HASIL DAN PEMBAHASAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Percobaan Tahap I Pemberian pakan uji yang mengandung asam lemak esensial berbeda terhadap induk ikan baung yang dipelihara dalam jaring apung, telah menghasilkan data yang berkaitan dengan perkembangan gonad induk, kuantitas dan kualitas telur dan larva yang dihasilkannya Kadar Asam Lemak n-6 dan n-3 Hati, Telur dan Larva Setelah 160 hari pemeliharaan induk ikan baung dengan pemberian pakan percobaan dapat diperoleh data kadar asam lemak hati, telur dan larva. Hasil analisis asam lemak n-6 dan n-3 hati, telur dan larva disajikan dalam Tabel 6. Data hasil analisis komposisi asam lemak hati, telur dan larva lebih lengkap dapat dilihat pada Lampiran 6, 7 dan 8. Tabel 6 berikut ini menunjukkan bahwa kadar asam lemak jenuh di hati menurun dengan adanya pemberian asam lemak n-6 dan n-3 pakan, namun adanya pemberian yang semakin tinggi akan menyebabkan kadar asam lemak jenuh naik kembali seperti yang ditunjukkan oleh perlakuan D. Sebaliknya asam lemak monoenoat cenderung meningkat dengan naiknya kadar asam lemak n-6 dan n-3 pakan sampai perlakuan C dan menurun kembali pada perlakuan D. Dari Tabel 6 terlihat pula bahwa kadar asam lemak jenuh pada telur ovulasi menurun sejalan dengan naiknya kadar asam lemak n-6 dan n-3 pada pakan induk. Sebaliknya total asam lemak monoenoat naik sejalan dengan naiknya kadar asam lemak n-6 dan n-3 pakan. Asam lemak n-6 dan n-3 telur naik sampai kadar asam lemak n % (perlakuan D) dan asam lemak n % (perlakuan C), namun pada kadar asam lemak n-3 yang lebih tinggi dalam pakan seperti yang ditunjukkan perlakuan D dengan kadar asam lemak n % akan menurunkan kadar asam lemak n-3 pada telur. Kadar lemak telur tertinggi terdapat pada perlakuan C.

2 Tabel 6. Total kadar asam lemak (% area) hati, telur dan larva ikan baung (Hemibagrus nemurus Blkr) pada percobaan tahap I Asam lemak Hati : Σ Al. jenuh Σ monoenoat Σ Al.n-6 Σ Al.n-3 Rasio Al. n-6/n-3 Telur: Σ Al. jenuh Σ monoenoat Σ Al.n-6 Σ Al.n-3 Rasio Al. n-6/n-3 Lemak(% bbt kering) Larva: Σ Al. jenuh Σ monoenoat Σ Al.n-6 Σ Al.n-3 Rasio Al. n-6/n-3 Lemak(% bbt kering) A (0.87;0.56) jam 24 jam Perlakuan/Asam lemak n-6;n-3(%) B (1.66;0.78) jam 24 jam C (2.00;1.00) jam 24 jam D (2.23;1.82) jam 24 jam Secara umum terjadi penurunan kadar asam lemak jenuh, asam lemak n-6 dan n-3 mengalami penurunan dari telur ke larva dan penurunan tertinggi terjadi pada asam lemak jenuh, sedangkan kadar asam lemak monoenoat mengalami sedikit peningkatan. Rasio asam lemak n-6 dan n-3 naik cukup tinggi pada perlakuan C, sedangkan pada tiga perlakuan lainnya relatif sama atau hanya terjadi sedikit peningkatan kecuali perlakuan D yang mengalami penurunan. Dari kadar lemak, asam lemak jenuh, asam lemak monoenoat, asam lemak n-6 dan asam lemak n-3 pada larva umur 0 jam ke umur 24 jam, semua perlakuan mengalami penurunan. Sebaliknya untuk rasio asam lemak n-6 dan n-3 pada semua perlakuan mengalami peningkatan. Persentase penurunan asam lemak esensial dari larva umur 0 jam ke larva umur 24 jam yang besar terjadi pada asam lemak n-3.

3 4.1.2 Fosfolipid dan Lipid Netral Kadar FL dan NL telur dapat dilihat pada Tabel 7. Kadar FL pada telur ovulasi lebih tinggi dibandingkan dengan kadar NL. FL mengandung asam lemak esensial dan kadarnya relatif sama pada keempat perlakuan; sedangkan nilai NL yang merupakan cadangan energi, tertinggi diperoleh pada perlakuan B yang diberikan pakan mengandung asam lemak n % dan asam lemak n % pada induk. Tingginya NL menunjukkan tingginya cadangan energi untuk proses pembelahan sel sampai pada penetasan. Tabel 7. Perlakuan/ Asam lemak n-6;n-3 (%) A(0.87;0.56) B(1.66;0.78) C(2.00;1.00) D(2.23;1.82) Kadar FL dan NL (%) telur ikan baung (Hemibagrus nemurus Blkr) pada percobaan tahap I FL NL Rasio NL/FL Bobot Tubuh, Diameter Telur, Gonadosomatik Indeks dan Hepatosomatik Indeks Rata-rata diameter telur matang yang dihasilkan oleh tiap induk pada akhir percobaan disajikan pada Tabel 8 dan data lengkapnya pada Lampiran 12. Pemberian pakan dengan kadar asam lemak n-6 dan n-3 yang berbeda tidak memberikan pengaruh pada diameter telur dari induk ikan baung (P>0.05) (Lampiran 13). Pada Tabel 8 juga terlihat bahwa pada percobaan tahap I, perlakuan B menghasilkan nilai GSI dan HSI tertinggi. Rata-rata diameter telur pada pengamatan setiap 2 minggu sekali disajikan pada Gambar 1. Secara keseluruhan dari tiap perlakuan terjadi peningkatan diameter telur dari awal sampai akhir percobaan. Telur dikatakan sudah matang apabila rata-rata diameter telur 0.9mm.

4 Tabel 8. Bobot tubuh, diameter telur, GSI dan HSI dari induk ikan baung (Hemibagrus nemurus Blkr) pada percobaan tahap I Perlakuan/Asam lemak n-6;n-3 (%) A(0.87;0.56) B(1.66;0.78) C(2.00;1.00) D(2.23;1.82) Bobot tubuh (gram) 426± ± ± ±11.54 Diameter telur (mm) 1.11±0.15 a 1.23±0.02 a 1.19±0.15 a 1.03±0.07 a GSI (%) Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata (P>0.05); rata-rata ±SE HSI (%) Dari Gambar 1 juga dapat dilihat bahwa rata-rata diameter telur 0.9mm mulai diperoleh pada pengamatan hari ke 98 pada semua perlakuan. Pada hampir semua perlakuan kecuali perlakuan A, induk terakhir dapat dipijahkan pada pengamatan hari ke-112 dengan rata-rata diameter telur terbesar terdapat pada perlakuan B. Distribusi diameter telur setiap waktu pengamatan menunjukkan ukuran diameter telur yang heterogen dimana sejak awal pengamatan diperoleh diameter telur dengan ukuran 0.1mm sampai dengan ukuran lebih besar dari 1mm (Lampiran 14 dan 15 serta pada Gambar 2). Namun demikian proporsi telur dengan diameter 0.9mm lebih tinggi pada akhir percobaan dibandingkan pada awal percobaan. Pada awal percobaan ukuran diameter telur didominasi oleh ukuran mm. P ER LAK U AN A PERLAKUAN B DIAMETER TELUR (mm) DIAMETER TELUR (mm) W AKTU PENGAMATAN WAKTU PENGAMATAN P E R L AK U AN C PERLAKUAN D DIAMETER TELUR (mm) DIAMETER TELUR (mm) W AKTU PENGAMATAN WAKTU PENGAMATAN

5 Gambar 1. Rata-rata diameter telur ikan baung (Hemibagrus nemurus Blkr) pada percobaan tahap I n f n g a Gambar 2. b Struktur jaringan gonad induk-induk ikan baung (Hemibagrus nemurus Blkr) pada percobaan tahap I, gonad yang diambil pada awal percobaan (a), gonad yang diambil pada akhir percobaan (b), granula kuning telur (g), nukleolus (n) dan folikel (f). Pembesaran 40X. Pewarnaan HE Lama Waktu Matang, Fekunditas, Derajat Tetas Telur, Derajat Kelangsungan Hidup Larva Umur 2 Hari dan Persentase Larva Abnormal Hasil pengamatan terhadap lama waktu matang, fekunditas, derajat tetas telur, derajat kelangsungan hidup dan persentase larva abnormal disajikan pada Tabel 9 dan Lampiran 16. Pemberian pakan dengan kadar asam lemak n-6 dan n-3 yang berbeda memberikan pengaruh yang sama (P>0.05) terhadap lama waktu matang, derajat kelangsungan hidup dan persentase larva abnormal (Tabel 9; Lampiran 17, 19 dan 20). Namun demikian perbedaan kadar asam lemak n-6 dan n-3 berbeda dalam pakan induk memberikan pengaruh terhadap fekunditas dan derajat tetas telur. Fekunditas tertinggi dihasilkan oleh perlakuan B dan terendah pada perlakuan C (P<0.10, Lampiran 18). Derajat tetas telur terendah dihasilkan oleh perlakuan D, diikuti oleh perlakuan A dan yang tertinggi pada perlakuan B dan C (P<0.05, Lampiran 21).

6 Tabel 9. Perlakuan / As. lemak n-6;n-3 (%) A(0.87;0.56) B(1.66;0.78) C(2.00;1.00) D(2.23;1.82) Lama waktu matang, fekunditas, derajat tetas telur, derajat kelangsungan hidup larva umur 2 hari, dan persentase larva abnormal dari induk ikan baung (Hemibagrus nemurus Blkr) pada percobaan tahap I Lama waktu matang (hari) Fekunditas (butir/g bobot induk) Derajat tetas telur (%) 112± ± ± a 3 b b 107± ± ± a 7 a a 107± ± ± a 6 b a Derajat kelangsungan hidup larva (%) Persentase larva abnormal (%) 81.15± ± a a 90.33±4.49 a 88.80±9.00 a 107± ± ± ± a 18 b 5 c a 1.02 ±0.54 a 0.62±0.02 a 2.27±0.65 a Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata (P>0.05 dan 0.10); rata-rata ±SE Dari Gambar 3 dapat dilihat beberapa bentuk abnormalitas yang diperoleh pada percobaan tahap I. Umumnya keabnormalan terjadi pada bagian punggung dan perut. a b

7 c Gambar 3. Gambaran morfologis larva: normal (a), larva abnormal pada bagian punggung (b) dan larva abnormal pada bagian perut (c) dari larva ikan baung (Hemibagrus nemurus Blkr) pada percobaan tahap I Pembahasan Percobaan ini menunjukkan bahwa pemberian asam lemak n-6 dan n-3 dalam pakan mutlak diperlukan untuk dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas telur dan larva ikan baung. Asam lemak n-6 di hati cenderung naik sejalan dengan naiknya asam lemak n-6 dalam pakan; sebaliknya asam lemak n-3 menurun. Ikan baung adalah ikan air tawar yang kebutuhan akan asam lemak n-6 umumnya sama atau lebih tinggi dari asam lemak n-3. Takeuchi (1996) menyatakan bahwa pada umumnya ikan air tawar membutuhkan asam lemak n-6 atau kombinasinya dengan n-3, namun untuk setiap spesies ikan membutuhkan kadar asam lemak esensial yang berbeda. Hasil percobaan ini sejalan dengan yang ditemukan pada jenis ikan lele lainnya seperti ikan lele lokal dan patin (Mokoginta et al., 1995 dan 2000). Ikan lele lokal dan patin membutuhkan asam lemak n-6 lebih tinggi dari asam lemak n-3 berturut-turut 1,85% dan 2.2% untuk asam lemak n-6 dan 0.56% dan 0.9% untuk asam lemak n-3. Hal yang berbeda ditunjukkan asam lemak n-6 dan n-3 telur. Kadar asam lemak n-6 naik sejalan dengan naiknya kadar asam lemak n-6 pakan, namun asam lemak n-3 telur naik sampai pada kadar 1.00% asam lemak n-3 pakan, kemudian menurun kembali pada kadar 1.82% asam lemak n-3 pakan. Penyimpanan asam lemak pada telur merupakan akumulasi vitelogenin dari hasil proses vitelogenesis. Hasil percobaan ini memperlihatkan bahwa selama proses vitelogenesis, asam lemak esensial yang disimpan disesuaikan dengan kebutuhan embrio ikan baung. Ternyata asam lemak n-3 yang disimpan dibatasi sampai batas tertentu (perlakuan C), mengingat ikan baung adalah ikan air tawar.

8 Walaupun dalam pakan kadar asam lemak n-6 lebih tinggi dari asam lemak n-3 untuk semua perlakuan, namun pada telur tidak demikian. Ikan baung adalah ikan air tawar yang umumnya untuk pertumbuhan membutuhkan asam lemak n-6 lebih tinggi atau sama dengan asam lemak n-3, namun percobaan ini memperlihatkan bahwa untuk reproduksi atau perkembangan embrio justru diperlukan asam lemak n-3. Disamping itu adanya sifat asam lemak n-3 yang mempunyai afinitas lebih tinggi dibandingkan dengan asam lemak n-6 pada posisi FL maupun trigliserida menyebabkan asam lemak n-3 pada telur tinggi. Hasil percobaan yang sama diperoleh oleh Mokoginta et al. (2000) pada ikan patin. Pada percobaan tersebut kadar asam lemak n-3 pada telur meningkat sejalan dengan meningkatnya kadar asam lemak n-3 pakan, tetapi kadar asam lemak n-6 pada telur menurun. Mayes (2003) menyatakan bahwa setiap seri asam lemak berkompetisi untuk sistim enzim yang sama dan afinitas menurun dari seri asam lemak n-3 ke n-6 hingga n-9. Peningkatan kadar total asam lemak n-3 telur diduga karena meningkatnya kadar asam lemak n-3 HUFA (C22:6n-3) dari pakan (minyak ikan) dan juga hasil konversi dari asam lemak (C18:5n-3), sehingga dapat dikatakan bahwa ikan ini mempunyai kemampuan yang tinggi untuk mendesaturasi dan memperpanjang rantai karbon asam lemak C18 menjadi C22 (n-3 HUFA). Namun demikian penyimpanan asam lemak n-3 pada telur dibatasi pada batas tertentu dengan membatasi konversi asam lemak n-3 seperti yang ditunjukkan oleh perlakuan D. Takeuchi (1996) menyatakan bahwa sampai batas tertentu konversi asam lemak linolenat (18:3n-3) menjadi asam lemak DHA (22:6n-3) dihambat oleh kadar asam lemak linolenat pakan. Telah diketahui bahwa asam lemak n-6 dan n-3 sebagai asam lemak esensial dapat mempengaruhi sifat fluiditas dari membran sel. Permeabilitas membran sel tersebut dipengaruhi oleh FL yang merupakan lipid aktif yang peranannya dipengaruhi oleh asam lemak tak jenuh dalam senyawa FL tersebut (Sargent et al., 1989). Perubahan fluiditas membran yang diakibatkan oleh perubahan komposisi asam lemak akan mempengaruhi metabolisme sel melalui perubahan aktivitas enzimenzim yang terdapat pada membran sel.

9 Asam lemak esensial dalam proses reproduksi juga mempunyai fungsi yang berhubungan dengan pembentukan senyawa prostaglandin. Senyawa prostaglandin juga disintesis dari asam lemak EPA (Leray et al, 1985). Jadi dapat dikatakan bahwa rendahnya derajat tetas telur pada perlakuan D terjadi karena rendahnya kadar asam lemak n-3 terutama DHA pada telur (Tabel 6). Pendapat yang sama dikemukakan oleh Li et al. (2005) dan Izguierdo et al. (2001) yang menyatakan bahwa kelebihan dan kekurangan asam lemak n-3 HUFA dapat menimbulkan efek negatif terhadap kualitas telur. Pada penelitian ini persentase larva abnormal perlakuan A sama dengan perlakuan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa asam lemak esensial baik asam lemak n-6 maupun asam lemak n-3 pada perlakuan A belum mengalami defisiensi. Pola komposisi asam lemak esensial tidak banyak berubah dari telur ke larva pada 0 jam dan 24 jam pada semua perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa asam lemak esensial tersebut penting baik untuk embrio maupun larva. Namun demikian ada penurunan kadar lemak dan asam lemaknya, sebab lemak merupakan sumber energi untuk embrio dan larva. Penurunan kadar asam lemak jenuh dari telur ke larva lebih besar dibandingkan dengan asam lemak esensial. Ini berarti energi untuk pembelahan sel dan perkembangan embrio sebagian besar berasal dari asam lemak jenuh, sedangkan asam lemak esensial disimpan sebagai cadangan untuk pertumbuhan larva. Dari larva 0 jam ke larva 24 jam, penggunaan asam lemak n-3 lebih besar dibandingkan dengan asam lemak n-6; sehingga menyebabkan peningkatan nilai rasio asam lemak n-6 dan asam lemak n-3 pada larva umur 24 jam. Hal ini menunjukkan bahwa larva baung mempertahankan asam lemak n-6. Ikan baung adalah ikan air tawar yang lebih membutuhkan asam lemak n-6 lebih besar dari pada asam lemak n-3 untuk pertumbuhan. Dari hasil percobaan ini juga dapat dilihat bahwa pada larva, asam lemak berantai C panjang yang disimpan dalam telur dan larva digunakan sebagai sumber energi yang lebih efisien. Hal ini dapat dilihat dari persentase penurunan asam lemak esensial yang lebih besar dibandingkan dengan asam lemak jenuh. Selanjutnya pola komposisi asam lemak pada larva 0 jam yang tidak banyak berubah, menunjukkan bahwa masih tersedia cadangan lemak dan asam lemak untuk

10 proses perkembangan larva selanjutnya sampai habis cadangan makanannya (endogenous) sehingga derajat kelangsungan hidup larva umur 2 hari pada semua perlakuan cukup tinggi. Selain kadar asam lemak n-6 dan n-3, juga rasio dari asam lemak n-6 dan n-3 cukup berperan. Rasio asam lemak n-6 dan n-3 tertinggi pada perlakuan B menghasilkan fekunditas dan derajat tetas telur tertinggi. Percobaan untuk melihat pengaruh rasio dari asam lemak n-6 dan n-3 terhadap kualitas telur pada induk ikan lele lokal dilakukan oleh Mokoginta et al. (1998) yang mendapatkan bahwa hasil perbedaan rasio asam lemak n-6 dan n-3 dalam pakan induk dapat mempengaruhi komposisi asam lemak telur serta kualitas telur induk tersebut. Dengan demikian dapat dikatakan perbandingan asam lemak n-6 dan n-3 yang tepat akan dapat meningkatkan kualitas telur. Secara umum terlihat bahwa pada percobaan pertama ini induk-induk pada seluruh perlakuan menghasilkan lama waktu matang dan diameter telur yang sama. Kesamaan hasil yang diperoleh disebabkan induk-induk yang digunakan masih muda dengan selisih ukuran dari tiap induk yang kecil dan juga pertama kali dipijahkan sehingga ukuran telur yang dihasilkan relatif sama. Tang dan Affandi (2000), menyatakan bahwa telur yang dihasilkan oleh induk ikan sangat dipengaruhi oleh umur, ukuran dan pemijahan awal. Disamping itu perkembangan gonad sangat dipengaruhi oleh ketersediaan protein dan energi serta nutrien pakan yang lain. Dalam penelitian ini pakan yang diberikan mengandung protein dan energi yang sama serta terpenuhinya asam lemak esensial untuk memproduksi telur. Menurut Kamler (1992), protein merupakan komponen dominan dalam kuning telur; sedangkan jumlah dan komposisi kuning telur akan menentukan besar kecilnya ukuran telur. Di alam ikan baung memijah pada musim penghujan bulan Desember sampai bulan Februari (Mulflikhah et al., 1998). Berdasarkan hasil histologi (Gambar 2) diperoleh diameter telur yang heterogen; dan dari pengamatan jika telur-telur yang berukuran 0.9 mm dengan sebaran 60-70% tidak diovulasikan maka telur-telur tersebut akan mengalami atresia. Induk-induk ikan baung akan siap dipijahkan lagi dalam waktu 4 sampai 6 minggu kemudian, jadi dapat dikatakan bahwa induk ikan

11 baung dalam wadah budidaya dengan pemberian pakan yang optimal dapat memijah sepanjang tahun. Dari hasil analisis FL dan NL pada induk-induk perlakuan B yang menghasilkan derajat tetas telur tertinggi mengandung NL dan rasio NL dan FL yang lebih tinggi dari perlakuan lainnya. NL (lipid nonpolar) merupakan sumber energi utama bagi perkembangan embrio dan larva sehingga jika dalam telur kekurangan sumber energi maka asam lemak esensial akan digunakan untuk energi. Mokoginta et al. (1995) mencatat bahwa bahwa rasio lipid nonpolar dan lipid polar pada ikan lele lokal (Clarias batrachus) semakin meningkat sejak awal embriogenesis yang menunjukkan bahwa lipid nonpolar berperan penting sebagai sumber energi dan semakin tinggi rasio NL dan FL menunjukkan ikan tersebut defisiensi akan asam lemak esensial. Tidak terlalu banyak berkurangnya kadar asam lemak n-6 dan n-3 pada larva yang baru menetas, maka kadar asam lemak n-6 dan n-3 akan menjadi cadangan untuk proses perkembangan larva selanjutnya sampai habis kuning telur. Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa ikan baung sebagai ikan air tawar membutuhkan asam lemak n % dan asam lemak n % dalam pakannya untuk menghasilkan kualitas telur yang tinggi. Rasio asam lemak n-6 dan n-3 dalam pakan 3.50 dapat menghasilkan kualitas telur terbaik. 4.2 Percobaan Tahap II Ada tiga aspek utama yang dilakukan pada percobaan tahap kedua ini, yaitu respon fisiologis, respon perkembangan ovarium dan respon kualitas larva yang dihasilkan terhadap implantasi hormon E2 dan T4. Respon fisiologis dilihat dari profil hormon E2 plasma; respon perkembangan ovarium dilihat dari tiga variabel utama yaitu sebaran diameter telur, GSI dan HSI; respon kuantitas dan kualitas telur serta larva dilihat dari fekunditas, derajat tetas telur, derajat kelangsungan hidup larva umur 2 hari, dan persentase larva abnormal Kadar Estradiol-17β dalam Plasma Darah

12 Kadar hormon E2 plasma darah ikan baung selama percobaan dapat dilihat pada Gambar 4 dan Lampiran 22. Konsentrasi hormon E2 plasma pada awal percobaan dari semua perlakuan sedikit bervariasi walaupun ukuran ikan relatif sama. Konsentrasi hormon E2 plasma pada induk ikan yang diberi perlakuan mengalami perubahan yang sangat berarti. Konsentrasi tertinggi terjadi pada hari ke-14 setelah pemberian implant hormon. Dosis hormon E2 yang berbeda berpengaruh pada kadar E2 plasma pada pengamatan hari ke-14 (P<0.05; Lampiran 23). Perlakuan B lebih tinggi dari C dan D; C dan D lebih tinggi dari A dan E. Konsentrasi hormon E2 plasma antar waktu sampling menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0.01; Lampiran 24). Konsentrasi hormon E2 pada hari ke 0 dan 14 berbeda nyata dari hari sampling lainnya. Kadar hormon E2 setelah hari ke 14 pada perlakuan B, C dan D mulai mengalami penurunan sampai pengamatan hari ke 84, sedangkan perlakuan A dan E sudah mengalami penurunan sejak awal pengamatan. Kecuali perlakuan C, kadar E2 semua perlakuan mengalami peningkatan kembali pada pengamatan hari ke ESTRADIOL PLASMA (ng/ml) A=KONTROL B=E600T0 C=E400TI0 D=E200T50 E=E0T100 WAKTU PENGAMATAN (hari ke-) Gambar 4. Kadar E2 plasma darah induk ikan baung (Hemibagrus nemurus Blkr) pada percobaan tahap II

13 Dari hasil pengamatan ini juga terlihat bahwa dosis E2 ( µg/kg bobot induk) dapat meningkatkan kadar E2 dalam plasma darah sampai pada pengamatan hari ke 14. Setelah itu implantasi hormon estradiol tidak berpengaruh lagi pada kadar E2 plasma. Pengaruh dosis E2 terhadap kadar E2 plasma pada hari ke 14 menunjukkan kecenderungan respon linier (Lampiran 25 dan Gambar 5) yang berarti kadar E2 plasma meningkat Y= X, R 2 =0.84, dengan meningkatnya dosis E2 yang diimplan Estradiol plasma (ng/ml) Y= X, R 2 = Dosis Estradiol Gambar 5. Hubungan dosis E2 yang diimplantasi dengan kadar E2 plasma darah induk ikan baung (Hemibagrus nemurus Blkr) pada percobaan tahap II Kadar Asam Lemak n-6 dan n-3 Hati, Telur dan Larva Komposisi kadar asam lemak hati, telur dan larva ikan baung disajikan pada Tabel 10 dan Lampiran 9, 10 dan 11. Kadar asam lemak hati, telur dan larva, dipengaruhi oleh implantasi hormon E2 dan T4. Tabel 10 juga menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kadar asam lemak jenuh pada hati dengan adanya implantasi hormon. Dosis implantasi T4 yang tinggi tanpa E2 menyebabkan kadar asam lemak jenuh pada hati tinggi. Kadar asam lemak monoenoat rendah pada induk yang diimplantasi dengan E2 dan T4 pada dosis tertinggi. Sebaliknya kadar asam lemak n-6 dan n-3 tinggi.

14 Kadar asam lemak pada telur naik sejalan dengan naiknya dosis implantasi hormon E2. Implantasi E2 600 µg/kg bobot induk tanpa T4 menghasilkan telur dengan kadar lemak total, asam lemak monoenoat, asam lemak n-6 dan n-3 lebih tinggi dibandingkan perlakuan yang diberi kombinasi E2 dan T4 ataupun T4 saja. Rasio asam lemak n-6 dan n-3 pada telur dari semua perlakuan mengalami peningkatan dibandingkan dengan rasio n-6 dan n-3 pada hati. Kadar lemak, asam lemak jenuh, dan asam lemak n-6 dan asam lemak n-3 mengalami penurunan selama embriogenesis (dari telur ke larva yang baru menetas) dan dari larva yang baru menetas ke larva berumur 2 hari. Pola ini sama dengan pola pada percobaan tahap I. Rasio asam lemak n-6 dan n-3 relatif sama atau hanya sedikit peningkatannya. Penurunan tertinggi dari semua kadar asam lemak dari larva yang baru menetas ke larva umur 2 hari terjadi pada perlakuan D. Pada perlakuan D juga kadar lemak pada larva umur 2 hari berkurang sebanyak 42% dari kadar lemak pada saat baru menetas Fosfolipid dan Lipid Netral Tabel 11 menyajikan kadar FL dan NL pada telur. Kadar FL tertinggi pada perlakuan A dan B. Kadar FL telur cenderung menurun dengan menurunnya dosis implantasi E2 dan naiknya dosis T4. Sebaliknya kadar NL dan rasio NL terhadap FL meningkat, yang tertinggi pada perlakuan E (T4 100 mg/kg bobot induk) Bobot Tubuh, Diameter Telur, Gonadosomatik Indeks dan Hepatosomatik Indeks Bobot induk, diameter telur, gonadosomatik indeks dan hepatosomatik indeks disajikan pada Tabel 12. Pengaruh implantasi dosis E2 dan T4 terhadap rata-rata diameter telur matang tidak berbeda nyata (P>0.05; Lampiran 27). Ukuran diameter telur dari induk yang diimplantasi dengan E2 dan T4 relatif seragam. Diameter telur antara waktu sampling menghasilkan perbedaan yang sangat nyata (P<0.01; Lampiran 28). Perbedaan waktu pengamatan memperlihatkan bahwa diameter telur terbagi atas tiga kelompok yakni pertama, diameter telur pada

15 pengamatan awal (0 hari) berbeda dengan diameter telur yang diperoleh pada waktu berikutnya; Kedua, waktu pengamatan pada hari ke 14 memperlihatkan diameter telur relatif sama antar perlakuan sampai pada pengamatan hari ke 98; dan ketiga, waktu pengamatan mulai hari ke 28 menghasilkan ukuran diameter telur yang relatif sama antar perlakuan sampai pada hari akhir pengamatan. Untuk lebih jelasnya perkembangan diameter telur pada tiap waktu pengamatan dapat di lihat pada Gambar 6 dan Lampiran 29.

16 Tabel 10. Total kadar asam lemak (% area) di hati, telur dan larva ikan baung (Hemibagrus nemurus Blkr) pada percobaan tahap II Asam lemak Hati Σ Al. jenuh Σ monoenoat Σ Al.n-6 Σ Al.n-3 Rasio Al. n-6/n-3 Telur Σ Al. jenuh Σ monoenoat Σ Al.n-6 Σ Al.n-3 Rasio Al. n-6/n-3 Lemak (%) bbt kering Larva Σ Al. jenuh Σ monoenoat Σ Al.n-6 Σ Al.n-3 Rasio Al. n-6/n-3 Lemak(%) bbt kering A (Kontrol) jam 24 jam B (600;0) jam 24 jam Perlakuan/ E2 µg/kg; T4 mg/kg C (400;10) jam 24 jam D (200;50) jam 24 jam E (0;100) jam 24 jam

17 Tabel 11. Kadar FL dan NL (%) telur ikan baung (Hemibagrus nemurus Blkr) pada percobaan tahap II Perlakuan E2 µg/kg; T4 mg/kg) FL NL Rasio NL/FL A(0;0) B(600;0) C(400;10) D(200;50) E(0;100) Hasil pengukuran GSI dan HSI pada induk matang gonad memperlihatkan nilai tertinggi pada perlakuan B yang diberi implantasi E2 sebesar 600 µg/kg bobot induk tanpa T4 dan terendah perlakuan C. Tabel 12. Bobot tubuh, diameter telur, GSI dan HSI dari induk ikan baung (Hemibagrus nemurus Blkr) pada percobaan tahap II Perlakuan (E2 µg/kg; T4 mg/kg) Bobot tubuh (gram) Diameter telur (mm) A(0;0) 470± ±0.11 a B(600;0) 420± ±0.03 a C(400;10) 413± ±0.04 a D(200;50) 440± ±0.08 a E(0;100) 430± ±0.03 a Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata (P>0.05); rata-rata ±SE; n=3 GSI (%) HSI (%) Dari Gambar 6 dapat dilihat bahwa pada perlakuan B(600:0) dari 3 induk yang dipijahkan, induk pertama dipijahkan pada pengamatan hari ke-28 dan induk terakhir dipijahkan pada pengamatan hari ke-70. Perlakuan C(400:10) dan D(200:50) induk pertama dipijahkan pada pengamatan hari ke 58 dan induk terakhir dipijahkan pada pengamatan hari ke-112 dan 126. Perlakuan A(kontrol) dan E(0:100) induk pertama dipijahkan pada pengamatan hari ke 112 dan 70 serta induk terakhir dipijahkan pada

18 pengamatan hari ke-126. Hasil histologi gonad di awal dan akhir percobaan memperlihatkan gambaran seperti pada percobaan tahap pertama dimana sejak dari awal pengamatan sampai pengamatan akhir (induk matang) ukuran diameter telur heterogen (Gambar 7) dan pola sebaran diameter tiap waktu pengamatan dapat dilihat pada Lampiran 30. PERLAKUAN A PERLAKUAN B DIAMETER TELUR(mm) DIAMETER TELUR(mm) WAKTU PENGAMATAN WAKTU PENGAMATAN PERLAKUAN C PERLAKUAN D DIAMETER TELUR(mm) WAKTU PENGAMATAN DIAMETER TELUR(mm) WAKTU PENGAMATAN PERLAKUAN E 1.20 DIAMETER TELUR(mm) WAKTU PENGAMATAN Gambar 6. Rata-rata diameter telur ikan baung (Hemibagrus nemurus Blkr) pada percobaan tahap II Pada awal percobaan, ukuran diameter telur didominasi oleh ukuran mm sedangkan pada akhir percobaan ukuran diameter telur didominasi oleh ukuran 0.9mm. Dari Gambar 7 juga dapat dilihat bahwa induk matang pada waktu yang

19 berbeda dengan ukuran pembesaran yang sama pada perlakuan C menunjukkan ukuran diameter telur yang relatif lebih kecil dari perlakuan yang lain. a b c d e f Gambar 7. Struktur jaringan gonad induk ikan baung (Hemibagrus nemurus Blkr) pada percobaan tahap II: awal (a) dan akhir percobaan (b,c,d,e,dan f). Gonad induk matang dari kelima perlakuan secara berturut-turut dari perlakuan A sampai E (b,c,d,e,f). Pembesaran 40X. Pewarnaan HE Lama Waktu Matang, Fekunditas, Derajat Tetas Telur, Total Larva, Derajat Kelangsungan Hidup Larva Umur 2 Hari dan Persentase Larva Abnormal Hasil pengamatan terhadap lama waktu matang, fekunditas, derajat tetas telur, total larva, derajat kelangsungan hidup dan persentase larva abnormal ditampilkan pada Tabel 13 dan Lampiran 31. Pemberian hormon E2 dan T4 dengan cara implantasi tidak memberikan pengaruh terhadap fekunditas (P>0.05; Lampiran 33). Dosis implantasi hormon E2 dan T4 memberikan pengaruh terhadap lama waktu matang, derajat tetas telur dan total larva yang dihasilkan induk ikan baung (P<0.05; Lampiran 32, 34, dan 35). Induk-induk perlakuan B lebih cepat matang dari pada

20 induk-induk perlakuan lainnya. Perlakuan A dan C menghasilkan derajat tetas telur lebih tinggi dari perlakuan B, D dan E. Total larva yang dihasilkan oleh induk-induk perlakuan C sama dengan perlakuan A. Namun perlakuan C lebih besar dari indukinduk perlakuan B, D dan E. Total larva yang dihasilkan perlakuan A sama dengan perlakuan D dan lebih tinggi dari perlakuan B dan E. Dosis implantasi hormon E2 dan T4 memberikan pengaruh terhadap rata-rata derajat kelangsungan hidup larva (P<0.01; Lampiran 36). Dosis implantasi hormon tunggal (T4 100 mg/kg bobot induk) menghasilkan derajat kelangsungan hidup yang paling rendah. Pada Tabel 13 tampak bahwa perlakuan E berupa implantasi hormon tunggal (T4 100 mg/kg bobot induk) selain menghasilkan larva-larva yang memiliki derajat kelangsungan hidup rendah. Juga menghasilkan persentase larva abnormal paling tinggi (P<0.05; Lampiran 37) Pengamatan perkembangan embrio dengan menggunakan mikroskop dilakukan terhadap 20 butir pada perlakuan A dan E yang berumur 1 sampai 10 jam setelah dibuahi. Pembelahan sel pada tahap awal berjalan normal, sel-sel yang dihasilkan tetap berkelompok (Gambar 8). Demikian juga pada 5 jam berikut memasuki fase gastrulasi, namun pada jam ke 10 memasuki fase akhir gastrulasi ketika mulai memasuki awal pembentukan organ-organ (organogenesis) pada perlakuan E belum terbentuk keping neural seperti pada perlakuan A. Pada fase ini diduga mulai terjadi kelainan yang pada akhirnya menghasilkan derajat tetas telur rendah dan larva yang abnormal pada perlakuan E. Umumnya larva abnormal yang dihasilkan pada percobaan tahap ke dua memperlihatkan kuning telur berwarna kehitam-hitaman pada bagian perut, disamping itu juga terjadi pembengkokan pada tulang ekor (Gambar 9).

21 Tabel 13. Lama waktu matang, fekunditas, derajat tetas telur, total larva, derajat kelangsungan idup larva umur 2 hari, dan persentase larva abnormal dari induk ikan baung (Hemibagrus nemurus Blkr) pada percobaan tahap II Perlakuan Lama waktu matang (hari) Fekunditas (butir/g bobot) Derajat tetas telur (%) Total larva (ekor/g bobot) Derajat kelangsungan hidup larva (%) Persentase larva abnormal (%) A(0;0) 121±4.70 a 75.32±3.84 a 72.79±8.93 a 55.04±8.28 ab 84.98±7.00 a 4.80±0.36 b B(600;0) 47±12.35 c 58.34±7.19 a 36.05±5.05 b 20.46±2.45 c 71.04±0.32 a 2.40±0.72 b C(400;10) 79±16.83 bc 78.92±3.46 a 75.85±6.23 a 59.68±4.35 a 73.48±6.00 a 4.77±1.74 b D(200;50) 93±20.34 ab 68.18±10.66 a 40.10±11.88 b 29.84±12.93 bc 67.85±7.76 a 10.38±6.36 b E(0;100) 98±16.17 ab 54.76±8.20 a 33.83±11.31 b 19.79±15.15 c 42.30±4.01 b 24.47±7.40 a Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata (P>0.05); rata-rata ±SE 49

22 a b c d e f Gambar 8. Pembelahan sel telur-telur dari perlakuan A (a,b,c) dan telur-telur perlakuan E (d,e,f). Telur 1 jam setelah pembuahan (a dan d), telur 5 jam setelah pembuahan awal fase gastrulasi (b dan e), telur 10 jam setelah pembuahan awal organogenesis (c dan f). a c b d Gambar 9. Gambaran morfologis larva: normal (a) dan abnormal (b, c dan d) dari induk ikan baung (Hemibagrus nemurus Blkr) pada percobaan tahap II Pembahasan E2 merupakan hormon yang sangat penting yang dihasilkan oleh ovari terutama pada ikan betina yang sedang mengalami proses vitelogenesis. E2 mengalami peningkatan secara bertahap pada fase vitelogenesis sejalan dengan meningkatnya ukuran diameter oosit. Adanya peningkatan konsentrasi E2 dalam darah akan memacu hati melakukan proses vitelogenesis dan selanjutnya akan mempercepat proses pematangan

23 gonad. Oleh karena itu kadar steroid plasma dapat digunakan sebagai indikator dari pematangan gonad (Zairin et al., 1992). T4 adalah hormon yang diproduksi oleh kelenjar tiroid. Hormon T4 membantu proses penyerapan vitelogenin oleh telur. Selain itu T4 juga terlibat dalam meningkatkan sintesis protein melalui peningkatan transkripsi RNA. Djojosoebagio (1990) menyatakan bahwa interaksi hormon tiroid dan reseptor pada inti akan menyebabkan terjadinya peningkatan aktifitas enzim polimerase sehingga pembentukan RNA pun meningkat. Dengan meningkatnya transkripsi RNA dan selanjutnya sintesis protein berarti adanya pemberian T4 juga akan meningkatkan protein vitelogenin. Implantasi E2 dapat meningkatkan kadar hormon E2 dalam plasma darah. Dalam penelitian ini meningkatnya konsentrasi hormon E2 plasma pada perlakuan- perlakuan yang diimplantasi dengan E2 (B, C dan D) terjadi pada pengamatan hari ke-14. Beberapa penelitian sebelumnya melaporkan bahwa pemberian E2 pada induk sangat efektif untuk meningkatkan kadar E2 plasma darah pada ikan. Flet dan Leatherland (1989) mendapatkan bahwa peningkatan kadar E2 plasma darah tertinggi terjadi pada hari ke 28 setelah implantasi E2 pada ikan Salmo gairdneri. Sularto (2002) menyatakan peningkatan kadar E2 darah terjadi pada hari ke 14 setelah induk jambal Siam diimplantasi dengan LHRH dan E2. Pada penelitian Supriyadi (2004) yang menggunakan teknik enkapsulasi 17α-metiltestosteron dalam emulsi yang diberikan pada ikan baung diperoleh kadar hormon E2 tertinggi pada hari ke 56. Perbedaan waktu yang terjadi kemungkinan karena adanya respon yang berbeda dari setiap spesies ikan yang berhubungan dengan teknik pemberian, dosis dan jenis hormon. Konsentarsi hormon E2 dalam plasma darah setelah hari ke 14 mengalami penurunan sampai pengamatan hari ke 84 (Gambar 4). Hal ini berkaitan dengan tingkat kematangan telur dimana kadar E2 akan menurun menjelang pematangan akhir. Menurut Singh dan Singh (1990) pada saat ovarium mencapai tingkat kematangan akhir maka sintesis E2 akan menurun, karena hal ini merupakan umpan balik negatif estrogen terhadap hormon yang menstimulasi sintesis E2. Lebih lanjut Mylonas dan Zohar (2001) menyatakan bahwa secara alami konsentrasi hormon E2 tinggi pada fase vitelogenesis dan mencapai puncaknya pada fase mgv(germinal Vesicle migration) dan kemudian mengalami penurunan pada fase pgv(germinal Vesicle peripheral).

24 Tingginya kadar E2 dalam plasma dapat mempercepat proses pematangan gonad yang ditunjukkan oleh perlakuan B tanpa penambahan T4. Pada perlakuan tersebut rataan dari lama waktu matang dari induk-induk dapat mencapai ukuran diameter maksimum dalam waktu tercepat 47±12.35 hari dengan diameter telur 1.23 ±0.03 mm dan GSI 13.66% HSI 1.7%, akan tetapi derajat tetas telur yang dihasilkan rendah. Rendahnya derajat tetas telur kemungkinan disebabkan oleh meningkatnya produksi cairan ovari dan dengan meningkatnya cairan ovari maka cairan nampak berwarna lebih kecoklatan dan agak cair sehingga akan mempengaruhi warna telur menjadi coklat kehitaman (Gambar 10). Cairan ovari disekresikan secara langsung oleh sel-sel dinding rongga ovari yang berlangsung selama proses pematangan oosit dan proses ini dipengaruhi oleh steroid gonad (Sjafei et al., 1992). Cairan ini diduga mempengaruhi selubung lendir pada lapisan terluar dari telur, dimana selubung lendir kental ini disintesis dalam sel folikel selama vitelogenesis. a b Gambar 10. Warna telur dan cairan ovari: telur berwarna coklat kehitaman serta cairan ovari agak cair dari induk perlakuan B (a), telur dan cairan ovari pada induk perlakuan A (b) pada percobaan tahap II Nagahama (1983) menyatakan bahwa pada Cichlasoma dan Fundulus lapisan selubung ini berfungsi sebagai alat untuk melekatkan telur pada substrat. Dari pengamatan penetasan telur ikan baung, telur-telur yang dihasilkan setelah dibuahi yang tidak menempel pada substrat, akan menghasilkan derajat tetas telur yang sangat rendah, sehingga menempel tidaknya telur ikan baung di substrat dapat menjadi indikator baik tidaknya kualitas telur. Pemberian T4 pada percobaan ini yang dikombinasikan dengan hormon E2 pada dosis T4 10 mg/kg bobot induk (perlakuan C) disamping menghasilkan pematangan

25 gonad yang cepat juga dapat meningkatkan derajat tetas telur dan total larva yang dihasilkan. Adanya fungsi T4 yang dapat meningkatkan sintesis protein berarti protein pada vitelogenin juga meningkat serta kualitas protein pada vitelogenin lebih baik jika dibandingkan tanpa penambahan T4. Pada percobaan ini pengaruh kombinasi hormon E2 dan T4 juga terlihat pada diameter telur. Diameter telur yang dihasilkan oleh induk-induk yang diimplan dengan hormon E2 dan T4 menghasilkan diameter telur yang relatif seragam dibandingkan dengan kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa hormon E2 dan T4 efisien dalam membantu proses penyerapan vitelogenin oleh telur. Kadar lemak telur tertinggi terdapat pada perlakuan B (E2 600 µg/kg bobot tubuh), kadar lemak telur menurun sejalan dengan turunnya dosis E2 implant yang disertai naiknya pemberian T4 (Tabel 10). Kemungkinan tingginya kadar lemak juga menyebabkan menurunnya kadar protein telur karena pada umumnya kadar lemak telur tinggi akan diimbangi dengan kadar protein yang lebih rendah. Lemak pada telur perlakuan C lebih rendah dari perlakuan B, menandakan bahwa kemungkinan kadar protein telur perlakuan C lebih tinggi dari perlakuan B. Jika dilihat dari komposisi dan kadar asam lemak antar perlakuan tidak jauh berbeda. Hanya kadar NL perlakuan E sedikit lebih tinggi dari perlakuan lainnya. Jadi pada perlakuan C selain telur cepat matang, derajat tetas telur juga lebih tinggi sedangkan pada perlakuan A derajat tetas telur sama dengan perlakuan C tetapi lama waktu matangnya lebih panjang. Perubahan komposisi asam lemak dari telur ke larva menunjukkan pola yang sama seperti percobaan tahap pertama. Penurunan lebih besar pada asam lemak jenuh dibandingkan dengan asam lemak esensial. Ini berarti bahwa asam lemak esensial lebih banyak disimpan untuk pertumbuhan larva. Pada larva, seperti pada percobaan tahap pertama persentase penurunan asam lemak n-3 lebih besar dari pada asam lemak n-6 dan pada fase ini asam lemak esensial lebih efisien digunakan sebagai sumber energi dibandingkan dengan asam lemak jenuh. Hormon T4 pada dosis yang tinggi bersifat katabolik. Matty (1985) menyatakan bahwa pengaruh T4 terhadap sintesis protein bersifat biphasic yaitu pada dosis rendah bersifat anabolik sedangkan pada dosis tinggi bersifat katabolik. Adanya sifat T4 demikian dapat menyebabkan turunnya kadar protein vitelogenin yang diserap telur dan

26 pengaruhnya berlanjut pada proses embriogenesis. Selain menghambat sintesis protein, T4 yang terlalu tinggi dapat menyebabkan Turnover karbohidrat dan lemak lebih cepat (Shahib, 1989). Hal inilah yang menyebabkan derajat tetas telur dan lama waktu matang pada perlakuan D dan E menurun kembali. Penelitian Nacario (1983) menunjukkan bahwa pemberian dosis T4 terlalu tinggi dapat menyebabkan terjadinya perkembangan tidak normal dari larva seperti kerusakan jaringan punggung (bengkok) dan pada bagian perut terjadi sklerosis. Dalam percobaan ini abnormalitas yang sama juga ditemukan terutama jelas pada perlakuan E (Gambar 9).

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN Latar Belakang Salah satu usaha yang mutlak dibutuhkan untuk mengembangkan budi daya ikan adalah penyediaan benih yang bermutu dalam jumlah yang memadai dan waktu yang tepat. Selama ini

Lebih terperinci

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Indeks Gonad Somatik (IGS) Hasil pengamatan nilai IGS secara keseluruhan berkisar antara,89-3,5% (Gambar 1). Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa bioflok

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil 31 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pemberian kombinasi pakan uji yang ditambahkan ascorbyl phosphate magnesium (APM) dan implantasi estradiol-17β pada ikan lele (Clarias gariepinus) yang dipelihara dalam

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Usaha budidaya ikan baung telah berkembang, tetapi perkembangan budidaya

I. PENDAHULUAN. Usaha budidaya ikan baung telah berkembang, tetapi perkembangan budidaya I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Usaha budidaya ikan baung telah berkembang, tetapi perkembangan budidaya ikan ini belum diimbangi dengan tingkat produksi yang tinggi karena tidak didukung oleh produksi

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap. Percobaan tahap pertama mengkaji keterkaitan asam lemak tak jenuh n-6 dan n-3 yang ditambahkan dalam pakan buatan dari sumber alami

Lebih terperinci

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Hasil Hasil percobaan perkembangan bobot dan telur ikan patin siam disajikan pada Tabel 2. Bobot rata-rata antara kontrol dan perlakuan dosis tidak berbeda nyata. Sementara

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hepatosomatic Index Hepatosomatic Indeks (HSI) merupakan suatu metoda yang dilakukan untuk mengetahui perubahan yang terjadi dalam hati secara kuantitatif. Hati merupakan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Derajat Pemijahan Fekunditas Pemijahan

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Derajat Pemijahan Fekunditas Pemijahan HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Derajat Pemijahan Berdasarkan tingkat keberhasilan ikan lele Sangkuriang memijah, maka dalam penelitian ini dibagi dalam tiga kelompok yaitu kelompok perlakuan yang tidak menyebabkan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Berdasarkan Tabel 2, terlihat bahwa pertumbuhan induk ikan lele tanpa perlakuan Spirulina sp. lebih rendah dibanding induk ikan yang diberi perlakuan Spirulina sp. 2%

Lebih terperinci

3.KUALITAS TELUR IKAN

3.KUALITAS TELUR IKAN 3.KUALITAS TELUR IKAN Kualitas telur dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi: umur induk, ukuran induk dan genetik. Faktor eksternal meliputi: pakan,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Ikan baung (Mystus nemurus) adalah ikan air tawar yang terdapat di

I. PENDAHULUAN. Ikan baung (Mystus nemurus) adalah ikan air tawar yang terdapat di I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ikan baung (Mystus nemurus) adalah ikan air tawar yang terdapat di beberapa sungai di Indonesia. Usaha budidaya ikan baung, khususnya pembesaran dalam keramba telah berkembang

Lebih terperinci

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Perlakuan penyuntikan hormon PMSG menyebabkan 100% ikan patin menjadi bunting, sedangkan ikan patin kontrol tanpa penyuntikan PMSG tidak ada yang bunting (Tabel 2).

Lebih terperinci

EVALUASI KOMBINASI PAKAN DAN ESTRADIOL_17β TERHADAP PEMATANGAN GONAD DAN KUALITAS TELUR IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus)

EVALUASI KOMBINASI PAKAN DAN ESTRADIOL_17β TERHADAP PEMATANGAN GONAD DAN KUALITAS TELUR IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) EVALUASI KOMBINASI PAKAN DAN ESTRADIOL_17β TERHADAP PEMATANGAN GONAD DAN KUALITAS TELUR IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) Hengky Sinjal 1, Frengky Ibo 2, Henneke Pangkey 1 1 Fakultas Perikanan dan Ilmu

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. salah satu daya pikat dari ikan lele. Bagi pembudidaya, ikan lele merupakan ikan

I. PENDAHULUAN. salah satu daya pikat dari ikan lele. Bagi pembudidaya, ikan lele merupakan ikan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu komoditi ikan yang menjadi primadona di Indonesia saat ini adalah ikan lele (Clarias sp). Rasa yang gurih dan harga yang terjangkau merupakan salah satu daya

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Reproduksi dan Perkembangan Gonad Ikan Lele. Ikan lele (Clarias sp) pertama kali matang kelamin pada umur 6 bulan dengan

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Reproduksi dan Perkembangan Gonad Ikan Lele. Ikan lele (Clarias sp) pertama kali matang kelamin pada umur 6 bulan dengan II. TINJAUAN PUSTAKA A. Reproduksi dan Perkembangan Gonad Ikan Lele Ikan lele (Clarias sp) pertama kali matang kelamin pada umur 6 bulan dengan ukuran panjang tubuh sekitar 45cm dan ukuran berat tubuh

Lebih terperinci

KEBUTUHAN ASAM LEMAK N-6 DAN N-3 DALAM PAKAN TERHADAP PENAMPILAN REPRODUKSI INDUK IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus Blkr.)

KEBUTUHAN ASAM LEMAK N-6 DAN N-3 DALAM PAKAN TERHADAP PENAMPILAN REPRODUKSI INDUK IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus Blkr.) Kebutuhan Jurnal Akuakultur asam lemak Indonesia, induk 6(1): ikan baung 7 15 (2007) Available : http://journal.ipb.ac.id/index.php/jai 7 http://jurnalakuakulturindonesia.ipb.ac.id KEBUTUHAN ASAM LEMAK

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 15 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ini dilakukan pada 8 induk ikan Sumatra yang mendapat perlakuan. Hasil penelitian ini menunjukan Spawnprime A dapat mempengaruhi proses pematangan akhir

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. berasal dari protein. Bahan ini berfungsi untuk membangun otot, sel-sel, dan

II. TINJAUAN PUSTAKA. berasal dari protein. Bahan ini berfungsi untuk membangun otot, sel-sel, dan II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kebutuhan Nutrisi Ikan Baung Nutrisi yang harus ada pada ikan adalah protein, karbohidrat, lemak, mineral, dan vitamin. Sekitar 50 % dari kebutuhan kalori yang diperlukan oleh

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Ikan merupakan alternatif pilihan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan

I. PENDAHULUAN. Ikan merupakan alternatif pilihan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ikan merupakan alternatif pilihan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan protein. Salah satu komoditas yang menjadi primadona saat ini adalah ikan lele (Clarias sp.). Ikan

Lebih terperinci

statistik menggunakan T-test (α=5%), baik pada perlakuan taurin dan tanpa diberi Hubungan kematangan gonad jantan tanpa perlakuan berdasarkan indeks

statistik menggunakan T-test (α=5%), baik pada perlakuan taurin dan tanpa diberi Hubungan kematangan gonad jantan tanpa perlakuan berdasarkan indeks Persentase Rasio gonad perberat Tubuh Cobia 32 Pembahasan Berdasarkan hasil pengukuran rasio gonad dan berat tubuh cobia yang dianalisis statistik menggunakan T-test (α=5%), baik pada perlakuan taurin

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ikan nilem (Osteochilus hasselti) termasuk kedalam salah satu komoditas budidaya yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Hal tersebut dikarenakan bahwa ikan nilem

Lebih terperinci

genus Barbodes, sedangkan ikan lalawak sungai dan kolam termasuk ke dalam species Barbodes ballaroides. Susunan kromosom ikan lalawak jengkol berbeda

genus Barbodes, sedangkan ikan lalawak sungai dan kolam termasuk ke dalam species Barbodes ballaroides. Susunan kromosom ikan lalawak jengkol berbeda 116 PEMBAHASAN UMUM Domestikasi adalah merupakan suatu upaya menjinakan hewan (ikan) yang biasa hidup liar menjadi jinak sehingga dapat bermanfaat bagi manusia. Domestikasi ikan perairan umum merupakan

Lebih terperinci

Kata kunci: ikan nila merah, tepung ikan rucah, vitamin E, TKG, IKG

Kata kunci: ikan nila merah, tepung ikan rucah, vitamin E, TKG, IKG e-jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan Volume I No 2 Februari 2013 ISSN: 2302-3600 PENGARUH PENAMBAHAN VITAMIN E PADA PAKAN BERBASIS TEPUNG IKAN RUCAH TERHADAP KEMATANGAN GONAD IKAN NILA MERAH

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE 22 III. BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Instalasi Riset Perikanan Budidaya Air Tawar (BRPBAT), Depok, Jawa Barat. Penelitian ini dimulai sejak Juni sampai Desember

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Derajat Kelangsungan Hidup (SR) Perlakuan Perendaman (%)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Derajat Kelangsungan Hidup (SR) Perlakuan Perendaman (%) IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Hasil yang diperoleh pada penelitian ini meliputi persentase jenis kelamin jantan rata-rata, derajat kelangsungan hidup (SR) rata-rata setelah perlakuan perendaman dan

Lebih terperinci

HASIL. Parameter Utama

HASIL. Parameter Utama 42 HASIL Parameter Utama Parameter utama hasil pengamatan pemberian hormon tiroksin terhadap reproduksi ikan nila yang dipelihara pada media bersalinitas terdiri dari hepato somatik indeks (HSI, %), diameter

Lebih terperinci

Titin Herawati, Ayi Yustiati, Yuli Andriani

Titin Herawati, Ayi Yustiati, Yuli Andriani Prosiding Seminar Nasional Ikan ke 8 Relasi panjang berat dan aspek reproduksi ikan beureum panon (Puntius orphoides) hasil domestikasi di Balai Pelestarian Perikanan Umum dan Pengembangan Ikan Hias (BPPPU)

Lebih terperinci

5. PARAMETER-PARAMETER REPRODUKSI

5. PARAMETER-PARAMETER REPRODUKSI 5. PARAMETER-PARAMETER REPRODUKSI Pengukuran parameter reproduksi akan menjadi usaha yang sangat berguna untuk mengetahui keadaan kelamin, kematangan alat kelamin dan beberapa besar potensi produksi dari

Lebih terperinci

EFEK SUPLEMENTASI Spirulina platensis PADA PAKAN INDUK TERHADAP PROFIL ASAM LEMAK TELUR IKAN NILA Oreochromis niloticus

EFEK SUPLEMENTASI Spirulina platensis PADA PAKAN INDUK TERHADAP PROFIL ASAM LEMAK TELUR IKAN NILA Oreochromis niloticus EFEK SUPLEMENTASI Spirulina platensis PADA PAKAN INDUK TERHADAP PROFIL ASAM LEMAK TELUR IKAN NILA Oreochromis niloticus Firsty Rahmatia 1, Yudha Lestira Dhewantara 1 Staf Pengajar Jurusan Budidaya Perikanan,

Lebih terperinci

FOR GONAD MATURATION OF GREEN CATFISH

FOR GONAD MATURATION OF GREEN CATFISH UTILIZATION OF ESTRADIOL-17β HORMONE FOR GONAD MATURATION OF GREEN CATFISH (Mystus nemurus CV) By Herlina Mahriani Siagian 1), Netti Aryani 2), Nuraini 2) ABSTRACT The research was conducted from April

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar belakang

PENDAHULUAN Latar belakang 16 PENDAHULUAN Latar belakang Ikan nila merupakan salah satu komoditas unggulan perikanan yang memiliki potensi cukup baik untuk dikembangkan. Beberapa kelebihan yang dimiliki ikan ini adalah mudah dipelihara,

Lebih terperinci

PENGARUH TEPUNG IKAN LOKAL DALAM PAKAN INDUK TERHADAP PEMATANGAN GONAD DAN KUALITAS TELUR IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus Blkr.

PENGARUH TEPUNG IKAN LOKAL DALAM PAKAN INDUK TERHADAP PEMATANGAN GONAD DAN KUALITAS TELUR IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus Blkr. PENGARUH TEPUNG IKAN LOKAL DALAM PAKAN INDUK TERHADAP PEMATANGAN GONAD DAN KUALITAS TELUR IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus Blkr.) Ediwarman SEKOLAH PASACASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2006 PERNYATAAN

Lebih terperinci

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi dan Ciri Morfologis Klasifikasi

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi dan Ciri Morfologis Klasifikasi 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi dan Ciri Morfologis 2.1.1. Klasifikasi Klasifikasi ikan tembang (Sardinella maderensis Lowe, 1838 in www.fishbase.com) adalah sebagai berikut : Filum : Chordata Subfilum

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 17 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Organ reproduksi Jenis kelamin ikan ditentukan berdasarkan pengamatan terhadap gonad ikan dan selanjutnya ditentukan tingkat kematangan gonad pada tiap-tiap

Lebih terperinci

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Derajat Penetasan Telur Hasil perhitungan derajat penetasan telur berkisar antara 68,67-98,57% (Gambar 1 dan Lampiran 2). Gambar 1 Derajat penetasan telur ikan

Lebih terperinci

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Kinerja Pertumbuhan Data hasil pengamatan penggunaan pakan uji terhadap kinerja pertumbuhan ikan nila disajikan dalam Tabel 2 di bawah ini. Tabel 2. Data kinerja

Lebih terperinci

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Jenis Kelamin Belut Belut sawah merupakan hermaprodit protogini, berdasarkan Tabel 3 menunjukkan bahwa pada ukuran panjang kurang dari 40 cm belut berada pada

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Kebutuhan benih ikan mas, nila, jambal, bawal dan bandeng di bendungan

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Kebutuhan benih ikan mas, nila, jambal, bawal dan bandeng di bendungan PENDAHULUAN Latar Belakang Kebutuhan benih ikan mas, nila, jambal, bawal dan bandeng di bendungan Cirata dan Saguling khususnya kabupaten Cianjur sekitar 8.000.000 kg (ukuran 5-8 cm) untuk ikan mas, 4.000.000

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. lkan nila merupakan salah satu jenis ikan yang bernilai ekonomis tinggi. Ikan nila

I. PENDAHULUAN. lkan nila merupakan salah satu jenis ikan yang bernilai ekonomis tinggi. Ikan nila I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang lkan nila merupakan salah satu jenis ikan yang bernilai ekonomis tinggi. Ikan nila berdaging padat, tidak mempunyai banyak duri, mudah disajikan dan mudah didapatkan di

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Teknik Pemijahan ikan lele sangkuriang dilakukan yaitu dengan memelihara induk

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Teknik Pemijahan ikan lele sangkuriang dilakukan yaitu dengan memelihara induk BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pemeliharaan Induk Teknik Pemijahan ikan lele sangkuriang dilakukan yaitu dengan memelihara induk terlebih dahulu di kolam pemeliharaan induk yang ada di BBII. Induk dipelihara

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA 3 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Biologi Ikan Sumatra Gambar 1. Ikan Sumatra Puntius tetrazona Ikan Sumatra merupakan salah satu ikan hias perairan tropis. Habitat asli Ikan Sumatra adalah di Kepulauan Malay,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. ukuran panjang tubuh sekitar 20 cm dan ukuran berat tubuh gram. Di

II. TINJAUAN PUSTAKA. ukuran panjang tubuh sekitar 20 cm dan ukuran berat tubuh gram. Di II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kematangan Gonad Ikan Lele Ikan lele (Clarias sp) pertama kali matang kelamin pada umur satu tahun dengan ukuran panjang tubuh sekitar 20 cm dan ukuran berat tubuh 100-200 gram.

Lebih terperinci

3 METODOLOGI PENELITIAN

3 METODOLOGI PENELITIAN 12 3 METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan sejak bulan Maret sampai dengan bulan November 2012 di Instalasi Penelitian Plasma Nutfah Perikanan Air Tawar, Cijeruk, Bogor. Analisis hormon testosteron

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umum Perairan Teluk Jakarta Perairan Teluk Jakarta merupakan sebuah teluk di perairan Laut Jawa yang terletak di sebelah utara provinsi DKI Jakarta, Indonesia. Terletak

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. masyarakat Indonesia. Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan (2015),

I. PENDAHULUAN. masyarakat Indonesia. Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan (2015), 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ikan merupakan komoditas bahan pangan yang bergizi tinggi dan banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan (2015), konsumsi produk

Lebih terperinci

THE EFFECT OF IMPLANTATION ESTRADIOL-17β FOR FERTILITY, HATCHING RATE AND SURVIVAL RATE OF GREEN CATFISH (Mystus nemurus CV)

THE EFFECT OF IMPLANTATION ESTRADIOL-17β FOR FERTILITY, HATCHING RATE AND SURVIVAL RATE OF GREEN CATFISH (Mystus nemurus CV) THE EFFECT OF IMPLANTATION ESTRADIOL-17β FOR FERTILITY, HATCHING RATE AND SURVIVAL RATE OF GREEN CATFISH (Mystus nemurus CV) BY FITRIA RONAULI SIHITE 1, NETTI ARYANI 2, SUKENDI 2) ABSTRACT The research

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kinerja Induk Parameter yang diukur untuk melihat pengaruh pemberian fitoestrogen ekstrak tempe terhadap kinerja induk adalah lama kebuntingan, dan tingkat produksi anak

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengaruh pencekokan ekstrak rimpang rumput teki terhadap diameter oosit

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengaruh pencekokan ekstrak rimpang rumput teki terhadap diameter oosit 40 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 1. Oosit Pada Stadia Folikel Primer Pengaruh pencekokan ekstrak rimpang rumput teki terhadap diameter oosit pada stadia folikel primer dapat dilihat pada gambar 10.

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1. Ikan nila merah Oreochromis sp.

TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1. Ikan nila merah Oreochromis sp. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Karakteristik ikan nila merah Oreochromis sp. Ikan nila merupakan ikan yang berasal dari Sungai Nil (Mesir) dan danaudanau yang berhubungan dengan aliran sungai itu. Ikan nila

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Ikan hike adalah nama lokal untuk spesies ikan liar endemik yang hidup pada perairan kawasan Pesanggrahan Prabu Siliwangi, Desa Pajajar, Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka

Lebih terperinci

Tingkat Kelangsungan Hidup

Tingkat Kelangsungan Hidup BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tingkat Kelangsungan Hidup Tingkat kelangsungan hidup merupakan suatu nilai perbandingan antara jumlah organisme yang hidup di akhir pemeliharaan dengan jumlah organisme

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Bernhard Grzimek (1973) dalam Yovita H.I dan Mahmud Amin

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Bernhard Grzimek (1973) dalam Yovita H.I dan Mahmud Amin TINJAUAN PUSTAKA Ikan Black Ghost (Apteronotus albifrons) Menurut Bernhard Grzimek (1973) dalam Yovita H.I dan Mahmud Amin dalam Rahman (2012), sistematika ikan black ghost adalah sebagai berikut : Kingdom

Lebih terperinci

PENAMBAHAN VITAMIN E DALAM PAKAN UNTUK MENINGKATKAN POTENSI REPRODUKSI INDUK IKAN SEPAT HIAS ( Trichogaster sp )

PENAMBAHAN VITAMIN E DALAM PAKAN UNTUK MENINGKATKAN POTENSI REPRODUKSI INDUK IKAN SEPAT HIAS ( Trichogaster sp ) 1 PENAMBAHAN VITAMIN E DALAM PAKAN UNTUK MENINGKATKAN POTENSI REPRODUKSI INDUK IKAN SEPAT HIAS ( Trichogaster sp ) Puji Kurniawan 1, Yuneidi Basri 2, Elfrida 2 1) Mahasiswa Jurusan Budidaya Perairan E-mail

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 19 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Data rata-rata parameter uji hasil penelitian, yaitu laju pertumbuhan spesifik (LPS), efisiensi pemberian pakan (EP), jumlah konsumsi pakan (JKP), retensi protein

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Tabel 1. Subset penelitian faktorial induksi rematurasi ikan patin

BAHAN DAN METODE. Tabel 1. Subset penelitian faktorial induksi rematurasi ikan patin II. BAHAN DAN METODE 2.1 Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini merupakan bagian dari subset penelitian faktorial untuk mendapatkan dosis PMSG dengan penambahan vitamin mix 200 mg/kg pakan yang dapat menginduksi

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan dari April 2010 sampai Januari 2011, di Laboratorium Pembenihan Ikan Ciparanje dan Laboratorium Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR : KEP. 52/MEN/2004 T E N T A N G PELEPASAN VARIETAS IKAN NILA JICA SEBAGAI VARIETAS BARU

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR : KEP. 52/MEN/2004 T E N T A N G PELEPASAN VARIETAS IKAN NILA JICA SEBAGAI VARIETAS BARU KEPUTUSAN NOMOR : KEP. 52/MEN/2004 T E N T A N G PELEPASAN VARIETAS IKAN NILA JICA SEBAGAI VARIETAS BARU, Menimbang : a. bahwa dalam rangka memperkaya jenis dan varietas serta menambah sumber plasma nutfah

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Pengaruh Variasi Dosis Tepung Ikan Gabus Terhadap Pertumbuhan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Pengaruh Variasi Dosis Tepung Ikan Gabus Terhadap Pertumbuhan BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Hasil penelitan pengaruh variasi dosis tepung ikan gabus terhadap pertumbuhan dan hemoglobin ikan lele, dengan beberapa indikator yaitu pertambahan

Lebih terperinci

Effect of Enriched Feed by Different n-6 Fatty Acids Levels at 0% of n-3 on Danio rerio Reproductive Performance

Effect of Enriched Feed by Different n-6 Fatty Acids Levels at 0% of n-3 on Danio rerio Reproductive Performance Pengaruh Jurnal Akuakultur pemberian Indonesia, kadar asam 5(1): lemak 51-56 n-6 (2006) Available : http://journal.ipb.ac.id/index.php/jai 51 http://jurnalakuakulturindonesia.ipb.ac.id PENGARUH PEMBERIAN

Lebih terperinci

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Bobot Tubuh Ikan Lele Hasil penimbangan rata-rata bobot tubuh ikan lele yang diberi perlakuan ekstrak purwoceng (Pimpinella alpina molk.) pada pakan sebanyak 0;

Lebih terperinci

PEMBERIAN PAKAN DENGAN KADAR PROTEIN YANG BERBEDA TERHADAP TAMPILAN REPRODUKSI INDUK IKAN BELINGKA (Puntius belinka Blkr)

PEMBERIAN PAKAN DENGAN KADAR PROTEIN YANG BERBEDA TERHADAP TAMPILAN REPRODUKSI INDUK IKAN BELINGKA (Puntius belinka Blkr) PEMBERIAN PAKAN DENGAN KADAR PROTEIN YANG BERBEDA TERHADAP TAMPILAN REPRODUKSI INDUK IKAN BELINGKA (Puntius belinka Blkr) YUNEIDI BASRI Program Studi Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Lebih terperinci

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA. Ikan baung diklasifikasikan masuk ke dalam Filum : Cordata, Kelas : Pisces,

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA. Ikan baung diklasifikasikan masuk ke dalam Filum : Cordata, Kelas : Pisces, BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi dan Morfologi Ikan Baung Ikan baung diklasifikasikan masuk ke dalam Filum : Cordata, Kelas : Pisces, Sub-Kelas : Teleostei, Ordo : Ostariophysi, Sub Ordo : Siluroidea,

Lebih terperinci

Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar

Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar Standar Nasional Indonesia Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar ICS 65.150 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. Protein adalah jenis asupan makan yang penting bagi kelangsungan

BAB I. PENDAHULUAN. Protein adalah jenis asupan makan yang penting bagi kelangsungan BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Protein adalah jenis asupan makan yang penting bagi kelangsungan metabolisme di dalam tubuh, protein menyumbang paling besar kalori di dalam tubuh dibandingkan dengan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pemberian pakan buatan di BBAP Situbondo dilakukan bulan Oktober sampai Desember 2008. Sedangkan untuk pada bulan Agustus-September induk diberi perlakuan pakan rucah

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM 5.1. Sejarah Perusahaan 5.2. Struktur Organisasi

V. GAMBARAN UMUM 5.1. Sejarah Perusahaan 5.2. Struktur Organisasi V. GAMBARAN UMUM 5.1. Sejarah Perusahaan Ben s Fish Farm mulai berdiri pada awal tahun 1996. Ben s Fish Farm merupakan suatu usaha pembenihan larva ikan yang bergerak dalam budidaya ikan konsumsi, terutama

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Rasio Kelamin Ikan Nilem Penentuan jenis kelamin ikan dapat diperoleh berdasarkan karakter seksual primer dan sekunder. Pemeriksaan gonad ikan dilakukan dengan mengamati

Lebih terperinci

PENGANTAR. Latar Belakang. Itik lokal di Indonesia merupakan plasma nutfah yang perlu dilestarikan dan

PENGANTAR. Latar Belakang. Itik lokal di Indonesia merupakan plasma nutfah yang perlu dilestarikan dan PENGANTAR Latar Belakang Itik lokal di Indonesia merupakan plasma nutfah yang perlu dilestarikan dan ditingkatkan produktivitasnya untuk meningkatkan pendapatan peternak. Produktivitas itik lokal sangat

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Sebaran Frekuensi Ikan Tetet (Johnius belangerii) Ikan contoh ditangkap setiap hari selama 6 bulan pada musim barat (Oktober-Maret) dengan jumlah total 681 ikan dan semua sampel

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Perkembangan Gonad Ikan

TINJAUAN PUSTAKA Perkembangan Gonad Ikan 5 TINJAUAN PUSTAKA Perkembangan Gonad Ikan Effendie (1997) menyebutkan bahwa pengetahuan mengenai tingkat kematangan gonad (TKG) sangat penting dan akan menunjang keberhasilan pembenihan ikan. Hal ini

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Biologi dan Reproduksi Ikan Baung Ikan baung (Mystus nemurus CV) secara taksonomis diklasifikasikan kedalam phylum Cordata, kelas Pisces, subkelas Teleostei, ordo Ostariophysi,

Lebih terperinci

BAB 3 BAHAN DAN METODE

BAB 3 BAHAN DAN METODE BAB 3 BAHAN DAN METODE 3.1 Metode Penelitian Penelitian: Laju Pertumbuhan Populasi Brachionus plicatilis O. F Muller Dengan Penambahan Vitamin C Pada Media CAKAP dilaksanakan pada bulan Mei 2010 di Laboratorium

Lebih terperinci

Kisi-kisi Soal Uji Kompetensi Program studi Agribisnis Sumberdaya Perairan. Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator Essensial

Kisi-kisi Soal Uji Kompetensi Program studi Agribisnis Sumberdaya Perairan. Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator Essensial Kisi-kisi Soal Uji Kompetensi Program studi Agribisnis Sumberdaya Perairan Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator Essensial 1. Mengidentifikasi potensi dan peran budidaya perairan 2. Mengidentifikasi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Persentase Ikan Jantan Salah satu faktor yang dapat digunakan dalam mengukur keberhasilan proses maskulinisasi ikan nila yaitu persentase ikan jantan. Persentase jantan

Lebih terperinci

GONAD MATURATION OF SEPAT RAWA (Trichogaster trichopterus Blkr) WITH DIFFERENT FEEDING TREATMENTS. By Rio Noverzon 1), Sukendi 2), Nuraini 2) Abstract

GONAD MATURATION OF SEPAT RAWA (Trichogaster trichopterus Blkr) WITH DIFFERENT FEEDING TREATMENTS. By Rio Noverzon 1), Sukendi 2), Nuraini 2) Abstract GONAD MATURATION OF SEPAT RAWA (Trichogaster trichopterus Blkr) WITH DIFFERENT FEEDING TREATMENTS By Rio Noverzon 1), Sukendi 2), Nuraini 2) Abstract The research was conducted from Februari to April 2013

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berjalannya waktu. Hal ini merupakan pertanda baik khususnya untuk

BAB I PENDAHULUAN. berjalannya waktu. Hal ini merupakan pertanda baik khususnya untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesadaran masyarakat akan konsumsi ikan meningkat seiring dengan berjalannya waktu. Hal ini merupakan pertanda baik khususnya untuk masyarakat Indonesia karena

Lebih terperinci

Peranan Kualitas Pakan dalam Pematangan Gonad

Peranan Kualitas Pakan dalam Pematangan Gonad TINJAUAN PUSTAKA Perkembangan Gonad Gonad adalah organ di dalam tubuh yang dapat menghasilkan gamet, yaitu sel yang mempunyai satu set kromosom haploid untuk reproduksi, terdapat pada semua seksualitas

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Pengambilan data penelitian telah dilaksanakan pada bulan Desember 2012 sampai bulan Januari 2013 bertempat di Hatcery Kolam Percobaan Ciparanje

Lebih terperinci

KHAIRUL MUKMIN LUBIS IK 13

KHAIRUL MUKMIN LUBIS IK 13 PEMBENIHAN : SEGALA KEGIATAN YANG DILAKUKAN DALAM PEMATANGAN GONAD, PEMIJAHAN BUATAN DAN PEMBESARAN LARVA HASIL PENETASAN SEHINGGA MENGHASILAKAN BENIH YANG SIAP DITEBAR DI KOLAM, KERAMBA ATAU DI RESTOCKING

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Desember (Amornsakun dan Hassan, 1997; Yusuf, 2005). Areal pemijahan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Desember (Amornsakun dan Hassan, 1997; Yusuf, 2005). Areal pemijahan II. TINJAUAN PUSTAKA A. Reproduksi Ikan baung memijah pada musim hujan, yaitu pada bulan Oktober sampai Desember (Amornsakun dan Hassan, 1997; Yusuf, 2005). Areal pemijahan biasanya ditumbuhi tanaman air

Lebih terperinci

PEMIJAHAN IKAN TAWES DENGAN SISTEM IMBAS MENGGUNAKAN IKAN MAS SEBAGAI PEMICU

PEMIJAHAN IKAN TAWES DENGAN SISTEM IMBAS MENGGUNAKAN IKAN MAS SEBAGAI PEMICU Jurnal Akuakultur Indonesia, 4 (2): 103 108 (2005) Available : http://journal.ipb.ac.id/index.php/jai http://jurnalakuakulturindonesia.ipb.ac.id 103 PEMIJAHAN IKAN TAWES DENGAN SISTEM IMBAS MENGGUNAKAN

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebut arus dan merupakan ciri khas ekosistem sungai (Odum, 1996). dua cara yang berbeda dasar pembagiannya, yaitu :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebut arus dan merupakan ciri khas ekosistem sungai (Odum, 1996). dua cara yang berbeda dasar pembagiannya, yaitu : 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perairan Sungai Sungai adalah suatu perairan yang airnya berasal dari mata air, air hujan, air permukaan dan mengalir secara terus menerus pada arah tertentu. Aliran air

Lebih terperinci

I. P E N D A H U L U A N

I. P E N D A H U L U A N I. P E N D A H U L U A N 1.1. Latar Belakang Ikan Gurami (Ospheronemus gouramy Lac) merupakan plasma nutfah ikan asli perairan Indonesia yang sudah menyebar ke wilayah Asia Tenggara (Badan Standarisasi

Lebih terperinci

HORMON TESTOSTERON DAN ESTRADIOL 17β DALAM PLASMA DARAH INDUK BETINA IKAN BAUNG (Mystus nemurus)

HORMON TESTOSTERON DAN ESTRADIOL 17β DALAM PLASMA DARAH INDUK BETINA IKAN BAUNG (Mystus nemurus) e-jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan Volume I No 1 Oktober 212 ISSN: 232-36 HORMON TESTOSTERON DAN ESTRADIOL 17β DALAM PLASMA DARAH INDUK BETINA IKAN BAUNG (Mystus nemurus) TESTOSTERON AND

Lebih terperinci

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Kajian Kombinasi Penambahan Spirulina platensis pada Pakan dan Penyuntikan Oodev

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi dan Struktur Morfologis Klasifikasi

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi dan Struktur Morfologis Klasifikasi 3 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi dan Struktur Morfologis 2.1.1. Klasifikasi Menurut klasifikasi Bleeker, sistematika ikan selanget (Gambar 1) adalah sebagai berikut (www.aseanbiodiversity.org) :

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Glukosa. mempengaruhi kinerja sistem tubuh. Hasil pengamatan rataan kadar glukosa dari

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Glukosa. mempengaruhi kinerja sistem tubuh. Hasil pengamatan rataan kadar glukosa dari IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Glukosa Salah satu profil biokimia darah yang berhubungan dengan proses metabolisme energi adalah glukosa. Kadar glukosa merupakan indikasi

Lebih terperinci

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Hasil 3.1.1. Diameter Tubulus Seminiferus Hasil pengukuran diameter tubulus seminiferus pada gonad ikan lele jantan setelah dipelihara selama 30 hari disajikan pada Gambar

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN DIAMETER TELUR IKAN BETOK (Anabas Testudineus) YANG DIBERI PAKAN DIPERKAYA VITAMIN E DENGAN DOSIS BERBEDA

PERKEMBANGAN DIAMETER TELUR IKAN BETOK (Anabas Testudineus) YANG DIBERI PAKAN DIPERKAYA VITAMIN E DENGAN DOSIS BERBEDA PERKEMBANGAN DIAMETER TELUR IKAN BETOK (Anabas Testudineus) YANG DIBERI PAKAN DIPERKAYA VITAMIN E DENGAN DOSIS BERBEDA Desmi Etika 1, Muslim 2 dan Yulisman 3 1 Mahasiswa Peneliti, 2 Dosen Pembimbing I,

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Tahap 1. Pengomposan Awal. Pengomposan awal diamati setiap tiga hari sekali selama dua minggu.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Tahap 1. Pengomposan Awal. Pengomposan awal diamati setiap tiga hari sekali selama dua minggu. Suhu o C IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Tahap 1. Pengomposan Awal Pengomposan awal bertujuan untuk melayukan tongkol jagung, ampas tebu dan sabut kelapa. Selain itu pengomposan awal bertujuan agar larva kumbang

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Konsentrasi Air Kelapa (Cocos nucifera) terhadap Viabilitas Rosella Merah (Hibiscus sabdariffa var. sabdariffa) Berdasarkan hasil analisis (ANAVA) pada lampiran

Lebih terperinci

Gambar 2. Grafik Pertumbuhan benih ikan Tagih

Gambar 2. Grafik Pertumbuhan benih ikan Tagih BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Laju Pertumbuhan Laju pertumbuhan merupakan penambahan jumlah bobot ataupun panjang ikan dalam periode waktu tertentu. Pertumbuhan terkait dengan faktor luar dan dalam

Lebih terperinci

KERANGKA TEORI. 2.1 Tinjauan Pustaka Kematangan Gonad Pada Ikan

KERANGKA TEORI. 2.1 Tinjauan Pustaka Kematangan Gonad Pada Ikan II. KERANGKA TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Kematangan Gonad Pada Ikan Kematangan gonad ikan pada umumnya adalah tahapan pada saat perkembangan gonad sebelum dan sesudah memijah. Selama proses reproduksi,

Lebih terperinci

PETUNJUK PRAKTIKUM TEKNOLOGI PEMBENIHAN IKAN TEKNOLOGI PEMIJAHAN IKAN DENGAN CARA BUATAN (INDUCE BREEDING)

PETUNJUK PRAKTIKUM TEKNOLOGI PEMBENIHAN IKAN TEKNOLOGI PEMIJAHAN IKAN DENGAN CARA BUATAN (INDUCE BREEDING) PETUNJUK PRAKTIKUM TEKNOLOGI PEMBENIHAN IKAN TEKNOLOGI PEMIJAHAN IKAN DENGAN CARA BUATAN (INDUCE BREEDING) DISUSUN OLEH : TANBIYASKUR, S.Pi., M.Si MUSLIM, S.Pi., M.Si PROGRAM STUDI AKUAKULTUR FAKULTAS

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. a b c

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. a b c BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Perkembangan Embrio Ikan Nilem Hasil pengamatan embriogenesis ikan nilem, setelah pencampuran sel sperma dan telur kemudian telur mengalami perkembangan serta terjadi fase

Lebih terperinci

-2- MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN TENTANG PELEPASAN IKAN LELE MUTIARA.

-2- MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN TENTANG PELEPASAN IKAN LELE MUTIARA. KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77/KEPMEN-KP/2015 TENTANG PELEPASAN IKAN LELE MUTIARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. lemak omega 3 yang ada pada ikan (Sutrisno, Santoso, Antoro, 2000).

I. PENDAHULUAN. lemak omega 3 yang ada pada ikan (Sutrisno, Santoso, Antoro, 2000). I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor perikanan di Indonesia berpotensi bagi perkembangan dunia usaha khususnya sebagai komoditas perdagangan dan sumber pangan. Permintaan pasar akan produksi perikanan

Lebih terperinci