EVALUASI DAMPAK PNPM PERDESAAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "EVALUASI DAMPAK PNPM PERDESAAN"

Transkripsi

1 1 Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat support.org/rural impact 2012 EVALUASI DAMPAK PNPM PERDESAAN (2012) SERI RINGKASAN STUDI

2 2 Latar Belakang, Tujuan dan Maksud Hasil Evaluasi 3 CAPAIAN PNPM RURAL PNPM Perdesaan bertujuan untuk mengurangi kemkiskinan dan meningkatkan tata kelola lokal. PNPM adalah sebuah proses partisipasi: masyarakat menentukan kegiatan yang akan dilakukan bersama dan bagaimana menggunakan sumber daya program dan masyarakat 2011: 63,000 desa/5020 kecamatan/393 kabupaten Konsumsi perkapita meningkat di lokasi PNPM Perdesaan 9% dibandingkan dengan lokasi tanpa PNPM Perdesaan. 5tahun berjalan: Pencapaian dan Pembelajaran Di rumah tangga paling miskin konsumsi meningkat Di Kabupaten termiskin konsumsi meningkat 11.8% 12.7% LATAR BELAKANG, TUJUAN DAN MAKSUD Kegiatan evaluasi terhadap dampak penerapan PNPM Perdesaan (PNPM Rural) dilakukan untuk membahas permasalahan berikut: zapakah PNPM Perdesaan dapat memperbaiki taraf kesejahteraan masyarakat yang ditandai dengan peningkatan tingkat konsumsi per kapita? zapakah PNPM Perdesaan dapat membantu masyarakat keluar dari kemiskinan? Apakah PNPM Perdesaan dapat mencegah mereka kembali mengalami kemiskinan? zbagaimana tingkat efektivitas PNPM Perdesaan dalam mendorong perbaikan akses pelayanan dasar dan penting seperti pendidikan dan kesehatan? Bagaimana tingkat efektivitas PNPM Perdesaan dalam memperbaiki peluang kerja bagi masyarakat? zbagaimana tingkat efektivitas PNPM Perdesaan dalam memenuhi sasaran pembangunan bagi masyarakat miskin dan terpinggirkan? zapakah PNPM Perdesaan turut berperan dalam mempengaruhi dinamika tata kelola pemerintahan dan transparansi? zapakah PNPM Perdesaan membantu masyarakat dalam mengembangkan modal sosial mereka? Apakah PNPM Perdesaan dapat memperbaiki kemampuan masyarakat dalam mengelola dan memprioritaskan kebutuhan pembangunan mereka? Jika ya, bagaimana PNPM melakukan hal tersebut? Kegiatan evaluasi ini dilakukan berdasarkan data kuantitatif dan kualitatif yang dikumpulkan melalui survei tahun 2007 dan survei lanjutan pada tahun Analisa kuantitatif dilakukan melalui penelitian longitudinal yang bertujuan untuk mencari tahu bagaimana pekerjaan, pendidikan, kesehatan, dan keluarga mempengaruhi kehidupan masyarakat. Kegiatan ini banyak mengambil data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2002, dan statistik Potensi Desa (PODES) tahun 2005, serta SEDAP I atau Survei Evaluasi Dampak PNPM Rural tahun 2007 dan SEDAP II 1. Berdasarkan kumpulan survei ini, laporan kegiatan evaluasi terhadap dampak penerapan PNPM Perdesaan dapat diselesaikan pada tahun Kegiatan evaluasi ini merupakan kegiatan evaluasi besar kedua. Evaluasi besar pertama dilakukan terhadap pendahulu PNPM Perdesaan yaitu Program Pengembangan Kecamatan (PPK) dan dipublikasikan pada tahun Evaluasi kedua ini dirancang untuk memberikan masukan yang bermanfaat dan untuk melihat dampak dari penerapan program ini sejak pembentukannya. Oleh karena itu, evaluasi ini menggunakan sebagian besar indikator dan parameter yang sama dengan evaluasi pertama. Namun demikian, evaluasi ini memberikan perhatian lebih pada permasalahan terkait tata pemerintahan dan modal sosial, yang merefleksikan perubahan prioritas program dan kesediaan data tambahan 2. HASIL EVALUASI KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA DAN PENGURANGAN KEMISKINAN zpnpm Perdesaan mampu meningkatkan konsumsi rumah tangga dan mengurangi kemiskinan di seluruh kecamatan yang berpartisipasi dalam PNPM Perdesaan. ztingkat perbaikan terutama terlihat pada kelompok rumah tangga termiskin. Selain itu, kelompok rumah tangga yang diambang kemiskinan juga mendapatkan manfaat dari kegiatan PNPM Perdesaan. zperbaikan terutama terlihat pada kabupaten termiskin dan kabupaten terpencil. zmeskipun demikian, masyarakat kurang beruntung dan terpinggirkan tidak mendapatkan manfaat yang sama dengan masyarakat miskin lainnya. PNPM Perdesaan menyalurkan dana hibah kepada masyarakat dengan batasan penggunaan yang luas. Masyarakat dapat menggunakan dana tersebut untuk kegiatan pembangunan yang diputuskan oleh masyarakat sendiri demi mendorong pembangunan dan memperbaiki kesejahteraan mereka. Masyarakat tidak selalu melihat PNPM Perdesaan sebagai program penanggulangan kemiskinan. Mereka melihat PNPM sebagai program yang memberikan manfaat kepada mereka secara keseluruhan. Dana yang digunakan untuk merencanakan, membangun, dan memelihara jalan, sekolah, dan bangunan infrastruktur sederhana lainnya, memberikan pengaruh pada seluruh masyarakat, tidak hanya pada mereka yang tergolong miskin. Namun demikian, kegiatan evaluasi ini menunjukkan bahwa PNPM Perdesaan memiliki dampak positif yang signifikan terhadap pengurangan kemiskinan. Melalui perbandingan antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan terlihat bahwa PNPM Perdesaan memiliki andil terhadap peningkatan konsumsi rumah tangga 3. Dampak terbesar terlihat pada peningkatan konsumsi rumah tangga miskin. Tingkat konsumsi kelompok rumah tangga sangat miskin meningkat tajam. Taraf konsumsi kelompok rumah tangga yang di ambang garis kemiskinan juga meningkat tapi tidak setajam kelompok rumah tangga sangat miskin 4. PNPM Perdesaan tidak terlibat pada kenaikan konsumi rumah tangga yang tidak tergolong sebagai rumah tangga miskin. PNPM Perdesaan turut mengurangi jumlah masyarakat miskin dalam komunitas tertentu, walaupun pada taraf yang tidak terlalu signifikan 5. Dampak PNPM Perdesaan terlihat lebih jelas pada masyarakat yang lebih miskin (poorer communities) 6. Pada umumnya, masyarakat termiskin menerima manfaat paling banyak, namun anggota masyarakat miskin seperti mereka yang terpinggirkan secara tradisional, keluarga wanita kepala rumah tangga dan mereka yan tidak mengenyam pendidikan dasar tidak menerima manfaat yang secara signifikan lebih banyak dari mereka yang tidak memiliki situasi yang tidak menguntungkan. Kegiatan evaluasi ini menunjukkan bahwa PNPM Perdesaan memiliki pengaruh positif paling signifikan pada pengurangan kemiskinan dan pada perbaikan kesejahteraan masyarakat miskin. Hal ini dapat terjadi ketika kebutuhan masyarakat miskin bertemu dengan kebutuhan seluruh masyarakat. Kelompok masyarakat termiskin dan terpencil, dan seluruh masyarakat mendapatkan manfaat yang besar dari perbaikan infrastruktur dasar seperti pembangunan jalan dan tenaga listrik. Infrastruktur ini turut memperbaiki kesejahteraan masyarakat miskin walaupun pembangunan tersebut tidak secara spesifik ditujukan untuk masyarakat miskin. Namun demikian, pada masyarakat di kabupaten yang tidak terlalu miskin dan tidak terlalu terpencil, keberadaan dan kualitas infrastruktur dasar tidak mempengaruhi pertumbuhan masyarakat secara signifikan. Pendorongan tingkat pertumbuhan pada masyarakat ini, lebih tergantung pada kapasitas dan keterampilan dalam melakukan kegiatan pembangunan, akses yang lebih baik terhadap informasi, penyedia layanan kesehatan (healthy markets), dan faktor lainnya. Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, masyarakat pada saat ini melihat PNPM Perdesaan sebagai program utama untuk memperbaiki infrastruktur dasar di wilayah mereka, yang diperkuat oleh keberadaan fasilitator dan panduan operasional. Jika PNPM Perdesaan diharapkan untuk memberikan perhatian lebih pada inisiatif pengembangan kapasitas dan keahlian, maka kemungkinan akan ada permintaan untuk merubah panduan operasional sehingga dapat mendorong masyarakat untuk mengajukan inisiatif tersebut 7. MEMPERBAIKI AKSES PELAYANAN KESEHATAN zpnpm Perdesaan berpengaruh signifikan terhadap perbaikan akses pelayanan kesehatan. zperbaikan tersebut tersebar secara merata baik di antara kabupaten miskin maupun yang tidak terlalu miskin (less poor). zmasyarakat tidak beruntung dan terpinggirkan sangat mendapatkan manfaat dari perbaikan akses pelayanan kesehatan. zalokasi dana PNPM Perdesaan untuk pembangunan infrastruktur kesehatan mencakup 2,4 persen dari keseluruhan dana yang disalurkan. zsebagian besar perbaikan di bidang layanan kesehatan terjadi karena adanya pembangunan jalan baru dan fasilitas lain yang dapat mengurangi biaya transportasi dan waktu tempuh. PNPM Perdesaan berpengaruh signifikan pada perbaikan akses pelayanan kesehatan. Secara khusus, PNPM Perdesaan memperbaiki akses pelayanan rawat jalan bagi masyarakat yang membutuhkannya 8. Persentasi dana untuk pembangunan fasilitas kesehatan memang kecil, namun perbaikan akses pelayanan kesehatan merupakan

3 4 5 Layanan Kesehatan Perbaikan jalan telah memfasilitasi perbaikan akses terhadap layanan kesehatan hasil dari adanya akses jalanan baru dan fasilitas lainnya yang membantu mengurangi biaya transportasi dan waktu tempuh. Perbaikan layanan kesehatan juga terjadi karena konsumsi masyarakat miskin yang meningkat. Mereka lebih mampu melakukan pengeluaran untuk biaya kesehatan mereka. Pada studi kualitatif, responden pada umumnya sadar bahwa pelayanan kesehatan telah membaik dibandingkan dengan delapan atau tiga tahun lalu. Sebagian besar desa dalam studi ini dapat menikmati layanan poli bersalin desa atau polindes. Namun demikian, banyak polindes yang hanya memiliki faslitas seadanya, dengan bangunan yang tidak permanen. Tiga di antara 18 desa yang dikaji dalam studi ini telah memanfaatkan dana PNPM Perdesaan untuk memperbaiki situasi ini. Walaupun responden menyadari bahwa perbaikan jalan telah membantu perbaikan fasilitas kesehatan terutama layanan rawat inap di pusat pusat kabupaten, mereka masih melihat masalah pada terbatasnya akses dan kualitas pelayanan yang rendah. Keluhan lainya terkait pada kualitas dan ketersediaan layanan bidan di polindes, terlepas kondisi fisik infrastruktur di mana fasilitas tersebut berada. Perbaikan tingkat konsumsi rumah tangga dan pengurangan kemiskinan berfokus pada wilayah miskin dan terpencil. Namun tidak demikian dengan perbaikan akses layanan kesehatan. Perbaikan akses layanan kesehatan memberikan keuntungan lebih pada masyarakat tidak beruntung dan terpinggirkan termasuk wanita kepala rumah tangga dan mereka yang tidak memiliki latar belakang pendidikan. Evaluasi ini menunjukkan bahwa alasan mengapa dampak di bidang kesehatan dapat tersebar merata di antara kabupaten miskin dan tidak terlalu miskin (less poor) adalah karena kabupaten yang lebih miskin cenderung memprioritaskan sub proyek pembangunan jalan, irigasi, atau proyek lain yang memberikan dampak langsung terhadap kegiatan produktif mereka. Pada kecamatan yang tidak terlalu miskin (less poor), masyarakat cenderung memprioritaskan perbaikan fasilitas pelayanan kesehatan. Bahkan jika pembangunan tersebut tidak semata ditujukan untuk membantu masyarakat miskin dan terpinggirkan, evaluasi ini mencatat bahwa mereka tetap dapat turut menikmati. AKSES PENDIDIKAN zsebagian besar sub proyek pendidikan yang dibangun melalui PNPM Perdesaan dan program pendahulunya yaitu PPK, mencakup pembangunan fasilitas Pendidikan Anak Usia Dini dan taman kanak kanak (TK). zkelompok masyarakat minoritas di perdesaan tidak mengikuti pendidikan dasar SD dan lanjutan SLTP. zpnpm Perdesaan belum menghasilkan peningkatan jumlah pendaftaran siswa dan atau tingkat perpindahan dari SD ke SLTP. zmasyarakat perdesaan menyesalkan akses pendidikan SLTA yang terbatas, dan melihat hal ini sebagai kendala utama dalam bidang pendidikan. Kegiatan evaluasi ini bertujuan untuk mengkaji apakah PNPM dapat memperbaiki akses pendidikan terutama pada tingkat pendaftaran sekolah dasar (SD) dan sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP), dan juga tingkat perpindahan dari SD ke SLTP 9. Indikator ini diadopsi dari kegiatan evaluasi sebelumnya yang dilakukan pada masa ketika tingkat pendaftaran, terutama SLTP, adalah sangat rendah. Agar dapat menelusuri dampak program ini dari sejak pendiriannya dan untuk berbagai alasan lain, evaluasi kedua ini menggunakan indikator yang sama. Namun demikian, tingkat pendaftaran di SD dan SLTP sudah tinggi sejak awal, sebagaimana yang terlihat pada hasil evaluasi kedua ini, yaitu sebesar 95 persen dan 85 persen. Tingginya persentase ini mengindikasikan bahwa akses SD dan SLTP yang terbatas bukanlah merupakah sebuah kendala bagi sebagian besar masyarakat perdesaan di Indonesia. PNPM Perdesaan dilihat sebagai program yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas, dan bukan hanya sebagai program penanggulangan kemiskinan. Oleh karena itu, dapat dipahami jika masyarakat tidak lantas memprioritaskan kegiatan yang lebih menguntungkan kelompok minoritas yang masih menghadapi kendala untuk mengakses SD dan SLTP. Maka tidak mengejutkan ketika evaluasi ini menunjukkan bahwa PNPM Perdesaan tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap tingkat pendaftaran pendidikan SD dan SLTP 10. Kegiatan evaluasi kedua ini menunjukkan bahwa sebagian besar sub proyek pendidikan yang dibangun melalui PNPM Perdesaan dan PPK mencakup pembangunan Pendidikan Anak Usia Dini dan taman kanak kanak (TK). Namun demikian, dampak proyek pembangunan tersebut tidak dikaji pada kegiatan evaluasi sebelumnya. Kegiatan evaluasi selanjutnya tidak menetapkan indikator baru untuk melihat dampak pembangunan fasilitas tersebut. Di masa depan, kegiatan evaluasi sebaiknya dirancang untuk melihat dampak yang dihasilkan dari pembangunan fasilitas tersebut. Berdasarkan analisa kuantitatif, 25 persen sampel memiliki kesulitan untuk menyekolahkan anak anak mereka ke jenjang SLTA, bukan SLTP. SLTA seringkali berlokasi di pusat kabupaten sehingga masyarakat yang memiliki infrastruktur transportasi terbatas mengalami kesulitan untuk menjangkau sekolah tersebut. Evaluasi ini secara spesifik tidak mengukur dampak PNPM Perdesaan terhadap perbaikan tingkat perpindahan sekolah antara SLTP dan SLTA. Tingkat pendaftaran SD dan SLTP tinggi namun tidak berlaku secara universal. Anak anak dari keluarga tidak beruntung dan terpinggirkan, temasuk mereka yang tinggal di wilayah terpencil, masih menghadapi kendala untuk bersekolah. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah Indonesia menerapkan program percontohan PNPM Generasi tahun AKSES LAPANGAN KERJA zpnpm Perdesaan menyediakan banyak peluang kerja sementara bagi masyarakat perdesaan zpnpm Perdesaan memfasilitasi pembangunan infrastruktur yang dapat mendorong kegiatan ekonomi yang dapat meningkatkan peluang kerja bagi masyarakat perdesaan znamun demikian, tidak terdapat bukti bahwa pembangunan infrastruktur ini dapat meningkatkan peluang kerja jangka panjang. Salah satu fitur utama pendekatan PNPM adalah menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat untuk proyek proyek konstruksi desa. Peluang kerja ini ini tentunya berakhir ketika proyek tersebut selesai. Namun demikian, PNPM Perdesaan berkeinginan untuk memiliki dampak yang signifikan dan berkelanjutan dalam memperbaiki akses masyarakat terhadap lapangan kerja yaitu dengan meningkatkan kegiatan ekonomi melalui pembangunan infrastruktur yang dapat mendorong kegiatan tersebut 12. Pada kegiatan evaluasi sebelumnya, ketika tingkat pengangguran di perdesaan akibat krisis ekonomi di Asia (the Asian Economic Crisis) adalah relatif tinggi, terlihat bahwa PNPM Perdesaan memiliki dampak positif dalam memperbaiki akses lapangan kerja. Namun demikian, pada kegiatan evaluasi kedua, tingkat pengangguran terbilang lebih rendah. Bukti bukti menunjukkan bahwa pengangguran terselubung dan rendahnya nilai tenaga kerja di perdesaan menjadi hambatan yang lebih berarti daripada pengangguran terbuka. Evaluasi ini dirancang untuk melihat dampak program terhadap akses lapangan kerja, tidak terhadap hambatan tersebut. Maka mungkin tidak mengejutkan jika evaluasi ini tidak menemukan bukti empiris bahwa perbaikan infrastruktur berkaitan pada peningkatan lapangan kerja jangka panjang di wilayah wilayah PNPM Perdesaan 13. DINAMIKA SOSIAL DAN TATA PEMERINTAHAN zpnpm Perdesaan diterapkan dengan melibatkan partisipasi masyarakat yang tinggi, akses informasi yang tinggi, dan membangun tingkat kepuasan yang tinggi di antara para penerima program, terutama masyarakat wanita dan miskin. znamun demikian, tidak terdapat bukti bahwa PNPM Perdesaan dapat memperbaiki dinamika sosial dan tata pemerintahan di politik desa dan atau pembangunan yang diterapkan melalui program selain PNPM Perdesaan.

4 6 Rekomendasi Rekomendasi 7 TINGKAT KEHADIRAN Capaian menuju MDG Primary Schools (SD) 95% Secondary Schools (SMP) 85% Evaluasi ini dirancang untuk melihat dampak PNPM Perde- berkembang di dalam pelaksanaan program, dan dapat perubahan rancangan tambahan atau pendekatan terpenuhi. PNPM bukan satu satunya kendaraan atau saan pada dinamika sosial dan tata pemerintahan dengan mempengaruhi perencanaan pembangunan dan akti- pembangunan lain yang dapat mengatasi kebutu- satu satunya yang bertanggung jawab untuk merubah mengukur tingkat insiden aksi kolektif, tingkat kepercay- vitas di luar pelaksanaan program. Dampak yang lemah han mereka. budaya pemerintah lokal. Namun demikian, PNPM meru- aan masyarakat terhadap pemerintahan desa, tingkat pada indikator sosial dan tata pemerintahan menunjuk- pakah salah satu cara untuk mengenalkan dan melem- insiden aksi kolektif pengajuan petisi terhadap pemerintah kan adanya kebutuhan terhadap periode fasilitasi yang MELANJUTKAN PENDANAAN UNTUK bagakan praktek tata kelola yang baik di wilayah perde- desa, tingkat partisipasi masyarakat dalam rapat desa, berkelanjutan dan perhatian lebih terhadap keterampilan PENGADAAN INFRASTRUKTUR DENGAN saan. Penelitian lebih lanjut sebaiknya dilakukan untuk persepsi pemerintah lokal dalam mengatasi kebutuhan dan lembaga masyarakat, untuk membangun kapasitas FOKUS PADA PEMELIHARAAN DAN mempelajari berbagai kendala penerapan prinsip prinsip masyarakat, dan tingkat akses informasi terhadap dana masyarakat demi mewujudkan aksi kolekstif yang lebih KEBERLANJUTAN INFRASTRUKTUR: transparansi dan akuntabilitas PNPM, serta untuk menen- pembangunan desa. Evaluasi ini tidak hanya menilai din- efektif dan mendapatkan tata pemerintahan yang lebih PNPM bertahan sebagai program yang efektif dalam tukan perubahan rancangan yang mampu mengatasi amika mana yang terpengaruh akibat penerapan PNPM baik. Jika fasilitasi ini akan dilanjutkan, maka diperlukan mewujudkan kebutuhan infrastruktur masyarakat perde- kendala tersebut. Perdesaan, namun juga apakah PNPM Perdesaan dapat perbaikan kualitas untuk menghasilkan suatu dampak, saan yang berakibat pada perbaikan tingkat kesejahteraan mempengaruhi seluruh kegiatan dalam tata pemerin- terutama pada persepsi masyarakat terhadap program rumah tangga. Program ini sebaiknya terus dilaksanakan TERUS MEMBERIKAN PERHATIAN BAGI tahan desa. berbasis masyarakat seperti PNPM, yang bukan hanya ber- mengingat masih adanya kesenjangan infrastruktur di MASYARAKAT TERPINGGIRKAN: tujuan untuk mengurangi kemiskinan. Sebagai tambahan, wilayah perdesaan. Namun demikian, manfaat program ini PNPM sebaiknya menentukan apakah PNPM merupakah Evaluasi ini menunjukkan bahwa dalam kegiatan PNPM perubahan dalam perancangan proyek sebaiknya diper- hanya dapat berlanjut jika infrastruktur tersebut memiliki program terbaik untuk mengatasi kebutuhan masyara- Perdesaan sendiri, terdapat tingkat partisipasi yang tinggi, timbangkan agar dapat mengatasi hambatan akuntabilitas kualitas cukup untuk terus dapat digunakan secara efektif. kat terpinggirkan, dan sebaiknya mempertimbangkan akses informasi dan kepuasan penerima program yang sosial baik di dalam maupun di luar program PNPM. Penelitian di masa depan sebaiknya berfokus pada kualitas perubahan rancangan tambahan atau pendekatan pem- tinggi, terutama di kalangan wanita dan masyarakat miskin. Berdasarkan data yang dikumpulkan pada tahun REKOMENDASI pemeliharaan dan kelangsungan penggunaan infrastruktur yang dibangun melalui PNPM serta mekanisme dan bangunan lain yang dapat mengatasi kebutuhan masyarakat tersebut , sebanyak 48 persen peserta rapat kegiatan zterdapat kesenjangan infrastruktur di wilayah perde- prosedur saat ini yang telah ditetapkan untuk menjaga PNPM Perdesaan adalah wanita, dan sebanyak 60 persen saan. Bukti bukti menunjukkan bahwa PNPM Perde- kelayakan kegiatan pemeliharaan. MEMPERBAHARUI FOKUS DALAM MEMPERKUAT adalah masyarakat miskin. Evaluasi juga menunjukkan saan mampu mempersempit kesenjangan ini. Maka PARTISIPASI DAN KETERLIBATAN MASYARAKAT bahwa 60 persen responden melihat PNPM memiliki akses pemerintah Indonesia sebaiknya melanjutkan penera- TARGET PEMBERIAN DANA HIBAH: MISKIN DAN TERPINGGIRKAN PADA PROSES informasi yang bagus. Proporsi penerima program yang pan PNPM Perdesaan Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, kegiatan PENGAMBILAN KEPUTUSAN KEGIATAN PNPM: menyatakan kepuasannya terhadap pelaksanaan program zdana hibah sebaiknya ditujukan untuk PNPM telah memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi Untuk mengatasi rutinitas penerapan proyek yang adalah sebesar 68 persen. wilayah wilayah dengan keterbatasan infrastruktur masyarakat miskin dan terpencil. Dana hibah sebaiknya telah meluas dan berlangsung sekian lama di banyak sehingga dapat memaksimalkan dampak terhadap ditujukan pada wilayah yang memiliki keterbatasan infra- lokasi, PNPM perlu memperbaharui upayanya mendekati Namun demikian, evaluasi ini menemukan bahwa untuk perbaikan kesejahteraan rumah tangga. struktur demi memaksimalkan dampak terhadap tingkat masyarakat agar mereka dapat terlibat dalam kegiatan tata pemerintahan dan dinamika sosial secara umum (seb- zpenelitian lanjutan sebaiknya dilaksanakan untuk kesejahteraan rumah tangga. Penelitian tambahan diper- proyek, dan untuk memastikan bahwa semua golongan agai contoh, di luar program PNPM Perdesaan), seluruh memastikan keberlanjutan penggunaan infrastruktur lukan untuk memahami tingkat efektivitas program dalam masyarakat berpartisipasi penuh dalam proses pengambi- indikator menunjukkan hasil yang lebih rendah. Sebagai yang dibangun melalui PNPM, dan untuk menentu- batasan konteks yang lebih luas (kemiskinan, infrastruktur, lan keputusan. contoh, hanya 24 persen responden yang menyatakan kan cara menyesuaikan besaran dana hibah sehingga regional) dan penerapan prosedur (ukuran BLM, lamanya bahwa akses informasi terkait pembangunan desa secara dapat memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat partisipasi masyarakat dalam sebuah proyek). Perlu diper- MELANJUTKAN PENGUMPULAN DATA: umum adalah bagus, sementara proporsi penerima dengan lokal konteks berbeda beda. timbangkan bagaimana menyesuaikan besaran dana Cakupan wilayah penerapan PNPM Perdesaan telah program yang menyatakan kepuasan dengan pemban- zpenelitian lanjutan sebaiknya dilakukan untuk hibah agar dapat memenuhi kebutuhan konteks lokal meluas ke semua kecamatan di Indonesia. Walaupun gunan desa secara umum adalah sebesar 29 persen. Hal mempelajari berbagai kendala dalam penerapan yang berbeda beda. perluasan tersebut menuntut adanya pengecualian ter- ini menyatakan bahwa walaupun proyek itu sendiri telah prinsip prinsip transparansi dan akuntabilitas PNPM, hadap wilayah kelompok kontrol (control areas), survei dilaksanakan sesuai dengan prinsip prinsip yang berlaku serta untuk menentukan perubahan rancangan yang STRATEGI UNTUK MENGATASI KENDALA melalui panel masih dapat bermanfaat untuk menelusuri dan dengan partisipasi tinggi masyarakat, tidak berarti mampu mengatasi kendala tersebut. PENYUSUTAN AKUNTABILITAS SOSIAL perkembangan kemajuan indikator utama. Survei lanju- memiliki dampak terhadap kegiatan desa secara umum. zpenelitian lebih lanjut sebaiknya dilakukan untuk PEMERINTAH LOKAL: tan di tahun 2012 dan 2014 sebaiknya dilaksanakan untuk menentukan apakah PNPM merupakah program Belum adanya lembaga yang dapat menandingi fitur memastikan kelanjutan pengujian terhadap efektivi- PNPM menghadapi tantangan signifikan dalam men- terbaik untuk mengatasi kebutuhan masyarakat transparansi dan tata kelola PNPM mengindikasikan bahwa tas proyek. gartikan akuntabilitas sosial/transparansi agar dapat terpinggirkan, dan untuk mempertimbangkan adanya target utama peningkatan akuntabilitas sosial belum

5 8 CATATAN 1 SUSENAS adalah survei rumah tangga yang dilakukan oleh Biro Pusat Statistik (BPS) setiap tahun. SUSENAS dirancang untuk mengukur kondisi kesejahteraan rumah tangga di tingkat nasional. SUSENAS melakukan wawancara terhadap lebih dari rumah tangga di seluruh kabupaten di Indonesia dan meliputi berbagai topik seperti konsumsi rumah tangga, kondisi rumah, perawatan kesehatan, perawatan kehamilan, pendidikan, pekerjaan dan pendapatan. Modul khusus yang berkaitan dengan topik spesifik seperti perumahan, kesehatan, budaya, dan pendidikan, dilakukan secara bertahap. Data penelitian mewakili tingkat nasional dan kabupaten. PODES merupakan sensus desa di tingkat nasional yang juga dilakukan oleh BPS. PODES dilakukan tiga kali setiap 10 tahun di desa desa di seluruh wilayah Indonesia. Data PODES menyajikan enumerasi lengkap dari setiap desa di Indonesia dengan informasi seperti luas tanah, jumlah populasi, pasokan air, juga informasi infrastruktur seperti jumlah sekolah, rumah sakit, dokter, pasar, transportasi, dan lembaga keuangan. PODES yang digunakan dalam kegiatan evaluasi ini adalah PODES tahun 2005 yang menyajikan data dari desa. 2 Permasalahan dalam melakukan evaluasi yang sama dengan evaluasi pertama yang diterbitkan tahun 2008 adalah bahwa sejak tahun tersebut, cakupan PNPM Perdesaan telah berkembang pesat meliputi seluruh kecamatan perdesaan di Indonesia. Hal ini membuat kegiatan evaluasi kedua memiliki tantangan lebih dalam mengidentifikasikan kelompok kontrol (a control group) untuk membandingkan pengalaman masyarakat yang berpartisipasi dalam PNPM Perdesaan, atau pengalaman masyarakat di kecamatan yang tidak menerapkan PNPM Perdesaan. Untuk mengatasi masalah ini, penelitian ini melakukan pendekatan bertahap untuk menentukan kelompok kontrol yang merupakan kecamatan yang memulai PNPM Perdesaan pada akhir tahun Dengan adanya kesamaan karakter yang diobservasi, kelompok kontrol merepresentasikan fakta yang tejadi jika PNPM Program tidak pernah diterapkan. Kelompok perlakuan (treatment groups) terdiri dari kecamatan yang mulai menerapkan PNPM Perdesaan di akhir tahun 2007 sementara kelompok kontrol terdiri kecamatan yang mulai menerapkan PNPM Perdesaan pada akhir 2009 dan awal Dengan melihat keseluruhan sampel, pada kelompok rumah tangga penerima manfaat PNPM, tingkat konsumsi per kapita mereka meningkat sebesar 9,1 persen lebih banyak dari pada kelompok pada periode tahun Temuan ini berlawanan dengan evaluasi PPK2 sebelumnya yang kurang konsistensi dan bukti kuat dalam melihat dampak proyek pada keseluruhan sampel. 4 Bukti menunjukkan dampak yang signifikan pada kuintil kedua dan ketiga, dibandingkan dengan kuintil pertama pada masa PPK2. Kuintil kedua dan ketiga tidak merepresentasikan rumah tangga miskin, tapi mewakili rumah tangga yang di ambang garis kemiskinan (near poor) karena lebih dari separuh rumah tangga Indonesia terbagi ke dalam kantung kantung kemiskinan secara nasional sejak Dengan melihat keseluruhan sampel, kegiatan evaluasi ini menunjukkan bahwa kelompok rumah tangga miskin yang tersentuh program PNPM memiliki kemungkinan sebesar 2,1 persen untuk dapat keluar dari kemiskinan; 7,9 persen kemungkinan mereka menerapkan model perbandingan kondisi rumah tangga. Hal ini serupa dengan temuan dari evaluasi sebelumnya pada masa PPK2. Namun demikian, pencapaian ini hanya signifikan pada tingkatan 10 persen. Sebagai perbandingan dengan temuan evaluasi dari masa PPK2, PNPM tidak efektif mencegah rumah tangga jatuh ke dalam kemiskinan. 6 Pada kuintil pertama, berdasarkan tingkat konsumsi per kapita tahun 2007, terdapat perbedaan pertumbuhan tingkat konsumsi per kapita sebesar 11,8 persen antara kelompok masyarakat PNPM dan kelompok kontrol. Pada kuintil yang mencakup masyarakat yang relatif lebih sejahtera, PNPM tidak terlalu berpengaruh. Pada ujung akhir distribusi konsumsi, tidak terdapat dampak yang signifikan pada kuntil keempat dan kelima. Terdapat bukti pengaruh yang kuat pada kuntil ketiga dan kuntil kedua. Pada kuintil ketiga tingkat konsumsi tumbuh sebesar 15,6 persen. Pada kuntil kedua, tumbuh sebesar 8,4 persen, walaupun taraf signifikansi hanya pada tingkatan 10 persen. 7 Evaluasi ini menyatakan: Pada desa miskin, dengan jumlah infrastruktur yang terbatas, kebutuhan yang dibutuhkan masyarakat sejalan dengan proposal sub proyek yang diajukan dan yang kemudian didanai oleh masyarakat. Kebutuhan tersebut berfokus pada pembangunan irigasi, jalan, pertanian, dan pelatihan. Ketika infrastruktur tersedia, biasanya kebutuhan masyarakat yang tidak terlalu miskin (less poor), tidak sejalan dengan proyek yang didanai oleh masyarakat. Pada kasus ini, masyarakat tetap mendanai infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan irigiasi, sementara masyarakat miskin lebih melihat modal, pelatihan keterampilan, pekerjaan, pendidikan, dan kesehatan sebagai kebutuhan utama. 8 Masyarakat yang tidak menggunakan layanan rawat jalan pada kelompok masyarakat yang menerapkan PNPM di tahun 2007 adalah 5,1 dan 4,5 persen lebih cenderung menggunakan layanan rawat jalan daripada mereka yang termasuk dalam kelompok kontrol di tahun 2010, berdasarkan hasil analisa multinomial logit dan perbandingan kondisi. Bukti juga menunjukkan dampak yang sama pada rumah tangga miskin. Pasa kuintil pertama di tahun 2007, kemungkinan masyarakat menggunakan layanan rawat jalan adalah sebesar 6,2 dan 5,7 persen lebih tinggi daripada kelompok masyarakat PNPM2 tapi hanya pada tingkatan 10 persen. 9 Evaluasi terhadap akses pendidikan diukur dengan melihat tingkat perpindahan antara SD dan SLTP pada kelompok anak anak usia tertentu. Tingkat pendaftaran sekolah dilihat dari banyaknya anak anak yang termasuk dalam kelompok usia tertentu, dibagi dengan jumlah anak anak dalam kelompok usia tertentu dalam suatu populasi. Kelompok usia tersebut dibagi menjadi: usia 7 12 tahun untuk SD, dan usia untuk SLTP. Tingkat perpindahan merupakan persentasi dari tiap kelompok usia yang terdaftar di SD tahun 2007 yang juga terdaftar di SLTP tahun Evaluasi ini menyatakan bahwa: Tidak terdapat dampak yang signifikan terhadap tingkat perpindahan siswa dari SD ke SLTP. Hasil ini meluas tidak hanya pada keseluruhan sampel tapi juga masyarakat terpinggirkan termasuk kelompok gender. Sebagai tambahan, tidak ada perbedaan yang signifikan pada tingkat pendaftaran SD dan SLTP. Adanya tingkat pendaftaran SD dan SLTP yang tinggi (rata rata 95 persen dan 85 persen) mengindikasikan bahwa tidak ada kendala berarti bagi sebagian besar masyarakat mengingat rendahnya alokasi dana PNPM untuk sub proyek pendidikan. 11 Untuk informasi lebih detail, lihat laporan jangka menengah Evaluasi Dampak PNPM Generasi Sebagaimana yang telah dinyatakan dalam laporan ini: PNPM mencapai sasarannya melalui proyek pembangunan infrastruktur baru, termasuk jalan, jembatan, dan irigasi, yang dimaksudkan untuk meningkatkan akses produksi dan pasar ekonomi lokal dan mencakup komponen pembayaran tunai untuk kerja pada kegiatan konstruksi yang menyediakan lapangan kerjaan sementara bagi masyarakat. 13 Hasil evaluasi ini mendukung pandangan bahwa PNPM memiliki dampak terbatas pada peningkatan lapangan kerja: Masyarakat dewasa berumur yang tidak memiliki pekerjaan di tahun 2007 memiliki 1,35 persen kemungkinan untuk dipekerjakan di tahun Ketika pekerja yang putus asa dipekerjakan, maka dampak ini menghilang. Hal ini mengindikasikan bahwa PNPM tidak terlalu efektif dalam membantu masyarakat yang berhentimencari pekerjaan karena terbatasnya peluang kerja. Referensi: PNPM Support Facility (2012). PNPM Rural Impact Evaluation, PSF, Jakarta. SERI RINGKASAN STUDI Tujuan utama PNPM Support Facility (PSF) adalah menjadi sarana obyektif untuk mengulas, berbagi pengalaman, dan menerapkan pelajaran dari berbagai program kemiskinan dan untuk menumbuhkan diskusi mengenai solusi untuk program kemiskinan. PSF memfasilitasi pelaksanaan analisis dan penelitian terapan untuk mengoptimalkan desain program berbasis komunitas yang merespon terhadap dampak kemiskinan yang semakin tinggi dan untuk lebih memahami dinamika sosial di Indonesia dan pengaruhnya terhadap pembangunan dan pengentasan kemiskinan. Penelitian dan analisis ini bertujuan memberikan basis yang kuat untuk perencanaan, pengelolaan, dan perbaikan program pemberantasan kemiskinan pemerintah Indonesia.Penelitian ini juga dapat mendorong pembelajaran antar negara berkembang, dan menjadi masukan berharga bagi akademisi, instansi pemerintah, dan pelaku pembangunan lain yang menerapkan program berbasis komunitas di mana pun di dunia. Penelitian dan kerja analisis ini diterbitkan oleh PSF dalam rangka mempublikasi dan mempromosikan temuan, kesimpulan, dan rekomendasi dari penelitian dan analisis kepada khalayak yang lebih luas, termasuk akademisi, jurnalis, anggota parlemen, dan pihak pihak lain yang memiliki ketertarikan terhadap pengembangan masyarakat.

BUKTI DARI PEDESAAN INDONESIA

BUKTI DARI PEDESAAN INDONESIA Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat http://pnpm support.org/village capacity 2010 SERI RINGKASAN STUDI KAPASITAS DESA DALAM MEMELIHARA INFRASTRUKTUR: (NOVEMBER 2010) 2 Ringkasan Biaya pemeliharaan

Lebih terperinci

ANALISA DI TINGKAT MASYARAKAT

ANALISA DI TINGKAT MASYARAKAT 1 Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat http://pnpm support.org/governance review 2012 SERI RINGKASAN STUDI (MEI 2012) 2 Apa Yang Dimaksud Dengan Pnpm Perdesaan? Mengapa Tata Kelola Yang

Lebih terperinci

EVALUASI DAMPAK PENERAPAN PNPM GENERASI

EVALUASI DAMPAK PENERAPAN PNPM GENERASI 1 Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat http://pnpm support.org/generasi impact 2011 EVALUASI DAMPAK PENERAPAN PNPM GENERASI (JUNI 2011) SERI RINGKASAN STUDI 2 Apa yang Dimaksud Dengan Pnpm

Lebih terperinci

STUDI KELOMPOK MARJINAL

STUDI KELOMPOK MARJINAL Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat http://pnpm support.org/marginalized study 2010 (JUNI 2010) SERI RINGKASAN STUDI 2 Studi Kelompok Marginal Struktur Sosial Ekonomi dan Pengambilan Keputusan

Lebih terperinci

MENGEJAR KETERTINGGALAN: AKSI MASYARAKAT DAN PERLINDUNGAN SOSIAL DI INDONESIA

MENGEJAR KETERTINGGALAN: AKSI MASYARAKAT DAN PERLINDUNGAN SOSIAL DI INDONESIA 1 MENGEJAR KETERTINGGALAN: AKSI MASYARAKAT DAN PERLINDUNGAN SOSIAL DI INDONESIA Forum Kebijakan Publik Asia Robert Wrobel, Fasilitas Pendukung PNPM Indonesia 2 Pertanyaan Pembatas Apa yang menjadi tantangan

Lebih terperinci

Gambar Perkembangan Kemiskinan di Indonesia,

Gambar Perkembangan Kemiskinan di Indonesia, Kemiskinan Termasuk bagian penting dari aspek analisis ketenagakerjaan adalah melihat kondisi taraf kehidupan penduduk, yang diyakini merupakan dampak langsung dari dinamika ketenagakerjaan. Kemiskinan

Lebih terperinci

Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011.

Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011. Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011. 1. Atas undangan Organisasi Kesehatan Dunia, kami, Kepala Pemerintahan, Menteri dan perwakilan pemerintah datang

Lebih terperinci

EVALUASI PROGRAM BANTUAN KEUANGAN DESA

EVALUASI PROGRAM BANTUAN KEUANGAN DESA EVALUASI PROGRAM BANTUAN KEUANGAN DESA (BANTUAN KEUANGAN PEUMAKMU GAMPONG, BKPG) DI PROVINSI ACEH Latar Belakang dan Dasar Pemikiran Provinsi Aceh telah mencatat kemajuan yang mengesankan menuju pemulihan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tingkat kesejahteraan masyarakat secara rata-rata di suatu daerah

I. PENDAHULUAN. Tingkat kesejahteraan masyarakat secara rata-rata di suatu daerah I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tingkat kesejahteraan masyarakat secara rata-rata di suatu daerah dicerminkan oleh besar kecilnya angka PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) dan PDRB Per Kapita. Kesehatan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. (NSB) termasuk Indonesia sering berorientasi kepada peningkatan pertumbuhan

I. PENDAHULUAN. (NSB) termasuk Indonesia sering berorientasi kepada peningkatan pertumbuhan 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Program ekonomi yang dijalankan negara-negara Sedang Berkembang (NSB) termasuk Indonesia sering berorientasi kepada peningkatan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB)

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1. Visi Terwujudnya Masyarakat Bengkulu Utara yang Mandiri, Maju, dan Bermartabat Visi pembangunan Kabupaten Bengkulu Utara Tahun 2011-2016 tersebut di atas sebagai

Lebih terperinci

BERALIH DARI SUBSIDI UMUM MENJADI SUBSIDI TERARAH: PENGALAMAN INDONESIA DALAM BIDANG SUBSIDI BBM DAN REFORMASI PERLINDUNGAN SOSIAL

BERALIH DARI SUBSIDI UMUM MENJADI SUBSIDI TERARAH: PENGALAMAN INDONESIA DALAM BIDANG SUBSIDI BBM DAN REFORMASI PERLINDUNGAN SOSIAL KANTOR WAKIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA BERALIH DARI SUBSIDI UMUM MENJADI SUBSIDI TERARAH: PENGALAMAN INDONESIA DALAM BIDANG SUBSIDI BBM DAN REFORMASI PERLINDUNGAN SOSIAL Dr. Bambang Widianto Deputi Bidang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kepada pemberdayaan dan partisipasi. Sebelumnya telah dilalui begitu banyak

BAB I PENDAHULUAN. kepada pemberdayaan dan partisipasi. Sebelumnya telah dilalui begitu banyak BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Program pengentasan kemiskinan pada masa sekarang lebih berorientasi kepada pemberdayaan dan partisipasi. Sebelumnya telah dilalui begitu banyak program pengentasan

Lebih terperinci

BAB II. GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN SUMBA BARAT

BAB II. GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN SUMBA BARAT BAB II. GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN SUMBA BARAT 2.1. Gambaran Umum 2.1.1. Letak Geografis Kabupaten Sumba Barat merupakan salah satu Kabupaten di Pulau Sumba, salah satu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Indonesia telah merdeka hampir mencapai 69 tahun, tetapi masalah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Indonesia telah merdeka hampir mencapai 69 tahun, tetapi masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Indonesia telah merdeka hampir mencapai 69 tahun, tetapi masalah kemiskinan masih tetap menjadi masalah fenomenal yang masih belum dapat terselesaikan hingga

Lebih terperinci

CITIZEN REPORT CARD. Merauke. papua

CITIZEN REPORT CARD. Merauke. papua CITIZEN REPORT CARD Merauke papua Program Support to CSO merupakan kerja sama PATTIRO dan AIPD. Program ini memberikan dukungan kepada jaringan CSO di wilayah kerja untuk meningkakan kapasitas mereka dalam

Lebih terperinci

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. terbawah kedua setelah Rukun Tetangga (RT), akan tetapi desa justru menjadi

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. terbawah kedua setelah Rukun Tetangga (RT), akan tetapi desa justru menjadi BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. KESIMPULAN Dalam hierarki struktur pemerintahan, desa adalah menempati posisi terbawah kedua setelah Rukun Tetangga (RT), akan tetapi desa justru menjadi terdepan dan langsung

Lebih terperinci

Ringkasan Eksekutif. Laporan Kemajuan MDF Desember 2009 Ringkasan Eksekutif

Ringkasan Eksekutif. Laporan Kemajuan MDF Desember 2009 Ringkasan Eksekutif Laporan Kemajuan MDF Desember 2009 Ringkasan Eksekutif Ringkasan Eksekutif Proyek yang berfokus pada pemulihan masyarakat adalah yang paling awal dijalankan MDF dan pekerjaan di sektor ini kini sudah hampir

Lebih terperinci

Tata Kelola Desa. dalam rangka Pelaksanaan UUDesa: Hasil Temuan dari Studi Awalan Sentinel Villages

Tata Kelola Desa. dalam rangka Pelaksanaan UUDesa: Hasil Temuan dari Studi Awalan Sentinel Villages Tata Kelola Desa dalam rangka Pelaksanaan UUDesa: Hasil Temuan dari Studi Awalan Sentinel Villages GARIS BESAR 1 2 3 4 5 6 Latar Belakang Metodologi Waktu pelaksanaan Tujuan Studi Temuan utama Rekomendasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kemiskinan yang akurat dan tepat sasaran. Data kemiskinan yang baik dapat

BAB I PENDAHULUAN. kemiskinan yang akurat dan tepat sasaran. Data kemiskinan yang baik dapat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah kemiskinan merupakan salah satu persoalan mendasar yang menjadi pusat perhatian pemerintah di negara manapun. Salah satu aspek penting untuk mendukung strategi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perkapita sebuah negara meningkat untuk periode jangka panjang dengan syarat, jumlah

BAB I PENDAHULUAN. perkapita sebuah negara meningkat untuk periode jangka panjang dengan syarat, jumlah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan ekonomi adalah proses yang dapat menyebabkan pendapatan perkapita sebuah

Lebih terperinci

CITIZEN REPORT CARD MALANG JAWA TIMUR

CITIZEN REPORT CARD MALANG JAWA TIMUR CITIZEN REPORT CARD MALANG JAWA TIMUR Program Support to CSO merupakan kerja sama PATTIRO dan AIPD. Program ini memberikan dukungan kepada jaringan CSO di wilayah kerja untuk meningkakan kapasitas mereka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. membangun manusia Indonesia yang tangguh. Pembangunan dalam sektor kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. membangun manusia Indonesia yang tangguh. Pembangunan dalam sektor kesehatan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan kesehatan merupakan hal yang sangat penting dalam rangka membangun manusia Indonesia yang tangguh. Pembangunan dalam sektor kesehatan merupakan faktor

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Ketenagakerjaan merupakan masalah yang selalu menjadi perhatian utama

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Ketenagakerjaan merupakan masalah yang selalu menjadi perhatian utama BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ketenagakerjaan merupakan masalah yang selalu menjadi perhatian utama pemerintah dari masa ke masa. Permasalahan ini menjadi penting mengingat erat kaitannya dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagaimana tertulis dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014, pemerintah menetapkan visi pembangunan yaitu Terwujudnya Indonesia yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembukaaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah memajukan kesejahteraan

BAB I PENDAHULUAN. Pembukaaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah memajukan kesejahteraan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang masalah Salah satu tujuan Nasional Republik Indonesia yang ada pada Pembukaaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah memajukan kesejahteraan umum. Namun dalam upaya mencapai

Lebih terperinci

PEMANFAATAN DATA UNTUK PENAJAMAN INTERVENSI KEBIJAKAN

PEMANFAATAN DATA UNTUK PENAJAMAN INTERVENSI KEBIJAKAN PEMANFAATAN DATA UNTUK PENAJAMAN INTERVENSI KEBIJAKAN DATA MAKRO DAN DATA MIKRO ANALISIS DETERMINAN MASALAH BERBASIS DATA PENGGUNAAN DATA SEBARAN (AGREGAT) DALAM PENSASARAN WILAYAH Pemalang, 4 Oktober

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Pengalaman masa lalu telah memberikan pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia, bahwa pembangunan yang dilaksanakan dengan pendekatan top-down dan sentralistis, belum berhasil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1994). Proses pembangunan memerlukan Gross National Product (GNP) yang tinggi

BAB I PENDAHULUAN. 1994). Proses pembangunan memerlukan Gross National Product (GNP) yang tinggi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kemiskinan yang meluas merupakan tantangan terbesar dalam upaya Pembangunan (UN, International Conference on Population and Development, 1994). Proses pembangunan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Sejak tahun 2001 Indonesia telah memberlakukan desentralisasi yang lebih

I. PENDAHULUAN. Sejak tahun 2001 Indonesia telah memberlakukan desentralisasi yang lebih I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sejak tahun 2001 Indonesia telah memberlakukan desentralisasi yang lebih dikenal dengan istilah otonomi daerah sebagai salah satu wujud perubahan fundamental terhadap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Papua merupakan daerah di kawasan timur Indonesia yang mengalami

BAB I PENDAHULUAN. Papua merupakan daerah di kawasan timur Indonesia yang mengalami 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Papua merupakan daerah di kawasan timur Indonesia yang mengalami ketertinggalan pembangunan selama beberapa dekade. Pada era otonomi daerah, kebijakan Otonomi Khusus

Lebih terperinci

BRIEFING NOTE RELFEKSI PENCAPAIAN MILLENNIUM DEVELOPMENT GOAL (MDG) DI INDONESIA

BRIEFING NOTE RELFEKSI PENCAPAIAN MILLENNIUM DEVELOPMENT GOAL (MDG) DI INDONESIA BRIEFING NOTE RELFEKSI PENCAPAIAN MILLENNIUM DEVELOPMENT GOAL (MDG) DI INDONESIA (Disampaikan dalam Diplomat Briefing, Jakarta 11 Maret 2013) Kata Pengantar Refleksi tentang Pencapaian MDG ini merupakan

Lebih terperinci

BAB 16 PENANGGULANGAN KEMISKINAN

BAB 16 PENANGGULANGAN KEMISKINAN BAB 16 PENANGGULANGAN KEMISKINAN Kemiskinan di Indonesia merupakan kemiskinan multidimensi. Berbagai kebijakan pemerintah untuk menurunkan angka kemiskinan diarahkan ke dalam bentuk peningkatan kesejahteraan

Lebih terperinci

SISTEMATIKA PENYUSUNAN RENCANA UMUM ENERGI NASIONAL, RENCANA UMUM ENERGI DAERAH PROVINSI, DAN RENCANA UMUM ENERGI DAERAH KABUPATEN/KOTA

SISTEMATIKA PENYUSUNAN RENCANA UMUM ENERGI NASIONAL, RENCANA UMUM ENERGI DAERAH PROVINSI, DAN RENCANA UMUM ENERGI DAERAH KABUPATEN/KOTA 9 LAMPIRAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA UMUM ENERGI NASIONAL SISTEMATIKA PENYUSUNAN RENCANA UMUM ENERGI NASIONAL, RENCANA UMUM ENERGI DAERAH

Lebih terperinci

KOPI DARAT Kongkow Pendidikan: Diskusi Ahli dan Tukar Pendapat 7 Oktober 2015

KOPI DARAT Kongkow Pendidikan: Diskusi Ahli dan Tukar Pendapat 7 Oktober 2015 KOPI DARAT Kongkow Pendidikan: Diskusi Ahli dan Tukar Pendapat 7 Oktober 2015 Topik #10 Wajib Belajar 12 Tahun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Menjawab Daya Saing Nasional Latar Belakang Program Indonesia

Lebih terperinci

MDGs. Kebijakan Nasional Penanggulangan Kemiskinan. dalam. Direktorat Penanggulangan Kemiskinan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional September 2007

MDGs. Kebijakan Nasional Penanggulangan Kemiskinan. dalam. Direktorat Penanggulangan Kemiskinan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional September 2007 MDGs dalam Kebijakan Nasional Penanggulangan Kemiskinan Direktorat Penanggulangan Kemiskinan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional September 2007 1 Cakupan Paparan I. MDGs sebagai suatu Kerangka untuk

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PENCAPAIAN

PERKEMBANGAN PENCAPAIAN BAGIAN 2. PERKEMBANGAN PENCAPAIAN 25 TUJUAN 1: TUJUAN 2: TUJUAN 3: TUJUAN 4: TUJUAN 5: TUJUAN 6: TUJUAN 7: Menanggulagi Kemiskinan dan Kelaparan Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua Mendorong Kesetaraan

Lebih terperinci

Analisis tingkat kesehatan lembaga unit pengelola kegiatan( studi kasus. pada UPK PNPM Kecamatan Kalijambe Kabupaten Sragen ) Oleh : Wawan Apriyanto

Analisis tingkat kesehatan lembaga unit pengelola kegiatan( studi kasus. pada UPK PNPM Kecamatan Kalijambe Kabupaten Sragen ) Oleh : Wawan Apriyanto Analisis tingkat kesehatan lembaga unit pengelola kegiatan( studi kasus pada UPK PNPM Kecamatan Kalijambe Kabupaten Sragen ) Oleh : Wawan Apriyanto F.1306618 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

Lebih terperinci

DISTRIBUSI PENDAPATAN PENDUDUK KOTA PALANGKA RAYA TAHUN 2013

DISTRIBUSI PENDAPATAN PENDUDUK KOTA PALANGKA RAYA TAHUN 2013 DISTRIBUSI PENDAPATAN PENDUDUK KOTA PALANGKA RAYA TAHUN 2013 DISTRIBUSI PENDAPATAN PENDUDUK KOTA PALANGKA RAYA TAHUN 2013 KATA PENGANTAR Buku Distribusi Pendapatan Penduduk Kota Palangka Raya Tahun 2013

Lebih terperinci

KAPASITAS INFRASTRUKTUR DAN KELEMBAGAAN DESA

KAPASITAS INFRASTRUKTUR DAN KELEMBAGAAN DESA 1 Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat http://pnpm support.org/pnpm respek evaluation KAPASITAS INFRASTRUKTUR DAN KELEMBAGAAN DESA (OKTOBER 2011) OLEH AKATIGA SERI RINGKASAN STUDI 2 Mengatasi

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi dan arah kebijakan pembangunan daerah Kabupaten Bengkulu Utara selama lima tahun, yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang melanda Indonesia menyebabkan munculnya. menurunnya konsumsi masyarakat. Untuk tetap dapat memenuhi kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang melanda Indonesia menyebabkan munculnya. menurunnya konsumsi masyarakat. Untuk tetap dapat memenuhi kebutuhan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Krisis ekonomi yang melanda Indonesia menyebabkan munculnya berbagai macam masalah di dalam kehidupan masyarakat seperti terjadinya PHK pada buruh kontrak, jumlah pengangguran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut para ahli, kemiskinan masih menjadi permasalahan penting yang harus segera dituntaskan, karena kemiskinan merupakan persoalan multidimensional yang tidak saja

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masalah infrastruktur yang belum merata dan kurang memadai. Kedua, distribusi yang

BAB I PENDAHULUAN. masalah infrastruktur yang belum merata dan kurang memadai. Kedua, distribusi yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Temuan lembaga riset "The Indonesian Institute" tahun 2014 mencatat, ada tiga hal besar yang masih menjadi persoalan dalam bidang kesehatan di Indonesia. Pertama,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Pendanaan kesehatan merupakan kunci utama dalam suatu sistem kesehatan di berbagai negara. Meskipun masih terdapat pro-kontra, laporan WHO tahun 2000 menunjukkan bahwa

Lebih terperinci

BAB V. VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN PEMBANGUNAN

BAB V. VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN PEMBANGUNAN BAB V. VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN PEMBANGUNAN Menurut RPJPD Kabupaten Kampar 2005-2025, berlandaskan pelaksanaan, pencapaian, dan sebagai keberlanjutan RPJM ke-1, maka RPJM ke-2 (2011-2016) ditujukan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENDAHULUAN A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia hingga saat ini masih termasuk ke dalam kategori negara berkembang. Ilmu pengetahuan dan perekonomian menjadi tolak ukur global sejauh mana suatu negara berkembang.

Lebih terperinci

ANALISIS PENYERAPAN TENAGA KERJA PERDESAAN LAHAN KERING BERBASIS PERKEBUNAN

ANALISIS PENYERAPAN TENAGA KERJA PERDESAAN LAHAN KERING BERBASIS PERKEBUNAN ANALISIS PENYERAPAN TENAGA KERJA PERDESAAN LAHAN KERING BERBASIS PERKEBUNAN Adi Setiyanto PENDAHULUAN Tenaga kerja merupakan motor penggerak dalam pembangunan ekonomi. Tenaga kerja sebagai sumber daya

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kabupaten Minahasa Selatan merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara dengan ibu Kota Amurang. Kabupaten Minahasa Selatan mempunyai topografi wilayah

Lebih terperinci

IV. POLA KONSUMSI RUMAH TANGGA MISKIN DI PULAU JAWA

IV. POLA KONSUMSI RUMAH TANGGA MISKIN DI PULAU JAWA IV. POLA KONSUMSI RUMAH TANGGA MISKIN DI PULAU JAWA Data pola konsumsi rumah tangga miskin didapatkan dari data pengeluaran Susenas Panel Modul Konsumsi yang terdiri atas dua kelompok, yaitu data pengeluaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Salah satu masalah pokok yang dihadapi Pemerintah Indonesia sebagai negara

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Salah satu masalah pokok yang dihadapi Pemerintah Indonesia sebagai negara BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu masalah pokok yang dihadapi Pemerintah Indonesia sebagai negara sedang berkembang adalah jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Masih tingginya angka kemiskinan, baik secara absolut maupun relatif merupakan salah satu persoalan serius yang dihadapi bangsa Indonesia hingga saat ini. Kemiskinan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Millenium Development Goals disingkat MDGs merupakan sebuah cita-cita

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Millenium Development Goals disingkat MDGs merupakan sebuah cita-cita 132 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Millenium Development Goals disingkat MDGs merupakan sebuah cita-cita pembangunan global yang menitikberatkan pembangunan pada pembangunan manusia (human development).

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Dalam konteks ekonomi pembangunan, perluasan terhadap ekspor. merupakan faktor penentu kunci pertumbuhan ekonomi di negara berkembang.

I. PENDAHULUAN. Dalam konteks ekonomi pembangunan, perluasan terhadap ekspor. merupakan faktor penentu kunci pertumbuhan ekonomi di negara berkembang. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam konteks ekonomi pembangunan, perluasan terhadap ekspor merupakan faktor penentu kunci pertumbuhan ekonomi di negara berkembang. Gouws (2005) menyatakan perluasan

Lebih terperinci

BUKU PEGANGAN PELATIH MASYARAKAT PARTISIPASI PEREMPUAN DALAM PNPM MANDIRI PERDESAAN

BUKU PEGANGAN PELATIH MASYARAKAT PARTISIPASI PEREMPUAN DALAM PNPM MANDIRI PERDESAAN BUKU PEGANGAN PELATIH MASYARAKAT PARTISIPASI PEREMPUAN DALAM PNPM MANDIRI PERDESAAN [DAFTAR ISI] KATA PENGANTAR... 3 CARA MENGGUNAKAN BUKU INI... 4 CAKUPAN DAN RINGKASAN MODUL...5 LANGKAH PENYUSUNAN PROSES

Lebih terperinci

RANCANGAN RENCANA PELAKSANAAN RPJMD TAHUN KE-4

RANCANGAN RENCANA PELAKSANAAN RPJMD TAHUN KE-4 RANCANGAN RENCANA PELAKSANAAN RPJMD TAHUN KE-4 RPJMD KOTA LUBUKLINGGAU 2008-2013 VISI Terwujudnya Kota Lubuklinggau Sebagai Pusat Perdagangan, Industri, Jasa dan Pendidikan Melalui Kebersamaan Menuju Masyarakat

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 53 KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS Kerangka Pemikiran Kemiskinan Proses pembangunan yang dilakukan sejak awal kemerdekaan sampai dengan berakhirnya era Orde Baru, diakui atau tidak, telah banyak menghasilkan

Lebih terperinci

GENDER, PEMBANGUNAN DAN KEPEMIMPINAN

GENDER, PEMBANGUNAN DAN KEPEMIMPINAN G E N D E R B R I E F S E R I E S NO. 1 GENDER, PEMBANGUNAN DAN KEPEMIMPINAN The Australia-Indonesia Partnership for Reconstruction and Development Local Governance and Community Infrastructure for Communities

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Teori Indeks Pembangunan Manusia Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa manusia adalah kekayaan bangsa yang sesungguhnya. Pembangunan manusia menempatkan

Lebih terperinci

MENINGKATKAN PERAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN 1

MENINGKATKAN PERAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN 1 MENINGKATKAN PERAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN 1 A. KONDISI KEMISKINAN 1. Asia telah mencapai kemajuan pesat dalam pengurangan kemiskinan dan kelaparan pada dua dekade yang lalu, namun

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan ekonomi yang berorientasi pertumbuhan di masa lalu telah menumbuhkan suatu kesenjangan yang besar, dimana laju pertumbuhan ekonomi tidak seimbang dengan peningkatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang memenuhi atau melebihi harapan. Maka dapat dikatakan, bahwa hal-hal

BAB I PENDAHULUAN. yang memenuhi atau melebihi harapan. Maka dapat dikatakan, bahwa hal-hal BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kualitas Pelayanan Kesehatan tidak terlepas dari kualitas suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa manusia, proses dan lingkungan yang

Lebih terperinci

DISTRIBUSI PENDAPATAN KOTA PALANGKA RAYA 2014

DISTRIBUSI PENDAPATAN KOTA PALANGKA RAYA 2014 DISTRIBUSI PENDAPATAN KOTA PALANGKA RAYA 2014 ISSN : No. Publikasi : Katalog BPS : Ukuran Buku : 17,6 cm x 25 cm Jumlah Halaman : iii + 20 halaman Naskah: Penanggung Jawab Umum : Sindai M.O Sea, SE Penulis

Lebih terperinci

AIDS dan Sistem Kesehatan: Sebuah Kajian Kebijakan PKMK FK UGM

AIDS dan Sistem Kesehatan: Sebuah Kajian Kebijakan PKMK FK UGM AIDS dan Sistem Kesehatan: Sebuah Kajian Kebijakan PKMK FK UGM Latar Belakang Respon penanggulangan HIV dan AIDS yang ada saat ini belum cukup membantu pencapaian target untuk penanggulangan HIV dan AIDS

Lebih terperinci

Akses Buruh Migran Terhadap Keadilan di Negara Asal: Studi Kasus Indonesia

Akses Buruh Migran Terhadap Keadilan di Negara Asal: Studi Kasus Indonesia MIGRANT WORKERS ACCESS TO JUSTICE SERIES Akses Buruh Migran Terhadap Keadilan di Negara Asal: Studi Kasus Indonesia RINGKASAN EKSEKUTIF Bassina Farbenblum l Eleanor Taylor-Nicholson l Sarah Paoletti Akses

Lebih terperinci

j-pal policy briefcase [ januari 2013 ] Menyajikan evaluasi oleh Vivi Alatas, Abhijit V. Banerjee, Rema Hanna, Benjamin A. Olken, dan Julia Tobias

j-pal policy briefcase [ januari 2013 ] Menyajikan evaluasi oleh Vivi Alatas, Abhijit V. Banerjee, Rema Hanna, Benjamin A. Olken, dan Julia Tobias briefcase j-pal policy briefcase [ januari 2013 ] MENERJEMAHKAN PENELITIAN KE DALAM AKSI NYATA melibatkan masyarakat dalam mengidentifikasi orang miskin Metode-metode berbasis masyarakat dalam menyeleksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk ke empat terbesar di dunia setelah China, India, dan Amerika Serikat. Masalah kependudukan yang dihadapi Indonesia

Lebih terperinci

Standar Operasional Prosedur (SOP) Percepatan. Program Inovasi Desa (PID)

Standar Operasional Prosedur (SOP) Percepatan. Program Inovasi Desa (PID) Standar Operasional Prosedur (SOP) Percepatan Program Inovasi Desa (PID) 2017 1 Selayang Pandang SOP Percepatan PID Standar Operasional Prosedur (SOP) Percepatan Program Inovasi Desa (PID) sebagai langkah

Lebih terperinci

Analisis Isu-Isu Strategis

Analisis Isu-Isu Strategis Analisis Isu-Isu Strategis Permasalahan Pembangunan Permasalahan yang ada pada saat ini dan permasalahan yang diperkirakan terjadi 5 (lima) tahun ke depan yang dihadapi Pemerintah Kabupaten Bangkalan perlu

Lebih terperinci

1.1 Latar Belakang Masalah Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Kegunaan Penelitian Sistematika Penulisan...

1.1 Latar Belakang Masalah Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Kegunaan Penelitian Sistematika Penulisan... DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii PERNYATAAN ORISINALISTAS... iii KATA PENGANTAR... iv ABSTRAK... vi DAFTAR ISI... vii DAFTAR TABEL... x DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR LAMPIRAN...

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan yang dilaksanakan di daerah bertujuan untuk meningkatkan

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan yang dilaksanakan di daerah bertujuan untuk meningkatkan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Pembangunan yang dilaksanakan di daerah bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat, yang sesuai dalam Pembukaan Undang- Undang Dasar 1945,

Lebih terperinci

BAB II PERENCANAAN KINERJA

BAB II PERENCANAAN KINERJA BAB II PERENCANAAN KINERJA Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. oleh semua lapisan masyarakat yang memenuhi syarat kuantitas dan kualitasnya.

BAB I PENDAHULUAN. oleh semua lapisan masyarakat yang memenuhi syarat kuantitas dan kualitasnya. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Air sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia seharusnya dapat di akses oleh semua lapisan masyarakat yang memenuhi syarat kuantitas dan kualitasnya. Tapi

Lebih terperinci

CITIZEN REPORT CARD FLORES TIMUR. NTt

CITIZEN REPORT CARD FLORES TIMUR. NTt CITIZEN REPORT CARD FLORES TIMUR NTt Program Support to CSO merupakan kerja sama PATTIRO dan AIPD. Program ini memberikan dukungan kepada jaringan CSO di wilayah kerja untuk meningkakan kapasitas mereka

Lebih terperinci

Penilaian Tingkat Keberlanjutan Pembangunan di Kabupaten Bangkalan sebagai Daerah Tertinggal

Penilaian Tingkat Keberlanjutan Pembangunan di Kabupaten Bangkalan sebagai Daerah Tertinggal JURNAL TEKNIK POMITS Vol.,, () ISSN: 7-59 (-97 Print) Penilaian Tingkat Keberlanjutan Pembangunan di Kabupaten Bangkalan sebagai Daerah Tertinggal Yennita Hana Ridwan dan Rulli Pratiwi Setiawan Jurusan

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI TENAGA KERJA KONSTRUKSI. Tenaga kerja konstruksi merupakan bagian dari sektor konstruksi yang mempunyai

BAB IV KONDISI TENAGA KERJA KONSTRUKSI. Tenaga kerja konstruksi merupakan bagian dari sektor konstruksi yang mempunyai BAB IV KONDISI TENAGA KERJA KONSTRUKSI 4.1 Umum Tenaga kerja konstruksi merupakan bagian dari sektor konstruksi yang mempunyai peran yang signifikan dalam pembangunan ekonomi nasional. Dalam Analisis Kebutuhan

Lebih terperinci

Menyasar Warga Miskin dan Memilih Instrumen yang Tepat: Studi Kasus Indonesia

Menyasar Warga Miskin dan Memilih Instrumen yang Tepat: Studi Kasus Indonesia Menyasar Warga Miskin dan Memilih Instrumen yang Tepat: Studi Kasus Indonesia Indonesia mencoba beralih dari sekumpulan program bantuan sosial menjadi suatu jaring pengaman yang terintegrasi Usaha menyasar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat, khususnya di negara-negara berkembang. Di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat, khususnya di negara-negara berkembang. Di Indonesia BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kemiskinan merupakan masalah sosial yang senantiasa hadir di tengahtengah masyarakat, khususnya di negara-negara berkembang. Di Indonesia masalah kemiskinan

Lebih terperinci

V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan. Kesimpulan berikut ini secara rinci

V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan. Kesimpulan berikut ini secara rinci V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan. Kesimpulan berikut ini secara rinci menjabarkan secara rinci situasi dan kondisi poktan sebagai

Lebih terperinci

Program Pengembangan BOSDA Meningkatkan Keadilan dan Kinerja Melalui Bantuan Operasional Sekolah Daerah

Program Pengembangan BOSDA Meningkatkan Keadilan dan Kinerja Melalui Bantuan Operasional Sekolah Daerah KEMENTERIAN Program Pengembangan BOSDA Meningkatkan Keadilan dan Kinerja Melalui Bantuan Operasional Sekolah Daerah Mei 2012 Dari BOS ke BOSDA: Dari Peningkatan Akses ke Alokasi yang Berkeadilan Program

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Bab ini akan membahas mengenai temuan studi, kesimpulan dan rekomendasi yang merupakan sintesa dari hasil kajian indikator ekonomi dalam transportasi berkelanjutan yang

Lebih terperinci

DESA: Gender Sensitive Citizen Budget Planning in Villages

DESA: Gender Sensitive Citizen Budget Planning in Villages DESA: Gender Sensitive Citizen Budget Planning in Villages Baseline Study Report Commissioned by September 7, 2016 Written by Utama P. Sandjaja & Hadi Prayitno 1 Daftar Isi Daftar Isi... 2 Sekilas Perjalanan

Lebih terperinci

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. bantaran sungai Bengawan Solo ini seringkali diidentikkan dengan kelompok

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. bantaran sungai Bengawan Solo ini seringkali diidentikkan dengan kelompok 1 BAB I PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Perumahan relokasi yang di Surakarta merupakan perumahan yang diperuntukkan bagi masyarakat yang tinggal di kawasan sekitar bantaran sungai Bengawan Solo. Perumahan

Lebih terperinci

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN RETRIBUSI PERSAMPAHAN. Uraikan situasi yang ada sebelum inovasi pelayanan publik ini dimulai

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN RETRIBUSI PERSAMPAHAN. Uraikan situasi yang ada sebelum inovasi pelayanan publik ini dimulai PROPOSAL SISTEM INFORMASI MANAJEMEN RETRIBUSI PERSAMPAHAN Tanggal pelaksanaan inovasi pelayanan publik Wednesday, 01 February 2017 Kategori inovasi pelayanan publik Pelayanan langsung kepada masyarakat

Lebih terperinci

INDEKS TATAKELOLA PEMERINTAHAN PROVINSI RIAU

INDEKS TATAKELOLA PEMERINTAHAN PROVINSI RIAU INDEKS TATAKELOLA PEMERINTAHAN PROVINSI RIAU Nurhamlin, Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau ABSTRAKS Indonesia Governance Index (IGI) merupakan pengukuran kinerja tatakelola

Lebih terperinci