Hipertensi pulmonal merupakan suatu
|
|
|
- Djaja Oesman
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Artikel Asli Sildenafil Sebagai Pilihan Terapi Hipertensi Pulmonal Pascabedah Jantung Koreksi Penyakit Jantung Bawaan pada Anak Yogi Prawira, Piprim B. Yanuarso Departemen Ilmu Kesehatan Anak, RS Dr Cipto Mangunkusumo, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta Definisi hipertensi pulmonal (HP) pada anak dan dewasa adalah sama, yaitu bila mean pulmonary arterial pressure 25 mmhg saat istirahat atau 30 mmhg saat aktivitas. Pada anak pascabedah koreksi penyakit jantung bawaan (PJB), HP berat merupakan komplikasi yang sangat dikhawatirkan, dengan angka kejadian sekitar 2%. Sildenafil telah digunakan secara luas pada pasien HP dewasa, baik sebagai terapi tunggal maupun kombinasi. Makalah ini bertujuan untuk mengevaluasi pemberian sildenafil pada anak dengan HP pascabedah jantung koreksi. Kedua pasien dirujuk ke RS Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta (RSCM) dengan keluhan tampak biru, sesak terutama saat menetek, dan berat badan sulit naik. Saat itu kedua pasien didiagnosis memiliki kelainan jantung bawaan berupa transposisi arteri besar (TGA), defek septum ventrikel (VSD) dan HP. Operasi koreksi total (arterial switch dan penutupan VSD) dilakukan pada saat pasien pertama berusia 3 bulan 10 hari dan pasien kedua berusia 4 bulan 22 hari. Kedua pasien mendapat inhalasi nitric oxide (ino), inhalasi iloprost, dikombinasikan dengan sildenafil oral, dengan dosis awal 0,5 mg/kg berat badan (BB) per kali tiap 6 jam dengan pemantauan tekanan arteri berkala. Pasien pertama dipulangkan pada hari ke-23 pascabedah dan mendapat sildenafil oral dengan penurunan dosis bertahap dalam kurun waktu 6 bulan. Pasien kedua dipulangkan pada hari ke-12 pascabedah dan masih mendapat terapi sildenafil oral dengan dosis yang sama sampai hari ini. Pada kedua pasien tidak dilaporkan kejadian efek samping. Sebagai kesimpulan sildenafil efektif dalam memperbaiki hemodinamika pembuluh darah pulmonal dan bekerja secara sinergik dengan ino. Sildenafil oral merupakan terobosan terapi yang menarik dan cukup efektif karena mudah pemberiannya dan memiliki efek samping minimal. (Sari Pediatri 2010;11(6): ). Kata kunci: hipertensi pulmonal, terapi, pascabedah, sildenafil, anak Alamat korespondensi: Dr. Piprim B. Yanuarso, Sp.A. Divisi Kardiologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, Jl. Salemba 6, Jakarta Tel , , Fax Hipertensi pulmonal merupakan suatu keadaan meningkatnya tekanan vaskular paru akibat peningkatan tekanan arteri pulmonalis ataupun peningkatan tekanan arteri dan vena pulmonalis.1 Definisi HP pada anak 456
2 dan orang dewasa adalah sama, yaitu bila mean pulmonary artery pressure (MPAP) 25 mmhg saat istirahat atau 30 mmhg saat aktivitas.2 Etiologi HP pada anak cukup bervariasi. Menurut pengamatan yang dilakukan oleh Rosenzweig EB dkk 3 di Amerika Serikat, penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan penyebab yang paling sering ditemukan (56%), diikuti oleh HP idiopatik (42%). Pada anak pascabedah koreksi PJB, HP berat merupakan komplikasi yang sangat dikhawatirkan, dengan angka kejadian sekitar 2%. 4 Trauma bedah yang mengakibatkan kerusakan endotel selanjutnya dapat meningkatkan reaktivitas pembuluh darah paru, sehingga stress pascabedah dapat sangat meningkatkan tahanan vaskular paru. 4 Sampai saat ini, literatur mengenai terapi HP pada anak, terutama yang berupa uji klinis, masih sangat terbatas. Tata laksana secara garis besar mengikuti algoritme tata laksana HP pada orang dewasa dengan beberapa penyesuaian. 5 Terapi farmakologis yang saat ini digunakan untuk pengobatan HP meliputi golongan prostasiklin (epoprostenol), analog prostasiklin (beraprost, iloprost, treprostinil), antagonis reseptor endotelin (bosentan), nitric oxide (NO), inhibitor fosfodiesterase (sildenafil), serta kombinasi dari preparat-preparat tersebut. 6,7 Kejadian HP pada anak selama ini memiliki prognosis yang buruk dengan angka kesintasan kurang dari satu tahun. 5,6 Namun demikian, dengan adanya kemajuan dalam penegakan diagnosis, tata laksana, serta penerapan terapi spesifik dalam beberapa tahun terakhir, angka kesintasan mengalami perbaikan yang cukup nyata. 5 Kasus 1 Seorang anak perempuan berusia tiga bulan datang dengan keluhan tampak biru sejak usia satu bulan. Sejak dua bulan sebelum dirawat, pasien sering tampak kebiruan di daerah lidah, bibir, dan ekstremitas. Berat badan sulit naik. Pasien hanya dapat minum ASI atau susu formula sedikit-sedikit, dalam tiga jam hanya mampu menghabiskan susu formula sebanyak 70 ml, dan sering terlihat sesak terutama saat minum. Pasien lahir spontan, merupakan anak kembar, sebagai gemelli kedua mempunyai berat lahir 2100 g, berat lahir gemelli pertama 2700 g. Pasien berasal dari keluarga sosioekonomi menengah-bawah. Riwayat kehamilan normal. Riwayat tumbuh kembang kesan terlambat. Imunisasi dasar lengkap. Asupan nutrisi kesan kurang. Pada pemeriksaan fisis saat datang ke Poliklinik Pusat Jantung Terpadu (PJT) RSCM, keadaan pasien kompos mentis, tidak sesak, tampak sianosis pada lidah, bibir, dan ekstremitas, berat badan 3,5 kg (<P 3 kurva CDC NCHS 2000) dan panjang badan 56 cm (P 10 kurva CDC NCHS 2000). Kesan klinis dan antropometris gizi kurang. Lingkar kepala 39 cm (normal). Tanda vital dalam batas normal. Pada pemeriksaan fisis jantung terdengar bunyi jantung I dan II normal, bising pansistolik grade III/6 dengan pungtum maksimum di sela iga III-IV garis parasternal kiri. Ekokardiografi menunjukkan transposisi arteri besar, defek septum ventrikel dan hipertensi pulmonal. Saat itu pasien didiagnosis transposisi arteri besar, defek septum ventrikel, hipertensi pulmonal, gizi kurang dan gagal tumbuh. Operasi koreksi total (arterial switch dan penutupan VSD) dilakukan saat pasien berusia 3 bulan 10 hari. Pada perawatan hari pertama pascabedah, pasien mendapat terapi inhalasi NO 10 ppm yang dinaikkan bertahap sampai 20 ppm, dikombinasikan dengan inhalasi iloprost 2 μg setiap dua jam. Pada perawatan pascabedah hari ke-3, pasien menunjukkan perbaikan klinis sehingga inhalasi NO dihentikan dan diberikan sildenafil 4x1,5 mg per oral dengan kombinasi inhalasi iloprost 2 μg setiap enam jam. Selama perawatan, pasien mengalami beberapa episode perburukan klinis yang ditandai dengan perburukan perfusi berulang, perdarahan saluran cerna, dan ventilator-associated pneumonia. Pasien mendapat pengobatan suportif serta pemberian antibiotik yang sesuai, menunjukkan respons yang baik terhadap terapi, dan perbaikan keadaan umum sehingga dipulangkan pada hari ke- 23 pascabedah. Dosis sildenafil diturunkan bertahap dalam kurun waktu enam bulan. Ekokardiografi terakhir menunjukkan insufisiensi trikuspid ringan dengan pressure gradient 25 mmhg. Kasus 2 Seorang anak laki-laki, berusia empat bulan, dirujuk ke Poliklinik PJT RSCM pada tanggal 17 Juli 2009 oleh dokter spesialis anak di Palembang dengan keterangan transposisi arteri besar dan defek septum ventrikel. Berdasarkan aloanamnesis dengan ibu pasien, sejak usia 40 hari pasien sering terlihat kebiruan di daerah lidah, 457
3 bibir, dan ekstremitas yang tampak semakin jelas saat menangis atau menetek. Pasien mudah lelah, tampak sesak dan terengah-engah terutama bila menetek lama. Berat badan pasien sulit naik. Pasien merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara, dengan berat lahir 3700 g, panjang lahir 50 cm. Pasien berasal dari keluarga sosioekonomi menengah-bawah. Riwayat kehamilan dan persalinan normal. Riwayat tumbuh kembang kesan terlambat. Imunisasi dasar lengkap, namun asupan nutrisi kesan kurang. Pada pemeriksaan fisis saat itu, pasien tampak kompos mentis, tidak sesak, tampak sianosis pada lidah, bibir dan ekstremitas, berat badan 4,8 kg (<P 3 kurva CDC NCHS 2000) dan tinggi badan 58 cm (P 3 kurva CDC NCHS 2000). Kesan klinis dan antropometris gizi kurang. Lingkar kepala 41 cm (normal). Tanda vital dalam batas normal. Pada pemeriksaan fisis jantung terdengar bunyi jantung I normal, bunyi jantung II tunggal, tidak terdengar bising maupun irama derap. Pemeriksaan ekokardiografi menunjukkan transposisi arteri besar, defek septum ventrikel dan hipertensi pulmonal. Dilakukan tindakan kateterisasi menunjukkan dimensi PA dua kali lipat dari aorta dengan PA//Aorta : 91/35/61//100/58/75 mmhg. Saat itu pasien didiagnosis transposisi arteri besar, defek septum ventrikel, hipertensi pulmonal, gizi kurang dan gagal tumbuh. Operasi koreksi total (arterial switch dan penutupan VSD) dilakukan pada saat pasien berusia 4 bulan 22 hari. Pada perawatan hari pertama pascabedah, pasien menunjukkan gejala hipertensi pulmonal yang tidak berespons dengan inhalasi NO 20 ppm. Tekanan arteri pulmonalis dapat diturunkan dengan pemberian inhalasi iloprost dosis maksimal yang diberikan setiap dua jam, dikombinasikan dengan sildenafil 4x5 mg per oral. Hipertensi pulmonal mulai stabil pada perawatan pascabedah hari ke-3. Selama perawatan pasien mendapat pengobatan suportif dan pemberian antibiotik yang sesuai. Pasien menunjukkan perbaikan klinis, dipulangkan pada hari ke-12 pascabedah dengan terapi sildenafil oral. Masalah klinis Sampai saat ini penelitian mengenai terapi HP pada anak masih terbatas. Secara umum, tata laksana kasus pada anak mengikuti algoritme tata laksana orang dewasa. Berdasarkan hal tersebut, diajukan pertanyaan klinis sebagai berikut, 1. Pada anak dengan HP pascabedah koreksi PJB, apakah pemberian inhibitor fosfodiesterase (sildenafil) sebagai terapi tunggal memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan pengobatan lain seperti inhalasi NO dan inhalasi iloprost dalam memperbaiki hemodinamik pembuluh darah pulmonal? 2. Apakah pemberian inhibitor sildenafil sebagai terapi kombinasi memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan pengobatan lain tanpa sildenafil? Strategi penelusuran Untuk menjawab masalah klinis tersebut dilakukan penelusuran pustaka secara online menggunakan instrumen pencari Pubmed, Highwire, Cochrane Library, Google dan Yahoo. Kata kunci yang dipergunakan adalah pulmonary hypertension atau pulmonary arterial hypertension, therapy, post operative dan sildenafil, dengan menggunakan batasan (limit): studi yang dilakukan pada anak, publikasi bahasa Inggris, publikasi 10 tahun terakhir, kata kunci terdapat pada judul atau abstrak, serta jenis publikasi berupa uji klinis, uji klinis terandomisasi, meta-analisis, dan review. Levels of evidence ditentukan atas dasar klasifikasi yang dikeluarkan oleh Oxford Centre for Evidence-based Medicine. 8 Hasil penelusuran Terdapat berbagai parameter keberhasilan yang dinilai dalam uji klinis pada HP, yaitu uji toleransi 6-minute walk distance (6-MWD), kelas fungsional WHO, penilaian hemodinamik pembuluh darah paru, dan kesintasan. Penilaian 6-MWD merupakan pemeriksaan standar untuk menilai kapasitas uji latih pada orang dewasa, namun sulit diterapkan pada anak. 5 Meta-analisis yang dilakukan oleh Galie N dkk 9 tahun 2009 mempelajari 23 uji klinis acak (n=3199) yang menilai keberhasilan terapi HP. Telaah ini menunjukkan peningkatan kesintasan pada pasien yang mendapat terapi spesifik HP. Pada 21 uji klinis, delapan di antaranya menilai efek pemberian prostanoid (epoprostenol intravena, treprostinil 458
4 subkutan, inhalasi iloprost, dan beraprost oral), selanjutnya delapan uji klinis mengevaluasi terapi dengan antagonis reseptor endotelin (bosentan oral, sitaxsentan, dan ambrisentan), empat penelitian lainnya menilai efektivitas inhibitor fosfodiesterase (sildenafil), dan satu penelitian membahas penggunaan inhibitor sintase tromboksan terbogrel. Parameter yang digunakan untuk menilai keberhasilan terapi adalah uji toleransi 6-MWD, perbaikan kelas fungsional WHO/ NYHA, tekanan atrium kanan, MPAP, cardiac index, dan pulmonary vascular resistance (PVR). Seluruh hasil penelitian tersebut menunjukkan peningkatan yang bermakna (p<0,001) untuk semua parameter keberhasilan terapi (level of evidence: 1a). 9 Hal serupa juga diungkapkan oleh Torres 10 dalam sebuah metaanalisis yang melibatkan 15 uji klinis acak tersamar ganda yang mengamati penggunaan bosentan, sildenafil, sitaxsentan, dan ambrisentan (level of evidence: 1a). 10 Tahun 2003, Carroll WD dkk 11 melaporkan serial kasus mengenai penggunaan sildenafil oral sebagai terapi HP pada tiga orang anak di Inggris. Dosis sildenafil yang diberikan pada pasien dimulai dari 0,5 mg/kg yang diberikan setiap enam jam, dan ditingkatkan secara bertahap. Meskipun dua dari tiga kasus tersebut berakhir dengan kematian, Carroll WD dkk 11 menyatakan bahwa sildenafil merupakan pilihan terapi yang berguna bagi pasien anak dengan HP kronik yang berat (level of evidence: 4). Schulze-Neick I dkk, 12 di tahun yang sama menyampaikan hasil uji klinis yang menilai efektivitas sildenafil intravena pada anak pascabedah koreksi PJB. Berdasarkan studi tersebut diketahui bahwa penggunaan sildenafil intravena sebanding bahkan lebih baik dibandingkan dengan inhalasi NO dosis rutin dalam hal menurunkan peningkatan tahanan vaskular pembuluh darah pulmonal, baik selama berlangsungnya prosedur kateterisasi jantung rutin maupun pascabedah jantung terbuka (level of evidence: 2b). 12 Penelitian terhadap obat yang sama juga dilakukan oleh Stocker C dkk 13 di Australia dalam suatu uji klinis acak. Dari penelitian tersebut diketahui bahwa penambahan sildenafil memperkuat efek vasodilator inhalasi NO. Pada kedua kelompok, pemberian sildenafil menurunkan tekanan darah sistemik dan tahanan vaskular sistemik (p<0,01). Namun demikian, sildenafil dapat menimbulkan hipotensi sistemik dan gangguan oksigenasi (level of evidence: 1b). 13 Bentlin MR dkk 14 pada tahun 2005 menyampaikan laporan kasus HP pada seorang bayi baru lahir dengan PJB yang menjalani prosedur Blalock Taussig Shunt. Pascabedah timbul HP yang terdiagnosis melalui kateterisasi jantung, disertai hipoksemia persisten, tanpa ada kelainan paru yang mendasarinya. Pasien kemudian mendapat terapi inhalasi NO 20 ppm, namun secara klinis tidak membaik hingga pasien mendapatkan pengobatan prostaglandin E1 (PGE1) intravena. Pada usia limapuluh hari, setelah upaya untuk menghentikan terapi PGE1 berulangkali gagal, atas persetujuan orangtua, pasien mulai mendapat sildenafil oral 0,5 mg/kg yang diberikan tiap enam jam. Dalam waktu 24 jam setelah pemberian sildenafil, tekanan arteri pulmonal turun dari 70 mmhg menjadi 55 mmhg, pada akhir minggu pertama pemberian sildenafil, tekanan pulmonal menjadi 38 mmhg. Pada pasien tidak timbul hipotensi atau efek samping lainnya. Pasien dipulangkan limabelas hari kemudian dan tetap mendapat sildenafil oral selama 30 hari, dengan penurunan dosis secara bertahap (level of evidence: 4). 14 Pada tahun yang sama, Humpl T dkk 15 juga mempublikasikan hasil uji klinis pendahuluan pemberian sildenafil oral pada anak. Di antara 14 pasien yang memenuhi kriteria, empat orang dengan diagnosis HP primer dan 10 orang dengan HP sekunder (tujuh orang pascabedah koreksi PJB, dan tiga orang dengan sindrom Eisenmenger). Dalam penelitian tersebut tampak adanya perbaikan pada uji 6-MWD dan hemodinamik pulmonal setelah pemberian sildenafil oral (level of evidence: 2b). 15 Peiravian F dkk 16 di Iran tahun 2007, mempublikasikan hasil uji klinis acak mengenai penggunaan sildenafil oral sebagai terapi HP pascabedah jantung koreksi. Pada studi tersebut penggunaan sildenafil oral dosis rendah tanpa pemberian vasodilator lain, terbukti efektif menurunkan tekanan pulmonal dan menurunkan risiko krisis HP tanpa risiko terjadi HP rebound (level of evidence: 1b). 16 Pembahasan Dilaporkan dua kasus HP pada anak pascabedah koreksi PJB. Tata laksana HP pada anak secara garis besar mengikuti algoritme tata laksana pada orang dewasa dengan beberapa penyesuaian (Gambar 1). 5,7 Tata laksana pasien HP pascabedah koreksi pada 459
5 Tabel 1. Rangkuman penelitian penggunaan sildenafil pada anak Penulis Pasien Jenis penelitian Keluaran Hasil Carroll dkk 11 (2003) 3 anak (usia 0-2 tahun) dengan 1 kasus pascabedah Serial kasus (level of evidence: 4) Sildenafil oral 0,5mg/ kg, tiap 6 jam Toleransi terhadap aktivitas fisik Peningkatan toleransi aktivitas fisik Schulze-Neick dkk 12 (2003) Stocker dkk 13 (2003) 12 anak dengan PJB & MPAP meningkat dan 12 anak pascabedah dengan peningkatan PVR 16 bayi pasca VSD/ ASD closure yang beresiko mengalami HP Prospektif, tidak terandomisasi (level of evidence:2b) Sildenafil iv 0,25mg/kg dibandingkan dengan inhalasi NO Prospektif, uji klinis acak (level of evidence: 1b) inhalasi NO dilanjutkan dengan sildenafil intravena 0,35 mg/kg Bentlin dkk 14 (2005) 1 neonatus Laporan kasus (level of evidence: 4) Sildenafil oral 0,5mg/ kg, tiap 6 jam Humpl dkk 15 (2005) Peiravian dkk 16 (2007) 14 anak (4 dengan HP primer, 7 HP pascabedah pada PJB, 3 sindrom eisenmenger) 42 anak pascabedah koreksi PJB Uji klinis pendahuluan (level of evidence: 2b) Sildenafil 0,25-0,5 mg/ kg, tiap 6 jam Uji klinis terandomisasi (level of evidence: 1b) Sildenafil oral 0,3mg/ kg Tekanan vaskular paru, tek. atrium kanan-kiri, konsumsi oksigen sistemik, endtidal CO2 Tekanan vaskular, cardiac output, &AGD setelah pemberian Tekanan vaskular paru 6-MWD, tekanan vaskular paru, kelas fungsional WHO Tekanan vaskular paru, lama penggunaan ventilasi mekanik, lama perawatan di ICU, lama perawatan di RS Sildenafil iv lebih efektif dalam mengurangi tahanan vena pulmonalis dibandingkan dengan NO Sildenafil iv memperkuat efek vasodilator inhalasi NO Sildenafil oral memperbaiki hemodinamik pulmonal pascabedah koreksi PJB Sildenafil oral meningkatkan hemodinamik pulmonal dan kapasitas fisik Penggunaan sildenafil dosis rendah tanpa disertai vasodilator pulmonal lainnya, efektif menurunkan tekanan pulmonal dan menurunkan resiko krisis HP pascabedah koreksi PJB Gambar 1. Algoritma tata laksana hipertensi pulmonal pada anak 5,7 (CHF:congenital heart failure, SC:subcutaneous) serial kasus yang disajikan adalah pemberian inhalasi NO, inhalasi iloprost, dan sildenafil oral. Pemberian inhalasi NO masih dianggap sebagai terapi standar HP pascabedah. 16 Namun demikian, pada meta-analisis yang dilakukan oleh Bizzarro M dkk 17 tidak ditemukan manfaat yang signifikan inhalasi NO pada bayi dan anak pascabedah koreksi PJB. Hal ini ditunjukkan dengan tidak adanya perubahan angka mortalitas, kejadian krisis HP, oksigenasi arterial, ataupun perubahan hemodinamik pulmonal pasca pemberian obat tersebut. 17 Selain itu, jenis terapi tersebut memiliki beberapa kekurangan, yaitu masih ada kemungkinan terjadi krisis HP, HP 460
6 rebound yang fatal akibat penghentian terapi, serta diperlukannya alat khusus dalam pemberiannya. 16 Namachivayam P dkk 18 pada penelitian uji klinis acak melaporkan bahwa dosis tunggal sildenafil dapat menghindari efek rebound dan mengurangi masa penggunaan ventilasi mekanik, sehingga pemberian sildenafil profilaksis dapat dipertimbangkan saat akan menyapih terapi inhalasi NO. 18 Sildenafil merupakan inhibitor poten fosfodiesterase-5, dapat berakumulasi dan meningkatkan aktivitas cyclic guanosine monophosphate (cgmp), yang bekerja secara sinergik dengan NO. 19 Sejak tahun 2005, Food and Drug Administration (FDA) menetapkan penggunaan sildenafil sebagai terapi HP, 20 dan hingga saat ini merupakan obat yang paling sering digunakan pada pasien anak dengan HP sekunder. 21 Penggunaan sildenafil cukup disukai karena kemasan oral sehingga mudah pemberiannya, efek samping relatif minimal, dan harga lebih terjangkau dibandingkan dengan terapi spesifik HP lainnya. 22 Dosis sildenafil yang lazim digunakan untuk anak 0,5-1 mg/kg, diberikan 3-4 kali sehari. Pemberian sildenafil dalam dosis besar dapat menimbulkan efek samping seperti ereksi, dan hipotensi sistemik. 21 Pada serial kasus yang kami sajikan, respons pemberian sildenafil sesuai dengan hasil telaah sistematis Raja SG dkk, 23 yaitu kondisi klinis pasien pascabedah koreksi PJB membaik yang ditandai dengan perbaikan hemodinamik pulmonal. Terapi dengan sildenafil oral pada pasien pertama dilanjutkan hingga enam bulan, kemudian dosis diturunkan bertahap sampai obat dihentikan. Pemberian inhalasi iloprost pada kasus kami sesuai dengan bukti yang ada. 24 Terapi kombinasi inhalasi iloprost dengan inhibitor fosfodiesterase ataupun antagonis reseptor endotelin dapat ditoleransi dengan baik. Namun demikian, harus diwaspadai pemakaian obat kombinasi tersebut dalam jangka panjang karena dapat memicu terjadinya bronkokonstriksi. 24 Penggunaan bosentan oral sebagai terapi HP pada anak pernah dilaporkan oleh Rosenzweig EB dkk 3, namun sayangnya saat ini obat tersebut belum tersedia di Indonesia. Kesimpulan Saat ini terdapat sejumlah bukti pilihan tata laksana HP pada anak. Sildenafil tampaknya efektif dalam memperbaiki hemodinamik pembuluh darah pulmonal dan bekerja sinergik dengan NO. Namun demikian, belum ada satu jenis obatpun yang terbukti lebih baik dibandingkan obat lainnya. Sildenafil oral merupakan terobosan terapi yang menarik dan cukup efektif karena mudah dalam pemberian, memiliki efek samping minimal dan harganya lebih murah dibandingkan dengan pilihan terapi lain. Uji klinis acak dengan jumlah sampel besar dari berbagai pusat penelitian masih diperlukan untuk menetapkan keamanan serta dosis optimal sildenafil pada anak. Daftar Pustaka 1. Priyatno A. Hipertensi pulmonal pada penyakit jantung bawaan. Dalam: Putra ST, Roebiono PS, Rahayuningsih SE, Wulandari DA, penyunting. Towards competencebased practice in pediatric cardiology. Kongres Nasional I Perhimpunan Kardiologi Anak Indonesia dan Pertemuan Ilmiah Tahunan IV Kardiologi Anak; 2007 Sept 7-9; Bandung, Indonesia. Perhimpunan Kardiologi Anak Indonesia, 2007.h Hawkins A, Tulloh R. Treatment of pediatric pulmonary hypertension. Vascular health and risk.anagement 2009;5: Rosenzweig EB, Ivy DD, Widlitz A, Doran A, Claussen LR, Yung D, dkk. Effects of long-term bosentan in children with pulmonary arterial hypertension. J Am Coll Cardiol 2005;46: Lindberg L, Olsson AK, Jogi P, Jonmarker C. How common is severe pulmonary hypertension after pediatric cardiac surgery? J Thorac Cardiovasc Surg 2002;123: Beghetti M. Paediatric pulmonary hypertension: monitoring progress and identifying unmet needs. Eur Respir Rev 2009;18: Widlitz A, Barst RJ. Pulmonary arterial hypertension in children. Eur Respir J 2003;21: Rashid A, Ivy D. Severe paediatric pulmonary hypertension: new management strategies. Arch Dis Child 2005;90: Oxford Centre of Evidence-based Medicine. Oxford Centre for evidence-based medicine levels of evidence (March 2009). Diunduh dari: asox?o=1025. Diakses tanggal 8 Oktober Galie N, Manes A, Negro L, Palazzini M, Reggiani MLB, Branzi A. A meta-analysis of randomized controlled trials in pulmonary arterial hypertension. Eur Heart J 461
7 2009;30: Torres F. Systematic review of randomized, doubleblind clinical trials of oral agents conducted in patients with pulmonary arterial hypertension. J Clin Pract 2007;61: Carroll WD, Dhillon R. Sildenafil as a treatment for pulmonary hypertension. Arch Dis Child 2003;88: Schulze-Neick I, Hartenstein P, Lia J, Stiller B, Nagdyman N, Hubler M, dkk. Circulation 2003;108(suppl II): Stocker C, Penny DJ, Brizard Cp, Cochrane AD, Soto R, Shekerdemian LS. Intravenous sildenafil and inhaled nitric oxide: a randomised trial in infants after cardiac surgery[abstrak]. Intensive Care Med 2003;29: Bentlin MR, Saito A, De Luca AKC, Bossolan G, Bonatto RC, Martins AS, dkk. Sildenafil for pulmonary hypertension treatment after cardiac surgery. J Pediatr (Rio J) 2005;81: Humpl T, Reyes JT, Holtby H, Stephens D, Adatia I. Beneficial effect of oral sildenafil therapy on childhood pulmonary arterial hypertension: twelve-month clinical trial of single-drug, open-label, pilot study. Circulation 2005;111: Peiravian F, Amirghofran AA, Ajami GH, Sabri MR, Kolaee S. Oral sildenafil to control pulmonary hypertension after congenital heart surgery. Asian Cardiovasc Thorac Ann. 2007;15: Bizzaro M, Gross I. Inhaled nitric oxide for the postoperative management of pulmonary hypertension in infants and children with congenital heart disease (review). The Cochrane Library: Wiley; 2009.h Namachivayam P, Theilen U, Butt WW, Cooper SM, Penny DJ, Shekerdemian LS. Sildenafil prevents rebound pulmonary hypertension after withdrawal of nitric oxide in children. Am J Respir Crit Care Med 2006;174: Khrisnan U, Lovig L. A review of sildenafil in the treatment of pediatric pulmonary arterial hypertension. Clinical Medicine: Theurapetics 2009;1: FDA approves pfizer s revatio as treatment for pulmonary arterial hypertension. Diunduh dari com/news/fda-approves-pfizer-s-revatio-pulmonary-arterialhypertension-1432.html. Diakses tanggal 8 Oktober Haworth SG. The management of pulmonary hypertension in children. Arch Dis Child 2008;93: McAuley DF. The current role of sildenafil citrate in the treatment of pulmonary arterial hypertension. Diunduh dari Diakses tanggal 8 Oktober Raja SG, MacArthur KJ, Pollock JC. Is sildenafil effective for treating pulmonary hypertension after pediatric heart surgey? Interact CardioVasc Thorac Surg 2006;5: Ivy DD, Doran AK, Smith KJ, Mallory GB, Beghetti M, Barst RJ, dkk. Short- and long-term effects of inhaled iloprost therapy in children with pulmonary arterial hypertension. J Am Coll Cardiol 2008;51:
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. sehingga aliran darah balik vena paru akan menuju ke atrium kanan serta
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Defek septum atrium (atrial septal defect) adalah defek bawaan dimana terdapat lubang pada sekat interatrial yang menghubungkan atrium kanan dan kiri sehingga aliran
BAB I PENDAHULUAN. individu. Pemberian antibiotik seperti penisilin pada streptococcal faringitis turut
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Stenosis mitral adalah kondisi dimana terjadi hambatan aliran darah dari atrium kiri ke ventrikel kiri pada fase diastolik akibat penyempitan katup mitral. Stenosis
DAFTAR ISI II.4.2. Mekanisme perbaikan HRQoL pasien HAP dengan terapi sildenafil... II.4.3. Interaksi obat dan efek samping sildenafil...
DAFTAR ISI Halaman Judul... Halaman Pengesahan... Pernyataan... Kata Pengantar... Daftar Isi... Daftar Tabel... Daftar Gambar... Daftar Singkatan... Intisari... Abstract... i ii iii iv viii xi xii xiii
Gambar 1. Atresia Pulmonal Sumber : (http://www.mayoclinic.org/images/pulmonary-valve-atresia-lg-enlg.jpg)
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK FKUP RSHS BANDUNG TUGAS PENGAYAAN Oleh : Asri Rachmawati Pembimbing : dr. H. Armijn Firman, Sp.A Hari/Tanggal : September 2013 ATRESIA PULMONAL PENDAHULUAN Atresia pulmonal
Dr. Prastowo Sidi Pramono, Sp.A
Dr. Prastowo Sidi Pramono, Sp.A PENYAKIT JANTUNG BAWAAN Penyakit jantung yang dibawa dari lahir kelainan pada struktur jantung atau fungsi sirkulasi jantung yang dibawa dari lahir akibat gangguan atau
BAB 1 PENDAHULUAN. lebih dini pada usia bayi, atau bahkan saat masa neonatus, sedangkan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Jantung Bawaan (PJB) adalah kelainan struktur dan fungsi pada jantung yang muncul pada saat kelahiran. (1) Di berbagai negara maju sebagian besar pasien PJB
BAYI DENGAN RESIKO TINGGI: KELAINAN JANTUNG KONGENITAL. OLEH. FARIDA LINDA SARI SIREGAR, M.Kep
BAYI DENGAN RESIKO TINGGI: KELAINAN JANTUNG KONGENITAL OLEH. FARIDA LINDA SARI SIREGAR, M.Kep PENDAHULUAN Sekitar 1% dari bayi lahir menderita kelainan jantung bawaan. Sebagian bayi lahir tanpa gejala
PENDAHULUAN Sekitar 1% dari bayi lahir menderita kelainan jantung bawaan. Sebagian bayi lahir tanpa gejala dan gejala baru tampak pada masa kanak- kan
BAYI DENGAN RESIKO TINGGI: KELAINAN JANTUNG KONGENITAL OLEH. FARIDA LINDA SARI SIREGAR, M.Kep PENDAHULUAN Sekitar 1% dari bayi lahir menderita kelainan jantung bawaan. Sebagian bayi lahir tanpa gejala
BAB 1 PENDAHULUAN. Jantung merupakan suatu organ yang berfungsi memompa darah ke
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Jantung merupakan suatu organ yang berfungsi memompa darah ke seluruh jaringan tubuh serta menarik darah kembali ke jantung. Ketidakmampuan jantung melakukan fungsinya
BAB I PENDAHULUAN. Pasien dewasa dengan penyakit jantung bawaan menunjukkan insidensi
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pasien dewasa dengan penyakit jantung bawaan menunjukkan insidensi yang meningkat. Secara umum sekitar 5 10% dari pasien tersebut berkembang menjadi Hipertensi Arteri
BAB I PENDAHULUAN. Menurut American Heart Association (2015), Penyakit Jantung Bawaan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Menurut American Heart Association (2015), Penyakit Jantung Bawaan (PJB) adalah penyakit dengan kelainan pada struktur jantung atau fungsi sirkulasi jantung
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. banyak ditemukan dengan insiden antara 8-10 kejadian setiap 1000 kelahiran
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Penyakit jantung bawaan (PJB) adalah suatu kelainan bawaan yang cukup banyak ditemukan dengan insiden antara 8-10 kejadian setiap 1000 kelahiran hidup. Angka
BAB I PENDAHULUAN. berfungsi penuh sejak janin berada dalam rahim(kira-kira pada. gestasi minggu ke-8). Tanpa adanya jantung yang berdenyut dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem kardiovaskular adalah sistem organ pertama yang berfungsi penuh sejak janin berada dalam rahim(kira-kira pada gestasi minggu ke-8). Tanpa adanya jantung yang
PATENT DUCTUS ARTERIOSUS (PDA)
PATENT DUCTUS ARTERIOSUS (PDA) DEFENISI PDA kegagalan menutupnya duktus arteriosus ( arteri yang menghubungkan aorta dan arteri pulmonal ) pd minggu pertama kehidupan, yang menyebabkan mengalirnya darah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Gagal jantung adalah keadaan di mana jantung tidak mampu memompa darah untuk mencukupi kebutuhan jaringan melakukan metabolisme dengan kata lain, diperlukan peningkatan
BAB I PENDAHULUAN. struktur jantung atau fungsi sirkulasi jantung yang dibawa dari lahir. 1
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit jantung bawaan ( PJB ) adalah penyakit dengan kelainan pada struktur jantung atau fungsi sirkulasi jantung yang dibawa dari lahir. 1 PJB merupakan kelainan
BAB 1 PENDAHULUAN. pada pola penyakit. Beberapa penyakit non-infeksi, termasuk penyakit
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini angka kejadian beberapa penyakit non infeksi semakin meningkat, baik di negara maju maupun di negara berkembang. Perubahan gaya hidup dan perubahan tingkat
DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... i
DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... i LEMBAR PENGESAHAN...ii SURAT PERNYATAAN... iii PERNYATAAN... iv PRAKATA... v DAFTAR ISI... xii DAFTAR TABEL... xiiii DAFTAR GAMBAR... xiv DAFTAR SINGKATAN... xvii
TATALAKSANA HIPERTENSI PULMONAL PADA ANAK
TATALAKSANA HIPERTENSI PULMONAL PADA ANAK Herlina Dimiati dan Poppy Indriasari Abstrak : Hipertensi pulmonal (HP) sering ditemukan pada anak dibandingkan dewasa, Definisi HP: yaitu tekanan arteri pulmonal
HIPERTENSI ARTERI PULMONAL IDIOPATIK
1 HIPERTENSI ARTERI PULMONAL IDIOPATIK Augustine Purnomowati Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular Fakultas Kedokteran UNPAD Bandung 2 Hipertensi Arteri Pulmonal Idiopatik Penerbit Departemen Kardiologi
BAB I PENDAHULUAN. beberapa dekade terakhir ini, namun demikian perkembangan pada
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang International Association for the Study of Pain (IASP) mendefinisikan nyeri sebagai sensasi yang tidak mengenakkan dan biasanya diikuti oleh pengalaman emosi tertentu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem kardiovaskular terdiri dari jantung, jaringan arteri, vena, dan kapiler yang mengangkut darah ke seluruh tubuh. Darah membawa oksigen dan nutrisi penting untuk
BAB I PENDAHULUAN. dapat menyebabkan perubahan hemodinamik yang signifikan.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Propofol telah digunakan secara luas untuk induksi dan pemeliharaan dalam anestesi umum. Obat ini mempunyai banyak keuntungan seperti mula aksi yang cepat dan pemulihan
VENTRIKEL SEPTAL DEFECT
VENTRIKEL SEPTAL DEFECT 1. Defenisi Suatu keadaan abnormal yaitu adanya pembukaan antara ventrikel kiri dan ventrikel kanan 2. Patofisiologi Adanya defek ventrikel, menyebabkan tekanan ventrikel kiri
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Patent duktus arteriosus (PDA) merupakan salah satu penyakit jantung
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Patent duktus arteriosus (PDA) merupakan salah satu penyakit jantung bawaan yang sering dijumpai pada anak, yang disebabkan oleh kegagalan penutupan secara fisiologis
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Penyakit Jantung Bawaan adalah kelainan struktural jantung atau pembuluh
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penyakit Jantung Bawaan Penyakit Jantung Bawaan adalah kelainan struktural jantung atau pembuluh darah besar intratorakal yang terjadi pada saat pembentukan sistem kardiovaskular
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. disebabkan adanya penyempitan pada katup mitral (Rilantono, 2012). Kelainan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Stenosis mitral adalah penyakit kelainan katup jantung yang menyebabkan terlambatnya aliran darah dari atrium kiri menuju ventrikel kiri pada fase diastolik disebabkan
BAB I PENDAHULUAN. jantung yang prevalensinya paling tinggi dalam masyarakat umum dan. berperan besar terhadap mortalitas dan morbiditas.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perubahan pola hidup menyebabkan berubahnya pola penyakit infeksi dan penyakit rawan gizi ke penyakit degeneratif kronik seperti penyakit jantung yang prevalensinya
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. cenderung meningkatkan risiko terjadinya penyakit vaskular seperti stroke
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Modernisasi mengakibatkan perubahan pola hidup masyarakat yang cenderung meningkatkan risiko terjadinya penyakit vaskular seperti stroke (Nufus, 2012). Stroke menjadi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penelitian tentang perdarahan yang disebabkan Stress Related Mucosal
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian tentang perdarahan yang disebabkan Stress Related Mucosal Disease (SRMD) pada pasien kritis pertama kali muncul lebih dari empat dekade lalu. Beberapa penelitian
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Penyakit jantung bawaan (PJB) adalah suatu bentuk kelainan kardiovaskular
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Penyakit Jantung Bawaan Penyakit jantung bawaan (PJB) adalah suatu bentuk kelainan kardiovaskular yang dibawa sejak lahir dan terjadi karena kelainan perkembangan
BAB I PENDAHULUAN. Diare merupakan masalah pada anak-anak di seluruh dunia. Dehidrasi dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diare merupakan masalah pada anak-anak di seluruh dunia. Dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit pada penderita diare sering disebabkan oleh diare itu sendiri dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi merupakan penyulit medis yang sering ditemukan pada kehamilan yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas baik ibu maupun perinatal. Hipertensi dalam
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Penyakit jantung bawaan (PJB) adalah penyakit kardiovaskular yang terjadi
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penyakit Jantung Bawaan Penyakit jantung bawaan (PJB) adalah penyakit kardiovaskular yang terjadi sejak lahir, dimana terjadi anomali perkembangan struktur kardiovaskular seperti
Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 8 Anak menderita HIV/Aids. Catatan untuk fasilitator. Ringkasan Kasus:
Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Bab 8 Anak menderita HIV/Aids Catatan untuk fasilitator Ringkasan Kasus: Krishna adalah seorang bayi laki-laki berusia 8 bulan yang dibawa ke Rumah Sakit dari sebuah
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN S IDENTITAS PASIEN S NAMA: MUH FARRAZ BAHARY S TANGGAL LAHIR: 07-03-2010 S UMUR: 4 TAHUN 2 BULAN ANAMNESIS Keluhan utama :tidak
BAB 1 PENDAHULUAN. kemajuan kesehatan suatu negara. Menurunkan angka kematian bayi dari 34
1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram dan merupakan penyumbang tertinggi angka kematian perinatal dan neonatal. Kematian neonatus
BAB I PENDAHULUAN. Penyebab stenosis mitral paling sering adalah demam rematik, kemudian dapat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Stenosis mitral adalah kondisi dimana terjadi hambatan aliran darah dari atrium kiri ke ventrikel kiri pada fase diastolik akibat penyempitan katup mitral. 1 Penyebab
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. merupakan penyakit nomor satu penyebab kematian di Indonesia dan sekitar 20-
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Prevalensi hipertensi atau tekanan darah di Indonesia cukup tinggi. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) pada tahun 2001 menunjukkan bahwa 8,3% penduduk
Nurcholid Umam Kurniawan
Nurcholid Umam Kurniawan CHANGES IN CIRCULATIONAFTER BIRTH Shift of blood flow for gasexchange from placenta to the lungs 1.Interruption of the umbilical cord Increase of SVR Closure of ductusvenosus
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan suatu kondisi medis yang ditandai dengan meningkatnya konstraksi pembuluh darah arteri sehingga terjadi resistensi aliran
BAB I PENDAHULUAN. jumlah serta tingkat kompleksitasnya. 2. penyakit jantung semakin meningkat. 3 Di Washington, Amerika Serikat,
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit jantung merupakan penyebab utama kematian secara umum dan merupakan penyebab tersering kematian pada kehamilan di negara berkembang. 1 Angka kejadian penyakit
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit jantung bawaan terjadi pada 8 bayi dari. setiap 1000 kelahiran. (Sommer, 2008) Penyakit jantung
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit jantung bawaan terjadi pada 8 bayi dari setiap 1000 kelahiran. (Sommer, 2008) Penyakit jantung bawaan yang paling sering terjadi ialah defek septum ventrikel
MONITORING HEMODINAMIK
MONITORING HEMODINAMIK DEFINISI Hemodinamik adalah aliran darah dalam sistem peredaran tubuh, baik melalui sirkulasi magna (sirkulasi besar) maupun sirkulasi parva ( sirkulasi dalam paru-paru). Monitoring
Tatalaksana Penyakit Jantung Bawaan
Sari Petunjuk Pediatri, Vol. Praktis 2, No. 3, Desember 2000 Sari Pediatri, Vol. 2, No. 3, Desember 2000: 155-162 Tatalaksana Penyakit Jantung Bawaan Mulyadi M. Djer, Bambang Madiyono Penyakit jantung
I. PENDAHULUAN. Hipertensi dikenal secara umum sebagai penyakit kardiovaskular. Penyakit
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hipertensi dikenal secara umum sebagai penyakit kardiovaskular. Penyakit ini diperkirakan menyebabkan 4,5% dari beban penyakit secara global dan prevalensinya hampir
BAB 1 PENDAHULUAN. merupakan pembunuh nomor satu di seluruh dunia. Lebih dari 80% kematian
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit kardiovaskular yang terdiri dari penyakit jantung dan stroke merupakan pembunuh nomor satu di seluruh dunia. Lebih dari 80% kematian terjadi di negara berkembang
Transposisi arteri besar (TAB) merupakan
Artikel Asli Transposisi Arteri Besar: Anatomi, Klinik, Kelainan Penyerta, dan Tipe Sri Endah Rahayuningsih Departemen Ilmu Kesehatan Anak RS Dr. Hasan Sadikin Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran,
Informed Consent Penelitian
62 Lampiran 1. Lembar Kerja Penelitian Informed Consent Penelitian Yth. Bapak/Ibu.. Perkenalkan saya dr. Ahmad Handayani, akan melakukan penelitian yang berjudul Peran Indeks Syok Sebagai Prediktor Kejadian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hasil survei kesehatan nasional pada tahun 2001 menunjukkan bahwa: 26,3% penyebab kematian adalah penyakit jantung dan pembuluh darah, kemudian diikuti oleh penyakit
What should be evaluated by echocardiography in patients after Tetralogy Fallotsurgery
What should be evaluated by echocardiography in patients after Tetralogy Fallotsurgery Sri EndahRahayuningsih MD, PhD Pediatric Department HasanSadikin General Hospital Faculty of Medicine Padjadjaran
BAB I PENDAHULUAN. sering kita jumpai di Intensive Care Unit (ICU) dan biasanya membutuhkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pasien sakit kritis adalah pasien dengan penyakit atau kondisi yang mengancam keselamatan jiwa pasien tersebut. Pasien dengan kondisi semacam ini sering kita jumpai
UKDW BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG. Stroke atau cedera serebrovaskular adalah berhentinya suplai darah ke
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Stroke atau cedera serebrovaskular adalah berhentinya suplai darah ke bagian otak sehingga mengakibatkan hilangnya fungsi otak (Smeltzer & Suzane, 2001). Hal ini dapat
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dari sekian banyak kasus penyakit jantung, Congestive Heart Failure
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dari sekian banyak kasus penyakit jantung, Congestive Heart Failure (CHF) menjadi yang terbesar. Bahkan dimasa yang akan datang penyakit ini diprediksi akan terus bertambah
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Selama penelitian didapatkan subjek penelitian sebesar 37 penderita kritis yang mengalami hiperbilirubinemia terkonjugasi pada hari ketiga atau lebih (kasus) dan 37 penderita
BAB I. Pendahuluan. I.1 Latar Belakang. Angina adalah tipe nyeri dada yang disebabkan oleh. berkurangnya aliran darah ke otot jantung.
BAB I Pendahuluan I.1 Latar Belakang Angina adalah tipe nyeri dada yang disebabkan oleh berkurangnya aliran darah ke otot jantung. Angina seringkali digambarkan sebagai remasan, tekanan, rasa berat, rasa
Hubungan Albumin Serum Awal Perawatan dengan Perbaikan Klinis Infeksi Ulkus Kaki Diabetik di Rumah Sakit di Jakarta
LAPORAN PENELITIAN Hubungan Albumin Serum Awal Perawatan dengan Perbaikan Klinis Infeksi Ulkus Kaki Diabetik di Rumah Sakit di Jakarta Hendra Dwi Kurniawan 1, Em Yunir 2, Pringgodigdo Nugroho 3 1 Departemen
MONITORING HEMODINAMIK TIM ICU INTERMEDIATE ANGKATAN I
MONITORING HEMODINAMIK TIM ICU INTERMEDIATE ANGKATAN I Hemodinamik Aliran darah dalam sistem peredaran tubuh kita baik sirkulasi magna/ besar maupun sirkulasi parva/ sirkulasi dalam paru paru. Monitoring
Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II. Catatan Fasilitator. Rangkuman Kasus:
Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II Catatan Fasilitator Rangkuman Kasus: Agus, bayi laki-laki berusia 16 bulan dibawa ke Rumah Sakit Kabupaten dari sebuah
BAB I PENDAHULUAN. dimungkinkan dengan adanya peningkatan prevalensi penyakit kardiovaskuler
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Penyakit jantung dan pembuluh darah diperkirakan akan menjadi penyebab utama kematian secara menyeluruh dalam waktu lima belas tahun mendatang, meliputi Amerika, Eropa,
Nurcholid Umam Kurniawan
Nurcholid Umam Kurniawan CHANGES IN CIRCULATIONAFTER BIRTH Shift of blood flow for gasexchange from placenta to the lungs 1.Interruption of the umbilical cord Increase of SVR Closure of ductusvenosus
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit ginjal kronik (PGK) adalah suatu proses patofisiologi dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif dan pada umumnya berakhir
DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA PENYAKIT JANTUNG BAWAAN
DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA PENYAKIT JANTUNG BAWAAN Dr. Poppy S. Roebiono, SpJP. Bagian Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler FKUI Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta Penyakit jantung bawaan (PJB)
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Menurut data statistik WHO (World Health Organization) penyakit kardiovaskular mengalami pertumbuhan, diprediksi pada tahun 2020 penyakit kronis akan mencapai
GAMBARAN FAKTOR RISIKO PENYAKIT JANTUNG BAWAAN PADA ANAK DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN. Oleh : BETTY ARNITASARI NABABAN
GAMBARAN FAKTOR RISIKO PENYAKIT JANTUNG BAWAAN PADA ANAK DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN Oleh : BETTY ARNITASARI NABABAN 110100291 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2014 Gambaran Faktor
PERBEDAAN CARDIOTHORACIC RATIO
PERBEDAAN CARDIOTHORACIC RATIO PADA FOTO THORAX STANDAR USIA DI BAWAH 60 TAHUN DAN DI ATAS 60 TAHUN PADA PENYAKIT HIPERTENSI DI RS. PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. yang paling sering dijumpai pada pasien-pasien rawat jalan, yaitu sebanyak
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di negara berkembang, hipertensi telah menggeser penyakit menular sebagai penyebab terbesar mortalitas dan morbiditas. Hal ini dibuktikan hasil Riset Kesehatan Dasar
Sindrom nefrotik (SN) adalah sindrom klinis. Menurunkan Kejadian Relaps
Artikel Asli Menurunkan Kejadian Relaps Reni Wigati, Eka Laksmi Departemen Ilmu Kesehatan Anak, RS Dr Cipto Mangunkusumo, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta Sindrom nefrotik (SN) merupakan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sirkulasi Janin dan Perubahan Setelah Lahir Tali pusat berisi satu vena dan dua arteri. Vena ini menyalurkan oksigen dan makanan dari plasenta ke janin. Sebaliknya, kedua arteri
KAJIAN PENGOBATAN HIPERTENSI DI PUSKESMAS KARANG ASAM SAMARINDA
KAJIAN PENGOBATAN HIPERTENSI DI PUSKESMAS KARANG ASAM SAMARINDA Faisal Ramdani, Nur Mita, Rolan Rusli* Laboratorium Penelitian dan Pengembangan Farmaka Tropis Fakultas Farmasi Universitas Mulawarman, Samarinda
GANGGUAN NAPAS PADA BAYI
GANGGUAN NAPAS PADA BAYI Dr R Soerjo Hadijono SpOG(K), DTRM&B(Ch) Jaringan Nasional Pelatihan Klinik Kesehatan Reproduksi BATASAN Frekuensi napas bayi lebih 60 kali/menit, mungkin menunjukkan satu atau
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di Asia saat ini terjadi perkembangan ekonomi secara cepat, kemajuan industri, urbanisasi dan perubahan gaya hidup seperti peningkatan konsumsi kalori, lemak, garam;
BAB I PENDAHULUAN. Pneumonia merupakan infeksi akut di parenkim paru-paru dan sering
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pneumonia merupakan infeksi akut di parenkim paru-paru dan sering mengganggu pertukaran gas. Bronkopneumonia melibatkan jalan nafas distal dan alveoli, pneumonia lobular
BAB 1 PENDAHULUAN. urutan kedua pada usia diatas 60 tahun dan urutan kelima pada usia 15-59
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan oleh Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki), Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita stroke tertinggi di Asia. Jumlah
Prevalensi hipertensi berdasarkan yang telah terdiagnosis oleh tenaga kesehatan dan pengukuran tekanan darah terlihat meningkat dengan bertambahnya
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit hipertensi atau disebut juga tekanan darah tinggi adalah suatu keadaan ketika tekanan darah di pembuluh darah meningkat secara kronis. Tekanan darah pasien
BAB I PENDAHULUAN. Pola penyakit saat ini telah mengalami perubahan yaitu adanya transisi
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pola penyakit saat ini telah mengalami perubahan yaitu adanya transisi epidemiologi. Secara garis besar proses transisi epidemiologi adalah terjadinya perubahan pola
DIARE AKUT. Berdasarkan Riskesdas 2007 : diare merupakan penyebab kematian pada 42% bayi dan 25,2% pada anak usia 1-4 tahun.
DIARE AKUT I. PENGERTIAN Diare akut adalah buang air besar lebih dari 3 kali dalam 24 jam dengan konsistensi cair dan berlangsung kurang dari 1 minggu. Kematian disebabkan karena dehidrasi. Penyebab terbanyak
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang Stroke adalah sindrom yang terdiri dari tanda dan/atau gejala hilangnya fungsi system saraf pusat fokal (atau global) yang berkembang cepat (dalam hitungan detik atau
jantung dan stroke yang disebabkan oleh hipertensi mengalami penurunan (Pickering, 2008). Menurut data dan pengalaman sebelum adanya pengobatan yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyebab utama morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia saat ini adalah penyakit gagal jantung (Goodman and Gilman, 2011). Menurut data WHO 2013 pada tahun 2008,
BAB I PENDAHULUAN. jantung yang utama adalah sesak napas dan rasa lelah yang membatasi
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gagal jantung adalah sindroma klinis yang kompleks (sekumpulan tanda dan gejala) akibat kelainan struktural dan fungsional jantung. Manifestasi gagal jantung yang
How to Find Current Evidence Best Medicine. Oleh: Sukirno, S.IP., MA.
How to Find Current Evidence Best Medicine Oleh: Sukirno, S.IP., MA. 1 Tujuan Mengenalkan konsep evidence-based practice, jenis pertanyaan klinis dan cara merumuskan pertanyaan berdasarkan metoda PICO
BAB I LATAR BELAKANG. A. Latar Belakang Masalah. Analisis Gas Darah merupakan salah satu alat. diagnosis dan penatalaksanaan penting bagi pasien untuk
BAB I LATAR BELAKANG A. Latar Belakang Masalah Analisis Gas Darah merupakan salah satu alat diagnosis dan penatalaksanaan penting bagi pasien untuk mengetahui status oksigenasi dan keseimbangan asam basa.
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV)/ Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) telah menjadi masalah yang serius bagi dunia kesehatan. Menurut data World Health
ACE Inhibitor di Awal Masa Kehamilan. Web site: Desember 1998 Medsafe Editorial Team
ACE Inhibitor di Awal Masa Kehamilan Web site: Desember 1998 Medsafe Editorial Team Oligohydramnios, gagal ginjal, cacat tulang, dan hippotensi berkepanjangan biasanya terjadi pada usia kehamilan trimester
BAB I PENDAHULUAN. multiorgan, ini disebut septic shock. Sepsis merupakan SIRS (Systemic. tempat infeksi, maka ini disebut dengan sepsis berat.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. Infeksi serius dan kelainan lain yang bukan infeksi seperti pankreatitis, trauma dan pembedahan mayor pada abdomen dan kardiovaskular memicu terjadinya SIRS atau sepsis
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Asfiksia neonatorum merupakan kegawatdaruratan bayi baru lahir berupa gagal nafas secara spontan dan teratur beberapa saat setelah lahir yang ditandai dengan hipoksemia,
Perbedaan Kecepatan Kesembuhan Anak Gizi Buruk yang Diberi Modisco Susu Formula dan Modisco Susu Formula Elemental Di RSU dr.
Sari Pediatri, Sari Vol. Pediatri, 8, No. Vol. 3, Desember 8, No. 3, 2006: Desember 226-2006 230 Perbedaan Kecepatan Kesembuhan Anak Gizi Buruk yang Diberi Modisco Susu Formula dan Modisco Susu Formula
BAB I PENDAHULUAN. Stroke merupakan salah satu sumber penyebab gangguan otak pada. usia masa puncak produktif dan menempati urutan kedua penyebab
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Stroke merupakan salah satu sumber penyebab gangguan otak pada usia masa puncak produktif dan menempati urutan kedua penyebab kematian sesudah penyakit jantung pada
BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan peningkatan angka morbiditas secara global sebesar 4,5 %, dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi dikenal secara luas sebagai penyakit kardiovaskular dimana penderita memiliki tekanan darah diatas normal. Penyakit ini diperkirakan telah menyebabkan peningkatan
BAB I PENDAHULUAN. bervariasi. Insidensi stroke hampir mencapai 17 juta kasus per tahun di seluruh dunia. 1 Di
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stroke masih menjadi pusat perhatian dalam bidang kesehatan dan kedokteran oleh karena kejadian stroke yang semakin meningkat dengan berbagai penyebab yang semakin
BAB I PENDAHULUAN. memfokuskan diri dalam bidang life support atau organ support pada pasienpasien
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Intensive Care Unit (ICU) merupakan cabang ilmu kedokteran yang memfokuskan diri dalam bidang life support atau organ support pasienpasien sakit kritis yang kerap membutuhkan
B A B I PENDAHULUAN. negara-negara maju maupun berkembang. Diantara penyakit-penyakit tersebut,
B A B I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Penyakit kardiovaskular saat ini merupakan penyebab kematian tertinggi di negara-negara maju maupun berkembang. Diantara penyakit-penyakit tersebut, penyakit
DIABETES MELITUS GESTASIONAL
DIABETES MELITUS GESTASIONAL Farid Kurniawan Division of Endocrinology and Metabolism Department of Internal Medicine Faculty of Medicine Universitas Indonesia/Cipto Mangunkusumo General Hospital 1 dari
sebesar 0,8% diikuti Aceh, DKI Jakarta, dan Sulawesi Utara masing-masing sebesar 0,7 %. Sementara itu, hasil prevalensi jantung koroner menurut
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit jantung koroner merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang menyumbang angka kematian terbesar di dunia. Disability-Adjusted Life Years (DALYs) mengatakan
PERAN EKOKARDIOGRAFI DALAM PENEGAKAN DIAGNOSIS DAN PENILAIAN SEVERITAS STENOSIS MITRAL. Basuki Rahmat Fakultas Kedokteran Universitas Mataram
PERAN EKOKARDIOGRAFI DALAM PENEGAKAN DIAGNOSIS DAN PENILAIAN SEVERITAS STENOSIS MITRAL Basuki Rahmat Fakultas Kedokteran Universitas Mataram Abstract Mitral valve stenosis is the morbidity that is still
BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Gagal ginjal kronik (Chronic Kidney Disease) merupakan salah satu penyakit
BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gagal ginjal kronik (Chronic Kidney Disease) merupakan salah satu penyakit tidak menular (non-communicable disease) yang perlu mendapatkan perhatian karena telah
KERACUNAN OKSIGEN. Oleh Diah Puspita Rifasanti I1A Pembimbing: dr. Dwi Setyohadi
Tinjauan Pustaka KERACUNAN OKSIGEN Oleh Diah Puspita Rifasanti I1A009052 Pembimbing: dr. Dwi Setyohadi BAGIAN/SMF ILMU KEDOKTERAN DAN KEHAKIMAN FK UNLAM RSUD ULIN BANJARMASIN Desember, 2013 PENDAHULUAN
