LAPORAN AKHIR KASUS LONGITUDINAL AUTISME

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "LAPORAN AKHIR KASUS LONGITUDINAL AUTISME"

Transkripsi

1 LAPORAN AKHIR KASUS LONGITUDINAL AUTISME Disusun oleh: KURNIA FEBRIANA NIM: 11/322236/PKU/12251 Pembimbing: dr. Mei Neni Sitaresmi, PhD, Sp.AK Prof. dr. Sunartini Hapsara, Ph.D., Sp.AK PROGRAM MS PPDS ILMU KESEHATAN ANAK I FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA RSUP Dr. SARDJITO YOGYAKARTA 2015 Diajukan pada laporan akhir kasus longitudinal MS-PPDS I IKA FK UGM Yogyakarta 1

2

3 DAFTAR ISI LEMBAR PERSETUJUAN... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR GAMBAR... iii DAFTAR TABEL... iv DAFTAR LAMPIRAN... v BAB I. PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Alasan Pemilihan Kasus... 1 C. Manfaat yang diharapkan... 2 D. Informed Consent... 4 BAB II. LAPORAN KASUS... 5 A. Identitas Pasien... 5 B. Laporan Kasus... 5 BAB III. TINJAUAN PUSTAKA A. Autisme...13 B. Prognosis BAB IV. RENCANA PEMANTAUAN DAN TINDAKAN A. Faktor prognostik B. Luaran penelitian C. Rencana pemantuan D. Rencana pengumpulan data BAB V. HASIL PEMANTAUAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil pemantauan B. Pembahasan C. Kondisi pasien sekarang D. Diagnosis akhir BAB VI. SIMPULAN DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN Diajukan pada laporan akhir kasus longitudinal MS-PPDS I IKA FK UGM Yogyakarta ii

4 DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Silsilah keluarga... 6 Gambar 2. Kerangka Teori Gambar 3. Kerangka Konsep Gambar 4. Program Imunisasi berdasarkan IDAI Gambar 5. Perbandingan umur kalender, umur mental dan umur adaptif Gambar 6. Struktur gigi pasien pada awal pengamatan Gambar7. Grafik beratbadan terhadap usia (BB//U) Gambar 8. Grafik tinggi badam terhadap usia(tb//u) Gambar 9. Grafik Indeks MasaTubuh terhadap usia Gambar 10. Grafik lingkar kepala terhadap usia (LK//U) Gambar 11. Imunisasi selama pemantauan Diajukan pada laporan akhir kasus longitudinal MS-PPDS I IKA FK UGM Yogyakarta iii

5 DAFTAR TABEL Tabel 1. Identitas pasien... 4 Tabel 2. DSM IV autisme... 7 Tabel 3. Klasifikasi Pervasive Developmental Disorder... 8 Tabel 4. Time table pelaksanaan pemantauan Tabel 5. Rencana pemantauan, intervensi Tabel 6. Lembar pemantauan Tabel 7. Hasil penilaian intelligenve quotient (IQ) selama pengamatan Tabel 8. Kriteria disabilitas intelektual berdasarkan DSM-V Tabel 9. Permasalahan berkaitan dengan intelektual Tabel 10. Hasil pemeriksaan Parenting Stress Indexselama pemantauan Tabel 11. Permasalahan berkaitan dengan tingkat stres orang tua Tabel 12. Grafik skor gejala autisme (CARS), VABS dan IQ terhadap tingkat stress orang tua Tabel 13. Monitor kejang Tabel 14. Kepatuhan dan efek samping risperidone Tabel 15. Kepatuhan terapi sensori integrasi, okupasi, perilaku dan wicara Tabel 16. Evaluasi terapi perilaku Tabel 17. Evaluasi terapi okupasi Tabel 18. Pemantauan terapi sensori integrasi Tabel 19. Pemantauan terapi wicara Tabel 20. Permasalahan kepatuhan terapi Tabel 21. Hasil pemeriksaan Childhood Autism Rating Scale selama pemantauan Tabel 22. Hasil pemeriksaan Vineland Adaptive Behavior Scale selama pemantauan Tabel 23. Permasalahan berkaitan dengan kemandirian Tabel 24. Permasalahan kesehatan gigi Diajukan pada laporan akhir kasus longitudinal MS-PPDS I IKA FK UGM Yogyakarta iv

6 Tabel 25. Hasil pemeriksaan darah rutin selama pemantauan Tabel 26. Hasil pemeriksaan gangguan tidur selama pemantauan Tabel 27. Berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala selama pemantauan Tabel 28. Penilaian rumah sehat selama pemantauan Diajukan pada laporan akhir kasus longitudinal MS-PPDS I IKA FK UGM Yogyakarta v

7 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Proxy consent tertulis Lampiran 2. Pernyataan anti plagiarisme Lampiran 3. Surat pernyataan lama pengamatan Lampiran 4. Childhood Autism Rating Scale Lampiran 5. Parenting Stress Index Lampiran 6. Sleep Disturbance Scale for Children Lampiran 7. Gambaran kondisi rumah pasien Diajukan pada laporan akhir kasus longitudinal MS-PPDS I IKA FK UGM Yogyakarta vi

8 ABSTRAK Autisme merupakan gangguan perkembangan yang memiliki karakteristik terjadinya gangguan komunikasi, interaksi sosial dan perilaku yang berulang-ulang. Kami mendeskripsikan seorang pasien anak laki-laki usia 4 tahun 3 bulan dengan gejala belum dapat bicara dan aktivitas berlebihan. Pada pemeriksaan Checklist for Autism in Toddlers (CHAT) didapatkan kesimpulan resiko sedang gangguan autisme. Hasil penilaian dengan Childhood Autism Rating Scale (CARS) didapatkan skor 36 (autisme ringan). Penilaian DSM IV mernunjukkan anak masuk dalam kategori autisme. Pemeriksaan fisik dalam batas normal, tidak ada kelainan neurologi dan tidak terdapat wajah dismorfik. Intelektual pasien termasuk dalam disabiltas intelektual moderate dengan skor IQ 53. Komorbid yang terjadi pada pasien yakni gangguan intelektual.dilakukan intervensi farmakoterapi risperidone, terapi perilaku, wicara, okupasi, sensori integrasi dan manajemen stres pada orang tua selama 18 bulan. Pada akhir pemantauan terdapat perbaikan skor CARS menjadi 30, kemandirian anak meningkat seiring dengan penurunan stres pada orangtua.

9 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Autisme merupakan gangguan perkembangan yang memiliki karakteristik terjadinya gangguan komunikasi, interaksi sosial dan perilaku yang berulangulang 1. Gejala tersebut bervariasi dari kondisi berat hingga ringan dan biasanya masih ada hingga beberapa tahun 2. Beberapa kondisi komorbid sering berhubungan dengan autisme, meliputi gangguan intelektual dan epilepsi 3. Etiologi autisme masih belum diketahui pasti, bukti terbaru menunjukkan adanya defek gena multipel terlibat pada patofisiologi autisme dan adanya katalisasi lingkungan 4. Prevalensi autisme diperkirakan 6,7 kasus setiap 1000 anak atau sekitar 1 setiap 150 anak 5. Berdasarkan data yang ada di RSUP Dr.Sardjito selama tahun 2011 terdapat 16 kasus dalam 1 tahun dan pada tahun 2012 terdapat 33 kasus Pervasive Development Disorder. Berdasarkan data, kasus Pervasive Development Disorder terbanyak merupakan Childhood Autism (F84.0) sebanyak 14 kasus pada tahun 2011 dan 30 kasus pada tahun 2012, kasus Pervasive Development Disorder lainnya yaitu Autisme atipikal (F84.1) sebanyak 2 orang, Sindroma Rett (F84.2) sebanyak 1 orang dan Pervasive Development Disorder tidak speifik (F84.9) sebanyak 1 orang. Penanganan autisme memerlukan penanganan yang terintegrasi 6. Prognosis autisme bervariasi, semakin awal usia penanganan dengan penanganan yang terintegrasi maka keberhasilan terapi akan dicapai sekitar 53-57% 7. Monitor yang perlu dilakukan pada autisme meliputi monitor kesehatan umum (status gizi, imunisasi), monitor gejala autisme yaitu gangguan komunikasi, interaksi sosial, perilaku, persepsi sensori, perasaan, monitor terapi komprehensif (efek samping obat, terapi wicara, terapi okupasi dan sensori integrasi dan terapi perilaku), monitor gangguan penyerta (gangguan pendengaran, kesehatan gigi, anemia, kejang, gangguan tidur, nutrisi) Diajukan pada laporan akhir kasus longitudinal MS-PPDS I IKA FK UGM Yogyakarta 2

10 B. ALASAN PEMILIHAN KASUS Autisme merupakan jenis gangguan perkembangan pada anak yang kompleks dan berat, yang sudah tampak sebelum 3 tahun dan membuat mereka tidak mampu berkomunikasi, tidak mampu mengekspresikan perasaan maupun keinginan, sehingga perilaku dan hubungannya dengan orang lain menjadi terganggu. Kondisi ini tentu saja akan sangat mempengaruhi perkembangan anak selanjutnya. Penyebabnya juga multifaktorial. Dengan mengikuti kasus ini diharapkan dapat memantau gejala autisme yang diharapkan semakin berkurang, memantau terapi terintegrasi yang meliputi terapi okupasi, sensori integrasi, perilaku, wicara dan farmakoterapi, efek samping terapi obat, stres orang tua, mendeteksi komorbid yang dapat terjadi seperti epilepsi, gangguan tidur, anemia sehingga dapat ditangani sedini mungkin. Dengan pengamatan dan pemantauan secara berkala dan terus menerus diharapkan mendeteksi penyakit penyerta yang dapat timbul sehinggga dapat dilakukan intervensi dini, serta dengan pemantauan dan intervensi lebih awal diharapkan luaran pada anak dapat lebih baik. Kelainan yang menyertai pada autisme yang perlu penanganan menyeluruh yang melibatkan banyak ahli dan bidang, seperti gangguan pada telinga, psikologi, ahli terapi bicara, fisioterapist. Selain itu diperlukan kerjasama dengan orang tua untuk melakukan terapi perilaku, sehingga diharapkan dengan mengikuti kasus ini orang tua pasien lebih memahami pentingnya terapi terintegrasi yang harus dilakukan agar kualitas hidup anak meningkat. Selain itu, rumah pasien di Yogyakarta, dekat dan mudah dijangkau, sehingga pemantauan lebih mudah dilakukan C. MANFAAT YANG DIHARAPKAN 1. Pasien a. Tujuan terapi autisme adalah meningkatkan kualitas hidup, dengan diikutinya kasus ini diharapkan pasien mendapat terapi terintegrasi yang sesuai kebutuhan pasien autisme b. Adanya komorbid yang terjadi dapat diintervensi sedini mungkin Diajukan pada laporan akhir kasus longitudinal MS-PPDS I IKA FK UGM Yogyakarta 3

11 c. Dengan pemantauan secara berkala diharapkan aspek bio-psiko-sosial tetap opimal 2. Keluarga Agar keluarga dan lingkungan dapat memahami dan dapat berperan dalam penanganan terpadu pasien autisme. Dimana orangtua merupakan penentu dan dapat mempengaruhi keberhasilan pendidikan dan pengasuhan autisme. Perlu diberi pemahaman kepada orang tua, bahwa penanganan autisme memerlukan terapi yang komprehensif, outcome pada autisme adalah kualitas hidup yang lebih baik sehingga diharapkan orang tua lebih sabar dan telaten dalam menghadapi pasien 3. Residen Dengan mempelajari kasus ini, pengetahuan, kemampuan menatalaksana dan membuat program follow up pasien dengan autisme semakin bertambah. Dokter anak dituntut dapat melakukan deteksi autisme dengan baik dan sesuai prosedur. Perhatian terhadap kondisi pasien secara menyeluruh meningkatkan kesadaran bahwa tatalaksana pasien tidak selalu hanya pada penyakit dan terbatas pada pemberian obat-obatan melainkan dukungan aspek sosial, ekonomi, psikologis, lingkungan, bahkan kebijakan kesehatan menjadi penting. Dokter anak juga dituntut mampu memberikan penjelasan dan komunikasi yang baik tentang kondisi pasien, pentingnya kepatuhan terhadap pengobatan, kemungkinan komorbid penyakit, serta efek samping pengobatan jangka panjang. 4. Rumah Sakit a. Penatalaksanaan penderita autisme yang menyeluruh dan berkesinambungan serta melibatkan beberapa bagian terkait, maka mutu pelayanan kesehatan rumah sakit semakin meningkat b. Mekanisme pemantauan dengan program-program yang terstruktur selain memudahkan pemantauan pasien, juga akan memudahkan pengumpulan data tentang luaran pasien pasca perawatan dan dapat digunakan untuk penelitian. Diajukan pada laporan akhir kasus longitudinal MS-PPDS I IKA FK UGM Yogyakarta 4

12 D. INFORMED CONSENT Sebelum pemantauan jangka panjang dilakukan terhadap pasien, peneliti memberikan penjelasan dan meminta persetujuan lisan dari orang tua pasien (proxy consent lisan) pada bulan Juli 2012 dan selanjutnya persetujuan tertulis dari orang tua pasien (proxy consent tertulis) pada bulan Agustus Diajukan pada laporan akhir kasus longitudinal MS-PPDS I IKA FK UGM Yogyakarta 5

13 BAB II LAPORAN KASUS A. IDENTITAS PASIEN Pasien pertama kali diperiksa di poliklinik tumbuh kembang anak RSUP dr. Sardjito tanggal 26 Juli 2012 (usia 4 tahun 3 bulan) dan diajukan untuk pemantauan jangka panjang mulai tanggal 01 Agustus 2012 (usia 4 tahun 3 bulan). Tabel 1. Identitas Pasien Nama : An. HSWA Nama ayah : Tn. S Tanggal lahir Umur : 20 April 2008 : 4 tahun 3 bulan Umur Pendidikan : 42 tahun : Strata 1 Jenis kelamin : Laki laki Pekerjaan : Wiraswasta Pendidikan Alamat asal : - : Banjarharjo, Ngemplak, Sleman : xx Nama ibu Umur Pendidikan Pekerjaan : Ny.K : 33 tahun : SLTA : Karyawan swasta No RM B. LAPORAN KASUS Seorang anak laki-laki, usia 4 tahun 3 bulan, datang dengan keluhan belum dapat berbicara dan aktivitas berlebihan, pasien merupakan rujukan psikolog Puskesmas Ngemplak I. Terdiagnosis di RSUP Dr. Sardjito dengan autisme, dengan tanda-tanda keterlambatan bicara, mengucapkan bahasa planet, menghindar bertatap muka, perilaku kelebihan, mengamuk dan menutup telinga bila ada suara keras. Komorbid yang ada pada pasien ini adanya gejala hiperaktivitas. Riwayat perkembangan tidak ada regresi perkembangan namun terdapat keterlambatan bicara dan personal sosial. Hasil penilaian dengan Checklist for Autism in Toddlers (CHAT) didapatkan kesimpulan resiko sedang gangguan autisme. Hasil penilaian dengan Childhood Autism Rating Scale (CARS) didapatkan skor 36 (autisme ringan). Kesimpulan hasil pemeriksaan menunjukkan adanya gangguan perkembangan autisme. Status gizi baik : berat Diajukan pada laporan akhir kasus longitudinal MS-PPDS I IKA FK UGM Yogyakarta 6

14 badan 19 kg, tinggi badan 111 cm (BB//U 0< Z < 2; TB//U 0< Z <2 ;BB//TB 0< Z <1 (chart WHO-NCHS). Hasil pemeriksaan fisik normosefal, tidak ditemukan wajah dismorfik, pemeriksaan fisik lain dalam batas normal. Status neurologis dalam batas normal. Hasil tes pendengaran : anak tidak mau merespon terhadap suara panggilan nama namun mau melihat sumber suara di televisi. Pada pasien ini tidak didapatkan komorbid kejang, gejala pica, gangguan tidur, gangguan gastrointestinal. Dari riwayat penyakit keluarga, tidak didapatkan riwayat hiperaktivitas pada keluarga ayah. Riwayat kehamilan baik, riwayat persalinan kurang baik, riwayat pasca persalinan baik. Riwayat imunisasi baik. Riwayat pemberian makan kurang baik, sejak lahir pasien mendapat ASI ditambah dengan susu formula hingga usia 6 bulan, setelah usia 6 bulan diberikan bubur susu. Riwayat ekonomi dan lingkungan kurang baik, ayah kurang perhatian terhadap anak dan ibu kurang dapat menerima kondisi anak yang kurangdapat berinteraksi dengan baik, baru dapat menerima kondisi anak setelah dilakukan BERA. Anak merupakan anak pertama dari pasangan 42 tahun dan 33 tahun, bukan dari perkawinan keluarga. Tidak didapatkan penyakit serupa; tidak ada keluarga yang meninggal usia muda maupun riwayat abortus. 37 th Gambar 1. Silsilah keluarga. Anak tinggal bersama kedua orang tua di sebuah rumah, rumah berukuran 20x10 m, atap genteng, lantai plesteran yang berdebu, dan dinding setengah tembok. Lingkungan sekitar rumah tidak terawat, kamar mandi dekat dengan sumur. Ibu bekerja sebagai karyawan swasta dan ayah memiliki pekerjaan tidak Diajukan pada laporan akhir kasus longitudinal MS-PPDS I IKA FK UGM Yogyakarta 7

15 tetap berjualan pepaya, penghasilan perbulan tidak tentu, sekitar Rp ,00 per bulan. Dilakukan penilaian dengan DSM IV untuk autisme didapatkan hasil: Tabel 2. DSM IV autisme No Variabel Hasil A. Interaksi sosial (minimal 2) 1 Tidak mampu menjalin interaksi sosial non verbal: kontak mata, ekspresi muka, posisi tubuh, gerak-gerik kurang tertuju 2 Kesulitan bermain dengan teman sebaya Ya 3 Tidak ada empati, perilaku berbagi kesenangan/minat Ya 4 Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional 2 arah Ya B. Komunikasi Sosial (minimal 1) 1 Tidak/terlambat bicara, tidak berusaha berkomunikasi non verbal Ya 2 Bisa bicara tapi tidak untuk komunikasi/inisiasi, egosentris Ya 3 Bahasa aneh & diulang-ulang/stereotip Ya 4 Cara bermain kurang variatif/imajinatif, kurang imitasi sosial Ya C. Imaginasi, berpikir fleksibel dan bermain imaginatif (minimal 1) 1 Mempertahankan 1 minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan, baik intensitas dan fokusnya 2 Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik/rutinitas yang tidak berguna 3 Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan berulang-ulang Ya 4 Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian tertentu dari suatu Ya benda Ya Ya Tidak Gejala autisme muncul pertama kali pada usia 2 tahun. Berdasarkan kriteria ICD 10 WHO anak mengalami gangguan Pervasive Developmental Disorders (F84). Anak masuk dalam kriteria Childhood Autism (F84.0) karena onset muncul pertama saat usia 2 tahun dan masuk dalam kriteria yang dapat terlihat pada tabel 2, dan anak tidak temasuk kriteria Pervasive Development Disorder lain menurut WHO, yang terlihat pada tabel berikut: Diajukan pada laporan akhir kasus longitudinal MS-PPDS I IKA FK UGM Yogyakarta 8

16 Tabel 3. Klasifikasi Pervasive Development Disorder Jenis Kriteria Analisis pada anak Atypical Autism (F84.1) A.Munculnya gejala abnormal atau gangguan sejak usia pada atau setelah 3 tahun B.Abnormalitas kualitatif pada interaksi sosial atau komunikasi, restriksi, repetitive dan pola stereotipe C. Tidak memenuhi kriteria diagnostik untuk childhood autism (F84.0) Anak tidak termasuk kriteria ini karena onset gejala abnormal muncul usia 2 tahun Rett s syndrome (F84.2) A.Muncul saat periode prenatal dan perinatal dan nampak perkembangan psikomotor normal saat usia 6 bulan pertama dan lingkar kepala normal saat lahir B.Deselerasi pertumbuhan kepala usia 5 bulan dan 4 tahun dan kehilangan kemampuan tangan antara usia 6 dan 30 bulan yang berhubungan dengan disfungsi komunikasi dan gangguan interaksi sosial dan muncul koordinasi yang buruk terhadap pola berjalan dan gerakan tubuh C.Gangguan berat ekspresive atau bahasa, yang terjadi bersama retardasi psikomotor berat Anak tidak termasuk kriteria ini karena pertumbuhan lingkar kepala anak saat ini masuk dalam kategori normal,dan anak tidak kehilangan fungsi psikomotor Diajukan pada laporan akhir kasus longitudinal MS-PPDS I IKA FK UGM Yogyakarta 9

17 Other childhood disintegrative disorder (F84.3) D.Gerakan tangan stereotipe (seperti hand wringling atau gerakan mencuci) muncul saat atau setelah kehilangan kemampuan gerakan tangan A. Perkembangan normal hingga usia 2 tahun. Adanya kemampuan komunikasi, hubungan sosial, bermain dan perilaku adaptive yang sesuai usianya B. Kehilangan kemampuan saat muncul gejala. Diagnosis memerlukan bukti klinis anak kehilangan kemampuan paling tidak 2 bagian: ekspresive atau bahasa yang diulang-ulang, bermain, kemampuan sosial, kontrol BAB atau BAK, kemampuan motorik C. Abnormalitas kualitatif fungsi sosial, yang bermanifes paling tidak 2 kriteria: abnormalitas kualitatif interaksi sosial; abnormalitas kualitatif komunikasi; pola gerakan tubuh yang diulang; tidak tertarik pada obyek dan lingkungan D. kelainan ini tidak memenuhi kriteria variasi lain pervasive developmental disorder, epilepsi dengan afasia, elektive mutism, rett s syndrome Anak tidak termasuk kriteria ini karena sejak sebelum 2 tahun anak belum dapat berkomunikasi Diajukan pada laporan akhir kasus longitudinal MS-PPDS I IKA FK UGM Yogyakarta 10

18 Overactive disorders associated with mental retardation and stereotyped movements (F84.4) A. manifestasi hiperaktif berat meliputi minimal 2 kriteria: tidak dapat berhenti bergerak (lari, lompat), sulit untuk duduk beberapa detik kecuali mempertahankan aktivitas stereotipi, aktivitas berlebihan, aktivitas mudah berganti B. Pola sikap dan aktivitas repetitive dan stereotipe, meliputi paling tidak 1 kriteria: terdapat gerakan motorik menetap dan berulang (seperti tepuk tangan), aktivitas berlebihan dan non fungsional yang menetap (bermain dengan air mengalir), sering melukai diri sendiri C. IQ kurang dari 50 D. Tidak terdapat gangguan sosial tipe autistik,anak harus memenuhi min 3 kriteria: kontak mata, ekspresi dan postur tubuh sesuai dengan interaksi sosial, perkembangan hubungan dengan orang lain sesuai, sering mendekati orang lain untuk mendapatkan perhatian, kadang dapat berbagi kebahagiaan dengan orang lain E.Tidak memenuhi kriteria autisme (F84 dan F84.1),childhood disintegrative disorder (F84.3) atau hyperkinetic disorder (F90) Anak tidak termasuk kriteria ini karena memenuhi kriteria autisme (F84),tidak terdapat kontak mata Diajukan pada laporan akhir kasus longitudinal MS-PPDS I IKA FK UGM Yogyakarta 11

19 Asperger s syndrome (F84.5) Pervasive developmental disoder,unspecified (F84.9) A. Terdapat keterlambatan bicara atau perkembangan kognitif. Diagnosis dibuat bila ada 1 kata yang muncul saat usia 2 tahun awal dan frase komunikasi digunakan saat usia 3 tahun atau lebih awal. Perkembangan kemampuan diri, perilaku adaptive pada 3 tahun pertama normal. Namun, perkembangan milestone mungkin terlambat B. Abnormalitas kulaitatif interaksi sosial (kriteria autisme) C. Ketertarikan yang tidak biasa, gerakan stereotipe (kriteria autisme) D. Tidak termasuk kriteria variasi pervasive developmental disorder; schizotypal disorder;simple skozofrenia;obsesive compusive disoreder Kriteria diagnosis residual untuk deskripsi umum kelainan pervasive development dimana kriteria F84 (autisme) tidak terpenuhi Anak tidak termasuk kriteria ini karena hingga saat ini anak hanya dapat mengucapkan ba..ma Anak tidak termasuk kriteria ini karena memenuhi kriteria F84 Diajukan pada laporan akhir kasus longitudinal MS-PPDS I IKA FK UGM Yogyakarta 12

20 Pasien didiagnosis mengalami childhood autism dengan komorbid hiperaktif. Pasien mendapatkan terapi Risperidone 0,02 mg/kg/x 2 kali sehari jam pagi dan jam sore, terapi okupasi, sensori integrasi, terapi wicara dan terapi perilaku, edukasi dan pendampingan pada orang tua. Saat pasien diambil sebagai kasus longitudinal (usia 4 tahun 3 bulan), komorbid yang ditemukan pada pasien ini adanya gejala hiperaktivitas, gejala komorbid lain seperti epilepsi, gangguan gastrointestinal, gangguan tidur, gejala pica tidak ditemukan. Terapi okupasi dan sensori integrasi sudah dilakukan 2 kali seminggu, terapi wicara belum dilakukan, obat risperidone sudah dikonsumsi 1 minggu, efek samping obat tidak ada, pemeriksaan kemandirian VABS dan tes IQ belum dilakukan. Diajukan pada laporan akhir kasus longitudinal MS-PPDS I IKA FK UGM Yogyakarta 13

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV)/ Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) telah menjadi masalah yang serius bagi dunia kesehatan. Menurut data World Health

Lebih terperinci

PERVASIVE DEVELOPMENTAL DISORDER (lanjutan) Dr. Ika Widyawati, SpKJ(K)

PERVASIVE DEVELOPMENTAL DISORDER (lanjutan) Dr. Ika Widyawati, SpKJ(K) PERVASIVE DEVELOPMENTAL DISORDER (lanjutan) Dr. Ika Widyawati, SpKJ(K) SINDROMA RETT DEFINISI Suatu kondisi progresif yang berkembang setelah beberapa bulan perkembangan normal. Lingkar kepala waktu lahir:

Lebih terperinci

Oleh TIM TERAPIS BALAI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KHUSUS DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH

Oleh TIM TERAPIS BALAI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KHUSUS DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH Oleh TIM TERAPIS BALAI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KHUSUS DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TENGAH Pendahuluan Tidak ada anak manusia yang diciptakan sama satu dengan lainnya Tidak ada satupun manusia tidak memiliki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Laporan Akhir Kasus Longitudinal MS-PPDS I IKA Fakultas Kedokteran UGM 1

BAB I PENDAHULUAN. Laporan Akhir Kasus Longitudinal MS-PPDS I IKA Fakultas Kedokteran UGM 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Henoch-Schonlein Purpura (HSP) merupakan suatu mikrovaskular vaskulitis sistemik dengan karakteristik adanya deposisi kompleks imun dan keterlibatan immunoglobulin A

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Komunikasi merupakan bagian dari kehidupan manusia sehari-hari, bahkan

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Komunikasi merupakan bagian dari kehidupan manusia sehari-hari, bahkan 13 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Komunikasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Komunikasi merupakan bagian dari kehidupan manusia sehari-hari, bahkan merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sindrom Waardenburg (SW) adalah kumpulan kondisi genetik yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran dan perubahan warna (pigmentasi) dari rambut, kulit dan mata.

Lebih terperinci

Pendahuluan. Leo Kanner 1943 : Anggapan sebenarnya : 11 kasus anak dgn kesulitan berkomunikasi. Tidak berhubungan dgn retardasi mental

Pendahuluan. Leo Kanner 1943 : Anggapan sebenarnya : 11 kasus anak dgn kesulitan berkomunikasi. Tidak berhubungan dgn retardasi mental AUTISME Pendahuluan Leo Kanner 1943 : 11 kasus anak dgn kesulitan berkomunikasi Disebut Autisme infantil Tidak berhubungan dgn retardasi mental Anggapan sebenarnya : 75 80% ada retardasi mental Istilah

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. Diajukan pada Laporan Akhir Kasus Longitudinal MS-PPDS I IKA FK-UGM Yogyakarta 1

BAB V KESIMPULAN. Diajukan pada Laporan Akhir Kasus Longitudinal MS-PPDS I IKA FK-UGM Yogyakarta 1 BAB V KESIMPULAN Osteogenesis imperfekta (OI) atau brittle bone disease adalah kelainan pembentukan jaringan ikat yang umumnya ditandai dengan fragilitas tulang, osteopenia, kelainan pada kulit, sklera

Lebih terperinci

AUTISM. Mata Kuliah PENDIDIKAN ANAK AUTIS

AUTISM. Mata Kuliah PENDIDIKAN ANAK AUTIS AUTISM Mata Kuliah PENDIDIKAN ANAK AUTIS AUTISM DAN PDD PDD = ASD Leo Kanner,1943 Early Infantile Autism Hans Asperger, 1944 Asperger Syndrome Autism Asperger Syndrome Rett Syndrome CDD PDD-NOS Mental

Lebih terperinci

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN S IDENTITAS PASIEN S NAMA: MUH FARRAZ BAHARY S TANGGAL LAHIR: 07-03-2010 S UMUR: 4 TAHUN 2 BULAN ANAMNESIS Keluhan utama :tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Disabilitas intelektual (DI) yang dahulu disebut juga dengan retardasi mental, adalah suatu keadaan dimana adanya keterbatasan kemampuan seseorang untuk belajar pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. ibu selama kehamilan. Ketika ibu hamil mendapatkan infeksi virus rubella maka

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. ibu selama kehamilan. Ketika ibu hamil mendapatkan infeksi virus rubella maka BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Congenital Rubella Syndrome (CRS) merupakan suatu kumpulan kelainan kongenital yang terjadi pada anak-anak sebagai akibat dari infeksi rubella pada ibu selama kehamilan.

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Fisiologi Tumbuh Kembang Anak Usia 0-5 tahun Pada tahun pertama kehidupan ditandai dengan pertumbuhan fisik, maturasi, kemampuan yang semakin terasah, dan reorganisasi psikologis.

Lebih terperinci

DETEKSI DINI TUMBUH KEMBANG (DDTK)

DETEKSI DINI TUMBUH KEMBANG (DDTK) DETEKSI DINI TUMBUH KEMBANG (DDTK) KONSEP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN DEFINISI Pertumbuhan Berkembangnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan intraseluler Bertambah ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian

Lebih terperinci

DETEKSI DINI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS. dr. Atien Nur Chamidah PLB FIP UNY

DETEKSI DINI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS. dr. Atien Nur Chamidah PLB FIP UNY DETEKSI DINI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS dr. Atien Nur Chamidah PLB FIP UNY 1 Bagus, seorang anak laki-laki berusia 30 bulan. Ibunya merasa bahwa putranya berbeda dg anak lainnya, perkembangan bicara & bahasanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang telah ada, maupun timbulnya perubahan karena unsur-unsur yang baru. 1

BAB I PENDAHULUAN. yang telah ada, maupun timbulnya perubahan karena unsur-unsur yang baru. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Perkembangan adalah suatu proses yang berlangsung secara teratur dan terus menerus, baik perubahan itu berupa bertambahnya jumlah atau ukuran dari hal-hal yang telah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sangat penting. Untuk menilai tumbuh kembang anak banyak pilihan cara. Penilaian

BAB I PENDAHULUAN. sangat penting. Untuk menilai tumbuh kembang anak banyak pilihan cara. Penilaian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Deteksi dini untuk mengetahui masalah atau keterlambatan tumbuh kembang sangat penting. Untuk menilai tumbuh kembang anak banyak pilihan cara. Penilaian pertumbuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. a. Latar Belakang. Congenital rubella syndrome (CRS) adalah kumpulan kelainan kongenital yang

BAB I PENDAHULUAN. a. Latar Belakang. Congenital rubella syndrome (CRS) adalah kumpulan kelainan kongenital yang BAB I PENDAHULUAN a. Latar Belakang Congenital rubella syndrome (CRS) adalah kumpulan kelainan kongenital yang terjadi pada anak sebagai akibat dari infeksi rubela pada ibu selama kehamilan. WHO memperkirakan

Lebih terperinci

Dr. Soeroyo Machfudz, Sp.A(K), MPH Sub.bag Tumbuh Kembang/Ped. Sosial INSKA RS. Hermina / Bag. IKA FK-UII Yogyakarta

Dr. Soeroyo Machfudz, Sp.A(K), MPH Sub.bag Tumbuh Kembang/Ped. Sosial INSKA RS. Hermina / Bag. IKA FK-UII Yogyakarta Dr. Soeroyo Machfudz, Sp.A(K), MPH Sub.bag Tumbuh Kembang/Ped. Sosial INSKA RS. Hermina / Bag. IKA FK-UII Yogyakarta CEREBRAL PALSY CP Sindrom kerusakan otak yang statis Tidak progresif Keterlambatan motorik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Anak membutuhkan bantuan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya dalam

BAB I PENDAHULUAN. Anak membutuhkan bantuan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Anak merupakan anugrah yang Tuhan berikan untuk dijaga dan dirawat. Anak membutuhkan bantuan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya dalam masa tumbuh kembang. Memahami

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Hasil survei Badan Pusat Statistik pada tahun 2010 menyatakan bahwa dari

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Hasil survei Badan Pusat Statistik pada tahun 2010 menyatakan bahwa dari BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hasil survei Badan Pusat Statistik pada tahun 2010 menyatakan bahwa dari 237.641.326 jiwa total penduduk Indonesia, 10% diantaranya yaitu sebesar + 22.960.000 berusia

Lebih terperinci

Salah satu keluhan terbanyak dari orang tua. Mengapa terlambat? Apa penyebabnya? Boleh ditunggu, sampai umur berapa? Perlu terapi?

Salah satu keluhan terbanyak dari orang tua. Mengapa terlambat? Apa penyebabnya? Boleh ditunggu, sampai umur berapa? Perlu terapi? Yazid Dimyati Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUSU RSHAM Medan Terlambat bicara Salah satu keluhan terbanyak dari orang tua Mengapa terlambat? Apa penyebabnya? Boleh ditunggu, sampai umur berapa? Perlu

Lebih terperinci

SAMPUL LUAR... i SAMPUL DALAM...ii. PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii

SAMPUL LUAR... i SAMPUL DALAM...ii. PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii DAFTAR ISI Halaman SAMPUL LUAR... i SAMPUL DALAM....ii PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii PENETAPAN PANITIA PENGUJI... iii KATA PENGANTAR... iv PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN... v ABSTRAK... vi ABSTRACT...

Lebih terperinci

Dr. Ika Widyawati, SpKJ(K)

Dr. Ika Widyawati, SpKJ(K) Dr. Ika Widyawati, SpKJ(K) Sindrom karena berbagai sebab yang timbul pada saat lahir atau berkembang pada masa kanak awal. DSM IV dan ICD X RM IQ < 70 Untuk melakukan tes IQ merupakan suatu tantangan melihat

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. anak di Indonesia, mencatat populasi kelompok usia anak di. 89,5 juta penduduk termasuk dalam kelompok usia anak.

BAB 1 PENDAHULUAN. anak di Indonesia, mencatat populasi kelompok usia anak di. 89,5 juta penduduk termasuk dalam kelompok usia anak. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pusat data dan informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2014 tentang kondisi pencapaian program kesehatan anak di Indonesia, mencatat populasi

Lebih terperinci

SISTEM KLASIFIKASI DAN DIAGNOSIS GANGGUAN MENTAL DITA RACHMAYANI, S.PSI., M.A

SISTEM KLASIFIKASI DAN DIAGNOSIS GANGGUAN MENTAL DITA RACHMAYANI, S.PSI., M.A SISTEM KLASIFIKASI DAN DIAGNOSIS GANGGUAN MENTAL DITA RACHMAYANI, S.PSI., M.A Do Penyusunan gejala Memberi nama atau label Membedakan dengan penyakit lain For Prognosis Terapi (Farmakoterapi / psikoterapi)

Lebih terperinci

LAMPIRAN. 1. Personil Penelitian 1. Ketua Penelitian : dr. Khairunisa Agustina : Peserta PPDS Ilmu Kesehatan Anak FK-USU/RSHAM

LAMPIRAN. 1. Personil Penelitian 1. Ketua Penelitian : dr. Khairunisa Agustina : Peserta PPDS Ilmu Kesehatan Anak FK-USU/RSHAM 49 LAMPIRAN 1. Personil Penelitian 1. Ketua Penelitian Nama Jabatan : dr. Khairunisa Agustina : Peserta PPDS Ilmu Kesehatan Anak FK-USU/RSHAM 2. Anggota Penelitian 1. Prof. dr. Rafita R, SpA(K) 2. dr.

Lebih terperinci

Retardasi Mental. Dr.dr. Tjhin Wiguna, SpKJ(K)

Retardasi Mental. Dr.dr. Tjhin Wiguna, SpKJ(K) Retardasi Mental Dr.dr. Tjhin Wiguna, SpKJ(K) Retardasi Mental (RM) Suatu keadaan perkembangan mental yang terhenti atau tidak lengkap atau tidak sesuai dengan tingkat perkembangan anak seusianya. Ditandai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dunia. Berbagai macam vitamin, gizi maupun suplemen dikonsumsi oleh

BAB I PENDAHULUAN. dunia. Berbagai macam vitamin, gizi maupun suplemen dikonsumsi oleh 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak adalah suatu titipan Tuhan yang sangat berharga. Saat diberikan kepercayaan untuk mempunyai anak, maka para calon orang tua akan menjaga sebaik-baiknya dari mulai

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. menjadi sumber daya yang berkualitas tidak hanya dilihat secara fisik namun

BAB 1 PENDAHULUAN. menjadi sumber daya yang berkualitas tidak hanya dilihat secara fisik namun BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak merupakan harapan masa depan bangsa yang perlu dipersiapkan agar menjadi sumber daya yang berkualitas tidak hanya dilihat secara fisik namun sehat mental dan sosial

Lebih terperinci

LAPORAN PENDAHULUAN RETARDASI MENTAL. Disusun Oleh : Hadi Ari Yanto

LAPORAN PENDAHULUAN RETARDASI MENTAL. Disusun Oleh : Hadi Ari Yanto LAPORAN PENDAHULUAN RETARDASI MENTAL Disusun Oleh : Hadi Ari Yanto 101018 D III KEPERAWATAN STIKES MUHAMMADIYAH KLATEN 2012 / 2013 RETARDASI MENTAL 1. PENGERTIAN Retardasi mental adalah kemampuan mental

Lebih terperinci

Is There Any Specific Measurement to Monitor Growth and Development in Infant Born with Small for Gestational Age

Is There Any Specific Measurement to Monitor Growth and Development in Infant Born with Small for Gestational Age Is There Any Specific Measurement to Monitor Growth and Development in Infant Born with Small for Gestational Age DR. Dr. Hartono Gunardi, SpA (K) Menurut data WHO tahun 2013, prevalensi bayi yang lahir

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. disabilitas intelektual dapat belajar keterampilan baru tetapi lebih lambat

BAB I PENDAHULUAN. disabilitas intelektual dapat belajar keterampilan baru tetapi lebih lambat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Disabilitas intelektual ditandai dengan gangguan fungsi kognitif secara signifikan dan termasuk komponen yang berkaitan dengan fungsi mental dan keterampilan fungsional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Diajukan pada Laporan Akhir Kasus Longitudinal MS-PPDS I IKA FK-UGM Yogyakarta 1

BAB I PENDAHULUAN. Diajukan pada Laporan Akhir Kasus Longitudinal MS-PPDS I IKA FK-UGM Yogyakarta 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Osteogenesis imperfekta (OI) atau brittle bone disease adalah kelainan pembentukan jaringan ikat yang umumnya ditandai dengan fragilitas tulang, osteopenia, kelainan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. otak (Dipiro et.al, 2005). Epilepsi dapat dialami oleh setiap orang baik laki-laki

I. PENDAHULUAN. otak (Dipiro et.al, 2005). Epilepsi dapat dialami oleh setiap orang baik laki-laki I. PENDAHULUAN Epilepsi adalah terganggunya aktivitas listrik di otak yang disebabkan oleh beberapa etiologi diantaranya cedera otak, keracunan, stroke, infeksi, dan tumor otak (Dipiro et.al, 2005). Epilepsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 40 tahun dimana terjadi perubahan fisik dan psikologis pada diri individu, selain itu

BAB I PENDAHULUAN. 40 tahun dimana terjadi perubahan fisik dan psikologis pada diri individu, selain itu BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Dewasa awal adalah individu yang berada pada rentang usia antara 20 hingga 40 tahun dimana terjadi perubahan fisik dan psikologis pada diri individu, selain

Lebih terperinci

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN JIWA. PADA Sdr.W DENGAN HARGA DIRI RENDAH. DI RUANG X ( KRESNO ) RSJD Dr. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG. 1. Inisial : Sdr.

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN JIWA. PADA Sdr.W DENGAN HARGA DIRI RENDAH. DI RUANG X ( KRESNO ) RSJD Dr. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG. 1. Inisial : Sdr. BAB III ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA Sdr.W DENGAN HARGA DIRI RENDAH DI RUANG X ( KRESNO ) RSJD Dr. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG A. Identitas Pasien 1. Inisial : Sdr. W 2. Umur : 26 tahun 3. No.CM : 064601

Lebih terperinci

SISTEM KLASIFIKASI DAN DIAGNOSIS GANGGUAN MENTAL DITA RACHMAYANI, S.PSI., M.A

SISTEM KLASIFIKASI DAN DIAGNOSIS GANGGUAN MENTAL DITA RACHMAYANI, S.PSI., M.A SISTEM KLASIFIKASI DAN DIAGNOSIS GANGGUAN MENTAL DITA RACHMAYANI, S.PSI., M.A DIAGNOSIS? Do Penyusunan gejala Memberi nama atau label Membedakan dengan penyakit lain For prognosis Terapi (Farmakoterapi

Lebih terperinci

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS Apakah yang dimaksud dengan ABK (exceptional children)? a. berkaitan dengan konsep/istilah disability = keterbatasan b. bersinggungan dengan tumbuh kembang normal--abnormal, tumbuh

Lebih terperinci

Pedoman Identifikasi Anak Autis. Sukinah jurusan PLB FIP UNY

Pedoman Identifikasi Anak Autis. Sukinah jurusan PLB FIP UNY Pedoman Identifikasi Anak Autis Sukinah jurusan PLB FIP UNY Adanya gangguan dalam berkomunikasi verbal maupun non-verbal Terlambat bicara Tidak ada usaha untuk berkomunikasi Meracau dengan bahasa yang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. kemajuan kesehatan suatu negara. Menurunkan angka kematian bayi dari 34

BAB 1 PENDAHULUAN. kemajuan kesehatan suatu negara. Menurunkan angka kematian bayi dari 34 1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram dan merupakan penyumbang tertinggi angka kematian perinatal dan neonatal. Kematian neonatus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Gangguan tidur dijumpai 25% pada populasi anak yang sehat, 1-5%

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Gangguan tidur dijumpai 25% pada populasi anak yang sehat, 1-5% BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gangguan tidur dijumpai 25% pada populasi anak yang sehat, 1-5% diantaranya adalah gangguan kesulitan bernapas saat tidur (obstructive sleep apneu syndrome: OSAS) (Owens,

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN. Desain penelitian : prospektif dengan pembanding internal. U1n. U2n

BAB 3 METODE PENELITIAN. Desain penelitian : prospektif dengan pembanding internal. U1n. U2n BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1. Rancang Bangun Penelitian Jenis penelitian : observasional Desain penelitian : prospektif dengan pembanding internal Sembuh P N M1 U1n mg I mg II mg III mg IV mg V mg VI Tidak

Lebih terperinci

LAMPIRAN. 1. Personil Penelitian 1. Ketua Penelitian Nama : dr. Dewi Angreany Jabatan : Peserta PPDS Ilmu Kesehatan Anak FK-USU/RSHAM

LAMPIRAN. 1. Personil Penelitian 1. Ketua Penelitian Nama : dr. Dewi Angreany Jabatan : Peserta PPDS Ilmu Kesehatan Anak FK-USU/RSHAM LAMPIRAN 1. Personil Penelitian 1. Ketua Penelitian Nama : dr. Dewi Angreany Jabatan : Peserta PPDS Ilmu Kesehatan Anak FK-USU/RSHAM 2. Anggota Penelitian 1. dr. Johannes H. Saing, SpA(K) 2. dr. Hj. Melda

Lebih terperinci

Analisis Kemampuan Berkomunikasi Verbal dan Nonverbal pada Anak Penderita Autis (Tinjauan psikolinguistik)

Analisis Kemampuan Berkomunikasi Verbal dan Nonverbal pada Anak Penderita Autis (Tinjauan psikolinguistik) Analisis Kemampuan Berkomunikasi Verbal dan Nonverbal pada Anak Penderita Autis (Tinjauan psikolinguistik) Oleh Kartika Panggabean Drs. T.R. Pangaribuan, M.Pd. ABSTRAK Anak Autisme merupakan salah satu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang bisa merangsang motorik halus anak. Kemampuan ibu-ibu dalam

BAB I PENDAHULUAN. yang bisa merangsang motorik halus anak. Kemampuan ibu-ibu dalam BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Rendahnya kemampuan anak disebabkan oleh kurangnya kegiatan yang bisa merangsang motorik halus anak. Kemampuan ibu-ibu dalam deteksi dini gangguan perkembangan

Lebih terperinci

Universitas Andalas Padang

Universitas Andalas Padang KEBERLANJUTAN EFEK INTERVENSI GIZI DAN STIMULASI PSIKOSOSIAL PADA SERIBU HARI PERTAMA KEHIDUPAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN STATUS GIZI ANAK USIA 3 5 TAHUN DI PROPINSI SUMATERA BARAT (A Follow-Up Study) Dr.HELMIZAR,SKM,M.BIOMED

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan pada anak bersifat terus menerus. Banyak hal baru diperoleh

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan pada anak bersifat terus menerus. Banyak hal baru diperoleh BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan pada anak bersifat terus menerus. Banyak hal baru diperoleh selama perkembangan sejak dilahirkan dan sesuai keadaan dan tingkatan tahapan perkembangan.

Lebih terperinci

KERANGKA ACUAN STIMULASI DETEKSI DAN INTERVENSI DINI TUMBUH KEMBANG (SDIDTK) ANAK

KERANGKA ACUAN STIMULASI DETEKSI DAN INTERVENSI DINI TUMBUH KEMBANG (SDIDTK) ANAK KERANGKA ACUAN STIMULASI DETEKSI DAN INTERVENSI DINI TUMBUH KEMBANG (SDIDTK) ANAK 1. PENDAHULUAN Pembangunan kesehatan sebagai bagian dari upaya membangun manusia seutuhnya antara lain diselenggarakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Komunikasi merupakan suatu proses penyampaian pesan dari

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Komunikasi merupakan suatu proses penyampaian pesan dari BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Komunikasi merupakan suatu proses penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain dengan tujuan tertentu. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, karena

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Halusinasi adalah gangguan terganggunya persepsi sensori seseorang,dimana tidak terdapat stimulus. Pasien merasakan stimulus yang sebetulnya tidak ada. Pasien merasa

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (RisKesDas) tahun 2013

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (RisKesDas) tahun 2013 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah kesehatan gigi dan mulut saat ini masih menjadi keluhan masyarakat Indonesia. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (RisKesDas) tahun 2013 prevalensi nasional

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata kunci: Autisme, Desain Buku. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Kata kunci: Autisme, Desain Buku. Universitas Kristen Maranatha v i ABSTRAK Dunia kesehatan anak sangatlah luas dan mungkin masih belum banyak wawasan orang tua terhadapnya, salah satunya kelainan perkembangan anak yaitu autisme. Autisme seringkali terluput dari pantauan

Lebih terperinci

PEMERIKSAAN PSIKIATRI

PEMERIKSAAN PSIKIATRI PEMERIKSAAN PSIKIATRI TUJUAN PEMBELAJARAN Setelah menyelesaikan modul pemeriksaan psikiatri, mahasiswa diharapkan mampu : 1. Menjelaskan pengertian gangguan jiwa. 2. Mengenali gejala dan tanda gangguan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. kompleks pada anak, mulai tampak sebelum usia 3 tahun. Gangguan

BAB 1 PENDAHULUAN. kompleks pada anak, mulai tampak sebelum usia 3 tahun. Gangguan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Autisme dipandang sebagai kelainan perkembangan sosial dan mental yang disebabkan oleh gangguan perkembangan otak akibat kerusakan selama pertumbuhan fetus, atau saat

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Kasus gizi buruk masih menjadi masalah dibeberapa negara. Tercatat satu

BAB 1 PENDAHULUAN. Kasus gizi buruk masih menjadi masalah dibeberapa negara. Tercatat satu BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kasus gizi buruk masih menjadi masalah dibeberapa negara. Tercatat satu dari tiga anak di dunia meninggal setiap tahun akibat buruknya kualitas gizi. Dari data Departemen

Lebih terperinci

GANGGUAN ELIMINASI. Dr. Noorhana, SpKJ(K)

GANGGUAN ELIMINASI. Dr. Noorhana, SpKJ(K) GANGGUAN ELIMINASI Dr. Noorhana, SpKJ(K) ENURESIS Definisi: BAK involunter atau yang disengaja. Keparahan ditentukan oleh frekuensi BAK; kuantitasnya tidak menentukan diagnosis. Lamanya waktu sebelum kontinensia:

Lebih terperinci

2. Tanggal Lahir : Umur : bulan. 4. Nama Ayah :. Umur : tahun. 5. Nama Ibu :. Umur : tahun

2. Tanggal Lahir : Umur : bulan. 4. Nama Ayah :. Umur : tahun. 5. Nama Ibu :. Umur : tahun KUESIONER PENELITIAN HUBUNGAN POLA ASUH DENGAN STATUS GIZI ANAK BAWAH DUA TAHUN (BADUTA) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SABOKINGKING KOTA PALEMBANG (RESPONDEN ADALAH IBU) Tanggal pengumpulan data : / / Enumerator

Lebih terperinci

Anak Penyandang Autisme dan Pendidikannya. Materi Penyuluhan

Anak Penyandang Autisme dan Pendidikannya. Materi Penyuluhan Anak Penyandang Autisme dan Pendidikannya Materi Penyuluhan Disajikan pada Penyuluhan Guru-guru SD Citepus 1-5 Kecamatan Cicendo, Kota Bandung Dalam Program Pengabdian Masyarakat Dosen Jurusan PLB, FIP,

Lebih terperinci

Kesehatan Gigi Anak Autis. Autis s Health Teeth

Kesehatan Gigi Anak Autis. Autis s Health Teeth Kesehatan Gigi Anak Autis Autis s Health Teeth Laelia Dwi Anggraini Program Studi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Abstract Autism is a development disturbance in

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan, tetapi gejala utama

BAB I PENDAHULUAN. terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan, tetapi gejala utama BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Disabilitas intelektual (DI) adalah keadaan dengan inteligensi yang kurang (subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak). Biasanya terdapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Anak adalah karunia yang diberikan oleh Tuhan kepada umatnya. Setiap orang yang telah terikat dalam sebuah institusi perkawinan pasti ingin dianugerahi seorang anak.

Lebih terperinci

Seri penyuluhan kesehatan

Seri penyuluhan kesehatan Seri penyuluhan kesehatan Penyakit Autisme Klinik Umiyah Jl. Lingkar Utara Purworejo, Jawa Tengah, Indonesia Pengertian dan gejala Autisme Autisme adalah salah satu dari sekelompok masalah gangguan perkembangan

Lebih terperinci

Program Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) 1. Pengertian Program SDIDTK merupakan program pembinaan tumbuh kembang anak

Program Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) 1. Pengertian Program SDIDTK merupakan program pembinaan tumbuh kembang anak Program Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) 1. Pengertian Program SDIDTK merupakan program pembinaan tumbuh kembang anak secara komprehensif dan berkualitas melalui kegiatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. meluas ke rongga mulut. Penyakit-penyakit didalam rongga mulut telah menjadi perhatian

BAB I PENDAHULUAN. meluas ke rongga mulut. Penyakit-penyakit didalam rongga mulut telah menjadi perhatian BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Masalah kesehatan gigi dewasa ini tidak hanya membahas gigi geligi saja, tetapi telah meluas ke rongga mulut. Penyakit-penyakit didalam rongga mulut telah menjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang sehat, pintar, dan dapat berkembang seperti anak pada umumnya. Namun, tidak

BAB I PENDAHULUAN. yang sehat, pintar, dan dapat berkembang seperti anak pada umumnya. Namun, tidak BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Anak merupakan bagian dari keluarga, dimana sebagian besar kelahiran disambut bahagia oleh anggota keluarganya, setiap orang tua mengharapkan anak yang sehat,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dapat dipastikan dalam kehidupan ini, bahwa setiap pasangan yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dapat dipastikan dalam kehidupan ini, bahwa setiap pasangan yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dapat dipastikan dalam kehidupan ini, bahwa setiap pasangan yang telah menikah pastilah mendambakan hadirnya buah hati di tengah-tengah kehidupan mereka, yaitu

Lebih terperinci

GAMBARAN KASUS PSIKOLOGI ANAK DI KLINIK TUMBUH KEMBANG ANAK RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA

GAMBARAN KASUS PSIKOLOGI ANAK DI KLINIK TUMBUH KEMBANG ANAK RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA GAMBARAN KASUS PSIKOLOGI ANAK DI KLINIK TUMBUH KEMBANG ANAK RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA Suci Murti Karini*), Sri Wahyu Herlinawati, Annang Giri Moelyo**) *)Staf Pengajar Prodi Psikologi&Bag.Ilmu Kes Anak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan diarahkan pada meningkatnya mutu SDM yang berkualitas. Salah

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan diarahkan pada meningkatnya mutu SDM yang berkualitas. Salah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) mengamanatkan bahwa pembangunan diarahkan pada meningkatnya mutu SDM yang berkualitas. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Kementrian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tentunya akan menjadikan penerus bagi keturunan keluarganya kelak. Setiap anak

BAB I PENDAHULUAN. tentunya akan menjadikan penerus bagi keturunan keluarganya kelak. Setiap anak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kelahiran buah hati pasti sudah sangat berarti bagi orang tua, yang tentunya akan menjadikan penerus bagi keturunan keluarganya kelak. Setiap anak pasti melalui

Lebih terperinci

Kesan : terdapat riwayat penyakit keluarga yang diturunkan

Kesan : terdapat riwayat penyakit keluarga yang diturunkan ANAMNESIS Nama lengkap FAKULTAS KEDOKTERAN Nama: An. R : 11 tahun : An. R Tempat dan tanggal lahir : 8 Juni 2002 Nama Ayah Pekerjaan Ayah Nama Ibu Pekerjaan Ibu Alamat : Tn.D : Swasta : Ny. N : IRT : Jati

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. peningkatan di seluruh dunia. Jumlah penyandang autis di Indonesia naik delapan

BAB I PENDAHULUAN. peningkatan di seluruh dunia. Jumlah penyandang autis di Indonesia naik delapan BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah Saat ini, prevalensi anak penyandang autisme telah mengalami peningkatan di seluruh dunia. Jumlah penyandang autis di Indonesia naik delapan kali lipat dalam

Lebih terperinci

BAB 1 PSIKIATRI KLINIK

BAB 1 PSIKIATRI KLINIK Panduan Belajar Ilmu Kedokteran Jiwa - 2009 BAB 1 PSIKIATRI KLINIK A. Pertanyaan untuk persiapan dokter muda 1. Seorang pasien sering mengeluh tidak bisa tidur, sehingga pada pagi hari mengantuk tetapi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Stunting atau pendek merupakan salah satu indikator gizi klinis yang dapat memberikan gambaran gangguan keadaan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Stunting atau pendek merupakan salah satu indikator gizi klinis yang dapat memberikan gambaran gangguan keadaan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Stunting atau pendek merupakan salah satu indikator gizi klinis yang dapat memberikan gambaran gangguan keadaan sosial ekonomi secara keseluruhan di masa lampau dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, khususnya di

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, khususnya di BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, khususnya di kota-kota besar tiap tahunnya menyebabkan kebutuhan akan transportasi juga semakin meningkat.

Lebih terperinci

DAFTAR ISI.. HALAMAN JUDUL... LEMBAR PENGESAHAN HALAMAN CATATAN PEMBIMBING... HALAMAN PERNYATAAN. PRAKATA.. LEMBAR PERSEMBAHAN ABSTRAK...

DAFTAR ISI.. HALAMAN JUDUL... LEMBAR PENGESAHAN HALAMAN CATATAN PEMBIMBING... HALAMAN PERNYATAAN. PRAKATA.. LEMBAR PERSEMBAHAN ABSTRAK... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... LEMBAR PENGESAHAN HALAMAN CATATAN PEMBIMBING... HALAMAN PERNYATAAN. PRAKATA.. LEMBAR PERSEMBAHAN ABSTRAK... DAFTAR ISI.. DAFTAR GAMBAR.. DAFTAR TABLE i ii iii iv v vi vii viii

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Epilepsi merupakan salah satu penyakit pada otak tersering mencapai 50 juta

BAB 1 PENDAHULUAN. Epilepsi merupakan salah satu penyakit pada otak tersering mencapai 50 juta BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Epilepsi merupakan salah satu penyakit pada otak tersering mencapai 50 juta individu di dunia (WHO, 2005a). Epilepsi di wilayah Asia Tenggara berkisar 1% dari populasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kejang merupakan masalah neurologi yang paling sering kita jumpai pada

BAB I PENDAHULUAN. Kejang merupakan masalah neurologi yang paling sering kita jumpai pada BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kejang merupakan masalah neurologi yang paling sering kita jumpai pada anak, dan biasanya kejang sudah dimulai sejak usia bayi dan anak-anak. Kejang pada

Lebih terperinci

JOURNAL READING GANGGUAN GEJALA SOMATIK. Diajukan Kepada : dr. Rihadini, Sp.KJ. Disusun oleh : Shinta Dewi Wulandari H2A012001

JOURNAL READING GANGGUAN GEJALA SOMATIK. Diajukan Kepada : dr. Rihadini, Sp.KJ. Disusun oleh : Shinta Dewi Wulandari H2A012001 JOURNAL READING GANGGUAN GEJALA SOMATIK Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik Stase Ilmu Kesehatan Jiwa Diajukan Kepada : dr. Rihadini, Sp.KJ Disusun oleh : Shinta Dewi Wulandari

Lebih terperinci

Pelayanan Kesehatan bagi Anak. Bab 7 Gizi Buruk

Pelayanan Kesehatan bagi Anak. Bab 7 Gizi Buruk Pelayanan Kesehatan bagi Anak Bab 7 Gizi Buruk Catatan untuk fasilitator Ringkasan kasus Joshua adalah seorang anak laki-laki berusia 12 bulan yang dibawa ke rumah sakit kabupaten dari rumah yang berlokasi

Lebih terperinci

LatihanPenemuanKasusTB dan MenentukanKlasifikasiSerta TipePasien. Kuliah EPPIT 13 Departemen Mikrobiologi FK USU

LatihanPenemuanKasusTB dan MenentukanKlasifikasiSerta TipePasien. Kuliah EPPIT 13 Departemen Mikrobiologi FK USU LatihanPenemuanKasusTB dan MenentukanKlasifikasiSerta TipePasien Kuliah EPPIT 13 Departemen Mikrobiologi FK USU 1 Kasus 1 IbuMariam, berumur37 tahun, datangkers H Adam Malik dengan keluhan batuk-batuk.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. karena penderitanya sebagian besar orang muda, sehat dan produktif (Ropper &

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. karena penderitanya sebagian besar orang muda, sehat dan produktif (Ropper & BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Cedera kepala merupakan salah satu kasus penyebab kecacatan dan kematian yang cukup tinggi dalam bidang neurologi dan menjadi masalah kesehatan oleh karena penderitanya

Lebih terperinci

LEMBARAN PENJELASAN KEPADA CALON SUBJEK PENELITIAN. saraf di FK USU dan saat ini sedang melakukan penelitian yang berjudul: AKUT.

LEMBARAN PENJELASAN KEPADA CALON SUBJEK PENELITIAN. saraf di FK USU dan saat ini sedang melakukan penelitian yang berjudul: AKUT. LAMPIRAN 1 LEMBARAN PENJELASAN KEPADA CALON SUBJEK PENELITIAN Selamat pagi Bapak/Ibu Yth, Saya dr. Rita Sibarani, saat ini sedang menjalani pendidikan spesialis saraf di FK USU dan saat ini sedang melakukan

Lebih terperinci

REHABILITASI STROKE FASE AKUT

REHABILITASI STROKE FASE AKUT Instalasi Rehabilitasi Medik RS Stroke Nasional Bukittinggi 2017 Stroke adalah kumpulan gejala kelainan neurologis lokal yang timbul mendadak akibat gangguan peredaran darah di otak yang disebabkan oleh

Lebih terperinci

AUTISME MASA KANAK-KANAK Autis berasal dari kata auto, yg berarti sendiri. Istilah autisme diperkenalkan oleh Leo Kanner, 1943 Pandangan lama: autisme

AUTISME MASA KANAK-KANAK Autis berasal dari kata auto, yg berarti sendiri. Istilah autisme diperkenalkan oleh Leo Kanner, 1943 Pandangan lama: autisme AUTISME MASA KANAK-KANAK Autis berasal dari kata auto, yg berarti sendiri. Istilah autisme diperkenalkan oleh Leo Kanner, 1943 Pandangan lama: autisme mrpk kelainan seumur hidup. Fakta baru: autisme masa

Lebih terperinci

A. Pengertian Defisit Perawatan Diri B. Klasifikasi Defisit Perawatan Diri C. Etiologi Defisit Perawatan Diri

A. Pengertian Defisit Perawatan Diri B. Klasifikasi Defisit Perawatan Diri C. Etiologi Defisit Perawatan Diri A. Pengertian Defisit Perawatan Diri Kurang perawatan diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktifitas perawatan diri (mandi, berhias, makan, toileting) (Maslim, 2001). Kurang perawatan diri adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Periode penting dalam masa tumbuh kembang seorang anak adalah masa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Periode penting dalam masa tumbuh kembang seorang anak adalah masa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Periode penting dalam masa tumbuh kembang seorang anak adalah masa balita, karena masa ini adalah merupakan pertumbuhan dasar yang mempengaruhi dan menentukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Usia toddler merupakan usia anak dimana dalam perjalanannya terjadi

BAB I PENDAHULUAN. Usia toddler merupakan usia anak dimana dalam perjalanannya terjadi 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Usia toddler merupakan usia anak dimana dalam perjalanannya terjadi pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan selanjutnya dari seorang anak,

Lebih terperinci

HASIL PENELITIAN Uji validitas dan reliabilitas Uji signifikansi

HASIL PENELITIAN Uji validitas dan reliabilitas Uji signifikansi HASIL PENELITIAN Uji validitas dan reliabilitas Validitas alat ukur dalam penelitian ini adalah validitas isi, yaitu taraf sejauh mana isi atau item item alat ukur dianggap dapat mengukur hal hal yang

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Wonosari

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Wonosari 38 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 1. Karakteristik Lokasi Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Wonosari yang merupakan salah satu rumah sakit umum milik pemerintah Kabupaten

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Jogja yang merupakan rumah sakit milik Kota Yogyakarta. RS Jogja terletak di

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Jogja yang merupakan rumah sakit milik Kota Yogyakarta. RS Jogja terletak di BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Umum Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di RSUD Kota Yogyakarta atau Rumah Sakit Jogja yang merupakan rumah sakit milik Kota

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang khusus agar ibu dan janin dalam keadaan sehat. Karena itu kehamilan yang

BAB I PENDAHULUAN. yang khusus agar ibu dan janin dalam keadaan sehat. Karena itu kehamilan yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kehamilan merupakan proses reproduksi yang normal, tetapi perlu perawatan diri yang khusus agar ibu dan janin dalam keadaan sehat. Karena itu kehamilan yang normal

Lebih terperinci

Penyuluhan Perkembangan Anak Usia Dini dan Anak Hyperactive Kecamatan Godong Kabupaten Grobogan. Chr Argo Widiharto, Suhendri, Venty.

Penyuluhan Perkembangan Anak Usia Dini dan Anak Hyperactive Kecamatan Godong Kabupaten Grobogan. Chr Argo Widiharto, Suhendri, Venty. Penyuluhan Perkembangan Anak Usia Dini dan Anak Hyperactive Kecamatan Godong Kabupaten Grobogan Chr Argo Widiharto, Suhendri, Venty Abstrak Kesibukan orangtua yang bekerja berdampak pada kurang diperhatikannya

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Skizofrenia merupakan sindroma klinis yang berubah-ubah dan sangat

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Skizofrenia merupakan sindroma klinis yang berubah-ubah dan sangat BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Skizofrenia Skizofrenia merupakan sindroma klinis yang berubah-ubah dan sangat mengganggu. Psikopatologinya melibatkan kognisi, emosi, persepsi dan aspek lain dari perilaku.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada zaman modern ini banyak ibu yang memilih melakukan

BAB I PENDAHULUAN. Pada zaman modern ini banyak ibu yang memilih melakukan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada zaman modern ini banyak ibu yang memilih melakukan persalinan dengan operasi atau sectio caesarea hal ini disebabkan karena ibu memandang persalinan dengan sectio

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1 Surat persetujuan komite etik FK-USU

LAMPIRAN 1 Surat persetujuan komite etik FK-USU 168 LAMPIRAN 1 Surat persetujuan komite etik FK-USU 169 LAMPIRAN 2 LEMBAR PENJELASAN KEPADA PENDERITA/ KELUARGA Assalamualaikum Wr. Wb./ Selamat pagi Bapak/ Ibu Yth, Saat ini saya, dr. Kiking sedang melakukan

Lebih terperinci