K A T A P E N G A N T A R i
|
|
|
- Irwan Kurniawan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 K A T A P E N G A N T A R i
2 KA PENGANR Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional mengamanatkan Reformasi Sistem Perencanaan dan Penganggaran di Indonesia. Reformasi Perencanaan dan Penanggaran menerapkan 3 pendekatan penting, yaitu Anggaran Terpadu (Unified Budgeting), Anggaran Berbasis Kinerja (Performance Based Budgeting), dan Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (Medium Term Expenditure Framework). Dalam rangka memperkuat pelaksanaan Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (KPJM), telah diterapkan mekanisme Inisiatif Baru pada penyusunan RKP Namun demikian, dalam pelaksanaannya masih perlu adanya penyempurnaan, khususnya dalam hal penyusunan proposal Inisiatif Baru yang dilakukan oleh Kementerian/Lembaga. Sehubungan dengan hal tersebut maka diperlukan Modul Petunjuk Teknis Penyusunan Proposal Inisiatif Baru yang dapat membantu Kementerian/Lembaga dalam menyusun proposal Inisiatif Baru yang lebih baik. Jakarta, Februari 2012 K A T A P E N G A N T A R i
3 Daftar Isi Bab I Pendahuluan Latar Belakang Tujuan Ruang Lingkup 2 Bab II Format dan Kriteria Proposal Inisiatif Baru Format Proposal Inisiatif Baru Kriteria Penilaian Proposal Inisiatif Baru 6 Bab III Definisi Umum Aspek Penilaian Aspek Tujuan Aspek Masalah Aspek Cakupan Aspek Penerima Manfaat Aspek Strategi Aspek Indikator Kinerja Aspek Target Aspek Kesesuaian Anggaran Aspek Kepatutan Anggaran Aspek Sumber Pendanaan 27 Bab IV Penutup 30 C O N T E N T ii
4 Daftar Tabel Tabel 2.1 Kriteria Aspek dan Sub-Aspek Penilaian 7 C O N T E N T iii
5 BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Mekanisme Inisiatif Baru merupakan bagian dari penerapan KPJM sebagaimana telah diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 17/2003 tentang Keuangan Negara, di mana di dalamnya diatur mengenai mekanisme pendanaan jangka menengah (5 tahunan) serta Undang-Undang Nomor 25/2004 yang mengatur mekanisme penyusunan rencana kerja nasional, baik yang bersifat jangka panjang (20 tahunan), jangka menengah (5 tahunan), maupun jangka pendek (1 tahunan). Pelaksanaan mekanisme Inisiatif Baru di Indonesia telah dilakukan dalam penyusunan RKP 2012 yang mengacu pada Permen PPN/Ka. Bappenas Nomor 1 Tahun 2011 tentang Tata Cara Penyusunan Inisiatif Baru, sebagai pelaksanaan amanat PP 90 Tahun 2010 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga. Dalam pelaksanaan Inisiatif Baru pada penyusunan RKP 2012, masih perlu dilakukan penyempurnaan, terutama dari sisi kualitas proposal yang disusun oleh Kementerian/Lembaga yang disampaikan kepada Bappenas dan Kementerian Keuangan masih bervariasi. Bervariasinya kualitas proposal Inisiatif Baru yang disampaikan, dikarenakan masih belum adanya petunjuk teknis detail penyusunan Inisiatif Baru. Berdasarkan kondisi tersebut, maka perlu kiranya untuk disusun Modul Petunjuk Teknis Penyusunan Proposal Inisiatif Baru, yang dapat digunakan oleh seluruh Kementerian/Lembaga dalam menyusun proposal Inisiatif Baru yang lebih berkualitas. 1.2 Tujuan Modul Petunjuk Teknis Penyusunan Inisiatif Baru ini bertujuan untuk: 1. Menjadi panduan praktis bagi Kementerian/Lembaga dalam penyusunan Inisiatif Baru. 2. Meningkatkan kualitas proposal Inisiatif Baru yang disusun oleh Kementerian/Lembaga 3. Sebagai panduan dalam penetapan usulan Inisiatif Baru. H A L A M A N 1
6 1.3 Ruang Lingkup Ruang lingkup dari Modul Petunjuk Teknis Penyusunan Inisiatif Baru ini terdiri dari penjelasan mengenai: 1. Definisi Umum Aspek Penilaian Inisiatif Baru 2. Sub-sub Aspek yang terdapat dalam setiap Aspek Penilaian Inisiatif Baru 3. Contoh konkrit pernyataan dalam setiap Sub Aspek Penilaian Inisiatif Baru H A L A M A N 2
7 BAB II. FORMAT DAN KRITERIA PROPOSAL INISIATIF BARU 2.1. Format Proposal Inisiatif Baru Sebagaimana tercantum dalam anak lampiran Peraturan Menteri PPN/Ka. Bappenas Nomor 1 Tahun 2011 tentang Tata Cara Penyusunan Inisiatif Baru, proposal Inisiatif Baru terdiri dari 3 (tiga) formulir yaitu: Formulir 1 (satu) : Proposal Inisiatif Baru Formulir 2 (Dua) : Penjelasan Usulan Formulir 3 (tiga) : Penjelasan Anggaran Adapun format dari masing-masing formulir Inisiatif Baru adalah sebagai berikut : FORMULIR I : Proposal Inisiatif Baru PROPOSAL INISIATIF BARU KEMENTERIAN/LEMBAGA <KODE PROPOSAL : JENIS PROPOSAL, KL PENGUSUL, NOMOR URUT> Nama Proposal PROPOSAL INISIATIF BARU HUN 20XX :... <diisi judul proposal> Kementerian/Lembaga :... <diisi nama KL pengusul) Program Terkait :... <diisi nama program baseline atau program baru yang terkait> Kegiatan Terkait :... <diisi nama kegiatan baseline atau kegiatan baru yang terkait> Keterkaitan Dengan Prioritas (No.) :...<diisi dengan no. prioritas pada Arah Kebijakan dan Prioritas Pembangunan Nasional yang menjadi dasar pembuatan proposal Inisiatif Baru) Jenis Inisiatif Baru : Program (Fokus Prioritas)/Outcome/Kegiatan/Output Baru *) Penambahan Volume Target Percepatan Pencapaian Output Sumber Pendanaan : Anggaran Yang Diusulkan : *) Coret salah satu Tambahan Anggaran *) Realokasi Tahun Direncanakan Realokasi Antar Tahun Kombinasi Tambahan Anggaran & Realokasi H A L A M A N 3
8 FORMULIR II: PENJELASAN USULAN 1. Tujuan... (berisi uraian mengenai tujuan dari proposal yang diusulkan) 2. Masalah... (berisi uraian mengenai latar belakang munculnya usulan, masalah utama apa yang hendak diselesaikan, bagaimana masalah ini belum diintervensi dalam kebijakan berjalan, bagaimana dampak bila usulan ini tidak dilaksanakan. Berikan data pendukung yang memadai) 3. Cakupan... (berisi uraian mengenai cakupan pelaksanaan kegiatan, serta penerima manfaat yang dituju) 4. Penerima Manfaat... (berisi uraian mengenai penerima manfaat yang dituju) 5. Strategi... (berisi uraian mengenai bagaimana pelaksanaan kegiatan dapat menjamin tercapainya tujuan) 6. Indikator Kinerja... (berisi uraian mengenai indikator kinerja yang menjadi ukuran pencapaian) 7. Target PROGRAM/KEGIAN 20XX JU RUPIAH 20XX+1 JU RUPIAH 20XX+2 JU RUPIAH 20XX+3 JU RUPIAH Program X Kegiatan a <Apabila jenis usulan berupa penambahan Program/Outcome/Kegiatan/Output baru> H A L A M A N 4
9 PROGRAM/KEGIAN OUTCOME/OUTPUT INDIKATOR PENANGGUNG JAWAB Program X Outcome X 1 Indikator X 11 Deputi... Outcome X 2 Indikator X 21 Deputi... Kegiatan a Output a 1 Indikator a 11 Direktur... Output a 2 Indikator a 21 Direktur... Kegiatan b Output b 1 Indikator b 11 Direktur... Output b 2 Indikator b 21 Direktur... Program Y Outcome Y 1 Indikator Y 11 Deputi... Outcome Y 2 Indikator Y 21 Deputi... Kegiatan c Output c 1 Indikator c 11 Direktur... PROGRAM/ KEGIAN OUTPUT 20XX RGET SEBELUM INISIATIF BARU 20XX+1 20XX+2 20XX+3 20XX RGET SESUDAH INISIATIF BARU 20XX+1 20XX+2 20XX+3 Program X Kegiatan a Kegiatan b Outcome X Output a Output b H A L A M A N 5
10 FORMULIR III: PENJELASAN ANGGARAN 8. Rencana Anggaran (berisi uraian mengenai rencana anggaran, hingga ke tingkat komponen) PROGRAM/OUTCOME/ KEGIAN/OUTPUT/ KOMPONEN PROGRAM 20XX ALOKASI PAGU SEBELUM INISIATIF BARU JU RUPIAH 20XX+1 20XX+2 20XX+3 20XX ALOKASI PAGU SESUDAH INISIATIF BARU JU RUPIAH 20XX+1 20XX+2 20XX+3 Kegiatan a Output a1 Komponen 1 Komponen 2 Output a2 Komponen 3 Komponen 4 9. Sumber Pendanaan <Berisi penjelasan darimana sumber pendanaan: tambahan anggaran, pemanfaatan, atau kombinasi. Bila sumber dari realokasi, uraikan rencana anggarannya> PROGRAM/KEGIAN SUMBER REALOKASI ALOKASI PAGU SEBELUM REALOKASI JU RUPIAH 20XX 20XX+1 20XX+2 20XX+3 ALOKASI PAGU SESUDAH REALOKASI JU RUPIAH 20XX 20XX+1 20XX+2 20XX+3 Program X Kegiatan a Kegiatan b 2.2. Kriteria Penilaian Proposal Inisiatif Baru Dalam penetapan proposal Inisiatif Baru yang layak untuk mendapatkan pendanaan berdasarkan Permen PPN/Ka. Bappenas Nomor 1 Tahun 2011 tentang Tata Cara Penyusunan Inisiatif Baru, setiap proposal yang disampaikan kepada Kementerian PPN/Bappenas dan Kementerian Keuangan akan dinilai berdasarkan kriteria penilaian proposal Inisiatif Baru yang terdiri atas 10 Aspek penilaian dan 25 Sub-Aspek penilaian. Adanya Aspek dan Sub-Aspek ini dapat berfungsi menjadi panduan bagi Kementerian/Lembaga dalam menyusun proposal yang baik. Berikut Tabel Kriteria Aspek dan Sub-Aspek yang digunakan sebagai penilaian proposal Inisiatif Baru. H A L A M A N 6
11 Tabel 2.1. Kriteria Aspek dan Sub-Aspek Penilaian ASPEK SUB-ASPEK 1. Tujuan 1. Tujuan jelas dan rasional 2. Masalah 3. Definisi masalah jelas 2. Hasil yang ingin dicapai jelas dan terkait Arah Kebijakan dan Prioritas Pembangunan Nasional 4. Tidak dapat diselesaikan dengan program yang ada 3. Cakupan 5. Cakupan nasional atau daerah tertentu 6. Alasan pemilihan cakupan/daerah jelas 4. Penerima Manfaat 7. Penerima manfaat jelas 8. Penerima manfaat tepat sasaran 9. Data pendukung jelas 5. Strategi 10. Rencana pelaksanaan jelas 11. Jangka waktu rasional 12. Kejelasan output-sub output 13. Realistis untuk diterapkan 6. Indikator Kinerja 14. Indikator kinerja logis dan sesuai tupoksi 7. Target 16. Target jelas dan rasional 15. Indikator kinerja sesuai Arah Kebijakan dan Prioritas Pembangunan Nasional 17. Target realistis untuk dicapai 8. Kesesuaian Anggaran 18. Kesesuaian parameter 19. Komponen unit jelas 20. Biaya proporsional 9. Kepatutan Anggaran 21. Sesuai SBU/SBK 22. Konsistensi biaya 23. Penghematan/efisiensi 10. Sumber Pendanaan 24. Sumber dari realokasi anggaran 25. Target yang direalokasi tetap dapat dicapai 10 Aspek 25 Sub-aspek H A L A M A N 7
12 BAB III. DEFINISI UMUM ASPEK PENILAIAN Dalam setiap penilaian proposal Inisiatif Baru yang disampaikan oleh Kemeterian/Lembaga terdapat 10 Aspek kriteria yang dijadikan sebagai dasar penilaian. Setiap Aspek penilaian tersebut memiliki sub aspek yang jumlahnya berbeda beda untuk setiap aspek. Adapun definisi umum untuk setiap Aspek penilaian Inisiatif Baru adalah sebagai berikut : 3.1. Aspek Tujuan Tujuan merupakan pernyataan tentang keadaan yang diinginkan di mana Kementerian/Lembaga bermaksud untuk mewujudkannya di waktu yang akan datang dengan sumber daya yang tersedia. Secara umum, sebuah tujuan dapat pula dinyatakan secara lebih luas dalam lingkup dari sasaran, dan dapat terdiri dari beberapa tujuan individu. Tujuan dapat digunakan sebagai alat yang mendasari semua kegiatan perencanaan dan strategi. Tujuan berfungsi sebagai dasar untuk penilaian kebijakan dan kinerja. Dalam Aspek Tujuan memilki 2 (dua) Sub-Aspek yaitu : 1. Jelas dan Rasional 2. Hasil yang ingin dicapai jelas dan terkait Arah Kebijakan dan Prioritas Pembangunan Nasional Adapun penjelasan dan contoh dari masing-masing Sub-Aspek adalah sebagai berikut: 1. Dalam menjelaskan Sub-Aspek Jelas dan Rasional sekurang-kurangnya memuat key word sebagai berikut : a. Tujuan adalah apa yang ingin direalisasikan dari pengajuan proposal Inisiatif Baru (jelas); atau b. Tujuan merupakan pernyataan yang dapat menjelaskan pemecahan masalah yang ingin dilakukan dengan langkah-langkah yang logis (Rasional) Pernyataan Tujuan : Memperluas cakupan pelayanan kesehatan melalui jaminan kesehatan kelas III di rumah sakit bagi masyarakat miskin dengan peningkatan cakupan 50% per tahunnya sesuai dengan sasaran dan prioritas nasional dalam bidang kesehatan untuk peningkatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat tidak mampu. Yang Ingin Direalisasikan Langkah Logis H A L A M A N 8
13 2. Dalam menjelaskan Sub-Aspek Hasil yang ingin dicapai jelas dan terkait Arah Kebijakan dan Prioritas Pembangunan Nasional sekurang-kurangnya memuat key word sebagai berikut : a. Tujan Memiliki Pencapaian Target Yang Spesifik; atau b. Tujuan secara logis berhubungan dan berkontribusi terhadap pencapaian Arah Kebijakan dan Prioritas Pembangunan Nasional Pernyataan Tujuan : Memperluas cakupan pelayanan kesehatan melalui jaminan kesehatan kelas III di rumah sakit bagi masyarakat miskin dengan peningkatan cakupan 50% per tahunnya sesuai dengan Sasaran dan Prioritas Nasional dalam bidang kesehatan untuk peningkatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat tidak mampu. Berkontribusi terhadap prioritas pembangunan nasional Target Spesifik 3.2. Aspek Masalah Masalah adalah suatu kendala atau persoalan yang harus dipecahkan, atau dapat dikatakan masalah merupakan kesenjangan antara kenyataan yang ada dengan suatu yang diharapkan. Jadi dalam membuat peryataan suatu masalah sebaiknya menginformasikan masalahmasalah nyata yang terjadi sekarang dan menjadi serius jika tidak diselesaikan dengan tepat. Pernyataan masalah juga diharapkan ditetapkan secara sistematis dengan informasi latar belakang, kondisi saat ini, intervensi yang telah dilakukan sejauh ini, kesenjangan antara hasil saat ini dan yang diharapkan, dan dampak negatif jika tidak ditangani dan diselesaikan dengan tepat. Dalam Aspek Masalah memilki 2 (dua) Sub-Aspek yaitu : 1. Definisi Masalah Jelas 2. Tidak dapat diselesaikan dengan program yang ada Adapun penjelasan dan contoh dari masing-masing Sub-Aspek adalah sebagai berikut: 1. Dalam menjelaskan Sub-Aspek Definisi Masalah Jelas sekurang-kurangnya memuat key word sebagai berikut : a. Masalah ditetapkan secara sistematis dengan latar belakang, kondisi saat ini, intervensi dilakukan sejauh ini, kesenjangan antara hasil saat ini dan yang diharapkan, serta dampak negatif jika tidak ditangani tepat; atau H A L A M A N 9
14 b. Definisi masalah harus didukung oleh informasi yang akurat dan valid yang dapat menunjukkan kondisi nyata. Pernyataan Masalah : Program Asuransi Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) menyediakan asuransi kesehatan untuk masyarakat miskin dan tidak mampu sebanyak penduduk. Data dasar mengacu pada target data BPS. Cakupan itu belum mencakup semua orang miskin dan kurang beruntung di Indonesia. Masyarakat miskin tidak tercakup oleh kuota Jamkesmas akan ditanggung oleh program Jamkesda. Pada tahun 2010, penduduk Indonesia yang memiliki asuransi kesehatan, termasuk Jamkesmas dan Jamkesda sejumlah atau 59,07% dari total populasi. Dari penduduk yang belum termasuk dalam Jaminan Kesehatan, masih miskin dan tidak mampu yang tidak mendapatkan perawatan kesehatan karena tidak termasuk dalam data keanggotaan Jamkesda dan Jamkesmas itu sendiri. Orang miskin dan tidak mampu tersebut layak mendapatkan jaminan kesehatan ketika memerlukan dan membutuhkan layanan tersebut. Dibutuhkan pendanaan tambahan dana dan jaminan kesehatan lebih lanjut untuk memberikan pelayanan kesehatan dasar dan rawat inap bagi masyarakat miskin untuk memastikan mereka akan memperoleh perbaikan tingkat hidup bagi dirinya dan keluarganya di masa datang yang lebih lanjut akan mengurangi beban masyarakat secara umum. Didukung oleh Informasi yang akurat Ditetapkan secara sistematis dan valid 2. Dalam menjelaskan Sub-Aspek Tidak dapat diselesaikan dengan program yang ada sekurang-kurangnya memuat key word sebagai berikut : a. Inisiatif Baru yang diusulkan adalah terkait dengan masalah yang tidak pernah ditangani oleh kebijakan yang ada sehingga dibutuhkan penanganan baru/tambahan untuk mampu memecahkannya ; atau b. Inisiatif Baru ini diusulkan berdasarkan kondisi masalah tersebut saat ini, dengan menggunakan pendekatan dan/atau perspektif yang berbeda dalam mendefinisikan itu. H A L A M A N 10
15 Pernyataan Masalah : Program Asuransi Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) menyediakan asuransi kesehatan untuk masyarakat miskin dan tidak mampu sebanyak penduduk. Data dasar mengacu pada target data BPS. Cakupan itu belum mencakup semua orang miskin dan kurang beruntung di Indonesia. Masyarakat miskin tidak tercakup oleh kuota Jamkesmas akan ditanggung oleh program Jamkesda. Pada tahun 2010, penduduk Indonesia yang memiliki asuransi kesehatan, termasuk Jamkesmas dan Jamkesda sejumlah atau 59,07% dari total populasi. Dari penduduk yang belum termasuk dalam Jaminan Kesehatan, masih miskin dan tidak mampu yang tidak mendapatkan perawatan kesehatan karena tidak termasuk dalam data keanggotaan Jamkesda dan Jamkesmas itu sendiri. Orang miskin dan tidak mampu tersebut layak mendapatkan jaminan kesehatan ketika memerlukan dan membutuhkan layanan tersebut. Dibutuhkan pendanaan tambahan dana dan jaminan kesehatan lebih lanjut untuk memberikan pelayanan kesehatan dasar dan rawat inap bagi masyarakat miskin untuk memastikan mereka akan memperoleh perbaikan tingkat hidup bagi dirinya dan keluarganya di masa datang yang lebih lanjut akan mengurangi beban masyarakat secara umum. Tidak Pernah ditangani oleh Program yang ada sehingga dibutuhkan tambahan Menggunakan Pendekatan/Persepektif yang berbeda 3.3. Aspek Cakupan Cakupan adalah lingkup kebijakan Inisiatif Baru yang akan dilaksanakan. Dalam hal ini ruang lingkup dapat dalam skala nasional atau hanya di daerah tertentu yang secara khusus disebutkan dengan jelas. Cakupan wilayah ini akan terkait dengan informasi karakteristik input dan output dari kebijakan yang akan diusulkan. Dalam pernyataan ruang lingkup, alasan mengapa Inisiatif Baru ini akan dilaksanakan secara nasional, atau mengapa itu harus dilaksanakan di dalam kawasan tertentu harus spesifik dan jelas. Terutama jika itu bersumber dari informasi proses Musrenbang daerah. Aspek Cakupan memilki 2 (dua) Sub-Aspek yaitu : 1. Cakupan usulan Nasional atau Lokal 2. Alasan pemilihan cakupan/daerah jelas H A L A M A N 11
16 Adapun penjelasan dan contoh dari masing-masing Sub-Aspek adalah sebagai berikut: 1. Dalam menjelaskan Sub-Aspek Cakupan Usulan Nasional atau Lokal sekurangkurangnya memuat key word sebagai berikut : a. Usulan Inisiatif Baru dapat dilaksanakan baik secara nasional atau hanya di daerah tertentu; atau b. Spesifikasi cakupan (nasional atau lokal) adalah penting untuk kemungkinan prospek inputs dan outcomes dari Inisiatif Baru. Pernyataan Cakupan : Program ini mencakup semua orang yang tidak memiliki asuransi kesehatan (Jamkesmas, Jamkesda dan jaminan lainnya) dirawat di kelas III Rumah Sakit, terutama di kantong kantong kemiskinan di kota besar dan daerah tertinggal dan terpencil seperti di pedalaman Papua, NTT, NTB, Sumatera dan Maluku. Dilaksanakan secara nasional 2. Dalam menjelaskan Sub-Aspek Alasan Pemilihan Cakupan/Daerah Jelas sekurang-kurangnya memuat key word sebagai berikut : a. Ketika inisiatif yang diusulkan akan dilaksanakan di wilayah tertentu, spesifikasi wilayah penting untuk kemungkinan prospek inputs dan outcomes dari Inisiatif Baru; atau b. Alasan mengapa inisiatif ini akan dilaksanakan secara nasional atau dilaksanakan di wilayah tertentu harus diterangkan secara spesifik dan jelas. Pernyataan Cakupan : Program ini mencakup semua orang yang tidak memiliki asuransi kesehatan (Jamkesmas, Jamkesda dan jaminan lainnya) dirawat di kelas III Rumah Sakit, terutama di kantong kantong kemiskinan di kota besar dan daerah tertinggal dan terpencil seperti di pedalaman Papua, NTT, NTB, Sumatera dan Maluku. Spesifikasi Wilayah Tertentu H A L A M A N 12
17 3.4. Aspek Penerima Manfaat Penerima Manfaat adalah orang perseorangan, lembaga, kelompok, atau masyarakat yang menerima, atau mungkin menjadi layak untuk menerima. Secara khusus, penerima manfaat perorangan atau badan hukum yang memiliki "masalah" yang dijelaskan pada kriteria "2." Format usulan tersebut mengarah pada penciptaan inisiatif baru. Dalam pengertian bahwa target, tujuan (objektif) dan pencapaian dari inisiatif baru harus memiliki keterkaitan langsung dengan penerima manfaat dan penerima manfaat harus sesuai dengan arah kebijakan Kementerian/Lembaga, dan Prioritas Pembangunan Nasional. Spesifikasi Penerima harus didukung oleh informasi yang akurat dan kredibel yang dapat menunjukkan situasi nyata yang menginformasikan kondisi dengan atau tanpa Inisiatif Baru. Aspek Penerima Manfaat Memiliki 3 (tiga) Sub Aspek : 1. Penerima manfaat jelas 2. Penerima manfaat tepat sasaran 3. Data pendukung jelas Adapun penjelasan dan contoh dari masing-masing Sub-Aspek adalah sebagai berikut: 1. Dalam menjelaskan Sub-Aspek Penerima Manfaat Jelas sekurang-kurangnya memuat key word sebagai berikut : a. Penerima manfaat adalah perorangan, lembaga, kelompok atau masyarakat yang secara langsung atau nantinya menerima manfaat dari Inisiatif Baru ; atau b. Secara khusus, penerima manfaat perorangan lembaga, kelompok atau masyarakat yang memiliki masalah yang dijelaskan pada aspek point 2, dimana format usulan tersebut mengarah pada penciptaan Inisiatif Baru; atau c. Dalam usulan Inisiatif Baru, pihak yang akan diuntungkan dari pelaksanaan Inisiatif Baru harus diterangkan dengan jelas. H A L A M A N 13
18 Pihak yang diuntungkan diterangkan dengan jelas Pernyataan Penerima Manfaat : Seluruh masyarakat tidak mampu yang tidak tercakup dalam Jamkesmas, Jamkesda dan jaminan lainnya, yang dapat dirawat Rumah Sakit di kelas III di tiap wilayah nasional. Berdasarkan data BPS, sasaran penerima manfaat ini adalah masyarakat miskin dan tak mampu sejumlah 12 juta jiwa pada tahun 2012, dan cenderung menurun pada tahun berikutnya sebesar 5% per tahun sejalan dengan membaiknya kondisi kesehatan dan pelayanan kesehatan yang diberikan. Perseorangan/Masyarakat Penerima manfaat adalah yang memiliki masalah yang dijelaskan pada aspek point 2 2. Dalam menjelaskan Sub-Aspek Penerima Tepat Sasaran sekurang-kurangnya memuat key word sebagai berikut : a. Dalam pengertian bahwa penerima manfaat yang merupakan target tujuan (objektif) dan pencapaian dari Inisiatif Baru harus memiliki keterkaitan langsung dengan permasalahan yang telah dijabarkan dalam aspek point 2; atau b. Penerima manfaat harus sesuai dengan arah kebijakan Kementerian/Lembaga dan Prioritas Pembangunan Nasional. Pernyataan Penerima Manfaat : Seluruh masyarakat tidak mampu yang tidak tercakup dalam Jamkesmas, Jamkesda dan jaminan lainnya, yang dapat dirawat Rumah Sakit di kelas III di tiap wilayah nasional. Berdasarkan data BPS, sasaran penerima manfaat ini adalah masyarakat miskin dan tak mampu sejumlah 12 juta jiwa pada tahun 2012, dan cenderung menurun pada tahun berikutnya sebesar 5% per tahun sejalan dengan membaiknya kondisi kesehatan dan pelayanan kesehatan yang diberikan. Sesuai dengan arah Kebijakan K/L dan Prioritas Pembangunan Nasional Penerima manfaat adalah yang memiliki masalah yang dijelaskan pada aspek point 2 3. Dalam menjelaskan Sub-Aspek Data Pendukung Jelas sekurang-kurangnya memuat key word sebagai berikut : a. Spesifikasi Penerima Manfaat harus didukung oleh informasi yang akurat dan kredibel yang dapat menunjukkan situasi sebenarnya; atau b. Proposal harus menjelaskan tentang penerima manfaat dengan menggunakan informasi (data). H A L A M A N 14
19 3.5. Strategi Didukung oleh informasi yang akurat dan kredibel serta menggunakan informasi (data) Pernyataan Penerima Manfaat : Seluruh masyarakat tidak mampu yang tidak tercakup dalam Jamkesmas, Jamkesda dan jaminan lainnya, yang dapat dirawat Rumah Sakit di kelas III di tiap wilayah nasional. Berdasarkan data BPS, sasaran penerima manfaat ini adalah masyarakat miskin dan tak mampu sejumlah 12 juta jiwa pada tahun 2012, dan cenderung menurun pada tahun berikutnya sebesar 5% per tahun sejalan dengan membaiknya kondisi kesehatan dan pelayanan kesehatan yang diberikan. Strategi adalah metode atau rencana yang dipilih untuk ke arah masa depan yang diinginkan, seperti pencapaian tujuan atau solusi atas permasalahan. Hal ini juga dapat dikatakan sebagai seni dalam ilmu perencanaan dan pengelolaan sumber daya untuk penggunaan yang paling efisien dan efektif. Strategi ini harus menunjukkan bagaimana Inisiatif Baru dapat berkontribusi pada realisasi target tersebut, dan apa jenis langkah yang harus diambil untuk mewujudkannya, dan juga kinerja saat ini dan sebelumnya terhadap target harus diukur secara akurat dan jelas diterangkan dengan menggunakan indikator kinerja yang tepat. Aspek Strategi Memiliki 4 (empat) Sub Aspek : 1. Rencana Pelaksanaan Usulan jelas 2. Jangka waktu usulan rasional 3. Kejelasan Output/Sub-output 4. Realistik untuk diterapkan Adapun penjelasan dan contoh dari masing-masing Sub-Aspek adalah sebagai berikut: 1. Dalam menjelaskan Sub-Aspek Rencana Pelaksanaan Usulan Jelas sekurangkurangnya memuat key word sebagai berikut : a. Strategi bukan merupakan langkah-langkah yang nyata dan spesifik, serta rencana pencapaiannya harus benar-benar realistis utamanya untuk mewujudkan tujuan Inisiatif Baru; atau b. Strategi harus diterangkan secara jelas sehingga pembaca bisa dengan mudah memahami bagaimana inisiatif akan diimplementasikan untuk mewujudkan tujuannya. H A L A M A N 15
20 Pernyataan Strategi : Dengan memperluas cakupan asuransi kesehatan melalui jaminan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit kelas III tidak akan ada masyarakat yang kesulitan untuk mencari pengobatan di Rumah Sakit Kelas III hanya karena tidak termasuk dalam database peserta asuransi atau jaminan kesehatan yang terdaftar. Perluasan cakupan jaminan pelayanan kesehatan pada rumah sakit kelas III tersebut akan dilaksanakan hingga tahun 2014 dengan langkah sebagai berikut; Memperbaharui data peserta JAMKESMAS, JAMKESDA dan jaminan kesehatan lainnya yang terdaftar pada setiap wilayah propinsi, kabupaten dan kota di Indonesia Menghitung kesenjangan antara jumlah masyarakat dan penduduk miskin yang terdaftar dan tidak terdaftar Peningkatan kapasitas pelayanan kesehatan pada Rumah Sakit Kelas III di setiap wilayah Melakukan koordinasi dengan pihak pemerintah daerah dalam penerbitan Kartu Keluarga Miskin dan Tidak Mampu Melakukan pendataan dan estimasi tingkat kesehatan masyarakat miskin dan KLB (Kejadian Luar Biasa) di tiap daerah. Memperbaiki dan meningkatkan mekanisme penggantian dan alokasi dana jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu pada Pemerintah Daerah dan Rumah Sakit Kelas III. Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan program jaminan kesehatan pada Rumah Sakit Kelas III. Langkah-langkah nyata yang spesifik serta mudah untuk dipahami 2. Dalam menjelaskan Sub-Aspek Jangka waktu Usulan Rasional sekurangkurangnya memuat key word sebagai berikut : a. Inisiatif Baru bisa untuk jangka waktu terbatas setahun maupun untuk jangka waktu lebih dari setahun. Jangka waktu memiliki dampak besar dan langsung terhadap sumber daya yang diperlukan untuk inisiatif, dan tujuan (target) realisasi; atau b. Inisiatif Baru untuk waktu terbatas tertentu setahun atau yang melebihi periode tahunan harus dapat diterangkan dengan jelas. H A L A M A N 16
21 Jangka Waktu Multiyears Pernyataan Strategi : Dengan memperluas cakupan asuransi kesehatan melalui jaminan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit kelas III tidak akan ada masyarakat yang kesulitan untuk mencari pengobatan di Rumah Sakit Kelas III hanya karena tidak termasuk dalam database peserta asuransi atau jaminan kesehatan yang terdaftar. Perluasan cakupan jaminan pelayanan kesehatan pada rumah sakit kelas III tersebut akan dilaksanakan hingga tahun 2014 dengan langkah sebagai berikut; Memperbaharui data peserta JAMKESMAS, JAMKESDA dan jaminan kesehatan lainnya yang terdaftar pada setiap wilayah propinsi, kabupaten dan kota di Indonesia Menghitung kesenjangan antara jumlah masyarakat dan penduduk miskin yang terdaftar dan tidak terdaftar Peningkatan kapasitas pelayanan kesehatan pada Rumah Sakit Kelas III di setiap wilayah Melakukan koordinasi dengan pihak pemerintah daerah dalam penerbitan Kartu Keluarga Miskin dan Tidak Mampu Melakukan pendataan dan estimasi tingkat kesehatan masyarakat miskin dan KLB (Kejadian Luar Biasa) di tiap daerah. Memperbaiki dan meningkatkan mekanisme penggantian dan alokasi dana jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu pada Pemerintah Daerah dan Rumah Sakit Kelas III. Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan program jaminan kesehatan pada Rumah Sakit Kelas III. 3. Dalam menjelaskan Sub-Aspek Output dan Sub-Output sekurang-kurangnya memuat key word sebagai berikut : a. Bisa menjelaskan tentang hubungan logis antara input, output (termasuk suboutput), dengan tujuan dari Inisiatif Baru. Pernyataan Strategi : Dengan memperluas cakupan asuransi kesehatan melalui jaminan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit kelas III tidak akan ada masyarakat yang kesulitan untuk mencari pengobatan di Rumah Sakit Kelas III hanya karena tidak termasuk dalam database peserta asuransi atau jaminan kesehatan yang terdaftar. H A L A M A N 17
22 Pernyataan dengan garis bawah merupakan langkah strategis yang akan menghasilkan output yang ada hubungan logis dengan Tujuan Perluasan cakupan jaminan pelayanan kesehatan pada rumah sakit kelas III tersebut akan dilaksanakan hingga tahun 2014 dengan langkah sebagai berikut; Memperbaharui data peserta JAMKESMAS, JAMKESDA dan jaminan kesehatan lainnya yang terdaftar pada setiap wilayah propinsi, kabupaten dan kota di Indonesia Menghitung kesenjangan antara jumlah masyarakat dan penduduk miskin yang terdaftar dan tidak terdaftar Peningkatan kapasitas pelayanan kesehatan pada Rumah Sakit Kelas III di setiap wilayah Melakukan koordinasi dengan pihak pemerintah daerah dalam penerbitan Kartu Keluarga Miskin dan Tidak Mampu Melakukan pendataan dan estimasi tingkat kesehatan masyarakat miskin dan KLB (Kejadian Luar Biasa) di tiap daerah. Memperbaiki dan meningkatkan mekanisme penggantian dan alokasi dana jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu pada Pemerintah Daerah dan Rumah Sakit Kelas III. Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan program jaminan kesehatan pada Rumah Sakit Kelas III. 4. Dalam menjelaskan Sub-Aspek Realistik Untuk Diterapkan sekurangkurangnya memuat key word sebagai berikut : a. Harus menunjukkan bagaimana Inisiatif Baru dapat dicapai secara realistik serta ditunjukkan langkah apa yang harus diambil untuk mewujudkannya dengan mempertimbangkan adanya beberapa keterbatasan sumber daya. b. Kinerja saat ini dan sebelumnya terhadap target harus diukur secara akurat dan dapat dijelaskan dengan menggunakan indikator kinerja yang tepat. Pernyataan dengan garis bawah merupakan langkah strategis yang realistik dilaksanakan Pernyataan Strategi : Dengan memperluas cakupan asuransi kesehatan melalui jaminan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit kelas III tidak akan ada masyarakat yang kesulitan untuk mencari pengobatan di Rumah Sakit Kelas III hanya karena tidak termasuk dalam database peserta asuransi atau jaminan kesehatan yang terdaftar. Perluasan cakupan jaminan pelayanan kesehatan pada rumah sakit kelas III tersebut akan dilaksanakan hingga tahun 2014 dengan langkah sebagai berikut; Memperbaharui data peserta JAMKESMAS, JAMKESDA dan jaminan kesehatan lainnya yang terdaftar pada setiap wilayah propinsi, kabupaten dan kota di Indonesia Menghitung kesenjangan antara jumlah masyarakat dan penduduk miskin yang terdaftar dan tidak terdaftar H A L A M A N 18
23 Peningkatan kapasitas pelayanan kesehatan pada Rumah Sakit Kelas III di setiap wilayah Melakukan koordinasi dengan pihak pemerintah daerah dalam penerbitan Kartu Keluarga Miskin dan Tidak Mampu Melakukan pendataan dan estimasi tingkat kesehatan masyarakat miskin dan KLB (Kejadian Luar Biasa) di tiap daerah. Memperbaiki dan meningkatkan mekanisme penggantian dan alokasi dana jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu pada Pemerintah Daerah dan Rumah Sakit Kelas III. Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan program jaminan kesehatan pada Rumah Sakit Kelas III. Pernyataan dengan garis bawah merupakan langkah strategis yang realistik dilaksanakan 3.6. Aspek Indikator Kinerja Indikator kinerja adalah uraian ringkas dengan menggunakan kuantitas dan kualitas yang mengindikasikan pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah disepakati dan ditetapkan. Indikator kinerja merupakan pengukuran yang digunakan untuk mengevaluasi tujuan-tujuan dan sasaran khusus. Ada beberapa jenis indikator kinerja, yaitu input, keluaran, hasil dan dampak. Dalam kasus mengukur kegiatan, indikator yang digunakan adalah keluaran, sedangkan untuk program ini adalah hasil. Dalam memilih indikator kinerja dari Inisiatif Baru, "logic model" harus diterapkan. Terkait dengan sisi muatan dan tingkatan, indikator kinerja harus sejalan dengan fungsi KL pengusul arah kebijakan yang spesifik dan prioritas pembangunan nasional. Aspek Indikator Kinerja Memiliki 2 (dua) Sub Aspek : 1. Indikator kinerja logis dan sesuai tupoksi 2. Keterkaitan indikator dengan Arah Kebijakan dan Prioritas Pembangunan Nasional Adapun penjelasan dan contoh dari masing-masing Sub-Aspek adalah sebagai berikut: 1. Dalam menjelaskan Sub-Aspek Indikator Kinerja Logis dan Sesuai Tupoksi sekurang-kurangnya memuat key word sebagai berikut : a. Indikator kinerja yang akan digunakan harus tepat dan menunjukkan kerangka logis yang jelas serta akan digunakan dalam pengimplementasiannya. b. Jenis indikator kinerja yang digunakan harus dijelaskan secara jelas dan mudah untuk dimengerti. H A L A M A N 19
24 Pernyataan Indikator Kinerja: Jumlah masyarakat yang dilayani di Kelas III rumah sakit Rasio Jumlah orang miskin dan tidak mampu yang dilayani di Rumah Sakit kelas III secara nasional dan regional dibandingkan dengan jumlah orang miskin dan tidak mampu yang mendaftar untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Kelas III. Indikator Jelas, Sederhana dan Mudah untuk Dimengerti 2. Dalam menjelaskan Sub-Aspek Keterkaitan indikator dengan Arah Kebijakan dan Prioritas Pembangunan Nasional sekurang-kurangnya memuat key word sebagai berikut : a. Indikator kinerja harus merupakan bagian dari tugas dan fungsi Kementerian/Lembaga pengusul. b. Indikator kinerja merupakan bagian dari Arah Kebijakan dan Prioritas Pembangunana Nasional. Pernyataan Indikator Kinerja: Jumlah masyarakat yang dilayani di Kelas III rumah sakit Rasio Jumlah orang miskin dan tidak mampu yang dilayani di Rumah Sakit kelas III secara nasional dan regional dibandingkan dengan jumlah orang miskin dan tidak mampu yang mendaftar untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Kelas III. Indikator Kinerja merupakan Tupoksi Kemenkes dan terkait dengan Prioritas Pembangunan Nasional 3.7. Aspek Target Target adalah nilai dari suatu ukuran kinerja yang dianggap ideal untuk digunakan sebagai dasar dalam menetapkan kebijakan. Dalam Aspek Target Memiliki 2 (dua) Sub Aspek : 1. Target jelas dan rasional 2. Target realistis untuk dicapai H A L A M A N 20
25 Adapun penjelasan dan contoh dari masing-masing Sub-Aspek adalah sebagai berikut: 1. Dalam menjelaskan Sub-Aspek Target Jelas dan Rasional sekurang-kurangnya memuat key word sebagai berikut : a. Adanya gambaran yang menunjukkan tingkat realisasi; atau b. Mengungkapkan keadaan yang diinginkan di mana masalah ini diselesaikan; atau c. Target dinyatakan sebagai tingkat tertentu indikator kinerja; atau Kode Pernyataan Target: Meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin di Rumah Sakit rujukan itu. Persentase (%) Rumah Sakit yang melayani pasien peserta program Jamkesmas miskin dari 90% pada tahun 2012 menjadi 95% pada tahun 2013 dan 100% pada tahun PROGRAM/KEGIAN 07 PROGRAM PEMBINAAN UPAYA KESEHAN 2091 Pelayanan Kesehatan Rujukan Bagi Masyarakat Miskin (Jamkesmas) Sasaran/Indikator Kinerja Meningkatnya Pelayanan Kesehatan Rujukan Bagi Penduduk Miskin Di RS Persentase (%) Rs yang Melayani Pasien Penduduk Miskin Peserta Program Jamkesmas Persentase TT kelas III RS yang digunakan untuk pelayanan Jaminan kesehatan RGET SEBELUM INISIATIF BARU RGET SESUDAH INISIATIF BARU % 90% 95% 90% 95% 100% 100% 85% 90% 95% 90% 95% 100% 100% Menunjukkan tingkat realisasi dan keadaan yang diinginkan 2. Dalam menjelaskan Sub-Aspek Terget Realistik Untuk dicapai sekurangkurangnya memuat key word sebagai berikut : a. Target tidak terlalu tinggi maupun terlalu rendah untuk pencapaian. b. Target dicapai dengan biaya yang efisien dalam batasan keuangan negara. c. Informasi kinerja sebelumnya harus disediakan untuk membuktikan bagaimana target yang realistis dapat dicapai. Pernyataan Target: Meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin di Rumah Sakit rujukan itu. Persentase (%) Rumah Sakit yang melayani pasien peserta program Jamkesmas miskin dari 90% pada tahun 2012 menjadi 95% pada tahun 2013 dan 100% pada tahun H A L A M A N 21
26 Kode PROGRAM/KEGIAN 07 PROGRAM PEMBINAAN UPAYA KESEHAN 2091 Pelayanan Kesehatan Rujukan Bagi Masyarakat Miskin (Jamkesmas) Sasaran/Indikator Kinerja Meningkatnya Pelayanan Kesehatan Rujukan Bagi Penduduk Miskin Di RS Persentase (%) Rs yang Melayani Pasien Penduduk Miskin Peserta Program Jamkesmas Persentase TT kelas III RS yang digunakan untuk pelayanan Jaminan kesehatan RGET SEBELUM INISIATIF BARU RGET SESUDAH INISIATIF BARU % 90% 95% 90% 95% 100% 100% 85% 90% 95% 90% 95% 100% 100% Target tidak terlalu tinggi maupun terlalu rendah, Informasi kinerja sebelumnya telah disediakan 3.8. Aspek Kesesuaian Anggaran Kesesuaian anggaran adalah gambaran umum usulan Inisiatif Baru yang menginformasikan secara rinci jumlah unit dan biaya untuk menunjukkan perhitungan biaya baik yang terkait dengan parameter ekonomi maupun nonekonomi sebagai informasi dasar anggaran dan dukungan untuk tujuan program / kegiatan Aspek Kesesuaian Anggaran Memiliki 3 (tiga) Sub Aspek, yaitu : 1. Kesesuaian parameter yang digunakan 2. Komponen unit jelas 3. Biaya proposional Adapun penjelasan dan contoh dari masing-masing Sub-Aspek adalah sebagai berikut: 1. Dalam menjelaskan Sub-Aspek Kesesuaian Parameter Yang Digunakan sekurang-kurangnya memuat key word sebagai berikut : a. Menggunakan parameter ekonomi dan non-ekonomi sebagai dasar informasi anggaran dan dukungan terhadap tujuan program/kegiatan Parameter ekonomi adalah indikator ekonomi makro seperti seperti inflasi, tingkat bunga, nilai tukar, dll Parameter non ekonomi adalah indikator non-ekonomi seperti seperti angka pengangguran, tingkat pertumbuhan penduduk, angka kelahiran anak, angka kematian, indeks infrastruktur, dll H A L A M A N 22
27 Perhitungan Kesesuaian Anggaran: Lampiran: Perhitungan Output Klaim RS yang melayani Pasien Peserta Jamkesmas Unit Cost sudah mempertimbangkan tingkat inflasi Jumlah Penduduk Miskin (Parameter Non-ekonomi) 2. Dalam menjelaskan Sub-Aspek Komponen Unit Jelas sekurang-kurangnya memuat key word sebagai berikut : a. Menginformasikan usulan anggaran secara rinci dari uraian komponen dan biaya untuk menjelaskan perhitungan biaya b. Jumlah unit merupakan entitas dari setiap komponen biaya, misalnya adalah jumlah orang, jam, jarak, frekuensi perjalanan, frekuensi pelatihan, dll c. Unit biaya merupakan entitas komponen biaya seperti halnya gaji, honorarium, harga tiket, harga sewa, dll H A L A M A N 23
28 Perhitungan Kesesuaian Anggaran: Usulan Anggaran dirinci Secara Jelas 3. Dalam menjelaskan Sub-Aspek Biaya Proposional sekurang-kurangnya memuat key word sebagai berikut : a. Terdapat biaya proporsional antara biaya administrasi dan operasional, biaya langsung dan biaya tidak langsung dari program/kegiatan b. Proporsional berarti biaya Output utama harus lebih besar daripada biaya untuk output pendukung ataupun administrasi Perhitungan Kesesuaian Anggaran: Biaya Proporsional Biaya Output Utama Lebih Besar H A L A M A N 24
29 3.9. Aspek Kepatutan Anggaran Kepatutan anggaran adalah suatu kondisi bahwa anggaran yang diusulkan dalam Inisiatif Baru harus didasarkan pada biaya unit yang mengacu pada SBU (Standar Biaya Umum) dan SBK (Standar Biaya Kegiatan), menggunakan biaya per unit yang konsisten dengan pembiayaan sebelumnya atau tren di masa lalu (menyesuaikan dengan laju inflasi), dan memberikan informasi dari biaya yang lebih baik atau lebih rendah per unit program dari program yang sama sebelumnya dengan target yang sama. Aspek Kepatutan Anggaran Memiliki 3 (tiga) Sub Aspek, yaitu : 1. Kesesuaian dengan aturan SBU/SBK 2. Konsistensi biaya 3. Penghematan /Efisiensi Adapun penjelasan dan contoh dari masing-masing Sub-Aspek adalah sebagai berikut: 1. Dalam menjelaskan Sub-Aspek Kesesuaian Dengan Aturan SBU/SBK sekurangkurangnya memuat key word sebagai berikut : a. Menggunakan biaya unit yang mengacu pada standar biaya unit SBU (Standar Biaya Umum) dan SBK (Standar Biaya Kegiatan) yang dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan Perhitungan Kepatutan Anggaran: Lampiran: Perhitungan Output Klaim RS yang melayani Pasien Peserta Jamkesmas Unit Cost sudah mengacu pada SBU/SBK H A L A M A N 25
30 2. Dalam menjelaskan Sub-Aspek Konsistensi Biaya sekurang-kurangnya memuat key word sebagai berikut : a. Menggunakan biaya per unit yang konsisten dengan pembiayaan sebelumnya atau tren di masa lalu (menyesuaikan dengan laju inflasi) Perhitungan Kepatutan Anggaran: Lampiran: Perhitungan Output Klaim RS yang melayani Pasien Peserta Jamkesmas Konsistensi Biaya 3. Dalam menjelaskan Sub-Aspek Penghematan/Efisiensi sekurang-kurangnya memuat key word sebagai berikut : a. Memberikan informasi biaya per unit program yang lebih baik atau lebih rendah daripada program dan target yang sama sebelumnya H A L A M A N 26
31 Perhitungan Kepatutan Anggaran: Lampiran: Perhitungan Output Dokumen dan Informasi Informasi biaya per unit program yang lebih baik Aspek Sumber Pendanaan Sumber pendanaan Inisiatif Baru dapat berupa tambahan dana atau realokasi anggaran dalam Kementerian atau Lembaga yang mengusulkan; usulan jelas harus menginformasikan dari mana dana ini dan berapa banyak jumlah akan diusulkan (termasuk perhitungan dari perkiraan ke depan). H A L A M A N 27
32 Khusus untuk sumber pendanaan dari realokasi anggaran, usulan inisiatif baru harus membuktikan bahwa target jangka menengah dari program / kegiatan yang dialokasikan masih dapat dicapai, bahkan setelah realokasi tersebut. Aspek Sumber Pendanaan Memiliki 2 (dua) Sub Aspek : 1. Sumber dari realokasi anggaran 2. Target dari anggaran yang direalokasi dapat dicapai Adapun penjelasan dan contoh dari masing-masing Sub-Aspek adalah sebagai berikut: 1. Dalam menjelaskan Sub-Aspek Sumber dari Realokasi Anggaran sekurangkurangnya memuat key word sebagai berikut : a. Sumber pendanaan Inisiatif Baru bisa berasal dari tambahan anggaran atau realokasi anggaran dalam instansi Kementerian/Lembaga pengusul. b. Menjelaskan dari mana dana berasal dan berapa banyak kebutuhan pendanaannya termasuk perhitungan perkiraan maju). Sumber Pendanaan: Sumber Pendanaan Berasal dari Realokasi Anggaran 2. Dalam menjelaskan Sub-Aspek Target dari anggaran yang direalokasi dapat dicapai sekurang-kurangnya memuat key word sebagai berikut : a. Proposal Inisiatif Baru harus mampu membuktikan bahwa target jangka menengah dari program/kegiatan yang direalokasi masih dapat dicapai, bahkan setelah realokasi tersebut. b. Secara umum, untuk meningkatkan efisiensi dari program / kegiatan merupakan cara utama untuk menekan sumber daya pendanaan untuk realokasi, bahkan mempertahankan tingkat yang sama dari target outcome. Oleh karena itu, dalam proposal, bagaimana efisiensi dapat ditingkatkan, harus dapat dijelaskan untuk meningkatkan keyakinan. H A L A M A N 28
33 Sumber Pendanaan: Target Jangka Menengah masih dapat dicapai H A L A M A N 29
34 BAB IV. PENUTUP Modul petunjuk teknis penyusunan proposal Inisiatif Baru ini merupakan panduan praktis yang dapat digunakan oleh seluruh Kementerian/Lembaga untuk mempersiapkan dan menyusun proposal Inisiatif Baru yang lebih berkualitas. Selain itu modul ini juga dapat lebih mendekatkan relevansi antara proposal Insiatif Baru yang dihasilkan dengan pencapaian arah kebijakan dan prioritas pembangunan nasional yang ditetapkan pada setiap awal tahun. Dengan adanya relevansi tersebut, pada akhirnya akan berdampak terhadap peningkatan kualitas sistem perencanaan dan penganggaran yang lebih baik, utamanya dalam penerapan Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (KPJM). Dalam modul ini contoh proposal yang digunakan bukan merupakan contoh riil dari proposal yang disampaikan oleh Kementerian/Lembaga pada pelaksanaan Inisiatif Baru Contoh penyusunan proposal Inisiatif Baru ini juga bukan merupakan contoh yang paling sempurna didalam menyusun proposal Inisiatif Baru mengingat setiap Kementerian/Lembaga memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Modul ini hanya merupakan pendekatan yang dapat digunakan oleh seluruh Kementerian/Lembaga untuk menyusun proposal Inisiatif Baru yang lebih berkualitas. H A L A M A N 30
KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL INISIATIF BARU DIREKTORAT ALOKASI PENDANAAN PEMBANGUNAN BAPPENAS
KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL TEKNIS PENYUSUNAN INISIATIF BARU DIREKTORAT ALOKASI PENDANAAN PEMBANGUNAN JAKARTA, FEBRUARI 2012 OUTLINE Inisiatif Baru
TATA CARA PENYUSUNAN INISIATIF BARU
KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL TATA CARA PENYUSUNAN INISIATIF BARU Disampaikan Dalam Acara Kick Off Meeting Penyusunan RKP 2012 DEPUTI BIDANG PENDANAAN
SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PPN/ KEPALA BAPPENAS NOMOR 1 TAHUN 2011 TANGGAL 31 JANUARI 2011 TATA CARA PENYUSUNAN INISIATIF BARU
SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PPN/ KEPALA BAPPENAS NOMOR 1 TAHUN 2011 TANGGAL 31 JANUARI 2011 TATA CARA PENYUSUNAN INISIATIF BARU - 2 - Daftar Isi Daftar Isi... 2 Daftar Gambar... 4 Daftar Tabel...
REVIU ANGKA DASAR (BASELINE) (Bagian 1)
REVIU ANGKA DASAR (BASELINE) (Bagian 1) Ada lima tahapan pokok dalam satu siklus APBN di Indonesia yaitu : 1). Perencanaan dan Penganggaran APBN; 2). Penetapan/Persetujuan APBN; 3). Pelaksanaan APBN; 4).
KB 1 KPJM SEBAGAI SALAH SATU PENDEKATAN PENGANGGARAN. Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah 30/01/2017
Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah Diklat Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja Pusdiklat Anggaraan dan Perbendaharaan Kementerian Keuangan Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Pusdiklat Anggaran dan
BAB I PENDAHULUAN. dari rahasia perusahaan yang tertutup untuk publik, namun sebaliknya pada sektor
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penganggaran di sektor pemerintahan merupakan suatu proses yang cukup rumit. Karakteristik penganggaran di sektor pemerintahan sangat berbeda dengan penganggaran
1. Landasan Berpikir (1)
1 1. Landasan Berpikir (1) 1. RKA-K/L => merupakan dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan kegiatan sebagai penjabaran dari Renja K/L dalam satu tahun anggaran beserta anggaran yang
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2004 TENTANG PENYUSUNAN RENCANA KERJA DAN ANGGARAN KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2004 TENTANG PENYUSUNAN RENCANA KERJA DAN ANGGARAN KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan pemerintahan
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA,
SALINAN PERATURAN MENTERI PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG PERENCANAAN, PELAKSANAAN, PELAPORAN, PEMANTAUAN DAN
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL ANGGARAN NOMOR PER- 03/AG/2011 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENYUSUNAN DAN PENELAAHAN STANDAR BIAYA KELUARAN
2017, No Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan L
No.1236, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKO-KEMARITIMAN. SAKIP. PERATURAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG KEMARITIMAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2017 TENTANG SISTEM AKUNTABILITAS KINERJA DI
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 90 TAHUN TENTANG PENYUSUNAN RENCANA KERJA DAN ANGGARAN KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 90 TAHUN 2010010 TENTANG PENYUSUNAN RENCANA KERJA DAN ANGGARAN KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang
KERANGKA ACUAN KERJA (TERM OF REFERENCE) PENYUSUNAN STANDAR BIAYA KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA UNIT ESELON PROGRAM : : :
KERANGKA ACUAN KERJA (TERM OF REFERENCE) PENYUSUNAN STANDAR BIAYA KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA UNIT ESELON PROGRAM : : : Departemen Keuangan Direktorat Jenderal Anggaran Pengelolaan Anggaran Negara HASIL
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 75, 2004 POLITIK. PEMERITAHAN. Pemeritah Pusat. Pemerintah Daerah. Kementerian Negara. Lembaga. Menteri. APBN.
- 1 - BAB I PENDAHULUAN
- 1 - BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) mengamanatkan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP); Rencana
- 1 - DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA,
- 1 - SALINAN PERATURAN MENTERI PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2017 TENTANG PEDOMAN EVALUASI PEMBANGUNAN NASIONAL DENGAN
2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia T
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.313, 2017 BAPPENAS. Evaluasi Pembangunan Nasional. Pedoman. PERATURAN MENTERI PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL REPUBLIK
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 90 TAHUN 2010 TENTANG PENYUSUNAN RENCANA KERJA DAN ANGGARAN KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 90 TAHUN 2010 TENTANG PENYUSUNAN RENCANA KERJA DAN ANGGARAN KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 90 TAHUN TENTANG PENYUSUNAN RENCANA KERJA DAN ANGGARAN KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA
www.bpkp.go.id PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 90 TAHUN 2010010 TENTANG PENYUSUNAN RENCANA KERJA DAN ANGGARAN KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK
-1- BOX TAHAPAN RPJPN
-1- Anak Lampiran 1 BOX TAHAPAN RPJPN 2005-2025 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG NASIONAL (RPJPN) Berdasarkan kondisi saat ini serta tantangan dan permasalahan yang akan dihadapi selama 20 tahun mendatang,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 90 TAHUN TENTANG PENYUSUNAN RENCANA KERJA DAN ANGGARAN KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 90 TAHUN 2010010 TENTANG PENYUSUNAN RENCANA KERJA DAN ANGGARAN KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang
ANGGARAN SEKTOR PUBLIIK (AnSP) Bandi, Dr., M.Si., Ak., CA. PENYUSUNAN RKA SKPD
ANGGARAN SEKTOR PUBLIIK (AnSP) PENYUSUNAN RKA SKPD Sesi 10 Penyusunan RKA SKPD Copyright 2016 bandi.staff.fe.uns.ac.id. SIKLUS APBN & ASUMSI DASAR EKONOMI Tujuan Pembelajaran pada sesi ini adalah sebagai
- 1 - BAB I PENDAHULUAN
- 1 - BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) mengamanatkan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP); Rencana
2016, No Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 216 Tambahan Lembaran Negara Republik IndonesiaNomor 5584); 4. Undang-Undang Nomor 23 Tah
No.1183, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BSN. SAKIP. Pelaksanaan. Pedoman. PERATURAN KEPALA BADAN STANDARDISASI NASIONAL NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN SISTEM AKUNTABILITAS INSTANSI
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Krisis multidimensional yang terjadi di Indonesia pada era akhir pemerintahan orde baru, telah mendorong tuntutan demokratisasi di berbagai bidang. Terutama
PEDOMAN PENYUSUNAN SISTEM AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (SAKIP) DI LINGKUNGAN BADAN STANDARDISASI NASIONAL
PEDOMAN PENYUSUNAN SISTEM AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (SAKIP) DI LINGKUNGAN BADAN STANDARDISASI NASIONAL Menimbang : a. bahwa untuk meningkatkan pelaksanaan pemerintahan yang lebih berdaya
PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2012 TENTANG
PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2012 TENTANG PENYUSUNAN LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH DI LINGKUNGAN KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN KEUANGAN. Penanggulangan Kemiskinan. Pendanaan. Pusat. Daerah. Pedoman.
No.418, 2009 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN KEUANGAN. Penanggulangan Kemiskinan. Pendanaan. Pusat. Daerah. Pedoman. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 168 /PMK.07/2009 TENTANG
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 20 TAHUN 2004 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 20 TAHUN 2004 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan pemerintahan dilaksanakan untuk mencapai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut Dubnick (2005), akuntabilitas publik secara tradisional dipahami sebagai alat yang digunakan untuk mengawasi dan mengarahkan perilaku administrasi dengan
REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL PETUNJUK PELAKSANAAN NOMOR 4/JUKLAK/SESMEN/12/2014 TENTANG PEDOMAN TRILATERAL MEETING (PERTEMUAN
MENGAPA ANGGARAN KINERJA?
MENGAPA ANGGARAN KINERJA? Kurangnya keterkaitan antara: kebijakan, perencanaan, penganggaran, pelaksanaan Horizon anggaran sempit, berjangka satu tahunan Penganggaran kebanyakan berciri line-item, berdasarkan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sejak tahun 2001, pemerintah daerah telah melaksanakan secara serentak otonomi daerah dengan berlandaskan pada Undang-Undang Nomor 22 & 25 tahun 1999, kemudian diubah
DAFTAR ISI. BAB III Tatacara Penyusunan SBK... 9 A. Keluaran Kegiatan Yang Menjadi SBK... 9 B. Langkah-Langkah Penyusunan SBK...
DAFTAR ISI BAB I Pendahuluan... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Pengertian. 2 C. Fungsi dan Manfaat.. 3 D. Arah Kebijakan.... 3 E. Hal-Hal Baru Dalam Petunjuk Teknis Penyusunan SBK.. 4 F. Ruang Lingkup....
Arsip Nasional Republik Indonesia
Arsip Nasional Republik Indonesia LEMBAR PERSETUJUAN Substansi Prosedur Tetap tentang Penyusunan Bahan Nota Keuangan dan RAPBN telah saya setujui. Disetujui di Jakarta pada tanggal Juni 2010 Plt. SEKRETARIS
SISTEM PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN BERBASIS KINERJA
SISTEM PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN BERBASIS KINERJA PENDAHULUAN UU No. 17 Tahun 2003 mengamanatkan beberapa perubahan substansial dalam sistem perencanaan dan penganggaran APBN Perubahan sistem perencanaan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional telah mengamanatkan bahwa agar perencanaan pembangunan daerah konsisten, sejalan
BAB I PENDAHULUAN. Penganggaran merupakan hal yang sangat penting di dalam suatu organisasi,
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penganggaran merupakan hal yang sangat penting di dalam suatu organisasi, terutama pada sektor publik. Suatu anggaran mampu merefleksikan bagaimana arah dan tujuan
LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2008 NOMOR : 07 PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 07 TAHUN 2008 TENTANG
LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2008 NOMOR : 07 PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 07 TAHUN 2008 TENTANG TAHAPAN, TATA CARA PENYUSUNAN, PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN SERTA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
No.938, 2011 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KEUANGAN. Evaluasi Kinerja. RKA-K/L. Pengukuran. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 249/PMK.02/2011 TENTANG PENGUKURAN DAN EVALUASI
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang
Arsip Nasional Republik Indonesia
Arsip Nasional Republik Indonesia LEMBAR PERSETUJUAN Substansi Prosedur Tetap tentang Penyusunan Bahan Evaluasi Tahunan RPJMN di Lingkungan ANRI telah saya setujui. Disetujui di Jakarta pada tanggal Juni
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2017 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN KERJA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PENDAYAGUNAAN APARATUR
2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tam
No.1809, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMEN-DPDTT. SAKIP. PERATURAN MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2017 TENTANG PEDOMAN PENERAPAN
L A P O R A N K I N E R J A
L A P O R A N K I N E R J A 2 0 1 4 A s i s t e n D e p u t i B i d a n g P e m b e r d a y a a n M a s y a r a k a t Deputi Bidang Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Kabinet Republik Indonesia 2014 K a
PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG
SALINAN PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA KINERJA TAHUNAN, PENETAPAN KINERJA, RENCANA AKSI, DAN LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA DI LINGKUNGAN
SPENDING REVIEW 2013 Metodologi
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN INTEGRITAS PROFESIONALISME SINERGI PELAYANAN KESEMPURNAAN SPENDING REVIEW 2013 Metodologi Jakarta, 29 Agustus 2013 PENGERTIAN
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Proses perencanaan dan penganggaran pembangunan senantiasa merupakan satu entitas dalam siklus pembangunan. Konsep demikian telah dituangkan dalam kerangka hukum Undang-Undang
BAB I PENDAHULUAN. penganut NPM karena sesuai dengan semangat NPM untuk meningkatkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penganggaran berbasis kinerja (PBK) digunakan di berbagai negara penganut NPM karena sesuai dengan semangat NPM untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas dan akuntabilitas
Penyusunan. Gambaran Implementasi ADIK. Konsep Dasar Penataan ADIK. Implementasi ADIK. Penyusunan Informasi Kinerja
Penyusunan Informasi Kinerja Diklat Arsitektur dan Informasi Kinerja Kementerian Keuangan Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan Gambaran Implementasi ADIK Konsep
BERITA NEGARA. KEPOLISIAN. LAKIP. Penyusunan. Laporan.
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1084, 2012 KEPOLISIAN. LAKIP. Penyusunan. Laporan. PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2012 TENTANG PENYUSUNAN LAPORAN AKUNTABILITAS
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA,
Jalan Ampera Raya No. 7, Jakarta Selatan 12560, Indonesia Telp. 62 21 7805851, Fax. 62 21 7810280 http://www.anri.go.id, e-mail: [email protected] PERATURAN KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR
MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK
JURNAL MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK MKP ANALISIS PENGHITUNGAN ANGKA DASAR (BASELINE) DALAM Politeknik Keuangan Negara STAN Alamat Korespondensi: [email protected] INFORMASI ARTIKEL Diterima Pertama [04-07-2017]
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 96, 2006 (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4663) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1213, 2013 KEMENTERIAN SOSIAL. Kinerja. Rencana Tahunan. Rencana Aksi. LAKIP. Penyusunan. Pedoman. Pencabutan. PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN FLORES TIMUR. No. 1, 2013 Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Flores Timur Nomor 0085
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN FLORES TIMUR No. 1, 2013 Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Flores Timur Nomor 0085 PERATURAN DAERAH KABUPATEN FLORES TIMUR NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG SISTEM
MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA
buku 1 PEDOMAN pengajuan dokumen usulan reformasi birokrasi kementerian/lembaga Peraturan menteri negara pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi nomor 7 tahun 2011 kementerian pendayagunaan
2 2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tamba
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.491, 2015 KEMENKOMINFO. Akuntabilitas Kinerja. Pemerintah. Sistem. Penyelenggaraan. Pedoman. PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2017 TENTANG SINKRONISASI PROSES PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN PEMBANGUNAN NASIONAL
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2017 TENTANG SINKRONISASI PROSES PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN PEMBANGUNAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
2017, No Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); 3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Pere
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.105, 2017 PEMERINTAHAN. Pembangunan. Nasional. Perencanaan. Penganggaran. Sinkronisasi. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6056) PERATURAN
1. Tujuan dan Landasan Konseptual PBK; 2. Kerangka PBK; 3. Syarat Penerapan PBK; 4. Tahapan Kegiatan Penerapan PBK; 5. Mekanisme Penganggaran.
1. Penganggaran Berbasis Kinerja (PBK); 2. Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (KPJM); 3 Format Baru RKA-KL. 3. RKA KL di Indonesia (Menuju pengelolaan APBN yang transparan dan kredibel) Direktorat Jenderal
Kebijakan Penganggaran TA 2018
Kebijakan Penganggaran TA 2018 Jakarta, 14 Juni 2017 1 Siklus Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Kemendes PDT dan Trans Pertemuan Tiga Pihak Forum Penelaahan Kemendes PDT dan Trans Kemendes
PENJELASAN TEKNIS SUBSTANTIF RAKORTEK K/L DENGAN PEMDA DALAM PENYUSUNAN RKP 2018 DAN TATA KELOLA PEMBAHASAN
REPUBLIK INDONESIA PENJELASAN TEKNIS SUBSTANTIF RAKORTEK K/L DENGAN PEMDA DALAM PENYUSUNAN RKP 2018 DAN TATA KELOLA PEMBAHASAN Direktur Pengembangan Wilayah dan Kawasan Kementerian Perencanaan Pembangunan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pada era reformasi, pengelolaan anggaran pendapatan dan belanja
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada era reformasi, pengelolaan anggaran pendapatan dan belanja menjadi perhatian utama bagi para pengambil keputusan di pemerintahan. Perubahan perubahan penting dan
POKOK-POKOK PIKIRAN KEBIJAKAN DANA ALOKASI KHUSUS 2017
POKOK-POKOK PIKIRAN KEBIJAKAN DANA ALOKASI KHUSUS 2017 Kepala Subdirektorat Keuangan Daerah Bappenas Februari 2016 Slide - 1 KONSEP DASAR DAK Slide - 2 DAK Dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang
PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 90 TAHUN 2010 TENTANG PENYUSUNAN RENCANA KERJA DAN ANGGARAN KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA
I. UMUM PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 90 TAHUN 2010 TENTANG PENYUSUNAN RENCANA KERJA DAN ANGGARAN KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA Tantangan utama pengelolaan Anggaran Pendapatan
L A P O R A N K I N E R J A
L A P O R A N K I N E R J A 2 014 Asisten Deputi Bidang Pendidikan, Agama, Kesehatan, dan Kependudukan Deputi Bidang Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Kabinet Republik Indonesia 2014 Kata Pengantar Dengan
LAPORAN AKUNTABILITAS DAN KINERJA PEMERINTAH (LAKIP)
LAPORAN AKUNTABILITAS DAN KINERJA PEMERINTAH (LAKIP) ASISTEN DEPUTI BIDANG MATERI PERSIDANGAN 2014 KATA PENGANTAR Dalam rangka melaksanakan amanah Inpres Nomor 7 Tahun 1999, Asisten Deputi Bidang Materi
2 Nomor 26, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4614); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Ev
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1040, 2014 KEMENPOLHUKAM. Kinerja Instansi Pemerintah. Akuntabilitas. Sistem. Pedoman. PERATURAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG POLITIK, HUKUM, DAN KEAMANAN REPUBLIK INDONESIA
BAB 1 PENDAHULUAN. asuransi sehingga masyarakat dapat memenuhi kebutuhan dasar kesehatan
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan salah satu kebijakan pemerintah bidang kesehatan yang terintegrasi dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)
KONTEKSTUALISASI EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH DALAM PENYUSUNAN RKP. Darmawijaya. 1. Pendahuluan 44 E D I S I 0 1 / T A H U N X V I I /
KONTEKSTUALISASI EVALUASI KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH DALAM PENYUSUNAN RKP Darmawijaya 1. Pendahuluan Ilustrasi by Riduan Tulisan ini bermaksud membahas lebih rinci kontekstualisasi Evaluasi Kinerja Pembangunan
DOKUMEN DASAR PEMBAYARAN ATAS BEBAN APBN
DOKUMEN DASAR PEMBAYARAN ATAS BEBAN APBN DIKLAT BENDAHARA PENGELUARAN APBN Konsep Penganggaran dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran Tugas Bendahara terkait dengan pengujian dan pembayaran tagihan tidak dapat
Jakarta, 10 Maret 2011
SAMBUTAN MENTERI PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL DALAM ACARA TEMU KONSULTASI TRIWULANAN KE-1 TAHUN 2011 BAPPENAS-BAPPEDA PROVINSI SELURUH INDONESIA Jakarta,
BAB - I PENDAHULUAN I Latar Belakang
BAB - I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, telah mengamanatkan bahwa agar perencanaan pembangunan daerah konsisten, sejalan
MODEL PENGUKURAN KINERJA BELANJA INFRASTRUKTUR KEMENTERIAN/LEMBAGA
MODEL PENGUKURAN KINERJA BELANJA INFRASTRUKTUR KEMENTERIAN/LEMBAGA 1. Permasalahan Persoalan mendasar dalam APBN adalah bahwa adanya keterbatasan dana (budget constrains) pada satu sisi, sementara pada
POKOK-POKOK KEBIJAKAN PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN
POKOK-POKOK KEBIJAKAN PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN Bimtek Penganggaran Untuk PTN Baru dan Satker Kemristekdikti Lainnya Di Lingkup Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten Bandung 27 April 2018 Profil
Setyanta Nugraha Kepala Biro Analisa APBN Sekretariat Jenderal DPR RI
Setyanta Nugraha Kepala Biro Analisa APBN Sekretariat Jenderal DPR RI Disampaikan dalam Konsultasi Badan Anggaran DPRD Kabupaten Sleman Jakarta, 29 Januari 2014 2/10/2014 BIRO ANALISA APBN SETJEN DPR RI
BAB I PENDAHULUAN. dibidang keuangan negara, yaitu undang-undang No. 17 tahun tentang Keuangan Negara, Undang-undang No. 1 tahun 2004 tentang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembenahan manajemen keuangan negara mulai dilakukan pemerintah Indonesia pada tahun 2003 yang ditandai dengan dikeluarkannya paket undangundang dibidang keuangan
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 09/PRT/M/2018 TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH DI KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN
BUPATI MALUKU TENGGARA
SALINAN N BUPATI MALUKU TENGGARA PERATURAN BUPATI MALUKU TENGGARA NOMOR 3.a TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN UMUM PERENCANAAN DAERAH KABUPATEN MALUKU TENGGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MALUKU
S A L I N A N BERITA DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 91 TAHUN No. 91, 2016 TENTANG
- 1 - S A L I N A N BERITA DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 91 TAHUN 2016 NOMOR 91 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN BARAT NOMOR 852 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN
APLIKASI PENYUSUNAN PROPOSAL INISIATIF BARU BERBASIS WEB
Petunjuk Pengoperasian APLIKASI PENYUSUNAN PROPOSAL INISIATIF BARU BERBASIS WEB KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL (BAPPENAS) JAKARTA, 2012 1 PETUNJUK
2017, No Evaluasi Kinerja Anggaran atas Pelaksanaan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor
No.1963, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKEU. RKA-K/L. Pengukuran dan Evaluasi Kinerja Anggaran. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 214/PMK.02/2017 TENTANG PENGUKURAN
PENGUATAN REFORMASI BIROKRASI
PENGUATAN REFORMASI BIROKRASI DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi 1 Februari 2016 1 PERMASALAHAN BIROKRASI Mengapa Harus
OVERVIEW IMPLEMENTASI DAN EVALUASI RBA BLU. Kementerian Keuangan RI Direktorat Jenderal Perbendaharaan
OVERVIEW IMPLEMENTASI DAN EVALUASI RBA BLU Kementerian Keuangan RI Direktorat Jenderal Perbendaharaan AGENDA PEMBAHASAN 1. Pendahuluan 2. Mekanisme Penyusunan dan Pengajuan RBA BLU 3. Hal-Hal yang Perlu
BAB 1 PENDAHULUAN. Anggaran merupakan suatu perencanaan dan pengendalian terpadu yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Anggaran merupakan suatu perencanaan dan pengendalian terpadu yang dilaksanakan dengan tujuan agar perencanaan dan pengendalian tersebut mempunyai daya guna dan hasil
PEDOMAN PENYUSUNAN DAN PENETAPAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM)
PEDOMAN PENYUSUNAN DAN PENETAPAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) DEPARTEMEN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PEDOMAN PENYUSUNAN DAN PENETAPAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) DEPARTEMEN DALAM NEGERI REPUBLIK
