PENERAPAN METODE CAPITAL ASSET PRICING MODEL
|
|
|
- Sukarno Rachman
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 PENERAPAN METODE CAPITAL ASSET PRICING MODEL (CAPM) UNTUK MENENTUKAN KELOMPOK SAHAM-SAHAM EFISIEN (Studi Pada Perusahaan Sektor Asuransi Go-Public Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode ) Riska Yulianti Topowijono Devi Farah Azizah Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang ABSTRACT Investments that serves efficient stock investing is to consider the factors that may affectthe return on the stock. With the CAPM method, investors can gauge the stock's performance in determining the level of expectation of return (expected return) of a security and minimize investment risk. This research uses descriptive method with quantitative approach. The population in this study are all companies go public insurance sectors listed in Indonesia Stock Exchange in The sampling technique used was purposive sampling method. Based on predetermined criteria, acquired 7 shares of insurance companies sampled in this study. The results showed that there are 6 shares of companies included in the group efficiently share and 1 share of companies included in the group of stocks is not efficient. Efficient stock group has a rate of return of individuals (R i )is greater than the expected rate [E(R i )]. Investment decisions should be taken by investors are buying the shares. Group shares are not efficient to have people return rate (R i )is smaller than the expected rate [E(R i )]. Investment decisions should be taken by investors is to sell these shares before the stock price fell. Keywords: Expected Return, Risk, Investment Decisions, Stock Inefficient. ABSTRAK Investasi yang menyajikan saham efisien adalah investasi yang mempertimbangkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi return pada saham tersebut. Dengan metode CAPM, investor dapat mengukur kinerja saham dalam menentukan tingkat harapan pengembalian (expected return) dari suatu sekuritas dan meminimalisir risiko investasi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan sektor asuransi go-public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah metode purposive sampling. Berdasarkan kriteria yang telah ditentukan, diperoleh 7 saham perusahaan asuransi yang menjadi sampel dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 6 saham perusahaan yang termasuk dalam kelompok saham efisien dan 1 saham perusahaan termasuk dalam kelompok saham tidak efisien. Kelompok saham efisien memiliki tingkat pengembalian individu (R i ) lebih besar daripada tingkat pengembalian yang diharapkan [E(R i )]. Keputusan investasi yang harus diambil investor adalah membeli saham tersebut. Kelompok saham tidak efisien memiliki tingkat pengembalian individu (R i ) lebih kecil daripada tingkat pengembalian yang diharapkan [E(R i )]. Keputusan investasi yang harus diambil investor adalah menjual saham tersebut sebelum harga saham turun. Kata kunci: Expected Return, Risiko,Keputusan Investasi, Saham Tidak Efisien. 122
2 PENDAHULUAN4 Globalisasi pada sektor keuangan merupakan salah satu tuntutan perkembangan ekonomi di Indonesia dan memiliki peran penting dalam mendorong perubahan iklim investasi dan perkembangan pasar modal di Indonesia. Dunia bisnis di Indonesia khususnya bidang investasi dapat dikatakan semakin berkembang pesat dari waktu ke waktu. Hal ini ditandai dengan semakin ramainya transaksi jual-beli saham oleh para investor yang terjadi di pasar modal. Selain menjadi wadah yang mempertemukan pihak-pihak yang membutuhkan dana (emiten) dan pihak-pihak yang kelebihan dana (investor), kegiatan investasi di pasar modal juga dapat memberikan tambahan pendapatan berupa capital gain dan dividen bagi investor. Di sisi lain, pasar modal juga merupakan salah satu indikator ekonomi utama yang dapat digunakan oleh lembaga baik nasional maupun internasional. Setiap orang dihadapkan pada berbagai keputusan dalam menentukan proporsi dana yang dimiliki untuk kegiatan saat ini dan di masa yang akan datang. Salah satu keputusan yang dapat diambil adalah berinvestasi. Investasi merupakan komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa mendatang (Tandelilin, 2010:2). Dalam proses investasi ada tiga hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu: tingkat pengembalian yang diharapkan (expected rate of return), tingkat risiko (rate of risk) dan ketersediaan jumlah dana yang akan diinvestasikan (Tandelilin, 2010:11). Risiko merupakan perbedaan antara hasil yang diharapkan (expected return) dan realisasinya (Zubir, 2010:19). Semakin besar penyimpangan, maka semakin tinggi tingkat risiko yang dihadapi. Alasan bagi investor ingin menanggung risiko adalah pandangan mereka terhadap tingkat pengembalian yang positif, sehingga investor berusaha mencari jalan untuk menekan risiko investasi yang akan dihadapi sekecil mungkin dengan melakukan diversifikasi investasi pada berbagai intrumen investasi (Zubir, 2010:1). Teori portofolio berkaitan dengan estimasi investor terhadap ekspektasi risiko dan pengembalian dengan mengkombinasikan aset ke dalam diversifikasi portofolio yang efisien. Tujuannya adalah berusaha mencapai saham yang efisien, yang berarti saham dengan risiko tertentu akan mendapatkan return yang maksimal. Efisiensi portofolio merupakan suatu portofolio yang menyajikan return yang tinggi dengan tingkat risiko yang rendah, atau return yang sama dengan tingkat risiko yang berbeda. Tandelilin (2010:116) mengungkapkan saham efisien dapat ditentukan dengan memilih tingkat return ekspektasi tertentu, kemudian meminimumkan risikonya atau meminimumkan tingkat risiko tertentu, kemudian memaksimalkan return ekspektasinya atau saham dengan tingkat pengembalian individu yang lebih besar dari tingkat pengembalian yang diharapkan. Berdasarkan prinsip tersebut, maka Capital Asset Pricing Model (CAPM) digunakan untuk menentukan keuntungan (expected return) yang layak untuk suatu investasi dengan mempertimbangkan risiko investasi. CAPM merupakan sebuah model yang menggambarkan hubungan antara risiko dan return yang diharapkan. Model ini digunakan dalam penilaian harga sekuritas. CAPM memberikan prediksi yang tepat antara hubungan risiko sebuah aset dan tingkat harapan pengembalian (expected return). Risiko saham dalam CAPM diukur dengan beta (β). Pada CAPM, semakin besar koefisien beta, maka akan semakin besar pula return suatu saham dan juga semakin berisiko. Dalam CAPM, tingkat pengembalian yang diharapkan ditentukan oleh tingkat pengembalian pasar, tingkat pengembalian bebas risiko dan risiko sistematis/beta. Informasi mengenai kinerja saham perusahaan dapat dilihat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Di BEI terdapat beberapa sektor yang di dalamnya terdiri dari sub sektor. Salah satu sektor yang sesuai untuk kriteria pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah sub sektor asuransi pada sektor keuangan dengan periode waktu yang telah ditetapkan. Undang-undang yang mengatur masalah asuransi di Indonesia tertuang dalam UU No.2 Tahun 1992 yang merupakan bentuk perjanjian mengikat antara yang menyalurkan resiko (tertanggung) dan yang menerima resiko (penanggung) berdasarkan pembayaran dari tertanggung kepada penanggung. Perkembangan asuransi di Indonesia mengalami peningkatan yang sangat pesat pada tahun Hal tersebut terlihat dari maraknya berbagai perusahaan asuransi asing dan lokal yang mulai membuka bisnis di Indonesia. Selain pertumbuhan yang tetap tinggi pada 2012, akan ada perkembangan lain yang mempengaruhi industri atau bisnis asuransi. Tak hanya asuransi jiwa yang tumbuh di tahun 2012, asuransi umum juga akan tetap tumbuh seiring dengan tumbuhnya perekonomian Indonesia. 123
3 Dengan pertumbuhan rata-rata sampai dengan tahun 2014, maka total aset industri asuransi diperkirakan dapat meningkat. Secara umum keberadaan asuransi dapat memberikan peran yang sangat besar terhadap perekonomian suatu negara. Berdasarkan uraian tersebut, maka penelitian ini berjudul Penerapan Metode Capital Asset Pricing Model (CAPM) Untuk Menentukan Kelompok Saham-Saham Efisien (Studi Pada Perusahaan Sektor Asuransi Go- Public Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode ). KAJIAN PUSTAKA Saham Saham adalah sertifikat yang menunjukkan bukti kepemilikan suatu perusahaan dan pemegang saham memiliki hak klaim atas penghasilan dan aktiva perusahaan (Rusdin, 2006:68). Saham menurut pendapat Hadi (2013:67) adalah salah satu komoditas keuangan yang diperdagangkan di pasar modal yang paling popular. Berdasarkan definisi dari beberapa para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa saham merupakan tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Return Return adalah pendapatan yang dinyatakan dalam persentase dari modal awal investasi. Pendapatan investasi dalam saham ini merupakan keuntungan yang diperoleh dari jual-beli saham, dimana jika mendapat untung disebut capital gain dan jika rugi disebut capital loss (Samsul, 2006:291). Tandelilin (2010:9) menjelaskan, Return merupakan tingkat keuntungan investasi. Berdasarkan definisi para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa return adalah tingkat keuntungan yang diperoleh investor dari dana yang ditanamkan pada kegiatan investasi. Risiko Menurut Tandelilin (2010:103) risiko atau risk adalah perbedaan return aktual yang diterima dengan return harapan. Risiko adalah bentuk keadaan ketidakpastian tentang suatu keadaan yang akan terjadi nantinya (future) dengan keputusan yang diambil berdasarkan berbagai pertimbangan saat ini (Fahmi, 2012:189). Tingkat Pengembalian Saham Individu Menurut Tandelilin (2010:53), tingkat pengembalian merupakan salah satu faktor yang memotivasi investor berinteraksi dan juga merupakan imbalan atas keberanian investor dalam menanggung risiko terhadap investasi yang dilakukannya Tingkat Pengembalian Pasar Tingkat pengembalian pasar merupakan tingkat pengembalian yang didasarkan pada perkembangan indeks harga saham (Jogiyanto, 2012:102). Tingkat pengembalian pasar dapat dihitung melalui return Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Tingkat Pengembalian Bebas Risiko Husnan (2005:176) menjelaskan tingkat pengembalian bebas risiko merupakan ukuran tingkat pengembalian minimum pada saat risiko beta (β i ) bernilai nol. Tingkat pengembalian bebas risiko diwakili oleh tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang ditetapkan oleh Bank Indonesia Tingkat Pengembalian yang Diharapkan Tingkat pengembalian yang diharapkan merupakan tingkat pengembalian yang diharapkan dari investasi yang akan dilakukan (Jogiyanto, 2012:499). Beta Menurut Tandelilin (2010:521), Beta adalah kovarians return sekuritas dengan return pasar yang distandarisasi dengan varians return saham. Beta merupakan ukuran yang sesuai dari risikonya karena beta sebanding dengan risiko sekuritas yang dikontribusikan terhadap portofolio berisiko optimal (Bodie, 2014:302). CAPM juga menyatakan bahwa semakin besar koefisien beta, maka akan semakin besar return suatu saham dan juga semakin berisiko (β i > 1). Apabila (β i < 1), maka saham tersebut memiliki risiko rendah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, tingkat pengembalian portofolio ditentukan oleh risiko sistematis atau risiko pasar yang diukur dengan beta dan tingkat pengembalian pasar. Capital Asset Pricing Model (CAPM) Bodie (2014:293) menyatakan, CAPM merupakan sekumpulan prediksi mengenai keseimbangan perkiraan imbal hasil terhadap aset berisiko. Menurut Tandelilin (2010:187), CAPM adalah model yang menghubungkan tingkat return harapan dari suatu aset berisiko dengan risiko dari aset tersebut pada kondisi pasar yang seimbang. Suhartono (2009:89) menambahkan, CAPM merupakan suatu model yang menggunakan beta untuk menghubungkan risiko dan return secara bersama-sama. 124
4 METODOLOGI PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian yang dilakukan termasuk dalam jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan pada sektor asuransi go-public yang terdaftar di BEI tahun 2012 sampai dengan 2014 yang berjumlah 11 perusahaan. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dan diperoleh 7 perusahaan, sebagai berikut: Tabel 1. Sampel Penelitian No. Kode Nama Emiten 1. ABDA Asuransi Bina Dana Arta Tbk. 2. AMAG Asuransi Multi Artha Guna Tbk. 3. ASBI Asuransi Bintang Tbk. 4. ASDM Asuransi Dayin Mitra Tbk. 5. ASRM Asuransi Ramayana Tbk. 6. LPGI Lippo General Insurance Tbk. 7. PNIN Panin Insurance Tbk.. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data merupakan cara atau suatu proses untuk mendapatkan data empiris melalui responden dengan menggunakan metode tertentu (Silalahi, 2012:280). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan dokumentasi. Dokumentasi adalah mengumpulkan data dengan cara melihat atau menilai data historis atau masa lalu. Data yang diperoleh berupa data tertulis yang berkaitan dengan objek penelitian. Teknik Analisis Data Analisis data merupakan proses penyederhanaan dan penyajian data dalam suatu bentuk yang mudah dibaca dan diinterpretasikan. Alat analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kuantitatif dengan cara melakukan perhitungan dan kemudian menganalisis data dalam bentuk angka-angka. Proses analisis data dalam penelitian ini yaitu : 1. Menghitung tingkat pengembalian saham individu R i = (P t P t 1 )+D t P t 1 (Jogiyanto,2009:111) 2. Menghitung tingkat pengembalian pasar R m = IHSG t IHSG t 1 IHSG t 1 (Fahmi,2011:138) 3. Menghitung tingkat pengembalian bebas risiko R f = R f N (Husnan, 2005:176) 4. Menghitung beta masing-masing saham individu β i = σim σ 2 M (Tandelilin, 2010:132) 5. Menghitung tingkat pengembalian yang diharapkan E(R i ) = R f + β i [E(R M ) - R f ] (Jogiyanto, 2012:499) 6. Penggambaran Security Market Line (SML) Security Market Line (SML) atau yang dikenal dengan garis pasar sekuritas adalah penggambaran yang berbentuk grafis dari model Capital Asset Pricing Model (CAPM) karena, menggambarkan trade-off antara risiko dan tingkat return ekspektasian untuk sekuritas individual yang diukur dengan beta (Jogiyanto, 2012:499). 7. Pengelompokan dan Keputusan Saham yang Efisien Saham efisien adalah saham dengan tingkat pengembalian individu lebih besar dari tingkat pengembalian yang diharapkan dimana dilihat dari besarnya R i dan juga E(R i ). Keputusan investasi juga berdasarkan penilaian dari kelompok saham-saham efisien/ maupun kelompok saham-saham tidak efisien/not. Keputusan investasi yang dilakukan terhadap kelompok saham efisien/ adalah mengambil atau membeli saham tersebut karena kondisi undervalue. Keputusan investasi yang dilakukan terhadap kelompok saham tidak efisien/not adalah menjual saham tersebut karena kondisi overvalue. HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Fokus Penelitian 1. Tingkat Pengembalian Saham Individu (R i ) Tingkat pengembalian merupakan salah satu faktor yang memotivasi investor berinteraksi dan juga merupakan imbalan atas keberanian investor dalam menanggung risiko terhadap investasi yang dilakukannya. Hasil perhitungan tingkat pengembalian saham individu dari masingmasing saham perusahaan adalah sebagai berikut: 125
5 Tabel 2 Tingkat Pengembalian Saham Individu (R i ) Periode No Kode Efek Rata-rata (R i ) R i dalam Persentase 1. ABDA 0,07039* 7,039%* 2. AMAG 0, ,703% 3. ASBI 0, ,736% 4. ASDM 0, ,101% 5. ASRM 0,00437** 0,437%** 6. LPGI 0, ,335% 7. PNIN 0, ,674% Jumlah 0, ,025% Rata-rata 0, ,289% Rata-rata 0, ,039% tertinggi* Rata-rata 0, ,437% terendah** Berdasarkan tabel 2, dapat disimpulkan bahwa rata-rata tingkat pengembalian saham individu dari 7 saham perusahaan yang menjadi sampel penelitian selama periode memiliki rata-rata tingkat pengembalian yang positif (R i > 0), yaitu sebesar 0,03289 atau 3,289%. Saham perusahaan Asuransi Bina Dana Arta Tbk. (ABDA) memiliki rata-rata tingkat pengembalian saham individu per bulan tertinggi dibandingkan dengan rata-rata tingkat pengembalian saham individu perusahaan lainnya, yaitu sebesar 0,07039 atau 7,039%. Saham perusahaanyang memiliki rata-rata tingkat pengembalian saham individu terendah adalah Asuransi Ramayana Tbk. (ASRM) yaitu sebesar 0,00437 atau 0,437%. 2. Tingkat Pengembalian Pasar (R m ) Tingkat pengembalian pasar merupakan tingkat pengembalian yang didasarkan pada perkembangan indeks harga saham. Tingkat pengembalian pasar dapat dihitung melalui return Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Berdasarkan tabel 3, dapat diketahui nilai tingkat pengembalian pasar dari saham-saham perusahaan periode Selama periode tersebut juga dapat dilihat tingkat pengembalian pasar terbesar dan terkecil. Sebagai contoh adalah R m bulan Maret 2012 sebesar 0,03421, yang berasal dari perhitungan IHSG bulan Maret 2012 sebesar 4.121,55 dikurangi dengan IHSG bulan Februari 2012 yaitu sebesar 3.985,21, kemudian hasilnya dibagi dengan IHSG bulan Februari Cara perhitungan tersebut juga berlaku untuk menghitung besarnya R m pada bulan-bulan yang lain. Jumlah tingkat pengembalian pasar selama periode menunjukkan nilai positif sebesar 0,30697 atau 30,697%. Hasil tersebut kemudian dibagi dengan 35 bulan, sehingga diketahui rata-rata tingkat pengembalian pasar per bulan sebesar 0,00877 atau 0,877%. Tingkat pengembalian pasar terendah terjadi pada bulan Agustus 2013 sebesar -0,09008 atau -9,008% yang menggambarkan perdagangan saham pada bulan tersebut mengalami kelesuan, sedangkan tingkat pengembalian pasar tetinggi terjadi pada bulan Februari 2013 sebesar 0,07681 atau 7,681% yang menggambarkan kondisi perdagangan saham pada bulan tersebut sangat aktif. Tabel 3 Tingkat Pengembalian Pasar (R m ) Periode Periode IHSG R m R m dlm Th Bln Persentase 2012 Jan 3.941,69 Feb 3.985,21 0, ,104% Mar 4.121,55 0, ,421% Apr 4.180,73 0, ,436% Mei 3.832,82-0, ,322% Jun 3.955,58 0, ,203% Jul 4.142,34 0, ,721% Agt 4.060,33-0, ,980% Sept 4.262,56 0, ,981% Okt 4.350,29 0, ,058% Nov 4.276,14-0, ,704% Des 4.316,69 0, ,948% 2013 Jan 4.453,70 0, ,174% Feb 4.795,79 0,07681* 7,681%* Mar 4.940,99 0, ,028% Apr 5.034,07 0, ,884% Mei 5.068,63 0, ,687% Jun 4.818,90-0, ,927% Jul 4.610,38-0, ,327% Agt 4.195,09-0,09008** -9,008%** Sep 4.316,18 0, ,886% Okt 4.510,63 0, ,505% Nov 4.256,44-0, ,635% Des 4.274,18 0, ,417% 2014 Jan 4.418,76 0, ,383% Feb 4.620,22 0, ,559% Mar 4.768,28 0, ,205% Apr 4.840,15 0, ,507% Mei 4.893,91 0, ,111% Jun 4.878,58-0, ,313% Jul 5.088,80 0, ,309% Agt 5.136,86 0, ,944% Sept 5.137,58 0, ,014% Okt 5.089,55-0, ,935% Nov 5.149,89 0, ,186% Des 5.226,95 0, ,496% Jumlah 0, ,697% Rata-rata 0, ,877% Rata-rata tertinggi* 0, ,681% Rata-rata terendah** -0, ,008% 126
6 3. Tingkat Pengembalian Bebas Risiko (R f ) Tingkat pengembalian bebas risiko merupakan ukuran tingkat pengembalian minimum pada saat risiko beta (β i ) bernilai nol. Tingkat pengembalian bebas risiko diwakili oleh tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Tabel 4 Tingkat Pengembalian Bebas Risiko (R f ) Periode Periode SBI R f Thn Bln 2012 Jan 6,00% 0,0600 Feb 5,75% 0,0575 Mar 5,75% 0,0575 Apr 5,75% 0,0575 Mei 5,75% 0,0575 Jun 5,75% 0,0575 Jul 5,75% 0,0575 Agt 5,75% 0,0575 Sept 5,75% 0,0575 Okt 5,75% 0,0575 Nov 5,75% 0,0575 Des 5,75% 0, Jan 5,75% 0,0575 Feb 5,75% 0,0575 Mar 5,75% 0,0575 Apr 5,75% 0,0575 Mei 5,75% 0,0575 Jun 6,00% 0,0600 Jul 6,50% 0,0650 Agt 7,00% 0,0700 Sept 7,25% 0,0725 Okt 7,25% 0,0725 Nov 7,50% 0,0750 Des 7,50% 0, Jan 7,50% 0,0750 Feb 7,50% 0,0750 Mar 7,50% 0,0750 Apr 7,50% 0,0750 Mei 7,50% 0,0750 Jun 7,50% 0,0750 Jul 7,50% 0,0750 Agt 7,50% 0,0750 Sept 7,50% 0,0750 Okt 7,50% 0,0750 Nov 7,75% 0,0775 Des 7,75% 0,0775 Jumlah 2,3750 Rata-rata 0,06597 Rata-rata tertinggi* 0,0775 Rata-rata terendah** 0,0575 Berdasarkan tabel 4, dapat diketahui tingkat suku bunga Bank Indonesia pada akhir tahun 2014 selama periode penelitian berada pada level tertinggi yaitu sebesar 0,0775 atau 7,75%, sedangkan tingkat suku bunga Bank Indonesia terendah terjadi pada bulan Februari 2012-Mei 2013 sebesar0,0575 atau 5,75%. Rata-rata nilai suku bunga Bank Indonesia periode yaitu sebesar 0,06597 atau 6,597% per tahun. Untuk menghitung R f per tahun adalah dengan membagi rata-rata nilai suku bunga Bank Indonesia sebesar 0,06597 atau 6,597% dengan jumlah total bulan dalam 1 tahun atau 12 bulan. Hasil perhitungannya adalah sebagai berikut : R f = 0,06597 = 0,00549 atau 0,549% 12 bulan 4. Risiko Sistematis Masing-masing Saham Individu (β i ) Beta adalah suatu pengukur volatilitas (volatility) return suatu sekuritas atau return portofolio terhadap return pasar atau ukuran yang sesuai dari risikonya karena beta sebanding dengan risiko sekuritas yang dikontribusikan terhadap portofolio berisiko optimal. Hasil perhitungan dari beta pada masing-masing saham perusahaan adalah sebagai berikut : Tabel 5 Tingkat Risiko Sistematis/Beta (β i ) Masingmasing Saham Individu No. Kode Efek β i 1. ABDA 0,07697** 2. AMAG 0, ASBI 0, ASDM 0, ASRM 0, LPGI 1, PNIN 1,35101* Jumlah 5,71582 Rata-rata 0,81655 Rata-rata tertinggi* 1,35101 Rata-rata terendah** 0,07697 Berdasarkan tabel 5, dapat diketahui bahwa jumlah beta dari 7 saham perusahaan yang dijadikan sampel penelitian adalah 5,71582 dengan rata-rata beta sebesar 0, Hasil perhitungan menunjukkan rata-rata beta (β i ) bernilai kurang dari 1 (0,81655<1), yang menunjukkan kondisi risiko saham cenderung kurang stabil. Hasil perhitungan juga menunjukkan bahwa terdapat 2 saham perusahaan yang memiliki beta lebih dari 1, yaitu Lippo General Insurance Tbk. (LPGI) yang memiliki nilai beta sebesar 1,29733 dan Panin Insurance Tbk. (PNIN) yang juga memiliki nilai beta tertinggi sebesar 1,35101 dan menjadi saham yang paling agresif atau memiliki tingkat kepekaan yang tinggi terhadap perubahan pasar. 127
7 E (Ri) Saham perusahaan yang memiliki nilai beta terendah dari seluruh saham yang dijadikan sampel penelitian adalah Asuransi Bina Dana Arta Tbk. (ABDA) sebesar 0,07697 yang menunjukkan bahwa saham tersebut memiliki risiko yang kecil, cenderung pasif dan kurang peka terhadap perubahan harga pasar. 5. Tingkat Pengembalian yang Diharapkan [E(R i )] Metode CAPM digunakan untuk menghitung tingkat pengembalian yang diharapkan dengan menggunakan variabel tingkat pengembalian bebas risiko (R f ), rata-rata tingkat pengembalian pasar [E(R M )], dan risiko sistematis (β i ) pada masing-masing saham. Hasil perhitungan tingkat pengembalian yang diharapkan dari 7 saham perusahaan yang dijadikan sampel penelitian adalah sebagai berikut: Tabel 6 Tingkat Pengembalian yang Diharapkan Periode No. Kode Saham E(R i ) 1. ABDA 0,00574** 2. AMAG 0, ASBI 0, ASDM 0, ASRM 0, LPGI 0, PNIN 0,00992* Jumlah 0,05718 Rata-rata 0,00817 Rata-rata tertinggi* 0,00992 Rata-rata terendah** 0,00574 Berdasarkan tabel 6, diketahui nilai rata-rata tingkat pengembalian yang diharapkan dari 7 saham perusahaan yang menjadi sampel penelitian selama periode adalah sebesar 0,00817 atau 0,817%. Saham perusahaan Panin Insurance Tbk. (PNIN) memiliki tingkat pengembalian yang diharapkan tertinggi yaitu sebesar 0,00992 atau 0,992% dan perusahaan yang memiliki tingkat pengembalian yang diharapkan terendah sebesar 0,00574 atau 0,574% adalah Asuransi Bina Dana Arta Tbk (ABDA). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan linear antara tingkat pengembalian yang diharapkan dengan risiko sistematis atau beta, yang artinya besar kecil tingkat pengembalian yang diharapkan tergantung pada besar kecilnya risiko suatu saham. 6. Penggambaran Security Market Line (SML) Garis pasar sekuritas atau security market line (SML) adalah garis yang menghubungkan tingkat return harapan dari suatu sekuritas dengan risiko sistematis (beta). SML digunakan untuk menilai sekuritas secara individual pada kondisi pasar yang seimbang yaitu menilai tingkat return yang diharapkan dari suatu sekuritas individual pada suatu tingkat risiko sistematis tertentu (beta). Berdasarkan 7 saham perusahaan yang dijadikan sampel penelitian, maka dapat terlihat penggambaran grafik SML yang ditunjukkan pada gambar 1 sebagai berikut : 0,012 0,01 0,008 0,006 0,004 0, ,00574 Security Market Line (SML) 0, , , , ,00975 Gambar 1 Grafik Security Market Line (SML) 0, , , , , , , ,35101 Beta Berdasarkan gambar 1 tersebut, diketahui bahwa terdapat hubungan positif dan linier antara tingkat pengembalian yang diharapkan [E(R i )] dengan risiko sitematis atau beta (β i ). Gambar 1 juga menunjukkan pada saat risiko sistematis atau beta (β i ) sama dengan 1 (β i =1), maka nilai tingkat pengembalian yang diharapkan sebesar nilai tingkat pengembalian pasar yaitu sebesar 0,00877 atau 0,877%. Saham perusahaan Lippo General Insurance Tbk. (LPGI) memiliki nilai beta lebih dari 1 (β i >1), sebesar 1,29733 dan Panin Insurance Tbk. (PNIN) yang juga memiliki nilai beta lebih dari 1 (β i >1) dan tertinggi sebesar 1,35101 dan menjadi saham yang paling agresif atau memiliki tingkat kepekaan yang tinggi terhadap perubahan pasar, sedangkan saham perusahaan yang memiliki nilai beta terendah dari seluruh saham yang dijadikan sampel penelitian adalah Asuransi Bina Dana Arta Tbk. (ABDA) sebesar 0,07697 yang menunjukkan bahwa saham tersebut memiliki risiko yang kecil, cenderung pasif dan kurang peka terhadap perubahan harga pasar, sehingga menjadi saham defensif. 7. Pengelompokan dan Keputusan Investasi Saham yang Efisien 128
8 Ri dan E(Ri) Saham dengan tingkat pengembalian individu lebih besar dari tingkat pengembalian yang diharapkan merupakan saham efisien, sedangkan saham dengan tingkat pengembalian individu lebih kecil dari tingkat pengembalian yang diharapkan merupakan saham tidak efisien. Keputusan investasi terhadap saham yang efisien/good yang diambil oleh investor adalah mengambil atau membeli saham, sedangkan keputusan investasi terhadap saham yang tidak efisien/not good yang diambil investor adalah menjual saham sebelum harga saham turun. Gambar 2 di bawah ini menunjukkan perbandingan dan posisi dari tingkat pengembalian saham individu dan tingkat pengembalian yang diharapkan sebagai berikut : 0,08 0,06 0,04 0,02 0 Saham Efisien dan Saham Tidak Efisien 0, , , , , , , , , , , , , ,00992 Kode Emiten Gambar 2 Saham Efisien dan Saham Tidak Efisien Berdasarkan pengelompokan saham efisien dan saham tidak efisien, serta keputusan investasi saham dari 7 saham perusahaan yang menjadi sampel penelitian terdapat 1 saham perusahaan yang termasuk kelompok saham tidak efisien, yaitu saham Asuransi Ramayana Tbk. (ASRM) karena memiliki tingkat pengembalian individu lebih kecil daripada tingkat pengembalian yang diharapkan dengan selisih antara R i dan E(R i ) yaitu sebesar - 0, Keputusan investasi yang dilakukan terhadap kelompok saham tidak efisien adalah menjual saham tersebut karena kondisi overvalue. Ketika harga naik, investor lebih baik menjual saham-saham tidak efisien tersebut sebelum harga saham semakin turun. Berdasarkan tabel 7 di bawah ini, dapat diketahui kelompok saham efisien periode adalah 6 saham perusahaan dari 7 saham perusahaan yang dijadikan sampel penelitian. Keputusan investasi yang dilakukan terhadap kelompok saham efisien/ adalah mengambil atau membeli saham tersebut karena kondisi undervalue. Ketika harga turun, investor akan membeli saham-saham efisien. Ri E(Ri) Tabel 7 Pengelompokkan Saham Efisien, Saham Tidak Efisien dan Keputusan Investasi Saham No. Nama Emiten Kode Efek 1. ABDA Asuransi Bina Dana Arta Tbk. 2. AMAG Asuransi Multi Artha Guna Tbk. 3. ASBI Asuransi Bintang Tbk. 4. ASDM Asuransi Dayin Mitra Tbk. 5. LPGI Lippo General Insurance Tbk. 6. PNIN Panin Insurance Tbk. Tabel 8 Kelompok Saham Efisien Periode KESIMPULAN DAN SARAN No Kode Emiten R i E(R i ) Evaluasi Saham 1. ABDA 0, ,00574 Efisien/ 2. AMAG 0, ,00868 Efisien/ 3. ASBI 0, ,00817 Efisien/ 4. ASDM 0, ,00778 Efisien/ 5. ASRM 0, ,00714 Tidak Efisien/ Not 6. LPGI 0, ,00975 Efisien/ 7. PNIN 0, ,00992 Efisien/ Kesimpulan Berdasarkan penelitian dan hasil analisis data yang dilakukan, maka kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa diperoleh rata-rata beta dari 7 saham perusahaan yang menjadi sampel penelitian yaitu sebesar 0,81655 dan beta bernilai kurang dari 1 (0,81655<1), sedangkan nilai rata-rata tingkat pengembalian yang diharapkan dari 7 saham perusahaan yang menjadi sampel penelitian yaitu sebesar 0,00817 atau 0,817%. Hal ini menunjukkan kondisi risiko saham cenderung kurang stabil. Hasil perhitungan juga menunjukkan saham Panin Insurance Tbk. (PNIN) memiliki nilai beta tertinggi dari seluruh saham yang dijadikan sampel penelitian sebesar 1,35101 dan juga memiliki tingkat pengembalian yang diharapkan tertinggi sebesar 0, Saham Asuransi Bina Dana Arta Tbk. 129
9 (ABDA) memiliki nilai beta terendah sebesar 0,07697 dan juga memiliki tingkat pengembalian yang diharapkan terendah sebesar 0, Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan linier antara besarnya risiko sistematis/beta dengan tingkat pengembalian yang diharapkan. 2. Terdapat 6 saham perusahaan yang termasuk dalam kelompok saham efisien yaitu Asuransi Bina Dana Arta Tbk. (ABDA), Asuransi Multi Artha Guna Tbk. (AMAG), Asuransi Bintang Tbk. (ASBI), Asuransi Dayin Mitra Tbk. (ASDM), Lippo General Insurance Tbk. (LPGI) dan Panin Insurance Tbk. (PNIN) dan terdapat 1 saham perusahaan yang termasuk dalam kelompok saham tidak efisien dari seluruh saham perusahaan yang dijadikan sampel penelitian yaitu Asuransi Ramayana Tbk. (ASRM). Saran Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka saran yang dapat diberikan oleh peneliti yaitu : 1. Bagi investor dan calon investor Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dan tambahan informasi bagi para investor maupun calon investor yang akan melakukan investasi saham di pasar modal. Sangat penting bagi investor untuk menginvestasikan kelebihan dana yang dimiliki pada saham-saham yang efisien agar risiko yang akan dihadapi dapat diminimalisir dengan baik, sehingga tujuan investor untuk mendapatkan return yang diharapkan dapat tercapai. 2. Bagi peneliti selanjutnya Peneliti dengan metode CAPM ini diharapkan dapat dijadikan referensi untuk penelitian selanjutnya dengan sampel dan periode penelitian yang berbeda, sehingga perkembangan mengenai pasar modal khususnya investasi saham dapat selalu diketahui. Fahmi, Irham Manajemen Investasi (Teori dan Soal Jawab). Bandung: Alfabeta. Hadi, Nor Pasar Modal Acuan Teoritis dan Praktis Investasi di Instrumen Keuangan Pasar Modal. Edisi Pertama. Cetakan Pertama. Yogyakarta: Graha Ilmu. Husnan, Suad Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas. Edisi Ke-Empat. Cetakan Pertama. Yogyakarta: AMP YKPN. Jogiyanto Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi Keenam. Cetakan Pertama. Yogyakarta: BPFE. Jogiyanto Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi Ketujuh. Yogyakarta: BPFE. Rusdin Pasar Modal Teori, Masalah dan Kebijakan dalam Praktik. Bandung: Alfabeta. Samsul, Mohamad Pasar Modal dan Manajemen Portofolio. Jakarta: Erlangga. Silalahi, Ulber Metode Penelitian Sosial. Bandung: PT. Refika Aditama. Suhartono, dan Fadlillah Qudsi Portofolio Investasi dan Bursa Efek Pendekatan Teori dan Praktik. Edisi Pertama. Yogyakarta: UPP STIM YKPN. Tandelilin, Eduardus Portofolio dan Investasi: Teori dan Aplikasi. Edisi Pertama.Yogyakarta: KANISIUS. Zubir, Zalmi Manajemen Portofolio: Penerapannya dalam Investasi Saham. Jakarta: Salemba Empat. DAFTAR PUSTAKA Bodie, and Kane Alex, and Marcus Alan J Manajemen Portofolio dan Investasi. Diterjemahkan oleh Zulaini Dalimunthe dan Budi Wibowo. Investments and Portofolio. Jakarta: Salemba Empat. Fahmi, Irham dan Yovi Lavianti, H Teori Portofolio dan Analisis Investasi: Teori dan Soal Jawab. Cetakan Kedua. Bandung: Alfabeta. 130
PENERAPAN METODE CAPITAL ASSET PRICING MODEL
PENERAPAN METODE CAPITAL ASSET PRICING MODEL (CAPM) SEBAGAI SALAH SATU UPAYA UNTUK MENENTUKAN KELOMPOK SAHAM EFISIEN (Studi pada Saham Perusahaan Sektor Industri Pengolahan yang Terdaftar di BEI Tahun
Arinda Sasmita Rahma Raden Rustam Hidayat Devi Farah Azizah Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang
PENERAPAN METODE CAPITAL ASSET PRICING MODEL (CAPM) UNTUK PENETAPAN KELOMPOK SAHAM EFISIEN (Studi Pada Saham Saham Perusahaan yang Terdaftar di Indeks LQ-45 Periode 2012 2015) Arinda Sasmita Rahma Raden
ANALISIS CAPITAL ASSET PRICING MODEL
ANALISIS CAPITAL ASSET PRICING MODEL (CAPM) TERHADAP KEPUTUSAN INVESTASI SAHAM (Studi pada Perusahaan-perusahaan Sektor Perbankan di BEI tahun 2009-2011) Aisyi Anggun Hidayati Suhadak Nengah Sudjana Jurusan
Wildan Deny Saputra Suhadak Devi Farah Azizah Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang
PENGGUNAAN METODE CAPITAL ASSET PICING MODEL (CAPM) DALAM MENENTUKAN SAHAM EFISIEN (Studi pada Saham-Saham Perusahaan yang Terdaftar di Indeks Kompas100 Periode 2010-2013) Wildan Deny Saputra Suhadak Devi
Ilona Cherie Darminto Devi Farah Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang
PENERAPAN METODE CAPM (CAPITAL ASSET PRICING MODEL) UNTUK MENENTUKAN PILIHAN INVESTASI PADA SAHAM (Studi Pada Perusahaan Sektor Consumer Good Industry di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2012) Ilona Cherie
ANALISIS PORTOFOLIO MENGGUNAKAN CAPITAL ASSET PRICING MODEL (CAPM) UNTUK PENETAPAN KELOMPOK SAHAM-SAHAM EFISIEN
ANALISIS PORTOFOLIO MENGGUNAKAN CAPITAL ASSET PRICING MODEL (CAPM) UNTUK PENETAPAN KELOMPOK SAHAM-SAHAM EFISIEN (Studi pada Seluruh Saham Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2010-2012)
ANALISIS PEMBENTUKAN PORTOFOLIO YANG OPTIMAL MENGGUNAKAN MODEL MARKOWITZ PADA PERUSAHAAN ASURANSI. Moh. Rizal
Jurnal Ilmu dan Riset Manajemen : Volume, Nomor, Desember 0 ISSN : -09 ANALISIS PEMBENTUKAN PORTOFOLIO YANG OPTIMAL MENGGUNAKAN MODEL MARKOWITZ PADA PERUSAHAAN ASURANSI Moh. Rizal [email protected]
BAB 1 PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan zaman serta meningkatnya perekonomian
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan zaman serta meningkatnya perekonomian diindonesia pada saat ini maka alternative investasi yang sangat dibutuhkan, dalam hal ini
ANALISIS PEMBENTUKAN PORTOFOLIO YANG EFISIEN DENGAN MODEL MARKOWITZ PADA PERUSAHAAN ASURANSI DI INDONESIA
ANALISIS PEMBENTUKAN PORTOFOLIO YANG EFISIEN DENGAN MODEL MARKOWITZ PADA PERUSAHAAN ASURANSI DI INDONESIA NASKAH PUBLIKASI Disusun Oleh: Andika Setiawan B100120254 PROGRAM STUDI MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI
I. PENDAHULUAN. pasif dan investor aktif. Investor pasif menganggap bahwa pasar modal adalah
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Investasi dapat dilakukan oleh perorangan atau perusahaan yang kelebihan dana. Berdasarkan pengambilan keputusan, investor dibagi menjadi dua yaitu investor pasif dan
I. PENDAHULUAN. investor. Para investor yang menginvestasikan dananya, pasti akan. mengharapkan return (tingkat pengembalian) berupa capital gain, dan
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Investasi merupakan salah satu kegiatan yang sangat menarik bagi seorang investor. Para investor yang menginvestasikan dananya, pasti akan mengharapkan return
BAB I PENDAHULUAN. dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu investasi (investment), sering juga
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian keuangan dan juga teori keuangan biasanya dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu investasi (investment), sering juga disebut teori pasar modal
BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN
67 BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Perhitungan Tingkat Pengembalian Investasi Reksa dana Populasi penelitian yang dipilih oleh penulis adalah reksa dana jenis pendapatan tetap periode Januari 2008
PENGGUNAAN METODE CAPITAL ASSET PRICING MODEL
Penggunaan Metode Capital (Herarum Sekarwati) 425 PENGGUNAAN METODE CAPITAL ASSET PRICING MODEL DALAM MENENTUKAN KEPUTUSAN BERINVESTASI SAHAM ( Studi Pada Saham Indeks Kompas 100 di Bursa Efek Indonesia
BAB I PENDAHULUAN. yang dimaksud adalah kesejahteraan secara finansial. Di dalam investasi terdapat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Investasi merupakan penempatan sejumlah dana pada saat ini dengan harapan untuk memperoleh keuntungan di masa mendatang. Tujuan investasi adalah untuk meningkatkan
ANALISIS PENERAPAN CAPITAL ASSET PRICING MODEL
ANALISIS PENERAPAN CAPITAL ASSET PRICING MODEL (CAPM) SEBAGAI DASAR DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN INVESTASI (Studi Pada Saham-Saham Perbankan Yang Listing Di BEI Periode 2013-2014) JURNAL ILMIAH Disusun
BAB 1 PENDAHULUAN. dana. Menurut Fahmi dan Hadi (2009:41), pasar modal (capital market) adalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pasar modal mempunyai peranan sangat penting dalam perekonomian suatu negara, sebagai sarana untuk mengalokasikan sumber daya ekonomi secara optimal dengan
Abstrak. Universitas Kristen Maranatha
Abstrak Perkembangan pasar modal di Indonesia saat ini semakin meningkat. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya investor yang menjadikan pasar modal sebagai alternatif berinvestasi. Meskipun demikian,
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN. berlandaskan dari teori yang ada pada bab II sebelumnya. Pengelolahan data
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN Pada bab ini, penulis membahas mengenai pengolahan data-data yang berlandaskan dari teori yang ada pada bab II sebelumnya. Pengelolahan data tersebut akan menghasilkan hasil
Menentukan Return Portofolio yang Dikenakan Pajak terhadap Deviden dan Capital Gain Menggunakan Capital Asset Pricing Model
Prosiding Matematika ISSN: 2460-6464 Menentukan Return Portofolio yang Dikenakan Pajak terhadap Deviden dan Capital Gain Menggunakan Capital Asset Pricing Model 1 Siti Jubaedah, 2 Eti Kurniati, 3 Onoy
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan dalam pasar modal saat ini kian menarik banyak investor untuk melakukan investasi. Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumberdaya lainnya
I. PENDAHULUAN. dalam waktu dua tahun atau lebih secara bertahap. Secara umum investasi dikenal
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Investasi merupakan pengeluaran modal saat ini, untuk mendapatkan keuntungan dalam waktu dua tahun atau lebih secara bertahap. Secara umum investasi dikenal sebagai kegiatan
BAB 1 PENDAHULUAN. Dengan adanya pasar modal (capital market), pemodal sebagai pihak yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pasar modal di Indonesia memiliki peran besar bagi perekonomian negara. Dengan adanya pasar modal (capital market), pemodal sebagai pihak yang memiliki kelebihan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Penelitian Terdahulu Mustain (2007) dengan judul analisis pembentukan portofolio saham optimal penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui saham apa saja yang dapat
PORTFOLIO EFISIEN & OPTIMAL
Bahan ajar digunakan sebagai materi penunjang Mata Kuliah: Manajemen Investasi Dikompilasi oleh: Nila Firdausi Nuzula, PhD Portofolio Efisien PORTFOLIO EFISIEN & OPTIMAL Portofolio efisien diartikan sebagai
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Investasi. cukup, pengalaman, serta naluri bisnis untuk menganalisis efek-efek mana yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Investasi Investasi pada hakikatnya merupakan penempatan sejumlah dana pada saat ini dengan harapan untuk memperoleh keuntungan di masa mendatang (Halim, 2005:4). Untuk melakukan
BAB I PENDAHULUAN. peningkatan dengan ditandai semakin maraknya kegiatan investasi di Pasar
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan dan keberadaan isu globalisasi tidak dapat di elakkan lagi. Hal itu dapat kita lihat dampaknya pada perkembangan perekonomian dunia yang semakin
ABSTRACT. Returns of Stock Investment Decisions, CAPM Method. ABSTRAK
Analisis Pengembalian Keputusan Investasi Saham Dengan Pendekatan Capital Asset Pricing Model (CAPM) pada Perusahaan Perbankan Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Oleh 1 Dosen Tetap Yayasan Prodi Akuntansi
HARGA SAHAM DAN RISIKO SAHAM UNTUK MENENTUKAN PORTOFOLIO EFISIEN PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BEI
HARGA SAHAM DAN RISIKO SAHAM UNTUK MENENTUKAN PORTOFOLIO EFISIEN PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BEI Evi Christasari [email protected] Soebari Martoatmodjo Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA)
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Tingkat Pengembalian Pasar Dalam penelitian ini, akan dibahas mengenai besarnya risiko tingkat pengembalian pada industri otomotif dan komponennya yang go public di Bursa
II. TINJAUAN PUSTAKA. guna menunjang pembiayaan pembangunan nasional. Sebagai salah satu elemen
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teori 2.1.1 Pasar Modal Pasar modal merupakan sarana pembentukan modal dan akumulasi dana yang diarahkan, untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengarahan dana
ANALISIS FUNDAMENTAL SAHAM SEKTOR PERBANKAN PERIODE TAHUN BERDASARKAN CAPITAL ASSET PRICING MODEL (CAPM)
ANALISIS FUNDAMENTAL SAHAM SEKTOR PERBANKAN PERIODE TAHUN 2001 2008 BERDASARKAN CAPITAL ASSET PRICING MODEL (CAPM) Welin Kusuma*, Dessy Mulyani** *Program Studi Ilmu Manajemen Pascasarjana Universitas
keterkaitannya dalam investasi lebih dari satu tahun. Berdasarkan definisi
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teori 2.1.1 Pasar Modal Pasar modal merupakan sarana pembentukan modal dan akumulasi dana yang diarahkan, untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengarahan dana
Jurnal Ilmu dan Riset Manajemen Volume 6, Nomor 9, September 2017 ISSN :
ANALISIS CAPITAL ASSET PRICING MODELTERHADAP KEPUTUSAN INVESTASI PADA PERUSAHAAN FOOD AND BEVERAGE Istiqomah [email protected] Marsudi Lestariningsih Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya
BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan pasar modal di Indonesia makin menunjukkan perkembangan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan pasar modal di Indonesia makin menunjukkan perkembangan yang signifikan ditunjukkan dengan kapitalisasi pasar modal mencapai Rp 5.071 triliun (Oktober
LANDASAN TEORI. atau keuntungan atas uang tersebut (Ahmad, 1996:3). Investasi pada hakikatnya
II. LANDASAN TEORI 2.1. Investasi Investasi adalah menempatkan dana dengan harapan memperoleh tambahan uang atau keuntungan atas uang tersebut (Ahmad, 1996:3). Investasi pada hakikatnya merupakan penempatan
BAB I PENDAHULUAN. datang. (Tandelilin, 2010:2). Investasi merupakan Penundaan konsumsi sekarang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa datang.
I. PENDAHULUAN. mendapatkan keuntungan di masa-masa yang akan datang. Maka wajar apabila
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Investasi adalah salah satu jalan untuk menempatkan dana atau uang dengan harapan kita akan mendapatkan keuntungan atau tambahan tertentu atas dana atau uang tertentu.
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Sejarah Bursa Efek Indonesia Secara historis, pasar modal telah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka. Pasar modal atau bursa efek telah hadir sejak jaman kolonial Belanda dan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. optimal pada saham yang terdaftar di Jakarta Islamic Index (JII). Jumlah keseluruhan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk membentuk portofolio yang memberikan komposisi optimal pada saham yang terdaftar di Jakarta Islamic Index (JII). Jumlah keseluruhan saham yang
BAB 1 PENDAHULUAN. diperlukan dana yang cukup besar, dimana pemenuhannya tidak hanya
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan industri manufaktur memicu perkembangan sektor industri jasa dan perdagangan. Perusahaan dituntut untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Tinjuan Umum Terhadap Objek Studi Gambaran Umum LQ Kriteria Pemilihan Saham LQ45
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Tinjuan Umum Terhadap Objek Studi 1.1.1 Gambaran Umum LQ45 Indeks LQ45 terdiri dari 45 saham dengan likuiditas (liquidity) tinggi yang diseleksi melalui beberapa kriteria pemilihan.
ANALISIS METODE CAPITAL ASSET PRICING MODEL
ANALISIS METODE CAPITAL ASSET PRICING MODEL DALAM UPAYA PENGAMBILAN KEPUTUSAN TERHADAP INVESTASI SAHAM (Studi pada Saham-Saham Perusahaan Sektor Properti dan Real Estate di Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode
ANALISIS HUBUNGAN RETURN DAN RISIKO SAHAM DENGAN MENGGUNAKAN METODE CAPITAL ASSET PRICING MODEL (CAPM) PADA JAKARTA ISLAMIC INDEX (JII)
ANALISIS HUBUNGAN RETURN DAN RISIKO SAHAM DENGAN MENGGUNAKAN METODE CAPITAL ASSET PRICING MODEL (CAPM) PADA JAKARTA ISLAMIC INDEX (JII) Anton ([email protected]) Ervita Safitri ([email protected])
BAB I PENDAHULUAN. fiskal dan moneter (Fahmi, 2013). Pasar modal menjalankan dua fungsi utama, yaitu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan ekonomi global saat ini telah mendorong para investor untuk berinvestasi di pasar modal. Keberadaan pasar modal di suatu negara bisa menjadi acuan untuk
BAB I PENDAHULUAN. berupa capital gain. Menurut Indriyo Gitosudarmo dan Basri (2002: 133),
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kondisi perekenomian yang tidak stabil dan sulit diprediksi sangat berpengaruh terhadap perkembangan dunia bisnis dewasa ini. Kondisi tersebut bisa menyebabkan penurunan
BAB I PENDAHULUAN. memperoleh rasa aman melalui tindakan berjaga-jaga dengan mencadangkan. yang mungkin akan timbul karena adanya ketidakpastian.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kegiatan investasi pada hakikatnya memiliki tujuan untuk memperoleh suatu keuntungan tertentu. Tujuan mencari keuntungan merupakan hal yang membedakan kegiatan
I. PENDAHULUAN. bidang ekonomi pada umumnya dan di bidang investasi khususnya. Investasi
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat telah mengubah pola pikir masyarakat di bidang ekonomi pada umumnya dan di bidang investasi khususnya. Investasi dapat dilakukan baik
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu Adapun penelitian mengenai CAPM salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Dewi Irawati (2010) melakukan penelitian yang berjudul Analisis Metode CAPM
BAB I PENDAHULUAN. ini diperlukan peranan pasar modal sebagai suatu wadah untuk memobilisasi. dana masyarakat selain lembaga keuangan.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator keberhasilan suatu negara. Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tersebut, salah satu hal yang harus dilakukan
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pasar modal merupakan sarana efektif sebagai penggalang dana jangka panjang dari masyarakat untuk disalurkan ke sektor-sektor produktif. Aktivitas pasar modal
BAB 1 PENDAHULUAN. saham, dengan harapan expected return yang diperoleh akan tinggi. Namun pada
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kondisi perekonomian yang tidak selalu stabil, membuat para pengusaha untuk mengantisipasi dalam mengolah dana perusahaannya. Tidak jarang para pengusaha memilih
METODE PENELITIAN. Objek yang akan diteliti dalam penelitian ini mengenai analisis komparasi
III. METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Objek yang akan diteliti dalam penelitian ini mengenai analisis komparasi kelayakan investasi reksadana saham syariah dengan reksadana saham konvensional dimana
BAB I PENDAHULUAN. suatu negara. Bagi pihak emiten, pasar modal merupakan salah satu sarana
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pasar modal merupakan sarana terpenting dalam perdagangan efek pada suatu negara. Bagi pihak emiten, pasar modal merupakan salah satu sarana untuk mendapatkan tambahan
BAB I PENDAHULUAN. keuntungan di masa datang. Harapan keuntungan (return) di masa datang tersebut
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Investasi merupakan komitmen sejumlah dana dengan tujuan memperoleh keuntungan di masa datang. Harapan keuntungan (return) di masa datang tersebut merupakan kompensasi
BAB II KAJIAN PUSTAKA. dua hal, yaitu risiko dan return. Dalam melakukan investasi khususnya pada
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Teori Investasi Teori investasi menjelaskan bahwa keputusan investasi selalu menyangkut dua hal, yaitu risiko dan return. Dalam melakukan investasi khususnya
I. PENDAHULUAN. Sikap investor terhadap risiko dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu
I. PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Sikap investor terhadap risiko dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok investor yang menyenangi risiko (risk lover atau risk seeker), kelompok investor yang
BAB 1 PENDAHULUAN. investasi tersebut ada suatu keuntungan (return) yang diinginkan oleh investor.
BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Investasi merupakan suatu penanaman modal secara langsung ataupun tidak langsung, jangka pendek maupun jangka panjang, dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang
BAB I PENDAHULUAN Pendahuluan berisikan latar belakang permasalahan, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, batasan masalah serta sistematika penulisan dalam pembuatan laporan tugas akhir. 1.1 Latar
ANALISIS INVESTASI SAHAM PERUSAHAAN GO PUBLIC SEKTOR PERTANIAN DI BURSA EFEK JAKARTA. Artie Arditha R., S.E. Endang Asliana, S.E.
EKUITAS ISSN 1411-0393 Akreditasi No.55a/DIKTI/Kep/006 ANALISIS INVESTASI SAHAM PERUSAHAAN GO PUBLIC SEKTOR PERTANIAN DI BURSA EFEK JAKARTA Artie Arditha R., S.E. Endang Asliana, S.E. Politeknik Negeri
MATERI 6 MODEL-MODEL KESEIMBANGAN
MATERI 6 MODEL-MODEL KESEIMBANGAN CAPITAL ASSET PRICING MODEL (CAPM) PORTOFOLIO PASAR GARIS PASAR MODAL (CAPITAL MARKET LINE/CML) GARIS PASAR SEKURITAS (SECURITY MARKET LINE/SML) PENGUJIAN TERHADAP CAPM
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian Di era globalisasi ini, perkembangan perusahaan go public semakin pesat. Saham-saham diperdagangkan untuk menarik para investor menanamkan modal pada
BAB 1 PENDAHULUAN. memfasilitasi jual-beli sekuritas yang umumnya berumur lebih dari satu tahun,
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan ekonomi secara keseluruhan dapat dilihat dari perkembangan pasar modal dan industri sekuritas pada suatu negara. Pasar modal memiliki peranan penting
IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN. 1.1 Analisis Portofolio Pada Aktiva Berisiko (Saham dan Emas)
IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN 1.1 Analisis Portofolio Pada Aktiva Berisiko (Saham dan Emas) Investor dalam membentuk portofolio diperlukan perhitungan return ekspektasi dari masing-masing aktiva untuk dimasukkan
BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian adalah suatu kegiatan yang menggunakan metode yang
BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian adalah suatu kegiatan yang menggunakan metode yang sistematis untuk memperoleh data yang meliputi pengumpulan data, pengolahan data, dan analisis data. 3.1 Variabel
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. investasi adalah pemahaman hubungan antara return yang diharapkan dan. return yang diharapkan. (Tandelilin, 2001 : 3)
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Investasi Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumberdaya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa datang. Hal
BAB III METODELOGI PENELITIAN. variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan atau
BAB III METODELOGI PEELITIA 3.1 Tipe Penelitian Penelitian yang dilakukan berupa penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitan yang dilakukan untuk mengetahui variabel mandiri, baik satu
I. PENDAHULUAN. reksadana pertama oleh PT. BDNI Reksadana. Pengesahan Undang-Undang. sebagai salah satu instrument investasi di Indonesia.
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Reksadana di Indonesia mulai dikembangkan sejak tahun 1995, dengan penerbitan reksadana pertama oleh PT. BDNI Reksadana. Pengesahan Undang-Undang Nomor 8 Tahun
Judul : Kinerja Portofolio Optimal Berdasarkan Model Indeks Tunggal (Studi pada Perusahaan Sektor Basic Industry and Chemicals
Judul : Kinerja Portofolio Optimal Berdasarkan Model Indeks Tunggal (Studi pada Perusahaan Sektor Basic Industry and Chemicals dan Sektor Trade, Service, and Investment) Nama : Golden Jr. Aliakur NIM :
DAFTAR PUSTAKA. Darmadji, T dan Fakhrudin M.H Pasar Modal di Indonesia Pendekatan. Tanya Jawab. Jakarta: Salemba Empat.
87 DAFTAR PUSTAKA Abdilah, Sulton Bani, & Rahayu, Sri. 2013. Analisis Pembentukan Portofolio Optimal Saham Menggunakan Model Indeks Tunggal Untuk Pengambilan Keputusan Investasi (Studi Kasus Saham Index
Retno Dwi Sulistiani Topowijono Maria Gorreti Wi Endang NP Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang
ANALISIS PEMBENTUKAN PORTOFOLIO OPTIMAL SAHAM BERDASARKAN METODE MODEL INDEKS TUNGGAL (Studi pada Saham Perusahaan yang Tercatat dalam Indeks LQ 45 di Bursa Efek Indonesia Tahun 2012-2016) Retno Dwi Sulistiani
Model-model Keseimbangan
Materi 5 Model-model Keseimbangan Prof. Dr. DEDEN MULYANA, SE., M.Si. MODEL-MODEL MODEL KESEIMBANGAN CAPITAL ASSET PRICING MODEL (CAPM) PORTOFOLIO PASAR GARIS PASAR MODAL (CAPITAL GARIS PASAR SEKURITAS
BAB 1 PENDAHULUAN. Pasar modal merupakan salah satu tonggak penting dalam perekonomian
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pasar modal merupakan salah satu tonggak penting dalam perekonomian dunia saat ini. Banyak industri dan perusahaan yang menggunakan institusi pasar modal sebagai
II. LANDASAN TEORI. dananya untuk investasi dengan harapan akan menerima keuntungan di masa yang
II. LANDASAN TEORI 2.1 Investasi Dalam manajemen keuangan terdapat tiga keputusan yaitu keputusan investasi, keputusan pembiayaan dan keputusan dividen. Dari ketiga keputusan tersebut, keputusan invetasi
III. METODE PENELITIAN. Objek dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Study ini menganalisis portofolio ke tiga aset yaitu saham, emas, dan
III. METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Objek dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Study ini menganalisis portofolio ke tiga aset yaitu saham, emas, dan Sertifikat Bank Indonesia.. Harga
BAB I PENDAHULUAN. pihak yang akan menginvestasikan dananya (investor). Prinsip-prinsip
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pasar modal Indonesia sebagai lembaga keuangan selain perbankan keberadaannya dapat dijadikan tempat untuk mencari sumber dana baru dengan tugasnya sebagai
ANALISIS PEMBENTUKAN PORTOFOLIO YANG EFISIEN PADA PERUSAHAAN KERAMIK, KACA DAN PORSELEN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA DENGAN MODEL MARKOWITZ
ANALISIS PEMBENTUKAN PORTOFOLIO YANG EFISIEN PADA PERUSAHAAN KERAMIK, KACA DAN PORSELEN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA DENGAN MODEL MARKOWITZ IRMA CHRISTIANA Dosen Fakultas Ekonomi Universitas
II. TINJAUAN PUSTAKA. Investasi adalah Proses menabung yang berorientasi pada tujuan tertentu dan
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Investasi Investasi adalah Proses menabung yang berorientasi pada tujuan tertentu dan bagaimana mencapai tujuan tersebut dan bagaimana mencapai tujuan tersebut Pratomo (2004) Definisi
BAB I PENDAHULUAN. Pada saat sekarang ini banyak orang tertarik untuk melakukan investasi.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada saat sekarang ini banyak orang tertarik untuk melakukan investasi. Mereka berharap dengan melakukan investasi dapat memperoleh keuntungan di waktu mendatang. Sesuai
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Investasi dapat diartikan sebagai suatu komitmen penempatan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Investasi dapat diartikan sebagai suatu komitmen penempatan dana pada satu atau beberapa objek investasi dengan harapan akan mendapatkan keuntungan di masa mendatang.
BAB III METODE PENELITIAN
35 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian deskripsif adalah kegiatan pengumpulan data sekunder dan analisis data dengan
PENGARUH KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN ROKOK YANG TERDAFTAR DI BEI TAHUN
PENGARUH KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN ROKOK YANG TERDAFTAR DI BEI TAHUN 2013-2015 Disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program studi strata I pada Fakultas
BAB 1 PENDAHULUAN. bertahan dari terpaan krisis tersebut. Tabel 1 di bawah ini menunjukkan. Tabel 1
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Meskipun sejak tahun 2008 perekonomian dunia sedang mengalami perlambatan dikarenakan krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat dan negara-negara di kawasan
Penerapan Model Indeks Tunggal dalam Menghitung Beta Saham Jakarta Islamic Index untuk Mengukur Risiko Sistematis
Jurnal Penelitian Sains Volume 13 Nomer 2(A) 13203 Penerapan Model Indeks Tunggal dalam Menghitung Beta Saham Jakarta Islamic Index untuk Mengukur Risiko Sistematis Yuli Andriani Jurusan Matematika FMIPA,
BAB 1 PENDAHULUAN. dapat dilakukan dalam bentuk investasi riil (real investment) dan dalam bentuk
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Investasi di Indonesia merupakan salah satu cara yang banyak diminati masyarakat dalam memperoleh keuntungan dana guna memenuhi kebutuhan di masa yang akan
