BAB III TINJAUAN PUSTAKA
|
|
|
- Hartono Hartanto
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB III TINJAUAN PUSTAKA ARITMIA SUPRAVENTRIKULAR PENDAHULUAN Aritmia dapat merupakan kelainan sekunder akibat penyakit jantung atau ekstrakardiak, tetapi dapat juga merupakan kelainan primer. Kesemuanya mempunyai mekanisme yang sama dan penatalaksanaan yang sama juga. Kelainan irama jantung ini dapat terjadi pada pasien usia muda ataupun usia lanjut. [2] Aritmia dapat dibagi menjadi kelompok aritmia supraventrikular dan aritmia ventrikular berdasarkan letak lokasi yaitu apakah di atrial termasuk AV node dan berkas His ataukah di ventrikel mulai dari infra his bundle. Selain itu aritmia dapat dibagi menurut denyut jantung yaitu bradikardia ataupun takikardia, dengan nilai normal berkisar antara /menit. Tergantung dari letak fokus, selain menyebabkan VES (Ventrikular Extra Systole), dapat terjadi Supraventricular Extra Systole (SVES) atau Supra Ventriculare Tachycardy (SVT) dimana fokusnya berasal dari berkas His ke atas. AVNRT (AV Nodal Reentry Tachycardia) merupakan salah satu dari SVT di mana terjadi proses reentry mechanism di sekitar nodus AV. Pada bab ini akan membahas tentang aritmia dengan fokus di supra ventrikel yang bersifat takikardia. [2] MEKANISME TAKIARITMIA [2] Ada beberapa teori yang menerangkan mekanisme takiaritmia, yang biasanya dipicu oleh premature beat. Mekanisme ini tergantung dari peran ion-ion natrium, kalium, kalsium, khususnya mengenai fungsi kanal ion, sehingga berpengaruh terhadap potensial aksi dan juga konduksi elektrisnya. Gangguan ini dibagi menjadi gangguan fungsi pembentukan impuls (rangsang) dan gangguan perbanyakan (propagation) impuls. Pembentukan rangsang bertambah (enchanced impulsed formation) yang dapat disebaban oleh peningkatan otomatisitas (enhanced autmaticity) dan aktivitas pemicu (triggered activity). 21
2 Peningkatan automatisitas: Aktivitas pacemaker otomatis selain pada nodus SA, juga didapat pada serabut atrial khusus, serabut AV junction dan serabut Purkinje. Sel miokard pada keadaan normal tidak mempunyai aktivitas sebagai pacemaker. Peningkatan automatisitas serabut pacemaker laten karena terjadi depolarisasi parsial pada resting membrane. Terjadi perubahan kecepatan depolarisasi pada fase diastolik yaitu percepatan fase 4 sehingga automatisitas meningkat. Bila mencapai ambang rangsang, akan terjadi aksi potensial baru sehingga dengan demikian mengakibatkan peningkatan frekuensi denyut jantung. Keadaan ini didapat pada: (1) peningkatan katekolamin endogen dan estrogen, (2) gangguan elektrolit(misal hipokalemia), (3) hipoksia atau iskemia, (4) efek mekanis, dan (5) obat-obatan (misal digitalis). Aktivitas Pemicu (triggered activity): Dapat disebabkan oleh early after depolarization, yang terjadi pada fase 2 dan fase 3 potensial aksi atau pada after depolarisasi terlambat (delayed). Karena itu mekanisme ini terjadi tidak secara spontan, tetapi sudah ada gangguan elektris jantung. Setelah hiperpolarisasi akhir (late), Na dan Ca yang masuk ke dalam sel meningkat, sehingga terjadi gelombang sesudah (after) depolarisasi dan bila mencapai ambang rangsang maka akan terjadi ekstrasistol. Mekanisme ini telah diobservasi terjadi di atrial, ventrikel dan jaringan His-Purkinje di mana kadar katekolamin meningkat, hiperkalsemia, intoksikasi digitalis atau pada bradikardia, hipokalemia. Semua keadaan ini menghasilkan akumulasi Ca intracellular. Mekanisme Reentry: Teori ini banyak dipakai untuk menerangkan terjadinya takiaritmia paroksismal menetap (sustain). Persyaratan terjadinya mekanisme ini adalah: (1) adanya blok unidirectional pada salah satu jalan konduksi, baik sementara maupun menetap, (2) adanya jalan tambahan sehingga membentuk sirkuit tertutup, (3) Konduksi perangsangan cukup lambat, sehingga pada saat rangsang sampai di titik blok, titik tersebut sudah berada dalam fase refrakter relatif kembali, (4) ada extra beat sebagai pemicu terjadinya mekanisme reentri. Secara matematis panjang gelombang = kecepatan konduksi x masa refrakter. Perjalanan berulang dari impuls tersebut mengakibatkan timbulnya takiaritmia menetap. Contoh yang jelas mekanisme ini adalah pada sindrom WPW (Wolf Parkinson White) di mana terdapat jalan tambahan misal dari atrium ke ventrikel, di samping jalan normal pada nodus AV-His-Purkinje. Perlambatan konduksi terjadi, jika terjadi fibrosis patologis karena jaringan parut (scar) akibat infark miokard. Blok unidireksional terjadi karena perubahan arsitektur jaringan 22
3 sehingga tidak homogen sehingga menyebabkan refrakter yang inhomogen misal karena infark miokard. SINUS TAKIKARDIA: Frekuensi nadi melebihi 100/menit dan biasanya bukan merupakan kelainan jantung primer, tetapi akibat sekunder karena berbagai stres, yaitu demam, kehilangan cairan, khawatir, latihan, tirotoksikosis, hipoksemia, atau gagal jantung kongestif. Pada gambaran EKG terlihat gelombang P masih jelas dan masih diikuti oleh gelombang kompleks QRS. Masase sinus karotis bisa memperlambat takikardia. Pengobatan: ditujukan pada penyakit primer. Lain halnya bila terdapat kasus gagal jantung kongestif, yaitu pemberian penyekat beta haruslah bersama dengan inhibitor ACE atau Angiotensin Receptor Blocker. FIBRILASI ATRIAL (FA): Kelainan ini sering didapat dan dibagi menjadi paroksismal, persisten dan permanen tergantung dari cara timbul dan lamanya bertahan. Bila timbul secara mendadak dan hilang spontan dalam waktu 2x24 jam, disebut paroksismal. Bila terus menerus menetap menjadi kronik disebut permanen. Sedangkan persisten adalah bila bertahan sampai 7 hari. Dapat terjadi pada manusia normal terutama karena stres emosional atau sesudah operasi, latihan, intoksikasi alkohol akut atau karena peningkatan tonus vagal. Dapat juga terjadi pada pasien jantung atau paru dengan hipoksia, hiperkapnia, atau gangguan metabolik atau gangguan hemodinamik. FA persisten sering terdapat pada pasien jantung, yaitu reuma jantung, penyakit katup mitral non reuma, penyakit hipertensi kardiovaskular, penyakit paru kronik, defek septal atrial, juga pada tirotoksikosis. Sedangkan lone FA bila pasien tidak mengidap penyakit jantung. Fibrilasi atrial dapat menimbulkan komplikasi yang berkaitan dengan (1) frekuensi ventrikel yang sangat cepat sehingga terjadi hipotensi, edema paru, angina pectoris dan dapat juga menyebabkan kardiomiopati yang disebabkan oleh takikadia (tachycardia-mediated). (2) Bila terlalu lambat dapat menimbulkan sinkop. (3) Emboli sistemik yang biasanya terjadi pada pasien dengan demam reuma jantung dan sebagai penyebab tersering stroke non hemoragik. (4) Hilangnya kontraksi atrial sehingga mengurangi curah jantung output dengan akibat terjadi fatigue. (5) Rasa khawatir (ansietas) dengan palpasi. Pada gambaran EKG gelombang 23
4 P tidak terlihat dengan jelas. Respon aksi ventrikel (gelombang kompleks QRS) tidak teratur (iregular). Hal ini terjadi karena dari sekian banyak aksi atrial, tetapi hanya sebagian impuls yang dapat melewati nodus AV, sehingga frekuensi aksi ventrikel lebih lambat daripada aksi atrial. Pengobatan: Penyakit primer harus diobati, seperti tirotoksikosis, panas dan lainnya. Bila keadaan klinis buruk, misal hemodinamik menurun, dapat dilakukan kardioversi. Bila keadaan masih cukup baik, dapat diberikan obat penyekat beta atau antagonis kalsium, di mana keduanya memblokade di nodus AV yaitu pada slow conduction pathway, dengan memperpanjang masa refrakternya. Pemberian antikoagulan sampai INR minimal 1,8 untuk mencegah emboli. Pada pasien FA kronik tujuan pengobatan adalah untuk kontrol rate yaitu dengan penyekat beta, atau antagonis kalsium atau digitalis. Sedangkan pada pasien yang telah kembali ke irama sinus dapat diberikan obatobatan golongan IC, sotalol, amiodaron untuk mempertahankan iramanya, yaitu sebagai kontrol ritme. Penatalaksanaan Farmakologis Penyakit dasarnya seharusnya diobati juga disamping penatalaksanaan terhadap aritmianya sendiri, seperti gagal jantung, PJK, perbaikan elektrolit dan lainnya. Pada pasien usia lanjut harus diperhatikan efek samping, berkenaan dengan sudah menurunnya fungsi hepar, renal, distribusi dengan berkurangnya volume cairan tubuh. Selain itu dilihat juga interaksi obat-obat dan juga dihindari polifarmaka. Obat-obatan aritmia yang digunakan pada pengobatan AF adalah: (A). (1) kelompok kontrol rate untuk mengatasi denyut nadi, yaitu golongan penyekat beta (kelas II), (2) golongan antagonis kalsium yaitu verapamil, diltiazem (kelas IV). Disamping itu dapat dipergunakan juga digitalis. (B) adalah kelompok rhytme control untuk mengkonversi dari AF ke irama sinus, yaitu: (1) Golongan yang memblokade kanal ion Na (kelas IA, IC) yaitu antara lain kuinidin, propafenon. (2) kelas III yang memperpanjang masa refrakter potensial aksi dengan menghambat kanal ion K, yaitu amiodaron, sotalol. Intervensi Invasif 24
5 Yang paling sederhana adalah dengan menggunakan defibrilator untuk mengatasi VT dan VF yang termasuk dalam resursitasi jantung paru. Ablasi biasanya dilakukan pada AF paroksismal. Biasanya tipe ini dipicu oleh fokus otomatis yang berlokasi di vena pulmonalis. Dengan menggunakan teknik kateterisasi sampai ke atrium kiri mencapai vena pulmonalis kemudian setelah didapat signal fokus, dilakukan ablasi. Selain itu ada juga teknik bedah MAZE dengan membentuk multiple scars di atria kanan dan kiri sehingga mencegah penjalaran gelombang fibrilasi. FLUTTER ATRIAL (FIAT) Aritmia ini biasanya berkaitan dengan penyakit jantung organik. Flutter ini dapat terjadi secara paroksismal dengan faktor presipitasi seperti perikarditis, gagal nafas akut. Dapat juga terjadi dalam minggu pertama setelah operasi jantung terbuka. FIAT dapat berubah menjadi AF dan jarang menimbulkan emboli sistemik. FIAT mempunyai kekhasan berupa gambaran gelombang P seperti gigi gergaji (saw teeth), mempunyai frekuensi atrial sekitar /menit. Sedangkan frekuensi ventrikel adalah setengahnya karena terjadi blok 2:1 di nodus AV. Pengobatan. Yang paling efektif adalah dengan kardioversi dengan low energy (25-50Ws). Selain itu bila frekuesnsi ventrikel meningkat dapat diturunkan dengan antagonis kalsium atau penyekat beta atau digitalis yang memblokade di nodus AV. Kemudian setelah itu dapat diberikan anti aritmia golongan IA atau IC atau amiodarone untuk merubah kembali menjadi irama sinus. Untuk menjaga jangan sampai kembali ke FIAT dapat diberikan golongan IA, IC, atau golongan II. Ablasi dengan radiofrekuensi biasanya dilakukan di lokasi sekitar katup trikuspidal yaitu pada daera isthmus yang sempit. Keberhasilan cukup tinggi sampai 85%. [2, 3] SUPRAVENTRIKULAR TAKIKARDI PAROKSISMAL (PSVT) Penemuan Klinis Supraventrikular takikardi paroksismal adalah istilah imim yang menunjukkan takiaritmia yang muncul di atas bifurkasio dari His bundle. Letak kelainan adalah di nodus AV. Sekitar 25
6 90% dari aritmia ini muncul karena mekanisme reentrant; sisanya 10% muncul karena kenaikan automatisitas. ATRIOVENTRICULAR NODAL REENTRANT TACHYCARDIA (AVNRT) Termasuk Paroksismal supra takikardia ventrikular, dan merupakan bentuk kelainan yang umum dari PSVT, berkisar 50-60% dari kasus yang ada. Kompleks QRS langsing dengan frekuensi berkisar antara /menit dan dipicu oleh atrial ekstra sistol dan berkaitan dengan PR memanjang karena terjadi keterlambatan konduksi di dalam nodus AV. Dalam nodus AV terdapat dua jalur yaitu jalur cepat dan jalur lambat yang disebut dengan dual pathway. Jalur cepat memberikan konduksi yang cepat serta mempunyai periode refrakter panjang sedangkan jalur lambat memberikan konduksi lambat dengan periode refrakter pendek. Pada irama sinus konduksi rangsang hanya melalui jalur cepat sehingga interval PR normal. Dengan adanya atrial ekstra sistol, terjadi blokade di jalur cepat sehingga konduksi rangsang berikutnya dialirkan melalui jalur lambat dan selain itu kecepatan rambat menurun, sehingga memenuhi persyaratan untuk terjadi reentry AV nodal dan terjadilah takikardia dan disebut AV nodal reentrant tachycardia. Aktivasi atrial retrograd dan ventrikel antegrad terjadi bersamaan sehingga gelombang P tak terlihat di EKG. Seringkali, pasien dengan AVNRT tidak memiliki dasar penyakit jantung. Faktor presipitasi yang sering termasuk alkohol, kafein, dan simpatomimetik amin. Pasien dengan AVNRT biasanya berumur dekade ketiga atau keempat, dan mayoritas (sekitar 70%) adalah perempuan. ATRIOVENTRICULAR RECIPROCATING TACHYCARDIA (AVRT) Berjumlah sekitar 30% dari PSVT. Pada kebanyakan kasus, impuls turun ke nodus AV dan mengikuti jalur retrograd ke jalur accessory bypass. Karena aktivasi dari venrikel melalui jalur konduksi normal, jalur asesori ini terselubung, dan morfologi QRS normal. Pikirkan AVRT apabila denyut jantung lebih cepat dari 200 denyut/menit atau apabila gelombang P terlihat mengikuti kompleks QRS. SINUS NODE REENTRY DAN INTRA-ATRIAL REENTRY Adalah penyebab yang kurang umum dari PSVT, berkisar sekitar 5% dari kasus. Pada aritmia ini, denyut jantung biasanya denyut/menit. Lebih sering, pasien dengan aritmia ini memiliki dasar penyakit jantung. AUTOMATIC ATRIAL TACHYCARDIA 26
7 Adalah penyebab yang kurang umum juga pada aritmia, berkisar kurang dari 5% dari PSVT. Denyut jantung biasanya denyut/menit tapi dapat juga lambat sekitar 140 denyut/menit. Pada kasus ini, mekanisme yang mendasari meningkatkan automatisitas daripada reentri. Automatic atrial tachycardia biasanya dikaitkan dengan dasar penyakit jantung. Aritmia ini sulit untuk diobati dan dapat muncul kembali dengan pengukuran standar termasuk kardioversi. PSVT dapat diklasifikasikan menjadi AV Nodal Dependent atau independent. Strategi ini terbukti berguna, yang berarti bahwa nodus AV terkait dengan sirkuit reentran. Untuk ritme ini, manajemen farmakologik didesign untuk mengurangi konduksi melalui nodus AV. Gambaran Klinis berupa palpitasi, dapat terjadi sinkop dengan hipotensi. Terapi Pasien tidak stabil [3] Pasien dengan PSVT dengan hemodinamik yang tidak stabil membutuhkan sinkronisasi DC kardioversi dengan segera. Rekomendasi adalah memulai dengan level energi yang rendah (50 joules [J]) dan lalu menaikan dosis inisial dari 50 J seperti yang diperlukan sampai ritme sinus dapat pulih. Apabila keadaan klinis mengijinkan, berikan sedasi intravena. Hindari kesalahan umum dalam menunda kardioversi darurat untuk dilakukan aktivitas perawatan yang lainnya. Apabila kardioversi segera tidak tersedia, manuver fisik yang menyebabkan stimulasi vagal dapat dicoba. Pasien stabil [3] Takikardia yang terkait dengan PSVT biasanya dapat dengan baik ditoleransi ecuali pasien memiliki dasar penyakit jantung atau disfungsi ventrikel kiri. 1. Manuver fisik pada pasien yang stabil, manuver fisik yang menyebabkan stimulasi vagal dapat dicoba sebelum pemberian medikasi. Manuver yang menstimulasi saraf vagal seperti manuver valsava(ekspitasi melawan penutupan glotis), manuver Muller (inspirasi dalam melawan penutupan glotis), cold water facial immersion, gagging, dan tindakan pijat sinus karotikus sebagai manipulasi vagal dapat dicoba untuk menghentikan PSVT yang disebabkan dari mekanisme dependen nodus AV dan nodus sinoatrial (SA). Penekanan pada bola mata tidak boleh dilakukan. Lakukan pijatan sinus karotikus hanya sesudah auskultasi dari bising karotis. 27
8 2. Pengobatan farmakologis apabila stimulasi vagal terkontraindikasi atau tidak efektif, adenosin dipertimbangkan sebagai terapi medikal lini pertama untuk konversi dari PSVT. Secara umum, agen farmakologis dengan properti penghambat AV seperti adenosin, β-bloker, calsium channel blocker, dan digoksin digunakan untuk manajemen akut dan prevensi pada AV nodal dependent PSVT. Agen antiaritmik lain seperti prokainamide dan amiodarone, yang memiliki efek pada level yang bervariasi dari sistem konduksi jantung digunakan untuk manajemen dan prevensi dari AV nodal independent PSVT. Pengobatan antiaritmik dapat dipertimbangkan untuk konversi dari PSVT ketika agen penghambat nodus AV tidak berhasil. Bila tak berhasil dapat diberikan adenosin intravena. Selain itu dapat dilakukan dengan verapamil atau penyekat beta. Sedangkan digitalis, awitan aksinya lebih lambat sehingga tidak dianjurkan pada keadaan akut. Bila tak berhasil dapat dilakukan dengan pancing atrial atau ventrikel melalui intravena. Dalam keadaan hemodinamik jelek dengan hipotensi atau iskemia berat, dipertimbangkan untuk dilakukan kardioversi. a. Adenosin adenosin adalah nukleosid endogenus yang memperlambat konduksi melalui nodus AV dan terbukti berhasil untuk menterminasi lebih dari 90% dari PSVT yang disebabkan oleh mekanisme AV nodal reentry (AVNRT dan AVRT). Adenosin dapat juga efektif untuk menterminasi sinus node reentry tachycardia. Seringkali adenosin akan menyebabkan blok AV yang sementara, secara singkat mengekspos aktivitas atrial yang mendasari. Pemberian medikasi dengan efek yang memanjang dari nodus AV (β-bloker atau calcium channel blocker) dapat mengurangi reduksi yang lebih tetap pada ritme ventrikular. Pemberian adenosin secara cepat, dan diikuti secepatnya dengan bilasan 20 cc salin setiap dosisnya. Pemberian dosis inisial intravena adalah 6 mg dalam 1-3 detik. Apabila hal ini tidak menterminasi PSVT, dosis sebesar 12 mg dapat diberikan dalam 2 menit. Dosis 12 mg dapat diulang satu kali apabila diperlukan. Efek samping yang umum termasuk kemerahan pada wajah, hiperventilasi, dispnue, dan nyeri dada. Efek samping ini biasanya sementara karena pendeknya waktu paruh dari adenosin (kurang dari 5 detik). Peringatan pada pasien akan gejala ini membantu. Efek dari adenosin diantagoniskan oleh kafein dan theofilin dan dipotensiasi oleh dipidamol dan karbamazepin. Pasien dengan transplan jantung dapat sensitif secara berlebihan kepada efek dari adenosin; apabila dibutuhkan, gunakan dosis yang lebih kecil. Karena 28
9 adenosin dapat memprovokasi bronkospasme, gunakanlah dengan hati-hati apabila pemberiannya diberikan pada pasien dengan riwayat penyakit jalan nafas reaktif. Adenosin juga dapat diberikan pada pasien yang stabil dengan takikardia dengan kompleks QRS yang melebar yang dicurigai berasal dari supraventrikular. Adenosin lebih dipilih daripada calcium channel blocker pada pasien dengan hipotensi atau gangguan fungsi jantung dan pada pasien yang secara konkomitan menerima agen yang memblok β-adrenergic. b. Β-blocking agents β-bloker seperti metoprolol atau esmolol memperlambat formasi impuls nodus SA dan konduksi lambat melalui nodus AV. Medikasi ini harus digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan riwayat penyakit saluran nafas reaktif yang berat dan CHF. Metoprolol adalah alternatif dari calcium channel blocker dan diberikan secara intravena dengan dosis 5 mg setiap 5 menit untuk tiga dosis. Esmolol adalah penyekat β selektif β1 yang kerjanya sangat pendek yang memiliki keuntungan dari waktu paruh yang singkat (~10 menit) dan onset cepat. Pemberian dosis loading 0.5 mg/kg selama satu menit. Hal ini diikuti dengan infus pemeliharaan 50µg/kg/menit. Apabila respon inadekuat, dosis lain dari 0.5µg/kg/menit dapat diberikan setelah 4 menit dan infus pemeliharaan ditingkatkan ke 100µg/kg/menit. Ketika denyut jantung dicapai, kurangi infus pemeliharaan ke 25µg/kg/menit. c. Calcium channel blocker Calcium channel blocker seperti diltiazem atau verapamil efektif untuk mengkonversikan PSVT ke ritme sinus. Efikasi dari diltiazem dan verapamil dalam hal seperti tingkat konversi, kecepatan respon, dan profil keamanan tampaknya mirip. Medikasi ini menurunkan konduksi nodus SA dan AV dan menyebabkan perpanjangan dari periode refrraktori nodus AV. Calcium channel blocker juga menurunkan kontraktilitas miokardial dan resistensi vaskular perifer. Penggunaan calcium channel blocker dengan hati-hati pada pasien dengan disfungsi ventrikel kiri atau CHF. Hindari medikasi ini pada pasien dengan WCT dengan asal yang tidak diketahui, ventrikular takikardi (VT), atau takikardia dengan preeksitasi ventrikular. Hipotensi adalah efek samping yang paling mengkhawatirkan dari pemberian intravena dan muncul pada 10-15% dari pasien. 29
10 (1) Verapamil dosis inisial dari verapamil adalah 5-10 mg diberikan intravena selama 1-2 menit. Dosis tambahan 5-10 mg dapat diberikan setiap 15 menit bila diperlukan sampai efek yang diinginkan dicapai atau total 30 mg telah diberikan. (2) Diltiazem dosis inisial dari diltiazem adalah 0.25 mg/kg diberikan secara intravena selama 2 menit (20 mg untuk rata-rata orang dewasa). Apabila diperlukan, dosis 0.35 mg/kg dapat diberikan dalam 15 menit. Setelah konversi, infus pemeliharaan dapat dimulai pada 5-10 mg/jam dan dapat ditingkatkan pada maksimum 15 mg/jam apabila diperlukan. Pilihan antara β-bloker dan calcium channel blocker tergantung pada multipel faktor, tetapi keduanya tidak boleh diberikan secara intravena untuk pasien yang sama. Keduanya memiliki onset yang cepat (menit) dan keduanya harus digunakan dengan hati-hati pada PPOK dan CHF yang berat. Medikasi yang mana pasien sedang jalankan dan pilihan dokter harus dipertimbangkan. Pada pasien dengan hipertiroidisme dan penyakit jantung kongenital, β-bloker adalah pilihan yang terbaik. d. Digoksin Pemberian digoksin meningkatkan tonus vagal sementara mengurangi aktivitas simpatetik. Sebagai hasilnya, konduksi melalui nodus AV diperlambat. Digoksin dapat diberikan secara bolus intravena dengan dosis 0.5 mg. Dosis tambahan dari 0.25 mg dapat diberikan apabila dibutuhkan setiap 4-6 jam, dengan dosis total tidak melebihi 1.25 mg dalam 24 jam. Keuntungan segera digoksin dikurangi melalui aksi onsetnya yang lambat. Ketika digunakan dengan kombinasi, digoksin memungkinkan pemberian agen antiaritmik yang diberikan bersamanya dengan dosis yang lebih rendah. Hindari digoksin pada pasien dengan AF pada preeksitasi ventrikular. e. Amiodarone Amiodarone adalah agen antiaritmia kelas III dengan properti penghambat kanal natrium dan kalium dan penghambat β dan properti penghambat kanal kalsium. Berdasarkan dari penghambat β dan properti penghambat kanal kalsium, amiodaron memperlambat konduksi melalui nodus AV lebih dari 10 menit. Hal ini diikuti dengan infus pemeliharaan 1 mg/menit untuk 6 jam dan kemudian 0.5 mg/menit. Dosis bolus tambahan 150 mg dapat diulangi bila dibutuhkan untuk PSVT yang resisten atau berulang sampai dengan dosis total harian 2 gram. 30
11 f. Prokainamid Prokainamid adalah agen antiaritmik kelas IA dengan properti penghambat kanal natrium. Prokainamid akan memperlambat konduksi melalui baik nodus AV, dan apabila ada accessory bypass tract. Prokainamid dapat dipertimbangkan pada pasien dengan PSVT refrakter dengan agen penghambat nodal AV. Dosis loading yang direkomendasikan dari prokainamid adalah 17 mg/kg diberikan dengan infus intravena lambat dengan ritme mg/menit (1 gram untuk dewasa rata-rata). Hentikan infus inisial apabila aritmia ditekan, munculnya hipotensi, atau pelebaran kompleks QRS lebih dari 50% dari durasi normalnya. Setelah aritmia tertekan, mulailah infus pemeliharaan sekitar 1-4 mg/menit. NON REENTRANT TACHYCARDIA: MULTIFOCAL ATRIAL TACHYCARDIA (MAT) Biasanya terjadi karena intoksikasi digitalis atau hipokalemia atau efek teofilin atau obat adrenergik. Gambaran EKG adalah lebih dari tiga gelombang P consecutive dengan gambaran berbeda-beda. Interval R-R ireguler. Pengobatan dapat diberikan penyekat beta, antagonis kalsium, dan digitalis yang bekerja di nodus AV untuk menghentikan respons ventrikel. OBAT ANTIARITMIA [2] Obat-obatan antiaritmia dibagi menjadi beberapa golongan yaitu: Kelas I. Yang berfungsi memblokade kanal Na pada membran sel sehingga menutunkan kecepatan maksimal depolarisasi (Vmaks) pada fase 0, sehingga tidak terjadi potensial aksi baru yang berarti mencegah timbulnya ekstrasistol. Tergantung dari intensitasnya memblokade kanal Na tersebut, kelas I dibagi menjadi: Kelas IA. Kinetik kerjanya intermediate, memperpanjang masa repolarisasi potensial aksi. Menurunkan Vmaks pada semua heart rate. Contoh: kuinidin, prokainamid, disopiramid. Kelas IB. Kinetik kerjanya cepat dan memperpendek repolarisasi potensial aksi hanya ringan saja. Mempunyai efek yang ringan terhadap kasus dengan heart rate rendah, tetapi mempunyai efek besar pada kasus dengan heart rate tinggi. Contoh: lidokain, meksiletin, fenitoin, tokainid. 31
12 Kelas IC. Kinetik kerjanya lambat dan mempunyai efek kecil terhadap repolarisasi potensial aksi. Contoh: Propafenon, flekainid, lorkainid. Pada penelitian-penelitian obat-obatan kelas I ini tidak menunjukkan penurunan angka kematian secara signifikan dibandingkan dengan kontrol. Bila diberikan pada pasien usia lanjut dengan penyakit jantung sering terjadi proartimia. Kelas II. Obat antisimpatik: menurunkan otomatisasi nodus SA, memperpanjang refrakter nodus AV, menurunkan kecepatan konduksi nodus AV. Golongan ni adalah penyekat beta, misal propanolol dan lainnya. Pemberian penyekat beta pada pasien pasca IMA menunjukkan penurunan angka mortalitas secara signifikan, dengan mencegah terjadinya sudden cardiac death dan IMA berulang. Golongan ini menunjukkan terjadinya Ventricular Activity (VA) complex termasuk VT. Kelas III. Golongan ini memblokade kanal kalium sehingga repolarisasi potensial aksi diperpanjang dan pada EKG dapat dilihat dengan perpanjangan QT. Obat ini menekan terjadinya VA kompleks, dengan memperlama periode refrakte. Contoh: amiodarone, bretilium, sotalol (sebetulnya termasuk golongan penyekat beta). Amiodarone sangat efektif dalam menurunkan kejadian VA kompleks yang berkaitan dengan penyakit jantung. Nammun mesti dipehatikan efek sampingnya yang antara lain terhadap paru, saluran cerna, dan lainlain. Kelas IV. Antagonis kalsium. Memperlambat kecepatan konduksi dan memperpanjang masa refrakter dari jaringan dengan potensial aksi yang berespon lambat misal di nodus AV. Contoh: verapamil, diltiazem. Golongan ini tidak bermanfaat pada Ventricular Arrhytmia (VA) komplek. Pada pasien dengan VT bila diberikan verapamil intravena dapat menyebabkan kolaps hemodinamik. Angka kematian menunjukkan kenaikan tidak signifikan dibanding kontrol. Karena itu tidak diberikan pada pasien dengan VT. Digitalis dan Adenosin tidak termasuk golongan anti artimia. Efek digitalis: memperlambat ventricular rate sehingga dapat dipakai pada FA, FIAT dan atrial takikardia lain. Adenosin: menterminasi SVT reentrant yaitu AVNRT dan bekerja di nodus AV. ACE INHIBITOR [2] 32
13 Pada pasien dengan gagal jantung kongestif menurut beberapa penelitian golongan obat ini dapat menurunkan kejadian VA kompleks termasuk VT, sehingga angka sudden cardiac death juga akan menurun. PNEUMOTHORAKS DEFINISI Pneumothoraks adalah akumulasi udara di rongga pleura disertai kolaps paru. Pneumothoraks spontan: terjadi tanpa trauma atau penyebab jelas: [4] 33
14 Pneumothoraks spontan primer: pada orang sehat. Faktor risiko: - Merokok [4,5] - Orang yang tinggi dan kurus [5] - Sindrom marfan [5] - Kehamilan [5] - Pneumothoraks familial [5] Penyebab: umumnya ruptur bleb subpleural atau bullae. [4] Pneumothoraks spontan sekunder: pada penderita PPOK, tuberkulosis paru, asma, cystic fibrosis, pneumonia Pneumocystis carinii, dll. [4] Pneumothoraks traumatik adalah pneumothoraks yang didahului trauma, termasuk: biopsi transthorakal, ventilasi mekanik, pemasangan kateter vena sentral, torakosintesis, biopsi transbronkial, dll. [4] PATOFISIOLOGI [5] Pneumothoraks spontan Pneumothoraks spontan pada kebanyakan pasien muncul dari ruptur dari bleb dan bulae. Walaupun pneumothoraks spontan primer (PSP) didefinisikan muncul pada pasien tanpa penyakit paru dasar, pasien ini memiliki asimptomatik bleb dan bullae yang dideteksi oleh CT Scan atau selama thorakotomi. PSP biasanya ditemukan pada pasien muda yang tinggi, muda tanpa penyakit paru parenkimal dan mungkin terkait dengan peningkatan shear forces pada apeks. Walaupun PSP terkait dengan adanya bleb pleura apikal, tempat anatomi yang tepat dari kebocoran udara biasanya tidak pasti. Fluorescein-enhanced autoflorescence thoracoscopy (FEAT) adalah sebuah novel method untuk memeriksa tempat kebocoran udara pada PSP. Lesi positif FEAT dapat dideteksi walaupun terlihat normal pada thorakoskopi dengan cahaya putih yang normal. [6] Pada respirasi normal, ruangan pleural memiliki tekanan negatif. Sewaktu pengembangan dinding dada keluar, tekanan permukaan antara pleura pariteal dan viseral mengembangkan paru ke luar. Jaringan paru secara intrinsik memiliki elastisitas, cenderung kolaps ke dalam. Apabila ruang pleural diisi oleh gas dari ruptur bleb, paru kolaps sampai tercapai equilibrium tercapai atau ruptur tertutup. Ketika pneumothoraks membesar, paru mengecil. Konsekuensi fisiolgis utama pada proses ini adalah menurunnya kapasitas vital dan tekanan parsial dari oksigen. Peradangan paru dan stres oksidatif dihipotesiskan penting pada patogenesis PSP. [7] Perokok aktif, menaikkan risiko PSP, memiliki peningkatan jumlah dari sel 34
15 inflammatory pada jalan nafas yang kecil. Penelitian bronchoalveolar lavage (BAL) pada pasien dengan PSP menemukan bahwa derajat inflamasi terhubung dengan perluasan emphysematouslike changes (ELCs). Satu hipotesis yang dihasilkan ELCs dari degradasi jaringan paru dikarenakan ketidakseimbangan pelepasan enzim dan antioksidan dari innate immune cells. [8] Pada satu penelitian, aktivitas erythrocyte superoxide dismutase secara signifikan lebih rendah dan peninggian plasma malondialdehyde pada pasien dengan PSP daripada subjek kontrol normal. [7] Buktii-bukti menunjukkan bahwa faktor genetik mungkin penting pada patogenesis pada banyak kasus dari PSP. Pengelompokkan keluarga yang memiliki kondisi ini telah dilaporkan. Kelainan genetik yang terkait dengan PSP termasuk sindrom Marfan, homosistinuria, dan sindrom Birt-Hogg-Dube (BHD). Sindrom Birt-Hogg-Dube adalah kelainan autosomal dominan yang dicirikan dengan tumor kulit jinak (hemartoma folikel rambut), kanker renal dan kolon, dan pneumothoraks spontan. Pneumothorax spontan muncul pada sekitar 22% pasien dengan sindrom ini. Gen yang bertanggung jawab untuk sindrom ini adalah gen supresor tumor yang terletak pada band 17p11.2. Gen yang mengkode folliculin(flcn) diduga menjadi etiologi pada sindrom Birt-Hogg-Dube. Mutasi multipel telah ditemukan, dan variasi fenotip ditemukan. Pada satu penelitian, 8 pasien tanpa keterkaitan kulit atau ginjal memiliki kista paru dan pneumothorax spontan. [9] Mutasi germ-line pada gen ini telah ditemukan pada 5 pasien, dan tes genetik tersedia. Tension pneumothorax [5] Tension pneumothorax muncul pada waktu disrupsi yang terkait dengan pleura viseral, pleura pariteal, atau pohon trakeobronkial. Kondisi ini muncul ketika jaringan yang terkena membentuk katup 1 arah dan menghambat udara yang keluar. Volume dari udara intrapleural yang tidak dapat diabsorbsi ini bertambah dengan tiap inspirasi karena efek katup 1 arah. Sebagai tambahan pada mekanisme ini, penggunaan tekanan positif dengan terapi ventilasi mekanik dapat menyebabkan udara terperangkap. Begitu tekanan meningkat, paru ipsilateral kolaps dan menyebabkan hipoksia. Tekanan yang lebih lanjut meningkatkan penyebab pergeseran mediastinum ke sisi kontralateral dan menimpa dan menekan baik sisi kontralateral dan mengganggu aliran balik vena ke atrium kanan. Hipoksia menyebabkan paru yang kolaps pada sisi yang terkena dan paru yang tertekan pada sisi kontralateral menyebabkan terganggunya pertukaran gas yang efektif. Hipoksia dan penurunan aliran balik vena menyebabkan kompresi pada dinding tipis dari atrium yang mengganggu fungsi 35
16 jantung. Kinking dari vena cava inferior dipikirkan menjadi kejadian insial yang menghambat darah ke jantung. Hal ini terbukti pada pasien trauma yang hipovolemik dengan pengurangan aliran darah balik ke jantung. Pada berberapa penyebab, kondisi ini secara cepat berprogresi ke insufiensi nafas, kolaps kardiovaskular, dan, ujungnya, kematian apabila tidak disadari, dan tidak diobati. DIAGNOSIS [4] Gejala: nyeri dada, akut, terlokalisir, dispnea (pada pneumothoraks ventil: tiba-tiba, makin berat), batuk, hemoptisis. Pemeriksaan fisik: Takipneu, Sisi terkena (ipsilateral): o Statis: lebih menonjol o Dinamis: pergerakan berkurang/tertinggal o Fremitus: menghilang o Perkusi: hipersonor o Auskultasi: suara nafas melemah - menghilang Tanda pneumothoraks tension: o Keadaan umum sakit berat o Denyut jantung > 140 kali/menit o Hipotensi o Takipneu, pernafasan berat o Sianosis o Diaforesis o Deviasi trakea ke sisi kontralateral o Distensi vena leher Foto thoraks: [4] Tepi luar pleura viseral terpisah dari pleura parietal oleh ruangan lusen PA tegak pneumothoraks kecil: tampak ruangan antara paru dan dinding dada pada apeks, Bila perlu foto pada saat ekspirasi: mediastinal shift, depresi difragma, ekspansi rib cage. CT Scan: membedakan pneumothoraks terlokulasi dari kista atau bullae AGD: hipoksemia, mungkin disertai hipokarbia (karena hiperventilasi) atau hiperkarbia. 36
17 DIAGNOSIS BANDING [4] Penyakit tromboemboli paru, pneumonia, infark miokardium, PPOK eksaserbasi akut, efusi pleura, kanker paru. PEMERIKSAAN PENUNJANG [4] Foto thoraks, CT Scan thoraks Analisis gas darah: bila diperlukan. TERAPI [4] Pneumothoraks unilateral kecil (<20%) dan asimtomatik: observasi, foto thoraks serial. Aspirasi: anestesi lokal di sela iga II anterior (garis midklavikula) aspirasi dengan kateter 16F atau 18F, hingga tidak ada gas lagi keluar. Jika tidak resolusi dengan aspirasi atau volume udara besar: konsul bagain bedah/subbagian bedah thoraks untuk pertimbangan pemasangan thoracostomy tube. Tube disambungkan ke water sealed chamber, dapat disertai suction untuk 24 jam pertama atau selama masih ada kebocoran udara. Setelah 24 jam tidak terjadi pneumothoraks lagi: tube dapat dicabut. Jika pneumothoraks rekuren: o Pleurodesis kimiawi dengan zat iritan terhadap pleura, atau: o Konsul bagian bedah/subbagian bedah thoraks untuk pertimbangan: Pleurodesis mekanik (abrasi permukaan pleura parietal atau stripping pleura parietal), atau Torakoskopi, atau open thoracotomy. Indikasi: Kebocoran udara memanjang, Reekspansi paru tidak sempurna Bullae besar Risiko pekerjaan Indikasi relatif: Pneumothoraks tension 37
18 Hemopneumothoraks Bilateral pneumothoraks Rekurenns ipsilateral/kontralateral KOMPLIKASI [4] Gagal nafas, pneumothoraks tension, hemopneumothoraks, infeksi/piopneumothoraks, penebalan pleura, atelektasis, pneumothoraks rekuren, emfisema mediastinum, edema paru reekspansi PROGNOSIS [4] Dubia: tergantung tipe penyakit dasar, faktor pemberat/komorbid. DAFTAR PUSTAKA 1. Lechtzin N. Dyspnea. In: Porter RS, Kaplan JL, Homeier BP. The Merck Manual of: Patient Symptoms. New Jersey: Whitehouse Station; P Makmun LH. Aritmia Supraventrikel. In: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 4th ed. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; P Bollinger BC, Heidenreich J. Cardiac Arrythmias. In: Stone CK, Humphries RL. Current Diagnosis and Treatment: Emergency Medicine. New York: McGraw Hill; P Ismail D, Alwi I, Rahman M, Waspadji S, Soewondo P, Subekti I, et al. Pneumothoraks. In: Rani AA, Soegondo S, Nasir AUZ, Wijaya IP, Nafrialdi, Mansjoer A. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. P Daley BJ. Pneumothorax. Accessed on: April 4, Noppen M, Dekeukeleire T, Hanon S, Stratakos G, Amjadi K, Madsen P. Flouresceion-enhanced autofluorescence thoracoscopy in patients with primary spontaneous. Am J Respir Crit Care Med. Jul ; 174(1): Tabakoglu E, Ciftci S, Hatipoglu ON, Altiay G, Caglar T. Levels of superoxide dismutase and malondialdehyde in primary spontaneous pneumothorax. Mediators Inflamm. Jun 2004; 13 (03):
19 8. Haraguchi S, Fukuda Y. Histogenesis of abnormal elastic fibres in blebls and bullae of patients with spontaneous pneumothorax: ultrastructural and immunohistochemical studies. Acta Pathol Jpn. Dec 1993; 43 (12): Gunji Y, Akiyoshi T, Sato T, Kurihara M, Tominaga S, Takahashi K. Mutations of the Birt Hogg Dube gene in patients with multiple lung cysts and recurrent pneumothorax. J Med Genet. Sep 2007; 44(9): Ruple J, Tailey R, Elling B, Drummonds B, Busti A, Shuster M, et al. Unstable Tachycardia. In: Field JM. Advanced Cardiovascular Life Support: Provider Manual. American Heart Association; P.91. LAMPIRAN 39
20 40
0.1% kasus di rumah sakit di Amerika Serikat dengan usia rata-rata 67 tahun dan lakilaki
1. Definisi Atrial flutter merupakan bentuk aritmia berupa denyut atrium yang terlalu cepat akibat aktivitas listrik atrium yang berlebihan ditandai dengan denyut atrial rata-rata 250 hingga 350 kali per
SOP ECHOCARDIOGRAPHY TINDAKAN
SOP ECHOCARDIOGRAPHY N O A B C FASE PRA INTERAKSI TINDAKAN 1. Membaca dokumentasi keperawatan. 2. Menyiapkan alat-alat : alat echocardiography, gel, tissu. 3. Mencuci tangan. FASE ORIENTASI 1. Memberikan
DIAGNOSIS ARITMIA DEFINISI
DIAGNOSIS DEFINISI ARITMIA Deviasi abnormal dari irama sinus yaitu suatu gangguan pembentukan impuls dan atau gangguan sistem konduksi listrik jantung. Gangguan Pembentukan Impuls. 1. Gangguan Pembentukan
CARDIOMYOPATHY. dr. Riska Yulinta Viandini, MMR
CARDIOMYOPATHY dr. Riska Yulinta Viandini, MMR CARDIOMYOPATHY DEFINISI Kardiomiopati (cardiomyopathy) adalah istilah umum untuk gangguan otot jantung yang menyebabkan jantung tidak bisa lagi berkontraksi
sebagai denyut jantung yang bermula dari lokasi normal yakni bukan bermula dari SA node 2. Atrial flutter merupakan salah satu jenis aritmia yang
BAB I PENDAHULUAN Jantung merupakan organ muskular berongga yang berfungsi memompa darah keseluruh tubuh. Jantung terdiri atas dua pompa yang terpisah, yakni jantung kanan yang memompakan darah ke paru-paru
INTERPRETASI ELEKTROKARDIOGRAFI STRIP NORMAL HIMPUNAN PERAWAT GAWAT DARURAT DAN BENCANA INDONESIA SULAWESI UTARA
INTERPRETASI ELEKTROKARDIOGRAFI STRIP NORMAL HIMPUNAN PERAWAT GAWAT DARURAT DAN BENCANA INDONESIA SULAWESI UTARA PENDAHULUAN Elektrokardiografi adalah ilmu yang mempelajari rekaman aktivitas listrik jantung
MANAGEMENT OF ATRIAL FIBRILLATION IN PATIENTS WITH HEART FAILURE EUROPEAN HEART JOURNAL (2007) 28, Ferry Sofyanri
MANAGEMENT OF ATRIAL FIBRILLATION IN PATIENTS WITH HEART FAILURE EUROPEAN HEART JOURNAL (2007) 28, 2568 2577 Ferry Sofyanri Kejadian AF disebabkan oleh berbagai keadaan, salah satunya adalah pada pasienpasien
ACLS. 5 rantai kelangsungan hidup:
ACLS Bantuan hidup dasar menggunakan rekomendasi yang dikeluarkan oleh AHA tahun 2010 yang dikenal dengan mengambil 3 rantai pertama dari 5 rantai kelangsungan hidup. 5 rantai kelangsungan hidup: 1. Early
SUPRAVENTRICULAR TACHYCARDIA (SVT)
SUPRAVENTRICULAR TACHYCARDIA (SVT) Disusun oleh : ELSA SUNDARI NIM : 1108120845 Pembimbing : dr. Haryadi, Sp.JP-FIHA PENDIDIKAN PROFESI DOKTER BAGIAN KARDIOLOGI DAN KEDOKTERAN VASKULER FAKULTAS KEDOKTERAN
Penemuan klinis penting yang boleh dikaitkan dengan kejadian palpitasi :
PENDAHULUAN ANAMNESIS PEMERIKSAAN FISIK Ventrikel takikardia umumnya mencerminkan tingkat ketidakstabilan hemodinamik. Tandatanda gagal jantung kongestif ialah hipotensi, hipoksemia, distensi vena jugularis
Farmakoterapi Obat pada Gangguan Kardiovaskuler
Farmakoterapi Obat pada Gangguan Kardiovaskuler Alfi Yasmina Obat Jantung Antiangina Antiaritmia Antihipertensi Hipolipidemik Obat Gagal Jantung (Glikosida jantung) Antikoagulan, Antitrombotik, Trombolitik,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Fungsi utama jantung adalah memompa darah ke seluruh tubuh dimana pada saat memompa jantung otot-otot jantung (miokardium) yang bergerak. Untuk fungsi tersebut, otot
KONSEP DASAR EKG. Rachmat Susanto, S.Kep.,Ns.,M.Kep.,Sp.MB (KV)
KONSEP DASAR EKG Rachmat Susanto, S.Kep.,Ns.,M.Kep.,Sp.MB (KV) TIU Setelah mengikuti materi ini peserta mampu memahami konsep dasar EKG dan gambaran EKG normal. TIK Setelah mengikuti materi ini peserta
BAB 1 PENDAHULUAN. merupakan pembunuh nomor satu di seluruh dunia. Lebih dari 80% kematian
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit kardiovaskular yang terdiri dari penyakit jantung dan stroke merupakan pembunuh nomor satu di seluruh dunia. Lebih dari 80% kematian terjadi di negara berkembang
STRUKTUR DAN FUNGSI SISTEM KARDIOVASKULER
STRUKTUR DAN FUNGSI SISTEM KARDIOVASKULER Tujuan Pembelajaran Menjelaskan anatomi dan fungsi struktur jantung : Lapisan jantung, atrium, ventrikel, katup semilunar, dan katup atrioventrikular Menjelaskan
PENDAHULUAN ETIOLOGI EPIDEMIOLOGI
PENDAHULUAN Hemotoraks adalah kondisi adanya darah di dalam rongga pleura. Asal darah tersebut dapat dari dinding dada, parenkim paru, jantung, atau pembuluh darah besar. Normalnya, rongga pleura hanya
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Gagal jantung adalah keadaan di mana jantung tidak mampu memompa darah untuk mencukupi kebutuhan jaringan melakukan metabolisme dengan kata lain, diperlukan peningkatan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem kardiovaskular terdiri dari jantung, jaringan arteri, vena, dan kapiler yang mengangkut darah ke seluruh tubuh. Darah membawa oksigen dan nutrisi penting untuk
By: ERNI DIAH SUSANTI, S.kep.Ners
By: ERNI DIAH SUSANTI, S.kep.Ners A. Definisi Gangguan irama jantung atau aritmia merupakan komplikasi yang sering terjadi pada infark miokardium. Aritmia atau disritmia adalah perubahan pada frekuensi
AKTIFITAS LISTRIK JANTUNG. Potensial Aksi Pada Jantung
AKTIFITAS LISTRIK JANTUNG Potensial Aksi Pada Jantung Pendahuluan Jantung : Merupakan organ vital Fungsi Jantung : Memompakan darah ke seluruh tubuh. Jantung terletak pada rongga dada sebelah kiri. Batas
EKSTRASISTOL SUPRAVENTRIKULAR,VENTRIKULAR Gol Penyakit SKDI : 3A
EKSTRASISTOL SUPRAVENTRIKULAR,VENTRIKULAR Gol Penyakit SKDI : 3A DECI YULIA VANY 0907101050021 A. Definisi Ekstrasistole ventrikular adalah suatu kompleks ventrikel prematur timbul secara dini disalah
terdapat perbedaan elektrik dari gangguan irama yang ditemukan. 1 Diagnosis atrial flutter dan atrial fibrilasi biasanya berdasarkan pengawasan irama
BAB I PENDAHULUAN Atrial flutter merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan gangguan irama jantung (aritmia). Atrial flutter berkaitan dengan kondisi kardiovaskular dan dapat menyebabkan kematian. Angka
BAB 4 HASIL. Hubungan antara..., Eni Indrawati, FK UI, Universitas Indonesia
23 BAB 4 HASIL 4.1 Karakteristik Umum Sampel penelitian yang didapat dari studi ADHERE pada bulan Desember 25 26 adalah 188. Dari 188 sampel tersebut, sampel yang dapat digunakan dalam penelitian ini sebesar
ADVANCED ECG INTERPRETATION ARITMIA DISRITMIA. Oleh : Bambang Sutikno
ADVANCED ECG INTERPRETATION ARITMIA Oleh : Bambang Sutikno DISRITMIA Kelainan/gangguan dalam kecepatan, irama, tempat asal impuls, atau gangguan konduksi yang menyebabkan perubahan dalam urutan normal
Profesi _Keperawatan Medikal Bedah_cempaka
PNEUMOTHORAX A. Definisi Pneumotoraks adalah suatu kondisi adanya udara dalam rongga pleura akibat robeknya pleura (Price & Willson, 2003). Pneumotoraks terjadi ketika pleura parietal ataupun visceral
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kafein banyak terkandung dalam kopi, teh, minuman cola, minuman berenergi, coklat, dan bahkan digunakan juga untuk terapi, misalnya pada obatobat stimulan, pereda nyeri,
HASIL DAN PEMBAHASAN
32 HASIL DAN PEMBAHASAN Pemeriksaan Fisik Keseluruhan anjing yang dipergunakan pada penelitian diperiksa secara klinis dan dinyatakan sehat sesuai dengan klasifikasi status klas I yang telah ditetapkan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Gagal jantung adalah keadaan patofisiologi dimana jantung gagal mempertahankan sirkulasi adekuat untuk kebutuhan tubuh meskipun tekanan pengisian cukup. Gagal jantung
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB I PENDAHULUAN Aritmia merupakan kelainan irama jantung yang sering dijumpai. Aritmia adalah irama jantung di luar irama sinus normal. Istilah aritmia sebenarnya tidak tepat karena aritmia berarti tidak
BAB I PENDAHULUAN. karena adanya penurunan absorbsi cairan. Efusi dapat ditimbulkan oleh berbagai
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang masalah Efusi pleura adalah terbentuknya akumulasi cairan yang abnormal di dalam cavum pleura yang terjadi karena adanya peningkatan produksi cairan ataupun karena
Kegawatdaruratan Jantung
PANDUAN PEMBIMBING KETERAMPILAN KLINIS (SKILL LABORATORY) BLOK 22 Modul Elektif Kegawatdaruratan Jantung PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER UNIVERSITAS JAMBI Tahun Akademik 2013/2014 TUJUAN INSTRUKSIONAL
BAB I. 1.1 Latar Belakang. Atrial fibrilasi (AF) didefinisikan sebagai irama jantung yang
BAB I 1.1 Latar Belakang Atrial fibrilasi (AF) didefinisikan sebagai irama jantung yang abnormal dengan aktivitas listrik jantung yang cepat dan tidak beraturan. Hal ini mengakibatkan atrium bekerja terus
PEDOMAN TATALAKSANA TAKIARITMIA SUPRAVENTRIKULAR (TaSuV)
PEDOMAN TATALAKSANA TAKIARITMIA SUPRAVENTRIKULAR (TaSuV) PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS KARDIOVASKULAR INDONESIA (PERKI) dan PERHIMPUNAN ARITMIA INDONESIA Tim Penyusun Ketua Anggota : : Sunu Budhi Raharjo
GANGGUAN IRAMA JANTUNG ( ARITMIA / DISRITMIA )
GANGGUAN IRAMA JANTUNG ( ARITMIA / DISRITMIA ) I. Pendahuluan Istilah disritmia dan aritmia pada dasarnya mempunyai maksud yang sama, meskipun disritmia diartikan sebagai abnormalitas irama jantung sedangkan
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bagi seorang anestesiologis, mahir dalam penatalaksanaan jalan nafas merupakan kemampuan yang sangat penting. Salah satu tindakan manajemen jalan nafas adalah tindakan
Cardiac Arrest 1. Pengertian 2. Sistem Konduksi Jantung
Cardiac Arrest 1. Pengertian Cardiac arrest adalah hilangnya fungsi jantung secara tiba-tiba dan mendadak, bisa terjadi pada seseorang yang memang didiagnosa dengan penyakit jantung ataupun tidak. Waktu
Dr. Prastowo Sidi Pramono, Sp.A
Dr. Prastowo Sidi Pramono, Sp.A PENYAKIT JANTUNG BAWAAN Penyakit jantung yang dibawa dari lahir kelainan pada struktur jantung atau fungsi sirkulasi jantung yang dibawa dari lahir akibat gangguan atau
5/30/2013. dr. Annisa Fitria. Hipertensi. 140 mmhg / 90 mmhg
dr. Annisa Fitria Hipertensi 140 mmhg / 90 mmhg 1 Hipertensi Primer sekunder Faktor risiko : genetik obesitas merokok alkoholisme aktivitas
Penatalaksanaan Astigmatism No. Dokumen : No. Revisi : Tgl. Terbit : Halaman :
1. Pengertian Angina pektoris ialah suatu sindrom klinis berupa serangan nyeri dada yang khas, yaitu seperti rasa ditekan atau terasa berat di dada yang sering menjalar ke lengan kiri. Nyeri dada tersebut
Normal EKG untuk Paramedis. dr. Ahmad Handayani dr. Hasbi Murdhani
Normal EKG untuk Paramedis dr. Ahmad Handayani dr. Hasbi Murdhani Anatomi Jantung & THE HEART Konsep dasar elektrokardiografi Sistem Konduksi Jantung Nodus Sino-Atrial (SA) - pada pertemuan SVC dg atrium
PNEUMOTHORAX. Click Oleh to edit Master subtitle style IDRIES TIRTAHUSADA Pembimbing: Dr Haryadi Sp.Rad 4/16/12
PNEUMOTHORAX Click Oleh to edit Master subtitle style IDRIES TIRTAHUSADA 1102006116 Pembimbing: Dr Haryadi Sp.Rad PENDAHULUAN Pneumothorax adalah penumpukan dari udara yang bebas dalam dada diluar paru
Laporan Pendahuluan Elektrokardiogram (EKG) Oleh Puji Mentari
Laporan Pendahuluan Elektrokardiogram (EKG) Oleh Puji Mentari 1106053344 A. Pengertian Tindakan Elektrokardiogram (EKG) adalah suatu pencatatan grafis aktivitas listrik jantung (Price, 2006). Sewaktu impuls
OBAT OBAT EMERGENSI. Oleh : Rachmania Indria Pramitasari, S. Farm.,Apt.
OBAT OBAT EMERGENSI Oleh : Rachmania Indria Pramitasari, S. Farm.,Apt. PENGERTIAN Obat Obat Emergensi adalah obat obat yang digunakan untuk mengembalikan fungsi sirkulasi dan mengatasi keadaan gawat darurat
KOMPLIKASI GAGAL JANTUNG KONGESTIF Gagal jantung kongestif dapat menyebabkan beberapa komplikasi. Komplikasi utama dari gagal jantung kongestif
KOMPLIKASI GAGAL JANTUNG KONGESTIF Gagal jantung kongestif dapat menyebabkan beberapa komplikasi. Komplikasi utama dari gagal jantung kongestif meliputi efusi pleura, aritmia, pembentukan trombus pada
BAB I PENDAHULUAN. Infark miokard akut dengan elevasi segmen ST (IMA-EST) adalah
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Infark miokard akut dengan elevasi segmen ST (IMA-EST) adalah sindroma klinis yang ditandai dengan gejala khas iskemia miokard disertai elevasi segmen ST yang persisten
Tutorial BUNYI DAN BISING JANTUNG. Dr. Poppy S. Roebiono, SpJP(K) Dept. Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI / PJNHK
Tutorial BUNYI DAN BISING JANTUNG Dr. Poppy S. Roebiono, SpJP(K) Dept. Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI / PJNHK LISTRIK JANTUNG impuls listrik dari SA node melalui atrium AV node berkas His serabut
BAB 1 PENDAHULUAN. lebih dini pada usia bayi, atau bahkan saat masa neonatus, sedangkan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Jantung Bawaan (PJB) adalah kelainan struktur dan fungsi pada jantung yang muncul pada saat kelahiran. (1) Di berbagai negara maju sebagian besar pasien PJB
VENTRIKULAR TAKIKARDI
Laporan Kasus VENTRIKULAR TAKIKARDI Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas Dalam Menjalani Kepaniteraan Klinik Senior Pada Bagian/SMF Kardiologi Fakultas Kedokteran Unsyiah BPK RSUDZA Banda Aceh oleh Berlian
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Tindakan laringoskopi dan intubasi endotrakhea merupakan hal yang rutin dilakukan pada anastesi umum. Namun tindakan laringoskopi dan intubasi tersebut dapat menimbulkan
JANTUNG 4 RUANG POMPA ATRIUM KA/KI, VENTRIKEL KA/KI SISTEM HANTAR KHUSUS YANG MENGHANTARKAN IMPULS LISTRIK DARI ATRIUM KE VENTRIKEL : 1.
ELEKTROKARDIOGRAFI ILMU YANG MEMPELAJARI AKTIFITAS LISTRIK JANTUNG ELEKTROKARDIOGRAM (EKG) SUATU GRAFIK YANG MENGGAMBARKAN REKAMAN LISTRIK JANTUNG NILAI DIAGNOSTIK EKG PADA KEADAAN KLINIS : ARITMIA JANTUNG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Stroke atau yang sering disebut juga dengan CVA (Cerebrovascular Accident) merupakan gangguan fungsi otak yang diakibatkan gangguan peredaran darah otak,
FARMAKOTERAPI ASMA. H M. Bakhriansyah Bagian Farmakologi FK UNLAM
FARMAKOTERAPI ASMA H M. Bakhriansyah Bagian Farmakologi FK UNLAM Pendahuluan Etiologi: asma ekstrinsik diinduksi alergi asma intrinsik Patofisiologi: Bronkokontriksi akut Hipersekresi mukus yang tebal
4. HASIL 4.1 Karakteristik pasien gagal jantung akut Universitas Indonesia
4. HASIL Sampel penelitian diambil dari data sekunder berdasarkan studi Acute Decompensated Heart Failure Registry (ADHERE) pada bulan Desember 2005 Desember 2006. Jumlah rekam medis yang didapat adalah
PENYAKIT KATUP JANTUNG
PENYAKIT KATUP JANTUNG DEFINISI Kelainan katup jantung adalah kelainan pada jantung yang menyebabkan kelainan kelainan pada aliran darah yang melintasi katup jantung. Katup yang terserang penyakit dapat
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di Asia saat ini terjadi perkembangan ekonomi secara cepat, kemajuan industri, urbanisasi dan perubahan gaya hidup seperti peningkatan konsumsi kalori, lemak, garam;
Universitas Indonusa Esa Unggul FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT Jurusan Perekam Medis dan Informasi Kesehatan ANATOMI FISIOLOGI
Universitas Indonusa Esa Unggul FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT Jurusan Perekam Medis dan Informasi Kesehatan ANATOMI FISIOLOGI Conducted by: Jusuf R. Sofjan,dr,MARS 2/17/2016 1 Jantung merupakan organ otot
OBAT KARDIOVASKULER. Obat yang bekerja pada pembuluh darah dan jantung. Kadar lemak di plasma, ex : Kolesterol
OBAT KARDIOVASKULER Kardio Jantung Vaskuler Pembuluh darah Obat yang bekerja pada pembuluh darah dan jantung Jenis Obat 1. Obat gagal jantung 2. Obat anti aritmia 3. Obat anti hipertensi 4. Obat anti angina
BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan usia harapan hidup penduduk dunia membawa dampak
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peningkatan usia harapan hidup penduduk dunia membawa dampak terhadap pergeseran epidemiologi penyakit. Kecenderungan penyakit bergeser dari penyakit dominasi penyakit
Ekspertise Efusi Pleura
Ekspertise Efusi Pleura Pembimbing : dr. Rachmat Mulyana Memet, Sp. Rad Oleh : Jayyidah Afifah 2010730055 Identitas : Tn. S/LK/70thn Marker : L Tanggal : 3 Desember 2013 Posisi : PA Jenis foto : Foto polos
FARMAKOLOGI ANTIARITMIA Y U A N D A N I
FARMAKOLOGI ANTIARITMIA Y U A N D A N I TUJUAN PEMBELAJARAN Mahasisma dapat menjelaskan Mekanisme aritmia Farmakologi dasar obat antiaritmia SUBPOKOK BAHASAN DEFINISI ELEKROFISIOLOGI JANTUNG MEKANISME
sebesar 0,8% diikuti Aceh, DKI Jakarta, dan Sulawesi Utara masing-masing sebesar 0,7 %. Sementara itu, hasil prevalensi jantung koroner menurut
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit jantung koroner merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang menyumbang angka kematian terbesar di dunia. Disability-Adjusted Life Years (DALYs) mengatakan
BAB I PENDAHULUAN. Penelitian yang berskala cukup besar di Indonesia dilakukan oleh
BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG Penelitian yang berskala cukup besar di Indonesia dilakukan oleh survei ASNA (ASEAN Neurological Association) di 28 rumah sakit (RS) di seluruh Indonesia, pada penderita
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Jantung adalah organ berongga, berotot, yang terletak di tengah toraks, dan ia menempati rongga antara paru dan diafragma. Beratnya sekitar 300 g (10,6 oz), meskipun
MODUL FIBRILASI ATRIUM PROGRAM STUDI PROFESI DOKTER BAGIAN KARDIOLOGI DAN KEDOKTERAN VASKULAR FAKULTAS KEDOKTERAN UNAND
MODUL FIBRILASI ATRIUM PROGRAM STUDI PROFESI DOKTER BAGIAN KARDIOLOGI DAN KEDOKTERAN VASKULAR FAKULTAS KEDOKTERAN UNAND KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS ANDALASFAKULTAS KEDOKTERAN
BAB I PENDAHULUAN. 1.2 Rumusan Masalah. 1.3 Tujuan MAKALAH INFARK MIOKARD AKUT
MAKALAH INFARK MIOKARD AKUT BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Infark miokard akut mengacu pada proses rusaknya jaringan jantung akibart suplai darah yang tidak adekuat, sehingga aliran darah koroner
TEKANAN DARAH TINGGI (Hipertensi)
TEKANAN DARAH TINGGI (Hipertensi) DEFINISI Tekanan Darah Tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan darah di dalam arteri. Secara umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana
Sinyal ECG. ECG Signal 1
Sinyal ECG ECG Signal 1 Gambar 1. Struktur Jantung. RA = right atrium, RV = right ventricle; LA = left atrium, dan LV = left ventricle. ECG Signal 2 Deoxygenated blood Upper body Oxygenated blood Right
BAYI DENGAN RESIKO TINGGI: KELAINAN JANTUNG KONGENITAL. OLEH. FARIDA LINDA SARI SIREGAR, M.Kep
BAYI DENGAN RESIKO TINGGI: KELAINAN JANTUNG KONGENITAL OLEH. FARIDA LINDA SARI SIREGAR, M.Kep PENDAHULUAN Sekitar 1% dari bayi lahir menderita kelainan jantung bawaan. Sebagian bayi lahir tanpa gejala
Kegawatdaruratan Sistem Kardiovaskuler. Rianti Citra Utami
Kegawatdaruratan Sistem Kardiovaskuler Rianti Citra Utami 03011252 Pendahuluan Henti jantung (cardiac arrest) bertanggung jawab terhadap 60% angka kematian penderita dewasa yang mengalami PJK 40% pasien
REFERAT ARITMIA. Disusun oleh: JESSIE WIDYASARI. Dokter Pembimbing: dr. Abdul Wahid Usman, Sp.PD
REFERAT ARITMIA Disusun oleh: JESSIE WIDYASARI 2005730037 Dokter Pembimbing: dr. Abdul Wahid Usman, Sp.PD FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA BAGIAN ILMU KANDUNGAN DAN KEBIDANAN
PENYAKIT MIOKARDIUM. Penyakit miokardium merupakan salah satu penyakit jantung perolehan
Penyakit miokardium merupakan salah satu penyakit jantung perolehan (acquired heart disease) yang paling umum ditemukan pada anjing. Bentuk yang paling umum dari penyakit miokardium tersebut adalah kardiomiopati
Informed Consent Penelitian
62 Lampiran 1. Lembar Kerja Penelitian Informed Consent Penelitian Yth. Bapak/Ibu.. Perkenalkan saya dr. Ahmad Handayani, akan melakukan penelitian yang berjudul Peran Indeks Syok Sebagai Prediktor Kejadian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Prevalensi penyakit kardiovaskular yang meningkat setiap tahun menjadi masalah utama di negara berkembang dan negara maju (Adrogue and Madias, 2007). Berdasarkan
Syok Syok Hipovolemik A. Definisi B. Etiologi
Syok Syok adalah suatu sindrom klinis yang terjadi akibat gangguan hemodinamik dan metabolik ditandai dengan kegagalan sistem sirkulasi untuk mempertahankan perfusi yang adekuat ke organ-organ vital tubuh.
EMBOLI CAIRAN KETUBAN
EMBOLI CAIRAN KETUBAN DEFINISI Sindroma akut, ditandai dyspnea dan hipotensi, diikuti renjatan, edema paru-paru dan henti jantung scr cepat pd wanita dlm proses persalinan atau segera stlh melahirkan sbg
Data Demografi. Ø Perubahan posisi dan diafragma ke atas dan ukuran jantung sebanding dengan
ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian Data Demografi Nama Umur Pekerjaan Alamat a. Aktifitas dan istirahat Ø Ketidakmampuan melakukan aktifitas normal Ø Dispnea nokturnal karena pengerahan tenaga b. Sirkulasi
Curiculum vitae. Dokter umum 1991-FKUI Spesialis anak 2002 FKUI Spesialis konsultan 2008 Kolegium IDAI Doktor 2013 FKUI
Curiculum vitae Nama : DR.Dr. Setyo Handryastuti, SpA(K) Tempat/tanggal lahir : Jakarta 27 Januari 1968 Pekerjaan : Staf pengajar Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM Pendidikan : Dokter umum 1991-FKUI
Ns. Furaida Khasanah, M.Kep Medical surgical department
Ns. Furaida Khasanah, M.Kep Medical surgical department Survey WHO, 2009 : angka kematian akibat penyakit kardiovaskular terus meningkat, thn 2015 diperkirakan 20 juta kematian DKI Jakarta berdasarkan
ASUHAN KEPERAWATAN PADA USILA DENGAN GANGGUAN SISTEM CARDIOVASKULER (ANGINA PECTORIS)
ASUHAN KEPERAWATAN PADA USILA DENGAN GANGGUAN SISTEM CARDIOVASKULER (ANGINA PECTORIS) ANGINA PECTORIS I. PENGERTIAN Angina pectoris adalah suatu sindrom klinis di mana pasien mendapat serangan sakit dada
Kesetimbangan asam basa tubuh
Kesetimbangan asam basa tubuh dr. Syazili Mustofa, M.Biomed Departemen Biokimia, Biologi Molekuler dan Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung ph normal darah Dipertahankan oleh sistem pernafasan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dari sekian banyak kasus penyakit jantung, Congestive Heart Failure
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dari sekian banyak kasus penyakit jantung, Congestive Heart Failure (CHF) menjadi yang terbesar. Bahkan dimasa yang akan datang penyakit ini diprediksi akan terus bertambah
mekanisme penyebab hipoksemia dan hiperkapnia akan dibicarakan lebih lanjut.
B. HIPERKAPNIA Hiperkapnia adalah berlebihnya karbon dioksida dalam jaringan. Mekanisme penting yang mendasari terjadinya hiperkapnia adalah ventilasi alveolar yang inadekuat untuk jumlah CO 2 yang diproduksi
PERBEDAAN CARDIOTHORACIC RATIO
PERBEDAAN CARDIOTHORACIC RATIO PADA FOTO THORAX STANDAR USIA DI BAWAH 60 TAHUN DAN DI ATAS 60 TAHUN PADA PENYAKIT HIPERTENSI DI RS. PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan
PATENT DUCTUS ARTERIOSUS (PDA)
PATENT DUCTUS ARTERIOSUS (PDA) DEFENISI PDA kegagalan menutupnya duktus arteriosus ( arteri yang menghubungkan aorta dan arteri pulmonal ) pd minggu pertama kehidupan, yang menyebabkan mengalirnya darah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang .
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kontraksi sel otot jantung untuk menyemprotkan darah dipicu oleh potensial aksi yang menyapu ke seluruh membrane sel otot. Jantung berkontraksi, atau berdenyut secara
BAB I PENDAHULUAN. merupakan kasus keracunan pestisida organofosfat.1 Menurut World Health
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penggunaan pestisida secara luas berdampak pada meningkatnya kasus, yakni sebanyak 80% kasus pestisida merupakan kasus pestisida.1 Menurut World Health Organization
PENDAHULUAN Sekitar 1% dari bayi lahir menderita kelainan jantung bawaan. Sebagian bayi lahir tanpa gejala dan gejala baru tampak pada masa kanak- kan
BAYI DENGAN RESIKO TINGGI: KELAINAN JANTUNG KONGENITAL OLEH. FARIDA LINDA SARI SIREGAR, M.Kep PENDAHULUAN Sekitar 1% dari bayi lahir menderita kelainan jantung bawaan. Sebagian bayi lahir tanpa gejala
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. merupakan campuran dari beberapa bahan pokok lilin yaitu gondorukem, damar
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Paparan asap pembakaran lilin batik 2.1.1 Lilin batik Lilin batik (malam) adalah bahan yang digunakan untuk menutup permukaan kain mengikuti gambar motif batik, sehingga permukaan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1.Gambaran Umum Pasien Hipertensi di Puskesmas Kraton dan Yogyakarta Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan antihipertensi yang dapat mempengaruhi penurunan
Mahasiswa mampu: 3. Melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan kateterisasi jantung
Wantiyah Mahasiswa mampu: 1. Menjelaskan tentang arteri koroner 2. Menguraikan konsep keteterisasi jantung: pengertian, tujuan, indikasi, kontraindikasi, prosedur, hal-hal yang harus diperhatikan 3. Melakukan
PENATALAKSANAAN ASMA EKSASERBASI AKUT
PENATALAKSANAAN ASMA EKSASERBASI AKUT Faisal Yunus Bagian Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI - RS Persahabatan Jakarta PENDAHULUAN Asma penyakit kronik saluran napas Penyempitan saluran napas
PENGKAJIAN PRIMER DAN SEKUNDER
PENGKAJIAN PRIMER DAN SEKUNDER A. Pengertian Asuhan keperawatan gawat darurat adalah rangkaian kegiatan praktek keperawatan kegawatdaruratan yang diberikan pada klien oleh perawat yang berkompeten untuk
Hipertensi dalam kehamilan. Matrikulasi Calon Peserta Didik PPDS Obstetri dan Ginekologi
Hipertensi dalam kehamilan Matrikulasi Calon Peserta Didik PPDS Obstetri dan Ginekologi DEFINISI Hipertensi adalah tekanan darah sekurang-kurangnya 140 mmhg sistolik atau 90 mmhg diastolik pada dua kali
Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA)
Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA) Penyakit flu umumnya dapat sembuh dengan sendirinya jika kita cukup istirahat, makan teratur, dan banyak mengkonsumsi sayur serta buah-buahan. Namun demikian,
BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Masyarakat telah mengetahui bahwa kebiasaan. berolah raga adalah cara yang efektif untuk menjaga
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masyarakat telah mengetahui bahwa kebiasaan berolah raga adalah cara yang efektif untuk menjaga kesehatan. Gerak tubuh yang pasif dapat meningkatkan faktor risiko
YUANITA ARDI SKRIPSI SARJANA FARMASI. Oleh
MONITORING EFEKTIVITAS TERAPI DAN EFEK-EFEK TIDAK DIINGINKAN DARI PENGGUNAAN DIURETIK DAN KOMBINASINYA PADA PASIEN HIPERTENSI POLIKLINIK KHUSUS RSUP DR. M. DJAMIL PADANG SKRIPSI SARJANA FARMASI Oleh YUANITA
Gangguan Irama Jantung dalam Bentuk Fibrilasi Ventrikel. Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana
Gangguan Irama Jantung dalam Bentuk Fibrilasi Ventrikel Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana 2014 Kelompok C5 Nurlyana Binti Ramli 102008296 Alvin Trisnanto 102011068 Febriany Gotamy 102011075
Dr. Ade Susanti, SpAn Bagian anestesiologi RSD Raden Mattaher JAMBI
Dr. Ade Susanti, SpAn Bagian anestesiologi RSD Raden Mattaher JAMBI Mempunyai kekhususan karena : Keadaan umum pasien sangat bervariasi (normal sehat menderita penyakit dasar berat) Kelainan bedah yang
TUGAS KEPERAWATAN GAWAT DARURAT INTERPRETASI DASAR EKG
TUGAS KEPERAWATAN GAWAT DARURAT INTERPRETASI DASAR EKG Disusun untuk memenuhi tugas mandiri keperawatan gawat darurat Dosen Setiyawan S.Kep.,Ns.,M.Kep. Disusun oleh : NUGKY SETYO ARINI (P15037) PRODI D3
BAB I PENDAHULUAN. gangguan kesehatan yang semakin meningkat di dunia (Renjith dan Jayakumari, perkembangan ekonomi (Renjith dan Jayakumari, 2011).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit jantung koroner (PJK) adalah penyebab utama kematian dan gangguan kesehatan yang semakin meningkat di dunia (Renjith dan Jayakumari, 2011). Dalam 3 dekade terakhir,
