur yang memiliki 100% 100% 47,360, % 48,544, % 49,757, % 54,733, % 57,470, % 257,864,988 Dinas Pekerjaan Umum Aparatur kompetensi sesuai bidangnya Program Peningkatan Pengembangan Sistem Tingkat ketepatan menyerahkan % 100% 44,349, % 45,457, % 46,594, % 51,253, % 53,816, % 241,470,742 Dinas Pekerjaan Umum Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan laporan kinerja dan keuangan Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Persentase pemenuhan sarana % 100% 376,462, % 330,000, % 346,500, % 381,150, % 415,453, % 1,849,565,500 Dinas Pekerjaan Umum Kebinamargaan dan prasarana kebinamargaan Program Pembangunan Jalan dan Jembatan Panjang jalan kabupaten - - 1,320,000,000 2,500,000,000 2,500,000,000 1,000,000, ,320,000,000 Dinas Pekerjaan Umum Meter Meter Meter Meter Meter 0 Meter Persentase drainase dalam Program Pembangunan Saluran Drainase/ kondisi baik, data base kondisi 41% 0,27% 1,844,700,000 0,27% 2,000,000,000 0,27% 2,200,000,000 0,27% 2,420,000,000 0,27% 2,637,800, % 11,102,500,000 Dinas Pekerjaan Umum Gorong-Gorong drainase Persentase pemasangan turap/ Program Pembangunan Turap/ Talud / talud/ bronjong pada bantaran 9,89% 11% 1,979,020,000 13% 3,450,000,000 15% 3,622,500,000 17% 3,984,750,000 19% 4,343,377,500 75% 17,379,647,500 Dinas Pekerjaan Umum Bronjong sungai Panjang jalan dan jembatan Program Rehabilitasi/ Pemeliharaan Jalan yang ditingkatkan kondisinya 17,047,681,000 42,624,000,000 45,000,000,000 45,000,000,000 49,500,000, ,171,681,000 Dinas Pekerjaan Umum dan Jembatan Meter Meter Meter Meter Meter Meter Meter (rusak menjadi baik) Persentase ketersediaan data base kondisi jalan dan jembatan 100% 100% 100% 210,000, % 220,500, % 242,550, % 264,379, % 1,500,129, Program Inspeksi Kondisi Jalan dan Jembatan kabupaten yang akurat 562,700,000 Dinas Pekerjaan Umum Cakupan pelaksanaan inspeksi kondisi jalan dan jembatan 100% 100% Program Pengembangan dan Pengelolaan Persentase pengelolaan jaringan Jaringan Irigasi, Rawa dan Jaringan Pengairan irigasi, dan infrastruktur sumber 64% 6% 8,419,738,000 7% 6,855,000,000 7% 7,197,750,000 8% 7,917,525,000 8% 8,630,102,250 36% 39,020,115,250 Dinas Pekerjaan Umum Lainnya daya air lainnya Program Pembangunan Infrastruktur Persentase wilayah yang % 1.20% 30,848,174,000 4% 11,638,711,225 3% 12,220,646,786 3% 13,442,711,465 4% 14,652,555, % 82,802,798,973 Dinas Pekerjaan Umum Pedesaan terlayani air minum perpipaan Panjang jalan dan jembatan Program Pengembangan Wilayah Strategis ,335,016,000 13,236,800, Meter 13,898,640, Meter 15,288,504,000 kawasan strategis dan cepat 16,664,469,360 71,423,429,360 Dinas Pekerjaan Umum dan Cepat Tumbuh Meter Meter Meter Meter Meter tumbuh Persentase sarana dan prasarana Program Peningkatan Sarana dan Prasarana % - - 7% 7,718,847,350 8% 8,500,000,000 8% 9,350,000,000 7% 10,191,500,000 30% 35,760,347,350 pemerintahan dalam Kondisi Dinas Pekerjaan Umum Pemerintahan baik Program Pengembangan, Pengelolaan dan Persentase pengelolaan dan Konversi Sungai, Danau dan Sumber Daya Air konservasi sungai, danau dan 45% 5% 91,080,000 7% 125,000,000 8% 250,000,000 8% 275,000,000 7% 299,750,000 35% 1,040,830,000 Dinas Pekerjaan Umum Lainnya sumber daya air lainnya 1 04 PERUMAHAN 8,792,895,000 9,030,775,700 9,482,314,485 10,430,545,934 11,369,295,068 49,105,826,186 Cakupan wilayah lingkungan dan Program Pengembangan Perumahan kawasan permukiman yang Kecamatan sehat dan layak huni Program Peningkatan Kesiagaan dan Cakupan wilayah kesiagaan dan Pencegahan Bahaya Kebakaran pencegahan bahaya kebakaran Cakupan lahan pemakaman Program Pengelolaaan Areal Pemakaman umum milik pemerintah yang dikelola Kecamata 7,614,505,000 Kecamatan 13 7,793,466,200 8 Kecamatan 8,183,139,510 8 Kecamatan 9,001,453,461 Kecamata 9,811,584,272 Kecamata Dinas Tata Ruang & 42,404,148,443 Permukiman Dinas Tata Ruang & Kecamata 1,166,165,000 1,224,473,250 1,285,696,913 1,414,266,604 Kecamata 1,541,550,598 Kecamata 6,632,152,364 Kecamatan Kecamatan Kecamatan Kecamatan Permukiman Dinas Tata Ruang & 1 Lokasi 1 Lokasi 12,225,000 3 Lokasi 12,836,250 5 Lokasi 13,478,063 5 Lokasi 14,825,869 5 Lokasi 16,160,197 7 Lokasi 69,525,378 Permukiman 1 05 PENATAAN RUANG 653,360, ,792,050 1,210,525,865 1,331,578,452 1,430,393,471 5,513,649,838 Cakupan pelayanan administrasi Dinas Tata Ruang & Program Pelayanan Administrasi Perkantoran 100% 100% 279,622, % 286,612, % 293,777, % 323,155, % 339,313, % 1,522,481, perkantoran secara tepat waktu Permukiman Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Cakupan pelayanan sarana dan Dinas Tata Ruang & % 100% 103,776, % 106,370, % 109,029, % 119,932, % 125,929, % 565,037,943 Aparatur prasarana aparatur Permukiman Tingkat disiplin aparatur yang Dinas Tata Ruang & Program Peningkatan Disipiln Aparatur menggunakan pakaian dinas dan 100% 100% 18,300, % 18,757, % 19,226, % 21,149, % 22,206, % 99,639,554 Permukiman pakaian hari tertentu Persentase sumber daya Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Dinas Tata Ruang & aparatur yang memiliki 100% 100% 31,000, % 31,775, % 32,569, % 35,826, % 37,617, % 168,788,316 Aparatur Permukiman kompetensi sesuai bidangnya Program Peningkatan Pengembangan Sistem Tingkat ketepatan menyerahkan Dinas Tata Ruang & % 100% 22,162, % 22,716, % 23,283, % 25,612, % 26,892, % 120,667,311 Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan laporan kinerja dan keuangan Permukiman 4 n n 8 8 n n n n 205

237 No. Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan Indikator Kinerja Program Kondisi Awal RPJMD (Tahun 2013) Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2018 Kondisi Kinerja Pada Akhir Periode RPJMD Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp SKPD Penanggung Jawab (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) Persentase ketersediaan Dinas Tata Ruang & Program Perencanaan Tata Ruang 100% 100% 35,109, % 200,000, % 500,000, % 550,000, % 599,500, % 1,884,609,000 dokumen rencana tata ruang Permukiman Cakupan wilayah pemanfaatan Dinas Tata Ruang & Program Pemanfaatan Ruang ,000,000 52,500,000 57,750,000 Kecamata 62,947,500 Kecamata 223,197,500 ruang Kecamatan Kecamatan Kecamatan Permukiman Cakupan wilayah pengendalian Dinas Tata Ruang & Program Pengendalian Pemanfaatan Ruang pemanfaatan ruang Kecamatan Kecamatan 163,391, ,560, ,138, ,152,435 Kecamata 215,986,154 Kecamata 929,228,717 Kecamatan Kecamatan Kecamatan Permukiman 1 06 PERENCANAAN PEMBANGUNAN 3,797,453,550 3,883,671,998 4,062,203,255 4,468,423,580 5,073,095,925 21,284,848,307 Cakupan pelayanan administrasi Badan Perencanaan Program Pelayanan Administrasi Perkantoran 100% 100% 380,741, % 415,260, % 425,641, % 468,205, % 491,615, % 2,181,464,745 perkantoran secara tepat waktu Pembangunan Daerah Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Cakupan pelayanan sarana dan Badan Perencanaan % 100% 136,620, % 140,035, % 143,536, % 157,890, % 165,784, % 743,866,441 Aparatur prasarana aparatur Pembangunan Daerah Tingkat disiplin aparatur yang Badan Perencanaan Program Peningkatan Disipiln Aparatur menggunakan pakaian dinas dan 100% 100% 12,900, % 13,222, % 13,553, % 14,908, % 15,653, % 70,237,718 Pembangunan Daerah pakaian hari tertentu Persentase sumberdaya aparatur Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Badan Perencanaan % 100% 26,500, % 40,000, % 41,000, % 45,100, % 47,355, % 199,955,000 yang memiliki kompetensi sesuai Aparatur Pembangunan Daerah bidangnya Program Peningkatan Pengembangan Sistem Tingkat ketepatan menyerahkan Badan Perencanaan % 100% 17,147, % 17,575, % 18,015, % 19,816, % 20,807, % 93,361,718 Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan laporan kinerja dan keuangan Pembangunan Daerah Persentase sumber daya Program Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Badan Perencanaan % 100% 82,236, % 200,000, % 210,000, % 231,000, % 251,790, % 975,026,000 perencana yang meningkat Perencanaan Pembangunan Daerah Pembangunan Daerah kapasitasnya 1 peta tematik, 18 peta Cakupan data base yang telah Badan Perencanaan Program Pengembangan Data/ Informasi 40 38,150, % 40,057, % 42,060, % 46,266, % 50,430, % 216,964,677 dikembangkan tematik Pembangunan Daerah jaringan SPAM Tingkat kinerja perencanaan Badan Perencanaan Program Perencanaan Pembangunan Daerah 100% 100% 1,452,755, % 1,087,611, % 1,141,992, % 1,256,191, % 1,600,000, % 6,538,551,561 pembangunan daerah Pembangunan Daerah Program Perencanaan Pembangunan Tingkat kinerja perencanaan Badan Perencanaan % 100% 312,395, % 375,000, % 393,750, % 433,125, % 472,106, % 1,986,376,250 Ekonomi bidang ekonomi Pembangunan Daerah Persentase ketersediaan dokumen perencanaan Badan Perencanaan Program Perencanaan Sosial Budaya 100% 100% 729,150, % 765,607, % 803,887, % 884,276, % 963,861, % 4,146,783,600 pembangunan bidang sosial Pembangunan Daerah budaya Program Perencanaan Prasarana Wilayah dan Tingkat kinerja perencanaan Badan Perencanaan % 100% 608,858, % 639,301, % 671,266, % 738,393, % 804,848, % 3,462,668,096 Sumber Daya Alam bidang fisik prasarana Pembangunan Daerah Persentase penelitian/ pengkajian/ pengembangan yang Program Penelitian, Pengkajian dan Badan Perencanaan % 150,000, % 157,500, % 173,250, % 188,842, % 669,592,500 disusun untuk kebutuhan Pengembangan Daerah Pembangunan Daerah perencanaan pembangunan daerah 1 07 PERHUBUNGAN 1,378,533,000 1,470,872,150 1,727,139,057 1,790,732,963 1,922,174,961 8,289,452,131 Cakupan pelayanan administrasi Dinas Perhubungan, Program Pelayanan Administrasi Perkantoran 100% 100% 438,176, % 449,130, % 460,358, % 506,394, % 531,714, % 2,385,773,838 perkantoran secara tepat waktu Komunikasi & Informatika Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Cakupan pelayanan sarana dan Dinas Perhubungan, % 100% 94,960, % 97,334, % 99,767, % 109,744, % 115,231, % 517,036, Aparatur prasarana aparatur Komunikasi & Informatika Tingkat disiplin aparatur yang Dinas Perhubungan, Program Peningkatan Disiplin Aparatur menggunakan pakaian dinas dan % 20,000, % 20,500, % 22,550, % 23,677, % 86,727,500 Komunikasi & Informatika pakaian hari tertentu Persentase sumberdaya aparatur Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Dinas Perhubungan, % 100% 78,690, % 80,657, % 82,673, % 90,941, % 95,488, % 428,450,082 yang memiliki kompetensi sesuai Aparatur Komunikasi & Informatika bidangnya Program Peningkatan Pengembangan Sistem Tingkat ketepatan menyerahkan Dinas Perhubungan, % 100% 11,655, % 11,946, % 12,245, % 13,469, % 14,143, % 63,458,962 Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan laporan kinerja dan keuangan Komunikasi & Informatika Persentase sarana dan prasarana Program Pembangunan Prasarana dan Dinas Perhubungan, % 2% 526,656,000 32% 544,488,325 2% 571,712,741 28% 628,884,015 2% 685,483,577 66% 2,957,224,658 transpotasi darat dan laut yang Fasilitas Perhubungan Komunikasi & Informatika terbangun Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan Persentase ketersediaan Dinas Perhubungan, ,17% 4,17% 80,000,000 4,17% 84,000,000 4,17% 88,200,000 4,17% 97,020,000 4,17% 105,751, % 454,971,800 Prasarana dan Fasilitas LLAJ prasaran dan fasilitas LLAJ Komunikasi & Informatika n n n n 206

238 No. Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan Indikator Kinerja Program Kondisi Awal RPJMD (Tahun 2013) Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2018 Kondisi Kinerja Pada Akhir Periode RPJMD Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp SKPD Penanggung Jawab (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) Frekuensi operasi penerbitan Dinas Perhubungan, Program Peningkatan Pelayanan Angkutan 21 Kali 21 Kali 148,396, Kali 153,315, Kali 160,981, Kali 177,079, Kali 193,016, kali 832,790,065 angkutan umum Komunikasi & Informatika Tersedianya perlengkapan Program Peningkatan dan Pengamanan Lalu Dinas Perhubungan, % 30,000, % 31,500, % 34,650, % 37,768, % 133,918,500 operasional LLAJR dan tertibnya Lintas Komunikasi & Informatika arus LLAJ Program Pembangunan Sarana dan Prasarana Tersedianya sarana dan Dinas Perhubungan, % 100,000, % 110,000, % 119,900, % 329,900,000 Perhubungan prasarana perhubugan Komunikasi & Informatika Tersedianya panduan Program Pengkajian dan Penelitian Bidang dokumen 99,200, pengembangan sistem Perhubungan transportasi Polewali Mandar 99,200,000 dokumen Dinas Perhubungan, Komunikasi & Informatika 1 08 LINGKUNGAN HIDUP 4,850,750,030 5,093,287,532 5,873,402,835 6,460,743,118 7,022,499,471 29,300,682,986 Cakupan pelayanan administrasi Program Pelayanan Administrasi Perkantoran 100% 100% 247,194, % 253,373, % 259,708, % 285,679, % 299,962, % 1,345,918,029 Badan Lingkungan Hidup perkantoran secara tepat waktu Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Cakupan pelayanan sarana dan % 100% 122,625, % 125,690, % 128,832, % 141,716, % 148,801, % 667,666, Badan Lingkungan Hidup Aparatur prasarana aparatur Tingkat disiplin aparatur yang Program Peningkatan Disipiln Aparatur menggunakan pakaian dinas dan 100% 100% 9,000, % 9,225, % 9,455, % 10,401, % 10,921, % 49,003,059 Badan Lingkungan Hidup pakaian hari tertentu Persentase sumberdaya aparatur Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya yang memiliki kompetensi sesuai 100% 100% 24,000, % 24,600, % 25,215, % 27,736, % 29,123, % 130,674,825 Badan Lingkungan Hidup Aparatur bidangnya Program Peningkatan Pengembangan Sistem Tingkat ketepatan menyerahkan % 100% 23,562, % 24,151, % 24,754, % 27,230, % 28,591, % 128,290,009 Badan Lingkungan Hidup Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan laporan kinerja dan keuangan Persentase usaha /kegiatan Program Pengendalian Pencemaran dan yang memenuhi syarat 84% 100% 370,112, % 388,618, % 408,049, % 448,853, % 489,250, % 2,104,884,550 Badan Lingkungan Hidup Perusakan Lingkungan Hidup administrasi dan teknis Cakupan kualitas pengujian Program Peningkatan Pengendalian Polusi 8% 11% 127,000,000 14% 133,350,000 14% 140,017,500 14% 154,019,250 20% 167,880,983 73% 722,267,733 Badan Lingkungan Hidup udara dan air Cakupan penghijauan/ Program Perlindungan dan Konservasi penanaman vegetasi untuk 24% 12% 396,518,000 13% 416,343,900 12% 437,161,095 12% 480,877,205 12% 524,156,153 85% 2,255,056,352 Badan Lingkungan Hidup Sumber Daya Alam produksi bio massa Persentase ketersediaan Program Peningkatan Kualitas dan Akses dokumen Status Lingkungan Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) dan Kajian 100% 100% 239,500, % 251,475, % 264,048, % 290,453, % 316,594, % 1,362,071,826 Badan Lingkungan Hidup Hidup Lingkunagn Hidup Strategis (KLHS) Persentase volume sampah yang 94% 100% 613,850, % 655,202, % 687,962, % 756,758, % 824,866, % 3,538,639,079 Badan Lingkungan Hidup Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan tertangani Persampahan Cakupan pengembangan kinerja Dinas Tata Ruang & 100% 100% 1,781,064, % 1,870,117, % 2,500,000, % 2,750,000, % 2,997,500, % 11,898,681,200 pengelolaan persampahan Pemukiman Cakupan pengelolaan ruang Program Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau 11% 12% 837,626,500 14% 879,507,825 14% 923,483,216 17% 1,015,831,538 19% 1,107,256,376 19% 4,763,705,455 Badan Lingkungan Hidup terbuka hijau (RTH) Cakupan pengelolaan ruang Dinas Tata Ruang & 100% 100% 58,698, % 61,632, % 64,714, % 71,186, % 77,592, % 333,824,184 terbuka hijau Pemukiman 1 09 PERTANAHAN 2,568,763,700 2,734,692,528 4,734,692,528 5,208,161,781 5,676,896,341 20,923,206,878 Program Penataan Penguasaan, Penggunaan Persentase tertib penguasaan % 85% 2,216,578, % 2,216,578,100 Sekretariat Daerah dan Pemanfaatan Tanah dan pemanfaatan tanah Persentase pemenuhan Program Penataan Administrasi Agraria kebijakan/ regulasi agraria 100% % 2,734,692, % 4,734,692, % 5,208,161, % 5,676,896, % 18,354,443,178 Sekretariat Daerah Pemerintah Daerah pemerintah daerah Program Pengembangan Sistem Informasi Persentase validasi asset tanah % 100% 194,234, % 194,234,900 Sekretariat Daerah Pertanahan milik daerah Program Penyelesaian Konflik-Konflik Persentase penyelesaian konflikkonflik % 60% 157,950, % 157,950,700 Sekretariat Daerah Pertanahan pertanahan 1 207

239 No. Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan Indikator Kinerja Program Kondisi Awal RPJMD (Tahun 2013) Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2018 Kondisi Kinerja Pada Akhir Periode RPJMD Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp SKPD Penanggung Jawab (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) 1 10 KEPENDUDUKAN DAN CATATAN SIPIL 1,035,734,623 1,087,521,395 1,151,947,213 1,267,141,934 1,365,348,136 5,907,693,301 Cakupan pelayanan administrasi Dinas Kependudukan & Program Pelayanan Administrasi Perkantoran 100% 100% 223,526, % 229,114, % 252,026, % 277,228, % 291,090, % 1,272,987,083 perkantoran secara tepat waktu Catatan Sipil Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Cakupan pelayanan sarana dan Dinas Kependudukan & % 100% 46,690, % 47,857, % 50,250, % 55,275, % 58,038, % 258,111,366 Aparatur prasarana aparatur Catatan Sipil Tingkat disiplin aparatur yang Dinas Kependudukan & Program Peningkatan Disipiln Aparatur menggunakan pakaian dinas dan 100% 100% 13,650, % 13,991, % 14,341, % 15,775, % 16,563, % 74,321,307 Catatan Sipil pakaian hari tertentu Persentase sumber daya Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Dinas Kependudukan & aparatur yang memiliki 100% 100% 16,440, % 16,851, % 17,272, % 18,999, % 19,949, % 89,512,255 Aparatur Catatan Sipil kompetensi sesuai bidangnya Program Peningkatan Pengembangan Sistem Tingkat ketepatan menyerahkan Dinas Kependudukan & % 100% 24,778, % 25,397, % 26,032, % 28,635, % 30,067, % 134,910,867 Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan laporan kinerja dan keuangan Catatan Sipil Program Penataan Administrasi Cakupan penataan administrasi Dinas Kependudukan & % 100% 710,649,970 80,87% 754,309, % 792,025, % 871,227, % 949,638, % 4,077,850,423 Kependudukan kependudukan Catatan Sipil 1 11 PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK 735,820, ,397, ,667, ,934, ,418,371 4,063,237,840 Program Peningkatan Peran Serta dan Badan Koordinasi KB & Capaian IDG menjadi 71,75% 68,76% 69,76% 581,000,000 70,76% 586,810,000 71,76% 616,150,500 72,76% 677,765,550 73,76% 738,764,450 73,76% 3,200,490,500 Kesetaraan Gender Dalam Pembangunan Pemberdayaan Perempuan Program Peningkatan Kualitas Hidup dan Persentase penyelesaian Badan Koordinasi KB & % 100% 22,375, % 23,493, % 24,668, % 27,135, % 29,577, % 127,249,925 Perlindugan Hidup Perempuan kekerasan dalam rumah tangga Pemberdayaan Perempuan Capaian IPG menjadi 78,26 % 64,75% 65,75% 132,445,000 66,75% 67,75% 68,75% 69,75% 69,75% Program Penguatan Kelembagaan Badan Koordinasi KB & ,093, ,848, ,033, ,076, ,497,415 Pengarusutamaan Gender dan Anak Jumlah desa layak anak yang Pemberdayaan Perempuan 2 Desa Desa 1 Desa 2 Desa 2 Desa 7 Desa terbentuk 1 12 KELUARGA BERENCANA DAN KELUARGA SEJAHTERA 1,479,140,001 1,580,310,350 1,654,582,980 1,820,041,278 1,975,288,824 8,509,363,433 Cakupan pelayanan administrasi Badan Koordinasi KB & Program Pelayanan Administrasi Perkantoran 100% 100% 127,510, % 130,697, % 133,965, % 147,361, % 154,729, % 694,264,456 perkantoran secara tepat waktu Pemberdayaan Perempuan Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Cakupan pelayanan sarana dan Badan Koordinasi KB & % % 30,000, % 30,750, % 33,825, % 35,516, % 130,091,250 Aparatur prasarana aparatur Pemberdayaan Perempuan Tingkat disiplin aparatur yang Badan Koordinasi KB & Program Peningkatan Disipiln Aparatur menggunakan pakaian dinas dan 100% 100% 11,750, % 12,043, % 12,344, % 13,579, % 14,258, % 63,976,216 Pemberdayaan Perempuan pakaian hari tertentu Persentase sumber daya Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Badan Koordinasi KB & aparatur yang memiliki 100% 100% 2,625, % 2,690, % 2,757, % 3,033, % 3,185, % 14,292,559 Aparatur Pemberdayaan Perempuan kompetensi sesuai bidangnya Program Peningkatan Pengembangan Sistem Tingkat ketepatan menyerahkan Badan Koordinasi KB & % 100% 13,935, % 14,283, % 14,640, % 16,104, % 16,909, % 75,873, Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan laporan kinerja dan keuangan Pemberdayaan Perempuan Jumlah PPKBD/ sub PPKBD/ Badan Koordinasi KB & Program Kesehatan Reproduksi Remaja 224 orang 90 orang 39,664, orang 40,060, orang 42,063, orang 46,270, orang 50,434, orang 218,492,694 PLKB/ kader KB yang dilatih Pemberdayaan Perempuan Jumlah tenaga pendamping Program Penyiapan Tenaga Pendamping Badan Koordinasi KB & kelompok Bina Keluarga Balita orang 43,200, orang 43,632, orang 45,813, orang 50,394, orang 54,930, orang 237,971,066 Kelompok Bina Keluarga Balita di Kecamatan Pemberdayaan Perempuan yang dilatih Frekuensi pelayanan KIE KB - 16 kali% 32 kali 48 kali 48 kali 48 kali 192 kali Badan Koordinasi KB & Program Keluarga Berencana 84,000,000 85,680,000 89,964,000 98,960, ,866, ,471,236 Persentase pembinaan keluarga Pemberdayaan Perempuan 30% 30% 40% 50% 60% 70% 80% berencana Persentase pelayanan Badan Koordinasi KB & Program Pelayanan Kontrasepsi % 30,000,000 40% 31,500,000 50% 34,650,000 60% 37,768,500 70% 133,918,500 pemasangan kontrasepsi Pemberdayaan Perempuan Jumlah balai penyuluh KB dan perlengkapannya 2 unit balai 3 unit balai 3 unit balai 3 unit balai 3 unit balai 2 unit balai 16 unit balai 167PPKBD / 167PPKBD / 167PPKBD / 167PPKBD / 167PPKBD / 167PPKBD / Jumlah PPKBD / Sub PPKB yang 167PPKBD / sub 703 sub 703 sub 703 sub 703 sub 703 sub akan diberi insentif sub PPKBBD PPKBBD PPKBBD PPKBBD PPKBBD PPKBBD PPKBBD Program Pembinaan Peran Serta Masyarakat Badan Koordinasi KB & Frekuensi pelaksanaan Harganas 3 kali 3 kali 3 kali 3 kali 3 kali 3 kali 15 kali ,156,456,001 1,166,222,210 1,224,533, ,346,986, ,468,215, ,362,413,635 Dalam Pelayanan KB/KR yang Mandiri Pemberdayaan Perempuan Jumlah dokumen hasil pendataan keluarga dan laporan 2 dokumen 2 dokumen 2 dokumen 2 dokumen 2 dokumen 2 dokumen 2 dokumen pengolahan data program KB Jumlah dokumen pemuktahiran data keluarga 3 Dokumen 2 Dokumen 3 Dokumen 2 Dokumen 2 Dokumen 2 Dokumen 11 Dokumen 208

240 No. Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan Indikator Kinerja Program Kondisi Awal RPJMD (Tahun 2013) Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2018 Kondisi Kinerja Pada Akhir Periode RPJMD Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp SKPD Penanggung Jawab (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) Pengelola= 13 Pengelola= Pengelola= Pengelola= 18 Pengelola= org, 84 org, org, pendidik Jumlah petugas PIK org, pendidik org, pendidik pendidik pendidik Program Pengembangan Pusat Pelayanan sebaya = 29 Badan Koordinasi KB & KRR(pengelolaan, pendidik ,000,000 sebaya = 34 org 26,250,000 sebaya = 39 org 28,875,000 sebaya = 44 31,473,750 sebaya = 111,598,750 Informasi dan Konseling KRR org dan Pemberdayaan Perempuan sebaya dan konselo)r yang dilatih dan konsel = 30 dan konsel = 35 org dan 146 org dan konsel = 25 org org konsel = 40 konsel = 130 org org org 1 13 SOSIAL 1,542,942,000 2,135,855,100 2,230,284,894 2,453,313,384 2,651,808,807 11,014,204,186 Cakupan pelayanan administrasi Dinas Sosial, Tenaga Kerja Program Pelayanan Administrasi Perkantoran 100% 100% 304,573, % 312,187, % 319,992, % 351,991, % 369,590, % 1,658,334,311 perkantoran secara tepat waktu & Transmigrasi Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Cakupan pelayanan sarana dan Dinas Sosial, Tenaga Kerja % 100% 114,983, % 117,857, % 120,804, % 132,884, % 139,528, % 626,057,642 Aparatur prasarana aparatur & Transmigrasi Tingkat disiplin aparatur yang Dinas Sosial, Tenaga Kerja Program Peningkatan Disipiln Aparatur menggunakan pakaian dinas dan 100% 100% 15,000, % 15,375, % 15,759, % 17,335, % 18,202, % 81,671,766 & Transmigrasi pakaian hari tertentu Persentase sumber daya Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Dinas Sosial, Tenaga Kerja % 100% 28,490, % 29,202, % 29,932, % 32,925, % 34,571, % 155,121,907 aparatur yang memiliki Aparatur & Transmigrasi kompetensi sesuai bidangnya Program Peningkatan Pengembangan Sistem Tingkat ketepatan menyerahkan Dinas Sosial, Tenaga Kerja % 100% 19,411, % 19,896, % 20,393, % 22,433, % 23,554, % 105,688,710 Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan laporan kinerja dan keuangan & Transmigrasi Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunitas Adat Terpencil (KAT) dan Dinas Sosial, Tenaga Kerja 156,238, Jumlah penurunan PMKS % 35,000, % 36,750, % 40,425, % 44,063, % Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial & Transmigrasi (PMKS) lainnya Persentase korban bencana Program Pelayanan dan Rehabilitasi Dinas Sosial, Tenaga Kerja % 100% 104,202, % 109,412, % 114,882, % 126,370, % 137,744, % 592,612,144 yang menerima bantuan sosial Kesejahteraan Sosial & Transmigrasi selama masa tanggap darurat Program Pembinaan para Penyandang Cacat Dinas Sosial, Tenaga Kerja Jumlah penyandang yang terlatih - 15 Orang 16,774, Orang 16,774,000 dan Eks Trauma & Transmigrasi Program Pembinaan Panti Asuhan / Panti Persentase panti asuhan/ jompo Dinas Sosial, Tenaga Kerja % 100% 109,639, % 115,121, % 120,877, % 132,965, % 144,932, % 623,536,008 Jompo yang dibina & Transmigrasi Persentase pelaku usaha terkait Program Pemberdayaan Kelembagaan 10 Dinas Sosial, Tenaga Kerja 6,998,169, ,869, % 1,381,803, % 1,450,893, % 1,595,982, % 1,739,621, % dan masyarakat calon penerima Kesejahteraan Sosial & Transmigrasi UKS 1 14 KETENAGAKERJAAN 100,351, ,368, ,386, ,125, ,716, ,949,189 Persentase tenaga kerja yang 11,12% Dinas Sosial, Tenaga Kerja Program Peningkatan Kesempatan Kerja 12% 53,106,500 17% 55,761,825 25% 58,549,916 30% 64,404,908 50% 70,201,350 50% 302,024,499 terserap lapangan kerja (dari 1129) & Transmigrasi 2 % Program Peningkatan Kualitas dan Persentase pencari kerja Dinas Sosial, Tenaga Kerja (dari % 35,000,000 10% 36,750,000 15% 40,425,000 20% 44,063,250 62% 156,238,250 Produktivitas Tenaga Kerja terampil dan berkualitas & Transmigrasi pencaker) 2% (dari 199 Program Perlindungan Pengembangan Persentase TKI yang dilindungi Dinas Sosial, Tenaga Kerja jiwa dan 17 5% 47,244,500 15% 49,606,725 15% 52,087,061 15% 57,295,767 20% 62,452,386 70% 268,686,440 Lembaga Ketenagakerjaan dan PPTKIS yang di bina & Transmigrasi PPTKIS 1 15 KOPERASI DAN USAHA KECIL MENENGAH 1,487,096,000 1,561,450,800 1,630,052,709 1,793,057,980 1,937,348,180 8,409,005,669 Cakupan pelayanan administrasi Program Pelayanan Administrasi Perkantoran 100% 100% 253,192, % 259,522, % 266,010, % 292,611, % 307,242, % 1,378,579, Dinas Koperasi, UMKM perkantoran secara tepat waktu Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Cakupan pelayanan sarana dan % 100% 57,583, % 59,022, % 60,498, % 66,547, % 69,875, % 313,527, Dinas Koperasi, UMKM Aparatur prasarana aparatur Tingkat disiplin aparatur yang Program Peningkatan Disiplin Aparatur menggunakan pakaian dinas dan 100% 100% 9,900, % 10,147, % 10,401, % 11,441, % 12,013, % 53,903,365 Dinas Koperasi, UMKM pakaian hari tertentu Persentase sumber daya Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya aparatur yang memiliki 100% 100% 15,000, % 15,375, % 15,759, % 17,335, % 18,202, % 81,671,766 Dinas Koperasi, UMKM Aparatur kompetensi sesuai bidangnya Program Peningkatan Pengembangan Sistem Tingkat ketepatan menyerahkan % 100% 33,910, % 34,757, % 35,626, % 39,189, % 41,148, % 184,632, Dinas Koperasi, UMKM Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan laporan kinerja dan keuangan 209

241 No. Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan Indikator Kinerja Program Kondisi Awal RPJMD (Tahun 2013) Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2018 Kondisi Kinerja Pada Akhir Periode RPJMD Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp SKPD Penanggung Jawab (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) Program Penciptaan Iklim Usaha Kecil Persentase UKM unggulan yang % 2.60% 561,540, % 589,617, % 619,097, % 681,007, % 742,298, % 3,193,560,807 Dinas Koperasi, UMKM Menengah yang Kondusif dikembangkan Program Pengembangan Kewirausahaan dan 1 % Persentase wirausaha baru yang Keunggulan Kompetitif Usaha Kecil (dari 384 5% 100,627,000 7% 105,658,350 9% 110,941,268 11% 122,035,394 13% 133,018,580 47% 572,280,591 Dinas Koperasi, UMKM berkembang Menengah UKM) 1% Program Pengembangan Sistem Pendukung Persentase UKM yang (dari 384 5% 248,473,400 7% 260,897,070 10% 273,941,924 12% 301,336,116 14% 328,456,366 50% 1,413,104,876 Dinas Koperasi, UMKM Usaha Bagi Usaha Kecil Menengah melakukan kemitraan usaha UKM) 74% Persentase koperasi aktif (dari 60 2% 206,870,000 5% 5% 7% 7% 100% Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan khusunya sektor riil koperasi) 226,453, ,775, ,553, ,093,181 1,217,745,494 Dinas Koperasi, UMKM Koperasi Pertumbuhan koperasi sektor riil % 12% 13% 17% 45% 1 16 PENANAMAN MODAL - 135,000, ,250, ,675, ,935, ,860,750 Dinas Pendapatan & Persentase izin yang dikeluarkan % 50,000, % 75,000, % 82,500, % 89,925, % 297,425,000 Program Peningkatan dan Promosi Kerjasama Perizinan Investasi Persentase promosi dan Badan Perencanaan % 85,000, % 89,250, % 98,175, % 107,010, % 379,435,750 kerjasama investasi Pembangunan Daerah 1 17 KEBUDAYAAN 939,553, ,032,388 1,014,072,750 1,115,480,025 1,196,459,919 5,241,598,581 Cakupan pelayanan administrasi Dinas Kebudayaan & Program Pelayanan Administrasi Perkantoran 100% 100% 285,850, % 292,996, % 300,321, % 330,353, % 346,871, % 1,556,394,336 perkantoran secara tepat waktu Pariwisata Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Cakupan pelayanan sarana dan Dinas Kebudayaan & % 100% 77,771, % 79,715, % 81,708, % 89,878, % 94,372, % 423,446,326 Aparatur prasarana aparatur Pariwisata Tingkat disiplin aparatur yang Dinas Kebudayaan & Program Peningkatan Disipiln Aparatur menggunakan pakaian dinas dan 100% 100% 16,500, % 16,912, % 17,335, % 19,068, % 20,022, % 89,838,942 Pariwisata pakaian hari tertentu Persentase sumber daya Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Dinas Kebudayaan & aparatur yang memiliki 100% 100% 28,740, % 29,458, % 30,194, % 33,214, % 34,875, % 156,483,103 Aparatur Pariwisata kompetensi sesuai bidangnya Program Peningkatan Pengembangan Sistem Tingkat ketepatan menyerahkan Dinas Kebudayaan & % 100% 11,090, % 11,367, % 11,651, % 12,816, % 13,457, % 60,382,659 Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan laporan kinerja dan keuangan Pariwisata Persentase keragaman budaya Dinas Kebudayaan & Program Pengelolaan Keragaman Budaya 100% 100% 206,151, % 216,458, % 227,281, % 250,009, % 272,510, % 1,172,411,144 yang dikelola Pariwisata Persentase budaya yang Dinas Kebudayaan & Program Pengembangan Nilai Budaya 100% 100% 58,850, % 61,792, % 64,882, % 71,370, % 77,793, % 334,688,630 dikembangkan Pariwisata Jumlah cagar budaya yang Dinas Kebudayaan & Program Pengelolaan Kekayaan Budaya 100% 100% 234,601, % 246,331, % 258,647, % 284,512, % 310,118, % 1,334,210,491 dilestarikan Pariwisata Cakupan pengembangan Program Pengembangan Kerjasama Dinas Kebudayaan & kerjasama pengelolaan kekayaan 100% 100% 20,000, % 21,000, % 22,050, % 24,255, % 26,437, % 113,742,950 Pengelolaan Kekayaan Budaya Pariwisata budaya 1 18 KEPEMUDAAN DAN OLAHRAGA 2,313,472,500 2,429,146,125 2,550,603,431 2,805,663,774 3,058,173,514 13,157,059,345 Persentase peningkatan prestasi Program Pembinaan dan Pemasyarakatan Dinas Pendidikan Pemuda dalam bidang olahraga di atas 70 40% 50% 597,834,500 55% 627,726,225 60% 659,112,536 70% 725,023,790 75% 790,275,931 75% 3,399,972,982 Olahraga & Olahraga Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Persentase penyediaan sarana Dinas Pendidikan Pemuda % 623,298,000 15% 654,462,900 17% 687,186,045 18% 755,904,650 20% 823,936,068 20% 3,544,787,662 Olahraga olahraga & Olahraga Program Pengembangan Kebijakan dan Persentase peningkatan sarana Dinas Pendidikan Pemuda % 55% 249,967,000 60% 262,465,350 65% 275,588,618 70% 303,147,479 70% 330,430,752 75% 1,421,599,199 Manajemen Olahraga dan prasarana olahraga & Olahraga Persentase peran serta Program Peningkatan Peranserta Dinas Pendidikan Pemuda kepemudaan dalam 30% 50% 365,272,000 60% 383,535,600 70% 402,712,380 75% 442,983,618 80% 482,852,144 80% 2,077,355,742 Kepemudaan & Olahraga pembangunan Program Peningkatan Upaya Penumbuhan Persentase peningkatan Dinas Pendidikan Pemuda Kewirausahaan dan Kecakapan Hidup 25% 50% 477,101,000 60% 500,956,050 70% 526,003,853 80% 578,604,238 85% 630,678,619 85% 2,713,343,759 kewirausahaan pemuda & Olahraga Pemuda % 210

242 No. Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan Indikator Kinerja Program Kondisi Awal RPJMD (Tahun 2013) Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2018 Kondisi Kinerja Pada Akhir Periode RPJMD Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp SKPD Penanggung Jawab (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) 1 19 KESATUAN BANGSA DAN POLITIK DALAM NEGERI 2,091,080,150 2,195,634,158 2,299,115,987 2,529,027,586 2,693,681,640 11,808,539,521 Cakupan pelayanan administrasi 100% 100% 148,855, % 152,577, % 156,391, % 172,030, % 180,632, % 810,487,734 Kantor Kesbang & Linmas Program Pelayanan Administrasi Perkantoran perkantoran secara tepat waktu Kantor Satuan Polisi 100% 100% 843,064, % 864,140, % 907,348, % 998,082, % 1,047,986, % 4,660,623,071 Pamong Praja Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Cakupan pelayanan sarana dan 100% 100% 41,260, % 42,291, % 43,348, % 47,683, % 50,068, % 224,652,892 Kantor Kesbang & Linmas Aparatur prasarana aparatur 100% 100% 85,545, % 87,683, % 89,875, % 98,863, % 103,806, % 465,774,079 Satuan Polisi Pamong Praja Tingkat disiplin aparatur yang 100% 100% 4,800, % 4,920, % 5,043, % 5,547, % 5,824, % 26,134,965 Kantor Kesbang & Linmas Program Peningkatan Disiplin Aparatur menggunakan pakaian dinas dan pakaian hari tertentu 100% 100% 153,595, % 157,434, % 161,370, % 177,507, % 186,383, % 836,291,656 Satuan Polisi Pamong Praja Persentase sumber daya Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya 100% 100% 18,600, % 19,065, % 19,541, % 21,495, % 22,570, % 101,272,989 Kantor Kesbang & Linmas aparatur yang memiliki Aparatur kompetensi sesuai bidangnya 100% 100% 22,000, % 22,550, % 23,113, % 25,425, % 26,696, % 119,785,256 Satuan Polisi Pamong Praja Program Peningkatan Pengembangan Sistem Tingkat ketepatan menyerahkan 100% 100% 12,542, % 12,855, % 13,176, % 14,494, % 15,219, % 68,288,486 Kantor Kesbang & Linmas Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan laporan kinerja dan keuangan 100% 100% 11,101, % 11,378, % 11,662, % 12,829, % 13,470, % 60,442,551 Satuan Polisi Pamong Praja Cakupan pelaksanaan kegiatan Program Pengembangan Wawasan pengembangan wawasan 100% 100% 29,491, % 179,085, % 188,039, % 206,843, % 225,459, % 828,918,379 Kantor Kesbang & Linmas Kebangsaan kebangsaan Program Kemitraan Pengembangan Wawasan Cakupan kemitraan pembinaan % 100% 135,684, % 135,684,000 Kantor Kesbang & Linmas Kebangsaan wawasan kebangsaan Cakupan pelaksanaan kegiatan Program Pendidikan Politik Masyarakat - 100% 143,783, % 150,972, % 158,521, % 174,373, % 190,067, % 817,718, Kantor Kesbang & Linmas pendidikan politik masyarakat Program Peningkatan Keamanan dan Cakupan keamanan dan % 100% 309,286, % 324,750, % 340,988, % 375,087, % 408,845, % 1,758,958,514 Kantor Kesbang & Linmas Kenyamanan Lingkungan kenyamanan lingkungan Program Peningkatan Pemberantasan Cakupan pemberantasan % 100% 34,806, % 36,547, % 38,374, % 42,211, % 46,011, % 197,951,406 Kantor Kesbang & Linmas Penyakit Masyarakat penyakit masyarakat di daerah Tingkat penyelesaian Program Pemeliharaan Kantrantibmas dan pelanggaran K3 (Ketertiban, % 100% 96,664, % 129,380, % 142,318, % 156,550, % 170,640, % 695,555,002 Satuan Polisi Pamong Praja Pencegahan Tindak Kriminal Ketentraman, Keindahan) di kabupaten OTONOMI DAERAH, PEMERINTAHAN UMUM, ADMINISTRASI KEUANGAN DAERAH, ,651,649,029 75,038,508,085 79,558,950,609 87,514,845,669 93,830,934, ,594,887,823 PERANGKAT DAERAH, KEPEGAWAIAN DAN PERSANDIAN 100% 100% 280,880, % 287,902, % 295,099, % 324,609, % 340,840, % 1,529,332,124 Badan Kepegawaian dan Diklat Daerah 100% 100% 2,615,297, % 2,680,679, % 2,747,696, % 3,022,466, % 3,173,589, % 14,239,730,964 Sekretariat DPRD 100% 100% 11,840,272, % 14,655,724, % 15,022,117, % 16,524,328, % 17,350,545, % 75,392,987,161 Sekretariat Daerah 100% 100% 183,086, % 187,663, % 192,355, % 211,590, % 222,170, % 996,867,331 Inspektorat Dinas Pendapatan & 100% 100% 410,929, % 421,202, % 505,443, % 555,987, % 583,786, % 2,477,349,980 Perizinan Badan Penanggulangan 100% 100% 160,590, % 164,604, % 168,719, % 185,591, % 194,871, % 874,377,923 Bencana Daerah 100% 100% 191,208, % 195,988, % 201,867, % 222,054, % 233,157, % 1,044,276,039 Kecamatan Polewali 100% 100% 299,335, % 306,818, % 322,159, % 354,375, % 372,093, % 1,654,781,876 Kecamatan Wonomulyo 100% 100% 285,683, % 292,825, % 300,146, % 330,160, % 346,668, % 1,555,485,057 Kecamatan Campalagian 100% 100% 169,086, % 173,313, % 177,646, % 195,411, % 205,181, % 920,639,533 Kecamatan Tinambung Cakupan pelayanan administrasi Program Pelayanan Administrasi Perkantoran 100% 100% 148,757, % 152,475, % 160,099, % 176,109, % 184,915, % 822,357,518 Kecamatan Tutar perkantoran secara tepat waktu 100% 100% 122,916, % 125,989, % 132,288, % 145,517, % 152,793, % 679,506,227 Kecamatan Binuang 100% 100% 140,983, % 142,507, % 149,632, % 164,596, % 172,826, % 770,545,839 Kecamatan Mapilli 100% 100% 152,297, % 155,328, % 163,094, % 179,404, % 188,374, % 838,498,664 Kecamatan Tapango 100% 100% 153,492, % 155,329, % 163,096, % 179,405, % 188,376, % 839,700,779 Kecamatan Balanipa 100% 100% 162,317, % 163,374, % 171,543, % 188,698, % 198,132, % 884,066,575 Kecamatan Limboro 100% 100% 115,789, % 118,683, % 124,617, % 137,079, % 143,933, % 640,104,025 Kecamatan Luyo 100% 100% 141,244, % 142,656, % 149,789, % 164,768, % 173,007, % 771,467,219 Kecamatan Matakali 100% 100% 100,261, % 102,767, % 107,905, % 118,696, % 124,631, % 554,262,234 Kecamatan Anreapi 100% 100% 145,355, % 146,964, % 154,313, % 169,744, % 178,231, % 794,609,187 Kecamatan Alu 100% 100% 118,371, % 119,864, % 125,857, % 138,442, % 145,365, % 647,900,186 Kecamatan Matangnga 100% 100% 87,784, % 88,284, % 92,699, % 101,968, % 107,067, % 477,804,952 Kecamatan Bulo 211

243 No. Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan Indikator Kinerja Program Kondisi Awal RPJMD (Tahun 2013) Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2018 Kondisi Kinerja Pada Akhir Periode RPJMD Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp SKPD Penanggung Jawab (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) Badan Kepegawaian dan 100% 100% 77,882, % 100% 81,825, % 90,007, % 94,508, % 79,829, ,053,419 Diklat Daerah 100% 100% 356,975, % 365,899, % 375,046, % 412,551, % 433,179, % 1,943,651,902 Sekretariat DPRD 100% 100% 5,922,222, % 7,880,510, % 8,077,522, % 8,885,275, % 9,329,538, % 40,095,069,451 Sekretariat Daerah 100% 100% 34,350, % 35,208, % 36,088, % 39,697, % 41,682, % 187,028,343 Inspektorat Dinas Pendapatan & 100% 100% 217,661, % 223,102, % 334,653, % 368,119, % 386,525, % 1,530,061,604 Perizinan Badan Penanggulangan 100% 100% 33,745, % 34,588, % 35,453, % 38,998, % 40,948, % 183,734,249 Bencana Daerah 100% 100% 225,878, % 231,525, % 238,471, % 262,318, % 275,434, % 1,233,627,804 Kecamatan Polewali 100% 100% 108,304, % 111,011, % 116,562, % 128,218, % 134,629, % 598,725,496 Kecamatan Wonomulyo 100% 100% 421,026, % 431,552, % 442,340, % 486,575, % 510,903, % 2,292,398,509 Kecamatan Campalagian 100% 100% 175,306, % 179,688, % 184,180, % 202,598, % 212,728, % 954,503,370 Kecamatan Tinambung Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Cakupan pelayanan sarana dan % 100% 53,898, % 55,245, % 58,007, % 63,808, % 66,998, % 297,958,587 Kecamatan Tutar Aparatur prasarana aparatur 100% 100% 36,794, % 37,714, % 39,599, % 43,559, % 45,737, % 203,406,572 Kecamatan Binuang 100% 100% 56,878, % 57,528, % 60,404, % 66,445, % 69,767, % 311,024,160 Kecamatan Mapilli 100% 100% 83,114, % 85,192, % 89,451, % 98,397, % 103,316, % 459,472,507 Kecamatan Tapango 100% 100% 47,427, % 48,613, % 51,043, % 56,148, % 58,955, % 262,188,409 Kecamatan Balanipa 100% 100% 53,180, % 51,896, % 54,491, % 59,940, % 62,937, % 282,447,640 Kecamatan Limboro 100% 100% 147,906, % 151,603, % 159,183, % 175,102, % 183,857, % 817,653,026 Kecamatan Luyo 100% 100% 123,755, % 124,992, % 131,242, % 144,366, % 151,584, % 675,940,838 Kecamatan Matakali 100% 100% 60,320, % 61,828, % 64,919, % 71,411, % 74,981, % 333,460,647 Kecamatan Anreapi 100% 100% 45,480, % 46,617, % 48,947, % 53,842, % 56,534, % 251,422,252 Kecamatan Alu 100% 100% 88,584, % 90,798, % 95,338, % 104,872, % 110,116, % 489,709,515 Kecamatan Matangnga 100% 100% 72,836, % 73,657, % 77,340, % 85,074, % 89,327, % 398,235,981 Kecamatan Bulo Badan Kepegawaian dan 100% 100% 13,500, % 13,837, % 14,183, % 15,601, % 16,381, % 73,504,589 Diklat Daerah 100% 100% 473,300, % 485,132, % 497,260, % 546,986, % 574,336, % 2,577,016,445 Sekretariat DPRD 100% 100% 128,750, % 131,968, % 135,267, % 148,794, % 156,234, % 701,015,988 Sekretariat Daerah 100% 100% 13,500, % 13,837, % 14,183, % 15,601, % 16,381, % 73,504,589 Inspektorat Dinas Pendapatan & 100% 100% 17,875, % 18,321, % 18,779, % 20,657, % 21,690, % 97,325,521 Perizinan Badan Penanggulangan 100% 100% 15,600, % 15,990, % 16,389, % 18,028, % 18,930, % 84,938,636 Bencana Daerah 100% 100% 21,580, % 22,119, % 22,783, % 25,061, % 26,314, % 117,858,442 Kecamatan Polewali 100% 100% 4,050, % 4,151, % 4,358, % 4,794, % 5,034, % 22,389,185 Kecamatan Wonomulyo 100% 100% 22,275, % 22,831, % 23,402, % 25,742, % 27,030, % 121,282,572 Kecamatan Campalagian 100% 100% 6,300, % 6,457, % 6,618, % 7,280, % 7,644, % 34,302,142 Kecamatan Tinambung 100% 100% 3,900, % 3,997, % 4,197, % 4,617, % 4,847, % 21,559,956 Kecamatan Tutar Tingkat disiplin aparatur yang Program Peningkatan Disiplin Aparatur menggunakan pakaian dinas dan 100% 100% 4,500, % 4,612, % 4,843, % 5,327, % 5,593, % 24,876,872 Kecamatan Binuang pakaian hari tertentu 100% 100% - 100% 5,000, % 5,250, % 5,775, % 6,063, % 22,088,750 Kecamatan Mapilli 100% 100% 5,000, % 5,125, % 5,381, % 5,919, % 6,215, % 27,640,969 Kecamatan Tapango 100% 100% 9,600, % 9,840, % 10,332, % 11,365, % 11,933, % 53,070,660 Kecamatan Balanipa 100% % 5,000, % 5,250, % 5,775, % 6,063, % 22,088,750 Kecamatan Limboro 100% 100% 6,000, % 6,150, % 6,457, % 7,103, % 7,458, % 33,169,163 Kecamatan Luyo 100% 100% 7,500, % 7,687, % 8,071, % 8,879, % 9,323, % 41,461,453 Kecamatan Matakali 100% 100% 4,800, % 4,920, % 5,166, % 5,682, % 5,966, % 26,535,330 Kecamatan Anreapi 100% 100% 6,000, % 6,150, % 6,457, % 7,103, % 7,458, % 33,169,163 Kecamatan Alu 100% 100% 6,000, % 6,150, % 6,457, % 7,103, % 7,458, % 33,169,163 Kecamatan Matangnga 100% 100% 4,200, % 4,305, % 4,520, % 4,972, % 5,220, % 23,218,414 Kecamatan Bulo 212

244 No Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan Indikator Kinerja Program Kondisi Awal RPJMD (Tahun 2013) Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2018 Kondisi Kinerja Pada Akhir Periode RPJMD Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp SKPD Penanggung Jawab (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) Persentase jumlah PNS yang Badan Kepegawaian dan 40% 40% 921,671,100 50% 944,712,878 55% 968,330,699 60% 1,065,163,769 65% 1,118,421,958 65% 5,018,300,404 mengikuti diklat Diklat Daerah 100% 100% 97,610, % 100,050, % 102,551, % 112,806, % 118,446, % 531,465,403 Sekretariat DPRD 100% 100% 70,000, % 71,750, % 73,543, % 80,898, % 84,943, % 381,134,906 Sekretariat Daerah 100% % 8,000, % 8,200, % 9,020, % 9,471, % 34,691,000 Inspektorat 100% 100% 90,000, % 92,250, % 94,556, % 104,011, % 109,212, % 490,030,594 Dinas Pendapatan & Perizinan 100% 100% 32,000, % 32,800, % 33,620, % 36,982, % 38,831, % 174,233,100 Badan Penanggulangan Bencana Daerah 100% 100% 21,000, % 21,525, % 22,170, % 24,387, % 25,607, % 114,690,791 Kecamatan Polewali 100% 100% 7,500, % 7,687, % 8,071, % 8,879, % 9,323, % 41,461,453 Kecamatan Wonomulyo 100% % 8,000, % 8,200, % 9,020, % 9,471, % 34,691,000 Kecamatan Campalagian 100% % 7,000, % 7,175, % 7,892, % 8,287, % 30,354,625 Kecamatan Tinambung Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya 100% 100% 7,500, % 7,687, % 8,071, % 8,879, % 9,323, % 41,461,453 Kecamatan Tutar Aparatur Persentase sumber daya aparatur yang memiliki 100% % 8,000, % 8,400, % 9,240, % 9,702, % 35,342,000 Kecamatan Binuang kompetensi sesuai bidangnya 100% % 7,000, % 7,350, % 8,085, % 8,489, % 30,924,250 Kecamatan Mapilli 100% % 7,000, % 7,350, % 8,085, % 8,489, % 30,924,250 Kecamatan Tanpango 100% % 7,000, % 7,350, % 8,085, % 8,489, % 30,924,250 Kecamatan Balanipa 100% % 5,000, % 7,000, % 7,700, % 8,085, % 27,785,000 Kecamatan Limboro 100% 100% 16,000, % 16,400, % 17,220, % 18,942, % 19,889, % 88,451,100 Kecamatan Luyo 100% % 7,000, % 7,350, % 8,085, % 8,489, % 30,924,250 Kecamatan Matakali 100% % 8,000, % 8,400, % 9,240, % 9,471, % 35,111,000 Kecamatan Anreapi 100% % 7,000, % 7,350, % 8,085, % 8,287, % 30,722,125 Kecamatan Alu 100% % 7,000, % 7,350, % 8,085, % 8,489, % 30,924,250 Kecamatan Matangnga 100% % 7,000, % 7,350, % 8,085, % 8,489, % 30,924,250 Kecamatan Bulo 100% 100% 28,817, % 29,537, % 30,276, % 33,303, % 34,969, % 156,904,529 Badan Kepegawaian dan Diklat Daerah 100% 100% 67,700, % 69,392, % 71,127, % 78,240, % 82,152, % 368,611,902 Sekretariat DPRD 100% 100% 302,597, % 295,658, % 303,050, % 333,355, % 350,023, % 1,584,684,714 Sekretariat Daerah 100% 100% 16,053, % 16,454, % 16,865, % 18,552, % 19,479, % 87,405,124 Inspektorat Dinas Pendapatan & 100% 100% 99,699, % 102,191, % 104,746, % 115,221, % 120,982, % 542,842,280 Perizinan Badan Penanggulangan 100% 100% 18,396, % 18,855, % 19,327, % 21,260, % 22,323, % 100,162,253 Bencana Daerah 100% 100% 21,683, % 22,225, % 22,891, % 25,181, % 26,440, % 118,420,973 Kecamatan Polewali 100% % 7,500, % 7,875, % 8,662, % 9,095, % 33,133,125 Kecamatan Wonomulyo 100% % 10,224, % 10,480, % 11,528, % 12,104, % 44,337,808 Kecamatan Campalagian 100% % 6,500, % 6,662, % 7,328, % 7,695, % 28,186,438 Kecamatan Tinambung 100% 100% 6,265, % 8,929, % 11,000, % 12,100, % 12,705, % 50,999,630 Kecamatan Tutar Program Peningkatan Pengembangan Sistem Tingkat ketepatan menyerahkan Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan laporan kinerja dan keuangan 100% 100% 3,213, % 8,293, % 10,000, % 11,000, % 11,550, % 44,056,325 Kecamatan Binuang 100% 100% 11,274, % 11,555, % 12,133, % 13,347, % 14,014, % 62,324,856 Kecamatan Mapilli 100% 100% 8,526, % 8,739, % 11,000, % 12,100, % 12,705, % 53,070,150 Kecamatan Tapango 100% % 6,500, % 6,825, % 7,507, % 7,882, % 28,715,375 Kecamatan Balanipa 100% % 5,000, % 10,000, % 11,000, % 11,550, % 37,550,000 Kecamatan Limboro 100% 100% 16,475, % 16,886, % 17,731, % 19,504, % 20,479, % 91,076,992 Kecamatan Luyo 100% 100% 12,647, % 12,963, % 13,611, % 14,972, % 15,721, % 69,915,066 Kecamatan Matakali 213

245 No. Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan Indikator Kinerja Program Kondisi Awal RPJMD (Tahun 2013) Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2018 Kondisi Kinerja Pada Akhir Periode RPJMD Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp SKPD Penanggung Jawab (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) 100% 100% 10,281, % 9,929, % 10,426, % 11,468, % 12,042, % 54,147,380 Kecamatan Anreapi 100% 100% 2,206, % 2,261, % 2,374, % 2,611, % 2,742, % 12,195,195 Kecamatan Alu 100% 100% 8,394, % 8,603, % 9,034, % 9,937, % 10,434, % 46,403,658 Kecamatan Matangnga 100% 100% 7,404, % 7,589, % 10,000, % 11,000, % 11,550, % 47,543,100 Kecamatan Bulo Cakupan pembinaan dan Badan Kepegawaian dan pengembangan aparatur di 100% 100% 1,592,623, % 1,705,320, % 1,790,586, % 1,969,645, % 2,146,913, % 9,205,090,228 Diklat Daerah Program Pembinaan dan Pengembangan daerah Aparatur Persentase aparatur yang telah mengikuti pembinaan dan 40% 45% 37,517, % 37,517,900 Sekretariat Daerah pengembangan Persentase SKPD yang Program Pendayagunaan Aparatur 100% % 164,033,520 27% 220,000,000 36% 242,000,000 44% 263,780,000 44% 889,813,520 Sekretariat Daerah mengembangkan budaya kerja Jumlah Qari/Qariah yang terbaik Program Pengembangan Budaya Baca dan yang akan mewakili pemkab org 23 org 717,545, org 717,545,000 Sekretariat Daerah Pembinaan Perpustakaan Polman ke tingkat provinsi dan nasional Program Pembinaan dan Penataan Kebijakan Persentase ketersediaan Administrasi Sosial, Agama dan kebijakan sosial, agama dan % 6,356,389, % 7,101,741, % 7,811,916, % 8,514,988, % 29,785,036,354 Sekretariat Daerah Penanggulangan Bencana penanggulangan bencana 1 kebijakan/ Program Manajemen Pelayanan Pendidikan Jumlah kebijakan pendidikan kebijakan/ 57,675, kebijakan/ 57,675,000 Sekretariat Daerah regulasi regulasi regulasi Jumlah kebijakan peningkatan Program Peningkatan Penanggulangan 1 kebijakan/ penanggulangan narkoba, PMS Narkoba, PMS termasuk HIV/AIDS regulasi termasuk HIV/AIDS kebijakan/ 72,830, kebijakan/ 72,830,000 Sekretariat Daerah regulasi regulasi Jumlah kebijakan pemberdayaan 1 kebijakan/ Program Pemberdayaan Perempuan kebijakan/ 274,987, kebijakan/ 274,987,500 Sekretariat Daerah perempuan regulasi regulasi regulasi Persentase kebijakan Program Peningkatan Kualitas Hidup dan penanganan perlindungan 100% 100% 65,699, % 65,699,000 Sekretariat Daerah Perlindungan Perempuan perempuan dan anak Persentase penyerbarluasan Program Kerjasama Informasi Dengan Mass Informasi penyelenggaraan 98.70% 100% 441,776, % 441,776,000 Sekretariat Daerah Media pemerintah daerah Persentase peningkatan Program Penigkatan Kapasitas Lembaga kapasitas lembaga perwakilan 100% 100% 11,020,138, % 11,661,416, % 12,827,558, % 14,110,314, % 15,380,242, % 64,999,670,975 Sekretariat DPRD Perwakilan Rakyat Daerah rakyat daerah Persentase kebijakan perekonomian sektor Koperasi dan UMKM, penanaman modal 100% 100% 411,348, % dan BUMD, perindustrian dan perdagangan 1 Kecamatan 2 Kecamatan Cakupan wilayah penyelesaian Kecamatan Program Penataan Daerah Otonomi Baru dan 9 dan 10 78,508, ,508,000 Sekretariat Daerah tapal batas wilayah administrasi dan 10 Kelurahan Kelurahan Kelurahan Program Penataan Administrasi Persentase kebijakan % 100,000, % 105,000, % 115,500, % 125,895, % 446,395,000 Sekretariat Daerah Kependudukan kependudukan Persentase SKPD yang dilengkapi Program Penataan Ketatalaksanaan 2% % 212,055, % 222,658, % 244,923, % 266,967, % 946,604,591 Sekretariat Daerah standar dan prosedur kerja Persentase SKPD yang Program Penguatan Reformasi Birokrasi menerapkan agenda Reformasi 11% % 180,866,700 50% 189,910,035 60% 208,901,039 70% 227,702,132 80% 807,379,905 Sekretariat Daerah Birokrasi Program Peningkatan Profesionalisme Tenaga Prosentase tingkat kinerja % 189,750, % 195,237, % 204,999, % 225,499, % 245,794, % 1,061,280,438 Inspektorat Pemeriksa dan Aparatur Pengawasan tenaga pemeriksa Cakupan penanganan pasca Badan Penanggulangan Program Penanganan Pasca Bencana 100% 100% 610,909, % 392,962, % 412,610, % 453,871, % 494,720, % 2,365,074,956 bencana Bencana Daerah Persentase wilayah Program Pencegahan Dini dan Badan Penanggulangan penanggulangan darurat 100% % 100,000, % 110,000, % 121,000, % 131,890, % 462,890,000 Penanggulangan Daerah Rawan Bencana Bencana Daerah bencana Cakupan penanganan darurat Badan Penanggulangan Program Penanganan Darurat Bencana 100% % 80,000, % 88,000, % 96,800, % 105,512, % 370,312,000 bencana Bencana Daerah Persentase kelompok tanggap Badan Penanggulangan Program Tanggap Darurat Bencana 10% % 75,000,000 20% 82,500,000 25% 90,750,000 25% 98,917, % 347,167,500 darurat yang terlatih Bencana Daerah

246 No. Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan Indikator Kinerja Program Kondisi Awal RPJMD (Tahun 2013) Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2018 Kondisi Kinerja Pada Akhir Periode RPJMD Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp SKPD Penanggung Jawab (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) Persentase tertib administrasi kecamatan 100% 100% 258,800, % 326,000, % 342,300, % 376,530, % 410,417, % 1,714,047,700 Sekretariat Daerah 100% 100% 1,645,439, % 1,739,743, % 1,826,730, % 2,009,403, % 2,190,250, % 9,411,567,939 Kecamatan Polewali 100% 100% 631,609, % 666,170, % 760,000, % 836,000, % 911,240, % 3,805,019,860 Kecamatan Wonomulyo 100% 100% 210,835, % 221,377, % 270,000, % 297,000, % 323,730, % 1,322,943,433 Kecamatan Campalagian 100% 100% 207,931, % 213,595, % 250,000, % 275,000, % 299,750, % 1,246,276,518 Kecamatan Tinambung 100% 100% 108,814, % 117,255, % 140,000, % 154,000, % 167,860, % 687,930,381 Kecamatan Tutar 100% 100% 165,710, % 190,181, % 218,000, % 239,800, % 261,382, % 1,075,073,757 Kecamatan Binuang Program Pembinaan, Pengembangan dan 100% 100% 106,602, % 107,932, % 129,000, % 141,900, % 154,671, % 640,106,802 Kecamatan Mapilli Fasilitasi Kecamatan Cakupan pembinaan, 100% 100% 138,713, % 145,649, % 170,000, % 187,000, % 203,830, % 845,193,335 Kecamatan Tapango pengembangan dan fasilitasi 100% 100% 142,265, % 143,142, % 170,000, % 187,000, % 203,830, % 846,237,931 Kecamatan Balanipa oleh pemerintah kecamatan 100% 100% 109,167, % 110,625, % 128,000, % 140,800, % 153,472, % 642,064,781 Kecamatan Limboro 100% 100% 140,900, % 155,499, % 185,000, % 203,500, % 221,815, % 906,715,073 Kecamatan Luyo 100% 100% 153,320, % 155,587, % 185,000, % 203,500, % 221,815, % 919,222,980 Kecamatan Matakali 100% 100% 145,278, % 149,541, % 175,000, % 192,500, % 209,825, % 872,144,900 Kecamatan Anreapi 100% 100% 137,533, % 144,410, % 170,000, % 187,000, % 203,830, % 842,774,331 Kecamatan Alu 100% 100% 127,990, % 134,390, % 160,000, % 176,000, % 191,840, % 790,221,181 Kecamatan Matangnga 100% 100% 48,975, % 51,423, % 70,000, % 77,000, % 83,930, % 331,328,750 Kecamatan Bulo Persentase ketersediaan Program Pembinaan dan Penataan Kebijakan kebijakan administrasi Administrasi Pendidikan, Kesehatan, Pemuda 75% % 194,705, % 204,440, % 224,884, % 245,124, % 869,154,501 Sekretariat Daerah pendidikan, kesehatan, pemuda dan Olahraga dan olahraga Program Pembinaan dan Penataan Kebijakan Persentase ketersediaan % % 402,916, % 423,061, % 465,368, % 507,251, % 1,798,597,012 Sekretariat Daerah Administrasi Perekonomian kebijakan perekonomian Program Pembinaan dan Penataan Kebijakan Persentase ketersediaan % % 242,156,093 95% 254,263,898 95% 279,690,287 95% 304,862,413 95% 1,080,972,691 Sekretariat Daerah Administrasi Sumber Daya Alam kebijakan sumber daya alam Program Pembinaan dan Penataan Kebijakan Persentase ketersediaan % % 869,104, % 1,085,500, % 1,194,050, % 1,301,514, % 4,450,168,500 Sekretariat Daerah Administrasi Pembangunan kebijakan pembangunan Persentase SKPD yang Program Penguatan Akuntabilitas Kinerja memenuhi standar pelayanan 64% % 288,134, % 302,540, % 332,794, % 362,746, % 1,286,216,617 Sekretariat Daerah Instansi Pemerintah publik kinerja organisasi Persentase SKPD yang Program Peningkatan Kualitas Pelayanan memenuhi standar pelayanan % 175,062,095 77% 183,815,200 77% 202,196,720 85% 220,394, % 781,468,439 Sekretariat Daerah Publik publik Persentase SKPD yang menerapkan standar 100% 100% 486,914, % 490,000, % 514,500, % 565,950, % 616,885, % 2,674,250,200 Program Peningkatan Sistem Pengawasan Sekretariat Daerah Internal dan Pengendalian Pelaksanaan pengendalian internal Kebijakan KDH Prosentase tingkat pengawasan internal dan kebijakan Kepala 80% 71,11% 880,732,000 72,11% 918,940,342 73% 964,887,359 73% 1,061,376,095 73% 1,156,899,944 73% 4,982,835,740 Inspektorat Daerah Program Peningkatan Pelayanan Kedinasan Persentase peningakatn layanan % 100% 1,006,167, % 1,056,475, % 1,109,299, % 1,220,229, % 1,330,050, % 5,722,223,551 Sekretariat Daerah Kepala Daerah / Wakil Kepala Daerah kedinasan KDH dan wakil KDH Program Peningkatan Kerjasama Antar Persentase dokumen kerjasama % 100% 102,779, % 102,779,500 Sekretariat Daerah Pemerintah Daerah antar daerah Persentase kebijakan Program Kemitraan Pengembangan Wawasan pengembangan wawasan % 85,000,000 1% 89,250,000 1% 98,175,000 1% 107,010,750 4% 379,435,750 Sekretariat Daerah Kebangsaan kebangsaan Persentase pemenuhan Program Publikasi Pemerintahan dan informasi pemerintahan dan % 654,406, % 850,000, % 935,000, % 1,019,150, % 3,458,556,480 Sekretariat Daerah Pembangunan pembangunan 1 Kecamatan 2 Kecamatan Cakupan wilayah penyelesaian Kecamatan Program Penataan Daerah Otonomi Baru dan 9 dan 10 78,508, ,508,000 Sekretariat Daerah tapal batas wilayah administrasi dan 10 Kelurahan Kelurahan Kelurahan Program Penataan Administrasi Persentase kebijakan % 100,000, % 105,000, % 115,500, % 125,895, % 446,395,000 Sekretariat Daerah Kependudukan kependudukan Persentase SKPD yang dilengkapi Program Penataan Ketatalaksanaan 2% % 212,055, % 222,658, % 244,923, % 266,967, % 946,604,591 Sekretariat Daerah standar dan prosedur kerja Persentase SKPD yang Program Penguatan Reformasi Birokrasi menerapkan agenda Reformasi 11% % 180,866,700 50% 189,910,035 60% 208,901,039 70% 227,702,132 80% 807,379,905 Sekretariat Daerah Birokrasi 2 215

247 No. Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan Indikator Kinerja Program Kondisi Awal RPJMD (Tahun 2013) Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2018 Kondisi Kinerja Pada Akhir Periode RPJMD Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp SKPD Penanggung Jawab (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) Program Peningkatan Profesionalisme Tenaga Prosentase tingkat kinerja % 189,750, % 195,237, % 204,999, % 225,499, % 245,794, % 1,061,280,438 Inspektorat Pemeriksa dan Aparatur Pengawasan tenaga pemeriksa Cakupan penanganan pasca Badan Penanggulangan Program Penanganan Pasca Bencana 100% 100% 610,909, % 392,962, % 412,610, % 453,871, % 494,720, % 2,365,074,956 bencana Bencana Daerah Persentase wilayah Program Pencegahan Dini dan Badan Penanggulangan penanggulangan darurat 100% % 100,000, % 110,000, % 121,000, % 131,890, % 462,890,000 Penanggulangan Daerah Rawan Bencana Bencana Daerah bencana Cakupan penanganan darurat Badan Penanggulangan Program Penanganan Darurat Bencana 100% % 80,000, % 88,000, % 96,800, % 105,512, % 370,312,000 bencana Bencana Daerah Persentase kelompok tanggap Badan Penanggulangan Program Tanggap Darurat Bencana 10% % 75,000,000 20% 82,500,000 25% 90,750,000 25% 98,917, % 347,167,500 darurat yang terlatih Bencana Daerah Persentase tertib administrasi kecamatan 100% 100% 258,800, % 326,000, % 342,300, % 376,530, % 410,417, % 1,714,047,700 Sekretariat Daerah 100% 100% 1,645,439, % 1,739,743, % 1,826,730, % 2,009,403, % 2,190,250, % 9,411,567,939 Kecamatan Polewali 100% 100% 631,609, % 666,170, % 760,000, % 836,000, % 911,240, % 3,805,019,860 Kecamatan Wonomulyo 100% 100% 210,835, % 221,377, % 270,000, % 297,000, % 323,730, % 1,322,943,433 Kecamatan Campalagian 100% 100% 207,931, % 213,595, % 250,000, % 275,000, % 299,750, % 1,246,276,518 Kecamatan Tinambung 100% 100% 108,814, % 117,255, % 140,000, % 154,000, % 167,860, % 687,930,381 Kecamatan Tutar 100% 100% 165,710, % 190,181, % 218,000, % 239,800, % 261,382, % 1,075,073,757 Kecamatan Binuang Program Pembinaan, Pengembangan dan 100% 100% 106,602, % 107,932, % 129,000, % 141,900, % 154,671, % 640,106,802 Kecamatan Mapilli Fasilitasi Kecamatan Cakupan pembinaan, 100% 100% 138,713, % 145,649, % 170,000, % 187,000, % 203,830, % 845,193,335 Kecamatan Tapango pengembangan dan fasilitasi 100% 100% 142,265, % 143,142, % 170,000, % 187,000, % 203,830, % 846,237,931 Kecamatan Balanipa oleh pemerintah kecamatan 100% 100% 109,167, % 110,625, % 128,000, % 140,800, % 153,472, % 642,064,781 Kecamatan Limboro 100% 100% 140,900, % 155,499, % 185,000, % 203,500, % 221,815, % 906,715,073 Kecamatan Luyo 100% 100% 153,320, % 155,587, % 185,000, % 203,500, % 221,815, % 919,222,980 Kecamatan Matakali 100% 100% 145,278, % 149,541, % 175,000, % 192,500, % 209,825, % 872,144,900 Kecamatan Anreapi 100% 100% 137,533, % 144,410, % 170,000, % 187,000, % 203,830, % 842,774,331 Kecamatan Alu 100% 100% 127,990, % 134,390, % 160,000, % 176,000, % 191,840, % 790,221,181 Kecamatan Matangnga 100% 100% 48,975, % 51,423, % 70,000, % 77,000, % 83,930, % 331,328,750 Kecamatan Bulo 1 21 KETAHANAN PANGAN 4,662,994,950 5,055,375,501 5,231,564,925 5,754,721,418 6,249,924,359 26,954,581,153 Badan Pelaksana Cakupan pelayanan administrasi Program Pelayanan Administrasi Perkantoran 80% 100% 281,224, % 288,255, % 295,461, % 325,008, % 341,258, % 1,531,209,050 Penyuluhan Pertanian, perkantoran secara tepat waktu Perikanan, Kehutanan & Badan Pelaksana Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Cakupan pelayanan sarana dan % 100% 1,472,394, % 169,568, % 173,808, % 191,188, % 200,748, % 2,207,708,252 Penyuluhan Pertanian, Aparatur prasarana aparatur Perikanan, Kehutanan & Badan Pelaksana Persentase sumber daya Penyuluhan Pertanian, Program Peningkatan Disiplin Aparatur aparatur yang memiliki 90% % 20,000, % 20,500, % 22,550, % 23,677, % 86,727,500 Perikanan, Kehutanan & kompetensi sesuai bidangnya Ketahanan Pangan Persentase sumberdaya aparatur Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Badan Pemberdayaan yang memiliki kompetensi sesuai ,000, % 15,375, % 16,912, % 17,758, % 65,045,625 Aparatur Masyarakat dan Pemdes bidangnya Badan Pelaksana Program Peningkatan Pengembangan Sistem Tingkat ketepatan menyerahkan Penyuluhan Pertanian, % 100% 10,721, % 10,989, % 11,263, % 12,390, % 13,009, % 58,373,533 Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan laporan kinerja dan keuangan Perikanan, Kehutanan & Ketahanan Pangan Terlaksananya pemeliharaan Badan Pelaksana Program Pemeliharaan Rutin/Berkala Sarana rutin/berkala sarana dan Penyuluhan Pertanian, dan Prasarana Penyuluhan Pertanian, prasarana penyuluh pertanian, 100% % 100,000, % 150,000, % 165,000, % 179,850, % 594,850,000 Perikanan, Kehutanan & Perikanan, Ketuhanan dan Ketahanan Pangan perikanan, kehutanan dan Ketahanan Pangan ketahanan pangan Badan Pelaksana 93 / 3 86/11 86 / / 8 90 / 7 92 / 5 93 / 3 Program Peningkatan Ketahanan Pangan Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Penyuluhan Pertanian, ,939, ,746, ,000, ,000,000 Kecamata 479,600,000 1,999,285,780 Masyarakat dan Daerah dan daerah rawan pangan Kecamatan Kecamatan Kecamatan Kecamatan Kecamatan Kecamatan Perikanan, Kehutanan & Ketahanan Pangan Badan Pelaksana Persentase kelompok tani yang Program Peningkatan Kesejahteraan Petani 22,63% 5% 1,006,365,850 7% 1,056,684,143 10% 1,109,518,350 12% 1,220,470,185 15% 1,330,312,501 49% 5,723,351,028 Penyuluhan Pertanian, terbentuk dan dibina Perikanan, Kehutanan & Badan Pelaksana Program Pemberdayaan Penyuluh Pertanian / Persentase kelompok tani ,63% 5% 1,697,350,080 10% 2,910,131,230 15% 3,055,637,792 20% 3,361,201,571 25% 3,663,709,712 70% 14,688,030,384 Penyuluhan Pertanian, Perkebunan Lapangan nelayan yang didampingi Perikanan, Kehutanan & n 216

248 No. Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan Indikator Kinerja Program Kondisi Awal RPJMD (Tahun 2013) Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2018 Kondisi Kinerja Pada Akhir Periode RPJMD Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp SKPD Penanggung Jawab (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) 1 22 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN DESA 2,390,850,000 2,510,392,500 2,743,196,914 2,750,310,850 2,974,044,838 13,368,795,102 Cakupan pelayanan administrasi Badan Pemberdayaan Program Pelayanan Administrasi Perkantoran 100% 100% 268,278, % 274,985, % 281,860, % 310,046, % 325,548, % 1,460,720,218 perkantoran secara tepat waktu Masyarakat dan Pemdes Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Cakupan pelayanan sarana dan Badan Pemberdayaan % 100% 187,305, % 191,987, % 196,787, % 216,466, % 227,289, % 1,019,835,337 Aparatur prasarana aparatur Masyarakat dan Pemdes Tingkat disiplin aparatur yang Badan Pemberdayaan Program Peningkatan Disiplin Aparatur menggunakan pakaian dinas dan 100% 100% 19,200, % 19,680, % 20,172, % 22,189, % 23,298, % 104,539,860 Masyarakat dan Pemdes pakaian hari tertentu Persentase sumber daya Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Badan Pemberdayaan aparatur yang memiliki 100% % 22,500, % 23,062, % 25,368, % 26,637, % 97,568,438 Aparatur Masyarakat dan Pemdes kompetensi sesuai bidangnya Program Peningkatan Pengembangan Sistem Tingkat ketepatan menyerahkan Badan Pemberdayaan % 100% 17,980, % 18,429, % 18,890, % 20,779, % 21,818, % 97,897, Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan laporan kinerja dan keuangan Masyarakat dan Pemdes Persentase desa yang memiliki Program Peningkatan Keberdayaan Badan Pemberdayaan lembaga pemberdayaan 34.72% 45.14% 1,112,819, % 1,129,511, % 1,185,987, % 1,304,586, % 1,421,998, % 6,154,903,666 Masyarakat Perdesaan Masyarakat dan Pemdes masyarakat desa yang aktif Program Pengembangan Lembaga Ekonomi Persentase desa yang memiliki Badan Pemberdayaan % 20.83% 89,704, % 94,189, % 98,898, % 108,788, % 118,579, % 510,161,017 Pedesaan BUMDes Masyarakat dan Pemdes Persentase desa/ kelurahan yang Program Peningkatan Partisipasi Masyarakat Badan Pemberdayaan melaksanakan musrenbang 100% 100% 11,735, % 12,321, % 12,937, % 14,231, % 15,512, % 66,738,676 Dalam Membangun Pedesaan Masyarakat dan Pemdes desa/kelurahan Program Optimalisasi Pemanfaatan Teknologi Persentase desa yang telah Badan Pemberdayaan % 248,480,000 44% 257,085,677 45% 242,914, % 748,480,000 Informasi menyusun data profil desa Masyarakat dan Pemdes Persentase desa yang telah Program Pembinaan dan Fasilitasi menyusun laporan keuangan Badan Pemberdayaan % 100% 102,047, % 103,067, % 108,221, % 119,043, % 129,757, % 562,137,787 Pengelolaan Keuangan Desa sesuai standar pengelolaan Masyarakat dan Pemdes keuangan daeerah Program Peningkatan Kapasitas Aparatur Persentase aparat desa yang Badan Pemberdayaan % 333,300, % 336,633, % 353,464,650 18% 388,811,115 25% 423,804,115 25% 1,836,012,880 Pemerintahan Desa telah dilatih Masyarakat dan Pemdes Persentase peningkatan Badan Pemberdayaan Program Penataan Daerah Otonomi Baru % 50,000,000 50% 200,000,000 55% 220,000,000 60% 239,800,000 60% 709,800,000 pemerintahan desa yang baik Masyarakat dan Pemdes STATISTIK 315,567, ,000, ,500, ,250, ,632,500 1,877,949,900 TIngkat ketersediaan data Program Pengembangan Data/ Informasi/ statistik yang dibutuhkan dalam Badan Perencanaan % 100% 315,567, % 350,000, % 367,500, % 404,250, % 440,632, % 1,877,949,900 Statistik Daerah perencanaan pembangunan Pembangunan Daerah daerah KEARSIPAN 90,000,000 94,500, ,225, ,147, ,820,775 1,006,693,275 Program Peningkatan Kualitas Pelayanan Persentase Layanan yang Kantor Perpustakaan & % 100% 34,800, % 36,540, % 38,367, % 42,203, % 46,002, % 197,912,733 Informasi dipublikasikan Arsip Daerah Program Penduklikatan Dokumen Arsip Kantor Perpustakaan & Jumlah diklat yang dilaksanakan paket 50,000,000 1 paket 55,000,000 1 paket 59,950,000 1 paket 164,950,000 Daerah Dalam Bentuk Informatika Arsip Daerah Program Peningkatan Sarana Layanan Persentase peningkatan layanan Kantor Perpustakaan & % 100,000, % 110,000, % 119,900, % 329,900,000 Informasi Arsip informasi arsip Arsip Daerah Program Penyelamatan dan Pelestarian Persentase dokumen arsip Kantor Perpustakaan & % 100% 55,200, % 57,960, % 60,858, % 66,943, % 72,968, % 313,930,542 Dokumen Arsip Daerah daerah yang diselamatkan Arsip Daerah KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA 307,762, ,931, ,278, ,006, ,336,853 1,925,315,432 Program Pengembangan Komunikasi, Frekuensi penyebaran informasi Dinas Perhubungan, Kali 365 Kali 99,200, Kali 104,160, Kali 109,368, Kali 120,304, Kali 131,132, Kali 564,165,032 Informasi dan Media Massa melalui media Komunikasi & Informatika Tersedianya panduan Program Pengkajian dan Penelitian Bidang pengembangan teknologi Dinas Perhubungan, ,000, % 82,500, % 89,925, % 247,425,000 Komunikasi dan Informatika informasi dan komunikasi dalam Komunikasi & Informatika mewujudkan E-Goverment Persentase pelatihan teknologi Program Fasilitasi Peningkatan SDM Bidang Dinas Perhubungan, informasi dan komunikasi - 100% 13,065, % 13,065,000 Komunikasi dan Informasi Komunikasi & Informatika kelompok informasi masyarakat 217

249 No. Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan Indikator Kinerja Program Kondisi Awal RPJMD (Tahun 2013) Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2018 Kondisi Kinerja Pada Akhir Periode RPJMD Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp SKPD Penanggung Jawab (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) Frekuensi penerbitan edisi Dinas Perhubungan, Program Kerjasama Dengan Media Massa 6 Kali 4 Kali 195,497,000 6 Kali 202,771,850 6 Kali 212,910,443 6 Kali 234,201,487 6 Kali 255,279, Kali 1,100,660,400 sebaran informasi di media cetak Komunikasi & Informatika 1 26 PERPUSTAKAAN 565,920, ,547, ,715, ,286, ,001,056 3,403,469,976 Cakupan pelayanan administrasi Kantor Perpustakaan & Program Pelayanan Administrasi Perkantoran 100% 100% 184,620, % 189,235, % 193,966, % 213,363, % 224,031, % 1,005,216, perkantoran secara tepat waktu Arsip Daerah Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Cakupan pelayanan sarana dan Kantor Perpustakaan & % 100% 174,020, % 178,370, % 182,829, % 201,112, % 211,168, % 947,501,377 Aparatur prasarana aparatur Arsip Daerah Tingkat disiplin aparatur yang Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Kantor Perpustakaan & menggunakan pakaian dinas dan 100% 100% 34,500, % 35,362, % 36,246, % 39,871, % 41,864, % 187,845,061 Aparatur Arsip Daerah pakaian hari tertentu Persentase sumber daya Kantor Perpustakaan & Program Peningkatan Disiplin Aparatur aparatur yang memiliki 100% 100% 9,000, % 9,225, % 9,455, % 10,401, % 10,921, % 49,003,059 Arsip Daerah kompetensi sesuai bidangnya Program Peningkatan Pengembangan Sistem Tingkat ketepatan menyerahkan Kantor Perpustakaan & % 100% 12,580, % 12,894, % 13,216, % 14,538, % 15,265, % 68,495,387 Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan laporan kinerja dan keuangan Arsip Daerah 109 SD 210 SD 220 SD 230 SD 240 SD 250 SD 250 SD Program Pengembangan Budaya Baca dan Jumlah perpustakaan sekolah Kantor Perpustakaan dan SMP 46 SMP 51 SMP 58 SMP 63 SMP 670 SMP 670 SMP 151,200, ,459, ,000, ,000, ,750,000 1,145,409,000 Pembinaan Perpustakaan (SD, SMP, SMA) yang terbina Arsip Daerah 90 SMA 91 SMA 92 SMA 93 SMA 94 SMA 95 SMA 95 SMA 2 URUSAN PILIHAN 31,553,906,600 32,982,870,019 35,135,574,908 38,649,132,399 41,935,280, ,256,764, PERTANIAN 12,532,719,950 12,687,026,775 13,522,966,313 14,875,262,944 16,187,708,529 69,805,684,510 Cakupan pelayanan administrasi Dinas Pertanian & Program Pelayanan Administrasi Perkantoran 100% 100% 261,923, % 268,471, % 275,183, % 302,701, % 317,836, % 1,426,115,891 perkantoran secara tepat waktu Peternakan Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Cakupan pelayanan sarana dan Dinas Pertanian & % 100% 253,019, % 259,345, % 265,828, % 292,411, % 307,032, % 1,377,637,165 Aparatur prasarana aparatur Peternakan Tingkat disiplin aparatur yang Dinas Pertanian & Program Peningkatan Disiplin Aparatur menggunakan pakaian dinas dan % 32,200, % 33,005, % 36,305, % 38,120, % 139,631,275 Peternakan pakaian hari tertentu Persentase sumber daya Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Dinas Pertanian & aparatur yang memiliki % 12,000, % 12,300, % 13,530, % 14,206, % 52,036,500 Aparatur Peternakan kompetensi sesuai bidangnya Program Peningkatan Pengembangan Sistem Tingkat ketepatan menyerahkan Dinas Pertanian & % 100% 11,468, % 11,754, % 12,048, % 13,253, % 13,916, % 62,440,787 Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan laporan kinerja dan keuangan Peternakan 234,361 Produksi padi 233,861 Ton 233,961 Ton 234,061 ton 234,161 ton 234,261 ton 1.639,03 ton ton Dinas Pertanian & ,29 458,709, ,023, ,024, ,627, ,683,934 2,780,069,839 Produksi palawija/ kedele 1.509,29 Ton Ton Ton Ton Ton Ton Peternakan ton Produksi tanaman holtikultura Ton Ton Ton Ton Ton Program Peningkatan Produksi Ton ton Pertanian/Perkebunan , , , ,18 Produksi kakao ,3 Ton ,86 Ton ,75 Ton Ton Ton Ton ton Dinas Kehutanan & 240,782, ,821, ,645, ,809, ,492,577 2,082,551, , , , , ,29 Perkebunan Produksi kelapa ,86 Ton ,05 Ton Ton Ton Ton Ton ton Badan Pelaksana Jumlah demplot sarana teknologi - 2 unit 77,741, unit 77,741,200 Penyuluhan Pertanian, pertanian Perikanan, Kehutanan & 15 %( Populasi sapi 15% 15% 15% 15% 15% 90% ekor) 15 % ( Populasi kambing 15% 15% 15% 15% 15% 90% ekor) Dinas Pertanian & 3,237,195,000 3,399,054,750 3,569,007,488 3,925,908,236 4,279,239,978 18,410,405,451 Program Peningkatan Produksi Hasil 15 % Peternakan Peternakan Populasi ayam buras dan itik ( % 15% 15% 15% 15% 90% ekor) 15 % ( Populasi ayam ras 15% 15% 15% 15% 15% 90% ekor) Demplot ternak kambing - 15 unit 138,346, unit 138,346,300 Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan, Kehutanan & 218

250 No. Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan Indikator Kinerja Program Kondisi Awal RPJMD (Tahun 2013) Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2018 Kondisi Kinerja Pada Akhir Periode RPJMD Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp SKPD Penanggung Jawab (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) Jumlah Teknologi Tepat Guna Dinas Pertanian & 5 TTG 7 TTG 203,950, TTG 214,147, TTG 224,854, TTG 247,340, TTG 269,600, TTG 1,159,893,733 (TTG) pertanian yang diterapkan Peternakan Jumlah Teknologi Tepat Guna Dinas Kehutanan & (TTG) perkebunan yang 3 TTG 5 TTG 73,900,000 5 TTG 77,595,000 7 TTG 81,474,750 7 TTG 89,622,225 7 TTG 97,688, TTG 420,280,200 Program Peningkatan Penerapan Teknologi Perkebunan diterapkan Pertanian/Perkebunan Peningkatan pengetahuan dan Badan Pelaksana keterampilan pengurus KTNA Penyuluhan Pertanian, - 2 paket 17,118, paket 17,118,300 dalam penerapan teknologi Perikanan, Kehutanan & pertanian/perkebunan Ketahanan Pangan Jumlah Teknologi Tepat Guna Program Peningkatan Penerapan Teknologi Dinas Pertanian & (TTG) peternakan yang 3 TTG TTG 92,000,000 5 TTG 96,600,000 7 TTG 106,260,000 7 TTG 115,823, TTG 410,683,400 Peternakan Tepat Guna Peternakan diterapkan Persentase komoditi hasil Dinas Pertanian & produksi pertanian yang berdaya 15% 15% 97,361,400 15% 260,000,000 15% 273,000,000 15% 300,300,000 15% 327,327,000 90% 1,257,988,400 Peternakan Program Peningkatan Pemasaran Hasil saing Produksi Pertanian/Perkebunan Persentase komoditi hasil Dinas Kehutanan & produksi perkebunan yang 2% - - 5% 171,000,000 8% 179,550,000 10% 197,505,000 10% 215,280,450 37% 763,335,450 Perkebunan berdaya saing Persentase komoditi hasil Program Peningkatan Pemasaran Hasil Dinas Pertanian & produksi peternakan yang 5% 7% 52,337,000 7% 482,000,000 8% 506,100,000 8% 556,710,000 8% 606,813,900 38% 2,203,960,900 Produksi Peternakan Peternakan berdaya saing Program Pencegahan dan Penanggulangan Dinas Pertanian & Persentase ternak yang dilayani 15% 15% 273,638,000 15% 287,319,900 15% 301,685,895 15% 331,854,485 15% 361,721,388 75% 1,556,219,668 Penyakit Ternak Peternakan 20% ( Persentase jalan usaha tani 5% 7% 7% 8% 8% 55% M) Dinas Pertanian & 5,219,128,000 5,480,084,400 5,754,088,620 6,329,497,482 6,899,152,255 29,681,950,757 Peternakan Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Cakupan jaringan irigasi tersier 20% ( M) 5% 7% 7% 8% 8% 55% Infrastruktur Pertanian Persentase peningkatan sarana Dinas Kehutanan & dan prasarana infrastruktur - 25% 825,913,000 25% 867,208,650 25% 910,569,083 25% 1,001,625,991 25% 1,091,772,330 25% 4,697,089,053 Perkebunan pertanian Dinas Pertanian & Fasilitasi pelaku agribisnis - 10 klp 129,605, klp 129,605,000 Peternakan Program Peningkatan Kesejahteraan Petani Persentase peningkatan Dinas Kehutanan & - 65% 156,659, % 156,659,500 kesejahteraan petani Perkebunan Fasilitasi kelompok tani dan Dinas Pertanian & - 80 Klp 581,095, Klp 581,095,000 kelompok agribisnis Peternakan Program Peningkatan Ketahanan Pangan Pertanian/Perkebunan Prosentase peningkatan Dinas Kehutanan & ketahanan pangan - 20% 72,471, % 72,471,000 Perkebunan pertanian/perkebunan Badan Pelaksana Program Pengembangan Agribisnis Persentase pengembangan Penyuluhan Pertanian, % 150,358, % 150,358,150 Pertanian/ Peternakan kegiatan PUAP bagi Gapoktan Perikanan, Kehutanan & Ketahanan Pangan 2 02 KEHUTANAN 3,309,041,200 3,747,473,975 3,973,899,834 4,371,289,817 4,748,563,997 20,150,268,823 Cakupan pelayanan administrasi Dinas Kehutanan dan Program Pelayanan Administrasi Perkantoran 100% 100% 242,659, % 248,725, % 254,943, % 280,437, % 294,459, % 1,321,225,932 perkantoran secara tepat waktu Perkebunan Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Cakupan pelayanan sarana dan Dinas Kehutanan dan % 100% 44,800, % 45,920, % 47,068, % 51,774, % 54,363, % 243,926,340 aparatur prasarana aparatur Perkebunan Tingkat disiplin aparatur yang Dinas Kehutanan dan Program Peningkatan Disiplin Aparatur menggunakan pakaian dinas dan 100% 100% 35,000, % 35,875, % 36,771, % 40,449, % 42,471, % 190,567,453 Perkebunan pakaian hari tertentu Persentase sumber daya Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Dinas Kehutanan dan aparatur yang memiliki 100% 100% 15,000, % 15,375, % 15,759, % 17,335, % 18,202, % 81,671,766 Aparatur Perkebunan kompetensi sesuai bidangnya Program Peningkatan Pengembangan Sistem Tingkat ketepatan menyerahkan Dinas Kehutanan dan % 100% 11,725, % 12,018, % 12,318, % 13,550, % 14,227, % 63,840,097 Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan laporan kinerja dan keuangan Perkebunan Program Pemantapan Keamanan Dalam Tingkat pemantapan keamanan Dinas Kehutanan dan % 100% 542,589, % 542,589,250 Negeri dalam negeri Perkebunan Persentase /luas hutan dan 25,85% Dinas Kehutanan dan 1% 1,077,518, % 1,463,000, % 1,536,150, % 1,689,765,000 2% 1,841,843,850 7,5% 7,608,277,350 lahan yang direhabilitasi (6.415 Ha) Perkebunan 219

251 No. Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan Indikator Kinerja Program Kondisi Awal RPJMD (Tahun 2013) Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2018 Kondisi Kinerja Pada Akhir Periode RPJMD Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp SKPD Penanggung Jawab (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan Badan Pelaksana Pelatihan kelompok tani Penyuluhan Pertanian, kehutanan budidaya tanaman 1 paket 1 paket 136,088, paket 136,088,800 Perikanan, Kehutanan & aren Ketahanan Pangan Produksi rotan 350 Ton 475 Ton 567,50 625,75 685,35 705, ,6 4,793,101,752 Dinas Kehutanan dan 842,795, ,935, ,181,929 1,022,100,121 1,114,089,132 Produksi aren 453,03 Ton 465,15 Ton 485,25 497,50 500,00 520, ,18 - Perkebunan Program Pemanfaatan Potensi Sumber Daya Produksi murbey 128 Ton 150,53 Ton 175,35 180,23 185,46 195, , Hutan Pelatihan kelompok tani Badan Pelaksana kehutanan budidaya tanaman Penyuluhan Pertanian, 1 paket 1 paket 105,818, paket 105,818,500 murbei dan terlaksananya lomba Perikanan, Kehutanan & wana lestari Ketahanan Pangan Persentase pembinaan dan - 5% 10% 13% 15% 17% 60% 1,850,067,984 Program Pembinaan dan Penertiban Industri penertiban industri hasil hutan Dinas Kehutanan dan ,625, ,625, ,556, ,412, ,849,202 Hasil Hutan Perkebunan Persentase luas kawasan hutan 0,25% 0,5% 1% 1% 2% 1.75% 6% - yang diawasi Program Pengembangan Kapasitas Sumber Daya Hutan dan Lingkungan Hidup Persentase pengembangan kapasitas sumber daya hutan dan lingkungan Persentase kelompok tani yang melaksanakan budidaya tanaman lada - 5% 57,210,000 10% 143,000,000 15% 150,150,000 20% 165,165, % 180,029,850 75% 695,554,850-60% 40,574, % 40,574,900 Dinas Kehutanan dan Perkebunan Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan, Kehutanan & Ketahanan Pangan Program Perlindungan dan Konservasi Persentase luas hutan kritis yang Dinas Kehutanan dan 4% 2% 86,636, % 86,636,850 Sumber Daya Hutan dikonservasi Perkebunan Badan Pelaksana Program Perlindungan dan Konversi Sumber Persentase kelompok kehutanan 64% % 500,000,000 80% 573,000,000 85% 630,300,000 90% 687,027,000 90% 2,390,327,000 Penyuluhan Pertanian, Daya Hutan yang dibina Perikanan, Kehutanan & 2 03 ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL 879,913, ,909,018 1,027,642,496 1,130,406,746 1,215,073,956 5,176,945,566 Cakupan pelayanan administrasi Dinas Pertambangan, Program Pelayanan Administrasi Perkantoran 100% 100% 213,533, % 215,668, % 221,060, % 243,166, % 255,324, % 1,148,752,830 perkantoran secara tepat waktu Energi & Mineral Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Cakupan pelayanan sarana dan Dinas Pertambangan, % 100% 116,961, % 118,130, % 121,083, % 133,192, % 139,851, % 629,219,624 Aparatur prasarana aparatur Energi & Mineral Tingkat disiplin aparatur yang Dinas Pertambangan, Program Peningkatan Disipiln Aparatur menggunakan pakaian dinas dan 100% 100% 9,000, % 9,225, % 9,455, % 10,401, % 10,921, % 49,003,059 Energi & Mineral pakaian hari tertentu Persentase sumber daya Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Dinas Pertambangan, aparatur yang memiliki 100% 100% 52,500, % 25,000, % 25,625, % 28,187, % 29,596, % 160,909,375 Aparatur Energi & Mineral kompetensi sesuai bidangnya Program Peningkatan Pengembangan Sistem Tingkat ketepatan menyerahkan Dinas Pertambangan, % 100% 10,199, % 10,454, % 10,716, % 11,787, % 12,377, % 55,535,439 Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan laporan kinerja dan keuangan Energi & Mineral Program Pembinaan dan Pengembangan Dinas Pertambangan, Rasio elektrifikasi non PLN 100% 85% 197,397,500 88% 202,305,013 92% 212,420,264 95% 233,662, % 254,691, % 1,100,476,963 Bidang Ketenagalistrikan dan Energi Energi & Mineral Terkelolanya hasil survey, Program Pembinaan dan Pengembangan Dinas Pertambangan, penelitian, penyidikan dan 100% % 60,000, % 130,000, % 143,000, % 155,870, % 488,870,000 Geologi dan Sumber Daya Mineral Energi & Mineral pelayanan geologi Program Pembinaan dan Pengawasan Terwujudnya good mining Dinas Pertambangan, % 50% 280,321,900 70% 283,125,119 80% 297,281,375 90% 327,009, % 356,440, % 1,544,178,275 Pertambangan practice Energi & Mineral 2 04 PARIWISATA 590,366, ,383, ,902, ,093, ,621,448 3,404,367,425 Persentase destinasi wisata yang Dinas Kebudayaan & Program Pengembangan Destinasi Pariwisata 100% 100% 308,226, % 323,637, % 339,819, % 373,801, % 407,443, % 1,752,929,569 dikelola Pariwisata Persentase pengembangan Dinas Kebudayaan & Program Pengembangan Kemitraan 100% 100% 90,000, % 94,500, % 99,225, % 109,147, % 118,970, % 511,843,275 kemitraan yang dikembangkan Pariwisata Program Pengembangan Pemasaran Persentase wisatawan yang Dinas Kebudayaan & % 100% 192,140, % 212,245, % 222,858, % 245,143, % 267,206, % 1,139,594,581 Pariwisata berkunjung Pariwisata 220

252 No. Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan Indikator Kinerja Program Kondisi Awal RPJMD (Tahun 2013) Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2018 Kondisi Kinerja Pada Akhir Periode RPJMD Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp SKPD Penanggung Jawab (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) 2 05 KELAUTAN DAN PERIKANAN 6,156,068,600 6,503,989,790 6,819,377,110 7,501,314,821 8,062,025,698 35,042,776,019 Cakupan pelayanan administrasi Dinas Kelautan & Program Pelayanan Administrasi Perkantoran 100% 100% 221,782, % 227,326, % 233,009, % 256,310, % 269,126, % 1,207,556,257 perkantoran secara tepat waktu Perikanan Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Cakupan pelayanan sarana dan Dinas Kelautan & % 100% 125,100, % 128,227, % 131,433, % 144,576, % 151,805, % 681,142,525 Aparatur prasarana aparatur Perikanan Tingkat disiplin aparatur yang Dinas Kelautan & Program Peningkatan Disiplin Aparatur menggunakan pakaian dinas dan 100% 100% 10,340, % 10,598, % 10,863, % 11,949, % 12,547, % 56,299,070 Perikanan pakaian hari tertentu Persentase sumber daya Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Dinas Kelautan & aparatur yang memiliki 100% 100% 21,500, % 22,037, % 22,588, % 24,847, % 26,089, % 117,062,864 Aparatur Perikanan kompetensi sesuai bidangnya Program Peningkatan Pengembangan Sistem Tingkat ketepatan menyerahkan Dinas Kelautan & % 100% 4,191, % 4,296, % 4,403, % 4,844, % 5,086, % 22,822,903 Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan laporan kinerja dan keuangan Perikanan Program Peningkatan Kegiatan Budaya Fasilitasi hasil olahan perikanan Kelautan dan Wawasan Maritim Kepada berbasis lokal Masyarakat 3 jenis / 30,950, paket Dinas Kelautan & 30,950,000 jenis/paket Perikanan Program Pengembangan Sistem Penyuluhan Perikanan Program Pengembangan Sistem Penyuluhan Perikanan Persentase kelompok masyarakat perikanan yang mendapat penyuluhan/ bimbingan Persentase kelompok perikanan yang didampingi 100% 100% 158,500, % 158,500,000 70% 2% 133,966,500 4% 475,000,000 4% 498,750,000 5% 548,625,000 7% 598,001,250 92% 2,254,342,750 Dinas Kelautan & Perikanan Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan, Kehutanan & Ketahanan Pangan Persentase masyarakat miskin Dinas Kelautan & 75% 2% 325,853,800 3% 550,641,877 5% 578,173,971 7% 635,991,368 8% 693,230, % 2,783,891,607 Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat pesisisr yang diberdayakan Perikanan Pesisir Badan Pelaksana Jumlah petani yang dilatih - 30 orang 27,297, orang 27,297,800 Penyuluhan Pertanian, budidaya rumput laut Perikanan, Kehutanan & Program Pemberdayaan Masyarakat Dalam Persentase keterlibatan Dinas Kelautan & Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya masyarakat dalam pengawasan 73% 2% 192,172,500 3% 201,781,125 5% 211,870,181 7% 233,057,199 10% 254,032, % 1,092,913,353 Perikanan Kelautan dan pengendalian Produksi bandeng 8.180,50 Ton 8.180,50 Ton 8.250, , , , ,59 Dinas Kelautan & 1,993,533,400 2,093,210,070 2,197,870,574 2,417,657,631 2,538,540,512 11,240,812,187 Perikanan Program Pengembangan Budidaya Perikanan Produksi udang 805,25 Ton 805,25 Ton 810,27 814,45 818,25 825, ,62 Pelatihan petambah (udang vanname) - 30 orang 25,646, orang 25,646,500 Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan, Kehutanan & Program Pengembangan Perikanan Tangkap Produksi perikanan tangkap Ton Ton 1,996,789, Ton 2,096,629, Ton 2,201,460, , Ton 2,421,606, Ton 2,639,551, Ton 11,356,036,982 Dinas Kelautan dan Perikanan Program Optimalisasi Pengelolaan dan Persentase hasil produksi Dinas Kelautan dan 2 05 ;12 70% 3% 361,181,800 4% 379,240,890 5% 398,202,935 5% 438,023, % 477,445,318 92% 2,054,094,171 Pemasaran Hasil Produksi Perikanan perikanan yang berdaya saing Perikanan Produksi rumput laut kering Ton Ton Produksi ikan nila 126,5 Ton 126,5 Ton 150,20 175, ,50 778,85 Dinas Kelautan dan 300,000, ,000, ,750, ,825, ,569,250 1,706,144,250 Perikanan Program Pengembangan Kawasan Budidaya Produksi ikan mas 65,2 Ton 65,2 Ton 67,5 68,9 69,00 69,15 404,95 Laut, Air Payau dan Air Tawar Produksi ikan lele 25,6 Ton 25,6 Ton 25,6 25,6 25,6 25,6 153,6 Jumlah demplot tambak yang dilaksanakan Badan Pelaksana 3 unit 3 unit 227,262, ,262,800 Penyuluhan Pertanian, demplot demplot Perikanan, Kehutanan & 2 06 PERDAGANGAN 6,879,261,850 7,193,136,272 7,778,147,367 8,555,962,104 9,325,998,693 39,732,506,285 Program Perlindungan Konsumen dan Persentase kasus peredaran Dinas Perindustrian & % 159,699,850 16% 167,684,843 20% 176,069,085 25% 193,675, % 211,106, % 908,236,603 Pengamanan Perdagangan barang ilegal yang tertangani Perdagangan Program Peningkatan Efesiensi Perdagangan Proporsi usaha perdagangan Dinas Perindustrian & yang telah memiliki legalitas - 23% 6,586,588,000 27% 6,785,828,729 29% 6,955,474,447 31% 7,651,021,892 36% 8,339,613,862 36% 36,318,526,930 Dalam Negeri Perdagangan usaha Program Peningkatan dan Pengembangan Dinas Perindustrian & Nilai perdagangan (Rp. Juta) - 923,964, ,974,000 Rp ,622,700 Rp ,603,835 Rp ,264,219 Rp ,777,998Rp ,242,752 Ekspor Perdagangan Cakupan bina usaha Program Pembinaan Pedangang Kaki Lima Dinas Perindustrian & perdagangan dan usaha 48.44% % 100,000, % 500,000, % 550,000, % 599,500, % 1,749,500,000 dan Asongan Perdagangan Informal 2 07 INDUSTRI 1,092,439,150 1,177,149,779 1,225,848,156 1,348,432,971 1,451,464,901 6,295,334,

253 No. Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan Indikator Kinerja Program Kondisi Awal RPJMD (Tahun 2013) Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2018 Kondisi Kinerja Pada Akhir Periode RPJMD Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp SKPD Penanggung Jawab (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) Cakupan pelayanan administrasi Dinas Perindustrian & Program Pelayanan Administrasi Perkantoran 100% 100% 271,505, % 278,292, % 285,250, % 313,775, % 329,463, % 1,478,286,998 perkantoran secara tepat waktu Perdagangan Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Cakupan pelayanan sarana dan Dinas Perindustrian & % 100% 62,205, % 63,760, % 65,354, % 71,889, % 75,484, % 338,692,812 Aparatur prasarana aparatur Perdagangan Tingkat disiplin aparatur yang Dinas Perindustrian & Program Peningkatan Disiplin Aparatur menggunakan pakaian dinas dan 100% 100% 13,500, % 13,837, % 14,183, % 15,601, % 16,381, % 73,504,589 Perdagangan pakaian hari tertentu Persentase sumber daya Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Dinas Perindustrian & aparatur yang memiliki 100% 100% 36,000, % 36,900, % 37,822, % 41,604, % 43,684, % 196,012,238 Aparatur Perdagangan kompetensi sesuai bidangnya Program Peningkatan Pengembangan Sistem Tingkat ketepatan menyerahkan Dinas Perindustrian & % 100% 13,243, % 13,574, % 13,913, % 15,304, % 16,070, % 72,105, Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan laporan kinerja dan keuangan Perdagangan Nilai produksi industri kecil dan 172,815, ,405, ,905, ,712, ,862, ,932, ,932,967 menengah (Rp. 000) Program Peningkatan Kemampuan Teknologi Dinas Perindustrian & ,250, ,512, ,588, ,446, ,947,162 1,849,744,724 Industri Jumlah tenaga kerja yang Perdagangan orang orang orang orang orang terserap pada sektor industri orang orang Program Penataan Struktur Industri Pertumbuhan jumlah industri 11,44% 12.01% 224,150, % 235,357, % 247,125, % 271,837, % 296,303, % 1,274,774,112 Dinas Perindustrian & Perdagangan Program Pengembangan Sentra - Sentra Dinas Perindustrian & Jumlah sentra industri - 2-4% 40,000, ,000, ,200, ,358, ,558,000 Industri Potensial Perdagangan Program Pengembangan Industri Kecil Persentase usaha industri yang 28% (6788 Dinas Perindustrian & % 146,586,000 8% 153,915,300 10% 161,611,065 13% 177,772,172 17% 193,771,667 68% 833,656,203 Menengah aktif Unit) Perdagangan 2 08 KETRANSMIGRASIAN 114,096, ,800, ,790, ,369, ,823, ,880,781 Jumlah lokasi calon area Program Pengembangan Wilayah Dinas Sosial, Tenaga Kerja transmigrasi yang memenuhi 125 KK 200 KK 60,646, KK 63,678, KK 66,862, KK 73,548, KK 80,167, KK 344,902,747 Transmigrasi & Transmigrasi syarat 2C4L Cakupan wilayah transmigran Program Transmigrasi Lokal 4 Kecamatan 1 Kecamatan 53,450,000 1 Kecamatan 56,122,500 1 Kecamatan 58,928,625 1 Kecamatan 64,821,488 1 Kecamatan 70,655,421 lokal Dinas Sosial, Tenaga Kerja 303,978,034 Kecamatan & Transmigrasi Total Belanja 853,841,575, ,631,101,383 1,037,713,900,507 1,134,698,611,553 1,228,239,154,678 5,204,124,343,

254

255 BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH Mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, maka penetapan indikator kinerja daerah bertujuan untuk memberi gambaran mengenai ukuran keberhasilan pencapaian visi dan misi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah pada akhir periode masa jabatan dari sisi keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan daerah, khususnya dalam memenuhi kinerja pada aspek kesejahteraan masyarakat, pelayanan publik, dan daya saing daerah. Hal ini ditunjukkan dari akumulasi pencapaian indikator outcomes program pembangunan daerah setiap tahun atau indikator capaian yang bersifat mandiri setiap tahun sehingga kondisi kinerja yang diinginkan pada akhir periode RPJMD dapat dicapai. Ukuran keberhasilan/pencapaian suatu daerah membutuhkan indikator yang mampu menggambarkan kemajuan daerah tersebut. lndikator kinerja dimaksud juga diperlukan oleh publik dalam rangka perwujudan transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. Indikator Kinerja Daerah dalam RPJMD Kabupaten Polewali Mandar Tahun meliputi : 1. Indikator Kinerja Pembangunan Daerah yang menjelaskan tentang pencapaian setiap Misi RPJMD; 2. Indikator Kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah sebagaimana diatur dalam Permendagri Nomor 54 Tahun 2010, yang meliputi aspek Kesejahteraan Masyarakat, Pelayanan Umum dan Daya Saing. Target Indikator Kinerja ditetapkan dengan mengacu pada target yang ditetapkan oleh Pemerintah, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat serta arahan RPJPD Kabupaten Polewali Mandar Tahun dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber daya daerah. 224

256 NO Tabel 9.1 Penetapan Indikator Kinerja Pembangunan Daerah Kabupaten Polewali Mandar, INDIKATOR KINERJA SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 KONDISI KINERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2018 MISI 1 : Mewujudkan Sumber Daya Manusia yang Berkualitas Dengan Berlandaskan Pada Nilai-Nilai Agama dan Budaya 1 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indeks 68,44 69,21 69,98 70,76 71,54 72,31 72,31 2 Angka Melek Huruf (AMH) Persen Rata-rata Lama Sekolah (RLS) Tahun 7,07 7,25 7,47 7,70 7,92 8,13 8,13 4 Angka Harapan Hidup (AHH) Tahun 65,53 66,08 66,35 66,63 66,92 67,21 67,21 5 Persentase organisasi antar dan intra umat beragama yang dibina Persen Persentase organisasi kesenian dan 6 budaya yang berperan aktif dalam Persen pengembangan seni dan budaya 7 Jumlah kegiatan pembinaan pendidikan wawasan kebangsaan Kegiatan Jumlah konflik sosial Kasus Indeks Pembangunan Gender (IPG) Indeks 64,75 65,95 67,25 68,65 70,15 71,75 71,75 10 Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) Indeks 68,76 70,46 72,26 74,16 76,16 78,26 78,26 MISI 2 : Mengembangkan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Pengelolaan Sumber Daya Alam Secara Berkelanjutan 11 Pertumbuhan ekonomi Persen 9,91 10,05 10,32 10,51 10,78 11,12 11,12 12 Nilai produksi UMKM Juta Rupiah

257 NO INDIKATOR KINERJA SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) TAHUN 2014 TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 KONDISI KINERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2018 Kontribusi industri pengolahan 13 Persen 3, ,23 4,75 5,23 5,56 5,56 terhadap PDRB (ADHK) 14 Jumlah kunjungan wisata per tahun Wisatawan Kontribusi sektor perdagangan, restoran, dan hotel terhadap PDRB Persen 28,32 28,76 29,25 29,77 30,00 30,12 30,12 16 Persentase penduduk miskin Persen 19, Pendapatan (PDRB) per kapita Rupiah Pengeluaran per kapita riil Rupiah Persentase penduduk yang rawan pangan Persen 19, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Persen 68,4 69,6 70,5 71,4 72,2 73,0 73,0 21 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Persen 2,18 2,14 2,10 2,07 2,04 2,01 2,01 22 Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB (ADHK) Persen 55,17 55,45 55,98 56,47 56,70 56,95 56,95 23 Jumlah produksi perikanan darat Ton/Tahun , , , , , , ,45 24 Jumlah produksi perikanan laut Ton/Tahun , , , , , , , Proporsi luas lahan persawahan terhadap luas wilayah Persen Kontribusi produksi padi Polewali Mandar terhadap Sulawesi Barat Persen 52,25 52,4 52,5 52,7 52,9 53,0 53,0 Proporsi luas hutan lindung terhadap luas kawasan hutan Persen Proporsi luas kawasan hutan mangrove Persen 76,83 76,86 76,90 76,93 76,97 77,00 77,00 226

258 NO INDIKATOR KINERJA SATUAN Persentase penambang yang memiliki izin yang memenuhi good mining practice Proporsi luas RTH terhadap luas kawasan perkotaan Persentase kasus pengaduan lingkungan yang terselesaikan Cakupan penghijauan/penanaman vegetasi untuk produksi biomassa di wilayah rawan kerusakan tanah Cakupan layanan informasi status kualitas air dan udara Persentase kawasan strategis yang ditetapkan melalui Perda Cakupan penanganan kawasan rawan bencana KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) TAHUN 2014 TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 KONDISI KINERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD Persen Persen Persen Persen Persen 8,89 18,89 33,33 47,78 61, Persen 0 16,67 66, Persen TAHUN 2018 MISI 3 : Meningkatkan Infrastruktur Guna Mendorong Daya Saing Daerah Panjang jalan kabupaten dalam kondisi baik Kilometer 427, ,05 23,15 137,20 Panjang jalan kabupaten dalam kondisi sedang Kilometer 249, Persentase jalan desa dalam kondisi baik Persen

259 NO INDIKATOR KINERJA SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) TAHUN 2014 TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 KONDISI KINERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN Jumlah jembatan dalam kondisi baik Unit Rasio jaringan irigasi dengan luas lahan sawah Persen 74 74,14 74,35 74,85 75,10 75,42 75,42 Persentase ketersediaan sarana dan prasarana transportasi Persen Persentase ketersediaan sarana dan prasarana keselamatan transportasi Persen darat 43 Cakupan layanan akses informasi Persen Luas kawasan kumuh Ha Jumlah rumah tidak layak huni yang tertangani Unit Cakupan layanan air minum perpipaan Persen Persentase layanan sampah terangkut ke TPA Persen Rasio elektrifikasi Persen MISI 4 : Mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik dan Bersih Serta Menyediakan Pelayanan Publik yang Berkualitas 48 Predikat LAKIP Predikat CC CC CC CC B B B 49 Peringkat LPPD Peringkat Opini pengelolaan keuangan daerah Opini WDP WDP WDP WDP WTP WTP WTP 228

260 NO INDIKATOR KINERJA SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) Persentase usulan masyarakat melalui 51 musrenbang yang diakomodir dalam Persen dokumen perencanaan pembangunan Persentase data SKPD yang 52 terintegrasi Persen TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 KONDISI KINERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN Proporsi pemenuhan kompetensi SDM aparatur yang memenuhi standar kompetensi Proporsi penduduk yang telah memiliki dokumen kependudukan dan pencatatan sipil Lama waktu rata-rata penyelesaian perizinan Persen Persen , ,16 94,33 97,33 97,33 Hari Kerja Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) Indeks Persentase sarana dan prasarana pemerintahan dalam kondisi baik Persen

261 Tabel 9.2 Penetapan Indikator Kinerja Daerah Terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Kabupaten Polewali Mandar, NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN Pertumbuhan ekonomi Persen 9,91 10,05 10,32 10,51 10,78 11,12 11,12 2 PDRB per kapita Rupiah Persentase penduduk miskin Persen 19,30 16,55 15,13 13,76 12,34 10,92 10,92 Fokus Kesejahteraan Sosial 1 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indeks 69,21 68,44 69,98 70,76 71,54 72,31 72,31 2 Angka Melek Huruf (AMH) Persen 88,00 89,00 86,00 90,00 91,00 92,00 92,00 3 Rata-rata Lama Sekolah (RLS) Tahun 7,07 7,25 7,47 7,70 7,92 8,13 8,13 4 Angka partisipasi kasar SD/MI Persen Angka partisipasi kasar SMP/MTs Persen Angka partisipasi kasar SMA/SMK/MA Persen Angka partisipasi murni SD/MI Persen Angka partisipasi murni SMP/MTs Persen Angka partisipasi murni SMA/SMK/MA Persen Angka Harapan Hidup (AHH) Tahun 65,53 66,08 66,35 66,63 66,92 67,21 67,21 Fokus Seni Budaya dan Olahraga 1 Jumlah atraksi keseniaan yang di lakukan secara reguler Atraksi

262 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH 2 Jumlah organisasi olahraga SATUAN Organis asi KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN 2018 (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Jumlah kegiatan olahraga Kegiatan ASPEK PELAYANAN UMUM Pelayanan Urusan Wajib I Pendidikan 1 Angka partisipasi kasar anak usia dini Persen 46,20 48,32 50,45 53,45 55,70 58,45 58,45 2 Angka partisipasi sekolah SD/MI Persen Angka partisipasi sekolah SMP/MTs Persen 80, Angka partisipasi sekolah SMA/SMK/MA Persen 56,01 56,04 56,06 56,08 56,10 56,12 56,12 5 Angka putus sekolah SD/MI Persen 0,87 0,87 0,85 0,80 0,75 0,70 0,70 6 Angka putus sekolah SMP/MTs Persen 0,65 0,65 0,60 0,55 0,50 0,45 0,45 7 Angka putus sekolah SMA/SMK/MA Persen 0,20 0,19 0,18 0,17 0,16 0,15 0,15 8 Rasio kelas murid : SD Rasio 1 : 30 1 : 30 1 : 29 1 : 29 1 : Rasio kelas murid : SMP Rasio 1 : 36 1 : 36 1 : 35 1 : 33 1 : Rasio kelas murid : SMA/SMK Rasio 1 : 36 1 : 36 1 : 35 1 : 33 1 : Rasio guru - murid : SD Rasio 1 : 28 1 : 27 1 : 26 1 : 25 1 : Rasio guru - murid : SMP Rasio 1 : 28 1 : 27 1 : 26 1 : 25 1 : 24 1 : 21 1 : Rasio guru - murid : SMA/SMK Rasio 1 : 27 1 : 27 1 : 26 1 : 25 1 : 24 1 : 23 1 : Persentase tenaga pendidik PAUD yang meningkat kompetensinya Persen : : : : : : : : 231

263 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) II Kesehatan Menurunnya angka kematian bayi dari 11,37 per 1000 menjadi 6,5 per 1000 KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN ,37 Per 1000 KH 11,18 10,00 8,82 7,65 6,47 6,47 Angka kelahiran hidup Menurunkan angka kematain ibu dari 132 Per 132 per menjadi 71 per Angka kelahiran hidup KH Menurunnya prevalensi gizi kurang dan buruk dari 15,32 persen menjadi di Persen 15,32 12,00 10,05 9,00 8,50 7,00 7,00 bawah 7 persen Meningkatnya cakupan imunisasi dasar lengkap bayi usia 0-11 bulan dari 60 Persen persen menjadi 90 persen Menurunnya prevalensi tuberculosis 215 Per dari 215 menjadi 150 per Angka penduduk Penduduk Menurunnya kasus malaria (Annual 2 Per Angka Paracite Index-API) dari 2 menjadi 1 per ,5 1,3 1 0,9 0,7 0, penduduk Penduduk Persentase desa yang mencapai UCI dari 80 persen menjadi 90 persen Menurunnya angka kesakitan DBD dari 10 menjadi 5 per penduduk Menurunnya penderita diare dari 389 menjadi 250 per 1000 balita Menurunnya penderita pneumonia dari 50 menjadi 25 per 1000 balita Persen Angka Angka Angka 10 Per Penduduk 389 Per 1000 Balita 50 Per 1000 Balita

264 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Meningkatnya penemuan kasus-kasus suspek penyakit menular dan tidak menular dari 25 persen menjadi 80 persen Cakupan kunjungan ibu hamil (K4) sampai dengan 95 persen KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN 2018 Persen Persen Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani sampai dengan 80 persen Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih sampai dengan 90 persen Cakupan pelayanan nifas sampai dengan 90 persen Persen Persen Persen Cakupan neonates komplikasi yang ditangani sampai dengan 80 persen Persen Cakupan kunjungan bayi sampai dengan 90 persen Cakupan pelayanan anak balita sampai 90 persen Cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada anak usia 6-24 bulan pada keluarga miskin sampai dengan 100 persen Cakupan gizi buruk yang mendapat perawatan sampai dengan 100 persen Persen Persen Persen Persen

265 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat sampai dengan 100 persen Cakupan peserta KB aktif sampai dengan 70 persen KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN 2018 Persen Persen Cakupan pelayanan kesehatan dasar 20 Persen III Pekerjaan Umum Panjang jalan kabupaten dalam kondisi Kilomet 1 baik er Panjang jalan kabupaten dalam kondisi Kilomet 2 sedang er Persentase jalan desa dalam kondisi 3 baik Persen 427, ,05 23,15 137,20 249, Jumlah jembatan dalam kondisi baik Unit Persentase alat berat dalam kondisi baik Persen Cakupan layanan air minum perpipaan Persen Persentase desa/kelurahan yang menggunakan air bersih Persentase desa/kelurahan yang menggunakan sanitasi Rasio jaringan irigasi dengan luas lahan sawah Persen 36 36,55 41,55 46,55 51,55 56,55 56,55 Persen 55 55,55 60,55 65,55 70,55 75,55 75,55 Persen 74 74,14 74,35 74,85 75,10 75,42 75,42 10 Panjang jaringan irigasi yang terbangun Meter , , , , , , ,13 11 Jumlah bendung dalam kondisi baik Unit

266 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN Panjang drainase yang terbangun Meter Persentase drainase dalam kondisi baik Persen Panjang turap/talud/bronjong yang terbangun Meter Persentase sarana dan prasarana pemerintahan dalam kondisi baik Persen IV Perumahan 1 Luas kawasan kumuh Ha Jumlah rumah tidak layak huni yang tertangani Unit Persentase layanan sampah terangkut ke TPA Persen Luas areal taman kota yang ditata M Cakupan kecamatan yang terdata dalam sistem informasi perumahan Jumlah areal pemakaman milik pemerintah yang ditata sesuai ketentuan Cakupan kecamatan yang terdata areal pemakamannya Cakupan kecamatan yang terlayani dalam pelayanan kebakaran Persen 6,25-18, Areal Pemaka man Persen Persen 81,25 81,25 81,25 81,25 81,25 81,25 81,25 235

267 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN 2018 V Penataan Ruang 1 2 Persentase kawasan strategis yang ditetapkan melalui Perda Persentase ketepatan waktu rekomendasi penerbitan IMB yang memenuhi syarat 3 Jumlah dokumen rencana tata ruang 4 Jumlah pelanggaran terhadap penggunaan tata ruang : Persen 0 16,67 66, Persen Dokume n Teguran I Teguran Teguran II Teguran Teguran III Teguran VI Perencanaan Pembangunan Persentase usulan masyarakat melalui musrenbang yang diakomodir dalam dokumen perencanaan pembangunan Persentase data SKPD yang terintegrasi ke dalam Polewali Mandar satu data Persentase ketersediaan dokumen perencanaan pembangunan daerah Persentase SKPD yang telah menyusun Renstra SKPD Persentase Renstra SKPD yang selaras dengan RPJMD Persen Persen Persen Persen Persen

268 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) 6 Persentase SKPD yang telah menyusun Renja SKPD Persen Persentase Renja SKPD yang selaras dengan RKPD Persen Persentase program kegiatan dalam 8 APBD yang selaras dengan program dan Persen kegiatan yang tertuang dalam RKPD Jumlah penelitian, pengkajian dan pengembangan yang dilaksanakan Persentase hasil rapat koordinasi yang ditindaklanjuti Persentase SKPD yang melakukan pengendalian dan evaluasi program dan kegiatan yang dilaksanakan Dokume n KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN Persen Persen VII Perhubungan 1 Persentase ketersediaan sarana dan prasarana transportasi Persen Persentase ketersediaan sarana dan 2 prasarana keselamatan transportasi Persen darat Persentase kendaraan yang melakukan 3 uji berkala dengan jumlah kendaraan Persen wajib uji 4 Jumlah sarana dermaga penyeberangan Unit Persentase kapal nelayan dan angkutan yang memiliki pas kecil Persen Persentase kelaikan sarana terminal Persen

269 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) 8 Persentase kelaikan sarana PKB dalam keadaan baik KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN 2018 Persen VIII Lingkungan Hidup 1 Persentase kasus pengaduan lingkungan yang terselesaikan Persen Cakupan penghijauan/penanaman 2 vegetasi untuk produksi biomassa di Persen wilayah rawan kerusakan tanah 3 Cakupan layanan informasi status kualitas air dan udara Persen 8,89 18,89 33,33 47,78 61, Jumlah titik sampel yang diukur tingkat kualitas airnya Titik Cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan Amdal Persen Cakupan penambahan tutupan vegetasi Ha 43,40 48, Volume sampah yang terangkut per hari kerja M³ Cakupan kecamatan mendapat pelayanan persampahan Persen 18, Proporsi pelanggan pelayanan sampah yang terlayani Persen Proporsi sampah yang tertangani Persen Cakupan penghijauan wilayah rawan kerusakan tanah Persen

270 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH Persentase permohonan izin lokasi /izin prinsip yang ditindaklanjuti tepat waktu Persentase validasi sertifikat yang terinput ke dalam sistem data base pertanahan Persentase izin prinsip/izin lokasi yang terinput ke dalam sistem database pertanahan Persentase penyelesaian tahapan dalam penyusunan sistem informasi pertanahan Persentase konflik tanah yang teridentifikasi dan melibatkan pemerintah daerah yang ditindaklanjuti Jumlah kebijakan/regulasi di bidang pertanahan SATUAN Persen Persen 36 57,16 72,75 84,71 94, Persen Persen Persen Kebijaka n/ Regulasi KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) IX Pertanahan 1 Persentase usulan pengadaan tanah yang difasilitasi Persen Persentase usulan sertifikat Proda yang terbit Persen Persentase usulan sertifikat Hak Pakai Instansi (HPI) yang terbit KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN 2018 Persen X Kependudukan dan Catatan Sipil 1 Proporsi penduduk yang telah memiliki dokumen kependudukan dan pencatatan sipil Persen , ,16 94,33 97,33 97,

271 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) 2 Persentase ketersediaan data base kependudukan KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN 2018 Persen Persentase enrolment KTP elektronik Persen 91, Persentase penduduk yang memiliki kartu keluarga Persen 97, Persentase kepemilikan akte kelahiran Persen 79, XI Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 1 Indeks Pembangunan Gender (IPG) Indeks 64,75 65,95 67,25 68,65 70,15 71,75 71,75 2 Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) Indeks 68,76 70,46 72,26 74,16 76,16 78,26 78, Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah Persentase perempuan sebagai pengurus parpol Persentase perempuan yang menduduki jabatan camat Persentase perempuan yang menduduki jabatan lurah Persentase perempuan yang menduduki jabatan kepala desa Persen Persen Persen Persen Persen Persentase perempuan di legislatif Persen Persentase partisipasi angkatan kerja perempuan Persen

272 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Persentase korban kekerasan terhadap perempuan dan anak yang mendapat penanganan oleh petugas terlati h di unit pelayanan terpadu Persentase penyelesaian pengaduan perlindungan perempuan dan anak dari tindakan kekerasan Persentase pe rempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan layanan ke sehatan Persentase kasus kekerasan terhadap perempuan yang ditindaklanjuti Persentase kasus kekerasan terhadap anak yang ditindaklanjuti KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN 2018 Persen Persen Persen Persen Persen XII Jumlah 4 5 Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Persentase Pasangan Usia Subur (PUS) yang istrinya di bawah usia 20 tahun Persentase sasaran PUS menjadi peserta KB aktif akseptor KB baru Persentase PUS yang ingin ber-kb tidak terpenuhi ( unmet need) Cakupan penyediaan alat dan obat kontrasepsi untuk memenuhi permintaan masyarak setiap tahun at 30 persen Persen 6 5,5 5 4, Persen Aksepto r Persen Persen

273 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) 6 Rasio petugas lapangan KB 1 orang petugas setiap 2 desa/kelurahan KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN 2018 Rasio 1 : 7 1 : 6 1 : 5 1 : 4 1 : 3 1 : 2 1 : 2 Persentase keluarga prasejahtera dan 7 Persen keluarga sejahtera 1 terhadap keluarga 8 Persentase anggota Bina Keluarga Balita (BKB) ber-kb Persen XIII Sosial 1 Jumlah anak terlantar yang terbina Orang Persentase data base PMKS Persen Jumlah lanjut usia mandiri Orang Jumlah pelaku sosial yang mandiri 5 Cakupan taman makam pahlawan yang tertata Kelomp ok Persen XIV Ketenagakerjaan 1 Tingkat kesempatan kerja Persen 80,59 81,59 82,59 83,59 84,59 85,59 85, Persentase tenaga kerja yang terserap lapangan kerja Persen 69,84 70,84 71,84 72,84 73, Persentase pencari kerja terampil dan berkualitas Persen Persentase TKI yang dilindungi Persen Persentase TPPTKIS yang dibina Persen

274 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) XV Koperasi, Usaha Kecil Menengah 1 Nilai produksi UMKM Juta Rupiah 2 Pertumbuhan koperasi aktif Persen 3 Persentase koperasi sektor riil Persen 4 Pertumbuhan UMKM Persen KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN Jumlah koperasi aktif sebanyak 229 unit Jumlah koperasi sektor riil sebanyak 45 unit Jumlah UMKM sebanyak 541 unit 2,62 2,55 4,15 4,38 4,20 19,21 2,22 6,52 10,20 12,96 14,75 17,78 49,91 43,28 30,12 17,18 15,23 277,63 XVI Penanaman Modal 1 Jumlah izin penanaman modal dalam negeri Unit Jumlah izin penanaman modal asing Unit Jumlah media promosi dan investasi Media XVII Kebudayaan 1 Persentase organisasi kesenian dan budaya yang berperan aktif dalam pengembangan seni dan budaya Persen

275 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) 2 3 Jumlah event seni budaya/ wisata yang diikuti Jumlah organisasi/kelompok kesenian yang dibina KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN 2018 Event Organisasi/ Kelompok Kesenian XVIII Kepemudaan dan Olahraga 1 Persentase organisasi pemuda yang berpartisipasi dalam pembangunan Persen Persentase organisasi olahraga yang aktif Persen Persentase cabang olahraga yang berpartisipasi Persen Jumlah gedung olahraga Unit Jumlah kegiatan olahraga Kegiatan XIX Kesatuan Bangsa dan Politik dalam Negeri 1 Jumlah konflik sosial Kasus Jumlah kegiatan pembinaan pendidikan politik Kegiatan Persentase hansip linmas terlatih Persen - 12,09 17,19 20,76 31,45 45,87 78, Rasio pembangunan pos jaga/ ronda per jumlah desa/kelurahan Jumlah pelaksanaan deteksi dini terhadap hal-hal yang berpotensi mengganggu keamanan dan kenyamanan lingkungan Persen 4,19 (7 : 167) 9,58 (16 : 167) 13,25 (20 : 167) 22,90 (30 : 167) 34,65 (30 : 167) 60,61 (40 : 167) Kali/Tahun ,61 244

276 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) 6 7 Jumlah wilayah yang mengalami penurunan dari kasus penyakit masyarakat Jumlah kegiatan pembinaan pendidikan wawasan kebangsaan KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN 2018 Wilayah Kegiatan Persentase kasus pelanggaran Perda yang ditindaklanjuti Persentase kasus pelanggaran K3 (Ketertiban, Ketentraman dan Keamanan) yang ditindaklanjuti Rasio pendistribusian Satpol terhadap jumlah kecamatan Persen Persen Rasio 1 : 1 1 : 1 1 : 1 3 : 1 3 : 1 3 : 1 3 : 1 XX Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian 1 Predikat LAKIP Predikat CC CC CC CC B B B 2 Peringkat LPPD Peringkat Persentase kecamatan yang menyelenggarakan Musabaqah Tilawatil Qur'an setiap tahun Tingkat layanan pemberangkatan dan pemulangan jemaah haji Persentase organisasi antar dan intra umat beragama yang dibina Persen Persen Persen

277 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Jumlah kebijakan/regulasi yang dibuat menyangkut perlindungan perempuan Jumlah kebijakan/regulasi yang dibuat mengenai pemberantasan penyakit masyarakat Jumlah kebijakan/regulasi yang dibuat menyangkut kesehatan KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN 2018 Kebijakan/ Regulasi Kebijakan/ Regulasi Kebijakan/ Regulasi Jumlah kebijakan/ regulasi pengentasan kemiskinan Kebijakan/ Regulasi Jumlah kebijakan/regulasi yang dibuat menyangkut pendidikan Persentase organisasi perempuan di kecamatan yang mendapatkan pembinaan Persentase kecamatan yang telah pasti batas wilayahnya Kebijakan/ Regulasi Persen Persen Persentase kelurahan yang telah pasti batas wilayahnya Persentase Camat dan Lurah yang telah memahami manajemen pemerintahan Persentase kecamatan yang menyelenggarakan PATEN Jumlah kebijakan/ regulasi yang disusun dalam bidang pengawasan dan tugas pembantuan Persen Persen Persen ,5 62, Kebijakan/ Regulasi

278 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Persentase kecamatan dan kelurahan 17 yang menerapkan manajemen penyelenggaraan pemerintahanan Persen sesuai dengan ketentuan yang berlaku 18 Persentase penyelesaian dokumen pelaporan pemerintah daerah KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN 2018 Persen Persentase rencana kerjasama pemerintah daerah yang difasilitasi Persen Jumlah kebijakan/ regulasi terkait administrasi kependudukan Jumlah kebijakan/ regulasi terkait ketentraman, ketertiban, perlindungan masyarakat serta kesatuan bangsa dan politik Persentase penyebarluasan informasi penyelenggaraan pemerintah daerah Persentase SKPD yang aktif menyampaikan informasi penyelenggaraan kegiatan SKPD terkait untuk dimuat dalam website kabupaten Jumlah fasilitasi koordinasi kepala daerah / wakil kepala daerah melalui rapat koordinasi unsur muspida Jumlah koordinasi kepala daerah / wakil kepala daerah antar SKPD melalui rapat koordinasi pejabat pemerintah daerah Kebijakan/ regulasi Kebijakan/ regulasi Persen Persen kali/tahun kali/tahun

279 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Jumlah kebijakan/regulasi yang dibuat di bidang perekonomian sektor penanaman modal dan BUD Jumlah kebijakan/regulasi yang dibuat di bidang perekonomian sektor koperasi dan UKM Jumlah kebijakan/regulasi yang dibuat di bidang perekonomian sektor perindustrian dan perdagangan Jumlah kebijakan/regulasi di bidang administrasi pembangunan Persentase kegiatan pelelangan melalui ULP Persentase pelelangan secara elektronik Jumlah kebijakan/regulasi di bidang tanaman pangan dan hortikultura Jumlah kebijakan/regulasi di bidang peternakan, kelautan dan perikanan Jumlah kebijakan/regulasi di bidang kehutanan, perkebunan, pertambangan, energi dan lingkungan hidup Persentase lampu jalan dalam kondisi baik Persentase kendaraan dinas operasional yang siap pakai Persentase SKPD yang telah menyusun LAKIP SKPD sesuai SAKIP KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN 2018 Kebijakan/ Regulasi Kebijakan/ Regulasi Kebijakan/ Regulasi Kebijakan/ Regulasi Persen Persen Kebijakan/ Regulasi Kebijakan/ Regulasi Kebijakan/ Regulasi Persen Persen Persen 64,44 64,44 64,44 64,44 64,44 64,44 64,44 248

280 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) 38 Persentase pemenuhan LAKIP Kabupaten terhadap SAKIP Persen Persentase penetapan kinerja SKPD yang telah berbasis IKU Persen 64,44 64,44 64,44 64,44 64,44 64,44 64, Persentase penetapan kinerja Kabupaten yang telah berbasis IKU Persentase urusan wajib yang termuat dalam kelembagaan daerah Persentase SKPD yang pengelolaan surat menyuratnya sesuai dengan Tata Naskah Dinas Persentase SKPD yang mencanangkan zona pembangunan integritas Persentase SKPD yang telah memenuhi standar penilaian kinerja organisasi pemerintah kabupaten Persentase TUPOKSI yang telah dilengkapi dengan SOP Persentase jabatan yang telah dilengkapi dengan informasi jabatan Persentase jabatan yang telah dilengkapi dengan standar kompetensi jabatan Persentase SKPD yang telah mengaplikasikan jabatan fungsional umum untuk PNS Non struktural Persentase wajib LHKPN yang meny ampaian LHKPN Persentase SKPD yang telah menerapkan regulasi/ kebijakan penilaian kinerja aparatur KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN 2018 Persen Persen 92, Persen 34,48 34,48 44,83 58,62 68,97 79,31 86,21 Persen 3,45 34,5 34,5 34,5 34,5 34,5 34,5 Persen 24,44 33,33 33,33 33,33 37,78 37,78 42,22 Persen 84,46 84, Persen 3, Persen Persen 3, Persen 51, Persen 11,11 11,11 11,

281 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) 51 Persentase SKPD yang mengembangkan budaya kerja Persen Persentase SKPD yang 52 menyelenggarakan pelayanan publik sesuai aspek-aspek penyelenggaraan Persen 38,46 46,15 61,54 76,92 76,92 84, pelayanan publik Persentase SKPD yang telah 53 menerapkan Standar Pelayanan Publik Persen 31,11 33,33 44,44 55,56 55,56 66,67 66,67 (SPP) 54 Persentase unit pelayanan publik yang telah melakukan survey kepuasan Persen - 11,36 15,91 20, ,55 29,55 masyarakat KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN Persentase pemenuhan pelaporan pencapaian target SPM Nasional di daerah Jumlah produk hukum yang diajukan dalam PROLEGDA Jumlah produk hukum yang diajukan diluar PROLEGDA Persen Jumlah Jumlah Jumlah dokumen RANHAM Dokumen Cakupan sosialisasi peraturan perundang-undangan Persentase peraturan daerah yang dipublikasikan di media cetak Persentase produk hukum yang terpublikasi dalam sistem informasi Persentase temuan dalam LHP APIP yang ditindaklanjuti oleh SKPD Persentase temuan APIP yang dimuktahirkan Persen Persen Persen Persen Persen

282 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Persentase tindak lanjut pengaduan masyarakat terhadap asset pemerintah daerah Presentase SKPD yang meyusun RKA- DPA SKPD sesuai aturan pengelolaan keuangan daerah Persentase SKPD yang menyusun RKA- DPA SKPD tepat waktu Pengesahan APBD sebelum tanggal 31 Desember tahun berjalan Persentase ketersediaan dokumen penganggaran Persentase penerapan sistem dan prosedur pengelolaan keuangan ke dalam sistem informasi keuangan Persentase SKPD yang membuat laporan keuangan sesuai aturan pelaporan keuangan Persentase SKPD yang membuat laporan keuangan tepat waktu Persentase ketersediaan dokumen pertanggungjawaban Persentase tindak lanjut atas hasil audit BPK terkait sistem pengendalian intern KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN 2018 Persen Persen Persen Persen Persen Persen Persen Persen Persen Persen Opini pengelolaan keuangan daerah Opini WDP WDP WDP WDP WTP WTP WTP 75 Persentase penyelesaian kasus kerugian daerah Persen

283 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Persentase SKPD yang melakukan kodefikasi barang sesuai dengan pedoman kodefikasi barang daerah Persentase SKPD yang menyusun Laporan rekapitulasi hasil barang sesuai dengan aturan Persentase SKPD yang menyusun laporan inventarisasi barang milik daerah per semester Persentase asset pemerintah daerah tahun sebelumnya yang terdata Lama waktu rata -rata penyelesaian perizinan 81 Jumlah sistem pengelolaan pendapatan J Persentase peningkatan realisasi sumber -sumber pendapatan daerah Persentase realisasi PAD dan target yang telah ditetapkan KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN 2018 Persen Persen Persen Persen Hari Sistem Aplikasi Persen 20,07 22, Persen 20,07 22, umlah wajib pajak daerah Orang J umlah wajib retribusi daerah Orang Persentase rata - rata Izin yang ditindak lanjuti tepat waktu Persen Persentase ketepatan waktu pengesahan APBD Persen Persentase Ranperda yang disahkan menjadi Perda Persen Persentase Ranperda yang berasal dari hak inisiatif DPRD yang disahkan Persen menjadi Perda 252

284 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) 91 Persentase pembahasan Perda yang telah di notulenkan Persen Perentase penetapan Perda yang didokumentasikan Persen Persentase Perda yang disosialisasikan ke publik Persen Persentase pelaksanaan susunan rapat yang menghasilkan keputusan Persen Persentase SKPD yang bebas temuan berdampak kerugian negara Persen 62,22 71,11 73,33 75,56 77, Persentase tingkat penurunan temuan hasil pengawasan Persen ,86 9,23 8,11 8,33 8,33 Persentase hasil pengawasan dijadikan 97 sebagai tolok ukur dalam pengambilan kebijakan perencanaan, pelaksanaan Persen dan pembinaan lebih lanjut. 98 Cakupan penanganan kawasan rawan bencana Persen Frekuensi pemantauan lokasi rawan Kali/tah bencana alam un Waktu tanggap darurat bencana setelah kejadian Jam Proporsi pemenuhan kompetensi SDM 101 aparatur yang memenuhi standar Persen kompetensi 102 Persentase PNS yang berpendidikan S1 keatas Persen Rasio jumlah PNS penyuluh KB terhadap jumlah kecamatan Rasio 1,44 : 1 1,44 : 1 1,44 : 1 1,44 : 1 1,44 : 1 1,44 : 1 1,44 KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN 2018 : 1 253

285 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) 104 Rasio jumlah PNS polisi hutan terhadap luas hutan Rasio 1 : : : : : : : Rasio jumlah PNS satpol PP terhadap jumlah kecamatan Rasio 2 ;1 2 ;1 2 ;1 2 ;1 2 ;1 2 ;1 2 ;1 106 Persentase pemenuhan kebutuhan PNS pada daerah terpencil Persen Persentase jumlah PNS yang mengikuti diklat melaui BKDD Persen Cakupan pembinaan dan pengembangan aparatur di daerah Persen Persentase desa/kelurahan yang 109 memenuhi standar administrasi Persen pemerintahan desa/kelurahan 110 Persentase penanganan masalah ketentraman dan ketertiban umum Persen KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN 2018 XXI Ketahanan Pangan 1 Persentase penduduk yang rawan pangan Persen 19, Skor pola pangan harapan Point 80 81,6 83,2 84,8 86, Penurunan daerah kecamatan rawan pangan 4 Ketersediaan energi perkapita per hari 5 Ketersediaan protein perkapita per hari Kecamatan Kkal/ kap/ hari Gram/ kap/ hari ,2 104,7 114,2 123,7 133,3 142,8 142,8 254

286 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) XXII Pemberdayaan Masyarakat dan Desa 1 2 Persentase desa/kelurahan yang difasilitasi penataan dan pengembangan lembaga kemasyarakatan Persentase lembaga pemberdayaan masyarakat yang aktif KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN 2018 Persen Persen Persentase desa yang melaksanakan musrenbang secara tepat waktu Persen Persentase kehadiran masyarakat pada Musrenbang tiap desa Persen Persentase desa yang telah menyusun laporan keuangan desa Persentase desa bebas temuan pertanggungjawaban laporan keuangan desa Persentase desa yang menyusun data potensi desa yang valid Persen Persen Persen XXIII Statistik 1 Persentase ketersediaan dokumen statistik daerah XXIV Kearsipan 1 Persentase SKPD yang telah menerapkan pengelolaan arsip secara baku Persen Persen

287 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) 2 3 Cakupan SKPD yang telah memanfaatkan sarana dan prasarana kerasipan daerah Persentase SKPD yang telah menerapkan penduplikatan dokumen arsip daerah dalam bentuk informatika KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN 2018 Persen Persen XXV Komunikasi dan Informatika 1 Cakupan layanan akses informasi Persen Jumlah operator telepon selular Operator Persentase penyebaran informasi melalui media massa : - Majalah - Radio - TV Kabel Persentase penyebaran informasi melalui media online Persentase penyebaran informasi melalui media tradisional Persentase penyebaran informasi melalui media interpersonal Ketersediaan website milik pemerintah daerah - Website resmi pemerintah daerah sebagai domain - Website SKPD sebagai sub domain 8 Jumlah kelompok informasi masyarakat Persen Persen Persen Persen Web Web Kelompok Informasi Persen Persen

288 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN 2018 XXVI Perpustakaan 1 Persentase institusi pendidikan yang memiliki perpustakaan Persen 44,36 47,12 60,34 73,56 86, Persentase institusi pemerintah yang memiliki perpustakaan Persen 11,11 28,88 46,66 64,44 82, Persentase kecamatan yang memiliki taman bacaan Masyarakat Persen 81,25 81,25 87,50 93, Persentase peningkatan pengunjung perpustakaan daerah Persen 8,39 10,48 12,58 13,63 14,68 15,73 15,73 5 Jumlah koleksi /judul buku yang tersedia di perpustakaan daerah Eksamplar/ Judul / / / / / / / Persentase desa yang terlayani perpustakaan keliling Persen 44,91 52,69 64,67 76,65 88, Persentase desa/kelurahan yang dibina perpustakaan daerah Persen 44,91 52,69 64,67 76,65 88, Pelayanan Urusan Pilihan I Pertanian Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB (ADHK) Persen 55,17 55,45 55,98 56,47 56,70 56,95 56,95 Proporsi luas lahan persawahan terhadap luas wilayah Persen Kontribusi produksi padi Polewali Mandar terhadap Sulawesi Barat Persen 52,25 52,4 52,5 52,7 52,9 53,0 53,0 257

289 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN Jumlah produksi padi Ton Jumlah produksi palawija Ton Jumlah produksi hortikultura Ton Produktivitas padi Ton/Ha 7 7,01 7,02 7,03 7,04 7,05 7,05 8 Populasi sapi Ekor , ,37 9 Populasi kambing Ekor Panjang jalan usaha tani Meter Panjang jaringan irigasi tersier Meter Cakupan layanan kesehatan hewan Ekor Persentase kelompok tani yang dibina Persen Jumlah produksi kakao Ton , , , , , , ,77 16 Jumlah produksi kelapa Ton , , , , , , ,66 17 Jumlah produksi kopi Ton 554,20 625,00 629,38 634,41 640,12 645, ,79 18 Panjang jalan produksi yang terbangun Kilometer Kontribusi tanaman perkebunan terhadap PDRB (ADHK) Persen 11,33 11,50 11,52 11,53 11,55 11,55 11,55 II Kehutanan 1 Proporsi luas hutan lindung terhadap luas kawasan hutan Persen Proporsi luas kawasan hutan mangrove Persen 76,83 76,86 76,90 76,93 76,97 77,00 77,00 258

290 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Persentase luas areal hutan dan lahan yang direhabilitasi Persen 25,85 23,56 24,53 25,53 26,58 27,67 27,67 4 Persentase penurunan kerusakan kawasan hutan Persen 18,40 18,03 17,66 17,30 16,94 16,60 16,60 5 Jumlah produksi rotan Ton KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN Jumlah produksi daun murbey Ton Jumlah produksi kayu bulat M Jumlah produksi aren Ton 435,04 435,48 436,35 437,66 439,41 440, ,19 Jumlah kasus illegal lgging yang terselesaikan Kasus Kontribusi sektor kehutanan terhadap PDRB (ADHK) Persen 0,61 0,68 0,69 0,71 0,72 0,72 0,72 Persentase kelompok kehutanan yang dibina Persen III Energi dan Sumber Daya Mineral 1 Rasio elektrifikasi Persen Rasio elektrifikasi non PLN Persen Jumlah peta berbasis Sistem Informasi Geografis (GIS) Peta GIS Jumlah survey geolistrik Survey Jumlah sumur bor dalam air tanah Paket

291 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) 6 7 Persentase penambang yang memiliki izin yang memenuhi kaidah good mining Jumlah penetapan wilayah pertambangan KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN 2018 Persen Peta WP IV Pariwisata 1 Jumlah destinasi wisata yang dikembangkan Obyek Wisata Jumlah kunjungan wisata pertahun Wisatawan Jumlah PAD dari sektor pariwisata Rupiah Jumlah lembaga/dunia usaha yang bermitra dalam pengembangan objek wisata Lembaga/ Dunia Usaha V Kelautan dan Perikanan 1 Kontribusi sektor perikanan terhadap PDRB (ADHK) Persen 10,85 10,89 11,10 11,25 11,35 11,41 2 Jumlah produksi perikanan darat Ton , , , , , ,75 11, ,45 3 Jumlah produksi perikanan laut Ton , , , , , ,50 4 Jumlah produksi perikanan tangkap Ton , Jumlah produksi ikan bandeng Ton Jumlah produksi udang Ton 805,25 810,30 814,45 818,25 822,15 826, ,65 7 Jumlah produksi rumput laut kering Ton Jumlah p roduksi ikan n ila Ton 309,

292 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) 9 Jumlah produksi ikan mas Ton KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN Jumlah produksi ikan lele Ton 74 75,5 76,5 77,5 78,5 80,5 388,5 11 Persentase kelompok nleayan dan pembudidaya ikan yang dibina 12 Jumlah konsumsi ikan 13 Persentase eklompok nleayan ayng dibina Persen Kg/Org/ Thn 53,12 53,25 53,5 53,75 53,9 54,1 54,1 Persen VI Perdagangan 1 Kontribusi sektor perdagangan, restoran, dan hotel terhadap PDRB Persen 28,32 28,76 29,25 29,77 30,00 30,12 30,12 2 Persentase kasus peredaran barang ilegal yang tertangani Persen Proporsi UTTP yang telah ditera/ ditera ulang Persen 81, Proporsi usaha perdagangan yang telah memiliki legalitas usaha Persen 18, Nilai perdagangan Rp. (000) Cakupan bina usaha perdagangan dan usaha informal Persen 48,44 51,44 54,06 58,44 60,44 62,44 62,44 VII Perindustrian 1 Kontribusi industri pengolahan terhadap PDRB (ADHK) Persen 3, ,23 4,75 5,23 5,56 5,56 2 Nilai produksi industri kecil dan menengah Rp. (000)

293 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Fokus Fasilitasi Wilayah/ Insfrastruktur KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN Cakupan layanan air minum perpipaan Persen Fokus Sumber Daya Manusia 1 Rasio ketergantungan Persen 0,6 0,5 0,4 0,3 0,2 0,2 0,2 262

294 NO 3 Jumlah sentra industri Unit Pertumbuhan jumlah industri Persen 11,44 12,01 12,58 13,08 13,48 14,53 14, ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH Proporsi cakupan bina kelompok industri Jumlah tenaga kerja yang terserap pada sektor industri Jumlah IKM yang memiliki penunjang usaha SATUAN KONDISI KINERJA PADA AWAL PERIODE RPJMD TAHUN 2012/2013 TAHUN 2014 TARGET CAPAIAN SETIAP TAHUN KONDISI KINJERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018 TAHUN 2018 (1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Persen 33,74 34,83 35,33 335,73 36,23 37,13 37,13 Orang Unit VIII Ketransmigrasian 1 Persentase kepala keluarga di kawasan transmigran yang mendapatkan bantuan sosial Persen Jumlah lokasi transmigrasi baru Lokasi ASPEK DAYA SAING DAERAH Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah 1 Pengeluaran perkapita riil Rupiah Persentase peningkatan realisasi 40 sumber-sumber pendapatan daerah 40 Persen 20,07 22, Persentase realisasi PAD dan target yang telah ditetapkan Persen 20,07 22,

295 264

296

297 BAB X PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN 10.1 Pedoman Transisi RPJMD Kabupaten Polewali Mandar Tahun akan menjadi pedoman bagi penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Kabupaten Polewali Mandar sampai dengan tahun Khusus untuk tahun 2014, meskipun penyusunan program dan kegiatan dalam RAPBD 2014 masih mengacu pada RPJMD periode sebelumnya, namun RPJMD Kabupaten Polewali Mandar Tahun sudah dapat digunakan sebagai dasar dalam penyusunan rencana program dan kegiatan pada APBD Perubahan Sedangkan untuk tahun 2019, penyusunan program dan kegiatan masih mengacu pada RPJMD Kabupaten Polewali Mandar Tahun yang berfungsi sebagai dokumen perencanaan transisi sebelum disusunnya RPJMD Kabupaten Polewali Mandar periode berikutnya ( ) Kaidah Pelaksanaan RPJMD Kabupaten Polewali Mandar Tahun ditetapkan dengan Peraturan Daerah, dengan kaidah pelaksanaan sebagai berikut : 1. Bupati Polewali Mandar mempublikasikan RPJMD kepada seluruh pemangku kepentingan, serta menjadi acuan bagi Satuan Perangkat Daerah (SKPD) dan DPRD dalam melaksanakan tugas dan fungsi masing-masing. 2. Pemerintah Daerah bersama seluruh masyarakat, termasuk dunia usaha, berkewajiban untuk melaksanakan dengan sebaik-baiknya program-program pembangunan daerah sebagaimana yang telah tertuang di dalam dokumen RPJMD Kabupaten Polewali Mandar Tahun ; 3. Bupati Polewali Mandar berkewajiban mengarahkan dan mengendalikan pelaksanaan RPJMD Kabupaten Polewali Mandar Tahun dengan mengerahkan semua potensi dan sumber daya daerah, serta para pihak yang berpotensi membantu terwujudnya visi dan misi pembangunan jangka menengah daerah; 4. Sekretaris Daerah berkewajiban mengkoordinasikan pelaksanaan RPJMD Kabupaten Polewali Mandar Tahun agar seluruh program-program pembangunan daerah dapat berjalan secara efektif; 5. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Polewali Mandar berkewajiban untuk melakukan koordinasi dan 266

298 pemantauan terhadap penjabaran RPJMD Kabupaten Polewali Mandar Tahun ke dalam Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD), Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra-SKPD) dan Rencana Kerja (Renja) SKPD; Seluruh SKPD dalam lingkup pemerintahan Kabupaten Polewali Mandar berkewajiban menyusun Renstra SKPD dengan berpedoman pada RPJMD Kabupaten Polewali Mandar Tahun yang selanjutnya menjadi acuan dalam penyusunan Renja SKPD setiap tahunnya; Evaluasi atas pelaksanaan RPJMD Kabupaten Polewali Mandar Tahun dilakukan setiap tahun dengan menggunakan indikator kinerja yang telah ditetapkan di dalam dokumen RPJMD Kabupaten Polewali Mandar Tahun Dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan RPJMD Kabupaten Polewali Mandar Tahun , maka diperlukan: (i)pengendalian pelaksanaan rencana pembangunan daerah dilakukan oleh masing-masing Pimpinan SKPD; (ii)kepala Bappeda menghimpun dan menganalisis hasil pemantauan pelaksanaan rencana pembangunan daerah dari masing-masing kepala SKPD sesuai dengan tugas dan kewenangannya; (iii)kepala SKPD melakukan evaluasi kinerja atas pelaksanaan rencana pembangunan daerah tahun sebelumnya; dan (iv)kepala Bappeda menyusun laporan hasil evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah dengan berkoordinasi dengan seluruh SKPD; Perubahan RPJMD Kabupaten Polewali Mandar Tahun hanya dapat dilakukan apabila terjadi perubahan yang mendasar dan/atau merugikan/ bertentangan dengan kepentingan nasional. Perubahan mendasar dimaksud, antara lain, terjadinya bencana alam, goncangan politik, krisis ekonomi, konflik sosial budaya, gangguan keamanan, pemekaran daerah, atau perubahan kebijakan nasional. RPJMD Perubahan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Dalam hal pelaksanaan RPJMD terjadi perubahan capaian sasaran tahunan tapi tidak mengubah target pencapaian sasaran akhir pembangunan jangka panjang dan menengah, perubahan RPJMD ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah. 267

BUPATI POLEWALI MANDAR PROVINSI SULAWESI BARAT

BUPATI POLEWALI MANDAR PROVINSI SULAWESI BARAT BUPATI POLEWALI MANDAR PROVINSI SULAWESI BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN POLEWALI MANDAR NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN POLEWALI MANDAR TAHUN 2014-2019

Lebih terperinci

PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN LOMBOK BARAT

PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN LOMBOK BARAT i DAFTAR ISI PERATURAN BUPATI LOMBOK BARAT KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL i ii viii BAB I PENDAHULUAN 1 1.1 Latar Belakang 1 1.2 Dasar Hukum 3 1.3 Hubungan Antar Dokumen 4 1.4 Sistimatika Dokumen

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH DAN ISU STRATEGIS... II-1

BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH DAN ISU STRATEGIS... II-1 DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... BAB I PENDAHULUAN... I-1 1.1 LATAR BELAKANG... I-1 2.1 MAKSUD DAN TUJUAN... I-2 1.2.1 MAKSUD... I-2 1.2.2 TUJUAN... I-2 1.3 LANDASAN PENYUSUNAN...

Lebih terperinci

Tahun Penduduk menurut Kecamatan dan Agama Kabupaten Jeneponto

Tahun Penduduk menurut Kecamatan dan Agama Kabupaten Jeneponto DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Luas Wilayah menurut Kecamatan di Kabupaten Jeneponto... II-2 Tabel 2.2 Jenis Kebencanaan dan Sebarannya... II-7 Tabel 2.3 Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Jeneponto Tahun 2008-2012...

Lebih terperinci

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA PALU DT - TAHUN

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA PALU DT - TAHUN DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Luas Wilayah Kota Palu Menurut Kecamatan Tahun 2015.. II-2 Tabel 2.2 Banyaknya Kelurahan Menurut Kecamatan, Ibu Kota Kecamatan Dan Jarak Ibu Kota Kecamatan Dengan Ibu Kota Palu Tahun

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN

PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 9 TAHUN 2010 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2011-2015 Diperbanyak oleh: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

Lebih terperinci

RANCANGAN RENCANA PEMBANGUNANN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KOTABARU TAHUN

RANCANGAN RENCANA PEMBANGUNANN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KOTABARU TAHUN RANCANGAN RENCANA PEMBANGUNANN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KOTABARU TAHUN 2016-2021 PEMERINTAH KABUPATEN KOTABARU 2016 Bab I Daftar Isi... i Daftar Tabel... iii Daftar Gambar... ix PENDAHULUAN I-1

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR TIM PENYUSUN BAPPEDA KOTA BATU

KATA PENGANTAR TIM PENYUSUN BAPPEDA KOTA BATU KATA PENGANTAR Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Kota Batu tahun 2015 merupakan pemfokusan rencana pembangunan yang akan dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Batu pada tahun 2015. Pemfokusan berpedoman

Lebih terperinci

Daftar Tabel Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD ) Kab. Jeneponto Tahun 2016

Daftar Tabel Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD ) Kab. Jeneponto Tahun 2016 Daftar Tabel Tabel 2.1 Luas Wialayah menurut Kecamatan di Kabupaten Jeneponto... II-2 Tabel 2.2 Daerah Aliran Sungai (DAS) di Wilayah Kabupaten Jeneponto berdasarkan BPS... II-5 Tabel 2.3 Daerah Aliran

Lebih terperinci

RPJMD KABUPATEN LINGGA DAFTAR ISI. Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar

RPJMD KABUPATEN LINGGA DAFTAR ISI. Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar i ii vii Bab I PENDAHULUAN I-1 1.1 Latar Belakang I-1 1.2 Dasar Hukum I-2 1.3 Hubungan Antar Dokumen 1-4 1.4 Sistematika Penulisan 1-6 1.5 Maksud dan Tujuan 1-7 Bab

Lebih terperinci

DAFTAR ISI BAB I. Pendahuluan BAB II. Gambaran Umum Kondisi Daerah BAB III. Gambaran Pengeloaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaan

DAFTAR ISI BAB I. Pendahuluan BAB II. Gambaran Umum Kondisi Daerah BAB III. Gambaran Pengeloaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaan DAFTAR ISI BAB I. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang I-1 1.2. Dasar Hukum I-2 1.3. Hubungan Dokumen RPJMD dengan Dokumen Perencanaan I-5 Lainnya 1.4. Sistematika Penulisan I-8 1.5. Maksud dan Tujuan Penyusunan

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2016 BAB I PENDAHULUAN

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2016 BAB I PENDAHULUAN Lampiran I Peraturan Bupati Pekalongan Nomor : 17 Tahun 2015 Tanggal : 29 Mei 2015 RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2016 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemerintah

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2015

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2015 Lampiran I Peraturan Bupati Pekalongan Nomor : 15 Tahun 2014 Tanggal : 30 Mei 2014 RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2015 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Dokumen perencanaan

Lebih terperinci

Lampiran Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor : 18 Tahun 2015 Tanggal : 18 Mei 2015 Tentang : Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2016 DAFTAR ISI

Lampiran Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor : 18 Tahun 2015 Tanggal : 18 Mei 2015 Tentang : Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2016 DAFTAR ISI Lampiran Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor : 18 Tahun 2015 Tanggal : 18 Mei 2015 Tentang : Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2016 DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR GRAFIK DAFTAR ISI i

Lebih terperinci

DAFTAR TABEL. Tabel 2.1 Luas Wilayah Menurut Kecamatan dan Desa/Kelurahan... 17

DAFTAR TABEL. Tabel 2.1 Luas Wilayah Menurut Kecamatan dan Desa/Kelurahan... 17 DAFTAR TABEL Taks Halaman Tabel 2.1 Luas Wilayah Menurut Kecamatan dan Desa/Kelurahan... 17 Tabel 2.2 Posisi dan Tinggi Wilayah Diatas Permukaan Laut (DPL) Menurut Kecamatan di Kabupaten Mamasa... 26 Tabel

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Halaman. X-ii. RPJMD Kabupaten Ciamis Tahun

DAFTAR ISI. Halaman. X-ii. RPJMD Kabupaten Ciamis Tahun DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... xii DAFTAR GRAFIK... xiii BAB I PENDAHULUAN... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... I-5

Lebih terperinci

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 13 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 13 TAHUN 2014 TENTANG BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 13 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN CIAMIS TAHUN 2014-2019 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... Halaman BAB I. PENDAHULUAN... I-1 1.1 Latar Belakang... I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... I-3 1.3 Hubungan Antar Dokumen... I-4

Lebih terperinci

DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR... xii

DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR... xii DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR... xii BAB I PENDAHULUAN... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... I-4 1.3. Hubungan Antar Dokumen... I-7 1.4.

Lebih terperinci

DAFTAR ISI RPJMD KABUPATEN PONOROGO TAHUN

DAFTAR ISI RPJMD KABUPATEN PONOROGO TAHUN DAFTAR ISI DAFTAR ISI.......................................................... i DAFTAR TABEL....................................................... iii DAFTAR GAMBAR....................................................

Lebih terperinci

Halaman DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN

Halaman DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN 1. DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN i ii iii vi BAB I PENDAHULUAN I-1 1.1. Latar Belakang I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan I-3 1.3. Maksud dan Tujuan

Lebih terperinci

DAFTAR TABEL. Tabel 2.1 Wilayah Sungai Tamiang Langsa II-7. Jumlah Curah Hujan Rata-rata Bulanan (mm) Arah dan Kecepatan Angin Rata-rata (knots)

DAFTAR TABEL. Tabel 2.1 Wilayah Sungai Tamiang Langsa II-7. Jumlah Curah Hujan Rata-rata Bulanan (mm) Arah dan Kecepatan Angin Rata-rata (knots) DAFTAR TABEL Halaman Tabel 2.1 Wilayah Sungai Tamiang Langsa II-7 Tabel 2.2 Tabel 2.3 Tabel 2.4 Tabel 2.5 Jumlah Curah Hujan Rata-rata Bulanan (mm) Tahun 2002-2011 Arah dan Kecepatan Angin Rata-rata (knots)

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMANDAU NOMOR 01 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN LAMANDAU TAHUN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMANDAU NOMOR 01 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN LAMANDAU TAHUN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMANDAU NOMOR 0 TAHUN 204 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN LAMANDAU TAHUN 203-208 PEMERINTAH KABUPATEN LAMANDAU PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

Lebih terperinci

2.25. Jumlah Anak Balita Hidup dan Jumlah Kasus Kematian Balita di 32 KecamatanTahun II-42 Tabel Jumlah kasus kematian ibu hamil,

2.25. Jumlah Anak Balita Hidup dan Jumlah Kasus Kematian Balita di 32 KecamatanTahun II-42 Tabel Jumlah kasus kematian ibu hamil, LAMPRIAN : PERATURAN DAERAH KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN TAHUN 2014-2019 DAFTAR ISI DAFTAR ISI...

Lebih terperinci

Peraturan Daerah RPJMD Kabupaten Pulang Pisau Kata Pengantar Bupati Kabupaten Pulang Pisau

Peraturan Daerah RPJMD Kabupaten Pulang Pisau Kata Pengantar Bupati Kabupaten Pulang Pisau Peraturan Daerah RPJMD Kabupaten Pulang Pisau 2013-2018 Kata Pengantar Bupati Kabupaten Pulang Pisau i Kata Pengantar Kepala Bappeda Kabupaten Pulang Pisau iii Daftar Isi v Daftar Tabel vii Daftar Bagan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SUMEDANG TAHUN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SUMEDANG TAHUN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SUMEDANG TAHUN 2014-2018 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMEDANG, Menimbang

Lebih terperinci

GUBERNUR SULAWESI BARAT

GUBERNUR SULAWESI BARAT GUBERNUR SULAWESI BARAT PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI BARAT NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PERATURAN PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH PROVINSI DAERAH SULAWESI BARAT TAHUN 2012 2016 DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 5 TAHUN 2011 T E N T A N G

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 5 TAHUN 2011 T E N T A N G GUBERNUR SUMATERA BARAT PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 5 TAHUN 2011 T E N T A N G RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH (RPJM) DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2010-2015 DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. BAB II. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH... II Aspek Geografi Dan Demografi... II-2

DAFTAR ISI. BAB II. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH... II Aspek Geografi Dan Demografi... II-2 DAFTAR ISI DAFTAR ISI Hal DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... xix BAB I. PENDAHULUAN... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... I-4 1.3. Hubungan Antar Dokumen RPJMD

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Hal. Daftar Isi... i Daftar Tabel... v Daftar Gambar... x Daftar Grafik... xi

DAFTAR ISI. Hal. Daftar Isi... i Daftar Tabel... v Daftar Gambar... x Daftar Grafik... xi DAFTAR ISI Hal. Daftar Isi... i Daftar Tabel... v Daftar Gambar... x Daftar Grafik... xi BAB I PENDAHULUAN... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... I-4 1.3. Hubungan RPJMD dengan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI...

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... Halaman PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA SURAKARTA TAHUN 2016-2021... 1 BAB I PENDAHULUAN...

Lebih terperinci

Kata Pengantar Bupati Nagan Raya

Kata Pengantar Bupati Nagan Raya Kata Pengantar Bupati Nagan Raya Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, serta selawat dan salam kita sampaikan atas junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW atas limpahan rahmat dan karunia-nya

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KOTA PAGAR ALAM TAHUN 2018

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KOTA PAGAR ALAM TAHUN 2018 RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KOTA PAGAR ALAM TAHUN 2018 PEMERINTAH KOTA PAGAR ALAM TAHUN 2017 KATA PENGANTAR Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota Pagar Alam Tahun 2018 disusun dengan mengacu

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARIMUN NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN KARIMUN TAHUN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARIMUN NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN KARIMUN TAHUN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARIMUN NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN KARIMUN TAHUN 2011 2016 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARIMUN, Menimbang

Lebih terperinci

Laporan Kinerja Pemerintah Kabupaten Bangka Barat Tahun 2014 DAFTAR ISI

Laporan Kinerja Pemerintah Kabupaten Bangka Barat Tahun 2014 DAFTAR ISI DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ------------------------------------------------------------------------------------------------------ i DAFTAR ISI ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Lebih terperinci

RPJMD KABUPATEN LAMANDAU TAHUN

RPJMD KABUPATEN LAMANDAU TAHUN i BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) berpedoman pada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional,

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Daftar Isi... Daftar Tabel... Daftar Gambar...

DAFTAR ISI. Daftar Isi... Daftar Tabel... Daftar Gambar... DAFTAR ISI Daftar Isi... Daftar Tabel... Daftar Gambar... i iii vii BAB I PENDAHULUAN... I-1 1.1 Latar Belakang... I-1 1.2 Dasar Hukum... I-2 1.3 Maksud dan Tujuan... I-4 1.4 Hubungan Antar Dokumen...

Lebih terperinci

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR BAB I PENDAHULUAN 1-1

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR BAB I PENDAHULUAN 1-1 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ii DAFTAR TABEL iv DAFTAR GAMBAR xi I PENDAHULUAN 1-1 1.1 LATAR BELAKANG 1-2 1.2 DASAR HUKUM PENYUSUNAN 1-3 1.3 HUBUNGAN ANTAR DOKUMEN 1-5 1.4 SISTEMATIKA PENULISAN

Lebih terperinci

SURAKARTA KOTA BUDAYA, MANDIRI, MAJU, DAN SEJAHTERA.

SURAKARTA KOTA BUDAYA, MANDIRI, MAJU, DAN SEJAHTERA. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, mengamanatkan kepada

Lebih terperinci

D A F T A R I S I Halaman

D A F T A R I S I Halaman D A F T A R I S I Halaman B A B I PENDAHULUAN I-1 1.1 Latar Belakang I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan I-2 1.3 Hubungan RPJM dengan Dokumen Perencanaan Lainnya I-3 1.4 Sistematika Penulisan I-7 1.5 Maksud

Lebih terperinci

BUPATI WONOGIRI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN WONOGIRI NOMOR 12 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI WONOGIRI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN WONOGIRI NOMOR 12 TAHUN 2016 TENTANG SALINAN BUPATI WONOGIRI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN WONOGIRI NOMOR 12 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN WONOGIRI TAHUN 2016-2021 DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... i vii xii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... I-2 1.3 Hubungan Antar Dokumen... I-4 1.3.1 Hubungan RPJMD

Lebih terperinci

BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 8 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 8 TAHUN 2016 TENTANG SALINAN BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 8 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA TAHUN 2016 2021 DENGAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN... I-1

BAB I PENDAHULUAN... I-1 DAFTAR ISI Daftar Isi... Daftar... Daftar Gambar... BAB I PENDAHULUAN... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... I-4 1.3. Hubungan Antar Dokumen... I-7 1.4. Kaidah Pelaksanaan...

Lebih terperinci

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR TAHUN

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR TAHUN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR TAHUN 2016-2021 PEMERINTAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR TAHUN 2016 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun I Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun I Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional merupakan landasan hukum di bidang perencanaan pembangunan. Peraturan ini merupakan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BINTAN NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN BINTAN TAHUN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BINTAN NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN BINTAN TAHUN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BINTAN NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN BINTAN TAHUN 20162021 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BINTAN, Menimbang

Lebih terperinci

DAFTAR ISI Hal Daftar Isi... i Daftar Tabel... ii Daftar Gambar... v Daftar Lampiran... vi

DAFTAR ISI Hal Daftar Isi... i Daftar Tabel... ii Daftar Gambar... v Daftar Lampiran... vi DAFTAR ISI Daftar Isi... i Daftar Tabel... ii Daftar Gambar... v Daftar Lampiran... vi BAB I Pendahuluan... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Hubungan dokumen RKPD dengan dokumen perencanaan lainnya...

Lebih terperinci

RPJMD Kabupaten Agam tahun IX - 1

RPJMD Kabupaten Agam tahun IX - 1 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) NO BIDANG URUSAN/INDIKATOR ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi 1 Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah,

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEMBATA NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN LEMBATA TAHUN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEMBATA NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN LEMBATA TAHUN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEMBATA NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN LEMBATA TAHUN 2011-2016 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LEMBATA, Menimbang :

Lebih terperinci

T BERITA DAERAH KABUPATEN TANAH DATAR TAHUN 2013 PERATURAN BUPATI TANAH DATAR NOMOR 8 TAHUN 2013

T BERITA DAERAH KABUPATEN TANAH DATAR TAHUN 2013 PERATURAN BUPATI TANAH DATAR NOMOR 8 TAHUN 2013 NOMOR 5 T BERITA DAERAH KABUPATEN TANAH DATAR TAHUN 2013 PERATURAN BUPATI TANAH DATAR NOMOR 8 TAHUN 2013 SERI E TENTANG RENCANA STRATEGIS SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH KABUPATEN TANAH DATAR TAHUN 2010-2015

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA SELATAN,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA SELATAN, PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA SELATAN NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN BANGKA SELATAN TAHUN 2010-2015 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARIMUN NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN KARIMUN TAHUN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARIMUN NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN KARIMUN TAHUN Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Karimun 2011-2016 PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARIMUN NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN KARIMUN TAHUN

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR : 806 TAHUN : 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN SERANG TAHUN 2010-2015

Lebih terperinci

WALIKOTA SURAKARTA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG

WALIKOTA SURAKARTA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG WALIKOTA SURAKARTA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA SURAKARTA TAHUN 2016-2021 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG

PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2012-2016 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

TABEL 9-1 Indikator Kinerja Kabupaten Nagan Raya Tahun

TABEL 9-1 Indikator Kinerja Kabupaten Nagan Raya Tahun TABEL 9-1 Indikator Kinerja Kabupaten Nagan Raya Tahun 2012-2017 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/ INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN 2013 2014 2015 2016 2017 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG

PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2012-2016 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Untuk menjalankan tugas dan fungsinya, pemerintah daerah memerlukan perencanaan mulai dari perencanaan jangka panjang, jangka menengah hingga perencanaan jangka pendek

Lebih terperinci

Rencana Kerja P emerintah Daerah Kabupaten Barru Tahun 2015 DAFTAR ISI

Rencana Kerja P emerintah Daerah Kabupaten Barru Tahun 2015 DAFTAR ISI Rencana Kerja P emerintah Daerah Kabupaten Barru Tahun 2015 DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... 3 1.3 Hubungan Antar Dokumen Perencanaan... 5 1.4 Sistematika

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUNINGAN NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KUNINGAN TAHUN

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUNINGAN NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KUNINGAN TAHUN RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUNINGAN NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KUNINGAN TAHUN 2014-2018 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KUNINGAN,

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... i ii vi xi PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH NO. 07 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN PROBOLINGGO TAHUN

PERATURAN DAERAH NO. 07 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN PROBOLINGGO TAHUN PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO PERATURAN DAERAH NO. 07 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN PROBOLINGGO TAHUN 2013-2018 JL. RAYA DRINGU 901 PROBOLINGGO SAMBUTAN

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KENDAL NOMOR : 5 TAHUN 2011 SERI: E NO.: 5 PERATURAN DAERAH KABUPATEN KENDAL NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KENDAL NOMOR : 5 TAHUN 2011 SERI: E NO.: 5 PERATURAN DAERAH KABUPATEN KENDAL NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KENDAL NOMOR : 5 TAHUN 2011 SERI: E NO.: 5 PERATURAN DAERAH KABUPATEN KENDAL NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KENDAL TAHUN 2010-2015

Lebih terperinci

Daftar Isi. Kata Pengantar. Daftar Tabel Daftar Gambar

Daftar Isi. Kata Pengantar. Daftar Tabel Daftar Gambar Daftar Isi Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar i ii iii xxi Bab I PENDAHULUAN I-1 1.1 Latar Belakang I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan I-3 1.3 Hubungan Antar Dokumen I-6 1.4 Maksud dan Tujuan

Lebih terperinci

Pemerintah Kabupaten Wakatobi

Pemerintah Kabupaten Wakatobi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kabupaten Wakatobi memiliki potensi kelautan dan perikanan serta potensi wisata bahari yang menjadi daerah tujuan wisatawan nusantara dan mancanegara. Potensi tersebut

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN FLORES TIMUR. No. 1, 2013 Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Flores Timur Nomor 0085

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN FLORES TIMUR. No. 1, 2013 Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Flores Timur Nomor 0085 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN FLORES TIMUR No. 1, 2013 Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Flores Timur Nomor 0085 PERATURAN DAERAH KABUPATEN FLORES TIMUR NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG SISTEM

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... i iv ix BAB I PENDAHULUAN... I - 1 I.1 Latar Belakang... I - 1 I.2 Dasar Hukum Penyusunan... I - 3 I.3 Hubungan Antar Dokumen... I - 7 I.4 Sistematika

Lebih terperinci

RPJMD Kabupaten Jeneponto Tahun ini merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program Bupati dan Wakil Bupati Jeneponto terpilih

RPJMD Kabupaten Jeneponto Tahun ini merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program Bupati dan Wakil Bupati Jeneponto terpilih BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan daerah sebagai bagian integral dari pembangunan nasional dan regional, juga bermakna sebagai pemanfaatan sumber daya yang dimiliki untuk peningkatan kesejahteraan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR NOMOR 22 TAHUN 2011 T E N T A N G

PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR NOMOR 22 TAHUN 2011 T E N T A N G Design by (BAPPEDA) Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur Martapura, 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR NOMOR 22 TAHUN 2011 T E N T A N G RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH (RPJM) DAERAH

Lebih terperinci

BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH

BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH Penetapan indikator kinerja atau ukuran kinerja akan digunakan untuk mengukur kinerja atau keberhasilan organisasi. Pengukuran kinerja organisasi akan dapat dilakukan

Lebih terperinci

TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG

TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 4 TAHUN 2014 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG Bagian Hukum Setda Kabupaten Bandung

Lebih terperinci

BUPATI SUKABUMI PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKABUMI NOMOR 4 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI SUKABUMI PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKABUMI NOMOR 4 TAHUN 2016 TENTANG ` BUPATI SUKABUMI PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKABUMI NOMOR 4 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SUKABUMI TAHUN 2016-2021 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2010-2015 DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL.... DAFTAR GAMBAR....

Lebih terperinci

RKPD KOTA SURABAYA TAHUN 2018 DAFTAR ISI. Daftar Isi... Daftar Tabel... Daftar Gambar...

RKPD KOTA SURABAYA TAHUN 2018 DAFTAR ISI. Daftar Isi... Daftar Tabel... Daftar Gambar... DAFTAR ISI Daftar Isi... Daftar Tabel... Daftar Gambar... i ii xv BAB I PENDAHULUAN... I 1 1.1 Latar Belakang... I 1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... I 1 1.3 Hubungan Antar Dokumen... I 4 1.4 Sistematika

Lebih terperinci

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya Daftar Isi

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya Daftar Isi Daftar Isi Daftar Isi... i Daftar Gambar... iii Daftar Tabel... v Daftar Lampiran... xvi BAB I PENDAHULUAN... I 1 I.1 Latar Belakang... I 1 I.2 Dasar Hukum Penyusunan... I 2 I.3 Hubungan Antar Dokumen...

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR H. DJOHAN SJAMSU, SH PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK UTARA

KATA PENGANTAR H. DJOHAN SJAMSU, SH PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK UTARA KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT, hanya karena Ijin dan RahmatNya, Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Kabupaten Lombok Utara Tahun 2015 ini dapat diselesaikan. RKPD Tahun 2015 ini disusun

Lebih terperinci

BAB 1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG

BAB 1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2016-2021 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2016-2021 BAB 1. PENDAHULUAN

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR RANCANGAN RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH TAHUN 2018 KATA PENGANTAR

KATA PENGANTAR RANCANGAN RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH TAHUN 2018 KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) merupakan dokumen perencanaan daerah yang menjadi acuann untuk pembangunan selama periode satu tahun dan Pemerintah daerah memiliki

Lebih terperinci

BUPATI BANGKA BARAT PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BUPATI BANGKA BARAT PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG BUPATI BANGKA BARAT PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA BARAT NOMOR 07 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN BANGKA BARAT TAHUN 2016-2021

Lebih terperinci

ISI DAN URAIAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA TASIKMALAYA TAHUN BAB I PENDAHULUAN

ISI DAN URAIAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA TASIKMALAYA TAHUN BAB I PENDAHULUAN - 1 - LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA TASIKMALAYA TAHUN 2013-2017 ISI DAN URAIAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK UTARA KATA PENGANTAR

PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK UTARA KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati Lombok Utara tentang

Lebih terperinci

PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2017

PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2017 GUBERNUR KALIMANTAN BARAT PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2017 Dalam rangka mewujudkan manajemen pemerintahan yang efektif, transparan dan akuntabel serta berorientasi pada hasil, yang bertanda tangan di bawah

Lebih terperinci

Lubuklinggau, Mei 2011 BUPATI MUSI RAWAS RIDWAN MUKTI

Lubuklinggau, Mei 2011 BUPATI MUSI RAWAS RIDWAN MUKTI Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat dan rahmat-nya kegiatan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Musi Rawas Tahun 2010-2015 dapat diselesaikan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKABUMI NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH KABUPATEN SUKABUMI TAHUN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKABUMI NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH KABUPATEN SUKABUMI TAHUN 1 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKABUMI NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH KABUPATEN SUKABUMI TAHUN 2010-2015 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUKABUMI, Menimbang : a.

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT LD. 7 2009 R PERATURAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 7 TAHUN 2009 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN GARUT TAHUN 2009-2014 DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

GUBERNUR SUMATERA BARAT PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 6 TAHUN 2016 T E N T A N G RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH

GUBERNUR SUMATERA BARAT PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 6 TAHUN 2016 T E N T A N G RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH GUBERNUR SUMATERA BARAT PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 6 TAHUN 2016 T E N T A N G RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2016-2021 DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

BUPATI BANGKA TENGAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA TENGAH NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI BANGKA TENGAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA TENGAH NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG BUPATI BANGKA TENGAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA TENGAH NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2016-2021 DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN PURWOREJO TAHUN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN PURWOREJO TAHUN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2011-2015 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURWOREJO, Menimbang

Lebih terperinci

BUPATI PESISIR SELATAN

BUPATI PESISIR SELATAN BUPATI PESISIR SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PESISIR SELATAN NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN PESISIR SELATAN TAHUN 2010-2015 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

RKPD KABUPATEN LAMANDAU TAHUN 2015

RKPD KABUPATEN LAMANDAU TAHUN 2015 i BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) berpedoman pada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, Undang-Undang

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) KABUPATEN MALANG TAHUN 2015

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) KABUPATEN MALANG TAHUN 2015 RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) KABUPATEN MALANG TAHUN 2015 Oleh: BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH (BAPPEDA) KABUPATEN MALANG Malang, 30 Mei 2014 Pendahuluan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. daerah sesuai dengan yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara

BAB I PENDAHULUAN. daerah sesuai dengan yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan daerah merupakan kewenangan masing-masing pemerintah daerah sesuai dengan yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,

Lebih terperinci

BUPATI ROKAN HULU PROVINSI RIAU

BUPATI ROKAN HULU PROVINSI RIAU BUPATI ROKAN HULU PROVINSI RIAU PERATURAN BUPATI ROKAN HULU NOMOR 23 TAHUN 2015 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN ROKAN HULU TAHUN 2016 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI ROKAN HULU,

Lebih terperinci

WALIKOTA TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG

WALIKOTA TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG WALIKOTA TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA TANGERANG TAHUN 2014-2018 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH

BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH Penetapan indikator kinerja atau ukuran kinerja akan digunakan untuk mengukur kinerja atau keberhasilan organisasi. Pengukuran kinerja organisasi akan dapat dilakukan

Lebih terperinci

BUPATI PARIGI MOUTONG PROVINSI SULAWESI TENGAH

BUPATI PARIGI MOUTONG PROVINSI SULAWESI TENGAH BUPATI PARIGI MOUTONG PROVINSI SULAWESI TENGAH PERATURAN BUPATI PARIGI MOUTONG NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG INDIKATOR KINERJA UTAMA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN PARIGII MOUTONG TAHUN 2014-2018 DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci