ELEMEN-ELEMEN PENDUKUNG LANSEKAP
|
|
|
- Surya Kusumo
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 ELEMEN-ELEMEN PENDUKUNG LANSEKAP Elemen-elemen pendukung lansekap dapat dibedakan atas dua macam, yaitu: elemen lunak dan elemen keras. Yang dimaksud dengan elemen lunak di sini adalah elemen pendukung yang biasanya merupakan vegetasi (pepohonan/perdu/rerumputan). Sedangkan elemen keras adalah unsur tidak hidup dalam lansekap yang keberadaannya dapat meningkatkan kualitas dan fungsi dari lansekap tersebut misalnya pagar, lampu-lampu taman, bangku dan meja taman, gazebo, kolam, bebatuan, kerikil dan lain-lain. A. ELEMEN LUNAK Penggunaan tanaman sangat berperan terhadap hasil penataan suatu lansekap. Elemen tanaman memiliki beberapa sifat khas yang membedakannya dengan elemenelelemen lainnya. Karakteristik yang paling penting dan menonjol adalah bahwa tanaman merupakan elemen yang hidup dan tumbuh. Dengan sifat khas demikian maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, tanaman merupakan elemen yang dinamis, setiap saat berubah, baik itu ukuran, tekstur, kelebatan daun maupun karakter keseluruhan sesuai dengan sifat pertumbuhannya. Kedua, kualitas dinamis tadi mempunyai implikasi terhadap penggunaan tanaman dalam penataan lansekap. Atas pertimbangan ini maka dalam penataan lansekap karakteristik setiap tanaman yang akan digunakan harus diperhatikan, karena spesies tanaman sangat banyak sehingga perlu pengelompokkan untuk memudahkan memilih jenis tanaman sesuai kebutuhan. Tanaman yang mempunyai kecepatan tumbuh yang cepat dalam komposisi tanaman sebaiknya ditempatkan di belakang sedangkan tanaman yang mempunyai kecepatan tumbuh lambat dapat ditempatkan di depan. Demikian juga sifat ekologis tanaman perlu mendapat pertimbangan yang matang. Berdasarkan morfologi, tanaman dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu: pohon, perdu, semak dan tanaman penutup tanah. Pohon biasanya berfungsi sebagai pohon pelindung dengan ditandai: memiliki satu batang pokok, berkayu keras dan hidup tahunan. Perdu memiliki batang pokok lebih dari satu, berkayu keras dan hidup bertahun-tahun. Semak adalah tanaman yang tidak memiliki batang pokok, dapat berkayu dan dapat pula tidak berkayu. Tanaman penutup tanah biasanya digunakan untuk menutupi atau mengisi permukaan tanah, umumnya tidak berkayu keras dan tingginya kurang dari 30 cm. 1 S r i H a n d a y a n i
2 1. Penggolongan Jenis Vegetasi Penggolongan jenis tanaman harus memperhatikan aspek arsitektural, aspek artistik visual, aspek hortikultural dan aspek pengendali iklim mikro. a. Aspek Arsitektural Aspek Arsitektural adalah penggolongan jenis vegetasi yang didasarkan pada konsep pembentukan ruang. Membentuk ruang berarti mengolah bidang atau unsur pembentuk ruang, yaitu lantai, dinding dan atap. Penggolongan dengan aspek arsitektural artinya menciptakan ruang dengan unsur tanaman. Ruang dapat diciptakan dengan memodifikasi bidang dasar, bidang vertikal dan bidang pengatap, atau dapat dikatakan membentuk ruang dengan membangun lantai, dinding dan atap. Arsitek akan membentuk bidang-bidang tadi untuk menciptakan ruangruang kegiatan dengan bahan buatan seperti ubin, batu-bata, genteng dan sebagainya. Sedang Arsitek Pertamanan menggunakan unsur alam yaitu tanaman, selain juga bahan buatan. Rumput atau jenis tanaman ground cover (tanaman penutup tanah) dapat digunakan untuk membentuk bidang dasar (lantai). Tanaman semak dapat digunakan sebagai pembentuk bidang vertikal (dinding). Pohon dapat digunakan untuk membentuk bidang atap/pengatap. Berbagai kesan ruang dapat diciptakan dengan elemen tanaman. ruang dapat bersifat terbuka, semi terbuka, tertutup, intim, publik, semi publik dan sebagainya. Penggolongan jenis tanaman dari aspek arsitektural dikelompokkan ke dalam: tanaman pelantai, tanaman pedinding, tanaman pengatap 1) Tanaman Pelantai Yaitu jenis tanaman pembentuk bidang lantai. Termasuk dalam golongan ini ialah tanaman yang tingginya mulai dari nol sampai setinggi mata kaki seperti: lumut, rumput, groundcovers. Lumut Slaginell Opiopogon 2 S r i H a n d a y a n i
3 Rumput gajah Bawang-bawangan Lahan yang ditutupi rumput 2) Tanaman Pedinding Jenis tanaman pembentuk bidang dinding dibagi ke dalam 3 ketinggian yaitu: Rendah, dari setinggi mata-kaki sampai lutut, contoh: semak pendek dan tanaman border Sedang, dari setinggi lutut sampai setinggi tubuh, contoh: semak besar dan perdu. Tinggi, dari setinggi tubuh sampai beberapa meter, contoh: bambu dan jenis cemara Tanaman Pedinding Sedang Contoh tanaman pedinding rendah 3 S r i H a n d a y a n i
4 Contoh tanaman pedinding sedang Tanaman Pedinding Tinggi Deretan phon cemara adalah tanaman pedinding tinggi Serumpun bambu adalah tanaman pedinding tinggi 4 S r i H a n d a y a n i
5 Tanaman Pengatap Yaitu jenis tanaman pembentuk bidang atap. Yang termasuk dalam kelompok ini ialah tanaman yang mempunyai karakter percabangan yang melebar ke samping seperti pada pohon-pohon rindang, dan jenis tanaman yang bisa dibentuk sebagai atap seperti: bugenvile, stefanot, flame of Irian. Tanaman Pengatap Tanaman Flame of Irian Tanaman pengatap Tanaman pengatap Tanaman Stefanot 5 S r i H a n d a y a n i
6 3) Tanaman Pendekorasi Yaitu jenis tanaman yang mempunyai warna menarik pada bunga ataupun daunnya, dan bertajuk indah. Tanaman Pendekorasi Keberhasilan menciptakan lansekap sangat tergantung pada kepekaan dan pemahaman terhadap potensi yang dimiliki oleh elemen tanaman. Didalam merancang lansekap, kegunaan arsitektural adalah yang pertama kali dipelajari, baru kemudian dipilih jenis tanaman yang secara visual sesuai dengan fungsi-fungsi tadi. 6 S r i H a n d a y a n i
7 b. Aspek Artistik-Visual Tanaman mempunyai karakter visual yang khas yang membedakannya dari elemen lansekap lainnya. Karakter visual tersebut diantaranya adalah: ukuran, warna, tekstur, tipe dan massa daunnya. Menggolongkan jenis tanaman dari segi artistik visual berarti mengelompokkannya menjadi: 1) Tanaman yang menonjol sebagai unsur garis Tanaman berbatang tunggal yang ramping dan tinggi seperti kelapa, pinang/jambe, cemara pecut, dan sebagainya. 7 S r i H a n d a y a n i
8 2) Tanaman yang menonjol sebagai unsur bentuk Daun berbentuk geometrik (bulat, oval, segitiga, dsb.) atau berbentuk ornamental (ragam hias) seperti: keladi monstera, palem kuning, hedera helix. Semak atau jenis cemara yang dipangkas menjadi bentuk-bentuk geometrik. Karakteristiknya seperti pada jenis palem, cemara, khaya, senegalensis, saguaro. 3) Tanaman yang menonjol sebagai unsur warna Berbunga banyak: mawar, anggrek, phlox drummondii, geranium. Berdaun berwarna: miana, puring, euphorbia pulcherrima, evergreen. 4) Tanaman yang menonjol sebagai unsur tekstur Lumut, rumput, groundcover, semak, perdu, pohon berdaun lebat. Terbagi menjadi tekstur lembut/halus, sedang dan kasar. Bertekstur halus jika daunnya kecil/lembut Bertekstur halus jika daunnya tidak begitu kecil/lembut Bertekstur halus jika daunnya agak besar atau besar/lebar Unsur tekstur terbaca pada kelebatan massa daun. 5) Tanaman yang menonjol sebagai unsur struktur Terbagi menjadi: ringan, sedang, berat. Berstruktur ringan, jika mengesankan ramping (bercabang ranting kecil, berdaun kecil dan jarang) Berstruktur berat, jika batang, cabang dan rantingnya besar, daunnya lebat. Contoh: karet munding, beringin dan trembesi. Berstruktur sedang, contoh: palem hijau, rambutan, nusa indah. 6) Tanaman yang menonjol sebagai unsur massa Tanaman berdaun lebat. Terbagi dalam kelompok: Transparan, seperti flamboyan, cemara angin, dan sebagainya. Pekat, seperti akasia, oleander, belawuan, dan sebagainya. Massif seperti beringin, cemara gembel, dan sebagainya. 7) Tanaman yang menonjol sebagai unsur karakter Lentur, lentik, semampai (feminine). Contoh: pinang merah, palem kuning. Tegap, kekar, gagah (masculine). Contoh: kelapa, sikas, cemara papua. Agung, megah, wibawa. Contoh: sikas, kuping gajah, soka, cemara lilin. Mistik, magis. Contoh: aren, karet munding, sawo bludru, yang-liu. 8 S r i H a n d a y a n i
9 Dalam tata lansekap kegunaan estetis tanaman dapat diterapkan untuk: Menghubungkan (secara visual) bangunan dengan lingkungan sekitarnya. Menyatukan dan menyelaraskan lingkungan yang semula tidak beraturan. Memperkuat titik-titik atau area tertentu dalam lansekap. Memperlembut kekakuan unsur arsitektur yang keras. Membingkai pemandangan (view) yang indah. Warna tanaman dapat digunakan untuk menciptakan pusat perhatian pada lansekap. Pembagian berdasarkan aspek artistik visual akan membantu dalam penataan lansekap untuk mencapai nilai keindahan tertentu, baik dalam menyusun kombinasi tanaman dalam border, memilih tanaman/pohon utama dalam perhitungannya dengan bentuk bangunan. Arsitektural bangunan jangan dirusakkan oleh pemilihan jenis tanaman secara gegabah. Karena salah satu tujuan tata lansekap adalah menunjang keindahan bangunan. c. Aspek Hortikultural Penggolongan secara hortikultural artinya adalah membagi jenis tanaman berdasarkan pengelompokkan: 1) Habitus-fungsional, 2) Ekologi, 3) Fitogeografi, 4) Taksonomi, dan 5) Morfologi. 1) Habitus-fungsional Yang dimaksud ialah ciri khas (bunga, daun, buah atau tajuk), watak dan kebiasan (ciri pertumbuhan, cepat-lambatnya), kesukaan dan kegunaan suatu tanaman. Muncullah istilah tanaman berbunga indah, berdaun indah, tanaman peneduh dsb. 2) Ekologi Pembagian tanaman ini berdasarkan hubungannya dengan jenis tanah, air, cuaca, kelembaban, cahaya matahari, angin dan sebagainya sehinga timbul istilah: tanaman teduh/panas, tanaman basah/kering dan sebagainya. 3) Fitogeografi Pembagian tanaman berdasarkan daerah asalnya seperti laut/pantai, payau/rawa-rawa, gurun, bukit karang, daerah rendah/tinggi dan sebagainya. 9 S r i H a n d a y a n i
10 4) Taksonomi Adalah pembagian kelompok tanaman berdasarkan silsilah keluarganya: yaitu genera, species dan varietas. Hal ini menghasilkan sistem pemberian nama atau nomenklatur yang berlaku secara internasional. Nama yang ditentukan berdasarkan nomenklatur inilah yang kemudian dikenal sebagai nama ilmiah tanaman atau lebih populer lagi sebagai nama latin tanaman. Nama suatu tanaman biasanya terdiri dari dua atau tiga kata. Yang pertama menunjukkan genera; yang kedua menunjukkan species; yang ketiga menunjukkan varietas. Sering pula di belakang nama varietas ini ditambahkan petunjuk seperti Thunb, L dsb. Singkatan itu adalah singkatan dari nama para ahli yang memperkenalkannya. Thunb dari nama Thunberg, sedang L dari Linnaeus. Contoh: Rhapis exelsa Thunb. (palem waregu), Lagerstroemia indica L. (bunga-jepang/bungur-sakura), Maranta leuconeura kerchoveana (maranta maskoko). 5) Morfologi Yaitu membagi tanaman berdasarkan struktur fisiologisnya, sehingga menghasilkan jenis-jenis tanaman: lumut, rumput, tanaman semusim, perdu, pohon, epifit, parasit dan lain sebagainya. Kalau pembagian tanaman secara arsitektural memudahkan pemilihan tanaman dalam hubungannya dengan konsep perencanaan ruang. Penggolongan artistik visual memudahkan pemilihan tanaman untuk dikombinasikan dalam border atau dengan wajah bangunan rumah, kondisi lingkungan, bentuk pagar dan sebagainya yang bertujuan mencapai nilai keindahan maksimalnya. Pembagian tanaman secara hortikulutural, akan membantu pemilihan tanaman dalam hubungannya dengan teduh/panas; lembab/kering; sirkulasi udara bebas/terhalang; jumlah air siramanna; pupuk yang dikehendaki; dan lain sebagainya yang berhubungan dengan segar-sehatsubur-berkembangnya tanaman. d. Aspek Pengendali Iklim Mikro Tanaman/tetumbuhan melakukan proses fotosintesa pada siang hari dengan menyerap CO2 dan mengeluarkan O2 yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup. Pada proses transpirasi, tanaman mengeluarkan uap air yang dapat menurunkan suhu di sekitarnya sehingga lingkungan di sekitar tanaman terasa sejuk dan segar. 10 S r i H a n d a y a n i
11 Tanaman terutama pepohonan besar dapat menciptakan keteduhan. Tajuknya yang lebar dapat menahan sinar matahari langsung ke permukaan tanah. Demikian juga tanaman-tanaman yang ditanam sedemikian rupa sebagai buffer dapat menahan atau menyaring aliran udara ke tempat tertentu agar tetap nyaman. Berbagai aspek tersebut termasuk ke dalam fungsi tanaman sebagai pengendali iklim mikro. e. Aspek Kegunaan Rekayasa Aspek ini memperhatikan cara bagaimana elemen tanaman digunakan untuk mengendalikan erosi, kebisingan, mengarahkan sirkulasi dan menahan silau atau refleksi cahaya. Kegunaan rekayasa ini antara lain adalah: 1) Permukaan tanah terutama yang miring dan lereng terjal apabila ditanami dengan penutup tanah akan memperkecil erosi akibat aliran permukaan. 2) Tanaman yang mempunyai massa daun lebar dengan kerapatan dan tinggi tertentu bila ditempatkan diantara objek dan sumber kebisingan dapat meredam suara atau mengurangi kebisingan yang terjadi. 3) Bidang dasar yang digunakan untuk sirkulasi dapat diarahkan dan dikendalikan dengan cara menanam tanaman di kedua sisinya, sesuai arah sirkulasi yang dikehendaki. 4) Silau matahari atau refleksi cahaya yang tidak dikehendaki dapat dikurangi dengan cara menanam tanaman yang berfungsi untuk menahan silau. 2. Karakteristik Vegetasi Karakteristik tanaman menampilkan ciri dan bentuk tanaman yang terdiri dari: ukuran, bentuk, warna dan tekstur tanaman. Masing-masing ciri tersebut berpengaruh langsung terhadap hasil penataan lansekap. a. Ukuran Tinggi dan lebar tanaman merupakan faktor yang harus diperhitungkan dalam pemilihan maupun penetapan titik tanam. Karenanya perancang harus memahami benar pertumbuhan maksimal, serta kondisi lingkungan yang dikehendaki tanaman. 11 S r i H a n d a y a n i
12 Adakalanya suatu jenis tanaman tidak dapat tumbuh maksimal karena kondisi lingkungan yang tidak sesuai dan kurang mendukung, atau karena gangguan hama/penyakit. Untuk itu diperlukan perlakuan-perlakuan tertentu. JENIS/UKURAN TANAMAN Pohon Kecil 3 6 m. Pohon Sedang 9 12 m. Pohon Besar > 12 M. Semak/Perdu tinggi 3 4,5 m. Semak Sedang dan Redah 0,3 2 m. Pohon Ornamental Penutup tanah cm KARAKTERISTIK DAN PERANAN DALAM TAMAN Kanopi membentuk ruang akrab. Cocok pada halaman yang kecil. Menjadi penarik visual bila digabung dengan tanaman rendah Tidak cocok untuk halaman yang kecil Penarik visual Berperan sebagai dinding. Digunakan sebagai sekat dan pembentuk ruang yang bersifat privat atau sebagai latar belakang netral bagi patung atau tanaman berbunga Digunakan untuk pembatas ruang, sebagai unsur peralihan komposisi dari semak tinggi ke semak rendah. Sebaiknya ditanam dalam kelompok besar Tidak cocok digabung dalam komposisi. Sangat cocok dipasang dekat pintu gerbang masuk karena menarik perhatian Membentuk pola bidang alas. Pembatas antara rumput dan perkerasan. Dapat menghubunkan unsur unsur dalam komposisi. Menutup tanah yang tidak sesuai dengan rumput. CONTOH TANAMAN Belimbing, Kemboja, Cemara kipas Nangka, Kisabun, Jambu air Mahoni, Damar, Kihujan Kol merak, Kol banda, Nusa indah Puring, Kembang sepatu, Diefen bahia. Cemara norfolk. Tanaman yang berubah karena alam Lantana, Lili paris, Portulaka. b. Bentuk 1) Pohon Bentuk pohon diekspresikan dalam bentuk tajuk dan pecabangan. Meski bentuk pohon beraneka ragam, namun pada dasarnya bentuk-bentuk tersebut dapat dikelompokkan ke dalam bentuk yang melebar, membulat, piramidal, columnar, tinggi ramping dan bentuk-bentuk yang tidak beraturan. Bentuk yang cenderung kaku seperti pyramidal, membulat dan columnar, cocok untuk rancangan lansekap yang bersifat formal. Bentuk-bentuk demikian banyak digunakan untuk penataan lansekap yang mempunyai pola simetris, fungsinya untuk mempetegas kesan ruang. Bentuk yang tidak beraturan dan meliuk atau merunduk (weeping) lebih tepat digunakan dalam rancangan lansekap informal. Bentuk-bentuk pyramidal, 12 S r i H a n d a y a n i
13 weeping, columnar dapat dijadikan sebagai aksen, sedangkan untuk struktur pembingkaian (frame) dapat dipilih bentuk-bentuk melebar atau columnar. Agar tercapai bentuk yang dikehendaki, terutama pada jenis semak dapat dilakukan pemangkasan. Dengan cara tersebut dapat diperoleh bentuk-bentuk topiary, bulat, piramidal, bahkan bentuk yang menyerupai makhluk hidup dan bentuk-bentuk geometris. Bentuk-bentuk pohon BENTUK TANAMAN DAN CONTOH Melebar/Spreading Flamboyan Sengon Hujan mas Bulat Kisabun Nangka Kasia singapur KARAKTERISTIK Lebar tajuk kira-kira sama dengan tingginya. Menampilkan kesan luas dan melebar. Kontras terhadap bentuk yang tinggi ramping Menjadi penghubung dengan bentuk lain dalam suatu komposisi. Merupakan bentuk yang relatif banyak ditemui. Bersifat netral dalam suatu komposisi. Mudah menyatukan dalam komposisi PENGGUNAAN DALAM TAMAN Cocok ditempatkan pada permukaan tanah datar. Dipergunakan untuk meneruskan garis bangunan. Untuk menyatukan bangunan dengan tapak sekitarnya Cocok pada tanah yang datar. Kurang cocok digunakan sebagai pohon pengarah. Digunakan untuk pelembut pada bentuk yang mencolok Tinggi ramping Cemara Lilin Glodogan tiang Menarik perhatian ke atas. Menghasilkan ruang yang tinggi vertikal. Kontras jika dikomposisi-kan dengan bentuk bulat atau menyebar. Berperan sebagai aksen Digunakan dalam jumlah terbats pada titi-titik tertentu saja. Tidak dianjurkan diletak-kan menyebar karena memecah perhatian. Sebagai pohon pengarah. Columnar Damar Puspa Piramidal Cengkeh Cemara kipas Pinus Merunduk Yang liu Willow Bentuk Menarik Memiliki karakter sama dengan bentuk tinggi ramping Merupakan bentuk yang relatif banyak ditemui. Bersifat netral dalam suatu komposisi. Mudah menyatukan dalam suatu komposisi Struktur percabangan merunduk ke bawah. Mengarahkan pandangan ke bawah. Menarik dan eksotis. Berubah karena dibentuk manusia atau terbentuk oleh kondisi alam. Dapat dimanfaatkan seperti pada pohon bentuk tinggi ramping Digunakan sebagai aksen visual terutama jika ditata dengan bentuk yang bulat rendah. Cocok digunakan pada polapola geometris atau formal. Cocok diterapkan di tepian air. Untuk melembutkan garis bangunan yang keras. Ditempatkan sebagai penarik perhatian. Ditanam secara soliter, tidak dalam suatu komposisi 13 S r i H a n d a y a n i
14 Semak/Perdu BENTUK TANAMAN DAN CONTOH Bulat Tanaman pangkas Rendah dan menyebar Pangkas kuning Melebar Akalipha Tehtehan KARAKTERISTIK Menartik perhatian. Daunnya rapat. Banyak terdapat dalam bentuk ground cover. Daunnya rapat. Bentuknya kurang beraturan. Berdaun rapat. Lebih lebar dibanding dengan tingginya PENGGUNAAN DALAM TAMAN Digunakan sebagai tanaman penarik visual. Mendukung tanaman yang berbentuk piramidal agar menjadi lebih kuat daya tariknya Harus dihindarkan pemakaian dalam jumlah besar Digunakan sebagai tepian jalan setapak (barrier). Melembutkan garis bangunan. Pencegah erosi pada lereng/ tanah yang miring. Sebagai pelembut tanaman yang lebihi tinggi Untuk melembutkan sudut dan garis bangunan. Untuk penyekat dan pembentuk ruang privacy. Menghantar arah sirkulasi. Menjadi latar belakang elemen taman. c. Warna Warna tanaman merupakan ciri visual yang cukup penting dan dapat dianggap sebagai karakteristik emosional karena berpengaruh secara langsung pada kesan dan suasana lansekap yang ditimbulkan. Warna tanaman dihasilkan oleh daun, bunga, buah, tunas, batang dan cabang. Penampilan warna tanaman dalam penataan lansekap dibagi ke dalam kelompok dasar: 1) Warna gelap Biasanya dihasilkan oleh warna daun yang lebih tua atau terjadi karena kerapatan daun. Contoh: Kijibeling, Karet munding, Pinus. 2) Warna terang Memiliki daun yang berwarna terang atau hijau muda. banda, Pangkas kuning, Sri gading, Diefen bahia. Contoh: Kol 14 S r i H a n d a y a n i
15 3) Warna kontras Yang diimaksudkan kontras disini adalah bila warna yang dihasilkan baik oleh daun maupun bunga sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya. Contoh: bougenvil, puring. Dalam menata lansekap seringkali perhatian hanya ditujukan pada jenis tanaman saja sehingga sering terlihat suatu lansekap dipenuhi dengan berbagai jenis tanaman yang dicampur adukan. Dalam menata warna tanaman harus diperhatikan jumlah tanaman sejenis. Bertambah besar jumlah tanaman sejenis yang digunakan, bertambah pula pula efek warna yang dihasilkan. Tanaman yang berwarna gelap mampu memberi kesan dekat kepada pengamat. Dengan karakteristik tersebut, lansekap yang relatif sempit sebaiknya menghindari penggunaan tanaman yang berwarna gelap dalam jumlah banyak. Warna tanaman yang gelap cocok digunakan sebagai latar belakang dari tanaman yang yang terang atau kontras. Tanaman warna gelap Tampak mendekat Tanaman yang berwarna terang memberi kesan menjauh dari pengamat. Dengan karakteristik ini, tanaman yang berwarna terang lebih cocok digunakan pada halaman yang sempit, agar terkesan lebih lapang. Tanaman warna terang Tampak menjauh 15 S r i H a n d a y a n i
16 Tanaman berwarna kontras mampu menarik perhatian. Dengan karakteristik ini, penggunaan tanaman kontras dalam suatu lansekap harus hati-hati sebab penempatan yang dilakukan secara menyebar dapat mengaburkan titik perhatian. Tanaman warna kontras Menarik perhatian d. Tekstur Tekstur tanaman adalah kesan halus atau kasar yang ditimbulkan oleh penampilan tanaman, baik secara individual maupun kelompok. Tekstur tanaman diekspresikan oleh bentuk dan susunan daun. Di daerah yang mengalami pergantian musim, tekstur tanaman dapat berubah karena gugurnya daun sehingga tekstur diekspresikan oleh bentuk percabangan. Tekstur tanaman juga dipengaruhi oleh ukuran daun, kerapatan cabang atau ranting, konfigurasi kulit tanaman dan jarak pengamatan. Pada jarak pengamatan dekat, ukuran daun berperan dalam menampilkan karakteristik tekstur tanaman. 1) Tekstur kasar Tekstur kasar terbentuk oleh daun, cabang yang berukuran besar, dan tidak memiliki ranting kecil seperti Sukun, Ketapang, Agave, Philodendron. Ciri tanaman bertekstur kasar adalah mudah dilihat, jelas dan tegas. Tanaman ini memberi kesan bergerak mendekat pada pengamat, hingga menjadi yang pertama kali terlihat bila berada dalam suatu komposisi. Umumnya tanaman ini transparan dan tidak nampak jelas bentuk tajuknya, sehingga lebih cocok dipakai untuk penataan lansekap yang formal. Dengan ciri dan karakteristik demikian, tanaman bertekstur kasar digunakan sebagai 16 S r i H a n d a y a n i
17 penarik perhatian. Yang perlu diperhatikan, bila ditata dalam jumlah banyak, tanaman bertekstur kasar menyebabkan ruang terasa sempit. Oleh karena itu pada lahan yang sempit penggunaan tanaman bertekstur kasar sebaiknya dihindari. 2) Tekstur sedang Tekstur Sedang terbentuk oleh daun dan cabang yang berukuran sedang dan merupakan tanaman yang paling banyak bisa ditemui. Dibandingkan tanaman bertekstur kasar, tanaman bertekstur sedang kurang transparan dan kurang tegas tajuknya. Tanaman ini harus merupakan tekstur dasar dalam penataan lansekap karena mudah ditemui. Juga dapat dimanfaatkan sebagai unsur peralihan dari tekstur kasar ke tekstur halus. 3) Tekstur halus Tekstur halus suatu tanaman terbentuk oleh daun yang berukuran kecil serta ranting kecil yang rapat seperti Asem landi, Pinus, Filicium, Suplir. Tanaman jenis ini memiliki terlihat halus dan lembut sehingga kurang menonjol dalam suatu komposisi dan menjadi yang paling akhir teramati. Tanaman ini memiliki tajuk yang jelas dan memberi kesan menjauhi pengamat. Dengan karakteristik ini, tanaman bertekstur halus dapat dimanfaatkan untuk penataan lahan yang sempit agar terasa lebih luas, karenanya sangat cocok dijadikan tanaman latar belakang dan tepat digunakan pada lansekap yang formal. Ruang tampak lebih pendek Kesan mendekat Lembut Sedang Kasar Pemanfaatan gabungan ketiga jenis tekstur tanaman ini dapat dimanfaatkan untuk memanipulasi jarak pada lansekap. Jika beberapa jenis 17 S r i H a n d a y a n i
18 tanaman ditanam berkelompok dengan komposisi dari depan ke belakang: tanaman bertekstur halus, sedang kemudian kasar, maka ruang akan terasa memendek. Sedangkan bila komposisi itu dibalik, yang bertekstur kasar di depan dan diikuti oleh tekstur sedang dan halus maka ruang akan terasa memanjang. Ruang tampak lebih panjang Kesan menjauh Kasar Sedang Halus 3. Kriteria Pemilihan Vegetasi a. Daya tahan 1) Apakah tanaman cocok dengan kondisi lingkungan dimana tanaman tersebut akan ditempatkan. Maksudnya adalah kesesuaian dengan iklim dan keadaan tanah. 2) Apakah tanaman dapat tumbuh pada lahan yang kering atau lahan becek. 3) Apakah tanaman toleran terhadap kondisi lingkungan kota. Jika per-akaran pohon tertutup perkerasan, dapatkah bertahan Atau justru per-akarannya akan merusak perkerasan. 4) Apakah tanaman memiliki daya tahan terhadap serangan hama/penyakit. b. Bentuk dan Struktur 1) Apakah tanaman mengalami masa gugur daun, atau hijau sepanjang tahun. 2) Berapa tinggi dan lebar maksimal percabangannya. Berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencapai ukuran maksimal tersebut. 3) Apakah dapat membentuk bayang-bayang secara penuh atau bersifat transparan terhadap sinar matahari. 18 S r i H a n d a y a n i
19 c. Daun, Bunga dan Buah Adalah hal-hal yang menyangkut dengan: 1) Bentuk, tekstur dan warna daun. 2) Pergantian warna dipengaruhi oleh pergantian musim. 3) Pemanfaatan bunga dan buah. Waktu terjadinya masa berbunga/berbuah. Lamanya masa berbunga/berbuah. Warna dan aroma bunga/buah. 4) Apakah ia mengundang fauna yang dikehendaki. d. Kemudahan lain 1) Apakah tanaman itu mudah atau sulit dipindahkan 2) Apakah perlu pemeliharaan yang intensif atau tidak. 4. Komposisi Vegetasi Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menyusun komposisi tanaman yaitu: tanaman khususnya semak, sebaiknya ditanam dalam bak tanam (cultivated bed) sehingga terlindung dari kerusakan akibat mesin potong rumput saat pemotongan. Penanaman di dalam bak memungkinkan menutup permukaan tanah dengan lumut, serbuk kayu, batuan atau material lain untuk mencegah timbulnya tanaman liar. a. Komposisi Tanaman Menyudut Pada penataan komposisi penanaman menyudut, ada dua hal yang perlu diperhatikan. 1) titik tengah sudut atau lengkung dalam (incurve) dan 2) kedua tepian atau lengkung luar (outcurve). Lengkung dalam merupakan tempat yang cocok untuk menempatkan tanaman yang memiliki daya tarik visual kuat sehingga biasanya digunakan untuk menempatkan focal point dengan tanaman yang khas, baik ukuran, bentuk, maupun warnanya. Dari segi ukuran, sebaiknya tanaman tersebut merupakan tanaman yang paling tinggi di antara tanaman lain pada bagian outcurve. Selain tanaman khas, untuk focal point dapat juga ditempatkan 19 S r i H a n d a y a n i
20 bentuk aksen lainnya pada incurve seperti patung, air mancur atau lampu yang bentuknya artistik. incurve outcurve outcurve Aksen utama dapat diletakkan di lokasi incurve atau di lokasi lain. Jika aksen di luar incurve, maka incurve dapat dijadikan tempat untuk meletakkan aksen minor dengan catatan aksen ini tidak melebihi kekuatan aksen utamanya. Variasi dapat dilakukan dalam komposisi menyudut ini, antara lain: 1) Meletakan tanaman tinggi pada incurve kemudian memendek ke arah outcurve. 2) Pada incurve diletakan tanaman tinggi sedangkan bagian depan serta outcurve diisi dengan tanaman yang lebih pendek. Komposisi tanaman pada incurve dan outcurve ini sebaiknya tidak lebih dari tiga sampai empat species saja. Tanaman Penarik Visual Tanaman Pendukung Outcurve Incurve 20 S r i H a n d a y a n i
21 e. Komposisi Tanaman pada Bidang Lurus Komposisi penanaman pada bidang lurus pada dasarnya mencoba menerapkan fungsi arsitektural yang diantaranya adalah membentuk bidang vertikal. Penanaman cara ini dapat berperan sebagai pembentuk ruang privacy, total maupun semi privacy, atau ruang dengan tingkat keterbukaan terbatas. Selain fungsi arsitektural, komposisi ini berperan pula sebagai pengendali visual dan pengendali lingkungan, seperti pengendalian pandangan ke arah tempat yang kurang menarik dan pengendalian terik matahari. Penanaman pada bidang lurus secara umum dikelompokkan pada: (1) Berderet mengikuti bidang lurus, (2) Berderet seolah mengikuti garis lengkung/berbelok-belok Lurus Berkelok Seperti halnya dalam pembuatan komposisi menyudut, jenis species tanaman yang digunakan harus dibatasi dan disusun dalam bentuk kelompok. Namun jumlah tanaman yang terlalu sedikit pun dapat mengakibatkan komposisi menjadi monoton. Disamping itu pengaturan dalam perletakan titik tanam sangat mempengaruhi daya tarik komposisi secara keseluruhan. Komposisi tanaman pada bidang lurus akan lebih menarik bila di bagian depan ditempatkan tanaman yang lebih rendah dari bagian belakang. Hal ini untuk menciptakan area transisi antara penutup tanah dengan tanaman tinggi. 21 S r i H a n d a y a n i
22 Tanaman tinggi Tanaman rendah Contoh-contoh penataan tanaman pada bidang lurus. b. Komposisi Tanaman untuk Memanipulasi Bangunan Komposisi ini diperlukan bila menghadapi bangunan yang bentuknya terlalu tinggi, dinding yang telah tua atau bagian bangunan lain yang kurang menarik. Komposisi untuk memanipulasi bangunan ini memiliki peran penting dalam mempercantik sebuah bangunan, tidak hanya terbatas pada sudut-sudut bangunan saja tetapi menyeluruh hingga ke bagian lansekap lainnya. Fungsi lainnya adalah untuk mengarahkan pandangan pengamat pada pintu masuk di area publik sebuah bangunan. Manipulasi bangunan terlalu kaku dan kurang berhasil 22 S r i H a n d a y a n i
23 Manipulasi bangunan yang mampu menjadikan bangunan lebih dinamis 5. Fungsi Vegetasi dalam Perencanaan dan Perancangan Lansekap Setiap peletakan unsur tanaman dalam lansekap harus memiliki tujuan dan fungsi yang jelas. Tanaman dalam penataan lansekap memiliki tiga fungsi utama: (1) Fungsi arsitektural yaitu pemanfaatan tanaman untuk membentuk bidang-bidang tegak terutama dalam membentuk ruang; (2) Fungsi lingkungan yaitu fungsi tanaman yang lebih ditekankan untuk menciptakan kenyamanan dan keamanan dari faktor-faktor gangguan lingkungan seperti polusi, erosi dan lain-lain; (3) Fungsi estetis tanaman yaitu untuk memberikan nilai-nilai keindahan dalam mendukung kedua fungsi di atas. Lebih terperinci dari fungsi tanaman ini akan dijelaskan dibawah ini. c. Visual Control 1) Mengarahkan 23 S r i H a n d a y a n i
24 2) Menciptakan Privacy Total Privacy Semi Privacy Total Privacy 3) Menghalangi Obyek Pandangan yang tidak dikehendaki 24 S r i H a n d a y a n i
25 Penutup pemandangan 4) Menghubungkan Bangunan 5) Melingkup Bangunan 25 S r i H a n d a y a n i
26 d. Pembatas Fisik Batas halaman Batas jalan e. Pengendali Iklim Iklim sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan dan perilaku manusia. Unsur-unsur iklim yang perlu dipertimbangkan dalam penyusunan rancangan lansekap adalah angin, temperatur, dan curah hujan. Disamping fungsi perlindungan terhadap unsur-unsur iklim, tanaman memungkinkan untuk menciptakan iklim mikro akibat proses fotosintesis yang dilakukannya siang hari. 1) Perlindungan terhadap Angin dan Pencipta Iklim Mikro 6CO2 + 6H2O C6H12O6 + 6O2 CO2 26 S r i H a n d a y a n i
27 Penanaman yang padat dapat mengurangi kecepatan angin 75 85% 2) Perlindungan terhadap Radiasi Matahari dan Temperatur 3) Perlindungan terhadap Curah Hujan dan Erosi Tanah hujan Run off Tumbukan langsung butiran hujan dengan tanah dapat menyebabkan terjadinya pengikisan butir tanah (erosi) 27 S r i H a n d a y a n i
28 Tanaman memperlambat kecepatan f. Perlindungan air hujan terhadap Suara Bising dan Bau Sumber bau g. Habitat Fauna Tanaman merupakan tempat hidup sebagian fauna yang dapat memperkaya suasana lansekap. Aneka bunga dapat mengundang hadirnya kumbang dan kupu-kupu serta bermacam-macam serangga lainnya. Pepohonan seringkali dijadikan tempat bersarangnya burung. Bahkan dalam lansekap berskala besar, tidak mustahil untuk menyediakan termpat hidup kelelawar sebagai daya tarik. 28 S r i H a n d a y a n i
29 h. Estetika Lingkungan 1) Mempersatukan Elemen-elemen Arsitektur Pohon mempersatukan bentuk-bentuk bangunan yang berbeda 29 S r i H a n d a y a n i
30 2) Penegas (emphasizer) Tanaman vertikal Tanaman Vertikal untuk mempertegas jalan masuk 3) Menciptakan Skala yang Manusiawi 4) Membingkai Pandangan dan Aksentuasi Bangunan 30 S r i H a n d a y a n i
31 B. ELEMEN KERAS Elemen keras merupakan unsur tidak hidup dalam lansekap dan berfungsi sebagai unsur pendukung untuk meningkatkan kualitas lansekap tersebut. 1. Batuan Salah satu elemen lansekap adalah bebatuan, yang dapat digunakan sebagai penyeimbang kesan kelembutan yang diciptakan oleh tanaman. Taman Jepang dan Taman China yang sangat alami, elemen utamanya adalah batu, air dan tanaman. Penyusunan batu pada taman Jepang, Ryoaan Ji menggunakan prinsip penyusunan 3-5-7, artinya batuan disusun atas dasar jumlah ganjil yaitu tiga, lima atau tujuh. Tekstur batuan juga memiliki peran. Tekstur halus pada batuan memberikan watak tenang, tekstur kasar memberikan watak ceria. Untuk itu perlu penyesuaian dengan jenis tanaman yang ada disekitarnya. Dilihat dari susunannya, dikenal batuan dengan susunan tunggal dan susunan majemuk. Dalam susunan tunggal berarti hanya ada satu batu dan ini bisa diterapkan dalam lansekap yang relatif sempit. Satu buah batu yang cukup besar ditempatkan pada point of interest dari lansekap. Penampilannya harus cukup cermat dan perimbangan antara kesan keras batuan dengan kesan lembut tanaman adalah 1:5. Bila lebih dari itu, misalnya 1:4 maka kesan kerasnya akan lebih menonjol, sebaliknya akan lembut bila perbandingannya misalnya 1:8. Susunan majemuk lebih sulit diwujudkan, namun lebih variatif. Tatanan batuan di dalam lansekap sangat menentukan nilai keindahan atau estetika dari lansekap tersebut. Kunci utama berhasilnya penggunaan batuan adalah keserasian antara penempatan batuan sesuai dengan sifat fisik dan frekuensi penampakan batuan dan tanaman serta lingkungan sekitarnya. Sebelum memilih batuan, baik yang berasal dari alam maupun buatan, perlu diketahui hal-hal sebagai berikut: a) Sifat Fisik, meliputi: - bentuk {beraturan (bulat, panjang, tegak), tidak beraturan} - ukuran (besar, sedang, kecil) - volume (besar, sedang, kecil) - tekstur (halus, kasar, bergelombang) dan kekokohan 31 S r i H a n d a y a n i
32 b) Warna c) Penempatan batuan d) Lingkungan dimana area lansekap itu terletak Perletakan batu dalam penataan lanskap 2. Perkerasan Sebagian dari lansekap biasanya mengalami perkerasan, terutama pada lansekap yang cukup luas. Perkerasan ini dilakukan dengan berbagai macam 32 S r i H a n d a y a n i
33 bahan sepergi tegel, concrete blokck, aspal, bata, beton dan bahan-bahan lain. Dilihat dari unsur pembentuknya perkerasan dikategorikan menjadi dua macam yaitu: a. Unsur alami, yaitu perkerasan yang dibuat atau didominasi oleh bahanbahan alam seperti kerikil, agregat ekspose, flag stone, batu alam dan lain sebagainya. b. Unsur buata, yaitu perkerasan yang umumnya merupakan buatan pabrik yang memiliki bentuk dan dimensi yang standar seperti paving stone, grass block, keramik, aspal, beton cor dan lain sebagainya. Perkerasan alami lebih cocok diterapkan untuk lansekap yang sifatnya informal dengan pola dan ukuran yang bebas. Sedangkan perkerasan buatan lebih cocok untuk digunakan pada lansekap yang bersifat formal seperti pada lansekap perkantoran, tempat upacara karena memiliki pola-pola geometris. 33 S r i H a n d a y a n i
34 3. Jalan Setapak Jalan setapak dibuat terutama pada lansekap yang luas untuk penghubung antar bagian atau sebagai jalur sirkulasi. Jalan setapak adalah salah satu bentuk perkerasan pada lansekap. Salah satu fungsinya adalah untuk sirkulasi pejalan kaki agar tidak merusak rumput yang telah ditata dengan apik. Desain jalan setapak ini dapat diciptakan sedemikian rupa sehingga dapat menjadi elemen lansekap yang memiliki nilai visual yang artistik. Pemilihan bahan yang digunakan dapat membantu menciptakan tekstur yang sangat bervariasi. Bahan yang sering digunakan untuk jalan setapak ini antara lain adalah batu alam, grass block, paving block, batu buatan, kayu, beton dan lain sebagainya. 34 S r i H a n d a y a n i
35 Bila menggunakan kayu (stepping wood) tentunya harus menggunakan kayu yang kuat dan tidak mudah lapuk, dipotong melintang bundar, lebarnya cukup untuk dipijak. Jalan setapak yang dipadukan dengan koral dapat merupakan unsur kontras dan variasi keindahan lansekap. Membuat jalan setapak haruslah berskala manusia, artinya jarak antara batuan satu dengan lainnya diatur untuk memberikan kemudahan langkah pada orang yang berjalan di atasnya. 4. Air Penggunaan elemen air dalam penataan lanskap akan memberi suasana lebih sejuk bagi taman. Elemen air yang digunakan bisa berupa kolam ikan, air mancur, atau pot yang berisi air dan tanaman teratai atau jenis tanaman air lainnya. Desain dan jenisnya harus disesuaikan dengan selera dan kesatuan desain yang ada. 35 S r i H a n d a y a n i
36 5. Kolam Kolam dibuat dalam rangka menunjang fungsi bangunan atau merupakan bagian lansekap yang memiliki nilai estetika tersendiri. Kolam dapat ditampilkan sebagai bentukan kolam yang modern/kontemporer sampai bentukan yang terkesan alami, meniru situasi alam dengan bentukan artifisial. Kolam biasanya dapat dipadukan dengan batuan tebing dan dengan permainan air yang menambah kesan dinamis. Kolam akan tampil hidup bila ada permainan air di dalamnya, entah berupa air mancur, air muncrat, air menggerojok, air terjun dan lain-lain. Di dalam kolam juga dapat ditanami tumbuhan air yang berdaun indah, berbunga indah dan ikan. Taman dengan kolam akan mampu meningkatkan kelembaban lingkungan sehingga juga berfungsi sebagai penyejuk lingkunan. 36 S r i H a n d a y a n i
37 Taman dengan kolam atau water garden sebaiknya tidak terletak dekat dengan pohon besar sebab daun-daun yang gugur akan mengotori bila jatuh ke kolam. Kedalaman kolam diatur cm. Atau bila lebih dalam lagi, maka penanaman tanaman air diletakkan dalam pot dengan media tanah yang ditata di dalam kolam. Perlu dipahami bahwa air yang terlalu dalam menyebabkan pertukaran udara jelek, sehingga pertumbuhan tanaman dan ikan lambat. Bila diinginkan, tanaman berbunga juga akan lambat berbunga. 6. Tebing Buatan Tebing ini dibuat untuk memberi kesan alami, menyatu dengan alam. Suasana alam gunung, alam pantai, atau alam tepian jurang seakan ingin dibawa ke sini. Di sela-sela tebing biasanya diisi dengan tanah yang subur dan porus untuk menanam tanaman-tanaman yang tetap tumbuh rendah atau merambat sehingga menambah kesan alamiah. 37 S r i H a n d a y a n i
38 Tebing kadang-kadang dibuat dengan maksud untuk menyembunyikan tembok pembatas agar dinding tembok yang licin masif tidak lagi menyilaukan mata pada saat matahari bersinar sepanjang siang, sekaligus menciptakan suasana sejuk, dapat dipadukan dengan kolam dan air menggerojok atau air terjun, menambah suasana dinamis dan nyaman. Di samping itu, juga dapat untuk menyamarkan pemandangan tidak sedap misalnya pada lokasi yang terdapat septic tank. Ada dua hal yang dapat diperoleh dari penampilan batuan tebing ini. a) Bila dalam penataan jeli, pemilihan garis-garisnya benar, maka kesan keasriannya menonjol. b) Bila dalam penataan garis-garisnya salah, maka batuan tebing justru akan mengganggu penampilan keseluruhan lansekap. 7. Pagar/Benteng Pagar berfungsi untuk membatasi lahan pribadi dari lahan peruntukkan yang lain (tetangga, jalan umum atau lingkungan lain). Fungsi lainnya adalah 38 S r i H a n d a y a n i
39 untuk keamanan dan menjaga privacy, agar tidak saling mengganggu dengan lingkungan lainnya. Benteng lebih tepat untuk tujuan pengamanan karena biasanya benteng lebih masif dibandingkan dengan pagar yang transparan. Sejarah benteng lebih tua dari pada pagar. Pada masa kerajaan kuno, benteng dimaksudkan sebagai pertahanan dari serangan musuh. Di Bali masih nampak sisa budaya membentengi tersebut, karena hubungannya dengan nilai sakral yang dianut dalam pembentukan dunia kehidupan pribadinya (micro spatial), yang diatur menurut urutan yang bersifat mistis. Ada tiga aspek yang melatarbelakangi perwujudan pagar yaitu: manusia, keadaan fisik lingkungan dan peraturan perundang-undangan. a) Aspek manusia sebagai individu yang ingin membatasi wilayahnya (konsep batas pemagaran), atau untuk mewujudkan status simbol sebagai ekspresi pribadinya. b) Keadaan fisik lingkungan artinya mewujudkan kejelasan atas penguasaannya berupa tanda tapal batas, atau untuk memberikan jarak tertentu dengan tetangga. c) Peraturan perundang-undangan adalah untuk melindungi legalitas hak milik pribadi yang merupakan manifestasi yang jelas terhadap adanya dorongan memiliki batas. Wajah pagar sangat beraneka ragam, baik bentuk maupun bahannya. Ada yang terbuat dari unsur olahan tangan manusia, ada pula yang merupakan karya asli alam sendiri. Yang dituntut dari wajah pagar adalah mendekati keserasian dengan lingkungannya, minimal mengikuti kriteria berikut: 39 S r i H a n d a y a n i
40 a) Ketinggian maksimal 1,2 m. bidang tembus pandang sebesar 60%, bidang masif setinggi 0,5 m dari permukaan halaman. b) Pemerataan ketinggian untuk mencapai pola yang ritmis. c) Bidang tembus pandang sebagai aplikasi terhadap kontrol lingkungan, ketertiban penghuni dan sifat keterbukaan, keramahan terhadap lingkungan. 8. Gazebo Gazebo adalah bangunan peneduh/rumah kecil yang terdapat di suatu lansekap untuk tempat istirahat dan menikmati suasana sekitar. Sedangkan, bangku taman adalah bangku panjang yang disatukan dengan tempat duduknya dan ditempatkan di gazebo atau tempat-tempat teduh untuk istirahat atau menikmati suasana sekeliling. Gazebo hanya mungkin dibuat untuk lansekap dengan lahan yang luas. Bentuknya dapat dirancang disesuaikan dengan bentuk bangunan utama, atau bila ingin dianggap sebagai aksen, dapat dibuat kontras meniru gaya khusus misalnya art nouveau, gaya kolonial atau tradisional seperti saung, joglo, dan lain sebagainya. Bahan untuk pembuatan gazebo dan bangku taman tidak perlu mewah, tetapi penekanannya pada nilai keindahan, kenyamanan, kesederhanaan dalam suasana santai, akrab dan tidak resmi. Bangunan gazebo bisa terbuat dari bambu, kayu besi, kayu bangunan sederhana lainnya, yang penting kuat dan tahan lama. Atapnya dapat bermacam-macam, mulai dari genting, asbes, ijuk, alang-alang, rumbia dan bahan-bahan lain yang berkesan sederhana. 40 S r i H a n d a y a n i
41 9. Bangku Taman Demikian halnya pada bangku taman dapat bermacam-macam bahan dengan bentukan yang sederhana. 41 S r i H a n d a y a n i
42 10. Lampu Taman Lampu taman merupakan salah satu elemen utama sebuah lansekap dan digunakan untuk menunjang suasana di malam hari. Lampu yang dikreasikan mampu menampilkan berbagai macam permainan bentuk dan warna yang hidup. Efek bayangan lampu juga merupakan pertimbangan dalam menunjang lingkungan yang indah. Permainan air mancur yang dipadukan dengan warna sinar lampu, sehingga berwarna-warni menambah indahnya suasana. Lampu dibedakan atas dua fungsi, yaitu sebagai penerang lingkungan dan sebagai estetika. Sebagai penerang lingkungan, dia harus memberikan suasana terang di malam hari, agar terkesan aman sehingga bebas dari rasa takut. Sebagai estetika, lampu taman, terutama dikreasikan untuk mendapatkan keindahan. Keindahan ini diperoleh dari bentuk lampu yang antik atau geomteris, dari rangkaian lampu dengan bentuk yang bermacam-macam, dari permainan lampu yang dinamis atau permainan lampu yang dipadukan dengan kolam dan air mancur, serta masih banyak kreasi lain yang bisa dimunculkan. Refleksi cahaya lampu pada bangunan dan taman juga dapat memunculkan keindahan. Kesan-kesan tertentu akan muncul dari permainan refleksi cahaya lampu ini. 42 S r i H a n d a y a n i
43 11. Pergola Pergola adalah rangka-rangka yang dibuat untuk menyangga dan merambatkan tanman yang dengan kerapatannya mampu memberikan keteduhan di bawahnya. Tanaman yang merambat disebut sebagai tanaman pergola. Jenisnya bermacam-macam, demikian pula nilai estetikanya. Keindahan dapat muncul dari sulur-sulur/ akar-akaran yang menggelantung rapat atau dapat juga dipotong rata, dari kesejukan lingkungannya yang alami, dari bunga atau tekstur daun yang lembut. Pergola dapat digunakan pada teras, jalan penghubung antar ruang, antar lokasi atau sebagai tempat berteduh yang menggantikan fungsi gazebo. 43 S r i H a n d a y a n i
44 12. Bangunan Gedung Lansekap biasanya dibuat untuk menunjang penampilan suatu bangunan, termasuk bangunan gedung. Gaya arsitektur bangunan gedung bermacammacam. Yang perlu dipahami adalah sebagai berikut: a) Antara bangunan dan ruang-luar-nya harus merupakan satu kesatuan penampilan. b) Pemahaman nilai-nilai bentuk dan garis pada bangunan untuk menyelaraskannya dengan penampilan lansekap. c) Pemahaman bagian-bagian bangunan dalam hubungannya dengan lansekap, karena lansekap memang melengkapi fungsi dan estetika bangunan sehingga bagus dipandang baik dari luar maupun dari dalam bangunan. d) Memanfaatkan bagian bangunan dalam penampilan lansekap sehingga benar-benar tidak ada pemisahan antara bangunan dan ruamg luar. 44 S r i H a n d a y a n i
ELEMEN ELEMEN PENDUKUNG LANSEKAP
Tata Ruang Luar ELEMEN ELEMEN PENDUKUNG LANSEKAP Program Studi Arsitektur Universitas Gunadarma Vinny Nazalita Elemen Lunak Aspek Arsitektural Aspek Artistik Visual Aspek Hortikultural Aspek Pengendali
III. RUANG DAN FUNGSI TANAMAN LANSKAP KOTA
Lanskap Perkotaan (Urban Landscape) III. RUANG DAN FUNGSI TANAMAN LANSKAP KOTA Dr. Ir. Ahmad Sarwadi, MEng. Siti Nurul Rofiqo Irwan, S.P., MAgr, PhD. Tujuan Memahami bentuk-bentuk ruang dengan tanaman
BAB VI R E K O M E N D A S I
BAB VI R E K O M E N D A S I 6.1. Rekomendasi Umum Kerangka pemikiran rekomendasi dalam perencanaan untuk mengoptimalkan fungsi jalur hijau jalan Tol Jagorawi sebagai pereduksi polusi, peredam kebisingan
PENGANTAR VEGETASI LANDSCAPE PENGELOMPOKAN VEGETASI BERDASAR PEMBENTU DAN ORNAMENTAL SPACE
2011 PENGANTAR VEGETASI LANDSCAPE PENGELOMPOKAN VEGETASI BERDASAR PEMBENTU DAN ORNAMENTAL SPACE JURUSAN ARSITEKTUR ITATS Ririn Dina Mutfianti, ST.,MT 10/30/2011 Materi 1 Pengelompokan Berdasarkan Pembentuk
HASIL DAN PEMBAHASAN
27 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dari penelitian ini menunjukkan kualitas estetika pohon-pohon dengan tekstur tertentu pada lanskap jalan dan rekreasi yang bervariasi. Perhitungan berbagai nilai perlakuan
II. TINJAUAN PUSTAKA. desain taman dengan menggunakan tanaman hias sebagai komponennya
9 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ruang Lingkup Arsitektur Lansekap Lansekap sebagai gabungan antara seni dan ilmu yang berhubungan dengan desain taman dengan menggunakan tanaman hias sebagai komponennya merupakan
PENGANTAR ARSITEKTUR PERTAMANAN
Materi 3 PENGANTAR ARSITEKTUR PERTAMANAN Bambang B. Santoso Semester Genap Tahun Ajaran 2009/2010 PENGENALAN ELEMEN PEMBENTUK TAMAN TUJUAN BELAJAR BAB INI : Mampu menyebutkan dan kemudian menjelaskan macam-macam
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Central Business District (CBD) Berdasarkan Undang-Undang No. 24 Tahun 1992 mengenai penataan ruang, pada Pasal 1 disebutkan bahwa kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai
REKOMENDASI KONSEP TATA HIJAU
85 REKOMENDASI KONSEP TATA HIJAU Penanaman lanskap harus dapat memberikan fungsi yang dapat mendukung keberlanjutan aktivitas yang ada dalam lanskap tersebut. Fungsi arsitektural penting dalam penataan
REKOMENDASI Peredam Kebisingan
83 REKOMENDASI Dari hasil analisis dan evaluasi berdasarkan penilaian, maka telah disimpulkan bahwa keragaman vegetasi di cluster BGH memiliki fungsi ekologis yang berbeda-beda berdasarkan keragaman kriteria
masyarakat dan dipandang sebagai kesatuan antara fisik geografis dan lingkungannya dalam arti karakteristrik. Lansekap ditinjau dari segi
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perencanaan Lansekap (Landscape Planning) Lansekap merupakan refleksi dari dinamika sistem alamiah dan sistem sosial masyarakat dan dipandang sebagai kesatuan antara fisik geografis
Observasi Citra Visual Rumah Tinggal
Tugas AR2212 Perilaku dan Desain Arsitektur Observasi Citra Visual Rumah Tinggal Teresa Zefanya / 15213035 Rumah Bagus 1 Gambar 1. Rumah Bagus 1 Rumah di atas berlokasi di Jalan Pager Gunung, Bandung.
Lanskap Perkotaan (Urban Landscape) HUTAN KOTA. Dr. Ir. Ahmad Sarwadi, MEng. Ir. Siti Nurul Rofiqo Irwan, MAgr, PhD.
Lanskap Perkotaan (Urban Landscape) HUTAN KOTA Dr. Ir. Ahmad Sarwadi, MEng. Ir. Siti Nurul Rofiqo Irwan, MAgr, PhD. Tujuan Memahami makna dan manfaat hutan kota pada penerapannya untuk Lanskap Kota. Memiliki
ANALISIS DAN SINTESIS
55 ANALISIS DAN SINTESIS Lokasi Lokasi PT Pindo Deli Pulp and Paper Mills yang terlalu dekat dengan pemukiman penduduk dikhawatirkan dapat berakibat buruk bagi masyarakat di sekitar kawasan industri PT
Gambar 26. Material Bangunan dan Pelengkap Jalan.
KONSEP Konsep Dasar Street furniture berfungsi sebagai pemberi informasi tentang fasilitas kampus, rambu-rambu jalan, dan pelayanan kepada pengguna kampus. Bentuk street furniture ditampilkan memberikan
RESORT DENGAN FASILITAS MEDITASI ARSITEKTUR TROPIS BAB III TINJAUAN KHUSUS. 3.1 Latar Belakang Pemilihan Tema. 3.2 Penjelasan Tema
BAB III TINJAUAN KHUSUS 3.1 Latar Belakang Pemilihan Tema Tema yang diusung dalam pengerjaan proyek Resort Dengan Fasilitas Meditasi ini adalah Arsitektur Tropis yang ramah lingkungan. Beberapa alasan
BAB V KONSEP. mengasah keterampilan yaitu mengambil dari prinsip-prinsip Eko Arsitektur,
BAB V KONSEP 5.1 Konsep Dasar Konsep dasar yang digunakan dalam perancangan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bagi Anak Putus Sekolah sebagai tempat menerima pendidikan dan mengasah keterampilan yaitu mengambil
BAB V KONSEP PERANCANGAN
PRINSIP TEMA Keindahan Keselarasan Hablumminal alam QS. Al-Hijr [15]: 19-20 ISLAM BLEND WITH NATURE RESORT HOTEL BAB V KONSEP PERANCANGAN KONSEP DASAR KONSEP TAPAK KONSEP RUANG KONSEP BENTUK KONSEP STRUKTUR
BAB V KONSEP PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERANCANGAN V.1. KONSEP DASAR PERANCANGAN Dalam konsep dasar pada perancangan Fashion Design & Modeling Center di Jakarta ini, yang digunakan sebagai konsep dasar adalah EKSPRESI BENTUK dengan
BAB V KONSEP PERANCANGAN. Studi Tipologi Bangunan Pabrik Gula Krebet. Kawasan Pabrik gula yang berasal dari buku, data arsitek dan sumber-sumber lain
BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1. Konsep Perancangan Konsep dasar yang digunakan dalam Revitalisasi Kawasan Pabrik Gula Krebet Malang ini mencangkup empat aspek yaitu: Standar Perancangan Objek Prinsip-prinsip
TINJAUAN PUSTAKA. secara alami. Pengertian alami disini bukan berarti hutan tumbuh menjadi hutan. besar atau rimba melainkan tidak terlalu diatur.
TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Hutan Kota Hutan dalam Undang-Undang No. 41 tahun 1999 tentang kehutanan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi
5 BAB V KONSEP DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
5 BAB V KONSEP DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Konsep perancangan mengacu pada karakteristik arsitektur organik, yaitu 1. Bukan meniru bentuk dari alam tapi mengembangkan prinsip yang ada di alam Mengembangkan
sekitarnya serta ketersediaannya yang belum optimal (pada perbatasan tertentu tidak terdapat elemen gate). d. Elemen nodes dan landmark yang
BAB 5 KESIMPULAN 1. Berdasarkan hasil pengamatan dan penilaian secara subyektif (oleh peneliti) dan obyektif (pendapat responden) maka elemen identitas fisik yang membentuk dan memperkuat karakter (ciri
BAB V KONSEP. marmer adalah Prinsip Sustainable Architecture menurut SABD yang terangkum
BAB V KONSEP 5.1 Konsep Dasar Konsep dasar yang digunakan dalam perancangan sentra industri batu marmer adalah Prinsip Sustainable Architecture menurut SABD yang terangkum dalam Three Dimension Sustainability:
BAB VII DESAIN TAMAN VERTIKAL
68 BAB VII DESAIN TAMAN VERTIKAL 7.1 Tema Desain Desain merupakan tahap setelah perencanaan yang menghasilkan gambar lebih detil. Desain taman vertikal di kluster Pine Forest, Sentul City merupakan implementasi
BAB V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1. Konsep Dasar Perancangan Sekolah Islam Terpadu memiliki image tersendiri didalam perkembangan pendidikan di Indonesia, yang bertujuan memberikan sebuah pembelajaran
II. TINJAUAN PUSTAKA. bagi warga kota. Selain sebagai sarana tersebut, kehadiran lapangan golf
9 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ruang Lingkup Arsitektur Lansekap Lapangan golf merupakan salah satu fasilitas umum kota yang dapat digunakan sebagai sarana olah raga dan rekreasi melalui permainan golf yang
8.1. Pengelompokan Tanaman berdasarkan Aspek Arsitektural dan Arisik Visual
Konsep Vegetasi Pada beberapa bahasan terdahulu sudah dikemukakan bahwa elemen vegetasi / tanaman merupakan unsur yang dominan dalam RTH / Ruang Hijau Kota / Urban Open Space. Vegetasi dapat ditata sedemikian
BAB 5 KONSEP PERANCANGAN. merupakan salah satu pendekatan dalam perancangan arsitektur yang
BAB 5 KONSEP PERANCANGAN Konsep perancangan pada redesain kawasan wisata Gua Lowo di Kabupaten Trenggalek menggunakan tema Organik yang merupakan salah satu pendekatan dalam perancangan arsitektur yang
TINJAUAN PUSTAKA. menjadi suatu kawasan hunian yang berwawasan ligkungan dengan suasana yang
TINJAUAN PUSTAKA Penghijauan Kota Kegiatan penghijauan dilaksanakan untuk mewujudkan lingkungan kota menjadi suatu kawasan hunian yang berwawasan ligkungan dengan suasana yang asri, serasi dan sejuk dapat
BAB V ANALISIS SINTESIS
BAB V ANALISIS SINTESIS 5.1 Aspek Fisik dan Biofisik 5.1.1 Letak, Luas, dan Batas Tapak Tapak terletak di bagian Timur kompleks sekolah dan berdekatan dengan pintu keluar sekolah, bangunan kolam renang,
Gambar 23. Ilustrasi Konsep (Image reference) Sumber : (1) ; (2) (3)
48 PERENCANAAN LANSKAP Konsep dan Pengembangannya Konsep dasar pada perencanaan lanskap bantaran KBT ini adalah menjadikan bantaran yang memiliki fungsi untuk : (1) upaya perlindungan fungsi kanal dan
Bayanaka Canggu. tentang sebuah rumah peristirahatan di Bali, 2007 oleh: Fransiska Prihadi 1
Bayanaka Canggu tentang sebuah rumah peristirahatan di Bali, 2007 oleh: Fransiska Prihadi 1 Sebuah harmoni dalam karya arsitektur tercipta ketika seluruh unsur dalam bangunan termasuk konsep arsitektur,
BAB IV KONSEP PERANCANGAN
BAB IV KONSEP PERANCANGAN 4.1. Letak Geografis Site Site yang akan dibangun berlokasi di sebelah timur Jalan Taman Siswa dengan koordinat 07 o 48 41.8 LS 110 o 22 36.8 LB. Bentuk site adalah persegi panjang
PERENCANAAN Tata Hijau Penyangga Green Belt
68 PERENCANAAN Perencanaan ruang terbuka hijau di kawasan industri mencakup perencanaan tata hijau, rencana sirkulasi, dan rencana fasilitas. Perencanaan tata hijau mencakup tata hijau penyangga (green
II. TINJAUAN PUSTAKA. Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah suatu bentuk ruang terbuka di kota (urban
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Ruang Terbuka Hijau Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah suatu bentuk ruang terbuka di kota (urban space) dengan unsur vegetasi yang dominan. Perancangan ruang hijau kota harus memperhatikan
BAB 3 METODOLOGI PERANCANGAN. Dalam kajian perancangan ini berisi tentang penjelasan dari proses atau
BAB 3 METODOLOGI PERANCANGAN 3.1. Metode Umum Dalam kajian perancangan ini berisi tentang penjelasan dari proses atau tahapan-tahapan dalam merancang, yang disertai dengan teori-teori dan data-data yang
BAB VI HASIL PERANCANGAN
BAB VI HASIL PERANCANGAN 6.1 Konsep Dasar Perancangan Konsep dasar perancangan Pusat Studi dan Budidaya Tanaman Hidroponik ini adalah Arsitektur Ekologis. Adapun beberapa nilai-nilai Arsitektur Ekologis
Seminar Nasional BOSARIS III Jurusan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya
PENERAPAN DESAIN DALAM RANGKAIAN BUNGA SEBAGAI PELENGKAP DEKORASI RUANG Arita Puspitorini PKK Abstrak, Bunga sejak dulu hingga kini memiliki peran penting dalam kehidupan manusia, karena bunga dirangkai
ARL 200 ADISTI RIZKYARTI A
ARL 200 ADISTI RIZKYARTI A24080164 3. LANSKAP Dari Gambar lanskap di atas dapat di jelaskan keadaan lereng gunung yang di kelilingi dapat disimpulkan faktor-faktor yang mempengaruhi pembentuknya dari segi
ESTETIKA BENTUK SEBAGAI PENDEKATAN SEMIOTIKA PADA PENELITIAN ARSITEKTUR
ESTETIKA BENTUK SEBAGAI PENDEKATAN SEMIOTIKA PADA PENELITIAN ARSITEKTUR Jolanda Srisusana Atmadjaja Jurusan Arsitektur FTSP Universitas Gunadarma ABSTRAK Penelitian karya arsitektur dapat dilakukan melalui
Minggu 5 ANALISA TAPAK CAKUPAN ISI
1 Minggu 5 ANALISA TAPAK CAKUPAN ISI Membuat analisa pada tapak, mencakup orientasi matahari, lingkungan, sirkulasi dan entrance, kontur. Analisa Zoning, mencakup zona public, semi public dan private serta
BAB VI PENERAPAN KONSEP PADA RANCANGAN. memproduksi, memamerkan dan mengadakan kegiatan atau pelayanan yang
BAB VI PENERAPAN KONSEP PADA RANCANGAN 6.1 Dasar Perancangan Kabupaten Pamekasan paling berpotensi untuk membangun sentra batik di Madura. Sentra batik di pamekasan ini merupakan kawasan yang berfungsi
Natural Friendly Neoclassical Style. Architecture
Architecture Natural Friendly Neoclassical Style Teks: Widya Prawira Foto: BambangPurwanto Desain rumah yang everlasting dengan mengoptimalkan potensi lingkungan, menjadikan rumah ini bersahabat dengan
BAB V KESIMPULAN ARSITEKTUR BINUS UNIVERSITY
81 BAB V KESIMPULAN V.1 Dasar Perencanaan dan Perancangan V.1.1 Keterkaitan Konsep dengan Tema dan Topik Konsep dasar pada perancangan ini yaitu penggunaan isu tentang Sustainable architecture atau Environmental
II. TINJAUAN PUSTAKA. alami maupun buatan manusia, yang merupakan total dari bagian hidup manusia
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lanskap dan Lanskap Kota Lanskap merupakan suatu bagian dari muka bumi dengan berbagai karakter lahan/tapak dan dengan segala sesuatu yang ada di atasnya baik bersifat alami maupun
BAB VI HASIL RANCANGAN. terdapat pada Bab IV dan Bab V yaitu, manusia sebagai pelaku, Stadion Raya
165 BAB VI HASIL RANCANGAN 6.1. Dasar Rancangan Hasil perancangan diambil dari dasar penggambaran konsep dan analisa yang terdapat pada Bab IV dan Bab V yaitu, manusia sebagai pelaku, Stadion Raya sebagai
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kondisi Eksisting dan Evaluasi Ruang Terbuka Hijau Kecamatan Jepara Jenis ruang terbuka hijau yang dikembangkan di pusat kota diarahkan untuk mengakomodasi tidak hanya fungsi
BAB V KONSEP PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1 Konsep Dasar Perancangan Gedung pusat kebugaran ini direncanakan untuk menjadi suatu sarana yang mewadahi kegiatan olahraga, kebugaran, dan relaksasi. Dimana kebutuhan masyarakat
IDENTIFIKASI LANSEKAP ELEMEN SOFTSCAPE DAN HARDSCAPE PADA TAMAN BALEKAMBANG SOLO
114 IDENTIFIKASI LANSEKAP ELEMEN SOFTSCAPE DAN HARDSCAPE PADA TAMAN BALEKAMBANG SOLO Endang Wahyuni, Qomarun Program Studi Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Surakarta Jl. A.
BAB V KONSEP PERANCANGAN. Konsep dasar perancangan beranjak dari hasil analisis bab sebelumnya yang
BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1 Konsep Dasar Konsep dasar perancangan beranjak dari hasil analisis bab sebelumnya yang kemudian disintesis. Sintesis diperoleh berdasarkan kesesuaian tema rancangan yaitu metafora
DENAH LT. 2 DENAH TOP FLOOR DENAH LT. 1
0.15 8.60 2.88 Pada area lantai,1 ruang parkir di perluas dari yang sebelumnya karena faktor jumlah kendaraan pada asrama yang cukup banyak. Terdapat selasar yang difungsikan sebagai ruang tangga umum
HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Umum Evaluasi Kualitas Estetik
19 HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Umum Desa Ancaran memiliki iklim yang dipengaruhi oleh iklim tropis dan angin muson, dengan temperatur bulanan berkisar antara 18 C dan 32 C serta curah hujan berkisar
BAB 2 KAJIAN PUSTAKA
BAB 2 KAJIAN PUSTAKA 2.1. Agrowisata Agrowisata pada hakekatnya merupakan suatu kegiatan yang mengintegrasikan sistem pertanian dan sistem pariwisata sehingga membentuk objek wisata yang menarik. Menurut
Udang di Balik Batu. Parahita Galuh Kusumaningtyas
Udang di Balik Batu Parahita Galuh Kusumaningtyas Jadul Village, namanya. Kala berdiri di depan gerbang, rasanya seperti ada perang. Dua unsur yang kelihatannya sama sekali berbeda mencoba mendominasi
KONSEP RANCANGAN. Latar Belakang. Konteks. Tema Rancangan Surabaya Youth Center
KONSEP RANCANGAN Latar Belakang Surabaya semakin banyak berdiri gedung gedung pencakar langit dengan style bangunan bergaya modern minimalis. Dengan semakin banyaknya bangunan dengan style modern minimalis
BAB III METODOLOGI Tempat dan Waktu Penelitian
BAB III METODOLOGI 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini mengambil lokasi di jalan bebas hambatan Tol Jagorawi dengan mengambil beberapa segmen jalan yang mewakili karakteristik lanskap jalan
Pengembangan RS Harum
BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1. KONSEP DASAR PENINGKATAN DENGAN GREEN ARCHITECTURE Dari penjabaran prinsi prinsip green architecture beserta langkahlangkah mendesain green building menurut: Brenda dan Robert
KONSEP PERANCANGAN TAMAN DEPAN REKTORAT UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA Tim Perancang: Muhajirin, S.Sn, M.Pd. Dwi Retno Sri Ambarwati, M.
1 KONSEP PERANCANGAN TAMAN DEPAN REKTORAT UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA Tim Perancang: Muhajirin, S.Sn, M.Pd. Dwi Retno Sri Ambarwati, M.Sn LATAR BELAKANG PERANCANGAN Universitas Negeri Yogyakarta sebagai
BAB IV KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB IV KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Rumusan konsep ini merupakan dasar yang digunakan sebagai acuan pada desain studio akhir. Konsep ini disusun dari hasil analisis penulis dari tinjauan pustaka
BAB V KONSEP PERANCANGAN PASAR. event FESTIVAL. dll. seni pertunjukan
BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1. Konsep Dasar Konsep dasar pada perancangan Pasar Astana Anyar ini merupakan konsep yang menjadi acuan dalam mengembangkan konsep-konsep pada setiap elemen perancangan arsitektur
BAB III TINJAUAN KHUSUS
BAB III TINJAUAN KHUSUS 3.1. Pengertian Tema 3.1.1. Green Architecture (Arsitektur Hijau) Banyak orang memiliki pemahaman berbeda-beda tentang Green Architecture, ada yang beranggapan besaran volume bangunan
SAINS ARSITEKTUR II BANGUNAN ARSITEKTUR RAMAH LINGKUNGAN MENURUT KONSEP ARSITEKTUR TROPIS. Disusun Oleh: Ignatius Christianto S
SAINS ARSITEKTUR II BANGUNAN ARSITEKTUR RAMAH LINGKUNGAN MENURUT KONSEP ARSITEKTUR TROPIS Disusun Oleh: Ignatius Christianto S 0951010043 JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAANN
BAB IV : KONSEP. 4.1 Konsep Dasar. Permasalahan & Kebutuhan. Laporan Perancangan Arsitektur Akhir
BAB IV : KONSEP 4.1 Konsep Dasar Table 5. Konsep Dasar Perancangan Permasalahan & Kebutuhan Konsep Selama ini banyak bangunan atau gedung kantor pemerintah dibangun dengan hanya mempertimbangkan fungsi
BAB V KONSEP PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERANCANGAN Konsep perancangan merupakan proses pengambilan keputusan dalam melakukan desain pengembangan kawasan Agrowisata berdasarkan analisis perancangan. Konsep perancangan tersebut di
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN DESAIN
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN DESAIN 4.1 Denah Lokasi Hutan Kota Sungkur Klaten terletak di Kelurahan Sungkur, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten. Bagian Utara Hutan Kota berbatasan dengan Jalan
BAB II LANGKAH PERTAMA KE NIAS
BAB II LANGKAH PERTAMA KE NIAS BAB II LANGKAH PERTAMA KE NIAS Langkah kami setelah mencari tahu dan segala informasi tentang Pulau Nias adalah survey langsung ke lokasi site untuk Tugas Akhir ini. Alangkah
PERANCANGAN TAPAK II DESTI RAHMIATI, ST, MT
PERANCANGAN TAPAK II DESTI RAHMIATI, ST, MT DESKRIPSI OBJEK RUANG PUBLIK TERPADU RAMAH ANAK (RPTRA) Definisi : Konsep ruang publik berupa ruang terbuka hijau atau taman yang dilengkapi dengan berbagai
BAB VI HASIL PERANCANGAN
BAB VI HASIL PERANCANGAN Hasil perancangan merupakan aplikasi dari konsep ekowisata pada pengembangan kawasan agrowisata sondokoro yang meliputi bebera aspek, diantaranya: 6.1. Dasar Pengembangan Dasar
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan,
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada
Architecture. White Simplicity in. Neoclassic. Home 80 #006 / Diary
Architecture White Simplicity in Neoclassic 80 #006 / 2014 Teks: Widya Prawira Foto: Bambang Purwanto Eleganitas yang terpancar lewat pilihan warna, proporsi dan elemen detilnya, dapat melengkapi karakter
TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Buah Naga
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tanaman Buah Naga Buah naga ( Dragon Fruit) merupakan salah satu tanaman hortikultura yang baru dibudidayakan di Indonesia dengan warna buah merah yang menyala dan bersisik hijau
REDESAIN RUMAH SAKIT SLAMET RIYADI DI SURAKARTA
REDESAIN RUMAH SAKIT SLAMET RIYADI DI SURAKARTA ZONIFIKASI Dasar pertimbngan Potensi site Kemungkinan pengelohan Tuntutan kegiatan UTILITAS Konsep utilitas pada kawasan perencanaan meliputi : 1. Terjadinya
IV. KONDISI UMUM 4.1 Letak Geografis dan Aksesibilitas
42 IV. KONDISI UMUM 4.1 Letak Geografis dan Aksesibilitas Secara geografis, perumahan Bukit Cimanggu City (BCC) terletak pada 06.53 LS-06.56 LS dan 106.78 BT sedangkan perumahan Taman Yasmin terletak pada
BAB V KONSEP PERANCANGAN. Sentra Agrobisnis tersebut. Bangunan yang tercipta dari prinsip-prinsip Working
BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1 Konsep Dasar Perancangan Sentra Agrobisnis Anjuk Ladang menggunakan konsep Power of Climate, dengan konsep tersebut diharapkan dapat mengoptimalkan tema dari Working With Climate
Subdivisi Arsitektur Lanskap. Redinuka Ashil Karamah. Sempervivum tectorum
Subdivisi Arsitektur Lanskap Redinuka Ashil Karamah Sempervivum tectorum Review: Love Your Garden Season 6 Episode 2 TUJUAN Mempelajari perancangan taman Mempelajari konsep taman dengan salah satu gaya/tema
BAB VI PENUTUP. 1. Kondisi kenyamanan thermal hasil simulasi eksisting: Kondisi eksisting penggal 1,2,3 titik terendah dan tertinggi pagi
BAB VI PENUTUP VI.1. Kesimpulan 1. Kondisi kenyamanan thermal hasil simulasi eksisting: Kondisi eksisting penggal 1,2,3 titik terendah dan tertinggi pagi (07.00) secara keseluruhan dalam kondisi nyaman.
TINJAUAN PUSTAKA. Di bawah tanah, akar mengambil air dan mineral dari dalam tanah. Air dan
TINJAUAN PUSTAKA Pohon Pohon adalah tumbuhan berkayu yang tumbuh dengan tinggi minimal 5 meter (16 kaki). Pohon mempunyai batang pokok tunggal yang menunjang tajuk berdaun dari cabang-cabang di atas tanah.
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lanskap Jalan
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lanskap Jalan Lanskap jalan adalah wajah dan karakter lahan atau tapak yang terbentuk pada lingkungan jalan, baik yang terbentuk dari elemen lanskap alami seperti bentuk topografi
HORTIKULTURA LANSEKAP
Materi 2 HORTIKULTURA LANSEKAP Bambang B. Santoso Semester Genap Tahun Ajaran 2009/2010 TANAMAN SEBAGAI UNSUR LANSEKAP TUJUAN BELAJAR BAB INI : Mampu menjelaskan ekosistim tanaman taman, Mampu menjelaskan
LANSEKAP YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN
Bahan Ajar Mata kuliah Arsitektur Lansekap D3 Prodi Arsitektur Perumahan Jurusan Pendidikan Teknik Arsitektur FPTK UPI LANSEKAP YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN Sri Handayani Fungsi lansekap atau tata hijau
BAB V KONSEP RANCANGAN
BAB V KONSEP RANCANGAN 5.1 Ide Awal Pertimbangan awal saat hendak merancang proyek ini adalah : Bangunan ini mewadahi keegiatan/aktivitas anak yang bias merangsang sensorik dan motorik anak sehingga direpresentasikan
TINJAUAN PUSTAKA Karakter Lanskap Kota
TINJAUAN PUSTAKA Karakter Lanskap Kota Karakter merupakan sifat dan ciri khas yang dimiliki oleh suatu kelompok, baik orang maupun benda. Karakter lanskap merupakan suatu area yang mempunyai keharmonisan
V. KONSEP Konsep Dasar Perencanaan Tapak
V. KONSEP 5.1. Konsep Dasar Perencanaan Tapak Konsep perencanaan pada tapak merupakan Konsep Wisata Sejarah Perkampungan Portugis di Kampung Tugu. Konsep ini dimaksudkan untuk membantu aktivitas interpretasi
BAB V PERENCANAAN LANSKAP ANCOL ECOPARK
26 BAB V PERENCANAAN LANSKAP ANCOL ECOPARK 5.1 Konsep Pengembangan Ancol Ecopark Hingga saat ini Ancol Ecopark masih terus mengalami pengembangan dalam proses pembangunannya. Dalam pembentukan konsep awal,
ANALISIS SITE LAHAN/TAPAK RELATIF DATAR
ANALISIS SITE LAHAN/TAPAK RELATIF DATAR Oleh : Ririn Dina Mutfianti, MT Desain Arsitektur Jurusan Arsitektur-Universitas Widya Kartika Kenapa harus menganalisis Site? Karena : 1. Sebagian besar bangunan
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. EVALUASI BANGUNAN Yaitu, penelitian yang lebih formal berdasarkan lapangan penyelidikan analitis. Evaluasi bangunan bertujuan untuk mengatasi ketepatgunaan, kemanfaatan, perubahan
VII. PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
46 VII. PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 7.1. Perencanaan Alokasi Ruang Konsep ruang diterjemahkan ke tapak dalam ruang-ruang yang lebih sempit (Tabel 3). Kemudian, ruang-ruang tersebut dialokasikan ke dalam
GEOMETRIS, KANTILEVER LEBAR.
ARC HIT EC T U RE Lokasi rumah yang berada di tepi telaga, relatif jarang ditemukan untuk rumah tinggal di Jakarta dan sekitarnya, khususnya di Tangerang. Inilah yang menjadi keunggulan rumah karya Arsitek
IV. Pemilihan Tanaman Lanskap Kota
Lanskap Perkotaan (Urban Landscape) IV. Pemilihan Tanaman Lanskap Kota Dr. Ir. Ahmad Sarwadi, MEng. Siti Nurul Rofiqo Irwan,S.P., MAgr, PhD. Tujuan Memahami kriteria tanaman Lanskap Kota Mengetahui berbagai
PENGANTAR ARSITEKTUR PERTAMANAN
Materi 4 PENGANTAR ARSITEKTUR PERTAMANAN Bambang B. Santoso Semester Genap Tahun Ajaran 2009/2010 3 April 2010 PENGANTAR DAN APLIKASI SENI DALAM GAMBAR TUJUAN BELAJAR BAB INI : Mampu menyebutkan beberapa
BAB VI HASIL PERANCANGAN. simbolisme dari kalimat Minazh zhulumati ilan nur pada surat Al Baqarah 257.
BAB VI HASIL PERANCANGAN Revitalisasi kawasan wisata makam Kartini ini berlandaskan pada konsep simbolisme dari kalimat Minazh zhulumati ilan nur pada surat Al Baqarah 257. Nilai-nilai Islam yang terkandung
BAB V I KLASIFIKASI KONSEP DAN APLIKASI RANCANGAN. dari permasalahan Keberadaan buaya di Indonesia semakin hari semakin
BAB V I KLASIFIKASI KONSEP DAN APLIKASI RANCANGAN Pusat pembudidayaan dan wisata penangkaran buaya dirancang berangkat dari permasalahan Keberadaan buaya di Indonesia semakin hari semakin menurun. Hal
Asrama Mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta
BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 6.1. Konsep perencanaan 6.1.1. Pelaku dan kategori kebutuhan ruang, dan Besaran Ruang. 6.1.1.1. Pelaku Dan Kategori Kebutuhan Ruang Dari analisis yang telah dilakukan
PEMERINTAH KABUPATEN JOMBANG
PEMERINTAH KABUPATEN JOMBANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN JOMBANG NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN RUANG TERBUKA HIJAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JOMBANG, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan
Gambar 2. Bagan fungsi jalur hijau
II. TINJAUAN PUSTAKA Jalur hijau harus mempertimbangkan segala aspek sosial, fungsi jalur hijau dan nilai-nilai yang terkandung dalam perencanaannya. Gambar 2 di bawah ini menunjukkan hal apaa saja yang
BAB III KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB III KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 1.1 Konsep Perencanaan Dan Perancangan Proyek perencanaan dan perancangan untuk interior SCOOTER OWNERS GROUP INDONESIA Club di Bandung ini mengangkat tema umum
f. Nilai estetis (Aesthetic values)
3. Fungsi Tanaman Tanaman tidak hanya mengandung/mempunyai nilai estetis saja, tapi juga berfungsi untuk meningkatkan kualitas Iingkungan. Adapun fungsi 1anaman adalah: (baca, Carpenter, Phillip L., Theodore
BAB VI HASIL RANCANGAN. wadah untuk menyimpan serta mendokumentasikan alat-alat permainan, musik,
BAB VI HASIL RANCANGAN Perancangan Museum Anak-Anak di Kota Malang ini merupakan suatu wadah untuk menyimpan serta mendokumentasikan alat-alat permainan, musik, serta film untuk anak-anak. Selain sebagai
BAB V KONSEP DASAR. Konsep dasar yang digunakan dalam perancangan Kepanjen Educaion. Prinsip-prinsip tema Arsitektur Perilaku
BAB V KONSEP DASAR 5.1 Konsep Perancangan Konsep dasar yang digunakan dalam perancangan Kepanjen Educaion Park ini mencangkup tiga aspek yaitu: Prinsip-prinsip tema Arsitektur Perilaku Kriteria dalam behaviour
