NOMINA KOSMIS DALAM BAHASA JAWA
|
|
|
- Yenny Hermawan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 NOMINA KOSMIS DALAM BAHASA JAWA Oleh: Ashari Hidayat Jurusan Ilmu Budaya FISIP Universitas Jenderal Soedirman Jl. Kampus Lapangan Grendeng Purwokerto Abstract Cosmic nouns in Javanese language are a group of nouns, which refers to astronomic and geographic notion. This research aims at describing its morphologic and syntactic characteristics. This research uses distributional and equivalent method. The data is collected from everyday use of language as well as its variety of the language, literature, and dictionary. The astronomic nouns refer to "sun", "moon", and "star". The geographic nouns refer to location and direction. Morphologically, cosmic nouns can be in the form of simple noun or complex noun from affixation. Some can be reduplicated while others can t. Some demonstrative and negation of Javanese language can be jointed with cosmic nouns. Syntactically, cosmic nouns can be in phrasal form. The dominant phrasal form, which emerges, has endocentric relation having center form which is clarified by peripheral form. Based on its references, astronomic and geographic nouns are categorized into specific and general noun. The complexity of cosmic noun is bound to the number as well as distance of the referent noun. The result of this research shows that cosmic nouns have its unique characteristics compared to other nouns. Nomina kosmis dalam bahasa Jawa adalah sekelompok nomina yang merujuk kepada makna astronomis dan geografis. Penelitian ini mendeskripsikan karakteristik morfologis dan sintaksis nomina kosmis dalam bahasa Jawa. Metode yang dipergunakan adalah metode distribusional dengan teknik hubung banding. Data diambil dari berbagai variasi pemakaian bahasa Jawa keseharian, ragam sastra, dan kamus. Nomina kosmis
2 Nomina Kosmis dalam Bahasa Jawa geografis merujuk kepada bulan dan bintang. Secara morfologis, nomina kosmis ini dapat berupa bentuk sederhana atau kompleks setelah mendapat afiksasi. Beberapa jenis nomina kosmis dapat mengalami reduplikasi. Beberapa aspek demonstratif dan negasi dalam bahasa Jawa dapat bergabung dengan nomina kosmis ini. Secara sintaksis, nomina kosmis dapat hadir dalam bentuk konstruksi frasal. Klausa utama dalam konstruksi frasa nomina kosmis bersifat endosentris mempunyai unsur pusat yang diperjelas oleh unsur tambahan. Berdasarkan rujukannya, nomina kosmis jenis astronomis dan geografis dikategorikan ke dalam sifat generik dan spesifik. Kompleksitas rujukan nomina kosmis berkaitan dengan aspek jumlah dan jarak. Dari hasil penelitian ini ditunjukkan bahwa nomina kosmis memiliki kekhasan dan karakteristik yang berbeda dengan nomina jenis lain dalam bahasa Jawa. Kata kunci: nomina kosmis; astronomi; geografi. A. PENDAHULUAN Konsep kosmis tradisional masyarakat Jawa terwakili oleh sejumlah kata benda atau nomina penunjuk benda-benda geografis maupun astronomis. Berkaitan dengan hal itu, bahasa Jawa memiliki sejumlah nomina yang merupakan representasi dari konsep kosmis masyarakat Jawa. Dewasa ini, beberapa kata masih dipakai penutur bahasa Jawa dan sebagian lagi hanya dipergunakan dalam ragam susastra. Nomina atau kata benda merupakan kelas kata yang produktif dalam bahasa Jawa. Beberapa penelitian telah dilakukan terhadap nomina bahasa Jawa. Penelitian tersebut bersifat deskriptif yang menghubungkan nomina dengan kajian umum morfologi maupun secara khusus memerikan perilaku dan komponen penandanya, seperti penelitian yang pernah dilakukan oleh Poedjosoedarmo (1979), Wedhawati et al. (1981), dan Gina (1986). Nomina penggolong konsep kosmis dalam bahasa Jawa ini menarik untuk dikaji lebih lanjut karakteristiknya karena SK Akreditasi No: 64a/DIKTI/Kep/
3 Ashari Hidayat memiliki kekhasan perilaku bila dibandingkan dengan jenis nomina yang lain. Pembahasan dalam makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik dan perilaku morfologis sintaktis nomina kosmis. Data dalam penelitian diambil dari pemakaian bahasa Jawa dalam ragam susastra, kamus bahasa Jawa, dan pemakaian bahasa Jawa keseharian. Metode Agih (Sudaryanto, 1993: 39) dipergunakan untuk mendeskripsikan konstruksi dasar nomina hingga kaitannya dengan konstituen lain yang berfungsi sebagai pewatasnya. Pelaksanaan metode distribusional tersebut dilakukan dengan beberapa teknik lanjutannya, seperti pengulangan dan perluasan bentuk, untuk menguji keberterimaan nomina kosmis. Di samping itu, untuk menentukan rujukan nomina kosmis dipergunakan metode padan dengan teknik pilah unsur penentu yang mengandalkan daya pilah referensial (Sudaryanto, 1993: 21) dengan sarana intuisi kebahasaan peneliti sebagai penutur bahasa Jawa yang memahami pemakaian sekelompok nomina tersebut. Model analisis mempergunakan cara kerja penanganan data morfologis yang berupa satuan morfem (Ramlan, 1985: 75; Bauer, 1988: 109) dan sebagai satuan leksem (Kridalaksana, 1987: 80). Dalam makalah ini, nomina yang berasal dari bahasa Jawa ragam krama tidak dipisahkan secara khusus dengan nomina yang berasal dari ragam ngoko karena analisisnya berfokus pada tingkatan konstruksi formal dan belum menghubungkannya dengan aspek semantisnya secara mendalam atau sosiokultural yang melatarbelakangi pemakaian kata tersebut. B. NOMINA KOSMIS ASTRONOMIS Nomina kosmis penunjuk konsep astronomis (untuk selanjutnya akan disebut nomina astronomis) dalam bahasa Jawa dapat berupa nomina dasar yang memiliki karakteristik sebuah morfem bebas yang tidak dapat digunakan untuk membentuk kelas kata lain. Kata srengenge matahari dan surya matahari tidak dapat digunakan sebagai dasar pembentuk verba menjadi *nyrengenge 366 Adabiyyāt, Vol. IX, No. 2, Desember 2010
4 Nomina Kosmis dalam Bahasa Jawa bermatahari dan *nyurya bermatahari. Hal itu tentunya berbeda dengan nomina lor utara dan wetan timur yang dapat berubah menjadi verba ngalor menuju utara dan ngetan menuju timur. Seperti dikemukakan oleh Kridalaksana (2005: 71) bahwa nomina tidak bernyawa dapat meliputi penggolong benda, tempat dan arah. Kriteria nomina penggolong benda-benda yang berkait dengan konsep geografis juga berhubungan dengan perihal benda-benda antariksa yang dapat diamati dari bumi. Srengenge matahari, rembulan bulan, dan lintang bintang yang dalam bahasa Jawa disebut dengan sejumlah kata beserta variasinya akan menunjukkan karakteristik tersendiri dibandingkan dengan subkategorisasi nomina lainnya. Dalam bahasa Jawa, nomina astronomis ini tersebar dalam tingkat tutur ngoko maupun krama yang masing-masing pemakaiannya disesuaikan dengan konteks situasional. Uraian lebih lanjut tentang nomina astronomis dideskripsikan sebagai berikut. 1. Nomina Penunjuk Matahari Karakteristik nomina astronomis penunjuk matahari ini adalah generik dan tunggal karena bendanya hanya satu. Nomina penunjuk matahari ini antara lain. srengenge surya aditya baskara bagaskara pratanggapati matahari matahari matahari matahari matahari matahari Kata srengenge merupakan nomina yang paling sering dipergunakan oleh penutur bahasa Jawa dalam ragam ngoko. Kata penunjuk matahari yang lain, seperti surya, aditya, baskara, bagaskara, dan pratanggapati merupakan nomina yang termasuk SK Akreditasi No: 64a/DIKTI/Kep/
5 Ashari Hidayat dalam ragam krama. Nomina yang termasuk dalam ragam krama ini lebih sering dijumpai pemakaiannya dalam ragam susastra. 2. Nomina Penunjuk Bulan Nomina astronomis penunjuk bulan memiliki karakter yang sama dengan nomina penunjuk matahari yang bersifat generik dan tunggal. Nomina penunjuk bulan ini di antaranya sebagai berikut. rembulan mbulan candra wulan sasangka bulan bulan bulan bulan bulan Nomina penunjuk bulan yang paling dikenal oleh penutur bahasa Jawa adalah mbulan yang merupakan varian dari rembulan. Kata mbulan ini lazim dipakai dalam bahasa Jawa ragam ngoko, sedangkan rembulan dapat dipakai dalam ragam krama maupun ngoko. Nomina yang lain, seperti candra, wulan, dan sasangka lebih banyak dipakai dalam ragam krama. Nomina ini dapat bergabung dengan kata sandang sang hyang, misal sang hyang rembulan, sang hyang candra, dan sang hyang pratanggapati.. 3. Nomina Penunjuk Bintang Nomina penunjuk bintang maksudnya nomina yang secara umum digunakan sebagai referen dari makna bintang. Nomina penunjuk bintang dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu yang bersifat generik dan spesifik. Nomina penunjuk bintang generik ini tidak banyak jumlahnya, yaitu: lintang kartika bintang bintang 368 Adabiyyāt, Vol. IX, No. 2, Desember 2010
6 Nomina Kosmis dalam Bahasa Jawa Selain bersifat generik, nomina penunjuk bintang ini dapat pula bersifat spesifik. Dalam tingkatan yang spesifik nomina penunjuk bintang menjadi lebih produktif jumlahnya. Nomina penunjuk bintang spesifik ini bersifat tunggal, maksudnya, mengarah pada satu benda saja. Nomina penunjuk bintang spesifik ini didominasi oleh bentuk gabungan morfem yang dapat dikategorikan sebagai kata majemuk. Sebagaimana telah disinggung oleh Poedjosoedarmo (1979: 164), bentuk majemuk dalam penunjukan benda-benda astronomis dalam bahasa Jawa berhubungan dengan sistem kebudayaan masyarakat Jawa. Nomina penunjuk bintang spesifik ini dikemukakan sebagai berikut. panjer enjing panjer rina panjer sore joko belek lintang pari gubug penceng lintang waluku lintang alihan planet Venus planetvenus planet Venus planet Mars rasi Salib rasi Biduk rasi Orion meteor C. NOMINA KOSMIS GEOGRAFIS Nomina penunjuk konsep geografis (untuk selanjutnya disebut nomina geografis) ini berhubungan dengan konsep penunjukan terhadap benda-benda yang berhubungan dengan faktor kebumian. Subkategorisasinya dapat dimasukkan dalam kelompok nomina tidak bernyawa. Nomina geografis terdiri atas penunjukan terhadap lokasi dan arah. Secara sintaktis, nomina geografis dapat ditandai dengan kemampuannya bergabung dengan preposisi ana ing atau neng di, misalnya dalam konstruksi ana ing kali di sungai, ana ing wetan di timur, neng SK Akreditasi No: 64a/DIKTI/Kep/
7 Ashari Hidayat laut di laut, dan neng sawah di sawah. Deskripsi lebih lanjut nomina konsep geografis dipaparkan sebagai berikut. 1. Nomina Geografis Lokasi Nomina geografis penunjuk lokasi ini bersifat umum, artinya penunjukan terhadap suatu lokasi masih berupa nomina dasar yang dapat dikembangkan ke dalam satuan geografis lain yang lebih besar. Misalnya: kali gunung samodra segara sungai gunung laut laut 2. Nomina Geografis Penunjuk Arah Nomina geografis penunjuk arah adalah nomina dasar yang menunjukkan arah geografis. Arah geografis ini meliputi mata angin dan arah posisional sebuah benda. Misalnya: lor wetan kulon kidul ngisor dhuwur kiwa tengen ngarep mburi utara timur barat selatan bawah atas kiri kanan depan belakang 370 Adabiyyāt, Vol. IX, No. 2, Desember 2010
8 Nomina Kosmis dalam Bahasa Jawa D. STRUKTUR MORFOLOGIS NOMINA KOSMIS Perilaku nomina kosmis tidak selalu menunjukkan kesamaan ketika mengalami afiksasi. Beberapa nomina dapat mengalami afiksasi sementara yang lainnya justru menjadi tidak berterima saat dilekati oleh afiks. Sudaryanto (1991: 29) telah mendaftar sejumlah afiks yang dapat bergabung dengan nomina. Afiks-afiks tersebut jika diujigabungkan dengan nomina kosmis akan memperluas makna. Deskripsi nomina yang dapat mengalami afiksasi diuraikan dalam rumusan sebagai berikut. 1. Afiksasi dengan Konfiks pa-/-an Konfiks pa-/-an jika bergabung dengan nomina kosmis berfungsi untuk membentuk nomina yang menyatakan tempat atau perihal. Perhatikan contoh berikut ini. pa- + lintang + -an > palintangan perihal perbintangan pa- + kiwa + -an > pakiwan wilayah kiri pa- + gunung + -an > pagunungan wilayah gunung pa- + segara + -an > pasegaran perihal laut 2. Afiksasi dengan Sufiks -an Sufiks an jika bergabung dengan nomina kosmis akan menghasilkan makna kawasan atau tempat. Misal: kali + -an > kalen kawasan sungai pinggir + -an > pinggiran tempat pinggir kebon + -an > kebonan kawasan kebun 3. Afiksasi dengan Prefis N- Bergabungnya prefik nasal N- dengan nomina geografis akan mengubah kategori menjadi verba yang menunjukkan makna terjadinya sebuah aktivitas gerakan menuju ke arah yang disebut bentuk dasarnya. Proses morfofonemik akan terjadi dalam afiksasinya. Misalnya: N- + lor > ngalor menuju utara SK Akreditasi No: 64a/DIKTI/Kep/
9 Ashari Hidayat N- + kidul > ngidul menuju selatan N- + wetan > ngetan menuju timur N- + kulon > ngulon menuju barat N- + kilen > ngilen menuju barat 4. Afiksasi dengan Sufiks -e Sufiks e dalam bahasa Jawa berfungsi untuk memberi penegasan terhadap bentuk dasar yang dilekatinya. Adanya sufiks -e dalam nomina kosmis menunjukkan kata tersebut mengalami penegasan dalam penunjukannya. Misal: srengenge + -e > srengengene mataharinya rembulan +-e > rembulane bulannya gunung + -e > gununge gunungnya segara +-e > segarane lautnya E. STRUKTUR SINTAKTIS NOMINA KOSMIS Nomina kosmis memiliki karakteristik yang beragam saat berada dalam struktur frasal. Antara nomina astronomis dan nomina geografis terdapat perbedaan dalam hal konstituen atributif yang dapat bergabung dengan inti frasa. Perbedaan perilaku ini berhubungan dengan subkategorisasi penggolongan yang membedakan antara konsep astronomis dan geografis. Nomina konsep astronomis lebih dapat berterima bila bergabung dengan konstituen yang menunjukkan jarak yang jauh, sedangkan nomina geografis cenderung dapat bergabung dengan konstituen yang menunjukkan jarak yang dekat maupun jauh. Persamaan antara keduanya adalah kemampuannya membentuk konstruksi frasa endosentrik atributif. Uraian lebih lanjut perilaku nomina ini dipaparkan sebagai berikut. 372 Adabiyyāt, Vol. IX, No. 2, Desember 2010
10 Nomina Kosmis dalam Bahasa Jawa 1. Nomina Kosmis Berwujud Frasa Endosentrik Atributif a. Nomina astronomis + nomina astronomis Konstruksi frasa nominal dapat terdiri atas nomina astronomis generik yang bergabung dengan nomina astronomis spesifik. Hasil gabungan dua unsur ini membentuk konstruksi frasa endosentrik atributif. Misal: lintang panjer rina lintang kemukus lintang waluku lintang pari bintang kejora bintang kemukus bintang waluku bintang pari Nomina astronomis spesifik tidak dapat langsung digunakan untuk menunjuk benda-benda langit yang dimaksud. Penutur bahasa Jawa lazimnya akan menggabungkannya dengan nomina astronomis generik. Frasa hasil bentukannya berupa frasa endosentrik atributif dengan unsur inti nomina astronomis spesifik dan atributnya nomina astronomis generik. b. Nomina geografis + nomina geografis Struktur frasa nominal ini dapat terbagi atas dua jenis, yaitu bersifat endosentrik atributif dengan unsur utama berposisi di belakang dan frasa dengan unsur utama berposisi di depan. Misal: kulon kali kidule gunung segara kidul barat sungai selatannya gunung laut selatan Dari tiga contoh di atas, dapat dianalisis frasa kulon kali memiliki unsur inti kali dan atributnya kulon. Frasa kidule gunung memiliki unsur inti gunung dengan atribut kidule. Frasa segara kidul berunsur inti segara dengan atribut kidul. SK Akreditasi No: 64a/DIKTI/Kep/
11 Ashari Hidayat 2. Nomina Kosmis Berwujud Frasa Eksosentrik a. Nomina Astronomis + Demonstrativa Demonstrativa adalah kata penunjuk. Demonstrativa yang dapat membentuk makna berterima jika bergabung dengan nomina astronomis adalah kae itu. Demonstrativa frasa ini merupakan deiksis penanda jarak antara penunjuk dan yang ditunjuk. Purwo (1984: 3) menyatakan bahwa dalam bahasa Jawa kata menika ini/itu dalam ragam krama merupakan bentuk yang digunakan untuk menetralkan bentuk iki ini dan kae itu. Dalam hubungannya dengan konstruksi frasa nominal ini penggabungan iki ini dengan nomina konsep astronomis tidak menghasilkan makna yang berterima, seperti dalam konstruksi *lintang iki bintang ini, *srengenge iki matahari ini, dan *rembulan iki bulan ini. Konstruksi yang dapat berterima adalah sebagai berikut. langite kae lintang kae srengengene kae rembulan kae langitnya itu bintang itu mataharinya itu bulan itu b. Nomina konsep geografis + demonstrativa Demonstrativa yang dapat bergabung dengan nomina geografis adalah kae itu, iki ini, menika ini/itu, dan kuwi itu. Konstruksi frasa nominal jenis ini mengandung makna penunjukan yang dapat mengacu pada penanda jarak yang dekat maupun jauh. Misal: gunung kae redi menika laute kae laute kuwi samudranipun menika gunung itu gunung ini/itu lautnya itu lautnya itu lautnya ini/itu 374 Adabiyyāt, Vol. IX, No. 2, Desember 2010
12 Nomina Kosmis dalam Bahasa Jawa kulon kae wetan kae (di) barat itu (di) timur itu 3. Daya Gabung Nomina Kosmis dengan Negasi Nomina dimaknai sebagai kelas kata yang dapat berfungsi sebagai subjek atau objek dari sebuah klausa dan sering dipadankan dengan orang, benda atau hal lain yang dibendakan dalam alam di luar bahasa (Kridalaksana, 2001: 145). Nomina dalam bahasa Jawa disebut tembung aran yang secara sintaksis tidak dapat dinegasikan dengan ora dan dapat bergabung dengan penunjuk jumlah. Dengan demikian, nomina kosmis dalam bahasa Jawa tidak akan berterima jika bergabung dengan negasi ora, misal *ora laut tidak laut, *ora pratanggapati tidak matahari, dan *ora kali tidak sungai. Konstruksi akan berterima jika bergabung dengan negasi dudu atau sanes bukan, misalnya sanes pratanggapati bukan matahari, dudu rembulan bukan bulan, dan dudu kali bukan sungai. Lebih lanjut, dijelaskan, bahwa penggolongan nomina bahasa Jawa dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu nomina yang merujuk pada benda-benda alami, buatan, dan benda-benda abstraksi yang akhirnya dapat digolongkan dalam kategori nomina konkret dan abstrak (Wedhawati et al, 1981: 17). Merujuk pada pendapat Kridalaksana (2005: 70), dalam hemat penulis, nomina kosmis ini dapat dikelompokkan sebagai nomina tidak bernyawa terbilang dan penunjuk konsep geografis untuk penunjukan benda-benda geografis yang berada di bumi maupun yang dapat dilihat dari bumi semacam benda-benda antariksa. 4. Reduplikasi Nomina Kosmis Nomina astronomis dan geografis memiliki perilaku yang berbeda jika direduplikasi. Sebagian nomina geografis akan mengalami perubahan kelas kata menjadi verba jika direduplikasi. Namun begitu, ada juga nomina geografis yang tidak mengalami perubahan kelas kata setelah direduplikasi, misalnya kata gunung. Nomina astronomis tidak dapat dikenai SK Akreditasi No: 64a/DIKTI/Kep/
13 Ashari Hidayat proses reduplikasi secara keseluruhan. Hanya kata lintang saja yang dapat direduplikasi. Pereduplikasian terhadap nomina astronomis selain lintang justru menghasilkan makna yang tidak berterima. Perhatikan contoh berikut. wetan + R > ngetan-ngetan terlalu ke timur kulon + R > ngulon-ngulon terlalu ke barat kidul + R > ngidul-ngidul terlalu ke selatan lor + R > ngalor-ngalor terlalu ke utara gunung + R > gunung-gunung banyak gunung lintang + R > lintang-lintang banyak bintang rembulan + R > *rembulan-rembulan banyak bulan srengenge + R > *srengenge-srengenge banyak matahari E. PENUTUP Nomina kosmis digolongkan berdasarkan cakupan konsep makna sekelompok nomina bahasa Jawa dalam penamaan astronomis dan geografis. Perilaku morfologis dan sintaksis nomina kosmis teruraikan dengan mengujinya melalui konstituen lain yang digabungkan sehingga menjadi bentuk-bentuk turunan. Dari bentuk-bentuk turunan itu akan ditemukan kompleksitas makna yang menandai wujud atau sifat benda-benda atau konsep astronomis dan geografis yang dirujuknya. Kompleksitas nomina kosmis juga terikat oleh jumlah dan jarak benda-benda astronomis dan geografis yang dirujuk. DAFTAR PUSTAKA Bauer, Laurie Introducing Linguistic Morphology. Edinburgh: Edinburgh University Press. 376 Adabiyyāt, Vol. IX, No. 2, Desember 2010
14 Nomina Kosmis dalam Bahasa Jawa Gina Komponen Kata Benda Bahasa Jawa dalam Widyaparwa No. 30 Oktober Yogyakarta: Balai Penelitian Bahasa. Kridalaksana, Harimurti Beberapa prinsip Perpaduan Leksem dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Kanisius. Kridalaksana, Harimurti Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Mardiwarsito, L Kamus Jawa Kuna (Kawi) Indonesia. Flores: Nusa Indah. Purwo, Bambang Kaswanti Deiksis dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Ramlan, M Ilmu Bahasa Indonesia Morfologi: Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: CV Karyono Sudaryanto (ed) Tatabahasa Baku Bahasa Jawa. Yogyakarta: DutaWacana University Press. Sudaryanto Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistis. Yogyakarta: Duta Wacana University Press. Poedjosoedarmo, Soepomo Morfologi Bahasa Jawa. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Wedhawati dkk Sistem Morfologi Kata Benda dan Kata Sifat BahasaJawa. Yogyakarta: Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah DIY. SK Akreditasi No: 64a/DIKTI/Kep/
BAB V PENUTUP. rubrik cerita Pasir Luhur Cinatur pada majalah PS, maka diperoleh simpulan
191 BAB V PENUTUP A. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian terhadap verba berafiks bahasa Jawa dalam rubrik cerita Pasir Luhur Cinatur pada majalah PS, maka diperoleh simpulan sebagai berikut. 1. Proses
2. Punya pendirian, peduli sesama, berkomitmen dan bisa bertanggung jawab. Menurut aku, gentleman punya sifat yang seperti itu. Kalau punya pacar, dia
VERBA PREDIKAT BAHASA REMAJA DALAM MAJALAH REMAJA Renadini Nurfitri Abstrak. Bahasa remaja dapat dteliti berdasarkan aspek kebahasaannya, salah satunya adalah mengenai verba. Verba sangat identik dengan
Analisis Morfologi Kelas Kata Terbuka Pada Editorial Media Cetak. Abstrak
Analisis Morfologi Kelas Kata Terbuka Pada Editorial Media Cetak Rina Ismayasari 1*, I Wayan Pastika 2, AA Putu Putra 3 123 Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Udayana
sudah diketahui supaya tidak berulang-ulang menyebut benda tersebut, bahasa Jawa anak usia lima tahun yang berupa tingkat tutur krama, berjenis
dalam tingkat tutur madya, dan ngoko, serta kata tersebut mengganti benda yang sudah diketahui supaya tidak berulang-ulang menyebut benda tersebut, menerangkan letak barang dan tidak mengandung imbuhan.
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Bahasa adalah suatu alat komunikasi pada manusia untuk menyatakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa adalah suatu alat komunikasi pada manusia untuk menyatakan tanggapannya terhadap alam sekitar atau peristiwa-peristiwa yang dialami secara individual atau secara
KATA JAHAT DENGAN SINONIMNYA DALAM BAHASA INDONESIA: ANALISIS STRUKTURAL
KATA JAHAT DENGAN SINONIMNYA DALAM BAHASA INDONESIA: ANALISIS STRUKTURAL Rahmi Harahap Program Studi S-1 Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Abstract Research on the structural
BAB 2 LANDASAN TEORETIS
BAB 2 LANDASAN TEORETIS 2.1 Kerangka Acuan Teoretis Penelitian ini memanfaatkan pendapat para ahli di bidangnya. Bidang yang terdapat pada penelitian ini antara lain adalah sintaksis pada fungsi dan peran.
STRUKTUR KALIMAT BAHASA INDONESIA DALAM KARANGAN DESKRIPSI MAHASISWA PROGRAM BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA.
STRUKTUR KALIMAT BAHASA INDONESIA DALAM KARANGAN DESKRIPSI MAHASISWA PROGRAM BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA oleh Dra. Nunung Sitaresmi, M.Pd. FPBS UPI 1. Pendahuluan Bahasa
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, DAN TEORI
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, DAN TEORI 2.1 Kajian Pustaka Kajian pustaka memuat uraian sistematis tentang teori-teori dasar dan konsep atau hasil-hasil penelitian yang ditemukan oleh peneliti terdahulu
BAB V PENUTUP. Berdasarkan hasil dari penelitian berjudul Interferensi Morfologis
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil dari penelitian berjudul Interferensi Morfologis Bahasa Indonesia Dalam Penggunaan Bahasa Jawa Pada Upacara Pernikahan Adat Jawa dapat ditarik kesimpulan bahwa
PROSES MORFOLOGIS PEMBENTUKAN KATA RAGAM BAHASA WALIKA
Arkhais, Vol. 07 No. 1 Januari -Juni 2016 PROSES MORFOLOGIS PEMBENTUKAN KATA RAGAM BAHASA WALIKA Wahyu Dwi Putra Krisanjaya Lilianan Muliastuti Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pembentukan
BAB I PENDAHULUAN. Kemiripan makna dalam suatu bentuk kebahasaan dapat menimbulkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemiripan makna dalam suatu bentuk kebahasaan dapat menimbulkan kekacauan pada tindak berbahasa. Salah satu contoh penggunaan bentuk bersinonim yang dewasa ini sulit
PENDAHULUAN. kelaziman penggunaannya dalam komunikasi sering terdapat kesalahan-kesalahan dianggap
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia. Terkait dengan kelaziman penggunaannya dalam komunikasi sering terdapat kesalahan-kesalahan dianggap sebagai
BAB V PENUTUP. bahasa Jawa dalam bahasa Indonesia pada karangan siswa kelas VII SMPN 2
54 BAB V PENUTUP A. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang interferensi gramatikal bahasa Jawa dalam bahasa Indonesia pada karangan siswa kelas VII SMPN 2 Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta
BAB I PENDAHULUAN. wilayah Indonesia lainnya. Menurut Wedhawati dkk (2006: 1-2), Bahasa Jawa
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa Jawa adalah bahasa yang digunakan oleh penduduk suku Jawa di antaranya Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sebagian wilayah Indonesia lainnya.
BENTUK DAN MAKNA VERBA DENOMINAL BAHASA JAWA DALAM SARIWARTA PADA PANJEBAR SEMANGAT EDISI TAHUN 2011
BENTUK DAN MAKNA VERBA DENOMINAL BAHASA JAWA DALAM SARIWARTA PADA PANJEBAR SEMANGAT EDISI TAHUN 2011 Oleh: Dwi Cahyaningsih program studi pendidikan bahasa dan sastra jawa [email protected] Abstrak:
BAB 2 LANDASAN TEORI. Dalam penelitian ini, dijelaskan konsep bentuk, khususnya afiksasi, dan
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengantar Dalam penelitian ini, dijelaskan konsep bentuk, khususnya afiksasi, dan makna gramatikal. Untuk menjelaskan konsep afiksasi dan makna, penulis memilih pendapat dari Kridalaksana
pada Fakultas Sastra Universitas Andalas
NAMA-NAMA PENGGEMAR GRUP BAND DI INDONESIA TINJAUAN MORFOLOGI SKRIPSI Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra pada Fakultas Sastra Universitas Andalas Oleh Muhammad Fadlan BP
BAB V PENUTUP. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang kajian. Aji Kabupaten Jepara dapat disimpulkan sebagai berikut.
BAB V PENUTUP A. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang kajian morfosemantik istilah-istilah pertukangan kayu di Desa Lebak Kecamatan Pakis Aji Kabupaten Jepara dapat disimpulkan
BAB V PENUTUP. A. Simpulan
BAB V PENUTUP A. Simpulan Dalam penilitian Refleksif dengan Kata Diri, Dirinya, Dan Diriya Sendiri dalam Bahasa Indonesia: dari Perspektif Teori Pengikatan ini dapat disimpulkan tiga hal yang merupakan
KATA MENANGIS : BENTUK, PERILAKU, DAN MAKNA. Kumairoh. Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Dipnegoro. Abstrak
KATA MENANGIS : BENTUK, PERILAKU, DAN MAKNA Kumairoh Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Dipnegoro Abstrak Bahasa Indonesia merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh masyarakat dalam
BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi media massa berjalan dengan pesat saat ini.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi media massa berjalan dengan pesat saat ini. Dalam masyarakat moderen, media massa mempunyai peran yang signifikan sebagai bagian dari kehidupan
NASKAH PUBLIKASI PEMAKAIAN PREPOSISI PADA KOLOM POS PEMBACA DI HARIAN SOLOPOS SKRIPSI
NASKAH PUBLIKASI PEMAKAIAN PREPOSISI PADA KOLOM POS PEMBACA DI HARIAN SOLOPOS SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra
BAB II KAJIAN TEORI. Persinggungan antara dua bahasa atau lebih akan menyebabkan kontak
9 BAB II KAJIAN TEORI Persinggungan antara dua bahasa atau lebih akan menyebabkan kontak bahasa. Chaer (2003: 65) menyatakan bahwa akibat dari kontak bahasa dapat tampak dalam kasus seperti interferensi,
PEMBENTUKAN KATA PADA LIRIK LAGU EBIET G. ADE
PEMBENTUKAN KATA PADA LIRIK LAGU EBIET G. ADE Ni Made Suryaningsih Wiryananda email: nanananda41ymail.com Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Udayana Abstracts This study
KATA ULANG BAHASA INDONESIA PADA MAJALAH PAPIRUS EDISI JANUARI 2015
KATA ULANG BAHASA INDONESIA PADA MAJALAH PAPIRUS EDISI JANUARI 2015 Artikel Publikasi ini diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia Oleh:
YAYASAN WIDYA BHAKTI SEKOLAH MENENGAH ATAS SANTA ANGELA TERAKREDITASI A
YAYASAN WIDYA BHAKTI SEKOLAH MENENGAH ATAS SANTA ANGELA TERAKREDITASI A Jl. Merdeka No. 24 Bandung 022. 4214714 Fax.022. 4222587 http//: www.smasantaangela.sch.id, e-mail : [email protected] 043 URS
KONSTRUKSI OBJEK GANDA DALAM BAHASA INDONESIA
HUMANIORA Suhandano VOLUME 14 No. 1 Februari 2002 Halaman 70-76 KONSTRUKSI OBJEK GANDA DALAM BAHASA INDONESIA Suhandano* 1. Pengantar ahasa terdiri dari dua unsur utama, yaitu bentuk dan arti. Kedua unsur
KATA HABIS : BENTUK, PERILAKU, DAN MAKNA Anisa Rofikoh Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro
KATA HABIS : BENTUK, PERILAKU, DAN MAKNA Anisa Rofikoh Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Abstrak Bahasa adalah sarana paling penting dalam masyarakat, karena bahasa adalah salah
BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bahasa merupakan salah satu alat komunikasi manusia dalam berinteraksi di lingkungan sekitar. Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan kita. Hal ini harus benar-benar
PENDAHULUAN Bahasa Jawa adalah bahasa yang digunakan oleh masyarakat suku Jawa untuk berkomunikasi antarsesama masyarakat Jawa.
1 PENDAHULUAN Bahasa Jawa adalah bahasa yang digunakan oleh masyarakat suku Jawa untuk berkomunikasi antarsesama masyarakat Jawa. Dalam interaksi sosial masyarakat Jawa, lebih cenderung menggunakan komunikasi
BASINDO Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pembelajarannya Vol 1 No 1 - April 2017 (14-24)
BASINDO Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pembelajarannya Vol 1 No 1 - April 2017 (14-24) PERILAKU BENTUK VERBA DALAM KALIMAT BAHASA INDONESIA TULIS SISWA SEKOLAH ARUNSAT VITAYA, PATTANI, THAILAND
Oleh: RIA SUSANTI A
ANALISIS REDUPLIKASI DALAM WACANA BERITA OLAHRAGA PADA HARIAN KOMPAS SEBAGAI MATERI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA PADA SISWA KELAS XI SMK MUHAMMADIYAH KARTASURA Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan
PEMEROLEHAN NOMINA BAHASA INDONESIA ANAK USIA 3;5 TAHUN: STUDI KASUS SEORANG ANAK DI LUBUK MINTURUN PADANG
PEMEROLEHAN NOMINA BAHASA INDONESIA ANAK USIA 3;5 TAHUN: STUDI KASUS SEORANG ANAK DI LUBUK MINTURUN PADANG Elvina Rahayu 1, Agustina 2, Novia Juita 3 Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan
BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. Konsep adalah ide-ide, penggambaran hal-hal atau benda-benda ataupun
BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Konsep adalah ide-ide, penggambaran hal-hal atau benda-benda ataupun gejala sosial, yang dinyatakan dalam istilah atau kata (Malo dkk., 1985:
BAB V PENUTUP. berdasarkan konteks pemakaian dibedakan atas istilah umum, dan istilah
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Setelah melalui berbagai tahap penelitian, berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai Istilah-Istilah dalam Register Fotografi pada Majalah Digital Camera ini dapat
Konjungsi yang Berasal dari Kata Berafiks dalam Bahasa Indonesia. Mujid F. Amin Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro
Konjungsi yang Mujid F. Amin Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro [email protected] Abstract Conjunctions are derived from the basic + affixes, broadly grouped into two, namely the coordinative
PENGGUNAAN FRASA DAN KLAUSA BAHASA INDONESIA DALAM KARANGAN SISWA SEKOLAH DASAR
Penggunaan Frasa dan Klausa Bahasa Indonesia (Kunarto) 111 PENGGUNAAN FRASA DAN KLAUSA BAHASA INDONESIA DALAM KARANGAN SISWA SEKOLAH DASAR Kunarto UPT Dinas Pendidikan Kacamatan Deket Kabupaten Lamongan
BAB V KESIMPULAN. polisemi, dan tipe-tipe hubungan makna polisemi. Hasil penelitian yang
BAB V KESIMPULAN A. Simpulan Hasil penelitian diperoleh data bahwa di dalam rubrik berita majalah Djaka Lodang terdapat penggunaan polisemi yang meliputi jenis polisemi, bentuk polisemi, dan tipe-tipe
PENGGUNAAN KATA DEK DALAM KABA KLASIK MINANGKABAU
PENGGUNAAN KATA DEK DALAM KABA KLASIK MINANGKABAU SKRIPSI Disusun untuk Memenuhi Persyaratan guna Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Budaya pada Jurusan Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
BAB I PENDAHULUAN. Bahasa merupakan alat komunikasi yang efektif. Bahasa dan proses
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bahasa merupakan alat komunikasi yang efektif. Bahasa dan proses berbahasa adalah hal yang tidak bisa terlepas dari kehidupan manusia. Dengan berbahasa, seseorang
KAJIAN CAMPUR KODE DAN ALIH KODE PADA NOVEL PERAHU KERTAS KARYA DEWI LESTARI
KAJIAN CAMPUR KODE DAN ALIH KODE PADA NOVEL PERAHU KERTAS KARYA DEWI LESTARI NASKAH PUBLIKASI Diajukan Oleh: NILA ARUM SAPUTRI A. 310070122 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
ANALISIS KLAUSA DALAM SURAT KABAR HARIAN MEDIA INDONESIA. Oleh: Rismalasari Dalimunthe ABSTRAK
ANALISIS KLAUSA DALAM SURAT KABAR HARIAN MEDIA INDONESIA Oleh: Rismalasari Dalimunthe ABSTRAK Analisis klausa dalam surat kabar harian Media Indonesia ini dilatarbelakangi keragaman penggunaan klausa yang
BAB I PENDAHULUAN. sintaksis,fungsi semantis dan fungsi pragmatis.fungsi sintaksis adalah hubungan
1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Analisis kalimat dapat dilakukan pada tiga tataran fungsi, yaitu fungsi sintaksis,fungsi semantis dan fungsi pragmatis.fungsi sintaksis adalah hubungan gramatikal antara
CAMPUR KODE PADA BERITA UTAMA BALI ORTI BALI POST
CAMPUR KODE PADA BERITA UTAMA BALI ORTI BALI POST Ni Putu Indah Prabandari Sastra Bali Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Udayana ABSTRACT The study on mixing code headlines Bali Orti Bali Post aimed
Frase Nominal dan Frase Verbal pada Novel Pinatri Ing Teleng Ati Karya Tiwiek SA
Frase Nominal dan Frase Verbal pada Novel Pinatri Ing Teleng Ati Karya Tiwiek SA Oleh: Alip Rahman Sulistio Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa [email protected] Abstrak: Penelitian ini
BAB I PENDAHULUAN. yang ada di wilayah Sulawesi Tenggara, tepatnya di Pulau Buton. Pada masa
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa Wolio yang selanjutnya disingkat BW adalah salah satu bahasa daerah yang ada di wilayah Sulawesi Tenggara, tepatnya di Pulau Buton. Pada masa Kerajaan Kesultanan
KAJIAN FRASA NOMINA BERATRIBRUT PADA TEKS TERJEMAHAN AL QURAN SURAT AL-AHZAB NASKAH PUBLIKASI. Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
KAJIAN FRASA NOMINA BERATRIBRUT PADA TEKS TERJEMAHAN AL QURAN SURAT AL-AHZAB NASKAH PUBLIKASI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata-1 Program Studi Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. Istilah sintaksis berasal dari bahasa Yunani (Sun + tattein) yang berarti
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Istilah sintaksis berasal dari bahasa Yunani (Sun + tattein) yang berarti mengatur bersama-sama (Verhaar dalam Markhamah, 2009: 5). Chaer (2009: 3) menjelaskan bahwa
BAB I PENDAHULUAN. banyak masalah yang harus dicarikan jalan keluarnya secara sistematis. Salah satu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pembentukan kata merupakan bahasan yang sangat menarik dan mengundang banyak masalah yang harus dicarikan jalan keluarnya secara sistematis. Salah satu pembentukan
BAB 11 KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. bahasa yang digunakan akal budi memahami hal-hal lain ( KBBI,2007:588).
BAB 11 KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Konsep merupakan gambaran mental dari objek, proses, atau apapun yang ada di luar bahasa yang digunakan akal budi memahami hal-hal lain (
KATA BERSUFIKS PADA TAJUK RENCANA SUARA MERDEKA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN
KATA BERSUFIKS PADA TAJUK RENCANA SUARA MERDEKA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN Naskah Publikasi Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata I pada Jurusan Pendidikan Bahasa
BAB I PENDAHULUAN. Jika kita membaca berbagai macam karya sastra Jawa, maka di antaranya ada
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jika kita membaca berbagai macam karya sastra Jawa, maka di antaranya ada karya sastra berbentuk puisi yang dikenal sebagai těmbang macapat atau disebut juga těmbang
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan Setiap bahasa di dunia memiliki sistem kebahasaan yang berbeda. Perbedaan sistem bahasa itulah yang menyebabkan setiap bahasa memiliki ciri khas dan keunikan, baik
TATA KATA DAN TATA ISTILAH BAHASA INDONESIA
TATA KATA DAN TATA ISTILAH BAHASA INDONESIA Tata bentukan dan tata istilah berkenaan dengan kaidah pembentukan kata dan kaidah pembentukan istilah. Pembentukan kata berkenaan dengan salah satu cabang linguistik
PEMBELAJARAN SINTAKSIS BAGI PEMBELAJAR ASING YANG BERBAHASA PERTAMA BAHASA INGGRIS
PEMBELAJARAN SINTAKSIS BAGI PEMBELAJAR ASING YANG BERBAHASA PERTAMA BAHASA INGGRIS Latifah Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Siliwangi Bandung [email protected] Abstrak Sintaksis
BAB I PENDAHULUAN. perhatian khusus dari pengamat bahasa. Hal ini dikarenakan nominalisasi mempunyai
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Nominalisasi sebagai salah satu fenomena kebahasaan, mesti mendapatkan perhatian khusus dari pengamat bahasa. Hal ini dikarenakan nominalisasi mempunyai peran yang
ANALISIS MORFOLOGI PADA KARANGAN SISWA KELAS VIII D SMP MUHAMMADIYAH 5 SURAKARTA. Naskah Publikasi Ilmiah
ANALISIS MORFOLOGI PADA KARANGAN SISWA KELAS VIII D SMP MUHAMMADIYAH 5 SURAKARTA Naskah Publikasi Ilmiah Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S-1 Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kepustakaan yang Relevan Kajian tentang morfologi bahasa khususnya bahasa Melayu Tamiang masih sedikit sekali dilakukan oleh para ahli bahasa. Penulis menggunakan beberapa
BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan makhluk sosial yang selalu berinteraksi antara satu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia merupakan makhluk sosial yang selalu berinteraksi antara satu dengan yang lainnya, yang kemudian disebut dengan komunikasi. Bahasa merupakan alat komunikasi
BAB V PENUTUP. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan
BAB V PENUTUP A. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. 1. Kesalahan penggunaan struktur frasa dalam karangan narasi ekspositoris siswa kelas VIII
PENANDA KOHESI GRAMATIKAL KONJUNGSI ANTARKALIMAT DAN INTRAKALIMAT PADA TEKS PIDATO KENEGARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PENANDA KOHESI GRAMATIKAL KONJUNGSI ANTARKALIMAT DAN INTRAKALIMAT PADA TEKS PIDATO KENEGARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NASKAH PUBLIKASI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Morfologi merupakan cabang ilmu linguistik yang mengkaji tentang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Morfologi merupakan cabang ilmu linguistik yang mengkaji tentang struktur kata dan cara pembentukan kata (Harimurti Kridalaksana, 2007:59). Pembentukan kata
BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis Penelitian. dan analisis, yaitu mendeskripsikan dan menganalisis verba berprefiks ber- dalam
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif karena bersifat deskriptif dan analisis, yaitu mendeskripsikan dan menganalisis verba berprefiks ber- dalam
NOMINA DAN PENATAANNYA DALAM SISTEM TATA BAHASA INDONESIA
NOMINA DAN PENATAANNYA DALAM SISTEM TATA BAHASA INDONESIA Suhandano Universitas Gadjah Mada ABSTRAK Tulisan ini membahas bagaimana nomina ditata dalam sistem tata bahasa Indonesia. Pembahasan dilakukan
Analisis Fungsi Sintaksis Kata Apa dan Mana dalam Bahasa Indonesia
Analisis Fungsi Mana dalam Bahasa Sri Puji Astuti Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro [email protected] Abstract The characteristic of interrogative sentence, one of them is the presence
NUMERALIA BAHASA JAWA KUNO. Dewa Ayu Carma Miradayanti. Sastra Jawa Kuno Fakultas Sastra Universitas Udayana. Abstract
1 NUMERALIA BAHASA JAWA KUNO Dewa Ayu Carma Miradayanti Sastra Jawa Kuno Fakultas Sastra Universitas Udayana Abstract The numerable research of ancient Javanese is based on the unique things which appear
PENGGUNAAN FRASA BAHASA INDONESIA DALAM KARANGAN SISWA KELAS VII MTsN RENGEL TAHUN PELAJARAN 2014/2015
Rahman, Penggunaan Frasa Bahasa Indonesia dalam Karangan Siswa Kelas VII 127 PENGGUNAAN FRASA BAHASA INDONESIA DALAM KARANGAN SISWA KELAS VII MTsN RENGEL TAHUN PELAJARAN 2014/2015 Minanur Rahman MTsN Rengel,
BAB V P E N U T U P. Ketika kita membaca semua tulisan dalam tesis yang berjudul Kalimat
BAB V P E N U T U P 5.1 Kesimpulan Ketika kita membaca semua tulisan dalam tesis yang berjudul Kalimat tunggal bahasa Sula yang dipaparkan bahasan masaalahnya mulai dari bab II hingga bab IV dalam upaya
VERBA DENOMINAL BAHASA JAWA PADA MAJALAH DJAKA LODHANG EDISI JULI SAMPAI SEPTEMBER TAHUN 2008
VERBA DENOMINAL BAHASA JAWA PADA MAJALAH DJAKA LODHANG EDISI JULI SAMPAI SEPTEMBER TAHUN 2008 Zuly Qurniawati, Santi Ratna Dewi S. Universitas Muhammadiyah Purworejo ABSTRAK Majalah merupakan bagian dari
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia diberikan akal dan pikiran yang sempurna oleh Tuhan. Dalam berbagai hal manusia mampu melahirkan ide-ide kreatif dengan memanfaatkan akal dan pikiran
Penguasaan Kelas Kata Bahasa Indonesia. Siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri 18 Padang. Sri Fajarini. Mahasiswa Universitas Andalas)
Penguasaan Kelas Kata Bahasa Indonesia Siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri 18 Padang Sri Fajarini Mahasiswa Universitas Andalas) Abstract: This study explains and describes mastery of the Indonesian language
ABREVIASI DALAM MENU MAKANAN DAN MINUMAN DI KOTA SEMARANG: SUATU KAJIAN MORFOLOGIS
ABREVIASI DALAM MENU MAKANAN DAN MINUMAN DI KOTA SEMARANG: SUATU KAJIAN MORFOLOGIS Nuraeni, Shinta Yunita Tri. 2017. Abreviasi dalam Menu Makanan dan Minuman di Kota Semarang: Suatu Kajian Morfologis.
PROSES MORFOLOGIS KATA MAJU BESERTA TURUNANNYA INTISARI
PROSES MORFOLOGIS KATA MAJU BESERTA TURUNANNYA Pangastryan Wisesa Pramudiah *), Drs. Ary Setyadi, M. S., Riris Tiani, S.S., M.Hum. Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas
KAJIAN NOMINA SERAPAN ASING DALAM MEDIA MASSA. oleh Dra. Nunung Sitaresmi, M.Pd FPBS UPI
KAJIAN NOMINA SERAPAN ASING DALAM MEDIA MASSA oleh Dra. Nunung Sitaresmi, M.Pd FPBS UPI Pendahuluan Bahasa Indonesia menurut Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 berkedudukan sebagai bahasa nasional, sedangkan
B E N T U K D A N F U N G S I B A H A S A R I T U A L C A R U P A Ñ C A S A T A D I D E N P A S A R B A R A T. Putu Weja Apryanthi
B E N T U K D A N F U N G S I B A H A S A R I T U A L C A R U P A Ñ C A S A T A D I D E N P A S A R B A R A T Putu Weja Apryanthi Sastra Bali Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Udayana ABSTRACT This
DEIKSIS DALAM RUBRIK AH TENANE PADA SURAT KABAR HARIAN UMUM SOLOPOS
DEIKSIS DALAM RUBRIK AH TENANE PADA SURAT KABAR HARIAN UMUM SOLOPOS Wisnu Nugroho Aji Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Widya Dharma Klaten [email protected] Abstrak Bahasa
Alat Sintaksis. Kata Tugas (Partikel) Intonasi. Peran. Alat SINTAKSIS. Bahasan dalam Sintaksis. Morfologi. Sintaksis URUTAN KATA 03/01/2015
SINTAKSIS Pengantar Linguistik Umum 26 November 2014 Morfologi Sintaksis Tata bahasa (gramatika) Bahasan dalam Sintaksis Morfologi Struktur intern kata Tata kata Satuan Fungsi Sintaksis Struktur antar
BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis Penelitian
BAB III METODE PENELITIAN Metode adalah cara yang harus dilaksanakan; teknik adalah cara melaksanakan metode (Sudaryanto, 2015:9). Metode yang tepat akan mengarahkan penelitian pada tujuan yang diinginkan.
BAB 1 PENDAHULUAN. Sebagai alat interaksi sosial peranan bahasa besar sekali. Hampir tidak ada
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagai alat interaksi sosial peranan bahasa besar sekali. Hampir tidak ada kegiatan manusia yang berlangsung tanpa kehadiran bahasa. Bahasa muncul dan diperlukan dalam
Bab I Pendahuluan. Latar Belakang Pemikiran
Bab I Pendahuluan A. Latar Belakang Pemikiran Keberadaan buku teks di perguruan tinggi (PT) di Indonesia perlu terus dimutakhirkan sehingga tidak dirasakan tertinggal dari perkembangan ilmu dewasa ini.
BAB I PENDAHULUAN. Surat kabar atau dapat disebut koran merupakan lembaran-lembaran kertas
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Surat kabar atau dapat disebut koran merupakan lembaran-lembaran kertas yang bertuliskan berita-berita dan sebagainya (Sugono ed., 2015:872). Beritaberita dalam surat
PROSES MORFOLOGIS PADA TERJEMAHAN AYAT-AYAT AL QUR AN YANG MENGGAMBARKAN KEPRIBADIAN NABI MUHAMMAD SAW NASKAH PUBLIKASI
PROSES MORFOLOGIS PADA TERJEMAHAN AYAT-AYAT AL QUR AN YANG MENGGAMBARKAN KEPRIBADIAN NABI MUHAMMAD SAW NASKAH PUBLIKASI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajad Sarjana S-1 Progdi Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional digunakan oleh sebagian besar
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional digunakan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, baik dalam bidang pendidikan, pemerintahan, maupun dalam berkomunikasi
Artikel Publikasi POLA FRASA NOMINA POSESIF DALAM CERITA PENDEK DI MAJALAH SUARA MUHAMMADIYAH TAHUN 2014
Artikel Publikasi POLA FRASA NOMINA POSESIF DALAM CERITA PENDEK DI MAJALAH SUARA MUHAMMADIYAH TAHUN 2014 Usulan Penelitian Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan
BAB II KAJIAN PUSTAKA. onoma yang berarti nama dan syn yang berarti dengan. Secara harfiah sinonim
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Hakikat Sinonim Secara etimologi kata sinonim berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu onoma yang berarti nama dan syn yang berarti dengan. Secara harfiah sinonim berarti nama lain
PEMAKAIAN PERPADUAN LEKSEM BAHASA INDONESIA DALAM TABLOID NOVA EDISI JULI Jurnal Publikasi. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
PEMAKAIAN PERPADUAN LEKSEM BAHASA INDONESIA DALAM TABLOID NOVA EDISI JULI 2012 Jurnal Publikasi Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Jurusan Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia
BENTUKAN KATA DALAM KARANGAN BAHASA INDONESIA YANG DITULIS PELAJAR THAILAND PROGRAM DARMASISWA CIS-BIPA UM TAHUN
BENTUKAN KATA DALAM KARANGAN BAHASA INDONESIA YANG DITULIS PELAJAR THAILAND PROGRAM DARMASISWA CIS-BIPA UM TAHUN 2010-2011 Vania Maherani Universitas Negeri Malang E-mail: [email protected] Pembimbing:
ANALISIS AFIKSASI DAN PENGHILANGAN BUNYI PADA LIRIK LAGU GEISHA DALAM ALBUM MERAIH BINTANG
1 ANALISIS AFIKSASI DAN PENGHILANGAN BUNYI PADA LIRIK LAGU GEISHA DALAM ALBUM MERAIH BINTANG Jurnal Ilmiah Disusun untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat S-1 Pendidikan Bahasa, Sastra
KLASIFIKASI EMOSIONAL DALAM UNGKAPAN BAHASA INDONESIA YANG MENGGUNAKAN KATA HATI
KLASIFIKASI EMOSIONAL DALAM UNGKAPAN BAHASA INDONESIA YANG MENGGUNAKAN KATA HATI Dita Marisa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, FPBS, UPI [email protected] Abstrak Penelitian dilatarbelakangi
KATA BESAR: BENTUK, PERILAKU, DAN MAKNA. Disusun Oleh: SHAFIRA RAMADHANI FAKULTAS ILMU BUDAYA, UNIVERSITAS DIPONEGORO, SEMARANG,50257
KATA BESAR: BENTUK, PERILAKU, DAN MAKNA Disusun Oleh: SHAFIRA RAMADHANI - 13010113140096 FAKULTAS ILMU BUDAYA, UNIVERSITAS DIPONEGORO, SEMARANG,50257 1. INTISARI Semiotika merupakan teori tentang sistem
BAB 5 PENUTUP. Campur code..., Annisa Ramadhani, FIB UI, Universitas Indonesia
BAB 5 PENUTUP 5.1 Simpulan Penelitian jenis proses campur kode menunjukkan hasil yang berbeda-beda antara bahasa yang satu dan bahasa yang lain karena subjek penelitian mereka pun berbeda-beda, baik dari
ABSTRAK. Kata Kunci: kamus, bahasa, sastra, istilah, kategori.
ABSTRAK Penelitian Kamus Bali-Indonesia Istilah Bahasa dan Sastra Bali bertujuan untuk mengetahui bentuk dan khazanah istilah yang terdapat dalam bahasa dan sastra Bali. Adapun teori yang digunakan dalam
ARTIKEL JURNAL LINA NOVITA SARI NPM Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (Strata 1)
PENGGUNAAN AFIKSASI PADA SKRIPSI PERIODE WISUDA KE-52 MAHASISWA PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT ARTIKEL JURNAL Diajukan Sebagai
BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. di luar bahasa, dan yang dipergunakan akal budi untuk memahami hal-hal tersebut
BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Konsep adalah gambaran mental dari obyek, proses, atau apa pun yang ada di luar bahasa, dan yang dipergunakan akal budi untuk memahami hal-hal
KARAKTERISTIK ALAT PERELATIF SING DAN KANG/INGKANG SERTA STRATEGI PERELATIFAN DALAM BAHASA JAWA
KARAKTERISTIK ALAT PERELATIF SING DAN KANG/INGKANG SERTA STRATEGI PERELATIFAN DALAM BAHASA JAWA Yunus Sulistyono Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
16, Vol. 06 No. 1 Januari Juni 2015 Pada dasarnya, secara semantik, proses dalam klausa mencakup hal-hal berikut: proses itu sendiri; partisipan yang
TRANSITIVITAS DALAM ANTOLOGI CERPEN KAKI YANG TERHORMAT KARYA GUS TF SAKAI Ogi Raditya Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui transitivitas dalam antologi cerpen Kaki yang Terhormat. Penelitian
AFIKS-AFIKS PEMBENTUK VERBA DENOMINAL DALAM BAHASA JAWA ABSTRACT
AFIKS-AFIKS PEMBENTUK VERBA DENOMINAL DALAM BAHASA JAWA Nanik Herawati 1 ; Rustono 2 ; Soepomo Poedjosoedarmo 3 1 Mahasiswa S3 Linguistik Universitas Sebelas Maret Surakarta 2 Universitas Negeri Semarang
PERILAKU SINTAKSIS FRASA ADJEKTIVA SEBAGAI PENGUAT JATI DIRI BAHASA INDONESIA
-Konferensi Nasional Bahasa dan Sastra III- PERILAKU SINTAKSIS FRASA ADJEKTIVA SEBAGAI PENGUAT JATI DIRI BAHASA INDONESIA Munirah Pascasarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unismuh Makassar munirah.
