BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
|
|
|
- Shinta Lesmana
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu media komunikasi massa, yang saat ini masih cukup diminati oleh masyarakat adalah media massa radio. Radio merupakan media komunikasi massa dua arah, yang dapat dinikmati melalui audio atau suara. Media massa radio memiliki beberapa karakteristik diantaranya, auditif, cepat, dan langsung, murah, akrab, dekat dan lain-lain. Selain memiliki karakteristik, media massa radio juga memiliki berbagai program siaran diantaranya, siaran berita, dialog interaktif, siaran olahraga, siaran kebudayaan, siaran pendidikan, dan musik. Dari beberapa program siaran yang dimiliki oleh media massa radio, siaran dialog interaktif merupakan program siaran yang juga dimiliki oleh media massa televisi. Program dialog interaktif adalah percakapan yang di lakukan di media massa televisi atau radio, yang dapat melibatkan pemirsa dan pendengar melalui telepon atau pesan. Adapun narasumber yang dipilih adalah orang yang tahu persis tentang informasi yang ingin disampaikan. Sehingga benar-benar mampu memberikan informasi yang efektif. Pendengar program siaran media massa radio dapat juga disebut dengan audiens. Audiens dapat dibedakan menjadi dua yaitu, audiens aktif dan audiens pasif. Salah satu studi penelitian dalam kajian ilmu komunikasi adalah tentang audiens. Audiens merupakan sosok nyata yang dapat dijadikan objek observasi dan penelitian, untuk mengukur keberhasilan sebuah pesan yang disampaikan melalui media komunikasi massa, salah satunya adalah program siaran media massa radio. Dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, serta pengetahuan yang dimiliki masing-masing audiens, mampu mengubah paradigma yang menganggap bahwa, audiens hanya sebagai sosok pasif dalam menerima pesan dari media komunikasi massa. Kini audiens sudah mampu menerima pesan dari media komunikasi 1
2 massa secara lebih aktif. Audiens sudah tidak serta merta, menerima mentahmentah pesan yang diterima, tetapi mampu menyeleksi, memahami, memilih, memberikan pemaknaan, dan memberikan respon balik. Audiens yang akan dijadikan objek penelitian disini adalah, masyarakat yang tergabung dalam kelompok tani yang ada di kabupaten Blitar, dan merupakan pendengar program siaran dialog interaktif pertanian di radio Persada FM dan radio Mayangkara FM. Radio Persada FM merupakan radio publik yang dibawahi oleh Pemerintah Kabupaten Blitar. Status dari radio Persada FM merupakan radio Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL). Sedangkan radio Mayangkara FM adalah radio swasta terbesar di Kabupaten dan Kota Blitar. Penelitian ini berfokus pada bagaimana audiens mampu meresepsi pesan dari program siaran yang sama, yakni program siaran dialog interaktif pertanian bersama Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K), Kabupaten Blitar namun dari stasiun radio yang berbeda. Teori resepsi menitikberatkan pada peran audiens dalam decoding pesan media. Menurut McQuail (1997:19) analisis resepsi mampu memperlihatkan kekuatan audiens dalam melawan atau menolak pesan yang dominan dan hegemonik yang ditawarkan media. Kekuatan audiens itu dapat mengarahkan mereka untuk membuat pemaknaan baru sebagai tandingan terhadap makna pesan yang diterimanya. Dalam penelitian audiens ini menggunakan teori resepsi Stuart Hall, dimana ada tiga posisi yang digunakan untuk memetakan kondisi audiens dalam memaknai pesan dari media. Tiga posisi tersebut adalah dominant (hegemonic) reading, negotiated reading, dan oppositional (counter hegemonic) reading. Semakin aktif audiens menerima sebuah pesan media, maka audiens tidak serta merta menerima begitu saja pesan yang diterimanya. Dalam meresepsi pesan media, ada tiga unsur yang mempengaruhi audiens dalam proses pemaknaan pesan, yaitu frameworks of knowledge, relations of production, dan technical infrastructure yang dimungkinkan adanya perbedaan antara encoding dan decoding. 2
3 Tujuan dibuatnya siaran dialog interaktif ini adalah, sebagai salah satu cara untuk menunjang program pemberdayaan potensi masyarakat di bidang pertanian, dan sebagai perpanjangan tangan dari upaya pemerintah memajukan sektor pertanian. Selain itu dengan adanya siaran dialog interaktif, BP4K dapat memberikan penyuluhan tambahan kepada seluruh masyarakat tani di Kabupaten Blitar, apabila masyarakat tidak dapat berinteraksi langsung dengan penyuluh pertanian, masih dapat berinteraksi dan berkonsultasi melalui program siaran radio, melalui telepon maupun pesan elektronik. Pemberdayaan masyarakat adalah sebuah proses suatu komunitas diperkuat untuk kreatif, membantu memenuhi kebutuhan sendiri baik berupa fisik, spiritual, mental, psikologis, sosial, ekonomi dan politik. Tujuan diatas juga berlandaskan dari visi dan misi dari BP4K Kabupaten Blitar yaitu Terwujudnya masyarakat tani nelayan yang berkualitas, mandiri dan sejahtera serta Terwujudnya perubahan perilaku masyarakat tani yang dinamis di dukung oleh aparat penyuluh yang profesional. Tema yang dijadikan objek resepsi oleh anggota kelompok tani adalah Budidaya jamur kayu organik yang disiarkan oleh radio Persada FM dan Pembuatan pupuk organik, yang disiarkan oleh radio Mayangkara FM (dokumentasi rekaman siaran dialog interaktif BP4K kabupaten Blitar). Tema siaran tersebut dipilih untuk diresepsi oleh para anggota kelompok tani karena, dengan pembagian wilayah pertanian yang ada di Kabupaten Blitar yakni, Blitar selatan dan Blitar utara, kedua topik tersebut tidak membutuhkan kondisi wilayah pertanian tertentu untuk diaplikasikan. Kabupaten Blitar adalah satu diantara beberapa kabupaten yang ada di Jawa Timur, dimana mata pencaharian utama masyarakatnya adalah dari sektor pertanian. Jenis pertanian masyarakat di Kabupaten Blitar terbagi menjadi dua yaitu, pertanian sawah dan tegalan. Wilayah pertanian di kabupaten Blitar terbagi menjadi dua wilayah yaitu, pertanian area Blitar selatan dan utara. Pembagian ini sesuai dengan keadaan wilayah yang ada di Kabupaten Blitar, dimana area Blitar selatan cenderung lebih rendah debit 3
4 airnya, dibanding dengan area pertanian Blitar utara. Saat ini pemerintah melalui dinas terkait di kabupaten Blitar sedang mengupayakan, untuk melakukan pemberdayaan di semua sektor pertanian. Kondisi pertanian di kabupaten Blitar belum benar-benar stabil. Terbukti bahwa masih saja banyak petani yang mengalami gagal panen atau merugi saat panen tiba. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya cuaca, keadaan lahan, skill, harga pupuk yang mahal dan harga hasil pertanian di pasaran yang tidak stabil. Sesuai kondisi yang ada di lapangan, maka BP4K sebagai dinas terkait melakukan beberapa upaya, selain langsung berinteraksi dengan para petani di lapangan untuk memberikan solusi, juga melalui siaran dialog interaktif di radio Persada FM yang kemudian beralih ke radio Mayangkara FM. Sebelum bekerjasama dengan Mayangkara FM, BP4K telah bekerjasama dengan radio Persada FM, menyelenggarakan program siaran dialog interaktif pertanian. Program siaran dialog interaktif pertanian di Radio Persada FM tersebut, belum pernah dilakukan evaluasi program kelapangan. Namun pada tahun anggaran 2015, BP4K mengalihkan kerjasama untuk program dialog interaktif pertanian ke radio Mayangkara FM. Alasan dari dialihkannya kerjasama adalah masalah anggaran. Anggaran tahun 2015 lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga mampu bekerjasama dengan radio swasta terbesar di Kabupaten dan Kota Blitar. Pengalihan program seharusnya tidak semata-mata menyesuaikan anggaran yang ada. Perlu dilakukan evaluasi terlebih dahulu kepada audiens, terkait program siaran yang selama ini sudah berlangsung. Sehingga dapat diketahui apakah melalui program yang sudah ada, telah mampu menjadi salah satu penunjang terealisasinya program dari BP4K sendiri, tidak serta merta melakukan pengalihan ke stasiun radio siaran lain. Dengan adannya pengalihan kerjasama tentu ada dampak tersendiri terutama pada audiens, yakni masyarakat tani yang menjadi target bidik. Seperti apa audiens memaknai pesan yang mereka terima juga penting diketahui. 4
5 Dari penelitian ini akan diketahui seperti apa hasil resepsi para anggota kelompok tani di kabupaten Blitar. Penelitian ini juga akan melihat faktor mana dari frameworks of knowledge, relations of production, dan technical infrastructure yang mempengaruhi perbedaan hasil resepsi para anggota kelompok tani, pada program siaran dialog interaktif di radio Persada FM dan Mayangkara FM. Penelitian terdahulu terkait dengan program siaran dialog interaktif pertanian, baik di radio Persada FM dan Mayangkara FM belum pernah dilakukan, sehingga penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu evaluasi program tersebut. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas terdapat pertanyaan dalam penelitian yaitu: 1. Bagaimanakah anggota kelompok tani meresepsi pesan dari program siaran dialog interaktif pertanian di Radio Persada FM dan Radio Mayangkara FM, bersama Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K), Kabupaten Blitar? 2. Faktor apa saja yang mempengaruhi perbedaan posisi resepsi anggota kelompok tani dari program siaran dialog interaktif pertanian di Radio Persada FM dan Radio Mayangkara FM, bersama Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K), Kabupaten Blitar? C. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian berdasarkan dari rumusan masalah yaitu: 1. Untuk mengetahui pemahaman anggota kelompok tani, dalam meresepsi pesan pada program siaran dialog interaktif pertanian di radio Persada FM dan Mayangkara FM, bersama Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) kabupaten Blitar. 5
6 2. Untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi perbedaan posisi resepsi anggota kelompok tani dari program siaran dialog interaktif pertanian di radio Persada FM dan Mayangkara FM, bersama Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K), Kabupaten Blitar. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Praktis Bagi para pembaca diharapkan penelitian ini dapat menambah wawasan tentang metode resepsi dalam meneliti audiens media massa radio. Bagi instansi terkait sendiri, penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan guna menyempurnakan program siaran, dan untuk evaluasi program siaran radio yang telah berlangsung. 2. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah pengetahuan, tentang metode resepsi pada audiens dalam program siaran dialog interaktif. Menjadi bahan perbandingan atau sebagai bahan kajian studi dalam kajian selanjutnya. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi, atau masukan bagi perkembangan ilmu komunikasi. E. Objek Penelitian Berdasarkan penjabaran penulis dalam latar belakang dan rumusan masalah, maka penulis akan mengambil objek penelitian dari anggota kelompok tani yang ada di Kabupaten Blitar. Anggota kelompok tani yang akan dijadikan narasumber adalah audiens dari radio Persada FM dan Mayangkara FM yang juga sebagai audiens program siaran dialog pertanian bersama BP4K Kabupaten Blitar. Audiens tersebut kemudian dibagi menjadi dua kelompok, wilayah pertanian Blitar selatan dan wilayah pertanian Blitar 6
7 utara. Dari total 22 kecamatan yang berada di kabupaten Blitar, maka akan diambil sampel masing-masing tiga kecamatan dari satu wilayah pertanian. Nama-nama kecamatan yang masuk ke dalam wilayah Blitar selatan yakni Kecamatan Bakung, Kecamatan Binangun, Kecamatan Kademangan, Kecamatan Panggungrejo, Kecamatan Wates, dan Kecamatan Wonotirto. Sedangkan kecamatan yang masuk kedalam wilayah Blitar utara adalah Kecamatan Doko, Kecamatan Gandusari, Kecamatan Garum, Kecamatan Kanigoro, kecamatan Kesamben, kecamatan Nglegok, kecamatan Ponggok, Kecamatan Sanan Kulon, Kecamatan Selopuro, Kecamatan Selorejo, Kecamatan Srengat, Kecamatan Sutojayan, Kecamatan Talun, Kecamatan Udanawu, Kecamatan Wlingi, dan Kecamatan Wonodadi. Objek penelitian diambil dari dua wilayah pertanian yang berbeda, ini bertujuan agar informasi yang diperoleh di lapangan dapat beragam dan mampu memberikan informasi sesuai kebutuhan penelitian. Dari masingmasing kecamatan memiliki kelompok tani yang dibawahi oleh BP4K Kabupaten Blitar. Dengan dilakukannya pengambilan sampel dari setiap kategori diatas, maka Kecamatan Binangun, Kecamatan Wates dan Kecamatan Panggungrejo mewakili untuk wilayah Blitar selatan. Sedangkan Kecamatan Wlingi, Kecamatan Kesamben dan Kecamatan Talun diambil sebagai sampel dari wilayah Blitar utara. F. Kerangka Pemikiran Dalam suatu penelitian teori memiliki peran sebagai pendorong pemecahan masalah dan tolak ukur. Hal ini sangat berkaitan erat dengan pengertian teori yaitu himpunan konstruk atau konsep, definisi dan proporsi yang mengemukakan pandangan sistematis, tentang gejala dengan menjabarkan relasi diantara variabel untuk menjelaskan gejala dan memaparkannya. 7
8 1. Program Dialog Interaktif Radio Kata program berasal dari bahasa Inggris programme atau program yang berarti acara atau rencana. Undang-Undang Penyiaran Indonesia tidak menggunakan kata program untuk acara tetapi menggunakan istilah siaran yang didefinisikan sebagai pesan atau rangkaian pesan yang disajikan dalam berbagai bentuk. Namun kata program lebih sering digunakan dalam dunia penyiaran di Indonesia daripada kata siaran untuk mengacu kepada pengertian acara. Program adalah segala hal yang ditampilkan stasiun penyiaran untuk memenuhi kebutuhan audiennya. Dengan demikian program memiliki pengertian yang sangat luas (Morissan, 2008:199). Sedangkan menurut Effendy (1989:287) program ( programme) adalah rancangan penyiaran produksi siaran radio atau televisi. Dialog berasal dari bahasa Yunani, yaitu erate yang berarti dua dan legein yang berarti berbicara. Jadi arti dialog adalah proses komunikasi dua orang atau lebih. Kata interaktif memiliki arti saling melakukan aksi, antar hubungan, dan saling aktif. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan pengertian program dialog interaktif adalah acara siaran percakapan yang dilakukan di televisi atau radio, yang dapat melibatkan pemirsa dan pendengar melalui telepon atau pesan. 2. Audiens Sebelum adanya media massa, pengertian audiens adalah sekumpulan penonton drama, permainan dan tontonan. Setelah ada kegiatan komunikasi massa, audiens sering diartikan sebagai penerima pesan-pesan media massa. Beberapa konsep alternatif tentang audiens adalah sebagai berikut (McQuail, 1987): a. Audiens sebagai kumpulan penonton, pembaca, pendengar, pemirsa. Konsep audiens diartikan sebagai penerima pesan-pesan dalam komunikasi massa, yang keberadaannya tersebar, heterogen, 8
9 dan berjumlah banyak. Pendekatan sosial budaya sangat menonjol untuk mengkaji konsep ini. b. Audiens sebagai massa. Konsep audiens diartikan sebagai suatu kumpulan orang yang berukuran besar, heterogen, penyebaran, dan anomitasnya serta lemahnya organisasi sosial dan komposisinya yang berubah dengan cepat dan tidak konsisten. Massa tidak memiliki keberadaan (eksistensi) yang berlanjut kecuali dalam pikiran mereka yang ingin memperoleh perhatian dan memanipulasi orang-orang sebanyak mungkin. McQuail menyatakan bahwa konsep ini sudah tidak layak lagi dipakai. c. Audiens sebagai kelompok sosial atau publik. Konsep audiens diartikan sebagai suatu kumpulan orang yang terbentuk atas dasar suatu isu, minat, atau bidang keahlian. Audiens ini aktif untuk memperoleh informasi dan mendiskusikannya dengan sesama anggota audiens. Pendekatan sosial politik sangat menonjol untuk mengkaji konsep ini. d. Audiens sebagai pasar. Konsep audiens diartikan sebagai konsumen media dan sebagai audiens (penonton, pembaca, pendengar, atau pemirsa) iklan tertentu. Pendekatan sosial ekonomi sangat menonjol untuk mengkaji konsep ini. Konsep-konsep di atas tentu saja tidak saling eksklusif, secara empiris para pengelola, pemilik maupun pengguna media massa memaknai audiens sebagai perpaduan konsep ke satu, empat, dan tiga dari konsep di atas. Dalam perkembangan ilmu komunikasi, pandangan mengenai audiens yang hanya semata-mata pasif dan tidak memiliki kuasa terhadap pesan media yang diterima, didasarkan pada teori jarum suntik hipodemik dan agenda setting. Dengan berkembangnya ilmu komunikasi dan munculnya teori uses and gratification yang mengatakan bahwa, khalayak aktif menggunakan media untuk 9
10 memenuhi kebutuhannya, maka pandangan bahwa audiens atau khalayak hanya bisa pasif terbantahkan (Ardianto dan Erdinaya, 2005). Demikian juga dari analisis resepsi yang memandang, bahawa audiens sebagai penerima pesan media secara aktif dan mampu memeberikan makna pada teks/pesan. 3. Konsep Audiens Aktif Kajian yang dilakukan oleh Frank Biocca dalam artikelnya yang berjudul Opposing Conception of Audience: The Passive and Active Hemisphere of Communication Theory (1998), ditemukan beberapa ciri audiens aktif. Pertama adalah audiens diyakini lebih selektif, terhadap media yang mereka gunakan. Audiens tidak sembarangan menggunakan suatu media. Biasanya didasarkan alasan dan tujuan tertentu. Kedua, utilitarianism yaitu audiens aktif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan mereka. Karakteristik ketiga adalah intensionalitas yang berarti penggunaan secara sengaja dari isi media. Keempat adalah keikutsertaan, artinya mereka ikut aktif berpikir mengenai alasan mereka dalam mengkonsumsi media. Kemudian yang kelima adalah audiens aktif dipercaya sebagai komunitas yang tahan dalam menghadapi pengaruh media dan titak mudah dibujuk media. Sedangkan audiens pasif adalah audiens yang hanya sekedar mendengarkan dan menikmati, program siaran yang tengah berlangsung. 4. Analisis Resepsi Dalam tradisi studi audiens, pernah berkembang beberapa teori penelitian yaitu, effect research, uses and gratification research, literary criticism, cultural studies, dan reception analysis. Reception analysis dapat dikatakan sebagai teori baru dalam aspek wacana dan sosial dari teori komunikasi (Jensen, 1999). Analisis resepsi kemudian 10
11 menjadi teori baru yang kemudian menjadi pendekatan tersendiri, dan mencoba mengkaji secara mendalam bagaimana proses-proses aktual, melalui wacana media diasimilasikan dengan berbagai wacana dan praktik kultural audiensnya (Jensen, 1999). Penelitian audiens sudah ada sejak tahun 1930-an yang menekankan efek media massa terhadap publik. Institusi media dan media dianggap memiliki kekuatan untuk mempengaruhi khalayak yang pasif. Teori reception analysis sebagai pendukung dalam kajian terhadap audiens, di sini audiens ditempatkan tidak semata-mata pasif, namun dilihat sebagai agen kultural ( kultural agent) yang memiliki kuasa tersendiri, dalam hal menghasilkan makna dari berbagai wacana yang ditawarkan media. Makna yang diusung media lalu bisa bersifat terbuka, atau polysemic dan bahkan bisa ditanggapi secara oposisif oleh audiens (Fiske, 1987). Terdapat beberapa peneliti yang melakukan penelitian dengan menggunakan metode resepsi, salah satunya adalah David Morley, yang melakukan penelitian resepsi pada akhir 1970-an hingga awal 1980-an. Penelitian Morley saat itu adalah untuk mencari hubungan antara mengkonsumsi teks berita dengan kelas sosial audiens. Morley mengusulkan bahwa penelitian audiens akan lebih efektif, jika berfokus pada macam-macam kompetensi literasi sebagai bentuk dari formasi sosial. Dalam penelitian resepsinya, Morley berusaha menghubungkan tipologi decoding teks media dengan latar belakang sosio-ekonomi dan kultural penonton. Dia mengungkapkan bahwa terdapat efek dalam keberagaman kondisi sosial, seperti kelas, gender, ras, dan usia. Anggota dari substruktur sosial tertentu memiliki panduan dalam membaca dan memaknai suatu pesan. Pemaknaan audiens terhadap teks akan dipengaruhi oleh ide kultural komunal sesuai dengan substrukturnya. 11
12 Dalam tulisan yang dimuat dalam Cultural Transformation, The Politics of Resistence, 1983 (dalam Morris dan Tornham 1999:474, 475), Morley mengemukakan tiga posisi hipotesis di dalam makna pembaca teks (program acara). Kajian resepsi Morley ini didasari oleh pemikiran Stuart Hall (Profesor Sosiologi di Open University). Penjabaran dari resepsi ini yaitu : a. Dominant (hegemonic) reading b. Negotiated reading c. Oppositional (counter hegemonic) reading Analisis resepsi yang paling sering digunakan adalah model encoding/decoding oleh Stuart Hall (1980). Model encoding/decoding tersebut sangat berpengaruh dalam mengkaji hubungan antara teks dan audiens. Croteau dan Hoynes menyebutkan, the encoding/decoding focuses on the relationship between the media message, as it is constructed or encoded by media producer, and the ways that message is interpreted or decoded by audiences (Croteau, Hoynes, 2003). Model decoding dan encoding ini menolak efek dan kekuatan teks atau pesan. Penelitian resepsi akan menunjukkan bahwa pesan dapat dibaca atau di-decode secara berbeda oleh berbagai kelompok karena perbedaan sosial dan kultural. Proses encoding berlangsung selama proses produksi teks/pesan media berlangsung. Encoding merupakan proses penstrukturan makna oleh produser media yang berusaha untuk mengartikulasi kode kode yang merepresentasi sistem tanda seperti yang diinginkan produser. Sedangkan proses decoding merupakan proses pemaknaan yang dilakukan oleh audiens (receiver) sesuai dengan konteks sosial dan kulturalnya ketika mengkonsumsi atau meresepsi teks media. Encoding dilakukan oleh produsen pesan, sedangkan decoding dilakukan oleh penerima pesan yang disampaikan melalui media massa. 12
13 Tidak menutup kemungkinan antara produsen dan audiens memiliki latar belakang dan pengalaman yang berbeda, sehingga dimungkinkan terjadinya perbedaan antara keduanya dalam memaknai pesan dari sebuah program siaran. Audiens aktif akan memaknai pesan sesuai dengan pemikirannya sendiri, dipengaruhi oleh latar belakang dan pengalaman yang dimilikinya. Gambar. 1 Model Encoding/Decoding, Stuart Hall Dari model encoding/decoding yang telah dijelaskan di atas, dapat dilihat bahwa encoding dan decoding sama-sama merupakan proses pemaknaan. Proses pemaknaan pesan ini dipengaruhi oleh tiga unsur, yaitu frameworks of knowledge, relations of production, dan technical infrastructure yang dimungkinkan adanya perbedaan antara encoding dan decoding. Meaning structure 1 dan meaning structure 2 bisa jadi tidak sama jika kode-kode yang mempengaruhinya berbeda. Dalam penelitian ini, pemaknaan atau decoding yang dilakukan oleh audiens dapat dilihat dari grup acuan yang ada di sekitar audiens, produksi teks sejenis yang dilakukan oleh audiens, serta pola konsumsi audiens terhadap teks. Ketiga hal ini akan mempengaruhi pembentukan makna teks yang dilakukan oleh audiens. 13
14 Tiga kategorisasi audiens dalam teori encoding/decoding Stuart Hall yaitu : 1. Dominant (hegemonic) reading: pembaca sejalan dengan kodekode teks (yang di dalamnya terkandung nilai-nilai, sikap, keyakinan dan asumsi) dan secara penuh menerima makna yang disodorkan dan dikehendaki oleh pembuat teks/pesan. 2. Negotiated reading: pembaca dalam batas-batas tertentu sejalan dengan kode-kode teks dan pada dasarnya menerima makna yang disodorkan oleh si pembuat teks namun memodifikasikannya sedemikian rupa sehingga mencerminkan posisi dan minat-minat pribadinya. 3. Oppositional (counter hegemonic) reading: pembaca tidak sejalan dengan kode-kode teks dan menolak makna atau pembacaan yang disodorkan, kemudian menentukan frame alternatif sendiri dalam menginterpretasikan teks/pesan. Tiga tipe audiens dalam melakukan proses decoding atau resepsi ini dapat menjadi tolak ukur dalam melihat tipe audiens dalam penelitian resepsi (reception analysis). Analisis resepsi merupakan salah satu penelitian tentang audiens yang berpijak pada tradisi kultural dan berusaha untuk mengkombinasi antara teori ilmu sosial dan humaniora. Penelitian resepsi tersebut berfokus pada peran audiens dalam memaknai pesan. Audiens bukanlah individu yang pasif dalam menerima pesan. Sebaliknya audiens memiliki kemampuan untuk menahan dan mematahkan makna-makna dominan, atau hegemoni yang ditawarkan oleh media massa. Kemampuan audiens tersebut dipengaruhi oleh kondisi sosial dan kultural audiens. 14
15 G. Kerangka Konsep Penelitian ini ingin melihat bagaimana kelompok tani meresepsi pesan media massa melalui siaran dialog interaktif di radio Persada FM dan Mayangkara FM, bersama BP4K Kabupaten Blitar. Dimana audiens menerima pesan yang kemudian memberikan makna terhadap pesan yang diterima melalui media yang mereka konsumsi. Pemaknaan audiens terhadap pesan di media dilihat dari pemikiran Stuart Hall terdapat tiga posisi pemaknaan yaitu: 1. Dominant (hegemonic) reading Disini audiens terletak pada posisi dimana dapat memahami pesan yang ingin disampaikan oleh pembuat program. 2. Negotiated reading Dalam negotiated audiens memiliki pemaknaan yang sama dengan apa yang ingin disampaikan oleh pembuat program, dan kemudian audiens menyesuaikan diri dengan pemahamannya masing-masing. 3. Oppositional (counter hegemonic) reading Dalam posisi ketiga ini, audiens memiliki pemaknaan yang berbeda dengan apa yang ingin disampaikan oleh pembuat program. Konsep penting dalam penelitian resepsi yakni dimana teks media bukan makna yang melekat pada teks media tersebut, melainkan makna diciptakan dalam interaksi antara audiens dan teks/pesan yang disampaikan melalui media massa. Dinamika yang akan dilihat dalam penelitian ini adalah hubungan audiens dengan pesan dari program siaran yang disimak. Audiens memiliki nilai-nilai yang dianutnya, kemudian masuk pesan dengan nilai-nilai yang telah diatur oleh produsen program siaran. Penelitian ini akan melihat dan menganalisa praktek konsumsi audiens terhadap pesan media yang mereka terima. Untuk melihat dinamika ini, maka digunakan analisis resepsi. Analisis resepsi adalah metode analisis yang digunakan untuk melihat pemaknaan anggota kelompok tani terhadap suatu 15
16 pesan siaran yang dikonsumsi, yakni program dialog interaktif. Dalam penelitian ini teori yang digunakan adalah teori resepsi Stuart Hall tentang encoding/decoding, karena dirasa sesuai dengan pertanyaan penelitian. Stuart Hall mengatakan bahwa proses pemaknaan audiens terhadap encoding/decoding teks media dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu: 1. Frameworks of knowledge Dalam kerangka pengetahuan ini peneliti menambahkan beberapa faktor yang mempengaruhi audiens yaitu latar belakang pendidikan, dan tingkat ekonomi. Sedangkan untuk program siaran dialog interaktif dipengaruhi oleh pengetahuan penyiar dan cara dalam membawakan program. 2. Relations of production Relasi produksi dari audiens akan dilihat dari usia dan motivasi dalam mengakses program siaran dialog interaktif. Sedangkan untuk program siaran dialog interaktif dipengaruhi oleh tujuan dibuatnya program dan pembiayaan program. 3. Technical infrastructure Untuk faktor yang mempengaruhi infrastruktur teknis disini akan dilihat dari lokasi tempat tinggal dan bagaimana penerimaan radionya. Sedangkan untuk program siaran dialog interaktif dipengaruhi oleh kemasan program dan tema yang dibawakan. 16
17 Gambar 2 Encoding/Decoding Program Siaran Dialog Interaktif Pertanian Proses pengkodean pada sebuah pesan tidak akan tercapai jika tidak ada kerangka pengetahuan ( frameworks of knowledge), relasi produksi (relations of production), dan infrastruktur teknis ( technical infrastructure). Menurut Hall, dalam encoding dan decoding akan terjadi ketidaksimetrian antara sumber dan penerima, dimana disebut sebagai kesalahpahaman, tepatnya muncul dari kurangnya ekuivalensi (kesamaan) antara kedua p ihak dalam pertukaran komunikasi. Penelitian ini akan melihat proses pemaknaan audiens (anggota kelompok tani) dari masing -masing kategori bidang pertanian, yang kemudian akan dibandingkan sesuai tiga kategori diatas. 17
18 Gambar. 3 Kerangka Berfikir Dari analisis resepsi ini akan dilihat, dimana posisi audiens diantara posisi oppositional, negotiated dan dominant, serta dari faktor frameworks of knowledge, relations of production, dan technical infrastructure, mana yang merupakan unsur yang mempengaruhi perbedaan dari resepsi audiens tersebut. H. Metodologi Penelitian Berdasarkan permasalahan yang diteliti, maka jenis penelitian yang dipergunakan adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang berhubungan dengan ide, persepsi, pendapat, kepercayaan orang yang akan diteliti dan kesemuanya tidak dapat di ukur dengan angka. 18
19 Penelitian dengan metode kualitatif deskriptif merupakan pilihan yang cocok untuk mengkaji permasalahan yang ada. Fokus penelitian ini adalah penggambaran secara menyeluruh tentang bentuk, fungsi, dan makna ungkapan yang diperoleh dari proses penelitian. Hal ini sejalan dengan pendapat Bogdan dan Taylor (1975) yang menyatakan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif, berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Dengan kata lain, penelitian ini disebut penelitian kualitatif karena merupakan penelitian yang tidak mengadakan perhitungan (Moleong, 2002:3). Penelitian kualitatif harus mempertimbangkan metodologi kualitatif itu sendiri. Metodologi kualitatif merupakan prosedur yang menghasilkan data deskriptif berupa data tertulis atau lisan di masyarakat (Djajasudarma, 2006:11). Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendekatan kualitatif yang menggunakan data lisan suatu bahasa memerlukan informan. Dalam penelitian ini merangkum sejumlah data besar yang masih mentah menjadi informasi yang dapat diinterpretasikan. Data yang dimaksud adalah hasil wawancara mendalam (In depth interview). Dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan alat-alat yang mewakili jumlah, intensitas atau frekuensi. Peneliti menggunakan dirinya sendiri sebagai perangkat penelitian, mengupayakan kedekatan dan keakraban antara dirinya dengan obyek atau subyek penelitiannya. Dalam penelitian ini jumlah informan tidak ditentukan jumlahnya. Dengan kata lain, jumlah informannya ditentukan sesuai dengan keperluan penelitian. 1. Penentuan Informan Teknik yang digunakan dalam menentukan informan disini adalah teknik purposive sampling. Teknik purposive sampling adalah penentuan sampel berdasarkan tujuan tertentu dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi (Arikunto, 2010:183). Dalam bahasa sederhana purposive sampling dapat dikatakan secara sengaja mengambil sampel 19
20 tertentu, dalam penlitian ini adalah audiens yang tergabung dalam kelompok tani dengan persyaratan (sifat -sifat, karakteristik, ciri, dan kriteria) yang ditentukan oleh peneliti. Informan dalam penelitian ini diperoleh dari 22 kecamatan yang ada di Kabupaten Blitar, kemudian digolongkan menjadi dua kategori sesuai dengan wilayah pertaniannya yaitu, Blitar selatan dan wilayah pertanian Blitar utara. Selain itu informan harus merupakan anggota kelompok tani yang ada di Kecamatan Binangun, Kecamatan Wates dan Kecamatan Panggungrejo sebagai sampel wilayah Blitar selatan, serta Kecamatan Wlingi, Kecamatan Kesamben dan Kecamatan Talun sebagai wilayah pertanian Blitar utara. Para anggota kelompok tani yang telah dipilih sebagai informan, juga harus sebagai pendengar program siaran dialog interaktif yang disiarkan oleh Radio Persada FM dan Radio Mayangkara FM. 2. Jenis dan Sumber Data Dalam setiap penelitian, selain menggunakan metode yang tepat juga diperlukan kemampuan memilih metode pengumpulan data yang relevan. Data merupakan faktor penting dalam penelitian. Jenis data yang digunakan dalam penelitian adalah data primer dan data sekunder. a. Data Primer Sumber data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dengan penelitian melalui wawancara mendalam, pengamatan langsung serta peneliti terlibat di dalamnya. b. Data Sekunder Sumber sekunder adalah sumber data yang diperoleh dengan cara membaca, mempelajari, dan memahami melalui media lain yang bersumber dari literatur. Data sekunder dalam penelitian ini berasal dari berbagai literatur yang berhubungan dengan objek penelitian. 20
21 3. Teknik Pengumpulan Data Untuk menunjang keberhasilan penelitian ini, terdapat dua teknik pengumpulan data yang dilakukan, yaitu: a. Wawancara Mendalam (In Depth Interview) Wawancara adalah komunikasi yang memiliki maksud tertentu. Pewawancara selalu menjadi bagian dari proses wawancara sekaligus menjadi pengamat dalam jalannya proses wawancara, sehingga wawancara berhubungan dengan observasi partisipan (Peter, Hughes, 2005). Peneliti dapat menemukan ide, pikiran, opini, sikap, dan motivasi informan melalui wawancara. Penelitian ini menggunakan teknik wawancara mendalam (in depth interview) karena sifatnya yang fleksibel dan memiliki validitas data yang lebih akurat. Wawancara mendalam adalah suatu cara mengumpulkan data atau informasi dengan cara langsung bertatap muka dengan informan agar mendapatkan data yang lengkap dan mendalam. Teknik ini memungkinkan peneliti untuk membaca perilaku non-verbal secara lebih detail dan memperoleh kedalaman riset. Dalam metode ini diperlukan iklim wawancara yang kondusif, yaitu dengan membangun keakraban antara peneliti dengan informan. Wawancara akan dilakukan beberapa kali sesuai dengan kebutuhan data untuk penelitian. Wawancara dilakukan secara intensif namun tetap memperhatikan kenyamanan informan dalam memberikan informasi. Sifat wawancara akan dibuat sedemikian rupa hingga terkesan santai seperti mengobrol. Dengan demikian informan akan bersedia memberikan jawaban secara lengkap, mendalam, dan tidak ada yang disembunyikan. Pertanyaan dalam wawancara melingkupi pertanyaan mengenai opini informan terhadap program dialog interaktif, riwayat mendengarkan siaran dialog interaktif, latar belakang informan yang dapat 21
22 mempengaruhi proses resepsi informan terhadap pesan program siaran, serta pengaruh menyimak dialog interaktif dalam kehidupan informan. b. Metode Dokumentasi Peneliti menggunakan metode dokumentasi yaitu pengumpulan data dengan cara mencari dokumen-dokumen yang terkait dengan penelitian. Dokumen dalam penelitian ini dapat berupa gambar, daftar anggota, daftar koleksi, dan dokumen lainnya yang dapat membantu mempercepat proses penelitian. 4. Teknik Pengolahan Data Dalam penelitian ini, data yang telah terkumpul akan diolah dan pengolahan data dilakukan dengan triangulasi, reduksi, penyajian data, penarikan kesimpulan. a. Reduksi Reduksi yaitu merangkum, memilih hal-hal pokok, dan memfokuskan pada hal-hal penting. Dengan begitu, data yang direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas. b. Penyajian Data Setelah data direduksi, langkah selanjutnya adalah menyajikan data. Data disajikan dalam bentuk teks yang bersifat naratif. Data disajikan dengan mengelompokkan sesuai dengan sub bab masing-masing. c. Penarikan Kesimpulan Setelah data di sajikan, langkah selanjutnya yaitu penarikan kesimpulan. Setelah menjabarkan berbagai data yang telah diperoleh, peneliti membuat kesimpulan yang merupakan hasil dari suatu penelitian. 22
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode reception analysis. Penelitian ini
BAB III METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode reception analysis. Penelitian ini dilakukan untuk memfokuskan peneliti pada produksi tentang pemaknaan teks dan proses negosiasi makna khalayak.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Paradigma Paradigma merupakan pola atau model tentang bagaimana sesuatu distruktur (bagian dan hubungannya) atau bagaimana bagian-bagian berfungsi (perilaku yang di dalamnya
BAB V PENUTUP Kesimpulan
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Penelitian analisis resepsi menekankan poin penting terhadap khalayak yang dapat memaknai sendiri teks yang dibacanya dan tidak selalu sejalan dengan apa yang menjadi ideologi
BAB III METODE PENELITIAN. Metodologi artinya pengetahuan tentang berbagai cara kerja yang disesuaikan
BAB III METODE PENELITIAN Metodologi artinya pengetahuan tentang berbagai cara kerja yang disesuaikan dengan objek studi ilmu yang bersangkutan. Dengan kata lain metodologi itu menjelaskan tata cara dan
BAB 3 METODE PENELITIAN
BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Pendekatan Penelitian Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Menurut Morse (dalam Daymon dan Holloway, 2008:368) penelitian kualitatif
BAB III METODE PENELITIAN. kualitatif dengan menggunakan jenis penelitian studi deskriptif yaitu memaparkan
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian Pendekatan penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan jenis penelitian studi deskriptif yaitu
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Ikan hias selain dinikmati dari segi estetika juga memiliki nilai keuntungan yang tinggi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ikan hias selain dinikmati dari segi estetika juga memiliki nilai keuntungan yang tinggi dari segi pengembangbiakannya. Indonesia sebagai negara kepulauan dan memiliki
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Menurut Harmon dalam buku yang ditulis oleh Moleong 22, paradigma
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Paradigma Menurut Harmon dalam buku yang ditulis oleh Moleong 22, paradigma adalah cara mendasar untuk mempersepsi, berpikir, menilai dan melakukan yang berkaitan dengan
BAB V PENUTUP. A. Kesimpulan
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Setiap teks mengandung makna yang sengaja disisipkan oleh pembuat teks, termasuk teks dalam karya sastra. Meski sebagian besar karya sastra berfungsi sebagai media rekreatif
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Dalam kegiatan rebranding Dhea Bordir, peneliti berusaha menganalisa dan menemukan informasi sebagai jalan keluar untuk permasalahan yang ada dengan pendekatan
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masyarakat yang kian berkembang pada dasarnya memiliki rasa ingin tahu yang besar. Mereka ingin tahu apa yang terjadi di tengah-tengah dunia global. Program informasi
BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian dalam penelitian ini menggunakan pendekatan. suatu kegiatan yang bersifat spekulatif (Ruslan, 2003: 206).
tanggungjawab sosial perusahaan dalam bentuk tulisan. Untuk penulisan ini juga dilakukan strategi by supplying good copy agar hasil penulisan layak untuk dimuat di dalam media cetak. BAB III METODE PENELITIAN
BAB I PENDAHULUAN. Radio merupakan salah satu media informasi sebagai unsur dari proses
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Radio merupakan salah satu media informasi sebagai unsur dari proses komunikasi, dalam hal ini sebagai media massa. Radio mempunyai sifat khas yang menjadi
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Palur, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo. Dengan pertimbangan sebagai berikut : 1. Lokasi penelitian mudah
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
33 BAB III METODOLOGI PENELITIAN Dalam bab III ini penulis akan memberikan data dalam metodologi penelitian yang terdiri dari jenis dan pendekatan penelitian, penentuan lokasi, sumber data, teknik pengumpulan
III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif.
III. METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut Creswell (1998:15) pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Penelitian ini adalah penelitian pendidikan, maka metode penelitian pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Visi pembangunan Industri Nasional sebagaimana yang tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional adalah Indonesia menjadi
BAB III METODE PENELITIAN. deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Tipe penelitian ini menurut Bugdon dan
BAB III METODE PENELITIAN A. Tipe dan Pendekatan Penelitian Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Tipe penelitian ini menurut
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masyarakat yang padat akan aktifitas membutuhkan hiburan dan informasi yang cepat, mudah dan murah. Ketat dan pesatnya persaingan dalam industri televisi khususnya
III. METODE PENELITIAN. Pada penelitian ini, menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pendekatan
23 III. METODE PENELITIAN 3.1. Sifat Penelitian Pada penelitian ini, menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pendekatan Kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi
Modul Perkuliahan VII Komunikasi Massa
Modul ke: 7 Modul Perkuliahan VII Komunikasi Massa Khalayak / Audiens Komunikasi Massa Fakultas ILMU KOMUNIKASI Ponco Budi Sulistyo., S.Sos., M.Comm., Ph.D Program Studi Broadcasting Judul Sub Bahasan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berbagai budaya terdapat di Indonesia sehingga menjadikannya sebagai negara yang berbudaya dengan menjunjung tinggi nilai-nilainya. Budaya tersebut memiliki fungsi
III. METODE PENELITIAN. mengumpulkan data serta bagaimana melakukan penelitian di lapangan (Nazir,
III. METODE PENELITIAN A. Tipe Penelitian Metode penelitian adalah urutan kerja yang harus dilakukan dalam melaksanakan penelitian, termasuk alat-alat apa yang digunakan untuk mengukur maupun untuk mengumpulkan
BAB III METODE PENELITIAN. permasalahan dan fokus penelitian. Metode kualitatif adalah langkah-langkah
45 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mendeskripsikan permasalahan dan fokus penelitian. Metode kualitatif adalah langkah-langkah
BAB III METODE PENELITIAN. pengajar muda dan peserta didik di desa tertinggal dalam meningkatkan motivasi
35 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tipe Penelitian Penelitian ini menggunakan tipe penelitian bersifat deskriptif, yaitu untuk memperoleh deskripsi mengenai Peranan komunikasi antar pribadi antara pengajar
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Paradigma adalah suatu cara pandang untuk memahami kompleksitas dunia nyata.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Paradigma Penelitian Paradigma adalah suatu cara pandang untuk memahami kompleksitas dunia nyata. Paradigma tertanam kuat dalam sosialisasi para penganut dan praktisinya.
BAB 1 PENDAHULUAN. komunikasi semakin berkembang pesat. Dengan perkembangan teknologi
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan perkembangan peradaban manusia, teknologi komunikasi semakin berkembang pesat. Dengan perkembangan teknologi komunikasi memudahkan setiap orang untuk
BAB III METODELOGI PENELITIAN. data menggunakan kata dan baris kalimat. Muhammad Nazir mendefenisikan
43 BAB III METODELOGI PENELITIAN 3.1 Tipe Penelitian Dalam penelitian ini dilakukan pendekatan secara analisis deskriptif kualitatif, melalui analisis kualitatif mengandung makna suatu penggambaran atas
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Pendekatan Penelitian Dalam penelitian yang berjudul IMPLEMENTASI INTRANET SEBAGAI SALURAN KOMUNIKASI INTERNAL BERBASIS CYBER-PR (SUATU STUDI PADA ASTRANET PT ASTRA INTERNATIONAL
BAB III METODE PENELITIAN. menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis ataupun lisan tentang orang
68 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis ataupun lisan tentang orang
4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR
4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Beberapa gambaran umum dari kondisi fisik Kabupaten Blitar yang merupakan wilayah studi adalah kondisi geografis, kondisi topografi, dan iklim.
III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Peneliti memilih penelitian ini
III. METODE PENELITIAN A. Tipe Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Peneliti memilih penelitian ini karena penelitian kualitatif bersifat menyeluruh (holistic), dinamis dan tidak
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Penelitian ini membahas tentang bagaimana praktek resepsi iklan yang dilakukan oleh pelajar perokok di lingkungan geng di Daerah Istimewa Yogyakarta terhadap pesan iklan dalam
BAB I PENDAHULUAN. untuk memenuhi berbagai kebutuhan di setiap aspek kehidupan. Berkembangnya sebuah masyarakat juga berasal dari komunikasi baik yang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Komunikasi menjadi komponen penting dalam kehidupan bermasyarakat untuk memenuhi berbagai kebutuhan di setiap aspek kehidupan. Berkembangnya sebuah masyarakat
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Industri televisi yang terus berkembang dari tahun ke tahun kian menarik untuk diamati. Setiap daerah terdapat banyak televisi swasta yang melakukan siaran secara
BAB I PENDAHULUAN. kehidupan sosial manusia atau masyarakat. Aktifitas komunikasi dapat terlihat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kehidupan manusia di dunia tidak dapat dilepaskan dari aktifitas komunikasi karena komunikasi merupakan bagian integral dari sistem dan tatanan kehidupan sosial
BAB 1 PENDAHULUAN. mengakibatkan kebutuhan masyarakat akan informasi semakin besar. Dan informasi
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan berkembangnya teknologi dan komunikasi saat ini mengakibatkan kebutuhan masyarakat akan informasi semakin besar. Dan informasi tersebut dapat dengan
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Sugiyono (2011:9)
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Sugiyono (2011:9) menyebutkan bahwa penelitian kualitatif adalah metode penelitian
METODE PENELITIAN. mengungkapkan fenomena atau peristiwa sosial tertentu dan pemahaman atau
78 III. METODE PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian Penelitian pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk menjembatani antara dunia konseptual dengan dunia empirik. Suatu penelitian sosial diharapkan dapat
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Setiap media, didalamnya mengandung sebuah pesan akan makna tertentu. Pesan tersebut digambarkan melalui isi dari media tersebut, bisa berupa lirik (lagu), alur cerita (film),
NASKAH PUBLIKASI ILMIAH
ANALISIS PENERIMAAN MAHASISWA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA TERHADAP NILAI-NILAI TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA DAN PLURALISME DALAM FILM? (TANDA TANYA) NASKAH PUBLIKASI ILMIAH Disusun Oleh : AHMAD
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Radio merupakan media massa yang sifatnya didengar, maka siaran
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Radio merupakan media massa yang sifatnya didengar, maka siaran atau materi dakwah yang sampai di telinga pendengar hanya sepintas lalu saja, disamping itu
BAB III METODE PENELITIAN. mendalam objek yang akan diteliti. Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
BAB III METODE PENELITIAN A. Tipe Penelitian Penelitian ini menggunakan Pendekatan Kualitatif, yang objeknya adalah manusia atau segala sesuatu yang dipengaruhi manusia, karena dengan pendekatan ini peneliti
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Media massa memiliki tiga fungsi dasar, yaitu fungsi informatif, fungsi edukatif, dan fungsi hiburan. Media massa adalah alat-alat dalam komunikasi yang
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Konteks Penelitian. Kota berasal dari kata urban yang mengandung pengertian kekotaan dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Penelitian Kota berasal dari kata urban yang mengandung pengertian kekotaan dan perkotaan. Kekotaan menyangkut sifat-sifat yang melekat pada kota dalam artian fisikal, sosial,
BAB 3 METODE PENELITIAN
49 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Pendekatan Penelitian Sesuai dengan tujuan penelitian mengenai kajian metodologi pada Strategi Media Relations PT. Televisi Transformasi Indonesia dalam Brand Positioning
BAB I PENDAHULUAN. hidup tanpa adanya informasi dan komunikasi yang ia jalani di lingkungan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam masyarakat modern seperti sekarang ini, peranan dan pengaruh informasi dan komunikasi sangat terasa. Tidak ada kegiatan yang dilakukan didalam dan oleh masyarakat
BAB II KAJIAN PUSTAKA. Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan)
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian Komunikasi Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari sutu pihak ke pihak lain. Pada umumnya komunikasi dilakukaan
BAB III METODE PENELITIAN. penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain secara
BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan Dan Jenis Penelitian Pendekatan penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif. Disebut kualitatif karena penelitian
BAB 1 PENDAHULUAN. dengan kemajuan zaman. Masyrakat modern kini menjadikan informasi sebagai
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi terus berkembang seiring dengan kemajuan zaman. Masyrakat modern kini menjadikan informasi sebagai kebutuhan pokok,
BAB IV PENUTUP. penonton Tuli (DAC Jogja) dan komunitas penonton non-tuli (MM Kine
BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Pada bagian ini peneliti akan menyimpulkan penerimaan penonton terhadap diskriminasi Tuli dalam Film Silenced, terhadap dua komunitas penonton Tuli (DAC Jogja) dan komunitas
BAB I PENDAHULUAN. luas dan pada sisi lain merupakan proses dimana pesan tersebut dicari
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Komunikasi pada satu sisi mengandung pengertian suatu proses dimana organisasi media memproduksi dan menyebarkan pesan kepada publik secara luas dan pada sisi
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian dan Pendekatan Penelitian Jenis penelitian dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor (Tohirin, 2012:2), penelitian kualitatif
BAB I PENDAHULUAN. Hotel adalah suatu badan usaha yang bergerak di bidang jasa akomodasi yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hotel adalah suatu badan usaha yang bergerak di bidang jasa akomodasi yang dikelola secara komersial, dengan menyediakan layanan makanan, minuman, dan fasilitas lainnya.
Sekapur Sirih. Blitar, Agustus 2010 Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Blitar, Bagus Sunggono, SE.MM.
Sebagai pengemban amanat Undang undang Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik dan sejalan dengan rekomendasi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengenai Sensus Penduduk dan Perumahan Tahun 2010 (Population
III. METODE PENELITIAN. pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantungan dengan orang-orang
35 III. METODE PENELITIAN A. Tipe Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Krik and Miller mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan
BAB I PENDAHULUAN. Tengok saja majalah, koran, radio, acara televisi, sampai media online
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Media massa di zaman ini telah menjadi bagian wajib dari kehidupan manusia. Sadar atau tidak, media massa telah menempati posisi penting untuk memuaskan kebutuhan manusia
BAB 3 METODE PENELITIAN
20 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Tipe Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh gambaran secara tepat tentang layanan di perpustakaan TPI untuk siaran program
BAB III METODE PENELITIAN. Pemuda Hijau Indonesia) regional Yogyakarta ini menggunakan metode
BAB III METODE PENELITIAN A. Bentuk Penelitian Penelitian tentang volunterisme pemuda kota dalam KOPHI (Koalisi Pemuda Hijau Indonesia) regional Yogyakarta ini menggunakan metode penelitian kualitatif
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode analisis resepsi. Metode analisis resepsi menurut Street adalah
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. Jenis metode analisis data kualitatif digunakan penulis untuk melakukan
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Pengumpulan Data Jenis metode analisis data kualitatif digunakan penulis untuk melakukan penelitian skripsi ini. Metode analisi data kualitatif didefinisikan sebagai
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini adalah disalah satu Bank Syariah atau Unit Usaha Syariah di Malang, yaitu Bank Muamalat Indonesia Kantor Cabang Malang yang beralamat
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Paradigma Sejauh ini ada tiga macam konstruktivisme seperti yang diungkapkan oleh Suparno : pertama, konstruktivisme radikal; kedua, realisme hipotesis; ketiga, konstruktivisme
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. ini berkaitan dengan proses, prinsip dan prosedur penelitian.
68 BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metodologi, dalam pengertian luas mengacu kepada pengertian yang menyangkut proses, prinsip dan prosedur yang dipergunakan untuk mendekati masalah dan mencari jawabannya.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. menjelaskan fenomena dengan sedalam-dalamnya melalui pengumpulan data
3.1. Jenis Penelitian BAB III METODOLOGI PENELITIAN Riset penelitian yang digunakan adalah kualitatif yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena dengan sedalam-dalamnya melalui pengumpulan data sedalam-dalamnya.
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Tempat Penelitian Penelitian mengenai Evaluasi Program education expo SMA Karangturi Semarang tahun 2014 ini merupakan penelitian evaluatif CIPP dengan pendekatan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian yang berjudul Kajian Sosiologi Sastra dan Nilai Pendidikan Karakter dalam Novel Karya Diyana Millah Islami dan Relevansinya sebagai Materi
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Di negara-negara yang banyak mengalami pergulatan politik, novel menjadi salah satu media penyampai kritik. Di Indonesia, istilah jurnalisme dibungkam sastra melawan yang dilontarkan
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif kualitatif. Isaac & Michael
BAB III METODE PENELITIAN A. Tipe Penelitian Penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif kualitatif. Isaac & Michael menjelaskan penelitian deskriptif adalah melukiskan secara fakta atau karakteristik
BAB 3 PENDAHULUAN. kualitatif. Data yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata, gambar, dan bukan
BAB 3 PENDAHULUAN 3.1. Metode Penelitian 3.1.1 Penelitian Kualitatif Dalam penelitian ini pendekatan yang dilakukan adalah melalui pendekatan kualitatif. Data yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata,
BAB III METODE PENELITIAN. desa Mungseng sebagai tempat penelitian karena desa Mungseng merupakan
BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di desa Mungseng yang berada di wilayah Kecamatan Temanggung Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk
BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Sesuai dengan tujuan dari penelitian ini, yaitu mengetahui perilaku konsumtif
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 JENIS PENELITIAN Pendekatan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif. Menurut Bogdan dan Taylor (1975:5) mendefinisikan metodologi
BAB 3 METODE PENELITIAN
BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Pendekatan Penelitian Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Pendekatan kualiatif bertujuan untuk menjelaskan fenomena sedalam-dalamnmya melalui
BAB I PENDAHULUAN. informasi kepada masyarakat. Hal ini tergambarkan dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Media massa memiliki sebuah peran penting dalam memberikan informasi kepada masyarakat. Hal ini tergambarkan dalam salah satu fungsi media massa sebagai penyebar
BERITA RESMI STATISTIK
Hasil Pendaftaran (Listing) Usaha/Perusahaan Sensus Ekonomi 2016 No. 01/06/3505/Th. I, 13 Juni 2017 BERITA RESMI STATISTIK BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN BLITAR Hasil Pendaftaran (Listing) Usaha/Perusahaan
BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Deskripsi Latar, Sumber Data, Satuan Kajian. Peneliti melakukan pengamatan secara langsung di PT.
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Deskripsi Latar, Sumber Data, Satuan Kajian 3.1.1 Deskripsi Latar Peneliti melakukan pengamatan secara langsung di PT. LG Electronics Indonesia pada kegiatan Public Relations
ANALISIS ISI PROGRAM TELEVISI LOKAL BERJARINGAN DI BANDUNG (STUDI PADA PROGRAM KOMPAS TV, TVRI, DAN IMTV)
ANALISIS ISI PROGRAM TELEVISI LOKAL BERJARINGAN DI BANDUNG (STUDI PADA PROGRAM KOMPAS TV, TVRI, DAN ) Fathania Pritami Prodi S1 Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi dan Bisnis, Universitas Telkom Jl. Telekomunikasi
BAB III METODE PENELITIAN. tentang relokasi pasar tradisional. Untuk menjelaskan hal tersebut,
41 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tipe dan Pendekatan Penelitian Penelitian ini untuk menjelaskan tentang proses formulasi kebijakan, dan menjelaskan tentang siapa yang mendapat keuntungan dengan adanya
III. METODE PENELITIAN. Peneliti berusaha untuk menggambarkan bagaimana persepsi elit partai
III. METODE PENELITIAN A. Tipe Penelitian Peneliti berusaha untuk menggambarkan bagaimana persepsi elit partai politik di Provinsi Lampung terhadap wacana pemilihan gubernur oleh DPRD Provinsi, sehingga
PENDAHULUAN Latar belakang Penelitian
PENDAHULUAN Latar belakang Penelitian Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi yang melahirkan konsekueansi logis bagi dunia penyiaran radio, maka dengan perkembangan daya pikir seorang manusia
BAB III METODE PENELITIAN. penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kualitatif. Pendekatan
58 BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian Ditinjau dari prosedur dan pola yang ditempuh oleh peneliti, penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kualitatif. Pendekatan kualitatif digunakan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian dan Metode Penelitian 1. Pendekatan Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif karena sifat data yang dikumpulkan
BAB 3 METODE PENELITIAN
BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 METODE PENELITIAN KUALITATIF Metode pengumpulan data atau penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data yang berkualitas dan valid dengan tujuan agar data tersebut dapat
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut Bogdan dan
46 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor yang dikutip oleh Moleong (2000: 3) penelitian kualitatif adalah prosedur
BAB III METODE PENELITIAN. dan makna tertentu yang tidak dapat diungkapkan dengan angka angka atau secara
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Pendekatan Penelitian Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan alasan suatu peristiwa mempunyai arti
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa memegang peranan penting dalam komunikasi manusia. Melalui bahasa, manusia dapat mengungkapkan perasaan (emosi), imajinasi, ide dan keinginan yang diwujudkan
BAB III METODE PENELITIAN. pengolahan dan analisis secara sistematis dan terarah agar penelitian dapat
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Desain penelitian adalah suatu rencana mengenai cara pengumpulan, pengolahan dan analisis secara sistematis dan terarah agar penelitian dapat dilaksanakan
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala holistic-kontekstual melalui
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Latar Penelitian Penelitian ini dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala holistic-kontekstual melalui pengumpulan data data dari latar alami dengan memanfaatkan nara sumber
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang. Kehidupan manusia di dunia tidak dapat dilepaskan dari aktivitas
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kehidupan manusia di dunia tidak dapat dilepaskan dari aktivitas komunikasi karena komunikasi merupakan bagian integral dari sistem dan tatanan kehidupan sosial manusia
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Konteks Penelitian. Pada hakikatnya manusia membutuhkan sebuah media massa untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Penelitian Pada hakikatnya manusia membutuhkan sebuah media massa untuk mendapatkan informasi terkini, wawasan maupun hiburan. Media massa sendiri dalam kajian komunikasi
BAB III PENDEKATAN PENELITIAN. korban perkosaan di LRC-KJHAM adalah pendekatan fenomenologi yang
BAB III PENDEKATAN PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian Pendekatan penelitian yang penulis gunakan untuk meneliti komunikasi terapeutik yang dibangun oleh pendamping terhadap perempuan korban perkosaan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Televisi adalah medium audiovisual yang hidup, dengan demikian lebih mengutamakan gerak atau moving/acting, bahkan ada yang berpendapat bahwa gambar yang ditayangkan
BAB I PENDAHULUAN. makhluk hidup, komunikasi sangat penting dimana komunikasi itu sendiri
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Komunikasi merupakan suatu hal yang tidak bisa dilepaskan oleh semua makhluk hidup, komunikasi sangat penting dimana komunikasi itu sendiri berfungsi untuk berinteraksi
