6 IMPLEMENTASI MODEL 6.1 Prediksi Produksi Jagung
|
|
|
- Hamdani Kusnadi
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 89 6 IMPLEMENTASI MODEL Rancangbangun model penyediaan tepung jagung pada rantai pasok industri berbasis jagung ini dapat digunakan sebagai suatu model yang dapat menganalisis penyediaan tepung jagung pada industri tepung jagung secara terintegrasi dalam suatu rantai pasok. Keterkaitan antar model yang satu terhadap model lainnya menunjukkan bahwa tidak terpenuhinya kebutuhan jumlah dan mutu produk pada salah satu mata rantai akan berpengaruh kepada mata rantai berikutnya. Selanjutnya akan dilakukan analisis pada setiap model yang dirancang. 6.1 Prediksi Produksi Jagung Prediksi produksi jagung dalam model penyediaan tepung jagung diperlukan untuk dapat memperkirakan berapa jumlah produksi jagung yang dapat disediakan oleh sentra jagung. Dengan adanya prediksi jumlah produksi jagung maka dapat diperkirakan pula berapa kuantitas jagung pipilan yang dihasilkan. Berdasarkan diskusi dan konfirmasi pakar diperkirakan bahwa sekitar 50% dari hasil produksi jagung digunakan sebagai pakan ternak. Berdasarkan diskusi diperoleh informasi bahwa sebanyak 4,5 5 juta ton digunakan untuk pakan, sehingga perkiraan produksi jagung kurang lebih 10 juta ton per tahun. Kenyataan ini sangat berbeda dengan data Departemen Pertanian (2011) yang mencatat bahwa produksi jagung sebanyak lebih kurang 16.5 juta ton per tahun. Namun hingga saat ini Indonesia masih mengimpor jagung pipilan. Dengan adanya model prediksi produksi jagung, maka industri tepung jagung dapat merencanakan penyediaan bahan baku untuk memproduksi produk tepung jagung sesuai permintaan konsumennya. Pihak pengambil keputusan dapat memperkirakan berapa jumlah bahan baku jagung yang dapat disediakan oleh petani lokal dan berapa jumlah bahan baku yang harus diimpor dari negara lain. Penggunaan alat analisis dalam model ini akan memudahkan pihak pengguna untuk meramalkan permintaan produksi jagung pada tiap periode. Prakiraan dengan kesalahan ramalan terkecil merupakan prakiraan yang mendekati ketepatan. Ketersediaan data sebagai variabel input dalam peramalan sangat diperlukan. Dalam hal ini pihak industri tepung jagung perlu melakukan pencatatan data sehingga dengan data yang akurat akan diperoleh pula hasil
2 90 peramalan yang baik. Kerjasama antar elemen-elemen pada rantai pasok industri berbasis jagung dalam hal pencatatan data serta pemberian informasi akan memungkinkan diperolehnya hasil peramalan yang lebih akurat. Setiap wilayah di Indonesia memiliki curah hujan yang berbeda-beda, sehingga proses peramalan tidak dapat dilakukan sekaligus secara menyeluruh untuk wilayah Indonesia. Proses peramalan sebaiknya dilakukan per wilayah sesuai keadaan curah hujan pada wilayah tersebut. Proses peramalan dalam model ini menggunakan data luas panen (ha), curah hujan (mm), dan produksi jagung (ton) di daerah Jawa Tengah. Peramalan ini menggunakan jaringan syaraf tiruan dan model regresi berganda. Proses peramalan dan hasil yang diperoleh dapat dilihat pada Lampiran 1 sampai dengan lampiran 4. Hasilnya menunjukkan bahwa jaringan syaraf tiruan lebih baik karena memiliki nilai MSE yang lebih kecil. Hasil prediksi produksi jagung Jawa Tengah dengan jaringan syaraf tiruan terdapat pada Lampiran 2. Model prediksi produksi jagung ini bermanfaat bagi beberapa pemangku kepentingan antara lain: 1) Pengumpul jagung pipilan; 2) Pihak pabrik jagung; 3) Pemegang kebijakan. Dengan adanya model ini faktor ketidak-pastian tentang jumlah produksi jagung pada periode yang akan datang yang mempengaruhi fluktuasi harga jagung, dapat diperkecil. Model ini bermanfaat bagi pihak pengumpul karena dengan diperolehnya prediksi jumlah produksi jagung pada beberapa periode ke depan, para pengumpul dapat merencanakan pembelian jagung dari petani dan dapat merencanakan penjualan serta rencana distribusi jagung pipilan kepada industri-industri pengolahan jagung. Manfaat yang diperoleh pabrik jagung dengan penggunaan model ini adalah pabrik jagung dapat mengetahui jumlah bahan baku yang dapat diperoleh dari sentra jagung, sehingga dapat merencanakan impor bahan baku bila sentra jagung dalam negeri tak dapat memenuhinya. Berdasarkan hasil prediksi ini, pihak pabrik jagung dapat membuat perencanaan produksi dengan lebih matang. Manfaat model ini bagi pihak pemegang kebijakan adalah pemegang kebijakan dapat menggunakannya untuk memprediksi produksi jagung di sentrasentra jagung secara parsial. Dengan demikian penjumlahan produksi jagung yang
3 91 diprediksi pada sentra-sentra jagung merupakan hasil prediksi produksi jagung secara nasional. Dengan diperolehnya hasil prediksi produksi jagung secara nasional, pihak pemegang kebijakan dapat membuat kebijakan tentang usahausaha untuk meningkatkan produktivitas jagung, dan kebijakan lainnya tentang ketahanan pangan. 6.2 Pengelompokan Mutu Jagung Pipilan Pengelompokan mutu jagung pipilan merupakan salah satu bagian dari proses pasca panen jagung. Proses pasca panen jagung terdiri dari kegiatankegiatan: 1) pemanenan, 2) pengupasan, 3) pengeringan, 4) pemipilan,; 5) penyimpanan, 6) pengangkutan, dan 7) Klasifikasi dan standarisasi mutu (Firmansyah et al. 2006). Kegiatan-kegiatan pada pasca panen jagung sangat berpengaruh kepada hasil panen yang diperoleh. Proses pasca panen yang tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan penurunan kuantitas dan kualitas hasil panen. Menurut Firmansyah et al. (2006), permasalahan pasca panen jagung antara lain adalah susut kuantitas dan mutu, serta keamanan pangan. Kehilangan kuantitatif hasil panen merupakan susut hasil akibat tertinggal di lapang pada waktu panen, tercecer saat pengangkutan, atau tidak terpipil. Kehilangan kualitatif merupakan penurunan mutu hasil akibat butir rusak, butir berkecambah, atau biji keriput selama proses pengeringan, pemipilan, pengangkutan atau penyimpanan. Sedangkan masalah yang berkaitan dengan keamanan pangan adalah penundaan penanganan pascapanen jagung. Penundaan ini berpeluang untuk meningkatkan infeksi cendawan. Penundaan pengeringan paling besar kontribusinya dalam meningkatkan infeksi cendawan Aspergillus flavus yang bisa mencapai di atas 50%. Cendawan tersebut menghasilkan mikotoksin jenis aflatoksin. Toksin yang dikeluarkan oleh cendawan tersebut juga berbahaya bagi kesehatan ternak. Penurunan mutu biji jagung pipilan juga dapat terjadi karena masalah transportasi. Jarak dan waktu transportasi yang lama, dan cara penanganan pascapanen yang kurang baik mengakibatkan kemungkinan terjadinya perubahan kadar air, dan tumbuhnya cendawan. Hal ini mengakibatkan terjadinya penurunan mutu saat jagung tiba di tempat yang dituju.
4 92 Tujuan penanganan pasca panen jagung yang baik adalah untuk memperoleh butiran jagung dengan mutu yang baik, yang dimulai dengan penentuan umur panen yang tepat, mengurangi susut panen dan perontokan, cepat melakukan penjemuran biji dan penyimpanan pada kadar air dan wadah yang tepat, sehingga mendapatkan harga jual yang tinggi (Balai Besar Litbang Pasca Panen, 2010). Model pengelompokan mutu jagung pipilan ini bermanfaat dalam kegiatan klasifikasi mutu pada proses pasca panen. Model ini juga bermanfaat bagi pengumpul sehingga dapat mendistribusikan jagung pipilan menurut kelompok mutu sesuai jenis industri sasarannya. Jagung yang mengandung aflatoksin melebihi batas yang diijinkan, tak dapat dipasok sebagai bahan baku bagi industri tepung jagung. Dalam memproduksi tepung jagung, industri tepung jagung membutuhkan bahan baku jagung pipilan yang memenuhi stadar mutu yang ditetapkan. Jenis uji pada parameter mutu kadar air, butir rusak, butir pecah, dan kotoran merupakan variabel masukan yang berpengaruh kepada kelompok mutu jagung pipilan. Walaupun telah dikeringkan namun adanya kadar air yang berlebih karena penyimpanan akan mengakibatkan kemungkinan tumbuhnya aflatoksin. Standar Nasional Indonesia menetapkan batas kandungan aflatoksin untuk jagung pipilan yaitu maksimum 5 ppb bagi manusia dan maksimum 50 ppb bagi hewan. Bila kandungan aflatoksin lebih dari 50 ppb maka jagung pipilan tidak dapat digunakan sebagai bahan baku pada industri tepung jagung. Pengelompokan mutu jagung pipilan berdasarkan kadar air, butir rusak, butir pecah, dan kotoran dapat dilakukan setelah melewati pengujian aflatoksin terlebih dahulu. Hal ini disebabkan karena industri sasaran yang dijadikan konsumen jagung pipilan adalah industri tepung jagung. Variabel input yang cukup penting selain kadar air adalah butir rusak dan butir pecah. Bagi industri farmasi disyaratkan tidak boleh ada butir yang pecah. Butir pecah dapat terjadi pada saat proses pengeringan dan proses pemipilan. Akibat dari butir yang pecah adalah terdapatnya telur-telur serangga yang akan merusak butir jagung. Telur serangga tidak mati pada air mendidih dan tidak mati pada proses mekanis.
5 93 Butir rusak jagung pipilan diakibatkan karena dimakan burung. Untuk industri pangan butir rusak merupakan syarat mutu yang penting, karena butir rusak dapat berpotensi adanya telur serangga dan kutu. Selain itu butir rusak pada jagung akan mengakibatkan kemungkinan tumbuhnya cendawan. Model pengelompokan mutu jagung pipilan yang telah dirancang dijalankan dengan perangkat lunak MATLAB R2010a, dengan memasukkan nilai domain setiap variabel input, dan nilai parameter pada setiap himpunan fuzzy. Salah satu hasil memasukkan variabel input jenis uji butir rusak dapat dilihat pada Gambar 41. Gambar 41 Himpunan fuzzy variabel butir rusak jagung pipilan. Aturan if-then yang telah dirancang dimasukkan kedalam program MATLAB R2010a, dan tampilannya terlihat pada Gambar 42. Tampilan lainnya dapat dilihat pada Lampiran 6. Setelah semua variabel input dimasukkan kedalam FIS editing, dan aturan yang dibuat telah dimasukkan ke dalam program tersebut, maka hasil yang diperoleh terlihat seperti pada Gambar 43. Hasil menjalankan FIS pada perangkat lunak MATLAB R2010a selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 6.
6 94 Gambar 42 Tampilan If-then rules mutu jagung pipilan pada MATLAB R2010a. Gambar 43 Keluaran mutu jagung pipilan kelompok Mutu 2 Model pengelompokan mutu jagung pipilan yang dirancang, tidak mempertimbangkan faktor penanganan pascapanen, serta distribusi dan transportasi antar setiap mata rantai. Diasumsikan bahwa penanganan pasca panen telah dilakukan dengan baik, serta tidak terjadi gangguan saat distribusi dan transportasi.
7 Pengelompokan Mutu Tepung Jagung Model pengelompokan mutu tepung jagung bermanfaat bagi pabrik tepung jagung dan bagi industri pengguna tepung jagung. Industri tepung jagung dapat mengelompokkan produk yang dihasilkan, sehingga akan dengan mudah mengirimkan produk sesuai permintaan industri tujuannya. Kelompok Grade 1 ditujukan untuk bahan baku industri farmasi, kelompok Grade 2 untuk industri pangan, dan kelompok Grade 3 untuk industri pakan. Model ini juga bermanfaat bagi industri pengguna tepung jagung, sehingga industri tersebut dapat memesan bahan baku tepung jagung pada kelompok yang sesuai dengan jenis industrinya. Model pengelompokan mutu tepung jagung ini dijalankan dengan program FIS pada perangkat lunak MATLAB R2010a. Variabel input dimasukkan sesuai domain setiap himpunan fuzzy, dan nilai parameter yang telah ditentukan. Contoh tampilan pada MATLAB R2010a setelah memasukkan variabel aflatoksin beserta domain setiap himpunan fuzzy dengan kategori rendah, sedang, dan tinggi dapat dilihat pada Gambar 44. Tampilan variabel input lainnya pada FIS terdapat pada Lampiran 10. Gambar 44 Himpunan fuzzy variabel aflatoksin pada tepung jagung. Aturan if-then sebanyak 27 aturan yang telah dirancang dimasukkan satu persatu ke dalam program FIS pada perangkat lunak MATLAB R2010a.
8 96 Tampilan hasil masukan aturan tersebut ke dalam program FIS dapat dilihat pada tampilan Gambar 45. Gambar 45 Tampilan If-then rules mutu tepung jagung pada MATLAB R2010a. Setelah semua nilai-nilai variabel input, nilai variabel output, dan aturan keputusan dimasukkan kedalam program MATLAB, maka hasilyang diperoleh terlihat seperti pada Gambar 46. Hasil lainnya dapat dilihat pada lampiran 10. Gambar 46 Keluaran mutu tepung jagung kelompok Grade 3.
9 97 Gambar 46 menunjukkan bahwa dengan nilai variabel input aflatoksin sebesar 25 ppb, kadar air sebesar 12%, dan kadar abu 0.75 %. Hasil yang diperoleh adalah tepung jagung tersebut masuk dalam kelompok mutu Grade 3. Model pengelompokan mutu tepung jagung yang dirancang pada penelitian ini tidak mempertimbangkan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap mutu tepung jagung selama proses produksi berlangsung. Faktor-faktor tersebut antara lain: setting mesin, metode kerja, ketrampilan dan keahlian operator, lingkungan kerja dan lain-lainnya. 6.4 Prediksi Permintaan Tepung Jagung Model prediksi permintaan tepung jagung bermanfaat bagi pabrik tepung jagung. Manfaat yang diperoleh adalah pabrik ini dapat membuat perencanaan produksi dengan target produksi sesuai permintaan konsumennya. Tersedianya data permintaan masa lalu akan memudahkan proses peramalan permintaan ke depan. Masalah yang dihadapi dalam pembuatan model ini adalah tidak tersedianya data permintaan masa lalu. Informasi yang diperoleh dari pihak pabrik adalah jumlah permintaan minimum sebesar 300 ton per bulan dan jumlah permintaan maksimum sebesar 375 ton per bulan. Model prediksi permintaan tepung jagung dibuat untuk data time series. Variabel yang akan diramalkan pada model ini hanya dipengaruhi oleh horison waktu. Peramalan permintaan dilakukan dengan pendekatan metode-metode time series dan dengan jaringan syaraf tiruan. Metode yang digunakan pada pendekatan time series adalah Moving Average, Double Moving Average, Single Exponential Smoothing, Double Exponential Smoothing, Trend Anlaysis dan metode Dekomposisi. Data yang digunakan dalam menjalankan model ini adalah data yang digenerate dengan permintaan periode sebelumnya yang berkisar antara 300 ton sampai dengan 375 ton per bulan. Data ini diperoleh berdasarkan informasi dari pabrik tepung jagung. Generate data selama 24 bulan dengan nilai minimum 300 ton dan nilai maksimum 375 ton dapat dilihat pada Lampiran 12. Hasil pengolahan data dapat dilihat pada Lampiran 12 sampai Lampiran 13. Pada pendekatan tersebut metode dekomposisi memberikan hasil terbaik dengan nilai MSE yang lebih kecil sebesar 329,954. Namun demikian jaringan syaraf tiruan
10 98 memberikan hasil yang lebih akurat seperti terlihat pada Lampiran 14 dan Lampiran 15. Lampiran 14 menunjukkan hasil menjalankan program jaringan syaraf tiruan sebanyak 18 kali dengan perangkat lunak MATLAB R2010a. Lampiran 15 adalah rangkuman hasil menjalankan program dengan jaringan syaraf tiruan beserta hasil peramalan permintaan tepung jagung. 6.5 Keterbatasan Model Beberapa keterbatasan dalam model yang dirancang adalah sebagai berikut: - Model tidak dilengkapi dengan sistem pendukung keputusan yang mengintegrasikan sub-sub model dalam suatu sistem, sehingga dapat membantu pengambil keputusan melakukan tindakan secara lebih tepat dan cepat. - Model penyediaan tepung jagung dalam rantai pasok industri berbasis jagung ini masih bersifat parsial, sehingga perlu diintegrasikan dengan mempertimbangkan faktor penanganan pasca panen, distribusi dan transportasi antar mata rantai. Faktor-faktor ini perlu dipertimbangkan karena penanganan pasca panen yang kurang baik, jarak dan waktu transportasi akan mengakibatkan terjadinya penurunan mutu bahan baku. - Model prediksi hanya terbatas pada prediksi secara kuantitatif, sehingga faktor-faktor penting yang bersifat kualitatif masih diasumsikan tidak mempengaruhi hasil prediksi. - Implementasi model prediksi produksi jagung hanya untuk satu wilayah, dengan asumsi bahwa model ini akan dapat digunakan untuk wilayah lain dan dapat di kembangkan untuk memprediksi produksi jagung nasional. - Aturan keputusan dalam model pengelompokan mutu jagung pipilan dan pengelompokan mutu tepung jagung, tidak didukung oleh pencatatan data mutu yang cukup, sehingga tidak dapat dilakukan pengurangan jumlah aturan dalam if-then rules. - Perancangan model pengelompokan mutu jagung pipilan belum mempertimbangkan model sampling penerimaan bahan baku (acceptance sampling model) di industri tepung jagung. - Model prediksi permintaan tepung jagung hanya menggunakan data permintaan secara keseluruhan dan bukan berupa permintaan per jenis
11 99 industri. Namun demikian model ini dapat digunakan untuk memprediksi permintaan setiap jenis industri pengguna tepung jagung, sehingga perencanaan penyediaan tepung jagung dalam jumlah dan mutu yang sesuai dapat dibuat untuk masing-masing jenis industri pengguna tepung jagung. 6.6 Implikasi Teoritis Hasil dari model prediksi produksi jagung menunjukkan bahwa penggunaan jaringan syaraf tiruan lebih akurat dari pada metode peramalan menggunakan model regresi. Hasil ini mengkonfirmasi penelitian yang dilakukan oleh Zhang et al. (2004), dimana penelitian ini membandingkan jaringan syaraf tiruan dengan model univariat serta model multivariat, dan memperoleh bahwa hasil peramalan jaringan syaraf tiruan lebih baik dari pada metode statistikal. Erdinç dan Satman (2005) dalam penelitiannya membandingkan jaringan syaraf tiruan dengan regresi linier, dan diperoleh hasil bahwa jaringan syaraf tiruan lebih baik daripada regresi linier dalam melakukann peramalan. Selain itu hasil ini menkonfirmasi penelitian Setyawati (2003) yang menggunakan jaringan syaraf tiruan untuk univariat dan multivariat time series dalam melakukan peramalan, dan memperoleh bahwa jaringan syaraf tiruan lebih akurat dari pada metode lainnya. Model prediksi yang dirancang telah mengkonfirmasi penelitian Nam dan Schaefer (1995) yang melakukan peramalan penumpang pesawat udara dengan jaringan syaraf tiruan. Azadeh et al. (2008) menggunakan jaringan syaraf tiruan untuk meramalkan penggunaan energi listrik. Ferreira et al. (2011) menggunakan jaringan syaraf tiruan untuk meramalkan harga dalam konteks agribisnis. Konfirmasi lainnya dilakukan terhadap penelitian Bhuvanes et al. (2007) menggunakan Backpropagation Neural Network (BPNN) untuk memprediksi jumlah pasien pada beberapa bagian perawatan di Virtua Health, New Jersey. Penelitian ini membandingkan model peramalan menggunakan backpropagation neural network dengan peramalan menggunakan statistical forecasting models, dan menyimpulkan bahwa BPPN lebih akurat.
12 Implikasi Manajerial Model yang dirancang masih bersifat parsial, namun model ini dapat digunakan bagi pemangku kepentingan pada rantai pasok industri berbasis jagung. Model pengelompokan mutu jagung pipilan dapat digunakan oleh pengumpul sebelum produk jagung pipilan didistribusikan ke industri pengolahan jagung sesuai jenis industri. Penggunaan model ini akan menyebabkan penurunan penolakan produk yang dikirim bila tidak sesuai dengan kebutuhan industri pengolahan jagung. Kelompok Mutu 1 dan Mutu 2 dapat dipasok kepada industri tepung jagung, dan kelompok Mutu 3 dapat dipasok kepada industri pakan. Penerapan rancangbangun model bermanfaat bagi perencanaan produksi pada industri tepung jagung. Pemanfaatan model prediksi produksi jagung akan mengurangi ketidak-pastian dalam masalah perencanaan jumlah bahan baku yang akan dipesan. Bila terjadi kekurangan bahan baku, industri tepung jagung dapat segera mengantisipasi dengan melakukan impor bahan baku. Model pengelompokan mutu jagung pipilan pada pengumpul, juga bermanfaat bagi industri tepung jagung. Dengan adanya pengelompokan mutu jagung pipilan ini, industri tepung jagung akan mendapat pasokan bahan baku yang sesuai dari pengumpul, sehingga penolakan bahan baku yang tidak sesuai dapat dikurangi. Penggunaan model prediksi permintaan tepung jagung pada industri tepung jagung akan memudahkan bagian perencanaan pada industri tersebut membuat perencanaan produksi per periode. Perencanaan produksi yang dibuat dapat dikaitkan dengan hasil prediksi produksi jagung, hasil pengelompokan mutu jagung pipilan, untuk membuat perencanaan pemesanan bahan baku. 6.8 Analisis Penggunaan Model dan Kebijakan Analisis pemanfaatan model penyediaan tepung jagung pada rantai pasok industri berbasis jagung dilakukan terhadap model prediksi produksi jagung, model pengelompokan mutu jagung pipilan, model pengelompokan mutu tepung jagung, dan model prediksi permintaan tepung jagung. Dari hasil menjalankan proses peramalan pada model prediksi produksi jagung sesuai Lampiran 1 sampai Lampiran 4, diperoleh bahwa nilai peramalan terbaik adalah peramalan dengan menggunakan jaringan syaraf tiruan dengan nilai MSE sebesar Nilai MSE ini yang paling mendekati target performansi
13 101 sebesar Hasil ini merupakan hasil peramalan produksi jagung daerah Jawa Tengah, yang dapat dilihat pada Lampiran 2. Prediksi produksi jagung empat periode ke depan sebesar ton, ton, ton, dan ton. Jumlah ini merupakan produksi jagung berupa jagung pipilan kering panen. Apabila periode analisis yang diambil adalah periode 1, maka jumlah produksi jagung panen kering panen adalah sebesar ton. Jumlah ini akan mengalami susut panen secara kuantitatif dan kualitatif. Kadar air jagung kering panen sebesar 25-30%, sedangkan jagung pipilan yang memenuhi persyaratan mutu memiliki kadar air 13 15%. Susut berat akibat penurunan kadar air mengakibatkan penurunan berat sebesar 15%, sehingga jumlah produksi jagung pipilan sebesar ton menjadi ton atau sekitar ton per bulan. Bila susut panen akibat mutu yang tidak memenuhi standar diasumsikan sebesar 20%, dan jumlah jagung yang diproduksi 50 % digunakan untuk pakan ternak, maka jumlah jagung pipilan menjadi ton per bulan. Jumlah ini akan menyusut akibat penurunan mutu pada saat transportasi. Bila diasumsikan susut mutu akibat transportasi sebesar 5%, maka jumlah jagung pipilan yang memenuhi persyaratan mutu sebagai bahan baku adalah sebesar ton per bulan. Kapasitas terpasang pabrik tepung jagung yang diambil sebagai sampel adalah sebesar 5000 ton per bulan. Pabrik ini berproduksi dengan 50 % kapasitas atau 2500 ton per bulan. Tepung jagung yang dihasilkan pabrik merupakan produk sampingan, karena produk utamanya adalah grits. Jumlah grits yang dihasilkan sebesar % dari jumlah bahan baku, dan tepung jagung sebesar 12% dari jumlah bahan baku. Apabila prediksi permintaan tepung jagung pada periode 1 sebesar 330 ton seperti terlihat pada Lampiran 15, maka untuk memproduksi tepung jagung pada pabrik ini diperlukan bahan baku sejumlah 2750 ton. Perhitungan ini tidak memperhitungkan permintaan grits. Sehingga bila ditinjau dari kebutuhan bahan baku, sentra jagung Jawa Tengah masih dapat memenuhi pasokan bahan baku bagi pabrik. Analisis ini hanya dilakukan untuk memperkirakan kebutuhan bahan baku jagung pipilan pada satu pabrik tepung jagung. Analisis ini tidak mempertimbangkan banyak industri pengolahan jagung lainnya yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia selain pabrik tepung jagung.
14 102 Beberapa kebijakan yang perlu dilakukan apabila terdapat kekurangan bahan baku jagung pipilan antara lain: - Melakukan impor jagung dari negara luar - Usaha peningkatan produktivitas jagung bagi petani - Memberikan kemudahan memperoleh benih jagung yang bermutu bagi petani - Memberikan kemudahan meperoleh pengetahuna tentang panen dan pasca panen bagi petani - Kemudahan memperoleh sarana produksi bagi petani - Kemudahan mendapat pasokan bahan baku dari petani kepada pengumpul - Penerapan peraturan dagang yang konsisten bagi pengumpul - Kemudahan akses informasi bagi semua pemangku kepentingan
5 PERANCANGAN MODEL 5.1 Model Prediksi Produksi Jagung
5 PERANCANGAN MODEL Perancangan model pada rantai pasok industri berbasis ini bertujuan untuk memperoleh suatu model yang dapat menganalisis penyediaan produk tepung pada industri tepung sesuai kebutuhan
3 METODE PENELITIAN 3.1 Kerangka Pemikiran
41 3 METODE PENELITIAN 3.1 Kerangka Pemikiran Permasalahan adalah bagaimana ini mem menyediakan memenuhi syarat ke konsumennya. Sebagai salah satu bagian dari rantai pasok berbasis, di sangat tergantung
I. PENDAHULUAN. ditingkatkan dengan penerapan teknik pasca panen mulai dari saat jagung dipanen
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanaman jagung ( Zea mays L) sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia dan hewan. Jagung merupakan komoditi tanaman pangan kedua terpenting setelah padi. Berdasarkan urutan
PANEN DAN PASCAPANEN JAGUNG
PANEN DAN PASCAPANEN JAGUNG Oleh : Sugeng Prayogo BP3KK Srengat Penen dan Pasca Panen merupakan kegiatan yang menentukan terhadap kualitas dan kuantitas produksi, kesalahan dalam penanganan panen dan pasca
PETUNJUK LAPANGAN 3. PANEN DAN PASCAPANEN JAGUNG
PETUNJUK LAPANGAN 3. PANEN DAN PASCAPANEN JAGUNG 1. DEFINISI Panen merupakan pemetikan atau pemungutan hasil setelah tanam dan penanganan pascapanen merupakan Tahapan penanganan hasil pertanian setelah
4 ANALISIS SISTEM 4.1 Kondisi Rantai Pasok Jagung
47 4 ANALISIS SISTEM 4.1 Kondisi Rantai Pasok Jagung Rantai pasok jagung merupakan suatu rangkaian kegiatan mulai dari kegiatan pada sentra jagung, pedagang atau pengumpul, pabrik tepung jagung, hingga
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tenaga listrik merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi manusia dalam melakukan aktifitasnya sehari-hari. Peralatan rumah tangga maupun industri hampir semuanya
PREDIKSI PRODUKSI JAGUNG DALAM MODEL PENYEDIAAN TEPUNG JAGUNG PADA RANTAI PASOK JAGUNG
PREDIKSI PRODUKSI JAGUG DALAM MODEL PEYEDIAA TEPUG JAGUG PADA RATAI PASOK JAGUG Dorina Hetharia, M. Syamsul Ma arif 2, Yandra Arkeman 3, Titi Candra S. 4 Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri,
TEKNIK PASCAPANEN UNTUK MENEKAN KEHILANGAN HASIL DAN MEMPERTAHANKAN MUTU KEDELAI DITINGKAT PETANI. Oleh : Ir. Nur Asni, MS
TEKNIK PASCAPANEN UNTUK MENEKAN KEHILANGAN HASIL DAN MEMPERTAHANKAN MUTU KEDELAI DITINGKAT PETANI Oleh : Ir. Nur Asni, MS Peneliti Madya Kelompok Peneliti dan Pengkaji Mekanisasi dan Teknologi Hasil Pertanian
BAB I PENDAHULUAN. berbeda dibandingkan sesaat setelah panen. Salah satu tahapan proses pascapanen
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penanganan pascapanen komoditas pertanian mejadi hal yang tidak kalah pentingnya dengan penanganan sebelum panen. Dengan penanganan yang tepat, bahan hasil pertanian
I. PENDAHULUAN. Tanaman jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tanaman jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang sangat peting, selain padi dan gandum. Jagung juga berfungsi sebagai sumber makanan dan
BAB I PENDAHULUAN. bulat, beruas-ruas dan tingginya antara cm. Jagung merupakan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Jagung (Zea mays) adalah tanaman semusim yang mempunyai batang bebentuk bulat, beruas-ruas dan tingginya antara 60 300 cm. Jagung merupakan komoditas vital dalam
PENCAPAIAN TARGET SWASEMBADA JAGUNG BERKELANJUTAN PADA 2014 DENGAN PENDEKATAN SISTEM DINAMIS
BAB III PENCAPAIAN TARGET SWASEMBADA JAGUNG BERKELANJUTAN PADA 2014 DENGAN PENDEKATAN SISTEM DINAMIS Uning Budiharti, Putu Wigena I.G, Hendriadi A, Yulistiana E.Ui, Sri Nuryanti, dan Puji Astuti Abstrak
BAB 2 LANDASAN TEORI
7 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Peramalan Peramalan sering dipandang sebagai seni dan ilmu dalam memprediksikan kejadian yang mungkin dihadapi pada masa yang akan datang. Secara teoritis peramalan
memberikan multiple effect terhadap usaha agribisnis lainnya terutama peternakan. Kenaikan harga pakan ternak akibat bahan baku jagung yang harus
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengembangan agribisnis nasional diarahkan untuk meningkatkan kemandirian perekonomian dan pemantapan struktur industri nasional terutama untuk mendukung berkembangnya
BAB II LANDASAN TEORI. Suatu sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang
7 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Informasi 2.1.1 Sistem Suatu sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan
Perbaikan Metode Prakiraan Cuaca Bandara Abdulrahman Saleh dengan Algoritma Neural Network Backpropagation
65 Perbaikan Metode Prakiraan Cuaca Bandara Abdulrahman Saleh dengan Algoritma Neural Network Backpropagation Risty Jayanti Yuniar, Didik Rahadi S. dan Onny Setyawati Abstrak - Kecepatan angin dan curah
I. PENDAHULUAN. Tanaman pangan yang antara lain terdiri atas padi, jagung, kedelai, kacang tanah,
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Tanaman pangan yang antara lain terdiri atas padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, ubi jalar merupakan komoditas pertanian yang paling
II. TINJAUAN PUSTAKA. Jagung (Zea mays) adalah tanaman semusim yang berasal dari Amerika
4 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tanaman jagung Jagung (Zea mays) adalah tanaman semusim yang berasal dari Amerika Tengah (Meksiko Bagian Selatan). Budidaya jagung telah dilakukan di daerah ini, lalu teknologi
I. PENDAHULUAN. subsistem agribisnis hulu peternakan (upstream agribusiness) yakni kegiatan
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan peternakan yang mampu memberikan peningkatan pendapatan peternak rakyat yang relatif tinggi dan menciptakan daya saing global produk peternakan adalah paradigma
IBM KELOMPOK USAHA (UKM) JAGUNG DI KABUPATEN GOWA
NO. 2, TAHUN 9, OKTOBER 2011 140 IBM KELOMPOK USAHA (UKM) JAGUNG DI KABUPATEN GOWA Muh. Anshar 1) Abstrak: Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas jagung yang dihasilkan agar sesuai
BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. yang akan datang. Ramalan adalah situasi dan kondisi yang diperkirakan akan terjadi
BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1 Pengertian Peramalan Peramalan adalah kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Ramalan adalah situasi dan kondisi yang diperkirakan akan
TEKNOLOGI PENGERINGAN DAN PEMIPILAN UNTUK PERBAIKAN MUTU BIJI JAGUNG (Studi Kasus di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan)
Prosiding Seminar Nasional Serealia 2009 ISBN :9789798940279 TEKNOLOGI PENGERINGAN DAN PEMIPILAN UNTUK PERBAIKAN MUTU BIJI JAGUNG (Studi Kasus di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan) I.U. Firmansyah
Pengembangan Jagung Nasional Mengantisipasi Krisis Pangan, Pakan dan Energi Dunia: Prospek dan Tantangan
Pengembangan Jagung Nasional Mengantisipasi Krisis Pangan, Pakan dan Energi Dunia: Prospek dan Tantangan Anton J. Supit Dewan Jagung Nasional Pendahuluan Kemajuan teknologi dalam budidaya jagung semakin
TEKNOLOGI PENANGANAN PANEN DAN PASCAPANEN UNTUK MENINGKATKAN MUTU JAGUNG DITINGKAT PETANI. Oleh: Ir. Nur Asni, MS
TEKNOLOGI PENANGANAN PANEN DAN PASCAPANEN UNTUK MENINGKATKAN MUTU JAGUNG DITINGKAT PETANI Oleh: Ir. Nur Asni, MS Jagung adalah komoditi penting bagi perekonomian masyarakat Indonesia, termasuk Provinsi
BAB III METODOLOGI 3.1 KERANGKA PEMIKIRAN
BAB III METODOLOGI 3.1 KERANGKA PEMIKIRAN Manajemen rantai pasok merupakan salah satu alat bersaing di industri, mulai dari pasokan bahan baku, bahan tambahan, kemasan, pasokan produk akhir ke tangan konsumen
BAB 2 TINJAUAN TEORITIS
BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1. Peramalan 2.1.1. Pengertian dan Kegunaan Peramalan Peramalan (forecasting) menurut Sofjan Assauri (1984) adalah kegiatan memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang
BAB I PENDAHULUAN. Jagung merupakan komoditi yang penting bagi perekonomian Indonesia,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jagung merupakan komoditi yang penting bagi perekonomian Indonesia, kebutuhan jagung di Indonesia mengalami peningkatan, yaitu lebih dari 10 juta ton pipilan kering
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang didukung oleh sektor pertanian. Salah satu sektor pertanian tersebut adalah perkebunan. Perkebunan memiliki peranan yang besar
BAB V RENCANA AKSI. Untuk dapat mulai menjalankan unit bisnis IFS BATARI secara tepat
BAB V RENCANA AKSI 5.1 Kegiatan dan Waktu Untuk dapat mulai menjalankan unit bisnis IFS BATARI secara tepat waktu, rencana aksi disusun sebagai acuan dalam melakukan kegiatan sekaligus untuk memudahkan
PENERAPAN METODE DOUBLE EXPONENTIAL SMOOTHING PADA PERAMALAN PRODUKSI TANAMAN PANGAN
Jurnal Informatika Polinema ISSN: 2407-070X PENERAPAN METODE DOUBLE EXPONENTIAL SMOOTHING PADA PERAMALAN PRODUKSI TANAMAN PANGAN Rudy Ariyanto 1, Dwi Puspitasari 2, Fifi Ericawati 3 1,2,3 Program Studi
I. PENDAHULUAN. Perusahaan umum Bulog mempunyai misi yakni memenuhi kebutuhan pangan
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perusahaan umum Bulog mempunyai misi yakni memenuhi kebutuhan pangan pokok rakyat dan visi yaitu pangan cukup, aman dan terjangkau bagi rakyat. Penjabaran dari visi dimaksud
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Peramalan Peramalan (forecasting) adalah kegiatan memperkirakan atau memprediksi apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang dengan waktu yang relatif lama. Sedangkan
ANALISIS PENGELOLAAN DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN BBM PADA SPBU PT. MANASRI USMAN *)
ANALISIS PENGELOLAAN DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN BBM PADA SPBU PT. MANASRI USMAN *) Jonathan Binus University, Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
V. PENDEKATAN SISTEM 5.1. Analisis Kebutuhan Pengguna 1.) Petani
V. PENDEKATAN SISTEM Sistem merupakan kumpulan gugus atau elemen yang saling berinteraksi dan terorganisasi untuk mencapai suatu tujuan atau serangkaian tujuan. Pendekatan sistem merupakan metode pemecahan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sebuah perusahaan baik pada bidang barang atau jasa, selalu melakukan perencanaan kedepannya. Dalam perencanan suatu kegiatan yang akan disusun dan dilakukan
III. METODOLOGI PENELITIAN
III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian Pada dasarnya setiap perusahaan memiliki tujuan yang sama yaitu mendapatkan keuntungan untuk kelancaraan kontinuitas usahanya dan mampu bersaing
Gambar 3.6: Hasil simulasi model pada kondisi eksisting
Dari hasil analisi sensitivitas, maka diketahui bahwa air merupakan paremater yang paling sensitif terhadap produksi jagung, selanjutnya berturut-turut adalah benih, pupuk, penanganan pasca panen, pengendalian
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jagung merupakan jenis tanaman serealia yang mempunyai peran strategis dalam perekonomian nasional, mengingat fungsinya yang multiguna. Jagung dapat dimanfaatkan untuk
BAB 2 LANDASAN TEORI. Produksi jagung merupakan hasil bercocok tanam, dimana dilakukan penanaman bibit
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Produksi Produksi jagung merupakan hasil bercocok tanam, dimana dilakukan penanaman bibit tanaman pada lahan yang telah disediakan, pemupukan dan perawatan sehingga
PERENCANAAN JUMLAH PRODUKSI MEJA ALUMUNIUM UNTUK MEMINIMALKAN BIAYA PRODUKSI DENGAN METODE FUZZY MAMDANI Di UD. Meubel Alumunium, Mojokerto
PERENCANAAN JUMLAH PRODUKSI MEJA ALUMUNIUM UNTUK MEMINIMALKAN BIAYA PRODUKSI DENGAN METODE FUZZY MAMDANI Di UD. Meubel Alumunium, Mojokerto SKRIPSI Oleh : MUISA OCTAVIA NPM : 0632010185 JURUSAN TEKNIK
PERKEMBANGAN PRODUKSI PADI DAN PALAWIJA (ANGKA RAMALAN II 2014)
No. 62/11/72/Th.XVII, 3 November 2014 PERKEMBANGAN PRODUKSI PADI DAN PALAWIJA (ANGKA RAMALAN II 2014) A. PADI Angka Ramalan II (ARAM II) produksi padi Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2014 diperkirakan sebesar
Bab 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang
Bab 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Permalan mempunyai peranan penting dalam pengambilan keputusan, untuk perlunya dilakukan tindakan atau tidak, karena peramalan adalah prakiraan atau memprediksi peristiwa
I. PENDAHULUAN. produsen dan banyak negara konsumen. Kopi berperan penting dalam
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Kopi (Coffea spp) merupakan komoditas ekspor yang memberikan devisa cukup tinggi khususnya dari komoditas perkebunan yang melibatkan beberapa negara produsen
PERAMALAN (FORECASTING)
PERAMALAN (FORECASTING) Apakah Peramalan itu? Peramalan (forecasting) adalah seni dan ilmu untuk memperkirakan kejadian di masa depan. Dapat dilakukan dengan melibatkan pengambilan data historis dan memproyeksikannya
Pengembangan Metodologi untuk Penekanan Susut Hasil pada Proses Pemipilan Jagung
Prosiding Pekan Serealia Nasional, 2010 ISBN : 9789798940293 Pengembangan Metodologi untuk Penekanan Susut Hasil pada Proses Pemipilan Jagung Muhammad Aqil Balai Penelitian Tanaman Serealia Jl Dr. Ratulangi
8. NILAI TAMBAH RANTAI PASOK
69 adalah biaya yang ditanggung masing-masing saluran perantara yang menghubungkan petani (produsen) dengan konsumen bisnis seperti PPT dan PAP. Sebaran biaya dan keuntungan akan mempengarhui tingkat rasio
T 11 Aplikasi Model Backpropagation Neural Network Untuk Perkiraan Produksi Tebu Pada PT. Perkebunan Nusantara IX
T 11 Aplikasi Model Backpropagation Neural Network Untuk Perkiraan Produksi Tebu Pada PT. Perkebunan Nusantara IX Oleh: Intan Widya Kusuma Program Studi Matematika, FMIPA Universitas Negeri yogyakarta
BAB I PENDAHULUAN. maju dalam produk susu, hal ini terlihat akan pemenuhan susu dalam negeri yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peternakan sapi perah nasional menghadapi tantangan dari negara-negara maju dalam produk susu, hal ini terlihat akan pemenuhan susu dalam negeri yang saat ini masih
I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Perkembangan Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha pada Tahun * (Miliar Rupiah)
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan di Indonesia merupakan salah satu sektor yang telah berperan dalam perekonomian nasional melalui pembentukan Produk
IbM PENGOLAHAN JAGUNG IBU-IBU PKK DESA TAMBAKMERANG GIRIMARTO WONOGIRI
IbM PENGOLAHAN JAGUNG IBU-IBU PKK DESA TAMBAKMERANG GIRIMARTO WONOGIRI Afriyanti 1), Novian Wely Asmoro 1), Salman Faris Insani 3) 1) 2) Prodi Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Veteran
PERANAN SEKTOR PERTANIAN KHUSUSNYA JAGUNG TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN JENEPONTO Oleh : Muhammad Anshar
PERANAN SEKTOR PERTANIAN KHUSUSNYA JAGUNG TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN JENEPONTO Oleh : Muhammad Anshar Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Sains dan Teknologi ABSTRAK Penelitian
1 PENDAHULUAN Latar Belakang
1 PENDAHULUAN Latar Belakang Kemandirian pangan pada tingkat nasional diartikan sebagai kemampuan suatu bangsa untuk menjamin seluruh penduduknya memperoleh pangan yang cukup, mutu yang layak dan aman
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kerata api mempunyai peran penting dalam mobilitas penduduk. Dari grafik jumlah penumpang dan barang yang diangkut oleh kereta api, minat masyarakat terhadap jasa
BAB 1 PENDAHULUAN. melakukan kegiatan produksi sesuai dengan pesanan (make to order) dan sebagian kecil
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang PT. Mulia Knitting Factory merupakan salah satu perusahaan industri yang bergerak dalam bidang produksi kain jadi dan garmen. PT. Mulia Knitting dalam melakukan kegiatan
BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. 2.1 Produk Domestik Regional Bruto
18 BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1 Produk Domestik Regional Bruto Dalam menghitung pendapatan regional, dipakai konsep domestik. Berarti seluruh nilai tambah yang ditimbulkan oleh berbagai sektor atau lapangan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan
1 PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan Manajemen inventory merupakan suatu faktor yang penting dalam upaya untuk mencukupi ketersediaan stok suatu barang pada distribusi dan
VII. MODEL PRAKIRAAN PERMINTAAN
VII. MODEL PRAKIRAAN PERMINTAAN A. Peramalan (Forecasting) Peramalan merupakan dugaan atau perkiraan mengenai terjadinya suatu peristiwa atau kejadian pada waktu yang akan datang, yang dapat bersifat kualitatif
BAB I PENDAHULUAN. lain yang sesuai dengan kebutuhan ternak terutama unggas. industri peternakan (Rachman, 2003). Selama periode kebutuhan
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Di daerah tropis seperti Indonesia, jagung memiliki kontribusi sebagai komponen industri pakan. Lebih dari 50% komponen pakan pabrikan adalah jagung. Hal ini
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bisnis pada berbagai kegiatannya selalu melakukan suatu perencanaan untuk kedepannya. Untuk melakukan perencanaan suatu kegiatan yang akan disusun dan dilakukan
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Identifikasi, Analisis, dan Evaluasi Sistem Pengendalian Bahan Baku Tahun 2011 Bahan baku merupakan suatu material yang memiliki peranan penting dalam proses produksi. Ketersediaan
BAB 2 LANDASAN TEORI
20 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Peramalan 2.1.1 Pengertian Peramalan Peramalan adalah pemikiran terhadap suatu besaran, misalnya permintaan terhadap satu atau beberapa produk pada periode yang akan datang.
BAB I PENDAHULUAN I-1
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kabupaten Purworejo adalah daerah agraris karena sebagian besar penggunaan lahannya adalah pertanian. Dalam struktur perekonomian daerah, potensi daya dukung
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Pendahuluan. Universitas Sumatera Utara
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Pendahuluan Peramalan merupakan upaya memperkirakan apa yang terjadi pada masa mendatang berdasarkan data pada masa lalu, berbasis pada metode ilmiah dan kualitatif yang dilakukan
BAB I PENDAHULUAN. konstan, namun ada beberapa periode yang memperlihatkan keadaan yang ekstrim.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Variasi dan keadaan curah hujan yang terjadi, tidaklah selalu tetap dan konstan, namun ada beberapa periode yang memperlihatkan keadaan yang ekstrim. Pada umumnya,
BAB III LANGKAH PEMECAHAN MASALAH
BAB III LANGKAH PEMECAHAN MASALAH 3.1 Penetapan Kriteria Optimasi Koperasi Niaga Abadi Ridhotullah (KNAR) adalah badan usaha yang bergerak dalam bidang distributor makanan dan minuman ringan (snack). Koperasi
PERKEMBANGAN PRODUKSI PADI DAN PALAWIJA (ANGKA RAMALAN II 2015)
No. 64/11/72/Th.XVIII, 02 November 2015 PERKEMBANGAN PRODUKSI PADI DAN PALAWIJA (ANGKA RAMALAN II 2015) A. PADI Angka Ramalan II (ARAM II) produksi padi Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2015 diperkirakan
ANALISIS PENYEBARAN PANAS PADA ALAT PENGERING JAGUNG MENGGUNAKAN CFD (Studi Kasus UPTD Balai Benih Palawija Cirebon)
ANALISIS PENYEBARAN PANAS PADA ALAT PENGERING JAGUNG MENGGUNAKAN CFD (Studi Kasus UPTD Balai Benih Palawija Cirebon) Engkos Koswara Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Majalengka Email : [email protected]
Peramalan Deret Waktu Menggunakan S-Curve dan Quadratic Trend Model
Konferensi Nasional Sistem & Informatika 2015 STMIK STIKOM Bali, 9 10 Oktober 2015 Peramalan Deret Waktu Menggunakan S-Curve dan Quadratic Trend Model Ni Kadek Sukerti STMIK STIKOM Bali Jl. Raya Puputan
PERAMALAN PENJUALAN OBAT MENGGUNAKAN METODE SINGLE EXPONENTIAL SMOOTHING PADA TOKO OBAT BINTANG GEURUGOK
PERAMALAN PENJUALAN OBAT MENGGUNAKAN METODE SINGLE EXPONENTIAL SMOOTHING PADA TOKO OBAT BINTANG GEURUGOK Sayed Fachrurrazi, S.Si., M.Kom Program Studi Teknik Informatika, Universitas Malikussaleh Reuleut,
PERSPEKTIF PERAMALAN 2 Titien S. Sukamto
PERSPEKTIF PERAMALAN 2 Titien S. Sukamto Jenis Peramalan Pada umumnya peramalan dapat dibedakan dalam 3 jenis : 1. Jangka waktu ramalan yang disusun 1. Peramalan jangka pendek : jangka waktunya 1 tahun
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Manfaat Peramalan Pada dasarnya peramalan adalah merupakan suatu dugaan atau perkiraan tentang terjadinya suatu keadaan dimasa depan, tetapi dengan menggunakan metode metode tertentu
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Variabel Berikut merupakan variabel yang digunakan dalam pemecahan masalah pada penelitian ini yaitu sebagai berikut : Data historis penjualan yang akan digunakan untuk
TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN
TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN Tinjauan Pustaka Jagung merupakan salah satu komoditas utama tanaman pangan yang mempunyai peranan strategis dalam pembangunan pertanian dan perekonomian
METODOLOGI Kerangka Pemikiran
METODOLOGI Kerangka Pemikiran Semakin berkembangnya perusahaan agroindustri membuat perusahaanperusahaan harus bersaing untuk memasarkan produknya. Salah satu cara untuk memenangkan pasar yaitu dengan
BAB I PENDAHULUAN. Dugaan atau perkiraan mengenai kejadian atau peristiwa pada waktu yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dugaan atau perkiraan mengenai kejadian atau peristiwa pada waktu yang akan datang disebut ramalan dan tindakan dalam membuat dugaan atau perkiraan tersebut
BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan sektor pertanian sebagai sumber mata pencarian dari mayoritas penduduknya. Dengan demikian, sebagian besar penduduknya
Bab III PERANCANGAN PROGRAM APLIKASI
35 Bab III PERANCANGAN PROGRAM APLIKASI 3.1 Spesifikasi Rumusan Rancangan Perancangan program aplikasi ini terbagi menjadi dua bagian yaitu proses, yaitu : proses input dan hasil keluaran atau output Proses
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LADASA TEORI 2.1 Pengertian Peramalan Peramalan adalah kegiatan mengestimasi apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang dengan waktu yang relatif lama (assaury, 1991). Sedangkan ramalan adalah
2014 ESTIMASI BEBAN PUNCAK HARIAN BERDASARKAN KLUSTER TIPE HARI BERBASIS ALGORITMA HYBRID SWARM PARTICLE-ARTIFICIAL NEURAL NETWORK
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Di negara yang memiliki jumlah populasi penduduknya besar dan perkembangan industrinya mengalami peningkatan, tentunya memiliki tingkat kebutuhan akan sumber
ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK Indonesia saat ini sudah menghadapi pasar bebas. Hal ini membuat persaingan antara produk produk yang ada di Indonesia semakin ketat terutama produk yang sejenis. Dengan semakin ketatnya persaingan
DAFTAR ISI.. DAFTAR GAMBAR.. DAFTAR LAMPIRAN.
DAFTAR ISI DAFTAR ISI.. DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR.. DAFTAR LAMPIRAN. iv viii xi xii I. PENDAHULUAN 1 1.1. Latar Belakang 1 1.2. Perumusan Masalah 9 1.3. Tujuan Penelitian 9 1.4. Manfaat Penelitian 10
PENDAHULUAN A. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang kaya akan hasil pertanian, kehutanan, perkebunan, peternakan, dan perikanan yang artinya masyarakat banyak yang bermata pencaharian
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Peramalan pada dasarnya merupakan proses menyusun informasi tentang kejadian masa lampau yang berurutan untuk menduga kejadian di masa depan (Frechtling, 2001:
X. KESIMPULAN DAN SARAN
X. KESIMPULAN DAN SARAN 10.1. Kesimpulan Penelitian ini telah berhasil merancang model sistem penunjang pengambilan keputusan cerdas manajemen risiko rantai pasok produk/komoditi jagung yang diberi nama
I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu sub sektor pertanian yang mempunyai potensi yang sangat baik untuk menopang pembangunan pertanian di Indonesia adalah subsektor peternakan. Di Indonesia kebutuhan
Analisis Penyebab Kenaikan Harga Beras
Analisis Kebijakan 1 Analisis Penyebab Kenaikan Harga Beras Analisis Penyebab Kenaikan Harga Beras Ada dua pendapat mengenai faktor penyebab kenaikan harga beras akhirakhir ini yaitu : (1) stok beras berkurang;
II. TINJAUAN PUSTAKA Terminologi Pasca Panen Padi. A. Kualitas Fisik Gabah
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Terminologi Pasca Panen Padi Kegiatan pascapanen padi perontokan, pengangkutan, pengeringan, penggilingan, penyimpanan dan pengemasan (Patiwiri, 2006). Padi biasanya dipanen pada
METODOLOGI PENELITIAN
55 METODOLOGI PENELITIAN Kerangka Pemikiran Membangun agroindustri yang tangguh dan berdaya saing tinggi seharusnya dimulai dengan membangun sistem jaringan rantai pasokan yang tangguh dan saling menguntungkan
BAB I PENDAHULUAN. Tanaman kedelai adalah salah satu jenis tanaman kacang-kacangan yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tanaman kedelai adalah salah satu jenis tanaman kacang-kacangan yang digunakan sebagai bahan pangan sumber energi dan protein. Kedelai sudah lama dimanfaatkan sebagai
PERAMALAN BEBAN PEMAKAIAN LISTRIK JAWA TENGAH DAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA DENGAN
PERAMALAN BEBAN PEMAKAIAN LISTRIK JAWA TENGAH DAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA DENGAN MENGGUNAKAN HYBRID AUTOREGRESSIVE INTEGRATED MOVING AVERAGE NEURAL NETWORK Disusun oleh : Berta Elvionita Fitriani 24010211120005
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bandar udara memiliki peran yang penting terhadap kegiatan transportasi. Seiring dengan peningkatan kebutuhan masyarakat terhadap transportasi udara diseluruh wilayah
