BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA
|
|
|
- Yenny Setiawan
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA 4.1 Pengumpulan Dan Pengolahan Data Beberapa Jenis Produk Lampu Belajar Produk Lampu Belajar Yang Digunakan Gambar 4.1 Produk Lampu Belajar Yang Digunakan Lampu belajar dapat memberikan penerangan saat belajar, menggambar, dan membaca buku (misal: novel, komik). Lampu belajar hanya menggunakan tenaga listrik. Lampu belajar hanya dapat diletakkan diatas meja. Lampu belajar yang digunakan adalah lampu berwarna putih sebesar watt. Lampu belajar didesain
2 93 dengan bentuk simpel (sederhana). Harga lampu belajar berkisar Rp 100, , Produk Lampu Belajar Yang Ada Di Pasaran Gambar 4.2 Produk Lampu Belajar Yang Ada Di Pasaran (a) Lampu belajar dapat memberikan penerangan saat belajar, menggambar, dan membaca buku (misal: novel, komik). Lampu belajar hanya menggunakan tenaga listrik. Lampu belajar hanya dapat diletakkan diatas meja. Pangkal atas gagang lampu belajar dapat diputar 180Å sehingga cahaya lampu dapat diarahkan. Gagang pada lampu belajar fleksibel sehingga tinggi lampu belajar dapat diatur. Lampu tak berkedip saat dinyalakan sehingga melindungi mata dari kelelahan. Lampu belajar yang digunakan adalah lampu HDI dengan colour temperatur 4500K. Lampu belajar yang digunakan adalah lampu berwarna putih sebesar watt. Lampu belajar
3 94 didesain dengan bentuk simpel (sederhana). Harga lampu belajar berkisar Rp 200, ,000. Gambar 4.3 Produk Lampu Belajar Yang Ada Di Pasaran (b) Lampu belajar dapat memberikan penerangan saat belajar, menggambar, dan membaca buku (misal: novel, komik). Lampu belajar hanya menggunakan tenaga listrik. Pada lampu belajar terdapat lampu tidur. Lampu belajar hanya dapat diletakkan diatas meja. Pangkal atas gagang lampu belajar dapat diputar 180Å sehingga cahaya lampu dapat diarahkan. Gagang pada lampu belajar fleksibel sehingga tinggi lampu belajar dapat diatur. Lampu tak berkedip saat dinyalakan sehingga melindungi mata dari kelelahan. Lampu belajar yang digunakan adalah
4 95 lampu HDI dengan colour temperatur 4500K. Lampu belajar yang digunakan adalah lampu berwarna putih sebesar watt. Lampu belajar didesain dengan berbagai bentuk yang lucu dilengkapi dengan warna-warna yang menarik. Harga lampu belajar Rp 200, ,000. Gambar 4.4 Produk Lampu Belajar Yang Ada Di Pasaran (c) Lampu belajar dapat memberikan penerangan saat belajar, menggambar, dan membaca buku (misal: novel, komik). Lampu belajar hanya menggunakan tenaga listrik. Lampu belajar dapat dijepit. Tiang lampu belajar fleksibel sehingga cahaya lampu dapat diarahkan. Lampu belajar didesain dengan bentuk simpel (sederhana). Lampu belajar yang digunakan adalah lampu berwarna putih sebesar watt. Harga lampu belajar Rp 200, ,000.
5 Perencanaan Produk Perencanaan produk merupakan proses awal dari pengembangan produk (Ulrich dan Eppinger, 2001: 15). Output dari proses ini adalah pernyataan misi proyek, yang merupakan input yang dibutuhkan untuk memulai tahap pengembangan konsep dan merupakan suatu petunjuk untuk tim pengembangan. Dalam rangka memberikan petunjuk yang jelas untuk organisasi pengembangan produk, biasanya tim memformulasikan suatu definisi yang lebih detail dari pasar target dan asumsi-asumsi yang mendasari operasional tim pengembangan. Keputusan-keputusan mengenai hal ini akan terdapat pada suatu pertanyaan misi (Ulrich dan Eppinger, 2001: 48).
6 97 Tabel 4.1 Tabel Pernyataan Misi Deskripsi Produk Sasaran Bisnis Kunci Pasar Utama Pasar Sekunder Pernyataan Misi : Lampu Belajar Penerangan disaat belajar Penjualan produk mencapai 40 % proporsi pasar Produk diluncurkan di awal bulan Juli tahun 2008 Margin error sebesar 7 % Mahasiswa Pelajar dan pengguna lampu belajar lainnya Distributor dan agen penjualan eceran Asumsi-asumsi dan Batasanbatasan Pihak yang terkait Dibantu dengan sumber tenaga manusia Teknologi baterai yang dapat diisi ulang Mudah dibawa kemana-mana Pembeli dan pengguna Pengecer Tenaga penjual Distributor Bagian produksi Operasional Marketing Operasional Manufaktur Departemen Hukum dan legal Aktivitas manusia yang semakin meningkat dan beragam seringkali membutuhkan intensitas cahaya bersifat konstan dan mudah diatur sesuai kebutuhan, misalnya kegiatan di ruang operasi, aktivitas di panggung pertunjukan, di ruang pamer, window display, dan lain-lain. Misalkan pencahayaan untuk ruang kerja / ruang belajar:
7 98 - Pencahayaan umum yang menerangi seluruh ruangan tetap dibutuhkan. - Pencahayaan khusus di meja kerja dibutuhkan agar bekerja bisa lebih konsentrasi. Sasaran bisnis kunci produk lampu belajar ini adalah produk diharapkan dapat memasuki 40% pangsa pasar. Produk akan diluncurkan pada awal bulan Juli tahun 2008, dikarenakan pada bulan tersebut adalah bulan dimana dimulainya tahun ajaran baru. Kesalahan menginterprestasikan kebutuhan pelanggan akan produk lampu belajar ini sebesar 7%. Pasar utama produk lampu belajar ini ditujukan kepada mahasiswa. Dimana mahasiswa membutuhkan lampu belajar pada saat belajar di meja belajar guna untuk menambah konsentrasi. Misalkan, mahasiswa yang tengah sibuk mengerjakan laporan praktek kerja lapangan (PKL) dan menyelesaikan skripsi. Sedangkan pasar sekunder dari lampu belajar adalah pelajar yang menggunakan lampu belajar pada saat belajar di meja belajar guna untuk menambah konsentrasi. Dan juga, pelanggan yang membutuhkan lampu belajar untuk keperluan lain, seperti merancang peralatan elektronika, dan lain-lain. Pasar sekunder dari produk lampu belajar ini juga termasuk distributor dan agen penjualan eceran. Hal ini dikarenakan tanpa mereka, lampu belajar tidak akan sampai kepada pelanggan. Asumsi-asumsi dan batasan-batasan dari produk lampu belajar ini, yaitu lampu belajar yang mudah untuk dipindahtempatkan, lampu belajar yang menggunakan teknologi listrik maupun baterai yang dapat diisi ulang, serta dalam mengoperasikan lampu belajar tersebut dibutuhkan tenaga manusia.
8 99 Pihak-pihak yang terkait, seperti pembeli dan pengguna, pengecer, tenaga penjual, distributor, bagian produksi, operasional marketing, operasional manufaktur, dan departemen hukum dan legal. Pembeli dan pengguna, yang dimana mereka merupakan peran yang terpenting sebagai stakeholder produk ini, yang dimana pembeli dan pengguna merupakan sasaran utama dan mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan produk yang kami rancang, karena sebagian besar produk ditujukan bagi konsumen. Pengecer dan tenaga penjual yang menjual kembali produk yang diluncurkan ke berbagai tempat. Distributor yang merupakan sarana transpotasi untuk memasarkan produk lampu belajar. Bagian produksi yang memproduksi lampu belajar, tanpa mereka maka produk ini tidak akan ada. Operasional marketing yang memasarkan produk lampu belajar ini ke pangsa pasar yang dituju. Operasional manufaktur, dimana produk lampu belajar ini juga tergantung kepada bagaimana strategi dan perencanaan untuk penjualan produk, bila tidak terdapat strategi yang bagus maka produk juga tidak akan berhasil. Dan departemen hukum dan legal yang merupakan salah satu pihak yang terkait Pengumpulan Data Identifikasi Kebutuhan Pelanggan Identifikasi kebutuhan pelanggan, yaitu memahami kebutuhan pelanggan dan mengkomunikasikannya secara efektif kepada tim pengembang (Ulrich dan Eppinger, 2001: 18). Output dari langkah ini adalah sekumpulan pernyataan kebutuhan pelanggan yang tersusun rapi, diatur dalam daftar hierarki, dengan bobot kepentingan untuk tiap kebutuhan.
9 100 Pengumpulan data yang dilakukan pada tahap identifikasi kebutuhan pelanggan dilakukan dengan teknik wawancara yaitu dengan mendatangi langsung para responden yang merupakan mahasiswa dan menggunakan lampu belajar. Dengan asumsi bahwa mereka lebih tahu kelebihan dan kekurangan dari lampu belajar yang telah mereka gunakan selama ini dan mereka terkadang telah menemukan solusi untuk memenuhi kebutuhan mereka. Pengumpulan data dengan wawancara bertujuan untuk mendapatkan ekspresi yang jujur tentang kebutuhan, interaksi dengan pelanggan bersifat verbal, pewawancara menanyakan beberapa pertanyaan dan pelanggan memberikan respon. Suatu tuntutan wawancara akan berguna untuk menstrukturkan dialog tersebut. Wawancara dilakukan secara acak terhadap 10 responden. Wawancara hanya dilakukan terhadap 10 responden saja dikarenakan wawancara ini hanya merupakan pre-test dari kuisioner selanjutnya. Dimana tidak ada patokan yang pasti tentang jumlah responden pada pre-test yang diadakan untuk menyempurnakan kuisioner tersebut (Singarimbun dan Effendi, 2006: 184).
10 101 Tabel 4.2 Tabel Pernyataan Pelanggan (pre-test) Responden: Pewawancara: Like No: Alamat: Tanggal: Telepon: Sekarang menggunakan: Apakah bersedia di follow-up: ya/ tidak Jenis penggunaan: Responden yang terhormat, Saya mahasiswa Universitas Bina Nusantara Teknik Industri yang sedang menyusun skripsi. Mohon bantuannya untuk mengisi pertanyaan di bawah ini. Atas bantuan Anda saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Beri tanda (X) untuk menjawab pilihan berganda! 1. Apakah Anda sedang atau pernah menggunakan lampu belajar? Ya / Tidak 2. Dalam hal apa sajakah Anda menggunakan lampu belajar Bagaimanakah jenis penggunaan dari lampu belajar Anda? A. Hanya diletakan di atas meja B. Dapat di jepit C. Lain-lain Bagaimana penggunaan tombol on/off pada lampu belajar Anda? A. Tombol Touch / Hanya disentuh B. Tombol on/off biasa C. Lain-lain Sumber tenaga yang digunakan pada lampu belajar Anda? A. Listrik B. Baterai biasa C. Baterai charger 6. Apakah cahaya dari lampu belajar Anda dapat diatur? Ya / Tidak 7. Apakah cahaya lampu dari lampu belajar dapat diarahkan? Ya / Tidak 8. Apakah lampu belajar Anda mempunyai fungsi / kegunaan lainnya? Ya / Tidak (Jika ya, sebutkan :...) 9. Jawab pertanyaan pada kolom berikut berdasarkan pengalaman Anda selama menggunakan lampu belajar. Pertanyaan Pernyataan Pelanggan Interprestasi Kebutuhan Hal-hal yang disukai terhadap lampu belajar sekarang Hal-hal yang tidak disukai terhadap lampu belajar sekarang Usulan perbaikan maupun tambahan fungsi pada lampu belajar Terima kasih atas bantuannya dalam pengisian kuisioner ini.
11 102 Tabel 4.3 Rangkuman Hasil Wawancara Pernyataan Pelanggan (pre-test) 1. Lampu belajar biasanya digunakan pada waktu membaca buku, mengisi TTS, menggambar, tidur, belajar, mengerjakan tugas, menulis. 2. Lampu belajar yang digunakan adalah lampu belajar yang hanya diletakkan di atas meja. Tombol on/ off yang digunakan adalah tombol on / off biasa atau geser. Sumber tenaga yang digunakan adalah listrik. 3. Cahaya dari lampu belajar dapat diatur 3 responden menjawab ya, dan sisanya menjawab tidak. Cahaya dari lampu belajar dapat diarahkan 9 responden menjawab menjawab ya, dan sisanya menjawab tidak. Lampu belajar mempunyai fungsi/ kegunaan lain dijawab oleh 2 reponden, yaitu sebagai radio atau sebagai lampu tidur. 4. Hal-hal yang disukai terhadap lampu belajar sekarang: Lebih konsentrasi, lebih fokus, lebih terang seperti: dapat memberi detail pada gambar, bentuk yang unik, tidak berbahaya untuk anak-anak, arah dari lampu dapat disesuaikan, dapat diatur ketinggiannya. 5. Hal-hal yang tidak disukai terhadap lampu belajar sekarang: Tidak nyaman dimata untuk pemakaian yang lama, bentuk yang susah diatur sesuai kebutuhan, terkadang terlalu terang, silau, mata cepat lelah, bentuk memakan tempat, terang dari lampu tidak dapat diatur, mahal. 6. Usulan perbaikan maupun tambahan fungsi pada lampu belajar: Lampu dapat diatur intensitasnya (terang), lampu dapat menerangi lebih luas, lampu hemat energi, lampu multifungsi, desain simpel, modern, unik dan menarik, lampu dapat digunakan walau mati lampu, ukuran tidak memakan ada timer, ada penjepit, ada penyimpanan alat tulis, kualitas cahaya, fleksibel Menginterpretasikan Data Mentah Menjadi Kebutuhan Pelanggan Kebutuhan pelanggan dari hasil wawancara (pre-test) diekspresikan sebagai pernyataan tertulis dan merupakan hasil interpretasi kebutuhan yang berupa data mentah yang diperoleh dari pelanggan. Proses penterjemahan hasil wawancara (pretest) akan menimbulkan berbagai kebutuhan yang berbeda.
12 103 No. Tabel 4.4 Tabel Interpretasi Kebutuhan Pelanggan Pernyataan Kebutuhan Performance : kesesuaian fungsi atau karakteristik A dari lampu belajar Lampu belajar dapat memberikan penerangan saat 1 belajar Lampu belajar dapat memberikan penerangan saat 2 menggambar Lampu belajar dapat memberikan penerangan saat 3 membaca buku (misal: novel, komik) Lampu belajar dapat memberikan konsentrasi dalam 4 belajar 5 Penggunaan lampu belajar dibutuhkan dalam belajar Feature : ciri khas produk yang membedakan dari B produk lain yang merupakan karakteristik pelengkap 6 Lampu belajar dapat digunakan pada saat listrik padam 7 Lampu belajar dapat juga digunakan sebagai lampu tidur Lampu belajar dapat juga digunakan sebagai lampu 8 senter Lampu belajar dapat juga digunakan sebagai tempat 9 penyimpanan alat tulis 10 Adanya timer pada lampu belajar C Reliability : kehandalan lampu belajar 11 Lampu belajar mudah dalam penggunaannya 12 Lampu belajar dapat diletakkan di atas meja 13 Lampu belajar dapat dijepit 14 Cahaya pada lampu belajar dapat diarahkan 15 Cahaya pada lampu belajar dapat diatur 16 Cahaya pada lampu belajar dapat difokuskan Conformance : kesesuasian produk dengan syarat D seperti ukuran dan karakteristik dari lampu belajar Lampu belajar mudah untuk dipindah-tempatkan (beban 17 ringan) 18 Ketinggian lampu belajar dapat diatur 19 Tombol pada lampu belajar mudah digunakan (ditekan) 20 Ukuran lampu belajar yang tidak memakan tempat 21 Lampu belajar aman terutama bagi anak-anak 22 Harga lampu belajar terjangkau
13 104 E Durability : lamanya umur lampu belajar 23 Bahan-bahan yang rusak mudah untuk diganti (misal: lampu) 24 Mudah dalam hal perbaikan F Aesthetic : keindahan / daya tarik lampu belajar 25 Warna lampu belajar yang beraneka ragam 26 Desain lampu belajar yang menarik Menetapkan Kepentingan Relatif Setiap Kebutuhan Proses indentifikasi kebutuhan pelanggan adalah menetapkan tingkat kepentingan relatif kebutuhan (Ulrich dan Eppinger, 2001: 56). Menentukan bobot kepentingan setiap kebutuhan dengan berdasarkan nilai kepentingan yang diperoleh dari survei lanjutan terhadap pelanggan, yaitu survei pelanggan. Survei pelanggan dilakukan dengan menyebarkan kuisioner yang berisi ke-26 variabel di atas, dan memberikan kolom bobot kepentingan dengan skala 1 sampai dengan 5 untuk diisi oleh setiap responden dengan cara memberikan check list pada kolom yang disediakan. Survei pelanggan ini dilakukan dalam tiga tahap, yaitu: 1. Penentuan jumlah sampel. Dengan asumsi-asumsi di bawah ini, akan dilakukan penentuan jumlah sampel dengan menggunakan rumus untuk mencari nilai n atau jumlah responden yang besarnya juga sama dengan kuisioner yang akan diedarkan. - Proporsi pasar (p) = 40 %, jumlah ini dianggap cukup untuk bisa memasuki 40% dari pasar pengguna lampu belajar. - Tingkat kepercayaan = 95% karena tingkat kepercayaan pada level ini dianggap tidak terlalu besar ataupun tidak terlalu kecil.
14 105 - Dari tingkat kepercayaan 95% didapatkan nilai Z = 1,96 dari tabel Z. - Margin of error (e) = 7 %, nilai error yang diijinkan hanya 7% sehingga data yang didapatkan nantinya tidak menyimpang terlalu jauh dari nilai tengah rataratanya. Dengan asumsi dan nilai-nilai di atas, maka dapat ditentukan jumlah sampel untuk survei pelanggan dengan rumus: n 2 2 p 1 p e n 2 1,96 0,4 1 0,07 n 188, ,6 Didapatkan bahwa jumlah responden untuk menentukan bobot kepentingan relatif setiap kebutuhan adalah dengan 190 responden. 2. Melakukan survei Survei dilakukan dengan menyebar 190 kuisioner kepada 190 responden yang seluruhnya merupakan pengguna lampu belajar dengan hal yang ditanyakan adalah ke-26 variabel kebutuhan tersebut. Contoh kuisioner untuk survei pelanggan ini adalah:
15 106 Tabel 4.5 Tabel Kuisioner Survei Bobot Kepentingan Kebutuhan Pelanggan Nama Responden: Pewawancara: Like No: Alamat: Tanggal: Telepon: Sekarang menggunakan: Bersedia di follow-up: ya / tidak Jenis penggunaan: Petunjuk: 1. Saya mahasiswa dari Universitas Bina Nusantara memohon bantuan dan kesediaan Anda untuk menjawab pertanyaan yang ada, apabila Anda sebagai pengguna lampu belajar. 2. Berikan tanda ( ) pada kolom yang Anda pilih, sesuai dengan pengalaman (kesan) dari harapan Anda atas pemakaian lampu belajar. Keterangan: SS = Sangat Setuju SP = Sangat Penting S = Setuju P = Penting CS = Cukup Setuju CP = Cukup Penting KS = Kurang Setuju KP = Kurang Penting TS = Tidak Setuju TP = Tidak Penting No. Pernyataan Pengalaman Harapan SS S CS KS TS SP P CP KP TP A B Performance : kesesuaian fungsi atau karakteristik dari lampu belajar Lampu belajar dapat memberikan penerangan saat belajar Lampu belajar dapat memberikan penerangan saat menggambar Lampu belajar dapat memberikan penerangan saat membaca buku (misal: novel, komik) Lampu belajar dapat memberikan/ menambah konsentrasi dalam belajar Penggunaan lampu belajar dibutuhkan dalam belajar Feature : ciri khas produk yang membedakan dari produk lain yang merupakan karakteristik pelengkap
16 107 No. Pernyataan Pengalaman Harapan SS S CS KS TS SP P CP KP TP C Lampu belajar dapat digunakan pada saat listrik padam Lampu belajar dapat juga digunakan sebagai lampu tidur Lampu belajar dapat juga digunakan sebagai lampu senter Lampu belajar dapat juga digunakan sebagai tempat penyimpanan alat tulis Adanya timer pada lampu belajar Reliability : kehandalan lampu belajar Lampu belajar mudah dalam penggunaannya Lampu belajar dapat diletakkan di atas meja 13 Lampu belajar dapat dijepit D Cahaya pada lampu belajar dapat diarahkan Cahaya pada lampu belajar dapat diatur Cahaya pada lampu belajar dapat difokuskan Conformance : kesesuasian produk dengan syarat seperti ukuran dan karakteristik dari lampu belajar Lampu belajar mudah untuk dipindah-tempatkan (beban ringan) Ketinggian lampu belajar dapat diatur Tombol pada lampu belajar mudah digunakan (ditekan)
17 108 No. Pernyataan Pengalaman Harapan SS S CS KS TS SP P CP KP TP E 23 Ukuran lampu belajar yang tidak memakan tempat Lampu belajar aman terutama bagi anak-anak Harga lampu belajar terjangkau Durability : lamanya umur lampu belajar Bahan-bahan yang rusak mudah untuk diganti (misal: lampu) 24 Mudah dalam hal perbaikan F Aesthetic : keindahan / daya tarik lampu belajar Warna lampu belajar yang 25 beraneka ragam Desain lampu belajar yang 26 menarik Saran dan tanggapan Anda 1. Menurut pendapat Anda, dari 26 pertanyaan pada kolom diatas poin yang terpenting adalah nomor : (tuliskan sesuai urutan menurut Anda) 2. Komentar dan saran Anda untuk lampu belajar yang ada pada saat ini. Terima kasih atas kesediaan Anda mengisi daftar pertanyaan ini.
18 109 Tabel 4.6 Rangkuman Hasil Kuisioner Survei Bobot Kepentingan Kebutuhan Pelanggan Pada Kotak Saran Dan Tanggapan 1. Menurut pendapat Anda, dari 26 pertanyaan pada kolom diatas poin yang terpenting adalah nomor : (tuliskan sesuai urutan menurut Anda) Komentar dan saran Anda untuk lampu belajar yang ada pada saat ini. Lampu dapat diatur intensitasnya (terang), lampu dapat menerangi lebih luas, lampu hemat energi, lampu multifungsi, desain simpel, modern, unik dan menarik, lampu dapat digunakan walau mati lampu, ukuran tidak memakan tempat, ada timer, ada penjepit, ada penyimpanan alat tulis, pengatur ketinggian, awet, mudah perawatan, mudah penggunaan, kualitas cahaya, ergonomis, lampu subsitusi, fleksibel, dapat ditempel di dinding, plastik tidak meleleh, konslet (arus putus) dengan pemberian sekering (fuse). 3. Pengolahan dan pengujian data Setelah dilakukan survei maka data dapat diinput ke dalam tabel untuk dihitung jumlah rata-rata bobot yang diberikan untuk setiap variabel. Hasil perhitungan ratarata bobot untuk ke-26 variabel disimpulkan dalam tabel di bawah ini:
19 110 Tabel 4.7 Tabel Kebutuhan Pelanggan Disertai Bobot Derajat Kepentingan No. Pernyataan Kebutuhan Bobot Kepentingan 1 Lampu belajar dapat memberikan penerangan saat belajar 5 2 Lampu belajar dapat memberikan penerangan saat menggambar 5 3 Lampu belajar dapat memberikan penerangan saat membaca buku (misal: novel, komik) 4 4 Lampu belajar dapat memberikan konsentrasi dalam belajar 4 5 Penggunaan lampu belajar dibutuhkan dalam belajar 4 6 Lampu belajar dapat digunakan pada saat listrik padam 4 7 Lampu belajar dapat juga digunakan sebagai lampu tidur 3 8 Lampu belajar dapat juga digunakan sebagai lampu senter 3 9 Lampu belajar dapat juga digunakan sebagai tempat penyimpanan alat tulis 2 10 Adanya timer pada lampu belajar 3 11 Lampu belajar mudah dalam penggunaannya 5 12 Lampu belajar dapat diletakkan di atas meja 5 13 Lampu belajar dapat dijepit 3 14 Cahaya pada lampu belajar dapat diarahkan 5 15 Cahaya pada lampu belajar dapat diatur 5 16 Cahaya pada lampu belajar dapat difokuskan 4 17 Lampu belajar mudah untuk dipindah-tempatkan (beban ringan) 5 18 Ketinggian lampu belajar dapat diatur 5 19 Tombol pada lampu belajar mudah digunakan (ditekan) 4 20 Ukuran lampu belajar yang tidak memakan tempat 5 21 Lampu belajar aman terutama bagi anak-anak 5 22 Harga lampu belajar terjangkau 5 23 Bahan-bahan yang rusak mudah untuk diganti (misal: lampu) 5 24 Mudah dalam hal perbaikan 5 25 Warna lampu belajar yang beraneka ragam 3 26 Desain lampu belajar yang menarik 4
20 111 Hasil di atas perlu diuji terlebih dahulu validitas datanya dengan menggunakan uji signifikansi antara satu variabel dengan total bobot keseluruhan variabel, yaitu analisis butir (Arikunto, 1996: 165). Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang dimaksud. Uji yang dilakukan yaitu uji korelasi product moment dengan rumus sebagai berikut: r XY N XY X Y N X X N Y Y Pengujian dilakukan per variabel dengan memasukkan variabel-variabel tersebut ke dalam SPSS. Hasil perhitungan koefisien korelasi (r) untuk tiap variabel: 2
21 112 Tabel 4.8 Hasil Analisis Butir Pengalaman No. Koefisien Korelasi Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid
22 113 Tabel 4.9 Hasil Analisis Butir Harapan No. Koefisien Korelasi Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Karena nilai r untuk tiap variabel berada pada interval 0.3< r < 1, maka data yang didapatkan dianggap valid untuk semua variabel. Dan dapat dipakai untuk diteruskan ke tahap selanjutnya yaitu spesifikasi produk.
23 114 Hasil di atas selanjutnya perlu diuji reliabilitas datanya. Reliabilitas menunjuk pada satu pengertian bahwa sesuatu instrumen dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik (Arikunto, 1996: 168). Instrumen yang baik tidak akan bersifat tendensius mengarahkan responden untuk memilih jawaban-jawaban tertentu. Instrumen yang sudah dapat dipercaya, yang reliabel akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. Secara garis besar ada dua jenis reliabilitas, yaitu reliabilitas eksternal dan reliabilitas internal (Arikunto, 1996: 169). Seperti pada validitas, jika ukuran atau kriteriumnya berada di luar instrumen maka dari hasil pengujian ini diperoleh reliabilitas eksternal. Sebaliknya jika perhitungan dilakukan berdasarkan data dari instrumen saja, akan menghasilkan reliabilitas internal. a. Reliabilitas eksternal Pada reliabilitas eksternal, peneliti menggunakan teknik paralel, yaitu peneliti mau tak mau harus menyusun dua stel instrumen (Arikunto, 1996: 169). Kedua instrumen tersebut sama-sama diujicobakan kepada sekelompok responden saja (responden mengerjakan dua kali) kemudian hasil dari dua kali tes uji coba tersebut dikorelasikan, dengan teknik korelasi product moment. Tinggi rendahnya indeks korelasi inilah yang menunjukkan tinggi rendahnya reliabilitas instrumen. Oleh karena dalam menggunakan teknik ini peneliti mempunyai dua instrumen dan melakukan dua kali tes, maka disebut teknik double test double trial.
24 115 r XY N XY X Y N X X N Y Y r i 2( rb ) 1 r b r i > r XY, maka data tersebut reliabel. b. Reliabilitas internal Kalau reliabilitas eksternal diperoleh dengan cara mengolah hasil pengetesan yang berbeda, baik instrumen yang berbeda maupun yang sama, reliabilitas internal diperoleh dengan cara menganalisis data dari satu kali pengetesan (Arikunto, 1996: 170). Dalam mengukur reliabilitas dengan menggunakan rumus Spearman Brown, peneliti harus melalui langkah yaitu membuat tabel analisis butir soal atau butir pertanyaan. Dari analisis ini skor-skor dikelompokkan menjadi dua berdasarkan belahan bagian soal. Ada dua cara membelah yaitu belah ganjil-genap dan belah awal-akhir. Oleh karena itu teknik Spearman Brown disebut juga dengan teknik belah dua. rxy pengalaman N XY X Y N X X N Y Y r i 2( rb ) 1 r b r i > r XY, maka data tersebut reliabel.
25 116 rxy harapan N XY X Y N X X N Y Y r i 2( rb ) 1 r b r i > r XY, maka data tersebut reliabel. 4.2 Analisis Data Spesifikasi Produk Spesifikasi produk yaitu menjelaskan tentang hal-hal yang harus dilakukan oleh sebuah produk (Ulrich dan Eppinger, 2001: 77). Spesifikasi terdiri dari metrik dan nilai metrik. Tahapan spesifikasi produk secara keseluruhan menggunakan metode QFD (Quality Function Deployment) yang dibagi menjadi 3 tahap, yaitu (Ulrich dan Eppinger, 2001: 80): 1. Menyiapkan daftar metrik 2. Mengumpulkan informasi tentang pesaing 3. Menetapkan spesifikasi target Menetapkan Spesifikasi Target a. Menyiapkan daftar metrik Metrik yang baik adalah yang merefleksikan secara langsung kebutuhan pelanggan menjadi sekumpulan nilai spesifikasi yang tepat dan terukur dapat
26 117 dilakukan, dan upaya memenuhi spesifikasi dengan sendirinya akan menghasilkan kepuasan terhadap kebutuhan pelanggan yang terkait (Ulrich dan Eppinger, 2001: 79). Cara yang baik untuk membuat daftar metrik adalah mengamati setiap kebutuhan satu per satu, lalu memperkirakan karakteristik yang tepat dan terukur dari sebuah produk yang memuaskan kebutuhan pelanggan. Pada posisi ideal, hanya satu metrik untuk setiap kebutuhan. Tapi dalam praktiknya, hal ini biasanya tidak mungkin (Ulrich dan Eppinger, 2001: 79). Derajat kepentingan metrik diturunkan dari derajat kepentingan kebutuhan yang direfleksikannya. Untuk kasus dimana metrik dipetakan secara langsung dari satu kebutuhan, derajat kepentingan kebutuhan otomatis menjadi derajat kepentingan metrik. Untuk kasus dimana metrik merefleksikan lebih dari satu kebutuhan, derajat kepentingan metrik ditentukan dengan mempertimbangkan derajat kepentingan kebutuhan yang berkaitan dan sifat dasar hubungannya (Ulrich dan Eppinger, 2001: 83).
27 118 Tabel 4.10 Daftar Metrik Kebutuhan No Kebutuhan Metrik Kepentingan Satuan 1 22 Harga per unit 5 Rp 2 12,17 Massa total 5 kg 3 20 Ukuran unit keseluruhan 5 mm 4 18,20 Ukuran gagang lampu 5 mm 5 13 Ukuran buka alas lampu belajar 3 mm 6 23,24 Waktu pemasangan lampu 5 s 7 8,11 Waktu pemasangan gagang lampu 5 s 8 19 Tinggi tombol on/off lampu belajar dengan meja 4 mm 9 14 Sudut putaran lampu 5 derajat Sudut tekuk gagang lampu 5 derajat Kualitas cahaya (inverter lamp) 5 CRI Kuat cahaya (indikator sensor kuat cahaya) 5 Lux 13 1,2,3,4,5 Energi pada lampu 5 watt 14 1,2,3,4,5 Daya tahan lampu 5 jam 15 6 Energi pada recharger baterai 4 volt 16 6 Daya tahan recharger baterai 4 jam 17 7,8,9,10 Lampu belajar yang fungsional 3 List 18 15,16 Lampu belajar yang fleksibel 4 List 19 25,26 Desain yang menarik 4 Subj. Pada daftar metrik kebutuhan terlihat bahwa kebutuhan mana saja yang berhubungan dengan kebutuhan yang ada, seperti: Metrik harga per unit adalah metrik harga per unit lampu belajar yang dipasarkan, sehingga satuan yang digunakan yaitu rupiah. Metrik ini berhubungan dengan kebutuhan nomor 22, dikarenakan semakin rendah harga per unit maka harga
28 119 lampu belajar yang dijual semakin terjangkau. Derajat kepentingan dari metrik ini sama dengan derajat kepentingan kebutuhannya, dikarenakan metrik ini hanya mereflesikan dari satu kebutuhan saja. Metrik massa total lampu belajar adalah metrik yang menyatakan ukuran massa dari keseluruhan lampu belajar, sehingga satuan yang digunakan yaitu kilogram. Metrik ini berhubungan dengan kebutuhan lampu belajar mudah untuk dipindahtempatkan (beban ringan) dan lampu belajar dapat diletakkan di atas meja, dikarenakan semakin ringan massa total dari lampu belajar tersebut maka semakin ringan pula bebannya. Derajat kepentingan dari metrik ini sama dengan derajat kepentingan kebutuhan belajar mudah untuk dipindahtempatkan (beban ringan), dikarenakan kebutuhan tersebut besar hubungannya dengan metrik tersebut. Metrik ukuran unit keseluruhan merupakan ukuran (besar) keseluruhan dari lampu belajar, sehingga satuan yang digunakan yaitu milimeter. Metrik ini berhubungan dengan kebutuhan ukuran lampu belajar yang tidak memakan tempat, dikarenakan semakin besar ukuran unit keseluruhan lampu belajar tersebut maka ukurannya semakin memakan tempat. Derajat kepentingan dari metrik ini sama dengan derajat kepentingan kebutuhannya, dikarenakan metrik ini hanya mereflesikan dari satu kebutuhan saja. Metrik ukuran gagang lampu merupakan metrik yang menyatakan ukuran keseluruhan dari gagang lampu belajar, sehingga satuan yang digunakan yaitu
29 120 milimeter. Metrik ini berhubungan dengan kebutuhan ketinggian lampu dapat diatur dan ukuran lampu belajar tidak memakan tempat, dikarenakan ketinggian lampu berdasarkan pada ukuran tinggi maksimum-minimum dari gagang lampu tersebut, dan semakin besar diameter dari gagang lampu tersebut maka semakin besar pula ukurannya. Derajat kepentingan dari metrik ini sama dengan derajat kepentingan kebutuhan kedua-duanya, dikarenakan kedua kebutuhan tersebut besar hubungannya dengan metrik tersebut. Metrik ukuran buka alas lampu belajar adalah ukuran buka maksimum dimana alas lampu belajar dapat menjepit meja, sehingga satuan yang digunakan yaitu milimeter. Metrik ini berhubungan dengan kebutuhan lampu belajar dapat dijepit pada meja belajar. Derajat kepentingan dari metrik ini sama dengan derajat kepentingan kebutuhannya, dikarenakan metrik ini hanya mereflesikan dari satu kebutuhan saja. Metrik waktu pemasangan lampu adalah metrik yang menyatakan waktu yang diperlukan untuk memasang lampu, sehingga satuan yang digunakan yaitu sekon. Metrik ini berhubungan dengan kebutuhan bahan-bahan yang rusak mudah diganti (misal: lampu), dan kebutuhan mudah dalam perbaikan, dikarenakan semakin sedikit waktu yang diperlukan dalam pemasangan lampu subsitusi makan semakin mudah lampu belajar tersebut dalam hal perbaikan. Derajat kepentingan dari metrik ini sama dengan derajat kepentingan kebutuhan mudah
30 121 dalam perbaikan, dikarenakan kebutuhan tersebut besar hubungannya dengan metrik tersebut. Metrik waktu pemasangan gagang lampu adalah metrik yang menyatakan waktu pemasangan kembali gagang lampu pada tempatnya, sehingga satuan yang digunakan yaitu sekon. Metrik ini berhubungan dengan kebutuhan nomor 8 dan 11, dikarenakan gagang pada lampu belajar yang dapat dilepas dari tempatnya untuk digunakan sebagai senter dan semakin cepat waktu pemasangan gagang lampu menunjukkan lampu belajar mudah dalam pengunaannya. Derajat kepentingan dari metrik ini sama dengan derajat kepentingan kebutuhan keduaduanya, dikarenakan kedua kebutuhan tersebut besar hubungannya dengan metrik tersebut. Metrik tinggi tombol on/off lampu belajar dengan meja adalah metrik yang menyatakan ukuran tinggi dari tombol on/off lampu belajar dengan meja, sehingga satuan yang digunakan yaitu milimeter. Metrik ini berhubungan dengan kebutuhan tombol pada lampu belajar mudah digunakan (ditekan). Derajat kepentingan dari metrik ini sama dengan derajat kepentingan kebutuhannya, dikarenakan metrik ini hanya mereflesikan dari satu kebutuhan saja. Metrik sudut putaran lampu adalah metrik yang menyatakan ukuran derajat putar cahaya lampu dapat diarahkan, sehingga satuan yang digunakan yaitu derajat. Metrik ini berhubungan dengan kebutuhan cahaya lampu belajar dapat diarahkan. Derajat kepentingan dari metrik ini sama dengan derajat kepentingan
31 122 kebutuhannya, dikarenakan metrik ini hanya mereflesikan dari satu kebutuhan saja. Metrik sudut tekuk gagang lampu adalah metrik yang menyatakan ukuran derajat lengkung pada gagang lampu belajar, sehingga satuan yang digunakan yaitu derajat. Metrik ini berhubungan dengan kebutuhan ketinggian lampu dapat diatur. Derajat kepentingan dari metrik ini sama dengan derajat kepentingan kebutuhannya, dikarenakan metrik ini hanya mereflesikan dari satu kebutuhan saja. Metrik kualitas cahaya dan kuat cahaya adalah metrik yang menyatakan ukuran cahaya yang aman bagi pemakai walaupun dalam pemakaian lama, sehingga satuan yang digunakan yaitu CRI pada kualitas cahaya dan Lux pada kuat cahaya. Metrik ini berhubungan dengan kebutuhan lampu belajar aman terutama bagi anak-anak. Derajat kepentingan dari metrik ini sama dengan derajat kepentingan kebutuhannya, dikarenakan metrik ini hanya mereflesikan dari satu kebutuhan saja. Metrik energi dan daya tahan lampu merupakan metrik yang menyatakan ukuran ketahanan lampu, sehingga satuan yang digunakan yaitu watt pada energi lampu dan jampada daya tahan lampu. Metrik ini berhubungan dengan kebutuhan lampu belajar dapat memberikan penerangan pada saat belajar, menggambar, membaca buku, lampu belajar dapat memberikan konsentrasi dalam belajar, dan penggunaan lampu belajar yang dibutuhkan dalam belajar. Derajat kepentingan
32 123 dari metrik ini sama dengan derajat kepentingan kebutuhan lampu belajar dapat memberikan penerangan saat belajar, dikarenakan kebutuhan tersebut besar hubungannya dengan metrik tersebut. Metrik energi dan daya tahan recharger baterai merupakan metrik yang menyatakan ukuran ketahanan recharger baterai, sehingga satuan yang digunakan yaitu volt pada energi recharger baterai dan jam daya tahan rechager baterai. Metrik ini berhubungan dengan kebutuhan lampu belajar dapat digunakan pada saat listrik padam. Derajat kepentingan dari metrik ini sama dengan derajat kepentingan kebutuhannya, dikarenakan metrik ini hanya mereflesikan dari satu kebutuhan saja. Metrik lampu belajar yang fungsional adalah metrik yang menyatakan bahwa lampu belajar dapat digunakan untuk kegunaan lain, sehingga satuan yang digunakan yaitu List. Metrik ini berhubungan dengan kebutuhan lampu belajar dapat digunakan sebagai lampu tidur, senter, tempat penyimpanan alat tulis, atau timer. Derajat kepentingan dari metrik ini sama dengan derajat kepentingan keseluruhan kebutuhan tersebut, dikarenakan keseluruhan kebutuhan tersebut besar hubungannya dengan metrik tersebut. Metrik lampu belajar yang fleksibel adalah metrik yang menyatakan bahwa lampu belajar yang fleksibel, sehingga satuan yang digunakan yaitu List. Metrik ini berhubungan dengan kebutuhan cahaya pada lampu belajar dapat diatur (terang) dan difokuskan. Derajat kepentingan dari metrik ini sama dengan derajat
33 124 kepentingan keseluruhan kebutuhan tersebut, dikarenakan keseluruhan kebutuhan tersebut besar hubungannya dengan metrik tersebut. Metrik desain yang menarik adalah metrik yang menyatakan desain dari lampu belajar, sehingga satuan yang digunakan yaitu subjektif. Metrik ini berhubungan dengan kebutuhan warna (plastik) dan desain lampu belajar yang menarik. Derajat kepentingan dari metrik ini sama dengan derajat kepentingan kebutuhan desain lampu belajar yang menarik, dikarenakan kebutuhan tersebut besar hubungannya dengan metrik tersebut. b. Mengumpulkan informasi tentang pesaing Ketika tim memulai proses pengembangan produk dengan beberapa ide tentang bagaimana produk bersaing di pasaran, target spesifikasi merupakan bahasa yang digunakan tim untuk berdiskusi dan menentukan posisi produknya dibandingkan produk yang ada, baik produk yang dimiliki perusahaan sendiri maupun produk pesaing (Ulrich dan Eppinger, 2001: 83).
34 125 Tabel 4.11 Tabel Analisis Pesaing No Kebutuhan Metrik Kepentingan Satuan 1 22 Harga per unit 5 Rp Pesaing ACE Hardware 150, ,000 Pesaing Philips 100, , ,17 Massa total 5 kg <1 < Ukuran unit keseluruhan 5 mm ,20 Ukuran gagang lampu 5 mm Ü Ukuran buka alas lampu belajar 3 mm < ,24 Waktu pemasangan lampu 5 s <25 <20 7 8,11 Waktu pemasangan gagang lampu 5 s Tinggi tombol on/off lampu belajar dengan meja 4 mm Sudut putaran lampu 5 derajat Sudut tekuk gagang lampu 5 derajat Kualitas cahaya (inverter lamp) 5 CRI >75 > Ü Kuat cahaya (indikator sensor kuat cahaya) 5 Lux <200 < ,2,3,4,5 Energi pada lampu 5 watt ,2,3,4,5 Daya tahan lampu 5 jam >10,000 >10, Energi pada recharger baterai 4 volt Daya tahan recharger baterai 4 jam ,8,9,10 Lampu belajar yang fungsional 3 List ,16 Lampu belajar yang fleksibel 4 List ,26 Desain yang menarik 4 Subj. 3 4 c. Penetapan Spesifikasi Target Dalam langkah ini, tim menyatukan informasi yang tersedia untuk mengatur nilai target untuk tiap metrik. Diperlukan dua macam nilai target, yaitu nilai ideal dan nilai marginal (Ulrich dan Eppinger, 2001: 85). Nilai ideal adalah hasil yang terbaik yang diharapkan tim. Nilai marginal adalah nilai metrik yang membuat produk diterima secara komersial.
35 126 Tabel 4.12 Tabel Spesifikasi Target No Kebutuhan Metrik Kepentingan Satuan Nilai Nilai Marginal Ideal 1 22 Harga per unit 5 Rp 150, ,000 25, , ,17 Massa total 5 kg <1 < Ukuran unit keseluruhan 5 mm ,20 Ukuran gagang lampu 5 mm Ü20 Ü Ukuran buka alas lampu belajar 3 mm <50 < ,24 Waktu pemasangan lampu 5 s <25 <20 7 8,11 Waktu pemasangan gagang lampu 5 s - < Tinggi tombol on/off lampu belajar dengan meja 4 mm - < Sudut putaran lampu 5 derajat Sudut tekuk gagang lampu 5 derajat Kualitas cahaya (inverter lamp) 5 CRI >75 > Kuat cahaya (indikator sensor kuat cahaya) 5 Lux <200 < ,2,3,4,5 Energi pada lampu 5 watt ,2,3,4,5 Daya tahan lampu 5 jam >10,000 >10, Energi pada recharger baterai 4 volt - < = Daya tahan recharger baterei 4 jam - > = ,8,9,10 Lampu belajar yang fungsional 3 List - Semua 18 15,16 Lampu belajar yang fleksibel 4 List - Semua 19 25,26 Desain yang menarik 4 Subj. >3 >4 Pada metrik harga per unit, nilai marginal yang digunakan antara Rp 150, ,000. Nilai marginal ini didapat dari harga jual produk lampu belajar yang ada di pasaran. Sedangkan nilai ideal didapat dari nilai jual yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut, yaitu berkisar Rp 100, ,000. Hal ini dikarenakan harga terjangkau merupakan salah satu kebutuhan yang diinginkan konsumen.
36 127 Pada metrik massa total, nilai marginal yang digunakan di pasaran adalah kurang dari 1 kg. Sedangkan nilai ideal didapat dari nilai massa total yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut, yaitu kurang dari 0.8 kg. Hal ini dikarenakan kebutuhan akan lampu belajar mudah dipindahtempatkan (beban ringan) merupakan salah satu kebutuhan yang diinginkan konsumen. Pada metrik ukuran unit keseluruhan, nilai marginal didapat dari ukuran unit keseluruhan produk lampu belajar yang ada di pasaran, yaitu panjang total sebesar 200 mm, lebar total sebesar 150 mm, dan tinggi total sebesar 400 mm. Sedangkan nilai ideal adalah nilai ukuran unit keseluruhan yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut, yaitu panjang total sebesar 150 mm, lebar total sebesar 100 mm, dan tinggi total sebesar 400 mm. Nilai ini didapat berdasarkan dari ukuran persentil 95 th untuk wanita Asia. Untuk panjang total dan lebar total dilihat dari ukuran lebar fungsional maksimal (ibu jari ke jari lain) pada persentil 95 th wanita Asia. Untuk tinggi total dilihat dari ukuran jarak dari siku ke ujung jari pada persentil 95 th wanita Asia. Persentil 95 th digunakan karena persentil 95 th mengakomodasikan 95% populasi (Nyoman, 2003: 52). Wanita Asia dikarenakan wanita ukuran minimum yang digunakan, sedangkan Asia karena pemasaran produk lampu belajar ini adalah di Indonesia (kesamaan etnis Asia). Pada metrik ukuran gagang lampu, nilai marginal didapat dari ukuran gagang pada lampu belajar yang ada di pasaran, yaitu ketinggian gagang lampu berkisar mm, dan diameter gagang lampu berkisar 20 mm. Sedangkan nilai ideal adalah nilai ukuran gagang lampu yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut, yaitu
37 128 ketinggian gagang lampu berkisar mm, dan diameter gagang lampu berkisar 30mm. Nilai ini didapat berdasarkan dari ukuran persentil 95 th untuk wanita Asia. Untuk ketinggian gagang lampu dilihat dari ukuran jarak dari siku ke ujung jari pada persentil 95 th wanita Asia. Dan ketinggian tersebut juga diperhatikan dari ketinggian dari alas lampu belajar. Sedangkan untuk diameter gagang lampu dilihat dari diameter genggam maksimum pada persentil 95 th wanita Asia. Persentil 95 th digunakan karena persentil 95 th mengakomodasikan 95% populasi (Nyoman, 2003: 52). Wanita Asia dikarenakan wanita ukuran minimum yang digunakan, sedangkan Asia karena pemasaran produk lampu belajar ini adalah di Indonesia (kesamaan etnis Asia). Pada metrik ukuran buka alas lampu belajar, nilai marginal didapat dari ukuran buka alas lampu belajar yang ada di pasaran, yaitu 50 mm. Sedangkan nilai ideal didapat dari nilai ukuran buka alas lampu belajar yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut, yaitu 30 mm. Pada metrik waktu pemasangan lampu, nilai marginal didapat dari waktu pemasangan lampu yang ada di pasaran, yaitu kurang dari 25 sekon. Sedangkan nilai ideal didapat dari nilai waktu pemasangan lampu yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut, yaitu kurang dari 20 sekon. Hal ini dikarenakan kebutuhan akan lampu belajar tersebut yaitu kebutuhan mudah dalam hal perbaikan merupakan salah satu kebutuhan yang diinginkan konsumen. Pada metrik waktu pemasangan gagang lampu, nilai marginal tidak ada dikarenakan gagang lampu yang ada di pasaran tidak dapat dilepas dari tempatnya
38 129 untuk dijadikan senter. Sedangkan nilai ideal didapat dari nilai waktu pemasangan gagang lampu yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut, yaitu kurang dari 5 sekon. Hal ini dikarenakan kebutuhan akan lampu belajar tersebut yaitu kebutuhan mudah dalam hal penggunaan merupakan salah satu kebutuhan yang diinginkan konsumen. Pada metrik tinggi tombol on/off, nilai marginal tidak ada dikarenakan biasanya tombol on/off produk lampu belajar yang ada di pasaran berada pada alas lampu belajar. Sedangkan nilai ideal didapat dari nilai tinggi tombol on/off yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut, yaitu kurang 170 mm. Nilai ini didapat berdasarkan dari ukuran persentil 95 th untuk wanita Asia. Untuk ketinggian tombol on/off dilihat dari ukuran panjang tangan pada persentil 95 th wanita Asia. Dan ketinggian tersebut juga diperhatikan dari ketinggian dari alas lampu belajar. Persentil 95 th digunakan karena persentil 95 th mengakomodasikan 95% populasi (Nyoman, 2003: 52). Wanita Asia dikarenakan wanita ukuran minimum yang digunakan, sedangkan Asia karena pemasaran produk lampu belajar ini adalah di Indonesia (kesamaan etnis Asia). Pada metrik sudut putaran lampu, nilai marginal didapat dari sudut putaran lampu pada lampu belajar yang ada di pasaran, yaitu sebesar 180Å. Sedangkan nilai ideal didapat dari nilai sudut putaran lampu yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut, yaitu sebesar 180Å. Hal ini dikarenakan sudut putar sebesar 180Å dirasa sudah cukup memenuhi kebutuhan pelanggan.
39 130 Pada metrik sudut tekuk gagang lampu, nilai marginal didapat dari sudut tekuk gagang lampu pada produk lampu belajar yang ada di pasaran, yaitu sebesar 360Å. Sedangkan nilai ideal didapat dari nilai sudut tekuk gagang lampu yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut, yaitu sebesar 360Å. Hal ini dikarenakan sudut tekuk sebesar 360Å dirasa sudah cukup memenuhi kebutuhan pelanggan. Pada metrik kualitas cahaya, nilai marginal didapat kualitas cahaya dari produk lampu belajar yang ada di pasaran, yaitu sebesar lebih dari 75% CRI. Sedangkan nilai ideal didapat dari nilai kualitas cahaya yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut, yaitu lebih dari 80% CRI. Hal ini dikarenakan kualitas cahaya semakin mendekati 100% CRI, semakin baik (saft.com, 2006). CRI (Color Rendering Index) adalah suatu nilai yang menunjukkan bagaimana suatu sumber cahaya mempengaruhi warna suatu objek yang dilihat oleh mata (saft.com, 2006). Pada metrik kuat cahaya, nilai marginal didapat dari kuat cahaya produk lampu belajar yang ada di pasaran, yaitu kurang dari 200 Lux. Sedangkan nilai ideal didapat dari nilai kuat cahaya yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut, kurang dari 150 Lux, dikarenakan dengan nilai tersebut dapat melindungi mata dari kerusakan (igadget.com.au, 2004). Pada metrik energi lampu, nilai marginal didapat dari energi lampu dari produk lampu belajar yang ada di pasaran, yaitu sebesar watt. Sedangkan nilai ideal didapat dari nilai energi lampu yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut, yaitu sebesar 25 watt, karena nilai tersebut dirasa cukup menerangi di saat belajar.
40 131 Pada metrik daya tahan lampu, nilai marginal didapat dari daya tahan lampu dari produk lampu belajar yang ada di pasaran, yaitu sebesar lebih dari 10,000 jam. Sedangkan nilai ideal didapat dari nilai daya tahan lampu total yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut, yaitu juga sebesar lebih dari 10,000 jam, dikarenakan daya tahan tersebut sudah mencukupi kebutuhan pelanggan. Pada metrik energi pada recharger baterai, nilai marginal energi pada recharger baterai tidak ada dikarenakan produk lampu belajar yang ada di pasaran belum menggunakan recharger baterai. Sedangkan nilai ideal didapat dari nilai energi pada recharger baterai yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut, yaitu < = 6 volt. Hal ini dikarenakan daya tahan tersebut sudah mencukupi. Pada metrik daya tahan pada recharger baterai, nilai marginal daya tahan pada recharger baterai tidak ada dikarenakan produk lampu belajar yang ada di pasaran belum menggunakan recharger baterai. Sedangkan nilai ideal didapat dari nilai daya tahan pada recharger baterai yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut, yaitu > = 4 jam. Hal ini dikarenakan daya tahan tersebut sudah mencukupi. Pada metrik lampu belajar yang fungsional, nilai marginal lampu belajar yang fungsional tidak ada dikarenakan produk lampu belajar yang ada di pasaran berbedabeda akan multifungsionalnya. Sedangkan nilai ideal didapat dari nilai lampu belajar yang fungsional yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut, yaitu pada fungsi dimana lampu belajar dapat digunakan sebagai lampu tidur, senter, tempat penyimpanan alat tulis, atau timer.
41 132 Pada metrik lampu belajar yang fleksibel, nilai marginal lampu belajar yang fleksibel tidak ada dikarenakan produk lampu belajar yang ada di pasaran. Sedangkan nilai ideal didapat dari nilai lampu belajar yang fleksibel yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut, yaitu fleksibel pada cahaya lampu belajar yang dapat diatur intensitasnya dan cahaya pada lampu belajar yang dapat difokuskan. Pada metrik desain yang menarik, nilai marginal didapat dari desain yang menarik dari produk lampu belajar yang ada di pasaran. Sedangkan nilai ideal didapat dari nilai desain yang menarik yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut. Metrik ini bersifat subjektif. d. QFD (Quality Function Deployment) Jadi, tahapan spesifikasi produk secara keseluruhan terlihat pada QFD (Quality Function Deployment) berikut: Gambar 4.5 QFD Produk Lampu Belajar
42 133 Pada penyusunan QFD di atas, dimasukkan metrik kebutuhan dan kebutuhan pelanggan. Pemberian nilai pada competitor berdasarkan produk yang dihasilkan pada masing-masing perusahaan. Pemberian nilai memiliki rentangan 1 sampai dengan 5. Dimana skala 1 merupakan skala yang terendah, dan skala 5 adalah skala yang tertinggi. Nilai pada importance rating (CI) didapat dari bobot kepentingan. Importance rating (CI) pada customer need didapat dari bobot kepentingan pada kebutuhan pelanggan. Importance rating (CI) pada metric didapat dari bobot kepentingan pada metrik. Our company yang diberi nilai 1, dikarenakan tak adanya perusahaan sehingga tidak ada produk lampu belajar sebelumnya. Pada competitor, digunakan dua perusahaan, yaitu ACE Hardware dan Philips. Hal ini dilakukan agar didapat perbandingan lebih akurat. Pada ACE Hardware, produk lampu belajar yang diproduksi mampu memberikan penerangan disaat belajar, menggambar, membaca buku (misal: komik, novel), dan mampu memberikan konsentrasi dalam belajar, maka pada kebutuhan 1 sampai dengan 5 diberi nilai 3. Produk lampu belajar yang diproduksi oleh ACE Hardware pun cukup fungsional, seperti lampu belajar dapat juga digunakan sebagai lampu tidur, dan adanya timer, maka pada kebutuhan 7 dan 10 diberi nilai 3. Sedangkan pada kebutuhan 6, 8, 9, 15 dan 16 diberi nilai 1, dikarenakan pada kebutuhan tersebut tidak ada pada produk lampu belajar yang diproduksi oleh ACE Hardware. Pada kebutuhan 24 diberi nilai 2, dikarenakan pada kebutuhan tersebut produk lampu belajar ACE Hardware dirasa masih kurang. Sisanya diberi nilai 3, dikarenakan produk lampu belajar yang
43 134 diproduksi oleh ACE Hardware mempunyai karakteristik yang sama dengan di pasaran. Pada Philips, produk lampu belajar yang diproduksi mampu memberikan penerangan disaat belajar, menggambar, membaca buku (misal: komik, novel), dan mampu memberikan konsentrasi dalam belajar, maka pada kebutuhan 1 sampai dengan 5 diberi nilai 3. Produk lampu belajar yang diproduksi oleh Philips kurang fungsional, seperti maka pada kebutuhan 7 sampai dengan 10 diberi nilai antara 1 dan 2. Pada kebutuhan 6, 8, 9, dan 16 diberi nilai 1, dikarenakan pada kebutuhan tersebut tidak ada pada produk lampu belajar yang diproduksi oleh Philips. Pada kebutuhan 13, 15, dan 26 diberi nilai 2, dikarenakan pada kebutuhan tersebut produk lampu belajar Philips dirasa masih kurang. Sisanya diberi nilai 3, dikarenakan produk lampu belajar yang diproduksi oleh Philips mempunyai karakteristik yang sama dengan di pasaran. Improvement ratio (RI) diperoleh dengan rumus: RI Rating T arget Value for Our Company Now Perhitungan: 1. Consumer Need 1 = RI = 1 3 = 3 2. Consumer Need 2 = RI = 1 3 = 3 3. Consumer Need 3 = RI = 1 3 = 3
44 135 Pada sales point, terdapat 3 nilai yaitu 1.0, 1.2 dan 1.5. Dimana nilai 1.0 berarti tingkat penjualan rendah, 1.2 berarti tingkat penjualan berada pada rata-rata, sedangkan nilai 1.5 berarti tingkat penjualan tinggi. Pada kebutuhan ke-8, mempunyai sales point sebesar 1.0, dikarenakan menurut konsumen kebutuhan tersebut tidaklah penting. Pada kebutuhan 1, 2, 3, 4, 5, 7, 9, 10, 12, 13, dan 25, mempunyai sales point sebesar 1.2, dikarenakan menurut konsumen kebutuhan tersebut cukup penting. Sisanya mempunyai sales point sebesar 1.5, dikarenakan menurut konsumen kebutuhan tersebut penting. Rumus Customer Score: CI*RI*SP Dimana: CI = Customer rate of importance. RI = Rate of improvement. SP = Sales point. 1. Consumer Need 1 = CI = 5*3*1.2 = Consumer Need 2 = CI = 5*3*1.2 = Consumer Need 3 = CI = 4*3*1.2 = Sedangkan rumus customer score percent: Customer Score x 100% Total Customer Score 1. Consumer Need 1 = x 100% = % 2. Consumer Need 2 = x 100% = %
45 Consumer Need 3 = x 100% = 3.89% Pengisian pada hubungan antara kebutuhan dengan metrik didasarkan pada tabel Nilai hubungan antara kebutuhan dan metrik adalah 1, 3, dan 9. Dimana nilai 1 menyatakan hubungan yang lemah, nilai 2 menyatakan hubungan yang cukup, dan nilai 9 menyatakan hubungan yang kuat. Dimana jika kebutuhan hanya mempunyai satu metrik, maka hubungan antara kebutuhan dan metrik tersebut kuat. Sehingga maka metrik 1, 3, 5, 8, 9,10, 11, 12, 15, dan 16 mempunyai hubungan yang kuat dengan masing-masing kebutuhannya. Pada metrik ke-2 mempunyai hubungan yang kuat dengan kebutuhan ke-17 tapi metrik ini mempunyai hubungan yang lemah pada kebutuhan ke-12. Pada metrik ke-4 mempunyai hubungan yang kuat dengan kebutuhan ke-20 tapi metrik ini mempunyai hubungan yang cukup kuat pada kebutuhan ke-20. Pada metrik 5 dan 6 mempunyai hubungan yang kuat dengan kebutuhan 12 dan 13. Pada metrik 7 mempunyai hubungan yang kuat dengan kebutuhan 23 dan 24. Pada metrik 13 dan 14 mempunyai hubungan yang cukup kuat dengan kebutuhan 1 sampai dengan 5. Pada metrik 17 mempunyai hubungan yang cukup kuat dengan kebutuhan 7 sampai dengan 10. Pada metrik ke-18 mempunyai hubungan yang kuat dengan kebutuhan 15 dan 16. Pada metrik ke-19 mempunyai hubungan yang kuat dengan kebutuhan ke-26 tapi metrik ini mempunyai hubungan yang cukup kuat pada kebutuhan ke-25. Sedangkan, hubungan antar metrik mempunyai 2 nilai. Untuk simbol mempunyai hubungan cukup kuat, dan simbol mempunyai hubungan yang kuat.
46 137 Antara metrik 1 mempunyai hubungan yang kuat dengan metrik 2, 3, 4, dan 5, dikarenakan harga lampu belajar dipengaruhi oleh massa maupun ukuran-ukuran lampu belajar. Antara metrik 1 mempunyai hubungan yang cukup kuat dengan metrik 9 sampai dengan 19 dikarenakan harga lampu belajar dipengaruhi oleh kualitas dari lampu belajar tersebut. Antara metrik 11 mempunyai hubungan yang kuat dengan metrik 12, 13, dan 14, dikarenakan kualitas cahaya lampu belajar dipengaruhi oleh kuat cahaya, energi dan daya tahan pada lampu tersebut. Antara metrik 11 mempunyai hubungan yang cukup kuat dengan metrik 15, dan 16, dikarenakan kualitas cahaya lampu belajar dipengaruhi oleh, energi dan daya tahan baterai recharger. Antara metrik 12 mempunyai hubungan yang kuat dengan metrik 13, dan 14, dikarenakan kualitas cahaya lampu belajar dipengaruhi oleh energi dan daya tahan pada lampu tersebut. Rumus Absolute Importance untuk masing-masing engineering characteristic adalah: (Re lationship Dimana: I = Engineering Characteristic J = Customer Requirement 1. Metric 1 = 9*4.56 = Metric 2 = (9*4.56) + (1*3.65) = Metric 3 = 9*4.56 = ij * Customerscore Rumus Relative Importance untuk masing-masing engineering characteristic adalah: Absolute Im por tance x 100% Total Absolute Im por tance j )
47 Metric 1 = x 100% 1287 = 3.21% 2. Metric 2 = x 100% 1287 = 3.50% 3. Metric 3 = x 100% 1287 = 3.21% Pengisian unit of measure berdasarkan pada keterangan di tabel Dan pada baris selanjutnya diisi berdasarkan data-data keterangan yang terdapat pada perusahaan masing-masing. Berdasarkan hasil relative importance, maka characteristic yang perlu diperhatikan dimulai dari yang memiliki nilai yang terbesar. Dan dalam hal ini dimulai dari metric lampu belajar yang fleksibel. Perhatian ini diperlukan untuk perlunya adanya lampu belajar yang dapat diatur intensitas cahayanya dan difokuskan pencahayaannya. Hasil akhir yang diperoleh adalah target value pada masing-masing engineering characteristic. Dan target value ini dipakai untuk membuat spesifikasi akhir Menetapkan Spesifikasi Akhir Ketika tim telah memilih salah satu konsep dan mempersiapkan tahap pengembangan dan perancangan desain selanjutnya, spesifikasi kembali diperiksa. Spesifikasi yang awalnya hanya berupa pernyataan target dalam selang nilai tertentu, sekarang diperbaiki dan dibuat lebih tepat.
48 139 Tabel 4.13 Tabel Spesifikasi Akhir No Kebutuhan Metrik Kepentingan Satuan Nilai 1 22 Harga per unit 5 Rp 150, , ,17 Massa total 5 kg < Ukuran unit keseluruhan 5 mm ,20 Ukuran gagang lampu 5 mm Ü Ukuran buka alas lampu belajar 4 mm < ,24 Waktu pemasangan lampu 5 N <20 7 8,11 Waktu pemasangan gagang lampu 5 s < Tinggi tombol on/off lampu belajar dengan meja 5 mm < Sudut putaran lampu 5 derajat Sudut tekuk gagang lampu 5 derajat Kualitas cahaya (inverter lamp) 5 CRI > Kuat cahaya (indikator sensor kuat cahaya) 5 Lux < ,2,3,4,5 Energi pada lampu 5 watt ,2,3,4,5 Daya tahan lampu 5 jam >10, Energi pada recharger baterai 4 volt < = Daya tahan recharger baterei 4 jam > = ,8,9,10 Lampu belajar yang fungsional 3 List Semua 18 15,16 Lampu belajar yang fleksibel 4 List Semua 19 25,26 Desain yang menarik 4 Subj. >4 Pada metrik harga per unit, nilai yang digunakan adalah harga jual produk lampu belajar yang ada di pasaran, yaitu Rp 150, ,000. Hal ini dikarenakan adanya recharger baterai pada produk lampu belajar. Pada metrik massa total, nilai yang digunakan adalah nilai yang ada di pasaran, yaitu kurang dari 1 kg. Hal ini dikarenakan adanya recharger baterai pada produk lampu belajar. Pada metrik ukuran unit keseluruhan, nilai yang digunakan adalah nilai yang ada di pasaran, yaitu panjang total sebesar 200 mm, lebar total sebesar 150 mm, dan tinggi
49 140 total sebesar 400 mm. Nilai ini didapat berdasarkan dari ukuran persentil 95 th untuk wanita Asia. Untuk panjang total dan lebar total dilihat dari ukuran lebar fungsional maksimal (ibu jari ke jari lain) pada persentil 95 th wanita Asia. Untuk tinggi total dilihat dari ukuran jarak dari siku ke ujung jari pada persentil 95 th wanita Asia. Persentil 95 th digunakan karena persentil 95 th mengakomodasikan 95% populasi (Nyoman, 2003: 52). Wanita Asia dikarenakan wanita ukuran minimum yang digunakan, sedangkan Asia karena pemasaran produk lampu belajar ini adalah di Indonesia (kesamaan etnis Asia). Pada metrik ukuran gagang lampu, nilai yang digunakan adalah nilai ukuran gagang lampu yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut, yaitu ketinggian gagang lampu berkisar mm, dan diameter gagang lampu berkisar 30 mm. Nilai ini didapat berdasarkan dari ukuran persentil 95 th untuk wanita Asia. Untuk ketinggian gagang lampu dilihat dari ukuran jarak dari siku ke ujung jari pada persentil 95 th wanita Asia. Dan ketinggian tersebut juga diperhatikan dari ketinggian dari alas lampu belajar. Sedangkan untuk diameter gagang lampu dilihat dari diameter genggam maksimum pada persentil 95 th wanita Asia. Persentil 95 th digunakan karena persentil 95 th mengakomodasikan 95% populasi (Nyoman, 2003: 52). Wanita Asia dikarenakan wanita ukuran minimum yang digunakan, sedangkan Asia karena pemasaran produk lampu belajar ini adalah di Indonesia (kesamaan etnis Asia).
50 141 Pada metrik ukuran buka alas lampu belajar, nilai yang digunakan, yaitu dari nilai ideal didapat dari nilai ukuran buka alas lampu belajar yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut, yaitu 30 mm. Pada metrik waktu pemasangan lampu, nilai yang digunakan, yaitu dari nilai waktu pemasangan lampu yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut, yaitu kurang dari 20 sekon. Hal ini dikarenakan kebutuhan akan lampu belajar tersebut yaitu kebutuhan mudah dalam hal perbaikan merupakan salah satu kebutuhan yang diinginkan konsumen. Pada metrik waktu pemasangan gagang lampu, nilai yang digunakan, yaitu nilai ideal didapat dari nilai waktu pemasangan gagang lampu yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut, yaitu kurang dari 5 sekon. Hal ini dikarenakan kebutuhan akan lampu belajar tersebut yaitu kebutuhan mudah dalam hal penggunaan merupakan salah satu kebutuhan yang diinginkan konsumen. Pada metrik tinggi tombol on/off, nilai yang digunakan, yaitu nilai ideal didapat dari nilai tinggi tombol on/off yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut, yaitu kurang 170 mm. Nilai ini didapat berdasarkan dari ukuran persentil 95 th untuk wanita Asia. Untuk ketinggian tombol on/off dilihat dari ukuran panjang tangan pada persentil 95 th wanita Asia. Dan ketinggian tersebut juga diperhatikan dari ketinggian dari alas lampu belajar. Persentil 95 th digunakan karena persentil 95 th mengakomodasikan 95% populasi (Nyoman, 2003: 52). Wanita Asia dikarenakan wanita ukuran minimum yang digunakan, sedangkan Asia karena pemasaran produk lampu belajar ini adalah di Indonesia (kesamaan etnis Asia).
51 142 Pada metrik sudut putaran lampu, nilai yang digunakan, yaitu sudut putaran lampu sebesar 180Å. Hal ini dikarenakan sudut putar sebesar 180Å dirasa sudah cukup memenuhi kebutuhan pelanggan. Pada metrik sudut tekuk gagang lampu, nilai yang digunakan, yaitu sudut tekuk gagang lampu sebesar 360Å. Hal ini dikarenakan sudut tekuk sebesar 360Å dirasa sudah cukup memenuhi kebutuhan pelanggan. Pada metrik kualitas cahaya, nilai marginal yang digunakan, yaitu nilai ideal didapat dari nilai kualitas cahaya yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut, yaitu lebih dari 80% CRI. Hal ini dikarenakan bahwa kualitas cahaya semakin mendekati 100% CRI, semakin baik (saft.com, 2006). CRI (Color Rendering Index) adalah suatu nilai yang menunjukkan bagaimana suatu sumber cahaya mempengaruhi warna suatu objek yang dilihat oleh mata (saft.com, 2006). Pada metrik kuat cahaya, nilai yang digunakan, yaitu nilai ideal didapat dari nilai kuat cahaya yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut, kurang dari 150 Lux, dikarenakan dengan nilai tersebut dapat melindungi mata dari kerusakan (igadget.com.au, 2004). Pada metrik energi lampu, nilai yang digunakan, yaitu nilai ideal didapat dari nilai energi lampu yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut, yaitu sebesar 25 watt, karena nilai tersebut dirasa cukup menerangi di saat belajar. Pada metrik daya tahan lampu, nilai yang digunakan, yaitu sebesar lebih dari 10,000 jam, dikarenakan daya tahan tersebut sudah mencukupi.
52 143 Pada metrik energi pada recharger baterai, nilai yang digunakan, yaitu nilai ideal didapat dari nilai energi pada recharger baterai yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut, yaitu < = 6 volt. Hal ini dikarenakan daya tahan tersebut sudah mencukupi. Pada metrik daya tahan pada recharger baterai, nilai yang digunakan, yaitu nilai ideal didapat dari nilai daya tahan pada recharger baterai yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut, yaitu > = 4 jam. Hal ini dikarenakan daya tahan tersebut sudah mencukupi. Pada metrik lampu belajar yang fungsional, nilai yang digunakan, yaitu nilai ideal didapat dari nilai lampu belajar yang fungsional yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut, yaitu pada fungsi dimana lampu belajar dapat digunakan sebagai lampu tidur, senter, tempat penyimpanan alat tulis, atau timer. Pada metrik lampu belajar yang fleksibel, nilai yang digunakan, yaitu nilai ideal didapat dari nilai lampu belajar yang fleksibel yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut, yaitu fleksibel pada cahaya lampu belajar yang dapat diatur intensitasnya dan cahaya pada lampu belajar yang dapat difokuskan. Pada metrik desain yang menarik, nilai yang digunakan, yaitu nilai ideal didapat dari nilai desain yang menarik yang diharapkan tim untuk produk lampu belajar tersebut. Metrik ini bersifat subjektif.
53 Hasil Perancangan Konsep Penyusunan Konsep Konsep produk adalah sebuah gambaran atau perkiraan mengenai teknologi, prinsip kerja, dan bentuk produk (Ulrich dan Eppinger, 2001: 102). Konsep produk merupakan gambaran singkat bagaimana produk memuaskan kebutuhan pelanggan. Sebuah konsep biasanya diekspresikan sebagai sebuah sketsa atau sebagai sebuah model 3 dimensi secara garis besar dan seringkali disertai oleh sebuah uraian gambar. Tabel kombinasi konsep menyediakan sebuah cara untuk mempertimbangkan kombinasi solusi secara sistematis (Ulrich dan Eppinger, 2001: 119). Solusi untuk keseluruhan masalah diperoleh dengan mengkombinasikan satu penggalan dari tiap kolom. Memilih sebuah kombinasi dari penggalan tidak lantas secara spontan membawa kita pada penyelesaian keseluruhan masalah. Kombinasi dari penggalan biasanya harus dikembangkan dan disaring sebelum timbul suatu penyelesaian yang terintegrasi. Pada penyusunan konsep lampu belajar ini ditemukan 4 konsep dari kombinasi 3 kategori, yaitu gagang lampu, alas lampu dan statis-non statis recharger baterai. Dimana, pada kategori gagang lampu terdapat dua tipe, yaitu tipe 1 dan tipe 2. Dan, pada kategori alas lampu terdapat dua tipe pula, yaitu tipe 1 dan tipe 2.
54 145 Konsep 1 Tabel 4.14 Tabel Kombinasi Konsep 1 Tipe Gagang Lampu Tipe Alas Lampu Tipe 1 Tipe 1 Tipe 2 Tipe 2 Statis recharger baterai Gambar 4.6 Tipe 1 Gagang Lampu Pada Konsep 1 Gambar 4.7 Tipe 1 Alas Lampu Pada Konsep 1
55 146 Konsep 1 ini merupakan kombinasi antara tipe 1 gagang lampu (terlihat pada gambar 4.2) dengan tipe 1 alas lampu (terlihat pada gambar 4.3) dengan statis recharger baterai sehingga lampu belajar dapat memberikan penerangan saat belajar, menggambar, dan membaca buku (misal: novel, komik) walaupun di saat listrik padam. Pada lampu belajar juga terdapat lampu tidur. Lampu belajar dapat diletakkan di atas meja atau dijepit. Pangkal atas gagang lampu belajar dapat diputar 180Å seperti pada gambar sehingga cahaya lampu dapat diarahkan. Cahaya pada lampu belajar dapat diatur intensitasnya dan pula dapat difokuskan. Gagang pada lampu belajar dapat ditekuk dengan sudut tekuk 360Å. Kuat cahaya pada lampu belajar > 150 Lux berarti lampu dapat melindungi mata dari kerusakkan. Kualitas cahaya pada lampu < 85% CRI artinya semakin baik warna yang dilihat mata dari objek yang disinari suatu lampu. Lampu belajar didesain dengan berbagai bentuk yang lucu dilengkapi dengan warna-warna yang menarik sehingga dapat memotivasi dalam belajar. Harga pada lampu belajar berkisar Rp 150, ,000. Target segmen pasar yaitu mahasiswa. Konsep 2 Tabel 4.15 Tabel Kombinasi Konsep 2 Tipe Gagang Lampu Tipe Alas Lampu Tipe 1 Tipe 1 Tipe 2 Tipe 2 Statis recharger baterai
56 147 Gambar 4.8 Tipe 1 Gagang Lampu Pada Konsep 2 Gambar 4.9 Tipe 2 Alas Lampu Pada konsep 2 Konsep 2 ini merupakan kombinasi antara tipe 1 gagang lampu (terlihat pada gambar 4.4) dengan tipe 2 alas lampu (terlihat pada gambar 4.5) dengan statis recharger baterai sehingga lampu belajar dapat memberikan penerangan saat belajar, menggambar, dan membaca buku (misal: novel, komik) walaupun di saat listrik padam. Pada lampu belajar juga terdapat lampu tidur. Lampu belajar dapat diletakkan di atas meja atau dijepit. Pangkal atas gagang lampu belajar dapat diputar 180Å seperti pada gambar sehingga cahaya lampu dapat diarahkan. Cahaya pada lampu belajar
57 148 dapat diatur intensitasnya dan pula dapat difokuskan. Gagang pada lampu belajar dapat ditekuk dengan sudut tekuk 360Å. Kuat cahaya pada lampu belajar > 150 Lux berarti lampu dapat melindungi mata dari kerusakkan. Kualitas cahaya pada lampu < 85% CRI artinya semakin baik warna yang dilihat mata dari objek yang disinari suatu lampu. Lampu belajar didesain dengan berbagai bentuk yang lucu dilengkapi dengan warna-warna yang menarik sehingga dapat memotivasi belajar. Harga pada lampu belajar berkisar Rp 150, ,000. Target segmen pasar yaitu mahasiswa. Konsep 3 Tabel 4.16 Tabel Kombinasi Konsep 3 Tipe Gagang Tipe Alas Lampu Lampu Tipe 1 Tipe 1 Tipe 2 Tipe 2 Non statis recharger baterai
58 149 Gambar 4.10 Tipe 2 Gagang Lampu Pada Konsep 3 Gambar 4.11 Tipe 1 Alas Lampu Pada Konsep 3 Konsep 3 ini merupakan kombinasi antara tipe 2 gagang lampu (terlihat pada gambar 4.6) dengan tipe 1 alas lampu (terlihat pada gambar 4.7) dengan non-statis recharger baterai sehingga lampu belajar dapat memberikan penerangan saat belajar, menggambar, dan membaca buku (misal: novel, komik) walaupun di saat listrik padam. Pada lampu belajar juga terdapat lampu tidur. Gagang pada lampu belajar
59 150 dapat dilepas pasang sehingga lampu belajar dapat pula digunakan sebagai senter. Lampu belajar dapat diletakkan di atas meja atau dijepit. Pangkal atas gagang lampu belajar dapat diputar 180Å seperti pada gambar sehingga cahaya lampu dapat diarahkan. Cahaya pada lampu belajar dapat diatur intensitasnya dan pula dapat difokuskan. Gagang pada lampu belajar dapat diputar dengan sudut putar 90Å pada tangannya. Kuat cahaya pada lampu belajar > 150 Lux berarti lampu dapat melindungi mata dari kerusakkan. Kualitas cahaya pada lampu < 85% CRI artinya semakin baik warna yang dilihat mata dari objek yang disinari suatu lampu. Lampu belajar didesain dengan berbagai bentuk yang lucu dilengkapi dengan warna-warna yang menarik sehingga dapat memotivasi dalam belajar. Harga pada lampu belajar berkisar Rp 150, ,000. Target segmen pasar yaitu mahasiswa. Konsep 4 Tabel 4.17 Tabel Kombinasi Konsep 4 Tipe Gagang Tipe Alas Lampu Lampu Tipe 1 Tipe 1 Tipe 2 Tipe 2 Non statis recharger baterai
60 151 Gambar 4.12 Tipe 2 Gagang Lampu Pada Konsep 4 Gambar 4.13 Tipe 2 Alas Lampu Pada Konsep 4 Konsep 4 ini merupakan kombinasi antara tipe 2 gagang lampu (terlihat pada gambar 4.8) dengan tipe 2 alas lampu (terlihat pada gambar 4.9) dengan non-statis recharger baterai sehingga lampu belajar dapat memberikan penerangan saat belajar, menggambar, dan membaca buku (misal: novel, komik) walaupun di saat listrik padam. Pada lampu belajar juga terdapat lampu tidur. Gagang pada lampu belajar dapat dilepas pasang sehingga lampu belajar dapat pula digunakan sebagai senter.
61 152 Lampu belajar dapat diletakkan di atas meja atau dijepit. Pangkal atas gagang lampu belajar dapat diputar 180Å seperti pada gambar sehingga cahaya lampu dapat diarahkan. Cahaya pada lampu belajar dapat diatur intensitasnya dan pula dapat difokuskan. Gagang pada lampu belajar dapat diputar dengan sudut putar 90Å pada tangannya. Kuat cahaya pada lampu belajar >150 Lux berarti lampu dapat melindungi mata dari kerusakkan. Kualitas cahaya pada lampu <85% CRI artinya semakin baik warna yang dilihat mata dari objek yang disinari suatu lampu. Lampu belajar didesain dengan berbagai bentuk yang lucu dilengkapi dengan warna-warna yang menarik sehingga dapat memotivasi dalam belajar. Harga pada lampu belajar berkisar Rp 150, ,000. Target segmen pasar yaitu mahasiswa Seleksi Konsep Seleksi konsep merupakan proses menilai konsep dengan memperhatikan kebutuhan pelanggan dan kriteria lain, membandingkan kekuatan dan kelemahan relatif dari konsep, dan memilih satu atau lebih konsep untuk penyelidikan, pengujian dan pengembangan selanjutnya (Ulrich dan Eppinger, 2001: 130). Metode seleksi konsep pada proses ini didasarkan pada penggunaan metrik keputusan untuk mengevaluasi masing-masing konsep dengan mempertimbangkan serangkaian kriteria seleksi. Pada proses ini dilakukan survei yang lebih sederhana dibandingkan yang sebelumnya, yaitu dengan cara face-to-face interview. Wawancara hanya dilakukan dengan 5 responden saja. Wawancara dilakukan dengan membawa tiga buah sketsa
62 153 gambar yang sudah digambar ditambah dengan sedikit penjelasan untuk masingmasing konsep, lalu responden akan menilai kelebihan dan kekurangan masingmasing konsep berdasarkan kriteria: kemudahan penggunaan, kemudahan penanganan, ukuran, daya tahan, desain, kemudahan untuk diproduksi, multifungsi, dan fleksibel Penyaringan Konsep Penyaringan adalah proses yang evaluasinya masih berupa perkiraan yang ditujukan untuk mempersempit alternatif (Ulrich dan Eppinger, 2001: 135). Selama penyaringan konsep, beberapa konsep awal dievaluasi dengan membandingkan dengan sebuah konsep referensi yang menggunakan matriks penyaringan. Pada tahap awal ini perbandingan kuantitatif secara rinci sulit untuk dihasilkan dan mungkin menyesatkan, sehingga digunakan sebuah sistem penilaian komparatif yang masih kasar. Proses penyaringan konsep merupakan proses penilaian yang sederhana yang menggunakan tiga simbol yaitu nilai relatif lebih baik (+), jika konsep tersebut lebih baik dari konsep yang lain dalam hal kriteria tersebut. sama dengan (0), jika untuk kriteria tersebut konsep tersebut sama dengan konsep yang lainnya. Dan terakhir lebih buruk (-), bila konsep tersebut lebih buruk dari konsep yang lainnya. Kemudian jumlah bobot tiap kriteria dijumlahkan untuk masing-masing konsep diberi ranking. Konsep yang dipilih untuk diteruskan adalah satu atau lebih konsep yang memiliki tingkat ranking yang lebih tinggi.
63 154 Hasil survei untuk penyaringan konsep yang disimpulkan dengan statistic descriptive biasa, artinya hanya dengan melihat hal yang sederhana yaitu hasil penjumlahan dari ketiga bobot di atas, yang kesimpulannya disajikan dalam bentuk metrik seleksi penyaringan konsep seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini. Tabel 4.18 Metrik Seleksi Penyaringan Konsep Konsep Kriteria Seleksi Philips (referensi) Kemudahan penggunaan Kemudahan penanganan Ukuran Daya tahan Desain Kemudahan untuk diproduksi Multifungsi Fleksibel Jumlah Jumlah Jumlah Nilai Akhir Peringkat Lanjutkan? Ya Tidak Ya Tidak Dalam seleksi konsep, Philips dijadikan referensi, dikarenakan pengguna lampu belajar rata-rata menggunakan lampu belajar Philips. Maka nilai yang terdapat pada Philips ini yaitu nilai 0. Pada kriteria seleksi kemudahan penggunaan, konsep 1, 2, 3, dan 4 mempunyai nilai 0, yaitu konsep-konsep tersebut memiliki nilai kemudahan penggunaan yang
64 155 sama dengan datum. Seperti, datum dan konsep-konsep yang ada mempunyai switch on/off yang juga merupakan pengatur intensitas cahaya. Pada kriteria kemudahan penanganan, konsep 1 dan konsep 3 mempunyai nilai 0 dibandingkan datum. Sedangkan konsep 2 dan konsep 4 mempunyai nilai ( ) dibandingkan datum. Hal ini dikarenakan pada konsep 1 dan konsep 3 memiliki nilai kemudahan penanganan yang sama dengan datum, seperti subsitusi lampu. Sedangkan, pada konsep 2 dan konsep 4 memiliki nilai kemudahan penanganan kurang dibanding datum dikarenakan pada konsep tersebut memiliki bentuk yang lebih kompleks. Pada kriteria seleksi ukuran, konsep 1, 2, 3, dan 4 mempunyai nilai 0, yaitu konsep-konsep tersebut memiliki nilai ukuran yang kurang lebih sama dengan datum, yaitu panjang sekitar 200 mm, lebar sekitar 150 mm, dan tinggi sekitar 400 mm. Pada kriteria seleksi daya tahan, konsep 1 dan konsep 3 mempunyai nilai (+) dibandingkan datum. Sedangkan konsep 2 dan konsep 4 mempunyai nilai ( ) dibandingkan datum. Hal ini dikarenakan pada konsep 1 dan konsep 3 memiliki nilai daya tahan yang lebih dibanding datum, seperti adanya recharger baterai. Sedangkan, pada konsep 2 dan konsep 4 memiliki nilai daya tahan kurang dibanding datum dikarenakan pada konsep tersebut memiliki bentuk yang lebih kompleks. Pada kriteria seleksi desain, konsep 1, 2, 3, dan 4 mempunyai nilai (+), yaitu konsep-konsep tersebut memiliki nilai desain yang lebih dibanding datum. Hal ini dikarenakan konsep-konsep tersebut didesain dengan berbagai bentuk yang lucu
65 156 dilengkapi dengan warna-warna yang menarik sehingga dapat memotivasi dalam belajar. Pada kriteria seleksi kemudahan diproduksi, konsep 1, 2, 3, dan 4 mempunyai nilai (-), yaitu konsep-konsep tersebut memiliki nilai kemudahan diproduksi kurang dibanding datum. Hal ini dikarenakan konsep-konsep tersebut dapat diletakkan di atas meja maupun dijepit sehingga memiliki bentuk yang lebih kompleks. Pada kriteria seleksi multifungsi, konsep 1, 2, 3, dan 4 mempunyai nilai (+), yaitu konsep-konsep tersebut memiliki nilai multifungsi yang lebih dibanding datum. Hal ini dikarenakan konsep-konsep tersebut didesain dengan agar lampu belajar tersebut dapat juga digunakan sebagai lampu tidur. Pada kriteria seleksi fleksibel, konsep 1 dan konsep 2 mempunyai nilai (+) dibandingkan datum. Sedangkan konsep 3 dan konsep 4 mempunyai nilai ( ) dibandingkan datum. Hal ini dikarenakan pada konsep 1 dan konsep 2 memiliki nilai fleksibel yang lebih dibanding datum, seperti cahaya lampu dapat difokuskan. Sedangkan, pada konsep 3 dan konsep 4 memiliki nilai fleksibel kurang dibanding datum dikarenakan pada gagang lampu konsep tersebut kurang fleksibel. Dari hasil penyaringan konsep didapatkan bahwa konsep ke-1 mendapat peringkat pertama, disusul dengan konsep yang ke-3 dan terakhir konsep yang ke-4. Pada konsep yang ke-2 dan konsep yang ke-4 nilai bobot yang diberikan lebih banyak bernilai negatif, maka diputuskan untuk tidak meneruskan pengembangan dan pengujian konsep tersebut ke tahap selanjutnya. Berarti yang diteruskan ke seleksi penilaian konsep hanya konsep yang ke-1 dan konsep yang ke-3.
66 Penilaian Konsep Tahapan selanjutnya pada seleksi konsep adalah dengan menggunakan metrik penilaian konsep, dengan cara menambahkan bobot kepentingan ke dalam metrik (Ulrich dan Eppinger, 2001: 139). Pada penilaian konsep diadakan analisis yang lebih terperinci, serta mengevalusi kuantitatif yang lebih terhadap konsep yang tersisa dengan menggunakan metrik penilaian sebagai pedoman. Beberapa pola yang berbeda dapat digunakan untuk memberi bobot pada kriteria seperti menandai nilai kepentingan dari 1-5 atau mengalokasi nilai 100%. Selanjutnya penetapan rating dapat dilakukan oleh beberapa responden untuk menentukan apakah bobot yang diberikan sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Nilai rating dan beban dikalikan untuk mendapatkan nilai beban. Nilai beban ini yang akan dijumlahkan untuk menentukan rangking tiap konsep yang dinilai. Sama seperti tahap penyaringan konsep, konsep yang terpilih adalah konsep yang memiliki ranking tertinggi. Hasil penilaian akan disajikan dalam metrik seleksi penilaian konsep di bawah ini.
67 158 Tabel 4.19 Metrik Seleksi Penilaian Konsep Konsep 1 3 Philips (referensi) Kriteria Seleksi Beban Rating Nilai Nilai Nilai Rating Rating Beban Beban Beban Kemudahan penggunaan 25% Kemudahan penanganan 10% Ukuran 5% Daya tahan 15% Desain 5% Kemudahan untuk diproduksi 10% Multifungsi 15% Fleksibel 15% Total Nilai Peringkat Lanjutkan Ya Tidak Pada kriteria kemudahan penggunaan diberi nilai 25% karena kriteria ini merupakan kebutuhan yang sangat dibutuhkan oleh konsumen. Pada kriteria kemudahan penanganan dan kriteria kemudahan diproduksi diberi nilai 10% serta kriteria daya tahan, kriteria multifungsi dan kriteria fleksibel pada gagang lampu diberi nilai 15% dikarenakan kriteria dibutuhkan oleh konsumen. Kriteria ukuran dan kriteria desain hanya diberi nilai sebesar 5% dikarenakan desain dan ukuran tidak terlalu bermasalah bagi konsumen. Kriteria tersebut berdasarkan pada survei bobot kepentingan kebutuhan pelanggan.
68 159 Pada penilaian konsep, Philips pun dijadikan referensi, dikarenakan pengguna lampu belajar rata-rata menggunakan lampu belajar Philips. Maka nilai yang terdapat pada Philips ini yaitu nilai 3. Pada kriteria seleksi kemudahan penggunaan, konsep 1, dan 3 mempunyai nilai 3, yaitu konsep-konsep tersebut memiliki nilai kemudahan penggunaan yang sama dengan datum. Seperti, datum dan konsep-konsep yang ada mempunyai switch on/off yang juga merupakan pengatur intensitas cahaya. Pada kriteria kemudahan penanganan, konsep 1 dan konsep 3 mempunyai nilai 3 dibandingkan datum. Hal ini dikarenakan pada konsep 1 dan konsep 3 memiliki nilai kemudahan penanganan yang sama dengan datum, seperti subsitusi lampu. Pada kriteria seleksi ukuran, konsep 1, dan 3 mempunyai nilai 3, yaitu konsepkonsep tersebut memiliki nilai ukuran yang kurang lebih sama dengan datum, yaitu panjang sekitar 200 mm, lebar sekitar 150 mm, dan tinggi sekitar 400 mm. Pada kriteria seleksi daya tahan, konsep 1 dan konsep 3 mempunyai nilai (+) dibandingkan datum, yaitu sebesar 5. Hal ini dikarenakan pada konsep 1 dan konsep 3 memiliki nilai daya tahan yang lebih dibanding datum, seperti adanya recharger baterai. Pada kriteria seleksi desain, konsep 1, 2, 3, dan 4 mempunyai nilai (+), yaitu sebesar 3. Hal ini dikarenakan konsep-konsep tersebut memiliki nilai desain yang lebih dibanding datum. Dimana, konsep-konsep tersebut didesain dengan berbagai bentuk yang lucu dilengkapi dengan warna-warna yang menarik sehingga dapat memotivasi dalam belajar.
69 160 Pada kriteria seleksi kemudahan diproduksi, konsep 1, dan 3 mempunyai nilai 2, yaitu konsep-konsep tersebut memiliki nilai kemudahan diproduksi kurang dibanding datum. Hal ini dikarenakan konsep-konsep tersebut dapat diletakkan di atas meja maupun dijepit sehingga memiliki bentuk yang lebih kompleks. Pada kriteria seleksi multifungsi, konsep konsep 1, dan 3 mempunyai nilai 4, yaitu konsep-konsep tersebut memiliki nilai multifungsi yang lebih dibanding datum. Hal ini dikarenakan konsep-konsep tersebut didesain dengan agar lampu belajar tersebut dapat juga digunakan sebagai lampu tidur. Pada kriteria seleksi fleksibel, konsep 1 mempunyai nilai 5 dibandingkan datum, yaitu pada konsep 1 memiliki nilai fleksibel yang lebih dibanding datum, seperti cahaya lampu dapat difokuskan. Sedangkan, pada konsep 3 memiliki nilai fleksibel kurang dibanding datum dikarenakan pada gagang lampu konsep tersebut kurang fleksibel. Hasil dari penilaian konsep bahwa konsep yang ke-1 mempunyai total nilai yang lebih besar dibandingkan dengan konsep yang ke-3 sehingga konsep yang ke-1 diteruskan ke tahap yang selanjutnya yaitu pengujian konsep Pengujian Konsep Pengujian konsep dilakukan setelah seleksi konsep karena tidak memungkinkan untuk menyodorkan banyak konsep ke pelanggan potensial untuk diuji, sehingga konsep-konsep alternatif harus dipersempit terlebih dahulu menjadi satu atau dua konsep untuk diuji. Pengujian konsep berbeda, karena aktivitas ini menitikberatkan
70 161 pada pengumpulan data langsung dari pelanggaan potensial dan hanya melibatkan sedikit penilaian dari tim pengembang (Ulrich dan Eppinger, 2001: 152). Survei dilakukan kembali dengan metode menyebarkan kuisioner sejumlah 50, jumlah ini dianggap sudah cukup mengingat sudah banyaknya survei yang dilakukan pada tahap sebelumnya. Dan menurut teorema batas sentral (central limit theorem), untuk ukuran sampel yang cukup besar, (n > = 30), rata-rata sampel akan terdistribusi di sekitar rata-rata populasi yang mendekati distribusi normal (Cooper dan Emory, 1996: 227). Konsep yang diuji memang sudah mewakili kebutuhan yang sudah teridentifikasi, tetapi perlu diuji untuk mengetahui minat pelanggan untuk membeli.
71 162 Tabel 4.20 Tabel Survei Pengujian Konsep SURVEI PENGUJIAN KONSEP Lampu Belajar Responden yang terhormat, Saya mahasiswa Universitas Bina Nusantara Teknik Industri yang sedang menyusun skripsi tentang pengembangan produk pada lampu belajar. Mohon bantuannya untuk mengisi pertanyaan di bawah ini. Atas bantuan Anda saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Apakah Anda sedang atau pernah menggunakan lampu belajar? Ya / Tidak (Jika jawabnya adalah tidak kami mengucapkan terimakasih dan survey berakhir sampai di sini.) Apakah Anda sering merasa kesulitan menggunakan lampu belajar? (Jika jawabnya adalah tidak kami mengucapkan terimakasih dan survey berakhir sampai di sini.) Dalam hal apa sajakah Anda menggunakan lampu belajar... Bagaimanakah lampu belajar yang Anda inginkan?... Berikut ini adalah penjelasan produk Lampu belajar selain menggunakan tenaga listrik juga menggunakan baterai recharger sehingga dapat digunakan pada saat listrik padam. Pada lampu belajar terdapat lampu tidur. Gagang pada lampu belajar dapat dicopot sehingga lampu belajar dapat juga digunakan sebagai senter. Bagian dasar pada lampu belajar dapat dijepit pada meja. Pangkal atas pada gagang lampu belajar dapat diputar 180Å sehingga cahaya lampu dapat diarahkan. Cahaya pada lampu belajar dapat diatur intensitasnya dan pula dapat difokuskan. Gagang pada lampu belajar dapat diatur ketinggiannya. Lampu belajar didesain dengan berbagai bentuk yang lucu dilengkapi dengan warna-warna yang menarik. Jika harga pada lampu belajar berkisar Rp , bagaimana peluang anda untuk membeli barang ini dalam satu tahun mendatang? Saya pasti tidak Saya mungkin tidak Saya mungkin Saya mungkin Saya pasti akan membeli akan membeli atau tidak membeli membeli akan membeli lampu belajar lampu belajar lampu belajar lampu belajar lampu belajar
72 163 Tabel 4.21 Hasil Survei Pengujian Konsep Pilihan Jumlah Presentase responden (%) Pasti tidak akan membeli Mungkin tidak akan membeli 8 16 Mungkin atau tidak akan membeli Mungkin akan membeli Pasti akan membeli Q NxAxP Nilai N pada produk lampu belajar ini ditetapkan sebagai jumlah keseluruhan mahasiswa di DKI Jakarta diperkirakan 1,250,000 orang. Nilai ini didapat dari jumlah mahasiswa di DKI Jakarta pada tahun ajaran 1994/1995 sebanyak 778,004 orang dengan tingkat pertumbuhan sebesar 5% (depdiknas.go.id, 2001). Dari hasil survei pengujian konsep diperoleh proporsi sampel pasti akan membeli lampu belajar sebesar 0.26, dan proporsi mungkin akan membeli lampu belajar sebesar 0.24 (jumlah ini merepresentasikan proporsi responden yang menunjukkan keinginan untuk membeli dalam satu tahun mendatang). Dan pengembang mengharapkan 40 persen dari mahasiswa yang menjadi target pasar akan menyadari keberadaan produk dan dengan senang hati menghubungi dealer terdekat. P C definitely xf definitely xc probably xf probably P 0.4x0.26x0.2x0.24 P 4.992x10 3 Q 1,250,000x0.4x x10 2, 496 unit untuk tahun pertama
73 Arsitektur Produk Semua produk terdiri dari elemen fungsional dan fisik (Ulrich dan Eppinger, 2001: ). Elemen-elemen fungsional dari produk terdiri atas operasi dan transformasi yang menyumbang terhadap kinerja keseluruhan produk. Elemen-elemen fisik dari sebuah produk adalah bagian-bagian, komponen, dan sub rakitan yang pada akhirnya diimplementasikan terhadap fungsi produk (Ulrich dan Eppinger, 2001: ). Elemen-elemen fisik diuraikan lebih rinci ketika usaha pengembangan berlanjut. Elemen fisik produk biasanya diorganisasikan menjadi beberapa building blocks utama yang disebut chunks. Setiap chunk terdiri dari sekumpulan komponen yang mengimplementasikan fungsi dari produk. Arsitektur produk adalah skema elemen-elemen fungsional dari produk disusun menjadi chunk yang bersifat fisik. Dan menjelaskan bagaimana setiap chunk berinteraksi Skema Produk Membuat skema produk merupakan langkah pertama dari menetapkan arsitektur produk. Skema harus mencerminkan pemahaman tim yang terbaik mengenai kondisi produk (Ulrich dan Eppinger, 2001: 180). Namun bukan berarti skema harus mengandung setiap detail yang dipikirkan. Aturan yang baik adalah menempatkan kurang dari 30 elemen ke dalam skema untuk pembuatan arsitektur produk. Jika produk merupakan suatu sistem yang kompleks, yang melibatkan ratusan elemen
74 165 fungsional, akan berguna untuk menghilangkan beberapa elemen lainnya menjadi fungsi tingkatan yang lebih tinggi untuk dikomposisikan. Cover body Listrik/Baterai Switch on / off Alas Penjepit Transformasi arus AC ke DC Bola lampu Aliran energi atau tenaga Aliran sinyal atau data Gambar 4.14 Skema Produk Lampu Belajar Produk lampu belajar ini mempunyai enam elemen fisik, yaitu cover body, alas, listrik/baterai, transformasi arus AC ke DC, switch on/off, dan bola lampu. Dimana masing-masing elemen tersebut diimplementasikan terhadap fungsi dasar produk. Cover body adalah bagian paling luar dari produk lampu belajar ini. Cover body ini berfungsi sebagai pelindung pengguna dari panas yang dihasilkan, sebagai pelindung dari arus listrik, dan juga sebagai penunjang struktural bagi lampu belajar itu sendiri. Oleh karena itu cover body dibuat dari plastik ABS yang tahan panas hingga 105Å.
75 166 Alas merupakan bagian dasar dari produk lampu belajar ini. Dimana alas berfungsi sebagai chasis tambahan dari lampu belajar yang mempermudah lampu belajar tersebut untuk digeser-geser di atas meja. Listrik/ baterai merupakan sumber tenaga bagi produk lampu belajar ini. Tanpa adanya tenaga listrik/ baterai maka lampu belajar ini tidak dapat digunakan. Transformasi arus AC ke DC merupakan fungsi dasar dari produk lampu belajar ini. Hal ini dikarenakan produk lampu belajar yang dapat digunakan walaupun listrik padam menggunakan recharger baterai. Transformasi arus AC ke DC digunakan untuk menyalurkan energi dari sumber tenaga ke sumber cahaya, yaitu lampu. Swicth on/off adalah tombol penghubung dengan pengguna. Yang merupakan sinyal utama berfungsi-nya keseluruhan mekanisme pada lampu belajar ini. Terakhir, bola lampu merupakan sumber cahaya pada produk lampu belajar ini. Bola lampu dapat memberikan penerangan di saat belajar, membaca maupun menggambar Kelompok Elemen Langkah kedua dalam menetapkan arsitektur produk adalah mengelompokkan elemen-elemen pada skema. Mengelompokkan elemen-elemen pada skema yaitu menugaskan setiap elemen yang terdapat pada skema menjadi chunk (Ulrich dan Eppinger, 2001: 182). Alternatif pada satu sisi mungkin sesuatu yang ekstrim. Pada sisi ekstrim lainnya, tim dapat saja memutuskan bahwa produk hanya mempunyai satu chunk utama dan kemudian berusaha untuk mengintegrasikan semua elemen
76 167 produk secara fisik. Kenyataannya, mempertimbangkan semua kemungkinan pengelompokkan elemen akan menghasilkan banyak alternatif. Salah satu prosedur untuk mengatur kompleksitas alternatif adalah dengan mengasumsikan bahwa setiap elemen pada skema akan ditugaskan terhadap satu chunk tersendiri. Kemudian secara bertahap dilakukan pengelompokkan jika memungkinkan. Pelindung Cover body Sumber tenaga Listrik/Baterai User interface Switch on / off Alas Penjepit Chasis Tambahan Transformasi arus AC ke DC Kabel bantalan tenaga Bola lampu Sumbar cahaya Aliran energi atau tenaga Aliran sinyal atau data Gambar 4.15 Kelompok Elemen Lampu Belajar Cover body merupakan chunk pelindung pada produk lampu belajar ini. Sedangkan alas merupakan chunk chasis tambahan pada produk lampu belajar ini. Antara chunk pelindung dan chunk chasis tambahan ini terdapat aliran tenaga. Hal ini dikarenakan
77 168 antara chunk tersebut dibutuhkan tenaga dari pengguna untuk menyatukan cover body dan alas bila diperlukan. Listrik atau baterai merupakan chunk sumber tenaga pada produk lampu belajar ini. Transformasi arus AC ke DC merupakan chunk kabel bantalan tenaga pada produk lampu belajar ini. Dan Bola lampu merupakan chunk sumber cahaya bagi produk lampu belajar ini. Dimana antara chunk sumber tenaga, chunk kabel bantalan tenaga dan chunk sumber cahaya terdapat aliran energi. Hal ini dikarenakan listrik/ baterai mensupplai energi untuk lampu belajar tersebut. Dimana energi yang disupplai ditransformasikan arus AC ke DC menuju bola lampu. Hal inilah yang menyebabkan lampu menyala. Sedangkan, switch on/off merupakan chunk user interface pada produk lampu belajar tersebut. Pada chunk ini terdapat aliran sinyal atau data. Hal ini dikarenakan, jika pengguna menekan tombol swicth on/off maka terdapat aliran sinyal atau data yang menyebabkan keseluruhan mekanisme berfungsi Susunan Geometris Langkah ketiga dalam menetapkan arsitektur produk adalah membuat susunan geometris yang masih kasar. Susunan geometris dapat diciptakan dalam bentuk gambar, model komputer atau model fisik (dari triplek atau busa, sebagai contoh) yang terdiri dari dua atau tiga dimensi (Ulrich dan Eppinger, 2001: 184). Pembuatan susunan geometris akan mendorong tim untuk mempertimbangkan apakah antarmuka antar chunk cukup layak untuk mendukung hubungan dimensi dasar diantara chunk.
78 169 Pada tahap ini, tim akan diuntungkan dengan menghasilkan beberapa alternatif susunan geometris dan kemudian memilih yang terbaik. Gambar 4.16 Susunan Geometris Lampu Belajar Interaksi Fundamental dan Insidental Dan mengidentifikasikan interaksi fundamental dan insidental merupakan langkah terakhir (keempat) dari menetapkan arsitektur produk. Interaksi fundamental adalah interaksi yang sesuai dengan garis skema yang menghubungkan satu chunk dengan chunk lainnya atau proses yang sangat mendasar dari suatu sistem operasi) (Ulrich dan Eppinger, 2001: 185). Sedangkan interaksi insidental yaitu interaksi yang
79 170 muncul akibat implikasi elemen fungsional menjadi bentuk fisik tertentu atau karena pengaturan geometris dari chunk (Ulrich dan Eppinger, 2001: 185). Cover body Listrik/Baterai Switch on / off Pemasangan Distorsi panas Alas Penjepit Transformasi arus AC ke DC Distorsi panas Bola lampu Gambar 4.17 Diagram Insidental Lampu Belajar Pada cover body dan alas dapat disatukan guna mempermudah produk lampu belajar ini untuk digeser-geser di atas meja. Dimana penyatuan antara cover body dan alas diperlukan tenaga dari pengguna sehingga memungkinkan terjadinya interaksi insidental pada waktu pemasangan. Pada listrik/baterai dengan transformasi arus AC ke DC terdapat pemindahan aliran energi yang dapat menimbulkan panas. Begitu pula antara transfomasi arus AC ke DC dengan sumber cahaya. Dimana terdapat pemindahan aliran energi yang dapat menimbulkan panas.
80 Desain Industri Kebutuhan-Kebutuhan Ergonomik Tabel 4.22 Tabel Kebutuhan Ergonomik Kebutuhan Ergonomik Level Kepentingan Penjelasan Peringkat Kemudahan pemakaian Rendah Sedang Tinggi Lampu belajar sangat dibutuhkan di saat belajar. Maka fungsi produk harus mampu memberitahukan melalui desainnya. Kemudahan perawatan Rendah Sedang Tinggi Jika produk lampu belajar ini berdebu, hanya dibersihkan dengan lap kering. Kuantitas interaksi pemakai Rendah Sedang Tinggi Terdapat beberapa interaksi pada produk lampu belajar ini, seperti pengatur intensitas cahaya lampu, peng-fokus lampu, pengatur ketinggian lampu. Pembaruan Rendah Sedang Tinggi Pembaharuan interaksi pemakai interaksi pada pengatur intensitas cahaya pemakai lampu, peng-fokus lampu dan recharger baterai sehingga masih diperlukan studi yang teliti. Keamanan Rendah Sedang Tinggi Produk lampu belajar ini memperhatikan kualitas cahaya sehingga melindungi mata dari kerusakkan apalagi pada pemakaian lama.
81 172 Pada faktor kemudahan pemakaian, produk lampu belajar ini diberi level kepentingan yang cukup tinggi. Hal ini dikarenakan lampu belajar sangat dibutuhkan di saat belajar, maka diperlukan pengoperasian yang cukup mudah. Misalkan, untuk mengatur ketinggian pada lampu belajar hanya dengan membengkokkan gagang lampu belajar yang fleksibel hingga didapat ketinggian yang diinginkan pengguna. Pada faktor kemudahan perawatan, produk lampu belajar ini diberi level kepentingan yang cukup tinggi. Hal ini dikarenakan produk lampu belajar ini cukup mudah dalam hal perawatan. Jikalau lampu ini berdebu, cukup dibersihkan hanya dengan menggunakan lap kering. Pada faktor kuantitas interaksi pemakai, produk lampu belajar ini diberi level kepentingan yang sedang. Hal ini dikarenakan interksi dengan pemakai hanya terdapat pada pengatur ketinggian, pengatur intensitas cahaya, pengatur fokus cahaya. Pada faktor pembaruan interaksi pemakai, produk lampu belajar ini diberi level kepentingan yang cukup tinggi. Hal ini dikarenakan pada produk lampu belajar ini terdapat beberapa fungsi baru sesuai dengan kebutuhan pelanggan dengan menggunakan teknologi yang telah ada, seperti pengatur intensitas cahaya, pengatur fokus cahaya, dan lampu belajar yang dapat digunakan walaupun listrik padam. Pada faktor keamanan, produk lampu belajar ini diberi level kepentingan yang tinggi. Hal ini dikarenakan produk lampu belajar ini memperhatikan kualitas cahaya sehingga melindungi mata dari kerusakan apalagi pada pemakaian lama.
82 Kebutuhan-Kebutuhan Estetis Tabel 4.23 Tabel Kebutuhan Estetis Kebutuhan Estetis Diferensiasi Produk Gengsi Kepemilikan, Mode, atau Kesan Motivasi Tim Level Kepentingan Penjelasan Peringkat Rendah Sedang Tinggi Produk lampu belajar ini merupakan produk yang dapat memberikan penerangan dalam belajar walaupun listrik padam. Rendah Sedang Tinggi Produk lampu ini didesain dengan berbagai bentuk yang lucu dilengkapi dengan warna-warna yang menarik untuk dapat memotivasi dalam belajar. Rendah Sedang Tinggi Produk lampu belajar ini didesain sesuai dengan kebutuhan pelanggan, tim terus melakukan inovasi yang menarik. Sehingga tim merasa bangga untuk terus melaksanakan proses perencanaan dan produksi produk. Pada faktor differensiasi produk, produk lampu belajar ini diberi level kepentingan cukup tinggi. Hal ini dikarenakan produk lampu belajar ini merupakan produk yang dapat memberikan penerangan dalam belajar walaupun listrik padam. Maka dari itu differensiasi produk akan sangat dibutuhkan untuk menciptakan daya tarik estetis dari produk.
83 174 Pada faktor gengsi kepemilikan, mode, atau kesan, produk lampu belajar ini diberi level kepentingan cukup tinggi. Hal ini dikarenakan Produk lampu ini didesain dengan berbagai bentuk yang lucu dilengkapi dengan warna-warna yang menarik untuk dapat memotivasi dalam belajar. Sehingga produk ini mampu menanamkan kebanggaan bagi pemakai. Pada faktor motivasi tim, produk lampu belajar ini diberi level kepentingan cukup tinggi. Hal ini dikarenakan inovasi-inovasi yang dilakukan pada lampu belajar ini membuat tim merasa bangga untuk terus melakukan proses perencanaan dan produksi produk Konseptualisasi Setelah kebutuhan dan tuntutan pelanggan dipahami, desainer industri membantu tim untuk membuat konsep produk. Selama tahap penggalian konsep ahli teknik dengan sendirinya menfokuskan perhatian mereka untuk menemukan penyelesaian subfungsi teknis dari produk. Pada saat ini, desainer industri berkonsentrasi menciptakan bentuk produk dan penghubung pemakai. Desainer industri membuat sketsa yang sederhana. Untuk setiap konsep sketsa itu dikenal dengan thumbnail sketch. Sketsa-sketsa ini adalah yang cepat dan tak mahal untuk mengeksperesikan ide-ide dan mengevaluasi kemungkinan-kemungkinan. Konsep-konsep yang diajukan kemudian dicocokkan dan digabungkan dengan penyelesaian teknis selama masa penggalian. Konsep-konsep ini dikelompokkan dan
84 175 dievaluasi oleh tim berdasarkan kebutuhan pelanggan, kemungkinan teknis, biaya dan pertimbangan manufaktur. Gambar 4.18 Sketsa Kasar Lampu Belajar Perbaikan Awal Pada fase perbaikan awal, desainer industri membuat model dari konsep yang paling menjanjikan. Model lunak (soft model) biasanya dibuat dalam skala penuh dengan menggunakan busa atau papan berinti-busa. Ini adalah metode kedua yang tercepat, namun sedikit lebih lambat dari sketsa, digunakan untuk mengevaluasi konsep. Meskipun secara umum masih kasar, model-model ini sangat berguna karena
85 176 model ini membantu tim pengembangan untuk mengekspresikan dan mengvisualisasikan konsep produk kedalam bentuk tiga dimensi. Gambar 4.19 Gambar Model Produk Perbaikan Lanjutan dan Pemilihan Konsep Akhir Pada tahap ini, para desainer industri sering mengganti dari model lunak dan sketsa menjadi model kasar dan gambaran informasi-intensif yang dikenal dengan rendering. Rendering memperlihatkan detail desain dan sering melukiskan penggunaan produk. Yang digambarkan dalam bentuk dua atau tiga dimensi,
86 177 rendering menyampaikan sejumlah informasi mengenai produk. Rendering sering digunakan untuk studi warna dan pengujian penerimaan pelanggan untuk ciri dan fungsi produk yang diajukan. Gambar 4.20 Dimensi Akhir Lampu Belajar Tampak Samping
87 Gambar 4.21 Dimensi Akhir Lampu Belajar Tampak Depan 178
88 179 Gambar 4.22 Dimensi Akhir Lampu Belajar Tampak Atas Pada produk lampu belajar mempunyai panjang total sebesar 200 mm, lebar total sebesar 150 mm, dan tinggi total sebesar 400 mm. Nilai ini didapat berdasarkan dari ukuran persentil 95 th untuk wanita Asia. Untuk panjang total dan lebar total dilihat dari ukuran lebar fungsional maksimal (ibu jari ke jari lain) pada persentil 95 th wanita Asia. Untuk tinggi total dilihat dari ukuran jarak dari siku ke ujung jari pada persentil 95 th wanita Asia. Persentil 95 th digunakan karena persentil 95 th mengakomodasikan 95% populasi (Nyoman, 2003: 52). Wanita Asia dikarenakan wanita ukuran minimum yang digunakan, sedangkan Asia karena pemasaran produk lampu belajar ini adalah di Indonesia (kesamaan etnis Asia).
89 180 Pada diameter gagang lampu berkisar 30mm. Nilai ini didapat berdasarkan dari ukuran persentil 95 th untuk wanita Asia. Nilai ini didapat berdasarkan dari diameter genggam maksimum pada persentil 95 th wanita Asia. Persentil 95 th digunakan karena persentil 95 th mengakomodasikan 95% populasi (Nyoman, 2003: 52). Wanita Asia dikarenakan wanita ukuran minimum yang digunakan, sedangkan Asia karena pemasaran produk lampu belajar ini adalah di Indonesia (kesamaan etnis Asia). Dan pada panjang gagang lampu belajar sebesar 200 mm. Nilai ini didapat berdasarkan dari tinggi total lampu belajar sebesar 400 mm, ketebalan alas penjepit, dan tinggi badan lampu belajar. Pada lebar badan lampu belajar sebesar 150 mm, nilai ini didapat berdasarkan dari lebar dari baterai recharger, dan dua buah trafo yang ada di dalamnya. Begitu pula pada tinggi badan lampu belajar sebesar 150 mm, nilai ini didapat berdasarkan dari tinggi dari baterai recharger, dan dua buah trafo yang ada didalamnya. Sedangkan pada lebar kepala lampu belajar sebesar 100 mm, nilai ini didapat berdasarkan dari proposional antara lebar kepala dan lebar badan lampu belajar. Dan pada tinggi kepala lampu belajar sebesar 100 mm, nilai ini didapat berdasarkan dari proposional antara tinggi kepala dan tinggi badan lampu belajar. Pada tinggi tombol on/off, nilai yang digunakan berdasarkan dari ukuran persentil 95 th untuk wanita Asia. Untuk ketinggian tombol on/off dilihat dari ukuran panjang tangan pada persentil 95 th wanita Asia. Dan ketinggian tersebut juga diperhatikan dari ketinggian dari alas lampu belajar. Persentil 95 th digunakan karena persentil 95 th mengakomodasikan 95% populasi (Nyoman, 2003: 52). Wanita Asia dikarenakan
90 181 wanita ukuran minimum yang digunakan, sedangkan Asia karena pemasaran produk lampu belajar ini adalah di Indonesia (kesamaan etnis Asia). Pada tinggi alas penjepit lampu belajar sebesar 60 mm. Nilai ini didapat berdasarkan dari ukuran buka alas penjepit lampu belajar sebesar 30 mm, dan ketebalan bagian atas dan bagian bawah alas penjepit. Pada cover lampu mempunyai diameter kecil sebesar 30 mm dan diameter besar sebesar 150 mm. Nilai pada diameter kecil pada cover lampu didapatkan dari ukuran diameter rumah lampu. Sedangkan nilai pada diameter besar cover lampu didapatkan dari luas daerah penyebaran cahaya lampu yang diinginkan Penilaian Dalam Desain Industri Tabel 4.24 Tabel Penilaian Dalam Desain Industri Kategori Penilaian Kualitas dari antarmuka pengguna Daya tarik emosional Level Kepentingan Penjelasan Peringkat Rendah Sedang Tinggi Produk lampu belajar ini mudah digunakan dan nyaman. Seperti: pengatur intensitas cahaya, tombol hanya tinggal diputar sesuai keinginan. Rendah Sedang Tinggi Produk lampu ini didesain dengan berbagai bentuk yang lucu dilengkapi dengan warna-warna yang menarik untuk dapat memotivasi dalam belajar.
91 182 Kemampuan untuk memelihara dan memperbaiki produk Penggunaan yang tepat dari sumber Diferensiasi produk Rendah Sedang Tinggi Produk lampu belajar ini mudah untuk mengganti lampu yang rusak dengan lampu subsitusi. Rendah Sedang Tinggi Produk lampu belajar ini terbuat dari plasti ABS yang tahan panas sehingga plastik tidak mudah meleleh akibat dari panas yang dihasilkan. Rendah Sedang Tinggi Produk lampu belajar ini merupakan produk yang dapat memberikan penerangan dalam belajar walaupun listrik padam. Pada kategori kualitas antar muka pengguna, produk lampu belajar ini diberi level kepentingan cukup tinggi. Hal ini dikarenakan produk lampu belajar ini mudah digunakan dan nyaman. Seperti: pengatur intensitas cahaya, tombol hanya tinggal diputar sesuai keinginan. Produk ini pun dirancang berdasarkan prinsip ergonomi guna menghindari ketidaknyamanan pada saat digunakan oleh konsumen. Pada kategori daya tarik emosional, produk lampu belajar ini diberi level kepentingan cukup tinggi. Hal ini dikarenakan produk lampu ini didesain dengan berbagai bentuk yang lucu dilengkapi dengan warna-warna yang menarik untuk dapat
92 183 memotivasi dalam belajar. Sehingga produk ini mampu menanamkan kebanggaan bagi pemakai maupun tim pengembang. Pada kategori kemampuan untuk memelihara dan memperbaiki produk, produk lampu belajar ini diberi level kepentingan cukup tinggi. Hal ini dikarenakan produk lampu belajar ini mudah untuk mengganti lampu yang rusak dengan lampu subsitusi. Dan, jikalau lampu ini berdebu, cukup dibersihkan hanya dengan menggunakan lap kering. Pada kategori penggunaan yang tepat dari sumber, produk lampu belajar ini diberi level kepentingan cukup tinggi. Hal ini dikarenakan produk lampu belajar ini terbuat dari plastik ABS yang tahan panas sehingga plastik tidak mudah meleleh akibat dari panas yang dihasilkan. Pada kategori differensiasi produk, produk lampu belajar ini diberi level kepentingan cukup tinggi. Hal ini dikarenakan produk lampu belajar ini merupakan produk yang dapat memberikan penerangan dalam belajar walaupun listrik padam.
93 DFM Gambar 4.23 OPC Lampu Belajar
94 Gambar 4.24 Struktur Produk Lampu Belajar 185
95 186 Tabel 4.25 Tabel BOM No Komponen Level Description Kode Quantity BOM UOM 1 1 Assembly 2 A2 1 Each 2. 2 Assembly 1 A3 1 Each Cover Body CB 1 Each Cover Head CH 1 Each 5. 2 Sub Assembly 2 SA2 1 Each Cover Lampu CL 1 Each Gagang Lampu GL 1 Each 8 1 Alas Penjepit AP 1 Each Dari BOM dan OPC maka dapat dilakukan penghitungan biaya komponen dan biaya produksi/unit pada awal tahap DFM. Untuk memperkirakan biaya produksi digunakan asumsi-asumsi dan data-data di bawah ini: Harga komponen-komponen yang digunakan pada produk lampu belajar. Dimana harga-harga tersebut didapat dari informasi penjualan eceran. Tabel 4.26 Tabel Biaya Komponen Standar No Komponen Harga Plastik ABS (Acrylinitrile 1 Butadiene Styrene) Rp 9,000/kg 2 Kabel kecil Rp 500/m 3 Timah Rp 500/m 4 Baut Rp 2,000/pak 5 Trafo Rp 500/buah 6 Kawat Rp 5,000/m 7 Kabel colokan Rp 3,500/m 8 Switch on/off Rp 1,500/buah 9 Rumah lampu Rp 1,000/buah
96 187 Tabel 4.27 Tabel Biaya Komponen Lainnya No Komponen Harga per unit Sealed Lead-Acid Rp 30,000/buah 1 recharger baterai 2 Lampu Rp 20,000/buah Upah Minimum Propinsi DKI Jakarta adalah Rp 1,000,000/bulan. Biaya tenaga kerja / detik = = hari UMR / bulan ker ja / bulan * Jam ker ja / hari *3600 dtk = 1,000,000 25*8* 3600 = 1.39 Rp 2.00/detik Hari kerja adalah 25 hari per bulan dengan jam kerja adalah 8 jam per hari. Harga mesin moulding injection + Rp 300,000,000. Berdasarkan OPC waktu siklus 1 unit adalah 444 detik. Biaya overhead diambil 10% dari biaya komponen (baik komponen standar maupun komponen lainnya) dan 80% dari biaya perakitan. Dari data-data dan asumsi-asumsi diatas maka dapat diperkirakan biaya produksi dari 1 unit lampu belajar bila dijalankan sesuai proses yang tertera pada OPC.
97 188 Tabel 4.28 Tabel Biaya Perkiraan Komponen Standar No Komponen Harga per unit 1 Plastik ABS Rp 9,000 2 Kabel kecil Rp Timah Rp 25 4 Baut Rp Trafo Rp 1,000 6 Kawat Rp 2,500 7 Kabel colokan Rp 3,500 8 Switch on/off Rp 1,500 9 Rumah lampu Rp 1,000 Total Rp 19,175 Material-material tersebut termasuk dalam komponen standar, dikarenakan material-material tersebut yang akan dipakai pada pembuatan produk. Pada komponen plastik ABS untuk satu unit produk lampu belajar Rp 9,000, dikarenakan untuk satu unit produk tersebut dibutuhkan sekitar satu kilogram biji plastik ABS. Pada komponen kabel kecil untuk satu unit produk lampu belajar Rp 250, dikarenakan kabel yang dibutuhkan untuk produk tersebut sekitar 50 cm. Komponen timah pada produk lampu belajar ini digunakan untuk menyambungkan kabel-kabel yang digunakan pada produk lampu belajar tersebut sehingga timah yang dibutuhkan sekitar Rp 25. Komponen baut pada produk lampu belajar ini digunakan untuk menggabungkan baterai recharger pada salah satu bagian dari produk lampu belajar tersebut sehingga mur yang dibutuhkan sekitar Rp 400. Komponen trafo pada produk lampu belajar ini dibutuhkan sebanyak dua buah guna mengurangi tegangan yang ada sehingga trafo yang dibutuhkan sekitar Rp 1,000. Komponen kabel colokan
98 189 digunakan untuk menyalurkan listrik pada lampu belajar sehingga dibutuhkan sekitar Rp 3,500. Komponen switch on/off pada produk lampu belajar dibutuhkan satu buah sehingga switch on/off yang dibutuhkan sekitar Rp 1,500. Begitu pula pada rumah lampu pada produk lampu belajar dibutuhkan satu buah sehingga rumah lampu yang dibutuhkan sekitar Rp 1,000. Tabel 4.29 Tabel Biaya Perkiraan Komponen Lainnya No Komponen Harga per unit 1 Sealed Lead-Acid recharger baterai Rp 30,000 2 Lampu Rp 25,000 Total Rp 55,000 Material-material tersebut termasuk dalam komponen lainnya, dikarenakan materialmaterial tersebut dibuat dari pabrik atau pemasok. Komponen baterai pada produk lampu belajar ini digunakan untuk menyalakan lampu pada saat listrik padam sehingga baterai yang dibutuhkan satu buah baterai, yaitu sekitar Rp 30,000. Komponen lampu pada produk lampu belajar ini dibutuhkan sebagai penerangan di saat belajar sehingga lampu yang dibutuhkan satu buah lampu sekitar Rp 25,000.
99 190 Tabel 4.30 Tabel Perkiraan Biaya Perakitan No Komponen Waktu Penanganan Waktu Perakitan Waktu Total Harga Per Detik Total Harga 1 Cover Body Rp 2 Rp Cover Head Rp 2 Rp Cover Lampu Rp 2 Rp Gagang Lampu Rp 2 Rp Alas Penjepit Rp 2 Rp 142 Rp 932 Biaya perakitan ini berdasarkan jumlah operator pada masing-masing proses pembuatan. Biaya ini kami ambil dari UMR di DKI Jakarta yaitu Rp 1,000,000 per orang. Adapun kami konversikan menjadi biaya berdasarkan jumlah waktu kerja masing-masing operator per hari selama hari kerja. Waktu pengerjaan produk kami ambil berdasarkan proses operasi dan proses perakitan masing-masing part produk. Tabel 4.31 Tabel Perkiraan Biaya Overhead Biaya Overhead dari biaya komponen = Rp 7,418 Biaya Overhead dari biaya perakitan = Rp 746 Total Biaya = Rp 8,164 Biaya overhead ini didapat dari Biaya overhead diambil 10% dari harga material dan, 80% dari biaya perakitan.
100 191 Tabel 4.32 Tabel Perkiraan Biaya Manufaktur Biaya Manufaktur - Biaya Komponen = Rp 74,175 - Biaya Perakitan = Rp Biaya Overhead = Rp 8,164 Total Biaya = Rp 83,271 Dari tiap jenis biaya kemudian dijumlahkan sehingga mendapatkan biaya manufaktur Rp 83,271. Biaya tersebut masih dapat ditekan dengan meminimasi biaya atau waktu produksi. Tabel 4.33 Tabel Pengurangan Biaya Komponen Standar No Komponen Harga per unit 1 Plastik ABS Rp 9,000 2 Kabel kecil Rp Timah Rp 25 4 Baut Rp Trafo Rp 1,000 6 Kawat Rp 2,500 7 Kabel colokan Rp 3,500 8 Switch on/off Rp 1,500 9 Rumah lampu Rp 1,000 Total Rp 19,175 Pada biaya komponen standar pengurangan tidak dapat dilakukan lagi. Hal ini dikarenakan komponen-komponen standar tersebut berkualitas denga harga yang relatif murah.
101 192 Tabel 4.34 Tabel Pengurangan Biaya Komponen Lainnya No Komponen Harga per unit 1 Sealed Lead-Acid recharger baterai Rp 30,000 2 Lampu Rp 20,000 Total Rp 50,000 Penurunan biaya terletak pada lampu. Hal ini dikarenakan karena prediksi awal penggunaan lampu tersebut adalah dengan kualitas yang bagus. Akan tetapi, ternyata terdapat unit dengan harga lebih murah dengan kualitas yang hampir sama. Tabel 4.35 Tabel Pengurangan Biaya Perakitan No Komponen Waktu Penanganan Waktu Perakitan Waktu Total Harga Per Detik Total Harga 1 Cover Body Rp 2 Rp Cover Head Rp 2 Rp Cover Lampu Rp 2 Rp Gagang Lampu Rp 2 Rp Alas Penjepit Rp 2 Rp 142 Rp 932 Pada biaya perakitan pengurangan tidak dapat dilakukan lagi. Hal ini dikarenakan perencanaan tersebut sudah dianggarkan. Tabel 4.36 Tabel Pengurangan Biaya Overhead Biaya Overhead dari biaya komponen = Rp 6,918 Biaya Overhead dari biaya perakitan = Rp 746 Total Biaya = Rp 7,664
102 193 Biaya perakitan ini didapat dari biaya overhead diambil 10% dari harga material dan, 80% dari biaya perakitan. Dikarenakan terjadi pengurangan pada biaya material, maka terjadi pengurangan pula pada biaya overhead. Tabel 4.37 Tabel Pengurangan Biaya Manufaktur Biaya Manufaktur - Biaya Komponen = Rp 69,175 - Biaya Perakitan = Rp Biaya Overhead = Rp 7,664 Total Biaya = Rp 77,771 Dari pengurangan biaya tersebut, tentu saja akan menyebabkan biaya manufaktur yang lebih murah. Sehingga terjadi pengurangan biaya manufaktur dari Rp 83,271 menjadi Rp 77, Prototype Prototype sebagai sebuah penaksiran produk melalui satu atau lebih dimensi yang menjadi perhatian (Ulrich dan Eppinger, 2001: 259). Dengan definisi ini, setiap wujud yang memperlihatkan sedikitnya satu aspek produk yang menarik bagi tim pengembangan dapat ditampilkan sebagai sebuah prototype. Definisi ini menyimpang dari penggunaan umumnya, dimana mencakup bermacam bentuk prototype seperti penggambaran konsep, model matematika, dan bentuk fungsional yang lengkap sebelum dibuat dari suatu produk.
103 194 Gambar 4.25 Produk Lampu Belajar Atas (a) Gambar 4.26 Produk Lampu Belajar Atas (b)
104 195 Gambar 4.27 Produk Lampu Belajar Atas (c) Gambar 4.28 Produk Lampu Belajar Atas (d)
105 196 Gambar 4.29 Produk Lampu Belajar Depan Gambar 4.30 Produk Lampu Belajar Tampak Samping (a)
106 Gambar 4.31 Produk Lampu Belajar Tampak Samping (b) 197
BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA
BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA 4.1 Pengumpulan dan Pengolahan Data 4.1.1 Produk Yang Ada Dipasaran Gambar 4.1 Meja Seterika PD. Indra Jaya Spesifikasi meja seterika pada PD. Indra Jaya : 1. Meja seterika
UNIVERSITAS BINA NUSANTARA. Jurusan Teknik Industri Tugas Akhir Sarjana Semester Genap tahun 2006/2007 (sesuai periode berjalan)
UNIVERSITAS BINA NUSANTARA Jurusan Teknik Industri Tugas Akhir Sarjana Semester Genap tahun 2006/2007 (sesuai periode berjalan) PERANCANGAN DAN PENGEMBANGAN KONSEP PADA PRODUK LAMPU BELAJAR Like Lanita
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Diagram Alir Penelitian Metode penelitian menunjukan bagaimana penelitian dilakukan dari identifikasi masalah sampai dengan analisis dan kesimpulan. Tahapan metode dari penelitian
BAB 3. Metode Perancangan Produk
BAB 3 Metode Perancangan Produk Berikut adalah flow diagram dari tahapan-tahapan yang dilakukan mulai dari awal sampai pengujian konsep dalam melakukan proses pengembangan produk: Gambar 3.1 Flow Diagram
UNIVERSITAS BINA NUSANTARA. Jurusan Teknik Industri Tugas Akhir Sarjana Semester Genap tahun 2006/2007 (sesuai periode berjalan)
UNIVERSITAS BINA NUSANTARA Jurusan Teknik Industri Tugas Akhir Sarjana Semester Genap tahun 2006/2007 (sesuai periode berjalan) PERANCANGAN DAN PENGEMBANGAN KONSEP PADA PRODUK MEJA SETERIKA Yunus Armanto
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Definisi Perancangan dan Pengembangan Produk Perancangan dan pengembangan produk adalah serangkaian aktivitas yang dimulai dari analisis persepsi dan peluang
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
42 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metodologi Penelitian Metodologi penelitian ini merupakan cara yang digunakan untuk memecahkan masalah dengan langkah-langkah yang akan ditempuh harus relevan dengan
BAB III METODE PENELITIAN
19 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Yang Digunakan Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Dalam penelitian ini metode deskriptif yang digunakan untuk
III. METODE PENELITIAN
III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Untuk mengetahui keinginan konsumen akan minuman kesehatan, kepuasan konsumen merupakan salah satu faktor terpenting yang harus diperhatikan oleh perusahaan.
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI Proses pengembangan produk secara umum dibagi kedalam beberapa tahap yang biasanya disebut fase. Menurut Karl T. Ulrich dan Steven D. Eppinger dalam bukunya yang berjudul Perancngan
BAB III METODE PENELITIAN
31 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian Metode penelitian yang akan digunakan pada penelitian ini adalah metode kuasi eksperimen. Penggunaan metode kuasi eksperimen dalam penelitian
BAB III METODE PENELITIAN
34 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian 1. Metode Penelitian Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah pre-experimental. Alasan penggunaan metode ini dikarenakan keadaan yang
BAB 4 PENGOLAHAN DATA DAN ANALISA. rangkaian fase pengembangan produk.
78 BAB 4 PENGOLAHAN DATA DAN ANALISA 4.1 Perencanaan Produk Sebelum memasuki tahap identifikasi kebutuhan pelanggan, terlebih dahulu perlu dilakukan tahap perencanaan produk, yang mana hasil dari perencanaan
BAB I PENDAHULUAN. Tuntutan kerja dan target yang ditetapkan oleh perusahaan harus dapat
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah. Perusahaan akan selalu berusaha agar tujuannya dapat tercapai secara maksimal serta dapat mempertahankan kelangsungan usahanya. Tuntutan kerja dan target
BAB I PENDAHULUAN. di bidang jasa boga, maka setiap perusahaan perlu menciptakan konsep
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam persaingan bisnis yang semakin ketat dewasa ini dan seiring dengan semakin banyaknya perusahaan pesaing yang bermunculan khususnya di bidang jasa boga, maka
BAB III METODE PENELITIAN
1 Ý = + XY BAB III bx + e METODE PENELITIAN 1. Tempat dan Waktu Penelitian 1.1. Tempat Penelitian Adapun yang menjadi lokasi penelitian adalah di PT. Sinar Galesong Pratama Cabang Gorontalo yang beralamatkan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode quasi
43 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Metode dan Desain Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode quasi eksperiment dan metode deskriptif. Untuk mendapatkan gambaran peningkatan
BAB III METODE PENELITIAN. Objek penelitian adalah produk shoulder bags untuk wanita usia 17 sampai
26 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Objek penelitian adalah produk shoulder bags untuk wanita usia 17 sampai 45 tahun yang digunakan untuk aktivitas harian selain bekerja dan kuliah. Aktivitas
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian memiliki kedudukan yang penting dalam suatu penelitian agar dapat memberikan gambaran kepada peneliti tentang masalah yang hendak diungkap.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. experimental dan deskriptif. Metode pre experimental digunakan untuk melihat
40 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Desain dan Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pre experimental dan deskriptif. Metode pre experimental digunakan untuk
BAB III METODE PENELITIAN. adalah penelitian yang bertujuan untuk menganalisis hubungan hubungan
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Desain riset yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kausal (sebab akibat) dan menggunakan wawancara langsung dengan alat bantu kuesioner kepada responden
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Pada suatu penelitian terdapat berbagai macam metode penelitian yang digunakan, pemilihannya sangat tergantung pada prosedur, alat serta desain penelitian
Bab 3. Metodologi Penelitian
Bab 3 Metodologi Penelitian Penelitian dimulai dengan melakukan studi pendahuluan untuk dapat merumuskan permasalahan berdasarkan pengamatan terhadap kondisi obyek yang diamati. Berdasarkan permasalahan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode preexperiment design,yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui dampak awal
III. METODE PENELITIAN. dengan tujuan dan kegunaan tertentu (Sugiyono, 2010: 3)
32 III. METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian adalah diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu (Sugiyono, 2010: 3) Metode penelitian yang
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Tahapan Proses Perancangan dan Pengembangan Produk Proses perancangan dan pengembangan produk terdiri dari 6 tahapan seperti yang ditunjukkan dalam gambar
III. METODE KAJIAN A. Pengumpulan Data
III. METODE KAJIAN A. Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa metode, teknik dan sumber. Data yang digunakan dalam kajian ini adalah data primer dan sekunder yang bersifat kualitatif
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 3.1 Langkah langkah (flow chart) pemecahan masalah. Mulai. Observasi Pendahuluan. Penetapan Tujuan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Langkah langkah (flow chart) pemecahan masalah Mulai Observasi Pendahuluan Studi Pustaka Identifikasi Masalah Penetapan Tujuan Identifikasi atribut penelitian Pembuatan
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Perencanaan Produk Perencanaan produk sering disebut sebagai zerofase karena mendahului persetujuan proyek dan proses peluncuran pengembangan produk aktual. Dengan adanya
UJI INSTRUMEN SOAL KOGNITIF
UJI INSTRUMEN SOAL KOGNITIF Sebelum instrument digunakan dalam pengambilan data penelitian, maka sebaiknya instrument dilakukan beberapa uji agar instrument yang digunakan memberikan hasil yang lebih akurat.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. penelitian deskriptif analisis. Metode penelitian ini diambil karena berkesesuaian
38 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif analisis. Metode penelitian ini diambil karena berkesesuaian
BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN
BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Penelitian ini mengenai pengaruh keragaman tenaga kerja (workforce diversity) terhadap kinerja karyawan bagian pemeliharaan (maintenance section)
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Metode bagi suatu penelitian merupakan suatu alat di pencapaian suatu tujuan untuk memecahkan suatu masalah. Menurut Sugiyono (2016:2) metode penelitian
BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian asosiatif. Penelitian asosiatif
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian asosiatif. Penelitian asosiatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metode penelitian adalah langkah dan prosedur yang akan dilakukan dalam pengumpulan data atau informasi guna memecahkan permasalahan dan menguji hipotesis penelitian. Sesuai
III. METODE PENELITIAN. menentukan tingkat hubungan antara variabel-variabel ini. belajar siswa kelas VIII Tahun Pembelajaran 2008/2009.
28 III. METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Penelitian Korelasi. Sesuai dengan pendapat Suharsimi Arikunto (2006:270): Metode Penelitian Korelasional
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Campbell & Stanley dalam Arikunto (2006 : 84) mengelompokkan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Campbell & Stanley dalam Arikunto (2006 : 84) mengelompokkan rancangan penelitian menjadi dua kelompok yaitu, pre experimental design (eksperimen yang
BAB II METODOLOGI PENELITIAN. bebas terhadap variabel terikat, maka dalam hal ini penulis menggunakan metode
BAB II METODOLOGI PENELITIAN A. Bentuk Penelitian Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat, maka dalam hal ini penulis menggunakan metode
BAB 3 METODE PENELITIAN. yang disesuaikan dengan tujuan penelitian sehingga dapat melakukan analisis. Berikut. Jenis dan Metode. pelanggan.
BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Untuk mengetahui jenis penelitian yang dilakukan, digunakan desain penelitian yang disesuaikan dengan tujuan penelitian sehingga dapat melakukan analisis.
BAB IV HASIL PENELTIAN DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Kualitas Jasa Terhadap Loyalitas Pelanggan Logistik Pada
84 BAB IV HASIL PENELTIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Kualitas Jasa Terhadap Loyalitas Pelanggan Logistik Pada Kantor Pos Besar Bandung 40000 Dalam penelitian ini penulis menyebarkan 80 lembar kuisioner
Uji Validitas dan Reliabilitas
Uji Validitas dan Reliabilitas Uji Validitas Tes Setiap penyusunan instrumen dalam penelitian selalu memperhitungkan beberapa pertimbangan seperti apa yang hendak diukurnya, apakah data yang terkumpul
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek Populasi/ Sampel Penelitian 1. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian merupakan tempat dilaksanakannya penelitian guna memperoleh data yang diperlukan. Penelitian
BAB III METODE PENELITIAN. apapun tetapi hanya mengungkapkan fakta-fakta yang ada di sekolah.
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Sesuai dengan tujuan penelitian yaitu mengetahui tingkat pemahaman siswa tentang makanan lauk pauk dan sayuran tradisional di SMA N 11 Yogyakarta, maka penelitian
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode pre experimental (Sugiyono, 2009).
48 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode pre experimental (Sugiyono, 2009). Desain yang digunakan adalah The One-Group Pretest-Posttest Design
BAB III METODE PENELITIAN. metode eksperimen. Dalam penelitian ini, peneliti membagi subjek yang diteliti
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode dan Desain Penelitian Metode merupakan suatu cara ilmiah yang digunakan untuk mencapai maksud dan tujuan tertentu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
BAB 3 METODE PERANCANGAN SISTEM
20 BAB 3 METODE PERANCANGAN SISTEM Studi pendahuluan Studi kepustakaan Pengumpulan data: * kuesioner *wawancara *observasi lapangan Data cukup, data reliabel, data valid? Ya tidak Identifikasi kebutuhan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN Dalam suatu penelitian salah satu unsur yang sangat penting adalah metode yang digunakan. Dalam bab ini, akan diuraikan pook-pokok bahasan sebagai berikut: (A) Identifikasi Variabel
PERANCANGAN ULANG ALAT PENUANG AIR GALON GUNA MEMINIMALISASI BEBAN PENGANGKATAN DENGAN METODE QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT
PERANCANGAN ULANG ALAT PENUANG AIR GALON GUNA MEMINIMALISASI BEBAN PENGANGKATAN DENGAN METODE QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT Erni Suparti 1), Rosleini Ria PZ 2) 1),2) Program Studi Teknik Industri, Fakultas
III. METODE PENELITIAN
40 III. METODE PENELITIAN 3.1 Metode Pengumpulan Data 3.1.1 Penelitian Kepustakaan 1. Study literatur atau studi kepustakaan, yaitu dengan mendapatkan berbagai literatur dan referensi tentang manajemen
III. METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah statistik deskriptif. Menurut Sugiyono
III. METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Objek Penelitian 3.1.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah statistik deskriptif. Menurut Sugiyono (2012:147) statistik deskriptif adalah: Statistik
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Objek dari penelitian yang akan dilakukan adalah sistem pelayanan informasi yang dimiliki oleh bus Trans Jogja sebagai elemen pendukung dari moda transportasi
BAB III METODE PENELITIAN. pendekatan kuantitatif-dekriptif. Desain penelitian ini dipilih dengan
BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Evaluasi Penelitian ini menggunakan desain penelitian evaluatif dengan pendekatan kuantitatif-dekriptif. Desain penelitian ini dipilih dengan pertimbangan untuk mengevaluasi
BAB 2 LANDASAN TEORI
8 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka Adapun Proses Pengembangan Produk secara umum terdiri dari beberapa tingkatan atau biasa disebut fase. Dari buku Perancangan dan Pengembangan Produk karangan
BAB III METODE PENELITIAN. metode penelitian yang ilmiah pula, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai
44 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian Penelitian merupakan salah satu dari tindakan yang dapat dikatakan sebagai tindakan dalam mencari kebenaran dengan menggunakan pendekatan
BAB I PENDAHULUAN. hiburan. Laptop juga sudah menjadi barang pribadi yang sangat penting
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Laptop sudah menjadi teman dekat belajar, bermain, dan mendapatkan hiburan. Laptop juga sudah menjadi barang pribadi yang sangat penting keberadaannya bagi
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Metode merupakan hal penting yang diperlukan dalam penelitian, serta salah satu cara sistematik yang digunakan dalam penelitian. Berhasil tidaknya penelitian
BAB III METODE PENELITIAN. (Sugiyono, 2002: 11). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh
36 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian asosiatif yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih (Sugiyono, 00:
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. terletak di sebelah selatan Kota Bandung yang berjarak sekitar ± 50 km dari pusat
29 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian dilakukan di Taman Wisata Alam Cimanggu yang terletak di sebelah selatan Kota Bandung yang berjarak sekitar ± 50 km dari
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Kualitas Pelayanan Kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berpengaruh dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan.
BAB I PENDAHULUAN. perhatian dari perusahaan untuk para pelangganya. Setiap perusahaan harus
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG MASALAH Pemasaran adalah hasil dari kegiatan setiap perusahaan sebagai wujud perhatian dari perusahaan untuk para pelangganya. Setiap perusahaan harus memandang bahwa
III. METODOLOGI PENELITIAN
27 III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis elemen-elemen brand equity (ekuitas merek), yaitu brand awareness (kesadaran merek), brand association
BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. mendapatkan jawaban ataupun solusi dari permasalahan yang terjadi.
BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Objek penelitian merupakan sesuatu yang menjadi perhatian dalam suatu penelitian, objek penelitian ini menjadi sasaran dalam penelitian untuk mendapatkan
PERANCANGAN PRODUK. Chapter 4. Gasal 2014
PERANCANGAN PRODUK Chapter 4 Gasal 2014 Debrina Puspita Andriani Teknik Industri Universitas Brawijaya e-mail : [email protected] Blog : http://debrina.lecture.ub.ac.id/ 6/10/2014 Perancangan Produk - Gasal
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Berdasarkan permasalahan yang dikaji, penelitian ini bertujuan untuk menguji model Concept Attainment berbasis multimedia untuk meningkatkan hasil belajar,
BAB III METODE PENELITIAN. mengumpulkan, menyusun dan menganalisis data yang diperoleh sehingga
BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian merupakan suatu cara yang dilakukan untuk mengumpulkan, menyusun dan menganalisis data yang diperoleh sehingga menghasilkan makna yang sebenarnya.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Metode penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat ditemukan, dikembangkan dan dibuktikan suatu pengetahuan tertentu
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Populasi dan Sampel Penelitian Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh
METODELOGI PENELITIAN. Data penelitian ini diperoleh dari jawaban responden terhadap pertanyaan yang diajukan,
III. METODELOGI PENELITIAN 3.1. Definisi Operasional Variabel Data penelitian ini diperoleh dari jawaban responden terhadap pertanyaan yang diajukan, menyangkut persepsi responden terhadap berbagai variabel.
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Metode Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam menyelesaikan masalah penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif dipilih penulis
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Yang Digunakan Metodologi penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan dengan tujuan dan kegunaan tertentu, Sugiyono (2013:01).
BAB III METODE PENELITIAN
3 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Obyek Penelitian Lokasi penelitian ini adalah Butik Kharisma Indonesia yang berlokasi di Jalan Gajahmada No. 134, Semarang. Obyek penelitian ini adalah karyawan
III. METODE PENELITIAN. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP N 12 Bandar
33 III. METDE PENELITIAN A. Populasi Penelitian Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP N Bandar Lampung pada Semester Genap Tahun Pelajaran 0/0 yang terdiri atas 6 kelas berjumlah
III. METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam pengembangan instrumen asesmen
27 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam pengembangan instrumen asesmen pengetahuan ini adalah metode penelitian dan pengembangan (Research and Development
PERTEMUAN 2 (IDENTIFIKASI KEBUTUHAN PELANGGAN) SENIN-SELASA, OKTOBER 2016
PERTEMUAN 2 (IDENTIFIKASI KEBUTUHAN PELANGGAN) SENIN-SELASA, 10-11 OKTOBER 2016 TAHAP PERANCANGAN PRODUK TAHAP IDENTIFIKASI KEBUTUHAN PELANGGAN Mengumpulk an Data Mentah dari Pelanggan Menginterpre tasi
Validitas dan Reliabilitas
1 Pendahuluan Tujuan pengukuran suatu obyek adalah menghasilkan informasi yang akurat dan obyektif mengenai obyek tersebut. Pengukuran berat suatu logam mulia bertujuan mengetahui berapa gram bobot logam
BAB I PENDAHULUAN. bisnis sekarang sudah sangat pesat dan dapat menembus batasan batasan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan dan peningkatan teknologi informasi dalam kondisi bisnis sekarang sudah sangat pesat dan dapat menembus batasan batasan geografis sehingga informasi
BAB III METODE PENELITIAN. penelitian. Dalam penelitian ini subjeknya adalah nasabah yang menerima fasilitas
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Subjek dan Objek Penelitian 1. Subjek Penelitian Subjek penelitian adalah responden yang terlibat langsung di dalam penelitian. Dalam penelitian ini subjeknya adalah nasabah
Bab 3 Metodologi Penelitian
Bab 3 Metodologi Penelitian 3.1. Flow Chart Metodologi Penelitian Penelitian merupakan kegiatan sistematis dengan serangkaian proses yang dilakukan secara terstruktur. Setiap tahapan proses tersebut akan
BAB I PENDAHULUAN. perusahaan yang dapat menghasilkan barang atau jasa berkualitas yang mampu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam era globalisasi ini, persaingan bisnis menjadi sangat tajam. Hanya perusahaan yang dapat menghasilkan barang atau jasa berkualitas yang mampu menghadapi
TGB 1 27 TGB 2 25 Jumlah 52
BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Populasi, dan Sampel Penelitian 1. Lokasi, Subjek, dan Objek Penelitian a. Lokasi yang akan dilaksanakannya penelitian adalah SMKN 9 Garut yang berlokasi di Kecamatan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang diambil oleh peneliti, Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif, dimana data-data penelitian yang digunakan
BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian ini menggunakan penelitian survey. Metode survey menurut
BAB III METODE PENELITIAN 3. Metode Yang Digunakan Metode penelitian ini menggunakan penelitian survey. Metode survey menurut Sugiyono (008 : ), yaitu : Metode survey digunakan untuk mendapatkan data dari
BAB III METODE PENELITIAN Identifikasi Variabel Dan Definisi Operasional Variabel
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Identifikasi Variabel Dan Definisi Operasional Variabel Definisi operasional variabel yaitu mengubah konsep-konsep yang masih berupa abstrak dengan kata-kata yang menggambarkan
BAB III METODE PENELITIAN. mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu (Sugiyono, 2013:2).
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilimiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu (Sugiyono, 2013:2). Tujuan adanya metode
BAB I PENDAHULUAN. Kegiatan di bidang bisnis merupakan kegiatan yang komplek dan beresiko
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kegiatan di bidang bisnis merupakan kegiatan yang komplek dan beresiko tinggi, oleh karena itu diperlukan informasi yang lengkap, akurat, dan up to date untuk
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode dan Pendekatan Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif yaitu pendekatan yang memungkinkan dilakukan pencatatan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Menurut Koentjaraningrat dalam bukunya metode-metode penelitian
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Metode penelitian adalah strategi umum yang dianut dalam pengumpulan dan analisis data yang diperlukan guna menjawab persoalan yang dihadapi.
III. METODE PENELITIAN
26 III. METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian deskriptif yakni suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi,
METODE PENELITIAN. Objek penelitian adalah semua cabang Larissa Aesthetic Center. dan yang berlokasi di Galeria Mall.
BAB III METODE PENELITIAN A. Obyek dan Subyek 1. Objek dan Subjek Penelitian Objek penelitian adalah semua cabang Larissa Aesthetic Center Yogyakarta, yang berlokasi di Jl. Magelang Km. 5, Jl. C. Simanjuntak
BAB III METODE PENELITIAN. Adapun jenis data yang digunakan dalam uraian ini adalah sebagai berikut:
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Pendekatan Penelitian Adapun jenis data yang digunakan dalam uraian ini adalah sebagai berikut: 1. Penelitian Kuantitatif Merupakan data yang berbentuk angka atau
