PERKEMBANGAN KEAGAMAAN PADA ANAK USIA DINI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PERKEMBANGAN KEAGAMAAN PADA ANAK USIA DINI"

Transkripsi

1 276 At-Ta lim, Vol. 11, No. 2, Juli 2012 PERKEMBANGAN KEAGAMAAN PADA ANAK USIA DINI Erwin Suryaningrat Abstract; Guiding early children by educating religious is very important because some theories said that children who was born are not religions people. That s why it is needed guiding from parent and environment. High ability of children s learning and easy to adopt from environment are the vest way to help them to educate religion in early children. Kata Kunci: Perkembangan keagamaan, anak A. PENDAHULUAN Manusia dilahirkan dalam keadaan lemah, baik fisik maupun psikis. i Walaupun dalam keadaan yang demikian ia telah memiliki kemampuan bawaan yang bersifat laten. ii Potensi yang dibawa ini hanya memerlukan pengembangan melalui bimbingan dan pemeliharaan yang mantap lebih-lebih pada tahun permulaan. iii Pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini perlu diarahkan pada peletakan dasar-dasar yang tepat bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia seutuhnya. Sebagai dasar pembentukan pribadi yang utuh, agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. iv Fitrah, merupakan salah satu kelebihan manusia yang diberikan oleh Allah untuk mengenal-nya dan melakukan ajaran-nya. Dengan kata lain bahwa manusia dikaruniai insting yang religius (naluri beragama). Fitrah beragama ini merupakan disposisi (kemampuan dasar) yang mengandung kemungkinan atau berpeluang untuk berkembang. Namun, mengenai arah dan kualitas perkembangan beragama anak sangat bergantung kepada proses pendidikan yang diterimanya. v Membimbing anak usia dini dengan meletakkan pondasi keagamaan sangatlah penting karena beberapa pendapat mengemukakan bahwa anak dilahirkan bukan merupakan makhluk yang religius. Hal ini menunjukkan bahwa anak perlu bimbingan dari orang tua dan lingkungan sekitar. Dalam makalah ini akan dipaparkan tentang pemaknaan agama pada anak yang meliputi tingkat perkembangan keagamaan dan sifat agama pada anak. 276

2 Erwin Suryaningrat, Perkembangan Keagamaan Pada Anak Usia Dini 277 B. PEMBAHASAN 1. Agama Masa Kanak-kanak Para ahli psikologi dari madzhab psikoanalisis, behavioristis, dan humanis sepakat bahwa masa bayi dan kanak-kanak merupakan masa awal yang sangat penting dan membawa pengaruh terhadap kepribadiannya. Pada tahun-tahun awal hidupnya diisi dengan usaha menemukan keberadaannya yang berbeda dengan keberadaan orang lain. Melalui interaksi, manusia berusaha memperoleh identitasnya, dan setidaknya ada tiga faktor penting pada masa kanak-kanak mengenai identitas : a. Masa kanak-kanak merupakan masa episode perubahan yang dramatis. Setelah trauma kelahiran, kanak-kanak berjuang untuk menemukan siapa diri mereka di dunia. Anak-anak berjalan dalam gejolak badai dan ketenangan, rasa tertekan dan rasa diteguhkan kembali, yang datang bergantian. Pola ini kerap memberi kerangka bagi perkembangan religious awal. Orang tua, dengan dukungan lembaga keagamaan, cenderung merestui saat tenang dan menghukum saat-saat tertekan. Lembaga keagamaan yang bertanggungjawab dalam pendidikan anak-anak, harus memberi kemungkinan pada anak untuk mendapatkan pengalaman perpisahan dan orang tua harus ikut menanggung dengan sabar pengalaman pasang surut tersebut. vi b. Kemampuan belajar anak yang tinggi penting bagi agama. Selama masa kanak-kanak awal, anak menerima dunia di mana mereka dilahirkan. Seperti karet busa yang dimasukkan ke dalam air, anak dengan mudah menyerap lingkungan di sekitarnya. Keadaan anak yang mudah menyerap ini melahirkan pandangan bahwa arah hidup yang kuat ditanamkan pada masa awal ini. Agama menangkap kemampuan belajar anak dan berusaha menanamkan pengertian-pengertian agama. Akan tetapi, konsep-konsep keagamaan yang cukup rumit akan mengalami penerimaan dan penolakan. Orang tua dan lembaga keagamaan sebaiknya jangan cepat-cepat berpikir bahwa anak-anak mentaati segala pendidikan keagamaan yang diberikan karena kesadaran mereka atau tahu. Mereka hanya mengucapkan kata-kata dan meniru perbuatan, karena anak-anak belum memiliki kemampuan menilai ide, gagasan, dan pengertian yang

3 278 At-Ta lim, Vol. 11, No. 2, Juli 2012 disampaikan. Akan tetapi, ini bukan berarti bahwa pendidikan agama yang diberikan pada masa kanak-kanak tidak berguna. Berguna, tetapi terbatas pada penyampaian informasi keagamaan yang dapat menjadi bahan pemikiran dan pemahaman anak di kemudian hari, bila anak-anak sudah mampu berpikir sendiri secara kritis. c. Hal yang paling penting bagi pertumbuhan keagamaan masa kanak-kanak adalah kualitas pengalaman yang berlangsung lama dengan orang-orang dewasa yang berarti dan penting bagi mereka. Dari lingkungan yang penuh kasih sayang yang diciptakan orang tua, lahirlah pengalaman keagamaan yang mendalam. Dengan berkembangnya hubungan anak dengan orangtuanya, akan penting untuk agama. Hubungan antara orang tua dengan anak mempersiapkan belajar dalam hubungannya dengan Allah. Hubungan orangtua dengan anak memberikan pengaruh pada perkembangan agama pada anak. vii Selama masa kanak-kanak awal, anak-anak hidup pada tingkat rasa, dan baru diberi bentuk kognitif pada saat kemampuan verbal dan konseptual tumbuh. Pengalaman awal dan emosional dengan orangtua berarti merupakan dasar keagamaan dibangun masa mendatang. Mutu afektif hubungan anak-orangtua kerap mempunyai bobot lebih daripada pengajaran dan kognitif yang diberikan di kemudian hari. viii Dalam mengawali penjelasan tentang perkembangan jiwa agama pada masa anak-anak, Clark sebagaimana dikutip oleh Sururin mengajukan dua pertanyaan, pertama, dari manakah timbulnya agama pada diri anak, dan kedua, bagaimanakah bentuk dan sifat agama yang ada pada anak-anak. ix 2. Timbulnya Jiwa Keagaman Pada Anak Menurut beberapa ahli, anak dilahirkan bukanlah sebagai makhluk yang religius. Anak yang baru dilahirkan lebih mirip binatang, bahkan mereka mengatakan anak seekor kera lebih bersifat kemanusiaan daripada bayi manusia itu sendiri. Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa anak sejak dilahirkan telah membawa fitrah keagamaan. Fitrah itu baru berfungsi di kemudian hari melalui proses bimbingan dan latihan setelah berada pada tahap kematangan. x

4 Erwin Suryaningrat, Perkembangan Keagamaan Pada Anak Usia Dini 279 Menurut tinjauan, pendapat pertama bayi dianggap sebagai manusia dipandang dari segi bentuk dan bukan kejiwaan. Apabila bakat elementer bayi lambat bertumbuh dan matang, maka agak sukarlah untuk melihat adanya keagamaan pada dirinya. Meskipun demikian, ada yang berpendapat bahwa tandatanda keagamaan pada dirinya tumbuh terjalin secara integral dengan perkembangan fungsi-fungsi kejiwaan lainnya. xi Jika demikian, apakah faktor yang dominan dalam perkembangan ini? Dalam membahas masalah tersebut perlu dikemukakan beberapa teori tentang pertumbuhan agama atau timbulnya jiwa keagamaan pada anak, yang di antaranya adalah: a. Rasa Ketergantungan (sense of depende) Menurut Thomas sebagaimana diungkapkan kembali oleh Jalaluddin dan Ramayulis, manusia dilahirkan memiliki empat kebutuhan, yakni keinginan untuk perlindungan ( security), keinginan akan pengalaman baru ( new experience), keinginan untuk mendapat tanggapan ( response) dan keinginan untuk dikenal (recognition). Berdasarkan kenyataan dan kerjasama dari keempat keinginan itu, maka bayi sejak dilahirkan hidup dalam ketergantungan. Melalui pengalamanpengalaman yang diterimanya dari lingkungan kemudian terbentuklah rasa keagamaan pada diri anak. xii b. Insting Keagamaan Menurut Woodwort, bayi yang dilahirkan sudah memiliki beberapa instink di antaranya instink keagamaan. Belum terlihatnya tindak keagamaan pada diri anak karena beberapa fungsi kejiwaan yang menopang kematangan berfungsinya instink itu belum sempurna. Misalnya instink sosial pada anak sebagai potensi bawaannya sebagai makhluk homo socius, baru akan berfungsi setelah anak dapat bergaul dan berkemampuan untuk berkomunikasi. Jadi, instink sosial itu tergantung dari kematangan fungsi lainnya. Demikian pula instink keagamaan. xiii Pendapat ini mendapat sanggahan dari beberapa ahli dengan mengemukakan argumentasi sebagai berikut: jika anak telah memilki insting keagamaan, mengapa orang tidak menghayati secara otomatis ketika mendengar panggilan azan. Di samping itu, mengapa terdapat perbedaan agama di dunia ini, bukankah cara berenang itik dan

5 280 At-Ta lim, Vol. 11, No. 2, Juli 2012 cara beragama membuat seseorang yang di dasarkan pada tingkah laku instingtif akan sama caranya di setiap penjuru dunia? Menurut Sururin, jawaban permasalahan tersebut adalah dengan mengajukan hadits Rasulullah Saw: ك ل م و ل و د ی و ل د ع ل ى الف ط ر ة ف ا ب و اه ی ھ و د ان ھ أ و ی ن ص ر ان ھ أ و ی م ج س ان ھ Fitrah dalam hadits tersebut tidak diartikan dengan insting, tetapi lebih diartikan sebagai potensi. Jika anak dibiarkan saja tanpa didikan agama dan hidup dalam keadaan tidak beragama, ia akhirnya akan menjadi dewasa tanpa agama. Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dan dari kata-kata orang yang ada dalam lingkungannya, yang pada awal mulanya diterima anak secara acuh tak acuh. Akan tetapi setelah ia melihat orang-orang dewasa menunjukkan rasa kagum dan takut terhadap Tuhan, mulailah ia merasa sedikit gelisah dan ragu tentang sesuatu yang gaib yang tidak dapat dilihatnya. Mungkin ia akan ikut membaca dan mengulang kata-kata yang diucapkan oleh orang tuanya. Lambat laun, tanpa disadarinya akan masuklah pemikiran tentang Tuhan dalam pembinaan kepribadiannya dan menjadi obyek pengalaman agamis. Tuhan bagi anak-anak pada permulaan merupakan nama dari sesuatu yang asing, yang tidak dikenal dan diragukan kebaikannya. Tidak adanya perhatian terhadap Tuhan pada permulaan karena ia belum memiliki pengalaman yang akan membawanya kesana, baik pengalaman yang menyenangkan maupun menyusahkan. Akan tetapi, setelah ia menyaksikan reaksi orang-orang disekelilingnya yang disertai dengan emosi dan perasaan tertentu, timbullah pengalaman tertentu yang semakin meluas dan mulailah tumbuh perhatiannya terhadap Tuhan. xiv Tuhan adalah pemikiran tentang kenyataan luar sehingga hal itu tidak disukai oleh anak yang berusia tiga tahun. Ia butuh penyesuaian diri terhadap kenyataan ini Ia harus menderita dan mengalami pengalaman pahit. xv Pengalaman yang tidak menyenangkan ini merupakan ancaman bagi integritas kepribadiannya. Oleh karena itulah, perhatian anak-anak tentang Tuhan pada permulaan merupakan sumber kegelisahan atau ketidaksenangannya. Untuk itulah, anak-anak sering menanyakan tentang zat, tempat dan perbuatan Tuhan dan pertanyaan lain yang bertujuan untuk mengurangi kegelisahannya. xvi

6 Erwin Suryaningrat, Perkembangan Keagamaan Pada Anak Usia Dini Perkembangan Agama pada Anak-anak Menurut penelitian Harms perkembangan agama anak-anak melalui beberapa fase (tingkatan). Dalam bukunya The Development of Religious on Children yang dikutip oleh Jalaluddin, ia mengatakan bahwa perkembangan agama pada anakanak melalui tiga tingkatan, yaitu: xvii a. The Fairy Tale Stage (Tingkat Dongeng). Tingkatan ini dimulai pada anak yang berusia 3 6 tahun. Pada tingkatan ini konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Pada tingkat perkembangan ini anak menghayati konsep ke-tuhanan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya. Kehidupan masa ini masih banyak dipengaruhi kehidupan fantasi, hingga dalam menanggapi agama pun anak masih menggunakan konsep fantastis yang diliputi oleh dongeng-dongeng yang kurang masuk akal. b. The Realistic Stage (Tingkat Kenyataan). Tingkat dimulai sejak anak masuk Sekolah Dasar hingga ke usia adolesense. Pada masa ini, ide ke-tuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan pada kenyataan (realitas). Konsep ini timbul melal ui lembagalembaga keagamaan dan pengajaran agama dari orang dewasa lainnya. Pada masa ini ide keagamaan anak didasarkan atas dorongan emosional hingga mereka dapat melahirkan konsep Tuhan yang formalis. c. The Individual Stage (Tingkat Individu). Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan yang individualis ini terbagi atas tiga golongan, yaitu: 1) Konsep Ke-Tuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi. Hal tersebut disebabkan oleh pengaruh luar. 2) Konsep Ke-Tuhanan yang lebih murni yang dinyatakan dalam pandangan yang bersifat personal (perorangan). 3) Konsep Ke-Tuhanan yang bersifat humanistik. Agama telah menjadi etos humanis pada diri meraka dalam menghayati ajaran agama. Perubahan ini seiap tingkatan dipengaruhi oleh factor intern, yaitu perkembangan usia dan factor ekstrem berupa pengaruh luar yang dialaminya.

7 282 At-Ta lim, Vol. 11, No. 2, Juli Sifat-sifat Agama Pada Anak-anak Memahami konsep keagamaan pada anak berarti memahami sifat agama pada anak-anak. Sesuai dengan ciri yang mereka miliki, maka sifat agamaagama tumbuh menjadi pola ideas concept on authority Idea keagamaan pada anak hampir sepenuhnya authoritarius, maksudnya konsep keagamaan pada diri mereka dipengaruhi oleh unsur dari luar mereka. a. Unreflective (Tidak Mendalam/Tanpa Kritik) Kebenaran yang mereka terima tidak begitu mendalam, cukup sekedarnya saja, dan mereka semua merasa dengan keterangan yang kadang-kadang kurang masuk akal. Menurut penelitian, pikiran kritis baru muncul pada anak berusia 12 tahun, sejalan dengan perkembangan moral. Di usia ini pun anak yang kurang cerdas pun menunjukkan pemikiran yang kreatif. Namun demikian, sebelum usia 12 tahun pada anak yang mempunyai ketajaman berpikir akan menimbang pemikiran yang mereka terima dari orang lain. xviii b. Egosentris Sifat egosentris ini didasarkan pada hasil penelitian Piaget tentang bahasa pada anak usia 3-7 tahun. Berbicara bagi anak adalah tidak memiliki arti sebagaimana bicaranya orang dewasa. Bagi anak, bahasa tidak menyangkut orang lain, tetapi lebih merupakan monolog, yaitu merupakan bahasa egosentris, bukan sebagai sarana untuk mengomunikasikan gagasan dan informasi. Demikian juga dengan masalah keagamaan, anak lebih menonjolkan kepentingan dirinya dan lebih menuntut konsep keagamaan yang mereka pandang dari kesenangan pribadinya. Sebagai contoh adalah tujuan do a dan sholat yang mereka lakukan adalah untuk mencapai keinginan pribadi. Mereka minta sesuatu yang diinginkan, minta tolong atas segala yang tidak mampu ia lakukan. Dalam penelitian tentang do a pada anak usia 5-12 tahun, Spilka menyimpulkan bahwa usia 5-7 tahun, anak secara samar menghubungkan do a dengan Tuhan atau formula do a tertentu yang diajarkan orang lain kepada mereka. Pada usia 7-9 tahun, do a secara khusus dihubungkan dengan kegiatan atau gerak-gerik tertentu, tetapi amat konkret dan pribadi. Pada usia 9-12 tahun,

8 Erwin Suryaningrat, Perkembangan Keagamaan Pada Anak Usia Dini 283 ide tentang do a sebagai komunikasi antar anak dengan Tuhan mulai tampak. Setelah itu barulah isi do a beralih dari keinginan egosentris menuju masalah yang tertuju pada orang lain yang lebih bersifat etis. xix c. Anthromorphis Konsep anak mengenai ketuhanan pada umumnya berasal dari pengalamannya. Di saat anak berhubungan dengan orang lain, pertanyaan anak mengenai bagaimana dan mengapa biasanya mencerminkan usaha anak untuk menghubungkan penjelasan religius yang abstrak dengan dunia pengalamannya yang bersifat konkrit. Misalnya, Tuhan memberi ganjaran atau hukuman, dengan cepat akan dimengerti anak dan dihubungkan dengan pengalamannya tentang orang tua yang memberi hadiah. xx d. Verbalis dan Ritualis Kehidupan agama pada anak sebagian besar tumbuh karena ucapan (verbal). Mereka menghafal secara verbal kalimat-kalimat keagamaan dan mengerjakan amaliah yang mereka laksanakan berdasarkan pengalaman mereka menurut tuntunan yang diajarkan kepada mereka. xxi e. Imitatif Perilaku keagamaan yang dilakukan oleh anak pada dasarnya diperoleh dengan meniru. Dalam hal ini orang tua memiliki peran penting. Pendidikan keagamaan pada anak tidak berbentuk pengajaran, akan tetapi berupa teladan atau peragaan yang riil. xxii Penghayatan agama di kalangan anak-anak sebenarnya belum merupakan keseriusan, sebab tingkat perkembangan pikirannya baru pada tahap imitatif. f. Rasa Heran Rasa heran atau kagum merupakan tanda atau sifat keagamaan pada anak. Berbeda pada rasa heran pada orang dewasa, rasa heran pada anak belum kritis dan kreatif. Mereka hanya kagum pada keindaha lahiriahnya saja. Untuk itu perlu diberi pengertian dan penjelasan sesuai dengan tingkat perkembangan pemikirannya. xxiii

9 284 At-Ta lim, Vol. 11, No. 2, Juli 2012 C. PENUTUP Masa anak-anak dengan berbagai tahap perkembangannya dan dengan berbagai pengalaman yang diperolehnya akan membawa pengaruh yang amat penting yang terus terbawa sepanjang rentang kehidupannya. Ia berusaha menemukan tempat pribadinya yang ia merasa bahwa keberadaannya berbeda dengan keberadaan orang lain. Kemampuan belajar anak yang tinggi pada masa ini sangat penting bagi perkembangan agama. Keadaan anak yang mudah menyerap lingkungan merupakan arah yang kuat untuk menanamkan pendidikan keagamaan pada masa ini. Meskipun dalam mentaati segala pendidikan keagamaan, mereka hanya mengucapkan kata-kata atau dengan meniru perbuatan-perbuatan orang dewasa. Hal ini bukan berarti bahwa pendidikan yang diberikan pada masa anak-anak tidak berguna. Pendidikan anak-anak akan sangat berguna untuk menyampaikan informasi keagamaan yang dapat menjadi bahan pemikiran, pemahaman, bahkan keterlibatan anak-anak dikemudian hari bila mereka sudah mampu berpikir sendiri. Penulis :Erwin Suryaningrat, M.Hum adalah Dosen Tetap Jurusan Tarbiyah STAIN Bengkulu DAFTAR PUSTAKA i Jalaluddin & Ramayulis, Pengantar Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: Kalam Mulia, 1987), hlm. 23. Lihat pulan dalam Mansur Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2009), hlm. 45. ii Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia istilah laten berarti tersembunyi atau terpendam. iii Ibid, hlm. 23. iv Kata pengantar Abdurrahman Mas ud, dalam Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009, vii. v H. Syamsu Yusuf LN, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hlm vi Robert W. Crapps, Perkembangan Kepribadian dan Keagamaan, penerj. Agus M. Hardjana (Yogyakarta: Kanisius, 1994), hlm vii Heije Faber, Psychology of religion (SCM Press LTD, 1976), hlm viii Ibid., hlm ix Sururin, Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004), hlm. 47. x Jalaluddin, Psikologi Agama, Edisi Revisi, cet 8 (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004), hlm. 65. xi Ibid. xii Jalaluddin & Ramayulis, Pengantar), hlm. 25.

10 Erwin Suryaningrat, Perkembangan Keagamaan Pada Anak Usia Dini 285 xiii Ibid. xiv Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: Bulan Bintang, 2005), hlm xv Sururin, Ilmu, hlm. 50 xvi Daradjat, Ilmu, hlm. 44. xvii Jalaluddin, Psikologi Agama, Edisi Revisi, cet 8 (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004), hlm. 66. xviii Sururin, Ilmu, hlm. 58. xix Ibid., hlm. 59. xx Ibid., hlm. 59. xxi Ibid., hlm. 60 xxii Ibid. xxiii Ibid., 61.

Modul 5 PERKEMBANGAN JIWA AGAMA MASA ANAK-ANAK

Modul 5 PERKEMBANGAN JIWA AGAMA MASA ANAK-ANAK Perkembangan Jiwa Agama Masa Anak-anak Modul 5 PERKEMBANGAN JIWA AGAMA MASA ANAK-ANAK PENDAHULUAN Psikologi Agama pada jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) disajikan untuk membantu mahasiswa memahami perkembangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul Orang tua merupakan pendidik yang pertama dan utama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak-anak mulai menerima pendidikan. Dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dikaji, pada umumnya agama seseorang ditentukan oleh pendidikan, pentingnya hidup beragama (Daradjat, 1990 : 35).

BAB I PENDAHULUAN. dikaji, pada umumnya agama seseorang ditentukan oleh pendidikan, pentingnya hidup beragama (Daradjat, 1990 : 35). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Motivasi beragama anak merupakan masalah yang menarik untuk dikaji, pada umumnya agama seseorang ditentukan oleh pendidikan, pengalaman dan latihan yang dilaluinya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Guru adalah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar,

BAB I PENDAHULUAN. Guru adalah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar, 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Guru adalah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan

BAB I PENDAHULUAN. untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan dalam arti sederhana sering diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Proses pembangunan yang sedang berlangsung di negara ini disertai

BAB I PENDAHULUAN. Proses pembangunan yang sedang berlangsung di negara ini disertai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Proses pembangunan yang sedang berlangsung di negara ini disertai pula dengan pembangunan dalam pendidikan. Karena pendidikan salah satu tolak ukur kelancaran dan kemampuan

Lebih terperinci

BAB I PEDAHULUAN. Pendidikan juga mengarahkan pada penyempurnaan potensi-potensi yang

BAB I PEDAHULUAN. Pendidikan juga mengarahkan pada penyempurnaan potensi-potensi yang 1 BAB I PEDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan modal utama bagi kemajuan bangsa dan memiliki posisi strategis dalam menumbuhkan kualitas kehidupan manusia. Pendidikan juga sebagai proses

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. proses pembelajaran kepada siswa (manusia) dalam upaya mencerdaskan dan

BAB 1 PENDAHULUAN. proses pembelajaran kepada siswa (manusia) dalam upaya mencerdaskan dan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan dalam pengertian yang lebih luas dapat diartikan sebagai suatu proses pembelajaran kepada siswa (manusia) dalam upaya mencerdaskan dan mendewasakan siswa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. ataupun kesuksesan. Keberhasilan merupakan kemampuan yang dimiliki oleh

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. ataupun kesuksesan. Keberhasilan merupakan kemampuan yang dimiliki oleh BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia yang ada di dunia ini pasti menginginkan adanya keberhasilan ataupun kesuksesan. Keberhasilan merupakan kemampuan yang dimiliki oleh individu untuk melewati

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Undang No. 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3 sebagai berikut. Hal ini sejalan pula dengan Hadist Rasulullah SAW dari Abu Hurairah r.a.

BAB I PENDAHULUAN. Undang No. 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3 sebagai berikut. Hal ini sejalan pula dengan Hadist Rasulullah SAW dari Abu Hurairah r.a. 1 A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Pendidikan di Indonesia dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan bangsa Indonesia tertera dalam Undang- Undang No. 20 Tahun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan segala potensi dan bakat yang terpendam dapat ditumbuhkembangkan,

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan segala potensi dan bakat yang terpendam dapat ditumbuhkembangkan, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan hal yang penting bagi kehidupan manusia. Dengan pendidikan segala potensi dan bakat yang terpendam dapat ditumbuhkembangkan, yang diharapkan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Membaca adalah pengolahan bacaan secara kritis-kreatif yang dialakukan

BAB 1 PENDAHULUAN. Membaca adalah pengolahan bacaan secara kritis-kreatif yang dialakukan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah. Membaca adalah pengolahan bacaan secara kritis-kreatif yang dialakukan dengan tujuan memperoleh pemahaman yang bersifat menyeluruh tentang bacaan itu, dan penilaian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan anak yang lahir dalam keadaan fitrah atau suci :

BAB I PENDAHULUAN. Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan anak yang lahir dalam keadaan fitrah atau suci : A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Bagi setiap pasangan pengantin yang telah disahkan dalam perkawinan suci yaitu perkawinan, kehadiran seorang anak tentu dinantikan, sebab merekalah bukti lambang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang ditopang oleh empat

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang ditopang oleh empat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sekecil apapun ilmu yang didapat, kita harus selalu berusaha untuk menyampaikannya kepada yang lain. Karena setiap individu berhak untuk dididik dan mendidik, berhak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kualitas akhlak seseorang sangat dipengaruhi oleh kondisi iman dalam

BAB I PENDAHULUAN. Kualitas akhlak seseorang sangat dipengaruhi oleh kondisi iman dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kualitas akhlak seseorang sangat dipengaruhi oleh kondisi iman dalam kehidupan masyarakat. Ahli psikologi pada umumnya sependapat bahwa dasar pembentukan akhlak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu kebanggaan bagi setiap orang tua adalah memiliki anak-anak

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu kebanggaan bagi setiap orang tua adalah memiliki anak-anak 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Salah satu kebanggaan bagi setiap orang tua adalah memiliki anak-anak yang mandiri. Kemandirian yang diharapkan oleh orang tua untuk anaknya yaitu kemandirian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk terbentuknya kepribadian yang bulat dan utuh sebagai manusia

BAB I PENDAHULUAN. untuk terbentuknya kepribadian yang bulat dan utuh sebagai manusia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan memegang peranan penting dalam pembentukan manusia untuk terbentuknya kepribadian yang bulat dan utuh sebagai manusia individual dan sosial serta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jawabanya dihadapan-nya, sebagaimana Allah SWT berfirman :

BAB I PENDAHULUAN. jawabanya dihadapan-nya, sebagaimana Allah SWT berfirman : BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Anak adalah anugrah dan amanah dari Allah SWT yang harus dijaga dan dipelihara oleh orang tua, karena kelak akan di minta pertanggung jawabanya dihadapan-nya,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan upaya untuk mencerdaskan, kehidupan bangsa dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan upaya untuk mencerdaskan, kehidupan bangsa dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan upaya untuk mencerdaskan, kehidupan bangsa dan diharapkan dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Perkembangan ilmu pengetahuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sering diterjemahkan dengan tarbiyah yang berarti pendidikan. 1 Istilah

BAB I PENDAHULUAN. sering diterjemahkan dengan tarbiyah yang berarti pendidikan. 1 Istilah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Istilah pendidikan berasal dari bahasa Yunani, yaitu paedagogie, yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Dalam bahasa arab sering diterjemahkan dengan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Persepsi Tentang Tuhan 1. Pengertian Persepsi Objek yang dipersepsi dalam penelitian ini adalah Tuhan, karenanya sebelum menjelaskan apa itu persepsi tentang Tuhan, pada bagian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan dan berhubungan dengan manusia. 1 Sebagai makhluk pribadi, ia

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan dan berhubungan dengan manusia. 1 Sebagai makhluk pribadi, ia 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial dan makhluk pribadi. Sebagai makhluk sosial, manusia hidup memerlukan bantuan orang lain, bahkan manusia baru akan menjadi

Lebih terperinci

A. LATAR BELAKANG MASALAH

A. LATAR BELAKANG MASALAH BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa sesungguhnya manusia membutuhkan pendidikan dalam

Lebih terperinci

Pendidikan Keluarga (Membantu Kemampuan Relasi Anak-anak) Farida

Pendidikan Keluarga (Membantu Kemampuan Relasi Anak-anak) Farida Pendidikan Keluarga (Membantu Kemampuan Relasi Anak-anak) Farida Manusia dilahirkan dalam keadaan yang sepenuhnya tidak berdaya dan harus menggantungkan diri pada orang lain. Seorang anak memerlukan waktu

Lebih terperinci

PENDIDIKAN ANAK USIA 0-10 TAHUN (TELAAH BUKU ISLAMIC PARENTING KARYA SYAIKH JAMAL ABDURRAHMAN)

PENDIDIKAN ANAK USIA 0-10 TAHUN (TELAAH BUKU ISLAMIC PARENTING KARYA SYAIKH JAMAL ABDURRAHMAN) PENDIDIKAN ANAK USIA 0-10 TAHUN (TELAAH BUKU ISLAMIC PARENTING KARYA SYAIKH JAMAL ABDURRAHMAN) SKRIPSI Diajukan kepada Program Studi Pendidikan Agama Islam (Tarbiyah) Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan sebagaimana hadist Rasulullah S.AW yang berbunyi: Artinya : Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki

BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan sebagaimana hadist Rasulullah S.AW yang berbunyi: Artinya : Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan sangatlah penting untuk menunjang masa depan seseorang. Pendidikan tujuannya adalah untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, yang mana ilmu pengetahuan ini merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Offset, 2014, hlm Ibid, hlm Helmawati, Pendidikan Keluarga Teoritis dan Praktis, Bandung: Remaja Rosdakarya

BAB I PENDAHULUAN. Offset, 2014, hlm Ibid, hlm Helmawati, Pendidikan Keluarga Teoritis dan Praktis, Bandung: Remaja Rosdakarya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan kegiatan yang sangat esensial dalam kehidupan manusia untuk membentuk insane yang dapat memecahkan permaslahan dalam kehidupannya. Tiga tempat pendidikan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. mau dan mampu mewujudkan kehendak/ keinginan dirinya yang terlihat

BAB II LANDASAN TEORI. mau dan mampu mewujudkan kehendak/ keinginan dirinya yang terlihat BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Tentang Kemandirian 2.1.1 Pengertian Kemandirian Pengertian mandiri berarti mampu bertindak sesuai keadaan tanpa meminta atau tergantung pada orang lain. Mandiri adalah

Lebih terperinci

Modul 1 PENGERTIAN DAN MANFAAT PSIKOLOGI AGAMA

Modul 1 PENGERTIAN DAN MANFAAT PSIKOLOGI AGAMA Pengertian dan manfaat Psikologi Agama Modul 1 PENGERTIAN DAN MANFAAT PSIKOLOGI AGAMA PENDAHULUAN Psikologi Agama pada jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) disajikan untuk membantu mahasiswa memahami perkembangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menjadi faktor yang penting dalam membentuk akhlak sejak anak usia dini.

BAB I PENDAHULUAN. menjadi faktor yang penting dalam membentuk akhlak sejak anak usia dini. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Akhlak akan terbentuk secara efektif apabila ditanamkan sejak usia dini. Hal tersebut untuk membekali anak agar lebih matang menghadapi permasalahan kehidupan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dilakukannya suatu aktivitas atau proses yang mengakibatkan berubahnya inpit secara

BAB I PENDAHULUAN. dilakukannya suatu aktivitas atau proses yang mengakibatkan berubahnya inpit secara BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yang membentuknya, yaitu hasil dan belajar. Pengertian hasil (product) menunjuk pada suatu perolehan

Lebih terperinci

PEMBINAAN PERKEMBANGAN KEBERAGAMAAN ANAK USIA DINI

PEMBINAAN PERKEMBANGAN KEBERAGAMAAN ANAK USIA DINI PEMBINAAN PERKEMBANGAN KEBERAGAMAAN ANAK USIA DINI Oleh: Asnelly Ilyas* Abstract Among potentials that children have as they were born, religious potential is one that needs to be developed in line with

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang tepat agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal (Mansur,

BAB I PENDAHULUAN. yang tepat agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal (Mansur, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan anak usia dini adalah suatu proses pembinaan tumbuh kembang anak usia lahir hingga enam tahun secara menyeluruh, yang mencakup aspek fisik dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan meningkatnya hasil belajar siswa. Peningkatan hasil belajar dapat. mengerti dan untuk dapat memecahkan suatu masalah.

BAB I PENDAHULUAN. dengan meningkatnya hasil belajar siswa. Peningkatan hasil belajar dapat. mengerti dan untuk dapat memecahkan suatu masalah. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Matematika merupakan salah satu bidang ilmu dalam pengembangan sains dan teknologi yang mampu untuk menggiring kita berpikir sistematis, logis dan kritis, kreatif dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kepribadian dan kemampuan menuju kedewasaan serta pembentukan manusia

BAB I PENDAHULUAN. kepribadian dan kemampuan menuju kedewasaan serta pembentukan manusia 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan menuju kedewasaan serta pembentukan manusia seutuhnya.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. secara sistematis dan terencana dalam setiap jenis dan jenjang pendidikan.

BAB I PENDAHULUAN. secara sistematis dan terencana dalam setiap jenis dan jenjang pendidikan. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar untuk mengembangkan kualitas manusia yang dalam pelaksanaanya merupakan suatu proses yang berkesinambungan pada setiap jenis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 2005, Hlm, 28

BAB I PENDAHULUAN. 2005, Hlm, 28 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan adalah suatu proses untuk mendewasakan manusia. Atau dengan kata lain pendidikan merupakan suatu upaya untuk memanusiakan manusia. Melalui pendidikan manusia

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan suatu proses yang bertujuan mencerdaskan seluruh kehidupan umat manusia. Oleh karena itu pendidikan merupakan salah satu faktor penting bagi kemajuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dapat menghadapi segala tantangan yang akan timbul, lebih-lebih dalam

BAB I PENDAHULUAN. dapat menghadapi segala tantangan yang akan timbul, lebih-lebih dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan masalah fundamental dalam pembangunan bangsa dan merupakan bekal yang harus dimiliki oleh setiap generasi muda agar kelak dapat menghadapi

Lebih terperinci

Perkembangan Kognitif, Emosi, dan Bahasa pada Masa Kanak-Kanak Akhir. Dosen Pengampu : Dra. Nadlifah, M.Pd.

Perkembangan Kognitif, Emosi, dan Bahasa pada Masa Kanak-Kanak Akhir. Dosen Pengampu : Dra. Nadlifah, M.Pd. Perkembangan Kognitif, Emosi, dan Bahasa pada Masa Kanak-Kanak Akhir Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Perkembangan Dosen Pengampu : Dra. Nadlifah, M.Pd. Oleh: Kartika Dwi Astuti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dipengaruhi oleh pendidikan formal informal dan non-formal. Penerapan

BAB I PENDAHULUAN. dipengaruhi oleh pendidikan formal informal dan non-formal. Penerapan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemajuan dan perkembangan pendidikan sejalan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga perubahan akhlak pada anak sangat dipengaruhi oleh pendidikan

Lebih terperinci

UPAYA GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PEMBINAAN KEPRIBADIAN MUSLIM DI SMP MUHAMMADIYAH 7 BAJANG MLARAK PONOROGO SKRIPSI

UPAYA GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PEMBINAAN KEPRIBADIAN MUSLIM DI SMP MUHAMMADIYAH 7 BAJANG MLARAK PONOROGO SKRIPSI UPAYA GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PEMBINAAN KEPRIBADIAN MUSLIM DI SMP MUHAMMADIYAH 7 BAJANG MLARAK PONOROGO SKRIPSI Diajukan kepada: Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas

Lebih terperinci

MANAJEMEN KESISWAAN DAN PENGEMBANGAN NILAI ISLAMI SISWA (Studi Empirik di MTs Negeri Surakarta 1 Tahun Pelajaran 2012/2013) SKRIPSI

MANAJEMEN KESISWAAN DAN PENGEMBANGAN NILAI ISLAMI SISWA (Studi Empirik di MTs Negeri Surakarta 1 Tahun Pelajaran 2012/2013) SKRIPSI MANAJEMEN KESISWAAN DAN PENGEMBANGAN NILAI ISLAMI SISWA (Studi Empirik di MTs Negeri Surakarta 1 Tahun Pelajaran 2012/2013) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-syarat guna Memperoleh Gelar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Allah swt Berfirman. dalam surat Al-Mujadallah ayat 11.

BAB I PENDAHULUAN. Allah swt Berfirman. dalam surat Al-Mujadallah ayat 11. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan dunia pendidikan merupakan salah satu sektor terpenting dalam pembangunan nasional. Melalui pendidikan inilah diharapkan akan lahir manusia Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menjadi dasar untuk mencapai tujuan tersebut, pendidikan berupaya

BAB I PENDAHULUAN. menjadi dasar untuk mencapai tujuan tersebut, pendidikan berupaya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan usaha sadar untuk memajukan dan mengembangkan potensi intelektual, emosional, dan spiritual. Tinggi rendahnya perkembangan dan pertumbuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul. lingkungan masyarakat atau dalam istilah lain yaitu jalur pendidikan sekolah dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul. lingkungan masyarakat atau dalam istilah lain yaitu jalur pendidikan sekolah dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul Pendidikan merupakan satu proses yang panjang dan diselenggarakan di berbagai bentuk lingkungan, yaitu dari proses lingkungan keluarga, sekolah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. akan pentingnya pendidikan harus dilaksanakan sebaik-baiknya sehingga dapat

BAB I PENDAHULUAN. akan pentingnya pendidikan harus dilaksanakan sebaik-baiknya sehingga dapat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan, dimana pendidikan sendiri tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia sifatnya mutlak baik dalam

Lebih terperinci

HHHC9401 KEMAHIRAN NILAI, SIKAP, ETIKA DAN PROFESIONALISME (SET 12) TAJUK: LAPORAN AKHIR VIDEO THE UNSUNG HERO DISEDIAKAN UNTUK:

HHHC9401 KEMAHIRAN NILAI, SIKAP, ETIKA DAN PROFESIONALISME (SET 12) TAJUK: LAPORAN AKHIR VIDEO THE UNSUNG HERO DISEDIAKAN UNTUK: HHHC9401 KEMAHIRAN NILAI, SIKAP, ETIKA DAN PROFESIONALISME (SET 12) TAJUK: LAPORAN AKHIR VIDEO THE UNSUNG HERO DISEDIAKAN UNTUK: DR. FADLAN BIN MOHD OTHMAN DISEDIAKAN OLEH: NURUL HUSNA BINTI SAPIAN (A

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Allah akan senantiasa meninggikan derajat bagi orang-orang yang beriman dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Allah akan senantiasa meninggikan derajat bagi orang-orang yang beriman dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menuntut ilmu merupakan hal yang wajib dilakukan oleh umat Islam, karena Allah akan senantiasa meninggikan derajat bagi orang-orang yang beriman dan berilmu. Dalam menuntut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. selesai sampai kapanpun, sepanjang ada kehidupan manusia di dunia ini, karena

BAB I PENDAHULUAN. selesai sampai kapanpun, sepanjang ada kehidupan manusia di dunia ini, karena BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada dasarnya pendidikan adalah laksana eksperimen yang tidak pernah selesai sampai kapanpun, sepanjang ada kehidupan manusia di dunia ini, karena pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kedudukan ilmu pengetahuan dalam Islam sangat penting. Allah SWT berfirman

BAB I PENDAHULUAN. kedudukan ilmu pengetahuan dalam Islam sangat penting. Allah SWT berfirman BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kehidupan di dunia ini sangat membutuhkan ilmu pengetahuan, karena itu kedudukan ilmu pengetahuan dalam Islam sangat penting. Allah SWT berfirman dalam Alquran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mental, emosional, sosial dan fisik. Pandangan ini diungkapkan oleh

BAB I PENDAHULUAN. mental, emosional, sosial dan fisik. Pandangan ini diungkapkan oleh BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Masa remaja merupakan masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif dan sosial-emosional (Santrock, 2003). Menurut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mempersiapkan peserta didik agar meraih cita-citanya dimasa yang akan

BAB I PENDAHULUAN. mempersiapkan peserta didik agar meraih cita-citanya dimasa yang akan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu usaha sadar yang dilakukan oleh setiap manusia baik itu dalam lingkungan keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Pendidikan dapat diperoleh

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Kata media berasal dari bahasa latin yaitu medium yang secara harfiah berarti

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Kata media berasal dari bahasa latin yaitu medium yang secara harfiah berarti BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Media Kartu Bergambar 2.1.1 Pengertian Media Kartu Bergambar Kata media berasal dari bahasa latin yaitu medium yang secara harfiah berarti perantara. Dengan demikian media dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terutama generasi muda sebagai pemegang estafet perjuangan untuk mengisi

BAB I PENDAHULUAN. terutama generasi muda sebagai pemegang estafet perjuangan untuk mengisi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan suatu negara pendidikan memegang peranan yang penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa, karena pendidikan merupakan wahana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dirumuskan itu bersifat abstrak sampai pada rumusan-rumusan yang dibentuk. khusus memudahkan pencapaian tujuan yang lebih tinggi.

BAB I PENDAHULUAN. dirumuskan itu bersifat abstrak sampai pada rumusan-rumusan yang dibentuk. khusus memudahkan pencapaian tujuan yang lebih tinggi. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan sebagai suatu bentuk kegiatan manusia, dalam kehidupannya juga menempati tujuan sebagai sesuatu yang hendak dicapai. Baik tujuan yang dirumuskan itu bersifat

Lebih terperinci

SIJIL PSIKOLOGI ISLAM DAN KAUNSELING

SIJIL PSIKOLOGI ISLAM DAN KAUNSELING SIJIL PSIKOLOGI ISLAM DAN KAUNSELING WPK 313 Psikologi Pendidikan Definisi Pembelajaran Ciri-ciri pembelajaran Prinsip pembelajaran Proses pembelajaran Pensyarah: Ustazah Dr Nek Mah Bte Batri PhD Objektif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lainnya, karena keterbatasan kemampuan manusia. hubungannya dengan manusia lainnya, baik dirumah, sekolah, tempat berkerja

BAB I PENDAHULUAN. lainnya, karena keterbatasan kemampuan manusia. hubungannya dengan manusia lainnya, baik dirumah, sekolah, tempat berkerja BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Allah SWT telah memberikan tuntunan hidup berupa Al Qur an dan Sunnah, sebagai pedoman yang sempurna, karena dalamnya terkandung hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ada perantaraan pendidikan agar perkembangannya sempurna sesuai dengan yang

BAB I PENDAHULUAN. ada perantaraan pendidikan agar perkembangannya sempurna sesuai dengan yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap insan yang lahir ke dunia telah membawa potensi dasar berupa unsur jasmani, rohani, dan akal. Dan potensi tersebut dapat berkembang manakala ada perantaraan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Kepribadian merupakan sifat hakiki individu yang tercermin pada sikap dan perbuatannya yang membedakan dirinya dari yang lain. 1 Kepribadian ini sangat berpengaruh terhadap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Jika dibanding dengan makhluk lainnya, manusia adalah makhluk Tuhan

BAB I PENDAHULUAN. Jika dibanding dengan makhluk lainnya, manusia adalah makhluk Tuhan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul Jika dibanding dengan makhluk lainnya, manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna dan memiliki kelebihan. Disamping terdapat kelebihannya,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. oleh kualitas sumber daya manusianya. Untuk meningkatkan kualitas manusianya

BAB I PENDAHULUAN. oleh kualitas sumber daya manusianya. Untuk meningkatkan kualitas manusianya 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keberhasilan suatu bangsa dalam memperoleh tujuannya tidak hanya ditentukan oleh melimpah ruahnya sumber daya alam, tetapi sangat ditentukan oleh kualitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. potensi anak didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan

BAB I PENDAHULUAN. potensi anak didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan pendidikan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 20 tahun 2003 disebutkan bahwa Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi anak didik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan masyarakat adalah orang-orang dewasa, orang-orang yang. dan para pemimpin formal maupun informal.

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan masyarakat adalah orang-orang dewasa, orang-orang yang. dan para pemimpin formal maupun informal. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan interaksi antara pendidik dan peserta didik, untuk mencapai tujuan pendidikan, yang berlangsung dalam lingkungan pendidikan. Pendidikan dalam lingkungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kehidupannya, sampai kapan dan dimanapun ia berada. sebagaimana sabda

BAB I PENDAHULUAN. kehidupannya, sampai kapan dan dimanapun ia berada. sebagaimana sabda 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan (dalam konteks menuntut ilmu) untuk kehidupannya, sampai kapan dan dimanapun

Lebih terperinci

BAB IV. A. Pertimbangan Hakim Pengadilan Negeri Meulaboh dalam Putusan No. 131/Pid.B/2013/PN.MBO tentang Tindak Pidana Pembakaran Lahan.

BAB IV. A. Pertimbangan Hakim Pengadilan Negeri Meulaboh dalam Putusan No. 131/Pid.B/2013/PN.MBO tentang Tindak Pidana Pembakaran Lahan. BAB IV ANALISIS PERTIMBANGAN HAKIM PENGADILAN NEGERI MEULABOH DALAM PUTUSAN No. 131/Pid.B/2013/PN.MBO TENTANG TINDAK PIDANA PEMBAKARAN LAHAN PERSPEKTIF HUKUM PIDANA ISLAM A. Pertimbangan Hakim Pengadilan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang dilakukan dan tindakan yang diambil akan bertentangan dengan normanorma

BAB I PENDAHULUAN. yang dilakukan dan tindakan yang diambil akan bertentangan dengan normanorma BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia baik dalam berkeluarga, bermasyarakat maupun dalam kehidupan berbangsa dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu

BAB I PENDAHULUAN. Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam berinteraksi dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sehubungan dengan itu Allah Swt berfirman dalam Alquran surah At-Tahrim

BAB I PENDAHULUAN. Sehubungan dengan itu Allah Swt berfirman dalam Alquran surah At-Tahrim BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan diperoleh melalui jalur sekolah dan luar sekolah, salah satu jalur pendidikan luar sekolah adalah keluarga. Keluarga merupakan penanggung jawab pertama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh manusia tersebut maka

BAB I PENDAHULUAN. yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh manusia tersebut maka BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk yang paling mulia, karena manusia diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna. Di samping manusia mempunyai potensi untuk tumbuh dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. logis, dan sikap kemandirian dalam diri peserta didik. Proses pendidikan,

BAB I PENDAHULUAN. logis, dan sikap kemandirian dalam diri peserta didik. Proses pendidikan, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masalah pendidikan adalah masalah bagaimana meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, patokan yang harus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa:

BAB I PENDAHULUAN. UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di Indonesia pendidikan menjadi salah satu program utama dalam pembangunan nasional. Maju dan berkembangnya suatu bangsa sangat ditentukan oleh keadaan pendidikan yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. suatu kelompok manusia dapat berkembang sejalan dengan aspirasi (cita-cita)

BAB I PENDAHULUAN. suatu kelompok manusia dapat berkembang sejalan dengan aspirasi (cita-cita) BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan bagi kehidupan umat manusia merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan sama sekali mustahil suatu kelompok manusia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja merupakan masa transisi perkembangan antara masa anak dan masa ke dewasa, dimulai dari pubertas yang ditandai dengan perubahan yang pesat dalam berbagai

Lebih terperinci

memberikan gairah dan motivasi kepada para siswa. Sesuai dengan Undang dengan visi misi pendidikan nasional dan reformasi pendidikan menyebutkan

memberikan gairah dan motivasi kepada para siswa. Sesuai dengan Undang dengan visi misi pendidikan nasional dan reformasi pendidikan menyebutkan 2 Seorang guru harus bisa menciptakan suasana kelas yang dapat memberikan gairah dan motivasi kepada para siswa. Sesuai dengan Undang undang RI No.20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kemampuan pemecahan masalah matematika pada siswa dapat. berbentuk uraian kita dapat melihat langkah-langkah yang dilakukan siswa

BAB I PENDAHULUAN. Kemampuan pemecahan masalah matematika pada siswa dapat. berbentuk uraian kita dapat melihat langkah-langkah yang dilakukan siswa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kemampuan pemecahan masalah matematika pada siswa dapat diketahui melalui soal-soal yang berbentuk uraian, karena pada soal yang berbentuk uraian kita dapat melihat

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA

BAB IV ANALISIS DATA BAB IV ANALISIS DATA Berdasarkan data yang telah disajikan berkenaan dengan gambaran motivasi belajar mahasiswa berprestasi dalam organisasi Dema Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, berikut penulis memberikan

Lebih terperinci