BAB II KAJIAN TEORI Konsep
|
|
|
- Hartanti Chandra
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II KAJIAN TEORI A. Konsep Menurut Rosser (Dahar, 1996) konsep adalah suatu abstraksi yang mewakili satu kelas objek, kejadian, kegiatan atau hubungan, yang mempunyai atribut-atribut yang sama. Woodruff (Amin, 1987) menjelaskan pengertian konsep menjadi 3 yaitu: 1) Konsep dapat didefinisikan sebagai suatu gagasan/ide yang relatif sempurna dan bermakna, 2) Konsep merupakan suatu pengertian tentang suatu objek, 3) Konsep adalah produk subjektif yang berasal dari cara seseorang membuat pengertian terhadap objek-objek atau bendabenda melalui pengalamannya (setelah melakukan persepsi terhadap objek/benda). Hudoyo (2004) mengartikan konsep sebagai gagasan atau pemahaman dasar seseorang dimana seseorang dapat mengelompokkan benda, peristiwa, atau simbol berdasarkan sifat-sifat atau ciri khas yang dimiliki dan dapat diberi nama. Menurut Wayan (2000), mendefinisikan konsep sebagai suatu ide atau gagasan yang digeneralisasi dari pengalaman manusia dengan beberapa peristiwa benda dan fakta. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) konsep adalah gambaran mental suatu objek, proses, atau apapun yang berada diluar bahasa yang dulu digunakan oleh akal budi untuk memahami masalah lainnya. Menurut Berg (1991) Konsep adalah benda-benda, kajadiankejadian, situasi-situasi, atau cirri-ciri yang memiliki ciri-ciri khas dan yang terwakili dalam setiap budaya oleh suatu tanda atau simbol. Dengan melihat pengertian konsep, maka dapat disimpulkan bahwa konsep adalah gagasan atau pemahaman dasar seseorang dimana seseorang dapat mengelompokkan benda, peristiwa, atau simbol berdasarkan sifat-sifat atau ciri khas yang dimiliki dan dapat diberi nama. 6
2 B. Konsepsi Tafsiran perorangan terhadap banyak konsep berbeda-beda. Misalnya penafsiran konsep ibu atau cinta atau keadilan berbeda untuk setiap orang. Tafsiran perorangan mengenai suatu konsep ini disebut konsepsi. Walaupun dalam matematika kebanyakan konsep mempunyai arti yang jelas, yang sudah disepakati oleh para tokoh matematika, tetapi konsepsi siswa/mahasiswa berbeda-beda. Tafsiran siswa/mahasiswa (konsepsi siswa/mahasiswa) mengenai konsep integral berbeda dari tafsiran dosen atau buku. Pengertian konsepsi dikemukakan oleh Berg (1991) dalam Dewi (2011) adalah pengertian atau penafsiran seseorang terhadap suatu konsep tertentu dalam kerangka pengetahuan yang sudah ada dalam pikirannya dan setiap konsep baru didapatkan dan diproses dengan konsep-konsep yang telah dimiliki. Menurut Handjojo (2004) konsepsi adalah konsep yang dimiliki seseorang melalui penalaran, intuisi, budaya, pengalaman hidup atau yang lain. Terdapat banyak konsepsi-konsepsi dalam matematika antara lain: konsepsi jajargenjang yaitu segiempat dengan sisi-sisi yang berhadapan sejajar dan sama panjang serta sudut-sudut yang berhadapan sama besar. Dengan melihat pengertian konsepsi di atas maka dapat disimpulkan bahwa konsepsi merupakan seseorang terhadap suatu konsep tertentu yang sudah ada dalam pikirannya. C. Pemahaman dan Kesalahan Konsep 1. Proses Pemahaman Konsep Pemahaman konsep merupakan salah satu aspek dari tiga aspek yang didalam penilaian matematika. Penilaian pada aspek konsep bertujuan untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu menerima dan mamahami konsep matematika yang telah diterima oleh siswa. 7
3 Menurut Sudjana (1990:24) pemahaman konsep adalah tingkat kemampuan yang mengharapkan siswa/mahasiswa mampu memahami arti dari konsep, situasi, serta fakta yang diketahuinya. Dalam hal ini siswa tidak hanya hafal secara verbalitas, tetapi memahami konsep dari masalah atau fakta yang ditanyakan. Menurut Jatmiko (Dewi, 2011) Kemampuan ini dapat dibagi menjadi 3 tipe pemahaman, yaitu: a. Menerapkan sesuatu dengan kata-kata sendiri. b. Mengenali sesuatu dengan menggunakan kata-kata yang berbeda dengan yang ada dibuku. c. Menginterprestasikan atau menarik kesimpulan yang benar dan ilmiah. Pemahaman konsep dapat diaplikasikan dalam sebuah soal, misalkan tuliskan kembali perkalian 3 X 4 dalam penjumlahan berulang! Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa pemahaman konsep adalah suatu proses untuk memahami dan menanamkannya pada memori otak kita tentang suatu pengertian dan makna yang sedang disimpankan. 2. Kesalahan Terhadap Konsep dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Kesalahan Sriati (1994:8-9) dalam penelitiannya menemukan beberapa jenis kesalahan yang dilakukan yaitu : 1. Kesalahan strategi, yaitu kesalahan yang terjadi jika mahasiswa memilih jalan yang tidak tepat yang mengarahkan ke jalan buntu. 2. Kesalahan terjemahan, yaitu kesalahan dalam mengubah informasi ke ungkapan matematik atau kesalahan memberi makna suatu ungkapan matematika. 3. Kesalahan sistematik, yaitu kesalahan yang berkenaan dengan pilihan yang salah atas teknik ekstrapolasi. 8
4 4. Kesalahan konsep, yaitu kesalahan dalam memahami gagasan abstrak. 5. Kesalahan tanda, yaitu kesalahan dalam memberikan atau menuliskan tanda operasi matematika. 6. Kesalahan tanpa pola, yaitu kesalahan dimana mahasiswa dalam mengerjakan soal secara sembarangan. 7. Kesalahan hitung, yaitu kesalahan dalam melakukan operasi hitung dalam matematika, seperti menjumlah, mengurangkan, mengalikan, dan membagi. Lerner (Mulyono, 1999) mengemukakan berbagai kesalahan umum yang dilakukan oleh anak dalam mengerjakan tugas-tugas matematika, yaitu kurangnya pengetahuan tentang simbol, kurangnya pemahaman tentang nilai tempat, penggunaan proses yang keliru, kesalahan perhitungan, dan tulisan yang tidak dapat dibaca sehingga mahasiswa melakukan kekeliruan karena tidak mampu lagi membaca tulisannya sendiri. Adapun beberapa faktor yang menjadi penyebab kesalahan dalam menyelesaikan masalah dapat diuraikan seperti berikut: a. Faktor penyebab letak kesalahan b. Faktor Penyebab Jenis Kesalahan c. Faktor faktor penyebab jenis kesalahan konsep d. Faktor faktor penyebab jenis kesalahan operasi yang dimiliki e. Faktor faktor penyebab jenis kesalahan prinsip Hidayat (2004) Banyak faktor yang menjadi penyebabkan kesalahan dalam menyelesaikan soal matematika. Faktor-faktor tersebut bisa jadi berasal dari objek dasar matematika yang belum sepenuhnya dikuasai. Menurut Soejadi (2000:13) ada empat objek dasar yang dipelajari dalam matematika meliputi: 9
5 a. Fakta (abstrak) Fakta berupa konvensi-konvensi yang diungkap dengan simbol-simbol tertentu. b. Konsep Adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengklasifikasi sekumpulan objek. Konsep berhubungan erat dengan definisi. Definisi adalah ungkapkan yang membatasi suatu konsep. Dengan adanya definisi, orang dapat membuat ilustrasi atau gambaran atau lambing dari konsep yang didefinisikan. Sehingga semakin jelas apa yang dimaksud dengan konsep tertentu. c. Operasi (abstrak) Adalah pengerjaan hitung, pengerjaan aljabar dan pengerjaan matematika yang lain. Seringkali operasi juga disebut dengan skill, bila yang ditekakan adalah keterampilannya. d. Prinsip (abstrak) Adalah objek matematika yang komplek, dapat terdiri atas beberapa fakta, beberapa konsep yang dikaitkan oleh suatu relasi maupun operasi. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa prinsip adalah hubungan antara berbagai objek dasar matematika. Jadi dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ada banyak faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar, yang juga berpengaruh terhadap bentuk kesalahan yang dilakukan mahasiswa dalam menyelesaikan soal matematika. 3. Jenis Tipe-tipe Kesalahan Matematika tersusun secara hirarki maka kurangnya penguasaan materi terhadap suatu pokok bahasan akan mempengaruhi penguasaan pada pokok bahasan selanjutnya. Apapun kesalahan yang dilakukan oleh mahasiswa, hal ini 10
6 perlu dilakukan agar dapat ditentukan tindak lanjut terhadap kesalahan yang ada. Menurut Subanji dan Mulyono dalam Pramudya (2011) tentang jenisjenis kesalahan yang dilakukan dalam menyelesaikan soal-soal matematika antara lain: 1. Kesalahan interprestasi bahasa Mahasiswa sering melakukan kesalahan dalam menyatakan bahasa sehari-hari dalam bahasa matematika. Hal tersebut dikarenakan banyaknya simbol-simbol, grafik dan tabel sehingga membuat mahasiswa melakukan kesalahan dalam menginterprestasikan simbolsimbol, grafik, tabel kedalam bahasa matematika. 2. Kesalahan teknis Mahasiswa sering melakukan kesalahan-kesalahan perhitungan atau komputasi dalam mengerjakan soal-soal. 3. Kesalahan konsep Seringkali mahasiswa melakukan kesalahan dalam menentukan atau menerapkan rumus untuk menjawab suatu masalah. Mahasiswa melakukan kesalahan penggunaan teorema atau rumus yang tidak sesuai dengan kondisi prasyarat yang tidak sesuai dengan kondisi prasyarat berlakunya rumus tersebut atau tidak menuliskan teorema. Sedangkan penelitian (Pramudya, 2011) tipe-tipe kesalahan menurut Newman (Clement, 1980) kesalahan-kesalahan dapat dikelompokkan sebagai berikut: 1. Kesalahan karena kecerobohan atau kurang cermat Mahasiswa dalam menggunakan kaidah atau aturan sudah benar, tetapi melakukan kesalahan dalam perhitungan. 11
7 2. Kesalahan dalam keterampilan proses Dalam menyelesaikan soal matematika sering dijumpai kesalahan dalam proses penyelesaian. 3. Kesalahan dalam memahami soal Mahasiswa sebenarnya sudah dapat memahami soal, tetapi belum menangkap informasi yang terkandung dalam pernyataan, sehingga mahasiswa tidak dapat memproses lebih lanjut solusi permasalahan. 4. Kesalahan dalam penggunaan notasi Dalam hal ini mahasiswa melakukan kesalahan dalam penggunaan notasi yang benar. 5. Kesalahan konsep Sering kali mahasiswa melakukan kesalahan dalam menentukan atau menerapkan rumus untuk menjawab suatu masalah. Mahasiswa melakukan kesalahan penggunaan teorema atau rumus yang tidak sesuai dengan kondisi prasyarat berlakunya rumus tersebut atau tidak menulis teorema. Menurut Watson dalam Dewi (2011) terdapat 8 kategori kesalahan yang dilakukan siswa/mahasiswa dalam mengerjakan soal, yaitu: 1. Data tidak tepat (inappropriate data/ id) Dalam kasus ini siswa/mahasiswa berusaha mengoperasi pada level yang tepat pada suatu masalah, tetapi memilih sebuah informasi atau data yang tidak tepat. 2. Prosedur tidak tepat (inappropriate procedure/ ip) Pada kasus ini siswa/mahasiswa berusaha mengoperasikan pada level yang tepat pada suatu masalah, tetapi dia menggunakan prosedur atau cara yang tidak tepat. 12
8 3. Data hilang (omitted data/ od) Gejala data hilang yaitu kehilangan satu data atau lebih dari respon siswa/mahasiswa. Dengan demikian penyelesaian menjadi tidak benar. Mungkin respon mahasiswa tidak menemukan informasi yang tepat, namun mahasiswa masih berusaha mengoperasi pada level yang tepat. 4. Kesimpulan hilang (omitted conclusion/ oc) Gejala kesimpulan hilang adalah siswa/mahasiswa menunjukkan alasan pada level yang tepat kemudian gagal menyimpulkan. 5. Konflik level respon (respon level conflict/ rlc) Gejala yang terkait dengan respon kesimpulan hilang adalah konflik level respon. Pada situasi ini siswa/mahasiswa menunjukkan suatu kompetisi operasi pada level tertentu dan kemudian menurunkan operasi yang lebih rendah, biasanya untuk kesimpulan. 6. Manipulasi tidak langsung (undirected manipulation/ um) Alasan tidak urut tetapi kesimpulan didapat dan secara umum semua data digunakan. Suatu jawaban benar diperoleh dengan menggunakan alasan-alasan yang sederhana dan penuangan tidak logis atau acak. Gejala diamati sebagai manipulasi tidak langsung. 7. Masalah hirarkhi keterampilan (skills hierarchy problem/ shp) Banyak pertanyaan matematika memerlukan beberapa keterampilan untuk dapat menyelesaikan seperti keterampilan yang melibatkan kemampuan menggunakan ide aljabar dan keterampilan memanipulasi numerik. Jika keterampilan siswa/mahasiswa dalam aljabar atau memanipulas numerik tidak muncul, terjadi masalah hirarki keterampilan. Ekspresi masalah hirarki keterampilan ditunjukkan antara lain siswa/mahasiswa tidak dapat menyelesaikan permasalahan karena kurang atau tidak nampaknya kemampuan keterampilan. 13
9 8. Selain ketujuh kategori di atas (above other/ ao) Kesalahan siswa/mahasiswa yang tidak termasuk pada ketujuh kategori diatas dikelompokkan dalam kategori ini. Kesalahan yang termasuk dalam kategori ini diantaranya pengopian data yang salah dan tidak merespon. Tabel 1 Indikator Tipe-tipe Kesalahan Menurut Klasifikasi Watson Jenis Tipe-tipe Kesalahan Indikator 1. Data tidak tepat a. Siswa/Mahasiswa berusaha mengoperasi pada (inappropriate data/ level yang tepat pada suatu masalah, tetapi id) memilih sebuah informasi atau data yang tidak tepat. 2. Prosedur tidak tepat (inappropriate procedure/ ip) a. Siswa/Mahasiswa berusaha mengoperasikan pada level yang tepat pada suatu masalah, tetapi dia menggunakan prosedur atau cara yang tidak tepat 3. Data hilang (omitted data/ od) 4. Kesimpulan hilang (omitted conclusion/ oc) 5. Konflik level respon (respon level conflict/ rlc) 6. Manipulasi tidak langsung (undirected manipulation/ um) 7. Masalah hirarkhi keterampilan (skills hierarchy problem/ shp) a. Gejala data hilang yaitu kehilangan satu data atau lebih dari respon Siswa/Mahasiswa, sehingga penyelesaian menjadi tidak benar. b. Respon Siswa/Mahasiswa tidak menemukan informasi yang tepat, namun siswa/mahasiswa masih berusaha mengoperasi pada level yang tepat. a. Siswa/Mahasiswa menunjukkan alasan pada level yang tepat kemudian gagal menyimpulkan. a. Siswa/Mahasiswa menunjukkan suatu kompetisi operasi pada level tertentu dan kemudian menurunkan operasi yang lebih rendah, biasanya untuk kesimpulan. a. Siswa/Mahasiswa menggunakan alasan tidak urut tetapi kesimpulan didapat dan secara umum semua data digunakan. b. Jawaban siswa/mahasiswa yang benar diperoleh dengan menggunakkan alasan-alasan yang sederhana dan penuangan tidak logis atau acak. a. Keterampilan Siswa/Mahasiswa dalam aljabar atau memanipulas numeric tidak muncul, sehingga terjadi masalah hirarki keterampilan. b. Siswa/Mahasiswa tidak dapat menyelesaikan permasalahan karena kurang atau tidak nampaknya kemampuan keterampilan. 14
10 8. Selain ketujuh kategori a. Kesalahan Siswa/Mahasiswa dalam kategori ini di atas (above other/ diantaranya pengopian data yang salah dan tidak ao) merespon. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan tipe-tipe kesalahan seperti yang diungkapkan Slamet (2004) dalam penelitiannya, terdapat 4 jenis kesalahan yang dilakukan mahasiswa: 1. Kesalahan dalam pemindahan ruas, 2. Kesalahan memanipulasi bentuk-bentuk pecahan, 3. Kesalahan memanipulasi bentuk pangkat, 4. Kesalahan memanipulasi bentuk trigonometri. Tabel 2 Indikator Tipe Kesalahan Menurut Slamet Jenis Tipe-tipe Kesalahan Indikator 1. Kesalahan dalam pemindahan ruas. a. Apabila suatu besaran dipindahkan dari ruas kanan ke ruas kiri ( atau sebaliknya) maka tanda dari besaran tersebut berubah dari positif menjadi negatif (sebaliknya). b. Dalam menggunakan identitas trigonometri mahasiswa melakukan kesalahan dalam pemindahan ruas. 2. Kesalahan manipulasi bentukbentuk pecahan. 3. Kesalahan manipulasi bentuk pangkat, akar atau logaritma. 4. Kesalahan manipulasi bentuk Trigonometri. a. Mahasiswa kurang menguasai operasi pecahan (penjumlahan, perkalian, pembagian pada pecahan). a. Mahasiswa kurang menguasai operasi hitung. b. Mahasiswa lupa rumus ( ) dalam mengkuadratkan, sehingga akar yag dikuadratkan akarnya hilang. c. Mahasiswa kurang menguasai perpangkat di atas 2. d. Mahasiswa kurang menguasai cara memfaktoran persamaan kuadrat. a. Mahasiswa kurang menguasai bentukbentuk/sifat-sifat trigonometri. b. Kesalahan mahasiswa dalam memahami bentuk-bentuk phytagoras. 15
11 4. Kesalahan-Kesalahan dalam Memanipulasi Bentuk Aljabar Rekomendasi National Council of Teacher of Mathematics (NCTM) 2000 (carpenter, et al. 2005) mengusulkan aljabar harus diajarkan diseluruh kelas di awal sekolah dasar. Hal tersebut terjadi juga di Indonesia yaitu dengan masuknya aspek bilangan sebagai salah satu ruang lingkup mata pelajaran matematika pada satuan pendidikan SD/MI. Dalam belajar aljabar beberapa peneliti mengatakan bahwa siswa mengalami banyak kesulitan. Seperti yang dikatakan Analucia, 2003 (Saputro, 2012) berkaitan dengan penalaran aljabar siswa lemah pada 1) keterbatasan dalam menginterprestasikan tanda sama dengan (Booth, 1984, 1988; Kieran, 1985; Vergnaud, 1985), 2) kesalahan tentang arti huruf untuk variabel (Kieren, 1985; Kuchemann, 1981; Vergnaud, 1985), 3) menolak untuk menerima ekspresi seperti 3a+7 sebagai jawaban dari masalah (sfard dan Linchevski, 1994), 4) kesulitan dalam menyelesaikan persamaan dengan variabel pada kedua sisi tanda sama dengan (Filloy dan Rojano, 1989; Herscovics dan Linchevski, 1994). Subramaniam dan Beneejee (2004:122) membenarkan pernyataan itu. Dia mengatakan banyak siswa kesulitan di dalam pelajaran aljabar, mungkin karena mereka mempunyai pemahaman yang lemah dari dua konsep penting yaitu variabel dan ekspresi aljabar. Linchevski dan Livneh (Subramaniam dan Benerjee, 2004:121) menambahkan bahwa siswa yang membuat kesalahan dalam memanipulasi ekspresi aljabar mengulangi beberapa kesalahan ketika berhadapan dengan ekspresi aritmatika. Chiklin dan Lesgold (Subramaniam dan Benerjee, 2004:121) juga mengatakan banyak siswa yang memiliki kelemahan sense dari struktur ekspresi aritmatika dan tidak dapat menilai kesetaraan ekspresi seperti dan tanpa bantuan perhitungan. Hal serupa juga terjadi pada siswa-siswi Indonesia. Dari hasil pengkajian tehadap kesulitan yang dihadapi oleh guru matematika dan siswa SMP pada 5 16
12 propinsi yag diselenggarakan oleh PPPG Matematika tahun 2002 menunjukan bahwa hampir semua propinsi menghadapi kendala berupa pemahaman yang rendah dari siswa tentang konsep-konsep yang berkaitan dengan operasi bentuk aljabar dan skill yang rendah dalam menyelesaikan operasi bentuk aljabar (Wardhani, 2004). Wardhani (2004) menambahkan bahwa hal itu diperkut oleh hasil analisis terhadap uji kemampuan dasar matematika siswa SMP yang diselenggarakan oleh PPPG matematika berturut-turut tahun 2001, 2002, dan 2003 pada hampir semua propinsi di Indonesia. Hasil analisis itu antara lain menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang sulit membedakan antara suku sejenis dan tidak sejenis, makna koefisien, sehingga tidak mampu menyelesaikan operasi bentuk aljabar dengan baik. Manipulasi aljabar terhadap integral seringkali diperlukan sebelum menggunakan teknik integral tertentu. Beberapa teknik manipulasi aljabar : 1) melengkapi kuadrat, 2) Menambahkan 0, 3) Mengalikan 1, 4) Subtitusi rasional (Dep. Metematika-IPB, 2012). D. Miskonsepsi Miskonsepsi yang terjadi pada seseorang sulit diperbaiki apabila miskonsepsi tersebut dapat membantu seseorang dalam memecahkan permasalahannya. Novak (1984) menyatakan bahwa miskonsepsi merupakan suatu interpretasi konsep-konsep dalam suatu pernyataan yang tidak diterima. Sedangkan Breg (1991) mengungkapkan jika konsepsi bertentangan dengan konsep para ahli, maka hal tersebut dinamakan miskonsepsi. Miskonsepsi menunjukkan pada suatu konsep yang tidak sesuai dengan pengertian yang diterima para pakar dalam bidang itu. Miskonsepsi adalah pengertian yang tidak akurat akan konsep, penggunaan konsep yang salah, klasifikasi contoh-contoh yang salah, kekacauan konsep-konsep yang berbeda dan hubungan hierarkis konsep-konsep yang tidak 17
13 benar (Suparno, 1998). Sementara itu, Brown (1989) menyatakan bahwa miskonsepsi merupakan penjelasan yang salah dan suatu gagasan yang tidak sesuai dengan pengertian ilmiah yang diterima para ahli. Secara rinci, miskonsepsi dapat merupakan pengertian yang tidak akurat tentang konsep, penggunaan konsep yang salah, klasifikasi contoh-contoh yang salah tentang penerapan konsep, pemaknaan konsep yang berbeda, kekacauan konsepkonsep yang berbeda, dan hubungan hirarkis konsep-konsep yang tidak benar. Berdasarkan uraian dan pengertian di atas miskonsepsi yang menjadi dasar penelitian ini adalah miskonsepsi menurut Suparno (1998) yang mengartikan miskonsepsi sebagai pengertian yang tidak akurat akan konsep, penggunaan konsep yang salah, klasifikasi contoh-contoh yang salah, kekacauan konsep-konsep yang berbeda dan hubungan hierarkis konsep-konsep yang tidak benar. E. Konsep Integral 1. Pengertian Integral Konsep integral tak tentu diperkenalkan sebagai kebalikan operasi pendiferensial, yaitu sebagai bentuk yang paling umum dari anti turunan. Sekarang, bagaimana jika kalian harus menentukan fungsi dari yang diketahui? Menentukan fungsi dari, berarti menentukan antiturunan dari. Sehingga, integral merupakan antiturunan (antidiferensial) atau operasi invers terhadap diferensial. Jika adalah fungsi umum yang bersifat merupakan antiturunan atau integral dari. Pengintegralan fungsi tehadap dinotasikan sebagai berikut:, dengan: Notasi integral (yang diperkenalkan oleh Leibniz, seorang matematikawan Jerman) Fungsi integran 18
14 Fungsi integral umum yang bersifat Konstanta pengintegralan Berdasarkan pengertian di atas integral dibagi atas 2 bagian yaitu integral tak tentu adalah integral yang mana nilai dari fungsi tidak disebutkan sehingga dapat menghasilkan nilai dari fungsi tersebut yang banyak dan integral tertentu adalah integral yang mana nilai dari fungsi telah ditentukan, sehingga nilai dari fungsi integral tersebut terbatas pada nilai yang telah ditetapkan tersebut. Berikut ini langkah-langkah menyelesaikan soal integral tak tentu secara umum menurut Stewart (2003): a. Menganalisis soal terlebih dahulu b. Menentukan teknik pengintegralan apa yang akan digunakan misalkan, i. Menggunakan Teknik Subtitusi Integral Untuk menyelesaikan soal tipe subtitusi integral pertama memisalkan fungsi yang kalau diturunkan menjadi fungsi lainnya misalkan menjadi fungsi, kemudian menurunkan fungsi menggunakan notasi Leibniz, lalu menyatakan bentuk turunan ke bentuk dan Subtitusikan pemisalan tadi ke integral semula. ii. Menggunakan Teknik Integral Parsial Pada dasarnya integral parsial merupakan teknik subtitusi ganda. Banyak digunakan pada pengintegralan yang melibatkan fungsi transenden (logaritma, eksponensial, trigonometri beserta inversnya). Jika dan adalah 2 buah fungsi yang dideferensialbel maka:, jika diintegralkan menjadi: atau menjadi:. 19
15 iii. Menggunakan Teknik Dekomposis Integral Parsial (Teknik Rumus Reduksi) Dalam integral tak tentu, terdapat banyak kasus yang penyelesaiannya menggunakan metode integral parsial lebih dari satu kali misalkan Setelah metode parsial integral digunakan pertama kali, kita harus menghitung integral yang kedua dengan metode yang sama tetapi pangkat dari x yang lebih kecil. Jadi disini pangkat dari x direduksi agar semakin kecil, sehingga masalah dapat diselesaikan. Bentuk umumnya: iv. Menggunakan Integral Subtitusi Trigonometri Untuk menyelesaikan integral yang memuat bentuk akar kuadrat diperlukan subtitusi trigonometri agar bentuk akarnya hilang. Setelah peubahnya diganti dengan fungsi-fungsi trigonometri yang sesuai, maka bentuknya menjadi integral fungsi trigonometri yang kemudian aka diselesaikan dengan rumus reduksi atau rumus sebelumnya: (Aturan Sinus) Jika fungsi yang akan diintegralkan memuat bentuk pengganti gunakan yang akan menghasilkan. (Aturan Tangen) Jika fungsi yang akan diintegralkan memuat bentuk pengganti gunakan yang akan menghasilkan. 20
16 (Aturan Secan) Jika fungsi yang akan diintegralkan memuat bentuk gunakan pengganti: dengan yang akan menghasilkan. 2. Tinjauan Materi Integral Peta konsep merupakan alat yang digunakan untuk menggunakan skema pemikiran maupun kerangka pemikiran seseorang akan suatu hal. Menurut Novak dan Gowin (1984) peta konsep adalah suatu bagan skematik untuk menggambarkan suatu pengertian konseptual seseorang dalam suatu rangkaian pernyataan. Peta konsep menggambarkan hubungan antara konsepkonsep dan terdiri atas kumpulan konsep-konsep serta pernyataan-pernyataan. Adapun materi yang diberikan pada mahasiswa pendidikan matematika untuk pokok bahasan Integral dapat ditunjukan dengan peta materi dibawah ini. 21
17 Limit Turunan Anti Turunan Limit Jumlah Integral Tak Tentu Integral Tentu Integral Tak Wajar Sifat-sifat Integral Tak Tentu Teknik Pengintegralan, Metode Subtitusi, Parsial, Integral Fungsi Rasional Penggunaan Integral Tentu Dalam Penyelesaian Pers. Diferensial Teorema Dasar Kalkulus Fungsi ln x dan Invers Trigonometri, Fungsi Hiperbolik dan Inversnya Sifat-sifat Integral Tentu Turunan dan Limit Fingsi Penggunaan Persamaan Diferensial dalam Masalah Nyata Hampiran Integral Tentu Galat Hampiran Integral Tentu Pengggunaan Integral Tentu: Luas, Volume, Pusat Massa, Kerja, Tekanan Zat Cair Konsep Teorema/Metode Bagan 1 Peta Konsep Materi Integral menurut Martono F. Penelitian yang Relevan Untuk mendukung penelitian ini, ada beberapa penelitian yang telah dilakukan terkait terhadap analisis kesalahan yang dilakukan mahasiswa dalam memanipulasi bentuk aljabar pada soal-soal integral adalah: Penelitian yang dilakukan oleh Dewi (2011) menyatakan masih terdapat kesalahan pada siswa kelas X SMK Negeri 2 Salatiga dalam menyelesaikan soal- 22
18 soal aljabar pokok bahasan operasi hitung bilangan berpangkat dan bilangan dalam bentuk akar (bilangan irasional). Berdasarkan tes diagnostik yng dilakukan ditemukan kesalahan-kesalahan pada pokok bahasan tersebut. Prosentase tipe kesalahan 1) kesalahan konsep pada kelas B sebesar 31,41% dan kelas A sebesar 38,68%, 2) kesalahan menggunakan data pada kelas B sebesar 10,05% dan kelas A sebesar 10,64%, 3) kesalahan teknis pada kelas B sebesar 53,52% dan kelas A sebesar 42,17%, 4) kesalahan penarikan kesimpulan pada kelas B sebesar 5,02% dan kelas A sebesar 8,51%. Penelitian dari Slamet (2004) menyatakan masih banyak mahasiswa Jurusan Matematika FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta yang mengalami kesalahan dalam memanipulasi bentuk aljabar. Berdasarkan tes diagnostik yang dilakukan ditemukan kesalahan-kesalahan pada pokok bahasan tersebut. Prosentase tipe kesalahan yang dilakukan mahasiswa: 1) kesalahan dalam pemindahan ruas, 3 kasus sebanyak 18 % 2) kesalahan memanipulasi bentuk-bentuk pecahan, 25 kasus sebanyak 30% 3) kesalahan memanipulasi bentuk pangkat, 29 kasus sebanyak 30% 4) kesalahan memanipulasi bentuk trigonometri, 10 kasus sebanyak 22%. G. Kerangka Berpikir Salah satu cara untuk mengetahui kesalahan yang dilakukan mahasiswa adalah dengan melakukan analisis terhadap hasil pekerjaan yaitu dengan menggunakan instrumen berupa tes diagostik untuk mengetahui kelemahan mahasiswa sehingga berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut dapat dilakukan pemberian perlakuan yang tepat. Dari hasil itu akan diperoleh jawaban penyebab kesalahan dan jalan keluarnya sehingga mahasiswa tidak lagi mengulangi kesalahannya. Penelitian ini mengambil materi tentang integral. Berdasarkan informasi dari mahasiswa, banyak dari mereka yang mengalami kesulitan dalam 23
19 menyelesaikan soal. Dalam mempelajari materi integral banyak konsep yang harus dikuasai oleh mahasiswa. Kebanyakan mahasiswa mengeluhkan sulitnya menguasai konsep integral pada khususnya. sehingga adanya kesalahankesalahan yang terjadi. Sementara itu, dosen yang mengajar materi tersebut mengatakan telah melakukan upaya untuk membantu mahasiswa dalam memahami materi integral ini dengan mengadakan kelas tambahan (kelas asistensi), dan memberikan tugas rumah, tetapi masih saja hasil yang diperoleh mahasiswa masih rendah dalam menyelesaikan soal integral pada hal materi integral ini sebagai mata kuliah prasyarat untuk mengambil mata kuliah Persamaan Diferensial. Oleh karena ini peneliti ingin melakukan penelitian dengan ingin melihat teknik-teknik integrasi untuk semua fungsi yang digunakan mahasiswa. Kurikulum Dosen Menjelaskan Materi Pembelajaran Konvensional Dosen Memberikan Tes Hasil Tes Mahasiswa Rendah Analisis Tipe-tipe kesalahan Bagan 2 Kerangka Berpikir 24
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Konsep Hudoyo (1988) mengartikan konsep sebagai ide yang dibentuk dengan memandang sifat-sifat yang sama dari sekumpulan eksemplar yang cocok, sedangkan Berg (1991)
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Subjek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Kristen Satya Wacana pada Mahasiswa Pendidikan Matematika
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Konsep Konsep secara umum menurut Poh (2007) adalah ide abstrak yang digeneralisasikan dari fakta-fakta atau pengalaman yang spesifik. Pendapat lain dari Soedjadi
DESKRIPSI KESALAHAN SISWA KELAS VII SMP PADA MATERI OPERASI HITUNG PECAHAN CAMPURAN BERDASARKAN KRITERIA KESALAHAN WATSON
DESKRIPSI KESALAHAN SISWA KELAS VII SMP PADA MATERI OPERASI HITUNG PECAHAN CAMPURAN BERDASARKAN KRITERIA KESALAHAN WATSON SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana Oleh DESI YULIANA
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pengertian Konsep Pengertian konsep yang didefinisikan menurut Meril (1977) adalah sebagai sekumpulan benda, simbol, atau peristiwa yang dikelompokkan menurut persamaan karakteristik
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Konsep Konsep merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak suatu obyek. Penggunaan konsep, diharapkan akan dapat menyederhanakan pemikiran dengan menggunakan
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian teori 1. Konsep Secara umum konsep adalah suatu abstraksi yang menggambarkan ciri-ciri umum sekelompok objek, peristiwa atau fenomena lainnya. Wayan Memes (2000), mendefinisikan
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Konsep Secara umum konsep adalah suatu abstraksi yang menggambarkan ciri-ciri umum sekelompok objek, peristiwa atau fenomena lainnya. Woodruff dalam Pia (2011),
ANALISIS KESALAHAN MENYELESAIKAN PERSAMAAN DIFERENSIAL ORDE-1 PADA MATAKULIAH PERSAMAAN DIFERENSIAL DENGAN PANDUAN KRITERIA WATSON
βeta p-issn: 2085-5893 e-issn: 2541-0458 Vol. 4 No. 1 (Mei) 2011, Hal. 30-52 βeta 2011 ANALISIS KESALAHAN MENYELESAIKAN PERSAMAAN DIFERENSIAL ORDE-1 PADA MATAKULIAH PERSAMAAN DIFERENSIAL DENGAN PANDUAN
Winarsih et al., Analisis Kesalahan Siswa Berdasarkan Kategori Kesalahan Menurut Watson dalam...
1 Analisis Kesalahan Siswa Berdasarkan Kategori Kesalahan Menurut Watson Dalam Menyelesaikan Permasalahan Pengolahan Data Siswa Kelas VI SDN Baletbaru 02 Sukowono Jember Tahun Pelajaran 2014/2015 (Error
BAB I PENDAHULUAN. siswa, pengajar, sarana prasarana, dan juga karena faktor lingkungan. Salah satu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan salah satu aspek dalam kehidupan ini yang memegang peranan penting. Suatu negara dapat mencapai sebuah kemajuan jika pendidikan dalam negara itu
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR. A. Kajian Pustaka
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR A. Kajian Pustaka 1. Masalah Masalah sebenarnya sudah menjadi hal yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Masalah tidak dapat dipandang sebagai suatu
48. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Menengah Atas Luar Biasa Tunalaras (SMALB E) A. Latar Belakang
48. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Menengah Atas Luar Biasa Tunalaras (SMALB E) A. Latar Belakang Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran
TINJAUAN PUSTAKA. lebih luas dari pada itu, yakni mengalami. Hal ini sejalan dengan pernyataan
8 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Belajar Matematika Menurut Hamalik (2008:36) belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih
KED INTEGRAL JUMLAH PERTEMUAN : 2 PERTEMUAN TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS: Materi : 7.1 Anti Turunan. 7.2 Sifat-sifat Integral Tak Tentu KALKULUS I
7 INTEGRAL JUMLAH PERTEMUAN : 2 PERTEMUAN TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS: Memahami konsep dasar integral, teorema-teorema, sifat-sifat, notasi jumlah, fungsi transenden dan teknik-teknik pengintegralan. Materi
Pi: Mathematics Education Journal 34
ANALISIS KESALAHAN KONSEP MATEMATIKA SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL TRIGONOMETRI KELAS X TKJ SMKN 1 GEMPOL TAHUN PELAJARAN 2016/2017 Tifaniar Andriani 1, Ketut Suastika 2, Nyamik Rahayu Sesanti 3 1 Program
44. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/ Madrasah Aliyah (MA)
44. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/ Madrasah Aliyah (MA) A. Latar Belakang Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Konsep Pengertian-pengertian tentang sebuah konsep, beberapa para ahli mendefinisikan konsep itu berbeda-beda. Gambaran mental dari objek, proses atau apapun yang
BAB II KAJIAN PUSTAKA. Bilangan bulat menurut Wikipedia bahasa (2012) adalah terdiri dari
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Bilangan Bulat Bilangan bulat menurut Wikipedia bahasa (2012) adalah terdiri dari bilangan cacah yaitu 0,1,2,3, dan yang negatifnya yaitu -1,-2,-3,-4, dan seterusnya.
ANALISIS KESALAHAN SISWA BERDASARKAN KATEGORI KESALAHAN WATSON DALAM MENYELESAIKAN SOAL-SOAL HIMPUNAN DI KELAS VII D SMP NEGERI 11 JEMBER
1 ANALISIS KESALAHAN SISWA BERDASARKAN KATEGORI KESALAHAN WATSON DALAM MENYELESAIKAN SOAL-SOAL HIMPUNAN DI KELAS VII D SMP NEGERI 11 JEMBER ANALYSIS OF STUDENTS MISTAKES BASED ON THE ERROR CATEGORY BY
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA 1. Identifikasi Kesalahan a. Konsep Konsep merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak suatu obyek. Penggunaan konsep diharapkan dapat menyederhanakan pemikiran
09. Mata Pelajaran Matematika
09. Mata Pelajaran Matematika A. Latar Belakang Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan mengembangkan daya
integral = 2 . Setiap fungsi ini memiliki turunan ( ) = adalah ( ) = 6 2.
integral 13.1 PENGERTIAN INTEGRAL Untuk itu, coba tentukan turunan fungsi berikut. Perhatikan bahwa fungsi ini memiliki bentuk umum 6 2. Jadi, turunan fungsi = 2 =2 3. Setiap fungsi ini memiliki turunan
BAB II KAJIAN TEORITIK. dapat memperjelas suatu pemahaman. Melalui komunikasi, ide-ide
BAB II KAJIAN TEORITIK A. Deskripsi Konseptual 1. Kemampuan Komunikasi Matematis Komunikasi merupakan salah satu kemampuan penting dalam pendidikan matematika sebab komunikasi merupakan cara berbagi ide
09. Mata Pelajaran Matematika
09. Mata Pelajaran Matematika A. Latar Belakang Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan mengembangkan daya
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Konsep, Konsepsi, dan Miskonsepsi Konsep menurut Berg (1991:8) adalah golongan benda, simbol, atau peristiwa tertentu yang digolongkan berdasarkan sifat yang dimiliki
BAB VI. INTEGRAL TAK TENTU (ANTI TURUNAN)
PENDAHULUAN BAB VI. INTEGRAL TAK TENTU (ANTI TURUNAN) (Pertemuan ke 11 & 12) Diskripsi singkat Pada bab ini dibahas tentang integral tak tentu, integrasi parsial dan beberapa metode integrasi lainnya yaitu
BAB II KAJIAN TEORI. A. Analisia Kesalahan. 1. Konsep
BAB II KAJIAN TEORI A. Analisia Kesalahan Kesalahan menyelesaikan soal-soal matematika masih sering ditemukan dalam pekerjaan siswa, dari kesalahan yang dilakukan siswa sebagai sarana untuk memperbaiki
II. TINJAUAN PUSTAKA. melalui generalisasi dan berfikir abstrak. Konsep merupakan prinsip dasar
8 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Konsep merupakan pemikiran dasar yang diperoleh dari fakta peristiwa, pengalaman melalui generalisasi dan berfikir abstrak. Konsep merupakan prinsip dasar yang sangat penting
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan salah satu usaha yang ditempuh dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam pelaksanaan pendidikan terdapat proses pembelajaran yang setiap
BAB II KAJIAN PUSTAKA. Menurut Saputro (2012), soal matematika adalah soal yang berkaitan
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Soal Matematika Menurut Saputro (2012), soal matematika adalah soal yang berkaitan dengan matematika. Soal tersebut dapat berupa soal pilihan ganda ataupun soal uraian. Setiap
ANALISIS KESALAHAN MENGERJAKAN SOAL SISI TEGAK LIMAS SEGIEMPAT SISWA KELAS IX MTs NU SALAM TAHUN PELAJARAN 2013/2014
UNION: Jurnal Pendidikan Matematika UNION Vol 3 No 3, Juli 2016 ANALISIS KESALAHAN MENGERJAKAN SOAL SISI TEGAK LIMAS SEGIEMPAT SISWA KELAS IX MTs NU SALAM TAHUN PELAJARAN 2013/2014 Yuliani Pendidikan Matematika
Tim Penulis BUKU SISWA
Tim Penulis BUKU SISWA ii Buku Matematika Siswa SMA/MA/SMK/MAK Kelas X Anak-anak kami, Generasi Muda harapan bangsa... Sesungguhnya, kami gurumu punya cita-cita dan harapan dari hasil belajar Kamu. Kami
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang mendeskripsikan secara sistematis,
BAB II ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL-SOAL SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL
10 A. Analisis BAB II ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL-SOAL SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL Dalam Kamus besar Bahasa Indonesia, analisis diartikan penguraian terhadap suatu pokok
BAB II KAJIAN TEORI. perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai
BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Hakekat Matematika Dari berbagai bidang studi yang di ajarkan di sekolah sampai perguruan tinggi matematika merupakan salah satu mata pelajaran pokok yang harus di ajarkan karena
GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN
Nama Mata Kuliah Kode Mata Kuliah : MAT 101 Bobot SKS : 3 (2-2) : Landasan Matematika GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN Deskripsi : Mata kuliah ini membahas konsep-konsep dasar matematika yang meliputi
ANALISIS KESALAHAN DALAM MENYELESAIKAN SOAL MATERI POKOK KALOR PADA SISWA KELAS X SMA
ANALISIS KESALAHAN DALAM MENYELESAIKAN SOAL MATERI POKOK KALOR PADA SISWA KELAS X SMA Isnani Hastuti 1, Surantoro 2, Dwi Teguh Rahardjo 3 Program Studi Pendidikan Fisika PMIPA FKIP UNS Surakarta, 57126,
Penguasaan Siswa Pada Materi Trigonometri Di MAN Darussalam Aceh Besar. Miksalmina 1
Penguasaan Siswa Pada Materi Trigonometri Di MAN Darussalam Aceh Besar Miksalmina 1 ABSTRAK Trigonometri merupakan materi pokok yang banyak menggunakan konsep yang akan terus berkembang dan bukan materi
BAB I PENDAHULUAN. secara terus menerus sesuai dengan level kognitif siswa. Dalam proses belajar
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang harus dipelajari siswa di sekolah. Proses belajar matematika akan terjadi dengan lancar apabila dilakukan
PENYELESAIAN MASALAH BANGUN DATAR SISWA KELAS VII: KESALAHAN DAN KATEGORISASINYA
Vol. 1 No., Desember 016, p-issn. 0-0671, e-issn. 8-7 PENYELESAIAN MASALAH BANGUN DATAR SISWA KELAS VII: KESALAHAN DAN KATEGORISASINYA Nelly Silitonga 1, Febrian [email protected] 1, [email protected]
SATUAN ACARA PERKULIAHAN
SATUAN ACARA 1. PROGRAM STUDI : Pendidikan Matematika/Matematika 2. MATA KULIAH/KODE/SEMESTER : Kalkulus II/MT 307/2 3. PRASYARAT : Kalkulus I 4. JENJANG / SKS : S1/3 SKS 5. LOMPOK MATA KULIAH : Matakuliah
digunakan untuk menyelesaikan integral seperti 3
Bab Teknik Pengintegralan BAB TEKNIK PENGINTEGRALAN Rumus-rumus dasar integral tak tertentu yang diberikan pada bab hanya dapat digunakan untuk mengevaluasi integral dari fungsi sederhana dan tidak dapat
2016 KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS SISWA SMP MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Permasalahan yang timbul akibat adanya Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Sains (IPTEKS) dimana semakin pesat yaitu bagaimana kita bisa memunculkan Sumber Daya
BAB I PENDAHULUAN. Pentingnya belajar matematika tidak terlepas dari peranannya dalam
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pentingnya belajar matematika tidak terlepas dari peranannya dalam berbagai kehidupan, misalnya berbagai informasi dan gagasan banyak dikomunikasikan atau disampaikan
ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL PERSAMAAN DAN IDENTITAS TRIGONOMETRI BERDASARKAN KRITERIA WATSON DI KELAS X SMA AL-AZHAR PALU
ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL PERSAMAAN DAN IDENTITAS TRIGONOMETRI BERDASARKAN KRITERIA WATSON DI KELAS X SMA AL-AZHAR PALU Miftha Huljannah Email: [email protected] Gandung Sugita
BAB II KAJIAN TEORI. lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat. rumusan kuntitatif, rumusan institusional, dan rumusan kualitatif.
7 BAB II KAJIAN TEORI A. Deskripsi Konseptual. 1) Hakikat Belajar. Syah (2009) berpendapat belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap
DESKRIPSI KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS MAHASISWA PADA MATA KULIAH STATISTIK PENDIDIKAN
Jurnal Euclid, vol.2, No.2, p.263 DESKRIPSI KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS MAHASISWA PADA MATA KULIAH STATISTIK PENDIDIKAN Fitrianto Eko Subekti, Reni Untarti, Malim Muhammad Pendidikan Matematika FKIP
INTEGRAL PARSIAL DENGAN TEKNIK TURIN. Mintarjo SMK Negeri 2 Gedangsari Gunungkidul
INTEGRAL PARSIAL DENGAN TEKNIK TURIN Mintarjo SMK Negeri Gedangsari Gunungkidul email : tarjamint@gmailcom Abstrak Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang memiliki sifat universal Salah satu cabang
SATUAN ACARA PERKULIAHAN
SATUAN ACARA PERKULIAHAN 1. PROGRAM STUDI : Pendidikan Matematika 2. MATA KULIAH/KODE/SEMESTER : Kalkulus I 3. PRASYARAT : -- 4. JENJANG / SKS : S1/3 SKS 5. LOMPOK MATA KULIAH : MPK / MPB / MKK/ MKB/ MBB
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Proses pembelajaran di perguruan tinggi mempunyai tujuan pembelajaran. Menurut Subroto (2012: 15), tujuan pembelajaran adalah rumusan secara terperinci tentang
BAB I PENDAHULUAN. Manusia sebagai mahluk yang diberikan kelebihan oleh Allah swt dengan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia yang berpikir bagaimana menjalani kehidupan dunia ini dalam rangka mempertahankan hidup
KESALAHAN PENALARAN DALAM PEMBUKTIAN MASALAH STRUKTUR ALJABAR
KESALAHAN PENALARAN DALAM PEMBUKTIAN MASALAH STRUKTUR ALJABAR Mohamad Waluyo 1), Christina Kartika Sari 2) 1,2 Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Surakarta Email: 1 [email protected],
ANALISIS KESALAHAN MAHASISWA CALON GURU MATEMATIKA DALAM MEMECAHKAN MASALAH PROGRAM LINIER
ANALISIS KESALAHAN MAHASISWA CALON GURU MATEMATIKA DALAM MEMECAHKAN MASALAH PROGRAM LINIER Sri Irawati Program Studi Pendidikan Matematika, FKIP, Universitas Madura Alamat : Jalan Raya Panglegur 3,5 KM
BAB II KAJIAN TEORI. mengetahui derajat kualitas (Arifin, 2009). Sedangkan menurut. komponen, hubungan satu sama lain, dan fungsi masing-masing dalam
BAB II KAJIAN TEORI A. Analisis Analisis merupakan suatu tahap yang harus ditempuh untuk mengetahui derajat kualitas (Arifin, 2009). Sedangkan menurut Komaruddin (2002), analisis adalah kegiatan berpikir
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. HASIL PENELITIAN 1. Hasil Pengembangan Produk Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang bertujuan untuk mengembangkan produk berupa Skema Pencapaian
BAB I PENDAHULUAN. (Syarifudin, 2007: 21). Dalam arti luas, pendidikan berlangsung bagi siapapun,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan adalah segala pengalaman (belajar) di berbagai lingkungan yang berlangsung sepanjang hayat dan berpengaruh positif bagi perkembangan individu (Syarifudin,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bilangan, (b) aljabar, (c) geometri dan pengukuran, (d) statistika dan peluang
7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pemahaman Konsep Matematika Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006 untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), disebutkan bahwa standar kompetensi mata pelajaran
ANALISIS KESALAHAN KONSEP DASAR MATEMATIKA SISWA KELAS VII SMPN 4 PERCONTOHAN KARANG BARU SKRIPSI. Diajukan Oleh: MUHAMMAD SYAFARI NIM :
ANALISIS KESALAHAN KONSEP DASAR MATEMATIKA SISWA KELAS VII SMPN 4 PERCONTOHAN KARANG BARU SKRIPSI Diajukan Oleh: MUHAMMAD SYAFARI NIM : 130900413 Program Studi Pendidikan Matematika FAKULTAS TARBIYAH DAN
BAB I PENDAHULUAN. anak-anak, sejak berabad-abad yang lalu diperlihatkan oleh para ahli
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Upaya untuk mewujudkan cita-cita orang tua terhadap perkembangan anak-anak, sejak berabad-abad yang lalu diperlihatkan oleh para ahli dibidangnya seperti dokter,
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di dalam dunia yang terus berubah dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang pesat, manusia dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis, sistematis,
BAB II KAJIAN PUSTAKA. diperkenalkan lagi hal baru yaitu bilangan yang digunakan untuk menyatakan
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Hakekat Pengurangan Bilangan Pecahan 2.1.1 Pengertian Pecahan Menurut Sugiarto, (2006:36), pecahan adalah suatu bilangan cacah yang digunakan untuk menyatakan banyaknya anggota
Fakultas Teknik UNY Jurusan Pendidikan Teknik Otomotif INTEGRASI FUNGSI. 0 a b X A. b A = f (X) dx a. Penyusun : Martubi, M.Pd., M.T.
Kode Modul MAT. TKF 20-03 Fakultas Teknik UNY Jurusan Pendidikan Teknik Otomotif INTEGRASI FUNGSI Y Y = f (X) 0 a b X A b A = f (X) dx a Penyusun : Martubi, M.Pd., M.T. Sistem Perencanaan Penyusunan Program
DALAM MENYELESAIKAN SOAL MATERI SEGITIGA
ANALISIS KECENDERUNGAN KESALAHAN MAHASISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL MATERI SEGITIGA Oleh: Sudirman FKIP Universitas Wirlodra Indramayu ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui gambaran kemampuan
Error Analysis Based On Categories Of Error According To Watson In Solving Fractional Multiplication And Division Students Grade V SDN Tegal Gede 01
1 Analisis Kesalahan Berdasarkan Kategori Kesalahan Menurut Watson dalam Menyelesaikan Permasalahan Perkalian dan Pembagian Pecahan Siswa Kelas V SDN Tegal Gede 01 Error Analysis Based On Categories Of
51. Mata Pelajaran Matematika Kelompok Teknologi, Kesehatan dan Pertanian untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) A.
51. Mata Pelajaran Matematika Kelompok Teknologi, Kesehatan dan Pertanian untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) A. Latar Belakang Matematika merupakan ilmu universal yang
BAB I PENDAHULUAN. mudah dari berbagai tempat di dunia, di sisi lain kita tidak mungkin
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) khususnya teknologi informasi sekarang ini telah memberikan dampak positif pada semua aspek kehidupan manusia
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR A. Kajian Pustaka 1. Derajat Pemahaman Konsep Fungsi a. Derajat Pemahaman Derajat dapat diartikan sebagai tingkatan. Sedangkan menurut Walle, Pemahaman dapat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Strategi Pembelajaran Active Knowledge Sharing 1. Pengertian Strategi yang diterapkan dalam kegiatan pembelajaran disebut strategi pembelajaran. Pembelajaran adalah upaya pendidik
MA1201 KALKULUS 2A Do maths and you see the world
Catatan Kuliah MA20 KALKULUS 2A Do maths and you see the world disusun oleh Khreshna I.A. Syuhada, MSc. PhD. Kelompok Keilmuan STATISTIKA - FMIPA Institut Teknologi Bandung 203 Catatan kuliah ini ditulis
SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN FISIKA 2017
ANALISIS PEMAHAMAN KONSEP SISWA TENTANG ELASTISITAS DI KELAS XI SMA Diana Puspitasari Program Studi Pendidikan Fisika, FKIP, UNIVERSITAS JEMBER [email protected] Sri Handono Budi Prastowo
MATEMATIKA SMK TEKNIK LIMIT FUNGSI : Limit Fungsi Limit Fungsi Aljabar Limit Fungsi Trigonometri
MATEMATIKA SMK TEKNIK LIMIT FUNGSI : Limit Fungsi Limit Fungsi Aljabar Limit Fungsi Trigonometri MATEMATIKA LIMIT FUNGSI SMK NEGERI 1 SURABAYA Halaman 1 BAB LIMIT FUNGSI A. Limit Fungsi Aljabar PENGERTIAN
BAB I PENDAHULUAN. Sumber daya manusia merupakan faktor penting dalam membangun suatu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sumber daya manusia merupakan faktor penting dalam membangun suatu bangsa. Penduduk yang banyak tidak akan menjadi beban suatu negara apabila berkualitas, terlebih
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Semakin berkembang pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) pada masa global ini, menuntut sumber daya manusia yang berkualitas serta bersikap kreatif
OPTIMALISASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI STRATEGI PETA KONSEP UNTUK MENINGKATKAN PENALARAN SISWA DI KELAS VIIA SMP MUHAMMADIYAH 1 SURAKARTA
OPTIMALISASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI STRATEGI PETA KONSEP UNTUK MENINGKATKAN PENALARAN SISWA DI KELAS VIIA SMP MUHAMMADIYAH 1 SURAKARTA SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Trigonometri merupakan bagian dari matematika yang sudah mulai diajarkan di Sekolah Menengah Atas (SMA) dari kelas X sampai kelas XI dan mungkin berlanjut sampai
Kalkulus: Fungsi Satu Variabel Oleh: Prayudi Editor: Kartono Edisi Pertama Cetakan Pertama, 2006 Hak Cipta 2005 pada penulis, Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak atau memindahkan
Fungsi F disebut anti turunan (integral tak tentu) dari fungsi f pada himpunan D jika. F (x) = f(x) dx dan f (x) dinamakan integran.
4 INTEGRAL Definisi 4. Fungsi F disebut anti turunan (integral tak tentu) dari fungsi f pada himpunan D jika untuk setiap D. F () f() Fungsi integral tak tentu f dinotasikan dengan f ( ) d dan f () dinamakan
BAB I PENDAHULUAN. kesamaan, perbedaan, konsistensi dan inkonsistensi. tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Matematika mempunyai peranan sangat penting dalam perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Matematika juga dapat menjadikan siswa menjadi manusia
09. Mata Pelajaran Matematika A. Latar Belakang B. Tujuan
09. Mata Pelajaran Matematika A. Latar Belakang Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Tipe-tipe kesalahan Penyebab kesalahan-kesalahan siswa dalam mengerjakan soal matematika menurut Suhertin (dalam Lisca, 2012) dikarenakan siswa tidak menguasai
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR A. Kajian Pustaka 1. Pengertian Matematika Pengertian matematika secara umum seringkali hanya dikemukakan karena berfokus pada tinjauan pembuat definisi itu
Memahami konsep dasar turunan fungsi dan menggunakan turunan fungsi pada
5 TURUNAN JUMLAH PERTEMUAN : 4 PERTEMUAN TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS : Memahami konsep dasar turunan fungsi dan menggunakan turunan fungsi pada permasalahan yang ada Materi : 5.1 Pendahuluan Ide awal adanya
BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan potensi dan kreativitasnya melalui kegiatan belajar. Oleh
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Interaksi belajar mengajar yang baik adalah guru sebagai pengajar tidak mendominasi kegiatan, tetapi membantu menciptakan kondisi yang kondusif serta memberikan
SATUAN ACARA PERKULIAHAN STRATA-1 STMIK UBUDIYAH
SATUAN ACARA PERKULIAHAN STRATA-1 STMIK UBUDIYAH MATA KULIAH : KALKULUS I JURUSAN : TEKNIK INFORMATIKA KODE MATA KULIAH : JUMLAH PERTEMUAN : 32 X (30 X, 2 X Ujian) TATAP MUKA KE POKOK BAHASAN 1 SUB POKOK
STUDI KASUS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL LUAS PERMUKAAN DAN VOLUME BANGUN RUANG SISI DATAR DI SMP
STUDI KASUS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL LUAS PERMUKAAN DAN VOLUME BANGUN RUANG SISI DATAR DI SMP Cindy Indra Amirul Fiqri 1, Gatot Muhsetyo 2, Abd. Qohar 3 1 Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian
A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN Matematika sebagai salah satu mata pelajaran dasar pada setiap jenjang pendidikan formal, mempunyai peranan yang sangat penting di dalam pendidikan. Selain
Aturan dasar pengintegralan Integral fungsi rasional Integral parsial Integral trigonometri Substitusi yang merasionalkan Strategi pengintegralan
Aturan dasar pengintegralan Integral fungsi rasional Integral parsial Integral trigonometri Substitusi yang merasionalkan Strategi pengintegralan Kemampuan yang diinginkan: kejelian melihat bentuk soal
B. Tujuan Mata pelajaran Matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
49. Mata Pelajaran Matematika Kelompok Seni, Pariwisata, Sosial, Administrasi Perkantoran, dan Teknologi Kerumahtanggaan untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) A. Latar Belakang
PEMBELAJARAN DENGAN PETA KONSEP BIDANG STUDI MATEMATIKA DI KELOMPOK BELAJAR PAKET B. Misran Rahman ABSTRAK
PEMBELAJARAN DENGAN PETA KONSEP BIDANG STUDI MATEMATIKA DI KELOMPOK BELAJAR PAKET B Misran Rahman ABSTRAK Bidang studi matematika merupakan salah satu bidang studi yang dianggap sulit dipahami warga belajar
Satuan Acara Perkuliahan SEKOLAH TINGGI ILMU STATISTIK. Jam pembelajaran per Pertemuan kelas 150 menit Pertemuan praktikum 0 menit Kegiatan lain
Satuan Acara Perkuliahan SEKOLAH TINGGI ILMU STATISTIK A. INFORMASI UMUM Mata kuliah SS1131 Kalkulus 1 Jurusan Statistika/Komputasi Statistika Tgl berlaku Oktober 2014 Satuan kredit semester 3 SKS Bidang
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Prakonsep Menurut Soedjadi (1995) pra konsep adalah konsep awal yang dimiliki seseorang tentang suatu objek. Didalam proses pembelajaran setiap siswa sudah mempunyai
TEKNIK PENGINTEGRALAN
TEKNIK PENGINTEGRALAN Departemen Matematika FMIPA IPB Bogor, 202 (Departemen Matematika FMIPA IPB) Kalkulus I Bogor, 202 / 2 Topik Bahasan Pendahuluan 2 Manipulasi Integran 3 Integral Parsial 4 Dekomposisi
Asimtot.wordpress.com FUNGSI TRANSENDEN
FUNGSI TRANSENDEN 7.1 Fungsi Logaritma Asli 7.2 Fungsi-fungsi Balikan dan Turunannya 7.3 Fungsi-fungsi Eksponen Asli 7.4 Fungsi Eksponen dan Logaritma Umum 7.5 Pertumbuhan dan Peluruhan Eksponen 7.6 Persamaan
