BAB 10. STABILITY & CONTROL STABILITAS STATIS & DINAMIS
|
|
|
- Irwan Gunawan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB 10. STABILITY & CONTROL STABILITAS STATIS & DINAMIS Konsep dasar dari stabilitas secara sederhana dapat diungkapkan sebagai berikut "sebuah aircraft yang stabil, ketika mengalami suatu gangguan selama fase penerbangan maka pesawat tersebut memiliki kecenderungan untuk mengembalikan dirt ke kondisi awal ( baik dalam pitch, roll, yaw, kecepatan dan lain-lain )". Kestablian suatu aircraft mutlak diperlukan dalam usaha menghindari ( paling tidak memperkecil) resiko accident selama fase penerbangan. Didalam dunia penerbangan ada dua macam stabilitas, yaitu stabilitas statis dan stabilitas dinamis Stabilitas Statis Suatu aircraft dikatakan mempunyal stabilitas statis apabila gaya-gaya yang muncul akibat gangguan selama fase penerbangan ( misalnya pitch ing moment sebagal akibat bertambah-besarnya AoA ) mendorong aircraft pada arah yang tepat sehingga mampu mengembalikan aircraft pada kondisi awal. Apabila restoring force ( gaya kembalian ) ini terlalu kuat maka aircraft akan melampaui kondisi awal dan akan berosilasi lebih besar dan mengalami amplitudo yang lebih besar sampai pada akhirnya aircraft tersebut dalam kondisi out of control. Jika sebuah aircraft mengalami hal ini berarti aircraft tidak mempunyai stabilitas dinamis, walaupun stabilitas statis telah diperlihatkan. Untuk conventional aircraft configuration, jika sudah memenuhi stabilitas statis, juga akan memiliki stabilitas dinamis pada sebagian besar flight condition Keterangan gambar: Gambar 1.a. aircraft memiliki perfectly neutral stability dimana untuk sudut pitch berapapun, gaya yang dihasilkan oleh gangguan tidak akan mampu mengganggu stabilitas aircraft. Beberapa aerobatic aircraft mempunyal stabilitas, mendekati perfectly neutral stability, sehingga tidak masalah untuk melakukan penerbangan pada kondisi berangin kencang. Gambar 1.b. menunjukkan statically unstable, dimana sudut pitch bertambah besar yang mengakibatkan timbulnya gaya
2 yang justru semakin memperbesar sudut pitch, hingga akhirnya terjadilah pitch-up. Gambar 1. Stabilitas statis dan dinamis Gambar 1.c. menunjukkan aircraft memiliki stabilitas statis dengan redaman berat. Aircraft kembali ke kondisi semula tanpa malampauinya. Gambar I.d. menunjukkan respon sebagian besar aircraft. Disini aircraft kembali ke kondisi awal tetapi melalui converging oscillation (osilasi mengumpul) terlebih dahulu. Respon semacam ini bisa diterima asalkan waktu osilasinya singkat. Gambar 1.e. menunjukkan bahwa restoring force sudah berada pada arch yang benar sehingga aircraft dikatakan memiliki stabilitas statis. Namun restoring force tersebut besar dan gaya redaman yang relatif rendah sehingga aircraft melampaui original pitch angle yang dihasilkan oleh gangguan itu sendiri, yang akhirnya menyebabkan aircraft tidak terkontrol ( misalnya spin ) Stabilitas Dinamis Sebuah aircraft dikatakan mempunyai stabilitas dinamis apabila gerakangerakan dinamis aircraft pada akhirnya akan mengembalikan aircraft ke kondisi awal. Cara untuk mengembalikan aircraft ke kondisi awal ini tergantung pada restoring force, mass distribution dan damping force. Seperti yang tampak pada Gambar 1.e. bahwa bisa sa ja sebuah aircraft itu memiliki stabilitas statis tetapi tidak memiliki stabilitas dinamis. Ketidak-stablian dinamis tidak selalu tidak dapat ditenima, asalkan terjadinya secara gradual. Sebagian besar aircraft setidak-tidaknya memiliki satu jenis dynamic instability yaitu spiral divergence. Jenis ini berjalan secara perlahan sehingga memberi banyak waktu pada pilot untuk melakukan pencegahan, misalnya dengan membuat minor roll correction. Pada kenyataannya, pada umumnya pilot tidak sadar akan keberadaan spiral divergence mode tersebut karena minor roll correction yang diperlukan tidak lebih besar dari minor roll correction yang diperlukan untuk menanggulangi gust.
3 Stabilitas dinamis memerlukan analisa yang sangat kompleks dan memerlukan program komputer untuk mendapatkan hasil yang akurat Sistem Koordinat Disini ada dua macam sistem koordinat yang biasa digunakan dalam analisa suatu aircraft 1. Body-axis system Sistem koordinat ini bersifat tetap ( fixed ) pada aircraft, dengan sumbu x sejajar dengan fuselage, sumbu z tegak lurus terhadap sumbu x, dan sumbu y tegak lurus terhadap sumbu x dan z. Titik asal bisa berlokasi di sembarang tempat, biasanya terletak pada ujung nose ( gambar 2.a ). Untuk kebanyakan orang sistem body-axis dirasa lebih natural, tetapi memiliki kekurangan terhadap yariasi arah dan lifit dan drag akibat perubahan AoA. Gambar 2. Sistem koordinat pada aircraft 2. Stability (wind ) axis system Sistem koordinat stability ( wind ) axis menyelesaikan persoalan pada body-axis system dengan cara mengorientasikan sumbu x dalarn arah aliran udara relatif tanpa memperhatikan (x ataupun sideslip angle ( ). Sistem koordinat ini akan berubah-ubah sehingga. proyeksi dari berbagai panjang lengan ( misalnya jarak dari wing MAC hingga tail MAC) akan bervariasi terhadap a ataupun Namun variasi dari lengan momen tersebut biasanya diabaikan dalam analisa stabilitas, karena sudutnya biasanya kecil. Momen-momen yang bekerja pada ketiga sumbu x, y. dan z, masing-masing rolling moment ( L ), pitching moment ( M ), dan yawing moment ( N )
4 10.2. STABILITAS STATIS LONGITUDINAL & KONTROL Kebanyakan aircraft mempunyai bentuk yang simetris terhadap center line, sehingga perubahan moderat pada hanya berpengaruh kecil atau tidak berpengaruh sama sekali pada yaw ataupun roll. Hal ini memungkinkan analisa stabilitas dan kontrol dibagi menjadi dua, yaitu analisis longitudinal ( pitch ) dan analisis lateral directional ( roli dan yaw ) Pitching moment disekitar c.g sebagian besar dikontribusi oleh wing, tail, fuselage dan engine. Kontribusi wing meliputi lift pada wing aerodynamic center dan wing moment disekitar aerodynamic center. Definisi aerodynamic center ( a. c ) adalah Suatu titik yang mana harga pitching moment pada titik tersebut berharga konstan terhadap. Harga pitching moment tersebut akan sama dengan nol hanya jika wingnya uncambered dan untwisted. Pada subsonic flight, a.c. terletak pada 25% MAC. lstilah wing moment yang lainnya adalah perubahan pitching moment akibat flap deflection. Flap deflection juga berpengaruh pada wing lift dan downwash pada tail. Drag pada wing dan tail juga menghasilkan pitching moment, tetapi dapat diabaikan karena harganya yang relatif kecii. Disisi lain, tail mempunyai lengan momen yang panjang, sehingga dapat menghasilkan momen yang besar yang digunakan untuk trim dan kontrol. Fuselage dan nacelle memproduksi pitching moment yang sulit diestimasi tanpa bantuan wind-tunnel data. Kesulitan tersebut ditambah dengan adanya pengaruh upwash dan downwash dari wing, Engine memberi tiga kontribusi pada pitching moment. Yang pertama adalah di sebabkan oleh thrust yang dikalikan dengan jarak yertikal terhadap c.g. Yang kedua adalah gaya vertikal Fp yang dihasilkan oleh propeller disk atau inlet front face,
5 sebagai akibat dari beloknya freestream airflow, Dan yang ketiga adalah disebabkan oleh propwash atau jet-induced flowfield. yang akan mempengaruhi AoA efektif dari tail dan mungkin juga pada wing Stabilitas Statis Longitudinal menurut Nicolai Nicolai memberikan persarnaan stabilitas untuk tiga tipe aircraft, yaitu 1. Canard, dengan konfigurasi canard dan main wing. 2. Aft tail dengan konfigurasi main wing dan tail. 3. Tailles, yang lebih dikenal dengan flying wing karena hanya menggunakan main wing sebagai penghasil lift dan kontrol. Persamaan trim dart aircraft tipe aft tail adalah sebagai berikut: perubahan momentum akibat berputarnya ( beloknya ) udara ke inlet. Untuk kecil, maka (CM cg )inlet dapat diabaikan. Untuk Z <<< c maka wing -body drag moment dapat diabalkan. Sehingga jika Z relatif kecil maka thrust term dapat diabaikan. Deviriatif pitching coefficient terhadap adalah sebagai berikut : Stabilitas statis merupakan kecenderungan suatu sistern gaya berat dan momen untuk mengembalikan kekondisi setimbang (equilibrium) apabila gangguan menerpanya. Stabilitas statis merupakan kondisi yang diperlukan untuk memperoleh stabilitas dinamis. Apabila suatu aircraft diharapkan memiliki kestabilan dinamis, maka aircraft tersebut harus memiliki kestabilan statis. Suatu aircraft dikatakan memiliki stabilitas statis bila CM bernilai negatif yang berarti bahwa : apabila sebuah aircraft dengan CM < 0 berada dalam kesetimbangan pada AoA positif, dan tiba-tiba AoA bertambah ( misalkan pada gust), maka aircraft akan membuat negative moment untuk mendorong nose ke arah bawah untuk menuiu AoA setimbang semula.
6 2.2. Stabilitas Statis Longitudinal menurut Perkins Persamaan stabilitas yang dijabarkan oleh Perkins adalah persamaan stabilitas untuk conventional aircraft dengan konfigurasi main-wing dan aft-tail. Gambar 4. Stabilitas statis longitudinal menurut Perkins Gaya-gaya utama yang bekerja dalam konfigurasi ini adalah Persamaan momen untuk stabilitas longitudinal dinyatakan sebagai berikut Koefisien momen diperoleh dengan cara membagi persamaan (61) dengan q.s w,.c, Perubahan C m, terhadap CI, menghasilkan persamaan berikut ini 1. Persamaan stabilitas longitudinal stick fixed, propeller diam. 2. Persamaan stabilitas longitudinal stick fixed dengan windmilling propeller. Aircraft dikatakan stabil apabila derivatif C m, terhadap, CI bernilal negatif, yang berarti kenaikan CI, yang diakibatkan oleh gangguan pada aircraft akan dikembalikan pada kondisi awal oleh aircraft pitching moment.
7 2.3. Stabilitas Statis Longitudinal menurut Raymer Persamaan stabilitas yang diberikan Raymer adalah persamaan stabilitas untuk aircraft dengan konfigurasi main wing dan tail. Disini Raymer memberi grafik Cm, untuk beberapa tipe aircraft sebagal pernbanding, sehingqa dari hasil perhitungan dapat dilihat apakah stabilitas aircraft sudah baik atau belum. Gambar 6.5. Stabilitas statis longitudinal menurut Raymer Besarnya derivatif pitching moment coefficient ( persamaan13 ) tergantung pada lokasi c.g. Ada lokasi c.g dimana perubahan a tidak menimbulkan perubahan pada nilai pitching moment-nya. Titik ini disebut "airplane aerodynamic center" atau "neutral point ( Xnp )", yang menunjukkan neutral stability dan merupakan batas lokasi c.g paling belakang sebelum aircraft tidak stabil ( aft c.g ). Center of gravity yang terletak dibelakang Xnp menyebabkan instability pada aircraft. Neutral point diperoleh dengan cars membuat CMa= 0, yang berarti pada kondisi tersebut Xnp= X_ cg sehingga: Pada umumnya inlet atau propeller force (Fp) bisa diabaikan dalam menentukan "power off stability". Hal ini menyebabkan hilangnya ketergantungan Xnp terhadap tekanan dinamik q pada subsonic speed. Sehingga persamaan (15) menjadi Static margin ( SM ) adalah jarak dari Xnp sampal c.g yang dinyatakan dalam prosentase terhadap wing MAC(c), dengan kata lain SM= (Xnp - Xcg). Jika c.g berada didepan Xnp ( yang berarti positive static margin ), maka derivatif dari pitching moment coefficient ( CMa ) berharga negatif sehingga aircraft tersebut dikatakan stabil.
8 Pada posisi aft c.g, kebanyakan transport aircraft mempunyal nilai static margin berkisar 5 % - 10 %. Sedang untuk large transport aircraft memiliki positive static margin berkisar 10 % - 20 %. Untuk current fighter sekitar 5 %, kecuali F-16 yang berkisar 0%--15%. Pada perhitungan "power on stability', pengaruh inlet atau propeller force Fp (yang pada "power off stability" diabalkan ) dihitung dengan menggunakan static margin allowance berdasarkan data-data percobaan pada aircraft sejenis. Power on stability akan mengurangi static margin antara 4% - 10% untuk propeller aircraft dan 1% - 3% untuk Jet aircraft. Kemudian harga dari pitching moment coefficient derivative ( CMa ) adalah dengan ( X.np Xcq ) yang telah dikurangi sebagaimana power on stability. Keterangan simbol : Lw = lift pada wing Lh = lift pada horizontal tail Mfus = fuselage pitching moment Mcg = momen terhadap c.g. Fp = propeller disk force Tz = engine thrust q = tekanan dinamic. c = wing MAC f = flap deflection (derajat) Sw = wing area Sh = horizontal tail area CI = koefisten lift Clow = wing lift curve slope Cmw = wing pitching moment coefficient Cmfus = fuselage pitching moment coefficient Cmw f = wing pitching moment increment akibat flap Xcg = lokasi aircraft center of gravity Xacw= lokasi wing aerodynamic center Xach = lokasi lokasi horizontal tail aerodynamic center Xnp = lokasi neutral point h = qh/q perbandingan tekanan dinamis pada tail dan pada freestream Mw =wing pitching moment Mw f = wing pitching moment akibat flap deflection
9 Gambar 7. Typical pitching moment derivative values STABILITAS STATIS LATERAL-DIRECTIONAL AnalIsis stabilitas lateral directional mencakup dua analisis yang berhubungan erat yaitu yaw ( directional ) dan roli lateral ). Hal penting yang perlu diketahul adalah bahwa keduanya ( yaw dan roll) dipengaruhi oleh yaw angle 13. Sedangkan roli angle pada kenyataannya tidak memiliki pengaruh secara langsung terhadap momen yang muncul ( dalam yaw ataupun roli ). Lebih lanjut, defleksi rudder ataupun aileron akan menghasilkan momen baik dalam yaw ataupun roll. Secara geometri, analisis lateral directional diilustrasikan pada Gambar 8, yang menunjukkan faktor-faktor utama yang mempengaruhi yawing moment N dan rolling moment L. Dengan ketentuan yaw dan roli bernilai positif jika arah momen ke kanan (clock wise ). Tidak seperti dalam stabilitas longitudinal, sebagian besar komponen dalam stabilitas lateral akan bermlal nol saat aircraft berada pada kondisi straight dan level flight. Ketentuan lain yang digunakan untuk r3 dan yaw adalah stabilitas akan diperoleh apabila derivatif dari yawing moment ( N ) terhadap 0 bernilal positif.
10 Sementara stabilitas roli akan diperoleh jika derivatif dari rolling moment ( L) terhadap 13 bernilai negatif KARAKTERISTIK DINAMIS 4.1. Aircraft Dynamic Characteristic Sebuah analisis 6-DOF diperlukan untuk mengevaluasi stabilitas dan kontrol dinamis dari aircraft. Persamaan dengan 6-DOF tersebut memungkinkan untuk menganalisa gerakan rotasi pada pitch, yaw dan roll, serta perubahan kecepatan aircraft pada arah vertikal, lateral dan longitudinal secara bersamaan. Ke semua gerakan tersebut sating mempengaruhi, sehingga memerlukan sejumlah cross derivative untuk menghitung semua gaya dan momen yang ada. Pada arah longitudinal, ada dua oscillatory solution (pemecahan osilasi) dalam persamaan gerak, yaitu : 1. Short-period mode Mode tersebut biasanya berupa redaman berat (heavily damped) dan menghasilkan stabilitas dinamis yang dikehendaki sebagal respon terhadap pitch disturbance ( gangguan gerakan pitch ).
11 2. Long-period lightly damped mode Mode tersebut disebut jugs pitch phugoid, yang mana melibatkan osilasi pitch yang lambat selama beberapa detik dimana energi diubah antara vertical dan forward velocity. Phuggoid yang berlebihan harus dihindari. Untuk yaw disturbance, persamaan gerak arch lateral memberikan tiga solution, yaitu : 1. Heavily-damped direct convergence Biasanya berupa redaman berat, dan apabila ada gangguan langsung diatasi dengan cepat. Kondisi ini yang diharapkan ada pada aircraft. 2. Spiral divergence Pada kondist ini aircraft mengalami peningkatan bank angle ( sudut kemiringan scat membelok ) yang dibarengi dengan semakin kencangnya aircraft tersebut belok, hingga akhimya akan kehilangan kontrol. Namun demikian, waktu yang diperlukan relatif lama sehingga pilot dapat dengan mudah mengatasi kondisi ini. 3. Short period oscillation ( Dutch roll ) Aircraft yang mengalarni short period oscillation ( dutch roli ) akan mengalami gerakan ( goyangan ) dari satu sisi ke sisi lain yang meliputi perubahan gerakan yaw dan roll. Apabila dutch roli yang terjadi berlebihan, maka osilasi tersebut akan berpengaruh pada kenyamanan penumpang dan crew. Short period oscillation tersebut terutama disebabkan oleh efek dihedral. Yang berperan dalam melawan efek dutch roll terutama adalah vertical tail ( rudder) Persamaan Stabilitas Dinamis 1-DOF Persamaan stabilitas dinamis I-DOF dapat digunakan untuk analisa awal beberapa flight condition seperti puli up dan steady roll. Persamaan ini didasarkan pada kenyataan bahwa percepatan rotasi ( g, r, p) dikalikan dengan mass moment of inertia ( l, l yy, 1 u ) sama dengan jumlah momen yang diderita ( termasuk damping moment 1 Pitch (6,29) Yaw (6,30) Roli (6,31)
12 PULL UP Pull up merupakan suatu kondisi "quasi steady state trim" dimana aircraft mengalami percepatan vertikal pada load factor n. Hubungan antara pitch rate q' dengan load factor n adalah SPIN RECOVERY Sebuah aircraft dikatakan baik bila sesaat setelah aircraft tersebut mengalami stall tidak terjadi spin. Aircraft yang mengalami stall dan disambung dengan spin merupakan tendensi yang sulit dikembalikan pada kondisi normal oleh seorang pilot tanpa ada peralatan atau mekanisme yang dapat mencegah ( recovery ) atau paling tidak mengurangi tendensi tersebut. Gambar 11 menunjukkan gaya-gaya yang bekerja pada aircraft saat mengalami spin. Massa fuselage dan wing digambarkan sebagai barbell. Gaya-gaya sentrifugal yang bekerja pada fuselage cenderung menaikkan nose, dan selanjutnya akan meningkatkan wing stall. Spin itu terutarna disebabkan oleh adanya perbedaan nilai lift antara outer wing yang lebih cepat dan inner wing yang lebih lambat dan lebih mengalami stall. Spin dilawan dengan gays redaman, terutama dari aft fuselage dan vertical tail, yang berada dibawah horizontal tail ( Af ). Untuk recovery, rudder didefleksi melawan arch spin. Meskipun demikian, hanya sebagian area dari rudder yang tidak tertutup oleh olakan aliran udara horizontal tail yang bisa membantu spin recovery ( SRI dan SR2 ). Pada perancangan ini, menggunakan convetional tail yang mana rudder tertutup olakan tersebut seluruhnya. Karenanya, digunakan peralatan tambahan yang berupa fin ( sir ip ) yang dipasang pada leading edge of vertical tail. Fin tersebut memperbaiki tail effectiveness pada sudut sideslip tinggi dengan cars membuat vortex yang menempe pada vertical tail. Hal ini cenderung mencegah high angle of sideslip terjadi saat spin dan memperbesar rudder control pada saat spin.
13
ANALISA EFEKTIVITAS SUDUT DEFLEKSI AILERON PADA PESAWAT UDARA NIR AWAK (PUNA) ALAP-ALAP
ANALISA EFEKTIVITAS SUDUT DEFLEKSI AILERON PADA PESAWAT UDARA NIR AWAK (PUNA) ALAP-ALAP Gunawan Wijiatmoko 1) 1) TRIE, BBTA3, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Kawasan PUSPIPTEK Gedung 240, Tangerang
KAJIAN PENENTUAN INCIDENCE ANGLE EKOR PESAWAT PADA Y-SHAPED TAIL AIRCRAFT
Seminar Nasional Inovasi Dan Aplikasi Teknologi Di Industri 2018 ISSN 2085-4218 KAJIAN PENENTUAN INCIDENCE ANGLE EKOR PESAWAT PADA Y-SHAPED TAIL AIRCRAFT Gunawan Wijiatmoko 1) Meedy Kooshartoyo 2) 1,2
Flight Stability & Dynamics, Control
1 Flight Stability & Dynamics, Control Airplane Axes Flight Stability and Control Static Stability Dynamic Stability Flight Control Surfaces Control along the Longitudinal Axis Control along the Vertical
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Komponen Dasar Pesawat Terbang Menurut definisi FAA (Badan Penerbangan Amerika Serikat) di FAR (Federal Aviation Regulation) saat ini yang juga diadopsi oleh Indonesia CASR (Civil
LAMPIRAN A MATRIKS LEMMA
LAMPIRAN A MATRIKS LEMMA Dengan menganggap menjadi sebuah matriks dengan dimensi, dan adalah vektor dari dimensi, maka didapatkan persamaan: (A.1) Dengan menggunakan persamaan (2.32) dan (2.38), didapatkan
ANALISA KARAKTERISTIK AERODINAMIKA UNTUK KEBUTUHAN GAYA DORONG TAKE OFF DAN CRUISE PADA HIGH SPEED FLYING TEST BED (HSFTB) LAPAN
ANALISA KARAKTERISTIK AERODINAMIKA UNTUK KEBUTUHAN GAYA DORONG TAKE OFF DAN CRUISE PADA HIGH SPEED FLYING TEST BED (HSFTB) LAPAN Lintang Madi Sudiro (2106100130) Jurusan Teknik Mesin FTI ITS,Surabaya 60111,email:[email protected]
BAB 8. AERODINAMIKA, GEOMETRI SAYAP DAN EKOR
BAB 8. AERODINAMIKA, GEOMETRI SAYAP DAN EKOR 8.1. AERODINAMIKA 8.2. AIRFOIL AND WING GEOMETRY 1. Airfoil Dalam proses desain beberapa parameter harus ditentukan terlebih dahulu nilainya. Parameter-parameter
Bab IV Analisis dan Pengujian
Bab IV Analisis dan Pengujian 4.1 Analisis Simulasi Aliran pada Profil Airfoil Simulasi aliran pada profil airfoil dimaskudkan untuk mencari nilai rasio lift/drag terhadap sudut pitch. Simulasi ini tidak
HORIZONTAL TAIL SIZING PESAWAT SPORT RINGAN (LSA) KAPASITAS 4 ORANG PENUMPANG
HORIZONTAL TAIL SIZING PESAWAT SPORT RINGAN (LSA) KAPASITAS 4 ORANG PENUMPANG Haeni Suhandari, ST Alumni PS Teknik Penerbangan Universitas Nurtanio Bandung Abstrak Dila aircraft (Light Aircraft Aerospace)
Endang Mugia GS. Peneliti Bidang Teknologi Avionik, Lapan ABSTRACT
Pengaruh Nilai Koefisien Aerodinamika... (Endang Mugia GS.) PENGARUH NILAI KOEFISIEN AERODINAMIKA DAN PADA KESTABILAN TERBANG GERAK PERIODE PENDEK (SHORT PERIOD) RKX-200 LAPAN [EFFECT OF AERODYNAMICS COEFFICIENT
ANALISA KESTABILAN PERSAMAAN GERAK ROKET TIGA DIMENSI TIPE RKX- 200 LAPAN DAN SIMULASINYA
ANALISA KESTABILAN PERSAMAAN GERAK ROKET TIGA DIMENSI TIPE RKX- 200 LAPAN DAN SIMULASINYA MOHAMMAD RIFA I 1208100703 JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT TEKNOLOGI
PERANCANGAN KONTROL NON-LINIER UNTUK KESTABILAN HOVER PADA UAV TRICOPTER DENGAN SLIDING MODE CONTROL
Presentasi Tesis PERANCANGAN KONTROL NON-LNER UNTUK KESTABLAN HOVER PADA UAV TRCOPTER DENGAN SLDNG MODE CONTROL RUDY KURNAWAN 2211202009 Dosen Pembimbing: DR. r. Mochammad Rameli r. Rusdhianto Effendie
Bagaimana Sebuah Pesawat Bisa Terbang? - Fisika
PESAWAT TERBANG Dengan mempelajari bagaimana pesawat bisa terbang Anda akan mendapatkan kontrol yang lebih baik atas UAV Anda. Bagaimana Sebuah Pesawat Bisa Terbang? - Fisika Empat gaya aerodinamik yang
PENELITIAN DAN PENGUJIAN KARAKTERISTIK AERODINAMIKA BOM LATIH PERCOBAAN BLP-500 DAN BLP 25
PENELITIAN DAN PENGUJIAN KARAKTERISTIK AERODINAMIKA BOM LATIH PERCOBAAN BLP-500 DAN BLP 25 Agus Aribowo, Sulistyo Atmadi *( Yus Kadarusman Marias ") ) Peneliti Pusat Teknologi Dirgantara Tcrapan, LAPAN
Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil PPM IPB 2016 Hal : ISBN :
Hal : 287 298 ISBN : 978-602-8853-29-3 PEMILIHAN INCIDENCE ANGLE DARI HORIZONTAL TAIL BERBENTUK V-TAIL PADA PESAWAT TERBANG NIR AWAK (Incidence Angle Determination of V-shaped Horizontal Tail of UnManned
PENGARUH PAYLOAD TERHADAP CLIMB PERFORMANCE HELIKOPTER SYNERGY N9
PENGARUH PAYLOAD TERHADAP CLIMB PERFORMANCE HELIKOPTER SYNERGY N9 Raden Gugi Iriandi 1, FX. Djamari 2 Program Studi Teknik Penerbangan Fakultas Teknik Universitas Nurtanio Bandung ABSTRAK Ketika helikopter
DAFTAR ISI. Hal i ii iii iv v vi vii
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING. HALAMAN PENGESAHAN. PERNYATAAN. MOTTO... HALAMAN PERSEMBAHAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR.. DAFTAR TABEL... DAFTAR LAMBANG
PERANCANGAN SISTEM KENDALI MODEL FOLLOWING DINAMIKA GERAK LONGITUDINAL PADA IN-FLIGHT SIMULATOR N250-PA1 DENGAN METODE KENDALI OPTIMAL KUADRAT LINIER
PERANCANGAN SISTEM KENDALI MODEL FOLLOWING DINAMIKA GERAK LONGITUDINAL PADA IN-FLIGHT SIMULATOR N250-PA1 DENGAN METODE KENDALI OPTIMAL KUADRAT LINIER Skripsi Untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai
Desain dan Implementasi Automatic Flare Maneuver pada Proses Landing Pesawat Terbang Menggunakan Kontroler PID
Desain dan Implementasi Automatic Flare Maneuver pada Proses Landing Pesawat Terbang Menggunakan Kontroler PID Mokhamad Khozin-2207100092 Bidang Studi Teknik Sistem Pengaturan, Jurusan Teknik Elektro,
Pengujian Aerodinamika Model Uji Pesawat Udara Nir Awak dengan Empennage berjenis V-Tail. Gunawan Wijiatmoko 1), Yanto Daryanto 2)
Pengujian Aerodinamika Model Uji Pesawat Udara Nir Awak dengan Empennage berjenis V-Tail INTISARI Gunawan Wijiatmoko 1), Yanto Daryanto 2) 1) Sub Bid. TRIE, BBTA3, BPPT 2) Balai Layanan Teknologi Aerodinamika,
PENGESAHAN ANALISIS KINERJA TAKE-OFF DAN LANDING PESAWAT B BERDASARKAN VARIASI ELEVASI RUNWAY. Yang dipersiapkan dan disusun oleh :
PENGESAHAN ANALISIS KINERJA TAKE-OFF DAN LANDING PESAWAT B 747-400 BERDASARKAN ARIASI ELEASI RUNWAY Yang dipersiapkan dan disusun oleh : WARLI AFDILLAH 02050026 Telah dipertahankan di depan Tim Penguji
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Gaya-Gaya pada pesawat terbang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gaya-Gaya pada pesawat terbang Gaya-gaya utama yang berlaku pada pesawat terbang pada saat terbang dalam keadaan lurus dan datar (straight and level flight). Serta dalam keadaan
BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya semua fenomena aerodinamis yang terjadi pada. kendaraan mobil disebabkan adanya gerakan relative dari udara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada dasarnya semua fenomena aerodinamis yang terjadi pada kendaraan mobil disebabkan adanya gerakan relative dari udara disepanjang bentuk body mobil. Streamline adalah
BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Internasional Batam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pesawat terbang model UAV (Unmanned Aerial Vehicle) telah berkembang dengan sangat pesat dan menjadi salah satu area penelitian yang diprioritaskan. Beberapa jenis
RANCANGAN SISTEM ORIENTASI EKOR TURBIN ANGIN 50 kw
RANCANGAN SISTEM ORIENTASI EKOR TURBIN ANGIN 50 kw ' Suiistyo Atmadi, Ahmad Jamaludln Fitroh Penelltl Pusat Teknologi Terapan, LAPAN ABSTRACT A fin orientation system for wind turbine with a maximum capacity
ANALISIS AERODINAMIKA SUDUT DEFLEKSI SPOILER PESAWAT TERBANG
ANALISIS AERODINAMIKA SUDUT DEFLEKSI SPOILER PESAWAT TERBANG Gunawan Wijiatmoko 1 1 Staf Sub Bidang Teknik Rekayasa Informatika dan Elektronik (TRIE), Balai Besar Teknologi Aerodinamika, Aeroelastika dan
ANALISA AERODINAMIK PENGARUH LANDING GEAR PADA PESAWAT UDARA NIR AWAK (PUNA) ALAP-ALAP
ANALISA AERODINAMIK PENGARUH LANDING GEAR PADA PESAWAT UDARA NIR AWAK (PUNA) ALAP-ALAP Gunawan Wijiatmoko 1) 1) TRIE, BBTA3, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Kawasan PUSPIPTEK Gedung 240, Tangerang
PERANCANGAN AWAL SCALE MODEL GLIDER STTA-25-02_SAILPLANE
PERANCANGAN AWAL SCALE MODEL GLIDER STTA-25-02_SAILPLANE Hendrix N.F 1, Buyung Junaidin 2, M. Fatha Mauliadi 3 Prodi Teknik Penerbangan Sekolah Tinggi Teknologi Adisutjipto Jalan Janti Blok R Lanud Adisutjipto,
BAB 3 DINAMIKA STRUKTUR
BAB 3 DINAMIKA STRUKTUR Gerakan dari struktur terapung akan dipengaruhi oleh keadaan sekitarnya, dimana terdapat gaya gaya luar yang bekerja pada struktur dan akan menimbulkan gerakan pada struktur. Untuk
BAB III PERANGKAT LUNAK X PLANE DAN IMPLEMENTASINYA
BAB III PERANGKAT LUNAK X PLANE DAN IMPLEMENTASINYA Penjelasan pada bab ini akan diawali dengan deskripsi perangkat lunak X-Plane yang digunakan sebagai alat bantu pada rancang bangun sistem rekonstruksi
Oleh : Bimo Arindra Hapsara Dosen Pembimbing : Ir. J. Lubi. Proposal Tugas Akhir. Tugas Akhir
Proposal Tugas Akhir Tugas Akhir Oleh : Bimo Arindra Hapsara 2106 100 047 Dosen Pembimbing : Ir. J. Lubi Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Kecelakaan
BAB III REKONTRUKSI TERBANG DENGAN PROGRAM X-PLANE
BAB III REKONTRUKSI TERBANG DENGAN PROGRAM X-PLANE 3.1 Pendahuluan Dalam tugas akhir ini, mengetahui optimalnya suatu penerbangan pesawat Boeing 747-4 yang dikendalikan oleh seorang pilot dengan menganalisis
ANALISA KARAKTERISTIK AERODINAMIKA UNTUK KEBUTUHAN GAYA DORONG TAKE OFF DAN CRUISE PADA HIGH SPEED FLYING TEST BED (HSFTB) LAPAN
ANALISA KARAKTERISTIK AERODINAMIKA UNTUK KEBUTUHAN GAYA DORONG TAKE OFF DAN CRUISE PADA HIGH SPEED FLYING TEST BED (HSFTB) LAPAN Oleh : Lintang Madi Sudiro 2106 100 130 Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknologi
Lampiran. Defenisi dan persamaan untuk penurunan kestabilan longitudinal. Simbol Defenisi Origin Persamaan Harga Khas C. Variasi dari hambatan (drag)
Lampiran Tabel 1 Defenisi dan persamaan untuk penurunan kestabilan longitudinal Simbol Defenisi Origin Persamaan Harga Khas C x u U F Variasi dari hambatan (drag) x C -0.05 D Sq u dan dorongan terhadap
DINAMIKA KAPAL. SEA KEEPING Kemampuan unjuk kerja kapal dalam menghadapi gangguan-gangguan disaat beroperasi di laut
DINAMIKA KAPAL Istilah-istilah penting dalam dinamika kapal : Seakeeping Unjuk kerja kapal pada saat beroperasi di laut Manouveribility Kemampuan kapal untuk mempertahankan posisinya dibawah kendali operator
ANALISIS TEGANGAN PADA SAYAP HORIZONTAL BAGIAN EKOR AEROMODELLING
ANALISIS TEGANGAN PADA SAYAP HORIZONTAL BAGIAN EKOR AEROMODELLING TIPE GLIDER AKIBAT LAJU ALIRAN UDARA DENGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE BERBASIS COMPUTIONAL FLUID DYNAMIC (CFD) Ricky Surya Miraza 1, Ikhwansyah
Rizqi An Naafi Dosen Pembimbing: Ir. J. Lubi
Analisa Perilaku Arah Mobil GEA pada Jalan Belok Menurun dengan Variasi Kecepatan, Berat Muatan, Sudut Kemiringan Melintang, Sudut Turunan Jalan dan Radius Belok Jalan Rizqi An Naafi 2109 100 035 Dosen
BAB II PROFIL UMUM BALAI KALIBRASI FASILITAS PENERBANGAN (BKFP) 2.1. Latar Belakang Balai Kalibrasi Fasilitas Penerbangan (BFKP)
BAB II PROFIL UMUM BALAI KALIBRASI FASILITAS PENERBANGAN (BKFP) 2.1. Latar Belakang Balai Kalibrasi Fasilitas Penerbangan (BFKP) Sejak diwujudkannya Flingt Inspection Unit atau satuan udara kalibrasi tumbuh
Diterima 3 November 2015; Direvisi 30 November 2015; Disetujui 30 November 2015 ABSTRACT
Pengaruh dari Posisi Pusat Massa Roket... (Ahmad Riyadl) PENGARUH DARI POSISI PUSAT MASSA ROKET YANG TIDAK TERLETAK PADA SUMBU AXIS SIMETRI TERHADAP DINAMIKA TERBANG ROKET BALISTIK (THE DYNAMIC OF THE
GAYA ANGKAT PESAWAT Untuk mahasiswa PTM Otomotif IKIP Veteran Semarang
GAYA ANGKAT PESAWAT Untuk mahasiswa PTM Otomotif IKIP Veteran Semarang 1. Pendahuluan Pesawat terbang modern sudah menggunakan mesin jet, namun prinsip terbangnya masih menggunakan ilmu gaya udara seperti
PERHITUNGAN KARAKTERISTIK AERODINAMIKA, ANALISIS DINAMIKA DAN KESTABILAN GERAK DUA DIMENSI MODUS LONGITUDINAL ROKET RX 250 LAPAN
PERHITUNGAN KARAKTERISTIK AERODINAMIKA, ANALISIS DINAMIKA DAN KESTABILAN GERAK DUA DIMENSI MODUS LONGITUDINAL ROKET RX 25 LAPAN Singgih Satrio Wibowo Dosen Program Studi Teknik Aeronautika Jurusan Teknik
ABSTRACT
Identifikasi Parameter dan Perancangan... (Eko Budi Purwanto et al.) IDENTIFIKASI PARAMETER DAN PERANCANGAN SISTEM KENDALI PID UNTUK ANALISIS SIKAP TERBANG UAV [PARAMETER IDENTIFICATION AND DESIGN PID
Perancangan dan Implementasi Kontroler PID Optimal Untuk Tracking Lintasan Gerakan Lateral Pada UAV(Unmanned Aerial Vehicle)
Perancangan dan Implementasi Kontroler PID Optimal Untuk Tracking Lintasan Gerakan Lateral Pada UAV(Unmanned Aerial Vehicle) Rahmat Fauzi 2209106077 Pembimbing : Surabaya, 26 Januari 2012 Ir. Rusdhianto
RUNNING SKILLS. Skill highlights
RUNNING SKILLS Skill highlights 1. Waktu yg ditempuh atlet pada jarak tertentu ditentukan oleh panjang langkah (stride length) dan frekuensi langkah (stride frequency) Panjang tungkai atlet dan dorongan
Sistem suspensi dipasang diantara rangka kendaraan dengan poros roda, supaya getaran atau goncangan yang terjadi tidak di teruskan ke body.
SISTEM SUSPENSI Sistem suspensi dipasang diantara rangka kendaraan dengan poros roda, supaya getaran atau goncangan yang terjadi tidak di teruskan ke body. SPRUNG WEIGHT DAN UNSPRUNG WEIGHT Pada umumnya
PROGRAM STUDI KEAHLIAN TEKNOLOGI PESAWAT UDARA
Kompetensi Keahlian: 1. Kelistrikan Pesawat Udara 2. Elektronika Pesawat Udara 3. Pemeliharaan dan Perbaikan Instrumen Elektronika Pesawat Udara 4. Pemeliharaan dan Perbaikan Motor Rangka Pesawat Udara
Beban Pesawat. Dipl.-Ing H. Bona P. Fitrikananda 2013
Beban Pesawat Dipl.-Ing H. Bona P. Fitrikananda UA MTC Introduction Beban Pesawat / Aircraft Loads 2 Pendahuluan Wilbur Wright: I am constructing my machine to sustain about five times my weight and I
SIMULASI GERAK LONGITUDINAL LSU-05
SIMULASI GERAK LONGITUDINAL LSU-05 Muhammad Fajar Pusat Teknologi Penerbangan/LAPAN [email protected] Abstrak LAPAN sedang mengembangkan pesawat tanpa awak LSU-05 dengan berat total 75 kg. Pesawat
Uji Terbang Autonomous Low Cost Fixed Wing UAV Menggunakan PID Compensator
Available online at Website http://ejournal.undip.ac.id/index.php/rotasi Uji Terbang Autonomous Low Cost Fixed Wing UAV Menggunakan PID Compensator *Mochammad Ariyanto, Joga D. Setiawan, Munadi, Teguh
SIMULASI GERAK WAHANA PELUNCUR POLYOT
BAB SIMULASI GERAK WAHANA PELUNCUR POLYOT. Pendahuluan Simulasi gerak wahana peluncur Polyot dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Simulink Matlab 7.. Dalam simulasi gerak ini dimodelkan gerak roket
2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kapal Perikanan
4 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kapal Perikanan Kapal perikanan adalah kapal yang digunakan didalam usaha perikanan yang mencakup penggunaan atau aktivitas dalam usaha menangkap atau mengumpulkan sumberdaya perairan
PENGARUH SUDUT BLADE TERHADAP THRUST FORCE PADA HOVERCRAFT. Dadang Hermawan 1) Nova Risdiyanto Ismail (2) ABSTRAK
PENGARUH SUDUT BLADE TERHADAP THRUST FORCE PADA HOVERCRAFT Dadang Hermawan 1) Nova Risdiyanto Ismail (2) ABSTRAK Indonesia juga sebagai Negara yang memiliki iklim tropis yang sangat rentan terhadap bencana
BAB IV ANALISA DAN PENGUJIAN ALAT. 4.1 Pengujian Articifial Horizon dan Heading Indicator
BAB IV ANALISA DAN PENGUJIAN ALAT 4.1 Pengujian Articifial Horizon dan Heading Indicator Setelah semua komponen terpasang dan program selesai disusun, maka langkah berikutnya adalah melakukan pengujian
ANALISA GERAKAN SEAKEEPING KAPAL PADA GELOMBANG REGULER
ANALISA GERAKAN SEAKEEPING KAPAL PADA GELOMBANG REGULER Parlindungan Manik Program Studi Teknik Perkapalan, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro ABSTRAK Ada enam macam gerakan kapal dilaut yaitu tiga
Wiwik Sulistyono, Naif Fuhaid, Ahmad Farid (2013), PROTON, Vol. 5 No. 1/Hal
PENGARUH PEMASANGAN TAIL DAN FRONT BOAT TERHADAP UNJUK KERJA AERODINAMIK PADA KENDARAAN SEDAN Wiwik Sulistyono 1), Naif Fuhaid 2), Ahmad Farid 3) ABSTRAK Dalam era modern sekarang ini perkembangan industri
MATHunesa Jurnal Ilmiah Matematika Volume 3 No.6 Tahun 2017 ISSN
MATHunesa Jurnal Ilmiah Matematika Volume 3 No.6 Tahun 2017 ISSN 2301-9115 KONTROL PROPORSIONAL-DERIVATIF PADA SISTEM DINAMIK PESAWAT TERBANG TIPE AIRBUS A380-800 Mohammad Hafiz Jurusan Matematika, FMIPA,
RIZKAR FEBRIAN. 1, SUWANDI 2, REZA FAUZI I. 3. Abstrak
PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM KENDALI PID PADA AUTONOMOUS MOVING FORWARD QUADCOPTER DESIGN AND IMPLEMENTATION OF PID CONTROL SYSTEM IN AUTONOMOUS MOVING FORWARD QUADCOPTER RIZKAR FEBRIAN. 1, SUWANDI
Pemodelan Gerak Belok Steady State dan Transient pada Kendaraan Empat Roda
E97 Pemodelan Gerak Belok Steady State dan Transient pada Kendaraan Empat Roda Yansen Prayitno dan Unggul Wasiwitono Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Analisis Linear Statik Pada Vertical Tail dengan Variasi Defleksi Rudder
Analisis Linear Statik Pada Vertical Tail dengan Variasi Defleksi Rudder Bismil Rabeta*, Mufti Arifin, Syarifah Fairuza Prodi Teknik Penerbangan, Fakultas Teknologi Kedirgantaraan, Universitas Suryadarma
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Seiring perkembangan teknologi telekomunikasi dan dirgantara dapat menghasilkan suatu teknologi yang menggabungkan antara informasi suatu keadaan lokal tertentu dengan
BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1. Letak CoM dan poros putar robot pada sumbu kartesian.
BAB II DASAR TEORI Pada bab ini akan dibahas beberapa teori pendukung yang digunakan sebagai acuan dalam merealisasikan sistem yang dirancang. Teori-teori yang digunakan dalam realisasi skripsi ini antara
PEMODELAN SISTEM DAN ANALISIS KESTABILAN DINAMIK PESAWAT UAV (MODELING SYSTEM AND DYNAMIC STABILITY ANALYSIS OF UAV)
Pemodelan Sistem dan Analisis Kestabilan... (Eko Budi Purwanto) PEMODELAN SISTEM DAN ANALISIS KESTABILAN DINAMIK PESAWAT UAV (MODELING SYSTEM AND DYNAMIC STABILITY ANALYSIS OF UAV) Eko Budi Purwanto Peneliti
PENELITIAN DAN RANCANGAN OPTIMAL TURBIN PENGGERAK TEROWONGAN ANGIN SUBSONIK SIRKUIT TERBUKA LAPAN
PENELITIAN DAN RANCANGAN OPTIMAL TURBIN PENGGERAK TEROWONGAN ANGIN SUBSONIK SIRKUIT TERBUKA LAPAN Sulistyo Atmadi Pencliti Pusat Teknologi Dirgantara Terapan. LAPAN i ABSTRACT In an effort to improve flow
Baseball Batting. Mekanika. Teknik
Baseball Batting Teknik 1. Dlm baseball, pemukul (batter) menghadap ke arah datangnya bola yg melayang berputar (spinning) dengan kecepatan (velocity) dan arah (direction) yg bervariasi. Bat baseball bentuknya
UNIVERSITAS DIPONEGORO ANALISA RESPON DINAMIK AKIBAT GUST LOAD PADA MODEL PESAWAT UDARA SEDERHANA MENGGUNAKAN PENDEKATAN MASSA TERGUMPAL
UNIVERSITAS DIPONEGORO ANALISA RESPON DINAMIK AKIBAT GUST LOAD PADA MODEL PESAWAT UDARA SEDERHANA MENGGUNAKAN PENDEKATAN MASSA TERGUMPAL TUGAS AKHIR Disusun oleh: IVAN ANGGASTA WIJAYA L2E 007 050 FAKULTAS
Bab 6 Momentum Sudut dan Rotasi Benda Tegar
Bab 6 Momentum Sudut dan Rotasi Benda Tegar A. Torsi 1. Pengertian Torsi Torsi atau momen gaya, hasil perkalian antara gaya dengan lengan gaya. r F Keterangan: = torsi (Nm) r = lengan gaya (m) F = gaya
ANALISA AERODIN AMIKA KEN DALI CANARD ROKET RKX 250
ANALISA AERODIN AMIKA KEN DALI CANARD ROKET RKX 250 Salam Glntlng Peneliti Bidang Aerodinamika, LAPAN ABSTRACT In the framework of guided missile development in LAPAN, Center of Technology has been rocket
FISIKA XI SMA 3
FISIKA XI SMA 3 Magelang @iammovic Standar Kompetensi: Menerapkan konsep dan prinsip mekanika klasik sistem kontinu dalam menyelesaikan masalah Kompetensi Dasar: Merumuskan hubungan antara konsep torsi,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Gaya-Gaya pada pesawat terbang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gaya-Gaya pada pesawat terbang Gaya-gaya utama yang berlaku pada pesawat terbang pada saat terbang dalam keadaan lurus dan datar. Serta dalam keadaan kecepatan tetap ialah:
Mekanika Rekayasa III
Mekanika Rekayasa III Metode Hardy Cross Pertama kali diperkenalkan oleh Hardy Cross (1993) dalam bukunya yang berjudul nalysis of Continuous Frames by Distributing Fixed End Moments. Sebagai penghargaan,
Gambar 1. Sistem pegas-massa diagram benda bebas
GETARAN MEKANIK Pengertian Getaran Getaran adalah gerakan bolak-balik dalam suatu interval waktu tertentu. Getaran berhubungan dengan gerak osilasi benda dan gaya yang berhubungan dengan gerak tersebut.
PERENCANAAN LAYOUT DAN ANALISIS STABILITAS PADA KENDARAAN HYBRID RODA TIGA HYVI SAPUJAGAD
PERENCANAAN LAYOUT DAN ANALISIS STABILITAS PADA KENDARAAN HYBRID RODA TIGA HYVI SAPUJAGAD Oleh: Bagus Kusuma Ruswandiri 2108100120 Dosen Pembimbing: Prof. Ir. I Nyoman Sutantra, M.Sc., Ph.D. Latar Belakang
II. TINJAUAN PUSTAKA. seluruh kegiatan yang terdapat dalam proses perancangan. Kegiatankegiatan
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Fase Fase Dalam Proses Perancangan Perancangan merupakan rangkaian yang berurutan, karena mencakup seluruh kegiatan yang terdapat dalam proses perancangan. Kegiatankegiatan dalam
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Turbin Angin Bila terdapat suatu mesin dengan sudu berputar yang dapat mengonversikan energi kinetik angin menjadi energi mekanik maka disebut juga turbin angin. Jika energi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 KAJIAN PENELITIAN Sebelumnya telah ada dilakukan penelitian-penelitian mengenai analisa CFD pada sayap pesawat. Hidayat, M (2012) melakukan penelitian pada airfoil NACA 0021
ANALISA GAYA PADA SISTEM KEMUDI TYPE RECIRCULATING BALL
ANALISA GAYA PADA SISTEM KEMUDI TYPE RECIRCULATING BALL PUBLIKASI ILMIAH Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan program studi Strata 1 pada Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah
BANDUNG AEROMODELING
BANDUNG AEROMODELING WWW.BANDUNG-AEROMODELING.COM Petunjuk Perakitan dan Penerbangan Pesawat Layang Model Terbang Bebas Pelangi 45 Gambar Kit Pelangi 45 Pesawat layang model terbang bebas Pelangi 45 merupakan
Skripsi. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana Strata 1 (S1) Disusun Oleh: SLAMET SUTRISNO JURUSAN TEKNIK PENERBANGAN
ANALISA PENGARUH TAPER RASIO TERHADAP EFISIENSI AERODINAMIKA DAN EFEKTIFITAS TWIST ANGLE PADA DESAIN SAYAP SEKELAS CESSNA 162 MENGGUNAKAN SOFTWARE FLUENT Skripsi Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai
Aplikasi Hukum Newton
Aplikasi Hukum Newton Aplikasi Hukum Newton Bidang miring Gaya Gesek (Friction) Implementasi hukum Newton pada gaya angkat pesawat terbang Contoh kasus - Bidang Miring Sebuah benda yang berada di sebuah
2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Stabilitas
2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Stabilitas Nomura dan Yamazaki (1977) menjelaskan bahwa stabilitas merupakan kemampuan kapal untuk kembali ke posisi semula setelah miring akibat pengaruh gaya dari dalam maupun
BAB IV PENGUJIAN SISTEM DAN ANALISIS
BAB IV PENGUJIAN SISTEM DAN ANALISIS Pada bab ini akan ditampilkan dan penjelasannya mengenai pengujian sistem dan dokumuentasi data-data percobaan yang telah direalisasikan sesuai dengan spesifikasi yang
BIOMEKANika olahraga. dr. Hamidie Ronald, M.Pd, AIFO. Biomekanika/ikun/2003 1
BIOMEKANika olahraga dr. Hamidie Ronald, M.Pd, AIFO Biomekanika/ikun/2003 1 Definisi Ilmu yang menerapkan prinsip-prinsip mekanika terhadap struktur tubuh manusia pada saat melakukan olahraga. Penting
juga didefinisikan sebagai sebuah titik batas dimana titik G tidak melewatinya, agar kapal selalu memiliki stabilitas yang positif.
3 STABILITAS KAPAL Stabilitas sebuah kapal mengacu pada kemampuan kapal untuk tetap mengapung tegak di air. Berbagai penyebab dapat mempengaruhi stabilitas sebuah kapal dan menyebabkan kapal terbalik.
BAB I PENDAHULUAN. mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja kendaraan. truk dengan penambahan pada bagian atap kabin truk berupa
BAB I PENDAHULUAN 1.1 SUBYEK PENELITIAN Pengerjaan penelitian dalam tugas akhir ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja kendaraan truk dengan penambahan pada bagian atap
Analisis Struktur Statis Tak Tentu dengan Force Method
Mata Kuliah : Analisis Struktur Kode : CIV 09 SKS : 4 SKS Analisis Struktur Statis Tak Tentu dengan Force Method Pertemuan 9, 10, 11 Kemampuan Akhir yang Diharapkan Mahasiswa dapat melakukan analisis struktur
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menggunakan media udara. Pengertian pesawat terbang juga dapat diartikan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pesawat Terbang Pesawat terbang adalah sebuah alat yang dibuat dan dalam penggunaannya menggunakan media udara. Pengertian pesawat terbang juga dapat diartikan sebagai benda-benda
Studi Eksperimental tentang Karakteristik Turbin Angin Sumbu Vertikal Jenis Darrieus-Savonius
Studi Eksperimental tentang Karakteristik Turbin Angin Sumbu Vertikal Jenis Darrieus-Savonius Bambang Arip Dwiyantoro*, Vivien Suphandani dan Rahman Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Institut
BAB 5 STABILITAS BENDA TERAPUNG
BAB 5 STABIITAS BENDA TERAPUNG 5. STABIITAS AWA Sebagai dasar pemahaman mengenai struktur terapung maka diperlukan studi mengenai stabilitas benda terapung. Kestabilan sangat diperlukan suatu struktur
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Dasar Teori Aerodinamika Helikopter 2.1.1 Airfoil Airfoil adalah suatu potongan dua dimensi, sayap pesawat atau bilah helikopter, yang menghasilkan gaya aerodinamika ketika berinteraksi
Outline TM. XXII : METODE CROSS. TKS 4008 Analisis Struktur I 11/24/2014. Metode Distribusi Momen
TKS 4008 Analisis Struktur I TM. XXII : METODE CROSS Dr.Eng. Achfas Zacoeb, ST., MT. Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Outline Metode Distribusi Momen Momen Primer (M ij ) Faktor
PENGARUH LOKASI KETEBALAN MAKSIMUM AIRFOIL SIMETRIS TERHADAP KOEFISIEN ANGKAT AERODINAMISNYA
PENGARUH LOKASI KETEBALAN MAKSIMUM AIRFOIL SIMETRIS TERHADAP KOEFISIEN ANGKAT AERODINAMISNYA Teddy Nurcahyadi*, Sudarja** Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta *H/P:085643086810,
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Turbin Angin Turbin angin adalah suatu sistem konversi energi angin untuk menghasilkan energi listrik dengan proses mengubah energi kinetik angin menjadi putaran mekanis rotor
PERANCANGAN DAN PEMBUATAN PLATFORM UAV RADIO CONTROL KOLIBRI-08v2 DENGAN MESIN THUNDER TIGER 46 PRO
PERANCANGAN DAN PEMBUATAN PLATFORM UAV RADIO CONTROL KOLIBRI-08v2 DENGAN MESIN THUNDER TIGER 46 PRO PERANCANGAN DAN PEMBUATAN PLATFORM UAV RADIO CONTROL KOLIBRI-08v2 DENGAN MESIN THUNDER TIGER 46 PRO Bagus
ANALISIS BEBAN STATIK WINGLET N-219
ANALISIS BEBAN STATIK WINGLET N-219 Hayu Pradana Raharja Pribadi 1,, Isa Hidayat 2 Program Study Teknik Penerbangan Fakultas Teknik Universitas Nurtanio Bandung ABSTRAK Winglet adalah bagian tambahan yang
Seminar Nasional Mesin dan Industri (SNMI4) 2008
Seminar Nasional Mesin dan Industri (SNMI) ANALISA KINEMATIKA GERAKAN BELOK AKIBAT PENGARUH DYNAMIC CENTRE OF GRAVITY (COG) DAN PANJANG WHEELBASE (L) MENENTUKAN SUDUT SIDE SLIP (Β) DAN HUBUNGANNYA TERHADAP
BAB III KONSTRUKSI DOUBLE WISHBONE
BAB III KONSTRUKSI DOUBLE WISHBONE Suspensi double wishbone merupakan sebuah mekanisme suspensi bebas yang terdiri dari lengan-lengan (dapat berbentuk silinder berlubang, pipa, maupun batang) yang memiliki
BAB 2 LANDASAN TEORI. Metode ini digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi pada
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Metode Kendali Umpan Maju Metode ini digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi pada fenomena berkendara ketika berbelok, dimana dilakukan pemodelan matematika yang
SIMULASI DAN PERHITUNGAN SPIN ROKET FOLDED FIN BERDIAMETER 200 mm
Simulasi dan Perhitungan Spin Roket... (Ahmad Jamaludin Fitroh et al.) SIMULASI DAN PERHITUNGAN SPIN ROKET FOLDED FIN BERDIAMETER 00 mm Ahmad Jamaludin Fitroh *), Saeri **) *) Peneliti Aerodinamika, LAPAN
ANALISIS KESTABILAN DAN PRESTASI TERBANG RX-450 BERDASARKAN HASIL UJI TERBANG
ANALISIS KESTABILAN DAN PRESTASI TERBANG RX-450 BERDASARKAN HASIL UJI TERBANG Hakiki, Ahmad Riyadl Bidang Kendali dan Telemetri Pusat Teknologi Roket [email protected] Abstrak Dalam makalah ini, dilakukan
