Implementasi Operating Model melalui Arsitektur Enterprise
|
|
|
- Ari Gunawan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Implementasi Operating Model melalui Arsitektur Enterprise Studi Kasus PT Kereta Api Indonesia Disusun oleh: M. Rachmat Gunawan Chomsa Hidayat Ahmad
2 Latar Belakang Betapa banyak perusahaan yang gagal bersaing dan jatuh, jalan tapi tertatih-tatih, tapi ada juga yang maju dan berkembang. Dan sepertinya semua perusahaan itu punya strategi untuk tumbuh. Namun mengapa hasilnya bisa berbeda? Apa yang membedakannya? CISR MIT melakukan survey terhadap 103 perusahaan di Amerika Serikat tentang IT mereka dan bisnis proses mereka yang telah didukung oleh IT. 34% dari perusahaan itu telah melakukan digitalisasi bisnis proses mereka, dan mereka mendapatkan rata-rata keuntungan yang lebih besar dan time to market yang lebih cepat. 12% dari 103 perusahaan itu masih melakukan projek IT secara terkotak-kotak dan belum mengintegrasikan tujuan investasi teknologi mereka dengan tujuan bisnis. Sisanya yang 48% masih belum menemukan cara untuk meningkatkan nilai bisnisnya dengan menggunakan IT. Mereka yang 34% di atas dapat tumbuh dan berkembang lebih baik karena mereka memiliki landasan yang cukup untuk menjalankan strategi perusahaannya. Untuk membangun landasan tersebut, diperlukan tiga disiplin pokok, yaitu Operating Model, Arsitektur Enterprise, dan IT Engagement Model. Operating Model didefinisikan sebagai satu level keterintegrasian dan kestandaran proses bisnis yang dibutuhkan dalam menyajikan produk barang dan jasa kepada pelanggan. Arsitektur Enterprise didefinisikan sebagai pengorganisasian logis untuk proses bisnis dan infrastruktur TI terkait dengan kebutuhan integrasi dan standarisasi dari sebuah Operating Model perusahaan. IT Engagement Model adalah sistem dan mekanisme pengelolaan IT yang menjamin bisnis dan proyek IT mencapai tujuan perusahaan baik yang bersifat lokal maupun yang bersifat menyeluruh. Tulisan ini bermaksud untuk mambahas bagaimana pendekatan Arsitektur Enterprise dapat membantu pendefinisan Operating Model di sebuah perusahaan sehingga dapat tercapai satu landasan pelaksanaan strategi perusahaan yang kokok yang pada akhirnya akan membawa perusahaan kepada tujuan bisnisnya. Tulisan ini juga menyajikan studi kasus pendekatan ini pada PT Kereta Api Indonesia. Operating Model Operating model adalah pada intinya menggambarkan bagaimana sebuah organisasi beroperasi baik pada domain bisnis maupun domain teknologi[1]. Sebuah Operating Model menggambarkan bagaimana sebuah perusahaan berkeinginan untuk tumbuh dan berkembang. Operating Model ini dapat mendorong terbentuknya landasan pelaksanaan strategi perusahaan yang lebih baik dengan cara menyajikan pandangan yang lebih stabil dan dapat dilaksanakan (actionable) tentang perusahaan. Pemilihan Operating Model adalah satu keputusan kritis untuk sebuah perusahaan. Ini adalah langkah awal dalam membangun landasan pelaksanaan strategi perusahaan. Operating Model memungkinkan implementasi yang segera dari beragam inisiatif strategis. Namun, operating model yang sama mungkin akan gagal untuk mendukung sebuah inisiatif strategis yang tidak sesuai dengan asumsi di mana operating model tersebut dibangun. Dengan demikian, operating model adalah satu pilihan tentang strategi mana saja yang dapat didukungnya.
3 Pemilihan ini akan berdampak pada bagaimana perusahaan akan mengimplementasikan proses bisnis dan IT infrastrukturnya. Perusahaan yang tidak memiliki operating model yang jelas memiliki kemampuan adaptasi yang rendah terhadap kebutuhan strategis baru. Sebaliknya, setiap inisiatif strategis baru membutuhkan satu upaya efektif untuk perusahaan dalam mendefinisikan kembali kemampuan kuncinya. Namun begitu, pilihan ini terbukti mampu mendorong tumbuh kembangnya perusahaan dengan cara mengefektifkan pelaksanaan strategi perusahaan melalui landasan pelaksanaan strategi perusahaan. CORE BUSINESS INITIATIVES Strategic Initiatives Strategic Initiatives Strategic Initiatives OPERATING MODEL Define Strategic Goals Learning & Exploration Ideas on ways to use Infrastructure service Process Standarization across Programs, Integration within and between programs Enterprise Architecture Establishes Priotities Define Core Capabilities Update & Evolve Architecture ENGAGEMENT MODEL Concept of operation, process automation & modeling, architecture review, Metrics FOUNDATION FOR EXECUTION IT Mission Objectives Infrastructure Architecture Application Architecture Standard Interface IT Implementation Standard Data Architecture Web Architecture High Integration Figure 1 Landasan Pelaksanaan Strategi Operating Model memiliki dua dimensi yaitu standarisasi binsis proses dan integrasi bisnis proses. Standarisasi menggambarkan secara tepat bagaimana sebuah proses akan dilaksanakan menyangkut siapa yang melaksanakannya atau di mana proses tersebut
4 dikejakan. Standarisasi yang berarti pengurangan variabilitas proses akan berakibat kepada peningkatan keluaran dan efisiensi. Walaupun demikian, standarisasi membatasi adanya inovasi. Sementara itu, integrasi berkaitan dengan upaya menghubungkan unitunit organisasi melalui data bersama (shared data). Berbagi data ini dapat dilakukan baik untuk proses yang melakukan transaksi dari ujung ke ujung maupun lintas proses yang memungkinkan perusahaan menyajikan satu antarmuka saja ke pelanggan. Keuntungan adanya integrasi ini meliputi efisiensi, koordinasi, transparansi, dan kelenturan terhadap perubahan. Berdasarkan 2 dimensi di atas, selanjutnya Operating Model dibagi ke dalam 4 model dasar, yaitu: 1. Diversifikasi 2. Koordinasi 3. Replikasi 4. Unifikasi Ada pun karakteristik masing-masing model adalah sebagai berikut: 1. Standarisasi rendah dan integrasi rendah Diversifikasi a. Hanya sedikit saja pelanggan atau suplier yang dilayani bersama b. Transaksi independen c. Bisnis unit yang beroprasi secara unik d. Pengelolaan bisnis yang autonomous (dengan mesin) e. Unit bisnis mengendalikan desain proses bisnis f. Sedikit sekali standard data antar unit bisnis g. Sebagian besar keputusan IT diambil di level unit bisnis. 2. Standarisasi rendah dan integrasi tinggi Koordinasi a. Pelanggan, suplier, atau produk bersama b. Berimplikasi terhadap transaksi unit bisnis lain c. Unit bisnis atau fungsi yang beroperasi secara unik d. Pengelolaan bisnis yang autonomous e. Unit bisnis mengendalikan desain proses bisnis f. Berbagi data pelanggan, suplier, dan produk g. Proses konsensus dalam pengembangan infrastruktur IT, namun keputusan pengembangan aplikasi dilakukan di unit bisnis 3. Standarisasi tinggi dan integrasi rendah Replikasi
5 a. Sedikit sekali pelanggan bersama b. Transaksi bersifat independen dan dikumpulkan pada level yang lebih tinggi c. Unit bisnis beroperasi sejenis d. Business leader e. Kontrol terpusat atas desain bisnis proses f. Definisi data distandarisasi namun data dimiliki secara lokal g. Pengelolaan IT dilakukan secara terpusat 4. Standarisasi tinggi dan integrasi tinggi Unifikasi a. Pelanggan dan suplier dapat bersifat lokal maupun global b. Proses bisnis terintegrasi c. Unit bisnis yang sejenis dan sebagian overlap d. Manajemen terpusat dan lebih sering membentuk organisasi matriks e. Proses standarisasi bersifat high level f. Database terpusat g. Keputusan IT dilakukan terpusat Arsitektur Enterprise Arsitektur enterprise adalah pengorganisasian logis untuk proses bisnis dan infrastruktur TI terkait dengan kebutuhan integrasi dan standarisasi dari sebuah Operating Model perusahaan. Elemen pokok pada arsitektur enterprise berbeda-beda, tergantung pada Operating Model yang digunakan. Kunci untuk mencapai aristektur enterprise yang efektif adalah dengan mengidentifikasikan proses, data, teknologi dan antarmuka dengan pelanggan sehingga Operating Model dapat menjadi kenyataan dan bukan sekedar visi. Arsitektur enterprise berkaitan dengan bagaimana komunikasi dibuat atau dibangun dari proses bisnis tingkat tinggi dan dari kebutuhan IT suatu Operating Model perusahaan. Biasanya, arsitektur enterprise direpresentasikan dalam bentuk prinsip-prinsip, kebijakan-kebijakan dan pilihan teknologi yang kemudian semuanya dituangkan dalam sebuah gambar berbentuk diagram yang dapat mewakili ketiga komponen (proses, data, dan teknologi). Diagram ini disebut sebagai core diagram (diagram inti). Core diagram berisi gambaran unit-unit bisnis beserta proses transaksi dan keterkaitan antar unit dalam menjalankan proses bisnisnya. Diagram ini berfungsi seperti sebuah blueprint pada gambar arsitektur bangunan sebagai dasar arsitektur bisnis perusahaan atau enterprise. Core diagram menyediakan wadah bagi para manajer untuk membangun dan mengembangkan arsitektur enterprise. Secara umum, ada empat elemen dalam diagram inti arsitektur enterprise, yaitu:
6 1. Proses bisnis inti. Kelompok kecil proses bisnis ini menyatakan sekelompok kemampuan tetap yang diperlukan perusahaan untuk menjalankan operating model dan menjawab tantangan pasar. 2. Data bersama untuk mendorong proses inti. Data ini bisa berupa file pelanggan yang digunakan bersama di di seluruh lini produk dari institusi layanan keuangan atau data suplier beserta item yang dikelolanya yang digunakan bersama dalam sebuah perusahaan yang menyelenggarakan rantai pasok (supply chain). 3. Hubungan/keterkaitan utama dan teknologi otomatisasi. Teknologi-teknologi ini termasuk perangkat lunak yang dikenal sebagai middleware yang memungkinkan integrasi berbagai aplikasi dan akses ke data bersama, dan paket perangkat lunak utama lainnya seperti sistem ERP (yaitu teknologi otomatisasi). Teknologi kunci juga termasuk portal yang menyediakan standar akses ke beragam sistem dan data, atau antarmuka pelanggan yang membedakan sebuah perusahaan dengan pesaingnya. Antarmuka elektronik kepada kelompok pemangku kepentingan (karyawan, pelanggan, rekanan, dan suplier) juga dapat muncul dalam core diagram ini. 4. Pelanggan-pelanggan yang penting/utama. Bagian ini memperlihatkan sekelompok pelanggan utama yang dijadikan landasan dasar untuk pengambilan strategi perusahaan. Tiap-tiap elemen pokok di atas bersifat spesifik untuk tiap perusahaan atau enterprise, tergantung pada Operating Modelnya. Dengan demikian, kita dapat melihat kemiripan dalam core diagram satu perusahaan yang memiliki operating model yang mirip. Pendekatan Arsitektur Enterprise untuk menjelaskan Operating Model Di bawah ini disajikan beberapa karakteristik yang dimiliki oleh arsitektur enterprise untuk keempat operating model di atas. Arsitektur Enterprise untuk Model Koordinasi Model koordinasi menyediakan layanan terpadu (integrated service) untuk tiap kelompok pelanggan utama. Keterpaduan tersebut dihasilkan dari berbagi data penting yang digunakan bersama oleh unit-unit bisnis untuk menyajikan satu antarmuka terhadap pelanggan. Model Koordinasi memperbolehkan perusahaan untuk mengintegrasikan sejumlah produk atau proses yang tidak terhitung (karena banyaknya jangkauan jenis produk) tanpa memaksakan standarisasi. Diagram inti arsitektur enterprise untuk Model Koordinasi menempatkan titik perhatian pada upaya integrasi beragam proses bisnis dalam perusahaan dan, tentu saja, fokus pada data bersama (shared data). Sering kali pula, diagram inti juga akan menyoroti teknologi yang penting yang menggambarkan bagaimana para stakeholder bisa mengakses datadata tersebut. Karena sebagian besar proses pada Model ini bersifat unik, maka menjadi kurang penting untuk menampilkannya pada diagram inti model. Namun, ada kalanya sangat bermanfaat untuk mencantumkan satu atau beberapa proses penting yang perlu untuk dilakukan koordinasi.
7 Desain diagram inti model dimulai dengan pelanggan-pelanggan utama yang datanya dapat digunakan bersama-sama antar unit-unit bisnis. Selanjutnya, subset data perusahaan yang berkaitan dengan pelanggan dibagi dan digunakan bersama antar unitunit bisnis untuk melayani pelanggan utama tersebut. Kemudian, semua teknologi yang penting terhadap integrasi data diidentifikasi. Di sini yang penting bukanlah teknologinya, melainkan adanya visi bersama dari manager bisnis dan IT tentang pentingnya integrasi data. Akhirnya, pertimbangkan perlu tidaknya menyertakan elemen proses bisnis. Figure 2 Diagram Inti untuk Model Koordinasi Arsitektur Enterprise untuk Model Unifikasi Dalam model operasi Unifikasi, standarisasi dan integrasi proses bisnis diperlukan untuk melayani berbagai jenis customer untuk tiap unit-unit bisnis. Teknologi digunakan baik sebagai penghubung maupun untuk otomatisasi proses. Langkah yang bisa dilakukan dalam menyusun arsitektur enterprise untuk model unifikasi adalah pertama-tama dengan menentukan proses inti yang harus dijalankan. Ada tiga elemen yang diperlukan, yaitu dimulai dari identifikasi pelanggan atau pasar yang harus dilayaninya, membuat daftar proses kunci untuk distandarkan dan diintegrasikan, kemudian membagi data untuk dipergunakan bersama antar unit bisnis untuk menuju proses terintegrasi yang lebih baik dan untuk menjamin layanan kapada pelanggan. Apabila ada teknologi kunci yang berperan sebagai penggerak dan jembatan proses, dapat disertakan pula dalam diagram (berbentuk garis putus-putus pada gambar di bawah ini). Setelah didefinisikan proses intinya, langkah desain diarahkan pada bagaimana hasil atau outcome-nya. Pada langkah ini digambarkan proses-proses yang dilakukan dalam mencapai tujuan dan sasaran yang diinginkan dengan melibatkan data, teknologi dan proses-proses bisnis yang mendukungnya. Secara umum gambar diagram inti disajikan di bawah ini.
8 Figure 3 Diagram inti model Unifikasi Arsitektur Enterprise untuk Model Diversifikasi Model Diversifikasi merupakan kebalikan dari model Unifikasi di mana model Diversifikasi hanya membutuhkan integrasi dan standarisasi yang rendah. Tiap pekerjaan berjalan dengan saling lepas (tidak saling tergantung), walau sebenarnya ada kesempatan untuk berbagi layanan antar unit dalam perusahaan tersebut. Proses berbagi terjadi hanya pada infrastruktur teknis saja. Sering kali, perusahaanperusahan yang mengadopsi model Diversifikasi mengatur skala ekonominya melalui pemanfaatan teknologi bersama. Pemanfaatan teknologi secara bersama ini merupakan elemen penting dari diagram inti arsitektur enterprise. Pemanfaatan bersama dari teknologi dan layanan pada Diversifikasi biasanya menyertakan pusat data, jaringan telekomunikasi, pengembangan dan pemeliharaan sistem, negosiasi vendor yang terpusat dan help desk. Desain diagram inti model Diversifikasi dimulai dengan teknologi yang bisa dimanfaatkan bersama-sama dalam mendukung skala ekonominya, standarisasi atau kepentingan lainnya. Penggabungan elemen-elemen penting lainnya jenis pelanggan kunci, proses-proses bisnis dan data hanya dilakukan jika diperlukan. Misalnya, beberapa perusahaan dengan model Diversifikasi memerlukan proses dan data yang distandarisasi untuk pelaporan keuangan, manajemen resiko dan pemenuhan semua unit bisnisnya. Penyediaan antarmuka tunggal untuk pelanggan pada perusahaan Diversifikasi sangat jarang dilakukan.
9 Figure 4 Diagram inti model Diversifikasii Arsitektur Enterprise untuk Model Replikasi Model operasi Replikasi akan berhasil jika proses-proses penting distandarisasi secara keseluruhan dalam perusahaan dan didukung oleh teknologi yang terotomatisasi. Replikasi mengijinkan perluasan usaha dan skalabilitas bisnis yang cepat. Dengan mengidentifikasi kategori layanan utama, diagram arsitektur enterprise membantu manajemen memahami kemampuan yang ada dan berkesempatan membuat target baru. Model Replikasi berkutat pada proses yang distandarisasi. Diagram inti arsitektur enterprise menunjukkan proses standar kunci dan teknologi penting yang memungkinkan proses-proses model Replikasi berjalan. Data jarang muncul dalam diagram inti karena perusahaan Replikasi tidak secara khusus berbagi data pada semua unit bisnis. Untuk meningkatkan skala ekonominya, perusahaan-perusahaan ini mengotomatisasikan proses-proses penting, yaitu dengan pembuatan modul-modul bisnis yang bisa dipergunakan kembali. Diagram inti juga biasanya menunjukkan teknologi yang dimanfaatkan bersama untuk menghubungkan proses-proses yang distrandarisasi tersebut. Desain diagram inti model Replikasi dimulai dengan proses-proses kunci yang terstandarisasi dan digandakan pada semua unit bisnis. Kemudian, teknologi-teknologi untuk melakukan otomatisasi proses tersebut diidentifikasi. Setelah itu, perlu dipertimbangkan teknologi apa, jika ada, yang bisa dimanfaatkan bersama antar unit bisnis untuk menghubungkan proses-proses yang distandarisasi tersebut. Biasanya ini tidak terlalu diperlukan pada model Replikasi untuk keperluan berbagi data atau mengenali pelanggan. Tiap unit bisnis membuat keputusan secara lokal.
10 Figure 5 Diagram inti model Replikasi Studi Kasus: PT Kereta Api Indonesia Untuk menetapkan landasan bagi pelaksanaan strategi perusahaan di PT Kereta Api Indonesia (PT KAI), perlu dilakukan kajian singkat untuk menentukan operating model mana yang dapat mewakili operating model PT KAI. Dari operating model tersebut, selanjutnya dapat digambarkan diagram inti dari arsitektur enterprise PT KAI. Diagram ini selanjutnya berguna untuk merencanakan arsitektur PT KAI ke dapan. Bila melihat kepada keempat model di atas, PT KAI lebih cenderung untuk beroperasi di kuadran Unifikasi, dengan karakteristik sebagai berikut: 1. managemen terpusat dengan unit bisnis yang bersifat matriks (dengan adanya Managemen Daerah Operasi (DAOP) di bawah Direktorat Operasi, Managemen Telekomuniksi dan Sinyal di bawah Direktorat Teknik, dan sebagainya) 2. bisnis unit yang memiliki proses yang bertindih atau sama, seperti antar DAOP, antara Komunikasi dan Sinyal, dan sebagainya 3. desain proses yang terpusat 4. database terpusat 5. pengambilan keputusan tentang IT dilakukan terpusat Setelah diketahui operating model-nya, selanjutnya adalah penentuan diagram inti dari arsitektur enterprisenya. Proses penentuan diagram inti untuk model ini meliputi pendefinisian pelanggan, penentuan proses kunci, dan penentuan data yang dapat dibagi antar unit bisnis dalam PT KAI. Pelanggan dan Pasar Utama Sampai hari ini, PT KAI adalah satu-satunya perusahaan yang memegang hak
11 penyelenggaraan transportasi kereta api di Indonesia. Hak ini masih dipertahankan dengan pertimbangan bahwa transportasi kereta api adalah menyangkut hajat hidup orang banyak, sehingga berdasarkan UUD 1945, penyelenggaraannya dilakukan oleh negara. Untuk menjalankan tugasnya ini, negara menunjuk PT Kereta Api Indonesia sebagai operator layanan perkeretaapian. Walaupun bersifat monopoli, PT KAI pun tidak dapat lepas dari adanya kompetisi. Bila melihat kepada Competitive Force Model dari Porter, tantangan kompetisi munculnya adalah dari 2 sisi, yaitu nilai tawar pelanggan (bargaining power of buyer) dan munculnya produk alternatif selain kereta api yang menawarkan layanan lebih baik dan lebih murah. Mempertimbangkan 2 sisi ini, di bawah ini digambarkan tabel peta segmen pelanggan dan segmen pasar utama PT KAI hingga saat ini. Jarak Produk Transportasi Manusia Transportasi Barang Utama Bisnis Ekonomi Ekonomi Dekat Sedang Jauh Proses Bisnis Kunci yang Distandarisasi - Ticketing - Dispatching - Traffic Control - Pemeliharaan Data Kunci yang Digunakan Bersama - Data pelanggan - Data penumpang - Data gerbong - Data lokomotif - Data logistik kereta api Core Diagram PT KAI Gambar... Landasan Pelaksanaan Strategi PT KAI Gambar juga Siapa yang Harus Mendesain Arsitektur Enterprise? Kebanyakan perusahaan, arsitektur enterprise merupakan tanggung jawab sebagian staf TI. Sebagaimana yang dilakukan di PT. Kereta Api, tanggung jawab desain arsitektur ini
12 ada pada bagian Pusat Perencanaan dan Pengambangan (Pusrenbang), karena kebanyakan kompilasi data dan yang bisa mengolahnya ada di bagian Pusrenbang ini. Padahal, menurut buku ini, proses arsitektur ini seharusnya dimulai dari kesepakatan operating model dari para manajer senior. Hasilnya berupa garis besar untuk operating model tersebut sebagai titik awal desain dasar pelaksanaannya. Diskusi mengenai arsitektur enterprise harus melibatkan manajemen senior selain juga manajemen eksekutif, walaupun pada akhirnya para pimpinan bidang TI yang memimpin diskusi tersebut. Dalam hal ini, ada dua strategi dalam menyertakan manajemen senior, yaitu bidang TI memfasilitasi manajemen senior dalam diskusi dan desain diagram inti oleh bidang TI dengan persetujuan manajemen senior. 1. TI memfasilitasi manajemen senior Beberapa perusahaan memulai upaya desain arsitektur enterprisenya dengan menyelenggarakan kemampuan intinya. Pengembangan kemampuan ini menyertakan rekayasa ulang operasional dan terkadang organisasional juga. Perubahan yang terjadi pada perusahaan seperti ini memerlukan kepemimpinan dari manajemen senior dalam menentukan operating model dan diagram inti arsitektur. Sebagai sebuah perusahaan milik negara atau BUMN, PT. Kereta Api juga sangat tergantung kepada stakeholder dalam jajaran Dewan Komisaris dan Departemen Perhubungan dalam menentukan kebijakan dan arah pelaksanaan penyelenggaraan perusahaan. Batasan yang digunakan biasanya adalah besaran APBN dan roadmap pengembangan kereta api di Indonesia berdasarkan UU No. 23 tahun 2007 tentang Perkeretaapian. Arsitektur enterprise akan sulit untuk dijabarkan karena dipaksa untuk mengembangkan sesuatu dari visi yang sederhana dalam sebuah organisasi yang kompleks seperti PT. Kereta Api ini. Manajemen berusaha untuk menyambungkan intisari perusahaan ke dalam diagram inti, walaupun dengan langkah yang berulang-ulang. Intisari perusahaan akan tetap sama walaupun terjadi perubahan kondisi bisnis. Dengan bisnis inti pelayanan jasa transportasi kereta api, diagram inti PT. Kereta Api cenderung tetap dan hanya mengalami sedikit restrukturisasi dari tahun ke tahun. Apalagi dengan diberlakukannya UU No. 23 Tahun 2007 yang berlaku efektif mulai 2010, tidak banyak restrukturisasi yang terjadi. Intisari perusahaan yang tetap akan membantu diagram inti menjadi lebih terukur karena lebih terprediksi, bisa digunakan ulang dan dapat diandalkan. Kecenderungan beberapa tim manajemen adalah menyertakan terlalu banyak proses atau detil dalam diagram inti arsitektur enterprise. Dengan bantuan TI, dapat diberikan batasan-batasan apa saja yang seharusnya tidak perlu disertakan dalam pembahasan diagram inti tersebut. Hal ini tentunya banyak tantangannya, namun manajemen akan menjadi lebih fokus dalam menyusun dasar-dasar pelaksanaan kegiatan dan penyelenggaraan perusahaan. 2. Pimpinan TI Mendesain Diagram Inti
13 Pimpinan bidang TI mengembangkan diagram inti, menawarkan visi perusahaan yang bisa didukung TI sepenuhnya dengan cepat. Diagram inti ini menyatakan harapan mengenai proses bisnis yang signifikan dan perlu dikomunikasikan dan didukung oleh manajemen senior dalam visinya. Titik integrasi menjadi kemampuan yang penting dalam visi operasional perusahaan. Pemikiran dan penyiapan diagram inti arsitektur enterprise memberikan tekad kepada manajemen terhadap TI dan proses bisnis yang IT-enabled untuk membangun dan menyetarakan dasar pelaksanaan. Proses membangun merupakan proses perjalanan perusahaan. Perusahaan berjalan dan belajar untuk meningkatkan kemampuan dan memperoleh serta meningkatkan nilai.
Enterprise Architecture Planning
Enterprise Architecture Planning Analysis for Business Requirements : Model Operation TKB5354 Perancangan Arsitektur Enterprise Chalifa Chazar www.script.id [email protected] Strategi bisnis menyediakan
SI402 Arsitektur Enterprise Pertemuan #4 Suryo Widiantoro, ST, MMSI, M.Com(IS)
SI402 Arsitektur Enterprise Pertemuan #4 Suryo Widiantoro, ST, MMSI, M.Com(IS) Mahasiswa mampu menjelaskan bahasa, pedoman, dan visualisasi yang digunakan sebagai dasar pembuatan sebuah pemodelan arsitektur
III. LANDASAN TEORI 3.1 Electronic Commerce 3.2 Transaksi dalam E-Commerce
III. LANDASAN TEORI Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat telah membawa banyak perubahan pada stabilitas ekonomi global, yaitu maraknya penggunaan Internet sebagai medium untuk melakukan transaksi
Arsitektur Sistem Informasi. Tantri Hidayati Sinaga, M.Kom.
Arsitektur Sistem Informasi Tantri Hidayati Sinaga, M.Kom. Arsitektur Teknologi Informasi Arsitektur teknologi informasi adalah seluruh aspek meliputi piranti keras, piranti lunak, perangkat jaringan dan
ENTERPRISE RESOURCE PLANNING
ENTERPRISE RESOURCE PLANNING RUANG LINGKUP MATAKULIAH Materi Pengantar ERP Sistem dan Rekayasa ERP Pemetaan Proses Siklus ERP ERP: Sales, Marketing & CRM ERP: Akuntansi, Keuangan ERP: Produksi, Rantai
LAMPIRAN A KUISIONER UNTUK PEMBOBOTAN KORPORAT
LAMPIRAN A KUISIONER UNTUK PEMBOBOTAN KORPORAT Faktor Domain Bisnis 1. Strategic Values 1.1. Strategic Match Dititikberatkan pada tingkat/derajat dimana semua proyek teknologi informasi atau sistem informasi
LAMPIRAN LEMBAR KUESIONER PEMBOBOTAN COORPORATE VALUE. Petunjuk: Berilah nilai bobot antara 0-5 dimana:
LAMPIRAN LEMBAR KUESIONER PEMBOBOTAN COORPORATE VALUE Petunjuk: Berilah nilai bobot antara - dimana: Tidak berhubungan sama sekali. Sangat sedikit hubungannya. Sedikit hubungannya Cukup berhubungan. Memiliki
I. PENDAHULUAN Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Globalisasi telah mendorong terciptanya persaingan yang sengit diantara para pelaku bisnis di setiap bidang. Kemampuan perusahaan dalam merespon perubahan secara cepat
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan bisnis kurir dan logistik di Indonesia secara umum saat ini sangat pesat seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan semakin banyaknya bisnis jual
BAB I PENDAHULUAN. Seperti berita-berita yang sedang marak beredar di televisi saat ini mengenai kurangnya
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seperti berita-berita yang sedang marak beredar di televisi saat ini mengenai kurangnya jumlah panen yang dilakukan oleh para petani dalam pemanen bahan baku utama
Rute Menuju Best Practice. Catatan dari kegagalan implementasi ERP
Rute Menuju Best Practice Catatan dari kegagalan implementasi ERP Setiap organisasi ingin menjadi yang terdepan. Untuk mencapai hal itu mereka harus meraih apa yang disebut best practice. Berbagai kasus
KONSEP SI LANJUT. WAHYU PRATAMA, S.Kom., MMSI.
KONSEP SI LANJUT WAHYU PRATAMA, S.Kom., MMSI. PERTEMUAN 6 KSI LANJUT ERP (Bagian 1) Pemahaman Enterprise Resource Planning (ERP). Karakter Sistem. Pemahaman Enterprise Resource Planning (ERP) ERP adalah
BAB 1 PENDAHULUAN. yang penting bagi suatu perusahaan. Dengan adanya teknologi informasi, maka
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Teknologi informasi pada masa kini, telah menjadi suatu kebutuhan yang penting bagi suatu perusahaan. Dengan adanya teknologi informasi, maka proses-proses yang ada
BAB III METODOLOGI PENGEMBANGAN
BAB III METODOLOGI PENGEMBANGAN 3.1. Analisis dan Pemberian Bobot Nilai Metode yang digunakan dalam memberikan bobot nilai untuk IE versi kedua (Parker, 1996) diambil dari IE versi pertama (Parker, 1988).
Pengantar. Sekilas E-Bisnis. Fungsi E-Bisnis. Komponen-komponen E-Bisnis. Hubungan E-Bisnis dengan E-Commerce
Pengantar Sekilas E-Bisnis E-bisnis menghubungkan semua karyawan, pelanggan, pemasok, dan stakeholders lainnya tanpa pandang wilayah geografis. E-bisnis pakai standar data elektronik umum dan otomatisasi
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini telekomunikasi sangatlah penting untuk medukung kehidupan sehari hari. Industri yang maju tidak luput oleh adanya teknologi telekomunikasi yang baik, dengan
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN. dijalankan oleh PT. Adi Sarana Armada.
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Rencana Strategis Bisnis Rencana strategis bisnis berisi sekumpulan arahan strategi yang akan dijalankan oleh PT. Adi Sarana Armada. Adapun arahan strategi yang diperoleh
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Teknologi informasi merupakan teknologi yang dapat digunakan untuk membantu manusia dalam memproses data untuk mendapatkan informasi yang bermanfaat. Perkembangan teknologi
BAB III METODOLOGI. proses penyusunan perencanaan strategi, terdapat beberapa komponen yang perlu. diperhatikan. Komponen-komponen tersebut adalah :
19 BAB III METODOLOGI 3.1. Komponen Sebuah Perencanaan Penyusunan sebuah perencanaan terdiri atas beberapa komponen. Pada proses penyusunan perencanaan strategi, terdapat beberapa komponen yang perlu diperhatikan.
CV. Lubersky Computer Semarang: IT Consultant, Software dan Web Development
Teknologi Informasi (TI) sudah menjadi spektrum dalam kegiatan bisnis dunia. Investasi untuk pengembangan teknologi informasi merupakan sebuah fenomena yang diyakini para pelaku bisnis akan menambah nilai
BAB I PENDAHULUAN. proses bisnis yang berjalan dalam sebuah perusahaan.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang pesat dewasa ini, maka diperlukan adanya suatu infrastruktur teknologi informasi untuk mendukung proses bisnis
MENGEMBANGKAN STRATEGI SI/TI Titien S. Sukamto
MENGEMBANGKAN STRATEGI SI/TI Titien S. Sukamto Pengembangan Strategi SI/TI Mengembangkan sebuah strategi SI/TI berarti berpikir secara strategis dan merencanakan manajemen yang efektif untuk jangka waktu
BAB I PENDAHULUAN. baik internal maupun eksternal untuk melakukan inovasi dalam. mengembangkan produk dan servisnya. Bank diharapkan dapat merespons
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Industri perbankan Indonesia saat ini sedang menghadapi tekanantekanan baik internal maupun eksternal untuk melakukan inovasi dalam mengembangkan produk dan servisnya.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian PT. Kereta Api Indonesia (Persero) merupakan Perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan status kepemilikan 100% dimiliki oleh Negara Republik
Program Peningkatan Kemampuan Pemasok secara Efektif Nike 1. Apa persoalan yang perlu diselesaikan?
Studi Kasus dalam merancang intervensi tingkat perusahaan mempromosikan produktivitas dan kondisi kerja di UKM Program Peningkatan Kemampuan Pemasok secara Efektif Nike 1. Apa persoalan yang perlu diselesaikan?
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. terdahulu yang pernah dilakukan sebagai bahan perbandingan dan kajian. Adapun
8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Penelitian dilakukan tidak terlepas dari hasil penelitian-penelitian terdahulu yang pernah dilakukan sebagai bahan perbandingan dan kajian. Adapun hasil-hasil
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian Telekomunikasi Indonesia, Tbk. Adalah suatu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dalam bidang jasa telekomunikasi. PT. Telekomunikasi Indonesia,
ENTERPRISE RESOURCE PLANNING (ERP)
ENTERPRISE RESOURCE PLANNING (ERP) Sumber : http://en.wikipedia.org http://yanuar.kutakutik.or.id/ngeweb/erp-masih-validkahditerapkan-di-perusahaan/ www.mikroskil.ac.id/~erwin/erp/00.ppt http://www.army.mil/armybtkc/focus/sa/erp_intro.htm
INFRASTRUKTUR E-BISNISE Pertemuan ke-4
MKK-3161 E-BisnisE INFRASTRUKTUR E-BISNISE Pertemuan ke-4 Infrastruktur Dasar E-Bisnis Infrastruktur e-bisnis adalah arsitektur hardware, software, konten dan data yang digunakan untuk memberikan layanan
Enterprise Resource Planning (ERP)
E-BUSSINES Enterprise Resource Planning (ERP) Disusun oleh : Mohammad Nidhom 08.11.2180 S1 TI 6E SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER STMIK AMIKOM YOGYAKARTA 2011 Enterprise Resource Planning
Daftar Pertanyaan Wawancara. 2. Bagaimana struktur organisasi instansi, beserta tugas dan tanggung jawab tiap
L1 Daftar Pertanyaan Wawancara 1. Apa visi dan misi instansi? 2. Bagaimana struktur organisasi instansi, beserta tugas dan tanggung jawab tiap bagian? 3. Bagaimana proses bisnis instansi? 4. Sejak tahun
Perencanaan Sumber Daya
MODUL PERKULIAHAN Perencanaan Sumber Daya E-Business Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Program Magister Teknik Resource Pascasarjana Industri Planning 11 Abstract - Electronic enterprise,
BAB 1 BAB 1 PENDAHULUAN. sejumlah tantangan seperti persaingan bisnis yang semakin ketat dan
BAB 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada era ekonomi global sekarang ini, perusahaan menghadapi sejumlah tantangan seperti persaingan bisnis yang semakin ketat dan kekuatan pasar yang semakin besar.
LAMPIRAN 1. KUESIONER PEMBOBOTAN KORPORASI PT TELKOM DOMAIN BISNIS
LAMPIRAN. KUESIONER PEMBOBOTAN KORPORASI PT TELKOM DOMAIN BISNIS Kuesioner ini dibuat untuk mengevaluasi nilai dan Risiko dalam investasi teknologi informasi (TI) yang diterapkan di PT TELKOM. Petunjuk:
LAMPIRAN 1. Kuesioner. Domain Bisnis. untuk penyusunan skripsi dengan judul Analisis Investasi Sistem Informasi dengan
L1 LAMPIRAN 1 Kuesioner Domain Bisnis Kuesioner ini dibuat dan disebarkan untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk penyusunan skripsi dengan judul Analisis Investasi Sistem Informasi dengan Menggunakan
Oleh : Edi Sugiarto, S.Kom, M.Kom
Oleh : Edi Sugiarto, S.Kom, M.Kom Informasi menjadi dasar pelaksanaan proses rantai pasok dan dasar bagi manajer dalam membuat keputusan. Menurut cophra dan meindl(2007) informasi harus memiliki karakteristik:
BAB 9 PENGGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PERDAGANGAN MELALUI JARINGAN ELEKTRONIK
BAB 9 PENGGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PERDAGANGAN MELALUI JARINGAN ELEKTRONIK PERDAGANGAN MELALUI JARINGAN ELEKTRONIK Pada awalnya perdagangan melalui jaringan elektronik didefinisikan sangat sempit,
Resume Chapter 2: Charting a Company s Direction: Its Vision, Mission, Objectives, and Strategy
Resume Chapter 2: Charting a Company s Direction: Its Vision, Mission, Objectives, and Strategy Perusahaan yang memiliki keunggulan bersaing diharuskan mampu dalam memahami perubahan struktur pasar dan
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Perencanaan Strategi Sistem dan Teknologi Informasi 2.1.1 Pengertian Perencanaan Strategis Perencanaan strategis, menurut Ward dan Peppard (2002, p462) adalah analisa
BAB 1 PENDAHULUAN. diperbaharui dalam perusahaan untuk dapat menjadi market leader didalam bisnis
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Persaingan di dunia bisnis semakin kompleks, banyak hal yang harus diperbaharui dalam perusahaan untuk dapat menjadi market leader didalam bisnis yang mereka kembangkan.
Strategic Management of IS/IT. Aspek Manajemen IS / IT 11/23/2011. O rganization and R esources Chapter 8. Context of This Session
Context of This Session External Business Environment Internal Business Environment Internal IS/IT environment Strategic Management of IS/IT O rganization and R esources Chapter 8 We are here Strategic
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Penelitian Kerangka penelitian ini adalah langkah demi langkah dalam penyusunan Tugas Akhir mulai dari tahap persiapan penelitian hingga pembuatan dokumentasi
Bab 9 KONSEP e SUPPLY CHAIN DALAM SISTEM INFORMASI KORPORAT TERPADU
Bab 9 KONSEP e SUPPLY CHAIN DALAM SISTEM INFORMASI KORPORAT TERPADU Sistem Informasi Korporat Terpadu Konsep manajemen supply chain memperlihatkan adanya proses ketergantungan antara berbagai perusahaan
LAMPIRAN 1 LEMBAR KUESIONER PEMBOBOTAN SWOT. Kuesioner ini digunakan untuk mendapatkan nilai yang nantinya berpengaruh terhadap
LAMPIRAN 1 LEMBAR KUESIONER PEMBOBOTAN SWOT Kuesioner ini digunakan untuk mendapatkan nilai yang nantinya berpengaruh terhadap strategi di dalam perusahaan. Petunjuk Bobot : Berilah bobot antara 0-1 dengan
Siklus Adopsi & Model Operasi e-bisnis
Siklus Adopsi & Model Operasi e-bisnis Untuk memaksimalkan laba dari investasi infrastruktur e-bisnis, perlu pemahaman tentang bagaimana perusahaan dalam menerapkan e-bisnis. Penelitian menunjukkan bahwa
Desain Struktur Organisasi: Spesialisasi dan Koordinasi
Modul ke: Desain Struktur Organisasi: Spesialisasi dan Koordinasi Fakultas Pasca Sarjanan Dr. Ir. Sugiyono, Msi. Program Studi Magister Manajemen www.mercubuana.ac.id Source: Jones, G.R.2004. Organizational
SISTEM LINTAS FUNGSI PERUSAHAAN Sistem lintas fungsi perusahaan merupakan sistem yang mendukung/berfokus pada penyelesaian berbagai proses bisnis dasa
SISTEM LINTAS FUNGSI PERUSAHAAN DIANA RAHMAWATI SISTEM LINTAS FUNGSI PERUSAHAAN Sistem lintas fungsi perusahaan merupakan sistem yang mendukung/berfokus pada penyelesaian berbagai proses bisnis dasar bersama
LAMPIRAN LEMBAR KUESIONER PEMBOBOTAN CORPORATE VALUE. 0 Tidak berhubungan sama sekali. 1 Sangat sedikit hubungannya. 2 Sedikit berhubungan
LAMPIRAN LEMBAR KUESIONER PEMBOBOTAN CORPORATE VALUE Petunjuk: Berilah skor antara dimana: Tidak berhubungan sama sekali Sangat sedikit hubungannya Sedikit berhubungan Cukup berhubungan Memiliki hubungan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagai respon dari perkembangan teknologi serta tuntutan masyarakat terhadap peningkatkan pelayanan, transparasi dan efektifitas, pemerintah mulai melakukan perubahan
MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA
SALINAN MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 2017 TENTANG TATA KELOLA TEKNOLOGI
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI Bab ini memberikan beberapa landasan teori, meliputi teori di bidang tata kelola TI, dan pengelolaan investasi TI yang digunakan dalam penelitian. 2.1 Definisi Sebelum lebih jauh,
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Seiring dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi yang ada,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi yang ada, khususnya di dalam dunia teknik informatika, penting bagi pelaku industri yang berkecimpung di dunia
BAB I PENDAHULUAN. salah satu kekuatan dalam memproduksi barang atau jasa sesuai dengan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebangkitan kapitalisme di tandai dengan ditemukanya mesin uap sebagai salah satu kekuatan dalam memproduksi barang atau jasa sesuai dengan kebutuhan pasar. Terjadinya
LAMPIRAN 1. Kuesioner Portfolio Domain Bisnis
L1 LAMPIRAN 1 Kuesioner Portfolio Domain Bisnis Kuesioner ini dibuat dan disebarkan untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk penyusunan skripsi dengan judul Evaluasi Investasi Sistem dan Teknologi
BAB I PENDAHULUAN Gambaran Umum Objek Studi Gambar 1.1 Logo Perusahaan PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Gambaran Umum Objek Studi Gambar 1.1 Logo Perusahaan PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk. Sumber: http://www.telkom.co.id/ 1.1.1. Profil Perusahaan PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk.
BAB IV PERANCANGAN. 4.1 Proses Bisnis Pengadaan Barang
BAB IV PERANCANGAN Pada tahap perancangan ini akan dilakukan perancangan proses pengadaan barang yang sesuai dengan proses bisnis rumah sakit umum dan perancangan aplikasi yang dapat membantu proses pengadaan
School of Communication & Business Telkom University
Week-9 by Ida Nurnida PRINSIP DASAR KONFIGURASI ORGANISASI STRUKTUR SEDERHANA BIROKRASI MESIN BIROKRASI PROFESIONAL STURKTUR DIVISIONA ADHOCRACY Seperti sidik jari: Tidak ada struktur organisasi yang sama
BAB I PENDAHULUAN. kecepatan mendapatkan informasi, teknologi informasi juga dapat. memberikan data yang akurat dan tepat kepada top level management
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan bisnis yang semakin pesat dan juga penuh dengan persaingan merupakan hal yang sering nyata terlihat. Semua perusahaan berlomba-lomba dalam meningkatkan
LAMPIRAN. A. Hasil kuisioner Proses TI PO2 Menentukan Arsitektur Informasi
LAMPIRAN Lampiran A. Hasil kuisioner Proses TI PO Menentukan Arsitektur Informasi Responden Adanya kesadaran bahwa arsitektur informasi penting bagi organisasi Pengetahuan untuk mengembangkan arsitektur
Materi II Overview Sistem Informasi. Sistem Informasi Manajemen Dr. Hary Budiarto
Materi II Overview Sistem Informasi Sistem Informasi Manajemen Dr. Hary Budiarto Why Study Information Systems? Teknologi Informasi dapat digunakan untuk meningkatkan proses bisnis secara efisien dan efektif
KONSEP TATA KELOLA TI
KONSEP TATA KELOLA TI Pertemuan ke 2 Mata Kuliah Tata Kelola dan Audit Sistem Informasi Diema Hernyka S, M.Kom Konsep IT Governance Outline : Pentingnya Tata Kelola TI Perbedaan Manage dan Govern Definisi
Wawancara Hubungan Lights- On dan Proyek dengan. Arahan Strategi ( Strategic Intention)
L1 Wawancara Hubungan Lights- On dan Proyek dengan Arahan Strategi ( Strategic Intention) Untuk menjawab pertanyaan dibawah ini menggunakan format skor dengan skala ( 0-5 ) dan lingkari skor yang akan
COST BENEFIT INVESTASI TIK 8-A
Modul PJJ Mata Ajar COST BENEFIT INVESTASI TIK Topik Bahasan STRATEGI MENILAI MANFAAT TEKNOLOGI INFORMASI Versi 2013/1.0 Nama File CBIT-8A-StrategiMenilai.pdf Referensi Pembelajaran 8-A 82 15. Strategi
Membuat Cetak Biru Strategi E-Bisnis
Membuat Cetak Biru Strategi E-Bisnis Perlunya Cetak Biru Hanya sedikit perusahaan yang berhasil mewujudkan rencana strategis e-bisnis mereka menjadi kenyataan. Ketiadaan panduan dalam mengimplementasikan
LANDASAN TEORI. Enterprise Resource Planning (ERP) adalah sebuah aplikasi bisnis yang
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Enterprise Resource Planning Enterprise Resource Planning (ERP) adalah sebuah aplikasi bisnis yang didisain untuk dapat menyediakan lingkungan yang terintegrasi dan sistematis
Sistem Enterprice SASARAN : Sistem Enterprise. Sistem Informasi Enterprise. Information Systems Today
Sistem Informasi Enterprise Information Systems Today Leonard Jessup and Joseph Valacich 1 2 SASARAN : Memahami bagaimana teknologi informasi mendukung aktifitas bisnis Memahami System Enterprise dan bagaimana
ERP (Enterprise Resource Planning) Pertemuan 6
ERP (Enterprise Resource Planning) Pertemuan 6 Implementasi Sistem ERP Dimensi dan faktor yang mempengaruhi implementasi ERP Isu pada manajemen proyek Estimasi waktu, penentuan skala prioritas, fleksibilitas
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini, tantangan yang dihadapi oleh sebuah organisasi semakin berat. Salah satu hal yang menyebabkan beratnya tantangan tersebut adalah tingginya kompetisi global.
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Persaingan yang semakin kompetitif dalam dunia pendidikan terutama bagi Akademi yang dikelola oleh masyarakat (Swasta), menuntut pihak pengelola untuk mengembangkan
Muhammad Bagir S.E., M.T.I
Muhammad Bagir S.E., M.T.I Perkenalan Sistem informasi yang efisien, teritegrasi sangat penting bagi perusahaan untuk mampu berkompetisi Sistem ERP dapat mengintegrasikan operasi perusahaan Bertindak sebagai
BAB 4 HASIL PENELITIAN. dijalankan oleh PT. Huabei Petroleum Service. Adapun arahan strategi yang diperoleh adalah sebagai berikut:
BAB 4 HASIL PENELITIAN 4.1 Rencana Strategi Bisnis Rencana strategis bisnis berisi sekumpulan arahan strategi yang akan dijalankan oleh PT. Huabei Petroleum Service. Adapun arahan strategi yang diperoleh
Pengantar Manajemen & Bisnis
Modul ke: 08Fakultas Ariefah Ilmu Komputer Pengantar Manajemen & Bisnis Mengorganisasikan Perusahaan Bisnis Rachmawati Program Studi Sistem Informasi Bagian Isi 1. Elemen-elemen yang mempengaruhi struktur
SISTEM INFORMASI E-BISNIS
SISTEM INFORMASI E-BISNIS SISTEM INFORMASI E-BUSINESS Tanpa dukungan Sistem Informasi yang tangguh, model E-Business sulit diwujudkan. Sistem Informasi akan membantu mengintegrasikan data, mempercepat
Informasi Sistem Manajemen Publik
Sistem Manajemen Publik 1. Aplikasi Sistem Kunci Dalam Organisasi a. Dukungan Sistem bagi Organisasi Sistem informasi dikembangkan untuk mendukung keseluruhan organisasi, dan eksekutif. Manajemen Sistem
BAB I PENDAHULUAN. Dalam era persaingan yang semakin ketat khususnya pada industri
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam era persaingan yang semakin ketat khususnya pada industri telekomunikasi dan teknologi informasi, perusahaan perlu untuk melakukan evaluasi menyeluruh dan melakukan
Chapter 6 CORPORATE UNIVERSITY BEST PRACTICE
Chapter 6 CORPORATE UNIVERSITY BEST PRACTICE Perusahaan-perusahaan mulai menyadari bahwa aset terpenting mereka adalah SDM yang mereka miliki, dengan pengetahuan yang dimiliki oleh para pegawai. Tidaklah
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengenalan Rekayasa Informasi Saat ini banyak perusahaan-perusahaan yang sudah memanfaatkan sistem informasi untuk mendukung aktivitas perusahaan. Sebagian besar pemanfaatan sistem
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kemajuan teknologi informasi yang terintegrasi telah banyak memberikan kontribusi kepada perkembangan bisnis saat ini. Semua proses bisnis dalam suatu organisasi
BAB I PENGANTAR MANAJEMEN PROYEK
BAB I PENGANTAR MANAJEMEN PROYEK Teknologi Informasi (TI) sudah menjadi spektrum dalam kegiatan bisnis dunia. Investasi untuk pengembangan teknologi informasi merupakan sebuah fenomena yang diyakini para
Pengantar Analisis Bisnis
Modul ke: Pengantar Analisis Bisnis Fakultas FASILKOM Winarsih, S.Si., MMSI Program Studi Sistem Informasi www.mercubuana.ac.id Sejarah Analisis Bisnis Perkembangan TI memungkinkan organisasi untuk membangun
PERENCANAAN ARSITEKTUR ENTERPRISE STMIK SUMEDANG. Oleh : Asep Saeppani, M.Kom. Dosen Tetap Program Studi Sistem Informasi S-1 STMIK Sumedang
PERENCANAAN ARSITEKTUR ENTERPRISE STMIK SUMEDANG. Oleh : Asep Saeppani, M.Kom. Dosen Tetap Program Studi Sistem Informasi S-1 STMIK Sumedang ABSTRAK Arsitektur enterprise merupakan suatu upaya memandang
ENTERPRISE RESOURCE PLANNING
ENTERPRISE RESOURCE PLANNING 01- Sistem & Rekayasa ERP SISTEM ERP Seperangkat infrastruktur dan software yang tidak dapat dilepaskan dari aspek best practices. Artinya, mencerminkan cara terbaik dalam
ERP (Enterprise Resource Planning) YULIATI, SE, MM
ERP (Enterprise Resource Planning) YULIATI, SE, MM ERP (Enterprise Resource Planning) ERP (Enterprise Resource Planningi) atau sering juga disebut Perencanaan Sumber Daya Perusahaan : Merupakan, sebuah
IT GOVERNANCE (TATA KELOLA IT)
with COBIT Framework introductory IT GOVERNANCE (TATA KELOLA IT) Oleh: Ahmad Syauqi Ahsan 1 Tujuan Memahami manfaat IT Governance Mengerti kapan perlu mengaplikasikan IT Governance Mengerti prinsip2 dasar
Nama : - Kartika Rahel - Mayke - Rinaras - Radhika Frisdela
Nama : - Kartika Rahel - Mayke - Rinaras - Radhika Frisdela Review Question BAB 1 No.1-17 1. Enterprise Resource Planning (ERP) merupakan perencanaan sumber daya perusahaan yaitu sebuah sistem informasi
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Strategi Definisi strategi secara umum adalah rencana tindakan atau kebijaksanaan yang dibuat untuk mencapai suatu tujuan. Dan menurut beberapa ahli, strategi adalah arah dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep dan Teori 2.1.1 Tingkat Pelayanan (Service Level) Service level merupakan istilah yang banyak digunakan dalam manajemen persediaan yang merupakan besar presentase dari
E-CRM (1) Pertemuan 6 Diema Hernyka Satyareni, M.Kom
E-CRM (1) Pertemuan 6 Diema Hernyka Satyareni, M.Kom E-CRM strategis bisnis yang menggunakan teknologi informasi yang memberikan perusahaan suatu pandangan pelanggannya secara luas, yang dapat diandalkan
METODE UNTUK MENILAI TINGKAT KEMATANGAN MANAJEMEN KUALITAS INFORMASI. M. Rachmat Gunawan Chomsa Hidayat Ahmad Sugiana
CALDEA DAN EVAMECAL METODE UNTUK MENILAI TINGKAT KEMATANGAN MANAJEMEN KUALITAS INFORMASI M. Rachmat Gunawan Chomsa Hidayat Ahmad Sugiana Studi Kasus PT Kereta Api Indonesia Sekilas PT KAI Badan Usaha Milik
PEMASARAN INTERNASIONAL MINGGU KE SEPULUH BY. MUHAMMAD WADUD, SE., M.Si. FAKULTAS EKONOMI UNIV. IGM
PEMASARAN INTERNASIONAL MINGGU KE SEPULUH BY. MUHAMMAD WADUD, SE., M.Si. FAKULTAS EKONOMI UNIV. IGM POKOK BAHASAN E-COMMERCE : PERSPEKTIF DAN PERKEMBANGAN MARKET SPACE DAN E-MARKETING APLIKASI INTERNET
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Persaingan di dunia bisnis semakin kompleks, perusahaan-perusahaan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Persaingan di dunia bisnis semakin kompleks, perusahaan-perusahaan mencoba untuk meningkatkan jumlah konsumennya dengan melakukan pelayanan yang cepat dan
LAMPIRAN LAMPIRAN ARAHAN STRATEGI (STRATEGIC INTENTION) Wawancara dilakukan pada pengguna aplikasi (user) yang berhubungan
LAMPIRAN LAMPIRAN I. KUISIONER HUBUNGAN LIGHTS-ON DAN PROYEK DENGAN ARAHAN STRATEGI (STRATEGIC INTENTION) Wawancara dilakukan pada pengguna aplikasi (user) yang berhubungan dan staf senior dari departemen
BAB III Landasan Teori
BAB III Landasan Teori 3.1 Sistem Informasi Sistem Informasi adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengelolaan transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial
BAB III LANDASAN TEORI
BAB III LANDASAN TEORI 3.1. Pengertian Dasar Enterprise Arsitektur 3.1.1. Enterprise Architecture Enterprise Architecture atau dikenal dengan arsitektur enterprise adalah deskripsi yang didalamnya termasuk
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Teknologi informasi (TI) yang terus berkembang memberi berbagai kemudahan bagi banyak dunia bisnis dalam meningkatkan efisiensi. Manfaatnya yang besar khususnya
BAB I PENDAHULUAN. era teknologi ialah memanfaatkan secara optimum kemajuan teknologi dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi dalam dunia bisnis semakin maju pesat mulai pada era tahun 1990-an. Memiliki strategi bisnis saja tidak cukup untuk menghadapi persaingan dewasa
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini berisi tentang latar belakang pembuatan aplikasi yang bertujuan untuk mengidentifikasi serta membatasi ruang lingkup permasalahan, sehingga aplikasi yang dibuat tidak
ENTERPRISE RESOURCE PLANNING (ERP) Chapter 10
ENTERPRISE RESOURCE PLANNING (ERP) Chapter 10 PENGERTIAN ERP adalah sebuah sistem informasi perusahaan yang dirancang untuk mengkoordinasikan semua sumber daya, informasi dan aktifitas yang diperlukan
MAKALAH ENTERPRISE RESOURCE PLANNING
MAKALAH ENTERPRISE RESOURCE PLANNING Dosen : M. Suyanto, Prof. Dr, M.M. Disusun Oleh : Nama : NURUL FARIDA NIM : 09.11.3242 Kelas : S1 TI 10 Jurusan : S1 Teknik Informatika STMIK AMIKOM YOGYAKARTA TAHUN
