BAB 2 LANDASAN TEORI
|
|
|
- Sri Yanti Kurniawan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Budaya Perusahaan Definisi Budaya Perusahaan Budaya merupakan hal penting yang harus dibangun perusahaan untuk menciptakan mentalitas dasar dari semua karyawannya. Menurut Kamus Bahasa Indonesia, pengertian Budaya Perusahaan terdapat dua arti yaitu secara Etimologis dan Terminologis. Arti budaya secara Etimologis, kata budaya berasal dari bahasa sansekerta Buddhayah yang diartikan sebagai hal-hal yang dikaitkan dengan budi dan akal manusia, sinonimnya adalah Culture atau Cultuur dari Bahasa Belanda. Kata Culture sendiri berasal dari Bahasa Latin Colere (dengan akar kata Calo yang berarti mengolah atau mengerjakan, atau dapat diartikan juga sebagai mengelola tanah atau bertani). Sedangkan arti kata Budaya secara Terminologis, Budaya adalah suatu hasil dari budi dan atau daya, cipta, karsa, pikiran, dan adat istiadat manusia yang secara sadar maupun tidak, dapat diterima sebagai sesuatu yang beradab. Perusahaan secara Terminologi adalah tubuh atau alat tubuh, aturan, susunan, perkumpulan dari kelompok tertentu dengan dasar ideologi bersama. Arti kata Perusahaan secara Etimologis adalah kesatuan (Entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasikan, yang bekerja atas dasar yang relatif yang terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan. 6 6
2 Berdasarkan pengertian diatas, untuk mengkaji lebih dalam mengenai budaya perusahaan, berikut beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya yaitu : Menurut Robbins, Stephen dan Judge (2008) menyatakan bahwa, Budaya perusahaan mengacu ke suatu sistem makna bersama yang dianut oleh para anggota yang membedakan perusahaan itu dari perusahaan lain. Menurut Koentjoroningrat (2004) Budaya itu memiliki tiga tingkatan yang saling berinteraksi satu sama lainnya. Tingkatan yang pertama berupa benda benda hasil kecerdasan manusia (artefact dan creation). Tingkatan kedua adalah nilai-nilai dan ideologi yang merupakan aturan, prinsip, norma, nilai, dan moral yang menuntun organisasi dan merupakan harta kekayaan yang ingin mereka penuhi. Tingkatan ketiga adalah asumsi dasar yang tidak disadari mengenai keadaan kebenaran dan kenyataan, kemanusiaan, hubungan manusia dengan alam, hubungan antar manusia, keadaan waktu dan alam semesta. Menurut Liker dan Hoseus (2008) menjelaskan bahwa Budaya Perusahaan adalah pola asumsi asumsi dasar yang telah diciptakan, ditemukan, atau dikembangkan kelompok tertentu dalam belajar mengatasi masalah masalah adaptasi eksternal dan integrasi internal, dan yang telah bekerja dengan cukup baik untuk dianggap valid, dan, karena itu, diajarkan kepada anggota-anggota baru sebagai cara yang benar untuk mempersepsikan, berfikir, dan merata dalam kaitannya dengan masalah masalah tersebut. Menurut Moeljono (2005) menyatakan bahwa Budaya Perusahaan adalah peramuan berpola top middle bottom, kemudian disemaikan ke setiap sel 7
3 organisasi, dan menjadi nilai nilai kehidupan bersama, yang dapat muncul dalam bentuk perilaku formal dan informal. Sedangkan menurut Mckenna dan Beech yang diterjemahkan oleh Santoso (2008), menyatakan bahwa Budaya Perusahaan merupakan kumpulan nilai, kepercayaan, sikap dan perilaku yang dipegang oleh anggota yang berada di suatu perusahaan. Dari berbagai definisi Budaya Perusahaan yang dikemukakan oleh para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa budaya perusahaan merupakan nilai, anggapan, asumsi, sikap, dan norma perilaku yang telah melembaga kemudian berwujud dalam penampilan, sikap, dan tindakan, sehingga menjadi identitas dari suatu perusahaan Fungsi dan Manfaat Budaya Perusahaan Terdapat beberapa fungsi budaya perusahaan. Menurut Robbins (2006), fungsi budaya perusahaan adalah sebagai berikut : 1. Budaya mempunyai suatu peran menetapkan tapal batas, artinya budaya menciptakan perbedaan yang jelas antara suatu perusahaan dengan perusahaan yang lain. 2. Budaya memberikan identitas bagi anggota perusahaan 3. Budaya mempermudah timbulnya komitmen yang lebih luas dari pada kepentingan individu 4. Budaya itu meningkatkan kemantapan sistem sosial 8
4 5. Budaya sebagai mekanisme pembuat makna dan kendali yang membentuk sikap serta perilaku karyawan. Sedangkan Susanto (2002) mengemukakan manfaat yang dapat diperoleh apabila budaya perusahaan itu dipahami dan dapat dilihat dari dua sisi, yaitu : a. Bagi Sumber Daya Manusia : 1. Memberikan arah atau pedoman perilaku di dalam perussahaan. Dalam hal ini sumber daya manusia tidak dapat semena-mena bertindak atau berperilaku sekehendak hati, melainkan harus menyesuaikan diri dengan siapa dan dimana dia berada. 2. Mempunyai kesamaan langkah dan visi di dalam melakukan tugas dan tanggungjawab, masing-masing individu dapat meningkatkan fungsinya dan mengembangkan tingkat interpedensi antar individu atau bagian yang saling melengkapi dalam kegiatan usaha perusahaan. 3. Mendorong sumber daya manusia mencapai prestasi kerja atau produktivitas yang baik. Hal ini dapat dicapai apabila proses sosialisasi dapat dilakukan dengan tepat sasaran. 4. Memiliki atau mengetahui secara pasti tentang karirnya di perusahaan sehingga mendorong mereka untuk konsisten dan tanggungjawab. b. Bagi Perusahaan : 1. Sebagai salah satu unsur yang dapat menekan turn over karyawan ini dapat dicapai karena budaya perusahaan mendorong sumber daya manusia memutuskan untuk berkembang bersama perusahaan. 9
5 2. Sebagai pedoman di dalam menentukan kebijakan yang berkenaan dengan ruang lingkup kegiatan intern perusahaan seperti tata tertib, administrasi, hubungan antar bagian, penghargaan prestasi sumber daya manusia, penilaian kinerja, dan lain-lain. 3. Untuk mengajukan kepada pihak eksternal tentang keberadaan perusahaan dan ciri-ciri khas yang dimiliki, ditengah tengah perusahaan yang ada di masyarakat. 4. Sebagai acuan dalam menyusun perencanaan perusahaan (corporate planning) yang meliputi (a) Pembentukan marketing plan, (b) Penentuan segmen pasar yang akan dikuasai, (c) Penentuan positioning perusahaan yang akan dikuasai. 5. Dapat membuat program program pengembangan usaha dan pengembangan sumber daya manusia dengan dukungan penuh dari seluruh jajaran sumber daya manusia yang ada. 2.2 Kaizen Definisi Kaizen Kaizen berasal dari bahasa Jepang Kai artinya berubah dan Zen artinya untuk lebih baik. Sehingga jika digabungkan Kaizen adalah perubahan untuk lebih baik ( Kato dan Smalley, 2011). Kaizen di Jepang sama dengan Continuous Improvement yang artinya perbaikan yang berkelanjutan Kaizen di Indonesia awalnya dikenal dengan istilah Total Quality Control (TQC) adalah berbagai kegiatan didalam penyelidikan dan pengembangan (R&D), 10
6 produksi, penjualan dan pelayanan purna jual dengan cara rasional untuk mencapai tingkat kepuasan yang paling ekonomis (Wignjosoebroto, 2003). Definisi Total Quality Control (Pengendalian Mutu Terpadu) berdasarkan Negara asalnya adalah sebagai berikut : Tabel 2.1 Definisi Total Quality Control (TQC) Negara Asal Definisi Jepang Sistem yang efektif untuk mengintegrasikan kegiatan pengembangan kualitas, perawatan kualitas dan peningkatan kualitas dari kelompok kelompok dalam suatu organisasi sehingga tercapai kepuasan pelanggan sepenuhnya serta tersedianya barang dan jasa pada tingkat yang paling ekonomis. Amerika Serikat Sistem manajemen dengan mengikut sertakan seluruh karyawan dari semua tingkatan didalam organisasi dengan penerapan konsep pengendalian kualitas dan metoda statistika untuk mendapatkan kepuasan pelanggan dan karyawan yang mengerjakannya. Sumber: Wignjosoebroto, Konsep Kaizen Menurut Amai (2008) untuk menjalankan kaizen maka manajemen harus belajar dan memahami konsep dasar dan sistem untuk menjalankan strategi dalam kaizen, yaitu sebagai berikut : a. Kaizen and management b. Process versus result c. Following the PDCA / SDCA cycles 11
7 d. Putting quality first e. Speak with data f. The next process is te customer Kaizen dan manajemen dapat digambarkan sebagai merikut : Top Management Middle Management Improvement Supervisors Maintenance Workers Gambar 2.1: Japanese perceptions of job functions (Amai, 2008) Top Management Innovation Middle Management Kaizen Supervisors Maintenance Workers Gambar 2.2: Improvement broken down into innovation and kaizen (Amai, 2008) Dalam AMS (2009) Astra menjadi salah satu perusahaan di Indonesia yang secara konsisten membangun dan menjalankan tata kelola perusahaan dengan pendekatan manajemen modern menggunakan siklus PDCA dan SDCA. 12
8 A P A S C D A S A C P D C D Pemeliharaan Perbaikan/ Peningkatan C D A C S D A C S D A C P D Pemeliharaan Perbaikan/ Peningkatan Pemeliharaan Gambar 2.3: Siklus Plant Do Check Action (PDCS) dan Standardize, Do, Check, Action (SDCA) (AMS 2009) Siklus PDCA atau juga dikenal sebagai Stewhart Cycle atau siklus Deming, merupakan model paling populer dalam perbaikan berkesinambungan (Continuous Improvement). 1. Plan, mengacu pada aktivitas identifikasi peluang perbaikan dan/ identifikasi terhadap cara-cara pencapaian peningkatan dan perbaikan. 2. Do, mengacu pada penerapan dan pelaksanaan aktivitas yang direncanakan. 3. Check, mengacu pada verifikasi apakah penerapan tersebut sesuai dengan rencana peningkatan dan perbaikan yang diinginkan. 4. Action, merupakan respon terhadap hasil verifikasi tersebut. Apabila proses dan hasil yang diamati sesuai dengan peningkatan dan perbaikan yang diinginkan, maka aktivitas tersebut akan diimplementasikan. Jika 13
9 tidak, maka siklus kembali ke tahap perencanaa aktivitas peningkatan dan perbaikan, demikian seterusnya. Siklus Standardize Do Check Action (SDCA) merupakan model dalam menetapkan, menstabilkan, dan memelihara kinerja suatu proses. Suatu proses perlu distabilkan melalui standarisasi untuk dapat lebih mudah diukur, diprediksi, dan dikendalikan. Suatu peningkatan (Improvement) tidak dapat dilakukan terhadap suatu proses yang tidak stabil. Sesuai dengan istilahnya, terdapat 4 langkah proses, yaitu : 1. Standardize, mengacu pada dokumentasi prosedur operasional, persyaratan proses dan spesifikasi lainnya guna menjamin bahwa proses selalu dilakukan sesuai standar yang ditetapkan. 2. Do, mengacu pada kesesuaian terhadap standar yang ditetapkan. 3. Check, merupakan tahap verifikasi apakah kesesuaian terhadap standar terjadi dalam proses yang stabil. 4. Action, merupakan respon terhadap efek / akibat yang muncul dari penerapan standar. Banyak perusahaan yang mengimplementasikan kaizen secara sendiri sendiri yang biasa disebut dengan Suggestion System atau Sumbang Saran (SS) dan ada yang secara kelompok yang disebut dengan Quality Control Circle (QCC) maupun Quality Control Project (QCP). 14
10 2.2.3 Metode Kaizen Menurut Nasution (2004), pembahasan mengenai metode Kaizen yang biasa di sebut dengan Total Quality Management (TQM) difokuskan pada tiga pakar utama yang merupakan pionir dalam pengembangan TQM. Mereka adalah W. Edwards Deming, Joseph M. Juran, dan Philip B. Crosby. Selain mereka, masih ada beberapa pakar lainnya, seperti Armand V. Feigenbaum (yang terkenal dengan konsep TQC atau Total Quality Control dan sejumlah pakar-pakar Jepang, diantaranya seperti Shigeo Shingo, Taiichi Ohno (pelopor Just-In- Time/JIT) dan Kaoru Ishikawa (pemrakarsa Quality Control Circle/QCC), Company Wide Quality Control (CWQC), dan Ishikawa Cause Effect Diagram). Menurut Imai (2008) metode atau sistem Kaizen mengacu pada keberhasilan kaizen menggunakan strategi : 1. Total Quality Control (TQC) / Qotal Quality Management (TQM) 2. A just-in-time jidoka (Toyota Production System) 3. Total productive maintenance 4. Policy development 5. A suggestion system (SS) 6. Small-group avtivities / Quality Control Circle (QCC) Sedangkan dalam AMS (2009) proses improvement dibedakan dalam beberapa kategori, sebagai berikut : 15
11 Tabel 2.2 Kategori Process Improvement Aspek Suggestion System (SS) Quality Control Circle (QCC) Quality Control Project (QCP) Business Performance Improvement (BPI) 1. Peserta Individu Kelompok improvement satu bagian / Departemen Kelompok improvement antar bagian / Departemen Tim Improvement Bisnis / antar Divisi 2. Anggota Gol I - III Gol I - III Gol III - IV Gol IV - VI 3. a. Leader - III IV - V V VI 4. b. Fasilitator III III - IV IV - V V VI 5. Ruang Lingkup - Trouble Shooting - KPI Individu - Section - Process Improvement - KPI Tim - Section / DePT - Operational Improvement - KPI Dept - Lintas Fungsi - Biz Portfolio Improvement - KPI Perusahaan - Dalam / Lintas Perusahaan 6. Reviewer Section Department Division Company Sumber: AMS, 2009 a. Suggestion System (SS) Suggestion System biasa disebut juga dengan Sumbang Saran adalah cara yang sangat efektif untuk mengumpulkan ide-ide yang sebanyak-banyaknya dari sekelompok orang atau peserta yang terlibat. Melalui cara ini, diharapkan akan diperoleh masukan sebanyak-banyaknya dan menghasilkan pemikiran atau ide yang terbaik untuk dipilih dan ditindak lanjuti. Proses sumbang saran akan memberikan hasil yang luar biasa, bila dalam pelaksanaannya menerapkan pola berpikir kreatif, yaitu upaya untuk mencoba menghubung-hubungkan berbagai hal 16
12 yang pada mulanya kelihatan tidak berkaitan dengan topik yang sedang dibahas. Dengan demikian, diharapkan muncul banyak ide-ide yang kreatif. Ganjalan-ganjalan yang menghambat pola berpikir kreatif adalah: a. Ganjalan yang ditimbulakan sendiri: keengganan untuk berpartisipasi dalam kelompok karena kurang kepercayaan diri. b. Terpola pada suatu jawaban: hanya memfokuskan pikiran pada satu jawaban bagi setiap persoalan. c. Terpola pada kesesuaian biasanya ini terjadi dalam kelompok yang dipimpin oleh orang yang sangat dominan, sehingga anggota enggan di dalam mengemukakan pendapat/ ide dan lebih suka berteriak setuju saja. d. Tidak mau menantang kenyataan: tidak mau mencoba berpikir lebih baik lagi. e. Menilai terlalu cepat. f. Takut terlihat bodoh. b. Quality Control Circle (QCC) Menurut Sritomo Wignjosoebroto (2003) Quality Control Circle adalah kelompok kecil karyawan pelaksana, kadang kadang dipimpin oleh Team Leader yang secara sukarela akan mencari jalan dan cara untuk memperbaiki kualitas dan mengurangi biaya produksi di tempat manapun kelompok ini berada dalam sistem produksi. Menurut Olga C. Crocker (2004) definisi Quality Control Circle adalah: Sekelompok kecil pekerja Kelompok tersebut mempunyai sorang pimpinan 17
13 Dibentuk menurut bidang pekerjaan Memecahkan persoalan yang terdapat dalam bidang pekerjaan tersebut. Quality Control Project (Jurnal Agrovaria, 2005) adalah Quality Control Circle yang melakukan suatu pemecahan masalah sebagai suatu projek dimana anggotanya berkumpul secara sukarela dan berasal dari bidang kerja yang berbeda yang berkumpul dengan tujuan memecahkan masalah yang terjadi pada lintas departemen yang saling berhubungan Langkah Langkah Kaizen Metode yang digunakan dalam improvement adalah siklus Deming adalah Plan Do Check Action (PDCA) yang diterjemahkan dalam 8 langkah perbaikan untuk Quality Control Circle (QCC). Sedangkan untuk Suggestion System (SS) cukup menggunakan PDCA saja. Tahapan proses Suggestion System / Sumbang Saran (SS): a. Menjelaskan persoalan: i. Memilih dan menentukan pemimpin dari kelompok yang akan melaksanakan sumbang saran. ii. Pemimpin kelompok menjelaskan persoalan atau topik yang akan dibahas. iii. Tentukan waktu yang akan digunakan untuk pelaksanaan sumbang saran. iv. Tentukan orang yang akan berperan sebagai pencatat semua itu, agar bisa dipastikan tidak ada ide yang terlewatkan. 18
14 b. Mengembangkan ide: Pimpinan menunjuk salah seorang anggota kelompok untuk memulai menyumbangkan ide atau pendapat kemudian diikuti yang lain, termasuk pemimpin sendiri juga harus terlibat aktif. Dinamika penyampaian ide atau pendapat dilakukan secara bergiliran. Setiap orang hanya boleh mengungkapkan satu ide untuk satu kali putaran dan boleh mengungkapkan ide lagi apabila sudah tiba kembali pada gilirannya. Tidak dibenarkan untuk menyela, menanggapi atau mendiskusikan ide-ide yang dikemukakan. Setiap orang dalam kelompok diwajibkan untuk mendengarkan dengan baik, semua ide yang dikemukakan masing-masing pihak agar bisa memanfaatkan ide orang lain. Bila saat giliran tiba, dirasakan belum ada ide yang muncul segera katakan pas atau lewati untuk memberi kesempatan pada orang berikutnya. Semua ide atau pendapat yang masuk harus dicatat semua dan lengkap. c. Mengevaluasi hasil: Bila waktu yang ditetapkan telah habis atau bila semua anggota kelompok sudah kehabisan ide dan menyatakan pas, maka cara sumbang saran sudah bisa diakhiri. Pimpinan menutup acara kemudian membacakan semua ide atau pendapat yang terkumpul. 19
15 Semua anggota kelompok bersama-sama mendiskusikan ide-ide tersebut dan mengusahakan kesepakatan untuk memilih ide-ide yang dapat ditindak lanjuti. Membuat keputusan dengan menentukan ide-ide yang dapat dilaksanakan. Tahapan proses Quality Control Circle (QCC) & Quality Control Project (QCP) Dalam AMS (2008) dijelaskan bahwa Metode delapan langkah perbaikan adalah metode yang paling luas digunakan oleh para tim yang sedang melakukan proyek perbaikan. Adapun detail 8 langkah bisa dilihat pada gambar dibawah. Gambar 2.4 : Metode 8 langkah perbaikan (AMS, 2008) 20
16 Langkah I : Menentukan Tema dan Judul Penentuan Tema Proses penentuan tema perbaikan, selalu diawali dengan terlebih dulu menelusuri latar belakang permasalahan yang timbul dalam pekerjaan, melalui pengamatan terhadap: 1. Pelaksanaan standar operasi yang telah ditetapkan sebelumnya. 2. Pencapaian sasaran departemen atau bagian 3. Keluhan pelanggan 4. Kelanjutan dari kegiatan perbaikan sebelumnya Sudah barang tentu, permasalahan tersebut haruslah yang berada dalam jangkauan kendali circle yang bersangkutan. Adapun tahapan penentuan tema sebagai berikut : a. Pertama-tama kumpulkanlah data yang sudah tersedia, atau melalui pengamatan di lapangan kemudian buatlah pemilahan agar data mudah untuk diolah atau dianalisa lebih lanjut. b. Lakukanlah analisa terhadap data yang telah dikumpulkan, dengan menggunakan alat bantu yang tepat dan cara pembandingan yang berimbang, sehingga dapat diperoleh prioritas masalah yang harus segera diselesaikan. c. Berikan penjelasan yang menggambarkan alasan pemilahan prioritas masalah tersebut. Sebagai pedoman, dibawah ini adalah hal-hal yang mempengaruhi penentuan prioritas masalah, antara lain : Tingkat kesulitan untuk penanggulangan Berhubungan dengan target atau rencana perusahaan 21
17 Waktu penyelesaian Hasil yang diharapkan Tingkat pemahaman dan pengetahuan Tingkat kepentingan Kebijakan baru manajemen perusahaan d. Bila prioritas masalah sudah diperoleh, maka tema perbaikan sudah dapat ditentukan. Tema perbaikan ini biasanya berupa pernyataan yang menunjuk pada tujuan akhir yang ingin dicapai. Oleh sebab itu, tema biasanya diawali dengan kata kerja. Penentuan Judul Pada umumnya, sebuah tema perbaikan mempunyai cakupan yang cukup luas, sehingga agak sulit untuk diambil tindakan lebih lanjut terhadap masalah yang diprioritaskan tersebut, contohnya : tema berbunyi Menurunkan jumlah tanaman yang mati, bagaimana akan mengambil tindakan apabila kita tidak tahu berapa jumlah dan jenis yang mati. Oleh sebab itu diperlukan pemilahan lebih lanjut dari prioritas masalah tersebut, agar diperoleh persoalan yang spesifik yang harus diperbaiki, dan tidak perlu direpotkan oleh berbagai hal yang sebetulnya tidak perlu diperbaiki. Melalui pemilahan terhadap prioritas masalah inilah akan ditemukan persoalan spesifik yang benar-benar harus ditangani segera, dengan suatu sasaran atau target perbaikan yang ingin dicapai. Sasaran atau target inilah yang disebut dengan judul. Yakni kalimat tertulis yang mengungkapkan upaya untuk 22
18 mengurangi, menekan, meniadakan penyimpangan yang terjadi. Oleh sebab itu, judul haruslah mengadung dua unsur pokok yang akan menentukan arah perbaikan, yakni: Hasil yang direncanakan untuk dicapai Batas waktu yang diperlukan untuk keseluruhan proses perbaikan. Langkah II : Menentukan Target Dalam menentukan target imrpovement harus SMART, yaitu Specific, Measurable, Achievable, Realistic, Time Bound. Artinya bahwa dalam memntukan target harus jelas apa item yang akan di evaluasi, berapa nilai target yang akan dicapai, kapan target akan selesai, kapan target bisa oleh tim, dan realistis. Langkah III: Menentukan Penyebab Dominan Kegiatan pada langkah ini adalah mencari faktor-faktor yang diduga dapat menjadi penyebab timbulnya persoalan, sesuai dengan judul yang telah ditetapkan di langkah pertama sebelumya, penelusuran penyebab biasanya menggunakan alat bantu fishbone diagram, tujuan digunakan fishbone adalah dapat memperoleh gambaran yang menyeluruh dari suatu susunan hubungan sebab akibat. Meskipun demikian, bila hubungan antara sebab dan akibat cukup kompleks dan satu sama lain berkaitan sangat erat, maka dimungkinkan untuk menggunakan salah satu alat bantu dari seven tools, yaitu relation diagram. 23
19 Penggunaan alat-alat bantu tersebut akan memberikan manfaat yang maksimal bila didukung oleh sarana yang memadai yakni adanya dinamika brainstorming (sumbang saran). Dalam hal ini, keterlibatan aktif semua anggota kelompok dalam proses ber-sumbang saran akan menghasilkan banyak ide-ide penyebab, sehingga mampu mempertajam analisa dan mengungkap penyebab yang sebenarnya. Teknik brainstorming memang sangat efektif untuk mengumpulkan dan mengembangkan ide sebanyak-banyaknya, sehingga sangat bermanfaat untuk memaksimalkan alat bantu fishbone diagram maupun relation diagram. Meski demikian hal ini belumlah cukup, karena dalam praktek ber-sumbang saran, seringkali tidak terhindari adanya anggota kelompok yang dominan di dalam menyampaikan ide, sementara anggota yang lain mungkin sangat pasif, bahkan mungkin ada juga yang menentang ide orang lain, dan sebagainya. Di samping itu, bila kita melihat lagi tujuan semula melakukan proses sumbang saran adalah untuk mencari penyebab-penyebab yang menyebabkan permasalahan ada.. Itulah sebabnya agar kegiatan kelompok di langkah dua ini berhasil dengan baik, maka circle harus dapat memaksimalkan keterlibatan dan kreatifitas semua anggota kelompok dalam menjalankan brainstorming, serta memudahkan untuk memperoleh kesimpulan bersama. Setelah beberapa sebab yang mengakibatkan permasalahan itu diketemukan, maka anggota kelompok menentukan penyebab yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu kesimpulan berupa hipotesa yang 24
20 disepakati bersama, yakni dipilihnya beberapa penyebab yang dianggap dominan dengan menggunakan diagram pareto maupun diagram sebab akibat. Langkah IV : Membuat Rencana Perbaikan Dari penyebab-penyebab dominan yang telah diketahui, maka kegiatan circle selanjutnya adalah menentukan alternatif-alternatif rencana tindakan perbaikan. Dalam membuat rencana perbaikan digunakan 5W2H. Dalam membuat rencana perbaikan juga ditetapkan target dari kegiatan circle. Dasar penetapannya adalah : 1. Objective perusahaan yang tertuang dalam activity plan/manajemen 2. Analisa langkah 3 & 4 atau kemungkinan teknis (SMART) 3. Gunakan tools yang sesuai (Pareto dan balok) untuk lebih jelasnya. Langkah V : Melaksanakan Perbaikan Setelah merencanakan perbaikan yang akan dilakukan, maka langkah selanjutnya adalah melaksanakan rencana tersebut untuk memperbaiki masalah yang dihadapi. Yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan perbaikan adalah : 1. Menerapkan langkah-langkah perbaikan sesuai dengan rencana. 2. Uraikan secara jelas dari perbaikan yang dilakukan. 3. Sertakan dengan gambar untuk lebih memperjelas dari perbaikan yang dilakukan. Untuk memperjelas usaha perbaikan yang dilakukan, maka dibuat suatu tabel yang didalamnya terdapat penyebab mengapa terjadi masalah yang 25
21 dilanjutkan dengan usaha perbaikan yang dilakukan serta hasilnya. Selain itu juga dicantumkan waktu dan orang yang bertanggung jawab dalam melaksanakan perbaikan tersebut. Tabel 2.3 Cara penulisan langkah pelaksanaan perbaikan No Faktor What Why How Who When Where Status Sumber: AMS, 2008 Langkah VI : Evaluasi Hasil Perbaikan Pada langkah ini, kita berusaha mengetahui sejauh mana pelaksanaan perbaikan ini memberikan hasil? Atau tercapaikah tujuan akhirnya? Satu hal yang membedakannya dengan kegiatan pengamatan hasil uji coba pada langkah sebelumnya, ialah dalam hal tenggang waktu. Hal ini dibutuhkan waktu yang relatif lebih panjang di langkah lima ini, hal itu secara logika dapat diterima, karena memang berfungsi sebagai penelitian (suatu usaha pemastian yang signifikan). Untuk itu, salah satu syarat utama adalah perlu melihat kembali kondisi sebelum ada perbaikan dan membandingkannya dengan kondisi saat ini (setelah perbaikan). Syarat kedua adalah penggunaan beberapa macam alat bantu untuk memberikan gambaran yang dapat memperjelas perbedaan kondisi tersebut, antara lain dengan menggunakan diagram pareto, diagram balok atau bahkan peta kendali. Di samping itu, setelah meneliti hasil yang diperoleh biasanya juga ditemukan adanya dampak positif yang mungkin tidak diketahui sebelumnya, 26
22 sehingga manfaat yang diperoleh dari perbaikan ini memang menjadi terasa maksimal. Contoh dampak positif misalnya menurunnya biaya perawatan, karena dilakukannya penurunan frekuensi buah rusak. Contoh yang lain adalah ditemukannya kenyataan bahwa dengan dilakukannya putaran PDCA ini, anggota kelompok menjadi lebih terampil dalam menggunakan alat bantu kendali mutu dan lebih berani tampil untuk menyuarakan pendapat. Langkah VII : Membuat Standarisasi Suatu hasil kerja (perbaikan) yang sebagus dan sehebat apa pun akan cepat dilupakan orang dan lenyap tanpa bekas, bila tidak dicatat dan dibakukan. Itulah sebabnya, pada akhir suatu perbaikan haruslah diikuti dengan proses pembakuan terhadap hasil yang dicapai. Yang biasa kita sebut dengan membuat standar baru, yang terdiri dari dua hal yaitu: Standar prosedur, yaitu penjabaran prosedur pelaksanaan kerja yang harus diikuti untuk mencegah timbulnya persoalan yang sama. Standar hasil, yaitu unjuk kerja yang dapat dicapai, bila prosedur pelaksanaan tersebut di atas (standar prosedur) dijalankan dengan benar. Pada langkah inilah berlaku istilah pendokumentasian, yaitu pengesahan dan pencatatan tertulis standar baru tersebut,sebagai acuan bagi pekerjaan yang sama atau sejenis, dengan demikian standar tersebut bukan lagi milik kelompok yang bersangkutan, tetapi bisa diberlakukan dalam lingkup yang lebih luas baik di perusahaan atau instansi lain, di sinilah keterlibatan manajemen diperlukan, karena pengesahan terhadap standar baru akan memiliki kekuatan yang mengikat 27
23 bila dilakukan oleh jajaran manajemen yang bersangkutan, sehingga standar yang telah tertulis dengan jelas dan sah akan menjadikan: Setiap orang yang berkepentingan, termotivasi untuk mematuhi standar. Setiap orang yang terlibat harus mengerti tujuan serta menyetujui standar. Standar menjadi mudah dipahami dan dipantau. Standar terbuka untuk ditingkatkan. Ada tolak ukur terhadap penyimpangan yang terjadi. Apabila mengacu pada tahapan PDCA, maka pembuatan standar baru merupakan bagian akhir dari suatu rangkaian proyek peningkatan mutu, di lain pihak standar juga berfungsi sebagai langkah awal untuk memasuki dunia baru, karena sejak pengakuan dan pembakuan standar maka pertanda bahwa satu episode cerita sedih telah dilewati dengan hasil yang memuaskan. Langkah VIII : Menentukan Rencana Berikutnya Salah satu karakteristik kegiatan QCC yang membedakannya dari kegiatan kelompok-kelompok peningakatan mutu yang lain adalah sifat perbaikannya yang berkelanjutan atau berkesinambungan. Jadi, bila suatu perbaikan telah berhasil dilaksanakan dan membuahkan standar baru, maka pada akhir perbaikan selalu diikuti dengan peninjauan kembali terhadap persoalan-persoalan yang mungkin masih tersisa atau persoalan-persoalan baru yang timbul dan harus segera diatasi. Setelah suatu perbaikan dilaksanakan, sudah barang tentu kondisi proses kerja mengalami perubahan. Di samping itu, perubahan bisa saja terjadi disebabkan oleh hal- hal yang lain, seperti misalnya kebijakan baru perusahaan, 28
24 tuntutan pelanggan, dan lain sebagainya. Perubahan-perubahan tersebut adalah hal yang logis, karena perjalan waktu memang memungkinkan dengan segala sesuatu di atas bumi ini tidak selalu tetap adanya. Oleh sebab itu, sangatlah perlu untuk terlebih dulu memusatkan perhatian pada fakta yang ada, sebelum merencanakan perbaikan lebih lanjut. Dengan demikian, awal kegiatan langkah delapan ini adalah mengumpulkan data yang menggambarkan fakta yang ada saat ini, barulah berlanjut dengan menetapkan rencana berikutnya Tools Perbaikan Tujuh Alat Bantu Pengendalian Kualitas (Seven Tools) Menurut Atmaji (2011) untuk menganalisis masalah yang ada dalam kegiatan improvement dapat digunakan alat bantu 7 tools. Manfaat tujuh alat pengendalian kualitas adalah untuk mengetahui akar dari suatu permasalahan dan meningkatkan kemampuan perbaikan proses, sehingga diperoleh: a. Peningkatan kemampuan berkompetisi. b. Penurunan cost of quality dan peningkatan fleksibilitas harga. c. Meningkatkan produktivitas sumber daya. Kegunaan dari ketujuh dalam seven tools adalah sebagai berikut: Mengetahui permasalahannya. Mempersempit ruang lingkup permasalahannya. Mencari faktor yang menjadi penyebabnya. Mencegah kesalahan akibatkurang hati-hati. Melihat akibat perbaikan. 29
25 Mengetahui hasil yang menyimpang atau terpisah dari hasil lainnya. Di bawah ini akan diuraikan tentang ketujuh alat dalam seven tools. Ketujuh alat perbaikan tersebut adalah : 1. Check Sheet Check sheet atau lembar pengumpulan data merupakan alat bantu untuk memudahkan pengumpulan data. Bentuk dan isinya disesuaikan dengan kebutuhan maupun kondisi kerja yang ada. Hal hal yang perlu diperhatikan dalam membuat lembar pengumpulan data : a. Maksud pembuatan harus jelas. - Apa yang akan diketahui? - Apakah data yang didapat sudah cukup lengklap sebagai dasar bertindak. b. Stratifikasi dengan baik. - Mudah dipahami dan diisi. - Memberikan data yang lengkap tentang apa yang mau/ingin diketahui. c. Dapat diisi dengan cepat dan mudah, kalau perlu gunakan gambar untuk lebih memperjelas 2. Stratifikasi Stratifikasi adalah mengurai atau mengklasifikasikan atau mengelompokkan data sejenis yang lebih kecil atau menjadi unsur unsur tunggal dari persoalan. Misalnya mengurai menurut : a. Jenis kesalahan atau kerusakan. b. Penyebab dari kesalahan atau kerusakan. 30
26 c. Lokasi kerusakan atau kesalahan d. Material, hari pembuatan, unit kerja, orang yang mengerjakan, waktu, lot dan lain lain. Guna stratifikasi adalah agar dapat melihat dengan terperinci karakteristik data masalah yang ada. 3. Grafik & Bagan Pengendalian Grafik Grafik merupakan data yang dinyatakan dalam bentuk gambar, sehingga dapat : - Data lebih cepat, mudah dibaca, jelas dan enak untuk dilihat. - Hubungan dengan data yang lalu dapat dipaparkan sekaligus sebagai perbandingan. - Perbandingan dengan data lain yang berhubungan dapat dilihat dengan jelas Jenis grafik pada dasarnya terdapat 3 macam, yaitu : a. Grafik garis (line graph) b. Grafik kolom/balok (bar graph) c. Grafik lingkaran (pie/circle graph) Bagan pengendalian Bagan pengendalian atau control chart merupakan grafik garis dengan mencantumkan batas maksimum dan minimum yang merupakan batas daerah pengendalian. Bagian ini menunjukkan perubahan data dari waktu ke waktu tetapi tidak menunjukkan penyebab penyimpangan, meskipun adanya penyimpangan itu akan terlihat pada bagan pengendalian tersebut. 31
27 Tabel 2.4 Jenis Bagan Pengendalian Bagan pengendalian Jenis data Bagan x - R Data diukur Contoh ; panjang, lebar, isi, volume, berat Bagan pn & p Bagan u Bagan c Data dihitung Contoh ; jumlah kerusakan, jenis kerusakan Data dihitung Contoh ; jumlah cacat lubang pada lembaran logam dari ukuran yang berbeda (bila besaran tempat terjadinya kerusakan seperti : panjang, berat volume dan lain lain tidak tetap/bisa berubah). Data dihitung Contoh ; jumlah cacat lubang pada lembaran logamdengan ukuran tertentu (bila besaran tempat terjadinya kerusakan spserti ; panjang, lebar volume dan lain lain selalu tetap/tidak berubah) Sumber: Atmaji, Diagram Pareto Diagram pareto dimaksudkan untuk menemukan/ mengetahui penyebab utama yang merupakan kunci dalam penyelesaian persoalan dan perbandingannya terhadap keseluruhan. Dengan mengetahui penyebab utama, maka bila kita menanggulanginya terlebih dahulu biarpun hanya berhasil 50% saja, akan membawa pengaruh yang lebih besar terhadap keseluruhan persoalan dibanding bila kita menanggulangi penyebab kecil, apa lagi bila tidak secara tuntas. Dengan memakai diagram pareto ini, dapat mengkonsentrasikan arah penyelesaian persoalan, karena itu diagram pareto merupakan langkah pertama untuk pelaksanaan perbaikan atau penyelesaian persoalan. 32
28 Kegunaan diagram pareto antara lain: a. Menunjukkan persoalan utama b. Menyatakan perbandingan masing masing persoalan terhadap keseluruhan. c. Menunjukkan tingkat perbaikan setelah tindakan perbaikan pada daerah yang terbatas. d. Menunjukkan perbandingan masing masing persoalan sebelum dan sesudah perbaikan. 5. Diagram Sebab Akibat (cause and effect diagram) Diagram juga disebut diagram tulang ikan (fish bone diagram) dan berguna untuk menemukan faktor faktor penyebab yang. Prinsip yang dipakai untuk membuat diagram sebab akibat ini adalah sumbang saran / brainstorming. Brainstorming merupakan teknik untuk memperoleh pendapat yang kreatif secara diskusi bebas. Dalam diskusi bebas tersebut jangan melarang orang berbicara, jangan mengeritik pendapat orang lain dan ambilah manfaat dari pendapat orang lain, semakin banyak pendapat maka semakin baik Untuk menentukan faktor faktor yang berpengaruh, ada 5 faktor utama yang perlu diperhatikan yaitu 4M1E (Man, Machine, Material, Method dan Evirontment). 6. Diagram Pencar Diagram pencar dipakai untuk melihat korelasi (hubungan) dari suatu penyebab/ faktor yang kontinu terhadap karakteristik kualitas atau faktor 33
29 kelompok. Dengan diagram ini kita dapat menentukan korelasi antara suatu sebab dengan akibatnya, antara satu sebab dengan sebab lainnya, antara satu akibat dengan akibat lainnya. Perhitungan korelasi dapat dilakukan dengan mudah dengan menggunakan regresi atau dengan metode nilai tengah. untuk menggambarkannya, pada sumbu vertikal adalah akibatnya, dan pada sumbu horizontal penyebabnya, maka kita mendapatkan sebuah peta yang disebut dengan diagram pencar. Ada beberapa jenis korelasi yang dapat terlihat dari diagram tebar ini, yaitu: Korelasi positif kuat, jika nilai faktor penyebab bertambah besar, nilai faktor akibat juga bertambah besar (nilai koefisien korelasi mendekati positif 1) Korelasi positif lemah, jika terdapat kecenderungan korelasi positif tetapi memiliki sebaran data yang besar (nilai koefisien korelasi kecil tetapi masih positif) Korelasi negatif kuat, jika nilai faktor penyebab bertambah besar, nilai faktor akibat mengecil (nilai koefisien korelasi mendekati negatif 1) Korelasi negatif lemah, jika terdapat kecenderungan korelasi negatif tetapi memiliki sebaran data yang besar (nilai koefisien korelasi kecil negatif) Tanpa korelasi, jika sebaran data sangat besar (nilai koefisien korelasi mendekati 0) 7. Histogram Kegunaan dari histogram adalah untuk mengetahui distribusi / penyebaran data yang ada. Sehingga dengan demikian di dapatkan informasi yang lebih 34
30 banyak dari data tersebut dan akan mempermudah meneliti dan mendapatkan kesimpulan informasi data Indikator Kaizen PT Astra Daihatsu Motor (ADM) dalam melakukan evaluasi implementasi kaizen menggunakan dua dimensi yaitu Quality Control Circle / Quality Control Project (QCC/QCP) dan Suggestion System (SS) Keuntungan dan Kelemahan Kaizen Keuntungan Kaizen secara bekelompok / QCC Menurut Hendayana (2005) dengan adanya Quality Control Circle (QCC), banyak manfaat yang diperoleh, baik bagi karyawan. Kegiatan kelompok kecil mempunyai keuntungan yaitu: Pembuatan tujuan kelompok menciptakan semangat kerja sama. Anggota kelompok memiliki peranan dan mengkoordinasikan peranan mereka masing-masing dengan lebih baik. Komunikasi antara manajemen dan karyawan meningkat, begitu juga di antara para pekerja sendiri. Moral meningkat banyak. Para pekerja dapat memperoleh keterampilan dan pengetahuan baru dan mengembangkan semangat kerja sama lebih tinggi. Kelompok mengambil inisiatif sendiri dan melakukan tugas pemecahan persoalan yang seharusnya dilakukan oleh manajemen. 35
31 Adanya hubungan yang semakin dekat antar para pekerja dan Manajemen. Dapat menciptakan kerjasama antar para pekerja. Adanya kepuasan bagi setiap pekerja. Meningkatkan motivasi kerja. Menumbuhkan keyakinan / kepercayaan diri. Adanya pengembangan kepemimpinan antar para pekerja. Adanya dorongan kreativitas antar pekerja, dan Terjadinya peningkatan sistem dan prosedur pekerjaan. Bagi manajemen sendiri, manfaat QCC adalah sebagai berikut : Orang dapat menangkap persoalan yang sebenarnya dengan lebih cepat. Tahap perencanaan lebih baik. Cara berfikir yang berorientasi pada proses memperoleh dorongan. Orang memusatkan perhatian pada persoalan yang lebih penting. Setiap orang ikut ambil bagian dalam membina sistem baru. Kelemahan Kaizen secara bekelompok / QCC Menurut Hendayana (2005), Disamping adanya manfaat atau keuntungan dari terbentuknya QCC, terdapat pula kelemahannya. Kelemahan dari adanya QCC tersebut adalah sebagai berikut : Meski partisipasi dalam gugus bersifat sukarela, akan tetapi dalam prakteknya bukan tidak mungkin terjadinya partisipasi itu karena tekanan sejawat. Jika tidak bersedia ikut ambil bagian dalam gugus akan dipandang 36
32 sebagai kurangnya perhatian terhadap tujuan perusahaan dan dengan demikian merusak kemungkinan promosi seseorang. Kalau terjadi hal seperti itu QCC menjadi beban dan bukannya suatu kerangka motivasi. Terdapat kekurangan spontanitas gugus menjadi tidak produktif dan tidak aktif. Di beberapa perusahaan peserta QCC mengeluhkan adanya keterlibatan dalam pengendalian mutu atau teknis produksi yang terlalu besar. Perusahaan memberikan tekanan terlalu besar pada produktivitas dari pada potensi karyawan. Partisipasi cenderung menjadi sekedar ritual belaka, dan terjadi kehilangan spontanitas. Dampaknya semakin sulit bagi anggota kelompok untuk menemukan persoalan baru untuk diatasi S Definisi 5 S 5 S Pastinya sudah banyak yang tahu atau pernah dengar dengan istilah ini. Dalam duniamanajemen, 5S lahir pertama kali di Jepang. Dari segi perkembangan manajemen, konsep5s ini menjadi cikal bakal tumbuhnya konsep Total Quality Management (TQM), Kaizen, Just-in-time, ISO, dan seterusnya. Menurut Osada (2004) 5S adalah Seiri (Ringkas), Seiton (Rapi), Seiso (Resik), Seiketsu (Rawat), dan Shitsuke (Rajin). Gerakan 5S merupakan kebulatan tekad untuk mengadakan pemilahan, penataan, pembersihan, memeliharakondisi 37
33 yang mantap, dan memelihara kebiasaan yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik. 5S tidak sulit untuk dipahami, tapi 5S sangat sulit untuk dilaksanakan dengan benar. 5S memerlukan kegigihan, kebulatan tekad, dan memerlukan usaha yang terus menerus. 5Smungkin tidak akan memberikan hasil yang dramatis. Namun 5S membuat pekerjaan lebih mudah. 5S akan mengurangi pemborosan waktu kerja kita. 5S akan membuat kita bangga atas pekerjaan kita. 5S akan meningkatkan produktifitas kerja, kinerja karyawan dan peningkatan mutu yang lebih baik, sedikit demi sidikit, namun terus menerus. Menurut Imai (2008) 5S adalah kebulatad tekat untuk mengadakan Seiri (ringkas) si tempat kerja, Seiton (rapi), Seiso (resik), Seiketsu (rawat), kondisi yang mantap dan Shitsuke (rajin) memelihara kebiasaan yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik. Beberapa arti penting 5 S antara lain : a. Keunggulan manusia abad global b. Pondasi industri / langkah awal menuju keunggulan perusahaan c. Menurunkan pemborosan d. Maningkatkan mutu dan produktivitas e. Meningkatkan keselamatan Menurut Imai (2008) kedudukan 5S dalam suatu perusahaan dalam ditunjukkan dalam gambar berikut : 38
34 Operations Q & S management Informasi Profit management Cost management Equipment S t a n d a r d i z a t i o n 5 S Muda Elimination Log management Products & materials Teamwork Visual management Morale enhancement QC circles Self-discipline Suggestions Gambar 2.5 House of Genba management (Imai, 2008) Beberapa akibat jika tidak adanya penerapan 5S antara lain : a. Hubungan antara karyawan yang kurang baik b. Peralatan kantor dan lokasi kerja yang kotor dan berserakan c. Lini kerja penuh dengan barang cacat d. Kecelakaan kerja tinggi e. Kehancuran industri Seiri Seiri biasa disebut dengan pemilihan atau ringkas. Seiri berarti membedakan antara yang diperlukan dan yang tidak diperlukan serta membuang yang tidak diperlukan. 39
35 Prinsip dari Seiri yaitu dengan menggunakan manajemen stratifikasi dan menangani sebab masalah. Seiton Seiton biasa disebut dengan penataan atau rapi. Seiton adalah menentukan tata letak yang tertata rapi sehingga kita selalu menemukan barang yang dibutuhkan. Prinsip dari Seiton adalah penyimpanan fungsional dan menghilangkan waktu untuk mencari barang. Seiso Seiso biasa disebut dengan pembersihan atau resik. Seiton bermakna menghilangkan sampah kotoran dan barang asing untuk memperoleh tempat kerja yang lebih bersih. Pembersihan dilakukan dengan cara inspeksi. Seiketsu Seiketsu biasa disebut dengan pemantapan atau rawat. Seiketsu berarti memelihara barang dengan teratur, rapi, beersih dan dalam aspek personal serta kaitannya dengan polusi. Shitsuke Shitsuke biasa disebut dengan pembiasaan (disiplin) atau rajin. Shitsuke berarti melakukan sesuatu yang benar sebagai kebiasaan Pelaksanaan 5 S perlangkah : Pelaksanaan 5 S kita harus melakukan melaksanakan setiap langkah 40
36 Seiri Langkah langkah dalam penerapan Seiri adalah : 1. Penjelasan guna penyeragaman pengertian 2. Kegiatan meringkas tempat kerja 3. Pemeriksaan berkala kondisi ringkas di tempat kerja 4. Pelembagaan ringkas dengan sistem piket Slogan Seiri adalah singkirkan barang-barang yang tidak diperlukan di tempat kerja. Beberapa ciri khas aktivitas dari Seiri yaitu : 1. Buang barang yang tidak diperlukan 2. Tangani penyebab kotoran dan kebocoran 3. Pembersihan ruangan 4. Periksan tutup dan daerah bertekanan rendah untuk mencegak kebocoran dan percikan. 5. Pengaturan gudang 6. Tangani barang yang cacat dan rusak Seiton Langkah langkah penerapan Seiton yaitu : 1. Pengelompokan barang 2. Penyiapan tempat 3. Pemberian tanda batas 4. Pemberian tanda pengenal barang (label) 5. Membuat denah / peta penyimpanan 41
37 Seiso Langkah langkah dalam penerapan Seiso adalah : 1. Penyediaan sarana kebersihan 2. Pembersihan tempat kerja 3. Peremajaan tempat kerja 4. Pelestarian Seiso Seiketsu Langkah langkah dalam penerapan Seiketsu adalah : 1. Penentuan butir kendali 2. Penetapan kondisi tidak wajar 3. Rancangan mekanisme pemantauan 4. Pola tindak lanjut 5. Pemeriksaan berkala / audit Shitsuke Langkah langkah dalam penerapan Shitsuke adalah : 1. Penetapan target bersama 2. Teladan / contoh dari atasan 3. Hubungan karyawan 4. Kesempatan belajar bagi karyawan Beberapa kendala atau kesulitan dalam penerapan 5 S adalah : a. Tidak paham terhadap arti penting 5S b. 5 S menginginkan perubahan perilaku bukan sistem 42
38 c. Tidak ada semangat kerja d. Melupakan yang mudah (kurang meluangkan waktu untuk 5S) e. Terlalu berorientasi hasil f. Tidak ada kerja tim g. Cepat berpuas diri Manfaat dan Hambatan 5 S Manfaat penerapan 5S menurut Imai (2008) antara lain : 1. Membantu karyawan untuk disiplin, dan menarik karyawan untuk melakukan improvement 2. Menghilangkan Muda 3. Mudah melihat abnormality 4. Memudahkan untuk melihat defect sehingga kualitas terjaga 5. Perbaikan untuk efisiensi dan cost reduction operational 6. Meminimalis kecelakaan kerja 7. Area kerja lebih bersih Hambatan 5 S Beberapa hambatan dalam implementasi 5 S antara lain : 1. Salah persepsi, merasa diperlakukan seperti anak kecil 2. Merasa 5S hanya tanggungjawab golongan paling rendah 3. Merasa 5S tidak meningkatkan output 4. Kebiasaan bekerja ditempat yang berantakan 43
39 5. Merasa telah menerapkan kebersihan sejak dulu 6. Merasa tidak ada waktu untuk melakukan 5S 7. Merasa tidak butuh 5S 2.4 Kinerja Karyawan Definisi Kinerja Karyawan Menurut Hasibuan (2006), kinerja merupakan hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya didasarkan atas kecakapan, pengalaman, kesungguhan serta waktu. Sedarmayanti (2007) menyatakan bahwa kinerja merupakan sistem yang digunakan untuk menilai dan mengetahui seorang karyawan dalam melaksanakan pekerjaannya secara keseluruhan atau merupakan perpaduan dari hasil kerja (apa yang harus dicapai seseorang) dan kompetensi (bagaimana seseorang mencapainya). Pendapat yang senada juga dijelaskan oleh Veithzal Rivai, et al. (2008) yang mengungkapkan bahwa kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu di dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama. Berdasarkan definisi-definisi di atas, dua hal yang disimpulkan berikut ini. Pertama, kinerja dapat didefinisikan sebagai hasil akhir dari keseluruhan kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan yang disesuaikan dengan kriteria-kriteria yang 44
40 telah ditetapkan. Kedua, kinerja juga mencerminkan prestasi yang dicapai oleh suatu organisasi Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan. Faktor tersebut meliputi internal dan eksternal. Faktor internal terdiri atas berikut ini. 1) kemampuan intelektualitas; 2) disiplin kerja; 3) kepuasan kerja; 4) motivasi karyawan. Faktor eksternal antara lain sebagai berikut. 1) gaya kepemimpinan; 2) lingkungan kerja; 3) kompensasi; 4) sistem manajemen yang terdapat di perusahaan tersebut. Faktor-faktor tersebut hendaknya perlu diperhatikan oleh pimpinan sehingga kinerja karyawan dapat optimal. Menurut Mahmudi (2005), faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja terdiri dari lima faktor, antara lain sebagai berikut. 1) Faktor personal/individual meliputi pengetahuan, keterampilan, kemampuan, kepercayaan diri, motivasi, dan komitmen yang dimiliki oleh setiap individu; 45
41 2) Faktor kepemimpinan meliputi kualitas dalam memberikan dorongan semangat, arahan, dan dukungan yang diberikan manajer dan team leader. 3) Faktor tim meliputi kualitas dukungan dan semangat yang diberikan oleh rekan dalam satu tim, kepercayaan terhadap sesama anggota tim, kekompakan, dan keeratan anggota tim. 4) Faktor sistem meliputi sistem kerja, fasilitas kerja atau infrastruktur yang diberikan oleh organisasi, proses organisasi, dan kultur kinerja dalam organisasi. 5) Faktor kontekstual (situasional) meliputi tekanan dan perubahan lingkungan eksternal dan internal Indikator Kinerja Menurut Prawirosentono (2008), kinerja dapat dinilai atau diukur dengan menggunakan beberapa indikator sebagai berikut. 1) Efektivitas, yaitu bila tujuan kelompok dapat dicapai dengan kebutuhan yang direncanakan; 2) Tanggung jawab adalah bagian yang tak terpisahkan atau sebagai akibat kepemilikan wewenang; 3) Disiplin, yaitu taat pada hukum dan aturan yang berlaku. Disiplin karyawan adalah ketaatan karyawan yang bersangkutan dalam menghormati perjanjian kerja dengan perusahaan tempat dia bekerja; 4) Inisiatif yang berkaitan dengan daya pikir, kreativitas dalam bentuk suatu ide yang berkaitan tujuan perusahaan. Sifat inisiatif sebaiknya mendapat perhatian 46
42 atau tanggapan perusahaan dan atasan yang baik. Dengan perkataan lain, inisiatif karyawan merupakan daya dorong kemajuan yang akhirnya akan mempengaruhi kinerja karyawan. Sedangkan menurut Malayu (2008) Indikator pengukuran kinerja adalah: a. Prestasi kerja karyawan b. Kedisiplinan karyawan c. Absensi karyawan d. Tingkat kerusakan produksi, alat dan mesin-mesin. e. Tingkat kecelakaan karyawan. f. Tingkat pemborosan bahan baku, tenaga dan waktu. g. Tingkat kerja sama karyawan. h. Tingkat upah insentif i. Prakarsa karyawan j. Kepemimpinan dan keputusan manajer. PT Astra Daihatsu Motor (ADM), dalam hal ini Human Resources Division bersama manajemen sudah menetapkan indikator-indikator pengukuran kinerja karyawannya dari segi performance dan kompetensi. Untuk mengukur kinerja jangka pendek setiap semester ADM menitikberatkan pada performance dengan pendekatan dua dimensi, yaitu dimensi penilain hasil kerja berdasarkan Individual Performance Plan / Standart Performance (IPP/SP) dan dimensi karakteristik pribadi. 47
43 Dimensi penilaian hasil kerja diukur oleh dua indikator sebagai berikut. 1) Hasil kerja meliputi proses dan pencapaian target dari IPP/SP yang sudah disampaikan; 2) Improvement / Standarisasi yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan perbaikan yang dilakukan, QCC/QCP, SS, dan sebagainya yang berkaitan dengan peningkatan SQCDMP; Sedangkan dimensi karakteristik pribadi diukur oleh tiga indikator, yaitu: 1) Kedisiplinan yang meliputi absensi kehadiran, penggunaan waktu secara efektif, melakukan pekerjaan sesuai dengan SOP dan standar yang berlaku diperusahaan; 2) Kepatuhan terhadap aturan berupa sikap karyawan dalam melakukan aktivitas sehari hari seperti berjalan di jalur hijau, harus menggunakan APD (Alat Pelindung Diri), dan tidak melanggar aturan-aturan yang sudah ditetakan oleh perusahaan; 3) Sikap I CARE (Integrity, Commitment, Accountability, Respect, Excellent Innovation) yang menggambarkan implementasi dari setiap value perusahaan dengan cara melakukan hal yang disarankan dan tidak melakukan hal yang tidak diperbolehkan sesuai value I CARE. Dari indikator - indikator kinerja tersebut, maka dapat menentukan dan membuat pertanyaan-pertanyaan untuk kuisioner yang akan diajukan pada objek penelitian. 48
44 2.3.4 Penilaian Kinerja Salah satu langkah nyata untuk mengetahui tingkat produktivitas kerja yakni dilakukannya Performance Apprasial (Penilaian Kinerja). Penilaian kinerja adalah salah satu bagian dari manajemen kinerja yang merupakan proses saat kinerja perseorangan dinilai dan dievaluasi. Penilaian tentang kinerja individu karyawan semakin penting ketika perusahaan akan melakukan reposisi karyawan, artinya perusahaan harus mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kinerja. Pada gilirannya, kinerja individu akan mencerminkan derajat kompetisi suatu perusahaan. Penilaian kinerja pada dasarnya merupakan faktor kunci guna mengembangkan suatu organisasi secara efektif dan efisien dalam menentukan kebijakan karena kebijakan atau program yang lebih baik atas sumber daya manusia yang ada dalam organisasi akan meningkatkan produktivitas kerja yang pada akhirnya juga meningkatkan produktivitas perusahaan. Kinerja karyawan merupakan gabungan dari kemampuan, usaha, dan kesempatan yang dapat diukur dari akibat yang dihasilkan. Oleh karena itu, kinerja bukan hanya menyangkut karakteristik pribadi yang ditunjukkan oleh seseorang melainkan hasil kerja yang telah dan akan dilakukan oleh seseorang. Secara umum terdapat beberapa tujuan utama dari dilakukannya sebuah proses penilaian kinerja karyawan, diantaranya adalah sebagai berikut. 1) Evaluasi yang dilakukan dengan melakukan perbandingan antar orang. Target dan tujuan utama dari sebuah proses penilaian kinerja karyawan adalah evaluasi penilaian yang dilakukan dengan membandingkan orang per orang. Pengukuran dan penilaian bisa dilakukan hanya dengan melakukan 49
45 perbandingan. Perbandingan kinerja orang per orang merupakan tujuan utama dari sebuah proses penilaian kinerja karyawan; 2) Pengembangan sumber daya karyawan. Tujuan lain dari upaya penilaian kinerja karyawan adalah pengembangan kualitas kinerja orang per orang seiring dengan berjalannya waktu, baik pengembangan yang sifatnya lahir dari diri karyawan sendiri atau dorongan langsung dari pihak pengelola perusahaan; 3) Pemeliharaan sistem kerja perusahaan. Upaya penjagaan terhadap sistem kerja dari sebuah perusahaan bisa terus dilakukan salah satunya dengan melakukan penilaian kinerja karyawan. Evaluasi dilakukan secara terus menerus agar kinerja-kinerja karyawan tidak keluar dari sistem yang telah ditetapkan oleh pihak perusahaan; 4) Dokumentasi terhadap keputusan-keputusan terkait sumber daya manusia. Dengan adanya sebuah upaya penilaian kinerja karyawan, terdapat bukti dan dokumentasi penting yang berguna bagi pihak perusahaan untuk mengambil keputusan di masa akan datang terkait dengan aspek sumber daya manusia ataupun kebijakan yang langsung menyangkut kepada pihak individu karyawan. Untuk menghindari subjektivitas penilaian terhadap seorang karyawan, pengukuran kinerja secara formal diperlukan dengan format atau acuan yang transparan dan diketahui oleh karyawan secara keseluruhan sehingga seseorang dapat merencanakan keberhasilan kariernya dengan mengacu pada sistem penilaian kinerja yang diterapkan. 50
46 Pengukuran kinerja bertujuan untuk mengetahui keberhasilan atau kegagalan yang meliputi: a) penetapan indikator kinerja; b) penentuan hasil capaian indikator kinerja. Penerapan pengukuran kinerja dalam suatu perusahaan kadang masih menghadapi beberapa kendala seperti: - Penilaian kinerja seringkali masih menjadi masalah bagi pengusaha karena keterbatasan informasi atau edukasi seputar kinerja karyawan; - Kinerja yang memuaskan tidak terjadi secara otomatis pada karyawan setelah memasuki masa orientasi atau pendidikan nonformal lainnya; - Menggunakan sistem manajemen kinerja (performance management system) yang terdiri dari proses-proses untuk mengindentifikasi, mendorong, mengukur, mengevaluasi, meningkatkan dan memberi penghargaan terhadap kinerja karyawan. Secara umum penilaian kinerja karyawan berdampak positif bagi banyak pihak. Berikut ini pihak-pihak yang akan merasakan dampak positif dari sebuah proses penilaian kinerja karyawan. 1. Pihak karyawan Proses penilaian kinerja karyawan akan memberikan dampak positif bagi para karyawan di antaranya adalah munculnya motivasi kerja yang lebih baik, adanya kejelasan dari standar kerja yang sudah dilakukan, umpan balik terhadap kinerja yang sudah lalu, pengembangan diri, peluang untuk mendiskusikan berbagai permasalahan selama menjalankan kerja, peluang berkomunikasi dengan 51
47 pihak atasan dan sebagainya. Hal-hal positif tersebut akan dirasakan oleh pihak karyawan melalui adanya proses penilaian kinerja karyawan. 2. Pihak Penilai Ada banyak hal positif yang akan didapatkan oleh pihak penilai melalui adanya upaya penilaian kinerja karyawan. Beberapa di antaranya adalah pihak perusahaan dapat mengetahui dan menilai kecenderungan kinerja masing-masing karyawan, upaya peningkatan kepuasan kinerja yang diinginkan oleh pihak perusahaan, upaya untuk memahami karyawan secara lebih dekat, meningkatkan efektivitas sumber daya manusia sebuah perusahaan, kesempatan bagi pihak atasan untuk menjelaskan kepada para karyawan apa sebenarnya yang menjadi keinginan pihak perusahaan. Upaya penilaian kinerja karyawan sebaiknya jangan ditakuti, demikian juga pihak perusahaan hendaknya tidak terburu-buru membuat kebijakan yang menyakitkan bagi karyawan Hambatan Penilaian Kinerja Hambatan dalam kinerja karyawan disebut sebagai resistance to change atau penolakan terhadap perubahan merupakan suatu sikap yang muncul dalam proses perubahan organisasi baik berasal dari individu maupun kelompok yang menentang atau menolak perubahan, seperti berikut. 1) Hilangnya kesetiaan; 2) Hilangnya motivasi kerja; 3) Timbul banyak kesalahan; 52
48 4) Bekerja lambat; 5) Banyak absensi; 6) Menyatakan ketidaksetujuan, protes, atau lebih keras lagi dalam bentuk demonstrasi. Penilaian yang dilakukan dengan baik sesuai fungsinya akan sangat menguntungkan organisasi, yaitu akan dapat meningkatkan kinerja. Dalam proses melakukan penilaian kinerja yang baik, terdapat beberapa penyebab kesalahan dalam penilaian kinerja (Sedarmayanti, 2009) sebagai berikut. 1) Efek halo. Terjadi bila pendapat pribadi penilai tentang karyawan mempengaruhi pengumuman kinerja; 2) Kesalahan kecenderungan terpusat. Hal ini disebabkan oleh penilai yang menghindari penilaian sangat baik atau sangat buruk. Penilaian kinerja cenderung dibuat rata-rata; 3) Bisa terlalu lemah dan bisa terlalu keras. Terlalu lemah disebabkan oleh kecenderungan penilai untuk terlalu mudah memberikan nilai baik dalam evaluasi, sedangkan terlalu keras disebabkan penilai cenderung terlalu kental dalam evaluasi. Kedua kesalahan ini pada umumnya terjadi bila standar kinerja tidak jelas; 4) Prasangka pribadi. Faktor yang membentuk prasangka pribadi (seperti faktor senioritas, suku, agama, kesamaan kelompok dan status sosial) dapat mengubah penilaian; 5) Pengaruh kesan terakhir. Penilaian dipengaruhi oleh kegiatan yang paling akhir. Kegiatan terakhir baik atau buruk cenderung lebih diingat oleh penilai. 53
49 2.3.6 Manfaat Penilaian Kinerja Ada beberapa manfaat penilaian kinerja. Sedarmayanti (2009) mengemukakan antara lain sebagai berikut. 1) Meningkatkan prestasi kerja. Dengan adanya penilaian, pimpinan maupun karyawan memperoleh umpan balik dan mereka dapat memperbaiki pekerjaan/prestasinya; 2) Memberikan kesempatan kerja yang adil. Penilaian yang akurat dapat menjamin karyawan memperoleh kesempatan menempati posisi pekerjaan sesuai kemampuannya; 3) Kebutuhan pelatihan dan pengembangan. Melalui penilaian kinerja, pimpinan dapat mendeteksi karyawan yang kemampuannya rendah sehingga memungkinkan adanya program pelatihan untuk peningkatan kemampuan mereka; 4) Penyesuaian kompensasi. Melalui penilaian, pimpinan dapat mengambil keputusan dalam menentukan perbaikan pemberian kompensasi, insentif, dan sebagainya; 5) Keputusan promosi dan demosi. Hasil penilaian kinerja dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan untuk mempromosikan atau mendemosikan karyawan; 6) Diagnosis kesalahan desain pekerjaan. Kinerja yang buruk mungkin merupakan suatu tanda kesalahan dalam desain pekerjaan. Penilaian kinerja dapat membantu mendiagnosis kesalahan tersebut; 54
50 7) Menilai proses rekrutmen dan seleksi. Kinerja karyawan baru yang rendah dapat mencerminkan adanya penyimpangan proses rekruitmen dan seleksi. Kinerja dapat dikatakan juga sebagai suatu hasil atau output dari suatu proses pelaksanaan tugas yang akan berpengaruh terhadap produktivitas kerja. Semakin baik kinerja seorang pegawai, berarti pegawai tersebut juga semakin produktif, atau produktivitas kerjanya semakin meningkat. 2.4 Penelitian Sebelumnya Peneliti membaca dan membandingkan beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya terkait dengan penerapan Budaya Kaizen, Budaya 5 S, dan kinerja antara lain sebagai berikut : Tabel 2.5 Penelitian Sebelumnya No Peneliti Judul Penelitian Hasil 1 Illi Uma rifah Tahun 2008 Pengaruh Budaya Kaizen terhadap Kinerja Karyawan pada Koperasi Sae Pujon Kabupaten Malang Analisa yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dan uji statistik yaitu uji F dan uji T. Dari hasil analisis didapatkan nilai F hitung sebesar >F tabel dan teruji pada α = 5 % dan membuktikan bahwa variabel bebas berpengaruh secara simultan terhadap variabel terikat. Hasil uji t menunjukkan bahwa variabel penyelia mempunyai pengaruh paling dominan dengan t hitung paling besar 6.676>t tabel 1.98 dan dengan signifikan terkecil sedangkan analisa regresi menunjukkan hasil konstanta sebesar yang berarti jika variabel bebas dari budaya kaizen tidak diperhatikan maka kinerja karyawan akan menurun sebesar konstanta tersebut. 55
51 No Peneliti Judul Penelitian Hasil 2 Vivianti Br. Tampubolon Tahun 2008 Evaluasi Penerapan Budaya Kerja 5S terhadap kinerja di PT AKM Penelitian ini menggunakan analisis faktor, analisis deskriptif, uji T dan uji ANOVA. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 5 dimensi budaya kerja 5S, hanya 4 dimensi (Seiri, Seithon, Seiso, Seiketsu) yang valid dan reliabel dengan mean > 2,5. Dengan demikian performance management di PTAKM, perilaku budaya keja 5S valid masuk dalam unsur penilaian kinerja karyawan. 3 Dedy Daruyanto Tahun 2011 Pengaruh Budaya Kaizen terhadap Kinerja Karyawan PT Mega Central Finance Cabang Tulungagung Peneliti menggunakan analisa rentan skala, uji validitas, uji reabilitas, dan regresi linier berganda. Dari penelitian ini didapatkan hasil bahwa, Penerapan budaya Kaizen pada PT Mega Cental Finance Cabang Tulungagung adalah dengan menerapkan 5 unsur yang terdiri dari Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke. Kinerja karyawan cukup tinggi dilihat dari hasil skor yang diperoleh rata-rata 105,33. 4 Prima Tahun 2009 Sekretariat Daerah Kabupaten Dairi Pada penelitian tersebut, Prima menyatakan bahwa budaya organisasi berkaitan erat dengan kinerja pegawai di suatu organisasi. Semakin baik budaya organisasi, maka semakin besar dorongan para pegawai untuk maju bersama dalam organisasi. Metode yang digunakan adalah korelasional dengan pendekatan kualitatif. 56
52 No Peneliti Judul Penelitian Hasil Perhitungan Korelasi Product Moment dalam penelitian ini diperoleh sebesar 0, 62 dan perhitungan Koefisien Determinan sebesar 38, 44 % dan 61, 56 %. Dengan dekimian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif antara Budaya Organisasi dengan kinerja pegawai di Sekretariat Daerah Kabupaten Dairi. Sumber: Penelitian Illi, Vivianti 2008, Dedy 2011, Prima Kerangka Pemikiran Dalam pengukuran kinerja karyawan yang diperhatikan adalah pencapaian target, improvement dan kepribadian dalam bekerja. Hal ini dapat diukur melalui budaya yang diterapkan diperusahaan yaitu budaya Kaizen / Improvement dan juga Budaya keerja 5S. Setiap individu berbeda dengan individu lainnya sesuai dengan hasil kerjanya. Demikian pula dengan kelompok, kinerja kelompok satu dengan kelompok lainnya tidak sama karena anggota kelompok memiliki perbedaan pemahaman tentang kinerja secara berbeda pula. Untuk memberikan kesamaan kinerja, perusahaan harus menetapkan pengukuran yang standar agar dapat dijadikan pedoman bagi setiap karyawan sehingga karyawan sudah menyelesaikan pekerjaannya yang pada akhirnya berdampak positif pada kinerja karyawan. Perkembangan perusahaan dapat ditinjau dengan melihat hasil kinerja. Dengan penilaian tersebut akan terlihat hasil mengenai kinerja para karyawan 57
53 apakah kinerjanya sudah baik, cukup, atau kurang. Hasil kinerja yang baik mendorong karyawan lebih antusias dalam melaksanakan tugas pekerjaannya dengan lebih baik, karena kinerja digunakan sebagai alat untuk mengendalikan perilaku karyawan, membuat keputusan-keputusan yang berkaitan dengan kenaikan gaji, pemberian bonus, promosi, dan penempatan karyawan pada posisi yang sesuai. Budaya perusahaan yang baik maka akan memudahkan karyawan dalam bekerja, sehingga produktivitas karyawan akan naik. Produktivitas kerja juga akan menunjang kinerja. Produktivitas akan bermanfaat sebagai umpan balik bagi perusahaan dan evaluasi kerja karyawan. Budaya Kaizen dan Budaya 5S adalah sebagai variabel bebas (variabel independen), sedangkan kinerja karyawan adalah variabel terikat (variabel dependen). Berdasarkan keterangan yang telah dijelaskan sebelumnya, penulis mengambil kesimpulan sementara bahwa kinerja karyawan dipengaruhi oleh Budaya Kaizen dan Budaya 5S. Pengaruh Budaya Kaizen dan Budaya 5S terhadap kinerja karyawan dituangkan dalam suatu kerangka pemikiran. Bentuk kerangka pemikiran penelitian ini akan diuraikan secara garis besar, bahwa kinerja karyawan PT Astra Daihatsu Motor dipengaruhi oleh faktorfaktor Buday Kaizen dan Budaya 5S yang menjadi acuan karyawan dalam proses pencapaian kinerja yang baik. Hubungan antara variabel bebas dan terikat dalam penelitian ini divisualisasikan dalam Gambar 2.1 berikut. 58
54 BUDAYA KAIZEN X1 BUDAYA 5 S X2 KINERJA Y Gambar 2.6 Kerangka Pemikiran dalam Penelitian Keterangan: X1 : Budaya Kaizen X2 : Budaya 5 S Y : Kinerja Karyawan 59
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Quality (mutu) 2.1.1 Definisi Quality (mutu) Mutu adalah sesuatu yang diputuskan oleh pelanggan. Mutu didasarkan pada pengalaman aktual pelanggan terhadap produk atau jasa, diukur
BAB 2 LANDASAN TEORI
8 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Dasar dari Kualitas Kata kualitas memiliki banyak definisi yang berbeda, dan bervariasi dari yang konvensional sampai yang lebih strategik. Definisi konvensional dari
BAB 3 METODE PENELITIAN
BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Diagram Alir DELAPAN LANGKAH 8. Menetapkan target 1. Menentukan tema & analisa situasi 9. Standarisasi & rencana 2. Menetapkan target 6. Evaluasi hasil 3. Analisa faktor penyebab
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Mutu ( Quality ) Mutu adalah sesuatu yang diputuskan oleh pelanggan dan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan oleh pelanggan. Mutu didasarkan pada pengalaman aktual
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Quality (mutu) Mutu adalah sesuatu yang diputuskan oleh pelanggan. Mutu didasarkan pada pengalaman aktual pelanggan terhadap produk atau jasa, diukur berdasarkan persyaratan
BAB 2 LANDASAN TEORI. karena apabila diterapkan secara rinci antara produsen dan konsumen akan terjadi
8 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Kualitas Kualitas merupakan ukuran yang tidak dapat didefinisikan secara umum, karena apabila diterapkan secara rinci antara produsen dan konsumen akan terjadi perspektif yang
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Kualitas Globalisasi dan kemudahan untuk mengakses informasi dari seluruh dunia, membawa perubahan yang sangat besar dalam kehidupan manusia. Perubahan itu juga Mempengaruhi dunia
PERTEMUAN : 2 PENGENDALIAN KUALITAS (3 SKS) Oleh : Budi sumartono TOTAL QUALITY CONTROL (PENGENDALIAN MUTU TERPADU)
PERTEMUAN : 2 PENGENDALIAN KUALITAS (3 SKS) Oleh : Budi sumartono POKOK BAHASAN : TOTAL QUALITY CONTROL (PENGENDALIAN MUTU TERPADU) DESKRIPSI Pengendalian mutu terpadu (PMT) lebih merupakan sikap dan perilaku
BAB III LANDASAN TEORI
BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Pengertian Kualitas Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita mendengar orang membicarakan masalah kualitas, misalnya: mengenai kualitas sebagian besar produk buatan luar negeri
BAB 2 Landasan Teori 2.1 Total Quality Management
BAB 2 Landasan Teori 2.1 Total Quality Management Total Quality Management (TQM) adalah suatu filosofi manajemen untuk meningkatkan kinerja bisnis perusahaan secara keseluruhan dimana pendekatan manajemen
GUGUS KENDALI MUTU. Oleh : SITTI MARLINA
Tugas Makalah Manajemen Mutu Terpadu GUGUS KENDALI MUTU Oleh : SITTI MARLINA 21311153 JURUSAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN KONSENTRASI TIK FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KENDARI
PROSES PERUBAHAN DAN PENGOPERASIAN TQM
PROSES PERUBAHAN DAN PENGOPERASIAN TQM STIE Dewantara MKUAL-02 Pendahuluan Dewasa ini iklim perekonomian dunia tampak semakin kurang menentu, dan perubahan yang terjadi akhir-akhir ini justru banyak yang
HOUSEKEEPING & PRODUKTIVITAS KERJA PERTEMUAN KE-7
HOUSEKEEPING & PRODUKTIVITAS KERJA PERTEMUAN KE-7 Apa yang anda rasakan jika suasana kerja seperti ini? Good Housekeeping A messy shop can hide hazards! Keep it clean Bad Housekeeping Poor housekeeping
Nama : Gema Mahardhika NIM : Kelas : A PDCA. a) Pengertian
PDCA a) Pengertian Dalam peningkatan mutu dalam kebidanan diperlukan manajemen yang baik agar dalam pelaksanaannya dapat tercapai secara efektif dan efisien. Didalam ilmu manajemen, ada konsep problem
Pernahkah anda merasakan suasana seperti ini? Apa yang anda rasakan jika suasana ruangan seperti ini?
Pernahkah anda merasakan suasana seperti ini? Apa yang anda rasakan jika suasana ruangan seperti ini? Apa itu 5S? Koni-Chi-Wa Let s start 5S. 5S memberi jawaban untuk kita, karena 5S merupakan teknik penanganan
Sosialisasi PROGRAM 5R RINGKAS - RAPI - RESIK - RAWAT - RAJIN
Sosialisasi PROGRAM 5R Setiap perusahaan pasti mengharapkan suatu lingkungan kerja yang - Bersih - Rapih - Terawat - Disiplin kenyataannya kondisi ini sulit terjadi di setiap perusahaan. (Benarkah?) Kantor
Sumber : PQM Consultant QC Tools Workshop module.
Sumber : PQM Consultant. 2011. 7QC Tools Workshop module. 1. Diagram Pareto 2. Fish Bone Diagram 3. Stratifikasi 4. Check Sheet / Lembar Pengecekan 5. Scatter Diagram / Diagram sebar 6. Histogram 7. Control
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Statistic Quality Control (SQC) Statistik merupakan teknik pengambilan keputusan tentang suatu proses atau populasi berdasarkan pada suatu analisa informasi yang terkandung di
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. oleh para konsumen dalam memenuhi kebutuhannya. Kualitas yang baik
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Kualitas Kualitas merupakan aspek yang harus diperhatikan oleh perusahaan, karena kualitas merupakan aspek utama yang diperhatikan oleh para konsumen dalam memenuhi
Pengenalan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo 6 Maret 2017
Pengenalan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo 6 Maret 2017 Apa itu 5R? 5R merupakan kegiatan menata tempat kerja sehingga diperoleh lingkungan kerja yang nyaman dan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di CV.Mabar Karya Utama Medan yang berada di Jl. Mabar. Penelitian ini dimulai dari tanggal 08 Agustus 013 sampai tanggal
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI Persaingan global di bidang manufacturing otomotif yang sarat dengan tuntutan kualitas, lead time singkat dan on time delivery maka diperlukan perbaikan terus menerus dan rencana produksi
BAB II KAJIAN PUSTAKA, RERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS
BAB II KAJIAN PUSTAKA, RERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS A. Kaizen 1. Pengertian Kaizen Kaizen ( 改善 ) secara harafiah berasal dari kata Kai ( 改 ) yang artinya perubahan dan Zen ( 善 ) yang artinya baik.
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sejarah Gugus Kendali Mutu Istilah Gugus Kendali Mutu pertama kali lahir sebagai respon terhadap munculnya persoalan krisis produktifitas. Fenomena ini pertama kali mencuat di
Makalah Manajemen Operasional (Manajemen Kualitas)
Makalah Manajemen Operasional (Manajemen Kualitas) DENNY HARIANTO NIM : 1401026015123456798900- KELAS : XXXIII - D MATA KULIAH : MANAJEMEN OPERASIONAL MAGISTER MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA UNIVERSITAS
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN Berikut adalah metode yang digunakan dalam melakukan penelitian dan pengolahan data : Identifikasi Masalah Studi Pustaka Menentukan Tujuan 8 Langkah dan 7 Tools 1. Menentukan
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL. 1.1 Latar Belakang Penelitian Identifikasi Masalah Tujuan Penelitian 05
ABSTRAK PT Ateja Multi Industri merupakan salah satu perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang industri tekstil, dimana produk yang dihasilkannya berupa kain untuk public transportation berdasarkan
Bab 3 Metodologi Pemecahan Masalah
Bab 3 Metodologi Pemecahan Masalah 3.1. Flow Chart Pemecahan Masalah Dalam flow chart pemecahan masalah dalam penelitian ini menggambarkan langkah-langkah yang akan ditempuh dalam melakukan penelitian.
BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH
61 BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH 3.1. Model dan Teknik Penyelesaian Masalah Model pengatasan masalah reject dapat digambarkan sebagai berikut: STUDI PUSTAKA TUJUAN PENELITIAN OBSERVASI PERUSAHAAN
Pengendalian (Manajemen) Vis ual Dalam Penerapan 5R ( 5S) di Tempat Kerja
Pengertian, T u j uan dan Manfaat Penerapan 5 R ( 5S) di Tempat Kerja Langka h- Langka h P enerapan 5R ( 5S) di Tempat Kerja Pengendalian (Manajemen) Vis ual Dalam Penerapan 5R ( 5S) di Tempat Kerja Pengertian,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perkenalan Kaizen Dalam bahasa Jepang, kaizen berarti perbaikan berkesinambungan (Imai, 1999). Istilah ini mencakup pengertian perbaikan yang melibatkan semua orang baik manajer
IDENTIFIKASI KEKURANGAN KANBAN MANUAL DENGAN METODE 5S PADA PT. EDC BAGIAN TESTING
Profesionalisme Akuntan Menuju Sustainable Business Practice PROCEEDINGS IDENTIFIKASI KEKURANGAN KANBAN MANUAL DENGAN METODE 5S PADA PT. EDC BAGIAN TESTING Farahdhina Leoni 1, Oktri Mohammad Firdaus 2,
MATERI III GUGUS KENDALI MUTU (GKM) By : Moch. Zen S. Hadi, ST Communication Digital Lab.
MATERI III GUGUS KENDALI MUTU (GKM) By : Moch. Zen S. Hadi, ST Communication Digital Lab. 2 GUGUS KENDALI MUTU Definisi Kelompok karyawan yang terdiri dari tiga sampai sepuluh orang dari pekerjaan sejenis,
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metodologi penelitian merupakan gambaran dari tahapan yang dilalui dalam menyelesaikan suatu masalah yang ditemui dalam sebuah penelitian, dimana dibuat berdasarkan latar
BAB II LANDASAN TEORI
13 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Total Productive Maintenance Total Productive Maintenance (TPM) adalah teknik silang fungsional yang melibatkan beberapa bagian fungsional perusahaan bukan hanya pada Bagian
Statistical Process Control
Natasya Christy Mukuan 1701344251 LD21 Statistical Process Control Sejarah Statistical Process Control (SPC) Sebelum tahun 1900-an, industri AS umumnya memiliki karakteristik dengan banyaknya toko kecil
BAB 2 LANDASAN TEORI. Kualitas atau mutu merupakan salah satu tujuan penting bagi sebagian besar
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Definisi Mutu Kualitas atau mutu merupakan salah satu tujuan penting bagi sebagian besar organisasi mengingat mutu ini menyangkut organisasi secara keseluruhan
WHAT IS LEAN MANAGEMENT?
WHAT IS LEAN MANAGEMENT? Lean thinking is lean, because it provides a way to do more and more with less and less Less human resources, less equipment, less time, less space More efficient, more product,
Lean Thinking dan Lean Manufacturing
Lean Thinking dan Lean Manufacturing Christophel Pratanto No comments Dasar pemikiran dari lean thinking adalah berusaha menghilangkan waste (pemborosan) di dalam proses, atau dapat juga dikatakan sebagai
UPAYA PENURUNAN KEJADIAN KEHILANGAN GELAS BERUKURAN SEDANG MELALUI PENERAPAN METODE QUALITY CONTROL CIRCLE (QCC) DI UNIT GIZI, RS ABC, JAKARTA
UPAYA PENURUNAN KEJADIAN KEHILANGAN GELAS BERUKURAN SEDANG MELALUI PENERAPAN METODE QUALITY CONTROL CIRCLE (QCC) DI UNIT GIZI, RS ABC, JAKARTA Jonny Department of Industrial Engineering, Faculty of Engineering,
BAB IV METODE PENELITIAN. Perspektif pendekatan penelitian yang digunakan adalah dengan metode
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Jenis Desain Penelitian Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analistis yakni suatu penelitian yang bertujuan untuk memberikan gambaran tentang realitas pada obyek yang
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metodologi penelitian menguraikan seluruh kegiatan yang dilaksanakan selama penelitian berlangsung dari awal proses penelitian sampai akhir penelitian. Setiap tahapan dalam
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Kualitas Ada banyak sekali definisi dan pengertian kualitas, yang sebenarnya definisi atau pengertian yang satu hampir sama dengan definisi atau pengertian yang lain.
MATERI VIII LANGKAH PEMECAHAN MASALAH. By : Moch. Zen S. Hadi, ST Communication Digital Lab.
MATERI VIII LANGKAH PEMECAHAN MASALAH By : Moch. Zen S. Hadi, ST Communication Digital Lab. LANGKAH PEMECAHAN MASALAH A. IDENTIFIKASI MASALAH Sumber data diperoleh dari : a. Data historis dari catatan-catatan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Suatu keberhasilan kerja, berakar pada nilai-nilai yang dimiliki dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Budaya Kaizen 2.1.1 Pengertian Budaya Kaizen Suatu keberhasilan kerja, berakar pada nilai-nilai yang dimiliki dan perilaku yang menjadi kebiasaannya. Nilai-nilai tersebut bermula
BAB II LANDASAN TEORI
9 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Definisi Kualitas Kualitas atau mutu adalah satu kata kunci yang harus terus dijaga oleh suatu industri atau perusahaan untuk dapat memberikan kepuasan
TIN102 - Pengantar Teknik Industri Materi #14 Ganjil 2014/2015 TIN102 PENGANTAR TEKNIK INDUSTRI
Materi #14 TIN102 PENGANTAR TEKNIK INDUSTRI 5S Orisinal 2 6623 - Taufiqur Rachman 1 Aktivitas 5S 3 Metode untuk pengaturan tempat kerja dan pengendalian secara visual. Dipopulerkan oleh Hiroyuki Hirano
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI Dalam Bab ini dikemukakan teori-teori dan penjelasan-penjelasan yang digunakan untuk pengolahan data dan proses analisa terhadap permasalahan yang dihadapi. 2.1. PENGERTIAN TQM/ MANAJEMEN
BAB II LANDASAN TEORI
6 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 PROSES PRODUKSI 2.1.1 Pengertian Proses Produksi Proses produksi adalah metode dan teknik untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan menggunakan
5R merupakan budaya tentang bagaimana seseorang memperlakukan tempat kerjanya secara benar. Bila tempat kerja tertata rapi, bersih, dan
5R merupakan budaya tentang bagaimana seseorang memperlakukan tempat kerjanya secara benar. Bila tempat kerja tertata rapi, bersih, dan tertib, maka kemudahan bekerja perorangan dapat diciptakan, dan dengan
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Definisi dan Konsep Dasar Kualitas Secara definitif yang dimaksudkan dengan kualitas atau mutu suatu produk/jasa adalah derajat atau tingkatan dimana produk atau jasa tersebut
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Manajemen Manajemen berasal dari kata to manage yang artinya mengatur. Pengaturan dilakukan melalui proses dan diatur berdasarkan urutan dari fungsi-fungsi manajemen
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor penyebab lamanya waktu perbaikan jaringan komputer dan mencari solusi perbaikannya dengan menggunakan pendekatan
BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN
BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil dari pengumpulan serta pengolahan data yang sudah dilakukan menggunakan diagram pareto untuk mengetahui cacat terbesar yaitu cacat produk salah ukuran yang
MAKALAH MANAJEMEN MUTU TERPADU Perlibatan dan Pemberdayaan Karyawan
MAKALAH MANAJEMEN MUTU TERPADU Perlibatan dan Pemberdayaan Karyawan Diajukan Sebagai Tugas Mata Kuliah Manajemen Mutu Terpadu DISUSUN OLEH KELOMPOK 5 : Fuchsia Dara. P Ridho Ilahi Gesi Chrysita (RRC1B013008)
7 Basic Quality Tools. 14 Oktober 2016
7 Basic Quality Tools 14 Oktober 2016 Dr. Kaoru Ishikawa (1915 1989) Adalah seorang ahli pengendalian kualitas statistik dari Jepang. As much as 95% of quality related problems in the factory can be solved
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN Berikut adalah metode yang digunakan dalam melakukan penelitian dan pengolahan data : Identifikasi Masalah Studi P ustaka Menentukan Tujuan 8 Langkah dan 7 Tools 1. Menentukan
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Kaizen Kaizen merupakan istilah bahasa Jepang terhadap konsep continuous incremental improvement. Kai berarti perubahan dan Zen berarti baik. Menurut Tjiptono dan Diana
Berikut jenis training & materinyaa :
Berikut jenis training & materinyaa : 1. PREVENTIVE MAINTENANCE & SPARE PART MANAGEMENT (1 hari) 1. Memahami konsep : Corrective Maintenance Preventive Maintenance Predictive Maintenance 2. Proses pembuatan
MANAJEMEN OPERASIONAL M. KURNIAWAN. DP BAB 3 MANAJEMEN KUALITAS
MANAJEMEN OPERASIONAL M. KURNIAWAN. DP BAB 3 MANAJEMEN KUALITAS DEFINISI KUALITAS Fitur dan karakteristik produk yang mempengaruhi kepuasan pelanggan, cocok untuk digunakan Pengguna: Apa kata pelanggan
Bacaan Harian BUDAYA KERJAKU
Bacaan Harian BUDAYA KERJAKU DI BALAI BESAR PENGEMBANGAN LATIHAN KERJA DALAM NEGERI BANDUNG Diunduh: Djoko Sujono dari: https://eriskusnadi.wordpress.com/2011/08/06/5s-seiri-seitonseiso-seiketsu-shitsuke/
BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN PROPOSISI
BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN PROPOSISI 2.1 Tinjauan Teoritis 2.1.1 Kepemimpinan 1. Pengertian kepemimpinan Kepemimpinan memiliki arti yang lebih dalam daripada sekedar label atau jabatan yang
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI Dalam melakukan penelitian penulis menggunakan metode Fish bone untuk mencari akar masalah, berikutnya digunakan metode 5W-1H untuk menganalisa lebih lanjut dan dilanjutkan dengan
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Total Quality Tools Di Proses Industri Ada beberapa pakar yang memiliki pendapat tersensiri tentang TQM, salah satunya Tobin (1990) yang mendefinisikan TQM sebagai usaha terintegrasi
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Manajemen 2.1.1 Pengertian Manajemen Menurut Dyck dan Neubert, dalam buku Principles of Management (2011:7-9) management adalah proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin,
Alat dan Teknik Meningkatkan Mutu. idyst 1
Alat dan Teknik Meningkatkan Mutu idyst 1 Ada berbagai alat (tools) dan teknik yang digunakan dalam pelaksanaan TQM. Alat dan teknik tersebut berbeda manfaatnya bila digunakan untuk langkah dan situasi
BAB 2 LANDASAN TEORI
23 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Definisi mengenai Kualitas Saat kata kualitas digunakan, kita mengartikannya sebagai suatu produk atau jasa yang baik yang dapat memenuhi keinginan kita. Menurut ANSI/ASQC Standard
MATERI V TEKNIK KENDALI MUTU. By : Moch. Zen S. Hadi, ST Communication Digital Lab.
MATERI V TEKNIK KENDALI MUTU By : Moch. Zen S. Hadi, ST Communication Digital Lab. TEKNIK PENGENDALIAN MUTU Gugus Kendali Mutu dalam memperbaiki dan meningkatkan mutu menggunakan teknik : SEVEN TOOLS.
BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN
BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN 5.1 Analisa Permasalahan yang Terjadi Sebelum improvement, di bagian produksi coklat compound terdapat permasalahan yang belum dapat diketahui. Proses grinding coklat compound
Total Productive Maintenance (TPM) Sistem Perawatan TIP FTP UB Mas ud Effendi
Total Productive Maintenance (TPM) Sistem Perawatan TIP FTP UB Mas ud Effendi Total Productive Maintenance Program perawatan yang melibatkan semua pihak yang terdapat dalam suatu perusahaan untuk dapat
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1 Analisa perbandingan setelah menggunakan 5S Penerapan 5S pada PT. TJM Internasional divisi warehouse terutama packing dilakukan dengan melibatkan pihak terkait
Manajemen Operasional MANAJEMEN MUTU
Manajemen Operasional MANAJEMEN MUTU Putri Irene Kanny [email protected] Sub Pokok bahasan pertemuan ke-10 Arti Mutu Tujuan Pengawasan Mutu Organisasi Pengawasan mutu Statistical Proces
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Mutu Karakteristik lingkungan dunia usaha saat ini ditandai oleh perkembangan yang cepat disegala bidang yang menuntut kepiawaian manajemen dalam mengantisipasi setiap
SEJARAH PERKEMBANGAN KUALITAS. Nur Hadi Wijaya, STP, MM
SEJARAH PERKEMBANGAN Nur Hadi Wijaya, STP, MM 1. Sejarah awalnya masih dianggap tidak penting Sistem subsisten (produksi untuk memenuhi kebutuhan sendiri) Sistem Barter (tidak dalam kondisi menawar) hanya
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Dewasa ini perkembangan bisnis meningkat semakin ketat meskipun
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dewasa ini perkembangan bisnis meningkat semakin ketat meskipun berada dalam kondisi perekonomian yang cenderung tidak stabil. Hal tersebut memberikan dampak
JURNAL ANALISIS DATA dan STANDAR KUALITAS UNTUK SITUS WEB PEMERINTAHAN INDONESIA BIDANG KEPENDUDUKAN ABSTRAK
JURNAL ANALISIS DATA dan STANDAR KUALITAS UNTUK SITUS WEB PEMERINTAHAN INDONESIA BIDANG KEPENDUDUKAN 1 Cecep Budiman 1 Jurusan Sistem Informasi, Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi, Universitas
BAB V HASIL DAN ANALISA
BAB V HASIL DAN ANALISA 5.1 Analisa Hasil Perhitungan Data Berdasarkan hasil dari pengumpulan serta pengolahan data yang sudah dilakukan menggunakan peta kendali p sebelumnya maka diperoleh hasil dari
BAB I PENDAHULUAN. persaingan ketat antar industri khususnya industri rumahan atau home industry.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Era globalisasi ini telah membawa banyak dampak ke semua negara, termasuk Indonesia khususnya karena banyak sekali industri baik yang berskala besar maupun
BAB I PENDAHULUAN. Sebuah perusahaan dalam bentuk apapun akan berorientasi pada pencarian laba
BAB I PENDAHULUAN I.I Latar Belakang Penelitian Sebuah perusahaan dalam bentuk apapun akan berorientasi pada pencarian laba yang maksimal dengan modal yang tersedia. Dengan demikian perusahaan akan mencari
BAB III METODE PENELITIAN
35 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Metodologi penelitian ini berguna sebagai acuan dalam melakukan penelitian, sehingga penelitian dapat berjalan dengan baik. Penulis melakukan
8 Step Aktivitas QCC. Oleh: Toyota Indonesia Institute
8 Step Aktivitas QCC Oleh: Toyota Indonesia Institute Jakarta, 10 Maret 2016 1 Step aktivitas QCC I. Persiapan I-1. Pembentukan Group I-2. Menentukan Nama Group III. Laporan / Persentasi II. QC Step (
Definisi Taufiqur Rachman 1
Total Quality Management By: Taufiqur Rachman Definisi Salah satu ilmu yang berorientasi pada kualitas dan merancang ulang sistem organisasi dalam mencapai tujuannya adalah Total Quality Management (TQM)
PENGENDALIAN KUALITAS PRODUK DALAM UPAYA MENURUNKAN TINGKAT KEGAGALAN PRODUK JADI
PENGENDALIAN KUALITAS PRODUK DALAM UPAYA MENURUNKAN TINGKAT KEGAGALAN PRODUK JADI Ni Luh Putu Hariastuti [email protected] Jurusan Teknik industri, Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Adhitama
2. Pengawasan atas barang hasil yang telah diselesaikan. proses, tetapi hal ini tidak dapat menjamin bahwa tidak ada hasil yang
27 2. Pengawasan atas barang hasil yang telah diselesaikan Walaupun telah diadakan pengawasan kualitas dalam tingkat-tingkat proses, tetapi hal ini tidak dapat menjamin bahwa tidak ada hasil yang rusak
7 Prinsip Manajemen Mutu - ISO (versi lengkap)
7 Prinsip Manajemen Mutu - ISO 9001 2015 (versi lengkap) diterjemahkan oleh: Syahu Sugian O Dokumen ini memperkenalkan tujuh Prinsip Manajemen Mutu. ISO 9000, ISO 9001, dan standar manajemen mutu terkait
Pengertian Total Quality Management (TQM)
Pengertian Total Quality Management (TQM) Untuk memahami Total Quality Management, terlebih dahulu perlu dijabarkan pengertian kualitas (quality), dan manajemen kualitas terpadu (Total Quality Management).
Total Productive Maintenance (TPM) Sistem Perawatan TIP FTP UB Mas ud Effendi
Total Productive Maintenance (TPM) Sistem Perawatan TIP FTP UB Mas ud Effendi Total Productive Maintenance Program perawatan yang melibatkan semua pihak yang terdapat dalam suatu perusahaan untuk dapat
GEMBA KAIZEN DAN HUBUNGANNYA DENGAN PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KUALITAS ISO 9001
GEMBA KAIZEN DAN HUBUNGANNYA DENGAN PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KUALITAS ISO 9001 Muhamad Fitri Staf Pengajar Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Batam, Jl. Abuyatama no. 5, Batam Center,
BAB I PENDAHULUAN. Jepang yaitu Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu dan Shitsuke yang merupakan rangkaian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada zaman yang sudah maju ini, persaingan bisnis yang semakin ketat akan membuat para pelaku bisnis berpikir lebih keras bagaimana caranya memenangkan sebuah persaingan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 2.1. Tinjauan Pustaka Praktek kualitas tidak hanya terkait dengan kepuasan pelanggan tetapi juga untuk efisiensi prosesnya. Salah satu praktek manajemen kualitas
10/6/ Pengantar
Lecturer Content: Pengantar Konsep Pengendalian Kualitas / QC Quality of Conformance (Kualitas Kesesuaian/Kesamaan} Konsep Biaya dalam QC Tools / Penerapan Teknik Statistika dalam QC Proses Evolusi QC
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tujuan utama dari suatu perusahaan pada dasarnya adalah untuk memperoleh laba yang optimal sesuai dengan pertumbuhan perusahaan dalam jangka panjang. Namun disamping
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Dasar Kualitas/Mutu Keberhasilan suatu proyek dapat diukur dengan penilaian atas biaya, mutu dan waktu. Kualitas menurut ISO 8402 adalah keseluruhan ciri dan karakteristik
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Pengertian Total Quality Management (TQM) sistematis terhadap perencanaan dan manajemen aktivitas. TQM dapat diterapkan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Total Quality Management (TQM) 1. Pengertian Total Quality Management (TQM) Total Quality Management (TQM) merupakan suatu bukti pendekatan sistematis terhadap perencanaan dan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Organisasi bisnis menghadapi faktor-faktor eksternal seperti persaingan dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Organisasi bisnis menghadapi faktor-faktor eksternal seperti persaingan dari perusahaan-perusahaan lain, situasi ekonomi, situasi politik dan lainnya. Untuk
II. TINJAUAN PUSTAKA Perencanaan SDM
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Manajemen Sumber Daya Manusia Manajemen Sumberdaya Manusia (MSDM) adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan SDM dan sumber-sumber lainnya secara efektif untuk mencapai
BAB II LANDASAN TEORI. dihasilkan agar dapat memenuhi kebutuhan yang telah dispesifikasikan guna
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Kualitas Kualitas didefinisikan sebagai konsistensi peningkatan perbaikan dan penurunan variasi karakteristik kualitas dari suatu produk barang atau jasa yang dihasilkan
BAB III LANGKAH PEMECAHAN MASALAH
BAB III LANGKAH PEMECAHAN MASALAH 3.1 Penetapan Kriteria Optimasi Setelah mengevaluasi berbagai data-data kegiatan produksi, penulis mengusulkan dasar evaluasi untuk mengoptimalkan sistem produksi produk
