KOMUNIKASI DALAM KONTEKS GLOBAL
|
|
|
- Farida Susanto
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 MODUL PERKULIAHAN KOMUNIKASI DALAM KONTEKS GLOBAL Pokok Bahasan 1. Komunikasi Konteks Global 2. Komunikasi Multi Kultural Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Ilmu Komunikasi Public Relations Abstrak Modul ini menjelaskan tentang komunikasi dalam konteks global dan multi kultural Kompetensi Mampu memahami konteks komunikasi dalam konteks global dengan pendekatan multi kultural
2 Pembahasan Kemajuan yang dicapai dalam bidang teknologi distribusi dan pertumbuhan ekonomi baru telah mempercepat laju globalisasi. Sebagaimana bidang yang lain, media massa sebagai objek dan agen proses globalisasi juga terkena pengaruh dari fenomena globalisasi. Salah satu pengaruh yang dirasakan oleh media massa adalah adanya kemajuan dalam bidang teknlologi distribusi, dimana dengan teknologi ini media masa tidak lagi mengenal hambatan wilayah dan waktu. Contoh dari kemajuan teknologi distribusi dapat dilihat dari penemuan internet. Melalui internet situasi dunia dapat diketahui dalam waktu yang singkat tanpa harus pergi ketempat dimana peristiwa terjadi. Disisi lain perkembangan teknologi distribusi telah pula mendorong pertumbuhan ekonomi baru dalam bentuk bermunculannya perusahaan maupun industri yang memproduksi hardware komunikasi seperti CD, VCD, televisi, internet, maupun industri software komunikasi, seperti microsoft, pemasaran, dan lainnya. Tak kalah penting mengikuti perkembangan industri ini adalah tumbuhnya hubungan diplomatik dan perdagangan antara negara produsen dengan negara yang akan dijadikan pasar baru bagi produk hardware maupun software yang dihasilkan oleh negara produsen. Akibatnya terbentuklah pola tanah jajahan ekonomi dalam bentuk penciptaan pasar-pasar baru diluar negara produsen, dan terciptanya geopolitik yang tidak berimbang antara negara produsen dan negara yang dijadikan pasar bagi produksi negara produsen. Tercatat adalah Amerika Serikat yang merupakan negara pengekspor utama untuk produk teknologi komunikasi baik hardware maupun software, hal ini terjadi karena Amerika dikenal sebagai negara yang memiliki produksi berita serta hiburan populer yang paling maju dan memiliki teknologi serta infrastruktur komunikasi yang paling canggih di dunia. Kemajuan industri teknologi dalam bidang komunikasi telah pula meningkatkan periklanan sebagai bagian dari komunikasi massa international, yaitu untuk menunjang pemasaran dan penjualan produk keseluruh pasar yang tersebar di seluruh dunia. Pada kenyataannya, pengaruh globalisasi pada media massa hanyalah menciptakan ketergantungan negara berkembang pada negara maju terkait dengan produksi hardware maupun software dalam bidang teknologi komunikasi, dan tidak menghasilkan pertumbuhan ekonomi bagi negara berkembang, sebaliknya justru menguntungkan negara maju dan menciptakan tumbuhnya pasar-pasar baru di negara berkembang. 2
3 KEPEMILIKAN DAN PENGAWASAN MEDIA MULTINASIONAL Perkembangan globalisasi terkait media massa ternyata tidak saja menciptakan ketergantungan dibidang pengadaan produk perangkat teknologi komunikasi (hardware maupun software), tetapi juga menciptakan ketergantungan dibidang pemberitaan media massa. Tercatat bahwa berita merupakan produk pertama yang diperjual belikan melalui kantor berita internasional yang menjadi penyedia berbagai macam jenis berita. Pertumbuhan kantor berita internasional pada abad ke 20 banyak dipengaruhi perkembangan teknologi dan didorong oleh timbulnya perang, perdagangan, dan ekspansi imperialisme dan industri. Kantor berita utama pada era pasca Perang Dunia II antara lain adalah North American (UPI dan Associated Press), British (Reuters), French (APP) dan Russian (Tass). Selain Amerika, Eropa telah menjadi penghasil dan konsumen terbesar berita-berita luar negeri. Lebih lanjut Peterson (1998) menyatakan bahwa paling tidak ada tiga buah kantor berita televisi yang mengawali pemberitaan secara internasional yaitu Reuters, WTN (World Television News), APTV (Associated Press Television News). Dengan adanya kantor berita secara global mengakibatkan terjadinya kesamaan pada sistem media, penyebaran informasi berita, maupun produksi siaran hiburan diseluruh dunia, baik melalui televisi, surat kabar, film, buku maupun radio. Disisi lain, adanya kesamaan sistem menyebabkan audience dapat melakukan pilihan terhadap media dari negara lain. Dalam perkembangannya globalisasi dan konsentrasi perusahaan media besar cenderung mengarah pada cartel forming, dimana sejumlah perusahaan raksasa bekerjasama dan berkompetisi sedemikian rupa untuk menguasai pasar informasi dan hiburan dunia, seperti yang dilakukan perusahaan raksasa Amerika Time Warner, Disney, dan Viacom, dan empat buah perusahaan diluar Amerika yaitu Seagram, Bertelsmann, Sony, dan News Corporation. Terkait dengan adanya pengaruh globalisasi pada media massa (informasi dan hiburan), maka perlu diperhatikan mengenai sejauh mana isi dari informasi dan hiburan yang masuk dari luar sebuah negara dapat dikontrol. Mekanisme utama dalam pengawasan tidak selalu berbentuk kebijakan atau hukum, ataupun kebijaksanaan ekonomi terkait masalah import, akan tetapi pengawasan dapat dilakukan melalui pen-dubbing-an suara ataupun terjemahan dalam bahasa sendiri. Disisi lain, pengawasan perlu diperhatikan karena globalisasi dalam media disadari atau tidak, juga membawa dampak akan timbulnya budaya yang homogen dan kebarat-baratan. Selain itu globalisasi juga berpotensi untuk 3
4 menurunkan tingkat komunikasi secara nasional dan meningkatkan arus komunikasi secara dunia, tanpa kendala waktu dan batas wilayah. KETERGANTUNGAN MEDIA INTERNATIONAL Menurut teori ketergantungan, kondisi yang diperlukan dalam menyingkirkan hubungan ketergantungan adalah dengan memiliki self-sufficiency (mampu memenuhi kebutuhan sendiri) dalam kaitannya dengan informasi, ide, dan budaya. Sebuah analisis berbagai bentuk komunikasi international mengajukan sebuah model dengan dua dimensi yang merupakan faktor penentu utama pada tahap ketergantungan atau otonomi, yaitu technology axis (hardware /perangkat keras versus software/perangkat lunak) dan communication axis (produksi versus distribusi). Model tersebut menggambarkan rangkaian dari sender (pengirim) kepada receiver (penerima) yang dimediasi oleh sistem produksi dan distribusi berbasis teknologi. Model tersebut menggambarkan kondisi ketergantungan proses komunikasi dari negara-negara berkembang pada teknologi komunikasi yang diproduksi negara maju. Pada teori ketergantungan, media digambarkan sebagai bagian dari sistem eksploitasi modal asing dan berfungsi untuk meningkatkan dan memperkukuh keadaan ketergantungan negara berkembang kepada negara maju. Pola media global dalam kaitannya dengan model centre-periphery dibuat berdasarkan pada apakah bangsa-bangsa di dunia dapat diklasifikasikan menjadi dominan/central ataukah dependen/tidak central, dengan arus utama dari central kesekitarnya. Semakin central sebuah negara maka semakin independen dalam pemberitaan, dan semakin tidak central bentuk suatu negara maka semakin tercipta ketergantungan pada distribusi berita yang dilakukan oleh negara central. Analisa mengenai ketergantungan media secara international ini, memperlihatkan bahwa perkembangan media secara global hanya menciptakan ketergantungan negara berkembang pada negara maju, dan menciptakan bentuk imperialisme baru terkait dengan budaya dan media. Kedua bentuk imperialisme ini mengimplikasikan usaha terencana untuk mendominasi, melakukan invasi cultural space (interval budaya) dari negara maju kepada negara berkembang, dan suatu bentuk pemaksaan dalam hubungan komunikasi. Kenyataan ini juga mengimplikasikan adanya pola ideologi dan budaya yang disampaikan dan diinterpretasikan dalam kaitannya dengan nilai-nilai barat, seperti individualisme, sekularisme, dan materialisme, disebarkan kepenjuru dunia melalui isi media. 4
5 EVALUASI ULANG GLOBALISASI Pada umumnya proposisi yang muncul dari masalah imperialisme media cenderung mengkonstruksikan komunikasi massa global sebagai proses cause and effect (penyebab dan akibat), dimana media mentransmisikan ide-ide, makna, dan format budaya dari suatu tempat ke tempat lain, dari pengirim ke penerima. Tidak dapat dibantah bahwa media dapat membantu proses pertumbuhan budaya, difusi, penemuan dan kreativitas, yang dapat melemahkan budaya yang sudah ada. Namun berbagai teori modern mengemukakan pandangannya bahwa invasi media-budaya dapat ditangkal atau didefinisi ulang berdasarkan budaya dan pengalaman lokal. Adalah Lull dan Wallis yang menggunakan istilah transkulturalisasi untuk menjelaskan proses mediasi interaksi budaya, di mana musik-musik Vietnam mampu melakukan tekanan pada warga Amerika Utara dan menghasilkan budaya baru hybrid. Di samping daya tarik budaya media global, perbedaan bahasa juga merupakan kendala nyata bagi subversi budaya. Cara lain untuk menahan intervensi globalisasi media massa terkait dengan budaya adalah melalui proses sirkulasi media, yaitu jika suatu content semakin difilter melalui sistem media nasional maka semakin besar content dapat diseleksi dan diadaptasikan dengan budaya nasional, sehingga intervensi budaya dapat diminimalisasi. KONSEP NASIONAL DAN IDENTITAS BUDAYA Diketahui bahwa internasionalisasi media cenderung mengantarkan sebuah negara yang tidak central pada homogenisasi ataupun sinkronisasi budaya, dan mendorong terciptanya suatu budaya yang mendunia, bersifat universal, dan tidak mengenal batas wilayah. Hal ini tidak dapat diterima oleh sebagian besar negara yang menyatakan bahwa budaya adalah bagian dari sistem belief suatu masyarakat yang erat hubungannya dengan kebiasaan dan adat istiadat tertentu. Homogenisasi budaya juga dipandang sebagai rintangan perkembangan budaya asli dari suatu negara, atau bahkan mengikis budaya lokal maupun regional negara tersebut. Untuk itu perlu dilakukan pengaturan dalam media global agar tidak menimbulkan intervensi budaya maupun ketergantungan teknologi pada negara maju. Adapun organisasi dunia yang berperan terkait pengaturan sistem dalam media global adalah: - ITU (International Telecommunication Union), terdiri dari delegasi yang dinominasikan oleh pemerintah nasional, berurusan dengan standar-standar teknis telekomunikasi, alokasi spectrum, orbit-orbit satelit, dsb. 5
6 - WTO (World Trade Organization) memiliki kekuatan besar dalam menangani persoalan-persoalan ekonomi dan banyak berpengaruh terhadap media sejalan dengan perkembangan bisnis media yang semakin besar dan semakin komersial. - UNESCO, cabang UN yang berdiri pada tahun 1945 memiliki kompetensi besar pada persoalan-persoalan budaya dan pendidikan, namun tidak memiliki kekuatan yang besar dan fungsi media yang jelas. - World Intellectual Property Organization (WIPO), berdiri pada tahun 1893, memiliki tujuan untuk mengharmonikan legislasi dan prosedur relevan dan mengatasi percekcokan antara pemilik kuasa, penulis, dan pengguna. - International Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN) merupakan penambahan terbaru bagi pengaturan tubuh pemerintahan yang bertujuan untuk merepresentasikan komunitas pengguna internet. KOMUNIKASI DAN BUDAYA Cara pandang alternatif atas komunikasi yaitu komunikasi dalam model ritual : komunikasi sebagai proses simbolik dimana realita diciptakan, dipelihara, diperbaiki, dan diubah. Artinya, komunikasi adalah proses yang melaluinya kita menerima dan menafsirkan realitas lalu membangun pandangan kita atas realitas dan dunia. Dengan demikian, budaya dibangun, dipelihara dan dikembangkan, dan dipelihara melalui komunikasi. Tanpa komunikasi budaya tidak akan berkembang dan runtuh. Komunikasi adalah jantung dari budaya.budaya sendiri, selain mempunyai komunikasi sebagai unsur yang paling umum dan esensial, juga mempunyai atribut-atribut seperti: kolektif dan dimiliki bersama, memiliki bentuk-bentuk ekspresi simbolik, memiliki tatanan, terpola secara sistematis, selalu bergerak (dinamis) dan berubah. Untuk mempelajari budaya, secara esensial kita bisa menemukan dan mengenali budaya dari tiga tempat: dalam manusia (sebagai produsen dan pembaca teks-teks), dalam benda-benda (yang berisi teks-teks seperti film, buku, dll), dan dalam perilaku-perilaku manusia yang terpola (misalnya pola perilaku pekerja media atau penguna media). Tema-Tema Teori Kultural-Media Kualitas. Munculnya kultur media telah merangsang adanya pemikiran ulang atas budaya populer (pop culture). Disini muncul distingsi (pembedaan) antara budaya populer vs budaya tinggi yang mana budaya populer sering dianggap tak bernilai/tak 6
7 berkualitas karena diproduksi secara massal untuk konsumsi massal. Persoalan inilah, (dalam menilai produk budaya) yang disebut persoalan kualitas. Efek-Efek Teknologi Komunikasi. Munculnya teknologi komunikasi telah mengubah cara kita berkomunikasi sehingga juga merubah pengalaman kultural kita menjadi semakin beragam. Tapi, pengalaman kultural yang termediasi semacam ini bisa saja merubah makna dari pengalaman kultural itu. Komoditifikasi. Adanya aspek-aspek ekonomi politik dari produksi budaya terorganisir sebagaimana dilakukan media massa membuat kita memandang media massa sebagai industri kesadaran yang merubah nilai-nilai budaya jadi komoditas dan memperjualbelikannya. Globalisasi. Seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi dan perluasan pasar, media massa tidak hanya menampilkan budaya sendiri tetapi juga budaya lain. Inilah yang dimaksud dengan globalisasi. Kebijakan Publik Mengenai Keberagaman Budaya. Kuatnya dominasi budaya asing dalam isi media massa telah membuat banyak orang cemas akan terhapuskannya keberagaman budaya. Untuk itu diperlukan adanya kebijakan publik yang melindungi keberagaman budaya. Identitas kultural. Isu-isu mengenai identitas kultural muncul ketika kelompok minoritas dikenali dengan jalan yang berbeda diluar lokasi-lokasi, agama atau etnis yang ada. Gender dan subkultur. Subkultur yang berdasarkan orientasi seksual atau peran gender menyediakan sejumlah contoh bagi kita.. Ideologi dan Hegemoni. Teori kultural-media membahas bagaimana ideologi mewujud dalam produksi kultual dan bagaiaman ideologi bisa dibaca dalam teks-teks media dan mampu mempengaruhi khalayak. MAHZAB FRANKFURT DAN TEORI KULTURAL KRITIS Munculnya teori-teori kritis yang lebih radikal (dan populis) seperti hasil kerja Richard Hoggart, Raymond Williams dan Stuart Hall telah mewakili suatu perhatian yang kritis dan berbasis sosial atas munculnya budaya massa. Tujuan utama dari para pengkritik ini mulanya adalah menyerang akar komersial dari penurunan kultural dan membela kelas pekerja dari kemungkinan mereka dipersalahkan atas turunnya kualitas budaya. Di Amerika Utara, pada masa yang bersamaan, muncul perdebatan yang membicarakan betapa dangkalnya budaya massa. Denga demikian, para kritikus ini juga telah menyelamatkan 7
8 budaya massa dari stigma kualitas rendah, sekalipun jalur dari konsep asli budaya massa telah diabaikan dengan kuat. Istilah teori kritis, merujuk pada sekelompok pemikir neo-marxis yang ada di Frankfurt yang disebut Mahzab Frankfurt dengan tokoh-tokohnya seperti Adorno, Horkheimer, Marcuse dan Benjamin. Pemikiran neo-marxis, yang berkembang pada masa pasca perang telah menyediakan seperangkat ide-ide bagi kita untuk lebih meluaskan perkembangan ide-ide mengenai komunikasi massa dan karakter budaya massa. Kelompok ini pada mulanya didirikan untuk menguji mengapa perubahan sosial revolusioner seperti yang pernah diramalkan Karl Marx tidak pernah terjadi. Dalam penjelasan atas kegagalan ini, mereka melihat kapasitas superstruktur untuk mampu menumbangkan kekuatan-kekuatan/tenaga-tenaga perubahan ekonomi. Sejarah menjadi meleset (tidak seperti yang diramalkan Marx) karena ideologi dari kelompok dominan telah berhasil mengkondisikan basis ekonomi dengan menanamkan kesadaran palsu pada massa kelas pekerja. Komoditi adalah instrumen utama dalam proses ini. Media menjadikan semua produk kultural mereka sebagai komoditi yang bisa dibeli konsumer demi kepuasan psikologis, hiburan dan dugaan-dugaan ilutif yang mengaburkan seperti apa struktur sosial sesungguhnya dan subordinasi kita didalamnya. Marcuse, memberikan gambaran satu dimensi pada konsumsi massal masyarakat yang ditemukan pada perdagangan, periklanan, dan egaliterianisme palsu. Banyak ide-ide dari kelompok ini yang diluncurkan pada tahun 1940-an oleh Adorno dan Horkheimer yang mengandung serangan pesimis dan tajam atas budaya massa. Ide-ide ini mengkritik budaya massa atas keseragamaannya, pemujaannya atas teknik, membosankan, eskapisme dan produksi kebutuhan semu, reduksinya pada individu hanya sebagai pelanggan/pembeli dan penghilangannya pada semua pilihan-pilihan ideologis. IDEOLOGI DAN PERLAWANAN Teori kultural media telah meluas dengan baik melebihi perhatiannya utama pada dominasi ideologi, sekalipun studi atas ideologi tetap berperan sentral. Begitu juga signifikansi budaya media terhadap pengalaman hidup kelompok-kelompok seperti pemuda, kelas pekerja dan kelompok termarjinal lainnya. Adalah Mahzab Birmingham yang mempelopori riset-riset dan teori dalam topik-topik ini yang tokoh utamanya adalah Stuart Hall. Kelompok ini telah mempelopori pendekatan kajian budaya (cultural studies). Stuart Hall menulis: beroposisi dengan cara memformulasikan hubungan antara ideide dan tenaga-tenaga material yang berpola basis-suprastruktur yang mana basis diartikan sebagai determinasi ekonomi dalam arti yang sederhana, pendekatan kajian budaya 8
9 mengartikan budaya sebagai baik, makna-makna maupun nilai-nilai yang tumbuh secara berbeda diantara kelas-kelas sosial dan kelompok-kelompok sosial berdasarkan kondisi historis dan hubungan-hubungan yang telah terberikan bagi mereka, yang mana melaluinya mereka coba menangani dan merespon kondisi-kondisi keberadaan mereka. Pendekatan kritis yang diasosiasikan dengan Mahzab Birmingham juga bertanggung jawab atas terjadinya pergeseran dari pertanyaan mengenai ideologi yang ditanamkan dalam teks-teks media menjadi pertanyaan tentang bagaimana ideologi ini di baca oleh audiensnya. Hall mengusulkan satu model encoding-decoding wacana media yang mana mengatakan teks media diposisikan antara pembuat yang membingkainya dengan pemaknaan tertentu dan audiensnya yang menyandikannya dengan pemaknaan sesuai situasi sosial dan bingkai interpretasi yang mereka miliki. Ide ini menyediakan rangsangan yang bisa dipertimbangkan untuk memikirkan kembali teori-teori ideologi dan kesadaran palsu, karena ada kondisi dimana penolakan terhadap ideologi dominan terjadi. PENEBUSAN ATAS POPULER Penebusan atas yang populer sangat bergantung pada teori decoding dari Hall yang mengatakan bahwa satu produk budaya yang sama bisa dibaca/dimaknai dengan berbagai cara dan artian sekalipun pemaknaan yang dominan atasnya tetap ada. Fiske mengartikan teks media sebagai hasil dari pembacaan dan kenikmatan yang dilakukan khalayak. Fiske mengartikan pluralitas pemaknaan dari satu teks sebagai poliseminya. Istilah intertekstualitas sebagian merujuk pada salingketerhubungan pemaknaan-pemaknaan melewati artefak-artefak media yang berbeda tetapi juga merujuk pada salingketerhubungan pemaknaan-pemaknaan melewati media dan pengalaman-pengalaman budaya lainnya. Jadi, bagi Fiske, budaya populer adalah apa yang populer. Diketahui dan diikuti oleh orang banyak dan bergantung pada kekuatan orang banyak itu. Pada intinya, walaupun orang-orang dalam satu kelas adalah telah disubordinasikan, mereka tetap mempunyai kekuatan semiotik untuk membuat pemakanaan-pemaknaan sesuai keinginan mereka. Terdapat persoalan kualitas dalam budaya populer, kualitas tidak lagi diartikan sebagai suatu tingkat kenyamanan atas budaya tradisional melainkan bisa diartikan juga sebagai kreatifitas, orijinalitas, atau keberagaman identitas budaya dan prinsip-prinsip moral serta etis, tergantung sudut pandang mana yang dipilih. Sekalipun, bisa saja muncul argumen bahwa kualitas dari suatu hal dapat dinilai dari seberapa laku ia dalam pasar yakni bisa memuaskan dan menyenangkan orang. 9
10 DAMPAK DARI KOMUNIKASI GLOBAL Amerika merupakan negara pengekspor utama yang paling berpengaruh dalam penyebarluasan content media massa, di mana negara-negara penerima content terancam oleh apa yang dikatakan sebagai amerikanisasi. Penetrasi budaya yang dibawa oleh Amerika ke negara-negara yang mengimpor foreign content berdampak negatif bagi pertahanan identitas budaya suatu negara. Sebagai resistansi penetrasi budaya asing, perlu adanya gatekeeping controls. Globalisasi media massa juga berdampak negatif pada masyarakat di Indonesia. Contoh nyata adalah kecenderungan lifestyle yang berorientasi kebarat-baratan dan menganggap bahwa budaya orisinil Indonesia sebagai budaya primitif. Kecenderungan berpikir bangsa Indonesia seperti ini merupakan dampak dari arus modernisasi yang dibawa melalui komunikasi massa global. Perlahan tapi pasti, Indonesia mulai kehilangan jati diri dengan berporos pada budaya dan gaya hidup barat. Tanpa disadari, telah terjadi imperialisme budaya melalui media massa. Media massa digunakan sebagai alat modernisasi yang paling menjanjikan bagi kapitalis barat dalam mengatasi cara berpikir tradisional. Semakin makmur suatu negara, semakin besar kesempatan untuk memperoleh otonomi media. Namun yang terjadi di Indonesia, tayangan-tayangan lokal justru banyak menampilkan kehidupan-kehidupan anak muda yang telah mengalami pergeseran budaya dari timur ke barat. Bahkan adegan-adegan yang tadinya dianggap tabu untuk dipublikasi, saat ini kerap muncul menghiasi layar televisi, baik dalam bentuk sinetron ataupun hiburan. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa media dan negara Indonesia masih dependen/tidak central. Dampak globalisasi media massa tidak hanya berpengaruh pada budaya bangsa Indonesia, tetapi juga berdampak pada meningkatkan kekerasan dikalangan generasi muda bangsa sebagai akibat dari peniruan adegan yang ditayangkan melalui program tertentu, seperti yang terjadi pada program tayangan Smack Down, ataupun film Superman. Indonesia, dengan populasi penduduknya berkisar pada angka 250 juta jiwa, merupakan pangsa pasar empuk bagi pemasaran produk hardware maupun software negara produsen. Hal mana tidak saja menimbulkan ketergantungan bangsa Indonesia terhadap negara produsen, tetapi juga merangsang timbulnya pola hidup konsumtif dikalangan masyarakat, seiring dengan keinginan untuk terus mengejar kemajuan teknologi mutahir dari suatu produk tertentu, ataupun karena keharusan untuk mengikuti trend teknologi jika tidak ingin kehilangan akses informasi dan hiburan. Contoh: saat sistem penyiaran televisi memasuki era digitalisasi pada sekitar tahun 2017, maka mau tidak mau 10
11 masyarakat di Indonesia harus menyesuaikan diri dengan pergantian sistem tersebut. Jika tidak mereka tidak dapat mengakses siaran televisi. Globalisasi menyebabkan komunikasi massa mempunyai sifat ganda ataupun sifat gabungan, yaitu disatu sisi komunikasi massa bercirikan suci dikaitkan dengan kebenaran, kepercayaan, kebebasan, dan kemajuan pengetahuan, namun disisi yang lain bersifat materialistis-terkait keuntungan bagi produsen dan distributor. Komunikasi massa secara global cenderung dianggap sebagai penyebab rusaknya ataupun turunnya nilai suatu budaya, penunjang punahnya kontrol sosial dan solidaritas dalam masyarakat. Namun disisi lain, komunikasi massa juga diakui memiliki kekuatan dan kemampuan untuk memperkuat hubungan antar individu, kelompok, maupun bangsa, serta berkemampuan menjayikan seperangkat nilai, ide, informasi dan persepsi yang sama kepada setiap individu. 11
12 Daftar Pustaka Arni Muhammad. Arni Jakarta: Bumi Aksara. Pace, Wayne., Faules, Don.F Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Robbins, Stephen Perilaku Organisasi. Jilid 2. Jakarta: PT Prenhallindo 12
KOMUNIKASI DALAM KONTEKS GLOBAL
KOMUNIKASI DALAM KONTEKS GLOBAL Modul ke: 13 Fakultas Ilmu Komunikasi Pokok Bahasan 1. Komunikasi Konteks Global 2. Komunikasi Multi Kultural Dr., Inge Hutagalung, M.Si Program Studi Public Relations Teknologi
Denis M c Q u a il. Teori Komunikasi Massa c Q a il
Denis M c Q u a il Teori Komunikasi Massa c Q a il Prakata Bagaimana Menggunakan Buku Ini ix xi BAGIAN 1 PENDAHULUAN 1 1 Pengenalan terhadap Buku 3 Objek Studi 4 Struktur Buku Tema dan Isu dalam Komunikasi
KEWARGANEGARAAN GLOBALISASI DAN NASIONALISME. Nurohma, S.IP, M.Si. Modul ke: Fakultas FASILKOM. Program Studi Teknik Informatika.
KEWARGANEGARAAN Modul ke: GLOBALISASI DAN NASIONALISME Fakultas FASILKOM Nurohma, S.IP, M.Si Program Studi Teknik Informatika www.mercubuana.ac.id Pendahuluan Abstract : Menjelaskan pengertian globalisasi
MEDIA ECONOMICS Media massa adalah institusi ekonomi yang berkaitan dengan produksi dan penyebab isi media yang ditargetkan pada khalayak atau konsume
EKONOMI MEDIA MATA KULIAH EKONOMI POLITIK INTERNASIONAL Universitas Muhammadiyah Jakarta Aminah, M.Si MEDIA ECONOMICS Media massa adalah institusi ekonomi yang berkaitan dengan produksi dan penyebab isi
New Media & Society ADI SULHARDI. Media Baru sebagai Teknologi yang Berbudaya. Modul ke: Fakultas ILMU KOMUNIKASI. Program Studi Penyiaran
Modul ke: New Media & Society Media Baru sebagai Teknologi yang Berbudaya Fakultas ILMU KOMUNIKASI ADI SULHARDI. Program Studi Penyiaran www.mercubuana.ac.id Pendahuluan Tiga level definisi pendekatan
BAB I PENDAHULUAN. Modernisasi yang dipelopori oleh negara-negara Barat tak bisa dipungkiri
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Modernisasi yang dipelopori oleh negara-negara Barat tak bisa dipungkiri berpengaruh sangat besar terhadap perkembangan negara-negara lain di dunia, tak terkecuali
( Word to PDF Converter - Unregistered ) BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perubahan sosial dan kultural di Indonesia saat ini adalah mengenai pemanfaatan waktu senggang, waktu santai, dan waktu luang. Ketika industrialisasi mulai mendominasi
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Setiap media, didalamnya mengandung sebuah pesan akan makna tertentu. Pesan tersebut digambarkan melalui isi dari media tersebut, bisa berupa lirik (lagu), alur cerita (film),
Teknologi Komunikasi dan Globalisasi Pertemuan 13 & 14
Matakuliah Tahun : 2008 / 2009 : O0144 / Teori Komunikasi Massa Teknologi Komunikasi dan Globalisasi Pertemuan 13 & 14 Teknologi Komunikasi dan Globalisasi Perbandingan sistem media komunikasi Media dan
BAB I PENDAHULUAN. Isu tentang gender telah menjadi bahasan analisis sosial, menjadi pokok
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Isu tentang gender telah menjadi bahasan analisis sosial, menjadi pokok bahasan dalam perdebatan mengenai perubahan sosial dan juga menjadi topik utama dalam
Teori Kritikal mulai berkembang tahun 1937 (pengkajiannya dimulai tahun 1930) Teori Kritikal eksis sebagai ciri dari Institut Marxisme
Studi Media Perspektif Media Krititis MIKOM Universitas Muhammadiyah Jakarta Aminah, M.Si Teori Kritikal mulai berkembang tahun 1937 (pengkajiannya dimulai tahun 1930) Teori Kritikal eksis sebagai ciri
BAB 1 PENDAHULUAN. Kebebasan pers Indonesia ditandai dengan datangnya era reformasi dimulai
BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kebebasan pers Indonesia ditandai dengan datangnya era reformasi dimulai tahun 1998 setelah peristiwa pengunduran diri Soeharto dari jabatan kepresidenan. Pers Indonesia
BAHAN AJAR KEWARGANEGARAAN
BAHAN AJAR KEWARGANEGARAAN Disampaikan pada acara Workshop E-Learning. Oleh : Tatik Rohmawati,S.IP. Staf Dosen Prodi Ilmu Pemerintahan 1 15 Desember 2007 GLOBALISASI Kata "globalisasi" diambil dari kata
Diversity atau diversitas adalah konsep keberagaman atas dasar perbedaan-perbedaan, seperti. - sosial. - gender - etnik - ras
MEDIA DIVERSITY MATA KULIAH EKONOMI POLITIK INTERNASIONAL Universitas Muhammadiyah Jakarta Aminah, M.Si Diversity atau diversitas adalah konsep keberagaman atas dasar perbedaan-perbedaan, seperti - sosial
Konsep dan Model Komunikasi. Massa. Komunikasi. Massa. Universitas Pembangunan Jaya
Komunikasi Massa Universitas Pembangunan Jaya Konsep dan Model Komunikasi Massa Isu Media Massa dan Masyarakat Kekuatan media Massa Kontribusi Media Massa dalam pembentukan integrasi sosial Kontribusi
Pengaruh Globalisasi Ekonomi Terhadap Perkembangan Ekonomi Indonesia
Pengaruh Globalisasi Ekonomi Terhadap Perkembangan Ekonomi Indonesia Oleh : Indah Astutik Abstrak Globalisasi ekonomi merupakan proses pengintegrasian ekonomi nasional ke dalam sistim ekonomi global yang
BAB V KESIMPULAN. pedesaan yang sesungguhnya berwajah perempuan dari kelas buruh. Bagian
BAB V KESIMPULAN Bagian kesimpulan ini menyampaikan empat hal. Pertama, mekanisme ekstraksi surplus yang terjadi dalam relasi sosial produksi pertanian padi dan posisi perempuan buruh tani di dalamnya.
Modul ke: TEORI KOMUNIKASI. Budaya Populer dan Media Massa. Fakultas ILMU KOMUNIKASI SULHARDI. Program Studi Penyiaran
Modul ke: 13 ADI Fakultas ILMU KOMUNIKASI TEORI KOMUNIKASI Budaya Populer dan Media Massa SULHARDI. Program Studi Penyiaran PENGERTIAN BUDAYA POP Istilah budaya POP dalam bahasa spanyol berarti kebudayaan
BAB I PENDAHULUAN. pada keberhasilan khalayak dalam proses negosiasi makna dari pesan yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Film sebagai bagian dari media massa dalam kajian komunikasi masa modern dinilai memiliki pengaruh pada khalayaknya. Munculnya pengaruh itu sesungguhnya sebuah
PENGENALAN PANDANGAN ORGANISASI
MODUL PERKULIAHAN PENGENALAN PANDANGAN ORGANISASI Pokok Bahasan 1. Alternatif Pandangan Organisasi 2. Perkembangan Teori Dalam Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Ilmu Komunikasi Public
Oleh: Qoriah A. Siregar
RESENSI BUKU Judul : Komunikasi Antarbudaya (Di Era Budaya Siber) Penulis : Rulli Nasrullah Tebal Buku : VIII + 198 hlm Edisi : I, 2012 Penerbit : Kencana Prenada Media Group Buku ini merupakan salah satu
BAB I PENDAHULUAN. tidak adil, dan tidak dapat dibenarkan, yang disertai dengan emosi yang hebat atau
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Mendengar kata kekerasan, saat ini telah menjadi sesuatu hal yang diresahkan oleh siapapun. Menurut Black (1951) kekerasan adalah pemakaian kekuatan yang
SEJARAH KOMUNIKASI MASSA
Pengajar : Nuria Astagini SEJARAH KOMUNIKASI MASSA SESI-3 KOMUNIKASI MASSA UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA 2014 Era Komunikasi Lisan Informasi dan Ilmu pengetahuan disebar luaskan melalui ucapan lisan oleh
BAB V PENUTUP Kesimpulan
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Penelitian analisis resepsi menekankan poin penting terhadap khalayak yang dapat memaknai sendiri teks yang dibacanya dan tidak selalu sejalan dengan apa yang menjadi ideologi
BAB I PENDAHULUAN. harus dipenuhi, seperti kebutuhan untuk mengetahui berita tentang dunia fashion,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Media telah menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, bahkan kita tidak akan pernah terlepas dari media. Seiring dengan perkembangan peradaban
Teori Sosial. (Apa Kontribusinya Terhadap Pemahaman Olahraga di Masyarakat)
Teori Sosial (Apa Kontribusinya Terhadap Pemahaman Olahraga di Masyarakat) Apa itu Teori dalam Sosiologi? Pada saat kita menanyakan mengapa dunia sosial kita seperti ini dan kemudian membayangkan bagaimana
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Indonesia. Jember fashion..., Raudlatul Jannah, FISIP UI, 2010.
BAB I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan 7 sub bab antara lain latar belakang penelitian yang menjelaskan mengapa mengangkat tema JFC, Identitas Kota Jember dan diskursus masyarakat jaringan. Tujuan penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Televisi merupakan salah satu media komunikasi massa yang sangat penting dan menjadi salah satu kebutuhan hidup masyarakat. Televisi memiliki kelebihan
BAB I PENDAHULUAN. efektif dan efisien untuk berkomunikasi dengan konsumen sasaran.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Industri periklanan belakangan ini menunjukan perubahan orientasi yang sangat signifikan dari sifatnya yang hanya sekedar menempatkan iklan berbayar di media massa menjadi
BAB IV ANALISIS DATA
BAB IV ANALISIS DATA A. TEMUAN PENELITIAN Dengan proses representasi yang di gunakan oleh peneliti bahwa proses representasi diartikan sebagai hasil dari suatu proses penyeleksian yang menggaris bawahi
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu media komunikasi massa yaitu televisi memiliki peran yang cukup besar dalam menyebarkan informasi dan memberikan hiburan kepada masyarakat. Sebagai media
ANALISIS ISI PROGRAM TELEVISI LOKAL BERJARINGAN DI BANDUNG (STUDI PADA PROGRAM KOMPAS TV, TVRI, DAN IMTV)
ANALISIS ISI PROGRAM TELEVISI LOKAL BERJARINGAN DI BANDUNG (STUDI PADA PROGRAM KOMPAS TV, TVRI, DAN ) Fathania Pritami Prodi S1 Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi dan Bisnis, Universitas Telkom Jl. Telekomunikasi
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Paradigma Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif untuk mengungkapkan permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya. Pendekatan kualitatif ini
BAB I PENDAHULUAN. Karya sastra merupakan wujud dari proses imajinatif dan kreatif pengarang.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karya sastra merupakan wujud dari proses imajinatif dan kreatif pengarang. Adapun proses kreatif itu berasal dari pengalaman pengarang sebagai manusia yang hidup di
BAB V PENUTUP Kesimpulan
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Penelitian ini berbeda dengan penelitian yang lain karena mengangkat konsep multikulturalisme di dalam film anak. Sebuah konsep yang jarang dikaji dalam penelitian di media
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Paradigma Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan paradigma kritis. Paradigma kritis menyajikan serangkaian metode dan perspektif yang memungkinkan untuk
BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya setiap manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Pada dasarnya setiap manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan dalam hidupnya. Kebutuhan manusia menjadi penunjang keberlangsungan hidup manusia. Manusia dengan akal budinya
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masyarakat Indonesia dikenal dengan kemajemukannya dalam berbagai aspek, seperti adanya keberagaman suku bangsa atau etnis, agama, bahasa, adat istiadat dan
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Manusia tidak akan pernah terlepas dari komunikasi. Dimanapun kita, apapun yang kita lakukan, dan bagaimana bentuknya, kita pasti melakukan proses komunikasi dengan
BAB 5 KESIMPULAN DAN CATATAN KRITIS
5.1 Kesimpulan BAB 5 KESIMPULAN DAN CATATAN KRITIS Pada era 70-an, kinerja Centre for Cultural Studies/CCS di Birmingham (yang dijalankan Richard Goggart dan kemudian Stuart Hall) menjadi sangat penting
I. PENDAHULUAN. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang heterogen atau majemuk, terdiri dari
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang heterogen atau majemuk, terdiri dari berbagai etnik dan berada dalam keberagaman budaya. Belajar dari sejarah bahwa kemajemukan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Globalisasi saat ini telah merambah cepat ke seluruh pelosok dunia, tak
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Globalisasi saat ini telah merambah cepat ke seluruh pelosok dunia, tak terkecuali bangsa Indonesia yang merupakan negara berkembang. Perkembangan teknologi
BAB 1 PENDAHULUAN. film memiliki realitas yang kuat salah satunya menceritakan tentang realitas
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Konteks Penelitian Film adalah suatu media komunikasi massa yang sangat penting untuk mengkomunikasikan tentang suatu realita yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, film memiliki
BAB I PENDAHULUAN. berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi dan khidupan manusia.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dunia periklanan memang telah menjadi sejarah panjang dalam peradaban manusia. Sekarang ini periklanan semakin berkembang dengan pesat dan dinamis, berkembang
BAB I PENDAHULUAN. seolah-olah hasrat mengkonsumsi lebih diutamakan. Perilaku. kehidupan dalam tatanan sosial masyarakat.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanpa kita sadari, masyarakat selalu diposisikan sebagai konsumen potensial untuk meraup keuntungan bisnis. Perkembangan kapitalisme global membuat bahkan memaksa masyarakat
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Perkembangan teknologi informasi telah menyentuh ke setiap lini kehidupan seiring dengan perkembangan media massa sebagai salah satu sarana penyebaran informasi. Komunikasi melalui
BAB I PENDAHULUAN. Film adalah suatu media komunikasi massa yang sangat penting untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Penelitian Film adalah suatu media komunikasi massa yang sangat penting untuk mengkomunikasikan tentang suatu realita yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, film memiliki
BAHAN KULIAH 10 SOSIOLOGI PEMBANGUNAN
BAHAN KULIAH 10 SOSIOLOGI PEMBANGUNAN TEORI DEPENDENSI Dr. Azwar, M.Si & Drs. Alfitri, MS JURUSAN SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS ANDALAS Latar Belakang Sejarah Teori Modernisasi
BAB I PENDAHULUAN. luas dan pada sisi lain merupakan proses dimana pesan tersebut dicari
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Komunikasi pada satu sisi mengandung pengertian suatu proses dimana organisasi media memproduksi dan menyebarkan pesan kepada publik secara luas dan pada sisi
BAB I PENDAHULUAN. massa terutama televisi, telah menjadi media penyebaran nilai-nilai dan sangat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Televisi telah menjadi begitu lazim sehingga hampir tidak pernah memperhatikan apa itu televisi dan apa pengaruhnya. Televisi telah menciptakan sebentuk kemelekan huruf
BAB I PENDAHULUAN. Dunia Broadcasting (penyiaran) adalah dunia yang selalu menarik
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dunia Broadcasting (penyiaran) adalah dunia yang selalu menarik perhatian bagi masyarakat khususnya di Indonesia. Televisi memiliki keunggulan yang menyebabkan masyarakat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG. Pada umumnya para remaja sekarang senang berbelanja tertutama
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Pada umumnya para remaja sekarang senang berbelanja tertutama pada mahasiswa, semakin berkembangnya social media maka banyak yang membuka usaha di social media contohnya
SOSIOLOGI PENDIDIKAN
SOSIOLOGI PENDIDIKAN PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF STRUKTURAL KONFLIK TOKOH PEMIKIR ANTARA LAIN: 1. KARL MARX (1818-1883) 5. JURGEN HABERMAS 2. HEGEL 6. ANTONIO GRAMSCI 3. MAX HORKHEIMER (1895-1973) 7. HERBERT
BAB V KESIMPULAN & SARAN. penelitian ini. Pertama, bagaimana praktik pembajakan digital dalam budaya
BAB V KESIMPULAN & SARAN Seperti dipaparkan di bagian awal, ada tiga rumusan masalah dalam penelitian ini. Pertama, bagaimana praktik pembajakan digital dalam budaya mengopi video di warnet? Kedua, bagaimana
NEW MEDIA & SOCIETY. Perkembangan Media. Rahmadya Putra Nugraha, M.Si. Modul ke: Fakultas FIKOM. Program Studi Broadcasting
Modul ke: NEW MEDIA & SOCIETY Perkembangan Media Fakultas FIKOM Rahmadya Putra Nugraha, M.Si Program Studi Broadcasting http://www.mercubuana.ac.id Media dalam Kehidupan Manusia Dewasa ini, media telah
PENGARUH BUDAYA KOREAN POP DALAM TAYANGAN TOP KPOP TV TERHADAP PERILAKU REMAJA DI BSD, KENCANA LOKA BLOK F1
PENGARUH BUDAYA KOREAN POP DALAM TAYANGAN TOP KPOP TV TERHADAP PERILAKU REMAJA DI BSD, KENCANA LOKA BLOK F1 Villia Octariana Putri Binus University, Jakarta, Indonesia Abstrak TUJUAN PENELITIAN Alasan
BAB I PENDAHULUAN. Peran Berita Politik Dalam Surat Kabar Pikiran Rakyat Terhadap Pengetahuan Politik Mahasiswa Ilmu Sosial se-kota Bandung
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi ini, terutama teknologi informasi dan komunikasi yang semakin berkembang dengan cepat,
I. PENDAHULUAN. generasi muda untuk mempunyai jiwa kemanusiaan.
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan sebuah tindakan yang fundamental, yaitu perbuatan yang menyentuh akar-akar kehidupan bangsa sehingga mengubah dan menentukan hidup manusia.
BAB I PENDAHULUAN. paling tua dibandingkan dengan jenis media massa lainnya. Sejarah mencatat
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Media informasi dewasa ini berkembang amat pesat, baik media cetak, elektronik maupun media internet. Dalam hal ini peningkatan dalam penyampaian informasi
Proses Komunikasi dalam Masyarakat
Proses Komunikasi dalam Masyarakat Lapisan masyarakat sangat beragam dan kompleks Semakin kompleks, semakin rumit, karena bermacam budaya dan proses sosial Bentuk komunikasi ditentukan oleh: 1. Pihak yang
REGULASI PENYIARAN DI INDONESIA
REGULASI PENYIARAN DI INDONESIA Era Reformasi&Berakhirnya Era Orde Baru Proses disahkannya undang-undang penyiaran tersebut terjadi pada era pemerintahan Presiden Megawati. Tujuannya untuk menghasilkan
...,"'..,II'IIMSM' Bab 1 Literasi Media Massa. Bab 4 Majalah. Bab 2 Buku. Bab 5 Sound Recording. Bab 3 Koran. Bab 6 Film
I(OMUNII(ASI ...,"'..,II'IIMSM' ~'", '," " :," ~ '.,',,;', ' :,",." Bab 1 Literasi Media Massa 2 Arti Penting Media Massa... 4 Kultur dan Nilai... 7 Media Massa Utama... 9 Perpaduan Teknologi... 13 MSM
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masyarakat yang kian berkembang pada dasarnya memiliki rasa ingin tahu yang besar. Mereka ingin tahu apa yang terjadi di tengah-tengah dunia global. Program informasi
BAB I PENDAHULUAN. pengalihasandian. Keberlangsungan ini pada akhirnya akan membentuk suatu pola
BAB I PENDAHULUAN To effectively communicate, we must realize that we are all different in the way we perceive the world and use this understanding as a guide to our communication with others. (Anthony
ISU-ISU GLOBALISASI KONTEMPORER, oleh Ahmad Safril Mubah, M.Hub., Int. Hak Cipta 2015 pada penulis
ISU-ISU GLOBALISASI KONTEMPORER, oleh Ahmad Safril Mubah, M.Hub., Int. Hak Cipta 2015 pada penulis GRAHA ILMU Ruko Jambusari 7A Yogyakarta 55283 Telp: 0274-882262; 0274-889398; Fax: 0274-889057; E-mail:
Modul ke: Komunikasi Massa. Bidang Kajian Komunikasi Massa. Radityo Muhammad, SH.,MA. Fakultas FIKOM. Program Studi Public Relations
Modul ke: Komunikasi Massa Bidang Kajian Komunikasi Massa Fakultas FIKOM Radityo Muhammad, SH.,MA Program Studi Public Relations Peran Penting Media Massa Peran Penting Media Massa (Dennis McQuail,1987)
BAB III METODE PENELITIAN. semiotika John Fiske karena dirasakan cocok dengan apa yang akan peneliti teliti.
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Dalam penelitian ini, peneliti memilih untuk menggunakan analisis semiotika John Fiske karena dirasakan cocok dengan apa yang akan peneliti teliti. John
PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG LEMBAGA SENSOR FILM
PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG LEMBAGA SENSOR FILM I. UMUM Kesadaran manusia akan kebutuhan hiburan memberi peluang besar pada industri perfilman untuk mengembangkan
1 BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam era globalisasi saat ini, terdapat suatu fenomena yang terjadi yaitu para pemilik modal berlomba-lomba menginvestasikan modal mereka guna mengincar keuntungan
BAB I PENDAHULUAN. iklan, karena iklan ada dimana-mana. Secara sederhana iklan merupakan sebuah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Iklan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Mulai dari bangun tidur sampai saat akan kembali tidur kita pasti akan menjumpai
BERITA LITERASI MEDIA DAN WEBSITE KPI (ANALISIS ISI KUANTITATIF BERITA MENGENAI LITERASI MEDIA PADA WEBSITE KOMISI PENYIARAN INDONESIA)
BERITA LITERASI MEDIA DAN WEBSITE KPI (ANALISIS ISI KUANTITATIF BERITA MENGENAI LITERASI MEDIA PADA WEBSITE KOMISI PENYIARAN INDONESIA) Karina Pinem 100904046 Abstrak Penelitian ini berjudul Literasi Media
Modul Perkuliahan II Ekonomi Politik Media
Modul ke: Modul Perkuliahan II Ekonomi Politik Media 2 PenSumber-Sumber Ekonomi Media dan Pasar Media Fakultas PASCA SARJANA Ponco Budi Sulistyo., S.Sos., M.Comm., PhD Program Studi Magister Ilmu Komunikasi
TEORI KOMUNIKASI. Komunikasi Massa dan Masyarakat. SUGIHANTORO, S.Sos, M.IKom. Modul ke: Fakultas ILMU KOMUNIKASI
Modul ke: TEORI KOMUNIKASI Komunikasi Massa dan Masyarakat Fakultas ILMU KOMUNIKASI SUGIHANTORO, S.Sos, M.IKom. Program Studi MARKETING COMMUNICATIONS & ADVERTISING www.mercubuana.ac.id KOMUNIKASI DAN
Pendekatan Historis Struktural
Teori modernisasi ternyata mempunyai banyak kelemahan sehingga timbul sebuah alternatif teori yang merupakan antitesis dari teori modernisasi. Kegagalan modernisasi membawa kenajuan bagi negara dunia ketiga
Penyusun Nama : Aisyah Monicaningsih Nim :
Sikap Media, Citra Personal dan Penghapusan APBD Untuk Wartawan (Analisis Isi Berita Gubernur Jawa Tengah di Suara Merdeka, Tribun Jateng, dan Radar Semarang) Skripsi Disusun untuk memenuhin persyaratan
BAB 1 PENDAHULUAN. komunikasi, karena komunikasi merupakan bagian integral dari sistem dan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kehidupan manusia di dunia tidak dapat dilepaskan dari aktivitas komunikasi, karena komunikasi merupakan bagian integral dari sistem dan tatanan kehidupan sosial manusia
Modul Perkuliahan III Ekonomi Politik Media
Modul ke: 3 Modul Perkuliahan III Ekonomi Politik Media Kepemilikan Media Fakultas PASCA SARJANA Ponco Budi Sulistyo., S.Sos., M.Comm., PhD Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Judul Sub Bahasan Prinsip,
BAB I PENDAHUUAN. dilaksanakan secara praktis tanpa harus bertemu. Komunikasi yang. adalah melalui internet yang dikenal dengan belanja online.
BAB I PENDAHUUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi di era globalisasi ini telah mendorong perubahan sistem perdagangan yang ada sejak ratusan tahun silam. Secara tradisional pembelian harus
BAB I PENDAHULUAN. (http://kbbi.web.id/jilbab). Pada zaman orde baru pemerintah melarang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia sehingga banyak ditemui perempuan muslim Indonesia menggunakan jilbab,
BAB I PENDAHULUAN. dengan konsumen. Sehingga memaksa perusahaan untuk selalu melakukan
BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Masalah Seiring berkembangnya industri media saat ini, banyak perusahaan berlomba-lomba mengomunikasikan produk mereka kepada khalayak, sehingga diperlukan komunikasi
BAB II SEJARAH DAN PERKEMBANGAN IKLAN
1 ABSTRAK Perkembangan dunia komunikasi dan media massa adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Melalui media massa saat ini, masyarakat dapat memperoleh informasi yang tidak terbatas. Tidaklah heran
BAB VI KESIMPULAN. Pertama, poligami direpresentasikan oleh majalah Sabili, Syir ah dan NooR dengan
BAB VI KESIMPULAN 6.1 Kesimpulan Hasil analisa wacana kritis terhadap poligami pada media cetak Islam yakni majalah Sabili, Syir ah dan NooR ternyata menemukan beberapa kesimpulan. Pertama, poligami direpresentasikan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Media massa saat ini berkembang dengan sangat pesat. Perkembangan media massa sangat erat kaitannya dengan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Media massa saat ini berkembang dengan sangat pesat. Perkembangan media massa sangat erat kaitannya dengan komunikasi, lisan maupun tulisan. Seiring perkembangan teknologi
BAB.I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB.I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tidak ada masyarakat yang tidak berubah dan berkembang dari waktu ke waktu. Tidak jarang dalam perubahan tersebut terdapat nilai yang ditransformasikan. Bahkan, seiring
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kelompok anak punk oleh sebagian masyarakat dianggap sebagai kelompok yang meresahkan serta mengganggu ketertiban umum. Di setiap sudut kota sering pula kita
GLOBALISASI MATAKULIAH KEWARGANEGARAAN. Muhamad Rosit, M.Si. Modul ke: Fakultas ILMU TEKNIK. Program Studi TEKNIK ELEKTRO.
Modul ke: GLOBALISASI MATAKULIAH KEWARGANEGARAAN Fakultas ILMU TEKNIK Muhamad Rosit, M.Si. Program Studi TEKNIK ELEKTRO www.mercubuana.ac.id Globalisasi,SMA XII IPA/IPS Pengertian Kata "globalisasi" diambil
BAB 1 PENDAHULUAN. dinamakan komunikasi. Setiap individu lainnya untuk berbagi pendapat, persepsi, dan bertukar pikiran. (Gregory Bateson, 1972)
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kehidupan manusia tidak pernah lepas dari sebuah proses yang dinamakan komunikasi. Setiap individu lainnya untuk berbagi pendapat, persepsi, dan bertukar pikiran. (Gregory
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
25 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tipe Penelitian Tipe atau jenis penelitian ini adalah penelitian interpretif dengan pendekatan kualitatif. Paradigma merupakan sebuah konstruksi manusia yaitu gagasan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. terdahulu ini mengemukakan hasil penelitian lain yang relevan dalam pendekatan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Penelitian Terdahulu Di dalam penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian terdahulu sebagai perbandingan dan tolak ukur penelitian. Tinjauan pustaka tentang penelitian
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Komunikasi massa merupakan jenis komunikasi yang ditujukan kepada
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Komunikasi massa merupakan jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen dan anonim melalui media cetak atau elektronis
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP GAYA HIDUP CLUBBING DENGAN RELIGIUSITAS PADA REMAJA DI SMA NEGERI 5 SURAKARTA
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP GAYA HIDUP CLUBBING DENGAN RELIGIUSITAS PADA REMAJA DI SMA NEGERI 5 SURAKARTA SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Mencapai Derajat Sarjana-S1 Bidang Psikologi
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Dewasa ini, kodrat manusia menjadi tua seolah bisa dihindari
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dewasa ini, kodrat manusia menjadi tua seolah bisa dihindari dengan teknologi yang diciptakan oleh manusia. Kemunculan produkproduk kecantikan masa kini menjanjikan
PENJAJAHAN TV TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK
PENJAJAHAN TV TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK Oleh : Lukman Aryo Wibowo, S.Pd.I. 1 Siapa yang tidak kenal dengan televisi atau TV? Hampir semua orang kenal dengan televisi, bahkan mungkin bisa dibilang akrab
BAB I PENDAHULUAN. berbeda-beda. Penggolongan manusia tersebut disebut dengan ras
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masing-masing manusia memiliki ciri-ciri tubuhnya masing-masing, seperti warna kulit, warna dan bentuk rambut, indeks tengkorak, bentuk muka, warna mata, bentuk hidung,
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Semenjak media massa dikenal mampu menjangkau khalayak dengan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Semenjak media massa dikenal mampu menjangkau khalayak dengan wilayah yang luas, pertumbuhan media dari waktu kewaktu semakin menunjukan peningkatan. Keberadaan
BAB I PENDAHULUAN. komunikasi lain, yaitu Gerbner. Menurut Gerbner (1967) Mass communication is
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Definisi komunikasi massa yang paling sederhana dikemukakan oleh Bittner (rakhmat,2003:188), yakni: komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui
