BAB II PSIKOLOGI SOSIAL

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II PSIKOLOGI SOSIAL"

Transkripsi

1 BAB II PSIKOLOGI SOSIAL 1. Pengertian Psikologi Sosial Seperti halnya psikologi, maka psikologi sosial merupakan juga suatu ilmu pengetahuan baru, dalam arti baru saja timbul di dalam abad modern. Ilmu ini mulai dirintis pada tahun 1930 di Amerika Serikat, dan kemudian juga di negara-negara lain. Psikologi Sosial masih dalam tahap pembentukan meskipun masalahnya sudah ada sejak adanya manusia. Dorongan kegiatan dihadapinya dalam masalah-masalah praktis. Masalah-masalah itu bergerak sekitar kelompok-kelompok manusia, organisasi-organisasi, kepemimpinan dan pengikut-pengikutnya, moral, hubungan kekuasaan dan saluran komunikasi. Psikologi sosial merupakan perkembangan ilmu pengetahuan yang baru dan merupakan cabang dari ilmu pengetahuan psikologi pada umumnya. Ilmu tersebut menguraikan tentang kegiatan-kegiatan manusia dalam hubungannya dengan situasisituasi sosial, seperti situasi kelompok, situasi massa dan sebagainya; termasuk di dalamnya interaksi antar orang dan hasil kebudayaannya. Interaksi ini baik antar individu dengan individu, individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok dapat berjalan lancar dapat pula tidak. Interaksi akan berjalan lancar bila masingmasing pihak memiliki penafsiran yang sama atas pola tingkah lakunya, dalam suatu struktur kelompok sosial. Masing-masing pihak telah mempelajari perangsang serta respon mana yang harus dipilih dan dihindarkan. Dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat kita misalnya, umum sudah memahami bahwa dua individu yang saling berkenalan atau dua sahabat lama yang saling bertemu akan berjabat tangan. Pola interaksi ini berjalan lancar karena memiliki persamaan dalam penafsiran. Dan pola interaksi ini akan menjadi lain bila di antara mereka itu berasal dari lingkungan masyarakat yang tidak mengenal jabat tangan sebagai simbol berkenalan atau keakraban. Pola tingkah laku yang hidup dalam lingkungan masyarakat yang terbatas kemungkinan berbeda dengan pola tingkah laku masyarakat yang lebih luas.

2 Tingkah laku individu yang timbul dalam kontek sosial atau lingkungan sosial inilah yang akan dipelajari oleh Psikologi Sosial. Berdasarkan gambaran tersebut dikemukakan beberapa definisi psikologi sosial sebagai berikut: a. Panitia istilah Pedagogik yang tercantum dalam kamus Pedagogik: Psikologi sosial ialah ilmu jiwa yang mempelajari gejala-gejala psikis pada massa, bangsa, golongan, masyarakat dan sebagainya. Lawannya: Psikologi individu (orang-seorang). b. Hubert Bonner dalam bukunya Social Psychology mengatakan Psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia. Di sini Bonner lebih menitik beratkan pada tingkah laku individu, bukan tingkah laku sosial. Tingkah laku itulah yang pokok, yang menjadi sasaran utama dalam mempelajari psikologi sosial. c. A.M. Chorus dalam bukunya Grondsiagen der sociale Psikologie merumuskan: Psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku individu manusia sebagai anggota suatu masyarakat. Dalam rumusan ini Chorus menekankan adanya tingkah laku individu dalam hubungannya sebagai anggota masyarakat. Rupa-rupanya Chorus menyadari bahwa tiap-tiap manusia tidak bisa lepas dari hubungan masyarakat. Tidak mungkin manusia hidup normal, apabila ia hidup di luar masyarakat. Bahkan Aristoteles mengatakan: bahwa makhluk hidup yang tidak hidup dalam masyarakat adalah ia sebagai seorang Malaikat atau seekor hewan. Itulah sebabnya Chorus membuat rumusan yang berbeda-beda dengan Bonner. d. Sherif & Sherif dalam bukunya An Outline of Social Psychology memberikan definisi: Social psychology is the behavior of the individuals in relation to social stimulus situations. Psikologi sosial ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman dan tingkah laku individu manusia dalam hubungannya dengan situasi-situasi perangsang sosial. Dalam hal ini Sherif & Sherif menghubungkan antara tingkah laku dengan situasi perangsang sosial, perangsang mana sudah barang tentu erat sekali hubungannya antara manusia dengan masyarakat. e. Roueck and Warren dalam bukunya Sociology mendefinisikan: Psikologi sosial ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari segi-segi psikologis daripada tingkah laku manusia, yang dipengaruhi oleh interaksi sosial. Dalam definisi tersebut lebih menitik beratkan adanya interaksi manusia yang nyata-nyata sangat mempengaruhi tingkah laku manusia. Rupa-rupanya ada

3 persamaan pandangan dengan Chorus, yaitu tentang adanya hubungan yang erat antara individu dengan masyarakat. f. Boring, Langveld, Weld dalam bukunya Foundations of Psychology mengutarakan: Psikologi sosial ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari individu manusia dalam kelompoknya dan hubungan antara manusia dengan manusia. g. Kimball Young (1956) Psikologi sosial adalah studi tentang proses interaksi individu manusia. h. Krech, Cruthfield dan Ballachey (1962) Psikologi sosial adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku individu di dalam masyarakat. i. Joseph E. Mc. Grath (1965) Psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki tingkah laku manusia sebagaimana dipengaruhi oleh kehadiran, keyakinan, tindakan dan lambang-lambang dan orang lain. j. Gordon W. Ailport (1968) Psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang berusaha mengerti dan menerangkan bagaimana pikiran, perasaan dan tingkah laku individu dipengaruhi oleh kenyataan, imajinasi, atau kehadiran orang lain. k. Secord dan Backman (1974) Psikologi sosial adalah ilmu yang mempelajari individu dalam kontek sosial. l. W.A. Gerungan Ilmu jiwa adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari dan menyelidiki: pengalaman dan tingkah laku individu manusia seperti yang dipengaruhi atau ditimbulkan oleh situasi-situasi sosial. Pandangan para ahli ini kiranya juga tidak berbeda jauh dengan pandanganpandangan sebelumnya. Bahkan mereka tidak saja menganggap adanya hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan kelompoknya, tetapi juga hubungan antara kelompok dengan kelompok. Nyatalah kiranya bahwa tiap-tiap ahli psikologi sosial mempunyai pandangan rumusan sendiri-sendiri. Namun demikian tidaklah berarti bahwa masing-masing rumusan itu bertentangan satu sama lain, tetapi semuanya saling isi mengisi dan saling melengkapi. Dan rumusan-rumusan tersebut di atas dapatlah kita simpulkan secara bulat bahwa:

4 Psikologi sosial adalah suatu studi ilmu ilmiah tentang pengalaman dan tingkah laku individu-individu dalam hubungnnnya dengan situasi sosial. Atau dapat kita singkatkan: Ilmu yang mempelajari individu sebagai anggota kelompok. Dengan demikian akan jelas bagi kita apa yang akan dipelajari dalam lapangan psikologi sosial itu. Membicarakan psikologi sosial tidak dapat terlepas dari pembicaraan individu dalam hubungannya dengan situasi-situasi sosial. Masalah pokok dalam psikologi sosial adalah pengaruh sosial (social influence). Pengaruh sosial inilah yang akan mempengaruhi tingkah laku individu. Berdasarkan inilah maka psikologi sosial didefinisikan sebagai: Ilmu yang mempelajari dan menyelidiki tingkah laku. individu dalam hubungannya dengan situasi perangsang sosial. 2. Latar Belakang Timbulnya Psikologi Sosial Berikut ini dipaparkan sejarah perkembangan psikologi sosial secara singkat, yang dipelopori oleh beberapa tokoh yang mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan psikologi sosial. Tokoh-tokoh tersebut antara lain: a. Gabriel Tarde ( ) Seorang sosiolog dan kriminolog Perancis yang dianggap pula sebagai Bapak Psikologi Sosial (Social Interaction). Tarde berpendapat bahwa semua hubungan sosial (social interaction) selalu berkisar pada proses imitasi; bahkan semua pergaulan antar manusia itu hanyalah semata-mata berdasarkan atas proses imitasi itu. Menilik katanya, imitasi berasal dari bahasa Inggris to imitate yang berarti: frilow the example ofi take as a model or pattern, yang kalau diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia secara bebas berarti mencontoh mengikuti suatu pola. Istilah imitasi ini secara populer diartikan sebagai meniru. Imitasi itu dalam masyarakat melalui suatu proses perkembangan, adapun prosesnya meliputi tahapan berikut: (1). Timbulnya gagasan-gagasan, penemuan-penemuan baru yang biasanya dirumuskan oleh individu yang berbakat tinggi. (2). Gagasan-gagasan atau penemuan baru kemudian diimitasi dan disebarluaskan oleh orang banyak di dalam masyarakat, sehingga seolah-olah dalam masyarakat terdapat suatu arus imitasi. Demikian seterusnya dan arus imitasi itu timbullah gagasangagasan atau penemuan-penemuan baru.

5 b. Gustave le Bon ( ) Terkenal dengan sumbangannya dalam lapangan Psikologi massa. Yang dimaksud dengan massa ialah kumpulan orang satu sama lain untuk sementara waktu karena minat atau kepentingan bersama. Cortoh: para penonton pertandingan olah raga, sepakbola dan sebaginya. Le Bon mengatakan bahwa massa itu mempunyai suatu jiwa tersendiri yang berlainan sifatnya dengan sifat-sifat jiwa individu. Jadi seorang individu yang tergabung dalam massa itu akan bertingkah laku secara berlainan dibandingkan dengan tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari sebagai individu. Adapun sifat massa itu lebih impulsif, Iebih mudah tersinggung, ingin bertindak dengan segera dan nyata lebih mudah terbawa-bawa oleh sentimen, kurang rasionil lebih mudah dipengaruhi (sugestibel), lebih mudah mengimitasi dan sebagaina. Sehingga dapat disimpulkan bahwa menurut Le Bon pada manusia terdapat dua macam jiwa, yaitu jiwa individu dan jiwa massa yang masingmasing berlainan sifatnya. Jiwa massa lebih bersifat primitif (buas tidak rasionil, penuh sentimen daripada sifat-sifat jiwa individu. Pendapat Le Bon tersebut ternyata banyak menimbulkan kritik terutama pandangannya terhadap massa. Jiwa massa dianggapnya banyak mengandung sifat-sifat negatif pada hal sebenarnya anggapan itu tidak selalu benar seluruhnya, sebab massa dapat membangun secara konstruktif serta dapat mendorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang susila. Contoh: kesatuan-kesatuan aksi massa dan lain-lain. c. Sigmund Freud ( ) Seorang ahli psikologi, sekaligus Bapak Psiko-analisa, juga sebagai psikiater Austria yang ternama. Seirama dengan Gustave Le Bon, ia berpendapat bahwa jiwa manusia itu rnempunyai sifat-sifat khusus yang berlainan dengan sifatsifatjiwa individu. Berlainan dengan Le Bon, ia berpendapat bahwa jiwa massa itu sebenarnya sudah terdapat dan tercakup oleh jiwa individu. Hanya saja sering tidak disadari oleh manusia itu sendiri, karena memang dalam keadaan terpendam. Pendapat mi sesuai dengan prinsip Ilmu Jiwa dalam yang dibinanya. Baru setelah berada dalam

6 situasi massa, maka sifat-sifat yang terpendam tersebut seolah-olah diajak untuk mengatakan dirinya dengan leluasa, sehingga tampaklah jiwa massa yang sebelumnya tidak terduga-duga itu. Sudah barang tentu pendapat Freud tersebut mengandung kelemahan. Salah satu kelemahannya ialah bahwa tinjauan Freud mengenai jiwa massa hanya dan segi yang negatif, segi yang tidak baik. Padahal pada jiwa massa terkandung pula sifatsifat yang positif, sifat-sifat yang baik antara lain: sifat rela berkorban, suka membantu dan lain sebagainya. d. Emile Durkheim ( ) Sebagai seorang tokoh sosiologi, ia berpendapat bahwa: 1. Gejala-gejala sosial yang terdiri dalam masyarakat itu tidak dapat dibahas oleh psikologi, melainkan hanya oleh sosiologi. Adapun alasannya ialah bahwa yang mendasari gejala-gejala sosial itu adalah suatu kesadaran kolektif dan bukan kesadaran individuil. 2. Masyarakat itu terdiri atas kelompok-kelompok manusia yang hidup secara kolektif dengan pengertian-pengertian dan tanggapan-tanggapan kolektif pula. Dan hanya dengan kehidupan kolektif itulah yang dapat menerangkan gejalagejala sosial. 3. Bahwa manusia terdapat dua macam jiwa, seperti yang dikemukakan oleh Le Bon, yaitu jiwa kelompok (group mind) dan jiwa individu (individu mind). Kritik yang ditujukan atas pendapat Durkheim tersebut meliputi hal-hal dibawah ini: a. Berat sebelah, artinya sangat menitik beratkan pada peranan jiwa kolektif. b. Fantastis, artinya pendapat mengenai jiwa kolektif hanya suatu lamunan, khayalan saja yang sukar dibuktikan oleh kehidupan nyata. e. William James & Charles H. Cooley (hidup diawal abad 20) Mereka berpendapat bahwa perkembangan individu itu berhubungan erat dengan perkembangan masyarakat di sekitarnya. Ciri-ciri dan tingkah laku individu tidak mudah dimengerti jika tidak dikaitkan dalam hubungannya dengan orang-orang lain di dalam kelompok itu, sebab sejak dilahirkan individu itu sudah beninteraksi sosial dengan orang lain, misalnya dengan orang tuanya, keluarganya, kawankawan sepermainan yang kesemuanya ini akan memupuk perkembangan

7 individuil serta keseimbangan pribadi sebaik-baiknya. Bahkan Cooley menambahkan self-concept seseorang individu merupakan refleksi dan konsepkonsep orang lain. f. Kurt Lewin (meninggal tahun T966) Beliau menjadi terkenal karena pembinaannya dalam lapangan psikologi moderm yang disebut Typological Psychology atau Field Psikologi. Pokok pikiran Field Psychology adalah bahwa bagaimanapun dan bilamanapun manusia itu hidup dalam suatu field (lapangan). Jadi yang dimaksud dengan field adalah suatu lapangan kekuatan physis maupun psychis yang senantiasa berubah menurut situasi kehidupannya. Oleh karena itu uraian mengenai tingkah laku manusia harus pula memperhatikan kekuatan-kekuatan yang bekerja terhadapnya dalam lapangan yang berubah-ubah itu. Kesimpulan Kurt Lewin tersebut merupakan kesimpulan ekperimental, sebab ditarik oleh ekperimen yang dilakukan bersama-sama dengan Lippit dan White (1939). Penelitian mereka atas tiga kelompok yang dipimpin dengan pola kepemimpinan yang berbeda ternyata mampu menghasilkan pengaruh yang berlainan pula terhadap suasana kerja dan cara-cara bertingkah laku dalam kelompoknya masing-masing. Selanjutnya perlu diketahui, bahwa psikologi sosial mulai berkembang setelah Perang Dunia 1. Kejadian mi diikuti oleh meluasnya komunisme, depresi ekonomi pada tahun 1930, munculnya Hitler, kekacauan diantara ras, dan Perang Dunia II yang merangsang lahirnya cabangcabang ilmu sosial. Kemunculan itu berupaya untuk menjawab berbagai pertanyaan yang muncul karena situasi di atas. Psikologi sosial sendiri diharapkan pada berbagai masalah yang memerlukan jawaban dan penjelasan. Masalah-masalah itu adalah masalah-masalah yang berhubungan dengan gejala-gejala kepemimpinan, pendapat umum (public opin ion), propaganda, prasangka sosial, perubahan sikap, komunikasi, pembuatan keputusan, hubungan ras serta konflik nilai. Beberapa kejadian sejarah penting dalam perkembangan psikologi sosial dapatlah di petakansebagai berikut (John H. Harvery dan William P. Smith, 1977 :4):

8 Tahun 1897: Eksperimen dalam bidang psikologi sosial yang pertama dilakukan oleh triplett. Eksperimen ini bermaksud meneliti pada kecepatan pengendara sepeda dengan hadirnya pengendara sepeda (motor) lain didepannya. Ternyata kecepatan ditemukan meningkat dengan hadirnya pengendara lain di depannya. Tahun 1908: Buku pertama tentang psikologi sosial secara bersamaan dikeluarkan oleh Mc. Dougall dan Ross. Buku Mc. Dougall menekankan peranan instrink dalam tingkah laku sosial, sedangkan buku Ross pada peranan imitasi (peniruan) dan Group mind di dalam tingkah laku sosial. Tahun 1921: Terbitlah The journal of Abnormal and social psychology yang banyak memuat laporan penelitian di lapangan. Pada tahun 1965 Journal itu dipisahkan ke dalam Journal of Abnormal Psychology dan Journal of personality and sosial psychology. Tahun : Selama periode ini tekanan diletakan pada pengukuran sikap dalam Psikologi sosial. Tokoh-tokoh yang mengembangkan validitas, skala reliabilitas untuk mengukur sikap adalah Bogardus (1924), Thurstone (1928), Likert (1932), dan Guttman (1950). Juga selama periode ini Moreno (1934) mengembangkan teknik sociometri untuk mengukur ketertarikan antar individu (inter personal attraction). Tahun 1945: Lewin mendirikan Pusat Riset untuk Dinamika Kelompok (Research Center for Group Dynamics) di institut Pusat Teknologi Massachusatts. Pendirian ini berarti pendekatan eksperimental dalam Psikologi sosial. Banyak para tokoh senior dalam psikologi sosial sekarang ini yang memulai pekerjaan mereka dengan Lewin Pusat Riset ini. Sesudah Lewin meninggal pada tahun 1947 Pusat Riset ini pindah ke tempat yang sekarang yaitu Universitas Mechigan.

9 Akhir 1950 dan 1960: Selama periode ini Psikologi Sosial tumbuh secara aktif. Progam gelar dalam Psikologi dimulai di sebagian besar universitas. 3. Dasar Mempelajari Psikologi Sosial Dalam kehidupan manusia merupakan makhluk tertinggi di antara makhlukmakhluk lain ciptaan Tuhan. Kelebihan manusia dan makhluk- makhluk yang lain terutama karena kecerdasan dan kemauan yang dimilikinya dan kesadara terhadap Tuhan zat Yang Maha Tinggi/pencipta dirinya dan seluruh alam semesta. Karena kecerdasan dan kemauan yang dimiliki manusia tersebut manusia mampu menguasai alam, menaklukkan makhluk yang lebih kuat dari padanya dan sebagai homo Faber manusia mampu menciptakan segala sesuatu untuk kesempurnaan dirinya. Manusialah satu-satunya makhluk yang berbudaya yang selalu berkembang ke arah yang lebih baik dan paling dapat menyesuaikan diri terhadap tuntutan alam dengan sebaik-baiknya. Oleh karena ditinjau dari segi kebutuhannya, manusia adalah makhluk monodualis artinya di samping manusia membutuhkan sesuatu untuk kelangsungan hidupnya sebagaimana makhluk biologis yang lain, manusia juga membutuhkan hasil kebudayaan untuk pertahanan dan perkembangan hidupnya, sehinga tidak tertelan oleh tuntutan alam dan kemajuan zaman, justru sebaliknya dapat memperkembangkan dan menyempurnakan hidupnya ke derajat yang lebih tinggi. Kesemuanya itu bisa tercapai karena potensi-potensi yang dimiliki manusia, di mana potensi ini mengalami proses perkembangan setelah individu itu hidup dalam lingkungan masyarakat. Potensi-potensi tersebut antara lain: 1. Kemampuan menggunakan bahasa Kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa ini hanyalah semata-mata terdapat pada manusia dalam pengertian, bisa merubah menambah dan mengambangkan bahasa yang digunakan. Pada binatang memang ada tetapi masih sangat sederhana sekali dan terbatas pada bunyi suara yang merupakan isyarat atau tanda-tanda.

10 2. Adanya sikap etik Dalam setiap masyarakat pasti ada peraturan/norma-norma yang mengatur tingkah laku anggota-anggotanya baik itu di masyarakat modern maupun di masyarakat yang masih terbelakang sekalipun norma-norma tersebut merupakan ketentuan apakah suatu perbuatan itu dipandang baik atau buruk. Norma-norma tersebut tidak selalu sama antara masyarakatyang satu dengan masyarakat yang lain sesuai dengan adat kebiasaan, agama dan perkembangan kebudayaan pada umumnya dimana dia hidup. Individu sebagai anggota masyarakat berusaha untuk berbuat sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat karena adanya sikap etik yang dimilikinya. Namun demikian sesuai dengan tuntutan kebadayaan manusia berusaha untuk menyempurnakan norma-norma yang telah ada. 3. Hidup dalam alam 3 dimensi Artinya manusia maupun hidup atas dasar 3 waktu. Tingkah laku manusia didasarkan pada pengalaman yang lampau, kebutuhan-kebutuhan sekarang dan tujuan yang akan dicapai pada masa yang akan datang. Pengalamanpengalaman masa lalu merupakan pegangan bagi perbuatan-perbuatannya masa sekarang, sehingga kesalahan yang sama tidak akan selalu terulangulang. Pengalaman-pengalaman yang tidak baik diingat untuk tidak diperbuat lagi sedang pengalaman yang baik dipegang untuk pedoman dalam aktifitasaktifitasnya masa kini sedangkan aktifitas-aktifitas masa kini di arahkan untuk mencapai tujuan selanjutnya,dengan sebaik-baiknya. Dengan perkataan lain manusia dapat merencanakan apa yang akan diperbuat dan apa yang akan dicapai. Ketiga pokok di atas biasa pula di sebut sebagai syarat human minimum. Dengan demikian yang tidak memenuhi human minimum ini dengan sendirinya sukar digolongkan sebagai masyarakat manusia. Ditinjau dan sifat manusia sebagai makhluk monopluralis artinya di samping sebagai makhluk individul juga sebagai makhluk sosial dan makhluk berketuhanan. Atas dasar sifat-sifat manusia tersebut, Dr. A. Kuypers menggolongkan kegiatan manusia menjadi 3(tiga) golongan utama yang hakiki, ialah kegiatan yang bersifat individual, kegiatan yang bersifat sosial dan kegiatan yang bersifat ketuhanan.

11 Manusia sebagai makhluk individual, berarti manusia itu merupakan suatu totalitas. Individu berasal dari kata in-dividere, yang berarti tidak dapat dipecahpecah. Memang ada beberapa pandangan tentang hal ini, misalnya Aristoteles berpendapat bahwa manusia itu merupakan penjumlahan daripada beberapa kemampuan tertentu yang masing-masing bekerja tersendiri, seperti kemampuan vegetatif: makan, berkembang biak, kemampuan sensitif (bergerak mengamati dan mempunyai nafsu), dan kemampuan intelektif (berkemauan dan berkecerdasan). Descartes menyatakan bahwa manusia itu terdiri atas zat-zat rohaniah ditambah zat material yang masing-masing tunduk pada peraturan-peraturan tertentu yang kadang-kadang bertentangan. Dengan demikian kita melihat bahwa pada manusia itu masih terdapat adanya dualisme, yang tidak saja berbeda tetapi bahkan kadang-kadang berlawanan. Dengan munculnya Wilhelm Wundt, sebagai tokoh aliran ilmu jiwa modern, barulah ada penegasan bahwa jiwa manusia itu merupakan satu kesatuan jiwa dan raga yang berkegiatan sebagai keseluruhan. Dalam pembahasan ilmu jiwa sosial, yang menjadi pokok pembahasan, dengan tidak mengabaikan segi individulnya, karena tanpa memperhatikan segi individul tersebut akan sukarlah diperoleh pengertian yang sewajarnya, adalah manusia sebagai makhluk sosial. Sejak manusia dilahirkan selalu membutuhkan bantuan orang lain, ia memerlukan bantuan untuk makan, minum, dan memenuhi kebutuhan biologisnya. Demikian pula setelah bertumbuh lebih besar, anak belajar berbicara, berjalan, mengenal benda-benda, normal dan sebagainya selalu membutuhkan pertolongan dan bantuan orang-orang sekitarnya. Pada pokoknya tak mungkin manusia hidup sendiri tanpa adanya komunikasi dengan manusia lainnya. Manusia baru menjadi manusia yang sebenarnya kalau ia hidup bersama manusia juga. Dengan kata lain, pada dasarnya pribadi manusia tak sanggup hidup seorang diri tanpa lingkungan psychis atau rohaniahnya walaupun secara biologis-fisiologis ia mungkin dapat mempertahankan dirinya.

12 Justru dalam interaksi antar manusia itulah sebenarnya, manusia dapat merealisir kehidupan secara individul. sebab tanpa adanya timbal balik dalam interaksi sosial itu dia tidak dapat mereali kemungkinan-kemungkinan serta potensi-potensi yang ada padanya sebagai makhluk individu. Dalam kehidupan bersama ini pula individu akan turut membentuk norma-norma kelompok/norma-norma sosial. Selain itu dalam kehidupan sosial tadi individu bukan hanya akan mendapat kesempatan untuk mengembangkan kecakapannya, tapi masyarakat itu juga membutuhkan sumbangan. Atas dasar uraian-uraian di atas maka sudah seharusnya manusia mengabdi kepada kehidupan bersama dan meningkat kehidupan bersama tersebut ke arah yang lebih tinggi, karena meningkatnya kehidupan masyarakat merupakan pula pendorong untuk meningkatkan diri pribadi dan memberikan kesempatan yang lebih besar untuk mengembangkan kecakapan sera potensi yang ada pada dirinya. Untuk maksud itu ilmu jiwa sosial merupakan salah satu ilmu yang sangat penting sebab ilmu jiwa sosial memberikan dasar-dasar pengertian tentang gejalagejala kejiwaan dan tingkah laku individu dalam situasi sosial; dengan demikian akan memudahkan dalam meng-approach masyarakat untuk mengadakan perubahan-perubahan dan pengarahan kepada suatu tujuan dengan sebaikbaiknya. Di samping itu dengan mempelajari ilmu jiwa sosial maka kita tidak akan mudah terpengaruh dan terbawa-bawa oleh situasi yang ada dalam masyarakat,tidak mudah tersugesti oleh gerakan-gerakan massa yang tidak selamanya baik. Dengan bantuan ilmu ini pula memungkinkan kita untuk memecahkan suatu problema sosial secara tepat dan sistematis, mengenai semua proses kejiwaan yang mengakibatkan kehidupan bersama utuk merubah manusia-manusia lama menjadi manusia baru sesuai dengan manusia itu sendiri, maka salah satu cara yang dapat dilaksanakan ialah dengan merubah sifat dan sikap sosialnya; caracara demikian dipelajari pula dalam ilmu sosial.

BAB II LANDASAN TEORI. Dengan demikian, istilah ilmu jiwa merupakan terjemahan harfiah dari

BAB II LANDASAN TEORI. Dengan demikian, istilah ilmu jiwa merupakan terjemahan harfiah dari BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Psikologi Sosial Kata psikologi mengandung kata psyche yang dalam bahasa Yunani berarti jiwa dan kata logos yang dapat diterjemahkan dengan kata ilmu. Dengan demikian, istilah

Lebih terperinci

Paket 14 PSIKOLOGI SOSIAL

Paket 14 PSIKOLOGI SOSIAL Paket 14 PSIKOLOGI SOSIAL Pendahuluan Paket 14 berfokus pada pembahasan psikologi sosial. Pembahasan psikologi sosial pada paket ini ditekankan pada pengertian, ruang lingkup, tujuan, konsep dasar, dan

Lebih terperinci

DIPLOMA PSIKOLOGI ISLAM DAN KAUNSELING. WPK 1213 Psikologi Dakwah

DIPLOMA PSIKOLOGI ISLAM DAN KAUNSELING. WPK 1213 Psikologi Dakwah DIPLOMA PSIKOLOGI ISLAM DAN KAUNSELING WPK 1213 Psikologi Dakwah Hubungan Psikologi dakwah Sosiologi Hubungan Psikologi dakwah dengan Psikologi Sosial Minggu 4 Pensyarah: Ustazah Dr Nek Mah Bte Batri PhD

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Karya Sastra 2.1.1 Definisi Karya Sastra Karya sastra adalah karya estetis yang berupa rangkaian kata indah, hasil aspirasi, imajinasi, dan kreatifitas yang memiliki fungsi untuk

Lebih terperinci

KONSEP INTERAKSI KOMUNIKASI PENDAHULUAN

KONSEP INTERAKSI KOMUNIKASI PENDAHULUAN KONSEP INTERAKSI KOMUNIKASI PENDAHULUAN Keterampilan berkomunikasi merupakan suatu kemampuan yang harus dimiliki oleh setiap individu. Melalui komunikasi individu akan merasakan kepuasan, kesenangan atau

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PEMBELAJARAN (SAP)

SATUAN ACARA PEMBELAJARAN (SAP) SATUAN ACARA PEMBELAJARAN (SAP) Mata Kuliah : Psikologi Sosial 1 Kode Mata Kuliah : PSI-1221 Jumlah SKS : 3 Waktu Pertemuan : 300 menit Kompetensi Dasar : 1. Penguasaan teori Psikologi Sosial 2. Pemahaman

Lebih terperinci

Modul ke: PSIKOLOGI SOSIAL 2. Pengantar Perkuliahan. Fakultas PSIKOLOGI. Filino Firmansyah M. Psi. Program Studi Psikologi

Modul ke: PSIKOLOGI SOSIAL 2. Pengantar Perkuliahan. Fakultas PSIKOLOGI. Filino Firmansyah M. Psi. Program Studi Psikologi Modul ke: 01 Fakultas PSIKOLOGI PSIKOLOGI SOSIAL 2 Pengantar Perkuliahan Filino Firmansyah M. Psi Program Studi Psikologi Tujuan Pembelajaran Mengerti tentang konsep dasar dan prinsip umum dari perilaku

Lebih terperinci

Pengantar Psikologi Sosial. Pertemuan 1

Pengantar Psikologi Sosial. Pertemuan 1 Pengantar Psikologi Sosial Pertemuan 1 Penjelasan perkuliahan Kesepakatan tata tertib Penjelasan bahan bacaaan/referensi Penjelasan sistem dan proporsi penilaian Nama Mata Kuliah : Psikologi Sosial I Kode

Lebih terperinci

BAB II INTERAKSI SOSIAL

BAB II INTERAKSI SOSIAL BAB II INTERAKSI SOSIAL A. Pengertian Barangkali sudah menjadi hukum alam yang tidak dapat kita pungkiri, bahwa kehidupan individu tidak akan lepas dari situasi lingkungannya. Tegasnya, individu itu tidak

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, suatu metode analisis dengan penguraian secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ijime adalah kata yang sering terdengar di Jepang. Banyak terjadi kasus ijime di Jepang yang akhirnya menyebabkan korban dari ijime itu sendiri memutuskan untuk mengakhiri

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT, MANUSIA, DAN PENDIDIKAN

HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT, MANUSIA, DAN PENDIDIKAN MAKALAH HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT, MANUSIA, DAN PENDIDIKAN Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan SD Disusun Oleh: -----CONTOH----- PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS

Lebih terperinci

August Comte Selo Soemardjan Soelaeman Soemardi

August Comte Selo Soemardjan Soelaeman Soemardi PENGANTAR SOSIOLOGI 1. Pengertian Dasar Sosiologi berasal dari kata latin socius dan kata yunani yaitu logos. Socius berarti kawan atau teman; Logos berarti pengetahuan. Maka sosiologi berarti pengetahuan

Lebih terperinci

Pengertian Psikologi

Pengertian Psikologi 1 Pengertian psyche Pengertian Psikologi Psikologi berasal dari kata Yunani psyche yang artinya jiwa. Logos berarti ilmu pengetahuan. Jadi secara etimologi psikologi berarti : ilmu yang mempelajari tentang

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORETIS DAN HIPOTESIS. orang lain dalam proses interaksi. Interaksi sosial menghasilkan banyak bentuk

BAB II KAJIAN TEORETIS DAN HIPOTESIS. orang lain dalam proses interaksi. Interaksi sosial menghasilkan banyak bentuk 5 BAB II KAJIAN TEORETIS DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Teoretis 2.1.1 Pengertian Interaksi Sosial Manusia dalam kehidupannya tidak dapat hidup sendiri tanpa orang lain. Manusia adalah makhluk sosial yang sepanjang

Lebih terperinci

Carl Rogers, Abraham Maslow

Carl Rogers, Abraham Maslow Ursa Majorsy Mazhab Humanistik 3 Carl Rogers, Abraham Maslow Psikologi Umum 1 Aliran humanistik muncul pada tahun 1940-an sebagai reaksi ketidakpuasan terhadap pendekatan psikoanalisa dan behavioristik.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai mahluk sosial, manusia senantiasa hidup bersama dalam sebuah

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai mahluk sosial, manusia senantiasa hidup bersama dalam sebuah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sebagai mahluk sosial, manusia senantiasa hidup bersama dalam sebuah masyarakat. Manusia senantiasa berhubungan dengan manusia lain untuk memenuhi berbagai

Lebih terperinci

ALIRAN FUNGSIONALISME

ALIRAN FUNGSIONALISME ALIRAN FUNGSIONALISME Aliran fungsionalisme merupakan aliran psikologi yang pernah sangat dominan pada masanya, dan merupakan hal penting yang patut dibahas dalam mempelajari psikologi. Pendekatan fungsionalisme

Lebih terperinci

Psikologi Fungsionalisme

Psikologi Fungsionalisme Modul ke: Psikologi Fungsionalisme Tokoh dan perebedaan dengan strukturalisme Fakultas Psikologi Ainul Mardiah, M.Sc Program Studi Psikologi Sejarah Aliran Fungsionalisme Fungsionalisme adalah aliran psikologi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang bebas mengungkapkan semua ide dan ktreatifitasnya agar pembaca dapat menangkap

BAB I PENDAHULUAN. yang bebas mengungkapkan semua ide dan ktreatifitasnya agar pembaca dapat menangkap BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Sastra adalah sebuah media bagi pengarang untuk menuangkan ide kreatif dan imajinasinya. Dalam menciptakan sebuah karya kreatif, seorang pengarang menjadi

Lebih terperinci

BAHAN AJAR / MATERI PELENGKAP MODUL DIKLAT KEPEMIMPINAN TK. III DINAMIKA KELOMPOK. Oleh :

BAHAN AJAR / MATERI PELENGKAP MODUL DIKLAT KEPEMIMPINAN TK. III DINAMIKA KELOMPOK. Oleh : BAHAN AJAR / MATERI PELENGKAP MODUL DIKLAT KEPEMIMPINAN TK. III DINAMIKA KELOMPOK Oleh : BADAN PENGEMBANGAN SDMD PROVINSI JAWA TENGAH 2017 1 A. DESKRIPSI SINGKAT Mata diklat Dinamika Kelompok dimaksudkan

Lebih terperinci

RESUME MATA KULIAH DASAR-DASAR KEPENDIDIKAN

RESUME MATA KULIAH DASAR-DASAR KEPENDIDIKAN RESUME MATA KULIAH DASAR-DASAR KEPENDIDIKAN I. HAKIKAT MANUSIA DAN PENGEMBANGANNYA A. Hakikat Manusia Dengan Pengembangannya 1. Dimensi Individual Manusia dalam hal ini adalah mahluk perorangan, manusia

Lebih terperinci

PSIKOLOGI KOMUNIKASI. Ruang Lingkup Psikologi. Komunikasi. Oni Tarsani, S.Sos.I., M.Ikom. Komunikasi. Modul ke: Fakultas Ilmu

PSIKOLOGI KOMUNIKASI. Ruang Lingkup Psikologi. Komunikasi. Oni Tarsani, S.Sos.I., M.Ikom. Komunikasi. Modul ke: Fakultas Ilmu PSIKOLOGI KOMUNIKASI Modul ke: 01 Fakultas Ilmu Komunikasi Ruang Lingkup Psikologi Komunikasi Oni Tarsani, S.Sos.I., M.Ikom Program Studi Public Relation www.mercubuana.ac.id Psychology: * The science

Lebih terperinci

PERTEMUAN KE 4 POKOK BAHASAN

PERTEMUAN KE 4 POKOK BAHASAN PERTEMUAN KE 4 POKOK BAHASAN A. TUJUAN PEMBELAJARAN Adapun tujuan pembelajaran yang akan dicapai sebagai berikut: 1. Mahasiswa dapat memahami tentang arti interaksi, kontak dan komunikasi. 2. Mahasiswa

Lebih terperinci

ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR (ISBD)

ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR (ISBD) Universitas Negeri Jakarta ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR (ISBD) Unit Pelaksana Teknis UPT MKU UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 2016 Universitas Negeri Jakarta MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU DAN SOSIAL Tujuan Pembelajaran

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. seseorang karena konsep diri merupakan kerangka acuan (frame of reference) dalam

BAB II KAJIAN TEORI. seseorang karena konsep diri merupakan kerangka acuan (frame of reference) dalam BAB II KAJIAN TEORI A. Konsep diri Konsep diri adalah gambaran tentang diri individu itu sendiri, yang terjadi dari pengetahuan tentang diri individu itu sendiri, yang terdiri dari pengetahuan tentang

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. Menurut Syaiful Bahri Djamarah, 2010:105. Pengertian hasil belajar adalah suatu proses

BAB II KAJIAN TEORI. Menurut Syaiful Bahri Djamarah, 2010:105. Pengertian hasil belajar adalah suatu proses BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Pengertian Hasil Belajar Menurut Syaiful Bahri Djamarah, 2010:105. Pengertian hasil belajar adalah suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil

Lebih terperinci

BAB II TINJAUN PUSTAKA. socialnya (action theory), yaitu mengenai tindakan yang dilakukan seseorang

BAB II TINJAUN PUSTAKA. socialnya (action theory), yaitu mengenai tindakan yang dilakukan seseorang BAB II TINJAUN PUSTAKA 2.1 Teori Interaksi Simbolik Untuk mempelajari interaksi sosial digunakan suatu pendekatan yang di kenal dengan pendekatan interaksional simbolik. Salah satu tokoh pelopor teori

Lebih terperinci

BAB III SIKAP (ATTITUDE)

BAB III SIKAP (ATTITUDE) BAB III SIKAP (ATTITUDE) A. Pengertian Sikap atau disebut juga dengan attitude pengertiannya adalah sikap terhadap obyek tertentu yang disertai dengan kecenderungan untuk bertidak sesuai dengan sikap terhadap

Lebih terperinci

PENDAHULUAN PENGANTAR ILMU PENDIDIKAN

PENDAHULUAN PENGANTAR ILMU PENDIDIKAN PENDAHULUAN PENGANTAR ILMU PENDIDIKAN Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Kelompok 1 Pengantar Ilmu Pendidikan Oleh : 1. Abdul Karim K 5410001 2. Bhian Rangga JR K 5410012 3. Hendri Sulistiawan K

Lebih terperinci

PENGANTAR PSIKOLOGI. YENI WIDYASTUTI, S.Sos., M.Si PERTEMUAN I

PENGANTAR PSIKOLOGI. YENI WIDYASTUTI, S.Sos., M.Si PERTEMUAN I PENGANTAR PSIKOLOGI YENI WIDYASTUTI, S.Sos., M.Si PERTEMUAN I Psikologi Apa yang dipelajari psikologi? Ilmu jiwakah? Ilmu tingkah-lakukah? Ilmu ekspresikah? Bagian dari ilmu alam atau ilmu sosialkah? Ilmu

Lebih terperinci

SOSIOLOGI KOMUNIKASI

SOSIOLOGI KOMUNIKASI Modul ke: 10 Fakultas Ilmu Komunikasi SOSIOLOGI KOMUNIKASI MEDIA MASSA DAN PROSES SOSIALISASI Rika Yessica Rahma,M.Ikom Program Studi Penyiaran http://mercubuana.ac.id PENGERTIAN SOSIALISASI Sosialisasi

Lebih terperinci

2015 D AMPAK KEGIATAN EKSTRAKURIKULER PENCAK SILAT TAD JIMALELA TERHAD AP KEBUGARAN JASMANI D AN PERILAKU SOSIAL SISWA SMP NEGERI 1 CILEUNYI

2015 D AMPAK KEGIATAN EKSTRAKURIKULER PENCAK SILAT TAD JIMALELA TERHAD AP KEBUGARAN JASMANI D AN PERILAKU SOSIAL SISWA SMP NEGERI 1 CILEUNYI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu faktor yang penting dalam kehidupan seseorang untuk mengembangkan potensi dirinya, untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,

Lebih terperinci

KOMUNIKASI DAN PEMBELAJARAN. Oleh : Imam Subqi

KOMUNIKASI DAN PEMBELAJARAN. Oleh : Imam Subqi KOMUNIKASI DAN PEMBELAJARAN 1 Oleh : Imam Subqi Tujuan Pendidikan (1) Pendidikan ditujukan untuk mengantarkan para siswa menuju pada perubahan tingkah laku. Perubahan itu tercermin baik dari segi intelek,

Lebih terperinci

A. Sejarah Dinamika Kelompok

A. Sejarah Dinamika Kelompok A. Sejarah Dinamika Kelompok Sejarah dinamika kelompok tidak terpisahkan dari perkembangan psikologi pada umumnya dan psikologi sosial pada khususnya. Oleh karena itu, berikut ini akan di uraiakan sejarah

Lebih terperinci

GEJALA KONASI--MOTIVASI. PERTEMUAN KE 10

GEJALA KONASI--MOTIVASI. PERTEMUAN KE 10 GEJALA KONASI--MOTIVASI PERTEMUAN KE 10 [email protected] MOTIVASI Motivasi adalah sesuatu daya yang menjadi pendorong seseorang bertindak, dimana rumusan motivasi menjadi sebuah kebutuhan

Lebih terperinci

ETIKA DAN FILSAFAT KOMUNIKASI

ETIKA DAN FILSAFAT KOMUNIKASI MODUL PERKULIAHAN ETIKA DAN FILSAFAT KOMUNIKASI Manusia sebagai Pelaku Komunikasi Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh FIKOM Broadcasting Sofia Aunul Abstract Pemahaman komunikasi dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang dikenal dengan istilah adolescence merupakan peralihan dari masa kanakkanak

BAB I PENDAHULUAN. yang dikenal dengan istilah adolescence merupakan peralihan dari masa kanakkanak BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG MASALAH Salah satu fase dalam perkembangan individu adalah masa remaja. Remaja yang dikenal dengan istilah adolescence merupakan peralihan dari masa kanakkanak ke

Lebih terperinci

PSIKOLOGI UMUM. Pertemuan 1

PSIKOLOGI UMUM. Pertemuan 1 PSIKOLOGI UMUM [email protected] Pertemuan 1 Pengertian Psikologi UMUM Berasal dari kata PSIKOLOGI DAN UMUM PSIKOLOGI Berasal dari Kata Yunani Psyche: jiwa Logos: ilmu ; ilmu yang mempelajari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Seiring berjalannya waktu, dunia perfilman telah mengalami perkembangan

BAB I PENDAHULUAN. Seiring berjalannya waktu, dunia perfilman telah mengalami perkembangan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seiring berjalannya waktu, dunia perfilman telah mengalami perkembangan yang pesat saat ini. Film juga telah memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat. Selain

Lebih terperinci

DEFINISIKEPRIBADIANEPRIBADIAN

DEFINISIKEPRIBADIANEPRIBADIAN MANUSIA DAN KEPRIBADIAN DEFINISIKEPRIBADIANEPRIBADIAN Susunan unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah laku atau tindakan dari tiap-tiap individu manusia tersebut. Ciri-ciri watak seseorang

Lebih terperinci

Modul ke: Psikologi Sosial I. Fakultas Psikologi. Intan Savitri,S.P., M.Si. Program Studi Psikologi

Modul ke: Psikologi Sosial I. Fakultas Psikologi. Intan Savitri,S.P., M.Si. Program Studi Psikologi Modul ke: 01 Setiawati Fakultas Psikologi Psikologi Sosial I Intan Savitri,S.P., M.Si. Program Studi Psikologi Perkenalan Setiawati Intan Savitri, S.P. M.Si Mengajar di UMB dua matakuliah: Sosiologi dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam pembentukan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam pembentukan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam pembentukan manusia, karena tujuan yang dicapai oleh pendidikan tersebut adalah untuk terbentuknya kepribadian

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. untuk mencapai tujuan yang ditetapkan (Djamarah dan Zain, 1996:53).

TINJAUAN PUSTAKA. untuk mencapai tujuan yang ditetapkan (Djamarah dan Zain, 1996:53). 11 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Metode Pemberian Tugas Secara etimologi pengertian metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan (Djamarah dan Zain, 1996:53). metode

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Kompetensi Interpersonal 1. Pengertian Kompetensi Interpersonal Menurut Mulyati Kemampuan membina hubungan interpersonal disebut kompetensi interpersonal (dalam Anastasia, 2004).

Lebih terperinci

PSIKOLOGI SOSIAL. Diri sosial (social self)

PSIKOLOGI SOSIAL. Diri sosial (social self) 1 PSIKOLOGI SOSIAL Pengertian Psikologi Sosial Psikologi sosial adalam merupakan cabang ilmu dari psikologi yang baru muncul dan intensif dipelajari pada tahun 1930. Secara sederhana objek material dari

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORITIS

BAB II KAJIAN TEORITIS 5 2.1 Pengertian Perilaku BAB II KAJIAN TEORITIS Perilaku adalah respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus dari luar oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya interaksi antara individu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sesuai kodratnya manusia adalah makhluk pribadi dan sosial dengan

BAB I PENDAHULUAN. Sesuai kodratnya manusia adalah makhluk pribadi dan sosial dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sesuai kodratnya manusia adalah makhluk pribadi dan sosial dengan kebutuhan yang berbeda-beda. Dalam usaha untuk memenuhi kebutuhankebutuhan tersebut manusia memerlukan

Lebih terperinci

PSIKOLOGI UMUM. Lidyasari, M.Pd. Pertemuan 1

PSIKOLOGI UMUM. Lidyasari, M.Pd. Pertemuan 1 PSIKOLOGI UMUM Oleh: Aprilia Tina Lidyasari, M.Pd Pertemuan 1 Pengertian PsikologiUMUM Berasal dari kata PSIKOLOGI DAN UMUM PSIKOLOGI Berasal dari Kata Yunani Psyche: jiwa Logos: ilmu ; ilmuyang mempelajaritentang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menyangkut hubungan antara orang-perorangan, antara kelompok-kelompok

BAB I PENDAHULUAN. menyangkut hubungan antara orang-perorangan, antara kelompok-kelompok BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial (yang juga dapat dinamakan proses sosial) karena interaksi merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas

Lebih terperinci

Proses perkembangan studi ilmu komunikasi dalam beberapa perspektif pemikiran

Proses perkembangan studi ilmu komunikasi dalam beberapa perspektif pemikiran Proses perkembangan studi ilmu komunikasi dalam beberapa perspektif pemikiran 98) (Cangara, 2012 : 73 13 Oktober 2013 TUGAS (Kelas Pagi) Bacalah beberapa poin materi berikut Pilih salah satu tokoh dari

Lebih terperinci

Sejarah dan Aliran Psikologi

Sejarah dan Aliran Psikologi Modul ke: 13 Rizka Fakultas PSIKOLOGI Sejarah dan Aliran Psikologi Psikologi di Jerman Putri Utami, M.Psi Program Studi PSIKOLOGI http://mercubuana.ac.id Psikologi Jerman Sebelum PD II 1879 pertama kali

Lebih terperinci

PENDAHULUAN (MATERI) Pengertian Psikologi Pendakatan dalam Psikologi: Sub disiplin Psikologi Bidang terapan Psikologi

PENDAHULUAN (MATERI) Pengertian Psikologi Pendakatan dalam Psikologi: Sub disiplin Psikologi Bidang terapan Psikologi PENDAHULUAN (MATERI) Pengertian Psikologi Pendakatan dalam Psikologi: Pendekatan Biologi-saraf Pendekatan Perilaku Pendekatan Kognitif Pendekatan Psikoanalitik Pendekatan Phenomenologi Sub disiplin Psikologi

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORETIS DAN HIPOTESIS

BAB II KAJIAN TEORETIS DAN HIPOTESIS BAB II KAJIAN TEORETIS DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Pengertian Interaksi Sosial Menurut Young dan Mack (dalam Walgito 2003:57) interaksi sosial adalah hubunganhubungan sosial yang dinamis dan menyangkut

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA 6 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Metode Diskusi 1. Pengertian Diskusi Dalam kegiatan pembejaran dengan metode diskusi merupakan cara mengajar dalam pembahasan dan penyajian materinya melalui suatu problema atau

Lebih terperinci

Sejarah dan Aliran Psikologi

Sejarah dan Aliran Psikologi Modul ke: 09 Rizka Fakultas PSIKOLOGI Sejarah dan Aliran Psikologi Psikologi Gestalt Putri Utami, M.Psi Program Studi PSIKOLOGI http://mercubuana.ac.id Latar belakang Psikologi Gestalt Saat aliran behaviorisme

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Salah satu tujuan nasional yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 pada alinea ke empat, yaitu mencerdaskan kehidupan anak bangsa. Tujuan ini dicapai melalui

Lebih terperinci

Sosiologi Komunikasi. Teori Peniruan dari Media Massa. Frenia T.A.D.S.Nababan. Modul ke: Fakultas KOMUNIKASI

Sosiologi Komunikasi. Teori Peniruan dari Media Massa. Frenia T.A.D.S.Nababan. Modul ke: Fakultas KOMUNIKASI Modul ke: Sosiologi Komunikasi Teori Peniruan dari Media Massa Fakultas KOMUNIKASI Frenia T.A.D.S.Nababan Program Studi PUBLIC RELATION www.mercubuana.ac.id Bagian Isi Efek Media Massa Tahapan perkembangan

Lebih terperinci

Oleh: Dadang Sukirman Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia

Oleh: Dadang Sukirman Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia PRINSIP PEMBELAJARAN Oleh: Dadang Sukirman Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia A. Kompetensi yang diharapkan: Mahasiswa diharapkan dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. imajinasi, kemudian tercipta suatu pemikiran imajinatif yang akan tercermin lewat

BAB I PENDAHULUAN. imajinasi, kemudian tercipta suatu pemikiran imajinatif yang akan tercermin lewat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karya sastra pada dasarnya mengungkapkan kejadian, namun kejadian tersebut bukanlah fakta yang sesungguhnya melainkan fakta dari hasil pemikiran pengarang. Pengarang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia berinteraksi dengan lingkungannya (Tirtarahardja &Sula, 2000: 105).

BAB I PENDAHULUAN. manusia berinteraksi dengan lingkungannya (Tirtarahardja &Sula, 2000: 105). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia dilahirkan dengan sejumlah kebutuhan yang harus dipenuhi dan potensi yang harus dikembangkan. Dalam upaya memenuhi kebutuhannya itu maka manusia berinteraksi

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Hasil Belajar Hasil belajar merupakan proses perubahan tingkah laku yang meliputi pengetahuan sikap dan keterampilan yang merupakan hasil aktivitas belajar

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. yang representatif dalam suatu alur atau suatu keadaan yang agak kacau atau kusut.

BAB II LANDASAN TEORI. yang representatif dalam suatu alur atau suatu keadaan yang agak kacau atau kusut. BAB II LANDASAN TEORI A. Konsep. 1. Pengertian Novel. Novel atau sering disebut sebagai roman adalah suatu cerita prosa yang fiktif dalam panjang yang tertentu, yang melukiskan para tokoh, gerak serta

Lebih terperinci

Sejarah dan Aliran Psikologi

Sejarah dan Aliran Psikologi Modul ke: Sejarah dan Aliran Psikologi Psikologi sebagai Ilmu yang Berdiri Sendiri Fakultas PSIKOLOGI Rizka Putri Utami, M.Psi Program Studi PSIKOLOGI www.mercubuana.ac.id Awalnya, psikologi adalah ilmu

Lebih terperinci

PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT

PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT 1 PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT Filsafat (Philosophia) : - Philo/Philos/Philein yang berarti cinta/pecinta/mencintai. - Sophia yang berarti kebijakan/kearifan/hikmah/hakekat

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. 2.1 Kecerdasan Interpersonal

BAB II KAJIAN TEORI. 2.1 Kecerdasan Interpersonal 2.1 Kecerdasan Interpersonal BAB II KAJIAN TEORI 2.1.1 Pengertian Kecerdasan Interpersonal Kecerdasan interpersonal bisa dikatakan juga sebagai kecerdasan sosial, diartikan sebagai kemampuan dan keterampilan

Lebih terperinci

SOSIOLOGI DALAM KEPARIWISATAAN

SOSIOLOGI DALAM KEPARIWISATAAN SOSIOLOGI DALAM KEPARIWISATAAN Pada hakekatnya manusia merupakan mahluk sosial. Hal ini dapat dilihat dari kehidupannya yang senantiasa menyukai dan membutuhkan kehadiran manusia lain. Manusia memiliki

Lebih terperinci

Human Relations. Kebudayaan dan Human Relations. Amin Shabana. Modul ke: Fakultas Ilmu Komunikasi. Program Studi Hubungan Masyarakat

Human Relations. Kebudayaan dan Human Relations. Amin Shabana. Modul ke: Fakultas Ilmu Komunikasi. Program Studi Hubungan Masyarakat Human Relations Modul ke: Kebudayaan dan Human Relations Fakultas Ilmu Komunikasi Amin Shabana Program Studi Hubungan Masyarakat www.mercubuana.ac.id Pendahuluan Istilah kebudayaan merupakan tejemahan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Kompetensi Interpersonal 2.1.1 Pengertian Kompetensi Interpersonal Kompetensi interpersonal yaitu kemampuan melakukan komunikasi secara efektif (DeVito, 1989). Keefektifan dalam

Lebih terperinci

MODUL 3 FAKTOR YANG MENDASARI TERJADINYA INTERAKSI SOSIAL

MODUL 3 FAKTOR YANG MENDASARI TERJADINYA INTERAKSI SOSIAL MODUL 3 FAKTOR YANG MENDASARI TERJADINYA INTERAKSI SOSIAL 1. Faktor yang Mendasari Terjadinya Interaksi Sosial Enam faktor yang mendasari terjadinya interaksi sosial: sugesti, imitasi, identifikasi, simpati,

Lebih terperinci

SEJARAN DAN ALIRAN PSIKOLOGI. Pertemuan 4

SEJARAN DAN ALIRAN PSIKOLOGI. Pertemuan 4 SEJARAN DAN ALIRAN PSIKOLOGI Pertemuan 4 [email protected] SEJARAH PSIKOLOGI 1. Psikologi sebagai bagian dari filsafat obyeknya asal usul jiwa, ujud jiwa, akhir dan jadinya jiwa, hubungan

Lebih terperinci

PRINSIP DASAR MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU DAN MAKHLUK SOSIAL DI MASYARAKAT

PRINSIP DASAR MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU DAN MAKHLUK SOSIAL DI MASYARAKAT INTERAKSI SOSIAL DAN PERUBAHAN SOSIAL PRINSIP DASAR MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU DAN MAKHLUK SOSIAL DI MASYARAKAT 1. Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial 2. Manusia berada di dalam sistem

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Masalah Manusia sebagai makhluk sosial senantiasa ingin berhubungan dengan manusia lainnya. Ia ingin mengetahui lingkungan sekitarnya, bahkan ingin mengetahui apa yang terjadi

Lebih terperinci

SE S J E A J R A A R H DA D N A N A L A I L R I A R N A N PSI S KO K LOGI G Pertemuan 4

SE S J E A J R A A R H DA D N A N A L A I L R I A R N A N PSI S KO K LOGI G Pertemuan 4 SEJARAH DAN ALIRAN PSIKOLOGI Pertemuan 4 SEJARAH PSIKOLOGI 1. Psikologi sebagai bagian dari filsafat obyeknya asal usul jiwa, ujud jiwa, akhir dan jadinya jiwa, hubungan jasmani dan rohani Plato Aristoteles

Lebih terperinci

KONSEP PERKEMBANGAN SOSIAL

KONSEP PERKEMBANGAN SOSIAL KONSEP PERKEMBANGAN SOSIAL PERKEMBANGAN SOSIAL MERUPAKAN PENCAPAIAN KEMATANGAN DALAM HUBUNGAN SOSIAL. PROSES BELAJAR UNTUK MENYESUAIKAN DIRI TERHADAP NORMA-NORMA KELOMPOK, MORAL DAN TRADISI, MELEBURKAN

Lebih terperinci

Psikologi Dunia Kerja Sifat Kodrati Manusia & Pengaruh Teknologi Industri Modern

Psikologi Dunia Kerja Sifat Kodrati Manusia & Pengaruh Teknologi Industri Modern Psikologi Dunia Kerja Sifat Kodrati Manusia & Pengaruh Teknologi Industri Modern Dinnul Alfian Akbar, SE, M.Si Manusia dan Lingkungannya Manusia Sebagai Mahkluk Berkembang Manusia sebagai makhluk berkembang

Lebih terperinci

Sifat Kodrat Manusia. Unsur-unsur Hakekat Manusia:

Sifat Kodrat Manusia. Unsur-unsur Hakekat Manusia: NENI KURNIAWATI Sifat Kodrat Manusia Unsur-unsur Hakekat Manusia: 1. Susunan kodrat manusia terdiri atas jiwa dan raga 2. Sifat kodrat manusia terdiri atas mahluk individu dan sosial 3. Kedudukan kodrat

Lebih terperinci

ZHAFRAN FADHIL DAMARA ( ) ANNISA WIDYA SARI ( MUH. RAHMAT FAHREZA ( )

ZHAFRAN FADHIL DAMARA ( ) ANNISA WIDYA SARI ( MUH. RAHMAT FAHREZA ( ) TUGAS PSIKOLOGI KEPRIBADIAN ALFRED ADLER (INTI TEORI, STRUKTUR KEPRIBADIAN DAN DINAMIKA KEPRIBADIAN) ZHAFRAN FADHIL DAMARA (1471042015) ANNISA WIDYA SARI (14710420 MUH. RAHMAT FAHREZA (1371041032) FAKULTAS

Lebih terperinci

UPAYA MENINGKATKAN PERILAKU PRO-SOSIAL MELALUI LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN METODE SOSIODRAMA. Arni Murnita SMK Negeri 1 Batang, Jawa Tengah

UPAYA MENINGKATKAN PERILAKU PRO-SOSIAL MELALUI LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN METODE SOSIODRAMA. Arni Murnita SMK Negeri 1 Batang, Jawa Tengah Jurnal Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling Vol. 2, No. 1, Januari 2016 ISSN 2442-9775 UPAYA MENINGKATKAN PERILAKU PRO-SOSIAL MELALUI LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN METODE SOSIODRAMA Arni Murnita

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. Aspek tingkah laku tersebut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. Aspek tingkah laku tersebut BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Belajar Dan Pembelajaran Menurut Hamalik (2001:28), belajar adalah Sesuatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. Aspek tingkah laku tersebut

Lebih terperinci

MATERI 1 HAKIKAT PERILAKU MENYIMPAG

MATERI 1 HAKIKAT PERILAKU MENYIMPAG MATERI 1 HAKIKAT PERILAKU MENYIMPAG 1. Hakekat Perilaku Menyimpang Sebelum masuk ke dalam materi perubahan sosial budaya, saudara dapat menyaksikan video terkait dengan perilaku menyimpang di masyarakat,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mahluk biologis merupakan individu yang mempunyai potensi-potensi diri yang

BAB I PENDAHULUAN. mahluk biologis merupakan individu yang mempunyai potensi-potensi diri yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia merupakan makhluk yang memiliki akal pikiran yang membedakan manusia dengan makhluk yang lain. Namun demikian sebagai mahluk biologis merupakan individu yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta) adalah ibu kota negara

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta) adalah ibu kota negara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta) adalah ibu kota negara Republik Indonesia. Jakarta merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki status

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Karya sastra dapat dikatakan bahwa wujud dari perkembangan peradaban

BAB I PENDAHULUAN. Karya sastra dapat dikatakan bahwa wujud dari perkembangan peradaban BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Karya sastra dapat dikatakan bahwa wujud dari perkembangan peradaban manusia sesuai dengan lingkungan karena pada dasarnya, karya sastra itu merupakan unsur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Mempelajari pendidikan Islam sangat penting bagi kehidupan setiap. muslim karena pendidikan merupakan suatu usaha yang membentuk

BAB I PENDAHULUAN. Mempelajari pendidikan Islam sangat penting bagi kehidupan setiap. muslim karena pendidikan merupakan suatu usaha yang membentuk 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mempelajari pendidikan Islam sangat penting bagi kehidupan setiap muslim karena pendidikan merupakan suatu usaha yang membentuk pribadi manusia menuju yang

Lebih terperinci

MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN Manusia Sebagai Makhluk Alamiah dan Sosial. Oleh: NAMA : VIYANK WIDYA ISWARA NPM : KELAS : III.

MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN Manusia Sebagai Makhluk Alamiah dan Sosial. Oleh: NAMA : VIYANK WIDYA ISWARA NPM : KELAS : III. MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN Manusia Sebagai Makhluk Alamiah dan Sosial Oleh: NAMA : VIYANK WIDYA ISWARA NPM : 12110327 KELAS : III.G SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) HAMZANWADI SELONG

Lebih terperinci

diidentifikasi sebagai si pelaksana.

diidentifikasi sebagai si pelaksana. TEORI KEPRIBADIAN Didasarkan kepada analisisnya, Freud mengemukakan bahwa kepribadian manusia terdiri dari tiga sistem yang saling mempengaruhi. Yaitu id, superego dan ego. Konsep id dirumuskan sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lainnya khususnya di lingkungannya sendiri. Manusia dalam beraktivitas selalu

BAB I PENDAHULUAN. lainnya khususnya di lingkungannya sendiri. Manusia dalam beraktivitas selalu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak terlepas dari manusia lainnya khususnya di lingkungannya sendiri. Manusia dalam beraktivitas selalu melibatkan orang

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 1. Pengertian Matematika di Sekolah Dasar. termasuk salah satu disiplin ilmu yang memiliki kajian sangat luas.

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 1. Pengertian Matematika di Sekolah Dasar. termasuk salah satu disiplin ilmu yang memiliki kajian sangat luas. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar 1. Pengertian Matematika di Sekolah Dasar Pengertian matematika pada dasarnya tidak dapat ditentukan secara pasti, hal ini disebabkan karena

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR A. Kajian Pustaka 1. Definisi Dampak Pengertian dampak menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, adalah pengaruh sesuatu yang menimbulkan akibat; benturan; benturan

Lebih terperinci

mens wordt eerst mens door samenleving met anderen yang artinya manusia itu baru

mens wordt eerst mens door samenleving met anderen yang artinya manusia itu baru BAHAN KULIAH SISTEM HUKUM INDONESIA Match Day 3 MASYARAKAT DAN HUKUM A. Manusia dan Masyarakat Sudah menjadi kodrat bagi setiap manusia untuk hidup sebagai makhluk sosial, hidup di antara manusia lain

Lebih terperinci

Pendidikan Keluarga (Membantu Kemampuan Relasi Anak-anak) Farida

Pendidikan Keluarga (Membantu Kemampuan Relasi Anak-anak) Farida Pendidikan Keluarga (Membantu Kemampuan Relasi Anak-anak) Farida Manusia dilahirkan dalam keadaan yang sepenuhnya tidak berdaya dan harus menggantungkan diri pada orang lain. Seorang anak memerlukan waktu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perubahan emosi, perubahan kognitif, tanggapan terhadap diri sendiri

BAB I PENDAHULUAN. perubahan emosi, perubahan kognitif, tanggapan terhadap diri sendiri BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja merupakan masa yang sangat kompleks dimana individu baik laki-laki maupun perempuan mengalami berbagai masalah seperti perubahan fisik, perubahan emosi,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. strategis dalam rangka menghasilkan sumber daya manusia indonesia seutuhnya.

BAB I PENDAHULUAN. strategis dalam rangka menghasilkan sumber daya manusia indonesia seutuhnya. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan anak usia dini merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian

Lebih terperinci

ASAL MULA & PERKEMBANGAN SOSIOLOGI. Fitri Dwi Lestari

ASAL MULA & PERKEMBANGAN SOSIOLOGI. Fitri Dwi Lestari ASAL MULA & PERKEMBANGAN SOSIOLOGI Fitri Dwi Lestari ASAL USUL SOSIOLOGI Dari bukti peninggalan bersejarah, manusia prasejarah hidup secara berkelompok. ASAL USUL SOSIOLOGI Aristoteles mengatakan bahwa

Lebih terperinci