HUBUNGAN PERAN STAKEHOLDERS DENGAN PARTISIPASI MASYARAKAT
|
|
|
- Yulia Fanny Darmali
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 HUBUNGAN PERAN STAKEHOLDERS DENGAN PARTISIPASI MASYARAKAT Hipotesis dalam penelitian ini adalah semakin tinggi peran stakeholders dalam penyelenggaraan program agropolitan di Desa Karacak maka semakin tinggi partisipasi masyarakat pada program agropolitan. Berdasarkan hipotesis tersebut, terdapat dua variabel yang akan diukur yakni variabel tingkat partisipasi dilihat dari tingkat partisipasi masyarakat pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Variabel yang lainnya yaitu variabel peran stakeholders mencakup tingkat pengaruh dan tingkat kepentingan stakeholders dalam keseluruhan program agropolitan mulai dari tahap perencanaan sampai evaluasi. Jika dikaitkan dengan data mengenai tingkat partisipasi masyarakat pada sub bab sebelumnya, dapat dianalisis bahwasanya mayoritas masyarakat penerima program agropolitan yang tergabung dalam kelompok tani terlibat dengan tingkat partisipasi di tingkat tokenisme. Hubungan Peran Stakeholders dengan Partisipasi Masyarakat Partisipasi masyarakat pada perencanaan pembangunan menyebabkan perencanaan pembangunan diupayakan menjadi lebih terarah, artinya rencana program pembangunan yang disusun sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Selain itu, dalam penyusunan rencana/program dilakukan penentuan prioritas dengan demikian pelaksanaan program pembangunan akan terlaksana pula secara efektif (Adisasmita 2006). Dengan demikian dukungan peran stakeholders dalam program yang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berpartisipasi menentukan keberhasilan/keberlanjutan program. Peran stakeholders dilihat dari kepentingan dan pengaruh stakeholders. Pengaruh stakeholders dilihat dari dukungan dana terhadap program agropolitan, Jaringan yang dimiliki oleh stakeholders terhadap stakeholders lainnya dan personality stakeholders. Pengukuran pengaruh ini menggunakan uji korelasi Rank Spearman untuk mengetahui hubungan variabel dukungan dana, Jaringan dan personality stakeholders serta menggunakan tabel silang untuk mengetahui hubungan pengaruh stakeholders dan kepentingan stakeholders dengan partisipasi masyarakat. Perbedaan tujuan serta kepentingan antar stakeholders dapat terjadi dalam melaksanakan suatu program. Perbedaan ini seringkali menyebabkan konflik. Seharusnya individu yang berbeda dapat melakukan kerjasama dan kolaborasi secara fungsional untuk menunjang berjalannya aktivitas program agropolitan. Perbedaan kepentingan tentunya menyebabkan sulitnya membentuk dan mengembangkan hubungan yang menguntungkan. Kepentingan muncul ketika pihak yang terlibat dalam program memiliki motif dalam setiap bentuk keterlibatannya yang mengharapkan suatu timbal balik dari masyarakat, hal ini dinyatakan oleh Budimanta dkk (2008) Masyarakat memandang kepentingan stakeholders dilihat dari perlu atau tidak perlunya keberadaan stakeholders tersebut dalam program.
2 80 Dalam penelitian ini hubungan antara peran stakeholders dengan partisipasi masyarakat dilihat melalui perhitungan uji korelasi Rank Spearman dengan menggunakan alat bantu SPSS V Nilai alpha yang digunakan sebesar 0,05 atau 5%. Hasil pengujian menghasilkan angka korelasi antara variabel tingkat partisipasi masyarakat (keseluruhan tahapan) dan variabel peran stakeholders keseluruhan tahapan adalah sebesar 0.035, karena p-value (Sig.(2- tailed)) < alpha (0.05=5persen) maka tolak Ho dan terima H1, artinya terdapat hubungan antara variabel peran stakeholders (keseluruhan tahapan) dengan variabel tingkat partisipasi masyarakat. Korelasi antara kedua variabel tersebut berhubungan secara signifikan sehingga semakin tinggi peran stakeholders pada keseluruhan tahapan berpengaruh pada peningkatan partisipasi masyarakat. Hal ini memperlihatkan secara dukungan dana, jaringan dan personality yang dimiliki stakeholders juga mempengaruhi partisipasi masyarakat disebabkan karena dukungan dana yang diberikan mampu mendorong masyarakat untuk ikut serta dalam program. Motif partisipasi masyarakat karena rasa aman bahwa mereka tidak akan mengeluarkan biaya saat berpartisipasi dan bebas untuk mengusulkan berbagai program. Jaringan stakeholders mempengaruhi partisipasi masyarakat karena dengan luasnya jaringan yang dimiliki oleh stakeholders, terutama stakeholders yang diklasifikasikan dalam manage closely menyebabkan masyarakat lebih leluasa dalam menyampaikan pendapatnya dalam program agropolitan. Personality yang menunjukan kepribadian stakeholders mampu memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menyalurkan pikiran dan pendapatnya sehingga mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat di Desa Karacak untuk menjalankan program agropolitan secara keseluruhan. Uji kedua dilakukan untuk mengetahui hubungan antara peran stakeholders pada tahap perencanaan dan variabel partisipasi masyarakat dalam tahap perencanaan. Berdasarkan hasil pengujian, didapatkan angka korelasi antara variabel peran stakeholders (tahap perencanaan) dan variabel partisipasi masyarakat dalam tahapan perencanaan berkorelasi namun tidak signifikan. Nilai koefisien korelasi Spearman yang diperoleh untuk kedua variabel tersebut sebesar dengan nilai signifikansi sebesar Oleh karena nilai signifikansi tersebut lebih besar daripada nilai alfa (0.05) maka hipotesis penelitian ditolak (terima H0), dengan kata lain semakin tinggi peran stakeholders maka belum tentu partisipasi masyarakat juga tinggi. Hubungan ini dilihat dari hubungan pengaruh stakeholders dan kepentingan stakeholders dalam perencanaan program agropolitan. Hasil tabel silang antara hubungan pengaruh stakeholders dengan partisipasi masyarakat pada tahap perencanaan (Lampiran 5) menjelaskan bahwa pada tahap perencanaan, pengaruh stakeholders berhubungan dengan tingkat partisipasi masyarakat. Dibuktikan dengan hasil yang menyatakan 60% dengan partisipasi di tingkat non-partisipasi menyatakan bahwa pengaruh stakeholders rendah dan 40% responden yang partisipasinya tokenisme menyatakan bahwa pengaruh stakeholders rendah. Selain itu terdapat 40% responden dengan partisipasi nonpartisipasi menyatakan pengaruh stakeholders sedang dan 50% responden dengan partisipasi tokenisme menyatakan pengaruh stakeholders sedang, sisanya 10% responden dengan partisipasi citizen power menyatakan bahwa pengaruh stakeholders berada di tingkat sedang, lalu responden yang menyatakan pengaruh stakeholders tinggi berada pada partisipasi tokenisme sebesar 40% dan tingkat
3 81 citizen power sebesar 60% menyebabkan partisipasi masyarakat juga berada di tingkat sedang. Hal ini menyatakan bahwa pada tahap perencanaan, saat proses sosialisasi, pelatihan fasilitator, penunjukan lokasi agropolitan dan pembuatan masterplan agropolitan variabel luas jaringan dan personality stakeholders berhubungan dengan partisipasi masyarakat. Pengaruh stakeholders yang rendah pada personality dan sempitnya jaringan stakeholders pada saat sosialisasi, pembuatan masterplan, pelatihan fasilitator dan pembuatan masterplan agropolitan di awal menyebabkan keterlibatan masyarakat juga rendah. Hal ini ditunjukan dengan nilai signifikasi korelasi yaitu 0.000, karena nilai tersebut lebih kecil dari α (0.05) yang menunjukan dukungan dana pada saat perencanaan program dan personality stakeholders pada saat perencanaan program mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat. Masyarakat menjadikan sikap stakeholders dan sikap stakeholders yang mau mendengarkan pendapat masyarakat di awal program sebagai motivasi yang mendorong keterlibatannya dalam program agropolitan. Hal ini dibuktikan dengan penuturan bapak UPD sebagai berikut: Saya dulu waktu ada lokakarya pengenalan agropolitan yang dilaksanain dibalai desa ikut kesana karena diajak sama ketua gapoktan, ketua gapoktan itu orangnya baik, emang deket juga sama anggotanya dan beliau juga deket ama dinas, ama ketua POSKO, ama orang koperasi. Jadi ya saya percaya aja pasti acaranya juga berguna buat anggota kelompok tani karena memang hubungan kita baik. Ketua gapoktan itu selalu ngebantu masalah pertanian. ya bapak jadinya selalu ikut kalau diundang, kadang ikut bantu bawa-bawa makanan juga kalau rapat UPD Selain itu, luasnya jaringan/relasi yang dimiliki oleh stakeholders mampu meyakinkan masyarakat untuk mengambil kesempatan berpartisipasi dalam perencanaan program seperti halnya bapak AFR, bapak ini merupakan anggota PPS senior bersama dengan Ketua POKJA yang pertama kali mengetahui program agropolitan dari lurah setempat. Mengingat bapak AFR mengetahui tentang diri pak lurah yang memiliki banyak relasi akhirnya meyakinkan bapak AFR untuk hadir dalam perencanaan: Wah, kalau pak lurah itu juga banyak relasinya. Pas diundang buat dateng katanya ada orang dinas mau bikin program buat petani di Karacak. Nah, kalau bapak yang ngasih tau pasti programnya bagus, mumpung ada kesempatan dan yang ngajak pak lurahnya langsung ya saya ikut aja AFR. Sedangkan variabel dukungan dana pada perencanaan tidak memiliki hubungan dengan tingkat partisipasi masyarakat pada perencanaan program. Terbukti dengan nilai signifikasi pada uji korelasi Rank Spearman pada Lampiran 5 menghasilkan angka yang berarti lebih besar dari α (0.05) maka hipotesis ditolak dan tidak menunjukan adanya hubungan pengaruh. Mengingat program masih awal dan baru diperkenalkan, pengetahuan tentang manfaat program juga masih rendah, maka dukungan dana yang tinggi pun tidak mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat. Saat tahap perencanaan agropolitan ini dinas pertanian dan BAPPEDA yang banyak berperan dalam dukungan dana untuk pembuatan masterplan bersama dengan akademisi yaitu pihak P4W-IPB dengan ketua POSKO. Saat lokakarya didesa juga pihak Dinas Pertanian dan BAPPEDA
4 82 bersama aparat desa yang banyak menentukan keputusan program sehingga peran mereka dominan sebagai manage closely. Dominannya peran mereka dan pengetahuan masyarakat yang masih rendah terhadap program juga menyebabkan masyarakat hanya hadir sebagi formalitas dan kalaupun memberikan pendapat tidak dipertimbangkan menyebabkan tingkat partisipasi masyarakat berada di tingkat non partisipasi dan tokenisme. Peran stakeholders juga ditentukan oleh variabel kepentingan stakeholders. Hasil pada Lampiran 5 menjelaskan bahwa pada tahap perencanaan, tidak terdapat hubungan antara kepentingan stakeholders dengan tingkat partisipasi masyarakat karena tidak ada masyarakat yang menyatakan bahwa keterlibatan stakeholders rendah. Pada tingkat kepentingan sedang partisipasi masyarakat tetap dominan berada di tingkat non partisipasi sebanyak 59%, dan pada saat tingkat kepentingan tinggi partisipasi masyarakat juga didominasi pada partisipasi non-partisipasi sebanyak 75%. Hal ini disebabkan oleh interaksi yang masih rendah pada awal program perencanaan sehingga masyarakat belum memahami kepentingan masing-masing pihak stakeholders. Hanya stakeholders yang dikenal oleh masyarakat sebelum adanya agropolitan yang dianggap memiliki kepentingan tinggi namun juga tidak menyebabkan partisipasi masyarakat di tingkat citizen power yang menentukan arah program dan masyarakt juga belum menjadi pihak yang dijadikan penentu kebijakan dalam penyusunan masterplan. Biasanya tokoh seperti Ketua Gapoktan dan Ketua POSKO yang berperan dalam menentukan kawasan, membantu pembuatan masterplan dan pelatihan pendamping PPS. Seperti yang diutarakan bapak UJ berikut: Agropolitan itu perencanaannya tahun dua ribu limaan, waktu itu saya kenal dan tau dari pak Bakri. Kata beliau sih tujuan agropolitan ini bagus buat budidaya manggis saya, katanya nanti bisa dapet pelatihan ama bantuan modal juga. Tapi karena programnya belum tau bener kayak gimana, khawatir malah ada yang manfaatin nama saya jadi walaupun saya tau itu untuk kepentingan petani. Saya mah cuma liat perkembangannya aja, jarang ikut pas awal UJ. Uji ketiga dilakukan untuk mengetahui hubungan antara peran stakeholders pada tahap pelaksanaan dan variabel partisipasi masyarakat dalam tahap pelaksanaan. Berdasarkan hasil pengujian, didapatkan angka korelasi antara variabel peran stakeholders (tahap pelaksanaan) dan variabel partisipasi masyarakat dalam tahapan pelaksanaan program agropolitan berkorelasi dan signifikan. Nilai koefisien korelasi Rank Spearman yang diperoleh untuk kedua variabel tersebut sebesar dengan nilai signifikansi sebesar Oleh karena nilai signifikansi tersebut lebih kecil daripada nilai alfa (0.05) maka tolak H0 dan terima H1 yang artinya semakin tinggi peran stakeholders maka tingkat partisipasi masyarakat juga semakin tinggi. Hubungan ini dapat dilihat dari hubungan pengaruh stakeholders dan kepentingan stakeholders dalam pelaksanaan program agropolitan terhadap partisipasi masyarakat. Pada tahap pelaksanaan pengaruh stakeholders mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat. Dikuatkan oleh data hasil tabel silang pada Lampiran 5, saat tahap pelaksanaan agropolitan pengaruh stakeholders yang rendah menyebabkan 75% partisipasi masyarakat berada di tingkat non partisipasi dan 25% masyarakat yang berada di tingkat partisipasi
5 83 tokenisme juga menyatakan pengaruh stakeholders rendah. Sedangkan 73% masyarakat yang mempunyai partisipasi tokenisme menyatakan bahwa pengaruh stakeholders berada pada tingkatan sedang. Hal ini berlaku juga pada pengaruh stakeholders yang tinggi menyebabkan masyarakat berada di tahap citizen power sebesar 100%. Hal ini mengindikasikan pada saat pelaksanaan program pengaruh stakeholders yang rendah dalam pelaksanaan menyebabkan partisipasi masyarakat berada di tingkat non-partisipasi. Dilihat dari variabel pengaruh, yang terdiri dari dukungan dana, luas jaringan, dan personality stakeholders lebih kecil dari nilai alfa (0.05) sehingga menyebabkan dukungan dana, luas jaringan dan personality yang dimiliki stakeholders berhubungan dengan partisipasi masyarakat dilihat dari nilai signifikasi korelasi antara dukungan dana dengan tingkat partisipasi masyarakat pada tahap pelaksanaan yaitu yang lebih kecil dari nilai alfa (0.05). Hal ini menyatakan bahwa semakin besar dukungan dana yang diberikan oleh stakeholders maka tingkat partisipasi masyarakat juga semakin tinggi. Masyarakat merasa dukungan dana dapat memudahkan melaksanakan program, mereka menjadi lebih bersemangat mengikuti program dan mengalokasikan dana sesuai dengan kebutuhan, aspirasi dan keinginan mereka. Dukungan dana ini juga membuat masyarakat memperoleh hak untuk mengatur program lebih fleksibel pilihan program agropolitan yang akan dilaksanakan sesuai dengan kemampuan mereka. Pada kasus program pengembangan SDM, dukungan dana yang besar bagi pelatihan PPS (Penyuluh Pertanian Swadaya) yang tinggi menyebabkan anggota kelompok tani yang tergabung dalam PPS menjadi merasakan kemudahan dalam mobilisasi mengujungi petani karena tidak khawatir akan kesulitan ongkos. Dukungan dana yang tinggi telah menjadikan tingkat partisipasi menjadi lebih tinggi yaitu di tingkat citizen power karena selain itu juga dengan sisa uang transportasi PPS mampu terlibat dalam merancang program pembinaan kelompok tani yang lebih kreatif dan efektif bagi peningkatan kesejahteraan petani. Seperti yang disampaikan Bapak MDR berikut ini: Dukungan dana dari dinas untuk gaji PPS atau uang lelah PPS itu semakin besar, tapi justru semakin memotivasi kita untuk lebih giat lagi dalam membantu lembaga penelitian untuk bikin program yang lebih kreatif lagi dalam pembinaan permasalahan petani, terjun langsung ke lapangan dan kerjasama dengan MDR. Keterlibatan masyarakat muncul saat pihak dinas memberikan dana program, sehingga saat ada bantuan barulah mereka mau mengeluarkan dana untuk mengambil bantuan tersebut. Namun ketika tidak ada bantuan dana, masayarakat kurang inisiatif untuk mendukung program. Seperti pada kasus program peningkatan budidaya, saat dinas memberikan bantuan bibit manggis secara gratis, barulah mereka bersedia membayar iurannya. Di program agropolitan ini, masyarakat itu mau iuran kalau ada bantuan dari pemerintah. Kalau nggak ada bantuan boro-boro mau iuran. Kadang ngumpul aja susah neng. Pas ada sekolah lapang aja baru dateng atau kalau rapatnya ada uang transportasinya baru tuh mereka mau hadir. Duh neng, kelompok tani aja susah kalau diajak diskusi masala program apalagi suruh iuran buat programnya. SSD.
6 84 Seperti halnya pada program pengembangan SDM, dukungan dari dinas untuk pembiayaan berbagai pelatihan dari pelatihan budidaya padi dan manggis, pelatihan fasilitator dan pemberian bantuan pertanian demi meningkatkan pendapatan petani dianggap menguntungkan petani sehingga menyebabkan petani banyak berpartisipasi. Berbeda dengan kasus pembuatan jembatan Ciletuh Ilir yang dibangun oleh Dinas Bina Marga. Dukungan dana sepenuhnya berasal dari pemerintah daerah yang salurkan melalui pemborong. Namun ketika ditanya keterlibatannya dalam program, masyarakat merasa tidak berpartisipasi karena masyarakat tidak mengetahui keberadaan program sehingga walaupun dukungan dana Dinas Bina Marga tinggi namun masyarakat tidak berpartisipasi. Melalui kasus ini munculah faktor lain yang mempengaruhi partisipasi masyarakat yaitu pengetahuan terhadap keberadaan program. Saya nggak tau kalau jembatan yang dibangun itu program agropolitan, lha yang bangun juga saya nggak ngerti ya gimana saya bisa ikut. Walaupun katanya biayanya gede, trus gaji buat kulinya juga gede tapi kalau nggak ada yang ngasih tau dan nggak ada yang ngajak ya bapak nggak ikutan ASR. Keberhasilan yang ditandai dengan peningkatan sarana dan prasarana yang mendukung usaha pertanian masyarakat seperti pembangunan jalan, jembatan, terminal agribisnis maupun ketersediaan pengairan didukung penuh oleh pemerintah terutama BAPPEDA, pihak yang tergolong manage closely tersebut menjadi pos pengajuan dana dari berbagai dinas. BAPPEDA digolongkan juga sebagai stakeholders primer untuk urusan pendanaan program agropolitan. Selain itu dari keseluruhan program pada tahap pelaksanaan agropolitan, luas jaringan juga mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat didukung dengan hasil uji korelasi antara luas jaringan dengan tingkat partisipasi masyarakat pada tahap pelaksanaan dengan nilai signifikasi yang lebih kecil dari nilai alfa (0.05), menyatakan bahwa luas jaringan yang dimiliki oleh stakeholders juga mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat. Semakin banyak pihak yang terlibat dalam suatu program maka minat masyarakat untuk berpartisipasi juga semakin tinggi. Karena dengan luasnya jejaring yang dimiliki oleh stakeholders tersebut, program menjadi lebih bervariatif dan saling mendukung misalnya saat sekolah lapang, tingkat partisipasi masyarakat tinggi karena pada saat program berlangsung pihak dinas pertanian, UPTD Kecamatan Leuwiliang, penyuluh pertanian, dan ahli dari PKBT IPB terjun langsung menyebabkan masyarakat lebih leluasa menentukan materi pelatihan dan mengusulkan program pelatihan untuk sekolah lapang pekan depannya. Hal ini juga didukung dengan sikap dari pihak dinas, PKBT IPB, dan penyuluh pertanian yang bersedia mendengar saran dari petani menyebabkan program berjalan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan petani. Kondisi tersebut mendukung hasil uji korelasi antara personality stakeholders dengan tingkat partisipasi masyarakat yang menghasilkan nilai lebih kecil dari alfa (0.05) mengindikasikan bahwa sikap stakeholders yang besedia mendengarkan saran masyarakat mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat. Pada tahap pelaksanaan ini, partisipasi masyarakat didominasi oleh tingkat partisipasi tokenisme artinya masyarakat sudah mampu memberikan usulan pendapat namun belum memiliki wewenang dan kekuatan yang tinggi dalam mempengaruhi program agropolitan. Namun, pada tahap pelaksanaan tidak
7 terdapat hubungan antara kepentingan stakeholders dengan tingkat partisipasi masyarakat karena tidak terdapat masyarakat dengan partisipasi yang rendah menyatakan bahwa kepentingan stakeholders rendah. Pada tingkat kepentingan sedang menyebabkan partisipasi masyarakat didominasi oleh partisipasi tokenisme sebesar 65% (Lampiran 5) dan pada saat kepentingan tinggi, tingkat partisipasi masyarakat juga didominasi oleh tingkat partisipasi tokenisme sebesar 75% yang seharusnya berada di tingkat citizen power. Uji keempat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel peran stakeholders (tahap evaluasi) dengan variabel partisipasi masyarakat. Berdasarkan hasil pengujian, didapatkan angka korelasi antara variabel peran stakeholders (tahap evaluasi) dan variabel partisipasi masyarakat dalam evaluasi program agropolitan berkorelasi dan signifikan. Nilai koefisien korelasi Spearman yang diperoleh untuk kedua variabel tersebut sebesar dengan nilai signifikansi sebesar Oleh karena nilai signifikansi tersebut lebih kecil daripada nilai alfa (0.05) maka tolak H0 dan terima H1, artinya semakin tinggi peran stakeholders maka partisipasi masyarakat juga tinggi. Hal ini dibuktikan dengan pengolahan data yang terdapat dalam Lampiran 5, pada tahap evaluasi ternyata pengaruh stakeholders yang rendah menyebabkan yang menyebabkan 79% masyarakat berpartisipasi di tingkat non-partisipasi. Sebanyak 69% responden yang berada pada tingkat partisipasi non-partisipasi menyatakan pengaruh stakeholders di tingkat sedang. Pada saat evaluasi tidak ada masyarakat yang menyatakan bahwa kepentingan stakeholders tinggi. Pada tahapan evaluasi program agropolitan di tahun 2010, kunjungan dan interaksi Dinas Pertanian, Dinas Bina Marga, Dinas Peternakan dan Perikanan serta stakeholders lainnya kecuali ketua POSKO dan ketua POKJA dengan masyarakat mulai berkurang. Intensitas kehadiran dalam rapat POSKO juga mulai berkurang, sehingga masyarakat sendiri mulai merasa kehilangan motivasi untuk terlibat dalam melanjutkan program. Hal ini juga menunjukan bahwa ketika peran stakeholders rendah, maka partisipasi masyarakat juga rendah. Hasil pengolahan data mengenai hubungan antara peran stakeholders dengan tingkat partisipasi masyarakat menunjukkan bahwasanya peran stakeholders memiliki hubungan korelasi yang signifikan terhadap partisipasi masyarakat. Itu artinya bahwa semakin tinggi peran stakeholders maka semakin tinggi pula keterlibatan masyarakat baik menyumbang pendapat, menyumbang dana, menyumbang materi ataupun tenaga dalam penyelenggaraan program agropolitan. Meskipun demikian, hasil pengolahan data juga menunjukkan bahwasanya hubungan antara peran stakeholders pada tahapan perencanaan tidak berhubungan atau tidak memiliki korelasi positif dengan partisipasi masyarakat juga pada hubungan kepentingan stakeholders dengan partisipasi masyarakat. Hal ini berarti, dalam melihat hubungan antara peran stakeholders dengan partisipasi masyarakat tidak dapat dipisahkan secara parsial tiap-tiap tahapan penyelenggaraan program. Suatu peran stakeholders dapat mempengaruhi partisipasi masyarakat ketika setiap stakeholders berperan pada keseluruhan tahapan penyelenggaraan program agropolitan. 85
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROGRAM AGROPOLITAN
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROGRAM AGROPOLITAN Partisipasi masyarakat dalam program agropolitan ditentukan oleh karakteristik responden. Bab ini membahas karakteristik partisipan yang dijadikan sebagai
PERAN STAKEHOLDERS DALAM PROGRAM AGROPOLITAN
PERAN STAKEHOLDERS DALAM PROGRAM AGROPOLITAN Peran stakeholders dapat diukur dengan menggunakan tingkat pengaruh dan tingkat kepentingan stakeholders ketika menjalankan program suatu program (IFC 2007).
PROGRAM PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN KABUPATEN BOGOR
PROGRAM PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN KABUPATEN BOGOR Bab ini menjelaskan tentang sejarah program pengembangan kawasan agropolitan yang dilaksanakan di Kabupaten Bogor. Mengingat program pengembangan
BAB VI HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PARTISIPASI DENGAN DAMPAK SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT PERDESAAN
BAB VI HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PARTISIPASI DENGAN DAMPAK SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT PERDESAAN 6.1. Hubungan Antara Tingkat Partisipasi dengan Dampak Sosial 6.1.1. Analisis Uji Hipotesis Penelitian Hipotesis
EFEKTIVITAS TWITTER SEBAGAI MEDIA GERAKAN SOSIAL DAN FAKTOR YANG BERHUBUNGAN
45 EFEKTIVITAS TWITTER SEBAGAI MEDIA GERAKAN SOSIAL DAN FAKTOR YANG BERHUBUNGAN Efektivitas akun Twitter @EHIndonesia sebagai media gerakan Earth Hour 2012 dilihat dari perilaku followers akun Twitter
HUBUNGAN PERAN STAKEHOLDERS DENGAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROGRAM AGROPOLITAN DESA KARACAK KECAMATAN LEUWILIANG KABUPATEN BOGOR
HUBUNGAN PERAN STAKEHOLDERS DENGAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROGRAM AGROPOLITAN DESA KARACAK KECAMATAN LEUWILIANG KABUPATEN BOGOR The Relationship between Role of the Stakeholders and Community participation
BAB V BEBAN GANDA WANITA BEKERJA DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA
BAB V BEBAN GANDA WANITA BEKERJA DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA 5.1 Beban Ganda Beban ganda wanita adalah tugas rangkap yang dijalani oleh seorang wanita (lebih dari satu peran) yakni sebagai ibu
KORELASI OLEH: JONATHAN SARWONO
KORELASI OLEH: JONATHAN SARWONO 4.1 Mengenal Korelasi 56 4.2 Kegunaan Korelasi 4.3 Konsep Linieritas dan Korelasi 57 4.4 Asumsi Asumsi Dalam Korelasi 4.5 Karakteristik Korelasi 58 4.6 Pengertian Koefesien
No. Responden : Nama : Umur : Jenis Kelamin Pendidikan terakhir : Pekerjaan :
PEDOMAN WAWANCARA MENDALAM STUDI KUALITATIF PERILAKU BUANG AIR BESAR PADA IBU RUMAH TANGGA YANG TIDAK MEMILIKI JAMBAN KELUARGA DI KECAMATAN SUKARESMI KABUPATEN GARUT 2009 Informan : Ibu rumah tangga No.
GAMBARAN UMUM PENELITIAN. Gambaran Umum Kecamatan Leuwiliang
GAMBARAN UMUM PENELITIAN Bab ini menjelaskan tentang gambaran umum penelitian yang dilihat dari gambaran umum Kecamatan Leuwiliang Kabupaten Bogor yang merupakan kawasan agropolitan zona satu dilihat dari
BAB VII FAKTOR-FAKTOR PENDORONG KEBERHASILAN PENGORGANISASIAN KEGIATAN USAHATANI
BAB VII FAKTOR-FAKTOR PENDORONG KEBERHASILAN PENGORGANISASIAN KEGIATAN USAHATANI 7.1 Keragaan Kelembagaan Kelompok Tani Sauyunan Keragaan adalah penampilan dari kelompok tani yang termasuk suatu lembaga,
PENGARUH KETIMPANGAN GENDER TERHADAP STRATEGI BERTAHAN HIDUP PADA RUMAH TANGGA BURUH TANI
48 PENGARUH KETIMPANGAN GENDER TERHADAP STRATEGI BERTAHAN HIDUP PADA RUMAH TANGGA BURUH TANI Bab berikut menganalisis pengaruh antara variabel ketimpangan gender dengan strategi bertahan hidup pada rumah
PEDOMAN WAWANCARA. A. Pedoman Wawancara dengan Kepala Puskesmas Berohol Kota Tebing Tinggi
Lampiran 1 PEDOMAN WAWANCARA PELAKSANAAN FUNGSI MANAJEMEN PROGRAM IMUNISASI DALAM PENCAPAIAN TARGET UCI DI PUSKESMAS BEROHOL, KECAMATAN BAJENIS, KOTA TEBING TINGGI TAHUN 2015 A. Pedoman Wawancara dengan
LEMBAR HASIL WAWANCARA (INFORMAN)
LEMBAR HASIL WAWANCARA (INFORMAN) Inisial Nama : MA Jenis Kelamin : Laki-Laki Umur Pendidikan Pekerjaan : 45 Tahun : SMA : Tidak Ada No. Variabel / Pertanyaan Informan Kemudahan Memperoleh Narkoba 1 Apakah
BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Informasi yang Dimiliki Masyarakat Migran Di Permukiman Liar Mengenai Adanya Fasilitas Kesehatan Gratis Atau Bersubsidi Salah satu program pemerintah untuk menunjang kesehatan
Pengembangan Sektor Agro dan Wisata Berbasis One Sub-District One Misi Misi pengembangan Produk Unggulan Daerah Kab.
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten 6.1. VISI DAN MISI 6.1.1 Visi Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat Kab. Melalui Pengembangan Sektor Agro dan Wisata Berbasis One Sub-District One Product 6.1.2.
Narasumber : Dadan Abdul Kohar Jabatan : Kepala Seksi Perizinan Bangunan di Dinas Tata Kota dan Bangunan kota Depok Waktu : 21 Mei 2008, jam 09.
Narasumber : Dadan Abdul Kohar Jabatan : Kepala Seksi Perizinan Bangunan di Dinas Tata Kota dan Bangunan kota Depok Waktu : 21 Mei 2008, jam 09.00 WIB Bagaimana proses identifikasi wajib retribusi Izin
BAB IV HASIL PENELITIAN. 1. Karakteristik Responden
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Hasil Penelitian Kuantitatif 1. Karakteristik Responden Pengumpulan data kuantitatif pada penelitian ini dilakukan dengan cara penyebaran kuesioner SRSSDL menggunakan kuesioner
III. METODE PENELITIAN
51 III. METODE PENELITIAN A. Metode Dasar Penelitian Penelitian ini termasuk dalam penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif menurut Suyanto dan Sutinah (2008) melibatkan lima komponen informasi ilmiah
BAB 4 EVALUASI KEEFEKTIFAN PROGRAM DALAM MENINGKATKAN PRODUKSI PADI SAWAH
67 BAB 4 EVALUASI KEEFEKTIFAN PROGRAM DALAM MENINGKATKAN PRODUKSI PADI SAWAH Bab ini akan membahas keefektifan Program Aksi Masyarakat Agribisnis Tanaman Pangan (Proksi Mantap) dalam mencapai sasaran-sasaran
ANALISIS MARKET RESEARCH UNEJ
1. Kegiatan selama liburan Bantu orang tua:3 Ya, kalo aku sih ya diem aja dirumah soalnya dirumah juga kan ada ibu punya took jadi bisa bantu-bantu (D,P,Aktif, Jalan-jalan:5 Kalo traveling, mungkin naik
BAB VI KARAKTERISTIK DAN TAHAPAN PERKEMBANGAN KELOMPOK SWADAYA MASYARAKAT KELURAHAN SITUGEDE
50 BAB VI KARAKTERISTIK DAN TAHAPAN PERKEMBANGAN KELOMPOK SWADAYA MASYARAKAT KELURAHAN SITUGEDE 6.1 Karakteristik Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Pada umumnya telah banyak kelompok tumbuh di masyarakat,
BAB IX FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN PROGRAM PEMBERDAYAAN KOMUNITAS DALAM PENERAPAN PERTANIAN ORGANIK
68 BAB IX FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN PROGRAM PEMBERDAYAAN KOMUNITAS DALAM PENERAPAN PERTANIAN ORGANIK 9.1 Faktor-faktor Penentu Keberhasilan Program Pemberdayaan Pemberdayaan masyarakat
BAB VI CITRA PERUSAHAAN
77 BAB VI CITRA PERUSAHAAN 6.. Karakteristik Responden Responden merupakan peserta TML 2 yang berasal dari mahasiswa se- Kabupaten Kudus sebanyak 72 orang yang terdiri dari 3 orang laki-laki dan 42 orang
BAB VII PROSES PENCITRAAN DAN CITRA PERUSAHAAN
68 BAB VII PROSES PENCITRAAN DAN CITRA PERUSAHAAN 7.1 Proses Pencitraan Citra merupakan kesan terhadap suatu obyek yang terbentuk dari pengetahuan dan pengalaman seseorang tentang sesuatu. Pada penelitian
BAB V PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP KESADARAN GENDER
BAB V PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP KESADARAN GENDER Persepsi mahasiswa peserta Mata Kuliah Gender dan Pembangunan terhadap kesadaran gender yaitu pandangan mahasiswa yang telah mengikuti Mata Kuliah Gender
ANALISIS SITUASI DAN PERMASALAHAN PETANI MISKIN
45 ANALISIS SITUASI DAN PERMASALAHAN PETANI MISKIN Karakteristik Petani Miskin Ditinjau dari kepemilikan lahan dan usaha taninya, petani yang ada di RT 24 Kelurahan Nunukan Timur dapat dikategorikan sebagai
BAB VII HUBUNGAN BAURAN PROMOSI TERHADAP EFEKTIVITAS KOMUNIKASI PEMASARAN HONEY MADOE
BAB VII HUBUNGAN BAURAN PROMOSI TERHADAP EFEKTIVITAS KOMUNIKASI PEMASARAN HONEY MADOE 7.1. Hubungan Bauran Promosi Terhadap Efektivitas Komunikasi Pemasaran HONEY Madoe Bauran komunikasi pemasaran meliputi
BAB VI PERSEPSI RELAWAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA
57 BAB VI PERSEPSI RELAWAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA 6.1 Persepsi Relawan terhadap PNPM-MP Persepsi responden dalam penelitian ini akan dilihat dari tiga aspek yaitu persepsi terhadap pelaksanaan
TINGKAT KESEJAHTERAAN BURUH DAN HUBUNGANNYA DENGAN ANALISIS GENDER TERHADAP SUMBER DAYA PERLINDUNGAN TENAGA KERJA
TINGKAT KESEJAHTERAAN BURUH DAN HUBUNGANNYA DENGAN ANALISIS GENDER TERHADAP SUMBER DAYA PERLINDUNGAN TENAGA KERJA Tingkat kesejahteraan dalam CV TKB dianalisis dengan analisis gender. Alat analisis gender
Lampiran 1 PEDOMAN WAWANCARA UNTUK KADER
Lampiran 1 PEDOMAN WAWANCARA UNTUK KADER A. Identitas Responden 1. Nomor Responden : 2. Nama Responden : 3. Kelurahan : 4. RW : 5. RT : 6. Kecamatan : Cibeunying 7. Kota : Bandung 8. Jenis Kelamin : L
BAB VII PERSEPSI PEGAWAI MENGENAI PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN LURAH TERHADAP EFEKTIVITAS ORGANISASI
BAB VII PERSEPSI PEGAWAI MENGENAI PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN LURAH TERHADAP EFEKTIVITAS ORGANISASI Penerapan gaya kepemimpinan seorang lurah mempengaruhi efektivitas organisasi kelurahan. Berikut adalah
HUBUNGAN KARAKTERISTIK PETANI DENGAN AKSESIBILITAS TERHADAP MEDIA KOMUNIKASI CYBER EXTENSION
69 HUBUNGAN KARAKTERISTIK PETANI DENGAN AKSESIBILITAS TERHADAP MEDIA KOMUNIKASI CYBER EXTENSION Aksesibilitas terhadap media komunikasi cyber extension adalah peluang memanfaatkan media komunikasi cyber
BAB VI KEBERLANJUTAN KELEMBAGAAN
50 BAB VI KEBERLANJUTAN KELEMBAGAAN Dalam penelitian ini, keberlanjutan kelembagaan dikaji berdasarkan tingkat keseimbangan antara pelayanan-peran serta (manajemen), tingkat penerapan prinsip-prinsip good
Wawancara. Pertanyaan 1: Siapakah yang mengelola perpustakaan saat ini? (pustakawan/ pustakawan guru/ tenaga honorer) dan berapa jumlahnya?
LAMPIRAN 1 : Hasil Wawancara Wawancara Pertanyaan 1: Siapakah yang mengelola perpustakaan saat ini? (pustakawan/ pustakawan guru/ tenaga honorer) dan berapa jumlahnya? Hay (206) Bja (215) oleh Mas Dodi,
1. Kegiatan selama liburan
1. Kegiatan selama liburan Dari 21 responden Surabaya, ternyata paling banyak mengisi waktu liburan dengan menghabiskan waktu dirumah. 5 orang jalan-jalan, dan 4 orang organisasi. Bantu orang tua: 1 Jalan-jalan:
BAB V KARAKTERISTIK PETANI DAN HUBUNGANNYA DENGAN TINGKAT PARTISIPASI DALAM PROGRAM SL-PTT
41 BAB V KARAKTERISTIK PETANI DAN HUBUNGANNYA DENGAN TINGKAT PARTISIPASI DALAM PROGRAM SL-PTT Responden dalam penelitian ini adalah petani anggota Gapoktan Jaya Tani yang berasal dari tiga kelompok tani
METODE PENELITIAN. Desain Penelitian
METODE PENELITIAN Desain Penelitian Desain penelitian ini adalah explanatory (penjelasan) dengan analisis korelasional untuk menjelaskan hubungan antar variabel. Fokus penelitian diarahkan untuk mengidentifikasi
HUBUNGAN ANTARA KEGIATAN PENYULUHAN PERTANIAN DENGAN PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI KECAMATAN BANYUDONO KABUPATEN BOYOLALI
10 HUBUNGAN ANTARA KEGIATAN PENYULUHAN PERTANIAN DENGAN PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI KECAMATAN BANYUDONO KABUPATEN BOYOLALI Oleh : Arip Wijianto*, Emi Widiyanti * ABSTRACT Extension activity at district
Peranan Fasilitator Kecamatan dalam Mendinamiskan Kelompok Masyarakat pada Program GSMK Kabupaten Tulang Bawang
Prosiding Seminar Nasional Swasembada Pangan Politeknik Negeri Lampung 29 April 2015 ISBN 978-602-70530-2-1 halaman 302-308 Peranan Fasilitator Kecamatan dalam Mendinamiskan Kelompok Masyarakat pada Program
SIDANG UJIAN TUGAS AKHIR
SIDANG UJIAN TUGAS AKHIR PENINGKATAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PERBAIKAN LINGKUNGAN FISIK PERMUKIMAN (STUDI KASUS : KECAMATAN RUNGKUT) Disusun Oleh: Jeffrey Arrahman Prilaksono 3608 100 077 Dosen Pembimbing:
LAMPIRAN. 4. Menurut kamu sudah baik kah pelayanan humas? Ya mereka sudah bekerja dengan baik.
LAMPIRAN Transkip 1 : Informant bernama Vimala (2011-58-008) status mahasiswa aktif UEU fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Broadcasting. 1. Apakah yang kamu ketahui tentang opini publik? Opini publik bagi
III. METODE PENELITIAN. A. Konsep Dasar, Definisi Operasional, dan Pengukuran Variabel
36 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar, Definisi Operasional, dan Pengukuran Variabel Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian-pengertian yang digunakan untuk mendapatkan data-data
BAB I PENDAHULUAN. Salah satu komponen untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Salah satu komponen untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah adanya partisipasi masyarakat di dalam penyelenggaraan pendidikan, mulai dari pendidikan dasar
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di dua Desa dengan pola hutan rakyat yang berbeda dimana, desa tersebut terletak di kecamatan yang berbeda juga, yaitu:
BAB 4 ANALISIS HUBUNGAN GAYA KEPEMIMPINAN SITUASIONAL SUPERVISOR
BAB 4 ANALISIS HUBUNGAN GAYA KEPEMIMPINAN SITUASIONAL SUPERVISOR DENGAN KINERJA KARYAWAN BAGIAN PERAWATAN BANGUNAN DAN FASILITAS PT FAJAR MEKAR INDAH AREA GEDUNG BIDAKARA Pada bab ini dipaparkan hasil
VI. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KAPASITAS KELOMPOK MANTAN TKW DI DESA CIBAREGBEG
VI. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KAPASITAS KELOMPOK MANTAN TKW DI DESA CIBAREGBEG Dalam bagian ini akan disampaikan faktor yang mempengaruhi kapasitas kelompok yang dilihat dari faktor intern yakni: (1) motivasi
Hubungan Kemampuan Pegawai dan Motivasi Pegawai Terhadap. Efektivitas Kerja Pegawai Dalam Rangka Peningkatan Pajak Bumi
Hubungan Kemampuan Pegawai dan Motivasi Pegawai Terhadap Efektivitas Kerja Pegawai Dalam Rangka Peningkatan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) di Kecamatan Cimanggu Kabupaten Cilacap Oleh : D2A002018_DIMAS
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertanian merupakan sektor yang sangat penting dalam perekonomian dan sektor basis baik tingkat Provinsi Sulawsi Selatan maupun Kabupaten Bulukumba. Kontribusi sektor
No. Kategori Rincian Isi kategori. 1. Pemberi pertimbangan memberikan masukan-masukan dan saran kepada walikota mengenai pelaksanaan pendidikan
118 Kategorisasi Data Informan Kunci No. Kategori Rincian Isi kategori 1. sebagai : 1. Pemberi pertimbangan memberikan masukan-masukan dan saran kepada walikota mengenai pelaksanaan audiensi dengan walikota
BAB VI UPAYA IBU MENINGKATKAN KUALITAS KESEHATAN DAN PENDIDIKAN KELUARGA
66 BAB VI UPAYA IBU MENINGKATKAN KUALITAS KESEHATAN DAN PENDIDIKAN KELUARGA 6.1 Penguatan Kapasitas Rumah Tangga Penerima PKH Mutu sumberdaya manusia bukan semata-mata ditentukan oleh seberapa kadar pengetahuan,
BAB I PENDAHULUAN. Di dalam khasanah totalitas mekanisme kerja keorganisasian, dari sekian
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Di dalam khasanah totalitas mekanisme kerja keorganisasian, dari sekian banyak sumber potensi yang mendukung keberhasilan organisasi, sumber daya manusia
BAB IV HASIL ANALISA DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL ANALISA DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Analisa dan Pembahasan Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah semua karyawan staff PT Bakrie Metal Industries yang berada di Unit Bekasi yang berjumlah
BAB 1 PENDAHULUAN. Ekonomi Asean (MEA) untuk meningkatkan stabilitas perekonomian di. bidang ekonomi antar negara ASEAN (www.bppk.kemenkeu.go.id).
1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 merupakan realisasi pasar bebas di Asia Tenggara yang telah dilakukan secara bertahap mulai KTT ASEAN di Singapura pada
BAB VI HUBUNGAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA PROGRAM KELUARGA HARAPAN
BAB VI HUBUNGAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA PROGRAM KELUARGA HARAPAN Pada bab sebelumnya sudah dipaparkan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja PKH di Desa Petir, baik itu faktor internal
BAB IX ANALISIS KEBERHASILAN BMT SWADAYA PRIBUMI
BAB IX ANALISIS KEBERHASILAN BMT SWADAYA PRIBUMI 9.1 Keberhasilan BMT Swadaya Pribumi dalam Pemenuhan Kebutuhan praktis dan kebutuhan strategis Gender Keberhasilan BMT Swadaya Pribumi pada penelitian ini
ARAHAN PENINGKATAN EKONOMI MASYARAKAT PETANI JERUK SIAM BERDASARKAN PERSPEKTIF PETANI DI KEC. BANGOREJO KAB. BANYUWANGI
ARAHAN PENINGKATAN EKONOMI MASYARAKAT PETANI JERUK SIAM BERDASARKAN PERSPEKTIF PETANI DI KEC. BANGOREJO KAB. BANYUWANGI Nyimas Martha Olfiana, Adjie Pamungkas Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota,
PERTANYAAN PENELITIAN KETERAMPILAN BIDANG BOGA PADA PELAKSANAAN KKN POSDAYA MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TATA BOGA
PERTANYAAN PENELITIAN KETERAMPILAN BIDANG BOGA PADA PELAKSANAAN KKN POSDAYA MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN Identitas Responden Angkatan : Desa dan Kecamatan Lokasi KKN : Daftar Pertanyaan 1. Setelah
VII. STRATEGI DAN PROGRAM PENGUATAN KELOMPOK TANI KARYA AGUNG
78 VII. STRATEGI DAN PROGRAM PENGUATAN KELOMPOK TANI KARYA AGUNG 7.1. Perumusan Strategi Penguatan Kelompok Tani Karya Agung Perumusan strategi menggunakan analisis SWOT dan dilakukan melalui diskusi kelompok
EFEKTIVITAS KOMUNIKASI KEGIATAN P-LDPM
73 EFEKTIVITAS KOMUNIKASI KEGIATAN P-LDPM Efektivitas komunikasi dilihat dari tiga aspek meliputi tingkat pengetahuan, tingkat afektif dan tingkat pengetahuan. Melihat tingkat pengetahuan dengan cara memberi
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Sidamulih, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis. Pengumpulan data dilakukan pada Bulan Desember 2011 dan Bulan
METODOLOGI. Lokasi dan Waktu Penelitian Kegiatan penelitian dilaksanakan pada bulan Februari Juni 2010 di DAS
22 METODOLOGI Lokasi dan Waktu Penelitian Kegiatan penelitian dilaksanakan pada bulan Februari 200 - Juni 200 di DAS Cisadane Hulu, di lima Kecamatan yaitu Kecamatan Tamansari, Kecamatan Leuwiliang, Kecamatan
METODE PENELITIAN. Gambar 5 Disain Penelitian.
METODE PENELITIAN Disain Penelitian Penelitian ini dirancang sebagai penelitian survey bersifat explanatory, yaitu penelitian yang ditujukan untuk memperoleh kejelasan tentang sesuatu yang terjadi di masyarakat,
BAB V. keberlangsungan program atau kebijakan. Tak terkecuali PKH, mengingat
BAB V KESIMPULAN Proses monitoring dan evaluasi menjadi sangat krusial kaitannya dengan keberlangsungan program atau kebijakan. Tak terkecuali PKH, mengingat terdapat berbagai permasalahan baik dari awal
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Deskripsi Faktor-Faktor Yang berhubungan dengan Partisipasi Petani dalam Kebijakan Optimalisasi dan Pemeliharaan JITUT 5.1.1 Umur (X 1 ) Berdasarkan hasil penelitian terhadap
BAB IV PENUTUP. 1. Implementasi Pengembangan Desa Budaya Di Kulon Progo. kebudayaan yang ada di Yogyakarta termasuk desa-desa budaya yang ada di
BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan 1. Implementasi Pengembangan Desa Budaya Di Kulon Progo Pada Kondisi Lingkungan dalam implementasi pengembangan desa budaya di Kulon Progo ini Dinas Kebudayaan DIY adalah yang
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. 1.Berdasarkan perhitungan pada Persamaan Regresi Berganda untuk variabel
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. KESIMPULAN Dari hasil perhitungan dan analisis menggunakan program spss versi 20 maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1.Berdasarkan perhitungan pada Persamaan Regresi
III METODE PENELITIAN
31 III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Kawasan Minapolitan Kampung Lele Kabupaten Boyolali, tepatnya di Desa Tegalrejo, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali. Penelitian
BAB V GAYA KEPEMIMPINAN DALAM ORGANISASI PERUSAHAAN
BAB V GAYA KEPEMIMPINAN DALAM ORGANISASI PERUSAHAAN 5.1 Karakteristik Pemimpin PUR adalah laki-laki yang berumur 49 tahun yang menjabat sebagai Manager R&D. Latar belakang PUR berasal dari kalangan orang
DAFTAR PUSTAKA. BPS Monografi Kelurahan Bandarharjo Kecamatan Semarang Utara. Semarang : Kelurahan Bandarharjo Kecamatan Semarang Utara.
DAFTAR PUSTAKA BPS. 2011. Kecamatan Semarang Tengah Dalam Angka 2010. Semarang : BPS Semarang. BPS. 2011. Kecamatan Semarang Utara Dalam Angka 2010. Semarang : BPS Semarang. BPS. 2011. Kota Semarang Dalam
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Letak dan Keadaan Geografis Kelurahan Tumbihe Kecamatan Kabila Kabupaten Bone Bolango terdiri dari Tiga (3) Lingkungan yaitu
BAB V EFEKTIVITAS PELAKSANAAN PROGRAM MANDIRI ANGGUR MERAH DI KABUPATEN SUMBA TIMUR PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
BAB V EFEKTIVITAS PELAKSANAAN PROGRAM MANDIRI ANGGUR MERAH DI KABUPATEN SUMBA TIMUR PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Populasi penelitian merupakan seluruh penerima manfaat Program Mandiri Anggur Merah di Desa
Arahan Peningkatan Ekonomi Masyarakat Petani Jeruk Siam berdasarkan Perspektif Petani di Kec. Bangorejo Kab. Banyuwangi
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 3, (2013) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) C-239 Arahan Peningkatan Ekonomi Masyarakat Petani Jeruk Siam berdasarkan Perspektif Petani di Kec. Bangorejo Kab. Banyuwangi
HUBUNGAN PERANAN WANITA TANI DALAM BUDIDAYA PADI SAWAH DENGAN PENERAPAN TEKNOLOGI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (PTT)
HUBUNGAN PERANAN WANITA TANI DALAM BUDIDAYA PADI SAWAH DENGAN PENERAPAN TEKNOLOGI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (PTT) (Suatu Kasus di Desa Wanareja Kecamatan Wanareja Kabupaten Cilacap) Oleh: Eni Edniyanti
III. METODE PENELITIAN
III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran dan Hipotesis 3.1.1 Kerangka Pemikiran Berdasarkan kajian teori yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa keputusan masyarakat untuk ikut serta dalam kegiatan
SURYA AGRITAMA Volume I Nomor 2 September 2012
PERSEPSI PETANI TERHADAP BUDIDAYA PADI SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION (SRI) DI DESA RINGGIT KECAMATAN NGOMBOL KABUPATEN PURWOREJO Priyo Utomo, Dyah Panuntun Utami dan Istiko Agus Wicaksono Program Studi
