1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
|
|
|
- Harjanti Hartono
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagian besar anak tumbuh bersama dengan setidaknya satu saudara kandung (Volling dan Blandon, 2003). Keterikatan dengan saudara kandung, baik itu kakak maupun adik merupakan hubungan yang paling lama yang dimiliki seseorang (Sanders, dalam Edwards, et al, 2006). Ini disebabkan karena interaksi antar saudara kandung dimulai ketika anak masih kecil dan terus berlanjut sepanjang hidup anak (Zanden, 2003). Interaksi antar saudara kandung akan menghasilkan hubungan yang saling mempengaruhi perkembangan satu sama lain, terutama pada perkembangan sosial dan koginitif (Dunn, dalam Thompson, 2004) Hubungan saudara kandung atau selanjutnya akan disebut dengan sibling relationship merupakan jumlah total interaksi, baik secara fisik maupun komunikasi (verbal atau non verbal), antara dua individu atau lebih yang mempunyai orang tua biologis yang sama. Dalam hubungan tersebut, ndividu tersebut berbagi pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan dan perasaan mengenai satu sama lain dari waktu ke waktu dimulai ketika satu anak menyadari kehadiran saudaranya (Cicirelli, 1985a; 1996). Sibling relationship merupakan salah satu hubungan horizontal pada anak yaitu hubungan yang bersifat timbal balik dimana satu pihak dengan pihak lain mempunyai derajat yang sama (Bee & Boyd, 2004). Bagi anak pertama, sibling relationship diawali ketika lahirnya adik dalam keluarga. Kehadiran adik dapat menimbulkan pengalaman yang beragam dalam diri setiap anak. Kehadiran adik dapat menjadi teman baru bagi anak pertama, sikap saling berbagi akan muncul dalam diri anak dan kakak-adik tersebut bisa saling belajar untuk mengembangkan kemampuan sosial mereka (Ferrer and McCrea, 2002). Tidak hanya hal positif saja yang dapat ditimbulkan oleh kehadiran adik. Kehadiran anak kedua dapat dihubungkan dengan penurunan jumlah dan sikap positif dari interaksi ibu dengan anak pertamanya (Baydar, et.al., dalam Vasta, et.al., 2004). Penurunan interaksi ibu dengan anak pertamanya 1
2 2 disebabkan karena ibu harus membagi perhatiannya kepada adik yang baru lahir. Situasi seperti ini akan menimbulkan sibling rivalry pada anak yang lebih tua. Sibling rivalry adalah semangat kecemburuan, kompetisi atau kemarahan antar kakak dan adik yang dimulai sejak kelahiran adik dalam keluarga (Shaffer, 2002) Kecemburuan dan kompetisi pada sibling rivalry terjadi untuk merebut perhatian orang tua (Helms & Turner, 1976). Sibling rivalry merupakan hal yang umum dan rutin terjadi pada anak yang tumbuh dalam keluarga (Molgaard, 1997), namun juga merupakan hal yang menjadi perhatian orang tua dengan dua anak atau lebih (Boyse, 2007). Kecemburuan, kompetisi dan pertengkaran antar saudara kandung merupakan hal yang umum terjadi di keluarga, namun apabila ketiga hal tersebut terus menerus terjadi, dapat membawa keluarga kepada situasi yang berbahaya dan perlu untuk segera diatasi (Molgaard, 1997). Vasta, et.al., (2004) mengatakan bahwa sibling rivalry merupakan salah satu masalah yang ditakutkan dalam sibling relationship. Selain itu, peneliti menemukan banyak buku panduan orang tua untuk mengatasi sibling rivalry (contoh: Kennedy, 2003; Faber & Mazlish, 2000; Woolfson, 2005) dan buku-buku panduan tersebut menekankan sibling rivalry sebagai sebuah hal yang memerlukan perhatian khusus. Sejak dulu para peneliti tertarik untuk meneliti mengenai sibling rivalry bahkan pada penelitian awal, rivalry merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas sibling relationship (Cicirelli, 1996). Penelitian awal sibling rivalry dilakukan oleh David M Levy (dalam http//:psychlassics.yorku.ca). Levy melakukan penelitian mengenai agresi dan menemukan sibling rivalry akibat kehadiran adik pada anak yang lebih tua. Sibling rivalry yang ditemukan oleh Levy berbentuk reaksi agresif anak yang lebih tua terhadap adiknya. Lebih lanjutnya Levy mendefinisikan sibling rivalry sebagai respon agresif yang umum terjadi akibat kedatangan adik dalam kehidupan keluarga (dalam Sawicki (1997) mengemukakan empat manifestasi sibling rivalry yang umum terjadi pada anak yang lebih tua saat lahirnya adik dalam keluarga. Manifestasi sibling rivalry tersebut adalah (1) agresi anak, (2) kemunduran tingkah laku anak, (3) tingkah laku anak mencari perhatian orang tua, serta (4)
3 3 timbulnya kematangan dan kemandirian anak. Keempat manifestasi ini terjadi pada awal kehadiran adik dalam keluarga dan pada umumnya intensitasnya akan berkurang seiring dengan perkembangan usia anak dan perilaku dari orang tua. Sebagian besar manifestasi sibling rivalry yang dikemukakan Jill Sawicki merupakan respon yang negatif karena kehadiran adik, seperti munculnya agresi pada anak yang lebih tua dan penurunan tingkah laku anak, oleh karena itu orang tua harus tanggap dalam mengamati tingkah laku anak agar sibling rivalry yang muncul pada awal kehadiran adik tidak menimbulkan masalah dalam keluarga. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pengertian sibling rivalry juga turut berkembang. Sibling rivalry kini tidak hanya muncul pada anak yang lebih tua, namun bisa juga terjadi pada saudara kandung anak tersebut. Sibling rivalry yang terjadi pada kakak-adik tersebut merupakan kompetisi antar anak untuk merebut perhatian dan kasih sayang orang tua serta dominansi di keluarga (Nicholson, 2003). Mander (1991; Anderson 2002) mengemukakan dua manifestasi sibling rivalry yang biasa terjadi pada anak dalam keluarga, yaitu (1) kecemburuan dan (2) kompetisi. Kedua manifestasi sibling rivalry ini dapat terjadi pada kakak maupun adik di dalam keluarga. Kecemburuan merupakan manifestasi utama sibling rivalry (Thompson, 2004). Pada umumnya anak cemburu karena kehilangan perhatian orang tua Kecemburuan pada anak-anak merupakan kecemburuan terkuat selama masa muda mereka (Parrot dalam Anderson, 2006). Kompetisi pada anak terjadi untuk memperebutkan perhatian orang tua dan sumber yang terbatas dalam bentuk material (Dunn; Michale &Crouter; Nolle dalam Noller, et.al., 2007). Kompetisi yang merupakan bentuk sibling rivalry ini dapat memunculkan reaksi emosi yang ekstrim pada pasangan kakak adik (Bedford & Volling; Dunn, dalam Noller, et.al., 2007). Pada usia kanak-kanak pertengahan, anak menghabiskan waktu lebih banyak dengan saudara kandungnya dibandingkan dengan masa awal hidup mereka dengan demikian sibling relationship cenderung meningkat dan beragam pada anak-anak di usia tersebut (Thompson, 2004). Demikian juga dengan sibling rivalry, sibling rivalry cenderung meningkat pada usia kanak-kanak pertengahan (Berk, 2005). Penelitian dari Annie McNemey dan Joy Usner mengenai sibling rivalry pada beberapa rentang usia (dalam muohio.edu)
4 4 menyatakan bahwa usia rentang (termasuk dalam usia kanak-kanak pertengahan) mempunyai level tertinggi dalam kompetisi termasuk di dalamnya sibling rivalry. Alasan lain mengapa sibling rivalry cenderung meningkat pada usia kanak-kanak pertengahan adalah anak mulai beraktivitas dan berprestasi baik di sekolah maupun di lingkungan sekitarnya. Dengan adanya aktivitas dan prestasi di sekolah, orang tua mulai membandingkan anak yang satu dengan yang lain. Ketika anak dengan rentang usia yang berdekatan masuk ke dunia sekolah, maka perbandingan orang tua terhadap anak mereka semakin sering dilakukan dan hasilnya anak menjadi lebih suka bertengkar, saling bermusuhan dan susah untuk saling menyesuaikan diri (Berk, 2005). Perbandingan anak dengan saudara kandungnya merupakan hal yang dapat menimbulkan sibling rivalry. Lebih lanjutnya Lamb, et.al. (dalam Usner & McNemey, 2001) menjabarkan tipe sibling rivalry berdasarkan perbandingan anak dan saudara kandungnya. Perbandingan tersebut dapat dilakukan oleh orang tua atau oleh anak itu sendiri. Perbandingan yang dilakukan oleh orang tua dinamakan adult-initiated rivalry. Perbandingan ini bisa merupakan perbandingan yang terlihat atau overt comparison dan juga perbandingan yang tidak terlihat atau covert comparison. Perbandingan yang dilakukan oleh anak dinamakan sibling generated rivalry. Kedua perbandingan tersebut, baik yang dilakukan orang tua maupun oleh anak, sama-sama akan memunculkan sibling rivalry pada diri anak. Thompson (2004) mengatakan sibling rivalry merupakan penyebab utama terjadi konflik pada anak dan saudara kandungnya. Kecemburuan dan kompetisi karena perhatian orang tua dapat menimbulkan pertengkaran pada anak dan saudara kandungnya. Dan pertengkaran tersebut merupakan sumber konflik pada anak. Selain itu sibling rivalry yang berkepanjangan dan sudah diluar kendali orang tua dapat mengakibatkan tanda-tanda depresi atau anxiety (kecemasan) pada anak (Steinberg, 2003). Lebih lanjutnya Gracia et. al. (dalam Shaffer, 2002) mengatakan jika terjadi perkelahian dan konflik yang terus-menerus serta tidak melibatkan campur tangan orang tua akan mengakibatkan perilaku agresif dan antisosial di luar rumah Sibling rivalry tidak hanya menimbulkan dampak negatif namun juga dampak positif. Sibling rivalry yang menimbulkan perdebatan anak bisa menjadi
5 5 latihan diskusi bagi anak untuk menghargai pendapat dan perasaan orang lain (dalam serta menimbulkan kemampuan perspektif yang lebih baik pada anak (Perner, et al., dalam Bomb, 2005). Anak terlatih melakukan negosiasi, berkompromi dan menyelesaikan konflik dengan saudara kandungnya (dalam Bomb, 2005). Dengan berlatih bersama saudara kandungnya, anak mampu menyelesaikan pertengkaran yang terjadi di luar keluarga, misalnya dengan teman sepermainannya. Sibling rivalry dapat terjadi pada setiap keluarga yang mempunyai dua anak atau lebih, termasuk pada keluarga dengan anak berkebutuhan khusus, seperti pada keluarga dengan anak ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). ADHD adalah disability dimana seorang anak menunjukkan satu atau lebih karakteristik berikut dalam jangka waktu yang lama: (1) inattention atau sulit untuk memusatkan perhatian (2) Hiperaktif dimana mempunyai level aktivitas yang tinggi dan selalu bergerak kemana-mana serta (3) impulsive dimana anak sulit menahan reaksi mereka (Santrock, 2007). ADHD merupakan salah satu bentuk gangguan yang umum terjadi pada anak-anak di seluruh dunia (Slomkowski, et al. dalam McDougall, et.al., 2006). Menurut Zametkin dan Ernest (dalam Cosser, 2005), ADHD diperkirakan terjadi pada dua sampai sebelas persen atau lebih anak-anak di seluruh dunia. Penelitian Kilic dan Sener (2005) mengenai anak ADHD mendapat hasil bahwa anak ADHD mempunyai resiko yang tinggi akan perubahan mood dan karakteristik temperamental. Anak ADHD juga mempunyai masalah dalam pengendalian emosi, mood yang labil dimana emosi mereka cepat berpindah dari satu emosi ke emosi lainnya, toleransi terhadap frustasi yang rendah, dan temperamen yang tinggi (Sattler, et.al. dalam Sattler, 2002). Sibling rivalry merupakan kecemburuan dan kompetisi yang berkaitan dengan pengalaman emosi seseorang. Dengan adanya ADHD pada diri anak, maka sibling rivalry yang akan ia alami akan beragam dibandingkan dengan anak normal pada umumnya. Emosi yang meluap-luap dari anak ADHD memungkinan pengalaman sibling rivalry pada anak tersebut akan semakin terlihat. Selain itu agresi anak ADHD mungkin dapat berhubungan dengan sibling rivalry yang terjadi pada diri anak tersebut.
6 6 Agresi dapat membuat sibling rivalry lebih terlihat dan dapat menyebabkan konflik antara anak ADHD dan saudara kandungnya. ADHD tidak hanya mempengaruhi anak yang mengalaminya, namun juga memperngaruhi seluruh keluarga anak ADHD, termasuk saudara kandung anak ADHD. Kendall (dalam McDougall, et.al., 2006) meneliti mengenai pengalaman saudara kandung anak ADHD, bagaimana ADHD mempengaruhi sibling relationship serta gaya hidup mereka. Dalam penelitian tersebut, saudara kandung anak ADHD mengeluhkan tingkah laku anak ADHD yang agresif, sikap anak ADHD yang bermusuhan serta suka bertengkar Saudara kandung anak ADHD mengaku mengalami gangguan yang dihasilkan dari gejala negatif ADHD (Kendall, dalam McDougall, et.al., 2006). Gangguan yang dialami oleh saudara kandung anak ADHD tersebut sering tidak dihiraukan oleh orang tua (McDougall, et.al., 2006). Bahkan pusat perhatian orang tua cenderung kepada anak ADHD. Orang tua sering membela anak ADHD serta memperlakukan anak ADHD berbeda dengan saudaranya. Hal ini disadari oleh saudara kandung anak ADHD. Mereka merasa bahwa orang tua terlalu mendukung anak ADHD yang selalu melanggar aturan, tidak mau bekerja sama, tidak mau melakukan rutininas dan selalu mencoba untuk mendapatkan perlakuan khusus dari orang tua. Perasaan saudara kandung anak ADHD ini akan berkembang menjadi perasaan cemburu dimana anak merasa orang tua sangat memperhatikan saudara mereka yang ADHD, dan akhirnya akan menimbulkan sibling rivalry dalam diri saudara kandung anak ADHD. Ini dapat terjadi karena salah satu faktor yang dapat mengembangkan sibling rivalry adalah kecenderungan orang tua untuk memusatkan perhatian pada salah satu anaknya (Berk, 2005). Di sisi lain, anak ADHD sendiri sangat membutuhkan dukungan dari keluarga untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Dukungan dari keluarga tersebut juga datang dari saudara kandung, bahkan anak ADHD dapat mempunyai hubungan yang lebih dekat dengan saudara kandungnya dibandingkan dengan orang tuanya. Saudara kandung dapat membantu anak tersebut untuk menjadi lebih kreatif, bertanggung jawab, dan ambisius. (Wilson, dalam Oleh karena itu, adanya sibling rivalry pada saudara kandung anak ADHD memungkinkan timbulnya pengaruh terhadap hubungan
7 7 anak ADHD dan saudara kandungnya, pengaruh terhadap diri anak ADHD serta pengaruh terhadap diri saudara kandung dari anak ADHD Hal ini menarik peneliti untuk mengetahui bagaimana sebenarnya gambaran sibling rivalry pada anak ADHD dan saudara kandungnya. Untuk mengetahui hal tersebut, peneliti akan menggunakan pendekatan kualitatif dengan observasi dan wawancara mendalam sebagai metode pengumpulan data. Pendekatan kualitatif dipilih karena dengan menggunakan metode kualitatif, peneliti dapat melihat bagaimana gambaran atau deskripsi langsung fenomena tertentu (Sandelowski, 2000). Dalam penelitian ini gambaran atau deskripsi langsung mengenai sibling rivalry pada anak ADHD dan saudara kandungnya. Peneliti akan mewawancara tiga pasang anak ADHD dan saudara kandungnya dan melakukan observasi terhadap interaksi anak ADHD dan saudara kandungnya. Baik anak ADHD maupun saudara kandungnya berada dalam rentang usia 6-12 tahun (dalam kategori usia kanak-kanak pertengahan). Pada usia kanak-kanak pertengahan, anak sudah bisa berpikir logis dan konkret. Pada usia tersebut, anak juga mengalami peningkatan dalam ingatan dan bahasa. Selain itu sibling rivalry pada anak cenderung meningkat pada usia kanak-kanak pertengahan (Berk, 2005). Untuk mendapatkan gambaran sibling rivalry pada anak ADHD dan saudara kandungnya, peneliti akan mewawancara orang tua serta significant others dari anak ADHD dan saudara kandungnya. Orang tua yang dipilih adalah ibu. Dalam beberapa budaya, ibu merupakan pihak utama dalam mengurus anak (Papalia, et.al., 2004). Termasuk juga dalam budaya di Indonesia dimana sebagian besar budaya di Indonesia menekankan ayah sebagai kepala keluarga yang mencari nafkah, sementara ibu berperan dalam mendidik dan mengurus anak. Menurut Santrock (2007), yang terjadi pada kehidupan keluarga akhir-akhir ini adalah ibu memegang tanggung jawab utama untuk anak, selain itu ibu bertanggung jawab pada pekerjaan rumah yang lain serta berbagai bentuk pekerjaan keluarga masih bergantung di pundak ibu (Barnard dan Martell, 1995 dalam Santrock, 2007). Dengan demikian ibu akan lebih dekat dengan anak bila dibandingkan dengan ayah.
8 8 1.2 Masalah Penelitian Dalam penelitian ini, peneliti ingin melihat masalah umum sebagai berikut: - Bagaimana gambaran sibling rivalry pada Anak ADHD dan saudara kandungnya yang berada pada rentang usia kanak-kanak pertengahan? Masalah umum di atas terbagi menjadi dua masalah khusus, yaitu: - Bagaimana gambaran sibling rivalry berdasarkan MANIFESTASI sibling rivalry pada Anak ADHD dan saudara kandungnya yang berada pada rentang usia kanak-kanak pertengahan? - Bagaimana gambaran sibling rivalry berdasarkan TIPE sibling rivalry pada Anak ADHD dan saudara kandungnya yang berada pada rentang usia kanak-kanak pertengahan? 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan umum penelitian ini adalah untuk melihat gambaran sibling rivalry pada sepasang saudara kandung yang salah satunya mengalami ADHD. Adapun tujuan khususnya adalah mengetahui secara lebih dalam gambaran sibling rivalry pada keluarga dengan anak ADHD berdasarkan MANIFESTASI dan TIPE sibling rivalry agar keluarga dapat menemukan cara untuk mengatasi sibling rivalry yang dialami oleh pasangan saudara kandung dimana salah satunya mengalami ADHD. Selain itu penelitian ini berguna untuk memperkaya penelitian dalam psikologi perkembangan anak, terutama penelitian mengenai sibling relationship dan anak berkebutuhan khusus, terutama anak ADHD. 1.4 Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari penelitian ini adalah: - Memberikan sumbangan ilmiah mengenai faktor yang mempengaruhi perkembangan anak, berhubungan dengan adanya sibling rivalry dalam pasangan kakak-adik. - Bagi keluarga; memberikan informasi kepada keluarga, terutama untuk orang tua dengan anak ADHD mengenai sibling rivalry dan dampaknya bagi perkembangan anak
9 9 - Menemukan cara untuk mengatasi sibling rivalry yang dialami oleh pasangan saudara kandung dimana salah satunya mengalami ADHD Sistematika Penulisan Sistematika penulisan yang dilakukan oleh peneliti meliputi: Bab pendahuluan, penulis akan menguraikan beberapa hal, seperti asal mula dan alasan mengapa sibling rivalry dipilih menjadi tema dalam penelitian ini, permasalahan yang diangkat dalam penelitian, serta tujuan dan manfaat penelitian bagi pembacanya. Dalam bab dua, penulis mengajukan beberapa tinjauan pustaka yang berhubungan dengan penelitian yang akan dilakukan. Tinjauan pustaka tersebut yaitu teori sibling, sibling relationship, sibling rivalry, karakteristik anak usia kanak-kanak pertengahan, karakteristik anak ADHD, sibling rivalry pada usia kanak-kanak pertengahan, serta sibling rivalry pada anak ADHD dan saudara kandungnya. Tinjauan Pustaka dilakukan mulai dari definisi sampai penelitianpenelitian yang berhubungan dengan teori yang akan dibahas. Bab tiga berisi mengenai metode penelitian, dimana di dalamnya peneliti akan menguraikan mengenai karakteristik subjek penelitian, bentuk penelitian dan prosedur penelitian yang akan dilakukan. Pada Bab empat, peneliti akan menjabarkan hasil penelitian yang telah didapatkan. Hasil tersebut meliputi gambaran dari masing-masing subjek, hasil interpretasi data dari masing-masing subjek dan lainnya. Bab lima yang merupakan bab terakhir, yaitu bab kesimpulan, diskusi dan saran. Dalam bab ini, peneliti akan menjelaskan kesimpulan yang didapat dari hasil penelitian. Selanjutnya akan dibahas diskusi mengenai kesalahan yang peneliti lakukan dan hambatan-hambatan dalam pelaksanaan penelitian ini, serta saran-saran dari peneliti untuk penelitian serupa.
5. KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN
5. KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN Dalam bab ini akan dibahas mengenai kesimpulan, diskusi dan saran. Kesimpulan dalam penelitian ini berisi gambaran sibling rivalry pada anak ADHD dan saudara kandungnya
2. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Sibling Relationship Cicirelli (1996) mendefinisikan sibling relationship sebagai berikut:
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Siblings Siblings atau saudara kandung, merupakan subjek dalam penelitian ini, oleh karena itu perlu dijelaskan definisi mengenai pengertian saudara kandung yang dimaksud oleh
Fifi Nurmaningtyas Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya Moh. Reza
SIBLING RIVALRY PADA ANAK ASD (AUTISTIC SPECTRUM DISORDER) DAN SAUDARA KANDUNGNYA (Studi Kasus di Sekolah At Taqwa Surabaya) Fifi Nurmaningtyas Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya
BAB I PENDAHULUAN. perbedaan kecepatan tumbuh dan gaya penampilannya (Sujiono, 2007). Perbedaan tersebut
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Anak merupakan individu yang berbeda satu dengan yang lainnya, baik diantara laki-laki maupun perempuan. Masing-masing dari mereka mempunyai tubuh yang berlainan, perbedaan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Keluarga merupakan tempat utama dimana seorang anak tumbuh dan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keluarga merupakan tempat utama dimana seorang anak tumbuh dan berkembang pertama kalinya. Selain itu, keluarga juga merupakan sekumpulan orang yang tinggal
BAB 1 PENDAHULUAN. Kelahiran anak merupakan saat yang ditunggu-tunggu dan sangat
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Salah satu peristiwa kunci dalam kehidupan adalah kelahiran adik baru. Kehamilan itu sendiri merupakan waktu yang ideal untuk memahami dari mana bayi berasal
BAB II LANDASAN TEORI. Sibling rivalry adalah suatu persaingan diantara anak-anak dalam suatu
BAB II LANDASAN TEORI A. Sibling Rivalry 1. Pengertian Sibling Rivalry Sibling rivalry adalah suatu persaingan diantara anak-anak dalam suatu keluarga yang sama, teristimewa untuk memperoleh afeksi atau
BAB I PENDAHULUAN. dalam jangka panjang. Pola hubungan yang terbangun pada masa kanak-kanak dapat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hubungan dengan saudara merupakan jenis hubungan yang berlangsung dalam jangka panjang. Pola hubungan yang terbangun pada masa kanak-kanak dapat bertahan hingga
3. METODE PENELITIAN
3. METODE PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran sibling rivalry yang dialami oleh anak ADHD dan saudara kandungnya. Penelitian ini berusaha untuk melihat secara mendalam gambaran sibling
Lampiran I : Pedoman wawancara. Identitas Orangtua dari keluarga ( ) Identitas Pasangan saudara kandungdari keluarga ( )
Lampiran I : Pedoman wawancara Data Subyek Usia Pekerjaan Pendidikan terakhir Jumlah anak Suku Bangsa Agama Identitas Orangtua dari keluarga ( ) Ayah Ibu Identitas Pasangan saudara kandungdari keluarga
FENOMENA ANAK KEMBAR (TELAAH SIBLING RIVALRY)
FENOMENA ANAK KEMBAR (TELAAH SIBLING RIVALRY) SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persayaratan Dalam mencapai derajat Sarjana S-1 Diajukan Oleh: YOGA WALUYO F. 100 060 177 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sibling Rivalry 1. Definisi Sibling Rivalry Sibling adalah perasaan tidak nyaman yang ada pada anak berkaitan dengan kehadiran orang asing yang semula tidak ada (dalam hal
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD) merupakan suatu gangguan perkembangan yang mengakibatkan ketidakmampuan mengatur perilaku, khususnya untuk mengantisipasi
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Setiap manusia pasti melewati tahap-tahap perkembangan yaitu masa bayi, masa kanak-kanak, masa remaja, dan masa dewasa. Namun ada suatu masa dimana individu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehadiran anggota keluarga baru dalam keluarga akan memberikan pengaruh dalam perkembangan sosial dan emosional anak terutama anak prasekolah. Emosi yang rentan pada
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Penginderaan terjadi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori 1. Pengetahuan a. Definisi Tentang Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu.
Pedologi. Review Seluruh Materi. Maria Ulfah, M.Psi., Psikolog. Modul ke: Fakultas PSIKOLOGI. Program Studi Psikologi.
Pedologi Modul ke: Review Seluruh Materi Maria Ulfah, M.Psi., Psikolog Fakultas PSIKOLOGI Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id RETARDASI MENTAL Retardasi mental (mental retardation) adalah keterlambatan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Keluarga merupakan tempat utama dimana seorang anak tumbuh dan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Keluarga merupakan tempat utama dimana seorang anak tumbuh dan berkembang pertama kalinya. Menurut Reiss (dalam Lestari, 2012;4), keluarga adalah suatu kelompok
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Cemburu merupakan emosi yang biasa ditemukan dan alami terjadi pada anak-anak. Cemburu pertama kali terlihat ketika sang kakak punya adik baru. Hal itu dikenal
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
1. Pengertian Sibling Rivalry BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sibling adalah perasaan tidak nyaman yang ada pada anak berkaitan dengan kehadiran orang asing yang semula tidak ada (dalam hal ini adalah saudara
BAB 1 PENDAHULUAN. dilahirkan akan tumbuh menjadi anak yang menyenangkan, terampil dan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap orang tua menginginkan dan mengharapkan anak yang dilahirkan akan tumbuh menjadi anak yang menyenangkan, terampil dan pintar. Anak-anak yang patuh, mudah diarahkan,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Sibling Rivalry pada remaja akhir. Persaingan antar saudara kandung oleh Amijoyo dalam Kamus
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sibling Rivalry pada remaja akhir 1. Pengertian sibling rivalry pada remaja akhir Persaingan antar saudara kandung oleh Amijoyo dalam Kamus Indonesia-Inggris (2009) disebut sebagai
HUBUNGAN ANTARA KOMUNIKASI INTERPERSONAL ORANGTUA DAN ANAK DENGAN SIBLING RIVALRY PADA MASA KANAK-KANAK PERTENGAHAN
HUBUNGAN ANTARA KOMUNIKASI INTERPERSONAL ORANGTUA DAN ANAK DENGAN SIBLING RIVALRY PADA MASA KANAK-KANAK PERTENGAHAN OLEH CYNTHIA MATINDAS 802010088 TUGAS AKHIR Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Guna Memenuhi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sekolah merupakan salah satu tempat bertumbuh dan berkembangnya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekolah merupakan salah satu tempat bertumbuh dan berkembangnya anak-anak. Anak menghabiskan hampir separuh harinya di sekolah, baik untuk kegiatan pembelajaran
BAB I. Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau KDRT diartikan setiap perbuatan. terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan
BAB I 1.1 Latar Belakang Masalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau KDRT diartikan setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik,
BAB I PENDAHULUAN. hidup di zaman yang serba sulit masa kini. Pendidikan dapat dimulai dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu modal yang harus dimiliki untuk hidup di zaman yang serba sulit masa kini. Pendidikan dapat dimulai dari tingkat TK sampai dengan
1 Universitas Indonesia
1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Pendidikan merupakan kebutuhan primer bagi masing-masing individu, dan sudah menjadi hak setiap manusia untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Pada Undang-Undang Sistem
PERSIAPAN MENGHADAPI REAKSI SIBLING RIVALRY PADA ANAK PRA SEKOLAH.
PERSIAPAN MENGHADAPI REAKSI SIBLING RIVALRY PADA ANAK PRA SEKOLAH Rina Puspita 1, Amelia Nur Hidayati 2 1 Staf pengajar Prodi D III Kebidanan STIKES An Nur Purwodadi Email : [email protected] 2
BAB I PENDAHULUAN. mengatakan mereka telah dilukai dengan senjata. Guru-guru banyak mengatakan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Permasalahan kekerasan di lingkungan pendidikan atau sekolah ini telah menunjukkan angka yang sangat memprihatinkan, 16% siswa kelas akhir mengatakan bahwa mereka
UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pernikahan adalah tahap yang penting bagi hampir semua orang yang memasuki masa dewasa awal. Individu yang memasuki masa dewasa awal memfokuskan relasi interpersonal
HUBUNGAN ATTACHMENT DAN SIBLING RIVALRY PADA REMAJA AWAL
HUBUNGAN ATTACHMENT DAN SIBLING RIVALRY PADA REMAJA AWAL Shabrina Khairunnisa 16511716 3PA01 LATAR BELAKANG Masa remaja merupakan masa dimana individu mulai berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. lingkungan tempat individu berada. Remaja menurut Monks (2002) merupakan
digilib.uns.ac.id BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja ditandai dengan pertumbuhan fisik, pengembangan kepribadian, pencapaian kedewasaan, kemandirian, dan adaptasi peran dan fungsi
BAB I PENDAHULUAN. berbeda dengan keadaan yang nyaman dalam perut ibunya. Dalam kondisi ini,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa kehadiran manusia lainnya. Kehidupan menjadi lebih bermakna dan berarti dengan kehadiran
PROBLEM PSIKOSOSIAL PADA REMAJA YANG ORANG TUA NYA MERANTAU NASKAH PUBLIKASI. Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta
PROBLEM PSIKOSOSIAL PADA REMAJA YANG ORANG TUA NYA MERANTAU NASKAH PUBLIKASI Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Derajat
1. PENDAHULUAN. Universitas Indonesia
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada hari Minggu tanggal 29 April 2007 seorang siswa kelas 1 (sebut saja A) SMA swasta di bilangan Jakarta Selatan dianiaya oleh beberapa orang kakak kelasnya. Penganiayaan
BAB I PENDAHULUAN. mengalami lompatan perkembangan, kecepatan perkembangan yang luar. usia emas (golden age) yang tidak akan terulang lagi.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak usia dini atau disebut juga dengan awal masa kanak-kanak adalah masa yang paling penting dalam sepanjang hidupnya. Sebab masa itu adalah masa pembentukan pondasi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kemudian dilanjutkan ke tahapan selanjutnya. Salah satu tahapan individu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan hidup manusia dialami dalam berbagai tahapan, yang dimulai dari masa kanak-kanak, remaja dan dewasa. Dalam setiap tahapan perkembangan terdapat
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dukungan sosial merupakan keberadaan, kesediaan, keperdulian dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dukungan sosial merupakan keberadaan, kesediaan, keperdulian dari orang-orang yang bisa diandalkan, menghargai dan menyayangi kita yang berasal dari teman, anggota
BAB 1 PENDAHULUAN. Persaingan antara saudara kandung (sibling rivalry) biasanya muncul ketika
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Persaingan antara dua orang kakak beradik bukan sesuatu yang baru. Persaingan antara saudara kandung (sibling rivalry) biasanya muncul ketika selisih usia saudara kandung
BAB I PENDAHULUAN. alami oleh seorang anak terhadap kehadiran atau kelahiran saudara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap anak adalah individu yang unik, karena faktor lingkungan dan bawaan yang berbeda. Perkembangan psiko-sosial sangat dipengaruhi lingkungan dan interaksi antara
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Narkoba adalah zat kimia yang dapat mengubah keadaan psikologi seperti
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kasus penggunaan narkoba pada remaja sudah sering dijumpai di berbagai media. Maraknya remaja yang terlibat dalam masalah ini menunjukkan bahwa pada fase ini
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berbagai macam hal yang tidak pernah diketahui sebelumnya. Dalam proses belajar
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi seorang anak dalam mempelajari berbagai macam hal yang tidak pernah diketahui sebelumnya. Dalam proses belajar inilah,
PENGARUH COOPERATIVE PLAY TERHADAP SIBLING RIVALRY PADA ANAK SEKOLAH DASAR
PENGARUH COOPERATIVE PLAY TERHADAP SIBLING RIVALRY PADA ANAK SEKOLAH DASAR OLEH WINDA MARGARETHA 80 2012 076 TUGAS AKHIR Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Guna Memenuhi Sebagian Dari Persyaratan Untuk
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan Penulisan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manajemen konflik merupakan serangkaian aksi dan reaksi antara pelaku maupun pihak luar dalam suatu konflik. Manajemen konflik termasuk pada suatu pendekatan yang berorientasi
BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. penurunan kondisi fisik, mereka juga harus menghadapi masalah psikologis.
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lanjut usia merupakan suatu proses berkelanjutan dalam kehidupan yang ditandai dengan berbagai perubahan ke arah penurunan. Problematika yang harus dihadapi
BAB I PENDAHULUAN. semakin menyadari pentingnya mendapatkan pendidikan setinggi mungkin. Salah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan jaman yang semakin maju menuntut masyarakat untuk semakin menyadari pentingnya mendapatkan pendidikan setinggi mungkin. Salah satu tujuan seseorang
BAB 1 PENDAHULUAN. Masa remaja adalah periode perkembangan disaat individu mengalami
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masa remaja adalah periode perkembangan disaat individu mengalami perubahan dari masa kanak kanak menuju masa dewasa perubahan ini terjadi diantara usia 13 dan 20 tahun
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. yang sangat luar biasa, karena anak akan menjadi generasi penerus dalam keluarga.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Memiliki anak yang sehat dan memiliki tumbuh kembang yang baik merupakan dambaan bagi setiap pasangan suami istri yang telah menikah. Anak merupakan berkah yang sangat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Keluarga merupakan unit sosial terkecil di dalam lingkungan masyarakat. Bagi anak, keluarga merupakan tempat pertama mereka untuk berinteraksi. Keluarga yang
BAB I PENDAHULUAN. baik dari faktor luar dan dalam diri setiap individu. Bentuk-bentuk dari emosi yang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Emosi adalah respon yang dirasakan setiap individu dikarenakan rangsangan baik dari faktor luar dan dalam diri setiap individu. Bentuk-bentuk dari emosi yang sering
BAB I PENDAHULUAN. Remaja merupakan fase yang disebut Hall sebagai fase storm and stress
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Remaja merupakan fase yang disebut Hall sebagai fase storm and stress (santrock, 2007 : 200). Masa remaja adalah masa pergolakan yang dipenuhi oleh konflik dan
BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja adalah masa transisi dari anak-anak ke fase remaja. Menurut
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masa remaja adalah masa transisi dari anak-anak ke fase remaja. Menurut Papalia et, al (2008) adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa
BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dimana pada masa tersebut merupakan periode peralihan dan perubahan. Hurlock
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan suatu periode perkembangan yang penting, dimana pada masa tersebut merupakan periode peralihan dan perubahan. Hurlock (1980:206) menyatakan
BAB I PENDAHULUAN. untuk saling berinteraksi. Melalui interaksi ini manusia dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan kehadiran orang lain untuk saling berinteraksi. Melalui interaksi ini manusia dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan
BAB I PENDAHULUAN. Memasuki ambang millennium ketiga, masyarakat Indonesia mengalami
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Memasuki ambang millennium ketiga, masyarakat Indonesia mengalami perubahan-perubahan di berbagai bidang, seperti ilmu pengetahuan, teknologi, politik, ekonomi,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Anak usia 0-3 tahun merupakan masa untuk berkenalan dan belajar menghadapi rasa kecewa saat apa yang dikehendaki tidak dapat terpenuhi. Rasa kecewa, marah, sedih dan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menempuh berbagai tahapan, antara lain pendekatan dengan seseorang atau
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa awal adalah masa dimana seseorang memperoleh pasangan hidup, terutama bagi seorang perempuan. Hal ini sesuai dengan teori Hurlock (2002) bahwa tugas masa
BAB I PENDAHULUAN. Anak tumbuh dan berkembang di bawah asuhan orang tua. Melalui orang tua,
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Anak tumbuh dan berkembang di bawah asuhan orang tua. Melalui orang tua, anak beradaptasi dengan lingkungannya dan mengenal dunia sekitarnya serta pola pergaulan
BAB I PENDAHULUAN. orang tua dengan anak. Orang tua merupakan makhluk sosial pertama yang
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Attachment pada manusia pertama kali terbentuk dari hubungan antara orang tua dengan anak. Orang tua merupakan makhluk sosial pertama yang berinteraksi dengan bayinya.
BAB I PENDAHULUAN. Perguruan Tinggi merupakan salah satu jenjang yang penting dalam
BAB I PENDAHULUAN 1. 1. LATAR BELAKANG MASALAH Perguruan Tinggi merupakan salah satu jenjang yang penting dalam pendidikan. Perguruan Tinggi diadakan dengan tujuan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi
4.5 Rangkuman Hasil Tabel 4.2 Perbandingan Tema Pengalaman Suami Istri pertama Istri kedua 1. Keadilan Sebelum dipoligami 1. Perasaan diabaikan
94 4.5 Rangkuman Hasil Tabel 4.2 Perbandingan Tema Pengalaman Suami Istri pertama Istri kedua 1. Keadilan Sebelum dipoligami 1. Perasaan diabaikan Waktu 1. Curiga Nafkah 2. Sedih dan stress Perhatian pada
KEMANDIRIAN REMAJA AKHIR PUTERI PASCA KEMATIAN AYAH
KEMANDIRIAN REMAJA AKHIR PUTERI PASCA KEMATIAN AYAH RIA SULASTRIANI Program Sarjana, Universitas Gunadarma Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara mendalam gambaran kemandirian remaja
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Body Image 1. Pengertian Body image adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaan tentang ukuran, bentuk, fungsi
BAB I PENDAHULUAN. Individu pada usia remaja di sekolah adalah sebagai individu yang sedang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah 1. Latar Belakang Individu pada usia remaja di sekolah adalah sebagai individu yang sedang berkembang dan mencapai taraf perkembangan pribadi secara optimal
4. ANALISIS HASIL DAN INTERPRETASI. Dalam bab empat akan dijelaskan analisis tiap subjek dan analisis antar subjek.
4. ANALISIS HASIL DAN INTERPRETASI Dalam bab empat akan dijelaskan analisis tiap subjek dan analisis antar subjek. 4. 1. Analisis Tiap Subjek Pada analisis tiap kasus, peneliti akan menjabarkan hasil penelitian
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. KEMANDIRIAN. dapat menjadi otonom dalam masa remaja. Steinberg (dalam Patriana, 2007:20)
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. KEMANDIRIAN 1. Pengertian Kemandirian Kemandirian merupakan kemampuan individu untuk bertingkah laku sesuai keinginannya. Perkembangan kemandirian merupakan bagian penting untuk
A. LATAR BELAKANG Perselingkuhan dalam rumah tangga adalah sesuatu yang sangat tabu dan menyakitkan sehingga wajib dihindari akan tetapi, anehnya hal
HARGA DIRI PADA WANITA DEWASA AWAL MENIKAH YANG BERSELINGKUH KARTIKA SARI Program Sarjana, Universitas Gunadarma Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran harga diri
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan tidak hanya dibutuhkan oleh anak-anak normal (siswa reguler), akan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan menjadi hak setiap anak. Pendidikan menjadi salah satu aspek penting dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan tidak hanya
HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH ORANG TUA DAN PENGETAHUAN IBU TERHADAP SIBLING RIVALRY PADA ANAK USIA 3-5 TAHUN DI TK AISYIAH BANTUL YOGYAKARTA TAHUN 2017
HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH ORANG TUA DAN PENGETAHUAN IBU TERHADAP SIBLING RIVALRY PADA ANAK USIA 3-5 TAHUN DI TK AISYIAH BANTUL YOGYAKARTA TAHUN 2017 Sri Dinengsih 1 Melly Agustina 2 Program studi DIV Kebidanan
BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja berhubungan dengan perubahan intelektual. Dimana cara
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Masa remaja berhubungan dengan perubahan intelektual. Dimana cara berpikir remaja mengarah pada tercapainya integrasi dalam hubungan sosial (Piaget dalam Hurlock, 1980).
1. Disregulasi Neurologik
Berdasarkan beberapa bukti penelitian yang pernah dilakukan dapat diketahui paling tidak ada enam faktor penyebab kenakalan remaja, dan masing-masing faktor tidak berdiri sendiri. Keenam faktor tersebut
BAB I PENDAHULUAN. manusia pun yang dapat hidup sendiri tanpa membutuhkan kehadiran manusia lain
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial. Dalam kehidupan, belum ada seorang manusia pun yang dapat hidup sendiri tanpa membutuhkan kehadiran manusia lain (www.wikipedia.com).
Gambaran konsep pacaran, Nindyastuti Erika Pratiwi, FPsi UI, Pendahuluan
1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Masalah Masa remaja adalah masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang melibatkan berbagai perubahan, baik dalam hal fisik, kognitif, psikologis, spiritual,
BAB I PENDAHULUAN. dijalanan maupun ditempat-tempat umum lainnya (Huraerah, 2007).
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Anak jalanan di Indonesia mengalami peningkatan pesat dalam beberapa tahun belakangan. Seseorang bisa dikatakan anak jalanan apabila berumur dibawah 18 tahun, yang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Meninggalnya seseorang merupakan salah satu perpisahan alami dimana
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Meninggalnya seseorang merupakan salah satu perpisahan alami dimana seseorang akan kehilangan orang yang meninggal dengan penyebab dan peristiwa yang berbeda-beda
BAB I PENDAHULUAN. perilaku, komunikasi dan interaksi sosial (Mardiyono, 2010). Autisme adalah
BAB I PENDAHULUAN Bab ini menggambarkan tentang latar belakang masalah, perumusan penelitian, tujuan umum dan tujuan khusus penelitian serta manfaat yang diperoleh dari penelitian ini. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN. pendidikan. Saat ini pendidikan adalah penting bagi semua orang baik bagi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia pada dasarnya merupakan makhluk hidup yang harus terus berjuang agar dapat mempertahankan hidupnya. Manusia dituntut untuk dapat mengembangkan dirinya
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Dunia pendidikan adalah salah satu bidang yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat sekarang ini, terlebih lagi dengan adanya program pemerintah yang mewajibkan
BAB I PENDAHULUAN. masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa yang terdiri dari dewasa awal,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia akan mengalami perkembangan sepanjang hidupnya, mulai dari masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa yang terdiri dari dewasa awal, dewasa menengah,
1. PENDAHULUAN. Universitas Indonesia
1 1. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Istilah anak berkebutuhan khusus saat ini semakin luas dikenal masyarakat. Secara tradisional masyarakat melabel anak berkebutuhan khusus sebagai mereka yang memiliki
BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Masalah Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan seseorang memasuki masa dewasa. Masa ini merupakan, masa transisi dari masa anak-anak menuju dewasa.
BAB I PENDAHULUAN. diasuh oleh orangtua dan orang-orang yang berada di lingkungannya hingga
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap manusia dilahirkan dalam kondisi yang tidak berdaya, ia akan diasuh oleh orangtua dan orang-orang yang berada di lingkungannya hingga waktu tertentu.
BAB I PENDAHULUAN. artinya ia akan tergantung pada orang tua dan orang-orang yang berada di
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Manusia terlahir dalam keadaan yang lemah, untuk memenuhi kebutuhannya tentu saja manusia membutuhkan orang lain untuk membantunya, artinya ia akan tergantung
BAB V ANALISI DATA DAN HASIL PENELITIAN
BAB V ANALISI DATA DAN HASIL PENELITIAN A. Analisis Data Subjek yang sesuai dengan karakteristik penelitian berjumlah 30 orang. Setelah memperoleh data yang diperlukan, maka dilakukan pengujian hipotesis
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Kecemasan timbul akibat adanya respon terhadap kondisi stres atau konflik. Hal ini biasa terjadi dimana seseorang mengalami perubahan situasi dalam hidupnya dan dituntut
HUBUNGAN ANTARA KEHARMONISAN KELUARGA DENGAN PERILAKU AGRESIF PADA REMAJA
HUBUNGAN ANTARA KEHARMONISAN KELUARGA DENGAN PERILAKU AGRESIF PADA REMAJA Skripsi Untuk memenuhi persyaratan Dalam mencapai derajat Sarjana S-1 Psikologi Disusun oleh : NITALIA CIPUK SULISTIARI F 100 040
HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DENGAN KEMAMPUAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN SKRIPSI
HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DENGAN KEMAMPUAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Mencapai Derajat Sarjana S 1 Psikologi Diajukan oleh : Refti Yusminunita F 100 050
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Panti sosial asuhan anak menurut Departemen Sosial Republik Indonesia (2004:4) adalah suatu lembaga usaha kesejahteraan sosial yang mempunyai tanggung jawab
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP KONFLIK INTERPERSONAL DAN STRES KERJA DENGAN MOTIVASI BERPRESTASI SKRIPSI
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP KONFLIK INTERPERSONAL DAN STRES KERJA DENGAN MOTIVASI BERPRESTASI SKRIPSI Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai gelar sarjana S-1 Psikologi Disusun oleh
