HASIL DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Yanti Tedja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 HASIL DAN PEMBAHASAN Sebaran Angin Di perairan barat Sumatera, khususnya pada daerah sekitar 2, o LS hampir sepanjang tahun kecepatan angin bulanan rata-rata terlihat lemah dan berada pada kisaran,76 4,1 m det -1, sedangkan ke arah selatan yakni pada perairan sekitar o LS angin cenderung lebih kuat dan berada pada kisaran,7 6,61 m det -1. Pada musim timur (Juni Agustus) di perairan barat Sumatera bertiup angin muson tenggara dengan kecepatan berkisar antara,9 6,61 m det -1. Kecepatan angin pada musim timur umumnya lebih kuat dari pada musim lainnya. Puncak kecepatan angin berada pada bulan Agustus dan September, saat dimana angin muson tenggara telah terbentuk dengan sempurna (Gambar 9 F, G, H). Selama musim peralihan II (September November) di perairan barat daya Sumatera masih bertiup angin muson tenggara, namun kekuatannya mulai lemah yaitu antara 2,16 4, m det -1. Di dekat ekuator yakni di sekitar 2, o LS angin bertiup dengan arah berubah-ubah dengan kecepatan yang lebih lemah yakni berkisar antara 1,2 2,1 m det -1 (Gambar 9 I, J, K). Pada musim barat (Desember Februari) bertiup angin barat. Kecepatan angin di perairan barat daya Sumatera pada bulan Desember berkisar antara 1,4 2,19 m det -1 dan dengan bertambahnya waktu kecepatan angin mengalami peningkatan dimana pada bulan Februari kecepatannya berkisar antara 1, m det -1. Di perairan sekitar 2, o LS, selama musim barat, kecepatan angin barat berada pada kisaran 1,13 4,1 m det -1 (Gambar 9 L, A, B). Pada musim peralihan I (Maret Mei), di perairan barat Sumatera, mulai terjadi perubahan arah tiupan angin dengan pola yang berubah-ubah kecuali pada bulan Maret dimana masih bertiup angin barat. Kecepatan angin pada musim ini hampir merata dan cenderung lemah. Pada bulan Maret hingga April angin bertiup dengan kecepatan,7 3,6 m det -1 dan kemudian mulai menguat seiring dengan mulai berkembangnya angin muson tenggara di selatan Jawa pada bulan Mei (Gambar 9 C, D, E).
2 33 Januari A Februari B Lintang Lintang Maret Bujur Timur C April Bujur Timur D Lintang Lintang Bujur Timur Bujur Timur Mei E Juni F Lintang Lintang Bujur Timur Bujur Timur Keterangan Vektor (m/det) Gambar 9. Pola sebaran angin bulanan rata-rata (m det -1 ) berdasarkan data rataan bulanan angin ECMWF dari tahun A = Januari; B = Februari; C = Maret; D = April; E = Mei; F = Juni.
3 34 Juli G Agustus H Lintang Lintang Bujur Timur Bujur Timur September I Oktober J Lintang Bujur Timur Bujur Timur Bujur Timur November K Desember L Lintang Lintang Bujur Timur Bujur Timur Keterangan Vektor (m/det) Gambar 9. Lanjutan. G = Juli; H = Agustus; I = September; J = Oktober; K = November; L = Desember.
4 3 Perairan selatan Jawa Sumbawa selama musim timur (Juni Agustus) bertiup angin muson tenggara (Gambar 9 F, G, H). Pada musim ini, kecepatan angin berkisar antara,23 8,2 m det -1 dengan kecepatan maksimum terlihat pada bulan Agustus di perairan selatan Jawa Barat yaitu berkisar antara 7,87 8,2 m det -1. Di bulan Juni, angin muson tenggara yang bertiup di selatan Jawa memiliki kecepatan yang hampir seragam yaitu berkisar antara 6,67 7, m det - 1 dan cenderung lebih kuat dari tiupan angin muson tenggara di selatan Bali - Sumbawa. Selama bulan Juli Agustus, angin muson tenggara di selatan Jawa Sumbawa menunjukkan peningkatan kecepatan dengan pola sebaran yang semakin melemah ke arah timur. Di selatan Jawa Barat kecepatan angin berkisar antara 7,66 8,2 m det -1, sedangkan di selatan Jawa Timur 6,6 7,47 m det -1 dan di selatan Bali Sumbawa berkisar antara,23 6,48 m det -1. Susanto et al. (21) mengatakan bahwa angin muson tenggara yang bertiup di sepanjang pantai Selatan Jawa mencapai maksimum pada bulan Juli Agustus di perairan selatan Jawa Barat yakni di sekitar 1 o C. Pada musim peralihan II, di perairan selatan Jawa Sumbawa mulai terjadi perubahan pola angin. Di selatan Jawa masih bertiup angin muson tenggara sedangkan di selatan Bali - Sumbawa berkembang angin tenggara hingga angin selatan (Gambar 9 I, J, K). Meskipun kekuatan angin muson tenggara di perairan selatan Jawa mulai berkurang tetapi secara umum kecepatannya terlihat masih cukup kuat. Kecepatan angin pada bulan Oktober berkisar antara 6,4 7,39 m det -1 dan di bulan November berada pada kisaran 4,68 6,32 m det -1. Pada musim ini pola sebaran angin memperlihatkan kecenderungan melemahnya angin ke arah timur. Artinya kecepatan angin di selatan Jawa Barat lebih kuat dari pada selatan Jawa Timur dan kecepatan angin di selatan Jawa Timur lebih kuat dari pada selatan Bali - Sumbawa. Adapun kecepatan angin di selatan Jawa Barat berkisar antara,14 8,18 m det -1, di selatan Jawa Timur berkisar antara 3,91 7,6 m det -1 dan di selatan Bali Sumbawa berkisar antara 1,63 4, 1 m det -1. Di perairan selatan Jawa - Sumbawa selama musim barat (Desember Februari) bertiup angin muson barat laut. Pada bulan Desember di perairan ini mulai berkembang angin barat daya dan selanjutnya secara sempurna menjadi angin barat pada bulan Februari. Di selatan Jawa pada bulan Desember, angin bertiup dengan kekuatan yang hampir homogen yakni sekitar 3,2 3,49 m det -1 dan mulai melemah ke selatan Bali - Sumbawa (1,63 3,9 m det -1 ). Di bulan
5 36 Januari, di selatan Jawa Sumbawa kecepatan angin hampir homogen yaitu 1,49-2,97 m det -1 dan selanjutnya mengalami peningkatan kecepatan dimana bulan Februari kecepatan angin berkisar antara 2,4-4,3 m det -1. Secara umum, pada musim barat, sebaran kecepatan angin di selatan Jawa Barat dan Bali Sumbawa cenderung hampir sama kekuatannya, namun bila dibandingkan dengan selatan Jawa Timur terlihat bahwa kecepatan angin di selatan Jawa Barat dan Bali - Sumbawa sedikit lebih lemah dari kekuatan angin yang bertiup di selatan Jawa Timur. Angin di selatan Jawa Timur bertiup dengan kekuatan 2,2 4,3 m det -1, di selatan Jawa Barat berkisar antara 1,49 3,9 m det -1 sedangkan di selatan Bali Sumbawa berada pada kisaran 1,86 3,23 m det -1 (Gambar 9 L, A, B). Selama musim peralihan I (Maret Mei), di selatan Jawa - Sumbawa angin terlihat mengalami perubahan arah dan kecepatannya (Gambar 9 C, D, E). Pada bulan Maret, di perairan dekat pantai selatan Jawa - Sumbawa, angin barat terlihat mulai melemah (,47 2,16 m det -1 ), sedangkan di perairan dengan posisi lebih tinggi dari 1 o LS mulai terbentuk angin muson tenggara. Secara keseluruhan, pada bulan Maret angin yang bertiup di perairan pantai selatan Jawa Sumbawa memperlihatkan kecenderungan melemahnya kekuatan ke arah timur. Pada bulan April dan Mei sebaran angin di selatan Jawa Sumbawa memperlihatkan mulai berkembangnya angin muson tenggara dengan kecepatan di selatan Jawa secara umum terlihat lebih seragam dan sedikit lebih tinggi kecepatannya bila dibandingkan dengan kecepatan angin di selatan Bali Sumbawa. Kecepatan angin pada bulan April di perairan dekat pantai selatan Jawa berkisar antara 4,23 4,34 m det -1 sedangkan pada bulan Mei berkisar antara 6,33 6,41 m det -1. Berdasarkan hasil analisis pola sebaran angin tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa angin muson yang bertiup di atas perairan barat Sumatera dan perairan selatan Jawa - Sumbawa dicirikan oleh pembalikan arah tiupan angin secara musiman. Pembalikan arah angin disebabkan karena adanya perubahan tekanan di daratan sekitarnya sebagai akibat dari berubahnya posisi matahari (Wyrtki, 1961). Akibatnya secara musiman baik arah maupun kecepatan angin yang bertiup di atas perairan ini selalu berubah ubah. Namun secara umum, hampir sepanjang tahun angin yang bertiup di sepanjang pantai barat Sumatera cenderung lebih lemah dengan kekuatan yang hampir seragam bila di bandingkan dengan perairan selatan Jawa - Sumbawa. Di perairan barat
6 37 Sumatera, pola sebaran angin memperlihatkan peningkatan kecepatan ke arah selatan, sedangkan di perairan sekitar pantai selatan Jawa - Sumbawa kecepatan angin yang bertiup sangat bervariasi baik secara spasial maupun temporal. Pola sebaran gesekan angin bulanan rata-rata untuk komponen angin sejajar garis pantai dan tegak lurus garis pantai di perairan sekitar pantai barat Sumatera dan selatan Jawa Sumbawa disajikan pada Gambar 1-11 serta Lampiran 3. Di perairan barat Sumatera terutama di sekitar 2, o LS, sepanjang tahun gesekan angin komponen sejajar pantai dan tegak lurus pantai berada <,2 N m -2 bahkan secara umum gesekannya <,1 N m -2. Pola sebaran gesekan angin memperlihatkan kecenderungan menguat ke arah selatan. Di perairan sekitar o LS gesekan angin hampir sepanjang tahun memperlihatkan lebih kuatnya gesekan angin komponen sejajar pantai dari pada komponen tegak lurus pantai. Secara musiman. gesekan angin komponen sejajar pantai lebih kuat terjadi pada musim timur yakni pada saat bertiup angin muson tenggara dengan kekuatan antara,29,81 N m -2 sedangkan secara bulanan, terkuat pada bulan September dengan kekuatan antara,7,81 N m -2. Perairan sekitar Selat Sunda juga memperlihatkan pola sebaran gesekan angin permukaan yang berbeda secara musiman. Secara keseluruhan sebaran gesekan angin komponen sejajar pantai cenderung homogen dari bulan Desember - April (,2,87 N m -2 ) dan mengalami peningkatan pada bulan Mei November. Pola sebaran gesekan angin komponen sejajar pantai menunjukkan melemahnya gesekan angin dari barat daya ke arah Selat Sunda. Secara umum, gesekan angin komponen sejajar pantai lebih kuat terjadi pada bulan Agustus Oktober dimana berkisar antara,6,123 N m -2. Sebaran gesekan angin komponen tegak lurus pantai di perairan ini memiliki variasi sebaran barat laut tenggara. Secara keseluruhan sebaran gesekan angin komponen sejajar pantai di perairan barat Sumatera memperlihatkan bahwa pada bulan April November gesekan angin cenderung bekerja ke arah barat laut sedangkan pada bulan Desember Maret bekerja ke arah tenggara.
7 38 Januari A Februari B Lintang ( ) Lintang ( ) Maret C April D Lintang ( ) Lintang ( ) Mei E Juni F Lintang ( ) Lintang ( ) N m -2 Gambar 1. Sebaran gesekan angin bulanan rata-rata komponen sejajar pantai berdasarkan data rataan bulanan komponen angin ECMWF dari tahun A = Januari; B = Februari; C = Maret; D = April; E = Mei; F = Juni.
8 39 Juli G Agustus H Lintang ( ) Lintang ( ) September I Oktober J Lintang ( ) Lintang ( ) November K Desember L Lintang ( ) Lintang ( ) Gambar 1. N m -2 Lanjutan. G = Juli; H = Agustus; I = September; J = Oktober; K = November; L = Desember.
9 4 Januari A Februari B Lintang ( ) Lintang ( ) Maret C April D Lintang ( ) Lintang ( ) Mei E Juni F Lintang ( ) Lintang ( ) N m -2 Gambar 11. Sebaran gesekan angin bulanan rata-rata komponen tegak lurus garis pantai berdasarkan data rataan bulanan komponen angin ECMWF dari tahun A = Januari; B = Februari; C = Maret; D = April; E = Mei; F = Juni.
10 41 Juli G Agustus H Lintang ( ) Lintang ( ) September I Oktober J Lintang ( ) Lintang ( ) November K Desember L Lintang ( ) Lintang ( ) N m -2 Gambar 11. Lanjutan. G = Juli; H = Agustus; I = September; J = Oktober; K = November; L = Desember.
11 42 Perairan selatan Jawa - Sumbawa merupakan perairan yang lebih dinamis bila dibandingkan dengan perairan barat Sumatera. Di perairan selatan Jawa - Sumbawa, oleh karena kekuatan dan arah angin yang bertiup selalu berubah secara musiman maka gesekan angin juga memperlihatkan variasi baik secara spasial maupuin temporal. Secara umum pada perairan sekitar 1 o LS, gesekan angin komponen sejajar pantai yang berperan terhadap transpor Ekman memperlihatkan kekuatan yang besar selama musim timur (Juni Agustus). Gesekan angin komponen sejajar pantai pada musim timur berada pada kisaran,2,1 Nm -2 dengan nilai terbesar dijumpai pada bulan Agustus. Pola sebaran gesekan angin komponen sejajar pantai selama musim ini memperlihatkan lebih kuatnya gesekan angin di selatan Jawa Barat dari pada di selatan Jawa Timur - Sumbawa. Gesekan angin komponen sejajar pantai juga memperlihatkan variasi utara selatan dimana gesekan angin melemah ke arah pantai. Perubahan gesekan angin komponen sejajar pantai ke arah pantai secara drastis terjadi di perairan selatan Jawa Timur. Seperti halnya dengan gesekan angin komponen sejajar pantai, gesekan angin komponen tegak lurus garis pantai juga memperlihatkan nilai yang tinggi pada musim timur dan berada pada kisaran,2,7 N m -2 dengan pola sebaran yang cenderung melemah ke arah timur dari perairan selatan Jawa Barat serta melemah ke arah pantai (variasi utara selatan). Pada bulan Oktober dan November saat angin muson tenggara mulai melemah, gesekan angin komponen sejajar pantai di selatan Jawa Sumbawa juga melemah dan berada pada kisaran,,74 N m -2. Namun secara umum di selatan Jawa, gesekan angin komponen sejajar pantai terlihat masih cukup kuat dimana berada pada kisaran,16,74 N m -2 dengan pola sebaran yang menunjukkan melemahnya gesekan angin ke arah timur dari perairan selatan Jawa Barat. Sebaran gesekan angin komponen sejajar pantai juga masih memperlihatkan variasi utara-selatan dimana gesekan angin melemah ke arah pantai. Sebaran gesekan angin komponen tegak lurus garis pantai pada bulan Oktober dan November di selatan Jawa Sumbawa juga terlihat masih cukup kuat dengan pola sebaran yang menunjukkan lebih kuatnya gesekan angin di perairan selatan Jawa Barat dan cenderung melemah ke arah timur. Pola sebaran gesekan angin menunjukkan semakin melemah ke arah pantai. Gesekan angin komponen tegak lurus garis pantai di selatan Jawa pada bulan
12 43 Oktober dan November berada pada kisaran,2,7 N m -2 sedangkan di selatan Bali berkisar antara,6,2 N m -2. Pada bulan Desember, dimana mulai berkembang angin barat, kekuatan angin yang bertiup mulai melemah. Hal ini berpengaruh terhadap besarnya gaya gesekan angin baik komponen sejajar pantai maupun tegak lurus garis pantai. Gesekan angin selanjutnya cenderung melemah selama musim barat. Secara umum pada bulan November dan Desember, gesekan angin komponen tegak lurus garis pantai memperlihatkan kekuatan yang lebih besar dari pada gesekan angin komponen sejajar pantai. Hal ini berarti bahwa di perairan selatan Jawa - Sumbawa, gesekan angin komponen tegak lurus garis pantai pantai lebih berperan terhadap pola dan arah tiupan angin. Pada bulan Maret gesekan angin mencapai kekuatan terlemah. Di perairan selatan Jawa - Sumbawa pada bulan April, angin muson tenggara terlihat mulai berkembang meskipun dengan kekuatan yang lemah tetapi hal ini sangat berperan terhadap meningkatnya kekuatan gesekan angin. Gesekan angin komponen sejajar pantai dan tegak lurus garis pantai selanjutnya menguat selama bulan Mei dengan pola sebaran yang hampir homogen. Dengan demikian di perairan selatan Jawa Sumbawa hampir sepanjang tahun gesekan angin komponen sejajar pantai cenderung bergerak ke arah barat kecuali pada bulan Desember Februari, sedangkan gesekan angin komponen tegak lurus garis pantai hampir sepanjang tahun bergerak ke utara. Sebaran Anomali Tinggi Paras Laut (ATPL) Hasil analisis sebaran ATPL bulanan rata-rata di perairan barat Sumatera dan selatan Jawa Sumbawa berdasarkan data TOPEX/POISEDON dari tahun 21 2 dapat dilihat pada Gambar 12 serta Tabel 2 dan 3. Sebaran ATPL di dekat pantai perairan selatan Jawa - Sumbawa pada musim timur (Juli Agustus) umumnya berada di bawah level surface (z=) kecuali pada bulanan Juni yang masih berada di atas level surface (Gambar 12 F, G, H). Menurunnya paras laut mulai terlihat pada bulan Juni dan semakin menurun pada bulan Juli dan Agustus, terutama di perairan selatan Jawa Timur Bali. Penurunan ATPL kemudian terlihat berkembang dari selatan Jawa Timur Bali ke arah barat hingga Selat Sunda dan ke arah timur hingga selatan Sumbawa pada bulan Agustus. Pada bulan Juli, ATPL bulanan rata-rata untuk tiap lokasi di selatan Jawa Tengah Sumbawa (Lokasi 7 11) berada di
13 44 bawah level surface, dengan ATPL rata-rata terendah berada di selatan Jawa Timur Bali (Lokasi 8 dan 9) yakni sekitar 4 cm (Tabel 3). Di Lokasi 8, ATPL berkisar antara +,24 hingga -7,7 cm sedangkan pada Lokasi 9 berkisar antara +,99 hingga 9,23 cm. Pada bulan Agustus, di sepanjang perairan dekat A B C D E F Gambar 12. Sebaran anomali Tinggi Paras Laut (ATPL) bulanan rata-rata (cm) berdasarkan data tujuh harian ATPL dari A = Januari; B = Februari; C = Maret; D = April; E = Mei; F = Juni.
14 4 G H I J K L Gambar 12. Lanjutan. G = Juli; H = Agustus; I = September; J = Oktober; K = November; L = Desember. pantai selatan Jawa Sumbawa (Lokasi 11) ATPL berada di bawah level surface yaitu -1,22 hingga,64 cm dengan nilai ATPL rata-rata terendah berada pada Lokasi 8 (selatan Jawa Timur) yakni sekitar 9,64 cm (Tabel 3). Di selatan Jawa Timur Bali, sebaran ATPL pada bulan Agustus berkisar antara - 1,2 hingga 1,64 cm (Gambar 12 H).
15 46 Tabel 2. Anomali Tinggi Paras Laut bulanan rata-rata (cm) pada bulan Januari Juni di setiap lokasi pengamatan. Lokasi Nilai Januari Februari Maret April Mei Juni Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Keterangan: Maks. = nilai maksimum Min. = nilai minimum Sd = standar deviasi - = ATPL di bawah level surface + = ATPL di atas level surface
16 47 Tabel 3. Anomali Tinggi Paras Laut bulanan rata-rata (cm) pada bulan Juli Desember di setiap lokasi pengamatan. Lokasi Nilai Juli Agustus September Oktober November Desember Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Keterangan: Maks. = nilai maksimum Min. = nilai minimum Sd = standar deviasi - = ATPL di bawah level surface + = ATPL di atas level surface
17 48 Pada musim timur (Juni Agustus), sebaran ATPL di Selat Sunda (Lokasi 4) memperlihatkan perubahan tinggi paras laut antara bulan Juni dan bulan Juli Agustus (Gambar 12 F H). Pada bulan Juni dan Juli ATPL umumnya berada di atas level surface. Di bulan Juni ATPL berada pada kisaran +6,7 hingga +11,4 cm dan di bulan Juli berkisar antara +1,8 hingga +4,39 cm, sedangkan pada bulan Agustus, ATPL umumnya berada di bawah level surface yakni berada pada kisaran -,7 hingga -6,92 cm dengan nilai rata-rata -3,77 cm (Tabel 2 dan 3). Selama musim timur sebaran ATPL di barat Sumatera sangat homogen dan berada sedikit di atas dan di bawah level surface. Di bulan Juli umumnya ATPL berada pada kisaran hingga + cm sedangkan pada bulan Agustus berkisar antara +3,79 cm hingga cm, kecuali di dekat pantai barat Bengkulu yang cenderung lebih rendah yakni berada pada kisaran -3 hingga -8 cm (Gambar 12 F H). Keadaan ini menunjukkan adanya indikasi upwelling di perairan dekat pantai barat Bengkulu. Sama seperti di perairan sekitar Selat Sunda, di barat Sumatera (Lokasi 1 3) ATPL bulanan rata-rata untuk setiap lokasi menunjukkan tingginya paras laut pada bulan Juni dan selanjutnya mengalami penurunan pada bulan Juli dan Agustus. Pada bulan Agustus yang umumnya telah berada di bawah level surface (Tabel 2 dan 3). Pada musim peralihan II (September November), sebaran ATPL di selatan Jawa Sumbawa memperlihatkan perbedaan pola sebaran antara bulan September dengan bulan Oktober November. Di bulan September, paras laut cenderung semakin menurun dari bulan Agustus, namun di bulan Oktober - November terjadi kenaikan paras laut. Pada bulan September ATPL di dekat pantai perairan selatan Jawa - Sumbawa berada pada posisi yang sangat rendah di bawah level surface terutama di perairan selatan Jawa Timur - Bali, khususnya pada posisi o BT dan meluas ke timur hingga 11,7 o BT, ke barat hingga 112,7 o BT (Gambar 12 I K). ATPL di daerah ini berada pada kisaran hingga -2 cm. Di bulan Oktober, secara keseluruhan sebaran ATPL berada pada kisaran -2 hingga -11 cm dengan pola sebaran yang menunjukkan peningkatan ATPL ke arah timur dan barat dari perairan selatan Jawa Timur dan Bali. Secara umum, ATPL di selatan Jawa Barat terlihat lebih tinggi dari pada selatan Lombok - Sumbawa. Pada bulan November, paras laut semakin naik dan di sepanjang perairan selatan Jawa anomali tinggi paras laut berada pada
18 49 kisaran +2 hingga +, cm, sedangkan di selatan Bali - Sumbawa berkisar antara hingga cm. Rendahnya ATPL selama bulan Juli - September di dekat pantai perairan selatan Jawa Sumbawa dan Selat Sunda mengindikasikan adanya pergerakan massa air menjauhi pantai. Massa air yang bergerak menjauhi pantai menyebabkan terjadinya kekosongan massa air sehingga mengakibatkan paras laut di perairan dekat pantai turun. Secara teoritis keadaan ini dapat memicu terjadinya upwelling yang mengangkat massa air dalam ke lapisan permukaan untuk mengisi kekosongan massa air lapisan permukaan. Kuatnya indikasi upwelling pada bulan Juli September di perairan ini terlihat pada perairan selatan Jawa Timur Bali (Lokasi 8 dan 9) yang dicirikan melalui sebaran ATPL dan ATPL bulanan rata-rata per lokasi yang berada jauh di bawah level surface (Gambar 12 dan Tabel 2 dan 3). Penyebab utama terjadinya penurunan paras laut di perairan dekat pantai selatan Jawa - Sumbawa dan Selat Sunda adalah bertiupnya angin muson tenggara dimana kekuatan gesekan angin komponen sejajar pantai lebih besar dari pada bulan bulan lainnya. Secara umum, pada musim timur dan bulan September, pola sebaran ATPL di perairan dekat pantai selatan Jawa Sumbawa memperlihatkan tinggi paras laut di selatan Jawa Barat dan Jawa Tengah (Lokasi -7) lebih tinggi dari pada selatan Jawa Timur Sumbawa (Lokasi 8 11). Selama musim peralihan II, sebaran ATPL di barat Sumatera terlihat mengalami peningkatan bahkan lebih tinggi dari perairan dekat pantai selatan Jawa - Sumbawa. Di bulan Oktober ATPL berada pada kisaran hingga +7 cm dengan pola sebaran yang menunjukkan peningkatan paras laut ke arah ekuator. Di bulan November, sebaran ATPL terlihat semakin meningkat dari bulan Oktober dan berada pada kisaran +2, hingga +12 cm dengan ATPL tertinggi terdapat pada perairan sekitar,4 o LS dan 12 o BT. Dengan demikian pada bulan Oktober mulai terjadi penumpukan massa air di perairan barat Sumatera dan terus berkembang pada bulan November. Pada musim barat yang ditandai dengan bertiupnya angin barat di perairan selatan Jawa - Sumbawa terlihat adanya penumpukan massa air di perairan dekat pantai. Penumpukan massa air secara maksimum terjadi pada bulan Desember. Keadaan ini ditandai dengan makin meningkatnya ATPL dimana berada pada kisaran 12 cm di atas level surface (Gambar 12 L, A dan B). Pusat penumpukan massa air pada bulan Desember umumnya terjadi di
19 selatan Jawa Timur (Lokasi 8) dengan sebaran ATPL berada pada kisaran +6,81 hingga +12,9 cm dan nilai ATPL rata-rata +1,4 cm (Tabel 3). Pada bulan Januari sebaran ATPL menunjukkan lebih tingginya paras laut di perairan selatan Jawa Tengah yakni pada Lokasi 6 8 dari pada bagian lain dari perairan selatan Jawa Sumbawa dengan rata-rata ATPL berturut-turut adalah +3,2, +4,24 dan +,1 cm (Tabel 2). Di perairan barat Sumatera selama bulan Desember ATPL masih cukup tinggi meskipun cenderung mulai menurun dari bulan November. Anomali tinggi paras pada bulan Desember berkisar antara + hingga +1 cm. Di bulan Januari, sebaran ATPL telah berada di bawah level surface dan semakin menurun pada bulan Februari yakni berkisar antara -6 hingga -12 cm dengan ATPL terendah di sekitar pantai barat Bengkulu. Pada musim peralihan I, khususnya pada bulan April, ATPL di perairan barat Sumatera menunjukkan peningkatan dan berada pada kisaran hingga 2, cm kecuali di perairan sekitar Selat Sunda dimana ATPL lebih tinggi dan berada hingga +2, cm. Pada bulan Mei, sebaran ATPL terus mengalami peningkatan dan berada pada kisaran +1 hingga +18 cm. Pusat ATPL yang tinggi pada bulan Mei berada pada perairan sekitar,4 o LS dan 13,3 o BT. Tingginya ATPL di perairan ini memberikan gambaran terjadinya penumpukan massa air. Di perairan selatan Jawa Sumbawa, pada musim peralihan I, sebaran ATPL memperlihatkan perbedaan antara perairan selatan Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur Sumbawa. Pada bulan Maret, ATPL perairan selatan Jawa Tengah Bali lebih tinggi dari pada perairan selatan Jawa Barat dan selatan Lombok Sumbawa. Pada bulan April, hampir di sepanjang pantai selatan Jawa Sumbawa terjadi peningkatan tinggi paras laut terutama di perairan selatan Jawa Barat. ATPL di perairan Jawa Barat berada pada kisaran + hingga +12 cm. Secara umum dari sebaran ATPL bulanan rata-rata (Gambar 12) dan nilai ATPL bulanan rata-rata untuk setiap lokasi pengamatan (Tabel 2 dan 3) memperlihatkan bahwa selama setahun terjadi dua kali penumpukkan massa air di perairan selatan Jawa - Sumbawa yakni pada bulan Mei - Juni dan bulan November - Desember. Kekosongan massa air yang di tandai dengan paras laut yang sangat rendah di sepanjang selatan Jawa Sumbawa terjadi selama musim timur (Juli Agustus) dan juga pada bulan September Oktober, serta
20 1 pada bulan Januari - Maret di perairan selatan Jawa Barat. Bila membandingkan ATPL perairan selatan Jawa barat dan Jawa Timur maka dapat dikatakan bahwa selama musim timur (Juli Agustus) dan bulan September - Oktober paras laut di perairan selatan Jawa Timur lebih rendah dari Jawa Barat dan sebaliknya pada musim barat (Januari Maret) paras laut di perairan selatan Jawa Barat lebih rendah dari perairan selatan Jawa Timur. Sebaran Suhu Permukaan Laut (SPL) Selama musim peralihan I sebaran SPL bulanan rata-rata di perairan barat Sumatera cenderung homogen dan berada pada kisaran 29,13 3,1 o C, sedangkan di selatan Jawa berkisar antara 26,61 29,33 o C dan di selatan Bali Sumbawa berkisar antara 28,41 29,94 o C (Gambar 13 C- E). Pola sebaran SPL bulanan rata-rata juga memperlihatkan bahwa pada bulan April massa air permukaan perairan barat Sumatera dan selatan Jawa Sumbawa lebih hangat dari pada bulan Maret. SPL bulanan rata-rata pada bulan Maret dan April umumnya berada pada kisaran di atas 29 o C, kecuali pada daerah sekitar 11, - 12, LS dan 1, 1, o BT dimana sedikit lebih rendah yakni berkisar 28,71 29,11 o C. Di perairan selatan Jawa Sumbawa (Lokasi 6 11) pada bulan Mei, SPL terlihat mulai menurun dan berada di bawah 29 o C hingga 27, 83 o C. Pola sebaran SPL di perairan selatan Jawa Sumbawa pada bulan Mei menunjukkan semakin menurunnya nilai SPL dari selatan Jawa Barat ke arah timur, sedangkan di perairan barat Sumatera, SPL semakin meningkat ke utara. Secara keseluruhan SPL bulanan rata-rata pada bulan Maret di perairan barat Sumatera hingga selatan Jawa - Sumbawa berkisar antara 28,18 29,82 o C, sedangkan pada bulan April 28,19 3,1 o C dan bulan Mei 27,83 29,99 o C. Sebaran SPL bulanan rata-rata pada musim peralihan I (Maret Mei) di perairan barat Sumatera dan selatan Jawa Sumbawa cenderung lebih hangat dibandingkan dengan musim lainnya. Hangatnya massa air permukaan laut disebabkan karena angin yang bertiup pada musim ini cenderung lemah sehingga bahang yang dilepaskan dari permukaan laut menjadi lebih kecil. Lemahnya angin mengakibatkan percampuran masa air kolom perairan tidak terjadi secara baik sehingga stratifikasi suhu perairan semakin kuat. Dampaknya suhu permukaan laut menjadi hangat. Selain itu perairan barat Sumatera juga dipengaruhi Arus Sakal Katulistiwa yang cenderung membawa massa air hangat di sepanjang ekutor dari bagian barat Samudera Hindia.
21 2 A Januari B Februari Lintang ( ) Lintang ( ) C D Maret April Lintang ( ) Lintang ( ) E Mei F Juni Lintang ( ) Lintang ( ) G Juli H Agustus Lintang ( ) Lintang ( ) ( o C) Gambar 13. Sebaran SPL bulanan rata-rata berdasarkan data rataan bulanan SPL NOAA dari tahun A = Januari; B = Februari; C = Maret; D = April; E = Mei; F = Juni; G = Juli; H = Agustus.
22 3 I September J Oktober Lintang ( ) Lintang ( ) K November L Desember Lintang ( ) Lintang ( ) ( o C) Gambar 13. Lanjutan. I = September; J = Oktober; K = November; L = Desember. Di perairan barat Sumatera, selama musim timur (Juli Agutus), sebaran SPL menunjukkan terjadinya penurunan suhu perairan bila dibandingkan dengan musim peralihan I (Gambar 13 F - H). Pada bulan Juni massa air permukaan laut terlihat masih cukup hangat yakni 29,8 29,8 o C, sedangkan pada bulan Juli Agustus, SPL terlihat semakin menurun, dimana pada bulan Juli berkisar antara 28,3 29,4 o C, bulan Agustus 28,1 29,22 o C. Selama musim timur sebaran SPL bulanan rata-rata di perairan barat Sumatera menunjukkan peningkatan ke arah ekuator. Di perairan selatan Jawa - Sumbawa, perubahan SPL selama musim timur (Juni Agustus) terlihat cukup tinggi yakni berkisar antara 2,76 28,92 o C. Sebaran SPL bulanan rata-rata menunjukkan bahwa pada bulan Juni SPL lebih tinggi (27,3 28,92 o C) dari pada bulan Juli (26,34 28,1 o C) dan Agustus (2,76 27,42 o C), sedangkan secara spasial, bagian timur perairan selatan Jawa Timur memiliki massa air yang lebih dingin dari pada massa air bagian barat perairan selatan Jawa (Gambar 13 F H). Massa air permukaan
23 4 yang dingin ini semakin meluas pada bulan Agustus dengan SPL terendah 2,76 o C di perairan sekitar posisi 9, o LS dan 11, o BT (selatan Jawa Timur Bali). Dinginnya massa air perairan pantai dari pada perairan lepas pantai di bagian timur perairan selatan Jawa menunjukkan indikasi terjadinya upwelling yang mengangkat massa air dalam yang dingin. Umumnya SPL pada bulan Agustus di perairan selatan Jawa Timur berkisar antara 2,9 26,6 o C. Berdasarkan Tabel 4 dan, di perairan selatan Jawa Sumbawa pada musim timur, terlihat adanya sedikit pergeseran nilai SPL rendah ke barat seiring dengan bertambahnya waktu. Pada bulan Juni, SPL rata-rata terendah berada pada Lokasi 1 dan 11. Di Lokasi 1, SPL berkisar antara 27,47-27,76 o C dengan nilai rata-rata yaitu 27,6 o C sedangkan pada Lokasi 11 SPL berkisar antara 27,39 27,6 o C dengan nilai rata-rata 27, o C. Pada bulan Juli, SPL rata-rata terendah terlihat pada Lokasi 8 dan 9 yaitu 26,66 o C dan 26,68 o C. Sebaran SPL pada bulan Juli di Lokasi 8 berkisar antara 26,66 27, o C sedangkan di Lokasi 9 berkisar antara 26, 26,83 o C. Sebaran SPL pada bulan Agustus menunjukkan semakin dinginnya massa air dimana SPL rata-rata terendah di jumpai pada Lokasi 7 dan 8 yakni berturut-turut adalah 26,9 o C dan 26,1 o C dengan sebaran SPL di kedua lokasi ini berkisar antara 2,91 26,4 o C. Pada musim peralihan II (September November), di perairan barat Sumatera dan selatan Jawa - Sumbawa, sebaran SPL menunjukkan perbedaan antara bulan September dengan bulan Oktober - November (Gambar 13 I - K). Pada bulan September, SPL masih sangat rendah selanjutnya mengalami peningkatan pada bulan Oktober November. Di perairan barat Sumatera, bila dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya, sebaran SPL pada bulan September memiliki nilai yang paling rendah. SPL yang rendah juga terlihat selama musim peralihan I di daerah sekitar ekuator. Rendahnya SPL juga terlihat pada bulan September di sepanjang perairan selatan Jawa Sumbawa. Dari Tabel juga menunjukkan terjadi sedikit pergeseran pusat SPL terendah dari bulan Agustus ke arah barat dimana pada bulan September, SPL rata-rata terendah berada pada Lokasi 6 8 dengan SPL 26,38 o C, 26,21 o C dan 26,31 o C. Sebaran SPL di Lokasi 6 berkisar antara 26,23-26,3 o C, di Lokasi 7 berkisar antara 26,9 26,47 o C sedangkan di Lokasi 8 SPL berkisar antara 26,9 26,79 o C.
24 Tabel 4. SPL bulanan rata-rata ( o C) pada bulan Januari Juni di setiap lokasi pengamatan. Lokasi Nilai Januari Februari Maret April Mei Juni Keterangan: Maks. Min. Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd = nilai maksimum = nilai minimum = standar deviasi
25 6 Tabel. SPL bulanan rata-rata ( o C) pada bulan Juli Desember di setiap lokasi pengamatan. Lokasi Nilai Juli Agustus September Oktober November Desember Keterangan: Maks. Min. Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd = nilai maksimum = nilai minimum = standar deviasi
26 7 Rendahnya SPL di perairan barat Sumatera pada bulan September kemungkinan disebabkan oleh kuatnya tiupan angin yang mengakibatkan bahang dari kolom perairan lebih banyak dilepaskan ke udara, upwelling serta kemungkinan karena adanya pengaruh Arus Katulistiwa Selatan yang berkembang lebih jauh ke utara dimana arus ini membawa massa air dingin dari perairan selatan Jawa yang mengalami pengangkatan massa air. Menurut Wyrtki (1961) selama bulan Juli hingga Oktober ketika angin muson tenggara bertiup di sekitar pantai Jawa dengan kekuatan penuh, poros Arus Katulistiwa Selatan bergeser ke utara dan berbelok di perairan lepas Selat Sunda. Dinginnya massa air di perairan selatan Jawa pada musim timur dan bulan September Oktober merupakan dampak dari upwelling yang terjadi di bagian timur perairan selatan Jawa. Di perairan selatan Bali Sumbawa pada bulan Oktober - November, sebaran SPL menunjukkan sedikit lebih hangatnya massa air dari pada perairan selatan Jawa. Hangatnya massa air disebabkan oleh adanya suplai massa air hangat dari arah timur daerah pengamatan dan pengaruhnya semakin kuat pada bulan November. Pada musim barat (Desember Februari), massa air permukaan perairan barat Sumatera dan selatan Jawa Sumbawa mulai menghangat (Gambar 13 L, A dan B). Di perairan selatan Bali - Sumbawa, terlihat adanya suplai massa air hangat dari bagian timur perairan dimana SPL mengalami peningkatan dan berada pada kisaran antara 28,41 29,94 o C namun di perairan barat Sumatera dan selatan Jawa SPL masih lebih rendah dengan kisaran antara 26,61 29,4 o C. Di bulan Januari dan Februari, massa air permukaan semakin menghangat dan umumnya SPL berada pada kisaran 29 o C. Pada musim barat, pola sebaran SPL menunjukkan bahwa pusat massa air dengan SPL sedikit lebih rendah terlihat terus mengalami pergeseran ke arah barat setelah musim peralihan II dan mencapai Lokasi 3 yang terletak di perairan barat Sumatera pada bulan Januari. Pada bulan Oktober dan November, pusat massa dengan SPL terendah berada di Lokasi -7 dan pada bulan Desember di Lokasi 4 dan (Tabel ). Bergesernya pusat sebaran SPL yang lebih rendah ke arah barat setelah musim timur kemungkinan di sebabkan karena sisa massa air dingin akibat upwelling di selatan Jawa Timur yang bergerak ke arah barat. Selain itu kemungkinan disebabkan karena angin muson tenggara yang bertiup di selatan Jawa Barat hingga perairan sekitar Selat Sunda masih cukup kuat bila di
27 8 bandingkan dengan tiupan angin di selatan Jawa Tengah Jawa Timur sehingga bahang yang dilepaskan dari perairan ke udara lebih besar terjadi di selatan Jawa Barat Selat Sunda dari pada selatan Jawa Tengah Jawa Timur. Angin muson tenggara membawa udara dingin dari daratan Australia sehingga mengakibatkan suhu udara lebih dingin dari pada suhu perairan sehingga memungkinan terjadi pelepasan bahang ke udara. Selain itu, angin yang kuat juga berperan terhadap percampuran massa air kolom perairan yang berdampak terhadap dinginnya massa air permukaan. Pada bulan September, angin bulanan rata rata di sekitar perairan selatan Jawa Barat dan Selat Sunda berada pada kisaran 7,2 8,18 m det -1, bulan Oktober 6,1 7,39 m det -1 dan bulan November 4,84 6,32 m det -1 sedangkan di perairan selatan Jawa Tengah Jawa Timur, angin bulanan rata-rata cenderung lebih lemah yakni pada bulan September berada pada kisaran,96 7,27 m det -1, pada bulan Oktober berkisar antara 3,91 6,37 m det -1 dan pada bulan November berada pada kisaran 3,91,14 m det -1 Setelah musim timur SPL di perairan selatan Jawa Sumbawa terlihat mengalami peningkatan dan cenderung cukup tinggi namun kondisi yang berbeda terlihat di perairan barat Sumatera dimana SPL cenderung lebih rendah. Pada bulan Oktober dan November, SPL rata-rata cenderung lebih rendah di Lokasi 7, pada bulan Desember SPL rendah berada Lokasi 4 dan, serta pada bulan Januari SPL cenderung lebih rendah di perairan barat Sumatera (Lokasi 3 ). Tingginya SPL di selatan Jawa Timur Sumbawa setelah musim timur selain disebabkan karena tidak lagi terjadinya upwelling kemungkinan juga karena kuatnya pengaruh massa air hangat dari perairan Indonesia Timur. Secara spasial, sebaran SPL bulanan rata-rata di perairan selatan Jawa Sumbawa (Lokasi 11) sepanjang tahun menunjukkan variabilitas yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan perairan barat Sumatera (Lokasi 1 4). Di perairan barat Sumatera semakin ke utara sebaran SPL menunjukkan peningkatan dengan pola sebaran yang cenderung homogen dimana suhu sepanjang tahun berkisar antara 27 3 o C. Hangatnya massa air di perairan barat Sumatera karena perairan ini merupakan area Arus Sakal Katulistiwa (ASK) yang membawa massa air hangat di sepanjang ekuator dari bagian barat Samudera Hindia. Wyrtki (1961) mengatakan bahwa Arus Sakal Katulistiwa berkembang sepanjang tahun dan terletak di selatan ekuator yakni pada area 3 o LS dan o LS dan berkembang lebih ke selatan pada bulan Januari hingga
28 9 Maret serta mengalami peningkatan arus pada bulan Maret dan April. Perluasan area sebaran AKS ke selatan ekuator di perairan barat Sumatera pada bulan Januari hingga Maret dan peningkatan arus pada bulan Maret dan April sangat berpengaruh terhadap pola sebaran SPL di perairan barat Sumatera. Hal mana terlihat melalui peningkatan SPL selama periode ini dan perluasan massa air hangat ke arah selatan. Berdasarkan penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa sebaran SPL bulanan rata-rata di perairan barat Sumatera dan perairan selatan Jawa - Sumbawa memperlihatkan variasi yang cukup tinggi baik secara spasial maupun secara temporal (Gambar 13 A - L). Secara temporal, SPL memperlihatkan perubahan pola sebaran secara musiman sedangkan secara spasial terlihat adanya perbedaan sebaran SPL antar lokasi pengamatan pada waktu bersamaan atau pada waktu yang berbeda. Secara spasial perbedaan ini disebabkan oleh proses dinamika massa air yang terjadi di dalam perairan sebagai akibat dari pengaruh musim yang terjadi pada perairan ini. Secara temporal, variasi SPL terlihat cukup tinggi pada musim timur terutama pada bulan Agustus dan September sedangkan pada musim barat, yakni pada bulan Januari - Maret massa air terlihat cenderung lebih hangat dan homogen. Sebaran Nitrat Nitrat di perairan barat Sumatera hampir sepanjang tahun berada dalam konsentrasi yang sangat rendah dengan pola sebaran yang cenderung homogen (,3,9 µmol l -1 ) kecuali pada bulan September Desember di barat daya Sumatera dimana terjadi peningkatan konsentrasi hingga,2 µmol l -1. Selama bulan April dan Mei adalah saat-saat dimana sebaran nitrat permukaan laut di perairan barat Sumatera berada dalam konsentrasi yang sangat rendah, yakni berkisar antara,3,1 µmol l -1 (Gambar 14 A L dan Tabel 6). Rendahnya konsentrasi nitrat permukaan laut di perairan barat Sumatera juga terlihat melalui gambar sebaran melintang nitrat pada bulan Februari, September dan Desember (Lampiran 4) yang cenderung rendah konsentrasinya pada permukaan laut dengan pola sebaran yang homogen hingga kedalaman 7 m dan garis isonitrat yang cenderung datar. Hal ini menggambarkan bahwa pada bulan Februari, September dan Desember, pengangkatan massa air yang cenderung lemah kurang berpengaruh terhadap penambahan konsentrasi nitrat pada permukaan perairan barat Sumatera.
29 6 A B C D E F G H Gambar 14. Sebaran nitrat permukaan laut bulanan rata-rata (µmol l -1 ) berdasarkan data rataan bulanan nitrat NOBM dari A = Januari; B = Februari; C = Maret; D = April; E = Mei; F = Juni; G = Juli; H = Agustus.
30 61 I J K L Gambar 14. Lanjutan. I = September; J = Oktober; K = November; L = Desember. Di bulan Agustus, sebaran nitrat bulanan rata-rata memperlihatkan pusat konsentrasi tertinggi dengan kisaran 1, 7,8 µmol l -1 dijumpai di perairan selatan Bali Sumbawa yakni pada daerah sekitar 9,68 11,69 o LS (Gambar 14 H). Pusat konsentrasi nitrat yang tinggi tersebut merupakan perkembangan dari pusat konsentrasi nitrat pada bulan Juli yaitu berkisar antara,,8 µmol l -1 (Gambar 14 G). Pada bulan Agustus terjadi peningkatan konsentrasi nitrat secara signifikan di perairan selatan Jawa Timur yakni pada daerah sekitar 9,1 9,68 o LS dan ,7 o BT, dimana konsentrasinya meningkat menjadi lebih dari 1-2, µmol l -1 bila dibandingkan dengan sebaran nitrat pada bulan Juli yang rata-rata konsentrasinya kurang dari 1 µmol l -1. Perubahan dengan ciri demikian mengindikasi kuatnya upwelling pada daerah tersebut. Pada bulan September, nitrat di perairan selatan Jawa Sumbawa terus mengalami peningkatan konsentrasi. Di perairan selatan Jawa Sumbawa konsentrasi nitrat berkisar antara 1,2 7,8 µmol l -1. Pusat konsentrasi tertinggi berada pada daerah 9,1 9,68 o LS dan ,7 o BT dengan kisaran konsentrasi nitrat antara 3,4 6, µmol l -1 (Gambar 14 I). Daerah ini diduga merupakan pusat terjadinya upwelling pada bulan September.
31 62 Tabel 6. Konsentrasi nitrat bulanan rata-rata (µmol l -1 ) pada bulan Januari Juni di setiap lokasi pengamatan. Lokasi Nilai Januari Februari Maret April Mei Juni 1 2 Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Keterangan: Maks. Min. Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd = nilai maksimum = nilai minimum = standar deviasi
32 63 Kuatnya upwelling di selatan Jawa Timur pada musim timur juga terlihat melalui sebaran melintang nitrat di perairan selatan Jawa Flores pada bulan Agustus September 199, berdasarkan hasil Ekspedisi Kapal Riset Baruna Jaya I. Hal ini diperlihatkan melalui garis isonitrat yang menanjak secara tajam ke arah pantai pada Transek 3 dan 4 yang terletak di perairan selatan Jawa Timur Bali dan selatan Flores. Menanjaknya lereng isonitrat juga terlihat di perairan selatan Jawa Tengah (Tansek 2) dan Jawa Barat (Transek 1) namun tidak seterjal di perairan selatan Jawa Timur Flores (Transek 3 dan 4) (Lampiran 4). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada musim timur di sepanjang perairan dekat pantai selatan Jawa Sumbawa terjadi upwelling dimana upwelling lebih kuat terjadi di perairan selatan Jawa Timur. Meluasnya upwelling di perairan selatan Jawa Timur hingga perairan selatan Jawa Barat juga terlihat melalui sebaran melintang nitrat di perairan selatan Jawa pada bulan September berdasarkan data WOD (Lampiran ). Dari sebaran melintang nitrat terlihat bahwa ada kemungkinan terjadi pengangkatan massa air yang berpengaruh terhadap pengkayaan nitrat pada lapisan permukaan. Hal mana ditandai dengan menanjaknya lereng isonitrat ke arah pantai perairan Jawa Barat. Pada bulan Oktober, sebaran konsentrasi nitrat di sepanjang perairan selatan Jawa Sumbawa terlihat cukup tinggi. Tingginya konsentrasi diduga karena terjadinya akumulasi penambahan nitrat dari upwelling yang terjadi pada bulan-bulan sebelumnya. Sebaran nitrat di bulan Oktober berkisar antara 1,3 7,9 µmol l -1 dengan pusat konsentrasi nitrat tertinggi bergeser ke arah timur yakni ke perairan selatan Bali. Di perairan selatan Bali, konsentrasi nitrat berada pada kisaran dari,8-6,2 µmol l -1 (Gambar 14 J). Selain karena kemungkinan adanya akumulasi nitrat dari bulan bulan sebelumnya, masih tingginya konsentrasi nitrat di selatan Jawa kemungkinan juga karena masih terjadi upwelling meskipun dengan kekuatan yang semakin berkurang. Keadaan ini juga terlihat melalui gambar sebaran melintang nitrat pada bulan Oktober berdasarkan data WOD yang menunjukkan lereng isonitrat yang sedikit menanjak ke arah pantai (Lampiran ). Peningkatan konsentrasi nitrat yang cukup signifikan di perairan selatan Jawa Sumbawa selama musim timur hingga bulan Oktober kemungkinan di sebabkan karena adanya upwelling. Indikasi upwelling di perairan selatan Jawa
33 64 Bali menunjukkan lebih kuatnya upwelling di perairan selatan Jawa Tengah Jawa Timur (Lokasi 8 dan 9), yang terlihat melalui peningkatan konsentrasi yang lebih tinggi dari perairan lainnya. Pada bulan Juli di Lokasi 8, konsentrasi nitrat bulanan rata-rata berkisar antara,369 1,443 µmol l -1 dengan nilai rata-rata,721 µmol l -1 sedangkan di Lokasi 9, sebaran nitrat pada permukaan laut berkisar antara,17 1,443 µmol l -1 dengan nilai rata-rata,96 µmol l -1. Pada bulan Oktober hampir di sepanjang permukaan perairan selatan Jawa Sumatera terjadi peningkatan konsentrasi nitrat. Di Lokasi 8, sebaran nitrat permukaan perairan pada bulan Oktober meningkat hingga berada pada kisaran 2,639 6,11 µmol l -1 dengan konsentrasi rata-rata 4,691 µmol l -1 sedangkan di Lokasi 9 meningkat hingga berkisar antara 3,182 6,11 µmol l -1 dengan konsentrasi rata-rata 4,61 µmol l -1 (Tabel 7). Pada bulan November, di perairan selatan Jawa Sumbawa, sebaran nitrat menunjukkan penurunan konsentrasi namun secara keseluruhan konsentrasinya terlihat masih cukup tinggi. Di perairan selatan Jawa Sumbawa, konsentrasi nitrat berada pada kisaran, 7,2 µmol l -1. Pusat sebaran nitrat dengan konsentrasi tertinggi terlihat semakin bergerak ke arah timur tepatnya di perairan selatan Lombok yakni posisi 9,68 o LS dan 116,2 117, o BT dengan konsentrasinya sekitar,2 µmol l -1 (Gambar 14 K). Berkurangnya konsentrasi nitrat di perairan selatan Jawa Sumbawa, khususnya di perairan selatan Jawa Barat Jawa Tengah pada bulan November disebabkan karena tidak terjadi upwelling yang mengangkat massa air kaya nutrien. Hal ini terlihat melalui sebaran melintang nitrat di selatan Jawa Barat Jawa Tengah yang memperlihatkan pola garis isonitrat yang cenderung mendatar (Lampiran ). Pada bulan Desember, sebaran nitrat di perairan selatan Jawa Sumbawa terus memperlihatkan penurunan konsentrasi. Penurunan secara signifikan umumnya terjadi di perairan selatan Jawa. Konsentrasi nitart di selatan Jawa berkisar antara,8 1,6 µmol l -1, sedangkan di selatan Bali - Sumbawa meskipun mengalami penurunan konsentrasi namun secara umum konsentrasi nitrat masih cukup tinggi yakni mencapai 4, µmol l -1 (Gambar 14 L). Di perairan selatan Jawa Sumbawa, selama bulan Januari Maret sebaran nitrat bulanan rata-rata menunjukkan penurunan konsentrasi dan mencapai nilai minimum pada bulan Maret. Pada bulan April, mulai terjadi peningkatan konsentrasi nitrat dan mencapai puncaknya pada bulan Oktober.
34 6 Tabel 7. Konsentrasi nitrat bulanan rata-rata (µmol l -1 ) pada bulan Juli Desember di setiap lokasi pengamatan. Lokasi Nilai Juli Agustus September Oktober November Desember Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Keterangan: Maks. Min. Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd = nilai maksimum = nilai minimum = standar deviasi
35 66 Rendahnya konsentrasi nitrat permukaan laut di perairan selatan Jawa Sumbawa pada bulan Maret April disebabkan karena tidak terjadi fenomena upwelling. Hal ini terlihat melalui sebaran melintang nitrat berdasarkan survei Baruna Jaya pada bulan Maret April 199 yang menunjukkan pola garis isonitrat yang cenderung mendatar ke arah pantai pada setiap kedalaman perairan di ke empat transek pengamatan yang tersebar di perairan selatan Jawa Barat hingga selatan Flores (Lampiran 4). Dengan demikian secara temporal sebaran nitrat bulanan rata-rata di permukaan perairan selatan Jawa Sumbawa memperlihatkan pola yang berbeda. Akan tetapi hampir sepanjang tahun konsentrasi nitrat di daerah ini lebih tinggi dari pada perairan barat Sumatera. Dalam setahun, sebaran nitrat dengan konsentrasi tinggi dan menyebar sangat luas dijumpai pada bulan Agustus hingga Desember. Puncak konsentrasi tertinggi terdapat pada bulan Oktober. Daerah dengan pusat konsentrasi nitrat yang tinggi tersebut mulai terlihat berkembang pada bulan Juli saat dimulainya musim timur. Kondisi ini kemungkinan disebabkan karena terjadi upwelling. Fenomena upwelling merupakan faktor utama peningkatan konsentrasi nutrien pada lapisan permukaan perairan. Faktor lainnya adalah pola arus yang membawa massa air permukaan dari perairan sekitarnya yang kaya nutrien. Dinamika massa air suatu badan perairan sangat tergantung dari perubahan musim atau pola angin yang bertiup di atas permukaan perairan. Dengan demikian secara temporal sebaran nutrien di lapisan permukaan perairan akan bervariasi antar musim dan tempat. Berdasarkan sebaran konsentrasi nitrat bulanan rata-rata di permukaan perairan diperoleh bahwa secara temporal dan spasial, sebaran nitrat di perairan barat Sumatera dan perairan selatan Jawa - Sumbawa memperlihatkan pola yang berbeda. Perairan barat Sumatera secara umum memiliki sebaran konsentrasi nitrat yang rendah bila dibandingkan dengan perairan selatan Jawa Sumbawa. Di perairan selatan Jawa Sumbawa, sebaran nitrat pada musim timur hingga bulan Oktober menunjukkan peningkatan konsentrasi nitrat ke arah timur dari perairan selatan Jawa Barat. Tingginya konsentrasi nitrat di perairan selatan Bali Sumbawa (Lokasi 1 dan 11) pada musim timur hingga bulan Oktober (Tabel 7) kemungkinan disebabkan oleh pengaruh masukan massa air dari perairan bagian timur Indonesia dan upwelling yang terjadi di perairan selatan Jawa Timur Bali.
36 67 Sebaran Fosfat Di perairan selatan Jawa Sumbawa, sebaran fosfat permukaan laut pada musim timur saat bertiup angin muson tenggara (data Baruna Jaya I) memperlihatkan tingginya konsentrasi di perairan dekat pantai selatan Jawa Timur Bali yakni mencapai konsentrasi,2 µmol l -1. Pola sebaran fosfat di perairan selatan Jawa memperlihatkan berkurangnya konsentrasi dari perairan selatan Jawa Timur ke arah barat. Di perairan selatan Jawa Tengah konsentrasi fosfat berkisar antara,2,2 µmol l -1, sedangkan di perairan selatan Jawa Barat konsentrasinya kurang dari,2 µmol l -1 (Gambar 1). -6 Lintang Selatan ( LS) Gambar 1. Sebaran mendatar fosfat (µmol l -1 ) pada musim timur di perairan selatan Jawa Sumbawa berdasarkan data Baruna Jaya I Tingginya konsentrasi fosfat di permukaan perairan dekat pantai selatan Jawa Timur Bali dan selatan Jawa Tengah selama musim timur disebabkan karena terjadinya pengkayaan fosfat dari lapisan dalam yang terangkat sebagai dampak dari terjadinya upwelling. Indikasi terjadinya upwelling terlihat melalui sebaran garis isofofat pada grafik sebaran melintang fosfat Transek 2 dan Transek 3 yang menunjukkan menanjaknya garis isofosfat,2 2 µmol l -1 pada kedalaman 4 m ke arah pantai (Lampiran 6). Pada Transek 3 yang terletak di perairan selatan Jawa Timur - Bali garis isofosfat terlihat menanjak cukup terjal dari perairan sekitar 1, o LS ke arah pantai dimana garis isofosfat
37 68,8 µmol l -1 menanjak dari kedalaman sekitar 11 m ke kedalaman m sedangkan garis isofosfat 1,2 µmol l -1 menanjak dari kedalaman sekitar 19 m hingga kedalaman sekitar 8 m di perairan dekat pantai. Di perairan selatan Jawa Tengah (Tansek 2) garis isofosfat,8 µmol l -1 terlihat menanjak dari kedalaman 1 m pada perairan sekitar 9, o LS hingga 8 m di perairan dekat pantai dan isofosfat 1,2 µmol l -1 menanjak dari kedalaman 1 m hingga 11 di perairan dekat pantai. Berbeda dengan perairan selatan Jawa Tengah dan Jawa Timur - Bali, sebaran melintang fosfat di perairan selatan Jawa Barat dan selatan Sumbawa tidak memperlihatkan kemiringan garis isofosfat secara signifikan ke arah pantai. Dengan demikian, pengkayaan nutrien di perairan ini tidak seintensif seperti yang terjadi di perairan selatan Jawa Tengah dan Jawa Timur - Bali. Berdasarkan data WOD-NODC (Lampiran ), sebaran melintang fosfat di perairan selatan Jawa Barat juga memperlihatkan pola yang berbeda antara bulan Agustus dengan bulan September. Pada bulan September, sebaran melintang fosfat memperlihatkan menanjaknya garis isofosfat,2 2, µmol l -1 pada lapisan kedalaman 4 m dari selatan ke utara (dekat pantai) dimana peningkatan konsentrasi fosfat di perairan dekat pantai terutama terjadi pada kedalaman 2 1 m. Pada bulan Oktober, sebaran melintang fosfat di perairan selatan Jawa masih memperlihatkan menanjaknya garis isofosfat ke arah pantai sedangkan di bulan November garis isofosfat cenderung mendatar. Berdasarkan sebaran tersebut dapat dikatakan bahwa pada bulan Oktober, upwelling masih terjadi di selatan Jawa terutama di selatan Jawa Barat namun kekuatannya mulai melemah. Sebaran fosfat permukaan laut perairan selatan Jawa - Sumbawa selama musim peralihan I (Maret April) cenderung homogen dengan konsentrasi rendah yakni berkisar antara,1,2 µmol l -1. Secara umum, konsentrasi fosfat di perairan selatan Jawa Timur - Bali sedikit lebih tinggi dari pada perairan lainnya (Gambar 16). Rendahnya konsentrasi fosfat di permukaan laut juga terlihat melalui sebaran melintang fosfat yang homogen hingga kedalaman 1 m (Lampiran 6). Di perairan barat Sumatera, berdasarkan data WOD-NODC, sebaran melintang fosfat yang menyebar dari utara ke selatan pada daerah sekitar bujur 94,4 9 o BT pada bulan Februari memperlihatkan rendahnya konsentrasi di
38 69 lapisan permukaan namun pada kedalaman 2 2 m di perairan sekitar 8 o LS ada indikasi terjadinya pengkayaan nutrien pada lapisan permukaan. Hal ini terlihat melalui garis isofosfat yang menanjak dari perairan sekitar 3 o LS menuju 8 o LS dan selanjutnya mengalami penurunan ke arah selatan. Di bulan September dan Desember, sebaran menegak fosfat tidak memperlihatkan adanya indikasi penaikan massa air. Sebaran fosfat di permukaan laut cenderung homogen dengan konsentrasi yang rendah. -6 Lintang Selatan ( LS) Gambar 16. Sebaran mendatar fosfat (µmol l -1 ) pada musim peralihan I di perairan selatan Jawa Sumbawa berdasarkan data Baruna Jaya I Sebaran Silikat Sebaran konsentrasi silikat di perairan selatan Jawa - Sumbawa memperlihatkan pola yang berbeda baik antara lokasi maupun secara musiman. Berdasarkan sebaran mendatar silikat permukaan perairan selatan Jawa Sumbawa, terlihat adanya peningkatan konsentrasi selama musim timur bila dibandingkan dengan musim peralihan I (Gambar 17 dan 18). Pada musim timur, peningkatan konsentrasi silikat secara signifikan terjadi di perairan sekitar pantai Jawa Timur Sumbawa dengan kisaran konsentrasi antara 8 11 µmol l -1 sedangkan di selatan Jawa Tengah dan Jawa Barat berkisar antara 6 8 µmol l -1. Secara umum sebaran silikat di perairan selatan Jawa Tengah lebih tinggi konsentrasinya dari pada perairan selatan Jawa Barat sedangkan pada musim peralihan I, sebaran silikat di selatan Jawa -
39 7 Bali cenderung homogen dengan kisaran konsentrasinya antara 4 7 µmol l -1 dan di selatan Lombok Sumbawa, konsentrasinya sedikit lebih tinggi dan berada pada kisaran 6,2 9,8 µmol l Lintang Selatan ( LS) Gambar 17. Sebaran mendatar silikat (µmol l -1 ) pada musim timur di perairan selatan Jawa Sumbawa berdasarkan data Baruna Jaya I -6 Lintang Selatan ( LS) Gambar 18. Sebaran mendatar silikat (µmol l -1 ) pada musim peralihan I di perairan selatan Jawa Sumbawa berdasarkan data Baruna Jaya I
40 71 Terjadinya peningkatan konsentrasi silikat permukaan perairan selatan Jawa Sumbawa disebabkan karena terjadi pengangkatan massa air lapisan dalam. Keadaan ini terlihat melalui sebaran melintang silikat yang menunjukkan menanjaknya garis isofosfat dari arah laut menuju pantai pada Transek 2, 3, dan 4 yang terletak di perairan selatan Jawa Tengah Sumbawa (Lampiran 7). Menanjaknya garis isofosfat secara tajam terjadi pada Transek 3 yang terletak di perairan selatan Jawa Timur Bali dimana garis isosilikat 1 µmol l -1 terlihat menanjak dari kedalaman 12 m di perairan sekitar 12, o LS menjadi m di daerah sekitar 9,2 o LS sedangkan isosilikat 1 µmol l -1 menanjak dari kedalaman 2 m hingga 6 m di perairan sekitar 9 o LS. Keadaan ini mengindikasikan terjadinya pengangkatan massa air secara baik di perairan ini. Indikasi terjadinya pengangkatan massa air dalam yang kaya nutrien juga terjadi di perairan selatan Jawa Tengah (Transek 2) dan selatan Sumbawa (Transek 4) namun tidak sekuat perairan selatan Jawa Timur Bali. Hal ini ditandai dengan menanjaknya garis isofosfat ke arah pantai namun tidak seterjal seperti yang terjadi di perairan selatan Jawa Timur Bali. Berbeda dengan sebaran melintang silikat di perairan selatan Jawa Barat (Transek 1) pada bulan Agustus (Lampiran 7) yang tidak memperlihatkan terjadinya pengangkatan massa air, sebaran melintang silikat di perairan ini pada bulan September berdasarkan data WOD-NODC (Lampiran ) justru memperlihatkan terjadinya pengangkatan massa air yang ditandai dengan menanjaknya garis isosilikat dari selatan ke arah pantai. Dengan demikian selama musim timur hampir di sepanjang perairan dekat pantai selatan Jawa Sumbawa terjadi pengkayaan nutrien pada lapisan permukaan perairan. Pada bulan Oktober dimana berakhirnya musim timur, sebaran melintang silikat di perairan selatan Jawa masih memperlihatkan terjadinya peningkatan konsentrasi pada lapisan permukaan yang ditandai dengan menanjaknya garis isosilikat ke arah pantai, akan tetapi di bulan November dan Desember, sebaran melintang silikat tidak lagi menunjukkan adanya pengkayan nutrien pada lapisan permukaan. Keadaan ini terlihat melalui pola sebaran melintang silikat yang cenderung mendatar garis isosilikatnya (Lampiran ). Pada musim peralihan I, sebaran menegak silikat menunjukkan pola yang berbeda dengan musim timur dimana garis isosilikat cenderung datar kecuali Transek 4 yang sedikit menanjak ke arah pantai (Lampiran 7). Pada lapisan permukaan, silikat cenderung homogen namun secara keseluruhan
41 72 konsentrasinya lebih tinggi di perairan selatan Jawa Timur Sumbawa dari pada perairan selatan Jawa Barat Jawa Tengah. Mendatarnya garis isofosfat juga terlihat melalui sebaran melintang silikat pada bulan April berdasarkan data WOD NODC (Lampiran ) Di perairan barat Sumatera, sebaran silikat permukaan laut pada musim barat (Februari) di daerah sekitar 94, 9 o BT dan 3, 12 o LS cenderung rendah dan berkisar antara 2,4 4 µmol l -1. Pada daerah sekitar 3, - o LS sebaran melintang silikat memperlihatkan lebih dalamnya lapisan homogen yakni sekitar m dengan konsentrasi berkisar antara 2,4 2,2 µmol l -1 bila dibandingkan dengan bagian perairan lainnya di sebelah selatan. Di bagian selatan khususnya di perairan sekitar 7 9 o LS, lapisan homogen terlihat cukup dangkal. Dangkalnya lapisan homogen disebabkan karena terjadinya pengangkatan massa air dalam. Hal ini terlihat melalui garis isofosfat yang menanjak dari utara ke perairan ini dan selanjutnya menurun ke arah selatan. Pola sebaran melintang silikat di perairan barat Sumatera selama bulan September dengan arah barat laut tenggara dan pada bulan Desember dengan arah timur barat tidak memperlihatkan adanya penaikan massa air namun secara keseluruhan sebaran silikat permukaan laut pada bulan Desember sedikit lebih tinggi dari pada bulan September. Konsentrasi silikat pada bulan September berkisar antara 1,6 2,4 µmol l -1, sedangkan pada bulan Desember berkisar antara 1,77 4, µmol l -1. Sebaran Klorofil-a Berdasarkan Gambar 19 B D terlihat bahwa sebaran horisontal klorofila di permukaan perairan barat Sumatera dan perairan selatan Jawa - Sumbawa selama bulan Februari - April menyebar secara homogen dengan tingkat konsentrasi yang sangat rendah (<,2 mg m -3 ), kecuali di perairan sekitar Selat Sunda (Lokasi 4), pantai Cilacap dan selatan Bali dimana konsentrasinya sedikit lebih tinggi. Di sekitar Selat Sunda konsentrasi klorofil-a mencapai,6 mg m -3 sedangkan di sekitar pantai Cilacap pada bulan April konsentrasinya berkisar antara 1 2 mg m -3. Di perairan selatan Bali yakni daerah sekitar 9,4 o LS dan 11 o BT, sebaran klorofil-a pada bulan Februari memperlihatkan mulai terjadi peningkatan konsentrasi (,6 mg m -3 ) dan terus menunjukkan peningkatan konsentrasi dan luasan daerah sebarannya dari selatan Bali - Sumbawa (Lokasi 9 11) dan ke selatan menyebar hingga lintang 1 o LS pada bulan April.
42 73 Konsentrasi klorofil-a pada daerah ini berkisar antara,3,6 mg m -3. Konsentrasi klorofil-a bulanan rata-rata per lokasi tertinggi di perairan selatan Jawa Sumbawa pada bulan April ditemukan pada Lokasi 9 yakni,2 mg m -3. A B C D E F Gambar 19. Sebaran klorofil-a bulanan rata-rata (mg m -3 ) pada permukaan laut berdasarkan data rataan bulanan klorofil-a SeaWiFS dari tahun A = Januari; B = Februari; C = Maret; D = April; E = Mei; F = Juni.
43 74 G H I J K L Gambar 19. Lanjutan. G = Juli; H = Agustus; I = September; J = Oktober; K = November; L = Desember Pada bulan Mei, sebaran klorofil-a di perairan selatan Jawa - Sumbawa menunjukkan peningkatan konsentrasi, namun di perairan lepas pantai barat Sumatera terjadi penurunan (<,1 mg m -3 ). Di perairan barat Sumatera sebaran klorofil-a memperlihatkan konsentrasi antara,1,2 mg m -3 di sekitar kepulauan Mentawai dan selanjutnya semakin meningkat ke arah pantai Barat Sumatera (2 3,8 o LS) dengan konsentrasi,2 mg m -3 hingga 1 mg m -3 (Gambar 19 E). Di perairan selatan Jawa, konsentrasi klorofil-a bulanan ratarata sekitar,2 mg m -3 sedangkan di selatan Bali - Sumbawa terjadi peningkatan
44 7 konsentrasi (,2 1, mg m -3 ) dengan daerah sebaran yang semakin meluas ke selatan. Pusat sebaran konsentrasi klorofil-a tertinggi berada di perairan selatan Bali (Lokasi 9) dengan kisaran konsentrasi antara,17 1,96 mg m -3 dengan nilai rata-rata,36 mg m -3 (Tabel 8). Sebaran klorofil a dengan konsentrasi tinggi juga terlihat meluas di perairan sekitar pantai Cilacap. Selama musim timur, sebaran klorofil-a memperlihatkan peningkatan konsentrasi di sepanjang selatan Jawa Sumbawa (Gambar 19 F H). Pada bulan Juni, di selatan Jawa Sumbawa klorofil-a berkisar antara,17 2,979 mg m -3 (Gambar 19 F). Berdasarkan sebaran klorofil-a di 7 lokasi pengamatan yang berada di selatan Jawa Sumbawa diperoleh bahwa klorofil-a rata-rata tertinggi berada pada Lokasi 9 yaitu sebesar,433 mg m -3 (Tabel 8). Pada bulan Juli, sebaran klorofil-a di selatan Jawa Bali berkisar antara,136 3,418 mg m -3 sedangkan di selatan Flores Sumbawa konsentrasi lebih rendah yaitu pada kisaran,137 1,176 mg m -3 (Gambar 19 G). Sebaran klorofil-a pada bulan Juli per lokasi pengamatan menunjukkan bahwa pusat konsentrasi klorofil-a tinggi mengalami penyebaran ke arah barat hingga mencapai selatan Jawa Tengah. Sepanjang selatan Jawa Tengah Sumbawa (Lokasi 8 11) pada bulan Juli, sebaran klorofil-a berkisaran antara,22 1,212 mg m -3 dengan konsentrasi tertinggi berada pada Lokasi 8 dan 9. Di Lokasi 8 klorofil-a berkisar antara,284,964 mg m -3 dengan nilai rata-rata,434 mg m -3 sedangkan di Lokasi 9 klorofil-a berkisaran antara,3-1,212 mg m -3 dengan nilai rata-rata,494 mg m -3 (Tabel 9). Pada bulan Agustus di perairan selatan Jawa Sumbawa, klorofil-a terlihat terus mengalami peningkatan konsentrasi. Sebaran klorofil-a di selatan Jawa Bali berada pada kisaran,133,87 mg m -3 sedangkan di selatan Flores Sumbawa berkisar antara,128 1, mg m -3 (Gambar 19 H). Berdasarkan lokasi pengamatan diperoleh bahwa sebaran klorofil-a di selatan Jawa (Lokasi 9) berkisar antara,28 2,129 mg m -3 dengan konsentrasi rata-rata tertinggi berada pada Lokasi 8 dan 9. Di Lokasi 8, klorofil-a berkisar antara,299 2,129 mg m -3 dengan nilai rata-rata,8 mg m -3, sedangkan di Lokasi 9 klorofil-a berkisaran antara,279 mg m -3 dengan nilai rata-rata,67 mg m -3. Di selatan Bali Sumbawa (Lokasi 1 11), konsentrasi klorofil-a berada pada kisaran,263,98 mg m -3 (Tabel 9)
45 76 Tabel 8. Klorofil-a permukaan laut bulanan rata-rata (mg m -3 ) pada bulan Januari Juni di setiap lokasi pengamatan. Lokasi Nilai Januari Februari Maret April Mei Juni Keterangan: Maks. Min. Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd = nilai maksimum = nilai minimum = standar deviasi
46 77 Tabel 9. Klorofil-a permukaan laut bulanan rata-rata (mg m -3 ) pada bulan Juli Desember di setiap lokasi pengamatan. Lokasi Nilai Juli Agustus September Oktober November Desember Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Maks Min Rerata Sd Keterangan: Maks. Min. Sd = nilai maksimum = nilai minimum = standar deviasi
47 78 Di perairan selatan Jawa Sumbawa, peningkatan konsentrasi klorofil-a mengalami puncaknya pada bulan September dan Oktober. Pada bulan September, sebaran klorofil-a bulanan rata-rata di Lokasi berkisar antara,246 2,19 mg m -3, Lokasi 6 berkisar antara,264 1,19 mg m -3, Lokasi 7 berada pada kisaran,264 1,4 mg m -3, Lokasi 8 berkisar antara,342 2,326 mg m -3, Lokasi 9 berkisar antara,246 2,361 mg m -3, Lokasi 1 berkisar antara,194,883 mg m -3 dan Lokasi 11 berkisar antara, mg m -3 (Tabel 9). Pada bulan September, sebaran klorofil-a di selatan Jawa Bali berkisar antara,122,83 mg m -3 sedangkan di selatan Flores Sumbawa berkisar antara,1 2,63 mg m -3 (Gambar 19 I). Pada bulan Oktober, klorofil-a bulanan rata-rata di perairan selatan Jawa Sumbawa berada pada kisaran,96-9,481 mg m -3 (Gambar 19 J). Berdasarkan analisis sebaran klorofil-a pada 7 lokasi pengamatan di perairan selatan Jawa Sumbawa menunjukkan bahwa sebaran klorofil-a di Lokasi berkisar antara,19 3,688 mg m -3, Lokasi 6 berkisar antara,23 1,41 mg m -3, Lokasi 7 berada pada kisaran,,21 1,992 mg m -3, Lokasi 8 berkisar antara,27 3,37 mg m -3, dan di Lokasi 9 klorofil-a berada pada kisaran,22 2, mg m -3, sedangkan di Lokasi 1 dan 11 berturut-turut klorofil-a berada pada kisaran,11 1,69 mg m -3 dan,13,81 mg m -3 (Tabel 9). Di perairan selatan Jawa Barat dan selatan Flores - Sumbawa, sebaran klorofil-a secara umum memiliki konsentrasi yang lebih rendah dari perairan selatan Jawa Tengah Bali (Gambar 19 J). Berdasarkan sebaran klorofil-a selama bulan Juni hingga Oktober di perairan selatan Jawa Sumbawa diperoleh bahwa pusat sebarn klorofil-a tertinggi berada daerah sekitar posisi 8,4 8,6 o LS dan ,2 o BT (selatan Jawa Timur). Di daerah tersebut, sebaran klorofil-a pada bulan Juni berkisar antara,41 2,979 mg m -3, di bulan Juli berkisar antara,748 3,418 mg m -3, pada bulan Agustus berkisar antara 2,92,4 mg m -3, bulan September berkisar antara 1,886,83 mg m -3 dan bulan Oktober berkisar antara 1,33 9,481 mg m -3 (Gambar 19 F - J). Selama musim timur, pola sebaran klorofil-a di perairan sekitar Selat Sunda menunjukkan peningkatan konsentrasi dan meluasnya daerah sebaran ke arah barat hingga 12 o BT dan mencapai puncak sebaran tertinggi (2, mg m -3 ) pada bulan Oktober. Selama bulan Januari hingga Juni, sebaran klorofil-a di perairan ini cenderung homogen dan rendah.
48 79 Di perairan lepas pantai barat Sumatera, selama bulan Juni - Agustus konsentrasi klorofil-a cenderung homogen dan berada pada berkisar antara,1,2 mg m -3 dan kemudian mengalami sedikit penurunan konsentrasi pada bulan September, yakni berkisar antara,1,1 mg m -3. Pada bulan Oktober sebaran klorofil-a mengalami sedikit peningkatan konsentrasi dengan konsentrasi rata-rata sekitar,2 mg m -3. Secara umum, pada Juni hingga Oktober, sebaran horisontal klorofil-a pada permukaan laut memperlihatkan perubahan pola sebaran bila dibandingkan dengan musim barat dan peralihan I, terutama di perairan selatan Jawa - Sumbawa. Di selatan Jawa - Sumbawa terjadi peningkatan konsentrasi klorofila baik di perairan sekitar pantai maupun di perairan lepas pantai selama musim timur dan peralihan II. Sebaran klorofil-a dengan konsentrasi yang tinggi semakin meluas ke barat hingga perairan selatan Jawa Barat dan Selat Sunda dan juga meluas ke selatan (laut lepas). Hendiarti et al. (24) berdasarkan pengamatannya diperoleh bahwa puncak sebaran klorofil-a di selatan Jawa Timur terjadi pada bulan September dengan konsentrasi 2 mg m -3. Meningkatnya konsentrasi klorofil-a dan meluasnya daerah sebaran klorofil-a dengan konsentrasi tinggi memiliki hubungan yang erat dengan peningkatan konsentrasi nitrat dan menurunnya suhu permukaan laut di perairan ini selama musim timur. Karateristik perairan yang demikian menunjukkan bahwa di perairan selatan Jawa - Sumbawa terjadi fenomena fisik massa air yang memicu terjadinya peningkatan konsentrasi klorofil-a pada permukaan perairan. Pada bulan November meskipun konsentrasi klorofil-a masih terlihat cukup tinggi di perairan selatan Jawa - Sumbawa, namun konsentrasi dan luasan daerah sebaran dengan konsentrasi yang tinggi mulai berkurang terutama di perairan selatan Bali hingga Lombok. Berkurangnya luasan daerah sebaran konsentrasi klorofil-a yang tinggi dan menurunnya konsentrasi klorofil-a terus berlanjut pada bulan Desember dan mencapai kondisi terendah pada bulan Januari. Pada saat ini hampir di sepanjang perairan yang mendekati pantai selatan Jawa konsentrasinya sangat kecil yakni sekitar,2 mg m -3 dan lebih rendah lagi di perairan selatan Lombok Sumbawa. Di perairan barat Sumatera selama bulan November, sebaran konsentrasi klorofil-a menunjukkan peningkatan konsentrasi di daerah sekitar pantai (mencapai 2 mg m -3 ) dan meluas hingga sekitar bagian barat perairan kepulauan Mentawai. Sebaran klorofil-a di sekitar perairan kepulauan Mentawai berada
49 8 pada kisaran,3 -,4 mg m -3. Di bulan Desember, sebaran klorofil-a memperlihatkan peningkatan konsentrasi baik di perairan lepas pantai maupun di sekitar perairan dekat pantai Sumatera, sedangkan di bulan Januari, terjadi penurunan konsentrasi di hampir semua bagian perairan. Dari Tabel 8 dan 9 terlihat bahwa klorofil-a permukaan laut bulanan ratarata per lokasi pengamatan memperlihatkan perbedaan nilai antara ke 11 lokasi pengamatan. Dalam setahun, hampir di semua lokasi pengamatan, konsentrasi klorofil-a tertinggi dijumpai pada bulan September dan Oktober, sedangkan lokasi yang memiliki variasi sebaran klorofil-a yang tinggi berada pada Lokasi 8 dan 9 (Jawa Timur). Ke dua lokasi ini diduga sebagai daerah pusat upwelling. Transpor Ekman Hasil analisis transpor Ekman melalui garis sepanjang 2, o dengan menggunakan data gesekan angin komponen sejajar pantai bulanan rata-rata pada grid 2, o x 2, o yang terdekat dengan garis pantai di perairan barat Sumatera dan perairan selatan Jawa - Sumbawa dapat dilihat pada Gambar 2 dan 21 serta Lampiran 8. Gambar 2 dan 21 memperlihatkan bahwa pada musim barat (Desember Februari) seiring dengan berkembangnya angin barat laut di perairan barat Sumatera dan selatan Jawa Sumbawa, transpor Ekman cenderung bergerak ke arah pantai (nilai positif/tanda +) sedangkan di bagian barat daya Selat Sunda, transpor Ekman memiliki pola yang berbeda dimana pada bulan Desember Januari cenderung bergerak ke arah laut lepas (nilai negatif/tanda -) namun pada bulan Februari, transpor Ekman bergerak ke arah pantai. Volume transpor Ekman di Lintasan I selama musim barat memperlihatkan lebih tingginya massa air yang ditanspor ke arah pantai di barat Sumatera dari pada selatan Jawa Barat (Gambar 2). Volume transpor Ekman pada bulan Desember di daerah sekitar 2, o LS (Posisi 1) sebesar,24 Sv dan semakin meningkat pada bulan Januari dan Februari. Pada bulan Februari volume transpor Ekman mencapai,83 Sv. Di sekitar o LS (Posisi 2), volume transpor Ekman ke arah pantai selama musim barat cenderung lemah yaitu pada bulan Desember sebesar,46 Sv dan pada bulan Februari sebesar,19 Sv. Lemahnya transpor Ekman ke arah pantai juga terlihat di selatan Jawa Barat (Posisi 4 dan ). Di selatan Jawa Barat volume transpor Ekman pada bulan Desember berkisar antara,46,64 Sv dan mengalami peningkatan pada
50 81 bulan Februari hingga berada pada kisaran,136,19 Sv. Di perairan sekitar Selat Sunda transpor Ekman secara umum terlihat sangat lemah. A Transpor Ekman pada Musim Barat B Transpor Ekman pada Musim Peralihan I Volume (Sv).. -. Volume (Sv) Bujur Timur Des Jan Feb Bujur Timur Mrt Apr Mei C D Transpor Ekman pada Musim Timur Transpor Ekman pada Musim Peralihan II.... Volume (Sv) Volume (Sv) Bujur Timur Bujur Timur Juni Juli Agst Sep Okt Nov Gambar 2. Volume Transpor Ekman bulanan rata-rata (Lintasan I). A = musim barat; B = musim peralihan I; C = musim timur; D = musim peralihan II. + = tanspor Ekman menuju pantai; - = transpor Ekman menjauhi pantai. Posisi Lintasan I dapat dilihat pada Gambar 6. Selama musim barat transpor Ekman pada Lintasan II memperlihatkan bahwa di perairan barat Sumatera, volume transpor Ekman ke arah pantai cenderung lebih besar di perairan dekat ekuator (Posisi 7) bila dibandingkan dengan perairan barat daya Sumatera (Posisi 8) (Gambar 21). Di perairan barat Sumatera (Posisi 7 dan 8), transpor Ekman menunjukkan peningkatan volume transpor massa air ke arah pantai dari bulan Desember hingga Februari. Di bulan Desember volumenya sebesar,62 Sv (Posisi 7) dan,32 Sv (Posisi 8), sedangkan pada bulan Februari sebesar 1,49 Sv (Posisi 7) dan,366 Sv (Posisi 8). Di perairan sekitar barat daya Selat Sunda (Posisi 9 12), transpor Ekman pada bulan Desember cenderung bergerak ke arah laut lepas dengan
51 82 volumenya berada pada kisaran,6,36 Sv sedangkan pada bulan Februari, transpor Ekman telah mengalami perubahan arah yakni bergerak ke arah pantai dengan volume transpor yang sangat kecil yakni berkisar antara,12,111 Sv. Di perairan selatan Jawa (17, 12 o LS), volume transpor Ekman pada bulan Desember berkisar antara,16,133 Sv dengan transpor tertinggi terlihat di perairan selatan Jawa Timur Bali (Posisi 1 dan 16) yaitu berturut-turut sebesar,131 Sv dan,133 Sv. transpor Ekman di sepanjang perairan selatan Jawa Sumbawa kemudian mengalami peningkatan dimana pada bulan Februari volumenya berkisar antara,14,367 Sv dengan volume terbesar di perairan selatan Jawa Barat Jawa Tengah. A Transpor Ekman pada Musim Barat B Ekman Transpor pada Musim Peralihan I Volume (Sv).. Volume (Sv) Bujur Timur Des Jan Feb Bujur Timur Mrt Apr Mei C D Transpor Ekman pada Musim Timur Transpor Ekman pada Musim Peralihan II.... Volume (Sv) Volume (Sv) Bujur Timur Juni Juli Agst Bujur Timur Sep Okt Nov Gambar 21. Volume transpor Ekman bulanan rata-rata (Lintasan II). A = musim barat; B = musim peralihan I; C = musim timur; D = musim peralihan II. + = tanspor Ekman menuju pantai; - = transpor Ekman menjauhi pantai. Posisi Lintasan II dapat dilihat pada Gambar 6.
52 83 Secara keseluruhan dari pada musim barat, transpor Ekman di perairan barat Sumatera dan selatan Jawa Sumbawa menunjukkan pergerakan massa air ke arah pantai dan semakin meningkat volumenya dari bulan Desember hingga Februari. Pergerakan transpor Ekman ke arah pantai juga terlihat melalui sebaran ATPL yang cenderung lebih tinggi di perairan dekat pantai barat Sumatera hingga selatan Jawa Sumbawa dari pada di laut lepas. Keadaan ini menunjukkan terjadinya penumpukan massa air di perairan dekat pantai (Gambar 12 L, A, B). Hal ini sejalan dengan berkembangnya angin muson barat laut yang mencapai puncaknya pada bulan Februari. Selama musim peralihan I, volume transpor Ekman di Lintasan I menunjukkan perbedaan antara bulan Maret, April dan Mei (Gambar 2). Pada bulan Maret, volume transpor Ekman di selatan Jawa Barat dan Selat Sunda sangat kecil yaitu,3 Sv di perairan selatan Jawa Barat dan,43 Sv di sekitar Selat Sunda, namun di barat Sumatera (2, o LS), volume transpor Ekman ke arah pantai terlihat masih cukup besar yakni,323 SV. Di bulan April, transport Ekman pada Lintasan I terlihat bergerak ke arah laut kecuali pada perairan sekitar 2, o LS (barat Sumatera) yang masih bergerak ke arah pantai. Pada bulan Mei, transpor Ekman di sepanjang Lintasan I terlihat bergerak menjauhi pantai dengan volume yang lebih besar dari pada bulan April. Volume transpor Ekman terbesar di perairan Selat Sunda pada bulan Mei yaitu sebesar,77 Sv sedangkan di perairan selatan Jawa Barat sebesar,372 Sv dan barat Sumatera sebesar,73 Sv. Transpor Ekman pada Lintasan II selama musim peralihan I di perairan barat daya Selat Sunda (Posisi 9, 1, 11) dan selatan Jawa Sumbawa (Posisi 12 18) terlihat mulai bergerak menjauhi pantai pada bulan Maret dan semakin meningkat volumenya pada bulan Mei, sedangkan di barat Sumatera (Posisi 7 dan 8) memiliki pola yang berbeda dimana pada bulan Maret massa air bergerak ke arah pantai namun di bulan Mei massa air telah bergerak menjauhi pantai. Pada bulan Maret, volume transpor Ekman ke arah pantai di barat Sumatera sebesar,42 Sv (Posisi 7). Di barat daya Selat Sunda dan selatan Jawa Sumbawa, transpor Ekman terlihat bergerak menjauhi pantai dengan volume transpor lebih besar di barat daya Selat Sunda yakni,122 Sv (Posisi 1) dari pada di selatan Jawa Sumbawa (,1,6 Sv). Pada bulan Mei terjadi peningkatan volume transpor Ekman menjauhi pantai di sepanjang pantai barat Sumatera hingga selatan Jawa Sumbawa. Volume transpor Ekman pada
53 84 bulan Mei di selatan Jawa sekitar,7 Sv, di barat daya Selat Sunda berkisar antara,6,7 Sv, sedangkan di perairan barat Sumatera berada pada kisaran,8,4 Sv. Secara keseluruhan, pada musim peralihan I (Maret Mei), transpor Ekman di perairan Selat Sunda dan perairan selatan Jawa - Sumbawa memperlihatkan pola yang berbeda dengan perairan barat Sumatera dimana di perairan Selat Sunda dan perairan selatan Jawa - Sumbawa massa air terlihat bergerak menjauhi pantai dan semakin menguat pada bulan Mei. Pergerakan transpor Ekman menjauhi pantai mulai terlihat secara jelas pada bulan April di perairan sekitar Selat Sunda dan selatan Jawa Sumbawa. Hal ini disebabkan karena pada bulan April merupakan awal mulai berkembangnya angin muson tenggara di bagian selatan perairan selatan Jawa dan semakin menguat pada bulan Mei. Pada musim timur (Juni Agustus), di perairan barat Sumatera dan selatan Jawa Sumbawa, terjadi peningkatan transpor Ekman menjauhi pantai (Gambar 2). Pada bulan Juni, volume terbesar berada pada perairan barat daya Selat Sunda yakni,87 Sv (Posisi 3) dan, Sv (Posisi 4) sedangkan di perairan barat Sumatera sebesar,1 Sv (Posisi 1) dan,2 Sv (Posisi 2) serta di selatan Jawa Barat sebesar,29 Sv (Posisi ). Pada bulan Juli, volume transpor Ekman terbesar pada Lintasan I berada pada perairan sekitar barat daya Sumatera dan Selat Sunda (Posisi 2 4) dimana berkisar antara,71 1,17 Sv, sedangkan di selatan Jawa Barat (Posisi ) volumenya,42 Sv dan di barat Sumatera (Posisi 1) volumenya,16 Sv. Pada bulan Agustus volume transpor Ekman terbesar berada di perairan barat daya Sumatera dan Selat Sunda (Posisi 2 dan 3) yaitu 1,48 Sv (Posisi 2) dan 1,9 Sv (Posidi 3) dan semakin berkurang volumenya ke arah selatan Jawa Barat (Posisi ) dan ke arah barat Sumatera (Posisi 1). Selama musim timur transpor Ekman di Lintasan II (Gambar 21) menunjukkan bahwa di perairan selatan Jawa Bali, massa air bergerak ke arah laut lepas dengan volumenya berkisar antara,82,88 Sv (Posisi 12 16), sedangkan di selatan Sumbawa dan di barat Sumatera volumenya sedikit lebih rendah. Di selatan Jawa pada bulan Juni, volume transpor Ekman terbesar berada di perairan selatan Jawa Timur (Posisi 1) yakni sebesar,88 Sv. Selama bulan Juli dan Agustus, transpor Ekman mengalami peningkatan secara signifikan terutama di perairan barat daya Selat Sunda dan selatan Jawa Barat
54 8 Jawa Tengah. Pada bulan Juli di barat daya Selat Sunda, volume transpor Ekman berkisar antara,97,98 Sv sedangkan di selatan Jawa Barat Jawa Tengah berkisar antara 1, 1, Sv. Di bulan Agustus, volume Transpor Ekman di barat Sumatera hingga selatan Jawa Barat berada pada kisaran 1, 1,33 Sv dengan volume terbesar berada di perairan barat daya Sumatera (Posisi 9) yakni sebesar 1,33 SV. Di perairan selatan Jawa Tengah Sumbawa pada bulan Agustus, volume transpor Ekman umumnya lebih kecil dari perairan selatan Jawa Barat dimana di selatan Jawa Tengah Sumbawa volume transpornya berkisar antara,46,96 Sv. Peningkatan transpor Ekman menjauhi pantai pada musim timur disebabkan karena semakin kuat bertiup angin muson tenggara di perairan ini. transpor Ekman mencapai keadaan maksimum pada bulan Agustus, saat angin muson tenggara telah terbentuk dengan sempurna. Secara keseluruhan, pada bulan Juni dan Juli, transpor Ekman di perairan barat Sumatera lebih kecil dari pada di barat daya Selat Sunda dan selatan Jawa - Sumbawa. Peningkatan transpor Ekman pada bulan Juli terutama di perairan barat daya Selat Sunda dan perairan selatan Jawa dengan pola sebarannya menunjukkan sedikit lebih tinggi volume transpor di selatan Jawa dari pada di barat daya Selat Sunda. Pada bulan Agustus, sebaran transpor Ekman menjauhi pantai dengan volume tertinggi dijumpai di perairan barat daya Selat Sunda dan semakin berkurang volumenya ke arah timur dan barat laut. Dengan demikian selama musim timur, transpor Ekman di perairan selatan Jawa - Sumbawa menunjukkan lebih besar volume Transpor Ekman di perairan selatan Jawa Barat dari pada selatan Jawa Timur - Sumbawa. Tingginya transpor Ekman di perairan selatan Jawa barat dan barat daya Selat Sunda dikarenakan angin muson tenggara yang bertiup di perairan ini lebih kuat dari pada di perairan selatan Jawa Timur - Sumbawa. Lebih besarnya transpor Ekman menjauhi pantai pada musim timur terutama di perairan sekitar Selat Sunda dan selatan Jawa Sumbawa bila dibandingkan dengan musim lainnya juga terlihat melalui sebaran ATPL yang semakin menurun dari bulan Juni hingga Agustus (Gambar 12 F, G, H). Rendahnya ATPL yang berada jauh di bawah level surface pada perairan dekat pantai menunjukkan terjadinya pergerakan massa air menjauhi pantai. Selama musim peralihan II, transport Ekman di Lintasan I terlihat bergerak menjauhi pantai dengan volume terbesar di barat daya Selat Sunda. Pada bulan September terjadi peningkatan transpor Ekman dari bulan Agustus,
55 86 volume massa air yang di transpor di barat daya Selat Sunda (Posisi 3 dan 4) berkisar antara,92-1,76 Sv, di barat Sumatera (Posisi 1 dan 2) sebesar,914 1,733 Sv sedangkan di selatan Jawa Barat (Posisi ) sebesar,473 Sv. Pada bulan Oktober dan November, variasi transpor Ekman menunjukkan semakin meningkatnya volume transpor dari daerah sekitar ekuator perairan Barat Sumatera ke Selat Sunda dan kemudian mengalami penurunan volumenya ke arah selatan Jawa Barat. Di bulan Oktober, volume transpor Ekman di sekitar perairan selat Sunda sebesar 1,28 Sv (Posisi 3), di selatan Jawa Barat sebesar,287 Sv (Posisi ), sedangkan di barat daya Sumatera dan di barat Sumatera, volumenya sebesar,896 Sv (Posisi 2) dan,119 Sv (Posisi 1). Pada bulan November, transpor Ekman mengalami penurunan secara signifikan terutama di perairan barat Sumatera. Volume transpor Ekman terbesar pada bulan November berada di perairan barat daya Selat Sunda (Posisi 3) yakni sebesar,819 Sv. Selama musim peralihan II transpor Ekman menjauhi pantai di Lintasan II terlihat mulai berkurang dari bulan September hingga November. Pada bulan September, di perairan barat Sumatera hingga barat daya Selat Sunda (Posisi 7 12) transpor Ekman terlihat sangat tinggi yakni berkisar antara1,39 1,16 Sv dengan volume terbesar berada di barat daya Sumatera (Posisi 9), sedangkan di selatan Jawa Sumbawa, transpor Ekman menunjukkan variasi timur barat dimana semakin ke timur volumenya semakin berkurang. Transpor Ekman pada bulan September di selatan Jawa Barat sebesar,962 Sv, di selatan Jawa Tengah sebesar,86 Sv dan di selatan Jawa Timur Bali berkisar antara,3,722 Sv. Seperti halnya dengan bulan September, pola transpor Ekman pada bulan Oktober dan November juga memperlihatkan semakin berkurangnya volume transpor dari barat daya Selat Sunda ke arah timur (selatan Jawa Sumbawa) dan ke arah barat laut (barat Sumatera). Pada bulan Oktober, volume transpor Ekman terbesar berada pada Posisi 9 dan 1 yakni sebesar 1,129 Sv dan 1,139 Sv sedangkan pada bulan November, volume terbesar dijumpai pada Posisi 1 yakni sebesar,91 Sv. Tingginya transpor Ekman meninggalkan pantai di barat daya Selat Sunda selama musim peralihan II kemungkinan disebabkan karena tiupan angin muson tenggara masih kuat, sedangkan lebih rendahnya transpor Ekman di selatan Jawa Tengah Sumbawa di sebabkan karena angin mulai lemah dan terjadi perubahan arah angin. Rendahnya transpor Ekman pada bulan
56 87 November di barat Sumatera disebabkan karena mulai berkembangnya angin barat. Lebih besarnya transpor Ekman menjauhi pantai selama bulan September Oktober dari pada bulan November di perairan barat Sumatera dan selatan Jawa Sumbawa juga terlihat melalui sebaran ATPL lebih rendah selama bulan September Oktober (Gambar 12 I, J, K). Menurut Susanto et al. (21), transpor Ekman di sepanjang pantai selatan Jawa dan barat Sumatera selama bulan-bulan terjadinya upwelling (Juni Oktober) menunjukkan adanya perubahan pusat sebaran upwelling ke arah barat seiring dengan perubahan angin di perairan selatan Jawa dan barat Sumatera. Hendiarti et al. (2) mengatakan bahwa selama bertiupnya angin muson tenggara (Juli Oktober), di permukaan laut lepas pantai selatan Jawa massa airnya dingin dengan konsentrasi klorofil tinggi sebagai respon terhadap transpor Ekman yang menyebabkan terjadinya upwelling. Transpor Vertikal Massa Air Fenomena upwelling dan downwelling digambarkan melalui analisis transpor vertikal massa air pada lapisan Ekman. Hasil ditampilkan pada Gambar 22 dan 23; Lampiran 9 dan 1. Nilai negatif menunjukkan terjadi pengangkatan massa air (upwelling) dan nilai positif menunjukkan tenggelamnya massa air. Selama musim barat (Desember Februari) di barat Sumatera transpor vertikal menunjukkan terjadinya pengangkatan massa air dengan kecepatan yang sangat rendah kecuali di perairan sekitar posisi o LS. Di perairan yang mendekati ekuator (Grid 1 dan 2) kecepatan vertikal berada pada kisaran,44,64 m hari -1 dan volume massa air yang terangkat berkisar antara,44,64 m 3 hari -1, sedangkan di bagian barat daya Sumatera, kecepatan vertikal massa air cenderung rendah yaitu pada kisaran,11,28 m hari -1 dengan volume massa air yang terangkat sebesar,11,28 m 3 hari -1. Selama musim peralihan I (Maret Mei) kecepatan upwelling di perairan barat daya Sumatera terlihat sangat lemah. Di bulan Maret, kecepatan vertikal massa air menunjukkan variasi barat laut tenggara dimana semakin meningkat ke barat laut (ekuator). Di dekat ekuator perairan barat Sumatera ( o LS), kecepatan pengangkatan massa air sebesar,3,4 m hari -1 dengan volume massa air sebesar,3,4 m 3 hari -1, sedangkan di barat daya Selat Sunda
57 88 Lintang Selatan ( LS) A Januari Lintang Selatan ( LS) B Februari Lintang Selatan ( LS) C Maret Lintang Selatan ( LS) D April (m hari -1 ) Gambar 22. Kecepatan transpor vertikal massa air bulanan rata-rata (m hari -1 ) berdasarkan data angin ECMWF dari tahun A = Januari; B = Februari; C = Maret; D = April. - = upwelling; + = downwelling.
58 89 Lintang Selatan ( LS) E Mei Lintang Selatan ( LS) F Juni Lintang Selatan ( LS) G Juli Lintang Selatan ( LS) H Agustus (m hari -1 ) Gambar 22. Lanjutan. E = Mei; F = Juni; G = Juli; H = Agustus. - = upwelling; + = downwelling.
59 9 Lintang Selatan ( LS) I September Lintang Selatan ( LS) J Oktober Lintang Selatan ( LS) K November Lintang Selatan ( LS) L Desember (m hari -1 ) Gambar 22. Lanjutan. I = September; J = Oktober; K = November; L = Desember. - = upwelling; + = downwelling.
60 91 Lintang Selatan ( LS) A Januari Lintang Selatan ( LS) B Februari Lintang Selatan ( LS) C Maret Lintang Selatan ( LS) D April m 3 hari -1 Gambar 23. Volume transpor vertikal massa air bulanan rata-rata (m 3 hari -1 ) berdasarkan data angin ECMWF dari tahun A = Januari; B = Februari; C = Maret; D = April. - = upwelling; + = downwelling.
61 92 Lintang Selatan ( LS) E Mei Lintang Selatan ( LS) F Juni Lintang Selatan ( LS) G Juli Lintang Selatan ( LS) H Agustus m 3 hari -1 Gambar 23. Lanjutan. E = Mei; F = Juni; G = Juli; H = Agustus. - = upwelling; + = downwelling
62 93 Lintang Selatan ( LS) I September Lintang Selatan ( LS) J Oktober Lintang Selatan ( LS) K November Lintang Selatan ( LS) L Desember m 3 hari -1 Gambar 23. Lanjutan. I = September; J = Oktober; K = November; L = Desember. - = upwelling; + = downwelling
63 94 kecepatan pengangkatan massa air berada dibawah,2 m hari -1. Pada bulan April dan Mei, kecepatan vertikal di perairan dekat pantai barat daya Sumatera menunjukkan variasi barat daya timur laut dimana kecepatan pengangkatan massa terlihat meningkat ke arah timur laut (pantai barat Lampung dan Selat Sunda). Kecepatan pengangkatan massa air di sekitar pantai barat Lampung dan Selat Sunda pada bulan April sekitar,2 m hari -1 dengan volume massa air yang terangkat sekitar,2 m 3 hari -1 dan pada bulan Mei sekitar,14,26 m hari -1 dengan volume massa air yang terangkat berkisar antara,14,26 m 3 hari -1. Pada musim timur (Juni Agustus) saat bertiup angin muson tenggara, terjadi peningkatan kecepatan upwelling di perairan barat Sumatera terutama di perairan dekat ekuator. Kecepatan pengangkatan massa air pada bulan Juni Agustus di dekat pantai barat Lampung dan Selat Sunda berkisar antara,1,4 m hari -1 dengan volume massa air yang terangkat berada pada kisaran,1,4 m 3 hari -1. Selama musim peralihan II (September November), kecepatan vertikal massa air di dekat pantai perairan barat daya Sumatera dan Selat Sunda menunjukkan penurunan kecepatan pengangkatan massa air bila dibandingkan dengan musim timur. Pada bulan September, Kecepatan pengangkatan massa air pada bulan September berkisar antara,2,26 m hari -1 dengan volume massa air yang terangkat berkisar antara,2,26 m 3 hari -1, pada bulan Oktober kecepatannya berkisar antara,7 -,44 m hari -1 dengan volume massa air berada pada kisaran,7 -,44 m 3 hari -1 dan di bulan November kecepatannya berkisar antara,17,26 m hari -1 dengan volume massa air yang terangkat berada pada kisaran,17,26 m 3 hari -1. Secara umum, pada musim peralihan II, kecepatan pengangkatan massa air dari bagian dasar lapisan Ekman lebih tinggi di dekat ekuator perairan barat Sumatera dari pada perairan sekitar selat Sunda. Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan di sekitar ekuator perairan barat Sumatera ( o LS) hampir sepanjang tahun cenderung terjadi pengangkatan massa air dengan kecepatan yang sangat lambat, kecuali pada bulan Desember Februari yang umumnya lebih tinggi kecepatannya. Indikasi lebih kuat upwelling pada bulan Desember Februari bila dibandingkan dengan bulan lainnya juga didukung oleh sebaran ATPL yang umumnya berada di bawah level surface serta besarnya transpor Ekman yang bergerak menjauhi pantai (,
64 9,8 SV). ATPL di sekitar ekuator perairan barat Sumatera ( o LS) pada bulan Februari berada pada kisaran -6 hingga 12 cm. Perairan barat daya Selat Sunda, hampir sepanjang tahun kecepatan vertikal massa air tidak menunjukkan suatu perubahan yang besar. Kecepatan pengangkatan massa air dengan nilai sedikit lebih tinggi hanya terjadi pada bulan Mei - Juni yakni pada kisaran,247,2 m hari -1 dan pada bulan November Desember dengan kecepatan berkisar antara,178,218 m hari -1. Hal ini kemungkinan disebabkan karena pengaruh angin muson tenggara pada musim timur serta masih kuatnya angin tenggara di perairan barat daya Sumatera dan sekitar Selat Sunda pada bulan November Desember. Perairan selatan Jawa Sumbawa, transpor vertikal massa air pada musim barat (Desember Februari) memperlihatkan perubahan arah transpor vertikal massa air antara bulan Desember dengan bulan Januari Februari. Pada bulan Desember hampir di sepanjang pantai selatan Jawa Sumbawa kecepatan vertikal massa air terlihat sangat rendah (mendekati nol) kecuali pada perairan selatan Jawa Barat dimana kecepatan pengangkatan massa air terlihat masih cukup kuat (,142 m hari -1 ) dan di perairan selatan perbatasan Jawa Tengah Jawa Timur terjadi downwelling dimana kecepatannya,138 m hari -1 dengan volume massa air yang tenggelam sebesar,138 m 3 hari -1. Pada bulan Januari dan Februari, di sepanjang pantai selatan Jawa terjadi dwonwelling dimana kecepatan tertinggi berada pada perairan antara perbatasan Jawa Tengah Jawa Timur yaitu sekitar, m hari -1 dengan volume massa air yang tenggelam sebesar, m 3 hari -1. Pada bulan Maret, saat angin yang bertiup di perairan selatan Jawa - Sumbawa mulai lemah dengan arah yang selalu berubah-ubah, kecepatan transpor vertikal hampir mendekati nol (Gambar 22). Artinya hampir tidak terjadi pergerakan vertikal massa air. Peningkatan transpor vertikal mulai terlihat pada bulan April dengan kecepatan pengangkatan massa air tertinggi dijumpai di perairan selatan Jawa Timur Bali yakni,66 m hari -1. Diperkirakan bahwa perairan selatan Jawa - Bali merupakan lokasi mulai berkembang upwelling di selatan Jawa - Sumbawa (Gambar 22 dan 23). Pada bulan Mei, upwelling terlihat mulai meluas di selatan Jawa Sumbawa dengan kecepatan yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan bulan April. Pada bulan Mei, kecepatan pengangkatan massa air di selatan Jawa Timur berkisar antara 1, 1,3 m hari -1 dengan volume massa air berada pada kisaran 1, 1,3 m 3 hari -1, di perairan
65 96 selatan Jawa Tengah kecepatannya,84 m hari -1 dengan volume massa air yang terangkat sekitar,84 m 3 hari -1 sedangkan di selatan Jawa Barat kecepatan pengangkatan massa air, m hari -1 dengan volume massa air yang terangkat sebesar, m 3 hari -1. Seiring dengan makin berkembangnya angin muson tenggara di selatan Jawa Sumbawa pada musim timur, maka upwelling terlihat semakin intensif dan meluas di sepanjang pantai selatan Jawa Bali. Upwelling mencapai kondisi maksimal pada bulan Juli dan Agustus dengan kecepatan pengangkatan massa air pada bulan Juli berkisar antara,71 1,7 m hari -1 dengan volumenya berada pada kisaran,71 1,7 m 3 hari -1 dan di bulan Agustus, kecepatannya,8 1,6 m hari -1 dengan volume transpor,8 1,6 m 3 hari -1. Secara keseluruhan pada musim timur, pola sebaran upwelling terlihat semakin meningkat ke arah timur dari perairan selatan Jawa Barat dengan kecepatan maksimum dijumpai di perairan selatan Jawa Timur dan selanjutnya mengalami penurunan ke arah selatan. Dengan demikian pusat upwelling di perairan dekat pantai selatan Jawa pada musim timur diperkirakan berada pada daerah sekitar , o BT. Pada bulan September hingga November, angin muson tenggara yang bertiup di perairan selatan Jawa - Sumbawa terlihat mulai lemah, namun transpor vertikal massa air di perairan selatan Jawa masih menunjukkan adanya penaikkan massa air dengan kecepatan yang semakin lemah yakni berada pada kisaran,427 1,262 m hari -1 dengan volume massa air antara,427 1,262 m 3 hari -1. Secara keseluruhan di perairan ini, kecepatan pengangkatan massa air terlihat masih cukup tinggi pada bulan September dan Oktober terutama di perairan selatan Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan kecepatan vertikalnya berada pada kisaran 1,38 1,94 m hari -1 dan volume massa air yang terangkat berada pada kisaran 1,38 1,94 m 3 hari -1. Indikasi terjadinya upwelling di perairan selatan Jawa - Bali selama musim timur, dan secara khusus di perairan selatan Jawa Timur yang ditunjukkan melalui kecepatan transpor vertikal yang cukup tinggi dari bagian dasar lapisan Ekman ke permukaan perairan. Indikasi terjadinya upwelling juga ditunjukkan dengan menurunnya SPL hingga 26 o C pada bulan Agustus dan rendahnya ATPL yang mencapai level minimum (-16 cm) serta tingginya konsentrasi nitrat di perairan selatan Jawa Timur.
66 97 Gambaran tentang fenomena upwelling di selatan Jawa juga terlihat melalui sebaran melintang suhu yang menunjukkan menanjaknya isoterm cukup tajam ke arah pantai selama bulan Agustus hingga September 199 terutama pada Transek 3 yang terletak di perairan selatan Jawa Timur Bali (Gambar 24). Pada Transek 3, lereng isoterm 8 26 o C terlihat menanjak cukup terjal ke arah pantai di kedalaman 6 m, sedangkan dari sebaran suhu melintang pada Transek 2 dan 4 terlihat bahwa lereng isoterm menanjak sedikit agak landai ke arah pantai bila dibandingkan dengan Transek 3. Di perairan Jawa Barat, upwelling cenderung lemah hal mana terlihat melalui sebaran melintang suhu pada Transek 1 yang mencirikan lereng isoterm o C yang agak menanjak agak landai ke arah pantai. Transpor Ekman selama musim timur juga memperlihatkan adanya indikasi terjadinya upwelling pada perairan sekatan Jawa Bali. Transpor Ekman yang bergerak menjauhi pantai pada musim timur terlihat lebih besar bila dibandingkan dengan musim lainnya. Lebih besarnya transpor Ekman menjauhi pantai pada musim timur di perairan selatan Jawa Bali disebabkan karena bertiupnya angin muson tenggara dengan kecepatan angin yang umumnya lebih tinggi dari pada kecepatan angin pada musim lainnya. Transpor Nutrien Analisis suplai nutrien secara vertikal di lapisan Ekman pada beberapa grid pengamatan yang mengalami upwelling dilakukan dengan menggunakan data nutrien pada berbagai kedalaman dari hasil survei Baruna Jaya I dan data WOD-NODC (Tabel 1). Hasil analisis memperlihatkan bahwa upwelling di selatan Jawa selama bulan Agustus sangat berperan dalam menyuplai nutrien ke lapisan permukaan perairan terutama di selatan Jawa Tengah dan Jawa Timur (Grid 27 dan 29). Pada Grid 27, kecepatan vertikal sebesar 1,136 m hari -1 dan volume massa air yang terangkat dari kedalaman 9,31 m sebesar 113,997 l hari -1. Dari volume massa air yang terangkat tersebut terkandung fosfat dengan suplainya sebesar 48,99 µmol hari -1, silikat sebesar 7.327,178 µmol hari -1 dan nitrat sebesar.861,742 µmol hari -1. Di Grid 29, kecepatan upwelling sebesar,843 m hari -1 dengan volume massa air yang terangkat dari kedalaman 9,69 m sebesar 843,198 l hari -1 dan nutrien yang disuplai sebesar 78,286 µmol hari -1 (fosfat), 11.8,4 µmol hari -1 (silikat), dan 9.418,21 µmol hari -1 (nitrat). Meskipun
67 98 kecepatan suplai nutrien pada Grid 27 lebih tinggi dari pada Grid 29, namun suplai nutrien terbesar terlihat pada Grid 29. Hal ini disebabkan karena Grid 29 merupakan tempat dimana mulai berkembangnya upwelling di selatan Jawa. Keadaan ini mengakibatkan konsentrasi nutrien pada kedalaman 9 m lebih tinggi di perairan selatan Jawa Timur dari pada selatan Jawa Barat. A. Transek 1 B. Transek 2 C. Transek 3 D. Transek 4 Gambar 24. Sebaran melintang suhu di perairan selatan Jawa - Bali pada Musim Timur (24 Agustus September 199). Posisi Transek dapat dilihat pada Lampiran 1.
68 99 Tabel 1. Volume massa air dan konsentrasi nutrien yang terangkat (upwelling) di beberapa gird pengamatan per m 2. Bulan Februari April Agustus September Grid Bujur Timur ( o BT) Lintang ( o LS) D E (m) W E (m/hari) Konsentrasi Nutrien (µmol l -1 ) Fosfat Silikat Nitrat Sumber Data Nutrien WOD WOD WOD WOD WOD BJ I BPPT BJ I BPPT BJ I BPPT WOD WOD Oktober WOD November WOD Desember Bulan Februari April Agustus September WOD WOD WOD WOD Grid Bujur Timur ( o BT) Lintang ( o LS) Volume Massa Air yang Terangkat (l/hari) Konsentrasi Nutrien yang Terangkat Fosfat (µmol/hari) Silikat (µmol/hari) Nitrat (µmol/hari) Oktober November Desember Keterangan: D E = Kedalaman lapisan Ekman W E = Kecepatan vertikal (- = upwelling) BJ I = Baruna Jaya I WOD = World Ocean Data
69 1 Di selatan Jawa Barat (Grid 9), upwelling terlihat terjadi selama musim timur hingga Desember. Selama musim timur, upwelling cenderung lebih kuat namun lebih lemah dari upwelling yang terjadi di selatan Jawa Tengah Bali dan semakin melemah di bulan Oktober Desember. Pada musim Timur (Agustus September), rata-rata kecepatan upwelling pada bagian dasar lapisan Ekman (± 76 m) di perairan ini sekitar,798 m hari -1 dengan volume massa air yang terangkat sebesar 798 l hari -1. Meskipun kecepatan dan volume massa air yang terangkat pada bulan Agustus dan September hampir sama besar namun nutrien yang terangkat selama bulan September lebih besar dari pada bulan Agustus. Hal ini kemungkinan karena pengaruh upwelling yang terjadi pada bulan-bulan sebelumnya yang mengakibatkan konsentrasi nutrien pada kedalaman yang sama lebih besar konsentrasinya pada bulan September. Besarnya nutrien yang terangkat pada bulan Agustus sebesar 279,3 µmol hari -1 (fosfat), 8.4,6 µmol hari -1 (silikat), dan 383,4 µmol hari -1 (nitrat), sedangkan pada bulan September sebesar 893,87 µmol hari -1 (fosfat), ,12 µmol hari -1 (silikat), dan 11.66,217 µmol hari -1 (nitrat). Pada bulan Oktober di perairan ini, meskipun upwelling mulai melemah, namun nutrien yang terangkat terlihat masih efektif terhadap peningkatan kesuburan perairan. Hal ini disebabkan karena besarnya suplai nutrien yang terangkat serta dangkalnya lapisan Ekman. Di perairan barat Sumatera dan selatan Jawa Barat, upwelling yang terjadi selama musim barat (Desember dan Februari) dan musim peralihan (April) tidak memberikan pengaruh yang besar terhadap pengkayaan nutrien pada permukaan perairan. Hal ini disebabkan karena uwpelling terlihat sangat lemah sebagai respon terhadap perubahan arah dan kekuatan angin. Indikasi Upwelling Secara temporal dan spasial, sebaran SPL dan ATPL bulanan rata-rata di selatan Jawa selama musim timur memperlihatkan semakin menurunnya SPL dan ATPL dari bulan Juni hingga September. SPL dan ATPL terendah dijumpai di perairan selatan Jawa Tengah Jawa Timur dengan pusatnya di selatan Jawa Timur. Rendahnya SPL dan ATPL di perairan ini merupakan respon terhadap bertiupnya angin muson tenggara yang mengakibatkan terjadinya transpor Ekman ke arah selatan atau barat daya dan menyebabkan terjadinya kekosongan massa air di perairan dekat pantai. Akibatnya ketebalan lapisan permukaan perairan di perairan dekat pantai menjadi berkurang dan lapisan
70 11 termoklin menjadi lebih dangkal. Keadaan ini menyebabkan terangkatnya massa air dalam yang dingin dan kaya nutiren ke lapisan permukaan untuk mengisi kekosongan massa air. Hal ini merupakan indikasi terjadinya upwelling. Indikasi terjadinya upwelling juga didukung oleh tingginya konsentrasi nitrat, fosfat, silikat, dan klorofil-a permukaan laut. Pusat sebaran SPL dan ATPL bulanan rata-rata terendah di perairan selatan Jawa Tengah Jawa Timur menandakan bahwa upwelling di perairan ini lebih kuat dari pada perairan selatan Jawa Barat dan perairan selatan Flores - Sumbawa. Hasil perhitungan kecepatan vertikal massa air menjelaskan bahwa selama musim timur terjadi pengangkatan massa air di sepanjang perairan dekat pantai selatan Jawa Sumbawa dan perairan barat Sumatera dengan kecepatan vertikal tertinggi dijumpai di perairan selatan Jawa Tengah Jawa Timur. Selama musim timur kecepatan vertikal tertinggi di perairan selatan Jawa Tengah Jawa Timur di jumpai pada bulan Juli Agustus. Akan tetapi tingginya kecepatan pengangkatan massa air ke permukaan tidak didukung oleh besarnya transpor Ekman (M YE ) yang meninggalkan pantai. Susanto et al. (26) berdasarkan analisis harmonik dan data ocean color bulanan rata-rata mengatakan bahwa bertiup angin muson tenggara menyebabkan upwelling yang membawa massa air dingin dan kaya nutrien ke lapisan permukaan dan meningkatkan produktivitas primer di perairan selatan Jawa dan barat Sumatra. Kondisi yang berbeda terlihat pada saat muson barat laut yang menyebabkan terjadinya downwelling di perairan barat Sumatra dan selatan Jawa. Karena selama musim timur angin yang bertiup dan gesekan angin komponen sejajar pantai (τ x ) di selatan Jawa Timur lebih lemah dari pada di selatan Jawa Barat (Gambar 9 F, G, H dan 1 F, G, H) maka transpor Ekman di selatan Jawa Tengah Jawa Timur lebih kecil dari pada transpor Ekman di perairan selatan Jawa Barat (Gambar 2 dan 21). Secara teoritis, gesekan angin komponen sejajar pantai yang mengakibatkan transpor Ekman merupakan penyebab utama terjadinya upwelling maka seharusnya upwelling di perairan selatan Jawa Barat lebih kuat dari pada di perairan selatan Jawa Tengah Jawa Timur. Dengan melihat keadaan di atas, maka upwelling di perairan selatan Jawa Tengah Jawa Timur tidak hanya disebabkan oleh transpor Ekman yang bergerak menjauhi pantai (M YE ) tetapi kemungkinan juga disebabkan oleh gradien gesekan angin komponen sejajar dan tegak lurus garis pantai yang lebih besar di selatan Jawa Tengah Jawa Timur dari pada di selatan Jawa Barat
71 12 (Gambar 1 F, G, H dan Gambar 11 F, G, H). Besarnya gradien gesekan angin terutama gesekan angin komponen tegak lurus garis pantai ( τ y / y) mengakibatkan terjadinya perbedaan transpor Ekman komponen sejajar garis pantai (M xe ) antara perairan dekat pantai dan laut lepas. Berdasarkan Tabel 11, Gambar 2 dan Lampiran 11 terlihat bahwa selama musim timur, di perairan dekat pantai selatan Jawa (ke laut lepas hingga 1 o LS) gradien transpor Ekman komponen sejajar garis pantai ke arah laut lepas ( M xe / y) menunjukkan perubahan secara positif dimana transpor Ekman massa air yang bergerak ke arah barat di perairan dekat pantai lebih kecil dari pada laut lepas, sedangkan di bagian perairan 1 1 o LS gradien transpor Ekman komponen sejajar garis pantai menuju laut lepas ( M xe / y) menunjukkan perubahan secara negatif dengan nilai yang sangat kecil. Kecilnya perubahan transpor Ekman komponen sejajar garis pantai dari posisi 1 o LS ke 1 o LS karena gesekan angin komponen menegak garis pantai umumnya memiliki kekuatan yang hampir sama. Di selatan Jawa Barat (17, o BT dan 7,9 1, o LS), gradien transpor Ekman komponen sejajar garis pantai untuk jarak 1 o ke arah laut lepas ( M xe / y) pada bulan Juni sebesar 199,1 kg det -1 m -1, sedangkan pada bulan Juli dan Agustus berturut-turut adalah 233,82 kg det -1 m -1 dan 27,79 kg det -1 m -1. Di selatan Jawa Tengah (11 o BT dan 7,9 1, o LS), gradien transpor Ekman komponen sejajar garis pantai untuk jarak 1 o ke arah laut lepas ( M xe / y) sebesar 64,12 kg det -1 m -1 (Juni), 83,46 kg det -1 m -1 (Juli) dan 993,1 kg det -1 m -1 (Agustus), sedangkan di selatan Jawa Timur (112. o BT dan 8, 1, o LS) sebesar 784,99 kg det -1 m -1 (Juni), 137,38 kg det -1 m -1 (Juli) dan 1231, kg det -1 m -1 (Agustus). Dengan demikian secara spasial, gradien transpor Ekman komponen sejajar garis pantai ke arah laut lepas selama musim timur di selatan Jawa Tengah Jawa Timur lebih besar dari pada di selatan Jawa Barat (Tabel 11 dan Gambar 2 A C). Di perairan selatan Jawa (perairan dekat pantai hingga 1 o LS), gradien transpor Ekman komponen sejajar garis pantai menunju laut lepas ( M xe / y) selama musim timur menunjukkan peningkatan dari bulan Juni hingga Agustus Keadaan tersebut di atas memberi gambaran bahwa upwelling di selatan Jawa terjadi di bagian perairan dekat pantai hingga 1 o LS, sedangkan di bagian perairan 1 1 o LS tidak terjadi upwelling. Gradien transpor Ekman komponen sejajar garis pantai menunju laut lepas ( M xe / y) selama musim timur juga
72 13 menunjukkan lebih intensif upwelling bulan Agustus dari pada bulan Juni Juli dengan pusat upwelling di selatan Jawa Tengah Jawa Timur. Di perairan selatan Bali Sumbawa (11 dan 117 o BT) gradien transpor Ekman komponen sejajar garis pantai ke arah laut lepas ( M xe / y) menunjukkan perubahan secara negatif yang dicirikan dengan lebih besarnya transpor Ekman ke arah barat di dekat pantai dari pada laut lepas. Di perairan ini, semakin ke laut lepas, gradien transpor Ekman komponen sejajar pantai mengalami perubahan yang sangat kecil. Hal ini menunjukkan bahwa gesekan angin komponen menegak garis pantai lebih kuat di perairan dekat pantai dari pada perairan lepas pantai dan juga kekuatan gesekan angin komponen menegak pantai di perairan laut lepas (> 12, o LS) cenderung konstan Lebih besarnya gradien transpor Ekman komponen sejajar garis pantai yang bergerak ke arah barat di selatan Jawa Tengah Jawa Timur ( dekat pantai hingga 1 o LS) kemungkinan yang menyebabkan lebih intensifnya upwelling di perairan ini bila dibandingkan dengan perairan selatan Jawa. Lebih kecilnya transpor Ekman komponen sejajar garis pantai di perairan dekat pantai mengakibatkan paras laut menjadi lebih tinggi bila dibandingkan dengan perairan laut lepas yang memiliki transpor Ekman ke arah barat yang lebih besar. Perbedaan tinggi paras laut tersebut mengakibatkan terjadinya perbedaan tekanan pada lapisan Ekman dimana tekanan air lebih tinggi di perairan dekat pantai dari pada laut lepas. Dampaknya massa air akan bergerak dari tekanan yang tinggi ke tekanan yang rendah dan menyebabkan terjadinya kekosongan massa air lapisan permukaan yang mengakibatkan terjadinya mengangkatan massa air dalam (upwelling). Dengan demikian semakin besar gradien positif transpor Ekman komponen sejajar pantai menuju laut lepas maka kecepatan vertikal upwelling akan semakin kuat dan upwelling akan menjadi lemah bila gradien transport Ekman komponen sejajar pantai semakin kecil. Berdasarkan gradien transpor Ekman sejajar garis pantai ke arah laut lepas dapat ( M xe / y) terlihat bahwa upwelling selama musim timur di selatan Jawa terjadi pada bagian perairan dekat pantai hingga 1 o LS. Hal mana juga dikatakan oleh Purba (199) berdasarkan perhitungan deformasi radius Rossby bahwa upwelling yang terjadi di perairan selatan Jawa berada pada radius sekitar 4 km dari garis pantai.
73 14 Tabel 11. Gradien transpor Ekman komponen sejajar pantai per 1 o LS ke arah laut lepas ( M xe / y) di perairan selatan Jawa Sumbawa selama musim timur. Lokasi Bujur Timur ( o BT) Lintang Selatan ( o LS) Juni Juli Agustus Jarak (m) M XE M xe / y M XE M xe / y M XE M xe / y Selatan JaBar Selatan JaTeng Selatan JaTim Selatan Bali Selatan Flores Keterangan: 1. Selama bulan Juni Agustus, transpor Ekman komponen sejajar pantai (M xe ) di perairan selatan Jawa Sumbawa bergerak ke arah barat. 2. M XE (kg det -1 m -1 ) 3. M xe / y (kg m -1 det -1 /1 o )
74 1 Selatan Jawa Barat (17. o BT) 2 Selatan Jawa Tengah (11 o BT) 2 Transpor Ekman Komponen x (kg det -1 m -1 ) A Transpor Ekman Komponen x (kg det -1 m -1 ) B Lintang Selatan ( o LS) Juni Juli Agustus Lintang Selatan ( o LS) Juni Juli Agutus Selatan Jawa Timur (112. o BT) 2 2 Selatan Bali (11 o BT) Transpor Ekman Komponen x (kg det -1 m -1 ) C Transpor Ekman Komponen x (kg det -1 m -1 ) D Lintang Selatan ( o LS) Juni Juli Agustus Lintang Selatan ( o LS) Juni Juli Agustus 2 Selatan Flores (117. o BT) Transpor Ekman Komponen x (kg det -1 m -1 ) E Lintang Selatan ( o LS) Juni Juli Agustus Gambar 2. Gradien transpor Ekman komponen sejajar pantai ke arah laut lepas di perairan selatan Jawa Sumbawa selama musim timur. A = Selatan Jawa Barat; B = Selatan Jawa Tengah; C = Selatan Jawa Timur; D = Selatan Bali; E = Selatan Flores.
75 16 dimana tekanan air lebih tinggi di perairan dekat pantai dari pada laut lepas. Dampaknya massa air akan bergerak dari tekanan yang tinggi ke tekanan yang rendah dan menyebabkan terjadinya kekosongan massa air lapisan permukaan yang mengakibatkan terjadinya mengangkatan massa air dalam (upwelling). Dengan demikian semakin besar gradien positif transpor Ekman komponen sejajar pantai menuju laut lepas maka kecepatan vertikal upwelling akan semakin kuat dan upwelling akan menjadi lemah bila gradien transport Ekman komponen sejajar pantai semakin kecil. Selain itu, kuatnya upwelling di selatan Jawa Tengah Jawa Timur kemungkinan juga disebabkan oleh arus yang mengalir di perairan tersebut. Berdasarkan gambar pola arus permukaan perairan selatan Jawa selama musim Timur (Wyrtki, 1961) Arus Katulistiwa Selatan (AKS) di selatan Jawa Timur terlihat lebih kuat bila dibandingkan dengan perairan selatan Jawa Barat. Letak perairan selatan Jawa Timur yang lebih dekat dengan poros AKS dan kuatnya AKS yang mengalir ke arah barat mengakibatkan paras laut di perairan dekat pantai menjadi lebih rendah. Berbeda dengan perairan selatan Jawa Timur, di selatan Jawa Barat letak AKS yang lebih ke selatan diperkirakan merupakan penyebab muka air di perairan selatan Jawa Barat lebih tinggi dari pada Jawa Timur. Purba (27) mengatakan bahwa lebih dekatnya poros AKS di pantai selatan Jawa Timur dibandingkan di selatan Jawa Barat menyebabkan kecepatan arus di perairan dekat pantai selatan Jawa Timur lebih tinggi dari pada di selatan Jawa Barat. Lebih rendahnya arus di selatan Jawa Barat karena dalam pergerakannya AKS sedikit ke arah barat daya di selatan Jawa Barat. Selanjutnya menurut Purba (27) bahwa semakin kuatnya arus ke arah barat di selatan Jawa Timur harus diimbangi oleh gradien tekanan tegak lurus pantai yang mengakibatkan paras laut harus lebih rendah di pantai dan hal ini diperkirakan menjadi penyebab lebih besarnya total transpor massa air menjauhi pantai di selatan Jawa Timur bila dibandingkan dengan perairan selatan Jawa Barat. Selain itu, lemahnya upwelling di selatan Jawa Barat selama musim timur kemungkinan disebabkan karena lebih kecilnya gradien transpor Ekman komponen sejajar garis pantai yang bergerak ke arah barat antara perairan dekat pantai dan perairan laut lepas ( M xe / y) (Gambar 2 A). Di perairan selatan Bali dan Flores (11 dan 117, o BT), selama musim timur, upwelling terlihat sangat lemah. Keadaan ini kemungkinan disebabkan
76 17 karena gradien transpor Ekman komponen sejajar garis pantai antara perairan dekat pantai dan laut lepas ( M xe / y) bersifat negatif dimana transpor Ekman komponen sejajar pantai lebih besar di perairan dekat pantai dari pada laut lepas (Gambar 2 D, E). Akibatnya terjadi kemiringan paras laut ke arah pantai dan memungkinkan massa air laut lepas bergerak menuju pantai. Selain itu lemahnya upwelling kemungkinan disebabkan karena perairan ini jauh dari poros AKS yang diduga berperan dalam meningkatkan total transpor massa air permukaan meninggalkan pantai di selatan Jawa Timur. Dengan demikian upwelling yang cenderung lemah di bagian perairan ini kemungkinan disebabkan oleh pengaruh gesekan angin komponen sejajar pantai yang memungkinan massa air bergerak menjauhi pantai. Seperti halnya dengan perairan selatan Jawa, upwelling juga terlihat di perairan barat daya Selat Sunda dan barat Sumatera pada bulan Oktober Desember namun dengan kekuatan yang lebih lemah. Faktor utama upwelling di bagian perairan ini adalah angin muson tenggara yang terlihat masih bertiup hingga bulan November. Tiupan angin muson tenggara menyebabkan transpor Ekman menjauhi pantai di barat daya Selat Sunda pada bulan Oktober yang berada pada kisaran,6 1,3 Sv sedangkan di barat Sumatera sebesar,9 Sv (daerah sekitar o LS). Lemahnya upwelling di perairan barat daya Selat Sunda dan barat Sumatera juga terlihat melalui sebaran SPL dan ATPL bulanan ratarata yang tidak terlalu rendah bila di bandingkan dengan selatan Jawa - Sumbawa. Selain itu upwelling di perairan barat daya Selat Sunda kemungkinan juga disebabkan karena lebih dekatnya dengan poros AKS yang mengalir dengan kuat dan mengalami pembelokan ke arah barat daya. Berdasarkan Tabel 4 dan terlihat ada sedikit pergeseran nilai SPL terendah ke arah barat. Pada bulan Juli, massa air dengan SPL terendah terlihat di selatan Jawa Timur Bali (Lokasi 8 dan 9), bulan Agustus dan September berada pada Lokasi 7 dan 8 (Jawa Tengah Jawa Timur). Pada bulan Oktober, nilai SPL rata-rata terendah berada di Lokasi 6 dan 7 (selatan Jawa Barat Jawa Tengah) dan selanjutnya pada bulan November berada di selatan Jawa Barat (Lokasi 6 dan ). Pergeseran nilai SPL terendah di selatan Jawa kemungkinan disebabkan karena bergeraknya massa air dingin akibat upwelling di selatan Jawa Timur ke arah barat serta juga kemungkinan karena masih kuatnya tiupan angin di selatan Jawa Barat setelah musim timur sehingga
77 18 bahang yang dilepaskan dari permukaan laut ke udara lebih besar dari pada di selatan Jawa Timur. Peningkatan sebaran klorofil-a di perairan selatan Jawa Sumbawa dan perairan barat Sumatera selama musim timur merupakan respon terhadap peningkatan intensitas upwelling. Penyebab peningkatan konsentrasi klorofil-a yakni upwelling yang mensuplai nutrien dalam jumlah yang cukup ke lapisan permukaan perairan. Peningkatan klorofil-a secara signifikan terlihat di selatan Jawa Tengah Jawa Timur (Lokasi 8 dan 9) yang merupakan area dimana upwelling terjadi secara intensif dengan kecepatan yang cukup tinggi. Berdasarkan Gambar 26 terlihat bahwa di selatan Jawa Timur (Lokasi 9), ratarata nilai klorofil-a meningkat dari,29 mg m -3 pada bulan Juni menjadi,9 mg m -3 pada bulan Oktober. Peningkatan konsentrasi klorofil-a pada setiap lokasi pengamatan memperlihatkan hubungannya dengan nilai ATPL dan SPL. Nilai ATPL dan SPL yang rendah di setiap lokasi pengamatan biasanya selalu diikuti dengan meningkatnya konsentrasi nitrat. Menurut Hendiarti et al. (24) berdasarkan hasil pengukuran CTD di area pusat upwelling perairan selatan Jawa Timur diperoleh bahwa pada bulan September SPL berada pada kondisi yang rendah yakni 26, o C namun memiliki konsentrasi klorofil-a yang cukup tinggi yakni berada pada kisaran,6 1 mg m -3, sedangkan pada bulan Maret, SPL cukup tinggi yakni berkisar antara 28, 29 o C dan konsentrasi klorofil-a sangat rendah yakni sekitar,1 mg m -3. Secara umum dari Gambar 26 terlihat bahwa di perairan barat Sumatera dan selatan Jawa Sumbawa, nilai rata-rata klorofil-a bulanan rata-rata untuk setiap lokasi memperlihatkan peningkatan konsentrasi selama musim timur dan selanjutnya mencapai konsentrasi tertinggi pada bulan Oktober. Peningkatan konsentrasi klorofil-a selalu bersamaan dengan menurunnya ATPL dan SPL serta meningkatnya konsentrasi nutrien. Keadaan yang demikian menunjukkan bahwa peningkatan klorofil-a pada permukaan laut untuk setiap lokasi pengamatan kemungkinan disebabkan karena adanya upwelling. Hal ini ditandai dengan nilai SPL yang rendah dan ATPL yang berada di bawah level surface. Pada bulan Oktober, intensitas upwelling di selatan Jawa telah berkurang namun nilai klorofil-a bulanan rata-rata untuk tiap lokasi berada pada konsentrasi yang cukup tinggi. Hal ini kemungkinan karena terjadinya akumulasi jumlah nutrien pada lapisan permukaan yang terangkat saat upwelling selama musim timur.
78 19 I I Klorofil-a Nitrat SPL ATPL Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des. 2 Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Klorofil-a Nitrat SPL ATPL II II Klorofil-a Nitrat SPL ATPL Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des. 2 Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Klorofil-a Nitrat SPL ATPL III III Klorofil-a Nitrat SPL ATPL Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des. 2 Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Klorofil-a Nitrat SPL ATPL IV IV Klorofil-a Nitrat SPL ATPL Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des. 2 Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Klorofil-a Nitrat SPL ATPL Gambar 26. Klorofil-a (mg m -3 ), Nitrat (µmol l -1 ), SPL ( o C), ATPL (cm) bulanan rata-rata per lokasi pengamatan. I = Lokasi 1; II = Lokasi 2; III = Lokasi 3; IV = Lokasi 4. Posisi lokasi pengamatan dapat dilihat pada Gambar.
79 11 V V Klorofil-a Nitrat SPL ATPL Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des. 2 Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Klorofil-a Nitrat SPL ATPL VI VI Klorofil-a Nitrat SPL ATPL Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des. 2 Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Klorofil-a Nitrat SPL ATPL VII VII Klorofil-a Nitrat SPL ATPL Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des. 2 Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Klorofil-a Nitrat SPL ATPL VIII VIII Klorofil-a Nitrat SPL ATPL Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des. 2 Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Klorofil-a Nitrat SPL ATPL Gambar 26. Lanjutan. V = Lokasi ; VI = Lokasi 6; VII = Lokasi 7; VIII = Lokasi 8. Posisi lokasi pengamatan dapat dilihat pada Gambar.
80 111 IX IX Klorofil-a Nitrat SPL ATPL Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des. 2 Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Klorofil-a Nitrat SPL ATPL X X Klorofil-a Nitrat SPL ATPL Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des. 2 Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Klorofil-a Nitrat SPL ATPL XI XI Klorofil -a Nitrat SPL ATPL Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des. 2 Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Klorofil-a Nitrat SPL ATPL Gambar 26. Lanjutan. IX = Lokasi 9; X = Lokasi 1; XI = Lokasi 11. Posisi lokasi pengamatan dapat dilihat pada Gambar. Bila membandingkan karakteristik massa air perairan selatan Jawa Tengah Jawa Timur pada bulan Maret dan Agustus maka pada bulan Maret karakteristik massa air dicirikan dengan SPL tinggi, konsentrasi nitrat rendah dan ATPL berada di atas level surface sedangkan pada bulan Agustus, puncak terjadinya upwelling, SPL dan ATPL sangat rendah dengan konsentrasi nitrat tinggi. Kuatnya upwelling di perairan selatan Jawa Tengah Jawa Timur dengan kecepatan vertikal transpor 1,6 m hari -1 dan volume massa air yang terangkat 1,6 m 3 hari -1 pada bulan Agustus mengakibatkanterjadinya peningkatan
81 112 konsentrasi nitrat sebanyak 1,8 kali lebih tinggi dari konsentrasi nitrat bulanan rata-rata pada bulan Maret yakni dari,399 µmol l -1 menjadi 1,731 µmol l -1 bahkan menjadi 23,8 kali lebih tinggi pada bulan September. Akibat peningkatan konsentrasi nitrat, klorofil-a di perairan ini mengalami peningkatan konsentrasi sebanyak 3,43 kali pada bulan Agustus dan 4,21 kali pada bulan September jika dibandingkan dengan konsentrasi klorofil-a pada bulan Maret. Di bulan Maret, nilai klorofil-a rata-rata,131 mg m -3 dan menjadi,8 mg m -3 pada bulan Agustus dan,682 mg m -3 pada bulan September. Di perairan barat Sumatera dan barat daya Selat Sunda berdasarkan perhitungan kecepatan transpor vertikal memperlihatkan lemahnya pengangkatan massa air selama musim timur. Keadaan ini juga terlihat melalui ATPL yang tidak terlalu rendah yakni rata-rata sekitar cm. Lemahnya upwelling mengakibatkan konsentrasi klorofil-a permukaan perairan tidak mengalami peningkatan secara siginifikan. Kecepatan vertikal massa air selama musim timur di perairan barat Sumatera berada pada kisaran,9 3,6 m hari -1 sedangkan di barat daya Selat Sunda berkisar antara,3,2 m hari -1. Di perairan barat Sumatera (Lokasi 1 dan 2), konsentrasi nitrat dan klorofil-a terendah berada pada bulan April. Nilai klorofil-a rata-rata per lokasi pada bulan April sebesar,12 mg m -3 (Lokasi 1) dan,1 mg m -3 (Lokasi 2) sedangkan nitrat sebesar,4 µmol l -1 (Lokasi 1) dan, µmol l -1 (Lokasi 2). Pada musim timur, klorofil-a dan nitrat terlihat mengalami peningkatan konsentrasi dan terus meningkat hingga bulan Oktober dimana pada bulan Oktober konsentrasi klorofil-a berada pada kisaran,13,16 mg m -3 atau mengalami peningkatan sebanyak 1.3 1, kali dari konsentrasi pada bulan April sedangkan nitrat mengalami peningkatan konsentrasi sebanyak 32 kali (Lokasi 1) dan 18 kali (Lokasi 2) dari bulan April dimana konsentrasi nitrat pada bulan Oktober sebesar,129 µmol l -1 (Lokasi 1) dan,41 µmol l -1 (Lokasi 2). Perairan barat daya Selat Sunda (Lokasi 4), nilai klorofil-a dan nitrat permukaan laut selama musim timur memperlihatkan peningkatan konsentrasi yang lebih besar dari perairan barat Sumatera. Pada bulan Mei, klorofil-a dan nitrat berada pada tingkat konsentrasi yang sangat rendah. Konsentrasi klorofil-a pada bulan Mei berkisar antara,111,3 mg m -3 dengan nilai rata-rata sebesar,18 mg m -3 dan meningkat 2 kali lebih banyak pada bulan Agustus dan 2, kali pada bulan Oktober dimana nilai konsentrasi klorofil-a rata-rata pada bulan Agustus sebesar,314 mg m -3 dan pada bulan Oktober sebesar
82 113,41 mg m -3. Konsentrasi nitrat pada bulan Mei sebesar,6 µm l -1 dan meningkat menjadi,913 µmol l -1 pada bulan Agustus serta 2,84 µmol l -1 pada bulan Oktober. Dengan demikian di barat daya selat Sunda nitrat pengalami peningkatan sebanyak atau 12 kali pada bulan Agustus dan 347 kali pada bulan Oktober bila dibandingkan dengan konsentrasi nitrat pada bulan Mei. Secara umum, upwelling di perairan sekitar Selat Sunda lebih lemah dari perairan selatan Jawa. Namun demikian dari sebaran klorofil-a terlihat bahwa cenderung lebih tinggi bila di bandingkan dengan konsentrasi klorofil-a di selatan Jawa Barat. Keadaan ini kemungkinan dipengaruhi oleh karekateristik perairan Selat Sunda yang massa airnya selama musim timur di pengaruhi oleh massa air Laut Jawa dan massa air yang masuk ke Samudera Hindia dan massa air selatan Jawa yang disuplai melalui AKS. Menurut Hendiarti (23) bahwa variasi spasial dan temporal karakteristik massa air Selat Sunda dipengaruhi oleh masuknya massa air dari Laut Jawa dan Samudera Hindia. Hubungan klorofil-a dengan suhu permukaan laut (SPL) Di perairan selatan Jawa Timur Bali (Lokasi 8 dan 9), sebaran konsentrasi klorofil-a terlihat lebih tinggi dari pada lokasi lainnya dimana konsentrasi yang tinggi berada pada kisaran SPL 24, 26, o C (Gambar 27). SPL yang sangat rendah merupakan indikasi kuatnya upwelling yang terjadi di Lokasi 8 dan 9. Di Lokasi 8 di jumpai konsentrasi klorofil-a maksimum yakni 3, mg m -3 pada suhu 24, o C. Selain itu di Lokasi 8 dan 9 juga terlihat sebaran konsentrasi klorofil-a yang tinggi pada kisaran SPL o C. Keadaan demikian disebabkan karena pada saat tersebut Lokasi 8 dan 9 sudah tidak terjadi lagi upwelling atau upwelling mulai lemah sehingga massa air permukaan perairan menjadi hangat akan tetapi akibat upwelling yang terjadi pada bulanbulan sebelumnya menyebabkan terjadinya akumulasi nutrien. Kondisi ini masih memicu peningkatan konsentrasi klorofil-a. Hal ini terlihat melalui sebaran klorofil-a pada Oktober hingga Desember dimana konsentrasinya cenderung cukup tinggi. Hendiarti et al. (24) berdasarkan hasil analisis data SeaWiFS dan AVHRR mendapatkan bahwa selama muson tenggara di perairan selatan Jawa Timur konsentrasi klorofil-a lebih tinggi dari,8 mg m -3 dan SPL lebih rendah dari 28 o C merupakan indikasi terjadinya upwelling pada daerah tersebut. Di perairan selatan Jawa Barat (Lokasi dan 6), pola hubungan SPL dengan klorofil-a cenderung hampir sama dimana konsentrasi klorofil cenderung
83 114 rendah meskipun massa air dingin. Hal ini terlihat melalui gambar hubungan sebaran SPL dengan klorofil-a yang umumnya berada <, mg m -3 pada kisaran suhu 2 32 o C. Namun demikian dari gambar hubungan SPL dan klorofil-a terlihat ada sejumlah data pengamatan yang menunjukkan adanya peningkatan konsentrasi klorofil-a mencapai, 1, mg m -3 pada sebaran SPL rendah ( 2 27 o C). 4. I 4. II Klorofil-a 2. Klorofil-a SPL SPL III IV Klorofil-a 2. Klorofil-a SPL SPL V VI Klorofil-a 2. Klorofil-a SPL SPL Gambar 27. Sebaran hubungan SPL ( o C) dengan klorofil-a (mg m -3 ) sepanjang tahun pada setiap lokasi pengamatan. I = Lokasi 1; II = Lokasi 2; III = Lokasi 3; IV = Lokasi 4; V = Lokasi ; VI = Lokasi 6. Posisi stasiun pengamatan dapat dilihat pada Gambar
84 11 4. VII 4. VIII Klorofil-a 2. Klorofil-a SPL SPL IX X Klorofil-a 2. Klorofil-a SPL SPL XI Klorofil-a SPL Gambar 27. Lanjutan. VII = Lokasi 7; VIII = Lokasi 8; IX = Lokasi 9; X = Lokasi 1; XI = Lokasi 11. Posisi stasiun pengamatan dapat dilihat pada Gambar Di perairan barat Sumatera (Lokasi 1 3) secara umum, sepanjang tahun sebaran SPL yang rendah tidak menunjukkan hubungan dengan klorofil-a yang tinggi. Hal ini juga terlihat melalui sebaran SPL dan klorofil-a bulanan rata-rata (Gambar 13 dan 19) dimana pada 99 dan 11 o BT klorofil-a tidak mengalami peningkatan konsentrasi secara signifikan meskipun SPL mengalami penurunan. Berbeda dengan perairan barat Sumatera, hubungan klorofil-a dengan SPL di perairan sekitar Selat Sunda (Lokasi 4) memperlihatkan pola yang sedikit berbeda dimana klorofil-a umumnya rendah dan sedikit mengalami peningkatan konsentrasi menjadi, 1, mg m -3 pada kisaran SPL 26, 29, o C.
85 116 Peningkatan klorofil-a di perairan ini terjadi pada bulan Agustus dan September. Kemungkinan hal ini disebabkan karena pengaruh massa air yang kaya nutrien dari perairan selatan Jawa yang yang disuplai oleh oleh AKS dan massa air dari perairan Indonesia yang masuk melalui Selat Sunda yang umumnya lebih kaya kandungan nutirennya. Menurut Hendiarti et al. (24), Selat Sunda secara musiman di pengaruhi oleh transpor massa air dari Laut Jawa dan Samudera Hindia. Karakteristik massa air yang ditranspor dari Laut Jawa selama bulan Juni hingga September yaitu massa air dengan SPL lebih tinggi dari 29, o C dan konsentrasi klorofil-a lebih dari, mg m -3. Keadaan ini memungkinkan massa air perairan sekitar Selat Sunda menjadi lebih hangat namun mengandung konsentrasi klorofil-a yang lebih tinggi dari waktu-waktu lainnya. Secara umum sebaran konsentrasi klorofil-a di perairan selatan Bali Sumbawa lebih rendah dari perairan selatan Jawa Tengah Jawa Timur. Dengan demikian sebaran SPL yang rendah di selatan Bali Sumbawa tidak memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap peningkatan konsentrasi klorofil-a. Pada kisaran SPL o C, konsentrasi klorofil-a pada umumnya sekitar,2 mg m -3 sedangkan pada kisaran SPL o C klorofil-a mengalami sedikit peningkatan konsentrasi dimana berada pada kisaran, 1, mg m -3. Dengan demikian dari gambar hubungan sebaran SPL dengan klorofil-a pada setiap daerah pengamatan (Gambar 27) secara umum terlihat bahwa klorofil-a mengalami peningkatan konsentrasi pada SPL yang rendah yakni < 27 o C. Keadaan ini terlihat hampir di sepanjang perairan dekat pantai selatan Jawa Timur - Sumbawa. Peningkatan SPL di sepanjang perairan barat Sumatera hingga selatan Jawa Sumbawa pada musim barat tidak berdampak terhadap perubahan konsentrasi klorofil-a. Pada musim barat, massa air terlihat cukup hangat (29 31 o C) dan konsentrasi klorofil-a rendah yakni,2 mg mg m -3 (Gambar 28 A). Pada musim peralihan I, mulai dinginnya massa air di perairan selatan Jawa Timur Sumbawa memberikan pengaruh terhadap peningkatan konsentrasi klorofil-a. Hal ini terlihat melalui peningkatan konsentrasi klorofil-a dari bulan Maret hingga bulan Mei bersamaan dengan menurunnya SPL. Di perairan barat Sumatera dan selatan Jawa Barat Jawa Tengah, SPL pada musim peralihan I terlihat masih cukup tinggi terutama pada bulan Maret dan April namun pada bulan Mei, telah mengalami penurun namun tidak memberikan pengaruh terhadap peningkatan konsentrasi klorofil-a (Gambar 28 B).
86 117 A SPL Bujur Timur Klorofil-a SPL Des SPL Jan SPL Feb Klo-Des Klo-Jan Klo-Feb B SPL Bujur Timur Klorofil-a SPL Mrt SPL Apr SPL Mei Klo-Mrt Klo-Apr Klo-Mei C SPL Bujur Timur Klorofil-a SPL Jun SPL Jul SPL Ags Klo-Jun Klo-Jul Klo-Ags Gambar 28. Grafik SPL ( o C) dan Klorofil-a (Klo) (mg m -3 ) bulanan rata-rata di sepanjang perairan barat Sumatera dan selatan Jawa Sumbawa. A = musim barat; B = musim peralihan I; C = musim timur. Lintasan pengamatan dapat dilihat pada Gambar 8.
87 118 D SPL Bujur Timur Klorofil-a SPL Sep SPL Okt SPL Nov Klo-Sep Klo-Okt Klo-Nov Gambar 28. Lanjutan. D = musim peralihan II. Lintasan pengamatan dapat dilihat pada Gambar 8. Berdasarkan Gambar 28 C, di sepanjang perairan barat Sumatera dan selatan Jawa Sumbawa selama musim timur, SPL mengalami penurunan namun klorofil-a mengalami peningkatan konsentrasi. Peningkatan konsentrasi klorofil-a secara signifikan terjadi di selatan Jawa Timur Bali ( o BT). Pada bulan Agustus SPL berada pada kisaran < 27 o C dengan konsentrasi klorofil-a lebih besar dari,8 mg m -3. Di perairan selatan Bali juga dijumpai klorofil-a yang cukup tinggi yakni 1, mg m -3 dengan SPL sekitar 2 o C. Pada musim peralihan II, konsentrasi klorofil-a di sepanjang perairan barat Sumatera dan selatan Jawa Sumbawa terlihat masih cukup tinggi namun mulai mengalami penurunan konsentrasi dari bulan September hingga November. Penurunan konsentrasi klorofil-a dari bulan September hingga November terlihat mengikuti peningkatan SPL (Gambar 28 D). Dengan berasumsi bahwa SPL yang lebih rendah dari perairan di sekitarnya merupakan karakteristik massa air upwelling, maka dapat dikatakan bahwa sebaran klorofil-a permukaan perairan sangat berhubungan erat dengan pola sebaran SPL. Atau dapat dikatakan bahwa bila SPL rendah akibat upwelling maka konsentrasi klorofil-a akan tinggi dan sebaliknya konsentrasi klorofil-a akan rendah bila SPL tinggi. Berdasarkan hasil analisis transpor Ekman dan transpor vertikal terlihat bahwa pada musim timur terjadi upwelling hampir di sepanjang perairan barat Sumatera dan selatan Jawa Sumbawa sebagai respon terhadap bertiupnya angin muson tenggara. Dengan menggunakan asumsi bahwa SPL yang rendah
88 119 karena terjadinya upwelling sangat berhubungan dengan peningkatan konsentrasi klorofil-a maka dilakukan analisis regresi linear untuk melihat hubungan SPL dengan klorofil-a pada musim timur di sepanjang pantai barat Sumatera dan selatan Jawa Sumbawa dengan menggunakan data MODIS AQUA klorofil-a dan SPL di sepanjang lintasan pengamatan (Gambar 8). Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa di perairan barat Sumatera (99 13, o BT), peningkatan konsentrasi klorofil-a meskipun dalam konsentrasi yang sangat sedikit (<,3 mg m -3 ). Keadaan tersebut tidak menunjukkan hubungan yang cukup erat terhadap penurunan SPL. Adapun model persamaan hubungan klorofil-a dengan SPL adalah: Klorofil-a = 1,7,4 SPL dengan R 2 =,39 (Gambar 29 A) dan koefisien korelasinya (r) adalah -,8. Di perairan sekitar Selat Sunda memperlihatkan korelasi negatif yang cukup erat (r = -,76) dimana semakin menurun SPL akan diikuti dengan peningkatan konsentrasi klorofil-a. Adapun model persamaan hubungan klorofil-a dengan SPL di perairan sekitar Selat Sunda adalah: Klorofil-a = 6,68,213 SPL dengan R 2 =,7 (Gambar 29 B). Berbeda dengan massa air perairan barat Sumatera yang cenderung lebih hangat selama musim timur, massa air perairan selatan Jawa umumnya lebih dingin. Massa air dingin tersebut disebabkan karena intensitas upwelling lebih kuat di selatan Jawa dari pada barat Sumatera. Perairan selatan Jawa Barat Jawa Tengah (1 11 o BT) dan selatan Jawa Timur Bali (11 11 o BT) selama musim timur (Gambar 29 C, D), penurunan SPL hingga < 28 o C sangat erat hubungannya dengan peningkatan konsentrasi klorofil-a. Di selatan Jawa Timur Bali, daerah pusat upwelling, tingginya konsentrasi klorofil-a hingga mencapai kisaran,9 2, mg m -3 umumnya berada pada suhu 24, 2, o C, sedangkan di selatan Jawa Barat Jawa Tengah pada SPL 2, 27, o C, klorofil-a berada pada konsentrasi antara,4,8 mg m -3. Hal ini menunjukkan bahwa perairan dimana upwelling terjadi secara intensif, penurunan SPL sangat berhubungan dengan peningkatan konsentrasi klorofil-a. Model persamaan yang memperlihatkan hubungan SPL dengan konsentrasi klorofil-a selama musim timur di selatan Jawa Barat Jawa Tengah adalah: Klorofil-a = 2,99, 92 SPL dengan R 2 =,48
89 12 A B.6 1. Klorofil-a Klorofil-a = 1,7 -,4 SPL R 2 =,39 Klorofil-a Klorofil-a = 6,68 -,213 SPL R 2 =, SPL SPL 1. C 3. D Klorofil-a Klorofil-a = 2,99 -,92 SPL R 2 =,48 Klorofil-a Klorofil-a = 8,48 -,289 SPL R 2 =, SPL 2. E SPL Klorofil-a Klorofil-a = 3,2 -,11 SPL R 2 =, SPL Gambar 29. Grafik hubungan klorofil-a (mg m -3 ) dan SPL ( o C) selama musim timur di sepanjang perairan barat Sumatera dan selatan Jawa Sumbawa. A = Perairan barat Sumatera (99 13, o BT); B = Perairan Sekitar Selat Sunda (13, 1 o BT); C = Perairan selatan Jawa Barat Jawa Tengah (1 11 o BT); D = Perairan selatan Jawa Tengah Bali (11 11 o BT); E = Perairan selatan Bali Sumbawa ( o BT). Posisi lintasan pengamatan dapat dilihat pada Gambar 8. dan koefisien korelasinya (r) adalah -,72, sedangkan di selatan Jawa Timur Bali model persamaannya adalah: Klorofil-a = 8,84,289 SPL dengan R 2 =,1
90 121 dengan koefisien korelasinya (r) adalah -,71. Dari kedua model persamaan tersebut terlihat bahwa kuatnya upwelling yang menyebabkan menurunnya SPL di selatan Jawa Timur Bali lebih erat hubungannya dengan peningkatan konsentrasi klorofil-a bila dibandingkan dengan perairan selatan Jawa Barat Jawa Tengah yang lebih lemah intensitas upwelling. Perairan selatan Flores Sumbawa selama musim timur, secara linear penurunan SPL tidak memberikan respon terhadap peningkatan konsentrasi klorofil-a. Berdasarkan analisis regresi diperoleh model persamaan sebagai berikut: Klorofil-a = 3,2,11 SPL dengan R 2 =,17 dan koefisien korelasi (r) adalah -,41. Tidak ada hubungan antara penurunan SPL terhadap konsentrasi klorofil-a kemungkinan disebabkan karena upwelling yang terjadi di perairan ini lebih lemah jika dibandingkan dengan perairan selatan Jawa. Dinginnya massa air selama musim timur di perairan selatan Flores Sumbawa kemungkinan diakibatkan karena terjadinya transfer bahang oleh badan perairan yang cenderung hangat ke udara yang lebih dingin yang berasal dari daratan Australia. Selain itu lebih hangatnya massa air di perairan ini bila dibandingan dengan selatan Jawa Bali kemungkinan juga di pengaruhi oleh massa air dari perairan Indonesia yang cenderung lebih hangat. Menurut Chong et al. (2) bahwa massa air yang masuk ke Samudera Hindia melalui perairan bagian timur selama muson tenggara akan membawa massa air hangat namun kaya nutrien. Kemungkinan hal ini yang mengakibatkan SPL di perairan selatan Bali Sumbawa cenderung lebih hangat dari selatan Jawa Timur namun memiliki konsentrasi nitrat yang cukup tinggi. Dengan demikian dari analisa regresi untuk melihat hubungan penurunan SPL terhadap peningkatan klorofil-a di sepanjang perairan dekat pantai barat Sumatera hingga selatan Jawa Sumbawa menunjukkan bahwa perairan barat Sumatera dan selatan Jawa - Bali selama musim timur memiliki korelasi negatif yang sangat erat dengan korelasi tertinggi berada di perairan selatan Jawa Timur Bali. Bebeda dengan perairan barat Sumatera dan selatan Jawa Bali, di perairan selatan Flores Sumbawa ( o BT) tidak menunjukkan korelasi yang erat antara penurunan SPL dengan peningkatan konsentrasi klorofil-a. Dari analisa hubungan klorofil-a dengan SPL dapat dikatakan bahwa rendahnya SPL akibat upwelling memiliki korelasi negatif yang erat dengan
91 122 peningkatan klorofil-a namun rendahnya SPL bukan karena upwelling tidak memberikan respon terhadap peningkatan konsentrasi klorofil-a. Kuatnya hubungan penurunan SPL dan peningkatan konsentrasi klorofil-a selama musim timur di barat Sumatera dan selatan Jawa disebabkan karena terjadi upwelling, terutama di perairan selatan Jawa Timur Bali. Upwelling menyebabkan terangkatnya massa air dingin dan kaya nutrien ke lapisan permukaan. Keadaan ini akan mempengaruhi karakteristik massa air permukaan serta berpengaruh terhadap fotosintesis fitoplankton. Keadaan ini terlihat melalui tingginya nilai korelasi negatif (r = -,81) di selatan Jawa Timur Bali bila dibandingkan dengan perairan barat Sumatera dan selatan Jawa Barat Jawa Tengah. Penaflor et al. (27) berdasarkan hasil pengamatan kelimpahan fitoplankton di Selat Luson dengan menggunakan data MODIS mendapatkan bahwa tingginya konsentrasi klorofil-a memberikan korelasi negatif yang sangat erat dengan SPL. Artinya SPL yang rendah selama upwelling bersamaan dengan meningkatnya kelimpahan fitoplankton. Hubungan klorofil dengan nitrat Secara spasial, analisa hubungan klorofil di perairan barat Sumatera dan perairan selatan Jawa - Sumbawa pada ke 11 lokasi pengamatan memperlihatkan pola hubungan yang berbeda (Gambar 3 dan Lampiran 12). Di perairan barat Sumatera (Lokasi 1 3) peningkatan konsentrasi nitrat meskipun dalam konsentrasi yang rendah namun sangat berpengaruh terhadap peningkatan konsentrasi klorofil. Hasil analisa regresi memperlihatkan bahwa secara linear peningkatan konsentrasi klorofil merupakan fungsi dari peningkatan konsentrasi nitrat. Dari analisa regresi diperoleh model persamaan untuk Lokasi 1 sebagai berikut: Klorofil =,918 +,39 Nitrat dengan R 2 =,662 (Gambar 3 I) dan koefisien korelasinya (r) adalah,81. Model persamaan ini dapat menjelaskan 66,2 % data pengamatan yang ada. Model persamaan yang menjelaskan hubungan peningkatan konsentrasi nitrat terhadap peningkatan klorofil untuk Lokasi 2 adalah: Klorofil =,12 +,177 Nitrat dengan R 2 =,731 (Gambar 3 II), dan korelasinya (r) adalah,86, sedangkan untuk Lokasi 3 model persamaannya adalah: Klorofil =,131+,118 Nitrat dengan R 2 =,77 (Gambar 3 III), dan koefisien korelasinya (r) adalah,76.
92 123 I II.3.3 Klorofil Klorofil =,92 +,39 Nitrat R 2 =, Nitrat III Klorofil Klorofil =,12 +,177 Nitrat R 2 =, Nitrat IV.2.3 Klorofil Klorofil.2.1 Klorofil =,131 +,118 Nitrat R 2 =,8.1 Klorofil =,134 +,61 Nitrat R 2 =, Nitrat Nitrat V VI Klorofil.2 Klorofil.2. Klorofil =,144 +,63 Nitrat R 2 =, Nitrat. Klorofil =,132 +,63 Nitrat R 2 =, Nitrat Gambar 3. Sebaran hubungan Klorofil (mg m -3 ) dengan Nitrat (µmol l -1 ) sepanjang tahun pada setiap lokasi pengamatan. I = Lokasi 1; II = Lokasi 2; III = Lokasi 3; IV = Lokasi 4; V = Lokasi ; VI = Lokasi 6.
93 124 VII VIII Klorofil.2 Klorofil.4. Klorofil =,139 +,8 Nitrat R 2 =, Nitrat.2. Klorofil =,149 +,71 Nitrat R 2 =, Nitrat IX X Klorofil Klorofil =,198 +,8 Nitrat R 2 =, Nitrat XI Klorofil.4.2. Klorofil =,17 +,277 Nitrat R 2 =, Nitrat.6.4 Klorofil.2. Klorofil =,17 +,2 Nitrat R 2 =, Nitrat Gambar 3. Lanjutan. VII = Lokasi 7; VIII = Lokasi 8, IX = Lokasi 9; X = Lokasi 1; XI = Lokasi 11. Dengan demikian di perairan barat Sumatera terutama pada Lokasi 1 dan 2, peningkatan konsentrasi klorofil terlihat sangat merespon peningkatan konsentrasi nitrat meskipun dalam konsentrasi yang sedikit. Secara umum di perairan barat Sumatera, nitrat berada dalam konsentrasi yang kecil dan bila terjadi peningkatan konsentrasi maka nitrat dengan efektif akan digunakan oleh fitoplankton untuk fotosintesis. Akibatnya klorofil di permukaan laut mengalami peningkatan konsentrasi. Dengan demikian di perairan barat Sumatera, nitrat
94 12 merupakan faktor pembatas pertumbuhan fitoplankton. Artinya pertumbuhan fitoplankton sangat berpengaruh terhadap konsentrasi nitrat perairan. Lokasi 7 dan 8 yang terletak di perairan selatan Jawa Tengah - Jawa Timur (Gambar 3 VII dan VIII) dan merupakan area pusat terjadinya upwelling selama musim timur secara linear memperlihatkan korelasi positif yang cukup tinggi antara klorofil dengan nitrat. Artinya peningkatan konsentrasi klorofil secara linear merupakan fungsi dari konsentrasi nitrat. Dengan demikian peningkatan konsentrasi nitrat akibat upwelling di perairan ini sangat berperan dalam meningkatkan laju pertumbuhan fitoplankton. Analisis regresi linear untuk melihat hubungan klorofil dengan nitrat pada Lokasi 7 mendapatkan model persamaan sebagai berikut: Klorofil =,139 +,77 Nitrat dimana persamaan ini dapat menjelaskan 61,6% (R 2 ) dari data pengamatan yang ada dengan koefisien korelasinya (r) adalah,79, sedangkan di Lokasi 8 diperoleh model persamaan yang dapat menjelaskan 6,1% (R 2 ) data pengamatan, yaitu: Klorofil =,149 +,78 Nitrat dengan koefisien korelasinya (r) adalah,76. Meskipun model persamaan di atas hanya dapat menjelaskan 61,6% dan 6,2% data yang ada namun secara keseluruhan terlihat bahwa peningkatan konsentrasi nitrat (Gambar 14) sangat berperan dalam meningkatkan jumlah konsentrasi klorofil di permukaan perairan (Lampiran 13). Dengan demikian di Lokasi 7 dan 8, nitrat merupakan faktor pembatas pertumbuhan fitoplankton. Menurut Woesik et al. (27), pengkayaan nutrien di perairan selatan Jawa Timur Bali pada musim timur saat terjadinya upwelling menyebabkan pelimpahan fitoplankton dan mengakibatkan terjadinya peningkatan konsentrasi klorofil hingga berada pada kisaran 1 1 mg m -3. Upwelling yang terjadi di perairan barat Sumatera dan selatan Jawa selama muson tenggara menyebabkan terjadinya peningkatan konsentrasi nitrat pada lapisan permukaan. Peningkatan konsentrasi nitrat akan berdampak terhadap peningkatan konsentrasi klorofil. Dengan demikian di perairan barat Sumatera dan selatan Jawa Tengah Jawa Timur, nitrat merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhan fitoplankton. Menurut Tett and Edwards (1984) bahwa nitrogen merupakan faktor pembatas yang dominan terhadap pertumbuhan fitoplankton di laut terutama pada zona eufotik, sedangkan Fiedler et al. (1991) mengatakan bahwa distribusi NO 3 mempunyai hubungan
95 126 yang sangat erat dengan produktivitas fitoplankton, dimana hubungan akan semakin kuat apabila didukung oleh ketersediaan nutrien dan pola arus yang ada. Cubbage at al. (1999) mengatakan bahwa konsentrasi klorofil di perairan akan meningkat dengan meningkatnya suplai nitrogen. Menurut Kunz and Diehl (2) bahwa pengkayaan nitrat dan peningkatan kedalaman tercampur secara positif memberikan pengaruh terhadap konsentrasi klorofil-a, sedangkan Dandonneau et al. (24) mengatakan bahwa konsentrasi klorofil pada permukaan perairan secara umum merespon kuatnya dampak siklus musiman energi matahari dan intensitas suplai nutrien secara vertikal serta stabilitas vertikal kolom perairan. Lokasi 4 6 yang terletak di perairan sekitar Selat Sunda dan perairan selatan Jawa Barat (Gambar 3 IV VI) juga memperlihatkan korelasi antara peningkatan klorofil terhadap peningkatan nitrat. Akan tetapi nilai korelasi di perairan ini lebih rendah dari perairan barat Sumatera dan selatan Jawa Tengah Jawa Timur. Adapun koefisien korelasi (r) untuk Lokasi 4 adalah,6 dan Lokasi sebesar,6 serta,74 untuk Lokasi 6. Pengaruh peningkatan klorofil terhadap peningkatan konsentrasi nitrat juga terlihat melalui sebaran klorofil bulanan rata-rata (Lampiran 13) dan sebaran nitrat bulanan rata-rata (Gambar 14) yang menunjukkan peningkatan konsentrasi klorofil selama bulan Agustus September seiring dengan peningkatan konsentrasi nitrat. Namun tingginya nitrat pada perairan ini di bulan Oktober hingga Desember tidak memberikan pengaruh yang sangat berarti terhadap peningkatan konsentrasi klorofil di permukaan perairan. Perairan selatan Jawa Timur Bali (Gambar 3 IX), hubungan klorofil dengan nitrat terlihat (r) masih cukup erat meskipun lebih rendah dari perairan Jawa pada umumnya yakni,6 dan semakin ke timur yakni di selatan Bali - Sumbawa (Lokasi 1-11), klorofil dan nitrat tidak memperlihatkan suatu bentuk hubungan keterikatan yang sangat erat (Gambar 3 X, XI). Adapun koefisien korelasi (r) untuk Lokasi 1 dan 11 berturut-turut adalah,4 dan,41. Dengan demikian peningkatan konsentrasi nitrat secara signifikan tidak mempengaruhi peningkatan konsentrasi klorofil. Sebaran nitrat yang selalu tinggi hampir sepanjang tahun di perairan selatan Bali - Sumbawa kemungkinan bukan merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhan fitoplankton. Di perairan ini, peranan nitrat dalam meningkatkan konsentrasi klorofil hanya terlihat pada bulan Juni - September namun pada
96 127 bulan Oktober - Desember dimana nitrat berada dalam konsentrasi yang tinggi, sebaran konsentrasi klorofil terlihat lebih rendah. Rendahnya konsentrasi klorofil di saat nitrat berada dalam konsentrasi yang tinggi kemungkinan disebabkan karena fitoplankton telah mencapai suatu keadaan jenuh terhadap nitrat sehingga pertumbuhan fitoplankton tidak tergantung lagi pada konsentrasi nitrat. Selain itu kemungkinan karena terjadi peningkatan populasi zooplankton yang selanjutnya memanfaatkan fitoplankton sebagai makanannya. Menurut Barber and Chaves (1991) berdasarkan pengamatan laju produktivitas primer di perairan ekuator samudera Pasifik mengatakan bahwa di Pasifik Barat dimana nitrat (NO 3 ) berada pada kisaran 12 µm l -1, laju produktivitas secara linear merupakan fungsi dari konsentrasi nutrien. Akan tetapi di Pasifik Timur dimana nitrat berada pada kisaran µm l -1, laju produktivitas tidak lagi tergantung pada konsentrai nutrien. Pomeroy (1991) mengatakan bahwa laju pertumbuhan fitoplankton akan sebanding dengan meningkatnya konsentrasi nutrien hingga mencapai suatu konsentrasi yang saturasi. Setelah keadaan ini, pertumbuhan fitoplankton tidak tergantung lagi pada konsentrasi nutrien. Masih tingginya konsentrasi nitrat pada bulan Oktober Desember di perairan selatan Bali Sumbawa kemungkinan karena pengaruh masuknya massa air dari perairan Indonesia yang diantaranya melalui Selat Lombok serta dari massa air laut Sawu yang mengalir ke arah barat. Menurut Potemra et al. (23) bahwa pada bulan Juni dan Juli upwelling Ekman di Laut Sawu mencapai maksimum yakni sebesar,3 m hari -1.
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Konsentrasi klorofil-a suatu perairan sangat tergantung pada ketersediaan nutrien dan intensitas cahaya matahari. Bila nutrien dan intensitas cahaya matahari cukup tersedia,
METODE PENELITIAN Bujur Timur ( BT) Gambar 5. Posisi lokasi pengamatan
METODE PENELITIAN Lokasi Penelitan Penelitian ini dilakukan pada perairan barat Sumatera dan selatan Jawa - Sumbawa yang merupakan bagian dari perairan timur laut Samudera Hindia. Batas perairan yang diamati
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Variabilitas Kesuburan Perairan dan Oseanografi Fisika 4.1.1. Sebaran Ruang (Spasial) Suhu Permukaan Laut (SPL) Sebaran Suhu Permukaan Laut (SPL) di perairan Selat Lombok dipengaruhi
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Verifikasi Model Visualisasi Klimatologi Suhu Permukaan Laut (SPL) model SODA versi 2.1.6 diambil dari lapisan permukaan (Z=1) dengan kedalaman 0,5 meter (Lampiran 1). Begitu
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Distribusi Spasial Arus Eddy di Perairan Selatan Jawa-Bali Berdasarkan hasil visualisasi data arus geostropik (Lampiran 3) dan tinggi paras laut (Lampiran 4) dalam skala
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Arus Eddy Penelitian mengenai arus eddy pertama kali dilakukan pada sekitar tahun 1930 oleh Iselin dengan mengidentifikasi eddy Gulf Stream dari data hidrografi, serta penelitian
4 HASIL DAN PEMBAHASAN
23 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pola Sebaran Suhu Permukaan Laut (SPL) Hasil olahan citra Modis Level 1 yang merupakan data harian dengan tingkat resolusi spasial yang lebih baik yaitu 1 km dapat menggambarkan
Gambar 1. Diagram TS
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Massa Air 4.1.1 Diagram TS Massa Air di Selat Lombok diketahui berasal dari Samudra Pasifik. Hal ini dibuktikan dengan diagram TS di 5 titik stasiun
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA 1.1. Kondisi Umum Perairan Selatan Jawa Perairan Selatan Jawa merupakan perairan Indonesia yang terletak di selatan Pulau Jawa yang berhubungan secara langsung dengan Samudera Hindia.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Distribusi SPL Dari pengamatan pola sebaran suhu permukaan laut di sepanjang perairan Selat Sunda yang di analisis dari data penginderaan jauh satelit modis terlihat ada pembagian
4. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pola Sebaran Suhu Permukaan Laut dan Salinitas pada Indomix Cruise
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pola Sebaran Suhu Permukaan Laut dan Salinitas pada Indomix Cruise Peta sebaran SPL dan salinitas berdasarkan cruise track Indomix selengkapnya disajikan pada Gambar 6. 3A 2A
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Daerah Kajian Daerah yang akan dikaji dalam penelitian adalah perairan Jawa bagian selatan yang ditetapkan berada di antara 6,5º 12º LS dan 102º 114,5º BT, seperti dapat
VARIABILITAS SUHU DAN SALINITAS DI PERAIRAN BARAT SUMATERA DAN HUBUNGANNYA DENGAN ANGIN MUSON DAN IODM (INDIAN OCEAN DIPOLE MODE)
VARIABILITAS SUHU DAN SALINITAS DI PERAIRAN BARAT SUMATERA DAN HUBUNGANNYA DENGAN ANGIN MUSON DAN IODM (INDIAN OCEAN DIPOLE MODE) Oleh : HOLILUDIN C64104069 SKRIPSI PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Perubahan iklim global sekitar 3 4 juta tahun yang lalu telah mempengaruhi evolusi hominidis melalui pengeringan di Afrika dan mungkin pertanda zaman es pleistosin kira-kira
POLA DISTRIBUSI SUHU DAN SALINITAS DI PERAIRAN TELUK AMBON DALAM
POLA DISTRIBSI SH DAN SALINITAS DI PERAIRAN TELK AMBON DALAM PENDAHLAN Suhu suatu badan air dipengaruhi oleh musim, lintang, ketinggian dari permukaan laut, waktu dalam hari, sirkulasi udara, penutupan
2. TINJAUAN PUSTAKA. Suhu menyatakan banyaknya bahang (heat) yang terkandung dalam suatu
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Suhu Permukaan Laut (SPL) Suhu menyatakan banyaknya bahang (heat) yang terkandung dalam suatu benda. Secara alamiah sumber utama bahang dalam air laut adalah matahari. Daerah yang
2. KONDISI OSEANOGRAFI LAUT CINA SELATAN PERAIRAN INDONESIA
2. KONDISI OSEANOGRAFI LAUT CINA SELATAN PERAIRAN INDONESIA Pendahuluan LCSI terbentang dari ekuator hingga ujung Peninsula di Indo-Cina. Berdasarkan batimetri, kedalaman maksimum perairannya 200 m dan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil dan Verifikasi Hasil simulasi model meliputi sirkulasi arus permukaan rata-rata bulanan dengan periode waktu dari tahun 1996, 1997, dan 1998. Sebelum dianalisis lebih
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perairan Samudera Hindia mempunyai sifat yang unik dan kompleks karena dinamika perairan ini sangat dipengaruhi oleh sistem angin musim dan sistem angin pasat yang
HASIL DAN PEMBAHASAN Pola Arus Tiap Lapisan Kedalaman di Selat Makassar Fluktuasi Arus dalam Ranah Waktu di Lokasi Mooring Stasiun 1
HASIL DAN PEMBAHASAN Pola Arus Tiap Lapisan Kedalaman di Selat Makassar Fluktuasi Arus dalam Ranah Waktu di Lokasi Mooring Stasiun 1 Pada bulan Desember 1996 Februari 1997 yang merupakan puncak musim barat
berada di sisi pantai dan massa air hangat berada di lepas pantai. Dari citra yang diperoleh terlihat bahwa rrpweliit7g dapat dengan jelas terlihat
Mhd. Yudya Bakti. Ijincmrikn Peroirnn cfi SElnfnn Jaws Tinrrir - Bnli Pach h41tsinr Tinrur 1990, di bawah bimbingan Dr. Ir. Molia Purba, MSc. Sebagai Ketua komisi Pembimbing, Dr. Ir. Vincel~tius P. Siregar
FENOMENA UPWELLING DAN KAITANNYA TERHADAP JUMLAH TANGKAPAN IKAN LAYANG DELES (Decapterus Macrosoma) DI PERAIRAN TRENGGALEK
FENOMENA UPWELLING DAN KAITANNYA TERHADAP JUMLAH TANGKAPAN IKAN LAYANG DELES (Decapterus Macrosoma) DI PERAIRAN TRENGGALEK Indri Ika Widyastuti 1, Supriyatno Widagdo 2, Viv Djanat Prasita 2 1 Mahasiswa
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Total Data Sebaran Klorofil-a citra SeaWiFS Total data sebaran klorofil-a pada lokasi pertama, kedua, dan ketiga hasil perekaman citra SeaWiFS selama 46 minggu. Jumlah data
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN.1 Data Siklon Tropis Data kejadian siklon tropis pada penelitian ini termasuk depresi tropis, badai tropis dan siklon tropis. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data
Tinjauan Pustaka. II.1 Variabilitas ARLINDO di Selat Makassar
BAB II Tinjauan Pustaka II.1 Variabilitas ARLINDO di Selat Makassar Matsumoto dan Yamagata (1996) dalam penelitiannya berdasarkan Ocean Circulation General Model (OGCM) menunjukkan adanya variabilitas
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Karakteristik Massa Air 4.1.1 Sebaran Suhu BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bagian ini akan menjelaskan sebaran suhu menjadi dua bagian penting yakni sebaran secara horisontal dan vertikal. Sebaran
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia memiliki wilayah lautan yang lebih luas dibandingkan luasan daratannya. Luas wilayah laut mencapai 2/3 dari luas wilayah daratan. Laut merupakan medium yang
DI PERAIRAN SELAT BALI
PEMANFAATAN DATA SUHU PERMUKAAN LAUT DARI SATELIT NOAA-9 SEBAGAI SALAH SATU PARAMETER INDIKATOR UPWELLING DI PERAIRAN SELAT BALI SKRIPSI Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sajana Dalam Bidang
KAJIAN KLOROFIL-A DAN NUTRIEN SERTA INTERELASINYA DENGAN DINAMIKA MASSA AIR DI PERAIRAN BARAT SUMATERA DAN SELATAN JAWA SUMBAWA SIMON TUBALAWONY
KAJIAN KLOROFIL-A DAN NUTRIEN SERTA INTERELASINYA DENGAN DINAMIKA MASSA AIR DI PERAIRAN BARAT SUMATERA DAN SELATAN JAWA SUMBAWA SIMON TUBALAWONY SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2007
KONDISI OSEANOGRAFIS SELAT MAKASAR By: muhammad yusuf awaluddin
KONDISI OSEANOGRAFIS SELAT MAKASAR By: muhammad yusuf awaluddin Umum Perairan Indonesia memiliki keadaan alam yang unik, yaitu topografinya yang beragam. Karena merupakan penghubung dua system samudera
DI PERAIRAN SELAT BALI
PEMANFAATAN DATA SUHU PERMUKAAN LAUT DARI SATELIT NOAA-9 SEBAGAI SALAH SATU PARAMETER INDIKATOR UPWELLING DI PERAIRAN SELAT BALI SKRIPSI Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sajana Dalam Bidang
SIRKULASI ANGIN PERMUKAAN DI PANTAI PAMEUNGPEUK GARUT, JAWA BARAT
SIRKULASI ANGIN PERMUKAAN DI PANTAI PAMEUNGPEUK GARUT, JAWA BARAT Martono Divisi Pemodelan Iklim, Pusat Penerapan Ilmu Atmosfir dan Iklim LAPAN-Bandung, Jl. DR. Junjunan 133 Bandung Abstract: The continuously
PRAKIRAAN MUSIM HUJAN 2011/2012 PADA ZONA MUSIM (ZOM) (DKI JAKARTA)
PRAKIRAAN MUSIM HUJAN 2011/2012 PADA ZONA MUSIM (ZOM) (DKI JAKARTA) Sumber : BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA I. PENDAHULUAN Wilayah Indonesia berada pada posisi strategis, terletak di daerah
Prakiraan Musim Kemarau 2018 Zona Musim di NTT KATA PENGANTAR
KATA PENGANTAR Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setiap tahun menerbitkan dua jenis prakiraan musim yaitu Prakiraan Musim Kemarau diterbitkan setiap bulan Maret dan Prakiraan Musim Hujan
Variabilitas Suhu dan Salinitas Perairan Selatan Jawa Timur Riska Candra Arisandi a, M. Ishak Jumarang a*, Apriansyah b
Variabilitas Suhu dan Salinitas Perairan Selatan Jawa Timur Riska Candra Arisandi a, M. Ishak Jumarang a*, Apriansyah b a Program Studi Fisika, Fakultas MIPA, Universitas Tanjungpura, b Program Studi Ilmu
VARIABILITAS ANGIN DAN PARAS LAUT SERTA INTERAKSINYA D1 PERAIRAN UTARA DAN SELATAN PULAU JAWA EKO PUTRA SAKTI SKRIPSI
VARIABILITAS ANGIN DAN PARAS LAUT SERTA INTERAKSINYA D1 PERAIRAN UTARA DAN SELATAN PULAU JAWA EKO PUTRA SAKTI SKRIPSI DEPARTEMEN ILMU DAN TEmOLOGI KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT
KATA PENGANTAR. Negara, September 2015 KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI NEGARA BALI. NUGA PUTRANTIJO, SP, M.Si. NIP
1 KATA PENGANTAR Publikasi Prakiraan Awal Musim Hujan 2015/2016 di Propinsi Bali merupakan salah satu bentuk pelayanan jasa klimatologi yang dihasilkan oleh Stasiun Klimatologi Negara Bali. Prakiraan Awal
KARAKTER FISIK OSEANOGRAFI DI PERAIRAN BARAT SUMATERA DAN SELATAN JAWA-SUMBAWA DARI DATA SATELIT MULTI SENSOR. Oleh : MUKTI DONO WILOPO C
KARAKTER FISIK OSEANOGRAFI DI PERAIRAN BARAT SUMATERA DAN SELATAN JAWA-SUMBAWA DARI DATA SATELIT MULTI SENSOR Oleh : MUKTI DONO WILOPO C06400080 PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Pulau Panjang (310 ha), Pulau Rakata (1.400 ha) dan Pulau Anak Krakatau (320
28 IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Letak dan Luas Kepulauan Krakatau terletak di Selat Sunda, yaitu antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Luas daratannya sekitar 3.090 ha terdiri dari Pulau Sertung
2. TINJAUAN PUSTAKA. Suhu permukaan laut Indonesia secara umum berkisar antara O C
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kondisi Umum Perairan Laut Banda 2.1.1 Kondisi Fisik Suhu permukaan laut Indonesia secara umum berkisar antara 26 29 O C (Syah, 2009). Sifat oseanografis perairan Indonesia bagian
ANALISIS HUJAN BULAN MEI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN JULI, AGUSTUS DAN SEPTEMBER 2011 PROVINSI DKI JAKARTA
ANALISIS HUJAN BULAN MEI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN JULI, AGUSTUS DAN SEPTEMBER 2011 PROVINSI DKI JAKARTA Sumber : BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG
KATA PENGANTAR KUPANG, MARET 2016 PH. KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI LASIANA KUPANG CAROLINA D. ROMMER, S.IP NIP
KATA PENGANTAR Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setiap tahun menerbitkan dua jenis prakiraan musim yaitu Prakiraan Musim Kemarau diterbitkan setiap bulan Maret dan Prakiraan Musim Hujan
STASIUN METEOROLOGI KLAS III NABIRE
STASIUN METEOROLOGI KLAS III NABIRE KARAKTERISTIK RATA-RATA SUHU MAKSIMUM DAN SUHU MINIMUM STASIUN METEOROLOGI NABIRE TAHUN 2006 2015 OLEH : 1. EUSEBIO ANDRONIKOS SAMPE, S.Tr 2. RIFKI ADIGUNA SUTOWO, S.Tr
Sebaran Arus Permukaan Laut Pada Periode Terjadinya Fenomena Penjalaran Gelombang Kelvin Di Perairan Bengkulu
Jurnal Gradien Vol. 11 No. 2 Juli 2015: 1128-1132 Sebaran Arus Permukaan Laut Pada Periode Terjadinya Fenomena Penjalaran Gelombang Kelvin Di Perairan Bengkulu Widya Novia Lestari, Lizalidiawati, Suwarsono,
Studi Variabilitas Lapisan Atas Perairan Samudera Hindia Berbasis Model Laut
Studi Variabilitas Lapisan Atas Perairan Samudera Hindia Berbasis Model Laut Oleh : Martono, Halimurrahman, Rudy Komarudin, Syarief, Slamet Priyanto dan Dita Nugraha Interaksi laut-atmosfer mempunyai peranan
KATA PENGANTAR TANGERANG SELATAN, MARET 2016 KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG. Ir. BUDI ROESPANDI NIP
PROPINSI BANTEN DAN DKI JAKARTA KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan YME atas berkat dan rahmat Nya kami dapat menyusun laporan dan laporan Prakiraan Musim Kemarau 2016 di wilayah Propinsi Banten
Prakiraan Musim Hujan 2015/2016 Zona Musim di Nusa Tenggara Timur
http://lasiana.ntt.bmkg.go.id/publikasi/prakiraanmusim-ntt/ Prakiraan Musim Hujan 2015/2016 Zona Musim di Nusa Tenggara Timur KATA PENGANTAR Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setiap tahun
Pola dan Karakteristik Sebaran Medan Massa, Medan Tekanan dan Arus Geostropik Perairan Selatan Jawa
Dinamika Maritim Coastal and Marine Resources Research Center, Raja Ali Haji Maritime University Tanjungpinang-Indonesia Volume 6 Number 2, February 2018 Pola dan Karakteristik Sebaran Medan Massa, Medan
5 PEMBAHASAN 5.1 Sebaran SPL Secara Temporal dan Spasial
5 PEMBAHASAN 5.1 Sebaran SPL Secara Temporal dan Spasial Hasil pengamatan terhadap citra SPL diperoleh bahwa secara umum SPL yang terendah terjadi pada bulan September 2007 dan tertinggi pada bulan Mei
V. HASIL. clan di mulut utara Selat Bali berkisar
V. HASIL 5.1 Sebaran Suhu Permukaan Laut dan Klorofil-a Perairan Selat Bali Musim Peralihan I1 ( September - Nopember) Sebaran suhu permukaan laut di perairan Selat Bali 8 September 2006 bkrkisar antara
KATA PENGANTAR PANGKALPINANG, APRIL 2016 KEPALA STASIUN METEOROLOGI KLAS I PANGKALPINANG MOHAMMAD NURHUDA, S.T. NIP
Buletin Prakiraan Musim Kemarau 2016 i KATA PENGANTAR Penyajian prakiraan musim kemarau 2016 di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung diterbitkan untuk memberikan informasi kepada masyarakat disamping publikasi
4. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Distribusi Klorofil-a secara Temporal dan Spasial. Secara keseluruhan konsentrasi klorofil-a cenderung menurun dan
28 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Distribusi Klorofil-a secara Temporal dan Spasial Secara keseluruhan konsentrasi klorofil-a cenderung menurun dan bervariasi dari tahun 2006 hingga tahun 2010. Nilai rata-rata
JURNAL OSEANOGRAFI. Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015, Halaman Online di :
JURNAL OSEANOGRAFI. Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015, Halaman 661-669 Online di : http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jose VARIABILITAS SUHU PERMUKAAN LAUT DAN KLOROFIL-A KAITANNYA DENGAN EL NINO SOUTHERN
Geografi. Kelas X ATMOSFER IV KTSP & K-13. I. Angin 1. Proses Terjadinya Angin
KTSP & K-13 Kelas X Geografi ATMOSFER IV Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini kamu diharapkan memiliki kemampuan untuk memahami proses terjadinya angin dan memahami jenis-jenis angin tetap
HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS CAHAYA DENGAN KEKERUHAN PADA PERAIRAN TELUK AMBON DALAM
HBNGAN ANTARA INTENSITAS CAHAYA DENGAN KEKERHAN PADA PERAIRAN TELK AMBON DALAM PENDAHLAN Perkembangan pembangunan yang semakin pesat mengakibatkan kondisi Teluk Ambon, khususnya Teluk Ambon Dalam (TAD)
KATA PENGANTAR. merupakan hasil pemutakhiran rata-rata sebelumnya (periode ).
KATA PENGANTAR Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setiap tahun menerbitkan dua jenis prakiraan musim yaitu Prakiraan Musim Kemarau diterbitkan setiap bulan Maret dan Prakiraan Musim Hujan
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 3, No. 2, Hal , Desember 2011
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 3, No. 2, Hal. 71-84, Desember 2011 KARAKTERISTIK OSEANOGRAFI FISIK DI PERAIRAN SAMUDERA HINDIA TIMUR PADA SAAT FENOMENA INDIAN OCEAN DIPOLE (IOD) FASE POSITIF
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelapisan Massa Air di Perairan Raja Ampat Pelapisan massa air dapat dilihat melalui sebaran vertikal dari suhu, salinitas dan densitas di laut. Gambar 4 merupakan sebaran menegak
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
17 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Kondisi umum perairan selat sunda Selat Sunda merupakan selat yang membujur dari arah Timur Laut menuju Barat Daya di ujung Barat Pulau Jawa atau Ujung Selatan
VARIABILITAS SUHU DAN SALINITAS DI PERAIRAN BARAT SUMATERA DAN HUBUNGANNYA DENGAN ANGIN MUSON DAN IODM (INDIAN OCEAN DIPOLE MODE)
VARIABILITAS SUHU DAN SALINITAS DI PERAIRAN BARAT SUMATERA DAN HUBUNGANNYA DENGAN ANGIN MUSON DAN IODM (INDIAN OCEAN DIPOLE MODE) Oleh : HOLILUDIN C64104069 SKRIPSI PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN
BAB I PENDAHULUAN. Secara geografis wilayah Indonesia terletak di daerah tropis yang terbentang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara geografis wilayah Indonesia terletak di daerah tropis yang terbentang antara 95 o BT 141 o BT dan 6 o LU 11 o LS (Bakosurtanal, 2007) dengan luas wilayah yang
KARAKTER CURAH HUJAN DI INDONESIA. Tukidi Jurusan Geografi FIS UNNES. Abstrak PENDAHULUAN
KARAKTER CURAH HUJAN DI INDONESIA Tukidi Jurusan Geografi FIS UNNES Abstrak Kondisi fisiografis wilayah Indonesia dan sekitarnya, seperti posisi lintang, ketinggian, pola angin (angin pasat dan monsun),
POKOK BAHASAN : ANGIN
POKOK BAHASAN : ANGIN ANGIN ANGIN Angin adalah udara yang bergerak dari daerah bertekanan udara tinggi ke daerah bertekanan udara rendah. Ada beberapa hal penting yang perlu diketahui tentang angin, yaitu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Arus Lintas Indonesia atau ITF (Indonesian Throughflow) yaitu suatu sistem arus di perairan Indonesia yang menghubungkan Samudra Pasifik dengan Samudra Hindia yang
Physics Communication
Phys. Comm. 1 (1) (2017) Physics Communication http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/pc Analisis kondisi suhu dan salinitas perairan barat Sumatera menggunakan data Argo Float Lita Juniarti 1, Muh.
ANALISIS HUJAN BULAN PEBRUARI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN APRIL, MEI DAN JUNI 2011 PROVINSI DKI JAKARTA
ANALISIS HUJAN BULAN PEBRUARI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN APRIL, MEI DAN JUNI 2011 PROVINSI DKI JAKARTA Sumber : BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG
ANALISIS HUJAN BULAN JUNI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN AGUSTUS, SEPTEMBER DAN OKTOBER 2011 PROVINSI DKI JAKARTA
ANALISIS HUJAN BULAN JUNI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN AGUSTUS, SEPTEMBER DAN OKTOBER 2011 PROVINSI DKI JAKARTA 1. TINJAUAN UMUM 1.1. Curah Hujan Curah hujan merupakan ketinggian air hujan yang jatuh
3 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN
3 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 3.1 Deskripsi umum lokasi penelitian 3.1.1 Perairan Pantai Lovina Kawasan Lovina merupakan kawasan wisata pantai yang berada di Kabupaten Buleleng, Bali dengan daya tarik
KARAKTERISTIK DAN VARIABILITAS BULANAN ANGIN PERMUKAAN DI PERAIRAN SAMUDERA HINDIA
MAKARA, SAINS, VOL. 13, NO. 2, NOVEMBER 2009: 157-162 KARAKTERISTIK DAN VARIABILITAS BULANAN ANGIN PERMUKAAN DI PERAIRAN SAMUDERA HINDIA Martono Bidang Pemodelan Iklim, Lembaga Penerbangan dan Antariksa
BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI KLAS II PONDOK BETUNG
B M K G BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI KLAS II PONDOK BETUNG Jln. Raya Kodam Bintaro No. 82 Jakarta Selatan (12070) Telp. (021) 7353018 / Fax: 7355262 E-mail: [email protected],
Geografi. Kelas X ATMOSFER III KTSP & K-13. G. Kelembapan Udara. 1. Asal Uap Air. 2. Macam-Macam Kelembapan Udara
KTSP & K-13 Kelas Geografi ATMOSFER III Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan memiliki kemampuan berikut. 1. Memahami kelembapan udara. 2. Memahami curah hujan dan kondisi
EVALUASI CUACA BULAN JUNI 2016 DI STASIUN METEOROLOGI PERAK 1 SURABAYA
EVALUASI CUACA BULAN JUNI 2016 DI STASIUN METEOROLOGI PERAK 1 SURABAYA OLEH : ANDRIE WIJAYA, A.Md FENOMENA GLOBAL 1. ENSO (El Nino Southern Oscillation) Secara Ilmiah ENSO atau El Nino dapat di jelaskan
Musim Hujan. Musim Kemarau
mm IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Analisis Data Curah hujan Data curah hujan yang digunakan pada penelitian ini adalah wilayah Lampung, Pontianak, Banjarbaru dan Indramayu. Selanjutnya pada masing-masing wilayah
Abstract. SUHU PERMT]KAAI\{ LAUT I}I PERAIRAN RAJAAMPAT PROPINSI PAPUA BARAT (Hasil Citra )
SUHU PERMT]KAAI\{ LAUT I}I PERAIRAN RAJAAMPAT PROPINSI PAPUA BARAT (Hasil Citra 2006-2008) Oleh Muhammad Ali Ulath* Abstract This jaurncl discasses the surface seawater temperotures in offshorewoters of
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Distribusi SPL secara Spasial dan Temporal Pola distribusi SPL sangat erat kaitannya dengan pola angin yang bertiup pada suatu daerah. Wilayah Indonesia sendiri dipengaruhi
4 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
4 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Kabupaten Pati 4.1.1 Kondisi geografi Kabupaten Pati dengan pusat pemerintahannya Kota Pati secara administratif berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten
1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perairan Indonesia merupakan area yang mendapatkan pengaruh Angin Muson dari tenggara pada saat musim dingin di wilayah Australia, dan dari barat laut pada saat musim
Keywords : Upwelling, Sea Surface Temperature, Chlorophyll-a, WPP RI 573
APLIKASI PENGINDERAAN JAUH MULTITEMPORAL UNTUK MONITORING KEJADIAN UPWELLING DI PERAIRAN BAGIAN SELATAN PULAU JAWA - LAUT TIMOR Ismail Pratama [email protected] Nurul Khakhim [email protected]
BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG
BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG Jln. Raya Kodam Bintaro No. 82 Jakarta Selatan ( 12070 ) Telp. (021) 7353018, Fax: (021) 7355262 E-mail: [email protected],
ANALISIS HUJAN BULAN OKTOBER 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN DESEMBER 2011, JANUARI DAN FEBRUARI 2012 PROVINSI DKI JAKARTA 1.
ANALISIS HUJAN BULAN OKTOBER 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN DESEMBER 2011, JANUARI DAN FEBRUARI 2012 PROVINSI DKI JAKARTA 1. TINJAUAN UMUM 1.1. Curah Hujan Curah hujan merupakan ketinggian air hujan yang
6. TlNGGl PARAS LAUT
6. TlNGGl PARAS LAUT 6.1 Fluktuasi Anomali Tinggi Paras Laut Fluktuasi anomali TPL di masing-masing wilayah disajikan pada Gambar 6.1.I. Pola fluktuasi TPL di wilayah UWI, UW2 dan AS1 berbeda dengan fluktuasi
ANALISIS POLA SEBARAN DAN PERKEMBANGAN AREA UPWELLING DI BAGIAN SELATAN SELAT MAKASSAR
ANALISIS POLA SEBARAN DAN PERKEMBANGAN AREA UPWELLING DI BAGIAN SELATAN SELAT MAKASSAR Analysis of Upwelling Distribution and Area Enlargement in the Southern of Makassar Strait Dwi Fajriyati Inaku Diterima:
ANALISIS HUJAN BULAN JANUARI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN MARET, APRIL, DAN MEI 2011 PROVINSI DKI JAKARTA
ANALISIS HUJAN BULAN JANUARI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN MARET, APRIL, DAN MEI 2011 PROVINSI DKI JAKARTA Sumber : BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG
ANALISIS MUSIM KEMARAU 2015 DAN PRAKIRAAN MUSIM HUJAN 2015/2016
B M K G BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI KLAS II PONDOK BETUNG Jln. Raya Kodam Bintaro No. 82 Tangerang Selatan Telp. (021) 7353018 / Fax: 7355262 E-mail: [email protected],
BAB I PENDAHULUAN. perencanaan dan pengelolaan sumber daya air (Haile et al., 2009).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hujan merupakan salah satu sumber ketersedian air untuk kehidupan di permukaan Bumi (Shoji dan Kitaura, 2006) dan dapat dijadikan sebagai dasar dalam penilaian, perencanaan
KARAKTERISTIK OSEANOGRAFI FISIK DI PERAIRAN SAMUDERA HINDIA TIMUR PADA SAAT FENOMENA INDIAN OCEAN DIPOLE
KARAKTERISTIK OSEANOGRAFI FISIK DI PERAIRAN SAMUDERA HINDIA TIMUR PADA SAAT FENOMENA INDIAN OCEAN DIPOLE (IOD) FASE POSITIF TAHUN 1994/1995, 1997/1998 dan 2006/2007 PRAMUDYO DIPO HADINOTO SKRIPSI DEPARTEMEN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Analisis Perubahan Rasio Hutan Sebelum membahas hasil simulasi model REMO, dilakukan analisis perubahan rasio hutan pada masing-masing simulasi yang dibuat. Dalam model
PEMODELAN POLA ARUS LAUT PERMUKAAN DI PERAIRAN INDONESIA MENGGUNAKAN DATA SATELIT ALTIMETRI JASON-1
PEMODELAN POLA ARUS LAUT PERMUKAAN DI PERAIRAN INDONESIA MENGGUNAKAN DATA SATELIT ALTIMETRI JASON-1 RAHMA WIDYASTUTI(3506 100 005) TEKNIK GEOMATIKA ITS - SURABAYA Pembimbing : Eko Yuli Handoko,ST.MT Ir.
KATA PENGANTAR. Semarang, 22 maret 2018 KEPALA STASIUN. Ir. TUBAN WIYOSO, MSi NIP STASIUN KLIMATOLOGI SEMARANG
KATA PENGANTAR Stasiun Klimatologi Semarang setiap tahun menerbitkan buku Prakiraan Musim Hujan dan Prakiraan Musim Kemarau daerah Propinsi Jawa Tengah. Buku Prakiraan Musim Hujan diterbitkan setiap bulan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
./ 3.3.2 Penentuan nilai gradien T BB Gradien T BB adalah perbedaan antara nilai T BB suatu jam tertentu dengan nilai
I. INFORMASI METEOROLOGI
I. INFORMASI METEOROLOGI I.1 ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER I.1.1 MONITORING DAN PRAKIRAAN FENOMENA GLOBAL a. ENSO ( La Nina dan El Nino ) Berdasarkan pantauan suhu muka laut di Samudra Pasifik selama bulan
KATA PENGANTAR REDAKSI. Pengarah : Wandayantolis, S. SI, M. Si. Penanggung Jawab : Subandriyo, SP. Pemimpin Redaksi : Ismaharto Adi, S.
i REDAKSI KATA PENGANTAR Pengarah : Wandayantolis, S. SI, M. Si Penanggung Jawab : Subandriyo, SP Pemimpin Redaksi : Ismaharto Adi, S. Kom Editor : Idrus, SE Staf Redaksi : 1. Fanni Aditya, S. Si 2. M.
ANALISIS SPASIAL SUHU PERMUKAAN LAUT DI PERAIRAN LAUT JAWA PADA MUSIM TIMUR DENGAN MENGGUNAKAN DATA DIGITAL SATELIT NOAA 16 -AVHRR
ANALISIS SPASIAL SUHU PERMUKAAN LAUT DI PERAIRAN LAUT JAWA PADA MUSIM TIMUR DENGAN MENGGUNAKAN DATA DIGITAL SATELIT NOAA 16 -AVHRR Oleh : MIRA YUSNIATI C06498067 SKRIPSI PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI
BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI KLAS II PONDOK BETUNG ANALISIS MUSIM KEMARAU 2013 DAN PRAKIRAAN MUSIM HUJAN 2013/2014
BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI KLAS II PONDOK BETUNG Jln. Raya Kodam Bintaro No. 82 Jakarta Selatan (12070) Telp. (021) 7353018 / Fax: 7355262 E-mail: [email protected],
Propinsi Banten dan DKI Jakarta
BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG Jln. Raya Kodam Bintaro No. 82 Jakarta Selatan (12070) Telp. (021) 7353018 / Fax: 7355262 E-mail: [email protected],
PENGANTAR. Bogor, Maret 2017 KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI BOGOR
PENGANTAR Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofísika () setiap tahun menerbitkan dua buku Prakiraan Musim yaitu Prakiraan Musim Kemarau diterbitkan setiap awal Maret dan Prakiraan Musim Hujan setiap awal
I. INFORMASI METEOROLOGI
I. INFORMASI METEOROLOGI I.1 ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER I.1.1 MONITORING DAN PRAKIRAAN FENOMENA GLOBAL a. ENSO ( La Nina dan El Nino ) Berdasarkan pantauan suhu muka laut di Samudra Pasifik selama bulan
JURNAL OSEANOGRAFI. Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013, Halaman Online di :
JURNAL OSEANOGRAFI. Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013, Halaman 416-421 Online di : http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jose Studi Variabilitas Suhu Permukaan Laut Berdasarkan Citra Satelit Aqua MODIS
JURNAL OSEANOGRAFI. Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, Halaman Online di :
JURNL OSENOGRFI. Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, Halaman 57-66 Online di : http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jose DINMIK UPWELLING DN DOWNWELLING ERDSRKN VRIILITS SUHU PERMUKN LUT DN KLOROFIL- DI
