Psikoterapi Behavior Teknik-teknik Behavior 2015

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Psikoterapi Behavior Teknik-teknik Behavior 2015"

Transkripsi

1 TEKNIK-TEKNIK PSIKOTERAPI BEHAVIOR A. TEKNIK-TEKNIK BERDASARKAN PENGONDISIAN KLASIK 1. Desensitisasi Sistematik Teknik ini digunakan bilamana asesmen perilaku mengindikasikan bahwa klien memiliki kecemasan atau bidang fobia spesifik tertentu, dan bukan sekedar ketegangan umum. Teknik ini melibatkan pemasangan ulang objek yang ditakuti dengan sebuah respon baru yang tidak sesuai dengan kecemasannya. Desensitisasi sistematis merupakan teknik relaksasi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif. Teknik ini melibatkan tiga elemen : (a) Latihan relaksasi otot dalam; Klien diajari untuk rileks di recliner chair (kursi yang dapat direbahkan) atau di matras, atau paling tidak di kursi tegak dengan sandaran kepala yang nyaman. Sejak awal terapis menginfomasikan agar klien melihat relaksasi ini sebagai kegiatan belajar keterampilan untuk mengatasi masalah yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari bukan sekedar memperlakukan klien sebagai orang yang pasif. Sebelum melakukan relaksasi, terapis dapat menyarankan klien untuk menggunakan pakaian yang nyaman, dan melepas benda-benda seperti kacamata atau sepatu. (b) Menyusun hierarki stimuli yang membangkitkan kecemasan; Hierarki kecemasan adalah daftar stimuli pembangkit kecemasankecemasan yang saling berkaitan secara tematik, yang diperingkat menurut banyaknya kecemasan yang dibangkitkan. Salah satu cara yang lazim digunakan untuk memeriksa potensi itemitem hierarki untuk membangkitkan kecemasan adalah dengan mengatakan bahwa nol (0) adalah sama sekali tidak merasakan kecemasan, dan 100 adalah kemungkinan kecemasan maksimum dalam kaitannya dengan sebuah tema tertentu. Contoh hierarki kecemasan untuk ketakutan terhadap anjing Stimulus Tekanan subjektif (0=tdak ada ketakutan; 100= ketekutan maksimum) 1. Mendengar seekor anjing menyalak di 5 Husnul Khotimah Materi Kuliah Page 1

2 ruang lain 2. Melihat seekor anjing melalui jendela Berdiri dalam jarak 20 kaki dari seekor 25 anjing yang dipegangi tali kekangnya 4. Berdiri dalam jarak kaki 10 kaki dari 35 seekor anjing yang dipegangi tali kekangnya 5. Berdiri dalam jarak kaki 5 kaki dari 45 seekor anjing yang dipegangi tali kekangnya 6. Berdiri dalam jarak sedepa dari seekor 55 anjing yang dipegangi tali kekangnya 7. Membelai anjing selama 1 detik Membelai anjing terus menerus selama detik 9. Membelai anjing terus menerus selama 1 menit Membelai anjing terus menerus selama 95 3 menit Penyusunan item-item hierarki dalam skala harus tepat dengan tema dan item-item yang dimunculkan di seputar tema tertentu perlu diurutkan ke dalam hierarki. Hal ini melibatkan merating item-item pada skala dan mengurutkannya. (c) Meminta klien, setelah rileks, untuk membayangkan item-item dari hierarki stimuli yang membangkitkan kecemasan. Sebuah sesi desentisasi dimulai dengan terapis melakukan relaksasi kepada klien secara verbal. Saat terapis yakin bahwa klien telah mencapai keadaan relaksasi yang dalam, terapis bisa mulai menyajikan berbagai scenes dengan kalimat sekarang saya ingin Anda membayangkan bahwa Anda sedang mendengar suara anjing yang menyalak dari ruang sebelah Anda saat ini. Terapis mulai dengan scene yang paling tidak membangkitkan kecemasan pada hierarki dan seterusnya. 2. Terapi Paparan Terapi paparan (exposure), dilakukan dengan cara melakukan konfrontasi terhadap stimulus yang ditakuti dilanjutkan sampai respons yang tidak diinginkan terhadap stimuli menjadi berkurang. Dalam terapi ini ada prinsip-prinsip kunci tertentu adalah: Terapi ini tidak dapat dilakukan dalam jangka waktu yang pendek, jadi terapi ini membutuhkan jangka waktu yang cukup panjang. Karena, ketakutan tidak akan berkurang sampai ketakutan itu dikonfrontasikan selama waktu yang cukup panjang, paparan ke stimulus yang ditakuti harus untuk jangka waktu yang cukup lama. Husnul Khotimah Materi Kuliah Page 2

3 Paparan yang lama ke stimulus yang ditakuti akan menghasilkan pengurangan gradual ketakutan seiring waktu. Di samping itu, paparan yang lama ke stimulus yang ditakuti harus diulang-ulang. Konfrontasi-konfrontasi berikutnya terhadap stimuli yang ditakuti bisa menghasilkan pengurangan pada ketakutan awal dan pengurangan yang lebih cepat pada respon takurnya. Klien bisa mendapatkan sesi-sesi tambahan sampai pengurang tingkat ketakutannya dalam maupun antar sesi menjadi cukup besar dan terhabituasi. Terapis behavioral mempunyai beberapa pilihan yang dapat diambil ketika melaksanakan terapi paparan. Salah satu hal yang paling relevan melibatkan sifat imajinasi versus stimulus in vivo yang akan dipaparkan kepada klien. Dengan kata lain, klien dapat diminta untuk membayangkan objek-objek yang membangkitkan kecemasan (tanpa pernah dipapari dengan hal nyata) atau dapat dipapari dengan benda atau situasi nyata (in vivo) yang telah menghasilkan ketakutannya. Pilihan penting tentang terapi paparan melibatkan sejauh mana klien akan dipapari dengan stimulus yang mengiduksi ketakutan: berangsur-angsur atau sekaligus. Pendekatan yang berangsur-angsur sering disebut paparan bertingkat, dan mengharuskan klien dan terapis untuk menciptakan sebuah hierarki kecemasan secara kolaboratif, yaitu mereka mendaftar 10 stimulus yang mungkin menginduksi ketakutan. Stimulus tersebut biasanya diperingkat oleh klien pada skala 0 sampai 100 dalam kaitannya dengan besarnya tekanan subjektif yang dihasilkan oleh stimulus tersebut dan setelah itu diperingkat dari bawah ke atas. Paparan dimulai dari tingkat terendah dan setelah itu dilanjutkan mengikuti hierarkinya sampai klien mencapai tingkat yang paling tinggi. Paparan yang terjadi sekaligus dan bukan secara bertingkat biasanya disebut penggenangan atau ledakan. Meskipun paparan sekaligus tidak dapat menghasilkan perubahan cepat dalam waktu singkat. Dalam penggunaanya juga harus dengan hati-hati agar tidak menimbulkan trauma. Terapi paparan paling lazim digunakan pada klien-klien yang memiliki fobia dan gangguan kecemasan lainnya. Terapi paparan dan terapi disensitisasi sistematis, keduanya digunakan untuk menangani kasus fobia dan gangguan kecemasan lainnya. faktanya, paparan stimulus yang membangkitkan ketakutan adalah salah satu komponen kuncinya. tetapi, daripada sekadar memutuskan asosiasi antara objek yang ditakuti dan perasaan aversif, desensistisasi sistematis melibatkan Husnul Khotimah Materi Kuliah Page 3

4 pemasangan ulang (atau pengondisian balik) objek yang ditakuti dengan sebuah respons baru yang tidak sesuai dengan kecemasannya. Jika terapi paparan bekerja, objek yang ditakuti pada akhirnya akan tidak dipasangkan dengan apa pun (bukan dengan respons ketakutannya), tetapi, jika disensistisasi sistematis berhasil, objek yang ditakuti dipasangkan dengan sebuah respons baru yang menggantikan dan memblokir respons yang ditakuti. Yang paling sering, respons baru yang menggantikan dan memblokir respons takut adalah relaksasi. Contoh kasus : Wayne, memiliki ketakutan terhadap anjing akibat dari sebuah serangan yang pernah dialaminya. Tugas esensial bagi seorang terapis behavior yang menggunakan terapi paparan adalah memapari Wayne dengan stimulus terkait anjing. Berdasarkan serangannya, Wayne telah mengasosiasikan anjing dengan ketakutan, tetapi kebenarannya adalah bahwa untuk sebagian besar anjing, ekspektasi ini sama sekali keliru. Dalam kasus ini, terapi menggunakan pilihan paparan langsung (in vivo) bertingkat untuk menyelasaikan ketakutan Wayne terhadap anjing. Contoh hierarki kecemasan untuk ketakutan terhadap anjing Stimulus Tekanan subjektif (0=tdak ada ketakutan; 100= ketekutan maksimum) 1. Mendengar seekor anjing menyalak di ruang lain 5 2. Melihat seekor anjing melalui jendela Berdiri dalam jarak 20 kaki dari seekor 25 anjing yang dipegangi tali kekangnya 4. Berdiri dalam jarak kaki 10 kaki dari 35 seekor anjing yang dipegangi tali kekangnya 5. Berdiri dalam jarak kaki 5 kaki dari 45 seekor anjing yang dipegangi tali kekangnya 6. Berdiri dalam jarak sedepa dari seekor 55 anjing yang dipegangi tali kekangnya 7. Membelai anjing selama 1 detik Membelai anjing terus menerus selama detik 9. Membelai anjing terus menerus selama 1 menit Membelai anjing terus menerus selama 95 3 menit 3. Latihan Asertif Perilaku asertif mencakup ekspresi pikiran dan perasaan positif maupun negatif. Assertive training adalah latihan mempertahankan hak seseorang atau dapat diistilahkan perilaku oposisional. Husnul Khotimah Materi Kuliah Page 4

5 Latihan ini paling cocok bagi orang-orang yang perilaku sosialnya pemalu, aprehensif, atau tidak efektif memiliki dampak negatif pada hidupnya. Latihan asertif ini sudah pasti memasukkan elemen-elemen terapi papara, dan ini juga termasuk elemen-elemen desensitisasi sistematis. Contoh : Deborah, seorang perempuan 26 tahun terlibat dalam latihan asertif beberapa bulan yang lalu. Ia mendeskripsikan kepada Dr. Paxton, psikolog klinis, bahwa ketika ia mulau melakukan berbagai persiapan untuk pernikahannya daftar tamu yang akan diundang, menu yang akan dihidangkan, bunga, band, pakaian, dan sebagainya ia menjadi semakin frustasi dengan orang-orang yang membuatkan keputusan untuknya. Secara spesifik ia mengatakan bahwa ibu dan saudara perempuannya memerintahkan ini dan itu, dan ia mengalami kesulitan untuk meminta mereka tidak turut campur dalam hal ini. Sebagai contoh, ketika ia ke toko pakaian pengantin. Sebelumnya ia sudah pernah mengunjungi toko tersebut sendirian dan telah memilih sebuah gaun untuk dirinya sendiri. Ketika ia kembali lagi ke toko tersebut untuk mencoba gaun itu di depan ibu dan saudara perempuannya, mereka menekannya agar mencoba gaun-gaun lain dan akhirnya mereka meyakinkan Deborah untuk membeli sebuah gaun yang sama sekali tidak disukainya ketika ia datang ke toko itu untuk pertama kalinya. Deborah berharap ia dapat mengendalikan situasi di toko gaun tersebut, tetapi ternyata tidak bisa. Ia menambahkan bahwa hari ini ia akhiri dengan menangisi pengalaman itu di hadapan tunangannya, namun tunangannya bukannya merespons dengan empati yang dibutuhkannya, justru mengatakan kepadanya bahwa ia harus bersikap tegas kepada ibu dan saudara perempuannya. Dr. Paxton melakukan latihan asertif kepada Deborah: 1) Ia mengajarkan beberapa frasa tegas tertentu yang harus diucapkan Deborah, seperti misalnya, terimakasih untuk masukannya, tetapi, inilah keputusanku. Dan aku benar-benar menginginkan kalian sebagai bagian dari pernikahan ini, bersamaku, tetapi inilah keputusan final yang kuambil. 2) Dr. Paxton mengajari Deborah tentang beberapa perilaku spesifik yang terlibat di dalam respons asertf, seperti kontak mata langsung dan volume serta nada suara yang tepat. 3) Dr. Paxton mencontohkan respon-respons tersebut untuk Deborah. Kemudian Deborah melatih respon-respon ketegasan tersebut, dengan Dr. Paxton memainkan peran sebagai Ibu atau saudara perempuan Deborah. Dr. Paxton menawarkan umpan balik yang sangat membantu, termasuk memuji Husnul Khotimah Materi Kuliah Page 5

6 ucapan yang tepat dan memperingatkan untuk membuat kontak mata langsung. 4) Dr. Paxton dan Deborah bersama-sama membuat tugas-tugas pekerjaan rumah yang dapat membantu Deborah untuk membangun konfrontasi yang diantisipasinya dengan ibu dan saudara perempuannya. Tugas-tugas pekerjaan rumah tersebut melibatkan mengaskan dirinya sendiri kepada ibu dan saudara perempuannya tentang keputusan-keputusan tidak terlalu signifikan yang akan datang, yang mungkin saja akan menekannya, seperti apa yangs eharusnya dipesannya untuk menu makan siang ketika mereka di luar Sabtu depan. Seiring waktu dan latihan, keterampilan Deborah dalam menegaskan dirinya meningkat, sementara kecemasannya menurun. B. TEKNIK-TEKNIK BERDASARKAN PENGONDISIAN OPERAN 1. Manajemen Kontingensi Kontingensi merupakan pernyataan jika... maka... Menurut terapi behavioral, jika tujuannya adalah untuk mengubah perilaku, maka salah satu cara yang kuat adalah dengan mengubah kontingensi yang mengontrolnya (manajemen kontingensi). Konsekuens Perilaku Semua perilaku i terjadi karena konsekuensinya, dan jika konsekuensi itu berubah, perilaku secara korespondensif juga berubah. Teknik dalam manajemen kontingensi Penguatan dan hukuman Kata-kata yang melengkapi frasa maka... di dalam kontingensi dapat dikategorikan sebagai penguatan atau hukuman. Penguatan didefinisikan sebagai konsekuensi tertentu yang membuat sebuah perilaku lebih berkemungkinan untuk terjadi lagi di masa mendatang Hukuman didefinisikan sebagai konsekuensi tertentu yang membuat sebuah perilaku kurang berkemungkinan untuk terjadi lagi di masa mendatang. Penguatan dan hukuman dapat dibagi lagi menjadi dua jenis : positif dan negatif. Di dalam hal ini, positif mengacu pada menambahkan sebuah konsekuensi, sementara negatif mengacu pada menghilangkangkan sebuah konsekuensi. Penguatan positif berarti mendapatkan sesuatu yang baik (misalnya makanan), penguatan negatif berarti kehilangan sesuatu yang buruk (misalnya rasa sakit). Perhatikan keduanya akan meningkatkan kemungkinan perilaku target untuk terjadi lagi. Husnul Khotimah Materi Kuliah Page 6

7 Di sini intervensi reinforcement (penguatan) melibatkan penerapan sistematik reinforcement untuk memperkuat perilaku adaptif dan untuk memperlemah dan mengeliminasi perilaku maladaptif. Untuk menggunakan reinforcement secara sistematis, perlu menemukan apa yang bersifat memperkuat untuk masing-masing individu. Cara terapis menemukan apa yang dianggap memperkuat oleh klien termasuk menanyakan langsung kepada klien, menanyakan kepada orang lain tentang klien, mengamati apa yang dikatakan dan dilakukannya dalam lingkup wawancara, dan meminta klien mengamati dan memonitor dirinya di luar wawancara. Ada beberapa kuesioner self report untuk mengakses penguat : reinforcement survey schedule atau pleasant events schedule. Ketika bekerja dengan anak-anak, gambar dapat digunakan sebagai pengganti kata-kata untuk memerankan penguat. Hukuman positif berarti mendapatkan sesuatu yang buruk. Hukuman negatif berarti kehilangan sesuatu yang baik Perhatikan bahwa keduanya akan mengurangi kemungkinan perilaku target untuk terjadi lagi. Terapis behavioral menggunakan penguatan dan hukuman selama manajemen kontingensi, tetapi kebanyakan situasi klinis, penguatan pada umuumnya lebih disukai. Hukuman digunakan, hal itu harus dilakukan secara etis dan paling efektif harus dilakukan dengan segera dan konsisten dan disertai dengan penguatan sebuah respons alternatif yang lebih diinginkan. Terapi aversif merepresentasikan sebuah contoh penggunaan klinis hukuman, yaitu sebuah perilaku yanng tidak diinginkan (misalnya minum alkohol) menghasilkan sebuah stimulus aversif (mual atau kejutan listrik. Contoh klinis tentang penggunaan keempat jenis penguatan (penguatan dan hukuman, masing-masing dalam bentuk positif dan negatif) Dr. Howard, seorang psikolog klinis Patty, seorang narapidana berusia 15 tahun di sebuah penjara anakanak. Baru-baru ini patty mudah marah meluap-luap dan menyerang ketika diantarkan dari selnya ke sesi-sesi harian di kelas. Sebagian serangan Patty begitu berbahaya hingga membutuhkan penggunaan pengekangan fisik. Konsekuensi untuk ledakan kemarahan Patty adalah absen dari sekolah; ia kembali ke sel, dan menghabiskan waktunya untuk bermalasmalasan sambil melihat-lihat majalah yang disetujui kepemilikannya bagi narapidana. Husnul Khotimah Materi Kuliah Page 7

8 Dr. Howard menganalisis perilaku Patty dan membuat hipotesis bahwa kontingensi yang dilakukan oleh staf penjara sebenarnya memperkuat, bukan menghukum respon kemarahannya. Dr. Howard mendiskusikan dengan staf penjara tentang empat kontingensi alternatif, yang masingmasing dapat menghasilkan perilaku yang lebih diinginkan dari Patty. o Penguatan positif : jika Patty mengikuti pelajaran di kelas tanpa ledakan verbal atau fisik, maka ia menerima majalah baru sesuai pilihannya. o Penguatan negatif : jika Patty mengikuti pelajaran di kelas tanpa ledakan tertentu, maka kekangan di pergelangan kakinya yang dibutuhkan sejak ledakan kemarahan itu terjadi akan dilepas. o Hukuman positif : jika Patty terlibat dalam ledakan tertentu, maka ia akan ditahan selama 2 jam di sel tanpa majalah, o Hukuman negatif : jika Patty terlibat dalam ledakan tertentu, maka semua ajalahnya akan disita untuk keesokan harinya. Ekstingsi Ekstingsi adalah pemunahan/peniadaan. Dalam konteks manajemen kontingensi, ekstingsi mengacu pada penghilangan sebuah penguatan yang diharapkan, yang menghasilkan penurunan di dalam frekuensi sebuah perilaku. Contoh : Wendy, seorang anak kelas dua SD berumur 8 tahun yang orang tuanya membawanya ke Dr. Evans, psikolog klinis dengan orientasi behavioral. Orangtua Wendy menjelaskan bahwa selama dua minggu terakhir, Wendy sangat sulit makan. Ia menangis dan menjerit tentang makanan yang telah disediakan, mengatakan bahwa Ia tidak menyukainya dan makanan itu membuat perutnya sakit. Orang tua Wendy menyatakan kebingungan mereka atas perilakunya, khususnya karena itu adalah makanan yang sama yang telah banyak kali dimakannya sebelumnya, dan mereka telah membawanya ke dokter anak, yang meyakinkan mereka bahwa Wendy tidak memiliki penyakit perut. Ketika Dr. Evans menanyakan kepada orang tua Wendy tentang apa yang terjadi setelah Wendy menangis dan menjerit di waktu makan, mereka menjelaskan bahwa mereka biasanya mengizinkannya untuk makan makanan lain. Ketika Dr. Evans menanyakan lebih jauh, orang tuanya menambahkan bahwa mereka mengizinkan Wendy untuk emmilih makanan apa pun yang di inginkannya, dan Wendy biasanya memilih makanan junk food kesukaannya. Dr. Evans mengembangkan rencana manajemen kontingensi yang didasarkan pada ekstingsi. Konseptualisasinya adalah bahwa perilaku menangis dan menjerit Wendy diperkuat secara positif oleh junk food yang diterimanya setelah itu. Ia menjelaskan konseptualisasi ini kepada orang tua Wendy dan merekomendasikan agar mereka menghilangkan penguatan positif tersebut Husnul Khotimah Materi Kuliah Page 8

9 dengan kata lain, jangan membiarkan Wendy menggantikan makanan keluarga dnegan junk food. Mereka mematuhi saran itu, dan meskipun perilaku Wendy pada awalnya menjadi lebih buruk, dalam beberapa hari Wendy berhenti menangis dan menjerit di waktu makan dan kembali makan bersama keluarganya seperti sebelumnya. Kasus di atas mencontohkan salah satu aspek penting terapi berbasis ekstingsi : ledakan ekstingsi. Berdasarkan contoh di atas. Maka dapat dijelaskan tentang Ledakan ekstingsi, biasanya, segera setelah penguatan dihilangkan, tangisan dan jeritan Wendy sebenarnya semakin meningkat ia lebih sering melakukannya dan dengan lebih intens. Hanya setelah orang tuanya menegaskan sikap dengan tidak memberikan penguatan, tangisan dan jeritan Wendy berkurang. Penting bagi terapi behavioral bekerjasama dengan pihak lain untuk mengantisipasi ledakan ekstingsi yang diprediksi terjadi segera setelah penghilangan penguatan, jika tidak, orang yang mengontrol kontingensi mungkin akan keliru menganggap bahwa strateginya menyerang balik dan mengembalikan penguatannya. Berdasarkan contoh kasus di atas, jika orang tua Wendy menyerah pada amukan Wendy di hari-hari pertama proses ekstingsi mereka akan mengajarkan kepada Wendy bahwa jika ia menaikkan intensitas perilakunya, maka ia masih bisa mendapatkan keinginanya. Ini akan memperkuat, bukan meniadakan perilaku menangis dan menjeritnya. 2. Token Ekonomi Token ekonomi atau ekonomi token adalah sebuah pengaturan ketika klien mengumpulkan token untuk berpartisipasi di dalam perialku-perilaku target yang telah ditentukan sebelumnya. Token dapat ditukarkan untuk sejumlah penguatan, termasuk makanan, permainan, mainan, hak istimewa, waktu untuk mengikuti kegiatan yang sangat diinginkan, atau hal lain yang diharapkan oleh klien. Di dalam beberapa token ekonomi, klien juga bisa kehilangan token jika terlibat perilaku yang tidak diharapkan. Token reinforcement program perlu menetapkan dengan jelas aturan penukaran yang menyebutkan jumlah token yang dibutuhkan untuk mendapatkan back up reinforcer. Token ekonomi paling sering digunakan di dalam lingkungan seperti unit rawat inap, lembaga pemasyarakatan, dan tempat-tempat lain yang terus menerus mengawasi perilaku klien. Dan dapat digunakan pada anak-anak sekolah dan anak-anak nakal. Husnul Khotimah Materi Kuliah Page 9

10 Salah satu kekuatan ekonomi token adalah fleksibiltasnya untuk berbagai klien. Contoh : Pada unit rawat inappsikiatri, perilaku-perilaku target yang berbeda mungkin diidentifikasi untuk masing-masing klien. Seorang klien mungkin mendapatkan token untuk merapikan tempat tidur, yang lain untuk mau mandi, dan yang lain untuk berinteraksi dengan kelompokdan tidak menyendiri. Keberhasilan token ekonomi bergantung pada persepsi tentang nilai penguatan yang dapat ditukar dengan token, jadi terapis behavioral harus berhati-hati dalam memilih penguatan yang akan memotivasi masing-masing klien. 3. Pembentukan Pembentukan melibatkan penguatan pendekatan perilaku target. Dengan kata lain, pembentukan adalah sebuah langkah kecil dari teknik penguatan terapis behavioral ke arah perilaku yang diinginkan. Contoh Dina, seorang klien berumur 59 tahun dengan gejala-gejala depresif serius. Sejak ia mulai merasa depresi sekitar tiga bulan yang lalu. Dina menjadi semakin menarik diri. Ia belum menghubungi seorang pun teman-temannya (padahal ia memiliki banyak teman), dan tidak menjawab banyak telepon dari mereka. Ia menolak ketika suaminya mengajaknya makan malam di luar, dan ia menolak undangan dari putrinya yang sudah dewasa untuk berkunjung ke rumahnya. Dr Stein, psikolog klinis Dina, mengonseptualisasikan masalah Dina dari sudut pandang perilaku. Artinya, Dr. Stein mengidentifikasi perilaku sosial sebagai bidang yang akan diperbaiki dan secara spesifik menentukan bahwa tujuannya adalah interaksi sosial sesering mungkin untuk Dina; selama setiap minggu, tiga panggilan telepon dengan teman-teman, satu kali makan malam di luar bersama suaminya, dan satu kali menghabiskan waktu bersama putrinya. Akan tetapi, Dr. Stein menyadari bahwa pada waktu itu Dina jauh dari tingkat fungsi sosial tersebut. Kalau ia menunggu Dina untuk menyelesaikan seluruh tugas ini dalam minggu tertentu, waktu menunggu itu mungkin terlalu panjang. Jadi Dr. Stein menggunakan sebuah strategi pembentukan. 1. Dr Stein menentukan bersama-sama dengan Dina sebuah penguatan yang bermakna secara pribadi; menyewa sebuah DVD. 2. Setelah itu, Dina menetapkan sebuah kontingensi untuk minggu pertama. Jika Dina menyelesaikan paling sedikit sebuah kegiatan sosial (satu kali menelpon teman, makan di luar bersama suaminya, atau menghabiskan Husnul Khotimah Materi Kuliah Page 10

11 waktu bersama putrinya), maka ia dapat menyewa sebuah DVD pilihannya. 3. Minggu berikutnya, Dr. Stein menaikkan tantangannya; paling sedikit dua kegiatan sosial, salah satunya harus dengan bertemu langsung. Dr. Stein terus menaikkan tantangannya setiap minggu sampai Dina menyelesaikan satu rangkaian penuh perilaku selama beberapa minggu berturut-turut. Salah satu variabel kunci di dalam program pembentukan adalah penambahan di antara setiap pendekatan berurutan. Terapis behavioral harus berhati-hati, agar tidak membuat langkahlangkah di antara setiap tantangan baru yang terlalu sulit bagi klien. Disamping itu, langkah-langkahnya seharusnya tidak terlalu kecil sehingga terapinya tidak harus berlangsung terlalu lama. Berdasarkan contoh kasus di atas, Dr. Stein seharusnya menyesuaikan berapa banyaknya peningkatan tantangan jika terbukti bahwa Dina menganggap tugas-tugasnya terlalu mudah atau sulit. 4. Pengkondisian Aversif Teknik pengkondisian aversif dilakukan untuk meredakan perilaku simptomatik dengan cara menyajikan stimulus yang tidak menyenangkan (menyakitkan) sehingga perilaku yang tidak dikehendaki tersebut terhambat kemunculannya. Stimulus dapat berupa sengatan listrik atau ramuan-ramuan yang membuat mual. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. Perilaku yang dapat dimodifikasi dengan teknik ini adalah perilaku maladaptif, seperti merokok, obsesi kompulsif, penggunaan zat adiktif. Perilaku maladaptif tersebut tidak dihentikan secara seketika, tetapi dibiarkan terjadi dan pada waktu bersamaan dikondisikan dengan stimulus yang tidak menyenangkan. Jadi terapi aversi ini, menahan perilaku yang maladaptif dan individu berkesempatan untuk memperoleh perilaku alternatif yang adaptif. Daftar Pustaka Pomerantz, A. M. (2014). Psikologi Klinis: Ilmu Pengetahuan, Praktik, dan Budaya. Yogyakarta : Pustaka pelajar. Husnul Khotimah Materi Kuliah Page 11

12 Nelson, R., dan Jones. (2006). Teori dan Praktik Konseling dan Terapi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Latipun. (2011). Psikologi Konseling. Malang: UMM Press Husnul Khotimah Materi Kuliah Page 12

BAB I PENDAHULUAN. dan berinteraksi dengan orang lain demi kelangsungan hidupnya. Karena pada

BAB I PENDAHULUAN. dan berinteraksi dengan orang lain demi kelangsungan hidupnya. Karena pada BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk individu dan sekaligus makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Manusia perlu berkomunikasi dan berinteraksi

Lebih terperinci

Teknik lainnya dalam modifikasi perilaku

Teknik lainnya dalam modifikasi perilaku Modul ke: 12 Rizka Fakultas Psikologi Teknik lainnya dalam modifikasi perilaku Restrukturisasi kognisi, relaksasi, dan desensitisasi Putri Utami, M.Psi Program Studi Psikologi http://mercubuana.ac.id Restukturisasi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. dalam mengekspresikan perasaan, sikap, keinginan, hak, pendapat secara langsung,

BAB II LANDASAN TEORI. dalam mengekspresikan perasaan, sikap, keinginan, hak, pendapat secara langsung, BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Perilaku Asertif Alberti & Emmons (1990) mendefinisikan bahwa perilaku asertif merupakan perilaku kompleks yang ditunjukan oleh seseorang dalam hubungan antar pribadi, dalam mengekspresikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Keterlibatan Belajar Siswa, (Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2011), 2

BAB I PENDAHULUAN. Keterlibatan Belajar Siswa, (Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2011), 2 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sikap pasif siswa sering ditunjukan dalam sebuah proses belajar, hal ini terlihat dari perilaku siswa dalam sebuah proses belajar yang cenderung hanya berperan

Lebih terperinci

Prinsip dan prosedur dasar modifikasi perilaku

Prinsip dan prosedur dasar modifikasi perilaku Modul ke: 03 Ainul Fakultas Psikologi Prinsip dan prosedur dasar modifikasi perilaku Punishment, stimulus control, respondent conditioning Mardiah, S.Psi, M.Sc. Program Studi Psikologi Punishment Adanya

Lebih terperinci

KONSEP BEHAVIORAL THERAPY DALAM MENINGKATKAN RASA PERCAYA DIRI PADA SISWA TERISOLIR. Dyesi Kumalasari

KONSEP BEHAVIORAL THERAPY DALAM MENINGKATKAN RASA PERCAYA DIRI PADA SISWA TERISOLIR. Dyesi Kumalasari Konsep Behavioral Therapy KONSEP BEHAVIORAL THERAPY DALAM MENINGKATKAN RASA PERCAYA DIRI PADA SISWA TERISOLIR Dyesi Kumalasari [email protected] Abstrak Artikel ini mendiskripsikan tentang

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 16 BAB II LANDASAN TEORI A. Terapi Behaviorisme 1. Pengertian Terapi Behavorisme Behaviorisme adalah suatu pandangan ilmiah tentang tingkah laku manusia. Yang mana, manusia dikendalikan oleh lingkungannya.

Lebih terperinci

Penerapan Reinforcement Theory Pada Anak

Penerapan Reinforcement Theory Pada Anak Penerapan Reinforcement Theory Pada Anak Beragam problem terkait dengan motivasi berprestasi siswa di sekolah seringkali dihadapi guru. Ada siswa yang senantiasa menyelesaikan pekerjaan, namun jarang mengerjakan

Lebih terperinci

MENINGKATKAN PERILAKU ASERTIF MENGGUNAKAN PENDEKATAN BEHAVIORAL DENGAN LATIHAN ASERTIF PADA SISWA KELAS IX SMP NEGERI 2 SALATIGA

MENINGKATKAN PERILAKU ASERTIF MENGGUNAKAN PENDEKATAN BEHAVIORAL DENGAN LATIHAN ASERTIF PADA SISWA KELAS IX SMP NEGERI 2 SALATIGA MENINGKATKAN PERILAKU ASERTIF MENGGUNAKAN PENDEKATAN BEHAVIORAL DENGAN LATIHAN ASERTIF PADA SISWA KELAS IX SMP NEGERI 2 SALATIGA Ertik Indrawati, Setyorini dan Sumardjono Padmomartono Program Studi S1

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Universita Sumatera Utara

LAMPIRAN. Universita Sumatera Utara LAMPIRAN Lampiran 1. Contoh Alat Ukur Liebowitz Social Anxiety Scale for Children and Adolescents Petunjuk: Untuk setiap situasi, isilah dengan angka berikut yang menunjukkan seberapa besar ketakutan yang

Lebih terperinci

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN SENSORI PERSEPSI: HALUSINASI

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN SENSORI PERSEPSI: HALUSINASI RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN SENSORI PERSEPSI: HALUSINASI Nama Klien : Diagnosa Medis : No MR : Ruangan : Tgl No Dx Diagnosa Keperawatan Perencanaan Tujuan Kriteria Hasil Intervensi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk individual dan makhluk sosial. Sejak manusia

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk individual dan makhluk sosial. Sejak manusia BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia adalah makhluk individual dan makhluk sosial. Sejak manusia dilahirkan, manusia membutuhkan pergaulan dengan manusia lainnya (Gerungan, 2004). Hal ini berarti

Lebih terperinci

KONSELING KELUARGA DENGAN PENDEKATAN BEHAVIORAL: STRATEGI MEWUJUDKAN KEHARMONISAN DALAM KELUARGA

KONSELING KELUARGA DENGAN PENDEKATAN BEHAVIORAL: STRATEGI MEWUJUDKAN KEHARMONISAN DALAM KELUARGA KONSELING KELUARGA DENGAN PENDEKATAN BEHAVIORAL: STRATEGI MEWUJUDKAN KEHARMONISAN DALAM KELUARGA Sestuningsih Margi Rahayu Universitas Mulawarman Email: [email protected] ABSTRAK Keharmonisan keluarga

Lebih terperinci

KONSEP DASAR. Manusia : mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol/dipengaruhi oleh faktorfaktor

KONSEP DASAR. Manusia : mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol/dipengaruhi oleh faktorfaktor KONSEP DASAR Manusia : mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol/dipengaruhi oleh faktorfaktor dari luar Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini

Lebih terperinci

Modul intervensi merupakan tindak lanjut dari hasil assesment. Modul intervensi seyogyanya tailor made, rasional dan mampu laksana

Modul intervensi merupakan tindak lanjut dari hasil assesment. Modul intervensi seyogyanya tailor made, rasional dan mampu laksana MODUL KONSELING DAN TERAPI PERILAKU BAGI PELAKU KDRT PENGANTAR: Modul intervensi merupakan tindak lanjut dari hasil assesment Modul intervensi seyogyanya tailor made, rasional dan mampu laksana Modul intervensi

Lebih terperinci

Lampiran 4. Lembar Permohonan Menjadi Responden

Lampiran 4. Lembar Permohonan Menjadi Responden 46 47 48 49 Lampiran 4 Lembar Permohonan Menjadi Responden Kepada Yth : Bapak/Ibu/saudara/i Di Rumah Sakit Harapan Pematangsiantar Saya mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan (S1-Keperawatan) akan melakukan

Lebih terperinci

BAB III PENYAJIAN DATA. Dalam Proses Penyembuhan Kesehatan Mental Klien Rumah Sakit Jiwa Tampan

BAB III PENYAJIAN DATA. Dalam Proses Penyembuhan Kesehatan Mental Klien Rumah Sakit Jiwa Tampan BAB III PENYAJIAN DATA Pada bab III ini merupakan data yang disajikan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan data

Lebih terperinci

Pendekatan Umum Menuju Pemulihan

Pendekatan Umum Menuju Pemulihan Pendekatan Umum Menuju Pemulihan P roses terjadinya gangguan jiwa berlangsung secara pelan pelan dan bertahap. Prosesnya bisa berlangsung berminggu-minggu hingga bertahun-tahun. Sering gejala awal dimulai

Lebih terperinci

Aplikasi dari generalisasi dan siklus prosedur dalam modifikasi perilaku

Aplikasi dari generalisasi dan siklus prosedur dalam modifikasi perilaku Modul ke: 10 Rizka Fakultas Psikologi Aplikasi dari generalisasi dan siklus prosedur dalam modifikasi perilaku Putri utami, M.Psi Program Studi Psikologi http://mercubuana.ac.id Promosi generalisasi Munculnya

Lebih terperinci

HASIL PENELITIAN Uji validitas dan reliabilitas Uji signifikansi

HASIL PENELITIAN Uji validitas dan reliabilitas Uji signifikansi HASIL PENELITIAN Uji validitas dan reliabilitas Validitas alat ukur dalam penelitian ini adalah validitas isi, yaitu taraf sejauh mana isi atau item item alat ukur dianggap dapat mengukur hal hal yang

Lebih terperinci

Subjek I T10 T11 T12

Subjek I T10 T11 T12 LAMPIRAN 43 Subjek I B1 B2 B3 T1 T2 T3 T4 T5 T6 T7 T8 T9 T10 T11 T12 F1 F2 F3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 1 2 2 2 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 2 1 2 2 3 2 2 3 2 2 1 1 0 3 3 3 3 2 3 3 2 2 1 2 2 2 1 1 1 1 0 2 2 2 2 3 2 2 3

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 125 BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Berdasarkan hasil pengolahan data dan pembahasan dari penelitian Penggunaan Teknik Assertive Training untuk Mereduksi Kebiasaan Merokok Pada Remaja diperoleh kesimpulan

Lebih terperinci

KONSEP PERAWATAN KESEHATAN JIWA

KONSEP PERAWATAN KESEHATAN JIWA KONSEP PERAWATAN KESEHATAN JIWA Seiring dengan perubahan jaman, peran perawat kesehatan jiwa mulai muncul pada tahun 1950-an. Weiss (1947) menggambarkan beda perawatan kesehatan jiwa dengan perawatan umum

Lebih terperinci

TERAPI MODALITAS DALAM KEPERAWATAN JIWA

TERAPI MODALITAS DALAM KEPERAWATAN JIWA TERAPI MODALITAS DALAM KEPERAWATAN JIWA TERAPI MODALITAS DALAM KEPERAWATAN JIWA Pendahuluan Gangguan jiwa atau penyakit jiwa merupakan penyakit dengan multi kausal, suatu penyakit dengan berbagai penyebab

Lebih terperinci

Behavioristik Therapy ARNOLD LAZARUZ

Behavioristik Therapy ARNOLD LAZARUZ Behavioristik Therapy ARNOLD LAZARUZ 1. Latar Belakang ejarah Arnold Lazarus (lahir 1932) mendapat didikan di Johannesberg, Afrika Selatan. Dia merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Mesikipun dibesarkan

Lebih terperinci

Prinsip dan prosedur dasar modifikasi perilaku

Prinsip dan prosedur dasar modifikasi perilaku Modul ke: Prinsip dan prosedur dasar modifikasi perilaku Punishment, stimulus control, respondent conditioning Fakultas Psikologi Rizka Putri Utami, M.Psi, Psikolog Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang

BAB I PENDAHULUAN. pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang 1 1 BAB I PENDAHULUAN Dalam bab pendahuluan ini akan di bahas secara berturut-turut mengenai: (1) latar belakang masalah, (2) pembatasan masalah, (3) perumusan masalah, (4) tujuan masalah, (5)manfaat masalah,

Lebih terperinci

BAB II KONSEP DASAR. orang lain maupun lingkungan (Townsend, 1998). orang lain, dan lingkungan (Stuart dan Sundeen, 1998).

BAB II KONSEP DASAR. orang lain maupun lingkungan (Townsend, 1998). orang lain, dan lingkungan (Stuart dan Sundeen, 1998). BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan

Lebih terperinci

Psikologi Konseling. Psikologi Konseling. Psikologi Psikologi

Psikologi Konseling. Psikologi Konseling. Psikologi Psikologi MODUL PERKULIAHAN Psikologi Konseling Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Psikologi Psikologi 05 61033 Abstract Dalam perkuliahan ini akan didiskusikan mengenai Ketrampilan Dasar Konseling:

Lebih terperinci

MANUAL KETERAMPILAN KLINIK KEDOKTERAN KOMUNITAS TEKNIK KOMUNIKASI : MENYAMPAIKAN KABAR BURUK DAN KONSELING KELUARGA

MANUAL KETERAMPILAN KLINIK KEDOKTERAN KOMUNITAS TEKNIK KOMUNIKASI : MENYAMPAIKAN KABAR BURUK DAN KONSELING KELUARGA MANUAL KETERAMPILAN KLINIK KEDOKTERAN KOMUNITAS TEKNIK KOMUNIKASI : MENYAMPAIKAN KABAR BURUK DAN KONSELING KELUARGA Diberikan Pada Mahasiswa Semester VII Fakultas Kedokteran Unhas Fakultas Kedokteran Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dapat dipastikan dalam kehidupan ini, bahwa setiap pasangan yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dapat dipastikan dalam kehidupan ini, bahwa setiap pasangan yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dapat dipastikan dalam kehidupan ini, bahwa setiap pasangan yang telah menikah pastilah mendambakan hadirnya buah hati di tengah-tengah kehidupan mereka, yaitu

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Semua dokter gigi yang merawat pasien anak menyadari bahwa

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Semua dokter gigi yang merawat pasien anak menyadari bahwa I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Semua dokter gigi yang merawat pasien anak menyadari bahwa mereka dihadapkan dengan pasien anak yang memiliki rasa cemas yang berlebih (Williams dkk., 1985). De

Lebih terperinci

Teknik lainnya dalam modifikasi perilaku I

Teknik lainnya dalam modifikasi perilaku I Modul ke: 11 Rizka Fakultas Psikologi Teknik lainnya dalam modifikasi perilaku I Token ekonomi dan self-control Putri Utami, MPsi Program Studi Psikologi http://mercubuana.ac.id Definisi Token Ekonomi

Lebih terperinci

[email protected] Join With Us : Email : [email protected] Facebook : Hendri Ty Kunjungi dan D a p a t k a n!!! K u m p u l a n A s k e p L e n g k a p H a n y a D i : [email protected]

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Kajian pustaka 2.1.1 Kehamilan 2.1.1.1 Definisi Kehamilan adalah suatu keadaan mengandung embrio atau fetus di dalam tubuh, setelah bertemunya sel telur

Lebih terperinci

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK PENINGKATAN HARGA DIRI

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK PENINGKATAN HARGA DIRI PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK PENINGKATAN HARGA DIRI A. Konsep Harga Diri Rendah Gangguan harga diri rendah adalah evaluasi diri dan perasaan tentang diri atau kemampuan diri yang negative yang dapat

Lebih terperinci

BAB III TEKNIK TOKEN ECONOMY DALAM TERAPI BEHAVIORAL

BAB III TEKNIK TOKEN ECONOMY DALAM TERAPI BEHAVIORAL BAB III TEKNIK TOKEN ECONOMY DALAM TERAPI BEHAVIORAL A. Pengertian Behavioral 1. Pengertian behavioral Behavioral adalah suatu pandangan ilmiah tentang tingkah laku manusia. Dalil dasarnya adalah bahwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berkaitan dengan proses belajar mengajar, diantaranya siswa, tujuan, dan. antara siswa dan guru dalam rangka mencapai tujuannya.

BAB I PENDAHULUAN. berkaitan dengan proses belajar mengajar, diantaranya siswa, tujuan, dan. antara siswa dan guru dalam rangka mencapai tujuannya. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. merupakan sebentuk komunikasi. Sedangkan Rogers bersama Kuncaid

II. TINJAUAN PUSTAKA. merupakan sebentuk komunikasi. Sedangkan Rogers bersama Kuncaid II. TINJAUAN PUSTAKA A. Komunikasi Interpersonal 1. Pengertian Komunikasi Komunikasi mencakup pengertian yang luas dari sekedar wawancara. Setiap bentuk tingkah laku mengungkapkan pesan tertentu, sehingga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam masa perkembangan negara Indonesia, pendidikan penting untuk

BAB I PENDAHULUAN. Dalam masa perkembangan negara Indonesia, pendidikan penting untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam masa perkembangan negara Indonesia, pendidikan penting untuk kemajuan pembangunan. Salah satu lembaga pendidikan yang penting adalah perguruan tinggi.

Lebih terperinci

MATERI 7 MATA KULIAH DETEKSI DINI DALAM PERKEMBANGAN

MATERI 7 MATA KULIAH DETEKSI DINI DALAM PERKEMBANGAN FOBIA SEKOLAH TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM: Setelah mengikuti perkuliahan, diharapkan mahasiswa dapat memahami fobia sekolah guna melakukan deteksi dini TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS: 1. Mahasiswa dapat menjelaskan

Lebih terperinci

Dr. Noorhana, SpKJ(K)

Dr. Noorhana, SpKJ(K) Dr. Noorhana, SpKJ(K) school phobia specific phobia 1 % dari seluruh populasi 5-7 % terjadi pada anak-anak Pada school phobia anak-anak Definisi : Spesific phobia rasa takut yang menetap dan tidak masuk

Lebih terperinci

SEKOLAH IDEAL. Oleh: Damar Kristianto

SEKOLAH IDEAL. Oleh: Damar Kristianto 1 SEKOLAH IDEAL Oleh: Damar Kristianto Berbicara mengenai Sekolah Ideal, dalam sharing ini saya ingin membicarakan mengenai pandangan saya seperti apa sekolah umum (inklusi) dalam menyelenggarakan pendidikan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian Penelitian dilaksanakan pada tanggal 20 Februari 2017 hingga 5 Maret 2017 di Panti Wreda Pengayoman Semarang. Adapun rincian pelaksanaan

Lebih terperinci

Hesti Lestari Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK Unsrat RSUP Prof dr R.D. Kandou Manado

Hesti Lestari Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK Unsrat RSUP Prof dr R.D. Kandou Manado Hesti Lestari Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK Unsrat RSUP Prof dr R.D. Kandou Manado Genetik Nutrisi dengan kualitas dan kuantitas sesuai kebutuhan Lingkungan Tumbuh kembang Optimal 3 } perilaku makan adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kualitas yang melayani, sehingga masalah-masalah yang terkait dengan sumber

BAB I PENDAHULUAN. kualitas yang melayani, sehingga masalah-masalah yang terkait dengan sumber 1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Fungsi utama Rumah Sakit yakni melayani masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Seiring dengan berjalannya waktu dan semakin majunya teknologi kedokteran,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORI PERILAKU KEKERASAN. tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri,

BAB II TINJAUAN TEORI PERILAKU KEKERASAN. tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, BAB II TINJAUAN TEORI PERILAKU KEKERASAN A. Pengertian Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perguruan Tinggi merupakan salah satu jenjang yang penting dalam

BAB I PENDAHULUAN. Perguruan Tinggi merupakan salah satu jenjang yang penting dalam BAB I PENDAHULUAN 1. 1. LATAR BELAKANG MASALAH Perguruan Tinggi merupakan salah satu jenjang yang penting dalam pendidikan. Perguruan Tinggi diadakan dengan tujuan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi

Lebih terperinci

BAB III PENYAJIAN DATA. lokasi penelitian, yaitu di YOGA ATMA CONSULTING PEKANBARU. Counsulting Pekanbaru, penulis mendapatkan informasi bahwasanya :

BAB III PENYAJIAN DATA. lokasi penelitian, yaitu di YOGA ATMA CONSULTING PEKANBARU. Counsulting Pekanbaru, penulis mendapatkan informasi bahwasanya : BAB III PENYAJIAN DATA Dalam bab ini penulis akan memaparkan data yang penulis peroleh dari lokasi penelitian, yaitu di YOGA ATMA CONSULTING PEKANBARU. Adapun data yang penulis paparkan adalah data yang

Lebih terperinci

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS) Volume 2 Nomor 3 September 2013 E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS) http://ejournal.unp.ac.id/index.php/jupekhu Halaman : 758-769 EFEKTIFITAS TEKNIK TOKEN EKONOMI DALAM UPAYA MENGURANGI PRILAKU

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Halusinasi adalah gangguan terganggunya persepsi sensori seseorang,dimana tidak terdapat stimulus. Pasien merasakan stimulus yang sebetulnya tidak ada. Pasien merasa

Lebih terperinci

Psikologi Konseling Pendekatan Konseling Rasional Emotif (Rational Emotive Therapy)

Psikologi Konseling Pendekatan Konseling Rasional Emotif (Rational Emotive Therapy) Modul ke: Psikologi Konseling Pendekatan Konseling Rasional Emotif (Rational Emotive Therapy) Fakultas Psikologi Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id Pendekatan Kognitif Terapi kognitif: Terapi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. didapatkan 10 siswa termasuk dalam kategori sangat rendah dan rendah yang

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. didapatkan 10 siswa termasuk dalam kategori sangat rendah dan rendah yang BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Subjek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Salatiga. Subjek dalam penelitian ini adalah kelas IX A dan Kelas IX B yang berjumlah

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN DAN SIMPULAN. Bab ini penulis membahas mengenai permasalahan tentang respon nyeri

BAB V PEMBAHASAN DAN SIMPULAN. Bab ini penulis membahas mengenai permasalahan tentang respon nyeri BAB V PEMBAHASAN DAN SIMPULAN A. Pembahasan Bab ini penulis membahas mengenai permasalahan tentang respon nyeri terhadap prosedur pemasangan infus dan membandingkan antara teori yang sudah ada dengan kenyataan

Lebih terperinci

Sunardi, plb fip upi

Sunardi, plb fip upi Sunardi, plb fip upi TERAPI PSIKOANALITIK TERAPI HUMANISTIK TERAPI PSIKOLOGIS TERAPI KOGNITIF TERAPI TINGKAH LAKU TERAPI KELOMPOK TRITMEN TERAPI OBAT-OBATAN INTERVENSI MEDIS T. ELEKTROKONVULSIF TERAPI

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORI. Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan

BAB II TINJAUAN TEORI. Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan BAB II TINJAUAN TEORI A. Pengertian Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ditandai dengan perasaan tegang, pikiran khawatir dan. perubahan fisik seperti meningkatnya tekanan darah.

BAB I PENDAHULUAN. ditandai dengan perasaan tegang, pikiran khawatir dan. perubahan fisik seperti meningkatnya tekanan darah. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang masalah Kazdin (2000) dalam American Psychological Association mengatakan kecemasan merupakan emosi yang ditandai dengan perasaan tegang, pikiran khawatir dan perubahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai mahluk sosial, manusia senantiasa hidup bersama dalam sebuah

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai mahluk sosial, manusia senantiasa hidup bersama dalam sebuah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sebagai mahluk sosial, manusia senantiasa hidup bersama dalam sebuah masyarakat. Manusia senantiasa berhubungan dengan manusia lain untuk memenuhi berbagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. yang tinggi dari total jumlah perokok di dunia. Perokok di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. yang tinggi dari total jumlah perokok di dunia. Perokok di Indonesia 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan satu dari 16 negara yang menyumbangkan angka yang tinggi dari total jumlah perokok di dunia. Perokok di Indonesia memperlihatkan peningkatan.

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Subjek Penelitian Subyek diteliti oleh penulis berjumlah 3 (tiga) siswa yaitu MD, FL dan BS. Ketiga siswa ini mempunyai nilai rata-rata cukup baik. Ketiga

Lebih terperinci

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS STIMULASI PERSEPSI HALUSINASI

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS STIMULASI PERSEPSI HALUSINASI PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS STIMULASI PERSEPSI HALUSINASI A. Latar belakang Pada pasien gangguan jiwa dengan dengan kasus skizofrenia selalu diikuti dengan gangguan persepsi sensori, halusinasi. Terjadinya

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI Hospitalisasi atau Rawat Inap pada Anak Pengertian Hospitalisasi. anak dan lingkungan (Wong, 2008).

BAB II LANDASAN TEORI Hospitalisasi atau Rawat Inap pada Anak Pengertian Hospitalisasi. anak dan lingkungan (Wong, 2008). BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Hospitalisasi atau Rawat Inap pada Anak 2.1.1. Pengertian Hospitalisasi Hospitalisasi adalah suatu keadaan dimana seseorang yang sakit yang membutuhkan perawatan secara intensif

Lebih terperinci

DASAR PRESENTASI. Kunci presentasi yang sukses adalah persiapan yang baik.

DASAR PRESENTASI. Kunci presentasi yang sukses adalah persiapan yang baik. DASAR PRESENTASI PERSIAPAN Kunci presentasi yang sukses adalah persiapan yang baik. Persiapan Dasar Persiapan yang baik bisa dimulai dengan menganalisis tiga faktor di bawah ini: - pada acara apa kita

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Komunikasi Terapeutik 2.1.1 Pengertian Komunikasi Terapeutik Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang dilakukan oleh perawat dan tenaga kesehatan lain yang direncanakan

Lebih terperinci

MATERI DAN PROSEDUR. Pertemuan I : Pre-Session

MATERI DAN PROSEDUR. Pertemuan I : Pre-Session MATERI DAN PROSEDUR Pertemuan I : Pre-Session 1. Sesi 1 : Penjelasan tentang program intervensi Tujuan : - Membuat partisipan paham tentang terapi yang akan dilakukan - Memunculkan motivasi pada diri partisipan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORI. pengecapan maupun perabaan (Yosep, 2011). Menurut Stuart (2007)

BAB II TINJAUAN TEORI. pengecapan maupun perabaan (Yosep, 2011). Menurut Stuart (2007) BAB II TINJAUAN TEORI A. Definisi Halusinasi didefinisikan sebagai seseorang yang merasakan stimulus yang sebenarnya tidak ada stimulus dari manapun, baik stimulus suara, bayangan, baubauan, pengecapan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Anak usia 0-3 tahun merupakan masa untuk berkenalan dan belajar menghadapi rasa kecewa saat apa yang dikehendaki tidak dapat terpenuhi. Rasa kecewa, marah, sedih dan

Lebih terperinci

2014 PENGGUNAAN TEKNIK BEHAVIOR CONTRACT

2014 PENGGUNAAN TEKNIK BEHAVIOR CONTRACT 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perilaku merupakan suatu bentuk perbuatan atau aktivitas yang dilakukan oleh individu dalam kehidupannya sehari-hari baik yang dapat diamati secara langsung maupun

Lebih terperinci

2016 PENGGUNAAN TEKNIK TEGURAN TERHADAP PERILAKU STEREOTYPE PADA PESERTA DIDIK TOTALLY BLIND DI SLB NEGERI A KOTA BANDUNG

2016 PENGGUNAAN TEKNIK TEGURAN TERHADAP PERILAKU STEREOTYPE PADA PESERTA DIDIK TOTALLY BLIND DI SLB NEGERI A KOTA BANDUNG A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN Orang tunanetra merupakan seseorang yang kehilangan seluruh maupun sebagian dari fungsi penglihatannya, terdapat beberapa dampak yang ditimbulkan dari ketunanetraan,

Lebih terperinci

TERAPI AKTIVITAS STIMULASI PERSEPSI HALUSINASI

TERAPI AKTIVITAS STIMULASI PERSEPSI HALUSINASI TERAPI AKTIVITAS STIMULASI PERSEPSI HALUSINASI Disusun oleh: Kelompok 4 1. Intan Cahya P (14.401.15.046) 2. Khusnul Hotimah (14.401.15.050) 3. Muhamad Gimnastyar (14.401.15.056) 4. Novia Panca A (14.401.15.059)

Lebih terperinci

KONSELING REMAJA Putri Marlenny P, S.Psi, M.Psi, Psikolog Rumah Duta Revolusi Mental HP/WA :

KONSELING REMAJA Putri Marlenny P, S.Psi, M.Psi, Psikolog Rumah Duta Revolusi Mental HP/WA : KONSELING REMAJA Putri Marlenny P, S.Psi, M.Psi, Psikolog Rumah Duta Revolusi Mental HP/WA : 081-5687-1604 NB : Materi ini telah TIM RDRM persentasikan di Dinas Kesehatan Kota Semarang 2017 About Me Nama

Lebih terperinci

SATUAN LAYANAN KONSELING KELOMPOK SIKLUS I

SATUAN LAYANAN KONSELING KELOMPOK SIKLUS I SATUAN LAYANAN KONSELING KELOMPOK SIKLUS I 1. Topik Permasalahan : Tidak mampu menolak ajakan teman 2. Bidang Bimbingan : Pribadi 3. Kompetensi Dasar : Siswa dapat menemukan masalah yang dihadapi dan belajar

Lebih terperinci

Panduan Lengkap Memilih Fotografer

Panduan Lengkap Memilih Fotografer Panduan Lengkap Memilih Fotografer Untuk Acara Pernikahan Anda Anda baru saja bertunangan dan tengah merencanakan acara pernikahan. Venue atau tempat acara, katering dan undangan biasanya menjadi hal-hal

Lebih terperinci

PENGKAJIAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA DI UNIT RAWAT INAP RS JIWA

PENGKAJIAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA DI UNIT RAWAT INAP RS JIWA POLITEKNIK KESEHATAN PALEMBANG PROGRAM STUDI KEPERAWATAN LUBUKLINGGAU PENGKAJIAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA DI UNIT RAWAT INAP RS JIWA RUANGAN RAWAT : TANGGAL DIRAWAT : I. IDENTITAS KLIEN Inisial : ( L

Lebih terperinci

Asesmen, Mengembangkan Sasaran dan Terminasi dalam konseling. Adhyatman Prabowo, M.Psi

Asesmen, Mengembangkan Sasaran dan Terminasi dalam konseling. Adhyatman Prabowo, M.Psi Asesmen, Mengembangkan Sasaran dan Terminasi dalam konseling Adhyatman Prabowo, M.Psi Tujuan Asesmen Memberikan pendekatan yang sistematik untuk memperoleh dan mengorganisasi informasi yang relevan tentang

Lebih terperinci

BAB IV PENERAPAN LATIHAN ASERTIF DALAM MENINGKATKAN RASA PERCAYA DIRI SISWA YANG MEMILIKI ORANG TUA TUNGGAL (SINGLE PARENT)

BAB IV PENERAPAN LATIHAN ASERTIF DALAM MENINGKATKAN RASA PERCAYA DIRI SISWA YANG MEMILIKI ORANG TUA TUNGGAL (SINGLE PARENT) BAB IV PENERAPAN LATIHAN ASERTIF DALAM MENINGKATKAN RASA PERCAYA DIRI SISWA YANG MEMILIKI ORANG TUA TUNGGAL (SINGLE PARENT) A. Teknik Latihan Asertif Latihan asertif atau sering dikenal dengan latihan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. lain. Menurut Supratiknya (1995:9) berkomunikasi merupakan suatu

I. PENDAHULUAN. lain. Menurut Supratiknya (1995:9) berkomunikasi merupakan suatu I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah 1. Latar Belakang Hakikat manusia adalah sebagai makhluk sosial, oleh karena itu setiap manusia tidak lepas dari kontak sosialnya dengan masyarakat, dalam pergaulannya

Lebih terperinci

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN 46 LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN EFEKTIVITAS KOMUNIKASI TERAPEUTIK TERHADAP PENURUNAN TINGKAT KECEMASAN ORANG TUA YANG ANAKNYA DIRAWAT DI RUANG ICU RSUD DR PIRNGADI MEDAN PENELITI : MUHAMMAD ADIUL

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Pendahuluan B. Rumusan Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Pendahuluan B. Rumusan Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Pendahuluan Teori belajar diterapkan ke perilaku manusia setelah behaviorisme yang dipelopori oleh psikologi Amerika, J.B. Watson melakukan riset terhadap anak yang bernama Albert

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Stres Kerja 2.1.1 Pengertian Stres Kerja Menurut pendapat yang dikemukakan oleh Stepen P. Robbins (2003 : 793), bahwa stress kerja adalah kondisi dinamik yang didalamnya individu

Lebih terperinci

SOLUTION FOCUSED BRIEF GROUP THERAPY (SFBGT)

SOLUTION FOCUSED BRIEF GROUP THERAPY (SFBGT) 43 MODUL SOLUTION FOCUSED BRIEF GROUP THERAPY (SFBGT) Untuk Perilaku Agresif Remaja Oleh : Danang Setyo Budi Baskoro 44 Solution Focused Brief Group Therapy Untuk Perilaku Agresif Remaja Pengertian Solution

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DATA. A. Analisis Tentang Proses Bimbingan dan Konseling Islam dengan Terapi

BAB IV ANALISA DATA. A. Analisis Tentang Proses Bimbingan dan Konseling Islam dengan Terapi BAB IV ANALISA DATA A. Analisis Tentang Proses Bimbingan dan Konseling Islam dengan Terapi Silaturahmi pada Seorang Remaja yang Mengalami Depresi di Desa Sembayat Kabupaten Gresik. Dalam proses pelaksanaan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA. A. Faktor-Faktor Penyebab Anak Terkena Epilepsi di Gubeng

BAB IV ANALISIS DATA. A. Faktor-Faktor Penyebab Anak Terkena Epilepsi di Gubeng BAB IV ANALISIS DATA A. Faktor-Faktor Penyebab Anak Terkena Epilepsi di Gubeng Klingsingan Surabaya Faktor penyebab klien terkena epilepsi terjadi karena faktor eksternal. Yaitu faktor yang terjadi bukan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA. klien. Setelah data diperoleh dari lapangan dengan cara wawancara, observasi dan

BAB IV ANALISIS DATA. klien. Setelah data diperoleh dari lapangan dengan cara wawancara, observasi dan BAB IV ANALISIS DATA Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan analisis deskriptif komparatif untuk mengeksplorasi mengenai permasalahan yang diteliti yang terjadi pada klien. Setelah data diperoleh dari

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS (BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM DENGAN TERAPI REALITAS DALAM MENANGANI PERILAKU FIKSASI

BAB IV ANALISIS (BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM DENGAN TERAPI REALITAS DALAM MENANGANI PERILAKU FIKSASI BAB IV ANALISIS (BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM DENGAN TERAPI REALITAS DALAM MENANGANI PERILAKU FIKSASI PADA ANAK (STUDI KASUS ANAK YANG SELALU BERGANTUNG PADA ORANG LAIN)) A. Analisis Proses Pelaksanaan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISI HASIL. Dalam penelitian ini, peneliti mengambil seluruh Andikpas baru sebanyak 43

BAB IV ANALISI HASIL. Dalam penelitian ini, peneliti mengambil seluruh Andikpas baru sebanyak 43 37 BAB IV ANALISI HASIL 4.1 Gambaran Subjek Penelitian Dalam penelitian ini, peneliti mengambil seluruh Andikpas baru sebanyak 43 orang. Karakteristik sampel yang diambil memiliki usia kisaran 14-19 tahun

Lebih terperinci

2. TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2. TINJAUAN KEPUSTAKAAN 7 2. TINJAUAN KEPUSTAKAAN Pada bab ini akan dibahas mengenai teori-teori yang berkaitan dengan penelitian. Subbab pertama dipaparkan mengenai kontaminasi. Subbab kedua dibahas mengenai kelas sosial sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Fobia sering kali dimiliki seseorang. Apabila terdapat perasaan takut

BAB I PENDAHULUAN. Fobia sering kali dimiliki seseorang. Apabila terdapat perasaan takut BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Fobia sering kali dimiliki seseorang. Apabila terdapat perasaan takut akan sesuatu yang terkadang tidak mengidap sesuatu adalah lucu dan aneh, tetapi bagi orang yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Komunikasi adalah proses penyampaian gagasan, harapan, dan pesan yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Komunikasi adalah proses penyampaian gagasan, harapan, dan pesan yang BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Komunikasi 2.1.1 Pengertian Komunikasi Secara Umun Komunikasi adalah proses penyampaian gagasan, harapan, dan pesan yang disampaikan melalui lambang tertentu, mengandung

Lebih terperinci

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Persiapan Penelitian Sebelum melaksanakan penelitian pada tanggal 3 Maret 2012 penulis terlebih dahulu meminta surat ijin penelitian dari Fakultas Keguruan dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD) merupakan suatu gangguan perkembangan yang mengakibatkan ketidakmampuan mengatur perilaku, khususnya untuk mengantisipasi

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA. peneliti, maka peneliti menganalisis dengan analisis deskriptif komparatif.

BAB IV ANALISIS DATA. peneliti, maka peneliti menganalisis dengan analisis deskriptif komparatif. 92 BAB IV ANALISIS DATA Setelah data diperoleh dari lapangan yang berupa wawancara, observasi dan dokumentasi yang disajikan pada awal bab yang telah dipaparkan oleh peneliti, maka peneliti menganalisis

Lebih terperinci

Persiapan untuk Wawancara Disiplin Mulailah untuk mempersiapkan diri dengan memperbarui bagaimana Anda tahu karyawan tersebut telah melakukan suatu

Persiapan untuk Wawancara Disiplin Mulailah untuk mempersiapkan diri dengan memperbarui bagaimana Anda tahu karyawan tersebut telah melakukan suatu Persiapan untuk Wawancara Disiplin Mulailah untuk mempersiapkan diri dengan memperbarui bagaimana Anda tahu karyawan tersebut telah melakukan suatu pelanggaran yang menjamin sebuah wawancara disipliner.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang masalah. Setiap anak pada umumnya senang bergaul dan bermain bersama dengan teman

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang masalah. Setiap anak pada umumnya senang bergaul dan bermain bersama dengan teman 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang masalah Setiap anak pada umumnya senang bergaul dan bermain bersama dengan teman sebayanya. Saat bersama dengan teman, seorang anak biasanya selalu penuh dengan

Lebih terperinci

KETERAMPILAN KONSELING : KLARIFIKASI, MEMBUKA DIRI, MEMBERIKAN DORONGAN, MEMBERIKAN DUKUNGAN, PEMECAHAN MASALAH DAN MENUTUP PERCAKAPAN

KETERAMPILAN KONSELING : KLARIFIKASI, MEMBUKA DIRI, MEMBERIKAN DORONGAN, MEMBERIKAN DUKUNGAN, PEMECAHAN MASALAH DAN MENUTUP PERCAKAPAN KETERAMPILAN KONSELING : KLARIFIKASI, MEMBUKA DIRI, MEMBERIKAN DORONGAN, MEMBERIKAN DUKUNGAN, PEMECAHAN MASALAH DAN MENUTUP PERCAKAPAN oleh Rosita E.K., M.Si Konsep dasar dari konseling adalah mengerti

Lebih terperinci

Psikologi Konseling Agustini, M.Psi., Psikolog MODUL PERKULIAHAN. Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh

Psikologi Konseling Agustini, M.Psi., Psikolog MODUL PERKULIAHAN. Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh MODUL PERKULIAHAN Psikologi Konseling Psikologi Konseling Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Psikologi Psikologi 12 61033 Agustini, M.Psi., Psikolog Abstract Dalam perkuliahan ini akan

Lebih terperinci

MATERI PENDEKATAN KONSELING PERILAKU

MATERI PENDEKATAN KONSELING PERILAKU MATERI PENDEKATAN KONSELING PERILAKU 1. Latar Belakang Konseling behavior dikembangkan sejak 1950-an dan 1960-an. Konseling tersebut merupakan pemisahan yang radikal dari psikoanalisis yang berlaku saat

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan metode penelitian eksperimen semu. Menurut Sugiyono. terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan.

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan metode penelitian eksperimen semu. Menurut Sugiyono. terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan. 31 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Penelitian ini dilihat dari kualifikasinya, maka penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS 2.1 Pengertian Perilaku Asertif Perilaku assertif adalah perilaku antar perorangan yang melibatkan aspek kejujuran dan keterbukaan pikiran dan perasaan. Perilaku assertif

Lebih terperinci

MODUL VII COGNITIVE THERAPY AARON BECK

MODUL VII COGNITIVE THERAPY AARON BECK www.mercubuana.ac.id MODUL VII COGNITIVE THERAPY AARON BECK Aaron Beck adalah psikiater Amerika yang merintis penelitian pada psikoterapi dan mengembangkan terapi kognitif. Ia dianggap sebagai bapak cognitive

Lebih terperinci