BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang"

Transkripsi

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di bawah pemerintahan Barack Obama, Amerika Serikat mengalami banyak perubahan terhadap praktek politik Amerika Serikat baik di level domestik dan internasional. Secara khusus, Obama mengumumkan adanya perubahan arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap Iran. Setelah selama ini berada dalam pola hubungan yang konfliktual, Obama bermaksud untuk mengubah status quo dengan memulai kembali hubungan diplomatik dengan Iran. Melalui kebijakan dual-track strategy, pemerintah Amerika Serikat mengupayakan normalisasi hubungan dengan Iran sekaligus membangun kerja sama untuk menyelesaikan isu nuklir Iran. Implementasi dari kebijakan dual-track strategy ini akan menjadi fokus bahasan penulis dengan menyoroti dinamika politik domestik Amerika Serikat sekaligus politik internasional dan kaitannya terhadap proses negosiasi kesepakatan nuklir Iran. Dalam proses implementasinya, kebijakan dual-track strategy ini mendapat banyak tentangan dari kongres Amerika Serikat. Munculnya hambatan di level domestik ini tidak lepas dari masa lalu hubungan Amerika Serikat dan Iran. Paska terjadinya peristiwa penyanderaan terhadap 52 warga sipil Amerika Serikat di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Tehran, Iran dan Amerika Serikat kehilangan hubungan kerjasama yang telah terbina sejak dulu. Sebelumnya, Amerika Serikat memiliki kedekatan khusus dengan Iran yang kala itu berada di bawah pemerintahan Syah Reza Pahlevi. Berubahnya Iran menjadi negara teokrasi membawa kelompok Islamis yang sebelumnya termarjinalisasi ke dalam kursi pemerintahan. Berbeda dengan pemerintah Syah Reza yang menunjukkan sikap pro-amerika, di bawah pemerintahan Ayatollah Khomeini, Iran menunjukkan sikap yang sebaliknya. Amerika Serikat dianggap telah terlalu banyak mencampuri urusan domestik Iran serta mengikis nilainilai keislaman di Iran. Sikap anti-amerika inilah yang kemudian mendorong peristiwa penyekapan pada 4 November Menyikapi insiden ini, Presiden Carter tidak hanya menjatuhkan sanksi ekonomi yang meliputi dibekukannya aset-aset Iran di Amerika Serikat dan embargo dagang terhadap impor langsung dan tidak langsung produk barang dan jasa 1 D.R. Farber, Taken Hostage: The Iran Hostage Crisis and America's First Encounter with Radical Islam, Princeton University Press, New Jersey, 2005, p. 136.

2 Iran ke Amerika namun juga mengambil kebijakan untuk memutus hubungan diplomatik Amerika Serikat dengan Iran. 2 Paska kurang lebih 35 tahun sejak insiden penyanderaan yang dilakukan Iran, hubungan Amerika Serikat dengan Iran tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Hubungan kedua negara ini semakin diperparah dengan retorika Presiden Bush yang memberikan branding the axis of evil terhadap Iran. Besarnya pengaruh kelompok neo-konservatif dalam era pemerintahan Presiden Bush berdampak pada kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang cenderung asertif, agresif, serta militeristik, khususnya dalam menyikapi isu terorisme termasuk dalam kebijakan luar negerinya terhadap Iran. Naiknya Barack Obama menjadi presiden ke-44 Amerika Serikat pada Desember 2008 dibarengi dengan wacana perubahan pada kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Secara umum, Obama menggambarkan kebijakan luar negeri Amerika akan lebih mengutamakan prinsip multilateralis serta mengedepankan equality among nations dalam menjalin hubungan dengan negara-negara lain. 3 Dalam konteks hubungan bilateral dengan Iran, Presiden Obama menjanjikan adanya perubahan dengan mengupayakan terbukanya jalur diplomatik dan kerja sama dengan negara ini melalui proses engagement. Hillary Clinton menggambarkan strategi kebijakan luar negeri Amerika Serikat dibawah Obama melalui konsep smart power yang dijabarkannya sebagai kombinasi dari hard power dan soft power. 4 Salah satu implementasi dari smart power ini dapat dilihat dari kebijakan dual-track yang diadopsi pemerintahan Obama sebagai strategi pendekatan terhadap Iran. Dalam konsep dual-track policy, diplomasi dan sanksi menjadi dua alat utama dalam politik luar negeri Amerika Serikat terhadap Iran. 5 Menurut Amerika Serikat, dual-track policy ini menjadi strategi ideal dalam upayanya untuk melakukan engagement terhadap Iran. Jalur diplomasi menjadi platform utama untuk membawa Iran ke meja negosiasi, sedangkan sanksi akan menjadi alternatif Amerika Serikat untuk mendorong Iran ke meja negosiasi dan memastikan komitmen Iran untuk memulai hubungan baru dengan Amerika Serikat. 2 M. Aghazadeh, A Historical Overview of Sanctions on Iran and Iran s Nuclear Program, Journal of Academic Studies, Vol. 14, No. 56, 2013, p Barack Obama s Speech on Race, The New York Times (daring), 18 Maret 2008, < diakses pada 19 November M. Nurruzzaman, President Obama s Middle East Policy, , Insight Turkey, Vol. 17, No. 2, 2015 p T.A. Parsi, Single Roll of The Dice: Obama s Diplomacy With Iran, Yale University Press, London, 2012, p. 49.

3 Keputusan Obama untuk melakukan engagement terhadap Iran menjadi salah satu poin yang membedakan Obama dari pendahulu-pendahulunya. Melihat lamanya konflik antara Amerika Serikat dan Iran ini telah berjalan, hostility diantaranya dapat dikatakan telah mengakar kuat. Hal ini terlihat dari skeptisme publik Amerika Serikat terhadap wacana engagement terhadap Iran. Dari polling yang dilakukan oleh CNN dan Opinion Research Center (ORC), sebanyak 59% dari sampel mengutarakan ketidaksetujuannya terhadap wacana ini. 6 Polling lain menunjukkan sebanyak 49% sampel melihat Iran sebagai ancaman serius bagi keamanan Amerika Serikat dan Internasional. 7 Skeptisme masyarakat ini dapat dipahami sebagai hostility yang telah mengakar kuat sebagai dampak dari konflik berkepanjangan yang melingkupi hubungan Amerika Serikat dan Iran. Minimnya dukungan publik Amerika Serikat terhadap rencana kebijakan luar negeri Amerika Serikat ini membuat penulis tertarik untuk lebih lanjut menyoroti proses implementasi dari strategi dual-track policy ini. 1.2 Pertanyaan Penelitian Berangkat dari latar belakang yang telah dijabarkan, penulis akan menyoroti proses implementasi dual-track policy Amerika Serikat dan melihat kaitan antara politik domestik Amerika Serikat terhadap arah kebijakan luar negerinya. Pertanyaan penelitian yang akan diangkat di dalam skripsi ini adalah Bagaimana politik domestik Amerika Serikat memengaruhi implementasi dual-track policy pemerintahan Obama dalam perundingan Iran Nuclear Deal? Untuk itu, penulis akan lebih menyoroti dinamika politik domestik Amerika Serikat terkait kebijakan dual-track policy. 1.3 Landasan Konseptual Untuk menjawab pertanyaan penelitian, penulis akan menguraikan proses negosiasi yang berkaitan dengan implementasi dual-track policy Amerika Serikat terhadap Iran. Lebih lanjut, penulis akan berfokus untuk menyoroti dinamika negosiasi dari sisi Amerika Serikat. Untuk melihat kaitan antara politik domestik dan kebijakan luar negeri, penulis menggunakan konsep two-level games. Konsep two-level games yang dicetuskan oleh Robert D. Putnam ini menjelaskan bahwa dalam diplomasi, proses negosiasi tidak hanya terjadi di level internasional namun juga di level domestik. Diplomasi sendiri didefinisikan sebagai process 6 J. Agiesta, Poll: Americans Skeptical Iran will Stick to Nuclear Deal, CNN (daring), 13 September 2015, < diakses pada 19 November Agiesta, 13 September 2015.

4 of strategic interaction in which actors simultaneously try to take account of and, if possible, influence the expected reactions of other actors, both home and abroad. 8 Poin pertama dari pemaparan Putnam adalah pemetaan proses negosiasi ke dalam dua level, yaitu level I yang menggambarkan proses di taraf internasional dan level II yang menggambarkan proses negosiasi di level domestik. Seorang pengambil kebijakan, menurut Putnam, harus mampu memenuhi ekspektasi dan kepentingan di dua level sekaligus. 9 Dalam ranah internasional, pengambil kebijakan berperan sebagai representasi negara bertugas untuk memenuhi kepentingan nasional negaranya dan merespon situasi internasional. Poin keberhasilan di level ini dilihat dari tercapai atau tidaknya sebuah kesepakatan internasional. Sedangkan di ranah domestik, pengambil kebijakan merupakan perwakilan dari konsituennya dan membawa kepentingan publik. Berhasil atau tidaknya ratifikasi dari kesepakatan yang telah dicapai di level I menjadi poin penentu keberhasilan diplomasi secara keseluruhan. Oleh karena itu, adanya kesesuaian antara kepentingan di dua level ini menjadi faktor krusial yang menentukan keberhasilan kebijakan luar negeri negara tersebut. Dalam konteks implementasi dual-track policy Amerika Serikat, proses di level I merujuk pada proses negosiasi antara Amerika Serikat dan koalisinya yang beranggotakan Rusia, Prancis, Inggris, Cina dan Jerman (P5+1) dengan Iran. Tim negosiator Amerika Serikat sendiri sempat dipimpin oleh William J. Burns, Susan Rice, dan Wendy Sherman. Burns memimpin tim negosiator dalam proses negosiasi fuel-swap dengan Iran. 10 Sedangkan Susan Rice merupakan negosiator utama dalam negosiasi terkait ditetapkannya sanksi multilateral dengan Dewan Keamanan PBB. 11 Wendy Sherman dibawah komando Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry, memimpin tim negosiator dalam rangkaian panjang negosiasi nuklir Iran. 12 Proses negosiasi inilah yang kemudian berakhir dengan disepakatinya Joint Comprehensive Plan of Action antara koalisi P5+1 dan Iran. Pada level II, proses negosiasi yang terjadi dalam dimensi politik domestik melibatkan kongres Amerika Serikat, administrasi Obama, serta kelompok kepentingan di Amerika Serikat. Dalam studi kasus yang diangkat, kelompok kepentingan yang kerap kali terlibat 8 A. Moravcsik, Introduction: Integrating International and Domestic Theories of International Bargaining, dalam P.B. Evans, H.K. Jacobson, R.D. Putnam (ed.), Double-Edged Diplomacy: International Bargaining and Domestic Politics, University of California Press, California, 1993, p R.D. Putnam, Diplomacy and Domestic Politics: The Logic of Two-Level Games, International Organization, Vol. 82, No. 03, 1988, p Parsi, p Parsi, p A. Shah, Who Made The Iran Deals Happen? Here Are Some Of The People Behind The Scenes, Public Radio International (daring), 14 Juli 2015, < diakses pada 26 Maret 2016.

5 dalam proses negosiasi di level domestik Amerika Serikat merujuk pada kelompok-kelompok Yahudi-Amerika seperti the American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) dan the Israel Project (TIP). Poin kedua adalah win-sets, yang digambarkan Putnam sebagai poin penghubung antara proses negosiasi di level I dan II. Win-sets merupakan himpunan dari opsi-opsi yang mungkin akan disetujui oleh konstituen di level II. 13 Dalam negosiasi di level I, win-sets berfungsi sebagai panduan bagi negosiator. 14 Segala kesepakatan yang tercapai di level I harus berada dalam jangkauan win-sets masing-masing negara yang terlibat negosiasi. Terciptanya kesepakatan di level I yang berada di luar jangkauan win-sets akan menimbulkan kemungkinan terjadinya defection, baik yang terjadi secara voluntary maupun involuntary. Voluntary defection mengacu pada ketidakmampuan negarawan untuk memenuhi atau mengimplementasikan kesepakatan internasional karena kegagalan ratifikasi di level domestik. Sedangkan involuntary defection merujuk pada keadaan yang menggambarkan pengambil kebijakan di level domestik mengesampingkan atau menggagalkan hasil kesepakatan yang telah dicapai di level I. 15 Karena itu, besar kecilnya jangkauan win-sets sangat berpengaruh terhadap peluang tercapainya konsesi baik di level I maupun level II. Lebih lanjut, Putnam memaparkan tiga determinan penting yang memengaruhi jangkauan win-sets, yaitu preferensi, koalisi dan distribusi kekuasaan di level II; institusi politik di level II; dan strategi negosiator di level I. 16 Dalam konsep two-level games, kebijakan yang tengah dinegosiasikan diasumsikan sebagai alternatif dari status quo sehingga koalisi yang terbentuk di level II akan didasarkan pada perhitungan untung-rugi terhadap kebijakan alternatif ini (the cost of no-agreement). Berdasar asumsi ini, kemungkinan pola konflik yang muncul adalah konflik homogen atau konflik heterogen. Dalam konflik homogen, pihak yang terlibat dalam negosiasi tidak memeliki preferensi yang berseberangan sedangkan dalam konflik heterogen, pihak yang berkonflik memiliki preferensi yang bertentangan. Konflik heterogen, yang mengacu pada konflik faksional, akan memiliki alternatif penyelesaian yang lebih banyak daripada konflik homogen yang tentu saja berpengaruh terhadap jangkauan win-sets. Dalam studi kasus yang diangkat, kebijakan yang tengah dinegosiasikan oleh pemerintah Amerika Serikat adalah reengagement serta tercapainya kesepakatan mengenai program nuklir Iran. Koalisi yang 13 Putnam, p Putnam, p Moravcsik, p Putnam, p. 442.

6 terbentuk kemudian berdasar pada pro dan kontra terhadap wacana kebijakan. Koalisi tersebut dapat disimplifikasikan ke dalam dua kelompok yaitu kelompok liberal yang cenderung mendukung kebijakan ini dan kelompok konservatif yang bersikukuh untuk tetap menjatuhkan sanksi terhadap Iran dan menolak adanya kesepakatan dengan negara ini. Distribusi kekuasaan antara dua faksi ini turut memengaruhi jangkauan win-sets. Dalam sistem politik Amerika Serikat, terdapat dua partai dominan yaitu Partai Republikan dan Partai Demokrat. Parta Republikan yang berasal dari golongan konservatif menduduki mayoritas kursi di Dewan Perwakilan dan Senat Amerika Serikat. Sementara itu, politisi dari Partai Demokrat lebih memiliki kendali dalam pemerintahan mengingat Barack Obama sendiri berasal dari golongan liberal ini. Distribusi kekuasaan antara golongan konservatif dan liberal ini memengaruhi proses tarik menarik kepentingan antara kongres dan pemerintah. Dalam negosiasi mengenai wacana re-engagement terhadap Iran, kongres yang mayoritas diduduki oleh kelompok konservatif kerap kali mengambil oposisi terhadap pemerintahan Obama. Proses negosiasi yang terjadi diantara keduanya inilah yang nantinya akan memengaruhi jangkauan win-sets yang dibawa negosiator Amerika Serikat ke perundingan internasional. Determinan kedua yaitu institusi politik di level II mengacu pada kondisi pemerintahan suatu negara, Bentuk pemerintahan negara akan berpengaruh terhadap mekanisme pengambilan kebijakan di negara tersebut yang tentu saja memengaruhi proses ratifikasi kebijakan. Semakin besar otonomi yang dimiliki pengambil kebijakan terhadap konstituennya berpengaruh terhadap semakin luasnya jangkauan win-sets. Pada negara yang menganut sistem demokrasi, seperti Amerika Serikat, pemerintah memiliki hambatan domestik yang cukup ketat. Proses pengambilan kebijakan harus melalui persetujuan dua kamar dalam kongres, yaitu Senat dan Dewan Perwakilan sehingga proses ratifikasi akan menjadi lebih rumit. Selain kedua determinan yang disebutkan oleh Putnam, Andrew Moravcsik memaparkan bahwa pemerintah dapat memanipulasi win-sets di level II untuk meningkatkan probabilitas keberhasilan. Manipulasi yang dimaksud Moravcsik adalah bahwa pengambil kebijakan dapat memanfaatkan wewenang yang ia miliki di level domestik untuk memengaruhi tingkat penerimaan masyarakat akan suatu isu. Terdapat 3 strategi yang dapat diterapkan, yaitu dengan mengskploitasi kekuasaan otonom yang dimiliki, dengan memanfaatkan propaganda dan agenda-setting, dan

7 mengadopsi strategi-strategi untuk memodifikasi win-sets. 17 Salah satu contoh penerapannya dapat dilihat dari strategi agenda-setting yang dimainkan oleh Israel dan AIPAC. Israel melalui perdana menterinya, Benjamin Netanyahu, kerap kali mengeluarkan statemenstatemen yang menyerang kebijakan Amerika Serikat terhadap Iran ke media. Tidak hanya melalui media, Netanyahu juga beberapa kali bertemu langsung dengan anggota kongres untuk menyampaikan keberatannya atas opsi diplomasi Obama. Selain Netanyahu, organisasi Yahudi-Amerika, AIPAC, memanfaatkan basis masanya yang besar di Amerika Serikat untuk mendorong kongres agar menekan pemerintah Amerika Serikat untuk memilih opsi sanksi terhadap Iran. Besar kecilnya jangkauan win-sets tidak berbanding lurus dengan peluang keberhasilan negosiasi, yang lebih menentukan adalah strategi yang digunakan oleh negosiator untuk mengelola win-sets yang dimiliki. Jika win-sets yang dimiliki lawan lebih besar, negosiator berasumsi bahwa lawannya akan lebih fleksibel untuk melakukan konsesi. sehingga negosiator akan lebih leluasa untuk menggali alternatif-alternatif dalam negosiasi. Dalam proses negosiasi di level I, negosiator memiliki dua opsi strategi, yaitu memanfaatkan winsets lawan atau memanipulasi win-sets yang ia miliki. Opsi yang biasanya lazim digunakan ialah tying hands strategy. Pada strategi ini, negosiator memanfaatkan sempitnya jangkauan win-sets yang dimilikinya untuk mendorong lawan negosiasi untuk berkonsesi. 18 Dengan memanfaatkan tekanan dari kongres, Obama berusaha mendorong Iran untuk berkonsesi. Dalam perundingan nuklir Iran pada Maret 2015, Obama mengeluarkan statemen bahwa pihaknya akan untuk meninggalkan meja negosiasi jika kedua belah pihak tidak kunjung mencapai kesepakatan. Statemen ini disampaikan Obama untuk mendorong terciptanya kesepakatan awal antara koalisi P5+1 dan Iran. 1.4 Argumen Pokok Asumsi dasar dari gagasan two-level games adalah bagaimana Putnam melihat negara bukan sebagai sebuah entitas tunggal melainkan sebagai kesatuan dari kelompok-kelompok di dalamnya. Berdasar pemikiran ini, kebijakan luar negeri yang diambil negara tidak hanya dipandang sebagai langkah negara untuk memenuhi kepentingan nasionalnya namun juga sebagai hasil dari proses negosiasi kelompok-kelompok di level domestik. Oleh karena itu, 17 Moravcsik, pp Moravcsik, p. 28.

8 menurut Putnam, dimensi politik internasional dan politik domestik secara simultan mempengaruhi kebijakan luar negeri negara. Sesuai dengan pemaparan Putnam, preferensi, koalisi, distribusi kekuasaan serta institusi politik mempengaruhi jangkauan win-sets di level II. Selama proses implementasi dual-track strategy, hambatan dominan yang dimiliki pemerintah adalah oposisi yang ditunjukkan oleh kongres di level domestik. Adanya perbedaan preferensi serta kuatnya koalisi oposisi ini berpengaruh terhadap jangkauan win-sets yang dimiliki pemerintah. Pada masa pemerintahan pertama, hambatan win-sets pemerintah didominasi oleh tenggat waktu yang ditetapkan oleh kongres. Baik dalam proses negosiasi kesepakatan fuel swap dengan Iran maupun proses negosiasi sanksi multilateral dengan Dewan Keamanan PBB, pemerintah selalu disulitkan oleh tenggat waktu dari kongres. Selain dihambat oleh win-sets domestiknya, kegagalan diplomasi pada pemerintahan pertama Obama juga dipengaruhi oleh win-sets yang dimiliki Iran. Instabilitas politik domestik Iran membuat pemerintah Iran tidak dapat leluasa untuk mengambil kebijakan. Memasuki periode pemerintahan kedua, pemerintah Amerika Serikat dihadapkan pada oposisi kongres yang semakin menguat. Dikuasainya kursi kepemimpinan Senat dan Dewan Perwakilan oleh Republikan. Perubahan distribusi kekuasaan ini membuat kongres menjadi semakin agresif dalam upayanya untuk menggagalkan proses negosiasi kesepakatan nuklir Iran. Tidak hanya menetapkan tenggat waktu bagi diplomasi, kongres turut menuntut untuk dihentikannya segala aktivitas nuklir Iran. Dua tuntutan kongres ini semakin mengetatkan ruang gerak negosiator Amerika Serikat pada perundingan di level I. Meski semakin disulitkan oleh keterbatasan win-sets, pemerintah Amerika Serikat diuntungkan oleh sikap kooperatif Iran selama proses negosiasi. Faktor-faktor inilah yang dominan mempengaruhi proses negosiasi kesepakatan nuklir Iran. 1.5 Metode Penelitian Metode penelitian yang akan digunakan dalam menjawab permasalahan dalam skripsi ini adalah metode desk study dengan memanfaatkan sumber-sumber data yang telah ada sebelumnya. Peneliti menggunakan data-data kualitatif baik sumber primer maupun sekunder. Data-data kualitatif yang akan digunakan diantaranya adalah transkrip wawancara dan pidato dari Presiden Obama, jajaran administrasinya, dan anggota-anggota kongres Amerika Serikat mengenai kebijakan dual-track Amerika Serikat terhadap Iran serta sumbersumber seperti buku, jurnal, laporan terbitan pemerintah, laporan berkala terbitan organisasi

9 yang bersangkutan serta artikel baik cetak maupun daring yang menyajikan informasi mengenai proses negosiasi, baik yang terjadi dalam politik domestik maupun politik internasional. Penelitian akan melihat bagaimana dinamika politik domestik Amerika Serikat berpengaruh terhadap proses implementasi dual-track strategy Amerika Serikat terhadap Iran dalam negosiasi kesepakatan nuklir Iran. Dalam melihat dinamika implementasi dual-track strategy, penulis akan lebih berfokus untuk menyoroti konteks politik domestik Amerika Serikat. Tetapi juga tidak mengesampingkan pertimbangan dan posisi Iran serta faktor-faktor lain yang sekiranya memengaruhi hubungan kedua negara ini. Data-data yang didapat akan dikaitkan dengan konsep two-level games dengan menyoroti proses negosiasi serta mengidentifikasi peristiwa-peristiwa penting selama proses negosiasi. Penulis akan menyoroti dinamika implementasi dual-track strategy Amerika Serikat sejak pemerintahan Obama di periode pertama dan kedua. Dengan memfokuskan penulisan terhadap proses perundingan nuklir, penulis akan membatasi pembahasan sejak proses formulai kebijakan dual-track strategy di tahun 2008 hingga Oktober 2015 saat hasil dari kesepakatan nuklir Iran resmi diimplementasikan. 1.6 Sistematika Penulisan Penulisan skripsi ini dibagi menjadi lima bab. Bab I berisi pendahuluan yang terdiri latar belakang, rumusan masalah, landasan konseptual, argumen pokok, metode penelitian, serta sistematika penulisan. Bab II memaparkan mengenai konteks historis hubungan Amerika Serikat dengan Iran sekaligus menjelaskan tentang kebijakan dual-track Amerika Serikat terhadap Iran. Bab III memaparkan mengenai dinamika proses negosiasi yang terjadi dalam implementasi strategi dual-track policy Amerika Serikat pada pemerintahan pertama Obama tahun Bab IV memaparkan dinamika proses negosiasi sebagai kelanjutan dari implementasi strategi dual-track policy Amerika Serikat pada pemerintahan kedua Obama tahun 2012 hingga Oktober Bab V sebagai penutup berisi kesimpulan dari penjelasan yang telah dijabarkan pada bab-bab sebelumnya.

BAB 5 KESIMPULAN. Kebijakan nuklir..., Tide Aji Pratama, FISIP UI., 2008.

BAB 5 KESIMPULAN. Kebijakan nuklir..., Tide Aji Pratama, FISIP UI., 2008. BAB 5 KESIMPULAN Kecurigaan utama negara-negara Barat terutama Amerika Serikat adalah bahwa program nuklir sipil merupakan kedok untuk menutupi pengembangan senjata nuklir. Persepsi negara-negara Barat

Lebih terperinci

bilateral, multilateral maupun regional dan peningkatan henemoni Amerika Serikat di dunia. Pada masa perang dingin, kebijakan luar negeri Amerika

bilateral, multilateral maupun regional dan peningkatan henemoni Amerika Serikat di dunia. Pada masa perang dingin, kebijakan luar negeri Amerika BAB V KESIMPULAN Amerika Serikat merupakan negara adikuasa dengan dinamika kebijakan politik luar negeri yang dinamis. Kebijakan luar negeri yang diputuskan oleh Amerika Serikat disesuaikan dengan isu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tersebut memiliki nilai tawar kekuatan untuk menentukan suatu pemerintahan

BAB I PENDAHULUAN. tersebut memiliki nilai tawar kekuatan untuk menentukan suatu pemerintahan BAB I PENDAHULUAN A. Alasan Pemilihan Judul Kepemilikan senjata nuklir oleh suatu negara memang menjadikan perubahan konteks politik internasional menjadi rawan konflik mengingat senjata tersebut memiliki

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. Rencana Iran menjadi tuan rumah KTT Non Blok mendapat perlawanan dari

BAB V KESIMPULAN. Rencana Iran menjadi tuan rumah KTT Non Blok mendapat perlawanan dari BAB V KESIMPULAN Rencana Iran menjadi tuan rumah KTT Non Blok mendapat perlawanan dari AS dan Israel. Kedua negara secara nyata mengajak negara anggota Non Blok untuk tidak hadir dalam agenda tersebut,

Lebih terperinci

BAB I. A. Latar Belakang

BAB I. A. Latar Belakang BAB I A. Latar Belakang Keamanan pangan merupakan kebutuhan paling mendasar bagi setiap negara. World Trade Organization (WTO) adalah organisasi internasional yang sejak tahun 1995 memiliki peran sentral

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. internasional, negara harus memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi yaitu,

BAB I PENDAHULUAN. internasional, negara harus memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi yaitu, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Negara merupakan salah satu subjek hukum internasional. Sebagai subjek hukum internasional, negara harus memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi yaitu, salah satunya

Lebih terperinci

BAB I Pendahuluan. A. Latar Belakang

BAB I Pendahuluan. A. Latar Belakang BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang Globalisasi menyebabkan negara saling terintegrasi yang dimana dapat dilihat banyak sekali terbentuknya Free Trade Agreement (FTA) yang merupakan hasil dari diplomasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memonitoring aktivitas nuklir negara-negara di dunia, International Atomic. kasus Iran ini kepada Dewan Keamanan PBB.

BAB I PENDAHULUAN. memonitoring aktivitas nuklir negara-negara di dunia, International Atomic. kasus Iran ini kepada Dewan Keamanan PBB. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada Februari 2003, Iran mengumumkan program pengayaan uranium yang berpusat di Natanz. Iran mengklaim bahwa program pengayaan uranium tersebut akan digunakan

Lebih terperinci

1.1 Latar Belakang. BAB I : Pendahuluan

1.1 Latar Belakang. BAB I : Pendahuluan BAB I : Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Penarikan pasukan Amerika Serikat dari Afghanistan barangkali merupakan salah satu kebijakan pemerintahan Obama yang paling dilematis. Keputusan untuk menarik pasukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. listrik dalam wujud reaktor nuklir. Pengembangan teknologi nuklir tidak hanya

BAB I PENDAHULUAN. listrik dalam wujud reaktor nuklir. Pengembangan teknologi nuklir tidak hanya 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada awal abad ke-20, perkembangan teknologi telah mendatangkan beragam inovasi baru. Salah satunya adalah pengolahan beberapa unsur kimia menjadi senyawa radioaktif

Lebih terperinci

PERBANDINGAN KEBIJAKAN LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT TERHADAP NEGARA- NEGARA ISLAM PADA MASA PEMERINTAHAN GEORGE WALKER BUSH DAN BARACK OBAMA RESUME

PERBANDINGAN KEBIJAKAN LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT TERHADAP NEGARA- NEGARA ISLAM PADA MASA PEMERINTAHAN GEORGE WALKER BUSH DAN BARACK OBAMA RESUME PERBANDINGAN KEBIJAKAN LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT TERHADAP NEGARA- NEGARA ISLAM PADA MASA PEMERINTAHAN GEORGE WALKER BUSH DAN BARACK OBAMA RESUME Dinamika politik internasional pasca berakhirnya Perang

Lebih terperinci

BAB IV KESIMPULAN. mempengaruhi sikap kedua negara terhadap negara-negara lain yang tidak terlibat.

BAB IV KESIMPULAN. mempengaruhi sikap kedua negara terhadap negara-negara lain yang tidak terlibat. BAB IV KESIMPULAN Terjadinya Perang Dingin antara Uni Soviet dan Amerika Serikat turut mempengaruhi sikap kedua negara terhadap negara-negara lain yang tidak terlibat. Salah satunya adalah sikap yang ditunjukkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN masih menyisakan satu persoalan yaitu masalah status Irian Barat. Indonesia

BAB I PENDAHULUAN masih menyisakan satu persoalan yaitu masalah status Irian Barat. Indonesia BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Hasil Perjanjian Komisi Meja Bundar antara Indonesia dengan Belanda pada tahun 1949 masih menyisakan satu persoalan yaitu masalah status Irian Barat. Indonesia

Lebih terperinci

PEREDAAN KETEGANGAN DI SEMENANJUNG KOREA

PEREDAAN KETEGANGAN DI SEMENANJUNG KOREA PEREDAAN KETEGANGAN DI SEMENANJUNG KOREA Oleh: DR. Yanyan Mochamad Yani, Drs., M.A. Akhirnya setelah melalui pasang surut yang penuh ketegangan, masyarakat dunia kini perlu merasa lega. Sementara waktu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pasca kekalahannya dalam Perang Dunia II, Jepang berusaha untuk bangkit kembali menjadi salah satu kekuatan besar di dunia. Usaha Jepang untuk bangkit kembali dilakukan

Lebih terperinci

Lampiran. Timeline Konflik Yang Terjadi Di Suriah Kekerasan di kota Deera setelah sekelompok remaja

Lampiran. Timeline Konflik Yang Terjadi Di Suriah Kekerasan di kota Deera setelah sekelompok remaja Lampiran Timeline Konflik Yang Terjadi Di Suriah Maret 2011 Kekerasan di kota Deera setelah sekelompok remaja membuat graffiti politik, puluhan orang tewas ketika pasukan keamanan menindak Demonstran Mei

Lebih terperinci

melakukan Revolusi Kuba dan berhasil menjatuhkan rezim diktator Fulgencio merubah orientasi Politik Luar Negeri Kuba lebih terfokus pada isu-isu high

melakukan Revolusi Kuba dan berhasil menjatuhkan rezim diktator Fulgencio merubah orientasi Politik Luar Negeri Kuba lebih terfokus pada isu-isu high BAB V KESIMPULAN Dari keseluruhan uraian skripsi maka dapat diambil kesimpulan yang merupakan gambaran menyeluruh dari hasil pembahasan yang dapat dikemukakan sebagai berikut : Hubungan luar negeri antara

Lebih terperinci

Refleksi Akhir Tahun Papua 2010: Meretas Jalan Damai Papua

Refleksi Akhir Tahun Papua 2010: Meretas Jalan Damai Papua Refleksi Akhir Tahun Papua 2010: Meretas Jalan Damai Papua Oleh Dr. Muridan S. Widjojo (Koordinator Tim Kajian Papua LIPI) Ballroom B Hotel Aryaduta Jakarta, Senin,13 Desember 2010 Refleksi: 1. catatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. meyampaikan pendapatnya di pertemuan rakyat terbuka untuk kepentingan

BAB I PENDAHULUAN. meyampaikan pendapatnya di pertemuan rakyat terbuka untuk kepentingan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Media dan demokrasi merupakan dua entitas yang saling melengkapi. Media merupakan salah satu produk dari demokrasi. Dalam sejarah berkembangnya demokrasi, salah satu

Lebih terperinci

mengakibatkan potensi ancaman dan esklasi konflik. Eskalasi konflik di kawasan mulai terlihat dari persaingan anggaran belanja militer Cina, Korea

mengakibatkan potensi ancaman dan esklasi konflik. Eskalasi konflik di kawasan mulai terlihat dari persaingan anggaran belanja militer Cina, Korea BAB V PENUTUP Tesis ini menjelaskan kompleksitas keamanan kawasan Asia Timur yang berimplikasi terhadap program pengembangan senjata nuklir Korea Utara. Kompleksitas keamanan yang terjadi di kawasan Asia

Lebih terperinci

PERUBAHAN SIKAP IRAN DALAM PENGEMBANGAN NUKLIR DI BAWAH TEKANAN INTERNASIONAL SKRIPSI

PERUBAHAN SIKAP IRAN DALAM PENGEMBANGAN NUKLIR DI BAWAH TEKANAN INTERNASIONAL SKRIPSI PERUBAHAN SIKAP IRAN DALAM PENGEMBANGAN NUKLIR DI BAWAH TEKANAN INTERNASIONAL (The Change of Iran s Nuclear Policy Due To International Pressure) SKRIPSI Disusun Oleh: TRI PRASETYA 20040510066 JURUSAN

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. BAB V merupakan bab yang berisi kesimpulan-kesimpulan dari setiap

BAB V KESIMPULAN. BAB V merupakan bab yang berisi kesimpulan-kesimpulan dari setiap BAB V KESIMPULAN BAB V merupakan bab yang berisi kesimpulan-kesimpulan dari setiap pembahasan yang ada di dalam karya tulis (skripsi) ini. Kesimpulan tersebut merupakan ringkasan dari isi perbab yang kemudian

Lebih terperinci

BAB V. Kesimpulan. Seperti negara-negara lain, Republik Turki juga telah menjalin kerja sama

BAB V. Kesimpulan. Seperti negara-negara lain, Republik Turki juga telah menjalin kerja sama BAB V Kesimpulan Seperti negara-negara lain, Republik Turki juga telah menjalin kerja sama ekonomi melalui perjanjian perdagangan bebas dengan beberapa negara secara bilateral, seperti perjanjian perdagangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. khususnya menggunakan pendekatan diplomasi atau negosiasi. Pendekatan

BAB I PENDAHULUAN. khususnya menggunakan pendekatan diplomasi atau negosiasi. Pendekatan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap negara tidak akan mampu berdiri sendiri tanpa mengadakan hubungan internasional dengan negara maupun subyek hukum internasional lainnya yang bukan negara.

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. Runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1990an merubah konstelasi politik dunia. Rusia

BAB V KESIMPULAN. Runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1990an merubah konstelasi politik dunia. Rusia BAB V KESIMPULAN Runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1990an merubah konstelasi politik dunia. Rusia berubah dari super power state menjadi middle-power state (negara dengan kekuatan menengah). Kebijakan luar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. New York, 2007, p I. d Hooghe, The Expansion of China s Public Diplomacy System, dalam Wang, J. (ed.

BAB I PENDAHULUAN. New York, 2007, p I. d Hooghe, The Expansion of China s Public Diplomacy System, dalam Wang, J. (ed. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Cina merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi pesat dan saat ini dianggap sebagai salah satu kekuatan besar dunia. Dengan semakin besarnya kekuatan Cina di dunia

Lebih terperinci

Resensi Obama dan Kultur Kepemimpinan Gedung Putih

Resensi Obama dan Kultur Kepemimpinan Gedung Putih KAWISTARA VOLUME 1 No. 3, 22 Desember 2011 Halaman 213-303 Resensi Obama dan Kultur Kepemimpinan Gedung Putih Data buku: Judul Buku (asli) Ahmad Sahide* Sebagian besar pemimpin terpilih adalah orangorang

Lebih terperinci

negara-negara di Afrika Barat memiliki pemerintahan yang lemah karena mereka sebenarnya tidak memiliki kesiapan politik, sosial, dan ekonomi untuk

negara-negara di Afrika Barat memiliki pemerintahan yang lemah karena mereka sebenarnya tidak memiliki kesiapan politik, sosial, dan ekonomi untuk BAB IV KESIMPULAN Sejak berakhirnya Perang Dingin isu-isu keamanan non-tradisional telah menjadi masalah utama dalam sistem politik internasional. Isu-isu keamanan tradisional memang masih menjadi masalah

Lebih terperinci

Bab I Pendahuluan 1. Latar Belakang

Bab I Pendahuluan 1. Latar Belakang Bab I Pendahuluan 1. Latar Belakang Perjanjian Bidang Pertanian/ Agreement on Agriculture merupakan salah satu jenis perjanjian multilateral yang disepakati di dalam WTO. Secara umum, hal ini dilakukan

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Tesis ini berupaya untuk memberikan sebuah penjelasan mengenai

BAB V PENUTUP. Tesis ini berupaya untuk memberikan sebuah penjelasan mengenai BAB V PENUTUP Tesis ini berupaya untuk memberikan sebuah penjelasan mengenai hubungan antara kebangkitan gerakan politik Islam dalam pergolakan yang terjadi di Suriah dengan persepsi Amerika Serikat, yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Iran merupakan negara salah satu dengan penghasilan minyak bumi terbesar di

BAB I PENDAHULUAN. Iran merupakan negara salah satu dengan penghasilan minyak bumi terbesar di BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Iran merupakan negara salah satu dengan penghasilan minyak bumi terbesar di dunia. Negara para mullah ini menduduki posisi ke-5 didunia setelah mengalahkan negara

Lebih terperinci

TINJAUAN UMUM POLITIK LUAR NEGERI DOSEN : AGUS SUBAGYO, S.IP., M.SI

TINJAUAN UMUM POLITIK LUAR NEGERI DOSEN : AGUS SUBAGYO, S.IP., M.SI TINJAUAN UMUM POLITIK LUAR NEGERI DOSEN : AGUS SUBAGYO, S.IP., M.SI FISIP HI UNJANI CIMAHI 2011 Definisi, Signifikansi, & Ruang Lingkup Politik Luar Negeri Sifat & Tujuan Politik Luar Negeri Keterkaitan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. Bab ini berisi kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Dalam

BAB V KESIMPULAN. Bab ini berisi kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Dalam BAB V KESIMPULAN Bab ini berisi kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Dalam peneltian ini peneliti dapat melihat bahwa, Menteri Luar Negeri Ali Alatas melihat Timor Timur sebagai bagian

Lebih terperinci

Isi. Pro dan Kontra Palestina masuk PBB

Isi. Pro dan Kontra Palestina masuk PBB Isi Pro dan Kontra Palestina masuk PBB Dari 193 negara anggota Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), 138 negara anggota menyetujui Palestina tidak lagi hanya berstatus sebagai entitas pengamat

Lebih terperinci

BAB I PERANAN LIGA ARAB DALAM USAHA MENYELESAIKAN KONFLIK DI SURIAH. Organisasi yang bertujuan untuk menciptakan perdamaian antar negara-negara

BAB I PERANAN LIGA ARAB DALAM USAHA MENYELESAIKAN KONFLIK DI SURIAH. Organisasi yang bertujuan untuk menciptakan perdamaian antar negara-negara BAB I PERANAN LIGA ARAB DALAM USAHA MENYELESAIKAN KONFLIK DI SURIAH A. Alasan Pemilihan Judul Liga Arab adalah organisasi yang beranggotakan dari negara-negara Arab. Organisasi yang bertujuan untuk menciptakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hubungan perdagangan antara Jepang dan Amerika Serikat pasca Perang Dunia II kerap diikuti dengan kebijakan proteksionisme negara Jepang, khususnya dalam bidang agrikultur

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. Berdasarkan kajian yang penulis lakukan mengenai Politik Luar Negeri

BAB V KESIMPULAN. Berdasarkan kajian yang penulis lakukan mengenai Politik Luar Negeri BAB V KESIMPULAN Berdasarkan kajian yang penulis lakukan mengenai Politik Luar Negeri Indonesia Terhadap Pembentukan Negara Federasi Malaysia dan Dampaknya bagi Hubungan Indonesia-Amerika Serikat Tahun

Lebih terperinci

BAB VI. 6.1 Kesimpulan Strategi Suriah dalam menghadapi konflik dengan Israel pada masa Hafiz al-

BAB VI. 6.1 Kesimpulan Strategi Suriah dalam menghadapi konflik dengan Israel pada masa Hafiz al- 166 BAB VI 6.1 Kesimpulan Strategi Suriah dalam menghadapi konflik dengan Israel pada masa Hafiz al- Assad berkaitan dengan dasar ideologi Partai Ba ath yang menjunjung persatuan, kebebasan, dan sosialisme

Lebih terperinci

A. Latar Belakang Masalah

A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada awal kemerdekannya, Indonesia memiliki kondisi yang belum stabil, baik dari segi politik, keamanan, maupun ekonomi. Dalam memenuhi kebutuhan dan kepentingan

Lebih terperinci

SIKAP ISRAEL PADA MASA PEMERINTAHAN PERDANA MENTERI BENJAMIN NETANYAHU TERHADAP PROGRAM NUKLIR IRAN

SIKAP ISRAEL PADA MASA PEMERINTAHAN PERDANA MENTERI BENJAMIN NETANYAHU TERHADAP PROGRAM NUKLIR IRAN SIKAP ISRAEL PADA MASA PEMERINTAHAN PERDANA MENTERI BENJAMIN NETANYAHU TERHADAP PROGRAM NUKLIR IRAN (ISRAEL S RESPONSE IN THE ERA OF PRIME MINISTER BENJAMIN NETANYAHU TO THE IRAN S NUCLEAR PROGRAM) SKRIPSI

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. banyak korban jiwa baik warga negara Indonesia maupun warga negara asing, korban jiwa

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. banyak korban jiwa baik warga negara Indonesia maupun warga negara asing, korban jiwa BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 KESIMPULAN Peristiwa terorisme pada tahun 2002 di Bali dikenal dengan Bom Bali I, mengakibatkan banyak korban jiwa baik warga negara Indonesia maupun warga negara asing,

Lebih terperinci

Pidato Dr. R.M Marty M. Natalegawa, Menlu RI selaku Ketua ASEAN di DK PBB, New York, 14 Februari 2011

Pidato Dr. R.M Marty M. Natalegawa, Menlu RI selaku Ketua ASEAN di DK PBB, New York, 14 Februari 2011 Pidato Dr. R.M Marty M. Natalegawa, Menlu RI selaku Ketua ASEAN di DK PBB, New York, 14 Februari 2011 Senin, 14 Februari 2011 PIDATO DR. R.M MARTY M. NATALEGAWA MENTERI LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA SELAKU

Lebih terperinci

SIKAP ISRAEL PADA MASA PEMERINTAHAN PERDANA MENTERI BENJAMIN NETANYAHU TERHADAP PROGRAM NUKLIR IRAN

SIKAP ISRAEL PADA MASA PEMERINTAHAN PERDANA MENTERI BENJAMIN NETANYAHU TERHADAP PROGRAM NUKLIR IRAN SIKAP ISRAEL PADA MASA PEMERINTAHAN PERDANA MENTERI BENJAMIN NETANYAHU TERHADAP PROGRAM NUKLIR IRAN (ISRAEL S RESPONSE IN THE ERA OF PRIME MINISTER BENJAMIN NETANYAHU TO THE IRAN S NUCLEAR PROGRAM) SKRIPSI

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. tidak lagi menjadi isu-isu utama yang dihadapi oleh negara-negara sekarang ini.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. tidak lagi menjadi isu-isu utama yang dihadapi oleh negara-negara sekarang ini. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Isu-isu hubungan internasional sampai saat ini telah menjadi sebuah isu yang kompleks dengan segala permasalahannya dan dinamika yang terjadi selalu berubah di

Lebih terperinci

BAB 5 KESIMPULAN. kebutuhan untuk menghasilkan rekomendasi yang lebih spesifik bagi para aktor

BAB 5 KESIMPULAN. kebutuhan untuk menghasilkan rekomendasi yang lebih spesifik bagi para aktor BAB 5 KESIMPULAN Sebagaimana dirumuskan pada Bab 1, tesis ini bertugas untuk memberikan jawaban atas dua pertanyaan pokok. Pertanyaan pertama mengenai kemungkinan adanya variasi karakter kapasitas politik

Lebih terperinci

MUHAMMAD NAFIS PENGANTAR ILMU TEKNOLOGI MARITIM

MUHAMMAD NAFIS PENGANTAR ILMU TEKNOLOGI MARITIM MUHAMMAD NAFIS 140462201067 PENGANTAR ILMU TEKNOLOGI MARITIM Translated by Muhammad Nafis Task 8 Part 2 Satu hal yang menarik dari program politik luar negeri Jokowi adalah pemasukan Samudera Hindia sebagai

Lebih terperinci

ETIKA BISNIS, TEKNIK LOBBY DAN NEGOSIASI

ETIKA BISNIS, TEKNIK LOBBY DAN NEGOSIASI ETIKA BISNIS, TEKNIK LOBBY DAN NEGOSIASI BA-MKU Kwu UNS- Solo 2008 MEDIA PRESENTASI MK. KEWIRAUSAHAAN Universitas Sebelas Maret Solo 2008 ETIKA : sama artinya dengan MORAL, yang berarti adat kebiasaan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. evaluasi kegagalan dan keberhasilan kebijakan War on Terrorism dapat disimpulkan

BAB V KESIMPULAN. evaluasi kegagalan dan keberhasilan kebijakan War on Terrorism dapat disimpulkan BAB V KESIMPULAN Dari penjelasan pada Bab III dan Bab IV mengenai implementasi serta evaluasi kegagalan dan keberhasilan kebijakan War on Terrorism dapat disimpulkan bahwa kebijakan tersebut gagal. Pada

Lebih terperinci

: Diplomasi dan Negosiasi : Andrias Darmayadi, M.Si. Memahami Diplomasi

: Diplomasi dan Negosiasi : Andrias Darmayadi, M.Si. Memahami Diplomasi Mata Kuliah Dosen : Diplomasi dan Negosiasi : Andrias Darmayadi, M.Si Memahami Diplomasi Pada masa kini dengan berkembang luasnya isu internasional menyebabkan hubungan internasional tidak lagi dipandang

Lebih terperinci

Pengaruh Economic Cooperation Framework Agreement (ECFA) terhadap Isu One China antara Cina dan Taiwan

Pengaruh Economic Cooperation Framework Agreement (ECFA) terhadap Isu One China antara Cina dan Taiwan Pengaruh Economic Cooperation Framework Agreement (ECFA) terhadap Isu One China antara Cina dan Taiwan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Cina dan Taiwan adalah dua kawasan yang memiliki latar belakang

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. Indonesia dibalik penundaan ratifikasi ini. Kesimpulan yang penulis sampaikan

BAB V KESIMPULAN. Indonesia dibalik penundaan ratifikasi ini. Kesimpulan yang penulis sampaikan BAB V KESIMPULAN Penelitian ini menjabarkan mengenai alasan dari penundaan ratifikasi AATHP oleh Indonesia yang selanjutnya mengindikasikan pada kepentingan Indonesia dibalik penundaan ratifikasi ini.

Lebih terperinci

proses sosial itulah terbangun struktur sosial yang mempengaruhi bagaimana China merumuskan politik luar negeri terhadap Zimbabwe.

proses sosial itulah terbangun struktur sosial yang mempengaruhi bagaimana China merumuskan politik luar negeri terhadap Zimbabwe. BAB V KESIMPULAN Studi ini menyimpulkan bahwa politik luar negeri Hu Jintao terhadap Zimbabwe merupakan konstruksi sosial yang dapat dipahami melalui konteks struktur sosial yang lebih luas. Khususnya

Lebih terperinci

BAB 5 KESIMPULAN. Universitas Indonesia

BAB 5 KESIMPULAN. Universitas Indonesia BAB 5 KESIMPULAN Dalam bab terakhir ini akan disampaikan tentang kesimpulan yang berisi ringkasan dari keseluruhan uraian pada bab-bab terdahulu. Selanjutnya, dalam kesimpulan ini juga akan dipaparkan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. dasawarsa terakhir ini dengan dilumpuhkannya beberapa pemimpin-pemimpin dictator

BAB V KESIMPULAN. dasawarsa terakhir ini dengan dilumpuhkannya beberapa pemimpin-pemimpin dictator BAB V KESIMPULAN Amerika serikat adalah sebagai negara adidaya dan sangat berpengaruh di dunia internasional dalam kebijakan luar negerinya banyak melakukan berbagai intervensi bahkan invasi dikawasan

Lebih terperinci

BAB 4 KESIMPULAN. 97 Universitas Indonesia. Dampak pengembangan..., Alfina Farmaritia Wicahyani, FISIP UI, 2010.

BAB 4 KESIMPULAN. 97 Universitas Indonesia. Dampak pengembangan..., Alfina Farmaritia Wicahyani, FISIP UI, 2010. BAB 4 KESIMPULAN Korea Utara sejak tahun 1950 telah menjadi ancaman utama bagi keamanan kawasan Asia Timur. Korea Utara telah mengancam Korea Selatan dengan invasinya. Kemudian Korea Utara dapat menjadi

Lebih terperinci

RESUME. bagian selatan yang juga merupakan benua terkecil di dunia. Di sebelah. barat Australia berbatasan dengan Indonesia dan Papua New Guinea,

RESUME. bagian selatan yang juga merupakan benua terkecil di dunia. Di sebelah. barat Australia berbatasan dengan Indonesia dan Papua New Guinea, RESUME Australia adalah sebuah negara yang terdapat di belahan bumi bagian selatan yang juga merupakan benua terkecil di dunia. Di sebelah barat Australia berbatasan dengan Indonesia dan Papua New Guinea,

Lebih terperinci

Para filsuf Eropa menyebut istilah akhir sejarah bagi modernisasi yang kemudian diikuti dengan perubahan besar.

Para filsuf Eropa menyebut istilah akhir sejarah bagi modernisasi yang kemudian diikuti dengan perubahan besar. Tiga Gelombang Demokrasi Demokrasi modern ditandai dengan adanya perubahan pada bidang politik (perubahan dalam hubungan kekuasaan) dan bidang ekonomi (perubahan hubungan dalam perdagangan). Ciriciri utama

Lebih terperinci

BAB 7 PEMANTAPAN POLITIK LUAR NEGERI DAN PENINGKATAN KERJA SAMA INTERNASIONAL

BAB 7 PEMANTAPAN POLITIK LUAR NEGERI DAN PENINGKATAN KERJA SAMA INTERNASIONAL BAB 7 PEMANTAPAN POLITIK LUAR NEGERI DAN PENINGKATAN KERJA SAMA INTERNASIONAL A. KONDISI UMUM Perhatian yang sangat serius terhadap persatuan dan kesatuan nasional, penegakan hukum dan penghormatan HAM

Lebih terperinci

BAB 7 PEMANTAPAN POLITIK LUAR NEGERI DAN PENINGKATAN KERJASAMA INTERNASIONAL

BAB 7 PEMANTAPAN POLITIK LUAR NEGERI DAN PENINGKATAN KERJASAMA INTERNASIONAL BAB 7 PEMANTAPAN POLITIK LUAR NEGERI DAN PENINGKATAN KERJASAMA INTERNASIONAL BAB 7 PEMANTAPAN POLITIK LUAR NEGERI DAN PENINGKATAN KERJASAMA INTERNASIONAL A. KONDISI UMUM Perhatian yang sangat serius terhadap

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. menolak Islamophobia karena adanya citra buruk yang ditimbulkan oleh hard

BAB V KESIMPULAN. menolak Islamophobia karena adanya citra buruk yang ditimbulkan oleh hard BAB V KESIMPULAN Riset ini membahas salah satu isu yang berkaitan dengan fenomena Islamophobia yang berkembang di Amerika Serikat pasca 9/11 dikarenakan kebijakan hard diplomacy George W.Bush dan motivasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Rinrin Desti Apriani, 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Rinrin Desti Apriani, 2013 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Invasi dan pendudukan Vietnam ke Kamboja yang dilakukan pada akhir tahun 1978 merupakan peristiwa yang begitu mengejutkan baik bagi Kamboja sendiri maupun

Lebih terperinci

Keterangan Pers Presiden RI pada Acara Kunjungan Kenegaraan Presiden Amerika Serikat, Selasa, 09 November 2010

Keterangan Pers Presiden RI pada Acara Kunjungan Kenegaraan Presiden Amerika Serikat, Selasa, 09 November 2010 Keterangan Pers Presiden RI pada Acara Kunjungan Kenegaraan Presiden Amerika Serikat, 09-11-2010 Selasa, 09 November 2010 KETERANGAN PERS PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA ACARA KUNJUNGAN KENEGARAAN PRESIDEN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kemenangan Klan Tokugawa dalam Perang Sekigahara (Sekigahara no

BAB I PENDAHULUAN. Kemenangan Klan Tokugawa dalam Perang Sekigahara (Sekigahara no 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kemenangan Klan Tokugawa dalam Perang Sekigahara (Sekigahara no Tatakai) pada tahun 1600, menjadikan Tokugawa Ieyasu sebagai shogun 1 dan tanda dimulainya Tokugawa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. India dan Pakistan merupakan dua negara yang terletak di antara Asia

BAB I PENDAHULUAN. India dan Pakistan merupakan dua negara yang terletak di antara Asia BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah India dan Pakistan merupakan dua negara yang terletak di antara Asia Tengah dan Asia Tenggara yang terlingkup dalam satu kawasan, yaitu Asia Selatan. Negara-negara

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. masyarakat internasional yaitu isu ekonomi perdagangan. Seiring dengan

BAB V KESIMPULAN. masyarakat internasional yaitu isu ekonomi perdagangan. Seiring dengan BAB V KESIMPULAN Penelitian ini membahas salah satu isu penting yang kerap menjadi fokus masyarakat internasional yaitu isu ekonomi perdagangan. Seiring dengan berkembangnya isu isu di dunia internasional,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Semenjak Arab Saudi didirikan pada tahun 1932, kebijakan luar negeri

BAB I PENDAHULUAN. Semenjak Arab Saudi didirikan pada tahun 1932, kebijakan luar negeri BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Semenjak Arab Saudi didirikan pada tahun 1932, kebijakan luar negeri Arab Saudi pada dasarnya berfokus pada kawasan Timur Tengah yang dapat dianggap penting dalam kebijakan

Lebih terperinci

4.2 Respon Uni Eropa dan Amerika Terhadap Konflik Rusia dan Ukraina Dampak Sanksi Ekonomi Terhadap Pariwisata Rusia

4.2 Respon Uni Eropa dan Amerika Terhadap Konflik Rusia dan Ukraina Dampak Sanksi Ekonomi Terhadap Pariwisata Rusia iv DAFTAR ISI DAFTAR ISI... iv DAFTAR TABEL... vi DAFTAR GRAFIK... vii DAFTAR SINGKATAN... viii ABSTRAK... ix ABSTRACT... x BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Rumusan Masalah... 7 1.3 Batasan

Lebih terperinci

Hubungan Aliansi Rusia-Iran dan Upaya Mencapai Hegemoni Rusia

Hubungan Aliansi Rusia-Iran dan Upaya Mencapai Hegemoni Rusia Hubungan Aliansi Rusia-Iran dan Upaya Mencapai Hegemoni Rusia Lebih dari dua abad lamanya Negara Rusia tidak pernah jauh dari pusat perpolitikan Iran, baik itu sebagai musuh politik dan terkadang menjadi

Lebih terperinci

KEBIJAKAN AMERIKA SERIKAT UNTUK MEMPERTAHANKAN EMBARGO EKONOMI TERHADAP KUBA PASCA NORMALISASI HUBUNGAN KEDUA NEGARA

KEBIJAKAN AMERIKA SERIKAT UNTUK MEMPERTAHANKAN EMBARGO EKONOMI TERHADAP KUBA PASCA NORMALISASI HUBUNGAN KEDUA NEGARA KEBIJAKAN AMERIKA SERIKAT UNTUK MEMPERTAHANKAN EMBARGO EKONOMI TERHADAP KUBA PASCA NORMALISASI HUBUNGAN KEDUA NEGARA United State s Policy on Maintaining Economic Embargo on Cuba after Normalization of

Lebih terperinci

Serikat (telah menandatangani, namun belum bersedia meratifikasi), menguatkan keraguan akan perjanjian ini.

Serikat (telah menandatangani, namun belum bersedia meratifikasi), menguatkan keraguan akan perjanjian ini. BAB V KESIMPULAN Melalui perjalanan panjang bertahun-tahun, Majelis Umum PBB berhasil mengadopsi Perjanjian Perdagangan Senjata (Arms Trade Treaty/ATT), perjanjian internasional pertama yang menetapkan

Lebih terperinci

BAB 5 KESIMPULAN. Faktor-faktor kemenangan..., Nilam Nirmala Anggraini, FISIP UI, Universitas 2010 Indonesia

BAB 5 KESIMPULAN. Faktor-faktor kemenangan..., Nilam Nirmala Anggraini, FISIP UI, Universitas 2010 Indonesia 101 BAB 5 KESIMPULAN Bab ini merupakan kesimpulan dari bab-bab sebelumnya. Fokus utama dari bab ini adalah menjawab pertanyaan penelitian. Bab ini berisi jawaban yang dapat ditarik dari pembahasan dan

Lebih terperinci

Mobilisasi Sumber Daya untuk Transformasi Sosial: Tantangan Kita

Mobilisasi Sumber Daya untuk Transformasi Sosial: Tantangan Kita Mobilisasi Sumber Daya untuk Transformasi Sosial: Tantangan Kita Kamala Chandrakirana Seminar Nasional Program Studi Kajian Gender UI Depok, 11 Februari 2015 Disampaikan dalam Seminar Nasional "Jaringan

Lebih terperinci

TEKNIK LOBBY, NEGOSIASI DAN DIPLOMASI. Prinsip-Prinsip dan Dimensi Dalam Proses Negosiasi. Public Relations. Drs. Dwi Prijono Soesanto M.Ikom.

TEKNIK LOBBY, NEGOSIASI DAN DIPLOMASI. Prinsip-Prinsip dan Dimensi Dalam Proses Negosiasi. Public Relations. Drs. Dwi Prijono Soesanto M.Ikom. TEKNIK LOBBY, NEGOSIASI DAN Modul ke: DIPLOMASI Prinsip-Prinsip dan Dimensi Dalam Proses Negosiasi Fakultas Ilmu Komunikasi Program Studi Public Relations www.mercubuana.ac.id Drs. Dwi Prijono Soesanto

Lebih terperinci

PENGARUH AIPAC TERHADAP KEBIJAKAN AMERIKA SERIKAT PASCA PERISTIWA 11 SEPTEMBER 2001

PENGARUH AIPAC TERHADAP KEBIJAKAN AMERIKA SERIKAT PASCA PERISTIWA 11 SEPTEMBER 2001 PENGARUH AIPAC TERHADAP KEBIJAKAN AMERIKA SERIKAT PASCA PERISTIWA 11 SEPTEMBER 2001 Oleh: Muh. Miftachun Niam (08430008) Natashia Cecillia Angelina (09430028) ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU

Lebih terperinci

BAB IV RESPON AMERIKA SERIKAT TERHADAP PERKEMBANGAN NUKLIR IRAN PADA MASA AHMADINEJAD

BAB IV RESPON AMERIKA SERIKAT TERHADAP PERKEMBANGAN NUKLIR IRAN PADA MASA AHMADINEJAD BAB IV RESPON AMERIKA SERIKAT TERHADAP PERKEMBANGAN NUKLIR IRAN PADA MASA AHMADINEJAD Pada Bab IV menjelaskan mengenai respon Amerika Serikat, negara barat dalam program nuklir Iran melalui latar belakang

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PENGAJARAN ( SEJARAH DAN DIPLOMASI BUDAYA CHINA)

SATUAN ACARA PENGAJARAN ( SEJARAH DAN DIPLOMASI BUDAYA CHINA) SATUAN ACARA PENGAJARAN ( SEJARAH DAN DIPLOMASI BUDAYA CHINA) SEMESTER GENAP TAHUN AKADEMIK 2014/2015 Dosen Pengampu : Indrawati, M.A A. Deskripsi Mata kuliah ini dirancang agar mahasiswa dapat mengetahui

Lebih terperinci

Sumber-sumber kemasyarakatan merupakan aspek dari non pemerintah dari suatu system politik yang mempengaruhi tingkah laku eksternal negaranya.

Sumber-sumber kemasyarakatan merupakan aspek dari non pemerintah dari suatu system politik yang mempengaruhi tingkah laku eksternal negaranya. Politik Luar Negeri Amerika Serikat Interaksi antarnegara dalam paradigma hubungan internasional banyak ditentukan oleh politik luar negeri negara tersebut. Politik luar negeri tersebut merupakan kebijaksanaan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dalamnya. Untuk dapat mewujudkan cita-cita itu maka seluruh komponen yang

I. PENDAHULUAN. dalamnya. Untuk dapat mewujudkan cita-cita itu maka seluruh komponen yang 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perubahan suatu negara untuk menjadi lebih baik dari aspek kehidupan merupakan cita-cita dan sekaligus harapan bagi seluruh rakyat yang bernaung di dalamnya.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. World Trade Organization (WTO) secara resmi berdiri pada. tanggal 1 Januari 1995 dengan disepakatinya Agreement the World

BAB I PENDAHULUAN. World Trade Organization (WTO) secara resmi berdiri pada. tanggal 1 Januari 1995 dengan disepakatinya Agreement the World BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah World Trade Organization (WTO) secara resmi berdiri pada tanggal 1 Januari 1995 dengan disepakatinya Agreement the World Trade Organization ditandatangani para

Lebih terperinci

Peningkatan Keterwakilan Perempuan dalam Politik pada Pemilu Legislatif Nurul Arifin

Peningkatan Keterwakilan Perempuan dalam Politik pada Pemilu Legislatif Nurul Arifin Peningkatan Keterwakilan Perempuan dalam Politik pada Pemilu Legislatif Nurul Arifin Jakarta, 14 Desember 2010 Mengapa Keterwakilan Perempuan di bidang politik harus ditingkatkan? 1. Perempuan perlu ikut

Lebih terperinci

BAB I Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang

BAB I Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Six Party Talks merupakan sebuah mekanisme multilateral yang bertujuan untuk mewujudkan upaya denuklirisasi Korea Utara melalui proses negosiasi yang melibatkan Cina,

Lebih terperinci

[Studi Keamanan Internasional] MEMAHAMI KONFLIK. Dewi Triwahyuni

[Studi Keamanan Internasional] MEMAHAMI KONFLIK. Dewi Triwahyuni [Studi Keamanan Internasional] MEMAHAMI KONFLIK Dewi Triwahyuni 1 KONFLIK : KONSEP DAN TEORI 2 Konflik pada dasarnya merupakan hubungan antara dua pihak atau lebih (individu atau kelompok) yang memiliki,

Lebih terperinci

Bab V. Kesimpulan. Namun hal ini berubah di tahun 2005 saat Mahmoud Ahmadinejad terpilih sebagai Presiden

Bab V. Kesimpulan. Namun hal ini berubah di tahun 2005 saat Mahmoud Ahmadinejad terpilih sebagai Presiden Bab V Kesimpulan Iran merupakan satu dari sekian negara yang memiliki hak untuk mengembangkan tenaga nuklirnya. Tergabung dalam NPT menjadi salah satu alasan kuat mengapa negara para Mullah itu memiliki

Lebih terperinci

BAB 5 PENUTUP. 5.1 Kesimpulan

BAB 5 PENUTUP. 5.1 Kesimpulan BAB 5 PENUTUP 5.1 Kesimpulan Penelitian ini menekankan pada proses peredaan ketegangan dalam konflik Korea Utara dan Korea Selatan pada rentang waktu 2000-2002. Ketegangan yang terjadi antara Korea Utara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) adalah organisasi

BAB I PENDAHULUAN. ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) adalah organisasi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) adalah organisasi regional di kawasan Asia Tenggara yang telah membangun mitra kerjasama dengan Tiongkok dalam berbagai

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. European Coal and Steel Community (ECSC), European Economic. Community (EEC), dan European Atomic Community (Euratom), kemudian

BAB V KESIMPULAN. European Coal and Steel Community (ECSC), European Economic. Community (EEC), dan European Atomic Community (Euratom), kemudian BAB V KESIMPULAN Pada dasarnya dalam tahapan mencapai integrasi Eropa seperti sekarang melalui proses yang cukup panjang dimulai dari pembentukan European Coal and Steel Community (ECSC), European Economic

Lebih terperinci

TEKNIK LOBBY, NEGOSIASI DAN DIPLOMASI. Tahap-tahap Persiapan dalam Negosiasi. Public Relations. Drs. Dwi Prijono Soesanto M.Ikom., MPM.

TEKNIK LOBBY, NEGOSIASI DAN DIPLOMASI. Tahap-tahap Persiapan dalam Negosiasi. Public Relations. Drs. Dwi Prijono Soesanto M.Ikom., MPM. TEKNIK LOBBY, NEGOSIASI DAN Modul ke: DIPLOMASI Tahap-tahap Persiapan dalam Negosiasi Fakultas Ilmu Komunikasi Program Studi Public Relations www.mercubuana.ac.id Drs. Dwi Prijono Soesanto M.Ikom., MPM

Lebih terperinci

untuk memastikan agar liberalisasi tetap menjamin kesejahteraan sektor swasta. Hasil dari interaksi tersebut adalah rekomendasi sektor swasta yang

untuk memastikan agar liberalisasi tetap menjamin kesejahteraan sektor swasta. Hasil dari interaksi tersebut adalah rekomendasi sektor swasta yang Bab V KESIMPULAN Dalam analisis politik perdagangan internasional, peran politik dalam negeri sering menjadi pendekatan tunggal untuk memahami motif suatu negara menjajaki perjanjian perdagangan. Jiro

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang NASKAH AKADEMIK RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PENGESAHAN PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK DEMOKRATIK TIMOR- LESTE TENTANG AKTIFITAS KERJA SAMA DIBIDANG PERTAHANAN

Lebih terperinci

RESUME. Amerika Latin merupakan salah satu wilayah di dunia. yang mengalami dinamika sosial-politik yang menarik.

RESUME. Amerika Latin merupakan salah satu wilayah di dunia. yang mengalami dinamika sosial-politik yang menarik. RESUME Amerika Latin merupakan salah satu wilayah di dunia yang mengalami dinamika sosial-politik yang menarik. Salah satu kasus yang mengemuka adalah tergulingnya presiden Honduras, Manuel Zelaya pada

Lebih terperinci