BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. a b c

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. a b c"

Transkripsi

1 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Perkembangan Embrio Ikan Nilem Hasil pengamatan embriogenesis ikan nilem, setelah pencampuran sel sperma dan telur kemudian telur mengalami perkembangan serta terjadi fase pembelah sel (cleavage), morula, blastula, gastrula dan organogenesis (Gambar 3 dan Lampiran 1). a b c d e f Keterangan: a: Cleavage (Pembelahan sel); b: Morula; c: Blastula; d: Gastrula; e: Gastrula Akhir; f: Organogenesis Gambar 3. Fase Embriogenesis Telur Ikan Nilem Pada gambar di atas (Gambar 3.a) fase cleavage dicirikan dengan pembentukan blastodisk pada kutub anima. Pembentukan blastodisk sempurna terjadi 60 menit setelah pembuahan. Blastodisk inilah yang nantinya akan membelah menjadi banyak sel. Hasil penelitian Olivia (2011) menunjukkan pembelahan satu sel berlangsung pada jam ke- 1 lewat 10 menit setelah pembuahan. Kemudian blastodisk ini akan membelah dengan membentuk 2 sel, 4 sel, 8 sel, 16 sel dan 32 sel (Gambar 4). 23

2 24 a b c Keterangan: d a: 2 sel; b: 4 sel; c: 8 sel; d: 16 sel; e: 32 sel Gambar 4. Fase Pembelahan Telur Ikan Nilem Pada Gambar 4 terlihat bahwa kuning telur tidak ikut membelah, yang membelah hanya sel-sel blastodisk yang semakin mengecil seiring dengan pertambahan waktu. Menurut Effendie (1995) pada telur telolechital kuning telur tidak ikut membelah, yang mengalami pembelahan hanyalah keping protoplasmanya saja yang terdapat di kutub anima. Berdasarkan uraian tersebut telur ikan nilem termasuk telolechital sehingga pembelahannya dinamakan meroblastik. Pembelahan sel pertamanya (Gambar 4.a) secara meridian, diikuti oleh pembelahan kedua tegak lurus pada bidang pembelahan pertama (Gambar 4.b). Pembelahan ketiga (Gambar 4.c) memotong bidang pembelahan kedua sebelah kiri dan kanan bidang pembelahan pertama dengan pembelahan kedua-duanya yang sejajar dengan bidang pembelahan pertama. Pembelahan berikutnya (Gambar 4.d) terdiri dari dua pembelahan yang berjalan bersama-sama, sejajar dan terletak di kiri dan kanan bidang pembelahan kedua. Pembelahan kelima empat buah sel yang terletak di tengah-tengah membelah sejajar pada permukaan. Pembelahan kelima (Gambar 4.e) merupakan fase awal morula. e

3 25 ruang perivitelin kutub anima 32 blastomer yolk Gambar 5. Fase Morula Telur Ikan Nilem Fase morula (Gambar 5) menurut Effendie (1995) fase morula dimulai ketika telah mencapai 32 sel. Hasil pengamatan fase morula awal terjadi 3 jam setelah pembuahan, sedangkan menurut Olivia (2011) pembelahan kelima (32 sel) terjadi 3 jam 50 menit setelah pembuahan pada suhu 29 C. Dari gambar 5 terlihat ukuran sel blastodisk sudah mulai beragam. Sel membelah secara melintang dan mulai terbentuk formasi lapisan kedua secara samar pada kutub anima. Fase morula berakhir apabila pembelahan sel sudah menghasilkan blastomer yang ukuran sama tetapi lebih kecil. Sel tersebut memadat untuk menjadi blastodisk kecil membentuk dua lapis sel. yolk blastoderma periblast Gambar 6. Fase Blastula Telur Ikan Nilem Fase blastula (Gambar 6) terjadi 4 jam setelah pembuahan. Hasil penelitian Olivia (2011) menyebutkan fase blastula telur ikan nilem terjadi 4 jam 50 menit setelah pembuahan pada suhu 29 C. Pada akhir fase blastula, sel-sel blastoderma akan terdiri dari neural, epidermal, notochordal, mesodermal serta endodermal yang merupakan bakal pembentuk organ-organ.

4 26 yolk perisai embrio korion blastopor Gambar 7. Fase Gastrula Telur Ikan Nilem Setelah fase blastula kemudian dilanjutkan fase gastrula (Gambar 7), dimana pada awal fase ini blastoderma menutupi hampir seluruh kuning telur. Bagian yang tidak menutupi kuning telur dinamakan blastopor. Jaringan luar embrio terus berkembang mengelilingi kuning telur. Setelah jaringan menutupi seluruh kuning telur terbentuklah perisai embrio pada kutub anima. Perisai embrio yang berada pada kutub anima akan berkembang menjadi tulang belakang. Fase gastrula terjadi 5 jam setelah pembuahan. Akhir dari proses gastrulasi apabila kuning telur sudah tertutup lapisan sel (perisai embrio). Bersamaan dengan selesainya proses gastrulasi sebenarnya sudah dimulai awal pembentukan organ-organ. notochord korion yolk kepala bakal mata ekor Gambar 8. Fase Organogenesis Telur Ikan Nilem Fase organogenesis (Gambar 8) merupakan tahap pembentukan organ pada embrio. Dalam fase organogenesis terbentuk berturut-turut bakal organ yaitu syaraf, notochord, mata, somit, rongga kuffer, kantong alfaktori, rongga ginjal, usus, tulang subnotochord, linealateralis, jantung, aorta, insang, infundibullum,

5 27 dan lipatan-lipatan sirip. Pembentukan semua organ tubuh hampir sempurna ketika telur akan menetas (Tang dan Ridwan 2004). Setelah fase organogenesis 4 jam kemudian larva akan menetas yang di sebabkan korion melunak akibat aktifitas pergerakan larva dan juga oleh kinerja enzim chorionase. Penetasan larva ikan nilem terjadi setelah 24 jam dari pembuahan dengan larva yang dihasilkan normal. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Olivia (2011) yang menyatakan penetasan ikan nilem pada kisaran suhu 27 C-29 C menghasilkan larva ikan yang normal serta derajat penetasan yang tinggi. 4.2 Laju Penyerapan Kuning Telur Larva Ikan Nilem Larva ikan pada fase endogenous feeding (Gambar 9 dan Lampiran 2) merupakan bentuk kehidupan peralihan yang berkembang dari telur kemudian melalui berbagai tahap embrio, dengan kuning telur sampai akhirnya menetas menjadi larva yang mampu menangkap dan mencerna organisme mangsa. Gambar 9. Larva Ikan Nilem Fase Endogenous Feeding Kuning telur pada fase ini digunakan sebagai nutrisi dan energi yang digunakan untuk tumbuh serta aktivitas metabolisme sampai larva menetas (Kamler 1992). Pengamatan fase endogenous feeding pada tiap suhu media pemeliharaan menunjukkan perbedaan dalam waktu penyerapan kuning telur (Tabel 2). Tabel 2. Waktu Fase Endogenous Feeding Larva Ikan Nilem Perlakuan Waktu (jam) A (25 C) 42 B (27 C) 36 C (29 C) 33 D (31 C) 30

6 Volume Kuning Telur (mm 3 ) 28 Suhu media pemeliharaan perlakuan A (25 C) memiliki waktu fase endogenous feeding lebih lama yaitu 42 jam dari pada suhu media pemeliharaan lainnya yang lebih tinggi. Waktu fase endogenous feeding paling cepat adalah pada suhu media pemeliharaan perlakuan D (31 C) yaitu 30 jam. Hal ini sesuai dengan pernyataan Olivia (2011) yang menyebutkan bahwa waktu menetas telur ikan nilem dipengaruhi oleh suhu, karena pada suhu rendah (25 C) waktu menetas telur ikan nilem lebih lama yaitu 24 jam 40 menit, sedangkan suhu yang lebih tinggi (31 C) yaitu 22 jam. Waktu fase endogenous feeding yang lama pada suhu rendah dan cepat pada suhu yang tinggi disebabkan oleh aktivitas metabolisme. Kuning telur dalam fase ini digunakan sebagai nutrisi untuk memenuhi kebutuhan energi pada larva. Energi tersebut digunakan dalam proses metabolisme. Hal ini sesuai dengan pernyataan Fujaya (2004) bahwa aktivitas metabolisme sangat dipengaruhi oleh suhu dan oksigen, sedangkan Kamler (1992) menyatakan bahwa laju perkembangan sangat dekat hubungannya dengan suhu; jika perkembangannya lambat berarti suhu yang digunakan rendah dan peningkatan akan meningkat seiring dengan penambahan suhu. Pengaruh suhu dalam perkembangan dapat dinyatakan oleh perubahan waktu dari pembuahan sampai perkembangan fase selanjutnya. Peningkatan suhu juga menyebabkan peningkatan proses metabolisme dalam tubuh larva. Hal ini dicirikan dari penyusutan volume kuning telur (Gambar 10) Waktu Pengamatan (jam) A (25 C) B (27 C) C (29 C) D (31 C) Gambar 10. Kurva Penyusutan Volume Kuning Telur Larva Ikan Nilem Perwaktu Pengamatan

7 Laju Penyerapan Kuning Telur (%) 29 Volume kuning telur larva ikan nilem pada Gambar 6 lebih cepat menurun pada suhu yang lebih tinggi daripada suhu yang rendah. Penelitian Pramono dan Sri (2009) volume kuning telur larva ikan senggaringan semakin menurun seiring dengan pertambahan waktu. Penyusutan volume kuning telur tersebut dikarenakan kuning telur digunakan sebagai nutrisi pada fase endogenous feeding dan juga terdapat faktor lain yang mempengaruhinya seperti faktor lingkungan yaitu kualitas air. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kamler (1992) bahwa pengurangan jumlah volume kuning telur tersebut disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya adalah suhu. Woynarovich dan Horvarth (1980) menyatakan bahwa suhu air yang rendah dapat menghalangi perkembangan dan produksi enzim, Sehingga menyebabkan lamanya proses metabolisme. Walaupun larva dapat mentolerir air dingin akan tetapi larva tidak dapat menetas karena produksi enzim terhambat. Hasil pengamatan laju penyerapan kuning telur berdasarkan volume kuning telur serta waktu kuning telur habis terserap menunjukkan terdapat perbedaan laju penyerapan kuning telur antara waktu pengamatan (Gambar 11) Waktu Pengamatan (jam) A (25 C) B (27 C) C (29 C) D (31 C) Gambar 11. Kurva Laju Penyerapan Kuning Telur Larva Ikan Nilem Perwaktu Pengamatan Laju penyerapan kuning telur larva ikan nilem pada Gambar 11 saat fase awal menetas lambat, kemudian cepat dan lambat lagi hingga kuning telur habis terserap. Sesuai dengan pernyataan Hemming dan Buddington (1988) bahwa laju penyerapan kuning telur berlangsung secara eksponensial. Penyerapan lambat

8 Laju Penyerapan Kuning Telur (%) 30 menjelang kuning telur habis terserap diduga disebabkan oleh berkurangnya luas permukaan sejalan dengan penyusutan kantung kuning telur dan perubahan komposisi telur. Laju penyerapan kuning telur ikan nilem pada Gambar 12 terlihat bahwa seiring peningkatan suhu media pemeliharaan laju penyerapan kuning telur juga semakin meningkat, tapi kemudian menurun pada suhu media pemeliharaan paling tinggi. Pada ikan Oncorhynchus tshawytschat laju penyerapan kuning telur juga mengalami peningkatan mulai dari suhu 6 C sampai suhu 10 C dan kemudian mengalami penurunan pada suhu 12 C (Kamler 1992). Penurunan laju penyerapan kuning telur pada suhu tinggi di karenakan telah melewati batas optimum serta aktivitas metabolisme yang berjalan lambat. Sesuai dengan pernyataan Heming dan Buddington (1990) dalam Shafrudin (1997) mengatakan bahwa kecepatan laju penyerapan kuning telur meningkat dengan meningkatnya suhu dan akan menurun pada saat mendekati batas atas toleransi a 5.885a 5.919a 4.897a Suhu Media Pemeliharaan ( C) Gambar 12. Laju Penyerapan Kuning Telur Larva Ikan Nilem Tiap Perlakuan Hasil dari analisis sidik ragam (Lampiran 8) menyatakan suhu media pemeliharaan tidak berpengaruh nyata terhadap laju penyerapan kuning telur larva ikan nilem. Tidak berbeda nyata perlakuan yang diberikan, bukan berarti tidak ada suhu yang terbaik untuk laju penyerapan kuning telur. Suhu yang terbaik untuk laju penyerapan kuning telur dapat di lihat dari nilai tertinggi yang diberikan. Laju

9 Laju Pertumbuhan Panjang (%) 31 penyerapan kuning telur tertinggi terdapat pada perlakuan C (29 C) sebesar 5,919%. Perlakuan C (29 C) merupakan suhu media pemeliharaan terbaik untuk laju peyerapan kuning telur. Hal ini sesuai dengan pernyataan Woynarovich dan Horvarth (1980) bahwa laju penyerapan kuning telur yang lebih tinggi memungkinkan tersedianya energi yang tinggi. Perlakuan A dengan menggunakan suhu 25 C memberikan hasil terendah sebesar 5,858% untuk laju penyerapan kuning telur. Penelitian Budiardi et al. (2005) pada ikan maanfish yang menyatakan bahwa laju penyerapan kuning telur ikan maanfish pada suhu rendah (25 C) memberikan hasil yang terendah sebesar 2,41%. Laju penyerapan kuning telur yang rendah dikarenakan penggunaan suhu rendah yang menyebabkan aktivitas metabolisme lambat atau terganggu. Ini sesuai dengan pernyataan Shafrudin (1997) bahwa terjadinya penurunan penyerapan kuning telur disebabkan oleh suatu kegagalan proses metabolisme normal. Kegagalan dalam proses metabolisme ini dicirikan dengan perkembangan larva yang abnormal dan kematian. 4.3 Laju Pertumbuhan Panjang Larva Ikan Nilem Hasil laju pertumbuhan panjang larva ikan nilem pada awal pengamatan jam 0 berjalan lambat kemudian meningkat pada pengamatan 3 jam kemudian turun, meningkat dan kembali turun sampai kuning telur habis terserap (Gambar 13). Kurva laju pertumbuhan panjang yang naik turun disebabkan adanya perbedaan penyerapan energi dari kuning telur untuk pertumbuhan A (25 C) B (27 C) C (29 C) D (31 C) Waktu Pengamatan (jam) Gambar 13. Kurva Pertumbuhan Panjang Larva Ikan Nilem Perwaktu Pengamatan

10 32 Menurut Effendie (1995) hubungan pertambahan ukuran dengan waktu bila digambarkan dalam suatu sistem koordinat menghasilkan suatu diagram yang disebut kurva pertumbuhan. Pertumbuhan ikan yang diplotkan selama masa hidupnya akan mendapatkan kurva sigmoid. Bentuk kurva demikian disebabkan pertumbuhan autokatalitik dari ikan secara alamiah dimana pertumbuhan pada fase awal dari hidupnya mula-mula lambat kemudian cepat dan lambat lagi pada umur tua. Hasil analisis sidik ragam laju pertumbuhan panjang larva ikan nilem menunjukkan bahwa perlakuan suhu memberikan perbedaan nyata (Lampiran 9). Berdasarkan hasil uji Duncan laju pertumbuhan larva pada perlakuan A (25 C) berbeda nyata dengan perlakuan B (27 C) dan D (29 C). Perlakuan B (27 C) berbeda nyata dengan perlakuan C (29 C). Perlakuan D (31 C) tidak berbeda nyata dengan perlakuan A (25 C). Karena suhu media pemeliharaan 29 C (perlakuan C) tidak diikuti dengan huruf yang sama, maka suhu media pemeliharaan 29 C merupakan suhu media pemeliharaan terbaik bagi laju pertumbuhan larva ikan nilem. Laju pertumbuhan ikan nilem pada Gambar 14 menunjukkan dengan meningkatnya suhu media pemeliharaan dari 25 C (perlakuan A) sampai suhu media pemeliharaan 29 C (perlakuan B), nilai laju pertumbuhan larva ikan nilem terus meningkat dan kemudian menurun pada suhu 31 C (perlakuan D). Peningkatan nilai laju pertumbuhan dikarenakan aktivitas penyerapan kuning telur yang digunakan untuk proses pertumbuhan dipengaruhi oleh suhu, sehingga semakin meningkat suhu yang digunakan maka laju pertumbuhan juga semakin meningkat. Ini sesuai dengan pernyataan Handajani dan Wahyu (2010) yang menyatakan bahwa suhu sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan kehidupan ikan. Secara umum laju pertumbuham meningkat sejalan dengan kenaikan suhu sampai batas tertentu yang dapat menekan kehidupan ikan dan bahkan menyebabkan kematian.

11 Laju Pertumbuhan Panjang (%) c b a a Suhu Media Pemeliharaan ( C) Gambar 14. Laju Pertumbuhan Panjang Larva Ikan Nilem Perbedaan nilai laju pertumbuhan panjang larva ikan nilem disebabkan aktivitas metabolisme yang dipengaruhi oleh suhu. Ini sesuai dengan pernyataan Wiegand et al. (1988) dalam Efendi (2006) bahwa suhu mempengaruhi laju metabolisme hewan yang bersifat poikilotermal karena kecepatan biokimia dalam jaringan tubuh ikan berubah sesuai dengan lingkungan. Pertumbuhan bagi organisme dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu genetik, hormon serta lingkungan. Meskipun secara umum faktor lingkungan memegang peranan sangat penting seperti zat hara dan suhu (Fujaya, 2008). Laju pertumbuhan larva ikan nilem terendah terdapat pada perlakuan A (25 C) sebesar 0,6169%, ini dikarenakan proses penyerapan kuning telur berjalan lambat pada suhu rendah. Penyerapan kuning telur yang lambat sebagai sumber energi mengakibatkan proses metabolisme serta pertumbuhan larva ikan nilem berjalan lambat. Perlakuan C (29 C) memiliki nilai laju pertumbuhan yang tinggi dari suhu media pemeliharaan lainnya. Ini dikarenakan pada perlakuan C (29 C) laju penyerapan kuning telur lebih tinggi yaitu 5,919%. Apabila laju penyerapan kuning telur tinggi maka menghasilkan energi yang tinggi pula. Energi tersebut dapat digunakan untuk proses metabolisme, pemeliharaan dan pertumbuhan. Pada suhu 31 C (Perlakuan D) terjadi penurunan laju pertumbuhan panjang. Penurunan terjadi karena pada suhu tersebut penyerapan kuning telur berjalan cepat sehingga energi yang digunakan untuk proses metabolisme berjalan cepat,

12 Efisiensi Pemanfaatan Kuning Telur (%) 34 tapi proses metabolisme yang terlalu cepat menyebabkan tidak sempurna penyerapan nutrisi bagi larva. Akibat dari suhu terlalu tinggi tersebut menghasilkan penurunan pertumbuhan larva ikan nilem. Walaupun menurut hokum Van t Hoff dalam Kelabora (2010) yang menyatakan bahwa untuk setiap perubahan kimiawi, kecepatan reaksinya naik 2-3 kali lipat setiap kenaikan suhu sebesar 10 C. Namun untuk pertumbuhan larva kenaikan suhu tersebut malah menurunkan pertumbuhan, dikarenakan larva ikan mempunyai batas toleransi suhu. 4.4 Efisiensi Pemanfaatan Kuning Telur Efisiensi dari kuning telur merupakan kunig telur yang ditransformasikan untuk jaringan tubuh dan terdapat pengaruh lingkungan yang mempengaruhinya (Shukla 2009). Hasil pengamatan efisiensi pemanfaatan kuning telur larva ikan nilem terdapat perbedaan pada waktu pengamatan (Gambar 15) A (25 C) B (27 C) C (29 C) D (31 C) Waktu Pengamatan (jam) Gambar 15. Kurva Efisiensi Pemanfaatan Kuning Telur Larva Ikan Nilem Perwaktu Pengamatan Gambar 15 menunjukkan nilai efisiensi pemanfaatan kuning telur mengalami penurunan sampai kuning telur habis terserap. Penurunan nilai efisiensi pemanfaatan kuning telur terhadap perubahan waktu karena nilai laju pertumbuhan lebih rendah dari pada laju penyerapan kuning telur serta volume kuning telur yang digunakan sebagai energi dalam proses pertumbuhan, perkembangan dan metabolisme semakin berkurang seiring pertambahan umur

13 Efisiensi Pemanfaatan Kuning Telur (%) 35 larva ikan tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Shukla (2009) bahwa nilai efisiensi tinggi dihasilkan dari aktvitas yang rendah, proporsi yang tinggi dari kuning telur yang digunakan untuk pertumbuhan. Efisiensi kumulatif harus jelas menurun sebagai hasil peningkatan pertumbuhan dan persyaratan pemeliharaan. Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 10) untuk efisiensi pemanfaatan kuning telur pada larva ikan nilem bahwa suhu berbeda nyata dengan nilai efisiensi pemanfaatan kuning telur. Berdasarkan hasil uji Duncan suhu media pemeliharaan 25 C (perlakuan A) tidak berbeda nyata dengan suhu 27 C (perlakuan B) dan 31 C (Perlakuan D). Suhu media pemeliharaan 29 C (perlakuan C) tidak berbeda nyata dengan suhu 31 C (perlakuan D). Walaupun efisiensi pemanfaatan tidak berbeda nyata dengan suhu media pemeliharaan, tapi dari hasil yang ditunjukkan suhu 29 C (perlakuan C) merupakan suhu terbaik dalam efisiensi pemanfaatan kuning telur larva ikan nilem karena memiliki nilai yang tertinggi sebesar 13,5% a a b ab Suhu Media Pemeliharaan ( C) Gambar 16. Efisiensi Pemanfaatan Kuning Telur Larva Ikan Nilem Efisiensi pemanfaatan kuning telur pada Gambar 16 meningkat dengan penambahan suhu media pemeliharaan dan menurun pada suhu yang paling tinggi. Peningkatan efisiensi pemanfaatan larva ikan nilem dipengaruhi oleh laju penyerapan kuning telur dan laju pertumbuhan yang meningkat. Efisiensi pemanfaatan kuning telur terendah terdapat pada suhu media pemeliharaan 25 C (perlakuan A) sebesar 10,981%. Nilai efisiensi yang rendah

14 36 ini dapat diartikan bahwa penggunaan kuning telur untuk pertumbuhan larva rendah. Ini sesuai dengan nilai laju penyerapan kuning telur dan laju pertumbuhan yang dihasilkan bahwa pada suhu media pemeliharaan 25 C (perlakuan A) rendah juga (Lampiran 7). Suhu media pemeliharaan 29 C (perlakuan C) merupakan suhu dengan nilai efisiensi pemanfaatan kuning telur larva ikan nilem paling tinggi dari suhu media pemeliharaan lainnya sebesar 13,627%. Nilai efisiensi yang tinggi dapat diartikan bahwa penggunaan kuning telur sebagai energi dalam proses pertumbuhan tinggi. Ini sesuai dengan nilai laju penyerapan kuning telur dan laju pertumbuhan yang dihasilkan pada suhu media pemeliharaan 29 C (perlakuan C) yang tinggi daripada suhu media pemeliharaan lainnya (Lampira 7). Suhu 31 C (perlakuan D) merupakan perlakuan dengan suhu yang paling tinggi dalam penelitian ini, tapi pada Gambar 12 efisiensi pemanfaatan kuning telur lebih kecil dibandingkan dengan suhu media pemeliharaan 29 C (perlakuan C). Penurunan tersebut disebabkan karena larva ikan nilem telah melewati batas maksimum untuk suhu yang digunakan sehingga menghasilkan nilai efisiensi pemanfaatan kuning telur yang rendah. Hal tersebut juga sejalan dengan nilai laju penyerapan kuning telur dan laju pertumbuhan larva yang menurun pada suhu media pemeliharaan 31 C (perlakuan D) (Lampiran 7). Hasil analisis regresi (Lampiran 11) diketahui bahwa terdapat pengaruh antara suhu dengan efisiensi pemanfaatan kuning telur larva ikan nilem menunjukkan model regresi linear (Gambar 17) dengan persamaan Y= 2, ,3628X (R 2 = ). Secara matematis suhu optimum untuk efisiensi pemanfaatan kuning telur larva ikan nilem terjadi pada suhu 30,241 C dengan efisiensi pemanfaatan kuning telur optimum sebesar 12,9837%.

15 Efisiensi Pemanfaatan Kuning Telur (%) Gambar 17. Efisiensi Regresi Linear Suhu Terhadap Efisiensi Pemanfaatan Kuning Telur Larva Ikan Nilem 4.5 Kelangsungan Hidup Larva Ikan Nilem Kelangsungan Hidup Larva Ikan Nilem Pada Fase Endogenous Feeding Hasil pengamatan kelangsungan hidup larva ikan nilem fase endogenous feeding pada suhu 25 C (perlakuan A) memberikan hasil yang paling rendah (Gambar 18). Pada suhu 25 C (perlakuan A) pengamatan ke 42 jam larva ikan nilem mengalami kematian masal sebelum kuning telur habis terserap (Lampiran 3). Kematian larva pada suhu 25 C (perlakuan A) karena laju penyerapan kuning telur yang lambat sehingga nutrisi yang dibutuhkan untuk larva tidak tercukupi dengan baik terlihat dari nilai efisiensi pemafaatan kuning telur bahwa pada suhu 25 C (perlakuan A) juga paling rendah serta ketidakmampuan larva beradaptasi dengan baik pada suhu air yang berfluktuatif. Ini sesuai dengan pernyataan Effendie (1995) bahwa kelangsungan hidup larva ikan sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, karena larva sangat sensitif pada perubahan lingkungan yang cepat terjadi dan juga pada fase larva belum memiliki organ tubuh yang lengkap seperti ikan dewasa. Air dengan suhu berfluktuatif dapat mengakibatkan ikan stress dan kematian. Sehingga dapat diasumsikan suhu 25 C (perlakuan A) merupakan suhu letal bagi larva ikan nilem. y = x R² = Suhu Media Pemeliharaan ( C)

16 Kelangsungan Hidup (%) a 98a 98a Suhu Media Pemeliharaan ( C) Gambar 18. Kelangsungan Hidup Larva Ikan Nilem Fase Endogenous Feeding Suhu media pemeliharaan 27 C (perlakuan B), 29 C (perlakuan C), 31 C (perlakuan D) persentase kelangsungan hidupnya hampir sama karena menurut Woynarovich dan Hovarth (1980) suhu 27 C-29 C merupakan suhu terbaik dalam penetasan telur ikan. Sedangkan menurut penelitian Kelabora dan Dominggas (2012) kelangsungan hidup larva ikan mas yang berumur 7 hari tidak berbeda nyata pada suhu perlakuan C. Hasil analisis sidik ragam kelangsungan ikan nilem fase endogenous feeding (Lampiran 13) menunjukkan tidak ada perbedaan kelangsungan hidup antara suhu media pemeliharaan 27 C (perlakuan B), 29 C (perlakuan C), 31 C (perlakuan D). Tidak ada perbedaan kelangsungan hidup dikarenakan perlakuan tersebut masih bisa ditoleransi dengan larva ikan nilem. Ini sesuai dengan pernyataan Hoar (1962) dalam Kelabora dan Dominggas (2010) bahwa secara ilmiah setiap organisme mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap perubahanperubahan yang terjadi di lingkungannnya dalam batas-batas tertentu atau disebut juga tingkat toleransi.

17 Kelangsungan Hidup Larva Ikan Nilem Pada Fase Exogenous Feeding Fase exogenous feeding (Gambar 19) merupakan fase dimana nutrisi yang diperoleh dari larva ikan tidak lagi berasal dari kuning telur tetapi telah memanfaatkan pakan dari luar atau lingkungannya (Effendie, 1995). Gambar 19. Larva Ikan Nilem Fase Exogenous Feeding Kelangsungan hidup larva ikan nilem fase exogenous feeding berbeda dengan fase endogenous feeding (Lampiran 8). Jika pada fase endogenous feeding suhu media pemeliharaan 27 C (perlakuan B), 29 C (perlakuan C), 31 C (perlakuan D) masih dapat ditoleransi untuk kelangsungan hidup, tapi untuk kelangsungan hidup larva ikan nilem fase exogenous feeding tidak demikian. Di lihat dari Gambar 15 kelangsungan hidup ikan nilem meningkat sejalan dengan meningkatnya suhu media pemeliharaan, tapi menurun pada suhu media pemeliharaan yang tinggi yaitu 31 C (Perlakuan D). Suhu media pemeliharaan 31 C (perlakuan D) memiliki tingkat kelangsungan hidup paling rendah sebesar 47,321% (Gambar 20). Karena pada fase exogenous feeding suhu 31 C (perlakuan D) proses penyerapan kuning telur sebagai sumber energi untuk aktivitas metabolisme terganggu. Aktivitas metabolisme yang terganggu mengakibatkann pembentukan organ-organ larva menjadi lambat sehingga kelangsungan hidup larva menjadi rendah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Effendi (1997) bahwa penyempurnaan organ pada fase larva merupakan upaya untuk meningkatkan kelangsungan hidup larva.

18 Kelangsungan Hidup (%) c 78bc a Suhu Media Pemeliharaan ( C) Gambar 20. Kelangsungan Hidup Larva Ikan Nilem Fase Exogenous Feeding Hasil analisis sidik ragam terdapat perbedaan yang nyata tiap perlakuan suhu media pemeliharaan yang digunakan terhadap kelangsungan hidup larva ikan nilem fase exogenous feeding (Lampiran 14). Berdasarkan hasil uji Duncan kelangsungan hidup pada suhu media pemeliharaan 31 C (perlakuan B) berbeda nyata dengan suhu media pemeliharaan 29 C (perlakuan C) dan 27 C (perlakuan B). Suhu media pemeliharaan 29 C (perlakuan C) tidak berbeda nyata dengan suhu 27 C (perlakuan B). Walaupun tidak berbeda nyata antara suhu 27 C (perlakuan B) dan 29 C (perlakuan C), tapi nilai kelangsungan hidup 29 C (perlakuan C) lebih tinggi dari pada suhu 27 C (perlakuan B) yaitu sebesar 83,036%. Dapat disimpulkan bahwa suhu media pemeliharaan 29 C (perlakuan C) merupakan suhu terbaik untuk kelangsungan hidup larva ikan nilem fase exogenous feeding. Hasil analisis sidik ragam pada kelangsungan hidup fase exogenous feeding tidak mencantumkan suhu media pemeliharaan 25 C (perlakuan A) dikarenakan tidak ada yang hidup sampai post larva. Kelangsungan hidup tertinggi terdapat pada suhu media pemeliharaan 29 C (perlakuan C). Ini dikarenakan nilai efisiensi pemanfaatan kuning telur yang tinggi pada suhu tersebut, sehingga mengakibatkan konversi penyerapan kuning telur untuk pembentukan organ lebih baik dari pada suhu lainnya. Pernyataan tersebut sesuai dengan pendapat Shukla (2009) bahwa efisiensi pemanfaatan yang

19 41 tinggi akan menghasilkan larva yang lebih besar, kuat dan rentan terhadap kerusakan yang dapat mengakibatkan kematian. Kelangsungan hidup yang rendah pada suhu media pemeliharaan 31 C (perlakuan D) disebabkan oleh penyerapan kuning telur yang terlalu cepat (Lampiran 6) dari pada perlakuan lainnya yang menyebabkan nutrisi dari kuning telur belum digunakan secara sempurna untuk perkembangan larva ikan nilem. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sembiring (2011) mengatakan bahwa proses penyerapan kuning telur yang kurang optimal menyebabkan keterlambatan perkembangan bukaan mulut larva sehingga pada saat kuning telur habis dan larva memerlukan pakan dari luar, larva tersebut tidak memanfaatkan pakan tersebut dengan baik. Effendie (1995) mengatakan pada fase masa kritis larva terletak pada saat sebelum dan sesudah penghisapan kuning telur dan masa transisi mulai mengambil makanan dari luar.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Prolarva 4.1.1 Laju Penyerapan Kuning Telur Penyerapan kuning telur pada larva lele dumbo diamati selama 72 jam, dengan rentang waktu pengamatan 12 jam. Pengamatan pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ikan nilem (Osteochilus hasselti) merupakan ikan yang banyak dipelihara di daerah Jawa Barat dan di Sumatera (khususnya Sumatera Barat). Ikan nilem ini mempunyai cita

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Ikan Nilem (Osteochilus hasselti) Nilem (Osteochilus hasselti) merupakan ikan endemik Indonesia yang hidup di sungai-sungai, danau dan rawa-rawa, tersebar di pulau Jawa, Sumatera

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Ginogenesis Ginogenesis pada penelitian dilakukan sebanyak delapan kali (Lampiran 3). Pengaplikasian proses ginogenesis ikan nilem pada penelitian belum berhasil dilakukan

Lebih terperinci

Jatinangor, Juli Eka Hariani Suhardi. vii

Jatinangor, Juli Eka Hariani Suhardi. vii KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke Hadirat Allah SWT yang telah memberikan rakhmat dan karunia-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul Pengaruh Suhu Media

Lebih terperinci

EMBRIOLOGI MAS BAYU SYAMSUNARNO MK. FISIOLOGI HEWAN AIR

EMBRIOLOGI MAS BAYU SYAMSUNARNO MK. FISIOLOGI HEWAN AIR EMBRIOLOGI MAS BAYU SYAMSUNARNO MK. FISIOLOGI HEWAN AIR AWAL KEHIDUPAN SEL TELUR SPERMATOZOA ZIGOT EMBRIO Fertilisasi/Pembuahan Diawali dengan masuknya sperma ke dalam sel telur melalui mikropil pada khorion

Lebih terperinci

Lampiran 1. Fase Perkembangan Embrio Telur Ikan Nilem

Lampiran 1. Fase Perkembangan Embrio Telur Ikan Nilem LAMPIRAN 46 Lampiran 1. Fase Perkembangan Embrio Telur Ikan Nilem Waktu Gambar Keterangan 6 April 2013 Cleavage 19.00 6 April 2013 21.00 Morula 6 April 2013 22.00 Blastula 6 April 2013 23.00 Grastula 47

Lebih terperinci

Tingkat Kelangsungan Hidup

Tingkat Kelangsungan Hidup BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tingkat Kelangsungan Hidup Tingkat kelangsungan hidup merupakan suatu nilai perbandingan antara jumlah organisme yang hidup di akhir pemeliharaan dengan jumlah organisme

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kelangsungan Hidup Hasil pengamatan kelangsungan hidup larva ikan Nilem selama 15 hari dengan pemberian Artemia yang diperkaya dengan susu bubuk afkir 0,3 g/l, 0,5 g/l,

Lebih terperinci

Gambar tahap perkembangan embrio ikan lele

Gambar tahap perkembangan embrio ikan lele Perkembangan embrio diawali saat proses impregnasi, dimana sel telur (ovum) dimasuki sel jantan (spermatozoa). Proses pembuahan pada ikan bersifat monospermik, yakni hanya satu spermatozoa yang akan melewati

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kelangsungan Hidup Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelangsungan hidup dari setiap perlakuan memberikan hasil yang berbeda-beda. Tingkat kelangsungan hidup yang paling

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Rasio Kelamin Ikan Nilem Penentuan jenis kelamin ikan dapat diperoleh berdasarkan karakter seksual primer dan sekunder. Pemeriksaan gonad ikan dilakukan dengan mengamati

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Kelangsungan Hidup (%) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kelangsungan Hidup (SR) Kelangsungan hidup merupakan suatu perbandingan antara jumlah organisme yang hidup diakhir penelitian dengan jumlah organisme

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Daya Rekat Telur Ikan Komet Daya rekat merupakan suatu lapisan pada permukaan telur yang merupakan bagian dari zona radiata luar yang mengandung polisakarida dan sebagian

Lebih terperinci

EFISIENSI PEMANFAATAN KUNING TELUR EMBRIO DAN LARVA IKAN MAANVIS (Pterophyllum scalare) PADA SUHU INKUBASI YANG BERBEDA

EFISIENSI PEMANFAATAN KUNING TELUR EMBRIO DAN LARVA IKAN MAANVIS (Pterophyllum scalare) PADA SUHU INKUBASI YANG BERBEDA Jurnal Akuakultur Indonesia, 4 (1): 57 61 (2005) Available : http://journal.ipb.ac.id/index.php/jai http://jurnalakuakulturindonesia.ipb.ac.id 57 EFISIENSI PEMANFAATAN KUNING TELUR EMBRIO DAN LARVA IKAN

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kualitas Air Kualitas hidup ikan akan sangat bergantung dari keadaan lingkunganya. Kualitas air yang baik dapat menunjang pertumbuhan, perkembangan, dan kelangsungan hidup

Lebih terperinci

Embriogenesis. Titta Novianti

Embriogenesis. Titta Novianti Embriogenesis Titta Novianti EMBRIOGENESIS Proses embriogenesis adalah rangkaian proses yang terjadi sesaat setelah terjadi pembuahan sel telur oleh sperma Proses embriogenesis meliputi; fase cleavage

Lebih terperinci

4/18/2015 MORFOGENESIS BY : I GEDE SUDIRGAYASA GAMBARAN UMUM MEKANISME MORFOGENE SIS TOPIK GASTRULASI ORGANOGEN ESIS

4/18/2015 MORFOGENESIS BY : I GEDE SUDIRGAYASA GAMBARAN UMUM MEKANISME MORFOGENE SIS TOPIK GASTRULASI ORGANOGEN ESIS MORFOGENESIS BY : I GEDE SUDIRGAYASA GAMBARAN UMUM MEKANISME MORFOGENE SIS TOPIK GASTRULASI ORGANOGEN ESIS 1 2 MORFOGENESIS PADA HEWAN MELIBATKAN PERUBAHAN TERTENTU DALAM BENTUK SEL, POSISI, DAN KELANGSUNGAN

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Biologi Lele Dumbo Salah satu komoditas perikanan yang cukup populer di masyarakat adalah lele dumbo (Clarias gariepinus). Ikan ini berasal dari Benua Afrika dan pertama kali

Lebih terperinci

Tingkat Penggunaan Limbah Laju Pertumbuhan %

Tingkat Penggunaan Limbah Laju Pertumbuhan % BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Laju Pertumbuhan Harian Berdasarkan hasil pengamatan terhadap benih Lele Sangkuriang selama 42 hari masa pemeliharaan diketahui bahwa tingkat penggunaan limbah ikan tongkol

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EMBRIOGENESIS IKAN MANDARIN (Synchiropus splendidus)

PERKEMBANGAN EMBRIOGENESIS IKAN MANDARIN (Synchiropus splendidus) PERKEMBANGAN EMBRIOGENESIS IKAN MANDARIN (Synchiropus splendidus) Oleh Imanuel G. Pattipeilohy, Abdul Gani, Herlina Tahang ABSTRAK Ikan Mandarin (Synchiropus splendidus) merupakan salah satu ikan hias

Lebih terperinci

MODUL PERKEMBANGAN HEWAN : FERTILISASI. Oleh Siti Pramitha Retno Wardhani, S.Si

MODUL PERKEMBANGAN HEWAN : FERTILISASI. Oleh Siti Pramitha Retno Wardhani, S.Si MODUL PERKEMBANGAN HEWAN : FERTILISASI Oleh Siti Pramitha Retno Wardhani, S.Si Tahapan-tahapan utama perkembangan hewan: 1. Fertitisasi 2. Cleavage 3. Gastrulasi 4. Organogenesis Fertilisasi Fertilisasi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL. Pertumbuhan. Perlakuan A (0%) B (5%) C (10%) D (15%) E (20%) gurame. Pertambahan

BAB IV HASIL. Pertumbuhan. Perlakuan A (0%) B (5%) C (10%) D (15%) E (20%) gurame. Pertambahan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pertumbuhan Bobot Mutlak dan Laju Pertumbuhan Bobot Harian Pertumbuhan adalah perubahan bentuk akibat pertambahan panjang, berat, dan volume dalam periode tertentu (Effendi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Kelangsungan Hidup Ikan Nila Nirwana Selama Masa Pemeliharaan Perlakuan Kelangsungan Hidup (%)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Kelangsungan Hidup Ikan Nila Nirwana Selama Masa Pemeliharaan Perlakuan Kelangsungan Hidup (%) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kelangsungan Hidup Berdasarkan hasil pengamatan dari penelitian yang dilakukan selama 30 hari, diperoleh bahwa pengaruh salinitas terhadap kelangsungan hidup benih nila

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Fisiologi Hewan Air Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, pada bulan Maret 2013 sampai dengan April 2013.

Lebih terperinci

Gambar 5. Grafik Pertambahan Bobot Rata-rata Benih Lele Dumbo pada Setiap Periode Pengamatan

Gambar 5. Grafik Pertambahan Bobot Rata-rata Benih Lele Dumbo pada Setiap Periode Pengamatan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Laju Pertumbuhan Harian Laju Pertumbuhan adalah perubahan bentuk akibat pertambahan panjang, berat, dan volume dalam periode tertentu (Effendi, 1997). Berdasarkan hasil

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN PADA HEWAN

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN PADA HEWAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN PADA HEWAN Standar Kompetensi: Memahami konsep tumbuh kembang tumbuhan, hewan, dan manusia Kompetensi Dasar: Memahami konsep tumbuh kembang hewan Click to edit Master subtitle

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. perkembangan ayam. Hasil penelitian panjang tubuh anak ayam yang diinkubasi. Tabel 2. Panjang Tubuh Anak Ayam Lokal

HASIL DAN PEMBAHASAN. perkembangan ayam. Hasil penelitian panjang tubuh anak ayam yang diinkubasi. Tabel 2. Panjang Tubuh Anak Ayam Lokal 24 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Panjang Tubuh Anak Ayam Lokal Panjang tubuh anak ayam lokal dapat menjadi acuan untuk memprediksi perkembangan ayam. Hasil penelitian panjang tubuh anak ayam yang diinkubasi

Lebih terperinci

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Fisika Kimia Air Parameter fisika kimia air yang diamati pada penelitian ini adalah ph, CO 2, NH 3, DO (dissolved oxygen), kesadahan, alkalinitas, dan suhu. Pengukuran

Lebih terperinci

Gambar 2. Grafik Pertumbuhan benih ikan Tagih

Gambar 2. Grafik Pertumbuhan benih ikan Tagih BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Laju Pertumbuhan Laju pertumbuhan merupakan penambahan jumlah bobot ataupun panjang ikan dalam periode waktu tertentu. Pertumbuhan terkait dengan faktor luar dan dalam

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 15 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ini dilakukan pada 8 induk ikan Sumatra yang mendapat perlakuan. Hasil penelitian ini menunjukan Spawnprime A dapat mempengaruhi proses pematangan akhir

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Performa adalah pengukuran yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan selama penelitian. Performa ayam petelur selama penelitian disajikan dalam Tabel 6. Tabel 6. Rataan Performa

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum di dalam Kandang Rataan temperatur dan kelembaban di dalam kandang selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Rataan Suhu dan Kelembaban Relatif Kandang Selama

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tingkat Kelangsungan Hidup Kelangsungan hidup dapat digunakan sebagai tolok ukur untuk mengetahui toleransi dan kemampuan ikan untuk hidup dan dinyatakan sebagai perbandingan

Lebih terperinci

genus Barbodes, sedangkan ikan lalawak sungai dan kolam termasuk ke dalam species Barbodes ballaroides. Susunan kromosom ikan lalawak jengkol berbeda

genus Barbodes, sedangkan ikan lalawak sungai dan kolam termasuk ke dalam species Barbodes ballaroides. Susunan kromosom ikan lalawak jengkol berbeda 116 PEMBAHASAN UMUM Domestikasi adalah merupakan suatu upaya menjinakan hewan (ikan) yang biasa hidup liar menjadi jinak sehingga dapat bermanfaat bagi manusia. Domestikasi ikan perairan umum merupakan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EMBRIO DAN AWAL LARVA IKAN CUPANG EMBRYONIC AND EARLY LARVAE DEVELOPMENT OF WILD

PERKEMBANGAN EMBRIO DAN AWAL LARVA IKAN CUPANG EMBRYONIC AND EARLY LARVAE DEVELOPMENT OF WILD PERKEMBANGAN EMBRIO DAN AWAL LARVA IKAN CUPANG ALAM (Betta imbellis LADIGES 1975) EMBRYONIC AND EARLY LARVAE DEVELOPMENT OF WILD BETTA (Betta imbellis LADIGES 1975) Sawung Cindelaras, Anjang Bangun Prasetio,

Lebih terperinci

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Total Amonia Nitrogen (TAN) Konsentrasi total amonia nitrogen (TAN) diukur setiap 48 jam dari jam ke-0 hingga jam ke-120. Peningkatan konsentrasi TAN terjadi pada

Lebih terperinci

1. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan

1. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan 1. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan Pengertian pertumbuhan adalah Proses pertambahan volume dan jumlah sel sehingga ukuran tubuh makhluk hidup tersebut bertambah besar. Pertumbuhan bersifat irreversible

Lebih terperinci

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Hasil dari penelitian yang dilakukan berupa parameter yang diamati seperti kelangsungan hidup, laju pertumbuhan bobot harian, pertumbuhan panjang mutlak, koefisien keragaman

Lebih terperinci

Gambar 4. Grafik Peningkatan Bobot Rata-rata Benih Ikan Lele Sangkuriang

Gambar 4. Grafik Peningkatan Bobot Rata-rata Benih Ikan Lele Sangkuriang Bobot ikan (g) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Laju Pertumbuhan Pertumbuhan merupakan penambahan jumlah bobot ataupun panjang ikan dalam satu periode waktu tertentu. Pertumbuhan dapat diartikan sebagai

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Persentase Ikan Jantan Salah satu faktor yang dapat digunakan dalam mengukur keberhasilan proses maskulinisasi ikan nila yaitu persentase ikan jantan. Persentase jantan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Laju Pertumbuhan Mutlak Nila Gift Laju pertumbuhan rata-rata panjang dan berat mutlak ikan Nila Gift yang dipelihara selama 40 hari, dengan menggunakan tiga perlakuan yakni

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 19 HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah Telur Nyamuk Aedes aegypti yang telah diberikan pakan darah akan menghasilkan sejumlah telur. Telur-telur tersebut dihitung dan disimpan menurut siklus gonotrofik. Jumlah

Lebih terperinci

SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 1. PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGANLatihan Soal 1.3. igotik. Embrionik. Pasca lahir

SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 1. PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGANLatihan Soal 1.3. igotik. Embrionik. Pasca lahir 1. Metamorfosis merupakan tahap pada fase... SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 1. PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGANLatihan Soal 1.3 igotik Embrionik Pasca embrionik Pasca lahir Fase Pasca Embrionik Yaitu pertumbuhan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Bernhard Grzimek (1973) dalam Yovita H.I dan Mahmud Amin

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Bernhard Grzimek (1973) dalam Yovita H.I dan Mahmud Amin TINJAUAN PUSTAKA Ikan Black Ghost (Apteronotus albifrons) Menurut Bernhard Grzimek (1973) dalam Yovita H.I dan Mahmud Amin dalam Rahman (2012), sistematika ikan black ghost adalah sebagai berikut : Kingdom

Lebih terperinci

Pengaruh Fluktuasi Suhu Air Terhadap Daya Tetas Telur dan Kelulushidupan Larva Gurami (Osphronemus goramy)

Pengaruh Fluktuasi Suhu Air Terhadap Daya Tetas Telur dan Kelulushidupan Larva Gurami (Osphronemus goramy) Aquacultura Indonesiana (2008) 9 (1) : 55 60 ISSN 0216 0749 (Terakreditasi SK Nomor : 55/DIKTI/Kep/2005) Pengaruh Fluktuasi Suhu Air Terhadap Daya Tetas Telur dan Kelulushidupan Larva Gurami (Osphronemus

Lebih terperinci

EMBRIOGENESIS IKAN SYNODONTIS Synodontis eupterus (Boulenger, 1901) Disusun oleh :

EMBRIOGENESIS IKAN SYNODONTIS Synodontis eupterus (Boulenger, 1901) Disusun oleh : EMBRIOGENESIS IKAN SYNODONTIS Synodontis eupterus (Boulenger, 1901) Disusun oleh : FIRMAN HIKMAWAN C14103067 SKRIPSI Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana pada Departemen Budidaya Perairan

Lebih terperinci

II. METODOLOGI. a) b) Gambar 1 a) Ikan nilem hijau ; b) ikan nilem were.

II. METODOLOGI. a) b) Gambar 1 a) Ikan nilem hijau ; b) ikan nilem were. II. METODOLOGI 2.1 Materi Uji Sumber genetik yang digunakan adalah ikan nilem hijau dan ikan nilem were. Induk ikan nilem hijau diperoleh dari wilayah Bogor (Jawa Barat) berjumlah 11 ekor dengan bobot

Lebih terperinci

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Derajat Penetasan Telur Hasil perhitungan derajat penetasan telur berkisar antara 68,67-98,57% (Gambar 1 dan Lampiran 2). Gambar 1 Derajat penetasan telur ikan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Derajat Kelangsungan Hidup (SR) Perlakuan Perendaman (%)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Derajat Kelangsungan Hidup (SR) Perlakuan Perendaman (%) IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Hasil yang diperoleh pada penelitian ini meliputi persentase jenis kelamin jantan rata-rata, derajat kelangsungan hidup (SR) rata-rata setelah perlakuan perendaman dan

Lebih terperinci

PEMBAHASAN Siklus Hidup C. trifenestrata Studi Perkembangan Embrio C. trifenestrata

PEMBAHASAN Siklus Hidup C. trifenestrata Studi Perkembangan Embrio C. trifenestrata PEMBAHASAN Siklus Hidup C. trifenestrata Tahapan hidup C. trifenestrata terdiri dari telur, larva, pupa, dan imago. Telur yang fertil akan menetas setelah hari kedelapan, sedang larva terdiri dari lima

Lebih terperinci

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Jumlah Konsumsi Pakan Perbedaan pemberian dosis vitamin C mempengaruhi jumlah konsumsi pakan (P

Lebih terperinci

V HASIL DAN PEMBAHASAN. pengamatan tersebut diberikan nilai skor berdasarkan kelompok hari moulting. Nilai

V HASIL DAN PEMBAHASAN. pengamatan tersebut diberikan nilai skor berdasarkan kelompok hari moulting. Nilai V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil 5.1.1 Kecepatan moulting kepiting bakau Pengamatan moulting kepiting bakau ini dilakukan setiap 2 jam dan dinyatakan dalam satuan moulting/hari. Pengamatan dilakukan selama

Lebih terperinci

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Indeks Gonad Somatik (IGS) Hasil pengamatan nilai IGS secara keseluruhan berkisar antara,89-3,5% (Gambar 1). Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa bioflok

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengaruh Suhu pada Respirasi Brokoli Pada hasil penelitian menunjukkan bahwa brokoli mempunyai respirasi yang tinggi. Namun pada suhu yang rendah, hasil pengamatan menunjukkan

Lebih terperinci

ASPEK MOLEKULER PERKEMBANGAN

ASPEK MOLEKULER PERKEMBANGAN ASPEK MOLEKULER PERKEMBANGAN Pada dasarnya perkembangan organisme multiseluler merupakan manifestasi kegiatan masing-masing sel yang diorganisir dalam sistem hidup. Kegiatan sel dalam perkembangan yang

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN JASAD RENIK

PERTUMBUHAN JASAD RENIK PERTUMBUHAN JASAD RENIK DEFINISI PERTUMBUHAN Pertumbuhan dapat didefinisikan sebagai pertambahan secara teratur semua komponen di dalam sel hidup. Pada organisme multiselular, yang disebut pertumbuhan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Kandungan (%) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Produk Fermentasi Fermentasi merupakan teknik yang dapat mengubah senyawa kompleks seperti protein, serat kasar, karbohidrat, lemak dan bahan organik lainnya

Lebih terperinci

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1 Rekapitulasi hasil analisis sidik ragam pertumbuhan bibit saninten

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1 Rekapitulasi hasil analisis sidik ragam pertumbuhan bibit saninten BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa interaksi antara perlakuan pemberian pupuk akar NPK dan pupuk daun memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan

Lebih terperinci

ORGANOGENESIS DAN PERKEMBANGAN AWAL IKAN Corydoras panda. Organogenesis and Development of Corydoras panda in Early Stage

ORGANOGENESIS DAN PERKEMBANGAN AWAL IKAN Corydoras panda. Organogenesis and Development of Corydoras panda in Early Stage Jurnal Akuakultur Indonesia, 4(2): 67 66 (2005) Available : http://journal.ipb.ac.id/index.php/jai http://jurnalakuakulturindonesia.ipb.ac.id 67 ORGANOGENESIS DAN PERKEMBANGAN AWAL IKAN Corydoras panda

Lebih terperinci

THE EMBRYONIC OF PAWAS (Osteochilus hasselti C.V) WITH DIFFERENT TEMPERATURE ABSTRACT

THE EMBRYONIC OF PAWAS (Osteochilus hasselti C.V) WITH DIFFERENT TEMPERATURE ABSTRACT 1 THE EMBRYONIC OF PAWAS (Osteochilus hasselti C.V) WITH DIFFERENT TEMPERATURE By M. Nawir 1), Sukendi 2), Nuraini 2) Aquaculture, Faculty of Fisheries and Marine Science University of Riau Pekanbaru,

Lebih terperinci

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Bagian Edible Ayam Sentul. Tabel 4. Bobot Edible Ayam Sentul pada Masing-Masing Perlakuan

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Bagian Edible Ayam Sentul. Tabel 4. Bobot Edible Ayam Sentul pada Masing-Masing Perlakuan 27 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Bagian Edible Ayam Sentul Data nilai rataan bobot bagian edible ayam sentul yang diberi perlakuan tepung kulit manggis dicantumkan pada Tabel

Lebih terperinci

4.3 Penetasan telur. Pemijahan Dilakukan Di Hapa, Penetasan Telur Dilakukan Pada Corong Tetas

4.3 Penetasan telur. Pemijahan Dilakukan Di Hapa, Penetasan Telur Dilakukan Pada Corong Tetas Apabila konstruksi kolam berbentuk lingkaran dengan diameter kolam I adalah 4 meter dan kolam II adalah 10 meter, serta luas kolam III adalah 44 meter persegi, maka padat penebaran induk adalah antara

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Berdasarkan Tabel 2, terlihat bahwa pertumbuhan induk ikan lele tanpa perlakuan Spirulina sp. lebih rendah dibanding induk ikan yang diberi perlakuan Spirulina sp. 2%

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Sebaran Jumlah Telur S. manilae Per Larva Inang

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Sebaran Jumlah Telur S. manilae Per Larva Inang HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Sebaran Jumlah Telur S. manilae Per Larva Inang Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa rata-rata jumlah inang yang terparasit lebih dari 50%. Pada setiap perlakuan inang

Lebih terperinci

Sub Bab Gastrulasi mengatur kembali blastula untuk membentuk sebuah embrio berlapis tiga dengan perut primitif

Sub Bab Gastrulasi mengatur kembali blastula untuk membentuk sebuah embrio berlapis tiga dengan perut primitif UNIT TUJUH BENTUK DAN FUNGSI HEWAN BAB 47 Perkembangan Hewan Sub Bab mengatur kembali blastula untuk sebuah embrio berlapis tiga perut primitif Teks Asli Penghapusan Penyisipan Teks Dasar Proses morfogenetik

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kelangsungan Hidup Berdasarkan hasil pengamatan selama 40 hari massa pemeliharaan terhadap benih ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) diketahui rata-rata tingkat kelangsungan

Lebih terperinci

PENGARUH FREKUENSI PEMBERIAN PAKAN TERHADAP PRODUKSI PEMBESARAN IKAN MAS (Cyprinus carpio) DI KERAMBA JARING APUNG WADUK CIRATA

PENGARUH FREKUENSI PEMBERIAN PAKAN TERHADAP PRODUKSI PEMBESARAN IKAN MAS (Cyprinus carpio) DI KERAMBA JARING APUNG WADUK CIRATA 825 Pengaruh frekuensi pemberian pakan terhadap... (Moch. Nurdin) PENGARUH FREKUENSI PEMBERIAN PAKAN TERHADAP PRODUKSI PEMBESARAN IKAN MAS (Cyprinus carpio) DI KERAMBA JARING APUNG WADUK CIRATA Mochamad

Lebih terperinci

Lampiran 1. Tata Letak Wadah Perlakuan

Lampiran 1. Tata Letak Wadah Perlakuan LAMPIRAN 39 40 Lampiran 1. Tata Letak Wadah Perlakuan Perlakuan B Perlakuan C B 3 B 1 C 4 C 3 B 4 B 2 C 2 C 1 Perlakuan D Perlakuan E D 1 D 2 E 1 E 4 D 4 D 3 E 3 E 2 Perlakuan A A 2 A 3 A 1 A 4 41 Lampiran

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Puyuh mengkonsumsi ransum guna memenuhi kebutuhan zat-zat untuk

HASIL DAN PEMBAHASAN. Puyuh mengkonsumsi ransum guna memenuhi kebutuhan zat-zat untuk IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Konsumsi Ransum Puyuh mengkonsumsi ransum guna memenuhi kebutuhan zat-zat untuk hidup pokok dan produksi. Konsumsi ransum adalah jumlah ransum yang dihabiskan oleh ternak pada

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Parasitemia Hasil penelitian menunjukan bahwa semua rute inokulasi baik melalui membran korioalantois maupun kantung alantois dapat menginfeksi semua telur tertunas (TET). Namun terdapat

Lebih terperinci

KALIN merangsang pembentukan organ. Rhizokalin Filokalin Kaulokalin Anthokalin

KALIN merangsang pembentukan organ. Rhizokalin Filokalin Kaulokalin Anthokalin KALIN merangsang pembentukan organ Rhizokalin Filokalin Kaulokalin Anthokalin PERTUMBUHAN PADA TUMBUHAN Kompetensi Dasar KD 3.1 Menganalisis hubungan antar faktor internal dan eksternal dengan proses pertumbuhan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN Latar Belakang Salah satu usaha yang mutlak dibutuhkan untuk mengembangkan budi daya ikan adalah penyediaan benih yang bermutu dalam jumlah yang memadai dan waktu yang tepat. Selama ini

Lebih terperinci

Efektivitas Suplemen Herbal Terhadap Pertumbuhan dan Kululushidupan Benih Ikan Lele (Clarias sp.)

Efektivitas Suplemen Herbal Terhadap Pertumbuhan dan Kululushidupan Benih Ikan Lele (Clarias sp.) Efektivitas Suplemen Herbal Terhadap Pertumbuhan dan Kululushidupan Benih Ikan Lele (Clarias sp.) Dian Puspitasari Program studi Budidaya Perairan, Fakultas pertanian, Universitas Asahan Email: [email protected]

Lebih terperinci

Ilmu Pengetahuan Alam

Ilmu Pengetahuan Alam Ilmu Pengetahuan Alam Sistem Peredaran Darah SEKOLAH DASAR TETUM BUNAYA Kelas Yupiter Nama Pengajar: Kak Winni Ilmu Pengetahuan Alam Sistem Peredaran Darah A. Bagian-Bagian Darah Terdiri atas apakah darah

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN adalah proses pertambahan ukuran sel atau organisme. Pertumbuhan ini bersifat kuantitatif/ terukur.

PERTUMBUHAN adalah proses pertambahan ukuran sel atau organisme. Pertumbuhan ini bersifat kuantitatif/ terukur. PERTUMBUHAN adalah proses pertambahan ukuran sel atau organisme. Pertumbuhan ini bersifat kuantitatif/ terukur. PERKEMBANGAN adalah proses menuju kedewasaan pada organisme. Proses ini berlangsung secara

Lebih terperinci

SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 2. PERKEMBANGAN PADA MANUSiAlatihan soal 2.1

SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 2. PERKEMBANGAN PADA MANUSiAlatihan soal 2.1 SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 2. PERKEMBANGAN PADA MANUSiAlatihan soal 2.1 1. Berikut ini yang termasuk fase-fase perkembangan manusia 1. Morula 2. Brastula 3. Grastula Dari pernyataan diatas yang menunjukkan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. freezer selama 5 hari, 10 hari, 15 hari dan 20 hari dapat dilihat pada table ini.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. freezer selama 5 hari, 10 hari, 15 hari dan 20 hari dapat dilihat pada table ini. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Hasil perhitungasn jumlah bakteri pada ikan cakalang yang disimpan pada suhu freezer selama 5 hari, 10 hari, 15 hari dan 20 hari dapat dilihat pada table

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. Hasil sidik ragam 5% terhadap tinggi tanaman menunjukkan bahwa

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. Hasil sidik ragam 5% terhadap tinggi tanaman menunjukkan bahwa 1. Tinggi tanaman IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Tanaman Hasil sidik ragam 5% terhadap tinggi tanaman menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan memberikan pengaruh yang berbeda nyata. Hasil Uji

Lebih terperinci

Hasil dan pembahasan. A. Pertumbuhan tanaman. maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan

Hasil dan pembahasan. A. Pertumbuhan tanaman. maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan IV. Hasil dan pembahasan A. Pertumbuhan tanaman 1. Tinggi Tanaman (cm) Ukuran tanaman yang sering diamati baik sebagai indikator pertumbuhan maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 35 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Suhu, Lama Perendaman dan Interaksi (suhu dan lama perendaman) terhadap Daya Kecambah (Persentase Jumlah Kecambah) Biji Ki Hujan (Samanea saman) Berdasarkan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Derajat Pemijahan Fekunditas Pemijahan

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Derajat Pemijahan Fekunditas Pemijahan HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Derajat Pemijahan Berdasarkan tingkat keberhasilan ikan lele Sangkuriang memijah, maka dalam penelitian ini dibagi dalam tiga kelompok yaitu kelompok perlakuan yang tidak menyebabkan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kandungan Kolesterol Daging, Hati dan Telur Puyuh

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kandungan Kolesterol Daging, Hati dan Telur Puyuh HASIL DAN PEMBAHASAN Kandungan Kolesterol Daging, Hati dan Telur Puyuh Analisis terhadap kandungan kolesterol daging, hati dan telur dilakukan saat puyuh berumur 14 minggu, diperlihatkan pada Tabel 5 dan

Lebih terperinci

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMANFAATAN PAKAN

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMANFAATAN PAKAN 4. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMANFAATAN PAKAN Faktor lingkungan dapat mempengaruhi proses pemanfaatan pakan tidak hanya pada tahap proses pengambilan, pencernaan, pengangkutan dan metabolisme saja, bahkan

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Parameter Air sebagai Tempat Hidup Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Kualitas air merupakan salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup ikan nila.

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Grafik pertumbuhan benih C. macropomum yang dihasilkan selama 40 hari

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Grafik pertumbuhan benih C. macropomum yang dihasilkan selama 40 hari IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 1 Pertumbuhan benih C. macropomum Grafik pertumbuhan benih C. macropomum yang dihasilkan selama 40 hari pemeliharaan disajikan pada Gambar 3. Gambar 3. Pertumbuhan C.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Perilaku Kawin

HASIL DAN PEMBAHASAN Perilaku Kawin HASIL DAN PEMBAHASAN Perilaku Kawin Pengamatan perilaku kawin nyamuk diamati dari tiga kandang, kandang pertama berisi seekor nyamuk betina Aedes aegypti dengan seekor nyamuk jantan Aedes aegypti, kandang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) 2.1.1. Klasifikasi Secara biologis ikan lele dumbo mempunyai kelebihan dibandingkan dengan jenis lele lainnya, yaitu lebih mudah dibudidayakan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Perubahan Kualitas Gizi Kulit Kopi Keterbatasan pemanfaatan bahan baku yang berasal dari limbah agroindustri yaitu keberadaan serat kasar yang tinggi dan zat anti nutrisi,

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Jamur Tiram. digunakan. Jenis dan komposisi media akan menentukan kecepatan pertumbuhan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Jamur Tiram. digunakan. Jenis dan komposisi media akan menentukan kecepatan pertumbuhan IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Jamur Tiram Pertumbuhan jamur tiram ditentukan oleh jenis dan komposisi media yang digunakan. Jenis dan komposisi media akan menentukan kecepatan pertumbuhan miselium,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Kandungan Protein Kasar. Tabel 4. Rataan Kandungan Protein Kasar pada tiap Perlakuan

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Kandungan Protein Kasar. Tabel 4. Rataan Kandungan Protein Kasar pada tiap Perlakuan 29 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Kandungan Protein Kasar Rataan kandungan protein kasar asal daun singkong pada suhu pelarutan yang berbeda disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Rataan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Daphnia sp. digolongkan ke dalam Filum Arthropoda, Kelas Crustacea, Subkelas

II. TINJAUAN PUSTAKA. Daphnia sp. digolongkan ke dalam Filum Arthropoda, Kelas Crustacea, Subkelas 6 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi dan Morfologi Daphnia sp. digolongkan ke dalam Filum Arthropoda, Kelas Crustacea, Subkelas Branchiopoda, Divisi Oligobranchiopoda, Ordo Cladocera, Famili Daphnidae,

Lebih terperinci

II KAJIAN KEPUSTAKAAN. Sapi Bali (Bos sondaicus) merupakan salah satu bangsa sapi lokal asli

II KAJIAN KEPUSTAKAAN. Sapi Bali (Bos sondaicus) merupakan salah satu bangsa sapi lokal asli II KAJIAN KEPUSTAKAAN 2.1 Sapi Bali Sapi Bali (Bos sondaicus) merupakan salah satu bangsa sapi lokal asli yang dikembangkan di Indonesia. Ternak ini berasal dari keturunan asli banteng liar yang telah

Lebih terperinci

drh. Herlina Pratiwi PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2014

drh. Herlina Pratiwi PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2014 drh. Herlina Pratiwi PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2014 SELAPUT EKSTRA EMBRIONIK: Beberapa selaput yang terbentuk pada masa perkembangan embrional yang berasal dari tubuh embrio, namun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berjalannya waktu. Hal ini merupakan pertanda baik khususnya untuk

BAB I PENDAHULUAN. berjalannya waktu. Hal ini merupakan pertanda baik khususnya untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesadaran masyarakat akan konsumsi ikan meningkat seiring dengan berjalannya waktu. Hal ini merupakan pertanda baik khususnya untuk masyarakat Indonesia karena

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebut arus dan merupakan ciri khas ekosistem sungai (Odum, 1996). dua cara yang berbeda dasar pembagiannya, yaitu :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebut arus dan merupakan ciri khas ekosistem sungai (Odum, 1996). dua cara yang berbeda dasar pembagiannya, yaitu : 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perairan Sungai Sungai adalah suatu perairan yang airnya berasal dari mata air, air hujan, air permukaan dan mengalir secara terus menerus pada arah tertentu. Aliran air

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Derajat Kelangsungan Hidup Embrio dan Derajat Penetasan Berdasarkan hasil pengamatan terhadap derajat kelangsungan hidup

HASIL DAN PEMBAHASAN. Derajat Kelangsungan Hidup Embrio dan Derajat Penetasan Berdasarkan hasil pengamatan terhadap derajat kelangsungan hidup HASIL DAN PEMBAHASAN Derajat Kelangsungan Hidup Embrio dan Derajat Penetasan Berdasarkan hasil pengamatan terhadap derajat kelangsungan hidup (DKH-e) dan derajat penetasan (DP) tiap promoter (perlakuan)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki beranekaragam jenis ikan asli yang berhabitat di beberapa sungai di Indonesia. Ikan baung merupakan salah satu jenis ikan asli yang berhabitat di

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Pengaruh perlakuan terhadap Konsumsi Bahan Kering dan Konsumsi Protein Ransum

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Pengaruh perlakuan terhadap Konsumsi Bahan Kering dan Konsumsi Protein Ransum BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Pengaruh perlakuan terhadap Konsumsi Bahan Kering dan Konsumsi Protein Ransum Rataan konsumsi bahan kering dan protein ransum per ekor per hari untuk setiap perlakuan dapat

Lebih terperinci