BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
|
|
|
- Hendra Gunardi
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hubungan perdagangan antara Jepang dan Amerika Serikat pasca Perang Dunia II kerap diikuti dengan kebijakan proteksionisme negara Jepang, khususnya dalam bidang agrikultur salah satu sektor andalan perekonomian Jepang. Proteksionisme dilakukan oleh Jepang untuk mengembalikan perekonomiannya yang sempat hancur setelah perang. Seiring dengan berjalannya waktu, perekonomian Jepang kembali pulih. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat sehingga Jepang pun kembali bertumbuh menjadi salah satu kekuatan ekonomi besar di dunia. Meskipun Jepang telah mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat dibandingkan negara-negara lain di kawasannya pada masa itu sebelum ada the rising China, Jepang tidak serta merta mengubah kebijakan ekonominya menjadi berorientasi pasar. Alih-alih mengganti kebijakan perdagangannya menjadi bebas, Jepang justru mempertahankan dan semakin memperkuat kebijakan proteksionisme perdagangannya pada sektor pertanian. Adanya hal ini tentu merupakan kenyataan yang tidak menyenangkan bagi Amerika Serikat yang merupakan mitra dagang utama Jepang pasca Perang Dunia II yang juga menginginkan agar Jepang membuka pasarnya secara bebas untuk produk-produk impor. Baru-baru ini, Amerika Serikat yang membentuk kerjasama Trans Pacific Partnership (TPP) sebuah aliansi perdagangan bebas regional Asia Pasifik yang digadang-gadang menjadi yang terbesar di dunia, berusaha untuk kembali meminta Jepang yang juga didaulat sebagai salah satu negara calon potensial anggota TPP untuk menerapkan kebijakan pasar bebas agar perdagangan dalam organisasi tersebut dapat berjalan dengan lancar. Hal ini dikarenakan TPP bertujuan untuk mengatur liberalisasi perdagangan barang dan jasa, rezim investasi, penghapusan hambatan perdagangan, hak kekayaan intelektual, hingga 1
2 liberalisasi sektor pertanian di kawasan Asia Pasifik. 1 Meskipun pada awalnya hanya disampaikan secara tersirat melalui dimasukkannya Jepang sebagai salah satu calon potensial anggota TPP, tuntutan Amerika Serikat akan adanya liberalisasi pasar Jepang sangat mudah untuk dibaca mengingat sejarahnya yang selalu menginginkan liberalisasi pasar Jepang. Shinzo Abe pun dihadapkan kepada dilema antara memilih untuk bergabung dengan TPP dan membuka pasarnya secara bebas atau tetap mempertahankan kebijakan proteksionismenya mengingat saat ini kondisi ekonomi Jepang sedang menurun. Meskipun demikian, hingga detik akhir dinyatakannya persetujuan mengenai TPP, Jepang masih teguh mempertahankan kebijakan proteksionismenya, terutama di bidang agrikultur. Sektor pertanian Jepang sangat dilindungi karena adanya beberapa faktor seperti semakin meningkatnya penduduk Jepang sehingga memerlukan semakin banyak kebutuhan pangan dan semakin menyempitnya lahan pertanian karena adanya industrialisasi. 2 Meskipun pada putaran terakhir negosiasi TPP, 5 Oktober 2015, akhirnya Jepang menyetujui untuk meningkatkan impornya, Jepang tetap membatasi impor bagi komoditas sektor agrikultur, yaitu beras. 3 Hal tersebut di atas menarik untuk dibahas dimana Jepang yang sejak awal menerapkan kebijakan proteksionisme, melihat adanya peluang terakhir untuk membangkitkan kembali negaranya yang sempat terpuruk selama dua dekade terakhir ini melalui TPP, namun Jepang juga dihadapkan pada kenyataan bahwa dengan bergabungnya ia ke dalam TPP, hal itu berarti Jepang telah mengkhianati negaranya sendiri karena telah menyerahkan pasarnya secara bebas bagi produk-produk asing yang tentu akan mengancam eksistensi produkproduk lokal. Sikap Shinzo Abe menghadapi dilema inilah yang akan dibahas ke depannya karena berdasarkan hasil perundingan TPP, Jepang masih terlihat 1 New York Times Editorial, Joining the New Trade Club(daring), January 2, 2014, < diakses 10 Oktober Y. Harada, Japan s Agriculture and the TPP, Tokyo Foundation and Waseda University, Tokyo, 2013, p.1. 3 Office of the United States Trade Representative, Summary of the Trans Pacific Partnership Agreement (daring), < diakses 10 Oktober
3 mempertahankan kebijakan proteksionismenya, dalam artian negara ini tidak melakukan liberalisasi pasar secara 100% atau dengan kata lain, Jepang menerapkan standar ganda. Penulis juga ingin mengetahui faktor-faktor yang menjadi pertimbangan Jepang dalam menerapkan standar ganda ini, yaitu dengan tetap bergabung menjadi anggota TPP dan tetap mempertahankan kebijakan proteksionisme agrikulturnya. Dalam tulisan sepanjang kata ini akan dijabarkan bagaimana kebijakan proreksionisme yang selama ini diterapkan oleh Jepang dalam hubungan perdagangannya dengan negara lain terkhusus kepada Amerika Serikat, munculnya TPP yang kembali melahirkan tuntutan Amerika Serikat pada Jepang untuk melakukan liberalisasi pasar bagi produk-produk dari sektor agrikulturnya demi memperlancar kerjasama perdagangan regional dimana keduanya samasama terlibat di dalamnya, dilema yang dihadapi Jepang pada masa pemerintahan Shinzo Abe dan sikap Abe dalam menghadapinya, serta faktor-faktor apa saja yang menjadi pertimbangan Abe dalam mengambil kebijakan tersebut. Tulisan ini kemudian akan membahas alasan Jepang yang pada akhirnya tetap condong mempertahankan kebijakan proteksionisme agrikulturnya meskipun di saat yang sama ia telah resmi menjadi anggota TPP. B. Rumusan Masalah Berangkat dari latar belakang di atas, rumusan masalah yang akan menjadi fokus pembahasan dalam tulisan ini adalah: 1. Bagaimana respon Jepang pada masa pemerintahan Shinzo Abe terhadap dilema antara proteksionisme dan liberalisasi pasar yang dialaminya? 2. Apa pertimbangan Abe mempertahankan kebijakan proteksionisme agrikulturnya dibandingkan membuka pasar 100% meskipun saat ini ia telah menjadi salah satu anggota TPP? 3
4 C. Landasan Konseptual Untuk menjawab dan membahas rumusan masalah di atas, ada 2 konsep yang akan digunakan, yaitu: 1. Two Level Game Teori two level game dicetuskan oleh Robert Putnam. Ketika dunia internasional memperdebatkan tentang bagaimana politik domestik dan politik internasional dapat saling mempengaruhi, bagi Putnam yang paling penting adalah bagaimana menjalankan hubungan dua arah tersebut. Seorang pengambil keputusan atau kepala negara harus mampu menjalankan dua permainan, yaitu di tingkat domestik dan internasional, dan memenangkan keduanya. Kemenangan tersebut adalah bentuk keberhasilan dari proses two level game. Putnam memfokuskan pada interaksi yang terjadi antara dua medan permainan, yaitu di level domestik dan internasional. Konsep tersebut dikembangkan menjadi dua konsep, yaitu acceptability set (platform penerimaan) dan win set (platform kemenangan). Acceptability set merupakan tingkatan perjanjian yang dapat dicapai dan diperjuangkan oleh pengambil keputusan atau negosiator. Hasil pada konsep tersebut adalah persetujuan sementara atau hanya sampai persetujuan ditandatangani. Sedangkan win set merupakan perjanjian yang sudah dicapai dan dirasa cukup oleh negosiator dimana dirinya sudah mendapatkan apa yang diinginkan dari proses negosiasi. 4 Meskipun demikian, win set tidak bisa diukur hanya dari persepsi negosiator, win set harus bisa diterima juga oleh publik dalam negeri. Oleh karena itu, masih diperlukan proses ratifikasi yang bisa mendorong atau menggagalkan hasil dari proses negosiasi tersebut. Jika bisa diterima oleh publik, maka proses negosiasi yang ditempuhnya berhasil atau menang. 5 4 N. Pamuji dan H. Rais, Politik Kerjasama Internasional: Sebuah Pengantar, Institute of International Studies Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2011, pp P. B. Evans, H. K. Jacobson, dan R. D. Putnam, Double-Edged Diplomacy: International Bargaining and Domestic Politics, University of California Press, 1993, pp
5 Win set juga dapat dipahami sebagai kemenangan secara penuh dari proses negosiasi baik di tingkat internasional maupun di tingkat domestik. Jika pengambil keputusan dapat meraih win set yang cukup besar di level internasional, maka ia juga akan dapat dengan mudah meraih win set pada level domestik. Begitu pula sebaliknya, jika pada level internasional win set yang ia dapatkan rendah, maka kemungkinan besar negosiator tidak akan meraih win set pada level domestik. 6 Menurut Putnam, besarnya win set bergantung pada tiga hal, yaitu preferensi dan koalisi pada level domestik, model institusi politik level domestik, dan strategi negosiator pada level internasional. Sebagaimana dikutip dari pernyataannya, 7 The politics of many international negotiations can usefully be conceived as a two level game. At national level, domestic groups pursue their interest by pressuring the government to adopt favorable policies, and politicans seek power by constructing coalition among those groups. At the international level, national governments seek to maximize their own ability to satisfy domestic pressures, while minimizing the adverse consequences of foreign developments. Dengan kata lain, dalam teori two level game ini, pemerintah harus dapat memainkan dua tingkat permainan dalam politik luar negerinya. Di tingkat domestik, pemerintah harus dapat merealisasikan aspirasi dan mengakomodasi kebutuhan domestik. Sedangkan di tingkat internasional, pemerintah berusaha memenuhi kebutuhan domestik serta meminimalisir konsekuensi yang dapat berdampak buruk pada negaranya. Sukses atau menang dalam konsep ini artinya negosiator dapat menyeimbangkan tekanan domestik dan tuntutan internasional, dengan kata lain mencapai kebijakan yang memuaskan keduanya. Teori ini akan digunakan untuk membahas sikap Shinzo Abe dalam menghadapi dilema yang dialami pada masa pemerintahannya, yaitu antara membuka pasar domestiknya 100% dalam rangka bergabung dengan TPP atau tetap mempertahankan kebijakan proteksionisme agrikulturnya untuk melindungi pasar domestik. Di sini, Shinzo Abe terlihat menerapkan standar ganda untuk memaksimalkan keuntungan yang didapat dengan bergabung dalam TPP dan 6 R. D. Putnam, Diplomacy and Domestic Politics: The Logic of Two-Level Games, International Organization, Vol. 42, No. 3, 1988, p R. D. Putnam, p
6 meminimalisir dampak kerugian pada sektor agrikultur dengan tetap menerapkan proteksionisme. Penerapan kebijakan berstandar ganda ini adalah bentuk win set yang dapat dicapai Abe dimana kebijakan ini dirasa paling menguntungkan, baik bagi hubungan Jepang di dunia internasional maupun bagi situasi domestik Jepang sendiri. 2. Proteksionisme Dalam bukunya yang berjudul Proteksionisme, 8 Bhagwati mendefinisikan proteksionisme sebagai sebuah upaya yang dilakukan oleh pemerintah suatu negara untuk melindungi pasarnya dari barang-barang impor dengan cara memberlakukan tarif masuk barang yang tinggi serta memberikan kuota. Paham ini berakar dari pemikiran merkantilis bahwa kemakmuran dapat diperoleh dengan mengurangi impor dan meningkatkan ekspor. Proteksionisme juga muncul dari para pemikir realis yang menghubungkan perdagangan dengan keamanan dimana perdagangan dapat menimbulkan kerugian keamanan bagi suatu negara ketika perdagangan tersebut membuat negara tergantung pada negara lainnya. Pada masa kemunculan General Agreement on Trade and Tariff (GATT) yang mampu meningkatkan liberalisasi pasar, proteksionisme semakin berkurang dan bahkan menghilang sehingga negara kemudian mulai menyesuaikan tarif ke nilai yang lebih rendah serta menghapuskan kuota. Namun, pada dasarnya setiap negara masih memiliki kecenderungan untuk melakukan proteksionisme terhadap pasar nasionalnya. Hal ini terlihat dari munculnya hambatan masuk yang dibuat oleh negara di luar tarif dan kuota seperti subsidi dan jenis hambatan non tarif lainnya. Jenis hambatan semacam ini justru semakin meningkat seiring suksesnya GATT dalam mengurangi hambatan tarif dan kuota. 9 Padahal, hambatan non tarif dan kuota ini justru bisa lebih berbahaya karena seringkali bersifat lebih restriktif, susah untuk dikenali, serta lebih tidak rasional dibandingkan dengan tarif. 10 Pada akhirnya, hal tersebut memunculkan asumsi bahwa pada dasarnya setiap negara 8 J. Baghwati, Proteksionisme, Penerbit Angkasa, Bandung, 1992, p H. Haqqi, Ecolabel sebagai Bentuk Proteksionisme Baru (Case Study: Pemblokiran Kayu Bersertifikat Ecolabel Indonesia oleh Uni Eropa), Yogyakarta, Sekolah Pasca Sarjana UGM, 2007, p T. H. Cohn, Global Political Economy: Theory and Practice, 5 th edn., Pearson, New York, 2010, p. 1. 6
7 memiliki kecenderungan untuk terus mengupayakan proteksionisme guna menjaga pasar nasionalnya dari produk asing. Dalam tulisan ini, konsep proteksionisme yang akan digunakan lebih merujuk kepada agricultural protectionism. 11 Konsep proteksionisme agrikultur menekankan pada pemilihan kebijakan ekonomi dan perdagangan proteksionis untuk melindungi sektor agrikultur domestik dari kompetisi perdagangan internasional. Singkatnya, konsep proteksionisme agrikultur ini dilakukan dengan memunculkan hambatan bagi masuknya barang-barang asing dari sektor agrikultur ke pasar domestik suatu negara sehingga pasar domestik tetap bersahaja dengan produk-produk agrikultur lokal. Tidak hanya impor, kebijakan proteksionisme agrikultur ini juga dilakukan dalam kerangka ekspor dengan tujuan secara umum untuk melindungi perekonomian suatu negara. Dari uraian di atas dan dikaitkan dengan Jepang, maka sangat terlihat relasi antara keduanya. Jepang adalah salah satu negara yang menerapkan kebijakan proteksionisme agrikultur, khususnya bagi sensitive products beras, gandum, daging sapi dan daging babi, produk susu, dan pemanis. Oleh karena itu, konsep ini akan digunakan untuk menjawab faktor-faktor yang menjadi pertimbangan Jepang dalam mengambil respon kebijakan berstandar ganda. Hal ini tentu dilatarbelakangi oleh beberapa faktor, khususnya dari dalam negeri Jepang sendiri mengingat politik luar negeri negara ini sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek domestik. D. Argumentasi Utama Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, sebelum melakukan penelitian lebih lanjut, argumentasi utama yang diajukan adalah bahwa Jepang pada masa pemerintahan Shinzo Abe merespon dilema yang timbul dari tuntutan Amerika Serikat, yaitu antara membuka pasar 100% dalam kerangka TPP dan mempertahankan proteksionisme sektor agrikulturnya dengan cara menerapkan standar ganda dimana kebijakan tersebut merupakan win set yang 11 I. Markovic dan M. Markovic, Agricultural Protectionism of the European Union in the Conditions of International Trade Liberalization, Economics of Agriculture, Vol. 2, No. 61, 2014, p
8 didapat dari penerapan konsep two level game. Hal ini dilakukan Shinzo Abe karena adanya beberapa faktor pertimbangan, yaitu (1) sektor pertanian adalah sektor andalan perekonomian Jepang, (2) para petani Jepang adalah basis pendukung Liberal Democratic Party (LDP), dan (3) kebijakan proteksionisme sektor agrikultur merupakan antisipasi akan terjadinya permasalahan pangan. Dengan memberlakukan proteksionisme agrikultur melalui kebijakan pasar yang strategis dalam bidang pertanian, Jepang berusaha menjaga agar politik dan situasi di dalam negerinya tetap stabil serta di saat yang sama berusaha untuk menjamin berlangsungnya food security dan hubungan baik dengan negara-negara lain. E. Metode Pengumpulan Data Berdasarkan uraian-uraian sebelumnya, data yang akan dikumpulkan cenderung bersifat kualitatif dan deskriptif sehingga metode penelitian yang paling sesuai untuk digunakan adalah studi literatur. Metode ini menempatkan data-data yang bersumber dari beberapa buku, terbitan pemerintah, dan beberapa artikel dari berita dunia maya yang memiliki validitas data yang terpercaya dan bisa diuji sebagai sumber utama. F. Lingkup Waktu Penelitian ini akan difokuskan pada masa pemerintahan Perdana Menteri Shinzo Abe (2012-sekarang) dimana ia mempunyai kebijakan untuk memulihkan perekonomian Jepang yang dirangkum dalam program ekonomi Abenomics 2.0 yang terdiri dari three pronged atau three-arrows, yaitu: Paket stimulasi kebijakan fiskal yang jumlahnya mencapai $122 milyar untuk meningkatkan infrastruktur, khususnya bagi daerah yang mengalami dampak buruk pada bencana alam tsunami Maret Paket stimulasi kebijakan moneter untuk mengatasi deflasi yang menyebabkan nilai tukar mata uang Jepang berada jauh di bawah nilai dolar Amerika Serikat. 12 W. H. Cooper, U.S-Japan Economic Relations: Significance, Prospects, and Policy Options, Conggresional Research Service, 2014, p. 3. 8
9 3. Paket reformasi ekonomi yang ditujukan bagi sektor agrikultur, kesehatan, dan elektronik, serta untuk mempromosikan berbagai industri baru di Jepang. Dari tiga poin di atas, yang menjadi fokus utama dalam tulisan ini adalah poin ketiga yang menyangkut paket reformasi ekonomi dalam sektor agrikultur dimana masuknya Jepang ke dalam TPP dianggap oleh Abe sebagai katalis untuk mempercepat pemulihan ekonomi Jepang. Namun, di saat yang bersamaan Abe juga dihadapkan pada para petani pendukung partainya, LDP, yang akan terpuruk apabila Jepang meliberalisasi perdagangan produk-produk sektor agrikultur di negaranya. Sikap dan pertimbangan Abe dalam menghadapi dilema menentukan liberalisasi pasar atau mempertahankan proteksionisme agrikulturnya inilah yang kemudian akan dibahas dalam subbab-subbab berikutnya. G. Sistematika Penulisan Penelitian yang berjudul Kebijakan Jepang dalam Merespon Tuntutan Liberalisasi Pasar dari Amerika Serikat dalam Kerangka Trans Pacific Partnership: Proteksionisme Sektor Agrikultur akan dibagi menjadi 4 Bab. Pada BAB I akan disajikan pendahuluan penelitian yang mengulas latar belakang yang kemudian melahirkan gambaran awal permasalahan yang akan dibahas, konsep yang akan digunakan untuk membahas permasalahan yang diajukan, argumentasi utama yang diajukan sebagai jawaban awal sebelum melakukan penelitian lebih lanjut, metode pengumpulan data yang akan digunakan, lingkup waktu penelitian, serta sistematika penulisan. Pada BAB II akan dielaborasikan mengenai kebijakan proteksionisme yang diberlakukan Jepang dalam hubungan dagangnya dengan Amerika Serikat, kerjasama TPP, hingga munculnya dilema antara liberalisasi pasar secara penuh atau tetap mempertahankan proteksionisme, khususnya di sektor agrikultur yang akan menjadi jawaban atas rumusan masalah pertama, yaitu bagaimana respon Jepang pada masa pemerintahan Shinzo Abe terhadap dilema antara proteksionisme dan liberalisasi pasar yang dialaminya. 9
10 Pada BAB III akan dielaborasikan jawaban atas rumusan masalah kedua, yaitu mengenai faktor-faktor pertimbangan Jepang dalam mempertahankan kebijakan proteksionisme agrikultur, khususnya untuk komoditas beras hingga bagaimana strategi yang diterapkan untuk mengendalikan sektor agrikultur tersebut. Pada BAB IV akan diberikan kesimpulan dari seluruh pembahasan yang diberikan pada bab-bab sebelumnya untuk mengetahui apakah argumentasi utama yang diajukan benar atau salah. 10
ABSTRAK. Kata kunci : WTO (World Trade Organization), Kebijakan Pertanian Indonesia, Kemudahan akses pasar, Liberalisasi, Rezim internasional.
ABSTRAK Indonesia telah menjalankan kesepakan WTO lewat implementasi kebijakan pertanian dalam negeri. Implementasi kebijakan tersebut tertuang dalam deregulasi (penyesuaian kebijakan) yang diterbitkan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pasca kekalahannya dalam Perang Dunia II, Jepang berusaha untuk bangkit kembali menjadi salah satu kekuatan besar di dunia. Usaha Jepang untuk bangkit kembali dilakukan
BAB I PENDAHULUAN. setiap negara bertujuan agar posisi ekonomi negara tersebut di pasar internasional
BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Penelitian Negara-negara di seluruh dunia saat ini menyadari bahwa integrasi ekonomi memiliki peran penting dalam perdagangan. Integrasi dilakukan oleh setiap negara
Bab 5 Bisnis Global P E R T E M U A N 5
Bab 5 Bisnis Global P E R T E M U A N 5 1 PENGERTIAN GLOBALISASI Globalisasi: Perekonomian dunia yang menjadi sistem tunggal yang saling bergantung satu dengan yang lainnya Beberapa kekuatan yang digabungkan
BAB V KESIMPULAN. masyarakat internasional yaitu isu ekonomi perdagangan. Seiring dengan
BAB V KESIMPULAN Penelitian ini membahas salah satu isu penting yang kerap menjadi fokus masyarakat internasional yaitu isu ekonomi perdagangan. Seiring dengan berkembangnya isu isu di dunia internasional,
Bab 5 Bisnis Global 10/2/2017 1
Bab 5 Bisnis Global 10/2/2017 1 Pengertian Globalisasi Globalisasi: Perekonomian dunia yang menjadi sistem tunggal yang saling bergantung satu dengan yang lainnya Beberapa kekuatan yang digabungkan menyulut
BAB 4 PENUTUP. 4.1 Kesimpulan
BAB 4 PENUTUP 4.1 Kesimpulan Perdagangan internasional diatur dalam sebuah rejim yang bernama WTO. Di dalam institusi ini terdapat berbagai unsur dari suatu rejim, yaitu prinsip, norma, peraturan, maupun
BAB I PENDAHULUAN tahun sebelum Masehi dengan menggunakan transportasi air. 1 Sedangkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perdagangan telah berkembang pesat seiring dengan perkembangan teknologi dan pertumbuhan manusia. Perdagangan dipercaya sudah terjadi sepanjang sejarah umat manusia
BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang Bersamaan dengan adanya globalisasi dunia, batas antar negara semakin memudar. Karena secara tidak langsung dengan adanya globalisasi, perlahan-lahan dunia terpaksa
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Era globalisasi menuntut adanya keterbukaan ekonomi yang semakin luas dari setiap negara di dunia, baik keterbukaan dalam perdagangan luar negeri (trade openness) maupun
BAB I PENDAHULUAN. Perdagangan internasional merupakan aspek yang sangat penting dalam. perekonomian setiap Negara di dunia. Tanpa adanya perdagangan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perdagangan internasional merupakan aspek yang sangat penting dalam perekonomian setiap Negara di dunia. Tanpa adanya perdagangan internasional, kebutuhan suatu
ASEAN ( Association of Southeast Asia Nations ) adalah organisasi yang dibentuk oleh perkumpulan Negara yang berada di daerah asia tenggara
ASEAN ( Association of Southeast Asia Nations ) adalah organisasi yang dibentuk oleh perkumpulan Negara yang berada di daerah asia tenggara ASEAN didirikan di Bangkok 8 Agustus 1967 oleh Indonesia, Malaysia,
I. PENDAHULUAN. semakin penting sejak tahun 1990-an. Hal tersebut ditandai dengan. meningkatnya jumlah kesepakatan integrasi ekonomi, bersamaan dengan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Integrasi suatu negara ke dalam kawasan integrasi ekonomi telah menarik perhatian banyak negara, terutama setelah Perang Dunia II dan menjadi semakin penting sejak tahun
Sambutan oleh: Ibu Shinta Widjaja Kamdani Ketua Komite Tetap Kerjasama Perdagangan Internasional Kadin Indonesia
Sambutan oleh: Ibu Shinta Widjaja Kamdani Ketua Komite Tetap Kerjasama Perdagangan Internasional Kadin Indonesia Disampaikan Pada Forum Seminar WTO Tanggal 12 Agustus 2008 di Hotel Aryaduta, Jakarta Kepada
BAB I Pendahuluan. A. Latar Belakang
BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang Globalisasi menyebabkan negara saling terintegrasi yang dimana dapat dilihat banyak sekali terbentuknya Free Trade Agreement (FTA) yang merupakan hasil dari diplomasi
hambatan sehingga setiap komoditi dapat memiliki kesempatan bersaing yang sama. Pemberian akses pasar untuk produk-produk susu merupakan konsekuensi l
BAB V 5.1 Kesimpulan KESIMPULAN DAN SARAN Dalam kesepakatan AoA, syarat hegemoni yang merupakan hubungan timbal balik antara tiga aspek seperti form of state, social force, dan world order, seperti dikatakan
SISTEM PERDAGANGAN INTERNASIONAL
SISTEM PERDAGANGAN INTERNASIONAL GLOBAL TRADING SYSTEM 1. Tarif GATT (1947) WTO (1995) 2. Subsidi 3. Kuota 4. VERs 5. ad. Policy 6. PKL NEGARA ATAU KELOMPOK NEGARA NEGARA ATAU KELOMPOK NEGARA TRADE BARRIERS
Bab I Pendahuluan 1. Latar Belakang
Bab I Pendahuluan 1. Latar Belakang Perjanjian Bidang Pertanian/ Agreement on Agriculture merupakan salah satu jenis perjanjian multilateral yang disepakati di dalam WTO. Secara umum, hal ini dilakukan
BAB V. Kesimpulan. Seperti negara-negara lain, Republik Turki juga telah menjalin kerja sama
BAB V Kesimpulan Seperti negara-negara lain, Republik Turki juga telah menjalin kerja sama ekonomi melalui perjanjian perdagangan bebas dengan beberapa negara secara bilateral, seperti perjanjian perdagangan
I. PENDAHULUAN. mengalami perubahan relatif pesat. Beberapa perubahan tersebut ditandai oleh: (1)
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam dua dasawarsa terakhir perkembangan perekonomian dunia telah mengalami perubahan relatif pesat. Beberapa perubahan tersebut ditandai oleh: (1) mulai bergesernya
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Industri jasa konstruksi memiliki arti penting dan strategis dalam pembangunan nasional mengingat industri jasa konstruksi menghasilkan produk akhir berupa bangunan
DAFTAR ISI. Halaman Judul... i. Halaman Persetujuan Pembimbing... ii. Halaman Pengesahan Skripsi... iii. Halaman Pernyataan... iv
DAFTAR ISI Halaman Halaman Judul... i Halaman Persetujuan Pembimbing... ii Halaman Pengesahan Skripsi... iii Halaman Pernyataan... iv Halaman Persembahan... v Kata Pengantar... vii Kutipan Undang-Undang...
I. PENDAHULUAN. penting dalam perekonomian nasional. Ditinjau dari kontribusinya terhadap
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian sampai saat ini masih mempunyai peranan yang cukup penting dalam perekonomian nasional. Ditinjau dari kontribusinya terhadap pendapatan nasional, sektor
SATU DEKADE KERJASAMA EKONOMI UNI EROPA-INDONESIA EKSPOR-IMPOR PENDORONG INVESTASI UNI EROPA DI INDONESIA
RINGKASAN EKSEKUTIF SATU DEKADE KERJASAMA EKONOMI UNI EROPA-INDONESIA EKSPOR-IMPOR PENDORONG INVESTASI UNI EROPA DI INDONESIA DAFTAR ISI KATA PENGANTAR 4 INVESTASI UNI EROPA PENDORONG PERDAGANGAN INDONESIA
BAB 3 KONDISI PERDAGANGAN LUAR-NEGERI INDONESIA DENGAN KAWASAN ASEAN
BAB 3 KONDISI PERDAGANGAN LUAR-NEGERI INDONESIA DENGAN KAWASAN ASEAN Disepakatinya suatu kesepakatan liberalisasi perdagangan, sesungguhnya bukan hanya bertujuan untuk mempermudah kegiatan perdagangan
I. PENDAHULUAN. perekonomian nasional bagi banyak negara di dunia. Semakin terbuka suatu
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perdagangan internasional memiliki peranan penting sebagai motor penggerak perekonomian nasional bagi banyak negara di dunia. Semakin terbuka suatu negara terhadap arus
E-BISNIS INTERIM MANAGEMENT REPORT ( SAP ) Disusun oleh : Bil Muammar ( ) JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA
E-BISNIS INTERIM MANAGEMENT REPORT ( SAP ) Disusun oleh : Bil Muammar (09.11.3371) Dosen : M. Suyanto, Prof. Dr, M.M. JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER AMIKOM
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Bab ini berisi hasil kesimpulan penelitian secara keseluruhan yang dilakukan dengan cara study literatur yang data-datanya diperoleh dari buku, jurnal, arsip, maupun artikel
BAB I PENDAHULUAN. J. Suatma, Kesiapan Indonesia dalam Menghadapi ASEAN Economic Community 2015, Jurnal STIE Semarang, vol.4 no.1, 2012.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kerjasama ASEAN telah dimulai ketika Deklarasi Bangkok ditandatangani oleh Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filiphina pada tahun 1967. Sejak saat
BAB I PENDAHULUAN. utama yang dilakukan negara untuk menjalin kerjasama perdagangan. Hal ini
BAB I PENDAHULUAN Saat ini, pembentukan Free Trade Agreement (FTA) menjadi salah satu opsi utama yang dilakukan negara untuk menjalin kerjasama perdagangan. Hal ini menjadikan evaluasi dampak terhadap
1 BAB V: PENUTUP. 5.1 Kesimpulan
100 1 BAB V: PENUTUP 5.1 Kesimpulan Penelitian ini menekankan pada proses penandatangan MoU Microsoft - RI. Proses tersebut tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui proses politisasi hak kekayaan intelektual
BAB I PENDAHULUAN. Produk Domestik Bruto (PDB) yang cukup besar, yaitu sekitar 14,43% pada tahun
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian mempunyai peranan yang sangat penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia, hal ini dapat dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSPOR TEKSTIL INDONESIA TAHUN
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSPOR TEKSTIL INDONESIA TAHUN 1985-2005 SKRIPSI Disusun untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar kesarjanaan S-1 pada Universitas Muhammadiyah Surakarta
BAB I PENDAHULUAN. <http://www.japantimes.co.jp/news/2013/06/01/world/the-evolution-of-ticad-since-its-inception-in-1993/>, diakses 16 Juni 2016.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejak kebijakan ODA Jepang mulai dijalankan pada tahun 1954 1, ODA pertama kali diberikan kepada benua Asia (khususnya Asia Tenggara) berupa pembayaran kerusakan akibat
BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor perikanan Indonesia dalam era perdagangan bebas mempunyai peluang yang cukup besar. Indonesia merupakan negara bahari yang sangat kaya dengan potensi perikananan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Indonesia dan Thailand merupakan dua negara berkembang di kawasan Asia Tenggara yang sedang berusaha mengembangkan sektor industri otomotif negerinya. Kenyataan bahwa
SEKOLAH PASCASARJANA USU MEDAN 2009
BAHAN KULIAH WORLD TRADE ORGANIZATION Prof. Sanwani Nasution, SH Dr. Mahmul Siregar, SH.,M.Hum PROGRAM STUDI ILMU HUKUM SEKOLAH PASCASARJANA USU MEDAN 2009 SEJARAH TERBENTUKNYA GATT (1) Kondisi perekonomian
BAB I PENDAHULUAN. internasional untuk memasarkan produk suatu negara. Ekspor dapat diartikan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ekspor merupakan salah satu bagian penting dalam perdagangan internasional untuk memasarkan produk suatu negara. Ekspor dapat diartikan sebagai total penjualan barang
I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang tangguh dalam perekonomian dan memiliki peran sebagai penyangga pembangunan nasional. Hal ini terbukti pada saat Indonesia
BAB IV GAMBARAN UMUM PERDAGANGAN INDONESIA KE ASEAN PLUS THREE
BAB IV GAMBARAN UMUM PERDAGANGAN INDONESIA KE ASEAN PLUS THREE 4.1. Kerjasama Ekonomi ASEAN Plus Three Kerjasama ASEAN dengan negara-negara besar di Asia Timur atau lebih dikenal dengan istilah Plus Three
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Prinsip perluasan Uni Eropa adalah semua anggota harus memenuhi ketentuan yang dimiliki oleh Uni Eropa saat ini, antara lain menyangkut isu politik (kecuali bagi
1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pariwisata saat ini telah menjadi salah satu motor penggerak ekonomi dunia terutama dalam penerimaan devisa negara melalui konsumsi yang dilakukan turis asing terhadap
BAB IV GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA. negara selain faktor-faktor lainnya seperti PDB per kapita, pertumbuhan ekonomi,
BAB IV GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA 4.1 Perkembangan Laju Inflasi di Indonesia Tingkat inflasi merupakan salah satu indikator fundamental ekonomi suatu negara selain faktor-faktor lainnya seperti
untuk memastikan agar liberalisasi tetap menjamin kesejahteraan sektor swasta. Hasil dari interaksi tersebut adalah rekomendasi sektor swasta yang
Bab V KESIMPULAN Dalam analisis politik perdagangan internasional, peran politik dalam negeri sering menjadi pendekatan tunggal untuk memahami motif suatu negara menjajaki perjanjian perdagangan. Jiro
Fokus Negara IMF. Fokus Negara IMF. Ekonomi Asia yang Dinamis Terus Memimpin Pertumbuhan Global
Fokus Negara IMF Orang-orang berjalan kaki dan mengendarai sepeda selama hari bebas kendaraan bermotor, diadakan hari Minggu pagi di kawasan bisnis Jakarta di Indonesia. Populasi kaum muda negara berkembang
I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Globalisasi menjadi sebuah wacana yang menarik untuk didiskusikan
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Globalisasi menjadi sebuah wacana yang menarik untuk didiskusikan dalam berbagai bidang, tak terkecuali dalam bidang ekonomi. Menurut Todaro dan Smith (2006), globalisasi
BAB V KESIMPULAN. para pemimpin yang mampu membawa China hingga masa dimana sektor
BAB V KESIMPULAN China beberapa kali mengalami revolusi yang panjang pasca runtuhnya masa Dinasti Ching. Masa revolusi yang panjang dengan sendirinya melahirkan para pemimpin yang mampu membawa China hingga
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dan merupakan salah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG PEMILIHAN JUDUL Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dan merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk terbesar di dunia, merupakan pasar
BAB I PENDAHULUAN. berlebih, yang bisa mendatangkan suatu devisa maka barang dan jasa akan di ekspor
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Semakin berkembangnya perdagangan bebas ini, persaingan bisnis global membuat masing-masing negera terdorong untuk melaksanakan perdagangan internasional. Perdagangan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Structural Adjustment Programs (SAPs) adalah sebuah program pemberian pinjaman yang dicanangkan oleh IMF. SAPs pada mulanya dirumuskan untuk membendung bencana
I. PENDAHULUAN. menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam memenuhi kebutuhan pangan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam memenuhi kebutuhan pangan penduduknya. Oleh karena itu, kebijakan
BAB I PENDAHULUAN. Menurut Tinbergen (1954), integrasi ekonomi merupakan penciptaan struktur
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menurut Tinbergen (1954), integrasi ekonomi merupakan penciptaan struktur perekonomian internasional yang lebih bebas dengan jalan menghapuskan semua hambatanhambatan
ASEAN FREE TRADE AREA (AFTA) Lola Liestiandi & Primadona Dutika B.
ASEAN FREE TRADE AREA (AFTA) Lola Liestiandi & Primadona Dutika B. Outline Sejarah dan Latar Belakang Pembentukan AFTA Tujuan Strategis AFTA Anggota & Administrasi AFTA Peranan & Manfaat ASEAN-AFTA The
Menerjang Arus Globalisasi ACFTA dan Masa Depan Ekonomi Politik Indonesia
Menerjang Arus Globalisasi ACFTA dan Masa Depan Ekonomi Politik Indonesia Tahun 2001, pada pertemuan antara China dan ASEAN di Bandar Sri Begawan, Brunei Darussalam, Cina menawarkan sebuah proposal ASEAN-China
Prospek Ekonomi Regional ASEAN ASEAN+3 Regional Economic Outlook (AREO) Ringkasan
Prospek Ekonomi Regional ASEAN+3 2018 ASEAN+3 Regional Economic Outlook (AREO) 2018 Ringkasan Prospek dan Tantangan Ekonomi Makro Prospek ekonomi global membaik di seluruh kawasan negara maju dan berkembang,
BAB I PENDAHULUAN. menimbulkan penderitaan bagi masyarakat Korea. Jepang melakukan eksploitasi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian Sejarah Korea yang pernah berada di bawah kolonial kekuasaan Jepang menimbulkan penderitaan bagi masyarakat Korea. Jepang melakukan eksploitasi sumber
mereka. Seperti telah diketahui misalnya KPI telah melakukan kerjasama sebelumnya dengan pihak Jepang dan Vietnam dalam downstream business di Vietnam
BAB IV KESIMPULAN Harapan akan adanya kerjasama yang menguntungkan dari masing-masing pihak menjadi fondasi terjadinya negosiasi antara kedua belah pihak seperti pembahasan sebelumnya. Ketersediaan minyak
2 masing-masing negara masih berhak untuk menentukan sendiri hambatan bagi negara non anggota. 1 Sebagai negara dalam kawasan Asia Tenggara tentunya p
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam era globalisasi yang semakin maju ini ada banyak isu-isu yang berkembang. Bukan hanya isu mengenai hard power yang menjadi perhatian dunia, tetapi isu soft
DAMPAK PERDAGANGAN BEBAS ASEAN CINA BAGI PEREKONOMIAN INDONESIA (Studi Kasus : Dampak pada Tekstil dan Produk Tekstil Indonesia (TPT))
DAMPAK PERDAGANGAN BEBAS ASEAN CINA BAGI PEREKONOMIAN INDONESIA (Studi Kasus : Dampak pada Tekstil dan Produk Tekstil Indonesia (TPT)) Resume Muhammad Akbar Budhi Prakoso 151040071 JURUSAN ILMU HUBUNGAN
RESUME. Liberalisasi produk pertanian komoditas padi dan. biji-bijian nonpadi di Indonesia bermula dari
RESUME Liberalisasi produk pertanian komoditas padi dan biji-bijian nonpadi di Indonesia bermula dari penandatanganan Perjanjian Pertanian (Agreement on Agriculture/AoA) oleh pemerintahan Indonesia yaitu
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Di era globalisasi seperti sekarang ini, distirbusi informasi serta mobilitas manusia menjadi lebih mudah. Hal ini merupakan dampak langsung dari adanya pengembangan
BAB I PENDAHULUAN. World Trade Organization (WTO) secara resmi berdiri pada. tanggal 1 Januari 1995 dengan disepakatinya Agreement the World
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah World Trade Organization (WTO) secara resmi berdiri pada tanggal 1 Januari 1995 dengan disepakatinya Agreement the World Trade Organization ditandatangani para
BAB I. Pendahuluan. A. Latar Belakang Masalah
BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang Masalah Fenomena internasional yang menjadi tren perdagangan dewasa ini adalah perdagangan bebas yang meliputi ekspor-impor barang dari suatu negara ke negara lain.
I. PENDAHULUAN. moneter terus mengalami perkembangan. Inisiatif kerjasama mulai dikembangkan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Proses integrasi di berbagai belahan dunia telah terjadi selama beberapa dekade terakhir, terutama dalam bidang ekonomi. Proses integrasi ini penting dilakukan oleh masing-masing
BENTUK KERJASAMA EKONOMI INTERNASIONAL.
BENTUK KERJASAMA EKONOMI INTERNASIONAL BADAN-BADAN KERJASAMA EKONOMI KERJA SAMA EKONOMI BILATERAL: antara 2 negara KERJA SAMA EKONOMI REGIONAL: antara negara-negara dalam 1 wilayah/kawasan KERJA SAMA EKONOMI
PERBANDINGAN KEBIJAKAN LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT TERHADAP NEGARA- NEGARA ISLAM PADA MASA PEMERINTAHAN GEORGE WALKER BUSH DAN BARACK OBAMA RESUME
PERBANDINGAN KEBIJAKAN LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT TERHADAP NEGARA- NEGARA ISLAM PADA MASA PEMERINTAHAN GEORGE WALKER BUSH DAN BARACK OBAMA RESUME Dinamika politik internasional pasca berakhirnya Perang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hubungan perdagangan antar negara yang dikenal dengan perdagangan internasional mengalami perkembangan yang pesat dari waktu ke waktu. Perdagangan internasional merupakan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN Melalui Buku Pegangan yang diterbitkan setiap tahun ini, semua pihak yang berkepentingan diharapkan dapat memperoleh gambaran umum tentang proses penyelenggaraan pemerintahan
Kerja sama ekonomi internasional
Meet -12 1 hubungan antara suatu negara dengan negara lainnya dalam bidang ekonomi melalui kesepakatankesepakatan tertentu, dengan memegang prinsip keadilan dan saling menguntungkan. Tujuan umum kerja
I. PENDAHULUAN. Pembangunan sektor pertanian saat ini telah mengalami perubahan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan sektor pertanian saat ini telah mengalami perubahan orientasi yaitu dari orientasi peningkatan produksi ke orientasi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan.
LAPORAN SOSIALISASI HASIL DAN PROSES DIPLOMASI PERDAGANGAN INTERNASIONAL MEDAN, SEPTEMBER 2013
LAPORAN SOSIALISASI HASIL DAN PROSES DIPLOMASI PERDAGANGAN INTERNASIONAL MEDAN, SEPTEMBER 2013 I. PENDAHULUAN Kegiatan Sosialisasi Hasil dan Proses Diplomasi Perdagangan Internasional telah diselenggarakan
BAB 5 KESIMPULAN. Universitas Indonesia
BAB 5 KESIMPULAN Dalam bab terakhir ini akan disampaikan tentang kesimpulan yang berisi ringkasan dari keseluruhan uraian pada bab-bab terdahulu. Selanjutnya, dalam kesimpulan ini juga akan dipaparkan
BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN
BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN I. Ekonomi Dunia Pertumbuhan ekonomi nasional tidak terlepas dari perkembangan ekonomi dunia. Sejak tahun 2004, ekonomi dunia tumbuh tinggi
MATERI PERDAGANGAN LUAR NEGERI
MATERI PERDAGANGAN LUAR NEGERI A. Definisi Pengertian perdagangan internasional merupakan hubungan kegiatan ekonomi antarnegara yang diwujudkan dengan adanya proses pertukaran barang atau jasa atas dasar
BAB 1 PENDAHULUAN. (AEC) merupakan salah satu bentuk realisasi integrasi ekonomi dimana ini
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) / ASEAN Economic Community (AEC) merupakan salah satu bentuk realisasi integrasi ekonomi dimana ini merupakan agenda utama negara
PENDAHULUAN. Dalam beberapa dekade belakangan ini, perdagangan internasional telah
PENDAHULUAN Latar Belakang Dalam beberapa dekade belakangan ini, perdagangan internasional telah tumbuh dengan pesat dan memainkan peranan penting dan strategis dalam perekonomian global. Meningkatnya
BAB VI. KESIMPULAN. integrasi ekonomi ASEAN menghasilkan kesimpulan sebagai berikut: perdagangan di kawasan ASEAN dan negara anggotanya.
BAB VI. KESIMPULAN 6.1. Kesimpulan Hasil penelitian mengenai aliran perdagangan dan investasi pada kawasan integrasi ekonomi ASEAN menghasilkan kesimpulan sebagai berikut: 1. Integrasi ekonomi memberi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hubungan Indonesia dengan Jepang telah berlangsung cukup lama dimulai dengan hubungan yang buruk pada saat penjajahan Jepang di Indonesia pada periode tahun 1942-1945
BAB I PENDAHULUAN. seluruh negara sebagian anggota masyarakat internasional masuk dalam blokblok
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Liberalisasi perdagangan kini telah menjadi fenomena dunia. Hampir di seluruh negara sebagian anggota masyarakat internasional masuk dalam blokblok perdagangan bebas
Pengantar Bisnis. Tujuan, Sumber Daya, dan Stakeholders Bisnis MODUL PERKULIAHAN. Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh
MODUL PERKULIAHAN Tujuan, Sumber Daya, dan Stakeholders Bisnis Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Ekonomi & Bisnis Akuntansi 01 MK84014 Abstract Tujuan dan perkembangan dunia bisnis;
I. PENDAHULUAN. sembilan persen pertahun hingga disebut sebagai salah satu the Asian miracle
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini peranan minyak bumi dalam kegiatan ekonomi sangat besar. Bahan bakar minyak digunakan baik sebagai input produksi di tingkat perusahaan juga digunakan untuk
Tinjauan Kebijakan Ekonomi Indonesia Yose Rizal Damuri
Tinjauan Kebijakan Ekonomi Indonesia Meninjau Ulang Pentingnya Perjanjian Perdagangan Bebas Bagi Indonesia Yose Rizal Damuri Publikasi Ikhtisar Kebijakan Singkat ini merupakan hasil dari Aktivitas Kebijakan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Era globalisasi ekonomi yang disertai dengan pesatnya perkembangan teknologi, berdampak kepada ketatnya persaingan, dan cepatnya perubahan lingkungan usaha. Perkembangan
ekonomi KTSP & K-13 PERDAGANGAN INTERNASIONAL K e l a s A. Konsep Dasar Tujuan Pembelajaran
KTSP & K-13 ekonomi K e l a s XI PERDAGANGAN INTERNASIONAL Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mempunyai kemampuan sebagai berikut. 1. Memahami tentang teori perdagangan
Bab 11 Manajemen Keuangan Internasional
D a s a r M a n a j e m e n K e u a n g a n 139 Bab 11 Manajemen Keuangan Internasional Mahasiswa diharapkan dapat memahami mengenai teori perdagangan internasional, peranan manajemen keuangan internasional,
KEPENTINGAN AMERIKA SERIKAT TERHADAP PENYATUAN MONETER EROPA (EUROPEAN MONETARY UNION) SKRIPSI. Ole h : WANDI NPM :
/vionc7a R.y UI\IH) IVS /e/l r.,;.fli Dr/OO 1;1I11.Nv 8 KEPENTINGAN AMERIKA SERIKAT TERHADAP PENYATUAN MONETER EROPA (EUROPEAN MONETARY UNION) k SKRIPSI,...------ Ole h : WANDI NPM : 079514852 PROORAM
Realisme dan Neorealisme I. Summary
Realisme dan Neorealisme I. Summary Dalam tulisannya, Realist Thought and Neorealist Theory, Waltz mengemukakan 3 soal, yaitu: 1) pembentukan teori; 2) kaitan studi politik internasional dengan ekonomi;
BAB I PENDAHULUAN. II, di era 1950-an ialah Perdana Menteri Yoshida Shigeru. Ia dikenal karena
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pasca kekalahan dalam Perang Dunia II, Jepang berusaha bangkit menjadi salah satu kekuatan besar di dunia. Perdana Menteri yang berpengaruh pasca PD II, di
Kemunduran Amerika Serikat dilihat sebagai sebuah kemunduran yang bersifat
Kesimpulan Amerika Serikat saat ini adalah negara yang sedang mengalami kemunduran. Kemunduran Amerika Serikat dilihat sebagai sebuah kemunduran yang bersifat relatif; karena disaat kemampuan ekonomi dan
