LANGKAH AWAL LAM-PTKes
|
|
|
- Hengki Lesmono
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 LAPORAN 4 Technical Assistance for Developing Business Plan Lembaga Akreditasi Pendidikan Tinggi Kesehatan (LAM-PTKes) Proyek Peningkatan Kualitas Pendidikan Tenaga Kesehatan (Health Professional Education Quality Improvement / HPEQ) LANGKAH AWAL LAM-PTKes oleh Soedarmono Soejitno Jakarta, Mei 2012
2 DAFTAR ISI DAFTAR ISI... Daftar Kotak... Daftar Gambar... Daftar Tabel... RINGKASAN EKSEKUTIF... i hal. i i ii ii iii 1 PENDAHULUAN Laporan Akhir Konsultan Balanced Scorecard (BSC) LAM-PTKes Task Force sebagai Cikal Bakal LAM-PTKes Perkembangan Kelompok Pembentukan Tim Inti dalam Task Force LAM-PTKes PERSPEKTIF PELANGGAN LAM-PTKes PERSPEKTIF KEUANGAN LAM-PTKes PERSPEKTIF PRODUKSI (INTERNAL BUSINESS PROCESS) LAM-PTKes PERSPEKTIF BELAJAR DAN BERKEMBANG LAM-PTKes Jejaring Komunitas Praktisi (Community of Practice) untuk Akreditasi Formatif Ciri-Ciri Komunitas Praktisi Penerapan Komunitas Praktisi oleh Organisasi Sistem Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management System / KMS) Komunitas Praktisi sebagai Landasan Manajemen Pengetahuan Model Sistem Manajemen Pengetahuan (KMS) LAM-PTKes Penataan Aspek Dinamis Organisasi LAM-PTKes TUGAS TIM INTI DALAM BALANCED SCORECARD (BSC) LAM-PTKes AGENDA TINDAK LANJUT Tim Inti Persiapan Pool Asesor dan Fasilitator Tim Inti Persiapan Manajemen Tim Inti Peralihan Akreditasi dari BAN-PT ke LAM-PTKes Referensi DAFTAR KOTAK hal. Kotak 1.1 : Kelompok merupakan Sistem Adaptif yang Kompleks... 5 Kotak 1.2 : Tahap Perkembangan Task Force LAM-PTKes... 6 Kotak 1.3 : Perlunya 3 Tim Inti dalam Task Force LAM-PTKes... 6 Kotak 2.1 : Indikator Penentu Kinerja LAM-PTKes dari Perspektif Pelanggan... 9 Kotak 2.2 : Kalau Harga / Tarif Paket Akreditasi oleh LAM-PTKes Mau Dibuat Nihil Seperti BAN-PT Kotak 2.3 : Jika Harga / Tarif Paket Akreditasi oleh LAM-PTKes Tidak Bisa Dibuat Nihil Kotak 2.4 : Tugas Tim Inti Persiapan Pool Asesor dan Fasilitator dalam Perspektif Pelanggan Kotak 2.5 : Tugas Tim Inti Persiapan Manajemen dalam Perspektif Pelanggan Kotak 2.6 : Tugas Tim Inti Peralihan Akreditasi dari BAN-PT ke LAM-PTKes dalam Perspektif Pelanggan Kotak 3.1 : Indikator Penentu Kinerja LAM-PTKes dari Perspektif Keuangan... 13
3 ii Kotak 3.2 : Tugas Tim Inti Persiapan Manajemen dalam Perspektif Keuangan Kotak 4.1 : Indikator Penentu Kinerja LAM-PTKes dari Perspektif Produksi Kotak 4.2 : Tugas Tim Inti Persiapan Pool Asesor dan Fasilitator dalam Perspektif Produksi Kotak 4.3 : Tugas Tim Inti Persiapan Manajemen dalam Perspektif Produksi Kotak 4.4 : Tugas Tim Inti Peralihan Akreditasi dari BAN-PT ke LAM-PTKes dalam Perspektif Produksi Kotak 5.1 : Beban Kuantitatif dan Kualitatif dalam membentuk Pool Asesor dan Fasilitator Kotak 5.2 : Pelatihan Bukan Segalanya Kotak 5.3 : Jejaring Kompetensi yang Dibentuk oleh Berbagai Komunitas Praktisi Kotak 5.4 : Pembelajaran Utama Tidak Terjadi di Sekolah Kotak 5.5 : Model Sistem Manajemen Pengetahuan (KMS) LAM-PTKes DAFTAR GAMBAR hal. Gambar 1.1 : Peta Strategi LAM-PTKes... 3 Gambar 1.2 : Dinamika Perkembangan Kelompok... 5 Gambar 1.3 : Organogram LAM-PTKes... 8 Gambar 2.1 : Atribut untuk Nilai Tambah bagi Pelanggan... 9 Gambar 2.2 : Perlunya Penetapan Tarif agar Rencana Pendapatan Dapat Mendanai Pengeluaran Organisasi Gambar 4.1 : Model Generik Perspektif Produksi dalam menciptakan Nilai Tambah Gambar 5.1 : Model Kue Donat dari Manajemen Pengetahuan Gambar 5.2 : Model Sistem Manajemen Pengetahuan / KMS Gambar 5.3 : Iklim Organisasi yang Dinamis Gambar 7.1 : Siklus Pembelajaran dari Kolb Gambar 7.2 : 5 cara untuk Memelihara Fokus terhadap Strategi Gambar 7.3 : Siklus Kebijakan DAFTAR TABEL hal. Tabel 1.1 : Tata Kala Rencana Kegiatan Technical Assistance for Developing Business Plan LAM-PTKes... 2 Tabel 5.1 : Perbedaan antara Komunitas Praktisi dan Kelompok Formal Tabel 5.2 : Manfaat Komunitas Praktisi bagi Organisasi dan Anggotanya Tabel 6.1 : Tugas Tim Inti dalam Balanced Scorecard (BSC) LAM-PTKes Tabel 7.1 : Peralihan Jenis Pengetahuan dan Contohnya... 37
4 RINGKASAN EKSEKUTIF Isi Laporan Ke Empat ini mencakup hal-hal sebagai berikut : 1. Task Force sebagai Cikal Bakal LAM-PTKes melalui 3 Tim Inti yang dibentuknya; 2. Tugas Tim Inti dalam Balanced Scorecard (BSC) LAM-PTKes; 3. Agenda Tindak Lanjut sebagai Langkah Awal LAM-PTKes. iii 1. Task Force sebagai Cikal Bakal LAM-PTKes Dari Gambar 1.2, dapat dilihat bahwa kelompok merupakan suatu Sistem Adaptif yang Kompleks. Sebagaimana halnya dengan perkembangan kelompok pada umumnya, maka perkembangan Task Force LAM-PTKes dan wakil-wakil dari 7 asosiasi institusi pendidikan dan 7 organisasi profesi kesehatan serta organisasi-organisasi yang terkait lainnya juga melalui tahap-tahap berikut ini : Forming; Storming; Norming; dan Performing. Dengan memperhatikan dinamika yang berkembang dalam Proyek HPEQ, maka perkembangan Task Force LAM-PTKes saat ini sudah sampai pada tahap Norming. Supaya dapat menjadi tim yang efektif, maka perlu ada fokus pada tugas-tugas Task Force yang saling berkaitan dan tergantung satu sama lain. Oleh karena itu, agar mulai bergerak dari tahap Norming menuju tahap Performing, maka Task Force perlu diberi tugas kolektif yang merupakan suatu tantangan. Tantangan ini justru akan saling memperkuat peran masing-masing anggota; memperkuat ikatan antar mereka; serta memberi kesempatan untuk menunjukkan produktifitas mereka secara terukur. Oleh karena itu, dibentuklah tim inti untuk tugas-tugas sebagai berikut : 1) Mengembangkan Pool Asesor dan Fasilitator; 2) Menyusun cetak biru (blue print) manajemen LAM-PTKes; dan 3) Mempersiapkan Peralihan Akreditasi program studi dan institusi pendidikan tinggi profesi kesehatan dari BAN-PT ke LAM-PTKes. 2. Tugas Tim Inti dalam Balanced Scorecard (BSC) LAM-PTKes PERSPEKTIF PELANGGAN Tugas Tim Inti Persiapan Pool Asesor dan Fasilitator : Mencari Atribut Produk / Layanan lain selain Harga untuk Nilai Tambah bagi Pelanggan dari segi : Kegunaan; Kualitas; dan Waktu. Tugas Tim Inti Persiapan Manajemen : Menciptakan Kualitas Prima dalam hal Hubungan dengan Pelanggan melalui : Pelayanan Kehumasan yang responsif; Pelayanan Administratif yang memuaskan; dan Pelayanan kepada Pelanggan secara unik berdasarkan dukungan Manajemen Pengetahuan.
5 iv Tugas Tim Inti Peralihan Akreditasi dari BAN-PT ke LAM-PTKes : Melakukan Analisis Kebijakan Peralihan Akreditasi utamanya yang berkaitan dengan Tarif Paket Akreditasi ; Mengusulkan hasil Analisis Kebijakan Peralihan Akreditasi yang berkaitan dengan Tarif Paket Akreditasi ke Kemendikbud. PERSPEKTIF KEUANGAN Tugas Tim Inti Persiapan Manajemen : 1. Menyepakati besarnya kisaran Biaya Satuan akreditasi secara nasional Melakukan exercise Satuan Biaya Khusus/SBK untuk akreditasi oleh LAM-PTKes Mengusulkan Satuan Biaya Khusus dari LAM-PTKes kepada Kemdikbud Membantu mengusulkan Satuan Biaya Khusus dari Kemendikbud ke Kemkeu Membantu Penetapan Satuan Biaya Khusus Akreditasi oleh Menteri Keuangan Melakukan kegiatan dengan dukungan dana sesuai dengan SBK dari Kemkeu 2. Memfasilitasi Kesepakatan mekanisme pendanaan akreditasi secara nasional Memperkenalkan mekanisme pendanaan akreditasi berdasarkan Sistem Arisan / Asuransi Penjaminan Mutu Eksternal Pendidikan Kesehatan Memfasilitasi Kesepakatan besarnya pendanaan yang diperlukan untuk akreditasi secara nasional Mengidentifikasi sumber pendanaan reguler untuk akreditasi secara nasional Memfasilitasi Kesepakatan mekanisme penyaluran dana untuk akreditasi secara nasional Menyusun Anggaran Berbasis Kinerja (Performance Based Budgeting) untuk akreditasi secara nasional 3. Memfasilitasi Kesepakatan Sistem Pendanaan Bersama Akreditasi secara nasional Menyusun rancangan awal Sistem Pendanaan Bersama Akreditasi Memfasilitasi Kesepakatan sumber daya yang diperlukan agar sistem berfungsi optimal Memfasilitasi Kesepakatan cara memenuhi sumber daya yang diperlukan sistem Menyusun Indikator Penentu Kinerja (Key Performance Indicators) untuk sistem Menyusun sistem monitoring evaluasi dan pencatatan pelaporan untuk Sistem 4. Memfasilitasi Kesepakatan besarnya kisaran tarif akreditasi di luar Sistem Pendanaan Bersama Melakukan exercise kisaran tarif akreditasi di luar Sistem Pendanaan Bersama Mengkomunikasikan hasil exercise kisaran tarif akreditasi kepada Perguruan Tinggi Swasta Menyusun MoU tentang kisaran tarif akreditasi antara Perguruan Tinggi Swasta dengan LAM-PTKes PERSPEKTIF PRODUKSI (INTERNAL BUSINESS PROCESS) Tugas Tim Inti Persiapan Pool Asesor dan Fasilitator : 1) Menyusun draf Pedoman Akreditasi Formatif LAM-PTKes; 2) Membahas draf Pedoman Akreditasi Formatif dengan stakeholders; 3) Merevisi draf Pedoman Akreditasi Formatif berdasarkan masukan stakeholders;
6 4) Memfasilitasi penyusunan standar, kriteria dan metode asesmen Pendidikan Interprofesional menurut kaidah profesi masing-masing; 5) Memfasilitasi integrasi Pendidikan Interprofesional ke dalam instrumen akreditasi Pendidikan Tinggi Kesehatan; 6) Menyusun Standar Akreditasi dengan Model CPU dalam kerangka peraturan perundang-undangan yang berlaku; 7) Menyusun Sistem Umpan Balik (Feedback Loops) dengan Ciri Utama : Tepat waktu; Spesifik; Konstruktif; dan Adil. 8) Memanfaatkan Teknologi Informasi untuk memfasilitasi Pembelajaran Transformatif program studi dan institusi pendidikan kesehatan melalui Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management); 9) Mengembangkan pool Asesor dan Fasilitator yang memiliki Integritas dan mampu menerapkan Nilai Operasional LAM-PTKes; 10) Menyusun SOP Tim Asesor dan Fasilitator. v Tugas Tim Inti Persiapan Manajemen : Menyusun Rencana Strategis; Menyusun Model Sistem Manajemen Pengetahuan (KMS) LAM-PTKes sesuai dengan : o Misi yang diembannya; o Grand Design yang sudah disepakati; o Pelaksanaan asesmen dan fasilitasi akreditasi formatif melalui siklus Analisis Kondisi Program Studi; Analisis Persoalan; Analisis Keputusan; dan Analisis Hambatan / Persoalan Potensial. Menata organ-organ Sekretariat, Divisi Akreditasi dan Divisi Pengembangan, Monev dan Banding LAM-PTKes sesuai hasil Analisis Jabatan yang sudah dibuat; Melakukan Analisis Pasar yang lebih mendalam; Mensosialisasikan kebijakan akreditasi pendidikan tinggi kesehatan secara nasional. Tugas Tim Inti Peralihan Akreditasi dari BAN-PT ke LAM-PTKes : Mempersiapkan mekanisme peralihan akreditasi; Melakukan Analisis Kebijakan Peralihan Akreditasi utamanya yang berkaitan dengan Akreditasi Formatif; Mengusulkan hasil Analisis Kebijakan Peralihan Akreditasi yang berkaitan dengan Akreditasi Formatif ke Kemendikbud. PERSPEKTIF BELAJAR DAN BERKEMBANG Tugas Tim Inti Persiapan Pool Asesor dan Fasilitator : Menginisiasi pengembangan Komunitas Praktisi (Community of Practice) di dalam lingkungan HPEQ maupun di masyarakat.
7 vi Tugas Tim Inti Persiapan Manajemen : 1. Memfasilitasi pengembangan Komunitas Praktisi : Menterjemahkan Strategi Pokok organisasi menjadi berbagai jenis Pengetahuan Strategis yang dapat dikembangkan oleh Komunitas Praktisi; Melegitimasi pekerjaan Komunitas Praktisi sesuai dengan prioritas organisasi; Menyalurkan sumber daya yang diperlukan untuk kesuksesan Komunitas Praktisi; Menilai kelayakan dari Hasil Pembelajaran oleh Komunitas Praktisi untuk diterapkan dalam proses produksi organisasi; Menjembatani struktur vertikal yang formal dari organisasi dengan struktur horisontal yang informal dari Komunitas Praktisi; Memfasilitasi pertemuan, transport dan anggaran untuk tugas khusus tertentu; Memfasilitasi komunikasi dan dokumentasi Hasil Pembelajaran; Menyediakan Tim Fasilitator dalam organisasi yang bertugas membantu Komunitas Praktisi untuk hal-hal sebagai berikut : o Memberi pendampingan ahli (coaching) kepada pimpinan Komunitas Praktisi; o Memfasilitasi komunikasi dengan struktur formal organisasi; o Memfasilitasi koordinasi dalam seluruh organisasi. 2. Pengembangan Model Sistem Manajemen Pengetahuan (KMS) LAM-PTKes 3. Menata Aspek Dinamis Organisasi 3. Agenda Tindak Lanjut sebagai Langkah Awal LAM-PTKes 1) Tim Inti Persiapan Pool Asesor dan Fasilitator : Mengelola Perubahan melalui Aspek Manusia dengan model A.I.D.K.A.A.R. yang merupakan sebuah model perubahan untuk menjadikan kebutuhan terhadap perubahan begitu nyata sehingga individu, kelompok dan organisasi dapat mudah melihatnya dan menerimanya. Model A.I.D.K.A.A.R. memiliki 7 unsur yaitu Awareness (Kesadaran), Interest (Perhatian), Desire (Hasrat), Knowledge (Pengetahuan), Ability (Kemampuan), Action (Tindakan), Reinforcement (Penguatan). 2) Tugas Tim Inti Persiapan Manajemen : Sebagaimana terlihat di Tabel 6.1, tugas Tim Inti Persiapan Manajemen adalah dalam keseluruh 4 perspektif dari BSC. Oleh karena itu, peran Tim Inti Persiapan Manajemen adalah sangat penting dalam memelihara fokus terhadap Strategi yang telah dijabarkan menjadi Langkah dan Kegiatan dalam Grand Strategy LAM-PTKes. 3) Tugas Tim Inti Peralihan Akreditasi dari BAN-PT ke LAM-PTKes : Tugas utama tim ini adalah melakukan Analisis Kebijakan Peralihan Akreditasi yang hasilnya akan diusulkan ke Kemdikbud. Analisis kebijakannya merupakan suatu Analisis Kebijakan Publik. Penyusunan Kebijakan Publik merupakan suatu proses berkesinambungan yang dinamis dan terdiri atas beberapa komponen yang dapat dikelompokkan ke dalam suatu siklus kebijakan. Siklus kebijakan pada dasarnya mencoba untuk menyederhanakan kompleksitas dari proses penyusunan Kebijakan Publik ke dalam tahap-tahap sebagai berikut : 1. Penetapan agenda tindak lanjut tingkat nasional; 2. Formulasi kebijakan dan pengambilan keputusan; 3. Implementasi kebijakan; 4. Pemantauan dan evaluasi kebijakan.
8 1. PENDAHULUAN 1.1. LAPORAN AKHIR KONSULTAN 1 Dokumen ini merupakan Laporan Ke-empat dan terakhir dari Konsultan Perorangan untuk Technical Assistance for Developing Business Plan Lembaga Akreditasi Pendidikan Tinggi Kesehatan (LAM-PTKes) pada Proyek Peningkatan Kualitas Pendidikan Tenaga Kesehatan (Health Professional Education Quality Improvement / HPEQ) Komponen 1, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Laporan Ke-empat ini menyampaikan hasil yang telah dicapai termasuk pekerjaan yang masih terus berlangsung dari Tata Kala Rencana Kegiatan Technical Assistance yang dapat dilihat pada Tabel 1.1 di bawah. Walaupun mencoba mengacu kepada Tata Kala Rencana tersebut, namun dengan memperhatikan dinamika terakhir yang berkembang dalam Proyek HPEQ, maka ada beberapa kegiatan yang belum selesai saat berakhirnya masa Technical Assistance for Developing Business Plan. Di lain pihak, ada juga beberapa kegiatan yang ternyata membutuhkan waktu lebih lama dari yang sudah dialokasikan dalam Tata Kala Rencana tersebut, yaitu : Kegiatan 2 : Facilitating agreement on Strategic Orientation and Priorities of National Accreditation Agency (NAA) Kegiatan 3 : Identifying Resource Implications (staff, infrastructure & finances) Akibatnya, kegiatan-kegiatan lain yang berkaitan dengan Kegiatan 2) dan Kegiatan 3) di atas juga membutuhkan waktu lebih lama dari yang sudah dialokasikan dalam Tata Kala Rencana tersebut, yaitu : Kegiatan 4 : Cost Analysis of Resource Implications Kegiatan 5 : Developing Performance Measures (Dashboard) Kegiatan 10 : Meeting Stakeholders, Partners & Prospective Clients Sedangkan kegiatan-kegiatan lain yang berkaitan dengan Kegiatan 2) dan 3); serta Kegiatan 4); 5) dan Kegiatan 10) di atas juga menjadi terlambat mulainya, yaitu : Kegiatan 6 : Developing Program Benefit Monitoring & Evaluation system Kegiatan 7 : Identify and track Essential Operating Data Kegiatan 8 : Calculating Start-up Expenses and Capitalization Kegiatan 9 : Develop Financial Plan
9 2 Tabel 1.1 : Tata Kala Rencana Kegiatan Technical Assistance for Developing Business Plan LAM-PTKes [1] ACTIVITIES Month 1 Month 2 Month 3 Month 4 1. Market Analysis x x x 2. Facilitating agreement on Strategic Orientation and x Priorities of National Accreditation Agency (NAA) 3. Identifying Resource Implications (staff, x x infrastructure & finances) 4. Cost Analysis of Resource Implications x x x x 5. Developing Performance Measures (Dashboard) x x x x 6. Developing Program Benefit Monitoring & x x x Evaluation system 7. Identify and track Essential Operating Data x x x x 8. Calculating Start-up Expenses and Capitalization x x x 9. Develop Financial Plan x x x 10. Meeting Stakeholders, Partners & Prospective x x x x Clients 11. Writing Final Document x 12. Wrap-up Meeting x Keterangan : = kegiatan yang telah selesai dilakukan termasuk pekerjaan yang masih terus berlangsung (on going) Dengan memperhatikan berbagai persoalan di atas, maka isi Laporan Ke-empat ini mencakup hal-hal sebagai berikut : 1. Balanced Scorecard (BSC) LAM-PTKes berikut dengan penjabaran keempat perspektifnya; 2. Task Force sebagai Cikal Bakal LAM-PTKes melalui 3 Tim Inti yang dibentuknya; 3. Tugas Tim Inti dalam Balanced Scorecard (BSC) LAM-PTKes; 4. Agenda Tindak Lanjut sebagai Langkah Awal LAM-PTKes BALANCED SCORECARD (BSC) LAM-PTKES Rangkaian keterkaitan strategi-strategi dalam hierarki keempat perspektif BSC disebut Peta Strategi (Strategy Map) sebagaimana tampak pada Gambar 1.1. Peta Strategi secara formal dan visual menjelaskan tujuan-tujuan strategis dan saling keterkaitannya yang menunjukkan bagaimana suatu sistem/organisasi mendapatkan Nilai Tambah. Pencapaian satu tujuan strategis menentukan pencapaian tujuan strategis lainnya. Jadi, Peta Strategi menggambarkan hubungan sebab-akibat yang melandasi keseluruhan strategi suatu sistem / organisasi. [2;3;4] Melalui BSC, strategi organisasi dapat dikaitkan dengan kegiatan sehari-hari anggotanya sehingga pelaksanaannya menjadi nyata. Gambar 1.1 memperlihatkan Peta Strategi LAM-PTKes yang diusulkan.
10 Gambar 1.1 : Peta Strategi LAM-PTKes [5] Visi : Terjaminnya mutu pendidikan tinggi kesehatan yang berstandar global PERSPEKTIF PELANGGAN Meningkatkan kinerja institusi pendidikan (CQI) Memetakan jenjang karir tenaga kesehatan (CPU) 3 MISI : Terselenggaranya akreditasi nasional pendidikan kesehatan secara berkelanjutan (sustainable) yang dipercaya oleh semua pemangku kepentingan NILAI DASAR: ATRIBUT UNTUK NILAI TAMBAH BAGI PELANGGAN Mempadukan kualitas pendidikan dengan kualitas pelayanan kesehatan (Q Cascade) Terpadunya akreditasi pendidikan akademik, vokasi dan profesi kesehatan Mampu dipercaya oleh semua pemangku kepentingan (Trustworthy) Hubungan Pelanggan Atribut Produk / Layanan Citra Amanah dan Mandiri PERSPEKTIF KEUANGAN Meningkatkan Pendapatan dan Sumbernya Pendanaan Yang Berkelanjutan Efisiensi Biaya dan Produktifitas Pemanfaatan Aset / Strategi Investasi PERSPEKTIF PRODUKSI Kebijakan Akreditasi sesuai Nilai Operasional Standar Akreditasi sesuai Nilai Operasional Instrumen Akreditasi sesuai Nilai Operasional Prosedur Akreditasi sesuai Nilai Operasional Umpan balik Penilaian LAM yang tepat waktu dalam format yang spesifik, konstruktif dan adil dengan saran untuk perbaikan sesuai standar KESELARASAN Human Knowledge Good Governance Resources Management Management (Benchmarking) PERSPEKTIF BELAJAR & BERKEMBANG Modal / Kapasitas SDM Kompetensi & Profesionalisme + Modal / Kapasitas Informasi Sistem Informasi, Jejaring & Pengetahuan + Modal / Kapasitas Organisasi Sistem Komunikasi & Pembuatan Keputusan; Norma & Perilaku; Sistem Akuntabilitas & Insentif
11 1.3. TASK FORCE SEBAGAI CIKAL BAKAL LAM-PTKes PERKEMBANGAN KELOMPOK 4 Task Force LAM-PTKes dibentuk pada triwulan ke empat tahun 2011 untuk memperlancar pembentukan institusi LAM-PTKes. Dalam menjalankan tugasnya Task Force ini selalu berhubungan dengan wakil-wakil dari 7 asosiasi institusi pendidikan dan 7 organisasi profesi kesehatan serta organisasi-organisasi yang terkait lainnya. Sebagaimana halnya dengan perkembangan kelompok pada umumnya, maka perkembangan Task Force LAM- PTKes dan wakil-wakil dari organisasi tersebut juga melalui tahap-tahap berikut ini : Forming; Storming; Norming; dan Performing. Tahap-tahap perkembangan tersebut menerangkan perkembangan kelompok dari segi kematangan / maturitas, kemampuan dan hubungan antar anggotanya sebagaimana diterangkan pertama kali oleh Bruce W. Tuckman dalam artikelnya yang terkenal di majalah Psychological Bulletin tahun 1965 berjudul Developmental sequence in small groups. Forming : Kelompok mulai dibentuk pada tahap ini. Sebagian besar waktu dipakai untuk mengumpulkan informasi, perencanaan tugas dan saling mengenal antar anggota. Storming : Berbagai pendapat yang berbeda dari anggota saling bersaing agar dapat dianut oleh kelompok. Tahap ini memerlukan kepemimpinan yang fasilitatif tetapi tetap tegas agar tidak terjadi chaos. Sehebat apapun pemimpin atau kelompok yang dipimpinnya, dalam perkembangan semua kelompok pasti akan melampaui tahap ini. Kelompok biasanya sampai pada tahap ini pada kuartal pertama usianya. Tingkat kedewasaan kelompok pada tahap ini bisa dianggap setara dengan usia remaja. [6] Norming : Fokus kelompok adalah pada membangun hubungan antar anggota. Kelompok menjadi lebih stabil dengan disepakatinya berbagai tata nilai dan peraturan formal maupun informal. Keputusan yang penting dibuat bersama oleh kelompok yang besar, sedangkan yang lebih operasional dibuat oleh tim-tim yang lebih kecil [7]. Untuk mencegah kelompok kembali ke tahap Storming, kelompok biasanya mempertahankan status quo sehingga kehilangan kreatifitasnya karena terlalu nyaman pada comfort zone yang telah dicapai [8]. Akibat adanya dorongan untuk tetap menjaga stabilitas dalam kelompok, maka timbul apa yang disebut sebagai group think. Group think terjadi jika mayoritas anggota kelompok mengambil keputusan yang dianggap aman oleh mereka demi menghindari perbedaan pendapat. Pola pemikiran kolektif seperti ini menghambat kemampuan analitis dalam Analisis Persoalan, Analisis Keputusan maupun Analisis Persoalan Potensial / Analisis Hambatan. Akibatnya, beberapa anggota yang masih mampu berpikir kritis tidak akan puas dengan pola pemikiran kolektif yang picik seperti group think ini
12 5 Performing : Banyak kelompok yang baru mencapai tahap ini setelah 6 bulan atau lebih sejak pembentukannya [9]. Walaupun pada semua tahap kelompok bekerja melakukan tugasnya, namun pada tahap ini kerja kelompok adalah paling efektif. Kelompok memiliki visi dan misi yang dihayati bersama serta tujuan bersama [7]. Fokus kelompok adalah pada penyelesaian tugas sehingga kinerjanya tinggi. Rata-rata anggota kelompok semakin meningkat motivasinya, pengetahuannya dan kompetensinya. Apakah kelompok terdiri atas pramuka, para manajer maupun ekskutif sebagai kelompok, perkembangan mereka sampai kematangan / maturitas akan melalui tahap-tahap di atas [6]. Sebagian kelompok dapat menjalani tahap-tahap tersebut dengan lancar, tetapi sebagian lagi tersendat-sendat perkembangannya, bahkan ada yang terjebak di satu tahap tanpa bisa maju atau bahkan kembali lagi ke tahap sebelumnya. Oleh karena itu, dinamika pergerakan antara ke-empat tahap perkembangan tersebut tidak selalu satu arah sebagaimana terlihat pada Gambar 1.2 di bawah. Gambar 1.2 : Dinamika Perkembangan Kelompok 1 2 Forming Storming Norming Performing Keterangan : 1 : Ketidakcocokan antar anggota dalam kelompok bisa menyebabkan ada anggota yang keluar diganti anggota baru sehingga dari Storming kembali lagi ke Forming. 2 : Sebagian anggota tidak setuju dengan status quo dan group think yang kompromistis dan picik sehingga dari Norming kembali lagi ke Storming. 3 : Keadaan tertentu menyebabkan fokus kelompok berubah sementara menjadi lebih condong kepada membangun hubungan antar anggota daripada penyelesaian tugas sehingga dari Performing kembali lagi ke Norming. 4 : Sebagian anggota mengalami mutasi atau promosi sehingga dari Performing kembali lagi ke Forming. 5 : Pergantian pemimpin kelompok, utamanya ke arah pemimpin yang bersifat otoriter akan menyebabkan hilangnya stabilitas kelompok sehingga mundur dari Performing menjadi Storming. Kotak 1.1 : Kelompok merupakan Sistem Adaptif yang Kompleks Dari Gambar 1.2 di atas, dapat dilihat bahwa kelompok merupakan suatu Sistem Adaptif yang Kompleks. [10]
13 Kotak 1.2 : Tahap Perkembangan Task Force LAM-PTKes 6 Dengan memperhatikan dinamika yang berkembang dalam Proyek HPEQ, maka perkembangan Task Force LAM-PTKes saat ini sudah sampai pada tahap Norming PEMBENTUKAN TIM INTI DALAM TASK FORCE LAM-PTKes Supaya dapat menjadi tim yang efektif, maka perlu ada fokus pada tugas-tugas kelompok yang saling berkaitan dan tergantung satu sama lain [11]. Oleh karena itu, agar mulai bergerak dari tahap Norming menuju tahap Performing, maka kelompok perlu diberi tugas kolektif yang merupakan suatu tantangan. Tantangan ini justru akan saling memperkuat peran masing-masing anggota; memperkuat ikatan antar mereka; serta memberi kesempatan untuk menunjukkan produktifitas mereka secara terukur. Kotak 1.3 : Perlunya 3 Tim Inti dalam Task Force LAM-PTKes Berdasarkan pertimbangan di atas itulah maka konsultan mengusulkan pada Laporan Ketiganya agar dibentuk tim inti untuk tugas-tugas sebagai berikut : [12] 1) Mengembangkan Pool Asesor dan Fasilitator; 2) Menyusun cetak biru (blue print) manajemen LAM-PTKes; dan 3) Mempersiapkan Peralihan Akreditasi program studi dan institusi pendidikan tinggi profesi kesehatan dari BAN-PT ke LAM-PTKes. Adapun tugas-tugas masing-masing tim Inti adalah sebagai berikut : [12] A) Tim Pengembangan Pool Asesor dan Fasilitator : Mengingat bahwa proyeksi beban kerja LAM-PTKes adalah sekitar 2253 program studi termasuk prodi Spesialis, Sub Spesialis, dan Profesi, maka persiapan Pool Asesor dan Fasilitator minimal dengan kemampuan analitis dalam Analisis Persoalan, Analisis Keputusan maupun Analisis Persoalan Potensial / Analisis Hambatan merupakan tugas yang harus dimulai dari sekarang oleh Tim Inti ini. Asesor dan Fasilitator yang dikembangkan oleh Tim Inti ini nantinya merupakan tenaga fungsional LAM-PTKes yang remunerasinya sesuai dengan kegiatan yang berkaitan dengan tugas yang diberikan kepada mereka. Asesor akan bertugas di bawah koordinasi Divisi Akreditasi sedangkan Fasilitator akan bertugas di bawah koordinasi Divisi Pengembangan, Monev dan Banding (lihat Gambar 1.3). B) Tim Penyusun Cetak Biru (Blue Print) Manajemen LAM-PTKes : Tugas Tim Inti ini adalah menyusun cetak biru (blue print) manajemen LAM-PTKes yang meliputi hal-hal sebagai berikut : 1) Acuan Kebijakan Umum Akreditasi; 2) Acuan Kebijakan Akreditasi Pendidikan Interprofesional, termasuk : Memfasilitasi penyusunan standar, kriteria dan metode asesmen Pendidikan Interprofesional menurut kaidah profesi masing-masing; Memfasilitasi integrasi Pendidikan Interprofesional ke dalam instrumen akreditasi Pendidikan Tinggi Kesehatan.
14 7 3) Pengelolaan LAM-PTKes sebagai Sistem Adaptif yang Kompleks; 4) Pelaksanaan Asesmen dan Fasilitasi Akreditasi Formatif dengan Model 3 Dimensi; 5) Penerapan Nilai Operasional LAM-PTKes melalui Sistem Umpan Balik (Feedback Loops); 6) Implementasi Grand Design LAM-PTKes; 7) Menindaklanjuti Hasil Analisis Hambatan Operasionalisasi LAM-PTKes yang berkaitan dengan : Legitimasi LAM-PTKes; Penerimaan LAM-PTKes oleh organisasi / institusi lain; Pendanaan dari pemerintah untuk akreditasi oleh LAM-PTKes; Penjaminan mutu LAM-PTKes; Pengajuan untuk akreditasi ke LAM-PTKes oleh program studi. 8) Menyusun model Sistem Manajemen Pengetahuan (KMS) LAM-PTKes sesuai dengan : Misi yang diembannya; Grand Design yang sudah disepakati; Pelaksanaan asesmen dan fasilitasi akreditasi formatif melalui siklus Analisis Kondisi Program Studi; Analisis Persoalan; Analisis Keputusan; dan Analisis Hambatan / Persoalan Potensial. C) Tim Persiapan Peralihan Akreditasi dari BAN-PT ke LAM-PTKes : Tugas pokok Tim Inti ini adalah antara lain sebagai berikut : 1) Mempersiapkan mekanisme peralihan akreditasi; 2) Melakukan Analisis Kebijakan Peralihan Akreditasi; 3) Mengusulkan hasil Analisis Kebijakan Peralihan Akreditasi ke Kemendikbud.
15 8 Gambar 1.3 : Organogram LAM-PTKes Majelis Pemangku Kepentingan : terdiri atas wakil dari institusi pendidikan; organisasi profesi; pemerintah; masyarakat pengguna (4 pilar utama) Badan Pelaksana : terdiri atas Ketua, Sekretariat dan Divisi Komisi-komisi Sekretariat : Umum, Keuangan, Ketenagaan, Manajemen Pengetahuan dan Kehumasan Divisi Akreditasi : 1. Kedokteran 2. Kedokteran Gigi 3. Keperawatan 4. Kebidanan 5. Kesehatan Masyarakat 6. Gizi 7. Farmasi Divisi Pengembangan, Monev dan Banding Pool Asesor Pool Fasilitator = Tenaga Fungsional dengan remunerasi sesuai kegiatan / tugas = Tenaga Struktural dengan remunerasi tetap setiap bulan
16 2. PERSPEKTIF PELANGGAN LAM-PTKes 9 Dalam perspektif BSC ini perlu diidentifikasi Pelanggan dan Pemangku Kepentingan LAM-PTKes. Selanjutnya perlu dipikirkan Bagaimana organisasi menciptakan Nilai Tambah bagi mereka? Atribut-atribut yang memberikan Nilai Tambah bagi Pelanggan dapat dikelompokkan ke dalam : 1) Produk / Layanan; 2) Hubungan dengan Pelanggan; serta 3) Citra / Reputasi organisasi sebagaimana terlihat pada Gambar 2.1. Gambar 2.1 : Atribut untuk Nilai Tambah bagi Pelanggan [13] NILAI TAMBAH = Atribut Produk / Layanan + Hubungan + Pelanggan Citra / Reputasi organisasi Kegunaan Kualitas Harga Waktu Kualitas Pengalaman saat transaksi Kualitas Hubungan dengan Klien Kotak 2.1 : Indikator Penentu Kinerja LAM-PTKes dari Perspektif Pelanggan [14] Dengan mencermati Atribut untuk Nilai Tambah bagi Pelanggan di Gambar 2.1 di atas dan Peta Strategi pada Gambar 1.1 sebelumnya, maka Indikator Penentu Kinerja LAM PTKes dari Perspektif Pelanggan adalah : 1. Harga Paket Akreditasi untuk 1 Program Studi; 2. Kualitas Hubungan dengan Pelanggan. Harga Paket Akreditasi untuk 1 Program Studi : Harga / Tarif Paket Akreditasi untuk 1 Program Studi dari BAN-PT adalah nihil. Jika LAM-PTKes diharapkan mandiri dari segi pendanaannya, maka seluruh Biaya Satuan Akreditasi untuk 1 Program Studi harus ditanggung oleh Penyandang Dana dari pemerintah maupun pihak lain kalau Harga / Tarif Paket Akreditasinya mau dibuat nihil seperti BAN- PT. Penetapan Tarif yang profesional diperlukan dalam menyusun Rencana Pendapatan untuk mendanai pengeluaran organisasi sebagaimana terlihat pada Gambar 2.2 di bawah. Oleh karena itu, Penetapan Tarif harus berdasarkan komitmen Pendanaan yang sudah disepakati dari sumber-sumber pendanaan yang ada. [15]
17 10 Gambar 2.2 : Perlunya Penetapan Tarif agar Rencana Pendapatan Dapat Mendanai Pengeluaran Organisasi [14;15] SUMBER PENDAPATAN : Pemerintah Asosiasi Institusi Pendidikan Institusi Pendidikan yang diakreditasi Organisasi Profesi Pendanaan dari Luar Negeri Penetapan Tarif = Biaya Operasional (termasuk Biaya Pemeliharaan dan Ketenagaan) Biaya Investasi (+Depresiasi) PENDAPATAN (rencana) = PENGELUARAN Kotak 2.2 : Kalau Harga / Tarif Paket Akreditasi oleh LAM-PTKes Mau Dibuat Nihil Seperti BAN-PT Kalau Harga / Tarif Paket Akreditasi oleh LAM-PTKes mau dibuat nihil seperti BAN- PT, maka seluruh pengeluarannya harus dapat didanai dari Pemerintah, Asosiasi Institusi Pendidikan, Institusi Pendidikan yang diakreditasi, Organisasi Profesi atau Pendanaan dari Luar Negeri sebagaimana terlihat pada Gambar 2.2 di atas. Kotak 2.3 : Jika Harga / Tarif Paket Akreditasi oleh LAM-PTKes Tidak Bisa Dibuat Nihil Sebagaimana diperlihatkan oleh Gambar 2.1 di atas, jika Harga / Tarif Paket Akreditasi oleh LAM-PTKes tidak bisa dibuat nihil, maka perlu dicari Atribut Produk / Layanan lain untuk Nilai Tambah bagi Pelanggan seperti : Kegunaan; Kualitas; Waktu; dan Kualitas Hubungan dengan Pelanggan. Berdasarkan Indikator Penentu Kinerja dari Perspektif Pelanggan (Kotak 2.1) dan pertimbangan tentang nihil atau tidaknya Harga / Tarif Paket Akreditasi oleh LAM-PTKes (Kotak 2.2 dan 2.3), maka dapatlah disusun tugas-tugas Tim Inti Task Force LAM-PTKes berkaitan dengan Perspektif Pelanggan sebagaimana tercantum di Kotak 2.4, 2.5 dan 2.6 di bawah.
18 11 Kotak 2.4 : Tugas Tim Inti Persiapan Pool Asesor dan Fasilitator dalam Perspektif Pelanggan Tugas Tim Inti Persiapan Pool Asesor dan Fasilitator dalam Perspektif Pelanggan adalah mencari Atribut Produk / Layanan lain selain Harga untuk Nilai Tambah bagi Pelanggan dari segi : Kegunaan; Kualitas; dan Waktu. Kotak 2.5 : Tugas Tim Inti Persiapan Manajemen dalam Perspektif Pelanggan Tugas Tim Inti Persiapan Manajemen dalam Perspektif Pelanggan adalah menciptakan Kualitas Prima dalam hal Hubungan dengan Pelanggan melalui : Pelayanan Kehumasan yang responsif; Pelayanan Administratif yang memuaskan; dan Pelayanan kepada Pelanggan secara unik berdasarkan dukungan Manajemen Pengetahuan. Kotak 2.6 : Tugas Tim Inti Peralihan Akreditasi dari BAN-PT ke LAM-PTKes dalam Perspektif Pelanggan Tugas Tim Inti Peralihan Akreditasi dari BAN-PT ke LAM-PTKes dalam Perspektif Pelanggan adalah sebagai berikut : Melakukan Analisis Kebijakan Peralihan Akreditasi utamanya yang berkaitan dengan Tarif Paket Akreditasi ; Mengusulkan hasil Analisis Kebijakan Peralihan Akreditasi yang berkaitan dengan Tarif Paket Akreditasi ke Kemendikbud.
19 3. PERSPEKTIF KEUANGAN LAM-PTKes [13] 12 Perspektif ini harus bisa menjawab pertanyaan Bagaimana kita menciptakan Nilai Tambah sambil mengendalikan biaya? Isi dari Perspektif Keuangan ditentukan oleh jenis industrinya, tingkat kompetisi dan strategi unit bisnisnya. Tema-tema umum dalam Perspektif Keuangan antara lain adalah : Meningkatkan pendapatan; Efisiensi biaya dan produktifitas; Meningkatkan pemanfaatan aset; Mengurangi risiko keuangan. Tema-tema tersebut di atas menjembatani Perspektif Keuangan dengan ketiga perspektif lain dalam BSC. Khususnya untuk organisasi baru yang sedang tumbuh, tema-tema tersebut antara lain meliputi : 1) Meningkatkan Pendapatan dan Sumbernya (Revenue Growth and Mix) : a) Meningkatkan jumlah dan jenis layanan dan produk; b) Menjangkau pasar dan klien baru. 2) Efisiensi Biaya dan Produktifitas (Cost Reduction /Productivity Improvement) : a) Efisiensi Biaya Langsung (direct costs) produksi; b) Efisiensi Biaya Tidak Langsung (indirect costs); c) Pemanfaatan sumber daya secara bersama dengan unit bisnis lain. 3) Pemanfaatan Aset / Strategi Investasi : Meningkatkan pemanfaatan aset tetap (fixed asset) dengan cara : a) Mengarahkan usaha baru untuk memanfaatkan sumber daya yang belum terpakai secara maksimal; b) Menggunakan sumber daya yang terbatas secara lebih efisien. Indikator yang dapat dipakai untuk menilai kinerja tema-tema tersebut di atas antara lain adalah : 1) Meningkatkan Pendapatan dan Sumbernya : a) Peningkatan persentase penjualan pada segmen sasaran pasar, klien dan wilayah; b) Peningkatan persentase pendapatan dari produk, layanan dan klien baru. 2) Efisiensi Biaya dan Produktifitas : Pendapatan Jumlah Staf 3) Pemanfaatan Aset / Strategi Investasi : a) Tingkat investasi sebagai persentase dari penjualan; b) Penelitian dan Pengembangan sebagai persentase dari penjualan.
20 Kotak 3.1 : Indikator Penentu Kinerja LAM-PTKes dari Perspektif Keuangan [14] 13 Dengan mencermati Tema-tema umum dalam Perspektif Keuangan dari BSC dan Peta Strategi pada Gambar 1.1 sebelumnya, maka Indikator Penentu Kinerja LAM PTKes dari Perspektif Keuangan adalah : 1. Peningkatan Pendapatan dan Sumbernya : Peningkatan persentase penjualan pada segmen sasaran pasar, klien dan wilayah; Peningkatan persentase pendapatan dari produk, layanan dan klien baru. 2. Rasio Pendapatan dibanding Jumlah Tenaga; 3. Rasio Investasi dibanding Penjualan. Kotak 3.2 : Tugas Tim Inti Persiapan Manajemen dalam Perspektif Keuangan Tugas Tim Inti Persiapan Manajemen dalam Perspektif Keuangan sesuai dengan Grand Design LAM PTKes adalah sebagai berikut : [12] 1. Menyepakati besarnya kisaran Biaya Satuan akreditasi secara nasional Melakukan exercise Satuan Biaya Khusus (SBK) untuk akreditasi oleh LAM-PTKes Mengusulkan Satuan Biaya Khusus dari LAM-PTKes kepada Kemdikbud Membantu mengusulkan Satuan Biaya Khusus dari Kemendikbud kepada Kemkeu Membantu Penetapan Satuan Biaya Khusus Akreditasi oleh Menteri Keuangan Melaksanakan kegiatan dengan dukungan dana sesuai dengan SBK dari Kemkeu 2. Memfasilitasi Kesepakatan mekanisme pendanaan akreditasi secara nasional Memperkenalkan mekanisme pendanaan akreditasi berdasarkan Sistem Arisan / Asuransi Penjaminan Mutu Eksternal Pendidikan Kesehatan Memfasilitasi Kesepakatan besarnya pendanaan yang diperlukan untuk akreditasi secara nasional Mengidentifikasi sumber pendanaan reguler untuk akreditasi secara nasional Memfasilitasi Kesepakatan mekanisme penyaluran dana untuk akreditasi secara nasional Menyusun Anggaran Berbasis Kinerja (Performance Based Budgeting) untuk akreditasi secara nasional 3. Memfasilitasi Kesepakatan Sistem Pendanaan Bersama Akreditasi secara nasional Menyusun rancangan awal Sistem Pendanaan Bersama Akreditasi Memfasilitasi Kesepakatan sumber daya yang diperlukan agar sistem berfungsi optimal Memfasilitasi Kesepakatan cara memenuhi sumber daya yang diperlukan sistem Menyusun Indikator Penentu Kinerja (Key Performance Indicators) untuk sistem Menyusun sistem monitoring evaluasi dan pencatatan pelaporan untuk Sistem 4. Memfasilitasi Kesepakatan besarnya kisaran tarif akreditasi di luar Sistem Pendanaan Bersama Melakukan exercise kisaran tarif akreditasi di luar Sistem Pendanaan Bersama Mengkomunikasikan hasil exercise kisaran tarif akreditasi kepada Perguruan Tinggi Swasta Menyusun MoU tentang kisaran tarif akreditasi antara Perguruan Tinggi Swasta dengan LAM-PTKes
21 4. PERSPEKTIF PRODUKSI (INTERNAL BUSINESS PROCESS) 14 Perspektif ini harus bisa menjawab pertanyaan Produksi apa yang harus dioptimalkan untuk menciptakan Nilai Tambah bagi Pelanggan kita? Setiap industri memiliki proses produksi yang khusus untuk menciptakan Nilai Tambah bagi Pelanggannya dan mengendalikan biaya untuk Perspektif Keuangannya. Gambar 4.1 memperlihatkan suatu model generik dari Perspektif Produksi dalam menciptakan Nilai Tambah bagi Pelanggannya. Gambar 4.1 : Model Generik Perspektif Produksi dalam menciptakan Nilai Tambah [13] Proses Inovasi Proses Produksi Proses Purna Jual Kebutuhan Klien Diidentifikasi Identifi kasi Pasar Keistime waan Produk / Layanan Siapkan Produk / Layanan Salurkan Produk / Layanan Layani Klien Kebutuhan Klien Dipuaskan Pencapaian strategi dalam Perspektif Produksi mendukung pencapaian strategi dalam Perspektif Pelanggan dan Perspektif Keuangan karena hal-hal berikut ini : [2] Perspektif ini menciptakan dan menyampaikan Nilai Tambah bagi Pelanggannya; Perspektif ini meningkatkan proses produksi dan menurunkan biaya pada tema Efisiensi Biaya dan Produktifitas dalam Perspektif Keuangan. Proses-proses dalam Perspektif Produksi dapat dikelompokkan sebagai berikut : [2] 1) Manajemen Produksi : a) Kembangkan hubungan dengan pemasok; b) Siapkan Produk / Layanan; c) Salurkan Produk / Layanan ke klien; d) Mengelola risiko. 2) Manajemen Klien (Customer Relationship Management) : a) Pilih klien; b) Dapatkan klien; c) Pertahankan klien; d) Tingkatkan hubungan dengan klien. 3) Inovasi : a) Identifikasi peluang-peluang baru; b) Kembangkan Produk / Layanan baru; c) Luncurkan Produk / Layanan baru. 4) Peraturan dan Hubungan Sosial : a) Tingkatkan keamanan dan kesehatan kerja; b) Kelola hubungan industrial; c) Tingkatkan hubungan dengan masyarakat / komunitas.
22 15 Kotak 4.1 : Indikator Penentu Kinerja LAM-PTKes dari Perspektif Produksi Indikator Penentu Kinerja LAM PTKes dari Perspektif Produksi dibuat berdasarkan acuan-acuan berikut ini : Model Generik Perspektif Produksi dari BSC dalam menciptakan Nilai Tambah di Gambar 4.1 di atas; Peta Strategi di Gambar 1.1 sebelumnya; Hasil Analisis Pasar pada survei terhadap peserta Konperensi HPEQ di Bali Desember 2011 yang lalu; dan Grand Design LAM-PTKes. Berdasarkan acuan-acuan tersebut di atas, maka Indikator Penentu Kinerja LAM PTKes dari Perspektif Produksi adalah : 1) Rencana Strategis LAM-PTKes; 2) Akreditasi Formatif dengan Model 3 Dimensi; 3) Standar, kriteria dan metode asesmen Pendidikan Interprofesional; 4) Integrasi Pendidikan Interprofesional ke dalam instrumen akreditasi; 5) Standar Akreditasi dengan Model CPU dalam kerangka peraturan perundangundangan yang berlaku (UU Sisdiknas, PP No 19/2005, Perpres No.8 / 2012 tentang KKNI, UU Guru dan Dosen, dan lain sebagainya) 6) Sistem Umpan Balik (Feedback Loops) dengan Ciri Utama : Tepat waktu; Spesifik; Konstruktif; dan Adil. 7) Model Sistem Manajemen Pengetahuan (KMS) LAM-PTKes sesuai dengan : Misi yang diembannya; Grand Design yang sudah disepakati; Pelaksanaan asesmen dan fasilitasi akreditasi formatif melalui siklus Analisis Kondisi Program Studi; Analisis Persoalan; Analisis Keputusan; dan Analisis Hambatan / Persoalan Potensial. 8) Pool Asesor dan Fasilitator yang memiliki Integritas dan mampu menerapkan Nilai Operasional LAM-PTKes; 9) SOP Tim Asesor dan Fasilitator; 10) Kebijakan Peralihan Status Akreditasi dari sistem BAN-PT dan Kemkes ke sistem LAM-PTKes. Berdasarkan Indikator Penentu Kinerja dari Perspektif Produksi (Kotak 4.1), maka dapatlah disusun tugas-tugas Tim Inti Task Force LAM-PTKes berkaitan dengan Perspektif Produksi sebagaimana tercantum di Kotak 4.2, 4.3 dan 4.4 di bawah.
23 16 Kotak 4.2 : Tugas Tim Inti Persiapan Pool Asesor dan Fasilitator dalam Perspektif Produksi Tugas Tim Inti Persiapan Pool Asesor dan Fasilitator dalam Perspektif Produksi adalah sebagai berikut : 1) Menyusun draf Pedoman Akreditasi Formatif LAM-PTKes; 2) Membahas draf Pedoman Akreditasi Formatif dengan stakeholders; 3) Merevisi draf Pedoman Akreditasi Formatif berdasarkan masukan stakeholders; 4) Memfasilitasi penyusunan standar, kriteria dan metode asesmen Pendidikan Interprofesional menurut kaidah profesi masing-masing; 5) Memfasilitasi integrasi Pendidikan Interprofesional ke dalam instrumen akreditasi Pendidikan Tinggi Kesehatan; 6) Menyusun Standar Akreditasi dengan Model CPU dalam kerangka peraturan perundang-undangan yang berlaku; 7) Menyusun Sistem Umpan Balik (Feedback Loops) dengan Ciri Utama : Tepat waktu; Spesifik; Konstruktif; dan Adil. 8) Memanfaatkan Teknologi Informasi untuk memfasilitasi Pembelajaran Transformatif program studi dan institusi pendidikan kesehatan melalui Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management); 9) Mengembangkan pool Asesor dan Fasilitator yang memiliki Integritas dan mampu menerapkan Nilai Operasional LAM-PTKes; 10) Menyusun SOP Tim Asesor dan Fasilitator. Kotak 4.3 : Tugas Tim Inti Persiapan Manajemen dalam Perspektif Produksi Tugas Tim Inti Persiapan Manajemen dalam Perspektif Produksi adalah sebagai berikut : Menyusun Rencana Strategis; Menyusun Model Sistem Manajemen Pengetahuan (KMS) LAM-PTKes sesuai dengan : o Misi yang diembannya; o Grand Design yang sudah disepakati; o Pelaksanaan asesmen dan fasilitasi akreditasi formatif melalui siklus Analisis Kondisi Program Studi; Analisis Persoalan; Analisis Keputusan; dan Analisis Hambatan / Persoalan Potensial. Menata organ-organ Sekretariat, Divisi Akreditasi dan Divisi Pengembangan, Monev dan Banding LAM-PTKes sesuai hasil Analisis Jabatan yang sudah dibuat; Melakukan Analisis Pasar yang lebih mendalam; Mensosialisasikan kebijakan akreditasi pendidikan tinggi kesehatan secara nasional.
24 17 Kotak 4.4 : Tugas Tim Inti Peralihan Akreditasi dari BAN-PT ke LAM-PTKes dalam Perspektif Produksi Tugas Tim Inti Peralihan Akreditasi dari BAN-PT ke LAM-PTKes dalam Perspektif Produksi adalah sebagai berikut : Mempersiapkan mekanisme peralihan akreditasi; Melakukan Analisis Kebijakan Peralihan Akreditasi utamanya yang berkaitan dengan Akreditasi Formatif; Mengusulkan hasil Analisis Kebijakan Peralihan Akreditasi yang berkaitan dengan Akreditasi Formatif ke Kemendikbud.
25 18 5. PERSPEKTIF BELAJAR DAN BERKEMBANG LAM- PTKes Perspektif ini harus bisa menjawab pertanyaan Bagaimana kita memberdayakan diri kita agar dapat memenuhi tuntutan lingkungan? Perspektif terakhir ini menggambarkan Aset Organisasi yang Tidak Berwujud (Intangible Assets) yang dikelompokkan sebagai berikut : [2] 1) Modal / Kapasitas SDM : Tersedianya kompetensi yang diperlukan untuk menjalankan strategi organisasi. 2) Modal / Kapasitas Informasi : Tersedianya sistem informasi, jejaring dan infrastruktur pengetahuan yang diperlukan untuk menjalankan strategi organisasi. 3) Modal / Kapasitas Organisasi : Kemampuan organisasi untuk melaksanakan perubahan yang diperlukan untuk menjalankan strategi organisasi. Walaupun banyak organisasi mencoba untuk mengembangkan SDMnya, teknologinya dan budaya organisasinya, namun sebagian besar tidak menyelaraskan Aset Organisasi yang Tidak Berwujud di atas dengan strateginya. Kunci untuk memperoleh keselarasan ini adalah memfokuskan kepada kemampuan dan atribut spesifik yang dibutuhkan pada jalur kritis (critical path) implementasi strategi organisasi. [2;16] Kemampuan dan atribut spesifik ini dibutuhkan oleh ketiga Tim Inti dari Task Force LAM- PTKes. Kemampuan dan atribut spesifik inilah yang menentukan ciri-ciri spesifik dari Modal / Kapasitas SDM, Informasi dan Organisasi LAM-PTKes JEJARING KOMUNITAS PRAKTISI (COMMUNITY OF PRACTICE / COP) UNTUK AKREDITASI FORMATIF Asesor dan fasilitator LAM-PTKes perlu memiliki kemampuan analitis dalam hal sebagai berikut : [12] 1) Analisis Kondisi Program Studi (Situation Appraisal); 2) Analisis Persoalan yang perlu diketahui penyebabnya (Problem Analysis); 3) Analisis Keputusan tindakan untuk mengkoreksi persoalan (Decision Analysis); dan 4) Analisis Persoalan Potensial untuk mencegah hambatan di masa depan (Potential Problem Analysis). Walaupun ke 4 kemampuan analitis di atas perlu dimiliki oleh asesor dan fasilitator LAM- PTKes, namun Asesor perlu mengutamakan keahlian dalam butir 1) dan 2). Sedangkan Fasilitator perlu mengutamakan keahlian dalam butir 3) dan 4). [12]
26 Kotak 5.1 : Beban Kuantitatif dan Kualitatif dalam membentuk Pool Asesor dan Fasilitator 19 Mengingat bahwa proyeksi beban kerja LAM-PTKes secara kuantitatif adalah sekitar 2253 program studi, maka akan diperlukan banyak Asesor dan Fasilitator yang sudah siap untuk melakukan asesmen dan fasilitasi Akreditasi Formatif. Walaupun dengan pelatihan yang se-ekstensif apapun, belum tentu akan cukup tersedia Pool Asesor dan Fasilitator yang memadai dalam waktu 5 tahun ke depan. Selain itu, Akreditasi Formatif membutuhkan keterampilan yang berbeda dengan Akreditasi Sumatif seperti yang selama ini dilakukan oleh asesor BAN-PT. Ini merupakan beban kualitatif yang belum tentu dapat diatasi dengan pelatihan yang seintensif apapun dalam waktu 5 tahun ke depan. Pertimbangan di atas belum memperhitungkan besarnya biaya yang diperlukan untuk mengadakan pelatihan dalam rangka mengatasi Beban Kuantitatif dan Kualitatif tersebut. Selain itu, pelatihan bukan cara yang tepat untuk mengatasi Beban Kualitatif yang menuntut perubahan pola pikir (model mental) sebagaimana dapat dilihat pada Kotak 5.2 di bawah. Kotak 5.2 : Pelatihan Bukan Segalanya [17] Pelatihan sering dianggap sebagai obat kuat untuk mendorong suksesnya implementasi kebijakan. Tetapi jika suatu kebijakan menuntut organisasi untuk berubah, maka pelatihan saja tidak akan cukup untuk membuat anggota dalam organisasi berubah. Pelatihan hanya efektif untuk meningkatkan Pengetahuan (Knowledge) dan Kemampuan (Ability), tetapi tidak bisa diandalkan untuk menumbuhkan Hasrat (Desire) berubah. Untuk merubah Aspek Manusia dalam perubahan organisasi, yang diperlukan adalah pemberdayaan manusia itu sendiri melalui model AIDKAAR yaitu : Awareness (Kesadaran); Interest (Perhatian); Desire (Hasrat); Knowledge (Pengetahuan); Ability (Kemampuan); Action (Tindakan); Reinforcement (Penguatan). Alternatif lain untuk meningkatkan Modal / Kapasitas SDM LAM-PTKes adalah melalui pengembangan Komunitas Praktisi (Community of Practice / COP) baik di dalam organisasi atau sistem maupun pada komunitas akademisi dan profesi kesehatan CIRI-CIRI KOMUNITAS PRAKTISI Komunitas Praktisi adalah suatu kelompok yang berhasrat untuk menguasai suatu topik atau persoalan dengan cara memperdalam keterampilan mereka melalui interaksi antar sesama anggota kelompok secara berkelanjutan [18]. Komunitas Praktisi memungkinkan terlaksananya upaya yang holistik dan terpadu dalam mengatasi berbagai persoalan sosial yang kompleks melalui Pembelajaran Terapan
27 20 (Action Learning). Komunitas ini merupakan suatu Sistem Pembelajaran Sosial (Social Learning System) tempat para praktisi berinteraksi untuk bertukar pikiran dan mengatasi persoalan mereka secara bersama. [18] Komunitas Praktisi memiliki beberapa nama dalam berbagai organisasi yang menerapkannya seperti : komunitas pengetahuan (knowledge communities), jejaring kompetensi (competency networks), kelompok tematik (thematic groups), dan jejaring pembelajaran (learning networks). 3 komponen dasar yang menjadi ciri khas Komunitas Praktisi adalah berikut ini : [18-21] 1. Bidang Keterampilan (Domain) Bidang Keterampilan menentukan identitas suatu Komunitas Praktisi dan persoalan yang menjadi fokusnya. Semua anggota Komunitas Praktisi memiliki komitmen terhadap Bidang Keterampilan yang membedakannya dari kelompok lain. Bidang Keterampilan ini tidak harus merupakan suatu keahlian yang diakui secara formal. Namun para anggota Komunitas Praktisi menjunjung tinggi kompetensi dalam Bidang Keterampilannya dan saling belajar dengan sesama anggota walaupun ini tidak diakui atau dihargai oleh orang lain. Contohnya, suatu kelompok pencopet memiliki Bidang Keterampilan dalam bertahan hidup di jalanan. 2. Komunitas Komunitas adalah suatu kelompok dengan suatu Bidang Keterampilan yang membedakannya dari kelompok lain. Para anggota komunitas memiliki suatu hubungan khusus yang memungkinkan mereka untuk mengatasi persoalan dan saling bertukar pengetahuan. Hubungan khusus ini menentukan tingkat saling percaya, saling memiliki dan kebersamaan dalam komunitas. Para anggota Komunitas Praktisi bukanlah mereka yang memiliki jabatan yang sama atau gelar pendidikan yang sama, tetapi mereka mampu berinteraksi secara khusus dan belajar bersama. Walaupun mereka tidak harus bertemu setiap hari, tetapi hubungan khusus antara mereka tetap ada. Contohnya, para pelukis aliran tertentu dapat bertemu di kafe atau pameran secara berkala untuk membahas aliran yang sedang mereka kembangkan. Interaksi seperti ini membuat mereka menjadi suatu Komunitas Praktisi, walaupun mereka melukis sendiri-sendiri. 3. Praktek Praktek pada dasarnya merupakan inventarisasi dari berbagai perangkat, metode, keterampilan, serta kegiatan-kegiatan pembelajaran dan inovasi yang dimiliki oleh Komunitas Praktisi. Jadi Praktek merupakan perbendaharaan pengetahuan, pengalaman, kisah, kasus dan dokumen yang dikembangkan dan dipelajari bersama oleh para anggota Komunitas Praktisi sebagai praktisi. Perbendaharaan yang ditimbun dari Praktek ini memperkaya Bidang Keterampilan para anggota Komunitas Praktisi secara sadar maupun tidak. Contohnya, para perawat yang bertemu secara reguler di kantin RS tidak sadar bahwa diskusi-diskusi mereka saat makan siang merupakan salah satu sumber pengetahuan untuk meningkatkan pelayanan mereka kepada pasien. Dari diskusi-diskusi mereka telah terkumpul suatu perbendaharaan
28 21 pengetahuan, pengalaman, kisah dan kasus yang menjadi Inventarisasi Praktek dalam tugas keperawatan mereka. Kombinasi dari ketiga komponen dasar di atas membentuk suatu Komunitas Praktisi. Jadi pengembangan Komunitas Praktisi dilakukan dengan cara mengembangkan ketiga komponen dasar tersebut. Ciri khas lain Komunitas Praktisi adalah partisipasinya yang bersifat suka rela. Para anggota Komunitas Praktisi secara suka rela mencari dan bertukar pengetahuan, membangun saling percaya dan kebersamaan, serta mempraktekkan pengetahuannya. [18] Komunitas Praktisi ada di mana-mana secara kita sadari maupun tidak. Komunitas Praktisi ada di balik struktur-struktur formal seperti institusi, pelajar-pelajar di kelas dalam sekolah, pemerintahan kabupaten/kota, propinsi maupun pusat. Ia dapat dikenal melalui ciri-ciri khas komunitasnya dan pembelajarannya yang bersifat informal. Di balik pengelompokan resmi pelajar-pelajar ke dalam kelas-kelas di sekolah, ada berbagai kelompok informal pelajar berbentuk Komunitas Praktisi. Demikian pula di balik departemen, direktorat dan unit-unit resmi dalam institusi ada berbagai jejaring informal berbentuk Komunitas Praktisi. [22] Karena sifatnya yang cenderung informal, maka Komunitas Praktisi perlu dibedakan dari kelompok-kelompok formal dalam organisasi seperti panitia, komisi, pokja, atau tim proyek. Tabel 5.1 menunjukkan perbedaan antara Komunitas Praktisi dan kelompok formal. Tabel 5.1 : Perbedaan antara Komunitas Praktisi dan Kelompok Formal [23] PENERAPAN KOMUNITAS PRAKTISI OLEH ORGANISASI Komunitas Praktisi mulai diterapkan oleh organisasi setelah disadari bahwa pengetahuan merupakan aset penting yang perlu dikelola secara strategis. Berbagai alasan mengapa organisasi menerapkan Komunitas Praktisi adalah sebagai berikut : [20] Komunitas Praktisi memberdayakan para praktisi untuk bertanggung jawab secara kolektif dalam mengelola pengetahuan yang mereka perlukan. Komunitas Praktisi secara langsung menghubungkan pembelajaran dengan kinerja organisasi karena orang yang sama berpartisipasi dalam Komunitas Praktisi maupun dalam kelompok-kelompok formal pada organisasi.
29 22 Para praktisi sekaligus memperoleh Pengetahuan Implisit (Tacit Knowledge) dan Pengetahuan Eksplisit dalam suasana peralihan pengetahuan yang dinamis. Komunitas Praktisi memungkinkan hubungan lintas organisasi dan lintas wilayah. Kotak 5.3 : Jejaring Kompetensi yang Dibentuk oleh Berbagai Komunitas Praktisi Alasan-alasan tersebut di atas menyebabkan pengetahuan organisasi berkembang dalam suatu jejaring yang dibentuk oleh berbagai Komunitas Praktisi yang masingmasing menghasilkan kompetensi spesifik yang dibutuhkan organisasi. Berikut ini adalah contoh penerapan Komunitas Praktisi dalam beberapa bidang : [20] 1. Pemerintah Komunitas Praktisi merupakan suatu pendekatan struktural baru yang mampu menghubungkan struktur-struktur formal dan informal untuk meningkatkan kapasitas pemerintah dalam menjalankan kewajibannya di berbagai bidang, utamanya bidang sosial yang kompleks seperti kemiskinan, kesehatan dan pendidikan. 2. Pendidikan Dalam sektor pendidikan, Pembelajaran bukan saja merupakan Cara, tetapi juga merupakan Hasil Akhir. Komunitas Praktisi mempengaruhi praktek pendidikan dalam 3 dimensi sebagai berikut : Dalam Sekolah : Bagaimana menerapkan pengalaman edukatif di sekolah melalui partisipasi dalam Komunitas Praktisi sesuai kurikulum? Di luar Sekolah : Bagaimana mengaitkan pengalaman edukatif siswa dengan praktek nyata di luar sekolah melalui partisipasi dalam Komunitas Praktisi? Sepanjang Hidup Siswa : Bagaimana memenuhi kebutuhan untuk Pembelajaran Sepanjang Hidup siswa (Lifelong Learning) melalui partisipasi dalam Komunitas Praktisi yang berfokus pada minat siswa setelah ia selesai sekolah? Kotak 5.4 : Pembelajaran Utama Tidak Terjadi di Sekolah Oleh karena itu, dari sudut pandang Komunitas Praktisi, sekolah hanya merupakan sebagian dari Sistem Pembelajaran yang lebih luas. Pembelajaran Utama tidak terjadi di sekolah, tetapi dalam kehidupan siswa. 3. Perkumpulan / Asosiasi Pembelajaran antar sesama profesi, atau sesama praktisi pada Komunitas Praktisi lebih memperkaya pelatihan-pelatihan konvensional dan publikasi internal dari perkumpulan / asosiasi. 4. Sektor Sosial Badan-badan sosial/amal membutuhkan Sistem Pembelajaran melalui Komunitas Praktisi untuk meningkatkan efektifitas proyek-proyek yang mereka sponsori.
30 23 5. Pembangunan Nasional dan Regional Pendekatan melalui Komunitas Praktisi merupakan paradigma baru dalam Pembangunan Nasional dan Regional karena persoalan yang dihadapi oleh negara-negara berkembang bukan saja terletak pada pendanaan, tetapi juga pada kompetensi. Oleh karena itu, peran lembaga-lembaga pemberi pinjaman luar negeri mulai beralih dari sumber pengetahuan menjadi fasilitator terbentuknya Komunitas Praktisi di negara-negara berkembang. 6. Internet Internet meningkatkan daya jangkau Komunitas Praktisi secara global. Secara menyeluruh, manfaat Komunitas Praktisi bagi organisasi dan anggotanya dalam jangka pendek maupun jangka panjang dapat dilihat pada Tabel 5.2. Tabel 5.2 : Manfaat Komunitas Praktisi Bagi Organisasi dan Anggotanya [24] 5.2. SISTEM MANAJEMEN PENGETAHUAN (KNOWLEDGE MANAGEMENT SYSTEM / KMS) KOMUNITAS PRAKTISI SEBAGAI LANDASAN MANAJEMEN PENGETAHUAN Organisasi adalah lebih dari sekedar kumpulan aset, produk dan pelayanannya. Pada jantung organisasi terdapat sumber daya esensial yang tahan lama yaitu Kompetensi Dasarnya. Organisasi yang mampu mengenal Kompetensi Dasarnya akan mampu mengembangkan dan memanfaatkannya. Kompetensi Dasar ini menentukan masa depan dan identitas organisasi dalam jangka panjang. Kompetensi Dasar tersebut melandasi kemampuan organisasi untuk melakukan inovasi, memberi Nilai Tambah kepada pelanggannya serta menanggapi pergeseran permintaan (shifting demand) dari pasar. Hasilnya adalah Keunggulan Kompetitif yang sulit didapat oleh pesaingnya. Pengetahuan adalah aset strategis organisasi / sistem yang harus dikelola dengan baik. Tugas Manajemen Pengetahuan paling tepat diserahkan kepada para praktisi dalam organisasi. Dalam hal ini, Komunitas Praktisi membentuk simpul-simpul dari anyaman / jejaring pengetahuan dalam organisasi/sistem.
31 24 Perpaduan antara Bidang Keterampilan (Domain), Komunitas dan Praktek sebagai komponen dasar Komunitas Praktisi memungkinnya untuk mengelola pengetahuan dalam organisasi/ sistem. Bidang Keterampilan memberi fokus. Komunitas membangun hubungan yang memungkinkan Pembelajaran Kolektif. Sedangkan Praktek menanamkan hasil Pembelajaran ke dalam kegiatan sehari-hari. Ketiga komponen dasar tersebut menjadi landasan bagi Manajemen Pengetahuan yang digambarkan sebagai sebuah kue donat seperti yang terlihat pada Gambar 5.1 di bawah [19]. Gambar 5.1 : Model Kue Donat dari Manajemen Pengetahuan [19] Dari Strategi Menjadi Kinerja 1. Menterjemahkan Strategi Organisasi / Sistem menjadi berbagai Bidang Keterampilan (Domains) Langkah Pertama dalam Manajemen Pengetahuan adalah menterjemahkan Strategi Organisasi menjadi rangkaian Bidang-bidang Keterampilan (Domains). Pertanyaan yang perlu dijawab di sini adalah : Keterampilan apa yang perlu dimiliki untuk menciptakan Nilai Tambah bagi organisasi agar diperoleh Keunggulan Kompetitif? 2. Membangun Komunitas yang Sesuai untuk Tiap Bidang Keterampilan Langkah selanjutnya adalah mengajak praktisi-praktisi yang sesuai untuk membentuk Komunitas Praktisi yang akan mengelola pengetahuan dalam Bidang Keterampilan yang sesuai. 3. Memberdayakan para Praktisi agar Menyempurnakan Prakteknya Penyempurnaan Praktek para praktisi akan membuat Komunitas Praktisi menjadi semakin relevan dengan kegiatan sehari-hari para anggotanya dalam organisasi / sistem. Jadi, Komunitas Praktisi menciptakan Nilai Tambah melalui peningkatan kinerja para anggotanya saat mereka menerapkan dalam lingkungan kerjanya. Karena praktisi merupakan anggota Komunitas Praktisi sekaligus anggota dalam organisasi, maka peran mereka adalah langsung sebagai Pembawa Pengetahuan (Knowledge Carriers). [19] Di lain pihak, proses produksi dalam organisasi memberi 2 hasil sebagai berikut : [19] Barang / Jasa Barang / jasa yang dihasilkan oleh unit-unit dalam organisasi dipakai untuk memberi pelayanan kepada pelanggannya.
32 25 Pengetahuan Pengetahuan berupa pengalaman yang didapat dari proses produksi organisasi perlu dikembangkan atau disempurnakan oleh Komunitas Praktisi untuk dikembalikan lagi kepada organisasi agar meningkatkan kinerjanya. Demikianlah proses pertama Manajemen Pengetahuan dari strategi menjadi kinerja menurut model kue donat yang sudah diperlihatkan di Gambar 5.1 di atas. Dari Kinerja Menjadi Strategi Proses kedua Manajemen Pengetahuan dari kinerja menjadi strategi organisasi juga memerlukan ketiga komponen dasar Komunitas Praktisi, tetapi dalam urutan yang sebaliknya. 1. Mengolah Hasil Pembelajaran untuk meningkatkan Praktek Semua solusi baru, kesalahan, umpan balik dari pelanggan, kegagalan yang tidak terduga, dan peluang baru yang didapat dari proses produksi organisasi perlu diolah menjadi Hasil Pembelajaran untuk meningkatkan Praktek. 2. Memperluas Ruang Lingkup Pembelajaran Hasil Pembelajaran yang diperoleh dari dalam maupun luar organisasi perlu dipadukan, didokumentasikan dan disebarkan ke seluruh organisasi melalui Bank Pengetahuan yang dimiliki Komunitas Praktisi. 3. Menjadi Pembina (Steward) untuk Pengetahuan Organisasi Komunitas Praktisi menjadi Pembina (Steward) untuk Pengetahuan Organisasi dalam 2 hal sebagai berikut : Sebagai penyumbang Pengetahuan Strategis sesuai dengan Bidang Keterampilannya bagi organisasi secara keseluruhan; Sebagai Sumber Daya Strategis bagi organisasi. Demikianlah keseluruhan model kue donat dari Manajemen Pengetahuan oleh Komunitas Praktisi. Agar model Manajemen Pengetahuan ini berjalan dengan baik diperlukan lingkungan yang kondusif dalam organisasi yang meliputi : 1) Dukungan dari Sponsor; 2) Pengakuan; dan 3) Unsur-unsur Penunjang. [19] 1) Dukungan dari Sponsor Dukungan dari Sponsor dalam organisasi meliputi hal-hal sebagai berikut : Menterjemahkan Strategi Pokok organisasi menjadi jenis-jenis Pengetahuan Strategis yang diperlukan; Melegitimasi pekerjaan Komunitas Praktisi sesuai dengan prioritas organisasi; Menyalurkan sumber daya yang diperlukan untuk menjamin kesuksesan Komunitas Praktisi; Menilai kelayakan dari Hasil Pembelajaran oleh Komunitas Praktisi untuk diterapkan dalam proses produksi organisasi. Dukungan Sponsor dapat berasal dari pucuk pimpinan organisasi dan manajernya praktisi. Dukungan dari pucuk pimpinan organisasi : Pucuk pimpinan organisasi menjembatani struktur vertikal yang formal dari organisasi dengan struktur horisontal yang informal dari Komunitas Praktisi. Dukungan dari manajernya praktisi :
33 Manajernya praktisi memiliki kendali atas waktu yang digunakan oleh praktisi. 26 2) Pengakuan Pengakuan terhadap kinerja Komunitas Praktisi dapat berasal dari para praktisi sendiri maupun dari organisasi berupa promosi bagi anggota Komunitas Praktisi yang berprestasi. 3) Unsur-unsur Penunjang, meliputi antara lain : Sumber daya untuk memfasilitasi pertemuan, transport dan anggaran untuk tugas-tugas khusus tertentu; Teknologi untuk memfasilitasi komunikasi dan dokumentasi Hasil Pembelajaran; Tim Fasilitator dalam organisasi yang bertugas membantu Komunitas Praktisi untuk hal-hal sebagai berikut : o Memberi pendampingan ahli (coaching) kepada pimpinan Komunitas Praktisi; o Memfasilitasi komunikasi dengan struktur formal organisasi; o Memfasilitasi koordinasi dalam seluruh organisasi. Pendekatan melalui Komunitas Praktisi memberi makna baru bagi berbagai istilah seperti Organisasi Pembelajar (Learning Organization), Pembelajaran Sepanjang Hidup (Life-Long Learning), dan Masyarakat Informasi (Information Society) yang pada kenyataannya lebih condong pada pembelajaran perorangan serta jejaring yang padat informasi dan data, tetapi miskin pengetahuan. [22] Komunitas Praktisi merupakan suatu pendekatan struktural baru yang mampu menghubungkan struktur-struktur formal dan informal untuk meningkatkan kapasitas organisasi / sistem dalam mengatasi berbagai persoalan sosial yang kompleks menyangkut kemiskinan, kesehatan dan pendidikan melalui Pembelajaran Terapan (Action Learning). Komunitas ini merupakan suatu Sistem Pembelajaran Sosial (Social Learning System) tempat para praktisi berinteraksi untuk bertukar pikiran dan mengatasi persoalan secara bersama. Namun, membangun Komunitas Praktisi dan jejaringnya berikut dengan segala kompleksitas sosialnya memerlukan waktu yang tidak singkat. Diperlukan lingkungan yang kondusif dalam organisasi dan komitmen yang tinggi dari semua pihak baik dalam organisasi / sistem maupun dari lingkungan luarnya MODEL SISTEM MANAJEMEN PENGETAHUAN (KMS) LAM-PTKes Terbentuknya Modal Intelektual organisasi sebagai asetnya didasarkan pada perolehan pengetahuan baru yang tertanam dalam sistem, proses-proses dan produk-produk organisasi. Proses-proses pada Sistem Manajemen Pengetahuan / KMS dalam organisasi meliputi 5 tahap / fungsi sebagai berikut (lihat Gambar 5.2) : [25] 1) Discovery : Pengetahuan yang diperoleh bisa didapat dari temuan baru, sosialisasi dalam kelompok atau dari luar organisasi. 2) Delivery : Pengetahuan yang diperoleh ditanam ke dalam proses-proses dan produk-produk organisasi.
34 27 3) Delay : Pengetahuan yang tidak langsung dipakai disimpan. 4) Disposal : Sebelum dibuang, pengetahuan dapat disimpan selama 1 hari atau 100 tahun tergantung pada potensi kegunaan dan relevansinya. 5) Diffusion : Tahap/fungsi ini merupakan interface Sistem Manajemen Pengetahuan yang menghubungkan interaksi dari ke 4 tahap/ fungsi di atas dengan cara sebagai berikut : o Pengetahuan yang diperoleh pada tahap/fungsi Discovery disaring kegunaannya (screening). o Pengetahuan yang dianggap berguna dikembangkan untuk disosialisasikan agar dapat ditanam ke dalam proses-proses dan produk-produk organisasi pada tahap / fungsi Delivery. o Pengetahuan yang dianggap kegunaannya masih di masa depan mengalami pengorganisasian, kodifikasi untuk disimpan pada tahap / fungsi Delay. o Pengetahuan yang dianggap tidak berguna disingkirkan pada tahap / fungsi Disposal. Namun sebelum dimusnahkan, pengetahuan ini masih memungkinkan untuk ditransfer ke mitra kerja organisasi kalau diminta. Kotak 5.5 : Model Sistem Manajemen Pengetahuan (KMS) LAM-PTKes [12] Dalam mengembangkan Modal Intelektualnya, LAM-PTKes perlu menyusun model Sistem Manajemen Pengetahuan / KMS sesuai dengan : Misi yang diembannya; Grand Design yang sudah disepakati; Pelaksanaan asesmen dan fasilitasi akreditasi formatif melalui siklus Analisis Kondisi Program Studi; Analisis Persoalan; Analisis Keputusan; dan Analisis Hambatan / Persoalan Potensial. Mengingat bahwa Sistem Manajemen Pengetahuan (KMS) LAM-PTKes merupakan suatu Sistem Adaptif yang Kompleks, maka ke 5 tahap / fungsi Diffusion, Discovery, Delivery, Delay dan Disposal bersifat dinamis dan selalu berkembang. Faktor Penentu Sukses (Critical Success Factors) KMS LAM-PTKes : 1) Mengkaitkan Sistem Manajemen Pengetahuan (KMS) langsung kepada Indikator Penentu Kinerja (KPI) Asesor, Fasilitator dan Badan Pelaksana LAM-PTKes; 2) Pertukaran yang bebas dari informasi dan pengetahuan dalam organisasi. 3) Pengakuan kepada mereka yang berkontribusi terhadap Manajemen Pengetahuan. Gambar 5.2 di bawah memperlihatkan sebuah model Sistem Manajemen Pengetahuan / KMS dalam organisasi yang meliputi interaksi antar ke 5 tahap / fungsi Diffusion, Discovery, Delivery, Delay dan Disposal.
35 28 Gambar 5.2: Model Sistem Manajemen Pengetahuan / KMS [25] 2. DELIVERY Pengetahuan Implisit (Kepemimpinan, Keterampilan & Pengalaman Merancang Produk) Pembelajaran Interaktif (Litbang, Perencanaan) Pengetahuan Eksplisit (Rancangan Produk, Kontrak, Software, Hak Cipta) KEMBANGKAN Pembelajaran Interaktif (Tim Proyek, Tim QA) 1. DISCOVERY Pengetahuan Eksplisit (Pedoman, Ceramah, Pelatihan) S A R I N G 5. DIFFUSION SINGKIRKAN S I M P A N Pengetahuan Implisit (Ide, Potensi, Opini Klien) 3. DELAY Pembelajaran Interaktif (Hubungan Kerja, Kisah Sukses) Pengetahuan Implisit (Norma dan Budaya Organisasi) Mitra Kerja 4. DISPOSAL Arsip Transfer Pengetahuan Eksplisit (Perpustakaan, Database, SOP) Pemusnahan
36 PENATAAN ASPEK DINAMIS ORGANISASI LAM-PTKes Penataan organisasi yang diperlukan oleh LAM-PTKes mencakup penataan Aspek Statis dan Aspek Dinamis organisasinya. Penataan Aspek Statis organisasi LAM-PTKes terdiri atas : [26] 1. Analisis Misi; 2. Penyusunan Organogram; dan 3. Analisis Jabatan. Ketiga hal tersebut di atas sudah dilakukan oleh Task Force sejak akhir tahun lalu [5]. Namun kemampuan organisasi untuk melaksanakan perubahan yang diperlukan untuk menjalankan strategi organisasi ditentukan oleh Aspek Dinamisnya. Penataan Aspek Dinamis organisasi ditentukan oleh 6 hal berikut ini : [27] 1. Bentuk Hierarki organisasi; 2. Sistem Komunikasinya; 3. Sistem Pembuatan Keputusannya; 4. Penerapan Norma dan Perilaku yang diharapkan; 5. Sistem Insentif yang disepakati bersama; 6. Sistem Akuntabilitas berdasarkan hasil akhir (outcomes). Keenam hal di atas saling terkait dalam mewujudkan Struktur Organisasi yang mampu menghasilkan Iklim Organisasi yang kondusif terhadap kemajuan dan profesionalisme sebagaimana terlihat pada Gambar 5.3 di bawah. Gambar tersebut menunjukkan bahwa Iklim Organisasi (Keadaan Psikologis) yang profesional dan kompetitif dipengaruhi dari luar oleh lingkungannya dan dari dalam oleh strukturnya. Berdasarkan Gambar 5.3 di bawah, maka penataan Aspek Statis organisasi LAM-PTKes yang sudah dilakukan perlu dinilai bagaimana Aspek Dinamisnya sebagai berikut : 1) Bagaimana bentuk hierarki organisasi? [28] a) Apakah mencerminkan suatu institusi pelayanan? b) Apakah seperti kantor pemerintahan dengan lebih banyak Jabatan Struktural dari pada Jabatan Fungsional? c) Apakah hubungan kerja lebih banyak bersifat horisontal atau vertikal? d) Apakah ada keterkaitan yang erat antara berbagai unit untuk mendukung layanan yang terpadu dan berkesinambungan? 2) Bagaimana Sistem Komunikasi dalam organisasi? [28] a) Apakah komunikasi antar unit struktural dan fungsional lebih banyak bersifat formal atau informal? b) Dalam bentuk atau forum apa komunikasi tentang pengelolaan sumber daya organisasi dilakukan untuk mencapai tujuan program-program kerjanya? c) Dalam bentuk atau forum apa komunikasi tentang pelayanan kepada pelanggan dilakukan? d) Cara komunikasi apa yang dipakai untuk menjaga keterpaduan dan saling keterkaitan antara seluruh upaya organisasi dalam rangka mewujudkan Misi, Tujuan dan Strateginya?
37 30 3) Bagaimana Sistem Pembuatan Keputusan dalam organisasi? [28] a) Apakah pembuatan keputusan bersifat top-down atau partisipatif? b) Bagaimana cara pembuatan keputusan untuk : i) Perumusan Visi, Misi, Tujuan dan Strategi organisasi? ii) Penyusunan Anggaran Investasi, Operasional dan Pemeliharaan? c) Apakah pembuatan keputusan melibatkan mereka yang akan menjalankannya? d) Apakah keputusan yang dibuat oleh para manajer dapat diterapkan oleh mereka yang bekerja pada titik-titik layanan? e) Apakah ada evaluasi secara berkesinambungan terhadap keputusan yang telah dibuat? 4) Apa Norma dan Perilaku yang diharapkan dalam organisasi? [28] a) Apakah Peraturan Tidak Tertulis lebih banyak dari pada Peraturan yang Tertulis? b) Apakah Peraturan Tidak Tertulis lebih banyak bertentangan atau mendukung Peraturan yang Tertulis? c) Apakah Peraturan Tidak Tertulis lebih banyak menguntungkan atau merugikan organisasi? d) Apakah norma dan perilaku organisasi yang ada sekarang sudah sesuai dengan yang diharapkan? e) Norma dan perilaku organisasi apa yang masih relevan untuk dianut oleh organisasi dalam rangka mewujudkan Visi dan Misinya? 5) Bagaimana Sistem Insentif dalam organisasi? [29] Bagaimana urutan insentif di bawah ini yang dianggap paling berpengaruh dalam mewujudkan Visi dan menerapkan Nilai Dasar organisasi? Kesempatan untuk mengaktualisasikan diri; Lingkungan kerja yang kondusif; Solidaritas yang tinggi dalam tim / pokja; Hasil akhir dari pelayanan yang lebih baik; Konsistensi dalam mewujudkan Visi dan Nilai Dasar; Kebijakan organisasi yang memberdayakan semua pihak; Pengakuan terhadap prestasi yang telah dicapai; Koordinasi yang baik antar sesama unit, maupun antar unit fungsional dengan unit struktural dalam organisasi; Hadiah; Penghargaan atas prestasi; Dukungan dari atasan; Peningkatan pendapatan; Peningkatan pengetahuan dan keterampilan; Reaksi dari pelanggan organisasi; Pengurangan beban kerja; Uang lembur; Penghargaan atas partisipasi dalam kegiatan organisasi. 6) Bagaimana Sistem Akuntabilitas dalam organisasi? [28] a) Apakah ada standarisasi pelayanan organisasi dengan indikator kinerja yang operasional dan transparan?
38 31 b) Apakah ada pemisahan yang jelas antara akuntabilitas pengelolaan sumber daya organisasi oleh Manajer Struktural dengan akuntabilitas pengelolaan pelayanan oleh Manajer Fungsional? Gambar 5.3 : Iklim Organisasi yang Dinamis [28] Faktor Politik LINGKUNGAN 6. Sistem Akuntabilitas IKLIM ORGANISASI (Keadaan Psikologis) STRUKTUR 1. Hierarki Organisasi Visi, Misi, Tujuan 2. Sistem Komunikasi Faktor Ekonomi 5. Sistem Insentif NILAI DASAR 3.Sistem Pembuatan Keputusan Faktor Sosial Budaya 4. Norma dan Perilaku yang diharapkan PROFESIONAL & KOMPETITIF Faktor Teknologi Jika kita perhatikan Gambar 5.3 di atas, terlihat bahwa Iklim Organisasi (Keadaan Psikologis) yang profesional dan kompetitif dipengaruhi dari luar oleh lingkungannya dan dari dalam oleh strukturnya. Berbeda dengan gambar tersebut, model kue donat dari Manajemen Pengetahuan (Gambar 5.1) tengahnya adalah kosong. Jadi, Iklim Organisasi (Keadaan Psikologis) yang profesional dan kompetitif walaupun dipengaruhi dari luar maupun dalam, yang sebenarnya mewujudkan iklim tersebut adalah para praktisi dari Komunitas Praktisi dalam organisasi.
39 6. TUGAS TIM INTI DALAM BALANCED SCORECARD (BSC) LAM-PTKes Tabel 6.1 : Tugas Tim Inti Dalam Balanced Scorecard (BSC) LAM-PTKes 32 PERSPEKTIF Tim Persiapan Pool Asesor & Fasilitator Pelanggan Mencari Atribut Produk / Layanan lain selain Harga untuk Nilai Tambah bagi Pelanggan dari segi : Kegunaan; Kualitas; dan Waktu. Keuangan Tim Persiapan Manajemen Menciptakan Kualitas Prima dalam hal Hubungan dengan Pelanggan melalui : Pelayanan Kehumasan yang responsif; Pelayanan Administratif yang memuaskan; dan Pelayanan kepada Pelanggan secara unik berdasarkan dukungan Manajemen Pengetahuan. 1. Menyepakati besarnya kisaran Biaya Satuan akreditasi secara nasional Melakukan exercise Satuan Biaya Khusus/SBK untuk akreditasi oleh LAM- PTKes Mengusulkan Satuan Biaya Khusus dari LAM-PTKes kepada Kemdikbud Membantu mengusulkan Satuan Biaya Khusus dari Kemendikbud ke Kemkeu Membantu Penetapan Satuan Biaya Khusus Akreditasi oleh Menteri Keuangan Melakukan kegiatan dengan dukungan dana sesuai dengan SBK dari Kemkeu Tim Peralihan Akreditasi dari BAN-PT ke LAM-PTKes Melakukan Analisis Kebijakan Peralihan Akreditasi utamanya yang berkaitan dengan Tarif Paket Akreditasi ; Mengusulkan hasil Analisis Kebijakan Peralihan Akreditasi yang berkaitan dengan Tarif Paket Akreditasi ke Kemendikbud. 2. Memfasilitasi Kesepakatan mekanisme pendanaan akreditasi secara nasional Memperkenalkan mekanisme pendanaan akreditasi berdasarkan Sistem Arisan / Asuransi Penjaminan Mutu Eksternal Pendidikan Kesehatan Memfasilitasi Kesepakatan besarnya pendanaan yang diperlukan untuk akreditasi secara nasional Mengidentifikasi sumber pendanaan reguler untuk akreditasi secara nasional Memfasilitasi Kesepakatan mekanisme penyaluran dana untuk akreditasi secara nasional Menyusun Anggaran Berbasis Kinerja (Performance Based Budgeting) untuk akreditasi secara nasional 3. Memfasilitasi Kesepakatan Sistem Pendanaan Bersama Akreditasi secara nasional Menyusun rancangan awal Sistem Pendanaan Bersama Akreditasi Memfasilitasi Kesepakatan sumber daya yang diperlukan agar sistem berfungsi optimal Memfasilitasi Kesepakatan cara memenuhi sumber daya yang diperlukan sistem
40 33 PERSPEKTIF Tim Persiapan Pool Asesor & Fasilitator Tim Persiapan Manajemen Menyusun Indikator Penentu Kinerja (Key Performance Indicators) untuk sistem Menyusun sistem monitoring evaluasi dan pencatatan pelaporan untuk Sistem Tim Peralihan Akreditasi dari BAN-PT ke LAM-PTKes 4. Memfasilitasi Kesepakatan besarnya kisaran tarif akreditasi di luar Sistem Pendanaan Bersama Melakukan exercise kisaran tarif akreditasi di luar Sistem Pendanaan Bersama Mengkomunikasikan hasil exercise kisaran tarif akreditasi kepada Perguruan Tinggi Swasta Menyusun MoU tentang kisaran tarif akreditasi antara Perguruan Tinggi Swasta dengan LAM-PTKes Produksi 1) Menyusun draf Pedoman Akreditasi Formatif; 2) Membahas draf Pedoman dengan stakeholders; 3) Merevisi draf Pedoman berdasarkan masukan; 4) Memfasilitasi penyusunan standar, kriteria dan metode asesmen Pendidikan Interprofesional menurut kaidah tiap profesi; 5) Memfasilitasi integrasi Pendidikan Interprofesional ke dalam instrumen akreditasi Pendidikan Tinggi Kes.; 6) Menyusun Standar Akreditasi dengan Model CPU; 7) Menyusun Sistem Umpan Balik (Feedback Loops) yang Tepat waktu; Spesifik; Konstruktif; dan Adil. Menyusun Rencana Strategis; Menyusun Model Sistem Manajemen Pengetahuan (KMS) LAM-PTKes sesuai dengan : o Misi yang diembannya; o Grand Design yang sudah disepakati; o Pelaksanaan asesmen dan fasilitasi akreditasi formatif melalui siklus Analisis Kondisi Program Studi; Analisis Persoalan; Analisis Keputusan; dan Analisis Hambatan / Persoalan Potensial. Menata organ-organ Sekretariat, Divisi Akreditasi dan Divisi Pengembangan, Monev dan Banding LAM-PTKes sesuai hasil Analisis Jabatan yang sudah dibuat; Melakukan Analisis Pasar yang lebih mendalam; Mensosialisasikan kebijakan akreditasi pendidikan tinggi kesehatan secara nasional. Mempersiapkan mekanisme peralihan akreditasi; Melakukan Analisis Kebijakan Peralihan Akreditasi utamanya yang berkaitan dengan Akreditasi Formatif; Mengusulkan hasil Analisis Kebijakan Peralihan Akreditasi yang berkaitan dengan Akreditasi Formatif ke Kemendikbud.
41 PERSPEKTIF Tim Persiapan Pool Asesor & Fasilitator 8) Memanfaatkan Teknologi Informasi untuk memfasilitasi Pembelajaran Transformatif prodi melalui Manajemen Pengetahuan; 9) Mengembangkan pool Asesor dan Fasilitator yang Berintegritas dan mampu menerapkan Nilai Operasional LAM-PTKes; 10) Menyusun SOP Tim Asesor dan Fasilitator. 34 Tim Persiapan Manajemen Tim Peralihan Akreditasi dari BAN-PT ke LAM-PTKes Belajar dan Berkembang Menginisiasi pengembangan Komunitas Praktisi (Community of Practice) di dalam lingkungan HPEQ maupun di masyarakat. 1. Memfasilitasi pengembangan Komunitas Praktisi : Menterjemahkan Strategi Pokok organisasi menjadi berbagai jenis Pengetahuan Strategis yang dapat dikembangkan oleh Komunitas Praktisi; Melegitimasi pekerjaan Komunitas Praktisi sesuai dengan prioritas organisasi; Menyalurkan sumber daya yang diperlukan untuk menjamin kesuksesan Komunitas Praktisi; Menilai kelayakan dari Hasil Pembelajaran oleh Komunitas Praktisi untuk diterapkan dalam proses produksi organisasi; Menjembatani struktur vertikal yang formal dari organisasi dengan struktur horisontal yang informal dari Komunitas Praktisi; Memfasilitasi pertemuan, transport dan anggaran untuk tugas khusus tertentu; Memfasilitasi komunikasi dan dokumentasi Hasil Pembelajaran; Menyediakan Tim Fasilitator dalam organisasi yang bertugas membantu Komunitas Praktisi untuk hal-hal sebagai berikut : o Memberi pendampingan ahli (coaching) kepada pimpinan Komunitas Praktisi; o Memfasilitasi komunikasi dengan struktur formal organisasi; o Memfasilitasi koordinasi dalam seluruh organisasi. 2. Pengembangan Model Sistem Manajemen Pengetahuan (KMS) LAM-PTKes 3. Menata Aspek Dinamis Organisasi
42 35 7. AGENDA TINDAK LANJUT 7.1. TIM INTI PERSIAPAN POOL ASESOR DAN FASILITATOR Sebagaimana terlihat di Tabel 6.1, tugas Tim Inti Persiapan Pool Asesor dan Fasilitator dalam Perspektif Pelanggan, Produksi maupun Belajar dan Berkembang merupakan tugastugas yang menuntut perubahan pola pikir (mental model), perilaku dan budaya organisasi. Ada dua aspek utama dalam Mengelola Perubahan yaitu aspek teknis dan aspek manusianya. Setiap perubahan pada sistem dan proses dalam organisasi memiliki aspek teknis dan aspek manusia yang harus dikelola dengan baik. Mengelola Perubahan pada dasarnya adalah mengelola aspek teknis dan aspek manusia dari organisasi / sistem agar perubahan dapat terwujud sesuai harapan [30]. Kegagalan organisasi mewujudkan perubahan bukan sekedar karena komunikasi atau pelatihan yang tidak memadai. Demikian pula terwujudnya perubahan juga bukan hanya karena manajemen yang baik, visi atau solusi persoalan yang tepat. Pada dasarnya, keberhasilan organisasi untuk berubah terletak pada kemampuannya untuk memfasilitasi perubahan pada satu orang. [31] Mengelola Perubahan melalui Aspek Manusia dilakukan dengan model A.I.D.K.A.A.R. A.I.D.K.A.A.R. merupakan sebuah model perubahan untuk menjadikan kebutuhan terhadap perubahan begitu nyata sehingga individu, kelompok dan organisasi dapat mudah melihatnya dan menerimanya. Model A.I.D.K.A.A.R. memiliki 7 unsur yaitu Awareness (Kesadaran), Interest (Perhatian), Desire (Hasrat), Knowledge (Pengetahuan), Ability (Kemampuan), Action (Tindakan), Reinforcement (Penguatan). [31;32] Ketujuh unsur pada Model A.I.D.K.A.A.R. adalah sebagai berikut : [31;32] 1. Awareness (Kesadaran) Alasan utama adanya resistensi terhadap perubahan adalah karena kurangnya kesadaran tentang mengapa perubahan dilakukan. Oleh karena itu, pimpinan perlu menerangkan mengapa perubahan diperlukan dengan cara mengemukakan alasan-alasan yang mendesak untuk dilakukannya perubahan serta resiko yang dihadapi organisasi jika tidak berubah. [31;33] 2. Interest (Perhatian) Perhatian staf kepada proses perubahan organisasi ditentukan oleh ada atau tidaknya hal yang memotivasi atau motivator staf. Biasanya ada 3 sampai 5 Motivator yang mendorong perilaku dalam organisasi. Hal-hal yang dapat menjadi motivator bagi staf antara lain adalah sebagai berikut : [34] 1) Apa yang paling penting bagi seseorang; 2) Berkaitan dengan : Hal yang sebenarnya penting bagi seseorang; Hal yang betul-betul berharga bagi seseorang. 3) Merupakan hal yang mendorong / memotivasi orang, seperti : Hal yang menggerakkan orang untuk bangun di pagi hari; Hal yang dianggap sebagai penghargaan atau hukuman;
43 36 Hal yang dihindari oleh orang; Pekerjaan yang menarik; Harga diri; Rasa turut memiliki; Uang; Peningkatan karir; Tetap bisa bekerja daripada menganggur. 3. Desire (Hasrat) Hasrat staf untuk berubah juga ditentukan oleh motivasi sebagaimana halnya dengan Perhatian (Interest) staf kepada proses perubahan organisasi. Oleh karena itu, sistem insentif yang berlaku di organisasi sangat berpengaruh dalam menimbulkan motivasi bagi tumbuhnya hasrat untuk berubah [32]. Hasrat staf untuk berubah merupakan kunci yang menentukan apakah mereka akan mendukung dan turut berpartisipasi dalam perubahan organisasi atau tidak. Walaupun staf sudah Sadar (Aware) dan menaruh Perhatian (Interest) terhadap perubahan organisasi, tetapi mereka belum tentu berhasrat untuk berubah. Oleh karena itu, pimpinan harus belajar cara-cara yang positif dan proaktif untuk menumbuhkan hasrat staf agar mendukung dan turut berpartisipasi dalam perubahan organisasi. Perubahan harus dikemas sedemikian rupa agar sebisa mungkin menyenangkan dan mengundang partisipasi. [31] 4. Knowledge (Pengetahuan) Pengetahuan dapat diperoleh sebagai hasil dari interaksi antara 2 atau lebih orang. Interaksinya dapat terjadi dalam 2 bentuk : Eksplisit / Formal atau Implisit / Informal. [25] Perolehan pengetahuan Implisit / Informal secara interaktif terjadi ketika orang-orang yang sama-sama bekerja untuk waktu yang cukup lama berhasil meningkatkan teknik kerjanya tanpa mengetahui atau membahas peningkatan teknik mereka. Contohnya para musisi yang sudah lama bekerja sama yang secara intuitif mengapresiasi gaya dan cara bekerja masingmasing. Di lain pihak, perolehan pengetahuan secara interaktif dapat pula terjadi dalam bentuk Eksplisit / Formal. Contohnya beberapa peneliti yang menulis laporan ilmiahnya bersama, atau sebuah tim proyek yang saling bertukar pikiran dalam menyusun rencana proyek. Kedua bentuk interaksi tidak bekerja secara terpisah tetapi saling mengisi dalam menghasilkan energi yang diperlukan untuk memperoleh pengetahuan baru [25]. Organisasi perlu memahami bagaimana proses peralihan antara kedua jenis pengetahuan ini dilakukan, dan kegiatan serta perilaku apa yang memicu terjadinya proses peralihan pengetahuan tersebut. Tabel 7.1 di bawah menyajikan beberapa contoh peralihan pengetahuan berikut dengan interaksi yang menyertainya.
44 Tabel 7.1 : Peralihan Jenis Pengetahuan dan Contohnya [25;35] 37 PERALIHAN PENGETAHUAN CONTOH Implisit pada seseorang Eksplisit pada kelompok. menulis makalah / buku Implisit pada seseorang Implisit pada kelompok. pendampingan oleh ahli (mentoring / coaching) Implisit pada kelompok Implisit pada seseorang. melakukan penelitian sosial Implisit pada kelompok Eksplisit pada kelompok. curah pendapat (brainstorming) Eksplisit pada kelompok Eksplisit pada seseorang. magang Eksplisit pada kelompok Implisit pada seseorang. menjadi anggota tim proyek Eksplisit pada kelompok Implisit pada kelompok. kelompok belajar / tim olah raga Eksplisit pada seseorang Implisit pada seseorang. mewakili atasan pada rapat atau presentasi di hadapan pimpinan Eksplisit pada seseorang Eksplisit pada kelompok. mengajar / ceramah 5. Ability (Kemampuan) Kemampuan adalah kapasitas untuk melakukan suatu tindakan yang bisa merupakan bakat atau sebagai hasil dari pembelajaran. Pembelajaran merupakan suatu kegiatan mental yang berlangsung terus menerus. David Kolb, tokoh Perilaku Organisasi, telah mengembangkan suatu model pembelajaran terpadu berupa suatu siklus. Siklus Pembelajaran dari Kolb mengandung empat unsur sebagai berikut : [36;37] 1) Pengalaman Konkret a) merupakan apa yang kita ketahui sebagai hasil dari tindakan kita sebelumnya; b) dapat diperoleh dari kerja di laboratorium, kerja lapangan, observasi dan umpan balik dari teman kerja. 2) Merenung (Reflective Observation) a) Kita merenungi pengalaman yang telah diperoleh untuk mencari makna dari tindakan yang telah kita lakukan dalam kaitannya dengan kejadian-kejadian lain. Hasil dari perenungan ini adalah pengetahuan mengenai suatu pola pikir baru yang sebelumnya tidak kita sadari. Hasil perenungan tergantung pada kemampuan kita untuk membedakan model mental yang kita miliki dengan pola pikir baru yang kita peroleh. b) Sumber perenungan adalah catatan harian, jurnal dan curah pendapat (brainstorming). 3) Pengembangan Konsep Baru a) Melalui proses menghubungkan sebab dengan akibat, kita mengembangkan konsep baru yang menuntut perubahan dari cara pandang yang lama sebagai akibat dari makna baru yang kita peroleh dari hasil merenung. Model mental yang lama dan pola pikir yang baru kita gabung menjadi konsep baru. b) Sumber untuk Pengembangan Konsep Baru adalah kuliah, makalah, analog, metaanalisa dan studi kasus. 4) Bertindak / Eksperimen Aktif a) Konsep baru yang diperoleh kita gunakan untuk merencanakan tindakan / langkahlangkah baru dan menguji coba implikasi dari konsep itu pada berbagai situasi baru. Dari tindakan yang kita lakukan ini, kita akan memperoleh pengalaman baru
45 38 yang akan memberikan makna baru pula yang selanjutnya menuntut dikembangkannya konsep baru lagi. b) Sumber untuk Eksperimen Aktif adalah simulasi, studi kasus dan diskusi dalam kelompok kecil. Gambar 7.1 : Siklus Pembelajaran dari Kolb [36;37] Pengalaman Konkret Bertindak / Eksperimen Aktif Merenung (Reflective Observation) Pengembangan Konsep Baru 6. Action (Tindakan) Tindakan dalam model A.I.D.K.A.A.R. adalah mengatasi masalah yang terjadi dalam proses perubahan organisasi. Alasan-alasan mendasar mengapa staf gagal untuk bertindak dalam mengatasi persoalan yang terjadi dalam proses perubahan organisasi adalah sebagai berikut : [32;38] 1) Kurangnya Kemampuan (Ability) a) Karena : i) belum pernah belajar atau dilatih; ii) kurang latihan, pengulangan, praktikum, dan Eksperimen Aktif. b) Merupakan tanggung jawab pimpinan untuk mengatasinya dengan cara berikut: i) Penerapan model A.I.D.K.A.A.R. yang lebih efektif ii) Pelatihan 2) Kurangnya informasi a) Karena : i) Tidak mengetahui apa yang diharapkan darinya; ii) Tidak memiliki data yang mutakhir; iii) Tidak mampu memanfaatkan informasi yang tersedia. b) Merupakan tanggung jawab pimpinan untuk mengatasinya dengan cara berikut : i) Menyampaikan tentang apa yang diharapkan dari staf secara lebih jelas; ii) Menyediakan data dan informasi yang relevan dan mutakhir kepada staf; iii) Pelatihan tentang bagaimana menggunakan dan mengumpulkan data dan informasi. 3) Kurangnya Motivasi a) Karena : i) Staf merasa bahwa lingkungan kerjanya tidak mendukung; ii) Masalah pribadi staf. b) Merupakan tanggung jawab bersama pimpinan dan staf. Oleh karena itu perlu diskusi yang lebih mendalam antar mereka.
46 4) Lingkungan Kerja yang Tidak Mendukung a) Karena : i) Standar yang tidak realistis; ii) Rancang-bangun/ disain tempat dan ruang kerja yang tidak memadai; iii) Perangkat kerja yang tidak memadai; iv) Proses-proses dalam organsisasi yang tidak memadai. b) Merupakan tanggung jawab pimpinan untuk merubah organisasi. 5) Masalah Pribadi Staf a) Karena, antara lain : i) Kesehatan jasmani dan emosional; ii) Pola hidup. b) Merupakan tanggung jawab staf untuk dapat mengelola hidupnya Reinforcement (Penguatan) Penguatan merupakan unsur terakhir dalam model A.I.D.K.A.A.R. Penguatan dilakukan dengan cara mengembangkan mekanisme-mekanisme yang diperlukan organisasi untuk mengunci perilaku yang baru diadopsi staf agar menjadi norma baru. Langkah-langkah Penguatan yang efektif dapat mencegah organisasi kehilangan momentum dari upaya perubahan dan mencegah staf kembali melakukan cara-cara bekerja mereka yang lama. Langkah-langkah Penguatan yang perlu dikembangkan meliputi, antara lain : [39] 1. Sistem Pemantauan dan Evaluasi Kinerja; 2. Tindakan Korektif yang perlu segera dilakukan untuk mengatasi masalah; 3. Mengembangkan Sistem Insentif; 4. Integrasi perubahan ke dalam budaya dan Nilai Dasar organisasi TIM INTI PERSIAPAN MANAJEMEN Sebagaimana terlihat di Tabel 6.1, tugas Tim Inti Persiapan Manajemen adalah dalam keseluruh 4 perspektif dari BSC. Oleh karena itu, peran Tim Inti Persiapan Manajemen adalah sangat penting dalam memelihara fokus terhadap Strategi yang telah dijabarkan menjadi Langkah dan Kegiatan dalam Grand Strategy LAM-PTKes. Ada 5 cara untuk memelihara Fokus terhadap Strategi dalam organisasi (lihat Gambar 7.2) : [40] 1) Komitmen Pimpinan terhadap Perubahan; 2) Mengoperasionalisasikan Strategi; 3) Menyelaraskan Organisasi dengan Strategi yang akan ditempuh; 4) Melibatkan Semua dalam Strategi; 5) Memelihara Keberlanjutan Pelaksanaan Strategi.
47 Gambar 7.2 : 5 Cara untuk Memelihara Fokus terhadap Strategi [40;41] MENGOPERASIONALISASIKAN STRATEGI 2.1 Peta Strategi dibuat 2.2 Target ditetapkan 2.3 Ada Umpan Balik pencapaian target 2.4 Koreksi penyimpangan 2.5 Akuntabilitas jelas 1. KOMITMEN PIMPINAN TERHADAP PERUBAHAN 1.1 Alasan untuk berubah dinyatakan dengan jelas 1.2 Visi sampai dengan Strategi dibuat jelas 1.3 Pimpinan terlibat dalam perubahan 1.4 Memahami cara Mengelola Perubahan 1.5 Penanggung jawab perubahan ada 3. MENYELARASKAN ORGANISASI DENGAN STRATEGI 3.1 Peran pimpinan jelas 3.2 Peran pelaksana jelas 3.3 Peran pimpinan dan pelaksana selaras 3.4 Dukungan selaras ORGANISASI YANG BERFOKUS PADA STRATEGI 5. MEMELIHARA KEBERLANJUTAN STRATEGI 5.1 Manajemen Pengetahuan terkait strategi 5.2 Penganggaran strategi terpadu 5.2 Pengembangan SDM & TI terkait strategi 5.3 Pembahasan reguler pencapaian strategi 5.4 Sistem Monev dan pencatatan dibuat 4. MELIBATKAN SEMUA DALAM STRATEGI 4.1 Semua tahu tentang Strategi Organisasi 4.2 Target kerja pribadi selaras dengan Strategi 4.3 Sistem Insentif selaras dengan Strategi 4.4 Pengembangan Kompetensi selaras dengan Strategi 7.3. TIM INTI PERALIHAN AKREDITASI DARI BAN-PT KE LAM-PTKes Tugas utama tim ini adalah melakukan Analisis Kebijakan Peralihan Akreditasi yang hasilnya akan diusulkan ke Kemdikbud. Analisis kebijakannya merupakan suatu Analisis Kebijakan Publik. Penyusunan Kebijakan Publik merupakan suatu proses berkesinambungan yang dinamis dan terdiri atas beberapa komponen yang dapat dikelompokkan ke dalam suatu siklus kebijakan. Siklus kebijakan pada dasarnya mencoba untuk menyederhanakan kompleksitas dari proses penyusunan Kebijakan Publik ke dalam tahap-tahap sebagai berikut : [42-45] 5. Penetapan agenda tindak lanjut tingkat nasional; 6. Formulasi kebijakan dan pengambilan keputusan; 7. Implementasi kebijakan; 8. Pemantauan dan evaluasi kebijakan. Walaupun ada pentahapannya, tetapi penyusunan kebijakan bukanlah suatu proses yang linier dan teratur secara kronologis. Penyusunan kebijakan adalah suatu proses dinamis dan berulang-ulang yang sebagaimana halnya dengan pembentukan peraturan perundangundangan, tidak lepas dari berbagai kepentingan kelompok. Walaupun begitu, siklus kebijakan memberi gambaran tentang komponen-komponen utama yang perlu diperhatikan dalam menyusun kebijakan, seperti yang terlihat pada Gambar 7.3 di bawah.
48 41 Gambar 7.3 : Siklus Kebijakan Penetapan Agenda Tindak Lanjut Tingkat Nasional Pemantauan & Evaluasi Formulasi & Pengambilan Keputusan Implementasi
49 REFERENSI Terms of Reference, Health Professional Education Quality Improvement (HPEQ), Component 1: Technical Assistance for Developing Business Plan of Accreditation Agency. Jakarta. August Kaplan RS, Norton DP. Strategy Maps : Converting Intangible Assets into Tangible Outcomes. Boston, Harvard Business School Press Ronchetti JL. An Integrated Balanced Scorecard Strategic Planning Model for Nonprofit Organizations. Journal of Practical Consulting 2006; Vol. 1 Iss. 1: Aligning Performance Management with Corporate Strategy: A Toolkit for Ontario s Hospitals. The Hospital Report Research Collaborative in collaboration with the Health Results Team Information Management, Ministry of Health and Long-Term Care Soedarmono Soejitno. Laporan Bulanan Pertama Technical Assistance for Developing Business Plan Lembaga Akreditasi Pendidikan Tinggi Kesehatan (LAM-PTKes) Proyek Peningkatan Kualitas Pendidikan Tenaga Kesehatan (Health Professional Education Quality Improvement / HPEQ). Jakarta. Desember Kazmierski S, Lilly C. The Group Organics Model. OD Practitioner 2001; Vol. 33, No. 2: Tuckman forming storming norming performing model. Diakses pada tanggal 6 Mei, 2012 dari 8. Forming-Storming-Norming-Performing. Diakses pada tanggal 6 Mei, 2012 dari teambuilding.co.uk 9. Alleman GB. Forming, Storming, Norming, Performing and Adjourning. January Diakses pada tanggal 6 Mei, 2012 dari [email protected] 10. Edson MC. Group Development: A Complex Adaptive Systems Perspective; in Proceedings of the 54th Meeting of the International Society for the Systems Sciences Barnes P. Leadership with Young People. Russell House Publishing Ltd Soedarmono Soejitno. Laporan Ketiga : Operasionalisasi LAM-PTKes. Technical Assistance for Developing Business Plan Lembaga Akreditasi Pendidikan Tinggi Kesehatan (LAM-PTKes) Proyek Peningkatan Kualitas Pendidikan Tenaga Kesehatan (Health Professional Education Quality Improvement / HPEQ). Jakarta. Mei Kaplan RS, Norton DP. The Balanced Scorecard : Translating Strategy into Action. Boston, MA. Harvard Business School Press Soedarmono Soejitno. Laporan Bulanan Kedua : Pembentukan LAM Profesi Kesehatan. Technical Assistance for Developing Business Plan Lembaga Akreditasi Pendidikan Tinggi Kesehatan (LAM- PTKes) Proyek Peningkatan Kualitas Pendidikan Tenaga Kesehatan (Health Professional Education Quality Improvement / HPEQ). Jakarta. Januari Kajian Awal Analisa Kebijakan Pelayanan Darah Transfusi Nasional. (Draft 1). Bidang Transfusi Darah, Palang Merah Indonesia. Jakarta. September, An Interview with Robert S. Kaplan and David P. Norton. Diakses tanggal 6 Maret, 2007 dari Soedarmono S, Asih Eka Putri, MW Manicki. Menuju Program Jaminan Kesehatan Nasional : Analisa Kebijakan Pengembangan Jaminan Kesehatan Nasional. Jakarta. Kerjasama Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Departemen Kesehatan GVG/GTZ, Snyder WM, Wenger E, Briggs X de S. Communities of Practice in Government: Leveraging Knowledge for Performance. The Public Manager, Vol. 32, Wenger E. Knowledge management as a doughnut: Shaping your knowledge strategy through communities of practice. Ivey Business Journal, January/February Wenger E. Communities of practice : A brief introduction. Diakses tanggal 19/10/2008 dari Wenger E, McDermott R, Snyder WM. Cultivating Communities of Practice: A Guide to Managing Knowledge. Harvard Business School Press Wenger E. Communities of practice: Where learning happens. Benchmark 1991 (Fall) : McDermott R. Learning Across Teams : The Role of Communities of Practice in Team Organizations. Knowledge Management Review 1999; May/June. 24. Wenger E. Cultivating communities of practice: A quick start-up guide. Diakses tanggal 19/10/2008 dari Cope M. Leading The Organisation To Learn : The 10 levers for putting knowledge and learning to work. London. Financial Times Professional Ltd
50 RE Laksmono (Komunikasi pribadi). Jakarta. Oktober Beckhard R. Strategies for Large System Change. Sloan Management Review 1975 (Winter): Soedarmono Soejitno. Pemberdayaan RSUD Prof. dr. W.Z.Johannes. Kupang, Naruo Uehara. Evidence-based Participatory Quality Improvement : Lessons learned from the success of Japanese Industries. IDB (INDES) Workshop on Comparative Study on Health. 30. Creasy T. Defining Change Management. Change Management Learning Center. Diakses tanggal 4/2/2007 dari Hiatt JM. ADKAR: A model for change in business, government and our community. Prosci Research Soedarmono Soejitno. Langkah-Langkah Manajemen Perubahan. Disampaikan pada Pertemuan Pembahasan Permasalahan Pelayanan Transfusi Darah. Cimacan, Jawa Barat Pebruari Prosci s 2005 Best Practices in Change Management Benchmarking Report. Diakses tanggal 19/9/2006 dari [email protected] 34. Maira A, Scott-Morgan P. The Accelerating Organization : Embracing the human face of change. New York. McGraw-Hill, Soedarmono Soejitno. Akselerasi Reformasi Kesehatan. Jakarta. PT. Adgraf Intramitra & Yayasan ITEDA Kolb D, Rubin IM. Organizational Behavior : An experiential approach. Englewood Cliffs, NJ. Prentice Hall Van der Heijden K. Scenarios : The Art of Strategic Conversation. Chichester. John Wiley & Sons Clark DR. Leadership Training and Development Outline. [email protected] Soedarmono Soejitno, RE Laksmono. Peta Pemberdayaan Sistem Kesehatan Desa. Jakarta (Belum dipublikasi) 40. Kaplan RS, Norton DP. The Strategy-Focused Organization: How Balanced Scorecard Companies Thrive in the New Business Environment. Boston, Harvard Business School Press Norton DP. The Balanced Scorecard : Executing Strategy for Breakthrough Results. Balanced Scorecard Collaborative/Palladium Jann W, Wegrich K. Theories of The Policy Cycle. In: Fischer, Miller F, Sidney G, Mara (eds.): Handbook of Public Policy Analysis: Theory, Politics, and Methods. Routledge; Kaiser R. Concepts of Policy Research : The Policy Cycle. Presented at the 4 th Seminar : Policy Analysis in the EU : Basic Concepts and Examples; as part of the EU Research Training Network Dynamics and Obstacles of European Governance. Munich, March 1, Howlett M, Ramesh M. Studying Public Policy: Policy Cycles and Policy Subsystems. 2 nd Edition. Oxford; Oxford University Press Stone D, Maxwell S, Keating M. Bridging Research and Policy. Presented at an International Workshop funded by the UK Department for International Development, Radcliffe House, Warwick University;16-17 July 2001.
I. PRASYARAT BUSINESS PLAN
I. PRASYARAT BUSINESS PLAN 1 Business Plan : pernyataan yang memuat tujuan-tujuan dari suatu usaha dan kegiatankegiatan yang ingin dilakukan dalam usaha tersebut untuk mencapai tujuantujuan itu. memberi
TUGAS TIM INTI DALAM BALANCED SCORECARD (BSC) LAM-PTKes
TUGAS TIM INTI DALAM BALANCED SCORECARD (BSC) LAM-PTKes PERSPEKTIF Tim Persiapan Pool Asesor & Fasilitator PIC 1. M.K. Tadjudin 2. Usman C. Warsa 3. Ridwan Roy T. 4. Muhammad Hadi 5. Dwiwahju Sasongko
Tabel 1. Penjabaran Langkah menjadi Kegiatan LAM-PTKes
1 Tabel 1. Penjabaran Langkah menjadi Kegiatan LAM-PTKes LANGKAH-LANGKAH 1. Memilih Majelis Pemangku Kepentingan LAM-PTKes dari 7 Asosiasi Institusi Pendidikan Kesehatan 7 Organisasi Profesi Kesehatan
SKEMA GRAND DESIGN LAM-PTKes
SKEMA GRAND DESIGN LAM-PTKes 1 Kompetensi tenaga kesehatan yang belum sesuai dengan kebutuhan individual pasien maupun populasi; Kerja sama antar profesi yang masih rendah; Paradigma yang lebih berorientasi
PEMBENTUKAN LEMBAGA AKREDITASI MANDIRI (LAM) PROFESI KESEHATAN
LAPORAN BULANAN KEDUA Technical Assistance for Developing Business Plan Lembaga Akreditasi Pendidikan Tinggi Kesehatan (LAM-PTKes) Proyek Peningkatan Kualitas Pendidikan Tenaga Kesehatan (Health Professional
TABEL 2. JADUAL KEGIATAN
1 TABEL 2. JADUAL KEGIATAN KEGIATAN 7/128/129/1210/12 11/12 12/12 1/13 2/133/13 4/13 5/13 6/13 1. Memilih Majelis Pemangku Kepentingan LAM-PTKes 1.1. Melakukan internalisasi antara Task Force dengan Sekretariat
Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi Kesehatan. Civil Society
RINGKASAN EKSEKUTIF i Proyek HPEQ berupaya memadukan sumber daya pemerintah, usaha / industri dan civil society untuk memberdayakan masyarakat agar mampu menjawab tuntutan Globalisasi, Peraturan Perundang-undangan
LAPORAN BULANAN PERTAMA
LAPORAN BULANAN PERTAMA Technical Assistance for Developing Business Plan Lembaga Akreditasi Pendidikan Tinggi Kesehatan (LAM-PTKes) Proyek Peningkatan Kualitas Pendidikan Tenaga Kesehatan (Health Professional
LANDASAN OPERASIONALISASI LAM-PTKes
1 LANDASAN OPERASIONALISASI LAM-PTKes DAFTAR ISI hal. 1 PETA STRATEGI LAM-PTKes... 1 2 GRAND DESIGN... 3 3 TUGAS TIM INTI DALAM BALANCED SCORECARD (BSC) LAM-PTKes... 10 4 ASESMEN DAN FASILITASI DALAM AKREDITASI
Rencana Strategis LAM-PTKes Jakarta, Juli 2014
Rencana Strategis LAM-PTKes Jakarta, 20-21 Juli 2014 17/07/2014 - sss 1 Tujuan Misi Visi Tujuan (SMART) 1. Tersusunnya kebijakan, standar, instrumen dan prosedur akreditasi pendidikan tinggi kesehatan
Gambar 1 : Continuous Quality Improvement pada Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi Kesehatan
Tata Nilai LAM PTKes terdiri atas : a. Nilai Dasar : Amanah dan Mandiri b. Nilai Operasional Dalam rangka mewujudkan Visi dan Misinya berlandaskan pada Nilai Dasarnya, LAM- PTKes menganut 5 Prinsip Operasional
Persiapan Audiensi Task Force LAM-PTKes dengan Dirjen Dikti
Persiapan Audiensi Task Force LAM-PTKes dengan Dirjen Dikti Outline Konsep LAM Visi, misi, tata nilai, (+) Organisasi LAM-PTKes (+) Perbandingan BAN-PT dengan LAM-PTKes (+) Milestone pendirian LAM-PTKes
STRATEGI PEMBENTUKAN LEMBAGA AKREDITASI PENDIDIKAN PROFESI KESEHATAN (HPEQ Project)
STRATEGI PEMBENTUKAN LEMBAGA AKREDITASI PENDIDIKAN PROFESI KESEHATAN (HPEQ Project) oleh : Soedarmono Soejitno disampaikan pada acara : Tindak Lanjut Pembahasan Business Plan LAM Menara Peninsula Hotel
KERANGKA ACUAN KERJA SOSIALISASI LAM-PTKES UNTUK PROGRAM STUDI BIDANG ILMU KESEHATAN
1 KERANGKA ACUAN KERJA SOSIALISASI LAM-PTKES UNTUK PROGRAM STUDI BIDANG ILMU KESEHATAN 1. LATAR BELAKANG Sesuai dengan amanah Undang-Undang No. 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, maka Organisasi
PERKEMBANGAN PEMBENTUKAN LAM- PTKES
PERKEMBANGAN PEMBENTUKAN LAM- PTKES Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan April 2012 1 KESEPAKATAN PENDIRIAN LAM-PTKES KONSEP LAM-PTKES HUBUNGAN PENJAMINAN MUTU SISTEM PENDIDIKAN TERHADAP SISTEM PELAYANAN
PERKEMBANGAN PEMBENTUKAN LAM- PTKES
PERKEMBANGAN PEMBENTUKAN LAM- PTKES Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan April 2012 1 Tujuan Audiensi Menyampaikan laporan perkembangan pembentukan LAM-PTKes hingga saat ini Mendapatkan arahan dari Dirjen
Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan Indonesia (LAM-PTKes) Sebagai Lembaga Akreditasi Baru
Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan Indonesia (LAM-PTKes) Sebagai Lembaga Akreditasi Baru Sosialisasi Kapasitasi Institusi Pendidikan Kesehatan Masyarakat 2014 AIPTKMI 12 Mei 2014 Akreditasi
Organisasi LAM-PTKes Jakarta, April 2015
Organisasi LAM-PTKes Jakarta, 24 25 April 2015 22/04/2015 - sss 1 Landasan Hukum LAM-PTKes 1. UU No. 20 / 2003 ttg Sistem Pendidikan Nasional, 2. UU No. 12 / 2012 ttg Pendidikan Tinggi, 3. Peraturan Menteri
OPERASIONALISASI LAM-PTKes
LAPORAN KETIGA Technical Assistance for Developing Business Plan Lembaga Akreditasi Pendidikan Tinggi Kesehatan (LAM-PTKes) Proyek Peningkatan Kualitas Pendidikan Tenaga Kesehatan (Health Professional
BAB 2 TELAAH PUSTAKA 2.1 Manajemen Kinerja
BAB 2 TELAAH PUSTAKA 2.1 Manajemen Kinerja Manajemen kinerja adalah sebuah proses komunikasi yang berkesinambungan dan dilakukan dalam kemitraan antara seorang karyawan dan perusahaan (Bacal,1999). Sebuah
Organisasi LAM-PTKes Jakarta, Juli 2014
Organisasi LAM-PTKes Jakarta, 20-21 Juli 2014 17/07/2014 - sss 1 Badan Hukum Perkumpulan LAM-PTKes LAM-PTKes merupakan badan hukum perkumpulan. Anggotanya saat ini berupa Organisasi Profesi dan Asosiasi
Penyelenggaraan Pendidikan Profesi berdasarkan Ketentuan Perundang-undangan untuk Menghasilkan Lulusan sesuai KKNI
Penyelenggaraan Pendidikan Profesi berdasarkan Ketentuan Perundang-undangan untuk Menghasilkan Lulusan sesuai KKNI Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Workshop Tindak Lanjut Penerbitan SK Izin Penyelenggaraan
ANGGARAN RUMAH TANGGA LEMBAGA AKREDITASI MANDIRI PENDIDIKAN TINGGI KESEHATAN INDONESIA
ANGGARAN RUMAH TANGGA LEMBAGA AKREDITASI MANDIRI PENDIDIKAN TINGGI KESEHATAN INDONESIA BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Anggaran Rumah Tangga ini yang dimaksud dengan : 1. Divisi adalah satuan kerja
Oleh Pengurus LAM-PTKes
PERKUMPULAN LEMBAGA AKREDITASI MANDIRI PENDIDIKAN TINGGI KESEHATAN INDONESIA (LAM-PTKes) Oleh Pengurus LAM-PTKes Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) Asosiasi Pendidikan Tinggi Gizi Indonesia (AIPGI) Bogor,
STRATEGI & PENGUKURAN MANAJEMEN PENGETAHUAN
STRATEGI & PENGUKURAN MANAJEMEN PENGETAHUAN PENDAHULUAN Strategi KM dan kerangka kerja pengukuran sebagai tambahan siklus KM Terintegrasi Strategi KM terkait dengan business objective organisasi keseluruhan
MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA
MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA Jakarta, 21 Maret 2011 Kepada, Nomor : 050 / 883 / SJ Yth. 1. Gubernur. Sifat : Penting 2. Bupati/Walikota. Lamp : Satu berkas di - Hal : Pedoman Penyusun Program
LAMPIRAN 4. (Halaman 1-8)
LAMPIRAN 4 (Halaman 1-8) MATRIKS SWOT (W-T) Analisis Eksternal dan Internal W T Specific : Tersusunnya kebijakan, standar, 1. Kurangnya SDM di LAM-PTKes 1. Legitimasi LAM-PTKes belum setara instrumen dan
KERANGKA ACUAN KERJA Sosialisasi LAM-PTKes Tahap I untuk Bidang Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat (29 30 Mei 2015)
1 1. LATAR BELAKANG KERANGKA ACUAN KERJA Sosialisasi LAM-PTKes Tahap I untuk Bidang Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat (29 30 Mei 2015) Dalam upaya penjaminan mutu pendidikan tinggi sebagaimana diamanahkan
KERANGKA KERJA SATUAN PENJAMINAN MUTU UNIVERSITAS PADJADJARAN 2016 SATUAN PENJAMINAN MUTU SATUAN PENJAMINAN MUTU UNPAD.
KERANGKA KERJA SATUAN PENJAMINAN MUTU 2016-2020 SATUAN PENJAMINAN MUTU UNIVERSITAS PADJADJARAN 2016 Page1 Kerangka Kerja SPM 2016-2020 Page 1 Kerangka Kerja Satuan Penjaminan Mutu (SPM) Unpad 2016-2020
KEBIJAKAN AKREDITASI DAN UJI KOMPETENSI BIDANG GIZI
KEBIJAKAN AKREDITASI DAN UJI KOMPETENSI BIDANG GIZI Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan RAKERNAS AIPGI, 9 Februari 2015 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 1
2 Menetapkan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2014 tentang Perubahan Kelima Atas Peraturan Pre
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1290, 2014 KEMENDIKBUD. Program Studi. Perguruan Tinggi. Akreditasi. Pencabutan. MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN
BAB 1 PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia. Evaluasi rancangan..., Agung Kadarmanta, FE UI, 2009.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Setiap organisasi membutuhkan panduan agar perjalanannya terarah, seperti halnya suatu peta dalam satu perjalanan. Peta yang baik akan menuntun organisasi untuk mencapai
Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan Indonesia (LAM-PTKes)
Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan Indonesia (LAM-PTKes) Akta notaris disahkan, pada 3 Februari 2014 oleh Kemenkumham No. AHU 30.AH.01.07 tahun 2014 Dapat Pengakuan Menteri melalui
Keberadaan ED dalam AIPT
BAN-PT Evaluasi Diri: Berupa dokumen khusus yang disusun sebagai analisis kondisi dan kesimpulan capaian PT sampai saat ini Borang: Berupa dokumen yang mengandung isian, data, dan informasi lengkap tentang
PEDOMAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE PELAKSANA SEKRETARIAT TETAP BAPERTARUM-PNS
PEDOMAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE PELAKSANA SEKRETARIAT TETAP BAPERTARUM-PNS PELAKSANA SEKRETARIAT TETAP BAPERTARUM-PNS JAKARTA 2017 PEDOMAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE PELAKSANA SEKRETARIAT TETAP BAPERTARUM-PNS
bermuara pada budaya peningkatan mutu berkelanjutan (culture of continuous quality improvement).
1 KERANGKA ACUAN KERJA Sosialisasi LAM-PTKes Tahap I untuk Bidang Ilmu Kedokteran Gigi dan Farmasi, Serta Tahap III untuk Bidang Ilmu Kebidanan (5 6 Juni 2015) 1. LATAR BELAKANG Dalam upaya penjaminan
SALINAN PERATURAN KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG PETA JALAN (ROAD MAP) SISTEM PEMBINAAN PRAKTIK KEDOKTERAN
SALINAN PERATURAN KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG PETA JALAN (ROAD MAP) SISTEM PEMBINAAN PRAKTIK KEDOKTERAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KETUA KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA,
KERANGKA ACUAN KERJA Sosialisasi LAM-PTKes Tahap II untuk Bidang Ilmu Keperawatan dan Tahap I untuk Bidang Ilmu Gizi (22 23 Mei 2015)
1 1. LATAR BELAKANG KERANGKA ACUAN KERJA Sosialisasi LAM-PTKes Tahap II untuk Bidang Ilmu Keperawatan dan Tahap I untuk Bidang Ilmu Gizi (22 23 Mei 2015) Dalam upaya penjaminan mutu pendidikan tinggi sebagaimana
TUGAS AKUNTANSI MANAJEMEN
TUGAS AKUNTANSI MANAJEMEN BALANCED SCORECARD Disusun OLEH Bobby Hari W (21213769) Muhamad Deny Amsah (25213712) Muhammad Rafsanjani (26213070) Roby Aditya Negara (28213044) Suci Rahmawati Ningrum (28213662)
INTEGRASI PENDIDIKAN KESEHATAN DALAM PELAYANAN RUMAH SAKIT (IPKP)
V INTEGRASI PENDIDIKAN KESEHATAN DALAM PELAYANAN RUMAH SAKIT (IPKP) INTEGRASI PENDIDIKAN KESEHATAN DALAM PELAYANAN RUMAH SAKIT (IPKP) Gambaran Umum Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009
Pokok Bahasan. Urgensi Validasi Data Dasar FK. Izin Prodi Akademik-Profesi FK. Status Akreditasi Akademik-Profesi & Prodi Spesialis
Illah Sailah Pokok Bahasan 1 2 3 4 5 Urgensi Validasi Data Dasar FK Izin Prodi Akademik-Profesi FK Status Akreditasi Akademik-Profesi & Prodi Spesialis Komitmen UKDI sebagai Exit Exam Komitmen FK untuk
BAB I PENDAHULUAN. Salah satu tujuan utama dari organisasi sektor publik adalah bagaimana
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu tujuan utama dari organisasi sektor publik adalah bagaimana organisasi tersebut dapat memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Untuk mencapai pelayanan
17/12/2011. Manajemen Pengetahuan. tidak selalu penting Apa yang penting tidak selalu bisa diukur
Strategi t & Pengukuran Manajemen Pengetahuan Apa yang bisa diukur Apa yang bisa diukur tidak selalu penting Apa yang penting tidak selalu bisa diukur 1 Strategi KM dan kerangka kerja pengukuran sebagai
bermuara pada budaya peningkatan mutu berkelanjutan (culture of continuous quality improvement).
1 KERANGKA ACUAN KERJA Sosialisasi LAM-PTKes Tahap I untuk Bidang Ilmu Keterapian Fisik dan Keteknisan Medis, Serta Tahap III untuk Bidang Ilmu Keperawatan (12 13 Juni 2015) 1. LATAR BELAKANG Dalam upaya
RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) BIRO HUKUM DAN ORGANISASI
RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) BIRO HUKUM DAN ORGANISASI 2015-2019 SEKRETARIAT JENDERAL KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 2015 KATA PENGANTAR Rencana strategis (Renstra) 2015 2019 Biro Hukum dan Organisasi
Kebijakan Uji Kompetensi sebagai Bagian dari Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi Kesehatan
Kebijakan Uji Kompetensi sebagai Bagian dari Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi Kesehatan Djoko Santoso, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Forum Sosialisasi Uji Kompetensi Tenaga Kesehatan, 24
SKOR Visi dipahami oleh anggota organisasi rumah sakit (sharedvision)
ASPEK KAJI BANDING I KEPEMIMPINAN 1.1. Visi dipahami oleh anggota organisasi rumah sakit (sharedvision) 1.2. Misi-misi rumah sakit dioperasionalkan 1.3. Budaya Organisasi diterapkan dalam semua aktifitas
BAB I PENDAHULUAN 1.1. KONDISI UMUM Kedudukan
0 BAB I PENDAHULUAN 1.1. KONDISI UMUM 1.1.1. Kedudukan Balai Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 52/PMK.1/2011 tanggal 22 Maret 2011 tentang
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA SEKRETARIAT INSPEKTORAT JENDERAL TAHUN 2016
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA SEKRETARIAT INSPEKTORAT JENDERAL TAHUN 2016 SEKRETARIAT INSPEKTORAT JENDERAL KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN JAKARTA, JANUARI 2017 Laporan Akuntabilitas Kinerja Sekretariat Inspektorat
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keberhasilan merupakan hal yang sangat diinginkan oleh setiap organisasi. Hal inilah yang seringkali membuat organisasi terus menerus melakukan perbaikanperbaikan yang
BAB II PERENCANAAN KINERJA
BAB II PERENCANAAN KINERJA 2.1 Rencana Strategis Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (Ditjen P2HP), melalui Keputusan Direktur Jenderal P2HP Nomor KEP.70/DJ-P2HP/2010 tanggal 17
BAB II PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA
BAB II PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA Pada penyusunan Laporan Akuntabilias Kinerja Tahun 2013 ini, mengacu pada Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor
Bab IV Usulan Perencanaan Investasi Teknologi Informasi
Bab IV Usulan Perencanaan Investasi Teknologi Informasi IV.1 Usulan Perencanaan Investasi Teknologi Informasi dengan Val IT Perencanaan investasi TI yang dilakukan oleh Politeknik Caltex Riau yang dilakukan
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 87 TAHUN 2014 TENTANG AKREDITASI PROGRAM STUDI DAN PERGURUAN TINGGI
SALINAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 87 TAHUN 2014 TENTANG AKREDITASI PROGRAM STUDI DAN PERGURUAN TINGGI DENGAN
LAPORAN KEGIATAN LAM-PTKes Indonesia 4 th Implementation Review World Bank Mission
LAPORAN KEGIATAN LAM-PTKes Indonesia 4 th Implementation Review World Bank Mission Health Professional Education Quality LOGO 1 2 3 4 Landasan Pendirian LAM-PTKes Indonesia Penyusunan business plan dan
KATALOG PELAYANAN LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA RI INTEGRITAS PROFESIONAL INOVATIF PEDULI PUSAT KAJIAN REFORMASI ADMINISTRASI
KATALOG PELAYANAN PUSAT KAJIAN REFORMASI ADMINISTRASI LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA RI PUSAT KAJIAN REFORMASI ADMINISTRASI INTEGRITAS PROFESIONAL INOVATIF PEDULI PENYUSUNAN ROADMAP REFORMASI BIROKRASI 1PENDEKATAN
ORIENTASI STRATEGIS LEMBAGA AKREDITASI PENDIDIKAN TINGGI KESEHATAN
1 ORIENTASI STRATEGIS LEMBAGA AKREDITASI PENDIDIKAN TINGGI KESEHATAN oleh: Soedarmono Soejitno disampaikan pada Pertemuan Pembahasan Sistem Akreditasi Pendidikan Tinggi Kesehatan dan Penyusunan Orientasi
Sumba Barat. Demikian halnya dalam konteks pembangunan di Kabupaten Sumba Barat, Master Plan ini juga telah disinergikan dengan rancangan RPJMD 2010
BAB V. PENUTUP Master Plan ini lebih merupakan gambaran dari satu keingan dan cita-cita besar jangka panjang yang ingin dicapai dalam bidang Pembangunan Pendidikan di Kabupaten Sumba Barat. Diharapkan
STRATEGI EKSEKUSI DAN BALANCE SCORE CARD
STRATEGI EKSEKUSI DAN BALANCE SCORE CARD Banyak organisasi yang mampu merumuskan rencana strategis dengan baik, namun belum banyak organisasi yang mampu melaksanakan kegiatan operasional bisnisnya berdasarkan
PELUANG DAN TANTANGAN MENGHADAPI AKREDITASI PENDIDIKAN TINGGI BERDASARKAN UU 12/2012
PELUANG DAN TANTANGAN MENGHADAPI AKREDITASI PENDIDIKAN TINGGI BERDASARKAN UU 12/2012 Workshop tentang Outcomes Based Education Dwiwahju Sasongko, Sekretaris BADAN AKREDITASI NASIONAL PERGURUAN TINGGI BAN-PT
2.1 Rencana Strategis
2.1 Rencana Strategis Sekretariat Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan () telah menyusun suatu Rencana Strategis (Renstra) dengan berorientasi pada hasil yang ingin dicapai selama
Sistem Manajemen Penjaminan Mutu Lembaga Berbasis Reformasi Birokrasi Internal (RBI) Di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan
PANDUAN Sistem Manajemen Penjaminan Mutu Lembaga Berbasis Reformasi Birokrasi Internal (RBI) Di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Disusun oleh Tim Pengembang Lembaga (TPL) LPMP/ BDK Klaster II BAB I PENDAHULUAN
KERANGKA ACUAN KERJA Sosialisasi LAM-PTKes Tahap II untuk Bidang Ilmu Keperawatan dan Tahap I untuk Bidang Ilmu Gizi (22 23 Mei 2015)
1 1. LATAR BELAKANG KERANGKA ACUAN KERJA Sosialisasi LAM-PTKes Tahap II untuk Bidang Ilmu Keperawatan dan Tahap I untuk Bidang Ilmu Gizi (22 23 Mei 2015) Dalam upaya penjaminan mutu pendidikan tinggi sebagaimana
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Kerangka Berpikir PT. Tawada Graha yang menjadi obyek dari tulisan kami menjalankan bisnis mereka secara tradisional. Tidak ada perencanaan strategis jangka panjang yang
PERATURAN BADAN AKREDITASI NASIONAL PERGURUAN TINGGI NOMOR 1 TAHUN 2017 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KELOLA BADAN AKREDITASI NASIONAL PERGURUAN TINGGI
PERATURAN BADAN AKREDITASI NASIONAL PERGURUAN TINGGI NOMOR 1 TAHUN 2017 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KELOLA BADAN AKREDITASI NASIONAL PERGURUAN TINGGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MAJELIS AKREDITASI
Target, Capaian dan Proyeksi Capaian KPI 2011
Target, Capaian dan Proyeksi Capaian KPI 2011 Target, Capaian dan Proyeksi Capaian KPI 2011 Komponen 1 CAPAIAN SAAT INI (SEMESTER 1) TARGET KPI PROYEKSI CAPAIAN AKHIR TAHUN -Naskah akademik LAM sudah final
I. PENDAHULUAN. Dalam rangka mewujudkan aparatur yang profesional seiring. dengan reformasi birokrasi diperlukan langkah-langkah konkrit dalam
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam rangka mewujudkan aparatur yang profesional seiring dengan reformasi birokrasi diperlukan langkah-langkah konkrit dalam meningkatkan kinerja aparatur. Hal tersebut
PANDUAN PENULISAN LAPORAN INTERIM PELAKSANAAN PHK BERBASIS INSTITUSI TEMA A, B, dan C TAHUN 2009
PROGRAM HIBAH KOMPETISI BERBASIS INSTITUSI PERGURUAN TINGGI 2009 PANDUAN PENULISAN LAPORAN INTERIM PELAKSANAAN PHK BERBASIS INSTITUSI TEMA A, B, dan C TAHUN 2009 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen
Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan Indonesia (LAM-PTKes)
Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan Indonesia (LAM-PTKes) Jalan Sekolah Duta 1 No. 62, RT 003, RW 014, Kelurahan Pondok Pinang, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12310 Phone:
PANDUAN PENULISAN LAPORAN AKHIR Program Hibah Kompetisi Universitas Brawijaya
PANDUAN PENULISAN LAPORAN AKHIR Program Hibah Kompetisi Universitas Brawijaya TEMA A DAN B TAHUN ANGGARAN 2013 Universitas Brawijaya Malang 2013 Panduan Laporan Akhir Program Hibah Kompetisi- Universitas
Strategic Management for Government Organization. Yodhia Antariksa. Pusdiklat Spimnas. Bidang Kepemimpinan.
Strategic Management for Government Organization Yodhia Antariksa 1 Fasilitator Anda Yodhia Antariksa Master of Science in Human Resource Development, Texas A&M University under Fubright Scholarship Program
BAB I PENDAHULUAN. bisnis dan industri yang bergantung pada kepuasan pelanggan atau konsumen,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Konsep mutu telah menjadi suatu kenyataan dan fenomena dalam seluruh aspek dan dinamika masyarakat global memasuki persaingan pasar bebas dewasa ini. Jika sebelumnya
LAPORAN CAPAIAN TASK FORCE LEMBAGA AKREDITASI PENDIDIKAN TINGGI KESEHATAN INDONESIA JAKARTA FEBRUARI 2012
LAPORAN CAPAIAN TASK FORCE LEMBAGA AKREDITASI PENDIDIKAN TINGGI KESEHATAN INDONESIA JAKARTA FEBRUARI 2012 HEALTH PROFESSIONAL EDUCATION QUALITY (HPEQ) PROJECT 2012 I. Latar Belakang Berdasarkan PP No.
MANAJEMEN STRATEGIS BERBASIS BALANCED SCORECARD LANGKAH AWAL MENYUSUN BALANCE SCORECARD
MANAJEMEN STRATEGIS BERBASIS BALANCED SCORECARD LANGKAH AWAL MENYUSUN BALANCE SCORECARD FOKUS PENGUKURAN BSC Fokus pengukuran BSC untuk melaksanakan proses manajemen sbb: Mengklarifikasi dan menerjemahkan
KONFERENSI NASIONAL APARAT PENGAWASAN INTERN PEMERINTAH TAHUN 2010 SIMPULAN
KONFERENSI NASIONAL APARAT PENGAWASAN INTERN PEMERINTAH TAHUN 2010 SIMPULAN 1. Peran APIP harus lebih diitingkatkan agar permasalahan terkait masih adanya Opini BPK atas Laporan Keuangan Pemerintah yang
MISI MENJADI RUMAH SAKIT BERSTANDAR KELAS DUNIA PILIHAN MASYARAKAT KEPUASAN DAN KESELAMATAN PASIEN ADALAH TUJUAN KAMI
MISI MENJADI RUMAH SAKIT BERSTANDAR KELAS DUNIA PILIHAN MASYARAKAT 1. Mewujudkan kualitas pelayanan paripurna yang prima dengan mengutamakan keselamatan pasien dan berfokus pada kepuasan pelanggan. 2.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
1 BAB I PENDAHULUAN Pada Bab I ini secara umum berisi tentang paparan latar belakang diadakannya penelitian ini, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian dan sistematika
INTEGRASI PENDIDIKAN KESEHATAN DALAM PELAYANAN RUMAH SAKIT (IPKP) STANDAR NASIONAL AKREDITASI RUMAH SAKIT EDISI 1 EFEKTIF TANGGAL 1 JANUARI 2018
INTEGRASI PENDIDIKAN KESEHATAN DALAM PELAYANAN RUMAH SAKIT (IPKP) STANDAR NASIONAL AKREDITASI RUMAH SAKIT EDISI 1 EFEKTIF TANGGAL 1 JANUARI 2018 REFERENSI UU no 44 tahun 2009 ttg rumah sakit pasal 21-22
KRITERIA PENILAIAN STANDAR 2 : Tata pamong, kepemimpinan, sistem pengelolaan, dan penjaminan mutu
KRITERIA PENILAIAN STANDAR 2 : Tata pamong, kepemimpinan, BAN-PT sistem pengelolaan, dan penjaminan mutu M. Budi Djatmiko Ketua Umum APTISI Pusat Ketua Umum HPT Kes Indonesia Pengaggas Akreditasi Mandiri
I. PENDAHULUAN. Meningkat pesatnya kegiatan pembangunan serta laju pertumbuhan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Meningkat pesatnya kegiatan pembangunan serta laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, mendorong kebutuhan atas tanah yang terus meningkat, sementara luas tanah yang ada
KOTA BANDUNG DOKUMEN RENCANA KINERJA TAHUNAN BAPPEDA KOTA BANDUNG TAHUN 2016
KOTA BANDUNG DOKUMEN RENCANA KINERJA TAHUNAN BAPPEDA KOTA BANDUNG TAHUN 2016 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terselenggaranya good governance merupakan prasyarat bagi setiap pemerintahan untuk mewujudkan
PUSAT DATA DAN STATISTIK PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN SEKRETARIAT JENDERAL PUSAT DATA DAN STATISTIK PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RENCANA STRATEGIS TAHUN 2015-2019 KATA PENGANTAR Berdasarkan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004
BAB 1 PENDAHULUAN. investasi ini, keberhasilan dan kegagalan suatu perusahan tidak dapat diukur
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pengukuran kinerja perusahaan bertujuan untuk mengetahui sejauh mana perkembangan perusahaan tersebut telah tercapai. Pengetahuan mengenai kondisi yang terjadi
PERATURAN MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2016 TENTANG AKREDITASI PROGRAM STUDI DAN PERGURUAN TINGGI
SALINAN MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2016 TENTANG AKREDITASI PROGRAM STUDI
DEWAN PENDIDIKAN TINGGI DPT DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI
DEWAN PENDIDIKAN TINGGI DPT DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI Kerangka Acuan Site Visit dalam Proses Seleksi Program Hibah Kompetisi berbasis Institusi proses seleksi 2009 (untuk pengusul) Latar belakang
Sekolah Tinggi Hukum Galunggung Tasikmalaya. Tim Penyusun
Laporan Rencana Strategis Sekolah Tinggi Hukum Galunggung Tasikmalaya Periode 2013 2017 Tim Penyusun Sekolah Tinggi Hukum Galunggung Tasikmalaya 2013 11 Daftar Isi Executive Summary Bab I. Pendahuluan...
PANDUAN PENULISAN LAPORAN INTERIM Program Hibah Kompetisi Universitas Brawijaya
PANDUAN PENULISAN LAPORAN INTERIM Program Hibah Kompetisi Universitas Brawijaya TEMA A DAN B TAHUN ANGGARAN 2013 Universitas Brawijaya Malang 2013 Panduan Laporan Interim Program Hibah Kompetisi- Universitas
Pedoman Budaya Mutu Universitas FOR/SPMI-UIB/PED
Pedoman Budaya Mutu Universitas FOR/SPMI-UIB/PED.02-001 SURAT KEPUTUSAN REKTOR UNIVERSITAS INTERNASIONAL BATAM NOMOR: 033/REK/KEP-UIB/VII/I2016 Tentang PENGESAHAN PEDOMAN BUDAYA MUTU UNIVERSITAS INTERNASIONAL
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN TINGGI DAN PENGELOLAAN PERGURUAN TINGGI
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN TINGGI DAN PENGELOLAAN PERGURUAN TINGGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
13 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Satu dari sepuluh Kebijakan Pembangunan Daerah Kabupaten Sukabumi Periode 2006-2010 adalah Peningkatan Derajat Kesehatan Masyarakat dan Pelayanan Sosial. Kebijakan
Bab IV ANALISIS DAN HASIL
Bab IV ANALISIS DAN HASIL 4.1 Efektifitas dan Efisiensi Penilaian Kinerja Suatu kinerja dikatakan efektif bila dapat diselesaikan dalam waktu yang tepat atau lebih cepat dari perkiraan target penyelesaian
BAB I PENDAHULUAN. strategi untuk tetap survive dan tetap memenangkan persaingan. Mengelola kinerja dengan mempertimbangkan faktor strategi dan risiko
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Semua perusahaan memiliki strategi dalam perencanaannya dan implementasi dari strategi tersebut memiliki beragam alat ukur dalam mengevaluasinya sehingga apakah sudah
1 KATA PENGANTAR. Jakarta, Juni 2017 a.n Kepala Pusat Analisis dan Sinkronisasi Kebijakan, Kepala Bidang Sinkronisasi Kebijakan
( REVISI I ) KATA PENGANTAR Rencana Strategis Pusat Analisis dan Sinkronisasi Kebijakan (PASKA) 205 209 merupakan turunan dari Rencana Strategis (Renstra) Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan dan
Deskripsi: Dimensi Grand Design Sistem Informasi Kesehatan
Deskripsi: Grand design sistem informasi kesehatan berorientasi pada kualifikasi produk yang diharapkan, ditinjau dari kebutuhan kinerja dan spesifikasinya serta strategi tata kelolanya. 1. Dimensi Grand
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN TINGGI DAN PENGELOLAAN PERGURUAN TINGGI
SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN TINGGI DAN PENGELOLAAN PERGURUAN TINGGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA,
KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.04.1.24.11.12.7154 TAHUN 2012 TENTANG PEMBENTUKAN TIM REFORMASI BIROKRASI BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN KEPALA BADAN PENGAWAS
