BAB I PENDAHULUAN UKDW
|
|
|
- Leony Johan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG MASALAH Indonesia merupakan negara yang memiliki berbagai macam budaya. Setiap daerah di Kepulauan Indonesia memiliki budayanya sendiri. Bahkan di setiap kota/kabupaten bisa saja memiliki budaya yang berbeda, bahkan coraknya beragam. Wasino dalam artikelnya mengatakan bahwa kebudayaan mengacu pada hal-hal yang bersifat abstrak berupa sistem nilai, gagasan, kepercayaan, simbolsimbol, ideologi yang dibayangkan oleh suatu komunitas atau masyarakat tertentu. 1 Oleh karena itu, kebudayaan tidak akan pernah bisa terlepas dari kehidupan manusia, dan kebudayaan sudah ada sejak dahulu dan telah menjadi milik manusia. Atau dapat pula dikatakan bahwa sesungguhnya kebudayaan itu ada karena manusia itu sendiri yang menciptakan. Karena kebudayaan itu diciptakan oleh manusia, itu berarti setiap karya yang dibuat oleh manusia pasti memiliki makna di dalamnya. Salah satu karya manusia yang indah dan memiliki makna ialah kesenian. Kesenian merupakan bagian dari budaya. Kesenian biasanya digunakan oleh manusia untuk mengekspresikan atau mengungkapkan perasaan. Banyak cara yang dapat digunakan untuk mengekspresikan atau mengungkapkan perasaan manusia. Salah satu caranya adalah dengan menari. Tari merupakan gerakan tubuh yang biasanya diiringi musik. Setiap gerakan yang dilakukan oleh penari atau yang diciptakan oleh seniman tari pasti memiliki makna dan nilai-nilai. Tidak hanya sekedar menggerakan tangan, tubuh dan kaki saja, melainkan juga menceritakan sebuah pengalaman atau ingin menyampaikan suatu pesan. Seni tari dibedakan menjadi tiga ragam gerak, yaitu ragam tari kerakyatan, klasik, dan kreasi baru. Ragam gerak tari kerakyatan berasal dari lingkungan masyarakat desa atau disebut dengan wong cilik. Ragam gerak tari klasik dilahirkan dari lingkungan keraton, dan difungsikan sebagai kepentingan sarana upacara. 2 Sedangkan ragam gerak kreasi baru termasuk tari modern yang mengalami perpaduan dari tari kerakyatan dan klasik. Ketiga ragam gerak tari tersebut telah mengalami suatu perubahan seiring perkembangan zaman. Walaupun mengalami perubahan, seni tari tetap memiliki makna dan nilai-nilai yang dapat dijiwai 1 Wasino, Nilai-nilai Budaya Jawa untuk Kehidupan Berbangsa, Sang Penjaga dan Pengawal Budaya Jawa: Bunga Rampai Tulisan Tentang Budaya Jawa, (Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen, 2007), hlm. 5 2 Nanik Herawati, Kesenian Tradisional Jawa, (Klaten: Saka Mitra Kompetensi, 2009), hlm. 1 1
2 oleh penari dan penikmat tari. Akan tetapi, terkadang seni tari dianggap sebagai seni yang negatif, karena kebanyakan penari adalah perempuan yang menggerakkan tubuhnya, seakan mengundang nafsu para laki-laki. Memang ada tarian tertentu yang bersifat menghibur, yang kebanyak termasuk ragam tari kerakyatan, namun tidak semua tarian yang bersifat menghibur itu ditujukan untuk mengundang nafsu laki-laki. Salah satu tarian yang asal mulanya memiliki fungsi menghibur, sehingga dapat mengundang nafsu laki-laki adalah Tari Gambyong. Tari Gambyong termasuk dalam ragam gerak tari kerakyatan. Tari Gambyong memiliki ciri yang berbeda dengan tari lainnya. Seiring perkembangan zaman, Tari Gambyong mengalami banyak perubahan, hingga pada akhirnya Tari Gambyong mampu berlabuh di Keraton. Sebagai bagian dari tari tradisional Jawa gaya Surakarta yang telah berhasil berlabuh di Keraton ini, memiliki aturan-aturan yang harus diikuti, misalnya saja dalam konsep gerak. Tari Gambyong memiliki rangkaian gerak (sekaran) yang baku, akan tetapi gerak tersebut dipilih sesuai dengan kebutuhan ungkapan serta sesuai dengan tafsirannya. 3 Tari Gambyong yang telah dibakukan mengungkapkan proses kehidupan manusia dari lahir sampai meninggal dunia ini memiliki enam (6) dasar rangkaian gerak, yaitu : 4 a. Rangkaian gerak laras, yang mengungkapkan tentang bayi berada di dalam kandungan seorang ibu. b. Rangkaian gerak batangan, yang mengungkapkan bahwa seorang ibu yang meramalkan masadepan sang bayi, c. Rangkaian gerak pilesan, yang mengungkapkan tentang pendidikan yang harus diberikan kepada seseorang sejak bayi untuk bekal masa depannya, d. Rangkaian gerak laku telu, yang mengungkapkan bahwa manusia akan menjalani tiga hal dalam perjalanan hidupnya, yaitu lahir, dewasa, dan mati, e. Rangkaian gerak menthogan, yang mengungkapkan gambaran manusia sudah memasuki hari tua, namun tetap harus memiliki hidup yang berguna bagi orang-orang di sekitarnya, f. Rangkaian gerak wedhi kengser, yang mengungkapkan bahwa manusia sudah memasuki akhir hidupnya. 3 Sri Rochana Widyastutieningrum, Sejarah Tari Gambyong : Seni Rakyat Menuju Istana, (Surakarta : Citra Etnika, 2004), hlm Ibid, hlm
3 Melalui makna dari rangkaian gerak Tari Gambyong ini, sebenarnya sudah dapat terlihat bahwa Tari Gambyong memiliki nilai yang luhur, dan seharusnya memiliki fungsi yang baik di kehidupan masyarakat. Tari Gambyong seharusnya tidak lagi dianggap sebagai tarian yang dapat menggugah nafsu laki-laki, melainkan menjadi tarian yang agung. Oleh karena itu, penyusun ingin memperkenalkan kembali Tari Gambyong ini agar tidak lagi dipandang sebelah mata, dan dapat dikenal sebagai tarian yang memiliki nilai-nilai luhur. Dalam rangka memperkenalkan kembali Tari Gambyong ini, penyusun akan mengolah pembahasan mengenai Tari Gambyong dan akan mendialogkannya dengan teks yang ada di Alkitab. Dengan demikian, penyusun juga berharap Tari Gambyong dapat memberikan makna yang lebih pada teks Alkitab. I.2. RUMUSAN MASALAH Adapun rumusan masalah yang penyusun ajukan adalah sebagai berikut: 1. Bagaimanakah Tari Gambyong dapat dipahami sebagai tarian yang luhur serta memiliki makna dan nilai yang bijak, sehingga dapat digunakan sebagai kacamata atau lensa untuk menafsir Injil Yohanes 2:1-11 dan 19:16b-27? 2. Bagaimanakah peran ibu Yesus dalam teks Injil Yohanes 2:1-11 dan 19:16b-27 jika dilihat dengan menggunakan kacamata atau lensa Tari Gambyong? I.3. JUDUL SKRIPSI Mengenal dan Memahami Peran Ibu Yesus dalam Injil Yohanes 2:1-11 dan 19:16b-27 Melalui Tari Gambyong I.4. TUJUAN PENYUSUNAN SKRIPSI Adapun tujuan dari penyusunan skripsi ini adalah: 1. Mengangkat serta memahami kebudayaan Indonesia, khususnya seni tari (Tari Gambyong), sebagai kebudayaan luhur dan memiliki nilai-nilai bijak, yang juga memiliki keterkaitan 3
4 dengan kisah dalam Yohanes 2:1-11; 19:16b-27, khususnya dalam penggambaran peran ibu Yesus. Hal ini juga menunjukkan bahwa kekristenan dan kesenian merupakan bagian dari kebudayaan yang indah dan bermakna, serta memiliki keterkaitan. Hal ini dapat dilihat melalui makna gerak (sekaran) dari tari Gambyong. 2. Memahami kesenian, khususnya Seni Tari, adalah salah satu unsur kebudayaan yang positf dan juga dapat dipakai untuk melihat nilai-nilai yang ada pada kekristenan. Hal ini menjadi sangat penting ketika kekristenan dianggap suatu hal yang sempurna dan menjadi dipisahkan dengan budaya. 3. Dengan adanya bukti bahwa makna gerak dalam sebuah tari bisa menjadi pembelajaran dalam ilmu tafsir atau hermeneutik, maka pada kesempatan yang akan datang penyusun juga ingin membuat sebuah tarian utuh yang menggambarkan kisah atau cerita yang ada di Kitab Suci. I.5. METODE PENELITIAN Penyusun pada dasarnya menggunakan metode penafsiran lintas budaya untuk menafsir teks dari Yohanes 2:1-11 dan 19:16b-27. Metode lintas budaya ini sebelumnya telah diperkenalkan oleh Kwok Pui-Lan. Dalam bukunya, Pui-Lan mengungkapkan bahwa ada tiga metode yang dapat digunakan. Metode yang pertama dilakukan dengan membandingkan motif suatu teks lain dengan teks Alkitab yang serupa, untuk menemukan implikasi hermeneutik dari keduanya. Yang kedua, melihat teks Alkitab dengan menggunakan perspektif tradisi religius yang lain. Yang terakhir, melihat Kitab Suci dan teologi tertentu di dalam cerita-cerita, mitos, dan legenda yang ada di masyarakat. 5 Dari metode yang disampaikan oleh Pui-Lan, penyusun memilih menggunakan metode yang kedua, yaitu melihat teks Alkitab dengan menggunakan perspektif tradisi religius untuk membaca teks dari Yohanes 2:1-11 dan 19:16b-27. Metode ini juga telah dipakai oleh beberapa orang di Asia, antara lain Seiichi Yagi dan Daniel K. Listijabudi. Seiichi Yagi menggunakan metode ini untuk memahami ajaran-ajaran Yesus dengan menggunakan perspektif Buddha. 6 Sedangkan Daniel K. Listijabudi menggunakan perspektif Zen sebagai upaya menafsirkan kisah Emaus (Lukas 24:13-35). Dalam hal 5 Kwok Pui-Lan, Discovering the Bible in the Non-Biblical World, (New York : Orbit Books, 1995), p Ibid, p. 64 4
5 ini, perspektif yang akan dipilih oleh penyusun untuk membaca teks tersebut adalah perspektif dari Tari Gambyong. Beberapa hal yang ditemukan oleh penyusun setelah mengolah pembahasan tentang Tari Gambyong, yaitu: sejarah, perekembangan dan fungsi, bentuk ungkap, dan makna rangkaian gerak, akan digunakan sebagai kacamata atau lensa untuk melihat lebih jauh pada teks Yohanes 2:1-11 dan 19:16b-27, yaitu tentang kisah perkawinan di Kana dan penyaliban Yesus. Secara khusus, penyusun akan melihat peran ibu Yesus pada kedua teks tersebut. Penyusun memilih Tari Gambyong yang gerakannya sudah dibakukan. Hal ini dilakukan oleh penyusun karena Tari Gambyong yang telah dibakukan mendapat pengaruh dari lingkungan Keraton memiliki makna yang lebih dalam lagi, yaitu mengungkapkan proses kehidupan manusia dari lahir sampai meninggal dunia. Penyusun juga melihat makna dan nilai dari Tari Gambyong yang berasal dari rakyat biasa atau wong cilik memiliki kesamaan dengan kisah di Kana dan di Golgota. Selain itu makna dan nilai dari Tari Gambyong dapat menggambarkan seberapa jauh peran dari ibu Yesus dalam kedua teks tersebut. Banyak penafsir yang menafsir Injil Yohanes 2 : 1-11 dengan mengutamakan mujizat yang dilakukan oleh Yesus pada acara perkawinan di Kana. Penyusun tidak akan membahas perihal mujizat Yesus sebagai pokok utama. Akan tetapi, penyusun akan membahas peran ibu Yesus, dalam peristiwa perkawinan di Kana. Penyusun merasa peran ibu Yesus pada kisah perkawinan di Kana adalah hal yang penting dan perlu untuk diangkat, karena awal dari mujizat Yesus itu terjadi adalah ketika ia mengatakan mereka kehabisan anggur kepada Yesus. Ini adalah salah satu peran ibu Yesus yang dengan jelas ditunjukkan dalam Injil Yohanes. Selain itu, ada peran penting yang ditunjukkan dalam Injil Yohanes 19 : 16b-27. Ibu Yesus yang berada di kaki salib Yesus, memiliki peran yang juga penting bagi Yesus dan juga bagi murid Yesus. Ucapan Yesus yang mengatakan, Ibu, inilah, anakmu! dan Inilah ibumu! mengungkapkan bahwa ibu Yesus memiliki peranan penting dalam perjalanan pelayanan murid Yesus setelah Yesus wafat. Sebelum penyusun melihat kedua teks dengan perspektif Tari Gambyong, penyusun akan menganalisa kedua teks yang telah dipilih dengan pendekatan naratif. Hal ini penyusun lakukan dalam rangka mempermudah penyusun ketika menafsir nantinya. Penyusun memilih pendekatan naratif untuk menganalisa kedua teks yang telah dipilih karena melalui pendekatan naratif, penyusun dapat dengan leluasa menganalisa teks yang sekiranya penting dan berhubungan dengan perspektif yang penyusun pilih. Dalam pendekatan naratif, terdapat pembagian plot yang disesuaikan dengan peristiwa yang terjadi pada cerita di dalam teks. Melalui pembagian plot itulah penyusun akan menafsir kedua teks dengan menggunakan kacamata atau lensa dari Tari Gambyong. 5
6 Setelah penyusun menafsirkan masing-masing teks sesuai dengan plotnya, penyusun akan menghubungkan kedua teks tersebut untuk melihat apa kaitan kedua teks tersebut dengan menggunakan perspektif Tari Gambyong. Setelah itu, penyusun akan melihat peran ibu Yesus di dalam kedua teks tersebut dengan lagi-lagi menggunakan perspektif Tari Gambyong. Kurang lebih demikian cara penyusun mengolah teks Yohanes 2: 1-11 dan 19:16b-27. Melalui salah satu seni tari dari konteks masyarakat di Surakarta inilah (Tari Gambyong), penyusun akan meneliti lebih dalam lagi untuk memahami teks Yohanes 2: 1-11 dan 19:16b-27, khususnya untuk melihat peran ibu Yesus. I.6. SISTEMATIKA PENYUSUNAN BAB I PENDAHULUAN Pada BAB I, penyusun memaparkan latar belakang penulisan yang penyusun angkat, serta rumusan masalah, tujuan penulisan, serta metode penelitian yang akan digunakan penyusun nantinya. BAB II PEMBAHASAN TARI GAMBYONG Pada BAB II, penyusun memaparkan segala informasi yang berkaitan dengan lensa yang akan penyusun gunakan, yaitu Tari Gambyong. Segala informasi yang terkait itu berupa sejarah, perkembangan dan fungsi, bentuk ungkap, serta makna rangkaian gerak. Dari informasi itulah penyusun dapat menemukan lensa untuk melakukan penasiran. BAB III PENAFSIRAN DALAM INJIL YOHANES 2:1-11 DAN 19:16b-27 DENGAN MELIHAT PERAN IBU YESUS MELALUI NILAI-NILAI PADA TARI GAMBYONG Setelah penyusun menemukan lensa untuk menafsir pada BAB II, di BAB III ini penyusun mulai melakukan penafsiran dengan metode naratif, sehingga penyusun memulai BAB III ini dengan penjelasan tentang metode naratif, narasi Injil Yohanes, teks Alkitab yang dipilih (Yohanes 2:1-11 dan 19:16b:27), analisa teks dan penafsiran dalam rangka memahami peran ibu Yesus. 6
7 BAB IV PENUTUP Setelah penafsiran selesai dilakukan oleh penyusun, maka pada BAB IV ini penyusun akan memberikan kesimpulan dari keseluruhan bab (BAB I, II dan III). Kemudian penyusun juga akan memberikan pesan dan kesan yang berkaitan dengan proses penelitian dan penyusunan skripsi ini. 7
BAB I LATAR BELAKANG
BAB I I. LATAR BELAKANG Ada sebuah percakapan menarik antara Chuang Tzu, seorang pemikir mistik dan banyak belajar dari Lao Tzu, dengan Hui Tzu, seorang ahli logika yang tergabung dalam Aliran Namanama
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penulis Injil Yohanes memulai dan menutup pelayanan Yesus di muka umum (Yoh. 2-12) dengan kisah mengenai seorang perempuan: dimulai dengan kisah ibu Yesus dan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Dalam Perjanjian Baru terdapat empat Kitab Injil Yang menuliskan tentang kehidupan Yesus
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam Perjanjian Baru terdapat empat Kitab Injil Yang menuliskan tentang kehidupan Yesus Kristus, keempat injil ini adalah Injil Matius, Markus, Lukas dan
BAB I PENDAHULUAN. di Indonesia disatupadukan dari kebudayaan nasional dan kebudayaan. daerah. Kebudayaan nasional Indonesia merupakan puncak puncak
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kepulauan Nusantara terdiri atas aneka warna kebudayaan dan bahasa. Keaneka ragaman kebudayaan dari berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia disatupadukan dari kebudayaan
1 Hasan Sutanto, Homiletik: Prinsip dan Metode Berkhotbah (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), hal
Berkhotbah merupakan bentuk pelayanan yang penting dalam kehidupan bergereja. Dapat dikatakan bahwa semua teologi yang telah dipelajari ketika masuk dalam kehidupan bergereja akan bermuara di khotbah.
BAB I PENDAHULUAN. [Type text]
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Tari adalah suatu pertunjukan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat pendukungnya. Tari merupakan warisan budaya leluhur dari beberapa abad yang lampau. Tari
BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Dalam proses penyebarluasan firman Tuhan, pekabaran Injil selalu berlangsung dalam konteks adat-istiadat dan budaya tertentu, seperti halnya Gereja gereja di
BAB 5 PENUTUP 5.1. KESIMPULAN. Teologi feminis dibangun berdasarkan keprihatinan terhadap kaum perempuan.
BAB 5 PENUTUP 5.1. KESIMPULAN Teologi feminis dibangun berdasarkan keprihatinan terhadap kaum perempuan. Beberapa ahli yang bekecimpung di dalam gerakan teologi feminis mendefenisikan teologi feminis yang
UKDW BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENULISAN. Berkatalah Petrus kepada Yesus: Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!.
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENULISAN Berkatalah Petrus kepada Yesus: Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!. 1 Ucapan Petrus dalam suatu dialog dengan Yesus ini mungkin
2015 PERKEMBANGAN SENI PERTUNJUKAN LONGSER DI KABUPATEN BANDUNG TAHUN
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan budaya dan juga memiliki berbagai macam kesenian. Keberagaman budaya yang dimiliki oleh Indonesia terlahir
ini. Setiap daerah memilki ciri khas kebudayaan yang berbeda, salah satunya di
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara dengan beraneka ragam macam budaya. Kebudayaan daerah tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat di seluruh daerah di
CRASH PROGRAM PENDETA ANGKATAN MENCARI MAKNA 2. Editor. Daniel Kurniadi
CRASH PROGRAM PENDETA ANGKATAN MENCARI MAKNA 2 Belajar Tafsir Alkitab Editor Daniel Kurniadi PRAKATA EDITOR Buku Mencari Makna Jilid 2 diterbitkan karena semula buku Mencari Makna akan diterbitkan dalam
BAB I PENDAHULUAN. 1 Kata tembang nyanyian sama fungsi dan kegunaannya dengan kidung, kakawin dan gita. Kata kakawin berasal
BAB I PENDAHULUAN A. Pendahuluan a. Latar Belakang Masalah Dalam menjalani kehidupannya di dunia manusia mengalami banyak peristiwa baik itu yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Terkadang beberapa
BAB I PENDAHULUAN. Rudat adalah salah satu kesenian tradisional yang berkembang di Jawa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rudat adalah salah satu kesenian tradisional yang berkembang di Jawa Barat. Kesenian rudat tersebut tersebar di berbagai daerah seperti Kabupaten Banten, Kabupaten Bandung,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sastra adalah bentuk karya seni yang diungkapkan oleh pikiran
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sastra adalah bentuk karya seni yang diungkapkan oleh pikiran danperasaan manusia dengan keindahan bahasa, keaslian gagasan, dan kedalaman pesan.genre sastra
BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di Indonesia terdapat berbagai macam suku bangsa. Hal itu menjadikan Indonesia negara yang kaya akan kebudayaan. Kesenian adalah salah satu bagian dari kebudayaan
MILIK UKDW BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Situasi kritis merupakan situasi yang biasa dijumpai dalam kehidupan manusia. Meski tidak setiap saat dialami namun biasanya situasi ini sangat menentukan berhasil
2015 TARI KREASI DOGDOG LOJOR DI SANGGAR MUTIARA PAWESTRI PELABUHAN RATU KABUPATEN SUKABUMI
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seni pertunjukan merupakan ekspresi dan kreasi seniman serta masyarakat pemiliknya yang senantiasa hidup dan berkembang seiring dinamika atau perubahan zaman. Mengingat
ARTIKEL TENTANG SENI TARI
NAMA : MAHDALENA KELAS : VII - 4 MAPEL : SBK ARTIKEL TENTANG SENI TARI A. PENGERTIAN SENI TARI Secara harfiah, istilah seni tari diartikan sebagai proses penciptaan gerak tubuh yang berirama dan diiringi
UKDW BAB 1 PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Cerita merupakan salah satu jenis sastra. Cerita dibedakan menjadi mitos, fabel, dan legenda. Mitos merupakan cerita yang dipercayai kebenarannya. Sementara Fabel adalah
Oleh, Yohanes Yuniatika NIM: SKRIPSI
PENGKHIANATAN YUDAS ISKARIOT TERHADAP YESUS DALAM INJIL YOHANES (Studi Hermeneutik Sosio-Politik Terhadap Narasi Pengkhianatan Yudas Iskariot Yang Terdapat Dalam Injil Yohanes 13: 1-35) Oleh, Yohanes Yuniatika
BAB I PENDAHULUAN. cukup panjang yang disebut Injil. Karangan-karangan yang panjang itu bercerita tentang seorang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Alasan Pemilihan Teks Membuka Kitab Suci Perjanjian Baru, kita akan berjumpa dengan empat karangan yang cukup panjang yang disebut Injil. Karangan-karangan yang panjang itu bercerita
BAB 4 RELEVANSI PEMURIDAN YANG SEDERAJAT BAGI KEHIDUPAN BERGEREJA DI INDONESIA
BAB 4 RELEVANSI PEMURIDAN YANG SEDERAJAT BAGI KEHIDUPAN BERGEREJA DI INDONESIA PENDAHULUAN Telah dibahas pada bab sebelumnya bahwa setiap orang baik laki-laki dan perempuan dipanggil untuk bergabung dalam
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Kesenian tradisional daerah dengan kekhasannya masing-masing senantiasa mengungkapkan alam pikiran dan kehidupan kultural daerah yang bersangkutan. Adanya berbagai
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Proses realisasi karya seni bersumber pada perasaan yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Proses realisasi karya seni bersumber pada perasaan yang merupakan bentuk ungkapan atau ekspresi keindahan. Setiap karya seni biasanya berawal dari ide atau
UKDW BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Penulis Markus mengawali tulisannya dengan kalimat inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah (Mrk 1:1). Kalimat ini memunculkan kesan bahwa
BAB I PENDAHULUAN. budaya. Indonesia merupakan negara di dunia ini yang memiliki ragam budaya
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hidup adalah sebuah karunia sang Ilahi dimana didalam hidup ini banyak hal-hal yang dapat menambah gairah untuk hidup, salah satunya adalah seni dan budaya. Indonesia
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Prima Suci Lestari, 2013
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesenian adalah suatu peristiwa sosial yang mempunyai tenaga kuat sebagai sarana kontribusi antara seniman dan penghayatnya, ia dapat mengingatnya, menyarankan,
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Manusia terlahir dibumi telah memiliki penyesuaian terhadap lingkungan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Manusia terlahir dibumi telah memiliki penyesuaian terhadap lingkungan baik secara jasmani maupun rohani dimana kita lahir secara turun-temurun, membawa
BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Krisis ekologi merupakan isu yang sedang digaung-gaungkan saat ini. Krisis ini telah telah menyebabkan sumber daya alam semakin berkurang dan juga lapisan ozon sebagai
UKDW BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan Pluralitas agama sudah lama menjadi realitas aktual yang tak terelakkan, juga merupakan wacana yang telah lama menjadi kajian yang menarik, baik dalam
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Dalam Injil Lukas terdapat beberapa kisah tentang kesembuhan yang dialami oleh banyak orang melalui Yesus, mulai dari ibu mertua Petrus yang diserang demam berat dan
UKDW BAB 1 PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Berbicara mengenai mistik, seringkali kita melihat mistik sebagai sebuah gejala gaib dan juga berhubungan dengan paranormal dan praktek-praktek penyembahan kepada setan.
BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan sehari-hari, kita ketahui terdapat beberapa jenis seni yang di
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan sehari-hari, kita ketahui terdapat beberapa jenis seni yang di antaranya adalah Seni Rupa, Seni Musik, Seni Tari, dan Seni Teater. Beberapa jenis
Penulis : Yohanes Tema : Yesus, Putra Allah. Tanggal Penulisan: M Latar Belakang
SUPLEMEN MATERI KHOTBAH PELKAT 10 11 MARET 2017 Penulis : Yohanes Tema : Yesus, Putra Allah Tanggal Penulisan: 80-95 M Latar Belakang YOHANES 4 : 27 54 Injil Yohanes adalah unik di antara keempat Injil.
BAB IV MEWARISKAN IMAN DENGAN TELADAN SUATU REFLEKSI TEOLOGIS TERHADAP TRADISI PIRING NAZAR
BAB IV MEWARISKAN IMAN DENGAN TELADAN SUATU REFLEKSI TEOLOGIS TERHADAP TRADISI PIRING NAZAR Keluarga adalah salah satu konteks atau setting Pendidikan Agama Kristen yang perlu diperhatikan dengan baik,
UKDW BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kehidupan manusia selalu diperhadapkan dengan berbagai keragaman, baik itu agama, sosial, ekonomi dan budaya. Jika diruntut maka banyak sekali keragaman yang
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang kaya keanekaragaman seni dan budaya.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang kaya keanekaragaman seni dan budaya. Kebudayaan lokal sering disebut kebudayaan etnis atau folklor (budaya tradisi). Kebudayaan lokal
UKDW. BAB I Pendahuluan
BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Permasalahan Hidup yang penuh berkelimpahan merupakan kerinduan, cita-cita, sekaligus pula harapan bagi banyak orang. Berkelimpahan seringkali diartikan atau setidaknya
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rempah-rempah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan dan kebutuhan manusia di dunia. Kehidupan masyarakat Indonesia pun sangat dekat dengan beragam
MATERI PENGAJARAN TEKS
Minggu I Pra Paskah 14 Hari Minggu, 1 April 2012 Tema Tuhan Yesus mengajarkan keselamatan Gagasan Utama Menjelaskan bahwa Allah penyelamat manusia Topik Tuhan Yesus disalib dan mati Bacaan Alkitab Markus
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari berbagai suku
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari berbagai suku bangsa, bahasa serta budaya. Keanekaragaman kebudayaan ini berasal dari kebudayaan-kebudayaan
BAB I PENDAHULUAN. provinsi Sumatera dan Suku Mandailing adalah salah satu sub suku Batak
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah. Kesenian adalah bagian dari budaya dan merupakan sarana yang digunakan untuk mengekspresikan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia. Selain mengekspresikan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian
A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN Sumedang memang dikenal memiliki beraneka ragam kesenian tradisional berupa seni pertunjukan yang biasa dilaksanakan dalam upacara adat daerah, upacara selamatan,
BAB I PENDAHULUAN. pencemaran lingkungan hidup yang disebabkan oleh ulah dan perilaku manusia.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah A. Sonny Keraf mengemukakan bahwa ada dua kategori dari bencana yaitu bencana alam dan bencana lingkungan hidup. Sebagian dikategorikan sebagai bencana alam
A. Latar Belakang Kegiatan pembelajaran di sekolah dilaksanakan dalam rangka untuk meningkatkan kemampuan siswa, baik pada aspek pengetahuan, sikap
A. Latar Belakang Kegiatan pembelajaran di sekolah dilaksanakan dalam rangka untuk meningkatkan kemampuan siswa, baik pada aspek pengetahuan, sikap maupun keterampilan. Untuk mencapai ketiga aspek tersebut
BAB I PENDAHULUAN. memiliki adat istiadat (kebiasaan hidup) dan kebudayaan masing-masing,
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kehidupan bangsa di dunia yang mendiami suatu daerah tertentu memiliki adat istiadat (kebiasaan hidup) dan kebudayaan masing-masing, setiap bangsa memiliki
BAB I PENDAHULUAN. Pandangan tentang wanita Jepang yang masih kuno dan tradisional masih
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Pandangan tentang wanita Jepang yang masih kuno dan tradisional masih tetap ada sampai sekarang ini. Wanita Jepang memiliki citra sebagai seorang wanita yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Simon Petrus memiliki nama Ibrani Simeon tetapi dalam Terjemahan Baru Indonesia (TBI) semua menjadi Simon. Mungkin, seperti banyak pada orang Yahudi dipakainya juga
BAB I PENDAHULUAN Permasalahanan Latar belakang masalah
BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Permasalahanan 1.1.1. Latar belakang masalah Seseorang yang mengalami peristiwa ditinggalkan oleh orang lain karena perkataannya yang keras, tajam, dan tidak bisa diterima, meskipun
MATERI STUDI RELIGI JAWA
MATERI STUDI RELIGI JAWA Bahasa dan sastra; karya sastra Jawa Kuna yang tergolong tua; karya sastra Jawa Kuna yang bertembang; karya sastra Jawa Kuna yang tegolong muda; karya sastra yang berbahasa Jawa
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Hiburan adalah segala sesuatu yang berbentuk kata-kata, tempat, benda, perilaku yang dapat menjadi penghibur atau pelipur hati yang susah atau sedih. Hiburan
BAB I PENDAHULUAN. realitas, dan sebagainya. Sarana yang paling vital untuk memenuhi kebutuhan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia dalam sepanjang hidupnya hampir-hampir tidak pernah dapat terlepas dari peristiwa komunikasi. Di dalam komunikasi manusia memerlukan sarana untuk mengungkapkan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Negara Indonesia adalah negara dengan penduduk yang terdiri dari
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia adalah negara dengan penduduk yang terdiri dari berbagai etnis, dan tersebar di berbagai wilayah kepulauan. Sumatera Utara sebagai bagian dari
BAB I Pendahuluan UKDW
BAB I Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Permasalahan Kemajemukan budaya yang ada di Indonesia, merupakan suatu realitas yang harus diakui serta dihargai keberadaannya. Di dalam kemajemukan tersebut, terdapat
BAB 1 PENDAHULUAN. menyampaikan ide, gagasan dan pesan yang hendak disampaikan oleh penutur
1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi. Bahasa sebagai alat untuk menyampaikan ide, gagasan dan pesan yang hendak disampaikan oleh penutur kepada mitra tutur. Manusia
BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Kebudayaan sebagai hasil cipta, rasa, karsa manusia merupakan satu tolok ukur dari kemajuan suatu bangsa. Semakin maju dan lestari kebudayaannya, semakin kuat pula identitas
Oleh Daniel Ronda. Pendahuluan:
Oleh Daniel Ronda Catatan: Ini tulisan lama tahun 2000 yang ada di file saya. Alangkah indahnya berbagi, walaupun tentu setelah 12 tahun penafsiran naratif sudah semakin berkembang. Pendahuluan: Adalah
2015 KREASI TARI RONGGENG LENCO DI DESA CURUG RENDENG KECAMATAN JALAN CAGAK KABUPATEN SUBANG JAWA BARAT
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kabupaten Subang merupakan salah satu daerah yang kaya akan ragam kesenian tradisional. Subang dikenal dengan kesenian Sisingaan yang menjadi ikon kota Subang. Kesenian
BAB I PENDAHULUAN. dengan gaya bahasa. Gaya bahasa atau Stile (style) adalah cara pengucapan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sastra adalah karya dan kegiatan seni yang berhubungan dengan ekspresi, seni dan penciptaan. Bahasa yang digunakan dalam sastra mengemban fungsi utama sebagai fungsi
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Spiritualitas adalah istilah yang agak baru yang menandakan kerohanian atau hidup rohani. Spritualitas bisa juga berarti semangat kerohanian atau jiwa kerohanian.
BAB I PENDAHULUAN LatarBelakang Eko Juliana Susanto, 2015
1 BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang Indonesia kaya akan seni dan budaya, dari sekian banyak seni dan budaya yang terdapat di Indonesia salah satunya adalah seni kriya dari bahan lidi. Penggarapan produk
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kebudayaan merupakan hasil cipta dan karsa manusia yang meliputi ilmu
digilib.uns.ac.id 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kebudayaan dapat mencerminkan peradaban suatu masyarakat. Kebudayaan merupakan hasil cipta dan karsa manusia yang meliputi ilmu pengetahuan,
BAB I PENDAHULUAN. Theodor & Hanns Eisler. Composing For The Films (New York: Oxford University Press, 1947), 40.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Musik merupakan salah satu media untuk menyampaikan pesan, pengalaman dan ekspresi kepada orang lain. Ekspresi dalam musik memiliki batasan yang luas, tidak
UKDW BAB I PENDAHULUAN 1.1 PERMASALAHAN Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 PERMASALAHAN 1.1.1 Latar Belakang Masalah Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) adalah Gereja mandiri bagian dari Gereja Protestan Indonesia (GPI) sekaligus anggota Persekutuan Gereja-Gereja
GEDUNG SENI PERTUNJUKAN DI SURAKARTA PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR POST-MODERN
LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR GEDUNG SENI PERTUNJUKAN DI SURAKARTA PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR POST-MODERN Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana
BAB I PENDAHULUAN. 1 Lihat sila pertama dalam Dasar Negara Indonesia: Pancasila
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Seringkali kita mendengar dan membaca bahwa negara kita yaitu negara Indonesia adalah negara yang beragama. Dikatakan demikian, karena pada umumnya setiap warga negara
Majelis Pusat Gereja Pantekosta di Indonesia
HERMENEUTIKA Dari KPP SAB Beji, 8-12 September 08 HERMENEUTIKA Oleh: Pdt. Drs. Yos Hartono, S.Th. A. Pendahuluan Salah satu pertanyaan penting dalam hermeneutika adalah mengapa kita perlu menafsirkan ayat-ayat
BAB I PENDAHULUAN. unsur tari-tarian dan lagu merupakan tari tradisi dan lagu daerah setempat, musik
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Teater berasal dari kata Theatron, yang artinya Tempat di ketinggian sebagai tempat meletakkan sesajian persembahan bagi para dewa pada zaman Yunani Kuno. Namun
BAB I PENDAHULUAN. Kesenian tradisional pada akhirnya dapat membangun karakter budaya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesenian tradisional pada akhirnya dapat membangun karakter budaya tertentu. Sebuah pernyataan tentang kesenian Jawa, kesenian Bali, dan kesenian flores, semuanya
UKDW BAB I. Pendahuluan. 1. Latar Belakang Masalah. Secara umum dipahami bahwa orang Indonesia harus beragama. Ini salah
BAB I Pendahuluan 1. Latar Belakang Masalah Secara umum dipahami bahwa orang Indonesia harus beragama. Ini salah satunya karena Indonesia berdasar pada Pancasila, dan butir sila pertamanya adalah Ketuhanan
BAB I PENDAHULUAN. Komunikasi dalam kehidupan sehari-hari mempunyai peranan yang sangat
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Komunikasi dalam kehidupan sehari-hari mempunyai peranan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia terutama dalam aktivitas bermasyarakat, komunikasi juga
BAB I PENDAHULUAN. Provinsi Jawa Barat yang lebih sering disebut sebagai Tatar Sunda dikenal
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Provinsi Jawa Barat yang lebih sering disebut sebagai Tatar Sunda dikenal memiliki warisan budaya yang beranekaragam. Keanekaragaman budayanya itu tercermin
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3. 1 Pendekatan Kualitatif dan Metode Action Research Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Alasannya adalah dalam pemaparan hasil penelitian dijelaskan dalam
BAB I PENDAHULUAN. Metode keilmuan adalah suatu cara dalam memperoleh pengetahuan yang berupa
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sastra adalah Seni. Dalam seni banyak unsur kemanusiaan yang masuk di dalamnya, khususnya perasaan, sehingga sulit diterapkan untuk metode keilmuan. Metode
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Anggiana Puspa Dewi, 2014 Ayo, Menari Jaipong Dengan Nyi Iteung
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia memiliki kebudayaan yang melimpah dari Sabang hingga Merauke. Keanekaragaman etnis di Indonesia menjadi sumber terbentuknya musik dan tari daerah;
BAB I PENDAHULUAN. Menurut Soemardjo dan Saini K.M (1991:2) sastra merupakan karya fiktif
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut Soemardjo dan Saini K.M (1991:2) sastra merupakan karya fiktif yang dibuat berdasarkan imajinasi dunia lain dan dunia nyata sangat berbeda tetapi saling terkait
DESKRIPSI KARYA TARI KREASI S O M Y A. Dipentaskan pada Festival Nasional Tari Tradisional Indonesia di Jakarta Convention Centre 4-8 Juni 2008
DESKRIPSI KARYA TARI KREASI S O M Y A Dipentaskan pada Festival Nasional Tari Tradisional Indonesia di Jakarta Convention Centre 4-8 Juni 2008 Oleh: I Gede Oka Surya Negara, SST.,MSn JURUSAN SENI TARI
BAB l PENDAHULUAN. pencapaian inovasi tersebut manusia kerap menggunakan kreativitas untuk menciptakan
BAB l PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia merupakan mahkluk yang memiliki akal pikiran untuk melakukan inovasiinovasi dalam mencapai tujuan tertentu sesuai yang diinginkannya. Di dalam proses pencapaian
Setiap manusia sudah mengenal yang namanya seni yang sudah diterapkan
BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENELITIAN Kesenian adalah bagian dari budaya dan merupakan sarana yang digunakan untuk mengekspresikan rasa keindahan dalam jiwa manusia. Kesenian di Indonesia beraneka
BAB I PENDAHULUAN UKDW
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Konsep tentang panggilan sudah ada sejak jaman Israel kuno seiring dengan pengenalan mereka tentang Allah. Misalnya panggilan Tuhan kepada Abraham (Kej 12:
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan
BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Permasalahan Di dalam dogma Kristen dinyatakan bahwa hanya karena anugerah Allah di dalam Yesus Kristus, manusia dapat dibenarkan ataupun dibebaskan dari kuasa dan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Seperti diketahui bersama bahwa dalam kehidupan orang Kristen saat ini, gereja adalah sebuah identitas yang sangat penting bagi orang-orang percaya kepada
BAB I PENDAHULUAN UKDW
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Penginjilan merupakan salah satu dimensi yang esensial dari misi Kristen. Gereja bertanggungjawab untuk mewartakan injil ke seluruh dunia, untuk memberitakan
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu penggunaan bahasa yang menarik perhatian pembaca maupun peneliti adalah penggunaan bahasa dalam surat kabar. Kolom dan rubrik-rubrik dalam surat
BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan berjalannya waktu, tantangan dan persaingan di era
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seiring dengan berjalannya waktu, tantangan dan persaingan di era globalisasi pada berbagai aspek kehidupan kian merebak. Persaingan tersebut terjadi dalam aspek
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kebudayaan suatu bangsa tidak hanya merupakan suatu aset, namun juga jati diri. Itu semua muncul dari khasanah kehidupan yang sangat panjang, yang merupakan
BAB I PENDAHULUAN A. LATARBELAKANG
BAB I PENDAHULUAN A. LATARBELAKANG Pembelajaran adalah suatu proses perubahan yang di alami oleh individu dalam mencapai sesuatu yang diharapkan. Pembelajaran dalam dunia pendidikan tentu saja merupakan
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP DAN LANDASAN TEORI. Dalam melakukan sebuah penelitian memerlukan adanya kajian pustaka.
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP DAN LANDASAN TEORI 2.1 Kajian Pustaka Dalam melakukan sebuah penelitian memerlukan adanya kajian pustaka. Kajian pustaka merupakan pedoman terhadap suatu penelitian sekaligus
UKDW BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Suku bangsa Sabu atau yang biasa disapa Do Hawu (orang Sabu), adalah sekelompok masyarakat yang meyakini diri mereka berasal dari satu leluhur bernama Kika Ga
KISI-KISI PENULISAN SOAL. kemampuan
KISI-KISI PENULISAN SOAL Jenis Sekolah : SMP Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kurikulum : 2006 Alokasi Waktu : 120 Menit Jumlah soal : 40 + 5 Bentuk Soal : Pilihan Ganda dan Uraian
3. Karakteristik tari
3. Karakteristik tari Pada sub bab satu telah dijelaskan jenis tari dan sub bab dua dijelaskan tentang fungsi tari. Berdasarkan penjelasan dari dua sub bab tersebut, Anda tentunya telah memperoleh gambaran
BAB I Pendahuluan. 1.1 Latar belakang permasalahan
BAB I Pendahuluan 1.1 Latar belakang permasalahan Bangsa Indonesia merupakan salah satu bangsa yang besar yang dikenal karena keberagaman budaya dan banyaknya suku yang ada di dalamnya. Untuk mengelola
Alkitab dan kita: Bagaimana menafsirkan Alkitab. 2 Petrus 1:20. Bagaimana Alkitab mengubah hidup kita? 2 Petrus 1:21.
Lesson 10 for June 3, 2017 Yesus memberitahukan kedatangan dan misinya dalam FirmanNya melalui para nabi: Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah bangsa yang besar. Terdiri dari 33 Provinsi, 17.508 Pulau dan 238 juta penduduk, Indonesia dikenal di mata dunia memiliki kekayaan serta keanekaragaman
BAB I PENDAHULUAN. Setiap negara memiliki kebudayaan yang beragam. Kebudayaan juga
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap negara memiliki kebudayaan yang beragam. Kebudayaan juga menunjukan identitas suatu bangsa. Kebudayaan ini yang biasanya berkembang dari masa ke masa
BAB I PENDAHULUAN. yang sesuai dengan fungsi dan tujuan yang diinginkan. Kesenian dapat
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang kaya akan kebudayaan serta memiliki beraneka ragam budaya. Kekayaan budaya tersebut tumbuh karena banyaknya suku ataupun etnis
BAB 27 Berdiam Diri dalam Pertemuan- Pertemuan Jemaat
Dikutip dari buku: UCAPAN PAULUS YANG SULIT Oleh : Manfred T. Brauch Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara - Malang - 1997 Halaman 161-168 BAB 27 Berdiam Diri dalam Pertemuan- Pertemuan Jemaat Sama
