ALTERNATIF DAN STRATEGI PEMBUATAN KEPUTUSAN
|
|
|
- Surya Hermanto
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 ALTERNATIF DAN STRATEGI PEMBUATAN KEPUTUSAN MODUL 4 A. Kualitas Pembuatan Keputusan Kita sudah membicarakan bagaimana Penting pembuatan suatu keputusan yang bermutu. Meningkatnya kemampuan pembuatan keputusan akan meningkatkan mutu keputusan yang dibuatnya. Janis dan Mann (1987) mengatakan bahwa pembuatan keputusan yang mempunyai satu tujuan seperti memaksimisasikan keuntungan jauh lebih mudah dibandingkan pembuatan keputusan yang dimaksudkan untuk mencapai banyak sasaran sekaligus. Tujuan yang banyak tersebut tingkat pencapaiannya adalah tidak sama. Apa yang diharapkan tidak selalu terlaksana, sebaliknya apa yang tidak diinginkan kadang-kadang menjadi kenyataan. Jadi, untuk mengevaluasi keberhasilan suatu keputusan kita harus mampu memperhitungkan efek negatif (dari konsekuensi yang buruk) dan efek positif (dari konsekuensi yang baik) dari keputusan tersebut. Bagaimana cara mengukur efek dari suatu keputusan? Tidak ada cara yang kuantitatif untuk pengukuran efek tersebut. Bila kita tanyakan pembuat keputusan yang bersangkutan tentang penilaian subjektifnya terhadap tingkat kepuasan atau penyesalan sebagai akibat keputusan itu maka besar kemungkinan hasilnya akan "bias" karena ada kecenderungan individu untuk menjawab pertanyaan 50
2 tersebut berdasarkan alasan untuk menyelamatkan mukanya dan berusaha membuat pembenaran keputusan tersebut. Sebagai alternatif, telah dikembangkan cara lain untuk mengevaluasikan keberhasilan suatu keputusan, yaitu melalui pengujian kualitas dan prosedur yang digunakan oleh pembuat keputusan menentukan pilihan di antara berbagai alternatif keputusan yang ada. Banyak para ahli (pakar) yang telah membahas e fektivitas pembuat keputusan, misainya Etzioni, 1968; Hoffman, 1965; Janis, 1972; Katz and Kahn, 1966; Maier, 1967; Miller and Starr, 1967; Simon, 1976; Taylor, 1962; Vroom and Yetton, 1973; Wilensky, 1976; Young, Selanjutnya Janis and Mann, 1977 telah menginventarisasi kriteria (tolok ukur) utama untuk menentukan apakah prosedur pembuatan keputusan berkualitas tinggi atau tidak, berdasarkan penelitian terhadap literatur-literatur tentang pembuatan keputusan yang efektif mereka mengatakan bahwa meskipun data tidak cukup tersedia, tetapi adalah masuk akal untuk mengasumsikan bahwa keputusan yang dibuat sesuai dengan tujuh prosedur pembuatan keputusan yang ideal adalah mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk mencapai tujuan si pembuat keputusan. Keputusan seperti itu akan berlaku lebih langgeng (Janis & Mann, 1927). Berikut ini adalah tujuh kriteria mengenai pengevaluasian suatu keputusan berdasarkan asumsi bahwa pembuat keputusan atas kemampuannya yang terbaik dan dalam batas-batas kemampuannya memproses informasi, melakukan langkah-langkah yang berikut. 1) Menelusuri sebagian besar alternatif keputusan. 2) Memperhitungkan tujuan-tujuan apa saja yang akan dicapai dan nilainilai apa yang melekat dengannya. 3) Dengan teliti menimbang biaya dan manfaat (pengaruh negatif dan positif) dari tiap alternatif keputusan. 4) Secara intensif mencari informasi baru yang relevan untuk pengevaluasian alternatif keputusan lebih lanjut. 51
3 5) Memakai informasi baru tersebut (termasuk pertimbangan dari pakar) meskipun hal ini tidak mendukung alternatif yang semula diinginkan pembuat keputusan 6) Sebelum membuat keputusan terakhir, sekali lagi diperhitungkan pengaruh positif dan negatif dari semua alternatif keputusan. 7) Membuat persiapan terperinci untuk pelaksanaan atau implementasi dari alternatif yang dipilih, dengan perhatian khusus kepada contingency plans (rencana untuk menghadapi keadaan yang tidak diduga) apabila ada halangan dalam tahap implementasi. Janis dan Mann (1977) mengasumsikan bahwa kegagalan memenuhi kriteria tersebut di atas dalam membuat keputusan penting, berarti kurangnya mutu proses pembuatan keputusan yang bersangkutan. Berkurang mutu proses pembuat keputusan, bertambahnya kemungkinan si pembuat keputusan akan mengalami masalah tidak efektifnya keputusan tersebut. Sebaliknya apabila pembuat keputusan memenuhi tujuh kriteria proses pembuatan keputusan tersebut bercirikan vigilant information processing (kewaspadaan dalam pencarian, pengolahan dan pemanfaatan informasi). Hal ini terutama sangat berpengaruh dalam pembuatan keputusan yang bercirikan adanya tujuan ganda. Paling sedikit tingkat kewaspadaan,dalam pencarian pengolahan dan pemanfaatan informasi ini cukup diperhatikan sebagai prasyarat bagi suatu keputusan yang akan memuaskan pembuat keputusan dalam jangka panjang. Tingkat kewaspadaan tersebut tergantung kepada kondisi tertentu. Hilton (1962) dalam studinya tentang 30 orang mahasiswa tahun terakhir (senior) di Carnegie Institute of Technology menemukan bahwa pada awal tahun yang terakhir tersebut para mahasiswa mempunyai tingkat kewaspadaan yang rendah, tetapi akhir tahun yang terakhir itu mereka ternyata lebih waspada dalam pencarian pengelolaan dan pemanfaatan informasi dalam pembuatan keputusan. Dalam menilai tingkat kewaspadaan seorang pembuat keputusan, kita dapat mengukurnya dalam, suatu skala dari ketujuh kriteria. Penilaian 52
4 kualitas proses pembuatan keputusan misalnya kita memakai skala 1 sampai dengan 100. Apabila pembuat keputusan hanya memusatkan perhatiannya pada satu alternatif keputusan yang direkomendasikan oleh seseorang, dan ia tidak mau memikirkan tentang kemungkinan adanya alternatif yang lain, serta ia tidak mau menanyakan hal tersebut kepada orang lain maka skornya dalam kriteria yang pertama sangat rendah sekali yaitu 0 (nol). Apabila ia mengorbankan cukup waktu dan usaha memikirkan dan mencari nasihat sehubungan dengan berbagai alternatif keputusan, proses yang dilakukannya pantas memperoleh skor yang tinggi sekali yaitu 100. Pada umumnya, tingkat kewaspadaan ini hanya sedang saja, tidak mempunyai skor 0 atau 100. Berkisar dari tingkat kewaspadaan yang agak tinggi misalnya seorang yang ingin mengembangkan kariernya sering membatasi usahanya dalam mencari informasi tambahan apabila ia sudah tertarik akan suatu tawaran pekerjaan yang menarik. Jadi skor untuk kriteria nomor 4 adalah sangat rendah, walaupun skor untuk kriteria yang lain agak atau sangat tinggi. Sebaliknya seorang pimpinan yang sangat mengandalkan konsensus di antara kelompok penasihatnya, cenderung mempunyai skor yang tinggi untuk kriteria nomor 5, tetapi sangat rendah dalam 6 kriteria yang lain. Secara teoritis, makin tinggi skor, dari tiap kriteria, makin rendah kemungkinan pembuat keputusan membuat kesalahan perhitungan yang bisa berakibat buruk terhadap usaha pencapaian tujuan jangka menengah dan jangka panjang. Dari contoh tentang seorang pimpinan yang sangat mengandalkan proses konsensus di atas, dapat kita ramalkan bahwa belakangan hari ia akan mempunyai banyak masalah sebab cara konsep ini cenderung dipilih. Kalau keputusan yang berdasarkan konsensus ini berhasil, dukungan dari mereka yang semula menentang keputusan tersebut bisa diperhitungkan akan tetap mendukung. Tetapi apabila keputusan tersebut mengalami kegagalan, ia akan kaget karena orang yang semula menentang keputusan tersebut akan kembali menentangnya atau menyabotnya. Dalam kehidupan nyata, pembuatan keputusan jauh lebih kompleks karena kita harus juga memperhitungkan situasi masa depan yang tidak pasti 53
5 dan kadang-kadang terpengaruh oleh keinginan memilih alternatif yang ideal. Karena itu seorang pembuat keputusan harus memperhitungkan, apakah keputusan yang akan dibuat memerlukan proses pembuatan keputusan yang cermat atau tidak. Karena keputusan tersebut menyangkut masalah kecil dan tidak penting, proses pembuatan keputusan tidak perlu sampai sangat cermat karena akan memakan biaya yang lebih mahal dari manfaatnya. Sebaliknya apabila keputusan yang akan dibuat tersebut sangat penting maka proses pembuatan yang cermat yang meliputi ketujuh kriteria yang disebut terdahulu mungkin akan bermanfaat. Jadi dalam pembuatan keputusan kita harus bertindak selektif untuk mencegah penghamburan sumber daya yang terbatas, dan di lain pihak untuk mencegah penghamburan risiko keputusan yang bermutu rendah. Karena itu seorang pimpinan (eksekutif) harus mempertanyakan hal -hal sebagai berikut (Vroom dan Yetton, 1973). 1) Apakah keputusan yang akan dibuat memerlukan penyelesaian yang berkualitas tinggi? 2) Apa informasi tambahan yang diperlukan, siapa yang memilikinya bagaimana cara mengumpulkannya? 3) Apakah saya sanggup memecahkannya sendiri, apakah saya perlu bantuan bawahan atau konsultan? 4) Apakah persetujuan bawahan sangat penting bagi pelaksanaan dan rencana kontingensi? 5) Apakah bawahan juga berkepentingan dalam tujuan yang ingin dicapai dalam pemecahan masalah? B. Sebab-Sebab Kurangnya Perhatian Terhadap Pembuatan Keputusan Yang Lebih Cermat Kenapa pembuat keputusan tidak membuat keputusan melalui proses yang lebih teliti padahal masalah yang dibahas sangat vital? Dalam literatur ilmu perilaku sering disebut sebab-sebab tidak berfungsinya dengan baik suatu organisasi adalah karena adanya tradisi organisasi, prosedur-prosedur birokratis, 54
6 dan campur tangan pimpinan tertinggi. Kendala-kendala ini mencegah pembuat keputusan memakai sumber daya yang ada bagi usaha pencarian informasi yang lebih intensif. Di samping itu, ada beberapa alasan yaitu: (1) karena keterbatasan kemampuan mental manusia dalam memersepsi dan memproses informasi yang diperlukan dalam pembuatan keputusan, (2) karena pengaruh dan campur tangan birokrasi (pemerintah atau perusahaan yang besar) sehi ngga pembuat keputusan berusaha menjaga agar para pejabat atau orang-orang yang berkuasa puas dengan keputusan yang akan dibuat, dan (3) karena keterbatasan waktu dan dana yang bisa dipakai untuk usaha membuat keputusan yang lebih teliti. C. Strategi Generik Dalam Pembuatan Keputusan Strategi dalam pembuatan keputusan meliputi usaha dan cara pemilihan alternatif keputusan termasuk prosedur dan jenis informasi yang dicari. Secara umum ada tiga kelompok strategi pembuatan keputusan. 1. Strategi Optimisasi Menurut strategi ini tujuan pembuatan keputusan adalah pemilihan alternatif keputusan yang mempunyai manfaat atau payoff tertinggi. Strategi optimisasi memerlukan pembuatan perkiraan perbandingan nilai dari tiap alternatif keputusan yang mungkin. Perkiraan perbandingan nilai ini diperbandingkan dalam perkiraan biaya dan manfaatnya. Tujuh kriteria pembuatan keputusan yang disebut terdahulu mencerminkan proses pembuatan keputusan menurut strategi optimisasi. Strategi optimisasi mempunyai beberapa kelemahan. Herbert Simon (1976), mengatakan bahwa manusia jarang memakai pendekatan yang disarankan oleh strategi optimisasi tersebut. Manusia tidak mempunyai kemampuan mental untuk menghitung semua pengaruh positif dan negative dari tiap alternatif. Pembuat keputusan akan kewalahan oleh banyaknya informasi yang diperlukan untuk bisa memperbandingkan semua alternatif tersebut. Jumlah alternatif keputusan yang mungkin dipilih sangat banyak sekali, melebihi kemampuan pembuat keputusan untuk memperbandingkan mereka pada 55
7 saat yang bersamaan (Miller dan Starr, 1967; Miller, 1966). Semua usaha pengoptimisasian keputusan ini akan lebih mahal bila dibandingkan dengan manfaat yang mungkin diperoleh. Keterbatasan seperti yang dijelaskan di atas memaksa pembuat keputusan mendapatkan penyelesaian yang kurang memuaskan dalam arti kata di bawah tingkat optimisasi atau suboptimisasi. Misalnya dengan mengoptimisasi satu atau beberapa tujuan dengan mengorbankan tujuan yang lain. Filler dan Starr (1967) menyebut suatu contoh keputusan sub-optimisasi yaitu tentang pimpinan yang telah berhasil mengoptimisasikan satu tujuan tertentu tetapi gagal dalam hal pengoptimisasian tujuan-tujuan yang lain. Contoh yang lebih konkret adalah keputusan,seorang karyawan yang ternyata berhasil dalam arti kemajuan profesionalnya, tetapi harus dibayar dengan mahal karena ia harus melakukan sangat banyak lembur dan perjalanan keluar kota sehingga ia mempunyai lebih sedikit waktu untuk keluarganya. Hal ini malahan mengakibatkan hasil yang sebaliknya, karena karyawan yang bersangkutan mengalami bahwa optimisasi satu tujuan telah mengakibatkan hasil yang lebih rendah kalau diukur dengan semua tujuan-tujuan pribadinya. Janis dan Mann (1977) dan Johnson (1974) mengatakan bahwa keputusankeputusan yang dibuat oleh perusahaan di mana nilai yang paling penting adalah membuat keuntungan yang setinggi-tingginya, dalam kenyataannya sering para pembuat keputusan tidak berorientasi ke arah pemilihan alternatif (the course of action) yang memaksimisasikan keuntungan dan tujuan nyata lainnya. Tanpa usaha mencari dan menilai secara hati-hati, para pimpinan perusahaan sering membuat keputusan yang menyangkut tujuan-tujuan yang saling bertentangan seperti hubungan baik (good wiil), potensi pertumbuhan (growth potential), persetujuan (acceptability) dalam organisasi dan manfaat-manfaat lain yang tidak bisa dilihat dengan nyata (intangible). Hal yang sama juga terjadi pada individu bila membuat keputusan penting (vital) yang menyangkut karier, perkawinan dan sebagainya, ia tidak hanya mempertimbangkannya tujuan utama yang ingin dicapai. Tetapi, ia harus mempertimbangkan berbagai faktor seperti efek dari keputusan yang 56
8 dipilih terhadap sanak keluarga dan teman-temannya. Ia juga harus memperhatikan apakah keputusan tersebut akan menambah atau mengurangi rasa harga diri dan sebagainya. Miller dan Starr (1967) mengatakan bahwa tidak ada satu cara pun untuk mengombinasikan semua pertimbangan yang ada dalam pembuatan keputusan menjadi satu ukuran yang obyektif, meskipun pembuat keputusan mungkin bisa memberi penilaian subyektif secara jujur bagi tiap pertimbangan tersebut. 2. Strategi "Kepuasan Strategi ini berasal dari konsep yang dikembangkan oleh Herbert Simon (1976) yang mengatakan bahwa pembuat keputusan dalam kenyataannya, lebih menekankan kepada "kepuasan" daripada berusaha untuk memaksimisasikan pencapaian tujuan. Dengan perkataan lain pembuat keputusan berusaha mencari alternatif yang cukup baik dalam arti kata memenuhi persyaratan-persyaratan minimum. Seorang pengusaha sering memutuskan untuk menginvestasikan dalam usaha baru, bila ia berpendapat hasilnya (keuntungannya) cukup memuaskan, tanpa berusaha membandingkannya dengan semua alternatif yang ada. Kadang-kadang lebih dari satu kriteria yang digunakan, tetapi itu selalu merupakan pertanyaan apakah alternatif, yang dipilih akan memberi hasil yang cukup memuaskan atau tidak. Sama seperti seorang yang mencari pekerjaan ia cenderung akan mengambil pekerjaan yang pertama yang memenuhi persyaratan-persyaratan minimal yang diinginkannya seperti gaji yang memuaskan, ada kesempatan untuk maju (naik pangkat), kondisi kerja yang pantas, jarak/transportasi ke tempat kerja (Janis dan Mann, 1977). Pendekatan "kepuasan" ini menurut Simon sesuai dengan keterbatasan kemampuan manusia untuk memproses informasi yang diperlukan dalam pembuatan keputusan. Keterbatasan ini disebutnya sebagai bounded or limited rationality. Simon mengatakan bahwa manusia senantiasa mencoba membuat penyelidikan bila menghadapi masalah keputusan yang kompleks. Keterbatasan manusia dalam meramalkan atau memperkirakan akibat suatu 57
9 keputusan di masa depan serta dalam mendapatkan informasi tentang alternatif yang lain telah mendorong manusia untuk puas dengan alternatif yang memenuhi syarat minimal karena lebih baik daripada cara atau keadaan yang sekarang. Simon percaya bahwa manusia tidak cenderung untuk mengumpulkan informasi tentang semua faktor-faktor yang complicated yang mungkin bisa mempengaruhi hasil dari keputusan yang dipilih untuk memperkirakan probabilitas, atau untuk mempertimbangkan, membandingkan berbagai alternatif yang berbeda. Johnson (1974) mengatakan bahwa para eksekutif sering merasa tidak pasti tentang hasil dari keputusan yang kelihatannya merupakan pilihan yang terbaik, dan mereka menghindari keputusan semacam ini untuk menghindari risiko. Mereka cenderung bersikap konvensional, mereka cenderung memilih alternatif yang nomor dua terbaik yang tidak banyak menimbulkan guncangan atau penolakan dari bawahan yang akan melaksanakannya. Cyert and March (1963) menegaskan bahwa makin banyak ketidak-pastian suatu hasil jangka panjang ada kecenderungan untuk membuat keputusan kebijakan atas dasar pertimbangan jangka pendek mengenai penerimaan keputusan tersebut oleh anggota organisasi. Banyak ahli organisasi beranggapan, baik bagi keputusan pribadi maupun keputusan organisasi, orang menggunakan strategi kepuasan (Etzioni, 1968; Miller and Starr, 1976; Young, 1976; Jannis and Mann, 1977). Etzioni membedakan antara strategi optimisasi dan strategi kepuasan, terutama dalam pertimbangan-pertimbangan sosial dan politik. Strategi optimisasi sama sekali bebas dari pengaruh sosial dan politik. Janis dan Mann memberi contoh keputusan yang membuat berdasarkan strategi "kepuasan" yaitu yang dilakukan oleh seorang pembeli di pasar swalayan. Seorang pembeli dalam melakukan pembelian di suatu pasar swalayan memilih barang yang mau dibeli dengan membandingkan dua alternatif (merek A dan merek B) kemudian memilih salah satu di antaranya apabila alternatif yang bersangkutan bisa memberi lebih banyak kepuasan 58
10 dibandingkan keadaannya yang sekarang. Dengan perkataan lain pembeli tersebut membandingkan alternatif baru dengan alternatif lama yang sudah diketahuinya. Bila yang baru tersebut lebih baik maka ia akan memilihnya. Kecuali apabila keduanya tidak memenuhi persyaratan yang diinginkannya maka ia akan berusaha mencari alternatif lain sampai ia menemukannya alternatif yang memuaskannya. Jadi pemakaian strategi keputusan tidak menutup kemungkinan menyurvei, menganalisis dan mengevaluasi banyak alternatif, tetapi alternatif-alternatif tersebut dianalisis secara berurutan, tidak ada usaha untuk membuat perbandingan "pros" dan "cons" di atas suatu lembaran neraca. 3. Strategi Quasi-satisficing (Quasi-kepuasan) Bentuk lain dari strategi "kepuasan" ini adalah strategi pengambilan keputusan yang mengandalkan kepada penggunaan satu kriteria (decision rule). Sering yang menggunakan strategi seperti ini adalah orang-orang yang sedang menghadapi keputusan pribadi yang penting, yang akan mempengaruhi kesejahteraannya di kemudian hari. Orang-orang yang sedang menghadapi kesulitan serius cenderung untuk berkonsultasi dengan orang kepercayaannya, walaupun apa saja rekomendasi yang diberikan oleh para ahli (dokter atau pengacara). Ia akan menerima usu l orang kepercayaannya tersebut tanpa usaha mencari alternatif lain. Dengan perkataan lain, strategi yang memakai satu kriteria (decision rule) sering merupakan proses meminta pendapat ahli tentang masalah yang ingin dipecahkan dan menuruti apa yang direkomendasikan bila hal itu dianggap cukup baik. Contoh lain dari strategi pembuatan keputusan yang memakai satu kriteria (decision rule) adalah apa yang disebut "pembuatan keputusan moral". Misalnya, kita mengetahui seseorang memerlukan bantuan dan kita menyadari bahwa ada beberapa cara menolongnya, kita segera membantunya tanpa memikirkan alternatif yang ada secara cermat. Kita percaya cara yang kita lakukan adalah yang terbaik. Strategi pembuatan keputusan moral ini sama seperti strategi kepuasan, kecuali satu hal, yaitu 59
11 orang yang menolong tidak mengetahui apakah pilihan yang dibuatnya memuaskan orang yang ditolongnya. Strategi ini disebut juga strategi quasi kepuasan, (quasi- satisficing). Apabila seseorang menggunakan persepsi normatif yang sederhana seperti penggunaan kriteria tunggal dalam pembuatan keputusan, ia biasanya merasa immoral untuk melakukan pertimbangan terhadap alternatif atau option lain yang ada, yang bisa diperbandingkan dengan alternatif yang pertama. Ini merupakan kewajiban moral (moral inperative quality) yang melekat pada norma yang membuat ia menolak melanggarnya. Hal seperti ini sering kita amati dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia, di mana terdapat norma yang. menganggap tidak pantas bila kita melakukan analisis dan evaluasi yang teliti terhadap alternatif lain yang tersedia, bila kita mau membantu orang yang sedang memerlukannya. 4. Perbedaan antara Strategi Optimisasi dengan Strategi Kepuasan dan Strategi Quasi-kepuasan Janis dan Mann (19 77) mengklasifikasikan variabel-variabel yang membedakan strategi kepuasan dan Quasi-kepuasan dengan strategi optimisasi : George (1974) mengingatkan bahwa strategi yang menggunakan satu kriteria sederhana sebenarnya menanggung risiko yang besar, sebab hal itu menjurus kepada pembuatan pilihan yang prematur, dalam arti kata tidak tercakupnya konsekuensi negatif yang kalau diteliti sepintas lalu tidak mudah diketahui. Sebagian dari konsekuensi negatif ini bisa dihindarkan bila keputusan ditunda sampai dilakukan evaluasi yang lebih menyeluruh setelah diperoleh informasi dan sumber-sumber yang dapat dipercaya. a. Jumlah persyaratan yang harus dipenuhi Seperti telah dibicarakan di atas, dalam strategi kepuasan dan quasikepuasan", kriteria untuk menentukan apakah suatu tindakan bisa disetujui atau ditolak hanya menyangkut sejumlah kecil atribut atau persyaratan yang harus dipenuhi. Sering kali atribut atau persyaratan tersebut hanya satu butir. Misalnya, seorang yang mengambil keputusan 60
12 hanya berdasarkan apakah istri atau suaminya menyetujui, atau dalam suatu kantor, pilihan kebijakan hanya berdasarkan persetujuan mayoritas saja, atau hanya berdasarkan persetujuan atasan saja. Di sini pembuat keputusan mengabaikan banyak nilai-nilai, kepentingan yang disadarinya akan terpengaruh oleh keputusan. Sebaiknya, bila pembuat keputusan menggunakan strategi optimisasi, ia akan memperhitungkan sejumlah besar persyaratan yang harus dipenuhi dengan maksud memilih tindakan (course of action) yang memberi kemungkinan kepuasan yang tertinggi dalam semua persyaratan. Variabel ini mungkin merupakan ciri yang paling nyata dalam membedakan strategi kepuasan dan strategi optimisasi. b. Jumlah alternatif yang dibahas atau diperhitungkan Pembuat keputusan yang memakai strategi kepuasan akan mengetes tiap alternatif yang menarik perhatiannya secara berurutan. Ia akan menghentikan usahanya apabila ia menemui ada alternatif yang sedikit memuaskan. Karena itu pembuat keputusan semacam ini cenderung akan meneliti sedikit alternatif. Sebaliknya apabila memakai strategi optimisasi maka ia tentu akan berusaha untuk mencari dan mengevaluasi sebanyak mungkin alternatif. c. Mengetes kembali alternatif-alternatif Bila yang digunakan adalah strategi kepuasan maka pembuat keputusan hanya mengetes alternatif-alternatif sekali saja yaitu menurut urutan yang sesuai dengan yang terlintas dalam pikirannya sampai ia menemukan yang memenuhi persyaratan minimum. Sebaliknya bila pembuat keputusan tersebut memakai strategi optimisasi, ia akan memilih alternatif yang terbaik dan mengetes kembali alternatif-alternatif tersebut berulang kali dengan memperbandingkan mereka satu persatu secara berpasangan (in pairs) sehingga memungkinkan membuat keputusan perbandingan. d. Tipe dari testing yang digunakan 61
13 Dalam mengetes apakah suatu alternatif memenuhi persyaratan tertentu, pembuat keputusan yang menganut strategi kepuasan akan mencoba melihatnya dari segi titik minimal yang bisa diterima. Apabila ada lebih dari satu persyaratan, ia akan menilainya dengan cara yang sama dan memberi bobot yang sama. Sebaliknya, kalau pembuat keputusan memakai strategi optimisasi, ia akan memberi bobot yang mungkin tidak sama di antara berbagai persyaratan yang di minta. Ini memberikan kesempatan kepadanya untuk memperhitungkan kemungkinan trade-off dari nilai yang tinggi bagi beberapa persyaratan yang utama sebagai imbalan untuk nilai yang rendah bagi persyaratan yang kurang penting. D. Strategi-strategi yang Lain dalam Pembuatan Keputusan 1. Strategi Penyortiran Strategi lain, yang merupakan kebalikan dari strategi kepuasan atau quasi-kepuasan adalah strategi yang memakai satu set kriteria (decision rule) dan menggunakannya satu per satu untuk menyortir alternatif yang dievaluasi. Strategi ini disebut the elimination by aspects approach. Menurut strategi ini pembuatan keputusan merupakan proses penyempitan (towing down process) daripada pilihan. Dinilai dari kriteria yang paling tinggi bobotnya, semua alternatif yang tidak memenuhi kriteria di sini dihilangkan dari daftar dan proses dilanjutkan dengan menggunakan kriteria yang kedua pentingnya, untuk menyortir alternatif yang masih ada dan seterusnya dilanjutkan dengan memakai kriteria yang lain satu persatu sampai diperoleh satu alternatif yang memenuhi persyaratan paling lengkap. Contoh, dalam mempelajari pembelian seluruh mobil baru, aspek pertama yang dipilih mungkin batas harga tertinggi, misalnya Rp35 juta; jadi semua mobil sedan baru harganya di atas Rp35 juta dikeluarkan dari pertimbangan selanjutnya. Aspek kedua mungkin jumlah kilometer yang bisa dicapai untuk tiap liter bensin yang dikonsumsikan, pada tahap ini semua mobil yang tidak memenuhi syarat harus dikeluarkan dari daftar pertimbangan. Aspek ketiga misalnya tentang perlengkapan air conditioner, bagi mobil yang tidak memenuhi persyaratan ini dikeluarkan dari daftar tersebut. Proses ini berlangsung 62
14 terus sampai tinggal hanya satu mobil yang memenuhi semua persyaratan tadi. Strategi penyortiran alternatif ini mempunyai beberapa kelemahan. Misalnya seorang pembuat keputusan bisa saja kehabisan aspek yang akan dipakai menyortir alternatif-alternatif sebelum bisa dipilih satu alternatif yang terakhir yang memenuhi semua persyaratan. Atau sebaliknya bila semua alternatif yang ada sudah dicoret dari daftar, sebelum aspek-aspek lain sempat diteliti. Kelemahan yang paling besar adalah karena strategi ini tidak bisa menjamin bahwa alternatif yang terpilih adalah yang terbaik, misalnya alternatif yang terpilih adalah yang memenuhi persyaratan harga, pemakaian bensin dan perlengkapan AC. Tetapi tidak ada jaminan bahwa alternatif yang terpilih tersebut juga, mempunyai kualitas mesin yang baik. Dengan perkataan lain mobil yang dikeluarkan dari daftar pertimbangan adalah lebih baik kualitas mesinnya daripada mobil yang terpilih atau direkomendasikan. 2. Strategi Quasi-Optimisasi Kelemahan-kelemahan strategi penyortiran alternatif dengan satu set kriteria satu persatu ini bisa dihindari dengan mengubah strategi ini menjadi strategi quasi optimisasi dengan memakai prosedur yang memungkinkan pembuat keputusan memberi bobot yang berbeda untuk masing-masing aspek. Perlu dicatat bahwa strategi penyelesaian alternatif keputusan dengan menyortirnya berdasarkan satu set kriteria yang digunakan satu persatu sampai diperoleh satu alternatif yang terbaik, merupakan strategi quasi kepuasan yang paling baik karena bisa mengurangi kesalahan perhitungan pada strategi yang hanya memakai satu kriteria saja. 3. Strategi Inkremental Pendekatan yang dipakai oleh strategi kepuasan ini disebut juga incrementalism dan muddling through karena strategi ini dapat menghasilkan kemajuan perlahan-lahan ke arah tujuan optimisasi dalam jangka panjang. Miller dan Starr (1967) mengatakan bahwa kebijak an 63
15 yang berdasarkan strategi kepuasan berarti bahwa strategi tersebut berdasarkan perkiraan akan mampu menggerakkan ke arah cukup perubahan dibandingkan kondisi sebelumnya sehingga hasilnya merupakan kemajuan sedikit demi sedikit (incremental improvement). Menurut mereka dalam jangka panjang pendekatan inkremental akan lebih bermanfaat daripada pendekatan optimisasi yang mengakibatkan perubahan drastis dalam jangka pendek. Charles Lindblom (1965) menyebut pendekatan "incrementalist" ini sebagai pendekatan yang memerlukan "the art of muddling through". Bilamana masalah yang timbul merupakan tuntutan terhadap perubahan kebijakan, para pembuat keputusan dalam pemerintah atau dalam perusahaan yang besar umumnya mempertimbangkan sejumlah kecil alternatif yang berbeda sedikit sekali dari kebijakan yang sekarang. Pembuatan keputusan yang "incremental" ditujukan hanya kepada perbaikan daripada alternatif yang sekarang tidak ditujukan untuk mencari alternatif yang terbaik (Linblom, 1965) dan Slovic (1 9T1) mengatakan bahwa pendekatan "incremental" sangat menarik karena memungkinkan pembuat keputusan untuk menghindari tugas-tugas kognitif yang sulit. Ia mengatakan bahwa dalam pembuatan keputusan di pemerintahan atau di swasta ada kecenderungan untuk menghindari ketidakpastian, keharusan pemberian bobot yang berbeda kepada kriteria serta keharusan mengombinasikan informasi atau membuat trade off dari nilai dan tujuan yang berbeda-beda. Proses pembuatan keputusan yang "incremental" dengan pendekatan yang tidak secara sadar di organisasi (muddling through) merupakan pembuatan keputusan yang khas dalam masyarakat yang pluralisme. Bila pimpinan politik dalam pemerintah atau dalam dewan perwakilan rakyat terpecah dalam kelompok yang berbeda maka pusat kekuasaan sulit untuk memaksa kehendaknya maka kebijaksanaan yang diambil terpaksa merupakan kompromi sehingga hasilnya akan merupakan perubahan yang "incremental". Jadi pendekatan "incremental" ini sangat menekankan pada kriteria konsensus dan menghindarkan cara-cara 64
16 paksaan dari keputusan yang desentralisasi (Braybrooke dan Linblom, 1963; Janis dan Mann, 1977). 4. Strategi Mixed Scanning Strategi ini disarankan oleh Etzioni (1967) yaitu sebagai sintesis dari strategi optimisasi yang kaku dan strategi kepuasan yang "incremental" dan tidak akurat seperti biasa dilakukan oleh para birokrat dengan menggunakan konsensus sebagai satu-satunya kriteria keputusan. Strategi mixed scanning ini mempunyai 2 komponen utama: (1) ciri strategi optimisasi dengan kombinasi pendekatan the elimination by aspects dalam pengambilan keputusan kebijakan, (2) mempunyai ciri "incremental" seperti strategi kepuasan yaitu suatu proses pembuatan keputusan yang hanya beruang lingkup kecil dan merupakan revisi yang perlahan-lahan atau persiapan bagi keputusan fundamental yang baru. Menurut Etzioni strategi mixed scanning ini sesuai dengan sistem organisasi dari pemerintahan yang demokratis karena dalam keadaan stabil (non -kritis) akan lebih mudah membuat keputusan yang menyangkut perubahan yang "increment" daripada membuat keputusan tentang kebijaksanaan yang baru sama sekali. Sebaliknya dalam keadaan kesulitan yang serius (krisis) keputusan yang menyangkut perubahan besar atau kebijakan baru akan lebih mudah dicapai karena situasi krisis ini merupakan dorongan kuat bagi konsensus untuk perubahan yang besar, melakukan scanning atau pencarian, pengumpulan, pemrosesan, analisis dan pemberian bobot dari informasi bagi pembuatan keputusan yang optimal. Etzioni memperinci langkah-langkah pembuatan keputusan menurut strategi mixed scanning sebagai berikut. a. Pemilihan Alternatif 1) Catat semua kemungkinan alternatif yang terlintas dalam pikiran, yang disarankan oleh staf atau oleh penasihat termasuk yang kelihatannya tidak layak (not feasible). 65
17 2) Teliti alternatif-alternatif tersebut secara singkat, tolak alternatif yang jelas tidak bisa dilaksanakan. (tidak bisa memenuhi persyaratan tertentu yang mutlak diperlukan).u 3) langi langkah nomor 2 tersebut di atas dengan lebih teliti untuk alternatif yang lolos dalam langkah ke-2. 4) Ulangi langkah nomor 2 tersebut di atas dengan teliti sekali sampai hanya satu alternatif yang tersisa. b. Sebelum Implementasi 1) Kalau mungkin pecah tahap implementasi menjadi beberapa langkah. 2) Kalau mungkin bagi komitmen untuk implementasi dalam beberapa urutan langkah-langkah. 3) Kalau mungkin, bagi komitmen sumber daya lainnya dalam beberapa urutan langkah-langkah dan pelihara cadangan strategis. 4) Atur implementasi sedemikian rupa sehingga, kalau bisa, keputusan-keputusan yang mahal serta tidak gampang diubah ditaruh pada akhir daripada keseluruhan proses. 5) Beri jadwal waktu pengumpulan dan pengolahan tambahan informasi. c. Review Sambil Implementasi 1) "Scan" secara terbatas setelah satu sub-set dari kemajuan "increment" yang dicapai. Kalau ternyata "sub-set" tersebut berhasil lanjutkan ke "sub-set" yang selanjutnya. 2) Lanjutkan ke set "increment" yang lain meskipun kelihatannya tidak ada masalah. 3) Jangan lupa untuk me-review secara keseluruhan meskipun kelihatannya berhasil baik. d. Rumuskan Peraturan tentang Alokasi Waktu dan Sumber Daya di antara Berbagai Tingkat "scanning" Satu-satunya ketentuan untuk keputusan dasar adalah menolak tiap alternatif yang gagal memenuhi syarat utama. Pendekatan quasi-optimisasi dapat digunakan bagi pemilihan alternatif-alternatif yang lolos dari tes 66
18 saringan permulaan. Pada tiap tes saringan yang berikutnya akan bertambah tinggi standar yang dipakai. Pendekatan quasi-optimisasi seperti langkah-langkah mixed scanning tersebut di atas sebenarnya sudah mencakup 4 dari 7 kriteria untuk mencapai vigilant information-processing orientation, yaitu: a. Kriteria nomor 1 menelusuri sebagian besar alternatif keputusan. b. Kriteria nomor 2 memperhitungkan tujuan-tujuan yang mau dicapai dan nilai-nilai yang melekat dengannya. c. Kriteria nomor 4 secara intensif mencari informasi yang lengkap untuk mengevaluasi alternatif keputusan. d. Kriteria nomor membuat persiapan yang terperinci untuk pelaksanaan atau implementasi dari alternatif yang dipilih. Agar semua langkah-langkah quasi-optimisasi dilaksanakan dengan sadar maka pembuat keputusan diminta untuk memenuhi tiga kriteria yang lain: a. Kriteria nomor 3 dengan teliti menimbang biaya dan manfaat dari tiap alternatif. b. Kriteria nomor 5 memanfaatkan informasi baru meskipun informasi tersebut tidak mendukung alternatif yang semula diinginkan. c. Kriteria nomor 6 menguji kembali konsekuensi dari tiap alternative keputusan sebelum membuat keputusan terakhir. Teknik pembuatan keputusan ini meskipun dimaksudkan bagi pembuat kebijakan, tetapi teknik ini bisa dipakai untuk keperluan pembuatan keputusan pribadi dengan sedikit penyesuaian. Misalnya, teknik ini bisa dipakai dalam pembuatan keputusan tentang karier, perkawinan, kesehatan dan keuangan pribadi. 67
BULETIN ORGANISASI DAN APARATUR
KEBIJAKAN PUBLIK : MODEL RASIONAL KOMPREHENSIF, INKREMENTAL DAN MIXED SCANNING Oleh: Sari Wahyuni, S.Ap Staf Biro Organisasi Sekretariat Daerah Provinsi Sumatera Barat I. Pendahuluan Bicara masalah kebijakan
BAB 8 PENGAMBILAN KEPUTUSAN
BAB 8 PENGAMBILAN KEPUTUSAN 1. MASALAH DAN KESEMPATAN 2. PENGAMBILAN KEPUTUSAN 3. KEPASTIAN, RISIKO,DAN KETIDAKPASTIAN 4. PENDEKATAN RASIONAL UNTUK PENGAMBILAN KEPUTUSAN 5. ALTERNATIF PENDEKATAN RASIONAL
DASAR PENGAMBILAN KEPUTUSAN
DASAR PENGAMBILAN KEPUTUSAN Dosen : Diana Ma rifah DASAR PENGAMBILAN KEPUTUSAN Menurut George R. Terry, dasar pengambilan keputusan dibedakan menjadi 5 (lima) macam. Kelima macam dasar pengambilan keputusan
MAKALAH SISTEM PENUNJANG KEPUTUSAN
MAKALAH SISTEM PENUNJANG KEPUTUSAN Oleh : Nama : MI Natalis Widhiasti NIM : 11130055 Kelas : 11.7B.01 DAFTAR ISI Judul Makalah. 1 Daftar Isi. 2 BAB I PENGERTIAN PERILAKU POLITIS. 3 BAB II METODE-METODE
MANAGEMENT SUMMARY CHAPTER 7 DECISION MAKING
MANAGEMENT SUMMARY CHAPTER 7 DECISION MAKING MANAJER SEBAGAI PEMBUAT KEPUTUSAN PROSES MEMBUAT KEPUTUSAN Manajer bertugas membuat keputusan. Dan mereka ingin keputusan tersebut menjadi keputusan yang terbaik,
Kekuasaan & Proses Pembuatan Kebijakan
KMA Kekuasaan & Proses Pembuatan Kebijakan Departemen Administrasi Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Prof. Drh. Wiku Adisasmito, M.Sc., Ph.D. Proses Pembuatan Kebijakan
JURNAL STIE SEMARANG, VOL 5, NO 1, Edisi Februari 2013 (ISSN : )
PERAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN (SIM) DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN Anastasia Lipursari Dosen Tetap ASM Semarang Abstrak Sistem informasi mutlak diperlukan dalam pengambilan keputusan yang logis sehingga
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Orang yang melaksanakan fungsi auditing dinamakan pemeriksa atau auditor. Pada mulanya
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoritis a. Pengertian Auditing dan Internal Auditing Istilah auditing dikenal berasal dari bahasa latin yaitu : audire, yang artinya mendengar. Orang yang melaksanakan
Konsep Pengambilan Keputusan untuk Sistem Informasi
Konsep Pengambilan Keputusan untuk Sistem Informasi 1. Pendahuluan Banyak manajer yang bergantung pada metode penyelesaian masalah secara informal. Percaya pada tradisi menyebabkan para manajer mengambil
Business Ethic and Good Governance
Modul ke: 02Fakultas Pascasarjana Business Ethic and Good Governance Program Studi Magister Manajemen Pokok Bahasan : Ethical Decision Making Dr. Ir. Sugiyono, MSi. Mata Kuliah : Business Ethic and Good
PENGAMBILAN KEPUTUSAN MENENTUKAN KELANGSUNGAN HIDUP SETIAP ORGANISASI
PENGAMBILAN KEPUTUSAN MENENTUKAN KELANGSUNGAN HIDUP SETIAP ORGANISASI ABSTRAK: Decision making can not be separated from human life process. Almost in all activities, human is faced to the decision making.
BAB II KAJIAN PUSTAKA. variabel kompetensi, independensi, dan profesionalisme memiliki pengaruh
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Tinjauan Penelitian Terdahulu Agusti dan Pratistha (2013) membuktikan melalui penelitiannya bahwa variabel kompetensi, independensi, dan profesionalisme memiliki pengaruh signifikan
PERENCANAAN Tujuan Instruksional Materi Pembahasan
PERENCANAAN Tujuan Instruksional Memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai perencanaan, proses pembuatan rencana dan tingkat rencana organisasi serta hambatan-hambatan dalam perencanaan. Materi Pembahasan
yang bertugas melakukan kegiatan pemeriksaaan yang meliputi perencanaan pemeriksaaan, pengujian dan pengevaluasian informasi, pemberitahuan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perekonomian Indonesia pada saat ini sedang mengalami keadaan yang tidak menentu, hal ini dikarenakan ketidakpastian keadaan politik dan perekonomian dalam
PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN * HAKIKAT KEPUTUSAN
PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN * HAKIKAT KEPUTUSAN Proses pengambilan keputusan merupakan proses utama dalam mengelola tugas organisasi. Proses pengambilan keputusan melibatkan pemilihan dari berbagai alternatif
7 Prinsip Manajemen Mutu - ISO (versi lengkap)
7 Prinsip Manajemen Mutu - ISO 9001 2015 (versi lengkap) diterjemahkan oleh: Syahu Sugian O Dokumen ini memperkenalkan tujuh Prinsip Manajemen Mutu. ISO 9000, ISO 9001, dan standar manajemen mutu terkait
PANITIA UJIAN AKHIR SEMESTER GANJIL 2011/ 2012 FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS WARMADEWA
PANITIA UJIAN AKHIR SEMESTER GANJIL 2011/ 2012 FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS WARMADEWA MATA UJI : KEBIJAKAN PEMERINTAH JURUSAN/ CAWU : ILMU PEMERINTAHAN/ III HARI/ TANGGAL : SELASA,
Dasar Pengambilan Keputusan
Dasar Pengambilan Keputusan Lingkungan ketidak pastian -> kita tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Kompleks -> banyak factor yang berinteraksi dalam berbagai
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. standar dan satuan lain yang mencakup jangka waktu satu tahun. Anggaran
9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Anggaran Menurut Mulyadi (1993) pengertian anggaran adalah suatu rencana kerja yang dinyatakan secara kuantitatif yang diukur dalam satuan moneter standar dan satuan
MAKALAH MANAJEMEN PENGANTAR MEMAHAMI KONTEKS MANAJEMEN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
MAKALAH MANAJEMEN PENGANTAR MEMAHAMI KONTEKS MANAJEMEN PENGAMBILAN KEPUTUSAN Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Manajemen Pengantar Dosen Pengampu : Dyna Herlina Suwanto, M.Sc Disusun Oleh : Muh.
Contoh Perilaku dan Budaya Organisasi
Contoh Perilaku dan Budaya Organisasi Perilaku pegawai tidak terlepas dengan budaya organisasi. Menurut Kotter dan Hesket, budaya organisasi merujuk pada nilai-nilai yang dianut bersama oleh orang dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perkembangan perekonomian Indonesia dewasa ini cenderung menurun dikarenakan adanya krisis ekonomi yang berkepanjangan, yang di mulai pada pertengahan tahun
BAB I PENDAHULUAN. perubahan yang ada, baik politik, sosial budaya, ekonomi dan teknologi. Sebagian
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Perkembangan dunia saat ini menciptakan persaingan yang semakin ketat. Hal ini yang menuntut produsen untuk lebih peka, kritis dan reaktif terhadap perubahan
I. PENDAHULUAN. dengan perusahaan seperti, pemegang saham, kreditur, karyawan, pemerintah dan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perusahaan dalam menjalankan aktivitas bisnisnya bercita-cita untuk tumbuh dan berkembang demi memuaskan pihak- pihak yang berkepentingan dengan perusahaan seperti, pemegang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dewasa ini pada era globalisasi, persaingan antara perusahaan satu dengan yang lainnya semakin ketat. Istilah globalisasi khususnya di dunia usaha telah menjadi
SPR Reviu atas Informasi Keuangan Interim yang Dilaksanakan oleh Auditor Independen Entitas
SPR 0 Reviu atas Informasi Keuangan Interim yang Dilaksanakan oleh Auditor Independen Entitas SA Paket 000.indb //0 0:: AM STANDAR PERIKATAN REVIU 0 REVIU ATAS INFORMASI KEUANGAN INTERIM YANG DILAKSANAKAN
Piagam Unit Audit Internal ( Internal Audit Charter ) PT Catur Sentosa Adiprana, Tbk
Piagam Unit Audit Internal ( Internal Audit Charter ) PT Catur Sentosa Adiprana, Tbk Pendahuluan Piagam Audit Internal ( Internal Audit Charter ) adalah dokumen formal yang berisi pengakuan keberadaan
A. Proses Pengambilan Keputusan
A. Proses Pengambilan Keputusan a) Definisi Menurut James A.F. Stoner, keputusan adalah pemilihan di antara berbagai alternatif. Definisi ini mengandung tiga pengertian, yaitu: (1) ada pilihan atas dasar
RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT
SA Seksi 312 RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT Sumber: PSA No. 25 PENDAHULUAN 01 Seksi ini memberikan panduan bagi auditor dalam mempertimbangkan risiko dan materialitas pada saat perencanaan
BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan sistem manajemen pemerintahan dan pembangunan antara lain
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Terjadinya berbagai krisis kawasan yang tidak lepas dari kegagalan mengembangkan sistem manajemen pemerintahan dan pembangunan antara lain disebabkan oleh
BAB IV AUDIT OPERASIONAL ATAS FUNGSI MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA PADA PT ABC
BAB IV AUDIT OPERASIONAL ATAS FUNGSI MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA PADA PT ABC IV.1. Survei Pendahuluan (Preliminary Survey) Tahap survei pendahuluan merupakan tahap awal yang harus dilaksanakan oleh seorang
BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum J.O. Ciputra Karya Utama 4.1.1 Lokasi Perusahaan Dalam mendirikan suatu perusahaan, maka perlu diperhatikan terlebih dahulu semua yang mempunyai peran
Kode Perilaku VESUVIUS: black 85% PLC: black 60% VESUVIUS: white PLC: black 20% VESUVIUS: white PLC: black 20%
Kode Perilaku 2 Vesuvius / Kode Perilaku 3 Pesan dari Direktur Utama Kode Perilaku ini menegaskan komitmen kita terhadap etika dan kepatuhan Rekan-rekan yang Terhormat Kode Perilaku Vesuvius menguraikan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perekonomian Indonesia pada saat ini sedang mengalami keadaan yang tidak menentu, hal ini dikarenakan ketidakpastian keadaan politik dan perekonomian dalam
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1992 TENTANG USAHA PERASURANSIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1992 TENTANG USAHA PERASURANSIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur
MATERI INISIASI KEEMPAT: BIROKRASI ORGANISASI
MATERI INISIASI KEEMPAT: BIROKRASI ORGANISASI PENDAHULUAN Model organisasi birokratis diperkenalkan pertama kali oleh Max Weber. Dia membahas peran organisasi dalam suatu masyarakat dan mencoba menjawab
MAKALAH STUDI KELAYAKAN USAHA
MAKALAH STUDI KELAYAKAN USAHA Dosen Pengampu: Dra.Hj.Machmuroh., M.S. Disusun oleh : Asfani Erviyanto (K2514011) PENDIDIKAN TEKNIK MESIN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Catatan informasi klien
Catatan informasi klien Ikhtisar Untuk semua asesmen yang dilakukan oleh LRQA, tujuan audit ini adalah: penentuan ketaatan sistem manajemen klien, atau bagian darinya, dengan kriteria audit; penentuan
BAB II URAIAN TEORITIS. 25%, sedangkan sisanya 75% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain.
BAB II URAIAN TEORITIS A. Penelitian Terdahulu Andhina (2007) melakukan penelitian yang berjudul Pengaruh Penilaian Prestasi Kerja Pegawai terhadap Promosi Jabatan pada Bappeda Sumatera Utara menunjukkan
Standar Audit SA 250. Pertimbangan atas Peraturan Perundang-Undangan dalam Audit atas Laporan Keuangan
SA 0 Pertimbangan atas Peraturan Perundang-Undangan dalam Audit atas Laporan Keuangan SA Paket 00.indb STANDAR AUDIT 0 PERTIMBANGAN ATAS PERATURAN PERUNDANG- UNDANGAN DALAM AUDIT ATAS LAPORAN KEUANGAN
BAB I PENDAHULUAN. perusahaan dalam melakukan audit (Mulyadi dan Puradiredja, (1998)
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Profesi akuntan publik atau auditor merupakan profesi kepercayaan masyarakat. Masyarakat mengharapkan profesi akuntan publik melakukan penilaian yang bebas dan
BAB II URAIAN TEORITIS. penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah sistem pendelegasian wewenang
BAB II URAIAN TEORITIS A. PENELITIAN TERDAHULU Arief (2007) melakukan penelitian yang berjudul Pengaruh Sistem Pendelegasian Wewenang Terhadap Prestasi Kerja Karyawan Pada PT. Satuan Harapan (Samudra Indonesia
BAB I PENDAHULUAN. bagi perusahaan. Hal ini disebabkan karena kualitas jasa dapat digunakan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada dekade terakhir, kualitas jasa semakin mendapatkan banyak perhatian bagi perusahaan. Hal ini disebabkan karena kualitas jasa dapat digunakan sebagai alat untuk
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teoritis 2.1.1 Pengertian Auditing Seperti yang telah di jelaskan pada latar belakang masalah, Kode Etik Akuntan merupakan salah satu faktor penting dalam profesi akuntan,
Standar Audit SA 240. Tanggung Jawab Auditor Terkait dengan Kecurangan dalam Suatu Audit atas Laporan Keuangan
SA 0 Tanggung Jawab Auditor Terkait dengan Kecurangan dalam Suatu Audit atas Laporan Keuangan SA Paket 00.indb //0 0:0: AM STANDAR AUDIT 0 TANGGUNG JAWAB AUDITOR TERKAIT DENGAN KECURANGAN DALAM SUATU AUDIT
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 14 LANDASAN TEORI 2.1 Proses Hierarki Analitik 2.1.1 Pengenalan Proses Hierarki Analitik Proses Hierarki Analitik (Analytical Hierarchy Process AHP) dikembangkan oleh Dr. Thomas L. Saaty dari Wharton
Manajemen Resiko Nia Saurina 811
E-Government, yang di implementasikan dalam Sistem Informasi Manajemen Daerah (SIMDA), adalah salah satu upaya dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi secara cepat, tepat, lengkap, akurat dan terpadu
PERATURAN DEPARTEMEN AUDIT INTERNAL
PERATURAN DEPARTEMEN AUDIT INTERNAL Bab I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Tujuan Peraturan ini dibuat dengan tujuan menjalankan fungsi pengendalian internal terhadap kegiatan perusahaan dengan sasaran utama keandalan
Konsep Dasar Metodologi adalah pengetahuan tentang cara-cara (science of methods). Dalam kontek penelitian, metodologi adalah totalitas cara untuk men
Metodologi Penelitian Psikologi Rahayu Ginintasasi Konsep Dasar Metodologi adalah pengetahuan tentang cara-cara (science of methods). Dalam kontek penelitian, metodologi adalah totalitas cara untuk meneliti
Jenis dan Bentuk Perubahan Organisasi
Modul ke: Jenis dan Bentuk Perubahan Organisasi Fakultas Pasca Sarjanan Dr. Ir. Sugiyono, Msi. Program Studi Magister Manajemen www.mercubuana.ac.id Source: Jones, G.R.2004. Organizational Theory, Design,
BAB II LANDASAN TEORI
8 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Keseimbangan Lini (Line Balancing) Keseimbangan lini adalah pengelompokan elemen pekerjaan ke dalam stasiun-stasiun kerja yang bertujuan membuat seimbang jumlah pekerja yang
1. PENDAHULUAN. Universitas Indonesia. Strategi Implementasi..., Baragina Widyaningrum, Program Pascasarjana, 2008
1 1. PENDAHULUAN Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian secara akademis dan praktis, batasan penelitian serta model operasional
BAB III METODE PENELITIAN. A. Desain Penelitian. berkaitan dengan variabel lain, berdasarkan koefisien korelasi (Azwar, 2013)
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Pada penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif yaitu dilakukan dengan mengumpulakan data yang berupa angka. Data tersebut kemudian diolah
BAB I PENDAHULUAN. nasabah yang meningkat, menjadi alasan tingginya eskalasi persaingan antar bank.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini bisnis perbankan di Indonesia berkembang dengan pesat. Salah satunya disebabkan oleh semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan fungsi bank dalam aktivitas
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 1992 TENTANG PENYELENGGARAAN OTONOMI DAERAH DENGAN TITIK BERAT PADA DAERAH TINGKAT II
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 1992 TENTANG PENYELENGGARAAN OTONOMI DAERAH DENGAN TITIK BERAT PADA DAERAH TINGKAT II PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk melaksanakan
MAKALAH AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK JENIS JENIS ANGGARAN SEKTOR PUBLIK
MAKALAH AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK JENIS JENIS ANGGARAN SEKTOR PUBLIK Oleh : Erinta Tria Yulianda Akuntansi 4 B 201410170311101 PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
Bab IV Usulan Perencanaan Investasi Teknologi Informasi
Bab IV Usulan Perencanaan Investasi Teknologi Informasi IV.1 Usulan Perencanaan Investasi Teknologi Informasi dengan Val IT Perencanaan investasi TI yang dilakukan oleh Politeknik Caltex Riau yang dilakukan
PENGELOLAAN ANGGARAN SEKOLAH
PENGELOLAAN ANGGARAN SEKOLAH Inovasi yang saat ini tumbuh menitikberatkan pada aspek kurikulum dan administrasi pendidikan. Hal tersebut merupakan bagian dari praktek dan teori keuangan, termasuk penganggaran
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG MASALAH
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG MASALAH Kualitas merupakan salah satu tujuan dan sekaligus indikator kesuksesan suatu pekerjaan konstruksi terutama oleh pemilik proyek terhadap produk dan jasa layanan
RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT
Risiko Audit dan Materialitas dalam Pelaksanaan Audit Standar Prof SA Seksi 3 1 2 RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT Sumber: PSA No. 25 PENDAHULUAN 01 Seksi ini memberikan panduan bagi
BAB I. Pendahuluan. Bab pendahuluan ini menjelaskan pemikiran peneliti terkait pertanyaan
BAB I Pendahuluan Bab pendahuluan ini menjelaskan pemikiran peneliti terkait pertanyaan mengapa penelitian ini dilakukan. Bab ini berisi latar belakang, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian yang
Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia terdiri dari tiga bagian:
Legal Framework Akuntan > Prinsip Etika Akuntan KODE ETIK IKATAN AKUNTAN INDONESIA Pemberlakuan dan Komposisi Pendahuluan Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia dimaksudkan sebagai panduan dan aturan bagi
Pasal I. Pasal 1. Pasal 2. Ketentuan mengenai anggota Tentara Nasional Indonesia, diatur dengan undangundang.
PENJELASAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 1999 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1974 TENTANG POKOK-POKOK KEPEGAWAIAN UMUM 1. Kelancaran penyelenggaraan tugas pemerintahan
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN Dalam dunia usaha (business), kegiatan-kegiatan yang harus diselenggarakan maupun masalah-masalah yang harus diatasi sangat banyak dan masing-masing masalah tersebut tidak
BAB V PENUTUP. a. Diketahui bahwa kebanyakan responden menjawab selalu dan sering. untuk melakukan upaya minimal agar tetap dapat bekerja.
BAB V PENUTUP 1.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan yang bertujuan untuk melakukan penilaian kinerja berbasis kompetensi sales, dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Komitmen
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 1992 TENTANG PENYELENGGARAAN OTONOMI DAERAH DENGAN TITIK BERAT PADA DAERAH TINGKAT II
PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 45 TAHUN 1992 TENTANG PENYELENGGARAAN OTONOMI DAERAH DENGAN TITIK BERAT PADA DAERAH TINGKAT II PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan Otonomi Dacrah secara berdayaguna
BAB I PENDAHULUAN. yaitu fungsi perencanaan (planning), fungsi pelaksanaan (actuating), dan fungsi
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Anggaran adalah salah satu komponen penting dalam perencanaan organisasi. Anggaran merupakan rencana pendanaan kegiatan di masa depan dan dinyatakan secara
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. dibenak setiap orang (M. Hanafi, 2006:1 ). Risiko mencakup
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Landasan Teori 2.1.1. Persepsi Risiko Risiko merupakan suatu kejadian yang dikonotasikan negative dibenak setiap orang (M. Hanafi, 2006:1 ). Risiko mencakup
PROFIL NARAPIDANA BERDASARKAN HIERARKI KEBUTUHAN ABRAHAM MASLOW. Skripsi. Diajukan kepada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta
PROFIL NARAPIDANA BERDASARKAN HIERARKI KEBUTUHAN ABRAHAM MASLOW Skripsi Diajukan kepada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Memperoleh Derajat Sarjana
BAB II TINJUAN PUSTAKA
BAB II TINJUAN PUSTAKA 2. 1. Manajemen Secara Umum Keberhasilan suatu produk sangat ditunjang dengan bagaimana organisasi melakukan manajemennya dengan baik. Oleh karena itu penulis akan menjelaskan tentang
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Analisis Perhitungan Model scoring ini adalah model perhitungan yang cepat dan mudah untuk mengidentifikasikan keputusan yang mempunyai beragam criteria. Perhitungan dalam
KARYA ILMIAH TENTANG LINGKUNGAN BISNIS
KARYA ILMIAH TENTANG LINGKUNGAN BISNIS NAMA : RANDHIKA INDRAD ADMAJA NIM : 10.12.4692 BAB I PENDAHULUAN Pengertian Lingkungan bisnis Dalam merumuskan strategi, maka terlebih dahulu harus melakukan analisis
BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi saat ini begitu pesat dan telah semakin luas.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi saat ini begitu pesat dan telah semakin luas. Penggunaan teknologi yang tidak hanya terbatas pada bidang bisnis dan perdagangan tetapi lebih
GEJALA MELEMAHNYA BUDAYA KESELAMATAN
GEJALA MELEMAHNYA BUDAYA KESELAMATAN Oleh : Suharno LOKAKARYA BUDAYA KESELAMTAN INSTALASI NUKLIR Jakarta 17 20 Mei 2005 1. PENDAHULUAN Kelemahan dapat memicu terjadinya keadaan keselamatan yang tidak stabil
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek Penelitian 1. Lokasi Penelitian Lokasi merupakan tempat atau unit analisa yang dijadikan sebagai tempat pelaksana penelitian atau tempat pengumpulan data
PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG KODE ETIK BADAN PEMERIKSA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
-1- PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG KODE ETIK BADAN PEMERIKSA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia memiliki kehidupan dan kegiatan yang bersifat konsumtif sehingga memudahkan pelaku usaha untuk menawarkan berbagai produk baik barang dan/atau jasa kepada masyarakat
BAB I PENDAHULUAN. manajemen perusahaan dituntut untuk dapat mengelola perusahaannya secara lebih
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dalam rangka mewujudkan perekonomian yang modern, para pimpinan atau manajemen perusahaan dituntut untuk dapat mengelola perusahaannya secara lebih efektif
LAMPIRAN LAMPIRAN ARAHAN STRATEGI (STRATEGIC INTENTION) Wawancara dilakukan pada pengguna aplikasi (user) yang berhubungan
LAMPIRAN LAMPIRAN I. KUISIONER HUBUNGAN LIGHTS-ON DAN PROYEK DENGAN ARAHAN STRATEGI (STRATEGIC INTENTION) Wawancara dilakukan pada pengguna aplikasi (user) yang berhubungan dan staf senior dari departemen
BAB 1 PENDAHULUAN. Dampak akibat krisis multidimensi yang terjadi mulai tahun 1998 masih
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Dampak akibat krisis multidimensi yang terjadi mulai tahun 1998 masih terasa akibatnya. Salah satu konsekuensi dari globalisasi (dunia tanpa batas) adalah
BAB I PENDAHULUAN. Globalisasi menuntut pertumbuhan perekonomian khususnya dunia usaha
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Globalisasi menuntut pertumbuhan perekonomian khususnya dunia usaha untuk semakin maju lebih efektif. Semakin maju dunia usaha dan semakin berhasilnya perusahaan,
Bab 1 Pendahuluan 1-6
Bab 1 Pendahuluan 1-6 Bab VI Kesimpulan dan Saran Bab ini mengemukakan kesimpulan dari hasil akhir penelitian serta saran-saran dari penulis dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan. Bab 1 Pendahuluan
BAB II BAHAN RUJUKAN
BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Pengertian dan Karakteristik Anggaran Anggaran atau yang lebih sering disebut budget didefinisikan oleh para ahli dengan definisi yang beraneka ragam. Hal ini dikarenakan adanya
I. PENDAHULUAN. melalui implementasi desentralisasi dan otonomi daerah sebagai salah satu realita
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peningkatkan peranan publik ataupun pembangunan, dapat dikembangkan melalui implementasi desentralisasi dan otonomi daerah sebagai salah satu realita yang kompleks namun
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 1992 TENTANG PENYELENGGARAAN OTONOMI DAERAH DENGAN TITIK BERAT PADA DAERAH TINGKAT II
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 1992 TENTANG PENYELENGGARAAN OTONOMI DAERAH DENGAN TITIK BERAT PADA DAERAH TINGKAT II PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk melaksanakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Menghadapi perubahan perkembangan bisnis yang semakin kompetitif, suatu organisasi dituntut untuk melakukan suatu adaptasi yang cepat terhadap faktor-faktor
Pengertian Pengambilan Keputusan
Dadang Sunendar Pengertian Pengambilan Keputusan Pengambilan keputusan (desicion making) adalah melakukan penilaian dan menjatuhkan pilihan. Keputusan ini diambil setelah melalui beberapa perhitungan dan
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Terjadinya kasus kegagalan audit dalam beberapa dekade belakangan ini,
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Terjadinya kasus kegagalan audit dalam beberapa dekade belakangan ini, telah menimbulkan krisis kepercayaan masyarakat mengenai ketidakmampuan profesi akuntansi dalam
BAB 14 PENJADWALAN. Bab ini merinci langkah 4, 5 dan 6, jaringan kerja dan jadwal.
BAB 14 PENJADWALAN 14.1. PENDAHULUAN Perkiraan yang sudah diperhitungkan di dalam Bab 13 adalah banyaknya orang per-hari dari usaha yang akan diperlukan untuk membuat proyek. Hal ini disebut waktu sebenarnya
BAB 14 PENJADWALAN. Bab ini merinci langkah 4, 5 dan 6, jaringan kerja dan jadwal.
BAB 14 PENJADWALAN 14.1. PENDAHULUAN Perkiraan yang sudah diperhitungkan di dalam Bab 13 adalah banyaknya orang per-hari dari usaha yang akan diperlukan untuk membuat proyek. Hal ini disebut waktu sebenarnya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia pada saat ini sedang berada dalam masa transisi menuju sistem pelayanan kesehatan universal. Pasal 28 H (1) dan Pasal 34 (3) Amandemen IV UUD 1945
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Seiring dengan pesatnya perkembangan zaman dan semakin kompleksnya
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Seiring dengan pesatnya perkembangan zaman dan semakin kompleksnya persoalan yang dihadapi oleh negara, telah terjadi pula perkembangan penyelenggaraan
MODUL PENDAHULUAN 1 A. Mengapa Perlu Mempelajari Pembuatan Keputusan
PENDAHULUAN MODUL 1 Apakah keputusan? Apakah pengambilan keputusan (decision-making)? Mengapa dan bagaimana manusia mengambil keputusan? Apakah pengambilan keputusan dibatasi oleh sejumlah faktor? Faktor-faktor
