Pengendalian 8 buah Motor oleh DST-51

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Pengendalian 8 buah Motor oleh DST-51"

Transkripsi

1 Ib2 Pengendalian 8 buah Motor oleh DST-51 Pada aplikasinya, seringkali suatu sistem mikrokontroler digunakan untuk mengendalikan beberapa buah motor secara bersamaan. Berikut ini adalah pengendalian delapan buah motor DC oleh DST-51, sebuah sistem berbasis AT89C51 di mana proses pengendalian yang dilakukan adalah berupa pengaturan kecepatan dan keaktifan motor dengan arah putar yang searah. Rangkaian Pengendali Rangkaian pengendali pada setiap motor terdiri dari dua buah transistor yaitu BD139 yang terhubung dengan motor dan C9014 yang mengatur keaktifan BD139. IMotor Gambar 1 Aliran arus pada Transistor BD139 Transistor BD139 mempunyai arus kolektor maksimum (I Cmax ) sebesar 1A sesuai data sheet, namun pada aplikasinya sebaiknya digunakan 0,5A. Arus kolektor maksimum dari transistor BD139 adalah arus yang mengalir melalui Motor DC oleh karena itu dapat juga disebut sebagai I Motor. Dengan arus motor sebesar 0,5A maka maksimal arus motor DC yang dapat dikendalikan oleh rangkaian ini juga 0,5A. Transistor BD139 mempunyai penguatan (H FE ) sebesar 40 maka sesuai persamaan berikut: I Motor = I b1 * H FE.. (1) 0,5A = I b1 * 40 I b1 = 12,5 ma maka arus basis dari Q1 BD139 yang diperlukan untuk mengaktifkan transistor ini adalah sebesar 12,5 ma Untuk memberikan arus sebesar ini pada basis Q1 BD139 maka harga R2 yang terhubung pada basis transistor ini adalah: (2) maka akan diperoleh harga R2 adalah 344 ohm atau 330 ohm yang biasa digunakan di pasaran. Arus sebesar 12,5 ma masih terlalu besar untuk Port AT89C51 yang mempunyai kemampuan maksimum I OL 10 ma, oleh karena itu transistor Q2 C9014 perlu ditambahkan sebagai penguat.

2 IC2 Ib2 Gambar 2 Aliran arus pada C9014 Dengan R2 sebesar 330 ohm maka I C2 yang terjadi saat transistor Q1 C9014 berada pada kondisi aktif (saturasi) adalah:... (3) Dengan persamaan ini, maka diperoleh IC2 adalah 15mA. Dengan H FE C9014 sebesar 60 dan digunakannya persamaan 1, maka I b1 yaitu arus basis Q2 C9014 yang diambil dari Port 1 AT89C51 cukup sebesar 250 ua saja. Agar Port 1 AT89C51 mengeluarkan arus sebesar 250 ua saat kondisi high maka harga R1 diperoleh dengan persamaan berikut. (4) V OH adalah tegangan output Port 1 AT89C51 saat kondisi high yaitu minimal 2,4 Volt. Dengan persamaan ini maka harga R1 yang diperoleh adalah 6,8 K Dengan rangkaian ini, maka pada saat kondisi P1.0 berlogika high maka transistor Q2 C9014 akan saturasi sehingga arus I C2 mengalir dari R2 langsung menuju ke ground. Transistor Q1 BD139 tidak mendapat bias arus pada basisnya dan berada pada kondisi cut off. Hal ini menyebabkan arus motor tidak mengalir dan motor tidak berputar., namun bila kondisi P1.0 berlogika low maka transistor Q2 C9014 akan cut off dan arus dari R2 tidak langsung menuju ke ground melainkan mengalir ke basis I b1 sehingga transistor Q1 BD139 berada pada pada kondisi saturasi. Arus I Motor akan mengalir dan menggerakkan motor DC. Diode D1 IN4001 berfungsi sebagai penahan adanya tegangan balik dari kumparan motor. Maka dapat disimpulkan bahwa, motor DC akan berputar setiap kali kondisi P1.0 low dan berhenti berputar setiap kondisi P1.0 high.

3 Pengaturan kecepatan Proses pengaturan kecepatan dilakukan dengan menggunakan Teknik PWM (Pulse Width Modulation) yaitu dengan mengatur lebar pulsa ON (pulsa untuk mengaktifkan motor) dalam periode tertentu. Semakin lebar pulsa ON atau kondisi low pada P1.0 maka kecepatan putar motor akan semakin bertambah hingga pada batas maksimumnya maka kondisi P1.0 akan berlogika low terus, sebaliknya semakin sempit pulsa ON atau kondisi low pada P1.0 maka kecepatan putar motor akan semakin berkurang hingga pada batas maksimumnya maka kondisi P1.0 akan berlogika high terus. Periode T ON Motor bertambah cepat Putaran paling cepat Gambar 3 Bentuk sinyal PWM ] 8 buah rangkaian driver seperti yang tampak pada gambar 1 terhubung pada Port 1 AT89C51, oleh karena itu untuk menghasilkan sinyal PWM seperti pada gambar di atas pada masing-masing port dari Port 1 maka dibuat sebuah program yang mengeluarkan data dari tabel yang dibentuk dalam memori RAM Internal AT89C51.

4 Motor 1 Motor 2 Motor 3 Motor 4 Motor 5 Motor 6 Motor 7 Motor 8 TABEL KECEPATAN Motor H 51H 52H 53H 54H 55H 56H 57H 58H 59H Kecepatan Gambar 4 Tabel Kecepatan Gambar 4 menunjukkan hubungan antara tabel kecepatan dan sinyal PWM yang dihasilkan. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa untuk mengaktifkan motor dilakukan dengan memberikan kondisi low pada port yang berhubungan, oleh karena itu semakin lebar kondisi low maka akan semakin banyak logika 0 pada tabel kecepatan tiap motor. Tabel Kecepatan pada gambar 4 menunjukkan bahwa tiap kolom berisi dengan data kecepatan motor. Tampak pada tabel tersebut bahwa data kecepatan motor berada di tiap-tiap bit dari 10 buah lokasi memori, hal ini menunjukkan bahwa terdapat 10 step perubahan kecepatan untuk tiap-tiap motor. Oleh karena itu dapat disimpulkan sesuai dengan data pada gambar 4 bahwa: Motor 1 menempati kecepatan pada step 1 Motor 2 menempati kecepatan pada step 4 Motor 3 menempati kecepatan pada step 2 Motor 4 menempati kecepatan pada step 4 Motor 5 berhenti Motor 6 menempati kecepatan pada step 6 Motor 7 menempati kecepatan pada step 10 (tertinggi) Motor 8 menempati kecepatan pada step 8 Dengan sebuah program looping yang mengambil data-data di tabel tersebut dan mengirimkan ke Port1 secara paralel dengan berurutan maka sinyal-sinyal PWM akan muncul pada Port 1 seperti yang tampak pada sinyal-sinyal PWM pada gambar 4. Listing 1 Loop2Motor: Mov R0,#TabelKecepatan Mov R7,#StepKecepatan ;R0 menuju ke tabel data ;kecepatan motor ;R7 diisi dengan jumlah step ;kecepatan LoopMotor: ;Ambil data di tabel keceptan ;motor Mov B,EnableMotor ;OR kan dengan keaktifan motor Orl A,B ; Mov P1,A ;Kirim ke P1 Inc R0 ;Tunjuk tabel kecepatan ;berikutnya

5 Djnz R7,LoopMotor ;Lakukan hingga sejumlah step ;kecepatan Ajmp Loop2Motor ;Kembali ke loop2motor Perubahan kecepatan dilakukan dengan mengubah isi tabel data kecepatan pada motor yang akan dirubah. Misalkan untuk menambah kecepatan motor 1 ke step berikutnya, dapat dilakukan dengan memberikan logika 0 pada bit 0 alamat 51H, maka kecepatan motor 1 akan berubah menuju ke step 2. Untuk merubah data-data kecepatan pada tabel maka diperlukan sebuah tabel lain yang berfungsi untuk menyimpan pointer dari data kecepatan tiap motor. Pada tabel gambar 4, saat itu pointer dari motor 1 sedang berada di alamat 51H dan pointer motor 2 di alamat 54H. Pointer-pointer ini disimpan pada sebuah tabel pointer data kecepatan di mana pointer ini digunakan oleh program pada saat akan dilakukan perubahan kecepatan pada motor. TABEL POINTER DATA KECEPATAN Motor Gambar 5 Tabel Pointer Data Kecepatan berdasar data pada tabel 4 Misalkan akan dilakukan penambahan kecepatan pada motor 1, maka program akan melihat motor 1 pada tabel pointer. Karena pointer pada motor 1 menunjukkan alamat 51H maka bit 0 (urutan bit dari motor 1) pada alamat tersebut diberi logika 0 dan pointer menunjukkan ke alamat 52H serta disimpan kembali ke tabel pointer data kecepatan. Listing 2: ;Penambahan kecepatan ;- Ambil pointer kecepatan motor di alamat ini ditunjuk oleh kode ; yang diterima (R0) ;- Apabila pointer menunjuk ke akhir tabel maka pointer tidak berubah ;- Apabila pointer belum menunjuk ke akhir tabel maka pointer akan menuju ke ; alamat berikutnya ;- Proses penambahan kecepatan dilakukan dengan meng-clear bit-bit dari motor ; yang diakses di alamat yang ditunjuk oleh pointer data kecepatan ; TambahKecepatan: ;Ambil Pointer data kecepatan di tabel ;pointer Cjne A,#StepKecepatan+TabelKecepatan,TidakResetAlamat ;Bila alamat

6 ;terakhir, pointer bertahan ; Ret TidakResetAlamat: Push A ;Pointer menunjuk ke alamat berikut Inc A ;dan simpan kembali di tabel pointer ; Pop A ; Ret ; ;- Ambil pointer data kecepatan dan bila belum mencapai ; alamat awal, tunjuk ke alamat sebelumnya dan simpan kembali ke tabel ;- Bila mencapai alamat awal, maka tetap tahan di alamat tersebut KurangiKecepatan: Mov A,R0 Clr C ; Subb A,#JumlahMotor ;Ambil Kode yang diterima ;Kode yg diterima - JumlahMotor = alam ;pointer data kecepatan dari motor ;yang diakses Mov R0,A ;Ambil pointer data kecepatan dari mot ; Cjne A,#TabelKecepatan,Tidak2resetAlamat ;Bila alamat bukan ;step awal, maka menuju alamat step ;sebelumnya LihatCarry2: Mov A,#TabelKecepatan ;bila alamat awal maka, tahan pointer Ret Tidak2ResetAlamat: Dec A Ret ;tersebut ;Pointer menuju ke alamat step sebelum- ;nya ;simpan di Tabel Pointer Data ;Kecepatan Potongan program di atas berfungsi untuk mengambil data Pointer Data Kecepatan, menunjuk ke alamat selanjutnya dan menyimpannya kembali ke tabel pointer pada saat terjadi penambahan kecepatan atau menunjuk ke alamat sebelumnya dan menyimpan kembali ke tabel pointer pada saat terjadi pengurangan kecepatan. Setelah pointer yang menunjukkan alamat dari data kecepatan terakhir yang diakses oleh motor yang dipilih diketahui maka selanjutnya bit yang menunjukkan motor yang dipilih saat itu akan di set (untuk mengurangi kecepatan) atau di clear (untuk menambah kecepatan). Hal ini dilakukan dengan melakukan loncatan ke lokasi-lokasi tertentu dari program yang berisi perintah SET atau CLR dari bit-bit berdasarkan motor yang dipilih. Listing 3: Mov R0,A ;R0 diisi alamat step kecepatan yang ;akan diubah Mov DPTR,#AksiMotor ;DPTR ke alamat awal tabel aksi motor Mov A,R5 ;Kode yg diterima - 'A' = Urutan Clr C ;aksi motor Subb A,#'A' ; Mov B,#07 ;Urutan aksi motor * 7 (area yg ;digunakan Mul AB ;setiap urutan) ;Lompat ke alamat urutan aksi motor

7 Kembali: AksiMotor ;Tambah Kecepatan/aktifkan Motor 1 Clr A.0 ;Tambah Kecepatan/aktifkan Motor 2 Clr A.1 ;Tambah Kecepatan/aktifkan Motor 3 Clr A.2 ;Tambah Kecepatan/aktifkan Motor 4 Clr A.3 ;Tambah Kecepatan/aktifkan Motor 5 Clr A.4 ;Tambah Kecepatan/aktifkan Motor 6 Clr A.5 ;Tambah Kecepatan/aktifkan Motor 7 Clr A.6 ;Tambah Kecepatan/aktifkan Motor 8 Clr A.7 ;Kurangi Kecepatan/nonaktifkan Motor 1 Setb A.0 ;Kurangi Kecepatan/nonaktifkan Motor 2 Setb A.1 ;Kurangi Kecepatan/nonaktifkan Motor 3 Setb A.2 ;Kurangi Kecepatan/nonaktifkan Motor 4

8 Setb A.3 ;Kurangi Kecepatan/nonaktifkan Motor 5 Setb A.4 ;Kurangi Kecepatan/nonaktifkan Motor 6 Setb A.5 ;Kurangi Kecepatan/nonaktifkan Motor 7 Setb A.6 ;Kurangi Kecepatan/nonaktifkan Motor 8 Setb A.7 Pada listing 3 nilai Akumulator A sebelumnya telah terisi dengan pointer data kecepatan yang telah didapatkan setelah listing 2 dijalankan. Nilai akumulator A ini disimpan dalam R0 dan program akan melakukan lompatan ke lokasi tertentu berdasarkan motor yang dipilih dan perintah yang diberikan. Misalkan perintah yang diberikan adalah perintah penambahan kecepatan pada motor 3, maka sesuai tabel di bawah perintah >C yang diterima oleh sistem. Pengaturan Kecepatan Kode Keterangan >A Tambah Kecepatan Motor 1 >B Tambah Kecepatan Motor 2 >C Tambah Kecepatan Motor 3 >D Tambah Kecepatan Motor 4 >E Tambah Kecepatan Motor 5 >F Tambah Kecepatan Motor 6 >G Tambah Kecepatan Motor 7 >H Tambah Kecepatan Motor 8 >I Kurangi Kecepatan Motor 1 >J Kurangi Kecepatan Motor 2 >K Kurangi Kecepatan Motor 3 >L Kurangi Kecepatan Motor 4 >M Kurangi Kecepatan Motor 5 >N Kurangi Kecepatan Motor 6 >O Kurangi Kecepatan Motor 7 >P Kurangi Kecepatan Motor 8 Pengaturan Keaktifan Kode Keterangan!A Aktifkan Motor 1!B Aktifkan Motor 2!C Aktifkan Motor 3!D Aktifkan Motor 4!E Aktifkan Motor 5!F Aktifkan Motor 6!G Aktifkan Motor 7!H Aktifkan Motor 8!I Nonaktifkan Motor 1!J Nonaktifkan Motor 2!K Nonaktifkan Motor 3!L Nonaktifkan Motor 4!M Nonaktifkan Motor 5!N Nonaktifkan Motor 6!O Nonaktifkan Motor 7!P Nonaktifkan Motor 8 Tabel 1 Tabel Perintah-perintah Pengendalian Motor Perintah > digunakan untuk membedakan perintah pengaturan kecepatan dan perintah pengaturan keaktifan (lihat pada listing program lengkap), sedangkan

9 perintah C yang diterima oleh serial port dalam bentuk hexa adalah 43H, data tersebut dikurangi dengan A atau 41H sehingga menjadi 2. Hal ini diperlukan karena program harus melompat ke urutan ketiga (0 adalah urutan pertama) dari tabel aksi motor. Setiap urutan aksi motor menempati 7 byte lokasi memori oleh karena itu, nilai 2 terlebih dahulu harus dikali dengan 7 lompatan dilakukan. Sedangkan nilai DPTR sebelumnya telah diisi dengan alamat dari Tabel Aksi Motor, maka pada saat instruksi program akan melompat ke alamat Tabel Aksi Motor + 2*7 yaitu bagian penambahan kecepatan motor 3. Di sini bit ke nol yang merupakan bit pengatur kecepatan motor 3 di clear sehingga kecepatan motorpun bertambah. Input Perintah Input perintah untuk pengendalian motor ini diperoleh dari serial port. Proses pengendalian motor dilakukan dengan mengirimkan data di tabel kecepatan ke Port 1 secara terus menerus, oleh karena itu apabila terjadi pengiriman perintah baik untuk merubah kecepatan atau mengatur keaktifan motor, harus dilakukan dengan menggunakan sistem interrupt, sehingga walaupun program sedang sibuk melakukan looping pengiriman data ke Port 1, pada saat terjadi pengiriman perintah melalui serial port, maka program akan berhenti melakukan pengiriman data dan meloncat ke alamat vektor interrupt terlebih dahulu. Pada alamat tersebut, data perintah yang diterima akan dibedakan antara perintah pengaturan kecepatan > dan perintah pengaturan keaktifan motor!. Selanjutnya dilanjutkan dengan data perintah yang menunjukkan motor berapa yang diatur keaktifan ataupun kecepatannya (Lihat tabel 1). Setelah melayani interrupt, maka program akan kembali ke alamat letak terjadinya interrupt dan melanjutkan pengiriman data ke Port 1. Pengaturan Keaktifan Pengaturan keaktifan dilakukan dengan melakukan SET/CLR pada bit-bit yang terdapat pada variabel EnableMotor. Variabel EnableMotor Motor = non aktif 2 = aktif Gambar 6 Variabel EnableMotor Variabel ini selanjutnya akan di OR kan dengan data yang akan dikeluarkan pada Port 1. Sesuai sifat Gerbang OR maka setiap bit yang di OR dengan kondisi 1 (non aktif) maka akan menghasilkan kondisi logika 1 pula, sehingga motor yang terhubung dengan Port 1 melalui rangkaian driver akan berhenti berputar, namun bila bit tersebut di OR dengan kondisi 0 (aktif) maka data kecepatan akan terkirim keluar melalui Port 1.

10 Tabel Data Kecepatan Variabel Enable Motor 1 P P1.7 P1.6 P1.5 P1.4 P1.3 P1.2 P1.1 Gambar 7 Proses Kerja Variable Enable Motor untuk mengatur keaktifan

11 Aktifkan Serial Port Isi Tabel Kecepatan Isi Tabel Alamat Step Kecepatan R0 = Alamat Awal Tabel Kecepatan R7 = Jumlah Step Kecepatan Ambil data di Tabel Kecepatan Aktifkan Motor sesuai EnableMotor Tunjuk Tabel Kecepatan berikut R7 = R7-1 No R7 = 0? Gambar 8 Flowchart Main Program SERIAL INTERRUPT Disable Serial Interrupt Ambil Data Serial '>'? '!'? Ambil Data Serial Ambil Data Serial Data Serial > H? Aktifkan/ Nonaktifkan Motor sesuai data yg diterima Tambah Kecepatan Kurangi Kecepatan Kembali dari Interrupt Gambar 9 Flowchart Serial Interrupt

12 12VDC 12VDC 12VDC VCC VCC VCC D1 IN4001 M1 MOTOR DC D2 IN4001 M2 MOTOR DC D3 IN4001 M3 MOTOR DC R2 330R R4 330R R6 330R P1.0 P1.1 P1.2 R1 33K R7 33K R13 33K VCC VCC Q2 C9014 D4 IN4001 R8 330R Q8 C9014 D7 IN4001 R14 330R Q14 C VDC 12VDC Q1 BD139 Q7 BD139 Q13 BD139 P1.3 P1.4 P1.5 R3 33K M4 MOTOR DC R9 33K M7 MOTOR DC R15 33K VCC VCC Q4 C9014 D5 IN4001 R10 330R Q10 C9014 D8 IN4001 R16 330R Q16 C VDC 12VDC Q3 BD139 Q9 BD139 Q15 BD139 P1.6 P1.7 R5 33K M5 MOTOR DC R11 33K M8 MOTOR DC VCC Q6 C9014 D6 IN4001 R12 330R Q12 C VDC JP1 VCC P P1.1 P P1.3 P P1.5 P P PORT1 DST51 J VDC Q5 BD139 Q11 BD139 M6 MOTOR DC 12VOLT 5A Gambar 10 Skema lengkap Antar Muka Pengendali 8 Motor dengan DST-51 Program lengkap Pengendali 8 Motor dengan DST-51 melalui Serial Port Program ini menggunakan Built In Routine DST-51 yaitu init_serial yang terletak di alamat 1B8H pada DST-51 Monitor.DATA Org 70H EnableMotor Ds 1 ;Variabel pengaktif motor.code Init_Serial EQU 1B8H ;BUILT IN ROUTINE DST-51 ROM EQU 2000H TabelKecepatan EQU 50H PointerKecepatan EQU 41H JumlahMotor EQU 8 StepKecepatan EQU 10 Org ROM ;Reset Vector Ajmp Start ; Org ROM+3H ;External Interrupt 0 Vector Reti ; Org ROM+0BH ;Timer 0 Interrupt Vector Reti ; Org ROM+13H ;External Interrupt 1 Vector Reti ; Org ROM+1BH ;Timer 1 Interrupt Vector Reti ; Org ROM+23H ;Serial Interrupt Vector Ajmp Serial_Interrupt ; ;- Aktifkan Serial Interrupt ;- Isi Tabel Kecepatan dan Tabel Pointer Data Kecepatan

13 ;- Kirim seluruh isi tabel kecepatan ke P1 berulang-ulang ;- Keaktifan motor atau perubahan motor akan terjadi setiap terjadi serial ; interrupt ; Start: Lcall Init_Serial ;Inisial Serial Port 9600 bps Setb EA ;Aktifkan Serial Interrupt Setb ES ; Mov EnableMotor,#00H ;Aktifkan semua motor Acall IsiTabel ;Isi Tabel Kecepatan dan Pointer data kecepatan Loop2Motor: Mov R0,#TabelKecepatan ;R0 menuju ke tabel data kecepatan motor Mov R7,#StepKecepatan ;R7 diisi dengan jumlah step kecepatan LoopMotor: ;Ambil data di tabel keceptan motor Mov B,EnableMotor ;OR kan dengan keaktifan motor Orl A,B ; Mov P1,A ;Kirim ke P1 Inc R0 ;Tunjuk tabel kecepatan berikutnya Djnz R7,LoopMotor ;Lakukan hingga sejumlah step kecepatan Ajmp Loop2Motor ;Kembali ke loop2motor ; ;Isi Tabel Kecepatan dengan FF atau tidak ada kecepatan ;Isi Tabel Alamat Step Kecepatan dengan alamat awal dari Tabel Kecepatan ; IsiTabel: Mov R0,#TabelKecepatan Mov R7,#StepKecepatan ;R0 ke alamat awal tabel ke ;cepatan motor ;R7 diisi dengan jumlah step ;kecepatan LoopKecepatanAwal: ;Isi FFH di seluruh data Inc R0 ;kecepatan motor Djnz R7,LoopkecepatanAwal ; Mov R0,#PointerKecepatan ;R0 ke alamat awal tabel alamat ;step kecepatan motor Mov R7,#JumlahMotor ;R7 dengan jumlah motor IsiAlamatMotor: ;Isi tabel pointer data kecepatan Inc R0 ;dengan alamat awal pointer kecepatan Djnz R7,IsiAlamatMotor ; Ret ; ;Penambahan kecepatan ;- Ambil pointer kecepatan motor di alamat ini ditunjuk oleh kode ; yang diterima (R0) ;- Apabila pointer menunjuk ke akhir tabel maka pointer tidak berubah

14 ;- Apabila pointer belum menunjuk ke akhir tabel maka pointer akan menuju ke ; alamat berikutnya TambahKecepatan: ;Ambil alamat data kecepatan terakhir dari ;motor tersebut Cjne A,#StepKecepatan+TabelKecepatan,TidakResetAlamat ;Bila alamat ;terakhir, kembali ke alamat awal Ret TidakResetAlamat: Push A ;Pointer menunjuk ke alamat berikut Inc A ; ; Pop A ; Ret ; ;- Ambil alamat step kecepatan yang terakhir dan bila belum mencapai ; alamat awal, tunjuk ke alamat sebelumnya dan simpan kembali ke tabel ;- Bila mencapai alamat awal, maka tetap tahan di alamat tersebut KurangiKecepatan: Mov A,R0 ;Ambil Kode yang diterima Clr C ; Subb A,#JumlahMotor ;Kode yg diterima - JumlahMotor = ;alamat ;tabel pointer data kecepatan terakhir ;dari motor ;yang diakses Mov R0,A ;Ambil pointer data kecepatan terakhir ;tersebut Cjne A,#TabelKecepatan,Tidak2resetAlamat ;Bila alamat bukan ;pointer awal, maka menuju alamat step ;sebelumnya LihatCarry2: Mov A,#TabelKecepatan ;bila alamat awal maka, tahan di alamat ;tersebut Ret Tidak2ResetAlamat: Dec A Ret ; ;INTERRUPT SERVICE ROUTINE ; Serial_Interrupt: Clr ES Mov P1,#0FFH Mov A,SBUF ;Menuju ke alamat step sebelumnya ;simpan di tabel alamat step ;Disable Interrupt ;Matikan semua motor sejenak ;Simpan perintah di R5 ; ;Terjemahkan perintah yang diterima dari serial ;- Perintah '>' untuk pengaturan kecepatan

15 ; A...H = Motor 1...Motor 8 ditambah kecepatan ; I...P = Motor 1...Motor 8 dikurangi kecepatan ; Contoh: ; - Menaikkan kecepatan motor 1: >A ; - Mengurangi kecepatan motor 8: >P ; ; Bila kecepatan mencapai maksimal atau minimal maka kecepatan akan bertahan ; di sana ;- Perintah '!' untuk mengatur keaktifan motor ; A...H = Motor 1...Motor 8 aktif ; I...P = Motor 1...Motor 8 non aktif ; Contoh: ; - Mengaktifkan motor 7:!G ; - Menonaktifkan motor 3:!K ; Cjne A,#'>',Bukan_Kecepatan ; Ajmp Kecepatan Bukan_Kecepatan: Cjne A,#'!',Kembali ; ;Mengatur keaktifkan Motor ;Keaktifan motor diatur oleh variabel EnableMotor ;Variabel ini terdiri dari 8 bit di mana bit 0 adalah Motor 1 hingga bit 8 adalah ;motor 8. Bit 1 menandakan motor non aktif dan bit 0 menandakan motor aktif ; Clr RI ;Ambil kode keaktifan motor Jnb RI,* ; Mov A,SBUF ; Clr C ; Subb A,#'A' ;Kode keaktifan - 'A' = urutan aksi ;motor Mov DPTR,#AksiMotor ;DPTR menunjuk ke alamat awal aksi ;motor Mov R0,#EnableMotor ;R0 menunjuk alamat variabel ;keaktifan Mov B,#07 Mul AB ;Urutan aksi motor * 7 (ukuran area yg ;dipakai utk tiap urutan aksi motor) ;Lompat ke alamat urutan aksi motor Kecepatan: Clr RI Jnb RI,* Mov R5,SBUF ; ;- Periksa apakah perintah pengurangan atau penambahan kecepatan ; Mov R0,05H ;Kode Motor yang diakses -> R0 Cjne R0,#PointerKecepatan+JumlahMotor,LihatCarry ;Kode yang ;diterima ;> dari 'H' maka pengurangan kecepatan LihatCarry: ; Jnc PerintahPengurangan ; ;Bila tidak maka penambahan kecepatan Acall TambahKecepatan ; ;

16 ;- Proses penambahan kecepatan/mengaktifkan motor dilakukan dengan ; meng-clear bit-bit dari motor yang diakses di alamat yang ditunjuk ; oleh pointer data kecepatan ;- Proses pengurangan kecepatan/menonaktifkan motor dilakukan dengan men-set ; bit-bit dari motor yang diakses di alamat yang ditunjuk oleh pointer data ; kecepatan ; AksiMotor2: Mov R0,A ;R0 diisi alamat step kecepatan yang ;akan diubah Mov DPTR,#AksiMotor ;DPTR ke alamat awal tabel aksi motor Mov A,R5 ;Kode yg diterima - 'A' = Urutan Clr C ;aksi motor Subb A,#'A' ; Mov B,#07 ;Urutan aksi motor * 7 (area yg ;digunakan Mul AB ;setiap urutan) ;Lompat ke alamat urutan aksi motor PerintahPengurangan: Acall KurangiKecepatan Ajmp AksiMotor2 Kembali: Clr RI Clr TI Setb ES Reti ;Hapus Flag Receive ;Hapus Flag Transmit ;Enable Serial Interrupt ;Kembali dari interrupt ; ;Lakukan set atau clear bit di alamat yang ditunjuk oleh R0 ;- Untuk mengatur kecepatan ; - R0 diisi alamat step kecepatan ; - Set/clear di bit yang tergantung dari motor yang diakses pada alamat yg ; ditunjuk R0 ;- Untuk mengatur keaktifan ; - R0 diisi alamat variabel keaktifan motor (EnableMotor) ; - Set/clear di bit yang tergantung dari motor yang diakses ; AksiMotor: ;Tambah Kecepatan/aktifkan Motor 1 Clr A.0 ;Tambah Kecepatan/aktifkan Motor 2 Clr A.1 ;Tambah Kecepatan/aktifkan Motor 3 Clr A.2 ;Tambah Kecepatan/aktifkan Motor 4

17 Clr A.3 ;Tambah Kecepatan/aktifkan Motor 5 Clr A.4 ;Tambah Kecepatan/aktifkan Motor 6 Clr A.5 ;Tambah Kecepatan/aktifkan Motor 7 Clr A.6 ;Tambah Kecepatan/aktifkan Motor 8 Clr A.7 ;Kurangi Kecepatan/nonaktifkan Motor 1 Setb A.0 ;Kurangi Kecepatan/nonaktifkan Motor 2 Setb A.1 ;Kurangi Kecepatan/nonaktifkan Motor 3 Setb A.2 ;Kurangi Kecepatan/nonaktifkan Motor 4 Setb A.3 ;Kurangi Kecepatan/nonaktifkan Motor 5 Setb A.4 ;Kurangi Kecepatan/nonaktifkan Motor 6 Setb A.5 ;Kurangi Kecepatan/nonaktifkan Motor 7 Setb A.6 ;Kurangi Kecepatan/nonaktifkan Motor 8

18 Setb A.7

PENGATURAN KECEPATAN MOTOR DENGAN PC OLEH DST-5 2

PENGATURAN KECEPATAN MOTOR DENGAN PC OLEH DST-5 2 PENGATURAN KECEPATAN MOTOR DENGAN PC OLEH DST-5 2 Penggunaan motor DC dewasa ini sudah sangatlah umum, salah satu kelebihan motor DC adalah relatif gampang didapat dan mudah diatur kecepatan putarnya.

Lebih terperinci

Wireless Infrared Printer dengan DST-51 (Pengambilan Data dari Standard Parallel Port)

Wireless Infrared Printer dengan DST-51 (Pengambilan Data dari Standard Parallel Port) Wireless Infrared Printer dengan DST-51 (Pengambilan Data dari Standard Parallel Port) Untuk merancang sebuah perangkat yang dapat mengirimkan data dari PC Parallel Port ke Printer secara wireless, maka

Lebih terperinci

Teknik Interface Keypad 4x3 ke DST-51

Teknik Interface Keypad 4x3 ke DST-51 Teknik Interface Keypad 4x3 ke DST-51 Keypad 4x3 di sini adalah sebuah keypad matrix dengan susunan empat baris dan tiga kolom dengan sebuah common. R1 R2 R3 R4 1 2 3 4 5 6 7 8 9 * 9 # C1 C2 C3 Gambar

Lebih terperinci

Register-register MT8888

Register-register MT8888 Register-register MT8888 MT8888 mempunyai 3 buah register yaitu Register Kontrol untuk mengatur kerja IC MT8888, Register Status untuk melihat status IC MT8888 dan Register Data untuk mengirim dan menerima

Lebih terperinci

MENAMPILKAN 1000 KARAKTER PESAN PADA MODUL M1632 LCD OLEH MODUL DST-51

MENAMPILKAN 1000 KARAKTER PESAN PADA MODUL M1632 LCD OLEH MODUL DST-51 MENAMPILKAN 1000 KARAKTER PESAN PADA MODUL M1632 LCD OLEH MODUL DST-51 Aplikasi ini akan membahas bagaimana proses penampilan pesan sebanyak 1000 karakter pada layar M1632 LCD. Untuk menampilkan pesan

Lebih terperinci

Memprogram Port sebagai Output dan Input Sederhana

Memprogram Port sebagai Output dan Input Sederhana BAGIAN 1 Tujuan Pembelajaran Umum: 1. Mahasiswa trampil memprogram Port sebagai Input dan Output sederhana menggunakan bahasa pemrograman assembly Tujuan Pembelajaran Khusus: 1. Mahasiswa memahami Konstruksi

Lebih terperinci

TERJADI INTERRUPT MELAYANI INTERRUPT KEMBALI MENERUSKAN PROGRAM YANG TERHENTI PROGRAM YANG SEDANG BERJALAN. Gambar 4.1 Interrupt

TERJADI INTERRUPT MELAYANI INTERRUPT KEMBALI MENERUSKAN PROGRAM YANG TERHENTI PROGRAM YANG SEDANG BERJALAN. Gambar 4.1 Interrupt 1. Interrupt Interrupt adalah suatu kejadian atau peristiwa yang menyebabkan mikrokontroler berhenti sejenak untuk melayani interrupt tersebut. Program yang dijalankan pada saat melayani interrupt disebut

Lebih terperinci

KOMUNIKASI DATA DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK RS485

KOMUNIKASI DATA DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK RS485 KOMUNIKASI DATA NGAN MENGGUNAKAN TEKNIK RS485 RS485 adalah teknik komunikasi data serial yang dikembangkan di tahun 1983 di mana dengan teknik ini, komunikasi data dapat dilakukan pada jarak yang cukup

Lebih terperinci

PENAMPIL TOMBOL-TOMBOL REMOTE CONTROL SONY PADA M1632 LCD OLEH MODUL DST-52

PENAMPIL TOMBOL-TOMBOL REMOTE CONTROL SONY PADA M1632 LCD OLEH MODUL DST-52 PENAMPIL TOMBOL-TOMBOL REMOTE CONTROL SONY PADA M1632 LCD OLEH MODUL DST-52 Pada artikel-artikel sebelumnya, banyak dibahas penggunaan keypad ataupun PC keyboard sebagai media input data dari suatu system

Lebih terperinci

PENGHITUNG WAKTU DENGAN TAMPILAN LCD M1632 OLEH DST-51

PENGHITUNG WAKTU DENGAN TAMPILAN LCD M1632 OLEH DST-51 PENGHITUNG WAKTU DENGAN TAMPILAN LCD M1632 OLEH DST-51 Penghitung waktu yang dimulai dengan menekan tombol start dan stop atau lebih dikenal dengan stop watch sudah banyak terdapat pada arloji-arloji digital

Lebih terperinci

ANTAR MUKA DST-51 DENGAN MODUL AD-0809

ANTAR MUKA DST-51 DENGAN MODUL AD-0809 ANTAR MUKA DST-51 DENGAN MODUL AD-0809 ADC0809 ADC0809 adalah IC pengubah tegangan analog menjadi digital dengan masukan berupa 8 kanal input yang dapat dipilih. IC ADC0809 dapat melakukan proses konversi

Lebih terperinci

PROGRAMMABLE TIMER DENGAN TAMPILAN M1632 LCD MENGGUNAKAN MODUL DST-51

PROGRAMMABLE TIMER DENGAN TAMPILAN M1632 LCD MENGGUNAKAN MODUL DST-51 PROGRAMMABLE TIMER DENGAN TAMPILAN M1632 LCD MENGGUNAKAN MODUL DST-51 Perangkat timer adalah merupakan sebuah perangkat yang seringkali digunakan untuk sebuah sistem elektronik. Artikel berikut ini akan

Lebih terperinci

TAMPILKAN NADA DTMF DAN DERING TELEPHONE OLEH MODUL DF-88 DAN MODUL DST-51 PADA LCD

TAMPILKAN NADA DTMF DAN DERING TELEPHONE OLEH MODUL DF-88 DAN MODUL DST-51 PADA LCD TAMPILKAN NADA DTMF DAN DERING TELEPHONE OLEH MODUL DF-88 DAN MODUL DST-51 PADA LCD Pada aplikasi-aplikasi menggunakan saluran telephone, proses deteksi nada DTMF maupun sinyal dering seringkali dibutuhkan,

Lebih terperinci

Aplikasi Pengukur Ketinggian Air Mengunakan Modul Sensor InfraRed Object Detector

Aplikasi Pengukur Ketinggian Air Mengunakan Modul Sensor InfraRed Object Detector Aplikasi Pengukur Ketinggian Air Mengunakan Modul Sensor InfraRed Object Detector Pada tempat-tempat penampungan air seringkali diperlukan suatu mekanisme untuk mengetahui ketinggian permukaan air. Seringkali

Lebih terperinci

PENGGUNAAN KEYPAD 4X3 DAN PC KEYBOARD PADA MODUL DST-52 DENGAN TAMPILAN M1632 LCD

PENGGUNAAN KEYPAD 4X3 DAN PC KEYBOARD PADA MODUL DST-52 DENGAN TAMPILAN M1632 LCD PENGGUNAAN KEYPAD 4X3 DAN PC KEYBOARD PADA MODUL DST-52 DENGAN TAMPILAN M1632 LCD Setelah kita bahas penggunaan keypad 4x3 (tipe KP-43865) dengan metode penulisan karakter pada keypad handphone di mana

Lebih terperinci

Wireless Infrared Printer dengan DST-51 (Komunikasi Infra Merah dengan DST-51)

Wireless Infrared Printer dengan DST-51 (Komunikasi Infra Merah dengan DST-51) Wireless Infrared Printer dengan DST-5 (Komunikasi Infra Merah dengan DST-5) Komunikasi Infra Merah dilakukan dengan menggunakan dioda infra merah sebagai pemancar dan modul penerima infra merah sebagai

Lebih terperinci

PORT PARALEL MIKROKONTROLER ATMEL AT89C51

PORT PARALEL MIKROKONTROLER ATMEL AT89C51 Lab Elektronika Industri Mikrokontroler - 1 PORT PARALEL MIKROKONTROLER ATMEL AT89C51 I. FISIK AT89C51 Mikrokontroler AT89C51 umumnya mempunyai kemasan 40 pin seperti gambar berikut. AT89C51 mempunyai

Lebih terperinci

DESKRIPSI SINGKAT INSTRUKSI-INSTRUKSI PADA AT89S51

DESKRIPSI SINGKAT INSTRUKSI-INSTRUKSI PADA AT89S51 DESKRIPSI SINGKAT INSTRUKSI-INSTRUKSI PADA AT89S51 (Dikemas oleh : Sumarna, Jurdik Fisika, FMIPA, UNY E-mail : [email protected]) No. Instruksi Deskripsi Contoh 1. ADD A,R n Menambahkan isi A dengan isi

Lebih terperinci

MESIN KETIK ELEKTRONIK DENGAN TAMPILAN M1632 LCD OLEH MODUL DST-52

MESIN KETIK ELEKTRONIK DENGAN TAMPILAN M1632 LCD OLEH MODUL DST-52 MESIN KETIK ELEKTRONIK DENGAN TAMPILAN M1632 LCD OLEH MODUL DST-52 Akhir-akhir ini, keberadaan mesin ketik sudah mulai tergusur dengan adanya printer. Namun sebuah printer membutuhkan komputer untuk mengendalikannya.

Lebih terperinci

AD Channel AD Conversion

AD Channel AD Conversion AD-0809 8 Channel AD Conversion Fitur: - 8 Channel Multiplex Analog Input - 0 5 Volt Analog Input - 4 Interrupt Output Selector - 4 Address Selector - Kompatibel DST-51 Minimum System & SC-51 - Free Running

Lebih terperinci

Percobaan 5 PENGENALAN MIKROKONTROLER 8051

Percobaan 5 PENGENALAN MIKROKONTROLER 8051 Percobaan 5 PENGENALAN MIKROKONTROLER 8051 I. Tujuan 1. Mempelajari arsitektur mikrokontroller 8051 2. Memahami macam-macam interrupt yang ada pada mikrokontroller 8051 3. Memahami penggunaan I/O port

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DAN HASIL UJI COBA RANGKAIAN

BAB IV ANALISA DAN HASIL UJI COBA RANGKAIAN BAB IV ANALISA DAN HASIL UJI COBA RANGKAIAN 4.1 Prinsip Kerja Rangkaian Rangkaian ini bekerja berdasarkan dua buah sensor yang di pasang secara berdampingan, dengan memanfaatkan Phototransistor sebagai

Lebih terperinci

APLIKASI MODUL DST -52 SEBAGAI JAM DIGITAL DENGAN INPUT DARI PC KEYBOARD DAN M1632 LCD SEBAGAI PENAMPIL

APLIKASI MODUL DST -52 SEBAGAI JAM DIGITAL DENGAN INPUT DARI PC KEYBOARD DAN M1632 LCD SEBAGAI PENAMPIL APLIKASI MODUL DST -52 SEBAGAI JAM DIGITAL DENGAN INPUT DARI PC KEYBOARD DAN M1632 LCD SEBAGAI PENAMPIL Pada artikel kali ini akan dibahas contoh bagaimana menggabungkan antara modul RTC-1287, modul LCD

Lebih terperinci

Aplikasi Modul InfraRed Object Detector Sebagai Pengukur Jarak

Aplikasi Modul InfraRed Object Detector Sebagai Pengukur Jarak Aplikasi Modul InfraRed Object Detector Sebagai Pengukur Jarak Pada saat ini perkembangan teknologi sudah sangatlah maju, banyak sekali penemuan-penemuan baru. Misalnya dalam hal teknologi robot, sudah

Lebih terperinci

BAB 3 PERANCANGAN ALAT DAN PROGRAM

BAB 3 PERANCANGAN ALAT DAN PROGRAM BAB 3 PERANCANGAN ALAT DAN PROGRAM 3.1. DIAGRAM BLOK display Penguat sinyal Sensor 1 keypad AT89S51 Penguat sinyal Sensor 5 relay alarm pompa Keterangan diagram blok: Sensor air yang berfungsi untuk mengetahui

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Dalam bab ini penulis akan membahas tentang komponen-komponen yang

BAB 2 LANDASAN TEORI. Dalam bab ini penulis akan membahas tentang komponen-komponen yang BAB 2 LANDASAN TEORI Dalam bab ini penulis akan membahas tentang komponen-komponen yang digunakan dalam seluruh unit sistem ini. Agar pembahasan tidak melebar dan menyimpang dari topik utama laporan ini,

Lebih terperinci

LAMPIRAN D DATA SHEET

LAMPIRAN D DATA SHEET LAMPIRAN D DATA SHEET D-1 D-2 D-3 D-4 D-5 D-6 D-7 D-8 D-9 D-10 D-11 Instruksi-instruksi Keluarga MCS51 A. Operasi Aritmatika 1. ADD ADD A,Rn Tambahkan Akumulator A dengan Rn di mana n = 0 7 dan simpan

Lebih terperinci

BAHASA PEMOGRAMAN AT89S/Cxx (assembly)

BAHASA PEMOGRAMAN AT89S/Cxx (assembly) 1 BAHASA PEMOGRAMAN AT89S/Cxx (assembly) Operand dalam pemograman mikrokontroler adalah data yang tersimpan dalam memory, register dan input/output (I/O). Instruksi yang dikenal secara umum dikelompokan

Lebih terperinci

Memprogram Interupsi AT89S51

Memprogram Interupsi AT89S51 BAGIAN 1 AT89S51 Tujuan Pembelajaran Umum: 1. Mahasiswa trampil memprogram interupsi Tujuan Pembelajaran Khusus: 1. Mahasiswa memahami dasar-dasar interupsi Mikrokontroler AT89S51 2. Mahasiswa memahami

Lebih terperinci

BAB III ANALISA DAN CARA KERJA RANGKAIAN

BAB III ANALISA DAN CARA KERJA RANGKAIAN BAB III ANALISA DAN CARA KERJA RANGKAIAN 3.1 Analisa Rangkaian Secara Blok Diagram Pada rangkaian yang penulis buat berdasarkan cara kerja rangkaian secara keseluruhan penulis membagi rangkaian menjadi

Lebih terperinci

DASAR INPUT/OUTPUT (1) (PORT PPI DAN PORT 1 SEBAGAI OUTPUT)

DASAR INPUT/OUTPUT (1) (PORT PPI DAN PORT 1 SEBAGAI OUTPUT) Percobaan DASAR INPUT/OUTPUT () (PORT PPI DAN PORT SEBAGAI OUTPUT) Menggunakan DT-5 MinSys Mengamati keluaran data berupa nyala LED setelah proses pemindahan data (akses eksternal) dari sebuah register

Lebih terperinci

PENULISAN KARAKTER DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK PENULISAN PADA KEYPAD HANDPHONE OLEH MODUL DST-51, KEYPAD 4X3 DAN M1632 LCD

PENULISAN KARAKTER DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK PENULISAN PADA KEYPAD HANDPHONE OLEH MODUL DST-51, KEYPAD 4X3 DAN M1632 LCD PENULISAN KARAKTER DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK PENULISAN PADA KEYPAD HANDPHONE OLEH MODUL DST-51, KEYPAD 4X3 DAN M1632 LCD Keypad 4x3 adalah merupakan keypad dengan konfigurasi 4 baris dan 3 kolom dan terdiri

Lebih terperinci

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA. Pengujian terhadap sistem yang telah dibuat dilakukan untuk mengetahui

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA. Pengujian terhadap sistem yang telah dibuat dilakukan untuk mengetahui BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA Pengujian terhadap sistem yang telah dibuat dilakukan untuk mengetahui apakah sistem yang telah dibuat sudah dapat digunakan sesuai dengan perencanaan yang ada. Pengujian dan

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN SISTEM. dirancanag. Setiap diagram blok mempunyai fungsi masing-masing. Adapun diagram

BAB III RANCANGAN SISTEM. dirancanag. Setiap diagram blok mempunyai fungsi masing-masing. Adapun diagram BAB III RANCANGAN SISTEM 3.1. Diagram Blok Rangkaian Diagram blok merupakan gambaran dasar dari rangkaian sistem yang akan dirancanag. Setiap diagram blok mempunyai fungsi masing-masing. Adapun diagram

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Agar kendaraan lebih teratur dan tidak terlalu padat, biasanya tempat perparkiran ini dibagi

BAB 2 LANDASAN TEORI. Agar kendaraan lebih teratur dan tidak terlalu padat, biasanya tempat perparkiran ini dibagi BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Inteligent Parking System Agar kendaraan lebih teratur dan tidak terlalu padat, biasanya tempat perparkiran ini dibagi menjadi beberapa tempat. Dengan demikian kendaraan yang

Lebih terperinci

THERMOMETER DIGITAL DENGAN MODUL DST-51, ADC-0809 DAN LCD 2X16

THERMOMETER DIGITAL DENGAN MODUL DST-51, ADC-0809 DAN LCD 2X16 THERMOMETER DIGITAL DENGAN MODUL DST-51, ADC-0809 DAN LCD 2X16 LCD 2x16 Modul DST-51 Modul ADC-0809 Amplifier LM35 Gambar 1 Blok Diagram Sistem Aplikasi thermometer digital dilakukan dengan melakukan konversi

Lebih terperinci

Lab Elektronika Industri Mikrokontroler - 1 AT89C1051

Lab Elektronika Industri Mikrokontroler - 1 AT89C1051 Lab Elektronika Industri Mikrokontroler - 1 AT89C1051 I. FITUR AT89C1051 Kompatibel dengan produk MCS51 1k byte program flash ROM yang dapa diprogram ulang hingga 1000 kali Tegangan operasi 2.7 volt hingga

Lebih terperinci

Ringkasan Set Instruksi Dan Mode pengalamatan ( Addressing Mode )

Ringkasan Set Instruksi Dan Mode pengalamatan ( Addressing Mode ) Ringkasan Set Instruksi Dan Mode pengalamatan ( Addressing Mode ) Mikroprosessor 8051, sebagaimana terdaftar dalam 8051 set instruction in numerical order memiliki sekumpulan instruksi yang terintegrasi

Lebih terperinci

AKSES MEMORI Menggunakan DT-51 MinSys

AKSES MEMORI Menggunakan DT-51 MinSys AKSES MEMORI Menggunakan DT-51 MinSys Mengakses eksternal memori dan data memori pada DT-51 Minimum sistem. Membuat program untuk penulisan atau pembacaan data pada memori eksternal DT-51 MinSys. Memori

Lebih terperinci

Laporan Modul 2, EL3006 Timer/Counter dan Interrupt Jongguran Sondang DN ( )/ Kelompok 48/ Jumat, 14 Maret 2008 Asisten: Virgilius

Laporan Modul 2, EL3006 Timer/Counter dan Interrupt Jongguran Sondang DN ( )/ Kelompok 48/ Jumat, 14 Maret 2008 Asisten: Virgilius Laporan Modul 2, EL3006 Timer/Counter dan Interrupt Jongguran Sondang DN (132 05 110)/ Kelompok 48/ Jumat, 14 Maret 2008 Asisten: Virgilius Abstrak pada praktikum kali ini, praktikan diharapkan mampu membuat

Lebih terperinci

Tabel Perbandingan ROM dan RAM pada beberapa seri ATMEL

Tabel Perbandingan ROM dan RAM pada beberapa seri ATMEL Pendahuluan Mikroprosessor 8051 (Struktur dan Organisasi Memori, SFR ) Tabel Perbandingan ROM dan RAM pada beberapa seri ATMEL A. Organisasi Memori Mikroprosesor 8051 Pada mikrokontroler keluarga MCS51

Lebih terperinci

INSTRUKSI DAN BAHASA PEMOGRAMAN MIKROKONTROLER

INSTRUKSI DAN BAHASA PEMOGRAMAN MIKROKONTROLER INSTRUKSI DAN BAHASA PEMOGRAMAN MIKROKONTROLER Yoyo Somantri dan Erik Haritman Dosen Jurusan Pendidikan Teknik Elektro FPTK Universitas Pendidikan Indonesia Pendahuluan Dalam bab ini akan dibahas tujuan

Lebih terperinci

Percobaan 7 INTERFACE MIKROKONTROLER DAN MOTOR STEPPER

Percobaan 7 INTERFACE MIKROKONTROLER DAN MOTOR STEPPER Percobaan 7 INTERFACE MIKROKONTROLER DAN MOTOR STEPPER I. Tujuan 1. Mengetahui cara menggerakkan motor stepper, serta cara kerjanya. 2. Dapat membuat program untuk mengontrol motor stepper 3. Mengenal,

Lebih terperinci

PORT SERIAL MIKROKONTROLER ATMEL AT89C51

PORT SERIAL MIKROKONTROLER ATMEL AT89C51 Lab Elektronika Industri Mikrokontroler - 1 PORT SERIAL MIKROKONTROLER ATMEL AT89C51 I. FISIK AT89C51 Mikrokontroler AT89C51 umumnya mempunyai kemasan 40 pin seperti gambar berikut. AT89C51 telah dilengkapi

Lebih terperinci

Antar Muka Modul RTC-1287 dengan Modul DST-51

Antar Muka Modul RTC-1287 dengan Modul DST-51 Antar Muka Modul RTC-1287 dengan Modul DST-51 Real Time Clock DS1287/DS12887 DS1287/DS12887 adalah merupakan komponen utama dari modul RTC-1287 di mana IC ini berfungsi sebagai sebuah rangkaian jam digital

Lebih terperinci

SISTEM INTERUPSI MIKROKONTROLER ATMEL

SISTEM INTERUPSI MIKROKONTROLER ATMEL Lab Elektronika Industri Mikrokontroler 1 I. INTERUPSI SISTEM INTERUPSI MIKROKONTROLER ATMEL Interupsi adalah pengubahan urutan pelaksanaan program karena adanya suatu kejadian atau instruksi yang perlu

Lebih terperinci

I/O dan Struktur Memori

I/O dan Struktur Memori I/O dan Struktur Memori Mikrokontroler 89C51 adalah mikrokontroler dengan arsitektur MCS51 seperti 8031 dengan memori Flash PEROM (Programmable and Erasable Read Only Memory) DESKRIPSI PIN Nomor Pin Nama

Lebih terperinci

Memprogram Interface Motor

Memprogram Interface Motor BAGIAN 1 Tujuan Pembelajaran Umum: 1. Mahasiswa trampil memprogram interface motor Tujuan Pembelajaran Khusus: 1. Mahasiswa memahami dasar-dasar interface motor stepper 2. Mahasiswa memahami pemrograman

Lebih terperinci

Percobaan 8 INTERFACE MIKROKONTROLER DAN KOMPUTER SECARA SERIAL

Percobaan 8 INTERFACE MIKROKONTROLER DAN KOMPUTER SECARA SERIAL Percobaan 8 INTERFACE MIKROKONTROLER DAN KOMPUTER SECARA SERIAL I. Tujuan 1. Memahami komunikasi serial. 2. Memahami cara mengggunakan interrupt serial pada mikrokontroller 8051. 3. Memahami cara kerja

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 PERANGKAT KERAS 2.1.1 Arsitektur Mikrokontroler AT89S51 Mikrokontroler, sebagai suatu terobosan teknologi mikrokontoler dan mikrokomputer, hadir memenuhi kebutuhan pasar (market

Lebih terperinci

DASAR INPUT/OUTPUT (2) (PORT PPI DAN PORT 1 SEBAGAI INPUT/OUTPUT)

DASAR INPUT/OUTPUT (2) (PORT PPI DAN PORT 1 SEBAGAI INPUT/OUTPUT) PERCOBAAN 2 DASAR INPUT/OUTPUT (2) (PORT PPI DAN PORT 1 SEBAGAI INPUT/OUTPUT) Menggunakan DT-51 MinSys Mengamati keluaran data berupa nyala LED setelah proses pemindahan data (akses eksternal) dari sebuah

Lebih terperinci

TIMER DAN COUNTER MIKROKONTROLER ATMEL

TIMER DAN COUNTER MIKROKONTROLER ATMEL Lab Elektronika Industri Mikrokontroler - 1 TIMER DAN COUNTER MIKROKONTROLER ATMEL I. TIMER DAN COUNTER Timer atau counter pada dasarnya adalah sebuah pencacah. Pencacah itu bisa dipakai sebagai pewaktu

Lebih terperinci

INTRUKSI-INTRUKSI BAHASA PEMROGRAMAN ASSEMBLY

INTRUKSI-INTRUKSI BAHASA PEMROGRAMAN ASSEMBLY INTRUKSI-INTRUKSI BAHASA PEMROGRAMAN ASSEMBLY Mubtasir [email protected] Abstrak Program yang ditulis dengan bahasa Assembly terdiri dari label, kode mnemonic dan lain sebagainya, pada umumnya dinamakan

Lebih terperinci

Menggunakan Bahasa Pemrograman Assembly

Menggunakan Bahasa Pemrograman Assembly BAGIAN 1 Tujuan Pembelajaran Umum: 1. Mahasiswa trampil menggunakan bahasa pemrograman assembly Tujuan Pembelajaran Khusus: 1. Mahasiswa memahami konstruksi program assembly 2. Mahasiswa memahami proses

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Mikrokontroler, sebagai suatu terobosan teknologi mikrokontroler dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Mikrokontroler, sebagai suatu terobosan teknologi mikrokontroler dan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. PERANGKAT KERAS 2.1.1. Arsitektur Mikrokontroler AT89S51 Mikrokontroler, sebagai suatu terobosan teknologi mikrokontroler dan mikrokomputer, hadir memenuhi kebutuhan pasar

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Mikrokontroller, sebagai suatu terobosan teknologi mikrokontroler dan microkomputer,

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Mikrokontroller, sebagai suatu terobosan teknologi mikrokontroler dan microkomputer, BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1.Hardware 2.1.1 Mikrokontroler AT89S51 Mikrokontroller, sebagai suatu terobosan teknologi mikrokontroler dan microkomputer, hadir memenuhi kebutuhan pasar (market need) dan teknologi

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 6 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Perangkat Keras 2.1.1 Bahasa Assembly MCS-51 Bahasa yang digunakan untuk memprogram IC mikrokontroler AT89S51 adalah bahasa assembly untuk MCS-51. angka 51 merupakan jumlah instruksi

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 7 BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 1 Konveyor Konveyor hanya bergerak ke satu arah saja, konveyor digerakkan dengan motor stepper 12V type. Sinyal keluaran dari motor stepper untuk menggerakkan konveyor dirangkaikan

Lebih terperinci

DT-51 Application Note

DT-51 Application Note DT-51 Application Note AN14 - How 2 Use DT-51 KND with DT-51 MinSys ver 3.0 oleh: Tim IE & Sapto Jayadi Sutandi (Universitas Kristen Petra) Sesuai namanya, application note ini menjelaskan tentang penggunaan

Lebih terperinci

PERCOBAAN 11 PULSE WIDHT MODULATION

PERCOBAAN 11 PULSE WIDHT MODULATION PERCOBAAN 11 PULSE WIDHT MODULATION TUJUAN: 1. Memahami prinsip dasar PWM 2. Memahami rangkaian Driver Motor DC 3. Memahami pemrograman assembly untuk pengaturan PWM Konsep Dasar PWM Salah satu cara yang

Lebih terperinci

SISTEM PENGONTROLAN ALAT ELEKTRONIK DENGAN MEDIA KOMPUTER DAN MIKROKONTROLER AT89C51 MELALUI MEDIA KOMUNIKASI SERIAL PORT RS232

SISTEM PENGONTROLAN ALAT ELEKTRONIK DENGAN MEDIA KOMPUTER DAN MIKROKONTROLER AT89C51 MELALUI MEDIA KOMUNIKASI SERIAL PORT RS232 SISTEM PENGONTROLAN ALAT ELEKTRONIK DENGAN MEDIA KOMPUTER DAN MIKROKONTROLER AT89C51 MELALUI MEDIA KOMUNIKASI SERIAL PORT RS232 Oleh : Tateng Sukendar Dosen Teknik Elektro - Universitas Suryadarma Abstrak

Lebih terperinci

PETUNJUK PEMROGRAMAN DAN SET INSTRUKSI

PETUNJUK PEMROGRAMAN DAN SET INSTRUKSI Lab Elektronika Industri Mikrokontroler - 1 PETUNJUK PEMROGRAMAN DAN SET INSTRUKSI I. ORGANISASI MEMORI AT89C51 AT89C51 memisahkan antara memori untuk program dan untuk data dalam FLASH dan RAM. Metode

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Perangkat Keras (Hardware)

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Perangkat Keras (Hardware) BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). Perangkat keras yang dihasilkan berupa modul atau alat pendeteksi

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM. Secara garis besar rangkaian pengendali peralatan elektronik dengan. blok rangkaian tampak seperti gambar berikut :

BAB III PERANCANGAN SISTEM. Secara garis besar rangkaian pengendali peralatan elektronik dengan. blok rangkaian tampak seperti gambar berikut : BAB III PERANCANGAN SISTEM 3.1. Diagram Blok Secara garis besar rangkaian pengendali peralatan elektronik dengan menggunakan PC, memiliki 6 blok utama, yaitu personal komputer (PC), Mikrokontroler AT89S51,

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM BAB III PERANCANGAN SISTEM Bab ini akan membahas tentang perancangan sistem deteksi keberhasilan software QuickMark untuk mendeteksi QRCode pada objek yang bergerak di conveyor. Garis besar pengukuran

Lebih terperinci

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM. pada sistem pengendali lampu telah dijelaskan pada bab 2. Pada bab ini akan dijelaskan

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM. pada sistem pengendali lampu telah dijelaskan pada bab 2. Pada bab ini akan dijelaskan BAB 3 PERANCANGAN SISTEM Konsep dasar mengendalikan lampu dan komponen komponen yang digunakan pada sistem pengendali lampu telah dijelaskan pada bab 2. Pada bab ini akan dijelaskan perancangan sistem

Lebih terperinci

BAB IV PENGUJIAN DAN EVALUASI SISTEM. Pengujian dan evaluasi sistem pada tugas akhir ini meliputi perangkat

BAB IV PENGUJIAN DAN EVALUASI SISTEM. Pengujian dan evaluasi sistem pada tugas akhir ini meliputi perangkat BAB IV PENGUJIAN DAN EVALUASI SISTEM Pengujian dan evaluasi sistem pada tugas akhir ini meliputi perangkat keras elektonika dan perangkat lunak yang telah dibuat. Pengujian pada perangkat keras elektronika

Lebih terperinci

Memprogram Interface Display

Memprogram Interface Display BAGIAN 1 Tujuan Pembelajaran Umum: 1. Mahasiswa trampil memprogram interface display Tujuan Pembelajaran Khusus: 1. Mahasiswa memahami dasar-dasar interface display 2. Mahasiswa trampil memprogram interface

Lebih terperinci

MIKROKONTROLER Arsitektur Mikrokontroler AT89S51

MIKROKONTROLER Arsitektur Mikrokontroler AT89S51 MIKROKONTROLER Arsitektur Mikrokontroler AT89S51 Ringkasan Pendahuluan Mikrokontroler Mikrokontroler = µp + Memori (RAM & ROM) + I/O Port + Programmable IC Mikrokontroler digunakan sebagai komponen pengendali

Lebih terperinci

Mengenal bahasa assembly

Mengenal bahasa assembly Mengenal bahasa assembly adiatma [email protected] Abstrak Komputer adalah mesin penghitung elektronik yang cepat dan dapat menerima informasi input digital, kemudian memprosesnya sesuai dengan program

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Mikrokontroler AT89S52 termasuk kedalam keluarga MCS-51 merupakan suatu. dua macam memori yang sifatnya berbeda yaitu:

BAB 2 LANDASAN TEORI. Mikrokontroler AT89S52 termasuk kedalam keluarga MCS-51 merupakan suatu. dua macam memori yang sifatnya berbeda yaitu: BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Perangkat Keras 2.1.1 Mikrokontroler AT89S52 Mikrokontroler AT89S52 termasuk kedalam keluarga MCS-51 merupakan suatu mikrokomputer CMOS 8 bit dengan daya rendah, kemampuan tinggi,

Lebih terperinci

4. Port Input/Output Mikrokontroler MCS-51

4. Port Input/Output Mikrokontroler MCS-51 4. Port Input/Output Mikrokontroler MCS-51 Mikrokontroler MCS-51 memiliki 2 jenis port input/output, yaitu port I/O parallel dan port I/O serial. Port I/O parallel sebanyak 4 buah dengan nama P0,P1,P2

Lebih terperinci

Percobaan 5. TIMER/COUNTER Menggunakan DT-51 MinSys

Percobaan 5. TIMER/COUNTER Menggunakan DT-51 MinSys Percobaan 5 TIMER/COUNTER Menggunakan DT-51 MinSys Menggunakan Timer/Counter pada DT-51 Mininum System sebagai timer ataupun sebagai counter. Memanfaatkan Special Fungtion Register (SFR) untuk mengatur

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Dalam bidang elektronika, perlahan-lahan peralatan-peralatan manual mulai digantikan

BAB 2 LANDASAN TEORI. Dalam bidang elektronika, perlahan-lahan peralatan-peralatan manual mulai digantikan BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Sistem Pendeteksi dan Pemadam Kebakaran Otomatis Dalam bidang elektronika, perlahan-lahan peralatan-peralatan manual mulai digantikan dengan peralatan elektronik yang dapat bekerja

Lebih terperinci

LM124/LM224/LM324/LM2902

LM124/LM224/LM324/LM2902 LM124/LM224/LM324/LM2902 Low Power Quad Operational Amplifiers General Description The LM124 series consists of four independent, high gain, internally frequency compensated operational amplifiers which

Lebih terperinci

PERCOBAAN 3. KONTROL DISPLAY 7-SEGMENT Menggunakan DT-51 MinSys

PERCOBAAN 3. KONTROL DISPLAY 7-SEGMENT Menggunakan DT-51 MinSys PERCOBAAN 3 KONTROL DISPLAY 7-SEGMENT Menggunakan DT-5 MinSys Membuat proses kontrol display seven segment menggunakan SWITC sebagai set () dan reset (L) program. Membuat program Counter baik Up Counter

Lebih terperinci

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA DATA

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA DATA BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA DATA Pada bab ini akan dibahas tentang pengujian dan pengoperasian Sistem Pemantau Ketinggian Air Cooling Tower di PT. Dynaplast. Pengujian dan pengoperasian ini dilakukan

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN DAN CARA KERJA ALAT

BAB III RANCANGAN DAN CARA KERJA ALAT BAB III RANCANGAN DAN CARA KERJA ALAT 3.1 Perancangan Alat 3.1.1 Blok Diagram Perancangan Alat Rancangan dan cara kerja alat secara blok diagram yaitu untuk mempermudah dalam menganalisa rangkaian secara

Lebih terperinci

DOWNLOAD BITMAP FILE KE LCD GRAFIK 240X64 PIXEL OLEH MODUL DST-51

DOWNLOAD BITMAP FILE KE LCD GRAFIK 240X64 PIXEL OLEH MODUL DST-51 DOWNLOAD BITMAP FILE KE LCD GRAFIK 240X64 PIXEL OLEH MODUL DST-51 Pada edisi sebelumnya telah ditampilkan artikel akses LCD Grafik 240x64 oleh Modul DST-51 di mana data-data grafis diisi secara manual

Lebih terperinci

Akuisasi data dengan remote host AT89s51 melalui serial RS232

Akuisasi data dengan remote host AT89s51 melalui serial RS232 Akuisasi data dengan remote host AT89s51 melalui serial RS232 I. Tujuan 1. Mahasiswa mampu merealisasikan sebuah system data jarak jauh dengan remote host berbasis MCS51 yang terhubung pada pc melalui

Lebih terperinci

PERTEMUAN. SET INSTRUKSI MIKROKONTROLER AT 89C51 (Lanjutan)

PERTEMUAN. SET INSTRUKSI MIKROKONTROLER AT 89C51 (Lanjutan) PERTEMUAN SET INSTRUKSI MIKROKONTROLER AT 89C51 (Lanjutan) Rotate Perintah Rotate identik dengan Shift register dimana bit-bit dalam byte di geser ke kiri atau kekanan dengan atau tanpa carry. Perintah-perintah

Lebih terperinci

BAB 3 PERANCANGAN ALAT DAN BAHAN. 3.1 Diagram Blok dan Rangkaian Sensor Ketinggian Air

BAB 3 PERANCANGAN ALAT DAN BAHAN. 3.1 Diagram Blok dan Rangkaian Sensor Ketinggian Air BAB 3 PERANCANGAN ALAT DAN BAHAN 3.1 Diagram Blok dan Rangkaian Sensor Ketinggian Air Sensor 1 Sensor 2 Sensor 6 Diplay 7 segment Dislay LED Penguat sinyal Penguat sinyal Penguat sinyal Mikrokontroller

Lebih terperinci

DESIGN INTERFACE PADA AT89S52 8k Byte In-System Programmable 8bit Mikrokontroler

DESIGN INTERFACE PADA AT89S52 8k Byte In-System Programmable 8bit Mikrokontroler Lab Elektronika Industri Mikrokontroler 1 DESIGN INTERFACE PADA AT89S52 8k Byte In-System Programmable 8bit Mikrokontroler I. FITUR UTAMA Perancangan interface terkait dengan fasilitas port yand ada pada

Lebih terperinci

2. SPESIFIKASI EKSTERNAL SPC DC MOTOR

2. SPESIFIKASI EKSTERNAL SPC DC MOTOR de K I T S Smart Peripheral Controller DC MOTOR Code : K6 Quick Start Trademarks & Copyright XT, AT, IBM, PC, and PC-DOS are trademarks of International Business Machines Corp MS-DOS is a registered trademark

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROPROFESOR Z80-PIO UNTUK GERAK MOTOR STEPPER

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROPROFESOR Z80-PIO UNTUK GERAK MOTOR STEPPER LAPORAN PRAKTIKUM MIKROPROFESOR Z80-PIO UNTUK GERAK MOTOR STEPPER Disusun oleh: Nama : Yudi Irwanto NIM : 021500456 Jurusan : Teknofisika Nuklir Prodi : Elektronika Instrumentasi Dosen/Asisten : 1. Adib

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN PENGAMAN MOBIL BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51 DENGAN APLIKASI TELEPON SELULER SEBAGAI INDIKATOR ALARM

RANCANG BANGUN PENGAMAN MOBIL BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51 DENGAN APLIKASI TELEPON SELULER SEBAGAI INDIKATOR ALARM RANCANG BANGUN PENGAMAN MOBIL BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51 DENGAN APLIKASI TELEPON SELULER SEBAGAI INDIKATOR ALARM Bambang Tri Wahyo Utomo, S.Kom Pri Hadi Wijaya ABSTRAKSI Disini akan dibahas mengenai

Lebih terperinci

BAB V PENGUJIAN DAN ANALISIS. pengukuran terhadap parameter-parameter dari setiap komponen per blok maupun

BAB V PENGUJIAN DAN ANALISIS. pengukuran terhadap parameter-parameter dari setiap komponen per blok maupun BAB V PENGUJIAN DAN ANALISIS Pada bab ini akan diuraikan tentang proses pengujian sistem yang meliputi pengukuran terhadap parameter-parameter dari setiap komponen per blok maupun secara keseluruhan, dan

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN KERJA ALAT

BAB III PERANCANGAN DAN KERJA ALAT BAB III PERANCANGAN DAN KERJA ALAT 3.1 DIAGRAM BLOK sensor optocoupler lantai 1 POWER SUPPLY sensor optocoupler lantai 2 sensor optocoupler lantai 3 Tombol lantai 1 Tbl 1 Tbl 2 Tbl 3 DRIVER ATMEGA 8535

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI MIKROKONTROLER II (PENERIMA DATA) MEDIA PENGIRIMAN DATA. Gambar 2.1 Blok Pengiriman Data Mikrokontroler I ke Mikrokontroler II

BAB II DASAR TEORI MIKROKONTROLER II (PENERIMA DATA) MEDIA PENGIRIMAN DATA. Gambar 2.1 Blok Pengiriman Data Mikrokontroler I ke Mikrokontroler II BAB II DASAR TEORI 2.1 Komunikasi Data Paralel Prinsip dasar dari sistem komunikasi data paralel adalah suatu cara untuk pengiriman atau pertukaran data dari kedua pihak dengan menggunakan sirkuit yang

Lebih terperinci

Program Studi Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat

Program Studi Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat Program Studi Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat MIKROKONTROLLER MCS-51 Salah satu tipe mikrokontroler arsitektur MCS-51 yang banyak digunakan saat ini adalah

Lebih terperinci

Program di computer (visual basic) Private Sub Command1_Click() End Sub. Private Sub Command2_Click() End Sub. Private Sub Command3_Click() End Sub

Program di computer (visual basic) Private Sub Command1_Click() End Sub. Private Sub Command2_Click() End Sub. Private Sub Command3_Click() End Sub Program di computer (visual basic) Private Sub Command1_Click() MSComm1.Output = "a" 'kirimkan nilai a ke port serial Private Sub Command2_Click() MSComm1.Output = "b" 'kirimkan nilai b ke port serial

Lebih terperinci

PERCOBAAN 2 SAKLAR PUSH BUTTON

PERCOBAAN 2 SAKLAR PUSH BUTTON TUJUAN: PERCOBAAN 2 SAKLAR PUSH BUTTON 1. Memahami rangkaian mikrokontroller dengan interface ke saklar 2. Memahami program assembly untuk mengambil data saklar dan mengeluarkan data ke LED. 3. Memahami

Lebih terperinci

BAB IV PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN Pada bab ini akan dibahas tentang skema rangkaian dari sistem alat bantu baca tunanetra secara keseluruhan, analisis perangkat keras, pengolahan data di software dan analisis

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 4 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Perangkat keras Mikrokontroler AT89S51 2.1.1 Arsitektur Mikrokontroler AT89S51 Mikrokontroler AT89S51 merupakan salah satu keluarga dari MCS-51 keluaran Atmel. Jenis mikrokontroler

Lebih terperinci

Alarm Pintu, Harap Pintu Tutup Kembali, Jangan Buka Pintu Lama-lama versi 2

Alarm Pintu, Harap Pintu Tutup Kembali, Jangan Buka Pintu Lama-lama versi 2 Alarm Pintu, Harap Pintu Tutup Kembali, Jangan Buka Pintu Lama-lama versi 2 Kalo sobat pernah jalan-jalan ke sebuah kantor dan lihat di pintu ada tulisan: HARAP PINTU TUTUP KEMBALI atau MOHON PINTU TUTUP

Lebih terperinci