Modul 5 PERKEMBANGAN JIWA AGAMA MASA ANAK-ANAK
|
|
|
- Yohanes Santoso
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Perkembangan Jiwa Agama Masa Anak-anak Modul 5 PERKEMBANGAN JIWA AGAMA MASA ANAK-ANAK PENDAHULUAN Psikologi Agama pada jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) disajikan untuk membantu mahasiswa memahami perkembangan jiwa keagamaan manusia mulai dari masa kanak-kanak sampai lanjut usia, dimana perkembangan jiwa keagamaan tersebut dipengaruhi oleh dinamika kejiwaan. Hal ini penting untuk diketahui karena mahasiswa PAI disiapkan untuk menjadi guru agama yang bukan hanya bertugas untuk memahamkan materi pelajaraan keagamaan, namun tugas yang lebih berat adalah membentuk jiwa keagamaan anak didiknya agar menjadi lebih baik. Pada modul 5 ini, mahasiswa akan diajak untuk memahami tentang Perkembangan jiwa agama pada masa anak-anak. Untuk membantu pemahaman tersebut, maka pada Modul 5 ini akan dibagi menjadi: Kegiatan Belajar 1 : Fitrah beragama pada anak Kegiatan Belajar 2 : Perkembangan jiwa anak Kegiatan Belajar 3 : Perkembangan jiwa agama pada anak Setelah mempelajari Modul 5 ini, mahasiswa diharapkan dapat: 1. Menjelaskan tentang fitrah beragama pada anak 2. Menjelaskan tentang perkembangan jiwa anak 3. Menganalisis tentang perkembangan jiwa agama pada anak dan sifat-sifat agama pada anak. Untuk membantu mahasiswa dalam mempelajari modul 5 ini, ada baiknya diperhatikan petunjuk berikut ini: 1. Lakukan diskusi dengan teman 2. Baca dan pelajari sumber-sumber lain yang relevan 3. Kerjakan latihan yang disediakan. 45
2 Modul Psikologi Agama A. Pengantar Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata-kata orang yang ada dalam lingkungannya, yang pada awalnya diterima secara acuh. Tuhan bagi anak pada permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan tidak dikenalnya serta diragukan sifat kebaikannya. Tidak adanya perhatian terhadap Tuhan pada tahap pertama ini dikarenakan ia belum mempunyai pengalaman yang akan membawanya kesana, baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Namun, setelah ia menyaksikan reaksi orang-orang disekitarnya yang disertai oleh emosi atau perasaan tertentu yang makin lama makin meluas, maka mulailah perhatiannya terhadap kata Tuhan itu tumbuh. Perasaan seorang anak terhadap orangtuanya sebenarnya sangat kompleks. Ia merupakan campuran dari bermacam-macam emosi dan dorongan yang saling bertentangan. Menjelang usia 3 tahun, yaitu umur dimana hubungan dengan ibunya tidak lagi terbatas pada kebutuhan akan bantuan fisik, akan tetapi meningkat lagi pada hubungan emosi dimana ibu menjadi objek yang dicintai dan butuh akan kasih sayangnya, bahkan mengandung rasa permusuhan bercampur bangga, butuh, takut, dan cinta kepadanya secara sekaligus, maka anak mulai membuat konsep yang sangat sederhana tentang siapa Tuhan. Menurut Zakiah Darajat, sebelum usia 7 tahun perasaan anak terhadap Tuhan pada dasarnya negatif. Ia berusaha menerima pemikiran tentang kebesaran dan kemuliaan Tuhan. Sedangkan gambaran mereka tentang Tuhan sesuai dengan emosinya. Kepercayaan yang terus menerus tentang Tuhan, tempat dan bentuknya bukanlah karena rasa ingin tahunya, tetapi didorong oleh perasaan takut dan ingin rasa aman, kecuali jika orang tua anak mendidiknya supaya mengenal sifat Tuhan yang menyenangkan. Namun pada masa kedua (7 tahun keatas) perasaan anak terhadap Tuhan berganti positif (cinta dan hormat) dan hubungannya dipenuhi oleh rasa percaya dan merasa aman. Oleh karena itu pembinaan tentang kesadaran akan agama perlu ditanamkan pada anak sejak usia dini (sedini mungkin). 46
3 Perkembangan Jiwa Agama Masa Anak-anak B. Fitrah Beragama Anak Salah satu kelebihan manusia sebagai mahluk Allah SWT adalah dianugrahi fitrah (potensi) untuk mengenal dan mengabdikan dirinya dengan cara melaksanakan ajaran-ajaran-nya. Dalam bahasa lain, setiap manusia dikaruniai instink religious (naluri keagamaan) oleh Allah SWT. Fitrah keagamaan ini merupakan potensi (kemampuan dasar) yang mengandung kemungkinan untuk berkembang. Namun, kuantitas dan kualitas perkembangan keagamaan anak tergantung kepada proses pembinaan dan pendidikan dari orangtua dan guru yang diterimanya, pengaruh lingkungan, dan pengalaman kehidupan yang dilaluinya. Dorongan keberagamaan adalah bawaan manusia sejak lahir, namun apakah nantinya dorongan tersebut berkembang atau tidak sepenuhnya tergantung pada pembinaan nilai-nilai agama oleh kedua orang tuanya. Karena keluarga merupakan tempat pertama kali seorang anak mendapatkan pendidikan dasar, sedangkan sekolah adalah pelanjut dari pendidkkan yang telah ditanamkan di keluarga. Dalam hal ini, tampak peran yang sangat strategis dari keluarga dalam mengembangkan dan mengasah fitrah keberagamaan seorang anak. Fitrah beragama dalam diri setiap anak merupakan naluri yang menggerakkan hatinya untuk melakukan perbuatan suci yang diilhami oleh Tuhan Yang Maha Esa. Fitrah manusia mempunyai sifat suci yang dengan nalurinya tersebut ia secara terbuka menerima kehadiran Tuhan Yang Maha Suci. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam al-qur an surat Ar-Rum ayat 30 47
4 Modul Psikologi Agama Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, (tetaplah atas fitrah Allah) yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS. Ar-Ruum: 30) Fitrah Allah yang dimaksudkan dalam ayat diatas adalah ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama, yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu menjadi tidak wajar. Karena dia telah mengingkari nalurinya sendiri untuk mengenal dan meyakini adanya Allah SWT. Pengingkaran ini banyak disebabkan karena tuntutan kebutuhan duniawi manusia yang telah merusak dan mengalihkan keyakinan yang sudah tertanam dalam nalurinya, bahkan ada manusia yang berbalik arah dengan melakukan pengingkaran sama sekali terhadap keberadaan Tuhan (atheis). ulama, yaitu: Sedikitnya terdapat Sembilan makna fitrah yang dikemukakan oleh para 1. Fitrah berarti suci. Menurut al-auza i, fitrah berarti kesucian dalam jasmani dan rohani. Bila dikaitkan dengan potensi beragama, kesucian tersebut dalam arti kesucian manusia dari dosa waris atau dosa asal, sebagaimana pendapat Ismail Raji Al-Faruqi yang mengatakan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan suci, bersih, dapat menyusun drama kehidupannya, tidak perduli dengan lingkungan keluarga, masyarakat macam apapun tempat ia dilahirkan. 2. Fitrah berarti Islam. Abu Hurairah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan fitrah adalah agama. Pendapat ini berdasarkan hadits Nabi: Bukankah aku telah menceritakan kepadamu pada sesuatu yang Allah telah menceritakan kepadaku dalam kitab-nya bahwa Allah menciptakan Adam dan anak cucunya berpotensi menjadi orang-orang muslim. Berangkat dari pemahaman hadits tersebut, maka anak kecil yang meninggal dunia ia akan masuk surga. Karena ia dilahirkan dengan din al-islam, walaupun ia terlahir dari keluarga non muslim. 48
5 Perkembangan Jiwa Agama Masa Anak-anak 3. Fitrah berarti mengakui ke-esaan Allah SWT (tauhid). Manusia lahir dengan membawa konsep tauhid, atau paling tidak berkecenderungan untuk mengesakan Tuhannya dan berusaha terus mencari untuk mencapai ketauhidan tersebut. Jiwa tauhid adalah jiwa yang selaras dengan akal manusia. 4. Fitrah berarti murni (ikhlas). Manusia terlahir dengan membawa berbagai sifat, salah satu diantaranya adalah kemurnian (keikhlasan) dalam menjalankan suatu aktivitas. Makna demikian didasarkan kepada hadits Nabi: Tiga perkara yang menjadikan selamat, yaitu: ikhlas berupa fitrah Allah dimana manusia diciptakan dari-nya, shalat berupa agama dan taat berupa benteng penjagaan. 5. Fitrah berarti kondisi penciptaan manusia yang cenderung menerima kebenaran. 6. Fitrah dalam arti potensi dasar manusia sebagai alat untuk mengabdi dan ma rifatullah. 7. Fitrah dalam arti ketetapan atau kejadian asal manusia mengenai kebahagiaan dan kesesatannya. Manusia lahir dengan ketetapannya, apakah nanti ia akan menjadi orang bahagia atau menjadi orang yang sesat. 8. Fitrah dalam arti tabiat alami manusia. Manusia lahir dengan membawa tabiat (watak) yang berbeda-beda. Watak tersebut dapat berupa jiwa pada anak atau hati sanubari yang dapat mengantarkan untuk sampai pada ma rifatullah. 9. Fitrah dalam arti insting (gharizah) dan wahyu dari Allah (Al- Munazalah). Ibnu Taimiyah membagi fitrah dalam dua macam, yaitu: a. Fitrah al-munazalah, Fitrah luar yang masuk dalam diri manusia. Fitrah ini dalam bentuk petunjuk al-qur an dan sunnah yang digunakan sebagai kendali dan pembimbing bagi fitrah al- Gharizah. 49
6 Modul Psikologi Agama b. Fitrah al-gharizah. Fitrah ini inheren dalam diri manusia yang memiliki daya akal yang berguna untuk mengembangkan potensi dasarnya. C. Perkembangan Jiwa Anak Menurut Kohnstamm, tahap perkembangan kehidupan manusia dibagi menjadi lima periode, yaitu: 1. Umur 0-3 tahun, disebut periode vital atau periode menyusui 2. Umur 3-6 tahun, disebut periode estetis atau masa mencoba dan bermain. 3. Umur 6-12 tahun, disebut periode intelektual (masa sekolah) 4. Umur tahun, disebut periode sosial atau masa remaja 5. Umur 21 tahun keatas, disebut periode dewasa atau masa kematangan fisik dan psikis seseorang. Elizabeth Hurlock, merumuskan tahap perkembangan manusia secara lebih rinci sebagai berikut: 1. Masa prenatal, saat terjadinya konsepsi dalam rahim sampai lahir 2. Masa neonatal, saat lahir sampai akhir minggu kedua 3. Masa bayi, saat akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua 4. Masa kanak-kanak awal, umur 2-6 tahun 5. Masa kanak-kanak akhir, umur 6-10 tahun atau 11 tahun 6. Masa puberitas (pra adolescence), umur tahun 7. Masa remaja awal, umur tahun 8. Masa remaja akhir, umur tahun 9. Masa dewasa awal, umur tahun 10. Masa setengah baya, umur tahun 11. Masa tua, umur 60 tahun keatas. Sedangkan Johan Amos Comenius ( ) dalam bukunya Didactica Magna membagi masa perkembangan anak sebagai berikut: 1. Umur 0-6 tahun, disebut sebagai periode sekolah ibu 50
7 Perkembangan Jiwa Agama Masa Anak-anak 2. Umur 6-12 tahun, disebut sebagai periode sekolah bahasa ibu. Dalam hal ini Comenius lebih menitik beratkan pada aspek pengajaran dari proses pendidikan dan perkembangan anak. Tahun-tahun pertama (0-6 tahun) disebut sebagai periode sekolah ibu, karena hampir semua usaha bimbingan pendidikan (dengan segala perawatan dan pengasuhan) berlangsung ditengah-tengah keluarga. Dalam hal ini, aktivitas ibu sangat menentukan kelancaran proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Pada usia 6-12 tahun disebut periode sekolah bahasa ibu, karena pada periode ini anak baru mampu menghayati setiap pengalaman dengan pengertian bahasa sendiri (bahasa ibu). Bahasa ibu dipakai sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan orang lain. Yaitu untuk mendapatkan impresi dari luar, berupa pengaruh, sugesti, dan transmisi cultural dari orang dewasa di sekitarnya. D. Perkembangan Jiwa Agama Anak Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata-kata orang yang ada dalam lingkungannya, yang pada awalnya diterima secara acuh. Tuhan bagi anak pada permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan tidak dikenalnya serta diragukan sifat kebaikannya. Tidak adanya perhatian terhadap Tuhan pada tahap pertama ini dikarenakan ia belum mempunyai pengalaman yang akan membawanya kesana, baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Namun, setelah ia menyaksikan reaksi orang-orang disekitarnya yang disertai oleh emosi atau perasaan tertentu yang makin lama makin meluas, maka mulailah perhatiannya terhadap kata Tuhan itu tumbuh. Perasaan seorang anak terhadap orangtuanya sebenarnya sangat kompleks. Ia merupakan campuran dari bermacam-macam emosi dan dorongan yang saling bertentangan. Menjelang usia 3 tahun, yaitu umur dimana hubungan dengan ibunya tidak lagi terbatas pada kebutuhan akan bantuan fisik, akan tetapi meningkat lagi pada hubungan emosi dimana ibu menjadi objek yang dicintai dan butuh akan kasih sayangnya, bahkan mengandung rasa permusuhan 51
8 Modul Psikologi Agama bercampur bangga, butuh, takut, dan cinta kepadanya secara sekaligus, maka anak mulai membuat konsep yang sangat sederhana tentang siapa Tuhan. Menurut Zakiah Darajat, sebelum usia 7 tahun perasaan anak terhadap Tuhan pada dasarnya negatif. Ia berusaha menerima pemikiran tentang kebesaran dan kemuliaan Tuhan. Sedangkan gambaran mereka tentang Tuhan sesuai dengan emosinya. Kepercayaan yang terus menerus tentang Tuhan, tempat dan bentuknya bukanlah karena rasa ingin tahunya, tetapi didorong oleh perasaan takut dan ingin rasa aman, kecuali jika orangtua anak mendidiknya supaya mengenal sifat Tuhan yang menyenangkan. Namun pada masa kedua (7 tahun keatas) perasaan anak terhadap Tuhan berganti positif (cinta dan hormat) dan hubungannya dipenuhi oleh rasa percaya dan merasa aman. Adapun faktor-faktor yang dominan dalam perkembangan jiwa keagamaan anak yaitu: 1. Rasa ketergantungan Teori ini dikemukakan oleh Thomas dalam teori Faur Wishes. Menurutnya manusia dilahirkan ke dunia ini memiliki empat keinginan, yaitu: keinginan untuk perlindungan, keinginan akan pengalaman baru, keinginan untuk mendapat tanggapan, dan keinginan untuk dikenal. Berdasarkan kenyataan dan kerjasama dari keempat keinginan itu, maka bayi sejak dilahirkan hidup dalam ketergantungan. Melalui pengalamanpengalaman yang diterimanya dari lingkungannya kemudian terbentuklah rasa keagamaan pada anak. 2. Instink keagamaan Menurut Woodworth, bayi yang dilahirkan sudah memiliki beberapa instink. Diantaranya adalah instink keagamaan. Belum terlihatnya perilaku keagamaan pada diri anak karena beberapa fungsi kejiwaan yang menopang kematangan berfungsinya instink itu belum sempurna. Dengan demikian, isi, warna, dan corak perkembangan keberagamaan anak sangat dipengaruhi oleh keimanan, sikap, dan tingkah laku keagamaan 52
9 Perkembangan Jiwa Agama Masa Anak-anak orangtuanya. Keadaan jiwa orang tua sudah berpengaruh terhadap perkembangan jiwa anak sejak janin dalam kandungan. E. Perkembangan Agama Pada Anak Menurut Ernest Harm dalam bukunya Development of Religious on Children, perkembangan agama pada anak melalui tiga tahapan, yaitu: 1) The Fairy Tale Stage (tahap dongeng) Tahap ini dimulai pada anak berusia 3-6 tahun. Pada tahap ini pemahaman anak tentang konsep Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Hal ini dikarenakan pemahaman konsep ketuhanan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya, yang mana kehidupan masa ini masih banyak dipengaruhi oleh kehidupan fantasi hingga dalam menanggapi agama juga masih menggunakan konsep fantasi itu. 2) The Realistic Stage (tahap kenyataan) Tahap ini biasanya dimulai sejak anak masuk sekolah dasar. Pada masa ini ide ketuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan pada kenyataan (realistis). Konsep ini timbul melalui lembaga-lembaga keagamaan dan pengajaran agama dari orang dewasa lainnya. Ide pemahaman keagamaan pada masa ini atas dorongan emosional, hingga mereka bisa melahirkan konsep Tuhan yang formalis. Berdasarkan hal itu maka pada masa ini anak-anak tertarik dan senang pada lembaga keagamaan yang mereka lihat dan dikelola oleh orang dewasa dalam lingkungan mereka. 3) The Individual Stage (tahap individu) Pada tahap ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang paling tinggi sejalan dengan usianya, konsep ini terbagi atas tiga golongan, yaitu: a) Konsep ketuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil dari fantasi. Hal tersebut dipengaruhi faktor dari luar diri anak. 53
10 Modul Psikologi Agama b) Konsep ketuhanan yang lebih murni yang dinyatakan dalam pandangan yang bersifat personal (perorangan) c) Konsep ketuhanan yang bersifat humanistik. Agama telah menjadi etos humanis pada diri mereka dalam menghayati ajaran agama. Perubahan pada setiap tingkatan ini dipengaruhi oleh faktor interen, yaitu perkembangan usia dan faktor ekstern berupa faktor luar yang bersifat alamiah. Sebagai mahluk ciptaan Tuhan, sebenarnya potensi agama sudah ada pada diri manusia sejak ia dilahirkan. Potensi ini berupa dorongan kepada Sang Pencipta, atau dalam Islam disebut Hidayah al-diniyyah berupa benih-benih keberagamaan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Dengan adanya potensi ini, manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang beragama dan memiliki kesiapan untuk tunduk dan patuh kepada Tuhan. F. Sifat-sifat Agama Pada Anak Memahami konsep keagamaan pada anak, berarti memahami sifat keagamaan pada diri mereka. Sesuai dengan cirri yang mereka miliki, maka sifat keagamaan pada anak-anak tumbuh mengikuti pola ideas concept on outhority yaitu ide keagamaan pada anak hampir sepenuhnya autoritas, maksudnya faktor keagamaan pada diri mereka dipengaruhi oleh faktor dari luar diri mereka, baik faktor lingkungan maupun orang-orang dewasa disekitarnya. Ketaatan anak kepada ajaran agama merupakan kebiasaan yang menjadi milik mereka yang mereka pelajari dari orang tua dan guru mereka. Bagi mereka sangat mudah untuk menerima ajaran dari orang dewasa walaupun belum mereka sadari sepenuhnya manfaat ajaran tersebut. Oleh karena itu bentuk dan sifat agama pada diri anak dapat dibagi atas: 1. Unreflective (tidak mendalam) Kebenaran yang diterima anak tidak begitu mendalam sehingga cukup sekedarnya saja dan mereka cukup puas dengan keterangan yang kadang-kadang kurang masuk akal. Meskipun demikian pada beberapa 54
11 Perkembangan Jiwa Agama Masa Anak-anak anak, ada diantara mereka yang memiliki ketajaman pemikiran untuk menimbang pendapat yang mereka terima dari orang lain. 2. Egosentris Anak memiliki kesadaran akan dirinya sendiri sejak tahun pertama perkembangannya dan akan berkembang sejalan dengan pertambahan pengalamannya. Apabila kesadaran diri pada diri anak itu mulai berkembang, maka akan tumbuh rasa keraguan pada rasa egonya, semakin tumbuh maka akan semakin meningkat pula rasa egoisnya. Sehubungan dengan hal itu maka dalam masalah keagamaan anak telah menonjolkan kepentingan dirinya dan telah menuntut konsep keagamaan yang mereka pandang dari kesenangan pribadinya. 3. Antromorphis Pada umumnya konsep mengenai ketuhanan pada anak barasal dari hasil pengalamannya dikala ia berhubungan dengan orang lain. Tapi suatu kenyataan bahwa konsep ketuhanan mereka tampak jelas menggambarkan aspek-aspek kemanusiaan. Mulai konsep ini terbentuk dalam pikiran mereka dan mereka menganggap bahwa keberadaan Tuhan itu sama dengan manusia. 4. Verbalis dan Ritualis Dari realitas yang bias diamati, ternyata kehidupan agama pada anakanak sebagain besar tumbuh pada awalnya secara verbal (ucapan). Mereka menghafal secara verbal kalimat-kalimat keagamaan dan selain itu pula dari amaliah yang mereka laksanakan berdasarkan pengalaman menurut tuntunan yang diajarkan kepada mereka. 5. Imitatif Dalam hal menjalankan keagamaan yang dilakukan oleh anak-anak berdasarkan dari hasil meniru, yang mereka peroleh dari hasil melihat perbuatan di lingkungan, baik berupa pembiasaan ataupun pengajaran yang intensif. 55
12 Modul Psikologi Agama 6. Rasa Heran Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan yang terkahir pada anak. Berbeda dengan rasa kagum yang ada pada orang dewasa, rasa kagum pada anak belum bersifat kritis dan kreatif, karena mereka hanya kagum pada keindahan lahiriah saja. Hal ini merupakan langkah pertama dari pernyataan kebutuhan anak akan dorongan untuk mengenal sesuatu yang baru. Rasa kagum mereka dapat disalurkan melalui cerita-cerita yang menimbulkan rasa takjub. G. Pembinaan Agama Pada Anak Dalam pembinaan agama pada pribadi anak sangat diperlukan pembiasaan dan latihan-latihan yang cocok dan sesuai dengan fase perkembangan jiwanya. Karena latihan dan pembiasaan akan membentuk sikap tertentu pada anak, yang secara bertahap sikap tersebut akan bertambah jelas dan kuat dan akhirnya tidak akan tergoyahkan lagi, karena telah terintegrasi dalam kepribadiannya. Secara rinci, pembinaan agama pada anak yang sesuai dengan sifat keberagamaan anak dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan berikut: 1. Pembinaan agama dengan lebih menekankan pada pengalaman langsung, misalnya shalat berjamaah, zakat, sedekah, silaturahmi, atau kegiatan lainnya yang bisa diikuti anak. Kegiatan semacam ini dengan ditambahkan penjelasan sederhana, atau dengan cerita-cerita yang tidak membebani pikiran anak akan efektif dalam pengembangan jiwa keagamaan mereka. 2. Melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang disesuaikan dengan kesenangan anak, menyesuaikan dengan sifat keagamaan anak yang masih egosentris. Model pembinaan keagamaan tidak mengikuti kemauan orangtua atau guru, namun harus menyesuaikan dengan kondisi psikologis anak dengan banyak variasi agar anak tidak cepat bosan. Oleh karena itu, orangtua atau guru dituntut untuk kreativ dalam 56
13 Perkembangan Jiwa Agama Masa Anak-anak menggunakan metode pembinaan, dengan berganti-ganti model meskipun materi yang disampaikan sama. 3. Pengalaman keagamaan anak selain diperoleh dari orangtua, guru, atau teman-temannya, juga mereka peroleh dari lingkungan sekitarnya yang secara tidak langsung telah mengajarkan pola-pola hidup beragama. Oleh karena itu, anak sekali waktu bisa diajak untuk berbaur dengan lingkungan sekitarnya dalam melaksanakan kegiatan keagamaan, misalnya dalam kegiatan shalat tarawih, shalat jum at, kegiatan pengajian atau kegiatan sosial keagamaan yang lainnya. Hal ini mengingat sifat keagamaan anak yang masih anthromorphis agar anak semakin termotivasi untuk menirukan perilaku keagamaan masyarakat disekitarnya. 4. Pembinaan agama pada anak juga perlu dilakukan secara berulang-ulang melalui ucapan yang jelas serta tindakan secara langsung. Seperti mengajari anak shalat, maka lebih dahulu diajarkan tentang hafalan bacaan shalat secara berulang-ulang sehingga hafal sekaligus diiringi dengan tindakan shalat secara langsung dan akan lebih menarik jika dilakukan bersama-sama dengan teman-temannya. Setelah anak hafal bacaan shalat dan gerakannya, maka seiring bertambahnya usia, pengalaman, dan pengetahuannya baru dijelaskan tentang syarat, rukun serta hikmah shalat. Demikian juga pada materi-materi pembinaan agama lainnya. 5. Mengingat sifat agama anak masih imitative, pemberian contoh nyata dari orangtua, guru, dan masyarakat di lingkungan sekitarnya sangatlah penting. Untuk itu dalam proses pembinaan tersebut perilaku orangtua maupun guru harus benar-benar dapat dicontoh anak baik secara lisan maupun tindakan. 6. Melaui kunjungan langsung di pusat-pusat kegiatan keagamaan, misalnya kunjungan ke pesantren, panti asuhan, atau wisata religi. Selain itu audio 57
14 Modul Psikologi Agama visual juga bisa digunakan untuk menambah pengetahuan dan wawasan anak. Dengan demikian, penanaman agama pada anak dimulai dengan contoh tindakan secara langsung atau melalui kunjungan dan pembauran dengan masyarakat sekitarnya dalam kegiatan keagamaan akan dapat mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan anak. H. Rangkuman Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata-kata orang yang ada dalam lingkungannya, yang pada awalnya diterima secara acuh. Tuhan bagi anak pada permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan tidak dikenalnya serta diragukan sifat kebaikannya. Tidak adanya perhatian terhadap Tuhan pada tahap pertama ini dikarenakan ia belum mempunyai pengalaman yang akan membawanya kesana, baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Namun, setelah ia menyaksikan reaksi orang-orang disekitarnya yang disertai oleh emosi atau perasaan tertentu yang makin lama makin meluas, maka mulailah perhatiannya terhadap kata Tuhan itu tumbuh. Dalam pembinaan agama pada pribadi anak sangat diperlukan pembiasaan dan latihan-latihan yang cocok dan sesuai dengan fase perkembangan jiwanya. Karena latihan dan pembiasaan akan membentuk sikap tertentu pada anak, yang secara bertahap sikap tersebut akan bertambah jelas dan kuat dan akhirnya tidak akan tergoyahkan lagi, karena telah terintegrasi dalam kepribadiannya. I. Latihan 1 Jelaskan tentang fitrah manusia dan tuliskan dalil naqli yang menjelaskan tentang hal itu! 2 Jelaskan tentang tahapan-tahapan perkembangan jiwa agama pada anak, dan sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi? 3 Bagaimanakah cara mengembangkan jiwa agama pada anak-anak? 58
Modul 1 PENGERTIAN DAN MANFAAT PSIKOLOGI AGAMA
Pengertian dan manfaat Psikologi Agama Modul 1 PENGERTIAN DAN MANFAAT PSIKOLOGI AGAMA PENDAHULUAN Psikologi Agama pada jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) disajikan untuk membantu mahasiswa memahami perkembangan
BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah. Ia dan alam semesta terjadi
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk ciptaan Allah. Ia dan alam semesta terjadi bukan karena sendirinya, tetapi ciptaan Allah SWT. Allah menciptakan manusia untuk mengabdi
BAB I PENDAHULUAN. yang tepat agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal (Mansur,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan anak usia dini adalah suatu proses pembinaan tumbuh kembang anak usia lahir hingga enam tahun secara menyeluruh, yang mencakup aspek fisik dan
PERKEMBANGAN KEAGAMAAN PADA ANAK USIA DINI
276 At-Ta lim, Vol. 11, No. 2, Juli 2012 PERKEMBANGAN KEAGAMAAN PADA ANAK USIA DINI Erwin Suryaningrat Abstract; Guiding early children by educating religious is very important because some theories said
BAB I PENDAHULUAN. Mempelajari pendidikan Islam sangat penting bagi kehidupan setiap. muslim karena pendidikan merupakan suatu usaha yang membentuk
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mempelajari pendidikan Islam sangat penting bagi kehidupan setiap muslim karena pendidikan merupakan suatu usaha yang membentuk pribadi manusia menuju yang
Modul 7 PERKEMBANGAN JIWA AGAMA PADA USIA DEWASA
Perkembangan Jiwa Agama Pada Usia Dewasa Modul 7 PERKEMBANGAN JIWA AGAMA PADA USIA DEWASA PENDAHULUAN Psikologi Agama pada jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) disajikan untuk membantu mahasiswa memahami
Periodisasi Perkembangan Peserta Didik
Periodisasi Perkembangan Peserta Didik Afid Burhanuddin Kompetensi Dasar Mahasiswa mampu menjelaskan tentang periodisasi perkembangan peserta didik Indikator Mahasiswa mampu menjelaskan periodisasi perkembangan
BAB I PENDAHULUAN. yang juga memiliki kedudukan yang sangat penting. Akhlak merupakan buah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Akhlak merupakan salah satu dari tiga kerangka dasar ajaran Islam yang juga memiliki kedudukan yang sangat penting. Akhlak merupakan buah yang dihasilkan dari
BAB IV ANALISIS POLA BIMBINGAN AGAMA ISLAM ANAK KARYAWAN PT. PISMATEX DI DESA SAPUGARUT
BAB IV ANALISIS POLA BIMBINGAN AGAMA ISLAM ANAK KARYAWAN PT. PISMATEX DI DESA SAPUGARUT Pada bab ini, peneliti akan menganalisis kegiatan bimbingan agama Islam anak karyawan PT. Pismatex di desa Sapugarut
BAB IV ANALISIS UPAYA GURU PAI DALAM MEMBINA MORAL SISWA SMP NEGERI 1 KANDEMAN BATANG
BAB IV ANALISIS UPAYA GURU PAI DALAM MEMBINA MORAL SISWA SMP NEGERI 1 KANDEMAN BATANG A. Analisis tentang Upaya Guru PAI dalam Membina Moral Siswa SMP Negeri 1 Kandeman Batang Sekolah adalah lingkungan
PEMBINAAN PERKEMBANGAN KEBERAGAMAAN ANAK USIA DINI
PEMBINAAN PERKEMBANGAN KEBERAGAMAAN ANAK USIA DINI Oleh: Asnelly Ilyas* Abstract Among potentials that children have as they were born, religious potential is one that needs to be developed in line with
A. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI SDLB TUNADAKSA
- 1217 - A. KOMPETENSI INTI DAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI SDLB TUNADAKSA KELAS: I Kompetensi Sikap Spiritual, Kompetensi Sikap Sosial, Kompetensi Pengetahuan, dan Kompetensi Keterampilan
BAB I PENDAHULUAN. Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata Latin (adolescence)
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata Latin (adolescence) yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Dalam perkembangan kepribadian seseorang
BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa yang penting dalam kehidupan seseorang,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan masa yang penting dalam kehidupan seseorang, karena pada masa ini remaja mengalami perkembangan fisik yang cepat dan perkembangan psikis
BAB I PENDAHULUAN. Anak adalah manusia kecil yang memiliki potensi yang harus. dikembangkan sejak dini agar dapat berkembang secara optimal.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak adalah manusia kecil yang memiliki potensi yang harus dikembangkan sejak dini agar dapat berkembang secara optimal. Anak memiliki karakteristik yang khas dan tidak
BAB I PENDAHULUAN. yakni tingginya angka korupsi, semakin bertambahnya jumlah pemakai narkoba,
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini bukan hanya mengenai ekonomi, keamanan dan kesehatan, tetapi juga menurunnya kualitas sumber daya
BAB II HUBUNGAN SOSIAL KELOMPOK USIA 5-6 TAHUN DAN SENTRA IMAN DAN TAQWA. A. Perkembangan hubungan sosial kelompok usia 5-6 tahun
BAB II HUBUNGAN SOSIAL KELOMPOK USIA 5-6 TAHUN DAN SENTRA IMAN DAN TAQWA A. Perkembangan hubungan sosial kelompok usia 5-6 tahun 1. Pengertian hubungan sosial kelompok usia 5-6 tahun Perilaku sosial merupakan
BAB I PENDAHULUAN. pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan suatu bentuk kegiatan manusia dalam kehidupan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia dalam kehidupannya, yaitu manusia yang beriman
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Manusia merupakan makhluk sosial yang senantiasa saling
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia merupakan makhluk sosial yang senantiasa saling memerlukan adanya bantuan dari orang lain dalam memenuhi kebutuhannya. Manusia dituntut untuk saling
Modul 3 OBYEK DAN METODE PENELITIAN PSIKOLOGI AGAMA
Obyek dan Metode Penelitian Psikologi Agama Modul 3 OBYEK DAN METODE PENELITIAN PSIKOLOGI AGAMA PENDAHULUAN Psikologi Agama pada jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) disajikan untuk membantu mahasiswa
KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKOLAH DASAR
KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKOLAH DASAR KELAS I 1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya 2. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri
BAB IV ANALISIS BIMBINGAN DAN KONSELING DENGAN MODEL PENDEKATAN ISLAMI DALAM PENANGANAN STUDENT DELINQUENCY KELAS VIII SMP N 04 CEPIRING KENDAL
71 BAB IV ANALISIS BIMBINGAN DAN KONSELING DENGAN MODEL PENDEKATAN ISLAMI DALAM PENANGANAN STUDENT DELINQUENCY KELAS VIII SMP N 04 CEPIRING KENDAL Sekolah merupakan institusi yang bertanggung jawab terhadap
Modul 6 PERKEMBANGAN JIWA AGAMA PADA MASA REMAJA
Perkembangan Jiwa Agama Pada Masa Remaja Modul 6 PERKEMBANGAN JIWA AGAMA PADA MASA REMAJA PENDAHULUAN Psikologi Agama pada jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) disajikan untuk membantu mahasiswa memahami
KELUARGA ADALAH MINIATUR PERILAKU BUDAYA. Mata Kuliah : Ilmu Budaya Dasar Dosen : Muhammad Burhan Amin
KELUARGA ADALAH MINIATUR PERILAKU BUDAYA Mata Kuliah : Ilmu Budaya Dasar Dosen : Muhammad Burhan Amin i Topik Makalah Keluarga Adalah Miniatur Perilaku Budaya Kelas : 1-ID08 Tanggal Penyerahan Makalah
2010), hlm. 57. Khayyal, Membangun keluarga Qur ani, (Jakarta : Amzah, 2005), hlm 3. 1 Fuad Ihsan, Dasar-dasar Kependidikan, (Jakarta: Rineka Cipta,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keluarga adalah merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama dalam masyarakat, karena dalam keluargalah manusia dilahirkan, berkembang menjadi dewasa. Bentuk
BAB I PENDAHULUAN. dikaji, pada umumnya agama seseorang ditentukan oleh pendidikan, pentingnya hidup beragama (Daradjat, 1990 : 35).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Motivasi beragama anak merupakan masalah yang menarik untuk dikaji, pada umumnya agama seseorang ditentukan oleh pendidikan, pengalaman dan latihan yang dilaluinya
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengadaan Proyek
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengadaan Proyek Anak merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa harus dijaga dan dipelihara karena dalam dirinya melekat harkat, martabat, dan hak-hak
A. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI SDLB TUNARUNGU
- 396 - A. KOMPETENSI INTI DAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI SDLB TUNARUNGU KELAS: I Kompetensi Sikap Spiritual, Kompetensi Sikap Sosial, Kompetensi Pengetahuan, dan Kompetensi Keterampilan dirumuskan
BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pada bab ini akan diuraikan lebih jauh mengenai teori-teori yang
BAB II KAJIAN PUSTAKA Pada bab ini akan diuraikan lebih jauh mengenai teori-teori yang menjelaskan mengenai pengertian perkembangan, pengertian emosi, dan pengertian pendidikan anak usia dini. A. Pengertian
BAB II KERANGKA TEORI
BAB II KERANGKA TEORI A. Pengertian Agama Agama dapat diartikan sebagai ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) kepada Tuhan Yang Mahakuasa, tata peribadatan, dan tata kaidah yang bertalian
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, manusia selalu membutuhkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, manusia selalu membutuhkan orang lain. Kehidupan manusia mempunyai fase yang panjang, yang di dalamnya selalu mengalami
BAB IV ANALISIS TEORI KONVERGENSI DAN RELEVENSINYA DENGAN HADIST NABI MUHAMMAD SAW TENTANG FITRAH MANUSIA
BAB IV ANALISIS TEORI KONVERGENSI DAN RELEVENSINYA DENGAN HADIST NABI MUHAMMAD SAW TENTANG FITRAH MANUSIA Pendidikan dalam kehidupan manusia, mempunyai peranan penting dalam rangka mentrasformasikan nilai-nilai
BAB II. mengembangkan diri, baik dalam aspek kognitif, psikomotorik maupun sikap.12 Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak
7 BAB II LANDASAN TEORI A. Kajian Pustaka 1. Prestasi Belajar a. Pengertian prestasi belajar Belajar adalah suatu tingkah laku atau kegiatan dalam rangka mengembangkan diri, baik dalam aspek kognitif,
BAB I PENDAHULUAN. rangka mewujudkan dinamika peradaban yang dinamis.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan sesuatu yang urgen bagi kehidupan manusia. Maju tidaknya peradaban manusia, tidak terlepas dari eksistensi pendidikan. Untuk itu manusia berpacu
BAB I PENDAHULUAN. bahwa peserta didik telah memiliki bakat, fitrah minat, motivasi dan nilai-nilai
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam upaya meneruskan nilai- nilai moral melalui pendidikan, ada pandangan yang berpendapat bahwa pendidikan yang bertolak dari asumsi bahwa peserta didik
Pendidikan Anak Dimulai dari Rumah
Pendidikan Anak Dimulai dari Rumah Khutbah Pertama:?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut; Eksistensi spiritualitas guru dalam
204 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut; Eksistensi spiritualitas guru dalam perspektif pendidikan Islam adalah aktualisasi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Persepsi Tentang Tuhan 1. Pengertian Persepsi Objek yang dipersepsi dalam penelitian ini adalah Tuhan, karenanya sebelum menjelaskan apa itu persepsi tentang Tuhan, pada bagian
(Personality Development, Elizabeth B. Hurlock) Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian
CHAPTER FOUR Molding The Personality Pattern (Personality Development, Elizabeth B. Hurlock) Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Dari Bapak Dr. H. A. Juntika Nurihsan,
BAB I PENDAHULUAAN. Hamdani Bakran Adz-Dzaky, Konseling dan Psikoterapi Islam, Fajar Pustaka Baru, Yogyakarta, 2001, hal. 13. hal. 69.
BAB I PENDAHULUAAN A. Latar Belakang Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna, baik dari aspek jasmaniyah lebih-lebih rohaniyahnya. Karena kesempurnaannya dapat memahami, mengenal secara
BAB I PENDAHULUAN. keshalehan akan sangat bergantung kepada pendidikan masa kecilnya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Anak merupakan amanat dari Allah SWT yang harus dijaga dan dibina, hatinya yang suci adalah permata yang sangat mahal harganya. Pada dasarnya anak harus memperoleh
BAB I PENDAHULUAN. memiliki kemampuan terbatas dalam belajar (limitless caoacity to learn ) yang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah Hakikat pendidikan anak usia dini, secara alamiah, perkembangan anak berbeda-beda, baik intelegensi, bakat, minat, kreativitas, kematang emosi, kepribadian,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana utuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
BAB I PENDAHULUAN. pendidikan di sekolah, potensi individu/siswa yang belum berkembang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan Nasional mengharapkan upaya pendidikan formal di sekolah mampu membentuk pribadi peserta didik menjadi manusia yang sehat dan produktif. Pribadi
A. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI SDLB TUNANETRA
SALINAN LAMPIRAN II PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH NOMOR : 10/D/KR/2017 TANGGAL : 4 April 2017 TENTANG STRUKTUR KURIKULUM, KOMPETENSI INTI-, DAN PEDOMAN IMPLEMENTASI KURIKULUM
BAB I PENDAHULUAN. oleh orang tuanya tentang moral-moral dalam kehidupan diri anak misalnya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Anak merupakan amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang mana merupakan wujud cinta kasih sayang kedua orang tua. Orang tua harus membantu merangsang anak
BAB I PENDAHULUAN. Remaja merupakan satu unsur generasi muda yang menjadi titik tumpu
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Remaja merupakan satu unsur generasi muda yang menjadi titik tumpu harapan bangsa dimana nantinya remaja diharapkan dapat meneruskan nilai-nilai perjuangan
1. lebih menitikberatkan pencapaian kompetensi secara utuh selain penguasaan materi;
5. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Sekolah Dasar Luar Biasa Tunalaras (SDLB-E) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya
TALIM MADANI #12 IMAN KEPADA ALLAH (PERBEDAAN MALAIKAT DAN MANUSIA)
TALIM MADANI #12 IMAN KEPADA ALLAH (PERBEDAAN MALAIKAT DAN MANUSIA) KAJIAN DALIL (AL-Qur an & Hadits) 30. ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang
BAB I PENDAHULUAN. pembeda. Berguna untuk mengatur, mengurus dan memakmurkan bumi. sebagai pribadi yang lebih dewasa dan lebih baik lagi.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT. Diciptakan dengan istimewa serta sempurna. Dengan memiliki akal pikiran dan hati yang dapat
PENDAHULUAN. begitu pun keterkaitannya dengan Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul-Nya sebagai
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagai Manusia, seorang pun tak dapat melepaskan dirinya dari keterkaitannya dengan agama serta ketergantungannya dengan Allah SWT, begitu pun keterkaitannya
BAB III PENYAJIAN DATA
47 BAB III PENYAJIAN DATA Upaya Pembimbing Dalam Mengatasi Perilaku Menyimpang Pada Anak Asuh Dipanti Asuhan Ar-Rahim Kota Pekanbaru. Sesuai dengan judul skripsi yang diajukan dalam Bab ini, penulis akan
BAB V SIMPULAN IMPLIKASI DAN REKOMENDASI
BAB V SIMPULAN IMPLIKASI DAN REKOMENDASI A. Simpulan 1. Secara Umum Konsep pendidikan yang Islami menurut Mohammad Natsir menjelaskan bahwa asas pendidikan Islam adalah tauhid. Ajaran tauhid manifestasinya
BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran yang diharapkan. Metode pembelajaran merupakan cara yang
BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian Dalam dunia pendidikan, proses pembelajaran adalah hal yang paling utama dan tidak bisa diabaikan. Dalam proses pembelajaran itu sendiri juga harus mempertimbangkan
PENGURANGAN JAM KERJA BAGI PEREMPUAN: PROBLEM ATAU SOLUSI PERSPEKTIF PENDIDIKAN OLEH NURLENA RIFAI
PENGURANGAN JAM KERJA BAGI PEREMPUAN: PROBLEM ATAU SOLUSI PERSPEKTIF PENDIDIKAN OLEH NURLENA RIFAI Disampaikan pada diskusi publik PSGA Ruang Teater Psikologi Ciputat, 22 Desember 2014 MENGAPA PERLU PENGURANGAN
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. telah membina keluarga. Menurut Muzfikri (2008), anak adalah sebuah anugrah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Memiliki buah hati tentunya merupakan dambaan bagi setiap orang yang telah membina keluarga. Menurut Muzfikri (2008), anak adalah sebuah anugrah terbesar nan
BAB V PEMBAHASAN. 1. Perencanaan pembelajaran PAI dalam meningkatkan kesadaran. meningkatkan kesadaran beribadah siswa di ke dua SMP tersebut yaitu
BAB V PEMBAHASAN A. Pembahasan Temuan Penelitian 1. Perencanaan pembelajaran PAI dalam meningkatkan kesadaran beribadah siswa Perencanaan yang dilakukan guru Pendidikan agama Islam dalam meningkatkan kesadaran
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Anak usia dini merupakan individu usia 0-6 tahun yang mempunyai karakterikstik yang unik. Pada usia tersebut anak sedang menjalani pertumbuhan dan perkembangan
Sumber: Islam4Kids.com Berdasarkan Kisah Para Nabi oleh Ibnu Katsir dan Tafsir Ibnu Katsir
Kisah Pembangunan Ka bah Sumber: Islam4Kids.com Berdasarkan Kisah Para Nabi oleh Ibnu Katsir dan Tafsir Ibnu Katsir Alih Bahasa: Ummu Abdullah Desain Sampul: Ummu Zaidaan Disebarluaskan melalui: Maktabah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
binasa. 1 Keluarga merupakan satu elemen terkecil dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seorang anak ketika pertama kali lahir kedunia dan melihat apa yang ada didalam rumah dan sekelilingnya, tergambar
Memahami Akidah Islam
bab 1 Memahami Akidah Islam AKHLAK Islam terdiri dari akidah, ibadah dan akhlak. Akidah adalah pondasi Akidah adalah pokok (us l) dan dasar dalam agama. Ajaran Islam meliputi tiga hal, yaitu akidah, syari
Sumber: Islam4Kids.com Berdasarkan Kisah Para Nabi oleh Ibnu Katsir dan Tafsir Ibnu Katsir. Disebarluaskan melalui:
Kisah Pembangunan Ka bah Sumber: Islam4Kids.com Berdasarkan Kisah Para Nabi oleh Ibnu Katsir dan Tafsir Ibnu Katsir Alih Bahasa: Ummu Abdullah al-buthoniyah Desain Sampul: Ummu Tsaqiif al-atsariyah Disebarluaskan
A. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI SDLB AUTIS
- 1677 - A. KOMPETENSI INTI DAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI SDLB AUTIS KELAS: I Kompetensi Sikap Spiritual, Kompetensi Sikap Sosial, Kompetensi Pengetahuan, dan Kompetensi Keterampilan dirumuskan
BAB IV PERANAN MAJELIS TAKLIM AL-HAQ WAL HAŻ DALAM MEMBINA MORAL REMAJA PONCOL
BAB IV PERANAN MAJELIS TAKLIM AL-HAQ WAL HAŻ DALAM MEMBINA MORAL REMAJA PONCOL Setelah diperoleh data yang dibutuhkan, maka langkah selanjutnya adalah menganalisa semua data untuk menjawab pertanyaan yang
BAB I PENDAHULUAN. manusia tidak dapat berkembang dengan baik. Pendidikan dapat diartikan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu sendi kehidupan. Melalui pendidikan, kecerdasan dan keterampilan manusia lebih terasah dan teruji dalam menghadapi dinamika kehidupan
PENGEMBANGAN PERILAKU SOSIAL ANAK USIA DINI
PENGEMBANGAN PERILAKU SOSIAL ANAK USIA DINI Titing Rohayati 1 ABSTRAK Kemampuan berperilaku sosial perlu dididik sejak anak masih kecil. Terhambatnya perkembangan sosial anak sejak kecil akan menimbulkan
Peran Orang Tua dalam Menanamkan Keagamaan pada Anak Usia Dini Afitria Rizkiana, Pendahuluan Usia dini merupakan masa yang sangat
Peran Orang Tua dalam Menanamkan Keagamaan pada Anak Usia Dini Afitria Rizkiana, 125120307111008 Pendahuluan Usia dini merupakan masa yang sangat penting sepanjang hidup, karena pada masa ini adalah masa
BAB I PENDAHULUAN. Menurut Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini dalam Kerangka Besar. Pembangunan PAUD menyatakan :
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini dalam Kerangka Besar Pembangunan PAUD 2011 2025 menyatakan : bahwa PAUD merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Islam adalah agama yang universal dan berlaku untuk semua umat manusia dan semua zaman. Nilai-nilai dan aturan yang terkandung dalam ajaran Islam dijadikan pedoman
BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. agama. Minat terhadap agama pada remaja tampak dari aktivitas mereka dalam
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu minat yang berkembang pada masa remaja adalah minat terhadap agama. Minat terhadap agama pada remaja tampak dari aktivitas mereka dalam membahas hal-hal
MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU DAN MAKHLUK SOSIAL
MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU DAN MAKHLUK SOSIAL A. Konsep Manusia Dalam Berbagai Sudut Pandang Pencarian makna dan hakekat manusia dilakukan melalui berbagai pendekatan. Para filosuf memahami manusia
Perkembangan Sepanjang Hayat
Modul ke: Perkembangan Sepanjang Hayat Memahami Masa Perkembangan Dewasa Madya dalam Aspek Psikososial Fakultas PSIKOLOGI Hanifah, M.Psi, Psikolog Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id Setiap fase
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Belajar merupakan cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan bagi siswa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Belajar merupakan cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan bagi siswa di sekolah. Istilah belajar sebenarnya telah dikenal oleh masyarakat umum, namun barangkali
BAB I PENDAHULUAN. tahu terhadap apa yang dilihat, didengar, mereka seolah-olah tak pernah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Anak adalah manusia kecil yang memiliki potensi yang masih harus dikembangkan, karena anak memiliki karakteristik yang khas dan tidak sama dengan orang dewasa,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan sosial anak telah dimulai sejak bayi, kemudian pada masa kanak-kanak dan selanjutnya pada masa remaja. Hubungan sosial anak pertamatama masih sangat
BAB I PENDAHULUAN. beragama yaitu penghayatan kepada Tuhan, manusia menjadi memiliki
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Agama adalah wahyu yang diturunkan Allah untuk manusia. Fungsi dasar agama adalah memberikan orientasi, motivasi dan membantu manusia untuk mengenal dan menghayati
BAB I PENDAHULUAN. hlm Ismail SM. Et. All. Paradigma Pendidikan Islam, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2001),
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada hakekatnya manusia adalah makhluk yang dilahirkan dalam keadaan lemah dan tidak berdaya, namun dengan demikian ia telah mempunyai potensi bawaan yang bersifat
ANAK BATITA: USIA ± 15 BULAN 3 TAHUN
ANAK BATITA: USIA ± 15 BULAN 3 TAHUN 1. Pesat tapi tidak merata. - Otot besar mendahului otot kecil. - Atur ruangan. - Koordinasi mata dengan tangan belum sempurna. - Belum dapat mengerjakan pekerjaan
BAB IV ANALISIS TENTANG UPAYA GURU PAI DALAM PEMBINAAN MENTAL KEAGAMAAN SISWA SMP N 2 WARUNGASEM BATANG
BAB IV ANALISIS TENTANG UPAYA GURU PAI DALAM PEMBINAAN MENTAL KEAGAMAAN SISWA SMP N 2 WARUNGASEM BATANG A. Analisis Pembinaan Mental Keagamaan Siswa di SMP N 2 Warungasem Batang Pembinaan mental keagamaan
LANGKAH-LANGKAH MENUJU PERTUMBUHAN ROHANI
LANGKAH-LANGKAH MENUJU PERTUMBUHAN ROHANI KUNCI MENUJU PERTUMBUHAN ROHANI BAGI MEREKA YANG MEMBUAT KEPUTUSAN Saudara yang terkasih, pada waktu Saudara menerima Yesus Kristus menjadi Juruselamat pribadi,
SILABUS PEMBELAJARAN
SILABUS PEMBELAJARAN Satuan Pendidikan Mata Pelajaran Kelas Semester Kompetensi Inti : KI 1 KI 2 KI 3 KI 4 : Madrasah Ibtidaiyah : Fikih : 4 (Empat) : 1 (Ganjil) : Menerima, menjalankan dan menghargai
BAB I PENDAHULUAN. Bintang, hlm Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, cet-17; Jakarta, PT Bulan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejalan dengan berbagai fenomena pendidikan dewasa ini, sebagai akibat globalisasi yang kian merambah berbagai dimensi kehidupan, kehadiran Pendidikan Agama khususnya
BAB V PENUTUP. metode kualitatif dengan pendekatan metode study kasus yang menyajikan
135 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Terdapat banyak kesimpulan yang dapat dikerucutkan dalam penelitian yang telah dilakukan peneliti. Penelitian ini dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan
BAB I PENDAHULUAN. membentuk perilaku sosial anak menjadi lebih baik dan berakhlak.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tugas dan kewajiban orang tua bukan hanya memberikan kewajiban secara jasmani anak melainkan juga secara rohani yaitu dengan memberikan pendidikan akhlak yang baik,yaitu
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Seiring dengan berkembangnya zaman berbagai kemajuan cepat merambah dalam berbagai bentuk kehidupan. Kemajuan zaman yang paling disoroti saat ini yakni terdapat
hlm Nana Sudjana, Cara Belajar Peserta didikaktif, (Bandung: Sinar Baru Algensind, 1996),
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Dalam proses pembelajaran komponen utama adalah guru dan peserta didik. Agar pembelajaran dapat memperoleh hasil sebaik-baiknya maka guru harus dapat membangkitkan minat
BAB IV PERSAMAAN DAN PERBEDAAN PENDIDIKAN AKHLAK PRESPEKTIF PARA AHLI DAN KH. HASYIM ASY ARI DALAM KITAB ADABUL ALIM WAL MUTA ALLIM
BAB IV PERSAMAAN DAN PERBEDAAN PENDIDIKAN AKHLAK PRESPEKTIF PARA AHLI DAN KH. HASYIM ASY ARI DALAM KITAB ADABUL ALIM WAL MUTA ALLIM A. Persamaan Konsep Pendidikan Akhlak Prespektif Para Ahli dengan KH.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ajaran agama diwahyukan Tuhan untuk kepentingan manusia. Dengan bimbingan agama, diharapkan manusia mendapatkan pegangan yang pasti untuk menjalankan hidup dan juga
Modul 9 KESADARAN BERAGAMA
Kesadaran Beragama Modul 9 KESADARAN BERAGAMA PENDAHULUAN Psikologi Agama pada jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) disajikan untuk membantu mahasiswa memahami perkembangan jiwa keagamaan manusia mulai
BAB II LANDASAN TEORI. tersebut mempelajari keadaan sekelilingnya. Perubahan fisik, kognitif dan peranan
BAB II LANDASAN TEORI A. KEMANDIRIAN REMAJA 1. Definisi Kemandirian Remaja Kemandirian remaja adalah usaha remaja untuk dapat menjelaskan dan melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginannya sendiri setelah
BAB I PENDAHULUAN. berhasil dari mereka. Sebaliknya tidak ada orang tua di muka bumi ini yang
BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Masalah Setiap orang tua sangat menginginkan anaknya lebih baik, lebih hebat dan lebih berhasil dari mereka. Sebaliknya tidak ada orang tua di muka bumi ini yang
TEORISASI DAN STRATEGI PENDIDIKAN ISLAM Oleh : Fahrudin
A. Pendahuluan TEORISASI DAN STRATEGI PENDIDIKAN ISLAM --------------------------------------------------------------------- Oleh : Fahrudin Tujuan agama Islam diturunkan Allah kepada manusia melalui utusan-nya
MENGENAL MODEL PENGASUHAN DAN PEMBINAAN ORANGTUA TERHADAP ANAK
Artikel MENGENAL MODEL PENGASUHAN DAN PEMBINAAN ORANGTUA TERHADAP ANAK Oleh: Drs. Mardiya Selama ini kita menyadari bahwa orangtua sangat berpengaruh terhadap pengasuhan dan pembinaan terhadap anak. Sebab
