TUGAS TERSTRUKTUR EVALUASI SENSORI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "TUGAS TERSTRUKTUR EVALUASI SENSORI"

Transkripsi

1 TUGAS TERSTRUKTUR EVALUASI SENSORI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGUKURAN SENSORIS Disusun oleh: Devi Nurmalitasari A1D Resty Khairunissa A1D Berty Olivia Ieke Nugraha A1D Desi Arini A1D Nefolina A1D Natya Laksmi Putri A1D Dwi Puspita Sari A1D Pramudhita Barita Putri A1D DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO 2009

2 I. PENDAHULUAN Di pasaran banyak beredar bermacam-macam produk pangan, baik yang berlainan jenis maupun yang mempunyai sifat mirip yang diproduksi oleh pabrik atau produsen yang berbeda. Konsumen pada umumnya akan memilih produk yang terbaik dan disukai. Produsen dapat menguji produk-produk yang tersedia dengan uji organoleptik. Penilaian terhadap suatu mutu produk pangan memiliki dua aspek yaitu penilaian pembedaan sifat sensoris dan penilaian sifat sensoris atau intensitas mutu secara keseluruhan. Penilaian organoleptik merupakan suatu cara penilaian yang paling sederhana, karena penilaian ini menggunakan indera manusia secara langsung tanpa mengeluarkan tambahan biaya, namun demikian penilaian dengan menggunakan indera banyak digunakan untuk menilai mutu komoditas hasil pertanian dan makanan. Dalam perkembangannya, dunia industri makanan banyak menggunakan cara ini untuk menilai dan menganalis suatu produk yang dihasilkan, sehingga diharapkan dari hasil uji organoleptik tersebut dapat diketahui kekurangan serta langkah perbaikannya dari produk tersebut sampai produk layak untuk dipasarkan dan diterima oleh konsumen. Penilaian organoleptik erat kaitannya dengan tanggapan psikologis, yang dihasilkan oleh kemampuan fisio psikologis seorang panelis. Kemampuan fisio psikologis dapat dikelompokkan menjadi empat tipe yaitu kemampuan mendeteksi, mengenal, membandingkan dan kemampuan hedonik. Kemampuan mendeteksi merupakan kemampuan menyadari adanya rangsangan sebelum mengenal adanya kesan tertentu yang spesifik. Uji organoleptik dapat digunakan untuk memperoleh informasi yang berguna untuk memperbaiki produk, memelihara kualitas, mengembangkan produk-produk baru ataupun analisis pasar. Pengujian dapat diarahakan untuk: 1) seleksi pengujian-pengujian dan studi persepsi manusia terhadap atribut-atribut makanan; 2) mengkorelasikan pengukuran-pengukuran sensoris dengan pengukuran kimiawi dan fisika; 3) studi efekefek prosesing, mempertahankan kualitas, evaluasi seleksi materaial, menetapkan stabilitas penyimpanan, atau mengurangi biaya; 4) evaluasi kualitas atau determinasi reaksi konsumen. Masing-masing maksud ini memerlukan pengujian yang tepat.

3 Uji organoleptik terhadap bahan makanan dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen maupun dengan menggunakan indra yang kita miliki. Pengujian dengan menggunakan indra manusia lebih efisien dan hasilnya lebih akurat karena dengan indra (penglihatan, pembauan, pendengaran dan pencicip) kita dapat mengetahui apakah produk tersebut disukai atau tidak oleh konsumen. Dalam uji organoleptik juga dapat diperoleh kesalahan-kesalahan yang dapat mempengaruhi data sehingga data yang diperoleh tidak valid. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhinya antara lain penelis, laboratorium, penyajian sampel produk, dan halhal yang mempengaruhi pada saat pengukuran sensoris (sikap, motivasi, kesalahankesalahan psikologis dalam penilaian, adaptasi).

4 II. ISI Uji organoleptik terhadap bahan makanan dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen maupun dengan menggunakan indra yang kita miliki. Pengujian dengan menggunakan indra manusia lebih efisien dan hasilnya lebih akurat karena dengan indra (penglihatan, pembauan, pendengaran dan pencicip) kita dapat mengetahui apakah produk tersebut disukai atau tidak oleh konsumen. Namun, dalam uji organoleptik sering terjadi kesalahan-kesalahan yang dapat mempengaruhi data sehingga data yang diperoleh tidak valid. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kevalidan data antara lain panel, laboratorium, penyajian sampel produk, dan hal-hal yang mempengaruhi pada saat pengukuran produk (sikap, motivasi, kesalahan-kesalahan psikologis dalam penilaian, adaptasi). 1. Panel Kepekaan setiap panelis dapat mengalami perubahan dalam sehari maupun dari hari ke hari. Perubahan kepekaan dapat bersifat fisiologik maupun psikologik. Selain itu, lingkungan dapat juga mempengaruhi kepekaan panelis yang dapat berpengaruh pada validitas data yang diperoleh. Untuk melaksanakan suatu penilaian pada pengujian indrawi diperlukan panel yang harus bertindak sebagai instrumen atau alat. Pada mulanya penilaian hanya dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai kelebihan sensorik, yaitu yang dikenal dengan technical expert. Kelebihan ini dapat digunakan untuk mengukur dan menilai sifat karakteristik secara tepat. Adanya kepekaan yang tinggi, seorang expert dapat menentukan mutu suatu bahan secara cepat dan tepat. Dengan mempelajari prinsip-prinsip yang dipakai dalam penilaian, mengatur suasana lingkungan dan persyaratan lain yang diperlukan saat ini pengujian inderawi mulai dikembangkan, dibakukan, dan diterapkan sehingga kedudukan seorang expert dapat digantikan oleh sekelompok penguji (panel). Orang yang menjadi anggota panel disebut panelis. Panelis dapat dipilih dari orang-orang yang dianggap mampu dan tersedia di industri atau laboratorium yang bersangkutan sebagai bagian dari tugasnya sehari-hari kecuali mereka yang terlibat secara langsung pada obyek yang diuji, seperti orang yang selalu menyajikan sampel dan lain-lain.

5 2. Laboratorium Laboratorium merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam kevalidan data dalam uji sensoris. Oleh karena itu, untuk mengurangi kesalahan-kesalahan yang dapat terjadi pada saat uji organoleptik, setiap laboratorium yang digunakan untuk pengujian harus memenuhi syarat antara lain ruangannya terisolir, kedap suara, kedap bau, nyaman, dan cahaya cukup terang untuk melakukan penilaian. Selain itu harus terdapat bilik pencicip yang dimaksudkan agar tiap-tiap panelis dapat melakukan penilaian secara individual, bebas dan tidak dipengaruhi oleh keadaan sekitarnya atau orang lain. Pada pengujian inderawi diperlukan suatu laboratorium yang agak berbeda persyaratannya dengan laboratorium pengujian yang lain. Dalam laboratorium ini manusia dengan menggunakan inderanya digunakan sebagai alat pengukur, sedang laboratorium yang lain umumnya manusia sebagai operator alat pengukur. Pada pengujian inderawi ini diharapkan faktor diluar manusia sesedikit mungkin mempengaruhi reaksi kejiwaan (psikis) manusia sebagai panelis dalam melakukan penilaian. Jadi, diharapkan penilaian atau pengindraan berlangsung secara murni. Oleh karena itu dituntut suasana yang mendukungnya, yakni suasana yang tidak mengarah terjadinya error-error psikologis dalam melakukan penilaian. Apabila persyaratanpersyaratan ini tidak dipenuhi, akan menyebabkan adanya bias dan penurunab sensitivitas manusia sebagai alat pengukur. Selain kondisi umum laboratorium, hal lain yang perlu mendapat perhatian dalam laboratorium ini adalah penggunaan alat atau sarana bantu. Sarana bantu ini dapat berup alat-alat untuk penyiapan dan penyajian sampel serta alat komunikasi peneliti dengan panelis berupa blanko atau formulir instruksi dan penilaian. Sarana bantu yang digunakan pada pengujian inderawi ini hendaknya diperhatikan kebersihannya, agar tidak mengganggu sifat-sifat sensoris yang akan dinilai. Sarana penyiapan sampel ini pada umumnya sama dengan peralatan dapur, seperti : kompor,panci, pisau, sendok, dan lainlain. Alat ini digunakan peneliti dalam menyiapkan sampel sebelum disajikan kepada panelis. Sarana penyajian sampel yang lazim digunakan misalnya mangkok atau cawan sampel, gelas, cangkir, wadah bertutup, sendok, garpu nampan, serbet serta alat kumur. Sarana ini untuk menempatkan sampel dan mengambil sampel yang akan dinilai oleh

6 panelis. Kadang-kadang suatu contoh memerlukan wadah yang khas, misalnya untuk menilai bau minyak diperlukan wadah bertutup. Untuk komunikasi antara peneliti dengan para panelis, diperlukan sarana berupa blanko, atau formulir, instruksi kerja dan penilaian, alat tulis dan lain-lain. Semua sarana bantu yang digunakan dalam pengujian inderawi selain dijaga kebersihannya dianjurkan untuk secukupnya saja, tidak berlebihan. Selain itu perlu diusahakan sarana tersebut tidak mengganggu penilaian, misalnya diusahakan wadah yang digunakan sama, warnanya tidak beraneka ragam. 3. Penyajian sampel produk Pada prinsipnya sampel yang akan diuji harus mewakili bahan atau proses yang sedang dikaji, oleh karena itu, dalam pengambilan sampel perlu diperhatikan cara yang dapat dipertanggungjawabkan. Kadang-kadang perhatian peneliti terlalu terpusat pada seleksi panelis dan metode pengujian, sehingga melupakan metode pengambilan sampelnya. Apabila pengambilan sampel menyebabkan bahan tidak diperhatikan akan muncul error-error yang tidak diharapkan. Hal ini akan mengurangi generalisasi keputusan atau kesimpulan yang diambil. Dalam penyajian sampel perlu dihindari perlakuan sengaja maupun tidak sengaja yang menyebabkan ada bau atau rasa yang berasal dari luar bahan yang akan diuji. Semua perlakuan penyiapan sampel diusahakan identik dan tidak mengubah sifat-sifat sampel. 4. Hal-hal yang mempengaruhi pada saat pengukuran sensoris A Faktor Sikap (Attitudinal) Perbedaan-perbedaan individual dalam kemampuan intelektual telah dipelajari, dan studi sistematik mengkorelasikan perbedaan-perbedaan perceptual dengan perbedaan-perbedaaan individual seperti yang didefinisikan di bawah ini. Constancy didefinisikan sebagai tendensi untuk bereaksi terhadap obyek-obyek dalam istilah-istilah yang dikenal sebagai ukuran, bentuk atau warna. Ada perbedaan individual yang besar dalam constancy, dan orang yang object-criented mungkin tidak stimulus-oriented. Orang dapat menggunakan cara yang mana saja di bawah ini untuk respon-respon visual dan auditori melalui stimulus: 1. survei sederhana objek-objek stimulus 2. surve inquiring (mengajukan pertanyaan-pertanyaan)

7 3. surve khusus objek-objek untuk deskripsi akurat 4. surve subjektif (personal) 5. evaluasi objektif (impersonal) dalam hubungannya dalam standar konvensional. Cara-cara ini dapat mempengaruhi respon penguji terhadap makanan. Meskipun tidak sempurna, hal-hal di bawah ini telah terbukti berguna dalam praktek untuk melihat luasnya persepsi. 1. Analitik versus sintetik. Penguji analitik memusatkan pada yang detail dan hanya melihat bagian-bagian individual. Penguji (observer) sintetik melihat integrasi keseluruhan, tetapi melalaikan yang detail. Beberapa teknik evaluasi sensorik dirancang untuk analisa, sedangkan hampir semua uji kesukaan dilakukan melalui pendekatan sintetik. 2. Objektif versus subjektif Penguji objektif gerak lambat, setiap bagian harus detil dulu sebelum berlanjut, sedangkan penguji subjektif membuat inspeksi garis besar, biasanya menekankan interpretasinya sendiri atau kesukaan pribadinya. 3. Aktif versus pasif Orang yang aktif bekerja secara rasional, mencoba membuat hipotesa untuk memecahkan persoalan, sedangkan pendekatan pasif dilakukan dengan trial and error,hanya dibimbing oleh kesan atau pemikiran yang timbul seketika. Sikap ini nampak lebih jelas pada anak-anak daripada orang dewasa. 4. Yakin/pasti (confident) versus hati-hati (cautious) Penguji yang cofident melihat semuanya dengan cepat/sekejap mata dan sekaligus melaporkannya, kadang-kadang laporannya lebih rinci daripada yang dilihat sebenarnya. Orang yang hati-hati nampak ragu untuk melaporkan, meskipun dia melihat detail. Penguji yang confident mungkin lebih banyak melakukan kesalahan statistik pada jenis yang pertama (yaitu laporannya dari data yang sebenarnya) daripada jenis yang kedua (yaitu dapat melihat perbedaan-perbedaan actual). Hal sebaliknya terjadi pada penguji yang hati-hati rupanya betul.

8 5. Reaktor-reaktor warna versus reaktor-reaktor bentuk Beberapa penguji respon terhadap warna daripada bentuk. Dalam evaluasi buah perbedaan ini mungkin merupakan faktor yang mempengaruhi hasil-hasilnya. 6. Visual versus haptic Orang yang visually mended melihat segala sesuatu melalui rangsanganrangsangan visual, sedangkan yang heptically mended terutama resposif terhadap sentuhan dan kinestetik. Perbedaan-perbedaan ini tidak diterapkan pada makanan. Jika melihat kepribadian dari segi fungsionalistik, persepsi-persepsi individual memiliki sifat-sifat adaptatif. Persepsi-persepsi ini adalah alat untuk menolak atau mengakui stimulasi terpilih saja. Jika stimulasi pemikiran dibiarkan masuk atau diterima begitu saja, dapat menyebabkan trauma atau rusaknya karakteristik individu. Dalam psikologis sikap ini dikenal sebagai ansochauungen. Tiga set ansochauungen yang telah didefinisikan meliputi: 1. leveling and sharpening 2. resistance to or acceptance of instability 3. physiogonomic and literal attitudes. Leveler, cenderung membuat suatu stimulus sederhana dan kurang memperbedakan jika memungkinkan, baik dengan mengurangi perbedaan-perbedaan figure-ground maupun dengan mengasimilasikan rangsangan-rangsangan baru dengan suatu organisasi yang dominan. Sharpener, mencoba mempertinggi perbedaan-perbedaan dan mengeksploitasi perbedaan. Leveler dibedakan dengan sharpener atas dasar kemampuan untuk membedakan penefsiran-penafsiran ukuran balok-balok kayu. Yang ekstrim dari tiap kelompok kemudian diuji untuk membandingkan level kecerahan bila rangsangan cahaya standar dan variabel ditempatkan diantara rangsangan-rangsangan cahaya yang lain. Terbukti bahwa leveler lebih bingung daripada sharpener oleh adanya cahaya-cahaya perantara. Dalam semua pengujian, sharpener membuat error lebih sedikit daripada leveler. Kemampuan penguji-penguji makanan tidak diperbandingkan dengan anschauungen, tetapi bila diperlukan diferensiasi maksimum jelas digunakan sharpener. Dari studi tentang pengaruh pengharapan-pengharapan psikologis terhadap persepsi dan

9 kesukaan (preference) disimpulkan bahwa persepsi populasi terpengaruh oleh pengharapan-pengharapan dengan perbedaan fundamental. Karena itu, hal ini harus diperhatikan dalam seleksi panelis. B. Motivasi Untuk memperoleh hasil pengujian yang berguna sangat tergantung pada terpeliharanya tingkat motivasi secara memuaskan. Kriteria motivasi yang baik tidaklah sangat spesifik, tetapi motivasi yang jelek ditandai dengan pengujian yang terburu-buru, melakukan pengujian semaunya, partisipasinya dalam pengujian tidak sepenuh hati. Dengan tidak adanya pengalaman serta pengujian yang waktunya tidak tentu, maka minat sebagai penguji timbul secara spontan, sedangkan bila pengujian dilakukan terus menerus sering terjadi minat akan menurun karena kebosanan. Satu faktor penting yang dapat membantu tumbuhnya motivasi yang baik ialah dengan mengusahakan agar panelis merasa bertanggung jawab dan berkepentingan pada pengujian yang sedang dilakukan. Dengan memeberikan penjelasan tentang kegunaan pengujian serta tujuan diharapkan panelis akan ikut berpartisipasi secara penuh. Setelah pengujian selesai dan telah diperoleh hasil analisa datanya, panelis sebaiknya diberitahu tentang hasil tersebut. Adanya fasilitas yang memadai, cara pengujian dan jadwal pengujian yang pasti akan meningkatkan perhatian pada program yang sedang dijalankan. Selain itu, kondisi lingkungan yang menyenangkan ikut berperan pula, misalnya dengan membuat suasana istirahat yang rileks pada pengujian yang terus menerus sepanjang hari. Dalam hubungan ini ada baiknya kepada panelis diberikan suatu penghargaan. Salah satu bentuk penghargaan ialah dengan mengajak mereka makan bersama pada akhir pengujian, sambil nantinya dijelaskan tentang hasil pengujian yang telah selesai dilaksanakan. C. Kesalahan-kesalahan Psikologis dalam Penilaian Pada pengujian yang terutama dilakukan panelis yang kurang paham dalam type pengujian dan bahan yang diuji sering terjadi kesalahan dalam cara penilaian. Ada beberapa macam kesalahan yaitu : a. Tendensi Central Karakteristik kesalahan ini ialah panelis selalu memberi nilai tengah pada skala nilai yang ada dan ragu-ragu memberi nilai tertinggi. Efek dari kesalahan ini adalah menganggap semua sampel yang diuji hampir sama. Hal ini terjadi akibat

10 panelis tidak mengenal metode pengujian dan produk yang dinilainya. Seorang panelis yang sudah berpengalaman sangat kecil kemungkinannya untuk membuat kesalahan seperti diatas. b. Contrast Effect Hal ini sering terjadi akibat posisi sampel yang dinilai, dimana suatu sampel dinilai lebih tinggi ataupun lebih rendah dari kenyataanya, dan umumnya lebih rendah. Untuk mencegah maka pengujian sampel dilakukan secara acak. c. Expectation Error Adanya informasi yang diterima oleh panelis sebelum pengujian akan berpengaruh pada hasilnya. Hal ini disebabkan panelis mengetahui apa yang diharapkan oleh pemberi instruksi. Kesalahan jenis ini disebut expectation error. Disarankan agar orang yang banyak berhubungan dengan pengujian, tidak dipergunakan sebagai penguji. Untuk pencegahan maka setiap sampel yang disajikan diberikan kode berupa angka 3 digit. d. Stimulus Error Pada sampel-sampel yang tidak seragam sering terjadi panelis dipengaruhi oleh sifat-sifat yang tidak relevan. Misal : harus membedakan dua sampel dalam hal tingkat kemanisannya, panelis terpengaruh pada sifat yang lain, seperti bentuk, ukuran, warna. Kesalahan ini dikenal dengan istilah stimulus error. e. Logical Error Pada pengujian yang perintahnya kurang jelas, sering terjadi penilaian terhadap satu sifat dihubungkan dengan sifat lain yang secara logis selalu berkaitan dengan sifat yang dinilai. Misal sesuatu jenis makanan yang berwarna hitam akan selalu dinilai pahit. Hal ini dikenal dengan istilah logical error. f. Halo Effect Bila ada lebih dari satu sifat yang dinilai misalnya bau, tekstur, warna, rasa pada suatu saat hasilnya mungkin berbeda bila dibandingkan masing-masing sifat tersebut dinilai sendiri-sendiri pada saat yang tidak bersamaan. g. Sugesti Hasil penilaian oleh seorang panelis dapat terpengaruh oleh panelis yang lain. Karena adanya pengaruh ini maka panelis selama pengujian harus duduk terpisah satu

11 dengan yang lain. Percakapan dan diskusi tidak diperkenankan selama berlangsungnya pengujian, sehingga sugesti dari seorang panelis tidk mempengaruhi panelis yang lain. Selain error-error tersebut di atas, juga dikenal: a. Error of the First and Second Kind Gagal mendeteksi suatu stimulus yang sebenarnya ada, disebut suatu error jenis pertama (First kind). Sebaliknya, melaporkan suatu tanda bila tidak ada stimulus disebut error jenis kedua (Second kind). Error-error ini kemungkinan disebabkan oleh adanya pengharapan dan dapat dipengaruhi oleh motivasi. Error-error tersebut dapat dihindari atau dihilangkan sebagian dengan mengatakan pada penguji-penguji tentang error-error yang dapat terjadi dan mohon mereka untuk membuat suatu usaha eliminasi error-error yang demikian. Tentunya perhatian berlebihan jangan difokuskan pada error-error potensial ini, tetapi hendaknya selalu diingat untuk mengeliminasi atau mengisolasinya bila memungkinkan, sehingga dapat diestimasikan dalam analisis data. Metode paling efektif unuk memperbaiki perhitungan dan karena itu mengurangi error-error psikologis, adalah melatih penguji-penguji dengan seksama. Latihan yang meliputi praktek dan diikuti oleh kelompok diskusi, telah direkomendasikan sebagai yang paling efektif. b. Faktor-faktor Lain yang Mempengaruhi Respon Pengaruh memori diakui penting, tetapi mekanisme operasinya tidak jelas. Apakah memori membantu penguji dalam identifikasi bau (mudah hilang) menjadi lebih cepat, sehingga dia kemudian dapat konsentrasi pada determinasi intensitasnya. Atau apakah memori secara langsung menolong dalam merangking intensitas dalam urutan yang semestinya? Melalui pengalaman dapat diperoleh prosedur-prosedur tertentu. Polapola penyajian dan perbedaan-perbedaan dalam konsentrasi. Bukti objektif bahwa konsentrasi adalah penting, sukar diperoleh, tetapi sensitivitas olfaktori ternyata lebih besar bila penguji konsentrasi pada bau spesifik. Dalam hal ini, jelas penguji perlu pengetahuan tentang bau tersebut. Selain itu diketahui bahwa sensitivitas pengecapan lebih besar di bawah kondisi-kondisi istirahat, bebas dari gangguan dan adanya kesempatan maksimum untuk konsentrasi pada situasi pengujian. Perhatian diperoleh melalui perubahan temporal tertentu dalam stimulasi.

12 Perhatian tidak hanya dipengaruhi oleh kompleknya rangsangan, tetapi juga oleh kompleknya individu. Oleh karena itu lebih disukai heterogenitas yang menjamin adanya perhatian. Hal ini penting dalam evaluasi kualitas makanan. Apabila sebelum stimulasi diberi penjelasan atau instruksi, ternyata threshold yang diberikan lebih rendah daripada tanpa instruksi. Pengarahan yang salah akan menaikan threshold. Struktur bahasa dan isinya dapat mempengaruhi persepsi. Faktor-faktor psikologis lain yang dapat dipertimbangkan, misalnya pada panel tidak terlatih atau panel konsumen, pengujian bir jangan menggunakan cangkir atau teh panas jangan menggunakan gelas (bukan semestinya). Bagi panel terlatih hal ini kurang penting, karena dalam pengujian-pengujian tidak digunakan kondisi-kondisi normal konsumsi. Oleh karena apresiasi kualitas merupakan suatu sensasi integrasi, maka pengalaman dalam membuat ketentuan-ketentuan kualitas sangatlah penting. Penguji berpengalaman khusus, meskipun dapat lebih cepat tanggap terhadap pola kualitas dan dapat dipercaya, karena pengalamannya yang lalu, dia dapat membatasi dan mengkategorikan faktor-faktor kualitas yang memungkinkan. Observer terlatih kemungkinan juga lebih cepat respon karena telah belajar mengkorelasikan faktor-faktor visual atau tecktil dengan kualitas, sedangkan yang belum berpengalaman tidak. Agar tidak suka diintensifkan dengan pengalaman. Hal ini penting dalam pengujian-pengujian konsumen, karena pengalaman panel dapat menuji ke penurunan nilai-nilai. D. Adaptasi Karena diantara kita kemungkinan berbeda tingkat sensitivitasnya maka rangsangan rasa belum tentu dapat diukur secara seragam oleh kita semua. Tetapi dengan melalui adaptasi selama bekerja waktu lama kelamaan kita akan dapat memberikan respon terhadap rangsangan yang kita terima secara konstan. Salah satu yang dapat menurunkan respon terhadap rasa adalah perlakuan berkumur dengan air. Kemudian lambat. Dari hasil determinasi threshould olfaktori yang terukur setelah adaptasi, ternyata kecepatan recoveri lebih lambat jika konsentrasi stimulus yang teradaptasi menjadi lebih besar. Dalam pengujian makanan terbukti bahwa adaptasi adalah suatu faktor dengan

13 makanan-makanan tertentu, tetapi tidak dengan yang lain. Adaptasi rendahnya diuji untuk tiap produk pangan, karena efisiensi dalam penggunaan personalia panel yang akan lebih banyak jika pengujian per periode sesion dapat dinaikkan. III. PENUTUP

14 A. SIMPULAN Penilaian terhadap suatu mutu produk pangan memiliki dua aspek yaitu penilaian pembedaan sifat sensoris dan penilaian sifat sensoris atau intensitas mutu secara keseluruhan. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kevalidan data antara lain panel, laboratorium, penyajian sampel produk, dan hal-hal yang mempengaruhi pada saat pengukuran produk (sikap, motivasi, kesalahan-kesalahan psikologis dalam penilaian, adaptasi). B. SARAN Dalam pengujian organoleptik sebaiknya memperhatikan syarat, ketentuan dan faktor-faktor yang berlaku seperti yang telah disebutkan di atas. DAFTAR PUSTAKA

15 Kartika, Bambang, dkk Pedoman Uji Indrawi Bahan Pangan. Universitas Gajah Mada: Yogyakarta. Soekarto, S. T Penilaian Organoleptik. Bhratara Karya Aksara. Jakarta.

LAPORAN PRAKTIKUM EVALUASI SENSORIS ACARA III UJI RANKING OLEH PENINA J1A KELOMPOK XIV

LAPORAN PRAKTIKUM EVALUASI SENSORIS ACARA III UJI RANKING OLEH PENINA J1A KELOMPOK XIV LAPORAN PRAKTIKUM EVALUASI SENSORIS ACARA III UJI RANKING OLEH PENINA J1A013100 KELOMPOK XIV PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN FAKULTASTEKNOLOGI PANGAN DAN AGROINDUSTRI UNIVERSITAS MATARAM 2015 HALAMAN

Lebih terperinci

LABORATORIUM PENGUJIAN INDERAWI

LABORATORIUM PENGUJIAN INDERAWI LABORATORIUM PENGUJIAN INDERAWI MAKALAH SENSORI PANGAN Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah sensori pangan yang diampu oleh: Dewi Nur Azizah, S.TP.,M.P. Oleh : Meti Maryati (1405875) PROGRAM

Lebih terperinci

PENILAIAN ORGANOLEPTIK

PENILAIAN ORGANOLEPTIK PENILAIAN ORGANOLEPTIK HANDOUT MATA KULIAH : REGULASI PANGAN (KI 531) OLEH : SUSIWI S JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA F P M I P A UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2009 Handout : PENILAIAN ORGANOLEPTIK (Oleh :

Lebih terperinci

Uji mutu organoleptik. Pramudya Kurnia

Uji mutu organoleptik. Pramudya Kurnia Uji mutu organoleptik Pramudya Kurnia Organoleptik Pengujian organoleptik adalah pengujian yang didasarkan pada proses pengindraan. Pengindraan diartikan sebagai suatu proses fisio-psikologis, yaitu kesadaran

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM EVALUASI SENSORI UJI SEGITIGA DISUSUN OLEH: WAHYU TRI JATMIKO J1A THPIV A TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN TEKNOLOGI PERTANIAN

LAPORAN PRAKTIKUM EVALUASI SENSORI UJI SEGITIGA DISUSUN OLEH: WAHYU TRI JATMIKO J1A THPIV A TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN TEKNOLOGI PERTANIAN LAPORAN PRAKTIKUM EVALUASI SENSORI UJI SEGITIGA DISUSUN OLEH: WAHYU TRI JATMIKO J1A114095 THPIV A TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS JAMBI 2016 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Lebih terperinci

UJI RANGE METHOD. Oleh: : Hilda Rani Dwitama NRP : No. Meja : 6 (Enam) Kelompok : B Tgl Praktikum : 13 Maret 2013 Asisten : Sri Mulyati

UJI RANGE METHOD. Oleh: : Hilda Rani Dwitama NRP : No. Meja : 6 (Enam) Kelompok : B Tgl Praktikum : 13 Maret 2013 Asisten : Sri Mulyati UJI RANGE METHOD Oleh: Nama : Hilda Rani Dwitama NRP : 103020030 No. Meja : 6 (Enam) Kelompok : B Tgl Praktikum : 13 Maret 2013 Asisten : Sri Mulyati JURUSAN TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS

Lebih terperinci

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA LAB SHEET PENGENDALIAN MUTU PANGAN

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA LAB SHEET PENGENDALIAN MUTU PANGAN No. LST/TBB/BOG207 Revisi : 01 Tgl. 01 Februari 2010 Hal 1 dari 9 1. Kompetensi: Mampu mempraktikkan dan mengaplikasikan threshold test dalam bidang boga. 2. Sub Kompetensi: a. Mampu menjelaskan prinsip

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan dalam bentuk eksperimen. Menurut Sugiyono

BAB 3 METODE PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan dalam bentuk eksperimen. Menurut Sugiyono BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Penelitian ini akan dilakukan dalam bentuk eksperimen. Menurut Sugiyono (2009:72) Penelitian Eksperimen atau Experimental Research dapat diartikan sebagai

Lebih terperinci

MATERI PRAKTIKUM Acara 1 Acara 2 Acara 3 Acara 4 Acara 5 Acara 6 Acara 7 Uji Ambang Batas (Threshold Test) Identifikasi Aroma Uji Pembeda Berpasangan

MATERI PRAKTIKUM Acara 1 Acara 2 Acara 3 Acara 4 Acara 5 Acara 6 Acara 7 Uji Ambang Batas (Threshold Test) Identifikasi Aroma Uji Pembeda Berpasangan PETUNJUK MATERI PRAKTIKUM EVALUASI SENSORIS Disusun oleh: Nur Aini Gunawan Wijonarko PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN 2016 MATERI PRAKTIKUM Acara

Lebih terperinci

UJI PEMBEDAAN [UJI PASANGAN, DUO TRIO, SEGITIGA]

UJI PEMBEDAAN [UJI PASANGAN, DUO TRIO, SEGITIGA] Laporan Praktikum Hari/Tanggal : Jumat/16 Maret 2012 Analisis Organoleptik PJ Dosen : Mira Miranti, STP, MSi. Tim Penyaji : Kelompok 5 Asisten : Ummi Rufaizah UJI PEMBEDAAN [UJI PASANGAN, DUO TRIO, SEGITIGA]

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Proses Pengolahan Kerupuk Jagung 4.1.1 Pencampuran Adonan Proses pencampuran adonan ada dua kali yaitu dengan cara manual (tangan) dan kedua dengan menggunakan mixer. Langkah

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM UJI SEGITIGA DAN PEMBEDA SEDERHANA

LAPORAN PRAKTIKUM UJI SEGITIGA DAN PEMBEDA SEDERHANA LAPORAN PRAKTIKUM UJI SEGITIGA DAN PEMBEDA SEDERHANA Oleh : KELOMPOK 1 YOGA SETIAWAN 115100800111027 ISMIZANA JATI PRASIDDHA 115100807111007 CATUR SETYA BUDIRINI 115100800111009 ANASTASIA APRILANI 115100800111019

Lebih terperinci

Otak melakukan Integrasi (penggabungan), rekognisi, reorganisasi & interpretasi informasi sensoris yg lebih kompleks Makna

Otak melakukan Integrasi (penggabungan), rekognisi, reorganisasi & interpretasi informasi sensoris yg lebih kompleks Makna SENSASI PERSEPSI Dita Rachmayani., S.Psi., M.A PROSES Sensasi Transduksi Persepsi Tanggapan Proses pendeteksian hadirnya stimuli Sederhana/perasaan/- kesan yg timbul sebagai akibat Perangsangan suatu reseptor

Lebih terperinci

BAB XII TUGAS KHUSUS 12.1 Penerapan Metode-Metode Uji Organoleptik di Industri Es Krim Oleh: Stefanus Kristianto ( ) 12.1.

BAB XII TUGAS KHUSUS 12.1 Penerapan Metode-Metode Uji Organoleptik di Industri Es Krim Oleh: Stefanus Kristianto ( ) 12.1. BAB XII TUGAS KHUSUS 12.1 Penerapan Metode-Metode Uji Organoleptik di Industri Es Krim Oleh: Stefanus Kristianto (6103008043) 12.1.1 Pendahuluan Industri pangan pada umumnya melakukan uji organoleptik

Lebih terperinci

TEKNIK PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN

TEKNIK PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2017 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN TEKNIK PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN BAB XVI PENGUJIAN BAHAN SECARA ORGANOLEPTIK KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL

Lebih terperinci

MAKALAH PENGAWASAN MUTU BAHAN HASIL PERTANIAN (Aplikasi Pengawasan Mutu Pangan dan Pengujian Sensoris di Bidang Pangan)

MAKALAH PENGAWASAN MUTU BAHAN HASIL PERTANIAN (Aplikasi Pengawasan Mutu Pangan dan Pengujian Sensoris di Bidang Pangan) MAKALAH PENGAWASAN MUTU BAHAN HASIL PERTANIAN (Aplikasi Pengawasan Mutu Pangan dan Pengujian Sensoris di Bidang Pangan) Oleh : Nama : Eki Dwiyan Saputra NPM : 240110140023 Kelas : TEP 2014 LABORATORIUM

Lebih terperinci

Mata Kuliah Persepsi Bentuk

Mata Kuliah Persepsi Bentuk Modul ke: Fakultas FDSK Mata Kuliah Persepsi Bentuk Pertemuan 1 PERSEPSI bagaimana orang melihat atau menginterpretasikan peristiwa, objek, serta manusia. Nina Maftukha S.Pd., M.Sn. Program Studi Desain

Lebih terperinci

Berdasarkan variabel yang diteliti, metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif analisis.

Berdasarkan variabel yang diteliti, metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif analisis. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek Objek dalam penelitian ini yang akan dilakukan yaitu meneliti kualitas produk beberapa surabi pada pedagang surabi di kota Bandung, dengan subjek penelitian produk surabi

Lebih terperinci

LABORATORIUM TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UPN VETERAN JAWA TIMUR

LABORATORIUM TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UPN VETERAN JAWA TIMUR LABORATORIUM TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UPN VETERAN JAWA TIMUR Praktikum : UJI INDERAWI Percobaan : UJI PEMBEDAAN Tanggal : 08 OKTOBER 2015 Pembimbing : Dr. Dra. Jariyah, MP Nama : NUR

Lebih terperinci

[pengujian organoleptik]

[pengujian organoleptik] [pengujian organoleptik] http://itsagusman.blogspot.com Program Studi Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Semarang 23 DAFTAR ISI BAB I. PENDAHULUAN BAB II. PERSIAPAN UJI ORGANOLEPTIK 5 BAB III. UJI

Lebih terperinci

PENGENALAN UJI ORGANOLEPTIK

PENGENALAN UJI ORGANOLEPTIK Laporan Praktikum Hari/tgl : Kamis/16 FebruarI 2012 Analisis Organoleptik PJ Praktikum : Elza Nur Fadhila, S.KM Tim Penyaji : Kelompok 1 Asisten Praktikum : Dewi Fitriyanti, A.Md PENGENALAN UJI ORGANOLEPTIK

Lebih terperinci

Sifat Sensoris (Sensory Properties)

Sifat Sensoris (Sensory Properties) Analisis Sifat Sensoris Bahan Pangan By. Jaya Mahar Maligan Laboratorium Nutrisi Pangan dan Hasil Pertanian Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan Jurusan Teknologi Hasil Pertanian FTP - UB 2016 Sifat

Lebih terperinci

Uji Segitiga. Uji Hedonik

Uji Segitiga. Uji Hedonik Nama : Elya Hidayati Nim : 135080301111003 Kelompok : 2 Kelas : T03 Uji Segitiga 1. Judul jurnal : Analisa Asam Lemak Tidak Jenuh pada Tepung Sorghum (Sorghum bicolor L.) Termodifikasi dan Aplikasinya

Lebih terperinci

PERSEPSI BENTUK. Persepsi Modul 1. Udhi Marsudi, S.Sn. M.Sn. Modul ke: Fakultas Desain dan Seni Kreatif. Program Studi Desain Produk

PERSEPSI BENTUK. Persepsi Modul 1. Udhi Marsudi, S.Sn. M.Sn. Modul ke: Fakultas Desain dan Seni Kreatif. Program Studi Desain Produk PERSEPSI BENTUK Modul ke: Persepsi Modul 1 Fakultas Desain dan Seni Kreatif Udhi Marsudi, S.Sn. M.Sn Program Studi Desain Produk www.mercubuana.ac.id Abstract Persepsi dapat diartikan sebagai bagaimana

Lebih terperinci

SENSASI SENSAS dan PERSEPSI PERSE 4/2/

SENSASI SENSAS dan PERSEPSI PERSE 4/2/ SENSASI dan PERSEPSI 4/2/2015 1 SENSASI =PENGAMATAN (PENGINDERAAN) 4/2/2015 2 A. PENGERTIAN PENGAMATAN MANUSIA PENGAMATAN REALITAS (DUNIA OBJEKTIF) 4/2/2015 3 PENGAMATAN Pengamatan / penginderaan : proses

Lebih terperinci

Mata Kuliah Persepsi Bentuk

Mata Kuliah Persepsi Bentuk Modul ke: Fakultas FDSK Mata Kuliah Persepsi Bentuk Pertemuan 1 PERSEPSI bagaimana orang melihat atau menginterpretasikan peristiwa, objek, serta manusia. Ali Ramadhan S.Sn.,M.Ds Program Studi Desain Produk

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 43 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek dan Subjek Penelitian Objek dalam penelitian ini yang akan dilakukan yaitu meneliti mutu organoleptik terhadap inovasi produk cookies lidah kucing berbahan dasar

Lebih terperinci

Pengenalan Evaluasi Sensori

Pengenalan Evaluasi Sensori Modul Pengenalan Evaluasi Sensori Ir. Armein Syukri Arbi, M.Si. M PENDAHULUAN akanan dikonsumsi karena memiliki karakter yang menimbulkan rangsangan untuk mengonsumsinya oleh organ pencita rasa dan perasa

Lebih terperinci

Prinsip dalam Pembelajaran

Prinsip dalam Pembelajaran Prinsip dalam Pembelajaran Kompetensi Dasar Mahasiswa mampu membedakan prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran Indikator: Mahasiswa mampu memahami prinsip kesiapan dalam pembelajaran

Lebih terperinci

01FDSK. Persepsi Bentuk. Denta Mandra Pradipta Budiastomo, S.Ds, M.Si.

01FDSK. Persepsi Bentuk. Denta Mandra Pradipta Budiastomo, S.Ds, M.Si. Modul ke: Persepsi Bentuk Fakultas 01FDSK Penjelasan mengenai kontrak perkuliahan yang didalamnya dijelaskan mengenai tata tertib, teknis, serta bahan untuk perkuliahan di Universitas Mercu Buana Denta

Lebih terperinci

UJI SEGITIGA I PENDAHULUAN

UJI SEGITIGA I PENDAHULUAN UJI SEGITIGA I PENDAHULUAN Evaluasi sensori atau analisis sensori merupakan suatu ilmu pengetahuan yang menggunakan indera manusia untuk mengukur tekstur, kenampakan, aroma, dan rasa pada produk pangan.

Lebih terperinci

Good Sensory Practices for Laboratory

Good Sensory Practices for Laboratory Good Sensory Practices for Laboratory (Tipe pengujian, Sarana/Prasarana, Produk) Dwi Larasatie Nur Fibri, STP., M.Sc Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada Minggu ke-5 Tujuan Ajar/ Keluaran:

Lebih terperinci

PERSEPSI BENTUK. Persepsi, Lanjutan Modul 2. Udhi Marsudi, S.Sn. M.Sn. Modul ke: Fakultas Desain dan Seni Kreatif. Program Studi Desain Produk

PERSEPSI BENTUK. Persepsi, Lanjutan Modul 2. Udhi Marsudi, S.Sn. M.Sn. Modul ke: Fakultas Desain dan Seni Kreatif. Program Studi Desain Produk PERSEPSI BENTUK Modul ke: Persepsi, Lanjutan Modul 2 Fakultas Desain dan Seni Kreatif Udhi Marsudi, S.Sn. M.Sn Program Studi Desain Produk www.mercubuana.ac.id Abstract Istilah persepsi sering disamakan

Lebih terperinci

BAB III TEKNIK PELAKSANAAN. Kegiatan penilaian organoleptik puding dilakukan dalam salah satu

BAB III TEKNIK PELAKSANAAN. Kegiatan penilaian organoleptik puding dilakukan dalam salah satu BAB III TEKNIK PELAKSANAAN 3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan Kegiatan penilaian organoleptik puding dilakukan dalam salah satu ruangan Fakultas Pertanian Universitas Negeri Gorontalo Kota Gorontalo. Waktu

Lebih terperinci

Pengantar Psikologi Fungsi-Fungsi Psikis. Dosen Meistra Budiasa, S.Ikom, MA

Pengantar Psikologi Fungsi-Fungsi Psikis. Dosen Meistra Budiasa, S.Ikom, MA Pengantar Psikologi Fungsi-Fungsi Psikis Dosen Meistra Budiasa, S.Ikom, MA Persepsi Objek-objek sekitar kita, kita tangkap melalui alat-alat indra dan diproyeksikan pada bagian tertentu di otak sehingga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 tujuan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 tujuan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor perikanan sebagai salah satu pendukung sektor ekonomi memiliki peran dalam pembangunan ekonomi nasional, yaitu memberikan nilai tambah dan mempunyai nilai strategis,

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN A. BAHAN DAN ALAT

III. METODOLOGI PENELITIAN A. BAHAN DAN ALAT III. METODOLOGI PENELITIAN A. BAHAN DAN ALAT Bahan utama yang digunakan dalam latihan panelis potensial yang telah lolos seleksi antara lain gula bubuk merk Apel Kesemek dan Milky (brand Alfamart), garam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Cake beras ketan hitam merupakan salah satu produk bakery dan tergolong sponge cake jika ditinjau dari proses pengolahannya. Cake beras ketan hitam memiliki karakteristik

Lebih terperinci

PENUNTUN PRAKTIKUM EVALUASI SENSORIS

PENUNTUN PRAKTIKUM EVALUASI SENSORIS PENUNTUN PRAKTIKUM EVALUASI SENSORIS PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 1 PRAKTIKUM 1 AMBANG MUTLAK DAN PENGENALAN UNTUK RASA (Absolute and Recognition Threshold

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kebutuhan daging di Indonesia setiap tahunnya terus meningkat. Hal ini

I. PENDAHULUAN. Kebutuhan daging di Indonesia setiap tahunnya terus meningkat. Hal ini I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Kebutuhan daging di Indonesia setiap tahunnya terus meningkat. Hal ini disebabkan oleh bertambahnya jumlah penduduk yang diikuti dengan meningkatnya taraf

Lebih terperinci

Profil Pemakai (Manusia)

Profil Pemakai (Manusia) Pengguna Profil Pemakai (Manusia) Manusia dapat dipandang sebagai sistem pemroses informasi : Informasi diterima dan ditanggapi melalui saluran input-output (indera). Informasi disimpan dalam ingatan (memori).

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan Juli 2013 di

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan Juli 2013 di BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan Juli 2013 di Laboratorium Pembinaan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) Gorontalo. 3.2 Bahan

Lebih terperinci

Observasi dan Wawancara

Observasi dan Wawancara Observasi dan Wawancara Modul ke: Fakultas PSIKOLOGI Rizka Putri Utami, M.Psi Program Studi PSIKOLOGI www.mercubuana.ac.id Observasi Suatu cara pengumpulan data dg melakukan pengamatan dan pencatatan mengenai

Lebih terperinci

Gestalt PENDIDIKAN SENI RUPA FBS UNY

Gestalt PENDIDIKAN SENI RUPA FBS UNY Gestalt PENDIDIKAN SENI RUPA FBS UNY Aliran Gestalt muncul di Jerman sebagai kritik terhadap strukturalisme Wundt. Pandangan Gestalt menolak analisis dan penguraian jiwa ke dalam elemen-elemen yang lebih

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sistem Pelayanan Gizi Rumah Sakit Berdasarkan SK. MenKes No.l34/MenKes/IV/1978 menyebutkan bahwa instalasi gizi merupakan wadah yang melaksanakan pelayanan gizi di rumah sakit.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENGARUH SUHU DAN WAKTU PENGGORENGAN VAKUM TERHADAP MUTU KERIPIK DURIAN Pada tahap ini, digunakan 4 (empat) tingkat suhu dan 4 (empat) tingkat waktu dalam proses penggorengan

Lebih terperinci

Pengantar Ilmu Komunikasi. Modul ke: 06FIKOM PERSEPSI. Fakultas. Reddy Anggara. S.Ikom., M.Ikom. Program Studi MARCOMM

Pengantar Ilmu Komunikasi. Modul ke: 06FIKOM PERSEPSI. Fakultas. Reddy Anggara. S.Ikom., M.Ikom. Program Studi MARCOMM Modul ke: Pengantar Ilmu Komunikasi PERSEPSI Fakultas 06FIKOM Reddy Anggara. S.Ikom., M.Ikom. Program Studi MARCOMM PERSEPSI? Kata persepsi seringkali diucapkan dalam proses komunikasi sehari-hari. Ada

Lebih terperinci

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1 Objek dan Subjek Penelitian Objek yang diteliti yaitu kue Ali Agrem berbahan dasar tepung ubi ungu dilihat dari quality of item (mutu makanan) dan subjek dari penelitian

Lebih terperinci

02FDSK. Persepsi Bentuk. Denta Mandra Pradipta Budiastomo, S.Ds, M.Si.

02FDSK. Persepsi Bentuk. Denta Mandra Pradipta Budiastomo, S.Ds, M.Si. Modul ke: Persepsi Bentuk Fakultas 02FDSK Penjelasan mengenai kontrak perkuliahan yang didalamnya dijelaskan mengenai tata tertib, teknis, serta bahan untuk perkuliahan di Universitas Mercu Buana Denta

Lebih terperinci

PENGINDERAAN & PERSEPSI

PENGINDERAAN & PERSEPSI P S I K O L O G I K O G N I T I F PENGINDERAAN & PERSEPSI Ursa Majorsy 2 nd meeting 1 Menjelaskan bagaimana manusia memperoleh informasi dari lingkungan Menjelaskan tahap-tahap pemrosesan informasi Persepsi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen laboratorium. Faktor perlakuan meliputi penambahan pengembang dan pengenyal pada pembuatan kerupuk puli menggunakan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Menurut Mulyana (2001:167), persepsi adalah proses internal yang

BAB 2 LANDASAN TEORI. Menurut Mulyana (2001:167), persepsi adalah proses internal yang BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Persepsi Menurut Mulyana (2001:167), persepsi adalah proses internal yang memungkinkan kita memiih, mengorganisasikan, dan menafsirkan rangsangan dari lingkungan kita, dan proses

Lebih terperinci

ASPEK MANUSIA DALAM IMK. Muhamad Alif, S.Kom UTM

ASPEK MANUSIA DALAM IMK. Muhamad Alif, S.Kom UTM ASPEK MANUSIA DALAM IMK Muhamad Alif, S.Kom UTM Hardware Software Brainware (manusia) Ketiga komponen hrs saling bekerja sama agar sebuah sistem komputer dapat bekerja dengan sempurna. Komputer memproses

Lebih terperinci

Buku Teknologi Pangan: Teori Praktis dan Aplikasi ini dipersiapkan

Buku Teknologi Pangan: Teori Praktis dan Aplikasi ini dipersiapkan Teknologi Pangan; Teori Praktis dan Aplikasi, oleh Fitriyono Ayustaningwarno, S.TP., M.Si. Hak Cipta 2014 pada penulis GRAHA ILMU Ruko Jambusari 7A Yogyakarta 55283 Telp: 0274-4462135; 0274-882262; Fax:

Lebih terperinci

Mata Kuliah Persepsi Bentuk

Mata Kuliah Persepsi Bentuk Modul ke: Mata Kuliah Persepsi Bentuk Pertemuan 2 Fakultas FDSK Nina Maftukha, S.Pd., M.Sn. Program Studi Desain Produk www.mercubuana.ac.id Apakah sensasi = persepsi? Apakah sensasi = persepsi? Sensasi

Lebih terperinci

Bab III METODOLOGI PENELITIAN

Bab III METODOLOGI PENELITIAN Bab III METODOLOGI PENELITIAN III.1 Desain penelitian Eksperimen dilakukan dalam bentuk mencari tahu perbandingan antara hasil membuat sponge cake dengan telur ayam dengan telur itik dalam jumlah yang

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. sebagai dasar untuk memberi jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. sebagai dasar untuk memberi jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Landasan Teori Landasan teori adalah teori-teori yang relevan dan dapat digunakan untuk menjelaskan variabel-variabel penelitian. Landasan teori ini juga

Lebih terperinci

Psikologi Konseling. Psikologi Konseling. Psikologi Psikologi

Psikologi Konseling. Psikologi Konseling. Psikologi Psikologi MODUL PERKULIAHAN Psikologi Konseling Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Psikologi Psikologi 05 61033 Abstract Dalam perkuliahan ini akan didiskusikan mengenai Ketrampilan Dasar Konseling:

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN, KONTRIBUSI, KETERBATASAN PENELITIAN, DAN SARAN. terdapat perbedaan antara pengalaman biasa dan luar biasa (Abraham, 1986) dan

BAB V SIMPULAN, KONTRIBUSI, KETERBATASAN PENELITIAN, DAN SARAN. terdapat perbedaan antara pengalaman biasa dan luar biasa (Abraham, 1986) dan BAB V SIMPULAN, KONTRIBUSI, KETERBATASAN PENELITIAN, DAN SARAN 5.1. Simpulan Isu sentral penelitian mengenai pengalaman biasa dan luar biasa yaitu terdapat perbedaan antara pengalaman biasa dan luar biasa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan makhluk sosial, ia tidak terlepas dari pengaruh

BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan makhluk sosial, ia tidak terlepas dari pengaruh BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Manusia merupakan makhluk sosial, ia tidak terlepas dari pengaruh manusia lain dalam berinteraksi sehari-hari. Terutama dalam memenuhi kebutuhannya, karena setiap manusia

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN A. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN B. BAHAN DAN ALAT 1. BAHAN 2. ALAT C. TAHAPAN PENELITIAN 1. PENELITIAN PENDAHULUAN III.

METODE PENELITIAN A. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN B. BAHAN DAN ALAT 1. BAHAN 2. ALAT C. TAHAPAN PENELITIAN 1. PENELITIAN PENDAHULUAN III. III. METODE PENELITIAN A. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan mulai Maret 2011 sampai dengan Mei 2011 di Laboratorium Teknik Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian (TPPHP)

Lebih terperinci

Aspek Manusia dalam IMK

Aspek Manusia dalam IMK Minggu 3 Rima Dias Ramadhani, S.Kom., M.Kom Coba Diskusikan Hal Berikut ini: 1. Bagaimana membuat sebuah desain antarmuka yang efektif? 2. Aspek apa saja yang mempengaruhi manusia dalam IMK? Bagaimana

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Sugiyono (2010:38) menjelaskan bahwa objek penelitian adalah suatu atribut atau

BAB III METODE PENELITIAN. Sugiyono (2010:38) menjelaskan bahwa objek penelitian adalah suatu atribut atau BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Salah satu bagian yang menjadi sorotan dalam sebuah penelitian adalah objek penelitian. Sugiyono (2010:38) menjelaskan bahwa objek penelitian adalah suatu

Lebih terperinci

BAB VIII UJI PENERIMAAN : UJI MUTU HEDONIK

BAB VIII UJI PENERIMAAN : UJI MUTU HEDONIK BAB VIII UJI PENERIMAAN : UJI MUTU HEDONIK A. PENDAHULUAN Pengujian organoleptik adalah pengujian yang didasarkan pada proses pengindraan. Pengindraan diartikan sebagai suatu proses fisio-psikologis, yaitu

Lebih terperinci

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA LAB SHEET PENGENDALIAN MUTU PANGAN

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA LAB SHEET PENGENDALIAN MUTU PANGAN No. LST/TBB/BOG207 Revisi : 01 Tgl. 01 Februari 2010 Hal 1 dari 16 1. Kompetensi: Mampu mempraktikkan dan mengaplikasikan ranking test dalam bidang boga. 2. Sub Kompetensi: a. Mampu menjelaskan prinsip

Lebih terperinci

BAB IX. Hubungan Antara Proses Penginderaan dan Persepsi

BAB IX. Hubungan Antara Proses Penginderaan dan Persepsi BAB IX Hubungan Antara Proses Penginderaan dan Persepsi A. PENGINDERAAN Penginderaan adalah proses penerimaan stimulus oleh individu melalui alat penerima, yaitu alat indera yang terdiri dari indera penglihatan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penyangraian bahan bakunya (tepung beras) terlebih dahulu, dituangkan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penyangraian bahan bakunya (tepung beras) terlebih dahulu, dituangkan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Proses Pengolahan Cookies Tepung Beras 4.1.1 Penyangraian Penyangraian bahan bakunya (tepung beras) terlebih dahulu, dituangkan pada wajan dan disangrai menggunakan kompor,

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Kata media berasal dari bahasa latin yaitu medium yang secara harfiah berarti

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Kata media berasal dari bahasa latin yaitu medium yang secara harfiah berarti BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Media Kartu Bergambar 2.1.1 Pengertian Media Kartu Bergambar Kata media berasal dari bahasa latin yaitu medium yang secara harfiah berarti perantara. Dengan demikian media dapat

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu

TINJAUAN PUSTAKA. mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Motivasi Konsumen Motivasi berasal dari kata latin mavere yang berarti dorongan/daya penggerak. Yang berarti adalah kekuatan penggerak dalam diri konsumen yang memaksa bertindak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Manusia sebagai makhluk holistik dipengaruhi oleh lingkungan dari dalam

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Manusia sebagai makhluk holistik dipengaruhi oleh lingkungan dari dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia sebagai makhluk holistik dipengaruhi oleh lingkungan dari dalam dirinya maupun lingkungan luarnya. Manusia yang mempunyai ego yang sehat dapat membedakan antara

Lebih terperinci

Uji Penilaian Profesional Macquarie. Leaflet Latihan. Verbal, Numerikal, Pemahaman Abstrak, Kepribadian.

Uji Penilaian Profesional Macquarie. Leaflet Latihan. Verbal, Numerikal, Pemahaman Abstrak, Kepribadian. Uji Penilaian Profesional Macquarie Leaflet Latihan Verbal, Numerikal, Pemahaman Abstrak, Kepribadian. Mengapa Uji Penilaian psikometrik digunakan Dewasa ini semakin banyak perusahaan yang menyertakan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN A. BAHAN DAN ALAT Bahan utama yang digunakan adalah 17 jenis kecap manis komersial Indonesia. Sampelsampel kecap manis komersial tersebut mewakili kecap manis komersial nasional

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. karbohidrat biji jagung manis juga fraksi-fraksi gula bebas sebesar 1%-3% yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. karbohidrat biji jagung manis juga fraksi-fraksi gula bebas sebesar 1%-3% yang BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Komposisi Gizi Komponen terbesar di dalam biji jagung manis adalah karbohidrat, selain karbohidrat biji jagung manis juga fraksi-fraksi gula bebas sebesar 1%-3% yang terdapat

Lebih terperinci

Pokok Bahasan 5a PENGAMATAN

Pokok Bahasan 5a PENGAMATAN Pokok Bahasan 5a PENGAMATAN Prof. Drs. Dakir Prof. Dra. Sri Rumini Dr. Edi Purwanto Dra. Purwandari, M.Si Dra. Tin Suharmini, M.Si Yulia Ayriza, M.Si, Ph.D ([email protected]) Pengamatan Pengertian

Lebih terperinci

Faktor Manusia Dalam IMK IMK Kuliah II

Faktor Manusia Dalam IMK IMK Kuliah II Faktor Manusia Dalam IMK Kuliah II HCI 1 HCI 2 1 Pendahuluan Aspek dalam sistem komputer Aspek hardware Aspek software Aspek brainware Kegiatan memodelkan manusia adalah kegiatan yang cukup sulit karena

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Dalam setiap perusahaan, aktifitas dibidang pemasaran mutlak

BAB II LANDASAN TEORI. Dalam setiap perusahaan, aktifitas dibidang pemasaran mutlak BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Pemasaran Dalam setiap perusahaan, aktifitas dibidang pemasaran mutlak dilaksanakan, karena pemasaran merupakan faktor yang paling penting dalam usaha memberikan kepuasan

Lebih terperinci

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pengkukusan kacang hijau dalam pembuatan noga kacang hijau.

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pengkukusan kacang hijau dalam pembuatan noga kacang hijau. IV HASIL DAN PEMBAHASAN Bab ini akan menjelaskan mengenai : (4.1) Penelitian Pendahuluan, dan (4.2) Penelitian Utama. 4.1. Penelitian Pendahuluan Penelitian pendahuluan bertujuan untuk menentukan lama

Lebih terperinci

BAB II URAIAN TEORITIS

BAB II URAIAN TEORITIS BAB II URAIAN TEORITIS A. Penelitian Terdahulu 1. Baros (2007) melakukan penelitian yang berjudul Pengaruh atribut produk terhadap terbentuknya citra merek (Brand Image) di PT. Radio Kidung Indah Selaras

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. kelompok tersebut (Sugiyono, 2008). Definisi operasional merupakan. sehingga menjadi variabel yang dapat diukur.

BAB III METODE PENELITIAN. kelompok tersebut (Sugiyono, 2008). Definisi operasional merupakan. sehingga menjadi variabel yang dapat diukur. 34 BAB III METODE PENELITIAN 3. Metode Penelitian 3.1. Variabel dan Definisi Operasional Variabel penelitian merupakan suatu atribut dari sekelompok obyek yang diteliti, mempunyai variasi antara yang satu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perilaku Konsumen 2.1.1 Pengertian Perilaku Konsumen Menurut Schiffman dan Kanuk dalam Sumarwan (2004:25) Perilaku konsumen dapat diartikan sebagai perilaku yang diperlihatkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (CPOB). Hal ini didasarkan oleh Keputusan Menteri Kesehatan RI.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (CPOB). Hal ini didasarkan oleh Keputusan Menteri Kesehatan RI. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Industri farmasi diwajibkan menerapkan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Hal ini didasarkan oleh Keputusan Menteri Kesehatan RI. No.43/MENKES/SK/II/1988 tentang CPOB dan Keputusan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Bangsa Indonesia, terdiri dari berbagai suku. Tiap suku memiliki

BAB 1 PENDAHULUAN. Bangsa Indonesia, terdiri dari berbagai suku. Tiap suku memiliki BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Bangsa Indonesia, terdiri dari berbagai suku. Tiap suku memiliki masakan dengan karakter dan keunikannya sendiri. Jika dijumlahkan ratusan masakan yang ada tentunya

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN BAB III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Definisi Konsumen Konsumen adalah seseorang yang terlibat secara langsung dalam kegiatan dan penggunaan dari suatu produk dalam rangka memenuhi tujuan penggunaan, kebutuhan

Lebih terperinci

SENSASI PENDENGARAN Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Umum I yang dibina oleh Ibu Dyah Sulistyorini, M, Psi. Oleh

SENSASI PENDENGARAN Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Umum I yang dibina oleh Ibu Dyah Sulistyorini, M, Psi. Oleh SENSASI PENDENGARAN Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Umum I yang dibina oleh Ibu Dyah Sulistyorini, M, Psi Oleh Diar Arsyianti ( 406112402734) Universitas Negeri Malang Fakultas Ilmu

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Penelitian yang dilakukan menggunakan metode pre-eksperimental, yaitu paradigma penelitian dimana terdapat suatu kelompok yang diberi perlakuan yang diasumsikan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Persepsi 2.1.1 Pengertian Persepsi Menurut Boyd, Walker, Larreche dalam Fadila & Lestari (2013:45), persepsi (perception) adalah proses dengan apa seseorang memilih, mengatur,

Lebih terperinci

HASIL PENELITIAN Uji validitas dan reliabilitas Uji signifikansi

HASIL PENELITIAN Uji validitas dan reliabilitas Uji signifikansi HASIL PENELITIAN Uji validitas dan reliabilitas Validitas alat ukur dalam penelitian ini adalah validitas isi, yaitu taraf sejauh mana isi atau item item alat ukur dianggap dapat mengukur hal hal yang

Lebih terperinci

Analisis Fungsi Organ-organ Penginderaan dan Pengembangannya bagi Individu Tunanetra

Analisis Fungsi Organ-organ Penginderaan dan Pengembangannya bagi Individu Tunanetra Analisis Fungsi Organ-organ Penginderaan dan Pengembangannya bagi Individu Tunanetra I. Pendahuluan Benarkah?: 1) Bila orang kehilangan penglihatannya, maka hilang pulalah semua persepsinya. 2) Secara

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kualitas Pelayanan 2.1.1 Pengertian Kualitas Pelayanan Pelayanan adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya

Lebih terperinci

PENGARUH PEMBERIAN TELUR ITIK DENGAN KONSENTRASI BERBEDA TERHADAP MUTU BAKSO BELUT (Monopterus albus) ELITA

PENGARUH PEMBERIAN TELUR ITIK DENGAN KONSENTRASI BERBEDA TERHADAP MUTU BAKSO BELUT (Monopterus albus) ELITA PENGARUH PEMBERIAN TELUR ITIK DENGAN KONSENTRASI BERBEDA TERHADAP MUTU BAKSO BELUT (Monopterus albus) ELITA Dosen pada Program Studi Teknologi Hasil Perikanan Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. APLIKASI KACANG OVEN GARLIC SKALA LABORATORIUM Prosedur aplikasi yang standar mutlak diperlukan karena akan menghasilkan data dengan ulangan yang baik. Pertama, bahan yang digunakan

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Memahami keinginan konsumen dan mempelajari perilaku konsumen sangat penting untuk diperhatikan oleh perusahaan untuk mengetahui bagaimana perilaku

Lebih terperinci

Natallo Bugar dan Hermansyah, Uji Sensoris Pada Pembuatan Mie Basah Dengan Penambahan Surimi

Natallo Bugar dan Hermansyah, Uji Sensoris Pada Pembuatan Mie Basah Dengan Penambahan Surimi UJI SENSORIS PADA PEMBUATAN MIE BASAH DENGAN PENAMBAHAN SURIMI DAGING IKAN TOMAN (Channa micropeltes) NATALLO BUGAR DAN HERMANSYAH Dosen pada Program Studi Teknologi Hasil Perikanan Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

Interaksi Manusia dan Komputer. Aspek Manusia dalam IMK

Interaksi Manusia dan Komputer. Aspek Manusia dalam IMK Interaksi Manusia dan Komputer Tujuan Perkuliahan Menjelaskan aspek-aspek manusia yang terkait dengan IMK Mengetahui pentingnya aspek manusia dalam merancang IMK Coba Diskusikan Hal Berikut ini: 1. Bagaimana

Lebih terperinci

PERTEMUAN KE 5 dan 6

PERTEMUAN KE 5 dan 6 PERTEMUAN KE 5 dan 6 [email protected] PERSEPSI Dalam arti sempit ialah penglihatan, bagaimana cara seseorang melihat sesuatu, Dalam arti luas ialah pandangan atau pengertian, yaitu bagaimanan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. biji cempedak ini menggunakan jenis penelitian deskriptif, dimana. kriteria tertentu yang diharapkan dalam penelitian.

BAB III METODE PENELITIAN. biji cempedak ini menggunakan jenis penelitian deskriptif, dimana. kriteria tertentu yang diharapkan dalam penelitian. BAB III METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian 1. Jenis Penelitian Penelitian tentang perbandingan gizi tahu dari kedelai dan tahu biji cempedak ini menggunakan jenis penelitian deskriptif, dimana jenis

Lebih terperinci

Penempatan Pegawai. School of Communication & Business Inspiring Creative Innovation PERTEMUAN 4

Penempatan Pegawai. School of Communication & Business Inspiring Creative Innovation PERTEMUAN 4 PERTEMUAN 4 Persepsi adalah suatu proses pengorganisasian dan interpretasi kesan-kesan sensorik (panca indra) untuk menjadikan sesuatu hal, menjadi memiliki makna (arti). PERSEPSI Mengapa Persepsi itu

Lebih terperinci