|
|
|
- Leony Sutedja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1
2
3
4
5
6 Tim Penyusun Pengarah : Dr. H. Alfitra Salamm, APU Penanggung Jawab : Drs. Djunaedi, M.Si. Sumadi, SH Penanggung Jawab Teknis Wkl. Penanggung Jawab teknis : Teguh Pramono, MA : Sumadi, SH Editor : Ir. Meity Trisnowati, M.Si Ahmad Arsani, S.IP Ahmad Musawir, S.Si, M.Si Penulis Naskah : Nur Budi Handayani, SST, M.Si Dwi Susilo, M.Si Amiek Chamami, SST, M.Stat Armadi Setiawan Sigit Wahyu Nugroho Pengolah Data : Sapta Hastho Ponco Eko Budiatmodjo Fetri Asnadi Sarla Gita Desain dan Lay-out : Rida Agustina Rini Sulistyowati Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan 2014 Diterbitkan oleh : Kementerian Pemuda dan Olahraga Bekerjasama dengan Badan Pusat Statistik ISBN:
7
8 SAMBUTAN SEKRETARIS KEMENTERIAN PEMUDA DAN OLAHRAGA KEMENTERIAN PEMUDA DAN OLAHRAGA REPUBLIK INDONESIA Puji Syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-nya sehingga program penyusunan Buku Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan Dan Keolahragaan 2014 dapat diselesaikan. Menghadapi Asian Economic Community 2015 (AEC 2015) pembangunan di bidang kepemudaan adalah salah satu upaya yang harus diperhatikan dan direalisasikan secara serius. Perhatian pada bidang ini menjadi sebuah keharusan karena diatur dalam UU Nomor 40 Tahun 2009 tentang kepemudaan yang berisi pembangunan kepemudaan dan pelayanan kepemudaan. Pemuda sebagai generasi penerus menjadi kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan (agent of change) yang merupakan perwujudan fungsi, peran, karakteristik dan kedudukannya yang strategis dalam pembangunan nasional. Selain itu, di bidang keolahragaan telah diatur dalam UU Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional yang bertujuan memelihara dan meningkatkan kesehatan dan kebugaran, prestasi, kualitas manusia, menanamkan nilai moral dan akhlak mulia, sportivitas, disiplin, mempererat dan membina persatuan dan kesatuan bangsa, memperkukuh ketahanan nasional, serta mengangkat harkat martabat dan kehormatan bangsa. Dengan demikian pembangunan di bidang kepemudaan dan keolahragaan merupakan dua pilar yang terintegrasi dalam pembangunan nasional guna mewujudkan tujuan nasional. Dalam membangun kepemudaan dan keolahragaan diperlukan data dan informasi baik yang sudah berjalan maupun sedang berjalan untuk perencanaan kepemudaan dan keolahragaan ke depan. Buku Penyajian Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014 i
9 Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan ini diharapkan dapat menjadi acuan dasar untuk masyarakat, organisasi kepemudaan dan keolahragaan, para pelaku olahraga, serta instansi/lembaga dan pemangku kepentingan terkait lainnya dalam melakukan perencanaan dan pelaksanaan berbagai program kegiatan pembangunan di bidang kepemudaan dan keolahragaan maupun sebagai referensi pendukug bagi proses perumusan kebijakan. Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang berperan serta dalam penyusunan buku ini. Semoga buku ini dapat bermanfaat dalam proses peningkatan prestasi olahraga dan peran aktif pemuda di berbagai bidang pembangunan dalam rangka mewujudkan kepemudaan dan keolahragaan yang berdaya saing. Jakarta, Desember 2015 Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga Dr. H. Alfitra Salamm, APU ii Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
10 SAMBUTAN KEPALA BIRO HUMAS, HUKUM DAN KEPEGAWAIAN SEKRETARIAT KEMENTERIAN PEMUDA DAN OLAHRAGA REPUBLIK INDONESIA Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkat rahmat dan karunia-nya, Kementerian Pemuda dan Olahraga yang bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik dapat menyelesaikan penyusunan Buku Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan Dan Keolahragaan Kementerian Pemuda dan Olahraga dalam hal ini sebagai pemerintah memiliki tantangan dalam bidang kepemudaan dan keolahragaan. Tantangan di bidang kepemudaan diantaranya memperkuat karakter dan jati diri para pemuda di era globalisasi, meningkatkan peran aktif pemuda serta meningkatkan peran organisasi kepemudaan dalam pengembangan kepemimpinan dan kepeloporan pemuda. Sementara itu, tantangan dalam bidang olahraga yang dihadapi diantaranya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam berolahraga, meningkatkan pembibitan dan pengembangan bakat olahragawan berprestasi, meningkatkan sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam pengelolaan keolahragaan dan meningkatkan kerja sama dan kemitraan pemerintah dengan dunia usaha dan masyarakat termasuk industri olahraga. Dalam menghadapi segala tantangan tersebut maka disusunlah buku Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan Dan Keolahragaan 2014 yang berisi informasi mengenai kependudukan pemuda, tingkat pendidikan pemuda, ketenagakerjaan pemuda, kesehatan pemuda, permasalahan yang dihadapi pemuda, kegiatan olahraga, fasilitas olahraga serta prestasi olahraga dikancah nasional maupun Internasional yang telah dicapai sampai saat ini seperti, Olimpiade, Asian Games, Sea Games, dan PON. Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014 iii
11 Buku ini dapat dimanfaatkan oleh semua pihak, baik dari kalangan masyarakat, pemuda dan para penggiat olahraga serta para pemangku kepentingan sebagai salah satu pertimbangan dalam pengambilan kebijakan selain itu sebagai acuan untuk dapat memaksimalkan potensi kepemudaan dan keolahragaan utamanya dalam hal peningkatan prestasi. Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah menyumbangkan pikiran dan tenaganya, sehingga penyusunan buku ini dapat diselesaikan. Jakarta, Desember 2015 Kepala Biro Humas, Hukum dan Kepegawaian Sekretariat Kementerian Pemuda dan Olahraga Drs. Djunaedi, M.Si iv Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
12 KATA PENGANTAR Puji dan Syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan izin-nya penyusunan buku Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan 2014 dapat diselesaikan. Buku ini merupakan salah satu komitmen Badan Pusat Statistik dalam rangka memenuhi kebutuhan data dari Kementerian Pemuda dan Olahraga untuk mendukung keberhasilan program pembangunan kepemudaan dan keolahragaan. Buku Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan berisikan gambaran makro kepemudaan dan keolahragaan di Indonesia yang meliputi aspek kependudukan pemuda, pendidikan pemuda, ketenagakerjaan pemuda, kesehatan pemuda, dan kegiatan olahraga, fasilitas olahraga serta prestasi olahraga secara nasional dan internasional yang telah dicapai sampai saat ini seperti Olimpiade, Asian Games, Sea Games dan PON. Kepada semua pihak dan tim penyusun yang telah memberikan kontribusinya dalam penyusunan publikasi ini, baik langsung maupun tidak langsung diucapkan terima kasih. Kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan dan penyempurnaan publikasi yang akan datang sangat diharapkan. Jakarta, Desember 2015 Direktur Statistik Kesejahteraan Rakyat Badan Pusat Statistik Teguh Pramono, MA n Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014 v
13
14 Ringkasan Eksekutif Kepemudaan Pemuda menempati posisi strategis, baik sebagai pelaku pembangunan maupun penerus pembangunan di masa datang. Pemuda adalah simbol dari idealisme, semangat dan cita-cita sebuah bangsa. Pemuda merupakan harapan dan tulang punggung bangsa di masa depan. Jumlah pemuda Indonesia pada tahun 2014 sebanyak 61,83 juta jiwa atau sekitar 24,53 persen dari 252,04 juta jiwa penduduk Indonesia. Pada tahun 2014 ini, pemuda mempunyai jumlah yang paling kecil dibandingkan dengan jumlah penduduk yang berusia di bawah 16 tahun (76,68 juta) dan penduduk di atas 30 tahun (113,52 juta). Rasio jenis kelamin pemuda pada tahun 2014 sebesar 101,38 yang berarti bahwa dari setiap 100 orang pemuda perempuan, terdapat sekitar 101 orang pemuda laki-laki. Menurut tipe daerah, proporsi pemuda di perkotaan (25,92 persen) lebih besar dibandingkan proporsi pemuda di perdesaan (23,14 persen). Persentase pemuda Indonesia yang tidak bisa membaca dan menulis atau buta huruf rendah, yaitu hanya sebesar 0,64 persen. Angka buta huruf pemuda di perdesaan lebih tinggi dibanding di perkotaan. Dilihat dari partisipasi sekolah, hampir seluruh pemuda telah mengakses pendidikan. Hanya 1,05 persen pemuda yang tidak pernah mengakses pendidikan sama sekali. Rata-rata lama sekolah yang berhasil dicapai para pemuda secara keseluruhan adalah 10,01 tahun atau rata-rata pemuda telah dapat menyelesaikan pendidikan hingga kelas 1 Sekolah Menengah (SM). Dari sisi kesehatan, sekitar 8,77 persen pemuda mengalami sakit dalam sebulan terakhir. Secara umum, lama sakit yang diderita oleh pemuda adalah kurang dari satu minggu (1 7 hari). Pengobatan modern Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014 vii
15 lebih banyak dipilih oleh pemuda untuk mengobati keluhan kesehatannya. Tempat layanan kesehatan yang paling banyak dikunjungi oleh pemuda dalam upaya mengobati sakit yang diderita adalah praktek dokter (33,55 persen), praktek tenaga kesehatan (30,85 persen) dan puskesmas (27,57 persen). Pemuda memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan, termasuk diantaranya memasuki usia kerja.berdasarkan data Sakernas 2014 sebesar 51,03 persen pemuda di Indonesia selama seminggu terakhir melakukan kegiatan bekerja. Apabila dilihat menurut jenis kelamin,persentase pemuda laki-laki yang bekerja lebih tinggi dibandingkan dengan pemuda perempuan (63,32 persen berbanding 38,50 persen). Sektor pertanian, perdagangan, dan industri adalah tiga sektor utama yang banyak menyerap tenaga kerja pemuda persentasenya berturut-turut adalah 25,23 persen, 22,86 persen, dan 18,20 persen. Menurut status pekerjaan memberikan gambaran tentang kedudukan seseorang dalam pekerjaan. Lebih dari separuh 53,77 persen pemuda di Indonesia yang bekerja berstatus sebagai buruh/karyawan, selebihnya berstatus sebagai pekerja keluarga/tidak dibayar (19,15 persen) dan berusaha sendiri (10,67 persen). Keolahragaan Penyelenggaraan keolahragaan di Indonesia diatur dalam Undang- Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional (SKN). Setiap warga negara diberi hak yang sama untuk melakukan kegiatan olahraga, memperoleh pelayanan dalam kegiatan olahraga, memilih dan mengikuti jenis atau cabang olahraga yang sesuai dengan bakat dan minatnya. Selanjutnya, semua unsur yaitu orang tua, masyarakat, dan pemerintah berkewajiban untuk berperan serta dalam perencanaan, pengembangan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan keolahragaan. Berdasarkan data dari BPS sampai dengan saat ini, apresiasi masyarakat dalam berolahraga masih rendah. Berdasarkan hasil viii Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
16 Susenas MSBP Tahun 2012, penduduk berumur 10 tahun ke atas yang melakukan olahraga hanya sekitar 25 persen saja. Hal ini berarti dari 100 penduduk Indonesia berumur 10 tahun ke atas, ada 25 orang yang aktif berpartisipasi dalam kegiatan olahraga, sedangkan 75 orang lainnya tidak melakukan olahraga. Dibedakan menurut tempat tinggal, tingkat partisipasi olahraga penduduk perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk perdesaan. Sementara itu, partisipasi penduduk lakilaki lebih tinggi 9,29 persen dari partisipasi perempuan dalam melakukan olah raga. Ditinjau dari motivasi penduduk melakukan olah raga, mayoritas penduduk (66,63 persen) melakukan olahraga dengan tujuan menjaga kesehatan. Sementara itu, hanya sebagian kecil saja dari mereka yang melakukannya dengan tujuan prestasi dan rekreasi yaitu masing-masing sebesar 8,06 persen dan 3,27 persen. Selanjutnya dari sisi frekuensi berolah raga, sebesar 66,68 persen penduduk berumur 10 Tahun ke atas berolah raga setidaknya satu hari dalam seminggu. Sementara itu, penduduk 10 Tahun ke atas yang berolahraga selama 2-4 hari dalam seminggu sebesar 24,92 persen. Hanya sekitar 5 persen penduduk 10 Tahun ke atas yang berolahraga hampir setiap hari. Adapun intensitas berolahraga yaitu berapa menit dalam sehari seseorang melakukan olahraga. Hasil Susenas MSBP 2012 menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk melakukan olahraga dengan intensitas tidak lebih dari satu jam dalam sehari. Persentase penduduk yang melakukan olahraga rata-rata menit dalam sehari sebesar 50,14 persen dan menit sebesar 34,02 persen. Jalur sekolah merupakan wadah olah raga yang paling banyak diakses penduduk untuk berolah raga, persentase penduduk 10 tahun ke atas yang melakukan olah raga melalui jalur sekolah adalah sebesar 56,06 persen. Selain sekolah, cukup banyak penduduk berolah raga dengan jalur sendiri, yaitu sebesar 26,75 persen. Sementara yang Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014 ix
17 melakukan olah raga dengan memanfaatkan jalur perkumpulan olahraga sebesar 12,92 persen dan yang tempat bekerja sebesar 7,14 persen. Sisanya adalah dengan memanfaatkan jalur lainnya (7,57 persen). Berdasarkan data dari BPS senam, jogging, dan sepak bola adalah tiga jenis olah raga yang paling banyak diminati penduduk. Dibedakan dari tempat tinggal, penduduk perkotaan lebih menyukai jenis olah raga yang dapat dilakukan sendiri seperti jogging yang mana persentase penduduk perkotaan yang melakukan jogging/gerak jalan adalah sebesar 24,05 persen. Sebaliknya, penduduk di daerah perdesaan, umumnya lebih menyukai jenis olahraga berbentuk permainan dan dilakukan bersama-sama atau berkelompok, seperti senam, sepak bola, dan bola voli. Misal untuk permainan bola voli, persentase penduduk perdesaan yang melakukan bola voli adalah sebesar 12,93 persen atau hampir tiga kali dari persentase penduduk perkotaan yang melakukan bola voli. Ketersediaan fasilitas olahraga baik fisik dan non fisik dapat mendukung peningkatan partisipasi penduduk dalam berolah raga. Berdasarkan data Podes 2014, persentase desa/kelurahan yang memiliki fasilitas olah raga fisik berupa lapangan bola voli adalah sebesar 66,89 persen. Selanjutnya persentase desa yang memiliki lapangan sepak bola sebesar 54,38 persen, dan lapangan bulu tangkis sebesar 42,34 persen. Untuk fasilitas olah raga non fisik seperti perkumpulan olah raga, tiga kelompok kegiatan olahraga yang paling banyak tersedia di desa/kelurahan adalah kelompok olah raga sepak bola, bola voli, dan bulu tangkis. Status keberhasilan, tingkat perkembangan serta kondisi pembinaan olahraga dapat dilihat dari prestasi olahraga. Berdasarkan data yang diolah BPS, selama hampir dua dekade terakhir ini prestasi olahraga Indonesia di arena olahraga Internasional multi cabang seperti SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade mengalami pasang surut. Prestasi Indonesia bahkan cenderung menurun jika dibandingkan dengan x Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
18 kemajuan prestasi olahraga bangsa-bangsa lain di Asia Tenggara seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura. Menurunnya prestasi olahraga Indonesia dapat dilihat pada perhelatan Asian Games XXVII tahun 2014 di Incheon, Korea Selatan. Pada saat itu, Indonesia berada di urutan ke-17 dengan memperoleh 4 medali emas, 5 medali perak, dan 11 medali perunggu. Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014 xi
19
20 DAFTAR ISI Halaman KATA SAMBUTAN KATA PENGANTAR RINGKASAN EKSEKUTIF DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL LAMPIRAN DAFTAR TABEL SAMPLING ERROR DAFTAR PETA DAFTAR ISTILAH/GLOSSARY i v vii xiii xv xix xxi xxv xxvii xxix BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan Sistematika Penyajian 5 BAB 2 METODOLOGI Sumber Data Ruang Lingkup Konsep dan Definisi Metode Analisis 18 BAB 3 KEPENDUDUKAN Jumlah dan Distribusi Pemuda Komposisi Pemuda menurut Jenis Kelamin Komposisi Pemuda menurut Kelompok Umur Komposisi Pemuda menurut Status Perkawinan Komposisi Pemuda menurut Status Dalam Rumah Tangga 31 BAB 4 PENDIDIKAN Partisipasi Pendidikan Angka Buta Huruf Rata-rata Lama Sekolah Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan 47 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014 xiii
21 Halaman BAB 5 KETENAGAKERJAAN Pemuda Menurut Jenis Kegiatan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Pemuda Pemuda Bekerja menurut Lapangan Usaha Pemuda Bekerja menurut Status Pekerjaan Pemuda Bekerja menurut Jumlah Jam Kerja Tingkat Pengangguran Terbuka Pemuda 59 BAB 6 KESEHATAN Keluhan Kesehatan Jenis Keluhan Kesehatan Lama Sakit Kebiasaan Berobat 72 BAB 7 KEGIATAN OLAHRAGA Partisipasi Berolahraga Tujuan Berolahraga Frekuensi dan Intensitas Berolahraga Jalur Kegiatan Olahraga Jenis Olahraga 96 BAB 8 FASILITAS OLAHRAGA Lapangan/Gelanggang Olahraga Kelompok Kegiatan Olahraga Induk Organisasi Cabang Olahraga 107 BAB 9 PRESTASI OLAHRAGA Pekan Olahraga Nasional SEA GAMES ASEAN GAMES Olimpiade 127 DAFTAR PUSTAKA 135 LAMPIRAN TABEL 139 ESTIMASI KESALAHAN SAMPLING 235 LAMPIRAN PETA 285 xiv Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
22 DAFTAR TABEL Tabel Judul Halaman 3.1 Persentase Penduduk menurut Kelompok Umur dan Daerah Tempat Tinggal, Proporsi dan Perkiraan Jumlah Pemuda menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, Persentase Pemuda menurut Pulau dan Jenis Kelamin, Perkiraan Jumlah dan Persentase Pemuda menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, Angka Rasio Jenis Kelamin Pemuda menurut Tipe Daerah, Persentase Pemuda yang Pernah Kawin menurut Kelompok Umur, Tipe daerah dan Jenis Kelamin, Persentase Pemuda menurut Tipe Daerah, Jenis Kelamin dan Status dalam Rumah Tangga, Persentase Pemuda menurut Tipe Daerah, Jenis Kelamin dan Partisipasi Sekolah, Persentase Pemuda menurut Kelompok Umur dan Partisipasi Sekolah, Angka Partisipasi Sekolah Formal dan Formal + Nonformal Pemuda menurut Tipe Daerah, Jenis Kelamin dan Kelompok Umur, Persentase Pemuda yang Buta Huruf menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2012, 2013 dan Persentase Pemuda yang Buta Huruf menurut Tipe Daerah, Jenis Kelamin dan Kelompok Umur, Rata- Rata Lama Sekolah (dalam tahun) Pemuda menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, Persentase Pemuda menurut Tipe Daerah, Jenis Kelamin dan Jenjang Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, Persentase Pemuda menurut Tipe Daerah, Jenis Kelamin, dan Jenis Kegiatan, Persentase Pemuda yang Bekerja menurut Lapangan Usaha dan Tipe Daerah, Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014 xv
23 Tabel Judul Halaman 5.3 Persentase Pemuda yang Bekerja menurut Tingkat Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan dan Tipe Daerah, Persentase Pemuda yang Bekerja menurut Status Pekerjaan dan Tipe Daerah, Persentase Pemuda yang Bekerja menurut Jumlah Jam Kerja Selama Seminggu Terakhir dan Tipe Daerah, TPT Pemuda menurut Jenis Kelamin dan Tipe Daerah, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Pemuda menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan dan Tipe daerah, Persentase Pemuda yang Mengalami Keluhan Kesehatan Sebulan Terakhir menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, Persentase Pemuda yang Mengalami Keluhan Kesehatan menurut Tipe Daerah, Jenis Kelamin dan Jenis Keluhan, Proporsi Pemuda yang Sakit menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, Persentase Pemuda yang Sakit menurut Lamanya Sakit dan Tipe Daerah, Persentase Pemuda yang Sakit menurut Lamanya Sakit dan Jenis Kelamin, Persentase Pemuda yang Mengalami Keluhan Kesehatan dan Mengobati Sendiri menurut Jenis Obat, Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, Persentase Pemuda Sakit yang Berobat Jalan menurut Tempat Berobat, Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, Tahun Persentase Penduduk Berumur 5 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Kelompok Umur dan Tipe Daerah, Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Tipe Daerah, Jenis Kelamin, dan Tujuan Olahraga, Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan dan Tujuan Olahraga, xvi Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
24 Tabel Judul Halaman 7.4 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Jenis Olahraga yang Paling Sering Dilakukan dan Lama Berolahraga (Hari), Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Tipe Daerah, Jenis Kelamin, dan Jalur Melakukan Olahraga, Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Jenis Olahraga yang Paling Sering Dilakukan dan Jalur Melakukan Olahraga, Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Jenis Olahraga yang Paling Sering Dilakukan, Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Jenis Olahraga yang Paling Sering Dilakukan dan Tipe Daerah, Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Jenis Olahraga yang Paling Sering Dilakukan dan Kelompok Umur, Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Fasilitas Lapangan/Gelanggang Olahraga menurut Jenis Olahraga, Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Kelompok Kegiatan Olahraga menurut Jenis Olahraga, Daftar Nama Cabang /Perkumpulan Olahraga di Indonesia beserta Induk Organisasi Olahraga, Perkembangan Pekan Olahraga Nasional (PON) menurut Waktu Penyelenggaraan, Tempat Penyelenggaraan, dan Juara Umum 9.2 Perkembangan Peringkat 5 Besar Perolehan Medali pada PON XV-XVIII, Tahun Keikutsertaan Indonesia dalam Sea Games menurut Penyelenggaraan dan Jumlah Negara yang Mengikuti 9.4 Prestasi Indonesia dalam SEA Games menurut Tahun Kejuaraan, Jumlah Negara Peserta, Peringkat, dan Perolehan Medali Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014 xvii
25 Tabel Judul Halaman 9.5 Keikutsertaan Indonesia dalam Asian Games menurut Penyelenggaraan dan Jumlah Negara yang Mengikuti 9.6 Prestasi Indonesia dalam Asian Games menurut Tahun Kejuaraan, Jumlah Negara Peserta, Peringkat, dan Perolehan Medali 9.7 Keikutsertaan Indonesia pada Olimpiade menurut Penyelenggaraan, Jumlah Negara yang Mengikuti, dan Peringkat Indonesia 9.8 Prestasi Indonesia dalam Olimpiade menurut Penyelenggaraan,Peringkat, dan Perolehan Medali xviii Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
26 DAFTAR GAMBAR Gambar Judul Halaman 3.1 Persentase Pemuda menurut Kelompok Umur (Tahun) dan Tipe Daerah, Persentase Pemuda menurut Jenis Kelamin dan Status Perkawinan, Persentase Pemuda menurut Status Perkawinan, Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, TPAK Penduduk Pemuda menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, Persentase Pemuda yang Mengalami Keluhan Kesehatan dan Mengobati Sendiri menurut Jenis Pengobatan dan Tipe Daerah, Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Tipe Daerah, Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi, Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Jenis Kelamin dan Tipe Daerah, Persentase Penduduk Berumur 5 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Kelompok Umur, Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Tipe Daerah dan Lama Berolahraga (Hari), Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Tipe Daerah dan Rata-rata Lama Berolahraga per Hari (Menit), Perkembangan Peringkat Indonesia dalam Asian Games, Perkembangan Peringkat Indonesia dalam Olimpiade, Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014 xix
27
28 DAFTAR TABEL LAMPIRAN Tabel Judul Halaman Perkiraan Jumlah dan Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Tipe Daerah, Perkiraan Jumlah dan Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Jenis Kelamin, Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Kelompok Umur, Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Status Perkawinan, Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Status Dalam Rumah Tangga, 2014 Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Status Dalam Rumah Tangga, Persentase Pemuda Menurut Jenis Kelamin, Kelompok Umur, dan Partisipasi Sekolah, Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Status Sekolah, Persentase Pemuda yang Buta Huruf Menurut Provinsi Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, Rata-rata Lama Sekolah (dalam Tahun) Pemuda menurut Provinsi, Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Kegiatan Utama Selama Seminggu Terakhir, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Pemuda menurut Provinsi dan Tipe Daerah, Persentase Pemuda yang Bekerja menurut Provinsi dan Lapangan Usaha, 2014 Persentase Pemuda yang Bekerja selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi dan Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014 xxi
29 Tabel Judul Halaman Persentase Pemuda yang Bekerja menurut Provinsi dan Status Pekerjaan Utama, 2014 Persentase Pemuda yang Bekerja menurut Provinsi dan Jumlah Jam Kerja Seminggu Terakhir, 2014 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurut Provinsi dan Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, Proporsi Pemuda yang Mempunyai Keluhan Kesehatan Selama Sebulan Terakhir Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, Proporsi Pemuda yang Mempunyai Keluhan Kesehatan Selama Sebulan Terakhir Menurut Provinsi dan Jenis Keluhan, Angka Kesakitan Pemuda Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, Persentase Pemuda yang Sakit Selama Sebulan Terakhir Menurut Provinsi dan Lamanya Sakit, Proporsi Pemuda yang Mengalami Keluhan Kesehatan dan Mengobati Sendiri Menurut Provinsi dan Jenis Obat/Pengobatan yang Digunakan, Proporsi Pemuda Sakit yang Berobat Jalan menurut Provinsi dan Tempat Berobat, 2014 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi, Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2012 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi dan Tujuan Olahraga, 2012 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi dan Lamanya Melakukan Olahraga (Hari), 2012 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi dan Rata-rata Lamanya Melakukan Olahraga per Hari, 2012 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi dan Jalur Melakukan Olahraga, xxii Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
30 Tabel Judul Halaman Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi dan Jenis Olahraga yang Paling Sering Dilakukan, Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Fasilitas Lapangan Sepak Bola menurut Provinsi, Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Fasilitas Lapangan Bola Voli menurut Provinsi, Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Fasilitas Lapangan Bulu Tangkis menurut Provinsi, Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Fasilitas Lapangan Bola Basket menurut Provinsi, Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Fasilitas Lapangan Tenis Lapangan menurut Provinsi, Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Fasilitas Gelanggang Renang menurut Provinsi, Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Kelompok Kegiatan Olahraga Sepak Bola menurut Provinsi, Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Kelompok Kegiatan Olahraga Bola Voli menurut Provinsi, Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Kelompok Kegiatan Olahraga Bulu Tangkis menurut Provinsi, Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Kelompok Kegiatan Olahraga Bola Basket menurut Provinsi, Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Kelompok Kegiatan Olahraga Tenis Lapangan menurut Provinsi, Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Kelompok Kegiatan Olahraga Renang menurut Provinsi, Jumlah Perolehan Medali PON XV/2000 menurut Provinsi, Jumlah Medali, dan Rangking, Jumlah Perolehan Medali PON XVI/2004 menurut Provinsi, Jumlah Medali, dan Rangking, Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014 xxiii
31 Tabel Judul Halaman Jumlah Perolehan Medali PON XVII/2008 menurut Provinsi, Jumlah Medali, dan Rangking, Jumlah Perolehan Medali PON XVIII/2012 menurut Provinsi, Jumlah Medali, dan Rangking, xxiv Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
32 DAFTAR TABEL SAMPLING ERROR Tabel Judul Halaman Sampling error Persentase Pemuda Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, Sampling error Angka Partisipasi Sekolah (APS) Pemuda Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, Sampling error Angka Buta Huruf (ABH) Pemuda Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, Sampling error Rata-rata Lama Sekolah (MYS) Pemuda Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, Sampling error Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Pemuda Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, Sampling error Persentase Pemuda yang Bekerja Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, Sampling error Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Pemuda Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, Sampling error Persentase Pemuda yang Mengalami Keluhan Kesehatan Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, Sampling error Angka Kesakitan Pemuda Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, Sampling error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Sendiri Selama Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Melalui Perkumpulan Sekolah Selama Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Melalui Perkumpulan Olahraga Selama Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Melalui Perkumpulan Di Tempat Kerja Selama Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014 xxv
33 Tabel Judul Halaman Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Melalui Kegiatan Lainnya Selama Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) Selama Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Jogging/Gerak Jalan Selama Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Sepak Bola Selama Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Lamanya Olahraga Satu Hari Dalam Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Lamanya Olahraga 2-4 Hari Dalam Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Lamanya Olahraga 5-6 Hari Dalam Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Lamanya Olahraga 7 Hari Dalam Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Dengan Tujuan Menjaga Kesehatan Dalam Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Dengan Tujuan Prestasi Dalam Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Dengan Tujuan Rekreasi Dalam Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Dengan Tujuan Lainnya Dalam Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, xxvi Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
34 DAFTAR PETA Peta Judul Halaman 1 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi, Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Fasilitas Lapangan Sepak Bola menurut Provinsi, Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Fasilitas Lapangan Bola Voli menurut Provinsi, Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Fasilitas Lapangan Bulu Tangkis menurut Provinsi, Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Kelompok Kegiatan Olahraga Sepak Bola menurut Provinsi, Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Kelompok Kegiatan Olahraga Bola Voli menurut Provinsi, Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Kelompok Kegiatan Olahraga Bulu Tangkis menurut Provinsi, Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014 xxvii
35
36 DAFTAR ISTILAH/GLOSSARY APK : Angka Partisipasi Kasar APS : Angka Partisipasi Sekolah ABH : Angka Buta Huruf BPS : Badan Pusat Statistik IOC : International Olympic Committee IPM : Indek Pembangunan Manusia ISI : Ikatan Sport Indonesia Kemdiknas : Kementerian Pendidikan Nasional Kemenpora : Kementerian Pemuda dan Olahraga KEMSOS RI : Kementerian Sosial Republik Indonesia KONI : Komite Olahraga Nasional Indonesia KORI : Komite Olimpiade Republik Indonesia KUPP : Kelompok Usaha Pemuda Produktif LCC : Lomba Customs Cycling MSBP : Modul Sosial Budaya dan Pendidikan Podes : Potensi Desa PON : Pekan Olahraga Nasional PORI : Persatuan Olahraga Republik Indonesia PPAN : Pertukaran Pemuda Antar Negara PPLM : Pusat Pembinaan dan Latihan Mahasiswa PSKS : Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial PSM : Pekerja Sosial Masyarakat PT : Perguruan Tinggi RPJM : Rencana Pembangunan Jangka Menengah SAKERNAS : Survei Angkatan Kerja Nasional Sea Games : Southeast Asian Games SEAP Games : Southeast Asian Peninsular Games SD : Sekolah Dasar SDM : Sumber Daya Manusia SKJ : Senam Kesegaran Jasmani SKN : Sistem Keolahragaan Nasional SM : Sekolah Menengah SMA : Sekolah Menengah Atas Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014 xxix
37 SMK SMP SPP SP-3 SUKMA Susenas TAGANA TPAK TPT WHO : Sekolah Menengah Kejuruan : Sekolah Menengah Pertama : Sentra Pemberdayaan Pemuda : Sarjana Penggerak Pembangunan di Perdesaan : Surat Keterangan Melek Aksara : Survei Sosial Ekonomi nasional : Taruna Siaga Bencana : Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja : Tingkat Pengangguran Terbuka : World Health Organization xxx Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
38
39
40 PENDAHULUAN Latar Belakang Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) berupaya untuk mewujudkan visi pembangunan yaitu "Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur" dan melaksanakan Misi Pembangunan Nasional yaitu "Mewujudkan bangsa yang berdaya saing" sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Berdaya saing dalam lingkup kepemudaan diartikan "memiliki kemampuan berkompetisi yang dihasilkan melalui pola pengaderan dan peningkatan potensi pemuda secara terencana, sistematis, dan berkelanjutan sesuai dengan metode pendidikan dan pelatihan. Termasuk pemagangan, pembimbingan, pendampingan, serta pemanfaatan kajian, kemitraan, dan sentra pemberdayaan pemuda yang terus-menerus dikembangkan sehingga dapat mencapai hasil yang maksimal. Pengembangan tersebut menciptakan nilai tambah kepemudaan di berbagai bidang pembangunan, serta peningkatan akhlak mulia dan prestasi pemuda Indonesia di kancah kompetisi global." Undang-Undang RI Nomor 40 Tahun 2009 menyebutkan bahwa pemuda adalah warga negara Indonesia yang berusia tahun. Sementara itu, berdaya saing dalam lingkup keolahragaan diartikan sebagai "memiliki kemampuan berkompetisi yang dihasilkan melalui pola pembinaan dan pengembangan pelaku, ketenagaan, pengorganisasian, pendanaan, pola pelatihan, penghargaan, prasarana, dan sarana olahraga secara Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
41 berjenjang dan berkelanjutan. Pembinaan ini sesuai dengan metode penataran, pelatihan, penyuluhan, pembimbingan, pemasyarakatan, perintisan, penelitian, uji coba, dan kompetisi yang telah menerapkan manajemen dan iptek olahraga modern, serta pemanfaatan bantuan, pemudahan, dan sentra keolahragaan sehingga dapat mencapai hasil yang maksimal dalam kompetisi bertaraf regional atau internasional". Dalam mewujudkan kepemudaan dan keolahragaan yang berdaya saing, Kemenpora menemui beberapa tantangan. Tantangan di bidang kepemudaan antara lain adalah (i) memperkuat karakter dan jati diri pemuda di era globalisasi; (ii) meningkatkan peran aktif pemuda untuk menghadapi ASEAN Economic Community 2015; dan (iii) meningkatkan peran organisasi kepemudaan dalam pengembangan kepemimpinan dan kepeloporan pemuda. Sementara itu, tantangan di bidang olah raga yang dihadapi adalah : (i) meningkatkan kesadaran masyarakat dalam berolah raga; (ii) meningkatkan pembibitan dan pengembangan bakat olahragawan berprestasi; (iii) meningkatkan sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam pengelolaan keolahragaan; dan (iv) meningkatkan kerja sama dan kemitraan pemerintah dengan dunia usaha dan masyarakat termasuk industri olah raga. Guna memperoleh strategi yang tepat dalam menghadapi tantangan pembangunan di bidang kepemudaan dan keolahragaan, diperlukan data dan informasi untuk menggambarkan kondisi dan situasi pemuda dan olah raga di Indonesia. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka disusun Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan 2014 dengan harapan dapat menjadi salah satu acuan dalam mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan di bidang kepemudaan dan keolahragaan. Selain itu, juga menjamin konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan pembangunan di bidang kepemudaan dan keolahragaan. 4 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
42 1.2 Tujuan Tujuan penyusunan Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan 2014 secara umum adalah untuk memperoleh gambaran rinci dan menyeluruh tentang hasil pembangunan di bidang kepemudaan dan keolahragaan baik di level nasional maupun regional. Dengan demikian, data dan informasi yang disajikan dapat digunakan sebagai bahan untuk penyusunan berbagai program dan sebagai sarana evaluasi program sebelumnya baik oleh pemerintah, peneliti, lembaga swasta, dan masyarakat pada umumnya. 1.3 Sistematika Penyajian Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan 2014 disajikan dalam sembilan bagian (bab). Ringkasan eksekutif yang disajikan pada bagian awal publikasi dimaksudkan untuk memberikan gambaran ringkas dan menyeluruh kepada pembaca mengenai keseluruhan isi publikasi. Uraian yang lebih rinci disajikan dalam bab-bab sesuai dengan tema pokok bahasan dari publikasi. Pada bagian pertama (Bab I) disajikan hal-hal yang menjadi latar belakang dan tujuan penyusunan publikasi, serta sistematika penyajian publikasi Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan Selanjutnya, Bab Metodologi yang terdiri dari sumber, metode pengumpulan data, konsep dan definisi operasional disajikan pada bagian kedua (Bab II). Lima bagian berikutnya (Bab III-VI) secara berturut-turut menyajikan gambaran mengenai kondisi dan perkembangan pemuda dari berbagai aspek diantaranya kependudukan, pendidikan, ketenagakerjaan dan kesehatan. Kemudian tiga bagian berikutnya (Bab VII-IX) menyajikan aspek yang berhubungan dengan keolahragaan. Indikator penting yang dicakup dalam aspek kependudukan menyangkut perkembangan jumlah pemuda, rasio jenis kelamin, kelompok umur, status perkawinan dan status dalam rumah tangga. Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
43 Aspek pendidikan digambarkan oleh partisipasi sekolah, angka buta huruf, lama sekolah, serta tingkat pendidikan yang ditamatkan. Bahasan mengenai ketenagakerjaan pemuda meliputi jenis kegiatan, tingkat partisipasi angkatan kerja, lapangan usaha, status pekerjaan, jumlah jam kerja dan tingkat pengangguran. Aspek kesehatan meliputi keluhan kesehatan dan jenisnya, angka kesakitan, lama sakit serta kebiasaan berobat. Indikator keolahragaan dilihat dari aspek kegiatan olahraga yang meliputi partisipasi olahraga, tujuan berolahraga, frekuensi dan intensitas berolahraga, jalur kegiatan olahraga, dan jenis olahraga. Aspek fasilitas olah raga meliputi lapangan/gelanggang olahraga, kelompok kegiatan olahraga, dan induk organisasi cabang olahraga. Kemudian Aspek prestasi olahraga meliputi sejarah perkembangan olahraga, prestasi nasional dan prestasi internasional. 6 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
44 DATA SUSENAS METODE ANALISIS KONSEP DEFINISI
45
46 METODOLOGI Sumber Data Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan 2014 menggunakan beberapa sumber data, diantaranya adalah data yang dihasilkan oleh BPS, data dari Kemenpora, dan data dari media cetak. Namun demikian, sumber data utama yang digunakan adalah data yang berasal dari hasil survei yang dilaksanakan oleh BPS. Berikut adalah sumber data utama dalam Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan 2014 : A. Bab Terkait Kepemudaan Pada bab yang terkait tema kepemudaan, digunakan sumber data utama yang berasal dari : 1. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Kor Tahun 2014, sebagai dasar untuk memperoleh gambaran makro mengenai kondisi dan potensi pemuda dari sisi demografi, kesehatan, ketenagakerjaan dan pendidikan. 2. Data Susenas Modul Sosial Budaya dan Pendidikan Tahun 2012, sebagai dasar untuk memperoleh gambaran makro mengenai keterangan kegiatan sosial budaya termasuk olahraga yang dilakukan oleh pemuda. Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
47 3. Data hasil Survei Ketenagakerjaan Nasional (Sakernas) Agustus Tahun 2014, untuk memperoleh gambaran mengenai ketenagakerjaan pemuda. B. Bab Terkait Keolahragaan Pada bab yang terkait tema kepemudaan, digunakan sumber data utama yang berasal dari : 1. Data hasil pendataan Potensi Desa (Podes) yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS), sebagai dasar untuk memperoleh gambaran mengenai fasilitas dan perkumpulan olahraga. Data Podes yang digunakan dalam analisis mencakup lima series data, yaitu data Podes tahun 2003, 2005, 2008, 2011, dan Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Modul Sosial Budaya dan Pendidikan (MSBP) yang diselenggarakan oleh BPS, sebagai dasar untuk memperoleh gambaran mengenai partisipasi olahraga yang dilakukan masyarakat. Data Modul Sosial Budaya dan Pendidikan Susenas yang digunakan dalam analisis mencakup empat series data, yaitu data tahun 2003, 2006, 2009, dan Ruang Lingkup Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan 2014 disajikan pada level provinsi dan nasional. Cakupan series data untuk beberapa indikator kepemudaan dan keolahragaan secara umum adalah antara tahun 2003 hingga tahun Khusus untuk data yang bersumber dari Susenas MSBP series data hanya disajikan hingga tahun Hal ini dikarenakan data terakhir Susenas MSBP yang tersedia adalah hasil dari pelaksanaan Susenas MSBP tahun Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
48 2.3 Konsep dan Definisi Terdapat beberapa istilah ataupun indikator yang digunakan dalam Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan Untuk menghindari perbedaan pemahaman dan interpretasi terhadap istilah atau indikator tersebut, maka perlu dijelaskan konsep dan definisi setiap istilah ataupun indikator yang disajikan. Penjelasan konsep dan definisi beberapa variabel atau jenis data yang digunakan publikasi ini berasal dari konsep dan definisi operasional yang digunakan dalam survei yang menjadi sumber data publikasi, yaitu Podes, Susenas Kor, Susenas MSBP, dan Sakernas. Berikut penjelasan konsep dan definisi istilah ataupun indikator yang digunakan: Rumah Tangga Biasa adalahseseorang atau sekelompok orang yang mendiami atau tinggal bersama di sebagian atau seluruh bangunan fisik/bangunan sensus dan biasanya makan dari satu dapur. Yang dimaksud satu dapur adalah jika pengurusan kebutuhan sehari-hari dikelola menjadi satu. Beberapa orang yang bersama-sama mendiami satu kamar dalam satu bangunan sensus walaupun mengurus makannya sendiri-sendiri dianggap satu rumah tangga biasa. Anggota Rumah Tangga adalah semua orang yang biasanya bertempat tinggal di suatu rumah tangga, baik yang pada waktu pencacahan berada di rumah tangga tersebut maupun yang sedang bepergian kurang dari 6 bulan dan tidak berniat pindah. Tidak termasuk anggota rumah tangga yaitu orang yang telah bepergian selama 6 bulan atau lebih, atau kurang dari 6 bulan tetapi dengan tujuan pindah (akan meninggalkan rumah selama 6 bulan atau lebih). Di sisi lain, orang yang telah 6 bulan atau lebih tinggal di rumah tangga yang sedang dicacah atau yang telah tinggal kurang dari 6 bulan tetapi berniat menetap dianggap sebagai anggota rumah tangga dari rumah tangga yang sedang dicacah tersebut. Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
49 Pemuda adalah penduduk berumur tahun. Kawin adalah mempunyai isteri (bagi pria) atau suami (bagi wanita) pada saat pencacahan, baik tinggal bersama maupun tinggal terpisah. Dalam hal ini yang dicakup tidak saja mereka yang kawin sah secara hukum (adat, agama, negara dan sebagainya), tetapi juga mereka yang hidup bersama dan oleh masyarakat sekelilingnya dianggap sebagai suami isteri. Cerai hidup adalah berpisah sebagai suami-isteri karena bercerai dan belum kawin lagi. Dalam hal ini termasuk mereka yang mengaku cerai walaupun belum resmi secara hukum. Sebaliknya tidak termasuk mereka yang hanya hidup terpisah tetapi masih berstatus kawin, misalnya suami/isteri ditinggalkan oleh isteri/suami ke tempat lain karena sekolah, bekerja, mencari pekerjaan, atau untuk keperluan lain. Wanita yang mengaku belum pernah kawin tetapi mengaku pernah hamil, dianggap sebagai cerai hidup. Cerai mati adalah ditinggal mati oleh suami atau isterinya dan belum kawin lagi. Rasio Jenis Kelamin adalah perbandingan antara penduduk laki-laki dan perempuan pada suatu daerah dan pada waktu tertentu, yang biasanya dinyatakan dengan banyaknya penduduk laki-laki per 100 perempuan. Buta Huruf adalah tidak dapat membaca surat atau kalimat sederhana dengan suatu huruf, termasuk huruf Braille. Orang cacat yang pernah dapat membaca dan menulis digolongkan tidak buta huruf. Angka Partisipasi Sekolah adalah nilai perbandingan (dalam persen) banyaknya penduduk yang bersekolah terhadap total penduduk, menurut batasan umur sekolah pada setiap jenjang pendidikan formal dan nonformal (Paket A setara SD, Paket B setara SMP dan Paket C setara SM). Jenjang Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan adalah jenjang pendidikan tertinggi yang sudah ditamatkan oleh seseorang yang sudah 12 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
50 tidak sekolah lagi atau jenjang pendidikan tertinggi yang pernah diduduki dan ditamatkan oleh seseorang yang masih bersekolah. Bersekolah adalah mereka yang terdaftar dan aktif mengikuti pendidikan baik di suatu jenjang pendidikan formal (pendidikan dasar yaitu SD/sederajat dan SMP/sederajat, pendidikan menengah yaitu SMA/sederajat dan pendidikan tinggi yaitu PT/sederajat) maupun non formal (Paket A setara SD, paket B setara SMP dan paket C setara SMA) yang berada di bawah pengawasan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Kementerian Agama (Kemenag), instansi lainnya negeri maupun swasta. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi, meliputi SD/MI/sederajat, SMP/MTs/sederajat, SM/MA/sederajat dan PT. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Meliputi pendidikan kecakapan hidup (kursus), pendidikan anak usia dini (PAUD) atau pra-sekolah, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan (paket A, paket B, dan paket C) serta pendidikan lainnya yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Tidak/belum pernah sekolah adalah tidak/belum pernah terdaftar dan aktif mengikuti pendidikan di suatu jenjang pendidikan, termasuk mereka yang tamat/belum tamat Taman Kanak-kanak yang tidak melanjutkan ke Sekolah Dasar. Belum tamat SD adalah pernah/sedang bersekolah di SD atau yang sederajat tetapi tidak/belum tamat. SD meliputi Sekolah Dasar, Madrasah Ibtidaiyah dan sederajat. Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
51 SMP meliputi jenjang pendidikan SMP Umum, Madrasah Tsanawiyah, SMP kejuruan dan sederajat. SM meliputi jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Madrasah Aliyah dan sederajat. Diploma/Sarjana adalah program DI/DII/DIII atau mendapatkan gelar sarjana muda pada suatu akademi/perguruan tinggi yang menyelenggarakan program diploma/mengeluarkan gelar sarjana muda, program pendidikan diploma IV, sarjana pada suatu perguruan tinggi, program pendidikan pasca sarjana (master atau doktor), spesialis 1 atau 2 pada suatu perguruan tinggi. Angkatan Kerja Pemuda adalah penduduk berumur tahun yang selama seminggu sebelum pencacahan mempunyai pekerjaan, baik bekerja maupun sementara tidak bekerja, atau yang sedang mencari pekerjaan. Bukan Angkatan Kerja Pemuda adalah penduduk berumur 16-30tahun yang selama seminggu sebelum pencacahan hanya bersekolah, mengurus rumah tangga, atau melakukan kegiatan lainnya. Dapat juga berarti tidak melakukan kegiatan yang dapat dimasukkan dalam kategori bekerja, sementara tidak bekerja atau mencari pekerjaan. Bekerja adalah kegiatan melakukan pekerjaan dengan maksud memperoleh/membantu memperoleh penghasilan atau keuntungan paling sedikit selama satu jam dalam seminggu sebelum pencacahan. Bekerja selama satu jam tersebut harus dilakukan berturut-turut dan tidak terputus (termasuk pekerja keluarga tanpa upah, yang membantu dalam kegiatan usaha/ekonomi). Menganggur adalah mereka yang termasuk angkatan kerja tetapi tidak bekerja. Mencari Pekerjaan adalah kegiatan dari mereka yang bekerja tetapi karena suatu hal masih mencari pekerjaan; atau mereka yang dibebas tugaskan dan akan dipanggil kembali tetapi sedang berusaha untuk 14 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
52 mendapatkan pekerjaan; atau mereka yang pernah bekerja dan sedang berusaha mendapatkan pekerjaan; atau mereka yang belum pernah bekerja dan sedang berusaha mendapatkan pekerjaan. Mempersiapkan suatu usaha adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang dalam rangka mempersiapkan suatu usaha yang baru, yang bertujuan untuk memperoleh penghasilan/keuntungan atas resiko sendiri, dengan atau tanpa mempekerjakan buruh/karyawan/pegawai dibayar maupun tak dibayar. Mempersiapkan suatu usaha yang dimaksud adalah apabila seseorang telah/sedang melakukan tindakan nyata seperti mengumpulkan modal atau alat, mencari lokasi, mengurus surat ijin usaha, dsb. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) adalah persentase angkatan kerja terhadap penduduk usia kerja. TPAK dihitung dengan rumus: Jumlah Angkatan Kerja TPAK = X 100% Jumlah Penduduk Usia Kerja Penduduk usia kerja adalah penduduk berumur 15 tahun ke atas. Namun pada publikasi ini umur dibatasi tahun. Lapangan Usaha adalah bidang kegiatan dari pekerjaan/ perusahaan/instansi tempat seseorang bekerja. Status Pekerjaan adalah jenis kedudukan seseorang dalam pekerjaan, misalnya berusaha sendiri tanpa bantuan orang lain, berusaha dibantu buruh tetap, atau buruh/karyawan. Jam Kerja adalah jumlah waktu (dalam jam) yang digunakan untuk bekerja. Tingkat Pengangguran Terbuka adalah persentase angkatan kerja yang aktif mencari pekerjaan dan tidak sedang mempunyai pekerjaan. TPT dihitung dengan rumus: Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
53 Jumlah Orang yang Mencari Pekerjaan TPT = X 100% Jumlah Angkatan Kerja Keluhan kesehatan adalah keadaan seseorang yang mengalami gangguan kesehatan atau kejiwaan baik karena penyakit, kecelakaan, kriminal dll. Sakit adalah menderita penyakit baik akut maupun kronis atau gangguan kesehatan lainnya yang menyebabkan aktivitas kerja terganggu. Orang yang mempunyai keluhan kesehatan (misalnya masuk angin atau pilek) tetapi kegiatan sehari-harinya tidak terganggu dianggap tidak sakit. Olahraga adalah kegiatan seseorang dengan sengaja meluangkan waktunya untuk melakukan satu atau lebih kegiatan fisik, dengan tujuan meningkatkan kesegaran jasmani secara teratur, atau meningkatkan prestasi atau untuk hiburan. Kegiatan olahraga dapat berupa latihan atau pertandingan atau rekreasi/hiburan. Olahragawan/atlet adalah pengolahraga yang mengikuti pelatihan secara teratur dan kejuaraan dengan penuh dedikasi untuk mencapai prestasi. Prestasi adalah hasil upaya maksimal yang dicapai olahragawan atau kelompok olahragawan (tim) dalam kegiatan olahraga. Prasarana Olahraga adalah tempat atau ruang termasuk lingkungan yang digunakan untuk kegiatan olahraga dan/atau penyelenggaraan keolahragaan. Sarana Olahraga adalah peralatan dan perlengkapan yang digunakan untuk kegiatan olahraga. Jalur Olahraga adalah wadah yang memfasilitasi seseorang melakukan olahraga. Jalur Sendiri apabila seseorang melakukan kegiatan olahraga dengan inisiatif sendiri, tanpa ada yang mengkoordinasikan. 16 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
54 Jalur Perkumpulan di Sekolah apabila seseorang melakukan kegiatan olahraga yang dikoordinasikan oleh sekolah. Jalur Perkumpulan di Tempat Bekerja apabila seseorang melakukan kegiatan olahraga yang dikoordinasikan (kepengurusan maupun anggaran) oleh instansi tempat responden bekerja, misalnya pembelian net, raket, mendapat subsidi dari tempat bekerja. Jalur Lainnya apabila seseorang melakukan kegiatan olahraga yang dikoordinasikan oleh jalur selain dari yang telah disebutkan di atas. Lapangan Olahraga adalah tempat melakukan olahraga yang ada di desa/kelurahan sesuai dengan persyaratan olahraga yang bersangkutan. Lapangan Sepakbola adalah lapangan yang diperuntukkan bagi prasarana cabang olahraga sepakbola dengan ukuran 110 m x 70 m, Lapangan sepakbola yang didalam lapangannya terdapat juga lapangan volley, tennis lapangan dan sebagainya masing-masing dihitung sendirisendiri. Lapangan Bola Basket adalah prasarana olahraga yang diperuntukkan bagi permainan bola basket dengan ukuran lapangan 28 m x 15 m dengan lantai terbuat dari beton. Lapangan Bola Voli adalah prasarana olahraga yang diperuntukkan bagi permainan bola voli dengan ukuran lapangan 18 m x 9 m dengan lantai terbuat dari tanah/beton. Lapangan Bulu Tangkis adalah prasarana olahraga yang diperuntukkan bagi permainan bulu tangkis dengan ukuran lapangan 14,40 m x 6,10 m dengan lantai terbuat dari tanah/beton. Kolam Renang adalah prasarana olahraga yang berupa bangunan kolam renang dan diperuntukkan bagi olahraga renang dengan ukuran kolam 20 m x 25 m atau 25 m x 15 m. Lapangan Tennis adalah prasarana olahraga yang diperuntukkan bagi olahraga tennis lapangan dengan ukuran lapangan 23,77 m x 10,97 m. Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
55 Kelompok Kegiatan Olahraga adalah kelompok penduduk desa/ kelurahan dalam melakukan olahraga, tanpa memperhatikan apakah olahraga tersebut dilakukan didesa/kelurahan ini maupun di tempat lain. 2.4 Metode Analisis Metode analisis yang digunakan dalam kajian ini adalah analisis deskriptif dengan penyajian data dalam bentuk tabel sederhana dan gambar/grafik untuk memudahkan pembaca dalam memahaminya. Kajian ini juga mencakup analisis lintas sektor yang digunakan untuk melihat gambaran perbandingan kondisi dan situasi kegiatan olahraga antar wilayah provinsi, antar daerah perkotaan-perdesaan, maupun antara lakilaki dan perempuan (gender). Analisis trend juga disertakan dalam kajian ini dalam upaya untuk memperoleh gambaran secara rinci mengenai kecenderungan perkembangan kegiatan olahraga selama beberapa periode waktu. Statistik dan indikator yang disajikan dalam analisis ini secara keseluruhan mencakup statistik dan indikator sederhana berupa proporsi atau persentase, rata-rata dan rasio. Penyajian statistik dan indikator dalam bentuk persentase, rata-rata dan rasio didasarkan pada pertimbangan bahwa ukuran-ukuran tersebut relatif paling mudah dipahami pembaca. 18 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
56
57
58 KEPENDUDUKAN 3 Penduduk Indonesia menempati posisi ke empat dari segi jumlah setelah negara Republik Rakyat China, India dan Amerika Serikat. Salah satu kelompok usia yang memiliki jumlah terbesar di Indonesia adalah generasi muda atau yang disebut dengan pemuda. Selain jumlah, potensi besar lainnya dari pemuda adalah produktivitas yang dapat menjadi pilar dalam mendukung pembangunan nasional. Perencanaan dan kebijakan yang tepat dalam peningkatan kualitas pemuda diperlukan agar pemuda tidak menjadi beban pembangunan. Salah satu komponen penting dalam perencanaan pembangunan kepemudaan adalah data kependudukan, yang sangat diperlukan khususnya dalam perencanaan input dan output pembangunan. Input pembangunan yang digunakan sebagai rujukan untuk memperkirakan jumlah SDM yang berperan dalam pembangunan adalah data dasar kependudukan yang berkaitan dengan jumlah dan struktur penduduk. Data dasar kependudukan berguna sebagai output pembangunan untuk menentukan kelompok sasaran pembangunan. Karakteristik pemuda yang berkaitan dengan kependudukan dibahas dalam bagian kependudukan. Karakteristik tersebut antara lain jumlah pemuda, distribusi dan struktur/komposisi pemuda, jenis kelamin, umur, status perkawinan dan hubungan dengan kepala rumah tangga. Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
59 3.1 Jumlah dan Distribusi Pemuda Pemuda menempati posisi strategis, baik sebagai pelaku pembangunan di masa sekarang maupun penerus pembangunan di masa datang. Selain jumlah pemuda yang semakin banyak, kualitas pemuda juga merupakan potensi dan aset pembangunan nasional. Ulasan berikut memberikan gambaran mengenai jumlah dan distribusi pemuda dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2014 menurut tipe daerah dan jenis kelamin. Tabel 3.1 Persentase Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Daerah Tempat Tinggal, 2014 Kelompok Umur (Tahun) Perkotaan (%) Perdesaan (%) Perkotaan+Perdesaan % Jumlah Penduduk (1) (2) (3) (4) (5) < 16 29,18 31,68 30, ,92 23,14 24, > 30 44,90 45,19 45, Total 100,00 100,00 100, ,65 80,60 81, ,43 70,04 71, Sumber: BPS RI - Susenas 2014 Berdasarkan hasil Susenas Tahun 2014, jumlah penduduk Indonesia sekitar 252,04 juta jiwa (lihat Tabel 3.1). Dari Tabel 3.1 terlihat bahwa jumlah pemuda Indonesia (penduduk berusia tahun) sekitar 61,83 juta jiwa atau 24,53 persen dari jumlah penduduk Indonesia secara keseluruhan. Dibedakan menurut kelompok umur, terlihat bahwa persentase kelompok pemuda adalah yang paling kecil jika dibandingkan dengan persentase penduduk usia di bawah 16 tahun (30,42 persen) serta penduduk di atas 30 tahun (45,04 persen). 22 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
60 Bonus demografi merupakan salah satu fenomena yang dialami Indonesia. Ditandai dengan semakin besarnya komposisi penduduk berusia muda. Perkembangan distribusi dan persentase pemuda tahun menurut tipe daerah dan jenis kelamin tersaji pada Tabel 3.2. Tabel 3.2 Persentase dan Perkiraan Jumlah Pemuda Menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, Tipe Daerah / Jenis Kelamin Tipe Daerah Persentase (Perkiraan Jumlah) (1) (2) (3) (4) Perkotaan (K) 26,14 26,16 25,92 ( ) ( ) ( ) Perdesaan (D) 23,44 23,42 23,14 ( ) ( ) ( ) K+D 24,79 24,88 24,53 Jenis Kelamin ( ) ( ) ( ) Laki-laki (L) 24,87 26,16 24,57 ( ) ( ) ( ) Perempuan (P) 24,71 23,42 24,49 ( ) ( ) ( ) L+P 24,79 24,88 24,53 Sumber: BPS RI Susenas 2012, 2013, dan 2014 ( ) ( ) ( ) Jumlah pemuda antara tahun cenderung meningkat, dari 60,88 juta pada tahun 2012 menjadi sekitar 61,83 juta pada tahun Sementara dari sisi persentase ada kecenderungan penurunan dari tahun 2012 sebesar 24,79 persen menjadi 24,53 persen pada tahun Hal ini menunjukkan pertambahan penduduk pada kelompok umur di luar kelompok umur pemuda jauh lebih besar dibandingkan pertambahan jumlah pemuda. Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
61 Kecenderungan kenaikan jumlah pemuda juga terjadi di perkotaan, dari 32,08 juta pada tahun 2012 menjadi 32,75 juta pada tahun Sedangkan di perdesaan terjadi sebaliknya, ada kecenderungan jumlah pemuda turun dari 23,44 juta menjadi 23,14 juta. Fenomena ini terjadi mungkin didorong oleh adanya perpindahan pemuda dari perdesaan ke perkotaan untuk bekerja atau melanjutkan sekolah. Antara tahun , jumlah dan persentase pemuda laki-laki lebih besar dibandingkan pemuda perempuan. Selisih terbesar terjadi pada tahun 2013, sebesar 2,74 persen (3,48 juta). Jumlah dan persentase pemuda laki-laki dan pemuda perempuan memiliki pola yang berbeda antara tahun Jumlah dan persentase pemuda lakilaki memiliki kecenderungan meningkat antara tahun dan kemudian menurun antara tahun , sedangkan pemuda perempuan memiliki pola menurun antara tahun dan kemudian meningkat antara tahun Tabel 3.3 Persentase Pemuda Menurut Pulau dan Jenis Kelamin, 2014 Pulau Laki-laki (L) Perempuan (P) L + P (1) (2) (3) (4) Sumatera 22,54 22,18 22,36 Jawa 55,81 56,08 55,95 Kalimantan 6,40 6,17 6,28 Sulawesi 7,26 7,35 7,31 Pulau Lainnya 7,99 8,21 8,10 Indonesia 100,00 100,00 100,00 Sumber: BPS RI - Susenas 2014 Tabel 3.3 menunjukkan penyebaran atau distribusi pemuda menurut pulau. Sekitar 55,95 persen pemuda berada di pulau Jawa. Sisanya berada di pulau Sumatera (22,36 persen), kemudian Sulawesi 24 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
62 (7,31 persen), dan Kalimantan (6,28 persen). Sedangkan yang berada di Pulau Lainnya seperti Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua sebesar 8,10 persen. Lampiran Tabel memperlihatkan jumlah dan persentase pemuda pada tahun 2014 menurut provinsi. Tiga provinsi di Pulau Jawa merupakan provinsi dengan jumlah pemuda terbesar, berturut-turut Provinsi Jawa Barat (11,56 juta), Jawa Timur (8,62 juta), dan Jawa Tengah (7,45 juta). Sementara provinsi yang memiliki jumlah pemuda yang paling sedikit adalah Papua Barat (213,95 ribu jiwa), Gorontalo (282,34 ribu jiwa), dan Maluku Utara (292,65 ribu jiwa). 3.2 Komposisi Pemuda Menurut Jenis Kelamin Komposisi pemuda menurut jenis kelamin disajikan pada Tabel 3.4. Terlihat bahwa persentase pemuda laki-laki lebih tinggi dibandingkan pemuda perempuan. Pemuda laki-laki sebanyak 50,33 persen (31,12 juta), sedangkankan pemuda perempuan sekitar 49,67 persen (30,71 juta). Pola yang sama terjadi di perkotaan dan di perdesaan. Sebanyak 50,19 persen (16,44 juta) pemuda laki-laki berada di perkotaan, sementara pemuda perempuan sebesar 49,81 persen (32,75 juta). Selanjutnya, di perdesaan ada sekitar 50,49 persen (14,69 juta) pemuda laki-laki dan 49,51 persen (14,40 juta) pemuda perempuan. Tabel 3.4 Perkiraan Jumlah dan Persentase Pemuda Menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2014 Tipe Daerah Laki-laki (L) Perempuan (P) L + P Jumlah % Jumlah % Jumlah % (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Perkotaan (K) , , ,00 Pedesaan (D) , , ,00 K+D , , ,00 Sumber: BPS RI - Susenas 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
63 Selanjutnya, komposisi pemuda menurut jenis kelamin dan provinsi tersaji pada Tabel Lebih dari separuh provinsi (23 provinsi) memiliki persentase pemuda laki-laki yang lebih tinggi dibandingkan perempuan. Sepuluh provinsi lainnya memiliki pola persentase pemuda perempuan lebih besar dibandingkan pemuda laki-laki. Hal ini dapat dilihat dari persentase pemuda perempuan yang lebih besar dari 50 persen. Kesepuluh provinsi tersebut yaitu Provinsi Nanggroe Aceh Darusalam, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Sulawesi Barat. Tabel 3.5 Angka Rasio Jenis Kelamin Pemuda Menurut Tipe Daerah, 2014 Tipe Daerah Rasio Jenis Kelamin (1) (2) Perkotaan 100,76 Perdesaan 102,00 Perkotaan+Perdesaan 101,34 Sumber: BPS RI - Susenas 2014 Adapun secara nasional, angka rasio jenis kelamin pemuda sebesar 101,34 yang berarti bahwa secara rata-rata dalam setiap 100 pemuda perempuan terdapat sekitar 101 pemuda laki-laki. Pola yang sama terdapat di perkotaan dan perdesaan, masing-masing sebesar 100,76 dan 102,00. Hal ini menunjukkan laki-laki merupakan komponen terbesar dalam populasi pemuda. 3.3 Komposisi Pemuda menurut Kelompok Umur Struktur umur penduduk digunakan untuk menganalisis hasil dan dampak pembangunan di bidang kependudukan. Gambar 3.1 memperlihatkan struktur umur pemuda menurut kelompok umur tahun, tahun dan tahun. Komponen terbesar pemuda 26 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
64 terdapat pada kelompok umur tahun dengan persentase sebesar 34,69 persen, diikuti pemuda pada kelompok umur tahun dengan persentase sebesar 33,08 persen, dan kelompok umur tahun sebesar 32,23 persen. Gambar 3.1 Persentase Pemuda Menurut Kelompok Umur (Tahun) dan Tipe Daerah, ,00 35,80 35,00 34,00 33,94 33,08 33,72 34,69 33,00 32,35 32,23 32,09 32,11 32,00 31,00 30, Sumber: BPS RI - Susenas 2014 Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perdesaan Jika dikaji berdasarkan tipe daerah, terlihat adanya perbedaan komposisi keberadaan pemuda pada masing-masing kelompok umur. Di perkotaan, komponen pemuda terbesar berada dalam kelompok umur tahun dengan persentase sebesar 33,94 persen, diikuti oleh kelompok umur tahun sebesar 33,72 persen dan yang terkecil adalah kelompok umur tahun (32,25 persen). Distribusi kelompok umur tersebut memiliki pola berbeda di perdesaan. Komponen terbesar pemuda di perdesaan pada kelompok umur tahun yang sebesar 35,80 persen, kemudian kelompok umur tahun (32,11 persen), dan yang terakhir kelompok umur tahun (32,09 persen). Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
65 3.4 Komposisi Pemuda Menurut Status Perkawinan Dalam UU No. 1 tahun 1974 Pasal 7 ayat (1) dinyatakan bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun. Kenyataannya masih terdapat perkawinan di usia muda yang umumnya terjadi di daerah perdesaan terutama pada penduduk perempuan. Hasil Susenas tahun 2014 (Gambar 3.2) menunjukkan bahwa lebih dari separuh pemuda atau sekitar 54,11 persen pemuda mempunyai status belum kawin, sebesar 44,45 persen berstatus kawin dan sisanya adalah mereka yang berstatus cerai hidup/mati (1,44 persen). Gambar 3.2 Persentase Pemuda Menurut Jenis Kelamin dan Status Perkawinan, , ,11 56, ,12 32,22 44, ,85 2,05 1,44 Belum kawin Kawin Cerai hidup/mati Sumber: BPS RI - Susenas 2014 Laki-laki Perempuan Total Berdasarkan Gambar 3.2 terlihat adanya perbedaan pola status perkawinan antara pemuda laki-laki dan pemuda perempuan. 28 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
66 Persentase pemuda perempuan yang berstatus kawin lebih tinggi jika dibandingkan pemuda laki-laki dengan status yang sama, masingmasing sebesar 56,84 persen dan 32,22 persen. Sedangkan pemuda dengan status belum kawin, laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan (66,93 persen berbanding 41,12 persen). Perbedaan kedua angka ini secara tidak langsung mengindikasikan bahwa pemuda perempuan pada umumnya lebih banyak yang sudah berkeluarga di usia muda dibandingkan dengan laki-laki. Gambar 3.3 Persentase Pemuda Menurut Status Perkawinan, Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, Perkotaan Perdesaan 71,51 66,15 61,81 49,38 48,62 37,18 31,75 27,79 0,70 2,00 1,01 2,10 Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan Sumber: BPS RI - Susenas 2014 Belum kawin Kawin Cerai hidup/mati Menurut tempat tinggal dan status perkawinan, ada kecenderungan di perdesaan lebih banyak pemuda yang berstatus kawin, baik laki-laki maupun perempuan, dibandingkan di perkotaan (lihat Gambar 3.3). Persentase pemuda laki-laki yang berstatus kawin di perkotaan sebesar 27,79 persen, jauh lebih kecil dibandingkan di perdesaan yang mencapai sekitar 37,18 persen. Pola yang sama terjadi pada pemuda perempuan, hampir setengah dari pemuda perempuan di Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
67 perkotaan berstatus kawin (48,62 persen), sedangkan di perdesaan hampir dua per tiga pemuda perempuan (66,15 persen) berstatus kawin. Di sisi lain, persentase pemuda yang belum kawin cenderung lebih banyak di perkotaan dibandingkan di perdesaan. Persentase pemuda laki-laki yang belum kawin di perkotaan sebesar 71,51 persen dan pemuda perempuan sebesar 49,38 persen, lebih banyak dibandingkan di perdesaan, yang masing-masing sebesar 61,81 persen untuk pemuda laki-laki dan 31,75 persen untuk pemuda perempuan. Diamati lebih jauh dari kelompok umur, ternyata pada kelompok umur muda (16-20 tahun) masih ditemukan pemuda yang berstatus pernah kawin (kawin, cerai hidup, atau cerai mati), sekitar 11,49 persen persen. Persentase pemuda tahun yang pernah kawin terbesar ada di perdesaan (16,03 persen) dibanding di perkotaan yang hanya sekitar 7,49 persen. Hal ini tersaji pada Tabel 3.6. Tabel 3.6 Persentase Pemuda yang Pernah Kawin Menurut Kelompok Umur, Tipe daerah dan Jenis Kelamin, 2009 Kelompok Umur (Tahun) Lakilaki (L) Perkotaan (K) Perdesaan (D) K+D Perempuan (P) L + P Lakilaki (L) Perempuan (P) L + P Lakilaki (L) Perempuan (P) L + P (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) ,32 6,17 7,49 2,37 13,66 16,03 1,81 9,68 11, ,06 25,66 36,72 17,84 38,75 56,59 14,16 31,64 45, ,02 43,04 73,06 35,74 47,38 83,12 32,79 45,15 77,94 Sumber: BPS RI - Susenas 2014 Dari Tabel 3.6 terlihat bahwa persentase pemuda perempuan yang pernah kawin lebih besar dibandingkan pemuda laki-laki baik di perkotaan maupun di perdesaan. Di perkotaan, perbandingan pemuda laki-laki dan pemuda perempuan yang pernah kawin adalah 1,32 persen berbanding 6,17 persen, sedangkan di perdesaan perbandingannya 2,37 30 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
68 persen dan 13,66 persen. Keadaan seperti ini patut disayangkan, karena pada kelompok umur ini merupakan kelompok umur yang seharusnya masih mengikuti pendidikan di bangku sekolah. Persentase pemuda yang termasuk kelompok umur tahun dan berstatus pernah kawin juga cukup besar, terutama pemuda perempuan yang mencapai lebih dari sepertiga (satu dari tiga pemuda perempuan), sedangkan pemuda laki-laki sekitar 25,66 persen (satu dari empat pemuda laki-laki). Sedangkan secara umum, pemuda laki-laki yang pernah kawin sekitar 14,16 persen dan pemuda perempuan sebesar 31,64 persen. 3.5 Komposisi Pemuda Menurut Status Dalam Rumah Tangga Satu rumah tangga dipimpin oleh seorang kepala rumah tangga. Kedudukan kepala rumah tangga sangat penting perannya dalam menentukan kelangsungan dan keberadaan rumah tangga. Selain kepala rumah tangga harus bertanggung jawab secara ekonomis untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggotanya, kepala rumah tangga juga harus mengatur dan memimpin anggota rumah tangganya, serta berperan sebagai pengambil keputusan. Orang kedua setelah kepala rumah tangga yang juga berperan penting dalam mengelola kegiatan sehari-hari rumah tangga adalah isteri/suami kepala rumah tangga. Sejalan dengan itu, kepala rumah tangga dan isteri/suami dari kepala rumah tangga memegang peranan yang penting dan strategis dalam setiap rumah tangga. Seperti yang sudah dikemukan sebelumnya, pemuda merupakan kelompok penduduk atau sumber daya manusia yang paling potensial dibandingkan dengan kelompok penduduk lainnya. Potensi para pemuda ini antara lain terlihat dari peranan atau status mereka dalam rumah tangga. Tabel 3.7 menyajikan peranan pemuda dalam rumah tangga yang paling besar berturut-turut adalah sebagai isteri/suami dari kepala rumah tangga (17,35 persen) dan sebagai kepala rumah tangga (11,38 persen). Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
69 Tabel 3.7 Persentase Pemuda Menurut Tipe Daerah, Jenis Kelamin dan Status dalam Rumah Tangga, 2014 Tipe Daerah/ Jenis Kelamin Perkotaan (K) Kepala Rumah Tangga Status dalam Rumah Tangga Isteri/Suami Anak Lainnya (1) (2) (3) (4) (5) Laki-laki (L) 19,26 0,10 63,73 16,92 Perempuan (P) 3,65 29,83 50,80 15,73 L+P 11,48 14,90 57,29 16,33 Perdesaan (D) K+D Laki-laki (L) 21,18 0,10 62,83 15,89 Perempuan (P) 1,16 40,51 44,60 13,73 L+P 11,27 20,11 53,81 14,82 Laki-laki (L) 20,16 0,10 63,30 16,43 Perempuan (L) 2,48 34,84 47,89 14,79 L+P 11,38 17,35 55,65 15,62 Sumber: BPS RI - Susenas 2014 Dilihat berdasarkan tipe daerah, persentase pemuda yang berstatus sebagai kepala rumah tangga di daerah perkotaan (11,48 persen) lebih tinggi dibandingkan daerah perdesaan (11,27 persen). Sedangkan persentase pemuda yang berstatus isteri/suami di daerah perkotaan (14,90 persen) lebih kecil dibandingkan daerah perdesaan (20,11 persen). Bila dilihat berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bahwa pemuda laki-laki lebih banyak yang berkedudukan sebagai kepala rumah tangga (laki-laki sebesar 20,16 persen dibanding perempuan sebesar 2,48 persen). Sementara itu, pemuda perempuan sebagian besar berkedudukan sebagai isteri/suami (perempuan sebesar 34,84 persen dibanding laki-laki sebesar 0,10 persen). 32 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
70
71
72 PENDIDIKAN 4 Salah satu tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang tercantum dalam pembukaan Undang Undang Dasar (UUD) 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk meningkatkan kecerdasan bangsa, tentu harus ditunjang dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Salah satu proses untuk menciptakan SDM yang berkualitas adalah dengan penyelenggaraan pendidikan yang baik. UUD 1945 Pasal 20, Pasal 21, Pasal 28 C ayat (1), Pasal 31, dan Pasal 32, mengamanatkan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Sistem pendidikan nasional menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu pendidikan untuk menghadapi tantangan dan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global. Pendidikan merupakan hak asasi setiap warga negara Indonesia. Setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang bermutu tanpa memandang status sosial, status ekonomi, suku, etnis, agama, dan gender. Pemerataan akses dan peningkatan mutu pendidikan akan membuat warga negara Indonesia memiliki kecakapan hidup (life skills) yang akan mendorong tegaknya pembangunan. Pemuda sebagai pewaris bangsa harus berkualitas. Kualitas pemuda salah satunya dilihat dari sisi pendidikan. Pendidikan bagi pemuda mempunyai pengaruh terhadap produktivitas kerja. Perhatian Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
73 dan pembinaan pendidikan pemuda harus terus ditingkatkan agar pemuda yang merupakan potensi bangsa dapat memberikan kontribusi efektif terhadap pertumbuhan ekonomi melalui penyediaan tenaga kerja potensial yang pada akhirnya mendorong percepatan laju pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan pembangunan. Untuk melihat gambaran pendidikan pemuda Indonesia, pada bab ini akan dibahas indikator pendidikan pemuda diantaranya angka partisipasi sekolah, angka buta huruf, rata-rata lama sekolah dan pendidikan tertinggi yang ditamatkan. 4.1 Partisipasi Pendidikan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas merupakan salah satu faktor keberhasilan pembangunan. SDM yang berkualitas dapat tersedia dengan adanya pendidikan yang berkualitas, utamanya pendidikan bagi generasi muda. Upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan dimulai dengan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada penduduk untuk mengecap pendidikan di tingkat dasar, menengah dan tinggi. Upaya terus menerus tersebut dilakukan melalui berbagai program seperti Wajib Belajar 6 tahun atau Wajib Belajar 9 tahun. Perluasan kesempatan untuk mengecap pendidikan bagi penduduk, terutama generasi muda (pemuda), dapat diukur menggunakan indikator partisipasi sekolah, yang memberikan indikasi peran serta dan kontribusi pemuda dalam kegiatan pendidikan. Besarnya akses pemuda pada kegiatan sekolah ditunjukkan oleh persentase pemuda yang sedang/pernah bersekolah terhadap populasi pemuda secara keseluruhan. Semakin tinggi persentase pemuda yang sedang/pernah bersekolah menunjukkan akses pemuda pada kegiatan sekolah semakin tinggi atau semakin luasnya kesempatan yang diberikan kepada pemuda untuk mengikuti kegiatan pendidikan. Sebaliknya, semakin rendah persentase pemuda yang sedang/pernah bersekolah menunjukkan semakin rendahnya akses pemuda terhadap kegiatan pendidikan. 36 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
74 Tabel 4.1 menyajikan persentase pemuda menurut tipe daerah, jenis kelamin serta partisipasi sekolah untuk pendidikan formal + non formal. Masih sekolah adalah mereka yang terdaftar dan aktif mengikuti pendidikan baik di suatu jenjang pendidikan formal (pendidikan dasar yaitu SD/MI dan SMP/MTs, pendidikan menengah yaitu SMA/SMK/MA dan pendidikan tinggi yaitu PT) maupun pendidikan non formal (Paket A setara SD, paket B setara SMP dan paket C setara SMA) yang berada di bawah pengawasan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama (Kemenag), Instansi Negeri lain maupun Instansi Swasta. Tabel 4.1 Persentase Pemuda Menurut Tipe Daerah, Jenis Kelamin dan Partisipasi Sekolah, 2014 Tipe Daerah/ Jenis Kelamin Tidak Pernah Sekolah Formal + Non Formal Masih Sekolah Tidak Sekolah lagi Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) Perkotaan (K) Laki-laki (L) 0,45 27,05 72,49 100,00 Perempuan (P) 0,36 26,41 73,23 100,00 L+P 0,41 26,73 72,86 100,00 Perdesaan (D) Laki-laki (L) 1,50 20,45 78,04 100,00 Perempuan (P) 2,06 19,35 78,60 100,00 L+P 1,78 19,91 78,32 100,00 K + D Laki-laki (L) 0,95 23,94 75,11 100,00 Perempuan (P) 1,16 23,10 75,75 100,00 L+P 1,05 23,52 75,43 100,00 Sumber: BPS RI Susenas 2014 Dari Tabel 4.1 tersebut terlihat bahwa pemuda yang tidak pernah sekolah sebesar 1,05 persen, yang masih sekolah sebesar 23,52 persen, dan pemuda yang sudah tidak bersekolah lagi sebesar 75,43 persen. Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
75 Adanya pemuda yang tidak pernah sekolah menunjukkan bahwa masih terdapat pemuda yang tidak pernah menikmati pendidikan. Tabel 4.1 juga menunjukkan bahwa persentase pemuda yang masih bersekolah di daerah perkotaan (26,73 persen) lebih besar dibandingkan perdesaan yang hanya sebesar 19,91 persen. Selanjutnya pada Tabel 4.1 juga terlihat, persentase pemuda perkotaan yang tidak pernah sekolah sebesar 0,41 persen, sedangkan persentase di perdesaan empat kali lebih tinggi yaitu sebesar 1,78 persen. Hal ini diduga karena akses pendidikan pemuda di daerah perkotaan jauh lebih baik dibandingkan dengan di daerah perdesaan, dan ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan di perkotaan yang lebih lengkap dan lebih memadai dibandingkan dengan di perdesaan. Akses pemuda pada pendidikan juga dipengaruhi oleh faktor jenis kelamin. Pada Tabel 4.1, terlihat bahwa persentase pemuda perempuan yang tidak/belum pernah sekolah lebih tinggi dari pemuda laki-laki. Persentase pemuda perempuan yang tidak pernah sekolah secara keseluruhan tercatat sebesar 1,16 persen, sedangkan untuk pemuda laki-laki sebesar 0,95 persen. Kesenjangan terhadap akses pendidikan antar jenis kelamin ditemukan baik di perkotaan maupun perdesaan. Di daerah perkotaan persentase pemuda perempuan yang tidak/belum pernah sekolah tercatat sebesar 0,36 persen dan laki-laki sebesar 0,45 persen. Di daerah perdesaan persentase pemuda perempuan yang tidak pernah sekolah sebesar 2,06 persen dan 1,50 persen untuk pemuda laki-laki. Faktor demografis lain yang juga sangat mempengaruhi akses generasi muda pada pendidikan antara lain adalah umur. Semakin tinggi kelompok umur semakin rendah tingkat partisipasi sekolahnya. Pada Tabel 4.2 terlihat bahwa terdapat pemuda usia tahun yang saat ini tidak bersekolah sebesar 0,83 persen dan tidak sekolah lagi sebesar 42,97 pesen. Meskipun di usia ini bukan merupakan usia wajib sekolah, namun hal ini menunjukan bahwa masih terdapat pemuda usia 38 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
76 produktif yang tidak meneruskan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi. Pada Tabel 4.2 juga menunjukan semakin rendah kelompok umur semakin rendah persentase yang tidak pernah sekolah. Persentase pemuda yang tidak pernah sekolah pada kelompok umur tahun sebesar 0,83 persen, tahun sebesar 0,97 persen dan kelompok umur tahun sebesar 1,33 persen. Tabel 4.2 Persentase Pemuda Menurut Kelompok Umur dan Partisipasi Sekolah, 2014 Kelompok Umur (Tahun) Tidak Pernah Sekolah Formal + Non Formal Masih Sekolah Tidak Sekolah lagi Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) ,83 56,20 42,97 100, ,97 14,76 84,27 100, ,33 1,52 97,15 100, ,05 23,52 75,43 100,00 Sumber: BPS RI Susenas 2014 Dilihat berdasarkan distribusi sebarannya, partisipasi pendidikan pemuda di berbagai provinsi bervariasi (Lampiran Tabel 4.2.3). Persentase pemuda yang tidak pernah sekolah berkisar antara 0,11 persen hingga 2,49 persen kecuali di Provinsi Papua yang persentasenya mencapai 24,61 persen. Persentase pemuda yang tidak sekolah lagi diberbagai provinsi sebarannya berkisar antara 54,98 persen hingga 81,48 persen, dengan persentase terendah terdapat di Provinsi Papua dan tertinggi terdapat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Angka Partisipasi Sekolah (APS) digunakan untuk melihat seberapa banyak penduduk yang saat ini memanfaatkan fasilitas pendidikan yaitu penduduk yang masih sekolah. APS merupakan Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
77 ukuran daya serap sistem pendidikan terhadap penduduk usia sekolah. Partisipasi sekolah merupakan indikator dasar yang digunakan untuk melihat akses pada pendidikan khususnya bagi penduduk usia sekolah. Indikator ini juga dapat digunakan untuk melihat struktur kegiatan penduduk yang berkaitan dengan sekolah. Tabel 4.3 Angka Partisipasi Sekolah Formal dan Formal + Nonformal Pemuda Menurut Tipe Daerah, Jenis Kelamin dan Kelompok Umur, 2014 Tipe Daerah/ Jenis Kelamin Formal Formal + Non Formal (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Perkotaan (K) Laki-laki 74,03 28,01 3,06 26,96 74,28 28,11 3,08 27,05 Perempuan 75,34 27,85 1,98 26,35 75,53 27,90 1,99 26,41 L+P 74,68 27,93 2,51 26,65 74,90 28,01 2,53 26,73 Perdesaan (D) Laki-laki 65,24 16,55 1,29 20,38 65,40 16,62 1,31 20,45 Perempuan 65,34 16,01 1,23 19,27 65,46 16,14 1,25 19,35 L+P 65,29 16,28 1,26 19,83 65,43 16,38 1,28 19,91 K + D Laki-laki 69,70 22,89 2,20 23,85 69,91 22,98 2,22 23,94 Perempuan 70,58 22,58 1,61 23,03 70,73 22,66 1,63 23,10 L+P 70,13 22,74 1,90 23,44 70,31 22,82 1,92 23,52 Sumber: BPS RI Susenas 2014 Tabel 4.3 secara rinci menyajikan APS pendidikan formal pemuda dan APS pendidikan formal + non formal pemuda menurut tipe daerah, jenis kelamin, dan kelompok umur. APS kelompok usia sekolah (16-18 tahun dan tahun) lebih tinggi dibandingkan kelompok diatas usia sekolah (25-30 tahun). Dari tabel tersebut juga terlihat bahwa baik pada kelompok umur tahun dan tahun, APS pemuda laki-laki sedikit lebih tinggi dibandingkan APS perempuan. 40 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
78 Pada APS pemuda perempuan seiring dengan peningkatan kelompok usia terjadi penurunan yang cukup signifikan. Kecenderungan makin menurunnya APS penduduk perempuan pada usia yang semakin tinggi diduga berkaitan faktor sex preference yaitu kecenderungan mengutamakan anak laki-laki untuk bersekolah dibandingkan anak perempuan. Kondisi ini juga sejalan dengan Tabel 3.6 yang menggambarkan bahwa status pemuda perempuan yang kawin lebih tinggi dibandingkan dengan pemuda laki-laki. Pada Tabel 4.3 juga ditampilkan APS pemuda di daerah perkotaan cenderung lebih tinggi dibandingkan daerah perdesaan. Pola tersebut terlihat baik bagi pemuda laki-laki maupun perempuan. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa pemuda di daerah perkotaan memiliki kesempatan memperoleh pendidikan yang lebih besar dibandingkan dengan mereka yang tinggal di daerah perdesaan. 4.2 Angka Buta Huruf Membaca merupakan proses awal dalam sebuah perubahan menuju masyarakat bangsa yang maju dan madani. Dalam EFA Global Monitoring Report, Literacy for Life (2006), UNESCO menyimpulkan terdapat korelasi yang kuat antara kemampuan membaca dengan investasi dan kinerja seseorang. Membaca (keaksaraan) akan mempermudah seseorang untuk memahami informasi terkait bidang kerja dan berbagai aspek lain menyangkut peningkatan kualitas hidup. Laporan tersebut menilai bahwa buta aksara merupakan masalah yang dimiliki oleh sebagian besar negara-negara dunia yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Buta aksara sangat terkait dengan kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan serta ketidakberdayaan masyarakat. Penduduk buta aksara tidak hanya terdapat di negara berkembang dan berpenduduk besar tetapi juga di negara maju termasuk Inggris dan Amerika Serikat. (Fauziah Rahmah Lubis, Agustus 2008). Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
79 Buta aksara atau buta huruf dapat didefinisikan sebagai ketidakmampuan membaca, lawan katanya adalah melek aksara (juga disebut dengan melek huruf) yaitu kemampuan membaca. Biasanya, tingkat melek aksara dihitung dari persentase populasi dewasa yang bisa membaca dan menulis. Dalam perkembangan modern kata melek aksara diartikan sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis pada tingkat yang baik untuk berkomunikasi dengan orang lain, atau dalam taraf bahwa seseorang dapat menyampaikan idenya dalam masyarakat yang mampu baca-tulis. Organisasi PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO) memiliki definisi sebagai berikut: Melek aksara adalah kemampuan untuk mengidentifikasi, mengerti, menerjemahkan, membuat, mengkomunikasikan dan mengolah isi dari rangkaian teks yang terdapat pada bahan-bahan cetak dan tulisan yang berkaitan dengan berbagai situasi. Kemampuan baca-tulis dianggap penting karena melibatkan pembelajaran berkelanjutan oleh seseorang sehingga orang tersebut dapat mencapai tujuannya, dimana hal ini berkaitan langsung bagaimana seseorang mendapatkan pengetahuan, menggali potensinya, dan berpartisipasi penuh dalam masyarakat yang lebih luas. Angka melek aksara adalah tolok ukur penting dalam mempertimbangkan kemampuan sumber daya manusia di suatu daerah. Indikator ini merupakan salah satu komponen penghitungan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Tingkat buta aksara di Indonesia masih tinggi. Lima penyebab utama, yakni 1) tingginya angka putus Sekolah Dasar (SD), 2) beratnya kondisi geografis Indonesia, 3) munculnya penyandang buta aksara baru, 4) pengaruh faktor sosiologis masyarakat, 5) serta kembalinya seseorang menjadi penderita buta aksara. Hal ini memperlihatkan bahwa pemberantasan buta aksara merupakan pekerjaan yang tidak mudah. 42 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
80 Berbagai upaya dalam pemberantasan buta aksara telah dilakukan oleh pemerintah. Secara operasional perhatian khusus mengenai buta aksara ditindaklanjuti dalam Inpres RI No. 5 Tahun 2006 tentang Penuntasan Wajib Belajar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara serta berbagai program yang telah dijalankan, diantaranya adalah kursus A-B- C, Program Pemberantasan Buta Huruf Fungsional, Kejar Paket A, dan saat ini yang paling populer yaitu program Keaksaraan Fungsional (KF) yang dijalankan oleh pemerintah sejak tahun Program ini dimaksudkan untuk memberantas kebutaaksaraan dengan fokus kegiatan melalui diskusi, membaca, menulis, berhitung dan pemecahan masalah yang dihadapi dalam aktivitas yang berkaitan dengan kebutuhan keseharian. Bentuk penghargaan atas mereka yang mengikuti kegiatan keaksaraan dan dinyatakan lulus, diberikan sertifikat SUKMA (Surat Keterangan Melek Aksara). Pada Tabel 4.4 ditampilkan persentase pemuda buta huruf menurut tipe daerah dan jenis kelamin dari tahun 2012, 2013 dan Dari tabel tersebut terlihat bahwa persentase pemuda yang buta huruf selama kurun waktu 2012 hingga 2014 mengalami penurunan yang cukup signifikan. Pada tahun 2012, pemuda yang buta huruf tercatat sebesar 1,15 persen, angka tersebut turun menjadi 0,92 persen pada tahun 2013, kemudian pada tahun 2014 menjadi sebesar 0,90 persen. Rendahnya angka buta huruf pemuda menunjukkan semakin membaiknya kualitas sumber daya pemuda. Pola yang sama terjadi baik di daerah perkotaan maupun perdesaan. Jika dibandingkan menurut jenis kelamin, pada tahun 2012 persentase pemuda laki-laki yang buta huruf sebesar 1,05 persen, mengalami penurunan pada tahun 2013 menjadi 0,83 persen dan pada tahun 2014 menjadi 0,51 persen. Demikian pula halnya dengan pemuda perempuan pada tahun 2012 sebesar 1,25 persen, pada tahun 2013 turun menjadi sebesar 1,00 persen dan pada tahun 2014 menjadi 0,78 persen. Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
81 Tabel 4.4 Persentase Pemuda yang Buta Huruf Menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2012, 2013 dan 2014 Tipe Daerah Lakilaki (L) Perempuan (P) L + P Lakilaki (L) Perempuan (P) L + P Lakilaki (L) Perempuan (P) L + P (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) Perkotaan (K) 0,37 0,39 0,38 0,24 0,22 0,23 0,07 0,13 0,10 Perdesaan (D) 1,80 2,21 2,00 1,48 1,89 1,68 1,00 1,52 1,26 K+D 1,05 1,25 1,15 0,83 1,00 0,92 0,51 0,78 0,64 Sumber: BPS RI Susenas 2012, 2013, 2014 Pada Tabel 4.4 juga terlihat bahwa di perdesaan persentase pemuda perempuan yang buta huruf cenderung lebih tinggi dibandingkan pemuda laki-laki, sedangkan di perkotaan relatif tidak berbeda. Tabel 4.5 Persentase Pemuda yang Buta Huruf Menurut Tipe Daerah, Jenis Kelamin dan Kelompok Umur, 2014 Tipe Daerah/ Jenis Kelamin Kelompok Umur (Tahun) (1) (2) (3) (4) (5) Perkotaan (K) Laki-laki 0,03 0,03 0,13 0,07 Perempuan 0,05 0,02 0,26 0,13 L+P 0,04 0,02 0,20 0,10 Perdesaan (D) Laki-laki 0,67 0,61 1,51 1,00 Perempuan 0,52 0,79 2,57 1,52 L+P 0,59 0,70 2,05 1,26 K + D Laki-laki 0,35 0,29 0,80 0,51 Perempuan 0,27 0,36 1,38 0,78 L+P 0,31 0,33 1,09 0,64 Sumber: BPS RI Susenas Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
82 Umur pemuda merupakan salah satu faktor yang juga turut mempengaruhi pola angka buta huruf pemuda. Seperti yang terlihat pada Tabel 4.5, angka buta huruf pemuda cenderung semakin meningkat sejalan dengan semakin meningkatnya umur pemuda. Angka buta huruf pemuda pada kelompok umur tahun adalah sebesar 0,31 persen, kelompok umur tahun sebesar 0,33 persen dan pada kelompok umur tahun sebesar 1,09 persen. Kecenderungan semakin meningkatnya angka buta huruf pemuda pada usia yang semakin tinggi ini terjadi di daerah perkotaan maupun perdesaan serta untuk pemuda laki-laki maupun pemuda perempuan. 4.3 Rata-rata Lama Sekolah Salah satu indikator tunggal lainnya untuk menggambarkan tingkat pendidikan masyarakat adalah rata-rata lama sekolah. Rata-rata lama sekolah merupakan cerminan tingkat pendidikan penduduk secara keseluruhan. Rata-rata lama sekolah (mean years of schooling) merupakan indikator yang menunjukkan rata-rata jumlah tahun efektif untuk bersekolah yang dicapai penduduk. Jumlah tahun efektif adalah jumlah tahun standar yang harus dijalani oleh seseorang untuk menamatkan suatu jenjang pendidikan, misalnya tamat SD adalah 6 tahun, tamat SMP adalah 9 tahun dan seterusnya. Perhitungan lama sekolah dilakukan tanpa memperhatikan apakah seseorang menamatkan sekolah lebih cepat atau lebih lama dari waktu yang telah ditetapkan. Rata-rata lama sekolah merupakan indikator pendidikan yang diformulasikan oleh UNDP pada tahun 1990 untuk penyusunan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Sesuai dengan target pemerintah melalui program wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan sejak tahun 1994, rata-rata lama sekolah penduduk diharapkan dapat mencapai sebesar 9 tahun (pendidikan dasar), yaitu minimal tamat jenjang pendidikan dasar atau tamat SMP. Pencapaian sasaran tersebut untuk para pemuda secara umum pada Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
83 tahun 2014 dapat dikatakan telah mencapai hasil sesuai yang diharapkan. Berdasarkan Tabel 4.6 dapat diketahui bahwa secara nasional rata-rata lama sekolah pemuda telah mencapai 10,01 tahun. Angka ini mengandung arti bahwa rata-rata pendidikan yang telah dicapai para pemuda hingga tahun 2014 adalah tamat SMP. Dengan kata lain, program wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan oleh pemerintah secara umum telah berhasil dituntaskan oleh pemuda pada tahun Tabel 4.6 Rata-Rata Lama Sekolah (dalam tahun) Pemuda Menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2014 Tipe Daerah Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Laki-laki+ Perempuan (1) (2) (3) (4) Perkotaan (K) 10,83 10,97 10,90 Perdesaan (D) 8,97 9,04 9,00 K + D 9,95 10,06 10,01 Sumber: BPS RI Susenas 2014 Akan tetapi bila dirinci menurut tipe daerah, pemerataan pendidikan sudah dapat dirasakan oleh semua pemuda. Hal ini terlihat di perkotaan maupun di perdesaan yang berhasil melampaui sasaran program wajib belajar 9 tahun. Rata-rata lama sekolah pemuda di daerah perkotaan dan di perdesaan yang mencapai 10,90 tahun dan 9,00 tahun (Tabel 4.6). Jika dilihat menurut jenis kelamin dan tipe daerah, target yang belum tercapai adalah rata-rata lama sekolah pemuda laki-laki di perdesaan. Rata-rata lama sekolah pemuda laki-laki di perdesaan sudah mendekati target yang dicanangkan yaitu 8,97 tahun. Hal ini berbeda dengan pemuda perempuan di perdesaan yang sudah mencapai sasaran program waib belajar 9 tahun. 46 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
84 Faktor lain yang juga harus diperhatikan dalam pemerataan pendidikan adalah kesetaraan jender. Kesetaraan jender sudah tercapai baik di perkotaan dan di perdesaan, dengan kecenderungan pemuda perempuan memiliki rata-rata sekolah yang lebih tinggi dibandingkan pemuda laki-laki. Secara nasional, capaian rata-rata lama sekolah pemuda laki-laki sebesar 9,95 tahun sedangkan pemuda perempuan lebih besar 0,11 tahun dibandingkan laki-laki. Perbedaan terbesar ratarata lama sekolah pemuda laki-laki dibandingkan pemuda perempuan berada di perkotaan (10,83 tahun berbanding 10,97 tahun). 4.4 Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Pendidikan yang ditamatkan merupakan salah satu ukuran kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat, semakin tinggi tingkat kesejahteraannya. Daya saing sebuah bangsa tidak bisa dipisahkan dari mutu dan kualitas SDM nya. Pemuda merupakan kelompok usia produktif yang merupakan komponen modal dasar pembangunan bangsa. Modal dasar yang berkualitas menjadi tujuan utama pembangunan seperti yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu mencerdaskan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum. Gambaran kualitas SDM Indonesia dapat dilihat dari pendidikan yang ditamatkan seperti yang disajikan pada Tabel 4.7. Pada Tabel 4.7 ditampilkan bahwa persentase pemuda yang menamatkan jenjang SMP/sederajat, SM/sederajat dan PT berturutturut adalah sebesar 31,99 persen, 36,28 persen dan 7,50 persen. Sementara itu, persentase pemuda yang menyelesaikan jenjang pendidikan SD/sederajat persentasenya masih cukup besar (18,51 persen) dan yang belum tamat SD dan tidak/belum sekolah masingmasing persentasenya sebesar 4,67 persen dan 1,05 persen. Fenomena ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan yang berhasil diselesaikan pemuda masih rendah. Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
85 Tabel 4.7 Persentase Pemuda Menurut Tipe Daerah, Jenis Kelamin dan Jenjang Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, 2014 Tipe Daerah/ Jenis Kelamin Perkotaan (K) Tidak/ Belum Sekolah Belum Tamat SD Jenjang Pendidikan SD/ Sederajat SMP/ Sederajat SM/ Sederajat PT Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Laki-laki (L) 0,45 3,21 12,01 28,87 46,50 8,96 100,00 Perempuan (P) 0,36 2,19 11,66 30,68 43,31 11,80 100,00 L+P 0,41 2,70 11,84 29,77 44,91 10,37 100,00 Perdesaan (D) K + D Laki-laki (L) 1,50 7,67 26,28 33,29 27,78 3,48 100,00 Perempuan (P) 2,06 6,10 25,75 35,69 25,32 5,09 100,00 L+P 1,78 6,89 26,02 34,48 26,56 4,27 100,00 Laki-laki (L) 0,95 5,31 18,74 30,95 37,67 6,37 100,00 Perempuan (P) 1,16 4,02 18,26 33,03 34,87 8,65 100,00 L+P 1,05 4,67 18,51 31,99 36,28 7,50 100,00 Sumber: BPS RI Susenas 2014 Tabel 4.7 juga menunjukkan, bahwa tingkat pendidikan pemuda perkotaan lebih tinggi dibandingkan pemuda perdesaan. Persentase pemuda yang menamatkan jenjang pendidikan dasar (SD/sederajat dan SMP/sederajat) di daerah perdesaan lebih tinggi dibandingkan daerah perkotaan. Pola sebaliknya terjadi pada jenjang pendidikan menengah ke atas. Kondisi ini sekaligus menunjukan terjadinya urbanisasi pemuda dalam rangka mencari kehidupan yang lebih baik (bekerja maupun sekolah di perkotaan) Dilihat sebarannya menurut gender, persentase pemuda perempuan yang menamatkan jenjang SMP/sederajat atau PT lebih besar daripada persentase pemuda laki-laki. Akan tetapi, pada jenjang selain SMP/sederajat dan PT terjadi sebaliknya, yaitu persentase pemuda lakilaki lebih tinggi dibandingkan persentase pemuda perempuan. 48 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
86
87
88 KETENAGAKERJAAN 5 Ketersediaan tenaga kerja merupakan salah satu motor pembangunan, yang merupakan suplai bagi pasar tenaga kerja di suatu negara. Pada umumnya penduduk merupakan sumber tenaga kerja, namun tidak semua penduduk mampu melakukannya karena hanya penduduk yang berusia kerjalah yang bisa menawarkan tenaganya di pasar kerja. Penduduk usia kerja dibagi menjadi dua golongan yaitu yang termasuk angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Penggolongan usia kerja di Indonesia mengikuti standar internasional yaitu usia 15 tahun atau lebih. Angkatan kerja terdiri dari penduduk yang bekerja dan pengangguran. Pengangguran meliputi penduduk yang tidak bekerja atau sedang mencari pekerjaan, atau mempersiapkan suatu usaha, atau merasa tidak mungkin mendapat pekerjaan (putus asa), atau sudah diterima bekerja, tetapi belum mulai bekerja. Sedangkan bukan angkatan kerja terdiri dari penduduk yang pada periode rujukan tidak mempunyai/melakukan aktivitas ekonomi, baik karena sekolah, mengurus rumah tangga atau lainnya (pensiun, penerima transfer/kiriman, penerima deposito/bunga bank, jompo atau alasan yang lain). Kondisi dan situasi ketenagakerjaan pemuda yang dibahas pada bagian ini meliputi jenis kegiatan utama, partisipasi pemuda dalam angkatan kerja, lapangan usaha, kualitas pekerja, status pekerjaan, jam kerja dan tingkat pengangguran. Hasil pembahasan pada bagian ini secara keseluruhan akan dapat memberikan gambaran secara makro Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
89 mengenai potensi, peranan dan kontribusi pemuda dalam kegiatan pembangunan ekonomi. 5.1 Pemuda menurut Jenis Kegiatan Berdasarkan kegiatan sehari-harinya, penduduk usia kerja termasuk juga pemuda secara keseluruhan diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Angkatan kerja merupakan kelompok penduduk usia kerja yang aktif melakukan kegiatan ekonomi, mencakup mereka yang melakukan kegiatan bekerja/berusaha dan mereka yang aktif mencari pekerjaan/usaha. Sedangkan penduduk bukan angkatan kerja mencakup mereka yang sedang bersekolah, mengurus rumah tangga dan mereka yang melakukan kegiatan lainnya yang tidak tergolong sebagai kegiatan bekerja, mencari pekerjaan, sekolah dan mengurus rumah tangga. Tabel 5.1 Persentase Pemuda Menurut Tipe Daerah, Jenis Kelamin, dan Jenis Kegiatan, 2014 Tipe Daerah/ Jenis Kelamin Perkotaan (K) Bekerja Pengangguran Sekolah Mengurus Rumah Tangga Lainnya Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Laki-laki (L) 59,66 11,85 23,32 1,31 3,86 100,00 Perempuan (P) 40,03 7,83 23,61 26,76 1,77 100,00 L+P 49,96 9,86 23,46 13,89 2,83 100,00 Perdesaan (D) Laki-laki (L) 67,37 9,67 16,41 1,50 5,05 100,00 Perempuan (P) 36,82 6,34 16,98 37,83 2,03 100,00 L+P 52,21 8,02 16,69 19,53 3,55 100,00 K+D Laki-laki (L) 63,32 10,82 20,04 1,40 4,42 100,00 Perempuan (P) 38,50 7,12 20,45 32,03 1,90 100,00 L+P 51,03 8,99 20,25 16,57 3,17 100,00 Sumber: BPS RI Sakernas Agustus Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
90 Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2014, separuh lebih (51,03 persen) pemuda bekerja, sekitar 8,99 persen menganggur/sedang mencari kerja, 16,57 persen memiliki kegiatan mengurus rumah tangga, 20,25 persen memiliki kegiatan sekolah dan 3,17 persen memiliki kegiatan lainnya. Dilihat menurut jenis kelamin, persentase pemuda laki-laki yang bekerja (63,32 persen) lebih tinggi dibandingkan pemuda perempuan (38,50 persen. Kondisi ini terjadi baik di perkotaan maupun perdesaan. Bahkan di perdesaan pemuda laki-laki yang bekerja (67,37 persen) hampir dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan pemuda perempuan (36,82 persen). Pola yang serupa terjadi pada pemuda dengan kegiatan mencari pekerjaan/ menganggur, sekolah dan lainnya (lihat Tabel 5.1). Persentase pemuda perempuan yang kegiatan seminggu yang lalunya mengurus rumah tangga (32,03 persen) lebih tinggi dibandingkan pemuda laki-laki (1,40 persen). Pola ini terjadi baik di daerah perkotaan maupun daerah perdesaan. 5.2 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Pemuda Indikator dasar yang biasa digunakan untuk mengukur tingkat partisipasi pemuda dalam angkatan kerja adalah TPAK pemuda yang merupakan persentase jumlah angkatan kerja pemuda terhadap jumlah pemuda secara keseluruhan. Angkatan kerja pemuda adalah pemuda yang bekerja dan yang mencari pekerjaan. TPAK pemuda juga merupakan indikator yang dapat digunakan untuk melihat gambaran secara umum mengenai peranan dan kontribusi pemuda dalam kegiatan ekonomi. Pada tahun 2014 nampak bahwa penduduk pemuda yang terlibat kegiatan ekonomi relatif cukup besar. Hal ini tercermin dari TPAK pemuda sebesar 60,01 persen, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 5.1. Bila dilihat menurut jenis kelamin, terdapat perbedaan TPAK yang cukup jauh antara pemuda laki-laki dan perempuan, dimana TPAK Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
91 pemuda laki-laki sebesar 74,13 persen dan TPAK pemuda perempuan sebesar 45,62 persen. Pola yang serupa terjadi baik di daerah perkotaan maupun perdesaan. Gambar 5.1 TPAK Penduduk Pemuda Menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, ,51 77,04 74, ,82 60,23 60, ,86 43,16 45, Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perdesaan Laki-laki Perempuan Laki-laki+Perempuan Sumber: BPS RI Sakernas Agustus Pemuda Bekerja menurut Lapangan Usaha Komposisi pemuda yang bekerja menurut lapangan usaha mencerminkan struktur perekonomian dan potensi sektor perekonomian dalam menyerap tenaga kerja pemuda. Informasi tersebut juga dapat memberikan gambaran kasar mengenai kualitas sumber daya pemuda terutama tingkat ketrampilan yang dikuasai. Semakin tinggi ketrampilan yang dikuasai para pemuda, semakin tinggi minat mereka untuk bekerja di luar sektor pertanian yang menghasilkan upah/gaji lebih tinggi, dan sebaliknya. 54 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
92 Tabel 5.2 Persentase Pemuda yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha dan Tipe Daerah, 2014 Lapangan Usaha Perkotaan (K) Perdesaan (D) K+D (1) (2) (3) (4) Pertanian 5,12 46,51 25,23 Pertambangan & galian 0,96 2,32 1,62 Industri 24,06 12,00 18,20 Listrik, Gas dan Air 0,35 0,16 0,26 Konstruksi 6,29 6,14 6,22 Perdagangan 30,54 14,74 22,86 Transportasi & Komunikasi 5,92 3,36 4,67 Keuangan 6,30 1,51 3,97 Jasa 20,46 13,28 16,97 Jumlah 100,00 100,00 100,00 Sumber: BPS RI Sakernas Agustus 2014 Pada Tabel 5.2 disajikan persentase pemuda yang bekerja menurut lapangan usaha dan tipe daerah. Sektor/lapangan usaha pertanian ternyata masih mendominasi penyerapan tenaga kerja pemuda. Hal ini dapat dilihat dari hasil Sakernas 2014, dimana dari keseluruhan pemuda yang bekerja, seperempat lebih (25,23 persen) bekerja pada lapangan usaha pertanian. Kemudian diikuti sektor perdagangan 22,86 persen dan sektor industri 18,20 persen. Sementara itu sektor jasa, sektor konstruksi dan sektor transportasi masing-masing menyerap tenaga kerja pemuda sebesar 16,97 persen, 6,22 persen, dan 4,67 persen. Adapun sektor keuangan, sektor pertambangan dan galian dan sektor listrik, gas dan air masing-masing hanya menyerap tenaga kerja pemuda sebesar 3,97 persen, 1,62 persen dan 0,26 persen. Pada Tabel 5.2 juga ditunjukkan bahwa terdapat perbedaan pola struktur lapangan usaha penduduk pemuda di daerah perkotaan dengan perdesaan. Di daerah perkotaan, mayoritas pemuda bekerja Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
93 di sektor perdagangan (30,54 persen), diikuti sektor industri (24,06 persen) dan sektor jasa (20,46 persen). Sementara itu, di daerah perdesaan hampir separuh pemuda yang bekerja berada di sektor pertanian (46,51 persen), kemudian sektor perdagangan (14,74 persen) dan sektor jasa (13,28 persen). Tabel 5.3 Persentase Pemuda yang Bekerja Menurut Tingkat Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan dan Tipe Daerah, 2014 Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Perkotaan (K) Perdesaan (D) K+D (1) (2) (3) (4) Tdk/Blm Pernah sekolah 0,19 2,18 1,16 Tidak Tamat SD 2,98 7,88 5,36 SD/sederajat 12,06 28,82 20,20 SMP/sederajat 20,24 28,94 24,46 SM/sederajat 48,54 26,18 37,67 Akademi/PT 16,00 6,01 11,15 Jumlah 100,00 100,00 100,00 Sumber: BPS RI Sakernas Agustus 2014 Kualitas pemuda yang bekerja juga dapat dilihat dari tingkat pendidikan yang ditamatkan. Semakin tinggi tingkat pendidikan semakin tinggi kualitas pemuda yang bekerja, yang akan mempengaruhi kedudukan serta upah/gaji yang lebih tinggi. Pada Tabel 5.3 disajikan persentase pemuda yang bekerja menurut tingkat pendidikan dan tipe daerah. Sepertiga lebih dari pemuda yang bekerja berpendidikan tamat SM/sederajat (37,67 persen), kemudian yang tamat SMP/sederajat sebesar 24,46 persen dan tamat SD/sederajat sebesar 20,20 persen. Sedangkan pemuda yang bekerja dan tamat Akademi/PT sebesar 11,15 persen. Jika dilihat menurut tipe daerah, ada perbedaan pola pendidikan tenaga kerja pemuda di daerah perkotaan dan perdesaan. Pemuda 56 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
94 perkotaan yang bekerja memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan pemuda perdesaan yang bekerja. Di daerah perkotaan, tenaga kerja pemuda hampir separuhnya memiliki pendidikan tamat SM/sederajat (48,54 persen), kemudian yang tamat SMP/sederajat (20,24 persen), tamat Akademi/PT (16,00 persen) dan tamat SD/sederajat (12,06 persen). Sementara itu tenaga kerja pemuda di daerah perdesaan didominasi oleh tamatan SD/sederajat dan SMP/sederajat, masing-masing sekitar 28 persen, tamat SM/sederajat (26,18 persen), dan tidak tamat SD (7,88 persen). Sedangkan tenaga kerja pemuda perdesaan yang tamat Akademi/PT dan tidak/belum pernah sekolah masing-masing sebesar 6,01 persen dan 2,18 persen. Kondisi ini sejalan dengan lapangan usaha pemuda yang bekerja. Separuh lebih pemuda yang bekerja di daerah perdesaan berada pada lapangan usaha pertanian dimana dalam memasuki sektor ini tidak memiliki persyaratan khususnya pendidikan. 5.4 Pemuda Bekerja Menurut Status Pekerjaan Jenis kedudukan seseorang dalam pekerjaan disebut sebagai status pekerjaan. Pada Tabel 5.4 disajikan persentase pemuda yang bekerja menurut status pekerjaan. Setengah lebih pemuda yang bekerja memiliki status sebagai buruh/karyawan/ pegawai (53,77 persen), kemudian sebagai pekerja tidak dibayar/pekerja keluarga sebesar 19,15 persen, dan berusaha sendiri sebesar 10,67 persen. Sementara itu, pemuda yang bekerja dengan status pekerjaan lainnya masih dibawah 10 persen yaitu berturut-turut sebagai pekerja bebas non pertanian (5,82 persen), berusaha dibantu buruh tetap tidak tetap (5,53 persen), pekerja bebas pertanian (3,38 persen), dan berusaha dibantu buruh tetap (1,67 persen). Banyaknya pemuda yang bekerja sebagai buruh/karyawan/ pegawai terlihat jelas di daerah perkotaan. Dari total pemuda di daerah perkotaan yang bekerja, lebih dari separuhnya (72,79 persen) bekerja Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
95 sebagai buruh/karyawan/pegawai, diikuti berusaha sendiri sebesar 8,65 persen dan pekerja keluarga sebesar 8,17 persen. Sementara itu di daerah perdesaan, sepertiga pemuda bekerja sebagai buruh/karyawan/pegawai (33,65 persen), diikuti pekerja keluarga/pekerja tidak dibayar sebesar 30,77 persen, dan berusaha sendiri sebesar 12,80 persen. Tabel 5.4 Persentase Pemuda yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan dan Tipe Daerah, 2014 Status Pekerjaan Perkotaan (K) Perdesaan (D) K+D (1) (2) (3) (4) Berusaha Sendiri 8,65 12,80 10,67 Berusaha dibantu buruh tidak tetap/ tidak dibayar Berusaha dibantu buruh tetap/buruh dibayar 2,58 8,66 5,53 1,81 1,53 1,67 Buruh/karyawan/pegawai 72,79 33,65 53,77 Pekerja bebas pertanian 1,15 5,74 3,38 Pekerja bebas non pertanian 4,85 6,85 5,82 Pekerja keluarga/ tak dibayar 8,17 30,77 19,15 Jumlah 100,00 100,00 100,00 Sumber: BPS RI - Sakernas Agustus Pemuda Bekerja menurut Jumlah Jam Kerja Produktivitas seseorang dalam bekerja salah satunya dapat dilihat melalui jumlah jam kerja. Jumlah jam kerja normal sesuai standard yang ditentukan International Labour Organization (ILO) adalah 35 jam selama seminggu. Pada Tabel 5.5 terlihat bahwa lebih dari dua pertiga pemuda yang bekerja (70,28 persen) memiliki jam kerja penuh atau jumlah jam kerja minimal 35 jam selama seminggu. Sementara itu, pemuda yang bekerja dengan jumlah jam kerja dibawah normal yaitu 58 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
96 antara jam seminggu sebesar 21,95 persen dan mereka yang bekerja dengan jumlah jam kerja 1 14 jam sebesar 5,93 persen. Tabel 5.5 Persentase Pemuda yang Bekerja Menurut Jumlah Jam Kerja Selama Seminggu Terakhir dan Tipe Daerah, 2014 Jumlah Jam Kerja Perkotaan (K) Perdesaan (D) K+D (1) (2) (3) (4) 0* 1,59 2,09 1, ,28 8,74 5, ,80 32,68 21, ,33 56,49 70,28 Jumlah 100,00 100,00 100,00 Keterangan: * = Sementara tidak bekerja Sumber: BPS RI - Sakernas Agustus 2014 Jika dirinci menurut tipe daerah, persentase pemuda yang bekerja dengan jam kerja penuh (minimal 35 jam selama seminggu) di daerah perkotaan lebih besar dibandingkan perdesaan (83,33 persen berbanding 56,49 persen). Hal ini sesuai dengan sektor dominan di perdesaan adalah pertanian yang tidak mempunyai target waktu kerja per hari seperti sektor formal (jasa dan industri). 5.6 Tingkat Pengangguran Terbuka Pemuda Pengangguran merupakan akibat dari ketidakmampuan lapangan kerja menyerap angkatan kerja yang tersedia. Hal tersebut dikarenakan terbatasnya lapangan pekerjaan, ketidaksesuaian kualifikasi pencari kerja dengan kebutuhan, dan jumlah pencari kerja yang terus meningkat. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) adalah indikator ekonomi makro yang digunakan untuk melihat tingkat perekonomian suatu negara. Indikator ini merupakan persentase antara banyaknya pemuda Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
97 penganggur (mencari kerja, sedang mempersiapkan usaha, tidak mencari pekerjaan karena tak mungkin mendapatkan pekerjaan termasuk putus asa, atau sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja) terhadap jumlah pemuda angkatan kerja. Pada Tabel 5.6 disajikan TPT pemuda tahun 2014 yang dirinci menurut jenis kelamin dan tipe daerah. Dari tabel tersebut tercatat bahwa tingkat pengangguran pemuda di Indonesia sebesar 14,97 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa secara ratarata dari setiap 100 orang pemuda angkatan kerja, sebanyak 15 pemuda diantaranya belum mempunyai pekerjaan. Tabel 5.6 TPT Pemuda Menurut Jenis Kelamin dan Tipe Daerah, 2014 Jenis Kelamin Perkotaan (K) Perdesaan (D) K+D (1) (2) (3) (4) Laki-laki 16,57 12,55 14,59 Perempuan 16,36 14,69 15,61 Laki-laki + Perempuan 16,49 13,31 14,97 Sumber: BPS RI - Sakernas Agustus 2014 Bila dilihat menurut jenis kelamin, ternyata TPT pemuda laki-laki lebih rendah dibanding TPT pemuda perempuan (14,59 persen dibanding 15,61 persen). Pola yang serupa terjadi baik di daerah perdesaan, dan berbeda sedikit dibandingkan di perkotaan. Bila dilihat menurut tipe daerah, TPT pemuda di perkotaan cenderung lebih tinggi daripada TPT pemuda di perdesaan. TPT pemuda daerah perkotaan sebesar 16,49 persen, lebih tinggi dibandingkan TPT pemuda daerah perdesaan yang hanya sebesar 13,31 persen. TPT pemuda perkotaan yang lebih tinggi disinyalir erat kaitannya dengan sifat pekerjaan di perkotaan yang lebih kompleks dibandingkan dengan daerah perdesaan. Pekerjaan yang tersedia di perkotaan pada umumnya membutuhkan pekerja dengan ketrampilan dan kualifikasi pendidikan tertentu. Sedangkan daerah perdesaan umumnya jenis pekerjaan yang 60 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
98 tersedia adalah pekerjaan informal sehingga cenderung lebih mudah bagi pemuda perdesaan mendapatkan pekerjaan daripada pemuda perkotaan. Tabel 5.7 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Pemuda Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan dan Tipe daerah, 2014 Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Perkotaan (K) Perdesaan (D) K+D (1) (2) (3) (4) Tdk/Blm Pernah sekolah 20,49 2,70 4,51 Tidak Tamat SD 13,81 6,89 8,98 SD/sederajat 12,93 8,67 10,02 SMP/sederajat 14,16 13,09 13,55 SM/sederajat 19,16 20,34 19,56 Akademi/PT 13,91 13,50 13,80 Jumlah 16,49 13,31 14,97 Sumber: BPS RI - Sakernas Agustus 2014 Pada Tabel 5.7 disajikan TPT pemuda yang dirinci menurut tingkat pendidikan dan tipe daerah. Dilihat berdasarkan tingkat pendidikan, ternyata TPT pemuda dengan pendidikan tamat SM/sederajat menduduki tingkat teratas sebesar 19,56 persen, diikuti TPT pemuda berpendidikan tamat akademik/pt sebesar 13,80 persen, dan tamat SMP/sederajat sebesar 13,55 persen. Pola yang sama terjadi untuk daerah perdesaan, dimana TPT tertinggi terletak pada pemuda dengan pendidikan tamat SM/sederajat sebesar 20,34 persen, diikuti tamat akademik/pt 13,50 persen, tamat SMP/sederajat sebesar 13,09 persen, dan tamat SD/sederajat sebesar 8,67 persen. Untuk daerah perkotaan, TPT tertinggi juga terletak pada pemuda dengan pendidikan tamat SM/sederajat yaitu sebesar 19,16 persen, diikuti oleh tamat SMP/sederajat sebesar 14,16 persen, akademi/pt sebesar 13,91 persen, tidak tamat SD sebesar 13,81 persen dan tamat SD/sederajat sebesar 12,93 persen. Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
99
100
101
102 KESEHATAN 6 Salah satu hak asasi manusia dan merupakan salah satu unsur kesejahteraan adalah kesehatan, yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia. Upaya pemenuhan hak asasi tersebut untuk memenuhi salah satu hak dasar rakyat, yaitu hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28 H ayat (1) dan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Pembangunan kesehatan harus dipandang sebagai suatu investasi untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia, yang antara lain diukur dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Dalam pengukuran IPM, kesehatan adalah salah satu komponen utama selain pendidikan dan pendapatan. Kesehatan juga merupakan investasi untuk mendukung pembangunan ekonomi serta memiliki peran penting dalam upaya penanggulangan kemiskinan. Upaya pemeliharaan kesehatan sebagai usaha untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan dilaksanakan berdasarkan prinsip non disrikriminatif, partisipatif dan berkelanjutan dalam rangka pembentukan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas. Indonesia telah mengalami kemajuan dalam meningkatkan kualitas kesehatan penduduk, namun demikian masalah dan tantangan baru muncul sebagai akibat perubahan sosial ekonomi. Permasalahan tersebut antara lain adalah disparitas status kesehatan antar kawasan, dan antar perkotaan-perdesaan yang masih cukup tinggi. Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
103 Kualitas kesehatan pemuda umumnya tercermin dari status atau derajat kesehatan yang biasanya dilihat melalui berbagai indikator kesehatan seperti angka kesakitan (morbidity rate) dan rata-rata lama sakit. Angka kesakitan dan rata-rata lama sakit merupakan indikator kesehatan negatif yang artinya semakin tinggi angka kedua indikator tersebut menunjukkan kualitas kesehatan yang semakin memburuk. Indikator lain yang juga biasa digunakan untuk melihat status atau derajat kesehatan adalah indikator perilaku hidup sehat antara lain pola makan, kebiasaan berobat, cara berobat, kebiasaan merokok dan kebiasaan melakukan kegiatan fisik atau olahraga. Pada bab ini akan dibahas beberapa indikator kesehatan dalam rangka memperoleh gambaran secara rinci mengenai kualitas kesehatan pemuda seperti keluhan kesehatan, angka kesakitan (morbidity rate), rata-rata lama sakit, dan cara berobat 6.1 Keluhan Kesehatan Generasi muda sebagai modal utama sekaligus juga sebagai motor utama penggerak pembangunan seharusnya merupakan sosok yang sehat. Sehat yang dimaksud bukan hanya sekedar sehat secara jasmani, tetapi juga sehat secara mental, baik intrapersonal maupun sosial. Pemuda yang sehat dapat secara proaktif mengembangkan diri dalam mengelola berbagai sumber daya pembangunan untuk kepentingan masyarakat dan negara. Bab ini membahas mengenai keluhan kesehatan yang didefinisikan sebagai keadaan seseorang yang mengalami gangguan kesehatan atau kejiwaan, baik karena penyakit akut/kronis, kecelakaan, kriminalitas atau hal lain. Secara umum, jumlah kejadian keluhan kesehatan yang dialami penduduk pada dasarnya merupakan salah satu indikasi pola perilaku tidak sehat penduduk, antara lain adalah faktor kekurangpedulian dalam menjaga kesehatan, kebugaran tubuh dan faktor keengganan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. 66 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
104 Dari data Susenas 2014 seperti yang ditampilkan pada Tabel 6.1, sekitar 19,51 persen dari keseluruhan populasi pemuda mengalami keluhan kesehatan selama sebulan terakhir. Dilihat menurut tipe daerah, tampak bahwa pemuda di daerah perdesaan yang mengalami keluhan kesehatan persentasenya lebih tinggi jika dibandingkan dengan pemuda perkotaan (19,76 persen berbanding 19,29 persen). Dilihat menurut jenis kelamin, persentase pemuda perempuan yang mengalami keluhan lebih tinggi dibandingkan dengan pemuda laki-laki (20,84 persen berbanding 18,20 persen), pola yang sama terjadi baik di daerah perkotaan maupun daerah perdesaan. Tabel 6.1 Persentase Pemuda yang Mengalami Keluhan Kesehatan Sebulan Terakhir Menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2014 Tipe Daerah Laki-laki (L) Perempuan (P) L+P (1) (2) (3) (4) Perkotaan 18,01 20,58 19,29 Perdesaan 18,41 21,14 19,76 Perkotaan+Perdesaan 18,20 20,84 19,51 Sumber: BPS RI Susenas Jenis Keluhan Kesehatan Keluhan kesehatan muncul akibat menurunnya kondisi kesehatan atau daya tahan tubuh. Keluhan kesehatan dapat menggganggu aktivitas sehari-hari dan produktivitas kerja, yang pada akhirnya dapat pula mengganggu kinerja secara keseluruhan. Berbagai keluhan kesehatan dapat dialami oleh seseorang baik yang hanya satu jenis atau lebih dari satu jenis, dan dalam waktu yang bersamaan maupun waktu yang berbeda selama satu bulan terakhir. Pada Tabel 6.2 disajikan gambaran berbagai jenis keluhan kesehatan yang sering dialami oleh pemuda selama satu bulan terakhir. Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
105 Tabel 6.2 Persentase Pemuda yang Mengalami Keluhan Kesehatan Menurut Tipe Daerah, Jenis Kelamin dan Jenis Keluhan, 2014 Tipe Daerah/ Jenis Kelamin Perkotaan (K) Panas Batuk Pilek Jenis Keluhan Asma/ Napas Sesak/ Cepat Diare/ Buang Air Sakit Gigi Sakit Kepala Berulang Lainnya (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Laki-laki (L) 5,68 8,19 7,88 0,42 0,65 1,99 1,01 5,52 Perempuan (P) 5,66 8,29 8,55 0,65 0,76 2,91 1,09 7,35 L+P 5,67 8,24 8,21 0,53 0,70 2,45 1,05 6,43 Perdesaan (D) K+D Laki-laki (L) 6,04 7,56 7,24 0,53 0,68 2,55 1,19 6,41 Perempuan (P) 5,84 7,75 8,01 0,74 0,83 3,97 1,46 7,84 L+P 5,94 7,66 7,62 0,64 0,76 3,25 1,32 7,12 Laki-laki (L) 5,85 7,89 7,58 0,47 0,66 2,25 1,10 5,94 Perempuan (P) 5,74 8,04 8,30 0,69 0,79 3,41 1,26 7,58 L+P 5,80 7,96 7,94 0,58 0,73 2,83 1,18 6,75 Sumber: BPS RI Susenas 2014 Keluhan kesehatan yang paling banyak dirasakan oleh para pemuda adalah batuk, pilek, dan panas dengan persentase masingmasing sebesar 7,96 persen, 7,94 persen dan 5,80 persen. Pola jenis keluhan kesehatan serupa juga ditemukan baik di perkotaan maupun perdesaan serta pemuda laki-laki maupun perempuan. Dilihat menurut tipe daerah, persentase pemuda di perdesaan yang mengalami keluhan kesehatan pada setiap jenis keluhan cenderung lebih tinggi dari rekan mereka di perkotaan, kecuali keluhan batuk dan pilek. Pemuda yang mengalami keluhan batuk dalam satu bulan terakhir di perkotaan sebanyak 8,24 persen dan pemuda di perdesaan sebanyak 7,66 persen, sedangkan persentase pemuda yang mengalami keluhan pilek di perkotaan sebesar 8,21 persen dan di perdesaan sebesar 7,62 persen. 68 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
106 Tabel 6.3 Proporsi Pemuda yang Sakit Menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2014 Tipe Daerah Laki-laki (L) Perempuan (P) L+P (1) (2) (3) (4) Perkotaan 8,25 8,40 8,33 Perdesaan 9,03 9,54 9,28 Perkotaan + Perdesaan 8,62 8,94 8,77 Sumber: BPS RI Susenas 2014 Seseorang dikatakan sakit apabila keluhan kesehatan yang dialami mengakibatkan terganggunya kegiatan sehari-hari seperti bekerja, sekolah, mengurus rumah tangga atau kegiatan lainnya. Demikian halnya dengan pemuda yang mengalami keluhan kesehatan dan terganggu aktivitas sehari-harinya. Semakin tinggi proporsi pemuda yang sakit terhadap populasi pemuda, menunjukkan derajat kesehatan penduduk yang semakin buruk. Hasil Susenas 2014 seperti yang disajikan pada Tabel 6.3 ada sebanyak 8,77 persen pemuda menderita sakit. Bila diperhatikan menurut jenis kelamin, proporsi pemuda perempuan yang sakit tercatat lebih tinggi dari pemuda laki-laki (8,94 persen berbanding 8,62 persen). Pola yang sama terjadi baik di daerah perkotaan maupun perdesaan. Proporsi pemuda yang sakit di daerah perdesaan lebih tinggi dibandingkan dengan pemuda di perkotaan (9,28 persen berbanding 8,33 persen). Hal ini terlihat secara keseluruhan untuk pemuda laki-laki maupun pemuda perempuan. Pemuda laki-laki yang sakit di perdesaan tercatat sebesar 9,03 persen dan di perkotaan sebesar 8,25 persen. Sementara persentase pemuda perempuan yang sakit di perdesaan tercatat sebesar 9,54 persen dan di perkotaan sebesar 8,40 persen. Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
107 6.3 Lama Sakit Indikator lama sakit menggambarkan tingkat intensitas penyakit yang dialami pemuda, menjadi petunjuk seberapa kuat daya tahan tubuh terhadap berbagai serangan penyakit, dan juga dapat menggambarkan besarnya kerugian yang dialami pemuda karena penyakit yang diderita. Semakin besar nilai indikator ini semakin tinggi tingkat intensitas penyakit yang diderita pemuda dan semakin besar kerugian yang dialami. Pada Tabel 6.4 dari keseluruhan pemuda yang mengalami sakit, sebanyak 63,76 persen diantaranya menderita sakit selama 1-3 hari, kemudian sebanyak 26,85 persen menderita sakit selama 4-7 hari serta selebihnya adalah pemuda yang menderita sakit lebih dari 7 hari. Data tersebut memberikan gambaran bahwa dari keseluruhan pemuda yang sakit, sebagian besar mengalami sakit yang tidak begitu berat sehingga perlu sedikit waktu untuk penyembuhannya. Tabel 6.4 Persentase Pemuda yang Sakit Menurut Lamanya Sakit dan Tipe Daerah, 2014 Lamanya Sakit (dalam hari) Perkotaan (K) Perdesaan (D) K+D (1) (2) (3) (4) ,22 60,27 63, ,70 29,02 26, ,69 4,88 4, ,44 2,14 1, ,95 3,68 3,31 Jumlah 100,00 100,00 100,00 Sumber: BPS RI Susenas 2014 Pola yang sama berlaku baik di daerah perkotaan maupun perdesaan. Satu hal yang menarik adalah adanya suatu pola yang menunjukkan kecenderungan lama sakit pemuda di perdesaan lebih lama daripada di perkotaan. Kondisi ini terlihat dari persentase lamanya 70 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
108 sakit lebih dari satu minggu (Tabel 6.4). Hal ini kemungkinan disebabkan pemuda di perkotaan lebih peduli dan lebih mengerti mengenai kesehatan dan didukung pula oleh ketersediaan sarana kesehatan yang lebih mudah dijumpai di daerah perkotaan. Tabel 6.5 Persentase Pemuda yang Sakit Menurut Lamanya Sakit dan Jenis Kelamin, 2014 Lamanya Sakit (dalam hari) Laki-laki (L) Perempuan (P) K+D (1) (2) (3) (4) ,06 66,41 63, ,32 25,41 26, ,35 4,22 4, ,37 1,23 1, ,90 2,74 3,31 Jumlah 100,00 100,00 100,00 Sumber: BPS RI Susenas 2014 Jika dibandingkan menurut jenis kelamin seperti yang ditampilkan pada Tabel 6.5, bahwa secara umum pemuda perempuan yang menderita sakit lebih banyak dibanding pemuda laki-laki, seperti pada kelompok lama sakit 1-3 hari, pemuda perempuan yang menderita sakit persentasenya sebesar 66,41 persen sedangkan pemuda laki-laki sebesar 61,06 persen. Kondisi ini secara tidak langsung mencerminkan bahwa pemuda perempuan lebih rentan terhadap gangguan berbagai penyakit dibandingkan dengan pemuda laki-laki. Pada kelompok lama sakit 4 hari atau lebih, persentase pemuda laki-laki sedikit lebih tinggi dibanding pemuda perempuan. Persentase pemuda laki-laki yang menderita sakit pada kelompok lama sakit 4-7 hari sebesar 28,32 persen dan yang lama sakitnya lebih dari 7 hari persentasenya berkisar 2,37-4,35 persen. Sementara untuk pemuda perempuan pada kelompok lama sakit 4-7 hari sebesar 25,41 persen dan yang lama sakitnya lebih dari 7 hari persentasenya berkisar 1,23-4,22 persen. Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
109 6.4 Kebiasaan Berobat Kesehatan adalah hal yang paling berharga bagi manusia, karena banyak sekali kerugian yang didapat jika tubuh dalam kondisi tidak sehat. Masih rendahnya pendidikan dan sosialisasi mengenai perilaku sehat yang diberikan atau dimiliki oleh masyarakat, sulitnya akses ke pelayanan kesehatan serta tingginya biaya kesehatan atau biaya berobat yang dianggap masih terlalu mahal, adalah beberapa faktor yang menjadi penyebab masyakat mengabaikan masalah kesehatan. Namun demikian, berbagai cara dapat dilakukan untuk mengobati suatu penyakit, diantaranya adalah pergi berobat ke tempat-tempat pelayanan kesehatan, mendatangkan petugas kesehatan ke rumah maupun mencoba mengobati sendiri penyakitnya. Salah satu tindakan yang dapat dilakukan oleh seseorang untuk mengobati sendiri penyakitnya antara lain dengan menggunakan berbagai jenis obat, baik obat modern, tradisional maupun cara pengobatan lainnya. Gambar 6.1 Persentase Pemuda yang Mengalami Keluhan Kesehatan dan Mengobati Sendiri Menurut Jenis Pengobatan dan Tipe Daerah, ,25 90,82 92,10 20,26 13,17 16,55 3,09 4,87 3,94 Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan Obat tradisional Obat modern Lainnya Sumber: BPS RI Susenas Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
110 Hasil Susenas 2014, seperti yang disajikan pada Gambar 6.1 menunjukkan bahwa pengobatan secara modern cenderung dipilih oleh pemuda guna mengurangi gejala sakit yang dideritanya. Hal ini ditandai dengan lebih tingginya persentase pemuda yang mengobati sendiri sakitnya dengan pengobatan modern yaitu sebesar 92,10 persen. Angka tersebut jauh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan pemuda yang memilih mengobati dengan cara tradisional yang besarnya 16,55 persen dan pengobatan lainnya yang hanya sebesar 3,94 persen. Tabel 6.6 Persentase Pemuda yang Mengalami Keluhan Kesehatan dan Mengobati Sendiri Menurut Jenis Obat, Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2014 Jenis Obat yang Digunakan Lakilaki (L) Perkotaan (K) Perdesaan (D) K+D Perempuan (P) L + P Lakilaki (L) Perempuan (P) L + P Lakilaki (L) Perempuan (P) L + P (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) Modern 93,77 92,75 93,25 90,91 90,74 90,82 92,42 91,79 92,10 Tradisional 12,24 14,07 13,17 19,96 20,55 20,26 15,88 17,18 16,55 Lainnya 3,07 3,10 3,09 4,30 5,42 4,87 3,65 4,21 3,94 Sumber: BPS RI Susenas 2014 Bila dibandingkan menurut jenis kelamin, baik pemuda laki-laki maupun pemuda perempuan mempunyai pola yang relatif sama dalam memilih jenis obat yang digunakan untuk mengobati keluhan kesehatannya. Seperti yang disajikan pada Tabel 6.6, persentase pemuda baik laki-laki maupun perempuan cenderung lebih banyak memilih obat modern dibandingkan obat tradisional atau lainnya. Pada penggunaan obat modern, persentase pemuda laki-laki sebesar 92,42 persen dan pemuda perempuan sebesar 91,79 persen. Seseorang yang menderita sakit, selain mengobati sendiri upaya lain yang ditempuh adalah dengan cara berobat jalan yaitu mendatangi tempat-tempat pelayanan kesehatan modern atau tradisional tanpa Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
111 menginap, termasuk mendatangkan petugas kesehatan ke rumah. Umumnya penggunaan sarana berobat ini berkaitan dengan biaya dan ketersediaan pelayanan. Tabel 6.7 menunjukkan fasilitas pelayanan kesehatan yang dipilih oleh pemuda dalam rangka mengobati sakitnya. Tempat fasilitas pelayanan kesehatan yang paling banyak dikunjungi oleh pemuda yang berobat jalan pada tahun 2014 secara berturut-turut adalah Praktek Dokter (33,55 persen), Puskesmas (27,57 persen) dan praktek nakes atau tenaga kesehatan (30,85 persen). Pola yang sama terjadi baik pada pemuda laki-laki maupun perempuan. Tabel 6.7 Persentase Pemuda Sakit yang Berobat Jalan Menurut Tempat Berobat, Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, Tahun 2014 Tempat Berobat Lakilaki (L) Perkotaan (K) Perdesaan (D) K+D Perempuan (P) L + P Lakilaki (L) Perempuan (P) L + P Lakilaki (L) Perempuan (P) L + P Rumah Sakit Praktek Dokter (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) 13,20 12,46 12,77 8,64 6,38 7,35 11,06 9,65 10,25 44,85 41,13 42,71 25,29 21,34 23,04 35,67 31,97 33,55 Puskesmas 26,04 27,21 26,71 26,29 30,29 28,56 26,16 28,63 27,57 Praktek Nakes Praktek Batra Dukun Bersalin 18,17 22,31 20,55 40,47 44,31 42,66 28,63 32,50 30,85 2,26 2,00 2,11 3,99 3,41 3,66 3,07 2,65 2,83 0,56 0,49 0,52 0,41 1,01 0,75 0,49 0,73 0,63 Lainnya 2,60 1,86 2,18 2,06 2,72 2,44 2,35 2,26 2,30 Sumber: BPS RI Susenas 2014 Meskipun ketiga jenis tempat berobat tersebut menjadi tempat pelayanan favorit, tetapi bila diperhatikan besaran proporsi pemuda yang berobat, maka terlihat adanya perbedaan pola antara daerah perkotaan dengan perdesaan. Di perkotaan polanya hampir sama dengan umumnya, dimana pemuda di perkotaan cenderung berobat jalan ke 74 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
112 tempat Praktek Dokter (42,71 persen), Puskesmas (26,71 persen) dan Praktek Petugas Kesehatan (20,55 persen). Sebaliknya, di perdesaan pemuda cenderung berobat jalan ke Praktek Petugas Kesehatan (42,66 persen), lalu ke Puskesmas (28,56 persen), dan Praktek Dokter (23,04 persen). Begitu pula dengan pemuda yang berobat jalan ke rumah sakit, nampak lebih banyak diminati oleh pemuda di perkotaan (12,77 persen) sementara di perdesaan hanya 7,35 persen. Kondisi seperti ini mungkin terkait dengan ketersediaan fasilitas kesehatan tempat praktek dokter maupun rumah sakit yang lebih mudah dijumpai di daerah perkotaan. Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
113
114 Di Indonesia pada tahun 2012, hanya ada 1 diantara 4 Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir Tertinggi Terendah Kaltim 31,48% Papua 15,12%
115
116 KEGIATAN OLAHRAGA 7 Bagi masyarakat yang maju dan modern kegiatan olahraga sudah menjadi kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari. Olahraga telah dipandang memiliki berbagai fungsi yang tidak hanya untuk mengembangkan kualitas kebugaran fisik saja, melainkan juga mengembangkan kualitas mental individu dan masyarakat secara lebih utuh dan mantap. Melalui olahraga, individu dapat mengembangkan segisegi mental kepribadian, moral, kepemimpinan, kesetiaan, loyalitas, pengabdian, relasi intra dan interpersonal lebih baik lagi (Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Kemdiknas, 2010). Sejalan dengan itu, pengembangan kualitas mental ke arah yang lebih baik merupakan wujud dari pembinaan mutu sumber daya manusia dalam pembangunan nasional. Penyelenggaraan keolahragaan di Indonesia diatur melalui Sistem Keolahragaan Nasional (SKN) yang tertuang dalam UU RI Nomor 3 Tahun Dalam Bab IV Pasal 6 UU tersebut dinyatakan bahwa setiap warga negara diberi hak yang sama untuk: a) melakukan kegiatan olahraga; b) memperoleh pelayanan dalam kegiatan olahraga; c) memilih dan mengikuti jenis atau cabang olahraga yang sesuai dengan bakat dan minatnya; d) memperoleh pengarahan, dukungan, bimbingan, pembinaan dan pengembangan dalam keolahragaan; e) menjadi pelaku olahraga; dan f) mengembangkan industri olahraga. Selanjutnya dalam SKN, semua unsur yaitu orang tua, masyarakat, dan pemerintah berkewajiban untuk Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
117 berperan serta dalam perencanaan, pengembangan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan keolahragaan. Pemerintah sendiri telah berupaya untuk selalu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan olahraga melalui pembangunan olahraga. Untuk mendukung upaya pemerintah sehingga arah pembangunan di bidang olahraga lebih terarah, perlu disediakan data dan informasi mengenai kondisi serta karakteristik masyarakat dan lingkungan yang akan menjadi sasaran atau target pembangunan. Sejalan dengan itu, pada bab ini akan diulas beberapa aspek yang berkaitan dengan kegiatan olahraga, yaitu: partisipasi berolahraga, tujuan berolahraga, frekuensi dan intensitas berolahraga, jalur kegiatan olahraga, dan jenis olahraga. 7.1 Partisipasi Berolahraga Bagian dari gaya hidup sehat yang perlu dikembangkan adalah dengan ikut berpartisipasi dalam berolahraga. Hal tersebut membuat peserta yang ikut berolahraga sangat beragam, mulai dari anak-anak hingga orang tua, dari tingkat permainan yang bertujuan rekreasi hingga tingkat profesional. Keikutsertaan seseorang dalam berolahraga merupakan bentuk ekspresi manusia yang menyenangkan, sehingga dengan kegiatan tersebut banyak orang yang menemukan olahraga sebagai sumber kegembiraan dan kepuasan diri. Partisipasi masyarakat dalam melakukan kegiatan olahraga dipengaruhi dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor ekternal. Faktorfaktor internal yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam kegiatan olahraga adalah pengetahuan dari masyarakat mengenai manfaat olahraga, selera atau preferensi olahraga, ketersediaan fasilitas olahraga dan lingkungan tempat tinggal. Sementara itu, prestasi atlet terutama pada event internasional, motivasi guru/pelatih olahraga dan intervensi pemerintah juga diyakini sebagai faktor-faktor 80 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
118 eksternal yang dapat merangsang tumbuhnya partisipasi masyarakat untuk berolahraga. Sampai dengan saat ini, apresiasi masyarakat dalam berolahraga masih rendah. Hal ini ditunjukkan dengan rendahnya partisipasi penduduk untuk berolahraga. Berdasarkan hasil Susenas MSBP Tahun 2012, penduduk berumur 10 tahun ke atas yang melakukan olahraga hanya sekitar 25 persen saja. Hal ini berarti dari 100 penduduk Indonesia berumur 10 tahun ke atas, ada 25 orang yang aktif berpartisipasi dalam kegiatan olahraga, sedangkan 75 orang lainnya tidak melakukan olahraga. Gambar 7.1 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir Menurut Tipe Daerah, ,12 27,94 26,11 29,61 20,50 20,30 19,54 17,61 25,45 24,96 23,23 21, Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perdesaan Sumber: BPS RI Susenas Modul 2003, 2006, 2009, dan 2012 Dilihat perkembangannya, mulai tahun 2003 hingga tahun 2009 partisipasinya menurun, namun pada tahun 2012 kembali meningkat (lihat Gambar 7.1). Pada tahun 2003 partisipasi penduduk sebesar 25,45 persen menurun menjadi 23,23 persen pada tahun 2006, dan terakhir turun menjadi 21,76 persen pada tahun Kemudian baru pada Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
119 tahun 2012 angka partisipasi kembali mengalami peningkatan menjadi 24,96 persen. Peningkatan tersebut dapat mengindikasikan kesadaran penduduk kembali untuk melakukan olahraga. Pola tersebut berlaku baik di daerah perkotaan maupun perdesaan. Dari Gambar 7.1 terlihat pula bahwa tingkat partisipasi olahraga penduduk perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk perdesaan. Seperti yang terjadi pada tahun 2012, persentase penduduk yang melakukan olahraga di daerah perkotaan (29,61 persen) lebih tinggi dibanding persentase penduduk yang melakukan olahraga di daerah perdesaan yang hanya sebesar 20,30 persen. Hal ini mungkin disebabkan fasilitas dan jenis olahraga yang tersedia di perkotaan lebih banyak dibandingkan di perdesaan. Rendahnya partisipasi penduduk Indonesia yang melakukan aktivitas olahraga terlihat hampir di seluruh provinsi. Minat tertinggi penduduk dalam berolahraga terdapat di Provinsi Kalimantan Timur (31,48 persen), DKI Jakarta (30,02 persen), dan Kepulauan Riau (29,34 persen). Sementara penduduk yang berolahraga dengan persentase paling rendah terdapat pada Provinsi Papua (15,12 persen), Sumatera Utara (20,51 persen), dan DI Aceh (20,84 persen). Gambar 7.2 menyajikan persentase penduduk yang melakukan olahraga di setiap provinsi. Fenomena tersebut menyiratkan bahwa partisipasi masyarakat Indonesia dalam kegiatan olahraga secara umum masih sangat rendah. Kondisi tersebut cukup memprihatinkan mengingat olahraga merupakan salah satu kegiatan yang menunjang kesehatan. Dengan masih rendahnya angka partisipasi olahraga mengindikasikan bahwa masyarakat belum sepenuhnya mempunyai kesadaran untuk hidup lebih sehat melalui olahraga. Sehingga hal tersebut perlu mendapat perhatian dari pemerintah dan pihak terkait lainnya mencari solusi agar partisipasi masyarakat dalam berolahraga dapat meningkat. 82 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
120 Gambar 7.2 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, 2012 Kalimantan Timur DKI Jakarta Kepulauan Riau DI Yogyakarta Banten Jawa Barat Bengkulu Gorontalo Jawa Tengah Kalimantan Tengah Sulawesi Barat Nusa Tenggara Barat Sulawesi Tengah INDONESIA Riau Sulawesi Tenggara Jambi Sumatera Barat Kep. Bangka Belitung Jawa Timur Lampung Sulawesi Selatan Sumatera Selatan Kalimantan Selatan Nusa Tenggara Timur Maluku Utara Maluku Kalimantan Barat Sulawesi Utara Papua Barat Bali Aceh Sumatera Utara Papua 15,12 31,48 30,02 29,34 29,01 28,55 27,07 26,84 26,14 25,51 25,50 25,38 25,29 25,23 24,96 24,82 24,77 24,49 24,41 24,35 23,86 23,36 23,30 23,20 22,68 22,57 22,02 21,84 21,76 21,73 21,37 21,08 20,84 20,51 0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 35,00 Sumber: BPS RI Susenas Modul 2012 Dibedakan menurut jenis kelamin, minat penduduk laki-laki 10 tahun ke atas yang melakukan olah raga lebih tinggi dibandingkan Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
121 perempuan. Pada tahun 2012, persentase penduduk 10 ke atas yang melakukan olah raga sebesar 29,59 persen lebih tinggi dibandingkan penduduk perempuan yang hanya 20,30 persen atau dengan kata lain partisipasi penduduk laki-laki lebih tinggi 9,29 persen dari partisipasi perempuan dalam melakukan olah raga. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 7.3. Gambar 7.3 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir Menurut Jenis Kelamin dan Tipe Daerah, ,10 29,61 29,59 24,10 24,08 24,96 20,30 20,30 16,51 Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perdesaan Laki-Laki Perempuan Laki-Laki+Perempuan Sumber: BPS RI Susenas Modul 2012 Dari gambar 7.3 juga terlihat bahwa baik di perkotaan maupun perdesaan kecenderungan penduduk laki-laki 10 tahun ke atas yang berolah raga lebih tinggi daripada perempuan. Di perkotaan persentase penduduk laki-laki 10 tahun ke atas yang melakukan olah raga di perkotaan sebesar 11 persen lebih tinggi daripada persentase perempuannya. Sementara itu di perdesaan, persentase penduduk lakilaki 10 tahun ke atas yang melakukan olah raga lebih tinggi 7,57persen dibanding persentase perempuannya. 84 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
122 Selanjutnya dikaji menurut kelompok umur, semakin tua kelompok umur semakin rendah partisipasi masyarakat untuk berolahraga. Padahal seyogyanya olahraga harus terus dilakukan tanpa memandang umur. Lihat Gambar 7.4. Gambar 7.4 Persentase Penduduk Berumur 5 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir Menurut Kelompok Umur, ,92 68, ,63 11,5 11,72 10,66 8, Sumber: BPS RI Susenas Modul 2012 Terlihat pada Gambar 7.4 bahwa pada kelompok umur 5-9 tahun dan tahun persentase penduduk yang melakukan olahraga selama seminggu terakhir tinggi, berturut-turut yaitu 66,92 persen dan 68,56 persen. Kelompok umur tersebut biasanya didominasi oleh penduduk yang masih bersekolah, sehingga tingginya persentase yang berolahraga pada kelompok umur tersebut mungkin disebabkan kewajiban mereka mengikuti mata pelajaran olah raga di sekolah. Selanjutnya, dibandingkan kelompok umur yang lebih tua (20-29 tahun, tahun, dst.) persentase penduduk berolahraga terus mengalami penurunan mulai dari kelompok tahun menjadi 15,63 persen, terus menurun pada kelompok umur berikutnya dan terakhir mencapai persentase terendah pada kelompok umur 60 tahun ke atas, yaitu sebesar 8,00 persen. Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
123 Kecenderungan menurunnya partisipasi olahraga seiring bertambahnya usia terjadi baik di daerah perkotaan maupun perdesaan (Lihat Tabel 7.1). Di perkotaan, pada kelompok umur 5-9 tahun dan persentase penduduk yang melakukan olah raga berada di kisaran 70 persen dan terus menurun seiring bertambahnya umur hingga mencapai persentase terendah di kelompok usia 60 tahun ke atas (13,32 persen). Begitupula di perdesaan, pada kelompok umur 5-9 tahun dan persentase penduduk yang melakukan olah raga berada di kisaran 60 persen dan terus menurun seiring bertambahnya umur hingga mencapai persentase terendah di kelompok usia 60 tahun ke atas (8 persen). Tabel 7.1 Persentase Penduduk Berumur 5 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir Menurut Kelompok Umur dan Tipe Daerah, 2012 Kelompok Umur Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perdesaan (1) (2) (3) (4) ,58 62,49 66, ,36 64,90 68, ,65 11,52 15, ,54 6,36 11, ,89 5,51 11, ,34 4,02 10, ,32 2,83 8,00 Sumber: BPS RI Susenas Modul 2012 Dari Tabel 7.1 terlihat pula bahwa persentase penduduk berumur 5 tahun ke atas yang melakukan olahraga lebih tinggi di daerah perkotaan daripada perdesaan. Perbedaan persentase penduduk dan perkotaan yang melakukan olah raga sangat mencolok pada kelompok umur tahun dan kelompok umur selanjutnya. Hal ini mengindikasikan penurunan minat berolahraga lebih cepat terjadi pada penduduk di daerah perdesaan daripada penduduk perkotaan. 86 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
124 7.2 Tujuan Berolahraga Setiap orang mempunyai tujuan yang berbeda-beda dalam melakukan olahraga, ada yang berolahraga dengan tujuan meningkatkan/menjaga stamina tubuh agar tetap sehat, tetapi ada pula mereka yang melakukannya dengan tujuan meningkatkan prestasi, rekreasi/hiburan, dan lainnya. Olahraga prestasi biasanya dilakukan oleh mereka yang mempunyai minat dan bakat dalam bidang olahraga dan dikembangkan secara profesional sehingga dapat mencapai prestasi. Olahraga rekreasi ditujukan dalam rangka memenuhi kebutuhan akan kegembiraan yang menyegarkan dan menghilangkan kejenuhan dari aktivitas sehari-hari. Selain itu, adapula penduduk yang berolah raga karena wajib mengikuti pelajaran sekolah. Tabel 7.2 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir Menurut Tipe Daerah, Jenis Kelamin, dan Tujuan Olahraga, 2012 Tipe Daerah/ Jenis Kelamin Perkotaan (K) Menjaga Kesehatan Tujuan Olahraga Prestasi Rekreasi Lainnya Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) Laki-laki 74,02 6,41 3,62 15,95 100,00 Perempuan 69,59 7,75 1,76 20,90 100,00 L+P 72,22 6,96 2,87 17,96 100,00 Perdesaan (D) Laki-laki 60,51 8,82 5,45 25,22 100,00 Perempuan 55,50 10,93 1,53 32,04 100,00 L+P 58,47 9,67 3,86 27,99 100,00 K+D Laki-laki 68,52 7,39 4,37 19,72 100,00 Perempuan 63,86 9,04 1,67 25,43 100,00 L+P 66,63 8,06 3,27 22,04 100,00 Sumber: BPS RI Susenas Modul 2012 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
125 Pada Tabel 7.2 diperoleh gambaran bahwa mayoritas penduduk (66,63 persen) melakukan olahraga dengan tujuan menjaga kesehatan. Sementara itu, hanya sebagian kecil saja dari mereka yang melakukannya dengan tujuan prestasi dan rekreasi yaitu masing-masing sebesar 8,06 persen dan 3,27 persen. Dari Tabel 7.2 terlihat bahwa penduduk perkotaan yang berolah raga untuk tujuan kesehatan sebesar 72,22 persen lebih tinggi daripada penduduk di daerah perdesaan yang hanya 58,47 persen. Sebaliknya untuk tujuan selain kesehatan, yaitu berolahraga untuk berprestasi, rekreasi, dan lainnya, justru persentase penduduk perkotaan lebih rendah daripada penduduk berdesaan. Untuk tujuan prestasi, persentase penduduk perkotaan yang berolah raga untuk mencapai prestasi lebih rendah 2,71 persen daripada penduduk perdesaan. Sementara persentase penduduk perkotaan yang berolah raga karena rekreasi 0.99 persen lebih rendah dan untuk alasan lainnya persen lebih rendah daripada persentase penduduk pedesaan yang melakukan olah raga dengan motivasi yang sama. Selanjutnya dibandingkan menurut jenis kelamin, baik laki-laki maupun perempuan cenderung melakukan olah raga karena faktor menjaga kesehatan. Namun jika dikaji lebih lanjut pada tiap tujuan berolah raga, didapati pola bahwa persentase penduduk laki-laki yang melakukan olah raga karena kesehatan atau rekreasi lebih tinggi daripada perempuan. Sebaliknya, persentase laki-laki yang melakukan olah raga karena prestasi dan lainnya justru lebih rendah daripada perempuan. (Lihat Tabel 7.2). Dikaji menurut distribusi penduduk yang berolahraga menurut jenjang pendidikan dan tujuan olahraga. Ada kecenderungan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin tinggi kesadaran untuk hidup sehat dengan berolahraga. Hal ini dapat dilihat pada Tabel Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
126 Dari Tabel 7.3 diperoleh gambaran bahwa penduduk yang melakukan olahraga dengan tujuan menjaga kesehatan persentasenya semakin meningkat seiring dengan meningkatnya jenjang pendidikan yang ditamatkan. Berdasarkan tabel di atas terlihat persentase penduduk yang berpendidikan SMP ke bawah dan berolahraga untuk menjaga kesehatan persentasenya berkisar antara 53 hingga 64 persen. Persentase tersebut lebih rendah dibanding penduduk yang tamat SMA ke atas, yang mana persentasenya berkisar antara 89 hingga 91 persen. Tabel 7.3 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan dan Tujuan Olahraga, 2012 Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan Menjaga Kesehatan Tujuan Olahraga Prestasi Rekreasi Lainnya Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) Tdk/blm tamat SD 53,11 11,42 2,55 32,92 100,00 SD/MI 56,92 10,58 3,12 29,38 100,00 SMP/MTs 64,15 9,40 3,25 23,20 100,00 SMA/MA 89,20 1,88 4,73 4,19 100,00 PT 91,38 1,07 2,90 4,65 100,00 Total 66,63 8,06 3,27 22,04 100,00 Sumber: BPS RI Susenas Modul 2012 Namun keadaan sebaliknya terjadi pada penduduk yang melakukan olahraga dengan tujuan prestasi. Tabel 7.3 memperlihatkan bahwa penduduk yang melakukan olahraga dengan tujuan prestasi persentasenya semakin menurun seiring dengan meningkatnya jenjang pendidikan yang ditamatkan. Sementara itu, persentase penduduk yang berolahraga dengan tujuan rekreasi persentasenya relatif sama untuk semua jenjang pendidikan yang ditamatkan (Tabel 7.3). Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
127 7.3 Frekuensi dan Intensitas Berolahraga Olahraga yang baik dan benar yaitu olahraga yang dilakukan secara teratur dan terukur. Dengan melakukan olahraga secara rutin menurut frekuensi dan intensitas yang cukup maka akan mendatangkan manfaat bagi tubuh secara maksimal. Dalam melakukan olahraga, setiap orang mempunyai kapasitas dan kemampuan yang berbeda-beda. Gambar 7.5 menyajikan frekuensi dan intensitas olahraga yang dilakukan penduduk berumur 10 tahun ke atas. Frekuensi olahraga menunjukkan berapa hari dalam seminggu seseorang melakukan olahraga. Gambar 7.5 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir Menurut Tipe Daerah dan Lama Berolahraga (Hari), ,39 65,65 66, ,50 25,54 24,92 5,36 4,67 2,75 4,14 3,31 5,08 Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perdesaan 1 Hari 2-4 Hari 5-6 Hari 7 Hari Sumber: BPS RI Susenas Modul 2012 Dari Gambar 7.5 terlihat bahwa sebagian besar penduduk 10 Tahun ke atas berolah raga setidaknya satu hari dalam seminggu. Sementara itu, penduduk 10 Tahun ke atas yang berolahraga selama 2-4 hari dalam seminggu sebesar 24,92 persen. Untuk penduduk 10 Tahun ke atas yang berolahraga hampir setiap hari, yaitu selama 5-6 hari atau 7 90 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
128 hari dalam seminggu,dapat dikatakan persentasenya sangat rendah berturut-turut 3,31 persen dan 5,08 persen. Selanjutnya jika dilihat berdasarkan tipe daerah, tidak ada perbedaan berarti frekuensi berolah raga antara penduduk perkotaan dan perdesaan. Persentase penduduk perkotaan yang melakukan olahraga hanya satu hari dalam seminggu di daerah perkotaan sebesar 67,39 persen, sedikit lebih tinggi, dibandingkan dengan di perdesaan (65,65 persen). Frekuensi olah raga penduduk pada dasarnya juga dipengaruhi oleh jenis olah raga yang dilakukan. Gambaran tentang frekuensi olahraga yang dilakukan penduduk berumur 10 tahun ke atas berdasarkan jenis olahraga disajikan pada Tabel 7.4. Tabel 7.4 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir Menurut Jenis Olahraga yang Paling Sering Dilakukan dan Lama Berolahraga (Hari), 2012 JenisOlahraga Lama Berolahraga 1 Hari 2 4 Hari 5 6 Hari 7 Hari Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) SKJ 83,52 12,54 3,37 0,56 100,00 Senam lainnya 77,28 18,37 1,47 2,88 100,00 Jogging/gerak jalan 55,11 28,84 3,82 12,22 100,00 Tenis meja 48,97 44,10 3,41 3,52 100,00 Badminton 51,10 43,54 1,95 3,41 100,00 Bola voli 70,55 23,27 2,80 3,39 100,00 Bola basket 77,89 19,99 0,83 1,29 100,00 Sepak bola 53,99 36,02 4,73 5,26 100,00 Renang 72,68 23,03 1,69 2,61 100,00 Bela diri 39,81 55,18 2,44 2,57 100,00 Catur 38,51 54,38 2,30 4,81 100,00 Lainnya 55,90 31,11 3,46 9,52 100,00 Sumber: BPS RI Susenas Modul 2012 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
129 Dari Tabel 7.4 ditunjukkan bahwa hampir seluruh jenis olahraga dilakukan penduduk hanya satu hari dalam seminggu, kecuali olahraga bela diri dan catur. Sementara itu, diantara jenis olah raga yang paling sering dilakukan setiap hari (7 hari dalam seminggu) oleh penduduk adalah jogging/gerak jalan. Olahraga jogging/gerak jalan nampaknya menjadi olahraga yang paling murah dan mudah dilakukan sehingga dapat dilakukan setiap hari. Intensitas berolahraga menunjukkan berapa menit dalam sehari seseorang melakukan olahraga. Pada Gambar 7.6 dapat dilihat bahwa sebagian besar penduduk melakukan olahraga dengan intensitas tidak lebih dari satu jam dalam sehari. Persentase penduduk yang melakukan olahraga rata-rata menit dalam sehari sebesar 50,14 persen dan menit sebesar 34,02 persen. Sedangkan penduduk yang berolahraga selama menit dan lebih dari 120 menit persentasenya relatif kecil yaitu 15,19 persen dan 0,66 persen. Gambar 7.6 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir Menurut Tipe Daerah dan Rata-rata Lama Berolahraga per Hari (Menit), ,46 49,67 50,14 33,90 34,20 34, ,81 15,74 15,19 0,84 0,40 0,66 Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perdesaan menit menit menit >120 menit Sumber: BPS RI Susenas Modul Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
130 Dilihat dari tempat tinggal penduduk, pola intensitas berolah raga tidak berbeda antara penduduk perkotaan dan perdesaan, yaitu baik perkotaan maupun perdesaan penduduknya sebagian besar berolah raga kurang dari satu jam. Akan tetapi, persentase penduduk yang melakukan olah raga 30 menit dan kurang di daerah perkotaan lebih rendah dibandingkan di perdesaan (33,90 persen berbanding 34,20 persen). Sementara persentase penduduk yang berolahraga selama menit lebih tinggi di daerah perkotaan (50,46 persen) dibandingkan di daerah perdesaan (49,67 persen). 7.4 Jalur Kegiatan Olahraga Seseorang yang melakukan kegiatan olahraga membutuhkan suatu wadah. Wadah olahraga bertujuan memfasilitasi penduduk dalam melakukan olahraga. Wadah ini biasa disebut jalur olahraga. Jalur olahraga yang dapat dimanfaatkan adalah dengan melakukannya sendiri, melalui perkumpulan sekolah, perkumpulan olahraga, perkumpulan tempat bekerja, atau lainnya. Gambaran tentang persentase penduduk yang melakukan olahraga menurut jalur olahraga disajikan pada Tabel 7.5. Dari Tabel 7.5 terlihat bahwa penduduk lebih banyak yang melakukan olahraga melalui jalur sekolah daripada jalur sendiri, perkumpulan olah raga, ataupun jalur tempat kerja. Persentase penduduk 10 tahun ke atas yang melakukan olah raga melalui jalur sekolah sebesar 56,06 persen. Hal ini memperkuat dugaan pada subbab sebelumnya bahwa yang melatar belakangi kenapa partisipasi berolah raga paling tinggi berada pada kelompok 5-19 tahun adalah karena olah raga termasuk dalam kurikulum sekolah. Selain sekolah, cukup banyak penduduk berolah raga dengan jalur sendiri. Persentase penduduk yang melakukan olahraga dengan jalur sendiri sebesar 26,75 persen. Sementara yang melakukan olah raga dengan memanfaatkan jalur perkumpulan olahraga sebesar 12,92 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
131 persen. Mereka yang memanfaatkan perkumpulan di tempat bekerja hanya sebesar 7,14 persen dan sisanya adalah dengan memanfaatkan jalur lainnya (7,57 persen). Bila ditinjau menurut tipe daerah terdapat pola bahwa olahraga yang dilakukan melalui jalur sekolah lebih banyak dilakukan oleh penduduk perdesaan (66,20 persen) dibandingkan dengan penduduk perkotaan (49,12 persen). Sementara pola penduduk yang berolahraga dengan melakukan sendiri dan di tempat bekerja lebih banyak dilakukan oleh penduduk perkotaan dibandingkan perdesaan. Tabel 7.5 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir Menurut Tipe Daerah, Jenis Kelamin, dan Jalur Melakukan Olahraga, 2012 Tipe Daerah/ Jenis Kelamin Perkotaan (K) Sendiri Jalur Melakukan Olahraga Perkumpulan Sekolah Perkumpulan Olahraga Perkumpulan Tempat Bekerja Lainnya (1) (2) (3) (4) (5) (6) Laki-laki (L) 36,12 42,28 16,11 11,37 7,58 Perempuan (P) 28,91 59,12 6,80 6,18 6,00 L+P 33,19 49,12 12,33 9,26 6,94 Perdesaan (D) K+D Laki-laki (L) 20,93 56,60 20,21 5,12 10,39 Perempuan (P) 12,08 80,24 4,41 2,49 5,68 L+P 17,34 66,20 13,80 4,05 8,48 Laki-laki (L) 29,95 48,10 17,77 8,83 8,72 Perempuan (P) 22,07 67,70 5,83 4,68 5,87 L+P 26,75 56,06 12,92 7,14 7,57 Sumber: BPS RI Susenas Modul 2012 Berdasarkan jenis kelamin terdapat pola yang berbeda dalam pemanfaatan jalur olah raga. Perbedaan persentase yang signifikan terlihat pada jalur perkumpulan olah raga dan jalur tempat kerja. 94 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
132 Persentase laki-laki yang berolah raga melalui jalur perkumpulan olah raga lebih tinggi persen dibanding perempuan. Untuk jalur perkumpulan tempat bekerja, perbedaan sangat signifikan di daerah perkotaan, yaitu persentase laki-laki yang berolah raga melalui jalur tempat kerja lebih tinggi 5,19 persen dibanding perempuan. Sementara itu, bila dihubungkan antara jenis olahraga yang paling sering dilakukan dengan wadah yang memfasilitasinya, olah raga yang berkelompok seperti senam, basket, sepak bola biasanya diakses melalui jalur sekolah, perkumpulan olah raga ataupun jalur tempat kerja. Terlihat pada Tabel 7.6 bahwa olahraga SKJ dan bola basket paling banyak dilakukan di sekolah dengan persentase masing-masing sebesar 85,75 persen dan 85,61 persen. Tabel 7.6 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir Menurut Jenis Olahraga yang Paling Sering Dilakukan dan Jalur Melakukan Olahraga, 2012 Jenis Olahraga Sendiri Jalur Melakukan Olahraga Perkumpulan Sekolah Perkumpulan Olahraga Perkumpulan Tempat Bekerja Lainnya (1) (2) (3) (4) (5) (6) SKJ 5,33 85,75 2,56 6,54 4,36 Senam lainnya 14,99 62,26 11,67 11,34 7,30 Jogging/gerak jalan 73,35 22,15 2,16 5,26 3,83 Tenis meja 37,40 27,17 15,47 30,38 6,96 Badminton 29,82 24,97 33,31 20,21 8,59 Bola voli 8,49 68,86 17,61 4,33 9,44 Bola basket 7,42 85,61 8,10 1,44 8,58 Sepak bola 18,26 53,74 30,76 5,46 13,44 Renang 41,94 56,61 6,74 3,65 6,36 Bela diri 19,44 50,97 41,98 16,00 4,60 Catur 42,64 36,85 17,12 18,11 7,21 Lainnya 44,97 27,49 17,86 10,32 10,32 Sumber: BPS RI Susenas Modul 2012 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
133 Sementara itu, olah raga yang tidak membutuhkan prasarana terlalu banyak ataupun dapat dilakukan secara individu, penduduk banyak mengakses melalui jalur sendiri. Dari Tabel 7.6 terlihat bahwa jenis olah raga jogging/gerak jalan, catur, dan renang adalah tiga jenis olah raga yang paling banyak diakses melalui jalur sendiri, berturut-turut yaitu 73,35 persen, 42,64 persen, dan 41,94 persen.khusus untuk jenis olah raga badminton terlihat bahwa semua wadah olah raga diakses penduduk secara merata, yaitu bervariasi antara 20 sampai dengan 30 persen. Persentase penduduk yang melakukan olahraga menurut jalur olahraga untuk setiap provinsi disajikan pada Tabel Lampiran Hampir semua provinsi mempunyai pola yang sama dalam memilih jalur olahraga yaitu melalui jalur sekolah, dengan variasi persentasenya antara 36,81 persen sampai dengan 69,71 persen. Provinsi dengan persentase terbesar yang penduduknya mengakses sekolah untuk berolah raga adalah Provinsi Sumatera Utara (69,71 persen), Aceh (69,26 persen) dan Nusa Tenggara Timur (68,51 persen). Namun di sisi lain penduduk yang berada di Provinsi DKI Jakarta lebih senang melakukan olahraga melalui jalur sendiri daripada jalur olahraga lainnya dengan persentase sebesar 45,51 persen. 7.5 Jenis Olahraga Pada umumnya seseorang dapat melakukan beberapa jenis olahraga selama seminggu terakhir, namun jenis olahraga yang paling sering dilakukan oleh orang tersebut biasanya terbatas hanya pada jenisjenis olahraga yang paling disukainya. Pada Tabel 7.7 ditampilkan persentase penduduk yang berolahraga menurut jenis olahraga yang paling sering dilakukan dalam kurun waktu Senam (SKJ dan senam lainnya) merupakan jenis olahraga yang paling sering dilakukan penduduk meski angkanya berfluktuasi dari waktu ke waktu. Pada tahun 2003 persentase penduduk yang melakukan olahraga senam sebesar 43,70 persen, menurun pada tahun 2006 menjadi 31,96 persen, 96 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
134 selanjutnya meningkat pada tahun 2009 menjadi 35,79 persen dan pada tahun 2012 meningkat menjadi 37,52 persen. Jenis olahraga ini banyak dipilih oleh penduduk karena senam lebih memasyarakat dimana jenis olah raga ini banyak diselenggarakan baik di instansi, sekolah, maupun lingkungan perumahan/ tempat tinggal. Tabel 7.7 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir Menurut Jenis Olahraga yang Paling Sering Dilakukan, Jenis Olahraga Tahun (1) (2) (3) (4) (5) SKJ 31,12 12,46 22,81 24,92 Senam lainnya 12,58 19,50 12,98 12,60 Jogging/gerak jalan 15,52 13,41 20,20 19,16 Tenis meja 1,26 *) 0,77 0,46 Badminton 2,71 4,22 4,68 2,46 Bola voli 14,87 15,15 11,04 8,23 Bola basket *) *) 3,37 2,98 Sepak bola 14,64 16,47 17,15 19,74 Renang *) *) 1,00 0,93 Bela diri *) *) 0,60 0,68 Catur *) *) 0,17 0,13 Lainnya 7,30 18,77 5,22 7,71 *) Termasuk ke dalam jenis olahraga lainnya Sumber: BPS RI Susenas Modul 2003, 2006, 2009, dan 2012 Selain senam, jogging/gerak jalan juga banyak diminati masyarakat. Jenis olahraga ini relatif murah, mudah, serta dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja tanpa membutuhkan peralatan dan persyaratan khusus. Pada tahun 2012, olahraga jogging/gerak jalan dilakukan oleh penduduk dengan persentase sebesar 19,16 persen. Sedangkan olahraga yang paling populer dan merakyat adalah sepak bola, persentasenya meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2003 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
135 persentase penduduk yang melakukan sepak bola sebesar 14,64 persen terus meningkat hingga pada tahun 2012 menjadi 19,74 persen. Kondisi ini berbeda dengan kegiatan olahraga renang, tenis meja, bela diri, dan catur, dimana penduduk 10 tahun ke atas yang melakukan olahraga tersebut hanya sedikit sekali persentasenya yaitu masih di bawah 1 persen. Sementara itu bila dilihat berdasarkan tipe daerah, terdapat perbedaan pola dalam memilih jenis olahraga antara penduduk perkotaan dan perdesaan. Kecenderungan penduduk perkotaan melakukan olah raga yang dapat dilakukan sendiri lebih tinggi daripada penduduk perdesaan. Tabel 7.8 menyajikan persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut jenis olah raga yang paling sering di lakukan. Tabel 7.8 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir Menurut Jenis Olahraga yang Paling Sering Dilakukan dan Tipe Daerah, 2012 Jenis Olahraga Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perdesaan (1) (2) (3) (4) SKJ 22,45 28,52 24,92 Senam lainnya 13,36 11,50 12,60 Jogging/gerak jalan 24,05 12,03 19,16 Tenis meja 0,46 0,47 0,46 Badminton 2,79 2,00 2,46 Bola voli 5,00 12,93 8,23 Bola basket 3,80 1,78 2,98 Sepak bola 16,00 25,20 19,74 Renang 1,37 0,30 0,93 Bela diri 0,79 0,52 0,68 Catur 0,14 0,13 0,13 Lainnya 9,80 4,65 7,70 Sumber: BPS RI Susenas Modul 2012 Dari Tabel 7.8 terlihat bahwa jenis olahraga yang paling banyak diminati penduduk perkotaan adalah jogging yang mana persentase 98 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
136 penduduk perkotaan yang melakukan jogging/gerak jalan adalah sebesar 24,05 persen. Persentase tersebut lebih tinggi dua kali lipatnya dibanding penduduk perdesaan yang melakukan jogging/gerak jalan. Sebaliknya, penduduk di daerah perdesaan, umumnya lebih menyukai jenis olahraga berbentuk permainan dan dilakukan bersama-sama atau berkelompok, seperti senam, sepak bola, dan bola voli. Misal untuk permainan bola voli, persentase penduduk perdesaan yang melakukan bola voli adalah sebesar 12,93 persen atau hampir tiga kali dari persentase penduduk perkotaan yang melakukan bola voli. Tabel 7.9 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir Menurut Jenis Olahraga yang Paling Sering Dilakukan dan Kelompok Umur, 2012 JenisOlahraga Kelompok Umur (Tahun) Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) SKJ 41,41 22,05 4,88 9,61 11,52 4,57 24,92 Senam lainnya 14,31 11,02 7,27 10,98 13,74 9,30 12,60 Jogging/gerak jalan 7,30 10,82 21,02 26,04 42,32 66,78 19,16 Tenis meja 0,22 0,29 0,30 0,97 1,03 0,00 0,46 Badminton 1,09 1,38 2,56 3,69 5,78 0,81 2,46 Bola voli 7,29 14,13 9,19 9,20 3,72 0,42 8,23 Bola basket 2,97 6,68 2,24 0,61 0,22 0,24 2,98 Sepak bola 20,11 25,53 36,99 24,38 7,54 1,34 19,74 Renang 0,98 1,15 0,70 0,57 0,82 0,68 0,93 Bela diri 0,58 0,85 1,18 0,92 0,50 0,11 0,68 Catur 0,08 0,08 0,16 0,22 0,26 0,01 0,13 Lainnya 3,66 6,03 13,51 12,81 12,56 15,74 7,70 Sumber: BPS RI Susenas Modul 2012 Preferensi penduduk melakukan olahraga berdasarkan kelompok umur menentukan jenis olahraga yang sering dilakukan. Preferensi terhadap jenis olahraga yang dilakukan masing-masing kelompok umur Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
137 cukup bervariasi. Tabel 7.9 menyajikan pola preferensi penduduk pada setiap kelompok umur dalam menentukan jenis olahraga yang paling sering dilakukan. Pada umumnya, penduduk kelompok usia sekolah (10-14 tahun dan tahun) sering melakukan olahraga SKJ dibandingkan jenis olahraga lainnya, berturut-turut persentase penduduk yang melakukan SKJ adalah sebesar 41,41 persen dan 22,05 persen. Hal ini mungkin berkaitan dengan kurikulum sekolah. Sementara itu, jenis olahraga yang sering dilakukan oleh penduduk usia muda (15-19 tahun, tahun dan tahun) adalah sepak bola dan jogging/gerak jalan. Sementara itu, mereka yang berumur 65 tahun ke atas atau usia lanjut lebih menyukai jenis olahraga ringan dan mudah dilakukan seperti jogging/gerak jalan (termasuk jalan cepat atau jalan santai). Dari seluruh penduduk lansia yang aktif berolahraga, sekitar 66,78 persen memilih olahraga jogging/gerak jalan. 100 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
138 Kurang dari Separuh Desa/Kelurahan di Indonesia yang Memiliki Fasilitas Lapangan Bulu Tangkis 49,34% 46,05% 47,25% 43,74% 42,34%
139
140 FASILITAS OLAHRAGA 8 Salah satu upaya optimalisasi peningkatan kualitas sumber daya manusia adalah melalui beberapa cara yang langsung maupun tidak langsung terkait dengan kebugaran jasmani individu setiap bangsa melalui olahraga. Olahraga telah menjadi fenomena global dengan diakui kedudukannya oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai instrumen pembangunan dan perdamaian. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia juga memandang penting pembangunan olahraga karena olahraga diyakini merupakan wahana yang strategis dan efektif dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk membentuk watak dan karakter bangsa (nation and character building). Pembinaan dan pengembangan olahraga perlu terus ditingkatkan secara terarah, sistematis, dan berkesinambungan agar selaras dengan tujuan pembangunan nasional khususnya dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat (Mutohir dalam Utami, 2015). Salah satu aspek pembangunan nasional dalam bidang olahraga adalah penyediaan fasilitas olahraga yang memadai. Pembangunan fasilitas olahraga dilaksanakan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan partisipasi aktif masyarakat dalam bidang olahraga. Hal tersebut juga sebagai pelaksanaan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional. Fasilitas olahraga merupakan sumber daya pendukung olahraga yang secara keseluruhan mencakup fasilitas fisik dan non fisik. Fasilitas Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
141 olahraga secara fisik antara lain berupa stadion, gelanggang, dan lapangan olahraga. Sementara itu, fasilitas olahraga non fisik seperti sasana/perkumpulan olahraga, tenaga pelatih dan guru olahraga. Tersedianya fasilitas olahraga yang memadai akan mampu meningkatkan partisipasi masyarakat untuk berolahraga. Pada bab ini akan dilihat beberapa aspek dari fasilitas olahraga yang sangat penting bagi perkembangan dan peningkatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan olahraga. Aspek-aspek yang menjadi bahan kajian pada bab ini antara lain adalah lapangan/gelanggang olahraga, kelompok kegiatan olahraga, dan induk organisasi cabang olahraga. 8.1 Lapangan/Gelanggang Olahraga Penyediaan lapangan olahraga terutama di desa/kelurahan menjadi semakin penting. Hal tersebut didasarkan pada suatu pertimbangan bahwa desa/kelurahan merupakan tempat munculnya sumber daya olahraga yang potensial. Idealnya setiap desa/kelurahan memiliki fasilitas olahraga yang memadai sehingga dapat menampung berbagai kegiatan olahraga yang diminati masyarakat. Akan tetapi, pembangunan fasilitas olahraga berupa lapangan/gelanggang olahraga pada suatu lingkungan masyarakat dapat terhambat karena adanya perkembangan sosial ekonomi masyarakat. Hal ini terutama terjadi di daerah perkotaan atau wilayah yang berbatasan dengan perkotaan. Peningkatan yang pesat dari jumlah penduduk dan kegiatan ekonomi di daerah tersebut secara umum akan menggeser fungsi lapangan olahraga atau lahan-lahan kosong menjadi rumah pemukiman atau tempat usaha. Berdasarkan data Podes yang disajikan pada Tabel 8.1, pada tahun 2014 fasilitas lapangan olahraga yang paling banyak tersedia di desa/kelurahan adalah lapangan bola voli, sepak bola, dan bulu tangkis. Sebesar 66,89 persen desa/kelurahan di Indonesia memiliki lapangan bola voli. Sementara itu, desa/kelurahan yang memiliki lapangan sepak bola sebesar 54,38 persen dan desa/kelurahan yang memiliki lapangan 104 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
142 bulu tangkis sebesar 42,34 persen. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa ketiga jenis olahraga tersebut merupakan olahraga yang digemari dan banyak dilakukan masyarakat. Tabel 8.1 Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Fasilitas Lapangan/Gelanggang Olahraga Menurut Jenis Olahraga, JenisOlahraga Tahun (1) (2) (3) (4) (5) (6) Bola Voli 79,54 79,35 78,09 68,15 66,89 Sepak Bola 53,94 57,95 56,19 50,50 54,38 Bulu Tangkis 46,05 47,25 49,34 43,74 42,34 Bola Basket 5,31 6,70 7,10 6,27 6,08 Tenis Lapangan 4,96 5,03 5,10 4,55 4,21 Renang 1,51 2,61 2,58 4,85 2,65 Sumber: BPS RI Statistik Podes 2003, 2005, 2008, 2011, dan 2014 Dari Tabel 8.1 terlihat bahwa ketersediaan lapangan/gelanggang untuk bola basket, tenis lapangan dan kolam renang masih terbatas hanya di sebagian kecil desa/kelurahan. Dari seluruh desa/kelurahan yang ada di Indonesia, sebesar 6,08 persen desa/kelurahan memiliki lapangan bola basket, 4,21 persen desa/kelurahan memiliki lapangan tenis (lapangan), dan hanya sebesar 2,65 persen desa/kelurahan yang memiliki kolam renang. Pola serupa terjadi hampir di semua provinsi, yang mana lapangan/gelanggang sepak bola, bola voli, dan bulu tangkis adalah fasilitas yang paling banyak tersedia di desa/kelurahan dibanding fasilitas olahraga lainnya (Lihat lampiran pada Tabel ). Dikaji perkembangan persentase desa/kelurahan yang memiliki fasilitas lapangan/gelanggang olahraga bahwa pada periode tahun 2011 hingga tahun 2014, persentase desa/kelurahan yang memiliki fasilitas/gelanggang olahraga pada setiap jenis olahraga cenderung menurun. Terkecuali lapangan sepak bola. Persentase desa/kelurahan yang memiliki fasilitas/gelanggang olahraga sepak bola pada tahun 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
143 tercatat sebesar 54,38 persen, lebih tinggi dibanding tahun 2011 yang sebesar 50,50 persen. 8.2 Kelompok Kegiatan Olahraga Kelompok kegiatan olahraga merupakan suatu perkumpulan yang dibuat sebagai sarana untuk menyalurkan, mengembangkan dan meningkatkan keterampilan seseorang di bidang olahraga. Terbentuknya suatu kelompok kegiatan olahraga pada umumnya dipengaruhi oleh ketersediaan fasilitas dan minat masyarakat terhadap olahraga tersebut. Tabel 8.2 Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Kelompok Kegiatan Olahraga Menurut Jenis Olahraga, Jenis Olahraga Tahun (1) (2) (3) (4) (5) (6) Bola Voli 77,54 77,40 76,85 63,32 57,55 Sepak Bola 69,41 68,47 68,63 61,67 59,02 Bulu Tangkis 44,25 45,73 48,55 40,08 36,20 Bola Basket 4,72 5,70 6,15 5,15 4,42 Tenis Lapangan 4,81 5,03 5,17 4,38 3,46 Renang 1,47 2,34 2,50 3,77 1,95 Sumber: BPS RI Statistik Podes 2003, 2005, 2008, 2011, dan 2014 Berdasarkan data Podes tahun 2014, kelompok kegiatan olahraga terbanyak yang ada di desa/kelurahan adalah kelompok sepak bola, bola voli, dan bulu tangkis. Seperti yang ditunjukkan pada Tabel 8.2, persentase desa/kelurahan yang memiliki kelompok kegiatan olahraga sepak bola sebesar 59,02 persen. Selanjutnya persentase desa/kelurahan yang terdapat kelompok bola voli sebesar 57,55 persen, dan bulu tangkis sebesar 36,20 persen. Hal ini secara tidak langsung menyiratkan bahwa ketiga olahraga tersebut lebih diminati oleh masyarakat Indonesia 106 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
144 dibanding olahraga lainnya. Tingginya keberadaan kelompok kegiatan olahraga bola voli, sepak bola, dan bulu tangkis tersebut juga sejalan dengan ketersediaan fasilitas olahraga dari ketiga olahraga tersebut yang cukup tinggi yang telah dibahas pada subbab sebelumnya. Sementara itu, keberadaan kelompok olahraga bola basket, tenis lapangan, dan renang jarang ditemui di desa/kelurahan. Persentase desa/kelurahan yang memiliki kelompok kegiatan olahraga bola basket hanya 4,42 persen. Adapun desa/kelurahan yang memiliki kelompok kegiatan olahraga tenis lapangan dan renang masing-masing sebesar 3,46 persen dan 1,95 persen (lihat Tabel 8.2). Apabila dilihat perkembangannya, dalam kurun tiga tahun terakhir persentase desa/kelurahan yang memiliki kelompok kegiatan olahraga cenderung menurun. Keadaan ini terjadi pada setiap jenis olahraga dengan penurunan persentase antara 0,92-5,77 persen. Persentase penurunan kelompok kegiatan olahraga yang paling tinggi yaitu olahraga bola voli sebesar 5,77 persen. Sementara itu, jenis olahraga yang mengalami penurunan paling kecil adalah olahraga tenis lapangan dengan persentase sebesar 0,92 persen. Seperti halnya dengan pola nasional, kelompok kegiatan olahraga di setiap provinsi yang paling banyak ditemui adalah bola voli, sepak bola dan bulu tangkis. Sementara itu, kelompok kegiatan olahraga bola basket, tenis lapangan, dan renang keberadaannya hanya sedikit. Persentase desa/kelurahan yang memiliki kelompok kegiatan olahraga di setiap provinsi disajikan pada Lampiran Tabel Induk Organisasi Cabang Olahraga Pada dasarnya target pencapaian olahraga adalah prestasi. Undang-Undang No. 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional(SKN) Pasal 27 menegaskan bahwa pembinaan dan pengembangan olahraga prestasi dilaksanakan serta diarahkan untuk mencapai prestasi olahraga. Dalam hal ini kebijakan nasional Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
145 keolahragaan yang dilaksanakan pemerintah berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 16 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Keolahragaan Pasal 3 adalah pembinaan dan pengembangan olahraga. Salah satu olahraga yang dikembangkan adalah olahraga prestasi yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan potensi olahragawan dalam rangka meningkatkan harkat dan martabat bangsa. Pembinaan dan pengembangan olahraga prestasi dilakukan oleh induk organisasi cabang olahraga, baik pada tingkat pusat maupun pada tingkat daerah. Induk organisasi cabang olahraga adalah organisasi olahraga yang membina, mengembangkan, dan mengkoordinasikan satu cabang/jenis olahraga atau gabungan organisasi cabang olahraga dari satu jenis olahraga yang merupakan anggota federasi cabang olahraga internasional yang bersangkutan (PP No. 16 Tahun 2007). Pada Tabel 8.3 disajikan nama organisasi induk cabang olahraga yang ada di Indonesia diurutkan berdasarkan nama cabang/perkumpulan olah raga serta kepanjangan namanya yang diakui oleh KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia). Tabel 8.3 Daftar Nama Cabang /Perkumpulan Olahraga di Indonesia beserta Induk Organisasi Olahraga, 2014 No. Cabang/ Perkumpulan Olahraga Induk Organisasi Singkatan (1) (2) (3) (4) 1. Atletik Persatuan Atletik Seluruh Indonesia PB. PASI 2. Aero Sport Federasi Aero Sport Indonesia PB. FASI 3. Anggar Ikatan Anggar Seluruh Indonesia PB. IKASI 4. Angkat Berat, Binaraga, dan Angkat Besi Persatuan Angkat Berat, Binaraga, Angkat Besi Seluruh Indonesia PB. PABBSI 5. Sepeda Ikatan Sport Sepeda Indonesia PB. ISSI 6. Baseball dan Softball Persatuan Baseball dan Softball Seluruh Indonesia PB.PERBASASI 108 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
146 No. Cabang/ Perkumpulan Olahraga Induk Organisasi Singkatan (1) (2) (3) (4) 7. Berkuda Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia 8. Biliar Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia 9. Bolabasket Persatuan Bolabasket Seluruh Indonesia 10. Bola Voli Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia PP.PORDASI PB. POBSI PP. PERBASI PP. PBVSI 11. Boling Persatuan Boling Indonesia PB. PBI 12. Bridge Gabungan Bridge Seluruh Indonesia PB. GABSI 13. Bulutangkis Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia PB. PBSI 14. Catur Persatuan Catur Seluruh Indonesia PB. PERCASI 15. Dayung Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia PB. PODSI 16. Drum Band Persatuan Drum Band Indonesia PB. PDBI 17. Golf Persatuan Golf Indonesia PB. PGI 18. Gulat Persatuan Gulat Seluruh Indonesia PB. PGSI 19. Judo Persatuan Judo Seluruh Indonesia PB. PJSI 20. Karate Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia 21. Kempo Persaudaraan Bela Diri Kempo Indonesia 22. Layar Persatuan Olahraga Layar Seluruh Indonesia 23. Menembak Persatuan Menembak Sasaran dan Berburu Indonesia PB. FORKI PB. PERKEMI PB. PORLASI 24. Motor Ikatan Motor Indonesia PP. IMI PB. PERBAKIN 25. Panahan Persatuan Panahan Indonesia PP. PERPANI 26. Panjat Tebing Federasi Panjat Tebing Indonesia PP. FPTI 27. Pencak Silat Ikatan Pencak Silat Indonesia PB. IPSI 28. Renang Persatuan Renang Seluruh Indonesia PB. PRSI 29. Selam Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia PB. POSSI Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
147 No. Cabang/ Perkumpulan Olahraga Induk Organisasi Singkatan (1) (2) (3) (4) 30. Senam Persatuan Senam Indonesia PB. PERSANI 31. Sepak Takraw Persatuan Sepak Takraw Indonesia PB. PSTI 32. Sepak Bola Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia 33. Sepatu Roda Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia PP. PSSI PB.PORSEROS 34. Ski Air Persatuan Ski Air Seluruh Indonesia PB. PSASI 35. Squash Persatuan Squash Indonesia PB. PSI 36. Taekwondo Taekwondo Indonesia PB. TI 37. Tarung Derajat Keluarga Olahraga Tarung Derajat PB. KODRAT 38. Tenis Meja Persatuan Tenis Meja Seluruh PB. PTMSI 39. Tenis Lapangan Persatuan Tenis Lapangan Indonesia PP. PELTI 40. Tinju Amatir Persatuan Tinju Amatir Indonesia PP. PERTINA 41. Wushu Wushu Indonesia PB. WI 42. Paralympic National Paralympic Committee PP. NPC 43. Kesehatan Olahraga Kesehatan Olahraga Indonesia PB.PPKORI 44. Olahraga Mahasiswa Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia 45. Olahraga Pegawai Badan Pembina Olahraga Pegawai Negeri 46. Olahraga Pelajar Badan Pembina Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia 47. Wanita Olahraga Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia 48. Persatuan Wartawan Indonesia Seksi Wartawan Olahraga, Persatuan Wartawan Indonesia PP. BAPOMI PP.BAPOR KORPRI PP. BAPOPSI PP. PERWOSI PP. SIWO PWI 49. Dansa Ikatan Olahraga Dansa Indonesia PP. IODI 50. Hoki Federasi Hoki Indonesia PP. FHI 51. Cricket Persatuan Cricket Indonesia PP. PCI 52. Barongsai Federasi Olahraga Barongsai Indonesia PB. FOBI 110 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
148 No. Cabang/ Perkumpulan Olahraga Induk Organisasi Singkatan (1) (2) (3) (4) 53. Equestrian Equestrian Federation of Indonesia PP. EFI 54. Jet-Sport Indonesia Jet-Sport Boating IJBA 55. Bola Tangan Assosiasi Bola Tangan Indonesia ABTI 56. Woodball Indonesia Woodball Association PP. IWbA 57. Arung Jeram Federasi Arung Jeram Indonesia FAJI 58. Olahraga Kabadi Federasi Olahraga Kabadi Indonesia FOKSI 59. Rugby Persatuan Rugby Union Indonesia PRUI 60. Muaythai Muaythai Indonesia PB. MI 61. Gateball Persatuan Gateball Seluruh Indonesia PB. PERGATSI Sumber: Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
149
150
151
152 PRESTASI OLAHRAGA 9 Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menunjukkan prestasi dan bersaing dengan bangsa yang lain. Hal ini dapat dilihat dari tingkat kemajuan, kecerdasan dan prestasi suatu bangsa di tingkat regional maupun internasional. Prestasi olahraga adalah salah satu cara untuk memajukan suatu bangsa sehingga dikenal oleh bangsa lain dan disegani dalam setiap penampilan atletnya. Prestasi olahraga merupakan salah satu indikator atau tolok ukur yang secara langsung dapat melihat status keberhasilan pembangunan olahraga, tingkat perkembangan pembangunan olahraga, serta kondisi pembinaan olahraga. Prestasi olahraga juga berfungsi mengangkat derajat dan mengharumkan nama daerah di tingkat nasional maupun nama bangsa Indonesia di dunia internasional. Selama hampir dua dekade terakhir ini prestasi olahraga Indonesia di arena olahraga Internasional multi cabang seperti SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade mengalami pasang surut. Prestasi Indonesia bahkan cenderung menurun jika dibandingkan dengan kemajuan prestasi olahraga bangsa-bangsa lain di Asia Tenggara seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura. 9.1 Pekan Olahraga Nasional Kompetisi olahraga multi cabang tingkat nasional adalah Pesta Olahraga Nasional (PON). PON merupakan ajang pengujian kompetensi Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
153 olahraga antar provinsi di seluruh Indonesia. PON diselenggarakan setiap empat tahun sekali dan diikuti seluruh provinsi di Indonesia. PON juga merupakan momentum kebangkitan olahraga, tempat mengukir prestasi dan ajang seleksi atlet berprestasi yang akan menjadi duta Indonesia di tingkat Internasional. PON terbentuk melalui proses yang panjang. Bermula pada tahun 1938 lahir Ikatan Sport Indonesia (ISI), berkedudukan di Jakarta (waktu itu bernama Batavia). ISI merupakan satu-satunya badan olahraga yang bersifat nasional dan berbentuk federasi. Maksud dan tujuan terbentuknya ISI adalah untuk membimbing, menghimpun dan mengkoordinir semua cabang olahraga, antara lain PSSI, PELTI dan Persatuan Bola Keranjang Seluruh Indonesia (PBKSI). Pada tahun 1938 ISI mengadakan Pekan Olahraga Indonesia, yang dikenal dengan nama ISI Sportweek atau pekan olahraga ISI. Selanjutnya pada jaman Jepang atau era tahun , gerakan keolahragaan ditangani oleh suatu badan yang bernama GELORA (Gerakan Latihan Olahraga). Tidak banyak peristiwa olahraga penting tercatat pada jaman Jepang karena situasi perang. Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 membuka jalan bagi bangsa Indonesia menangani kegiatan olahraga di tanah air sendiri. Pada bulan Januari 1946, bertempat di Habiprojo, Solo diadakan kongres olahraga yang pertama. Kongres hanya dihadiri oleh tokoh olahraga dari Pulau Jawa saja. Kongres tersebut berhasil membentuk organisasi olahraga dengan nama Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI). PORI berfungsi sebagai koordinator semua cabang olahraga dan khusus mengurus kegiatan olahraga dalam negeri dan yang berhubungan dengan tugas keluar, berkaitan dengan Olimpiade dan International Olympic Committee (IOC) dibentuk Komite Olimpiade Republik Indonesia (KORI) berkedudukan di Yogyakarta. 116 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
154 Pada tahun 1948, Indonesia berusaha ikut dalam Olimpiade di London, namun ditolak karena PORI sebagai badan olahraga resmi di Indonesia pada saat itu belum menjadi anggota Internasional Olympic Committee (IOC). Selain itu, kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia belum memperoleh pengakuan dunia. Oleh karena itu, tanggal 1 Mei 1948 PORI menggelar konferensi darurat di Solo dan memutuskan untuk menggelar Pekan Olahraga Nasional (PON). Sejak saat itulah PON terbentuk. PON I diselenggarakan pada tanggal 8-12 September 1948 di Kota Solo. Penyelenggaraan PON I diikuti oleh 13 daerah dengan melombakan 9 cabang olahraga. Sejak penyelenggaraan PON pertama pada tahun 1948 hingga saat ini, PON telah diselenggarakan sebanyak 18 kali. Pada tahun 1965, sejarah pesta olahraga nasional harus terputus akibat peristiwa politik. Penyelenggaraan PON VI 1965 di Jakarta terpaksa dibatalkan sebab Gerakan 30 September. Namun PON VI tetap tertulis sudah terselenggara meski tanpa pertandingan dan tanpa juara. Oleh karena itu, pada periode selanjutnya PON yang digelar tahun 1969 di Surabaya, Jawa Timur disebut sebagai PON VII. Daftar lengkap penyelenggaraan PON sejak awal sampai dengan tahun 2012 disajikan pada Tabel 9.1. Kebanggaan suatu daerah apabila dapat mengukir prestasi, terlebih menjadi juara umum di setiap pesta olah raga bergengsi PON. Dari 18 kali penyelenggaraan PON, tercatat baru ada empat provinsi yang keluar sebagai juara umum. Empat provinsi tersebut adalah Provinsi Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Jawa Timur (lihat Tabel 9.1). Provinsi Jawa Tengah menjadi provinsi pertama yang menuarai PON. Pada saat itu Provinsi Jawa Tengah sebagai tuan rumah. Namun setelah itu Provinsi Jawa Tengah tak lagi mampu menjadi juara umum pada penyelenggaraan-penyelenggaraan PON selanjutnya. Pada PON II dijuarai oleh Provinsi Jawa Barat. Provinsi Jawa Barat tiga kali keluar sebagai juara umum PON, yakni pada PON II tahun 1951 yang Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
155 berlangsung di Jakarta, PON III tahun 1953 di Medan, dan PON V tahun 1961 di Bandung. Tabel 9.1 Perkembangan Pekan Olahraga Nasional (PON) Menurut Waktu Penyelenggaraan, Tempat Penyelenggaraan, dan Juara Umum PON Ke Waktu Penyelenggaraan Tempat Penyelenggaraan Kab/Kota Provinsi Juara Umum (1) (2) (3) (4) (5) I 8-12 Sept 1948 Surakarta (Solo) Jawa Tengah Jawa Tengah II Sept 1951 Jakarta DKI Jakarta Jawa Barat III Sept 1953 Medan Sumut Jawa Barat IV 27 Sept-6 Okt 1957 Makassar Sulsel DKI Jakarta V 23 Sept-1 Okt 1961 Bandung Jawa Barat Jawa Barat VI 8 Okt-10 Nov 1965 Jakarta DKI Jakarta - *) VII 26 Agst-6 Sept 1969 Surabaya Jawa Timur DKI Jakarta VIII 4-15 Agst 1973 Jakarta DKI Jakarta DKI Jakarta IX 23 Juli-3 Agst 1977 Jakarta DKI Jakarta DKI Jakarta X Sept 1981 Jakarta DKI Jakarta DKI Jakarta XI 9-20 Sept 1985 Jakarta DKI Jakarta DKI Jakarta XII Okt 1989 Jakarta DKI Jakarta DKI Jakarta XIII 9-19 Sept 1993 Jakarta DKI Jakarta DKI Jakarta XIV 9-25 Sept 1996 Jakarta DKI Jakarta DKI Jakarta XV 19 Juni-1 Juli 2000 Surabaya Jawa Timur Jawa Timur XVI 2-14 Sept 2004 Palembang Sumsel DKI Jakarta XVII 6-17 Juli 2008 Samarinda Kaltim Jawa Timur XVIII 9-20 Sept 2012 Pekanbaru Riau DKI Jakarta Ket.: *) PON VI dibatalkan karena terjadi peristiwa G30S/PKI Sumber: Diolah dari berbagai sumber Provinsi Jawa Timur tercatat dua kali menjadi juara umum PON. Pada PON XV tahun 2000 di Surabaya, serta pada PON XVII tahun Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
156 yang berlangsung di Samarinda. Provinsi yang memegang 7 kali juara umum PON secara berturut-turut adalah DKI Jakarta. Dalam sejarah penyelenggaraan PON, Provinsi DKI Jakarta sepuluh kali keluar sebagai juara umum PON. Hal tersebut sekaligus menjadikan DKI Jakarta sebagai juara umum PON terbanyak. Tabel 9.2 Perkembangan Peringkat 5 Besar Perolehan Medali pada PON XV-XVIII, Tahun Peringkat XV (Tahun 2000) XVI (Tahun 2004) PON XVII (Tahun 2008) XVIII (Tahun 2012) (1) (2) (3) (4) (5) I Jawa Timur DKI Jakarta Jawa Timur DKI Jakarta II DKI Jakarta Jawa Timur DKI Jakarta Jawa Barat III Jawa Barat Jawa Barat Kalimantan Timur Jawa Timur IV Jawa Tengah Jawa Tengah Jawa Barat Jawa Tengah V Lampung Sumatera Selatan Jawa Tengah Kalimantan Timur Sumber: Diolah dari berbagai sumber Ditinjau dari peringkat perolehan medali, didominasi oleh provinsiprovinsi yang ada di Pulau Jawa. Tabel 9.2 menunjukkan bahwa pada empat penyelenggaraan PON yang terakhir, peringkat tiga besar perolehan medali diduduki oleh Provinsi Jawa Timur, DKI Jakarta, atau Jawa Barat. Pada penyelenggaraan PON XV 2000 di Surabaya, Jawa Timur, peringkat teratas diduduki oleh Provinsi Jawa Timur, disusul dengan Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat. PON XVI 2004 yang dselenggarakan di Palembang, Sumatera Selatan, Provinsi DKI Jakarta berhasil menduduki peringkat teratas. Sedangkan peringkat kedua diduduki oleh Provinsi Jawa Timur dan peringkat ketiga oleh Provinsi Jawa Barat (lihat Tabel 9.2). Kondisi yang berbeda terjadi pada penyelenggaraan PON XVII 2008 di Samarinda, Kalimantan Timur. Pada saat itu Provinsi Kalimantan Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
157 Timur yang bertindak sebagai tuan rumah berhasil menduduki peringkat ketiga di bawah Provinsi Jawa Timur yang berhasil menduduki peringkat pertama dan Provinsi DKI Jakarta di tempat kedua. Namun, ada penyelenggaraan berikutnya PON XVIII di Pekanbaru-Riau, Provinsi Kalimantan Timur hanya mampu menduduki peringkat kelima. Sementara itu, peringkat teratas diduduki oleh Provinsi DKI Jakarta, disusul dengan Provinsi Jawa Barat di peringkat kedua. Provinsi Jawa Timur menduduki peringkat ketiga dan Provinsi Jawa Tengah berada di peringkat keempat. Ketimpangan dalam perolehan medali antara provinsi-provinsi yang ada di Pulau Jawa sampai dengan penyelenggaraan PON XVIII masih terlihat. Provinsi DKI Jakarta sebagai juara umum mendulang 110 medali emas, 101 medali perak, dan 112 medali perunggu. Provinsi Jawa Barat berada diperingkat kedua memperoleh 99 medali emas, 79 medali perak, dan 101 medali perunggu. Provinsi Jawa Timur berada diperingkat ketiga dengan perolehan 86 medali emas, 86 medali perak, dan 84 medali perunggu. Sementara itu, Provinsi Jawa Tengah sebagai peringkat keempat meraih 47 medali emas, 52 medali perak, dan 68 medali perunggu. Hal ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh medali emas yang diperebutkan (342 medali emas dari 600 medali emas) pada penyelenggaraan PON XVIII diraih oleh provinsi-provinsi dari Pulau Jawa (Lihat tabulasi selengkapnya pada bagian Lampiran Tabel 9.1.4). 9.2 SEA Games Pesta Olahraga Asia Tenggara atau Southeast Asian Gamesatau SEA Games adalah suatu ajang pergelaran cabang-cabang olahraga yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali dan melibatkan sebanyak 11 negara yang berada di Asia Tenggara. SEA Games pada awalnya bernama Southeast Asian Peninsular Games (SEAP Games). SEAP Games dicetuskan oleh Laung Sukhumnaipradit, pada saat itu ia menjabat sebagai Wakil Presiden 120 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
158 Komite Olimpiade Thailand. Tujuannya untuk mempererat kerjasama, pemahaman dan juga hubungan antar negara di kawasan ASEAN. Thailand, Burma/Myanmar, Malaysia, Laos, Vietnam, Kamboja, dan Singapura sebagai negara pelopor menyetujui jika penyelenggaraan ajang ini dilaksanakan setiap dua tahun sekali. Selain itu, dibentuk pula Komite Federasi SEAP Games. Tabel 9.3 Keikutsertaan Indonesia dalam Sea Games Menurut Penyelenggaraan dan Jumlah Negara yang Mengikuti Sea Games ke Penyelenggaraan Tahun Kota Negara Jumlah Negara yang Mengikuti (1) (2) (3) (4) (5) IX 1977 Kuala Lumpur Malaysia 7 X 1979 Jakarta Indonesia 7 XI 1981 Manila Filipina 7 XII 1983 Singapura Singapura 6 XIII 1985 Bangkok Thailand 8 XIV 1987 Jakarta Indonesia 8 XV 1989 Kuala Lumpur Malaysia 7 XVI 1991 Manila Filipina 9 XVII 1993 Singapura Singapura 9 XVIII 1995 Chiang Mai Thailand 7 XIX 1997 Jakarta Indonesia 10 XX 1999 Bandar Sri Begawan Brunei Darussalam 10 XXI 2001 Kuala Lumpur Malaysia 10 XXII 2003 Hanoi &Ho Chi Minh Vietnam 11 XXIII 2005 Manila Filipina 11 XXIV 2007 Nakhon Ratchasima Thailand 11 XXV 2009 Vientiane Laos 11 XXVI 2011 Palembang & Jakarta Indonesia 11 XXVII 2013 Naypyidaw Myanmar 11 XXVIII 2015 Singapura Singapura 11 Sumber: Diolah dari berbagai sumber Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
159 SEAP Games I diadakan di Bangkok pada tanggal Desember 1959 dengan mempertandingkan 12 cabang olahraga. Pada tahun 1977, negara Indonesia dan Filipina secara resmi masuk menjadi anggota baru. Dikarenakan Indonesia dan Filipina bukan termasuk negara Asia Tenggara Daratan, Komite olimpiade SEAP Games mengubah nama SEAP Games menjadi SEAGF (South East Asian Games Federation). Tetapi beberapa waktu kemudian SEAGF berganti nama lagi menjadi SEA Games (South East Asian Games) hingga sekarang. Seiring dengan munculnya negara-negara baru di Asia Tenggara, maka keanggotaan SEA Games pun menjadi bertambah. Seperti Brunei Darussalam yang secara resmi bergabung pada saat SEA Games ke-10 tahun 1979, dan Timor Leste yang juga resmi bergabung pada saat SEA Games ke-22 tahun Pada SEA Games IX tahun 1977, Indonesia mampu menjadi juara umum SEA Games 1977 meskipun pada saat itu Indonesia baru pertama kali mengikuti ajang olahraga ini. Total medali yang diperoleh sebanyak 137 medali, dengan rincian 62 medali emas, 41 medali perak dan 34 medali perunggu (Tabel 9.4). Sebuah pencapaian yang luar biasa oleh negara peserta yang baru pertama kali berpartisipasi. Indonesia kemudian menjadi negara yang paling sering menjadi juara umum SEA Games dibanding negara lainnya.tercatat 10 kali juara umum SEA Games telah dipegang Indonesia, yaitu pada tahun 1977, 1979, 1981, 1983, 1987, 1989, 1991, 1993, 1997, dan terakhir pada tahun Selain itu, selama keikutsertaannya dalam ajang SEA Games, Indonesia telah berhasil mengumpulkan sebanyak 4858 medali dengan rincian 1716 medali emas, 1558 medali perak, dan 1580 medali perunggu (lihat Tabel 9.4). Prestasi Indonesia cenderung menurun sejak SEA Games XX tahun 1999 yang diadakan di Brunei Darussalam. Selama bertahuntahun penyelenggaraan SEA Games, Indonesia hanya menduduki peringkat ketiga. Pada penyelenggaraan SEA Games XXIII tahun Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
160 di Filipina, Indonesia bahkan hanya menduduki peringkat kelima dalam perolehan medali. Indonesia baru kembali menjadi juara umum pada perhelatan SEA Games XXVI tahun 2011 di Jakarta. Tabel 9.4 Prestasi Indonesia dalam SEA Games Menurut Tahun Kejuaraan, Jumlah Negara Peserta, Peringkat, dan Perolehan Medali SEA Games Jumlah Perolehan Medali Negara Peringkat Ke Tahun Peserta Emas Perak Perunggu Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) IX X XI XII XIII XIV XV XVI XVII XVIII XIX XX XXI XXII XXIII XXIV XXV XXVI XXVII XXVIII Sumber: Diolah dari berbagai sumber Total Prestasi Indonesia kembali menurun pada perhelatan Sea Games selanjutnya, yaitu SEA Games XXVII 2013 dan SEA Games Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
161 XXVIII Pada perhelatan SEA Games XXVII 2013 di Myanmar, Indonesia berada di peringkat keempat dengan 65 emas, 84 perak dan 111 perunggu. Sementara itu, pada SEA Games XXVIII 2015 di Singapura, pencapaian Indonesia bahkan lebih buruk dibanding tahun Indonesia hanya menempati peringkat kelima dengan perolehan 47 medali emas, 61 medali perak, dan 74 medali perunggu. 9.3 Asian Games Asian Games adalah ajang olahraga yang diselenggarakan setiap empat tahun sekali. Peserta Asian Games yaitu negara-negara di Benua Asia. Sejarah pembentukan Asian Games dimulai setelah berakhirnya Perang Dunia II, sejumlah negara di Asia menginginkan sebuah kompetisi olahraga yang baru. Tepatnya pada bulan Agustus 1948 saat Olimpiade di London, perwakilan India mengusulkan kepada pemimpin kontingen negara Asia untuk mengadakan Asian Games. Seluruh perwakilan tersebut juga menyetujui pembentukan Federasi Atletik Asia. Pada bulan Februari 1949, Federasi Atletik Asia terbentuk dan menggunakan nama Federasi Asian Games (Asian Games Federation). Asian Games pertama diselenggarakan di New Delhi, India tahun Asian Games pertama ini hanya berlangsung selama 8 hari dengan hanya mempertandingkan 12 cabang olahraga. Asian Gamesini diikuti oleh 11 negara dan melibatkan 489 atlet. Pada saat itu, Jepang menjadi juara umum dengan total perolehan medali sebanyak 60 medali, dan diantaranya adalah 24 medali emas. Jumlah negara peserta Asian Games selalu bertambah.dari enam kali penyelenggaraan, peserta bertambah antara 5-7 negara. Kemudioan meningkat tiga kali lipat di penyelenggaraan berikutnya. Pada penyelenggaraan Asian Games XVI tahun 2010 di Incheon, jumlah negara yang ikut berpartisipasi menjadi empat kali lipat dari jumlah negara yang mengikuti pada saat Asian Games I atau sebanyak 45 negara. 124 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
162 Tabel 9.5 Keikutsertaan Indonesia dalam Asian Games Menurut Penyelenggaraan dan Jumlah Negara yang Mengikuti Asian Games ke Penyelenggaraan Tahun Kota Negara Jumlah Negara yang Mengikuti (1) (2) (3) (4) (5) I 1951 New Delhi India 11 II 1954 Manila Filipina 19 III 1958 Tokyo Jepang 20 IV 1962 Jakarta Indonesia 16 V 1966 Bangkok Thailand 18 VI 1970 Bangkok Thailand 18 VII 1974 Teheran Iran 25 VIII 1978 Bangkok Thailand 25 IX 1982 New Delhi India 33 X 1986 Seoul Korea Selatan 33 XI 1990 Beijing China 37 XII 1994 Hiroshima Jepang 42 XIII 1998 Bangkok Thailand 41 XIV 2002 Busan Korea Selatan 44 XV 2006 Doha Qatar 45 XVI 2010 Guangzhou China 45 XVII 2014 Icheon Korea Selatan 45 Sumber: Diolah dari berbagai sumber Tahun 1962 merupakan tahun bersejarah bagi Indonesia. Pada saat itu Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games IV. Bertempat di Jakarta, kompetisi olahraga empat tahunan itu diselenggarakan dengan jumlah negara yang berpartisipasi sebanyak 16 negara (lihat Tabel 9.5). Ditinjau dari perkembangan perolehan medali Indonesia dalam Asian Gamesprestasi olahraga Indonesia pada kejuaraan Asian Games Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
163 dari tahun ke tahun cenderung pasang surut. Peringkat Indonesia mengalami peningkatan pada penyelenggaraan Asian Games XVI tahun 2010 yang mana Indonesia menduduki peringkat 15, setelah pada penyelenggaraan sebelumnya hanya menduduki peringkat 22. Akan tetapi, pada penyelenggaraan Asian Games XVIII tahun 2014 peringkat Indonesia kembali menurun menjadi peringkat 17(Gambar 9.1). 100 Gambar 9.1 Perkembangan Peringkat Indonesia dalam Asian Games, Sumber: Diolah dari berbagai sumber Prestasi terbaik Indonesia dalam Asian Games yaitu pada pelaksanaan Asian Games IV tahun 1962, ketika Indonesia menjadi tuan rumah. Saat itu Indonesia meraih peringkat kedua dengan memperoleh 77 medali yang terdiri dari 21 medali emas, 26 perak dan 30 perunggu. Namun setelah itu, peringkat Indonesia terus mengalami penurunan. Sejak Asian Games XII, Indonesia sudah tidak lagi meraih peringkat sepuluh besar. Selama keikutsertaannya dalam ajang Asian Games, Indonesia telah berhasil mengumpulkan sebanyak 411 medali, yang terdiri dari 91 medali emas, 119 medali perak, dan 201 medali perunggu (lihat Tabel 9.6). 126 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
164 Tabel 9.6 Prestasi Indonesia dalam Asian Games Menurut Tahun Kejuaraan, Jumlah Negara Peserta, Peringkat, dan Perolehan Medali ASIAN GAMES Ke Tahun JumlahNe gara Peserta Peringkat Perolehan Medali Emas Perak Perunggu Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII XIV XV XVI XVII Sumber: Diolah dari berbagai sumber Total Olimpiade Olimpiade adalah ajang olahraga internasional empat tahunan yang mempertandingkan cabang-cabang olahraga serta diikuti oleh ribuan atlet yang berkompetisi dalam berbagai pertandingan olahraga. Olimpiade merupakan kompetisi olahraga terbesar dan terkemuka di dunia, dengan lebih dari 200 negara berpartisipasi. Awalnya Olimpiade Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
165 hanya berlangsung di Yunani kuno, kemudian dihidupkan kembali oleh seorang bangsawan Perancis, Pierre Fredy, Baron de Coubertin pada akhir abad ke-19. Olimpiade yang lebih dikenal di Indonesia adalah olimpiade musim panas, diadakan setiap empat tahun sekali sejak 1896, kecuali tahun-tahun pada masa Perang Dunia II. Tabel 9.7 Keikutsertaan Indonesia pada Olimpiade Menurut Penyelenggaraan, Jumlah Negara yang Mengikuti, dan Peringkat Indonesia Olimpiade ke Penyelenggaraan Tahun Tempat Negara Jumlah Negara yg Mengikuti Peringkat Indonesia (1) (2) (3) (4) (5) (6) XV 1952 Helsinki Finlandia 69 - XVI 1956 Melbourne Australia 67 - XVII 1960 Roma Italia 83 - XVIII 1964 Tokyo Jepang 93 ** ) XIX 1968 Mexico City Meksiko XX 1972 Muenchen Jerman XXI 1976 Montreal Kanada 92 - XXII 1980 Moskow Rusia 80 ** ) XXII 1984 Los Angeles Amerika Serikat XXIV 1988 Seoul Korea Selatan XXV 1992 Barcelona Spanyol XXVI 1996 Atlanta Amerika Serikat XXVII 2000 Sydney Australia XXVIII 2004 Athena Yunani XXIX 2008 Beijing China XXX 2012 London Inggris Catatan: *) Periode Indonesia belum pernah meraih medali sehingga tidak memiliki peringkat **) Indonesia tidak mengikuti Olimpiade Sumber: Diolah dari berbagai sumber 128 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
166 Di negara yang mengalami musim dingin, diselenggarakan pesta olahraga dunia terkait datangnya musim salju yang dinamakan Olimpiade musim dingin. Olimpiade ini dilakukan setiap empat tahun sekali.olimpiade musim dingin, dimulai pada tahun 1924, awalnya diadakan pada tahun yang sama dengan Olimpiade musim panas. Akan tetapi, sejak tahun 1994 Olimpiade musim dingin diadakan setiap empat tahun sekali, dengan selang dua tahun setelah Olimpiade musim panas. Indonesia pertama kali berpartisipasi dalam Olimpiade Helsinki 1952 di Finlandia. Indonesia sempat dua kali tidak ikut Olimpiade, yaituolimpiade Tokyo tahun 1964 dan Olimpiade Moskow Olimpiade yang diselenggarakan di Moskow, Rusia pada tahun 1980 diboikot oleh sejumlah negara sebagai protes terhadap perang Soviet- Afghanistan (lihat Tabel 9.7). Olimpiade XXIV Seoul, Korea Selatan tahun 1988 adalah momen bersejarah bagi Indonesia. Pada olimpiade tersebut Indonesia berhasil membawa pulang medali pertama kali, yaitu medali perak dari cabang panahan. Tiga srikandi Indonesia yaitu Nurfitriyana S. Lantang, Lilies Handayani dan Kusuma Wardhani berhasil memboyong medali pertama untuk Indonesia di ajang olahraga dunia tersebut. Sementara itu, medali emas pertama bagi Indonesia diperoleh pada Olimpiade Barcelona 1992 di Spanyol untuk cabang Bulu tangkis tunggal putra dan putri. Pada Olimpiade Barcelona, total medali yang diraih oleh kontingen Indonesia adalah 2 emas, 2 perak dan 1 perunggu, yang semuanya berasal dari cabang olahraga bulutangkis.sejak awal ikut serta dalam Olimpiade Helsinki 1952 hingga Olimpiade London 2012, tercatat Indonesia sudah mengumpulkan total 27 medali. Adapun rincian medali yang diperoleh yaitu 6 medali emas, 10 medali perak dan 11 medali perunggu (Tabel 9.8). Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
167 Tabel 9.8 Prestasi Indonesia dalam Olimpiade Menurut Penyelenggaraan,Peringkat, dan Perolehan Medali Olimpiade Perolehan Medali Peringkat Ke Tahun Emas Perak Perunggu Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) XXIV XXV XXVI XXVII XXVIII XXIX XXX Total Catatan: *) Periode Indonesia belum meraih medali Sumber: Diolah dari berbagai sumber Dari cabang olahraga yang diikuti dalam olimpiade, hanya ada 3 cabang olahraga yang berhasil menyumbang medali, yaitu panahan, badminton, dan angkat besi. Berikut adalah pencapaian Indonesia selama mengikuti Olimpiade: a. Olimpiade Seoul 1988: Atlet Indonesia meraih medali untuk pertama kalinya. Pada saat itu Nurfitriyana S. Lantang, Lilies Handayani, dan Kusuma Wardhani meraih medali perak dalam cabang panahan beregu putri. b. Olimpiade Barcelona 1992: Medali emas pertama Indonesia diraih oleh Susi Susanti (bulu tangkis tunggal putri) dan Alan Budikusuma (bulu tangkis tunggal putra). Sedangkan medali perak diraih oleh Ardi B. Wiranata (bulu tangkis tunggal putra) dan Eddy Hartono-Rudy Gunawan (bulu tangkis ganda putra). Sementara itu, medali perunggu diraih Hermawan Susanto (bulu tangkis tunggal putra). 130 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
168 c. Olimpiade Atlanta 1996: Indonesia meraih 1 emas, 1 perak dan 2 perunggu. Semua medali untuk kontingen Indonesia dipersembahkan oleh tim bulu tangkis. Medali emas diraih oleh Rexy Mainaky-Ricky Subagja (ganda putra). Medali perak diraih oleh Mia Audina (tunggal puteri). Sedangkan medali perunggu diraih oleh Susi Susanti (tunggal putri) dan Denny Kantono-Antonius B. Ariantho(ganda putra). d. Olimpiade Sydney 2000: Indonesia meraih 1 emas, 3 perak dan 2 perunggu. Medali emas diraih oleh Tony Gunawan-Chandra Wijaya (bulu tangkis ganda putra). Medali perak diraih oleh Hendrawan (bulu tangkis tunggal putra), Tri Kusharjanto-Minarti Timur (Bulu tangkis ganda campuran) dan Raema Lisa Rumbewas (angkat berat putri 48 kg). Sedangkan medali perunggu diraih oleh Sri Indriyani (angkat berat putri 48 kg) dan Winarni (angkat berat putri 53 kg). e. Olimpiade Athena 2004: Indonesia meraih 1 emas dan 2 perunggu. Medali emas diraih oleh Taufik Hidayat (bulu tangkis tunggal putra). Medali perunggu diraih oleh Soni Dwi Kuncoro (bulu tangkis tunggal putra) dan Flandy Limpele-Eng Hian (bulu tangkis ganda putra). f. Olimpiade Beijing 2008: Indonesia mendapatkan 1 medali emas melalui cabang bulu tangkis lewat pasangan ganda putra Markis Kido- Hendra Setiawan. Sedangkan medali perak diraih oleh Nova Widianto-Lilyana Natsir (bulu tangkis ganda campuran). Sementara itu, medali perunggu diraih oleh Maria Kristin Yulianti (bulu tangkis tunggal putri), Eko Yuli Irawan (angkat besi 288 kg) dan Triyatno (angkat besi 298 kg). g. Olimpiade London 2012:Tradisi meraih emas Olimpiade Indonesia yangsudah dimulai sejak tahun1992harus terhenti di ajang Olimpiade London. Bulutangkis yang selama ini menjadi tumpuan meraih medali emas tidakmenempatkan wakilnya di babak final. Pada Olimpiade London, Indonesia hanya meraih satu medali perak dan satu medali perunggu. Kedua medali tersebut dipersembahkan oleh atlet dari Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
169 cabang angkat besi. Medali perak diraih oleh Triyatno dan medali perunggu oleh Eko Yuli Irawan. Perkembangan peringkat Indonesia dalam Olimpiade mulai tahun 1988 hingga tahun 2012cenderung stagnan bahkan menurun. Peringkat tertinggi yang pernah diduduki Indonesia selama mengikuti Olimpiade adalah meraih peringkat 19 pada Olimpiade XXV tahun 1992 di Barcelona. Sementara itu, posisi terendah terjadi di Olimpiade XXX tahun 2012 di Beijing. Pada saat itu, Indonesia hanya menempati peringkat 62. (lihat Gambar 9.2). 100 Gambar 9.2 Perkembangan Peringkat Indonesia dalam Olimpiade, Sumber: Diolah dari berbagai sumber 132 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
170 DAFTAR PUSTAKA
171
172 DAFTAR PUSTAKA BPS, 2003, Indikator Olahraga Indonesia, 2002, Badan Pusat Statistik, Jakarta. BPS, 2007, Statistik Sosial Budaya, 2006, Badan Pusat Statistik, Jakarta. BPS, 2010, Statistik Sosial Budaya, 2009, Badan Pusat Statistik, Jakarta. BPS, 2013, Statistik Sosial Budaya, 2012, Badan Pusat Statistik, Jakarta. BPS, 2014, Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia Agustus 2014, Badan Pusat Statistik, Jakarta. BPS, 2014, Keadaan Pekerja di Indonesia Agustus 2014, Badan Pusat Statistik, Jakarta. BPS, 2014, Statistik Potensi Desa Indonesia 2014, Badan Pusat Statistik, Jakarta. H.Y.S. Santosa Giriwijoyo, 2007, Manfaat dan Mudarat Olahraga. Kemdiknas, 2010, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 16 No. 2 Maret 2010, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta. KONI, 2008, Laporan Kontingen Indonesia SEA GAMES XXIV Thailand 2007, Jakarta. KONI, 2010, Laporan Kontingen Indonesia SEA GAMES XXV Laos 2009, Jakarta. Panitia Besar PON XV, 2000, Laporan Penyelenggaraan Pertandingan/Perlombaan PON XV 2000 Jawa Timur, Surabaya. Panitia Besar PON XVII, 2008, Laporan Penyelenggaraan PON XVII 2008 Kalimantan Timur, Samarinda. Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
173 LebihCepat.com, Menpora: Membangun Olahraga Mulai dari Rekreasi, Harian Berita Indonesia, Kamis, 03 Juni Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional 136 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
174 TABEL LAMPIRAN
175
176 Tabel Perkiraan Jumlah dan Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2012 Provinsi Perkotaan (K) Perdesaan (D) K+D Jumlah % Jumlah % Jumlah % (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh , , ,00 Sumatera Utara , , ,00 Sumatera Barat , , ,00 Riau , , ,00 Jambi , , ,00 Sumatera Selatan , , ,00 Bengkulu , , ,00 Lampung , , ,00 Kep. Bangka Belitung , , ,00 Kepulauan Riau , , ,00 DKI Jakarta , ,00 Jawa Barat , , ,00 Jawa Tengah , , ,00 DI Yogyakarta , , ,00 Jawa Timur , , ,00 Banten , , ,00 Bali , , ,00 Nusa Tenggara Barat , , ,00 Nusa Tenggara Timur , , ,00 Kalimantan Barat , , ,00 Kalimantan Tengah , , ,00 Kalimantan Selatan , , ,00 Kalimantan Timur , , ,00 Sulawesi Utara , , ,00 Sulawesi Tengah , , ,00 Sulawesi Selatan , , ,00 Sulawesi Tenggara , , ,00 Gorontalo , , ,00 Sulawesi Barat , , ,00 Maluku , , ,00 Maluku Utara , , ,00 Papua Barat , , ,00 Papua , , ,00 INDONESIA , , ,00 Sumber: BPS RI Susenas Kor 2012 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
177 Tabel Perkiraan Jumlah dan Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2013 Provinsi Perkotaan (K) Perdesaan (D) K+D Jumlah % Jumlah % Jumlah % (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh , , ,00 Sumatera Utara , , ,00 Sumatera Barat , , ,00 Riau , , ,00 Jambi , , ,00 Sumatera Selatan , , ,00 Bengkulu , , ,00 Lampung , , ,00 Kep. Bangka Belitung , , ,00 Kepulauan Riau , , ,00 DKI Jakarta , ,00 Jawa Barat , , ,00 Jawa Tengah , , ,00 DI Yogyakarta , , ,00 Jawa Timur , , ,00 Banten , , ,00 Bali , , ,00 Nusa Tenggara Barat , , ,00 Nusa Tenggara Timur , , ,00 Kalimantan Barat , , ,00 Kalimantan Tengah , , ,00 Kalimantan Selatan , , ,00 Kalimantan Timur , , ,00 Sulawesi Utara , , ,00 Sulawesi Tengah , , ,00 Sulawesi Selatan , , ,00 Sulawesi Tenggara , , ,00 Gorontalo , , ,00 Sulawesi Barat , , ,00 Maluku , , ,00 Maluku Utara , , ,00 Papua Barat , , ,00 Papua , , ,00 INDONESIA , , ,00 Sumber: BPS RI Susenas Kor Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
178 Tabel Perkiraan Jumlah dan Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2014 Provinsi Perkotaan (K) Perdesaan (D) K+D Jumlah % Jumlah % Jumlah % (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh , , ,00 Sumatera Utara , , ,00 Sumatera Barat , , ,00 Riau , , ,00 Jambi , , ,00 Sumatera Selatan , , ,00 Bengkulu , , ,00 Lampung , , ,00 Kep. Bangka Belitung , , ,00 Kepulauan Riau , , ,00 DKI Jakarta , ,00 Jawa Barat , , ,00 Jawa Tengah , , ,00 DI Yogyakarta , , ,00 Jawa Timur , , ,00 Banten , , ,00 Bali , , ,00 Nusa Tenggara Barat , , ,00 Nusa Tenggara Timur , , ,00 Kalimantan Barat , , ,00 Kalimantan Tengah , , ,00 Kalimantan Selatan , , ,00 Kalimantan Timur , , ,00 Sulawesi Utara , , ,00 Sulawesi Tengah , , ,00 Sulawesi Selatan , , ,00 Sulawesi Tenggara , , ,00 Gorontalo , , ,00 Sulawesi Barat , , ,00 Maluku , , ,00 Maluku Utara , , ,00 Papua Barat , , ,00 Papua , , ,00 INDONESIA , , ,00 Sumber: BPS RI Susenas Kor 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
179 Tabel Perkiraan Jumlah dan Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Jenis Kelamin, 2014 Perkotaan Provinsi Laki-Laki (L) Perempuan (P) L+P Jumlah % Jumlah % Jumlah % Sex Ratio (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Aceh , , ,00 99,03 Sumatera Utara , , ,00 100,49 Sumatera Barat , , ,00 100,58 Riau , , ,00 110,10 Jambi , , ,00 105,48 Sumatera Selatan , , ,00 102,55 Bengkulu , , ,00 97,39 Lampung , , ,00 98,16 Kep. Bangka Belitung , , ,00 108,86 Kepulauan Riau , , ,00 90,48 DKI Jakarta , , ,00 97,64 Jawa Barat , , ,00 102,17 Jawa Tengah , , ,00 99,55 DI Yogyakarta , , ,00 106,86 Jawa Timur , , ,00 99,37 Banten , , ,00 100,48 Bali , , ,00 103,99 Nusa Tenggara Barat , , ,00 91,09 Nusa Tenggara Timur , , ,00 103,27 Kalimantan Barat , , ,00 94,40 Kalimantan Tengah , , ,00 103,52 Kalimantan Selatan , , ,00 100,41 Kalimantan Timur , , ,00 107,93 Sulawesi Utara , , ,00 108,78 Sulawesi Tengah , , ,00 102,77 Sulawesi Selatan , , ,00 96,95 Sulawesi Tenggara , , ,00 96,10 Gorontalo , , ,00 99,35 Sulawesi Barat , , ,00 96,58 Maluku , , ,00 100,05 Maluku Utara , , ,00 103,30 Papua Barat , , ,00 114,82 Papua , , ,00 121,86 INDONESIA , , ,00 100,76 Sumber: BPS RI Susenas Kor Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
180 Tabel Perkiraan Jumlah dan Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Jenis Kelamin, 2014 Perdesaan Provinsi Laki-Laki (L) Perempuan (P) L+P Jumlah % Jumlah % Jumlah % Sex Ratio (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Aceh , , ,00 98,30 Sumatera Utara , , ,00 102,96 Sumatera Barat , , ,00 101,76 Riau , , ,00 104,94 Jambi , , ,00 105,96 Sumatera Selatan , , ,00 107,63 Bengkulu , , ,00 103,30 Lampung , , ,00 106,01 Kep. Bangka Belitung , , ,00 112,59 Kepulauan Riau , , ,00 107,93 DKI Jakarta Jawa Barat , , ,00 103,92 Jawa Tengah , , ,00 101,19 DI Yogyakarta , , ,00 98,69 Jawa Timur , , ,00 99,06 Banten , , ,00 104,18 Bali , , ,00 104,80 Nusa Tenggara Barat , , ,00 87,31 Nusa Tenggara Timur , , ,00 94,54 Kalimantan Barat , , ,00 106,55 Kalimantan Tengah , , ,00 109,40 Kalimantan Selatan , , ,00 102,87 Kalimantan Timur , , ,00 113,50 Sulawesi Utara , , ,00 111,57 Sulawesi Tengah , , ,00 107,40 Sulawesi Selatan , , ,00 96,48 Sulawesi Tenggara , , ,00 99,01 Gorontalo , , ,00 98,48 Sulawesi Barat , , ,00 100,36 Maluku , , ,00 102,03 Maluku Utara , , ,00 100,72 Papua Barat , , ,00 110,79 Papua , , ,00 98,21 INDONESIA , , ,00 102,00 Sumber: BPS RI Susenas Kor 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
181 Tabel Perkiraan Jumlah dan Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Jenis Kelamin, 2014 Perkotaan+Perdesaan Provinsi Laki-Laki (L) Perempuan (P) L+P Jumlah % Jumlah % Jumlah % Sex Ratio (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Aceh , , ,00 98,52 Sumatera Utara , , ,00 101,65 Sumatera Barat , , ,00 101,27 Riau , , ,00 107,02 Jambi , , ,00 105,81 Sumatera Selatan , , ,00 105,67 Bengkulu , , ,00 101,26 Lampung , , ,00 103,83 Kep. Bangka Belitung , , ,00 110,75 Kepulauan Riau , , ,00 92,93 DKI Jakarta , , ,00 97,64 Jawa Barat , , ,00 102,71 Jawa Tengah , , ,00 100,39 DI Yogyakarta , , ,00 104,53 Jawa Timur , , ,00 99,22 Banten , , ,00 101,59 Bali , , ,00 104,27 Nusa Tenggara Barat , , ,00 88,95 Nusa Tenggara Timur , , ,00 96,55 Kalimantan Barat , , ,00 102,39 Kalimantan Tengah , , ,00 107,27 Kalimantan Selatan , , ,00 101,77 Kalimantan Timur , , ,00 109,99 Sulawesi Utara , , ,00 110,23 Sulawesi Tengah , , ,00 106,06 Sulawesi Selatan , , ,00 96,68 Sulawesi Tenggara , , ,00 98,07 Gorontalo , , ,00 98,78 Sulawesi Barat , , ,00 99,48 Maluku , , ,00 101,17 Maluku Utara , , ,00 101,51 Papua Barat , , ,00 112,10 Papua , , ,00 104,57 INDONESIA , , ,00 101,34 Sumber: BPS RI Susenas Kor Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
182 Tabel Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Kelompok Umur, 2014 Perkotaan Provinsi Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) Aceh 32,35 36,31 31,34 100,00 Sumatera Utara 33,72 34,12 32,16 100,00 Sumatera Barat 33,78 32,47 33,74 100,00 Riau 32,80 33,24 33,96 100,00 Jambi 31,02 33,03 35,94 100,00 Sumatera Selatan 35,51 33,31 31,18 100,00 Bengkulu 34,31 34,11 31,58 100,00 Lampung 35,58 32,78 31,65 100,00 Kep. Bangka Belitung 29,98 33,34 36,68 100,00 Kepulauan Riau 23,33 32,07 44,60 100,00 DKI Jakarta 27,84 34,59 37,57 100,00 Jawa Barat 32,91 33,86 33,23 100,00 Jawa Tengah 34,15 32,67 33,18 100,00 DI Yogyakarta 35,38 37,60 27,02 100,00 Jawa Timur 31,16 34,34 34,50 100,00 Banten 30,81 34,83 34,35 100,00 Bali 30,99 33,34 35,67 100,00 Nusa Tenggara Barat 32,91 33,82 33,27 100,00 Nusa Tenggara Timur 37,19 32,49 30,32 100,00 Kalimantan Barat 33,68 31,13 35,19 100,00 Kalimantan Tengah 31,14 34,87 34,00 100,00 Kalimantan Selatan 32,62 34,53 32,86 100,00 Kalimantan Timur 31,03 32,29 36,68 100,00 Sulawesi Utara 35,07 36,56 28,37 100,00 Sulawesi Tengah 35,18 33,96 30,87 100,00 Sulawesi Selatan 34,39 34,72 30,90 100,00 Sulawesi Tenggara 36,66 34,22 29,12 100,00 Gorontalo 35,22 34,08 30,71 100,00 Sulawesi Barat 35,18 30,88 33,93 100,00 Maluku 34,95 35,42 29,63 100,00 Maluku Utara 32,38 36,12 31,49 100,00 Papua Barat 32,15 34,36 33,50 100,00 Papua 31,40 34,65 33,95 100,00 INDONESIA 32,35 33,94 33,72 100,00 Sumber: BPS RI Susenas Kor 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
183 Tabel Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Kelompok Umur, 2014 Perdesaan Provinsi Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) Aceh 33,13 32,42 34,45 100,00 Sumatera Utara 35,19 30,19 34,62 100,00 Sumatera Barat 33,63 31,53 34,85 100,00 Riau 29,96 31,58 38,46 100,00 Jambi 29,64 34,31 36,06 100,00 Sumatera Selatan 30,66 32,57 36,77 100,00 Bengkulu 31,16 32,66 36,18 100,00 Lampung 30,38 31,52 38,10 100,00 Kep. Bangka Belitung 30,98 33,04 35,99 100,00 Kepulauan Riau 34,05 23,69 42,27 100,00 DKI Jakarta Jawa Barat 32,23 33,29 34,47 100,00 Jawa Tengah 31,35 33,13 35,52 100,00 DI Yogyakarta 32,37 27,56 40,07 100,00 Jawa Timur 32,65 31,81 35,54 100,00 Banten 34,48 31,79 33,73 100,00 Bali 31,22 35,26 33,51 100,00 Nusa Tenggara Barat 30,93 33,52 35,54 100,00 Nusa Tenggara Timur 34,56 29,34 36,10 100,00 Kalimantan Barat 30,15 32,39 37,45 100,00 Kalimantan Tengah 29,73 33,32 36,96 100,00 Kalimantan Selatan 30,27 32,74 36,99 100,00 Kalimantan Timur 30,03 33,62 36,35 100,00 Sulawesi Utara 33,23 32,35 34,42 100,00 Sulawesi Tengah 29,53 32,14 38,33 100,00 Sulawesi Selatan 33,98 31,97 34,05 100,00 Sulawesi Tenggara 32,20 31,65 36,15 100,00 Gorontalo 33,36 36,43 30,21 100,00 Sulawesi Barat 33,49 32,53 33,98 100,00 Maluku 34,25 29,74 36,02 100,00 Maluku Utara 31,84 30,46 37,70 100,00 Papua Barat 29,88 32,41 37,71 100,00 Papua 31,71 26,11 42,18 100,00 INDONESIA 32,09 32,11 35,80 100,00 Sumber: BPS RI Susenas Kor Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
184 Tabel Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Kelompok Umur, 2014 Perkotaan+Perdesaan Provinsi Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) Aceh 32,90 33,59 33,52 100,00 Sumatera Utara 34,42 32,25 33,33 100,00 Sumatera Barat 33,69 31,92 34,39 100,00 Riau 31,12 32,26 36,62 100,00 Jambi 30,05 33,93 36,02 100,00 Sumatera Selatan 32,51 32,85 34,64 100,00 Bengkulu 32,22 33,15 34,62 100,00 Lampung 31,78 31,86 36,36 100,00 Kep. Bangka Belitung 30,49 33,19 36,32 100,00 Kepulauan Riau 24,95 30,80 44,25 100,00 DKI Jakarta 27,84 34,59 37,57 100,00 Jawa Barat 32,70 33,68 33,61 100,00 Jawa Tengah 32,71 32,91 34,38 100,00 DI Yogyakarta 34,55 34,82 30,63 100,00 Jawa Timur 31,91 33,07 35,02 100,00 Banten 31,92 33,91 34,16 100,00 Bali 31,07 34,00 34,93 100,00 Nusa Tenggara Barat 31,80 33,65 34,55 100,00 Nusa Tenggara Timur 35,19 30,09 34,72 100,00 Kalimantan Barat 31,31 31,98 36,71 100,00 Kalimantan Tengah 30,23 33,87 35,90 100,00 Kalimantan Selatan 31,31 33,53 35,15 100,00 Kalimantan Timur 30,65 32,79 36,55 100,00 Sulawesi Utara 34,11 34,36 31,53 100,00 Sulawesi Tengah 31,14 32,66 36,20 100,00 Sulawesi Selatan 34,15 33,12 32,73 100,00 Sulawesi Tenggara 33,62 32,47 33,91 100,00 Gorontalo 34,01 35,60 30,39 100,00 Sulawesi Barat 33,88 32,15 33,97 100,00 Maluku 34,55 32,19 33,26 100,00 Maluku Utara 32,01 32,21 35,78 100,00 Papua Barat 30,63 33,05 36,32 100,00 Papua 31,62 28,60 39,78 100,00 INDONESIA 32,23 33,08 34,69 100,00 Sumber: BPS RI Susenas Kor 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
185 Tabel Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Status Perkawinan, 2014 Perkotaan Provinsi Belum Kawin Kawin Cerai Hidup Cerai Mati Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 70,54 28,62 0,54 0,30 100,00 Sumatera Utara 68,60 30,08 1,16 0,16 100,00 Sumatera Barat 70,89 28,12 0,93 0,06 100,00 Riau 65,93 33,49 0,57 0,00 100,00 Jambi 60,05 38,93 0,67 0,35 100,00 Sumatera Selatan 65,14 33,87 0,84 0,15 100,00 Bengkulu 64,04 34,85 0,98 0,14 100,00 Lampung 63,81 35,14 0,87 0,18 100,00 Kep. Bangka Belitung 53,33 45,15 1,41 0,11 100,00 Kepulauan Riau 56,68 42,54 0,73 0,05 100,00 DKI Jakarta 65,00 33,82 0,92 0,26 100,00 Jawa Barat 57,71 40,51 1,61 0,17 100,00 Jawa Tengah 59,28 39,50 1,09 0,12 100,00 DI Yogyakarta 71,02 28,58 0,38 0,02 100,00 Jawa Timur 56,25 42,60 0,99 0,16 100,00 Banten 58,26 40,20 1,33 0,21 100,00 Bali 56,29 42,90 0,75 0,05 100,00 Nusa Tenggara Barat 56,60 40,85 2,45 0,10 100,00 Nusa Tenggara Timur 71,78 27,13 0,91 0,19 100,00 Kalimantan Barat 59,12 39,94 0,66 0,27 100,00 Kalimantan Tengah 51,96 46,51 1,52 0,02 100,00 Kalimantan Selatan 54,91 42,81 1,84 0,44 100,00 Kalimantan Timur 57,25 41,51 1,04 0,19 100,00 Sulawesi Utara 60,29 38,28 1,16 0,26 100,00 Sulawesi Tengah 63,73 34,36 1,66 0,24 100,00 Sulawesi Selatan 64,35 34,60 0,97 0,07 100,00 Sulawesi Tenggara 63,65 35,33 0,73 0,29 100,00 Gorontalo 61,28 36,78 1,82 0,12 100,00 Sulawesi Barat 64,68 33,36 1,96 0,00 100,00 Maluku 68,54 30,14 1,15 0,18 100,00 Maluku Utara 63,76 35,30 0,66 0,28 100,00 Papua Barat 63,50 35,54 0,79 0,17 100,00 Papua 64,56 34,00 1,15 0,29 100,00 INDONESIA 60,48 38,17 1,18 0,17 100,00 Sumber: BPS RI Susenas Kor Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
186 Tabel Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Status Perkawinan, 2014 Perdesaan Provinsi Belum Kawin Kawin Cerai Hidup Cerai Mati Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 64,87 34,37 0,50 0,26 100,00 Sumatera Utara 56,91 42,02 0,78 0,29 100,00 Sumatera Barat 57,02 41,61 1,17 0,20 100,00 Riau 48,01 51,31 0,62 0,05 100,00 Jambi 46,39 51,67 1,71 0,24 100,00 Sumatera Selatan 46,12 52,73 1,02 0,13 100,00 Bengkulu 45,29 52,74 1,67 0,30 100,00 Lampung 46,58 52,53 0,81 0,08 100,00 Kep. Bangka Belitung 44,51 53,65 1,70 0,14 100,00 Kepulauan Riau 58,13 40,95 0,64 0,27 100,00 DKI Jakarta Jawa Barat 41,94 55,54 2,37 0,14 100,00 Jawa Tengah 44,36 54,67 0,88 0,08 100,00 DI Yogyakarta 47,80 51,70 0,30 0,19 100,00 Jawa Timur 42,69 55,61 1,46 0,25 100,00 Banten 46,39 51,73 1,73 0,14 100,00 Bali 48,20 50,52 1,04 0,24 Nusa Tenggara Barat 44,16 53,15 2,48 0,21 100,00 Nusa Tenggara Timur 54,73 44,01 1,02 0,24 100,00 Kalimantan Barat 45,54 53,05 1,24 0,17 100,00 Kalimantan Tengah 44,61 53,86 1,26 0,28 100,00 Kalimantan Selatan 43,27 54,60 1,88 0,25 100,00 Kalimantan Timur 50,23 48,57 1,07 0,13 100,00 Sulawesi Utara 48,55 49,91 1,26 0,28 100,00 Sulawesi Tengah 44,28 54,21 1,28 0,23 100,00 Sulawesi Selatan 50,75 46,98 1,98 0,29 100,00 Sulawesi Tenggara 45,92 52,37 1,35 0,35 100,00 Gorontalo 47,16 51,04 1,65 0,16 100,00 Sulawesi Barat 51,25 47,30 1,28 0,18 100,00 Maluku 53,85 44,71 1,08 0,35 100,00 Maluku Utara 46,91 51,26 1,55 0,28 100,00 Papua Barat 49,72 49,08 1,00 0,21 100,00 Papua 43,78 54,31 0,90 1,00 100,00 INDONESIA 46,93 51,52 1,35 0,20 100,00 Sumber: BPS RI Susenas Kor 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
187 Tabel Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Status Perkawinan, 2014 Perkotaan+Perdesaan Provinsi Belum Kawin Kawin Cerai Hidup Cerai Mati Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 66,58 32,64 0,51 0,27 100,00 Sumatera Utara 63,03 35,77 0,98 0,22 100,00 Sumatera Barat 62,81 35,98 1,07 0,14 100,00 Riau 55,36 44,01 0,60 0,03 100,00 Jambi 50,43 47,90 1,40 0,27 100,00 Sumatera Selatan 53,35 45,55 0,95 0,14 100,00 Bengkulu 51,62 46,70 1,43 0,25 100,00 Lampung 51,23 47,84 0,82 0,10 100,00 Kep. Bangka Belitung 48,82 49,50 1,56 0,13 100,00 Kepulauan Riau 56,90 42,30 0,72 0,08 100,00 DKI Jakarta 65,00 33,82 0,92 0,26 100,00 Jawa Barat 52,85 45,14 1,84 0,16 100,00 Jawa Tengah 51,64 47,28 0,98 0,10 100,00 DI Yogyakarta 64,60 34,98 0,36 0,07 100,00 Jawa Timur 49,42 49,15 1,22 0,21 100,00 Banten 54,67 43,69 1,45 0,19 100,00 Bali 53,52 45,52 0,85 0,12 100,00 Nusa Tenggara Barat 49,61 47,76 2,47 0,16 100,00 Nusa Tenggara Timur 58,79 39,99 0,99 0,23 100,00 Kalimantan Barat 50,00 48,74 1,05 0,21 100,00 Kalimantan Tengah 47,23 51,24 1,35 0,18 100,00 Kalimantan Selatan 48,44 49,36 1,86 0,33 100,00 Kalimantan Timur 54,61 44,17 1,05 0,17 100,00 Sulawesi Utara 54,16 44,36 1,21 0,27 100,00 Sulawesi Tengah 49,84 48,53 1,39 0,24 100,00 Sulawesi Selatan 56,43 41,80 1,56 0,20 100,00 Sulawesi Tenggara 51,58 46,94 1,15 0,33 100,00 Gorontalo 52,12 46,03 1,71 0,15 100,00 Sulawesi Barat 54,35 44,09 1,43 0,14 100,00 Maluku 60,19 38,42 1,11 0,28 100,00 Maluku Utara 52,11 46,33 1,27 0,28 100,00 Papua Barat 54,25 44,63 0,93 0,19 100,00 Papua 49,84 48,39 0,97 0,80 100,00 INDONESIA 54,11 44,45 1,26 0,18 100,00 Sumber: BPS RI Susenas Kor Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
188 Tabel Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Status Dalam Rumah Tangga, 2014 Perkotaan Provinsi Kepala Rumah Tangga Isteri/ Suami Anak Lainnya Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 10,30 14,45 59,05 16,20 100,00 Sumatera Utara 8,36 12,41 64,93 14,30 100,00 Sumatera Barat 9,49 11,89 66,25 12,38 100,00 Riau 14,91 16,56 49,71 18,83 100,00 Jambi 8,53 16,04 56,29 19,14 100,00 Sumatera Selatan 8,67 12,33 62,50 16,49 100,00 Bengkulu 14,84 14,80 52,53 17,83 100,00 Lampung 8,54 15,13 60,18 16,15 100,00 Kep. Bangka Belitung 13,22 17,70 53,97 15,12 100,00 Kepulauan Riau 19,88 22,85 35,18 22,09 100,00 DKI Jakarta 11,04 14,09 56,51 18,35 100,00 Jawa Barat 11,59 17,69 57,79 12,93 100,00 Jawa Tengah 8,64 11,63 64,00 15,73 100,00 DI Yogyakarta 24,75 9,40 51,28 14,57 100,00 Jawa Timur 9,90 13,46 58,93 17,72 100,00 Banten 9,80 15,84 58,36 16,01 100,00 Bali 21,48 18,09 45,14 15,29 100,00 Nusa Tenggara Barat 17,96 19,24 51,05 11,75 100,00 Nusa Tenggara Timur 12,95 9,71 42,36 34,99 100,00 Kalimantan Barat 10,38 12,19 55,03 22,40 100,00 Kalimantan Tengah 17,13 20,48 45,45 16,94 100,00 Kalimantan Selatan 17,25 20,47 49,63 12,64 100,00 Kalimantan Timur 13,96 18,21 50,78 17,05 100,00 Sulawesi Utara 13,40 12,55 52,70 21,36 100,00 Sulawesi Tengah 13,45 12,71 49,17 24,67 100,00 Sulawesi Selatan 11,80 11,97 54,32 21,90 100,00 Sulawesi Tenggara 16,51 13,01 45,40 25,08 100,00 Gorontalo 13,06 13,20 53,87 19,87 100,00 Sulawesi Barat 8,86 14,32 51,00 25,83 100,00 Maluku 9,09 10,07 48,69 32,15 100,00 Maluku Utara 11,74 10,36 47,24 30,66 100,00 Papua Barat 11,81 16,36 46,97 24,86 100,00 Papua 15,61 16,41 45,43 22,55 100,00 INDONESIA 11,48 14,90 57,29 16,33 100,00 Sumber: BPS RI Susenas Kor 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
189 Tabel Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Status Dalam Rumah Tangga, 2014 Perdesaan Provinsi Kepala Rumah Tangga Isteri/ Suami Anak Lainnya Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 8,03 18,81 65,44 7,71 100,00 Sumatera Utara 12,35 20,13 58,97 8,55 100,00 Sumatera Barat 7,92 16,26 63,28 12,54 100,00 Riau 14,03 24,46 49,97 11,55 100,00 Jambi 12,54 23,48 51,44 12,55 100,00 Sumatera Selatan 13,75 23,13 50,75 12,36 100,00 Bengkulu 13,07 22,51 51,68 12,73 100,00 Lampung 11,85 22,96 51,85 13,35 100,00 Kep. Bangka Belitung 15,19 24,69 49,65 10,46 100,00 Kepulauan Riau 13,44 20,34 58,06 8,15 100,00 DKI Jakarta Jawa Barat 14,01 25,19 49,59 11,22 100,00 Jawa Tengah 8,51 16,51 57,11 17,86 100,00 DI Yogyakarta 6,25 13,10 61,68 18,97 100,00 Jawa Timur 7,74 15,44 55,68 21,14 100,00 Banten 8,87 19,30 55,91 15,92 100,00 Bali 10,31 18,76 54,58 16,35 100,00 Nusa Tenggara Barat 19,56 23,93 46,77 9,74 100,00 Nusa Tenggara Timur 10,59 16,47 50,60 22,34 100,00 Kalimantan Barat 12,75 21,57 52,90 12,77 100,00 Kalimantan Tengah 16,44 27,16 46,06 10,34 100,00 Kalimantan Selatan 14,71 26,36 46,92 12,02 100,00 Kalimantan Timur 11,67 22,51 50,92 14,90 100,00 Sulawesi Utara 8,12 15,84 55,87 20,17 100,00 Sulawesi Tengah 12,48 21,85 48,79 16,88 100,00 Sulawesi Selatan 9,01 15,17 58,54 17,28 100,00 Sulawesi Tenggara 12,43 20,62 51,75 15,19 100,00 Gorontalo 12,35 21,35 50,12 16,18 100,00 Sulawesi Barat 12,54 20,09 52,54 14,84 100,00 Maluku 8,83 14,67 56,94 19,57 100,00 Maluku Utara 10,29 17,31 52,08 20,31 100,00 Papua Barat 16,59 22,48 43,51 17,42 100,00 Papua 22,27 31,63 40,67 5,44 100,00 INDONESIA 11,27 20,11 53,81 14,82 100,00 Sumber: BPS RI Susenas Kor Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
190 Tabel Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Status Dalam Rumah Tangga, 2014 Perkotaan+Perdesaan Provinsi Kepala Rumah Tangga Isteri/ Suami Anak Lainnya Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 8,71 17,50 63,52 10,27 100,00 Sumatera Utara 10,26 16,08 62,09 11,56 100,00 Sumatera Barat 8,57 14,44 64,52 12,47 100,00 Riau 14,39 21,22 49,86 14,53 100,00 Jambi 11,35 21,28 52,87 14,50 100,00 Sumatera Selatan 11,82 19,02 55,22 13,93 100,00 Bengkulu 13,67 19,91 51,97 14,45 100,00 Lampung 10,96 20,85 54,09 14,10 100,00 Kep. Bangka Belitung 14,23 21,27 51,76 12,74 100,00 Kepulauan Riau 18,91 22,47 38,64 19,98 100,00 DKI Jakarta 11,04 14,09 56,51 18,35 100,00 Jawa Barat 12,34 20,00 55,26 12,40 100,00 Jawa Tengah 8,58 14,13 60,47 16,82 100,00 DI Yogyakarta 19,63 10,42 54,16 15,79 100,00 Jawa Timur 8,81 14,45 57,29 19,44 100,00 Banten 9,52 16,89 57,62 15,98 100,00 Bali 17,65 18,32 48,38 15,65 100,00 Nusa Tenggara Barat 18,86 21,88 48,65 10,62 100,00 Nusa Tenggara Timur 11,15 14,86 48,64 25,35 100,00 Kalimantan Barat 11,97 18,49 53,60 15,94 100,00 Kalimantan Tengah 16,68 24,78 45,84 12,70 100,00 Kalimantan Selatan 15,84 23,74 48,12 12,29 100,00 Kalimantan Timur 13,10 19,83 50,83 16,24 100,00 Sulawesi Utara 10,64 14,27 54,35 20,74 100,00 Sulawesi Tengah 12,76 19,24 48,90 19,10 100,00 Sulawesi Selatan 10,18 13,83 56,78 19,22 100,00 Sulawesi Tenggara 13,74 18,19 49,73 18,35 100,00 Gorontalo 12,60 18,49 51,44 17,48 100,00 Sulawesi Barat 11,69 18,76 52,18 17,37 100,00 Maluku 8,94 12,69 53,38 25,00 100,00 Maluku Utara 10,74 15,17 50,58 23,51 100,00 Papua Barat 15,01 20,47 44,65 19,87 100,00 Papua 20,33 27,19 42,05 10,43 100,00 INDONESIA 11,38 17,35 55,65 15,62 100,00 Sumber: BPS RI Susenas Kor 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
191 Tabel Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Status Dalam Rumah Tangga, 2014 Laki-laki Provinsi Kepala Rumah Tangga Isteri/ Suami Anak Lainnya Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 15,08 0,07 72,99 11,86 100,00 Sumatera Utara 19,04 0,03 69,81 11,12 100,00 Sumatera Barat 14,49 0,12 68,68 16,70 100,00 Riau 25,30 0,09 57,47 17,14 100,00 Jambi 21,43 0,00 61,29 17,28 100,00 Sumatera Selatan 21,84 0,10 64,79 13,27 100,00 Bengkulu 23,80 0,00 59,31 16,89 100,00 Lampung 20,53 0,01 66,45 13,02 100,00 Kep. Bangka Belitung 26,20 0,08 58,94 14,78 100,00 Kepulauan Riau 31,72 0,02 45,97 22,30 100,00 DKI Jakarta 19,51 0,16 61,48 18,85 100,00 Jawa Barat 22,56 0,07 63,60 13,78 100,00 Jawa Tengah 14,87 0,12 68,16 16,86 100,00 DI Yogyakarta 25,62 0,23 59,45 14,70 100,00 Jawa Timur 15,34 0,14 63,63 20,89 100,00 Banten 17,40 0,13 64,65 17,82 100,00 Bali 29,68 0,16 60,70 9,45 100,00 Nusa Tenggara Barat 30,98 0,00 58,28 10,74 100,00 Nusa Tenggara Timur 19,11 0,16 56,92 23,81 100,00 Kalimantan Barat 21,97 0,07 61,63 16,33 100,00 Kalimantan Tengah 30,09 0,11 55,55 14,25 100,00 Kalimantan Selatan 28,07 0,00 57,77 14,16 100,00 Kalimantan Timur 23,29 0,02 57,99 18,70 100,00 Sulawesi Utara 17,75 0,36 60,58 21,31 100,00 Sulawesi Tengah 22,99 0,00 58,69 18,32 100,00 Sulawesi Selatan 17,52 0,20 61,27 21,01 100,00 Sulawesi Tenggara 23,72 0,12 56,80 19,35 100,00 Gorontalo 22,96 0,05 56,83 20,16 100,00 Sulawesi Barat 21,87 0,11 59,38 18,64 100,00 Maluku 15,89 0,14 61,06 22,91 100,00 Maluku Utara 19,34 0,15 58,56 21,95 100,00 Papua Barat 27,09 0,07 51,43 21,42 100,00 Papua 37,42 0,11 49,70 12,76 100,00 INDONESIA 20,16 0,10 63,30 16,43 100,00 Sumber: BPS RI Susenas Kor Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
192 Tabel Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Status Dalam Rumah Tangga, 2014 Perempuan Provinsi Kepala Rumah Tangga Isteri/ Suami Anak Lainnya Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 2,45 34,67 54,19 8,69 100,00 Sumatera Utara 1,34 32,41 54,24 12,01 100,00 Sumatera Barat 2,58 28,93 60,30 8,19 100,00 Riau 2,72 43,83 41,72 11,73 100,00 Jambi 0,70 43,80 43,96 11,55 100,00 Sumatera Selatan 1,23 39,03 45,10 14,64 100,00 Bengkulu 3,41 40,07 44,53 11,99 100,00 Lampung 1,02 42,49 41,26 15,23 100,00 Kep. Bangka Belitung 0,97 44,75 43,81 10,47 100,00 Kepulauan Riau 7,00 43,34 31,84 17,83 100,00 DKI Jakarta 2,78 27,70 51,66 17,86 100,00 Jawa Barat 1,84 40,47 46,70 10,99 100,00 Jawa Tengah 2,26 28,20 52,75 16,79 100,00 DI Yogyakarta 13,37 21,08 48,63 16,93 100,00 Jawa Timur 2,33 28,66 51,00 18,01 100,00 Banten 1,51 33,91 50,47 14,11 100,00 Bali 5,10 37,26 35,53 22,11 100,00 Nusa Tenggara Barat 8,08 41,34 40,07 10,51 100,00 Nusa Tenggara Timur 3,47 29,04 40,65 26,84 100,00 Kalimantan Barat 1,74 37,35 45,38 15,53 100,00 Kalimantan Tengah 2,30 51,24 35,43 11,03 100,00 Kalimantan Selatan 3,39 47,91 38,31 10,39 100,00 Kalimantan Timur 1,88 41,61 42,97 13,54 100,00 Sulawesi Utara 2,80 29,60 47,49 20,11 100,00 Sulawesi Tengah 1,91 39,64 38,52 19,94 100,00 Sulawesi Selatan 3,08 27,01 52,43 17,48 100,00 Sulawesi Tenggara 3,94 35,91 42,79 17,36 100,00 Gorontalo 2,36 36,70 46,12 14,82 100,00 Sulawesi Barat 1,56 37,31 45,02 16,11 100,00 Maluku 1,91 25,38 45,61 27,11 100,00 Maluku Utara 2,01 30,41 42,48 25,10 100,00 Papua Barat 1,48 43,33 37,05 18,13 100,00 Papua 2,45 55,51 34,06 7,98 100,00 INDONESIA 2,48 34,84 47,89 14,79 100,00 Sumber: BPS RI Susenas Kor 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
193 Tabel Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Status Dalam Rumah Tangga, 2014 Laki-laki+Perempuan Provinsi Kepala Rumah Tangga Isteri/ Suami Anak Lainnya Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 8,71 17,50 63,52 10,27 100,00 Sumatera Utara 10,26 16,08 62,09 11,56 100,00 Sumatera Barat 8,57 14,44 64,52 12,47 100,00 Riau 14,39 21,22 49,86 14,53 100,00 Jambi 11,35 21,28 52,87 14,50 100,00 Sumatera Selatan 11,82 19,02 55,22 13,93 100,00 Bengkulu 13,67 19,91 51,97 14,45 100,00 Lampung 10,96 20,85 54,09 14,10 100,00 Kep. Bangka Belitung 14,23 21,27 51,76 12,74 100,00 Kepulauan Riau 18,91 22,47 38,64 19,98 100,00 DKI Jakarta 11,04 14,09 56,51 18,35 100,00 Jawa Barat 12,34 20,00 55,26 12,40 100,00 Jawa Tengah 8,58 14,13 60,47 16,82 100,00 DI Yogyakarta 19,63 10,42 54,16 15,79 100,00 Jawa Timur 8,81 14,45 57,29 19,44 100,00 Banten 9,52 16,89 57,62 15,98 100,00 Bali 17,65 18,32 48,38 15,65 100,00 Nusa Tenggara Barat 18,86 21,88 48,65 10,62 100,00 Nusa Tenggara Timur 11,15 14,86 48,64 25,35 100,00 Kalimantan Barat 11,97 18,49 53,60 15,94 100,00 Kalimantan Tengah 16,68 24,78 45,84 12,70 100,00 Kalimantan Selatan 15,84 23,74 48,12 12,29 100,00 Kalimantan Timur 13,10 19,83 50,83 16,24 100,00 Sulawesi Utara 10,64 14,27 54,35 20,74 100,00 Sulawesi Tengah 12,76 19,24 48,90 19,10 100,00 Sulawesi Selatan 10,18 13,83 56,78 19,22 100,00 Sulawesi Tenggara 13,74 18,19 49,73 18,35 100,00 Gorontalo 12,60 18,49 51,44 17,48 100,00 Sulawesi Barat 11,69 18,76 52,18 17,37 100,00 Maluku 8,94 12,69 53,38 25,00 100,00 Maluku Utara 10,74 15,17 50,58 23,51 100,00 Papua Barat 15,01 20,47 44,65 19,87 100,00 Papua 20,33 27,19 42,05 10,43 100,00 INDONESIA 11,38 17,35 55,65 15,62 100,00 Sumber: BPS RI Susenas Kor Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
194 Tabel Persentase Pemuda Menurut Jenis Kelamin, Kelompok Umur, dan Partisipasi Sekolah, 2014 Perkotaan Jenis Kelamin/ Kelompok Umur (Tahun) Tidak Pernah Sekolah Masih Sekolah *) Tidak Sekolah Lagi Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) Laki-laki: ,40 74,28 25,32 100, ,52 28,11 71,37 100, ,41 3,08 96,51 100,00 Pemuda 0,45 27,05 72,49 100,00 Perempuan: ,39 75,53 24,09 100, ,30 27,90 71,80 100, ,40 1,99 97,61 100,00 Pemuda 0,36 26,41 73,23 100,00 Laki-laki+Perempuan ,39 74,90 24,71 100, ,41 28,01 71,58 100, ,40 2,53 97,07 100,00 Pemuda 0,41 26,73 72,86 100,00 Keterangan: *) Termasuk pendidikan non formal (paket A setara SD/MI, paket B setara SMP/MTs dan paket C setara SM/SMK/MA) Sumber: BPS RI Susenas Kor 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
195 Tabel Persentase Pemuda Menurut Jenis Kelamin, Kelompok Umur, dan Partisipasi Sekolah, 2014 Perdesaan Jenis Kelamin/ Kelompok Umur (Tahun) Tidak Pernah Sekolah Masih Sekolah *) Tidak Sekolah Lagi Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) Laki-laki: ,15 65,40 33,45 100, ,47 16,62 81,90 100, ,70 1,31 96,98 100,00 Pemuda 1,50 20,45 78,04 100,00 Perempuan: ,17 65,46 33,37 100, ,68 16,14 82,18 100, ,77 1,25 95,98 100,00 Pemuda 2,06 19,35 78,60 100,00 Laki-laki+Perempuan ,16 65,43 33,41 100, ,58 16,38 82,04 100, ,24 1,28 96,48 100,00 Pemuda 1,78 19,91 78,32 100,00 Keterangan: *) Termasuk pendidikan non formal (paket A setara SD/MI, paket B setara SMP/MTs dan paket C setara SM/SMK/MA) Sumber: BPS RI Susenas Kor Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
196 Tabel Persentase Pemuda Menurut Jenis Kelamin, Kelompok Umur, dan Partisipasi Sekolah, 2014 Perkotaan+Perdesaan Jenis Kelamin/ Kelompok Umur (Tahun) Tidak Pernah Sekolah Masih Sekolah *) Tidak Sekolah Lagi Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) Laki-laki: ,77 69,91 29,33 100, ,95 22,98 76,07 100, ,04 2,22 96,74 100,00 Pemuda 0,95 23,94 75,11 100,00 Perempuan: ,76 70,73 28,51 100, ,92 22,66 76,42 100, ,55 1,63 96,82 100,00 Pemuda 1,16 23,10 75,75 100,00 Laki-laki+Perempuan ,77 70,31 28,93 100, ,93 22,82 76,24 100, ,30 1,92 96,78 100,00 Pemuda 1,05 23,52 75,43 100,00 Keterangan: *) Termasuk pendidikan non formal (paket A setara SD/MI, paket B setara SMP/MTs dan paket C setara SM/SMK/MA) Sumber: BPS RI Susenas Kor 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
197 Tabel Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Status Sekolah, 2014 Perkotaan Provinsi Tidak Pernah Sekolah Masih Sekolah SD/ SMP/ SM/ Sederajat Sederajat Sederajat PT Tidak Sekolah Lagi Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Aceh 0,35 0,00 2,45 36,88 60,67 60,52 100,00 Sumatera Utara 0,34 0,00 2,76 50,37 46,87 70,95 100,00 Sumatera Barat 0,28 0,21 4,77 44,92 50,11 61,48 100,00 Riau 0,30 0,25 3,72 44,42 51,61 68,52 100,00 Jambi 0,72 0,00 2,81 49,36 47,83 70,92 100,00 Sumatera Selatan 0,55 0,00 3,39 53,68 42,93 69,02 100,00 Bengkulu 0,31 0,00 4,13 42,94 52,92 60,91 100,00 Lampung 0,73 0,00 2,64 49,33 48,04 68,78 100,00 Kep. Bangka Belitung 0,77 0,00 4,10 67,22 28,68 79,72 100,00 Kepulauan Riau 0,17 0,04 3,98 55,19 40,79 81,35 100,00 DKI Jakarta 0,33 0,00 3,43 47,30 49,27 78,67 100,00 Jawa Barat 0,39 0,00 3,73 54,84 41,43 77,01 100,00 Jawa Tengah 0,33 0,04 4,32 55,51 40,13 73,75 100,00 DI Yogyakarta 0,07 0,11 2,23 29,57 68,10 54,52 100,00 Jawa Timur 0,34 0,06 3,94 51,57 44,42 72,86 100,00 Banten 0,55 0,06 3,35 54,18 42,40 76,85 100,00 Bali 0,57 0,00 2,00 48,73 49,27 72,84 100,00 Nusa Tenggara Barat 0,57 0,00 4,90 47,47 47,63 68,25 100,00 Nusa Tenggara Timur 0,93 0,00 4,93 43,98 51,09 56,54 100,00 Kalimantan Barat 0,70 0,00 5,45 48,46 46,08 69,02 100,00 Kalimantan Tengah 0,50 0,00 2,83 43,08 54,09 71,50 100,00 Kalimantan Selatan 0,62 0,23 3,34 47,83 48,61 70,37 100,00 Kalimantan Timur 0,19 0,00 3,68 51,00 45,31 71,68 100,00 Sulawesi Utara 0,45 0,00 1,68 41,78 56,54 68,87 100,00 Sulawesi Tengah 0,17 0,00 1,11 39,27 59,62 61,61 100,00 Sulawesi Selatan 0,61 0,00 2,96 43,29 53,75 65,50 100,00 Sulawesi Tenggara 0,52 0,11 1,77 35,07 63,05 57,60 100,00 Gorontalo 0,74 0,00 2,61 36,10 61,29 63,72 100,00 Sulawesi Barat 1,20 0,00 2,61 53,98 43,41 64,87 100,00 Maluku 0,21 0,00 1,08 35,06 63,86 58,57 100,00 Maluku Utara 0,13 0,00 1,85 37,30 60,85 59,20 100,00 Papua Barat 0,40 0,00 3,75 47,16 49,10 68,24 100,00 Papua 1,24 0,13 5,61 42,62 51,64 67,15 100,00 INDONESIA 0,41 0,04 3,55 49,80 46,62 72,86 100,00 Sumber: BPS RI Susenas Kor Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
198 Tabel Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Status Sekolah, 2014 Perdesaan Provinsi Tidak Pernah Sekolah Masih Sekolah SD/ SMP/ SM/ Sederajat Sederajat Sederajat PT Tidak Sekolah Lagi Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Aceh 0,74 0,00 5,96 56,34 37,70 71,94 100,00 Sumatera Utara 1,34 0,03 7,97 66,91 25,09 74,60 100,00 Sumatera Barat 0,97 0,13 11,63 58,72 29,52 72,83 100,00 Riau 1,02 0,00 10,97 66,16 22,87 79,69 100,00 Jambi 0,62 0,07 7,09 56,07 36,76 79,32 100,00 Sumatera Selatan 0,95 0,00 7,95 71,53 20,52 84,00 100,00 Bengkulu 0,69 0,00 10,05 61,06 28,89 77,11 100,00 Lampung 0,49 0,00 8,30 63,84 27,86 81,16 100,00 Kep. Bangka Belitung 1,32 0,00 9,23 69,15 21,62 83,17 100,00 Kepulauan Riau 3,09 1,41 8,43 67,23 22,92 75,00 100,00 DKI Jakarta Jawa Barat 0,73 0,00 8,38 60,67 30,95 81,94 100,00 Jawa Tengah 0,52 0,09 7,54 61,94 30,42 80,38 100,00 DI Yogyakarta 0,22 0,00 5,29 64,58 30,12 69,71 100,00 Jawa Timur 1,41 0,00 8,09 61,98 29,93 79,66 100,00 Banten 0,53 0,00 7,65 62,34 30,01 80,11 100,00 Bali 1,94 0,21 5,34 67,98 26,47 76,41 100,00 Nusa Tenggara Barat 1,72 0,07 7,57 58,81 33,54 75,95 100,00 Nusa Tenggara Timur 2,98 0,41 22,37 55,63 21,59 73,74 100,00 Kalimantan Barat 1,85 0,11 15,36 55,05 29,48 80,44 100,00 Kalimantan Tengah 0,86 0,00 11,92 53,39 34,69 83,28 100,00 Kalimantan Selatan 1,06 0,00 11,34 65,63 23,03 83,54 100,00 Kalimantan Timur 0,99 0,00 9,54 56,28 34,17 76,49 100,00 Sulawesi Utara 0,74 0,00 4,17 73,14 22,69 79,55 100,00 Sulawesi Tengah 1,73 0,21 6,57 60,78 32,44 79,42 100,00 Sulawesi Selatan 2,08 0,10 5,37 58,69 35,85 74,54 100,00 Sulawesi Tenggara 1,53 0,00 7,03 65,47 27,50 77,38 100,00 Gorontalo 2,04 0,00 7,84 55,86 36,30 74,40 100,00 Sulawesi Barat 2,65 0,45 7,49 58,68 33,38 76,76 100,00 Maluku 2,32 0,10 8,35 59,23 32,32 72,14 100,00 Maluku Utara 0,86 0,00 7,21 63,58 29,21 77,65 100,00 Papua Barat 2,99 1,50 9,57 48,42 40,51 71,49 100,00 Papua 34,22 0,08 21,13 59,54 19,26 49,97 100,00 INDONESIA 1,78 0,07 8,86 61,55 29,53 78,32 100,00 Sumber: BPS RI Susenas Kor 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
199 Tabel Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Status Sekolah, 2014 Provinsi Tidak Pernah Sekolah Masih Sekolah SD/ SMP/ SM/ Sederajat Sederajat Sederajat Perkotaan+Perdesaan PT Tidak Sekolah Lagi Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Aceh 0,62 0,00 4,62 48,92 46,46 68,51 100,00 Sumatera Utara 0,81 0,02 5,01 57,52 37,45 72,69 100,00 Sumatera Barat 0,68 0,17 8,12 51,66 40,05 68,09 100,00 Riau 0,72 0,13 7,14 54,66 38,07 75,12 100,00 Jambi 0,65 0,05 5,50 53,57 40,88 76,84 100,00 Sumatera Selatan 0,80 0,00 5,43 61,64 32,94 78,30 100,00 Bengkulu 0,56 0,00 7,26 52,52 40,22 71,64 100,00 Lampung 0,55 0,00 6,14 58,32 35,53 77,82 100,00 Kep. Bangka Belitung 1,05 0,00 6,43 68,10 25,47 81,48 100,00 Kepulauan Riau 0,61 0,28 4,76 57,29 37,68 80,39 100,00 DKI Jakarta 0,33 0,00 3,43 47,30 49,27 78,67 100,00 Jawa Barat 0,49 0,00 4,91 56,33 38,76 78,53 100,00 Jawa Tengah 0,43 0,06 5,73 58,32 35,89 77,15 100,00 DI Yogyakarta 0,11 0,09 2,85 36,64 60,42 58,72 100,00 Jawa Timur 0,88 0,04 5,67 55,91 38,38 76,28 100,00 Banten 0,54 0,05 4,52 56,40 39,04 77,84 100,00 Bali 1,04 0,06 3,00 54,48 42,46 74,07 100,00 Nusa Tenggara Barat 1,22 0,03 6,18 52,90 40,89 72,58 100,00 Nusa Tenggara Timur 2,49 0,26 16,03 51,39 32,31 69,64 100,00 Kalimantan Barat 1,47 0,06 10,85 52,05 37,04 76,69 100,00 Kalimantan Tengah 0,73 0,00 7,43 48,29 44,28 79,08 100,00 Kalimantan Selatan 0,87 0,14 6,53 54,93 38,40 77,69 100,00 Kalimantan Timur 0,49 0,00 5,60 52,72 41,68 73,49 100,00 Sulawesi Utara 0,61 0,00 2,71 54,72 42,57 74,45 100,00 Sulawesi Tengah 1,28 0,12 4,12 51,13 44,62 74,32 100,00 Sulawesi Selatan 1,47 0,05 4,14 50,83 44,98 70,76 100,00 Sulawesi Tenggara 1,21 0,05 4,49 50,82 44,63 71,07 100,00 Gorontalo 1,59 0,00 5,49 46,98 47,54 70,65 100,00 Sulawesi Barat 2,32 0,30 5,88 57,13 36,69 74,02 100,00 Maluku 1,41 0,05 4,35 45,93 49,67 66,29 100,00 Maluku Utara 0,64 0,00 4,76 51,54 43,70 71,95 100,00 Papua Barat 2,14 0,94 7,38 47,95 43,73 70,42 100,00 Papua 24,61 0,10 14,12 51,90 33,88 54,98 100,00 INDONESIA 1,05 0,05 5,66 54,47 39,81 75,43 100,00 Sumber: BPS RI Susenas Kor Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
200 Tabel 4.3 Persentase Pemuda yang Buta Huruf Menurut Provinsi Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2014 Perkotaan (K) Perdesaan (D) K+D Provinsi Lakilaki (L) Perempuan (P) L+P Lakilaki (L) Perempuan (P) L+P Lakilaki (L) Perempuan (P) L+P (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) Aceh 0,00 0,00 0,00 0,08 0,30 0,19 0,06 0,21 0,14 Sumatera Utara 0,02 0,04 0,03 0,58 1,10 0,84 0,29 0,54 0,41 Sumatera Barat 0,11 0,00 0,05 0,22 0,41 0,31 0,17 0,24 0,21 Riau 0,00 0,11 0,05 0,21 0,32 0,26 0,12 0,24 0,18 Jambi 0,45 0,22 0,34 0,14 0,43 0,28 0,23 0,37 0,30 Sumatera Selatan 0,00 0,17 0,08 0,51 0,49 0,50 0,32 0,37 0,34 Bengkulu 0,13 0,06 0,10 0,34 0,42 0,38 0,27 0,29 0,28 Lampung 0,00 0,09 0,04 0,45 0,13 0,30 0,34 0,12 0,23 Kep. Bangka Belitung 0,35 0,00 0,18 0,61 0,98 0,78 0,48 0,50 0,49 Kepulauan Riau 0,00 0,10 0,05 0,84 1,13 0,98 0,14 0,24 0,19 DKI Jakarta 0,00 0,03 0, ,00 0,03 0,01 Jawa Barat 0,05 0,13 0,09 0,03 0,21 0,12 0,04 0,16 0,10 Jawa Tengah 0,10 0,12 0,11 0,20 0,20 0,20 0,15 0,16 0,16 DI Yogyakarta 0,00 0,00 0,00 0,23 0,00 0,12 0,06 0,00 0,03 Jawa Timur 0,07 0,10 0,08 0,68 0,86 0,77 0,38 0,48 0,43 Banten 0,02 0,21 0,11 0,26 0,37 0,31 0,09 0,26 0,17 Bali 0,00 0,15 0,07 0,65 1,07 0,86 0,23 0,46 0,34 Nusa Tenggara Barat 0,00 0,40 0,21 0,51 2,71 1,68 0,28 1,71 1,04 Nusa Tenggara Timur 0,18 0,05 0,12 3,78 2,89 3,32 2,89 2,23 2,56 Kalimantan Barat 0,39 0,37 0,38 0,61 1,72 1,15 0,54 1,26 0,90 Kalimantan Tengah 0,19 0,05 0,12 0,23 0,35 0,29 0,22 0,24 0,23 Kalimantan Selatan 0,00 0,00 0,00 0,00 0,35 0,17 0,00 0,20 0,10 Kalimantan Timur 0,00 0,13 0,06 0,12 0,12 0,12 0,04 0,12 0,08 Sulawesi Utara 0,04 0,00 0,02 0,22 0,16 0,19 0,14 0,09 0,11 Sulawesi Tengah 0,00 0,00 0,00 1,56 1,27 1,42 1,12 0,90 1,02 Sulawesi Selatan 0,48 0,45 0,47 2,25 1,49 1,86 1,51 1,05 1,28 Sulawesi Tenggara 0,27 0,21 0,24 1,54 1,19 1,37 1,14 0,88 1,01 Gorontalo 0,23 0,00 0,11 1,35 0,85 1,10 0,95 0,55 0,75 Sulawesi Barat 0,30 0,62 0,46 2,29 3,32 2,80 1,83 2,69 2,26 Maluku 0,07 0,05 0,06 0,92 1,70 1,30 0,55 0,98 0,77 Maluku Utara 0,00 0,00 0,00 0,71 0,53 0,62 0,49 0,37 0,43 Papua Barat 0,00 0,00 0,00 1,20 3,48 2,29 0,80 2,35 1,53 Papua 0,50 0,68 0,58 22,00 39,69 30,92 15,26 29,20 22,08 INDONESIA 0,07 0,13 0,10 1,00 1,52 1,26 0,51 0,78 0,64 Sumber: BPS RI Susenas Kor 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
201 Tabel 4.4 Rata-rata Lama Sekolah (dalam Tahun) Pemuda menurut Provinsi, Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2014 Perkotaan (K) Perdesaan (D) K+D Provinsi Lakilaki (L) Perempuan (P) L+P Lakilaki (L) Perempuan (P) L+P Lakilaki (L) Perempuan (P) L+P (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) Aceh 11,83 12,14 11,99 10,24 10,61 10,43 10,72 11,06 10,90 Sumatera Utara 11,11 11,42 11,26 9,68 9,90 9,79 10,42 10,70 10,56 Sumatera Barat 10,99 11,99 11,49 8,79 9,86 9,32 9,70 10,75 10,22 Riau 11,08 11,51 11,28 9,23 9,51 9,36 10,00 10,32 10,15 Jambi 10,85 11,56 11,19 9,22 9,25 9,24 9,70 9,93 9,81 Sumatera Selatan 10,93 11,45 11,19 8,74 8,99 8,86 9,56 9,94 9,75 Bengkulu 11,55 12,24 11,90 9,15 9,62 9,38 9,94 10,52 10,23 Lampung 10,69 11,11 10,90 9,11 9,39 9,24 9,52 9,87 9,69 Kep. Bangka Belitung 10,19 10,60 10,39 7,63 8,13 7,87 8,87 9,35 9,10 Kepulauan Riau 11,28 11,28 11,28 8,49 8,90 8,69 10,82 10,95 10,89 DKI Jakarta 11,48 11,45 11, ,48 11,45 11,47 Jawa Barat 10,38 10,33 10,36 8,58 8,28 8,43 9,82 9,70 9,76 Jawa Tengah 10,33 10,75 10,54 9,16 9,35 9,26 9,73 10,04 9,88 DI Yogyakarta 12,30 12,60 12,45 10,30 10,73 10,51 11,76 12,07 11,91 Jawa Timur 10,85 10,97 10,91 9,23 9,06 9,14 10,04 10,01 10,02 Banten 10,81 10,53 10,67 8,46 8,21 8,34 10,09 9,84 9,96 Bali 11,59 11,38 11,49 9,82 9,56 9,69 10,98 10,76 10,87 Nusa Tenggara Barat 10,67 10,44 10,55 9,83 9,19 9,49 10,20 9,73 9,95 Nusa Tenggara Timur 11,09 11,47 11,28 7,78 8,56 8,18 8,59 9,23 8,92 Kalimantan Barat 10,64 10,92 10,79 8,17 8,05 8,11 8,95 9,03 8,99 Kalimantan Tengah 10,70 10,89 10,79 8,48 8,51 8,49 9,26 9,37 9,31 Kalimantan Selatan 10,57 10,60 10,59 8,34 8,60 8,47 9,33 9,50 9,41 Kalimantan Timur 11,22 11,14 11,18 9,51 9,26 9,40 10,57 10,44 10,51 Sulawesi Utara 10,87 11,54 11,19 9,38 10,17 9,75 10,08 10,83 10,44 Sulawesi Tengah 11,39 11,90 11,64 8,80 9,11 8,95 9,53 9,92 9,72 Sulawesi Selatan 10,95 11,34 11,15 8,66 9,34 9,01 9,62 10,17 9,90 Sulawesi Tenggara 11,64 11,96 11,80 9,39 9,58 9,48 10,10 10,35 10,22 Gorontalo 10,25 11,41 10,83 7,82 8,55 8,18 8,67 9,55 9,11 Sulawesi Barat 10,46 10,97 10,72 8,30 8,66 8,48 8,79 9,20 9,00 Maluku 12,03 12,33 12,18 9,69 9,79 9,74 10,69 10,89 10,79 Maluku Utara 11,60 11,87 11,73 9,62 9,53 9,57 10,23 10,24 10,24 Papua Barat 11,28 11,76 11,50 10,05 9,36 9,72 10,46 10,14 10,31 Papua 11,28 11,48 11,37 6,60 4,71 5,65 8,07 6,53 7,32 INDONESIA 10,83 10,97 10,90 8,97 9,04 9,00 9,95 10,06 10,01 Sumber: BPS RI Susenas Kor Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
202 Tabel Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, 2014 Perkotaan Provinsi Tidak Pernah Sekolah Tidak Tamat SD SD/ Sederajat SM/ SMP/ Sederajat Sederajat ke Atas Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 0,35 0,91 5,94 24,32 68,48 100,00 Sumatera Utara 0,34 1,63 8,18 29,29 60,57 100,00 Sumatera Barat 0,28 3,33 8,47 27,56 60,35 100,00 Riau 0,30 1,96 10,35 26,15 61,23 100,00 Jambi 0,72 2,37 10,13 27,05 59,73 100,00 Sumatera Selatan 0,55 3,54 9,75 26,42 59,75 100,00 Bengkulu 0,31 1,28 8,49 27,19 62,74 100,00 Lampung 0,73 3,16 10,24 30,88 55,00 100,00 Kep. Bangka Belitung 0,77 6,79 12,82 26,61 53,01 100,00 Kepulauan Riau 0,17 2,58 8,18 22,25 66,82 100,00 DKI Jakarta 0,33 1,77 8,46 25,59 63,86 100,00 Jawa Barat 0,39 2,90 15,79 32,85 48,06 100,00 Jawa Tengah 0,33 2,43 13,35 35,20 48,69 100,00 DI Yogyakarta 0,07 0,79 3,44 22,36 73,34 100,00 Jawa Timur 0,34 2,31 11,43 30,44 55,48 100,00 Banten 0,55 3,28 12,30 30,88 52,99 100,00 Bali 0,57 1,41 8,56 26,32 63,14 100,00 Nusa Tenggara Barat 0,57 4,89 16,31 28,05 50,18 100,00 Nusa Tenggara Timur 0,93 3,48 10,48 25,70 59,41 100,00 Kalimantan Barat 0,70 5,79 12,89 25,64 54,98 100,00 Kalimantan Tengah 0,50 3,97 13,80 25,61 56,12 100,00 Kalimantan Selatan 0,62 5,13 14,51 28,82 50,92 100,00 Kalimantan Timur 0,19 2,06 8,78 27,52 61,45 100,00 Sulawesi Utara 0,45 5,83 7,39 24,13 62,20 100,00 Sulawesi Tengah 0,17 2,66 9,32 24,02 63,83 100,00 Sulawesi Selatan 0,61 4,39 12,54 26,13 56,33 100,00 Sulawesi Tenggara 0,52 2,54 6,23 25,18 65,53 100,00 Gorontalo 0,74 7,17 12,87 23,02 56,20 100,00 Sulawesi Barat 1,20 7,50 12,54 30,17 48,58 100,00 Maluku 0,21 1,20 3,83 20,65 74,11 100,00 Maluku Utara 0,13 2,69 7,09 23,33 66,76 100,00 Papua Barat 0,40 2,20 8,29 26,51 62,60 100,00 Papua 1,24 1,93 8,21 25,26 63,36 100,00 INDONESIA 0,41 2,70 11,84 29,77 55,28 100,00 Sumber: BPS RI Susenas Kor 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
203 Tabel Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, 2014 Perdesaan Provinsi Tidak Pernah Sekolah Tidak Tamat SD SD/ Sederajat SM/ SMP/ Sederajat Sederajat ke Atas Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 0,74 2,98 15,70 33,40 47,19 100,00 Sumatera Utara 1,34 5,07 17,55 35,96 40,08 100,00 Sumatera Barat 0,97 10,56 20,24 33,17 35,05 100,00 Riau 1,02 6,39 23,34 32,97 36,28 100,00 Jambi 0,62 6,33 26,15 33,02 33,88 100,00 Sumatera Selatan 0,95 9,31 26,90 32,28 30,57 100,00 Bengkulu 0,69 7,39 22,36 35,57 33,98 100,00 Lampung 0,49 4,42 23,77 41,40 29,91 100,00 Kep. Bangka Belitung 1,32 16,46 33,47 25,52 23,23 100,00 Kepulauan Riau 3,09 12,78 24,35 24,50 35,30 100,00 DKI Jakarta Jawa Barat 0,73 6,06 35,47 36,09 21,66 100,00 Jawa Tengah 0,52 2,81 25,96 41,20 29,51 100,00 DI Yogyakarta 0,22 1,94 9,91 42,89 45,04 100,00 Jawa Timur 1,41 5,31 24,41 37,63 31,24 100,00 Banten 0,53 9,32 34,71 34,15 21,28 100,00 Bali 1,94 4,57 19,35 34,26 39,89 100,00 Nusa Tenggara Barat 1,72 7,93 20,11 32,88 37,35 100,00 Nusa Tenggara Timur 2,98 14,43 33,24 24,70 24,64 100,00 Kalimantan Barat 1,85 14,11 31,91 28,38 23,75 100,00 Kalimantan Tengah 0,86 10,10 33,39 28,04 27,61 100,00 Kalimantan Selatan 1,06 10,62 31,96 31,38 24,97 100,00 Kalimantan Timur 0,99 6,67 24,93 27,57 39,85 100,00 Sulawesi Utara 0,74 8,67 17,46 33,02 40,11 100,00 Sulawesi Tengah 1,73 8,40 27,61 30,00 32,26 100,00 Sulawesi Selatan 2,08 9,67 26,09 28,80 33,35 100,00 Sulawesi Tenggara 1,53 8,20 21,80 30,90 37,58 100,00 Gorontalo 2,04 22,74 22,28 23,82 29,11 100,00 Sulawesi Barat 2,65 14,39 27,46 24,85 30,64 100,00 Maluku 2,32 6,35 19,60 28,27 43,47 100,00 Maluku Utara 0,86 9,24 22,40 26,53 40,97 100,00 Papua Barat 2,99 10,68 17,38 26,09 42,87 100,00 Papua 34,22 8,28 21,14 19,03 17,32 100,00 INDONESIA 1,78 6,89 26,02 34,48 30,83 100,00 Sumber: BPS RI Susenas Kor Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
204 Tabel Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, 2014 Perkotaan+Perdesaan Provinsi Tidak Pernah Sekolah Tidak Tamat SD SD/ Sederajat SM/ SMP/ Sederajat Sederajat ke Atas Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 0,62 2,36 12,77 30,67 53,59 100,00 Sumatera Utara 0,81 3,26 12,64 32,46 50,81 100,00 Sumatera Barat 0,68 7,54 15,33 30,83 45,62 100,00 Riau 0,72 4,58 18,02 30,17 46,51 100,00 Jambi 0,65 5,16 21,41 31,25 41,52 100,00 Sumatera Selatan 0,80 7,11 20,37 30,05 41,67 100,00 Bengkulu 0,56 5,33 17,68 32,74 43,69 100,00 Lampung 0,55 4,08 20,12 38,56 36,68 100,00 Kep. Bangka Belitung 1,05 11,73 23,38 26,06 37,78 100,00 Kepulauan Riau 0,61 4,12 10,63 22,59 62,05 100,00 DKI Jakarta 0,33 1,77 8,46 25,59 63,86 100,00 Jawa Barat 0,49 3,88 21,86 33,85 39,92 100,00 Jawa Tengah 0,43 2,62 19,82 38,28 38,86 100,00 DI Yogyakarta 0,11 1,11 5,23 28,04 65,51 100,00 Jawa Timur 0,88 3,82 17,97 34,07 43,27 100,00 Banten 0,54 5,11 19,09 31,87 43,38 100,00 Bali 1,04 2,49 12,26 29,04 55,16 100,00 Nusa Tenggara Barat 1,22 6,60 18,45 30,76 42,98 100,00 Nusa Tenggara Timur 2,49 11,83 27,82 24,94 32,92 100,00 Kalimantan Barat 1,47 11,38 25,66 27,48 34,01 100,00 Kalimantan Tengah 0,73 7,91 26,41 27,18 37,77 100,00 Kalimantan Selatan 0,87 8,18 24,21 30,24 36,50 100,00 Kalimantan Timur 0,49 3,80 14,87 27,53 53,31 100,00 Sulawesi Utara 0,61 7,31 12,65 28,77 50,66 100,00 Sulawesi Tengah 1,28 6,76 22,38 28,29 41,29 100,00 Sulawesi Selatan 1,47 7,46 20,43 27,69 42,96 100,00 Sulawesi Tenggara 1,21 6,39 16,83 29,07 46,49 100,00 Gorontalo 1,59 17,27 18,97 23,54 38,63 100,00 Sulawesi Barat 2,32 12,80 24,02 26,08 34,78 100,00 Maluku 1,41 4,13 12,80 24,98 56,68 100,00 Maluku Utara 0,64 7,22 17,67 25,54 48,93 100,00 Papua Barat 2,14 7,89 14,39 26,23 49,36 100,00 Papua 24,61 6,43 17,37 20,85 30,74 100,00 INDONESIA 1,05 4,67 18,51 31,99 43,78 100,00 Sumber: BPS RI Susenas Kor 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
205 Tabel Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Kegiatan Utama Selama Seminggu Terakhir, 2014 Perkotaan Provinsi Bekerja Pengangguran Sekolah Mengurus Rumah Tangga Lainnya (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 40,83 11,12 31,76 13,34 2,94 Sumatera Utara 47,89 11,07 24,05 14,31 2,69 Sumatera Barat 43,45 11,75 33,19 9,41 2,21 Riau 44,04 11,01 27,15 15,08 2,72 Jambi 49,38 10,31 24,55 13,03 2,74 Sumatera Selatan 48,68 10,88 23,75 14,45 2,24 Bengkulu 48,59 5,87 30,05 12,57 2,92 Lampung 45,90 9,25 29,60 13,55 1,71 Kep. Bangka Belitung 52,32 8,02 18,81 19,22 1,62 Kepulauan Riau 55,07 9,90 14,44 17,49 3,10 DKI Jakarta 56,73 9,57 21,44 11,04 1,22 Jawa Barat 48,93 11,62 21,18 14,98 3,29 Jawa Tengah 52,98 9,46 21,84 12,75 2,97 DI Yogyakarta 51,62 5,73 28,80 11,50 2,35 Jawa Timur 51,31 8,23 23,74 13,94 2,78 Banten 52,50 10,63 18,46 14,63 3,78 Bali 59,64 3,53 25,25 9,64 1,94 Nusa Tenggara Barat 48,17 8,99 22,69 16,52 3,62 Nusa Tenggara Timur 38,41 8,51 37,82 12,80 2,45 Kalimantan Barat 49,29 8,21 25,98 13,36 3,16 Kalimantan Tengah 46,37 5,88 28,01 17,33 2,41 Kalimantan Selatan 51,25 6,99 21,34 17,92 2,50 Kalimantan Timur 46,21 10,06 25,80 15,29 2,63 Sulawesi Utara 40,53 13,91 26,65 13,28 5,62 Sulawesi Tengah 50,41 6,48 26,12 13,95 3,04 Sulawesi Selatan 42,08 9,45 32,09 13,73 2,64 Sulawesi Tenggara 41,51 7,99 30,90 17,79 1,81 Gorontalo 45,74 8,05 28,34 13,97 3,90 Sulawesi Barat 55,54 2,62 20,64 20,01 1,19 Maluku 35,11 14,44 35,07 12,19 3,19 Maluku Utara 42,01 8,90 30,66 13,46 4,97 Papua Barat 43,64 7,89 30,24 13,57 4,66 Papua 43,83 9,55 31,32 12,17 3,13 INDONESIA 49,96 9,86 23,46 13,89 2,83 Sumber: BPS RI Sakernas Agustus Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
206 Tabel Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Kegiatan Utama Selama Seminggu Terakhir, 2014 Perdesaan Provinsi Bekerja Pengangguran Sekolah Mengurus Rumah Tangga Lainnya (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 43,41 12,67 25,77 14,89 3,26 Sumatera Utara 57,04 8,08 18,60 13,30 2,97 Sumatera Barat 48,83 8,14 23,71 15,03 4,30 Riau 49,71 6,76 18,49 22,09 2,95 Jambi 51,61 5,79 16,68 23,22 2,70 Sumatera Selatan 57,63 5,51 14,43 19,50 2,92 Bengkulu 52,59 4,99 20,11 18,17 4,13 Lampung 54,38 6,76 13,76 22,28 2,83 Kep. Bangka Belitung 53,96 5,96 13,65 24,62 1,82 Kepulauan Riau 48,97 8,02 16,62 23,82 2,57 DKI Jakarta Jawa Barat 42,73 14,27 13,86 23,60 5,54 Jawa Tengah 51,24 8,39 15,90 20,61 3,87 DI Yogyakarta 59,01 6,32 23,00 9,57 2,09 Jawa Timur 52,80 6,88 16,44 20,41 3,46 Banten 45,44 14,83 12,30 22,16 5,26 Bali 69,99 3,79 14,19 10,05 1,98 Nusa Tenggara Barat 52,25 6,44 17,26 20,26 3,79 Nusa Tenggara Timur 58,45 4,04 20,85 14,86 1,80 Kalimantan Barat 58,96 5,68 17,47 15,83 2,06 Kalimantan Tengah 58,59 4,45 16,05 18,58 2,33 Kalimantan Selatan 58,69 4,85 15,30 18,82 2,33 Kalimantan Timur 48,79 9,89 20,74 18,55 2,04 Sulawesi Utara 42,17 8,70 20,38 22,78 5,98 Sulawesi Tengah 53,32 5,37 13,94 24,63 2,74 Sulawesi Selatan 52,33 5,29 18,20 19,98 4,19 Sulawesi Tenggara 55,96 4,73 15,71 21,04 2,56 Gorontalo 50,06 3,55 18,81 24,31 3,27 Sulawesi Barat 59,90 2,62 17,52 17,47 2,50 Maluku 42,42 12,36 23,08 18,31 3,83 Maluku Utara 48,90 6,74 19,13 20,48 4,74 Papua Barat 54,26 5,67 21,86 16,72 1,48 Papua 76,52 3,99 10,40 6,61 2,48 INDONESIA 52,21 8,02 16,69 19,53 3,55 Sumber: BPS RI Sakernas Agustus 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
207 Tabel Persentase Pemuda menurut Provinsi dan Kegiatan Utama Selama Seminggu Terakhir, 2014 Perkotaan+Perdesaan Provinsi Bekerja Pengangguran Sekolah Mengurus Rumah Tangga Lainnya (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 42,65 12,21 27,55 14,43 3,16 Sumatera Utara 52,27 9,64 21,44 13,82 2,82 Sumatera Barat 46,49 9,70 27,82 12,59 3,39 Riau 47,38 8,51 22,06 19,20 2,85 Jambi 50,93 7,17 19,07 20,12 2,71 Sumatera Selatan 54,29 7,51 17,91 17,61 2,67 Bengkulu 51,21 5,30 23,55 16,23 3,72 Lampung 52,03 7,44 18,15 19,86 2,52 Kep. Bangka Belitung 53,17 6,96 16,15 22,00 1,73 Kepulauan Riau 54,27 9,65 14,73 18,33 3,03 DKI Jakarta 56,73 9,57 21,44 11,04 1,22 Jawa Barat 46,99 12,45 18,89 17,68 3,99 Jawa Tengah 52,07 8,90 18,74 16,84 3,44 DI Yogyakarta 53,61 5,89 27,25 10,98 2,28 Jawa Timur 52,07 7,55 20,05 17,21 3,13 Banten 50,38 11,89 16,61 16,90 4,22 Bali 63,25 3,62 21,39 9,78 1,95 Nusa Tenggara Barat 50,44 7,58 19,68 18,59 3,71 Nusa Tenggara Timur 53,79 5,08 24,79 14,38 1,95 Kalimantan Barat 55,92 6,47 20,15 15,05 2,41 Kalimantan Tengah 54,29 4,95 20,26 18,14 2,36 Kalimantan Selatan 55,40 5,80 17,98 18,42 2,41 Kalimantan Timur 47,19 9,99 23,88 16,53 2,41 Sulawesi Utara 41,37 11,24 23,44 18,15 5,80 Sulawesi Tengah 52,52 5,68 17,29 21,70 2,82 Sulawesi Selatan 47,94 7,07 24,14 17,31 3,53 Sulawesi Tenggara 51,35 5,77 20,56 20,00 2,32 Gorontalo 48,48 5,20 22,30 20,52 3,50 Sulawesi Barat 58,88 2,62 18,25 18,06 2,19 Maluku 39,23 13,27 28,31 15,64 3,55 Maluku Utara 46,70 7,43 22,81 18,24 4,82 Papua Barat 51,30 6,29 24,20 15,84 2,37 Papua 67,49 5,52 16,18 8,15 2,66 INDONESIA 51,03 8,99 20,25 16,57 3,17 Sumber: BPS RI Sakernas Agustus Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
208 Tabel 5.2 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Pemuda menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2014 Provinsi Perkotaan Perdesaan Perkotaan+ Perdesaan (1) (2) (3) (4) Aceh 51,95 56,08 54,86 Sumatera Utara 58,96 65,13 61,91 Sumatera Barat 55,19 56,97 56,20 Riau 55,05 56,47 55,89 Jambi 59,69 57,40 58,10 Sumatera Selatan 59,56 63,14 61,81 Bengkulu 54,46 57,59 56,50 Lampung 55,14 61,13 59,47 Kep. Bangka Belitung 60,35 59,92 60,12 Kepulauan Riau 64,97 56,99 63,91 DKI Jakarta 66,30-66,30 Jawa Barat 60,55 57,00 59,43 Jawa Tengah 62,44 59,63 60,98 DI Yogyakarta 57,35 65,33 59,50 Jawa Timur 59,54 59,69 59,61 Banten 63,13 60,28 62,27 Bali 63,17 73,78 66,87 Nusa Tenggara Barat 57,17 58,70 58,01 Nusa Tenggara Timur 46,93 62,48 58,87 Kalimantan Barat 57,50 64,64 62,39 Kalimantan Tengah 52,26 63,04 59,24 Kalimantan Selatan 58,24 63,54 61,20 Kalimantan Timur 56,27 58,67 57,18 Sulawesi Utara 54,45 50,87 52,61 Sulawesi Tengah 56,89 58,69 58,19 Sulawesi Selatan 51,53 57,63 55,02 Sulawesi Tenggara 49,50 60,69 57,12 Gorontalo 53,79 53,61 53,68 Sulawesi Barat 58,16 62,52 61,50 Maluku 49,55 54,78 52,50 Maluku Utara 50,91 55,64 54,13 Papua Barat 51,53 59,93 57,59 Papua 53,38 80,51 73,02 INDONESIA 59,82 60,23 60,01 Sumber: BPS RI Sakernas Agustus 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
209 Tabel Persentase Pemuda yang Bekerja menurut Provinsi dan Lapangan Usaha, 2014 Provinsi Jasa Perda- Pertani-agangan Industri Transportasi dan Konstruksi Komunikasi Keuangan Pertambangan dan Galian Perkotaan Listrik, Gas & Air (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) Aceh 14,26 27,87 6,09 34,30 5,88 7,54 3,11 0,75 0,20 Sumatera Utara 13,95 30,15 12,09 21,72 7,96 9,50 3,77 0,38 0,48 Sumatera Barat 15,15 31,98 8,49 25,21 6,43 7,38 3,83 1,11 0,41 Riau 10,29 34,23 8,78 24,61 6,09 8,15 4,52 2,77 0,56 Jambi 14,61 31,76 4,64 27,48 7,17 8,07 4,28 1,41 0,58 Sumatera Selatan 10,32 30,54 8,49 27,00 8,53 8,83 4,25 1,66 0,39 Bengkulu 12,88 28,56 2,94 36,41 5,29 7,94 3,45 1,60 0,91 Lampung 11,41 32,85 8,51 27,05 7,68 7,55 4,21 0,24 0,50 Kep. Bangka Belitung 9,87 29,90 7,74 23,97 4,48 8,40 3,74 11,54 0,36 Kepulauan Riau 3,27 31,07 27,67 17,55 7,57 7,16 3,97 1,24 0,48 DKI Jakarta 0,58 34,92 14,44 25,30 9,40 4,73 9,97 0,29 0,36 Jawa Barat 9,00 28,93 23,64 19,40 5,89 7,72 4,28 0,72 0,41 Jawa Tengah 12,76 29,68 24,11 17,94 4,53 7,29 3,07 0,38 0,24 DI Yogyakarta 10,94 31,73 15,45 24,34 4,32 7,64 4,91 0,53 0,15 Jawa Timur 16,14 28,46 18,99 19,80 5,20 7,09 3,69 0,36 0,29 Banten 3,08 25,49 30,65 20,39 7,58 5,21 6,53 0,49 0,58 Bali 8,98 35,76 15,70 21,41 4,45 8,53 4,55 0,19 0,43 Nusa Tenggara Barat 23,92 29,90 9,39 21,80 4,91 5,89 2,60 1,32 0,27 Nusa Tenggara Timur 10,04 26,17 5,11 37,07 9,17 6,37 4,68 0,76 0,62 Kalimantan Barat 14,03 30,69 7,46 26,25 5,15 10,32 4,88 0,47 0,74 Kalimantan Tengah 15,45 31,47 3,13 29,06 5,17 8,78 3,36 3,06 0,52 Kalimantan Selatan 7,31 36,71 7,47 26,23 7,68 7,19 3,35 3,56 0,50 Kalimantan Timur 10,47 27,93 7,53 23,56 6,12 7,42 4,69 12,00 0,28 Sulawesi Utara 14,12 26,98 7,10 25,72 10,97 9,16 4,64 0,88 0,43 Sulawesi Tengah 11,43 27,49 6,44 36,70 5,82 7,02 3,70 0,99 0,42 Sulawesi Selatan 9,38 31,85 6,32 31,44 6,40 8,48 5,02 0,60 0,52 Sulawesi Tenggara 7,28 29,40 4,88 35,25 7,04 8,92 3,65 3,02 0,56 Gorontalo 9,57 28,23 6,68 30,22 9,95 8,01 5,41 1,00 0,92 Sulawesi Barat 24,39 22,23 5,96 33,35 4,66 5,84 1,77 1,63 0,16 Maluku 14,67 21,50 2,59 36,16 14,25 6,34 3,76 0,39 0,35 Maluku Utara 9,98 29,15 4,34 32,67 12,75 7,05 2,52 1,07 0,48 Papua Barat 8,59 29,81 6,35 27,73 11,32 8,16 4,10 3,41 0,54 Papua 10,14 27,65 2,56 30,87 12,60 7,66 4,37 3,63 0,52 INDONESIA 10,55 29,91 17,97 22,02 6,33 7,29 4,58 0,96 0,39 Sumber: BPS RI Sakernas Agustus Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
210 Tabel Persentase Pemuda yang Bekerja menurut Provinsi dan Lapangan Usaha, 2014 Provinsi Jasa Pertanian Perdagangan Industri Transportasi dan Konstruksi Komunikasi Keuangan Pertambangan dan Galian Perdesaan Listrik, Gas & Air (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) Aceh 55,28 13,33 4,20 16,28 2,97 6,14 0,75 0,87 0,19 Sumatera Utara 67,63 11,23 4,11 9,83 2,13 3,68 0,56 0,71 0,13 Sumatera Barat 51,00 16,55 5,87 15,62 3,22 4,03 1,14 2,33 0,23 Riau 64,84 13,09 5,13 8,92 2,28 3,15 0,87 1,33 0,39 Jambi 63,95 10,65 3,05 14,14 2,28 2,50 0,63 2,63 0,17 Sumatera Selatan 74,39 9,92 3,37 6,62 1,94 2,42 0,57 0,71 0,07 Bengkulu 66,80 12,31 3,18 10,23 2,30 3,43 0,69 0,93 0,13 Lampung 60,50 13,45 7,78 10,33 2,70 4,18 0,58 0,47 0,01 Kep. Bangka Belitung 51,22 11,77 4,16 5,50 1,37 2,17 0,76 22,98 0,07 Kepulauan Riau 48,04 14,59 7,54 13,42 2,99 8,24 1,75 3,16 0,27 DKI Jakarta Jawa Barat 41,21 19,12 13,72 12,63 3,85 7,72 0,85 0,78 0,12 Jawa Tengah 46,41 16,53 15,13 9,42 2,75 7,98 1,03 0,65 0,11 DI Yogyakarta 50,05 15,88 11,46 10,28 2,16 7,21 1,79 1,03 0,15 Jawa Timur 55,80 14,42 10,48 9,01 2,17 6,04 0,91 1,06 0,10 Banten 33,79 19,97 16,17 13,35 5,40 6,86 0,72 3,45 0,28 Bali 43,62 19,27 11,41 11,43 1,20 9,77 2,31 0,76 0,24 Nusa Tenggara Barat 56,59 13,39 8,53 11,11 3,20 4,39 0,55 2,21 0,02 Nusa Tenggara Timur 70,76 4,62 8,14 8,75 3,19 3,11 0,37 0,90 0,16 Kalimantan Barat 73,45 8,00 2,30 6,02 1,26 3,53 0,38 4,99 0,07 Kalimantan Tengah 70,43 8,14 2,11 7,99 1,16 2,28 0,35 7,43 0,12 Kalimantan Selatan 60,82 14,60 5,12 7,83 2,06 4,19 0,60 4,58 0,20 Kalimantan Timur 54,42 13,54 4,00 11,96 2,95 3,89 1,17 7,94 0,13 Sulawesi Utara 47,64 14,35 7,40 12,52 5,74 7,22 1,74 3,11 0,29 Sulawesi Tengah 59,19 12,27 4,43 14,35 2,70 5,10 0,54 1,32 0,11 Sulawesi Selatan 58,98 12,35 5,41 13,88 3,42 4,66 0,71 0,45 0,14 Sulawesi Tenggara 54,55 15,02 5,24 13,36 3,50 4,88 0,93 2,36 0,15 Gorontalo 54,28 12,16 9,56 11,44 4,10 4,27 0,81 3,31 0,07 Sulawesi Barat 65,93 11,58 5,70 10,09 1,85 3,64 0,68 0,47 0,08 Maluku 68,93 8,29 3,85 10,62 3,78 1,84 0,14 2,38 0,18 Maluku Utara 68,23 6,99 2,22 13,28 3,09 4,21 0,21 1,59 0,18 Papua Barat 57,92 11,79 3,74 14,18 3,92 4,25 1,91 1,85 0,43 Papua 85,72 2,11 0,60 9,11 0,74 0,88 0,18 0,65 0,02 INDONESIA 56,12 13,88 8,91 10,46 2,70 5,46 0,82 1,53 0,13 Sumber: BPS RI Sakernas Agustus 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
211 Tabel Persentase Pemuda yang Bekerja menurut Provinsi dan Lapangan Usaha, 2014 Provinsi Jasa Perkotaan+Perdesaan Pertanian Perdagangan Industri Transportasi dan Konstruksi Komunikasi Keuangan Pertambangan dan Galian Listrik, Gas & Air (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) Aceh 44,09 17,30 4,72 21,19 3,76 6,53 1,39 0,84 0,19 Sumatera Utara 42,52 20,08 7,84 15,39 4,85 6,40 2,06 0,55 0,29 Sumatera Barat 37,55 22,34 6,86 19,22 4,43 5,28 2,15 1,88 0,30 Riau 44,28 21,05 6,51 14,83 3,71 5,04 2,25 1,87 0,45 Jambi 49,38 16,89 3,52 18,08 3,72 4,15 1,71 2,27 0,29 Sumatera Selatan 53,37 16,69 5,05 13,30 4,10 4,52 1,78 1,02 0,17 Bengkulu 50,62 17,19 3,11 18,08 3,20 4,79 1,52 1,14 0,36 Lampung 48,87 18,04 7,96 14,29 3,88 4,98 1,44 0,41 0,12 Kep. Bangka Belitung 31,41 20,45 5,88 14,35 2,86 5,16 2,19 17,50 0,21 Kepulauan Riau 10,21 28,52 24,55 16,91 6,86 7,33 3,63 1,54 0,45 DKI Jakarta 0,58 34,92 14,44 25,30 9,40 4,73 9,97 0,29 0,36 Jawa Barat 19,87 25,62 20,29 17,12 5,20 7,72 3,12 0,74 0,31 Jawa Tengah 31,26 22,45 19,17 13,26 3,55 7,67 1,95 0,53 0,17 DI Yogyakarta 25,41 25,86 13,97 19,14 3,52 7,48 3,75 0,71 0,15 Jawa Timur 37,61 20,86 14,38 13,96 3,56 6,52 2,18 0,74 0,19 Banten 12,46 23,80 26,23 18,24 6,91 5,72 4,75 1,40 0,49 Bali 23,26 28,97 13,93 17,30 3,11 9,04 3,63 0,43 0,35 Nusa Tenggara Barat 43,13 20,20 8,89 15,51 3,90 5,01 1,40 1,84 0,12 Nusa Tenggara Timur 60,77 8,17 7,64 13,40 4,18 3,65 1,08 0,88 0,23 Kalimantan Barat 57,76 13,99 3,66 11,36 2,29 5,32 1,57 3,80 0,24 Kalimantan Tengah 53,11 15,49 2,43 14,62 2,42 4,32 1,30 6,06 0,25 Kalimantan Selatan 39,81 23,28 6,04 15,05 4,27 5,36 1,68 4,18 0,32 Kalimantan Timur 27,84 22,24 6,13 18,98 4,87 6,02 3,30 10,40 0,22 Sulawesi Utara 32,73 19,97 7,27 18,39 8,07 8,08 3,03 2,12 0,35 Sulawesi Tengah 47,68 15,94 4,92 19,73 3,45 5,56 1,30 1,24 0,18 Sulawesi Selatan 41,81 19,10 5,73 19,96 4,45 5,98 2,20 0,50 0,27 Sulawesi Tenggara 42,62 18,65 5,15 18,89 4,40 5,90 1,62 2,53 0,26 Gorontalo 39,24 17,56 8,59 17,76 6,07 5,53 2,36 2,53 0,36 Sulawesi Barat 56,84 13,91 5,75 15,18 2,46 4,12 0,92 0,72 0,09 Maluku 48,09 13,36 3,37 20,43 7,80 3,57 1,53 1,61 0,24 Maluku Utara 52,51 12,97 2,79 18,51 5,69 4,97 0,83 1,45 0,26 Papua Barat 45,28 16,41 4,41 17,65 5,82 5,25 2,47 2,25 0,46 Papua 70,59 7,22 0,99 13,47 3,12 2,23 1,02 1,25 0,12 INDONESIA 34,00 21,66 13,31 16,07 4,46 6,35 2,64 1,25 0,25 Sumber: BPS RI Sakernas Agustus Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
212 Tabel Persentase Pemuda yang Bekerja selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi dan Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, 2014 Perkotaan Provinsi Tidak pernah sekolah Tidak Tamat SD SD/ Sederajat SMP/ SM/ Sederajat Sederajat PT (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 0,09 2,64 6,95 13,59 51,44 25,28 Sumatera Utara 0,34 2,29 7,38 18,98 57,62 13,38 Sumatera Barat 0,13 3,87 8,91 16,79 49,46 20,84 Riau 0,09 2,85 11,08 14,85 55,00 16,13 Jambi 0,17 2,02 11,09 15,45 49,50 21,78 Sumatera Selatan 0,06 5,22 11,06 13,75 46,34 23,56 Bengkulu 0,09 2,02 7,81 18,45 46,23 25,39 Lampung 0,00 2,41 10,04 18,73 48,05 20,77 Kep. Bangka Belitung 0,12 8,29 10,69 17,01 44,56 19,33 Kepulauan Riau 0,10 1,30 5,87 20,59 63,26 8,88 DKI Jakarta 0,00 1,77 7,98 15,57 51,21 23,46 Jawa Barat 0,06 3,09 17,13 23,70 44,22 11,80 Jawa Tengah 0,07 3,44 12,46 26,04 46,04 11,95 DI Yogyakarta 0,00 1,51 3,11 17,32 53,67 24,39 Jawa Timur 0,29 2,04 11,98 21,14 51,12 13,44 Banten 0,62 1,98 9,91 21,08 51,50 14,90 Bali 0,15 2,19 6,79 16,08 50,94 23,86 Nusa Tenggara Barat 0,48 5,05 20,78 19,72 38,23 15,74 Nusa Tenggara Timur 0,94 4,49 12,29 16,10 43,84 22,35 Kalimantan Barat 0,26 7,81 11,46 14,25 46,44 19,78 Kalimantan Tengah 0,00 5,67 17,06 18,57 41,37 17,33 Kalimantan Selatan 0,33 5,42 19,60 17,75 39,93 16,97 Kalimantan Timur 0,11 4,58 9,12 17,59 53,93 14,67 Sulawesi Utara 0,00 3,19 7,49 14,35 58,55 16,42 Sulawesi Tengah 0,14 3,91 10,54 15,04 43,39 26,98 Sulawesi Selatan 0,81 4,97 13,24 14,01 42,80 24,17 Sulawesi Tenggara 0,27 4,73 8,64 13,06 45,53 27,77 Gorontalo 0,56 6,12 19,30 15,43 35,14 23,45 Sulawesi Barat 1,48 12,57 17,62 17,93 33,70 16,69 Maluku 0,11 2,60 5,38 12,82 48,82 30,26 Maluku Utara 0,43 0,94 5,67 16,68 52,69 23,59 Papua Barat 0,00 4,30 11,26 8,75 46,48 29,21 Papua 0,35 3,03 7,03 16,00 55,16 18,43 INDONESIA 0,19 2,98 12,06 20,24 48,54 16,00 Sumber: BPS RI Sakernas Agustus 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
213 Tabel Persentase Pemuda yang Bekerja selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi dan Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, 2014 Perdesaan Provinsi Tidak pernah sekolah Tidak Tamat SD SD/ Sederajat SMP/ SM/ Sederajat Sederajat PT (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 0,34 4,68 16,67 24,96 39,02 14,33 Sumatera Utara 1,31 5,64 20,36 31,76 35,25 5,68 Sumatera Barat 0,90 12,17 20,94 24,84 29,98 11,18 Riau 0,43 7,77 27,19 25,79 31,95 6,88 Jambi 0,30 6,30 29,75 27,22 29,99 6,45 Sumatera Selatan 0,27 9,77 32,38 27,66 25,11 4,81 Bengkulu 0,09 7,09 24,68 28,48 31,81 7,85 Lampung 0,34 5,35 24,04 39,02 26,37 4,86 Kep. Bangka Belitung 1,19 17,07 35,04 20,51 21,71 4,47 Kepulauan Riau 3,16 16,43 24,10 18,57 30,84 6,91 DKI Jakarta Jawa Barat 0,28 6,28 40,30 30,28 19,05 3,80 Jawa Tengah 0,36 4,08 27,59 38,63 24,29 5,06 DI Yogyakarta 0,00 1,44 7,49 36,01 48,61 6,44 Jawa Timur 0,95 6,41 28,93 30,08 28,45 5,19 Banten 0,78 9,42 38,37 27,34 19,86 4,24 Bali 1,14 6,43 19,65 24,97 37,95 9,86 Nusa Tenggara Barat 3,99 9,33 21,94 26,58 27,98 10,19 Nusa Tenggara Timur 2,38 16,56 36,51 19,31 18,22 7,03 Kalimantan Barat 1,48 12,22 37,95 23,78 20,49 4,08 Kalimantan Tengah 0,69 10,60 34,89 26,28 22,79 4,75 Kalimantan Selatan 0,02 9,56 35,75 27,04 23,45 4,17 Kalimantan Timur 0,54 10,88 25,64 21,39 34,33 7,23 Sulawesi Utara 0,06 10,35 22,19 25,13 33,69 8,58 Sulawesi Tengah 3,64 10,94 31,77 22,14 25,72 5,79 Sulawesi Selatan 2,49 10,11 28,50 24,65 24,12 10,13 Sulawesi Tenggara 0,60 8,69 23,81 25,86 30,96 10,07 Gorontalo 1,58 25,47 36,73 12,70 17,84 5,67 Sulawesi Barat 2,53 14,96 28,07 21,31 25,41 7,71 Maluku 0,96 7,43 31,80 20,36 30,11 9,34 Maluku Utara 1,46 6,63 24,17 24,83 33,84 9,07 Papua Barat 5,49 15,16 19,05 21,17 29,05 10,09 Papua 40,00 9,89 18,95 18,47 11,58 1,11 INDONESIA 2,18 7,88 28,82 28,94 26,18 6,01 Sumber: BPS RI Sakernas Agustus Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
214 Tabel Persentase Pemuda yang Bekerja selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi dan Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, 2014 Perkotaan+Perdesaan Provinsi Tidak pernah sekolah Tidak Tamat SD SD/ Sederajat SMP/ SM/ Sederajat Sederajat PT (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 0,27 4,10 13,91 21,74 42,54 17,44 Sumatera Utara 0,85 4,04 14,16 25,65 45,95 9,36 Sumatera Barat 0,59 8,81 16,07 21,58 37,87 15,09 Riau 0,30 5,88 21,02 21,60 40,77 10,42 Jambi 0,26 5,04 24,25 23,75 35,74 10,97 Sumatera Selatan 0,20 8,25 25,25 23,00 32,21 11,09 Bengkulu 0,09 5,43 19,14 25,18 36,55 13,61 Lampung 0,26 4,63 20,62 34,07 31,67 8,75 Kep. Bangka Belitung 0,68 12,88 23,41 18,84 32,63 11,57 Kepulauan Riau 0,46 3,11 8,04 20,35 59,39 8,65 DKI Jakarta 0,00 1,77 7,98 15,57 51,21 23,46 Jawa Barat 0,13 4,00 23,74 25,58 37,05 9,52 Jawa Tengah 0,21 3,77 20,21 32,49 34,90 8,42 DI Yogyakarta 0,00 1,49 4,40 22,85 52,17 19,08 Jawa Timur 0,63 4,28 20,68 25,72 39,49 9,21 Banten 0,66 4,00 17,64 22,78 42,91 12,01 Bali 0,53 3,82 11,75 19,51 45,93 18,46 Nusa Tenggara Barat 2,50 7,51 21,45 23,66 32,34 12,55 Nusa Tenggara Timur 2,14 14,55 32,49 18,78 22,47 9,57 Kalimantan Barat 1,14 11,00 30,61 21,14 27,68 8,43 Kalimantan Tengah 0,49 9,12 29,53 23,96 28,38 8,53 Kalimantan Selatan 0,15 7,87 29,14 23,24 30,20 9,41 Kalimantan Timur 0,28 7,05 15,59 19,07 46,25 11,75 Sulawesi Utara 0,03 6,93 15,17 19,98 45,56 12,32 Sulawesi Tengah 2,72 9,09 26,17 20,26 30,38 11,38 Sulawesi Selatan 1,86 8,18 22,77 20,66 31,14 15,40 Sulawesi Tenggara 0,52 7,67 19,90 22,56 34,72 14,64 Gorontalo 1,23 18,78 30,70 13,65 23,82 11,82 Sulawesi Barat 2,30 14,43 25,77 20,57 27,24 9,69 Maluku 0,63 5,54 21,48 17,41 37,42 17,52 Maluku Utara 1,16 5,00 18,86 22,49 39,25 13,23 Papua Barat 4,19 12,59 17,21 18,22 33,18 14,62 Papua 32,89 8,66 16,81 18,03 19,39 4,22 INDONESIA 1,16 5,36 20,20 24,46 37,67 11,15 Sumber: BPS RI Sakernas Agustus 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
215 Tabel Persentase Pemuda yang Bekerja menurut Provinsi dan Status Pekerjaan Utama, 2014 Perkotaan Provinsi Berusaha Sendiri Berusaha Dibantu Buruh Buruh/ Karyawan Pekerja Bebas Pekerja Keluarga Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 9,55 5,56 64,64 7,65 12,60 100,00 Sumatera Utara 7,93 4,04 72,30 5,34 10,39 100,00 Sumatera Barat 11,61 6,78 63,12 7,33 11,16 100,00 Riau 10,15 4,24 71,53 4,46 9,63 100,00 Jambi 10,45 4,48 61,35 7,99 15,73 100,00 Sumatera Selatan 10,10 4,12 74,16 4,08 7,54 100,00 Bengkulu 9,20 4,70 67,95 8,51 9,64 100,00 Lampung 9,00 5,24 68,30 6,52 10,94 100,00 Kep. Bangka Belitung 9,73 5,13 67,51 6,83 10,81 100,00 Kepulauan Riau 6,38 3,34 84,44 1,74 4,10 100,00 DKI Jakarta 5,51 2,69 86,14 1,13 4,53 100,00 Jawa Barat 8,86 4,40 73,28 7,16 6,30 100,00 Jawa Tengah 9,59 6,18 66,98 8,06 9,19 100,00 DI Yogyakarta 5,51 5,25 80,61 3,00 5,63 100,00 Jawa Timur 7,97 4,86 68,67 8,65 9,84 100,00 Banten 6,19 2,18 83,87 3,60 4,16 100,00 Bali 8,47 4,29 77,32 2,89 7,03 100,00 Nusa Tenggara Barat 13,95 5,14 49,22 15,80 15,89 100,00 Nusa Tenggara Timur 17,75 6,32 60,99 3,30 11,65 100,00 Kalimantan Barat 8,60 4,85 73,55 2,45 10,55 100,00 Kalimantan Tengah 13,13 4,35 65,95 2,72 13,85 100,00 Kalimantan Selatan 9,72 6,03 65,73 6,83 11,69 100,00 Kalimantan Timur 7,71 5,31 73,28 3,64 10,06 100,00 Sulawesi Utara 11,72 2,73 74,06 5,95 5,55 100,00 Sulawesi Tengah 7,40 3,26 72,41 4,66 12,28 100,00 Sulawesi Selatan 8,64 3,52 71,00 4,96 11,88 100,00 Sulawesi Tenggara 14,54 4,43 64,25 5,29 11,49 100,00 Gorontalo 17,45 1,81 66,18 8,86 5,71 100,00 Sulawesi Barat 14,16 6,39 42,81 7,47 29,17 100,00 Maluku 24,53 3,27 59,01 4,37 8,83 100,00 Maluku Utara 20,27 3,73 54,60 3,46 17,94 100,00 Papua Barat 13,13 3,90 74,33 1,06 7,58 100,00 Papua 17,63 3,54 58,97 3,85 16,01 100,00 INDONESIA 8,65 4,39 72,79 5,99 8,17 100,00 Sumber: BPS RI Sakernas Agustus Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
216 Tabel Persentase Pemuda yang Bekerja menurut Provinsi dan Status Pekerjaan Utama, 2014 Perdesaan Provinsi Berusaha Sendiri Berusaha Dibantu Buruh Buruh/ Karyawan Pekerja Bebas Pekerja Keluarga Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 12,65 7,46 42,03 9,38 28,48 100,00 Sumatera Utara 11,41 10,61 29,98 7,49 40,51 100,00 Sumatera Barat 17,88 11,31 37,84 12,31 20,66 100,00 Riau 17,25 6,08 42,31 11,78 22,59 100,00 Jambi 14,63 10,61 39,91 7,04 27,80 100,00 Sumatera Selatan 13,96 8,75 33,94 5,84 37,51 100,00 Bengkulu 14,70 12,68 31,85 7,63 33,14 100,00 Lampung 13,17 10,47 27,26 16,64 32,46 100,00 Kep. Bangka Belitung 16,45 9,85 45,29 11,48 16,93 100,00 Kepulauan Riau 25,44 1,90 49,93 11,71 11,02 100,00 DKI Jakarta Jawa Barat 15,50 9,35 40,08 21,37 13,70 100,00 Jawa Tengah 10,80 9,75 36,78 16,19 26,48 100,00 DI Yogyakarta 8,70 10,00 50,02 7,78 23,50 100,00 Jawa Timur 9,72 11,12 31,49 14,98 32,69 100,00 Banten 16,53 4,44 48,26 19,51 11,26 100,00 Bali 6,93 10,35 48,66 10,33 23,73 100,00 Nusa Tenggara Barat 15,04 9,13 21,16 24,21 30,46 100,00 Nusa Tenggara Timur 14,69 13,22 17,06 5,20 49,83 100,00 Kalimantan Barat 11,70 10,21 31,64 7,59 38,86 100,00 Kalimantan Tengah 16,51 8,99 43,14 3,71 27,65 100,00 Kalimantan Selatan 17,56 7,95 36,22 6,55 31,72 100,00 Kalimantan Timur 12,40 5,47 56,57 6,22 19,34 100,00 Sulawesi Utara 18,05 3,33 40,16 21,11 17,35 100,00 Sulawesi Tengah 14,26 8,81 29,02 11,90 36,01 100,00 Sulawesi Selatan 8,96 13,29 31,13 9,84 36,79 100,00 Sulawesi Tenggara 12,83 11,97 25,86 7,84 41,49 100,00 Gorontalo 15,80 10,97 29,27 20,00 23,96 100,00 Sulawesi Barat 8,66 12,25 30,40 9,88 38,80 100,00 Maluku 24,98 9,87 23,25 4,13 37,77 100,00 Maluku Utara 14,68 13,29 23,39 7,24 41,40 100,00 Papua Barat 14,06 14,06 30,20 5,35 36,33 100,00 Papua 9,67 18,28 6,05 1,25 64,75 100,00 INDONESIA 12,80 10,19 33,65 12,59 30,77 100,00 Sumber: BPS RI Sakernas Agustus 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
217 Tabel Persentase Pemuda yang Bekerja menurut Provinsi dan Status Pekerjaan Utama, 2014 Perkotaan+Perdesaan Provinsi Berusaha Sendiri Berusaha Dibantu Buruh Buruh/ Karyawan Pekerja Bebas Pekerja Keluarga Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 11,77 6,92 48,45 8,89 23,97 100,00 Sumatera Utara 9,75 7,47 50,21 6,46 26,11 100,00 Sumatera Barat 15,34 9,47 48,08 10,29 16,81 100,00 Riau 14,53 5,38 53,50 8,97 17,63 100,00 Jambi 13,40 8,80 46,23 7,32 24,24 100,00 Sumatera Selatan 12,67 7,20 47,40 5,25 27,48 100,00 Bengkulu 12,89 10,06 43,71 7,92 25,42 100,00 Lampung 12,15 9,20 37,28 14,17 27,20 100,00 Kep. Bangka Belitung 13,24 7,60 55,90 9,26 14,00 100,00 Kepulauan Riau 8,66 3,17 80,32 2,93 4,93 100,00 DKI Jakarta 5,51 2,69 86,14 1,13 4,53 100,00 Jawa Barat 10,75 5,81 63,81 11,21 8,41 100,00 Jawa Tengah 10,21 8,01 51,51 12,23 18,05 100,00 DI Yogyakarta 6,45 6,65 71,57 4,42 10,92 100,00 Jawa Timur 8,87 8,07 49,60 11,90 21,56 100,00 Banten 8,99 2,79 74,21 7,92 6,08 100,00 Bali 7,87 6,63 66,27 5,76 13,47 100,00 Nusa Tenggara Barat 14,58 7,44 33,09 20,63 24,26 100,00 Nusa Tenggara Timur 15,19 12,08 24,35 4,89 43,49 100,00 Kalimantan Barat 10,84 8,73 43,25 6,17 31,02 100,00 Kalimantan Tengah 15,50 7,59 50,00 3,41 23,50 100,00 Kalimantan Selatan 14,35 7,16 48,30 6,67 23,52 100,00 Kalimantan Timur 9,54 5,37 66,74 4,65 13,70 100,00 Sulawesi Utara 15,03 3,04 56,35 13,86 11,71 100,00 Sulawesi Tengah 12,45 7,35 40,46 9,99 29,75 100,00 Sulawesi Selatan 8,84 9,62 46,11 8,01 27,43 100,00 Sulawesi Tenggara 13,27 10,03 35,76 7,19 33,76 100,00 Gorontalo 16,37 7,80 42,03 16,15 17,65 100,00 Sulawesi Barat 9,88 10,96 33,14 9,35 36,68 100,00 Maluku 24,80 7,29 37,22 4,23 26,46 100,00 Maluku Utara 16,28 10,54 32,34 6,16 34,67 100,00 Papua Barat 13,84 11,65 40,65 4,34 29,52 100,00 Papua 11,09 15,63 15,54 1,72 56,01 100,00 INDONESIA 10,67 7,21 53,77 9,20 19,15 100,00 Sumber: BPS RI Sakernas Agustus Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
218 Tabel Persentase Pemuda yang Bekerja menurut Provinsi dan Jumlah Jam Kerja Seminggu Terakhir, 2014 Perkotaan Provinsi Jumlah Jam Kerja (Jam) >35 Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Aceh 4,50 5,03 7,98 10,28 12,38 59,83 100,00 Sumatera Utara 1,79 2,33 4,20 4,90 6,47 80,30 100,00 Sumatera Barat 4,10 2,70 7,70 8,63 11,64 65,24 100,00 Riau 3,98 3,70 4,20 4,56 7,47 76,10 100,00 Jambi 2,06 2,84 4,07 8,63 8,93 73,48 100,00 Sumatera Selatan 2,77 2,62 4,18 4,52 7,64 78,27 100,00 Bengkulu 3,47 2,79 6,15 6,37 10,70 70,52 100,00 Lampung 1,77 2,16 5,70 5,66 8,16 76,55 100,00 Kep. Bangka Belitung 3,12 2,57 3,64 4,18 11,98 74,51 100,00 Kepulauan Riau 1,11 1,11 2,19 1,56 3,46 90,57 100,00 DKI Jakarta 0,90 0,96 1,37 2,31 3,14 91,31 100,00 Jawa Barat 1,53 1,78 3,10 3,52 5,92 84,14 100,00 Jawa Tengah 3,43 3,15 3,76 4,03 6,85 78,77 100,00 DI Yogyakarta 5,30 2,79 3,28 3,87 4,47 80,29 100,00 Jawa Timur 2,62 2,40 4,52 4,47 6,68 79,31 100,00 Banten 2,86 1,63 2,67 3,38 4,48 84,98 Bali 2,99 2,42 2,86 4,64 4,66 82,43 100,00 Nusa Tenggara Barat 5,10 6,46 8,70 8,82 9,55 61,36 100,00 Nusa Tenggara Timur 4,63 3,83 4,21 5,60 8,02 73,71 100,00 Kalimantan Barat 2,29 3,12 5,41 5,56 5,62 78,01 100,00 Kalimantan Tengah 4,18 4,19 6,21 7,93 12,38 65,11 100,00 Kalimantan Selatan 4,51 5,63 4,56 9,20 10,75 65,35 100,00 Kalimantan Timur 2,77 1,97 2,96 4,00 6,46 81,84 100,00 Sulawesi Utara 2,76 1,63 3,85 4,33 5,48 81,96 100,00 Sulawesi Tengah 4,66 5,18 4,91 4,87 11,24 69,15 100,00 Sulawesi Selatan 3,14 2,76 4,57 5,71 9,01 74,80 100,00 Sulawesi Tenggara 1,56 5,15 7,94 7,03 10,06 68,27 100,00 Gorontalo 3,25 2,88 3,58 4,84 7,15 78,30 100,00 Sulawesi Barat 9,25 12,03 10,74 9,58 14,69 43,72 100,00 Maluku 3,40 3,09 2,49 5,62 15,07 70,33 100,00 Maluku Utara 2,03 6,21 8,99 8,14 9,28 65,35 100,00 Papua Barat 3,93 2,11 0,59 7,81 7,87 77,69 100,00 Papua 1,32 0,96 3,63 3,68 8,39 82,01 100,00 INDONESIA 2,49 2,39 3,71 4,30 6,43 80,69 100,00 Sumber: BPS RI Sakernas Agustus 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
219 Tabel Persentase Pemuda yang Bekerja menurut Provinsi dan Jumlah Jam Kerja Seminggu Terakhir, 2014 Perdesaan Provinsi Jumlah Jam Kerja (Jam) >35 Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Aceh 4,78 9,24 16,88 13,27 16,34 39,48 100,00 Sumatera Utara 3,92 7,79 12,20 12,63 14,14 49,32 100,00 Sumatera Barat 6,55 9,08 10,27 12,88 15,16 46,06 100,00 Riau 4,41 5,02 9,84 12,99 17,15 50,59 100,00 Jambi 3,77 7,11 15,16 16,41 16,96 40,60 100,00 Sumatera Selatan 3,21 4,15 17,02 18,68 17,45 39,50 100,00 Bengkulu 4,48 6,47 11,56 12,88 15,79 48,83 100,00 Lampung 3,64 5,51 13,06 14,39 12,42 50,98 100,00 Kep. Bangka Belitung 4,41 2,70 11,29 11,05 12,68 57,87 100,00 Kepulauan Riau 3,78 4,69 10,88 10,41 11,93 58,30 100,00 DKI Jakarta Jawa Barat 4,28 3,52 8,21 9,36 11,47 63,15 100,00 Jawa Tengah 4,94 5,99 7,67 8,64 10,60 62,16 100,00 DI Yogyakarta 4,79 8,84 5,67 4,26 10,24 66,19 100,00 Jawa Timur 3,57 8,17 10,87 11,08 12,75 53,56 100,00 Banten 1,98 3,26 8,08 5,84 12,09 68,76 100,00 Bali 3,11 7,31 5,29 8,29 7,48 68,52 100,00 Nusa Tenggara Barat 4,55 10,65 13,94 13,43 14,32 43,11 100,00 Nusa Tenggara Timur 6,54 11,67 12,94 15,37 16,60 36,88 100,00 Kalimantan Barat 2,21 5,72 12,87 14,68 13,68 50,84 100,00 Kalimantan Tengah 3,49 4,14 10,81 10,43 13,75 57,38 100,00 Kalimantan Selatan 5,12 5,29 12,38 13,14 13,11 50,96 100,00 Kalimantan Timur 1,18 3,45 8,00 9,51 13,72 64,14 100,00 Sulawesi Utara 3,38 3,32 7,08 8,80 14,89 62,52 100,00 Sulawesi Tengah 6,48 7,81 9,98 13,91 16,55 45,27 100,00 Sulawesi Selatan 5,81 9,44 11,29 11,79 13,35 48,33 100,00 Sulawesi Tenggara 7,68 10,36 13,41 11,28 12,45 44,83 100,00 Gorontalo 5,31 4,65 11,74 7,75 13,81 56,75 100,00 Sulawesi Barat 8,70 13,62 15,24 11,58 15,57 35,29 100,00 Maluku 3,16 5,98 14,02 11,48 19,01 46,36 100,00 Maluku Utara 5,78 7,30 11,65 14,19 19,93 41,16 100,00 Papua Barat 4,24 6,28 11,32 13,97 14,08 50,09 100,00 Papua 0,54 4,39 12,77 17,32 22,86 42,12 100,00 INDONESIA 4,20 6,63 11,03 11,88 13,71 52,54 100,00 Sumber: BPS RI Sakernas Agustus Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
220 Tabel Persentase Pemuda yang Bekerja menurut Provinsi dan Jumlah Jam Kerja Seminggu Terakhir, 2014 Perkotaan+Perdesaan Provinsi Jumlah Jam Kerja (Jam) >35 Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Aceh 4,70 8,05 14,35 12,43 15,22 45,26 100,00 Sumatera Utara 2,90 5,18 8,38 8,94 10,47 64,13 100,00 Sumatera Barat 5,56 6,49 9,23 11,16 13,73 53,83 100,00 Riau 4,24 4,51 7,68 9,76 13,44 60,36 100,00 Jambi 3,26 5,85 11,89 14,11 14,59 50,29 100,00 Sumatera Selatan 3,06 3,64 12,73 13,94 14,17 52,47 100,00 Bengkulu 4,15 5,26 9,78 10,74 14,12 55,96 100,00 Lampung 3,18 4,70 11,27 12,25 11,38 57,22 100,00 Kep. Bangka Belitung 3,79 2,64 7,63 7,77 12,34 65,82 100,00 Kepulauan Riau 1,43 1,53 3,23 2,62 4,48 86,72 100,00 DKI Jakarta 0,90 0,96 1,37 2,31 3,14 91,31 100,00 Jawa Barat 2,32 2,28 4,56 5,18 7,50 78,16 100,00 Jawa Tengah 4,21 4,61 5,77 6,39 8,77 70,26 100,00 DI Yogyakarta 5,15 4,58 3,99 3,99 6,18 76,12 100,00 Jawa Timur 3,11 5,36 7,78 7,86 9,79 66,10 100,00 Banten 2,62 2,07 4,14 4,04 6,55 80,57 100,00 Bali 3,04 4,31 3,80 6,05 5,75 77,07 100,00 Nusa Tenggara Barat 4,79 8,87 11,71 11,47 12,29 50,87 100,00 Nusa Tenggara Timur 6,23 10,37 11,49 13,75 15,18 42,99 100,00 Kalimantan Barat 2,23 5,00 10,80 12,15 11,45 58,37 100,00 Kalimantan Tengah 3,70 4,16 9,42 9,68 13,34 59,70 100,00 Kalimantan Selatan 4,87 5,43 9,18 11,52 12,14 56,85 100,00 Kalimantan Timur 2,15 2,55 4,94 6,16 9,30 74,91 100,00 Sulawesi Utara 3,08 2,51 5,53 6,67 10,39 71,80 100,00 Sulawesi Tengah 6,00 7,12 8,64 11,53 15,15 51,57 100,00 Sulawesi Selatan 4,81 6,93 8,77 9,51 11,72 58,27 100,00 Sulawesi Tenggara 6,10 9,01 12,00 10,18 11,83 50,87 100,00 Gorontalo 4,60 4,04 8,91 6,75 11,51 64,20 100,00 Sulawesi Barat 8,82 13,27 14,24 11,14 15,38 37,15 100,00 Maluku 3,25 4,85 9,51 9,19 17,47 55,73 100,00 Maluku Utara 4,71 6,99 10,88 12,45 16,88 48,10 100,00 Papua Barat 4,17 5,30 8,78 12,51 12,61 56,63 100,00 Papua 0,68 3,77 11,13 14,88 20,26 49,28 100,00 INDONESIA 3,32 4,45 7,27 7,98 9,97 67,01 100,00 Sumber: BPS RI Sakernas Agustus 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
221 Tabel Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurut Provinsi dan Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, 2014 Provinsi Tidak/ belum pernah sekolah Tidak Tamat SD SD/ Sede-rajat SMP/ Sederajat SM/ Sederajat Akademi/PT Perkotaan Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Aceh 57,47 6,58 19,98 14,11 23,68 21,70 21,41 Sumatera Utara 29,73 19,19 11,37 16,73 19,08 23,35 18,77 Sumatera Barat 37,86 35,43 25,25 17,84 21,67 17,73 21,28 Riau 0,00 11,07 19,60 14,62 19,48 27,43 20,00 Jambi 0,00 23,94 7,38 13,01 20,62 16,17 17,28 Sumatera Selatan 0,00 10,11 5,61 12,26 23,69 16,90 18,26 Bengkulu 0,00 0,00 7,41 5,36 14,26 9,69 10,78 Lampung 0,00 28,81 12,60 11,90 18,38 17,38 16,77 Kep. Bangka Belitung 0,00 5,90 19,76 6,64 14,15 15,79 13,29 Kepulauan Riau 0,00 3,62 21,16 13,05 16,46 8,17 15,23 DKI Jakarta 100,00 18,34 13,55 13,96 16,05 10,68 14,43 Jawa Barat 29,01 15,97 13,07 16,75 24,40 11,44 19,19 Jawa Tengah 57,72 16,61 14,67 13,19 17,38 9,83 15,15 DI Yogyakarta 0,00 0,00 4,68 5,65 11,35 11,07 9,99 Jawa Timur 0,00 8,17 10,45 12,92 15,75 11,63 13,82 Banten 8,81 11,79 19,14 15,10 19,46 8,44 16,83 Bali 0,00 0,00 2,25 3,04 6,71 6,26 5,58 Nusa Tenggara Barat 33,24 5,09 8,05 14,83 22,18 11,31 15,73 Nusa Tenggara Timur 25,99 9,04 9,11 8,61 21,93 22,06 18,14 Kalimantan Barat 0,00 8,91 19,05 12,43 15,97 10,60 14,28 Kalimantan Tengah 100,00 5,69 6,78 8,31 13,32 13,76 11,26 Kalimantan Selatan 0,00 10,36 7,11 13,37 15,31 8,34 12,00 Kalimantan Timur 0,00 15,27 16,53 14,87 19,52 16,90 17,88 Sulawesi Utara 0,00 35,25 27,44 15,08 25,75 29,59 25,56 Sulawesi Tengah 0,00 6,34 10,04 8,42 15,66 6,82 11,39 Sulawesi Selatan 2,70 4,91 5,51 13,18 19,56 26,87 18,34 Sulawesi Tenggara 0,00 3,39 10,01 4,17 19,31 19,32 16,14 Gorontalo 0,00 13,45 12,82 11,36 20,31 10,94 14,97 Sulawesi Barat 0,00 12,04 2,40 0,00 4,84 4,85 4,50 Maluku 0,00 0,00 22,09 8,88 29,77 36,84 29,14 Maluku Utara 0,00 14,35 14,96 8,70 18,56 21,38 17,47 Papua Barat 0,00 0,00 5,54 24,12 14,73 18,45 15,31 Papua 14,45 5,42 4,03 7,98 19,68 25,62 17,88 INDONESIA 20,49 13,81 12,93 14,16 19,16 13,91 16,49 Sumber: BPS RI Sakernas Agustus Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
222 Tabel Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurut Provinsi dan Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, 2014 Provinsi Tidak/ belum pernah sekolah Tidak Tamat SD SD/ Sede-rajat SMP/ Sederajat SM/ Sederajat Akademi/PT Perdesaan Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Aceh 18,80 11,92 19,83 20,24 27,11 19,65 22,59 Sumatera Utara 2,30 12,83 8,34 10,79 16,10 12,98 12,41 Sumatera Barat 0,00 9,16 8,15 12,22 19,63 20,02 14,29 Riau 0,00 11,79 6,74 8,11 17,47 18,53 11,98 Jambi 21,36 7,26 4,28 7,58 15,28 20,66 10,09 Sumatera Selatan 0,00 7,16 4,13 6,68 16,80 7,04 8,73 Bengkulu 0,00 5,58 4,32 6,28 12,73 15,27 8,67 Lampung 0,00 7,11 6,38 6,84 20,56 12,35 11,05 Kep. Bangka Belitung 0,00 5,08 5,11 11,83 17,11 18,34 9,94 Kepulauan Riau 0,00 2,84 12,37 15,21 20,08 17,00 14,07 DKI Jakarta Jawa Barat 35,77 13,22 16,73 29,28 36,85 12,15 25,03 Jawa Tengah 0,00 11,15 9,25 13,75 21,14 7,02 14,07 DI Yogyakarta 0,00 12,51 3,39 13,37 11,95 9,68 Jawa Timur 0,00 2,48 7,45 10,81 18,84 5,40 11,53 Banten 22,03 11,26 17,68 32,25 32,55 8,47 24,61 Bali 0,00 0,00 2,74 3,35 8,00 6,63 5,14 Nusa Tenggara Barat 5,50 5,17 7,99 6,79 18,78 11,14 10,98 Nusa Tenggara Timur 2,54 2,78 4,44 4,61 11,63 16,07 6,46 Kalimantan Barat 4,29 8,01 3,87 6,99 17,03 19,27 8,78 Kalimantan Tengah 0,00 3,38 3,87 5,74 13,47 12,34 7,06 Kalimantan Selatan 0,00 5,49 3,31 5,89 14,94 13,94 7,63 Kalimantan Timur 14,78 3,36 11,30 17,30 25,27 5,86 16,85 Sulawesi Utara 0,00 13,62 8,41 15,29 22,84 22,15 17,10 Sulawesi Tengah 0,00 3,51 6,04 5,41 14,45 25,89 9,15 Sulawesi Selatan 0,43 3,87 4,30 6,28 15,36 19,08 9,19 Sulawesi Tenggara 0,00 1,72 2,88 4,88 14,28 9,89 7,79 Gorontalo 0,00 0,54 2,07 11,55 15,28 18,63 6,62 Sulawesi Barat 7,54 5,76 2,77 2,47 5,88 4,05 4,19 Maluku 0,00 7,05 5,23 8,93 40,77 30,52 22,57 Maluku Utara 0,00 13,11 4,76 4,95 19,38 19,18 12,12 Papua Barat 0,00 2,57 3,05 5,29 14,16 25,67 9,47 Papua 1,55 3,25 5,11 6,45 12,52 21,50 4,96 INDONESIA 2,70 6,89 8,67 13,09 20,34 13,50 13,31 Sumber: BPS RI Sakernas Agustus 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
223 Tabel Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurut Provinsi dan Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, 2014 Provinsi Tidak/ belum pernah sekolah Tidak Tamat SD SD/ Sede-rajat SMP/ Sederajat Perkotaan+Perdesaan SM/ Sederajat Akademi/PT Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Aceh 25,37 10,99 19,85 19,22 25,97 20,51 22,26 Sumatera Utara 9,16 14,65 9,12 12,99 17,91 20,34 15,57 Sumatera Barat 5,19 15,30 12,64 14,08 20,73 18,76 17,27 Riau 0,00 11,66 9,65 9,92 18,52 24,05 15,23 Jambi 18,05 9,60 4,71 8,67 17,54 18,10 12,34 Sumatera Selatan 0,00 7,80 4,35 7,85 20,26 14,28 12,16 Bengkulu 0,00 4,93 4,75 6,06 13,37 11,93 9,38 Lampung 0,00 10,57 7,17 7,55 19,77 15,34 12,52 Kep. Bangka Belitung 0,00 5,33 8,74 9,66 15,20 16,32 11,57 Kepulauan Riau 0,00 3,13 18,22 13,29 16,69 9,09 15,09 DKI Jakarta 100,00 18,34 13,55 13,96 16,05 10,68 14,43 Jawa Barat 33,50 14,76 14,88 21,45 26,52 11,52 20,95 Jawa Tengah 16,99 13,67 10,95 13,53 18,76 8,98 14,60 DI Yogyakarta 0,00 0,00 8,78 4,61 11,91 11,16 9,90 Jawa Timur 0,00 3,86 8,32 11,67 16,92 9,91 12,66 Banten 13,48 11,45 18,29 21,56 21,38 8,44 19,10 Bali 0,00 0,00 2,56 3,19 7,12 6,34 5,41 Nusa Tenggara Barat 8,62 5,14 8,02 9,81 20,53 11,23 13,06 Nusa Tenggara Timur 4,73 3,12 4,75 5,20 15,25 18,50 8,62 Kalimantan Barat 4,03 8,19 5,71 8,06 16,54 13,84 10,37 Kalimantan Tengah 15,56 3,82 4,39 6,36 13,40 13,21 8,36 Kalimantan Selatan 0,00 6,92 4,39 8,37 15,14 9,87 9,47 Kalimantan Timur 11,55 8,45 13,23 15,95 21,28 14,48 17,48 Sulawesi Utara 0,00 19,54 13,74 15,22 24,66 27,06 21,36 Sulawesi Tengah 0,00 3,84 6,48 6,01 14,91 15,02 9,75 Sulawesi Selatan 0,81 4,11 4,57 8,14 17,58 23,86 12,86 Sulawesi Tenggara 0,00 1,99 3,73 4,78 16,05 14,76 10,10 Gorontalo 0,00 2,19 4,62 11,48 17,92 13,51 9,69 Sulawesi Barat 6,54 7,04 2,72 2,00 5,60 4,35 4,26 Maluku 0,00 5,83 7,20 8,91 35,63 34,92 25,28 Maluku Utara 0,00 13,17 5,73 5,77 19,07 20,32 13,72 Papua Barat 0,00 2,37 3,44 7,88 14,35 22,42 10,92 Papua 1,58 3,38 5,03 6,70 16,32 24,77 7,57 INDONESIA 4,51 8,98 10,02 13,55 19,56 13,80 14,97 Sumber: BPS RI Sakernas Agustus Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
224 Tabel 6.1 Proporsi Pemuda yang Mempunyai Keluhan Kesehatan Selama Sebulan Terakhir Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2014 Provinsi Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perdesaan (1) (2) (3) (4) Aceh 12,65 7,46 42,03 Sumatera Utara 11,41 10,61 29,98 Sumatera Barat 17,88 11,31 37,84 Riau 17,25 6,08 42,31 Jambi 14,63 10,61 39,91 Sumatera Selatan 13,96 8,75 33,94 Bengkulu 14,70 12,68 31,85 Lampung 13,17 10,47 27,26 Kep. Bangka Belitung 16,45 9,85 45,29 Kepulauan Riau 25,44 1,90 49,93 DKI Jakarta Jawa Barat 15,50 9,35 40,08 Jawa Tengah 10,80 9,75 36,78 DI Yogyakarta 8,70 10,00 50,02 Jawa Timur 9,72 11,12 31,49 Banten 16,53 4,44 48,26 Bali 6,93 10,35 48,66 Nusa Tenggara Barat 15,04 9,13 21,16 Nusa Tenggara Timur 14,69 13,22 17,06 Kalimantan Barat 11,70 10,21 31,64 Kalimantan Tengah 16,51 8,99 43,14 Kalimantan Selatan 17,56 7,95 36,22 Kalimantan Timur 12,40 5,47 56,57 Sulawesi Utara 18,05 3,33 40,16 Sulawesi Tengah 14,26 8,81 29,02 Sulawesi Selatan 8,96 13,29 31,13 Sulawesi Tenggara 12,83 11,97 25,86 Gorontalo 15,80 10,97 29,27 Sulawesi Barat 8,66 12,25 30,40 Maluku 24,98 9,87 23,25 Maluku Utara 14,68 13,29 23,39 Papua Barat 14,06 14,06 30,20 Papua 9,67 18,28 6,05 INDONESIA 12,80 10,19 33,65 Sumber: BPS RI Susenas Kor 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
225 Tabel Proporsi Pemuda yang Mempunyai Keluhan Kesehatan Selama Sebulan Terakhir Menurut Provinsi dan Jenis Keluhan, 2014 Perkotaan Provinsi Panas Batuk Pilek Sakit Kepala Berulang Sakit Gigi Lainnya (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 6,78 5,91 6,60 1,63 0,80 6,32 Sumatera Utara 5,95 6,94 6,12 1,59 0,98 4,76 Sumatera Barat 10,43 10,48 10,31 3,25 1,12 6,98 Riau 8,57 10,49 9,62 2,69 1,10 5,62 Jambi 4,95 6,39 6,15 2,99 0,91 3,69 Sumatera Selatan 5,59 9,94 8,81 1,93 1,81 7,64 Bengkulu 6,57 6,86 6,23 1,92 0,99 6,61 Lampung 3,88 5,66 6,28 2,22 0,88 4,99 Kep. Bangka Belitung 5,22 9,01 9,20 2,92 1,71 7,04 Kepulauan Riau 5,84 8,05 8,58 2,09 0,69 4,33 DKI Jakarta 4,33 8,71 8,56 3,27 0,80 8,17 Jawa Barat 4,99 7,18 7,18 1,86 0,85 8,00 Jawa Tengah 5,95 10,51 10,54 3,33 1,16 9,12 DI Yogyakarta 9,12 15,32 15,31 3,26 1,93 11,85 Jawa Timur 5,72 8,40 8,48 2,00 1,21 6,98 Banten 5,62 8,59 8,81 2,98 0,92 8,07 Bali 10,23 10,13 10,25 3,42 1,17 7,03 Nusa Tenggara Barat 10,28 10,87 12,22 4,50 1,49 11,56 Nusa Tenggara Timur 5,40 8,83 10,42 2,36 1,27 7,43 Kalimantan Barat 4,91 5,76 5,31 2,02 1,36 7,26 Kalimantan Tengah 5,57 7,81 8,37 3,51 1,59 5,95 Kalimantan Selatan 6,56 11,15 11,16 2,78 1,56 8,13 Kalimantan Timur 2,30 4,25 4,06 1,63 0,78 4,46 Sulawesi Utara 4,73 4,93 5,73 1,85 0,54 5,22 Sulawesi Tengah 7,28 7,81 7,98 3,33 1,70 8,86 Sulawesi Selatan 3,97 4,25 4,31 2,09 1,07 4,26 Sulawesi Tenggara 5,59 7,15 6,75 2,47 1,89 8,14 Gorontalo 17,72 14,18 11,52 7,70 1,74 11,88 Sulawesi Barat 7,77 7,43 8,82 1,69 1,49 8,31 Maluku 2,13 4,57 5,16 1,26 0,86 5,39 Maluku Utara 2,11 1,03 1,06 0,67 0,31 3,31 Papua Barat 3,57 5,91 5,12 2,63 1,53 5,99 Papua 5,06 5,39 4,98 2,83 0,94 5,01 INDONESIA 5,67 8,24 8,21 2,45 1,05 7,46 Sumber: BPS RI Susenas Kor Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
226 Tabel Proporsi Pemuda yang Mempunyai Keluhan Kesehatan Selama Sebulan Terakhir Menurut Provinsi dan Jenis Keluhan, 2014 Perdesaan Provinsi Panas Batuk Pilek Sakit Kepala Berulang Sakit Gigi Lainnya (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 7,29 7,11 7,05 3,61 1,67 8,59 Sumatera Utara 5,25 6,33 5,99 1,98 1,06 5,18 Sumatera Barat 8,18 9,19 9,28 3,91 1,56 7,59 Riau 6,37 7,54 7,31 3,69 1,79 7,82 Jambi 4,79 5,93 5,24 1,35 0,96 4,43 Sumatera Selatan 4,14 6,29 6,36 3,22 1,17 5,72 Bengkulu 6,85 8,78 9,67 3,54 1,46 8,17 Lampung 6,03 9,72 9,15 3,30 1,47 8,44 Kep. Bangka Belitung 3,54 4,86 5,65 2,45 0,91 6,44 Kepulauan Riau 5,08 8,03 6,47 4,94 1,57 9,41 DKI Jakarta Jawa Barat 5,71 6,48 6,97 2,09 1,26 9,54 Jawa Tengah 5,14 8,89 8,84 3,32 1,14 9,07 DI Yogyakarta 7,60 13,04 11,55 2,85 2,22 19,18 Jawa Timur 5,51 7,92 7,91 2,93 1,35 7,91 Banten 6,49 8,43 7,34 5,00 0,90 11,00 Bali 15,67 12,34 12,68 5,05 2,25 12,53 Nusa Tenggara Barat 12,68 11,97 13,75 6,86 1,49 11,06 Nusa Tenggara Timur 8,34 11,52 11,55 5,96 1,55 12,21 Kalimantan Barat 4,10 5,73 5,41 3,14 1,05 6,13 Kalimantan Tengah 6,01 7,60 6,93 4,05 2,00 6,42 Kalimantan Selatan 6,48 10,71 11,43 4,08 2,31 10,19 Kalimantan Timur 2,33 3,45 4,97 2,32 0,91 4,92 Sulawesi Utara 6,10 6,35 6,66 2,53 1,38 6,72 Sulawesi Tengah 8,13 7,28 6,50 5,65 1,85 9,72 Sulawesi Selatan 4,65 4,24 4,88 3,32 1,04 7,40 Sulawesi Tenggara 7,08 6,23 5,28 4,31 1,48 7,20 Gorontalo 15,31 10,61 6,92 3,81 1,62 8,23 Sulawesi Barat 4,90 5,62 5,29 3,92 2,17 11,36 Maluku 3,17 4,25 3,65 1,67 1,56 6,20 Maluku Utara 3,56 3,41 2,58 1,63 0,51 3,56 Papua Barat 3,35 4,08 2,73 1,62 0,73 5,65 Papua 3,49 6,25 6,17 1,66 0,62 3,85 INDONESIA 5,94 7,66 7,62 3,25 1,32 8,24 Sumber: BPS RI Susenas Kor 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
227 Tabel Proporsi Pemuda yang Mempunyai Keluhan Kesehatan Selama Sebulan Terakhir Menurut Provinsi dan Jenis Keluhan, 2014 Perkotaan+Perdesaan Provinsi Panas Batuk Pilek Sakit Kepala Berulang Sakit Gigi Lainnya (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 7,14 6,75 6,91 3,02 1,41 7,90 Sumatera Utara 5,61 6,65 6,06 1,78 1,02 4,96 Sumatera Barat 9,12 9,73 9,71 3,63 1,38 7,33 Riau 7,27 8,75 8,26 3,28 1,50 6,92 Jambi 4,84 6,07 5,51 1,83 0,94 4,21 Sumatera Selatan 4,69 7,68 7,29 2,73 1,41 6,45 Bengkulu 6,75 8,13 8,51 3,00 1,30 7,64 Lampung 5,45 8,62 8,38 3,01 1,31 7,51 Kep. Bangka Belitung 4,36 6,89 7,38 2,68 1,30 6,74 Kepulauan Riau 5,73 8,05 8,26 2,52 0,82 5,10 DKI Jakarta 4,33 8,71 8,56 3,27 0,80 8,17 Jawa Barat 5,21 6,96 7,11 1,93 0,97 8,47 Jawa Tengah 5,53 9,68 9,67 3,32 1,15 9,09 DI Yogyakarta 8,70 14,69 14,27 3,15 2,01 13,87 Jawa Timur 5,61 8,16 8,19 2,47 1,28 7,45 Banten 5,89 8,55 8,36 3,59 0,91 8,96 Bali 12,10 10,89 11,09 3,98 1,54 8,91 Nusa Tenggara Barat 11,62 11,49 13,08 5,82 1,49 11,28 Nusa Tenggara Timur 7,64 10,88 11,28 5,10 1,49 11,07 Kalimantan Barat 4,37 5,74 5,38 2,77 1,15 6,50 Kalimantan Tengah 5,85 7,67 7,44 3,86 1,85 6,25 Kalimantan Selatan 6,51 10,91 11,31 3,50 1,97 9,27 Kalimantan Timur 2,31 3,95 4,40 1,89 0,83 4,64 Sulawesi Utara 5,45 5,67 6,22 2,20 0,98 6,00 Sulawesi Tengah 7,88 7,43 6,92 4,99 1,81 9,48 Sulawesi Selatan 4,37 4,24 4,64 2,80 1,05 6,09 Sulawesi Tenggara 6,60 6,52 5,75 3,72 1,61 7,50 Gorontalo 16,16 11,86 8,54 5,18 1,67 9,51 Sulawesi Barat 5,56 6,04 6,10 3,41 2,02 10,66 Maluku 2,72 4,39 4,30 1,49 1,26 5,85 Maluku Utara 3,11 2,68 2,11 1,33 0,45 3,48 Papua Barat 3,42 4,68 3,52 1,95 0,99 5,76 Papua 3,95 6,00 5,83 2,00 0,71 4,19 INDONESIA 5,80 7,96 7,94 2,83 1,18 7,83 Sumber: BPS RI Susenas Kor Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
228 Tabel 6.3 Angka Kesakitan Pemuda Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2014 Provinsi Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perdesaan (1) (2) (3) (4) Aceh 7,46 10,35 9,48 Sumatera Utara 7,68 8,13 7,89 Sumatera Barat 9,21 10,59 10,01 Riau 7,72 9,63 8,84 Jambi 7,09 7,12 7,11 Sumatera Selatan 5,98 6,52 6,32 Bengkulu 7,78 11,32 10,12 Lampung 6,58 8,09 7,68 Kep. Bangka Belitung 6,80 5,45 6,11 Kepulauan Riau 6,21 8,76 6,60 DKI Jakarta 7,89-7,89 Jawa Barat 8,43 8,21 8,36 Jawa Tengah 9,40 8,98 9,18 DI Yogyakarta 9,93 13,43 10,90 Jawa Timur 8,71 9,84 9,28 Banten 8,22 9,45 8,59 Bali 11,99 21,97 15,42 Nusa Tenggara Barat 11,81 13,01 12,48 Nusa Tenggara Timur 7,94 13,82 12,42 Kalimantan Barat 8,00 7,18 7,45 Kalimantan Tengah 8,87 10,02 9,61 Kalimantan Selatan 7,63 9,39 8,61 Kalimantan Timur 5,16 6,19 5,55 Sulawesi Utara 7,73 10,47 9,16 Sulawesi Tengah 11,87 12,98 12,66 Sulawesi Selatan 5,26 8,27 7,01 Sulawesi Tenggara 10,24 12,47 11,76 Gorontalo 16,42 13,77 14,70 Sulawesi Barat 13,96 12,76 13,04 Maluku 6,18 7,04 6,67 Maluku Utara 5,11 5,38 5,29 Papua Barat 8,85 6,38 7,19 Papua 6,09 4,82 5,19 INDONESIA 8,33 9,28 8,77 Sumber: BPS RI Susenas Kor 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
229 Tabel Persentase Pemuda yang Sakit Selama Sebulan Terakhir Menurut Provinsi dan Lamanya Sakit, 2014 Perkotaan Provinsi Lamanya Sakit (Hari) Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 62,10 29,43 2,33 1,46 4,68 100,00 Sumatera Utara 74,16 17,18 2,21 2,41 4,05 100,00 Sumatera Barat 60,66 27,54 5,22 2,58 3,99 100,00 Riau 64,25 28,33 4,67 1,10 1,64 100,00 Jambi 73,24 18,75 3,12 1,25 3,63 100,00 Sumatera Selatan 62,98 27,55 2,75 2,04 4,68 100,00 Bengkulu 57,73 31,57 4,00 1,27 5,44 100,00 Lampung 69,69 20,16 5,90 2,45 1,79 100,00 Kep. Bangka Belitung 69,12 20,57 4,96 2,78 2,58 100,00 Kepulauan Riau 73,59 15,79 7,79 2,07 0,75 100,00 DKI Jakarta 77,09 18,45 2,00 0,73 1,73 100,00 Jawa Barat 63,58 27,90 4,15 1,86 2,52 100,00 Jawa Tengah 66,76 26,17 3,79 0,81 2,47 100,00 DI Yogyakarta 67,24 25,59 2,91 0,25 4,01 100,00 Jawa Timur 66,94 23,29 3,86 2,03 3,88 100,00 Banten 65,64 25,16 3,62 1,48 4,10 100,00 Bali 74,27 21,46 2,95 0,00 1,32 100,00 Nusa Tenggara Barat 65,62 25,94 3,81 1,64 2,98 100,00 Nusa Tenggara Timur 69,51 24,51 2,53 3,20 0,26 100,00 Kalimantan Barat 71,85 19,97 4,03 0,07 4,08 100,00 Kalimantan Tengah 74,22 20,83 3,80 0,00 1,16 100,00 Kalimantan Selatan 74,52 18,27 1,91 0,49 4,81 100,00 Kalimantan Timur 70,99 25,57 2,24 0,00 1,20 100,00 Sulawesi Utara 67,29 25,10 3,85 2,13 1,63 100,00 Sulawesi Tengah 56,86 32,82 2,73 0,96 6,63 100,00 Sulawesi Selatan 61,03 31,93 3,13 0,88 3,02 100,00 Sulawesi Tenggara 69,21 22,89 3,50 0,41 3,99 100,00 Gorontalo 65,82 25,01 7,98 0,00 1,19 100,00 Sulawesi Barat 63,98 17,85 11,45 1,24 5,48 100,00 Maluku 72,44 21,76 4,43 0,67 0,70 100,00 Maluku Utara 60,20 32,65 3,16 1,03 2,96 100,00 Papua Barat 52,83 32,85 9,43 0,78 4,11 100,00 Papua 56,40 33,92 6,50 0,00 3,19 100,00 INDONESIA 67,22 24,70 3,69 1,44 2,95 100,00 Sumber: BPS RI Susenas Kor Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
230 Tabel Persentase Pemuda yang Sakit Selama Sebulan Terakhir Menurut Provinsi dan Lamanya Sakit, 2014 Perdesaan Provinsi Lamanya Sakit (Hari) Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 57,11 31,49 4,38 2,72 4,30 100,00 Sumatera Utara 62,98 24,75 5,36 2,59 4,33 100,00 Sumatera Barat 56,07 31,42 5,06 3,78 3,67 100,00 Riau 62,41 26,78 3,75 2,53 4,53 100,00 Jambi 68,43 23,37 3,20 1,70 3,30 100,00 Sumatera Selatan 64,57 29,55 0,81 1,28 3,78 100,00 Bengkulu 62,54 31,09 3,00 1,29 2,09 100,00 Lampung 62,33 27,27 4,95 2,69 2,77 100,00 Kep. Bangka Belitung 64,53 23,80 6,87 0,96 3,84 100,00 Kepulauan Riau 61,85 21,82 7,29 3,56 5,48 100,00 DKI Jakarta Jawa Barat 55,63 34,30 5,54 2,03 2,50 100,00 Jawa Tengah 62,78 25,36 4,04 2,52 5,30 100,00 DI Yogyakarta 73,19 8,33 18,48 0,00 0,00 100,00 Jawa Timur 57,86 29,91 5,79 3,76 2,68 100,00 Banten 63,44 27,65 2,51 1,71 4,70 100,00 Bali 68,23 23,44 4,58 1,47 2,28 100,00 Nusa Tenggara Barat 56,05 33,63 5,06 1,13 4,14 100,00 Nusa Tenggara Timur 53,28 36,93 4,92 1,24 3,63 100,00 Kalimantan Barat 68,14 21,78 4,66 0,80 4,61 100,00 Kalimantan Tengah 67,75 24,10 2,37 1,05 4,73 100,00 Kalimantan Selatan 65,92 27,19 3,42 0,00 3,48 100,00 Kalimantan Timur 66,78 25,33 3,46 1,59 2,84 100,00 Sulawesi Utara 52,91 33,95 8,41 0,55 4,17 100,00 Sulawesi Tengah 58,53 31,35 5,06 0,84 4,22 100,00 Sulawesi Selatan 58,97 27,23 6,31 0,96 6,52 100,00 Sulawesi Tenggara 61,59 29,31 4,59 0,90 3,61 100,00 Gorontalo 60,76 31,55 3,18 2,40 2,11 100,00 Sulawesi Barat 64,68 28,70 3,42 1,55 1,66 100,00 Maluku 52,15 37,23 6,22 0,00 4,40 100,00 Maluku Utara 48,05 38,80 5,21 4,01 3,92 100,00 Papua Barat 47,77 44,66 0,80 0,69 6,08 100,00 Papua 54,42 37,10 7,27 0,46 0,75 100,00 INDONESIA 60,27 29,02 4,88 2,14 3,68 100,00 Sumber: BPS RI Susenas Kor 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
231 Tabel Persentase Pemuda yang Sakit Selama Sebulan Terakhir Menurut Provinsi dan Lamanya Sakit, 2014 Perkotaan+Perdesaan Provinsi Lamanya Sakit (Hari) Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 58,29 31,00 3,89 2,42 4,39 100,00 Sumatera Utara 68,68 20,89 3,75 2,50 4,18 100,00 Sumatera Barat 57,84 29,93 5,12 3,32 3,79 100,00 Riau 63,07 27,33 4,08 2,02 3,50 100,00 Jambi 69,85 22,01 3,18 1,57 3,40 100,00 Sumatera Selatan 64,00 28,83 1,51 1,55 4,11 100,00 Bengkulu 61,29 31,22 3,26 1,28 2,96 100,00 Lampung 64,03 25,63 5,17 2,63 2,54 100,00 Kep. Bangka Belitung 67,02 22,05 5,83 1,95 3,15 100,00 Kepulauan Riau 71,23 17,00 7,69 2,37 1,70 100,00 DKI Jakarta 77,09 18,45 2,00 0,73 1,73 100,00 Jawa Barat 61,17 29,84 4,57 1,91 2,51 100,00 Jawa Tengah 64,77 25,76 3,91 1,66 3,89 100,00 DI Yogyakarta 69,27 19,71 8,21 0,17 2,64 100,00 Jawa Timur 62,09 26,82 4,89 2,96 3,24 100,00 Banten 64,91 25,99 3,25 1,55 4,30 100,00 Bali 71,32 22,43 3,74 0,72 1,79 100,00 Nusa Tenggara Barat 60,02 30,44 4,54 1,34 3,66 100,00 Nusa Tenggara Timur 55,75 35,04 4,55 1,54 3,11 100,00 Kalimantan Barat 69,45 21,14 4,44 0,54 4,42 100,00 Kalimantan Tengah 69,88 23,03 2,84 0,71 3,55 100,00 Kalimantan Selatan 69,31 23,67 2,82 0,19 4,00 100,00 Kalimantan Timur 69,22 25,47 2,75 0,67 1,89 100,00 Sulawesi Utara 58,71 30,39 6,57 1,19 3,15 100,00 Sulawesi Tengah 58,08 31,74 4,43 0,88 4,87 100,00 Sulawesi Selatan 59,62 28,70 5,32 0,94 5,42 100,00 Sulawesi Tenggara 63,70 27,53 4,29 0,77 3,71 100,00 Gorontalo 62,75 28,98 5,07 1,46 1,75 100,00 Sulawesi Barat 64,51 26,02 5,40 1,47 2,60 100,00 Maluku 60,27 31,05 5,50 0,27 2,92 100,00 Maluku Utara 51,67 36,97 4,60 3,12 3,64 100,00 Papua Barat 49,82 39,88 4,29 0,73 5,28 100,00 Papua 55,10 36,01 7,00 0,30 1,59 100,00 INDONESIA 63,76 26,85 4,28 1,79 3,31 100,00 Sumber: BPS RI Susenas Kor Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
232 Tabel 6.5 Proporsi Pemuda Sakit yang Mengobati Sendiri Menurut Provinsi dan Jenis Obat/Pengobatan yang Digunakan, 2014 Perkotaan (K) Perdesaan (D) K+D Provinsi Tradisional Tradisional Tradisional Modern Lainnya Modern Lainnya Modern Lainnya (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) Aceh 92,23 16,23 2,25 88,75 29,71 2,90 89,64 26,27 2,73 Sumatera Utara 88,78 19,75 3,00 90,54 25,65 3,29 89,59 22,46 3,13 Sumatera Barat 87,43 16,94 2,58 80,49 34,15 3,33 83,54 26,59 3,00 Riau 95,32 8,75 1,99 90,82 22,37 3,72 92,62 16,92 3,03 Jambi 90,50 11,33 2,03 89,93 23,52 4,92 90,10 19,97 4,08 Sumatera Selatan 95,48 9,84 2,89 89,14 21,82 6,35 91,96 16,50 4,81 Bengkulu 93,88 15,20 4,88 93,14 19,69 3,61 93,35 18,41 3,97 Lampung 96,70 20,66 3,25 89,76 15,86 11,7 91,11 16,80 10,06 Kep. Bangka Belitung 93,81 17,27 2,62 92,63 19,46 9,801 93,29 18,24 5,81 Kepulauan Riau 95,72 16,96 0,21 91,69 26,11 0,71 94,95 18,70 0,31 DKI Jakarta 92,44 17,14 2,64 0,00 0,00 0,00 92,44 17,14 2,64 Jawa Barat 95,17 11,34 2,06 96,08 14,25 4,00 95,48 12,33 2,72 Jawa Tengah 92,85 12,04 4,99 91,48 14,44 6,62 92,19 13,19 5,77 DI Yogyakarta 89,00 11,40 6,17 86,45 12,96 9,23 88,37 11,79 6,93 Jawa Timur 91,67 14,79 3,76 92,20 23,36 4,56 91,95 19,19 4,17 Banten 95,73 9,18 3,32 96,95 15,08 7,61 96,19 11,43 4,96 Bali 91,47 18,49 3,44 69,88 44,39 4,13 81,95 29,91 3,74 Nusa Tenggara Barat 94,47 10,42 2,19 92,67 19,10 1,37 93,47 15,21 1,74 Nusa Tenggara Timur 96,22 6,26 2,63 77,10 31,79 3,36 81,40 26,04 3,19 Kalimantan Barat 82,89 16,34 5,77 88,11 20,75 3,25 86,42 19,32 4,06 Kalimantan Tengah 96,80 5,82 2,78 94,43 15,97 4,36 95,27 12,36 3,80 Kalimantan Selatan 96,52 12,70 2,70 96,88 17,17 3,87 96,73 15,29 3,38 Kalimantan Timur 92,83 9,46 1,89 90,97 26,41 4,03 92,06 16,45 2,77 Sulawesi Utara 94,04 11,13 1,78 94,42 9,30 2,98 94,25 10,10 2,46 Sulawesi Tengah 94,21 14,35 1,70 89,93 15,81 3,97 91,11 15,41 3,34 Sulawesi Selatan 90,61 20,43 2,42 91,91 16,17 2,60 91,45 17,70 2,54 Sulawesi Tenggara 93,05 11,88 1,67 91,96 13,75 3,42 92,33 13,12 2,83 Gorontalo 97,91 5,28 1,14 96,92 14,51 1,38 97,28 11,14 1,29 Sulawesi Barat 94,59 9,16 0,84 87,55 19,30 1,05 89,20 16,93 1,00 Maluku 96,31 10,16 0,64 86,26 27,22 3,33 90,41 20,17 2,22 Maluku Utara 95,92 16,34 4,42 86,31 35,32 2,26 88,91 30,18 2,84 Papua Barat 98,21 5,83 2,15 72,29 37,00 6,80 81,96 25,37 5,07 Papua 92,09 12,93 0,74 58,68 62,88 4,97 69,42 46,83 3,61 INDONESIA 93,25 13,17 3,09 90,82 20,26 4,87 92,10 16,55 3,94 Sumber: BPS RI Susenas Kor 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
233 Tabel Proporsi Pemuda Sakit yang Berobat Jalan menurut Provinsi dan Tempat Berobat, 2014 Perkotaan Provinsi Rumah Sakit Praktek Dokter Puskesmas Praktek Nakes Praktek Batra Dukun Bersalin Lainnya (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Aceh 21,51 16,99 38,54 24,19 4,02 0,62 0,68 Sumatera Utara 6,55 26,99 20,18 45,00 4,48 0,00 3,82 Sumatera Barat 15,40 22,50 27,68 41,02 3,61 2,07 3,30 Riau 12,43 49,44 17,89 23,65 2,04 0,61 1,31 Jambi 15,58 42,73 30,48 15,55 4,85 1,17 1,17 Sumatera Selatan 17,76 33,10 24,40 23,26 1,81 0,26 4,31 Bengkulu 15,45 32,07 25,10 29,99 5,24 0,93 1,25 Lampung 4,26 41,30 28,75 29,80 3,45 1,17 5,44 Kep. Bangka Belitung 20,19 33,67 30,02 27,29 3,89 1,93 1,93 Kepulauan Riau 25,44 34,77 35,72 14,04 2,61 2,48 2,48 DKI Jakarta 15,17 50,96 30,86 4,71 1,06 0,46 2,56 Jawa Barat 11,27 47,72 27,69 17,40 1,98 0,64 2,75 Jawa Tengah 8,89 44,82 24,82 24,22 1,77 0,56 1,47 DI Yogyakarta 22,25 48,73 20,94 11,24 0,00 0,00 0,24 Jawa Timur 14,82 36,31 23,25 27,21 2,51 0,11 0,94 Banten 10,64 54,81 21,17 16,99 1,69 0,78 2,25 Bali 13,59 52,77 14,58 23,08 0,81 0,00 0,58 Nusa Tenggara Barat 5,94 33,41 35,31 29,37 7,29 0,52 2,69 Nusa Tenggara Timur 12,20 27,78 48,87 8,47 0,00 0,00 4,36 Kalimantan Barat 17,99 22,18 29,31 28,70 4,13 0,46 0,86 Kalimantan Tengah 11,33 22,52 42,28 29,78 0,00 0,00 4,34 Kalimantan Selatan 14,19 31,43 29,82 23,12 1,73 0,00 1,06 Kalimantan Timur 17,86 41,97 30,11 14,22 1,41 0,83 1,21 Sulawesi Utara 20,95 38,95 29,64 14,27 0,44 0,44 2,43 Sulawesi Tengah 16,89 30,97 22,35 27,16 5,21 0,00 1,02 Sulawesi Selatan 16,34 20,25 45,00 15,11 0,16 0,40 5,59 Sulawesi Tenggara 13,20 27,42 56,56 12,04 1,03 0,00 0,00 Gorontalo 6,07 34,60 38,05 23,07 7,91 0,00 0,00 Sulawesi Barat 13,41 15,91 45,60 29,70 2,73 0,00 0,00 Maluku 5,38 32,04 33,79 28,23 0,00 0,00 3,99 Maluku Utara 11,04 28,41 57,18 5,12 0,00 0,00 6,33 Papua Barat 22,93 24,43 45,21 8,57 0,00 0,00 1,36 Papua 28,61 43,26 28,96 3,59 0,31 0,31 0,31 INDONESIA 12,77 42,71 26,71 20,55 2,11 0,52 2,18 Sumber: BPS RI Susenas Kor Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
234 Tabel Proporsi Pemuda Sakit yang Berobat Jalan menurut Provinsi dan Tempat Berobat, 2014 Perdesaan Provinsi Rumah Sakit Praktek Dokter Puskesmas Praktek Nakes Praktek Batra Dukun Bersalin Lainnya (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Aceh 11,23 11,18 43,88 38,35 2,91 0,52 3,05 Sumatera Utara 10,40 16,06 23,13 51,15 4,04 0,88 2,92 Sumatera Barat 3,49 12,21 25,16 52,21 13,83 0,67 1,44 Riau 7,29 23,46 32,13 36,60 4,79 1,26 4,55 Jambi 4,85 18,15 23,17 54,68 5,70 3,51 3,23 Sumatera Selatan 5,57 15,07 19,19 62,84 2,67 0,99 2,94 Bengkulu 4,74 28,81 25,67 43,23 6,66 0,41 0,86 Lampung 3,98 17,82 19,53 59,49 2,24 1,06 1,45 Kep. Bangka Belitung 7,46 23,29 34,79 36,61 4,99 0,67 2,21 Kepulauan Riau 10,54 29,66 27,51 27,12 11,51 0,00 0,00 DKI Jakarta Jawa Barat 7,01 36,16 25,15 35,98 2,75 0,77 3,07 Jawa Tengah 7,48 31,18 20,44 45,11 2,80 1,00 1,88 DI Yogyakarta 19,14 29,18 21,31 33,60 0,00 0,00 2,12 Jawa Timur 7,36 23,76 16,19 54,17 2,96 0,26 1,19 Banten 4,05 26,20 18,94 48,26 2,65 2,18 5,05 Bali 4,15 36,53 23,10 36,89 3,72 0,00 0,62 Nusa Tenggara Barat 5,33 22,58 34,14 39,08 9,07 0,08 0,44 Nusa Tenggara Timur 6,75 8,81 74,70 8,96 0,91 0,44 4,32 Kalimantan Barat 8,60 9,01 26,18 48,33 5,28 0,00 4,32 Kalimantan Tengah 6,84 18,79 41,24 31,67 5,92 0,84 0,99 Kalimantan Selatan 3,12 12,31 32,66 53,45 0,64 0,00 3,47 Kalimantan Timur 17,58 18,13 44,78 25,28 0,53 0,56 1,47 Sulawesi Utara 4,70 27,73 35,61 33,49 1,87 0,00 0,33 Sulawesi Tengah 4,98 6,41 43,06 35,35 11,57 0,23 4,09 Sulawesi Selatan 10,85 9,34 48,39 33,12 4,47 1,04 4,22 Sulawesi Tenggara 6,88 8,53 59,17 24,40 2,96 1,79 4,57 Gorontalo 3,42 33,92 31,40 34,78 3,33 0,00 0,86 Sulawesi Barat 8,13 14,10 72,56 16,52 4,47 2,50 2,50 Maluku 6,41 26,50 53,64 15,87 0,95 0,00 0,81 Maluku Utara 36,14 3,79 55,97 12,19 0,00 0,00 3,64 Papua Barat 18,59 18,24 61,29 4,56 0,40 0,00 2,10 Papua 21,01 6,95 80,77 2,85 2,85 2,85 4,56 INDONESIA 7,35 23,04 28,56 42,66 3,66 0,75 2,44 Sumber: BPS RI Susenas Kor 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
235 Tabel Proporsi Pemuda Sakit yang Berobat Jalan menurut Provinsi dan Tempat Berobat, 2014 Perkotaan+Perdesaan Provinsi Rumah Sakit Praktek Dokter Puskesmas Praktek Nakes Praktek Batra Dukun Bersalin Lainnya (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Aceh 13,78 12,62 42,56 34,84 3,18 0,54 2,46 Sumatera Utara 8,38 21,79 21,58 47,92 4,27 0,42 3,39 Sumatera Barat 8,33 16,39 26,19 47,66 9,68 1,24 2,19 Riau 9,62 35,24 25,67 30,73 3,54 0,97 3,08 Jambi 8,30 26,06 25,52 42,08 5,43 2,76 2,56 Sumatera Selatan 11,08 23,22 21,55 44,96 2,28 0,66 3,56 Bengkulu 7,84 29,76 25,50 39,40 6,25 0,56 0,97 Lampung 4,04 22,70 21,45 53,32 2,49 1,08 2,28 Kep. Bangka Belitung 14,29 28,86 32,24 31,61 4,40 1,35 2,06 Kepulauan Riau 22,91 33,90 34,32 16,26 4,12 2,06 2,06 DKI Jakarta 15,17 50,96 30,86 4,71 1,06 0,46 2,56 Jawa Barat 9,92 44,06 26,88 23,28 2,22 0,68 2,85 Jawa Tengah 8,19 38,08 22,65 34,55 2,28 0,78 1,67 DI Yogyakarta 21,14 41,78 21,07 19,19 0,00 0,00 0,91 Jawa Timur 10,93 29,76 19,56 41,28 2,75 0,19 1,07 Banten 8,68 46,28 20,50 26,31 1,97 1,20 3,09 Bali 8,75 44,44 18,95 30,16 2,31 0,00 0,60 Nusa Tenggara Barat 5,57 26,86 34,60 35,24 8,37 0,26 1,33 Nusa Tenggara Timur 7,53 11,52 71,00 8,89 0,78 0,38 4,33 Kalimantan Barat 12,61 14,64 27,52 39,94 4,79 0,20 2,84 Kalimantan Tengah 8,56 20,22 41,64 30,94 3,65 0,52 2,28 Kalimantan Selatan 7,95 20,65 31,42 40,22 1,12 0,00 2,42 Kalimantan Timur 17,76 33,39 35,39 18,20 1,09 0,73 1,30 Sulawesi Utara 11,33 32,31 33,17 25,65 1,29 0,18 1,19 Sulawesi Tengah 8,12 12,89 37,59 33,19 9,89 0,17 3,28 Sulawesi Selatan 12,66 12,95 47,27 27,17 3,05 0,83 4,67 Sulawesi Tenggara 8,72 14,02 58,41 20,80 2,40 1,27 3,24 Gorontalo 4,70 34,25 34,62 29,11 5,54 0,00 0,44 Sulawesi Barat 9,38 14,53 66,17 19,64 4,06 1,91 1,91 Maluku 5,85 29,52 42,81 22,61 0,43 0,00 2,54 Maluku Utara 29,63 10,17 56,28 10,36 0,00 0,00 4,34 Papua Barat 20,26 20,63 55,10 6,11 0,24 0,00 1,81 Papua 24,06 21,52 59,98 3,14 1,83 1,83 2,85 INDONESIA 10,25 33,55 27,57 30,85 2,83 0,63 2,30 Sumber: BPS RI Susenas Kor Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
236 Tabel Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi, Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2012 Provinsi Laki-laki (L) Perempuan (P) L+P (1) (2) (3) (4) Aceh 28,80 20,89 24,85 Sumatera Utara 26,77 19,43 23,06 Sumatera Barat 32,28 22,19 27,14 Riau 32,39 21,15 26,90 Jambi 31,18 22,78 27,03 Sumatera Selatan 31,70 22,86 27,29 Bengkulu 39,21 28,98 34,11 Lampung 35,37 28,47 31,96 Kep. Bangka Belitung 27,95 22,33 25,23 Kepulauan Riau 35,68 25,65 30,75 DKI Jakarta 36,08 23,84 30,02 Jawa Barat 35,47 23,97 30,31 Jawa Tengah 35,26 24,66 29,88 DI Yogyakarta 38,36 29,01 33,63 Jawa Timur 35,01 23,97 29,40 Banten 37,29 26,51 32,00 Bali 33,86 16,86 25,42 Nusa Tenggara Barat 37,39 23,63 30,18 Nusa Tenggara Timur 38,58 26,15 32,29 Kalimantan Barat 29,42 23,10 26,28 Kalimantan Tengah 37,70 28,41 33,20 Kalimantan Selatan 34,32 21,80 28,11 Kalimantan Timur 40,12 30,93 35,76 Sulawesi Utara 30,93 22,14 26,57 Sulawesi Tengah 41,21 32,44 36,85 Sulawesi Selatan 35,23 25,57 30,24 Sulawesi Tenggara 38,45 27,80 33,07 Gorontalo 39,81 31,12 35,37 Sulawesi Barat 36,23 24,32 30,13 Maluku 32,33 25,13 28,73 Maluku Utara 40,27 21,48 31,00 Papua Barat 34,50 25,32 30,20 Papua 29,72 20,10 25,31 INDONESIA 35,10 24,10 29,61 Sumber: BPS RI Susenas MSBP 2012 Perkotaan Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
237 Tabel Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi, Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2012 Provinsi Laki-laki (L) Perempuan (P) L+P (1) (2) (3) (4) Aceh 24,28 14,37 19,28 Sumatera Utara 20,32 15,82 18,05 Sumatera Barat 25,65 19,81 22,68 Riau 27,19 19,51 23,49 Jambi 28,36 18,11 23,37 Sumatera Selatan 25,22 16,42 20,92 Bengkulu 27,56 19,36 23,58 Lampung 22,50 18,11 20,38 Kep. Bangka Belitung 28,37 18,11 23,49 Kepulauan Riau 29,93 15,38 23,01 DKI Jakarta Jawa Barat 25,67 15,93 20,87 Jawa Tengah 26,61 17,14 21,82 DI Yogyakarta 24,48 15,85 20,01 Jawa Timur 21,86 15,92 18,82 Banten 26,39 16,63 21,65 Bali 19,51 9,57 14,52 Nusa Tenggara Barat 26,65 17,32 21,78 Nusa Tenggara Timur 24,03 16,50 20,18 Kalimantan Barat 23,93 15,43 19,80 Kalimantan Tengah 24,79 18,12 21,64 Kalimantan Selatan 20,94 16,50 18,73 Kalimantan Timur 27,78 20,71 24,50 Sulawesi Utara 20,00 15,33 17,73 Sulawesi Tengah 23,20 19,68 21,49 Sulawesi Selatan 21,92 16,86 19,29 Sulawesi Tenggara 25,86 17,39 21,62 Gorontalo 23,42 19,27 21,36 Sulawesi Barat 27,11 20,71 23,91 Maluku 21,71 13,69 17,73 Maluku Utara 23,77 13,25 18,65 Papua Barat 21,89 12,62 17,57 Papua 13,96 8,84 11,54 INDONESIA 24,08 16,51 20,30 Sumber: BPS RI Susenas MSBP 2012 Perdesaan 200 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
238 Tabel Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi, Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2012 Perkotaan+Perdesaan Provinsi Laki-laki (L) Perempuan (P) L+P (1) (2) (3) (4) Aceh 25,56 16,19 20,84 Sumatera Utara 23,48 17,60 20,51 Sumatera Barat 28,22 20,73 24,41 Riau 29,22 20,16 24,82 Jambi 29,22 19,56 24,49 Sumatera Selatan 27,51 18,75 23,20 Bengkulu 31,11 22,40 26,84 Lampung 25,75 20,82 23,36 Kep. Bangka Belitung 28,16 20,20 24,35 Kepulauan Riau 34,61 23,82 29,34 DKI Jakarta 36,08 23,84 30,02 Jawa Barat 32,77 21,21 27,07 Jawa Tengah 30,56 20,59 25,51 DI Yogyakarta 33,73 24,48 29,01 Jawa Timur 28,15 19,74 23,86 Banten 33,63 23,24 28,55 Bali 28,18 13,93 21,08 Nusa Tenggara Barat 31,12 19,96 25,29 Nusa Tenggara Timur 26,92 18,39 22,57 Kalimantan Barat 25,56 17,79 21,76 Kalimantan Tengah 29,05 21,61 25,50 Kalimantan Selatan 26,57 18,73 22,68 Kalimantan Timur 35,38 27,10 31,48 Sulawesi Utara 24,89 18,44 21,73 Sulawesi Tengah 27,50 22,85 25,23 Sulawesi Selatan 26,82 20,04 23,30 Sulawesi Tenggara 29,30 20,27 24,77 Gorontalo 28,89 23,39 26,14 Sulawesi Barat 29,23 21,58 25,38 Maluku 25,66 17,98 21,84 Maluku Utara 28,24 15,52 22,02 Papua Barat 25,67 16,45 21,37 Papua 18,13 11,70 15,12 INDONESIA 29,59 20,30 24,96 Sumber: BPS RI Susenas MSBP 2012 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
239 Tabel Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi dan Tujuan Olahraga, 2012 Perkotaan Provinsi Menjaga Kesehatan Prestasi Rekreasi Lainnya Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 60,38 7,77 7,15 24,70 100,00 Sumatera Utara 79,73 4,14 2,95 13,18 100,00 Sumatera Barat 68,74 9,58 2,52 19,17 100,00 Riau 70,93 7,59 1,92 19,56 100,00 Jambi 78,92 6,48 2,06 12,55 100,00 Sumatera Selatan 71,26 6,39 2,65 19,70 100,00 Bengkulu 64,45 6,61 3,45 25,48 100,00 Lampung 74,70 5,61 1,55 18,15 100,00 Kep. Bangka Belitung 69,99 3,93 1,95 24,13 100,00 Kepulauan Riau 79,97 5,93 3,09 11,01 100,00 DKI Jakarta 83,22 3,48 1,40 11,89 100,00 Jawa Barat 69,18 9,43 3,46 17,94 100,00 Jawa Tengah 66,17 7,42 3,47 22,94 100,00 DI Yogyakarta 82,14 4,85 1,36 11,66 100,00 Jawa Timur 74,75 7,19 2,34 15,72 100,00 Banten 68,40 8,21 3,05 20,34 100,00 Bali 82,69 2,92 1,77 12,62 100,00 Nusa Tenggara Barat 67,94 3,80 0,94 27,32 100,00 Nusa Tenggara Timur 60,80 5,22 5,40 28,58 100,00 Kalimantan Barat 61,18 9,34 2,05 27,43 100,00 Kalimantan Tengah 75,15 2,36 1,46 21,03 100,00 Kalimantan Selatan 67,32 3,55 3,32 25,81 100,00 Kalimantan Timur 82,98 5,67 3,21 8,14 100,00 Sulawesi Utara 67,83 6,37 10,38 15,41 100,00 Sulawesi Tengah 76,90 3,30 2,04 17,77 100,00 Sulawesi Selatan 63,97 5,22 1,43 29,38 100,00 Sulawesi Tenggara 85,81 3,11 4,18 6,90 100,00 Gorontalo 64,00 2,10 1,79 32,10 100,00 Sulawesi Barat 57,12 2,80 0,45 39,64 100,00 Maluku 74,24 4,69 8,96 12,11 100,00 Maluku Utara 75,48 3,82 3,01 17,69 100,00 Papua Barat 72,76 7,99 4,28 14,97 100,00 Papua 75,03 12,96 3,25 8,76 100,00 INDONESIA 72,22 6,96 2,87 17,96 100,00 Sumber: BPS RI Susenas MSBP Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
240 Tabel Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi dan Tujuan Olahraga, 2012 Perdesaan Provinsi Menjaga Kesehatan Prestasi Rekreasi Lainnya Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 55,13 6,82 8,42 29,64 100,00 Sumatera Utara 70,52 6,17 1,72 21,59 100,00 Sumatera Barat 54,58 7,87 2,06 35,48 100,00 Riau 71,34 11,47 4,71 12,48 100,00 Jambi 74,91 7,09 2,44 15,56 100,00 Sumatera Selatan 56,94 7,62 2,48 32,96 100,00 Bengkulu 48,63 3,42 3,13 44,82 100,00 Lampung 51,52 10,90 3,72 33,87 100,00 Kep. Bangka Belitung 65,32 13,61 1,11 19,97 100,00 Kepulauan Riau 76,97 12,52 2,39 8,11 100,00 DKI Jakarta Jawa Barat 56,42 10,68 4,31 28,59 100,00 Jawa Tengah 56,50 8,93 2,70 31,88 100,00 DI Yogyakarta 60,00 19,86 7,97 12,18 100,00 Jawa Timur 58,77 11,25 1,72 28,25 100,00 Banten 60,57 9,82 6,14 23,47 100,00 Bali 72,02 13,43 2,95 11,60 100,00 Nusa Tenggara Barat 55,33 5,70 2,37 36,61 100,00 Nusa Tenggara Timur 44,17 18,38 9,99 27,46 100,00 Kalimantan Barat Kalimantan Tengah 55,12 13,34 7,59 23,95 100,00 Kalimantan Selatan 66,96 6,53 5,54 20,97 100,00 Kalimantan Timur 54,48 4,41 3,81 37,29 100,00 Sulawesi Utara 77,08 10,99 5,01 6,92 100,00 Sulawesi Tengah 71,25 6,93 3,26 18,56 100,00 Sulawesi Selatan 68,03 8,99 1,80 21,18 100,00 Sulawesi Tenggara 38,31 4,34 1,50 55,84 100,00 Gorontalo 57,51 7,17 13,75 21,56 100,00 Sulawesi Barat 51,09 6,12 1,23 41,56 100,00 Maluku 71,05 6,32 4,94 17,69 100,00 Maluku Utara 49,15 11,00 17,68 22,17 100,00 Papua Barat 53,81 15,99 13,17 17,02 100,00 Papua 64,86 6,19 16,57 12,39 100,00 INDONESIA 54,94 17,13 5,03 22,90 100,00 Sumber: BPS RI Susenas MSBP 2012 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
241 Tabel Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi dan Tujuan Olahraga, 2012 Perkotaan+Perdesaan Provinsi Menjaga Kesehatan Prestasi Rekreasi Lainnya Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 56,89 7,14 7,99 27,98 100,00 Sumatera Utara 75,61 5,05 2,40 16,95 100,00 Sumatera Barat 60,68 8,61 2,26 28,45 100,00 Riau 71,16 9,82 3,53 15,49 100,00 Jambi 76,27 6,89 2,31 14,54 100,00 Sumatera Selatan 62,96 7,10 2,55 27,38 100,00 Bengkulu 54,86 4,68 3,26 37,21 100,00 Lampung 59,67 9,03 2,96 28,34 100,00 Kep. Bangka Belitung 67,70 8,67 1,54 22,09 100,00 Kepulauan Riau 79,54 6,87 2,99 10,60 100,00 DKI Jakarta 83,22 3,48 1,40 11,89 100,00 Jawa Barat 65,80 9,76 3,68 20,75 100,00 Jawa Tengah 61,68 8,12 3,11 27,09 100,00 DI Yogyakarta 76,96 8,36 2,90 11,78 100,00 Jawa Timur 68,14 8,87 2,09 20,90 100,00 Banten 66,42 8,62 3,83 21,13 100,00 Bali 79,76 5,81 2,09 12,34 100,00 Nusa Tenggara Barat 61,61 4,75 1,65 31,98 100,00 Nusa Tenggara Timur 48,86 14,67 8,69 27,78 100,00 Kalimantan Barat 57,33 11,88 5,56 25,22 100,00 Kalimantan Tengah 70,53 4,71 3,76 21,00 100,00 Kalimantan Selatan 61,17 3,96 3,55 31,31 100,00 Kalimantan Timur 81,24 7,24 3,74 7,78 100,00 Sulawesi Utara 63,22 6,73 11,89 18,16 100,00 Sulawesi Tengah 71,18 6,97 1,88 19,97 100,00 Sulawesi Selatan 57,22 5,69 1,33 35,76 100,00 Sulawesi Tenggara 76,46 5,14 4,66 13,73 100,00 Gorontalo 67,91 4,70 2,58 24,80 100,00 Sulawesi Barat 43,59 3,91 1,21 51,29 100,00 Maluku 61,47 7,90 13,40 17,23 100,00 Maluku Utara 68,94 5,28 11,35 14,43 100,00 Papua Barat 62,51 13,24 4,71 19,53 100,00 Papua 63,04 14,67 8,86 13,43 100,00 INDONESIA 66,63 8,06 3,27 22,04 100,00 Sumber: BPS RI Susenas MSBP Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
242 Tabel Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi dan Lamanya Melakukan Olahraga (Hari), 2012 Perkotaan Provinsi 1 Hari 2-4 Hari 5-6 Hari 7 Hari Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 59,67 27,27 9,24 3,83 100,00 Sumatera Utara 60,97 27,17 6,65 5,21 100,00 Sumatera Barat 64,13 25,88 4,99 4,99 100,00 Riau 62,95 28,25 2,14 6,66 100,00 Jambi 64,37 25,93 5,71 3,99 100,00 Sumatera Selatan 79,71 17,12 0,63 2,54 100,00 Bengkulu 70,28 34,80 0,74 3,01 100,00 Lampung 63,50 29,29 2,47 4,74 100,00 Kep. Bangka Belitung 60,69 34,80 2,16 2,34 100,00 Kepulauan Riau 53,00 34,74 3,71 8,55 100,00 DKI Jakarta 70,06 23,35 2,57 4,02 100,00 Jawa Barat 76,77 18,09 1,25 3,89 100,00 Jawa Tengah 61,35 28,29 3,34 7,01 100,00 DI Yogyakarta 58,66 32,48 2,54 6,33 100,00 Jawa Timur 61,69 26,89 3,94 7,47 100,00 Banten 73,36 20,91 1,02 4,70 100,00 Bali 56,88 28,59 4,39 10,15 100,00 Nusa Tenggara Barat 65,01 23,76 2,99 8,23 100,00 Nusa Tenggara Timur 68,36 24,35 2,10 5,19 100,00 Kalimantan Barat 69,11 24,61 1,57 4,71 100,00 Kalimantan Tengah 59,44 30,98 6,08 3,49 100,00 Kalimantan Selatan 70,60 24,01 1,51 3,88 100,00 Kalimantan Timur 59,02 36,39 1,42 3,18 100,00 Sulawesi Utara 64,52 25,10 4,76 5,62 100,00 Sulawesi Tengah 66,56 25,55 0,50 7,39 100,00 Sulawesi Selatan 65,19 27,70 2,62 4,49 100,00 Sulawesi Tenggara 59,13 33,90 2,24 4,73 100,00 Gorontalo 85,42 11,82 0,30 2,45 100,00 Sulawesi Barat 70,34 18,39 4,54 6,73 100,00 Maluku 61,14 20,54 8,81 9,51 100,00 Maluku Utara 51,92 40,09 3,54 4,46 100,00 Papua Barat 44,99 40,08 11,66 3,27 100,00 Papua 60,74 31,01 3,58 4,67 100,00 INDONESIA 67,39 24,50 2,75 5,36 100,00 Sumber: BPS RI Susenas MSBP 2012 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
243 Tabel Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi dan Lamanya Melakukan Olahraga (Hari), 2012 Perdesaan Provinsi 1 Hari 2-4 Hari 5-6 Hari 7 Hari Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 51,75 30,58 15,36 2,31 100,00 Sumatera Utara 56,49 28,89 13,14 1,49 100,00 Sumatera Barat 73,99 19,37 2,92 3,72 100,00 Riau 54,73 36,75 3,80 4,72 100,00 Jambi 53,46 38,31 1,88 6,36 100,00 Sumatera Selatan 67,06 27,62 2,30 3,02 100,00 Bengkulu 67,98 24,60 3,58 3,83 100,00 Lampung 70,23 23,89 1,41 4,47 100,00 Kep. Bangka Belitung 48,26 44,07 2,88 4,78 100,00 Kepulauan Riau 44,11 39,98 5,98 9,93 100,00 DKI Jakarta Jawa Barat 72,88 23,84 1,45 1,83 100,00 Jawa Tengah 64,52 24,68 4,07 6,74 100,00 DI Yogyakarta 65,30 28,93 2,11 3,66 100,00 Jawa Timur 65,28 23,95 4,41 6,36 100,00 Banten 72,96 17,85 2,21 6,97 100,00 Bali 54,63 26,07 8,12 11,18 100,00 Nusa Tenggara Barat 67,74 20,39 4,93 6,94 100,00 Nusa Tenggara Timur 78,28 16,59 3,63 1,50 100,00 Kalimantan Barat 67,79 23,69 3,59 4,94 100,00 Kalimantan Tengah 49,15 40,39 7,57 2,89 100,00 Kalimantan Selatan 79,65 15,23 2,21 2,91 100,00 Kalimantan Timur 57,61 35,87 3,41 3,12 100,00 Sulawesi Utara 74,87 15,17 5,02 4,94 100,00 Sulawesi Tengah 66,61 26,36 3,11 3,91 100,00 Sulawesi Selatan 68,42 24,00 1,82 5,75 100,00 Sulawesi Tenggara 67,22 25,08 2,91 4,79 100,00 Gorontalo 66,79 22,90 5,37 4,94 100,00 Sulawesi Barat 59,54 30,79 2,09 7,58 100,00 Maluku 57,76 28,53 10,23 3,48 100,00 Maluku Utara 43,18 40,59 9,16 7,07 100,00 Papua Barat 60,67 31,72 3,74 3,87 100,00 Papua 52,24 40,36 6,33 1,06 100,00 INDONESIA 65,65 25,54 4,14 4,67 100,00 Sumber: BPS RI Susenas MSBP Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
244 Tabel Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi dan Lamanya Melakukan Olahraga (Hari), 2012 Perkotaan+Perdesaan Provinsi 1 Hari 2-4 Hari 5-6 Hari 7 Hari Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 54,40 29,47 13,31 2,82 100,00 Sumatera Utara 58,96 27,94 9,56 3,54 100,00 Sumatera Barat 69,74 22,18 3,81 4,27 100,00 Riau 58,22 33,15 3,09 5,54 100,00 Jambi 57,15 34,11 3,18 5,56 100,00 Sumatera Selatan 72,38 23,20 1,60 2,82 100,00 Bengkulu 68,89 25,14 2,46 3,51 100,00 Lampung 67,86 25,79 1,78 4,56 100,00 Kep. Bangka Belitung 54,60 39,34 2,51 3,54 100,00 Kepulauan Riau 51,73 35,49 4,03 8,75 100,00 DKI Jakarta 70,06 23,35 2,57 4,02 100,00 Jawa Barat 75,74 19,61 1,30 3,35 100,00 Jawa Tengah 62,82 26,61 3,68 6,88 100,00 DI Yogyakarta 60,21 31,65 2,44 5,70 100,00 Jawa Timur 63,18 25,67 4,14 7,01 100,00 Banten 73,26 20,14 1,32 5,28 100,00 Bali 56,26 27,90 5,41 10,43 100,00 Nusa Tenggara Barat 66,38 22,07 3,97 7,59 100,00 Nusa Tenggara Timur 75,48 18,78 3,20 2,54 100,00 Kalimantan Barat 68,27 24,02 2,85 4,85 100,00 Kalimantan Tengah 53,63 36,29 6,92 3,16 100,00 Kalimantan Selatan 74,93 19,81 1,85 3,41 100,00 Kalimantan Timur 58,60 36,23 2,01 3,16 100,00 Sulawesi Utara 69,14 20,66 4,88 5,32 100,00 Sulawesi Tengah 66,59 26,07 2,18 5,15 100,00 Sulawesi Selatan 66,88 25,76 2,20 5,16 100,00 Sulawesi Tenggara 64,26 28,31 2,66 4,77 100,00 Gorontalo 75,39 17,79 3,03 3,79 100,00 Sulawesi Barat 62,58 27,31 2,77 7,34 100,00 Maluku 59,42 24,61 9,53 6,44 100,00 Maluku Utara 46,54 40,40 7,00 6,06 100,00 Papua Barat 54,01 35,27 7,10 3,61 100,00 Papua 55,94 36,29 5,14 2,63 100,00 INDONESIA 66,68 24,92 3,31 5,08 100,00 Sumber: BPS RI Susenas MSBP 2012 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
245 Tabel Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi dan Ratarata Lamanya Melakukan Olahraga per Hari, 2012 Perkotaan Provinsi Menit Menit Menit > 120 Menit Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 45,87 43,54 9,24 1,35 100,00 Sumatera Utara 48,39 42,34 9,00 0,27 100,00 Sumatera Barat 26,99 49,29 21,70 2,03 100,00 Riau 26,71 57,62 15,10 0,58 100,00 Jambi 32,94 51,35 14,88 0,84 100,00 Sumatera Selatan 26,21 52,24 19,29 2,26 100,00 Bengkulu 34,37 52,49 10,30 2,85 100,00 Lampung 48,33 39,34 12,33 0,00 100,00 Kep. Bangka Belitung 26,86 61,10 11,59 0,45 100,00 Kepulauan Riau 51,43 39,06 8,42 1,08 100,00 DKI Jakarta 44,22 47,83 6,86 1,08 100,00 Jawa Barat 26,85 58,35 14,21 0,58 100,00 Jawa Tengah 28,99 50,07 20,05 0,89 100,00 DI Yogyakarta 23,35 49,24 26,71 0,70 100,00 Jawa Timur 36,48 46,40 16,31 0,81 100,00 Banten 32,22 52,46 14,30 1,01 100,00 Bali 28,80 52,54 17,21 1,44 100,00 Nusa Tenggara Barat 31,76 51,66 16,13 0,45 100,00 Nusa Tenggara Timur 20,56 54,91 24,45 0,08 100,00 Kalimantan Barat 30,41 45,56 22,57 1,46 100,00 Kalimantan Tengah 43,93 48,46 7,08 0,53 100,00 Kalimantan Selatan 39,35 46,47 13,39 0,79 100,00 Kalimantan Timur 41,04 44,32 14,15 0,48 100,00 Sulawesi Utara 42,64 42,66 12,98 1,73 100,00 Sulawesi Tengah 50,26 42,36 6,84 0,55 100,00 Sulawesi Selatan 44,94 44,02 9,73 1,32 100,00 Sulawesi Tenggara 48,18 39,36 12,26 0,20 100,00 Gorontalo 49,54 35,15 15,07 0,23 100,00 Sulawesi Barat 39,45 49,80 9,98 0,78 100,00 Maluku 35,23 45,47 17,38 1,92 100,00 Maluku Utara 33,71 58,40 7,22 0,68 100,00 Papua Barat 41,36 44,59 12,22 1,83 100,00 Papua 37,70 39,12 22,16 1,03 100,00 INDONESIA 33,90 50,46 14,81 0,84 100,00 Sumber: BPS RI Susenas MSBP Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
246 Tabel Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi dan Ratarata Lamanya Melakukan Olahraga per Hari, 2012 Perdesaan Provinsi Menit Menit Menit > 120 Menit Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 47,06 42,25 10,61 0,08 100,00 Sumatera Utara 53,32 39,98 6,55 0,14 100,00 Sumatera Barat 32,95 53,17 13,39 0,49 100,00 Riau 40,69 46,48 12,48 0,34 100,00 Jambi 32,22 49,25 18,43 0,09 100,00 Sumatera Selatan 34,67 54,47 10,65 0,20 100,00 Bengkulu 29,38 53,62 16,69 0,30 100,00 Lampung 29,58 59,48 10,90 0,04 100,00 Kep. Bangka Belitung 30,62 56,87 12,24 0,27 100,00 Kepulauan Riau 19,71 71,92 8,04 0,33 100,00 DKI Jakarta Jawa Barat 24,23 61,81 13,34 0,62 100,00 Jawa Tengah 23,74 49,38 26,52 0,36 100,00 DI Yogyakarta 12,04 59,52 27,05 1,39 100,00 Jawa Timur 38,50 41,15 19,62 0,73 100,00 Banten 37,13 18,31 14,13 0,42 100,00 Bali 28,11 60,41 10,75 0,74 100,00 Nusa Tenggara Barat 39,58 45,52 14,77 0,13 100,00 Nusa Tenggara Timur 29,47 52,04 18,17 0,33 100,00 Kalimantan Barat 32,78 48,90 18,31 0,00 100,00 Kalimantan Tengah 38,21 50,22 11,32 0,25 100,00 Kalimantan Selatan 33,78 47,29 18,93 0,00 100,00 Kalimantan Timur 35,43 52,44 11,70 0,42 100,00 Sulawesi Utara 38,91 52,69 8,40 0,00 100,00 Sulawesi Tengah 49,68 41,41 8,55 0,36 100,00 Sulawesi Selatan 49,72 43,17 6,84 0,28 100,00 Sulawesi Tenggara 52,34 40,70 6,96 0,00 100,00 Gorontalo 44,52 47,59 7,60 0,29 100,00 Sulawesi Barat 41,83 51,45 5,98 0,74 100,00 Maluku 39,06 49,05 10,81 1,07 100,00 Maluku Utara 53,20 40,98 5,82 0,00 100,00 Papua Barat 34,86 51,74 12,95 0,45 100,00 Papua 29,95 56,83 12,97 0,24 100,00 INDONESIA 34,20 49,67 15,74 0,40 100,00 Sumber: BPS RI Susenas MSBP 2012 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
247 Tabel Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi dan Ratarata Lamanya Melakukan Olahraga per Hari, 2012 Perkotaan+Perdesaan Provinsi Menit Menit Menit > 120 Menit Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 46,66 42,68 10, ,00 Sumatera Utara 50,60 41,28 7,91 0,21 100,00 Sumatera Barat 30,38 51,50 16,97 1,15 100,00 Riau 34,76 51,21 13,59 0,44 100,00 Jambi 32,47 49,96 17,23 0,34 100,00 Sumatera Selatan 31,11 53,53 14,29 1,07 100,00 Bengkulu 31,35 53,18 14,18 1,30 100,00 Lampung 36,18 52,39 11,40 0,03 100,00 Kep. Bangka Belitung 28,70 59,03 11,91 0,36 100,00 Kepulauan Riau 46,90 43,75 8,37 0,98 100,00 DKI Jakarta 44,22 47,83 6,86 1,08 100,00 Jawa Barat 26,16 59,27 13,98 0,59 100,00 Jawa Tengah 26,55 49,75 23,06 0,64 100,00 DI Yogyakarta 20,71 51,65 26,79 0,86 100,00 Jawa Timur 37,31 44,23 17,68 0,77 100,00 Banten 33,46 51,41 14,26 0,87 100,00 Bali 28,61 54,70 15,44 1,25 100,00 Nusa Tenggara Barat 35,69 48,58 15,45 0,29 100,00 Nusa Tenggara Timur 26,96 52,84 19,94 0,26 100,00 Kalimantan Barat 31,91 47,68 19,87 0,53 100,00 Kalimantan Tengah 40,70 49,46 9,47 0,37 100,00 Kalimantan Selatan 3,668 46,86 16,04 0,41 100,00 Kalimantan Timur 39,38 46,72 13,43 0,46 100,00 Sulawesi Utara 40,97 47,14 10,93 0,96 100,00 Sulawesi Tengah 49,88 41,74 7,94 0,43 100,00 Sulawesi Selatan 47,44 43,57 8,21 0,77 100,00 Sulawesi Tenggara 50,82 40,21 8,90 0,07 100,00 Gorontalo 46,84 41,85 11,05 0,26 100,00 Sulawesi Barat 41,16 50,99 7,10 0,75 100,00 Maluku 37,18 47,29 14,03 1,49 100,00 Maluku Utara 45,71 47,67 6,36 0,26 100,00 Papua Barat 37,62 48,70 12,64 1,04 100,00 Papua 33,32 49,12 16,97 0,58 100,00 INDONESIA 34,02 50,14 15,19 0,66 100,00 Sumber: BPS RI Susenas MSBP Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
248 Tabel Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi dan Jalur Melakukan Olahraga, 2012 Perkotaan Provinsi Sendiri Perkumpulan Sekolah Perkumpulan Perkumpulan Tempat Olahraga Bekerja Lainnya (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 27,41 62,35 14,27 5,96 4,70 Sumatera Utara 21,72 65,03 8,88 6,87 4,19 Sumatera Barat 28,28 55,48 17,25 5,65 6,77 Riau 29,66 57,95 14,35 9,16 5,50 Jambi 29,41 54,88 9,20 12,31 6,31 Sumatera Selatan 26,03 61,29 6,41 9,91 3,63 Bengkulu 26,91 54,17 6,52 9,08 11,44 Lampung 31,19 51,59 10,88 11,52 5,58 Kep. Bangka Belitung 20,56 57,75 16,43 11,35 3,56 Kepulauan Riau 39,67 42,92 10,98 9,27 7,29 DKI Jakarta 45,51 36,81 12,24 11,36 5,88 Jawa Barat 32,60 48,89 12,99 7,84 9,99 Jawa Tengah 31,97 45,70 13,99 8,16 9,00 DI Yogyakarta 35,79 36,47 18,66 10,08 11,33 Jawa Timur 36,46 49,50 12,09 8,79 3,81 Banten 32,67 53,42 10,07 8,92 5,55 Bali 39,82 38,93 14,43 11,89 4,37 Nusa Tenggara Barat 30,83 58,22 10,03 6,59 4,65 Nusa Tenggara Timur 21,93 53,74 9,05 11,22 11,50 Kalimantan Barat 25,93 62,40 12,13 7,99 5,76 Kalimantan Tengah 27,01 49,24 16,68 16,16 4,75 Kalimantan Selatan 26,08 49,72 15,34 11,14 4,68 Kalimantan Timur 30,56 46,97 14,65 18,17 2,13 Sulawesi Utara 40,81 43,79 6,30 11,73 7,42 Sulawesi Tengah 26,64 49,17 11,12 14,86 4,68 Sulawesi Selatan 29,81 52,04 9,64 10,84 7,64 Sulawesi Tenggara 26,02 48,80 10,33 13,75 5,88 Gorontalo 35,69 47,17 5,91 17,31 1,06 Sulawesi Barat 31,78 56,83 4,86 10,04 4,14 Maluku 34,64 44,14 7,72 9,42 15,79 Maluku Utara 38,29 48,34 8,99 12,57 5,67 Papua Barat 37,17 53,64 9,76 17,01 9,32 Papua 20,38 59,28 12,85 13,39 4,34 INDONESIA 33,19 49,12 12,33 9,26 6,94 Sumber: BPS RI Susenas MSBP 2012 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
249 Tabel Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi dan Jalur Melakukan Olahraga, 2012 Perdesaan Provinsi Sendiri Perkumpulan Sekolah Perkumpulan Perkumpulan Tempat Olahraga Bekerja Lainnya (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 11,86 72,74 19,04 3,77 4,06 Sumatera Utara 11,73 75,49 10,97 3,02 8,02 Sumatera Barat 14,01 69,63 12,54 3,53 8,03 Riau 13,76 64,63 24,54 6,40 6,46 Jambi 15,50 60,22 26,04 2,37 7,61 Sumatera Selatan 15,77 70,50 16,65 4,29 5,41 Bengkulu 8,45 72,10 10,13 3,60 9,89 Lampung 10,61 72,44 12,86 3,56 6,74 Kep. Bangka Belitung 3,61 49,06 44,11 1,46 7,13 Kepulauan Riau 5,17 33,62 46,54 3,06 22,76 DKI Jakarta Jawa Barat 17,40 65,13 16,31 4,61 8,95 Jawa Tengah 21,90 59,08 12,99 4,09 10,57 DI Yogyakarta 14,18 61,14 19,67 5,79 13,31 Jawa Timur 22,66 66,84 8,51 3,00 8,08 Banten 20,42 65,14 6,70 4,73 11,85 Bali 29,10 57,82 21,19 4,55 5,95 Nusa Tenggara Barat 19,41 62,68 11,18 2,96 14,16 Nusa Tenggara Timur 9,22 74,31 4,83 3,59 13,03 Kalimantan Barat 9,80 68,91 24,20 4,62 4,93 Kalimantan Tengah 9,73 65,38 25,32 5,26 5,45 Kalimantan Selatan 12,25 74,96 9,68 4,67 5,56 Kalimantan Timur 19,17 61,82 21,90 10,37 2,56 Sulawesi Utara 25,87 65,34 9,72 6,09 4,11 Sulawesi Tengah 14,86 71,36 11,32 4,81 4,23 Sulawesi Selatan 10,39 76,46 8,58 2,85 7,80 Sulawesi Tenggara 16,10 69,64 10,69 3,84 7,12 Gorontalo 10,87 67,09 13,98 5,79 10,99 Sulawesi Barat 28,91 60,95 12,23 4,08 3,97 Maluku 17,49 66,40 14,34 3,60 13,84 Maluku Utara 40,00 47,97 13,79 7,20 7,89 Papua Barat 27,44 55,17 10,10 5,91 13,19 Papua 24,32 50,18 20,15 4,50 12,65 INDONESIA 17,34 66,20 13,80 4,05 8,48 Sumber: BPS RI Susenas MSBP Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
250 Tabel Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi dan Jalur Melakukan Olahraga, 2012 Perkotaan+Perdesaan Provinsi Sendiri Perkumpulan Sekolah Perkumpulan Perkumpulan Tempat Olahraga Bekerja Lainnya (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 17,08 69,26 17,44 4,50 4,28 Sumatera Utara 17,25 69,71 9,82 5,15 5,90 Sumatera Barat 20,16 63,53 14,57 4,44 7,49 Riau 20,51 61,79 20,21 7,57 6,05 Jambi 20,21 58,41 20,33 5,74 7,17 Sumatera Selatan 20,09 66,62 12,34 6,66 4,66 Bengkulu 15,71 65,05 8,71 5,75 10,50 Lampung 17,85 65,10 12,17 6,36 6,34 Kep. Bangka Belitung 12,26 53,49 29,99 6,51 5,31 Kepulauan Riau 34,75 41,60 16,05 8,38 9,50 DKI Jakarta 45,51 36,81 12,24 11,36 5,88 Jawa Barat 28,58 53,19 13,87 6,99 9,72 Jawa Tengah 27,29 51,92 13,53 6,27 9,73 DI Yogyakarta 30,73 42,24 18,90 9,07 11,79 Jawa Timur 30,75 56,67 10,61 6,40 5,57 Banten 29,57 56,38 9,22 7,86 7,14 Bali 36,88 44,12 16,29 9,87 4,80 Nusa Tenggara Barat 25,10 60,46 10,61 4,77 9,42 Nusa Tenggara Timur 12,80 68,51 6,02 5,74 12,60 Kalimantan Barat 15,70 66,53 19,79 5,85 5,23 Kalimantan Tengah 17,25 58,35 21,56 10,01 5,14 Kalimantan Selatan 19,46 61,81 12,63 8,04 5,10 Kalimantan Timur 27,20 51,36 16,79 15,86 2,25 Sulawesi Utara 34,13 53,43 7,83 9,21 5,94 Sulawesi Tengah 19,05 63,46 11,25 8,39 4,39 Sulawesi Selatan 19,63 64,85 9,09 6,65 7,72 Sulawesi Tenggara 19,74 62,00 10,56 7,48 6,67 Gorontalo 22,32 57,90 10,26 11,10 6,41 Sulawesi Barat 29,71 59,79 10,16 5,75 4,02 Maluku 25,91 55,47 11,09 6,46 14,80 Maluku Utara 39,34 48,11 11,94 9,27 7,04 Papua Barat 31,57 54,52 9,95 10,63 11,55 Papua 22,60 54,14 16,97 8,37 9,03 INDONESIA 26,75 56,06 12,92 7,14 7,57 Sumber: BPS RI Susenas MSBP 2012 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
251 Tabel Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi dan Jenis Olahraga yang Paling Sering Dilakukan, 2012 Perkotaan Provinsi SKJ Joging/ Senam Tenis gerak lainnya meja jalan Bola voli Bola Sepak basket bola Bela diri Badminton Renang Lainnya (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) Aceh 22,40 10,37 18,23 0,76 3,63 12,14 2,37 21,89 0,07 0,77 7,38 Sumatera Utara 46,55 7,11 15,09 0,57 1,52 5,67 1,56 15,95 1,52 0,79 3,68 Sumatera Barat 17,28 12,18 23,19 0,33 4,27 6,35 4,92 20,59 2,19 1,30 7,42 Riau 28,31 10,04 15,57 0,54 1,30 11,62 2,00 19,85 0,83 0,57 9,38 Jambi 32,28 10,87 24,22 0,80 1,77 4,82 2,58 13,34 0,70 0,00 8,62 Sumatera Selatan 30,63 22,85 17,74 0,50 1,11 5,62 4,59 9,75 0,61 0,00 6,59 Bengkulu 28,01 18,87 18,12 0,00 2,51 4,12 4,49 17,05 0,56 0,45 5,82 Lampung 33,18 11,63 21,06 0,78 2,37 3,86 2,93 14,47 1,41 1,94 6,38 Kep. Bangka Belitung 46,77 4,91 16,72 0,00 2,66 2,35 2,45 14,85 0,27 1,47 7,55 Kepulauan Riau 22,42 18,87 35,72 0,20 2,43 2,64 1,24 8,32 3,13 0,19 4,83 DKI Jakarta 21,24 11,68 28,70 0,42 1,57 2,52 4,13 13,22 2,49 1,00 13,03 Jawa Barat 18,89 13,37 24,23 0,42 3,05 4,12 5,41 16,96 1,41 0,68 11,46 Jawa Tengah 17,02 14,17 26,88 0,55 3,86 4,84 3,16 16,25 1,35 0,70 11,22 DI Yogyakarta 12,79 20,16 24,01 0,85 5,12 3,40 4,32 11,78 1,74 1,34 14,49 Jawa Timur 19,11 13,43 27,17 0,23 2,25 7,19 2,91 16,17 1,41 0,88 9,25 Banten 23,22 14,06 20,61 0,16 2,29 3,86 4,50 20,27 2,00 0,58 8,44 Bali 15,49 8,84 33,27 0,48 3,21 3,39 3,50 15,13 1,39 1,51 13,79 Nusa Tenggara Barat 23,60 14,92 22,72 0,34 3,13 4,88 4,17 17,73 0,10 0,51 7,91 Nusa Tenggara Timur 27,00 14,13 18,47 0,18 1,29 12,45 0,54 19,37 0,00 3,48 3,08 Kalimantan Barat 16,19 20,11 17,40 0,00 1,38 13,95 3,76 16,09 0,45 0,28 10,40 Kalimantan Tengah 37,70 8,95 19,75 0,63 6,15 5,29 1,70 10,94 0,00 1,41 7,48 Kalimantan Selatan 26,67 15,83 20,59 0,83 1,39 4,34 3,49 15,24 0,15 1,46 10,01 Kalimantan Timur 31,37 14,34 24,46 1,09 4,40 3,99 2,94 11,12 0,06 0,42 5,81 Sulawesi Utara 24,27 11,73 24,05 1,49 1,64 4,07 3,72 16,10 0,58 0,45 11,89 Sulawesi Tengah 36,88 17,17 13,27 0,85 2,12 2,93 0,52 11,70 0,41 0,58 13,55 Sulawesi Selatan 32,71 11,18 18,49 0,99 4,98 3,91 4,06 11,68 0,76 0,53 10,71 Sulawesi Tenggara 41,12 8,11 11,07 0,00 2,67 3,76 1,91 20,03 0,30 0,16 10,86 Gorontalo 39,29 16,04 18,13 1,77 2,06 3,77 0,29 10,79 0,00 0,36 7,50 Sulawesi Barat 19,29 6,47 19,77 0,00 5,62 16,52 4,85 16,19 0,54 0,82 9,92 Maluku 24,96 5,93 27,43 0,26 3,24 7,31 1,25 24,17 0,53 0,93 3,99 Maluku Utara 24,93 11,98 17,12 0,44 1,19 3,56 1,74 33,58 0,00 0,00 5,46 Papua Barat 28,33 13,37 11,26 0,66 2,92 8,38 8,37 18,33 1,30 0,65 6,44 Papua 24,28 20,30 20,61 0,49 1,62 4,72 3,63 18,52 0,00 1,06 4,77 INDONESIA 22,45 13,36 24,05 0,46 2,79 5,00 3,80 16,00 1,37 0,79 9,94 Sumber: BPS RI Susenas MSBP Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
252 Tabel Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi dan Jenis Olahraga yang Paling Sering Dilakukan, 2012 Perdesaan Provinsi SKJ Joging/ Senam Tenis gerak lainnya meja jalan Bola voli Bola Sepak basket bola Bela diri Badminton Renang Lainnya (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) Aceh 28,83 7,17 7,31 0,33 1,84 17,20 0,95 33,11 0,07 0,19 2,99 Sumatera Utara 47,18 7,73 6,15 1,48 2,06 11,77 0,92 19,71 0,36 0,16 2,50 Sumatera Barat 20,22 11,77 9,97 0,08 3,10 17,49 5,20 24,81 0,34 0,46 6,56 Riau 32,48 4,99 5,59 0,25 3,37 23,89 1,06 22,42 0,19 0,37 5,39 Jambi 31,65 5,90 11,00 0,57 3,21 16,03 1,25 27,83 0,19 0,31 2,06 Sumatera Selatan 37,69 10,59 6,94 0,54 2,94 16,71 1,32 20,12 0,04 0,09 3,01 Bengkulu 39,09 6,96 4,75 0,00 1,52 17,25 3,43 23,01 0,30 0,43 3,26 Lampung 40,97 12,42 8,28 0,11 2,71 10,15 0,50 19,68 0,22 1,32 3,63 Kep. Bangka Belitung 39,30 2,77 2,26 0,00 3,15 15,27 1,07 35,44 0,00 0,00 0,73 Kepulauan Riau 22,78 9,57 2,73 0,00 0,00 13,98 0,00 47,75 0,66 0,00 2,54 DKI Jakarta Jawa Barat 20,51 13,47 12,46 0,26 1,41 12,51 2,12 31,09 0,37 0,39 5,40 Jawa Tengah 19,41 10,75 18,57 0,44 2,86 10,35 2,39 25,44 0,21 0,67 8,91 DI Yogyakarta 9,53 24,52 11,74 0,00 2,71 7,43 3,28 30,02 1,53 0,98 8,26 Jawa Timur 26,73 12,84 18,51 0,43 1,04 10,99 1,88 22,72 0,67 0,95 3,24 Banten 29,27 15,70 11,99 0,00 1,03 4,96 1,63 31,15 0,09 0,05 4,13 Bali 12,21 9,67 11,94 2,78 3,28 10,61 2,23 30,20 1,22 0,00 15,85 Nusa Tenggara Barat 28,46 15,28 16,32 0,68 0,78 7,09 2,17 22,34 0,00 1,12 5,76 Nusa Tenggara Timur 25,06 15,20 7,72 0,30 0,52 24,13 0,61 23,72 0,19 0,27 2,28 Kalimantan Barat 20,76 15,11 8,04 0,21 1,22 19,87 1,84 30,73 0,25 0,16 1,81 Kalimantan Tengah 34,23 7,08 4,95 0,25 2,95 27,71 0,65 21,04 0,00 0,35 0,79 Kalimantan Selatan 36,14 12,60 7,18 0,50 4,76 14,11 1,70 20,18 0,00 0,41 2,44 Kalimantan Timur 35,92 11,86 7,35 0,46 4,33 8,02 2,10 26,05 0,00 0,57 3,33 Sulawesi Utara 20,74 16,51 14,43 0,71 1,77 11,27 1,69 26,16 0,23 0,15 6,34 Sulawesi Tengah 49,39 10,61 5,38 0,00 1,21 7,76 0,12 20,86 0,39 0,35 3,92 Sulawesi Selatan 45,08 9,94 6,50 0,77 1,72 8,49 2,01 20,94 0,00 0,20 4,37 Sulawesi Tenggara 52,98 3,19 4,50 2,97 0,23 9,27 0,84 20,98 0,00 0,45 4,57 Gorontalo 47,66 6,91 3,85 0,54 2,51 9,75 0,58 21,32 0,00 0,00 6,87 Sulawesi Barat 28,89 10,89 6,85 0,73 3,10 22,35 2,48 22,58 0,00 0,56 1,56 Maluku 22,61 13,83 8,74 0,33 0,46 13,53 0,00 36,21 0,00 0,00 4,30 Maluku Utara 17,38 13,79 10,85 0,57 1,11 10,11 0,22 44,41 0,00 0,00 1,57 Papua Barat 14,46 10,26 18,84 0,00 1,53 10,86 3,19 26,69 0,24 1,46 12,47 Papua 12,72 13,64 13,19 0,42 0,59 32,13 0,49 26,41 0,25 0,00 0,17 INDONESIA 28,52 11,50 12,03 0,47 2,00 12,93 1,78 25,20 0,30 0,52 4,77 Sumber: BPS RI Susenas MSBP 2012 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
253 Tabel Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi dan Jenis Olahraga yang Paling Sering Dilakukan, 2012 Perkotaan+Perdesaan Provinsi SKJ Joging/ Senam Tenis gerak lainnya meja jalan Bola voli Bola Sepak basket bola Bela diri Badminton Renang Lainnya (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) Aceh 26,68 8,24 10,97 0,47 2,44 15,50 1,43 29,34 0,07 0,39 4,46 Sumatera Utara 46,83 7,38 11,09 0,97 1,76 8,40 1,27 17,63 1,00 0,51 3,15 Sumatera Barat 18,95 11,95 15,67 0,18 3,61 12,69 5,08 22,99 1,14 0,82 6,93 Riau 30,71 7,13 9,83 0,37 2,49 18,68 1,46 21,33 0,46 0,46 7,08 Jambi 31,86 7,58 15,48 0,65 2,72 12,23 1,70 22,93 0,36 0,20 4,28 Sumatera Selatan 34,72 15,75 11,49 0,53 2,17 12,04 2,70 15,75 0,28 0,05 4,52 Bengkulu 34,73 11,64 10,01 0,00 1,91 12,08 3,85 20,66 0,40 0,44 4,27 Lampung 38,23 12,14 12,78 0,35 2,59 7,94 1,36 17,85 0,64 1,53 4,59 Kep. Bangka Belitung 43,11 3,86 9,64 0,00 2,90 8,68 1,78 24,93 0,14 0,75 4,21 Kepulauan Riau 22,47 17,54 31,01 0,17 2,08 4,26 1,06 13,95 2,77 0,16 4,50 DKI Jakarta 21,24 11,68 28,70 0,42 1,57 2,52 4,13 13,22 2,49 1,00 13,03 Jawa Barat 19,32 13,40 21,12 0,38 2,62 6,34 4,54 20,70 1,13 0,60 9,86 Jawa Tengah 18,13 12,58 23,02 0,50 3,40 7,40 2,80 20,52 0,82 0,69 10,15 DI Yogyakarta 12,03 21,18 21,14 0,65 4,56 4,34 4,08 16,05 1,69 1,26 13,03 Jawa Timur 22,26 13,19 23,59 0,31 1,75 8,76 2,48 18,88 1,10 0,91 6,77 Banten 24,75 14,48 18,43 0,12 1,97 4,14 3,78 23,02 1,52 0,45 7,35 Bali 14,59 9,07 27,41 1,11 3,23 5,38 3,15 19,27 1,34 1,10 14,36 Nusa Tenggara Barat 26,04 15,10 19,51 0,51 1,95 5,99 3,17 20,04 0,05 0,81 6,83 Nusa Tenggara Timur 25,60 14,90 10,75 0,27 0,74 20,84 0,59 22,49 0,14 1,18 2,51 Kalimantan Barat 19,09 16,94 11,46 0,13 1,28 17,70 2,54 25,38 0,32 0,20 4,95 Kalimantan Tengah 35,74 7,90 11,39 0,41 4,34 17,95 1,11 16,64 0,00 0,81 3,70 Kalimantan Selatan 31,20 14,28 14,17 0,68 3,00 9,01 2,63 17,60 0,08 0,96 6,39 Kalimantan Timur 32,72 13,61 19,41 0,90 4,38 5,18 2,69 15,53 0,04 0,46 5,07 Sulawesi Utara 22,69 13,87 19,75 1,14 1,70 7,29 2,81 20,60 0,42 0,32 9,41 Sulawesi Tengah 44,94 12,95 8,19 0,30 1,53 6,04 0,26 17,60 0,39 0,44 7,35 Sulawesi Selatan 39,19 10,53 12,20 0,88 3,27 6,31 2,98 16,54 0,36 0,36 7,38 Sulawesi Tenggara 48,63 5,00 6,91 1,88 1,12 7,25 1,24 20,63 0,11 0,34 6,88 Gorontalo 43,80 11,12 10,44 1,11 2,30 6,99 0,45 16,47 0,00 0,17 7,16 Sulawesi Barat 26,19 9,65 10,48 0,53 3,81 20,71 3,14 20,79 0,15 0,64 3,91 Maluku 23,76 9,95 17,92 0,29 1,82 10,47 0,62 30,30 0,26 0,46 4,15 Maluku Utara 20,28 13,09 13,26 0,52 1,14 7,59 0,80 40,25 0,00 0,00 3,06 Papua Barat 20,35 11,58 15,62 0,28 2,12 9,81 5,39 23,14 0,69 1,11 9,91 Papua 17,75 16,54 16,41 0,45 1,04 20,20 1,86 22,97 0,14 0,46 2,17 INDONESIA 24,92 12,60 19,16 0,46 2,46 8,23 2,98 19,74 0,93 0,68 7,84 Sumber: BPS RI Susenas MSBP Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
254 Tabel Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Fasilitas Lapangan Sepak Bola menurut Provinsi, Provinsi Tahun (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 30,77 36,11 37,06 35,18 37,84 Sumatera Utara 34,43 33,43 34,33 28,95 30,19 Sumatera Barat 61,26 63,82 69,05 48,60 65,76 Riau 86,95 84,56 85,72 85,62 83,43 Jambi 77,63 70,85 76,21 76,53 72,66 Sumatera Selatan 46,40 47,34 50,80 48,46 51,87 Bengkulu 46,78 44,69 41,08 36,12 38,58 Lampung 76,60 75,81 73,96 67,25 68,73 Kep. Bangka Belitung 92,43 94,39 93,02 89,47 91,60 Kepulauan Riau 75,69 83,44 83,29 84,58 DKI Jakarta 59,55 56,55 54,31 53,56 51,69 Jawa Barat 73,81 73,93 72,10 65,83 68,43 Jawa Tengah 70,04 69,79 72,68 66,64 73,15 DI Yogyakarta 81,96 80,37 82,65 77,85 85,62 Jawa Timur 54,75 52,61 57,04 55,49 59,63 Banten 67,34 61,00 62,70 54,79 56,29 Bali 38,48 38,66 35,81 32,96 31,28 Nusa Tenggara Barat 56,50 60,24 54,65 49,63 51,18 Nusa Tenggara Timur 53,61 47,97 49,66 36,92 45,17 Kalimantan Barat 80,06 79,61 83,75 70,82 81,98 Kalimantan Tengah 59,40 60,77 59,19 53,40 60,10 Kalimantan Selatan 46,13 36,60 41,13 36,05 44,52 Kalimantan Timur 70,28 74,33 72,27 70,31 72,36 Sulawesi Utara 58,11 51,54 39,09 33,31 41,18 Sulawesi Tengah 83,96 81,37 61,74 66,23 74,02 Sulawesi Selatan 62,26 48,30 55,70 52,41 56,67 Sulawesi Tenggara 61,64 57,74 52,17 40,74 45,07 Gorontalo 72,61 55,78 51,71 42,82 46,47 Sulawesi Barat 57,65 46,71 55,56 Maluku 73,80 69,53 58,83 46,48 57,63 Maluku Utara 71,39 68,37 60,42 59,78 52,76 Papua Barat 27,67 17,79 20,93 Papua 36,16 29,08 31,70 19,14 24,53 INDONESIA 57,95 56,19 56,10 50,50 54,38 Keterangan: Data 2003 dan 2005 masih bergabung dengan provinsi induk Sumber: BPS RI Statistik Podes Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
255 Tabel Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Fasilitas Lapangan Bola Voli menurut Provinsi, Provinsi Tahun (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 57,41 64,48 62,14 54,39 53,73 Sumatera Utara 54,84 54,12 54,99 44,71 44,18 Sumatera Barat 87,20 89,23 87,77 78,61 81,40 Riau 97,29 97,77 98,13 96,07 94,82 Jambi 92,94 92,71 91,56 88,70 82,91 Sumatera Selatan 95,35 94,31 93,11 84,37 86,01 Bengkulu 92,52 89,79 87,64 74,55 69,26 Lampung 93,52 95,03 90,81 81,01 78,99 Kep. Bangka Belitung 97,16 96,57 96,22 93,91 90,81 Kepulauan Riau 98,82 99,08 97,17 96,87 DKI Jakarta 92,51 90,64 89,14 80,15 80,52 Jawa Barat 94,91 94,66 94,26 87,55 81,82 Jawa Tengah 86,09 86,17 83,80 74,32 69,91 DI Yogyakarta 96,12 97,72 96,12 95,21 92,92 Jawa Timur 77,42 78,34 81,63 74,01 69,95 Banten 86,34 89,14 84,71 74,79 65,25 Bali 86,15 89,02 86,66 76,26 74,86 Nusa Tenggara Barat 76,02 81,59 73,27 59,41 54,78 Nusa Tenggara Timur 82,04 72,89 78,49 63,28 65,41 Kalimantan Barat 94,58 94,18 95,25 86,78 91,13 Kalimantan Tengah 89,10 88,53 89,64 85,01 88,53 Kalimantan Selatan 56,08 54,26 53,34 42,45 42,38 Kalimantan Timur 79,98 84,15 82,07 80,61 81,66 Sulawesi Utara 70,90 62,49 57,16 39,04 40,80 Sulawesi Tengah 95,00 91,44 85,88 82,20 85,80 Sulawesi Selatan 82,85 74,19 74,30 60,09 59,64 Sulawesi Tenggara 91,37 91,93 86,79 70,01 72,32 Gorontalo 84,04 74,44 76,88 57,05 59,10 Sulawesi Barat 89,93 74,45 80,25 Maluku 82,42 80,41 76,82 62,40 68,29 Maluku Utara 68,83 68,89 59,17 50,79 46,24 Papua Barat 53,19 39,12 42,37 Papua 60,54 55,88 63,15 39,58 44,82 INDONESIA 79,54 79,35 78,09 68,15 66,89 Keterangan: Data 2003 dan 2005 masih bergabung dengan provinsi induk Sumber: BPS RI Statistik Podes Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
256 Tabel Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Fasilitas Lapangan Bulu Tangkis menurut Provinsi, Provinsi Tahun (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 9,19 13,34 13,84 12,22 13,59 Sumatera Utara 29,91 34,10 38,53 32,86 31,37 Sumatera Barat 70,86 72,81 75,76 65,34 63,41 Riau 71,57 76,78 78,62 76,86 77,22 Jambi 70,90 72,06 75,67 75,00 71,89 Sumatera Selatan 63,72 67,24 71,52 64,75 68,67 Bengkulu 38,61 31,94 46,04 38,90 37,01 Lampung 71,99 71,88 80,68 73,30 73,18 Kep. Bangka Belitung 83,60 75,70 80,23 80,06 80,84 Kepulauan Riau 55,69 52,15 50,99 45,06 DKI Jakarta 97,00 97,38 96,25 95,13 93,63 Jawa Barat 81,23 82,27 82,52 76,68 73,38 Jawa Tengah 67,15 69,64 71,82 66,98 61,40 DI Yogyakarta 88,36 92,01 94,52 91,10 89,73 Jawa Timur 36,47 39,96 45,44 38,92 37,59 Banten 53,55 60,93 66,09 57,98 50,81 Bali 53,35 56,21 60,96 60,89 55,03 Nusa Tenggara Barat 54,07 58,05 62,21 50,37 45,31 Nusa Tenggara Timur 12,98 7,82 13,99 9,54 8,62 Kalimantan Barat 45,38 45,49 44,78 42,76 48,17 Kalimantan Tengah 49,17 45,67 53,45 54,45 58,70 Kalimantan Selatan 48,08 49,41 53,50 49,30 52,39 Kalimantan Timur 51,50 55,65 58,36 59,73 60,73 Sulawesi Utara 56,52 45,00 43,78 29,24 31,54 Sulawesi Tengah 34,93 37,12 42,35 33,06 34,29 Sulawesi Selatan 54,77 48,02 49,69 41,35 40,56 Sulawesi Tenggara 34,78 33,41 34,86 27,63 32,17 Gorontalo 48,14 41,33 52,23 35,43 33,02 Sulawesi Barat 52,61 39,81 36,42 Maluku 13,28 12,60 13,02 9,38 10,48 Maluku Utara 12,28 11,78 14,29 11,40 9,70 Papua Barat 4,44 5,00 5,49 Papua 5,96 6,29 5,48 3,75 3,10 INDONESIA 46,05 47,25 49,34 43,74 42,34 Keterangan: Data 2003 dan 2005 masih bergabung dengan provinsi induk Sumber: BPS RI Statistik Podes Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
257 Tabel Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Fasilitas Lapangan Bola Basket menurut Provinsi, Provinsi Tahun (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 0,73 1,29 1,46 1,47 1,55 Sumatera Utara 2,16 2,77 2,48 2,38 2,13 Sumatera Barat 15,77 23,20 21,75 16,75 18,08 Riau 7,20 7,04 7,98 9,37 7,96 Jambi 4,04 5,59 6,52 8,31 6,19 Sumatera Selatan 4,43 4,82 5,29 5,65 5,28 Bengkulu 4,90 4,49 6,51 6,36 6,01 Lampung 4,04 5,48 5,56 5,19 6,53 Kep. Bangka Belitung 14,83 16,82 19,19 15,24 15,49 Kepulauan Riau 15,29 17,48 17,00 15,66 DKI Jakarta 69,66 63,30 65,17 69,66 70,41 Jawa Barat 12,09 15,12 16,85 14,94 14,21 Jawa Tengah 5,48 7,24 8,44 7,64 6,94 DI Yogyakarta 24,66 22,37 24,66 26,03 22,37 Jawa Timur 5,07 6,94 7,16 6,21 6,39 Banten 10,68 13,36 13,63 12,51 10,25 Bali 12,97 17,12 14,89 12,71 12,71 Nusa Tenggara Barat 8,40 11,22 8,21 6,37 7,10 Nusa Tenggara Timur 1,37 1,32 3,00 1,96 2,39 Kalimantan Barat 3,96 3,86 4,58 4,52 4,27 Kalimantan Tengah 2,48 3,48 4,42 4,65 5,16 Kalimantan Selatan 5,85 6,89 7,09 5,95 6,97 Kalimantan Timur 4,85 6,92 7,97 8,33 8,50 Sulawesi Utara 4,60 5,83 6,36 4,13 4,08 Sulawesi Tengah 1,94 4,18 4,09 2,20 2,37 Sulawesi Selatan 5,32 6,76 8,49 6,87 7,19 Sulawesi Tenggara 2,05 2,49 3,70 2,22 2,73 Gorontalo 5,05 6,67 9,08 4,92 4,76 Sulawesi Barat 5,04 3,45 4,78 Maluku 2,15 3,09 3,64 2,54 4,41 Maluku Utara 1,48 2,18 2,32 1,48 1,17 Papua Barat 1,84 2,50 1,98 Papua 1,68 2,40 3,07 1,61 1,56 INDONESIA 5,31 6,70 7,10 6,27 6,08 Keterangan: Data 2003 dan 2005 masih bergabung dengan provinsi induk Sumber: BPS RI Statistik Podes Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
258 Tabel Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Fasilitas Lapangan Tenis Lapangan menurut Provinsi, Provinsi Tahun (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 1,34 1,24 1,46 1,17 1,32 Sumatera Utara 2,94 3,21 3,29 3,29 3,00 Sumatera Barat 7,66 8,88 10,28 7,94 8,56 Riau 7,02 5,35 4,43 6,22 4,90 Jambi 3,20 2,75 3,84 4,15 3,48 Sumatera Selatan 3,25 3,24 3,83 3,20 3,09 Bengkulu 2,24 2,70 2,74 2,19 2,22 Lampung 3,15 2,78 2,61 2,72 2,51 Kep. Bangka Belitung 8,83 8,10 8,43 7,76 7,09 Kepulauan Riau 18,43 13,80 12,75 11,81 DKI Jakarta 65,17 55,06 51,69 53,18 53,18 Jawa Barat 9,14 9,35 9,40 9,06 8,19 Jawa Tengah 6,93 7,11 7,71 6,95 7,03 DI Yogyakarta 23,06 22,83 23,74 21,69 21,00 Jawa Timur 5,53 5,74 6,23 5,66 5,07 Banten 6,90 7,56 7,45 8,08 5,16 Bali 8,02 11,27 9,97 6,84 6,42 Nusa Tenggara Barat 5,42 5,24 4,16 4,61 4,03 Nusa Tenggara Timur 1,37 0,91 1,43 1,01 1,25 Kalimantan Barat 3,54 3,14 2,96 2,80 2,66 Kalimantan Tengah 2,18 2,29 2,56 2,29 3,00 Kalimantan Selatan 3,34 3,47 3,70 3,05 3,78 Kalimantan Timur 5,93 6,18 6,00 5,60 5,51 Sulawesi Utara 4,43 4,33 3,08 2,48 1,80 Sulawesi Tengah 2,71 2,68 3,32 2,53 2,62 Sulawesi Selatan 6,91 6,79 8,83 7,01 6,30 Sulawesi Tenggara 2,43 2,26 2,27 1,89 1,63 Gorontalo 3,19 2,22 2,91 1,50 1,90 Sulawesi Barat 7,09 4,08 4,78 Maluku 2,15 2,41 2,76 1,86 1,56 Maluku Utara 1,75 2,30 2,22 1,20 1,76 Papua Barat 0,97 1,04 1,28 Papua 1,43 1,59 1,66 0,89 0,57 INDONESIA 4,96 5,03 5,10 4,55 4,21 Keterangan: Data 2003 dan 2005 masih bergabung dengan provinsi induk Sumber: BPS RI Statistik Podes Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
259 Tabel Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Fasilitas Gelanggang Renang menurut Provinsi, Provinsi Tahun (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 0,23 0,59 0,14 0,86 0,26 Sumatera Utara 0,93 1,63 1,25 2,81 1,64 Sumatera Barat 1,94 4,00 4,00 8,52 2,53 Riau 2,58 2,78 3,37 8,70 3,16 Jambi 0,76 2,91 2,61 5,39 1,42 Sumatera Selatan 0,78 2,41 1,69 4,90 1,39 Bengkulu 0,69 2,53 1,78 1,06 1,04 Lampung 0,80 2,28 2,57 3,45 2,39 Kep. Bangka Belitung 2,52 3,74 2,33 1,66 3,94 Kepulauan Riau 7,84 5,83 11,05 7,23 DKI Jakarta 24,72 20,97 22,85 36,33 24,34 Jawa Barat 4,50 6,65 7,90 14,12 8,81 Jawa Tengah 1,44 2,64 3,29 6,46 3,77 DI Yogyakarta 4,57 8,45 9,82 14,84 13,70 Jawa Timur 1,68 2,63 3,64 5,47 4,94 Banten 3,18 5,06 6,45 10,49 6,71 Bali 2,48 4,99 5,06 6,98 3,21 Nusa Tenggara Barat 1,90 3,17 3,18 6,27 2,54 Nusa Tenggara Timur 0,43 0,58 0,50 0,71 0,31 Kalimantan Barat 0,49 1,76 1,40 3,36 0,85 Kalimantan Tengah 0,45 2,07 1,24 3,66 0,96 Kalimantan Selatan 0,56 1,12 0,76 2,15 0,95 Kalimantan Timur 1,46 3,72 1,76 5,60 2,59 Sulawesi Utara 1,42 3,47 1,74 4,90 1,63 Sulawesi Tengah 0,21 1,37 0,36 1,16 0,30 Sulawesi Selatan 1,75 2,68 2,14 5,60 1,72 Sulawesi Tenggara 0,32 0,42 1,38 2,78 0,40 Gorontalo 2,13 1,33 1,54 2,33 0,68 Sulawesi Barat 0,75 3,29 0,62 Maluku 1,08 1,60 1,32 0,39 0,55 Maluku Utara 0,40 0,90 0,10 0,46 0,08 Papua Barat 0,33 0,97 0,19 Papua 0,37 0,63 0,08 0,74 0,29 INDONESIA 1,51 2,61 2,58 4,85 2,65 Keterangan: Data 2003 dan 2005 masih bergabung dengan provinsi induk Sumber: BPS RI Statistik Podes Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
260 Tabel Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Kelompok Kegiatan Olahraga Sepak Bola menurut Provinsi, Provinsi Tahun (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 48,73 56,25 60,26 56,36 63,81 Sumatera Utara 43,61 44,29 44,29 38,92 36,88 Sumatera Barat 73,49 71,59 76,95 69,12 68,03 Riau 89,72 86,12 87,59 88,70 85,29 Jambi 87,22 83,08 87,72 86,95 87,81 Sumatera Selatan 50,20 50,18 59,92 62,30 62,03 Bengkulu 64,23 61,60 66,25 63,55 63,19 Lampung 81,77 79,92 82,43 80,36 78,27 Kep. Bangka Belitung 94,64 96,57 96,22 90,30 90,03 Kepulauan Riau 94,90 88,65 85,55 87,95 DKI Jakarta 73,41 73,03 69,29 56,18 48,31 Jawa Barat 90,86 88,77 91,23 82,02 79,25 Jawa Tengah 79,78 77,42 78,68 73,73 69,34 DI Yogyakarta 87,67 89,04 88,58 87,67 85,16 Jawa Timur 64,84 64,65 65,66 62,47 56,56 Banten 92,43 90,35 89,69 83,84 77,89 Bali 46,06 48,64 48,46 43,85 36,73 Nusa Tenggara Barat 87,40 88,78 83,13 78,51 79,84 Nusa Tenggara Timur 65,53 58,09 63,61 41,91 32,11 Kalimantan Barat 83,46 85,75 87,49 73,31 79,04 Kalimantan Tengah 58,35 61,88 59,94 54,32 62,14 Kalimantan Selatan 73,78 73,97 68,79 58,50 63,25 Kalimantan Timur 73,98 74,78 73,96 71,74 70,70 Sulawesi Utara 81,52 70,53 62,85 39,81 41,99 Sulawesi Tengah 87,15 86,99 83,39 73,17 78,75 Sulawesi Selatan 76,82 72,82 70,67 64,72 64,85 Sulawesi Tenggara 81,07 66,05 66,47 53,18 37,85 Gorontalo 81,91 23,11 63,53 51,03 56,39 Sulawesi Barat 61,19 54,23 61,27 Maluku 76,67 82,47 66,00 56,15 41,91 Maluku Utara 86,23 87,45 83,20 72,47 55,85 Papua 36,60 24,60 22,46 Papua Barat 39,38 38,45 32,44 24,34 16,75 INDONESIA 69,41 68,47 68,63 61,67 59,02 Keterangan: Data 2003 dan 2005 masih bergabung dengan provinsi induk Sumber: BPS RI Statistik Podes Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
261 Tabel Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Kelompok Kegiatan Olahraga Bola Voli menurut Provinsi, Provinsi Tahun (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 60,81 70,66 69,52 59,32 61,50 Sumatera Utara 52,97 54,40 53,93 41,45 37,60 Sumatera Barat 82,97 83,35 83,44 71,15 69,69 Riau 94,83 95,73 94,89 91,30 90,74 Jambi 91,76 90,77 91,17 86,30 84,78 Sumatera Selatan 93,24 90,06 91,78 81,14 82,58 Bengkulu 92,43 85,05 89,93 77,93 73,04 Lampung 92,81 92,79 89,35 80,52 77,55 Kep. Bangka Belitung 94,32 94,39 94,77 90,86 86,61 Kepulauan Riau 97,25 98,16 90,08 92,05 DKI Jakarta 83,52 83,90 80,90 64,79 59,93 Jawa Barat 94,11 93,56 93,66 82,90 75,18 Jawa Tengah 83,86 82,02 80,70 67,76 55,99 DI Yogyakarta 96,80 97,03 94,98 92,92 86,30 Jawa Timur 75,16 76,04 78,05 68,96 58,17 Banten 89,93 91,43 89,43 78,57 64,41 Bali 82,94 85,45 83,01 65,50 61,45 Nusa Tenggara Barat 88,21 90,00 80,50 71,77 61,52 Nusa Tenggara Timur 77,69 71,50 78,70 49,39 36,51 Kalimantan Barat 87,14 89,87 91,29 72,90 78,71 Kalimantan Tengah 76,54 82,90 84,46 68,85 74,31 Kalimantan Selatan 58,44 59,47 54,91 39,30 36,21 Kalimantan Timur 75,21 78,20 77,91 73,45 71,03 Sulawesi Utara 73,41 61,31 62,32 29,89 29,68 Sulawesi Tengah 91,32 90,13 89,38 74,55 78,85 Sulawesi Selatan 81,87 75,02 72,13 55,43 54,42 Sulawesi Tenggara 88,43 75,01 72,49 52,57 36,84 Gorontalo 83,24 29,78 71,23 44,87 47,69 Sulawesi Barat 73,32 62,70 62,96 Maluku 79,31 85,34 74,06 58,30 43,01 Maluku Utara 71,79 75,16 66,80 51,07 37,63 Papua Barat 52,28 34,95 31,21 Papua 47,31 47,26 50,41 32,77 24,33 INDONESIA 77,54 77,40 76,85 63,32 57,55 Keterangan: Data 2003 dan 2005 masih bergabung dengan provinsi induk Sumber: BPS RI Statistik Podes Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
262 Tabel Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Kelompok Kegiatan Olahraga Bulu Tangkis menurut Provinsi, Provinsi Tahun (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 10,22 14,76 16,78 13,68 15,16 Sumatera Utara 28,33 32,96 36,52 27,05 24,71 Sumatera Barat 61,03 64,93 67,75 57,31 50,31 Riau 68,00 73,87 73,88 70,27 70,03 Jambi 73,00 76,36 78,59 76,17 71,63 Sumatera Selatan 59,66 61,52 69,47 60,30 60,77 Bengkulu 36,20 28,43 49,74 35,32 37,92 Lampung 67,01 64,72 75,76 68,30 67,71 Kep. Bangka Belitung 76,34 61,68 70,93 67,04 70,60 Kepulauan Riau 52,55 52,15 42,49 38,55 DKI Jakarta 89,14 91,76 89,51 82,02 76,03 Jawa Barat 79,82 82,01 83,43 71,31 64,89 Jawa Tengah 63,94 66,52 69,70 63,52 52,44 DI Yogyakarta 84,70 90,41 94,75 87,67 81,51 Jawa Timur 34,86 39,64 45,73 40,18 32,44 Banten 54,02 58,97 66,76 57,33 45,71 Bali 48,40 50,50 56,32 50,14 43,02 Nusa Tenggara Barat 59,08 61,83 64,07 53,32 47,85 Nusa Tenggara Timur 12,78 7,86 13,02 6,34 3,76 Kalimantan Barat 41,56 43,14 41,15 33,66 39,02 Kalimantan Tengah 42,03 43,15 50,62 43,91 46,91 Kalimantan Selatan 52,39 59,42 61,09 48,75 46,31 Kalimantan Timur 46,96 51,41 55,12 54,40 51,43 Sulawesi Utara 56,19 40,03 44,51 17,54 18,52 Sulawesi Tengah 33,33 35,62 43,71 26,72 29,36 Sulawesi Selatan 51,52 46,26 46,98 35,51 32,57 Sulawesi Tenggara 33,76 28,37 30,23 16,69 13,78 Gorontalo 46,28 17,33 44,69 23,67 21,88 Sulawesi Barat 39,18 30,25 28,86 Maluku 11,60 15,12 12,25 6,64 5,79 Maluku Utara 11,34 10,88 16,22 9,27 5,60 Papua Barat 5,48 5,07 4,47 Papua 5,76 6,26 4,53 3,36 2,53 INDONESIA 44,25 45,73 48,55 40,08 36,20 Keterangan: Data 2003 dan 2005 masih bergabung dengan provinsi induk Sumber: BPS RI Statistik Podes Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
263 Tabel Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Kelompok Kegiatan Olahraga Bola Basket menurut Provinsi, Provinsi Tahun (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 0,71 1,16 1,48 1,36 1,55 Sumatera Utara 2,31 2,64 1,96 1,98 1,47 Sumatera Barat 12,11 18,76 17,64 13,36 11,09 Riau 7,63 7,52 7,29 8,76 7,36 Jambi 3,70 4,70 6,22 6,78 6,13 Sumatera Selatan 3,84 4,03 5,00 5,12 4,63 Bengkulu 4,64 3,84 5,48 4,57 5,03 Lampung 4,09 4,24 4,66 4,63 4,94 Kep. Bangka Belitung 13,88 13,40 18,02 13,57 12,86 Kepulauan Riau 14,51 15,95 11,90 10,60 DKI Jakarta 51,31 44,57 50,56 44,19 42,32 Jawa Barat 11,57 13,76 15,69 12,73 11,52 Jawa Tengah 4,15 5,52 6,78 6,49 4,50 DI Yogyakarta 20,55 18,72 19,63 21,92 17,58 Jawa Timur 3,79 5,59 5,62 5,28 3,82 Banten 10,55 12,15 12,50 10,55 8,06 Bali 8,60 12,55 12,50 7,82 6,15 Nusa Tenggara Barat 8,13 10,12 7,89 6,55 6,49 Nusa Tenggara Timur 1,25 0,84 2,35 0,98 1,04 Kalimantan Barat 3,96 3,20 3,85 3,81 4,03 Kalimantan Tengah 2,56 3,55 3,94 4,32 5,99 Kalimantan Selatan 6,16 6,28 6,64 4,90 5,13 Kalimantan Timur 5,23 5,80 6,99 7,30 6,51 Sulawesi Utara 5,35 5,44 5,62 2,24 1,69 Sulawesi Tengah 1,88 3,99 4,15 1,93 2,22 Sulawesi Selatan 4,41 6,36 7,16 5,40 5,12 Sulawesi Tenggara 2,24 2,37 2,47 0,80 0,84 Gorontalo 5,59 1,11 9,08 2,05 2,85 Sulawesi Barat 5,22 2,51 3,24 Maluku 1,44 2,63 3,09 1,56 1,75 Maluku Utara 1,08 1,79 2,22 0,83 0,75 Papua Barat 2,99 2,08 1,34 Papua 1,74 2,34 1,84 1,48 0,99 INDONESIA 4,72 5,70 6,15 5,15 4,42 Keterangan: Data 2003 dan 2005 masih bergabung dengan provinsi induk Sumber: BPS RI Statistik Podes Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
264 Tabel Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Kelompok Kegiatan Olahraga Tenis Lapangan menurut Provinsi, Provinsi Tahun (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 1,45 1,16 1,84 1,14 1,26 Sumatera Utara 2,81 3,19 2,98 2,83 2,41 Sumatera Barat 6,40 9,10 11,36 6,87 6,72 Riau 6,89 5,69 4,36 5,62 4,63 Jambi 2,86 2,59 3,84 4,08 3,42 Sumatera Selatan 2,99 3,17 3,67 2,98 2,44 Bengkulu 1,81 2,45 2,22 1,86 2,22 Lampung 3,05 2,60 2,31 2,68 2,20 Kep. Bangka Belitung 7,26 6,23 6,69 6,37 5,25 Kepulauan Riau 16,47 13,80 12,18 10,60 DKI Jakarta 41,57 41,57 44,57 38,95 32,21 Jawa Barat 8,48 8,78 9,57 8,57 7,25 Jawa Tengah 7,39 8,10 9,03 8,11 5,99 DI Yogyakarta 23,29 26,48 28,31 23,97 23,06 Jawa Timur 5,04 5,30 5,63 5,33 3,71 Banten 7,57 7,42 6,72 7,23 4,19 Bali 5,98 8,56 7,02 5,45 3,91 Nusa Tenggara Barat 6,64 7,07 4,82 5,72 3,77 Nusa Tenggara Timur 1,25 0,80 1,32 0,67 0,95 Kalimantan Barat 3,82 3,40 3,02 3,10 2,70 Kalimantan Tengah 2,26 2,44 2,56 2,62 2,80 Kalimantan Selatan 3,90 3,83 4,51 3,05 2,94 Kalimantan Timur 5,77 5,21 5,65 5,39 4,32 Sulawesi Utara 4,68 4,41 2,88 1,18 1,14 Sulawesi Tengah 3,13 3,33 3,86 2,75 2,11 Sulawesi Selatan 6,94 7,70 8,79 5,97 4,62 Sulawesi Tenggara 2,49 2,43 2,37 1,13 1,06 Gorontalo 4,26 1,78 2,91 1,09 1,77 Sulawesi Barat 5,60 3,76 3,86 Maluku 1,91 2,29 2,98 1,27 0,92 Maluku Utara 1,62 2,30 1,93 1,48 1,17 Papua Barat 1,74 1,39 0,70 Papua 1,60 1,53 1,24 1,02 0,55 INDONESIA 4,81 5,03 5,17 4,38 3,46 Keterangan: Data 2003 dan 2005 masih bergabung dengan provinsi induk Sumber: BPS RI Statistik Podes Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
265 Tabel Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Kelompok Kegiatan Olahraga Renang menurut Provinsi, Provinsi Tahun (1) (2) (3) (4) (5) (6) Aceh 0,30 0,79 0,56 0,72 0,60 Sumatera Utara 0,86 1,46 1,16 2,05 0,98 Sumatera Barat 1,71 3,22 2,49 5,61 2,97 Riau 2,09 2,37 2,74 6,28 2,29 Jambi 0,59 2,59 2,53 4,45 2,26 Sumatera Selatan 0,70 1,66 1,72 4,05 1,08 Bengkulu 0,26 1,96 1,70 3,05 0,78 Lampung 0,89 2,10 2,22 3,13 0,68 Kep. Bangka Belitung 1,26 1,87 2,62 2,49 2,10 Kepulauan Riau 9,80 5,21 8,50 4,10 DKI Jakarta 8,99 14,23 18,73 22,10 11,24 Jawa Barat 4,52 6,77 8,72 11,26 7,65 Jawa Tengah 1,50 2,35 3,31 5,64 2,88 DI Yogyakarta 4,57 5,02 8,22 10,50 9,82 Jawa Timur 1,29 2,01 2,38 3,66 2,61 Banten 4,67 4,39 6,32 6,84 5,03 Bali 1,60 3,14 3,09 4,47 1,40 Nusa Tenggara Barat 1,49 2,32 1,75 6,18 1,75 Nusa Tenggara Timur 0,78 0,47 0,71 0,71 0,55 Kalimantan Barat 0,90 1,57 0,78 2,03 0,62 Kalimantan Tengah 0,45 2,96 0,62 3,93 2,10 Kalimantan Selatan 0,97 1,68 1,11 1,40 1,00 Kalimantan Timur 1,62 2,46 1,55 4,57 1,99 Sulawesi Utara 2,59 3,62 2,54 2,13 0,71 Sulawesi Tengah 0,35 0,92 0,89 2,20 0,25 Sulawesi Selatan 1,65 1,95 2,14 4,09 1,06 Sulawesi Tenggara 0,64 1,66 1,73 1,27 0,18 Gorontalo 2,39 0,44 2,05 2,19 0,41 Sulawesi Barat 0,93 1,41 0,46 Maluku 0,96 2,29 0,88 0,68 0,37 Maluku Utara 0,67 1,54 1,74 0,65 0,42 Papua Barat 0,50 0,83 0,19 Papua 0,51 0,54 0,69 0,61 0,18 INDONESIA 1,47 2,34 2,50 3,77 1,95 Keterangan: Data 2003 dan 2005 masih bergabung dengan provinsi induk Sumber: BPS RI Statistik Podes Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
266 Tabel Jumlah Perolehan Medali PON XV/2000 menurut Provinsi, Jumlah Medali, dan Rangking, 2000 Provinsi Jumlah Medali Emas Perak Perunggu Rangking (1) (2) (3) (4) (5) Aceh XXV Sumatera Utara IX Sumatera Barat XVI Riau XVIII Jambi VI Sumatera Selatan XIV Bengkulu XXIV Lampung V Kep. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta I Jawa Barat III Jawa Tengah IV DI Yogyakarta XVI Jawa Timur II Banten Bali XIII Nusa Tenggara Barat XXII Nusa Tenggara Timur XX Kalimantan Barat XIX Kalimantan Tengah XXI Kalimantan Selatan XII Kalimantan Timur VIII Sulawesi Utara XI Sulawesi Tengah XXIII Sulawesi Selatan X Sulawesi Tenggara XV Gorontalo Sulawesi Barat Maluku XVII Maluku Utara Papua Barat Papua VII Total Sumber: Diolah dari berbagai sumber Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
267 Tabel Jumlah Perolehan Medali PON XVI/2004 menurut Provinsi, Jumlah Medali, dan Rangking, 2004 Provinsi Jumlah Medali Emas Perak Perunggu Rangking (1) (2) (3) (4) (5) Aceh XXII Sumatera Utara XII Sumatera Barat XXI Riau XI Jambi VI Sumatera Selatan V Bengkulu XXVIII Lampung VIII Kep. Bangka Belitung XXVI Kepulauan Riau DKI Jakarta I Jawa Barat III Jawa Tengah IV DI Yogyakarta XV Jawa Timur II Banten XX Bali XIV Nusa Tenggara Barat XXIII Nusa Tenggara Timur XIX Kalimantan Barat XVIII Kalimantan Tengah XXIV Kalimantan Selatan XVI Kalimantan Timur IX Sulawesi Utara XIII Sulawesi Tengah XXVII Sulawesi Selatan X Sulawesi Tenggara XVII Gorontalo XXX Sulawesi Barat Maluku XXV Maluku Utara XXIX Papua Barat Papua VII Total Sumber: Diolah dari berbagai sumber 230 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
268 Tabel Jumlah Perolehan Medali PON XVII/2008 Jumlah Medali, dan Rangking, 2008 menurut Provinsi, Provinsi Jumlah Medali Emas Perak Perunggu Rangking (1) (2) (3) (4) (5) Aceh XXIII Sumatera Utara VII Sumatera Barat XVI Riau X Jambi XV Sumatera Selatan XIV Bengkulu XXVIII Lampung VIII Kep. Bangka Belitung XXIX Kepulauan Riau XXVII DKI Jakarta II Jawa Barat IV Jawa Tengah V DI Yogyakarta XIII Jawa Timur I Banten XXII Bali IX Nusa Tenggara Barat XXV Nusa Tenggara Timur XXIV Kalimantan Barat XXI Kalimantan Tengah XXVI Kalimantan Selatan XVIII Kalimantan Timur III Sulawesi Utara XII Sulawesi Tengah XXXI Sulawesi Selatan VI Sulawesi Tenggara XVII Gorontalo XXXII Sulawesi Barat XXXIII Maluku XX Maluku Utara XXX Papua Barat XIX Papua XI Total Sumber: Diolah dari berbagai sumber Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
269 Tabel Jumlah Perolehan Medali PON XVIII/2012 menurut Provinsi, Jumlah Medali, dan Rangking, 2012 Provinsi Jumlah Medali Emas Perak Perunggu Rangking (1) (2) (3) (4) (5) Aceh XXV Sumatera Utara VIII Sumatera Barat XI Riau VI Jambi XXIV Sumatera Selatan XIII Bengkulu XXXI Lampung X Kep. Bangka Belitung XXVIII Kepulauan Riau XXII DKI Jakarta I Jawa Barat II Jawa Tengah IV DI Yogyakarta XIV Jawa Timur III Banten XXI Bali IX Nusa Tenggara Barat XII Nusa Tenggara Timur XXIII Kalimantan Barat XVI Kalimantan Tengah XVIII Kalimantan Selatan XIX Kalimantan Timur V Sulawesi Utara XVII Sulawesi Tengah XXX Sulawesi Selatan VII Sulawesi Tenggara XXVII Gorontalo XXIX Sulawesi Barat XXXIII Maluku XX Maluku Utara XXXII Papua Barat XXVI Papua XV Total Sumber: Diolah dari berbagai sumber 232 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
270 ESTIMASI KESALAHAN SAMPLING
271
272 ESTIMASI KESALAHAN SAMPLING (SAMPLING ERROR ESTIMATES) Estimasi sampel Susenas 2014 dipengaruhi oleh dua jenis error (kesalahan) yaitu non-sampling error dan sampling error. Non-sampling error adalah kesalahan yang terjadi dalam pengumpulan maupun pengolahan data, seperti kesalahan dalam menemukan dan mewawancarai responden dalam rumah tangga terpilih, kesalahan petugas maupun responden dalam menginterpretasikan pertanyaanpertanyaaan di kuesioner dan kesalahan dalam proses entri data. Sampling error adalah kesalahan yang ditimbulkan dari penggunaan teknik sampling dalam suatu survei. Secara statistik, besarnya sampling error ditunjukkan oleh besarnya angka standard error (galat baku) dari suatu angka estimasi, rata-rata, persentase suatu variabel yang disajikan dari hasil Susenas 2012 dan Untuk mengukur presisi dari suatu angka tersebut digunakan relative standard error (kesalahan relatif), yaitu rasio dari nilai standard error dengan nilai estimasi suatu variabel, yang dinyatakan dalam persentase (%). Standard error dapat digunakan untuk menghitung selang kepercayaan yang dapat digunakan untuk melihat selang dari angka sebenarnya yang dapat menggambarkan populasi. Dengan tingkat kepercayaan 95 persen, dapat disajikan selang kepercayaan (interval estimation) dengan batas bawah sebesar nilai estimasi dikurangi dua standard error dan batas atas sebesar nilai estimasi ditambah dua standard error. Penghitungan sampling error pada variabel dalam Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan 2014 menggunakan software STATA versi Variabel yang dihitung sampling error-nya dalam publikasi ini antara lain meliputi kependudukan pemuda, pendidikan pemuda, ketenagakerjaan pemuda, kesehatan pemuda dan kegiatan olahraga. Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
273 Sampling error dalam publikasi ini disajikan dalam 44 tabel lampiran pada halaman yang pada setiap tabel memuat 33 provinsi menurut tipe daerah (perkotaan dan perdesaan). Tabel sampai dengan tabel menyajikan nilai-nilai estimasi dari masing-masing indikator, standard error (galat baku), selang kepercayaan, dan relative standard error. 236 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
274 Tabel Sampling Error Persentase Pemuda Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2014 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Perkotaan Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 28,53 0,77 2,70 27,02 30, Sumatera Utara 26,46 0,49 1,85 25,50 27, Sumatera Barat 25,10 0,66 2,62 23,80 26, Riau 28,05 0,70 2,51 26,67 29, Jambi 24,88 0,76 3,06 23,39 26, Sumatera Selatan 27,84 0,67 2,39 26,53 29, Bengkulu 28,04 0,86 3,05 26,36 29, Lampung 25,10 0,65 2,59 23,83 26, Kep. Bangka Belitung 26,16 0,69 2,64 24,80 27, Kepulauan Riau 25,83 1,12 4,32 23,64 28, DKI Jakarta 28,39 0,45 1,59 27,51 29, Jawa Barat 26,19 0,27 1,01 25,67 26, Jawa Tengah 23,64 0,26 1,10 23,13 24, DI Yogyakarta 26,80 0,84 3,13 25,16 28, Jawa Timur 23,22 0,26 1,11 22,72 23, Banten 27,96 0,48 1,73 27,02 28, Bali 24,75 0,60 2,42 23,58 25, Nusa Tenggara Barat 26,41 0,65 2,45 25,14 27, Nusa Tenggara Timur 27,43 0,83 3,01 25,81 29, Kalimantan Barat 27,89 0,68 2,44 26,55 29, Kalimantan Tengah 27,62 0,67 2,42 26,31 28, Kalimantan Selatan 26,08 0,62 2,38 24,86 27, Kalimantan Timur 26,69 0,56 2,10 25,59 27, Sulawesi Utara 24,42 0,75 3,06 22,96 25, Sulawesi Tengah 28,03 0,83 2,96 26,40 29, Sulawesi Selatan 28,09 0,68 2,41 26,77 29, Sulawesi Tenggara 27,67 0,97 3,52 25,76 29, Gorontalo 25,87 0,89 3,45 24,12 27, Sulawesi Barat 25,24 1,15 4,54 22,99 27, Maluku 27,94 0,94 3,35 26,10 29, Maluku Utara 28,56 1,02 3,56 26,57 30, Papua Barat 29,01 0,88 3,02 27,29 30, Papua 29,22 0,84 2,87 27,57 30, INDONESIA 25,92 0,11 0,42 25,71 26, Sumber: BPS RI Susenas Kor 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
275 Tabel Sampling Error Persentase Pemuda Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2014 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Perdesaan Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 26,23 0,33 1,25 25,58 26, Sumatera Utara 23,37 0,33 1,39 22,73 24, Sumatera Barat 22,44 0,38 1,71 21,69 23, Riau 26,03 0,43 1,64 25,19 26, Jambi 26,00 0,40 1,52 25,23 26, Sumatera Selatan 25,44 0,35 1,37 24,76 26, Bengkulu 25,01 0,46 1,85 24,10 25, Lampung 23,99 0,32 1,35 23,35 24, Kep. Bangka Belitung 26,59 0,65 2,44 25,32 27, Kepulauan Riau 23,64 1,25 5,29 21,19 26, DKI Jakarta Jawa Barat 23,09 0,34 1,49 22,42 23, Jawa Tengah 21,05 0,24 1,13 20,59 21, DI Yogyakarta 19,84 0,86 4,36 18,14 21, Jawa Timur 21,53 0,23 1,08 21,07 21, Banten 26,19 0,63 2,42 24,95 27, Bali 19,95 0,66 3,29 18,66 21, Nusa Tenggara Barat 24,47 0,50 2,03 23,50 25, Nusa Tenggara Timur 21,48 0,29 1,35 20,92 22, Kalimantan Barat 24,97 0,41 1,65 24,16 25, Kalimantan Tengah 25,59 0,44 1,71 24,74 26, Kalimantan Selatan 23,83 0,41 1,70 23,04 24, Kalimantan Timur 26,16 0,60 2,28 24,99 27, Sulawesi Utara 21,90 0,45 2,07 21,01 22, Sulawesi Tengah 22,67 0,40 1,77 21,88 23, Sulawesi Selatan 23,00 0,29 1,24 22,44 23, Sulawesi Tenggara 23,00 0,44 1,93 22,13 23, Gorontalo 24,96 0,62 2,48 23,75 26, Sulawesi Barat 24,87 0,76 3,04 23,39 26, Maluku 23,31 0,57 2,43 22,20 24, Maluku Utara 24,41 0,54 2,19 23,36 25, Papua Barat 27,75 0,72 2,60 26,33 29, Papua 24,51 0,42 1,70 23,69 25, INDONESIA 23,14 0,08 0,36 22,97 23, Sumber: BPS RI Susenas Kor Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
276 Tabel Sampling Error Persentase Pemuda Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2014 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Perkotaan+ Perdesaan Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 26,88 0,32 1,19 26,25 27, Sumatera Utara 24,89 0,30 1,19 24,32 25, Sumatera Barat 23,48 0,35 1,48 22,80 24, Riau 26,82 0,38 1,41 26,07 27, Jambi 25,66 0,36 1,41 24,95 26, Sumatera Selatan 26,30 0,33 1,26 25,65 26, Bengkulu 25,96 0,42 1,62 25,14 26, Lampung 24,28 0,29 1,21 23,70 24, Kep. Bangka Belitung 26,38 0,47 1,79 25,45 27, Kepulauan Riau 25,47 0,96 3,76 23,60 27, DKI Jakarta 28,39 0,45 1,59 27,51 29, Jawa Barat 25,15 0,21 0,84 24,74 25, Jawa Tengah 22,24 0,18 0,79 21,89 22, DI Yogyakarta 24,43 0,61 2,50 23,23 25, Jawa Timur 22,34 0,17 0,77 22,00 22, Banten 27,40 0,39 1,41 26,65 28, Bali 22,86 0,45 1,95 21,99 23, Nusa Tenggara Barat 25,28 0,39 1,56 24,51 26, Nusa Tenggara Timur 22,65 0,28 1,25 22,10 23, Kalimantan Barat 25,86 0,36 1,37 25,16 26, Kalimantan Tengah 26,28 0,37 1,40 25,56 27, Kalimantan Selatan 24,78 0,35 1,42 24,09 25, Kalimantan Timur 26,49 0,41 1,56 25,68 27, Sulawesi Utara 23,04 0,42 1,81 22,22 23, Sulawesi Tengah 23,98 0,36 1,52 23,27 24, Sulawesi Selatan 24,89 0,32 1,30 24,25 25, Sulawesi Tenggara 24,31 0,42 1,72 23,49 25, Gorontalo 25,27 0,51 2,01 24,28 26, Sulawesi Barat 24,95 0,64 2,56 23,70 26, Maluku 25,10 0,51 2,03 24,11 26, Maluku Utara 25,56 0,48 1,87 24,62 26, Papua Barat 28,15 0,56 1,99 27,05 29, Papua 25,72 0,38 1,49 24,97 26, INDONESIA 24,53 0,07 0,28 24,40 24, Sumber: BPS RI Susenas Kor 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
277 Tabel Sampling Error Angka Partisipasi Sekolah (APS) Pemuda Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2014 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Perkotaan Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 39,13 1,61 4,11 35,98 42, Sumatera Utara 28,71 0,99 3,44 26,78 30, Sumatera Barat 38,23 1,46 3,82 35,37 41, Riau 31,17 1,47 4,72 28,29 34, Jambi 28,35 1,80 6,35 24,82 31, Sumatera Selatan 30,43 1,41 4,63 27,67 33, Bengkulu 38,79 1,98 5,10 34,91 42, Lampung 30,49 1,75 5,72 27,07 33, Kep. Bangka Belitung 19,51 1,25 6,42 17,06 21, Kepulauan Riau 18,49 1,59 8,62 15,36 21, DKI Jakarta 21,00 0,82 3,92 19,39 22, Jawa Barat 22,60 0,60 2,63 21,43 23, Jawa Tengah 25,92 0,66 2,56 24,62 27, DI Yogyakarta 45,41 2,06 4,54 41,37 49, Jawa Timur 26,81 0,66 2,47 25,51 28, Banten 22,60 0,99 4,38 20,66 24, Bali 26,59 1,36 5,12 23,92 29, Nusa Tenggara Barat 31,18 1,65 5,31 27,93 34, Nusa Tenggara Timur 42,54 1,67 3,92 39,27 45, Kalimantan Barat 30,28 1,61 5,33 27,12 33, Kalimantan Tengah 28,00 1,45 5,19 25,15 30, Kalimantan Selatan 29,01 1,54 5,31 25,99 32, Kalimantan Timur 28,13 1,16 4,13 25,86 30, Sulawesi Utara 30,67 1,81 5,91 27,12 34, Sulawesi Tengah 38,22 1,81 4,73 34,68 41, Sulawesi Selatan 33,90 1,39 4,11 31,17 36, Sulawesi Tenggara 41,88 2,54 6,06 36,90 46, Gorontalo 35,54 1,98 5,57 31,66 39, Sulawesi Barat 33,92 2,37 6,97 29,29 38, Maluku 41,21 1,89 4,58 37,52 44, Maluku Utara 40,68 2,62 6,45 35,53 45, Papua Barat 31,36 1,93 6,17 27,57 35, Papua 31,61 1,73 5,47 28,22 34, INDONESIA 26,73 0,25 0,93 26,25 27, Sumber: BPS RI Susenas Kor Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
278 Tabel Sampling Error Angka Partisipasi Sekolah (APS) Pemuda Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2014 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Perdesaan Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 27,32 0,80 2,91 25,76 28, Sumatera Utara 24,06 0,71 2,95 22,67 25, Sumatera Barat 26,20 0,90 3,45 24,43 27, Riau 19,29 0,86 4,47 17,60 20, Jambi 20,06 0,98 4,88 18,14 21, Sumatera Selatan 15,05 0,60 3,96 13,88 16, Bengkulu 22,19 1,08 4,86 20,08 24, Lampung 18,35 0,74 4,04 16,90 19, Kep. Bangka Belitung 15,51 1,25 8,07 13,06 17, Kepulauan Riau 21,91 2,68 12,23 16,66 27, DKI Jakarta Jawa Barat 17,33 0,76 4,40 15,83 18, Jawa Tengah 19,10 0,60 3,14 17,93 20, DI Yogyakarta 30,07 2,97 9,86 24,26 35, Jawa Timur 18,93 0,53 2,81 17,89 19, Banten 19,36 1,40 7,25 16,61 22, Bali 21,66 1,40 6,47 18,91 24, Nusa Tenggara Barat 22,33 1,21 5,40 19,97 24, Nusa Tenggara Timur 23,28 0,77 3,31 21,77 24, Kalimantan Barat 17,70 0,81 4,58 16,11 19, Kalimantan Tengah 15,86 0,99 6,25 13,92 17, Kalimantan Selatan 15,40 0,74 4,82 13,94 16, Kalimantan Timur 22,53 1,51 6,71 19,56 25, Sulawesi Utara 19,71 1,05 5,34 17,65 21, Sulawesi Tengah 18,85 0,83 4,40 17,22 20, Sulawesi Selatan 23,38 0,69 2,94 22,03 24, Sulawesi Tenggara 21,10 1,02 4,85 19,09 23, Gorontalo 23,55 1,71 7,26 20,20 26, Sulawesi Barat 20,59 1,51 7,31 17,64 23, Maluku 25,54 1,40 5,49 22,80 28, Maluku Utara 21,49 1,20 5,58 19,14 23, Papua Barat 25,52 2,40 9,41 20,82 30, Papua 15,81 0,73 4,63 14,37 17, INDONESIA 19,91 0,19 0,95 19,53 20, Sumber: BPS RI Susenas Kor 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
279 Tabel Sampling Error Angka Partisipasi Sekolah (APS) Pemuda Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2014 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Perkotaan+ Perdesaan Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 30,87 0,75 2,42 29,41 32, Sumatera Utara 26,50 0,62 2,35 25,28 27, Sumatera Barat 31,22 0,83 2,65 29,60 32, Riau 24,16 0,82 3,40 22,55 25, Jambi 22,51 0,87 3,87 20,80 24, Sumatera Selatan 20,90 0,68 3,25 19,57 22, Bengkulu 27,80 1,02 3,65 25,81 29, Lampung 21,63 0,72 3,32 20,22 23, Kep. Bangka Belitung 17,46 0,88 5,05 15,74 19, Kepulauan Riau 19,00 1,42 7,45 16,23 21, DKI Jakarta 21,00 0,82 3,92 19,39 22, Jawa Barat 20,97 0,47 2,25 20,05 21, Jawa Tengah 22,43 0,45 1,99 21,55 23, DI Yogyakarta 41,17 1,69 4,09 37,86 44, Jawa Timur 22,84 0,43 1,87 22,00 23, Banten 21,62 0,80 3,71 20,05 23, Bali 24,90 1,02 4,09 22,90 26, Nusa Tenggara Barat 26,21 1,00 3,80 24,25 28, Nusa Tenggara Timur 27,86 0,73 2,63 26,43 29, Kalimantan Barat 21,83 0,78 3,55 20,31 23, Kalimantan Tengah 20,19 0,84 4,15 18,55 21, Kalimantan Selatan 21,45 0,82 3,83 19,84 23, Kalimantan Timur 26,02 0,92 3,52 24,22 27, Sulawesi Utara 24,95 1,06 4,26 22,86 27, Sulawesi Tengah 24,39 0,82 3,37 22,78 26, Sulawesi Selatan 27,77 0,72 2,59 26,37 29, Sulawesi Tenggara 27,73 1,11 4,01 25,55 29, Gorontalo 27,77 1,33 4,77 25,17 30, Sulawesi Barat 23,66 1,30 5,51 21,11 26, Maluku 32,30 1,21 3,75 29,93 34, Maluku Utara 27,41 1,22 4,45 25,02 29, Papua Barat 27,44 1,70 6,19 24,12 30, Papua 20,41 0,73 3,56 18,99 21, INDONESIA 23,52 0,16 0,67 23,21 23, Sumber: BPS RI Susenas Kor Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
280 Tabel 10.3 Sampling Error Angka Buta Huruf (ABH) Pemuda Menurut Provinsi, 2014 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 0,14 0,04 26,62 0,06 0, Sumatera Utara 0,41 0,08 19,13 0,26 0, Sumatera Barat 0,21 0,06 26,86 0,10 0, Riau 0,18 0,05 30,81 0,07 0, Jambi 0,30 0,08 27,63 0,14 0, Sumatera Selatan 0,34 0,08 22,50 0,19 0, Bengkulu 0,28 0,08 28,08 0,13 0, Lampung 0,23 0,07 28,62 0,10 0, Kep. Bangka Belitung 0,49 0,15 29,58 0,21 0, Kepulauan Riau 0,19 0,08 43,26 0,03 0, DKI Jakarta 0,01 0,01 100,04-0,01 0, Jawa Barat 0,10 0,03 26,42 0,05 0, Jawa Tengah 0,16 0,03 19,21 0,10 0, DI Yogyakarta 0,03 0,03 99,98-0,03 0, Jawa Timur 0,43 0,07 15,42 0,30 0, Banten 0,17 0,05 31,33 0,07 0, Bali 0,34 0,10 28,44 0,15 0, Nusa Tenggara Barat 1,04 0,18 17,61 0,68 1, Nusa Tenggara Timur 2,56 0,24 9,39 2,09 3, Kalimantan Barat 0,90 0,14 16,09 0,61 1, Kalimantan Tengah 0,23 0,07 31,15 0,09 0, Kalimantan Selatan 0,10 0,05 51,70 0,00 0, Kalimantan Timur 0,08 0,03 39,41 0,02 0, Sulawesi Utara 0,11 0,05 47,69 0,01 0, Sulawesi Tengah 1,02 0,18 17,93 0,66 1, Sulawesi Selatan 1,28 0,14 10,69 1,01 1, Sulawesi Tenggara 1,01 0,16 15,95 0,69 1, Gorontalo 0,75 0,21 27,78 0,34 1, Sulawesi Barat 2,26 0,42 18,54 1,44 3, Maluku 0,77 0,23 30,11 0,31 1, Maluku Utara 0,43 0,14 33,08 0,15 0, Papua Barat 1,53 0,35 22,50 0,86 2, Papua 22,08 1,01 4,59 20,09 24, INDONESIA 0,64 0,02 3,27 0,60 0, Sumber: BPS RI Susenas Kor 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
281 Tabel Sampling Error Rata-rata Lama Sekolah (MYS) Pemuda Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2014 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Perkotaan Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 11,99 0,10 0,88 11,78 12, Sumatera Utara 11,26 0,08 0,69 11,11 11, Sumatera Barat 11,49 0,12 1,03 11,26 11, Riau 11,28 0,11 0,95 11,07 11, Jambi 11,19 0,14 1,23 10,92 11, Sumatera Selatan 11,19 0,13 1,15 10,94 11, Bengkulu 11,90 0,18 1,50 11,55 12, Lampung 10,90 0,15 1,36 10,61 11, Kep. Bangka Belitung 10,39 0,17 1,62 10,06 10, Kepulauan Riau 11,28 0,15 1,34 10,98 11, DKI Jakarta 11,47 0,08 0,72 11,30 11, Jawa Barat 10,36 0,06 0,59 10,24 10, Jawa Tengah 10,54 0,06 0,55 10,43 10, DI Yogyakarta 12,45 0,12 0,98 12,21 12, Jawa Timur 10,91 0,06 0,53 10,80 11, Banten 10,67 0,11 1,06 10,45 10, Bali 11,49 0,10 0,84 11,30 11, Nusa Tenggara Barat 10,55 0,13 1,27 10,29 10, Nusa Tenggara Timur 11,28 0,13 1,15 11,02 11, Kalimantan Barat 10,79 0,16 1,44 10,48 11, Kalimantan Tengah 10,79 0,15 1,39 10,50 11, Kalimantan Selatan 10,59 0,14 1,34 10,31 10, Kalimantan Timur 11,18 0,08 0,73 11,02 11, Sulawesi Utara 11,19 0,13 1,17 10,93 11, Sulawesi Tengah 11,64 0,17 1,46 11,31 11, Sulawesi Selatan 11,15 0,17 1,48 10,82 11, Sulawesi Tenggara 11,80 0,15 1,24 11,51 12, Gorontalo 10,83 0,20 1,87 10,43 11, Sulawesi Barat 10,72 0,27 2,51 10,19 11, Maluku 12,18 0,11 0,88 11,97 12, Maluku Utara 11,73 0,17 1,43 11,40 12, Papua Barat 11,50 0,15 1,29 11,21 11, Papua 11,37 0,13 1,11 11,12 11, INDONESIA 10,90 0,02 0,22 10,85 10, Sumber: BPS RI Susenas Kor Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
282 Tabel Sampling Error Rata-rata Lama Sekolah (MYS) Pemuda Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2014 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Perdesaan Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 10,43 0,07 0,65 10,29 10, Sumatera Utara 9,79 0,07 0,67 9,66 9, Sumatera Barat 9,32 0,09 0,94 9,14 9, Riau 9,36 0,10 1,07 9,17 9, Jambi 9,24 0,09 0,99 9,06 9, Sumatera Selatan 8,86 0,08 0,94 8,70 9, Bengkulu 9,38 0,10 1,06 9,18 9, Lampung 9,24 0,06 0,70 9,12 9, Kep. Bangka Belitung 7,87 0,15 1,85 7,58 8, Kepulauan Riau 8,69 0,36 4,15 7,98 9, DKI Jakarta Jawa Barat 8,43 0,08 0,98 8,27 8, Jawa Tengah 9,26 0,06 0,60 9,15 9, DI Yogyakarta 10,51 0,17 1,65 10,17 10, Jawa Timur 9,14 0,06 0,69 9,02 9, Banten 8,34 0,13 1,52 8,09 8, Bali 9,69 0,21 2,21 9,27 10, Nusa Tenggara Barat 9,49 0,12 1,24 9,26 9, Nusa Tenggara Timur 8,18 0,09 1,09 8,00 8, Kalimantan Barat 8,11 0,09 1,10 7,93 8, Kalimantan Tengah 8,49 0,12 1,39 8,26 8, Kalimantan Selatan 8,47 0,10 1,21 8,27 8, Kalimantan Timur 9,40 0,14 1,53 9,11 9, Sulawesi Utara 9,75 0,10 1,07 9,55 9, Sulawesi Tengah 8,95 0,11 1,18 8,74 9, Sulawesi Selatan 9,01 0,08 0,87 8,85 9, Sulawesi Tenggara 9,48 0,11 1,18 9,26 9, Gorontalo 8,18 0,23 2,78 7,74 8, Sulawesi Barat 8,48 0,20 2,36 8,09 8, Maluku 9,74 0,15 1,49 9,45 10, Maluku Utara 9,57 0,16 1,67 9,26 9, Papua Barat 9,72 0,25 2,58 9,23 10, Papua 5,65 0,15 2,70 5,35 5, INDONESIA 9,00 0,02 0,23 8,96 9, Sumber: BPS RI Susenas Kor 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
283 Tabel Sampling Error Rata-rata Lama Sekolah (MYS) Pemuda Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2014 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Perkotaan+ Perdesaan Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 10,90 0,06 0,54 10,78 11, Sumatera Utara 10,56 0,06 0,53 10,45 10, Sumatera Barat 10,22 0,08 0,79 10,07 10, Riau 10,15 0,08 0,79 9,99 10, Jambi 9,81 0,08 0,84 9,65 9, Sumatera Selatan 9,75 0,08 0,83 9,59 9, Bengkulu 10,23 0,10 0,97 10,03 10, Lampung 9,69 0,06 0,65 9,57 9, Kep. Bangka Belitung 9,10 0,11 1,23 8,88 9, Kepulauan Riau 10,89 0,15 1,41 10,59 11, DKI Jakarta 11,47 0,08 0,72 11,30 11, Jawa Barat 9,76 0,05 0,53 9,66 9, Jawa Tengah 9,88 0,04 0,41 9,80 9, DI Yogyakarta 11,91 0,11 0,90 11,70 12, Jawa Timur 10,02 0,05 0,45 9,93 10, Banten 9,96 0,09 0,86 9,80 10, Bali 10,87 0,09 0,87 10,69 11, Nusa Tenggara Barat 9,95 0,09 0,89 9,78 10, Nusa Tenggara Timur 8,92 0,08 0,90 8,76 9, Kalimantan Barat 8,99 0,09 0,95 8,82 9, Kalimantan Tengah 9,31 0,10 1,08 9,11 9, Kalimantan Selatan 9,41 0,09 0,96 9,23 9, Kalimantan Timur 10,51 0,08 0,74 10,36 10, Sulawesi Utara 10,44 0,09 0,84 10,27 10, Sulawesi Tengah 9,72 0,10 1,02 9,53 9, Sulawesi Selatan 9,90 0,09 0,91 9,73 10, Sulawesi Tenggara 10,22 0,09 0,91 10,04 10, Gorontalo 9,11 0,17 1,88 8,78 9, Sulawesi Barat 9,00 0,17 1,94 8,65 9, Maluku 10,79 0,11 1,03 10,57 11, Maluku Utara 10,24 0,13 1,22 9,99 10, Papua Barat 10,31 0,16 1,60 9,99 10, Papua 7,32 0,13 1,73 7,07 7, INDONESIA 10,01 0,02 0,16 9,98 10, Sumber: BPS RI Susenas Kor Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
284 Tabel Sampling Error Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Pemuda Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2014 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Perkotaan Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 51,95 1,36 2,61 49,29 54, Sumatera Utara 58,96 1,00 1,70 56,99 60, Sumatera Barat 55,19 1,41 2,56 52,42 57, Riau 55,05 2,56 4,65 50,03 60, Jambi 59,69 2,13 3,58 55,50 63, Sumatera Selatan 59,56 1,60 2,69 56,42 62, Bengkulu 54,46 2,17 3,98 50,21 58, Lampung 55,14 1,63 2,95 51,95 58, Kep. Bangka Belitung 60,35 1,65 2,73 57,12 63, Kepulauan Riau 64,97 2,06 3,17 60,94 69, DKI Jakarta 66,30 1,04 1,57 64,26 68, Jawa Barat 60,55 0,78 1,28 59,02 62, Jawa Tengah 62,44 0,75 1,19 60,98 63, DI Yogyakarta 57,35 1,98 3,46 53,47 61, Jawa Timur 59,54 0,78 1,31 58,01 61, Banten 63,13 1,14 1,81 60,89 65, Bali 63,17 1,47 2,32 60,30 66, Nusa Tenggara Barat 57,17 1,51 2,64 54,20 60, Nusa Tenggara Timur 46,93 1,80 3,84 43,39 50, Kalimantan Barat 57,50 1,55 2,70 54,46 60, Kalimantan Tengah 52,26 1,96 3,76 48,41 56, Kalimantan Selatan 58,24 1,67 2,87 54,97 61, Kalimantan Timur 56,27 1,46 2,59 53,41 59, Sulawesi Utara 54,45 1,93 3,54 50,67 58, Sulawesi Tengah 56,89 2,59 4,56 51,80 61, Sulawesi Selatan 51,53 1,73 3,35 48,15 54, Sulawesi Tenggara 49,50 2,36 4,76 44,88 54, Gorontalo 53,79 2,69 5,00 48,52 59, Sulawesi Barat 58,16 2,70 4,65 52,86 63, Maluku 49,55 2,93 5,90 43,81 55, Maluku Utara 50,91 3,03 5,96 44,97 56, Papua Barat 51,53 2,91 5,66 45,82 57, Papua 53,38 1,94 3,64 49,57 57, INDONESIA 59,82 0,30 0,50 59,24 60, Sumber: BPS RI Sakernas Agustus 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
285 Tabel Sampling Error Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Pemuda Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2014 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Perdesaan Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 56,08 1,11 1,99 53,90 58, Sumatera Utara 65,13 0,91 1,40 63,33 66, Sumatera Barat 56,97 1,19 2,09 54,63 59, Riau 56,47 1,33 2,36 53,87 59, Jambi 57,40 1,23 2,14 54,99 59, Sumatera Selatan 63,14 1,01 1,60 61,16 65, Bengkulu 57,59 1,34 2,33 54,96 60, Lampung 61,13 1,03 1,69 59,11 63, Kep. Bangka Belitung 59,92 1,86 3,10 56,27 63, Kepulauan Riau 56,99 2,32 4,07 52,45 61, DKI Jakarta Jawa Barat 57,00 0,96 1,69 55,11 58, Jawa Tengah 59,63 0,79 1,33 58,07 61, DI Yogyakarta 65,33 2,52 3,86 60,39 70, Jawa Timur 59,69 0,77 1,29 58,18 61, Banten 60,28 1,75 2,91 56,84 63, Bali 73,78 1,65 2,24 70,54 77, Nusa Tenggara Barat 58,70 1,56 2,67 55,63 61, Nusa Tenggara Timur 62,48 1,16 1,85 60,21 64, Kalimantan Barat 64,64 1,18 1,83 62,32 66, Kalimantan Tengah 63,04 1,34 2,13 60,40 65, Kalimantan Selatan 63,54 1,35 2,12 60,90 66, Kalimantan Timur 58,67 1,57 2,67 55,61 61, Sulawesi Utara 50,87 1,40 2,75 48,12 53, Sulawesi Tengah 58,69 1,32 2,24 56,11 61, Sulawesi Selatan 57,63 0,95 1,66 55,75 59, Sulawesi Tenggara 60,69 1,44 2,38 57,86 63, Gorontalo 53,61 1,77 3,29 50,15 57, Sulawesi Barat 62,52 1,76 2,82 59,06 65, Maluku 54,78 1,72 3,14 51,41 58, Maluku Utara 55,64 1,79 3,21 52,14 59, Papua Barat 59,93 2,09 3,49 55,84 64, Papua 80,51 1,07 1,33 78,41 82, INDONESIA 60,23 0,25 0,42 59,73 60, Sumber: BPS RI Sakernas Agustus Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
286 Tabel Sampling Error Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Pemuda Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2014 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Perkotaan+ Perdesaan Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 54,86 0,88 1,61 53,13 56, Sumatera Utara 61,91 0,68 1,10 60,58 63, Sumatera Barat 56,20 0,91 1,63 54,41 57, Riau 55,89 1,33 2,37 53,29 58, Jambi 58,10 1,07 1,85 55,99 60, Sumatera Selatan 61,81 0,87 1,41 60,09 63, Bengkulu 56,50 1,16 2,05 54,23 58, Lampung 59,47 0,87 1,47 57,76 61, Kep. Bangka Belitung 60,12 1,25 2,07 57,68 62, Kepulauan Riau 63,91 1,83 2,86 60,34 67, DKI Jakarta 66,30 1,04 1,57 64,26 68, Jawa Barat 59,43 0,61 1,03 58,23 60, Jawa Tengah 60,98 0,55 0,90 59,90 62, DI Yogyakarta 59,50 1,59 2,68 56,37 62, Jawa Timur 59,61 0,55 0,92 58,54 60, Banten 62,27 0,96 1,54 60,39 64, Bali 66,87 1,13 1,68 64,66 69, Nusa Tenggara Barat 58,01 1,10 1,90 55,86 60, Nusa Tenggara Timur 58,87 1,01 1,71 56,89 60, Kalimantan Barat 62,39 0,95 1,52 60,54 64, Kalimantan Tengah 59,24 1,13 1,90 57,04 61, Kalimantan Selatan 61,20 1,06 1,74 59,11 63, Kalimantan Timur 57,18 1,09 1,90 55,05 59, Sulawesi Utara 52,61 1,18 2,25 50,30 54, Sulawesi Tengah 58,19 1,19 2,05 55,86 60, Sulawesi Selatan 55,02 0,94 1,71 53,18 56, Sulawesi Tenggara 57,12 1,29 2,25 54,60 59, Gorontalo 53,68 1,49 2,78 50,76 56, Sulawesi Barat 61,50 1,49 2,43 58,57 64, Maluku 52,50 1,61 3,06 49,35 55, Maluku Utara 54,13 1,56 2,88 51,07 57, Papua Barat 57,59 1,72 2,99 54,22 60, Papua 73,02 1,01 1,38 71,04 74, INDONESIA 60,01 0,20 0,33 59,63 60, Sumber: BPS RI Sakernas Agustus 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
287 Tabel Sampling Error Persentase Pemuda yang Bekerja Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2014 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Perkotaan Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 40,83 1,28 3,14 38,31 43, Sumatera Utara 47,89 1,14 2,38 45,65 50, Sumatera Barat 43,45 1,54 3,54 40,43 46, Riau 44,04 2,62 5,95 38,90 49, Jambi 49,38 2,41 4,89 44,64 54, Sumatera Selatan 48,68 1,62 3,32 45,51 51, Bengkulu 48,59 2,13 4,39 44,41 52, Lampung 45,90 1,68 3,66 42,61 49, Kep. Bangka Belitung 52,32 1,96 3,74 48,48 56, Kepulauan Riau 55,07 2,38 4,32 50,41 59, DKI Jakarta 56,73 1,11 1,96 54,54 58, Jawa Barat 48,93 0,81 1,65 47,34 50, Jawa Tengah 52,98 0,78 1,47 51,45 54, DI Yogyakarta 51,62 2,13 4,13 47,45 55, Jawa Timur 51,31 0,81 1,58 49,72 52, Banten 52,50 1,20 2,28 50,16 54, Bali 59,64 1,52 2,54 56,67 62, Nusa Tenggara Barat 48,17 1,59 3,29 45,06 51, Nusa Tenggara Timur 38,41 1,77 4,60 34,95 41, Kalimantan Barat 49,29 1,45 2,95 46,44 52, Kalimantan Tengah 46,37 1,91 4,12 42,63 50, Kalimantan Selatan 51,25 1,88 3,67 47,56 54, Kalimantan Timur 46,21 1,43 3,09 43,41 49, Sulawesi Utara 40,53 1,97 4,86 36,67 44, Sulawesi Tengah 50,41 2,59 5,13 45,34 55, Sulawesi Selatan 42,08 1,80 4,28 38,55 45, Sulawesi Tenggara 41,51 2,40 5,78 36,81 46, Gorontalo 45,74 2,23 4,87 41,37 50, Sulawesi Barat 55,54 2,76 4,97 50,13 60, Maluku 35,11 2,61 7,44 29,99 40, Maluku Utara 42,01 2,96 7,05 36,21 47, Papua Barat 43,64 2,71 6,21 38,33 48, Papua 43,83 2,03 4,62 39,86 47, INDONESIA 49,96 0,31 0,62 49,35 50, Sumber: BPS RI Sakernas Agustus Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
288 Tabel Sampling Error Persentase Pemuda yang Bekerja Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2014 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Perdesaan Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 43,41 1,16 2,67 41,14 45, Sumatera Utara 57,04 1,02 1,79 55,05 59, Sumatera Barat 48,83 1,28 2,62 46,32 51, Riau 49,71 1,41 2,84 46,95 52, Jambi 51,61 1,23 2,38 49,20 54, Sumatera Selatan 57,63 1,13 1,96 55,42 59, Bengkulu 52,59 1,35 2,57 49,95 55, Lampung 54,38 1,11 2,05 52,20 56, Kep. Bangka Belitung 53,96 1,96 3,63 50,12 57, Kepulauan Riau 48,97 2,15 4,39 44,76 53, DKI Jakarta Jawa Barat 42,73 0,99 2,31 40,80 44, Jawa Tengah 51,24 0,84 1,64 49,58 52, DI Yogyakarta 59,01 2,61 4,42 53,90 64, Jawa Timur 52,80 0,83 1,58 51,17 54, Banten 45,44 1,99 4,37 41,55 49, Bali 69,99 1,74 2,48 66,58 73, Nusa Tenggara Barat 52,25 1,66 3,18 49,00 55, Nusa Tenggara Timur 58,45 1,23 2,10 56,04 60, Kalimantan Barat 58,96 1,30 2,21 56,41 61, Kalimantan Tengah 58,59 1,44 2,46 55,76 61, Kalimantan Selatan 58,69 1,43 2,43 55,89 61, Kalimantan Timur 48,79 1,70 3,49 45,45 52, Sulawesi Utara 42,17 1,37 3,25 39,49 44, Sulawesi Tengah 53,32 1,42 2,66 50,53 56, Sulawesi Selatan 52,33 1,01 1,92 50,36 54, Sulawesi Tenggara 55,96 1,58 2,82 52,86 59, Gorontalo 50,06 1,92 3,84 46,30 53, Sulawesi Barat 59,90 1,81 3,02 56,35 63, Maluku 42,42 1,99 4,69 38,52 46, Maluku Utara 48,90 1,91 3,90 45,16 52, Papua Barat 54,26 2,39 4,40 49,58 58, Papua 76,52 1,23 1,60 74,11 78, INDONESIA 52,21 0,27 0,52 51,68 52, Sumber: BPS RI Sakernas Agustus 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
289 Tabel Sampling Error Persentase Pemuda yang Bekerja Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2014 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Perkotaan+ Perdesaan Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 42,65 0,90 2,10 40,89 44, Sumatera Utara 52,27 0,77 1,47 50,76 53, Sumatera Barat 46,49 1,00 2,15 44,53 48, Riau 47,38 1,42 3,00 44,59 50, Jambi 50,93 1,13 2,22 48,71 53, Sumatera Selatan 54,29 0,95 1,74 52,44 56, Bengkulu 51,21 1,16 2,26 48,93 53, Lampung 52,03 0,93 1,79 50,20 53, Kep. Bangka Belitung 53,17 1,39 2,61 50,45 55, Kepulauan Riau 54,27 2,10 3,86 50,16 58, DKI Jakarta 56,73 1,11 1,96 54,54 58, Jawa Barat 46,99 0,64 1,36 45,73 48, Jawa Tengah 52,07 0,58 1,11 50,94 53, DI Yogyakarta 53,61 1,70 3,18 50,27 56, Jawa Timur 52,07 0,58 1,12 50,93 53, Banten 50,38 1,04 2,06 48,34 52, Bali 63,25 1,16 1,84 60,97 65, Nusa Tenggara Barat 50,44 1,17 2,31 48,15 52, Nusa Tenggara Timur 53,79 1,07 2,00 51,69 55, Kalimantan Barat 55,92 1,01 1,80 53,95 57, Kalimantan Tengah 54,29 1,17 2,15 52,00 56, Kalimantan Selatan 55,40 1,16 2,10 53,12 57, Kalimantan Timur 47,19 1,10 2,34 45,03 49, Sulawesi Utara 41,37 1,19 2,88 39,04 43, Sulawesi Tengah 52,52 1,25 2,39 50,06 54, Sulawesi Selatan 47,94 1,02 2,12 45,95 49, Sulawesi Tenggara 51,35 1,40 2,73 48,60 54, Gorontalo 48,48 1,47 3,03 45,60 51, Sulawesi Barat 58,88 1,53 2,60 55,87 61, Maluku 39,23 1,60 4,08 36,09 42, Maluku Utara 46,70 1,62 3,46 43,53 49, Papua Barat 51,30 1,88 3,66 47,62 54, Papua 67,49 1,15 1,70 65,24 69, INDONESIA 51,03 0,21 0,41 50,62 51, Sumber: BPS RI Sakernas Agustus Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
290 Tabel Sampling Error Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Pemuda Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2014 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Perkotaan Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 21,41 1,46 6,82 18,55 24, Sumatera Utara 18,77 1,45 7,74 15,92 21, Sumatera Barat 21,28 1,77 8,31 17,81 24, Riau 20,00 1,79 8,97 16,49 23, Jambi 17,28 2,30 13,30 12,77 21, Sumatera Selatan 18,26 1,48 8,09 15,36 21, Bengkulu 10,78 1,80 16,73 7,25 14, Lampung 16,77 2,00 11,95 12,84 20, Kep. Bangka Belitung 13,29 1,96 14,72 9,46 17, Kepulauan Riau 15,23 2,33 15,27 10,67 19, DKI Jakarta 14,43 0,96 6,63 12,56 16, Jawa Barat 19,19 0,77 4,03 17,67 20, Jawa Tengah 15,15 0,68 4,49 13,82 16, DI Yogyakarta 9,99 1,48 14,78 7,09 12, Jawa Timur 13,82 0,70 5,09 12,44 15, Banten 16,83 1,15 6,80 14,59 19, Bali 5,58 0,80 14,24 4,02 7, Nusa Tenggara Barat 15,73 1,62 10,30 12,56 18, Nusa Tenggara Timur 18,14 1,92 10,56 14,39 21, Kalimantan Barat 14,28 1,32 9,23 11,69 16, Kalimantan Tengah 11,26 1,61 14,28 8,11 14, Kalimantan Selatan 12,00 1,65 13,78 8,76 15, Kalimantan Timur 17,88 1,46 8,16 15,02 20, Sulawesi Utara 25,56 2,07 8,10 21,50 29, Sulawesi Tengah 11,39 1,81 15,87 7,85 14, Sulawesi Selatan 18,34 2,07 11,26 14,29 22, Sulawesi Tenggara 16,14 2,18 13,52 11,86 20, Gorontalo 14,97 2,65 17,71 9,77 20, Sulawesi Barat 4,50 1,34 29,78 1,88 7, Maluku 29,14 3,48 11,95 22,31 35, Maluku Utara 17,47 2,58 14,79 12,41 22, Papua Barat 15,31 1,84 12,04 11,70 18, Papua 17,88 2,09 11,70 13,78 21, INDONESIA 16,49 0,29 1,77 15,91 17, Sumber: BPS RI Sakernas Agustus 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
291 Tabel Sampling Error Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Pemuda Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2014 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Perdesaan Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 22,59 1,49 6,59 19,67 25, Sumatera Utara 12,41 0,84 6,74 10,77 14, Sumatera Barat 14,29 1,27 8,91 11,79 16, Riau 11,98 1,22 10,20 9,58 14, Jambi 10,09 1,09 10,82 7,95 12, Sumatera Selatan 8,73 0,94 10,74 6,89 10, Bengkulu 8,67 0,99 11,38 6,74 10, Lampung 11,05 0,94 8,49 9,21 12, Kep. Bangka Belitung 9,94 1,96 19,70 6,10 13, Kepulauan Riau 14,07 2,43 17,26 9,31 18, DKI Jakarta Jawa Barat 25,03 1,35 5,38 22,39 27, Jawa Tengah 14,07 0,81 5,74 12,49 15, DI Yogyakarta 9,68 1,83 18,88 6,09 13, Jawa Timur 11,53 0,81 7,00 9,95 13, Banten 24,61 2,29 9,29 20,13 29, Bali 5,14 0,97 18,93 3,23 7, Nusa Tenggara Barat 10,98 1,40 12,72 8,24 13, Nusa Tenggara Timur 6,46 0,69 10,61 5,12 7, Kalimantan Barat 8,78 0,93 10,61 6,96 10, Kalimantan Tengah 7,06 0,97 13,69 5,16 8, Kalimantan Selatan 7,63 0,93 12,17 5,81 9, Kalimantan Timur 16,85 2,04 12,08 12,86 20, Sulawesi Utara 17,10 1,57 9,16 14,03 20, Sulawesi Tengah 9,15 1,07 11,71 7,05 11, Sulawesi Selatan 9,19 0,76 8,32 7,69 10, Sulawesi Tenggara 7,79 1,01 12,90 5,82 9, Gorontalo 6,62 1,33 20,09 4,01 9, Sulawesi Barat 4,19 0,83 19,89 2,56 5, Maluku 22,57 2,71 12,02 17,25 27, Maluku Utara 12,12 1,64 13,55 8,90 15, Papua Barat 9,47 2,09 22,09 5,37 13, Papua 4,96 0,54 10,87 3,90 6, INDONESIA 13,31 0,28 2,09 12,77 13, Sumber: BPS RI Sakernas Agustus Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
292 Tabel Sampling Error Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Pemuda Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2014 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Perkotaan+ Perdesaan Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 22,26 1,15 5,16 20,01 24, Sumatera Utara 15,57 0,84 5,40 13,92 17, Sumatera Barat 17,27 1,07 6,20 15,17 19, Riau 15,23 1,06 6,95 13,16 17, Jambi 12,34 1,06 8,55 10,27 14, Sumatera Selatan 12,16 0,83 6,82 10,53 13, Bengkulu 9,38 0,90 9,55 7,62 11, Lampung 12,52 0,87 6,98 10,81 14, Kep. Bangka Belitung 11,57 1,39 11,99 8,85 14, Kepulauan Riau 15,09 2,07 13,72 11,04 19, DKI Jakarta 14,43 0,96 6,63 12,56 16, Jawa Barat 20,95 0,68 3,26 19,61 22, Jawa Tengah 14,60 0,53 3,63 13,57 15, DI Yogyakarta 9,90 1,17 11,84 7,60 12, Jawa Timur 12,66 0,54 4,23 11,61 13, Banten 19,10 1,06 5,56 17,02 21, Bali 5,41 0,62 11,37 4,21 6, Nusa Tenggara Barat 13,06 1,07 8,16 10,97 15, Nusa Tenggara Timur 8,62 0,69 8,01 7,27 9, Kalimantan Barat 10,37 0,77 7,45 8,86 11, Kalimantan Tengah 8,36 0,84 10,02 6,72 10, Kalimantan Selatan 9,47 0,88 9,29 7,75 11, Kalimantan Timur 17,48 1,19 6,83 15,14 19, Sulawesi Utara 21,36 1,29 6,06 18,83 23, Sulawesi Tengah 9,75 0,92 9,46 7,94 11, Sulawesi Selatan 12,86 0,99 7,73 10,91 14, Sulawesi Tenggara 10,10 0,99 9,78 8,16 12, Gorontalo 9,69 1,34 13,85 7,06 12, Sulawesi Barat 4,26 0,71 16,75 2,86 5, Maluku 25,28 2,15 8,52 21,06 29, Maluku Utara 13,72 1,39 10,14 10,99 16, Papua Barat 10,92 1,63 14,91 7,73 14, Papua 7,57 0,64 8,40 6,32 8, INDONESIA 14,97 0,20 1,35 14,58 15, Sumber: BPS RI Sakernas Agustus 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
293 Tabel Sampling Error Persentase Pemuda yang Mengalami Keluhan Kesehatan Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2014 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Perkotaan Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 16,38 1,14 6,95 14,15 18, Sumatera Utara 15,59 1,00 6,41 13,63 17, Sumatera Barat 23,49 1,51 6,42 20,53 26, Riau 19,15 1,18 6,17 16,83 21, Jambi 13,68 1,81 13,25 10,13 17, Sumatera Selatan 20,33 1,47 7,24 17,44 23, Bengkulu 17,55 1,57 8,92 14,48 20, Lampung 14,04 1,28 9,11 11,54 16, Kep. Bangka Belitung 19,54 2,02 10,32 15,59 23, Kepulauan Riau 15,46 1,96 12,66 11,63 19, DKI Jakarta 20,47 0,94 4,61 18,62 22, Jawa Barat 18,31 0,65 3,54 17,04 19, Jawa Tengah 23,13 0,72 3,10 21,72 24, DI Yogyakarta 33,51 1,72 5,12 30,15 36, Jawa Timur 18,90 0,62 3,27 17,69 20, Banten 19,74 1,12 5,69 17,54 21, Bali 22,63 1,25 5,53 20,17 25, Nusa Tenggara Barat 25,73 1,64 6,37 22,52 28, Nusa Tenggara Timur 19,48 1,47 7,55 16,59 22, Kalimantan Barat 16,60 1,40 8,46 13,85 19, Kalimantan Tengah 17,83 1,50 8,41 14,89 20, Kalimantan Selatan 24,61 1,58 6,41 21,51 27, Kalimantan Timur 11,73 0,84 7,18 10,08 13, Sulawesi Utara 15,44 1,45 9,41 12,59 18, Sulawesi Tengah 20,38 2,00 9,80 16,47 24, Sulawesi Selatan 12,98 1,00 7,70 11,02 14, Sulawesi Tenggara 21,56 1,87 8,65 17,91 25, Gorontalo 31,90 2,61 8,18 26,78 37, Sulawesi Barat 22,92 2,57 11,20 17,89 27, Maluku 13,40 1,52 11,35 10,42 16, Maluku Utara 6,88 1,27 18,39 4,40 9, Papua Barat 14,11 1,39 9,82 11,39 16, Papua 12,24 1,14 9,29 10,01 14, INDONESIA 19,29 0,25 1,30 18,80 19, Sumber: BPS RI Susenas Kor Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
294 Tabel Sampling Error Persentase Pemuda yang Mengalami Keluhan Kesehatan Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2014 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Perdesaan Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 20,18 0,84 4,17 18,53 21, Sumatera Utara 14,95 0,72 4,82 13,54 16, Sumatera Barat 21,13 1,01 4,77 19,16 23, Riau 18,93 1,11 5,86 16,76 21, Jambi 13,28 0,88 6,64 11,55 15, Sumatera Selatan 16,39 0,78 4,74 14,86 17, Bengkulu 21,45 1,33 6,21 18,84 24, Lampung 20,86 0,97 4,63 18,97 22, Kep. Bangka Belitung 15,16 1,52 10,00 12,19 18, Kepulauan Riau 18,66 2,49 13,36 13,78 23, DKI Jakarta Jawa Barat 20,07 0,97 4,81 18,18 21, Jawa Tengah 21,15 0,72 3,40 19,74 22, DI Yogyakarta 35,69 3,89 10,89 28,07 43, Jawa Timur 19,79 0,65 3,28 18,52 21, Banten 22,89 1,51 6,58 19,93 25, Bali 34,25 2,10 6,14 30,12 38, Nusa Tenggara Barat 27,50 1,68 6,11 24,21 30, Nusa Tenggara Timur 25,58 0,87 3,38 23,88 27, Kalimantan Barat 15,36 0,95 6,21 13,49 17, Kalimantan Tengah 18,58 1,26 6,80 16,11 21, Kalimantan Selatan 25,44 1,30 5,11 22,90 27, Kalimantan Timur 12,83 1,30 10,13 10,28 15, Sulawesi Utara 17,58 1,21 6,90 15,20 19, Sulawesi Tengah 22,94 1,18 5,16 20,62 25, Sulawesi Selatan 16,91 0,73 4,34 15,47 18, Sulawesi Tenggara 19,45 1,24 6,38 17,02 21, Gorontalo 24,68 1,72 6,97 21,30 28, Sulawesi Barat 22,19 1,83 8,25 18,60 25, Maluku 13,47 1,17 8,68 11,18 15, Maluku Utara 9,63 1,11 11,56 7,45 11, Papua Barat 11,58 1,33 11,46 8,98 14, Papua 12,00 0,72 6,02 10,58 13, INDONESIA 19,76 0,23 1,16 19,31 20, Sumber: BPS RI Susenas Kor 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
295 Tabel Sampling Error Persentase Pemuda yang Mengalami Keluhan Kesehatan Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2014 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Perkotaan+ Perdesaan Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 19,04 0,68 3,60 17,70 20, Sumatera Utara 15,29 0,63 4,09 14,06 16, Sumatera Barat 22,12 0,86 3,89 20,43 23, Riau 19,02 0,81 4,28 17,42 20, Jambi 13,40 0,82 6,12 11,79 15, Sumatera Selatan 17,89 0,74 4,15 16,43 19, Bengkulu 20,13 1,04 5,16 18,10 22, Lampung 19,02 0,79 4,16 17,47 20, Kep. Bangka Belitung 17,30 1,26 7,26 14,84 19, Kepulauan Riau 15,95 1,70 10,66 12,62 19, DKI Jakarta 20,47 0,94 4,61 18,62 22, Jawa Barat 18,85 0,54 2,85 17,80 19, Jawa Tengah 22,11 0,51 2,30 21,12 23, DI Yogyakarta 34,11 1,65 4,83 30,88 37, Jawa Timur 19,35 0,45 2,32 18,47 20, Banten 20,69 0,91 4,38 18,92 22, Bali 26,61 1,09 4,10 24,47 28, Nusa Tenggara Barat 26,73 1,19 4,44 24,40 29, Nusa Tenggara Timur 24,12 0,75 3,11 22,65 25, Kalimantan Barat 15,77 0,79 5,01 14,22 17, Kalimantan Tengah 18,31 0,97 5,31 16,41 20, Kalimantan Selatan 25,07 1,01 4,02 23,10 27, Kalimantan Timur 12,14 0,72 5,90 10,74 13, Sulawesi Utara 16,56 0,94 5,67 14,72 18, Sulawesi Tengah 22,21 1,02 4,59 20,21 24, Sulawesi Selatan 15,27 0,61 3,99 14,07 16, Sulawesi Tenggara 20,12 1,04 5,15 18,09 22, Gorontalo 27,21 1,46 5,36 24,35 30, Sulawesi Barat 22,36 1,53 6,84 19,36 25, Maluku 13,44 0,93 6,95 11,61 15, Maluku Utara 8,78 0,87 9,88 7,08 10, Papua Barat 12,41 1,01 8,13 10,43 14, Papua 12,07 0,61 5,05 10,87 13, INDONESIA 19,51 0,17 0,88 19,18 19, Sumber: BPS RI Susenas Kor Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
296 Tabel Sampling Error Angka Kesakitan Pemuda Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2014 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Perkotaan Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 7,46 0,72 9,62 6,06 8, Sumatera Utara 7,68 0,68 8,90 6,34 9, Sumatera Barat 9,21 0,76 8,29 7,71 10, Riau 7,72 0,80 10,37 6,15 9, Jambi 7,09 1,04 14,66 5,05 9, Sumatera Selatan 5,98 0,66 11,07 4,68 7, Bengkulu 7,78 0,96 12,36 5,90 9, Lampung 6,58 1,11 16,83 4,41 8, Kep. Bangka Belitung 6,80 0,99 14,59 4,85 8, Kepulauan Riau 6,21 0,99 15,99 4,26 8, DKI Jakarta 7,89 0,61 7,74 6,69 9, Jawa Barat 8,43 0,41 4,87 7,62 9, Jawa Tengah 9,40 0,45 4,76 8,52 10, DI Yogyakarta 9,93 0,87 8,80 8,22 11, Jawa Timur 8,71 0,40 4,61 7,92 9, Banten 8,22 0,66 8,03 6,92 9, Bali 11,99 0,85 7,10 10,32 13, Nusa Tenggara Barat 11,81 1,07 9,06 9,71 13, Nusa Tenggara Timur 7,94 0,88 11,05 6,22 9, Kalimantan Barat 8,00 0,94 11,70 6,17 9, Kalimantan Tengah 8,87 1,14 12,86 6,63 11, Kalimantan Selatan 7,63 0,88 11,53 5,91 9, Kalimantan Timur 5,16 0,53 10,19 4,13 6, Sulawesi Utara 7,73 0,82 10,63 6,12 9, Sulawesi Tengah 11,87 1,66 13,96 8,62 15, Sulawesi Selatan 5,26 0,54 10,32 4,20 6, Sulawesi Tenggara 10,24 1,29 12,62 7,71 12, Gorontalo 16,42 1,84 11,23 12,80 20, Sulawesi Barat 13,96 2,31 16,55 9,43 18, Maluku 6,18 0,87 14,06 4,48 7, Maluku Utara 5,11 1,10 21,52 2,95 7, Papua Barat 8,85 1,14 12,92 6,61 11, Papua 6,09 0,82 13,53 4,48 7, INDONESIA 8,33 0,16 1,89 8,02 8, Sumber: BPS RI Susenas Kor 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
297 Tabel Sampling Error Angka Kesakitan Pemuda Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2014 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Perdesaan Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 10,35 0,59 5,70 9,19 11, Sumatera Utara 8,13 0,51 6,28 7,13 9, Sumatera Barat 10,59 0,69 6,48 9,24 11, Riau 9,63 0,76 7,87 8,14 11, Jambi 7,12 0,59 8,28 5,96 8, Sumatera Selatan 6,52 0,48 7,35 5,58 7, Bengkulu 11,32 0,92 8,12 9,51 13, Lampung 8,09 0,50 6,22 7,10 9, Kep. Bangka Belitung 5,45 0,89 16,38 3,70 7, Kepulauan Riau 8,76 1,60 18,23 5,63 11, DKI Jakarta Jawa Barat 8,21 0,55 6,67 7,14 9, Jawa Tengah 8,98 0,46 5,09 8,08 9, DI Yogyakarta 13,43 2,83 21,07 7,88 18, Jawa Timur 9,84 0,46 4,65 8,95 10, Banten 9,45 0,99 10,51 7,50 11, Bali 21,97 1,72 7,84 18,59 25, Nusa Tenggara Barat 13,01 1,06 8,12 10,94 15, Nusa Tenggara Timur 13,82 0,61 4,39 12,63 15, Kalimantan Barat 7,18 0,63 8,73 5,95 8, Kalimantan Tengah 10,02 0,87 8,68 8,31 11, Kalimantan Selatan 9,39 0,80 8,51 7,82 10, Kalimantan Timur 6,19 0,88 14,28 4,46 7, Sulawesi Utara 10,47 0,89 8,47 8,73 12, Sulawesi Tengah 12,98 0,81 6,26 11,38 14, Sulawesi Selatan 8,27 0,48 5,76 7,34 9, Sulawesi Tenggara 12,47 0,99 7,91 10,54 14, Gorontalo 13,77 1,28 9,32 11,26 16, Sulawesi Barat 12,76 1,31 10,27 10,19 15, Maluku 7,04 0,71 10,14 5,64 8, Maluku Utara 5,38 0,73 13,56 3,95 6, Papua Barat 6,38 0,85 13,28 4,72 8, Papua 4,83 0,41 8,58 4,01 5, INDONESIA 9,28 0,15 1,58 8,99 9, Sumber: BPS RI Susenas Kor Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
298 Tabel Sampling error Angka Kesakitan Pemuda Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2014 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Perkotaan+Perdesaan Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 9,48 0,47 4,95 8,56 10, Sumatera Utara 7,89 0,43 5,49 7,04 8, Sumatera Barat 10,01 0,51 5,12 9,01 11, Riau 8,84 0,56 6,28 7,75 9, Jambi 7,11 0,52 7,26 6,10 8, Sumatera Selatan 6,32 0,39 6,16 5,55 7, Bengkulu 10,12 0,70 6,88 8,76 11, Lampung 7,68 0,47 6,17 6,75 8, Kep. Bangka Belitung 6,11 0,67 10,91 4,80 7, Kepulauan Riau 6,60 0,88 13,34 4,87 8, DKI Jakarta 7,89 0,61 7,74 6,69 9, Jawa Barat 8,36 0,33 3,95 7,71 9, Jawa Tengah 9,18 0,32 3,48 8,56 9, DI Yogyakarta 10,90 1,03 9,46 8,88 12, Jawa Timur 9,28 0,30 3,28 8,68 9, Banten 8,59 0,55 6,41 7,51 9, Bali 15,42 0,83 5,36 13,80 17, Nusa Tenggara Barat 12,48 0,76 6,06 11,00 13, Nusa Tenggara Timur 12,42 0,51 4,11 11,42 13, Kalimantan Barat 7,45 0,52 7,00 6,43 8, Kalimantan Tengah 9,61 0,69 7,20 8,25 10, Kalimantan Selatan 8,61 0,59 6,87 7,45 9, Kalimantan Timur 5,55 0,47 8,43 4,63 6, Sulawesi Utara 9,16 0,61 6,61 7,97 10, Sulawesi Tengah 12,66 0,75 5,91 11,19 14, Sulawesi Selatan 7,01 0,37 5,22 6,30 7, Sulawesi Tenggara 11,76 0,79 6,68 10,22 13, Gorontalo 14,70 1,06 7,20 12,63 16, Sulawesi Barat 13,04 1,14 8,76 10,80 15, Maluku 6,67 0,55 8,28 5,59 7, Maluku Utara 5,29 0,61 11,47 4,10 6, Papua Barat 7,19 0,69 9,54 5,85 8, Papua 5,19 0,38 7,31 4,45 5, INDONESIA 8,77 0,11 1,23 8,56 8, Sumber: BPS RI Susenas Kor 2014 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
299 Tabel Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2012 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Perkotaan Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 24,85 1,59 6,41 21,72 27, Sumatera Utara 23,06 1,29 5,61 20,52 25, Sumatera Barat 28,09 2,01 7,15 24,15 32, Riau 26,98 1,74 6,46 23,57 30, Jambi 27,03 2,69 9,97 21,75 32, Sumatera Selatan 27,29 1,71 6,27 23,93 30, Bengkulu 34,11 3,20 9,37 27,84 40, Lampung 31,96 2,17 6,78 27,71 36, Kep. Bangka Belitung 25,23 1,81 7,17 21,69 28, Kepulauan Riau 30,75 2,28 7,42 26,28 35, DKI Jakarta 30,69 1,68 5,47 27,41 33, Jawa Barat 30,31 0,85 2,81 28,64 31, Jawa Tengah 29,88 0,84 2,81 28,23 31, DI Yogyakarta 33,63 2,05 6,11 29,60 37, Jawa Timur 29,40 0,83 2,83 27,77 31, Banten 32,00 1,51 4,71 29,04 34, Bali 25,42 1,75 6,89 21,98 28, Nusa Tenggara Barat 30,18 2,06 6,84 26,13 34, Nusa Tenggara Timur 32,29 2,51 7,76 27,37 37, Kalimantan Barat 26,73 2,16 8,09 22,49 30, Kalimantan Tengah 33,20 2,14 6,46 29,00 37, Kalimantan Selatan 28,11 2,04 7,25 24,11 32, Kalimantan Timur 35,76 1,85 5,17 32,13 39, Sulawesi Utara 26,57 2,55 9,58 21,58 31, Sulawesi Tengah 36,85 2,95 8,00 31,07 42, Sulawesi Selatan 30,38 1,66 5,47 27,12 33, Sulawesi Tenggara 33,07 3,33 10,06 26,55 39, Gorontalo 36,65 4,67 12,74 27,50 45, Sulawesi Barat 30,13 3,98 13,20 22,33 37, Maluku 28,73 3,69 12,85 21,50 35, Maluku Utara 31,00 4,58 14,77 22,02 39, Papua Barat 30,20 3,66 12,13 23,02 37, Papua 25,31 2,50 9,88 20,40 30, INDONESIA 29,69 0,34 1,15 29,02 30, Sumber: BPS RI Susenas MSBP Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
300 Tabel Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2012 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Perdesaan Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 19,28 0,81 4,20 17,69 20, Sumatera Utara 18,05 0,79 4,37 16,51 19, Sumatera Barat 22,68 1,12 4,93 20,48 24, Riau 23,51 1,23 5,25 21,09 25, Jambi 23,37 1,29 5,53 20,83 25, Sumatera Selatan 20,92 0,94 4,48 19,08 22, Bengkulu 23,58 1,06 4,50 21,50 25, Lampung 20,38 0,73 3,58 18,95 21, Kep. Bangka Belitung 23,49 1,59 6,78 20,37 26, Kepulauan Riau 23,01 3,87 16,84 15,41 30, DKI Jakarta Jawa Barat 20,87 0,77 3,67 19,37 22, Jawa Tengah 21,82 0,63 2,90 20,58 23, DI Yogyakarta 20,01 1,79 8,93 16,51 23, Jawa Timur 18,82 0,57 3,01 17,71 19, Banten 21,65 1,22 5,63 19,26 24, Bali 14,52 1,32 9,12 11,93 17, Nusa Tenggara Barat 21,78 1,50 6,90 18,84 24, Nusa Tenggara Timur 20,18 1,02 5,06 18,18 22, Kalimantan Barat 19,80 1,11 5,62 17,61 21, Kalimantan Tengah 21,64 1,39 6,41 18,92 24, Kalimantan Selatan 18,73 0,83 4,42 17,11 20, Kalimantan Timur 24,50 2,01 8,20 20,56 28, Sulawesi Utara 17,73 1,26 7,10 15,26 20, Sulawesi Tengah 21,49 1,12 5,20 19,30 23, Sulawesi Selatan 19,29 0,78 4,07 17,75 20, Sulawesi Tenggara 21,62 1,28 5,94 19,11 24, Gorontalo 21,36 1,75 8,19 17,93 24, Sulawesi Barat 23,91 2,38 9,95 19,25 28, Maluku 17,73 1,34 7,53 15,12 20, Maluku Utara 18,65 1,75 9,41 15,21 22, Papua Barat 17,57 2,01 11,46 13,62 21, Papua 11,55 1,23 10,67 9,13 13, INDONESIA 20,30 0,21 1,03 19,89 20, Sumber: BPS RI Susenas MSBP 2012 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
301 Tabel Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Selama Seminggu Terakhir Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2012 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Perkotaan+ Perdesaan Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 20,84 0,74 3,56 19,39 22, Sumatera Utara 20,51 0,76 3,72 19,02 22, Sumatera Barat 24,73 1,03 4,18 22,71 26, Riau 24,87 1,02 4,10 22,87 26, Jambi 24,49 1,22 4,99 22,10 26, Sumatera Selatan 23,20 0,87 3,74 21,50 24, Bengkulu 26,84 1,23 4,57 24,43 29, Lampung 23,36 0,78 3,36 21,82 24, Kep. Bangka Belitung 24,35 1,20 4,93 22,00 26, Kepulauan Riau 29,34 2,02 6,88 25,39 33, DKI Jakarta 30,69 1,68 5,47 27,41 33, Jawa Barat 27,07 0,62 2,27 25,87 28, Jawa Tengah 25,51 0,52 2,02 24,49 26, DI Yogyakarta 29,01 1,50 5,18 26,06 31, Jawa Timur 23,86 0,50 2,10 22,87 24, Banten 28,55 1,06 3,72 26,47 30, Bali 21,08 1,19 5,66 18,74 23, Nusa Tenggara Barat 25,29 1,24 4,90 22,86 27, Nusa Tenggara Timur 22,57 0,98 4,32 20,66 24, Kalimantan Barat 21,87 1,02 4,64 19,88 23, Kalimantan Tengah 25,50 1,21 4,73 23,14 27, Kalimantan Selatan 22,68 1,01 4,47 20,69 24, Kalimantan Timur 31,48 1,41 4,47 28,73 34, Sulawesi Utara 21,73 1,35 6,21 19,08 24, Sulawesi Tengah 25,23 1,14 4,52 22,99 27, Sulawesi Selatan 23,34 0,82 3,51 21,74 24, Sulawesi Tenggara 24,77 1,29 5,21 22,24 27, Gorontalo 26,45 1,99 7,54 22,54 30, Sulawesi Barat 25,38 2,04 8,04 21,38 29, Maluku 21,84 1,65 7,55 18,61 25, Maluku Utara 22,02 1,85 8,39 18,40 25, Papua Barat 21,37 1,83 8,59 17,77 24, Papua 15,13 1,12 7,42 12,93 17, INDONESIA 24,99 0,20 0,81 24,60 25, Sumber: BPS RI Susenas MSBP Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
302 Tabel Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Sendiri Selama Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, 2012 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 17,08 1,65 9,67 13,84 20, Sumatera Utara 17,25 1,58 9,14 14,16 20, Sumatera Barat 20,16 1,57 7,78 17,08 23, Riau 20,51 2,16 10,54 16,27 24, Jambi 20,21 3,18 15,74 13,97 26, Sumatera Selatan 20,09 2,18 10,84 15,82 24, Bengkulu 15,71 1,99 12,67 11,81 19, Lampung 17,85 1,86 10,39 14,21 21, Kep. Bangka Belitung 12,26 1,94 15,83 8,46 16, Kepulauan Riau 34,75 4,83 13,89 25,29 44, DKI Jakarta 45,51 2,83 6,21 39,96 51, Jawa Barat 28,58 1,29 4,51 26,05 31, Jawa Tengah 27,30 0,96 3,50 25,42 29, DI Yogyakarta 30,73 2,34 7,61 26,15 35, Jawa Timur 30,76 1,15 3,74 28,50 33, Banten 29,57 2,31 7,81 25,04 34, Bali 36,88 2,69 7,28 31,61 42, Nusa Tenggara Barat 25,10 2,43 9,69 20,34 29, Nusa Tenggara Timur 12,80 1,38 10,75 10,10 15, Kalimantan Barat 15,70 1,98 12,60 11,82 19, Kalimantan Tengah 17,25 2,28 13,19 12,79 21, Kalimantan Selatan 19,46 3,11 15,96 13,37 25, Kalimantan Timur 27,20 2,24 8,22 22,81 31, Sulawesi Utara 34,13 2,51 7,34 29,22 39, Sulawesi Tengah 19,05 2,09 10,99 14,94 23, Sulawesi Selatan 19,63 2,02 10,29 15,67 23, Sulawesi Tenggara 19,74 2,30 11,62 15,24 24, Gorontalo 22,32 5,39 24,14 11,76 32, Sulawesi Barat 29,72 5,74 19,33 18,46 40, Maluku 25,91 3,11 11,99 19,82 32, Maluku Utara 39,34 4,05 10,29 31,41 47, Papua Barat 31,58 4,94 15,64 21,89 41, Papua 22,61 2,70 11,93 17,32 27, INDONESIA 26,75 0,44 1,66 25,88 27, Sumber: BPS RI Susenas MSBP 2012 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
303 Tabel Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Melalui Perkumpulan Sekolah Selama Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, 2012 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 69,26 1,76 2,53 65,82 72, Sumatera Utara 69,71 1,56 2,24 66,65 72, Sumatera Barat 63,53 2,16 3,40 59,30 67, Riau 61,79 2,15 3,48 57,58 66, Jambi 58,41 2,91 4,98 52,70 64, Sumatera Selatan 66,62 2,29 3,44 62,13 71, Bengkulu 65,05 2,54 3,91 60,07 70, Lampung 65,10 2,34 3,59 60,52 69, Kep. Bangka Belitung 53,49 3,25 6,08 47,12 59, Kepulauan Riau 41,60 4,54 10,92 32,69 50, DKI Jakarta 36,81 2,29 6,22 32,32 41, Jawa Barat 53,19 1,32 2,49 50,60 55, Jawa Tengah 51,92 1,14 2,20 49,68 54, DI Yogyakarta 42,24 2,73 6,46 36,89 47, Jawa Timur 56,67 1,13 2,00 54,45 58, Banten 56,38 2,18 3,86 52,11 60, Bali 44,12 2,99 6,77 38,27 49, Nusa Tenggara Barat 60,46 2,73 4,52 55,11 65, Nusa Tenggara Timur 68,51 2,00 2,92 64,59 72, Kalimantan Barat 66,53 2,33 3,50 61,96 71, Kalimantan Tengah 58,35 2,23 3,82 53,99 62, Kalimantan Selatan 61,81 2,79 4,52 56,33 67, Kalimantan Timur 51,36 2,07 4,03 47,30 55, Sulawesi Utara 53,43 2,59 4,85 48,35 58, Sulawesi Tengah 63,46 2,29 3,61 58,97 67, Sulawesi Selatan 64,85 1,94 2,99 61,05 68, Sulawesi Tenggara 62,00 2,53 4,08 57,04 66, Gorontalo 57,90 4,00 6,90 50,07 65, Sulawesi Barat 59,79 4,75 7,95 50,47 69, Maluku 55,47 4,04 7,28 47,56 63, Maluku Utara 48,11 3,57 7,41 41,12 55, Papua Barat 54,52 4,52 8,29 45,66 63, Papua 54,14 3,55 6,56 47,18 61, INDONESIA 56,06 0,45 0,81 55,17 56, Sumber: BPS RI Susenas MSBP Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
304 Tabel Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Melalui Perkumpulan Olahraga Selama Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, 2012 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 17,44 1,55 8,90 14,40 20, Sumatera Utara 9,82 1,22 12,47 7,42 12, Sumatera Barat 14,57 1,44 9,90 11,74 17, Riau 20,21 2,04 10,10 16,21 24, Jambi 20,33 2,24 11,00 15,95 24, Sumatera Selatan 12,34 1,61 13,03 9,18 15, Bengkulu 8,71 1,46 16,80 5,84 11, Lampung 12,17 1,37 11,29 9,47 14, Kep. Bangka Belitung 29,99 3,23 10,76 23,67 36, Kepulauan Riau 16,05 2,57 16,01 11,02 21, DKI Jakarta 12,24 2,28 18,58 7,78 16, Jawa Barat 13,87 0,94 6,74 12,04 15, Jawa Tengah 13,53 0,73 5,38 12,10 14, DI Yogyakarta 18,90 2,09 11,05 14,80 22, Jawa Timur 10,61 0,64 6,06 9,35 11, Banten 9,22 0,98 10,65 7,29 11, Bali 16,29 2,12 13,03 12,13 20, Nusa Tenggara Barat 10,61 1,53 14,37 7,62 13, Nusa Tenggara Timur 6,02 0,86 14,22 4,34 7, Kalimantan Barat 19,79 2,03 10,25 15,81 23, Kalimantan Tengah 21,56 2,36 10,94 16,94 26, Kalimantan Selatan 12,63 1,70 13,46 9,30 15, Kalimantan Timur 16,79 1,92 11,45 13,02 20, Sulawesi Utara 7,83 1,87 23,92 4,16 11, Sulawesi Tengah 11,25 1,70 15,10 7,92 14, Sulawesi Selatan 9,09 1,08 11,88 6,97 11, Sulawesi Tenggara 10,56 1,60 15,18 7,42 13, Gorontalo 10,26 2,33 22,74 5,69 14, Sulawesi Barat 10,16 2,07 20,32 6,11 14, Maluku 11,09 1,74 15,68 7,68 14, Maluku Utara 11,94 2,17 18,20 7,68 16, Papua Barat 9,95 1,94 19,47 6,16 13, Papua 16,97 2,73 16,09 11,62 22, INDONESIA 12,92 0,30 2,34 12,33 13, Sumber: BPS RI Susenas MSBP 2012 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
305 Tabel Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Melalui Perkumpulan Di Tempat Kerja Selama Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, 2012 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 4,50 0,68 15,06 3,17 5, Sumatera Utara 5,15 0,74 14,40 3,70 6, Sumatera Barat 4,44 0,63 14,20 3,21 5, Riau 7,57 1,03 13,55 5,56 9, Jambi 5,74 1,12 19,53 3,54 7, Sumatera Selatan 6,66 0,91 13,61 4,88 8, Bengkulu 5,76 0,94 16,40 3,91 7, Lampung 6,36 1,07 16,84 4,26 8, Kep. Bangka Belitung 6,51 1,47 22,58 3,63 9, Kepulauan Riau 8,38 1,79 21,38 4,87 11, DKI Jakarta 11,36 1,43 12,61 8,55 14, Jawa Barat 6,99 0,55 7,89 5,91 8, Jawa Tengah 6,27 0,44 7,02 5,41 7, DI Yogyakarta 9,07 1,26 13,93 6,60 11, Jawa Timur 6,40 0,46 7,17 5,50 7, Banten 7,86 1,18 15,03 5,55 10, Bali 9,87 1,46 14,82 7,01 12, Nusa Tenggara Barat 4,77 0,88 18,35 3,05 6, Nusa Tenggara Timur 5,74 0,83 14,45 4,11 7, Kalimantan Barat 5,85 1,07 18,22 3,76 7, Kalimantan Tengah 10,01 1,31 13,12 7,44 12, Kalimantan Selatan 8,04 1,21 15,06 5,67 10, Kalimantan Timur 15,87 1,81 11,38 12,32 19, Sulawesi Utara 9,21 1,24 13,41 6,79 11, Sulawesi Tengah 8,39 1,13 13,45 6,18 10, Sulawesi Selatan 6,65 0,76 11,42 5,16 8, Sulawesi Tenggara 7,48 1,79 23,99 3,96 10, Gorontalo 11,10 1,65 14,82 7,88 14, Sulawesi Barat 5,76 1,77 30,76 2,29 9, Maluku 6,46 1,29 20,03 3,92 8, Maluku Utara 9,27 1,63 17,63 6,06 12, Papua Barat 10,63 1,90 17,90 6,90 14, Papua 8,37 1,62 19,30 5,20 11, INDONESIA 7,14 0,20 2,77 6,76 7, Sumber: BPS RI Susenas MSBP Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
306 Tabel Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Melalui Kegiatan Lainnya Selama Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, 2012 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 4,28 0,87 20,43 2,57 5, Sumatera Utara 5,90 0,91 15,46 4,11 7, Sumatera Barat 7,49 1,26 16,79 5,02 9, Riau 6,05 1,28 21,14 3,54 8, Jambi 7,17 1,33 18,53 4,57 9, Sumatera Selatan 4,66 0,99 21,16 2,73 6, Bengkulu 10,50 2,20 20,94 6,19 14, Lampung 6,34 1,40 22,04 3,60 9, Kep. Bangka Belitung 5,31 1,24 23,27 2,89 7, Kepulauan Riau 9,50 2,62 27,53 4,37 14, DKI Jakarta 5,88 1,23 20,89 3,47 8, Jawa Barat 9,72 0,99 10,19 7,78 11, Jawa Tengah 9,73 0,82 8,39 8,13 11, DI Yogyakarta 11,79 2,36 19,97 7,18 16, Jawa Timur 5,58 0,56 9,99 4,48 6, Banten 7,14 1,35 18,90 4,50 9, Bali 4,80 1,01 21,01 2,83 6, Nusa Tenggara Barat 9,42 1,83 19,43 5,83 13, Nusa Tenggara Timur 12,60 1,79 14,20 9,09 16, Kalimantan Barat 5,23 1,53 29,21 2,24 8, Kalimantan Tengah 5,14 1,07 20,82 3,05 7, Kalimantan Selatan 5,11 1,16 22,76 2,83 7, Kalimantan Timur 2,26 0,52 23,06 1,24 3, Sulawesi Utara 5,94 1,37 23,11 3,25 8, Sulawesi Tengah 4,39 0,93 21,11 2,57 6, Sulawesi Selatan 7,72 1,31 16,93 5,16 10, Sulawesi Tenggara 6,67 1,34 20,09 4,04 9, Gorontalo 6,41 1,87 29,13 2,75 10, Sulawesi Barat 4,02 1,29 32,13 1,49 6, Maluku 14,80 3,59 24,26 7,76 21, Maluku Utara 7,04 1,73 24,62 3,64 10, Papua Barat 11,55 3,32 28,73 5,04 18, Papua 9,03 1,99 22,01 5,14 12, INDONESIA 7,57 0,29 3,82 7,00 8, Sumber: BPS RI Susenas MSBP 2012 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
307 Tabel Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) Selama Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, 2012 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 26,68 1,84 6,89 23,07 30, Sumatera Utara 46,83 1,97 4,20 42,97 50, Sumatera Barat 18,95 1,67 8,81 15,68 22, Riau 30,71 2,19 7,12 26,42 35, Jambi 31,86 2,46 7,73 27,04 36, Sumatera Selatan 34,72 2,53 7,28 29,77 39, Bengkulu 34,73 3,17 9,14 28,51 40, Lampung 38,23 2,43 6,35 33,47 42, Kep. Bangka Belitung 43,11 3,28 7,62 36,68 49, Kepulauan Riau 22,47 3,97 17,65 14,70 30, DKI Jakarta 21,24 1,75 8,23 17,81 24, Jawa Barat 19,32 1,14 5,90 17,09 21, Jawa Tengah 18,13 0,83 4,58 16,51 19, DI Yogyakarta 12,03 1,64 13,66 8,81 15, Jawa Timur 22,26 1,06 4,75 20,19 24, Banten 24,75 2,12 8,56 20,60 28, Bali 14,59 2,30 15,78 10,08 19, Nusa Tenggara Barat 26,04 2,55 9,79 21,04 31, Nusa Tenggara Timur 25,60 1,95 7,62 21,78 29, Kalimantan Barat 19,09 2,21 11,57 14,76 23, Kalimantan Tengah 35,74 2,83 7,92 30,19 41, Kalimantan Selatan 31,20 2,41 7,73 26,47 35, Kalimantan Timur 32,72 2,35 7,20 28,10 37, Sulawesi Utara 22,69 2,74 12,07 17,32 28, Sulawesi Tengah 44,94 2,80 6,23 39,45 50, Sulawesi Selatan 39,20 2,11 5,38 35,06 43, Sulawesi Tenggara 48,63 2,65 5,46 43,43 53, Gorontalo 43,80 3,65 8,33 36,64 50, Sulawesi Barat 26,19 3,91 14,92 18,53 33, Maluku 23,76 3,00 12,63 17,88 29, Maluku Utara 20,28 3,07 15,12 14,27 26, Papua Barat 20,35 3,39 16,67 13,70 27, Papua 17,75 2,80 15,78 12,26 23, INDONESIA 24,92 0,40 1,61 24,13 25, Sumber: BPS RI Susenas MSBP Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
308 Tabel Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Jogging/Gerak Jalan Selama Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, 2012 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 10,97 1,11 10,07 8,81 13, Sumatera Utara 11,09 1,19 10,75 8,75 13, Sumatera Barat 15,67 1,38 8,81 12,96 18, Riau 9,83 1,21 12,32 7,45 12, Jambi 15,48 2,04 13,20 11,48 19, Sumatera Selatan 11,49 1,25 10,85 9,04 13, Bengkulu 10,01 1,48 14,78 7,11 12, Lampung 12,78 1,57 12,30 9,70 15, Kep. Bangka Belitung 9,64 1,78 18,48 6,15 13, Kepulauan Riau 31,01 4,74 15,29 21,72 40, DKI Jakarta 28,70 2,20 7,65 24,39 33, Jawa Barat 21,12 1,04 4,94 19,07 23, Jawa Tengah 23,02 0,91 3,96 21,23 24, DI Yogyakarta 21,14 2,30 10,86 16,64 25, Jawa Timur 23,59 1,04 4,43 21,54 25, Banten 18,43 1,74 9,43 15,02 21, Bali 27,41 3,63 13,24 20,30 34, Nusa Tenggara Barat 19,51 2,04 10,45 15,52 23, Nusa Tenggara Timur 10,75 1,16 10,76 8,48 13, Kalimantan Barat 11,46 1,90 16,61 7,73 15, Kalimantan Tengah 11,39 1,53 13,44 8,39 14, Kalimantan Selatan 14,17 2,83 20,00 8,61 19, Kalimantan Timur 19,41 1,81 9,30 15,87 22, Sulawesi Utara 19,75 2,28 11,52 15,29 24, Sulawesi Tengah 8,19 1,22 14,88 5,80 10, Sulawesi Selatan 12,20 1,65 13,52 8,97 15, Sulawesi Tenggara 6,91 1,27 18,33 4,43 9, Gorontalo 10,44 2,29 21,95 5,95 14, Sulawesi Barat 10,48 2,44 23,25 5,70 15, Maluku 17,92 3,75 20,91 10,57 25, Maluku Utara 13,26 2,46 18,56 8,43 18, Papua Barat 15,62 2,90 18,54 9,94 21, Papua 16,42 2,15 13,08 12,21 20, INDONESIA 19,16 0,37 1,92 18,44 19, Sumber: BPS RI Susenas MSBP 2012 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
309 Tabel Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Sepak Bola Selama Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, 2012 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 29,34 1,79 6,10 25,84 32, Sumatera Utara 17,63 1,39 7,86 14,92 20, Sumatera Barat 22,99 1,62 7,06 19,81 26, Riau 21,33 1,82 8,55 17,76 24, Jambi 22,93 2,27 9,90 18,48 27, Sumatera Selatan 15,76 1,42 9,03 12,97 18, Bengkulu 20,66 2,05 9,91 16,65 24, Lampung 17,85 1,35 7,56 15,20 20, Kep. Bangka Belitung 24,93 2,62 10,49 19,81 30, Kepulauan Riau 13,96 2,28 16,34 9,49 18, DKI Jakarta 13,22 1,39 10,52 10,49 15, Jawa Barat 20,70 1,00 4,81 18,75 22, Jawa Tengah 20,52 0,90 4,38 18,76 22, DI Yogyakarta 16,05 1,99 12,38 12,15 19, Jawa Timur 18,88 0,82 4,35 17,27 20, Banten 23,02 1,69 7,33 19,71 26, Bali 19,27 2,32 12,04 14,72 23, Nusa Tenggara Barat 20,04 2,04 10,15 16,05 24, Nusa Tenggara Timur 22,50 1,57 6,97 19,42 25, Kalimantan Barat 25,38 2,08 8,20 21,30 29, Kalimantan Tengah 16,64 1,83 11,00 13,05 20, Kalimantan Selatan 17,61 1,88 10,70 13,91 21, Kalimantan Timur 15,53 1,79 11,52 12,02 19, Sulawesi Utara 20,60 2,45 11,87 15,80 25, Sulawesi Tengah 17,61 1,96 11,10 13,77 21, Sulawesi Selatan 16,54 1,28 7,74 14,03 19, Sulawesi Tenggara 20,63 2,11 10,23 16,50 24, Gorontalo 16,47 2,30 13,99 11,95 20, Sulawesi Barat 20,79 2,84 13,64 15,23 26, Maluku 30,30 2,34 7,72 25,71 34, Maluku Utara 40,25 3,22 8,00 33,94 46, Papua Barat 23,14 2,96 12,81 17,33 28, Papua 22,97 2,39 10,39 18,29 27, INDONESIA 19,74 0,33 1,67 19,09 20, Sumber: BPS RI Susenas MSBP Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
310 Tabel Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Satu Hari Selama Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, 2012 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 54,40 2,23 4,11 50,02 58, Sumatera Utara 58,96 2,09 3,54 54,87 63, Sumatera Barat 69,74 1,90 2,73 66,01 73, Riau 58,22 2,52 4,34 53,27 63, Jambi 57,15 3,02 5,29 51,23 63, Sumatera Selatan 72,38 1,90 2,62 68,66 76, Bengkulu 68,89 2,86 4,15 63,29 74, Lampung 67,86 2,06 3,03 63,83 71, Kep. Bangka Belitung 54,60 3,80 6,97 47,15 62, Kepulauan Riau 51,73 4,77 9,21 42,39 61, DKI Jakarta 70,06 3,03 4,32 64,13 76, Jawa Barat 75,74 1,16 1,53 73,47 78, Jawa Tengah 62,82 1,07 1,71 60,72 64, DI Yogyakarta 60,21 2,49 4,14 55,33 65, Jawa Timur 63,18 1,19 1,89 60,84 65, Banten 73,26 2,08 2,84 69,18 77, Bali 56,26 2,86 5,08 50,66 61, Nusa Tenggara Barat 66,38 2,39 3,59 61,70 71, Nusa Tenggara Timur 75,48 1,79 2,37 71,98 78, Kalimantan Barat 68,27 2,65 3,88 63,08 73, Kalimantan Tengah 53,63 3,15 5,88 47,45 59, Kalimantan Selatan 74,93 2,79 3,73 69,46 80, Kalimantan Timur 58,60 2,99 5,09 52,75 64, Sulawesi Utara 69,14 2,65 3,84 63,94 74, Sulawesi Tengah 66,59 2,64 3,96 61,43 71, Sulawesi Selatan 66,88 1,97 2,95 63,02 70, Sulawesi Tenggara 64,26 2,63 4,09 59,10 69, Gorontalo 75,39 3,07 4,08 69,36 81, Sulawesi Barat 62,58 4,93 7,88 52,90 72, Maluku 59,42 3,73 6,28 52,10 66, Maluku Utara 46,54 3,43 7,36 39,82 53, Papua Barat 54,01 4,61 8,53 44,98 63, Papua 55,94 4,31 7,71 47,48 64, INDONESIA 66,68 0,44 0,66 65,82 67, Sumber: BPS RI Susenas MSBP 2012 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
311 Tabel Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga 2-4 Hari Selama Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, 2012 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 29,47 1,68 5,69 26,18 32, Sumatera Utara 27,94 1,76 6,31 24,48 31, Sumatera Barat 22,18 1,49 6,71 19,26 25, Riau 33,15 2,35 7,10 28,54 37, Jambi 34,11 2,47 7,24 29,27 38, Sumatera Selatan 23,20 1,84 7,91 19,60 26, Bengkulu 25,14 2,62 10,42 20,00 30, Lampung 25,79 1,75 6,78 22,36 29, Kep. Bangka Belitung 39,34 3,45 8,77 32,58 46, Kepulauan Riau 35,49 3,87 10,90 27,91 43, DKI Jakarta 23,35 2,23 9,53 18,99 27, Jawa Barat 19,61 0,97 4,96 17,71 21, Jawa Tengah 26,61 0,93 3,51 24,78 28, DI Yogyakarta 31,65 2,36 7,45 27,02 36, Jawa Timur 25,67 1,05 4,08 23,62 27, Banten 20,14 1,98 9,85 16,25 24, Bali 27,90 1,87 6,70 24,24 31, Nusa Tenggara Barat 22,07 2,01 9,12 18,12 26, Nusa Tenggara Timur 18,78 1,59 8,45 15,67 21, Kalimantan Barat 24,02 1,83 7,62 20,44 27, Kalimantan Tengah 36,29 2,57 7,08 31,25 41, Kalimantan Selatan 19,81 2,79 14,09 14,34 25, Kalimantan Timur 36,23 2,86 7,90 30,62 41, Sulawesi Utara 20,66 2,33 11,29 16,09 25, Sulawesi Tengah 26,07 2,17 8,32 21,82 30, Sulawesi Selatan 25,76 1,76 6,84 22,30 29, Sulawesi Tenggara 28,31 2,52 8,89 23,38 33, Gorontalo 17,79 2,47 13,90 12,94 22, Sulawesi Barat 27,31 4,54 16,62 18,41 36, Maluku 24,61 2,77 11,24 19,18 30, Maluku Utara 40,40 2,86 7,07 34,80 46, Papua Barat 35,27 4,05 11,47 27,34 43, Papua 36,29 3,63 10,01 29,17 43, INDONESIA 24,92 0,37 1,50 24,19 25, Sumber: BPS RI Susenas MSBP Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
312 Tabel Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga 5-6 Hari Selama Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, 2012 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 13,31 1,56 11,69 10,26 16, Sumatera Utara 9,56 1,21 12,69 7,18 11, Sumatera Barat 3,81 0,72 18,89 2,40 5, Riau 3,09 0,60 19,40 1,92 4, Jambi 3,18 0,94 29,49 1,34 5, Sumatera Selatan 1,60 0,40 24,74 0,82 2, Bengkulu 2,46 0,86 34,70 0,79 4, Lampung 1,78 0,42 23,76 0,95 2, Kep. Bangka Belitung 2,51 0,66 26,15 1,23 3, Kepulauan Riau 4,03 1,13 27,97 1,82 6, DKI Jakarta 2,57 0,88 34,07 0,85 4, Jawa Barat 1,30 0,22 16,77 0,87 1, Jawa Tengah 3,68 0,32 8,81 3,05 4, DI Yogyakarta 2,44 0,68 27,76 1,11 3, Jawa Timur 4,14 0,40 9,71 3,35 4, Banten 1,32 0,31 23,53 0,71 1, Bali 5,41 1,16 21,44 3,14 7, Nusa Tenggara Barat 3,97 0,99 25,05 2,02 5, Nusa Tenggara Timur 3,20 0,61 18,95 2,01 4, Kalimantan Barat 2,85 0,68 23,86 1,52 4, Kalimantan Tengah 6,92 1,79 25,88 3,41 10, Kalimantan Selatan 1,85 0,53 28,42 0,82 2, Kalimantan Timur 2,01 0,41 20,39 1,20 2, Sulawesi Utara 4,88 0,98 20,03 2,96 6, Sulawesi Tengah 2,18 0,69 31,51 0,83 3, Sulawesi Selatan 2,20 0,41 18,71 1,39 3, Sulawesi Tenggara 2,66 0,60 22,62 1,48 3, Gorontalo 3,03 1,21 40,06 0,65 5, Sulawesi Barat 2,77 0,77 27,81 1,26 4, Maluku 9,53 1,83 19,22 5,94 13, Maluku Utara 7,00 1,34 19,19 4,37 9, Papua Barat 7,10 2,01 28,29 3,16 11, Papua 5,14 1,47 28,68 2,25 8, INDONESIA 3,31 0,13 3,87 3,06 3, Sumber: BPS RI Susenas MSBP 2012 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
313 Tabel Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga 7 Hari Selama Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, 2012 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 2,82 0,53 18,97 1,77 3, Sumatera Utara 3,54 0,70 19,67 2,18 4, Sumatera Barat 4,27 0,67 15,78 2,95 5, Riau 5,54 0,99 17,78 3,61 7, Jambi 5,56 1,62 29,08 2,39 8, Sumatera Selatan 2,82 0,49 17,44 1,85 3, Bengkulu 3,51 0,85 24,35 1,83 5, Lampung 4,56 0,70 15,34 3,19 5, Kep. Bangka Belitung 3,54 1,51 42,79 0,57 6, Kepulauan Riau 8,75 1,98 22,61 4,87 12, DKI Jakarta 4,02 0,80 19,83 2,45 5, Jawa Barat 3,35 0,40 11,95 2,56 4, Jawa Tengah 6,88 0,48 7,03 5,94 7, DI Yogyakarta 5,70 1,36 23,87 3,03 8, Jawa Timur 7,01 0,51 7,24 6,02 8, Banten 5,28 0,86 16,23 3,60 6, Bali 10,43 2,00 19,19 6,51 14, Nusa Tenggara Barat 7,59 1,22 16,04 5,20 9, Nusa Tenggara Timur 2,54 0,50 19,70 1,56 3, Kalimantan Barat 4,85 1,42 29,35 2,06 7, Kalimantan Tengah 3,16 0,72 22,97 1,73 4, Kalimantan Selatan 3,41 0,94 27,53 1,57 5, Kalimantan Timur 3,16 0,76 24,19 1,66 4, Sulawesi Utara 5,32 1,18 22,11 3,01 7, Sulawesi Tengah 5,15 1,17 22,65 2,86 7, Sulawesi Selatan 5,16 0,78 15,09 3,63 6, Sulawesi Tenggara 4,77 0,91 19,17 2,98 6, Gorontalo 3,79 1,02 26,85 1,80 5, Sulawesi Barat 7,34 2,05 27,99 3,31 11, Maluku 6,44 1,53 23,71 3,45 9, Maluku Utara 6,06 1,71 28,19 2,71 9, Papua Barat 3,61 1,36 37,54 0,95 6, Papua 2,63 0,76 28,97 1,14 4, INDONESIA 5,08 0,17 3,28 4,75 5, Sumber: BPS RI Susenas MSBP Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
314 Tabel Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Dengan Tujuan Menjaga Kesehatan Dalam Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, 2012 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 56,89 2,51 4,41 51,97 61, Sumatera Utara 75,61 2,00 2,65 71,69 79, Sumatera Barat 60,68 2,54 4,18 55,71 65, Riau 71,16 2,36 3,32 66,53 75, Jambi 76,27 2,48 3,25 71,41 81, Sumatera Selatan 62,96 2,76 4,39 57,55 68, Bengkulu 54,86 3,73 6,79 47,55 62, Lampung 59,67 2,77 4,64 54,25 65, Kep. Bangka Belitung 67,70 3,73 5,50 60,40 75, Kepulauan Riau 79,54 4,61 5,80 70,50 88, DKI Jakarta 83,22 2,17 2,60 78,98 87, Jawa Barat 65,80 1,56 2,37 62,75 68, Jawa Tengah 61,68 1,31 2,13 59,10 64, DI Yogyakarta 76,96 2,56 3,33 71,94 81, Jawa Timur 68,14 1,34 1,96 65,52 70, Banten 66,42 2,70 4,06 61,13 71, Bali 79,76 2,90 3,63 74,08 85, Nusa Tenggara Barat 61,61 3,18 5,17 55,37 67, Nusa Tenggara Timur 48,86 3,11 6,36 42,77 54, Kalimantan Barat 57,33 3,13 5,46 51,20 63, Kalimantan Tengah 70,53 2,76 3,91 65,12 75, Kalimantan Selatan 61,17 3,29 5,37 54,73 67, Kalimantan Timur 81,24 2,29 2,82 76,75 85, Sulawesi Utara 63,22 3,21 5,08 56,92 69, Sulawesi Tengah 71,18 3,11 4,36 65,10 77, Sulawesi Selatan 57,22 2,44 4,26 52,44 62, Sulawesi Tenggara 76,46 2,92 3,82 70,74 82, Gorontalo 67,91 4,03 5,93 60,01 75, Sulawesi Barat 43,59 5,72 13,12 32,39 54, Maluku 61,47 3,87 6,30 53,88 69, Maluku Utara 68,94 4,85 7,03 59,43 78, Papua Barat 62,51 4,60 7,36 53,49 71, Papua 63,04 3,94 6,25 55,32 70, INDONESIA 66,63 0,52 0,78 65,61 67, Sumber: BPS RI Susenas MSBP 2012 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
315 Tabel Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Dengan Tujuan Prestasi Dalam Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, 2012 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 7,14 1,11 15,62 4,95 9, Sumatera Utara 5,05 0,81 16,00 3,46 6, Sumatera Barat 8,61 1,34 15,53 5,99 11, Riau 9,82 1,39 14,19 7,09 12, Jambi 6,89 1,53 22,16 3,89 9, Sumatera Selatan 7,10 1,24 17,52 4,66 9, Bengkulu 4,68 1,05 22,53 2,61 6, Lampung 9,03 1,72 19,01 5,67 12, Kep. Bangka Belitung 8,67 2,26 26,06 4,24 13, Kepulauan Riau 6,87 2,53 36,81 1,91 11, DKI Jakarta 3,48 1,22 34,99 1,09 5, Jawa Barat 9,76 1,05 10,80 7,69 11, Jawa Tengah 8,12 0,70 8,58 6,75 9, DI Yogyakarta 8,36 1,62 19,40 5,18 11, Jawa Timur 8,87 0,71 8,01 7,48 10, Banten 8,62 1,33 15,47 6,00 11, Bali 5,81 1,79 30,89 2,29 9, Nusa Tenggara Barat 4,75 1,10 23,24 2,59 6, Nusa Tenggara Timur 14,67 2,13 14,51 10,50 18, Kalimantan Barat 11,88 2,07 17,40 7,83 15, Kalimantan Tengah 4,71 1,03 21,85 2,69 6, Kalimantan Selatan 3,96 1,30 32,79 1,42 6, Kalimantan Timur 7,24 1,36 18,71 4,58 9, Sulawesi Utara 6,73 1,30 19,33 4,18 9, Sulawesi Tengah 6,97 1,39 19,95 4,24 9, Sulawesi Selatan 5,69 0,97 17,09 3,79 7, Sulawesi Tenggara 5,14 1,20 23,36 2,79 7, Gorontalo 4,70 1,28 27,26 2,19 7, Sulawesi Barat 3,91 1,15 29,42 1,65 6, Maluku 7,90 1,78 22,53 4,41 11, Maluku Utara 5,28 1,53 28,91 2,29 8, Papua Barat 13,24 3,68 27,80 6,03 20, Papua 14,67 3,45 23,51 7,91 21, INDONESIA 8,06 0,30 3,72 7,47 8, Sumber: BPS RI Susenas MSBP Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
316 Tabel Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Dengan Tujuan Rekreasi Dalam Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, 2012 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 7,99 1,40 17,56 5,24 10, Sumatera Utara 2,40 0,69 28,78 1,05 3, Sumatera Barat 2,26 0,50 22,19 1,28 3, Riau 3,53 1,11 31,48 1,35 5, Jambi 2,31 0,92 39,73 0,51 4, Sumatera Selatan 2,55 0,82 32,01 0,95 4, Bengkulu 3,26 0,97 29,61 1,37 5, Lampung 2,96 0,70 23,73 1,58 4, Kep. Bangka Belitung 1,54 0,53 34,70 0,49 2, Kepulauan Riau 2,99 1,74 58,36-0,43 6, DKI Jakarta 1,40 0,47 33,14 0,49 2, Jawa Barat 3,68 0,52 14,24 2,66 4, Jawa Tengah 3,11 0,43 13,79 2,27 3, DI Yogyakarta 2,90 0,95 32,63 1,05 4, Jawa Timur 2,09 0,38 18,09 1,35 2, Banten 3,83 1,09 28,43 1,70 5, Bali 2,09 0,59 28,07 0,94 3, Nusa Tenggara Barat 1,65 0,98 59,01-0,26 3, Nusa Tenggara Timur 8,69 1,45 16,64 5,86 11, Kalimantan Barat 5,56 1,40 25,12 2,82 8, Kalimantan Tengah 3,76 0,98 25,98 1,85 5, Kalimantan Selatan 3,55 1,26 35,48 1,08 6, Kalimantan Timur 3,74 1,03 27,45 1,73 5, Sulawesi Utara 11,89 1,94 16,28 8,09 15, Sulawesi Tengah 1,88 0,49 26,11 0,92 2, Sulawesi Selatan 1,33 0,30 22,25 0,75 1, Sulawesi Tenggara 4,66 1,28 27,50 2,15 7, Gorontalo 2,58 0,98 37,95 0,66 4, Sulawesi Barat 1,21 0,99 82,23-0,74 3, Maluku 13,40 2,38 17,79 8,73 18, Maluku Utara 11,35 4,02 35,38 3,48 19, Papua Barat 4,71 2,17 46,02 0,46 8, Papua 8,86 1,97 22,26 4,99 12, INDONESIA 3,27 0,17 5,21 2,94 3, Sumber: BPS RI Susenas MSBP 2012 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan,
317 Tabel Sampling Error Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga Dengan Tujuan Lainnya Dalam Seminggu Terakhir Menurut Provinsi, 2012 Provinsi Estimasi Standard Error RSE Selang Kepercayaan Batas Bawah Batas Atas Jumlah Sampel (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 27,98 2,50 8,92 23,09 32, Sumatera Utara 16,95 1,79 10,56 13,44 20, Sumatera Barat 28,45 2,55 8,95 23,46 33, Riau 15,49 2,07 13,36 11,43 19, Jambi 14,54 2,01 13,81 10,60 18, Sumatera Selatan 27,38 2,69 9,83 22,10 32, Bengkulu 37,21 3,67 9,86 30,01 44, Lampung 28,34 2,51 8,85 23,42 33, Kep. Bangka Belitung 22,09 3,16 14,31 15,90 28, Kepulauan Riau 10,60 3,61 34,02 3,53 17, DKI Jakarta 11,89 1,84 15,47 8,28 15, Jawa Barat 20,75 1,34 6,47 18,12 23, Jawa Tengah 27,09 1,25 4,61 24,64 29, DI Yogyakarta 11,78 2,05 17,44 7,75 15, Jawa Timur 20,90 1,23 5,86 18,50 23, Banten 21,13 2,38 11,27 16,46 25, Bali 12,34 2,35 19,07 7,72 16, Nusa Tenggara Barat 31,98 3,04 9,49 26,03 37, Nusa Tenggara Timur 27,78 2,82 10,17 22,24 33, Kalimantan Barat 25,22 2,87 11,39 19,59 30, Kalimantan Tengah 21,00 2,62 12,47 15,86 26, Kalimantan Selatan 31,31 2,87 9,18 25,67 36, Kalimantan Timur 7,78 1,59 20,48 4,66 10, Sulawesi Utara 18,16 2,33 12,84 13,59 22, Sulawesi Tengah 19,97 2,95 14,77 14,19 25, Sulawesi Selatan 35,76 2,35 6,57 31,16 40, Sulawesi Tenggara 13,73 2,50 18,22 8,83 18, Gorontalo 24,80 3,86 15,58 17,23 32, Sulawesi Barat 51,29 5,76 11,23 40,00 62, Maluku 17,23 3,45 20,04 10,46 23, Maluku Utara 14,43 2,95 20,48 8,64 20, Papua Barat 19,53 3,85 19,74 11,97 27, Papua 13,43 2,24 16,65 9,04 17, INDONESIA 22,04 0,46 2,10 21,13 22, Sumber: BPS RI Susenas MSBP Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014
318 LAMPIRAN PETA
319
320 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, Peta 1 : Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olahraga selama Seminggu Terakhir menurut Provinsi, 2012
321 286 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014 Peta 2 : Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Fasilitas Lapangan Sepak Bola menurut Provinsi, 2014
322 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, Peta 3 : Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Fasilitas Lapangan Bola Voli menurut Provinsi, 2014
323 288 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014 Peta 4 : Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Fasilitas Lapangan Bulu Tangkis menurut Provinsi, 2014
324 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, Peta 5 : Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Kelompok Kegiatan Olahraga Sepak Bola menurut Provinsi, 2014
325 290 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, 2014 Peta 6 : Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Kelompok Kegiatan Olahraga Bola Voli menurut Provinsi, 2014
326 Penyajian Data dan Informasi Kepemudaan dan Keolahragaan, Peta 7 : Persentase Desa/Kelurahan yang Memiliki Kelompok Kegiatan Olahraga Bulu Tangkis menurut Provinsi, 2014
327
328
329
SAMBUTAN SEKRETARIS KEMENTERIAN PEMUDA DAN OLAHRAGA. Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
SAMBUTAN SEKRETARIS KEMENTERIAN PEMUDA DAN OLAHRAGA Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Alhamdulillah, segala puji dan syukur bagi Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, karena
STATISTIK PENDUDUK LANJUT USIA 2011 ISSN. 2086 1036 No Publikasi : 04220.1202 Katalog BPS : 4104001 Ukuran Buku : 28 Cm x 21 Cm Jumlah Halaman : xviii + 148 Halaman Naskah : Subdirektorat Statistik Pendidikan
P P L M Data dan Informasi Prestasi dan Cabang Olahraga Unggulan PPLP 2013 DATA DAN INFORMASI PRESTASI DAN CABANG OLAHRAGA UNGGULAN
P P L M - 2 0 1 4 Data dan Informasi Prestasi dan Cabang Olahraga Unggulan PPLP 2013 w. k e m e n p o r a. g o. i d w w w. k e m e n p o r a. g o. i d DATA DAN INFORMASI PRESTASI DAN CABANG OLAHRAGA UNGGULAN
w :// w tp ht w.id go.b ps. STATISTIK PEMUDA INDONESIA (Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional) 2015 ISSN: 2086-1028 Nomor Publikasi: 04220.1603 Katalog: 4103008 Ukuran Buku: 17,6 cm x 25 cm Jumlah Halaman:
STATISTIK PEMUDA INDONESIA 2013 Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional ISSN : 2086-1028 2086-1028 Nomor Publikasi : 04220.140104220.1303 Katalog BPS : 41030084103008 Ukuran Buku : 29,7 Cm x 21 cm Jumlah
Penduduk: Usia: Status Perkawinan: Anak Lahir Hidup:
Penduduk: Penduduk adalah semua orang yang berdomisili di wilayah geografis Republik Indonesia selama 6 bulan atau lebih dan atau mereka yang berdomisili kurang dari 6 bulan tetapi bertujuan untuk menetap.
I. PENDAHULUAN. manusia dan merupakan keinginan yang dimiliki oleh setiap individu manusia.
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Olahraga merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dalam setiap kehidupan manusia dan merupakan keinginan yang dimiliki oleh setiap individu manusia. Pemerintah berkewajiban
P P L M Data dan Informasi Prestasi dan Cabang Olahraga Unggulan PPLP w w w. k e m e n p o r a. g o. i d DATA DAN INFORMASI
P P L M - 1 3 Data dan Informasi Prestasi dan Cabang Olahraga Unggulan PPLP 13 w w w. k e m e n p o r a. g o. i d DATA DAN INFORMASI PRESTASI DAN CABANG OLAHRAGA UNGGULAN KEMENTERIAN PEMUDA DAN OLAHRAGA
P P L M 2012 DATA DAN INFORMASI K E M E N T E R I A N P E M U D A DAN O L A H R A G A PRESTASI DAN CABANG OLAHRAGA UNGGULAN.
P P L M - 1 Data dan Informasi 1 PRESTASI DAN CABANG OLAHRAGA UNGGULAN DATA DAN INFORMASI PRESTASI DAN CABANG OLAHRAGA UNGGULAN P P L M 1 www.kemenpora.go.id Kementerian Pemuda dan Olahraga i K E M E N
P P L P 2012 DATA DAN INFORMASI K E M E N T E R I A N P E M U D A DAN O L A H R A G A PRESTASI DAN CABANG OLAHRAGA UNGGULAN.
P P L P - 1 Data dan Informasi PPLP 1 PRESTASI DAN CABANG OLAHRAGA UNGGULAN DATA DAN INFORMASI PRESTASI DAN CABANG OLAHRAGA UNGGULAN P P L P 1 www.kemenpora.go.id Kementerian Pemuda dan Olahraga i K E
BAB III METODE PENELITIAN. 1. Sekilas Kementerian Pemuda dan Olahraga
BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian 1. Sekilas Kementerian Pemuda dan Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga mempunyai tugas menyelenggarakan urusan bidang pemuda dan olahraga dalam
(Sakernas), Proyeksi Penduduk Indonesia, hasil Sensus Penduduk (SP), Pendataan Potensi Desa/Kelurahan, Survei Industri Mikro dan Kecil serta sumber
I. Pendahuluan Salah satu tujuan Millenium Development Goals (MDGs) dari delapan tujuan yang telah dideklarasikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 2000 adalah mendorong kesetaraan gender dan
BAB I PENDAHULUAN. kesehatan menerangkan bahwa untuk mewujudkan derajat kesehatan yang. dilaksanakan secara terpadu, menyeluruh, dan berkesinambungan.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang? undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan menerangkan bahwa untuk mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi? tingginya bagi masyarakat,
STATISTIK PENDUDUK LANJUT USIA 2012 Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional ISSN : 2086-1036 Nomor Publikasi : 04220.1304 Katalog BPS : 4104001 Ukuran Buku : 21 Cm x 29,7 cm Jumlah Halaman : xxv + 260 halaman
Penyajian Data Informasi Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga Tahun 2008
Penyajian Data Informasi Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga Tahun 008 Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga Penyajian Data Informasi Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga Tahun 008 Kementerian Negara
kemenpora.go.id DATA DAN INFORMASI P P L P
kemenpora.go.id DATA DAN INFORMASI P P L P PRESTASI Data dan Informasi PPLP DATA DAN INFORMASI PPLP ISBN: xxx-xxx-xxx-x Ukuran Buku:,7 cm x cm Jumlah Halaman: 83 + xvi Tim Penyusun Penanggung Jawab Ketua
STRUKTUR DATA BPS DAN PROSEDUR MENDAPATKAN DATA DI BPS Hady Suryono 8 Maret 2016
STRUKTUR DATA BPS DAN PROSEDUR MENDAPATKAN DATA DI BPS Hady Suryono 8 Maret 2016 Data dan Informasi (1) Data a. Data adalah fakta berupa angka, karakter, simbol, gambar, tanda-tanda, isyarat, tulisan,
KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA. NOMOR 129a/U/2004 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG PENDIDIKAN
KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 129a/U/2004 TENTANG BIDANG PENDIDIKAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, Menimbang : a. bahwa dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan
STATISTIK PEMUDA BLORA TAHUN 2015
No. 16/07/33/16/Th.I, 16 Juli 2017 STATISTIK PEMUDA BLORA TAHUN 2015 Pemuda adalah bagian dari penduduk usia produktif yaitu berumur 16-30 tahun. Jumlah pemuda di Kabupaten Blora adalah 167.881 jiwa atau
INDIKATOR KESEJAHTERAAN WANITA 2014 ISSN : No. Publikasi : 5314.1420 Katalog BPS : 2104003.5314 Ukuran Buku : 16 x 21 cm Jumlah Halaman : xiv + 31 halaman Naskah : BPS Kabupaten Rote Ndao Penyunting :
Sambutan Presiden RI Pd Peringatan Hari Olahraga Nasional di Yogyakarta tgl. 17 Okt 2013 Kamis, 17 Oktober 2013
Sambutan Presiden RI Pd Peringatan Hari Olahraga Nasional di Yogyakarta tgl. 17 Okt 2013 Kamis, 17 Oktober 2013 SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA PERINGATAN HARI OLAHRAGA NASIONAL DI STADION MANDALA
NARASI KEGIATAN PROGRAM PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT LOKA KARYA POLA PENGEMBANGAN ATLET JANGKA PANJANG MENUJU MULTI EVENT OLAHRAGA.
NARASI KEGIATAN PROGRAM PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT LOKA KARYA POLA PENGEMBANGAN ATLET JANGKA PANJANG MENUJU MULTI EVENT OLAHRAGA Oleh: Dr. Ria Lumintuarso, M.Si. NIP. 19621026 198812 1 001 Yogyakarta
KERJASAMA BAPPEDA KABUPATEN SEMARANG BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN SEMARANG
KATALOG BPS : 4102004.3322 KERJASAMA BAPPEDA KABUPATEN SEMARANG BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN SEMARANG KATALOG BPS : 4102004.3322 KERJASAMA BAPPEDA KABUPATEN SEMARANG BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARAAN KEOLAHRAGAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
www.bpkp.go.id PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARAAN KEOLAHRAGAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan
PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI DI INDONESIA 2013
PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI DI INDONESIA 2013 ISBN: 978-979 - 064-666 - 7 No. Publikasi: 04210.1310 Katalog BPS: 2104010 Ukuran Buku: 11 cm x 19 cm Jumlah Halaman: vii + 48 Naskah: Subdirektorat Statistik
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2010 TENTANG PROGRAM INDONESIA EMAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PRESIDEN NOMOR 22 TAHUN 2010 TENTANG PROGRAM INDONESIA EMAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa untuk meningkatkan pencapaian prestasi atlet nasional di tingkat internasional
w tp :// w ht.b p w.id s. go w tp :// w ht.b p w.id s. go STATISTIK PENDIDIKAN 2012 Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional ISSN : 2086 4566 Nomor Publikasi : 04220.1301 Katalog BPS : 4301002 Ukuran Buku
PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN TENTANG PENYELENGGARAAN KEOLAHRAGAAN KOTA BALIKPAPAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BALIKPAPAN,
PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 9 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN KEOLAHRAGAAN KOTA BALIKPAPAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BALIKPAPAN, Menimbang : a. bahwa pembangunan di bidang
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARAAN KEOLAHRAGAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARAAN KEOLAHRAGAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan
Profil LANSIA Jawa tengah 2014
Katalog BPS : 4201003.33 Profil LANSIA Jawa tengah 2014 BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI JAWA TENGAH PROFIL LANSIA JAWA TENGAH 2014 ISSN : 2407-3342 Nomor Publikasi : 33520.1511 Katalog BPS : 4104001.33
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2014 TENTANG PEMBERIAN PENGHARGAAN OLAHRAGA
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2014 TENTANG PEMBERIAN PENGHARGAAN OLAHRAGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2010 TENTANG PROGRAM INDONESIA EMAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2010 TENTANG PROGRAM INDONESIA EMAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk meningkatkan pencapaian
18. URUSAN WAJIB PEMUDA DAN OLAHRAGA
18. URUSAN WAJIB PEMUDA DAN OLAHRAGA A. KEBIJAKAN PROGRAM Pembangunan kepemudaan dilaksanakan dalam bentukpelayanan kepemudaan, yang berfungsi melaksanakanpenyadaran, pemberdayaan, dan pengembangan potensikepemimpinan,
INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT NUSA TENGGARA TIMUR 2014
12 IndikatorKesejahteraanRakyat,2013 INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT NUSA TENGGARA TIMUR 2014 No. ISSN : 0854-9494 No. Publikasi : 53522.1002 No. Katalog : 4102004 Ukuran Buku Jumlah Halaman N a s k a
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARAAN PEKAN DAN KEJUARAAN OLAHRAGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARAAN PEKAN DAN KEJUARAAN OLAHRAGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : bahwa
8. URUSAN KEPEMUDAAN DAN OLAH RAGA
8. URUSAN KEPEMUDAAN DAN OLAH RAGA Disadari atau tidak, pemuda sejatinya memiliki peran dan fungsi yang strategis dalam akselerasi pembangunan termasuk pula dalam proses kehidupan berbangsa dan bernegara.
UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2009 TENTANG KEPEMUDAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2009 TENTANG KEPEMUDAAN Menimbang DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, : a. bahwa dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia sejak
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARAAN PEKAN DAN KEJUARAAN OLAHRAGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARAAN PEKAN DAN KEJUARAAN OLAHRAGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARAAN PEKAN DAN KEJUARAAN OLAHRAGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARAAN PEKAN DAN KEJUARAAN OLAHRAGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : bahwa
PERATURAN WALIKOTA TASIKMALAYA
WALIKOTA TASIKMALAYA PERATURAN WALIKOTA TASIKMALAYA NOMOR : 23 TAHUN 2006 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG PENDIDIKAN DI KOTA TASIKMALAYA WALIKOTA TASIKMALAYA Menimbang : a. bahwa berdasarkan ketentuan
PEMERINTAH KOTA SALATIGA DAFTAR INFORMASI PUBLIK RINGKASAN RENCANA KERJA DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA KOTA SALATIGA TAHUN 2017
PEMERINTAH KOTA SALATIGA DAFTAR INFORMASI PUBLIK RINGKASAN RENCANA KERJA DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA KOTA SALATIGA TAHUN 2017 1 PERENCANAAN KINERJA A. PERENCANAAN STRATEJIK VISI DAN MISI 1. Pernyataan
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2014 TENTANG PEMBERIAN PENGHARGAAN OLAHRAGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2014 TENTANG PEMBERIAN PENGHARGAAN OLAHRAGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perempuan Indonesia memiliki peranan dan kedudukan sangat penting sepanjang perjalanan sejarah. Kiprah perempuan di atas panggung sejarah tidak diragukan lagi. Pada tahun
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARAAN PEKAN DAN KEJUARAAN OLAHRAGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARAAN PEKAN DAN KEJUARAAN OLAHRAGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 22 TAHUN 2010 TENTANG PROGRAM INDONESIA EMAS
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 22 TAHUN 2010 TENTANG PROGRAM INDONESIA EMAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 22 TAHUN 2010 TENTANG PROGRAM INDONESIA EMAS
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 22 TAHUN 2010 TENTANG PROGRAM INDONESIA EMAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK
/ KEPUTUSAN MENTER! PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA
/ KEPUTUSAN MENTER! PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 129a/U /2004 TENTANG BIDANG PENDIDIKAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL Menirnbang: a. Bahwa dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 ten tang
KETENAGAKERJAAN PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
No. 76/11/19/Th.XIV, 7 November 2016 KETENAGAKERJAAN PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG Jumlah angkatan kerja Agustus 2016 mencapai 705.173 orang, bertambah sebanyak 17.525 orang dibandingkan jumlah angkatan
-1- BUPATI BANYUWANGI PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 42 TAHUN 2011 TENTANG
-1- BUPATI BANYUWANGI PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 42 TAHUN 2011 TENTANG RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS PEMUDA DAN OLAH RAGA KABUPATEN BANYUWANGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI
KEADAAN KETENAGAKERJAAN DI DKI JAKARTA AGUSTUS 2015
BPS PROVINSI DKI JAKARTA No. 54/11/31/Th. XVII, 5 November 2015 KEADAAN KETENAGAKERJAAN DI DKI JAKARTA AGUSTUS 2015 TPT DKI JAKARTA BULAN AGUSTUS 2015 SEBESAR 7,23 PERSEN Jumlah angkatan kerja pada Agustus
WALIKOTA TANGERANG SELATAN
SALINAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI, DAN TATA KERJA KOTA TANGERANG SELATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA
GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH
GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH NOMOR 21 TAHUN 2008 T E N T A N G TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PEMUDA DAN OLAHRAGA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
IV.B.8. Urusan Wajib Pemuda dan Olahraga
8. URUSAN PEMUDA DAN OLAH RAGA Pembangunan pemuda dan olahraga mempunyai peran strategis dalam mendukung peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing. Pemuda memiliki peran aktif
BUPATI GARUT PERATURAN BUPATI GARUT NOMOR 733 TAHUN 2012 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL PENDIDIKAN NON FORMAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI GARUT PERATURAN BUPATI GARUT NOMOR 733 TAHUN 2012 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL PENDIDIKAN NON FORMAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang BUPATI GARUT, : a. bahwa sehubungan dengan telah
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.174, 2014 PENDIDIKAN. Pelatihan. Penyuluhan. Perikanan. Penyelenggaraan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5564) PERATURAN PEMERINTAH
BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan atau bagian hidup yang tidak dapat ditinggalkan. dan kebiasaan sosial maupun sikap dan gerak manusia.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Usaha memasyarakatkan olahraga sekarang ini sudah nampak hasilnya. Hal ini ditandai dengan maraknya orang melakukan olahraga untuk kesehatan dan sebagai sarana
Boleh dikutip dengan mencantumkan sumbernya
INDIKATOR KESEJAHTERAAN MASYARAKAT PROVINSI ACEH 2016 Nomor Publikasi : 11522.1605 Katalog BPS : 4102004.11 Ukuran Buku : 17,6 cm x 25 cm Jumlah Halaman : xvii + 115 Halaman Naskah Gambar Kulit Diterbitkan
WALIKOTA JAMBI PROVINSI JAMBI PERATURAN DAERAH KOTA JAMBI NOMOR 1 TAHUN 2017 TENTANG PENINGKATAN SARANA DAN PRASARANA OLAH RAGA DI KOTA JAMBI
SALINAN WALIKOTA JAMBI PROVINSI JAMBI PERATURAN DAERAH KOTA JAMBI NOMOR 1 TAHUN 2017 TENTANG PENINGKATAN SARANA DAN PRASARANA OLAH RAGA DI KOTA JAMBI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA JAMBI, Menimbang
DAFTAR ISI. BAB II. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH... II Aspek Geografi Dan Demografi... II-2
DAFTAR ISI DAFTAR ISI Hal DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... xix BAB I. PENDAHULUAN... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... I-4 1.3. Hubungan Antar Dokumen RPJMD
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2017 TENTANG PENINGKATAN PRESTASI OLAHRAGA NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2017 TENTANG PENINGKATAN PRESTASI OLAHRAGA NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk meningkatkan
Kata pengantar. Tanjungpinang, September 2014 Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulauan Riau
Kata pengantar Publikasi Statistik Sosial Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2014 merupakan publikasi yang berisi data penduduk, ketenagakerjaan, pendidikan, kesehatan, kemiskinan, dan Indeks Demokrasi Indonesia
Profile Perempuan Indonesia
Profile Perempuan Indonesia PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kebangkitan nasional sebagai awal perjuangan perempuan yang terorganisir, ditandai dengan diselenggarakannya Kongres Perempuan Indonesia tingkat
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2005 TENTANG SISTEM KEOLAHRAGAAN NASIONAL
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2005 TENTANG SISTEM KEOLAHRAGAAN NASIONAL DAFTAR ISI Hal Menimbang... 1 Mengingat... 1 BAB I BAB II BAB III BAB IV BAB V BAB VI BAB VII KETENTUAN UMUM Pasal
Jakarta, 27 Februari 2018 Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi. Ttd
Laporan Kinerja Kementerian Pemuda dan Olahraga Tahun 2017 merupakan pelaksanaan dari Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan Peraturan Menteri
2016, No Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan L
No. 1449, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENPORA. Sentra Pemberdayaan Pemuda. PERATURAN MENTERI PEMUDA DAN OLAHRAGA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2016 TENTANG SENTRA PEMBERDAYAAN PEMUDA DENGAN
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 16 TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 16 TAHUN 2013 TENTANG
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 16 TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 16 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN KEOLAHRAGAAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG,
w w :// tp ht.id.b ps.g o w STATISTIK PENDUDUK LANJUT USIA 2013 Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional ISSN : 2086 1036 No. Publikasi : 04220.1402 Katalog BPS : 4104001 Ukuran Buku : 29,7 cm x 21 cm Jumlah
Grafik 3.2 Angka Transisi (Angka Melanjutkan)
Grafik 3.2 Angka Transisi (Angka Melanjutkan) Grafik 3.2 memperlihatkan angka transisi atau angka melanjutkan ke SMP/sederajat dan ke SMA/sederajat dalam kurun waktu 7 tahun terakhir. Sebagaimana angka
PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN
PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 9 TAHUN 2010 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2011-2015 Diperbanyak oleh: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
STATISTIK PENDUDUK LANJUT USIA SUMATERA SELATAN
Katalog : 4104001.16 STATISTIK PENDUDUK LANJUT USIA SUMATERA SELATAN 2015 BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI SUMATERA SELATAN STATISTIK PENDUDUK LANJUT USIA SUMATERA SELATAN 2015 STATISTIK PENDUDUK LANJUT
BAB IV PROFIL ORGANISASI
1 BAB IV PROFIL ORGANISASI IV.1. Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga VISI KEMENPORA Terwujudnya kualitas sumber daya pemuda dan olahraga dalam rangka meningkatkan wawasan kebangsaan, kepemimpinan yang
BUPATI SEMARANG PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI SEMARANG NOMOR 17 TAHUN 2016 TENTANG
BUPATI SEMARANG PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI SEMARANG NOMOR 17 TAHUN 2016 TENTANG PEMBINAAN OLAHRAGA TERPADU MELALUI SPORT TRAINING CENTER KABUPATEN SEMARANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Kata Pengantar
Kata Pengantar Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas perkenan-nya kami dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Dinas Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. pembentukan watak dan kepribadian yaitu sikap sportivitas dan disiplin. Sehingga
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah. Hakekat pembangunan olahraga nasional adalah upaya meningkatkan kualitas hidup manusia secara jasmaniah, rohaniah, dan sosial dalam mewujudkan masyarakat
- 1 - PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAGAAN KEOLAHRAGAAN
- 1 - PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAGAAN KEOLAHRAGAAN I. UMUM Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan
BUPATI KABUPATEN OGAN ILIR PROVINSI SUMATERA SELATAN
BUPATI KABUPATEN OGAN ILIR PROVINSI SUMATERA SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN ILIR NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN KEOLAHRAGAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI OGAN
BAB II GAMBARAN UMUM DINAS PARIWISATA, PEMUDA DAN OLAHRAGA
12 BAB II GAMBARAN UMUM DINAS PARIWISATA, PEMUDA DAN OLAHRAGA 2.1 Sejarah Singkat Kabupaten Kampar merupakan tempat yang penuh dengan berbagai obyek wisata. Oleh karena itu pembangunan pariwisata ini sebagai
INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT K O T A K U P A N G /
Katalog BPS : 4103.5371 INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT K O T A K U P A N G 2 0 0 5 / 2 0 0 6 BADAN PUSAT STATISTIK KOTA KUPANG INDIKATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT KOTA KUPANG 2005/2006 No. Publikasi : 5371.0612
BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN KEOLAHRAGAAN
BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN KEOLAHRAGAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TANGERANG, Menimbang : a. bahwa pembangunan
BAB I PENDAHULUAN. Sebagaimana sesuai dengan semboyan Yunani Kuno yang berbunyi : Orandum est ut sit,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Olahraga merupakan kebutuhan manusia yang merupakan unsur pokok dan sangat berpengaruh dalam pembentukan jiwa (rohani) dan jasmani (raga/tubuh) yang kuat. Sebagaimana
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan
KEADAAN KETENAGAKERJAAN DI DKI JAKARTA FEBRUARI 2016
BPS PROVINSI DKI JAKARTA No. 23/05/31/Th. XVI, 4 Mei 2016 KEADAAN KETENAGAKERJAAN DI DKI JAKARTA FEBRUARI 2016 TPT DKI JAKARTA BULAN FEBRUARI 2016 SEBESAR 5,77 PERSEN Jumlah angkatan kerja pada Februari
WALIKOTA TASIKMALAYA
WALIKOTA TASIKMALAYA PERATURAN WALIKOTA TASIKMALAYA Nomor : 14 Tahun 2008 Lampiran : - TENTANG PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NON FORMAL DI KOTA TASIKMALAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TASIKMALAYA,
Laporan Kinerja Pemerintah Kabupaten Bangka Barat Tahun 2014 DAFTAR ISI
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ------------------------------------------------------------------------------------------------------ i DAFTAR ISI ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
