BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Sonny Lesmana
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Karakteristik Masyarakat Sasaran Masyarakat sasaran dalam penelitian ini berjumlah orang (BPS, 2007) di Kota Tanjung Redeb dan masyarakat sekitar Kawasan Lindung Sungai Lesan, Kecamatan Kelay. Masyarakat target dominan suku Dayak (Gaai, Kenyah, Lebo, dan Punan) dan berbagai suku pendatang lainnya yang telah bermukim lama ataupun menetap untuk alasan pekerjaan. Masyarakat umumnya memeluk agama kristen, kecuali di kampung Muara Lesan (suku Berau) dan Tanjung Redeb ibukota Kabupaten Berau umumnya memeluk agama Islam. Dari hasil survei awal (pre survey) dengan mengambil sampel 382 orang, maka karakteristik masyarakat berdasarkan komposisi jenis kelamin, jenis pekerjaan, pendidikan, kelompok umur, serta komposisi per kelompok masyarakat (MK) diuraikan pada Tabel 7. Tabel 7 Karakteristik masyarakat target No. Karaktaristik masyarakat target Deskrispi 1 Komposisi jenis kelamin 56,8 % laki-laki; 43,2 % perempuan 2 Jenis pekerjaan 47,6% peladang; 14,92% sebagai ibu rumah tangga; dan 37,48% pekerjaan lainnya (pedagang, guru, dan lain-lain). 3 Pendidikan 3,7% tidak pernah bersekolah formal; 52,8% tamat sekolah dasar; 19,4% tamat sekolah menengah pertama; 15,2% tamat sekolah menengah atas; dan 9% tamat perguruan tinggi 5 Komposisi jumlah responden 43,9% MK I (Masyarakat kampung yang berbatasan langsung dengan kawasan); 49,1% MK II (Masyarakat kampung yang tidak berbatasan langsung dengan kawasan); 7% MK III (Masyarakat perkotaan yang jauh dari kawasan) 6 Komposisi kelas umur 20,7% (15-24 tahun); 30,1% (25-34 tahun); 27,2% (35-44 tahun); 22% (>45 tahun) 5.2. Deskripsi Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Masyarakat Sasaran Pra Implementasi Program Pendidikan Konservasi Hasil Lokakarya dan FGD Dari hasil lokakarya multi pihak diperoleh informasi tingkat pengetahuan masyarakat mengenai ancaman terhadap konservasi sumberdaya hutan di sekitar
2 67 Kawasan Lindung Sungai Lesan. Pengetahuan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi langsung, tidak langsung serta faktor kontribusi terhadap kawasan disajikan pada gambar konsep model terlampir (Lampiran 2). Berdasarkan konsep model ini diperoleh gambaran bahwa kawasan Hutan Lindung Sungai Lesan dan sekitarnya sebagai kawasan konservasi di Kecamatan Kelay sangat penting keberadaanya, tetapi semakin terancam dengan adanya kegiatan perambahan hutan oleh orang luar (illegal logging), pembukaan lahan atau konversi lahan untuk perkebunan skala besar, perambahan hutan yang berlebihan oleh perusahaan, kebakaran, perburuan satwa dilindungi dan hasil hutan non kayu lainnya. Dari hasil Focus Group Discussion (FGD) atau diskusi kelompok terfokus, diketahui pengetahuan dan sikap masyarakat mengenai manfaat dari sumberdaya hutan, status dan dampak kerusakan hutan diantaranya yaitu: Masyarakat mengetahui kehidupan mereka sangat tergantung dan ditopang oleh hutan. Masyarakat juga menyadari bahwa manfaat langsung dari hutan akan selalu diperoleh jika ada upaya konservasi hutan. Umumnya sikap mereka mendukung upaya konservasi sumberdaya hutan ini. Masyarakat memberikan persetujuan terhadap penetapan hutan lindung di Sungai Lesan, tetapi tidak mengetahui manfaat hutan lindung bagi mereka setelah penetapannya. Persepsi masyarakat mengenai hutan lindung masih terbatas yaitu dengan adanya hutan lindung artinya mereka akan dihalangi memanfaatkan hasil hutan lagi. Masyarakat tidak tahu mengenai peran lembaga pengelola kawasan lindung di sungai lesan dan siapa saja yang terlibat sebagai unsur pengelolanya. Meskipun manfaat dan pentingnya kawasan hutan lindung sudah dirasakan, akan tetapi ternyata dukungan terhadap kawasan masih rendah dan masyarakat belum tergerak untuk merubah perilakunya melakukan aksi atau tindakan konservasi.
3 68 Masyarakat mengetahui bahwa mereka seharusnya tidak mudah memberikan izin kepada pihak luar (misalnya perusahan) untuk mengelola atau memanfaatkan hasil hutan mereka. Masyarakat menyadari keterlibatan mereka dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan sumberdaya hutan merupakan hal terpenting. Masyarakat mengetahui dampak kerusakan hutan membuat mereka mengalami kesulitan seperti banjir, sulit mendapatkan hasil hutan non kayu, lahan untuk berusaha terbatas dan sebagainya Hasil Survei Masyarakat dalam penelitian dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu masyarakat kelompok I (MK I) yaitu masyarakat yang berbatasan atau berinteraksi langsung dengan kawasan Lindung Sungai Lesan, masyarakat kelompok II (MK II) yaitu masyarakat yang tidak berbatasan atau berinteraksi langsung dengan kawasan, serta masyarakat kelompok III yaitu masyarakat perkotaan yang jauh dan tidak memiliki interaksi terhadap kawasan. Berdasarkan pengelompokkan masyarakat tersebut, diketahui tingkat pengetahuan masyarakat mengenai status Kawasan Hutan Lindung Sungai Lesan yang terletak di Kecamatan Kelay sebagaimana pada Tabel 8 berikut. No. Pengetahuan masyarakat tentang status hutan Tabel 8 Pengetahuan masyarakat tentang status hutan MK I MK II MK III? %? %? % Total % 1 Hutan Lindung 67 39, , , ,89 2 Kawasan Lindung 8 4,76 3 1,60 2 7, ,40 3 Hutan Wisata 1 0,60 2 1,06 2 7,69 5 1,31 4 Hutan Penelitian 4 2,38 2 1, ,57 5 Hutan/wilayah adat 18 10, , ,90 Tidak ada status 6 apapun 2 1,19 1 0,53 2 7,69 5 1,31 7 Tidak tahu 66 39, , , ,31 8 Lainnya 2 1,19 1 0,53 2 7,69 5 1,31 Total Masyarakat Kelompok I : Masyarakat kampung yang berbatasan langsung dengan kawasan Masyarakat Kelompok II : Masyarakat kampung yang tidak berbatasan langsung dengan kawasan Masyarakat Kelompok III : Masyarakat perkotaan yang jauh dari kawasan
4 69 Terkait dengan pemanfaatan hutan, masyarakat kelompok I mengatakan bahwa sejak ditetapkan menjadi kawasan lindung, kawasan tidak dapat lagi digunakan untuk berladang. Hal ini memang terjadi karena masyarakat di lokasi penelitian umumnya masyarakat patriaki yang umumnya akan patuh kepada peraturan pemerintah. Jika kawasan sudah ditetapkan menjadi hutan lindung, maka mereka tidak bisa lagi memanfaatkan kawasan untuk berladang dan pemanfaatan lainnya. Terkait dengan kondisi hutan 5 tahun yang lalu dibandingkan sekarang kondisi hutan semakin memburuk (65,18%) atau ada juga yang tidak tahu/tidak peduli atau menganggap kondisinya masih sama saja. Jika dilihat dari faktor penyebab kerusakan hutan menurut masyarakat terbesar diakibatkan oleh kegiatan perambahan hutan oleh orang luar atau illegal logging (38,8%), pengambilan kayu yang berlebihan (32,9%), perluasan perkebunan kelapa sawit (27,5%), pembukaan lahan yang berlebihan (22,5%) dan sebagainya sebagaimana pada Tabel 9 berikut: No. Tabel 9 Pengetahuan masyarakat mengenai penyebab kerusakan hutan Pengetahuan masyarakat mengenai penyebab kerusakan hutan Jumlah (? ) Prosentase (%) 1 Perluasan perkebunan kelapa sawit 71 27,50 2 Pengambilan Kayu oleh perusahaan 28 10,90 3 Pengambilan kayu yang berlebihan 85 32,90 4 Perambahan hutan oleh orang luar (illegal logging) ,80 5 Pembukaan lahan yang berlebihan 58 22,50 6 Pembukaan ladang karena lahan semakin sempit 36 14,00 7 Kebakaran hutan 29 11,20 8 Pengambilan/pencurian hasil hutan non kayu 15 5,80 9 Perburuan satwa dilindungi 3 1,20 10 Tidak tahu 19 7,40 11 Kurangnya kesadaran dari masyarakat 3 1,20 12 Penyebab lainnya 5 1,90 Umumnya akibat kerusakan hutan, masyarakat yang berbatasan langsung dengan hutan yang akan menerima dampak yang lebih besar. Akibat yang dapat terjadi jika hutan rusak menurut pengetahuan masyarakat diantaranya paling banyak akan menyebabkan terjadinya banjir yang lebih sering (75,92%) di kampung, longsor (41,36%), madu hutan akan sukar didapatkan bahkan akan hilang (28,53%), hasil tangkapan ikan di sungai menjadi sedikit (18,06%), sulit
5 70 mendapatkan bahan anyaman/kerajinan (16,49%) dan obat-obatan (11,52%), dan makin seringnya orangutan masuk ke ladang masyarakat atau perkampungan (10,5%). Sejalan dengan maraknya kerusakan yang terjadi, maka dalam 6 bulan sebelumnya di lokasi penelitian 35,34% masyarakat mengatakan pernah mendengar bahkan bertemu dengan orangutan yang masuk ke perkampungan atau ladang. Adapun jenis dampak kerusakan hutan menurut masyarakat sebagaimana pada Tabel 10. Tabel 10 Pengetahuan masyarakat mengenai dampak kerusakan hutan Pengetahuan No. masyarakkat mengenai dampak kerusakan hutan 1 Hasil tangkapan ikan sungai menjadi sedikit 2 Madu hutan akar sukar didapat bahkan akan hilang MK I MK II MK III? %? %? % Grand Total 35 20, , , , , , , ,53 3 Longsor 68 40, , , ,36 4 Banjir yang lebih sering , , ,92 5 Susah mendapatkan bahan 21 12, , , ,52 obat-obatan 6 Sulit mendapatkan bahan 28 16, , , ,49 anyaman/kerajinan 7 Orang utan turun ke 22 13, , , ,47 perkampungan 8 Tidak ada dampaknya 1 0,60 2 1, ,79 9 Tidak tahu 13 7, , ,85 10 Erosi 1 0,60 1 0, ,52 11 Hutan gundul , ,05 12 Ladang/Kebun rusak , ,52 13 Sulit cari dammar 1 0,60 1 0, ,52 14 Sulit cari kayu untuk bahan 7 4,17 5 2,66 1 3, ,40 rumah 15 Susah air bersih , ,52 16 Susah berburu 4 2,38 0 0, ,05 17 Susah berladang 4 2,38 1 0, ,31 18 Susah mendapatkan buah 2 1,19 0 0, ,52 hutan 19 Tanaman di kebun/ladang 1 0,60 1 0, ,52 tenggelam 20 Lainnya 16 9,52 6 3,19 2 7, ,28 Total Masyarakat Kelompok I : Masyarakat kampung yang berbatasan langsung dengan kawasan Masyarakat Kelompok II : Masyarakat kampung yang tidak berbatasan langsung dengan kawasan Masyarakat Kelompok III : Masyarakat perkotaan yang jauh dari kawasan %
6 71 Faktor utama yang menyebabkan terjadinya kerusakan hutan menurut masyarakat karena hutan sebagai habitat orangutan telah rusak (20,42%), makanan yang diperlukan orangutan sudah tidak ada lagi di hutan (20,16%), terganggu oleh kegiatan manusia di dalam hutan (8,9%) dan alasan lainnya. Maraknya orangutan masuk ke kampung sejalan dengan terjadanya pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit. Dengan kata lain masyarakat melihat ada hubungan antara keberadaan orangutan dan kerusakan hutan. Jika hutan di Lesan hilang maka menurut masyarakat (n=382 responden) manfaat yang tidak akan diperoleh lagi adalah sumber air (sungai) akan menjadi keruh (42,4%) khususnya di musim penghujan dan tidak akan ditemukan lagi pohon madu (22,8%) dimana di beberapa kampung hulu Lesan seperti Merapun, Panaan dan Lesan Dayak madu adalah penghasilan utama masyarakat. Hanya saja 23,6% masyarakat yang tidak tahu kerugian yang mereka alami jika hutan di Kawasan Lindung Sungai Lesan hilang. Kawasan Lindung Sungai Lesan dikelola dengan pendekatan kolaboratif dengan melibatkan unsur pemerintah di tingkat kabupaten, kecamatan dan kampung. Hanya saja Badan Pengelola belum dikenal luas. Hanya 30,10% (115 responden) saja yang mengetahui keberadaan badan pengelola ; 52,09% (199 responden) yang tidak tahu atau ragu-ragu (17,28%) apakah pernah mendengar atau mengetahui keberadaan pengelola (Tabel 11). Tabel 11 Pengetahuan masyarakat mengenai pengelola Pengetahuan MK I MK II MK III No. masyarakat mengenai Total % pengelola? %? %? % 1 Masyarakat yang tinggal 61 36, , , ,30 di sekitar kawasan 2 LSM 20 11,90 5 2, , ,12 3 Pemerintah Kampung 29 17, , , ,09 4 Lembaga Adat 20 11, , , ,26 5 BPK 8 4,76 6 3, , ,71 6 Tidak tahu 7 4,17 2 1, ,36 7 Lainnya 1 0,60 1 0, ,52 Total Masy arakat Kelompok I : Masyarakat kampung yang berbatasan langsung dengan kawasan Masyarakat Kelompok II : Masyarakat kampung yang tidak berbatasan langsung dengan kawasan Masyarakat Kelompok III : Masyarakat perkotaan yang jauh dari kawasan
7 72 Dari 115 masyarakat yang mengetahui mengenai badan pengelola tersebut, menurut mereka yang harus terlibat dalam pengelola adalah masyarakat sekitar kawasan (23,3%), bukan hanya tokoh aparat kampung. Adapun tugas dari badan pengelola ini menurut pengetahuan masyarakat adalah mengatur pengelolaan kawasan hutan Sungai Lesan (12,04%), mengatur pengawasan/pengamanan hutan Sungai Lesan (7,59%), dan ada juga yang tidak tahu fungsi dan tugas dari badan pengelola (6,28%), membatasi masyarakat memanfaatkan kawasan (2,36%) dan jawaban lainnya (2,9%). Kawasan lindung atau hutan lindung Sungai Lesan telah ditetapkan oleh Bupati sebagai kawasan perlindungan habitat orangutan, namun hanya 34,29% yang mengetahui kawasan tersebut sebagai kawasan atau hutan lindung dan 50,78% yang tidak mengetahui statusnya atau dikenal sebagai hutan adat, hutan penelitian dan sebagainya 14,92%. Walaupun masyarakat masih memiliki persepsi yang beragam, dukungan terhadap penetapan kawasan menjadi hutan lindung telah mencapai 68,41% (Tabel 12). Tabel 12 Sikap masyarakat terhadap penetapan Kawasan Lindung Sungai Lesan Sikap masyarakat terhadap MK I MK II MK III Total No. penetapan Kawasan Lindung Sungai Lesan? %? %? %? % 1 Setuju, sangat mendukung 80 47, , , ,75 2 Setuju, tetapi mengapa hanya melindungi orang utan 7 4,17 2 1,06 1 3, ,61 3 Setuju, tetapi kalau bisa yang terlibat dalam pengelola tidak hanya kepala kampung 10 5,95 8 4, , ,48 4 Tidak setuju karena 9 5,36 1 0, ,61 membatasi masyarakat untuk mengambil kayu 5 Tidak ada pendapat 20 11, ,32 2 7, ,36 6 Tidak tahu sudah ada penetapan oleh Bupati Berau 12 7, , ,44 7 Tidak tahu karena tidak 20 11, , ,62 terlibat dalam prosesnya 8 Setuju sangat mendukung, 6 3, ,57 tetapi kalau bisa pengelola tidak hanya kepala kampung 9 Lainnya 4 2,38 1 0, ,31 Total Masyarakat Kelompok I : Masyarakat kampung yang berbatasan langsung dengan kawasan Masyarakat Kelompok II : Masyarakat kampung yang tidak berbatasan langsung dengan kawasan Masyarakat Kelompok III : Masyarakat perkotaan yang jauh dari kawasan
8 73 Berdasarkan Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, konservasi sumberdaya alam hayati adalah pengelolaan sumberdaya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana (Departemen Kehutanan, 2004). Jadi konservasi bukan hanya terkait dengan perlindungan dan pelestarian tetapi juga terkait dengan pemanfaatan atau penggunaan yang bijaksana dari sumberdaya. Persepsi masyarakat mengenai konservasi masih beragam. Umumnya konservasi sumberdaya hutan dipersepsikan sebagai hutan lindung, pelestarian, perlindungan, penelitian dan lain-lain. Masyarakat yang tidak tahu mengenai konservasi (63,61%) umumnya masyarakat kampung yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah jika dibanding masyarakat di perkotaan yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi. Selain faktor pendidikan yang lebih tinggi, masyarakat di perkotaan umunya memiliki banyak saluran atau alternatif untuk mendapatkan informasi lebih luas mengenai konservasi, selain melalui pendidikan formal di sekolah (Tabel 13). Tabel 13 Persepsi masyarakat tentang konservasi sumberdaya hutan No. Persepsi masyarakat tentang konservasi MK I MK II MK III Total? %? %? %? % 1 Tidak Tahu 99 58, , , ,61 2 Hutan Lindung 4 2, , , ,02 3 Pelestarian 7 4,17 1 0, ,09 4 Penelitian 4 2,38 3 1, ,83 5 Perlindungan 5 2,98 1 0, ,57 6 Lainnya 49 29, , , ,87 Total Masyarakat Kelompok I : Masyarakat kampung yang berbatasan langsung dengan kawasan Masyarakat Kelompok II : Masyarakat kampung yang tidak berbatasan langsung dengan kawasan Masyarakat Kelompok III : Masyarakat perkotaan yang jauh dari kawasan Masyarakat di lokasi penelitian walau sering menggunakan istilah hutan lindung, umumnya tidak tahu apa hutan lindung (21,99%). Pengetahuan yang benar mengenai hutan lindung umumnya lebih baik pada masyarakat perkotaan (MK III) dibanding masyarakat perkampungan (MK I/II). Hutan lindung umumnya bagi masyarakat adalah hutan yang harus diatur pemanfaatannya (misalnya melalui aturan kampung atau adat), hutan yang bisa menjamin masa
9 74 depan. Persepsi hutan lindung juga dipersepsikan berkaitan dengan kehidupan yang lebih baik (10,2%). Hanya saja beberapa pandangan negatif mengenai hutan lindung diantaranya hutan yang penuh larangan (11,8%) atau hutan yang dimana tidak boleh mengambil kayu dan hasil hutan lainnya (10,7%). Hal ini terkait dengan asumsi bahwa dengan adanya hutan lindung maka hak mereka untuk memanfaatkan hutan sudah dibatasi, tidak bisa diakses atau dimanfaatkan (khususnya bagi masyarakat yang berbatasan langsung dengan kawasan) sebagaimana pada Tabel 14. Tabel 14 Persepsi masyarakat mengenai hutan lindung No. Persepsi masyarakat MK I MK II MK III mengenai hutan lindung? %? %? % Total % 1 Hutan yang pemanfaatannya harus diatur dengan baik 47 27, , , ,82 2 Kehidupan yang makin baik 7 4, ,96 2 7, ,21 3 Hutan yang penuh larangan 26 15, , , ,78 4 Hutan Konservasi 28 16, , ,66 5 Hutan dimana tidak boleh mengambil kayu dan hasil bukan kayu lainnya 24 14,29 9 4, ,73 6 Hutan untuk tempat melindungi orang utan 18 10,71 6 3, ,85 7 Tidak tahu 36 21, , ,99 8 Hutan adat 1 0,60 1 0, ,52 9 Hutan untuk melindungi satwa 1 0,60 3 1, ,05 10 Hutan untuk melindungi semua 2 1,19 3 1, ,31 11 Hutan yang boleh ditebang untuk keperluan kampong 1 0,60 1 0, ,52 12 Hutan yang dilindungi 4 2,38 9 4, ,40 13 Hutan yang dilindungi pemerintah 1 0, ,52 14 Hutan yang perlu dipelihara 2 1, ,52 15 Lainnya 4 2,38 9 4, ,19 Total Pengukuran sikap masyarakat terhadap upaya konservasi sumberdaya hutan menggunakan skala Likert (Kriyantono, 2008) yang terdiri dari 3 tingkatan kategori yaitu penting (P), tidak penting (TP) dan tidak tahu (TT). Sikap
10 75 masyarakat terhadap upaya konservasi dibagai menjadi 3 kategori yaitu rendah jika bobot diantara 0-33,33%, sedang (34,33-66,67%) dan kuat/tinggi (67,67-100%). Dari hasil penelitian yang diwakili 6 buah pernyataan dapat diketahui bahwa sikap masyarakat terhadap konservasi SDH kuat/tinggi baik pada masyarakat di perkampungan maupun masyarakat perkotaan. Pola kelola sumberdaya hutan berdasarkan kearifan lokal nyatanya belum terdegradasi oleh kemajuan dan perubahan-perubahan (Tabel 15). No. Tabel 15 Sikap masyarakat tentang upaya konservasi hutan Sikap masyarakat mengenai upaya konservasi 1 Menyelamatkan hutan Sungai Lesan dari pengambilan kayu yang berlebihan 2 Mendiskusikan dengan anggota masyarakat lainnya cara penyelamatan hutan Sungai Lesan 3 Menjaga kawasan hutan Sungai Lesan agar tidak diubah menjadi lahan perkebunan kelapa sawit 4 Memikirkan cara pemenuhan kebutuhan kayu yang lebih berkelanjutan 5 Mendiskusikan akibat pembukaan hutan bagi kehidupan masyarakat disini 6 Terlibat dalam upaya perlindungan hutan Sungai Lesan yang dilakukan oleh masyarakat desa Kriteria dan bobot Bobot (%)? Total Ket. P TP TT (3) (2) (1) ,05 Tinggi ,077 93,98 Tinggi ,026 89,53 Tinggi ,022 89,18 Tinggi ,069 93,28 Tinggi ,016 88,66 Tinggi Total rata-rata ,040 90,78 Tinggi Skor tertinggi bobot = 382 x 3 = 1146 Sikap terhadap pemanfaatan sumberdaya hutan juga diukur dengan menggunakan skala Likert (Kriyantono, 2008), metodenya dengan mengajukan 10 pernyataan yang dianggap mewakili atau terkait pemanfaatan sumberdaya hutan. Sikap terhadap pemanfaatan sumberdaya hutan menggunakan 5 tingkatan kriteria
11 76 yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), netral (N), tidak setuju (TS) dan sangat tidak setuju (STS), dimana penggolongan sikap dikategorikan sangat lemah jika jumlah bobot diantara 0-20%, lemah (21-40%), cukup (41-60%), kuat (61-80%) dan sangat kuat (81-100%) sebagaimana pada Tabel 16. Sikap masyarakat No. terhadap pemanfaatan hutan 1 Hutan Sungai Lesan perlu dilestarikan untuk menjaga sumber air kita 2 Hutan Sungai Lesan perlu dijaga untuk tempat madu hutan 3 Hutan Sungai Lesan yang lestari akan menjamin keberadaan ikan di sungai 4 Kayu di hutan Sungai Lesan boleh ditebang kapan saja 5 Kayu di hutan Sungai Lesan hanya boleh ditebang untuk kebutuhan kampung (bangunan/perahu) 6 Perlunya penegakan hukum agar pemanfaatan hutan Sungai Lesan dapat lebih baik 7 Untuk mempertahankan fungsi hutan Sungai Lesan diperlukan peraturan daerah dan hukum adat 8 Diri saya mempunyai pengetahuan yang cukup tentang peraturan pembukaan hutan untuk kebun kelapa sawit 9 Pembukaan hutan Sungai Lesan untuk perkebunan kelapa sawit sebaiknya dihindari 10 Hutan Sungai Lesan memberi manfaat langsung bagi masyarakat sekitar Tabel 16 Sikap masyarakat terhadap pemanfaatan hutan Kriteria dan bobot? Total Bobot SS S N TS STS (%) (5) (4) (3) (2) (1) Ket ,79 Sangat kuat Kuat ,17 Kuat ,27 Cukup ,13 Kuat ,48 Kuat ,42 Kuat ,56 Kuat ,36 Kuat ,70 Kuat Total rataan ,402 73,39 Kuat Skor tertinggi bobot = 382 x 5 = 1910
12 77 Dalam pemanfaatan sumberdaya hutan, diketahui bahwa masyarakat di sekitar Kawasan Lindung Sungai Lesan maupun yang tidak berbatasan langsung dengan kawasan memiliki sikap yang kuat/tinggi terhadap pemanfaatan SDH demikian halnya dengan kelompok masyarakat di perkotaan. Selanjutnya dengan menggunakan dengan menggunakan 5 pernyataan yang terkait perilaku untuk bertindak atau beraksi mendukung konservasi, maka diketahui sikap masyarakat kelompok yang berbatasan dengan hutan (MK I), yang tidak berbatasan langsung (MK II) dan masyarakat perkotaan yang jauh dari kawasan (MK III) yaitu masingmasing 50% ; 50,32% dan 43,85% mengatakan mudah untuk bertindak dan 28,69%; 37,98% dan 26,92% yang mengatakan sulit untuk bertindak. Sikap masyarakat secara umum terhadap perilaku konservasi disajikan pada Tabel 17. No. Tabel 17 Sikap masyarakat terhadap perilaku konservasi Sikap masyarakat terhadap perilaku konservasi 1 Memberi tahu dampak pembukaan hutan yang berlebihan kepada orang lain 2 Memberitahu warga kampung agar tidak mudah menjual hutan kampung kepada perkebunan kelapa sawit 3 Ikut terlibat dalam kegiatan penyelamatan hutan Sungai Lesan 4 Mengajak orang kampung untuk menyelamatkan hutan Sungai Lesan 5 Ikut terlibat dalam kegiatan penanaman pohon di kawasan hutan Sungai Lesan yang rusak di desa Total rataan (dalam prosentase) Kategori sikap untuk bertindak Tidak Tidak? Mudah Sulit menjawab yakin (49,74%) (33,14%) (9,01%) (8,01%) - Rataan MK I (50%) (28,69%) (11,07%) (10,12%) - Rataan MK II (50,32) (37,98) (6,38) (5,21%) - Rataan MK III 11 (43,85%) 7 (26,92%) 4 (14,62) 4 (14,62) 26 Masyarakat Kelompok I : Masyarakat kampung yang berbatasan langsung dengan kawasan Masyarakat Kelompok II : Masyarakat kampung yang tidak berbatasan langsung dengan kawasan Masyarakat Kelompok III : Masyarakat perkotaan yang jauh dari kawasan
13 78 Faktor luar yang mempengaruhi (external factors) dan yang menjadi penghambat (barrier) dan menghambat terbangunnya dukungan masyarakat bagi upaya konservasi hutan yaitu: ketidakpedulian (ignorance) muncul karena beberapa hal seperti misalnya kebijakan yang tidak mementingkan kepentingan masyarakat mengenai peruntukkan sumberdaya hutan; kebingungan akan lembaga (institusi) yang bisa mewadahi kepentingan atau suara mereka; tidak adanya upaya untuk menerima semua suara dan kepentingan masyarakat. Bentuk-bentuk yang dilakukan masyarakat dalam mendukung upaya konservasi hutan sebagaimana pada Tabel 18. Tabel 18 Sikap masyarakat terhadap aksi/tindakan konservasi hutan Sikap masyarakat terhadap MK I MK II MK III Total No. aksi/tindakan konservasi hutan? %? %? %? % 1 Menjaga hutan desa agar tidak rusak 71 42, , , ,24 2 Membuat kawasan hutan adat yang dikelola bersama 22 13, ,02 2 7, ,66 3 Menetapkan kawasan berburu yang dilindungi 10 5, ,04 1 3, ,33 4 Menanami pohon di kawasan hutan Sungai Lesan yang rusak 24 14, , , ,40 5 Mengajak orang lain untuk terlibat dengan upaya penyelamatan hutan Sungai Lesan 37 22, , , ,35 6 Mendiskusikan dengan tokoh kampung mengenai upaya perlindungan hutan Sungai Lesan 32 19, , , ,59 7 Tidak tahu 46 27, , ,49 8 Melarang menebang hutan atau memberitahu dampaknya , ,52 9 Melesatrikan hutan 1 0,60 1 0, ,52 10 Membantu sosialisasi tentang fungsi hutan lindung lesan 3 1, ,79 11 Mengajar kepada muridmurid mengenai lingkungan ,69 2 0,52 12 Tidak berpindah-pindah ladang 2 1, ,52 13 Lainnya 9 5,36 1 0, ,62 Total Responden Masyarakat Kelompok I : Masyarakat kampung yang berbatasan langsung dengan kawasan Masyarakat Kelompok II : Masyarakat kampung yang tidak berbatasan langsung dengan kawasan Masyarakat Kelompok III : Masyarakat perkotaan yang jauh dari kawasan
14 Media Komunikasi Preferensi Masyarakat Sumber Informasi Terpercaya Kelompok masyarakat yang hidup di perkampungan umumnya mendapatkan informasi dari hasil interaksinya dengan tokoh atau anggota masyarakat yang dip ercaya, sedangkan masyarakat di perkotaan mendapatkan informasi selain dengan intereaksi dengan masyarakat lain sudah memanfaatkan berbagai sumber informasi dari berbagai sumber atau media komunikasi. Pada tabel berikut disajikan berbagai sumber informasi preferens i masyarakat yang kategorinya dibedakan menjadi 3 yaitu sumber informasi yang paling/dipercaya, agak/cukup dipercaya maupun yang tidak/kurang dipercaya (Tabel 19). Tabel 19 Sumber-sumber informasi masyarakat Tingkat kepercayaan Kelompok No. Sumber informasi masyarakat Cukup Kurang sasaran Dipercaya dipercaya dipercaya 1 Informasi dari radio X MK III 2 Informasi dari televisi X MK III 3 Informasi dari koran/majalah X MK III 4 Informasi dari aparat pemerintah kampung atau kelurahan X MK I/II 5 Aparat penegak hokum X MK I/II/III 6 Tokoh masyarakat lokal (tokoh adat) X MK I/II 7 Anggota Badan Perwakilan X MK I/II Kampung 8 Petugas pemerintah X MK I/II kecamatan/kabupaten 9 Tokoh agama X MK I/II 10 Teman-teman sejawat di kampung X MK I/II 11 Anggota keluarga X MK I/II/III 12 Perusahaan/swasta X MK I/II 13 Guru-guru X MK I/II 14 Staff LSM X MK I/II/III 15 Badan Pengelola Hutan Lesan X MK I/II/III 16 Petugas Konservasi Kampung X MK I/II 17 Pers/Jurnalis X MK I/II/III MK I : Masyarakat kampung yang berbatasan langsung dengan kawasan MK II : Masyarakat kampung yang tidak berbatasan langsung dengan kawasan MK III : Masyarakat perkotaan yang jauh dari kawasan Masyarakat di lokasi penelitian umumnya Suku Dayak yang masih memiliki seni budaya atau acara adat yang masih dilaksanakan sampai saat ini
15 80 seperti beberapa acara rutin diantaranya pesta panen padi, tarian daerah maupun lagu/musik daerah. Dari hasil survei diketahui bahwa kegiatan adat/budaya ini rata-rata diminati (27,70%) masyarakat khususnya di kampung Long Beliu, Merasa, Panaan dan Lesan Dayak; lomba kesenian tradisional berupa musik atau tarian (23,6%); lomba olahraga (44%); dan kegiatan keagamaan baik di lingkungan gereja (31,9%) maupun kegiatan pengajian (sekitar 18%) dan kegiatan lainnya. Lagu adalah salah satu media yang universal dipakai dalam beberapa aktivitas pendidikan dan program penyadaran masyarakat. Dari hasil survei diketahui bahwa di lokasi penelitian (khususnya masyarakat di perkampungan) musik yang paling disukai adalah dangdut (35,9%), menyusul lagu pop (25,9%) dan lagu rohani/kristiani (19,6%) dan sedikit yang menyukai jenis musik yang lain yaitu jenis musik tradisional/ daerah, melayu, qasidah, disco, jazz dan rock. Umumnya masyarakat di lokasi penelitian ini menggunakan radio untuk mendapatkan informasi (31,15%) hanya saja tidak menjadi sumber informasi utama khususnya bagi masyarakat di perkampungan. Masyarakat di perkotaan (Tanjung Redeb) dengan total penduduk (BPS, 2007) diketahui sekitar 57,69% mendengarkan radio. Jenis program yang umum didengarkan yaitu berupa program musik umum (15,4%) dan berita (14,9%). Waktu yang dipakai untuk mendengarkan radio bagi masyarakat di Tanjung Redeb umumnya sebelum jam 6 pagi dan antara pukul 2 siang sampai jam 4 sore atau tidak tentu waktunya. Stasiun radio yang didengarkan oleh masyarakat umumnya adalah radio pemerintah dan beberapa radio swasta. Beberapa radio pemerintah yang didengarkan oleh masyarakat yaitu RRI Samarinda (14,10%), RSPD Berau (8,10%) dan RRI Jakarta (6,30%). Adapun beberapa radio swasta yang didengarkan oleh sebagian kecil masyarakat kota Tanjung Redeb dan sebagian kecil masyarakat di kampung Long Beliu diantaranya stasiun radio Sangkakala (9,20%), Serawak FM (6,30%), MP3 (5,50%) dan lainnya. Umumnya masyarakat di perkampungan sekitar hutan tidak membaca koran, tetapi masyarakat di kota Tanjung Redeb membaca koran/majalah (sekitar 70% dari jumlah responden membaca koran). Masyarakat yang menjadi responden penelitian yang membaca koran sebanyak 34,5% hanya saja dalam
16 81 seminggu frekuensinya tidak tentu. Umumnya Koran yang dibaca masyarakat adalah Kaltim Post (51,9%), Kompas, Bola, Tribun, Radar Tarakan dan sebagainya. Topik yang dibaca terkait dengan hiburan, kriminalitas dan berita ekonomi/pembangunan dan lingkungan Pesan, Slogan dan Maskot Berdasarkan isu kunci tentang konservasi sumberdaya hutan yang diperoleh dari penelitian menggunakan metode lokakarya, FGD dan survei, maka dirumuskan pesan konservasi yang spesifik dan singkat yang akan disampaikan melalui berbagai media atau saluran komunikasi. Adapun rumusan pesan kunci yaitu sebagai berikut: 1. Kawasan Hutan Lindung Sungai Lesan penting untuk kehidupan kita sekarang dan masa depan. 2. Kawasan ini menjaga sumber air kita juga rumah bagi orangutan dan satwa penting lainnya. 3. Peran kita untuk bersama mendukung penyusunan tata guna lahan kampung penting untuk menjaga kawasan dan fungsinya bagi anak cucu kita. Pesan konservasi bertujuan untuk mengubah pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat agar mendukung upaya-upaya pelestarian, pelestarian dan pengelolaan sumberdaya hutan di Lesan. Adapun pesan konservasi dirumuskan dalam satu kalimat slogan yaitu Kawasan Lindung Sungai Lesan untuk Anak Cucu Kita. Slogan ini dipilih oleh 31,9% masyarakat. Satwa yang menjadi maskot pilihan masyarakat yang dianggap satwa membanggakan dan dapat mewakili kehidupan masyarakat yaitu orangutan (dipilih 41,10% masyarakat) Uji Coba Media Komunikasi Berdasarkan media preferensi masyarakat sasaran yang terkait dengan sumber informasi yang dapat dipercaya, pesan kunci, slogan dan maskot maka dirancang media komunikasi cetak utama (poster, stiker, pin, kaos dan lembar informasi). Poster dirancang menjadi 6 desain dan diuji cobakan kepada masyarakat sasaran sebagaimana pada Gambar 9. Desain kaos (Gambar 10) dibuat dalam 2 model (berkerah dan oblong), dimana kaos oblong dibuat menjadi desain
17 82 versi hitam dan putih dan kaos kerah berwarna putih dengan tulisan hijau; stiker/pin (Gambar 11) dibuat dalam 7 desain. Gambar 9 Desain poster yang diuji cobakan. Setelah diujicobakan terhadap masyarakat dengan teknik FGD terhadap kelompok masyarakat kampung (3 kampung/lokasi, 5-10 orang per kelompok), masyarakat kota (3 kelompok, 5-10 orang per kelompok) dan kelompok anakanak (5-10 orang per kelompok), maka poster yang dominan dipilih oleh kelompok masyarakat (6 kelompok FGD) pada Gambar 9 adalah disain nomor (5) dengan pertimbangan: warna hijau dominan pada poster lebih alami, senada dengan gambar hutan; illustrasi orangutan dan anaknya serta hutan di belakangnya sudah dimengerti maksudnya dengan mimik orangutan yang alami; judul (slogan) terlihat dari jarak jauh, teks pesan dimengerti ada hubungan kesehatan hutan dengan keberlanjutan hidup makluk di dalamnya (diwakili
18 83 orangutan sebagai maskot), pesannya tidak menghakimi, hanya saja teks perlu dipersingkat; ukuran poster diusulkan besar (ukuran A1 atau A0). Kaos yang dominan dipilih masyarakat (Gambar 10) adalah kaos dengan warna dasar putih (baik untuk kaos oblong maupun berkerah). Teks pada kaos sudah bisa terbaca dari jarak 5-10 m, pesan singkat dan jelas untuk mengajak terlibat dalam konservasi, hanya perlu ditambahkan logo lembaga, dan gambar orangutan perlu dipertajam. Gambar 10 Desain kaos yang diuji cobakan. Dari hasil uji coba desain pin/stiker (Gambar 1) yang banyak dipilih masyarakat yaitu desain pin/stiker yang berbentuk bulat. Disain stiker/pin yang dipilih yaitu desain nomor (2) yaitu dominan warna hijau dan kuning tetapi diusulkan tanpa garis pinggir hitam (untuk pin), teks perlu dipertajam dan ditambahkan informasi Kabupaten Berau. Ukuran yang diusulkan jika dicetak untuk pin baiknya 5-7 cm agar mudah dipakai dan ukuran stiker dengan diameter 5-6 cm dan cm agar mudah diaplikasikan.
19 84 (4) (6) (7) (5) Gambar 11 Desain stiker/pin yang diuji cobakan Implementasi Media Komunikasi Sumber informasi yang dikenal dan dipercaya masyarakat di atas prosentase 50% diantaranya tokoh dari unsur pemerintah (kampung/kelurahan, kecamatan, kabupaten), badan perwakilan kampung (BPK), aparat/penegak hukum, tokoh adat, guru dan anggota keluarga. Berdasarkan media referensi masyarakat yang dilihat dari tingkat kepercayaan terhadap sumber informasi, maka dikembangkan berbagai jenis media cetak, program sekolah, program penjangkauan (outreach) dan program pengembangan kapasitas masyarakat. Program untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat mengenai konservasi sumberdaya hutan ini merupakan program pendidikan konservasi yang terstruktur, istilah umumnya disebut kampanye bangga (dalam
20 85 beberapa penulisan, penulis akan menggunakan istilah kampanye bangga untuk menjelaskan program pendidikan konservasi yang diimplementasikan) Media Komunikasi Cetak Masyarakat yang menjadi sasaran program implementasi pendidikan konservasi adalah masyarakat kampung dengan tingkat pendidikan rendah (20,94% tidak bersekolah; 34,55% yang hanya tamat sekolah dasar). Media cetak yang cocok dikembangkan untuk masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah dan berdomisili di kampung ini adalah jenis media yang visual efeknya kuat dan bersifat menghibur. Beberapa diantaranya berupa lagu, poster, kalender, stiker dan lain sebagainya (Tabel 20). Tabel 20 Media komunikasi cetak yang digunakan dalam penelitian No. Media Komunikasi Sasaran dan Jumlah Produksi 1. Lagu Konservasi Masyarakat umum dan anak-anak. 1 buah lagu untuk orang dewasa (dangdut) dan 1 buah lagu anak-anak 2. Poster Masyarakat umum eksemplar. 3. Stiker Masyarakat umum. 4. Lembar Informasi (fachsheet) 5. Lembar Kotbah Konservasi Diamater 5 cm (ukuran kecil) dicetak eksemplar dan 12 cm (ukuran besar) dicetak eksemplar. Pemerintah, Guru dan masyarakat petani yang mampu membaca, pelajar SMP/SMA dan Mahasiswa. Dicetak eksemplar Petani/peladang di kampung, remaja da pemuda Diperbanyak sesuai kebutuhan Diskripsi Lagu tema berirama dangdut berjudul Cintailah Hutan Sungai Lesan untuk Anak Cucu Kita dan lagu pop Mari Jaga Hutan (diadopsi dari lagu rohani anak-anak populer) Dirancang dengan ukuran A2 (59,6 x 83,6 cm) portrait, warna dasar hijau dan coklat (maskot), tidak tahan air, kertas 230 gram UV/mengkilap Dirancang berbentuk bulat dengan ukuran diamater 5 cm (ukuran kecil) dan 12 cm (ukuran besar). Bahan dasar stiker tidak tahan dengan air (hanya bisa dipasang di tempat teduh. Dirancang ukuran A4 (21 x 29,2 cm) portrait 4, bahan glossy 2 materi kotbah disusun oleh Ev. Darpius dan Ev. Rospina.
21 86 Tabel 20 Media komunikasi cetak yang digunakan dalam penelitian (lanjutan) No. Media Komunikasi 6. Kalender Sekolah Tahun Kaos (berkerah dan oblong) Sasaran dan Jumlah Produksi Anak-anak Dicetak 500 eksemplar Berkerah (pemerintah dan tokoh), oblong untuk umum (mitra, masyarakat & relawan) Diskripsi Desain ukuran A2 (70 x 53,2 cm) landscape. Dirancang dalam 2 versi yaitu berkerah dan oblong (lengan panjang dan pendek) Diproduksi 550 buah. 9. Standing Banner Masyarakat umum. 10. Cenderamata/Suvenir: Mug Orangutan Jam dinding, Handuk dan Termos Diproduksi 25 unit Ekslusif untuk peserta pertemuan, pemenang lomba kegiatan. Mug: 50 eksemplar Jam: 30 eksemplar Handuk: 20 eksemplar Termos: 10 eksemplar 11. Papan/Plank Informasi Masyarakat umum yang berkunjung atau lewat di kawasan. 12. Panggung dan Boneka (puppet) 13. Kostum Orangutan (maskot) Dibuat 2 unit Anak-anak dan guru. Terdiri dari 1 set panggung dilengkapi 9 buah boneka tangan yaitu: Petric (turis USA), Beka (kekantan), wawa (owaowa), poh (pohon), Ibu Iba, Bapak Aji, Bob (Penebang kayu), Ninuk dan Tita (keduanya kakak adik murid SD) Remaja, Anak-anak dan masyarakat umum di kampung. Dibuat 1 unit. Dirancang portrait dengan ukuran 58,6 x 159,6 cm (disain dan pesan mirip poster). Distribusi di bandara dan kantor-kantor/sekolah. Muq keramik berdiametr 9 cm, berisi gambar maskot dan pesan kunci. Jam, handuk dan termos berisi slogan kampanye. Plank dipasang dermaga kampung Muara Lesan (akses utama ke kawasan) dan dipersimpangan Sungai Kelay dan Lesan. Bahan dari kayu ulin, di cat kuning dan hitam, tinggi 2 meter. Bahan panggung dibuat dari pipa dan kain merah, hijau dan biri. Boneka dibuat dari benang, berbagai kain dan aksesories seuai karakter boneka. Panggung boneka dipakai saat kunjungan sekolah dan event. Berbentuk satwa orangutan dengan tinggi sekitar 165 cm, berwarna coklat dari bahan berbulu yang menyerupai warna orangutan. 1. Lagu Konservasi Lagu dangdut adalah salah satu media yang digunakan dalam pendidikan konservasi untuk menjangkau audiens target sekitar Kawasan Lindung Sungai Lesan. Adapun proses penciptaaan, produksi dan distribusi lagu sebagai berikut:
22 87 Perancangan ide isi lagu konservasi dan mencari musisi lokal yang bisa menciptakan lagu tersebut. Proses diskusi dan pencipaan lagu yang dilakukan oleh Ibu Mastaniah (guru local) bersama dengan Edy Sudianto (pemuda lokal). Lagu yang inspiratif, sederhana dan dapat dinyanyikan oleh berbagai kalangan ini berjudul Cintailah Hutan Sungai Lesan untuk Anak Cucu Kita (Gambar 12). Proses rekaman lagu dilakukan di studio musik Dimensi di kota Tanjung Redeb dimana arrangement musik versi rekaman studio ditangani oleh seniman lokal yang bernama Iwan Setiawan musisi yang sudah dikenal berbagai kalangan pencinta lagu dangdut di Kota Tanjung Redeb. Proses editing dan produksi lagu menjadi bentuk digital dan selanjutnya digandakan sesuai dengan kebutuhan untuk pendistribusian. Proses promosi dan distribusi lagu dilakukan dengan berbagai cara baik melalui kegiatan/event, radio maupun dari sekolah ke sekolah atau kampung ke kampung. Gambar 12 Ibu Guru sedang menciptakan lagu. Lagu untuk menjangkau anak-anak digubah iramanya dari lagu rohani anak-anak karena tim tidak berhasil menemukan musisi yang berkompeten dan menciptakan lagu anak-anak. Sama halnya dengan lagu dangdut sebagaimana disebutkan sebelumnya, lagu ini diperkenalkan melalui kegiatan perayaan HUT RI, sebagai sound track dialog interaktif di radio (RSPD), kegiatan pekan seni dan olahraga, kunjungan sekolah dan juga dipopulerkan dari handphone ke handphone oleh relawan program.
23 88 2. Poster Pilihan menggunakan poster dalam pendidikan konservasi di Kawasan Lindung Sungai Lesan atas dasar pertimbangan bahwa poster merupakan cara menarik untuk mengkomunikasikan pesan konservasi dan memamerkan spesies panji-panji (flagship species). Tahapan perancangan, produksi dan distribusi sebagaimana berikut: Merancang ide illustrasi poster yaitu memperlihatkan visual yang kuat dari orangutan sebagai spesies panji-panji kehidupannya sangat tergantung pada kelestarian hutan, dimana hutan yang oleh masyarakat target audiens adalah hutan yang perlu dilestarikan untuk hidup anak cucu. Mencari musisi yang dapat melukis illustrasi poster yaitu Bapak Solikin - seorang guru lokal di Berau. Proses mengkaji kesesuaian poster dan pesan konservasi yang akan disampaikan. Proses desain grafis poster yang dilakukan oleh desainer profesional (Latif mahasiswa seni rupa). Proses uji coba 6 rancangan poster kepada masyarakat. Proses perbaikan dan finalisasi desain poster. Proses produksi dan pendistribusian poster di lokasi target (Gambar 13). Poster dirancang dengan ukuran A2 (59,6 x 83,6 cm) portrait dan dicetak dalam jumlah eksemplar. Poster berisi gambar ilustrasi orangutan yang menggantung di sebuah pohon yang menggendong anaknya dengan latar hutan di belakangnya. Judul besar poster yaitu Kawasan Lindung Sungai Lesan untuk Anak Cucu Kita. Pesan kunci yang disampaikan dalam poster ini ditulis dalam 3 paragraf utama yaitu: (1) Kawasan Lindung Sungai Lesan penting untuk kehidupan kita sekarang dan masa datang; (2) Kawasan ini menjaga sumber air kita juga rumah bagi orangutan Kalimantan dan satwa penting lainnya; (3) Peran kita untuk bersama mendukung penyusunan tata guna lahan kampung penting untuk menjaga Kawasan Lindung Sungai Lesan dan fungsinya bagi anak cucu kita.
24 89 Poster dipakai menjadi salah satu media pendidikan konservasi untuk menjangkau tidak saja orang dewasa, pemuda tetapi juga untuk anak-anak. Poster dengan kemasan pesan yang tepat akan berdampak besar pada target audiens yang metode pembelajarannya adalah membaca/menulis visual dan visual nonverbal (Kushardanto, 2007). Poster dipasang di tempat-tempat umum seperti ruang pelayanan kesehatan, kantor kecamatan, sekolah, papan pengumuman kampung, kantor kepala desa, balai kampung, rumah-rumah penduduk, gereja dan lain-lain. Poster yang didistribusikan ke kantor pemerintah dan sekolah agar tahan lama diberi bingkai kaca dan plastik tim kampanye. Gambar 13 Poster dan proses pendistribusian. 3. Stiker Proses perancangan, produksi dan pendistribusian stiker sama halnya dengan poster. Stiker dirancang berbentuk bulat dengan ukuran diamater 5 cm (ukuran kecil) dicetak eksemplar dan 12 cm (ukuran besar) dicetak eksemplar. Stiker hanya berisi gambar ilustrasi orangutan dan slogan yaitu Kawasan Lindung Sungai Lesan untuk Anak Cucu Kita. Stiker didistribusikan di rumah-rumah, toko atau warung serta kendaraan roda dua maupun empat (Gambar 14). Dalam setiap kunjungan sekolah dan penjangkauan audiens stiker merupakan hadiah yang menarik bagi target sasaran. Sayang stiker tidak tahan lama jika terkena air karena bahannya tidak dilapisi bahan anti air, sehingga hanya bisa untuk ditempel di tempat yang ternaungi. Gambar 14 Stiker yang digunakan dalam penelitian.
25 90 4. Lembar Informasi (factsheet) Lembar informasi sebagaimana pada Gambar 15 disusun teksnya oleh tim dan mendapatkan masukan dari guru lokal mengenai isinya. Desain lembar informasi dilakukan oleh desainer professional (Latif dari Deel Production - mahasiswa seni rupa dari Makassar yang sedang dalam tahap penyelesaian studi). Lembar informasi yang dirancang ukuran A4 portrait terdiri dari 4 halaman bolak-balik. Lembar pertama dari lembar informasi ini ilustrasi, judul dan pesan sama seperti isi poster; Lembar kedua berisi Sekilas Kawasan Lindung Sungai Lesan, Fungsi dan Nilai Penting Kawasan Lindung Sungai Lesan; Lembar ketiga berisi informasi Badan Pengelola Lesan (BP Lesan), Sarana Prasarana Pendukung Kawasan Lindung Sungai Lesan; dan Lembar keempat berisi Ancaman dan Akibat Kerusakan Hutan; Apa yang bisa dilakukan agar kerusakan hutan dapat dihindari, dan peran yang bisa dilakukan untuk mendukung pelestarian Kawasan Lindung Sungai Lesan. Gambar 15 Lembar informasi Kawasan Lindung Sungai Lesan. Proses pendistribusian lembar informasi dilakukan pada saat event atau kegiatan, pertemuan dan dikirimkan ke kantor-kantor. Target utama lembar informasi yaitu masyarakat target kampanye yang memiliki pendidikan yang cukup (bisa membaca) atau tinggi. 5. Lembar Kotbah Konservasi Lembar kotbah disusun oleh Ibu Rospina (gembala GKII Lesan Dayak) dan Bapak Darpius (Gembala GKKI Merapun) (Gambar 16) dengan metode
26 91 diskusi curah pendapat (brain storming) dengan tim. Curah pendapat bertujuan untuk menggali bersama sudut pandang alkitab terhadap isu lingkungan dan pelestarian alam. Dari hasil diskusi, kedua tokoh agama ini menyusun lembar kotbah konservasi (Lampiran 9) dan menyampaikannya di pertemuan ibadah raya minggu. Kotbah konservasi ini dilakukan Gereja Kemah Injili Indonesia (GKII) di Kampung Lesan Dayak dan Merapun - kampung yang masyarakatnya dominan memeluk agama kristen. Gambar 16 Darpius dan Rospina (penyusun materi kotbah konservasi). 6. Kalender Sekolah Tahun 2009 Kalender dicetak 500 eksemplar dengan ukuran mendekati ukuran A2 (70 x 53,2 cm) landscape. Kalender ini berisi pesan kunci pesan konservasi, ilustrasi orangutan dan slogan, foto kunjungan sekolah dan hasil karya lomba gambar anak-anak sekolah dasar yang berjudul kehidupan di dalam Hutan Sungai Lesan. Adapun proses distribusi kalender sebagaimana pada Gambar 17 berikut: Gambar 17 Kalender Sekolah Kalender Sekolah 2009, selain berfungsi sebagai media pengulangan pesan kunci, juga menginformasikan jenis-jenis hewan yang terdapat di sekitar kawasan hutan. Kalender juga bermanfaat sebagai media untuk memberikan umpan balik atas kunjungan sekolah di lokasi target).
27 92 7. Kaos (Berkerah dan Oblong) Kaos dirancang dalam 2 model yaitu kaos berkerah dan oblong. Ilustrasi kaos sama dengan poster dan stiker yaitu hanya menampilkan teks yang singkat (slogan) dan gambar orangutan (maskot). Distribusi kaos yang berkerah sebanyak 150 lembar ditujukan untuk para aparat pemerintah dan tokoh masyarakat yang diyakini bisa membantu mempromosikan kawasan dalam aktivitas mereka. Kaos oblong sebanyak 500 lembar (450 lembar lengan pendek dan 50 lembar lengan panjang) didistribusikan kepada para relawan kampanye, peserta pertemuan atau workshop, maupun sebagai hadiah dalam beberapa kegiatan program (Gambar 18). Gambar 18 Kaos yang digunakan dalam penelitian. 8. Standing Banner Gambar 19 Standing banner. Standing Banner dirancang portrait dengan ukuran 58,6 x 159,6 cm dengan tata letak dan pesan kunci sama seperti pada poster. Standing Banner dicetak sebanyak 25 eksemplar dan didistribusikan (Gambar 19) di bandara Kalimarau Tanjung Redeb Berau, kantor pemerintahan (kabupaten, kecamatan
28 93 dan kampung) dan beberapa tempat strategis lainnya di lokasi target seperti di balai pertemuan kampung/balai adat, gereja dan sekolah). 9. Cenderamata (souvenir) Cenderamata yang dicetak diantaranya berupa mug, gelas keramik, termos, handuk dan jam dinding (Gambar 20). Mug orangutan dicetak dan didistribusikan sejumlah 50 eksemplar sebagai hadiah para peserta pertemuan review Rencana Strategis Pengelolaan Kawasan Lindung Sungai Lesan yang digelar Badan Pengelola Kawasan Lindung Sungai Lesan (BP Lesan). Pertemuan dihadiri tokoh dan aparat dari 4 kampung sekitar kawasan, instansi pemerintah kabupaten dan mitra BP Lesan lainnya. Mug orangutan juga dijadikan hadiah dalam beberapa kegiatan kampanye (kemah pelajar, kuis di radio dan lain-lain). Mug berisi slogan dan pesan kunci konservasi sebagaimana yang tertulis pada poster. Gambar 20 Cinderamata (souvenir). Jam dinding, Handuk dan Termos, masing-masing diproduksi sejumlah 30 eksemplar, 20 eksemplar dan 10 eksemplar sebagai hadiah kegiatan lomba perayaan HUT RI 17 Agustus 2008 di Kecamatan Kelay. Jam dinding, handuk dan termos berisi ilustrasi gambar orangutan dan atau slogan kampanye bangga Kawasan Lindung Sungai Lesan untuk Anak Cucu Kita. 10. Plank/Papan Informasi Kawasan Plank atau papan informasi kawasan dibuat 2 unit dan dipasang di dermaga kampung Muara Lesan (pintu utama masuk ke kawasan) dan dipersimpangan Sungai Kelay dan Lesan. Dalam papan informasi ini disampaikan
29 94 informasi nama kawasan dan waktu mencapai lokasi dengan menggunakan katinting (perahu kayu berkapasitas 4-6 orang). 11. Panggung dan Boneka (puppet) Panggung boneka terdiri dari 1 set sebagaimana pada Gambar 21 yang dilengkapi dengan 9 buah boneka yaitu boneka Petric (turis dari Amerika), Beka (bekantan), wawa (owa-owa), poh (pohon), Ibu Iba, Bapak Aji, Bob (penebang kayu), Ninuk dan Tita (keduanya kakak beradik, murid SD). Panggung boneka ini dipakai dalam rangka kunjungan sekolah dan dalam beberapa event seperti perayaan Hari Anak Nasional dan lain-lain. Karakter dan ciri fisik dari tokoh panggung boneka yang dimainkan saat kunjungan sekolah sebagaimana pada Lampiran 3. Gambar 21 Panggung boneka. 12. Kostum Orangutan (Maskot) Kostum maskot (Gambar 22) dibuat dari kain berbulu, menggunakan bahan keras seperti helm pada bagian kepala dan bagian perut atau badan dilapisi dengan busa agar lebih terlihat bervolume. Kostum yang diberikan nama sapaan Si Mori ini didisain menyerupai orangutan Kalimantan dengan tinggi/panjang kostum sekitar 165 cm dan hanya bisa dikenakan orang dewasa. Gambar 22 Kostum orangutan (maskot).
30 95 Kostum orangutan dipakai dalam kunjungan sekolah di 8 sekolah dasar target dan 2 sekolah menengah atas di Kecamatan Kelay. Kostum orangutan juga sering dipakai dalam acara khusus di Tanjung Redeb (ibukota Kabupaten Berau) Program Sekolah Program sekolah dirancang untuk menjangkau masyarakat melalui perantara guru-guru (guru dipercayai sekitar 80% masyarakat sebagai sumber informasi) dan anak-anak (diasumsikan menjadi penyalur informasi kepada orang tuanya). Program sekolah juga dirancang dengan maksud pentingnya memberikan pendidikan dini mengenai konservasi kepada anak-anak. Beberapa program sekolah diantaranya berupa pertunjukkan panggung boneka dan badut maskot (orangutan), seminar pelajar, lomba menggambar dan lain-lain diuraikan pada Tabel 21 berikut: Tabel 21 Program sekolah untuk menyampaikan pesan konservasi Program Sekolah No. (School Visit orangutan goes to school) 1. Panggung Boneka dan Kunjungan Maskot Masyarakat Sasaran Anak-anak dan guru. 2. Seminar Pelajar Sasaran: Remaja dan guru. 3. Lomba Gambar Kehidupan di Dalam Hutan 4. Lokakarya Penyusunan Materi Kampanye (Panggung boneka) 5. Kemah Konservasi/Kemah Pelajar Anak-anak dan guru. Guru sekolah dasar dan guru sekolah minggu. Anak-anak, Remaja, Mahasiswa dan Guru. Diskripsi Diselenggarakan di 8 sekolah dasar di 7 kampung dan kota Tanjung Redeb Diselenggarakan 2 di SMPN di Kecamatan Kelay. Acara seminar: permainan lingkungan,, menyanyi dengan maskot, pemaparan materi, diskusi dan rencana tindak lanjut. Diselenggarakan di 8 sekolah dasar kampong Dilaksanakan di 3 SDN (Merapun, Sido Bangen (dalam) dan Sido Bangen (luar) Diselenggarakan di dalam kawasan, diisi dengan berbagai permainan lingkungan, diskusi, kreatifitas hutan dan seni budaya, serta cerdas cermat. 1. Panggung Boneka Pagelaran panggung boneka (Puppet) adalah salah satu media pendidikan konservasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan konservasi dengan
31 96 target audiens anak-anak. Boneka sebagai salah satu media pada acara kunjungan sekolah merupakan media ajar yang manarik yang berbeda dengan media konvensional lainnya yang biasa digunakan di sekolah. Dalam kunjungan panggung boneka mengambil judul cerita Petric, Bule Amerika berlibur ke Kawasan Lindung Sungai Lesan. Adapun selain Petric si bule Amerika, dalam cerita ini terdapat 8 tokoh lainnya yaitu Ninuk dan Tita sebagai murid sekolah dasar yang juga kakab beradik; tokoh Ibu Iba yang bersuamikan Pak Aji dimana keduanya adalah pasangan yang membantu Petric dalam perjalanannya ke hutan di Lesan; Tokoh Bob sang penebang hutan yang selalu mencari kesempatan agar bisa mengambil kayu dan hasil hutan yang bisa untuk diperjualbelikan untuk mendapatkan uang; dan ada juga tokoh Si Poh yang berarti Pohon yang mengalami kesulitan hidup karena adanya berbagai kerusakan di sekitarnya akibat ulah manusia; juga ada tokoh Wawa dan Si Beka alias bekantan yang juga sudah merasa terganggu dengan kerusakan hutan dan sulit mendapatkan makanannya sehari-hari. Gambar 23 Pertunjukkan panggung boneka. Dalam cerita panggung boneka sebagaimana pada Gambar 23 yang dikemas sebagai rangkaian cerita lima bagian ini, ide cerita dan pemberiaan nama para tokoh atas diskusi dengan para guru lokal dan anak-anak lokal lokasi implementasi program. Melalui cerita boneka ini tujuan yang diharapkan yaitu anak-anak mengenal paling tidak tiga satwa penting dalam kawasan, tiga jenis tumbuh-tumbuhan dan arti penting kawasan bagi kehidupan masyarakat. Di akhir cerita para anak-anak spontan saja ingin mengambil bagian, tidak saja bercerita kepada teman-teman dan orang tua mengenai tokoh dan cerita panggung boneka, tetapi mereka juga terlibat dalam mendistribusikan media cetak dari rumah ke
32 97 rumah di kampung mereka, seperti poster dan stiker serta lembar informasi. Bermodalkan semangat dan bahasa sederhana anak-anak, media komunikasi dapat disampaikan dengan baik kepada masyarakat di setiap rumah atau kantor. 2. Seminar Pelajar Seminar pelajar dengan mengambil topik Perlindungan dan Pelestarian Kawasan Lindung Sungai Lesan di SMPN 2 Kelay di kampung Merasa dan SMPN 3 Kelay di Sido Bangen. Maksud dari kunjungan ini adalah dalam rangka memperkenalkan kawasan lindung sungai lesan kepada siswa seperti letak kawasan, peran dan fungsi kawasan bagi ekosistem, potensi hewan dan tumbuhan yang ada di dalam kawasan, apa saja yang bisa dimanfaatkan siswa dalam kawasan; dan cara siswa dapat terlibat dalam upaya-upaya pelestarian kawasan ini demi masa depan mereka sendiri dan anak cucu. Gambar 24 Seminar pelajar di SMPN Kelay. Metode seminar pelajar pada Gambar 24 untuk menyampaikan pesan konservasi hutan dilakukan melalui permainan lingkungan, lagu dan lomba berjoget diiringi lagu konservasi, pertunjukkan kostum orangutan untuk mempertontonkan spesies maskot, diskusi/tanya jawab pelajar dan narasumber, serta pertunjukkan pidato/puisi di depan para peserta seminar lainnya. Tanggapan positif guru terhadap seminar lingkungan ini sangat positif, karena menurut mereka selama ini mereka mengajarkan tentang lingkungan hidup kurang efektif dan kurang menarik perhatian siswa dan materinya pun hanya terintegrasikan dalam beberapa mata pelajaran sekolah.
33 98 3. Lomba Gambar Kehidupan di dalam Hutan Lomba gambar dilakukan pada saat kunjungan ke setiap sekolah di lokasi target (Gambar 25). Hasil gambar anak-anak ini tidak hanya sederetan hutan, gunung dan sungai; tetapi beberapa dari gambar murid-murid sekolah dasar ini sudah memperlihatkan hubungan suatu jaring-jaring kehidupan antar komponen ekosistem di dalamnya, yaitu kehidupan hutan yang terdiri dari unsur pohonpohonan, satwa/hewannya (orangutan, burung, babi), terdapat tanah, sungai dengan ikan di dalamnya, serta manusia yang sangat tergantung dengan hutan. Jika dari pertimbangan aspek teknis menggambar (pewarnaan, komposisi, dan lain sebagainya) gambar-gambar anak-anak lokal ini akan jauh dari dari sempurna, akan tetapi nilai intrinsiknya anak-anak ternyata dengan kepekaannya telah memahami adanya kehidupan yang penting di dalam hutan dan sekitarnya. Gambar 25 Lomba gambar kehidupan di dalam hutan. Lomba gambar dilaksanakan untuk melihat sejauh mana pemahaman anak-anak atas pentingnya hutan bagi kehidupan sekarang dan yang akan datang. Anak-anak yang antusias mengikuti lomba gambar, demikian juga menonton pertunjukkan panggung boneka dan pertunjukkan kostum maskot bersama-sama. Hasil karya anak-anak lokal ini dijadikan materi dasar pembuatan kalender Lokakarya Panyusunan Materi Pendidikan Konservasi Lokakarya guru yang diselenggarakan pararel di 4 sekolah sekitar Kawasan Lindung Sungai Lesan. Lokakarya bertujuan untuk menyusun materi panggung boneka, membangun kepemilikan guru atas program pendidikan konservasi ini dan kepemilikan para guru atas kawasan Hutan Lindung Sungai Lesan. Para guru menjadi ujung tombak terbangunnya kepemilikan komunitas lokal atas Kawasan Lindung Sungai yang dipercaya masyarakat. Dari hasil survei
34 99 yang dilaksanakan pada bulan Januari 2008 diketahui tokoh guru dipercaya 80% oleh masyarakat peladang di 7 desa sekitar Kawasan Lindung Sungai Lesan. Gambar 26 Lokakarya guru di Sido Bangen dan Merapun. Lokakarya penyusunan materi panggung boneka (Gambar 26) menghasilkan tujuan rencana pementasan panggung boneka dan satu cerita panggung boneka mengenai harmonisasi hidupan liar dalam hutan, konflik orang utan dan manusia di kampung serta pesan moral bahwa orangutan dan satwa liar lainnya yang termarjinalkan adalah korban ulah manusia yang kurang bijak mengelola sumberdaya hutan sehingga hutan sebagai habitat satwa liar semakin berkurang dan terdegradasi. Menurut para guru, bukan hanya orang dewasa yang perlu mengenal hutan tetapi anak-anak pun perlu diperkenalkan hutan sejak dini mengenai hutan lindung, peran dan fungsi tumbuhan dan hewan yang ada di dalam hutan, fungsi dan manfaat hutan /ekosistem bagi kehidupan manusia, dan bagaimana cara-cara yang sederhana bagi anak-anak dapat terlibat dalam upaya pelestarian Hutan Lindung Sungai Lesan. 5. Kemah Konservasi/Kemah Pelajar Program kemah pelajar dilaksanakan di stasiun penelitian Lejak-Kawasan Lindung Sungai Lesan, terselenggara atas kerjasama Badan Pengelola Kawasan Lindung Sungai Lesan (BP Lesan) dan The Nature Conservancy (TNC). Tujuan kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan fungsi dan manfaat hutan di Lesan kepada para siswa dan guru. Kawasan adalah laboratorium alam dimana para siswa dan guru dapat belajar dan mengenal hutan dan lingkungan. Kemah pelajar yang berlangsung 3 hari tersebut diisi dengan berbagai kegiatan yang sarat dengan unsur edukasi dan hiburan. Beberapa kegiatan tersebut diantaranya berbagai
35 100 permainan lingkungan, pagelaran seni dan budaya lokal, tracking dan identifikasi hewan dan tumbuhan dalam hutan, perlombaan kreatifitas hasil hutan serta cerdas-cermat antar sekolah (Gambar 27). Gambar 27 Kemah pelajar d i Kawasan Lindung Sungai Lesan Program Media Massa (Cetak, Audio Visual dan Visual) Komunikasi media massa merupakan komunikasi yang menggunakan media massa sebagai salurannya (Wiryanto, 2004). Untuk menjangkau media massa (orang banyak) yang jumlahnya banyak dan tersebar di berbagai lokasi, maka penggunaan media massa merupakan cara yang efektif dan cepat. Jika memerlukan frekuensi yang tinggi dan jangkauan luas maka media yang efektif adalah radio (Riswandi, 2009). Dalam program pendidikan konservasi Kawasan Lindung Sungai Lesan media massa yang digunakan yaitu berupa media cetak (koran harian) dan media visual elektronik (televisi) sebagaimana Tabel 22. Tabel 22 Program media massa untuk penyampaian pesan konservasi No. Program Media Masyarakat Sasaran dan Hasil 1. Dialog interaktif (live) Masyarakat umum (pendengar radio), 30 Episode. Live talkshow khusus dengan menghadirkan audiens pelajar/guru dilaksanakan ke studio 2. Iklan layanan Masyarakat umum (pendengar masyarakat atau radio). Public Service Disiarkan minimal 2 kali Announcement (PSA) dalam seminggu dan khususnya saat dialog interaktif (hari Rabu) akan diputar berulang-ulang. Diskripsi Disiarkan langsung (live) setiap 2 minggu sekali pada hari Rabu jam wita. Talkshow diisi dengan pemataran materi, kuis dan diselingi lagu dan PSA. Disiarkan langsung (live) di RSPD Berau bersama program dialog interaktif dan sesuai kebutuhan
36 101 Tabel 22 Program media massa untuk penyampaian pesan konservasi (lanjutan) No. Program Media 3. Liputan Program Teropong Indosiar 4. Liputan Program Si Bolang (Bocah Petualang) Trans 7 5. Liputan Berau Televisi 6. Liputan Kaltim Post dan Radar Tarakan 7. Liputan Tribun Kaltim/Pro Media Masyarakat Sasaran dan Hasil Masyarakat umum di Kecamatan Kelay dan Tanjung Redeb, ibukota Kabupaten Berau. Diproduksi dalam 1episode. Masyarakat umum di Kecamatan Kelay dan Berau. Dua Episode. Masyarakat umum Tanjung Redeb dan Pemerintah Kabupaten. Satu Episode. Masyarakat umum dan Pengambil kebijakan (Bupati dan DPRD). Empat berita dan 2 berita lainnya sama dengan berita Radar Tarakan (koran satu grup dengan Kaltim Post) Masyarakat umum dan Pengambil kebijakan (Bupati dan DPRD). Empat artikel bersambung Selamatkan Kawasan Sungai Lesan Diskripsi Liputan dilakukan di Kampung Lesan Dayak, Muara Lesan dan Merasa Televisi Trans 7 dalam program anak-anak Si Bolang (Bocah Petualang) berkunjung dan melakukan liputan di Lesan Dayak dan Kawasan Lindung Sungai Lesan Liputan dilakukan bersamaan dengan kunjungan Bupati Berau ke kawasan dan peresmian guest house Badan Pengelola Liputan mengenai potensi kawasan dan cerita kunjungan Bupati Berau Liputan dilakukan di wilayah Long Beliu dan kampung sekitar Kawasan Lindung Sungai Lesan. 1. Dialog Interaktif (Live) Radio efektif menjangkau audiens karena sifat radio yang bisa didengarkan sembari melaksanakan aktivitas lain. Manfaat lain sangat mungkin penyampaian pesan-pesan dapat dilakukan berulang-ulang (Wiryanto, 2004; Soemanagara, 2008). Asumsi dasarnya jika pesan selalu disampaikan maka akan berdampak pada terjadinya kesadaran dan perubahan perilaku dan dukungan publik terhadap kawasan Lindung Sungai Lesan. Dialog interaktif di radio membahas suatu topik tertentu dan menghadirkan nara sumber dan kunjungan pendengar ke studio. Program ini dilakukan langsung (live) setiap 2 minggu sekali pada hari Rabu jam wita di RSPD (Radio Siaran Pemerintah daerah) Berau. Waktu ini dipilih asumsinya akan lebih menarik banyak pendengar.
37 102 Gambar 28 Situasi dialog interaktif di RSPD Berau. Program dialog interaktif (Gambar 28) memungkinkan terjadinya dialog interaktif antara nara sumber dan audiens (pendengar). Untuk menarik partisipasi audiens program ini dilakukan dengan mendiskusikan topik yang menarik mengenai Kawasan Lindung Sungai Lesan yang belum diketahui oleh audiens. Di beberapa episode juga diundang sekelompok siswa, guru dan nara sumber berkompeten ke studio radio. Agar lebih diminati di akhir sesi acara selalu ada umpan balik dari pendengar dengan menyediakan ruang tanya jawab dan kuis dimana setiap yang menjawab mendapatkan hadiah. Pada saat pelaksanaan atau di beberapa hari sebelum on air, dialog interaktif juga diberitakan/diumumkan di radio serta ada pemutaran lagu kawasan Lindung Sungai Lesan untuk Anak Cucu berulang-ulang agar pesan lebih melekat. 2. Iklan Layanan Masyarakat (PSA) Pesan yang disampaikan melalui iklan atau PSA (Public Service Announcement) yaitu kehidupan masyarakat di sekitar kawasan dan di Tanjung Redeb sangat bergantung kepada Kawasan Lindung Sungai Lesan, Kawasan Lindung Sungai Lesan juga merupakan habitat orangutan Kalimantan, Pembukaan kawasan hutan yang tidak memperhatikan nilai ekologi membuat kehidupan masyarakat menjadi susah dan Pemanfaatan yang berkelanjutan merupakan solusi yang tepat akan tetapi keterlibatan semua pihak menjadi keharusan. 3. Liputan Program Teropong Indosiar Liputan Televisi Indosiar merupakan liputan program petualangan dan budaya lokal masyarakat yang bersahabat dengan alam. Liputan Indosiar sebagaimana pada Gambar 29 dilaksanakan di Kampung Lesan Dayak, Muara
38 103 Lesan dan Merasa Mei Proses peliputan didampingi aparat kampung dan tokoh Adat Dayak Gaai, sebagian warga Lesan Dayak dan staff The Nature Conservancy. Kehidupan keseharian masyarakat Dayak Gaai yang diliput oleh Indosiar diantaranya adalah kegiatan menganyam tikar tradisional, kegiatan menangkap ikan secara tradisional dengan cara menjala dan memasang pukat, kegiatan piknik bersama warga kampung di kersik Sungai Kelay, kegiatan gotong-royong membangun rumah dan membersihkan balai kampung, pagelaran tarian daerah dan lain-lain. Gambar 29 Liputan Indosiar di Lesan Dayak dan Merasa. Pemilihan media nasional (Indosiar) diasumsikan media ini akan dapat menjangkau para pemangku kepentingan terutama di level kabupaten, level propinsi dan nasional. Dengan demikian dukungan terhadap program konservasi Kawasan Lindung Sungai Lesan dapat lebih kuat. Liputan Indosiar disiarkan dalam satu episode/tayangan. 4. Liputan Program Si Bolang (Bocah Petualang) Trans 7 Liputan Televisi Trans 7 melalui program Si Bolang (Bocah Petualang) dilakukan di Lesan Dayak (kampung terdekat dengan kawasan) dan di dalam Kawasan Hutan Lindung Sungai Lesan pada bulan Agutus Pemain Si Bolang adalah anak-anak lokal yang dipilih melalui audisi. Adapun prosesnya disaksikan seluruh warga kampung. Setelah melalui audisi yang ketat maka terpilih sebagai pemain Si Bolang yaitu Ellianus, Bertus, Ilbi, Veronika, Roni dan Sumanto (murid-murid SDN 003 Lesan Dayak). Liputan yang dilakukan selama 5 (lima) hari di mengambil beberapa adegan aktivitas anak-anak lokal bersama teman-teman dan atau dengan keluarga
39 104 mereka di kampung (Gambar 30). Beberapa diantaranya yaitu aktivitas bermain ke hutan untuk berburu ayam hutan dan berburu babi hutan; bermain di menara pengintaian satwa di dalam Kawasan lindung Sungai Lesan, bermain dan mencari ikan di sungai Belkay dan Sungai Lesan, menombak ikan dan beramai-ramai membakar dan makan ikan di kersik Sungai Kelay; bermain perang-perangan dengan menggunakan batang daun pisang; bermain petak umpat; mengikuti ritual adat berdoa untuk keselamatan hutan bersama tokoh adat kampung; dan bermainmain dengan hewan peliharaan (landak) di kampung serta bermain gasing bersama teman-teman sebaya di kampung. Hasil liputan Si Bolang ditayangkan dalam 2 episode di Televisi Trans 7. Gambar 30 Liputan Si Bolang di Lesan Dayak dan Kawasan Lesan. 5. Liputan Berau Televisi Liputan Berau Televisi dilakukan bersamaan dengan kunjungan Bupati Berau ke kawasan dan peresmian guest house Badan Pengelola 25 Juni Liputan ditayangkan dalam acara khusus perjalanan Bupati Berau. Jangkauan Berau Televisi sendiri hanya bisa ditonton masyarakat di kota Tanjung Redeb dan sekitarnya. Liputan Berau televisi yang penting untuk mendukung pelestarian kawasan lindung Sungai Lesan, yaitu pernyataan Bupati Berau yang menyatakan bahwa walaupun kawasan termasuk Kawasan Budidaya Non Kehutanan (KBNK), tetapi Pemda Berau berkomitmen menjaga kawasan agar tetap lestari. Komitmen daerah itu telah memang telah diakomodir dalam PERDA Nomor 3 mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Berau dengan mengalokasikan kawasan di Lesan ini sebagai kawasan khusus perlindungan habitat orangutan. Bupati juga berharap komitmen daerah ini benar-benar didukung oleh Pemerintah Pusat
40 105 dengan cara merespon usulan daerah menjadikan kawasan ini menjadi Hutan Lindung. Bupati Berau juga memberikan mandat agar sosialisasi keberadaan kawasan harus intensif dilakukan kepada masyarakat sekitar kawasan. Pemahaman yang mendalam di tingkat masyarakat lokal perlu diperkuat agar pengelolaan kawasan bisa benar-benar optimal. Jangan sampai masyarakat berpikir bahwa dengan keberadaan kawasan ini justru untuk membatasi mereka memanfaatkan hasil hutan. Pengelolaan yang baik keberhasilannya dilihat dari adanya pengakuan masyarakat yang merasakan manfaat keberadaan kawasan lindung ini. Lebih lanjut Bupati Berau menegaskan bahwa dalam pengelolaan kawasan ini pengelola tidak saja harus bisa memberdayakan dan memainkan peran masyarakat lokal, tetapi juga perusahaan-perusahaan khususnya yang berada di sekitar kawasan dan perusahann swasta lainnya juga harus diajak dan dilibatkan. Dengan adanya keterlibatan perusahaan untuk mempertahankan Kawasan Lindung Sungai Lesan, maka hal ini juga akan berdampak positif kawasan kebanggaan Berau ini akan semakin berkembang pengelolaannya. 6. Liputan Kaltim Post dan Radar Tarakan Liputan Kaltim Post dilakukan di wilayah Long Beliu dan Kawasan Lindung Sungai Lesan pada saat Kunjungan Bupati Berau (Makmur HAPK) ke kawasan (Lampiran 6). Hasil liputan ditulis oleh Kaltim Post 6 July 2009 dengan judul berita Makmur : Jaga Kelestarian Sungai Lesan. Berita yang diuluas oleh Kaltim Post mengemukakan ajakan Bupati Berau agar menjaga kelestarian Hutan Sungai Lesan demi generasi yang akan datang. Menurutnya kawasan ini memiliki satwa langka yang dilindungi dan unik (tercatat 52 jenis mamalia, 18 jenis kekelawar, 118 jenis burung, 12 amphibi, 5 jenis reptil) seperti orangutan, bangau storm (bangau badai), monyet ekor panjang, owa-owa, bekantan dan lain-lain dan sejumlah pohon yang masih perawan dimana 45 jenis diantaranya adalah jenis pohon pakan dan sarang orangutan. Lebih tegas Bupati Berau dalam berita Kaltim Post ini mengatakan tidak menginginkan kawasan ini dieksploitasi walau termasuk kawasan budidaya non kehutanan (KBNK) dan meminta pengawasan
41 106 instansi terkait serta masyarakat sekitar kawasan mengingat masih maraknya penebangan liar yang dapat mengancam kelestarian Hutan Sungai Lesan. Berita foto Kaltim Post edisi 13 November 2008 yang berjudul Lepas Lelah, dimana diulas secara singkat bahwa masih utuhnya kawasan Hutan Berau menjadi daya tarik tersendiri bagi bupati Berau Makmur HAPK di kawasan Hutan Lesan, misalnya. Bahkan, di kawasan itu tempat persianggahan. Disini ada makanan ringan dan segar. Dalam berita yang lain Bupati Berau juga mengajak Ayo Jaga Lingkungan kepada masyarakat. Dalam text line foto tertulis Nikmati Lingkungan: Bupati dan rombongan menelusuri Kawasan Hutan kelay menggunakan perahu (Kaltim Post, November 2008). Berita lain yang diangkat oleh Kaltim Post edisi 6 November 2008 yaitu Berau Raih Tropi Raksaniyata 2008, dimana dimana pada teks line tertulis Hutan Lesan: Makmur HAPK meninjau Kawasan Hutan yang utuh, ini merupkan andil terbesar dalam meraih Raksaniyata. Berita lainnya diterbitkan oleh Radar Tarakan 5 November Liputan lain yang diangkat oleh Kaltim Post yaitu pernyataan Bupati Berau dalam suatu pertemuan dengan pegiat konservasi di Berau yaitu Kelay dan Segah Dipertahankan (Kaltim Post edisi 21 Maret 2009). Berita yang sama sebelumnya diangkat oleh Radar Tarakan (koran yang satu grup perusahaan dengan Kaltim Post) dengan judul berita Lingkungan Segah dan Kelai Dipertahankan (Radar Tarakan edisi 19 Maret 2009). 7. Liputan Tribun Kaltim Liputan dilakukan oleh Yati Maulana Tribun Kaltim atas kerjasama dengan Pro Media pada tanggal Agustus Sebagai nara sumber, Tribun Kaltim berhasil mewawancarai Bupati Berau untuk mendapatkan informasi komitmen daerah terhadap kawasan. Tribun juga berhasil bertemu dan berdiskusi dengan anggota Badan Pengelola Lesan (BP Lesan) dari BAPPEDA dan instansi lainnya, anggota PEKOKA (Petugas Konservasi Kampung) dan masyarakat di sekitar kawasan (Gambar 31). Liputan ini dilatarbelakangi beberapa kekuatiran bahwa para investor atau calon investor juga ikut Departemen Kehutanan (Dephut), tetap mengacu pada SK Menhut No. 79 dan tetap
42 107 mengajukan izin mengelola kawasan. Tribun juga mendapatkan informasi sejauh mana komitmen masyarakat dalam pengelolaan dan partisipasi masyarakat dalam monitoring dan pengamanan kawasan. Gambar 31 Wawancara Tribun Kaltim dengan warga Kelay. Hasil liputan Tribun Kaltim yang ditulis wartawan Hayati Maulana Nur dalam 4 artikel bersambung mengulas potensi kawasan, pengelolaan, ancaman dan upaya penyelamatan kawasan. Keempat artikel ini yaitu Selamatkan Hutan Lesan (1) Memburu Pemburu Gaharu (Rabu, 19 November 2008), Selamatkan Hutan Lesan (2) Orangutan Menghitung Hari (Kamis, 20 November 2008), Selamatkan Hutan Lesan (3) Ketika Sungai Kian Keruh (Jumat, 21 November 2009), dan Selamatkan Hutan Lesan (4) Hutan untuk Anak Cucu Kita (Sabtu, 22 November 2009). Artikel yang memuat berita Kawasan Lindung Sungai Lesan ini bagi masyarakat di Tanjung Redeb terutama kalangan pemerintah sangat powerfull dalam mendorong agar dukungan semakin kuat terhadap pengelolaan kawasan (Lampiran 6) Program Penjangkauan (Community Outreach) Masyarakat yang bermukim di sekitar hutan di Lesan umumnya mendapatkan informasi melalui interaksi dengan anggota langsung masyarakat lainnya (komunikasi antar personal) atau melalui berbagai kegiatan rutin tahunan di kampung atau ibukota kecamatan (komunikasi kelompok). Beberapa tokoh masyarakat yang dipercayai untuk mendapatkan informasi di kampung yaitu dari aparat pemerintahan, tokoh adat dan tokoh agama; dan beberapa kegiatan rutin yang umum dilakukan yaitu kegiatan keagamaan (gereja), perayaan hari kemerdekaan dan pertemuan-pertemuan kampung. Dalam program pendidikan konservasi, beberapa kegiatan yang digelar bekerjasama dengan tokoh masyarakat
43 108 lokal seperti kepala kampung, tokoh adat, guru, dan lain sebagainya. Program penjangkauan masyarakat baik melalui teknik komunikasi interpersonal, kelompok dan massal sebagaimana diuraikan pada Tabel 23. Untuk mendapatkan dukungan politis dan memperluas informasi mengenai Kawasan Lindung Sungai Lesan di ibukota Kabupaten Berau (Tanjung Redeb) juga digelar beberapa kegiatan yaitu diskusi multi pihak, dengar pendapat dengan DPRD dan lokakarya untuk melakukan kajian terhadap rencana strategis pengelolaan kawasan. Tabel 23 Program penjangkauan masyarakat Program Penjangkauan No. (Community Outreach) 1. Penyuluhan/Sosialisasi melalui gereja berupa kotbah konservasi; pertemuan ibu-ibu, cerita anak-anak cinta satwa (ibadah sekolah minggu); dan pengumuman (ibadah umum, ibadah pemuda) 2. Penyuluhan/Sosialisasi di kampung (Balai Pertemuan Kampung) 3. Kunjungan tim kampanye dari rumah ke rumah (atau kantor ke kantor) 4. Perayaan Hari Bumi: Lomba Pidato Lomba Cipta & Baca Puisi Lomba Menulis Surat 5. Perayaan HUT RI di Kecamatan Kelay (Festival Seni dan Budaya), diantaranya Lomba Joget, Lomba Masak Bahan Non Beras, Pegelaran seni dan budaya, dan lain-lain Masyarakat Sasaran Masyarakat petani/peladang di kampung target kampanye (Dewasa, Remaja, Pemuda dan anakanak). Mensasar sekitar 2500 orang di 7 kampung Masyarakat petani/peladang di kampung target kampanye (Dewasa dan Pemuda). Masyarakat petani/peladang di kampung target kampanye (Dewasa, Remaja, Pemuda dan anakanak). Pemerintah Kecamatan, Masyarakat umum, Guru dan anak-anak. Mensasar sekitar 200 orang masyarakat di ibu kota Kecamatan Kelay. Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Kampung dan Masyarakat umum. Mensasar sekitar 1500 orang. Diskripsi Dilakukan di Gereja Kemah Injili Indonesia di 7 kampung lokasi kampong yang diteliti. Rapat kampung yang dihadiri seluruh warga di 2 kampung (Panaan dan Lesan Dayak) Dilakukan di 7 kampung target kampanye, Tanjung Redeb Dilaksanakan di Kecamatan Kelay, diikuti oleh pelajar SD dan SMTP di Kecamatan Kelay. Dilaksanakan di Kecamatan Kelay: Lomba joget: diikuti ibu-ibu, pemuda dan anak-anak Lomba Masak: diikuti ibu-ibu PKK Kecamatan Kelay Pagelaran seni budaya di Kecamatan kelay
44 109 Tabel 23 Program penjangkauan masyarakat (lanjutan) Program Penjangkauan No. (Community Outreach) 6. Lokakarya Review RENSTRA BP LESAN 7. Diskusi Kampanye Bangga Kawasan Lindung Sungai Lesan (Launching Pride Campaign) 8. Rapat Dengar Pendapat (Hearing) DPRD 9. Kunjungan Lapangan Bupati Berau 3. Pelatihan Pembuatan Boneka Masyarakat Sasaran Berbagai instansi pemerintah/bp Lesan, swasta dan wakil masyarakat dari empat kampung sekitar kawasan (Sido Bangen, Muara Lesan, Merapun dan Lesan Dayak). Mensasar 32 orang. Wartawan, LSM, BP Lesan/Pemda, Mahasiswa. Peserta 53 orang. DPRD Berau dan Pemda. Peserta 45 orang. Pemerintah Kecamatan dan Kampung dan masyarakat umum, dan swasta. Sasaran 175 orang. Mahasiswa (relawan), guru, pelajar dan ibu-ibu. 17 orang peserta Diskripsi Diselenggarakan di Tanjung Redeb Kegiatan digelar di Tanjung Redeb, bertujuan untuk mensosialisasikan pentingnya kawasan dan mengajak para wartawan, lembaga untuk mendukung pengelolaannya. Acara digelar di r kantor DPRD Tanjung Redeb Kabupaten Berau Diselenggarakan dalam rangka peresmian guest hause BP Lesan dan peninjauan perkembangan kawasan. Peserta berasal dari MAPALA (Mahasiswa Pencinta Alam) STIEM, Teater Bumi, siswa SMP dan beberapa ibu-ibu dan guru. 1. Sosialisasi di Gereja Sosialisasi mengenai Kawasan Lindung Sungai Lesan dilakukan melalui kotbah konservasi pada saat kegiatan ibadah umum, pertemuan/ibadah ibu-ibu Perkawan, ibadah anak sekolah dan ibadah pemuda di gereja (Gambar 32). Lokasi penyuluhan melalui gereja dilaksanakan di Gereja Kemah Injili Indonesia (GKII) di Lesan Dayak, Merapun, Merasa dan Long Beliu. Keterlibatan tokoh agama dan pengurus gereja dalam program pendidikan konservasi menjadi hal yang efektif mendorong pengenalan dan dukungan terhadap konservasi Kawasan Lindung Sungai Lesan. Tokoh-tokoh agama ini terlibat dalam penyusunan kotbah, membantu menyampaikan ke masyarakat mengenai tujuan kampanye serta membantu dalam kegiatan pertunjukkan boneka
45 110 dan kostum orangután Si Mori di gereja atau balai kampung (misalnya sebagai pemandu acara atau pemain musik). Gambar 32 Sosialisasi melalui gereja lokal. 2. Penyuluhan/Pertemuan Kampung Penyuluhan atau sosialisasi mengenai Kawasan Lindung Sungai Lesan mensasar masyarakat yang umumnya adalah peladang/petani, aparat kampung, ibu-ibu dan para pemuda. Pertemuan kampung efektif karena di rapat kampung ini bisa terjadi dialog langsung antara masyarakat dan nara sumber. Masyarakat yang disasar dengan metode pertemuan kampung yaitu masyarakat di Lesan Dayak dan Panaan - kampung yang terisolir di tengah hutan (Gambar 33). Dalam pertemuan ini disampaikan informasi mengenai status kawasan, potensi dan fungsi kawasan, badan pengelola, ancaman terhadap kawasan dan berbagai hal mengenai peluang pengembangan kawasan. Gambar 33 Pertemuan kampung. 3. Kunjungan dari Rumah ke Rumah (door to door) Penjangkauan masyarakat dari rumah ke rumah mengambil ide penjualan produk dengan sistem MLM (multi level marketing) yang biasanya menjual produknya dari rumah ke rumah. Penjangkauan masyarakat dari rumah ke rumah menggunakan seperangkat material cetak seperti lembar informasi, stiker dan
46 111 poster. Cara penjangkauan dengan memanfaatkan media cetak ini dilakukan di setiap rumah, warung/rumah makan, toko, kantor atau fasilitas umum lainnya (Gambar 34). Gambar 34 Penjangkauan masyarakat dari pintu ke pintu. Tahapan kunjungan ke rumah yaitu dimulai menyampaikan informasi mengenai potensi, fungsi dan nilai penting kawasan dan manfaat atau arti penting kawasan bagi kehidupan masyarakat; di akhir kunjungan diharapkan mereka memahami arti penting kawasan dan bersedia membantu upaya pendidikan konservasi hutan di Lesan. Bentuk keterlibatan yang pertama dilakukan setelah mereka mengerti yaitu merelakan rumah/kantornya ditempeli poster atau stiker. Masyarakat juga selanjutnya membantu mendistribusikan media kepada orang lain. Kunjungan dari rumah ke rumah dilakukan di semua lokasi penelitian yaitu di kota Tanjung Redeb, Merasa, Lesan Dayak, Sido Bangen, Merapun, Long Beliu, Muara Lesan dan Panaan. 4. Perayaan Hari Bumi di Kecamatan Kelay Gambar 35 Perayaan Hari Bumi di Kecamatan Kelay. Perayaan Hari Bumi dilaksanakan (Gambar 35) di pendopo Kecamatan Kelay 22 April 2008 atas kerjasama Pemerintah Kecamatan Kelay, The Nature
47 112 Conservancy, World Education dan SMPN 3 Kelay. Acara perayaan Hari Bumi dibuka secara resmi oleh Camat Kelay Bapak Munawar Halil. Hadir pada acara pembukaan Kapolsek Kelay, yang mewakili Danramil Kelay serta masyarakat sekitar. Setelah acara pembukaan acara dilanjutkan dengan kegiatan lomba yaitu lomba pidato, cipta dan baca puisi serta lomba menulis surat cinta untuk bumi. Adapun lomba pidato mengambil tema Bumi Memanggil, lomba cipta dan baca puisi dengan tema Rintihan Bumi serta lomba menulis surat cinta untuk bumi dengan tema Tangis dan Tawa Bumi. Kegiatan lomba diikuti siswa-siswa Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama yang berjumlah sekitar 36 orang untuk ketiga kategori lomba. 5. Perayaan HUT RI (Festival Seni dan Budaya) Gambar 36 Perayaan HUT RI di Kecamatan Kelay. Perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-63 dilaksanakan di Kecamatan Kelay dan diikuti oleh 13 Kampung yang ada di Kecamatan Kelay. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan bekerjasama dengan panitia yaitu pagelaran seni dan budaya, lomba masak bahan non beras, lomba olahraga dan lomba joget konservasi (Gambar 36). Salah satu yang menarik dari kegiatan ini dimana Kawasan Lindung Sungai Lesan diperkenalkan melalui lagu konservasi yang berjudul Cintailah Hutan Sungai Lesan untuk Anak Cucu Kita kepada masyarakat luas melalui Lomba Joget Konservasi. 6. Lokakarya Review RENSTRA BP LESAN Lokakarya Review RENSTRA (Rencana Strategis) Badan Pengelola Kawasan Lindung Sungai Lesan (KLSL) diselenggarakan di Hotel Derawan Indah
48 113 Tanjung Redeb bulan Agustus Lokakarya dihadiri 32 orang peserta dari berbagai instansi dan swasta serta wakil masyarakat dari empat kampung yang berbatasan langsung dengan kawasan lindung yaitu Sido Bangen, Muara Lesan, Merapun dan Lesan Dayak. Hari pertama lokakarya sarat dengan berbagai presentasi dan hari kedua diisi dengan diskusi kelembagaan BP Lesan, pembagian peran berbagai pihak, upaya mempercepat pengukuhan atau legalitas kawasan, rencana pengembangan dan pengelolaan kawasan, pengembangan ekonomi masyarakat, sosialisasi dan kampanye kawasan, pendanaan berkelanjutan fund raising bagi keberlanjutan pengelolaan kawasan, serta rencana pengamanan kawasan di lapangan dengan membahas peran PEKOKA (petugas konservasi kampung) sebagai kekuatan terdepan. Hari kedua lokakarya menghasilkan beberapa hal penting demi kemajuan pengelolaan kawasan ke depan, dan juga yang menjadi catatan penting bahwa BP Lesan dan masyarakat yang hadir sepakat agar istilah kawasan tetap menggunakan Hutan Lindung Sungai Lesan sebagai semangat daerah menjadikan kawasan ini menjadi hutan lindung. Perkecualian penggunaan istilah lain dengan alasan tertentu dapat dilakukan dengan prasyarat atas sepengetahuan BP Lesan. Dalam kesempatan yang baik ini juga, perwakilan dari setiap masyarakat yang hadir menyampaikan masukan-masukan dan harapan agar ke depan BP Lesan dan mitranya lebih sering mengadakan koordinasi dengan masyarakat dan membuka ruang komunikasi terbuka bagaimana peran dan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan ke depan. 7. Diskusi Kampanye Bangga (Launching Pride Campaign) Acara diskusi ini digelar 13 Mei 2008 di Tanjung Redeb yang merupakan acara peluncuran program kampanye bangga (pride campaign) untuk Kawasan Hutan Lindung Sungai Lesan. Acara diskusi multi pihak dihadiri unsur pemerintah dan pengelola, wartawan, mahasiswa dan kalangan pendidik/guru (Gambar 37). Acara pembukaan diskusi kampanye bangga dibuka secara resmi oleh Ketua Badan Pengelola Kawasan Hutan Lindung Sungai Lesan Ir. Suparno Kasim, MM.
49 114 Gambar 37 Diskusi Kampanye Bangga di Tanjung Redeb. Kampanye Bangga Kawasan Lindung Sungai Lesan untuk anak cucu kita bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan dukungan masyarakat terhadap upaya-upaya konservasi di kawasan Hutan Lindung Sungai Lesan. Upaya-upaya konservasi dengan menggerakan kapasitas masyarakat lokal dan membangun rasa bangga masyarakat akan jauh lebih optimal dan berkelanjutan, karena telah tertanam kesadaran konservasi hutan akan menjamin keberlanjutan kehidupan anak cucu di masa depan. Inisiatif kampanye bangga yang ingin membangun kepemilikan masyarakat atas Kawasan Lindung Sungai Lesan akan berhasil dengan dukungan berbagai komponen masyarakat dari kalangan budayawan, seniman, pendidik, media, dan berbagai pihak lainnya sesuai dengan kapasitas masing-masing. 8. Rapat Dengar Pendapat (Hearing) DPRD Gambar 38 Kunjungan DPRD ke kawasan Lesan.
50 115 Rapat dengar pendapat dilakukan untuk memberikan informasi perkembangan program konservasi yang dilakukan The Nature Conservasncy di Berau kepada anggota dewan perwakilan rakyat (DPRD) Berau. Salah satu diantaranya yaitu program konservasi yang dilakukan di kawasan Lindung Sungai Lesan. Dalam dengar pendapat tersebut, banyak kritikan dan masukan yang disampaikan pimpinan anggota DPRD untuk masukan dan perbaikan program ke depan khususnya Kawasan Lindung Sungai Lesan yang pernah menjadi salah satu lokasi kunjungan lapangan mereka (Gambar 38). 9. Kunjungan Lapangan Bupati Berau ke Kawasan Sejak Tahun 2004 Bupati Berau H. Makmur HAPK, MM telah menetapkan hutan di Sungai Lesan sebagai kawasan lindung, namun baru 25 Juni 2008 Bupati memiliki kesempatan mengunjungi kawasan tersebut. Kunjungan Bupati (Gambar 39) tidak saja dalam rangka melihat dari dekat pengelolaan kawasan, peresmian bangunan fisik berupa guest house kawasan tetapi juga merupakan kesempatan yang baik bagi Bupati Berau dapat berinteraksi dan mendapatkan masukan dari masyarakat sekitar kawasan. Dalam kunjungan Bupati didampingi segenap MUSPIDA, MUSPIKA, Para Kepala Dinas terkait, Aparat Pemerintah Kampung, Para Ketua Adat, serta para undangan dari perusahaan (PT. UDIT dan PT. Berau Coal) dan tokoh masyarakat lainnya. Gambar 39 Kunjungan Kerja Bupati Berau ke kawasan. Kunjungan Bupati Berau ke Kawasan Lindung Sungai Lesan dari sisi politis sangat mempengaruhi pencitraan kawasan di masyarakat dan di kalangan Pemerintah Kabupaten Berau. Kawasan saat ini telah menjadi show window atau model pengelolaan kawasan lindung satu-satunya yang ada di Kabupaten Berau.
51 116 Walaupun statusnya adalah KBNK (Kawasan Budidaya Non Kehutanan), tetapi Pemerintah Daerah bersama Badan Pengelola berkomitmen mempertahankan kawasan ini untuk dilindungi Program Penguatan Kapasitas (Capacity Building) Pendidikan konservasi untuk memperkenalkan kawasan kepada masyarakat bertujuan agar dukungan semakin kuat dalam pengelolaan Kawasan Lindung Sungai Lesan ini. Dalam program ini keterlibatan para tokoh kampung dan masyarakat dalam kegiatan menjadi hal yang sangat penting. Oleh sebab itu dengan maksud dan tujuan untuk memperkuat kapasitas masyarakat yang terlibat dalam program maka digagas berbagai kegiatan pelatihan dan pendampingan. Dengan adanya pelatihan dan pelibatan langsung di dalam kegiatan maka akan membangun rasa kepemilikan masyarakat akan program, sedangkan dengan adanya pendampingan masyarakat bertujuan untuk mendorong kemandirian dalam menjalankan pemerintahan kampung. Beberapa program penguatan kapasitas diantaranya yaitu sebagaimana pada Tabel 24 berikut. Tabel 24 Program penguatan kapasitas masyarakat No. Program Penguatan Kapasitas (Capacity Building) Masyarakat Sasaran 1. Pelatihan Teater Pemuda dan Remaja (relawan kampanye bangga) Masyarakat sasaran 2. Pelatihan Public Speaking 3. Pelatihan Pembuatan Boneka 4. Penguatan Kapasitas Aparat dan Kelembagaan Kampung berjumlah 82 orang Siswa SMP dan Guru. Peserta 35 orang. Mahasiswa (relawan), guru, pelajar dan ibu-ibu. 17 orang peserta Pemerintah kampung. 3 Kepala Kampung (Sido Bangen, Lesan Dayak dan Merabu). Diskripsi Partisipan berasal dari 2 kampung (Lesan Dayak dan Merasa). Lokalatih diisi dengan penyampaian materi, diskusi dan simulasi. Peserta berasal dari MAPALA (Mahasiswa Pencinta Alam) STIEM, Teater Bumi, siswa SMP dan beberapa ibu-ibu dan guru. Pendampingan pembuatan proposal, penataan administrasi, dan pendampingan dalam pembentukan dan persiapan kegiatan-kegiatan kampung (pesta adat, kegiatan posyandu, perayaan HUT RI dan lainlain).
52 Pelatihan Teater Gambar 40 Pelatihan teater di Lesan Dayak. Pelatihan teater diikuti 32 orang pemuda-pemudi dari kampung Lesan Dayak dan Merasa (Gambar 40). Pelatihan ini bertujuan memberikan pembekalan dasar kepada para relawan kampanye bangga Hutan Lindung Sungai Lesan dalam seni peran, seni suara, seni gerak, dan berbagai seni lain yang pada dasarnya melebur dalam seni yang disebut seni teater ini. Dessy Yanti dan Achmad dari Teater Bumi yang bertindak selalu fasilitator dalam lokalatih teater ini memberikan pemahaman dasar bahwa ilmu teater dalam kehidupan sehari-hari pun sangat bermanfaat. Sebagai contoh ketika berbicara di depan umum ilmu teater bisa membantu dalam pengaturan intonasi suara dan pengucapan/artikulasi kata yang jelas dan tegas. 2. Loka Latih Public Speaking Gambar 41 Loka latih public speaking. Loka latih public speaking (Gambar 41) diselenggarakan di SMPN 3 Kelay April 2008 yang difasilitasi oleh Ebe Agustina (The Nature Conservancy). Lokalatih pada hari pertama diadakan di lapangan terbuka dengan melibatkan 35 siswa dengan materi utama simulasi berbicara di depan umum, hambatan dalam
53 118 berbicara di depan umum, tip dan trik mengatasi hambatan public speaking dan praktek kehidupan sehari-hari yang memerlukan keahlian public speaking. Hari kedua lokalatih yang diadakan dalam ruangan terbuka diisi dengan materi simulasi berpidato, serta cipta dan baca puisi lingkungan. Bukan saja pelajar yang antusias dengan adanya kegiatan loka latih public speaking ini, kepala sekolah dan para guru pun sangat mendukung kegiatan ini. Bahkan kepala sekolah yang memantau pelaksanaan loka latih meliburkan proses belajar mengajar dan mewajibkan siswa mengikuti loka latih tersebut. 3. Pelatihan Pembuatan Boneka Pelatihan pembuatan boneka (Gambar 42) merupakan salah satu cara untuk menguatkan kapasitas masyarakat untuk mengembangkan media pendidikan konservasi. Pelatihan dilaksanakan Juni 2008 dihadiri 20 peserta terdiri dari anggota MAPALA (Mahasiswa Pencinta Alam) STIEM, Teater Bumi, siswa SMP dan beberapa ibu-ibu lokal. Untuk mempermudah dan mempercepat penyelesaian boneka maka peserta pelatihan dibagi dalam beberapa kelompok. Adapun setiap kelompok bertanggung jawab membuat satu tokoh sebagaimana dalam skenario cerita panggung boneka yang telah di susun team dari guru-guru di Merapun. Adapun boneka-boneka yang belum selesai pengerjaannya pada saat pelatihan karena ditailnya cukup rumit maka pengerjaan dilanjutkan peserta di rumah mereka masing-masing. Gambar 42 Situasi pelatihan pembuatan boneka. Ibu Supriatin yang menjadi nara sumber pelatihan mengatakan bahwa membuat boneka untuk pendidikan lingkungan sedikit berbeda dengan membuat boneka dengan tujuan komersil. Menurutnya, boneka yang dibuat untuk
54 119 pendidikan konservasi dirancang sedapat mungkin sesuai dengan karakter tokoh yang terdapat pada naskah cerita. Kekuatan boneka memang bukan sekedar bentuk fisiknya yang menggambarkan karakter sang tokoh, tetapi juga kekuatannya pada cerita, dan keahlian personal yang memainkannya pada saat pementasan didasari pemahaman yang kuat pesan apa yang ingin disampaikan melalui tokoh boneka yang dimainkannya. 4. Penguatan Kapasitas Aparat Kampung Para kepala kampung, pengurus PKK (Penggerak Kesejahteraan Keluarga) dan aparat kampung di kampung target kampanye, umumnya memiliki kapasitas dan kemampuan yang kurang dalam beberapa hal terkait kepemimpinan dan manajemen organisasi. Pendampingan terhadap aparat ini oleh tim kampanye dilakukan dengan cara pendampingan dalam perencanaan program kampung dan beberapa hal lain yang memerlukan konsultasi dan pendampingan. Beberapa keahlian teknis yang diajarkan disini misalnya dalam pembuatan proposal pembangunan sarana kampung, penataan administrasi kampung dalam hal suratmenyurat, dan penggorganisasian dalam mempersiapkan suatu event seperti pesta adat, kegiatan posyandu, dan lain-lain. Kegiatan pendampingan merupakan salah satu cara memberdayakan dan menguatkan kapasitas masyarakat lokal agar ke depan mereka memiliki kemampuan dan kemandirian dalam pengelolaan kawasan lindung dan sumberdaya alam yang mereka miliki. Khususnya bagi aparat yang tinggal di sekitar Kawasan Lindung Sungai Lesan, dalam menyiapakan kampung seperti menghadapi kunjungan media serta tamu lainnya ke kawasan maka masyarakat juga didampingi dalam mengelola kepanitian dan persiapan teknis lainnya. Dengan demikian dalam setiap kunjungan tamu (baik lokal maupun maupun dari mancanegara) masyarakat sudah memiliki mekanisme dan pengaturan dalam pelayanan tamu. Misalnya saja dalam pengaturan transportasi dan tim pendamping lapangan (local guide) dan lain-lain.
55 Perubahan Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Masyarakat Sebelum dan Sesudah Implementasi Pendidikan Konservasi Program pendidikan konservasi hutan yang dilakukan dengan sasaran masyarakat yang berbatasan langsung dengan kawasan Hutan Lindung Sungai Lesan (4 kampung), masyarakat yang tidak berbatasan langsung dengan kawasan (3 kampung) dan masyarakat kota Tanjung Redeb (Ibukota Kabupaten Berau) yang jauh dan tidak berinteraksi langsung dengan kawasan telah dilakukan selama 1 tahun (April 2008-April 2009). Setelah implementasi program berakhir, maka terjadi peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat terhadap konservasi sumberdaya hutan di Lesan Perubahan Pengetahuan Secara umum tingkat pengetahuan masyarakat terhadap kawasan dari yang tidak tahu menurun 48% menjadi tahu. Pengetahuan masyarakat mengenai status hutan di Kawasan Lindung Sungai Lesan sebelumnya 3,4% yang mengetahui sebagai kawasan lindung, di akhir program pendidikan konservasi menjadi 64,14% (atau meningkat 60,73%). Hanya sebagian kecil dari masyarakat yang mengatakan kawasan sebagai hutan penelitian, hutan konservasi, hutan yang penuh larangan atau hutan yang tidak boleh mengambil apapun (Tabel 25). No. Tabel 25 Perubahan pengetahuan masyarakat mengenai status hutan Pengetahuan masyarakat mengenai status hutan Sebelum Sesudah Jumlah % Jumlah % Perubahan (%) 1. Hutan Lindung , ,75-3,14 2. Kawasan Lindung 13 3, ,14 60,73 3. Tidak tahu , ,62-48,69 4. Lainnya 55 14, ,50 1,44 Total Kawasan Lindung Sungai Lesan sebelum kampanye dilakukan, masih banyak yang tidak paham manfaat dan tujuan penetapan kawasan. Kawasan ini sebagaimana yang diketahui masih dipersepsikan sebagai kawasan yang dimana masyarakat bisa berladang, mengambil kayu dan hasil bukan kayu lainnya serta
56 121 berburu. Pandangan mengenai pemanfaatan kawasan untuk konservasi setelah kampanye benar cukup signifikan, sehingga pemanfaatan kawasan untuk kepentingan pribadi/kelompok berubah sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 26. No. Tabel 26 Perubahan pengetahuan mengenai pemanfaatan hutan Pengetahuan masyarakat mengenai pemanfaatan hutan Sebelum Sesudah Perubahan (%) Jumlah % Jumlah % 1 Berladang/berkebun , , Mengambil kayu 84 21, , Mengambil hasil hutan non 3 kayu , Berburu , Tidak tahu 21 5, Lainnya 24 6, Keterangan: jumlah responden 382 dan pilihan lebih dari satu jawaban Kekritisan masyarakat mengenai dampak kerusakan hutan melalui kampanye juga telah terbangun. Dampak-dampak kerusakan hutan yang mereka perhatikan (bukan saja yang mereka alami) lebih disadari sebagai dampak yang diakibatkan perubahan fungsi hutan. Di beberapa kampung yang berbatasan langsung dengan Kawasan Lindung Sungai Lesan (Sido Bangen, Merapun dan Lesan Dayak), masuknya orangutan ke ladang atau perkampungan masyarakat untuk mencari makan merupakan masalah serius yang mereka alami (Tabel 27). No. Tabel 27 Perubahan pengetahuan mengenai dampak kerusakan hutan Pengetahuan masyarakat mengenai dampak kerusakan hutan Sebelum Sesudah Perubahan (%) Jumlah % Jumlah % 1. Banjir lebih sering , ,27 2,36 2. Longsor , ,64 6,28 3. Madu habis/sulit diperoleh , ,55 6,02 4. Hasil tangkapan ikan berkurang 69 18, ,13 7,07 Orangutan turun ke 5. kampung/ladang 40 10, ,17 26,70 6. Bahan obatan sulit diperoleh 44 11, ,33-4,19 7. Bahan kerajinan sulit diperoleh 63 16, ,59-8,90 8. Lainnya 65 17,02 7 1,83-15,18 9. Tidak tahu 30 7,85 8 2,09-5,76 Keterangan: jumlah responden 382 dan pilihan lebih dari satu jawaban
57 122 Pada tahun 2004, Bupati Berau telah menetapkan Badan Pengelola Kawasan Lindung Sungai Lesan (BP Lesan). Hanya saja badan pengelola tidak dikenal oleh masyarakat. Setelah dilakukan pendidikan konservasi maka prosentase yang tidak tahu mengenai pengelola hutan ini menurun 52,09% (Tabel 28). Menurut masyarakat keterlibatan mereka menjadi hal yang penting sebagai pengelola, selain keterlibatan aparat pemerintahan di dalamnya. Pengelolaan dengan pendekatan kolaboratif dengan melibatkan semua pihak ternyata merupakan bentuk pendekatan yang efektif. No. Tabel 28 Perubahan pengetahuan mengenai pengelola hutan Pengetahuan masyarakat mengenai pengelola Sebelum Sesudah Perubahan (%) Jumlah % Jumlah % 1. Tidak tahu , ,54-52,09 2. Masyarakat sekitar kawasan 89 23, ,12 34,82 3. LSM 31 8, ,68 23,56 4. Pemerintah Kampung 50 13, ,05 26,96 5. Lembaga Adat 43 11, ,32 18,06 6. BPK 18 4, ,06 13,35 7. Lainnya 11 2, ,24 2,36 Keterangan: jumlah responden 382 dan pilihan lebih dari satu jawaban Perubahan Sikap Keputusan Bupati Berau menjadikan kawasan hutan di Sungai Lesan menjadi kawasan lindung di akhir implementasi program diketahui mendapatkan dukungan yang semakin kuat (dari 68,59% menjadi 91,10%) atau meningkat 22,51% (Tabel 29). Dukungan yang semakin kuat ini juga terkait dengan dukungan yang besar terhadap keputusan pemerintahan sebagaimana karakteristik masyarakat di Berau (sasaran program kampanye) adalah masyarakat patriaki (tunduk pada kekuasaan). Masyarakat berpandangan mengenai hutan lindung pada 3 hal yaitu sebagai hutan konservasi (meningkat 26,96% setelah implementasi), hutan yang pemanfaatannya harus diatur dengan baik (meningkat 8,38%) dan hutan dimana tempat melindungi orangutan (meningkat 15,18%). Dalam Peraturan Daerah
58 123 Nomor 3 yang dikeluarkan oleh Bupati Berau memang 3hal tersebut tercakup (Tabel 30). No. Tabel 29 Perubahan sikap masyarakat terhadap penetapan kawasan Sikap masyarakat terhadap penetapan kawasan Sebelum Sesudah Perubahan (%) Jumlah % Jumlah % 1. Setuju , ,10 22,51 2. Tidak setuju 10 2,62 4 1,05-1,57 3. Tidak ada pendapat 32 8,38 8 2,09-6,28 4. Tidak tahu 78 20, ,76-14,66 Total Responden No. Tabel 30 Perubahan persepsi masyarakat mengenai hutan lindung Persepsi masyarakat mengenai hutan lindung Sebelum Sesudah Perubahan Jumlah % Jumlah % (%) , ,19 8,38 1. Hutan yang pemanfaatannya harus diatur dengan baik 2. Hutan Konservasi 56 14, ,62 26,96 3. Hutan untuk tempat melindungi 34 8, ,08 15,18 orang utan 4. Hutan larangan 86 22, ,65 3,14 5. Kehidupan yang makin baik 39 10, ,38-1,83 6. Hutan yang dilindungi 15 3,93 4 1,05-2,88 7. Tidak tahu 84 21, ,12-13,87 8. Lainnya 27 7, ,66-3,40 Keterangan: jumlah responden 382 dan pilihan lebih dari satu jawaban Dengan adanya program pendidikan konservasi yang intensif dengan menggunakan berbagai media komunikasi, di akhir program persepsi masyarakat mengenai konservasi menurun 48,69%. Persepsi adalah suatu proses memberi makna pada objek dan realitas (Kriyantono, 2008). Umumnya pemahaman berkembang bahwa konservasi tidak hanya terkait aspek perlindungan (29,32%) tetapi juga aspek pemanfaatan (13,87%) sebagaimana pada Tabel 31. Persepsi masyarakat ini berubah karena adanya interaksi dan proses belajar dari tim yang memfasilitasi program pendidikan konservasi dan proses belajar diantara kelompok masyarakat sendiri.
59 124 Tabel 31 Perubahan persepsi masyarakat mengenai konservasi Persepsi masyarakat Sebelum Sesudah Perubahan No. mengenai konservasi Jumlah % Jumlah % (%) 1. Tidak Tahu , ,92-48,69 2. Hutan Lindung 23 6, ,11 13,09 3. Pelestarian 8 2, ,51 20,42 4. Penelitian 7 1, ,02 4,19 5. Perlindungan 6 1, ,89 29,32 6. Pemanfaatan 0 0, ,87 13,87 7. Pemeliharaan 0 0, ,99 10,99 8. Lainnya 95 24, ,72 7,85 Keterangan: jumlah responden 382 dan pilihan lebih dari satu jawaban Sikap masyarakat terhadap sumberdaya hutan berkaitan erat dengan ransangan emosional dan penilaian akan nilai dari sumberdaya hutan tersebut. Setelah pelaksanaan pendidikan konservasi, diketahui sikap masyarakat terhadap konservasi sumberdaya hutan di Sungai Lesan juga semakin meningkat (kuat). Melalui pendidikan konservasi yang dikemas dalam kampanye terstruktur tersebut dengan menggunakan pengukuran skala Likert, diketahui sikap masyarakat tetap tinggi/kuat (dari 90,78 menjadi 94,08%) sebagaimana pada Tabel 32. Hutan bagi masyarakat yang berinteraksi langsung dengan hutan memegang peranan yang sangat penting. Fungsinya bukan saja dari aspek ekonomi namun juga dari aspek sosial budaya. Beberapa fungsi ekonomi hutan bagi masyarakat diantaranya untuk mendapatkan hasil hutan berupa kayu maupun bukan kayu (madu, ikan, gaharu, damar, dan lain sebagainya). Sikap masyarakat terkait pemanfaatan hutan yang berkelanjutan setelah pelaksanaan pendidikan konservasi dilaksanakan masih tetap kuat (dari 73,39% menjadi 74,70%) sebagaimana Tabel 33.
60 125 Tabel 32 Perubahan sikap masyarakat terhadap konservasi hutan No. Sikap masyarakat terhadap konservasi sumberdaya hutan Kriteria dan Bobot Jumlah Skor Bobot (%) P(3) TP (2) TT (1) 1. Menyelamatkan hutan Lindung Sungai Lesan dari pengambilan kayu yang berlebihan ,07 2. Mendiskusikan dengan anggota masyarakat lainnya cara penyelamatan hutan Sungai Lesan ,03 3. Menjaga kawasan hutan Sungai Lesan agar tidak diubah menjadi lahan perkebunan kelapa ,76 sawit 4. Memikirkan cara pemenuhan kebutuhan kayu yang lebih berkelanjutan ,72 5. Mendiskusikan akibat pembukaan hutan bagi kehidupan masyarakat ,33 6. Terlibat dalam upaya perlindungan hutan Sungai Lesan yang dilakukan oleh masyarakat ,58 kampung Total rataan (setelah implementasi) ,08 Total rataan (sebelum implementasi) ,040 90,78 No. Tabel 33 Perubahan sikap masyarakat terhadap pemanfaatan hutan Sikap masyarakat terhadap pemanfaatan hutan SS (5) Kriteria dan Bobot S (4) N (3) Total Skor 1. Hutan Sungai Lesan perlu dilestarikan untuk menjaga sumber air kita ,75 2. Hutan Sungai Lesan perlu dijaga untuk tempat madu hutan ,40 3. Hutan Sungai Lesan yang lestari akan menjamin keberadaan ikan di sungai ,84 4. Kayu di hutan Sungai Lesan boleh ditebang kapan saja ,14 5. Kayu di hutan Sungai Lesan hanya boleh ditebang untuk kebutuhan kampung (bangunan/perahu) ,82 6. Perlunya penegakan hukum agar pemanfaatan hutan Sungai Lesan dapat lebih baik ,04 7. Untuk mempertahankan fungsi hutan Sungai Lesan diperlukan peraturan daerah dan hukum adat ,57 8. Diri saya mempunyai pengetahuan yang cukup tentang peraturan pembukaan hutan untuk kebun kelapa sa ,02 9. Pembukaan hutan Sungai Lesan untuk perkebunan kelapa sawit sebaiknya dihindari , Hutan Sungai Lesan memberi manfaat langsung bagi masyarakat sekitar ,78 Total rataan (setelah implementasi) ,427 74,70 Total rataan (sebelum implementasi) ,402 73,39 TS (2) STS (1) %
61 Perubahan Perilaku Dampak pendidikan konservasi dari aspek konatif (behavioral) yaitu suatu tahapan ketika seseorang setelah menerima pesan melalui media menjadi termotivasi untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu (Riswandi, 2009). Perilaku adalah tindakan yang dapat diamati atau dilihat terhadap masyarakat di Kecamatan Kelay dan Tanjung Redeb setelah pelaksanaan implementasi pendidikan konservasi melalui kampanye (Tabel 34) umunya menyatakan komitmen untuk menjaga hutan desa agar tidak rusak dan mengupayakan untuk berladang/bertani secara menetap dengan mengembangkan usaha-usaha tanaman pertanian (padi, sayur-sayuran dan lain-lain) dan perkebunan seperti karet dan lain sebagainya. Umumnya di awal sebelum implementasi program mereka masih tidak tahu apa yang akan dilakukan (yang tidak tahu tindakan yang akan dilakukan menurun 23,82%). No. Tabel 34. Perubahan perilaku dalam mendukung konservasi hutan Perilaku dalam mendukung konservasi hutan Sebelum Setelah Perubahan (%) Total % Total % 1. Menjaga hutan desa agar tidak rusak , ,49 22,25 2. Membuat kawasan hutan adat yang dikelola bersama 56 14, ,30-2,36 3. Menetapkan kawasan berburu yang dilindungi 28 7, ,71-2,62 4. Menanami pohon di kawasan hutan yang rusak 55 14, ,32 14,92 5. Mengajak orang lain untuk terlibat dengan upaya penyelamatan hutan Sungai Lesan 93 24, ,94 7,59 Mendiskusikan dengan tokoh kampung 6. mengenai upaya perlindungan hutan Sungai 71 18, ,80 10,21 Lesan 7. Mengembangkan usaha pertanian (sayuran dll) 0 0, ,90 19,90 8. Mengembangkan usaha kebun (karet, coklat, dll) 0 0, ,77 22,77 9. Berladang menetap/tidak berpindah 2 0, ,30 11, Lainnya 19 4,97 6 1,57-3, Tidak tahu , ,66-23,82 Keterangan: jumlah responden 382 dan pilihan lebih dari satu jawaban Dengan adanya sumberdaya yang terbatas, lahan kampung yang telah beralih fungsi menjadi perkebunan sawit dan berbagai usaha kehutanan atau bentuk-bentuk peruntukkan yang lainnya, maka kesadaran masyarakat untuk
62 127 merencanakan kampung telah terbangun yaitu adanya inisiatif dari pemerintah kampung dan masyarakat untuk melakukan penyusunan tata guna lahan (land use planning) di kampung Sido Bangen dan penyusunan perencanaan partisipatif masyarakat kampung (P3MK) atau perencanaan pembangunan jangka menengah kampung (RPJMK) di kampung Merapun dan Muara Lesan. Proses fasilitasi ini dilakukan oleh The Nature Conservancy dan World Education (keduanya lembaga internasional yang bekerja di wilayah Kecamatan Kelay). Proses dan hasil rencana tata ruang wilayah (pemetaan partisipatif) yang masih dalam tahap penyusunan di Sido Bangen telah menghasilkan sket peruntukan lahan kelola masyarakat dan sedangkan P3MK Merapun dan Muara Lesan menghasilkan dokumen Rencana Strategis Pembangunan Kampung 5-10 tahun ke depan. Dalam dokumen perencanaan pembangunan kampung sendiri bidang penataan wilayah tata ruang/wilayah kampung menjadi salah satu program utama. Untuk mendukung proses keberlanjutan dan implementasi Rencana Pembangunan Kampung pada saat ini, TNC dan WE masih tetap berkomitmen melakukan pendampingan penguatan kelembagaan masyarakat kampung Faktor-faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Media Komunikasi Dalam menjangkau setiap wilayah kampanye (4 kampung berbatasan langsung dengan kawasan, 3 kampung tidak berbatasan langsung dengan kawasan, kota Tanjung Redeb Ibukota Kabupaten Berau). Frekuensi dan jumlah dari setiap media dan kegiatan di setiap wilayah umumnya disesesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan sasaran yang ingin dicapai. Pilihan saluran komunikasi yang terbaik tidak saja atas pertimbangan kebutuhan target audiens (masyarakat) tetapi juga pada ketersediaan anggaran yang dimiliki (Weinreich, 1999). Penjangkauan media komunikasi/kegiatan (Lampiran 7) di lokasi yang berbatasan langsung dengan kawasan berkisar 65,54% (dibandingkan dengan yang tidak berbatasan dengan kawasan hanya 47,75% media/kegiatan) dilakukan dengan pertimbangan untuk memperkuat dukungan yang lebih besar dari masyarakat. Mengingat kawasan ini dalam pengelolaannya mengalami berbagai ancaman fisik seperti perambahan hasil hutan yang marak dilakukan (baik kayu maupun hasil hutan bukan kayu) sehingga partisipasi masyarakat dalam
63 128 pengawasan dan pengamanannya sangat perlu didorong dan diperkuat. Demikian halnya di tingkat kabupaten (frekuensi rataan media/kegiatan 56,76%), untuk mendorong dukungan politis dalam rangka mempercepat proses legalitas kawasan menjadi hutan lindung sebagaimana aspirasi pemerintah daerah. Pesan yang efektif jika pesan tersebut berhasil diterima dan mengubah penerima pesan. Ruben (1992) mengemukan faktor-faktor yang mempengaruhi mudah tidaknya pesan diterima salah satunya tergantung mada media serta lingkungan (The Media and The Environment). Media serta Lingkungan ini terkait dengan konteks dan pengaturan (context and setting), pengulangan (Repetition), konsistensi (consistency), bersaing (competition). Pendidikan konservasi melalui kampanye bangga dalam implementasinya menggunakan berbagai media dan kegiatan. Media dan kegiatan ini bekerja secara bersama-sama menyampaikan satu pesan yang berulang-ulang, konsisten, sesuai dengan konteks lokal/masalah lokal dan isunya bersaing dengan pesan yang lain (misalnya isu politik saat pelaksanaan program). Secara keseluruhan masyarakat mendapatkan informasi mengenai Kawasan Lindung Sungai Lesan melalui poster (96,3%), stiker (91,4%), lembar informasi (77,2%), panggung boneka (64,7%), sosialisasi dari rumah ke rumah atau dari kantor ke kantor (62,6%) dan lainlainnya (Lampiran 8). Adapun media komunikasi yang efektif bagi masyarakat kampung dan kota sebagaimana pada Tabel 35 berikut. Tabel 35. Media komunikasi yang efektif bagi masyarakat kampung dan kota No. Kelompok masyarakat MK I (n=168) MK II (n=188) MK III (n=26) 1. Poster (39,29%) Poster (37,23%) Liputan televisi nasional (57,69%) 2. Kaos (36,31%) Stiker (13,30%) Poster (46,15%) 3. Panggung boneka (13,10%) Kaos (10,64%) Dialog interaktif (15,38%) 4. Kalender sekolah (12,50%) Panggung boneka (10,11) Media cetak (15,38%) 5. Lagu konservasi (dangdut) Kalender sekolah (9,04%) Lembar informasi (15,38%) (10,12%) 6. Rapat kampung (8,93%) Lagu anak-anak (8,51%) Kemah konservasi (11,54%) Setiap responden memilih 2 media komunikasi yang efektif MK I : Masyarakat kampung yang berbatasan langsung dengan kawasan MK II : Masyarakat kampung yang tidak berbatasan langsung dengan kawasan MK III : Masyarakat perkotaan yang jauh dari kawasan
64 129 Dari tabel 35 diketahui bahwa perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat kampung lebih banyak dipengaruhi oleh poster (sebanyak 39,29% di MK I dan 37,27% di MK II). Berbeda halnya dengan MK III (masyarakat kota) perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku mereka dipengaruhi oleh liputan televisi nasional (57,69%). Media komunikasi yang efektif untuk masyarakat kampung umumnya media sifatnya visual dan bersifat menghibur, sedangkan masyarakat perkotaan lebih menyukai mendapatkan informasi melalui media massa. Hal ini berkaitan erat dengan tingkat pendidikan masyarakat kota yang umumnya lebih tinggi dibandingkan masyarakat kampung dan pilihan media untuk mendapatkan informasi lebih banyak tersedia. Pengembangan media komunikasi berdasarkan preferensi masyarakat untuk pendidikan konservasi diketahui lebih efektif menyampaikan pesan kepada masyarakat. Media komunikasi dikatakan efektif jika media tersebut menarik perhatian masyarakat, dan isi pesannya dapat diketahui, dipahami dan mendorong masyarakat untuk mengambil tindakan yang dapat mendukung konservasi sumberdaya hutan. Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas media dari aspek masyarakat sebagai penerima pesan, karakteristik media serta strategi distribusi/implementasi media/kegiatan (RARE, 2007b; Moffitt, 1999; Ruben, 1992; Sapanayong, 2006; Soemanagara, 2008; Riswandi, 2009; Wiryanto, 2004; Weinreich, 1999), yaitu sebagai berikut: 1. Poster a. Ilustrasi poster terdiri dari gambar orangutan yang sedang menggendong anaknya, sehingga dengan melihat gambar saja bisa diasosiasikan dengan hutan, manfaat hutan bagi kehidupan sekarang dan masa depan (kehidupan anak cucu). Selain itu, orangutan adalah icon kebanggaan masyarakat (pasca implementasi orangutan dipilih 63,6% sebagai maskot) dan asset yang unik bagi Kabupaten Berau. b. Slogan kawasan lindung sungai lesan untuk anak cucu kita jelas terbaca dan pesan yang lain pun singkat dan padat (mengandung pengetahuan, ajakan untuk mendukung dan melakukan aksi konservasi). c. Disain poster sederhana dengan warna-warna dominan hijau dan coklat. Disain poster awalnya dirancang 6 buah disain, kemudian diujicobakan
65 130 kepada masyarakat untuk mendapatkan masukan sehingga diperoleh disain yang sesuai dengan keinginan masyarakat. d. Strategy distribusi kepada masyarakat dilakukan dengan cara dijadikan media peraga atau komunikasi, dimana sebelum masyarakat diminta untuk memasang poster sebelumnya dijelaskan makna/isi dan tujuan poster. 2. Kalender Sekolah 2009 a. Ke dekatan dan kepemilikan. Gambar-gambar di dalam kalender adalah hasil karya dan foto-foto anak-anak lokal saat kunjungan sekolah. b. Disain sederhana dan mengandung warna-warna alami. c. Strategy distribusi. Kalender didistribusikan kepada masyarakat dengan cara dijadikan media pengumuman pemenang lomba gambar yang diselenggarakan saat implementasi pendidikan konservasi. d. Kelekatan dan pengulangan pesan. Media ini merupakan mengulangan pesan yang telah disampaikan sejak awal tahun 2008, sehingga sudah melekat (stick) atau tidak asing lagi bagi masyarakat. 3. Panggung Boneka a. Bersifat menghibur. Panggung boneka walaupun target utamanya adalah anak-anak, ternyata bagi orang dewasa di kampung menjadi media hiburan yang menarik. b. Kepemilikan. Cerita panggung boneka dibuat oleh guru-guru lokal dan dimainkan oleh anak-anak lokal, sehingga kepemilikan terhadap cerita telah terbangun. c. Kekuatan cerita. Cerita panggung boneka adalah cerita mengenai isu atau permasalahn sehari-hari yang dihadapi oleh masyarakat, sehingga pesan moralnya akan lebih mudah ditangkap masyarakat. 4. Lagu Konservasi a. Kepemilikan. Lagu konservasi diciptakan dan dinyanyikan oleh guru local sehingga kepemilikan terhadap lagu telah terbangun. b. Musik kesukaan masyarakat di kampung adalah lagu dangdut, sehingga akan mudah diterima oleh masyarakat karena sesuai dengan selera musiknya.
66 131 c. Irama dan lirik singkat dan padat, sehingga mudah dipelajari dan dihapalkan oleh masyarakat. d. Bersifat menghibur. Lagu dengan karakternya yang menghibur akan lebih mudah diterima oleh siapa pun (universal) tanpa merasa dihakimi atau diancam untuk melakukan sesuatu. 5. Rapat/pertemuan kampung a. Ruang berinteraksi. Masyarakat kampung umumnya lebih memiliki interaksi yang kuat antara satu dengan yang lain, sehingga pertemuan kampung (media komunikasi kelompok) adalah salah satu media untuk berinteraksi. b. Media terpercaya. Keputusan dan informasi penting apapun terkait kampung akan didiskusikan, diputuskan dan disampaikan melalui rapat kampung. 6. Kaos a. Manfaat. Kaos dapat dipakai oleh masyarakat dalam kesempatan tertentu dan dalam waktu yang relatif lama. b. Eksklusif, hanya dibagikan kepada orang-orang tertentu sehingga ada kebanggan tersendiri jika mendapatkan kaos ini di kampung. Selain itu jarang ada kaos yang memiliki desain khusus terkait dengan isu konservasi. c. Tokoh masyarakat sebagai iklan berjalan. Tokoh masyarakat yang dipercaya akan menyampaikan pesan secara langsung dalam bentuk pesan pendek dan gambar maskot yang ditonjolkan. 7. Liputan Televisi Nasional (Program Si Bolang-Trans 7 dan Teropong- Indosiar) a. Kelekatan. Liputan adalah mengenai kehidupan masyarakat local, secara alami masyarakat akan merasa senang jika bisa menyaksikan kampung atau alam sekitar yang diliput dikenal dengan baik. b. Menghibur. Siaran televisi nasional biasanya dapat ditangkap oleh masyarakat di perkampungan di Kecamatan Kelay dan kota Tanjung Redeb, sehingga menjadi tontonan menarik, walaupun tidak disaksikan secara langsung saat jam penayangan.
67 Dialog interaktif di RSPD a. Kepemilikan dan jangkauan. Radio siaran pemerintah daerah (RSPD) Berau telah berumur dan dikenal masyarakat, dimana jangkauannya mencakup Kota Tanjung Redeb dan sekitarnya. b. Program baru. Program baru yang khusus membahas isu lingkungan dan konservasi sumberdaya hutan. 9. Media cetak (koran) a. Kelekatan. Berita apapun mengenai informasi pembangunan daerah dan kejadian menarik yang terjadi akan disampaikan melalui koran lokal. b. Media update. Setiap orang perlu informasi baru untuk mengetahui kejadian atau informasi apapun yang terbaru. 10. Lembar informasi a. Disain dan isi informatif, padat dan singkat sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang berpendidikan tinggi. b. Proses penyusunan. Rancangan media disusun dengan mendapatkan masukan dan diujicobakan kepada masyarakat lokal. c. Pengulangan pesan dan detail informasi dari media-media komunikasi yang lain. 11. Kemah konservasi/kemah pelajar a. Menghibur. Acara dirancang dalam bentuk permainan, jalan-jalan dan berbagai kegiatan yang menghibur. b. Media berinteraksi dengan hutan, dimana sebelumnya masyarakat yang terlibat dalam kegiatan hanya mengenal kawasan dari media komunikasi yang mereka dapatkan sebelumnya di sekolah atau kampus. Media komunikasi yang efektif untuk pendidikan konservasi adalah media komunikasi yang dirancang dengan melibatkan masyarakat (target audiens). Media komunikasi berdasarkan preferensi masyarakat memiliki hubungan psikologis, kelekatan serta menimbulkan rasa bangga dan memiliki masyarakat. Saat diimplementasikan media tersebut akan memiliki dampak yang lebih besar untuk mempengaruhi perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat terhadap konservasi.
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian mengenai desain media komunikasi untuk pendidikan konservasi berdasarkan preferensi masyarakat dan efeknya terhadap perubahan pengetahuan,
BAB IV METODE PENELITIAN
31 BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Metode Penentuan Lokasi Metode yang digunakan dalam penentuan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive sampling) difokuskan pada kawasan yang berada di hulu sungai dan
IV. METODE PENELITIAN
IV. METODE PENELITIAN 4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini terdiri dari 3 tahapan yaitu: 1. Tahap Perencanaan, yang dilaksanakan pada bulan September 2006 Februari 2007, dilaksanakan di Aceh
BAB III STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP IKLAN. 3.1 Strategi Promosi
BAB III STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP IKLAN 3.1 Strategi Promosi Pada perancangan promosi wisata edukasi Saung Angklung Udjo ini menggunakan strategi pendekatan pada konsumen yaitu dengan suatu pendekatan
CAKUPAN IMUNISASI. Pekan Imunisasi Sedunia. Bersama WUJUDKAN. yang tinggi dan merata." Panduan April 2015 KEMENTERIAN KESEHATAN RI
KEMENTERIAN KESEHATAN RI Panduan Pekan Imunisasi Sedunia 24-30 April 2015 Bersama WUJUDKAN CAKUPAN IMUNISASI yang tinggi dan merata." "bersama wujudkan cakupan Imunisasi yang tinggi dan merata." -1 World
PROFIL TOKOH. Berikut adalah hasil wawancara tim redaksi :
PROFIL TOKOH Ully Sigar Rusady merupakan salah satu tokoh yang peduli terhadap permasalahan lingkungan hidup. Ully Sigar Rusady lahir di Garut pada tanggal 4 Januari 1952. Pekerjaan dan pengalaman Ully
STUDI EVALUASI PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (TNBT) KABUPATEN INDRAGIRI HULU - RIAU TUGAS AKHIR
STUDI EVALUASI PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (TNBT) KABUPATEN INDRAGIRI HULU - RIAU TUGAS AKHIR Oleh: HERIASMAN L2D300363 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK
BAB III STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP PERANCANGAN
BAB III STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP PERANCANGAN 3.1 Strategi Komunikasi Komunikasi massa menurut Jay Black dan Frederick O Whitney (1988) dalam I Putu Suwarbawa (2009), bahasa komunikasi massa adalah
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan Indonesia adalah Negara dengan keanekaragaman hayati yang sangat banyak. Salah satunya adalah keanekaragaman jenis satwanya. Dari sekian banyak keanekaragaman
Malam Rare Pride. pada Lokakarya Fish Forever Bali, Oktober Mengenal lebih jauh Program Pride di Indonesia
Malam Rare Pride. Persembahan kisah lapangan yang menghibur pada malam pertama Lokakarya Fish Forever di Bali, 22 Oktober 2012. Perayaan keberhasilan Angkatan Bogor 4 yang telah berhasil menyelesaikan
STRATEGI TINDAK LANJUT
VII. STRATEGI TINDAK LANJUT Pendahuluan Kampanye tahap pertama yang dilakukan di Kompleks hutan rawa gambut Sungai Putri baru saja berakhir Juli 2010 lalu. Beberapa capaian yang dicatat dari kampaye tersebut:
BAB III STRATEGI & KONSEP VISUAL. Tujuan komunikasi untuk merancang media promosi event BIG MEET
48 BAB III STRATEGI & KONSEP VISUAL 3.1 Tujuan Komunikasi Tujuan komunikasi untuk merancang media promosi event BIG MEET UP Fingerboard Contest sangatlah penting, sebagai pembenahan dari rancangan media
Rencana Aksi Rencana Pemantauan Risiko Kunci. Mitra Ukuran Metode Target Frekuen si BBTNGL, FFI, UNESCO, KSM Lokal
19.0 TEORI PERUBAHAN H. Teori Perubahan Penjelasan Mengenai Teori Perubahan (maksimum 175 kata) Untuk menghentikan kawasan hutan dan memelihara area hutan Taman Nasional Gunung Leuser Wilayah SPTN VI Besita
H. Teori Perubahan 19.0 Teori Perubahan
Merupakan sesuatu yang kritis untuk memiliki ide yang jelas bagaimana kampanye Pride kita akan menciptakan yang bertahan lama untuk konservasi keanekaragaman hayati. Salah satu cara untuk melakukan hal
BAB IV PEMECAHAN MASALAH
BAB IV PEMECAHAN MASALAH 4.1 Konsep Umum Konsep dari media yang akan dibuat adalah membantu pengajar dalam memberikan pengajaran pada siswa dalam belajar pengetahuan desain. Media pembelajaran yang disebut
V. ULASAN KARYA PERANCANGAN. 1.Tahap sketsa. Gambar: 17 sketsa, sumber dokumentasi pribadi 27 maret 2014
V. ULASAN KARYA PERANCANGAN 1.Tahap sketsa Gambar: 17 sketsa, sumber dokumentasi pribadi 27 maret 2014 Gambar: 18 sketsa, sumber dokumentasi pribadi 27 maret 2014 40 Gambar 19 : sketsa, dokumentasi pribadi
BAB I PENDAHULUAN. Menurut Hubert Forestier dan Truman Simanjuntak (1998, Hlm. 77), Indonesia
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menurut Hubert Forestier dan Truman Simanjuntak (1998, Hlm. 77), Indonesia merupakan Negara yang beriklim tropis yang merupakan keunggulan tersendiri dari Negara ini
V. ULASAN KARYA PAMERAN
V. ULASAN KARYA PAMERAN Sinopsis Pembuatan Kampanye sosialisasi hutan bakau dalam motion grafis adalah sebuah kampanye sosialisasi yang menggunakan teknik video motion grafis sebagai media kampanye sosialisasi.
BAB III STRATEGI & KONSEP VISUAL. nantinya disampaikan melalui media poster. Perancangan yang lebih
BAB III STRATEGI & KONSEP VISUAL 3.1 Strategi Perancangan Strategi perancangan akan dibuat penulis melalui beberapa tahapan yang nantinya disampaikan melalui media poster. Perancangan yang lebih mengutamakan
mendorong menemukan pasar untuk produk yang sudah ada dan mendukung spesies-spesies lokal yang menyimpan potensi ekonomi (Arifin et al. 2003).
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Habitat hutan pegunungan sangat rentan terhadap gangguan, terutama yang berasal dari kegiatan pengelolaan yang dilakukan manusia seperti pengambilan hasil hutan berupa
PENDAHULUAN. peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan sosial, pembangunan dan
PENDAHULUAN Latar Belakang Hutan sebagai bagian dari sumber daya alam nasional memiliki arti dan peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan sosial, pembangunan dan lingkungan hidup. Hutan memiliki
Kampanye antisipasi global warming melalui desain komunikasi visual bagi anak usia sekolah BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
Kampanye antisipasi global warming melalui desain komunikasi visual bagi anak usia sekolah Oleh : Natalia Tri Maharani C0704021 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perubahan iklim yang terjadi
BAB 5 PEMBAHASAN DESAIN
BAB 5 PEMBAHASAN DESAIN 5.1 Strategi Kampanye Di dalam kampanye Preventive Dentistry" ini, desainer memutuskan untuk memfokuskan diri pada aktivitas menyikat gigi yang menyenangkan sebagai tema atau pesan
17.0 PESAN KAMPANYE Strategi pembuatan pesan Pesan-pesan Inti dan Slogan-slogan. G. Strategi Kampanye
17.0 PESAN KAMPANYE 17.1 Strategi pembuatan pesan Strategi pembuatan pesan bagi petani dan masyarakat akan membantu memandu semua pesan yang dirancang agar dapat mencapai sasaran kampanye kami. Strategi-strategi
PEMERINTAH KABUPATEN CIANJUR KECAMATAN CIDAUN DESA NEGLASARI Jl. Negla No. Neglasari Cidaun 43275
PEMERINTAH KABUPATEN CIANJUR KECAMATAN CIDAUN DESA NEGLASARI Jl. Negla No. Neglasari Cidaun 43275 PERATURAN DESA NEGLASARI NOMOR : 04/Perdes-NS/IV/2003 Tentang PERAN SERTA MASYARAKAT DESA DALAM MENJAGA
II METODE PERANCANGAN A. Orisinalitas Karya kampanye anti narkoba sudah ada sebelumnya, bahkan sudah banyak yang memproduksinya. Beberapa karya kampanye anti narkoba bisa dilihat melalui situs website
BAB III STRATEGI DAN KONSEP VISUAL
38 BAB III STRATEGI DAN KONSEP VISUAL 3.1 Tujuan Komunikasi Dalam perancangan ini penulis mempunyai tujuan membuat sebuah karya berupa buku sebagai media sosialisasi pelestarian dan penyelamatan Orangutan,
LOMBA LOGO & MASKOT dan LOMBA JINGLE INTERNET SEHAT DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMASI
TOR LOMBA LOGO & MASKOT dan LOMBA JINGLE INTERNET SEHAT DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMASI TAHUN 2009 Disiapkan oleh : POKJA PUBLIKASI & SOSIALISASI INTERNET SEHAT I. PENDAHULUAN 1.1. Umum 1. Pada tahun
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kawasan konservasi merupakan suatu kawasan yang dikelola dan dilindungi dalam rangka pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan. Penetapan status sebuah kawasan menjadi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan musik industri diawali oleh lahirnya musik classic, dan setelah itu muncullah kecenderungan musik kontemporer, yang di dalamnya terdapat musik
1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Indonesia memiliki garis pantai terpanjang keempat di dunia, yakni tercatat sekitar 95.181 km. Panjang garis pantai tersebut menyimpan hutan bakau yang luas dan rindang.
BAB I PENDAHULUAN. belum ter-eksplorasi, karena minimnya informasi mengenai budaya tersebut.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Budaya Indonesia sangat beragam sesuai slogannya yaitu Bhinneka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetapi satu jua. Namun banyaknya budaya Indonesia belum
BAB III STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP VISUAL
BAB III STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP VISUAL 3.1 Strategi Komunikasi. Konsep jenis kegiatan kampanye yang digunakan yaitu Ideologically or cause oriented campaigns, adalah jenis kampanye yang berorientasi
PERAN SERTA MASYARAKAT DESA DALAM MENJAGA DAN MEMELIHARA HUTAN
PEMERINTAH KABUPATEN CIANJUR KECAMATAN CIDAUN DESA CIBULUH Jl. Lurah Bintang No. 129 Cibuluh, Cidaun, Cianjur 43275 PERATURAN DESA CIBULUH NOMOR : 01/Perdes-cb/IV/2003 Tentang PERAN SERTA MASYARAKAT DESA
BAB I PENDAHULUAN. animasi 2,5 dimensi bergenre drama tentang tentang berkurangnya populasi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tujuan yang ingin dicapai dalam Tugas Akhir ini adalah membuat film animasi 2,5 dimensi bergenre drama tentang tentang berkurangnya populasi hewan akibat penebangan
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, diperoleh kesimpulan
118 BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1. Objek wisata Curug Orok yang terletak di Desa Cikandang Kecamatan
BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1 Hewan primata penghuni hutan tropis
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Primata adalah salah satu bagian dari golongan mamalia (hewan menyusui) dalam kingdom animalia (dunia hewan). Primata muncul dari nenek moyang yang hidup di pohon-pohon
Seorang diri, Sadiman memerdekakan desanya dari kekeringan
Rappler.com Seorang diri, Sadiman memerdekakan desanya dari kekeringan Ari Susanto Published 12:00 PM, August 23, 2015 Updated 4:48 AM, Aug 24, 2015 Selama 20 tahun, Sadiman mengeluarkan uangnya sendiri
BAB IV A. HASIL KERJA PRAKTIK 1. Peranan Praktikan Dalam proses kerja praktik yang berlangsung, posisi yang dipercayakan terhadap praktikan meliputi beberapa bagian divisi pekerjaan yang meliputi divisi
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia memiliki beraneka ragam suku budaya dan kebudayaan sangat erat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki beraneka ragam suku budaya dan kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Sayangnya seiring dengan kemajuan teknologi pada jaman sekarang,
BAB 1 PENDAHULUAN. dari aspek pariwisata, Kebun Binatang Ragunan belum memiliki kelas yang berkualitas.
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu objek wisata di Jakarta yang banyak mendapat perhatian pengunjung adalah Kebun Binatang Ragunan. Kebun Binatang Ragunan didirikan pada tahun 1864 di Cikini
Jenis media yang akan diproduksi :
BAB IV TEKNIS PRODUKSI MEDIA 4.1 Teknis Media Dalam proses produksi media melakukan melalui beberapa tahap yaitu : a) Tahap sketsa awal Sketsa awal adalah proses untuk mencari bentuk elemen visual kampanye
D. KEGIATAN-KEGIATAN KAMPANYE
D. KEGIATAN-KEGIATAN KAMPANYE Pembuatan pesan kampanye tidak hanya terkait dengan Teori Perubahan, tapi juga berbagai sasaran SMART yang telah ditetapkan dalam rencana proyek awal, dan dalam kerangka waktu
BAB 4 KONSEP. 4.1 Landasan Teori Teori Psikologi Anak. Psikologis anak dan orang dewasa tentu berbeda, oleh karena itu
14 BAB 4 KONSEP 4.1 Landasan Teori 4.1.1 Teori Psikologi Anak Psikologis anak dan orang dewasa tentu berbeda, oleh karena itu pada buku yang berjudul Perkembangan Anak karangan Elizabeth B. Hurlock menjelaskan,
I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Sumber daya alam merupakan titipan Tuhan untuk dimanfaatkan sebaikbaiknya
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumber daya alam merupakan titipan Tuhan untuk dimanfaatkan sebaikbaiknya bagi kesejahteraan manusia. Keberadaan sumber daya alam dan manusia memiliki kaitan yang sangat
: Coreldraw 12, Adobe Photoshop CS. : Glossy paper 120gr. : Foto Pasar Wisata Tawangmangu, foto obyek. wisata sekitar
Visualisasi 3. Poster : Coreldraw 12, Adobe Photoshop CS : A3(29,7 x 42 cm) c. Format : Potrait d. Bahan : Glossy paper 120gr e. Identitas : Logo, Byline, bodycopy f. Ilustrasi : Foto Pasar Wisata Tawangmangu,
BAB IV PEMECAHAN MASALAH
BAB IV PEMECAHAN MASALAH 4.1 Konsep Komunikasi Berdasarkan data dan fakta yang telah didapat, kaum muda Indonesia khususnya di daerah Jawa Barat belum sepenuhnya menerima keragaman etnis yang ada. Untuk
BAB III KONSEP PERANCANGAN
43 BAB III KONSEP PERANCANGAN 3.1 Tujuan Komunikasi Tujuan komunikasi perancangan buku bergambar sebagai media kampanye pelestarian dan stop eksploitasi lumba-lumba ini adalah untuk mengkomunikasikan suatu
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Orisinalitas (State of the Art)
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Semakin berkurangnya sabuk hijau (green belt) di Indonesia terutama didaerah Jakarta, disebabkan oleh gelombang air laut yang langsung mengenai daratan sehingga mengakibatkan
BAB IV TEKNIS PRODUKSI MEDIA
61 BAB IV TEKNIS PRODUKSI MEDIA 4.1 Teknis Produksi Media Utama Pada perancangan iklan layanan masyarakat ini media utama dalam penyebaran pesan yaitu media elektronik yang berupa televisi. Semua media
BAB I PENDAHULUAN. Provinsi Riau terdiri dari etnik - etnik yang memiliki kesenian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Provinsi Riau terdiri dari etnik - etnik yang memiliki kesenian yang sangat beragam. Salah satu diantaranya adalah Kabupaten Kuantan Singingi. Kabupaten ini
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. terjadi dalam lingkungan kesehatan dunia, termasuk di Indonesia. Tobacco
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perilaku merokok merupakan salah satu masalah kesehatan kompleks yang terjadi dalam lingkungan kesehatan dunia, termasuk di Indonesia. Tobacco Control Support Center
BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sumberdaya alam seperti air, udara, lahan, minyak, ikan, hutan dan lain - lain merupakan sumberdaya yang esensial bagi kelangsungan hidup manusia. Penurunan
BAB I PENDAHULUAN. Hutan Indonesia dikenal memiliki keanekaragaman sumber daya hayati yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hutan Indonesia dikenal memiliki keanekaragaman sumber daya hayati yang sangat tinggi, sehingga memiliki peranan yang baik ditinjau dari aspek ekonomi, sosial
BAB III STRATEGI & KONSEP VISUAL
BAB III STRATEGI & KONSEP VISUAL 3.1 Strategi Perencangan 3.1.1 Strategi Komunikasi Secara umum komunikasi berarti penyampaian pesan atau informasi, pernyataan yang dilakukan oleh seorang (komunikator)
BAB V PENGANTAR KARYA
BAB V PENGANTAR KARYA A. Media Utama 1. Visualisasi Karakter a. Rama Rama adalah seorang siswa SD yang ceria dan memiliki sifat ingin tahu yang besar. Rama digambarkan dengan visualisasi anak laki-laki
QANUN MUKIM PALOH NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENGUASAAN DAN PENGELOLAAN HUTAN ADAT MUKIM BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA
QANUN MUKIM PALOH NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENGUASAAN DAN PENGELOLAAN HUTAN ADAT MUKIM BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA IMUEM MUKIM PALOH, Menimbang: a. Bahwa hutan adat mukim
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia dikenal memiliki potensi sumberdaya alam yang tinggi dan hal itu telah diakui oleh negara-negara lain di dunia, terutama tentang potensi keanekaragaman hayati
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN DESAIN
30 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN DESAIN 5.1 Logo Event Gambar 5.1 Logo Event Logo event Petualanganku di Istana Susu memakai bentuk yang berwujud susu dan kaleng susu yang biasa dipakai untuk menaruh susu
BAB IV IMPLEMENTASI KARYA. Indonesia untuk anak sekolah dasar. Selanjutnya proses metode dan proses
BAB IV IMPLEMENTASI KARYA Seperti yang telah dijelaskan pada Bab I bagian rumusan masalah, bahwa Tugas Akhir ini akan membuat sebuah CD pembelajaran pengenalan budaya Indonesia untuk anak sekolah dasar.
BAB IV KONSEP PERANCANGAN
BAB IV KONSEP PERANCANGAN Pembuatan suatu produk yang baik tidak terlepas dari konsep yang diusung designer dalam perancangannya. Konsep memberikan nilai guna lebih untuk suatu produk. Karena dengan adanya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu sumberdaya alam yang banyak dimiliki di Indonesia adalah hutan. Pembukaan hutan di Indonesia merupakan isu lingkungan yang populer selama dasawarsa terakhir
BAB IV ANALISIS PROSES SIARAN DAKWAH DI RRI (RADIO REPUBLIK INDONESIA) PRO 2 SEMARANG
74 BAB IV ANALISIS PROSES SIARAN DAKWAH DI RRI (RADIO REPUBLIK INDONESIA) PRO 2 SEMARANG 4.1. Analisis Proses Siaran Dakwah Pada Program Acara Zona Religi di RRI (Radio Republik Indonesia) Pro 2 Semarang.
BAB III STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP VISUAL. dengan buku panduan ini, sebagai salah satu dari media komunikasi visual buku
BAB III STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP VISUAL 3.1 Tujuan Komunikasi Berbagai cara dapat dilakukan untuk membuat suatu informasi atau pesan bisa dengan mudah disampaikan tentunya secara efektif dan menarik.
I. Latar Belakang. Panduan Pelaksanaan
I. Latar Belakang Panduan Pelaksanaan Indonesia merupakan rumah bagi hutan hujan tropis ketiga terbesar di dunia. Dengan hanya 1% dari luas daratan bumi, hutan hujan kita mengandung 10% dari spesies tanaman
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ludruk merupakan seni kesenian tradisional khas daerah Jawa Timur. Ludruk digolongkan sebagai kesenian rakyat setengah lisan yang diekspresikan dalam bentuk gerak dan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. penelitian dan siklus PTK sebagai berikut : Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor. Untuk pelajaran IPA sebagai
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Setting dalam penelitian ini meliputi 3 : langkah penelitian, waktu penelitian dan siklus PTK sebagai berikut : 1. Tempat penelitian Penelitian Tindakan
I. PENDAHULUAN. tinggi adalah Taman Hutan Raya Wan Abdurahman. (Tahura WAR), merupakan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu kawasan hutan hujan tropis dengan tingkat keanekaragaman yang tinggi adalah Taman Hutan Raya Wan Abdurahman. (Tahura WAR), merupakan kawasan pelestarian alam
LEMBAR INFORMASI JARINGAN MASYARAKAT HUTAN KORIDOR GUNUNG SALAK-HALIMUN
1 LEMBAR INFORMASI JARINGAN MASYARAKAT HUTAN KORIDOR GUNUNG SALAK-HALIMUN SEKARANG KITA BERSAMA!!!! LANGKAH AWAL UNTUK PENGELOLAAN HUTAN KORIDOR SALAK-HALIMUN YANG ADIL, SEJAHTERA, DAN LESTARI Apa itu
STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP VISUAL
BAB III STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP VISUAL III.1 Strategi Perancangan Strategi adalah siasat yang direncanakan dengan sebaik mungkin sehingga dalam sebuah pembuatan sesuatu akan berjalan dengan baik
BAB I PENDAHULUAN. metal yaitu Seringai sebagai bahan untuk penelitian. Kebanyakan lirik pada
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Peneliti mengambil lirik lagu dari sebuah grup band yang beraliran rock / metal yaitu Seringai sebagai bahan untuk penelitian. Kebanyakan lirik pada Seringai
LAPORAN PERKEMBANGAN BROP KEBUN ENERGI
LAPORAN PERKEMBANGAN BROP KEBUN ENERGI Istiyarto Ismu Manager Kampanye Bali Barat Pengantar Strategi penyingkir halangan yang diterapkan oleh Yayasan Seka dalam rangka penyelamatan habitat Jalak Bali (Leucopsar
BAB IV HASIL KERJA PRAKTIK
BAB IV HASIL KERJA PRAKTIK 4.1 Peranan Praktikan Dalam proses kerja praktik yang berlangsung, posisi yang dipercayakan terhadap praktikan meliputi beberapa bagian divisi pekerjaan yang meliputi divisi
BAB I PENDAHULUAN. Menurut FAO (2007) Indonesia memiliki kawasan mangrove yang terluas
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Menurut FAO (2007) Indonesia memiliki kawasan mangrove yang terluas di dunia sekitar 19% dari total hutan mangrove dunia, dan terluas se-asia Tenggara sekitar 49%
KERANGKA DAN STRATEGI PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG DALAM PROGRAM KARBON HUTAN BERAU (PKHB)
KERANGKA DAN STRATEGI PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG DALAM PROGRAM KARBON HUTAN BERAU (PKHB) Menimbang berbagai faktor utama yang menghambat pengelolaan hutan lindung secara efektif, maka pengelolaan hutan
Lampiran 1. Peraturan Pendakian
93 Lampiran 1. Peraturan Pendakian 1. Semua pengunjung wajib membayar tiket masuk taman dan asuransi. Para wisatawan dapat membelinya di ke empat pintu masuk. Ijin khusus diberlakukan bagi pendaki gunung
THE BORNEO ORANGUTAN SURVIVAL FOUNDATION. Penggalangan dana untuk orangutan
THE BORNEO ORANGUTAN SURVIVAL FOUNDATION Penggalangan dana untuk orangutan Kenapa saya harus membantu orangutan? Orangutan merupakan satwa terancam punah yang hanya hidup di dua pulau, Sumatera dan Kalimantan.
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN DESAIN. Logo Festival Mendongeng Nusantara berupa ilustrasi seekor naga yang sedang
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN DESAIN 1. Logo Logo Festival Mendongeng Nusantara berupa ilustrasi seekor naga yang sedang membacakan dongeng kepada dua anak yang duduk di dalam gelungan tubuhnya. Konsepnya
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. kabupaten yang salah satu dari 14 Desa Kelurahan pada awalnya merupakan
29 BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Sejarah Desa Teluk Mesjid Desa Teluk Mesjid adalah suatu wilayah di kecamatan Sungai Apit kabupaten yang salah satu dari 14 Desa Kelurahan pada awalnya merupakan
BAB IV PEMECAHAN MASALAH
BAB IV PEMECAHAN MASALAH 4.1 Konsep Komunikasi Konsep komunikasi yang akan digunakan dalam perancangan coffee table book tentang kesenian Lais yang berasal dari Kampung Sayang, Desa Cisayad, Kabupaten
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 1998 TENTANG KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 1998 TENTANG KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian
BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN DESAIN
36 BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN DESAIN 5.1. Logo ( Tanda Pengenal Kampanye) Gambar 5. 1 Logo Visual : 3 sequence gerakan yang mewakili permainan tradisional yang berguna mengembangkan motorik seorang anak,
BAB IV STATEGI KREATIF
BAB IV STATEGI KREATIF IV.1 Konsep Verbal IV.1.1 Konsep Logo Konsep dari logo kampanye ini adalah visualisasi orang tua yang merangkul anaknya yang melambangkan suatu kedekatan, dengan perbedaan bentuk
BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan buku Ensiklopedi Jakarta Culture and Heritage (Pemerintah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Berdasarkan buku Ensiklopedi Jakarta Culture and Heritage (Pemerintah Provinsi Daerah Ibukota Jakarta Dinas Kebudayaan dan Permusiuman, 2005:335), kesenian Topeng
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Mecintai dan menjaga bumi atau alam merupakan ajakan yang tidak pernah bosan disuarakan kepada manusia di seluruh dunia. Earth day merupakan gerakan untuk mencintai
BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN DESAIN
56 BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN DESAIN 5.1 Logo logo STMJ Penggunaan mimimal ukuran logo adalah 2 cm x 2 cm. Gambar anak anak muda mengartikan semangat anak muda yang ingin turut serta berpartisipasi terhadap
BAB III STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP VISUAL
BAB III STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP VISUAL III.1 Strategi Perancangan Strategi perancangan yang akan dibuat adalah mengenai tentang media informasi yang berhubungan dengan masalah yang dibahas sebelumnya
Kuesioner Penelitian
96 LAMPIRAN 97 Lampiran : Kuesioner Penelitian Kuesioner Penelitian Tanggal : No. Responden Selamat pagi / siang, Ibu-ibu. Saya Wiwien Wirasati mahasiswa Program Pasca Sarjana IPB yang sedang melakukan
