Modul 9 KESADARAN BERAGAMA
|
|
|
- Hengki Kurniawan
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Kesadaran Beragama Modul 9 KESADARAN BERAGAMA PENDAHULUAN Psikologi Agama pada jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) disajikan untuk membantu mahasiswa memahami perkembangan jiwa keagamaan manusia mulai dari masa kanak-kanak sampai lanjut usia, dimana perkembangan jiwa keagamaan tersebut dipengaruhi oleh dinamika kejiwaan. Hal ini penting untuk diketahui karena mahasiswa PAI disiapkan untuk menjadi guru agama yang bukan hanya bertugas untuk memahamkan materi pelajaraan keagamaan, namun tugas yang lebih berat adalah membentuk jiwa keagamaan anak didiknya agar menjadi lebih baik. Pada modul 9 ini, mahasiswa akan diajak untuk memahami tentang Kesadaran Beragama. Untuk membantu pemahaman tersebut, maka pada Modul 9 ini akan dibagi menjadi: Kegiatan Belajar 1 : Pengertian kesadaran beragama Kegiatan Belajar 2 : Faktor-faktor yang mempengaruhi kesadaran beragama Kegiatan Belajar 3 : Strategi pengembangan kesadaran beragama Setelah mempelajari Modul 9 ini, mahasiswa diharapkan dapat: 1. Menjelaskan tentang pengertian kesadaran beragama 2. Menjelaskan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kesadaran beragama 3. Menganalisis tentang strategi pengembangan kesadaran beragama Untuk membantu mahasiswa dalam mempelajari modul 9 ini, ada baiknya diperhatikan petunjuk berikut ini: 1. Lakukan diskusi dengan teman 2. Baca dan pelajari sumber-sumber lain yang relevan 3. Kerjakan latihan yang disediakan. Selamat Belajar 91
2 Modul Psikologi Agama A. Pengantar Agama tampaknya memang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Pengingkaran manusia terhadap agama dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu baik yang disebabkan oleh kepribadian maupun lingkungannya. Namun untuk menutupi atau meniadakan sama sekali dorongan dan rasa keagamaan tampaknya sulit dilakukan. Manusia memiliki unsur batin yang cenderung mendorongnya untuk tunduk kepada Dzat yang gaib. Ketundukan ini merupakan bagian dari faktor intern manusia yang dalam psikologi kepribadian dinamakan pribadi (self) ataupun hati nurani (conscience of man) atau fitrah. Menurut pendapat Freud (tokoh psikoanalisa), kesadaran beragama muncul karena rasa ketidakberdayaan manusia menghadapi bencana atau berbagai kesulitan dalam hidup. Sedangkan menurut behaviorisme, munculnya kesadaran beragama pada manusia karena didorong oleh rangsangan hukuman (adanya siksa; neraka) dan hadiah (adanya pahala; surga). Dan menurut Abaraham Maslow (tokoh humanistik), kesadaran beragama terjadi karena adanya dorongan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang tersusun secara hirarkis dimana puncak dari kebutuhan tersebut adalah aktualisasi diri yang menyebabkan manusia menyatu dengan kekuatan transedental Munculnya kesadaran beragama pada umumnya didorong oleh adanya keyakinan keagamaan yang merupakan keadaan yang ada pada diri seseorang. Kesadaran beragama merupakan konsistensi antara pengetahuan dan kepercayaan pada agama sebagai unsur kognitif, perasaan terhadap agama sebagai unsur afektif (perasaan ini bisa dilihat dari motivasi beragama seseorang), dan perilaku keagamaan sebagai unsur psikomotor. Oleh karena itu, kesadaran beragama merupakan interaksi secara kompleks antara pengetahuan agama, motivasi beragama, dan perilaku keagamaan dalam diri seseorang. Dengan kesadaran itulah akhirnya lahir tingkah laku keagamaan sesuai dengan kadar ketaatan seseorang terhadap agama yang diyakininya. 92
3 Kesadaran Beragama Kesadaran beragama yang mantap merupakan suatu disposisi dinamis dari sistem mental yang terbentuk melalui pengalaman serta diolah dalam kepribadian untuk mengadakan tanggapan yang tepat, konsepsi pandangan hidup, penyesuaian diri dan bertingkah laku. Orang yang memiliki kesadaran beragama yang baik, akan lebih mudah dalam membangun motivasi hidup, melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitarnya, dan mampu menunjukkan sikap yang baik kepada orang lain. Kesadaran beragama yang dilandasi oleh kehidupan agama akan menunjukkan kematangan sikap dalam menghadapi berbagai masalah, mampu menyesuaikan diri terhadap norma dan nilai-nilai yang ada di masyarakat, terbuka terhadap semua realitas atau fakta empiris, realitas filosofis dan realitas ruhaniah, serta mempunyai arah yang jelas dalam cakrawala hidup. Kesadaran akan norma-norma agama berarti individu menghayati, menginternalisasi dan mengintegrasikan norma tersebut kedalam diri pribadinya sehingga akan menjadi bagian dari hati dan kepribadiannya yang akan mempengaruhi pada sikap dan perilakunya dalam kehidupan bermasyarakat. Penghayatan norma-norma agama mencakup norma-norma hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan dengan masyarakat dan lingkungannya. Hidup yang dilandasi nilai-nilai agama akan menumbuhkan kepribadian yang sehat yang didalamnya terkandung unsur-unsur keagamaan dan keimanan yang cukup teguh. Dan sebaliknya orang yang jiwanya guncang dan jauh dari agama maka individu tersebut akan mudah marah, putus asa, kecewa, dan tidak mampu beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan sekitarnya sehingga akan cenderung menjadi masalah bagi orang lain. B. Pengertian Kesadaran Beragama Secara bahasa, kesadaran beasal dari kata dasar sadar yang mempunyai arti; insaf, yakin, merasa, tahu dan mengerti. Kesadaran berarti; keadaan tahu, 93
4 Modul Psikologi Agama mengerti, dan merasa ataupun keinsafan 1. Arti kesadaran yang diamksudkan disni adalah keadaan tahu, ingat dan measa ataupun keinsafan atas dirinya sendiri kepada keadaan yang sbenarnya. Sedangkan kata beragama berasal dari kata dasar agama. Agama berarti kepercayaan kepada Tuhan (dewa dan sebagainya) dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu, misalnya Islam, Kristen, Hindu, Budha dan lain-lain, sedangkan kata beragama berarti memeluk (menjalankan) agama; beribadah; taat kepada agama di sepanjang hidupnya 2. Menurut Harun Nasution sebagaimana yang dikutip oleh Jalaludin bahwa pengertian agama berasal dari kata; al-diin, religi (relegere, religare). Kata agama terdiri dari; a (tidak) dang am (pergi), agama mengandung arti tidak pergi, tetap ditempat atau diwarisi turun temurun 3. Sedangkan Cicero, secara sederhana mendefinisikan agama sebagai the pious worship of god (beribadah dengan tawakal kepada Tuhan). Formulasi yang lebih komplek dikemukakan oleh Frederich Schleir Macher (seorang filusuf abad 18), mendefinisikan agama adalah feeling of total dependence (perasaan tergantung/ pasrah secara keseluruhan). Teolog abad 20, Paul Tillich, mengemukakan bahwa agama adalah that wich involves man s ultimate concern (apa yang melibatkan tujuan akhir manusia). Menurut Roberth H Thouless (1992), agama adalah sikap atau cara penyesuaian diri terhadap dunia yang mencakup acuan menunjukkan lingkungan lebih luas dari pada lingkungan dunia fisik yang terkait ruang dan waktu. The spatio-temporal physical world (dalam hal ini, yang dimaksud adalah dunia spiritual). Definisi ini tidak dimaksudkan untuk menempatkan kata agama 1 Anton M. Moeliono, dkk, Kamus besar bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1990) Cet. III h Ibid, h.9 3 Jalaludin, Psikologi Agama, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998). Cet III, h.12 94
5 Kesadaran Beragama sebagai sesuatu yang mencakup semua jenis sikap terhadap dunia yang berhak mendapatkan penghormatan istimewa. Alfred North Whithead (seorang filosof) melihat agama sebagai apa yang dibuat manusia dalam kesendirian dan keheningannya. Nicholas Berdeae berpendapat bahwa agama merupakan usaha untuk mengatasi keheningan guna melepaskan ego dari ketertutupannya, untuk mencapai kebersamaan dan keterakhiran. Sementara itu Erich Form mengatakan, agama adalah setiap sistem pemikiran dan tindakan yang dimiliki bersama oleh sekelompok orang yang memberi pada orang-orang yang menjadi anggota kelompok itu secara pribadi kerangka pengarahan (hidup) dan objek untuk dipuja. Talcott Parsons mengemukakan bahwa agama sebagai perangkat simbol yang menghubungkan manusia dengan kondisi akhir (ultimate conditions) daripada keberadaannya. Dia juga berpendapat agama adalah titik artikulasi antara sistem kultural dan sosial, dimana nilai-nilai dari sistem budaya terjalin dalam sistem sosial dan diwariskan serta diinternalisasikan dari generasi dahulu ke generasi selanjutnya dengan kata lain agama juga merupakan sarana internalisasi nilai budaya yang terdapat di masyarakat kepada sistem kepribadian individu. Selanjutnya Roberth H Thouless mengemukakan bahwa dalam masyarakat industri moderen, agama diartikan sebagai: (1) seperangkat idea (nilai dan kepercayaan). (2) suatu lembaga (seperangkat hubungan sosial). Berdasarkan pada beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa agama adalah seperangkat pedoman hidup yang diyakini bersifat sakral dan berasal dari Dzat Yang Maha Tinggi dengan perantaraan seorang manusia yang dipilih-nya. Dimana pedoman hidup tersebut berisi tentang tata aturan tentang perbuatan yang seharusnya dilakukan maupun perbuatan yang seharusnya ditinggalkan oleh para pemeluknya, dan barang siapa yang mentaati tata aturan pedoman hidup tersebut maka dia akan mendapatkan balasan kenikmatan dan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Selain itu, dapat disimpulkan juga bahwa agama mengandung arti ikatan atau pedoman hidup 95
6 Modul Psikologi Agama yang kekal dan harus dipegang dan dipatuhi manusia. Ikatan yang dimaksudkan berasal dari suatu kekuatan yang lebih tinggi dari manusia sebagai kekuatan gaib yang tak dapat ditangkap dengan pancaindera, namun mempunyai pengaruh yang besar terhadap kehidupan manusia sehari-hari. Pengertian kesadaran beragama meliputi rasa keagamaan, pengalaman ketuhanan, keimanan, sikap, dan tingkah laku keagamaan yang terorganisasi dalam system mental dan kepribadian. Karena agama melibatkan seluruh fungsi jiwa dan raga manusia, maka kesadaran beragamapun mencakup aspek-aspek: afektif, konatif, kognitif, dan motorik. Aspek afektif dan konatif terlihat di dalam pengalaman ketuhanan, rasa keagamaan, dan kerinduan kepada Tuhan. Aspek kognitif terlihat pada keimanan dan kepercayaan, sedangkan aspek motorik terlihat pada perbuatan dan gerakan tingkah laku keagamaan 4. Dalam penelitian ini, pengertian kesadaran beragama yang dimaksud adalah segala perilaku yang dikerjakan oleh seseorang dalam bentuk menekuni, mengingat, merasa, dan melaksanakan ajaran-ajaran agama (mencakup aspek afektif, konatif, kognitif, dan motorik) untuk mengabdikan diri kepada Tuhan (Allah) dengan disertai perasaan jiwa yang tulus dan ikhlas, sehingga apa yang dilakukannya sebagai perilaku keagamaan dan salah satu pemenuhan atas kebutuhan rohaniahnya. C. Aspek-aspek Kesadaran Beragama 1. Aspek Kesadaran a. Pemujaan atau pengalaman spiritual Pemujaan adalah suatu ungkapan perasaan, sikap dan hubungan. Menurut Malinowski sebagaimana yang dikutip oleh Thomas F. O Dea bahwa; perasaan, sikap dan hubungan ini diungkapkan tidak memiliki tujuan selain dalam dirinya sendiri, mereka merupakan tindakan yang mengungkapkan. Sedangkan pengalaman spiritual mempunyai nilai 4 Abdul Aziz Ahyadi, Psikologi Agama (Kepribadian Muslim Pancasila), (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2001) Cet. III, h
7 Kesadaran Beragama miseri yang terkait dalam dirinya sehingga kita tidak dapat menalarkannya secara penuh. Hubungan yang diungkapkan dalam pemujaan maupun pengalaman spiritual tersebut merupakan hubungan dengan obyek suci 5. Sehingga dalam hubungannya dengan sesuatu yang suci tersebut dapat membangkitkan daya pikirannya yang selanjutnya mereka menghayati dan meyakini bahwa ada sesuatu yang obyenya bersifat suci untuk dijadikan sebagai tempat dan tujuan pengabdian diri. Kesadaran ini timbul akibat adanya ungkapan perasaan, sikap dan hubungan antara manusia dengan sesuatu yang dianggap suci. b. Hubungan sosial Teori fungsional memandang sumbangan agama terhadap masyarakat dan kebudayaan berdasarkan atas karakteristik pentingnya, yakni transedensi pengalaman sehari-harinya dalam lingkungan alam, dan manusiapun membutuhkan sesuatu yang mentransendensi pengalaman untuk kelestarian hidupnya, karena: 1) Manusia hidup dalam ketidakpastian, sebagai hal yang sangat penting bagi keamanan dan kesejahteraan manusia di luar jangkauannya. Dengan kata lain eksistensi manusia ditandai dengan ketidak pastian. 2) Kesanggupan manusia untuk mengendalikan dan untuk mempengaruhi kondisi hidupnya, walaupun kesanggupan tersebut semakin meningkat. Pada titik dasar tertentu, kondisi manusia dalam kondisi konflik antara keinginan diri dengan lingkungan yang ditandai oleh ketidakberdayaan. 3) Manusia harus hidup bermasyarakat, dan masyarakat merupakan suatu alokasi yang teratur dari berbagai fungsi, fasilitas, dan 5 Thomas F. O Dea, Sosiologi Agama (Suatu Pengenalan Awal), (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006), h.75 97
8 Modul Psikologi Agama ganjaran 6. Pengalaman manusia dalam konteks ketidakpastian dan ketidakberdayaan membawa manusia kelar dari perilaku sosial dan batasan cultural dari tujuan dan norma sehari-hari, maka sebagai konsekuensinya manusia harus mengembalikan ketidakpastian dan ketidakberdayaan tersebut kepada kesadarannya untuk menuntunnya dalam mentaati norma-norma masyarakat untuk menuntunnya dalam mencapai ketentraman hidupnya. c. Pengalaman dan pengetahuan Menururt Robert W. Crapps, bahwa kebenaran harus ditemukan, bukan hanya melalui argument logis dan teoritis, tetapi melalui pengamatan atas pengalaman, maka jalan lapang menuju ke kesadaran keagamaan adalah melalui pengalaman yang diungkapkan orang. kesadaran dapat terjadi setelah seseorang memang benar-benar memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran agama yang didapat dari pengalaman, sehingga proses kesadaran seperti ini adalah adanya perpindahan pengalaman atau pengetahuan keagamaan dari seseorang yang dilaksanakan dengan secara konsisten dan konsekuen 7. d. Eksperimen Eksperimen merupakan proses yang memiliki kemiripan dengan behaviorisme. Kemiripan itu terletak pada usaha untuk menggali arti melalui pengamatan (observasi) dan penguraian perilaku secara teliti 8. Dalam penyelidikan empiris teori psikoanalisis tentang agama berusaha mengadakan secara eksperimental tiga hipotesis yang diambil dari psikoanalisis; bahwa bila teori analsis tentang perilaku keagamaan benar, 6 Ibid, h Robert W. Crapps, Dialog Psikologi dan Agama, (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hlm Ibid, hlm
9 Kesadaran Beragama maka prosedur eksperimen juga harus dapat menunjukkan sebagai berikut: 1) Bahwa semakin besar religiusitas seseorang, maka semakin besar kecenderungan seseorang untuk membuat proyeksi. 2) Bahwa perasaan dan konsep seseorang tentang Tuhan berkorelasi dengan perasaan dan konsep seseorang tentang orang tua mereka. 3) Bahwa orang laki-laki memiliki kecenderungan yang lebih besar daripada orang perempuan dalam memandang Tuhan sebagai tokoh penghukum 9 Kesadaran juga dapat timbul dengan adanya eksperimen, dimana penghayatan dan pengalaman agama dapat terlaksana secara baik setelah seseorang yang beragama telah memandang dan mengakui kebenaran agama sebagai sesuatu yang penting dalam kehidupannya., bahwa seseorang akan merasa damai dan tenteram dalam kehidupannya setelah mereka mendekatkan diri kepada sesuatu yang dipercayainya (Allah SWT) dan menyerahkan kembali segala persoalan yang dihadapinya hanya kepada-nya daripada seseorang yang tak kenal agama. Hal ini akan membuktikan bahwa kesadaran akan muncul setelah seseorang mengetahui hasil dari eksperimen tentang agama tersebut benar-benar dirasakan sebagai suatu hal yang memang dibutuhkan dalam kehidupannya. 2. Dimensi Keagamaan Menurut Glock dan Stark sebagaimana dikutip oleh Jalaluddin Rahmat, bahwa mereka telah membagi dimensi keagamaan menjadi lima bagian, yaitu: dimensi ideologi, dimensi ritualistik, dimensi eksperensial, dimensi inetelktual, dan dimensi konsekeuensial. 9 Ibid, h
10 Modul Psikologi Agama a. Dimensi Ideologi Bagian dari keberagamaan yang berkaitan dengan apa yang harus dipercayai. Kepercayaan atau doktrin agama adalah dimensi yang paling dasar. Inilah yang membedakan antara agama yang satu dengan agama yang lainnya. Ada tiga kategori kepercayaan. Pertama, kepercayaan yang menjadi dasar esensial suatu agama, yaitu percaya adanya Tuhan dan utusannya dalam agamanya. Kedua, kepercayaan yang berkaitan dengan tujan Ilahi dalam penciptaan manusia. Ketiga, kepercayaan yang berkaitan dengan cara terbaik untuk melaksanakan tujuan Ilahi tersebut, seperti orang Islam harus percaya bahwa untuk beramal shaleh mereka harus melakukan pengabdian kepada Allah SWT dan perkhidmatan kepada sesama manusia 10. Kepercayaan merupakan bentuk pengungkapan intelektual yang primordial dari berbagai sikap dan kepercayaan keagamaan. Kepercayaan atau mitos dianggap sebagai filsafat primitive yang hanya mengungkapkan pemikiran untuk memahami dunia, menjelaskan tentang kehidupan dan kematian, takdir dan hakikat, dewa-dewa dan ibadah. Tetapi kepercayaan merupakan jenis pernyataan manusia yang bersifat kompleks dan dramatis, karena pernyataan ini bersifat luas dan melibatkan fikiran, perasaan, sikap, dan sentimen 11 b. Dimensi ritualistik Dimensi ritualistic adalah dimensi keberagamaan yang berkaitan dengan sejumlah perilaku, yang dimaksud dengan perilaku disini bukanlah perilaku umum yang dipengaruhi keimanan seseorang melainkan mengacu kepada perilaku-perilaku khusus yang ditetapkan oleh agama, seperti tata cara ibadah, pembaptisan, pengakuan dosa, berpuasa, atau 10 Jalauddin Rakhmat, Psikologi Agama (Sebuah Pengantar), (Bandung: Mizan Pustaka, 2003), cet. I, hlm Thomas F. O Dea, op. cit., hlm
11 Kesadaran Beragama menjalankan ritus-ritus khusus pada hari-hari yang suci, seperti ritualistic dalam agama Islam adalah menjalankan sholat dengan menghadap kiblat berserta ruku dan sujudnya 12. Ritual merupakan transformasi simbolis dari pengalaman-pengalaman yang tidak dapat diungkapkan dengan tepat oleh media lain. Karena berasal dari kebutuhan primer manusia, maka ia merupakan kegiatan yang spontan, ia lahir dari niat tanpa disesuaikan dengan suatu tujuan yang disadari, pertumbuhannya tanpa rancangan dan polanya benar-benar alamiah 13. Kegiatan ini dilakukan atas dasar kebutuhan manusia untuk berhubungan dengan sesuatu yang dianggap suci dengan maksud untuk mengabdikan dirinya, karena mereka merasa lebih rendah dibandingkan dengan yang suci tersebut. Dimensi ini mencakup kegiatan ritual itu sendiri, ketaatan dan hal-hal yang dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya. Kegiatan ritual mengacu pada seperangkat ritus, tindakan keagamaan formal dan praktek-praktek suci yang semua agama mengharapkan kepada penganutnya dapat melaksanakannya. Sedangkan ketaatan mengacu pada tindakan seseorang beragama dalam melaksanakan perintah agama dan meninggalkan larangan agama. Antara kegiatan ritual dan ketaatan ini tidak dapat dipisahkan, karena keduanya bagaikan ikan dengan air. Apabila aspek ritual dari komitmen sangat formal dank has public maka agamapun mempunyai seperangkat tindakan persembahan dan kontemplasi personal yang relative spontan, informal, dan khas pribadi pula 14 c. Dimensi eksperensial Dimensi eksperensial berkaitan dengan perasaan keagamaan yang dialami oleh penganut agama atau dalam psikologi dapat dikatakan 12 Jalauddin Rakhmat, op. cit., hlm Thomas F. O Dea, op. cit., hlm Roland Robertson, Agama Dalam Analisa Dan Interpretasi Sosiologis, (Jakarta: Rajawali Press, 2008), hlm
12 Modul Psikologi Agama dengan religious experiences. Pengalaman keagamaan ini bisa saja terjadi sangat moderat, seperti kekhusukan di dalam menjalankan shalat untuk agama Islam 15. Pengalaman keagamaan adalah suatu pengalaman mengenai kekauasaan atau kekuatan, pengalaman keagamaan juga merupakan tanggapan terhadap hal atau peristiwa yang dialami sebagai hal yang suci, yakni suatu pelepasan dari kekuasaan yang menanamkan suatu tanggapan tertentu yang sama-sama memadukan rasa hormat yang dalam dan daya tarik yang kuat 16. Dimensi ini berisikan dan memperhatikan fakta bahwa semua agama mengandung pengharapan tertentu dan mengacu kepada harapan bahwa orang-orang yang beragama minimal memiliki dasar-dasar keyakinan, kegiatan ritual, kitab suci dan tradisi-tradisi keagamaan 17 d. Dimensi intelektual Setiap agama memiliki sejumlah informasi khusus yang harus diketahui oleh para pengikutnya. Ilmu fikih dalam Islam menghimpun informasi tentang fatwa ulama berkenaan dengan ritus-ritus keagamaan. Sikap orang dalam menerima atau menilai ajaran agamnya berkaitan erat dengan pengetahuan agama yang dimilikinya. Orang yang sangat dogmatis tidak mau mendengarkan pengetahuan dari kelompok manapun yang bertentangan dengan keyakinan agamnya. e. Dimensi konsekuensial Dimensi konsekuensial menunjukkan akibat ajaran agama dalam perilaku umum yang tidak secara langsung dan secara khusus ditetapkan agama (seperti dalam dimensi ritualistic). Inilah efek ajaran agama pada perilaku individu dalam kehidupannya sehari-hari. Efek agama ini bisa 15 Jalauddin Rakhmat, op. cit., hlm Thomas F. O Dea, op. cit., hlm Roland Robertson, op. cit., hlm
13 Kesadaran Beragama jadi positif atau negative baik pada tingkat personal maupun sosial 18. Dimensi ini mengacu pada kebutuhan manusia terhadap agama, bahwa pentingnya agama dalam kehidupan sehari-hari manusia. Kehidupan manusia yang penuh dengan persoalan ini harus dikembalikan kepada agama dalam penyelesaiannya agar ditemukan kedamaian dan kesejahteraan. Agama mengatur segala sikap dan perilaku sebagai konsekuensi manusia bahwa sikap dan perilaku tersebut ada pertanggungjawabannya kepada sesuatu yang lebih tinggi serajatnya serta untuk memenuhi atas kebutuhan dan kewajibannya sebagai mahluk beragama. 3. Aspek-aspek kesadaran keagamaan a. Aspek afektif dan konatif Bahwa yang menjadi keinginan dan kebutuhan manusia itu bukan hanya terbatas pada kebutuhan biologis saja, namun manusia juga mempunyai keinginan dan kebutuhan yang bersifat rokhaniah, yaitu kebutuhan dan keinginan untuk mencintai dan dicintai Tuhan. Dibawah ini dikemukakan pendapat oleh para ahli sebagaimana dikutip oleh Jalaludin Rahmat, yaitu: 1) Frederick Hegel Bahwa agama adalah suatu pengetahuan yang sungguh-sungguh benar dan tempat kebenaran abadi. Hal ini mengakibatkan perasaan manusia untuk mengenal dan bergabung di dalamnya sangat kuat, manusia ingin mengenal lebih jauh terhadap agama dan ajaran-ajarannya, yang selanjutnya merekapun menunjukkan kedekatan dan kerinduannya kepada Tuhan. 2) Frederick Schleimacher 18 Jalauddin Rakhmat, op. cit., hlm
14 Modul Psikologi Agama Bahwa yang menjadi sumber keagamaan itu adalah rasa ketergantungan yang mutlak (sense of depend). Dengan adanya ketergantungan yang mutlak ini manusia merasakan dirinya lemah, kelemahan itulah yang menyebabkan manusia selalu tergantung hidupnya dengan sesuatu kekuasaan yang berada di luar dirinya. Berdasarkan rasa ketergantungan itulah timbul konsep tentang Tuhan. Manusia selalu tak berdaya menghadapi tantangan alam yang dialaminya, sehingga mereka menggantungkan hidupnya kepada suatu kekauasaan yang mereka anggap mutlak adanya. Dari konsep inilah timbullah keyakinan kepada Tuhan untuk melindunginya 19 3) W.H. Thomas Bahwa yang menjadi sumber jiwa keagamaan adalah keinginan dasar yang ada dalam diri manusia, yaitu: keinginan untuk keselamatan, untuk mendapat penghargaan, untuk ditanggapi, dan keinginan untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru. Dengan melalui ajaran agama yang teratur, maka keinginan tersebut dapat tersalurkan. Dengan mengabdikan diri kepada Tuhan, maka keinginan untuk keselamatan akan terpenuhi, sedangkan pengabdian kepada Tuhan menimbulkan perasaan mencintai dan dicintai Tuhan 20 Dari pendapat para ahli diatas tentang pentingnya agama, bahwa agama merupakan kebutuhan rohaniah manusia, dimana seseorang tidak bisa hidup tanpa agama, hal ini mengakibatkan seseorang selalu mendambakan agama dalam kelangsungan hidupnya. Setelah mereka menemukan dan tergabung dalam agama dengan perasaan ingin mengbdikan dirinya kepada Tuhan, maka keadaan jiwanyapun akan 19 Jalaludin, op. cit., hlm Ibid., hlm
15 Kesadaran Beragama terasa tentram dan damai. Mereka akan mencintai dan mengalami kerinduan terhadap Tuhan. b. Aspek Kognitif Aspek kognitif merupakan aspek yang juga menjadi sumber jiwa agama pada diri seseorang (yaitu melalui berfikir), manusia bertuhan karena menggunakan kemampuan berfikirnya. Sedangkan kehidupan beragama merupakan refleksi dari kemampuan berfikir manusia itu sendiri. Manusia juga menggunakan fikirannya untuk merenungkan kebenaran atau kesalahan menuju keyakinan terhadap ajaran agama. Adapun halhal yang berhubungan dengan aspek kognitif dalam kesadaran beragama, yaitu: 1) Kecerdasan Qalbiyah Kecerdasan qalbiyah yaitu kecerdasan untuk mengenal hati dan aktifitas-aktifitasnya, mengelola dan mengekspresikan jenis-jenis kalbu secara benar, memotivasi kalbu untuk membina hubungan moralitas dengan orang lain dan hubungan ubudiyah dengan Tuhan. Kecerdasan ini berkaitan dengan penerimaan dan pembenaran yang bersifat intuitif ilahiyah, sehingga adalam kecerdasan qalbiyah lebih mengutamakan nilai-nilai ketuhanan (theosentris) yang universal daripada nilai-nilai kemanusiaan (antroposentris) yang temporer. Dalam Islam kecerdasan ini dapat dilihat pada keyakinan seseorang terhadap rukun iman yang jumlahnya ada enam, selain itu juga dapat dilihat pada peribadatannya kepada Allah. 2) Kecerdasan Emosional Kecerdasan emosional adalah kecerdasan yang berkaitan dengan pengendalian nafsu-nafsu impulsive dan agresif, sehingga seseorang akan terarah untuk bertindak secara hati-hati, 105
16 Modul Psikologi Agama waspada, tenang, sabar dan tabah ketika mendapat musibah dan berterima kasih ketika mendapat kenikmatan. 3) Kecerdasan Moral Kecerdasan moral adalah kecerdasan yang berkaitan dengan hubungan kepada sesame manusia dan alam semesta. Kecerdasan ini mengarahkan seseorang untuk berbuat baik. 4) Kecerdasan Spiritual Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang berhubungan dengan kualitas batin seseorang dalam meyakini ajaran agama. Kecerdasan ini mengarahkan seseorang untuk berbuat lebih manusiawi, sehingga dengan menggunakan fikirannya seseorang dapat menjangkau nilai-nilai luhur dalam agama yang mungkin belum tersentuh oleh akal pikiran manusia. 5) Kecerdasan Beragama Kecerdasan beragama adalah kecerdasan yang berhubungan dengan kualitas beragama pada diri seseorang. Kecerdasan ini mengarahkan pada diri seseorang untuk berperilaku agama secara benar, sehingga menghasilkan ketaqwaan dan keimanan secara mendalam 21. Dengan demikian aspek kognitif dalam kesadaran beragama akan mengarahkan pada keyakinan terhadap agama, karena dengan kemampuan berfikirnya mereka dapat memilih antara kebenaran dan kesalahan. Sehingga merekapun menemukan keyakinan atau keimanan sebagai kebutuhan rohaniahnya demi ketenteraman jiwanya. Karena dengan mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah, maka jiwa seseorang akan terlindungi dan bahagia. 21 Ramayulis, Psikologi Agama, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), cet. VI, hlm
17 Kesadaran Beragama c. Aspek Motorik Aspek motorik dalam kesadaran beragama merupakan aspek yang berupa perilaku keagamaan yang dilakukan seseorang dalam beragama. Adapun aspek-aspek tersebut dapat berupa: 1) Kedisiplinan Shalat Kedisiplinan shalat adalah ketaatan, kepatuhan, keteraturan, seseorang di dalam menunaikan ibadah shalat. Seseorang berkewajiban menjalankan shalat atas dasar firman Allah dalam surat An-nisa ayat 103, yaitu: 103. Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. Dari ayat maka dirikanlah olehmu sembahyang menurut keadaan ayang biasa, selama dalam perjalanan musafir maka mengqasarkan shalat seperti biasa dan sesampainya kamu di tempat kediamanmu yang asli, maka sembahyanglah menurut peraturan-peraturan yang telah digariskan Allah SWT (jangan dirubah, jangan ditambah, dan jangan pula dikurangi). Sesungguhnya sembahyang itu atas orang-orang yang beriman adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya. Shalat adalah 107
18 Modul Psikologi Agama pekerjaan hamba yang beriman dalam situasi menghadapkan wajah dan sukmanya kepada dzat yang maha suci, maka manakala shalat itu dilakukan secara tekun dan terus menerus akan menjadi alat pendidikan rohani manusia yang efektif, memperbarui dan memelihara jiwa serta memupuk pertumbuhan kesadaran beragama pada diri seseorang 22. Yang menyebabkan kedisiplinan shalat menjadi aspek motorik dalam kesadaran beragama adalah karena dengan mengerjakan shalat, seseorang akan terhindar dari berbagai perbuatan dosa, jahat, dan keji. 23 2) Menunaikan ibadah puasa Yang dimaksud menunaikan ibadah puasa; adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa, seperti Manahan makan, minum, nafsu, menahan berbicara yang tidak berguna dan sebagainya dengan disertai niat 24. Seseorang berkewajiban menunaikan ibadah puasa sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 183: 183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, Yang menyebabkan menunaikan ibadah puasa menjadi aspek motorik dalam kesadara beragama adalah karena dengan 22 Hamka, Tafsir Al-azhar, (Jakarta: Pustaka Panji Mas, 1984), juz. V, hlm Ibid., hlm Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, (Bandung: PT. Sinar Baru Algensindo, 2000), cet. III, hlm
19 Kesadaran Beragama menunakan ibadah puasa, maka seseorang akan memiliki sebagai beikut: a) Sifat terima kasih (syukur) kepada Allah karena semua ibadah megandung arti terima kasih kepada Allah atas nikmat pemberiannya yang tidak terbatas banyaknya dan tidak ternilai harganya 25. b) Ketaqwaan; seseorang yang telah sanggung menahan rasa lapar dan dahaga karena ingat perintah Allah, sudah tentu ia tidak akan berani meninggalkan perintah Allah dan melanggar larangan-nya. c) Perasaan sosial yang tinggi; karena seseorang yang telah merasa sakit dan pedihnya perut kosong, hal ini akan dapat mengukur kepedihan dan kesedihan orang yang merasakan kelaparan karena ketiadaan. Dengan demikian akan timbul perasaan belas kasihan dan suka menolong orang yang lemah dan fakir miskin. d) Pengendalian diri terhadap sikap emosional yang terkadang bertentangan dengan ajaran agama. e) Kesehatan jiwa dan raga 26. Dengan demikian menunaikan ibadah puasa juga menjadi salah satu aspek motorik dalam kesadaran beragama, karena setelah seseorang menunaikan ibadah puasa dengan baik dan disertai rasa ikhlas, maka mereka telah bersedia menjalankan perintah agama dan berarti merekapun sadar beragma. 3) Berakhlak baik a) Ketaatan; adalah patuh pada aturan-atuan dan ketentuan-ketentuan yang diatur oleh Alah SWT dan 25 Sulaiman Rasjid,, op. cit., hlm Sulaiman Rasjid, op. cit., hlm
20 Modul Psikologi Agama Rasul-Nya. Sebagai dasar untuk taat kepada Allah SWT, RAsul dan pemimpin adalah disebutkan dalam Al- Qur an surat An-nisa ayat Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. Sikap taat timbul dari kesadaran kalbu dan jiwa. Sikap ini merupakan bibit pertama yang harus dipupuk dalam jiwa anak dengan cara yang lembut dan perlahan-lahan. Di dalam menanamkan ketaatan harus dibekali dengan kesabaran, tanpa paksaan sehingga akan memermudah untuk mengetuk pintu kalbu dan rasio mereka serta memperlancar dalam berkomunkasi dengan mereka 27. Yang menyebabkan sifat taat menjadi aspek motorik dalam kesadaran beragama adalah karena dengan memiliki sifat ketaatan, berarti seseorang telah 27 Aba Firdaus Al-halwani, Melahirkan Anak Saleh (Kajian Psikologi Dan Agama), (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 1999), cet. III, hlm
21 Kesadaran Beragama melaksanakan perintah agama dan telah melakukan esediannya dalam berperilaku agama. Juga ketaatan merupakan perilaku keagamaan yang harus dimiliki oleh seseorang dalam beragama. Untuk mengembangkan ketaatan perlu diajarkan latihan-latihan keagamaan yang menyangkut ibadah seperti: mengerjakan shalat berjama ah, membaca Al-qur an, patuh terhadap kedua orang tua dan lain sebagainya. Sehingga lama-kelamaan mereka akan terbiasa melakukan ketaatan tersebut tanpa harus diperintah, melainkan motivasi yang muncul dari dalam dirinya sendiri sebagai suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. b) Kejujuran (ash-sidqu) berarti benar. Yang dimaksud dengan kejujuran adalah memberitahukan, menuturkan sesuatu dengan sebenarnya sesuai dengan kenyataan, sedangkan pemberitahuan tersebut bukan hanya perkataan saja namun juga termasuk dalam perbuatan. Sifat jujur merupakan tonggak akhlak yang mendasari pribadi yang benar bagi seseorang, sedangkan sifat pembohong merupakan kunci segala perbuatan yang jahat. Sifat jujur tidak dapat ditanamkan pada anak melainkan hanya dengan keteladanan dan pembinaan yang terus menerus 28. Sikap jujur sangat penting untuk dijadikan sebagai kepribadian seseoran, maka penanaman sikap jujur ini harus dilakukan sejak dini melalui pembiasaan, pelatihan dan pengawasan. Karena pembiasaan dan latihan tersebut nantinya akan menjadi 28 Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1970), hlm
22 Modul Psikologi Agama bagian dari pribadi yang utuh dan kuat sebagai seorang agamis. Dengan demikian kejujuran juga termasuk aspek motorik dalam kesadaran beragama, karena dengan sikap jujur berarti seseorang telah bertindak sesuai dengan moralitas agama yang diperintahkan terhadap umatnya. c) Amanah; sifat amanah yang dimaksud adalah menjaga pendengaran, pengucapan, dan penggunaan pandangan mata dari hal-hal yang dilarang agama. Dalam Al-qur an surat Al-Isra ayat 36 dijelaskan bahwa kita diwajibkan untuk memelihara segala pendengaran, pengucapan, da perbuatan dari sesuatu yang dilarang agama, karena apa yang kita dengarkan, segala perkataan, dan perbuatan nantinya akan kita pertanggungjawabkan di hari perhitungan. Oleh karena itu kita harus mampu memelihara anggota badan dari segala perbuatan dosa melalui latihan dan pembiasaan diri. Dengan demikian sikap amanaj juga termasuk aspek motorik dalam kesadaran beragama yang harus dimiliki seseorang, karena dengan memiliki sifat ini seseorang akan terpelihara dari ucapan, pendengaran, penglihatan, dan segala perbuatan yang dilarang agama. d) Ikhlas; yang dimaksud dengan ikhlas adalah berbadah kepada Allah SWT yang dilandasi kepasrahan diri, melaksanakan segala yang diperintahkan agama dengan perasaan tulus dan tanpa mengharap balasan apapun. Sifat ikhlas ini sangat penting bagi kepribadian seseorang, maka penanaman sifat ikhlas ini harus diajarkan secara dini dan bertahap terhadap seorang anak. Tahap pertama dengan memberika pengarahan, 112
23 Kesadaran Beragama kemudian dilakukan pengawasan. Sehingga lamakelamaan seorang aak akan terbiasa melakukannya sendiri tanpa diperintah. Dengan demikian sifat ikhlas termasuk aspek motorik dalam kesadaran beragama, karena setelah seseorang dalam beragama memiliki sifat ini, mereka di dalam menjalankan perintah agama didasari perasaan jiwa yang benar-benar mengabdi kepada Alah bukan untuk mendapat imbalan. Sehingga sifat ini harus dimiliki oleh seseorang dalam menjalankan ajaran agama, apabila mereka telah sadar dalam beragama. e) Tidak sombong; dalam agama Islam Allah SWT telah melarang keras terhadap orang-orag yang sombong, karena orang yang mempunyai sifat sombong akan merugikan diri sendiri dan membawa ke jalan kesesatan. Bahwa orang yang sombong adalah orang yang tidak tahu dimana letak dirinya. Bersifat angkuh, karena dia telah lupa bahwa hidup manusia di dunia ini hanyalah semata-mata karena pinjaman Tuhan, manusia lupa bahwa mereka berasal dari air mani yang bergelegah, campuran air si laki-laki dan si perempuan dan kelak ia akan mati dan akan kembali ke tanah, tinggal tulangtulang yang menakutkan sehingga diperingatkan siapa sebenarnya diri manusia yang mencoba untuk sombong itu?.. oleh karena itu seorang mukmin sejati adalah seseorang yang tahu diri, lalu diletakkannya diri itu di tempat yang sebenarnya, maka itulah yang disebut dengan orang yang tawadhu. Sifat ini juga termasuk aspek motorik dalam kesadaran beragama, karena 113
24 Modul Psikologi Agama dengan memiliki sifat ini seseorang dalam beragama akan terhindar dari perbuatan tercela yang dilarang oleh agama. Apabila seseorang telah melaksanakan sifat ini, berarti mereka telah mentaati ajaran agama dan berarti menunjukkan kesadarannya dalam beragama. D. Perkembangan Jiwa Agama (Mulai Anak-anak sampai manula) D.1.Perkembangan Jiwa Agama pada Masa Anak-anak Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata-kata orang yang ada dalam lingkungannya, yang pada awalnya diterima secara acuh. Tuhan bagi anak pada permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan tidak dikenalnya serta diragukan sifat kebaikannya. Tidak adanya perhatian terhadap Tuhan pada tahap pertama ini dikarenakan ia belum mempunyai pengalaman yang akan membawanya kesana, baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Namun, setelah ia menyaksikan reaksi orang-orang disekitarnya yang disertai oleh emosi atau perasaan tertentu yang makin lama makin meluas, maka mulailah perhatiannya terhadap kata Tuhan itu tumbuh. Perasaan seorang anak terhadap orangtuanya sebenarnya sangat kompleks. Ia merupakan campuran dari bermacam-macam emosi dan dorongan yang saling bertentangan. Menjelang usia 3 tahun, yaitu umur dimana hubungan dengan ibunya tidak lagi terbatas pada kebutuhan akan bantuan fisik, akan tetapi meningkat lagi pada hubungan emosi dimana ibu menjadi objek yang dicintai dan butuh akan kasih sayangnya, bahkan mengandung rasa permusuhan bercampur bangga, butuh, takut, dan cinta kepadanya secara sekaligus, maka anak mulai membuat konsep yang sangat sederhana tentang siapa Tuhan. Menurut Zakiah Darajat, sebelum usia 7 tahun perasaan anak terhadap Tuhan pada dasarnya negatif. Ia berusaha menerima pemikiran tentang kebesaran dan kemuliaan Tuhan. Sedangkan gambaran mereka tentang Tuhan sesuai dengan emosinya. Kepercayaan yang terus menerus tentang Tuhan, tempat dan bentuknya bukanlah karena rasa ingin tahunya, tetapi didorong oleh 114
25 Kesadaran Beragama perasaan takut dan ingin rasa aman, kecuali jika orangtua anak mendidiknya supaya mengenal sifat Tuhan yang menyenangkan. Namun pada masa kedua (7 tahun keatas) perasaan anak terhadap Tuhan berganti positif (cinta dan hormat) dan hubungannya dipenuhi oleh rasa percaya dan merasa aman. Adapun faktor-faktor yang dominan dalam perkembangan jiwa keagamaan anak yaitu: a. Rasa ketergantungan Teori ini dikemukakan oleh Thomas dalam teori Faur Wishes. Menurutnya manusia dilahirkan ke dunia ini memiliki empat keinginan, yaitu: keinginan untuk perlindungan, keinginan akan pengalaman baru, keinginan untuk mendapat tanggapan, dan keinginan untuk dikenal. Berdasarkan kenyataan dan kerjasama dari keempat keinginan itu, maka bayi sejak dilahirkan hidup dalam ketergantungan. Melalui pengalaman-pengalaman yang diterimanya dari lingkungannya kemudian terbentuklah rasa keagamaan pada anak. b. Instink keagamaan Menurut Woodworth, bayi yang dilahirkan sudah memiliki beberapa instink. Diantaranya adalah instink keagamaan. Belum terlihatnya perilaku keagamaan pada diri anak karena beberapa fungsi kejiwaan yang menopang kematangan berfungsinya instink itu belum sempurna. Dengan demikian, isi, warna, dan corak perkembangan keberagamaan anak sangat dipengaruhi oleh keimanan, sikap, dan tingkah laku keagamaan orangtuanya. Keadaan jiwa orang tua sudah berpengaruh terhadap perkembangan jiwa anak sejak janin dalam kandungan. Sedangkan Ernest Harm dalam bukunya Development of Religious on Children, menjelaskan bahwa perkembangan agama pada anak melalui tiga tahapan, yaitu: 1) The Fairy Tale Stage (tahap dongeng) Tahap ini dimulai pada anak berusia 3-6 tahun. Pada tahap ini pemahaman anak tentang konsep Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi 115
26 Modul Psikologi Agama dan emosi. Hal ini dikarenakan pemahaman konsep ketuhanan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya, yang mana kehidupan masa ini masih banyak dipengaruhi oleh kehidupan fantasi hingga dalam menanggapi agama juga masih menggunakan konsep fantasi itu. 2) The Realistic Stage (tahap kenyataan) Tahap ini biasanya dimulai sejak anak masuk sekolah dasar. Pada masa ini ide ketuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan pada kenyataan (realistis). Konsep ini timbul melalui lembaga-lembaga keagamaan dan pengajaran agama dari orang dewasa lainnya. Ide pemahaman keagamaan pada masa ini atas dorongan emosional, hingga mereka bisa melahirkan konsep Tuhan yang formalis. Berdasarkan hal itu maka pada masa ini anak-anak tertarik dan senang pada lembaga keagamaan yang mereka lihat dan dikelola oleh orang dewasa dalam lingkungan mereka. 3) The Individual Stage (tahap individu) Pada tahap ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang paling tinggi sejalan dengan usianya, konsep ini terbagi atas tiga golongan, yaitu: a) Konsep ketuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil dari fantasi. Hal tersebut dipengaruhi faktor dari luar diri anak. b) Konsep ketuhanan yang lebih murni yang dinyatakan dalam pandangan yang bersifat personal (perorangan) c) Konsep ketuhanan yang bersifat humanistik. Agama telah menjadi etos humanis pada diri mereka dalam menghayati ajaran agama. Perubahan pada setiap tingkatan ini dipengaruhi oleh faktor interen, yaitu perkembangan usia dan faktor ekstern berupa faktor luar yang bersifat alamiah. Sebagai mahluk ciptaan Tuhan, sebenarnya potensi agama sudah ada pada diri manusia sejak ia dilahirkan. Potensi ini berupa dorongan kepada Sang Pencipta, atau dalam Islam disebut Hidayah al-diniyyah berupa benih-benih 116
27 Kesadaran Beragama keberagamaan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Dengan adanya potensi ini, manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang beragama dan memiliki kesiapan untuk tunduk dan patuh kepada Tuhan. Memahami konsep keagamaan pada anak, berarti memahami sifat keagamaan pada diri mereka. Sesuai dengan cirri yang mereka miliki, maka sifat keagamaan pada anak-anak tumbuh mengikuti pola ideas concept on outhority yaitu ide keagamaan pada anak hampir sepenuhnya autoritas, maksudnya faktor keagamaan pada diri mereka dipengaruhi oleh faktor dari luar diri mereka, baik faktor lingkungan maupun orang-orang dewasa disekitarnya. Ketaatan anak kepada ajaran agama merupakan kebiasaan yang menjadi milik mereka yang mereka pelajari dari orang tua dan guru mereka. Bagi mereka sangat mudah untuk menerima ajaran dari orang dewasa walaupun belum mereka sadari sepenuhnya manfaat ajaran tersebut. Oleh karena itu bentuk dan sifat agama pada diri anak dapat dibagi atas: 1. Unreflective (tidak mendalam) Kebenaran yang diterima anak tidak begitu mendalam sehingga cukup sekedarnya saja dan mereka cukup puas dengan keterangan yang kadang-kadang kurang masuk akal. Meskipun demikian pada beberapa anak, ada diantara mereka yang memiliki ketajaman pemikiran untuk menimbang pendapat yang mereka terima dari orang lain. 2. Egosentris Anak memiliki kesadaran akan dirinya sendiri sejak tahun pertama perkembangannya dan akan berkembang sejalan dengan pertambahan pengalamannya. Apabila kesadaran diri pada diri anak itu mulai berkembang, maka akan tumbuh rasa keraguan pada rasa egonya, semakin tumbuh maka akan semakin meningkat pula rasa egoisnya. Sehubungan dengan hal itu maka dalam masalah keagamaan anak telah menonjolkan kepentingan dirinya dan telah menuntut konsep keagamaan yang mereka pandang dari kesenangan pribadinya. 3. Antromorphis 117
28 Modul Psikologi Agama Pada umumnya konsep mengenai ketuhanan pada anak barasal dari hasil pengalamannya dikala ia berhubungan dengan orang lain. Tapi suatu kenyataan bahwa konsep ketuhanan mereka tampak jelas menggambarkan aspek-aspek kemanusiaan. Mulai konsep ini terbentuk dalam pikiran mereka dan mereka menganggap bahwa keberadaan Tuhan itu sama dengan manusia. 4. Verbalis dan Ritualis Dari realitas yang bisa diamati, ternyata kehidupan agama pada anakanak sebagain besar tumbuh pada awalnya secara verbal (ucapan). Mereka menghafal secara verbal kalimat-kalimat keagamaan dan selain itu pula dari amaliah yang mereka laksanakan berdasarkan pengalaman menurut tuntunan yang diajarkan kepada mereka. 5. Imitatif Dalam hal menjalankan keagamaan yang dilakukan oleh anak-anak berdasarkan dari hasil meniru, yang mereka peroleh dari hasil melihat perbuatan di lingkungan, baik berupa pembiasaan ataupun pengajaran yang intensif. 6. Rasa Heran Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan yang terkahir pada anak. Berbeda dengan rasa kagum yang ada pada orang dewasa, rasa kagum pada anak belum bersifat kritis dan kreatif, karena mereka hanya kagum pada keindahan lahiriah saja. Hal ini merupakan langkah pertama dari pernyataan kebutuhan anak akan dorongan untuk mengenal sesuatu yang baru. Rasa kagum mereka dapat disalurkan melalui cerita-cerita yang menimbulkan rasa takjub. Dalam pembinaan agama pada pribadi anak sangat diperlukan pembiasaan dan latihan-latihan yang cocok dan sesuai dengan fase perkembangan jiwanya. Karena latihan dan pembiasaan akan membentuk sikap tertentu pada anak, yang secara bertahap sikap tersebut akan bertambah jelas dan kuat dan akhirnya tidak akan tergoyahkan lagi, karena telah terintegrasi dalam kepribadiannya. 118
29 Kesadaran Beragama Secara rinci, pembinaan agama pada anak yang sesuai dengan sifat keberagamaan anak dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan berikut: 1. Pembinaan agama dengan lebih menekankan pada pengalaman langsung, misalnya shalat berjamaah, zakat, sedekah, silaturahmi, atau kegiatan lainnya yang bisa diikuti anak. Kegiatan semacam ini dengan ditambahkan penjelasan sederhana, atau dengan cerita-cerita yang tidak membebani pikiran anak akan efektif dalam pengembangan jiwa keagamaan mereka. 2. Melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang disesuaikan dengan kesenangan anak, menyesuaikan dengan sifat keagamaan anak yang masih egosentris. Model pembinaan keagamaan tidak mengikuti kemauan orangtua atau guru, namun harus menyesuaikan dengan kondisi psikologis anak dengan banyak variasi agar anak tidak cepat bosan. Oleh karena itu, orangtua atau guru dituntut untuk kreativ dalam menggunakan metode pembinaan, dengan berganti-ganti model meskipun materi yang disampaikan sama. 3. Pengalaman keagamaan anak selain diperoleh dari orangtua, guru, atau teman-temannya, juga mereka peroleh dari lingkungan sekitarnya yang secara tidak langsung telah mengajarkan pola-pola hidup beragama. Oleh karena itu, anak sekali waktu bisa diajak untuk berbaur dengan lingkungan sekitarnya dalam melaksanakan kegiatan keagamaan, misalnya dalam kegiatan shalat tarawih, shalat jum at, kegiatan pengajian atau kegiatan sosial keagamaan yang lainnya. Hal ini mengingat sifat keagamaan anak yang masih anthromorphis agar anak semakin termotivasi untuk menirukan perilaku keagamaan masyarakat disekitarnya. 4. Pembinaan agama pada anak juga perlu dilakukan secara berulang-ulang melalui ucapan yang jelas serta tindakan secara langsung. Seperti mengajari anak shalat, maka lebih dahulu diajarkan tentang hafalan bacaan shalat secara berulang-ulang sehingga hafal sekaligus diiringi dengan tindakan shalat secara langsung dan akan lebih menarik jika dilakukan 119
30 Modul Psikologi Agama bersama-sama dengan teman-temannya. Setelah anak hafal bacaan shalat dan gerakannya, maka seiring bertambahnya usia, pengalaman, dan pengetahuannya baru dijelaskan tentang syarat, rukun serta hikmah shalat. Demikian juga pada materi-materi pembinaan agama lainnya. 5. Mengingat sifat agama anak masih imitative, pemberian contoh nyata dari orangtua, guru, dan masyarakat di lingkungan sekitarnya sangatlah penting. Untuk itu dalam proses pembinaan tersebut perilaku orangtua maupun guru harus benar-benar dapat dicontoh anak baik secara lisan maupun tindakan. 6. Melaui kunjungan langsung di pusat-pusat kegiatan keagamaan, misalnya kunjungan ke pesantren, panti asuhan, atau wisata religi. Selain itu audio visual juga bisa digunakan untuk menambah pengetahuan dan wawasan anak. Dengan demikian, penanaman agama pada anak dimulai dengan contoh tindakan secara langsung atau melalui kunjungan dan pembauran dengan masyarakat sekitarnya dalam kegiatan keagamaan akan dapat mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan anak. D.2. Perkembangan Jiwa Agama Remaja a. Masa Pra-Remaja (usia tahun) Perkembangan jiwa agama pada masa ini bersifat berurutan mengikuti sikap keberagamaan orang-orang yang ada disekitarnya. Secara singkat, perkembangan jiwa agama anak-anak remaja di usia ini, yaitu: (1) ibadah mereka karena dipengaruhi oleh keluarga, teman, lingkungan, dan peraturan sekolah. Belum muncul dari kesadaran mereka secara mandiri. (2) kegiatan keagamaan lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi emosional dan pengaruh luar diri. b. Masa Remaja Awal (usia tahun) Perkembangan jiwa agama pada usia ini adalah menerima ajaran dan perilaku agama dengan dilandasi kepercayaan yang semakin mantap. Kemantapan jiwa agama pada diri mereka disebabkan oleh beberapa hal, yaitu: 120
31 Kesadaran Beragama (1) Timbulnya kesadaran untuk melihat pada dirinya sendiri. Dengan semakin matangnya organ fisik, psikis, dan pikiran maka remaja semakin banyak merenungkan dirinya sendiri, baik kekurangan maupun kelebihannya, serta persiapan-persiapan masa depannya. Kesadaran ini akan mengarahkan mereka untuk berpikir secara mendalam tentang ajaran dan perilaku agamanya. (2) Timbulnya keinginan untuk tampil di depan umum (sosial) guna menunjukkan eksistensi diri dan belajar mengambil peran-peran sosial. Termasuk dalam bidang keagamaan, remaja di usia ini termotivasi untuk terlibat secara aktif, misalnya terlibat dalam kegiatan remaja Masjid, mengajar di Taman Pendidikan Al-qur an (TPA) dan sebagainya. Keterlibatan mereka dalam kegiatan keagamaan bukan sekedar mencari pahala atau menebus dosa, namun lebih disebabkan karena keinginan yang kuat untuk mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitarnya, dimana pengakuan tersebut penting untuk membangun kepercayaan diri dan kepuasan batin mereka. (3) Dengan semakin mantapnya jiwa keagamaan di usia ini dan dibarengi dengan kedalaman ilmu agama, maka remaja akan semakin berusaha meninggalkan segala bentuk bid ah dan khurofat dalam beragama, seperti datang ke dukun, belajar ilmu kebal, atau memakai jimat. Mereka akan cenderung pada kegiatan keberagamaan yang bersifat formal. Namun sebaliknya pada remaja yang kurang mendalam ilmu agamanya dan kurang matang jiwa keagamaannya, mereka akan cenderung memilih hal-hal negative yang bertentangan dengan syari at agama, misalnya dengan mendatangi dukun, atau memakai jimat untuk kekebalan tubuh. Perilaku yang tidak rasional ini mereka pilih sebagai salah satu upaya untuk mendapat pengakuan dari orangorang disekitarnya agar mereka dianggap hebat dan memiliki kelebihan. c. Masa Remaja Akhir (usia tahun) Perkembangan jiwa agama pada usia ini ibarat grafik yang bukan semakin naik justru semakin menurun apabila dibandingkan dengan masa sebelumnya. Jiwa agama remaja akhir semakin menurun dipengaruhi oleh dorongan seksual yang kuat dari dalam diri mereka dan belum ada kesempatan 121
32 Modul Psikologi Agama untuk menyalurkannya ditambah dengan rasionalisasi ajaran agama yang semakin kuat serta realitas kehidupan masyarakat sekitarnya yang sering bertentangan dengan norma-norma agama. Kondisi tersebut menyebabkan jiwa agama yang sudah dipupuk sejak kecil akan mengalami penurunan. Terkait dengan masalah ini, Dr. Al-Malighy dalam salah satu laporan hasil penelitianya menemukan keraguan remaja dalam beragama cenderung terjadi pada usia tahun. Beberapa karakteristik perkembangan jiwa keagamaan remaja akhir, yaitu: 1) Percaya terhadap kebenaran agama tetapi penuh keraguan dan kebimbangan 2) Keyakinan dalam beragama lebih dipengaruhi oleh faktor rasioanl daripada emosional 3) Pada masa ini mereka merasa mendapatkan kesempatan untuk mengkritik, menerima, atau menolak ajaran agama yang sudah diterima sejak kecil. Keraguan jiwa agama remaja semakin memuncak ketika memasuki usia 21 tahun. Pada usia akhir remaja, seseorang cenderung semakin tidak percaya sama sekali (mengalami peralihan) terhadap Tuhan maupun ajaran agama yang diyakini sebelumnya. Hal itu ditandai dengan: 1) Mengingkari terhadap Tuhan dan ingin mencoba mencari kepercayaan lain, tetapi hati kecilnya menolak dan masih percaya pada Tuhan yang sudah diyakini sebelumnya. 2) Jika pada usia sebelumnya, remaja tidak mendapatkan pondasi agama yang kuat maka bisa mengarah pada perilaku atheis (menafikan Tuhan) Semua perubahan fisik yang begitu cepat pada masa remaja akan menimbulkan kecemasan pada diri mereka, sehingga menyebabkan terjadinya kegoncangan emosi, kecemasan, dan kekhawatiran. Bahkan keyakinan terhadap agama yang sudah dipupuk dari kecil juga dimungkinkan akan mengalami perubahan, karena mereka kecewa terhadap diri mereka sendiri dan lingkungan 122
33 Kesadaran Beragama sekitarnya yang sering melanggar norma-norma agama. Kepercayaan remaja terhadap Tuhan kadang menguat dan kadang menjadi ragu dan berkurang, hal ini bisa dilihat dalam aktivitas ibadah mereka yang terkadang sangat rajin dan terkadang bermalas-malasan atau bahkan meninggalkan sama sekali. Perasaan mereka kepada Tuhan sangat tergantung pada kondisi emosi mereka, terkadang mereka merasa sangat butuh sekali kepada Tuhan terutama ketika berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan, misalnya ketika takut akan kegagalan atau takut akan akibat dari dosa-dosa. Namun terkadang mereka merasa tidak membutuhkan Tuhan lagi, terutama ketika sedang senang, bahagia, atau gembira. Pemahaman terhadap dinamika psikologis remaja sangat diperlukan oleh para orangtua dan guru terutama guru agama. Proses penanaman nilai-nilai agama tidak bisa disamakan dengan masa sebelumnya, dimana ketika sebelum remaja mereka masih cenderung imitave dan akan cenderung mematuhi segala himbauan yang berupa perintah maupun larangan dengan tanpa melalui proses rasionalisasi. Perkembangan intelektual remaja telah sampai pada kemampuan untuk memahami hal-hal yang bersifat abstrak, yaitu pada usia 12 tahun dan mampu mengambil kesimpulan yang abstrak dari realiats yang dia dengar atau dilihat. Maka pendidikan agama tidak akan mereka terima begitu saja tanpa melalui proses pemikiran dan pemahaman. Segala bentuk penjelasan yang pada usia anak-anak akan mereka terima begitu saja tanpa banyak bertanya, akan berubah pada usia remaja. Dimana anak remaja akan selalu mempertanyakan segala hal yang diajarkan, terutama jika dirasa tidak masuk akal. Mereka akan banyak mempertanyakan segala sesuatu yang bertentangan dengan cara berpikir mereka. Oleh karena itu, orang tua dan guru agama dituntut untuk mampu menjelaskan segala sesuatu yang terkait dengan ajaran agama secara kongkrit dan tidak mendeskriminasikan remaja dengan doktrin-doktrin keagamaan yang mematahkan rasa ingin tahu mereka. Misalnya dengan menggunakan dogma- 123
34 Modul Psikologi Agama dogma pahala dan dosa, atau dengan dogma surge dan neraka untuk menutup rasa penasaran mereka. Segala pemahaman terhadap agama hendaknya bisa dijelaskan secara jelas dengan tidak menutup proses dialogis dengan mereka. Proses pencarian kebenaran yang dibangun oleh remaja adalah sebuah proses panjang yang akan selalu mereka lewati untuk membentuk konsep yang benar tentang Tuhan dengan segala sifat-nya. Pencarian kebenaran tersebut dibarengi dengan proses pencarian jati diri remaja. Jika orangtua dan guru agama mampu mengarahkan proses tersebut, maka kemungkinan akan kesalahan terhadap pendefinisian Tuhan akan bisa diminimalisir atau bahkan akan terbangun konsep keyakinan yang kokoh dalam diri remaja. Kekhawatiran akan penistaan terhadap Tuhan akan bisa diantisipasi jika orang-orang yang ada disekitar mereka mampu memberikan ruang untuk berdialog secara rasional dan empiris serta berusaha untuk memberikan teladan yang baik bagi mereka. D.3.Usia Lanjut dan Ketakutan akan Kematian Kesadaran beragama adalah rasa keagamaan, pengalaman ketuhanan, keimanan, sikap, dan tingkah laku keagamaan yang terorganisasi dalam sistem mental dan kepribadian. Karena agama melibatkan seluruh fungsi jiwa dan raga manusia, maka kesadaran beragamapun mencakup aspek-aspek: afektif, konatif, kognitif, dan motorik. Aspek afektif dan konatif terlihat di dalam pengalaman ketuhanan, rasa keagamaan, dan kerinduan kepada Tuhan. Aspek kognitif terlihat pada keimanan dan kepercayaan, sedangkan aspek motorik terlihat pada perbuatan dan gerakan tingkah laku keagamaan 29 Menurut pendapat Freud (tokoh psikoanalisa), kesadaran beragama muncul karena rasa ketidakberdayaan manusia menghadapi bencana atau berbagai kesulitan dalam hidup. Sedangkan menurut behaviorisme, munculnya kesadaran beragama pada manusia karena didorong oleh rangsangan hukuman (adanya siksa; neraka) dan hadiah (adanya pahala; surga). Dan menurut 29 Abdul Aziz Ahyadi, Psikologi Agama (Kepribadian Muslim Pancasila), (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1995) Cet. III, h
35 Kesadaran Beragama Abaraham Maslow (tokoh humanistik), kesadaran beragama terjadi karena adanya dorongan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang tersusun secara hirarkis dimana puncak dari kebutuhan tersebut adalah aktualisasi diri yang menyebabkan manusia menyatu dengan kekuatan transedental 30 Selama masa kanak-kanak, remaja, dewasa awal hingga dewasa akhir, manusia lebih cenderung untuk berfikir tentang kehidupan setelah mati dari pada sebab-sebab yang menjadikan seseorang mati. Sebagai hasil dari pendidikan agama, pada setiap individu melahirkan konsep yang berbeda tentang kehidupan setelah mati, tergantung kualitas dan kuantitas pendidikan yang mereka dapatkan baik di keluarga, sekolah, maupun di lingkungan masyarakat. Semakin lanjut usia seseorang, maka semakin sering pula mereka memikirkan tentang kematian. Hal ini dipicu oleh kondisi mental dan fisik yang semakin memburuk. Kekhawatiran ini biasanya terkait dengan peningkatan rasa keagamaan, cenderung lebih taat beribadah, dan melakukan aktivitas-aktivitas sosial yang bermanfaat. Adapun pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul di hati para lanjut usia antara lain: 1. Kapankah kematian akan datang? Walaupun para lanjut usia sadar bahwa tak seorangpun di dunia ini mengetahui datangnya kematian, namun keinginan untuk melakukan hal-hal positif sebelum ajal tiba mendorong mereka untuk selalu mempertanyakan tentang kematian. 2. Apa sajakah kira-kira yang menyebabkan kematian? Data statistik menunjukkan bahwa terdapat empat penyebab kematian paling umum yang terjadi pada para lanjut usia, yaitu: serangan jantung, kanker, serangan otak/ stroke, dan kecelakaan. 3. Bisakah saya mendapatkan kematian seperti yang saya inginkan? 30 Djamaluddin Ancok dan Fuad Nashori Suroso, Psikologi Islami: Solusi Islam atas Problem-Problem Psikologi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1994), h
36 Modul Psikologi Agama Dewasa ini di luar negeri, terdapat segolongan orang yang mempercayai aliran euthanasia, yaitu suatu aliran yang mencetuskan teori pembunuhan karena belas kasihan. Teori ini beranggapan bahwa seseorang yang menderita karena sakaratul maut, penyakit yang tidak terobati, atau orang yang hilang harapan karena suatu penyakit sebaiknya diperbolehkan mati secara damai melalui pembedahan, transfusi darah, dan lain-lain. Namun konsep euthanasia hingga saat ini belum disahkan karena menimbulkan kontroversi antara agama, kedokteran, dan hukum. 4. Munculnya bayangan pertanyaan, bolehkah saya bunuh diri? Semakin menurunnya kualitas fisik dan mental para lanjut usia akan cenderung melahirkan keputusasaan. Keputusasaan ini membuat para lanjut usia merasa tidak berharga atau sudah tidak dihargai lagi, oleh karenanya menimbulkan pemikiran-pemikiran tentang kematian yang berlebihan sehingga ketika mental mereka lemah tidak menutup kemungkinan akan muncul didalam benak mereka untuk segera mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri. 5. Bagaimana agar bisa meninggal dengan baik? (khusnul khotimah) Kekhawatiran atas pertanyaan tersebut mendorong para lanjut usia untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah mereka. Tiga perubahan regresi yang dialami oleh para lanjut usia, yaitu: perubahan fisik, mental, dan sosial. Perubahan ini akan berakibat pada kemampuan untuk mengontrol dirinya sendiri. Efek dari perubahan tersebut menentukan apakah pria atau wanita lanjut usia akan melakukan penyesuaian diri secara baik atau tidak. Akan tetapi, cirri-ciri lanjut usia cenderung menuju dan membawa penyesuaian diri yang kurang baik dan cenderung membawa kepada kesengsaraan. Hurlock (1999) menyatakan bahwa para lanjut usia lebih cenderung pada hal-hal yang tidak menyenangkan dan hal ini dapat berimbas pada beberapa aspek penurunan fisik atau psikis. Sehingga tidak sedikit orang lanjut usia yang menjadi cerewet dan serba salah. Hal ini tergantung dari masing- 126
37 Kesadaran Beragama masing individu bagaimana dia mengontrol dirinya dalam melewati masa labil, yaitu masa dimana terdapat hal-hal yang tidak menyenangkan. Sehingga dibutuhkan sifat tawakkal dan qona ah (kepasrahan dan penerimaan diri) yang baik serta tingkat control diri yang tinggi agar individu tidak terjerumus pada hal-hal negative yang membawa pada tekanan mental 31. Fenomena yang ada dalam menangani masalah lanjut usia seringkali mengabaikan aspek moral dan spiritual. Para terapis hanya melihat dari dimensi psikologis saja, sehingga yang timbul hanyalah ketimpangan-ketimpangan akibat ketidak seimbangan. Dalam hal ini persoalan yang harus ditangani tidak hanya terbatas pada aspek mental, psikologis, dan social saja, namun juga telah merambah pada persoalan yang berdimensi moral spiritual 32. Dalam masyarakat Islam, praktik psikoterapi juga telah diterapkan bahkan ada yang sudah dilembagakan. Fungsi sebagai psikoterapis banyak dilakukan oleh para tokoh agama atau ulama, guru sufi/ tharikat, dan para Kyai yang ainggap memiliki kelebihan-kelebihan spiritual atau supranatural. Persoalannya adalah bahwa system yang digunakan dan diterapkan itu sering kali masih bersifat implicit dan belum sistematis sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah. Suatu analisis dari studi penelitian yang berhubungan dengan kegiatan keagamaan pada usia tua membuktikan bahwa ada fakta-fakta tentang meningkatnya minat terhadap agama sejalan dengan bertambahnya usia dan ada pula fakta-fakta yang menunjukkan penurunan minat terhadap agama pada usia tersebut. Covalt menyebutkan bahwa sikap sebagian besar orang berusia lanjut terhadap agama mungkin lebih sering dipengaruhi oleh bagaimana mereka dibesarkan atau apa yang telah diterima pada saat mencapai kematangan intelektualnya. Adapun cirri-ciri keberagamaan pada lanjut usia antara lain 31 Elizabet Hurlock, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Erlangga, 1999) h Dadang Hawari, Al-Qur an: Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa, (Yogyakarta: Dana Bakti, 1999) h
38 Modul Psikologi Agama 1. Kehidupan keagamaan pada lanjut usia sudah mencapai tingkat kematangan. 2. Meningkatnya kecenderungan untuk menerima pendapat keagamaan. 3. Mulai muncul pengakuan terhadap realitas tentang kehidupan akhirat secara lebih mendalam dan penuh kesungguhan. 4. Sikap keagamaan cenderung mengarah kepada kebutuhan saling cinta antara sesama manusia, serta sifat-sifat luhur. 5. Timbul rasa takut kepada kematian yang meningkat sejalan dengan pertambahan usia lanjutnya. 6. Perasaan takut kepada kematian ini berdampak pada peningkatan pembentukan sikap keagamaan dan kepercayaan terhadap adanya kehidupan abadi (akhirat). Berdasarkan ciri-ciri diatas, terdapat tiga kegiatan keagamaan yang bisa menjadi terapi religious bagi para lanjut usia sekaligus untuk menstabilkan control dalam dirinya. Hal ini merujuk kepada hasil penelitian yang dilakukan oleh Chotifah (2001) tentang korelasi zikir dengan control diri pada lanjut usia di pondok pesantren Raudlatul Ulum Kencong, Pare, Kediri yaitu: 1. Teknik puasa; Puasa merupakan salah satu kewajiban umat Islam. Efek positif puasa secara fisik dan psikologis telah diakui oleh para ahli medis dan psikologis, salah satunya adalah untuk untuk mengontrol hawa nafsu secara umum. Dalam konteks terapi puasa yang berarti pengendalian diri dapat diterapkan untuk mengembangkan control diri terhadap suatu jenis nafsu tertentu. 2. Teknik paradox; Teknik ini dilakukan untuk menumbuhkan control diri terhadap hal-hal yang sangat disukai seseorang. Tujuannya agar seseorang mampu mengendalikan suatu keinginan dengan cara melawan keinginan tersebut. 128
39 Kesadaran Beragama 3. Teknik dzikrullah; Teknik ini dilakukan dengan cara mengingat nikmatnikmat Allah dan atau menyebut lafadz-lafadz Allah, bertahlil, bertahmid, bertasbih, dan bertaqdits agar tercipta ketenangan dalam dirinya. Dzikir merupakan suatu kegiatan yang mengandung daya terapi yang potensial dan mengarahkan pada ketenangan serta ketentraman hati. Selain itu, orang mukmin yang melakukannya juga mendapatkan pahala di sisi Allah SWT. Secara psikologis, dzikir akan berakibat pada perkembangan pengahayatan para lanjut usia akan kehadiran Allah yang senantiasa mengetahui segala tindakan yang nyata (overt) dan tindakan yang tersembunyi (convert). Ia tidak akan merasa hidup sendirian di dunia ini, karena ada dzat yang Maha Mendengar keluh kesahnya yang mungkin tidak dapat diungkapkan kepada siapapun sehingga berakibat pada ketenangan jiwanya. E. Kesimpulan Kesadaran beragama yang mantap merupakan suatu disposisi dinamis dari sistem mental yang terbentuk melalui pengalaman serta diolah dalam kepribadian untuk mengadakan tanggapan yang tepat, konsepsi pandangan hidup, penyesuaian diri dan bertingkah laku. Orang yang memiliki kesadaran beragama yang baik, akan lebih mudah dalam membangun motivasi hidup, melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitarnya, dan mampu menunjukkan sikap yang baik kepada orang lain. Kesadaran beragama yang dilandasi oleh kehidupan agama akan menunjukkan kematangan sikap dalam menghadapi berbagai masalah, mampu menyesuaikan diri terhadap norma dan nilai-nilai yang ada di masyarakat, terbuka terhadap semua realitas atau fakta empiris, realitas filosofis dan realitas ruhaniah, serta mempunyai arah yang jelas dalam cakrawala hidup. Kesadaran akan norma-norma agama berarti individu menghayati, menginternalisasi dan mengintegrasikan norma tersebut kedalam diri pribadinya sehingga akan menjadi bagian dari hati dan kepribadiannya yang akan mempengaruhi pada sikap dan perilakunya dalam kehidupan bermasyarakat 129
40 Modul Psikologi Agama Penghayatan norma-norma agama mencakup norma-norma hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan dengan masyarakat dan lingkungannya. Hidup yang dilandasi nilai-nilai agama akan menumbuhkan kepribadian yang sehat yang didalamnya terkandung unsur-unsur keagamaan dan keimanan yang cukup teguh. Dan sebaliknya orang yang jiwanya guncang dan jauh dari agama maka individu tersebut akan mudah marah, putus asa, kecewa, dan tidak mampu beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan sekitarnya sehingga akan cenderung menjadi masalah orang lain. F. Latihan 1 Jelaskan apa yang dimaksud dengan kesadaran beragama? 2 Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi kesadaran beragama! 3 Bagaimanakah cara agar seseorang mampu mencapai kesadaran beragama yang matang? 4 Bagaimanakah cara melakukan pendampingan pada orang lanjut usia, agar mampu mencapai kesadaran beragama yang mantap? 130
Modul 5 PERKEMBANGAN JIWA AGAMA MASA ANAK-ANAK
Perkembangan Jiwa Agama Masa Anak-anak Modul 5 PERKEMBANGAN JIWA AGAMA MASA ANAK-ANAK PENDAHULUAN Psikologi Agama pada jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) disajikan untuk membantu mahasiswa memahami perkembangan
Modul 1 PENGERTIAN DAN MANFAAT PSIKOLOGI AGAMA
Pengertian dan manfaat Psikologi Agama Modul 1 PENGERTIAN DAN MANFAAT PSIKOLOGI AGAMA PENDAHULUAN Psikologi Agama pada jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) disajikan untuk membantu mahasiswa memahami perkembangan
Modul 6 PERKEMBANGAN JIWA AGAMA PADA MASA REMAJA
Perkembangan Jiwa Agama Pada Masa Remaja Modul 6 PERKEMBANGAN JIWA AGAMA PADA MASA REMAJA PENDAHULUAN Psikologi Agama pada jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) disajikan untuk membantu mahasiswa memahami
BAB II KERANGKA TEORI
BAB II KERANGKA TEORI A. Pengertian Agama Agama dapat diartikan sebagai ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) kepada Tuhan Yang Mahakuasa, tata peribadatan, dan tata kaidah yang bertalian
BAB I PENDAHULUAN. beragama yaitu penghayatan kepada Tuhan, manusia menjadi memiliki
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Agama adalah wahyu yang diturunkan Allah untuk manusia. Fungsi dasar agama adalah memberikan orientasi, motivasi dan membantu manusia untuk mengenal dan menghayati
BAB I PENDAHULUAN. Mempelajari pendidikan Islam sangat penting bagi kehidupan setiap. muslim karena pendidikan merupakan suatu usaha yang membentuk
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mempelajari pendidikan Islam sangat penting bagi kehidupan setiap muslim karena pendidikan merupakan suatu usaha yang membentuk pribadi manusia menuju yang
BAB II. mengembangkan diri, baik dalam aspek kognitif, psikomotorik maupun sikap.12 Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak
7 BAB II LANDASAN TEORI A. Kajian Pustaka 1. Prestasi Belajar a. Pengertian prestasi belajar Belajar adalah suatu tingkah laku atau kegiatan dalam rangka mengembangkan diri, baik dalam aspek kognitif,
2010), hlm. 57. Khayyal, Membangun keluarga Qur ani, (Jakarta : Amzah, 2005), hlm 3. 1 Fuad Ihsan, Dasar-dasar Kependidikan, (Jakarta: Rineka Cipta,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keluarga adalah merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama dalam masyarakat, karena dalam keluargalah manusia dilahirkan, berkembang menjadi dewasa. Bentuk
BAB IV ANALISIS POLA BIMBINGAN AGAMA ISLAM ANAK KARYAWAN PT. PISMATEX DI DESA SAPUGARUT
BAB IV ANALISIS POLA BIMBINGAN AGAMA ISLAM ANAK KARYAWAN PT. PISMATEX DI DESA SAPUGARUT Pada bab ini, peneliti akan menganalisis kegiatan bimbingan agama Islam anak karyawan PT. Pismatex di desa Sapugarut
Rajawali Pers, 2009), hlm Abudin Nata, Ilmu Pendidikan Islam dengan Pendekatan Multidisipliner, (Jakarta:
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan mempunyai peran dan fungsi ganda, pertama peran dan fungsinya sebagai instrumen penyiapan generasi bangsa yang berkualitas, kedua, peran serta fungsi sebagai
BAB V PEMBAHASAN. 1. Perencanaan pembelajaran PAI dalam meningkatkan kesadaran. meningkatkan kesadaran beribadah siswa di ke dua SMP tersebut yaitu
BAB V PEMBAHASAN A. Pembahasan Temuan Penelitian 1. Perencanaan pembelajaran PAI dalam meningkatkan kesadaran beribadah siswa Perencanaan yang dilakukan guru Pendidikan agama Islam dalam meningkatkan kesadaran
BAB I PENDAHULUAN. Bintang, hlm Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, cet-17; Jakarta, PT Bulan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejalan dengan berbagai fenomena pendidikan dewasa ini, sebagai akibat globalisasi yang kian merambah berbagai dimensi kehidupan, kehadiran Pendidikan Agama khususnya
BAB IV ANALISIS PERAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI LINGKUNGAN KELUARGA DALAM MEMBENTUK AKHLAQUL KARIMAH PADA REMAJA DI DUSUN KAUMAN PETARUKAN PEMALANG
77 BAB IV ANALISIS PERAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI LINGKUNGAN KELUARGA DALAM MEMBENTUK AKHLAQUL KARIMAH PADA REMAJA DI DUSUN KAUMAN PETARUKAN PEMALANG A. Analisis Tentang Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam
Modul 3 OBYEK DAN METODE PENELITIAN PSIKOLOGI AGAMA
Obyek dan Metode Penelitian Psikologi Agama Modul 3 OBYEK DAN METODE PENELITIAN PSIKOLOGI AGAMA PENDAHULUAN Psikologi Agama pada jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) disajikan untuk membantu mahasiswa
dengan dunianya? Mereka saling menonjolkan
Sudah seharian Kenthus merenung di depan beranda rumahnya. Tak tahu apa yang harus dilakukannya. Wajahnya tampak putus asa. Hatinya resah. Ia berfikir bahwa semua lingkungan di sekitarnya tidak ada yang
BAB IV ANALISIS UPAYA GURU PAI DALAM MEMBINA MORAL SISWA SMP NEGERI 1 KANDEMAN BATANG
BAB IV ANALISIS UPAYA GURU PAI DALAM MEMBINA MORAL SISWA SMP NEGERI 1 KANDEMAN BATANG A. Analisis tentang Upaya Guru PAI dalam Membina Moral Siswa SMP Negeri 1 Kandeman Batang Sekolah adalah lingkungan
BAB I PENDAHULUAN. PT Rineka Cipta, 2000), hlm S. Nasution, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar, (Jakarta: Bumi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pemerintah memandang bahwa guru merupakan media yang sangat penting, artinya dalam kerangka pembinaan dan pengembangan bangsa. Guru mengemban tugas-tugas sosial
BAB I PENDAHULUAN. yakni tingginya angka korupsi, semakin bertambahnya jumlah pemakai narkoba,
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini bukan hanya mengenai ekonomi, keamanan dan kesehatan, tetapi juga menurunnya kualitas sumber daya
BAB I PENDAHULUAN. yang juga memiliki kedudukan yang sangat penting. Akhlak merupakan buah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Akhlak merupakan salah satu dari tiga kerangka dasar ajaran Islam yang juga memiliki kedudukan yang sangat penting. Akhlak merupakan buah yang dihasilkan dari
Modul 7 PERKEMBANGAN JIWA AGAMA PADA USIA DEWASA
Perkembangan Jiwa Agama Pada Usia Dewasa Modul 7 PERKEMBANGAN JIWA AGAMA PADA USIA DEWASA PENDAHULUAN Psikologi Agama pada jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) disajikan untuk membantu mahasiswa memahami
BAB V PEMBAHASAN. yang ada dalam kenyataan sosial yang ada. Berkaitan dengan judul skripsi ini,
BAB V PEMBAHASAN Pada bab V ini akan membahas dan menghubungkan antara teori dari temuan sebelumnya dengan teori temuan saat penelitian. Menggabungkan antara pola-pola yang ada dalam teori sebelumnya dan
Kelompok Azizatul Mar ati ( ) 2. Nur Ihsani Rahmawati ( ) 3. Nurul Fitria Febrianti ( )
Kelompok 5 1. Azizatul Mar ati (14144600200) 2. Nur Ihsani Rahmawati (14144600186) 3. Nurul Fitria Febrianti (14144600175) PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
BAB IV PERILAK TERPUJI
BAB IV Standar Kompetensi (Akhlak) 4. Membiasa kan Perilaku Terpuji Kompetensi Dasar 4.1 Menjelaskan pengertian tawadlu, taat, qana ah, dan sabar. 4.2 Menampilkan contoh-contoh perilaku tawadlu, taat,
B. TOPIK PENDEKATAN SOSIOLOGI TERHADAP AGAMA
B. TOPIK PENDEKATAN SOSIOLOGI TERHADAP AGAMA 1. Pendekatan Sosiologi Terhadap Agama. Beberapa cara melihat agama; menurut Soedjito (1977) ada empat cara, yaitu: memahami atau melihat sejarah perkembangan
RAMADAN Oleh Nurcholish Madjid
c 1 Ramadan d 16 RAMADAN Oleh Nurcholish Madjid Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang
BAB IV ANALISIS PENDIDIKAN AKHLAK ANAK DALAM KELUARGA NELAYAN DI DESA PECAKARAN KEC.WONOKERTO KAB. PEKALONGAN
BAB IV ANALISIS PENDIDIKAN AKHLAK ANAK DALAM KELUARGA NELAYAN DI DESA PECAKARAN KEC.WONOKERTO KAB. PEKALONGAN A. Analisis Tujuan Pendidikan Akhlak Anak dalam Keluarga Nelayan di Desa Pecakaran Kec. Wonokerto.
BAB IV PELAKSANAAN BIMBINGAN AGAMA ISLAM DAN FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT BIMBINGAN AGAMA ISLAM BAGI PARA LANJUT USIA
BAB IV PELAKSANAAN BIMBINGAN AGAMA ISLAM DAN FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT BIMBINGAN AGAMA ISLAM BAGI PARA LANJUT USIA 4.1. Pelaksanaan Bimbingan Agama Islam Di Panti Wredha Sultan Fatah Demak Panti
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Pengertian Pengalaman Beragama. Pengalaman beragama menurut Glock & Stark (Hayes, 1980) adalah
13 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. PENGALAMAN BERAGAMA 1. Pengertian Pengalaman Beragama Menurut Jalaluddin (2007), pengalaman beragama adalah perasaan yang muncul dalam diri seseorang setelah menjalankan ajaran
BAB I PENDAHULUAN. perasaan untuk menanggapi bahwa terdapat kekuatan lain yang maha besar
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Agama merupakan ajaran atau sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan
BAB I PENDAHULUAN. hlm Ismail SM. Et. All. Paradigma Pendidikan Islam, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2001),
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada hakekatnya manusia adalah makhluk yang dilahirkan dalam keadaan lemah dan tidak berdaya, namun dengan demikian ia telah mempunyai potensi bawaan yang bersifat
BAB I PENDAHULUAN. dikaji, pada umumnya agama seseorang ditentukan oleh pendidikan, pentingnya hidup beragama (Daradjat, 1990 : 35).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Motivasi beragama anak merupakan masalah yang menarik untuk dikaji, pada umumnya agama seseorang ditentukan oleh pendidikan, pengalaman dan latihan yang dilaluinya
BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah. Ia dan alam semesta terjadi
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk ciptaan Allah. Ia dan alam semesta terjadi bukan karena sendirinya, tetapi ciptaan Allah SWT. Allah menciptakan manusia untuk mengabdi
BAB I PENDAHULUAN. Bekerja adalah fitrah dan sekaligus merupakan salah satu identitas
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bekerja adalah fitrah dan sekaligus merupakan salah satu identitas manusia, maka jelaslah bahwa manusia yang enggan bekerja, malas, dan tidak mau mendayagunakan seluruh
BAB IV ANALISIS PERANAN BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM DALAM MENINGKATKAN MORAL KLIEN ANAK DI BALAI PEMASYARAKATAN KLAS I SEMARANG A.
56 BAB IV ANALISIS PERANAN BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM DALAM MENINGKATKAN MORAL KLIEN ANAK DI BALAI PEMASYARAKATAN KLAS I SEMARANG A. Analisis Moral Klien Anak di Balai Pemasyarakatan Klas I Semarang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kebahagiaan. Kebahagian di dalam hidup seseorang akan berpengaruh pada
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia dalam menjalani kehidupannya senantiasa selalu mendambakan kebahagiaan. Kebahagian di dalam hidup seseorang akan berpengaruh pada kesejahteraan psikologis
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada hakekatnya pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah dan masyarakat dalam rangka melahirkan manusia beriman dan bertaqwa kepada
BAB V KESIMPULAN, SARAN DAN PENUTUP
BAB V KESIMPULAN, SARAN DAN PENUTUP A. Kesimpulan Proses pengkaian dan analisis terhadap isi kandungan Surat Al-Fatihah ayat 5 tentang proses pendidikan tauhid uluhiyah keseluruhannya mendukung kepada
BAB I PENDAHULUAN. (supernatural) (Jalaluddin, 2002). Manusia di mana pun berada dan bagaimana pun
BAB I PENDAHULUAN I. 1. Latar Belakang Masalah Sejak dilahirkan manusia telah dianugerahkan potensi beragama. Potensi ini berupa kecenderungan untuk tunduk dan mengabdi kepada sesuatu yang adikodrati (supernatural)
Kedudukan Tauhid Dalam Kehidupan Seorang Muslim
Kedudukan Tauhid Dalam Kehidupan Seorang Muslim Khutbah Pertama:??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.???????????????????????????????????????????????:?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????:?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.
BAB I PENDAHULUAN. Remaja merupakan satu unsur generasi muda yang menjadi titik tumpu
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Remaja merupakan satu unsur generasi muda yang menjadi titik tumpu harapan bangsa dimana nantinya remaja diharapkan dapat meneruskan nilai-nilai perjuangan
BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang Sisdiknas tahun 2003 pasal I mengamanahkan bahwa tujuan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan upaya mencapai kedewasaan subjek didik yang mencakup segi intelektual, jasmani dan rohani, sosial maupun emosional. Undang-Undang Sisdiknas
BAB I PENDAHULUAN. Manusia memiliki kebebasan untuk memeluk dan menjalankan agama menurut
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia memiliki kebebasan untuk memeluk dan menjalankan agama menurut kepercayaannya. Glock & Stark, (1965) mendefinisikan agama sebagai sistem simbol, sistem
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut; Eksistensi spiritualitas guru dalam
204 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut; Eksistensi spiritualitas guru dalam perspektif pendidikan Islam adalah aktualisasi
Bab 3 Peran Sentral Guru PAI Dalam Memberdayakan Sekolah Sebagai Pusat Pembangunan Karakter Bangsa
Bab 3 Peran Sentral Guru PAI Dalam Memberdayakan Sekolah Sebagai Pusat Pembangunan Karakter Bangsa Guru PAI berperan sangat sentral dalam memberdayakan sekolah sebagai Pusat Pembangunan Karakter Bangsa.
BAB IV ANALISIS NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM NOVEL NAK, MAAFKAN IBU TAK MAMPU MENYEKOLAHKANMU KARYA WIWID PRASETYO
75 BAB IV ANALISIS NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM NOVEL NAK, MAAFKAN IBU TAK MAMPU MENYEKOLAHKANMU KARYA WIWID PRASETYO Setelah dilakukan penelitian dan pengkajian adapun kandungan dalam novel Nak,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. seluruh umat Muslim di dunia. Dalam ibadah yang disyariatkan Allah kepada
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mendirikan shalat merupakan suatu ibadah yang wajib dilakukan bagi seluruh umat Muslim di dunia. Dalam ibadah yang disyariatkan Allah kepada manusia tersebut,
SURAT 64. AT TAGHAABUN DITAMPAKKAN KESALAHAN KESALAHAN
SURAT 64. AT TAGHAABUN DITAMPAKKAN KESALAHAN KESALAHAN Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang di langit dan apa yang di bumi; hanya Allah lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua puji pujian; dan
BAB I PENDAHULUAN. potensi dirinya untuk memiliki kecakapan spiritual keagamaan, kepribadian,
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya
A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Shalat termasuk ibadah yang paling esensial dalam agama Islam. Sejak seorang telah mencapai pubertas, baik lakilaki maupun perempuan mempunyai kewajiban untuk melaksanakan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Ibadah merupakan upaya mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ibadah merupakan upaya mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Suci yang tidak dapat didekati kecuali oleh yang suci. Diakui oleh para ulama dan para peneliti
BAB IV ANALISIS TENTANG PERSEPSI ANAK JALANAN TAMAN MATARAM KOTA PEKALONGAN TERHADAP URGENSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
BAB IV ANALISIS TENTANG PERSEPSI ANAK JALANAN TAMAN MATARAM KOTA PEKALONGAN TERHADAP URGENSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM A. Analisis Kegiatan Keagamaan Anak Jalanan Taman Mataram Kota Pekalongan Kegiatan keagamaan
BAB IV ANALISIS BIMBINGAN DAN KONSELING DENGAN MODEL PENDEKATAN ISLAMI DALAM PENANGANAN STUDENT DELINQUENCY KELAS VIII SMP N 04 CEPIRING KENDAL
71 BAB IV ANALISIS BIMBINGAN DAN KONSELING DENGAN MODEL PENDEKATAN ISLAMI DALAM PENANGANAN STUDENT DELINQUENCY KELAS VIII SMP N 04 CEPIRING KENDAL Sekolah merupakan institusi yang bertanggung jawab terhadap
Berhati-Hati Dalam Menjawab Permasalahan Agama
Berhati-Hati Dalam Menjawab Permasalahan Agama Khutbah Pertama:??????????????????????????????????????????????????????????????????????????: (????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????)??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bimbingan konseling adalah suatu hal yang sangat erat hubungannya dengan pendidikan. Pendidikan yang merupakan salah satu upaya yang dilakukan dalam rangka merubah
TEORISASI DAN STRATEGI PENDIDIKAN ISLAM Oleh : Fahrudin
A. Pendahuluan TEORISASI DAN STRATEGI PENDIDIKAN ISLAM --------------------------------------------------------------------- Oleh : Fahrudin Tujuan agama Islam diturunkan Allah kepada manusia melalui utusan-nya
BAB V SIMPULAN IMPLIKASI DAN REKOMENDASI
BAB V SIMPULAN IMPLIKASI DAN REKOMENDASI A. Simpulan 1. Secara Umum Konsep pendidikan yang Islami menurut Mohammad Natsir menjelaskan bahwa asas pendidikan Islam adalah tauhid. Ajaran tauhid manifestasinya
BAB I PENDAHULUAN. yang tepat agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal (Mansur,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan anak usia dini adalah suatu proses pembinaan tumbuh kembang anak usia lahir hingga enam tahun secara menyeluruh, yang mencakup aspek fisik dan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Ayat di atas bermakna bahwa setiap manusia yang tunduk kepada Allah
BAB I PENDAHULUAN Dalam Firman-Nya Al-Qalam ayat 43 : A. Latar Belakang Masalah (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehidupan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia)
AKHLAK PRIBADI ISLAMI
AKHLAK PRIBADI ISLAMI Modul ke: 06Fakultas MATA KULIAH AGAMA ISLAM UNIVERSITAS MERCU BUANA BEKASI Sholahudin Malik, S.Ag, M.Si. Program Studi Salah satu kunci sukses di dunia dan akhirat karena faktor
PERBEDAAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH ANTARA JAMA AH HALAQOH SHALAT KHUSYUK DAN BUKAN JAMA AH HALAQOH SHALAT KHUSYUK DI SURAKARTA SKRIPSI
PERBEDAAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH ANTARA JAMA AH HALAQOH SHALAT KHUSYUK DAN BUKAN JAMA AH HALAQOH SHALAT KHUSYUK DI SURAKARTA SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh derajat Sarjana
IPTEK DAN SENI DALAM ISLAM
IPTEK DAN SENI DALAM ISLAM KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, berkah, dan hidayah-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul IPTEK
BAB II KAJIAN TEORI. tertentu guna mencapai suatu tujuan (kebutuhan) 1. meningkatkan kemampuannya setinggi mungkin dalam setiap
BAB II KAJIAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Pengertian Motivasi Motivasi adalah keadaan yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu guna pencapaian suatu tujuan.
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan, bukan hanya terjadi ketika seseorang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Religius (religiosity) merupakan ekspresi spiritual seseorang yang berkaitan dengan sistem keyakinan, nilai, hukum yang berlaku. Religiusitas diwujudkan dalam
BAB I PENDAHULUAN. Dan Aku (Allah ) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-ku. (QS. Adz- Dzariyat: 56)
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, sebenarnya potensi agama sudah ada pada setiap manusia sejak ia dilahirkan. Potensi ini berupa dorongan untuk mengabdi kepada sang pencipta.
BAB IV ANALISIS TANGGUNG JAWAB ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN KELUARGA PADA Q.S. AT- TAHRIM AYAT 6
BAB IV ANALISIS TANGGUNG JAWAB ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN KELUARGA PADA Q.S. AT- TAHRIM AYAT 6 A. Analisis Terhadap Konsep Pendidikan Keluarga Pendidikan dalam keluarga adalah pendidikan utama dan pertama
NILAI PENDIDIKAN PADA NOVEL AYAH KARYA ANDREA HIRATA
Oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Galuh ABSTRAK Penelitian ini dilatar belakangi adanya pemilihan bahan ajar yang ditentukan kurang menyesuaikan daya kemampuan
KONSEP ANAK DALAM ISLAM
KONSEP ANAK DALAM ISLAM Musdah Mulia Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang khawatir akan meninggalkan keturunan berupa anak-anak yang lemah dan dikhawatirkan kesejahteraannya. Oleh sebab itu,
BAB I PENDAHULUAN. sampai mencapai kedewasaan masing-masing adalah pendidikan. Pengalaman
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Aspek kehidupan yang harus dan pasti dijalani oleh semua manusia di muka bumi sejak kelahiran, selama masa pertumbuhan dan perkembangannya sampai mencapai kedewasaan
Aji Wicaksono S.H., M.Hum. Modul ke: Fakultas DESAIN SENI KREATIF. Program Studi DESAIN PRODUK
Modul ke: 11 Fakultas DESAIN SENI KREATIF Pancasila dan Implementasinya Bagian I Pada Modul ini kita akan mempelajari mengenai keterkaitan sila pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa) dengan Prinsip pembangunan
BAB I PENDAHULUAN. secara kultural dengan wujud di atas manusia yang di asumsikan juga secara kultural dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Agama merupakan suatu lembaga yang terbentuk akibat adanya interaksi terpola secara kultural dengan wujud di atas manusia yang di asumsikan juga secara kultural
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Penelitian dan Penegasan Judul
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian dan Penegasan Judul Kedudukan agama dalam kehidupan masyarakat maupun kehidupan pribadi sebagai makhluk Tuhan merupakan unsur yang terpenting, yang
BAB I PENDAHULUAN. proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
BAB I PENDAHULUAN. 2014), hlm Imam Musbikin, Mutiara Al-Qur an, (Yogyakarta: Jaya Star Nine,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Al-Qur an adalah kalam Allah yang bersifat mu jizat, diturunkan kepada penutup para Nabi dan Rasul dengan perantaraan malaikat Jibril, diriwayatkan kepada kita
BAB I PENDAHULUAN. 2011), hlm. 9. (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2007), hlm Rois Mahfud, Al-Islam Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Erlangga,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia lahir ke alam dunia dalam keadaan yang paling sempurna. Selain diberi akal manusia juga diberi kesempurnaan jasmani. 1 Dengan akal dan jasmani yang sempurna
BAB I PENDAHULUAN. Perilaku manusia dalam perspektif Al-Qur an merupakan wujud dari. penyesuaian diri dengan pengalaman hidupnya.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perilaku manusia dalam perspektif Al-Qur an merupakan wujud dari kepribadian yang sebenarnya. 1 Perilaku manusia dapat dikatakan sebagai perwujudan dari kepribadiannya,
MENGHIDUPKAN 8 FUNGSI KELUARGA MENUJU KELUARGA SEJAHTERA
Artikel MENGHIDUPKAN 8 FUNGSI KELUARGA MENUJU KELUARGA SEJAHTERA Sunartiningsih, SE Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa keluarga sejahtera didefinisikan sebagai keluarga yang dibentuk berdasarkan
BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa
BAB I PENDAHULUAN I.A. Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Perubahan pada masa remaja mencakup perubahan fisik, kognitif, dan sosial. Perubahan
Hakikat Hidup Sukses: Tafsir QS. Ali Imran 185
Hakikat Hidup Sukses: Tafsir QS. Ali Imran 185 Khutbah Pertama:?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????:???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.??????????????????????????????????????????????????.
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu upaya mewariskan
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu upaya mewariskan nilai, yang akan menjadi penolong dan penentu umat manusia dalam menjalani kehidupan, dan sekaligus untuk
BAB II LANDASAN TEORI. sekelompok individu (Eisenberg, 1989). Hudaniah, 2006), menekankan bahwa perilaku prososial mencakup tindakantindakan
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Perilaku Prososial 2.1.1. Pengertian Perilaku Prososial Perilaku prososial didefinisikan sebagai tindakan sukarela yang dimaksudkan untuk membantu atau memberi keuntungan pada
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Manusia merupakan makhluk sosial yang senantiasa saling
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia merupakan makhluk sosial yang senantiasa saling memerlukan adanya bantuan dari orang lain dalam memenuhi kebutuhannya. Manusia dituntut untuk saling
BAB I PENDAHULUAN. berkualitas dan memiliki keahlian menurut bidangnya masing-masing. menuju pendewasaan dan kematangan dalam berfikir dan bertindak.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan potensi dan kemampuan diri manusia. 1 Pendidikan dalam pemahaman ini menunjukkan bahwasanya ia mampu
Kedudukan Tauhid Bagi Seorang Muslim
Kedudukan Tauhid Bagi Seorang Muslim Khutbah Pertama:?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.???????????????????????????????????????????????
BAB I PENDAHULUAN. manusia baik dalam hubungan dengan Tuhannya maupun berinteraksi dengan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Agama sebagai dasar pijakan umat manusia memiliki peran yang sangat besar dalam proses kehidupan manusia. Agama telah mengatur pola hidup manusia baik dalam hubungan
Modul 4 TEORI SUMBER KEJIWAAN AGAMA
Modul 4 TEORI SUMBER KEJIWAAN AGAMA PENDAHULUAN Psikologi Agama pada jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) disajikan untuk membantu mahasiswa memahami perkembangan jiwa keagamaan manusia mulai dari masa
BAB I PENDAHULUAN. Salah satu kebanggaan bagi setiap orang tua adalah memiliki anak-anak
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Salah satu kebanggaan bagi setiap orang tua adalah memiliki anak-anak yang mandiri. Kemandirian yang diharapkan oleh orang tua untuk anaknya yaitu kemandirian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bagi umat muslim, shalat merupakan salah satu bentuk ibadah yang sangat fundamental dan esensial. Shalat merupakan sarana untuk berkomunikasi dengan Allah SWT
BAB I PENDAHULUAN. dikenang sepanjang masa, sejarah akan menulis dikemudian hari. Di sekolahsekolah. pelajaran umum maupun mata pelajaran khusus.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rajin pangkal pandai, itulah pepatah yang sering kita dengarkan dahulu sewaktu kita masih duduk di bangku Sekolah Dasar, agar kita mempunyai semangat untuk belajar,
Berpegang Teguh dengan Alquran dan Sunnah
Berpegang Teguh dengan Alquran dan Sunnah Khutbah Pertama:??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.??????????????????????????
MENGHAYATI PERAN ISTRI
MENGHAYATI PERAN ISTRI Perhiasan yang paling indah Bagi seorang abdi Allah Itulah ia wanita shalehah Ia menghiasi dunia.. --------------------------------------------------------------------- Ada yang
BAB I PENDAHULUAN. Sebaik-baik pakaian adalah pakaian takwa. (Q.S. Al- A raf/7: 26). 2
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Agama ibarat pakaian menyamakan agama dengan pakaian tentu tidak selalu tepat meskipun keduanya memiliki kemiripan. Orang bisa melakukannya dengan mudah saja ketika
BAB I PENDAHULUAN. Offset, 2014, hlm Ibid, hlm Helmawati, Pendidikan Keluarga Teoritis dan Praktis, Bandung: Remaja Rosdakarya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan kegiatan yang sangat esensial dalam kehidupan manusia untuk membentuk insane yang dapat memecahkan permaslahan dalam kehidupannya. Tiga tempat pendidikan
