PEDOMAN PENATALAKSANAAN KASUS

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PEDOMAN PENATALAKSANAAN KASUS"

Transkripsi

1 PENANGGULANGAN SARS PEDOMAN PENATALAKSANAAN KASUS DEPARTEMEN KESEHATAN R.I TAHUN 2003

2 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI. i ii BAB I PENDAHULUAN 1 BAB II PENGERTIAN... 2 BAB III TUJUAN UMUM. 4 BAB IV PEDOMAN PENATALAKSANAAN KASUS... 5 A. Tujuan.. 5 B. Sasaran.. 5 C. Langkah-langkah Penatalaksanaan kasus suspect SARS Penatalaksanaan kasus Probable Indikasi Rawat Isolasi Diri/Home Isolation Indikasi Keluar Rumah Sakit Nasehat Pada Pasien Pulang Dari Rumah Sakit Penatalaksanaan Terapi Kasus SARS Penatalaksanaan Kontak 9 9. Follow up penderita 9 BAB V PENUTUP 12 DAFTAR PUSTAKA 13

3 BAB I PENDAHULUAN WHO (Maret 2003) menyatakan perlunya kewaspadaan global suatu penyakit SARS, yang belum teridentifikasi jelas etiologi dan pengobatannya. WHO memberi nama penyakit ini sebagai Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) atau penyakit pernapasan akut berat. Kejadian SARS diberbagai negara periode November 9 April 2003, WHO melaporkan negara-negara terjangkit SARS yaitu : Australia, Belgia, Brazil, China, Hongkong, Taiwan, Perancis, Jerman, Italia, Irlandia, Rumania, Spanyol, Switzerland, United Kingdom, Amerika Serikat, Thailand, Singapore, Malaysia, Vietnam dan lan-lain. Total penderita dengan 103 kematian (CFR = 3,9 %). WHO merekomendasikan setiap orang yang menderita demam panas mendadak untuk menunda perjalanannya sampai sehat kembali dari negara terjangkit affectiv area seperti Kanada (Toronto), Singapura, Cina (Beijing, Guangdong, Hongkong, Shaxi dan Taiwan) serta Vietnam. WHO melaporkan bahwa 30 % kasus SARS terjadi pada petugas kesehatan. Penularan SARS terjadi karena kontak pada saat merawat penderita Di samping itu risiko penularan dapat terjadi pada penderita lain yang sedang dirawat di rumah sakit, anggota keluarga serumah, orang yang menjaga penderita maupun tamu penderita. Dalam mengantisipasi penyakit SARS di Indonesia, Departemen Kesehatan telah menyusun pedoman penanggulangannya. Pedoman Penatalaksanaan Kasus ini, merupakan salah satu dan bagian yang tak terpisahkan dari 7( tujuh) pedoman penanggulangan SARS lainnya.

4 BAB II PENGERTIAN A. DEFINISI Adalah Syndrome pernafasan akut berat yang merupakan penyakit infeksi pada jaringan paru manusia yang sampai saat ini belum diketahui pasti penyebabnya. B. DEFINISI KASUS Secara proposional ada 2 definisi kasus SARS, yaitu suspect dan probable sesuai kriteria WHO. 1. Suspect SARS a. Adalah seseorang yang menderita sakit dengan gejala : Demam Tinggi (>38 0 C), dengan Disertai batuk, sesak nafas / kesulitan bernafas Satu atau lebih keadaan berikut : - Dalam 10 hari terakhir sebelum sakit, mempunyai riwayat kontak erat dengan seseorang yang telah didiagnosis sebagai penderita SARS *) - Dalam 10 hari terakhir sebelum sakit, melakukan perjalanan ke tempat terjangkit SARS **) - Penduduk dari daerah terjangkit. Keterangan: *) Kontak erat adalah orang yang merawat, tinggal serumah atau berhubungan langsung dengan cairan saluran pernafasan maupun atau jaringan tubuh seseorang penderita SARS **) Tempat yang dilaporkan terjangkit SARS adalah sesuai dengan ketetapan WHO sebagai negara terjangkit yang pada tanggal 1 April Canada (Toronto), Singapura, China (Guangdong, Hongkong, Shanxi, Taiwan) dan Vietnam (Hanoi) b. Adalah seseorang yang meninggal dunia sesudah tanggal 1 Nopember 2002 karena mengalami gagal nafas akut yang tidak diketahui penyebabnya dan tidak dilakukan otopsi untuk mengetahui penyebabnya. Pada 10 hari sebelum meninggal, orang tersebut mengalami salah satu atau lebih kondisi dibawah ini, yaitu :

5 1) Kontak erat dengan seseorang yang telah didiagnosa suspect atau probable SARS 2) Riwayat berkunjung ke tempat /negara yang terkena wabah SARS 3) Bertempat tinggal /pernah tinggal di tempat/negara yang terjangkit wabah SARS. 2. Probable SARS Adalah kasus Suspect ditambah dengan gambaran foto toraks menunjukkan tanda-tanda pneumonia atau respiratory distress syndrome, atau seseorang yang meninggal karena penyakit saluran pernafasan yang tidak jelas penyebabnya, dan pada pemeriksaan autopsi ditemukan tanda patologis berupa respiratory distress syndrome yang tidak jelas penyebabnya. C. PENGAMATAN KONTAK Adalah orang yang dalam 10 hari terakhir : 1. Kontak yang jelas (definite contact) dengan penderita SARS suspect atau probable (kontak erat) 2. Kontak yang tak jelas atau mengadakan perjalanan ke negara terjangkit tanpa menunjukkan gejala sakit, atau menderita sakit dengan salah satu gejala demam atau batuk. Terhadap mereka dilakukan pengamatan pengamatan pasif atau aktif. D. ETIOLOGI Penyebab SARS adalah Corona virus atau Paramoxyviridae virus. Etiologi ini sebagai temuan awal yang masih memerlukan penelitian lebih lanjut para ahli. E. MASA INKUBASI Berdasarkan penelitian sementara ditetapkan masa inkubasi 2-10 hari

6 F. CARA PENULARAN Cara penularan penyakit melalui kontak langsung dengan penderita SARS baik karena berbicara, terkena percikan batuk atau bersin ( Droplet Infection ). Penularan melalui udara, misalnya penyebaran udara, ventilasi, dalam satu kendaraan atau dalam satu gedung diperkirakan tidak terjadi, asal tidak kontak langsung berhadapan dengan penderita SARS. Masa penularan dari orang ke orang belum teridentifikasi dengan jelas. Untuk sementara, masa menular adalah mulai saat terdapat demam atau tanda-tanda gangguan pernafasan hingga penyakitnya dinyatakan sembuh. Periode aman dari kemungkinan terjadinya penularan pada unit pelayanan atau pada kelompok masyarakat yang terjangkit KLB SARS adalah setelah lebih dari 14 hari sejak kasus terakhir dinyatakan sembuh. BAB III TUJUAN UMUM Adapun tujuan umum penanggulangan SARS, yaitu: 1. Dapat ditemukan kasus sedini mungkin. 2. Dapat dilakukan tatalaksana kasus. 3. Dapat dicegah transmisi penyebaran SARS.

7 BAB IV PEDOMAN PENATALAKSANAAN KASUS A. Tujuan a. Agar dapat dilakukan penanganan penderita secara baik dan terarah sesuai dengan kaidah kaidah ilmiah. b. Agar dapat dilakukan pengobatan penderita secara baik dan terarah sesuai dengan kaidah kaidah ilmiah. c. Agar dapat dilakukan penanganan jenazah secara baik dan aman bagi petugas dan keluarga. B. Sasaran Penderita yang menunjukkan gejala SARS yang ditetapkan sebagai suspect atau probable. C. Langkah-Langkah 1. Penatalaksanaan kasus suspect SARS a. Kasus dengan gejala SARS melewati triase ( petugas sudah memakai masker N95 ).Untuk segera dikirim ke ruangan pemeriksaan atau bangsal yang sudah disiapkan b. Berikan masker bedah pada penderita c. Petugas yang masuk keruang pemeriksaan sudah memakai penggunaan alat proteksi perorangan ( PAPP ) d. Catat dan dapatkan keterangan rinci mengenai tanda klinis, riwayat perjalanan, riwayat kontak termasuk riwayat munculnya gangguan pernapasan pada kontak sepuluh hari sebelumnya e. Pemeriksaan fisik f. Lakukan pemeriksaan foto toraks dan darah tepi lengkap g. Bila foto toraks normal lihat indikasi rawat atau tetap dirumah, anjurkan untuk melakukan kebersihan diri, tidak masuk kantor / sekolah dan hindari menggunakan angkutan umum selama belum sembuh h. Pengobatan di rumah ; simtomatik, antibiotik bila ada indikasi, vitamin dan makanan bergizi i. Apabila keadaan memburuk segera hubungi dokter j. Bila foto toraks menunjukkan gambaran infiltrat satu sisi atau dua sisi paru dengan atau tanpa infiltrat interstial lihat penatalaksanaan kasus probable

8 2. Penatalaksanaan kasus probable a. Rawat di Rumah Sakit dalam ruang isolasi dengan kasus sejenis b. Pegambilan darah untuk ; darah tepi lengkap, fungsi hati, kreatin fosfokinase, urea, elektrolit, C reaktif protein c. Pengambilan sampel untuk membedakan dari kasus pneumonia tipikal/ atipikal lainnya; - pemeriksaan usap hidung dan tenggorokan, - biakan darah, serologi - urine d. Pemantauan darah 2 hari sekali e. Foto toraks diulang sesuai indikasi klinis f. Pemberian pengobatan lihat penatalaksanaan terapi kasus SARS 3. Indikasi Rawat Penderita SARS yang di rawat inap adalah : a. Suspect SARS dengan riwayat kontak erat (+) b. Suspect SARS dengan gejala klinis berat, yaitu: - Sesak nafas dengan frekuensi nafas 30 kali / menit. - Nadi lebih 100 kali/menit. - Ada gangguan kesadaran - Kondisi umum lemah - Indikasi rawat inap lain ditentukan oleh dokter yang memeriksa penderita c. Probable SARS Perlu diperhatikan dalam perawatan di rumah sakit terhadap SARS adalah : Ruang perawatan penderita suspect SARS harus dibedakan dengan ruang penderita probable SARS. Saat memeriksa dan merawat penderita SARS, petugas medis harus memakai penggunaan alat proteksi perorangan (PAPP). d. Isolasi Diri/Home Isolation Penderita suspect SARS dengan riwayat traveling (+) tetapi tanpa riwayat kontak dan gejala klinis ringan tidak dirawat inap di rumah sakit, akan tetapi dirawat dirumah (home isolation) Tindakan yang harus dilakukan selama home isolation atau isolasi dirumah adalah : - Penderita harus dirumah sampai demam hilang dan selalu menggunakan masker sampai 14 hari sesudah dua hari bebas panas. - Alat makan dan minumnya dipisahkan dari alat makan dan minum anggauta keluarga yang lain. - Penderita harus diukur suhu tubuhnya setiap 8 jam sekali. Bila dalam dua kali pengukuran terjadi kenaikan suhu tubuh mencapai 38 o C, maka penderita harus segera dikirim ke rumah sakit. - Minum obat yang diberikan sesuai petunjuk

9 - Anggota keluarga yang merawat penderita dan tinggal serumah, harus memakai masker. - Anggota keluarga yang merawat penderita harus mencuci tangan setelah merawat penderita - Apabila ada anggota keluarga lain yang menderita demam selama penderita masih sakit sampai dengan 10 hari setelah penderita dinyatakan sembuh maka harus segera memeriksakan diri ke rumah sakit dan selalu menggunakan masker. e. Indikasi Keluar Rumah Sakit 1) Tidak panas selama 48 jam 2) Tidak batuk 3) Leukosit kembali normal 4) Trombosit kembali normal 5) CPK kembali normal 6) Uji fungsi hati kembali normal 7) Sodium plasma kembali normal 8) Perbaikan X-foto toraks f. Nasehat Pada Pasien Pulang Dari Rumah Sakit a. Setelah kembali dirumah dinasehatkan tetap harus Home Isolation (lihat point tindakan yang harus dilakukan selama isolasi diri/home Isolation ) b. Tujuh hari setelah pulang ke rumah penderita diharuskan kontrol ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan darah lengkap, X-foto toraks dan uji lain yang abnormal c. Minimum 14 hari setelah pulang, pasien baru diperbolehkan masuk kerja/sekolah. g. Penatalaksanaan Terapi Kasus SARS a. Suspek SARS yang dirawat 1) Isolasi 2) Perhatikan : - Keadaan umum - Kesadaran - Tanda vital (tensi, nadi, frekuensi napas, suhu) 3) Terapi suportif 4) Antibiotik : β laktam atau β laktam + Anti β laktamase oral ditambah makrolid generasi baru oral (roksitromisin, klaritromisin, azitromisin)

10 b. Probable SARS 1) Ringan / sedang - Terapi suportif - Antibiotik Golongan β laktam + anti β laktamase ( intravena ) ditambah makrolid generasi baru oral ATAU Sefalosporin G2, G3 (intravena), ditambah makrolid generasi baru oral ATAU Fluorokuinolon respirasi (intravena) : Moxifloxacin, Levofloxacin, Gatifloxacin 2) Berat - Terapi suportif - Antibiotik Tidak ada faktor risiko infeksi pseudomonas : sefalosporin G3 non pseudomonas ( intravena ) ditambah makrolid generasi baru oral ATAU fluorokuinolon respirasi (intravena) Ada faktor risiko infeksi pseudomonas : sefalosporin anti pseudomonas (seftazidim, sefoperazon, sefipim) / karbapenem (intravena) ditambah luorokuinolon anti pseudomonas (siprofloksasin, levofloksasin) intravena/ aminoglikosida intravena ditambah makrolid generasi baru oral - Kortikosteroid Hidrokortison ( intravena ) 4 mg / kg BB tiap 8 jam, tapering atau metilprednisolon ( intravena ) mg tiap hari - Ribavirin 1,2 gr oral tiap 8 jam atau 8 mg / kg BB intravena tiap 8 jam Keterangan : Kriteria pneumonia berat salah satu diantara ini : Frekuensi napas > 30 x /menit PaO 2 / FiO 2 < 250 mmhg Foto toraks paru kelainan bilateral Foto toraks paru melibatkan lebih dari dua lobus Tekanan sistolik < 90 mmhg Tekanan diastolik < 60 mmhg

11 Risiko infeksi pseudomonas Bronkiektasis Pengobatan kortikosteroid lebih dari 10 mg/hari Pengobatan antibiotik spektrum luas lebih dari 7 hari pada bulan terakhir Gizi kurang Indikasi pemberian kortikosteroid dan anti virus (Ribavirin) Pneumonia SARS berat Setelah 24 jam diberikan antibiotik tidak respon Terdapat komorbid 8. Penatalaksanaan Kontak a. Kontak Dengan Kasus Suspek - Berikan informasi mengenai SARS pada kontak - Passive Surveillance selama sepuluh hari - Aktifitas kontak tak terbatas - Jika timbul gejala klinis, segera menghubungi fasilitas - kesehatan - Gejala yang timbul pertama : panas b. Kontak Dengan Kasus Probable - Berikan informasi mengenai SARS pada kontak - Active Surveillance selama sepuluh hari - Telepon atau kunjungi oleh tim surveillance - Catat suhu tubuh setiap hari - Aktifitas kontak tak terbatas - Jika timbul gejala klinis, segera menghubungi fasilitas kesehatan - Gejala yang timbul pertama : panas 9. Follow up penderita Istirahat dirumah selama 7 hari, selama itu tinggal dalam kamar, usahakan seminimal mungkin kontak dengan orang Dipantau & dicatat suhu tubuh 2 X/ hari, jika suhu tubuh 38 0 C atau lebih atau ada gejala saluran napas maka segera kontrol Kontrol kembali ke RS tempat dirawat 7 hari setelah pulang; foto toraks, hitung darah lengkap dan pemeriksaan darah lainnya jika ada riwayat abnormal Pemeriksaan serologi diulang 3 minggu setelah sakit Dokter yang menentukan apakah pasien sudah tidak perlu isolasi 10. Penatalaksanaan Jenazah Kasus Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS)

12 Beberapa pedoman untuk perawatan jenazah kasus SARS adalah sebagai berikut: a. Tindakan Di ruangan 1) Luruskan tubuh, tutup mata, telinga dan mulut dengan kapas 2) Lepaskan alat kesehatan yang terpasang 3) Setiap luka harus diplester rapat 4) Tutup semua lubang tubuh dengan plester kedap air 5) Membersihkan jenazah perhatikan beberapa hal : Petugas yang membersihkan sudah mengetahui cara membersihkan sudah mengetahui mayat yang infeksius. Petugas menggunakan pelindung : - Sebaiknya menggunakan masker penutup mulut. - Harus menggunakan sarung tangan karet. - Sebaiknya menggunakan apron / untuk melindungi tubuh dalam keadaan tertentu. Menggunakan air pencuci yang telah dibubuhi bahan desinfektan Mencuci tangan dengan sabun setelah membersihkan jenazah (sebelum sarung tangan dilepaskan dan sesudah sarung tangan dilepaskan). 6) Pasang label identitas jenazah pada kaki. 7) Keluarga/teman diberi kesempatan untuk melihat jenazah 8) Memberitahukan kepada petugas kamar jenazah bahwa jenazah adalah penderita penyakit menular 9) Jenazah dikirimkan ke kamar jenazah. b. Tindakan Di kamar Jenazah 1) Jenazah dimandikan oleh petugas kamar jenazah yang telah mengetahui cara memandikan jenazah yang infeksius. Petugas yang memandikan sudah memahami cara membersihkan/memandikan mayat yang infeksius. Petugas sebaiknya menggunakan pelindung : - sebaiknya menggunakan masker penutup mulut - sebaiknya kaca mata pelindung mata - harus menggunakan sarung tangan karet - sebaiknya menggunakan apron/baju khusus untuk melindungi tubuh dalam keadaan tertentu - sebaiknya memakai sepatu lars sampai lutut (sepatu boot) Menggunakan air pencuci yang telah dibubuhi desinfektan, antara lain kaporit. Mencuci tangan dengan sabun setelah membersihkan jenazah (sebelum dan sesudah sarung tangan dilepaskan)

13 Selanjutnya jenazah dibungkus dengan kain kafan atau kain pembungkus lain sesuai dengan kepercayaan/agamanya. 2) Segera mencuci kulit dan permukaan lain dengan air bila terkena darah atau cairan tubuh lain. 3) Dilarang menutup atau memanipulasi jarum suntik, buang dalam wadah khusus alat tajam 4) Sampah dan bahan terkontaminasi lainnya ditempatkan dalam tas plastik 5) Pembuangan sampah dan bahan terkontaminasi dilakukan sesuai dengan tujuan mencegah infeksi 6) Setiap percikan atau tumpahan darah di permukaan segera dibersihkan dengan larutan desinfektans, misalnya klorin 0.5 % 7) Peralatan yang akan digunakan kembali harus diproses dengan urutan: dekontaminasi, pembersihan, disinfeksi dan sterilisasi. 8) Jenazah yang sudah dibungkus tidak boleh dibuka 9) Jenazah tidak boleh dibalsam, disuntik untuk pengawetan dan diautopsi kecuali oleh petugas khusus. 10) Dalam hal tertentu, autopsi hanya dapat dilakukan setelah mendapatkan persetujuan dari pimpinan RS

14 BAB V PENUTUP Demikianlah telah dijabarkan panduan penanggulangan SARS di Indonesia. Pedoman Penatalaksanaan Kasus ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi seluruh jajaran kesehatan baik di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota dalam penaggulangan penyakit SARS. Semoga bermanfaat adanya. Amin

15 DAFTAR PUSTAKA 1. Kepmenkes Nomor 424/MENKES/SK/IV/2003, tentang Penetapan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) sebagai penyakit yang dapat menimbulkan wabah dan pedoman penanggulangannya, WHO Western Pacific Regional Office, Interim guidelines for national SARS preparedness, Website : WHO int, SARS, Website : CDC s int, SARS, 2003 LAMPIRAN

16 1. Laporan Hasil Pelacakan Laporan Hasil Pelacakan Hasil Investigasi dilaporkan secepatnya kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Dinas Kesehatan Propinsi dan Subdit. Surveilans Epidemiologi, Ditjen PPM&PL, Departemen Kesehatan. Hasil investigasi disertai dengan rekomendasi tindakan penanggulangan yang harus dilakukan di rumah keluarga penderita dan masyarakat, di rumah sakit atau unit pelayanan kesehatan dan tindakan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Identitas anggota Tim, beserta nomor telepon dan yang dapat dihubungi tercantum dalam laporan. Format laporan investigasi meliputi : 1. Pendahuluan, Tujuan,Hasil Investigasi a. Penyelidikan di Masyarakat Lokasi kejadian dengan menunjukkan dalam peta Kabupaten/Kota Klasifikasi SARS (terkontak, diduga, sangat diduga atau sangat kuat diduga) Lokasi kasus dan hubungan antara satu kasus dengan kasus lain. Data epidemiologi diskriptif Pembahasan perkembangan KLB SARS dan kemungkinan terjadinya penyebarannya. Rekomendasi terhadap penderita dan keluarga Rekomendasi upaya penanggulangan oleh Dinas Kesehatan Lampirkan format pelacakan yang telah diisi. b. Penyelidikan di Unit Pelayanan Lokasi kejadian dengan menunjukkan dalam peta Kabupaten/Kota Lokasi tempat tinggal kasus dan hubungannya antara satu kasus dengan kasus lain serta klasifikasi SARS (terkontak, diduga, sangat diduga atau sangat kuat diduga) Pembahasan perkembangan KLB SARS dan kemungkinan terjadinya penyebarannya. Rekomendasi, baik terhadap penderita, keluarga, maupun rekomendasi upaya penanggulangan oleh Dinas Kesehatan

17 2. Lampiran : formulir isian kasus SARS dan foto kopi dokumen medik Rumah Sakit atau pemeriksaan lain, sebagai bahan pembahasan tim verifikasi Pusat. Investigasi dapat dilakukan berulangkali atau secara berkala sesuai dengan kebutuhan. Investigasi lebih intensif dengan melibatkan tenaga ahli yang lebih besar bila diperlukan.

18 a. Jeraring Informasi Surveilans Epidemiologi Nasional Penanggulangan SARS JEJARING INFORMASI SURVEILANS EPIDEMIOLOGI NASIONAL PENANGGULANGAN SEVERE ACUTE RESPIRATORY SYNDROME (SARS) MENKES RS PROPINSI/ (SK MENKES 424) DINKES PROPINSI DITJEN PPM&PL A. KAB/KOTA DINKES KAB/ KOTA K K P INDUK MASYAR AKAT PUSKESMAS WILKER KKP ALUR PELAPORAN ALUR UMPAN BALIK ALUR RUJUKAN KASUS

19 3. Rumah Sakit Rujuan RUMAH SAKIT RUJUKAN SARS LOKASI RUMAH SAKIT NO. TELPON Medan RS. Pirngadi/Adam Malik Batam RS. Otorita Batam Tanjung Balai Karimun RS. RSUD Dumai RSUD Dumai Tembilahan RSUD Tanjung Pinang RSUD Jakarta RSPI Sulianti Saroso Solo RS Muwardi Surabaya RS Soetomo Pontianak RS Sudarso Tarakan RSUD Tarakan Balikpapan RSU Makasar RS Dr Wahidin Sudiri Husodo Manado RS Malalayang Denpasar RS Sanglah

20 4. Formulir Kasus SARS Formulir Kasus Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) D. E. Tanggal membuat laporan : Nomor Identitas :

21 A. Identitas Unit Pelayanan Nama Dokter Pemeriksa : Nomor Telp, HP dan ,, Nama Unit Pelayanan : Nomor telp dan Faks Unit Pelayanan :, Alamat Unit Pelayanan : Kabupaten/Kota dan Propinsi :, Tanggal dan Jam Pemeriksaan :, B. Identitas Penderita Nama Penderita, Orang Tua :, Nomor telepon yang dapat dihubungi :, Alamat (ditulis dengan teliti) :

22 RT/RW, Kelurahan, Kecamatan Kabupaten/Kota : : 1. Jenis Kelamin : / /, C. Data Demografi Propinsi 2. Tanggal Lahir (hari/bulan/tahun) / / atau umur (tahun) 3. Negara tempat tinggal 4. Warga Negara 5. Suku Bangsa 6. Pekerjaan : a. Tenaga Kesehatan Ya Tidak Tidak diketahui bila tidak, pekerjaan D. Gejala-Gejala 1. Tanggal timbul gejala (hari/bulan/tahun) / / 2. Suhu Badan > 38 C Ya Tidak Tidak diketahui 3. Batuk Ya Tidak Tidak diketahui 4. Sukar Bernafas Ya Tidak Tidak diketahui 5. Respiratory Distress Syndrome Ya Tidak Tidak diketahui E. Hasil Rontgen Thorax 1. Adakah tanda-tanda Pneumoni atau Ya Tidak Tidak diketahui Respiratory Distress Syndrome 2. Adakah respon terhadap pengobatan antimikroba Ya Tidak Tidak diketahui

23 F. Riwayat Perawatan Rumah Sakit Apakah pernah ke Fasilitas Kesehatan Ya Tidak Tidak diketahui pada saat timbul gejala-gejala Bila ya, Nama Rumah Sakit/Puskesmas : Kota : Tanggal Masuk Rumah Sakit/Puskesmas (hari/bulan/tahun) : / / diketahui diketahui diketahui diketahui Apakah Penderita diisolasi Ya Tidak Tidak Apakah ruang perawatan Penderita Ya Tidak Tidak menggunakan sistem Ventilasi Udara Bila Ya, apakah penderita saat ini masih Ya Tidak Tidak menggunakan sistem Ventilasi Udara Apakah penderita dirawat di Ya Tidak Tidak Intensive Care Unit (ICU) Apabila penderita tidak dirawat, Ya Tidak Tidak diketahui apakah diisolasi di rumah (Apabila lebih dari satu unit pelayanan yang merawat, maka dibuat tambahan dalam lembar terpisah) G. Riwayat Terpapar 1. Sebelum timbul gejala penyakit, apakah penderita Ya Tidak Tidak diketahui pernah kontak dengan penderita SARS, baik probable atau suspek Bila ya, Kab/kota, Provinsi dan Negara :,, Tanggal kontak pertama (hari/bulan/tahun) : / / Tanggal kontak terakhir (hari/bulan/tahun) : / / 2. Apakah dalam 14 hari terakhir sebelum timbul gejala, Ya Tidak Tidak diketahui berkunjung di suatu affected area (sesuai dengan penetapan WHO dalam

24 Bila ya, nama negara : Nama Hotel atau tempat tinggal lain : Tanggal tiba / / tanggal pulang / / Alamat Hotel atau tempat tinggal lain : Nama, nomor dan tanggal transportasi ke Indonesia : 3. Apakah dalam 14 hari terakhir sebelum timbul gejala, Ya Tidak Tidak diketahui berkunjung keluar negeri selain negara yang di atas Bila ya, sebutkan negara-negara tersebut : 1. tanggal tiba / / tanggal pulang / / 2. tanggal tiba / / tanggal pulang / / 3. tanggal tiba / / tanggal pulang H. Khusus Penderita Meninggal 1. Tidak ada penjelasan bahwa penyebab kematian Ya Tidak Tidak diketahui karena penyakit pernafasan / / 2. Apakah ada otopsi Ya Tidak Tidak diketahui Bila ya, apakah hasil pemeriksaan otopsi menunjukkan Ya Tidak Tidak diketahui Respiratory Distress Syndrome Yang tidak diketahui penyebabnya

25 I. Pelacakan Kontak Apakah dilakukan pelacakan Kontak Ya Tidak Tidak diketahui Bila ya, apakah Kontak tersebut berada di wilayah lain Ya Tidak Tidak diketahui Bila ya, apakah petugas kesehatan di tempat tinggal Ya Tidak Tidak diketahui Kontak sudah diberitahu J. Klasifikasi Kasus (saat pertama ditemukan) Suspek Probable K. Klasifikasi Kasus Saat Laporan Dibuat Suspek Probable Bukan SARS Tanggal Klasifikasi / / L. Klasifikasi Kasus Final (Keluar Rumah Sakit) Suspek Probable Bukan SARS Tanggal Klasifikasi / / M. Status Final Sembuh, jika penderita dirawat di rumah sakit Tanggal keluar RS / / Meninggal Tanggal / / Pindah ketempat lain sementara penderita masih sakit : Evakuasi Medis Ya Tidak Tanggal pindah / / Jenis dan nomor kendaraan Tempat Pindah Pindah Tanpa keterangan Tanggal / / Tembusan : Subdit Surveilans Epidemiologi, Ditjen PPM & PL, Departemen Kesehatan RI, faksimili (021) [email protected], tembusan [email protected]

26 Tanggal Timbulnya Gejala SARS Gejala Sakit Kepala Nyeri Otot/mialgia Pusing/pening Kaku otot (Rigors) Batuk Sakit tenggorokan Demam panas Nafas pendek-pendek Tidak enak badan Hilang nafsu makan Bercak kemerahan Muntah Diare Gejala lain : Gejala lain :. Hasil pemeriksaan (Tanda) Denyut nadi Suhu Tekanan darah Frekuensi Pernafasan oxygen saturation Pemeriksaan lain :.. Peemriksaan lain : Temuan Radiologi : Temuan Radiologi :..

27 Hasil Pemeriksaan Laboratorium (Disertai dengan catatan nilai pada kondisi normal dan tidak normal) Jumlah sel darah putih (leukosit) Jumlah sel limfosit prothrombin time platelet count ALT (SGPT) LDH GGT (SGOT) APPT CPK CRP Pemeriksaan lain (tulis) Diagnostic specimens yang dilakukan (tulis) Hasil Diagnostic specimen yang Positive (tulis) Tanggal Pemeriksaan Laboratorium Dilakuakan Pengobatan Antiviral : (tulis dosis dan cara pemberian) Ribavarin Tamiflu Lain-lain (tulis) Antimikroba: Tulis : steroid Pengobatan lain : misal Oksigen, ventilasi, inotropes Keadaan Penderita Perbaikan/Meninggal/Menetap

28 Formulir Surveilans Kontak SARS Nama Kasus SARS (indeks) : Kabupaten/Kota : Tanggal Mulai Timbul gejala : /, Propinsi : No Nama Status Kontak *) Tanggal Kontak Tanggal Monitoring Kontak Keterangan Kolom 3, status kontak adalah keluarga, sekolah, tempat kerja, atau lainnya Kolom 4, tanggal kontak adalah tanggal dimana Kontak terkontak dengan penderita SARS indeks pada waktu penderita sudah timbul gejala Kolom 5 16 diisi tanggal dan hasil monitoring terhadap kondisi kontak sejak kontak terakhir dengan penderita SARS sampai 14 hari kemudian, hasil monitoring diisikan dengan 0 = tidak timbul gejala (sehat), 1 = suhu lebih atau sama 38 0 C, 2 = batuk/sesak nafas

29

30

PEDOMAN KEWASPADAAN UNIVERSAL BAGI PETUGAS KESEHATAN

PEDOMAN KEWASPADAAN UNIVERSAL BAGI PETUGAS KESEHATAN PENANGGULANGAN SARS PEDOMAN KEWASPADAAN UNIVERSAL BAGI PETUGAS KESEHATAN DEPARTEMEN KESEHATAN R.I TAHUN 2003 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... i ii BAB I PENDAHULUAN... 1 BAB II PENGERTIAN...

Lebih terperinci

PEDOMAN SURVEILANS EPIDEMIOLOGI PENYAKIT SARS

PEDOMAN SURVEILANS EPIDEMIOLOGI PENYAKIT SARS PENANGGULANGAN SARS PEDOMAN SURVEILANS EPIDEMIOLOGI PENYAKIT SARS DEPARTEMEN KESEHATAN R.I TAHUN 2003 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... i ii BAB I PENDAHULUAN... 1 BAB II PENGERTIAN... 2 BAB III

Lebih terperinci

Jika tidak terjadi komplikasi, penyembuhan memakan waktu 2 5 hari dimana pasien sembuh dalam 1 minggu.

Jika tidak terjadi komplikasi, penyembuhan memakan waktu 2 5 hari dimana pasien sembuh dalam 1 minggu. Virus Influenza menempati ranking pertama untuk penyakit infeksi. Pada tahun 1918 1919 perkiraan sekitar 21 juta orang meninggal terkena suatu pandemik influenza. Influenza terbagi 3 berdasarkan typenya

Lebih terperinci

Pedoman Surveilans dan Respon Kesiapsiagaan Menghadapi Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-COV) untuk Puskesmas di Kabupaten Bogor

Pedoman Surveilans dan Respon Kesiapsiagaan Menghadapi Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-COV) untuk Puskesmas di Kabupaten Bogor Pedoman Surveilans dan Respon Kesiapsiagaan Menghadapi Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-COV) untuk Puskesmas di Kabupaten Bogor DINAS KESEHATAN KABUPATEN BOGOR 2014 Pedoman Surveilans

Lebih terperinci

RAPAT DENGAR PENDAPAT KEMENKES DENGAN PANJA KESEHATAN HAJI KOMISI IX DPR - RI

RAPAT DENGAR PENDAPAT KEMENKES DENGAN PANJA KESEHATAN HAJI KOMISI IX DPR - RI RAPAT DENGAR PENDAPAT KEMENKES DENGAN PANJA KESEHATAN HAJI KOMISI IX DPR - RI (Penjelasan ttg MERS CoV) Tanggal 27 Agustus 2013 Pengertian MERS CoV MERS CoV adalah singkatan dari Middle East Respiratory

Lebih terperinci

KESIAPSIAGAAN MENGAHADAPI MERS-CoV

KESIAPSIAGAAN MENGAHADAPI MERS-CoV KESIAPSIAGAAN MENGAHADAPI MERS-CoV ( Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus) DINAS KESEHATAN PROVINSI BALI MERS-CoV adalah singkatan dari Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus. Virus ini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Novel Corona Virus yang berjangkit di Saudi Arabia sejak bulan maret 2012, sebelumnya tidak pernah ditemukan di dunia. Oleh karena itu berbeda karekteristik dengan

Lebih terperinci

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PERAWATAN JENAZAH

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PERAWATAN JENAZAH STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PERAWATAN JENAZAH 1. Pengertian Perawatan jenazah adalah perawatan pasien setelah meninggal, perawatan termasuk menyiapkan jenazah untuk diperlihatkan pada keluarga, transportasi

Lebih terperinci

SPO PEMULASARAN JENAZAH. No. Revisi: 02. No. Dokumen: Halaman : 1/2. Diterbitkan Direktur, Tanggal Terbit : 01 Januari 2012

SPO PEMULASARAN JENAZAH. No. Revisi: 02. No. Dokumen: Halaman : 1/2. Diterbitkan Direktur, Tanggal Terbit : 01 Januari 2012 PEMULASARAN JENAZAH 29..01 1/2 Diterbitkan Direktur, dr. Badrul Munir Jauhari Pengertian Tujuan Kebijakan Pemulasaran jenazah adalah proses perawatan jenazah yang meliputi kegiatan memandikan, mengkafani,

Lebih terperinci

INFO TENTANG H7N9 1. Apa virus influenza A (H7N9)?

INFO TENTANG H7N9 1. Apa virus influenza A (H7N9)? INFO TENTANG H7N9 1. Apa virus influenza A (H7N9)? Virus influenza A H7 adalah kelompok virus influenza yang biasanya beredar di antara burung. Virus influenza A (H7N9) adalah salah satu sub-kelompok di

Lebih terperinci

SEVERE ACUTE RESPIRATORY SYNDROME

SEVERE ACUTE RESPIRATORY SYNDROME SEVERE ACUTE RESPIRATORY SYNDROME SARS ICD-10 U04.9 (PROVISIONAL) 1. Identifikasi - SARS pertama kali dikenal pada bulan Februari 2003. Penyebabnya adalah coronavirus. Penyakit dengan gejala infeksi saluran

Lebih terperinci

Disampaikan pada Pertemuan Ilmiah Tahunan Nasional Ikatan Perawat Dialisis Indonesia (IPDI) Palembang, 17 Oktober 2014

Disampaikan pada Pertemuan Ilmiah Tahunan Nasional Ikatan Perawat Dialisis Indonesia (IPDI) Palembang, 17 Oktober 2014 Disampaikan pada Pertemuan Ilmiah Tahunan Nasional Ikatan Perawat Dialisis Indonesia (IPDI) Palembang, 17 Oktober 2014 PENDAHULUAN KEWASPADAAN ISOLASI PELAKSANAAN PPI DI RS & FASILITAS PETUNJUK PPI UNTUK

Lebih terperinci

Nomer Station 1 Judul Station Perawatan Jenazah di RS Waktu yang

Nomer Station 1 Judul Station Perawatan Jenazah di RS Waktu yang Nomer Station 1 Judul Station Perawatan Jenazah di RS Waktu yang 7 menit dibutuhkan Tujuan station Menilai kemampuan prosedur perawatan jenazah HIV/AIDS di RS Area kompetensi 1. Komunikasi efektif pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah DBD merupakan penyakit menular yang disebabkan virus dengue. Penyakit DBD tidak ditularkan secara langsung dari orang ke orang, tetapi ditularkan kepada manusia

Lebih terperinci

PENANGANAN INFLUENZA DI MASYARAKAT (SARS, H5N1, H1N1, H7N9)

PENANGANAN INFLUENZA DI MASYARAKAT (SARS, H5N1, H1N1, H7N9) PENANGANAN INFLUENZA DI MASYARAKAT (SARS, H5N1, H1N1, H7N9) INFLUENZA (FLU BURUNG, H1N1,SARS) Merupakan New Emerging Disease Penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza tipe A yang ditularkan

Lebih terperinci

Swine influenza (flu babi / A H1N1) adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus Orthomyxoviridae.

Swine influenza (flu babi / A H1N1) adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus Orthomyxoviridae. Arie W, FKM Undip FLU BABI PIG FLU SWINE FLU Terbaru : Influensa A H1N1 Swine influenza (flu babi / A H1N1) adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus Orthomyxoviridae. Bersifat wabah

Lebih terperinci

FLU BURUNG AVIAN FLU BIRD FLU. RUSDIDJAS, RAFITA RAMAYATI dan OKE RINA RAMAYANI

FLU BURUNG AVIAN FLU BIRD FLU. RUSDIDJAS, RAFITA RAMAYATI dan OKE RINA RAMAYANI FLU BURUNG AVIAN FLU AVIAN INFLUENZA BIRD FLU RUSDIDJAS, RAFITA RAMAYATI dan OKE RINA RAMAYANI VIRUS INFLUENZA Virus famili orthomyxoviridae Tipe A,B,C Virus A dan B penyebab wabah pada manusia Virus C

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 59 TAHUN 2016 TENTANG PEMBEBASAN BIAYA PASIEN PENYAKIT INFEKSI EMERGING TERTENTU

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 59 TAHUN 2016 TENTANG PEMBEBASAN BIAYA PASIEN PENYAKIT INFEKSI EMERGING TERTENTU PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 59 TAHUN 2016 TENTANG PEMBEBASAN BIAYA PASIEN PENYAKIT INFEKSI EMERGING TERTENTU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Buletin ini dapat memantau tujuan khusus SIBI antara lain :

Buletin ini dapat memantau tujuan khusus SIBI antara lain : BULETIN SURVEILANS ISPA BERAT DI INDONESIA (SIBI) : April 2014 Data masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring dengan penerimaan laporan Ringkasan Berdasarkan laporan sampai dengan tanggal 31 Maret

Lebih terperinci

BULETIN SURVEILANS ISPA BERAT DI INDONESIA (SIBI) : Januari 2014 Data masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring dengan penerimaan laporan

BULETIN SURVEILANS ISPA BERAT DI INDONESIA (SIBI) : Januari 2014 Data masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring dengan penerimaan laporan BULETIN SURVEILANS ISPA BERAT DI INDONESIA (SIBI) : Januari 2014 Data masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring dengan penerimaan laporan Ringkasan Berdasarkan laporan sampai dengan tanggal 31

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Infeksi nosokomial merupakan problem klinis yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Infeksi nosokomial merupakan problem klinis yang sangat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Infeksi nosokomial merupakan problem klinis yang sangat penting pada saat sekarang ini, karena akan menambah masa perawatan pasien di rumah sakit sekaligus akan memperberat

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Sasaran pembangunan milenium (Millennium Development Goals/MDGs)

BAB 1 PENDAHULUAN. Sasaran pembangunan milenium (Millennium Development Goals/MDGs) BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sasaran pembangunan milenium (Millennium Development Goals/MDGs) yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pemerintah Indonesia, berbeda dengan Indonesia

Lebih terperinci

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT MODUL - 2 PENILAIAN DAN KLASIFIKASI ANAK SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT MODUL - 2 PENILAIAN DAN KLASIFIKASI ANAK SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT MODUL - 2 PENILAIAN DAN KLASIFIKASI ANAK SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN PENDAHULUAN Seorang ibu akan membawa anaknya ke fasilitas kesehatan jika ada suatu masalah atau

Lebih terperinci

PENUNTUN SKILLS LAB BLOK 4.3 ELEKTIF Topik 2.A KESEHATAN INTERNASIONAL DAN KARANTINA

PENUNTUN SKILLS LAB BLOK 4.3 ELEKTIF Topik 2.A KESEHATAN INTERNASIONAL DAN KARANTINA PENUNTUN SKILLS LAB BLOK 4.3 ELEKTIF Topik 2.A KESEHATAN INTERNASIONAL DAN KARANTINA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2016 1. PANDUAN KESELAMATAN UNTUK PETUGAS KESEHATAN I. Pengantar Panduan

Lebih terperinci

A. Kesimpulan. Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian diatas, dapat disimpulkan beberapa hal antaralain lain:

A. Kesimpulan. Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian diatas, dapat disimpulkan beberapa hal antaralain lain: DAN SARAN BAB IV KESIMPULAN KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian diatas, dapat disimpulkan beberapa hal antaralain lain: 1. Kontak dengan penderita TB sebelumnya

Lebih terperinci

Frequent Ask & Questions (FAQ) MERS CoV untuk Masyarakat Umum

Frequent Ask & Questions (FAQ) MERS CoV untuk Masyarakat Umum Frequent Ask & Questions (FAQ) MERS CoV untuk Masyarakat Umum Apa itu MERS CoV? Mers CoV adalah singkatan dari Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (Sindrom pernapasan Timur Tengah karena Virus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. Pemberantasan penyakit. berperanan penting dalam menurunkan angka kesakitan

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. Pemberantasan penyakit. berperanan penting dalam menurunkan angka kesakitan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan kesehatan merupakan bagian dari pembangunan nasional yang dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan serta ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. kepercayaan, kita dihadapkan lagi dengan sebuah ancaman penyakit dan kesehatan,

BAB 1 PENDAHULUAN. kepercayaan, kita dihadapkan lagi dengan sebuah ancaman penyakit dan kesehatan, BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada saat negara kita baru mulai bangkit dari krisis, baik krisis ekonomi, hukum dan kepercayaan, kita dihadapkan lagi dengan sebuah ancaman penyakit dan kesehatan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Infeksi saluran napas bawah masih tetap merupakan masalah utama dalam bidang kesehatan, baik di negara yang sedang berkembang maupun yang sudah maju. Data

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia. ISPA dapat diklasifikasikan menjadi infeksi saluran

Lebih terperinci

RSCM KEWASPADAAN. Oleh : KOMITE PPIRS RSCM

RSCM KEWASPADAAN. Oleh : KOMITE PPIRS RSCM KEWASPADAAN ISOLASI Oleh : KOMITE PPIRS RSCM POKOK BAHASAN Pendahuluan Definisi Kewaspadaan Transmisi Etika batuk Menyuntik yang aman Prosedur lumbal pungsi Kelalaian - kelalaian Tujuan Setelah pelatihan

Lebih terperinci

UNIVERSAL PRECAUTIONS Oleh: dr. A. Fauzi

UNIVERSAL PRECAUTIONS Oleh: dr. A. Fauzi UNIVERSAL PRECAUTIONS Oleh: dr. A. Fauzi Pendahuluan Sejak AIDS dikenal; kebijakan baru yang bernama kewaspadaan universal atau universal precaution dikembangkan. Kebijakan ini menganggap bahwa setiap

Lebih terperinci

BULETIN SURVEILANS ISPA BERAT DI INDONESIA (SIBI) : Maret 2014 Data masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring dengan penerimaan laporan

BULETIN SURVEILANS ISPA BERAT DI INDONESIA (SIBI) : Maret 2014 Data masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring dengan penerimaan laporan BULETIN SURVEILANS ISPA BERAT DI INDONESIA (SIBI) : Maret 2014 Data masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring dengan penerimaan laporan Ringkasan Berdasarkan laporan sampai dengan tanggal 1 Maret

Lebih terperinci

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 8 Anak menderita HIV/Aids. Catatan untuk fasilitator. Ringkasan Kasus:

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 8 Anak menderita HIV/Aids. Catatan untuk fasilitator. Ringkasan Kasus: Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Bab 8 Anak menderita HIV/Aids Catatan untuk fasilitator Ringkasan Kasus: Krishna adalah seorang bayi laki-laki berusia 8 bulan yang dibawa ke Rumah Sakit dari sebuah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perwujudan kualitas lingkungan yang sehat merupakan bagian pokok di bidang kesehatan. Udara sebagai komponen lingkungan yang penting dalam kehidupan perlu dipelihara

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KARANGASEM DINAS KESEHATAN

PEMERINTAH KABUPATEN KARANGASEM DINAS KESEHATAN PEMERINTAH KABUPATEN KARANGASEM DINAS KESEHATAN Jalan : A. Yani Galiran ( 80811 ) (0363) 21065 Fax. (0363) 21274 AMLAPURA LAPORAN PENYELIDIKAN KLB CAMPAK DI DUSUN BELONG DESA BAN KECAMATAN KUBU KABUPATEN

Lebih terperinci

BAB I DEFINISI. APD adalah Alat Pelindung Diri.

BAB I DEFINISI. APD adalah Alat Pelindung Diri. BAB I DEFINISI APD adalah Alat Pelindung Diri. Pelindung yang baik adalah yang terbuat dari bahan yang telah diolah atau bahan sintetik yang tidak tembus air atau cairan lain (darah atau cairan tubuh).

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) selalu merupakan beban

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) selalu merupakan beban BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) selalu merupakan beban masalah kesehatan masyarakat terutama ditemukan di daerah tropis dan subtropis. DBD banyak ditemukan di

Lebih terperinci

Bagian XIII Infeksi Nosokomial

Bagian XIII Infeksi Nosokomial Bagian XIII Infeksi Nosokomial A. Tujuan Pembelajaran 1. Menjelaskan pengertian infeksi nosokomial 2. Menjelaskan Batasan infeksi nosocomial 3. Menjelaskan bagaimana proses terjadinya infeksi nosocomial

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Selama ini pengertian konsep surveilans epidemiologi sering di pahami hanya sebagai kegiatan pengumpulan dana dan penanggulangan KLB, pengertian seperti itu menyembunyikan

Lebih terperinci

Infeksi yang diperoleh dari fasilitas pelayanan kesehatan adalah salah satu penyebab utama kematian dan peningkatan morbiditas pada pasien rawat

Infeksi yang diperoleh dari fasilitas pelayanan kesehatan adalah salah satu penyebab utama kematian dan peningkatan morbiditas pada pasien rawat BAB 1 PENDAHULUAN Setiap kegiatan yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi dan berkesinambungan untuk memelihara dan atau meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit,

Lebih terperinci

Demam sekitar 39?C. Batuk. Lemas. Sakit tenggorokan. Sakit kepala. Tidak nafsu makan. Muntah. Nyeri perut. Nyeri sendi

Demam sekitar 39?C. Batuk. Lemas. Sakit tenggorokan. Sakit kepala. Tidak nafsu makan. Muntah. Nyeri perut. Nyeri sendi Flu Burung DEFINISI Flu burung didefinisikan sebagai penyakit yang disebabkan oleh virus influenza A subtipe H5N1 yang menyerang burung, ungggas, ayam yang dapat menyerang manusia dengan gejala demam >38?C,

Lebih terperinci

PENATALAKSANAAN ASMA EKSASERBASI AKUT

PENATALAKSANAAN ASMA EKSASERBASI AKUT PENATALAKSANAAN ASMA EKSASERBASI AKUT Faisal Yunus Bagian Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI - RS Persahabatan Jakarta PENDAHULUAN Asma penyakit kronik saluran napas Penyempitan saluran napas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Demam typhoid adalah suatu penyakit infeksi sistemik bersifat akut pada usus halus yang disebabkan oleh Salmonella enterica serotype typhi (Salmonella typhi) (Kidgell

Lebih terperinci

13 CAKUPAN PENEMUAN DAN PENANGANAN PENDERITA PENYAKIT. a. Acute Flacid Paralysis (AFP) rate per penduduk < 15 tahun

13 CAKUPAN PENEMUAN DAN PENANGANAN PENDERITA PENYAKIT. a. Acute Flacid Paralysis (AFP) rate per penduduk < 15 tahun 13 CAKUPAN PENEMUAN DAN PENANGANAN PENDERITA PENYAKIT a. Acute Flacid Paralysis (AFP) rate per 100.000 penduduk < 15 tahun 1) Pengertian a) Kasus AFP adalah semua anak berusia kurang dari 15 tahun dengan

Lebih terperinci

Materi Penyuluhan Konsep Tuberkulosis Paru

Materi Penyuluhan Konsep Tuberkulosis Paru 1.1 Pengertian Materi Penyuluhan Konsep Tuberkulosis Paru Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi kronis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sampai dengan lima tahun. Pada usia ini otak mengalami pertumbuhan yang

BAB I PENDAHULUAN. sampai dengan lima tahun. Pada usia ini otak mengalami pertumbuhan yang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Anak dibawah lima tahun atau balita adalah anak berada pada rentang usia nol sampai dengan lima tahun. Pada usia ini otak mengalami pertumbuhan yang sangat

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan beban global. terutama di negara berkembang seperti Indonesia adalah diare.

BAB 1 PENDAHULUAN. saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan beban global. terutama di negara berkembang seperti Indonesia adalah diare. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Anak umur bawah lima tahun (balita) merupakan kelompok umur yang rawan gizi dan rawan penyakit, terutama penyakit infeksi (Notoatmodjo, 2011). Gangguan kesehatan

Lebih terperinci

Gejala Penyakit CAMPAK Hari 1-3 : Demam tinggi. Mata merah dan sakit bila kena cahaya. Anak batuk pilek Mungkin dengan muntah atau diare.

Gejala Penyakit CAMPAK Hari 1-3 : Demam tinggi. Mata merah dan sakit bila kena cahaya. Anak batuk pilek Mungkin dengan muntah atau diare. PENYAKIT CAMPAK Apakah setiap bintik-bintik merah yang muncul di seluruh tubuh pada anak balita merupakan campak? Banyak para orangtua salah mengira gejala campak. Salah perkiraan ini tak jarang menimbulkan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. terhadap infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat pasien

BAB 1 PENDAHULUAN. terhadap infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat pasien 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Mutu pelayanan kesehatan khususnya pelayanan keperawatan di rumah sakit dapat dinilai melalui berbagai indikator, salah satunya adalah melalui penilaian terhadap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menimbulkan berbagai spektrum penyakit dari tanpa gejala atau infeksi ringan

BAB I PENDAHULUAN. menimbulkan berbagai spektrum penyakit dari tanpa gejala atau infeksi ringan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit saluran pernapasan atas atau bawah, yang disebabkan oleh agen infeksius yang dapat menimbulkan berbagai

Lebih terperinci

PENILAIAN DAN KLASIFIKASI ANAK SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN

PENILAIAN DAN KLASIFIKASI ANAK SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN PENILAIAN DAN KLASIFIKASI ANAK SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN Oleh : Dr. Azwar Djauhari MSc Disampaikan pada : Kuliah Blok 21 Kedokteran Keluarga Tahun Ajaran 2011 / 2012 Program Studi Pendidikan Dokter

Lebih terperinci

A. Formulir Pelacakan Kasus AFP

A. Formulir Pelacakan Kasus AFP Format 7.1 FP1 A. Formulir Pelacakan Kasus AFP Kabupaten/kota: Propinsi: Nomor EPID: Laporan dari : 1. RS:... Tanggal laporan diterima: I. Identitas Penderita 3. Dokter praktek : 2. Puskesmas:... 4. Lainnya

Lebih terperinci

PENANGANAN DAN PENCEGAHAN TUBERKULOSIS. Edwin C4

PENANGANAN DAN PENCEGAHAN TUBERKULOSIS. Edwin C4 PENANGANAN DAN PENCEGAHAN TUBERKULOSIS Edwin 102012096 C4 Skenario 1 Bapak M ( 45 tahun ) memiliki seorang istri ( 43 tahun ) dan 5 orang anak. Istri Bapak M mendapatkan pengobatan TBC paru dan sudah berjalan

Lebih terperinci

PANDUAN PENGGUNAAN APD DI RS AT TUROTS AL ISLAMY YOGYAKARTA

PANDUAN PENGGUNAAN APD DI RS AT TUROTS AL ISLAMY YOGYAKARTA PANDUAN PENGGUNAAN APD DI RS AT TUROTS AL ISLAMY YOGYAKARTA A. LATAR BELAKANG Petugas pelayanan kesehatan setiap hari dihadapkan kepada tugas yang berat untuk bekerja dengan aman dalam lingkungan yang

Lebih terperinci

PENYELIDIKAN KEJADIAN LUAR BIASA DI GIANYAR. Oleh I MADE SUTARGA PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA 2015

PENYELIDIKAN KEJADIAN LUAR BIASA DI GIANYAR. Oleh I MADE SUTARGA PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA 2015 PENYELIDIKAN KEJADIAN LUAR BIASA DI GIANYAR 2015 Oleh I MADE SUTARGA PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA 2015 1 BAB VI PENYELIDIKAN KEJADIAN LUAR BIASA DI GIANYAR

Lebih terperinci

Penyebab, gejala dan cara mencegah polio Friday, 04 March :26. Pengertian Polio

Penyebab, gejala dan cara mencegah polio Friday, 04 March :26. Pengertian Polio Pengertian Polio Polio atau poliomyelitis adalah penyakit virus yang sangat mudah menular dan menyerang sistem saraf. Pada kondisi penyakit yang bertambah parah, bisa menyebabkan kesulitan 1 / 5 bernapas,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Alat kesehatan meliputi barang, instrumen atau alat lain yang termasuk tiap komponen, bagian atau perlengkapannya yang diproduksi, dijual atau dimaksudkan untuk digunakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Pembangunan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan kesehatan merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari tujuan dan upaya pemerintah dalam memberikan arah pembangunan ke depan bagi bangsa Indonesia.

Lebih terperinci

Pengendalian infeksi

Pengendalian infeksi Pengendalian infeksi Medis asepsis atau teknik bersih Bedah asepsis atau teknik steril tindakan pencegahan standar Transmisi Berbasis tindakan pencegahan - tindakan pencegahan airborne - tindakan pencegahan

Lebih terperinci

Strategi Pencegahan dan Pengendalian Infeksi untuk Prosedur Khusus di Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Strategi Pencegahan dan Pengendalian Infeksi untuk Prosedur Khusus di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Strategi Pencegahan dan Pengendalian Infeksi untuk Prosedur Khusus di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Infeksi Saluran Pernapasan Akut yang cenderung menjadi epidemi dan pandemi Pedoman Acuan Ringkas Ucapan

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.127, 2013 KEMENTERIAN KESEHATAN. Keracunan Pangan. Kejadian Luar Biasa. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG KEJADIAN LUAR BIASA

Lebih terperinci

Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) merupakan salah satu bagian dari kewaspadaan standar.

Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) merupakan salah satu bagian dari kewaspadaan standar. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) merupakan salah satu bagian dari kewaspadaan standar. Penggunaan APD perlu pengawasan karena dengan penggunaan APD yang tidak tepat akan menambah cost TUJUAN PENGGUNAAN

Lebih terperinci

Panduan Identifikasi Pasien

Panduan Identifikasi Pasien Panduan Identifikasi Pasien IDENTIFIKASI PASIEN 1. Tujuan Mendeskripsikan prosedur untuk memastikan tidak terjadinya kesalahan dalam identifikasi pasien selama perawatan di rumah sakit. Mengurangi kejadian

Lebih terperinci

Mengapa disebut sebagai flu babi?

Mengapa disebut sebagai flu babi? Flu H1N1 Apa itu flu H1N1 (Flu babi)? Flu H1N1 (seringkali disebut dengan flu babi) merupakan virus influenza baru yang menyebabkan sakit pada manusia. Virus ini menyebar dari orang ke orang, diperkirakan

Lebih terperinci

KUESIONER PENGARUH PROMOSI KESEHATAN TERHADAP PERILAKU PENCEGAHAN TUBERKULOSIS PARU DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS 1 DAN RUMAH TAHANAN KELAS 1 MEDAN

KUESIONER PENGARUH PROMOSI KESEHATAN TERHADAP PERILAKU PENCEGAHAN TUBERKULOSIS PARU DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS 1 DAN RUMAH TAHANAN KELAS 1 MEDAN KUESIONER PENGARUH PROMOSI KESEHATAN TERHADAP PERILAKU PENCEGAHAN TUBERKULOSIS PARU DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS 1 DAN RUMAH TAHANAN KELAS 1 MEDAN NOMOR RESPONDEN PETUNJUK PENGISIAN KUESIONER Berikut

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 311/MENKES/SK/V/2009 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 311/MENKES/SK/V/2009 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 311/MENKES/SK/V/2009 TENTANG PENETAPAN PENYAKIT FLU BARU H1N1 (MEXICAN STRAIN) SEBAGAI PENYAKIT YANG DAPAT MENIMBULKAN WABAH MENTERI KESEHATAN REPUBLIK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang merupakan salah satu masalah kesehatan. anak yang penting di dunia karena tingginya angka

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang merupakan salah satu masalah kesehatan. anak yang penting di dunia karena tingginya angka BAB I PENDAHULUAN Pneumonia 1.1 Latar Belakang merupakan salah satu masalah kesehatan anak yang penting di dunia karena tingginya angka kesakitan dan angka kematiannya, terutama pada anak berumur kurang

Lebih terperinci

PANDUAN MANAJEMEN RESIKO PUSKESMAS CADASARI PEMERINTAH KABUPATEN PANDEGLANG DINAS KESEHATAN UPT PUSKESMAS CADASARI

PANDUAN MANAJEMEN RESIKO PUSKESMAS CADASARI PEMERINTAH KABUPATEN PANDEGLANG DINAS KESEHATAN UPT PUSKESMAS CADASARI PANDUAN MANAJEMEN RESIKO PUSKESMAS CADASARI PEMERINTAH KABUPATEN PANDEGLANG DINAS KESEHATAN UPT PUSKESMAS CADASARI Jl. Raya Serang Km. 5, Kec. Cadasari Kab. Pandeglang Banten DAFTAR ISI BAB I MANAJEMEN

Lebih terperinci

Lampiran 1. Universitas Sumatera Utara

Lampiran 1. Universitas Sumatera Utara Lampiran 1 110 Lampiran 2 111 112 Lampiran 3 KUESIONER PENELITIAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KINERJA PETUGAS TB (TUBERCULOSIS) DI RUMAH SAKIT YANG TELAH DILATIH PROGRAM HDL (HOSPITAL DOTS LINGKAGE)

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. hidup bersih dan sehat, mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu, adil

BAB 1 PENDAHULUAN. hidup bersih dan sehat, mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu, adil BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan kesehatan di Indonesia diarahkan untuk mencapai masa depan dimana bangsa Indonesia hidup dalam lingkungan sehat, penduduknya berperilaku hidup bersih dan

Lebih terperinci

PANDUAN RUANG ISOLASI DI RUMAH SAKIT SAIFUL ANWAR MALANG

PANDUAN RUANG ISOLASI DI RUMAH SAKIT SAIFUL ANWAR MALANG PANDUAN RUANG ISOLASI DI RUMAH SAKIT SAIFUL ANWAR MALANG TIM PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI RSUD DR. SAIFUL ANWAR MALANG BAB I DEFINISI RUANG ISOLASI A. Definisi Ruang Isolasi Ruang isolasi adalah

Lebih terperinci

PENGUMPULAN DAHAK SPS DI RAWAT INAP No. Dokumen No. Revisi Halaman 1 / 1 RSKB RAWAMANGUN STANDAR PROSEDUR OPERASION AL. dr, Elviera Darmayanti, MM

PENGUMPULAN DAHAK SPS DI RAWAT INAP No. Dokumen No. Revisi Halaman 1 / 1 RSKB RAWAMANGUN STANDAR PROSEDUR OPERASION AL. dr, Elviera Darmayanti, MM PENGUMPULAN DAHAK SPS DI RAWAT INAP OPERASION AL dr, Elviera Darmayanti, MM PENGERTIAN Pengambilan dahak sebagai penunjang penegakan diagnosa TB dengan pemeriksaan 3 spesimen Sewaktu Pagi Sewaktu (SPS)

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. diberikan antibiotik pada saat dirawat di rumah sakit. Dari jumlah rekam medik

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. diberikan antibiotik pada saat dirawat di rumah sakit. Dari jumlah rekam medik A. Hasil Penelitian BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian ini telah dilakukan di RSU Puri Asih Salatiga pada tanggal 23-25 Januari 2017. Data penelitian diperoleh dari 67 rekam medis pasien

Lebih terperinci

MACAM-MACAM PENYAKIT. Nama : Ardian Nugraheni ( C) Nifariani ( C)

MACAM-MACAM PENYAKIT. Nama : Ardian Nugraheni ( C) Nifariani ( C) Nama : Ardian Nugraheni (23111307C) Nifariani (23111311C) MACAM-MACAM PENYAKIT A. Penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue) 1) Pengertian Terjadinya penyakit demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu permasalahan kesehatan utama di Indonesia yang mempengaruhi tingginya angka mortalitas dan morbiditas.

Lebih terperinci

Lampiran 1 INSTRUMEN INFECTION CONTROL SELF ASSESSMENT TOOL (ICAT)

Lampiran 1 INSTRUMEN INFECTION CONTROL SELF ASSESSMENT TOOL (ICAT) LAMPIRAN Lampiran 1 INSTRUMEN INFECTION CONTROL SELF ASSESSMENT TOOL (ICAT) MODUL PENGELOLAAN LIMBAH Pertanyaan-pertanyaan ini harus dilengkapi oleh staf yang akrab dengan praktek-praktek pengelolaan limbah

Lebih terperinci

Informasi penyakit ISPA

Informasi penyakit ISPA Informasi penyakit ISPA ISPA ISPA merupakan penyakit infeksi akut yang melibatkan salah satu atau lebih dari organ saluran pernapasan, hidung, sinus, faring dan laring. ISPA mencakup: tonsilitis (amandel),

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1479/MENKES/SK/X/2003 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1479/MENKES/SK/X/2003 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1479/MENKES/SK/X/2003 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN SISTEM SURVEILANS EPIDEMIOLOGI PENYAKIT MENULAR DAN PENYAKIT TIDAK MENULAR TERPADU MENTERI KESEHATAN

Lebih terperinci

1. Pentingnya patient safety adalah a. Untuk membuat pasien merasa lebih aman b. Untuk mengurangi risiko kejadian yang tidak diharapkan Suatu

1. Pentingnya patient safety adalah a. Untuk membuat pasien merasa lebih aman b. Untuk mengurangi risiko kejadian yang tidak diharapkan Suatu 1. Pentingnya patient safety adalah a. Untuk membuat pasien merasa lebih aman b. Untuk mengurangi risiko kejadian yang tidak diharapkan Suatu kejadian yang mengakibatkan cedera yang tidak diharapkan pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Ancaman penyakit yang berkaitan dengan higiene dan sanitasi khususnya

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Ancaman penyakit yang berkaitan dengan higiene dan sanitasi khususnya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ancaman penyakit yang berkaitan dengan higiene dan sanitasi khususnya yang berkaitan dengan makanan dan minuman masih menjadi masalah yang paling sering ditemukan di

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit infeksi dan penyakit menular merupakan masalah yang masih dihadapi oleh negara-negara berkembang.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit infeksi dan penyakit menular merupakan masalah yang masih dihadapi oleh negara-negara berkembang. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit infeksi dan penyakit menular merupakan masalah yang masih dihadapi oleh negara-negara berkembang. Seperti halnya di Indonesia, penyakit infeksi masih merupakan

Lebih terperinci

PENERAPAN STRATEGI DOTS DI RUMAH SAKIT HBS MODUL F HDL 1

PENERAPAN STRATEGI DOTS DI RUMAH SAKIT HBS MODUL F HDL 1 PENERAPAN STRATEGI DOTS DI RUMAH SAKIT HBS MODUL F HDL 1 RUMAH SAKIT PERLU DOTS? Selama ini strategi DOTS hanya ada di semua puskesmas. Kasus TBC DI RS Banyak, SETIDAKNYA 10 BESAR penyakit, TETAPI tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. serta pengobatan penyakit banyak digunakan alat-alat ataupun benda-benda

BAB I PENDAHULUAN. serta pengobatan penyakit banyak digunakan alat-alat ataupun benda-benda BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rumah sakit merupakan suatu organisasi melalui tenaga medis professional yang teroganisir serta sarana kedokteran yang permanen menyelenggarakan pelayanan kedokteran,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Demam tifoid (enteric fever) merupakan penyakit infeksi akut pada saluran cerna yang disebabkan oleh bakteri gram negatif Salmonella enterica serotipe Typhi. Bila

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. (WHO, 2002). Infeksi nosokomial (IN) atau hospital acquired adalah

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. (WHO, 2002). Infeksi nosokomial (IN) atau hospital acquired adalah BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1.Infeksi nosokomial 1.1 Pengertian infeksi nosokomial Nosocomial infection atau yang biasa disebut hospital acquired infection adalah infeksi yang didapat saat klien dirawat di

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN 54 BAB IV HASIL PENELITIAN Bab ini membahas hasil penelitian pada setiap variabel yang sudah direncanakan. Proses pengambilan data dilakukan di RSUD Tidar kota Magelang dari 30 Desember 2015 sampai 7 Januari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (40 60%), bakteri (5 40%), alergi, trauma, iritan, dan lain-lain. Setiap. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2013).

BAB I PENDAHULUAN. (40 60%), bakteri (5 40%), alergi, trauma, iritan, dan lain-lain. Setiap. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2013). 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Faringitis merupakan peradangan dinding faring yang disebabkan oleh virus (40 60%), bakteri (5 40%), alergi, trauma, iritan, dan lain-lain. Setiap tahunnya ± 40 juta

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Kewaspadaan universal (Universal Precaution) adalah suatu tindakan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Kewaspadaan universal (Universal Precaution) adalah suatu tindakan BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kewaspadaan Umum/Universal Precaution 2.1.1. Defenisi Kewaspadaan universal (Universal Precaution) adalah suatu tindakan pengendalian infeksi yang dilakukan oleh seluruh tenaga

Lebih terperinci

PANDUAN PELAYANAN DOTS TB RSU DADI KELUARGA TAHUN 2016

PANDUAN PELAYANAN DOTS TB RSU DADI KELUARGA TAHUN 2016 PANDUAN PELAYANAN DOTS TB RSU DADI KELUARGA TAHUN 2016 RUMAH SAKIT UMUM DADI KELUARGA Jl. Sultan Agung No.8A Purwokerto Tahun 2016 BAB I DEFINISI Sampai saat ini, Rumah Sakit di luar negeri termasuk di

Lebih terperinci

AVIAN INFLUENZA. Dr. RINALDI P.SpAn Bagian Anestesi/ICU Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof.DR.Sulianti Saroso

AVIAN INFLUENZA. Dr. RINALDI P.SpAn Bagian Anestesi/ICU Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof.DR.Sulianti Saroso AVIAN INFLUENZA Dr. RINALDI P.SpAn Bagian Anestesi/ICU Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof.DR.Sulianti Saroso Flu burung atau Avian Influenza adalah jenis influenza pada binatang yang sebenarnya telah ditemukan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Mycobacterium tuberculosis dan menular secara langsung. Mycobacterium

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Mycobacterium tuberculosis dan menular secara langsung. Mycobacterium BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Etiologi dan Patogenesis Tuberkulosis Paru Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan menular secara langsung. Mycobacterium

Lebih terperinci

BAB III RESUME KEPERAWATAN

BAB III RESUME KEPERAWATAN BAB III RESUME KEPERAWATAN A. PENGKAJIAN 1. Identitas pasien Pengkajian dilakukan pada hari/ tanggal Selasa, 23 Juli 2012 pukul: 10.00 WIB dan Tempat : Ruang Inayah RS PKU Muhamadiyah Gombong. Pengkaji

Lebih terperinci

PEDOMAN PENGAMBILAN DAN PEMERIKSAAN SPESIMEN

PEDOMAN PENGAMBILAN DAN PEMERIKSAAN SPESIMEN PENANGGULANGAN SARS PEDOMAN PENGAMBILAN DAN PEMERIKSAAN SPESIMEN DEPARTEMEN KESEHATAN R.I TAHUN 2003 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... i ii BAB I PENDAHULUAN... 1 BAB II PENGERTIAN... 2 BAB III

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. bawah 5 tahun dibanding penyakit lainnya di setiap negara di dunia. Pada tahun

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. bawah 5 tahun dibanding penyakit lainnya di setiap negara di dunia. Pada tahun BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pneumonia merupakan penyakit yang banyak membunuh anak usia di bawah 5 tahun dibanding penyakit lainnya di setiap negara di dunia. Pada tahun 2004, sekitar

Lebih terperinci

2014 AEA International Holdings Pte. Ltd. All rights reserved. 1

2014 AEA International Holdings Pte. Ltd. All rights reserved. 1 2014 AEA International Holdings Pte. Ltd. All rights reserved. 1 VIRUS EBOLA 25 August 2014 Indonesian Bahasa Informationini telah disusun untuk tujuan pendidikan kesehatan dan bukan pengganti saran medis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULIAN. Tuberculosis paru (TB paru) adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman

BAB I PENDAHULIAN. Tuberculosis paru (TB paru) adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman BAB I PENDAHULIAN 1.1 Latar Belakang Tuberculosis paru (TB paru) adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman mycobakterium tuberculosis, kuman yang berukuran satu sampai lima micrometer, penyebarannya lewat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mikroorganisme dapat terjadi melalui darah, udara baik droplet maupun airbone,

BAB I PENDAHULUAN. mikroorganisme dapat terjadi melalui darah, udara baik droplet maupun airbone, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Rumah sakit sebagai tempat pengobatan, juga merupakan sarana pelayanan kesehatan yang dapat menjadi sumber infeksi dimana orang sakit dirawat dan ditempatkan

Lebih terperinci

STANDAR PPI 1 PPI 1.1 PPI 2 PPI 3 PPI 4 PPI 5 PPI 6 PPI 6.1

STANDAR PPI 1 PPI 1.1 PPI 2 PPI 3 PPI 4 PPI 5 PPI 6 PPI 6.1 D NO 1 2 3 4 STANDAR PPI 1 PPI 1.1 5 6 PPI 2 7 8 9 PPI 3 10 11 12 PPI 4 13 14 15 PPI 5 16 17 18 19 20 PPI 6 21 22 23 PPI 6.1 24 25 26 PPI 6.2 27 28 29 PPI 7 30 31 32 33 PPI 7.1 34 35 36 37 38 PPI 7.2 39

Lebih terperinci