DAFTAR ISI. Daftar Isi...

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "DAFTAR ISI. Daftar Isi..."

Transkripsi

1

2

3 DAFTAR ISI Daftar Isi... i BAB I Pendahuluan... A. Latar Belakang... I - 1 B. Maksud dan tujuan... I - 4 C. Dasar Hukum Penyusunan... I - 4 D. Hubungan Antar Dokumen... I - 8 E. Sistematika Penulisan... I - 9 BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH... II - 1 A. Aspek Geografi dan Demografi... II - 1 B. Aspek Kesejahteraan Masyarakat... II - 14 C. Aspek Pelayanan Umum... II - 34 D. Aspek Daya Saing Daerah... II BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA III -1 PENDANAAN... A. Kinerja Keuangan Tahun III -1 B. Kebijakan Pengelolaan Keuangan Daerah Tahun III - 13 C. Kerangka Pendanaan... III - 15 BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS... IV - 1 A. Permasalahan Pembangunan... IV 1 B. Lingkungan Strategis... IV 11 C. Isu Strategis... IV 14 BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN... V 1 A. Visi... V 1 B. Misi... V 3 C. Tujuan dan Sasaran... V 10 BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN... VI - 1 A. Strategi Umum VI 1 B. Strategi dan Arah Kebijakan... VI - 2 BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH... VII 1 BAB INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS YANG VIII - 1 VIII DISERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN... BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH... IX 1 BAB X PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN... X 1 BAB XI PENUTUP... XI 1 ii

4 DAFTAR TABEL Tabel I.1. Penduduk Kabupaten Wonosobo Tahun 2014 Berdasarkan data BPS... I-3 Tabel I.2 Data Penduduk Wonosobo Tahun 2015 Berdasarkan Pencatatan Administratif Kependudukan (Data Bulan Desember2015)... I-4 Tabel I.3 Perkembangan Nilai Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku dan Konstan Kabupaten Wonosobo Tahun dalam jutaan rupiah... I-5 Tabel I.4 Data PDRB dan Statistik Makro Kabupaten Wonosobo... I-5 Tabel IV.B.1.1 Program dan Realisasi Anggaran Urusan Pendidikan IV.B.1.2 Tabel IV.B.1.2 Capaian Kinerja Urusan Pendidikan Berdasarkan IKK Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (EKPPD)... IV.B.1.7 Tabel IV.B.1.3 Capaian Kinerja Urusan Pendidikan Tahun 2015 Berdasarkan Indikator RPJMD IV.B.1.8 Tabel IV.B.1.4 Capaian SPM Bidang Pendidikan Dasar Tahun IV.B.1.8 Tabel IV.B.2.1 Program Alokasi dan Realisasi Anggaran Urusan Kesehatan Tahun IV.B.2.2 Tabel IV.B.2.2 Capaian Kinerja Urusan Kesehatan Berdasarkarkan IKK Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah daerah (EKPPD)... IV.B.2.7 Tabel IV.B.2.3 Capaian Kinerja Urusan Kesehatan Tahun 2015 Berdasarkan Indikator Kinerja RPJMD IV.B.2.8 Tabel IV.B.2.4 Capaian SPM Bidang Kesehatan Tahun IV.B.2.8 Tabel IV.B.3.1 Program Alokasi dan Realisasi Anggaran Urusan Lingkungan Hidup.. IV.B.3.2 Tabel IV.B.3.2 Capaian Kinerja Urusan Lingkungan Hidup Berdasarkan IKK Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (EKPPD)... IV.B.3.6 Tabel IV.B.3.3 Capaian Kinerja Urusan Lingkungan Hidup Tahun 2015 Berdasarkan Indikator RPJMD IV.B.3.7 Tabel IV.B.4.1 Program Alokasi dan Realisasi Anggaran Urusan Pekerjaan Umum Tahun IV.B.4.2 Tabel IV.B.4.2 Capaian Kinerja Urusan Pekerjaan Umum Tahun 2015 Berdasarkan IKK Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah... IV.B.4.13 Tabel IV.B.5.1 Program Alokasi dan Realisasi Anggaran Urusan Penataan Ruang Tahun IV.B.5.1 Tabel IV.B.5.2 Capaian Kinerja Urusan Penataan Ruang Tahun 2015 Indikator Kinerja EKPPD... IV.B.5.2 Tabel IV.B.5.3 Capaian Kinerja Urusan Penataan Ruang Tahun 2015 Berdasarkan IV.B.5.2 Indikator Kinerja RPJMD Tabel IV.B.5.4 Capaian Kinerja Urusan Penataan Ruang Tahun 2015 berdasarkan SPM bidang Penataan Ruang... IV.B.5.3 Tabel IV.B.6.1 Program Alokasi dan Realisasi Anggaran Urusan Perencanaan Pembangunan Tahun IV.B.6.2 Tabel IV.B.6.2 Capaian kinerja Urusan Perencanaan Pembangunan 2015 berdasarkan Indikator Kinerja Kunci (IKK) penyelenggaraan pemerintahan daerah... IV.B.6.10 Tabel IV.B.6.3 Capaian Kinerja Urusan Perencanaan Pembangunan Tahun 2015 berdasarkan indikator RPJMD... IV.B.6.11 iii

5 Tabel IV.B.7.1 Program Alokasi dan Realisasi Anggaran Urusan Perumahan Tahun IV.B Tabel IV.B.7.2 Capaian Kinerja Pembangunan Urusan Perumahan Kabupaten Wonosobo Tahun 2015/SPM Bidang Perumahan Rakyat... IV.B.7.3 Tabel IV.B.8.1 Program Alokasi dan Realisasi Anggaran Urusan Kepemudaan dan Olahraga Tahun IV.B.8.1 Tabel IV.B.8.2 Capaian Kinerja Urusan Pemuda dan Olahraga Tahun 2015 berdasarkan indikator EKPPD... IV.B.8.3 Tabel IV.B.8.3 Capaian Kinerja Urusan Pemuda dan Olahraga Tahun 2014 berdasarkan indikator RPJMD IV.B.8.3 Tabel IV.B.9.1 Program Alokasi dan Realisasi Anggaran Urusan Penanaman Modal Tahun IV.B.9.2 Tabel IV.B.9.2 Capaian Kinerja Urusan Penanaman Modal Tahun 2014 Berdasarkan Indikator Kinerja Kunci (IKK) Penyelenggaraan Pemerintah Daerah... IV.B.9.4 Tabel. IV.B.9.3 Capaian Kinerja Urusan Penanaman Modal Tahun 2015 Berdasarkan Indikator RPJMD IV.B.9.4 Tabel.IV.B.9.4 Rekapitulasi Penanaman Modal per Sektor Tahun IV.B.9.4 Tabel IV.B.10.1 Program Alokasi dan Realisasi Anggaran Urusan Koperasi dan UKM Tahun IV.B.10.1 Tabel IV.B.10.2 Capaian Kinerja Urusan Koperasi dan UMKM Tahun 2015 Berdasarkan Indikator Kinerja Kunci (IKK) Penyelenggaraan Pemerintah Daerah... IV.B.10.5 Tabel IV.B.10.3 Capaian Kinerja Urusan Koperasi dan UMKM Tahun 2015 Berdasarkan Indikator RPJMD IV.B.10.5 Tabel IV.B.10.4 Data Perkembangan Koperasi dan UMKM di Kabupaten Wonosobo... IV.B.10.5 Tabel IV.B.11.1 Program dan Realisasi Anggaran Urusan Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil Tahun IV.B.11.2 Tabel IV.B.11.1 Capaian Kinerja Pembangunan Urusan Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Wonosobo tahun IV.B.11.4 Tabel IV.B.12.1 Program Alokasi dan Realisasi Anggaran Urusan Ketenagakerjaan Tahun IV.B.12.2 Tabel IV.B.12.2 Capaian Kinerja Urusan Ketenagakerjaan Tahun 2015 Berdasarkan IKK Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah IV.B (EKPPD)... Tabel IV.B.12.3 Capaian Kinerja Urusan Ketenagakerjaan Tahun 2015 Berdasarkan IV.B Indikator RPJMD Tabel IV.B.12.4 Jumlah Pencari Kerja dan Penempatan Tenaga Kerja Kabupaten IV.B Wonosobo Tabel IV.B.12.5 Capaian Kinerja Urusan Ketenagakerjaan Tahun 2015 Berdasarkan Standar Pelayanan Bidang Ketenagakerjaan... IV.B Tabel IV.B.13.1 Program Alokasi dan Realisasi Anggaran Urusan Ketahanan Pangan. IV.B.13.1 Tabel IV.B.13.2 Capaian Kinerja Urusan Ketahanan Pangan Berdasarkan Indikator Kinerja Kunci (IKK) EKPPD... IV.B.13.4 Tabel IV.B.13.3 Data Indikator Kinerja Urusan Ketahanan Pangan Berdasarkan RPJMD IV.B.13.5 Tabel IV.B.14.1 Program Alokasi dan Realisasi Anggaran Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Tahun IV.B.14.2 iv

6 Tabel IV.B.14.2 Data Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak... IV.B.14.5 Tabel IV.B.14.3 Capaian Kinerja Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Berdasarkan IKK Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (EKPPD)... IV.B.14.5 Tabel IV.B.14.4 Capaian Kinerja Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Tahun Berdasarkan Indikator RPJMD IV.B.14.6 Tabel IV.B.15.1 Program Alokasi dan Realisasi Anggaran Urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Tahun IV.B.15.2 Tabel IV.B.15.2 Capaian Kinerja Urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Berdasarkan IKK Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah IV.B.15.4 Tabel IV.B.15.3 Kinerja Urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Berdasarkan RPJMD/RKPD Tahun IV.B.15.5 Tabel IV.B.15.4 Peserta KB Menurut Metode Kontrasepsi Tahun IV.B.15.6 Tabel IV.B.15.5 Capaian SPM Bidang Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Tahun IV.B.15.7 Tabel IV.B.16.1 Program Alokasi dan Realisasi Anggaran Urusan Perhubungan Tahun IV.B.16.2 Tabel IV.B.16.2 Capaian Kinerja Urusan Perhubungan Berdasarkan IKK Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (EKPPD)... IV.B.16.4 Tabel IV.B.16.3 Capaian Kinerja Urusan Perhubungan Berdasarkan Indikator RPJMD IV.B.16.4 Tabel IV.B.16.4 Elemen Data Urusan Perhubungan Tahun IV.B.16.4 Tabel IV.B.17.1 Program Alokasi dan Realisasi Anggaran Urusan Komunikasi dan IV.B.17.3 Informatika Tahun Tabel IV.B.17.2 Capaian Kinerja Urusan Komunikasi dan Informatika Tahun 2015 Berdasarkan IKK Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah... IV.B.17.5 Tabel IV.B.17.3 Capaian Kinerja Urusan Komunikasi dan Informatika Tahun 2015 Berdasarkan indikator RPJMD IV.B.17.6 Tabel IV.B.18.1 Rincian Program Alokasi dan Realisasi Anggaran Urusan Pertanahan IV.B.18.1 Tahun Tabel IV.B.18.2 Capaian Kinerja Urusan Pertanahan Tahun 2015 Berdasarkan IKK Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah... IV.B.18.3 Tabel IV.B.19.1 Program Alokasi dan Realisasi Anggaran Urusan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri Tahun IV.B.19.2 Tabel IV.B.19.2 Indikator Kinerja Kunci Urusan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri... IV.B.19.7 Tabel IV.B.19.3 Elemen Data EKPOD Urusan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri... IV.B.19.7 Tabel IV.B.19.4 Data Kriminalitas di Kabupaten Wonosobo... IV.B.19.8 Tabel IV.B.19.5 Data Bencana Alam di Kabupaten Wonosobo... IV.B.19.9 Tabel IV.B.20.1 Program Alokasi dan Realisasi Anggaran Urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Pengawasan, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian Tahun IV.B.20.2 Tabel IV.B.20.2 Indikator Kinerja Pembangunan Daerah... IV.B Tabel IV.B.20.3 Data Perda yang ditetapkan Tahun IV.B Tabel IV.B.20.4 Daftar Peraturan Bupati yang Ditetapkan Tahun IV.B Tabel IV.B.21.1 Rincian Program dan Realisasi Anggaran Urusan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa IV.B.21.1 v

7 Tabel IV.B.21.2 Capaian Kinerja Urusan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Tahun Berdasarkan IKK Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah... IV.B.21.5 Tabel IV.B.21.3 Capaian Kinerja Urusan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Tahun Berdasarkan RPJMD Kabupaten Wonosobo Tahun IV.B.21.6 Tabel IV.B.22.1 Rincian Program dan Realisasi Anggaran Urusan Sosial... IV.B.22.1 Tabel IV.B.22.2 Capaian Kinerja Urusan Sosial Tahun 2015 Berdasarkan RPJMD Kabupaten Wonosobo Tahun IV.B.22.4 Tabel IV.B.23.1 Program Alokasi dan Realisasi Anggaran urusan Kebudayaan... IV.B.23.2 Tabel IV.B.23.2 Jumlah Lokasi Kegiatan Keanekaragaman dan Tradisi Budaya... IV.B.23.2 Tabel IV.B.23.3 Event Seni dan Budaya IV.B.23.3 Tabel IV.B.23.4 Capaian Kinerja Urusan Kebudayaan Tahun 2014 Berdasarkan IKK Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah... IV.B.23.3 Tabel IV.B.24.1 Program dan Realisasi Anggaran Urusan Statistik Tahun IV.B.24.2 Tabel IV.B.24.2 Capaian Kinerja Urusan Statistik berdasarkan Indikator EKPPD... IV.B.24.3 Tabel IV.B.24.3 Capaian Kinerja Urusan Statistik berdasarkan Indikator RPJMD IV.B Tabel IV.B.25.1 Program dan Realisasi Anggaran Urusan Kearsipan Tahun IV.B.25.1 Tabel IV.B.25.2 Capaian kinerja Urusan Kearsipan tahun 2015 Berdasarkan IKK Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah... IV.B.25.4 Tabel IV.B.25.3 Capaian kinerja Urusan Kearsipan Tahun 2014 berdasarkan Indikator RPJMD IV.B.25.4 Tabel.IV.B.25.4 Jumlah layanan Peminjaman Arsip... IV.B.25.6 Tabel IV.B.25.5 Jumlah Data Akuisisi Arsip... IV.B.25.6 Tabel IV.B.26.1 Program dan Realisasi Anggaran Urusan Perpustakaan Tahun IV.B.26.1 Tabel IV.B.26.2 Capaian Kinerja Urusan Perpustakaan berdasarkan Indikator EKPPD... IV.B.26.4 Tabel IV.B.26.3 Jumlah Perpustakaan di Kabupaten Wonosobo... IV.B.26.4 Tabel IV.B.26.4 Capaian Kinerja Urusan Perpustakaan Berdasarkan Indikator RPJMD IV.B.26.5 Tabel IV.C.1.1 Rincian Program dan Realisasi Anggaran Urusan Perikanan IV.B.27.2 Tabel IV.C.1.2 Capaian Kinerja EKPPD Urusan Perikanan... IV.B.27.2 Tabel IV.C.1.3 Data Indikator Kinerja Urusan Perikanan Berdasarkan RPJMD IV.B.27.3 Tabel IV.C.1.4 Luas Lahan Perikanan Tahun IV.B.27.3 Tabel IV.C.1.5 Produk hasil Perikanan IV.B.27.4 Tabel IV.C.2.1 Program dan Realisasi Anggaran Urusan Pertanian Tahun IV.B.28.1 Tabel IV.C.2.2 Capaian Kinerja Urusan Pertanian tahun 2014 berdasarkan Indikator EKPPD... IV.B.28.5 Tabel IV.C.2.3 Data Indikator Kinerja Urusan Pertanian Berdasarkan RPJMD IV.B.28.5 Tabel IV.C.3.1 Program Alokasi dan Realisasi Anggaran Urusan Kehutanan Tahun IV.B.29.1 Tabel IV.C.3.2 Indikator Kinerja Urusan Kehutanan Berdasarkan IKK EKPPD... IV.B.29.3 Tabel IV.C.3.3 Indikator Kinerja Urusan Kehutanan Berdasarkan Indikator RPJMD IV.B.29.3 vi

8 Tabel IV.C.4.1 Program Alokasi dan Realisasi Anggaran Urusan Energi dan Sumber Daya Mineral Tahun Tabel IV.C.4.2 Capaian Kinerja Urusan Energi dan Sumber Daya Mineral Tahun 2015 Berdasarkan IKK EKPPD Tabel IV.C.4.3 Capaian Kinerja Urusan Energi dan Sumber Daya Mineral Tahun 2015 Berdasarkan Indikator RPJMD Tabel IV.C.5.1 Program Alokasi Realisasi Anggaran Urusan Kepariwisataan Tabel IV.C.5.2 Capaian Kinerja Urusan Kepariwisataan Tahun 2015 berdasarkan Indikator Kinerja Kunci (IKK) EKPPD... Tabel IV.C.5.3 Data Indikator Kinerja Urusan Kepariwisataan berdasarkan RPJMD Tabel IV.C.6.1 Program Alokasi dan Realisasi Anggaran Urusan Perindustrian Tahun Tabel IV.C.6.2 Capaian Kinerja Urusan Perindustrian Tahun 2015 berdasarkan Indikator Kinerja Kunci (IKK) EKPPD Tabel IV.C.6.3 Data Capaian Jumlah Unit Usaha, Kapasitas Produksi dan Jumlah Tenaga Kerja Industri Menurut Jenis Industri di Kab Wonosobo... Tabel IV.C.7.1 Program Alokasi dan Realisasi Anggaran Urusan Perdagangan Tahun Tabel IV.C.7.2 Tabel IV.C.8.1 Tabel IV.C.8.2 Tabel V.1 IV.B.30.2 IV.B.30.3 IV.B.30.4 IV.B.31.2 IV.B.31.4 IV.B.31.4 IV.B.32.2 IV.B.32.4 IV.B.32.5 IV.B.33.2 Capaian Kinerja Urusan Perdagangan Tahun 2015 berdasarkan Indikator Kinerja Kunci (IKK) EKPPD... IV.B.33.4 Program Alokasi dan Realisasi Anggaran Urusan Transmigrasi Tahun IV.B.34.1 Capaian Kinerja Urusan Ketransmigrasian berdasarkan Indikator Kinerja Kunci (IKK) EKPPD.... IV.B.34.3 Realisasi dan Dana Swadaya pada Alokasi Dana Desa (ADD) Di Kabupaten WonosoboTahun Anggaran V.6 vii

9 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan daerah pada hakekatnya adalah upaya sistematis dan terencana oleh masing-masing maupun seluruh komponen daerah untuk mengubah suatu keadaan yang belum ideal menjadi lebih baik dengan memanfaatkan berbagai sumber daya yang tersedia secara optimal, efisien, efektif dan akuntabel dengan tujuan akhir meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakat secara berkelanjutan. Upaya sistematis dan terencana tersebut berisi langkah-langkah strategis, taktis dan praktis sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh daerah. Dalam upaya tersebut, perencanaan pembangunan daerah, baik perencanaan jangka panjang, jangka menengah, maupun tahunan diperlukan terutama untuk memberikan arah dan prioritas bagi pembangunan daerah. Pemerintah daerah dalam menjalankan tugas dan fungsinya memerlukan perencanaan pembangunan jangka panjang, jangka menengah dan tahunan yang substansinya saling berkaitan dan mampu menjadi kerangka acuan dalam pelaksanaan pembangunan daerah. Hal tersebut telah diamanatkan dalam Undang- Undang Nomor 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan juga dalam Undang-Undang No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah. Perencanaan pembangunan yang disusun secara sinergi oleh semua pemangku kepentingan dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku terutama kedua undang-undang tersebut diharapkan bisa menjadi arah bagi cita-cita pembangunan beserta strategi dan cara pencapaiannya. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) adalah dokumen perencanaan pembangunan daerah untuk periode 5 (lima) tahun yang merupakan penjabaran dari visi, misi dan program kepala daerah yang berpedoman kepada RPJP Daerah dan memperhatikan RPJM Nasional. RPJMD juga memuat strategi dan arah kebijakan pembangunan, kebijakan umum dan program pembangunan daerah, indikasi rencana program prioritas, serta indikator kinerja daerah. RPJMD Kabupaten Wonosobo Tahun ini merupakan tahap ketiga dari RPJPD (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah) Kabupaten Wonosobo Tahun Berdasarkan Peraturan Daerah No 1 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Wonosobo , ditetapkan visi pembangunan adalah Wonosobo Asri Dan Bermartabat yang secara harfiah mengandung pengertian bahwa Kabupaten Wonosobo adalah wilayah yang Bab I - RPJMD Kabupaten Wonosobo I- 1

10 ASRI atau Aman, Sehat, Rapi dan Indah, dengan masyarakatnya BERMARTABAT atau Bersama Rakyat, Maju, Adil, Rahayu, Tentram, Agamis, Berbudaya, Amal dan Terpuji. Sementara itu dalam RPJMD Kabupaten Wonosobo Tahun ini visi kepala daerah terpilih yang akan dijabarkan dalam tujuan, sasaran, strategi dan arah kebijakan pembangunan adalah Terwujudnya Wonosobo Bersatu untuk Maju, Mandiri dan Sejahtera untuk Semua. Visi tersebut kemudian juga dijabarkan ke dalam berbagai bentuk program dan kegiatan pembangunan beserta rencana pendanaannya yang akan dilaksanakan dalam 5 (lima) tahun ke depan sebagai respon atas kondisi, kebutuhan dan aspirasi masyarakat Wonosobo. Selain itu RPJMD ini juga disusun dengan mengintegrasikan rencana tata ruang dan rencana pembangunan daerah, yaitu selain memuat program sektoral dan lintas sektoral juga memuat program kewilayahan sehingga pembangunan yang dilaksanakan memperhatikan aspek ruang dan kewilayahan yang diharapkan bisa mengoptimalkan pemerataan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Kabupaten Wonosobo. Dengan memperhatikan muatan dan substansi RPJMD yang bersifat strategis, maka Rencana Strategis (Renstra) SKPD Tahun harus disusun berpedoman pada RPJMD Kabupaten Wonosobo Tahun sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD masing-masing. Demikian juga dengan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) sebagai rencana kerja tahunan juga harus mengacu dan berpedoman pada RPJMD Kabupaten Wonosobo Tahun Dengan berpedoman pada RPJPD Kabupaten Wonosobo Tahun , memperhatikan RPJM Nasional, berbagai isu dan permasalahan strategis, potensi yang dimiliki Kabupaten Wonosobo saat ini, serta evaluasi pelaksanaan pembangunan pada 5 (lima) tahun sebelumnya, penyusunan RPJMD Kabupaten Wonosobo Tahun didasarkan pada beberapa pendekatan berikut ini : 1. Pendekatan Politik. Dengan memandang bahwa visi dan misi kepala daerah terpilih merupakan program dan agenda pembangunan yang ditawarkan secara politik kepada masyarakat dalam kampanye pemilukada, maka visi misi tersebut kemudian dijabarkan dan diterjemahkan secara lebih detil dalam RPJMD Kabupaten Wonosobo Tahun Selain itu dalam proses penyusunan RPJMD ini, para anggota DPRD Kabupaten Wonosobo juga ikut terlibat dengan memberikan masukan, pertimbangan dan pendapatnya secara politik dalam pembahasan Raperda tentang RPJMD Kabupaten Wonosobo Tahun Pendekatan Teknokratik. Pendekatan teknokratik dilakukan dengan menggunakan metode dan kerangka berpikir ilmiah serta berdasarkan data-data dan informasi yang relevan dalam penyusunan RPJMD Kabupaten Wonosobo Tahun Selain itu Bab I - RPJMD Kabupaten Wonosobo I- 2

11 kemampuan dan kapasitas para perencana dalam menyusun RPJMD juga diperhatikan karena sangat mempengaruhi kualitas dokumen perencanaan tersebut. 3. Pendekatan Partisipatif (Bottom-Up) Pendekatan partisipatif ini dilakukan dengan melibatkan semua pemangku kepentingan pembangunan (stake holder) dalam proses penyusunan RPJMD sehingga diharapkan kebutuhan dan aspirasi masyarakat lebih banyak terjaring. Selain itu dengan keterlibatan semua elemen masyarakat diharapkan bisa meningkatkan rasa memiliki terhadap proses pembangunan yang akan dilakukan. 4. Pendekatan Atas Bawah (top down) Pendekatan secara top down terutama dilakukan dengan melakukan sinkronisasi prioritas pembangunan dalam dokumen perencanaan lain yang berada di atasnya, yaitu RPJMD Provinsi Jawa Tengah dan juga RPJM Nasional. Dengan sinkronisasi dengan dokumen perencanaan lain tersebut, diharapkan terjadi sinergi antar berbagai program dan kegiatan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah daerah dengan Pemprov Jawa Tengah dan juga pemerintah pusat. Tahapan dalam proses penyusunan RPJMD Kabupaten Wonosobo Tahun ini meliputi penelaahan dokumen yang relevan, pengolahan data dan analisis sektoral, serta dialog yang melibatkan para pemangku kepentingan pembangunan (stake holder). Proses penyusunan tersebut secara rinci dapat dilihat pada gambar berikut ini : Bab I - RPJMD Kabupaten Wonosobo I- 3

12 B. Maksud dan Tujuan Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Wonosobo Tahun ini dmaksudkan sebagai wadah untuk mengimplementasikan visi dan misi Kepala Daerah terpilih yang disampaikan kepada seluruh masyarakat Wonosobo pada saat kampanye Pemilukada. Selain itu penyusunan RPJMD ini juga merupakan upaya menjaga kesinambungan pembangunan mengingat dokumen RPJMD periode sebelumnya telah habis masa berlakunya. Tujuan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Wonosobo Tahun adalah sebagai arah dan pedoman pelaksanaan pembangunan selama lima tahun ke depan. Dengan demikian RPJMD ini menjadi arah dan pedoman penyusunan Rencana Strategis (Renstra) semua Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) serta arah dan pedoman penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) tiap tahun selama lima tahun ke depan. Selain itu, RPJMD ini juga digunakan untuk mengukur tingkat pencapaian kinerja daerah dan juga kinerja kepala SKPD selama lima tahun ke depan. C. Dasar Hukum Penyusunan Penyusunan RPJMD Kabupaten Wonosobo Tahun didasarkan pada : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Kota Kecil dalam Lingkungan Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat; 2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita (Convention On The Ellimination Of All Forms Of Discrimination Against Women); 3. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851); 4. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik IndonesiaTahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia, Nomor 4286); 5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); Bab I - RPJMD Kabupaten Wonosobo I- 4

13 6. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); 7. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); 8. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700); 9. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725); 10. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 61, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4868); 11. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5038); 12. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5059); 13. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 149, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5068); 14. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234); 15. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5494); 16. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587); sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Bab I - RPJMD Kabupaten Wonosobo I- 5

14 Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679); 17. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4575); 18. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4576); 19. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578); 20. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593); 21. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Laporan Keuangan Dan Kinerja Instansi Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4614); 22. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4663); 23. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 97, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4664); 24. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Pedoman Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Kepada Pemerintah, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah Kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Dan Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Kepada Masyarakat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4693); 25. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741); 26. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Bab I - RPJMD Kabupaten Wonosobo I- 6

15 Nomor 19 Tahun 2008, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4815); 27. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi Dan Tugas Pembantuan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4697); 28. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan,Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (LembaranNegara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran NegaraRepublik Indonesia Nomor 4698); 29. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang WilayahNasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 26, TambahanLembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833); 30. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan PenataanRuang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21, TambahanLembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5103); 31. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2010 tentang PercepatanPenanggulangan Kemiskinan; 32. Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan danperluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia ; 33. Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan JangkaMenengah Nasional Tahun (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun2015 Nomor 3); 34. Instruksi Presiden No. 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalampembangunan Nasional; 35. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Jawa Tengah Nomor 6 Tahun 2010 tentangrencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Tengah 36. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 5 Tahun 2014 tentang RencanaPembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa Tengah (RPJMD)Tahun ; 37. Peraturan Daerah Kabupaten Wonosobo No 1 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten Wonosobo Tahun ; 38. Peraturan Daerah Kabupaten Wonosobo No 2 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Wonosobo; 39. Peraturan Daerah Kabupaten Wonosobo No 5 Tahun 2015 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten Wonosobo Tahun Bab I - RPJMD Kabupaten Wonosobo I- 7

16 40. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 310); 41. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan,Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah; 42. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2011 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 Tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah. D. Hubungan Antar Dokumen Pembangunan daerah pada dasarnya untuk meningkatkan dan memeratakan pendapatan masyarakat, kesempatan kerja, perluasan berusaha, meningkatkan akses dan kualitas pelayanan publik dan daya saing daerah. Pembangunan daerah tersebut merupakan perwujudan dari pelaksanaan urusan pemerintahan yang diserahkan kepada daerah sebagai bagian integral dari pembangunan nasional. Oleh karena itu sesuai dengan kewenangannya, pemerintah daerah menyusun rencana pembangunan daerah sebagi satu kesatuan dari sistem perencanaan pembangunan nasional. Untuk jangka panjang 20 tahun pada tataran nasional sudah ditetapkan Undang-undang No 12 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun Di tingkat Provinsi Jawa Tengah sudah diterbitkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah No 3 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Provinsi Jawa Tengah Tahun Sedangkan ditingkat Kabupaten, sudah diterbitkan Peraturan Daerah Kabupaten Wonosobo No 1 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten Wonosobo Tahun Sedangkan untuk jangka menengah 5 (lima) tahunan, pada tataran nasional sudah diterbitkan Undang-undang No 2 tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Di tingkat Provinsi Jawa Tengah sudah terbit Peraturan Darah No 4 Tahun 2014 tentang Rencana Pembangun Jangka Menengah Provinsi Jawa Tengah Tahun Dokumen perencanaan pembangunan di tingkat nasional dan provinsi tersebut menjadi acuan dalam penyusunan RPJMD Kabupaten Wonosobo Selain itu, dalam penyusunan RPJMD ini juga berpedoman pada RTRW Nasional, RTRW Provinsi Jawa Tengah dan RTRW Kabupaten Wonosobo. Dengan Bab I - RPJMD Kabupaten Wonosobo I- 8

17 demikian penyusunan RPJMD ini memperhatikan aspek ruang dan kewilayahan yaitu menjadi pedoman sekaligus batasan dalam penyusunan kebijakan, program dan kegiatan pembangunan, sehingga diharapkan pelaksanaan pembangunan dalam lima tahun ke depan berjalan sinergis dengan program dan kegiatan kewilayahan. Hubungan antar dokumen tersebut lebih detil dijelaskan dalam gambar berikut ini : E. Sistematika Penulisan Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Wonosobo ini disusun menurut sistimatika yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundangundangan,yaitu sebagai berikut: Bab I Pendahuluan Bab pendahuluan ini terdiri dari tentang latar belakang, maksud dan tujuan,landasan hukum penyusunan, hubungan antar dokumen RPJMD dengan dokumen perencanaan lainnya, serta sistematika penulisan. Bab II Gambaran Umum Kondisi Daerah Bab ini berisi tentang gambaran umum kondisi Kabupaten Wonosobo meliputi aspek geografi dan demografi, kesejahteraan masyarakat, pelayanan umum serta daya saing daerah, terutama yang akan digunakan untuk mendukung analisis dan penggambaran isu strategis, permasalahan pembangunan daerah, visi/misi kepala daerah, dan kebutuhan perumusan strategi dan kebijakan. Bab I - RPJMD Kabupaten Wonosobo I- 9

18 Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaan Bab ini menjelaskan tentang kinerja keuangan di masa lalu yang terdiri dari kinerja pelaksanaan APBD dan neraca daerah; kebijakan pengelolaan keuangan masa lalu yang terdiri dari proporsi penggunaan anggaran dan analisis pembiayaan; kerangka pendanaan yang terdiri dari analisis pengeluaran periodik wajib dan mengikat serta prioritas utama, proyeksi data masa lalu, dan penghitungan kerangka pendanaan. Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis Bab ini menggambarkan permasalahan pembangunan daerah dan isu-isu strategis dari permasalahan pembangunan daerah dengan memperhatikan dinamika internasional, kebijakan nasional maupun regional, yang secara langsung maupun tidak langsung memberikan manfaat/pengaruh terhadap Kabupaten Wonosobo. Bab V Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Bab ini menguraikantentang visi dan misi kepala daerah terpilih yang dijabarkan menjadi visi misi pembangunan jangka menengah daerah Kabupaten Wonosobo tahun Selain itui juga dijelaskan tujuan dan sasaran pembangunan daerah untuk menjawab permasalahan dan isu strategis daerah. Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan Bab ini menjelaskan tentang strategi dalam pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan daerah, serta arah kebijakan dari setiap strategi terpilih untuk mencapai tujuan dan sasaran RPJMD sebagai suatu perencanaan yang bersifat komperehensif. Pada bagian ini juga diuraikan arah pengembangan wilayah yang terdiri dari konsep, tujuan dan sasaran, serta arah kebijakan dan strategi pengembangan wilayah. Bab VII Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah Bab ini menguraikan hubungan antara kebijakan umum yang berisi arah kebijakan pembangunan daerah berdasarkan strategi yang dipilih dengan target capaian indikator kinerja, yang menjadi acuan penyusunan program pembangunan jangka menengah daerah. Bab VIII Indikasi Rencana Program Prioritas yang Disertai Kebutuhan Pendanaan Bab ini menjelaskanrencana program yang menjadi prioritas pembangunan, dikaitkan dengan urusan pemerintah yang menjadi tanggung jawab masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah. Selain itu ditetapkan pula pencapaian target indikator kinerja program pada akhir periodeperencanaan dibandingkan dengan pencapaian indikator kinerja pada awal periodeperencanaan, disertai kebutuhan pendanaannya. Bab IX Penetapan Indikator Kinerja Daerah Bab ini menguraikan tentang ukuran keberhasilan pencapaian visi danmisi kepala daerah dan wakil kepala daerah pada akhir periode masa jabatan, melalui Bab I - RPJMD Kabupaten Wonosobo I- 10

19 pencapaian indikator sasaran atau indikator makro serta indikator outcome program pembangunan daerahatau indikator capaian yang bersifat mandiri. Bab X Pedoman Transisi dan Kaidah Pelaksanaan Bab ini menjelaskan tentang RPJMD sebagai pedoman penyusunan RKPD danrancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (RAPBD) tahun pertama kepemimpinanbupati periode berikutnya, dan kaidah pelaksanaan visi, misi, dan arah kebijakanpembangunan daerah yang telah disusun dalam dokumen RPJMD. Bab XI Penutup Bab ini menjelaskan dengan singkat definisi, fungsi, dan peran dari dokumen RPJMD yang telah ditetapkan Bab I - RPJMD Kabupaten Wonosobo I- 11

20 BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH A. Aspek Geografi dan Demografi 1. Karakteristik lokasi dan wilayah a. Letak dan Luas Wilayah Kabupaten Wonosobo merupakan salah satu dari 35 (tiga puluh lima) kabupaten/ kota di Propinsi Jawa Tengah dengan luas wilayah Ha. Berjarak sekitar 120 km dari Semarang, ibukota Provinsi Jawa Tengah dan sekitar 520 km dari Jakarta, ibukota negara. Kabupaten Wonosobo terbagi dalam 15 Kecamatan, 236 desa dan 29 kelurahan, dengan pembagian seperti tabel berikut : Tabel II.1 Pembagian Wilayah Kabupaten Wonosobo NO KECAMATAN LUAS (Ha) PERSEN (%) DESA KELURAHAN DESA & KELURAHAN 1 Wonosobo , Kertek , Selomerto , Leksono , Garung , Mojotengah , Kejajar , Watumalang , Sapuran , Kalikajar , Kepil , Kaliwiro , Wadaslintang , Sukoharjo , Kalibawang , Total Sumber :Sumber: BPS Kabupaten Wonosobo Batas wilayah Kabupaten Wonosobo adalah sebagai berikut: Sebelah utara Sebelah timur Sebelah selatan Sebelah barat : Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Batang : Kabupaten Temanggung dari Kabupaten Magelang : Kabupaten Purworejo dan Kabupaten Kebumen : Kabupaten Banjamegara dan KabupatenKebumen Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 1

21 Batas wilayah administrasi Kecamatan di Kabupaten Wonosobo dapat dilihat pada Gambar II.1 Gambar II.1 Peta Administrasi Kabupaten Wonosobo Secara astronomis Wonosobo terletak antara 7.43'.13" dan 7.04'.40" garis lintang selatan (LS) serta '.19" dan '.40" garis bujur timur (BT), pada ketinggian dari permukaan laut. Oleh karena itu, Wonosobo berada di tengah wilayah Jawa Tengah, pada jalur utama yang menghubungkan Cilacap - Banjarnegara - Temanggung - Semarang dari Purwokerto - Yogyakarta lewat Secang Magelang. Karena letaknya di persimpangan jalur tersebut, Wonosobo merupakan jalur ekonomi dan jalur pariwisata di Jawa Tengah-DIY. Selain itu, karena berada diantara pusat-pusat pengembangan industri, yaitu Wonosobo, Surakarta dan Cilacap, Wonosobo merupakan hinterland, yang akan diterjemahkan sebagai potensi ekonomi yang dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat. Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 2

22 b. Klimatologi Sebagai daerah beriklim tropis, Wonosobo hanya mengenal dua musim, yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Sepanjang tahun 2013 terjadi curah hujan yang fluktuatif selama 181 hari dan beragam menurut bulan. Curah hujan tertinggi tercatat pada bulan Desember dengan 589 mm, sengkan terendah terjadi pada bulan September sebesar 1 mm. c. Kondisi Topografi dan Morfologi Topografi wilayah Kabupaten Wonosobo memiliki ciri yang berbukitbukit, terletak pada ketinggian antara 200 sampai m di atas permukaan laut.kelerengan merupakan suatu kemiringan tanah dimana sudut kemiringan dibentuk oleh permukaan tanah dengan bidang horizontal, dan dinyatakan dalam persen. Kabupaten Wonosobo dibagi menjadi 6 wilayah kemiringan, yaitu: a) Wilayah dengan kemiringan antara 0,00-2,00 % seluas 3.702,395 Ha atau 3,76 % dari luas wilayah, banyak dijumpai di Kecamatan Leksono dan Kecamatan Watumalang; b) Wilayah dengan kemiringan antara 2,01-8,00 % seluas ,479 Ha atau 12,24 % dari luas wilayah, terdapat di 11 Kecamatan selain Watumalang dan Leksono; c) Wilayah dengan kemiringan antara 8,01-15,00 % seluas ,247 Ha atau 38,56 % dari seluruh luas wilayah, terdapat di semua kecamatan. d) Wilayah dengan kemiringan antara 15,01-25,00 % seluas ,056 Ha atau 10,44 % dari seluruh luas wilayah, terdapat di semua Kecamatan; e) Wilayah dengan kemiringan antara 25,01-40,00 % seluas ,638 Ha atau 11,12 % dari seluruh luas wilayah, terdapat di Kecamatan garung, Watumalang dan Leksono; f) Wilayah dengan kemiringan diatas 40,00 % seluas ,354 Ha atau 13,88 % dari seluruh luas wilayah, terdapat di Kecamatan Kejajar Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 3

23 Gambar II.2 Peta Kemiringan Lereng Kab.Wonosobo Daerah tersebut merupakan wilayah yang harus dilindungi (dihutankan) agar dapat berfungsi sebagai pelindung hidrologis dan menjaga keseimbangan ekosistim dan lingkungan hidup. Jenis penggunaan saat ini adalah hutan, tegalan, perkebunan. d. Kondisi Geologi Pegunungan di Kabupaten Wonosobo termasuk jenis pegunungan muda dengan lembah yang masih curam. Hal ini disebabkan karena secara geografis, sebagian kecil daerah Wonosobo terletak di batuan prakwater, sedangkan wilayah Wonosobo cukup luas. Keadaan yang demikian menyebabkan sering timbul bencana alam seperti tanah longsor (land slide), gerakan tanah runtuh atau gerakan tanah merayap. Sebagai daerah yang terletak di sekitar gunung api muda, tanah di Wonosobo termasuk subur. Hal ini sangat mendukung pengembangan pertanian, sebagai mata pencaharian utama masyarakat Wonosobo. Komoditi utama pertanian yang dihasilkan adalah teh, tembakau, berbagai jenis sayuran dan kopi. Selain itu, juga cocok untuk pengembangan budidaya Jamur, Carica Papaya dan Asparagus dan beberapa jenis kayu yang merupakan komoditi ekspor non migas serta beberapa jenis tanaman yang merapakan tanaman khas Kabupaten Wonosobo seperti Purwaceng, Gondorukem dan kayu putih. Banyaknya gunung di Wonosobo juga menjadi sumber mata air yang mengalir ke sungai Serayu, Bogowonto, Kali Galuh, Kali Semagung, Kali Sanggrahan dan Luk Ulo. Sungai-sungai ini sebagian telah digunakan untuk Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 4

24 irigasi, pertanian dan air minum. Sungai Serayu yang menambah debit air di telaga Menjer telah dapat dimanfaatkan airnya untuk membangkitkan listrik tenaga air. Yang tidak kalah penting dari Kabupaten Wonosobo adalah potensi wisata Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateau} dengan panas bumi (yang telah dimanfaatkan sebagai PLTU), kawah dan panorama yang indah. Selain itu, juga terdapat candi-candi peninggalan Kerajaan Mataram Hindu. Semuanya itu adalah daya tarik utama bagi wisatawan manca negara maupun domestik untuk berkunjung ke Wonosobo (pemanfaatan panas bumi Dieng). Gambar II.3 Peta Geologi Kabupaten Wonosobo e. Kondisi Fisiografi Secara Fisiografi Wonosobo terletak pada ujung timur Depresi Serayu yang terbentuk oleh proses orogenesa dan epirogenesa, kemudian diikuti oleh kegiatan vulkanisme dan denudasional yang cepat. Di sebelah timur Depresi Serayu dibatasi oleh Gunung Sumbing dan Sindoro yang terbentuk pada jaman Kuarter (±1,8 juta tahun yang lain), rangkaian gunung api tersebut terus berlanjut dan bersambung dengan kompleks gunung api Dieng dan Rogojembangan. Di Kawasan Dieng banyak dijumpai depresi yang terbentuk oleh pusat erupsi vulkanik pada jaman Pleistocene yang kemudian terisi oleh endapan dan sisa tumbuhan. Di samping itu terdapat hulu sungai serayu dengan anak sungai yang berada di bagian selatan, yakni di ujung timur Pegunungan Serayu Selatan yang dibatasi oleh Zone Patahan. Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 5

25 2. Potensi Pengembangan Wilayah a. Kawasan Budidaya Kawasan Budidaya di Jawa Tengah terdiri atas kawasan peruntukan Hutan Produksi, Hutan Rakyat, Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Perikanan, Pertambangan, Industri, Pariwisata dan Permukiman. Kawasan Peruntukan Hutan Produksi Kawasan peruntukan hutan produksi meliputi kawasan hutan produksi tetap dan terbatas. Penetapan kawasan hutan produksi ini mengacu pada Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 359/Menhut II/2004 tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan Wilayah Perairan Provinsi Jawa Tengah. Kawasan hutan produksi tetap di Kabupaten Wonosobo, seluas kurang lebih 6095,53 (enam ribu sembilan puluh lima koma lima puluh tiga) ha, terdapat di Kecamatan Mojotengah, Kecamatan Kertek, Kecamatan Wonosobo, Kecamatan Leksono, Kecamatan Kalikajar, Kecamatan Selomerto, Kecamatan Sapuran, Kecamatan Kepil, Kecamatan Kaliwiro, Kecamatan Kalibawang, dan Kecamatan Wadaslintang. Kawasan Hutan Rakyat Kawasan peruntukan hutan rakyat adalah kawasan hutan yang berada pada tanah yang telah dibebani hak atas tanah yang dibuktikan dengan alas titel atau hak atas tanah dan dikelola masyarakat, yang diatasnya didominasi pepohonan dalam satu ekosistem. Di Kabupaten Wonosobo hasil pendataan tahun 2009 seluas ± (sembilan belas ribu seratus delapan puluh lima) hektar, berada di seluruh kecamatan. Kawasan Peruntukan Pertanian Kawasan Peruntukan Pertanian adalah wilayah budidaya pertanian pangan dan hortikultura pada kawasan lahan pertanian basah maupun kering baik berupa lahan beririgasi, dan/ atau lahan tidak beririgasi. Kawasan lahan pertanian basah di Kabupaten Wonosobo sekitar ,01 hektar yang berada di Kecamatan Wadaslintang, Kecamatan Kepil, Kecamatan Sapuran, Kecamatan Kalibawang, Kecamatan Kaliwiro, Kecamatan Leksono, Kecamatan Sukoharjo, Kecamatan Selomerto, Kecamatan Kalikajar, Kecamatan Kertek, Kecamatan Wonosobo, Kecamatan Watumalang, Kecamatan Mojotengah, Kecamatan Garung. Kawasan peruntukan pertanian lahan kering di Kabupaten Wonosobo terletak di Kecamatan Wadaslintang, Kecamatan Kepil, Kecamatan Sapuran, Kecamatan Kalibawang, Kecamatan Kaliwiro, Kecamatan Leksono, Kecamatan Sukoharjo, Kecamatan Selomerto, Kecamatan Kalikajar, Kecamatan Kertek, Kecamatan Wonosobo, Kecamatan Watumalang, Kecamatan Mojotengah, Kecamatan Garung dan Kecamatan Kejajar. Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 6

26 Kawasan Peruntukan Perkebunan Kawasan ini adalah kawasan yang dapat diperuntukkan bagi tanaman tahunan/ perkebunan sebagai bahan baku industri dalam pengembangan agribisnis dan agroindustri maupun usaha peternakan (baik ternak besar maupun kecil). Terdapat 9 komoditas yang berkembang di Kabupaten Wonosobo, yaitu kelapa sayur, kelapa deres, kopi arabika, kopi, kakao, tembakau, teh, kapulogo, dan cengkeh. Komoditas yang menjadi andalan perkebunan di Kabupaten Wonosobo adalah kelapa deres dan kopi. Kawasan Peruntukan Peternakan Kawasan peternakan adalah kawasan untuk usaha pengembangan peternakan. Secara umum dapat digolongkan dalam 3 kelompok, yaitu ternak besar (sapi, kerbau dan kuda), ternak kecil (kambing, domba dan kelinci), dan aneka unggas (ayam, itik, dan jenis unggas lainnya). Ternak Besar yang meliputi Sapi perah, Kerbau, kuda, dan Ternak Sapi potong tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Wonosobo. Ternak kecil meliputi ternak kambing, domba dan kelinci hampir tersebar di seluruh kecamatan, sedangkan ternak babi. Ternak Unggas meliputi Ternak Itik yang berada di seluruh kecamatan, Ternak Ayam Ras Pedaging yang berda di Kecamatan Kepil, Kecamatan Kertek, Kecamatan Leksono,Kecamatan Mojotengah, Kecamatan Sapuran, Kecamatan Selomerto, Kecamatan Sukoharjo, Kecamatan Wadaslintang, Kecamatan Watumalang dan Kecamatan Wonosobo. Kawasan Peruntukan Perikanan Kawasan peruntukan perikanan di Kabupaten Wonosobo meliputi perikanan keramba, budidaya kolam air tawar dan perikanan waduk. Kawasan budidaya kolam air tawar berada di seluruh kecamatan. Kawasan peruntukan perikanan keramba terdapat di Kecamatan Wonosobo, Wadaslintang dan Garung. Kawasan peruntukan perikanan waduk dan/atau telaga terdapat di Kecamatan Wadaslintang dan Garung. Kawasan budidaya mina padi berada di pertanian sawah baik irigasi teknis maupun setengah teknis; yang terdapat di Kecamatan Wonosobo, Kertek, Selomerto,Leksono, Mojotengah, Sapuran dan Kecamatan Kepil. Kawasan Peruntukan Pertambangan Pengembangan kawasan peruntukan pertambangan di Kabupaten Wonosobo meliputi eksploitasi Bahan tambang dan pertambangan panas bumi. Eksploitasi bahan tambang berupa mineral logam, bukan logam, batuan dan batubara secara berkelanjutan berlokasi di andesit (Watumalang, Mojotengah, dan Garung), batu belah, batu gamping Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 7

27 (Sukoharjo dan Watumalang), bentonit (Kalibawang), Sirtu (Kertek, Kalikajar, Kaliwiro, dan Wadaslintang), Tanah liat/ lempung (Kaliwiro) dan tras (Watumalang, Mojotengah, Selomerto, Kaliwiro, Wadaslintang, dan Kalibawang). Pertambangan panas bumi terletak di Wilayah Kerja Pertambangan Panas Bumi Dieng di Kecamatan Kejajar. Kawasan Peruntukan Industri Kawasan Peruntukan industri besar dan sedang di Kabupaten Wonosobo terdapat di Kecamatan Kertek, Wonosobo, Selomerto Leksono, Sapuran, Kalikajar dan Kecamatan Kepil. Kawasan Peruntukan industri kecil atau mikro berada di di seluruh kecamatan. Kawasan Peruntukan Pariwisata Pusat pertumbuhan potensial sebagai kawasan pengembangan wisata di Kabupaten Wonosobo yaitu Kecamatan Kejajar, Garung, Wonosobo, Kertek, dan Wadaslintang. Kawasan Peruntukan Permukiman Kawasan pemukiman adalah kawasan yang diperuntukkan bagi pemukiman atau dengan kata lain untuk menampung penduduk yang ada di Kabupaten Wonosobo sebagai tempat hunian dengan fasilitas sosialnya. Lokasi kawasan permukiman terdiri permukiman kota dan permukiman desa. Kawasan permukiman kota mencakup wilayah pengembangan PKW, PKLp dan PPK. Kebijaksanaan pemanfaatan ruangnya didasarkan pada tujuan mengembangkan pengembangan sarana prasarana penunjangnya yang meliputi: penataan ruang kota yang mencakup penyusunan dan peninjauan kembali (evaluasi, revisi) rencana tata ruang kota. perkotaan Wonosobo. Kawasan permukiman perkotaan meliputi perkotaan Kertek, perkotaan Selomerto, perkotaan Mojotengah. perkotaan Kejajar dan perkotaan Sapuran. Kebijaksanaan pemanfaatan ruang Permukiman Pedesaan didasarkan pada tujuan untuk mengembangkan kawasan permukiman yang terkait dengan kegiatan budidaya pertanian yang meliputi pengembangan desa-desa pusat pertumbuhan yang terdapat dan utamanya di wilayah PPL yaitu Kecamatan Kepil, Kecamatan Kaliwiro, Kecamatan Wadaslintang, Kecamatan Leksono, Kecamatan Kalikajar, Kecamatan Garung, Kecamatan Watumalang, Kecamatan Sukoharjo dan Kecamatan Kalibawang. b. Kawasan Lindung Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 8

28 Kawasan Hutan Lindung Kawasan hutan lindung yang dikelola Negara terletak di Kecamatan Kejajar, Kecamatan Watumalang, Kecamatan Garung, Kecamatan Mojotengah, Kecamatan Kertek, Kecamatan Kalikajar, Kecamatan Sapuran, dan Kecamatan Kepil. Kawasan hutan lindung yang dikelola masyarakat terletak di Kecamatan Garung, Kalikajar, Kejajar, Kepil, Mojotengah, Sapuran, Sukoharjo dan Watumalang. Kawasan yang Memberikan Perlindungan bagi Kawasan Bawahannya Kawasan ini merupakan kawasan yang memberikan perlindungan bagi kawasan bawahannya berbentuk kawasan resapan air. Kawasan ini tersebar Kecamatan Kejajar, Mojotengah, Watumalang, Wonosobo, Kertek, Kalikajar, Sapuran dan Kepil.Kawasan perlindungan setempat terdiri dari kawasan sempadan sungai, sempadan pantai, sekitar mata air, dan sekitar danau/waduk/rawa. Kawasan ini meliputi 1) Kawasan Sempadan Sungai: Kawasan sepanjang kiri kanan sungai, termasuk sungai buatan/kanal/ saluran irigasi primer yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. Kawasan ini meiputi Sub DAS Begaluh, Sub DAS Bogowonto, Sub DAS Jali, Sub DAS Medono, Sub DAS Luk Ulo Hulu, Sub DAS Cokroyasan, Sub DAS Meneng dan Sub DAS Serayu 2) Kawasan Sempadan Waduk: Kawasan ini meliputi Waduk Wadaslintang di Kecamatan Wadaslintang, Kawasan Telaga (Telaga Menjer, Telaga Warno, Telaga Pengilon, dan Telaga Cebong) di Kecamatan Kejajar dan Kecamatan Garung dan Kawasan sekitar Bendung Sungai Serayu, Capar, Gintung, Bleber, Kalitulang, Preng, Begaluh, Begaluh Kecil, Bogowonto, Medono dan Cecep Kawasan Lindung Geologi 1) Kawasan Imbuhan Air Kawasan ini merupakan kawasan resapan air yang mampu menambah jumlah air tanah dalam secara alamiah pada cekungan air tanah. Kecamatan Kejajar, Kecamatan Watumalang, Kecamatan Garung, Kecamatan Mojotengah, Kecamatan Wonosobo, Kecamatan Kertek, Kecamatan Kalikajar, Kecamatan Sapuran, dan Kecamatan Kepil. 2) Kawasan Sekitar Mata Air Kawasan di sekeliling mata air yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi mata air. Terdapat di kawasan sekitar mata sepeti misalnya Silutung, Sewu, Muncar, Mlandi, Mangur, Rancah, Jalaksono, Kajaran, Mbeji, Citrolangu, Prigi, Kayubimo, Gajah, Mangli, Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 9

29 Jogopati, Plodongan, Rogojati, Mudal, Deroduwur, Sumber, Lamuk, Sunten, Brunyahan, Pager Gunung, Banyuwangi, Sibangkong, Gondang, Kidang, Sendang, Siklenteng dan Dadungan Siring, serta mata air lainnya yang ada di Kabupaten Wonosobo (970 mata air). Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam, dan Cagar Budaya Kawasan lindung ini terdiri dari cagar alam, suaka marga satwa, suaka alam laut dan perairan, kawasan pantai berhutan bakau, taman wisata alam serta kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan, meliputi : 1) Kawasan Cagar Alam Kawasan cagar alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu baik di daratan maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang berlangsung secara alami. Kawasan ini berada di CA Pantodomas (Desa Pacekelan Kecamatan Sapuran) 2) Kawasan taman wisata alam Kawasan taman wisata alam adalah kawasan yang ditunjuk memiliki keadaan yang menarik dan indah baik secara alamiah maupun bantuan manusia. Kawasan ini berada di Kompleks Telaga Pengilon dan Telaga Warno di Kecamatan Kejajar serta Cagar Alam Pantodomas 3) Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan Kawasan yang mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Lokasi kawasan ini berada di Situs Tuk Bimalukar di Desa Dieng (Kecamatan Kejajar), Situs Watu Kelir di Desa Dieng (Kecamatan Kejajar), Situs Ondho Budho di Desa Sikunang (Kecamatan Kejajar), Candi Bogang di Kecamatan Selomerto dan Situs Bongkotan di Kecamatan Kertek. 3. Wilayah Rawan Bencana Sebagian besar wilayah Kabupaten Wonosobo adalah daerah pegunungan. Bagian timur (perbatasan dengan Kabupaten Temanggung) terdapat dua gunung berapi: Gunung Sindoro (3.136 meter) dan Gunung Sumbing (3.371 meter). Daerah utara merupakan bagian dari Dataran Tinggi Dieng, dengan puncaknya Gunung Prahu (2.565 meter). Bentuk lahan vulkanik ini berpengaruh terhadap kondisi geologis, klimatologis, hidrologis dan geografis di Kabupeten Wonosobo yang berpotensimenimbulkan wilayah rawan bencana. Wilayah rawan bencana merupakan wilayah yang sering atau berpotensi tinggi mengalami bencana dan dampaknya mengancam atau mengganggu kehidupan masyarakat dan berakibat Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 10

30 timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Wonosobo Tahun ) Daerah rawan tanah longsor terdapat di Kecamatan Kepil, Kecamatan Sapuran, Kecamatan Kalikajar, Kecamatan Kejajar, Kecamatan Watumalang, Kecamatan Garung, Kecamatan Mojotengah, Kecamatan Wonosobo, Kecamatan Kertek, Kecamatan Selomerto, Kecamatan Leksono, Kecamatan Sukoharjo, Kecamatan Kaliwiro, Kecamatan Wadaslintang dan Kecamatan Kalibawang. Gambar 2.4 Peta Rawan Bencana Longsor Kabupaten Wonosobo 2) Daerah rawan angin topan terdapat di Kecamatan Wonosobo, Kecamatan Mojotengah, Kecamatan Kertek, Kecamatan Sapuran, Kecamatan Kalikajar dan Kecamatan Watumalang. 3) Daerah rawan kebakaran hutan terdapat di kecamatan yang memiliki wilayah hutan 4) Daerah rawan bencana gas beracun terdapat di Kecamatan Kejajar yang ada di Desa Sikunang, Sembungan, Jojogan, Patak, Banteng, Parikesit dan Dieng 5) Daerah rawan bencana gunung api terdiri dari rawan gunungapi di kompleks pegunungan Dieng yang meliputi Kecamatan Kejajar, Watumalang, Garung dan Mojotengah. Kemudian daerah rawan gunungapi Sindoro-Sumbing yang Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 11

31 meliputi hampir seluruh wilayah Kabupaten. Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing yang sebagian besar wilayahnya ada di Kabupaten merupakan gunung tipe C yang bersifat padam, dimana erupsinya tidak diketahui dalam sejarah manusia, namun masih terdapat tanda-tanda kegiatan masa lampau berupa lapangan solfatra/fumarola pada tingkat lemah. Meskipun bukan gunung api aktif, kedua gunung ini tetap harus diiwaspadai sewaktu-waktu dapat terjadi peningkatan aktivitas yang boleh jadi akan menimbulkan letusan gunung api. 6) Kawasan rawan bencana banjir di Kecamatan Wonosobo dan Mojotengah. 7) Kawasan rawan angin topan di Kecamatan Wonosobo, Mojotengah, Kertek, Sapuran, Kalikajar, dan Watumalang Gambar II.5 Peta Rawan Bencana Angin Topan Kabupaten Wonosobo 4. Demografi Kondisi dan perkembangan demografi berperan penting dalam perencanaan pembangunan. Penduduk menjadi salah satu modal dalam keberhasilan pembangunan suatu wilayah. Dinamika penduduk yang terdiri dari besaran, komposisi, dan distribusi penduduk berpengaruh besar terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat dan struktur ruang. Dalam proses pembangunan penduduk merupakan target utama yang akan dituju, yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Analisa kependudukan yang menyangkut masalah perubahan keadaan penduduk seperti kelahiran, kematian, jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin, Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 12

32 proyeksi jumlah penduduk dan perkembangan penduduk sangat prnting dalam proses perencanaan pembangunan. Berdasarkan data BPS pada triwulan 1 tahun 2015, penduduk Wonosobo secara de facto berjumlah orang, terdiri dari perempuan (50,70%) dan laki-laki (49,30%). Sedangkan berdasarkan catatan penduduk secara de jure dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, penduduk Wonosobo berjumlah orang, dengan proporsi perempuan (48,65%) dan laki-laki (51,35%). Selisih penduduk antara data de facto dengan data de jure mencerminkan adanya penduduk yang tidak berdomisili di Wonosobo tetapi secara administratif tercatat sebagai penduduk Wonosobo. Berdasarkan Tabel 2.2 jumlah Penduduk Kabupaten Wonosobo cenderung meningkat dengan rata-rata pertumbuhan 0,50%. Lebih detail tentang data demografis Wonosobo bisa dilihat pada tabel-tabel berikut: Tabel II.1 Penduduk Kabupaten Wonosobo Tahun Berdasarkan data BPS(Data Bulan Desember 2015) No. Kecamatan Wadaslintang Kepil Sapuran Kaliwiro Leksono Selomerto Kalikajar Kertek Wonosobo Watumalang Mojotengah Garung Kejajar Sukoharjo Kalibawang Jumlah Sumber: BPS Kabupaten Wonosobo, 2015 Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 13

33 Tabel II.2 Data Penduduk Kabupaten Wonosobo Tahun 2015Berdasarkan Pencatatan Administratif Kependudukan(Data Bulan Desember 2015) No Kecamatan Jumlah berdasarkan pencatatan Desember 2015 Laki-Laki Perempuan Jumlah 1 Wadaslintang Kepil Sapuran Kaliwiro Leksono Selomerto Kalikajar Kertek Wonosobo Watumalang Mojotengah Garung Kejajar Sukoharjo Kalibawang Jumlah Jumlah Total Sumber: Kantor Admindukcapil Kabupaten Wonosobo, 2016 B. Aspek Kesejahteraan Masyarakat 1. Kesejahteraan Dan Pemerataan Ekonomi Setiap daerah pastinya memiliki tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Kesejahteraan tidak hanya meningkatkan tetapi juga dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Pemerataan ekonomi menjadi aspek yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan pembangunan. a. Pertumbuhan PDRB Pertumbuhan ekonomi di berbagai sektor akan memberikan pengaruh yang semakin kompleks dengan makin beragam jenis dan macam kegiatan usaha.informasi yang dapat memberikan gambaran mengenai pembangunan di bidang ekonomi sangat diperlukan untuk menyongsong era globalisasi. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu ukuran tingkat keberhasilan pembangunan di bidang ekonomi sekaligus diperlukan untuk menyusun perencanaan dan evaluasi pembangunan ekonomi regional. Terdapat 2 (dua) jenis penilaian PDRB yaitu atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan.selain menjadi bahan dalam penyusunan perencanaan, Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 14

34 angka PDRB juga bermanfaat untuk bahan evaluasi hasil-hasil pembangunan yang telah dilaksanakan. Adapun beberapa kegunaan angka PDRB ini antara lain : (1) Untuk mengetahui tingkat pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan setiap sektor ekonomi; (2)Untuk mengetahui struktur perekonomian; (3)Untuk mengetahui besarnya PDRB perkapita penduduk sebagai salah satu indikator tingkat kemakmuran/kesejahteraan; (4) Untuk mengetahui tingkat inflasi/deflasi, berdasarkan pertumbuhan harga produsen. Dalam kurun waktu , pertumbuhan PDRB Kabupaten Wonosobo cenderung fluktuatif. Tahun 2011 sebesar 5,37 menurun di tahun 2012 sebesar 4,70 kemudian meningkat di tahun 2013 menjadi 5,25 tetapi di tahun 2014 mengalami penurunan menjadi 4,16 dan meningkat di tahun 2015 menjadi 5,70. Meskipun berfluktuatif ada kecenderungan meningkat yang mengindikasikan kinerja ekonomi makro di Kabupaten Wonosobo pada tahun tersebut terus membaik. Peningkatan pertumbuhan PDRB Kabupaten Wonosobo lebih didominasi oleh sektor tersier dan sekunder sedangkan sektor primer mengalami penurunan. Pertumbuhan PDRB Kabupaten Wonosobo dari tahun 2011 hingga 2015 dapat dilihat pada tabel 2.4 Tabel II. 3 Pertumbuhan PDRB Wonosobo Atas Dasar Harga Konstan Tahun Tahun **) Pertumbuhan 5,37 4,70 5,25 4,16 5,70 Sumber: BPS Kabupaten Wonosobo Ket : **) Angka sementara Gambar 2. 6 Grafik Pertumbuhan PDRB Wonosobo ,37 4,7 5,25 4,16 5, Pertumbuhan ekonomi yang lambat disebabkan oleh melemahnya lapangan usaha pertanian kehutanan dan perikanan yang menjadi sektor utama di Kabupaten Wonosobo dan juga sektor industri pengolahan juga belum bisa menunjukkan hasil yang optimal. Apabila dibandingkan dengan kabupaten lain Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 15

35 di wilayah Kedu, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Wonosobo relatif lebih rendah. Jika dibandingkan di Provinsi Jawa Tengah dan nasional, pertumbuhan ekonomi Kabupten Wonosobo belum mampu memberikan kontribusi yang signifikan bagi aktivitas perekonomian di Jawa Tengah maupun nasional. Pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah dan Nasional selama kurun waktu Tahun dapat dilihat pada Gambar 2.7 Gambar 2. 7 Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, Naisonal Tahun ,37 5,3 6,44 6,16 5,34 4,7 5,11 5,74 5,25 5,28 5,21 4,16 5,7 5,44 4, pertumbuhan ekonomi kabupaten pertumbuhan ekonomi provinsi pertumbuhan ekonomi nasional Sumber : BPS Kabupaten Wonosobo, BPS Provinsi Jawa Tengah, BPS Indonesia PDRB ADHB (Atas Dasar Harga Berlaku) PDRB ADHB (Atas Dasar Harga Berlaku) merupakan salah satu indikator ekonomi yang memberikan gambaran secara menyeluruh mengenai produk barang dan jasa yang diproduksi di suatu wilayah tertentu. Adapun pencapaian PDRB ADHB dengan masing-masing sektor Kabupaten Wonosobo adalah sebagai berikut : Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 16

36 Tabel II.4 Nilai PDRB Kabupaten Wonosobo Tahun Atas Dasar Harga Berlaku (Juta Rupiah) Sumber: BPS Wonosobo, Ket : *) Angka sementara Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat nilai PDRB berdasarkan harga konstan meningkat setiap tahunnnya dari Rp ,5 juta rupiah menjadi Rp ,1 juta rupiah. Pendorong pertumbuhan terbesar ada di sektor tersier yaitu di lapangan usaha informasi dan komunikasi, jasa pendidikan serta jasa kesehatan dan kegiatan sosial yang dalam tahun pertumbuhannya cukup tinggi. PDRB Atas Dasar Harga Konstan Tahun Dasar 2010 Tahun 2011 s.d 2015 PDRB ADHK (Atas Dasar Harga Konstan) adalah pertumbuhan riil yang tidak terpengaruh oleh unsur kenaikan harga atau inflasi. Adapun pencapaian PDRB ADHK 2010 dengan masing-masing lapangan usaha Kabupaten Wonosobo adalah sebagai berikut Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 17

37 Tabel II.5 Nilai PDRB Kabupaten Wonosobo Tahun Atas Dasar Harga KonstanTahun Dasar 2010 (Juta Rupiah) Sumber: BPS Wonosobo, Ket : *) Angka sementara Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat nilai PDRB berdasarkan harga konstan meningkat setiap tahunnnya dari Rp ,5 juta rupiah menjadi Rp ,1 juta rupiah. Pendorong pertumbuhan terbesar ada di sektor tersier yaitu di lapangan usaha informasi dan komunikasi, jasa pendidikan serta jasa kesehatan dan kegiatan sosial yang dalam tahun pertumbuhannya cukup tinggi. Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 18

38 Tabel II. 6 Struktur PDRB Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku Tahun (%) Sumber: BPS Wonosobo, Ket : *) Angka sementara Berdasarkan tabel tersebut diketahui bahwa sektor pertanian selama tahun 2011 hingga 2015 menempati posisi tertinggi dalam memberikan kontribusi kepada PDRB dengan rata-rata 34,2% disusul lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 16,9% dan industri pengolahan sebesar 16,6%. Meskipun sektor pertanian memberikan kotribusi terbesar bagi perekonomian di Wonosobo, setiap tahunnya kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB mengalami penurunan. Hal ini dapat disebabkan oleh berkurangnya lahan pertanian menjadi permukiman akibat dampak dari peningkatan jumlah penduduk, sehingga kebutuhan ruang untuk permukiman semakin berkurang atau dapat disebabkan oleh berkurangnya jumlah petani yang beralih ke sektor lain yang lebih menguntungkan seperti sektor bangunan dan jasa. Sedangkan lapangan usaha yang memberikan kontribusi yang semakin meningkat dari tahun ke tahun adalah pertambangan dan penggalian; konatruksi; transportasi dan pergudangan; penyediaan akomodasi dan makan minum; jasa keuangan dan asuransi; jasa perusahaan serta jasa kesehatan dan kegiatan sosial. Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 19

39 Gambar 2.8 Kontribusi Sektor PDRB ADHB Kab Wonosobo Tahun 2015 Lapangan usaha yang kontribusinya terhadap PDRB paling sedikit adalah pengadaan listrik dan gas yaitu sebesar 0,03% disusul jasa perusahaan sebesar 0,22% dan pertambangan dan penggalian sebesar 1,01%. b. Inflasi Inflasi merupakan salah satu indikator penting yang dapat memberikan informasi tentang dinamika perkembangan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat dan berpengaruh terhadap kemampuan daya beli masyarakat. Perkembangan harga barang dan jasa tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat daya beli. Tabel II.7 Nilai Inflasi Rata-Rata Tahun 2010 s.d 2015 Inflasi Rata-Rata Provinsi 2,68 4,24 7,99 8,22 2,73 5,17 Wonosobo 2,66 3,84 8,82 8,44 2,71 5,29 Sumber: BPS Wonosobo & BPS Jawa Tengah, 2016 Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 20

40 Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa nilai inflasi tertinggi terjadi pada tahun 2013 seiring dengan peningkatan inflasi di Jawa Tengah dan juga nasional. Tahun 2013 inflasi Kabupaten Wonosobo mencapai 8,82. Nilai inflasi terendah terjadi pada tahun 2011 yaitu 2,66 dan pada tahun 2012 yaitu sekitar 3,84%. Pada tahun 2013 nilai inflasi Kabupaten Wonosobo meningkat cukup tajam. Kenaikan inflasi ini salah satunya dipengaruhi oleh kenaikan harga bbm, makanan dan minuman jadi, minuman, rokok dan tembakau. Peningkatan inflasi makanan jadi dapat diinterpretasikan sebagai kenaikan harga bahan-bahan makanan, yang termasuk didalamnya adalah beras, daging ayam ras, telur ayam, daging sapi dan bawang merah yang mendorong peningkatan harga makanan jadi. Rokok dan tembakau juga menjadi penyebab tingginya inflasi di Kabupaten Wonosobo. Hal ini menjadi tugas dari pemerintah untuk menetapkan intervensi tentang merokok terutama bagi remaja. c. Indeks Gini Indeks Gini merupakan satu ukuran untuk melihat ketimpangan pendapatan antar penduduk. Semakin mendekati nol maka ketimpangan semakin kecil. Standar penilaian ketimpangan Gini Rasio ditentukan dengan menggunakan kriteria seperti berikut: GR < 0,35 dikategorikan sebagai ketimpangan rendah 0,35<GR<0,5 dikategorikan sebagai ketimpangan sedang(moderat) GR >0,5 dikategorikan sebagai ketimpangan tinggi Secara umum tingkat ketimpangan pendapatan antar penduduk yang terjadi di Kabupaten Wonosobo masih tergolong pada kriteria rendah, atau dengan kata lain pembagian pendapatan yang diterima penduduk cukup merata. Hal ini tergambar dari GR Kabupaten Wonosobo di mana sejak tahun 2010 angka Indeks Gini Kabupaten Wonosobo berada pada kriteria ketimpangan rendah (<0,35) kecuali pada tahun Pada tahun 2012 nilai indeks sebesar 0,38 di mana nilai ini masuk dalam ketimpangan sedang, akan tetapi di tahun 2013 menurun menjadi sebesar 0,34 dalam arti ketimpangan pendapatan antar penduduk kembali rendah atau merata. Pelaksanaan otonomi daerah menjadikan pemerintah daerah lebih terfokus dalam menentukan arah pembangunan yang bermanfaat bagi masyarakat secara keseluruhan. Dapat dikatakan bahwa tujuan pembangunan ekonomi Kabupaten Wonosobo yang telah dan sedang dilaksanakan telah berada pada jalur yang cukup baik. Perkembangan Indeks Gini Wonosobo dapat dilihat pada Gambar 2.10 Tabel II.8 Perkembangan Indeks Gini Wonosobo Tahun Gini RatioWonosobo , ,35 Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 21

41 2012 0, , Sumber: BPS Kabupaten Wonosobo &BPS Jawa Tengah, 2015 d. Pemerataan pendapatan versi bank dunia Kriteria ketimpangan pendapatan versi Bank Dunia didasarkan atas porsi pendapatan yang dinikmati oleh tiga lapisan penduduk. Tabel II.9 PerkembanganIndeks Gini Wonosobo Distribusi Pendapatan Kelompok 40% penduduk termiskin pengeluarannya <12% dari keseluruhan pengeluaran Kelompok 40% penduduk termiskin pengeluarannya 12% sampai 17% dari keseluruhan pengeluaran Pengeluarannya >17% dari keseluruhan pengeluaran Tingkat Ketimpangan atau Kesenjangan Tinggi Sedang Rendah Berdasarkan kriteria Bank Dunia, distribusi pendapatan penduduk Kabupaten Wonosobo tergolong merata pada ketimpangan rendah. Hal tersebut ditunjukkan sebesar 20,09% pendapatan dinikmati oleh 40% masyarakat berpenghasilan rendah, sebesar 36,19% oleh 40% masyarakat berpenghasilan menengah dan sebesar 43,72% oleh 20% masyarakat berpenghasilan tinggi. Data dapat dilihat pada Tabel Tabel II.10 Pemerataan Pendapatan Versi Bank Dunia Tahun Kriteria Bank Dunia 40% I 40% II 20% III ,33 39,40 35, ,71 33,36 47, ,15 29,69 53, ,09 36,19 43,72 Sumber: BPS Kabupaten Wonosobo, 2015 Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 22

42 e. Indeks Ketimpangan Regional Proses pembangunan di Kabupaten Wonosobo ternyata tidak lepas dari adanya ketimpangan kewilayahan. Ketimpangan terjadi salah satunya karena akibat dari kegiatan ekonomi yang belum merata. Secara makro terdapat kesenjangan kewilayahan khususnya antara daerah atas yang dalam hal ini termasuk beberapa kecamatan di dataran tinggi dan daerah bawah yang merupakan kota beserta beberapa kecamatan di daerah datar. Dikotomi ini tentunya menjadi salah satu hal yang harus diselesaikan secara simultan, komprehensif dan berkelanjutan mengingat bahwa potensi kemiskinan dapat timbul akibat adanya kesejangan wilayah tersebut. Ketimpangan pembangunan antar kecamatan yang terjadi di Kabupaten Wonosobo dari tahun dapat dianalisis dengan menggunakan indeks ketimpangan regional yang dinamakan indeks ketimpangan Williamson. Indeks ini dihitung dengan menggunakan komponen utama yaitu PDRB per Kapita serta jumlah penduduk masing-masing kecamatan. Angka indeks ketimpangan Williamson yang semakin kecil atau mendekati nol menunjukan ketimpangan yang semakin kecil atau dengan kata lain semakin merata, dan apabila semakin besar atau semakin jauh dari nol menunjukan ketimpangan yang semakin melebar. Tabel II.11 Indeks Ketimpangan Regional Indeks Ketimpangan Regional ,35 Sumber: BPS Kabupaten Wonosobo, 2015 Dari angka Indeks Williamson diketahui bahwa kondisi kesenjangan antar wilayah di Kabupaten Wonosobo relatif rendah, yang ditunjukkan dengan nilai Indeks Williamson mendekati nol. Namun terjadi peningkatan nilai dari tahun ke tahun sehingga ada kecenderungan bahwa tingkat kesenjangan antar wilayah semakin besar. Perkembangan angka ketimpangan di Kabupaten Wonosobo dari tahun tergolong meningkat dari 0,17 pada tahun 2010 menjadi 0,35 pada tahun Hal ini berarti ketimpangan kewilayahan di Kabupaten Wonosobo dari tahun ke tahun semakin meningkat. Perbedaan potensi antar wilayah akan menyebabkan produktivitas wilayah dalam menghasilkan nilai tambah juga berbeda karena pengaruh kondisi lingkungan serta pemanfaatan potensi yang dimiliki masing-masing wilayah dan kualitas sumber daya manusia yang berbeda.. Proses akumulasi dan mobilisasi sumber-sumber berupa akumulasi modal, ketrampilan tenaga kerja dan sumber daya alam yang dimiliki oleh suatu daerah merupakan pemicu dalam laju pertumbuhan ekonomi wilayah yang bersangkutan. Sehingga akselerasi perkembangan wilayahpun akan Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 23

43 berbeda. Adanya heterogenitas dan beragam karakteristik suatu wilayah menyebabkan kecenderungan terjadinya konsentrasi aktivitas ekonomi secara parsial dan memunculkan kondisi ketimpangan antar daerah. Semakin meningkatnya kesenjangan antar wilayah dikhawatirkan akan berdampak pada peningkatan kemiskinan daerah. Kondisi ini memerlukan perhatian lebih serius dari pemerintah agar kesenjangan antar wilayah tidak semakin tinggi. f. PDRB Perkapita (Rp ribu) PDRB per kapita dapat dijadikan salah satu indikator guna melihat keberhasilan pembangunan perekonomian di suatu wilayah. Tabel II.12 PRDB Perkapita Tahun Tahun Atas Dasar Harga Berlaku Atas Dasar Harga Konstan *) Sumber: BPS Wonosobo, Ket : *) Angka sementara Dari tabel dapat dilihat bahwa PDRB perkapita dari tahun 2011 sampai 2015 baik PDRB atas dasar harga berlaku maupun konstan terus mengalami peningkatan. PDRB pada tahun 2011 atas Dasar Harga Berlaku sebesar terus meningkat setiap tahunnya hingga mencapai pada tahun 2015 dengan pertumbuhan rata-rata pertahun 9,2%. Begitu juga dengan PDRB Atas Dasar Harga Konstan, pada tahun 2011 sebesar dan terus meningkat hingga pada tahun 2015 mencapai dengan pertumbuhan rata-rata pertahun 4,4%. 2. Kesejahteraan Sosial Kualitas kehidupan manusia secara individu atau masyarakat secara kelompok tidak hanya didasarkan pada tingkat ekonomi melainkan juga kesehatan dan pendidikan. Dalam subbab ini akan diuraikan analisis kinerja atas fokus kesejahteraan sosial yang dilakukan terhadap indikator yang relevan. Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 24

44 a. Indeks Pembangunan Manusia IPM merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia (masyarakat/penduduk). IPM juga dapat menentukan peringkat atau level pembangunan suatu wilayah/negara.bagi Indonesia, IPM merupakan data strategis karena selain sebagai ukuran kinerja Pemerintah, IPM juga digunakan sebagai salah satu alokator penentuan Dana Alokasi Umum (DAU). Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan salah satu indikator kinerja pembangunan untuk mengukur tiga dimensi pokok pembangunan manusia yang mencerminkan status kemampuan dasar penduduk, yaitu Angka Usia Harapan Hidup (UHH), capaian tingkat pendidikan (Angka Rata-rata Lama Sekolah dan Harapan Lama sekolah (tahun)), serta pengeluaran per kapita guna mengukur akses terhadap sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai standar hidup layak. Tabel. II.13 Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia Tahun Uraian Angka Harapan Hidup (tahun) Kabupaten Wonosobo Tahun ,37 70,5 70,63 70,76 70,82 71,02 Harapan Lama Sekolah (tahun) Rata-rata lama sekolah (tahun) 9,96 10,09 10,83 11,03 11,34 11,43 5,81 5,87 5,9 5,92 6,07 6,11 Pengeluaran per kapita disesuaikan (ribu rupiah PPP) IPM 62,5 63,07 64,18 64,57 65,2 65,7 Perkembangan IPM Kabupaten Wonosobo dari tahun 2010 sampai dengan 2015 menunjukkan adanya peningkatan. IPM tahun 2015 sebesar 65,70 meningkat 3,20 point jika dibanding tahun 2010 sebesar 62,50. Mengacu pada klasifikasi UNDP, sepanjang tahun 2010 sampai dengan 2015 IPM Kabupaten Wonosobo termasuk pada kategori sedang (66 IPM < 80). Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 25

45 b. Indeks Pembangunan Gender(IPG) Indeks Pembangunan Gender (IPG) adalah indeks pencapaian kemampuan dasar pembangunan manusia yang sama seperti IPM dengan memperhitungkan ketimpangan gender. Implikasi kebijakan Pengarusutamaan Gender (PUG) berpengaruh terhadap capaian IPG dan IDG. IPG merupakan indeks pencapaian kemampuan dasar pembangunan manusia dalam dimensi yang sama dengan IPM, namun lebih diarahkan untuk mengetahui kesenjangan pembangunan manusia antara laki-laki dan perempuan, terutama pada indikator pembentuk UHH, rata-rata lama sekolah, angka melek huruf, dan sumbangan dalam pendapatan kerja. Tabel. II.14 Perkembangan IPG Tahun Kabupaten Wonosobo JenisKelamin Tahun AngkaHarapanHidup Laki-laki 68,56 68,69 68,83 68,9 Perempuan 72,32 72,45 72,59 72,66 Harapan Lama Sekolah Laki-laki 10,06 10,79 10,97 11,22 Perempuan 10,09 10,83 11,12 11,5 Rata-rata Lama Sekolah Laki-laki 6,27 6,29 6,31 6,32 Perempuan 5,48 5,61 5,63 5,8 Pengeluaran Laki-laki Perempuan IPG 90,04 91,15 91,67 92,51 Sumber : Statistik Makro 2015 IPG Kabupaten Wonosobo terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, pada Tahun 2010 sebesar 54,98meningkat menjadi 58,3 pada Tahun Angka tersebut menunjukkan bahwa masih ada kesenjangan gender di Kabupaten Wonosobo, namun berbagai upaya pemberdayaan perempuan yang dilakukan setiap tahun menghasilkan angka IPG yang terus naik mendekati angka IPM yang merupakan cerminan upaya untuk menghilangkan kesenjangan gender dan mewujudkan adanya kesetaraan gender. Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 26

46 c. Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) Indek Pemberdayaan Gender (IDG) merupakan indek yang digunakan untuk mengkaji peranan perempuan dalam pengambilan keputusan dalam bidang politik ekonomi, yang didasarkan pada tiga komponen, yaitu keterwakilan perempuan dalam parlemen, perempuan sebagai tenaga profesional, dan sumbangan pendapatan. Selama tahun angka IDG cenderung naik yang menunjukkan bahwa peranan perempuan dalam pengambilan keputusan di Kabupaten Wonosobo semakin besar dan berarti. Partisipasi pekerja perempuan di lembaga pemerintah cukup tinggi yaitu berkisar antara 48% - 54%, dengan kata lain proporsi perempuan hampir seimbang dengan jumlah laki-laki yang ada di lembaga pemerintah. Hal ini menunjukkan bahwa kesempatan perempuan untuk mengabdikan diri di lembaga pemerintah sangat terbuka dan berimbang. Namun di lain sisi, tingkat partisipasi perempuan dalam lembaga legislatif atau keterwakilan perempuan dalam bidang politik masih rendah atau masih di bawah 30% yaitu pada tahun hanya 3 orang anggota DPRD atau sebesar 6,67% dan pada tahun 2014 hanya 2 orang anggota DPRD atau sebesar 4,44%. Berbagai faktor yang menjadi penyebab rendahnya keterwakilan perempuan di lembaga legislatif terutama adalah karena pandangan masyarakat yang masih kurang yakin dan kurang percaya bahwa perempuan mampu berkarya dan beraktualisasi di bidang politik. Dalam bidang pendidikan, dari data diatas tampak bahwa tingkat partisipasi perempuan di bidang pendidikan selama tahun cukup tinggi jika dilihat dari angka melek huruf perempuan di atas usia 15 tahun, yaitu berkisar antara 93% - 99%. Angka tersebut menunjukkan bahwa hampir semua perempuan usia di atas 15 tahun telah dapat membaca dan menulis, atau dapat dikatakan hampir semua perempuan usia di atas 15 tahun telah memperoleh pendidikan sehingga dapat membaca dan menulis dengan baik. Namun demikian, tingkat partisipasi perempuan di bidang pendidikan juga perlu dilihat dari tingkat pendidikan yang berhasil diraih oleh perempuan. Tabel II.15 Capaian Kinerja Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak No. Indikator 1 Indek Pembangunan Gender (IPG) 2 Indek Pemberdayaan Gender (IDG) Capaian Kinerja ,04 90,04 91,15 91,67 92,51 47, ,66 58,8 45,36 Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 27

47 No. Indikator 3 Jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak 4 % kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang ditangani Sumber : Evaluasi Capaian RPJMD Capaian Kinerja , , Data yang diperoleh dari BPS yaitu persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan, diperoleh bahwa perempuan usia 10 tahun ke atas persentase tertinggi adalah tamat SD/MI (40% - 44%) disusul dengan tamat SLTP (12% - 14%), sedangkan lulus perguruan tinggi hanya sekitar 3%, sedangkan proporsi antara laki-laki dan perempuan untuk masingmasing kategori tersebut relatif sama, atau perbedaan angkanya kecil (BPS,2014). Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar perempuan hanya lulus SD/MI dan SLTP, sedangkan lulus perguruan tinggi hanya sedikit saja, sehingga dapat disimpulkan bahwa secara umum tingkat pendidikan perempuan masih rendah. Dalam konteks ketenagakerjaan, tingkat partisipasi angkatan kerja wanita pada umumnya dipengaruhi oleh perubahan dalam struktur ekonomi yang terjadi dalam proses pembangunan. Jika dilihat perkembangannya, partisipasi angkatan kerja perempuan di Kabupaten Wonosobo cenderung menurun. Jika pada tahun 2011 tingkat partisipasi berada di posisi 59,5%, kemudian meningkat menjadi 60,65%, kemudian tahun 2013 dan 2014 menurun dengan nilai 51,56%. Jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak selama tahun mengalami penurunan yang signifikan yaitu sebanyak 374 kasus pada tahun 2011 menjadi 200 kasus pada tahun 2014, hal tersebut merupakan hasil dari berbagai upaya untuk menyerukan dan mengkampanyekan perlindungan terhadap perempuan dan anak. Walaupun mengalami penurunan, namun angka ini tetap menunjukkan bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak masih cukup tinggi. Kondisi ini selayaknya menjadi perhatian bersama baik pihak Pemkab Wonosobo maupun masyarakat secara umum, dan menjadi alasan kuat untuk lebih menguatkan kembali fungsi dan peran keluarga sebagai benteng pertahanan utama dimana perempuan dan anak-anak tinggal dan tumbuh berkembang. Semua kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak tersebut selama tahun dapat tertangani semua atau 100% dapat ditangani, hanya pada tahun 2010 dan 2011 saja yang tidak sepenuhnya tertangani (89,78% dan Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 28

48 89.84%), hal tersebut merupakan bentuk perhatian yang serius terhadap upaya perlindungan kepada perempuan dan anak oleh Pemkab Wonosobo. Selain itu, tertanganinya semua kasus tersebut juga dipengaruhi oleh dua hal, yaitu tersedianya lembaga dan unit-unit pengaduan korban kekerasan berbasis gender dan anak, dan juga meningkatnya kesadaran dan kepedulian masyarakat serta korban sendiri untuk melapor. d. Kemiskinan Persentase Penduduk Diatas Garis Kemiskinan Perkembangan tingkat kemiskinan di Kabupaten Wonosobo mengalami penurunan pada tahun Tingkat kemiskinan pada tahun 2014 sebesar 21,428 % turun sebesar0,56 % dibandingkan tahun Sebagaimana ditunjukkan pada grafik berikut Gambar II.9 Jumlah Penduduk Miskin Kabupaten Wonosobo Tahun Sumber: LP2KD 2014 Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 29

49 Gambar II.10 Jumlah Penduduk Miskin Kabupaten Wonosobo Tahun Sumber: LP2KD Kab. Wonosobo 2014 Jumlah penduduk miskin di Kabupaten Wonosobo mengalami penurunan yang cukup signifikan dari jiwa menjadi jiwa pada tahun 2014 dimana inflasi pada tahun yang sama juga mengalami penurunan. Penurunan jumlah penduduk miskin ini juga berimplikasi pada menurunnya persentase penduduk miskin dari 22,08 menjadi 21,42 persen pada tahun Gambar 2.11 Perkembangan Indeks Kedalama Kemiskinan dan Keparahan Kemiskinan Kab. Wonosobo Th ,5 4 3,5 3 2,5 2 1,5 1 0,5 0 4,52 3,96 4,05 3,91 3,74 1,09 1,25 1,09 1,04 1, P1 P2 Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 30

50 Pada periode tahun , Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan kecenderungan menurun. Indeks Kedalaman dan keparahan Kemiskinan mengalami kenaikan tajam pada tahun Dengan kenaikan sebesar 0,56 indeks kedalaman kemiskinan pada tahun 2011 bergeser naik menjadi 4,52 demikian juga dengan indeks keparahan kemiskinan yang mengalami kenaikan menjadi 1,25 pada tahun Pada periode 2 tahun berikutnya indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan meskipun melambat namun mengalami penurunan menjadi 3,74 untuk indeks kedalaman kemiskinan dan 1,07 untuk indeks keparahan kemiskinan pada tahun Grafik perkembangan Indeks kedalaman kemiskinan yang semakin mendekati nol menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung makin mendekati garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin menyempit, dengan demikian ada peningkatan rata-rata pengeluaran penduduk miskin. Sedangkan penurunan indeks keparahan kemiskinan menunjukkan semakin menyempitnya ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin. e. Ketenagakerjaan Rasio Penduduk Yang Bekerja Rasio penduduk yang bekerja merupakan perbandingan antara jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja dengan angkatan kerja. Rasio ini menggambarkan hubungan antara angkatan kerja dengan kemampuan penyerapan tenaga kerja atau bisa disebut sebagai gambaran permintaan tenaga kerja. Dari Tabel dibawah ini dapat diketahui bahwa terjadi jumlah penduduk yang bekerja dari tahun 2010 hingga 2014 cenderung meningkat, meskipun pada tahun 2011, rasio penduduk yang bekerja menurun drastis, tetapi kembali meningkat pada tahun Data rasio penduduk yang bekerja pada tahun 2014 yang diperoleh dari website resmi Depnakertrans menunjukkan nilai 0,947 atau 94,7% penduduk yang memperoleh pekerjaan sedangkan sisanya masih mencari kerja atau belum mendapatkan pekerjaan. Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 31

51 Tabel II.16 Rasio Penduduk yang Bekerja Tahun Penduduk yang bekerja Angkatan Kerja Rasio Penduduk yang bekerja , , , , ,95 Sumber: BPS Sakernas Tingkat Pengangguran Terbuka (%) Pengangguran terbuka adalah penduduk yang telah masuk dalam angkatan kerja tetapi tidak memiliki pekerjaan dan sedang mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha, serta sudah memiliki pekerjaan tetapi belum mulai bekerja. Berdasarkan data BPS tahun 2014 angka pengangguran terbuka Kabupaten Wonosobo 5,40 % masih di bawah angka provinsi (5,68%) dan nasional (5,94%). Gambar II.12 Sumber:LP2KD Kab Wonosobo Tahun 2014 Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 32

52 Tingkat Pengangguran Terbuka Kabupaten Wonosobo tahun 2014 mengalami penurunan dari tahun 2013, yaitu 5,83 menjadi 5,34 atau mengalami penurunan 0,49%. Meskipun pengangguran menurun, Pemerintah Kabupaten Wonosobo masih harus melakukan intervensi untuk penduduk yang belum memiliki pekerjaan, seperti pelatihan yang berkelanjutan, yang berarti setelah dilatih, peserta tetap harus dipantau. 4. Seni Sosial dan Budaya Strategi pembangunan urusan kepemudaan, olahraga dan kebudayaan diarahkan untuk peningkatan peran pemuda dalam pembangunan; peningkatan sarana dan prasarana olahraga; peningkatan prestasi olahraga; pelestarian seni, budaya serta nilai-nilai budaya lokal serta peningkatan kelembagaan organisasi seni, olahraga dan budaya. a. Budaya Tabel II.17 Capaian Kinerja Urusan Kebudayaan Indikator Kinerja Capaian Kinerja No. Berdasarkan EKPPD Penyelenggaraan festival seni dan budaya 2 Jumlah sarana penyelenggaraan seni dan budaya 3 Benda, Situs dan 52 % 49% 49% 48% 48% Kawasan Cagar Budaya yang dilestarikan Sumber : Evaluasi Capaian RPJMD Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa penyelenggaraan festival seni dan budaya di Kabupaten Wonosobo cenderung fluktuatif, tetapi nilainya hampir sama. Tahun 2011, jumlah penyelenggaraan festifal seni dan budaya sekitar 37 dan meningkat menjadi 39 pada tahun 2012 dan 2013, tetapi menurun pada tahun 2014 menjadi 38. Jumlah sarana penyelenggraan seni dan budaya tergolong meningkat dari enam pada tahun 2011 menjadi sebelas pada tahun Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 33

53 Benda, Situs dan Kawasan Cagar Budaya yang dilestarikan di Kabupaten Wonosobo terus mengalami penurunan.hal ini harus menjadi perhatian bagi pemerintahkabupaten Wonosobo, mengingat cagar budaya sangat penting bagi ilmu pengetahuan dan sebagai bukti sejarah Kabupaten Wonosobo. b. Olahraga Pembangunan di bidang olahraga berkaitan erat dengan kualitas hidup manusia dan masyarakat.oleh karena itu, ketersediaan sarana dan prasarana olah raga yang layak dan memadai menjadi salah satu perhatian penting pemerintah.perkembangan jumlah gedung olahraga per penduduk dan gelanggang/ balai remaja (selain milik swasta) per penduduk selama periode dapat dilihat dalam Tabel Tabel 2.19 Capaian Kinerja Urusan Pemuda dan Olahraga Tahun 2015 Capaian Kinerja Indikator No Jumlah Gelanggang/balai 0, ,002 0,002 0,002 0,002 remaja /1.000 penduduk Jumlah lapangan 1,99 2 1,69 1,99 1,99 1,99 olahraga/1.000 penduduk Sumber : LPPD AMJ : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD Berdasarkan tabel di atas, dapat terlihat bahwa dalam kurun waktu 2011 hingga 2014, jumlah gelanggang atau bali remaja per penduduk dan lapangan olahraga/1.000 penduduk tidak mengalami perubahan atau sama C. Aspek Pelayanan Umum Peningkatkan kualitas pelayanan publik yang menuntut efesiensi dan akurasi pelayanan birokrasi yang cepat, murah, dan berorientasi pada kebutuhan serta kepuasan masyarakat menjadi isu utama.dalam penyelenggaraan otonomi daerah, pemerintah daerah memiliki kewenangan mengatur dan mengurus pemerintahan sendiri baik urusan wajib maupun pilihan.hal ini merupakan ruang bagi Pemerintah Daerah untuk merealisasikan peningkatan kualitas pelayanan publik dimaksud. Urusan wajib adalah urusan pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang terkait dengan pelayanan bagi masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, perhubungan, kependudukan dan sebagainya. Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 34

54 1. Pelayanan Dasar a. Urusan Pendidikan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, tingkat partisipasi sekolah penduduk Kabupaten Wonosobo telah meningkat, baik perempuan maupun laki-laki. Keadaan ini cukup menggembirakan karena partisipasi sekolah memang diharapkan dari tahun ke tahun semakin meningkat. Peningkatan penduduk yang bersekolah selama tahun merupakan keberhasilan Kabupaten Wonosobo dalam upaya memperluas pelayanan pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari tingkat partisipasi sekolah penduduk di Kabupaten Wonosobo yang cenderung semakin meningkat. Selama kurun waktu tersebut, Angka Partisipasi Sekolah (APS) perempuan dan laki-laki usia SD (7-12 tahun) dan usia SLTP (13-15 tahun) relatif sama. Ini menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan di Kabupaten Wonosobo telah mendapat kesempatan yang sama untuk duduk di bangku pendidikan dasar. Angka Partisipasi Sekolah (APS) menurut kelompok umur dan jenis kelamin selama tahun dapat dilihat pada Tabel 2.31 Perbandingan antara kelompok usia penduduk tingkat pendidikan tampak bahwa APS anak usia tingkat pendidikan SD (7-12 tahun) lebih tinggi dibandingkan APS usia SLTP (13-15 tahun). Pada tahun 2014 APS usia 7-12 tahun mencapai 100,00 persen dan APS usia SLTP sebesar 83,42 persen. APS usia penduduk tingkat pendidikan SLTP yang lebih rendah dibanding APS usia SD dapat dipahami karena kondisi geografis wilayah Kabupaten Wonosobo yang berbukit bukit dan sulit ditempuh dan juga jarak rumah ke sekolah tingkat SLTP yang jauh, sehingga belum meliputi seluruh anak usia tahun yang ada. Tabel. II.19 Angka Partisipasi Sekolah menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Kabupaten Kelompok Umur 2012 Wonosobo Tahun LK Pr L + P LK Pr L + P LK Pr L + P LK Pr L + P ,07 99, ,83 86,4 87,47 92,54 89, ,38 42,79 43,66 48,35 46,67 47, ,67 20,63 22,07 23,67* 20,63* 22,07* Angka Melek Huruf Angka Melek Huruf adalah proporsi penduduk berusia 15 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis dalam huruf latin atau lainnya. Selama periode , capaian angka melek huruf terus mengalami peningkatan. Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 35

55 Tabel II.20 Angka Melek Huruf Kabupaten Wonosobo Tahun Capaian Melek 94,15 90,47 91,16 91,43 92,30 92,55 Huruf Sumber: LPPD AMJ Kab. Wonosobo Angka Melek Huruf (AMH) dari tahun ke tahun belum mencapai nilai 100%. Hal ini menunjukkanmasih ada masyarakat Kabupaten Wonosobo yang buta huruf. Meskipun capaian Melek huruf Kabupaten Wonosobo dari tahun 2011 hingga 2014 terus mengalami peningkatan, tetapi belum memenuhi target. Capaian Tahun 2014 hanya memenuhi target tahun 2011 dan dapat dikatakan jauh dari target tahun Angka Rata-rata Lama Sekolah Angka rata-rata lama sekolah adalah rata-rata jumlah tahun yang dihabiskan oleh penduduk usia 15 tahun ke atas untuk menempuh semua jenis pendidikan formal yang pernah dijalani.lamanya bersekolah merupakan ukuran akumulasi investasi pendidikan individu. Rata-rata lama sekolah Kabupaten Wonosobo masih jauh dari RLS 12 tahun. Pada tahun 2014 ratarata lama sekolah hanya 6,7 tahun meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 6,55 tahun. Banyak faktor yang jadi penyebab dari ketidaktercapaiannya RLS 12 tahun, antara lain persepsi masyarakat tentang pendidikan, yang dianggap belum menjanjikan, serta mahalnya biaya pendidikan juga menjadi kendala selanjutnya. Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 36

56 Gambar II.13 Grafik Rata-rata Lama Sekolah Capaian rata-rata lama sekolah dari tahun 2011 hingga 2015 masih jauh dari target RPJMD , seperti yang tergambar pada Gambar 2.8. Rata- rata lama sekolah penduduk Wonosobo usia 15 tahun keatas hanya 6,11 yang artinya hanya lulus SD atau SMP Sedangkan rata-rata lama belajar disajikan dalam tabel berikut: Tabel II.21 Rata-rata Lama Belajar Kabupaten Wonosobo Tahun Tahun Rata-Rata SD = 6,26 SD =6,28 SD=6,27 SD=6,28 SD=6,20 Lama SMP=3,09 SMP=3,03 SMP=3,01 SMP=3,01 SMP=3 Belajar SMA=3,07 SMA=3,06 SMA=2,95 SMA=2,95 SMA=2,96 Sumber: SIPD Kab Wonosobo Rata-rata lama belajar di Kabupaten Wonosobo pada tahun 2010 hingga 2014 menunjukkan peningkatan. Rata-rata lama belajar SD dari tahun 2010 hingga 2014 cenderung mengalami fluktuasi. Tahun 2010rata-rata lama belajar SD 6,26 tahun, meningkat pada tahun 2011 menjadi 6,28 tahun dan menurunpada tahun 2012, kemudian kembali meningkat pada tahun 2013 dan menurun pada tahun 2014 hingga 6,20 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian siswa SD di Kabupaten Wonosobo belum mampu menyelesaikan pendidikan SD enam tahun atau tingkat mengulang atau tidak naik kelas meningkat. Rata-rata belajar SMP cenderung stabil. Nilai tertinggi Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 37

57 pada tahun 2010 yang mencapai 3,09 tahun kemudian terus menurun hingga tahun 2014 hanya 3 tahun. Angka rata-rata lama belajar SMA/MA/SMK kurang dari 3 tahun pada tahun 2012 hingga Hal banyak siswa SMA/MA/SMK yang putus sekolah. Angka Partisipasi Murni (APM) Jenjang PAUD SMA/K Angka Partisipasi Murni (APM) adalah persentase siswa dengan usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikannya dari jumlah penduduk di usia yang sama. APM berfungsi untuk mengukur proporsi anak yang bersekolah tepat waktu. Tabel II.22 Angka Partisipasi Murni SD, SMP dan SMA Tahun APM Target capaian Capaian 91,21 92,07 92,13 91,44 91,7 95,38 SD Target ,5 93,5 95 SMP SMA Capaian 59,04 66,82 65,48 64,81 70,13 74,89 Target Capaian 32,53 31,59 32,78 34,47 35,65 38,29 Target Sumber: BPS Wonosobo Angka Partisipasi Murni Sekolah Dasar (APM SD) merupakan persentase siswa dengan usia 7-12 tahun yang bersekolah di tingkat SD dibandingkan dengan jumlah penduduk yang berusia 7-12 tahun. Perkembangan APM SD mengalami peningkatan dalam kurun waktu 2010 hingga Tahun 2010 nilai APM SD hanya 91,21 meningkat menjadi 91,7 Gambar II.14 Grafik Angka Partisipasi Murni SD, SMP dan SMA Tahun SD 91,21 92,07 92,13 91,44 91,7 95,38 SMP 59,04 66,82 65,48 64,81 70,13 74,89 SMA 32,53 31,59 32,78 34,47 35,65 38,29 Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 38

58 pada tahun Meskipun nilai APM SD pada tahun 2012 sudah mencapai 92,13, kemudian mengalami penurunan sebesar 0,69% pada tahun Penurunan ini terjadi karena banyak anak usia dibawah 7 tahun yang telah memasuki pendidikan SD dan anak usia diatas 12 tahun yang masih duduk di bangku SD. Tahun 2015, APM SD meningkat menjadi 95,38 dan sudah mencapai target RPJMD Angka Partisipasi Sekolah (APM) SMP merupakan persentase siswa dengan usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikannya dari jumlah penduduk di usia yang sama. Kelompok usia yang dihitung adalah siswa yang sekolah di tingkat SMP dengan usia tahun di bandingkan dengan kelompok usia tahun secara keseluruhan di Kabupaten Wonosobo. Nilai APM SMP di Kabupaten Wonosobo cenderung mengalami peningkatan. Peningkatan APM pada tahun 2014 sebesar 5,32 dari 64,81% pada tahun 2013 menjadi 70,13% disusul pada tahun 2015 peningkatan APM SMP mencapai 74,89. Peningkatan nilai APM ini dimulai tahun 2012, setelah tahun-tahun sebelumnya cenderung dinamis. Meskipun mengalami peningkatan, APM SMP di Kabupaten Wonosobo masih belum mencapai target RPJMD Angka Partisipasi Murni Sekolah Menengah (SMA, MA dan SMK) merupakan persentase siswa dengan usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikannya dari jumlah penduduk dengan usia yang sama. Jumlah siswa Sekolah Menengah usia tahun yang bersekolah di Kabupaten Wonosobo dibandingkan dengan jumlah penduduk usia secara keseluruhan. Perkembangan APM SLTA mengalami peningkatan sejak tahun 2010, data tahun 2014 menunjukkan nilai APM Kabupaten Wonosobo meningkat 1,18 dari tahun ,47% menjadi 35,65%. APM SMA/MA juga mengalami kenaikan pada tahun 2013 sebesar 34,47% dari tahun sebelumnya 32,78%. Sebagian Besar capaian Angka partisipasi SD, SMP, dan SMA sudah mencapi target RPJMD tahun , hanya saja Angka partisipasi Murni SD/MI/Paket A pada tahun 2013 dan 2014 masih belum memenuhi target. Tahun 2015, APM SMA juga meningkat menjadi 38,29 dan sudah mencapai target RPJMD Angka Partisipasi Kasar (APK) Jenjang PAUD SMA/K o Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD PAUD merupakan upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir hingga usia enam tahun melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 39

59 agar anak memiliki kesiapan untuk memasuki jenjang pendidikan selanjutnya.angka Partisipasi Kasar PAUD di Kabupaten Wonosobo selama kurun waktu mengalami peningkatan dari 25,3% pada Tahun 2011 menjadi 35,49 % pada Tahun Kondisi ini menunjukkan bahwa kesadaran orang tua untuk menyekolahkan anak meningkat, selengkapnya sebagaimana Gambar 2.10 Gambar II.15 Grafik Angka Partisipasi Kasar PAUD usia 0-3 Tahun Kabupaten Wonosobo Tahun , , , , , Target Capain Berdasarkan Gambar 2.7 juga menggambarkan bahwa tidak ada nilai APK yang mencapai target dari tahun 2011 hingga 2015, meskipun setiap tahun APK PAUD mengalami peningkatan. Perbedaan paling besar antara target dan capaian terjadi pada tahun 2015 dengan target 45 tetapi nilai capaian hanya 31,14.Tahun 2015, Angka Partisipasi Kasar PAUD mencapi 35,49, dan belum mencapai target RPJMD tahun Pendidikan Usia Dini (PAUD) di Kabupaten Wonosobo selama kurun waktu usia 4-6 tahun mengalami peningkatan dari 45,11% pada Tahun 2011 menjadi 66,05% pada Tahun Kondisi ini menunjukkan bahwa kesadaran orang tua untuk menyekolahkan anak meningkat selengkapnya sebagaimana tabel di bawah ini. Tabel II.23 APK Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kabupaten Wonosobo usi 4-6 tahun Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Tahun ,11 47,35 48,52 66,05 68,3 Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 40

60 Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 41

61 o Angka Partisipasi Kasar SD Angka Partisipasi Sekolah Dasar (APK SD) merupakan rasio jumlah siswa yang sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tersebut. Rasio APK SD Kabupaten Wonosobo dihitung dengan membandingkan antara jumlah siswa SD dengan jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun yang dinyatakan dalam persentase. Perkembangan APK SD Kabupaten Wonosobo selama periode 5 tahun terakhir dapat dilihat pada grafik II.11. Tabel II.24 Angka Partisipasi Kasar SD, SMP, dan SMA Tahun Sekolah Pencapaian SD Capaian Target SMP Capaian Target SMA Capaian Target ,5 60 Gambar II.16 Grafik Angka Partisipasi Kasar Sekolah Dasar Tahun Capaian 105,67 102,11 104,15 103,35 109,39 Target Perkembangan angka partisipasi kasar SD mengalami penurunan pada tahun 2014 sebesar 0,80% menjadi 103,35%. Nilai APK yang menurun menunjukkan penurunan tingkat partisipasi sekolah (tanpa memperhatikan ketepatan usia sekolah pada jenjang pendidikannya). Jika nilai APK lebih dari 100 persen menunjukkan bahwa ada penduduk yang sekolah belum mencukupi umur dan atau melebihi umur yang seharusnya. Salam kurun Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 42

62 waktu 2007 hingga 2014, nilai APK SD lebih dari 100 yang berarti banyak siswa SD yang sekolah belum mencukupi umur dan atau melebihi umur yang seharusnya. Tahun 2015, APK SD meningkat mencapi 109,39, meskipun sudah mencapai target, tetapi harus diwaspadai peningkatan jumlah siswa SD yang belum mencukupi umur atau melebihi umur 12 tahun. o Angka Partisipasi Kasar Sekolah Menengah Pertama Angka Partisipasi Sekolah Menengah Pertama (APK SMP) merupakan rasio jumlah siswa yang sedang sekolah di tingkat pendidikan terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan SMP (12-15 tahun). Tingkat perkembangan APK SMP Kabupaten Wonosobo selama periode tiga tahun terakhir dapat dilihat pada grafik berikut Gambar II.17 Grafik Angka Partisipasi Kasar SMP Tahun Capaian 87,91 86,42 86,13 91,13 95,32 Target Sumber : LKPJ-AMJ Perkembangan APK SMP mengalami peningkatan dari 5,8% tahun 2013 dari 86,13% menjadi 91,13%pada tahun Namun tahun 2013, Angka Partisipasi Kasar SMP mengalami penurunan dari tahun 2012 turun 0,29% menjadi 86,13%. Tahun 2015, APK SMP hanya meningkat menjadi 95,32 atau dengan kata lain belum mencapai target RPJMD Nilai partisipasi kasar SMP kurang dari 100 yang menunjukkan bahwa masih banyak penduduk tahun yang tidak melanjutkan sekolah SMP. Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 43

63 o Angka Partisipasi Kasar Sekolah Menengah (SMA, MA dan SMK) APK Sekolah Menengah merupakan perhitungan rasio jumlah siswa berapapun usianya yang sedang sekolah di tingkat pendidikan Sekolah Menengah (SMA, MA dan SMK) terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan Sekolah Menengah (SMA, MA dan SMK). Tingkat perkembangan APK Sekolah Menengah (SMA, MA dan SMK) di Kabupaten Wonosobo selama 5 tahun terakhir dapat dilihat pada grafik 2.13 Gambar II.18 Grafik APK SMA Tahun Kabupaten Wonosobo Capaian 47,4 45,71 47,79 51,36 54,72 Target ,5 60 Sumber: LPPD AMJ Kab. Wonosobo Angka partisipasi Kasar SMA menunjukkan perkembangan relatif meningkat pada 5 tahun terakhir, meskipun tahun 2012 APK SMA menurun dari 47,4% pada tahun 2011 menjadi 45,71% pada tahun APK SMA kembali naik pada tahun 2013 dan Jika dibandingkan dengan Capaian APK Jawa Tengah, Wonosobo berada jauh tertinggal. Data pada tahun 2012, APK Jawa Tengah sudah mencapai 67%, sedangkan Wonosobo masih berada pada dibawah dengan nilai 45,71 pada tahun Hal ini seharusnya menjadi tugas pemerintah untuk memberikan kesadaran akan pentingnya pendidikan pada masyarakat, terutama orang tua maupun siswa. Capaian APK SMA meskipun fluktuatif tetapi selalu di atas target RPJMD , kecuali pada tahun 2014, capaian APK SMA lebih rendah dibandingkan target RPJMD. Angka Putus Sekolah (APS) SD/MI Angka putus Sekolah Dasar (SD) merupakan siswa SD yang tidak mampu melanjutkan pendidikannya atau putus sekolah atau anak-anak usia sekolah SD yang sudah tidak bersekolah lagi atau yang tidak menamatkan SD. Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 44

64 Perkembangan angka putus Sekolah Dasar di Kabupaten Wonosobo dapat dilihat pada grafik berikut Gambar 2.19 Perkembangan Angka Putus Sekolah Usia 7-12 tahun Kabupaten Wonosobo Tahun Sumber: LPPD AMJ Perkembangan angka putus sekolah usia 7-12 tahun di Kabupaten Wonosobo secara umum cenderung stagnan, terutama pada tahun 2011 hingga 2014 dengan nilai sebesar 0,1. Jika jumlah murid SD , maka 75 siswa SD yang putus sekolah dari tahun 2011 hingga Jika diakumulasikan total jumlah siswa yang putus sekolah dasar 405 orang dari , yang berarti ada 405 penduduk yang belum mempunyai pengetahuan yang cukup untuk kerja di sektor formal, yang akhirnya lapangan kerjaaan mereka di sektor informal dengan penghasilan rendah. Angka Putus Sekolah (APS) SMP/MTs Angka Putus Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah siswa SMP yang tidak mampu melanjutkan pendidikannya atau putus sekolah atau anakanak usia sekolah SMP yang sudah tidak bersekolah atau yang tidak menamatkan SMP. Perkembangan angka putus sekolah SMP di Kabupaten Wonosobo dapat dilihat pada gambar II.20 Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 45

65 Gambar II.20 Angka Putus Sekolah SMP Tahun Kab. Wonosobo Sumber : LPPD AMJ : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD Angka putus sekolah SMP cenderung menurun dari tahun 2011 hingga Penurunan terbaik terjadi pada tahun 2014 yakni 0,35. Namun meskipun menurun, nilai angka putus sekolah masih tergolong tinggi, sehingga pemerintah Kabupaten Wonosobo masih perlu menggiatkan intervensi untuk pelajar SMP, baik pengadaan buku pelajaran atau beasiswa untuk yang tidak mampu atau yang lain yang bisa mencegah anak putus sekolah. Angka Putus Sekolah (APS) SMA/SMK/MA Angka Putus Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah siswa SMA yang tidak mampu melanjutkan pendidikannya atau putus sekolah atau anak-anak usia sekolah SMA yang sudah tidak bersekolah atau yang tidak menamatkan SMA. Perkembangan angka putus sekolah usia SMA di Kabupaten Wonosobo dapat dilihat pada grafik II.21 Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 46

66 Gambar II.21 Grafik Angka Putus Sekolah SMA Tahun Kab. Wonosobo Sumber : LPPD AMJ : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD Perkembangan angka putus sekolah SMA pada tahun 2011 hingga 2014 cenderung mengalami peningkatan, meskipun pada tahun 2011 nilai Angka putus sekolah menurun drastis dari 1,31% pada tahun 2010 menurun menjadi 0,9% pada tahun Namun APS SMA mengalami peningkatan drastis pada tahun 2012 menjadi 1,38%. Tahun-tahun selanjutnya cenderung stagnan dari angka 1,36 hingga 1,39. Capaian Angka Putus Sekolah SMA/SMK/MA selalu lebih tinggi dibandingkan target RPJMD , kecuali pada tahun 2011 dengan target putus sekolah 1,1 dan capaiannya sekitar 0,9. Tidak tercapainya traget putus sekolah memberikan indikasi bahwa pemerintah Kabupaten Wonosobo seyogyanya bekerja sama dengan guru untuk mengidentifikasi penyebab putus pekolah siswa SMA, sehingga target pendidikan 12 tahun terpenuhi untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang lebih baik. Angka Kelulusan (AL) SD/MI, SMP/MTs dan SMA Angka Lulus menunjukkan tingkat kelulusan siswa dalam menyelesaikan pendidikan pada masing-masing jenjang pendidikan. Capaian Angka Lulus pada Tahun mengalami fluktuasi di semua jenjang pendidikan, sebagaimana terlihat pada Tabel II.22 Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 47

67 Gambar II.22 Grafik Angka Kelulusan SD, SMP dan SMA Kab. Wonosobo SD/MI 96,64 106,7 99,26 99,92 97,66 SMP/MTs 96,64 106,7 96,45 99,25 99,98 SMA/MA 102,2 109,1 96,98 99,42 99,92 Sumber : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD Angka Kelulusan (AL) SD/MI, SMP dan SMA/SMK/MA mencapai nilai tertinggi pada tahun AL SD pada tahun 2012 mencapai 106,7%, SMP mencapai 106,7 dan AL SMA sekitar 109,1, nilai AL pada semua jenjang kemudian terus menurun hingga pada tahun 2014 AL SD 99,92Al SMP 99,25 dan AL SMA 99,42. Angka Melanjutkan (AM) Persentase siswa lulusan SD/MI dan SMP/MTs yang melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi dalam kurun waktu Tahun cenderung fluktuatif seperti yang terlihat pada tabel berikut Tabel 2.25 Angka Melanjutkan Indikator Kinerja Angka Melanjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/MTs Target Angka Melanjutkan dari SD/MI ke SMP/ MTS Angka Melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA Target Angka Melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA Sumber : LPPD AMJ Capaian Kinerja ,96 89,78 88,49 91,03 91,4 61, ,66 59,85 61,77 68,96 71, Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 48

68 Berdasarkan tabel 2.20, pada tahun 2010 angka melanjutkan dari SD ke SMP mencapai 94,85, kemudian angka melanjutkan pada tahun 2011 menurun menjadi 88,96%, dan meningkat pada tahun 2012 menjadi 89,78. Namun pada tahun 2013, angka melanjutkan menurun mencapai nilai terandah dalam kurun waktu 2011 hingga 2014, yaitu hanya 88,49. Pada tahun 2014, Angka Melanjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/MTs meningkat mencapai 91,03%. Peningkatan terus berlanjut hingga pada tahun 2015 mencapai 91,4 dan sudah mencapai target RPJMD tahun Hal ini berarti masih ada 8,7% lulusan SD yang tidak menlanjutkan sekolah hingga SMP. Angka Melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA pada tahun 2011 hingga 2014 cenderung menurun. Nilai tertinggi pada tahun 2011 yang mencapai 70,66% lulusan SMP yang melanjutkan ke SMA, kemudian menurun drastis pada tahun 2012 hingga mencapai 59,85%, yang berarti 39,15% lulusan SMP tidak melanjutkan sekolah.tahun 2013 dan 2014 Angka Melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA terus meningkat hingga tahun 2014 mencapai 68,96. Hal ini berarti 31,04% lulusan SMP tidak melanjutkan sekolah. Meskipun pada tahun 2015, Angka melanjutkan ke SMA/MA sudah meningkat menjadi 71,53, namun angka ini masih jauh dari target RPJMD tahun Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV Kualitas pendidik salah satunya ditunjukkan melalui indikator kualifikasi S1/D4 pendidik. Selama kurun waktu Tahun , persentase pendidik yang memiliki kualifikasi S1/D4 di berbagai jenjang pendidikan mengalami peningkatan hingga pada tahun 2015, guru yang memenuhi kualitas S1/D-IV mencapai 77,71%. sebagaimana tertera pada gambar II.23 Gambar II.23 Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV Tahun ,92 48,74 58,38 66,24 76,17 77, Sumber : LPPD AMJ : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 49

69 Kualitas pendidik salah satunya ditunjukkan melalui indikator kualifikasi S1/D4 pendidik. Selama kurun waktu Tahun , persentase pendidik yang memiliki kualifikasi S1/D4 di berbagai jenjang pendidikan mengalami peningkatan. Namun demikian persentase Guru SD/MI/SDLB yang memenuhi yang memenuhi kualifikasi S1/D-IVmasih relatif rendah, bahkan pada tahun 2010, hanya 16,49% guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV, yang berarti ada 83,51% guru belum memenuhi kualifikasi S!/D-IV sebagaimana tertera pada Tabel II.26 Tabel II.27 Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV Berdasarkan Jenjang Sekolah Tingkat Sekolah SD/MI SMP/Ms. Target/Capaian Capaian 16, ,1 53,57 65,9 65,9 Target Capaian 73, ,13 88,16 88,48 88,48 Target SMA/MA Dan Capaian 93,1 94,3 93,97 95,57 95,52 95,52 SMK Target Sumber : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD Presentase Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV berdasarkan jenjang sekolah baik SD, SMP dan SMA tidak mencapi target RPJMD Capain guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV SD paling jauh dari target, sebagian besar nilai hanya mencapai nilai 50% dari target yang telah ditentukan pada RPJMD b. Kesehatan Berikut ini diuraikan gambaran umum indikator kinerja dalam aspek kesehatan selama lima tahun terakhir. Angka Usia Harapan Hidup Aspek kesehatan merupakan unsur penting yang berkaitan dengan kapabilitas penduduk. Derajat kesehatan pada dasarnya dapat dilihat dari seberapa lama harapan hidup yang mampu dicapai. Semakin lama harapan hidup yang mampu dicapai merefleksikan semakin tinggi derajat kesehatannya. Angka harapan hidup menunjukkan kualitas kesehatan masyarakat, yaitu mencerminkan lamanya hidup sekaligus hidup sehat suatu masyarakat.dalam kurun waktu Tahun , Usia Harapan Hidup di Wonosobo sebesar 69,8 tahun meningkat menjadi 70,8 tahun. Meningkatnya Usia Harapan Hidup penduduk di Wonosobo disebabkan Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 50

70 semakin tingginya kesadaran masyarakat dalam memperhatikan kesehatannya melalui perilaku hidup bersih dan sehat. Tabel II.27 Angka Harapan Hidup Kab. Wonosobo Tahun Angka Harapan Hidup ,8 70,23 70,48 70,64 70,8 71,02 Sumber : LPPD AMJ : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD Gambar II.24 Tabel Angka Harapan Hidup Kab. Wonosobo Tahun , ,8 70,6 70,4 70, ,8 69, Capaian 70,23 70,48 70,64 70,8 71,02 Target 70,1 70,29 70,49 70,73 70,94 Sumber : LPPD AMJ : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD Berdasarkan gambar 2.19 capaian Angka harapan hidup selalu lebih tinggi dibandingkan target RPJMD dan diikuti pula dengan peningkatan harapan hidup setiap tahun. Hal ini menunjukkan kinerja pemerintah dalam meningkatkan kualitas kesehatan di Kabupaten Wonosobo. Prosentase Balita Gizi Buruk Prevalensi Balita Gizi Buruk di Kabupaten Wonosobo Tahun mengalami fluktuasi.prosentase balita gizi buruk terendah pada Tahun 2013 sebesar 0,015% (11 Balita) dan tertinggi Tahun 2010 sebesar 0,032% (23 balita). Prevalensi Balita Gizi Buruk di Kabupaten Wonosobo Tahun dapat dilihat pada Tabel II.28. Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 51

71 Tabel II.28 Jumlah Balita Gizi Buruk Tahun Kab. Wonosobo Indikator Capaian Kinerja Jumlah Balita Gizi Buruk Jumlah Balita Prosentase Balita Gizi Buruk Sumber : LPPD AMJ ,032 0,03 % 0,026% 0,0157% 0,020% : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD Pada tahun 2010 hingga 2014 prosentase balita gizi buruk mengalami penurunan seiring dengan jumlah balita yang gizi buruk yang juga menurun.penurunan tersebut terjadi karena berbagai upaya telah dilakukan diantaranya melalui pemberian makanan tambahan dan perawatan kepada balita gizi buruk.namun pada tahun 2014, prosentase baliti gizi buruk meningkat seiring dengan bertambahkan jumlah balita gizi buruk. Peningkatan prosentase gizi buruk bisa disebabkan oleh pola asuh ibu terhadap anaknya, faktor ekonomi yang tidak mampu membeli makanan bergizi dan dapat pula disebabkan oleh penyakit balita. Angka Kematian Ibu per kelahiran hidup Angka Kematian Ibu Melahirkan (AKI) adalah kematian perempuan pada saat hamil atau melahirkan dalam kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan, tanpa memandang lamanya kehamilan atau tempat persalinan, yakni kematian yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh dan lain sebagainya. Tabel II.29 Angka Kematian Ibu Kab. Wonosobo Tahun Indikator Capaian/ Target Angka Kematian Ibu Capaian 112,72 129,07 84,25 85,38 84,33 Target Sumber : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga RPJMD Setelah mengalami peningkatan pada tahun 2012 hingga mencapai 129,07, angka kematian ibu turun secara signifikan pada tahun 2013 menjadi Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 52

72 84,25. Akan tetapi terjadi kenaikkan pada tahun 2014 sebesar 1,34% atau nilai angka kematian Ibu sekitar 85,38 per kelahiran hidup. Penyebab tertinggi kematian ibu antara lain hipertensi, pendarahan, masih rendahnya deteksi dini kehamilan risiko tinggi oleh masyarakat dan masih kurangnya kesiapsiagaan keluarga dalam rujukan persalinan pada kehamilan risiko tinggi. Tahun 2015, angka kematian ibu menurun menjadi 84,33, tetapi masing tergolong tinggi. Kondisi ini menggambarkan derajat kesehatan masyarakat khususnya status kesehatan ibu masih perlu ditingkatkan. Angka Kematian Bayi per kelahiran hidup Angka Kematian Bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun, dinyatakan sebagai angka per Kelahiran Hidup (KH), sebagaimana tercantum dalam tabel II.29. Tabel II.30 Tabel Angka Kematian Bayi Kab. Wonosobo Indikator Capaian/Target Angka Kematian Bayi Capaian 13,23 12,98 13,1 9,55 9,66 Target 14,63 13,42 12, ,8 Sumber : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD Capaian AKB dalam kurun waktu lima tahun cenderung menurun dari 15,35 per KH Tahun 2010 menjadi 9,55 per KH pada tahun Namun meningkat pada tahun 2015 hingga mencapi 9,66. Jika tahun 2014 berdasarkan data SIPD ada 9627 bayi di Kabupaten Wonosobo, maka jumlah bayi yang meninggal adalah sekitar 90an bayi.penyebab kematian bayi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu penyebab kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan antara lain kehamilan risiko tinggi, berat badan lahir bayi rendah serta penyakit konginetal dan penyebab kematian bayi yang terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun, antara lain karena masih rendahnya pemberian ASI eksklusif, penyakit infeksi serta belum optimalnya pola asuh bayi dan balita. Angka Kematian Balita Akaba adalah jumlah anak yang dilahirkan pada tahun tertentu dan meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun, dinyatakan sebagai angka per 1000 kelahiran hidup. Nilai normatif Akaba > 140 sangat tinggi, antara 71 Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 53

73 140 sedang dan < 20 rendah. Perkembangan angka kematian balita dapat dilihat pada grafik berikut Gambar II.25 Angka Kematian Balita Sumber: LP2KD Kab Wonosobo Tahun 2014 Angka kematian balita pada tahun 2011 menurun sebesar 0.59 dan pada tahun 2012 dan 2013 adanya peningkatan walaupun melambat sebesar 0.23 dan 0.04 dan pada tahun 2014 mengalami penurunan yang cukup tajam, melampau batas terendah indeks normatif AKABA yaitu sebesar kurang dari 20. Maka dari itu tingkat kematian balita di Kabupaten Wonosobo tergolong rendah. Prevalensi Kekurangan Gizi (underwight) pada anak balita (persen) Prevalensi Kekurangan Gizi (underwight) pada anak balita di Wonosobo Tahun cenderung mengalami penurunan. Prevalensi Kekurangan Gizi (underwight) pada anak balita di Wonosobo terendah pada Tahun 2014 sebesar 2,29% dan tertinggi Tahun 2010 sebesar 10%. Penyebab balita kurang gizi dipengaruhi oleh pola asuh dan pengetahuan ibu tentang makanan bergizi. Prevalensi Kekurangan Gizi (underwight) pada anak balita di Wonosobo selama Tahun dapat dilihat pada Tabel II.31 Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 54

74 Tabel II.31 Prevalensi Gizi Kurang Kab. Wonosobo Indikator Prevalensi Gizi Kurang 10 6,9 2,35 2,49 2,29 1,74 Sumber : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD Prevalensi Stunting (pendek dan sangat pendek) pada anak baduta (bawah 2 tahun) (persen) Permasalahan gizi, khususnya anak stunting merupakan salah satu keadaan kekurangan gizi yang menjadi perhatian utama di dunia terutama di negara-negara berkembang, memberikan dampak lambatnya pertumbuhan anak, daya tahan tubuh yang rendah, kurangnya kecerdasan dan produktifitas yang rendah. Tabel II.32 Prevalensi Stunting Kab. Wonosobo Tahun Stunting % ,86% , % Sumber: Dinas Kesehatan Prevalensi Stunting balita di bawah dua tahun menurun dari 45% pada tahun 2011 menjadi 16% pada tahun Penurunan ini disebabkan oleh kebijakan pemerintah Kabupaten Wonosobo tentang PMT dan kesadaran masyarakat terhadap gizi pada anaknya. Rasio Ketersediaan Sekolah (SD s/d SMA) per penduduk usia pendidikan (SD s/d SMA) Rasio Ketersediaan Sekolah terhadap penduduk usia sekolah adalah indikator untuk mengukur kemampuan jumlah sekolah dalam menampung penduduk usia pendidikan. Rasio ini bisa diartikan jumlah sekolah berdasarkan tingkat pendidikan per jumlah penduduk usia pendidikan. Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 55

75 Tabel II.33 Rasio Ketersediaan Sekolah (SD s/d SMA) per penduduk usia pendidikan (SD s/d SMA) Jenjang Pendidikan SD/MI Jumlah Sekolah Jumlah Penduduk (7-12) Rasio Ketersediaan Sekolah SD per penduduk usia pendidikan SD 1 : : : : : 159 SMP/MTS Jumlah Sekolah Jumlah Penduduk (13-15) Rasio Ketersediaan Sekolah SMP per penduduk usia pendidikan SMP 1 : : : : : 303 SMA/MA/SMK Jumlah Sekolah Jumlah Penduduk (16-18) Rasio Ketersediaan Sekolah SMA per penduduk usia pendidikan SMA 1 : : : : : 129 Sumber : SIPD 2014 (data tabular Pendidikan, Kebudayaan Nasional Pemuda dan Olahraga Kabupaten Wonosobo) Selama kurun waktu rasio ketersediaan sekolah untuk jenjang pendidikan SD/MI mengalami peningkatan. Hal ini dikarenakan jumlah sekolah SD/MI di Kabupaten Wonosobo yang cenderung menurun dan diikuti oleh penurunan jumlah penduduk usia 7-12 tahun. Penurunan jumlah sekolah SD/MI disebabkan oleh program penggabungan sekolah, sedangkan penurunan julah penduduk usia 7-12 dapat mengindikasikan keberhasilan KB. Pada tahun 2014, perbandingan ketersediaan sekolah SD/MI di Kabupaten Wonosobo adalah 1 : 159. Angka ini menunjukkan bahwa 1 sekolah SD/MI menampung 159 siswa. Rasio ideal Ketersediaan Sekolah per penduduk usia sekolah adalah 1:190, sehingga jumlah sekolah SD/ MI di Kabupaten Wonosobo cukup memadai. Rasio ketersediaan sekolah untuk jenjang pendidikan SMP/MTS cenderung mengalami peningkatan. Nilai Tahun 2011, nilai rasio sekitar 1 : 481 kemudian meningkat menjadi 1 : 303 atau dengan kata lain satu sekolah Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 56

76 SMP dan MTS di Kabupaten Wonosobo menampung 303 penduduk usia tahun. Namun demikian kondisi tersebut menunjukkan bahwa jumlah SMP/MTs relatif kurang memadai, karena idealnya mencapai rasio satu sekolah idealnya menampung 190. Rasio ketersediaan sekolah untuk jenjang pendidikan SMA/MA/SMK mengalami peningkatan. Peningkatan ini dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu meningkatnya jumlah sekolah SMA/MA/MK atau tingginya angka putus sekolah pada jenjang SMP/MTs. Rasio Ketersediaan Sekolah SMA per penduduk usia pendidikan SMA pda tahun 2014 adalah 1:129 artinya 1 sekolah menampung 129. Hal ini menggambarkan bahwa jumlah sekolah SMA/MA/SMK di Kabupaten Wonosobo sudah memadai. Rasio Guru / Murid (SD SMA/K) Rasio guru terhadap murid adalah jumlah guru berdasarkan tingkat pendidikan per jumlah murid berdasarkan tingkat pendidikan. Rasio ini mengindikasikan ketersediaan tenaga pengajar juga mengukur jumlah ideal murid untuk satu guru agar tercapai mutu pengajaran. Selama kurun waktu tahun rasio ketersediaan guru di Kabupaten Wonosobo cukup stabil untuk seluruh jenjang pendidikan, baik SD/MI, SMP/MTs. maupun SMA/MA/SMK per jumlah murid mengalami kenaikan. Pada tahun 2014, perbandingan jumlah guru terhadap jumlah murid SD/MI di Kabupaten Wonosobo adalah 1:15. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa 1 guru SD/MI melayani (mengajar) 15 murid SD, sedangkan 1 guru SMP/MTS melayani 14 murid dan 1 guru SMA/MA/SMK melayani 13 murid. Berikut secara lengkap disajikan data mengenai kondisi ketersediaan guru/murid di Kabupaten Wonosobo per jenjang pendidikan selama kurun waktu tahun Tabel II.34 Tabel Rasio Guru dengan Peserta Didik Jenjang Pendidikan Rasio Guru dengan peserta 1:16 1:20 1:16 1:15 1:15 1:15 didik SD/MI Rasio Guru dengan peserta 1:15 1:20 1:15 1:14 1:14 1:14 didik SMP/MTs Rasio Guru dengan peserta didik SMA/SMK/MA 1:12 1:13 1:13 1:13 1:13 1:13 Sumber : LPPD AMJ Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 57

77 c. Urusan Kesehatan Rasio Posyandu Per Satuan Balita Posyandu merupakan wadah peran serta masyarakat untuk menyampaikan dan memperoleh pelayanan kesehatan dasar, diharapkan pula strategi operasional pemeliharaan dan perawatan kesejahteraan ibu dan anak secara dini, dapat dilakukan di setiap posyandu. Terkait dengan hal tersebut perlu dilakukan analisis rasio posyandu terhadap jumlah balita dalam upaya peningkatan fasilitas pelayanan pemenuhan kebutuhan tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan, dan agar status gizi maupun derajat kesehatan ibu dan anak dapat dipertahankan dan atau ditingkatkan. Adapun perkembangan rasio jumlah posyandu terhadap balita di Kabupaten Wonosobo dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel II.35 Rasio Posyandu Per Satuan Balita Tahun Jumlah Balita Posyandu Rasio Posyandu Per Satuan Balita , , , , ,0201 Rata-rata 0,0189 Sumber: SIPD (Diolah) Rasio Puskesmas, poliklinik, pustu per satuan penduduk Sarana kesehatan seperti Puskesmas, Poliklinik maupun Puskesmas Pembantu merupakan faktor penting dalam pembangunan kesehatan utamanya berfungsi sebagai pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang tersebar di pelosok. Dengan tersebarnya sarana kesehatan sampai ke pelosok berarti memudahkan jangkauan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Berikut ini disajikan tabel jumlah puskesmas, poliklinik dan puskesmas pembantu di Kabupaten Wonosobo: Tabel II.36 Rasio Puskesmas, poliklinik, pustu per satuan penduduk Jumlah Tahun Jumlah puskesmas, Posyandu Puskesmas Pustu Poliklinik penduduk pustu dan poliklinik Rasio ,002 Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 58

78 Tahun Jumlah Jumlah puskesmas, Posyandu Puskesmas Pustu Poliklinik penduduk pustu dan poliklinik Rasio , , , ,002 Sumber: SIPD (Diolah) Rasio rumah sakit per satuan penduduk Rumah sakit adalah suatu organisasi yang melalui tenaga medis professional yang terorganisasi serta sarana kedokteran yang permanen menyelenggarakan pelayanan kesehatan, asuhan keperawatan yang berkesinambungan, diagnosis serta pengobatan penyakit yang diderita oleh pasien. Rasio rumah sakit per satuan penduduk di Kabupaten Wonosobo adalah sebagai berikut: Tabel II.37 Rasio rumah sakit per satuan penduduk Tahun Rumah sakit jumlah penduduk Rumah sakit per satuan penduduk , , , , , ,0049 Sumber: SIPD (Diolah) Jumlah rumah sakit di Kabupaten Wonosobo selama periode mengalami kenaikan. Jika pada tahun 2010 tercatat terdapat 3 rumah sakit, maka pada tahun 2015 telah mencapai 4 rumah sakit. Rasio rumah sakit per satuan penduduk di Kabupaten Wonosobo pada tahun 2015 mencapai 0,0049. Pada tahun 2015 dapat dikatakan bahwa 1 rumah sakit melayani penduduk sebanyak penduduk. Rasio dokter per satuan penduduk Indikator rasio dokter per jumlah penduduk menunjukkan tingkat pelayanan yang dapat diberikan oleh dokter dibandingkan julah penduduk yang ada. Apabila dikaitkan dengan standar sistem pelayanan kesehatan terpadu, idealnya satu orang dokter melayani penduduk. Jumlah Dokter Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 59

79 dan Dokter spesialis di Kabupaten Wonosobon belum memenuhi kebutuhan sesuai rasio jumlah penduduk di Kabupaten Wonosobo. Selain itu distribusi dokter spesialis tidak merata serta kualitasnya masih perlu ditingkatkan. Berikut ini disajikan tabel rasio dokter per satuan penduduk. Tabel II.38 Rasio dokter per satuan penduduk Tahun Dokter jumlah penduduk Rasio dokter per satuan penduduk , , , , , ,1785 Sumber: SIPD (Diolah) Rasio tenaga medis per satuan penduduk Tabel II.39 Rasio Tenaga MedisPer Satuan Penduduk Tahun Jumlah Jumlah penduduk Rasio tenaga medis per satuan penduduk , , , , ,0024 Sumber: SIPD (Diolah) Tabel II.40 Capian Indikator Cakupan Kesehatan No. 1 Indikator Kinerja Berdasarkan EKPPD Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani Capaian Kinerja % 107,36% 112,72% 111,87% 100% Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 60

80 No. Indikator Kinerja Capaian Kinerja Cakupan pertolongan 99,77% persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan 98,13% 98,88% 99,53% 99,67% Cakupan Desa/kelurahan 100% Universal Child Immunization 96,23% 98,87% 100,00% 100% (UCI) Cakupan Balita Gizi Buruk 100% 100% 100% 100% 100% mendapat perawatan Cakupan penemuan dan 100% penanganan penderita 100% 100% 100% 100% penyakit TBC BTA Cakupan penemuan dan 100% penanganan penderita penyakit DBD 100% 100% 100% 100% Cakupan pelayanan 1.7% kesehatan rujukan pasien 31,63% 10,72% 31,82% - masyarakat miskin 8 Cakupan kunjungan bayi 100,92% 100,92% 105,79% 96,90% 99,26 % Sumber: Buku LKPJ , Dinas Kesehatan, 2015 (diolah) Untuk perkembangan cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani di Kabupaten Wonosobo selama periode mengalami fluktuasi. Dalam hal ini, komplikasi kebidanan yang dimaksud adalah kesakitan pada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas yang dapat mengancam jiwa ibu dan/atau bayi. Pada tahun 2015 cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani sudah mencapai 100%, Perkembangan cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan di Kabupaten Wonosobo mengalami perbaikan setiap tahunnya. Jika pada tahun 2011 cakupannya baru mencapai 98,13%, maka pada tahun 2015 sudah mencapai 99,77%. Perkembangan cakupan desa/kelurahan Universal Child Immunization (UCI) di Kabupaten Wonosobo selama periode telah mencapai 100%. Cakupan desa/kelurahan Universal Child Immunization (UCI) adalah desa/kelurahan dimana >80% dari jumlah bayi yang ada di desa/kelurahan tersebut sudah mendapat imunisasi dasar lengkap dalam waktu satu tahun. Untuk kinerja cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan di Kabupaten Wonosobo sudah mencapai tingkat yang optimal, dimana dari Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 61

81 periode 2011 hingga 2014 sudah mencapai 100%. Hal ini menunjukkan bahwa kasus balita gizi buruk sudah tertangani seluruhnya. Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA di Kabupaten Wonosobo juga sudah cukup optimal dilakukan, dari periode 2011 hingga 2015 sudah mencapai 100%. Dalam cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD selama ini di Kabupaten Wonosobo telah menunjukkan tingkat yang optimal. Selama periode cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD sudah mencapai 100%. Perkembangan cakupan kunjungan bayi selama lima tahun terakhir mengalami fluktuasi setiap tahunnya. Cakupan kunjungan bayi di tahun 2011 dan 2012 telah mencapai 100,92% dan kemudian meningkat lagi pada tahun 2013 mencapai 105,79%. Namun mengalami penurunan di tahun 2015 menjadi sebesar 99,26%. TB dan HIV menjadi penyakit menular yang menjadi prioritas program di Kabupaten Wonosobo. Angka Prevalensi TB di Kabupaten Wonosobo Tahun cenderung mengalami penurunan, sedangkan penemuan kasus HIV mengalami peningkatan. Kondisi tersebut menjadi perhatian untuk meningkatkan langkah preventif melalui advokasi, dan pemberian pemahaman bagi masyarakat serta pendampingan bagi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Kondisi prevalensi Tb dan HIV yang terdeteksi di Kabupaten Wonosobo dapat dilihat pada Tabel II.41. Tabel 2.41 Prevalensi HIV dan TB Tahun jumlah penduduk kasus TB Kasus HIV Prevalesi TB Prevalensi HIV ,455 0, ,449 0, ,309 0, ,288 0,054 Jumlah Kecamatan Yang memiliki Minimal 1 Puskesmas Terakreditasi Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 62

82 Tabel II.42 Jumlah Kecamatan Yang memiliki Minimal 1 Puskesmas Terakreditasi Tahun Jumlah (Kaliwiro) (Kaliwiro) (Kaliwiro) (Kaliwiro, Wonosobo, Garung, Selomerto) (Kaliwiro, Wonosobo, Garung, Selomerto) Sumber : Dinas Kesehatan Kab Wonosobo Jumlah Kecamatan Yang memiliki Minimal 1 Puskesmas Terakreditasi di Kabupaten Wonosobo meningkan selama 4 tahun terakhir. Tahun 2011 hanya ada satu kecamatan yang memiliki puskesmas terakreditasi, yaitu kecamatan Kaliwiro, tahun 2012 hingga 2013, masih sama. Sedangkan tahun 2015 meningkat menjadi 4 kecamatan, yaitu kecamatan Kaliwiro, Wonosobo, Garung, Selomerto. Peningkatan ini disebabkan oleh faktor manajemen puskesmas, ketersediaan tenaga kesehatan, dan pelayanan puskemas. d. Urusan Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Indikator Persentase penduduk berakses air bersih % Panjang Jalan Kabupaten dalam Kondisi Baik Ketersediaan infratruktur yang layak dan memadai merupakan aspek dasar yang diperlukan dalam proses pembangunan. Berikut ini diuraikan hasil kinerja Urusan Pekerjaan Umum dan penataan ruang di Kabupaten Wonosobo selama periode Tabel II.43 Capaian Indikator Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang 61,52 Tahun ,23% 76,5% 80,45% 83,58 85,34% 56% 65,25% 66,24% 62,28% 54,12% 57,19% Rasio jaringan irigasi 64,99% 71,05% 70,80% 72,75% 70,49% Rasio Ruang terbuka hijau per satuan luas wilayah ,57 39,4 40,13 Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 63

83 % Luas Irigasi Kabupaten Baik 63,61% 64,99% 71,05% 70,80% 72,75% 70,49 Sumber : LPPD AMJ : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD Air adalah unsur yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Bahkan dapat dipastikan tanpa pengembangan sumber daya air secara konsisten peradaban manusia tidak akan mencapai tingkat yang dinikmati sampai saat ini. Oleh karena itu pengembangan dan pengolahan sum er daya air merupakan dasar perada an manusia alah satu faktor penting penggunaan air dalam kehidupan sehari-hari adalah untuk ke utuhan air minum. Air minum yang layak sangat penting dalam menunjang kehidupan masyarakat, kualitas air minum yang layak ditetapkan harus memenuhi persyaratan fisik, persyaratan kimiawi, persyaratan mikrobiologis. Berdasarkan data akses air minum layak di Kabupaten Wonosobo, persentase air minum layak setiap tahunnya mengalami peningkatan dari tahun 2011 yang hanya 64,23% menjadi 84,61% pada tahun Hal ini berarti, pemerintah Kabupaten Wonosobo masih memiliki tugas untuk meningkatkan kualitas air minum sekitar 15,39% rumah tangga yang belum bisa mengakses air minum layak. Kebutuhan air minum layak Kabupaten Wonosobo semakin meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Permasalahan penyediaan air bersih di Kabupaten Wonosobo saat ini tidak saja hanya mencakup kuantitas tetapi juga kualitas dan kontinuitas Salah satu kebutuhan masyarakat yang sangat krusial adalah tersedianya jalur transportasi berupa jaringan jalan yang baik. Kebutuhan jalan memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah maupun terhadap kondisi sosial budaya kehidupan masyarakat. Infrastruktur jalan yang baik adalah modal sosial masyarakat dalam menjalani roda perekonomian, sehingga pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak mungkin dicapai tanpa ketersediaan infrastruktur jalan yang baik dan memadai. Kebijakan pembangunan yang tidak bertumpu pada pengembangan terhadap kompatibilitas dan optimalisasi potensi sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya fisik (buatan) akan sulit mencapai pembangunan yang berkelanjutan. Ini sering kita alami dengan terjadinya banjir di jalur-jalur utama ekonomi yang disebabkan oleh pembangunan yang kurang memperhatikan kapasitas sumber daya alam sehingga fungsi sistem sungai dan drainase tidak memadai. Ini juga telah kita alami dengan terjadinya bottle neck (jaringan jalan yang menyempit) di berbagai jaringan transportasi yang disebabkan oleh pembangunan yang tidak memperhatikan tata guna lahan sehingga kapasitas sumber daya fisik (buatan) tidak lagi mampu menampung perjalanan barang dan manusia yang dihasilkan oleh tata guna lahan. Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 64

84 Presentase panjang jaringan jalan dalam kondisi baik di Kabupaten Wonosobo cenderung mengalami penurunan tiap tahunnya, yang berarti jalan dui Kabupaten Wonosobo masih berada pada tingkatan yang belum memadai guna mendukung pergerakan orang dan barang. Jika pada tahun 2012 proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik mencapai 66,24% pada tahun 2014 mengalami penurunan menjadi sebesar 54,12%. Ini berarti hampir 1/2 panjang jaringan jalan di Kabupaten Wonosobo dalam kondisi rusak (sedang atau berat). Pada tahun 2015, 57,19% kondisi jalan di Wonosobo kondisinya baik dan sedang dari panjang total di Kabupaten Wonosobo 779,89 km. Salah satu infrastruktur yang sangat diperlukan untuk peningkatan produksi pertanian khususnya produksi beras adalah Jaringan irigasi. Jaringan irigasi diperlukan untuk pengaturan air, mulai dari penyediaan, pengambilan, pembagian, pemberian dan penggunaannya. Secara operasional jaringan irigasi dibedakan ke dalam tiga kategori yaitu jaringan irigasi primer, sekunder dan tersier. Rasio jaringan irigasi dari tahun 2011 hingga 2013 mengalami fluktuasi. Tahun 2011 rasio jaringan irigasi 64,99% kemudian meningkat menjadi 71,05% pada tahun 2012 dan menurun lagi pada tahun 2013 menjadi 70,80%. Pada tahun 2015, kondisi jaringan irigasi dalam keadaan baik sebanyak 70,49%. Pengendalian dan pemeliharaan kualitas lingkungan tidak terlepas dari penyediaan ruang terbuka hijau. Ruang terbuka hijau (RTH) di Kabupaten Wonosobo selama periode cenderung mengalami peningkatan. Jika pada tahun 2013 persentase RTH berada di tingkat 38,57%, kemudian di Tahun 2015 menjadi 40,13%. Hal ini berarti besaran sudah mencapai kondisi ideal yang dipersyaratkan, yaitu mencapai 30% dari luas wilayah. e. Urusan Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Untuk aspek tempat tinggal, diketahui bahwa rumah tinggal yang bersanitasi di Kabupaten Wonosobo mengalami perkembangan selama periode Pada tahun 2011, rumah tinggal bersanitasi berada di tingkat 33,82% dari total rumah tinggal yang ada. Kemudian di tahun 2014, tingkat capaiannya sudah mencapai 39,92%. Rumah tinggal berakses sanitasi sekurang-kurangnya mempunyai akses untuk memperoleh layanan sanitasi (1) Fasilitas air bersih (2)Pembuangan tinja (3)Pembuangan air limbah (air bekas) (4)Pembuangan sampah. Tabel II.44 Capaian Indikator Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Indikator % Rumah Tangga Bersanitasi 22,22% 24,37% 30,03% 45,02% 47,95% Rumah layak huni 0,76 0,91 0,92 0,79 Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 65

85 Indikator Rumah tangga pengguna air bersih 61,52% 64,23% 76,5% 80,45% 85,34% Lingkungan Permukiman Kumuh 0,25% 0,25% 0,25% 0,87% 0,79% Sumber : LPPD AMJ Walaupun terjadi peningkatan kinerja, namun hal ini menunjukkan bahwa ada 61,08% rumah tinggal di Kabupaten Wonosobo masih belum memenuhi aspek dasar yang dibutuhkan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan ialah melalui bantuan penyediaan MCK dan septic tank komunal terutama di kawasan kampung yang kumuh. Rumah tangga layak huni di kabupaten Wonosobo cenderung meningkat, meskipun peningkatannnya tidak signifikan.tahun 2014, rumah layak huni di Kabupaten Wonosobo 0,73 atau 73%, hal ini berarti 27% rumah di kabupaten Wonosobo tidak layak huni. Solusi yag bisa diterapkan adalah dengan memberikan bantuan stimulan untuk perbaikan rumah tidak layak huni menjadi rumah layak huni dan sehat kepada Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang tersebar di Kabupaten Wonosobo. Selain itu pemerintah juga harus memaksimalkan Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS), yakni pemberian stimulan bedah rumah untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang memiliki rumah tidak layak huni. Perkembangan cakupan rumah tangga pengguna air bersih di Kabupaten Wonosobo meningkat secara signifikan, bahkan cenderung pada tahun 2014 % rumah tangga pengguna air bersih mencapai 92,46% meningkat drastis dari tahun 2011 yang hanya sekitar 77,42%. Akses air bersih bagi masyarakat Kabupaten Wonosobo hingga kini masih belum dapat memenuhi standar kelayakan secara sepenuhnya dan potensial terancam oleh padatnya permukiman dan perubahan fisik lingkungan. Berdasarkan data dari Dinas Tata Ruang dan Ciptakarya Kabupaten Wonosobo, 0,87% termasuk ke dalam daerah pemukiman kumuh pada tahun Selama tahun 2011 hingga 2013, lingkungan permukiman kumuh stabil pada angka 0,25%, kemudian meningkat drastis. Meluasnya kawasan kumuh berkorelasi dengan meningkatnya jumlah penduduk yang pada Tahun 2014 yang mencapai f. Urusan Ketrentaman, Ketertiban Umum dan Perlindungan Masyarakat Kestabilan kondisi politik dan keamanansangat berpengaruh terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah. Stabilitas politik dan iklim politik yang kondusif akan menciptakan suasana aman, tertib, tentram dan damai guna mewujudkan keberhasilan pelaksanaan tujuan pembangunan untuk mendukung Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 66

86 terselenggaranya pembangunan daerah secara dinamis.capaian kinerja Urusan Kentrentaman, Ketertiban Umum dan Perlindungan Masyarakat di Kabupaten Wonosobo dapat dilihat dalam tabel berikut ini : Tabel II.45 Indikator Kinerja Kunci Urusan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri No. Indikator Kinerja Kunci Capaian Kinerja (IKK) Kegiatan pembinaan politik daerah Kegiatan pembinaan terhadap LSM, Ormas dan OKP 3 Rasio personil Satpol PP terhadap jumlah penduduk 0,52% 0,51% 0,51% 0,51 % 0,51 % 4 Demo/protes thd Perda/Perbup 5 Keberadaan Perda tentang PSK dan PKL (ada) (ada) (ada) (ada) (ada) Sumber : Kantor Kesbangpol&Satpol PP dan Linmas Kab. Wonosobo, 2016 Pembinaan politik daerah terus dilaksanakan baik ditujukan kepada LSM,Ormas dan OKP dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Meskipun dengan jumlah rasio personil Satpol PP per penduduk serta rasio jumlah Linmas per penduduk yang masih dibawah ideal, namun tetap dapat mempertahankan dan meningkatkan kemampuan mendeteksi dini berbagai potensi gangguan kantrantibmas, dan juga semakin menguatkan ketahanan masyarakat terhadap gangguan kantrantibmas. Aksi massa terhadap kebijakan daerah atau demo/protes terhadap Perda, Perbub pada Tahun 2015 bisa ditangani dengan baik. g. Urusan Sosial Konsep pembangunan sosial dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas kesejahteraan masyarakat yang memiliki komponen dasar yakni kecukupan (sustenance), jati diri (self-esteem), serta kebebasan (freedom). Target pembangunan sosial diarahkan pada pencapaian Standar Pelayanan Minimal Bidang Sosial mencakup 2 (dua) komponen penting yaitu Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dan Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS). Jumlah PMKS di Kabupaten Wonosobo yang terdiri dari 23 jenis PMKS yaitu Anak Jalanan, Penderita Sakit Jiwa, Gepeng (Gembel dan Pengemis), Jumlah Penderita HIV/AIDS, Jumlah Pecandu Narkoba, Sarana Rehabilitasi Sosial, Fakir Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 67

87 Miskin, Bayi Terlantar, Anak Terlantar, Lanjut Usia Terlantar, Komunitas Adat Terpencil, Penyandang Tuna, Penyandang Tuna Rungu, Penyandang Tuna Wicara, Penyandang Tuna Wicara-Rungu, Penyandang Tuna Daksa, Penyandang Tuna Grahita, Penyandang Cacat Jiwa, Penyandang Cacat Ganda, Tuna Susila, Bekas Narapidana, Pengidap HIV/AIDS, dan Korban Penyalahgunaan NAPZA. Selama tahun , jumlah anak jalana mengalami penurunan, sedangkan jumalh penderita sakit jiwa, pecandu narkoba, anak terlantar, penyandang tuna netra, pengidap HIV/AIDS, tuna susila dan bekas narapidana cenderung meningkat. Untuk lebih jelasnya berikut gambaran jumlah PMKS di Kabupaten Kabupaten yang tergambar dalam tabel berikut. Penduduk rawan Sosial dan Sarana * Tabel II.46 Jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Kab. Wonosobo Tahun Tahun Anak Jalanan Penderita Sakit Jiwa *) *) 47 Gepeng (Gembel dan Pengemis) Jumlah Penderita HIV/AIDS *) Jumlah Pecandu Narkoba *) 57 Sarana Rehabilitasi Sosial 57 *) 73 *) Fakir Miskin Bayi Terlantar Anak Terlantar Lanjut Usia Terlantar Komunitas Adat Terpencil *) *) 4549 Penyandang Tuna Netra Penyandang Tuna Rungu *) 935 *) 935 *) 935 *) Penyandang Tuna Wicara Penyandang Tuna Wicara- Rungu Penyandang Tuna Daksa Penyandang Tuna Grahita Penyandang Cacat Jiwa Penyandang Cacat Ganda Tuna Susila Bekas Narapidana Pengidap HIV/AIDS Korban Penyalahgunaan Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 68

88 Penduduk rawan Sosial Tahun dan Sarana * NAPZA Jumlah Sumber: SIPD Kabupaten Wonosobo Tabel II.47 PMKS yang Memperoleh Bantuan Sosial No. Capaian Kinerja Indikator Kinerja Pembangunan Daerah % PMKS yang memperoleh 1 bantuan sosial untuk pemenuhan kebutuhan dasar , % PMKS mandiri % PMKS terlayani jaminan sosial 5, % Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) yang ditangani % Korban bencana yang mendapat pendampingan Jumlah panti social % Meningkatnya rehabilitasi 7 berbasis masyarakat (RBM) Sumber : Dinas Sosial, ,9 66, Presentase PMKS yang mendapatkan bantuan sosial untuk pemenuhan kebutuhan dasar meningkat dalam kurun waktu 2011 hingga Pada tahun 2011, presentase PMKS yang mendapat bantuan hanya 10%, pada tahun 2015 menjadi 42,84%. Hal ini berarti ada 57,16% Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang tidak mendapatkan bantuan. h. Urusan Perhubungan Penyelenggaraan pelayanan perhubungan merupakan aspek strategis yang berdampak lintas sektoral. Kondisi pelayanan perhubungan Kabupaten Wonosobo dapat dilihat dari indikator kinerja sebagai berikut : Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 69

89 Tabel II.48 Capaian Indikator Urusan Perhubungan Kab Wonosobo Tahun Indikator Izin Trayek Perkotaan Izin Trayek Pedesaan Jumlah Uji Kir Angkutan Umum** ). Mobil Penumpang Umum ). Mobil Bus ). Mobil Barang ). Terminal Penumpang* 2 1. Kelas A Kelas B Kelas C Sumber: SIPD Kab. Wonosobo Seluruh angkutan umum yang ada di Kabupaten Wonosobo wajib memiliki izin trayek. Hal ini dimaksudkan untuk penataan, pengaturan dan pengendalian trayek angkutan umum, sehingga ini dapat meminimalisir trayek ilegal yang dilakukan para pengendara angkutan umum. Izin trayek yang telah dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten Wonosobo pada tahun 2010 sebanyak 517 izin, yang terdiri izin trayek pedesaan dan perkotaan. Izin trayek perkotaan sebanyak 345 dan izin trayek pedesaan sejumlah 172 izin. Tahun 2014 cenderung menurun dengan jumlah izin trayek yang dikeluarkan pemerintah Kabupaten Wonosobo sebanyak 489. Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 70

90 Gambar 2.26 Perkembangan Izin Trayek Kab. Wonosobo Seluruh angkutan umum yang diimpor di Kabupaten Wonosobo, baik yang dibuat dan/atau dirakit di dalam negeri dan akan dioperasikan di jalan wajib memiliki pengujian agar memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. Hal ini dimaksudkan menjamin keselamatan penumpang angkutan umum dan menjaga keseimbangan ekosistem lingkungan. Jumlah Uji Kir Angkutan Umum Gambar 2.27 Jumlah Uji Kir Angkutan Umum Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 71

91 Jumlah angkutan umum yang telah melakukan uji kir pada tahun 2010 sebanyak unit kendaraan kemudian meningkat pada tahun-tahun berikutnya hingga mencapai 2790 pada tahun 2012, tetapi kemudian menurun pada tahun 2013 yang hanya mencapai 2169 unit. 2. Urusan Wajib Non Pelayanan Dasar a. Urusan Penanaman Modal Jumlah Nilai Investasi Berskala Nasional (PMDN/PMA) Tabel II.49 Capaian Kinerja Urusan Penanaman Modal Tahun Indikator Kinerja Capaian Kinerja No Pembangunan Daerah 1. Jumlah Investasi Nilai (milyar) Investasi , ,1 191, , ,86 Sumber : LPPD AMJ : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD Semakin banyak nilai realisasi investasi PMDN dan PMA maka semakin menggambarkan ketersediaan pelayanan penunjang yang dimililiki daerah berupa ketertarikan investor untuk meningkatkan investasinya di daerah. Dan semakin banyak realisasi proyek maka akan semakin menggambarkan keberhasilan daerah dalam memberi fasilitas penunjang pada investor untuk merealisasikan investasi yang telah direncanakan. Jumlah investasi di Kabupaten Wonosobo pada tahun 2010 sebanyak 811, dengan jumlah investasi sebesar 135 milyar. Jumlah investasi terus meningkat hingga tahun 2014 sebesar dengan nilai investasi 220,45 miliyar. Berdasarkan Tabel 2.49 nilai Investasi tidak selalu mengikuti jumlah investasi. Jumlah investasi tertinggi pada tahun 2014 dengan nilai investasi 220,45 milyar, tetapi nilai investasi tertinggi justru pada tahun 2011 yaitu sebesar 293,20 dengan jumlah investasi b. Urusan Koperasi dan UMKM Peran koperasi, usaha mikro, kecil dan menengah sangat strategis dalam perekonomian, sehingga perlu menjadi fokus pembangunan ekonomi pada masa mendatang. Koperasi juga memegang peran penting dalam pengembangan kegiatan ekonomi lokal dan pemberdayaan masyarakat. Peran koperasi dalam pembangunan perekonomian antara laian sebagai penyedia Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 72

92 lapangan kerja,pencipta pasar baru dan sumber inovasi, serta sumbangannya dalam menjaga neraca pembayaran melalui kegiatan ekspor. Kinerja koperasi dapat diukur dari tingkat keaktifan koperasi, dan tingkat kesehatan koperasi khususnya pada unit Koperasi Simpan Pinjam (KSP). Tingkat keaktifan koperasi dalam kurun waktu cenderung meningkat, dari sebesar 58,1% pada Tahun 2010 menjadi sebesar 61,77% pada Tahun Prosentase jumlah koperasi aktif terhadap jumlah seluruh koperasi mengalami peningkatan dengan rata-rata kenaikan sebesar 1,5%. Meningkatnya presentase koperasi aktiv dipengaruhi oleh keaktifan pengurus dalam melakukan pengelolaan koperasi dan juga meningkatnya jumlah koperasi yang dibentuk karena adanya bantuan yang mengharuskan kelompok membentuk koperasi, sehingga pasca penerimaan bantuan, koperasi tidak lagi aktif dalam mengembangkan usaha koperasi. Perkembangan tingkat keaktifan koperasi dapat dilihat pada Tabel Tabel II.50 Tabel Capaian Indikator Urusan Koperasi dan UMKM Kab. Wonosobo Tahun No. Indikator 1. Jumlah UMKM Capaian Jumlah Koperasi Jumlah Koperasi 222 Aktif Jumlah aset Koperasi (juta) Jumlah asset UMKM 38,521 (juta) 28, Usaha Mikro dan 99,98% 99,98% 98,78% 98,85% 98,78 Kecil Aktif Sumber : LPPD AMJ : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD Jumlah usaha mikro dan kecil, ada fluktuasi penurunan prosentase jumlah usaha mikro dan kecil terhadap jumlah seluruh UMKM pada tahun Hal ini dimungkinkan karena pengaruh kenaikan harga BBM dan BBG sedangkan sebagian besar usahanya berskala rumah tangga dengan modal kecil sehingga sangat rentan terhadap kenaikan harga-harga bahan baku di pasaran. Pada Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 73

93 tahun 2014 mulai terjadi lagi peningkatan prosentase jumlah usaha mikro dan kecil sebesar 0,07%. Jumlah asset koperasi meningkat dari tahun 2011 sebesar 560 juta rupiah menjadi juta rupiah pada tahun 2014 dengan rata-rata kenaikan sebesar 180 juta rupiah, sedangkan jumlah asset UMKM meningkat dari tahun 2011 sebesar juta rupiah menjadi juta rupiah pada tahun 2014 dengan rata-rata kenaikan sebesar juta rupiah. Nilai asset koperasi dan UMKM ini telah melampaui target RPJMD c. Urusan Administrasi Kependudukan Dan Catatan Sipil Dengan jumlah penduduk sebanyak pada tahun 2014, maka penyenggaraan pelayanan kependudukan dan catatan sipil menjadi sangat penting untuk dapat dikelola secara baik. Pada tahun 2011 penduduk yang sudah memiliki KTP sebanyak 95,98%, kemudian meningkat pada tahun 2012 dan menurun pada tahun 2014 yang hanya mencapai 85,68%. Nilai ini menurun tajam dari tahun 2013 yang sudah mencapai 98,08%. Gambar 2.28 Presentase Jumlah Pemilik KTP Berbasis NIK Sumber : LPPD AMJ : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD Sedangkan untuk kepemilikan akta kelahiran di Kabupaten Wonosobo pada tahun 2010 hanya sekitar 56,84% meningkat hingga pada tahun 2015 sekitar 79,03%, Berikut secara lengkap disajikan data mengenai kepemilikan administrasi kependudukan (KTP, KK, dan Akte Kelahiran) selama kurun waktu tahun Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 74

94 No. Tabel II.51 Tabel Capaian Urusan Administrasi Kependudukan Dan Catatan Sipil Indikator Kinerja Pembangunan Daerah 1 % jumlah pemilik KTP berbasis NIK Kab. Wonosobo Tahun Capaian Kinerja (Tahun) ,23 95,98 99,53 98,08 85, % Jumlah kepemilikan KK 99,58 99,95 98,66 99,71 97, % kepemilikan Akta kelahiran 56,84 60,71 62,04 76,68 71, % penduduk yang teregristrasi 99,95 98,66 99,71 97, (jumlah penduduk yang mempunyai NIK) 5 % Anak Lahir yang membuat Akta Kelahiran 90,84 97,53 99,38 96,65 96, % penduduk meninggal yang membuat Akta Kematian 7 lama pengurusan Akte kelahiran ,7 2,2 14,89 20, hari 14 hari 14 hari 14 hari 10 hari 5 8 lama pengurusan KTP 1 hari 1 hari 1 hari 1 hari 1 hari 5 Sumber : LPPD AMJ : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD Presentase anak Lahir yang membuat Akta Kelahiran dalam kurun waktu 2010 hingga 2015 mengalami pertumbuhan yang fluktuatif. Tahun 2010, 90,84% naka lahir membuat akta kelahiran kemudian terus meningkat hingga tahun 2015 mencapai 99,58%. d. Urusan Tenaga Kerja Urusan ketenagakerjaan memiliki aspek multidimensi dan lintas sektoral sehingga peranannya menjadi salah satu aspek yang strategis dalam pembangunan daerah. Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) selama tahun fluktuatif antara 66%-84,15%, hal tersebut menunjukkan bahwa dari 100 orang penduduk usia kerja, sekitar orang termasuk angkatan kerja. Atau dapat diartikan juga bahwa dari orang penduduk usia kerja, sekitar orang diantaranya aktif secara ekonomi. Dengan demikian sisanya atau sekitar 34%-16% merupakan penduduk usia kerja yang tidak aktif secara ekonomi, baik itu dalam bentuk pengangguran maupun setengah pengangguran. Kondisi ini tentunya menjadi tanggungjawab pemerintah untuk mengupayakan agar semakin banyak penduduk usia kerja yang bisa berpenghasilan atau aktif secara ekonomi sehingga tidak menjadi beban bagi anggota keluarga lainnya. Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 75

95 Gambar 2.29 Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) Sumber : LPPD AMJ : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD Tingkat pencari kerja yang mendaftar selama tahun , yang telah ditempatkan sebesar 50%-57%, sedangkan sisanya sekitar 43%-50% masih belum memperoleh pekerjaan, atau masih menjadi pengangguran dan setengah pengangguran. Hal ini tentu juga masih menjadi permasalahan, yaitu jumlah kesempatan dan peluang kerja yang tersedia masih lebih sedikit dibanding jumlah tenaga kerja yang siap untuk mengisinya. Apabila dilihat dari kualitas tenaga kerja, ternyata jumlah tenaga kerja yang telah berpendidikan tinggi, yaitu yang telah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi selama tahun hanya sekitar 3,53%, sementara angka terbesar adalah hanya berpendidikan SD sebesar 71,02%. Dengan demikian secara kualitas, para pencari kerja memang masih terbatas pendidikan dan ketrampilannya, sehingga menyulitkan untuk mengisi lapangan kerja yang membutuhkan pendidikan dan ketrampilan tinggi atau berketrampilan khusus. Sementara itu, angka tingkat ketergantungan rasio ketergantungan selama tahun sebesar 36%-51,47% menunjukkan bahwa tanggungan penduduk Kabupaten Wonosobo adalah sebesar 36%-51,47%, yang berarti bahwa setiap 100 penduduk usia produktif harus menanggung antara penduduk usia non produktif (usia anak-anak dan penduduk usia lanjut), dan angka tersebut termasuk dalam kategori sedang. Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 76

96 No. Indikator Kinerja Kunci (IKK) 1 Tingkat partisipasi angkatan kerja 2 Pencari Kerja yang ditempatkan 3 Kualitas tenaga kerja rasio kelulusan S1, S2, S3 4 Tingkat ketergantungan rasio ketergantungan Tabel II.52 Urusan Tenaga Kerja Kab. Wonosobo Tahun Rumus ( penduduk angkatan kerja)/ ( penduduk usia kerja (15-64)) x 100% ( pekerja yg ditempatkan)/ ( pencari kerja yang mendaftar) x 100% ( lulusan 1 2, 3)/ ( penduduk) x ( penduduk usia<15thusia>64th)/ ( penduduk usia (15-64th) x 100% Sumber : LPPD AMJ Capaian Kinerja % 84, % 69,5 72,73 % % % 57,86% 57,90 % 142, : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD Transmigran Swakarsa Tabel II , Jumlah Calon Transmigran yang ditempatkan 50,21% 54,4 4% 134, ,53 % 36% 0,08% 50,49% 51,4 7% 45,43 % 299,2 8 56,76 % Tahun Jumlah calon (KK) Transmigran yang ditempatkan Sumber : LPPD AMJ : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD Jumlah calon (KK) transmigran yang ditempatkan dari tahun 2010 hingga 2014 cenderung menurun. Tahun 2010 calon transmigran sudah mencapai 56 kk. Jumlah calon transmigran pada tahun 2011 menurun menjadi 14 keluarga, kemudian meningkat pada tahun 2012 sebanyak 25 kk, kembali Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 77

97 menurun pada tahun 2013 dan terus menurun pada tahun 2015 yang hanya lima kk. Pada tahun 2015 jumlah calon transmigran naik menjadi 7 Kepala Keluarga (KK) dari tahun sebelumnya, yaitu sejumlah 5 KK di tahun 2014, walaupun sebenarnya jumlah peminat yang mendaftar sejumlah 60 KK. Oleh karena itu untuk memberikan gambaran yang obyektif dalam menilai kinerja urusan Ketransmigrasian harus dikaitkan dengan tujuan pembangunan transmigarsi itu sendiri yaitu untuk menanggulangi kemiskinan, akses penduduk untuk memperoleh tempat tinggal yang layak serta fasilitasi dalam mobilitas penduduk. Permasalahan Kemiskinan dan Kesempatan Kerja Kesempatan kerja pada suatu negara merupakan peluang bagi penduduk untuk melaksanakan fungsinya sebaga sumber ekonomi dalam proses produksi untuk mencapai kesejahteraan. Kesempatan kerja adalah jumlah penduduk yang berpartisipasi dalam pembangunan dengan melakukan suatu pekerjaan dan menghasilkan pendapatan. Kesempatan kerja meliputi kesempatan untuk bekerja, kesempatan untuk bekerja sesuai dengan pendidkan dan keterampilan, dan kesempatan untuk mengembangkan diri. Semakin banyak orang yang bekerja berarti semakin luas kesempatan kerja. Kesempatan kerja dibedakan menjadi dua golongan, yaitu : kesempatan kerja permanen dan kesempatan kerja temporer. Banyaknya Pencari Kerja Menurut Kecamatan di Kabupaten Wonosobo pada tahun 2014 dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel II.54 Banyaknya Pencari Kerja Menurut Kecamatan di Kabupaten Wonosobo tahun 2014 No Kecamatan Laki-laki Perempuan Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) 1 Wadaslintang Kepil Sapuran Kalibawang Kaliwiro Leksono Sukoharjo Selomerto Kalikajar Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 78

98 No Kecamatan Laki-laki Perempuan Jumlah 10 Kertek Wonosobo Watumalang Mojotengah Garung Kejajar Jumlah Sumber : Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Wonosobo Sedangkan berdasarkan pendidikannya, pencari kerja dapat dilihat dari tabel berikut ini: Tabel II.55 Pencari Kerja Menurut Pendidikan Di Kabupaten Wonosobo Tahun 2014 Pendidikan SD Sisa Pencari Kerja 2013 Pencari Kerja 2014 Penempata n 2014 Penghapusa n 2014 Sisa Pencari Kerja 2014 (1) (2) (3) (4) (5) (6) SLTP SLTA D1/D2 D3 D4/S1/S2/S3 Jumlah Sumber : Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Wonosobo Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 79

99 Banyaknya TenagaKerja Indonesia Antar Kerja Antar Negara (TKI AKAN) Menurut Kecamatan di Kabupaten Wonosobo, , terlihat dalam tabel berikut ini: Tabel II.56 Banyaknya TenagaKerja Indonesia Antar Kerja Antar Negara (TKI AKAN) Menurut Kecamatan di Kabupaten Wonosobo No Kecamatan (1) (2) (5) (6) (7) (8) (9) 1 Wadaslintang Kepil Sapuran Kalibawang Kaliwiro Leksono Sukoharjo Selomerto Kalikajar Kertek Wonosobo Watumalang Mojotengah Garung Kejajar Jumlah Sumber : Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Kabupaten Wonosobo Sedangkan Banyaknya Pencari Kerja Menurut Lokasi Antar Kerja Antar Daerah (AKAD) di KabupatenWonosobo, 2014 terlihat dari tabel berikut ini: Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 80

100 Tabel II.57 Banyaknya Pencari Kerja Menurut Lokasi Antar Kerja Antar Daerah (AKAD) di KabupatenWonosobo Tahun 2014 No Kecamatan Laki-laki Perempuan Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) 1 Wadaslintang Kepil Sapuran Kalibawang Kaliwiro Leksono Sukoharjo Selomerto Kalikajar Kertek Wonosobo Watumalang Mojotengah Garung Kejajar Jumlah Perkiraan tingkat partisipasi angkatan kerja merupakan persentase rasio perkiraan angkatan kerja terhadap perkiraan penduduk usia kerja. Pada tahun 2014, TPAK Kabupaten Wonosobo sebesar 73,90%. Dengan tingkat pengangguran 5,34. Dengan demikian memang sudah banyak penduduk Kabupaten Wonosobo yang bekerja, namun bila dilihat dari tempat bekerjanya, maka dapat dikatakan bahwa sebagian yang bekerja tidaklah di wilayah Kabupaten Wonosobo. Mereka bekerja melalui Antar Kerja Antar Negara, yaitu sebagai Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 81

101 TKI di luar negeri yang sebagian besar pada sektor non formal dan juga melalui Antar Kerja Antar Daerah, yang sebagian besar ke luar pulau yang bekerja sebagai buruh perkebunan kelapa sawit. Permasalahan Kemiskinan Berdasarkan Jenis Pekerjaan Penduduk usia kerja adalah penduduk yang berusia 15 hingga 65 tahun. Pada usia tersebut mereka dapat melakukan pekerjan, baik di dalam maupun di luar hubungan kerja untuk menghasilkan barang atau jasa dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat. Angkatan kerja adalah penduduk berumur lima belas tahun ke atas yang selama seminggu sebelum pencacahan bekerja atau mempunyai pekerjaan, sementara tidak bekerja, dan mereka tidak bekerja tetapi mencari pekerjaan. Dari keseluruhan angkatan kerja dalam suatu negara tidak semua mendapat kesempatan untuk bekerja sehingga angkatan kerja dikelompokkan menjadi angkatan kerja yang bekerja dan angkatan kerja yang menganggur (pengangguran terbuka). Angkatan Kerja yang bekerja pada tahun 2014 berdasarkan lapangan usaha dan daerahnya dapat dilihat dalam tabel berikut ini: Tabel II.58 Angkatan Kerja yang bekerja berdasarkan lapangan usaha dan daerahnya Tahun 2014 Lapangan Usaha Daerah (orang) Perkotaan Perdesaan Total Pertanian, kehutanan, perburuan dan perikanan Pertambangan dan penggalian Industri Pengolahan Listrik, gas dan air Bangunan Perdagangan besar, eceran, rumah makan dan hotel Angkutan, pergudangan dan komunikasi Keuangan, asuransi, usaha persewaan bangunan, tanah dan jasa perusahaan Jasa kemasyarakatan JUMLAH Sumber: BPS, Survei Angkatan Kerja Nasional Agustus 2014, diolah Pusdatinaker. Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 82

102 Angkatan Kerja yang bekerja pada tahun 2014 berdasarkan lapangan usaha dan jenis kelaminnya dapat dilihat dalam tabel berikut ini: Tabel II.59 Angkatan Kerja yang Bekerja Berdasarkan Lapangan Usaha dan Jenis Kelaminnya, Tahun 2014 Golongan Umur Jenis Kelamin (orang) Laki-Laki Perempuan Total Pertanian, kehutanan, perburuan dan perikanan Pertambangan dan penggalian Industri Pengolahan Listrik, gas dan air Bangunan Perdagangan besar, eceran, rumah makan dan hotel Angkutan, pergudangan dan komunikasi Keuangan, asuransi, usaha persewaan bangunan, tanah dan jasa perusahaan Jasa kemasyarakatan JUMLAH Sumber: BPS, Survei Angkatan Kerja Nasional Agustus 2014, diolah Pusdatinaker. Tabel II.60 Penduduk yang bekerja menurut Lapangan usaha dan status pekerjaannya Status Pekerjaan (Orang) Lapangan Usaha Berusaha sendiri Berusaha dibantu buruh tidak tetap Berusaha dibantu buruh tetap Buruh/ Karyawa n/ Pegawai Pekerja bebas di Pertani an Pekerja bebas di Non Pertani an Pekerja tidak dibayar Total Pertanian, kehutanan, perburuan dan perikanan Pertambangan dan penggalian Industri Pengolahan Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 83

103 Status Pekerjaan (Orang) Lapangan Usaha Berusaha sendiri Berusaha dibantu buruh tidak tetap Berusaha dibantu buruh tetap Buruh/ Karyawa n/ Pegawai Pekerja bebas di Pertani an Pekerja bebas di Non Pertani an Pekerja tidak dibayar Total Listrik, gas dan air Bangunan Perdagangan besar, eceran, rumah makan dan hotel Angkutan, pergudangan dan komunikasi Keuangan, asuransi, usaha persewaan bangunan, tanah dan jasa perusahaan Jasa kemasyarakatan JUMLAH Dari data yang tersaji di atas, maka bisa dibaca bahwa 54% lebih lapangan usaha adalah pada sektor Pertanian, kehutanan, perburuan dan perikanan e. Urusan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Keluarga merupakan penopang dasar perkembangan individu dalam masyarakat. Semua aspek kehidupan berawal dari keluarga. Unggul dan kuatnya individu dalam masyarakat pada awal selalu ditopang oleh institusi keluarga yang baik. Keluarga yang bahagia dan sejahtera akan membentuk masyarakat Kabupaten Wonosobo yang saling asih, bergotong dan terdorong untuk maju. Gambaran umum kondisi daerah terkait dengan urusan keluarga berencana dan keluarga sejahtera salah satunya dapat dilihat dari indikator kinerja sebagai berikut : Tabel II.61 Capain Urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Kab. Wonosobo Tahun No. 1 2 Indikator Total Fertility Rate (TFR) % KB AktIf Contrasepsi Participatory Rate (CPR) Capaian Kinerja ,35% 2,26% 1,999% 1.87% 1,78% 2,13% 81,41% 81,15% 82,07% 80.98% 80,27% 80,9% Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 84

104 No. 3 Indikator Laju Pertumbuhan Penduduk Capaian Kinerja ,01 0,66 0,15 0,82 1,27 1,27 Sumber : Evaluasi Capaian RPJMD Tujuan Program Keluarga Berencana secara demografi adalah untuk menurunkan angka kelahiran dan secara filosofis adalah untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera. Jumlah anak dalam keluarga yang dianjurkan oleh Pemerintah adalah 2 (dua) anak lebih baik. Berkaitan dengan hal di atas, dapat diketahui bahwa Total Fertility Rate (TFR) di Kabupaten Wonosobo tahun 2010 adalah 2,35% menurun menjadi 2,13 pada tahun Hal ini berarti jumlah anak dalam keluarga di Kabupaten Wonosobo selama kurun waktu tahun rata-rata berjumlah 2-3 orang anak. Penurunan rata-rata jumlah anak dapat berarti menurunnya rata-rata jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang wanita sampai dengan akhir masa reproduksinya. Laju pertumbuhan Kabupaten Wonosobo dari tahun 2010 hingga 2013 cenderung menurun. Tahun 2010 laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Wonosobo sekitar 1,01 kemudian menurun hingga pada tahun 2013 mencapai 0,82. Penurunan ini salah satunya pengaruh penurunan nilai TFR yang berarti jumlah kelahiran semakin kecil dan sebagai indikator keberhasilan KB. Peningkatan laju pertumbuhan penduduk pada tahun 2014 dimungkinkan karena faktor migrasi penduduk mengingat TFR tidak naik tapi justru menurun Angka partisipasi KB (CPR) yang selama 4 tahun mengalami fluktuasi dan cenderung turun disebabkan karena pertambahan jumlah peserta KB tidak sebanding dengan pertambahan pasangan usia subur. Menurut teori demografi jika angka TFR turun maka CPR naik, namun kejadian di Kabupaten Wonosobo dengan angka TFR yang naik dan CPR turun disebabkan karena jumlah pengguna KB jangka panjang terus meningkat sehingga angka kegagalan KB menurun. Perkembangan penggunaan metode kontrasepsi peserta KB sebagai berikut: Tabel II.62 Presentase Metode Kontrasepsi Kab. Wonosobo Tahun No. Metode Kontrasepsi 2011 (%) 2012 (%) 2013 (%) 2014 (%) 2015 (%) 1 IUD 10,02 10,15 10,34 10,32 10,38 2 MOW 8,75 8,56 8,37 7,89 7,43 3 MOP 1,39 1,33 1,3 1,35 1,32 4 Kondom 0,89 0,97 0,91 1,05 1,17 Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 85

105 No. Metode Kontrasepsi 2011 (%) 2012 (%) 2013 (%) 2014 (%) 2015 (%) 5 Implant 18,45 19,49 20,95 20,95 21,91 6 Suntik 49,95 49,58 49,46 50,38 49,72 7 Pil 10,55 9,92 8,67 8,07 8,03 Sumber : LPPD AMJ : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD Tabel II.63 Data Keluarga Pra Sejahtera dan Sejahtera I Kab. Wonosobo Tahun Tahun Jumlah Pra KS Jumlah KS I Jumlah KK % Pra KS dan KS I , , , ,91 Sumber : LPPD AMJ : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD Berdasarkan tabel di atas jumlah Pra KS selama kurun waktu 4 tahun terus mengalami penurunan yang cukup signifikan. Pada tahun 2014 jumlah Pra KS sebesar KK dan jumlah Keluarga Sejahtera I (KS I) sebesar KK atau 42.91%. f. Urusan Komunikasi dan Informatika Teknologi informasi dan komunikasi yang saat ini berkembang sangat pesat menuntut kesiapan pengguna dalam hal ini Pemerintah Daerah dalam memberikan layanan informasi yang mutakhir. Selain itu peningkatan kualitas pengawasan dan pengevaluasian oleh publik, salah satunya ditempuh melalui pemanfaatan e-government. Oleh karenanya sasaran utama dari program dan kebijakan di bidang urusan komunikasi dan informatika diarahkan untuk mencapai sasaran terinformasikanya hasil-hasil penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pem angunan kepada masyarakat dan swasta sehingga masyarakat dapat mengetahui, menilai dan memberikan masukan atas jalannya pemerintahan dan pembangunan, baik menyangkut input, ouput, outcome, benefit maupun impact yang dirasakan dari keluarnya suatu kebijakan. Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 86

106 Tabel II.64 Capaian kinerja Urusan Komunikasi dan Informatika Tahun berdasarkan Indikator Kinerja Kunci (IKK) penyelenggaraan pemerintahan daerah Indikator IKK EKPPD Rumus Capaian Kinerja Web site milik pemerintah daerah Pameran/expo Ada / tidak ada Ada ada ada ada ada Menunjukkan Jumlah pameran/expo per tahun Tabel II.65 Capaian kinerja Urusan Komunikasi dan Informatika Tahun Berdasarkan Indikator RPJMD No. Indikator Kinerja Pembangunan Daerah Capaian Kinerja Tersedianya media informasi publik yang diterbitkan oleh Pemerintah 2 Tersedianya website pemerintah daerah 3 % paket informasi yang terpublikasikan secara langsung maupun melalui media 4 Jumlah SKPD yang memiliki Sistem Informasi Manajemen 5 % Ter-Update-nya atribut data spasial 6 % Jumlah Koneksi WAN ke seluruh Kecamatan 7 % Terpasangnya VOIP di setiap SKPD 2 paket 2 paket 2 paket 14 paket 17 paket Ada (1.019 pengunjung) Sumber: Bagian Komtel Setda, diolah, 2016 Ada (978 pengunjung) ada (10445 pengunjun g) ada (10688 pengunjun g) Ada ( pengunju ng) (2 online 7 offline) 10 (3 online 7 offline) 12 (8 online 4 offline) 16 (16 online) ,50 2,50 2,50 2,50 2,50 Dari tabel capaian kinerja Urusan Komunikasi dan Informasi dapat dilihat pemanfaatan Sistem Informasi mengalami kenaikan, dengan peningkatan pada Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 87

107 jumlah SKPD yang memiliki Sistem Informasi Manajemen yang diharapkan dapat mendukung pelaksanaan tugas menjadi lebih mudah murah dan cepat. Tahun 2013 terjadi kenaikan pengunjung yang signifikan dari 978 pengunjung menjadi pengunjung. Hal ini mengindikasikan bahwa daya minat masyarakat untuk memanfaatkan website resmi Pemkab Wonosobo untuk mencari informasi semakin tinggi. Pada indikator Jumlah SKPD yang memiliki Sistem Informasi Manajemen juga mengalami peningkatan dari angka 5 di awal RPJMD menjadi 12 (8 online 4 offline), peningkatan yang sangat mencolok dari 7 yang offline di tahun 2013 menjadi 8 online di tahun 2014 dikarenakan perluasan jaringan WAN dan peningkatan kesadaran SKPD dalam kebutuhan dan keterbukaan informasi dalam mendukung pelaksanaan tugas dalam upaya peningkatan pelayanan kepada masyarakat. g. Urusan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Pemberdayaan masyarakat adalah proses pembangunan di mana masyarakat berinisiatif untuk memulai proses kegiatan sosial untuk memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri. Pemberdayaan masyarakat hanya bisa terjadi apabila warganya ikut berpartisipasi. Suatu usaha hanya berhasil dinilai sebagai "pemberdayaan masyarakat" apabila kelompok komunitas atau masyarakat tersebut menjadi agen pembangunan atau dikenal juga sebagai subyek. Disini subyek merupakan motor penggerak, dan bukan penerima manfaat atau obyek saja. Rukun Waga atau Rukun Tetangga (RW/RT) sebagai ujung tombak pelayanan kepada masyarakat hendaknya didorong untuk lebih berperan dalam penyelenggaraan proses pembangunan mulai dari perencanaan sampai dengan evaluasinya. Selain RT/RW, PKK menjadi aktor lain yang juga perlu mendapat perhatian, Jumlah tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) aktif di Kabupaten Wonosobo selama periode mengalami peningkatan. Jika pada tahun 2011 hanya 3,27% PKK yang aktif, maka di tahun capaian PKK aktif telah mencapai 78,98%. Selama periode , Rata-rata jumlah kelompok binaan lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM) di Kabupaten Wonosobo mengalami penurunan drastis, dari tahun 2011 yang telah mencapai 856, pada tahun 2014 hanya 217 LPM yang aktif sebagaimana terangkup dalam tabel 2.60 Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 88

108 Tabel II.66 Capaian kinerja Urusan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kab. Wonosobo Tahun No. Indikator Jumlah LPM Aktif Jumlah kelompok PKK aktif Jumlah binaan PKK kelompok 281/8591 x 100%=3,2 7% 6.726/ x 100% (74.99%) 6.726/8.969 x 100% = 74.99% 7.084/ x 100% = 78.98% Sumber : Evaluasi Capaian RPJMD 8.731/ x 100% =97,34% 281 h. Urusan Statistik Menurut Pasal 31 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, data adalah keterangan objektif tentang suatu fakta baik dalam bentuk kuantitatif, kualitatif, maupun gambar visual (images) yang diperoleh baik melalui observasi langsung maupun dari yang sudah terkumpul dalam bentuk cetakan atau perangkat penyimpan lainnya. Sedangkan, informasi adalah data yang sudah terolah yang digunakan untuk mendapatkan interpretasi tentang suatu fakta. Data dan informasi yang dihimpun berhubungan dengan potensi dan kondisi daerah dan merupakan bahagian penting demi hasil perencanaan yang baik dan komprehensif. Data dan informasi yang berkualitas harus dijadikan rujukan bagi penentuan kebijakan dan program sasaran yang akan dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Capaian kinerja urusan Statistik tahun dapat dilihat pada beberapa indikator sebagai berikut: Tabel II.67 Capaian Kinerja Urusan Statistik Berdasarkan IKK Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (EKPPD) Capaian kinerja No. Indikator Buku "Kabupaten dalam Ada Ada Ada Ada Ada angka 2. Buku PDRB Ka upaten Ada Ada Ada Ada Ada 3. Buku tatistik Daerah Tidak ada Ada Ada Ada Ada 4. Buku Nilai Tukar Petani Tidak Tidak ada ada Sumber : Bappeda Kab. Wonosobo, 2016 Ada Ada Tidak ada Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 89

109 Tabel II.68 Capaian Kinerja Urusan Statistik berdasarkan Indikator RPJMD Indikator Kinerja Capaian Kinerja No Pembangunan Daerah Tersedianya data ada ada ada Ada Ada statistik daerah 2 % validitas data 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Sumber : Bappeda Kab. Wonosobo, 2016 i. Urusan Persandian Urusan persandian adalah urusan pemerintahan konkuren yang bersifat wajib bagi seluruh pemerintah daerah di tingkat provinsi, kabupaten, dan kota. Dalam pengaturannya secara jelas diamanatkan bahwa instansi pusat wajib melakukan pembinaan dan pengawasan teknis kepada pemerintah provinsi, selanjutnya pemerintah provinsi melakukan pembinaan dan pengawasan kepada kabupaten/kota di bawahnya. Selama ini di tingkat pusat, Lembaga Sandi Negara sebagai instansi pemerintah yang bertugas di bidang persandian, selama ini sudah secara aktif melakukan pembinaan persandian di lingkup nasional baik untuk pemerintah pusat maupun pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota. Fungsi Persandian untuk pengamanan informasi merupakan tantangan berat karena SDM Persandian yang ada saat ini belum mempunyai kompetensi yang mencukupi untuk mengamankan informasi berbasis IT.Adapun Penjabaran Fungsi Persandian pada Pemerintah Kabupaten Wonosobo diarahkan pada :Tata Kelola Penjaminan Keamanan Informasi Berklasifikasi; Pengelolaan Sumber Daya Persandian; Dukungan Layanan Operasional Persandian untuk Keamanan Informasi; dan Pengawasan Penyelenggaraan Persandian untuk Keamanan Informasi Internal j. Urusan Perencanaan Pelaksanaan perencanaan pembangunan nasional sebagaimana dimaksud dalam undang undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional bahwasanya dalam sistem perencanaan pembangunan nasional dan daerah mengamanatkan adanya partisipasi dan keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan, selain itu mengemban juga dua misi utama di dalamnya. Pertama, terciptanya penyelenggaraan pembangunan di tingkat daerah yang partisipatif. Kedua, Pemerataan pembangunan di seluruh daerah dengan mengoptimalkan kemampuan, prakarsa, kreativitas, inisiasi dan partisipasi masyarakat, serta kemampuan untuk mengurangi dominasi pemerintah dalam melaksanakan pembangunan dengan prinsip-prinsip good governance. Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 90

110 f. Urusan Keuangan Pengelolaan keuangan daerah yang transparan dan akuntabel melalui Sistem Informasi Pengelolaan Keuangan Daerah (SIPKD) mendasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Permendagri Nomor 21 Tahun Pengelolaan keuangan daerah dilaksanakan dengan mengedepankan prinsip-prinsip berbasis akuntansi, nilai historis, realistis, periodisitas, konsisten, pengungkapan lengkap dan penyajian wajar. Optimalisasi pengelolaan aset daerah dilaksanakan dalam rangka meningkatkan pemanfaatan dan pendayagunaan aset daerah untuk mendukung peningkatan PAD. Untuk itu dilakukan optimalisasi penggunaan dan pemanfaatan aset daerah, up dating data pengadaan dan mutasi, pengamanan aset, penghapusan dan pemindahtanganan Barang Milik Daerah (BMD), inventarisasi BMD, dan peningkatan manajemen aset daerah. No. Tabel II.69 Capaian kinerja Urusan Perencanaan Pembangunan Tahun Berdasarkan Indikator Kinerja Kunci (IKK) Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Indikator Kinerja 1 Tersedianya dokumen perencanaan RPJPD yg telah ditetapkan dgn PERDA Perda RPJP 2 Tersedianya Dokumen Perencanaan : RPJMD yg telah ditetapkan dgn PERDA/PERKADA Capaian Kinerja ada Perda nomor 1 Tahun 2010 tentang RPJP ada Perda no. 1 Tahun 2011 tentang RPJMD Kab Wonosob o Tahun ada Perda nomor 1 Tahun 2010 tentang RPJP Ada Perda no. 1 Tahun 2011 tentang RPJMD Kab Wonosob o Tahun Ada Perda nomor 1 Tahun 2010 tentang RPJP Ada Perda no. 1 Tahun 2011 tentang RPJMD Kab Wonosob o Tahun Ada Perda nomor 1 Tahun 2010 tentang RPJP Ada Perda no. 1 Tahun 2011 tentang RPJMD Kab Wonosob o Tahun Ada Perda nomor 1 Tahun 2010 tentang RPJP Ada Perda no. 1 Tahun 2011 tentang RPJMD Kab Wonosobo Tahun % Ketepatan 100% 100% 100% 100% 100% waktu tahapan Musrenbang RKPD 4 % kesesuaian 85,12% 85,12% 83,69% 1060/ ,29% Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 91

111 No. Indikator Kinerja program RKPD dengan APBD 5 Tersedianya Dokumen Perencanaan : RKPD yg telah ditetapkan dgn PERDA 6 Tersedianya data profil daerah 7 Tersedianya dokumen evaluasi pembangunan 8 Penjabaran Program RPJMD ke dalam RKPD (Jumlah program RKPD tahun berkenaan) / (Jumlah program RPJMD yang harus dilaksanakan tahun berkenaan) x 100 % Capaian Kinerja ada Perbup no. 19 tahun 2011 tentang Rencana Kerja Pemerinta han Daerah Kab. Wonosob o Tahun 2012 Ada Perbup no. 19 tahun 2011 tentang Rencana Kerja Pemerinta han Daerah Kab. Wonosob o Tahun 2012 Ada Perbup No. 12 tahun 2012 tentang Rencana Kerja Pemerinta han Daerah Kab. Wonosob o Tahun 2013 x100%= 63,59 Ada Perbup No.20 tahun 2014 tentang Rencana Kerja Pemerinta han Daerah Kab. Wonosob o Tahun 2015 ada Ada Ada Ada Ada ada Ada Ada Ada Ada x = 76,58% x = 82,91% Sumber: Buku LKPJ , Bappeda, 2015 (diolah) x = 68,50% x = 78,45% Ada Perbup No.51 tahun 2015 tentang Rencana Kerja Pemerintaha n Daerah Kab. Wonosobo Tahun x = 82,87% g. Urusan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia khususnya Sumber Daya Aparatur menjadi prioritas utama sejalan dengan upaya pemerintah untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang profesional. Upaya yang dilakukan antara lain melalui pendidikan dan pelatihan, pembelajaran lansung di tempat bekerja secara informal, guna meningkatkan kompetensi seorang Pegawai Negeri Sipil. Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 92

112 Undang undang Nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara menjadi pendorong untuk merealisasikan terwujudnya Sumber Daya Manusia dalam hal ini Sumber Daya Aparatur yang berkualitas, mempunyai Kompetensi di bidangnya, profesional dalam bekerja serta berdaya saing tinggi dalam mengejar kualitas kerja. Sehingga kedepannya pemerintah tidak akan ragu merancang program khususnya sumber daya aparatur yang bermuara pada pemenuhan kebutuhan dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Untuk meningkatkan kompetensi Pegawai Negeri Sipil pastilah perlu pendidikan dan pelatihan baik secara formal maupun informal yang tentunya berkaitan dengan penganggaran, perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pengevaluasian. Sejauh ini perencanaan terhadap peningkatan kapasitas dan kompetensi pegawai sudah dilakukan antara lain pengadaan CPNS, pengiriman tugas belajar, bintek, kursus, tes kompetensi, pembinaan disiplin, dan sebagainya. h. Urusan Penelitian dan Pengembangan Pada dasarnya penelitian dan pengembangan harus berjalan seiring dan sejalan dengan pembangunan termasuk di tingkat daerah. Hasil-hasil penelitian dan pengembangan, secara valid harus mampu menopang seluruh kerangka pembangunan. Kelitbangan terdiri dari kelitbangan utama dan pendukung dan melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan. Kelitbangan utama di arahkan pada penelitian, pengkajian, pengembangan, perekayasaan, penerapan, pengoperasian, dan evaluasi kebijakan. Sedangkan kelitbangan pendukung dirahkan untuk peningkatan kapasitas kelembagaan; penguatan ketatalaksanaan; peningkatan kapasitas sumberdaya manusia; peningkatan kualitas perencanaan dan evaluasi program; fasilitasi inovasi daerah; pengembangan basis data kelitbangan; penguatan kerjasama kelitbangan; dan pemenuhan sumberdaya organisasi lainnya. i. Urusan Perpustakaan Jumlah Perpustakaan Perpustakaan daerah mempunyai peran sangat strategis dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat, sebagai wahana belajar sepanjang hayat mengembangkan potensi masyarakat agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan nasional, serta merupakan wahana pelestarian kekayaan budaya bangsa, hal ini sesuai dengan apa yang telah diamanatkan oleh Undang-undang Dasar 1945 yaitu sebagai wahana mencerdaskan kehidupan bangsa. Jumlah perpustakaan Kabupaten di Wonosobo dalam kurun waktu 2011 hingga 2015 hanya satu, sedangkan perpustakaan desa mengalami peningkatan. Tahun 2011 jumlah perpustakaan desa hanya 58, sedangkan tahun 2015 meningkat menjadi 85, begitu juga dengan perpustakaan sekolah yang meningkat 197 pada tahun 2011 menjadi 641 pada tahun Hal ini Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 93

113 mengindikasikan semakin banyak sekolah yang sadar akan pentingnya perpustakaan. Tabel II.70 Jumlah Perpustakaan di Kabupaten Wonosobo No. Jenis / Tipe Perpustakaan Kabupaten Perpustakaan Kecamatan Perpustakaan Desa Perpustakaan Kelurahan/Instansi Perpustakaan Sekolah Perpustakaan Rumah Ibadah Perpustakaan Pribadi Rumah Belajar Taman Bacaan Masyarakat Perpustakaan Khusus Jumlah Jumlah Pengunjung Pepustakaan Per Tahun Jumlah kunjungan ke perpustakaan selama 5 tahun di Kabupaten. Jumlah pengunjung pada tahun 2011 mencapai , kemudian menurun drastis pada tahun 2015 yang hanya Hingga saat ini, peran perpustakaan dirasa masih kurang dalam rangka menarik minat baca masyarakat agar mau membaca diperpustakaan. Selain itu, ketersediaan sarana prasarana yang kurang memadai dan letak perpustakaan yang masih relatif jauh dengan tempat tinggal masyarakat juga menjadi salah satu penyebab minimnya pengunjung perpustakaan. Di sisi lain, makin mudahnya akses internet juga menjadi salah satu penyebab makin minimnya pengunjung perpustakaan. Koleksi buku yang tersedia di perpustakaan daerah Kabupaten Wonosobo di tahun 2014 mencapai 0,45. Jika dibandingkan dengan tahun 2011, capaian ini mengalami penurunan. Koleksi buku yang tersedia di perpustakaan daerah pada tahun 2011 mencapai 0,53. Tabel II.71 Capaian Kinerja Urusan PerpustakaanKab. Wonosobo Tahun No. IKK Berdasarkan EKPPD Capaian Kinerja Koleksi buku yang tersedia di perpustakaan daerah / = 0, / = 0, / = 0, / = 0, / =0,45 Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 94

114 No. IKK Berdasarkan EKPPD Capaian Kinerja Pengunjung perpustakaan Sumber : LPPD AMJ : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD j. Urusan Kearsipan Dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan, arsip merupakan rekaman kegiatan atau peristiwa dalam berbagai bentuk dan media sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang dibuat dan diterima oleh lembaga negara, pemerintahan daerah, lembaga pendidikan, perusahaan, organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, dan perseorangan dalam pelaksanaan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Bagi pemerintah daerah, arsip merupakan rekaman informasi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, bukti otentik, sumber informasi, memori kolektif dan bahan pertangungjawaban, sehingga arsip merupakan bagian yang terpenting dalam suatu organisasi pemerintah daerah. Tertib arsip merupakan suatu keharusan bagi pemerintah daerah. Selain sebagai referensi, bukti kegiatan, maupun pilar dalam proses administrasi, arsip juga merupakan bukti akuntabilitas kinerja instansi kepada masyarakat baik dari sisi keberhasilan atau kegagalan misi instansi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Capaian kinerja urusan kearsipan tahun dapat dilihat pada beberapa indikator sebagai berikut: Tabel II.72 Capaian kinerja Urusan Kearsipan Berdasarkan IKK Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (EKPPD) No. Indikator Kinerja Kunci (IKK) Penerapan Pengelolaan arsip secara baku 92,59 % 75,47 % 75,47 % 83,03 % 82,50% 2 Kegiatan peningkatan kualitas SDM pengelola pengarsipan Sumber: Kantor Arsip, Kab. Wonosobo, 2016 Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 95

115 Berdasarkan tabel di atas dapat terlihat bahwa persentase SKPD yang telah menerapkan pengelolaan arsip secara baku mengalami penurunan dari 92,59 persen pada tahun 2011 menjadi 82,50 persen pada tahun Tabel II.73 Capaian kinerja Urusan Kearsipan Tahun No Indikator Kinerja Pembangunan Daerah Capaian Kinerja Jumlah SKPD yg melaksanakan akuisisi arsip Tersedianya akses arsip/ dokumen elektronik Ada (SIM arsip aktif, dan arsip in aktif) Ada (SIM arsip aktif/ arsip in aktif, dan arsip satis 3 Jumlah tenaga kearsipan yang memiliki sertifikat kearsipan Tersedianya kebijakan pedoman kearsipan Ada 1. Peratura n Bupati No. 36 tahun 2012 tentang Jadwal Retensi Arsip Keuang an 5 Jumlah arsip yang terseleksi 578 boks (7.432 lembar arsip tekstual, 16 buah arsip peta, 612 arsip Ada 1. Peraturan Bupati No.26 tentang Jadwal Retensi Arsip Kepegaw aian 2. Peraturan Bupati No. 30 Tahun 2013 tentang Penyelen ggaraan Kearsipan di Wonosob o 548 boks (7.432 lembar arsip tekstual, 16 buah arsip peta, 612 Ada Ada 2014 bungkus Ada bungk us Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 96

116 No Indikator Kinerja Pembangunan Daerah Sumber: Kantor Arsip Kab. Wonosobo, 2016 Capaian Kinerja foto, 26 keping arsip video, dan 442 buku) arsip foto, 26 keping arsip video) 2015 No. Peminjam arsip Tabel II.74 Jumlah layanan Peminjaman Arsip Capaian kinerja/frekuensi Instansi Pemerintah Masyarakat Umum Akademisi Jumlah Sumber: Kantor Arsip Kab. Wonosobo, 2016 k. Urusan Kepemudaan dan Olah Raga Pemuda sebagai motor penggerak pembangunan mempunyai peran serta dan arti penting bagi pelaksanaan pembangunan. Pembangunan kepemudaan dan olahraga merupakan salah satu upaya penting dalam peningkatan terhadap kualitas sumber daya manusia yang seutuhnya. Upaya pembangunan kepemudaan dilakukan melalui kegiatan produktif kepemudaan di Wonosobo sejumlah 7 pada Tahun 2012, sedangkan jumlah Organisasi Kepemudaan yang difasilitasi dalam pelatihan kepemimpinan, manajemen dan perencanaan program sebanyak 142 Organisasi Kepemudaan dalam kurun waktu 2011 dan Selain itu, jumlah sarpras olahraga standar nasional selama 4 tahun terahir hanya ada dua. Capaian indikator Jumlah kegiatan produktif kepemudaan, jumlah organisasi kepemudaan dan jumlah sarpras olahraga standar nasional tidak mengalami pengurangan ataupun penambahan pada tahun 2011 hingga Seharusnya pemerintah kabupaten Wonosobo lebih proaktif dalam menggerakkan aktivitas produksi pemuda, hal ini dikarenakan pemuda calon pemimpin masa depan. Perkembangan Kepemudaan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel II.75. Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 97

117 Tabel II.75 Capaian Urusan Kepemudaan dan Olah Raga Kab. Wonosobo Tahun Indikator Kinerja Capaian Kinerja No. Pembangunan Daerah Jumlah kegiatan produktif kepemudaan Jumlah organisasi kepemudaan Jumlah sarpras olahraga 4 2, standar nasional Sumber : LPPD AMJ : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD) l. Urusan Lingkungan Hidup Pembangunan berwawasan lingkungan meliputi aspek pengendalian pencemaran lingkungan (air, udara, tanah), perlindungan kawasan lindung dan konservasi. Pengendalian pencemaran lingkungan diprioritaskan pada pengelolaan sampah padat perkotaan, perbaikan akses terhadap sumber air bersih dan pengelolaan air limbah. Perlindungan kawasan konservasi dan memulihkan kembali kawasan-kawasan yang berfungsi lindung. Persoalan pengelolaan sampah di Kabupaten Wonosobo, harus mendapat perhatian khusus. Jumlah sampah yang terangkut di empat tahun terakhir cenderung mengalami peningkatan dari pada tahun 2011 meningkat menjadi pada tahun 2014, dengan jumlah sampah yang terangkut hanya 8% pada tahun 2011 dan meningkat 9% sampah pada tahun 2014, yang berarti 91% sampah yang belum terangkut, bisa jadi 91% sampah yang tidak terangkut ini dikelola oleh masyarakat sendiri atau dibuang ke sungai, lahan kosong atau di pinggir jalan, perilaku ini yang harus segera diubah. Rasio Tempat Pembuangan Sampah (TPS) per satuan penduduk di Kabupaten Wonosobo selama periode relatif stagnan di angka sekitar 0,15-0,17 TPS/satuan penduduk. Ini menunjukkan bahwa daya tampung TPS (m3) mengalami sedikit peningkatan dibandingkan dengan jumlah penduduk yang ada. Namun peningkatan TPS masih sangat kecil dibandingkan jumlah penduduk yang ada, yang berarti hanya 17% penduduk di Wonosobo yang membuang sampahnya di TPS. Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 98

118 Gambar Warga Membuang Sampah di Sungai Desa Ngadikusuman, Kertek Cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan AMDAL di Kabupaten Wonosobo dalam kurun waktu 2011 sampai 2014 cenderung menurun. Cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan AMDAL pada tahun 2010 dan 2011 sudah mencapai 100 persen, tetapi pada tahun 2014 hanya 50%. Hal ini berarti jumlah perusahaan wajib AMDAL yang telah diawasi berkurang. Pemerintah kabupaten Wonosobo harus mengawasi perusahaan wajib AMDAL. Penegakan hukum lingkungan dihitung dari hasil pembagian jumlah kasus lingkungan yang diselesaikan Pemda dengan jumlah kasus lingkungan yang ada. Penegakan hukum di Kabupaten Wonosobo dari tahun 2011 hingga 2014 mengalami peningkatan hingga mencapai 100% pada tahun 2012 sampai Peningktan ini menunjukkan jumlah kasus lingkungan yang diselesaikan Pemda sudah 100%. Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 99

119 Tabel II.76 Capaian Urusan Lingkungan HidupKab. Wonosobo Tahun No. 1 Indikator Kinerja Kunci (IKK) EKPPD Persentase penanganan sampah Volume sampah yang ditangani (m3)/ Volume produksi sampah (m3) x 100% Capaian Kinerja (%) / x100% = 8% / x100% = 7,5% / x100% = 8% / x100% = 9% 6,94% Cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan AMDAL Jumlah perush wajib AMDAL yg telah diawasi/ Jumlah seluruh perusahaan wajib AMDAL x 100% Rasio tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk Jumlah daya tampung TPS (m3) / Jumlah penduduk x 100% Penegakan hukum lingkungan Jumlah kasus lingkungan yang diselesaikan Pemda/ Jumlah kasus lingkungan yang ada x 100% Sumber : LPPD AMJ /2x100 %= 100% 2/2x100 %= 100% : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD 3/4x100%= 75% 2/4x100 %= 50% 0,15 0,16 0,17 0,17 0, /4x 100%=10 0% 4 = 100% Indikator IKK EKPPD Rehabilitasi hutan dan lahan kritis Kerusakan Kawasan Hutan Tabel II.77 Capaian Indikator Urusan Kehutanan Rumus (Luas hutan dan lahan kritis yang direhabilitasi hektar) / (Luas total hutan dan lahan kritis hektar) x 100% (Luas Kerusakan Kawasan Hutan hektar) / (Luas Kawasan Hutan hektar) x 100% Sumber : Evaluasi Capaian RPJMD Capaian Kinerja ,66% 17,06% 24,48% 12,20% 0% 0,40% 0% 0% 12,20 1,2 Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 100

120 Berdasarkan tabel di atas, Rehabilitasi hutan dan lahan kritis mengalami perkembangan secara fluktuatif. Pada tahun 2011 rehabilitasi hutan dan lahan kritis hanya 13% meningkat pada tahun 2012 dan 2013 hingga mencapai 24,48% kemudian menurun hingga 12,20%. Hal ini berarti luas lahan dan lahan kritis yang belum direhabilitasi hanya 87,80%. Hutan dan lahan merupakan aset masa depan atau dengan kata lain titipan anak cucu yangharus dijaga kelestariannya.hutan kritis semestinya segera direhabilitasi, sehingga anak cucu kelak masih bisa menikmati. Selain untuk kepentingan masa depan, hutan kritis yang tidak segera direhabilitasi juga bisa mengancam keberadaan masyarakat sekitar, seperti penurunan produktivitas pertanian yang menjadi andalan masyarakat Wonosobo, atau bahkan dapat menimbulkan bencana alam, seperti longsor atau banjir. Tabel II.78 Capaian Indikator Urusan Energi dan Sumberdaya Mineral Kabupaten Wonosobo Tahun No. Indikator Kinerja 1. Pertambangan tanpa ijin yang ditertibkan 2. Kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB Sumber : Evaluasi Capaian RPJMD Capaian Kinerja ,29% 86,29 86,29% 1,46% 1,02% 0,50% 0,66% 0,62% 0,61% 0,53% Kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB Kabupaten Wonosobo dari tahun 2011 sampai tahun 2015 terus mengalami penurunan. Penurunan tersebut sebagai akibat dari adanya penutupan lokasi penambangan yang sudah dimulai sejak tahun 2009 di Desa Candiyasan Kecamatan Kertek, Desa Andongsili Kecamatan Mojotengah, Kecamatan Sapuran, Kecamatan Wadaslintang dan Dusun Sigedang Kecamatan Kejajar yang bertujuan untuk menjaga kualitas lingkungan di wilayah tersebut. Upaya untuk mengatasi meningkatnya jumlah pengangguran akibat adanya penutupan penambangan tersebut diantaranya dengan peningkatan kapasitas masyarakat di lokasi tersebut dengan kegiatan diluar sektor pertambangan. m. Urusan Pariwisata Kabupaten Wonosobo merupakan salah satu destinasi wisata unggulan Provinsi Jawa Tengah bahkan Nasional. Perkembangan pariwisata Kabupaten Wonosobo ditopang oleh kondisi geografis dan budaya seperti: wisata alam, sejarah, budaya, heritage, kuliner dan lainnya. Kabupaten Wonosobo saat ini didominasi oleh kegiatan wisata alam, khususnya wisata Dieng Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 101

121 Kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB Daerah dari tahun 2011 hingga 2014 cenderung meningkat, meskipun peningkatannya tidak signifikan. Tahun 2011 kontribusi sektor pariwisata hanya 1,08%, meningkat drastis pada tahun 2012 dengan peningkatan 14,81%, tetapi mengalami stagnan pada tahun 2013 dan 2014 yaitu 1,26%. Jumlah kunjungan wisatawan nusantara ke Kabupaten Wonosobo selama periode meningkat tajam. Lonjakan terbesar ada di periode Jika pada tahun 2013 jumlah wisatawan yang tercatat sebanyak wisatawan, di tahun 2014 meningkat menjadi atau mengalami pertumbuhan sebesar 20,3%. Meskipun terjadi kenaikan jumlah wisatawan nusantara pada tahun 2012 hingga 2014, wisatawan manca negara justru menurun setelah meningkat pada tahun 2012, tahun berikutnya justru menurun drastis, dari menjadi pada tahun Hal ini harus menjadi perhatian bagi pemerintah. Salah satu cara meningkatkan fasilitas pariwisata, seperti jalan, penginapan dan sebagainya. Objek wisata juga seharusnya diperhatikan, karena sebagian wisata di Wonosobo merupakan objek wisata alam, maka perawatan objek harus bersifat holistik, dengan mempertimbangkan kelestarian alam melalui intervensi fisik dan juga mempertimbangkan sosial masyarakat. Walaupun Kabupaten Wonosobo sudah menjadi destinasi wisata unggulan, namun terdapat beberapa permasalahan yang dirasakan mengganggu bagi wisatawan sehingga mengurangi kepuasan kunjungan di Kabupaten Wonosobo, diantaranya kualitas jalan yang berlubang, fasilitas di objek wisata seperti toilet,kualitas obejek wisata yang menurun, seperti Objek Wisata Tlaga Warna, dan transportasi antara objek wisata. Tabel II.79 Capaian Urusan Pariwisata Kab. Wonosobo Tahun CAPAIAN INDIKATOR Kontribusi terhadap PDB Daerah Wisatawan Manca ,632 19,089 10,335 7,294 5,059 Negara (orang) Wisatawan Nusantara , , , , ,735 (kunjungan) PAD (Juta Rupiah) 56,05 670,5 1, , , Sumber : Evaluasi Capaian RPJMD Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 102

122 n. Urusan Industri Perkembangan kontribusi sektor industri Kabupaten Wonosobo cenderung mengalami penurunan selama periode Jika pada tahun 2010 sektor industri bisa memberikan kontribusi sebesar 10% terhadap perekonomian Kabupaten Wonosobo, di tahun 2013, kontribusi relatif menurun menjadi 9,92% berdasarkan harga berlaku. Namun kontribusi PDRB pada harga konstan cenderung meningkat dari 10,40 pada tahun 2010 menjadi 10,57 pada tahun Semakin tingginya tingkat persaingan di sektor industri pengolahan, baik secara nasional ataupun global, juga mempengaruhi kinerja industri pengolahan lokal Kabupaten Wonosobo, khususnya yang berorientasi ekspor. Adanya penandatanganan kesepakatan Perdagangan Bebas ASEAN China Free Trade Area (ACFTA) juga memberikan tekanan pada tingkat daya saing industri lokal. Makin meningkatnya serbuan produk-produk yang berasal dari China seperti tekstil, mainan, elektronik, dan lain-lain memberikan tekanan yang cukup signifikan atas kinerja industri pengolahan Kabupaten Wonosobo. Perkembangan industri yang positif ditunjukan oleh perkembangan industri makanan dan minuman. Tahun 2010, jumlah industri makanan hanya berkisar meningkat pada tahun 2014 menjadi Salah satu industri olahan makanan dan minuman yang mengalami peningkatan adalah minuman olahan buah carica, yang merupakan salah satu komoditas buah-buahan yang tidak mudah ditemukan di daerah lain, namun tumbuh subur di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo. Pengolahan carica menjadi makanan khas unggulan daerah Wonosobo yang banyak diincar oleh wisatawan atau sebagai buah tangan masyarakat Wonosobo yang mengunjungi rekan di luar kota. Dengan dukungan sumber daya manusia dan kondisi alam Kabupaten Wonosobo, ke depan industri ini diprediksi akan semakin berkembang. Kabupaten Wonosobo memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi kota wisata. Capaian kinerja pertumbuhan di Kabupaten Wonosobo cenderung mengalami flutuasi. Padatahun 2010 pertumbuhan industri sudah mencapai 4,93% kemudian meningkat menjadi 5% pada tahun Tahun 2013 pertumbuhan industri justru mengalami penurunan drastis menjadi 2,71% yang disebabkan oleh jumlah industri yang muncul lebih sedikit, dan kembali meningkat pada tahun 2014 menjadi 4,99% dan pada tahun. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut. Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 103

123 Tabel II.80 Capaian Indikator Urusan Perindustrian Kab. Wonosobo Tahun Indikator Kontribusi Sektor Industri Terhadap PDRB (%) 12,3 10,37 10,56 16,39 16,32 Pertumbuhan Industri (%) 4,93 4,99 5 2,71 4,99 5,35 Sumber : LPPD AMJ : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD o. Urusan Perdagangan Nilai ekspor bersih perdagangan di Kabupaten Wonosobo pada tahun 2014 mencapai $ ,47. Nilai ini mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan tahun Peningkatan nilai ekspor bersih menjadi modal pembangunan ekonomi Kabupaten Wonosobo. Sektor perdagangan (perdagangan, hotel dan restoran) mempunyai kontribusi cukup signifikan terhadap perolehan nilai PDRB Kabupaten Wonosobo terbukti sektor ini berkontribusi kedua paling besar setelah sektor pertanian. Dalam kurun waktu 2010 hingga 2014 kontribusi sektor perdagangan terhadap capaian PDRB Kabupaten Wonosobo relatif stagnan yang berada pada angka 11,35% hingga 12,08%. Puncak tertinggi pada tahun 2014, kontribusi sektor perdagangan (perdagangan, hotel dan restoran) mencapai 12,08%. Tabel II.81 Capaian Indikator Urusan Perdagangan Kab. Wonosobo Tahun No 1 2 Indikator Kinerja Berdasarkan EKPPD Kontribusi Sektor Perdagangan terhadap PDRB. (Jumlah Kontribusi PDRB dari sektor perdagangan) / (Jumlah total PDRB)x100% Ekspor Bersih Perdagangan. Nilai ekspor bersih = nilai ekspor nilai impor Sumber : LPPD AMJ Capaian Kinerja ** 2015** 12,02% 11,35% 11,64% 17,98% 17,73% $ ,00 $ ,00 : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD $ ,50 $ ,47 $ Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 104

124 D. Aspek Daya Saing Daerah 1. Kemampuan Ekonomi Daerah a. Angka Konsumsi RT per Kapita Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga per Kapita per tahun selalu meningkat, berdasarkan Harga Konstan Tahun 2010 maka peningkatan Konsumsi Rumah Tangga mulai tahun 2012 hingga 2014 berturut-turut yaitu sejumlah Rp ,00 pada tahun 2012, Rp ,16 pada tahun 2013 dan Rp ,54 pada tahun b. Prosentase Konsumsi Rumah Tangga untuk Non Pangan Prosentase Konsumsi Rumah Tangga untuk Non Pangan atas dasar harga konstan tahun 2010 tiga tahun terakhir cukup fluktuaktif, pada tahun 2012 mencapai 3,93% kemudian meningkat pada tahun 2013 menjadi 8,07% dan sedikit menurun pada tahun 2014 menjadi 7,59%. c. Regulasi Ketahanan Pangan No. 1 2 Tabel II.82 Capaian Indikator Ketahanan Pangan Kab Wonosobo Tahun Indikator Kinerja Berdasarkan EKPPD Ketersediaan Bahan Pangan Utama. (Rata2 jumlah ketersediaan bahan pangan utama per tahun (kg)) / (Jumlah penduduk) x 1000 Produktivitas Padi atau bahan pangan utama lainnya per hektar Sumber : LPPD AMJ : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD Capaian Kinerja ,15 120,91 112,47 118,31 5,50 5,43 5,20 4,83 Ketersediaan pangan berfungsi menjamin pasokan untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk dari segi kuantitas, kualitas, keragaman dan keamanannya, dan merupakan prasyarat penting bagi keberlanjutan konsumsi tingkat daerah serta rumah tangga. Sumber ketersediaan pangan berasal dari produksi dalam negeri, pemasokan pangan dan pengelolaan cadangan pangan. Dalam kerangka ketersediaan, secara umum Kabupaten Wonosobo merupakan daerah yang berbasis pertanian yang mempunyai kemampuan produksi yang mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya. Apabila kita melihat capaian kinerja, bahwa ketersediaan bahan pangan utama pada tahun 2011 sampai tahun 2014 menunjukkan nilai yang cenderung menurun dari tahun ke tahun. Pada tahun 2011 sebesar 124,15 dan menurun di tahun 2014 dengan nilai 118,31 atau menurun 4,7%. Hal ini diiringi dengan menurunnya produktivitas padi atau bahan pangan utama yang pada tahun 2011 sebesar 5,50 menurun Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 105

125 menjadi 4,83 di tahun 2014 atau menurun 12,18%. Kondisi ini perlu diwaspadai karena sampai saat ini kebutuhan akan bahan pangan utama terutama beras masih sangat tinggi dibandingkan komoditas lainnya, dan kondisi kebutuhan ini akan semakin meningkat seiiring peningkatan jumlah penduduk yang terus bertambah. Di sisi lain Kabupaten Wonosobo dihadapkan pada kenyataan bahwa kualitas lahan dan air semakin menurun serta adanya alih fungsi lahan yang terus terjadi. Untuk itu upaya yang dilakukan adalah pengembangan sistem produksi, efisiensi usaha pangan, teknologi produksi pangan, sarana prasarana produksi pangan dan mempertahankan serta mengembangkan lahan produktif. Tabel II.83 Capaian Produksi Dalam Negeri Kab. Wonosobo Tahun Jenis Padi (ribu ton) 180,8 167, ,8 154,9 Jagung (ribu ton) 134,13 123,07 117,75 115,1 78,844 Ubi kayu (ribu ton) 146,2 158, ,4 231,6 Daging (ribu ton) 6,44 6,63 7,77 9,7 Ikan (ribu ton) 5,84 7,62 7,63 7,83 Sumber : LPPD AMJ : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD Dalam kurun waktu 2011 hingga 2014, pembangunan perikanan budidaya telah menunjukkan peningkatan yang signifikan, dengan meningkatnya volume produksi perikanan budidaya dari kg (2011) menjadi kg (2014) atau mengalami kenaikan rata-rata tiap tahun sebesar 11,32%. Konsumsi ikan juga mengalami kenaikan dari 12,86 (2011) menjadi 13,25 (2014) atau mengalami peningkatan sebesar 3,03 %. Peningkatan konsumsi ikan menunjukan bahwa tingkat kesadaran masyarakat Kabupaten Wonosobo dalam memperoleh asupan protein hewani melalui produk perikanan semakin meningkat. Tabel II.84 Jumlah Konsumsi Ikan Kab. Wonosobo Tahun No. Indikator IKK EKPPD Rumus Capaian Kinerja Produksi perikanan (Jumlah Produksi Ikan (kg)) / (Target Daerah (kg)) x 100% 113,72 % 140,37 % 134,39% 130,24% 2 Konsumsi ikan Sumber : LPPD AMJ Jumlah Konsumsi Ikan/kapital/tahun (kg)) /(Target Daerah (kg)) x 100% : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD 101,42 % 101,02 % 101,71 % 101,92 % Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 106

126 Produksi perikanan di Kabupaten wonosobo cenderung fluktuatif. Produksi ikan tertinggi pada tahun 2012 yang mencapai 140,37%, sedangkan produksi ikan terendah pada tahun 2011 yang hanya 113,72%. Pada tahun 2014 produksi ikan di Kabupaten Wonosobo 130,24%. Bila dicermati produksi perikanan dari tahun 2011 hingga 2014 melebihi 100% yang berarti jumlah produksi ikan melebihi target daerah. Konsumsi ikan di Kabupaten Wonosobo dari tahun 2011 hingga 2014 melebihi 100%. Hal ini berarti jumlah konsumsi ikan pada tahun sudah melebihi target daerah. Produktivitas padi atau bahan pangan utama lainnya per hektar Tabel II.85 Produktivitas padi atau bahan pangan utama lainnya per hektar No. Indikator Kinerja Berdasarkan EKPPD Capaian Kinerja Produktivitas padi atau = /30.44 = /30.02 = /28.36 = /30.34 bahan pangan utama (Produksi tanaman padi =5,50 =5,43 =5,28 =5,10 (ton)/luas areal tanaman padi (ha) 2 Kontribusisektor pertanian terhadap PDRB (jumlah kontribusi PDRB dari sektor pertanian/ jumlah total PDRB)x 100% 47,37 47,10% 45,94 44,50% Sumber : LPPD AMJ : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD Capaian kinerja urusan pertanian dapat dilihat dari produktivitas padi atau bahan pangan utama, dimana dari tahun ke tahun selama produktivitasnya semakin menurun. Penurunan produktivitas ini terjadi karena menurunnya produksi, adanya curah hujan yang lebih rendah menyebabkan pengisian malai kurang optimal sehingga gabah kurang bernas/berisi serta adanya penurunan produktivitas jagung. Sedangkan bila dilihat dari kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB juga semakin menurun dari tahun ke tahun. Sektor pertanian merupakan kontribusi terbesar dari delapan sektor lainnya. Kontribusi terbesar berasal dari sub sektor tanaman bahan makanan diikuti peternakan, kehutanan, tanaman perkebunan dan perikanan. Untuk meningkatkan kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB dapat dilakukan melalui peningkatan produksi pertanian. Selain itu, kemampuan pengusahaan dan pengelolaan serta penerapan tehnologi yang tepat pada usaha-usaha pertanian perlu dilanjutkan dan ditingkatkan. Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 107

127 2. Fasilitas Wilayah / Infrastruktur a. Urusan Pekerjaan Umun dan Penataan Ruang Ketaatan terhadap RTRW INDIKATOR KINERJA Ketaatan pada RTRW Sumber : LPPD AMJ Tabel II.86 Ketaatan RTRWKab. Wonosobo Tahun : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD Capaian Kinerja % 15% 25% 35% Ketaatan terhadap RTRWdari tahun 2011 hingga 2014 cenderung meningkat. Pada thaun 2011 ketaatan pada RTRW hanya 15% meningkat pada tahun 2013 menjadi 25%. Pada tahun 2014 ketaatan pada RTRW mencapai 35% yang berarti 65% wilayah di Wonosobo belum sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah. b. Urusan Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman No. Tabel II.87 Capaian Urusan Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Indikator Kinerja Kab. Wonosobo Tahun Capaian Kinerja % dusun berlistrik 88% 94,76 94,83 99, % rumah tangga yg terlektrifikasi 3. Rasio penyediaan daya listrik terhadap kebutuhan Sumber : LPPD AMJ : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD 52,8 53,50 55,30 99,16 99, ,5 Dusun yang berlistrik di Kabupaten Wonosobo sudah mencapai 100%dari total dusun pada tahun Dari tahun 2010 hingga 2014, pesentase dusun yang berlistrik terus meningkat dari 88% menjadi 100%. Sedangkan untuk rumah tangga yang terelektrifikasi dari tahun 2010 hingga 2014 mengalami8 peningkan hingga mencapi 99,16% pada tahun Hal ini berarti masih ada 0,84% rumash tangga yang belum memiliki listrik pada tahun 2014 atau sekitar rumah tangga yang belum memiliki listrik. Rasio Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 108

128 penyediaan daya listrik terhadap kebutuhan di Kabupaten Wonosobo stabil pada tahun 2010 hingga 2013 dengan nilai 109, tetapi munurun drastis pada tahun 2014 dengan nilai 62,5. Penurunan rasio ini berarti terjadi peningkatan kubutuhan listrik dan penurunan cadangan listrik. c. Urusan Pariwisata Jenis, Kelas dan Jumlah Restoran Tabel II.88 Jenis, Kelas dan Jumlah Hotel/Penginapan Hotel Bintang Lima Bintang Empat Bintang Tiga Bintang Dua Bintas Satu Non Bintang Sumber: SIPD 2014 Jumlah hotel di Kabupaten Wonosobo terus mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan menurunnya hotel berbintang karena kurangnya pengunjung hotel, selain itu meningkatnya jumlah homestay sekitar objek wisata Dieng juga menjadi faktor turunnya jumlah hotel non bintang. Pada tahun 2011 jumlah hotel sekitar 32, dengan hotel berbintang empat dan tiga. Namun tahun 2014 menurun drastis menjadi 18, dan tidak ada hotel berbintang empat. d. Urusan Pertanahan Tanah adalah aset masyarakat, aset rakyat, aset bangsa. Manajemen aset tanah sangat penting dirasakan bagi mereka yang berpendapatan sebagai pengusaha dari pada sebagai pegawai atau buruh. Petani adalah pengusaha, sehingga tanah adalah aset yang penting bagi usaha taninya. Begitu pentingnya manajemen aset tanah bagi semua, sehingga pada awalnya UUPA (UU No. 5 Tahun 1960, dalam konsideran) telah mengamanatkan bahwa dengan dibuatnya UUPA pemerintah/negara berkewajiban memimpin penggunaan tanah, dan mengatur hak atas tanah. Hal itu perlu disadari bahwa mengatur penggunaan tanah berpengaruh sekali terhadap pendapatan dan kesejahteraan. Dalam rangka pengamanan serta meningkatkan tertib administrasi pertanahan khususnya yang berkaitan dengan aset Pemerintah Daerah yaitu tanah, saat ini terus diupayakan secara bertahap dan periodik melaksanakan Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 109

129 pensertifikatan tanah menjadi atas nama Pemerintah Kabupaten. Sampai dengan Tahun 2015, dari bidang tanah aset Daerah yang ada, telah bersertifikat sebanyak 43,91%, sedangkan 56,09% belum bersertifikat yang sebagian besar adalah tanah eks bengkok desa yang berubah menjadi kelurahan, tanah yang digunakan untuk sekolah dan tanah jalan. Tabel II.89 Capaian Kinerja EKPPD Urusan Pertanahan Kabupaten Wonosobo Tahun Indikator IKK EKPPD Capaian Kinerja Luas lahan bersertifikat 30,02% 30,12% 30,13% 30,98% 43,91 Penyelesaian Kasus Tanah Negara Penyelesaian Ijin Lokasi Sumber : Bagian Pemerintahan Setda, 2016 Tidak ada kasus Tidak ada kasus Tidak ada kasus 100% e. Urusan Lingkungan Hidup Emisi Gas Rumah Kaca Berdasarkan pengukuran Kualitas Udara Ambien di Kabupaten Wonosobo Tahun 2014 oleh Badan Lingkungan Hidup Kab. Wonosobo menunjukkan bahwa Emisi Gas Rumah Kaca ( CO, TSP, SO 2, NO 2, O 3, Pb, H 2 S dan NH 3 ) tertinggi di lingkungan Terminal Bus Wonosobo, sehingga masih perlu dilakukan upaya untuk dapat mengurangi emisi gas rumah kaca tersebut salah satunya dengan melakukan penanaman tanaman penyerap emisi di sekitar lingkungan terminal bus khususnya dan seluruh pinggir jalan di Kab. Wonosobo pada umumnya dan juga menambah ruang terbuka hijau. Tabel 2.91 Kualitas Udara Ambien di Kabupaten Wonosobo Tahun 2014 No. Parameter Satuan Titik Pemeriksaan Baku Terminal Jl.A.Yani Jl.Depan Mutu Kertek Bus Utara BLH 1. Temperatur o C , ,2 24,6 2. Kec. Angin m/det Arah Angin o Kelembaban %RH ,9 85,3 Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 110

130 No. Parameter Satuan Baku Mutu Kertek Titik Pemeriksaan Terminal Jl.A.Yani Bus Utara Jl.Depan BLH 5. Kebisingan dba ,5 72,6 6. Carbon Monoksida (CO) µg/m Debu (TSP) µg/m Sulfur Dioksida (SO 2) µg/m ,587 0, Nitrogen Dioksida (NO 2 ) µg/m ,942 1, Oksidan (O 3 ) µg/m ,176 0, Timbal (Tb) µg/m 3 2 1,8 2,0 0,069 0, Hidrogen Sulfida(H 2 S) ppm 0,02 0,01 0,0023 0,002 0, Amoniak (NH 3 ) ppm - 0,01 0,01 0,002 0,001 Sumber: Wonosobo Dalam Angka Iklim Berinvestasi a. Kenaikan / Penurunan Nilai Realisasi PMDN Tabel II.91 Kenaikan / Penurunan Nilai Realisasi PMDN No. 1. Indikator Kinerja Kunci (IKK) Kenaikan/ penurunan nilai realisasi PMDN Capaian Kinerja ,81% -23,23% -15,04% 15,29% Sumber : LPPD AMJ : Evaluasi Capaian Tahun Ketiga (2013) RPJMD Dilihat dari kenaikan/penurunan nilai realisasi PMDN dari tahun 2011 sampai dengan 2014 tampak menurun nilai realisasi PMDN pada tahun 2011, 2012 dan Hal ini terjadi karena pengusaha dalam negeri mengetahui kondisi riil, resiko bisnis dan suku bunga yang lebih tinggi dari asing sedangkan bisnis yang digeluti tidak spesifik sehingga untuk prospek jangka panjang kurang bagus. Apabila dilihat dari kurangnya minat pengusaha luar dimungkinkan karena mereka tidak mempunyai lahan atau tempat usaha di Wonosobo, sedangkan harga tanah di Wonosobo yang relatif tinggi sehingga tidak menguntungkan secara bisnis, sementara apabila melalui sewa lahan pemerintah, luas lahan kurang memenuhi syarat. Pada tahun 2014, nilai realisasi PMDN mengalami kenaikan dibanding tahun Hal ini menunjukkan bahwa Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 111

131 masyarakat semakin berminat untuk membuka bisnis baru dan sudah mulai melihat prospek dan peluang pasar yang lebih baik. Hal ini didukung pula dengan kemudahan dalam proses pengurusan ijin usaha yang telah menerapkan Sistem Pelayanan Informasi dan Perijinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE).Peningkatan dan penurunan realisasi investasi secara umum dipengaruhi oleh: (1)faktor internal : regulasi, infrastruktur (ketersediaan kawasan industri, sarana dan prasarana), bahan baku, upah buruh, kemudahan perizinan/pelayanan investasi dan promosi investasi, kualifikasi/kompetensi SDM/tenaga kerja; 2) faktor eksternal : suku bunga kredit investasi, tingkat money policy, nilai tukar, inflasi, stabilitas polhukkam, peluang pasar/usaha, kebijakan nasional dan perekonomian global. Bab II - RPJMD Kabupaten Wonosobo II- 112

132 BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN A. Kinerja Keuangan Daerah Tahun Dalam rangka pelaksanaan kewenangan Pemerintah Daerah sebagaimana ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang saat ini telah diganti dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, kemudian diikuti dengan Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, maka timbul hak dan kewajiban daerah yang dapat dinilai dengan uang yang perlu dikelola dalam suatu sistem pengelolaan keuangan daerah. Pengelolaan keuangan daerah tersebut merupakan subsistem dari pengelolaan keuangan Negara dan merupakan elemen pokok dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Selain kedua Undang-Undang tersebut, terdapat beberapa peraturan perundang-undangan yang menjadi acuan pengelolaan keuangan daerah yaitu Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang- Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara serta Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Berdasarkan Pasal 13 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, sebagai rencana keuangan tahunan pemerintah daerah, maka APBD dalam satu tahun anggaran meliputi : a. hak pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih; b. kewajiban pemerintah daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih; dan c. penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. Implementasinya dalam struktur APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri dari Pendapatan, Belanja dan Pembiayaan Daerah. 1. Kinerja Pelaksanaan APBD Pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah Kabupaten Wonosobo tidak terlepas dari kebijakan yang ditempuh, baik dari sisi efektivitas pengelolaan penerimaan yang dijabarkan melalui target APBD dan realisasinya, maupun dilihat dari efisiensi dan efektivitas pengeluaran daerah melalui belanja tidak langsung dan belanja langsung. Secara umum gambaran pengelolaan keuangan Bab III - RPJMD Kabupaten Wonosobo III- 1

133 daerah berkaitan dengan pendapatan dan belanja daerah selama tahun telah menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Pengelolaan keuangan daerah yang telah dilaksanakan dengan baik diharapkan mampu mendorong perkembangan dan pertumbuhan perekonomian daerah. Dalam pelaksanaannya, sumber pembiayaan yang memegang peranan penting dalam keuangan daerah Kabupaten Wonosobo adalah sebagai berikut : 1. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Wonosobo, yang pelaksanaannya ditetapkan melalui Peraturan Daerah setiap tahun, 2. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Jawa Tengah, dan 3. Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN). Kebijakan umum keuangan daerah yang tergambar dalam pelaksanaan APBD yang merupakan instrument dalam menjamin terciptanya disiplin dalam proses pengambilan keputusan yang terkait dengan kebijakan pendapatan maupun belanja daerah mengacu pada aturan yang melandasinya baik Undang- Undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri, Peraturan Daerah maupun Keputusan Kepala Daerah. Dalam rangka mendukung terwujudnya good governance dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, pengelolaan keuangan daerah diselenggarakan secara professional, partisipatif, transparan dan akuntabel sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. a. Pendapatan Daerah Dalam pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah, hal penting yang harus diperhatikan adalah tingkat penerimaan pendapatan daerah. Optimalisasi pengelolaan pendapatan daerah baik pendapatan asli daerah (PAD), Dana perimbangan maupun sumber pendapatan daerah lainnya akan mendukung pengelolaan keuangan daerah. Upaya-upaya dalam rangka peningkatan pendapatan daerah, khususnya PAD telah dilaksanakan melalui berbagai langkah dan strategi. Intensifikasi dan ekstensifikasi pendapatan daerah melalui pajak daerah dan retribusi daerah terus diupayakan. Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan salah satu sumber pendapatan daerah yang penting guna membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah. Oleh karena itu perluasan objek pajak daerah dan retribusi daerah merupakan hal penting dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Kebijakan pajak daerah dan retribusi daerah dilaksanakan berdasarkan prinsip demokrasi, pemerataan dan keadilan, peran serta masyarakat dan akuntabilitas dengan memperhatikan potensi daerah. Langkah-langkah yang telah ditempuh dalam melakukan intensifikasi pendapatan antara lain : Bab III - RPJMD Kabupaten Wonosobo III- 2

134 1. Melakukan kegiatan penyuluhan terhadap wajib pajak dan wajib retribusi daerah mengenai peraturan yang berlaku dan manfaat yang diharapkan dari peningkatan PAD. 2. Melakukan koordinasi dengan Dinas/Instansi terkait di tingkat pemerintah kabupaten, provinsi dan pemerintah pusat dalam menunjang peningkatan bagi hasil pajak dan bukan pajak. 3. Menyusun dan mengevaluasi regulasi tentang pengelolaan pajak dan retribusi daerah termasuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat. 4. Melaksanakan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan optimalisasi peningkatan pendapatan daerah. 5. Meningkatkan pelayanan pada masyarakat dengan memberikan penghargaan kepada wajib pajak yang tepat waktu dalam melunasi pajak dan kepala wilayah yang dapat mencapai target penerimaan PBB. Kinerja pengelolaan pendapatan daerah selama kurun waktu disajikan pada tabel berikut ini. Tabel III.1 Rata-rata Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Daerah Tahun Kabupaten Wonosobo Sumber : Bagian Keuangan dan Asset Daerah Setda Kabupaten Wonosobo, ; Bappeda 2016 (data diolah) Ket *) : Data unaudit Dari Tabel III.1 diatas dapat diketahui bahwa pendapatan daerah Kabupaten Wonosobo dari tahun 2011 sampai tahun 2015 terus mengalami kenaikan, dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 15,67%. Pendapatan asli daerah mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 29,82%. Besarnya peningkatan pendapatan asli daerah dikarenakan adanya peningkatan yang tinggi pada sektor pajak Bab III - RPJMD Kabupaten Wonosobo III- 3

135 daerah dengan rata-rata pertumbuhan 44,38%. Dana perimbangan mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 9,23%. Sedangka Lain-lain pendapatan yang sah mengalami pertumbuhan sebesar 43,36% dengan kontribusi terbesar berada di pendapatan bantuan keuangan sebesar 131,12%. b. Belanja Daerah Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, belanja diklasifikasikan ke dalam : 1. Belanja Tidak Langsung, yang terdiri dari : a. Belanja Pegawai b. Belanja Bunga c. Belanja Subsidi d. Belanja Hibah e. Belanja Bantuan Sosial f. Belanja Bagi Hasil g. Belanja Bantuan Keuangan h. Belanja Tidak Terduga 2. Belanja Langsung, yang terdiri dari : a. Belanja Pegawai b. Belanja Barang dan Jasa c. Belanja Modal Selama kurun waktu 5 tahun dari tahun 2011 sampai 2015, kebijakan pengelolaan keuangan daerah di bidang belanja daerah diprioritaskan untuk : a. Penaggulangan kemiskinan dan pengangguran. b. Peningkatan kualitas kesehatan dan pendidikan. c. Peningkatan kualitas pelayanan publik. d. Pengembangan kawasan strategis, lingkungan hidup dan sumberdaya alam e. Peningkatan pengelolaan keuangan daerah. f. Peningkatan pendapatan daerah. g. Peningkatan keamanan dan ketertiban. h. Revitalisasi pertanian dan kehutanan. Kinerja pengelolaan belanja daerah Kabupaten Wonosobo dari tahun dapat dilihat pada tabel berikut ini. Bab III - RPJMD Kabupaten Wonosobo III- 4

136 Tabel III.2 Rata-rata Pertumbuhan Belanja Pendapatan Daerah Tahun Kabupaten Wonosobo Sumber : Bagian Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Wonosobo, , Bappeda 2016 (data diolah) Ket *) : Data unaudit Dari tabel III.2 diatas dapat diketahui bahwa belanja daerah terus mengalami peningkatan dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 17,78%, dimana belanja tidak langsung rata-rata tumbuh sebesar 12,11% dan belanja langsung tumbuh sebesar 33,10%. Bila ditinjau dari proporsinya, prosentase rata-rata belanja tidak langsung sebesar 64,56% dari rata-rata total belanja daerah sedangkan untuk belanja langsung sebesar 35,44%. Berarti bahwa belanja daerah sebagian besar masih dipergunakan untuk belanja tidak langsung dimana penggunaan yang paling besar adalah pada belanja pegawai untuk gaji dan tunjangan pegawai negeri, tunjangan dan representasi anggota DPRD serta gaji dan tunjangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Untuk belanja langsung, terjadi peningkatan terus pada belanja pegawai dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 31,46%. Pada belanja barang dan jasa terjadi fluktuasi dalam pengelolaannya. Dari tahun 2011 sampai 2013 mengalami penurunan dan naik kembali pada tahun Belanja modal dari tahun 2011 ke tahun 2012 mengalami kenaikan sebesar 58,20%, tetapi mengalami penurunan 27,06% pada tahun 2013 serta naik kembali 49,14% di tahun 2014 dan menurun di tahun 2015 sebesar 24,88%. Jika dilihat proporsi pada belanja langsung, belanja daerah lebih banyak dipergunakan untuk belanja barang dan jasa. Bab III - RPJMD Kabupaten Wonosobo III- 5

137 c. Pembiayaan Daerah Pembiayaan ditetapkan untuk menutup defisit yang disebabkan oleh lebih besarnya belanja daerah dibandingkan dengan pendapatan yang diperoleh. Penyebab utama terjadinya defisit anggaran adalah adanya kebutuhan pembangunan daerah yang semakin meningkat, namun dari sisi pembiayaan sumber pendapatannya sangat terbatas. Pembiayaan daerah terdiri dari penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan. Penerimaan pembiayaan mencakup SILPA tahun anggaransebelumnya, pencairan dana cadangan, hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan, penerimaan pinjaman dan penerimaan kembali pemberian pinjaman. Pengeluaran pembiayaan mencakup pembentukan dana cadangan, penyertaan modal pemerintah daerah, pembayaran pokok utang dan pemberian pinjaman. Anggaran pembiayaan netto yang merupakan selisih antara pembiayaan penerimaan dan pembiayaan pengeluaran merupakan anggaran yang dimaksudkan untuk menutup selisih antara anggaran pendapatan daerah dan anggaran belanja daerah. Kinerja pembiayaan daerah dalam kurun waktu tahun dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel III.3 Rata-rata Pertumbuhan Pembiayaan Daerah Tahun Kabupaten Wonosobo Sumber : Bagian Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Wonosobo, ; Bagian Perekonomian dan Ketahanan Pangan Setda Wonosobo, ; Bappeda, 2016 (data diolah) Penerimaan pembiayaan tahun sebagian besar berasal dari SiLPA tahun lalu sedangkan pengeluaran pembiayaan dipergunakan sebagian besar untuk penyertaan modal. Pengeluaran pembiayaan untuk penyertaan modal pada tahun 2012 mengalami penurunan dari tahun 2011, kemudian meningkat kembali pada tahun Bab III - RPJMD Kabupaten Wonosobo III- 6

138 2. Neraca Daerah 2013 dengan rata-rata pertumbuhan pembiayaan dari tahun 2011 sampai 2014 sebesar 45,53%. Berdasarkan realisasi pembiayaan tahun , diketahui bahwa pembiayaan APBD Kabupaten Wonosobo tergantung pada SILPA baik SILPA tahun lalu maupun SILPA tahun berkenaan. Ke depan diharapkan bahwa sumber-sumber pembiayaan dapat dikembangkan melalui penyertaan modal pada BUMD, pembentukan dana cadangan ataupun investasi pada sektor-sektor ekonomi yang menguntungkan, sehingga sumber pembiayaan pembangunan menjadi lebih beragam. Kebijakan pembiayaan daerah ditetapkan untuk menutup defisit anggaran yang disebabkan oleh lebih besarnya belanja daerah dibandingkan dengan pendapatan yang diperoleh. Penyebab utama terjadinya defisit anggaran adalah adanya kebutuhan pembangunan daerah yang semakin meningkat, namun dari sisi sumber pendapatannya sangat terbatas. Untuk itu perlu didorong dan terus dikembangkan upaya-upaya peningkatan investasi daerah, antara lain dengan : 1. Deregulasi peraturan daerah untuk meningkatkan investasi di Kabupaten Wonosobo; 2. Beberapa kebijakan yang 3. Kerjasama pemerintah dengan pihak swasta atau pemerintah lain; 4. Kerjasama antara BUMD dengan pihak swasta; 5. Mendorong investasi masyarakat terutama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan melibatkan peran masyarakat secara luas; 6. Meningkatkan investasi melalui fasilitasi PMA dan PMDN. Perkembangan asset dalam neraca keuangan Kabupaten Wonosobo mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 0,97% dari tahun Aset lancar mengalami pertumbuhan sebesar 47,04%. Pertumbuhan aset lancar disebabkan karena kenaikan kas dari tahun 2012 sampai tahun 2015 dengan ratarata pertumbuhan 67,23%. Piutang daerah mengalami rata-rata pertumbuhan sebesar 27,10% sedangkan persediaan mengalami penurunan sebesar 3,86%. Investasi jangka panjang mengalami pertumbuhan sebesar 23,63%, peningkatan investasi ini didorong oleh peningkatan investasi permanen dari Rp ,- menjadi Rp ,37,- atau naik sebesar 28,05%. Walaupun investasi jangka panjang mengalami pertumbuhan, namun pada investasi non permanen mengalami penurunan dari Rp ,- menjadi Rp 0,- atau dengan pertumbuhan rata-rata menurun sebesar 45,54%. Jumlah aset tetap dalam neraca keuangan Kabupaten Wonosobo dari tahun mengalami penurunan sebesar 4,70%. Penurunan ini disebabkan asset tetap pada komponen konstruksi dalam pengerjaan mengalami penurunan rata-rata pertumbuhan sebesar 45,37%. Bab III - RPJMD Kabupaten Wonosobo III- 7

139 Jumlah dana cadangan meningkat dengan pertumbuhan 106,55%. Komponen pembentuk asset daerah yang meningkat sangat besar adalah pada asset lainnya yaitu dari Rp ,- menjadi Rp ,- dengan pertumbuhan rata-rata 298,67%. Bab III - RPJMD Kabupaten Wonosobo III- 8

140 Tabel III.4 Rata-rata Pertumbuhan Neraca Daerah Kabupaten Wonosobo No. Uraian (Unaudited) Rata-rata Pertumbuhan (%) 1. ASET , , , , , ,58 0,97% 1.1. ASET LANCAR , , , , , ,99 47,04% Kas , , , , , ,00 67,23% Piutang , , , , , ,46 27,10% Persediaan , , , , , ,53-3,86% 1.2. INVESTASI JANGKA PANJANG , , , , , ,37 23,63% Investasi Non Permanen , , , , ,00 0,00-46,54% Investasi Permanen , , , , , ,37 28,05% 1.3 ASET TETAP , , , , , ,22-4,70% Tanah , , , , , ,85 20,91% Peralatan dan Mesin , , , , , ,13 16,58% Gedung dan Bangunan , , , , , ,58 2,98% Jalan, Irigrasi, dan Jaringan , , , , , ,00 6,58% Aset tetap lainya , , , , , ,15 16,64% Konstruksi dalam pengerjaan , , ,00 0, , ,00-45,37% Akumulasi Penyusutan Aset Tetap 0,00 0,00 0,00 0,00 0, ,49 0,00% 1.4 DANA CADANGAN 0,00 0, , , ,00 0,00 106,55% Dana Cadangan 0,00 0, , , ,00 0,00 106,55% 1.5 ASET LAINNYA , , , , , ,00 298,67% Aset Lainnya , , , , , ,00 298,67% JUMLAH ASET DAERAH , , , , , ,58 0,97% Bab III - RPJMD Kabupaten Wonosobo III- 9

141 No. Uraian (Unaudited) Rata-rata Pertumbuhan (%) 2. KEWAJIBAN , , , , , ,83 303,56% 2.1 KEWAJIBAN JANGKA PENDEK , , , , , ,83 303,56% Kewajiban Jangka Pendek ,00 0,00 0,00 0, , ,83-34,99% Utang Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) , , , , ,00 96,27% Utang Jangka Pendek Lainnya , , , , ,00 205,88% 2.2 HUTANG JANGKA PANJANG 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 JUMLAH KEWAJIBAN , , , , , ,83 303,56% 3. EKUITAS DANA , , , , , ,74 0,92% 3.1 EKUITAS DANA LANCAR , , , , ,87-32,24% Silpa , , , , ,00 52,73% Pendapatan Yg Ditangguhkan , , , , ,00 108,05% Cadangan Piutang , , , , ,00 1,34% Cadangan Persediaan , , , , ,87-24,32% Dana yg Harus Disediakan Utk Pembayaran Utang Jangka Pendek ( ,00) , , , ,00 203,61% 3.2 EKUITAS DANA INVESTASI , , , , , ,51% Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang , , , , ,77-4,76% Diinvestasikan dalam aset tetap , , , , ,00-14,91% Diinvestasikan dalam Aset Lainnya (tdk tmsk Dana Cadangan) , , , , ,00 276,02% Dana yg Hrs disediakan utk Pembayaran Utang Jangka Panjang 0,00 0,00 0,00 0,00 0, EKUITAS DANA DICADANGKAN 0,00 0, , , ,00 106,55% Ekuitas Dana Dicadangkan 0,00 0, , , ,00 106,55% JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA , , , , , ,57 0,97% Sumber : Bagian Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Wonosobo, ; Bappeda, 2016 (data diolah) Bab III - RPJMD Kabupaten Wonosobo III- 10

142 Hutang dalam neraca keuangan Pemerintah Kabupaten Wonosobo mengalami peningkatan dari Rp ,- pada tahun 2010 menjadi Rp ,83,- pada tahun Hutang tersebut menyebabkan Pemerintah Kabupaten Wonosobo mempuyai kewajiban jangka pendek yang juga meningkat. Perkembangan ekuitas dana dalam neraca keuangan Pemerintah Kabupaten Wonosobo mengalami peningkatan sebesar 0,92%. Peningkatan ekuitas dana tersebut berasal dari peningkatan ekuitas dana lancar sebesar 32,24%, penurunan ekuitas dana investasi sebesar 13,51% serta ekuitas dana cadangan sebesar 106,55%. Peningkatan ekuitas dana lancar didorong oleh komponen SiLPA yang meningkat sebesar 52,73%, pendapatan yang ditangguhkan yang meningkat 108,057% dan dana untuk pembayaran utang jangka pendek yang meningkat 203,61%. Pertumbuhan jumlah kewajiban dan ekuitas dana sampai tahun 2015 sebesar 0,97%. Analisis terhadap neraca keuangan daerah dilakukan dengan rasio likuiditas, rasio solvabilitas dan rasio aktivitas. Untuk neraca keuangan daerah, rasio likuiditas yang digunakan adalah rasio lancar (current ratio) dan quick ratio. Rasio lancar adalah asset lancar dibagi dengan kewajiban jangka pendek, sedangkan quick ratio adalah asset lancar dikurangi persediaan dibagi dengan kewajiban jangka pendek. Rasio Lancar (current ratio) digunakan untuk mengetahui sampai seberapa jauh Pemerintah Kabupaten Wonosobo dapat melunasi hutang jangka pendek. Jika nilai rasio kurang dari 1,5, hal ini menunjukkan bahwa pemerintah akan mengalami kesulitan dalam membayar hutang jangka pendeknya, sedangkan kalau lebih besar maka pemerintah dapat mudah untuk mencairkan asset lancarnya untuk membayar tagihan kewajiban jangka pendeknya. Dari hasil perhitungan, nilai rasio lancar pada tahun 2010 sebesar 40,04846 dan pada tahun 2015 sebesar 82, Nilai tersebut mengindikasikan bahwa Pemerintah Kabupaten Wonosobo tidak mengalami kesulitan dalam mencairkan asset lancarnya untuk membayar seluruh hutang atau kewajiban jangka pendeknya. Dari sisi rasio lancar menunjukkan bahwa neraca keuangan pemerintah Kabupaten Wonosobo sangat baik dan ke depan harus tetap dipertahankan dan ditingkatkan pengelolaan asset lancar terutama yang terkait dengan kewajiban jangka pendek. Quick Ratio yang nilainya lebih besar dari 1 menunjukkan bahwa asset lancar setelah dikurangi dengan persediaan dapat menutup kewajiban jangka pendeknya.berdasarkan perhitungan diperoleh nilai Quick Ratio sebesar 30,17217 pada tahun 2010 dan 79, pada tahun Nilai tersebut menunjukkan bahwa kemampuan asset lancar setelah dikurangi persediaan mempunyai kemampuan yang cukup kuat untuk melunasi kewajiban jangka pendeknya. Bab III - RPJMD Kabupaten Wonosobo III- 11

143 Tabel III.5 Analisa Rasio Keuangan Daerah Kabupaten Wonosobo NO Uraian Rasio Lancar (Current Ratio) 40, ,26 579, , , , Rasio Quick (Quick Ratio) 30, , , , , , Rasio Kewajiban terhadap Aset 0, , , , , , Rasio Kewajiban terhadap Ekuitas 0, , , , , , Sumber : Bagian Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Wonosobo, ; Bappeda, 2016 (data diolah) Untuk neraca keuangan daerah, rasio solvabilitas yang digunakan adalah rasio kewajiban terhadap asset dan rasio kewajiban terhadap ekuitas. Rasio kewajiban terhadap asset adalah kewajiban dibagi dengan asset sedangkan rasio kewajiban terhadap ekuitas adalah kewajiban dibagi dengan ekuitas. Rasio kewajiban terhadap asset secara langsung membandingkan kewajiban jangka panjang ditambah kewajiban jangka pendek dibagi dengan asset dikurang kewajiban jangka panjang dan jangka pendek. Semakin kecil nilai rasio maka semakin baik rasio kewajiban terhadap asset. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai rasio sebesar 0, pada tahun 2010 dan 0, pada tahun Nilai tersebut relative kecil karena dibawah angka 0,75 sehingga kemampuan keuangan daerah cukup kuat untuk membayar jika Pemerintah Kabupaten Wonosobo melakukan pinjaman kepada kreditur. Rasio kewajiban terhadap ekuitas secara langsung membandingkan kewajiban jangka pendek dibagi dengan ekuitas. Semakin kecil nilai rasio maka akan semakin baik rasio kewajiban terhadap ekuitas. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai rasio sebesar 0, pada tahun 2010 dan 0, pada tahun Nilai tersebut hampir sama dengan rasio kewajiban terhadap asset. Nilai tersebut relatif kecil karena dibawah angka 0,75 sehingga kemampuan keuangan daerah cukup kuat untuk membayar jika Pemerintah Kabupaten Wonosobo melakukan pinjaman kepada kreditur. Untuk mengukur sampai seberapa jauh aktivitas pemerintah daerah dalam menggunakan dana-dananya secara efektif dan efisien digunakan rasio aktivitas. Rasio ini dapat mengukur efisiensi kegiatan operasional birokrasi pemerintah daerah, karena rasio ini didasarka pada perbandingan antara pendapatan denga pengeluaran pada periode tertentu. Untuk neraca keuangan daerah, rasio aktivitas yang digunakan adalah rasio rata-rata umur piutang dan rasio rata-rata umur persediaan. Rata-rata umur piutang yaitu rasio untuk melihat berapa lama hari yang diperlukan untuk melunasi piutang (merubah piutang menjadi kas). Semakin besar periode rata-rata, semakin besar resiko kemungkinan tidak tertagihnya piutang dan sebaliknya. Cara perhitungan rata-rata umur piutang adalah 365 Bab III - RPJMD Kabupaten Wonosobo III- 12

144 dibagi perputaran piutang, dimana perputaran piutang sendiri adalah pendapatan daerah dibagi rata-rata piutang pendapatan daerah. Sedangkan rata-rata piutang pendapatan daerah adalah saldo awal piutang ditambah saldo akhir piutang kemudian dibagi 2. Dari hasil perhitungan dapat diketahui bahwa rata-rata umur piutang pada tahun 2014 adalah 4,03 hari. Artinya Pemerintah Kabupaten Wonosobo memiliki kemampuan yang sangat baik dalam menagih piutang atau merubah piutang menjadi kas. Rata-rata umur persediaan yaitu rasio untuk melihat berapa lama dana tertanam dalam bentuk persediaan (menggunakan persediaan untuk memberi pelayanan public). Semakin besar periode rata-rata, semakin besar resiko kemungkinan persediaan berada di gudang dan sebaliknya. Cara menghitung rata-rata umur persediaan adalah 365 dibagi perputaran persediaan, dimana perputaran persediaan adalah nilai persediaan yang digunakan dalam satu tahun dibagi rata-rata nilai persediaan. Sedangkan rata-rata nilai persediaan adalah saldo awal persediaan ditambah saldo akhir persediaan lalu hasilnya dibagi 2. Dari hasil perhitungan dapat diketahui bahwa pada tahun 2014 ratarata umur persediaan adalah 10,88 hari. Artinya bahwa dana yang tertanam dalam bentuk persediaan hanya bertahan sekitar setengah bulan. B. Kebijakan Pengelolaan Keuangan Daerah Tahun Proporsi Penggunaan Anggaran Proporsi penggunaan anggaran untuk belanja pemenuhan kebutuhan aparatur terhadap total pengeluaran pemerintah Kabupaten Wonosobo dari tahun dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel III.6 Proporsi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur Kabupaten Wonosobo No Tahun Total Belanja untuk Pemenuhan Kebutuhan Aparatur (Rp000) Total Pengeluaran (Belanja+Pembiayaan Pengeluaran) (Rp000) Persentase (%) , , , , *) ,66 Sumber : Bagian Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Wonosobo, , Bappeda 2016 (data diolah) Ket *) : Data unaudit Dari tabel 3.6 diatas dapat diketahui bahwa pada tahun 2011 total belanja untuk pemenuhan kebutuhan aparatur sebesar Rp ,- atau 53,66% dari total pengeluaran daerah. Tahun 2012 sebesar Rp ,- atau 55,25% dari total pengeluaran daerah, mengalami kenaikan 13,82% dari tahun Bab III - RPJMD Kabupaten Wonosobo III- 13

145 sebelumnya. Tahun 2013 sebesar Rp ,- atau 59,63% dari total pengeluaran daerah dan mengalami kenaikan sebesar 9,07% dari tahun Pada tahun 2014, total belanja untuk pemenuhan kebutuhan aparatur sebesar Rp ,- atau 51,48% dari total pengeluaran daerah, mengalami penurunan 7,3% dari tahun Tahun 2015, total belanja untuk pemenuhan kebutuhan aparatur sebesar Rp ,- atau 46,66% dari total pengeluaran daerah, mengalami kenaikan sebesar 11,70% dari tahun Selama kurun waktu lima tahun, proporsi total belanja pemenuhan kebutuhan aparatur terhadap total pengeluaran daerah mengalami kenaikan dari tahun 2011 sampai tahun 2013 kemudian mengalami penurunan pada tahun 2014 dan 2015, dengan rata-rata proporsi sebesar 53,32%. Hal ini menunjukkan bahwa belanja daerah masih lebih besar digunakan untuk pengeluaran pemenuhan kebutuhan aparatur dibandingkan untuk peningkatan pelayanan dasar dan daya saing daerah. 2. Analisis Pembiayaan Tabel III.7 Defisit Riil Anggaran Kabupaten Wonosobo Tahun Sumber : Bagian Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Wonosobo, , Bappeda 2016 (data diolah) Ket *) : Data unaudit Tabel III.8 Komposisi Penutup Defisit Riil Anggaran Kabupaten Wonosobo Tahun Proporsi dari Total Defisit Riil (%) No Uraian SiLPA Tahun Anggaran 43,51 305,61 110,59 972,44-315,46 sebelumnya 2. Pencairan Dana Cadangan 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 3. Hasil Penjualan Kekayaan 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 Daerah Yang Dipisahkan 4. Penerimaan Pinjaman daerah 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 5. Penerimaan kembali 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 Pemberian Pinjaman daerah 6. Penerimaan Piutang Daerah 0,0014 0,0018 0,0004 0,0017-0,0005 Sumber : Bagian Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Wonosobo, , Bappeda 2016 (data diolah) Ket *) : Data unaudit Bab III - RPJMD Kabupaten Wonosobo III- 14

146 Tabel III.9 Realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Kabupaten Wonosobo Tahun No Uraian Rp % dari SiLPA Rp % dari SiLPA Rp % dari SiLPA 1. Jumlah SiLPA ,98 100, ,83 100, ,82 100,00 2. Pelampauan penerimaan PAD 3. Pelampauan penerimaan dana perimbangan 4. Pelampauan penerimaan lain-lain pendapatan daerah yang sah 5. Sisa penghematan belanja atau akibat lainnya 6. Kewajiban kepada pihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan 7. Kegiatan lanjutan Sumber : Bagian Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Wonosobo, , Bappeda 2016 (data diolah) Ket *) : Data unaudit C. Kerangka Pendanaan Menurut Peraturan Menteri dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 Pasal 1 ayat 25, kerangka pendanaan adalah program dan kegiatan yang disusun untuk mencapai sasaran hasil pembangunan yang pendanaannya diperoleh dari anggaran pemerintah daerah, sebagai bagian integral dari upaya pembangunan daerah secara utuh. Untuk menentukan kemampuan anggaran Pemerintah Kabupaten Wonosobo 5 (lima) tahun ke depan perlu dihitung perkiraan kemampuan anggaran berdasarkan anggaran tahun sebelumnya dengan asumsi-asumsi yang diperkirakan terjadi. 1. Analisis Pengeluaran Periodik Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama Pengeluaran Pemerintah Kabupaten Wonosobo yang wajib dianggarkan serta merupakan prioritas utama, harus ada pada setiap perencanaan penganggaran. Beberapa pengeluaran periodic, wajib dan mengikat serta prioritas utama pada tahun ditampilkan pada tabel berikut ini. Tabel III.10 Belanja dan Pengeluaran Periodik, Wajib dan mengikat serta Prioritas Utama Kabupaten Wonosobo Tahun Bab III - RPJMD Kabupaten Wonosobo III- 15

147 Sumber : Bagian Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Wonosobo, , Bappeda 2016 (data diolah) Ket *) : Data unaudit Pengeluaran wajib dan mengikat dari tahun ke tahun meningkat secara signifikan. Pada tahun 2013 sebesar Rp ,- meningkat 12,94% di tahun 2014 menjadi Rp ,- dan meningkat kembali sebesar 7,55% di tahun 2015 menjadi Rp ,-. Pengeluaran terbesar terdapat pada belanja langsung yaitu berupa gaji PNS dengan pertumbuhan rata-rata 8,74%. 2. Proyeksi Data Masa Lalu Untuk memperkirakan kemampuan anggaran 5 (lima) tahun kedepan, metode sederhana yang dipergunakan adalah fungsi forecast, yaitu menggunakan regresi linear untuk memperkirakan sebuah nilai berdasarkan hubungan 2 (dua) kumpulan data, ditambah asumsi-asumsi yang diperkirakan akan terjadi. a. Proyeksi Pendapatan Tahun Berdasarkan hasil perhitungan, didapat proyeksi pendapatan daerah Kabupaten Wonosobo tahun sebagai berikut: Tabel 3.11 Bab III - RPJMD Kabupaten Wonosobo III- 16

148 Proyeksi Pendapatan Daerah Kabupaten Wonosobo Tahun Sumber : Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Wonosobo, 2016; Bagian Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Wonosobo, 2016, Bappeda 2016 (data diolah) Pendapatan daerah pada tahun 2016 diperkirakan sebesar Rp ,- dan pada tahun 2021 akan meningkat menjadi Rp ,- dengan asumsi-asumsi : 1. Pendapatan asli daerah mengalami kenaikan setiap tahun antara lain disebabkan : a. Penerapan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah; b. Bertambahnya objek dan wajib pajak dan retribusi; c. Adanya perubahan nilai jual objek pajak (NJOP) pada subjek PBB- P2 dan BPHTB. 2. Terjadi kecenderungan kenaikan dana perimbangan setiap tahun, sepanjang tidak ada perubahan mendasar dari pemerintah pusat, dengan uraian sebgai berikut : a. DAU cenderung meningkat setiap tahun seiring kebijakan kenaikan gaji pegawai; b. DAK cenderung meningkat setiap tahun; Bab III - RPJMD Kabupaten Wonosobo III- 17

149 c. Pemerataan dana bagi hasil pajak/bukan pajak mengalami kenaikan setiap tahun. 3. Sesuai peraturan perundang-undangan, pemerintah daerah dapat menganggarkan defisit. 4. Lain-lain pendapatan daerah yang sah mengalami kenaikan setiap tahun, sepanjang tidak ada perubahan kebijakan mendasar dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. b. Proyeksi Belanja Tahun Untuk menentukan pagu indikatif maka harus dibuat proyeksi atas belanja daerah yang akan dilakukan dalam 5 (lima) tahun mendatang. Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 Pasal 11, pagu indikatif adalah jumlah dana yang tersedia untuk mendanai program dan kegiatan tahunan yang perhitungannya berdasarkan standard satuan harga yang ditetapkan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Penghitungan proyeksi untuk anggaran belanja daerah dilakukan dengan metode yang sama dengan proyeksi pendapatan. Tabel III.12 Proyeksi Belanja Kabupaten Wonosobo Tahun Sumber : Bagian Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Wonosobo, 2016, Bappeda 2016 (data diolah) Proyeksi belanja daerah pada tahun 2016 diperkirakan sebesar Rp ,- dan pada tahun 2021 akan meningkat menjadi Rp ,-. Proyeksi anggaran belanja daerah tersebut diatas memperhatikan asumsi-asumsi sebagai berikut : Bab III - RPJMD Kabupaten Wonosobo III- 18

150 1. Kebutuhan belanja pegawai selalu meningkat setiap tahun sebagai akibat dari kenaikan gaji dan penambahan jumlah pegawai; 2. Kebutuhan belanja publik yang semakin meningkat sebagai upaya pencapaian visi dan misi Pemerintah Kabupaten Wonosobo tahun ; 3. Penyesuaian terhadap kenaikan harga (inflasi) dengan kebutuhan belanja. c. Proyeksi Pembiayaan Tahun Untuk memperkirakan penyaluran surplus dan menutup defisit anggaran yang mungkin akan terjadi maka perlu dibuat proyeksi pembiayaan. Proyeksi pembiayaan di masa yang akan datang dari sisi penerimaan menggunakan perkiraan penerimaan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran tahun sebelumnya dan dari sisi pengeluaran berupa penyertaan modal dalam rangka pemenuhan kewajiban. Gambaran proyeksi pembiayaan daerah dapat dilihat pada tabel III.13. Tabel III.13 Proyeksi Pembiayaan Kabupaten Wonosobo Tahun Sumber : Bagian Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Wonosobo, 2016, Bappeda 2016 (data diolah) 3. Penghitungan Kerangka Pendanaan Untuk menghitung kerangka pendanaan selama lima tahun ke depan dilakukan penghitungan proyeksi kapasitas riil keuangan daerah yang digunakan untuk mendanai pembangunan daerah, sebagaimana dapat dilihat pada tabel berikut. Bab III - RPJMD Kabupaten Wonosobo III- 19

151 Tabel III.14 Proyeksi Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah untuk Mendanai Pembangunan Daerah Kabupaten Wonosobo Tahun Sumber : Bagian Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Wonosobo, , Bappeda 2016 (data diolah) Berdasarkan tabel tersebut, diperoleh proyeksi kapasitas riil kemampuan keuangan daerah yang akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan anggaran belanja daerah baik belanja langsung maupun belanja tidak langsung di luar belanja dan pengeluaran pembiayaan yang wajib, mengikat dan prioritas utama seperti pada tabel berikut. Tabel III.15 Proyeksi Penggunaan Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah Kabupaten Wonosobo Tahun Sumber : Bagian Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Wonosobo, 2016, Bappeda 2016 (data diolah) Bab III - RPJMD Kabupaten Wonosobo III- 20

152 Berdasarkan table III.15 dapat diketahui kapasitas riil kemampuan keuangan daerah yang dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan belanja prioritas I, II dan III sebagaimana table berikut. Tabel III.16 Kerangka Pendanaan Alokasi Prioritas I, II dan III Kabupaten Wonosobo Tahun Sumber : Bagian Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Wonosobo, 2016, Bappeda 2016 (data diolah) Kebutuhan pendanaan untuk prioritas I prosentasenya paling besar disusul prioritas II dan III karena beban kegiatan prioritas I memang paling banyak yaitu meliputi belanja pegawai. Dengan demikian kerangka pendanaan selama lima tahun dapat dilihat pada table berikut. Bab III - RPJMD Kabupaten Wonosobo III- 21

153 Tabel III.17 Proyeksi APBD Kabupaten Wonosobo Tahun Sumber : Bagian Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Wonosobo, 2016, Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Wonosobo, 2016; Bappeda 2016 (data diolah) Berdasarkan kerangka pendanaan tersebut dapat dilaksanakan berbagai program dalam rangka mengatasi berbagai permasalahan dan untuk mencapai target indikator pembangunan Kabupaten Wonosobo selama lima tahun ke depan. Mengingat besarnya permasalahan dan keterbatasan APBD Kabupaten Wonosobo maka diperlukan dukungan sumber dana lainnya baik dari APBN, APBD Provinsi, CSR/PKBL, lembaga donor maupun swadaya masyarakat. Bab III - RPJMD Kabupaten Wonosobo III- 22

154 BAB IV ANALISIS ISU STRATEGIS Bab ini menguraikan isu-isu strategis yang dihadapi oleh Kabupaten Wonosobo. Isu-isu strategis ini berkaitan dengan permasalahan-permasalahan pokok yang dihadapi, pemanfaatan potensi dan masalah keberlangsungan (sustainability) pembangunan dan menjadi dasar utama visi dan misi pembangunan jangka menengah. Analisis isu-isu strategis Kabupaten Wonosobo untuk perencanaan jangka menengah daerah kurun diidentifikasi melalui serangkaian proses. Dimulai dari identifikasi permasalahan menurut urusan pemerintahan, analisis lingkungan strategis, kemudian diperoleh daftar calon isu strategis. Selanjutnya dilakukan pembobotan melalui konsultasi publik, dihasilkan daftar isu strategis per bidang pemerintahan. A. PERMASALAHAN PEMBANGUNAN Pembangunan daerah merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang tidak bisa terlepas dari segala perubahan tata kehidupan nasional dalam berbagai aspek. Tiap aspek didalam tata kehidupan nasional maupun skala daerah relatif berubah menurut waktu, ruang dan lingkungan terutama pada aspekaspek dinamis. Respon yang efektif terhadap dinamika perubahan terutama untuk menghadapi tantangan potensial dan menangkap peluang sangat penting agar cita-cita dan harapan bersama untuk mewujudkan masa depan lebih baik bagi Kabupaten Wonosobo dalam kurun waktu lima tahun kedepan dapat terwujud. Tantangan dan ancaman sebagai permasalahan dalam pelaksanaan pembangunan daerah pada umumnya timbul dari kekuatan yang belum didayagunakan secara optimal, kelemahan yang tidak diatasi, peluang yang tidak dimanfaatkan, dan ancaman yang tidak diantisipasi. Oleh karena itu tahap Identifikasi Masalah sangat berperan penting dalam proses perencanaan sebelum melakukan rangkaian tindakan atau kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan dan disepakati bersama dalam rangka penyelesaian masalah tersebut. Tujuan dari perumusan permasalahan pembangunan daerah adalah untuk mengidentifikasi berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan/kegagalan kinerja pembangunan daerah di masa lalu. Identifikasi faktor-faktor tersebut dilakukan terhadap lingkungan internal maupun eksternal dengan mempertimbangkan masukan dari OPD. 1. Bidang PemerintahanUmum (urusanwajib Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian) a. Pemenuhan standar pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal (SPM); b. Tindak lanjut pengaduan masyarakat yang dinilai belum optimal c. Akurasi, kebaruan data dan integrasi data untuk perencanaan dan evaluasi Bab IV - RPJMD Kabupaten Wonosobo IV-1

155 kinerja masih bermasalah; d. Pemanfaatan Basis Data Terpadu Kemiskinan (PBDT 2015) dalam programprogram SKPD masih belum optimal e. Sistem inovasi daerah belum optimal pengembangannya f. Efektifitas dan efisiensi belanja daerah belum optimal g. Publikasi informasi keuangan daerah kepada masyarakat masih perlu ditingkatkan h. Kerjasama, kemitraan dan jejaring kerja antara masyarakat sipil, DPRD, partai politik dan pemerintah daerah dalam mengatasi permasalahan daerah serta dalam kapasitas penguatan kelembagaan belum optimal; i. masih kurangnya fungsi pengawasan fungsional, pengawasan melekat dan pengawasan masyarakat termasuk legislatif, sehingga fungsi kontrol terhadap jalannya penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah masih belum efektif j. Keterbatasan kapasitas dan kualitas birokrasi. k. Akses layanan dan perlindungan hukum bagi semua masyarakat belum merata; l. Kapasitas dan kapabilitas pemerintah dalam menyelesaikan berbagai kasus hukum di daerah masih kurang; m. Pemahaman kesadaran dan budaya hukum belum optimal; n. Penegakan supremasi hukum masih lemah; o. Kualitas dan kuantitas jejaring kerjasama dengan daerah lain, swasta baik di dalam negeri maupun di luar negeri belum optimal; p. Kapasitas aparatur pemerintah belum optimal berdasarkan tingkat kompetensi, kemampuan teknis dan mekanisme q. Penempatan aparatur secara porposional berdasarkan kebutuhan organisasi masih bermasalah r. birokrasi dalam manajemen pembangunan dan pengelolaan s. keuangan pemerintah Kabupaten Wonosobo relatif masih rendah; t. Sistem remunerasi berbasis kinerja yang masih belum terimplementasi dengan baik; u. Kelurahan dan kecamatan belum berperan optimal dalam pelayanan dan pelaksanaan pembangunan skala lingkungan atau di tingkat masyarakat; v. Pelibatan masyarakat dan kelembagaan forum warga dalam perencanaan dan pengawasan pembangunan belum dimanfaatkan secara optimal w. Penanganan tindak lanjut aduan masyarakat sebagai wujud monitoring evaluasi pelayanan publik berbasis partisipasi masyarakat belum optimal. Bab IV - RPJMD Kabupaten Wonosobo IV-2

156 2. Bidang Ekonomi a. Pertumbuhan Ekonomi Rendah Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Wonosobo pada tahun 2010 sampai 2015 menunjukkan nilai yang berfluktuatif dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010 pertumbuhan ekonomi yang ditunjukkan oleh laju pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar 4,52 mengalami peningkatan pada tahun 2011 sebesar 5,37 kemudian pada tahun 2012 menurun menjadi 4,70% dan meningkat pada tahun 2013 sebesar 5,25%.Pada tahun 2014 mengalami penurunan kembali menjadi 4,16% dan pada tahun 2015 meningkat menjadi 5,70%. Meskipun ada kecenderungan meningkat pertumbuhan ekonomi tersebut masih lebih rendah apabila dibandingkan Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten lain di wilayah Kedu. Dan beberapa lapangan usaha masih tumbuh di bawah ratarata pertumbuhan ekonomi secara umum. Pemerintah Kabupaten Wonosobo harus memacu program-program yang bisa meningkatkan investasi, mengintensifkan perbaikan dan pembangunan infrastruktur, meningkatkan konsumsi masyarakat akan produk/jasa lokal serta mengolah sumber daya alam secara berkelanjutan dengan memanfaatkan teknologi. b. Inflasi Masih Tinggi Perkembangan inflasi Kabupaten Wonosobo dalam tahun menunjukkan trend yang meningkat sampai tahun 2014, dengan angka inflasi pada tahun 2013 dan 2014 meningkat cukup tinggi dibandingkan tahun 2011 dan 2012 yaitu sebesar 6,42% di tahun 2013 dan 8,44% di tahun 2014, sementara pada tahun 2015 menurun secara signifikan menjadi 2,71.Beberapa komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terjadinya inflasi selama tahun 2013 adalah bahan makanan sebesar 16,33% diikuti transpor sebesar 11,89% dan makanan jadi sebesar 10,10%. Sedangkan inflasi pada tahun 2014 sumbangan terbesar dari transport sebesar 12,82% diikuti bahan makanan sebesar 11,63% dan perumahan sebesar 9,91%. Penurunan inflasi yang sangat tajam pada tahun 2015 dikhawatirkan akan membawa pengaruh terhadap kondisi perekonomian di daerah walaupun kondisi tersebut tidak terlepas dari kondisi perekonomian di tingkat global seperti harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, tingkat suku bunga SBI serta kebijakan fiscal maupun moneter. Pemerintah Kabupaten Wonosobo harus berupaya untuk menjaga stabilitas harga melalui pemantauan distribusi, pengendalian harga oleh TPID serta penganekaragaman konsumsi pangan. c. Penanaman Modal Permasalahan pembangunan yang terkait dengan Penanaman Modal dari berbagai sumber adalah sebagai berikut: (a) belum adanya regulasi untuk menghadapi kebebasan arus investasi dalam rangka Bab IV - RPJMD Kabupaten Wonosobo IV-3

157 menghadapi MEA; (b) Pencapaian investasi masih belum optimal; (c) Keterbatasan dan kekurangan SDM yang kompeten mengelola investasi daerah menghadapi MEA; (d) Ketersediaan fasilitas dan infrastruktur daerah untuk penunjang peningkatan daya tarik investasi dan mendukung operasional investasi di daerah masih terbatas; (f) Sistem keamanan termasuk premanisme yang menjamin investor yang masih bermasalah; (g) Belum adanya informasi kebutuhan investasi; (h) Mekanisme monev perijinan belum optimal. d. Ketimpangan Regional mengalami peningkatan Pembangunan daerah yang hanya dilaksanakan dan dinikmati oleh sebagian wilayah dan golongan masyarakat tertentu akan menimbulkan gejala ketimpangan. Pembangunan harus dilaksanakan merata dan tersebar ke seluruh wilayah, terutama wilayah yang masih memiliki tingkat kemiskinan yang cukup tinggi supaya tidak menimbulkan ketimpangan antar wilayah. Ketimpangan wilayah Kabupaten Wonosobo menurut Indek Williamson pada tahun cenderung meningkat yaitu 0,17 pada tahun 2010 meningkat menjadi 0,22 pada tahun 2011 di tahun 2012 meningkat lagi menjadi 0,29 meningkat lagi menjadi 0,28 di tahun 2013 dan meningkat lagi menjadi 0,35 di tahun Adapun untuk kondisi indeks Williamson pada tahun 2015 sebesar 0,35. Dari analisis tren dari tahun ke tahun, kecenderungan kesenjangan semakin melebar, meskipun nilai indeks masih kurang atau sama dengan 0,35. Kondisi ini mengindikasikan bahwa antar wilayah di Kabupaten Wonosobo kondisinya semakin terjadi kesenjangan antar wilayah Kecamatan. Pembangunan yang dilaksanakan ternyata masih dilakukan dan dinikmati oleh sebagian wilayah dan golongan masyarakat tertentu. Kesenjangan antar wilayah yang tampak tersebut mengindikasikan bahwa beberapa wilayah relatif berada di bawah kondisi secara umum rata-rata wilayah yang lainnya. Proses akumulasi dan mobilisasi sumber-sumber berupa akumulasi modal, ketrampilan tenaga kerja dan sumber daya alam yang dimiliki oleh suatu daerah merupakan pemicu dalam laju pertumbuhan ekonomi wilayah yang bersangkutan. Adanya heterogenitas dan beragam karakteristik suatu wilayah menyebabkan kecenderungan terjadinya konsentrasi aktivitas ekonomi secara parsial dan memunculkan kondisi ketimpangan antar daerah. Untuk mengurangi kesenjangan antarpelaku usaha, pertumbuhan ekonomi yang tercipta harus dapat memberikan kesempatan kerja seluas-luasnya dan lebih merata ke sektor-sektor pembangunan, yang banyak menyediakan lapangan kerja. Pertumbuhan ekonomi melalui investasi, diharapkan dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Usaha mikro, kecil, dan menengah, diharapkan juga dapat tumbuh dan berkembang dengan sehat agar dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing yang lebih baik. Pola kemitraan dengan swasta dalam mengelola sumber daya yang ada di daerah juga dapat menciptakan lapangan kerja baru yang dapat merangsang perkembangan kegiatan ekonomi di daerah, sehingga dapat mengubah kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut menjadi lebih baik. Bab IV - RPJMD Kabupaten Wonosobo IV-4

158 Selain itu, wacana adanya pagu wilayah kecamatan pada setiap APBD Kabupaten akan menjadi upaya mengatasi kesenjangan wilayah. e. Angka Kemiskinan masih tinggi Jumlah penduduk miskin di Kabupaten Wonosobo melonjak dari jiwa pada tahun 2012 menjadi jiwa pada tahun Tahun 2014 dan 2015 mengalami penurunan dengan presentase masing 22,08 dan 21,42. Meskipun pada tahun 2015 menurun, tetapi penurunan ini masih tergolong tinggi. Jumlah penduduk miskin dipengaruhi oleh kenaikan garis kemiskinan. Nilai garis Kemiskinan selalu mengikuti inflasi yang menunjukkan kenaikan harga barang dan jasa secara umum dimana barang dan jasa tersebut merupakan kebutuhan pokok masyarakat. f. Kurangnya Kesejahteraan Petani Sektor pertanian di Kabupaten Wonoosbo masih mendominasi dalam menyerap tenaga kerja. Mayoritas masyarakat Kabupaten Wonosobo bermata pencaharian pertanian, kehutanan, perburuan dan perikanan pada tahun 2013 mencapai 57,19% dari jumlah penduduk dan pada tahun 2014 mencapai atau 54%. Namun pada umunya kondisi perekonomian mereka masih miskin. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal seperti sistem pertanian yang masih tradisional, tidak adanya kemitraan dalam hal tata niaga atau pemasaran, kurangnya pengetahuan pengelolaan hasil perikanan dan pendanaan, kualitas komoditas pertanian masih rendah, belum banyak diversifikasi hasil pertanian dan yang terakhir masalah distribusi pemasaran. Sebagian besar komoditas pertanian di Kabupaten Wonosobo dipasarkan melalui tengkulak. Tengkulak memiliki peranan paling penting dalam rantai pemasaran hasil pertanian. Tengkulak sering mempermainkan harga beli hasil petani. Sehingga harga beli dari petani rendah sedangkan harga jual di pasaran sangat tinggi. Petani mendapatkan akses yang mudah dalam mendapatkan modal pinjaman melalui tengkulak. Namun petani tidak terlalu memperhitungkan kerugian yang mereka alami diantaranya bunga yang lebih tinggi dan keharusan menjual hasil pertaniannya kepada tengkulak meskipun dengan harga yang jauh dibawah harga standar di pasaran. g. Koperasi dan UKM Permasalahan pembangunan yang terkait dengan Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dari berbagai sumber adalah sebagai berikut: (a) jumlah koperasi aktif masih belum maksimal, kurangnya SDM koperasi sesuai dengan standar keahlian teknis,; (b) Masih rendahnya aplikasi IPTEKS dalam sistem produksi UMKMP sehingga kurang mendukung daya saingnya; (c) belum tersedianya kebijakan yang mendukung bagi perkembangan dan keberlanjutan UMKM; (e) Masih kurangnya kualitas SDM dan daya saing pemasaran (promosi) produk UMKM, baik pada bidang sandang, pangan, kerajinan, dan jasa; (f) Masih rendahnya ketersediaan dan aksesibilitas UMKMK terhadap permodalan lembaga keuangan/pembiayaan mikro; (g) Belum optimalnya kemitraan Bab IV - RPJMD Kabupaten Wonosobo IV-5

159 usaha antara koperasi dan UMKM dengan pelaku usaha lainnya; (h) Rendahnya daya saing koperasi dan UMKM dalam mengakses pasar; (i) Masih kurangnya kemampuan koperasi dan UMKM dalam penguasaan teknologi informasi. h. Ketahanan Pangan PermasalahanpembangunanyangterkaitdenganKetahananPangan dariberbagaisumberadalahsebagaiberikut:(a)belum optimalnya pemantauan distribusi, harga, dan akses pangan masyarakat; (b)ketergantungan bahan pangan dari luar daerah yang masih besar; (c) Keamanan dan keanekaragaman konsumsi pangan melalui pengembangan pangan lokal masih kurang; (d) Masih rendahnya konsumsi pangan berbasis lokal yang sehat dan aman bagi anak-anak sekolah; (e) Sering terjadi fluktuasi harga dari berbagai komoditas; (f) Luas lahan pertanian semakin berkurang akibat alih fungsi lahan; (g) Sebagian besar masyarakat masih tergantung pada konsumsi beras; (h) Masih adanya wilayah rawan pangan karena kemiskinan maupun bencana alam; (i) Masih rendahnya konsumsi protein hewani. i. Pertanian Permasalahan pembangunan yang terkait dengan pertanian dari berbagai sumber adalah sebagai berikut: (a) Belum optimalnya produksi dan produktivitas serta pemasaran hasil pertanian (perkebunan/peternakan/perikanan); (b) Belum optimalnya penerapan teknologi pertanian dan pemanfaatan pekarangan dalam mendukung daya tahan pangan di masyarakat; (c) Kelembagaan tani/ternak belum optimal; (d) Kualitas produk pertanian masih rendah; (e) Produk pertanian kurang bersaing di pasar internasional; (f) Kepemilikan lahan pertanian sedikit. j. Energi dan Sumber Daya Mineral Secara kewenangan, pertambangan sudah tidak menjadi kewenangan Pemerintah Daerah, namun oleh pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat. Kewenangan pemerintah daerah terkait ESDM hanya pada pemanfaatan energi terbarukan, dalam hal ini bisa pada pemanfaatan langsung energi panas bumi. Pemanfaatan langsung pada energi panas bumi selama ini belum dilakukan secara teknis oleh Pemerintah Daerah. Permasalahan pembangunan yang terkait dengan Energi dan Sumber Daya Mineral dari berbagai sumber adalah kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB terus mengalami penurunan. k. Perikanan Permasalahan pembangunan yang terkait dengan Kelautan dan Perikanan dari berbagai sumber adalah sebagai berikut: (a) Belum optimalnya produksi perikanan budidaya; (b) Masih rendahnya tingkat konsumsi ikan penduduk; (c) Kelembagaan kelompok tani ikan belum optimal. Bab IV - RPJMD Kabupaten Wonosobo IV-6

160 l. Perdagangan Permasalahan pembangunan yang terkait dengan Perdagangan dari berbagai sumber adalah sebagai berikut: (a) Masih banyaknya peredaran barang dan jasa yang belum terstandarisasi dan ada yang belum aman; (b) Masih kurangnya pasar yang memenuhi syarat kesehatan, kebersihan dan kenyamanan; (c) Terbatasnya kemampuan sumber daya manusia pelaku usaha UMK; (d)masih rendahnya kualitas sarana dan prasarana perdagangan; (e) Sistem distribusi barang kepokmas belum efektif dan efisien; (f) Masih minimnya ragam komoditas ekspor non migas dengan nilai tambah yang rendah; (g) Masih rendahnya kesadaran pemakaian produk dalam negeri. m. Industri Permasalahannya yaitu: (a) Penurunan kontribusi sektor perindustrian terhadap PDRB; (b) Belum optimalnya pertumbuhan jumlah usaha; (c) Ketergantungan bahan baku impor yang tinggi; (d) Ketersediaan tenaga kerja yang berkualitas sesuai kebutuhan dunia usaha industri masih rendah.; (e) Rendahnya daya saing industri lokal; (f) (g) Lemahnya struktur industri; Kurangnya akses permodalan; (h) Kurang luasnya jaringan pemasaran; (i) Kualitas kuantitas kontinuitas hasil industri belum stabil. 3. Bidang Sosial Budaya a. Pendidikan (a) (b) Angka melanjutkan lulusan SD dan SMP ke jenjeng SMP dan juga SMA Kabupaten Wonosobo masih rendah, sehingga perlu ada penuntasan wajib belajar 9 tahun dan mengembangkan wajib belajar 12 tahun terutama bagi Masyarakat Berpenghasilan rendah Belum meratanya akses pendidikan yang berkualitas baik sarana prasrana maupun layanan pendidikan itu sendiri. Pemanfatan dana BOS yang belum optimal juga menghambat efektifitas peningkatan kualitas pendidikan. Hal tersebut berimplikasi pada tantangan penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai, serta pembebasan biaya pendidikan khususnya pendidikan dasar. Selain itu mutu, relevansi dan daya saing pendidikan yang masih relatif rendah, akan menghambat pembangunan kualitas sumber daya manusia yang berdaya saing dan komptensi tinggi. Bab IV - RPJMD Kabupaten Wonosobo IV-7

161 (c) (d) Lokasi sarana pendidikan yang memiliki kualitas baik yang semakin jauh dengan permukiman, sehingga masyarakat pinggiran tidak mampu mengakses pendidikan dengan kualitas baik Pendidikan berbasis teknologi informasi dengan memanfaatkan IT dan Pendidikan berbasis kearifan local yang berwawasan global masih kurang. Selain itu kemampuan siswa Kabupaten Wonosobo dalam menganalisa, bernalar dan berkreativitas masih rendah, cenderung untuk analisa dengan cara menghafal (e) Persentase Guru SD/MI/SDLB yang memenuhi yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV masih relatif rendah (f) (g) Rendahnya kualitas sarana penunjang pendidikan seperti perpustakaan dan laboratorium Integrasi antara pendidikan (formal atau non Formal) dengan ketersediaan lapangan kerja belum optimal; b. Kesehatan (a) Angka Kematian Ibu, Angka Kematian Bayi dan Angka Kematian Balita sebagian besar sudah mencapi target RPJMD , beberapa tahun masih belum mencapai target RPJMD (b) Penderita HIV setiap tahun terus mengalami peningkatan (c) Dokter dan Dokter spesialis di Kabupaten Wonosobon belum memenuhi kebutuhan sesuai rasio jumlah penduduk di Kabupaten Wonosobo (d) Kapasitas pelayanan Puskesman belum optimal; c. Perempuan dan Anak (a) Kurangnya edukasi perempuan di Kabupaten Wonosobo (b) Hukum tentang kekerasan perempuan dan anak masih kurang tegas (c) Peran perempuan dalam berbagai bidang pembangunan terutama dalam struktur pemerintahan dan organisasi politik belum optimal; (d) Penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak dasar perempuan dalam kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan politik belum memadai; d. Kepemudaan dan Olah Raga (a) Rendahnya rasio gedung olahraga, juga diikuti oleh minimnya pembinaan olah raga sehingga berimbas pada minimnya prestasi olahraga dikalangan pemuda; (b) Tingginya tingkat pengangguran terbuka; Bab IV - RPJMD Kabupaten Wonosobo IV-8

162 (c) Masih rendahnya kapasitas dan kualitas kelembagaan kepemudaan e. Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) PMKS meliputi anak balita terlantar, anak korban tindak kekerasan, anak nakal, anak jalanan, anak penyadang disabilitas, Wanita Rawan Sosial Ekonomi (WRSE), Wanita Korban Tindak Kekerasan (WKTK), lanjut usia terlantar, lanjut usia tindak kekerasan, Orang dengan HIV/AIDS (ODHA), penyandang cacat bukan kusta, tuna susila,eks narapidana, pekerja migran bermasalah dan korban NAPZA. Permasalahan penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) adalah Presentase PMKS yang memperoleh bantuan sosial untuk pemenuhan kebutuhan dasar masih belum optimal; f. Ketenagakerjaan (a) kesempatan kerja yang ada belum mampu menampung seluruh pencari kerja; (b) pencari tenaga kerja belum kompetitif, sehingga perludi fasilitasi pendidikan ketrampilan sesuai standarisasi pasar tenaga kerja. g. Kearsipan dan Perpustakaan (a) Jumlah arsip dalam wujud digitalisasi/aplikasi teknologi informasi masih sangat sedikit dan belum optimal. (b) Pengelolaan/manajemen Perpustakaan, layanan perpustakaan daerah dan perpustakaan yang dimiliki oleh lembaga pendidikan di Kabupaten Wonosobo belum optimal. h. Kebudayaan dan Pariwisata (a) Jumlah wisatawan Manca Negara mengalami penurunan (b) Pertumbuhan PDRB sektor pariwisata tergolong rendah (c) Managemen pariwisata kurang memperhatikan keberlanjutan lingkungan, seperti tlaga warna yang saat ini hanya memiliki warna hijau akibat matinya alga merah dan biru dampak peptisida dari pertanian warga (d) Pelestarian nilai luhur, seni, bahasa dan sastra semakin tergerus oleh arus globalisasi. Semakin banyak anak yang kurang lancar bahasa jawa, kususnya Krama Inggil, orang tua leboh sering mengajarkan bahasa Indonesia. Banyak masyarakt Wonosobo yang kurang tertarik menyaksikan seni tradional Wonosobo, seperti Tari Lengger; (e) Belum ada integrasi antara Seni tradisional Kabupaten Wonosobo dengan pendidikan. Pementasan Seni Tradisional di Kabupaten Bab IV - RPJMD Kabupaten Wonosobo IV-9

163 Wonosobo sering disalah gunakan sebagai ajang untuk mabukmabukan atau tawuran, dan sangat jarang dijumpai kaum terpelajar menonton tarian lengger atau pementasan lain dari perspektif akademik, 4. Bidang Infrastruktur dan penataan ruang (a) Belum optimalnya pemanfaatan dokumen rencana tata ruang sebagai acuan dalam perencanaan pembangunan; (b) Belum optimalnya penegakan peraturan perundangan di bidang tata ruang (c) Tekanan alih fungsi lahan dari lahan pertanian menjadi non pertanian yang menimbulkan dampak terhadap kelestarian lingkungan; (d) Penggunaan Lahan masih belum sesuai tata ruang wilayah. Penggunaan lahan di kawasan Dieng yang sebagian besar dimanfaatkan untuk pertanian, meskipun seharusnya sebagai kawasan konservasi (e) Rehabilitasi hutan dan lahan kritis belum optimal (f) Kondisi jaringan pedestrian yang kurang memadai dan tempat parkir yang tidak tersedia secara layak; (g) Volume sampah yang ditangani masih sangat kecil. Hanya 0,6% pada tahun 2015 sampah yang ditangani (h) Jumlah Rumah Tangga Bersanitasi masih kecil. Tahun 2015 hanya mencapai 45,95%, sementara yang mengakses sanitasi layak baru 21,01% (i) (j) Kondisi jaringan jalan yang mengalami kerusakan sedang dan berat tersebar hampir seluruh wilayah. Data tahun 2015 hanya 56% jalan yang kondisinya baik dan sedang. Akses transportasi umum belum tersebar di semua wilayah dan belum nyaman, sehingga masyarakat Wonosobo terbiasa menggunakan motor daripada moda transportasi umum (k) Sistem transportasi wilayah yang memperhitungkan keterkaitan dan keterpaduan antar moda dan antar wilayah belum tertata dengan baik; (l) Pelayanan transportasi yang aman, nyaman, efisien dan terpadu yang mendukung mobilitas penduduk dan barang belum optimal; Bab IV - RPJMD Kabupaten Wonosobo IV-10

164 B. Lingkungan Strategi 1. Lingkungan Internal Review Kebijakan LingkungaInternal Lingkungan Eksternal Posisi Kabupaten Wonosobo (Geografi dan Geoekonomi ) Demografi Wonosobo Lingkungan Sosbud Nasiona l Internasiona l RPJMN RPJMDProvinsi JawaTengah Undang- Undang SD ME AA Pembahasan mengenai lingkungan internal yang akan dikaji dalam bagian ini, mencakup: (i) Posisi Geografis dan Geoekonomi Kabupaten Wonosobo, (ii) Kondisi Demografi, dan (iii) Lingkungan Sosial Budaya. Penjelasan selengkapnya akan dipaparkan pada bagian berikut. a. Posisi Geografis dan Geoekonomi Posiss Geoekonomi Kabupaten Wonosobo berada di tengah wilayah Jawa Tengah, pada jalur utama yang menghubungkan Cilacap - Banjarnegara - Temanggung - Semarang dari Purwokerto - Yogyakarta lewat Secang Magelang. Karena letaknya di persimpangan jalur tersebut, Wonosobo merupakan jalur ekonomi dan jalur pariwisata di Jawa Tengah- DIY. Selain itu, karena berada diantara pusat-pusat pengembangan industri, yaitu Wonosobo, Surakarta dan Cilacap, Wonosobo merupakan hinterland, yang akan diterjemahkan sebagai potensi ekonomi yang dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat. Kondisi geomorfologis Kabupaten Wanosobo berada pada bentang lahan vulkanis muda, sehingga potensi wisata tinggi dan kondisi tanah yang subur. Kesuburan tanah menjadikan Kabupaten Wonosobo memiliki Bab IV - RPJMD Kabupaten Wonosobo IV-11

165 sumber daya alam yang potensial untuk diberdayakan. Kekayaan alam yang dimiliki oleh Wonosobo menjanjikan harapan besar pada peningkatan ekonomi daerah hingga berpengaruh pada ekonomi berskala nasional. Terdapat satu produk unggulan Wonosobo yaitu buah carica, buah yang hanya tumbuh di tiga tempat di dunia. Produk-produk tersebut merupakan produk lokal yang sangat berpotensi untuk dikembangkan. Implikasi tantangannya: (1) harus mengembangkan industri kreatif, sektor jasa dan perdagangan; (2) harus menciptakan iklim yang kondusif dan ramah investasi; (3) menata Kabupaten Wonosobo yang berorientasi ekonomi perdagangan yang kompetitif, memberi kenyamanan bagi pelaku usaha atau investor untuk menambah lama tinggal (length of stay) di Kabupaten Wonosobo (4) banyak area rawan bencana seperti longsor, gunung api, gas beracun dan lain sebagainya. b. Kondisi Demografi Jumlah Penduduk Kabupaten Wonosobo cenderung meningkat dengan rata-rata pertumbuhan 0,50% dengan kemiskinan tertinggi di JAwa Tengah. Impiklasi Tantangannya adalah bagaimana pemerintah memanfaatkan data kependudukan untuk perencanaan persebaran penduduk, tata ruang dan tata guna lahan/tanah serta perencanaan dan penganggaran pembangunan, mengantisipasi dampak pada penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan, yang dapat beresiko pada kesehatan lingkungan, persaingan akses fasilitas hidup, dan menurunkan kemiskinan. c. Lingkungan Sosial Budaya. Kabupaten Wonosobo banyak aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mengorganisir komunitas sebagai forum warga yang potensial dimanfaatkan sebagai modal sosial. 2. Lingkungan Eksternal a. Undang-UndangNomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara Tantangan yang dihadapi dari kehadiran Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 bagi pembangunan daerah Kabupaten Wonosobo adalah: (1) mengelola penataan organisasi pemerintah daerah yang efisien dan efektif; (2) mengelola aparatur supaya profesional, kompetitif, akuntabel; (3) pengelolaan keuangan daerah yang memprioritaskan pemenuhan pelayanan dasar secara efisien dan akuntabel; (4) tata kelola pemerintahan yang kolaboratif dengan multi pemangku kepentingan dan akuntabel. b. Tantangan Acuan Kebijakan Nasional dan ProvinsiJawaTengah Kebijakan pengurangan subsidi energi BBM dan tarif Dasar listrik dari Pemerintah berdampak pada resiko inflasi, kerentanan kelompok hampir miskin, penentuan standar satuan harga belanja barang dan jasa, Bab IV - RPJMD Kabupaten Wonosobo IV-12

166 dan kenaikan belanja rutin. Efisiensi belanja rutin dan prioritas alokasi anggaran untuk penyelenggaraan pelayanan wajib dasar menjadi tantangan perencanaan pagu angaran tahun Kebijakan moratorium PNS menantang pemerintah Kabupaten Wonosobo untuk menyediakan lapangan pekerjaan bagi angkatan pencari kerja selama 5 tahun di luar sektor PNS. Kreativitas pemerintah Kota mendidik wirausaha muda menjadi tantangan berat. Diperlukan program terobosan pemerintah untuk memfasilitasi angkatan pencari kerja dengan pihak swasta pemilik usaha. RPJMN menantang: (1) menjalankan reformasi birokrasi publik; (2) membuka partisipasi publik; (3) membangun politik legislasi yang kuat: pemberantasan korupsi, penegakan HAM, perlindungan lingkungan hidup. RPJMN dan RPJMD Provinsi jawa Tengah , secara umum menantang pemerintah Kabupaten Wonosobo membuat perencanaan pembangunan dengan memprioritaskan penataan kebijakan dan kelembagaan perangkat daerah yang bersih, demokratis, partisipatif dan akuntabel untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan dan berkelanjutan. Kebijakan nasional yang tertuang dalam RPJMN, yang terkait langsung dengan kewilayahan Kabupaten Wonosobo yaitu rencana pembangunan Bendung Bener, dengan wilayah genangan terluas di Kabupaten Wonosobo. Bendung tersebut akan mengairi persawahan di kabupaten tetangga yaitu Kabupaten Purworejo dan juga dapat berfungsi sebagai pengendali banjir di Kabupaten Purworejo. Hal ini semakin menunjukkan peran Kabupaten Wonosobo sebagai daerah hulu daerah aliran sungai (DAS).Dalam konteks kewenangan urusan, meskipun daerah aliran sungai bukan lagi menjadi wewenang Pemerintah Daerah namun manajemen pengelolaan lahan di wilayah daerah aliran sungai yang menjadi tanggungjawab pengarahan oleh Pemerintah daerah melalui aturan tata ruang hendaknya diperhatikan secara optimal. Hal ini nantinya akan membantu mewujudkan ruang wilayah yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan. c. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) Tantangan dari pemberlakuan MEA pada tahun 2015 adalah kesiapan pemerintah Kabupaten Wonosobo mempersiapkan mental dan ketrampilan hidup penduduk Kabupaten Wonosobo menghadapi MEA; yaitu: (a) memiliki wawasan kebangsanaan yang tinggi untuk mencintai dan mendukung produk dalam negeri; (b) mengupayakan standarisasi dan sertifikasi ketrampilan yang dipersyaratkan untuk kompetisi pasar tenaga kerja; (c) meningkatkan arus investasi, mencetak eksportir ke ASEAN, pengiriman tenaga terampil ke ASEAN, dan peningkatan kunjungan wisata. Bab IV - RPJMD Kabupaten Wonosobo IV-13

167 d. Sustainable Development Goals (SDGs) Kesepakatan global Sustainable Development Goals (SDGs) dan perubahan iklim menantang pemerintah Kabupaten Wonosobo menyusun perencanaan daerah tahun memprioritaskan: (a) Mengakhiri Kemiskinan; (2) mengupayakan kualitas sumberdaya manusia (pendidikan, kesehatan, pangan dan gizi) dan kesejahteraannya (pekerjaan, pendapatan); (3) menjaga keberlanjutan lingkungan hidup; (4) mengatur tata kelola yang baik; (5) kondisi masyarakat stabil dan kolaboratif. e. Universal Access Akses universal (Universal acces) merupakan program nasional bidang keciptakaryaan untuk mewujudkan permukiman berkelanjutandengan mencapai akses pelayanan air besih hingga 100 %, pengurangan kawasan kumuh hingga 0% dan peningkatan pelayanan akses sanitasi hingga 100%. Sasaran yang ingin dicapai program yaitu: - Terpenuhinya penyediaan air minum untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat - Pemenuhan kebutuhan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana pendukung, menuju Kota Tanpa Kumuh yang didukung dengan tata bangunan dan lingkungan yang berkualitas, layak huni, produktif dan berjati diri. - Terpenuhinya penyediaan sanitasi untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat (persampahan, limbah, dan drainase lingkungan). C. Isu Strategis 1. Penanggulangan Kemiskinan, Permasalahan Sosial danpengangguran; Isu kemiskinan di Kabupaten Wonosobo hingga saat ini masih belum ditangani secara optimal. Meskipun pada tahun 2015, angka kemiskinan di Kabupaten Wonosobo memgalami penurunan, tetapi masih menempati peringkat teratas sebagai kabupeten termiskin di Jawa Tengah. Kecenderungan kemiskinan di Kabupaten Wonosobo mempunyai empat dimensi pokok, yaitu: kurangnya kesempatan, rendahnya kemampuan, kurangnya jaminan, dan ketidakberdayaan. Label sebagai kabupaten termiskin di Jawa Tengah menjadi tantangan bagi pemerintah Kabupaten Wonosobo bagaimana program pembangunan harus benar-benar difokuskan kepada Rumah Tangga miskin. Belajar pengalaman program kesejahteraan sebelumnya, banyak OPD yang tidak memanfaatkan data terpadu PPLS 2011, sehingga banyak sasaran program yang kurang tepat. Periode , seluruh OPD di Kabupaten Wonosobo harus didesak untuk memanfaatkan Basis Data Terpadu sebagai referensi sasaran program. Bab IV - RPJMD Kabupaten Wonosobo IV-14

168 Pada umumnya kondisi ekonomi dan pendidikan orang tua keluarga miskin terlahir dari keluarga miskin sebelumnya. Tingkat pendidikan keluarga miskin juga tidak berbeda dengan tingkat pendidikan orangtua mereka. Keluarga miskin cenderung tidak mampu menyekolahkan anggota keluarganya pada jenjang yang lebih tinggi. Kemiskinan secara alamiah menyebabkan keturunannya terhambat pada berbagai akses kehidupan. Kepala keluarga miskin umumnya tingkat pendidikannya rendah, demikian juga dengan anakanakmereka. Artinya keluarga miskin sekarang ini juga berpeluang untuk melahirkan keluarga miskin berikutnya, bila tidak ada perubahan mendasar yang mengubah kehidupannya. Keluarga miskin tersebut umumnya terlahir, tumbuh, berkembang, bersekolah, bermain danbahkan berumah tangga tangga pada lingkungan yang sama hingga sekarang ini yang kondisinya tidak lebih baik. Keluarga miskin umumnya sedikit memiliki aset ekonomi produktif. Salah satu permasalahan sosial ekonomi yang cukup pelik dihadapi oleh Pemerintah Kabupaten Wonosobo adalah kesejahteraan petani. sekitar 54% penduduk Kabupaten Wonosobo bekerja sebagai petani dan buruh tani. Harga hasil pertanian di Kabupaten Wonosobo terbilang tidak menentu dan sangat tergantung dengan tengkulak, yang memainkan harga. Buruh tani yang bekerja hampir 10 jam di ladang, hanya pasrah dengan gaji seadanya (Rp Rp ). Pemerintah belum punya regulasi khusus yang mengatur gaji buruh tani atau ketetapan harga hasil pertanian. Kondisi fisiografi Kabupaten Wonosobo sangat mendukung sektor pertanian, tinggal bagaimana sistem pertanian diterapkan. Pertanian memiliki peran ekonomi penting bagi kelangsungan ekonomi masyarakat. Sistem pertanian yang ideal Economically viable. Secara ekonomi menguntungkan dan dapat dipertanggungjawabkan. Petani mampu menghasilkan keuntungan dalam tingkat produksi yang cukup dan stabil Ecologically sound. berwawasan ekologis. Kualitas agrosistem dipelihara dan ditingkatkan dengan menjaga keseimbangan ekologi serta konservasi Berkeadilan sosial. Sistem pertanian menjamin keadilan dalam akses dan kontrol terhadap lahan, modal, informasi, dan pasar bagi yang terlibat tanpa membedakan gender, kelompok, agama dan etnis Adaptable. Mampu berhadaptasi dengan perubahan kebijakan, pertumbuhan populasi dan konstalasi pasar. Belum meratanya peluang serta rendahnya aksesibilitas kesempatan kerja pada berbagai sektor unggulan yang sesuai dengan sebagian besar kondisi kompetensi SDM tenaga kerja, serta adanya peningkatan pengangguran yang disebabkan oleh terjadinya pemutusan hubungan kerja dari perusahaan yang kolaps. Untuk itu perlu untuk mensinkronisasi kebijakan ketenagakerjaan dan iklim usaha dalam rangka penciptaan lapangan kerja serta pelatihan dan pendidikan bagi tenaga kerja siap mandiri dan siap bekerja sesuai dengan ketrampilan serta penyediaan akses informasi pekerjaan bagi tenaga kerja usia produktif. Bab IV - RPJMD Kabupaten Wonosobo IV-15

169 Isu ketenagakerjaan, tantangan angka pengangguran terbuka sebanyak 5,34% di tahun 2014, tantangan menciptakan lapangan kerja, mata pencaharian berkelanjutan dan pertumbuhan berkeadilan melalui pengurangan jumlah kaum muda yang menganggur. Peningkatan kualitas pendidikan vokasi dan pendidikan non formal dalam rangka membekali angkatan kerja dengan keahlian di bidangnya guna menekan angka pengangguran terbuka di masa mendatang. 2. Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola; Isu SOTK dan Kepegawaian. Isu SOTK dan Kepegawaian. Penyempurnaan kebijakan di bidang aparatur akan mendorong terciptanya kelembagaan yang sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi masing-masing SKPD, manajemen pemerintahan dan manajemen SDM aparatur yang efektif, serta sistem pengawasan dan akuntabilitas yang mampu mewujudkan pemerintahan yang berintegritas tinggi. Implementasi hal-hal tersebut pada masing-masingskpd akan mendorong perubahan mind set dan culture set pada setiap birokrat ke arah budaya yang lebih profesional, produktif, dan akuntabel. Setiap perubahan diharapkan dapat memberikan dampak pada penurunan praktek korupsi, kolusi dan nepotisme, pelaksanaan anggaran yang lebih baik, manfaat program-program pembangunan bagi masyarakat meningkat, kualitas pengelolaan kebijakan dan pelayanan publik meningkat, produktivitas aparatur meningkat, kesejahteraan pegawai meningkat, dan hasilhasil pembangunan secara nyata dirasakan seluruh masyarakat. Secara bertahap, upaya tersebut diharapkan akan terus meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Isu Reformasi keuangan daerah. Mekanisme penganggaran yang tepat sasaran dan langsung menyentuh pada kepentingan masyarakat luas. Mekanisme ini tertuju pada proses kerja pemerintahan yang menentukan siapa berbuat apa, tenggang waktu serta target yang tepat.selain itu Pemerintah juga perlu upaya meningkatkan transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas anggaran. Isu Reformasi keuangan daerah. Mekanisme penganggaran yang tepat sasaran dan langsung menyentuh pada kepentingan masyarakat luas. Mekanisme ini tertuju pada proses kerja pemerintahan yang menentukan siapa berbuat apa, tenggang waktu serta target yang tepat. Isu Regulasi. Pemerintah daerah di masa depan harus mampu menyusun kerangka regulasi yang memperhatikan aspek budaya partisipasi baik oleh pemerintah, swasta dan masyarakat itu sendiri. Ketersediaan regulasi/kebijakan daerah yang tepat adalah berbasis akurasi data dan diimplementasikan berbasis sangsi yang jelas atas segala bentuk pelanggaran/ pengabaian. Isu Kemitraan dan Partisipasi Masyarakat untuk pengawasan penyelenggaraan pelayanan publik dan pembangunan daerah menjadi isu strategis mendorong upaya penurunan resiko korupsi dan peningkatan kualitas Bab IV - RPJMD Kabupaten Wonosobo IV-16

170 pelayanan publik. Transparansi Informasi dengan mengoptimalkan penggunaan tehnologi informasi (TI) diharapkan meningkatkan akuntabilitas publik berbasis akurasi data. Transparansi informasi mencakup informasi penyelenggaraan layanan publik, kinerja penyelenggaraan pemerintahan dan pengelolaan keuangan daerah. Isu hubungan antara pemerintah dan DPRD yang efektif sangat penting dalam membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, kolaboratif, demokratis dan akuntabel akan semakin kuat. Optimalisasi peran DPRD menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat menjadi jembatan di antara fungsi regulasi, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan. Namun harus ada pengawasan apakah peran DPRD benar-benar untuk kepentingan kesejahteraan bersama, bukan untuk kelompok tertentu saja. Isu strategis perencanaan pembangunan berbasis data kemiskinan, adalah rendahnya SKPD yang memanfaatkan data kemiskinan (PPLS) menjadi pelejaran penting bagi pemerintah Kabupate Wonosobo. SKPD cenderung melakukan survey sendiri tanpa penggunakan data PPLS, yang berdampak pada menggunan anggran meningkat dan penduduk miskin belum tentu mendapat bantuan. Isu Kerjasama antar daerah (KAD) dan dunia privat bersifat strategis, karena KAD sarana untuk menyerasikan dan mensinergikan potensi antar daerah. Kerjasama dengan pihak ketiga penting untuk meningkatkan pertukaran pengetahuan, teknologi dan kapasitas fiskal. Kerjasama antar daerah dan kerjasama dengan dunia usaha berperan strategis untuk meningkatkan daya saing daerah. Kerjasama antar daerah juga diperlukan untuk memecahkan masalah lingkungan dan sumber daya publik, seperti persampahan, air. Kerjasama dengan dunia usaha (privat) menjadi isu penting karena adanya kebutuhan transfer ketrampilan, tehnologi, dan modal dari dunia usaha. Selama ini bentuk kemitraan dengan dunia usaha melalui CSR (Corporate Social Responsibility). 3. Infrastruktur dan pengembangan wilayah (a) Pemenuhan Kualitas infrastruktur Jalan yang belum optimal Infrastruktur fisik merupakan komponen dasar perekonomian dan aspek utama dalam pemerataan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Infrastruktur juga merupakan roda penggerak pertumbuhan ekonomi sehingga penyediaan infrastruktur yang memadai menjadi kebutuhan yang harus disediakan oleh pemerintah. Penyediaan infrastruktur yang utama dan mendesak ditangani yaitu infastrukturjalan, jembatan, drainase jalan.isu yang sangat mendesak yaitu kualitas jalan kabupaten yang belum optimal dan cepat rusak. Pada kondisi 2015, panjang jalan kabupaten dalam kondisi baik dan sedang yaitu baru mencapai 57,19%. Oleh karena itu, dalam periode 5 (lima) tahun mendatang, perlu adanya peningkatan kualitas infrastruktur jalan dan lainnya. Selanjutnya terkait Bab IV - RPJMD Kabupaten Wonosobo IV-17

171 dengan kewenangan, maka perlu ada penetapan Keputusan Bupati tentang jalan yang menjadi kewenangan kabupaten. Untuk jalan yang menjadi kewenangan desa, Pemerintah Kabupaten akan mencoba memberikan pendampingan teknis terkait standar pembangunan jalan. Di samping itu, Penerapan strategi perencanaan dan teknologi tepat guna dalam penanganan infrastruktur di Kabupaten Wonosobo dimasa yang akan datang adalah suatu keharusan mengingat tantangan yang akan dihadapi kedepan adalah sumberdaya yang semakin mahal dan menipis namun kebutuhan yang akan terus berkembang. Hal ini terutama harus diterapkan pada saat pemilihan teknologi untuk pembangunan jalan kabupaten. Jika tidak dilakukan penerapan teknologi ini maka kualitas infrastruktur jalan akan cepat rusak. Pada jalan-jalan kabupaten yang berada pada kawasan rentan gerakan tanah seperti di wilayah Kaliwiro, Wadaslintang, Kalibawang, Sukoharjo, Watumalang dan Kejajar, maka teknologi penanganan jalannya haruslah lebih spesifik, misal dengan beton dan senderan yang kuat. (b) Belum optimalnya pengelolaan drainase lingkungan Pada beberapa lingkungan permukiman masih terbatas sarana drainase lingkungan, atau jika sudah ada, namun berfungsi ganda sekaligus sebagai saluran air limbah domestik. Di samping itu pada drainase lingkungan permukiman yang terhubung drainase perkotaan terhambat oleh ketidakmampuan mengalirkan limpasan air hujan, sehingga menyebabkan limpasan pada jalan terutama yang tegak lurus dengan kontur. (c) Belum optimalnya layanan transportasi, sirkulasi lalu lintas dan saranaprasarana perhubungan Layanan angkutan umum belum nyaman dan rute trayek angkutan belum optimal, baik angkutan perkotaan dan perdesaan. Selain itu, hampir sebagian besar trayek angkutan menuju pusat Kota Wonosobo. Jadi, beban Kota Wonosobo menjadi sangat tinggi. Hal ini juga terkait dengan penyebaran fasilitas layanan publik, yang secara hirarki masih banyak di pusat Kota Wonosobo. Di samping itu, pada jalur nasional Ruas Buntu Pringsurat yang terdapat di wilayah Kabupaten Wonosobo ada yang termasuk jalur maut rawan kecelakaan lalu lintas. Oleh karena itu, perlu adanya penanganan black spot utamanya di simpang pasar Kertek., dan turunan Candimulyo-Pasar Kertek. Terkait penataan transportasi, yaitu pada periode tertentu, di Simpang Pasar Kertek terjadi kemacetan. Demikian pula di kawasan Kota Wonosobo juga terjadi kemacetan. Penanganan kemacetan dapat dilakukan dengan pengalihan jalur, dan penyebaran pusat pertumbuhan dan layanan publik yang tidak hanya di pusat kota. Selain itu, ada beberapa terminal yang belum optimal fungsinya. Masih ditemuinya areal pangkal kendaraan ilegal atau terminal bayangan. Hal ini ditambah dengan kondisi sebagian besar badan jalan digunakan sebagai parkir on street. Hal utama juga yang perlu diperhatikan nantinya Bab IV - RPJMD Kabupaten Wonosobo IV-18

172 yaitu penataan parkir, penyediaan gedung parkir dan kantong-kantong parkir, penataan trayek angkutan, pengaturan sirkulasi lalu lintas. Di samping itu, umumnya, pada jalan di luar perkotaan yang pada kondisi topografi berbukit seperti di Kecamatan Watumalang, Sukoharjo, Kepil, Kalibawang, Kaliwiro membutuhkan tambahan pengaman berupa guard rail. (d) Kualitas infrastruktur wilayah lainnya yang belum optimal Infrastruktur wilayah non jalan yang juga harus mendapatkan perhatian terkait pemenuhan layanan infrastruktur seperti jaringan irigasi, drainase permukiman. Sektor pertanian masih mendominasi sebagai penyumbang PDRB terbesar. Pertanian jug masih merupakan matapencaharian utama penduduk Kabupaten Wonosobo. Dukungan penanganan jaringan irigasi untuk mendukung tumbuhnya sektor pertanian juga mutlak diperlukan. Meskipun, secara fisik, wilayah Kabupaten Wonosobo bukan merupakan lumbung pangan padi, namun dukungan penyediaan pangan padi juga bisa dibilang tidaklah kecil. Oleh karena itu, dalam rangka mendukung kebijakan nasional kedaulatan pangan, penanganan jaringan irigasi harus dilakukan dengan baik. Berdasarkan data hasil interpretasi citra satelit tahun 2015, tutupan lahan berupa sawah seluas hektar dengan klasifikasi sawah padi diselingi tanaman lain/bera seluas hektar dan sawah dengan padi terus menerus hanya seluas hektar. Sementara itu, jaringan irigasi dalam kondisi baik sebanyak 70,49%. (e) Kendala Limitasi dan Keterisolasian Wilayah Secara fisik Kabupaten Wonosobo dengan topografi bergelombang hingga bergunung, dan terbatasnya wilayah datar menjadikan wilayah ini memiliki limitasi pengembangan wilayah. Namun demikian, terkait dengan arahan pengembangan wilayah dengan melihat analisis kemampuan lahan, hanya diarahkan pada kawasan budidaya. Selain, itu secara posisi geografis yang terletak di tengah Pulau Jawa, dan juga dengan kendala topografis menjadikan wilayah Wonosobo, perkembangannya tidak secepat yang berada di jalur pantura maupun jalur lintas selatan. Namun demikian, perlu perhatian khusus dalam mengatasi kendala keterisolasian wilayah. (f) Dilalui jalur Penghubung PKN Cilacap-PKN Semarang dan PKN Yogyakarta serta koridor KSPN Borobudur-Dieng Meskipun memiliki kendala limitasi wilayah, Wonosobo yang merupakan wilayah jalur transit dan penghubung antar Pusat Kegiatan Nasional (PKN) Cilacap dan PKN Semarang. Kondisi ini juga menunjukkan adanya letak strategis ekonomi yang harus ditangkap peluangnya sebagai jalur yang dilalui tersebut. (g) Belum terpenuhinya kualitas air minum sesuai standar kesehatan Meskipun secara akses persentase penduduk yang mendapatkan layanan air minum sudah tinggi yaitu mencapai 85,34,kualitas air minumnya Bab IV - RPJMD Kabupaten Wonosobo IV-19

173 belum memenuhi standar kesehatan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo, 25 % sumber mata air yang digunakan untuk penyediaan air minum/bersih masyarakat tidak memenuhi standar kesehatan. Sumber air tersebut tercemar bakteri e-coli. (h) Masih rendahnya cakupan pelayanan sanitasi Persentase penduduk yang mendapatkan layanan sanitasi masih rendah yaitu hanya sekitar 47,95%. Akses sanitasi ini menjadi isu strategis karena termasuk layanan dasar yang juga harus diterima penduduk dan merupakan kebijakan nasional dalam program (i) Isu Lingkungan permukiman kumuh Kawasan permukiman kumuh yang telah diidentifikasi baru di kawasan perkotaan Wonosobo. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa luasan kawasan kumuh perkotaan seluas 65,069 hektar. Karakteristik kumuh khas di perkotaan Wonosobo yaitu pada keteraturan bangunan yang belum baik, dan kondisi sanitasi yang belum baik. Sementara itu, dari gambaran awal, untuk di luar perkotaan Wonosobo, permukiman kumuhnya terletak pada sisi sanitasi (drainase permukiman dan jamban) serta jalan lingkungan yang belum optimal. Karakteristik kumuh lainnya yang ada di Kabupaten Wonosobo, tidak membentuk delineasi blok penuh namun hanya pada spot-spot tertentu. (j) Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi; Pada saat ini pengembangan TIK masih belum optimal. Aplikasi yang dikembangkan masih parsial dalam rangka efektivitas kinerja birokrasi belum mengembangkan yang untuk pelayanan masyarakat. Di samping itu, komando pimpinan birokrasi belum menerapkan aplikasi sebagaimana yang tertuang dalam konsep smart city/regency. Pengembangan teknologi informasi dalam ranah pemerintahan akan disesuaikan dengan peta jalan (roadmap) e-government dengan harapan dapat mewujudkan aplikasi yang dapat memberikan infromasi real time status penyerapan anggaran, pelaksanaan program prioritas dan status pelayanan publik. Penerapan e-gov di Wonosobo diharapkan dapat mengikuti nasional yang disusun dalam model citizen-centric application agar masyarakat bisa langsung merasakan manfaatnyanya secara masif. Selanjutnya, pengembangan TIK e-gov juga akan mewujudkan penerapan smart regency. 4. Pemberdayaan Masyarakat dan Ketahanan Keluarga Pemberdayaan masyarakat adalah proses pembangunan sosial, budaya, dan ekonomi agar tercipta masyarakat yang berinisiatif untuk memulai proses kegiatan sosial agar mampu memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri. Berdasarkan pemahaman mengenai pengertianpemberdayaan masyarakat, upaya pemerintah untuk mengoptimalkan keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan di Kabupaten Wonosobo memerlukan penguatan agar Bab IV - RPJMD Kabupaten Wonosobo IV-20

174 potensi masyarakat yang dimiliki dapat dimanfaatkan secara optimal untuk pembangunan. LPM, PKK, RW, dan Karang Taruna sebagai institusi lembaga kemasyarakatanbelum berperan optimal dalam pemberdayaan masyarakat serta dalam penyelenggaraan pembangunan mulai dari perencanaan sampai dengan evaluasinya. Keberhasilan pemberdayaan mayarakat akan sangat ditentukan oleh keluarga sebagai unit sosial terkecil pembentuk institusi masyarakat, ketahanan keluarga menjadi faktor yang tidak dapat dipisahkan dalam melakukan pemberdayaan masyarakat serta upaya mereduksi permasalahan sosial. Oleh karena itu, pemerintah seharusnya bertanggung jawab dan berpihak kepada ketahanan keluarga yaitu dengan menyediakan lingkungan dan sarana yang nyaman. 5. Lingkungan Hidup, Penataan Ruang dan Kebencanaan (a) Masih tingginya indeks risiko bencana Secara fisik, wilayah Kabupaten Wonosobo memang berada di kawasan rawan bencana. alam Pada level nasional, Kabupaten Wonosobo berada pada ranking 20, dan pada level provinsi, berada pada level 5. Namun demikian, dengan menyadari potensi rawan bencana yang tinggi, yang diperlukan adalah upaya untuk mengurangi risiko bencana. Hal ini karena Indeks risiko bencana Kabupaten Wonosobo masih tergolong tinggi. (b) Alih Fungsi dan Pengelolaan Lahan Pertanian Belum ramah lingkungan Secara biogeografis, wilayah Kabupaten merupakan hulu dari 5 DAS, yaitu DAS Serayu sebagai DAS utama, DAS Bogowonto, DAS Jalicokroyasan, DAS Lukulo menjadikan peran Wonosobo sebagai kawasan strategis daya dukung lingkungan hidup sangatlah tinggi. Tata kelola pengunaan lahan yang tidak sesuai rencana tata ruang dapat menyebabkan kerusakan di kawasan bawahnya dalam hal ini bisa di hilir DAS. Mengingat daerah aliran sungai (DAS) sudah tidak menjadi kewenangan pemerintah daerah maka, yang perlu ditekankan Pemda yaitu pada manajemen pengelolaan lahan yang baik. (c) Belum optimalnya penegakan peraturan perundangan di bidang tata ruang Ruang wilayah yang terbatas, sementara jumlah dan aktivitas penduduk bertambah menjadikan ruang wilayah harus ditata melalui aturan tata ruang untuk mewujudkan ruang yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan. Aturan tata ruang tingkat kabupaten telah ditetapkan melalui Perda No 2 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Wonosobo Tahun Untuk penegakan perda-nya masih tergolong lemah. Banyak masyarakat yang mengajukan izin saat sudah membangun. Masih ditemuinya bangunan yang melanggar aturan tata ruang. (d) Ketidakteraturan bangunan permukiman dan kepadatan tinggi di kawasan permukiman Bab IV - RPJMD Kabupaten Wonosobo IV-21

175 Pada kawasan permukiman masih banyak terdapat ketidakteraturan bangunan dalam hal dimensi, orientasi dan bentuk. (e) Terbatasnya RTH milik publik Ruang terbuka hijau (RTH) milik publik masih pada angka 14%. Persentase ini masih dibawah standar 20% RTH milik publik. Selain itu, RTH publik yang juga berperan sebagai tempat rekreasi dan fungsi ekologis masih terbatas di pusat Kota. Untuk perkotaan ibukota kecamatan masih terbatas RTH milik publik. (f) Belum optimalnya pengelolaan persampahan Cakupan penanganan persampahan masih rendah. Pada kondisi 2015, penanganan sampah masih tergolong rendah 0,6%. Secara kewilayaha, layanan persampahan hanya meliputi Kota Wonosobo dan sekitarnya. Untuk yang di luar kota hanya di Pasar Kertek, Pasar Sapuran, dan Wisata Dieng. Sementara itu, di luar wilayah tersebut masih terbuang sembarangan. Jikapun sudah ada penanganan, hanya sampai pada tahap pengumpulan sampah tidak diolah lebih lanjut. Kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah juga perlu ditingkatkan, meskipun inisiasi beberapa kelompok masyarakat mulai tumbuh dalam hal pembentukan bank sampah yang difasilitasi Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan.Tantangan yang mendesak diselesaikan antara lain:(1) pemenuhan rasio ketersediaan tempat pembuangan sampah (TPS) berdasarkan satuan jumlah penduduk; (2) penanganan Tempat Pembuangan Akhir yang overdumpingmenjadi minimal controlled landfill; (3) Pengelolaan sampah berbasis 3R (Reduce, reuse, dan Recycle) belum maksimal dilakukan di kawasan-kawasan permukiman. (g) Terbatasnya pengamanan kebakaran Masih ditemuinya ketidaktersedaan sistem pengamanan secara aktif dan pasif, ketidaktersediaan pasokan air untuk pemadaman yang memadai, ketidaktersediaan akses untuk mobil pemadam kebakaran. Selain itu, masih ditemuinya risiko kebakaran pasar. Pasar Induk Wonosobo yang merupakanpasar terbesar dikota Wonosobo ini telah terbakar beberapa kali dalam kurun waktu 20 tahun terakhir yang kebetulan selisihnya setiap 10 tahun sekali. 6. Pendidikan dan Kebudayaan; Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 tahun atau Wajar Dikdas sebagai upaya pemerintah untuk memenuhi hak pendidikan dasar warganya telah dicanangkan sejak tahun 2008 melalui Peraturan Pemerintah no 47 Tahun Namun pada kenyataannya, sampai dengan tahun 2015 partisipasi sekolah sampai jenjang pendidikan setingkat SMP di Kabupaten Wonosobo baru mencapai 79, 21. ini, artinya masih ada sebagian anak- anak usia sekolah Bab IV - RPJMD Kabupaten Wonosobo IV-22

176 yang belum memperoleh hak atas pendidikan dasar. Beberapa penyebab rendahnya partisipasi sekolah adalah : Pertama dari segi layanan, masih ada kesenjangan antar kecamatan dalam penyediaan sekolah tingkat SMP yang ditunjukkan dengan rasio ketersediaan sekolah per kecamatan per penduduk. Di beberapa kecamatan dalam setiap 1000 penduduk memiliki 5-6 sekoalh setingkat SMP sedangkan di kecamatan lain dalam setiap 1000 penduduk hanya memeiliki 1-2 sekolah SMP. Kedua, Dengan kondisi geografis di Wonosobo, Ada, beberapa desa dimana anak- anaknya kesulitan untuk mengakses sekolah SMP sehingga karena faktor ekonomi orang tua enggan menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. Ketiga, sebaran guru yang kurang merata dari segi kualitas maupun kuantitas. Guru dengan kompetensi sesuai standar sebagian besar menumpuk di sekolah sekolah yang berlokasi di ibukota kabupaten sehingga ada ketimpangan mutu. Pada setiap tahun ajaran baru, sekolah dengan label favorit banyak diminati calon siswa. Dengan kondisi ini maka perlu ada kebijakan pemerataan mutu baik dari kualitas dan kuantitas tenaga pendidik maupun sarana dan prasarana penujang kegiatan belajar. Selain meningkatkan pemerataan mutu pendidikan formal, upaya lain untuk meningkatkan partisipasi sekolah adalah dengan mengembalikan kembali anakanak putus sekolah melalui pendidikan non formal. Rata- rata lama sekolah penduduk usia 15 tahun keatas di Kabupaten Wonosobo yang rendah yaitu 5,14 tahun menjadi isu prioritas yang harus segera ditangani meskipun upaya untuk meningkatkan rata- rata usia sekolah tidak bisa secara instan dilakukan tapi merupakana upaya bertahap jangka panjang. Rendahnya rata- rata lama sekolah ini juga signifikan dengan angka rata- rata melek huruf penduduk usia 15 tahun ke atas yang belum bisa mencapai 100%. Isu penting dalam meningkatkan rata- rata melek huruf adalah bagaimana mengupayakan agar masyarakat yang telah difasilitasi pembelajaran baca tulis tidak lagi menjadi buta huruf. Pada Pendidikan Usia Dini, meskipun di masing- masing desa telah menyelenggarakan PAUD namun mutu tenaga pendidiknya masih rendah. Pendidik PAUD yang ada di desa kebanyakan hanya lulusan SMA yang tidak memiliki kompetensi pendidik. Selain itu karena pendidikan PAUD tidak memiliki dana BOS maka biaya operasional dibebankan kepada orang tua yang tentunya bagi sebagian besar orang tua dirasakan memberatkan.mereka lebih memilih menyekolahkan anak- anaknya yang masih berusia dini ke sekolah dasar agar tidak terbebani biaya sekolah yang tinggi ataupun membiarkan anaknya tidak bersekolah sampai usianya cukup untuk masuk SD. Pendidikan PAUD masih perlu diperluas cakupannya untuk membantu kualitas pendidikan usia dini. Kualitas tenaga pendidik dengan kulaifikasi yang tersertfikasi perlu dioptimalkan substansi impelemntasinya supaya benar-benar berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan anak didik. Akses layanan pendidikan yang merata dan berkeadilan bagi semua lapisan masyarakat harus lebih ditingkatkan lagi dalam rangka meningkatkan capaian target indeks pendidikan. Upaya mengurangi ketimpangan kualitas Bab IV - RPJMD Kabupaten Wonosobo IV-23

177 sekolah antar klaster dengan peningkatan sarana dan prasarana pendidikan, peningkatan infrastruktur sekolah, meningkatkan kapasitas tenaga pendidik, memberlakukan standar manajemen yang sama, serta menjalankan rotasi dan mutasi guru/ kepala sekolah secara berkala sehingga setiap sekolah dapat memberikan kualitas pelayanan secara merata bagi setiap lapisan masyarakat. Di samping itu, dengan adanya rotasi dan mutasi secara berkala diharapkan akan terjadi transfer informasi manajemen sekolah yang dibutuhkan dalam rangka mengurangi disparitas kualitas pendidikan sekolah di Kabupaten Wonosobo. Diharapkan dengan berkurangnya ketimpangan kualitas pendidikan antar klaster sekolah, maka para siswa dapat mengakses pendidikan yang berkualitas dalam setiap klasternya. Selain akses layanan pendidikan yang belum merata dan berkeadilan, rendahnya mutu pelayanan pendidikan, belum optimalnya tata kelola lembaga pelayanan pendidikan juga rendahnya kualitas materi dan metode pembelajaran, masih menjadi persoalan penting untuk pencapaian target urusan pendidikan. 7. Kesehatan; Kesehatan sebagai salah satu hak dasar merupakan investasi berharga bagi seseorang dan sebuah bangsa untuk pembangunan. Pemerintah berkewajiban untuk menjamin warga negaranya mendapatkan akses yang sama dalam pelayanan kesehatan dengan salah satu upayanya melalui sistem jaminan kesehatan khususnya bagi masyarakat miskin. Sampai dengan tahun 205 jumlah peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) baik yang didanai dari APBN, APBD I maupun APBD II sejumlah jiwa. Sedangkan jumlah kepesertaan jaminan kesehatan baik PBI maupun Non PBI sejumlah atau 59,83 % dari jumlah penduduk Wonosobo. Semenjak diberlakukannya program JKN yang dikelola BPJS oleh pemerintah, maka peran kuratifdari Puskesmas semakin besar dan terasa. Puskesmas sebagai salah satu fasilitas kesehatan tingkat pertama yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan berfungsi menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi peserta JKN, yang artinya Puskesmas terdistribusi lebih besar dibandingkan dengan fasilitas kesehatan tingkat lanjutan sehingga akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan lebih tinggi. Hal ini menjadikan peran puskesmas sangat krusial yaitu sebagai kontak pertama kepada masyarakat untuk memberikan pelayanan kesehatan dasar. Dengan peran yang lebih besar ini tentu jumlah masyarakat yang berkunjung ke puskesmas akan lebih besar, mau tidak mau tentu puskesmas harus berbenah diri, mulai dari kualitas pelayanan, kualitas SDM, kualitas sarana dan prasarana Tantangan bagi pemerintah Kabupaten Wonosobo dengan semakin meluasnya cakupan jaminan kesehatan adalah peningkatan pelayanan kesehatan di tingkat dasar maupun rujukan. Salah satu permasalahan yang terjadi adalah belum terpenuhinya jumlah tenaga kesehatan yang ada di puskesmas. Masih ada 3 puskesmas yang tidak memiliki dokter umum. Rasio jumlah dokter terhadap jumlah penduduk pada tahun 2015 adalah 1,6: Bab IV - RPJMD Kabupaten Wonosobo IV-24

178 penduduk sedangkan rasio ideal menurut WHO adalah 1 : 2500 penduduk. Jumlah Puskesmas yang memiliki minimal 5 tenaga kesehatan hanya ada 4 dari 23 puskesmas. Kondisi ini perlu disikapi dengan pemenuhan jumlah dan jenis tenaga kesehatan. Lini terdepan dalam isu kesehatan adalah upaya kuratif dan rehabilitatif, yaitu pelayanan kesehatan dalam bentuk pengobatan. Bentuk pelayanan kuratif tersedia melalui pelayanan Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat), Klinik Kesehatan, dan Rumah sakit.isu Kesehatan, yang krusial adalah (1) Pengurangan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Balita (AKABA), (2) pencegahan dan penanggulangan penyakit menular (Demam Berdarah, Tb Paru dan HIV/AIDS), (3) peningkatan mutu dan standar pelayanan kesehatan dasar dan pelayanan kesehatan rujukan yang dapat dijangkau masyarakat tidak mampu; (4) mengotimalkan pelayanan RSUDdan Pusat Kesehatan Masyarakat. Meskipun jaminan kesehatan sudah semakin meluas cakupannya, masyarakat perlu diberikan edukasi melalui penanganan kesehatan secara promotif dan preventif. Pemberdayaan masyarakat agar mampu mandiri untuk mendeteksi faktor resiko penyakit dan meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan merupakan aspek penting dalam menjaga kesehatan masyarakat. Upaya peningkatan kualitas kesehatan lingkungan menjadi penting mengingat bahwa beberapa penyakit yang berjangkit luas pada warga masyarakat berawal dari rendahnya kualitas kesehatan lingkungan. Untuk itu diperlukan peningkatan layanan kesehatan promotif dalam bentuk peningkatan higienitas dan sanitasi lingkungan yang ruang lingkupnya meliputi penyediaan air bersih rumah tangga, metode pengelolaan dan pembuangan sampah, penanganan kotoran dan air limbah rumah tangga sehingga dapat dipahami bahwa kesehatan lingkungan adalah upaya promotif yang harus dijalankan lintas sektoral. 8. Pariwisata Kabupaten Wonosobo merupakan salah satu destinasi wisata unggulan Provinsi Jawa Tengah bahkan Nasional. Kawasan Dieng termasuk kawasan startegis pariwisata nasional. Meskipun kawasan pariwisata Dieng diampu 2 (dua) kabupaten Perkembangan pariwisata Kabupaten Wonosobo ditopang oleh kondisi geografis dan budaya seperti: wisata alam, sejarah, budaya, heritage, kuliner dan lainnya. Kabupaten Wonosobo saat ini didominasi oleh kegiatan wisata alam, khususnya wisata Dieng. Meskipun Kontribusi PDRB mengalami peningkatan dan jumlah wisatawan nusantara meningkat, wisatawan manca negara justru menurun signifikan setelah meningkat pada tahun 2012, tahun berikutnya justru menurun drastis, dari menjadi pada tahun 2014 atau mengalami penurunan 63%. Hal ini harus menjadi perhatian bagi pemerintah. Salah satu cara meningkatkan fasilitas pariwisata, seperti jalan, penginapan dan sebagainya. Objek wisata juga seharusnya diperhatikan, karena sebagian wisata di Wonosobo merupakan objek wisata alam, maka perawatan Bab IV - RPJMD Kabupaten Wonosobo IV-25

179 objek harus bersifat holistik, dengan mempertimbangkan kelestarian alam melalui intervensi fisik dan juga mempertimbangkan sosial masyarakat. Walaupun Kabupaten Wonosobo sudah menjadi destinasi wisata unggulan, namun terdapat beberapa permasalahan yang dirasakan mengganggu bagi wisatawan sehingga mengurangi kepuasan kunjungan di Kabupaten Wonosobo, diantaranya infrastruktur jalan yang kurang baik, masih kurangnya sarana prasarana wisata seperti toilet dan tempat parkir, kualitas obejek wisata yang belum dioptimalkan, belum maksimalnya even-even wisata di destinasi wisata, dan transportasi antara objek wisata. 9. Kesetaraan Gender Dan Perlindungan Anak Permasalahan besar yang dihadapi dalam pembangunan Kesetaraan Gender dan PeRLINDUNGAN Anak yaitu masih terdapatnya kesenjangan gender di berbagai bidang. Hal ini tercermin pada masih rendahnya kualitas hidup dan peran perempuan, termasuk meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang disebabkan oleh: (i) terjadinya kesenjangan gender dalam hal akses, manfaat, dan partisipasi dalam pembangunan, serta penguasaan terhadap sumber daya, terutama di tatanan antarprovinsi dan antarkabupaten/ kota; (ii) rendahnya peran dan partisipasi perempuan di bidang politik, jabatan-jabatanpublik, dan di bidang ekonomi; dan (iii) rendahnya kesiapan perempuan dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim, krisis energi, krisis ekonomi, bencana alam dan konflik sosial, serta terjadinya penyakit. Lebih jauh lagi melihat akar permasalahan kesenjangan gender dalam hal akses, manfaat, dan partisipasi adalah masih lemahnya kelembagaan pengarusutamaan gender, yang disebabkan oleh: (i) belum optimalnya pengintegrasian perspektif gender ke dalam penyusunan kebijakan, yang mengakibatkan masih banyaknya kebijakan yang belum merespon perspektif gender; (ii) belum memadainya kapasitas kelembagaan dalam pelaksanaan PUG, yang ditandai dengan masih rendahnya kapasitas sumber daya manusia, termasuk kemampuan dalam memberikan bantuan teknis pelaksanaan PUG, minimnya ketersediaan data terpilah menurut jenis kelamin dan penggunaannya dalam siklus pembangunan; dan (iii) masih rendahnya pemahaman tentang konsep dan isu gender, nilai-nilai kesetaraan gender, dan manfaat PUG dalam pembangunan, baik di pusat maupun di daerah. Kesetaraan gender merupakan bagian yang sangat penting dalam upaya pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas. Dalam kaitan itu, pembangunan nasional harus memenuhi prinsip pemenuhan hak asasi manusia dan selayaknya memberikan akses dan manfaat yang memadai bagi orang dewasa dan anak-anak, baik perempuan maupun laki-laki, untuk berpartisipasi dalam pembangunan, untuk mendapatkan akses dan memanfaatkan hasil-hasil pembangunan, serta memberikan penguasaan/kontrol terhadap sumberdaya pembangunan. Dengan demikian, PUG dalam pembangunan merupakan strategi yang digunakan untuk mengintegrasikan isu-isu gender yang Bab IV - RPJMD Kabupaten Wonosobo IV-26

180 disebabkan oleh kesenjangan antara penduduk laki-laki dan perempuan Indonesia dalam mengakses dan mendapatkan manfaat pembangunan, serta dalam berpartisipasi dan dalam penguasaan sumberdaya pembangunan. Penerapan pengarusutamaan gender ini diharapkan dapat menghasilkan kebijakan publik yang lebih efektif untuk mewujudkan pembangunan yang lebih adil dan merata bagi seluruh penduduk, baik laki-laki maupun perempuan. 10. Ketahanan Pangan dan Energi Isu Ketahanan Pangan dan Energi, tantangannya bagaimana meningkatkan produktivitas sumber pangan untuk masyarakat Kabupaten Wonosobo. Isu produktivitas Hasil Pertanian, Peternakan, Perikanan Darat, ditekankan pada diversifikasi pengolahan hasil Pertanian, Peternakan, perikanan darat berbasis tehnologi tepat. Aspek yang dipenuhi (1) ketersediaan, kecukupan, stabilitas, aksesibilitas, kualitas, kuantitas, keterjangkauan serta keamanan pangan secara berkesinambungan; (2) mengamankan stok cadangan pangan dan pengendalian harga daerah. Indikasi ketahanan pangan mencakup produksi dalam negeri dari hasil tanaman padi, jagung, kedelai, gula, daging sapi dan produksi perikanan. Isu strategis bidang energi adalah ketepatan distribusi dan stabilitas harga bahan bakar/energi, terutama LPG 3 kg. 11. Ekonomi Isu UMKM. Perkembangan kontribusi sektor industri Kabupaten Wonosobo cenderung mengalami penurunan selama periode Isu strategisnya adalah bagaimana meningkatkan produktivitas kabupaten. Usaha Mikro Kecil Menengah dan Koperasi (UMKMK), menjadi ujung tombak daya saing. Isu strategis adalah bagaimana menumbuhkan jumlah wirausaha di kalangan muda yang berkelanjutan. Koperasi diharapkan menjadi lembaga penguat tumbuhnya usaha mikro para wirausahawan pemula. Oleh karena itu peningkatan kuantitas dan kualitas koperasi aktif harus dikondisikan. Pertumbuhan usaha memerlukan penguatan kelembagaan, melalui partumbuhan klaster UMKM. Pertumbuhan usaha mikro akan lebih cepat jika didukung oleh kemitraan/bapak angkat pengusaha besar dengan pengusaha kecil dan menengah. Kemitraan dengan BUMN dan BUMD melalui program CSR (Corporate Social responsibility) perlu dioptimalkan supaya tepat sasaran dan berkelanjutan menumbuhkembangkan UMKMK, termasuk aksesibilitas UMKMK terhadap lembaga keuangan/pembiayaan mikro. Isu Industri kreatif dan sertifikasi/standarisasi pengembangan industri menjadi komponen kunci peningkatan daya saing dan berujung pada peningkatan PDRB. Industri kreatif potensial dikembangkan di Kabupaten Wonosobo mengingat posisi geoekonominya, dan ketergantungan bahan baku impor yang tinggi perlu dipecahkan alternatifnya. Perencanaan dan pengendalian kebijakan kemitraan Stakeholders (SKPD, lembaga swadaya masyarakat, dan perbankan) untuk pengembangan industri kreatif di Kabupaten Wonosobo perlu dioptimalkan, untuk mendongkrak perluasan pemasaran Bab IV - RPJMD Kabupaten Wonosobo IV-27

181 sektor industri pengolahan (makanan, obat, jamu, kosmetik herbal/agro, tekstil dan produk tekstil). Terkait posisi geoekonomi Kabupaten Wonosobo, pengembangan industri Kreatif untuk mendukung daya saing pasar pariwisata perlu diprioritaskan. Hal yang mendesak dilakukan untuk peningkatan daya saing produk dan jasa adalah penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) dalam rangka penerapan Pasar Bebas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) kepada pelaku usaha dalam distribusi dan peredaran produk barang dan jasa. Ketersediaan tenaga kerja yang berkualitas sesuai kebutuhan dunia usaha industri masih rendah. Keberhasilan dalam penanganan indistri kreatif di Kabupaten Wonosobo, diharapkan dapat memberikan kontribusi ke pencapaian sasaran RPJMN , melalui indikator sumbangan sector industri ke PDB Nasional dan juga penambahan jumah industri kreatif yang masuk dalam kategori skala industri menengah dan besar. Isu ramah investasi berimplikasi pada ketersediaan sistem informasi layanan investasi yang terintegrasi dan ramah pasar berbasis pada keunggulan daerah (core competence) juga urgen untuk penguatan daya saing daerah. Isu pasar dan komoditas, sebagai penopang daya saing daerah. Oleh karena itu revitalisasi dan rehabilitasi pasar tradisional, ketersediaan stok komoditas pangan, dan terjaganya pengendalian harga merupakan isu strategis. Bab IV - RPJMD Kabupaten Wonosobo IV-28

182 BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN Visi dan misi merupakan gambaran ke depan Kabupaten Wonosobo pada kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati terpilih untuk periode RPJMD Tahun Gambaran tentang visi dan misi dituangkan ke dalam tujuan dan sasaran yang merujuk RPJPD Kabupaten Wonosobo Tahun (Sasaran Pokok Prioritas Pembangunan Tahap III) dan RPJMN Tahun dengan mempertimbangkan RPJMD Provinsi Jawa Tengah Tahun dan RTRW Kabupaten Wonosobo A. VISI Dengan memperhatikan kinerja penyelenggaraan pemerintahan selama tahun , dan berbagai permasalahan pembangunan daerah serta isu-isu strategis baik dalam skala lokal, regional, nasional maupun global, maka visi pembangunan daerah untuk tahun adalah : TERWUJUDNYA WONOSOBO BERSATU UNTUK MAJU, MANDIRI DAN SEJAHTERA UNTUK SEMUA Visi Pembangunan Kabupaten Wonosobo ini diharapkan akan mewujudkan keinginan dan amanatmasyarakat Kabupaten Wonosobo dengan tetap mengacu pada pencapaian tujuan nasional seperti diamanatkan dalam Pembukaan UUD Visi ini harus dapat diukur keberhasilannya dalamrangka mewujudkan Wonosobo sebagai kabupaten yang bersatu untuk maju, mandiri dan sejahtera untuk semua, dalam kerangka tujuan jangka panjang Wonosobo yang ASRI dan Bermartabat. Makna yang terkandung dalam visi tersebut dijabarkan sebagaiberikut: Tabel V.1 Penjelasan Visi Bersatu Unsur Visi Penjelasan Adalah semangat dan kerangka berfikir serta bertindak oleh setiap pribadi dan lembaga penyelenggara pemerintahan daerah dalam mengatur, melayani, membangun dan memberdayakan masyarakat. Bersatu juga menjadi semangat dan kerangka berperilaku masyarakat dalam menyampaiakan tuntutan maupun dukungan kepada penyelenggara pemerintahan daerah, dalam rangka meningkatkan kesejahteraannya. Selain itu, bersatu adalah motivasi masyarakat sipil dalam memfasilitasi hubungan masyarakat dan pemerintah daerah serta mengontrol pemerintah daerah dalam menjalankan tugas, fungsi, hak, wewenang dan kewajibanya. Dengan bersatunya birokrat, politisi, masyarakat sipil dan masyarakat akan mempercepat terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik dan meningkatkan rasa kemanusiaan, toleransi dan keharmonisan untuk hidup secara berdamupingan, sehingga terpelihara situasi ketentraman dan ketertiban umum di seluruh wilayah Kabupaten Wonosobo. Bab V - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-1

183 MAJU MANDIRI Unsur Visi SEJAHTERA UNTUK SEMUA Penjelasan mengisyaratkan adanya tekad yang kuat dari pemerintahan daerah untuk terus meningkatkan capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah, dalam pelaksanaan urusan pemerintahan wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar dan pelaksanaan urusan pemerintahan wajib yang tidak tidak berkaitan dengan pelayanan dasar, sehingga hasil evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah setiap tahunnya akan terus memberikan status yang tinggi dan kehadiran pemerintahan benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat. adalah suatu kondisi yang mencirikan kemampuan daerah untuk berdiri dengan kekuatan dan kemampuan sendiri sesuai dengan semangat otonomi daerah. Ketergantungan bantuan dari Pemerintah dan Provinsi secara bertahap harus dikurangi. Oleh karena itu, semua potensi keunggulan daerah, yang dalam struktur pembagian urusan pemerintahan dikenal dengan urusan pemerintahan pilihan akan dikelola lebih optimal, sehingga lebih produktif dan kontributif dalam mengurangi ketergantungan daerah. Untuk itu, produksi dan produktivitas daerah perlu terus dioptimalkan peningkatanya, sehingga Wonosobo akan mampu meningkatkan daya saing daerah dalam kancah percaturan regional, nasional bahkan global. SEJAHTERA UNTUK SEMUA tujuan akhir dari penyelenggaran pemerintahan daerah dimanapun entitasnya adalah untuk kesejahteraan masyarakat. Namun demikian peningkatan kesejahteraan tidak boleh hanya dinikmati oleh sekelompok atau golongan masyarakat tertentu tetapi harus bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat Wonosobo. Oleh karenanya, percepatan penurunan angka kemiskinan akan terus dioptimalkan pelaksanaannya. Demikian halnya dengan ketimpangan pendapatan antar golongan penduduk dan ketimpangan pertumbuhan antar wilayah akan terus diminimalisasikan, sehingga peningkatan kesejahteraan yang dicapai oleh pemerintahan akan dirasakan oleh semua masyarakat disemua wilayah Wonosobo. Sesuai prinsip konsistensi perencanaan sesuai UU Nomor 25 Tahun tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, visi Wonosobo tersebut harus bisa dikaitkan dengan dengan RPJMN, RPJMD provinsi dan RPJPD. Penjelasan keterkaitan itu bisa dilihat pada diagram di bawah ini: Bab V - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-2

184 Tabel V.2 Keterkaitan Visi Nasional, Provinsi, dan Kabupaten Wonosobo Visi Nasional Visi Provinsi Jawa Tengah Visi Kabupaten Wonosobo RPJPN RPJMN RPJPD Provinsi Jawa Tengah RPJMD Provinsi Jawa Tengah RPJPD Kabupaten Wonosobo RPJMD Kabupaten Wonosobo Indinesia yang mandiri, maju, adil dan makmur Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong-royong Jawa Tengah yang mandiri, maju, sejahtera dan lestari Menuju Jawa Tengah Sejahtera dan berdikari (Mboten korupsi, mboten ngapusi) Wonosobo ASRI (aman, sehat, rapi, indah) dan bermartabat Wonosobo yang bersatu untuk maju, mandiri, sejahtera untuk semua B. Misi Misi TERWUJUDNYA WONOSOBO BERSATU, UNTUK MAJU, MANDIRI DAN SEJAHTERA UNTUK SEMUA akan dicapai melalui 5 (lima) misi pembangunan sebagai berikut : 1. Meningkatkan persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat 2. Meningkatkan capaian kinerja dan pemajuan penyelenggaraan pemerintahan 3. Meningkatkan kemandirian daerah 4. Meningkatkan kesejahteraan dan pemerataannya; dan 5. Melakukan harmonisasi prinsip berkelanjutan dan berkesinambungan sebagai prinsip pembangunan daerah. Kelima misi RPJMD Kabupaten Wonosobo tersebut apabila dikaitkan dengan misi pada RPJMN Kabupaten Wonosobo dapat dijelaskan sebagai berikut: Tabel V.3 Keselarasan Agenda Nawacita (9 Agenda Prioritas RPJMN) Dengan Misi RPJMD Wonosobo Wonosobo Tahun Penjabaran dalam RPJMD Kabupaten 9 Agenda Prioritas RPJMN Wonosobo Agenda 1: Akan menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberi rasa aman pada seluruh WN Dituangkan ke dalam misi (1) yaitu meningkatkan persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Bab V - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-3

185 9 Agenda Prioritas RPJMN Agenda 2: Akan membuat Pemerintah tidakabsen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis dan terpercaya Agenda 3: Akan membangun Indonesia daripinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara Kesatuan Agenda 4: Akan menolak Negara lemah dengan melakukan reformasi sistem penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya Agenda 5: Akan meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui: Indonesia Pintar, Indonesia Sehat, Indonesia Kerja dan Indonesia Sejahtera Agenda 6: Akan meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional Agenda 7: Penjabaran dalam RPJMD Kabupaten Wonosobo Diterjemahkan ke dalam misi (2) yaitu meningkatkan capaian kinerja dan pemajuan penyelenggaraan pemerintahan. Diterjemahkan dalam misi (3) meningkatkan kemandirian daerah, khususnya arah kebijakan untuk pengembangan wilayah terpadu perdesaan. Analogi dengan agenda nawa cita untuk memperluat daerah/pinggiran, maka pada RPJMD Wonosobo ini diadopsi dalam arah kebijakan melakukan pengembangan wilayah terpadu pedesaan. Diterjemahkan ke dalam misi ke-2 meningkatkan capaian kinerja dan pemajuan penyelenggaraan pemerintahan, khususnya yang terkait dengan birokrasi dan aparatur yang Diterjemahkan ke dalam misi ke-4 Meningkatkan kesejahteraan dan pemerataannya, khususnya yang terkait dengan arah kebijakan untuk peningkatan layanan dasar pendidikan, kesehatan, bidang ekonomi dan sosial. Diterjemahkan ke dalam misi ke-3 meningkatkan kemandirian daerah, yang salah satu aspeknya adalah daya saing dan peningkatan produksi/produktivitas Daerah Akan mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik Agenda 8: Akan melakukan revolusi karakter bangsa Agenda 9: Akan memperteguh Kebhinekaandan memperkuat restorasi sosial Dituangkan ke dalam misi (3) meningkatkan kemandirian daerah, khususnya pada arah kebijakan sesuai sasaran terwujudnya masyarakat bermartabat, berbudaya dan berdikari Dituangkan ke dalam misi (1) meningkatkan persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat, terutama yang terkait dengan tujuan Membangun semangat persatuan, kesatuan dan toleransi sebagai modal pembangunan Bab V - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-4

186 Selanjutnya, apabila dikaitkan dengan misi RPJMD Provinsi Jawa Tengah , maka kerangka logis RPJMD Kabupaten Wonosobo dapat dijelaskan sebagai berikut: Bab V - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-5

187 Tabel 5.4 Keselarasan Antara Misi RPJMD Provinsi Jawa Tengah dengan Misi RPJMD Kabupaten Wonosobo Tahun Penerjemahan RPJMD Kabupaten Misi RPJMD Provinsi Jateng Wonosobo Tahun Misi 1: Membangun Jawa Tengah berbasistrisakti Bung Karno, Berdaulat di BidangPolitik, Berdikari di Bidang Ekonomi, danberkepribadian di Bidang Kebudayaan Misi 2: Mewujudkan KesejahteraanMasyarakat yang Berkeadilan,MenanggulangiKemiskinan dan Pengangguran Misi 3: Mewujudkan PenyelenggaraanPemerintahan Provinsi Jawa Tengah yangbersih, Jujur dan Transparan, MbotenKorupsi, Mboten Ngapusi Misi 4: Memperkuat Kelembagaan SosialMasyarakat untuk Meningkatkan Persatuandan Kesatuan Misi 5: Memperkuat Partisipasi Masyarakatdalam Pengambilan Keputusan dan ProsesPembangunan yang Menyangkut Hajat HidupOrang Banyak Misi 6: Meningkatkan Kualitas PelayananPublik untuk Memenuhi Kebutuhan DasarMasyarakat Misi 7: Meningkatkan Infrastruktur untukmempercepat Pembangunan Jawa Tengahyang Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan Diterjemahkan ke dalam misi (1) yaitu meningkatkan persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat khususnya yang sesuai dengan sasaran mantapmya konsolidasi demokrasi; dan misi (3) meningkatkan kemandirian daerah Diterjemahkan ke dalam misi (4) yaitu Meningkatkan kesejahteraan dan pemerataannya; dan Diterjemahkan ke dalam misi (2) yaitu Meningkatkan capaian kinerja dan pemajuan penyelenggaraan pemerintahan Diterjemahkan ke dalam misi (1) meningkatkan persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat Dituangkan ke dalam misi (2) Meningkatkan capaian kinerja dan pemajuan penyelenggaraan pemerintahan, khususnya pada tujuan meningkatnya indeks reformasi birokrasi yang salah satu arah kebijakannya adalah Diterjemahkan ke dalam misi (2)meningkatkan capaian kinerja dan pemajuan penyelenggaraan pemerintahan dan misi (4) meningkatkan kesejahteraan dan pemerataannya; dan Diterjemahkan ke dalam misi (5) yaitu melakukan harmonisasi prinsip berkelanjutan dan berkesinambungan sebagai prinsip pembangunan daerah. Sedangkan apabila dikaitkan dengan Misi RPJPD Kabupaten Wonosobo Tahun , maka penerjemahan Misi RPJMD Kabupaten Wonosobo Tahun adalah sebagai berikut: Bab V - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-6

188 Tabel V.5 Keselarasan Misi RPJPD Kabupaten Wonosobo Tahun Dengan Misi RPJMD Kabupaten Wonosobo Tahun Misi RPJP Misi RPJMD Misi1: Mewujudkan sumberdaya manusia Kabupaten Wonosobo yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, sehat lahir batin, berpendidikan, berbudaya, kreatif dan inovatif. Misi 2: Mewujudkan perekonomian daerah Kabupaten Wonosobo yang tangguh dan berbasis pada potensi unggulan daerah dengan memanfaatkan teknologi inovatif yang ramah lingkungan disertai penguatan kelembagaan usaha mikro dan kecil serta penguatan lembaga koperasi dalam rangka pemberdayaan ekonomi rakyat. Misi 3: Mewujudkan kehidupan politik dan tata pemerintahan yang demokratis, bersih, bertanggung jawab yang didukung oleh aparatur pemerintahan yang profesional, dan terbebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) disertai partisipasi rakyat secara penuh. Misi 4: Mewujudkan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup KabupatenWonosobo yang optimal dengan tetap menjaga keseimbangan dan pelestarianfungsi dan keberadaannya dalam upaya menopang kehidupan dan penghidupan dimasa yang akan datang. Misi 5: Mewujudkan tersedianya prasarana dan sarana publik baik secara kuantitatifmaupun kualitatif dengan perawatan yang memadai. Misi 6: Mewujudkan kehidupan masyarakat Kabupaten Wonosobo yang sejahtera lahir dan batin, mandiri dan bermartabat, Diterjemahkan ke dalam misi ke (3) meningkatkan kemandirian daerahdan (4)meningkatkan kesejahteraan dan pemerataannya Diterjemahkan ke dalam misi (3) meningkatkan kemandirian daerah Diterjemahkan ke dalam misi (1) meningkatkan persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakatdan (2)meningkatkan capaian kinerja dan pemajuan penyelenggaraan pemerintahan Diterhjemahkan ke dalam misi (5)melakukan harmonisasi prinsip berkelanjutan dan berkesinambungan sebagai prinsip pembangunan daerah. Diterjemahkan ke dalam misi (2) meningkatkan capaian kinerja dan pemajuan penyelenggaraan pemerintahandan (4)meningkatkan kesejahteraan dan pemerataannya Diterjemahkan ke dalam misi (1)meningkatkan persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat Bab V - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-7

189 Misi RPJP Misi RPJMD dengan menghormati hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) serta keadilan dan kesetaraan gender. Selanjutnya apabila dikaitkan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Wonosobo Tahun , maka penerjemahan misi RPJMD Kabupaten Wonosobo dapat dijelaskan sebagaiberikut: Tabel V.6 Keselarasan Kebijakan dan Strategi RTRW Tahun dengan Misi RPJMD Kabupaten Wonosobo Tahun Kebijakan RTRW Kabupaten Wonosobo Penerjemahan RPJMD Kabupaten Wonosobo Tahun Pengembangan struktur ruang Daerah Diterjemahkan dalam misi (4) meningkatkan kesejahteraan dan pemerataannya Pengembangan pola ruang Daerah Penetapan kawasan strategis Daerah Misi (3)meningkatkan kemandirian daerah dan (5) melakukan harmonisasi prinsip berkelanjutan dan berkesinambungan sebagai prinsip pembangunan daerah Misi (3) meningkatkan kemandirian daerah dan (4)meningkatkan kesejahteraan dan pemerataannya Adapun penjabaran unsur visi RPJMD Kabupaten Wonosobo ke dalam misi dapat dilihatsebagai berikut: Tabel V.7 Penerjemahan Unsur Visi Ke Dalam Misi RPJMD Kabupaten Wonosobo Unsur Visi Pelaksanaan dalam Misi Bersatu Maju Mandiri Dilaksanakan dalam misi (1)meningkatkan persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Dilaksanakan dalam misi (2) meningkatkan capaian kinerja dan pemajuan penyelenggaraan pemerintahan, Dilaksanakan dalam misi (3)meningkatkan kemandirian daerah. Sejahtera Untuk Dilaksanakan dalam misi (4) meningkatkan kesejahteraan dan Bab V - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-8

190 Semua Unsur Visi Pelaksanaan dalam Misi pemerataannya dan (5) melakukan harmonisasi prinsip berkelanjutan dan berkesinambungan sebagai prinsip pembangunan daerah. Sedangkan sinkronisasi prioritas pembangunan Kabupaten Wonosobo dengan prioritas nasional dan Provinsi Jawa Tengah di Tabel berikut: Tabel V.8 Sinkronisasi prioritas pembangunan Kabupaten Wonosobo dengan prioritas nasional dan provinsi Jawa Tengah Dimensi Pembangunan dan Prioritas RPJMN (i) Kemananan dan Ketertiban selaras dengan Nawacita 1 (ii) Tata Kelola dan Reformasi Birokrasi, selaras dengan Nawacita 2 (iii) Pemerataan pembangunan antar kelompok pendapatan dan antar wilayah, selaras dengan Nawacita 3 (iv) Kepastian dan penegakan hukum selaras dengan Nawacita 4 Sasaran pokok Prioritas RPJMD Kabupaten Wonosobo terwujudnya ketentraman dan ketertiban umum berbasis prakarsa bersama 2. Meningkatnya perlindungan masyarakat Meningkatnya kualitas reformasi birokrasi dan aparatur yang adaptif, responsif, peduli dan melayani 3. Meningkatnya produksi dan produktivitas daerah serta pengelolaan sumber daya dan potensi 4. Terpenuhinya layanan dan hak dasar untuk kesejahteraan masyarakat 1. Meningkatnya nilai demokrasi serta kesadaran/pemahaman tentang hak dan kewajiban 2. Meningkatnya perlindungan masyarakat 3. Meningkatnya kualitas reformasi birokrasi dan aparatur yang adaptif, Sasaran Pokok Prioritas RPJMD Provinsi jawa Tengah (vi) Tata KelolaPemerintahan,Demokratisasi &Kondusivitas Wilayah (vi) Tata KelolaPemerintahan,Demokratisasi &Kondusivitas Wilayah. (iii) Infrastruktur; (vi) Tata Kelola PemerintahanDemokratisasi &Kondusivitas Wilayah Bab V - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-9

191 Dimensi Pembangunan dan Prioritas RPJMN (v) Pembangunan Pendidikan, Kesehatan, Perumahan selaras dengan Nawacita 5 (vi) Pembangunan sektorunggulan: kedaulatanpangan, kedaulatan energi dan kelistrikan, kemaritiman dan kelautan, pariwisata dan industri, selaras dengan nawacita 6 dan 7 (vii) Revolusi Mental, selaras dengan Nawacita 8 dan 9 Sasaran pokok Prioritas RPJMD Kabupaten Wonosobo responsif, peduli dan melayani 1. Terpenuhinya layanan dan hak dasar untuk kesejahteraan masyarakat 2. Berkembangnya lapangan kerja dan kesempatan berusaha 1. Meningkatnya produksi dan produktivitas daerah serta pengelolaan sumber daya dan potensi 2. Meningkatnya kesejahteraan ekonomi 3. Meningkatnya daya saing daerah 4. Berkembangnya pemanfaatan energi baru dan terbarukan 1. Meningkatnya nilai demokrasi serta kesadaran/pemahaman tentang hak dan kewajiban 2. Terwujudnya masyarakat bermartabat, berbudaya dan berdikari Sasaran Pokok Prioritas RPJMD Provinsi jawa Tengah (i) kemiskinan; (ii)pengangguran (iv) Kedaulatan Pangan; (v) Kedaulatan energi; i) Tata Kelola Pemerintahan, Demokratisasi & Kondusivitas Wilayah C. Tujuan dan Sasaran Tujuan dan sasaran pada hakekatnya merupakan arahan bagi pelaksanaan setiap urusan pemerintahan daerah dalam mendukung pelaksanaan misi, untuk mewujudkan visi pembangunankabupaten Wonosobo selama kurun waktu Tujuan dan sasaran pada masing-masing misidiuraikan sebagai berikut : 1. Misi 1:Meningkatkan persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat Tujuan: a. Membangun semangat persatuan, kesatuan dan toleransi sebagai modal pembangunan Bab V - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-10

192 Sasaran: 1) Meningkatnya nilai demokrasi serta kesadaran/pemahaman tentang hak dan kewajiban 2) Terwujudnya ketentraman dan ketertiban umum berbasis prakarsa bersama 3) Meningkatnya perlindungan masyarakat 2. Misi 2: Meningkatkan capaian kinerja dan pemajuan penyelenggaraan pemerintahan Tujuan: Meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan sesuai semangat Reformasi Birokrasi untuk perbaikan pelayanan publik Sasaran: Meningkatnya kualitas reformasi birokrasi dan aparatur yang adaptif, responsif, peduli dan melayani 3. Misi 3: Meningkatkan kemandirian daerah Tujuan: Meningkatkan produktivitas, kemampuan pengelolaan sumber daya dan membangun budaya berdikari Sasaran: 1) Meningkatnya produksi dan produktivitas daerah serta pengelolaan sumber daya dan potensi 2) Terwujudnya masyarakat bermartabat, berbudaya dan berdikari 3) Meningkatnya daya saing daerah 4. Misi 4: Meningkatkan kesejahteraan dan pemerataannya Tujuan: Mewujudkan pertumbuhan yang berkeadilan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan Sasaran: 1) Terwujudnya kesetaraan pertumbuhan ekonomi wilayah 2) Berkembangnya lapangan kerja dan kesempatan berusaha 3) Meningkatnya kesejahteraan ekonomi 4) Terpenuhinya layanan dan hak dasar untuk kesejahteraan masyarakat 5. Misi 5: Melakukan harmonisasi prinsip berkelanjutan dan berkesinambungan sebagai prinsip pembangunan daerah Tujuan: Mewujudkan prinsip berkelanjutan dan berkesinambungan dalam pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam. Sasaran: 1) Terwujudnya pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup secara berkelanjutan berkesinambungan Bab V - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-11

193 2) Dipraktekkannya prinsip perencanaan pembangunan yang berkelanjutan 3) Berkembangnya kapasitas adaptasi perubahan iklim dan terjaganya keanekaragaman hayati 4) Berkembangnya pemanfaatan energi baru dan terbarukan 5) Meningkatnya upaya pengurangan resiko bencana melalui adaptasi dan mitigasi Bab V - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-12

194 Tabel 5.9 Keterkaitan Tujuan, Sasaran, Indikator, Realisasi dan Target dalam Pencapaian Misi RPJMD Kabupaten Wonosobo Tahun NO TUJUAN KONDISI KINERJA AKHIR PERIODE RPJMD SASARAN Meningkatkan persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat I Membangun Semangat Persatuan, Kesatuan dan Toleransi Sebagai Modal Pembangunan 1 Meningkatnya nilai demokrasi Indeks Demokrasi data tidak tersedia serta kesadaran Indeks Toleransi data tidak tersedia 0,5 0,53 0,55 0,59 0,63 0,65 3 Terwujudnya ketentraman dan Indeks Gotong Royong data tidak tersedia 0,57 0,59 0,61 0,63 0,65 0,67 ketertiban umum berbasis prakarsa bersama 4 Meningkatnya perlindungan masyarakat Indeks Rasa Aman data tidak tersedia 0,65 0,67 0,69 0,7 0,72 0,75 Meningkatkan capaian kinerja dan pemajuan penyelenggaraan pemerintahan II Meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan sesuai semangat Reformasi Birokrasi untuk perbaikan pelayanan publik 1 Meningkatnya kualitas reformasi birokrasi dan aparatur yang adaptif, responsif, peduli dan melayani INDIKATOR TUJUAN KONDISI KINERJA AWAL PERIODE RPJMD TARGET CAPAIAN KINERJA TIAP TAHUN Indeks Reformasi Birokrasi 85 Bab V - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-13

195 III NO TUJUAN INDIKATOR TUJUAN KONDISI KINERJA AWAL PERIODE RPJMD TARGET CAPAIAN KINERJA TIAP TAHUN KONDISI KINERJA AKHIR PERIODE RPJMD SASARAN Meningkatkan produktifitas, Kemampuan Pengelolaan Sumber Daya dan Membangun Budaya Berdikari 1 Meningkatnya produksi dan produktivitas daerah serta pengelolaan sumber daya dan potensi 2 Terwujudnya masyarakat bermartabat, berbudaya dan berdikari Meningkatkan kesejahteraan dan pemerataannya IV Menciptakan Pertumbuhan yang Berkeadilan untuk Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat dan Penanggulangan Kemiskinan Pertumbuhan Ekonomi 5,7 5,75 5,9 6 6,12 6,3 HK : 6,52 % PDRB ADHB , HB : PDRB ADHK , PDRB per Kapita Laju Inflasi 2,71 5,01 4,63 4,26 3,88 3,50 3 Nilai Investasi 1,37 trilyun 1,5 trilyun 1,8 trilyun 2 trilyun 2,2 trilyun 2,37 trilyun Nilai Tukar Petani Skor PPH 92 92,20 92,40 92,60 92,80 93,00 93,20 1 Terwujudnya kesetaraan pertumbuhan ekonomi antar wilayah Indeks Gini 0,34 0,33 0,32 0,31 0,29 0,27 0,25 Indeks Williamson 0,35 0,15 0,14 0,13 0,12 0,11 0,10 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 65,7 66,48 67,13 67,78 68,43 69,08 69,74 Bab V - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-14

196 NO TUJUAN INDIKATOR TUJUAN KONDISI KINERJA AWAL PERIODE RPJMD TARGET CAPAIAN KINERJA TIAP TAHUN KONDISI KINERJA AKHIR PERIODE RPJMD SASARAN Meningkatnya kesejahteraan Rata-Rata Pengeluaran ekonomi Penduduk (ribuan) 3 Berkembangnya lapangan Tingkat Pengangguran 5,31 5,31 5,24 5,16 5,09 5,01 4,94 kerja dan kesempatan kerja Terbuka Tingkat Partisipasi Angkatan 74,56 74,90 75,23 75,64 75,98 76,17 Kerja (TPAK) Dependency Ratio 56,76 56,01 55,26 55,01 54,76 52,58 Tingkat Kesempatan Kerja 94,53 94,55 94,56 94,58 94,59 95 Presentase Angka Kemiskinan 21,14 19,477 18,599 17,721 16,843 15,965 11,4 Indeks Kedalaman 3,54 3,61 3,51 3,40 3,29 3,19 2,9 Kemiskinan Indeks Keparahan Kemiskinan 1,04 1,01 0,99 0,96 0,94 0,91 0, Terpenuhinya layanan dan hak dasar untuk kesejahteraan masyarakat Terpenuhinya layanan penunjang untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat secara Rata-Rata Lama sekolah 6,11 6,73 6,77 6,80 6,83 6,87 6,91 Angka Partisipasi Sekolah 95, Penduduk Usia 7-12 tahun Angka Partisipasi Sekolah 86,70 87,10 87,90 88,50 89,10 90 Penduduk Usia Angka Partisipasi Sekolah 41,90 42,03 42,17 42,30 42,43 45 Penduduk Usia Angka Melek Huruf Penduduk 15 Tahun ke atas 96,10 94,20 94,94 95,68 96,42 97,16 99,99 Rata-Rata Usia Harapan Hidup 71,02 71,20 71,38 71,57 71,76 71,94 73 Angka Kematian Ibu 84,33 80,03 76,4 72,06 69,01 66,5 63,18 Angka Kematian Bayi 9,66 8,339 7,238 6,137 5,036 3,935 7,5 Prevalensi Balita Gizi Kurang 1,74 1,74 1,02 0,89 0,71 0,59 0,5 IPG 92,51 93,31 94,11 94,91 95,71 96,51 97 IDG 59,89 62,86 65,83 68,80 71,77 75 TFR 2,13 1,80 1,72 1,65 1,57 1,49 1,35 Bab V - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-15

197 NO TUJUAN INDIKATOR TUJUAN KONDISI KINERJA AWAL PERIODE RPJMD TARGET CAPAIAN KINERJA TIAP TAHUN KONDISI KINERJA AKHIR PERIODE RPJMD kebutuhan SASARAN masyarakat secara lebih berkeadilan Presentase Penduduk Berakte 79,03 83,72 88,25 92,79 97,32 100, Kelahiran Presentase Penduduk Ber 88,52 90,34 92,58 93,39 96,78 99, KTP Melakukan harmonisasi prinsip berkelanjutan dan berkesinambungan sebagai prinsip pembangunan daerah Terwujudnya Prinsip Berkelanjutan dan Berkesinambungan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam 1 Terwujudnya pengelolaan Indeks Kualitas Lingkungan N/A 58,15 60,15 62,15 64,15 66,15 68,15 SDA dan LH secara berkelanjutan berkesinambungan Hidup 2 Dipraktekkannya prinsip perencanaan pembangunan yg berkelanjutan 3 Berkembangnya pemanfaatan Indeks Rawan Bencana (IRB) energi dan energi baru/terbarukan 4 Meningkatnya upaya pengurangan resiko bencana melalui adaptasi dan mitigasi Indeks Resiko Bencana Bab V - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-16

198 BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi dan arah kebijakan pembangunan merupakan rumusan perencanaan komprehensif berdasarkan arah kebijakan tahunan dalam mencapai tujuan dan sasaran dengan efektif dan efisien. Untuk mewujudkan visi pembangunan jangka menengah Kabupaten Wonosobo Tahun yang dilaksanakan melalui 5 (lima) misi dan agar lebih terarah dalam mencapai tujuan dan sasaran. A. Strategi Umum Dlam upaya mencapai misi RPJMD sesuai tujuan dan sasran yang sudah dijelaskan di Bab V, maka Pemkab Wonosobo menetapkan strategi umum/dasar untuk mencapai visi misi tujuan dan sasaran, sebagai berikut: 1. Strategi pertama adalah membangun sinergi dan kemitraaan antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha serta pemangku kepentingan lainnya. Ini didasari oleh fakta keterbataan sumber daya finansial pemerintah di satu sisi, sedangkan di sisi lain kita memilik potensi sumber daya alam yang harus dikelola bersama secara berkelanjutan. Mengingat keterbatasan sumber daya pemerintah, maka strategi sinergi dan kemitraan ini menjadi salah satu dasar dalam penyelenggaraan pemerintahan. 2. Strategi kedua adalah meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan yang responsif dan adaptif, sebagai perwujudan konsep negara hadir dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara, dan memenuhi aspirasi masyarakat. Strategi ini salah satunya bertujuan agar proses reformasi birokasi bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, tidak sekedar merupakan kesibukan dan kebutuhan Pemerintah semata. 3. Strategi ketiga adalah pemantapan demokrasi, kesetaraan, serta perluasan akses dan kapasitas bagi masyarakat untuk meningkatkan derajat dan perannya dalam pembangunan. Rasionalitas strategi ini adalah apabila masyarakat meningkat kapasitasnya, masyarakat bisa mejadi potensi pembangunan, bukan menjadi beban. 4. Strategi keempat adalah penyebaran pusat-pusat pertumbuhan tidak hanya di perkotaan saja, tetapi juga dengan menciptakan pusat pertumbuhan kawasan perdesaan. Kawasan ini akan mendekatkan layanan sosial ekonomi masyarakat sehingga pembangunan akan menjadi efektif dan efisien, dan mengurangi biaya masyarakat maupun beban perkotaan. 5. Strategi kelima adalah tetap menjaga prinsip berkelanjutan dan berkesinambungan. Prinsip ini menyangkut keberlanjutan sumber daya maupun meningkatkan derajat penghidupan berkelanjutan (sustainable livelihood). Strategi ini sekaligus memperkuat upaya pengentasan kemiskinan secara berkelanjutan, memastikan kelompok rentan akan memiliki daya tahan dan kemampuan untuk Bab VI - RPJMD Kabupaten Wonosobo VI-1

199 mengentaskan dirinya dari kemiskinan. Dengan strategi ini, upaya percepatan pembangunan untuk pengentasan kemiskinan tidak akan merusak sumber daya alam yang tersedia, justru bisa memperkluat. B. Strategi dan Arah Kebijakan Untuk mencapai visi pembangunan Kabupaten Wonosobo , perlu ditetapkan stategi dan arah kebijakan untuk merumuskan kebijakan pembangunan tahunan atau tahapan pembangunan pertahunnya yang akan dilaksanakan selama lima tahun ke depan. Hal ini nantinya akan memudahkan dan membantu dalam pembuatan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Keterkaitan visi, misi, tujuan, sasaran, strategi dan arah kebijakan RPJMD Kabupaten Wonosobo bisa dilihat pada Tabel VI.1 sebagai berikut: Bab VI - RPJMD Kabupaten Wonosobo VI-2

200 Tabel VI.1 Keterkaitan Sasaran, Strategi dan Arah Kebijakan Daerah Sasaran Strategi Arah kebijakan Misi 1: Meningkatkan persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat 1. Meningkatnya nilai demokrasi serta kesadaran/pemahaman tentang hak dan kewajiban 2. terwujudnya ketentraman dan ketertiban umum berbasis prakarsa bersama 1. Peningkatan nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan masyarakat 1. Penguatan perangkat kebijakan pelaksanaan Wonosobo Ramah HAM 2. Peningkatan kesadaran toleransi dan menghormati untuk membangun kehidupan harmonis 3. Penguatan pranata sosial dan pengembangan kemitraan berbasis kearifan lokal untuk meningkatkan kewaspadaan dan deteksi dini Mengembangkan pendidikan politik bagi masyarakat untuk meningkatkan partisipasi politik serta menciptakan iklim demokrasi Mengakselerasi diseminasi isu tentang Wonosobo Ramah HAM Meningkatkan kesadaran dan kualitas penegakan Hukum dan HAM Meningkatkan peran lembaga keagamaan dan lembaga sosial pendidikan keagamaan Meningkatkan kualitas pembinaan dan pelayanan bidang keagamaan Menumbuhkan nilai nilai toleransi, harmoni dan penghormatan melalui pendidikan karakter Meningkatkan fungsi keluarga dalam pembentukan moral dan etika Memperkuat pranata sosial melalui kemitraan pemerintah, lembaga dan masyarakat untuk ketertiban dan keamanan Bab VI - RPJMD Kabupaten Wonosobo VI-3

201 Sasaran Strategi Arah kebijakan 3. Meningkatnya perlindungan masyarakat 4. Transformasi kebijakan fungsi penegakan Perda 5. Pengembangan sistem pendukung untuk penanganan gangguan keamanan dan peningkatan ketangguhan masyarakat Mengembangkan nilai kearifan lokal yang mendukung semangat gotong-royong dan kebersamaan Mengoptimalkan pengawasan dan pembinaan kantrantibmas dan pencegahan tindak kriminal secara proaktif Mengembangkan metode penegakan Perda secara lebih partisipatif Meningkatkan partisipasi aktif masyarakat dan komunitas untuk menjaga stabilitas, ketentraman, dan kenyamanan lingkungan Misi 2: Meningkatkan capaian kinerja dan pemajuan penyelenggaraan pemerintahan 1. Meningkatnya kualitas reformasi birokrasi dan aparatur yang adaptif, responsif, peduli dan melayani 6. Revitalisasi fungsi perencanaan, penganggaran dan evaluasi dalam penyelenggaraan pemerintahan 7. Pembangunan birokrasi modern sesuai Kebijakan ASN Menguatkan kapasitas sistem perencanaan pembangunan daerah yang partisipatif dan komprehensif Membangun data basis terintegrasi sebagai sistem penopang perencanaan Menguatkan kualitas perencanaan tematik untuk mendukung pencapaian penyelenggaraaan pemerintahan Meningkatkan kinerja penyelenggaraan pemerintahan yang efektif dan efisien Membangun dan mengembangkan sistem prosedur dan tata kerja birokrasi sesuai ASN Bab VI - RPJMD Kabupaten Wonosobo VI-4

202 Sasaran Strategi Arah kebijakan 8. Perbaikan tata kelola pemerintahan dengan prioritas pengembangan sistem penopang (support system) berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk penguatan reformasi birokrasi 9. Peningkatan harmonisasi dan kemitraan penyelenggaraan pemerintahan Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan Mengoptimalkan pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan pemerintahan Mengembangkan sistem penopang pemerintahan dan birokrasi berbasis TIK Mengembangkan layanan informasi publik untuk meningkatkan partisipasi masyarakat Mengembangkan statistik daerah untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan Optimalisasi pemanfaatan persandian untuk pengamanan informasi Mengembangkan sistem pengelolaan kearsipan untuk menunjang akuntabilitas Mengembangkan birokrasi yang egaliter dan berintegritas Perbaikan dan Peningkatan Kualitas Layanan Publik Mengembangkan kemitraan hubungan dengan beberapa elemen pemangku kepentingan dalam penyelenggaraan pemerintahan Melakukan sinkronisasi dan harmonisasi produk hukum dan kebijakan Bab VI - RPJMD Kabupaten Wonosobo VI-5

203 Sasaran Strategi Arah kebijakan Misi 3: Meningkatkan kemandirian daerah pemerintahan Kabupaten 1. Meningkatnya produksi dan produktivitas daerah 10. Peningkatan Kualitas tenaga kerja Mengembangkan pelatihan kerja berbasis vokasi dalam rangka memenuhi kebutuhan dunia usaha Meningkatkan Tata kelola Lembaga Penyelengara Pendidikan dan Pelatihan Membangun etos kerja yang produktif 11. Peningkatan dan pengembangan ketersediaan sarana produksi dan infrastruktur pertanian 12. Pengembangan perikanan tangkap dan budidaya serta pemberdayaan petani ikan Meningkatkan produksi, produktivitas dan kualitas produk tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan Menyediakan serta meningkatkan infrastruktur yang mendukung pertanian Meningkatkan produksi hasil peternakan dan populasi ternak Meningkatkan kelembagaan pertanian Meningkatkan produksi perikanan Menjaga ketersediaan dan stabilitas harga barang produksi dan komoditas pokok Menjamin kemudahan akses terhadap input produksi dan barang pokok Mengembangkan ekspor dan meningkatkan mutu komoditas ekspor Bab VI - RPJMD Kabupaten Wonosobo VI-6

204 Sasaran Strategi Arah kebijakan 2. Terwujudnya masyarakat bermartabat, berbudaya dan berdikari 13. Peningkatan kualitas produk daerah Mengembangkan industri hulu hilir Meningkatkan pembinaaan dan sarana prasarana penunjang kegiatan ekonomi 14. Peningkatan daya saing koperasi dan Menciptakan iklim usaha yang kondusif UMKM 15. Peningkatan ketahanan Pangan daerah Meningkatkan kemandirian pangan 17. Peningkatan karakter berprestasi, mandiri dan menghargai nilai budaya 3. Meningkatnya daya saing daerah 18. Penciptaan iklim kreatif, inovatif dan jiwa kewirausahaaan yang berorientasi kemajuan Mendorong konsumsi pangan lokal yang mendukung usaha pertanian 16. Meningkatkan apresiasi dan kreatifitas karya budaya serta pengelolaan warisan budaya untuk kesejahteraan Menumbuhkan budaya olahraga dan berprestasi masyarakat Menumbuhkan kebanggaan terhadap produk dan identitas Wonosobo Meningkatkan budaya baca dan cerdas bermedia Mengembangkan ekonomi kreatif Mengarahkan litbang daerah sebagai salah satu penopang ekonomi Mewujudkan Wonosobo sebagai daerah pariwisata/budaya yang didukung pertanian berkelanjutan berbasis kearifan lokal (agro-eco-culture-tourism) Bab VI - RPJMD Kabupaten Wonosobo VI-7

205 Sasaran Strategi Arah kebijakan 19. Peningkatan aktivitas perekonomian daerah 20. Penciptaan iklim usaha yang kondusif untuk pengembangan ekonomi dan peningkatan investasi Mengoptimalkan sumber-sumber pendapatan asli daerah (untuk memperkuat kapasitas fiskal daerah) Mengoptimalkan kinerja badan usaha milik daerah Meningkatkan Kemudahan, Perlindungan dan Kepastian Berusaha Mengembangkan sistem penopang untuk kemudahan informasi bisnis dan investasi Misi 4: Meningkatkan kesejahteraan dan pemerataannya 1. Terwujudnya kesetaraan pertumbuhan ekonomi antar wilayah 21. Pengembangan kerjasama daerah untuk meningkatkan daya saing Meningkatkan kerjasama daerah dalam pengembangan potensi ekonomi dan peningkatan kesejahteraan 22. Pemerataan pembangunan wilayah Akselerasi pembangunan wilayah melalui penyediaan infrastruktur dasar berkualitas Implementasi kebijakan afirmasi (pemihakan) kawasan kurang berkembang Meningkatkan pemerataan penduduk sesuai dengan pertumbuhan wilayah 23. Pembangunan sistem transportasi Mengembangkan aksesibilitas transportasi yang memadai untuk mengakselerasi pembangunan Mengembangkan sistem transportasi Bab VI - RPJMD Kabupaten Wonosobo VI-8

206 Sasaran Strategi Arah kebijakan yang efisien tataran transportasi lokal (tatralok) Menyediakan sarana dan prasarana transportasi yang layak 24. Pengembangan Kegiatan Ekonomi Berbasis Kawasan 25. Peningkatan pendapatan masyarakat melalui perluasan akses dan peluang kesempatan kerja 26. Peningkatan akses terhadap sarana prasarana pendukung ekonomi Menciptakan desa pusat pertumbuhan Meningkatkan keterkaitan antar kawasan dalam pembangunan wilayah Menumbuhkan Wirausaha baru Memperluas akses informasi dan peluang kerja Meningkatkan kapasitas tenaga kerja terutama bagi masyarakat kelompok rentan Meningkatkan kemudahan akses permodalan termasuk berbagai skema kredit untuk usaha mikro dan rumah tangga Mengembangkan kemitraan dengan dunia usaha dan korporat 27. Penguatan pemberdayaan masyarakat Mereformulasi upaya pemberdayaan masyarakat berbasis kekuatan dan Bab VI - RPJMD Kabupaten Wonosobo VI-9

207 Sasaran Strategi Arah kebijakan potensi Mengembangkan usaha ekonomi produktif desa Menerapkan one district one product (ODOP) dan one village one product (OVOP) sebagai basis pengembangan potensi lokal Mengoptimalkan dana transfer desa untuk menopang pengembangan ekonomi pedesaan 2. Terpenuhinya layanan dan hak dasar untuk kesejahteraan masyarakat 28. Percepatan pemenuhan layanan dasar pendidikan bagi masyarakat 29. Pemenuhan layanan dasar kesehatan bagi masyarakat Meningkatkan dan memeratakan akses layanan pendidikan formal dan non formal secara berkeadilan Meningkatkan mutu layanan pendidikan Meningkatkan kualitas dan kuantitas layanan sekolah inklusi Meningkatkan menajemen tata kelola pendidikan Meningkatkan akses dan kualitas layanan pendidikan bagi penduduk usia dewasa Meningkatkan pemerataan akses dan mutu layanan kesehatan dasar dan rujukan Meningkatkan ketersediaan, pemerataan dan mutu tenaga kesehatan Meningkatkan mutu dan cakupan Bab VI - RPJMD Kabupaten Wonosobo VI-10

208 Sasaran Strategi Arah kebijakan jaminan kesehatan Meningkatkan kesadaran perilaku serta kemandirian masyarakat dan keluarga dalam memelihara kesehatan melalui upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif 30. Pemenuhan layanan dasar sosial bagi masyarakat 31. Pemenuhan Perumahan dan pemukiman bagi masyarakat 32. Percepatan Pemenuhan layanan dasar Pekerjaan Umum bagi masyarakat Menyelenggarakan perlindungan sosial secara komprehensif Memperkuat peran kelembagaan sosial Membangun sistem penopang bagi penyelenggaraan layanan untuk PMKS Menurunkan angka kesenjangan antara jumlah rumah terbangun dengan jumlah rumah yang dibutuhkan masyarakat (backlog) Manajemen lingkungan dan mempercepat cakupan dan kualitas sanitasi di kawasan pemukiman Meningkatkan kinerja pengelolaan air minum dan air limbah Meningkatkan efisiensi pemanfaatan ruang bagi kawasan pemukiman Meningkatkan kualitas pembangunan infrastruktur (jalan, jembatan, drainase dan irigasi) Bab VI - RPJMD Kabupaten Wonosobo VI-11

209 Sasaran Strategi Arah kebijakan Memperbesar aksesibilitas wilayah 3. Terpenuhinya layanan penunjang untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat secara lebih berkeadilan 33. Peningkatan kesejahteraan tenaga kerja Meningkatkan jaminan kesejahteraan sosial tenaga kerja 34. Peningkatan kesetaraan,keadilan gender dan Pemenuhan Hak Anak 35. Pemenuhan Perlindungan Terhadap Perempuan dan Anak 36. Penguatan kepastian hukum terhadap hak - hak tanah 37. Penjaminan pemenuhan hak masyarakat atas pelayanan adminduk capil 38. Optimalisasi pengendalian kuantitas dan persebaran penduduk melalui pelayanan KB dan pemberdayaan keluarga Mengarusutamakan gender dan hak Anak dalam Pembangunan Meningkatkan kapasitas perempuan Meningkatkan akses dan kualitas hidup, perlindungan, pencegahan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak Mengembangkan model pendidikan ramah anak Meningkatkan kepastian hukum dan tertib administrasi bagi properti (tanah milik masyarakat) Penataan administrasi pertanahan terhadap lahan-lahan aset negara sebagai salah satu sumber daya pembangunan Memperluas akses dan prosedur pelayanan adminduk dan capil Mendayagunakan data basis kependudukan untuk mendukung layanan publik Meningkatkan kualitas dan pemerataan akses layanan KB Meningkatkan ketahanan serta Bab VI - RPJMD Kabupaten Wonosobo VI-12

210 Sasaran Strategi Arah kebijakan Misi 5: Melakukan harmonisasi prinsip berkelanjutan dan berkesinambungan sebagai prinsip pembangunan daerah 1. Terwujudnya pengelolaan SDA dan LH 39. Peningkatan kualitas pengelolaan dan secara berkelanjutan berkesinambungan pemanfaatan lingkungan dan sumber daya alam untuk kepentingan ilmu pengetahuan, ekonomi, sosial dan budaya secara rasional berdasarkan prinsip berkelanjutan 40. Pengelolaan persampahan melingkupi pengumpulan pengangkutan dan pengelolaan akhir kesejahteraan keluarga melalui pemberdayaan dan partisipasi Peningkatan KIE dan peran peer to peer grup remaja dalam peningkatan pengetahuan kesehatan reproduksi dan pencegahan HIV/AIDs Menerapkan kebijakan tata ruang secara berkelanjutan, partisipatif dan berkeadilan Mewujudkan Wonosobo sebagai daerah pariwisata/budaya yang didukung pertanian berkelanjutan (agro-ecoculture-tourism) Menerapkan kebijakan pembangunan dengan mempertimbangkan daya dukung dan daya tampung lingkungan untuk menjaga kualitas lingkungan hidup Membangun inisiasi dan kreasi berbasis komunitas untuk pengelolaan LH dan SDA secara berkelanjutan Memperluas cakupan layanan persampahan dan meningkatkan pengelolaan persampahan (pengumpulan, pengangkutan dan pengelolaan akhir) 41. Penerapan ekonomi hijau (green Meningkatkan kualitas/praktek pertanian Bab VI - RPJMD Kabupaten Wonosobo VI-13

211 Sasaran Strategi Arah kebijakan 2. Dipraktekkannya prinsip perencanaan pembangunan yg berkelanjutan 3. Berkembangnya pemanfaatan energi dan energi baru/terbarukan 4. Meningkatnya upaya pengurangan resiko bencana melalui adaptasi dan mitigasi economy) sebagai salah satu prinsip ramah lingkungan pembangunan 42. Penerapan 8 atribut kota hijau Implementasi prinsip Kota hijau dalam kebijakan pembangunan 43. Adopsi dan pengarusutamaan prinsipprinsip berkelanjutan dalam assessment dan pengendali program Mewujudkan KLHS sebagai alat kontrol program 44. Penerapan perencanaan dan kebijakan tata ruang yang partisipatif, berkeadilan dan berkelanjutan 45. Transformasi perspektif perubahan iklim dan pelestarian keanekaragaman kekayaan hayati dalam penyusunan kebijakan dan pelaksanaan pembangunan Mewujudkan partisipasi publik dalam perencanaan tata ruang Mengembangkan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim serta memperluas upaya pelestarian dan pengeloalaan keaneragaman hayati secara berkelanjutan 46. Peningkatan kemandirian energi Mengembangkan dan pemanfaatan energi baru terbarukan 47. Peningkatan efisiensi pemanfaatan energi Optimalisasi Pemanfaatan sumbersumber energi alternatif untuk energi baru dan terbarukan dan teknologi tepat guna dalam pengelolaan energi yang menerapkan prinsip hemat energi 48. Peningkatan kemampuan adaptasi dan upaya mitigasi bencana Meningkatkan kemampuan adaptasi masyarakat Meningkatkan upaya mitigasi bencana Meningkatkan investasi yang selaras dengan prinsip pembangunan berkelanjutan Bab VI - RPJMD Kabupaten Wonosobo VI-14

212 Bab VI - RPJMD Kabupaten Wonosobo VI-15

213 Untuk menyelaraskan sasaran, strategi dan arah kebijakan, maka dalam pelaksanaan RPJMD ditetapkan tema pembangunan per tahun, sebagai berikut: 1. Tahun 2017 Pemantapan Kualitas Reformasi Birokrasi untuk Meningkatkan Daya saing dan produktivitas daerah guna mempercepat penurunan angka kemiskinan 2. Tahun 2018 Peningkatan Keterkaitan Desa Kota dan Ekonomi Kawasan Perdesaan Untuk percepatan Pengembangan Wilayah 3. Tahun 2019 : Pemantapan Upaya Pengentasan Kemiskinan melalui Harmonisasi Pembangunan Berkelanjutan 4. Tahun 2020 : Peningkatan an Kualitas Layanan Publik berbasis Kabupaten Pintar (Smart Regency) untuk pemantapan perekonomian daerah Kabupaten 5. Tahun 2021 : Pemantapan kesejahteraan dan kemandirian Daerah C. Arah Pengembangan Wilayah Untuk menjabarkan strategi dan arah kebijakan dalam mencapai misi tujuan dan sasaran, perlu dilakukan pendekatan spasial atau kewilayahan. Proses ini bertujuan agar perencanaan pembangunan juga bermakna spasial dan tidak melupakan konteks kewilayahan. 1. Arah Pengembangan Wilayah Kabupaten Wonosobo Pengembangan wilayah pada hakekatnya ditujukan untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat, melalui upaya peningkatan keterpaduan program pembangunan antar wilayah dan antar sektor yang berdimensi keruangan. Guna mengoptimalkan pengembangan, memudahkan pengelolaan, meningkatkan fungsipelayanan, mengurangi kesenjangan, serta untuk menentukan kawasankawasan yang akan dilakukanpengembangan, maka di Kabupaten Wonosobo dilakukan pembagian wilayah dalam unit-unit kawasan fungsional yang lebih kecil. Unit kawasan fungsional yang lebih kecil tersebut dikenal sebagai Sistem Perwilayahan (Regionalisasi Wilayah). Pertimbangan dalam Penetapan Sistem Perwilayahan di Kabupaten Wonosobo berdasarkan kriteria sebagai berikut: a. Adanya kesamaan fungsi (homogenitas) dan dominasi kegiatan wilayah, dimana pengelompokankegiatan-kegiatanwilayah tersebut dalam satu satuan wilayah akan lebih menguntungkan baik dalamsegi pengadaan sarana dan prasarana pelayanan, interaksi antar kegiatan sejenis maupunpengawasan segala kegiatan yang terjadi. b. Batasan kemampuan jangkauan pelayanan (radius pelayanan) fasilitas sosial ekonomi skalawilayah. c. Adanya batas wilayah administrasi. Bab VI - RPJMD Kabupaten Wonosobo VI-16

214 d. Kekompakan wilayah terhadap daerah-daerah yang akan dikembangkan, sehingga tercapai efisiensi. e. Kemudahan hubungan antar bagian wilayah, tercapainya keserasian, dan integrasi antara wilayah pengembangan (efisiensi sistem pergerakan). f. Memantabkan peran Regionalisasi Wilayah dengan meningkatkan saranaprasarana yang sesuai dengan karakteristik wilayahnya (efisiensi pelayanan sarana umum). g. Kemudahan dalam pengelolaan masing-masing wilayah fungsional. Bab VI - RPJMD Kabupaten Wonosobo VI-17

215 Diagram VI.1 Arah Pengembangan Wilayah Kabupaten Wonosobo Pada setiap Regionalisasi Wilayah dialokasikan pusat-pusat pertumbuhan dengan pengarahan skala layanannya, yang diharapkan pusat-pusat pertumbuhan ini mampu memicu pertumbuhan kawasan hinterlannya. 2. Pembagian Sistem Perwilayahan Bab VI - RPJMD Kabupaten Wonosobo VI-18

216 Secara spasial, pembagian sistem perwilayahan Tingkat Kabupaten yang ada di Kabupaten Wonosobo bisa dijabarkan sebagai berikut: a. Sistem Perwilayahan JARGA Sistem Perwilayahan Jarga terdiri dari wilayah Kejajar dan Garung, mempunyai fungsi utama sebagai pusat pelayanan sosial-ekonomi skala wilayah, wisata, perlindungan kawasan bawahnya, permukiman kepadatan rendah-sedang, Pengembangan teknologi tinggi (geothermal), pengembangan pertanian hortikultura ramah lingkungan, dengan pusat pengembangannya di Perkotaan Garun. Karakteristik Perwilayahan Jarga adalah lokasi berada pada kawasan pegunungan dan perbukitan dan memiliki kawasan dataran tinggi (plateau) yang mempunyai daya jangkauyang terbatas. Fasilitas pelayanan dasar khususnya fasilitas ekonomidan sosial, tersedia dan tersebar. Kepadatan penduduk dan kepadatanbangunan rendah-sedang, sehingga dimasa yang akan datang dengan melihat fungsi kawasan harus diantisipasi dalam polapemanfaatan lahan secara bijaksana untuk keberlanjutan ekonomi, kegiatan yang paling mungkin untuk pengembangan wilayahnya adalah pengembangan agroecotourisme. Arahan Pengembangan Sistem Perwilayahan Jarga : mewujudkan pusat perdagangan holtikultura di wilayah Garung dengan skala pelayanan daerah dan/atau regional; mewujudkan pengembangan pariwisata wilayah dengan skala regional, nasional dan atau internasional, melalui konsep Geopark untuk mendukung pengembangan ekonomi sosial dan lingkungan kawasan, dengan pusat pengembangan kawasan Dieng mewujudkan pengembangan fasilitas pendukung pariwisata mewujudkan aksesibilitas internal dan eksternal yang baik mewujudkan kualitas dan jangkauan pelayanan sistem sarana dan prasarana yang terpadu dan merata mewujudkan Pertanian holtikultura dan perkebunan yang ramah lingkungan untuk mendukung pariwisata dan pengembangan wilayahn mengembangkan kegiatan pengelolaan sumber daya lahan yang terbatas untuk meningkatkan kualitas permukiman, pariwisata, serta ruang kegiatan sektor informal dan ruangterbuka hijau b. Sistem Perwilayahan SELOWOMO Sistem Perwilayahan Selowomo terdiri dari Wilayah Selomerto, Wilayah Wonosobo dan Wilayah Mojotengah, mempunyai fungsi utama sebagai pusat pelayanan sosial-ekonomi skala Kabupaten, wisata, pendidikan, perkantoran, perdagangan dan jasa, permukiman kepadatan sedang-tinggi, pengembangan pertanian, dengan pusat pengembangannya di Perkotaan Wonosobo Bab VI - RPJMD Kabupaten Wonosobo VI-19

217 Karakteristik Perwilayahan Selowomo adalah lokasi berada pada Pusat Wilayah Kabupaten Wonosobo, dengan fasilitas perkotaan yang mendukung pelayanan Kabupaten, Fasilitas pelayanan dasar seperti fasilitas ekonomi dan sosial, tersedia dan tersebar untuk pelayanan skala kabupaten. Kepadatan penduduk dan kepadatan bangunan sedang-tinggi, pelayanan perdagangan dan jasa, sehingga dimasa yang akan datang dengan melihat fungsi kawasan harus diantisipasi dalam pola pemanfaatan lahan secara bijaksana untuk keberlanjutan pembangunan. Arahan Pengembangan Sistem Perwilayahan Jarga : mewujudkan pusat perdagangan dan jasa, pendidikan dan perkantoran dengan skala pelayanan daerah mewujudkan kelengkapan fasilitas pendukung perdagangan dan jasa; mewujudkan aksesibilitas internal dan eksternal yang baik; mewujudkan infrastruktur perkotaan untuk mendukung aktivitas perdagangan dan jasa; mewujudkan kualitas dan jangkauan pelayanan sistem sarana dan prasarana yang terpadu dan merata; mewujudkan RTH taman kota yang memberikan kenyamanan dalam mendukung aktivitas kawasan; mewujudkan permukiman yang layak dengan kepadatan sedang-tinggi pada kawasan perkotaan mewujudkan pengembangan fasilitas pendukung pariwisata daerah. mewujudkan Pertanian perkebunan dan pengembangan perikanan air tawar. c. Sistem Perwilayahan KERKAJAR Sistem Perwilayahan Kerkajar terdiri dari Wilayah Kertek dan Wilayah Kalikajar, mempunyai fungsi utama sebagai pusat pelayanan sosial-ekonomi skala wilayah, wisata, perdagangan dan jasa, permukiman kepadatan sedang, industri, pengembangan pertanian, dengan pusat pengembangannya di Perkotaan Kertek Karakteristik Perwilayahan Kerkajar adalah lokasi berada pada bagian timur Wilayah Kabupaten Wonosobo, dan merupakan kawasan pegunungan dan lereng gunung Sindoro-Sumbing dengan fasilitas perkotaan yang mendukung pelayanan wilayah, Fasilitas pelayanan dasar seperti fasilitas ekonomi dan sosial, tersedia dan tersebar untuk pelayanan skala wilayah. Kepadatan penduduk dan kepadatan bangunan sedang-tinggi, pelayanan perdagangan dan jasa, industri, pertanian perkebunan dan perikanan air tawar, merupakan kawasan perlindungan kawasan bawahnya, sehingga dimasa yang akan datang dengan melihat fungsi kawasan harus diantisipasi dalam pola pemanfaatan lahan secara bijaksana untuk keberlanjutan pembangunan. Arahan Pengembangan Sistem Perwilayahan Kerkajar : mewujudkan pusat perdagangan dan jasa, dengan skala pelayanan wilayah. Bab VI - RPJMD Kabupaten Wonosobo VI-20

218 mewujudkan kelengkapan fasilitas pendukung perdagangan dan jasa; mewujudkan aksesibilitas internal dan eksternal yang baik; mewujudkan infrastruktur perkotaan untuk mendukung aktivitas perdagangan dan jasa; mewujudkan kualitas dan jangkauan pelayanan sistem sarana dan prasarana yang terpadu dan merata; mewujudkan permukiman yang layak dengan kepadatan sedang-tinggi pada kawasan perkotaan mewujudkan pengembangan fasilitas pendukung pariwisata wilayah. mewujudkan Pertanian perkebunan dan pengembangan perikanan air tawar. Mewujudkan kawasan industri yang ramah lingkungan. d. Sistem Perwilayahan SUWALEK Sistem Perwilayahan Suwalek terdiri dari Wilayah Sukoharjo, Wilayah Watumalang dan Wilayah Leksono, mempunyai fungsi utama sebagai pusat pelayanan sosial-ekonomi skala wilayah, wisata, perdagangan dan jasa, permukiman kepadatan sedang, industri, pengembangan pertanian, dengan pusat pengembangannya di Perkotaan Leksono Karakteristik Perwilayahan Suwalek adalah lokasi berada pada bagian barat Wilayah Kabupaten Wonosobo, dan merupakan kawasan dengan fasilitas perkotaan yang mendukung pelayanan wilayah, Fasilitas pelayanan dasar seperti fasilitas ekonomi dan sosial, tersedia dan tersebar untuk pelayanan skala wilayah. Kepadatan penduduk dan kepadatan bangunan rendah-sedang, pelayanan perdagangan dan jasa, industri, pertanian perkebunan dan perikanan air tawar, sehingga dimasa yang akan datang dengan melihat fungsi kawasan harus diantisipasi dalam pola pemanfaatan lahan secara bijaksana untuk keberlanjutan pembangunan. Arahan Pengembangan Sistem Perwilayahan Suwalek : mewujudkan kelengkapan fasilitas pendukung perdagangan dan jasa dengan skala pelayanan wilayah; mewujudkan aksesibilitas internal dan eksternal yang baik; mewujudkan infrastruktur untuk mendukung aktivitas wilayah; mewujudkan kualitas dan jangkauan pelayanan sistem sarana dan prasarana yang terpadu dan merata; mewujudkan permukiman dengan kepadatan rendah-sedang mewujudkan pengembangan fasilitas pendukung pariwisata wilayah. mewujudkan Pertanian perkebunan dan pengembangan kehutanan. mewujudkan kawasan industri pada kawasan sawangan yang ramah lingkungan. Mewujudkan pengembangan wisata berbasis agroekoturisme dengan memanfaatkan sungai serayu sebagai potensi. e. Sistem Perwilayahan SAPILAWANG Bab VI - RPJMD Kabupaten Wonosobo VI-21

219 Sistem Perwilayahan Sapilawang terdiri dari Wilayah Sapuran, Wilayah Kepil dan Wilayah Kalibawang, mempunyai fungsi utama sebagai pusat pelayanan sosial-ekonomi skala wilayah, wisata, perdagangan dan jasa skala wilayah, permukiman kepadatan rendah sedang, industri, pengembangan pertanian perkebunan dan kehutanan, dengan pusat pengembangannya di Perkotaan Sapuran Karakteristik Perwilayahan Suwalek adalah Fasilitas pelayanan dasar seperti fasilitas ekonomi dan sosial, tersedia dan tersebar untuk pelayanan skala wilayah. Kepadatan penduduk dan kepadatan bangunan rendah-sedang, pelayanan perdagangan dan jasa, industri, pertanian perkebunan dan kehutanan. Merupakan wilayah penghubung jalur wisata Borobudur Dieng. Arahan Pengembangan Sistem Perwilayahan Sapilawang : mewujudkan kelengkapan fasilitas pendukung dengan skala pelayanan wilayah; mewujudkan aksesibilitas internal dan eksternal yang baik; mewujudkan infrastruktur untuk mendukung aktivitas wilayah; mewujudkan kualitas dan jangkauan pelayanan sistem sarana dan prasarana yang terpadu dan merata; mewujudkan permukiman dengan kepadatan rendah-sedang mewujudkan pengembangan fasilitas pendukung pariwisata wilayah. mewujudkan Pertanian perkebunan dan pengembangan kehutanan. mewujudkan kawasan industri yang ramah lingkungan. Mewujudkan pengembangan wisata berbasis agroekoturisme. f. Sistem Perwilayahan KALIWADAS Sistem Perwilayahan Kaliwadas terdiri dari Wilayah Kaliwiro dan, Wilayah Wadaslintang, mempunyai fungsi utama sebagai pusat pelayanan sosialekonomi skala wilayah, wisata, perdagangan dan jasa skala wilayah, permukiman kepadatan rendah sedang, pengembangan pertanian perkebunan dan kehutanan, dengan pusat pengembangannya di Perkotaan Kaliwiro Karakteristik Perwilayahan Kaliwadas adalah Fasilitas pelayanan dasar seperti fasilitas ekonomi dan sosial, tersedia dan tersebar untuk pelayanan skala wilayah. Kepadatan penduduk dan kepadatan bangunan rendah-sedang, pelayanan perdagangan dan jasa skala wilayah, pertanian perkebunan dan kehutanan, pengembangan perikanan air tawar (perikanan waduk).. Arahan Pengembangan Sistem Perwilayahan Sapilawang : mewujudkan kelengkapan fasilitas pendukung dengan skala pelayanan wilayah; mewujudkan aksesibilitas internal dan eksternal yang baik; mewujudkan infrastruktur untuk mendukung aktivitas wilayah; mewujudkan kualitas dan jangkauan pelayanan sistem sarana dan prasarana yang terpadu dan merata; Bab VI - RPJMD Kabupaten Wonosobo VI-22

220 mewujudkan permukiman dengan kepadatan rendah-sedang mewujudkan pengembangan fasilitas pendukung pariwisata wilayah dengan berbasis agroecotourism. mewujudkan Pertanian perkebunan, kehutanan dan perikanan air tawar dengan pengembangan perikanan system keramba. Bab VI - RPJMD Kabupaten Wonosobo VI-23

221 BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH Visi dan Misi dalam pembangunan Kabupaten Wonosobo tahun perlu diterjemahkan dalam rumusan kebijakan umum dan program secara konsisten dan spesifik. Kebijakan umum dan program pembangunan merupakan suatu jembatan konseptual untuk menghubungkan antara rumusan tujuan jangka menengah dengan capaian pembangunan jangka menengah dan tahunan. Kebijakan umum merupakan arah kebijakan yang diambil dalam rangka mencapai sasaran yang terukur dari masingmasing sasaran dalam RPJMD sedangkan program pembangunan merupakan instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh SKPD atau bersama masyarakat, yang dikoordinasikan oleh pemerintah daerah untuk mencapai sasaran dan tujuan pembangunan daerah. Sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010perumusan kebijakan umum dan program pembangunan daerah dalambab tujuh bertujuan untuk menggambarkan keterkaitan antara bidangurusan pemerintahan daerah dengan rumusan indikator kinerjasasaran yang menjadi acuan penyusunan program pembangunanjangka menengah daerah berdasarkan strategi dan arah kebijakan yangditetapkan. Melalui rumusan kebijakan umum, diperoleh sarana untukmenghasilkan berbagai program yang paling efektif dalam mencapaisasaran. Untuk memantapkan tujuan dan sasaran visi dan misi pembangunan tersebut didukungoleh kebijakan-kebijakan dalam merespon percepatan pelaksanaan prioritaspembangunan nasional dalam rangkapercepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional yangmerupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional(RPJMN ) serta dalam rangka mensinergikan program prioritas pembangunanprovinsi Jawa Tengah. RPJMD yang merupakan salah satu tahapan dalam arah pembangunan RPJPDKabupaten Wonosobo ditujukan untuk memantapkan pencapaian masyarakatyang sejahtera disegala bidang yang ditandai dengan peningkatan angka IPM.Kebijakan umum RPJMD ini pada akhirnya ditujukan sebagai upaya untukmewujudkan visi Kabupaten Wonosobo pada yaitu Wonosobo Yang Bersatu Untuk Maju, Mandiri, Sejahtera Untuk Semua Penyusunan kebijakan umum pembangunan Kabupaten Wonosobo tahun dikelompokkan sesuai tujuan pembangunan Kabupaten Wonosobo yang ingin dicapai dalam kurun waktu lima tahun ke depan yaitu (1)Membangun semangat persatuan, kesatuan dan toleransi sebagai modal pembangunan; (2) Meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan untuk perbaikan pelayanan publik; (3) Meningkatkan produktivitas, kemampuan pengelolaan sumber daya dan membangun budaya berdikari; (4)Terwujudnya pertumbuhan yang berkeadilan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan bidang pemerintahan serta (5)Terwujudnya Bab VII - RPJMD Kabupaten Wonosobo VII- 1

222 prinsip berkelanjutan dan berkesinambungan dalam pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam. Program program pembangunan yang disusun dalam RPJMD untukkurun waktu 5 (lima) tahun yang akan datang terdiri dari 3 jenis programrpjmd Kabupaten Wonosobo Tahun yang dilaksanakan oleh SKPD/Unit kerja yang berwenang sesuai denganbidang kewenangannya. Program program tersebut antara lain: 1. Program SKPD yang merupakan program yang dirumuskanberdasarkan tugas dan fungsi SKPD. 2. Program lintas SKPD yang merupakan program yang melibatkan lebihdari satu SKPD untuk mencapai tujuan dan sasaran pembangunan yangditetapkan. 3. Program kewilayahan yang merupakan program pembangunan daerahuntuk terciptanya keterpaduan, keserasian, keseimbangan lajupertumbuhan, dan keberlanjutan pembangunan antar wilayah/antarkawasan dalam kecamatan di wilayah Kabupaten Wonosobo. Selanjutnya gambaran kebijakan umum pembangunan Kabupaten Wonosobo tahun beserta program pembangunanya adalah sebagai berikut: A. Pembangunan wilayah tidak dapat dilepaskan dari keamanan dan ketertiban wilayah yang disertai dengan semangat persatuan, kesatuan dan toleransi. Persatuan, kesatuan dan toleransi akan berujung pada stabilitas keamanan wilayah dan secara signifikan akan berpengaruh terhadap kelangsungan pembangunan wilayah. Berdasarkan hal tersebut, sebagai upaya mencapai visi pembangunan Kabupaten Wonosobo, maka penetapan misi Membangun semangat persatuan, kesatuan dan toleransi sebagai modal pembangunan mutlak diperlukan. Beberapa upaya yang dapat diterapkan untuk membangun semangat persatuan, kesatuan dan toleransi sebagai modal pembangunan antara lain dengan memperkuat pendidikan politik dan wawasan kebangsaan masyarakat, memperkuat iklim demokrasi serta meningkatkan kesadaran dan kualitas penegakan hukum dan HAM guna meminimalisasi terjadinya ancaman terhadap kemanan dan ketertiban masyarakat. Hal tersebt diperkuat dengan meningkatkan peran serta masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat melalui peningkatan pemahaman masyarakat tentang toleransi keberagaman. Secara lebih rinci kebijakan Umum dan program untukmembangun semangat persatuan, kesatuan dan toleransi sebagai modal pembangunan dijabarkan sebagai berikut : 1. Mengembangan pendidikan politik bagi masyarakat untuk meningkatkan partisipasi politik. Program pendidikan politik masyarakat. 2. Menguatkan iklim demokrasi, keterbukaan dan partisipasi. Program Peningkatan Kelembagaan Politik. Bab VII - RPJMD Kabupaten Wonosobo VII- 2

223 3. Mengakselerasi diseminasi isu tentang Wonosobo Ramah HAM. Program Pengembangan Wawasan Kebangsaan 4. Meningkatkan kesadaran dan kualitas penegakan Hukum dan HAM. Program peningkatan kesadaran dan penegakan hukum dan HAM 5. Meningkatkan peran lembaga keagamaan dan lembaga sosial pendidikan keagamaan Program kemitraan pengembangan wawasan kebangsaan 6. Meningkatkan kualitas pembinaan dan pelayanan bidang keagamaan. Program pengembangan wawasan kebangsaan 7. Menumbuhkan nilai nilai toleransi, harmoni dan penghormatan melalui pendidikan karakter. Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun. Program Pendidikan Menengah. Program Pendidikan Anak Usia Dini. 8. Meningkatkan fungsi keluarga dalam pembentukan moral dan etika. Program Pemberdayaan Keluarga 9. Memperkuat pranata sosial untuk meningkatkan keeratan (kohesi) sosial. Memperkuat pranata sosial untuk meningkatkan keeratan (kohesi) sosial 10. Mengembangkan kemitraan pemerintah, lembaga dan masyarakat dalam menciptakan ketentraman dan ketertiban umum. Program pemberdayaan masyarakat untuk menjaga ketertiban dan keamanan 11. Mengembangkan nilai kearifan lokal yang mendukung semangat gotongroyong dan kebersamaan. Program Pengembangan Nilai Budaya. 12. Mengoptimalkan pengawasan dan pembinaan kantrantibmas dan pencegahan tindak kriminal secara proaktif. Program pemeliharaan kantrantibmas dan pencegahan tindak kriminal. 13. Mengembangkan metode penegakan Perda secara lebih partisipatif. Program peningkatan pemberantasan penyakit masyarakat (Pekat). 14. Meningkatkan partisipasi aktif masyarakat dan komunitas dalam kemitraan stabilitas, ketentraman, dan ketertiban. Program peningkatan keamanan dan kenyamanan lingkungan. B. Untuk menjamin tercapainya pembangunan Kabupaten Wonosobo, maka perlu ditunjang oleh kapasitas aparatur. Dalam hal ini unsur pemerintahan akan berperan sebagai agen yang menjaga keseimbangan pembangunan. Aparatur yang berkualitas akan menjadi katalisator bagi pembangunan Kabupaten Wonosobo.Birokrasi dan aparatur dengan tugas utama pelayanan publik menjadi kunci bagi efektivitas dan efisiensi pembangunan. Berdasarkan hal tersebut maka reformasi birokrasi diharapkan mampu menciptakan optimalisasi bagi penyediaan pelayanan publik. Upaya- upaya yang dapat dilakukan dalam meningkatkan pelayanan publik melalui reformasi birokrasi Bab VII - RPJMD Kabupaten Wonosobo VII- 3

224 antara lain melalui meningkatkan kualitas kinerja aparatur, mempersingkat waktu pelayanan administrasi dan mengembangkan sistem pelayanan berbasis teknologi. Kebijakan Umum untuk Meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan untuk perbaikan pelayanan publik Kabupaten Wonosobo adalah sebagi berikut : 1. Menguatkan kapasitas sistem perencanaan pembangunan daerah yang partisipatif dan komprehensif. Program Perencanaan Pembangunan Daerah. 2. Membangun data basis terintegrasi sebagai sistem penopang perencanaan. Program Pengembangan data/informasi. 3. Menguatkan kualitas perencanaan tematik untuk mendukung pencapaian penyelenggaraaan pemerintahan. Program Perencanaan Sosial Budaya. Program Perencanaan Pembangunan Ekonomi. Program Perencanaan Wilayah dan Sumber Daya Alam 4. Meningkatkan kinerja penyelenggaraan pemerintahan yang efektif dan efisien. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur. Program Penataan Peraturan Perundang-undangan. Program pembinaan dan pengembangan aparatur. Program Peningkatan Disiplin Aparatur. 5. Membangun dan mengembangkan sistem prosedur dan tata kerja birokrasi sesuai ASN. Program Peningkatan Pelayanan Publik. 6. Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan. Program peningkatan pengembangan sistem pelaporan capaian kinerja dan keuangan. Program Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah. Program pembinaan dan fasilitasi pengelolaan keuangan kabupaten/ kota. 7. Mengoptimalkan pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan pemerintahan. Program Penataan dan Penyempurnaan kebijakan sistem dan prosedur pengawasan. Program Peningkatan Profesionalisme tenaga pemeriksa dan aparatur pengawasan. 8. Mengembangkan sistem penopang pemerintahan dan birokrasi berbasis TIK. Program optimalisasi pemanfaatan teknologi informasi. 9. Mengembangkan layanan informasi publik untuk meningkatkan partisipasi masyarakat. Program pengembangan komunikasi, informasi dan media massa. 10. Mengembangkan statistik daerah untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan. Program pengembangan data/informasi/statistik daerah. 11. Optimalisasi pemanfaatan persandian untuk pengamanan informasi. Program pengkajian dan penelitian bidang komunikasi dan informasi. 12. Mengembangkan sistem pengelolaan kearsipan untuk menunjang akuntabilitas Bab VII - RPJMD Kabupaten Wonosobo VII- 4

225 Program penyelamatan dan pelestarian dokumen/arsip daerah. Program perbaikan sistem administrasi kearsipan. 13. Mengembangkan birokrasi yang egaliter dan berintegritas. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur. 14. Perbaikan dan Peningkatan Kualitas Layanan Publik. Peningkatan kemudahan dan akses layanan melalui pelayanan terpadu. 15. Mengembangkan kemitraan hubungan dengan beberapa elemen pemangku kepentingan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Program peningkatan pelayanan kedinasan kepala daerah/ wakil kepala daerah. Program Pengembangan Kemitraan. 16. Melakukan sinkronisasi dan harmonisasi produk hukum dan kebijakan pemerintahan. Program Penataan Peraturan Perundang-undangan. Program peningkatan kapasitas lembaga perwakilan rakyat daerah. C. Pembangunan ekonomi memiliki cakupan yang luas meliputi beberapa sektor, seperti misalnya perdagangan dan jasa, pertanian, industri, pariwisata, koperasi dan UKM serta investasi dan modal. Misi Meningkatkan produktivitas, kemampuan pengelolaan sumber daya dan membangun budaya berdikari sejalan dengan pokok visi pembangunan Kabupaten Wonosobo untuk menciptakan Wonosobo Yang Bersatu Untuk Maju, Mandiri, Sejahtera Untuk Semua. Untuk sektor industri dan jasa, perkembangan diarahkan untuk mendorong potensi perdagangan dan jasa dalam rangka meningkatkan PAD. Pada kondisi eksisting, perdagangan dan jasa merupakan sektor yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Kabupaten Wonosobo. Meskipun demikian pada kondisi eksisting pemanfaatannya belum dilakukan secara optimal. Sektor perdagangan dan jasa erat kaitannya dengan transaksi yang terjadi di suatu wilayah, untuk mendorong transaksi maka berbagai upaya seperti misalnya meningkatkan jaminan ketersediaan kontinuitas pasokan komoditas, menciptakan kepastian mengenai mutu dan harga barang, serta memberikan jaminan mengenai stabilitas harga barang perlu dilakukan. Sejalan dengan upaya- upaya tersebut, regulasi terkait perdagangan berperan penting untuk memberikan arahan serta batasan dalam pelaksanaannya. Berdasarkan hal tersebut maka untuk mengoptimalkan sektor perdagangan, perlu pula ditunjang dengan keberadaan regulasi terkait usaha perdagangan dan jasa yang memadai. Untuk sektor pariwisata, pengembangan diarahkan pada optimalisasi pengembangan potensi pariwisata serta peningkatan pengelolaan objek wisata eksisting. Upaya- upaya yang dapat dilakukan dalam rangka pengembangan sektor pariwisata dalam rangka meningkatkan competitive advantage sektor ekonomi Kabupaten Wonosobo antara lain melalui kerjasama antara pemerintah dengan masyarakat dan dunia usaha serta melalui branding dan promosi pemasaran objek wisata. Bab VII - RPJMD Kabupaten Wonosobo VII- 5

226 Untuk sektor industri, pengembangan lebih diarahkan pada mendorong perkembangan agroindustri ramah lingkungan. Beberapa upaya terkait antara lain melalui pengembangan insentif bagi industri yang telah melakukan produksi dan pengelolaan limbah sesuai dengan kaidah-kaidah ramah lingkungan. Selain dari pada itu, untuk memberikan imbas pada perekonomian lokal, maka keberadaan sektor industri perlu dikaitkan dengan penggunaan sumber daya dan bahan baku lokal. Adapun untuk sektor pertanian,peternakan dan perikanan, pengembangan lebih diarahkan pada pengoptimalan potensi pertanian peternakan dan perikanan serta penguasaan petani dan peternak terhadap teknologi pertanian dan peternakan. Di satu sisi upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan produktivitas, di sisi lain upaya pengoptimalan potensi pertanian, perikanan dan peternakan dimaksudkan untuk mencapai kemandirian pangan di Kabupaten Wonosobo. Kebijakan Umum untukmeningkatkan produktivitas, kemampuan pengelolaan sumber daya dan membangun budaya berdikari. 1. Mengembangkan pelatihan kerja berbasis vokasi dalam rangka memenuhi kebutuhan dunia usaha. Program Peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja. Program Pendidikan Menengah. Program Pendidikan non formal. 2. Mengembangkan standar kompetensi. Program Perlindungan Pengembangan Lembaga Ketenagakerjaan. 3. Meningkatkan Tata kelola Lembaga Penyelengara Pendidikan dan Pelatihan. Program Peningkatan kesempatan kerja. 4. Membangun etos kerja yang produktif. Program peningkatan upaya penumbuhan kewirausahaan dan kecakapan hidup pemuda. 5. Meningkatkan produksi, produktivitas dan kualitas produk tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan. Program Peningkatan produksi pertanian/perkebunan. Program Peningkatan penerapan teknologi pertanian/perkebunan. Program peningkatan pemasaran hasil produksi pertanian/perkebunan. 6. Menyediakan serta meningkatkan infrastruktur yang mendukung pertanian. Program peningkatan Ketahanan Pangan. 7. Meningkatkan produksi hasil peternakan dan populasi ternak. Program Peningkatan produksi hasil peternakan. Program Pencegahan dan penanggulangan penyakit ternak. Program Peningkatan penerapan teknologi peternakan. Program Peningkatan pemasaran hasil produksi peternakan. 8. Meningkatkan kelembagaan pertanian. Program Peningkatan kesejahteraan petani. Program Pemberdayaan penyuluh pertanian/perkebunan lapangan. 9. Meningkatkan produksi perikanan. Program Pengembangan budidaya perikanan. Bab VII - RPJMD Kabupaten Wonosobo VII- 6

227 Program Pengembangan budidaya perikanan. Program Pengembangan sistem penyuluhan perikanan. Program Optimalisasi pengelolaan dan pemasaran perikanan. 10. Menjaga ketersediaan dan stabilitas harga barang produksi dan komoditas pokok. Program Perlindungan konsumen dan pengamanan perdagangan. 11. Menjamin kemudahan akses terhadap input produksi dan barang pokok. Program Peningkatan efisiensi perdagangan dalam negeri. 12. Mengembangkan ekspor dan meningkatkan mutu komoditas ekspor. Program Peningkatan kerjasama perdagangan internasional Program Peningkatan dan pengembangan ekspor. 13. Mengembangkan industri hulu hilir. Program Pengembangan industri kecil dan menengah. Program Penataan struktur industri. Program Pengembangan sentra-sentra industri potensial. Program Peningkatan Penerapan Standarisasi Produk dan Sertifikasi. Program Peningkatan kapasitas iptek dan sistem produksi. Program Peningkatan kemampuan teknologi industri. 14. Meningkatkan pembinaaan dan sarana prasarana penunjang kegiatan ekonomi. Program Peningkatan Infrastruktur Perdagangan. Program Pembinaan pedagang kaki lima dan asongan. 15. Menciptakan iklim usaha yang kondusif. Program Penciptaan iklim usaha kecil menengah yang kondusif Program Pengembangan kewirausahaan dan keunggulan kompetitif usaha kecil menengah Program Peningkatan kualitas kelembagaan koperasi 16. Meningkatkan kemandirian pangan. Program Peningkatan Ketahanan Pangan. Program Peningkatan Ketahan Pangan (pertanian/perkebunan). Program Pengawasan Obat dan Makanan. 17. Mendorong konsumsi pangan lokal yang mendukung usaha pertanian. Program Pengembangan diversifikasi dan pola konsumsi pangan. 18. Meningkatkan apresiasi serta pengelolaan warisan budaya dan kreatifitas karya budaya untuk kesejahteraan. Program Pengelolaan Kekayaan Budaya. 19. Menumbuhkan budaya olahraga dan berprestasi masyarakat. Program Pengembangan dan Keserasian Kebijakan Pemuda. Program Pengembangan Kebijakan dan Manajemen Olah Raga. Program Pembinaan dan Pemasyarakatan Olah Raga. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Olah Raga. 20. Menumbuhkan kebanggaan terhadap produk dan identitas Wonosobo. Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah Berbasis Potensi Lokal. 21. Meningkatkan budaya baca dan cerdas bermedia. Program Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan. 22. Mengembangkan ekonomi kreatif. Bab VII - RPJMD Kabupaten Wonosobo VII- 7

228 Program Pengembangan Ekonomi Kreatif. 23. Mengarahkan litbang daerah sebagai salah satu penopang ekonomi. Program pengkajian dan penelitian. 24. Mewujudkan Wonosobo sebagai daerah pariwisata/budaya yang didukung pertanian berkelanjutan berbasis kearifan lokal (agro-eco-culture-tourism). Program Pengembangan Pemasaran Pariwisata. Program Pengelolaan Kekayaan Budaya. Program Pengembangan Destinasi Pariwisata. Program Pengembangan Kemitraan. 25. Mengoptimalkan sumber-sumber pendapatan asli daerah (untuk memperkuat kapasitas fiskal daerah). Peningkatan Pendapatan Asli Daerah. 26. Mengoptimalkan kinerja badan usaha milik daerah. Program Pengembangan BUMD. 27. Meningkatkan Kemudahan, Perlindungan dan Kepastian Berusaha. Program Penciptaan iklim usaha kecil menengah yang kondusif Program Pengembangan sistem pendukung usaha bagi usaha mikro kecil menengah 28. Mengembangkan sistem penopang untuk kemudahan informasi bisnis dan investasi. Program Peningkatan iklim investasi dan realisasi investasi. Program Peningkatan promosi dan kerjasama investasi. 29. Meningkatkan kerjasama daerah dalam pengembangan potensi ekonomi dan peningkatan kesejahteraan. Program Peningkatan Kerjasama Antar Pemerintah Daerah. D. Penetapan misi mewujudkan pertumbuhan yang berkeadilan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan sejalan dengan upaya membangun Kabupaten Wonosobo menuju kehidupan yang lebih berkualitas. Dengan pertumbuhan yang berkeadilan melalui pemerataan pembangunan, diharapkan secara langsung akan meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat dan mengentaskan kemiskinan. Program unggulan pada misi mewujudkan pertumbuhan yang berkeadilan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan adalah penerapann kebijakan one district one product (ODOP) dan one village one product (OVOP) sebagai basis pengembangan potensi lokal guna mendorong pembangunan ekonomi Kabupaten wonosobo yang berbasis pada potensi sumberdaya masing-masing wilayah di Kabupaten Wonosobo. Penyediaan infrastruktur dasar secara merata di semua wilayah memiliki pengaruh luas terhadap pembangunan di berbagai sektor. Infrastruktur dasar dalam hal ini meliputi infrastruktur transportasi, infrastruktur air bersih, infrastruktur pendukung kegiatan pertanian dan infrastruktur telekomunikasi. Dalam implementasinya, pembangunan infrastruktur terkait erat dengan pengembangan wilayah. Penyedian infrastruktur dapat menstimulus perkembangan pada kawasan kurang berkembang, sehingga perencanaan infrastruktur dan perencanaan Bab VII - RPJMD Kabupaten Wonosobo VII- 8

229 pengembangan wilayah perlu dilakukan secara seiring untuk menciptakan adanya keterpaduan. Upaya- upaya yang dapat dilakukan antara lain melalui mengoptimalkan ketersediaan dan kualitas infrastruktur dasar guna meningkatkan aksesibilitas. Perbaikan dalam sektor pendidikan menjadi hal yang tidak kalah penting. Penetapan sektor pendidikan sebagai salah satu prioritas didasari oleh pentingnya aspek ini dalam pembangunan Kabupaten Wonosobo, masyarakat sebagai aktor utama dalam penyelenggaraan pembangunan Kabupaten Wonosobo perlu memiliki kapasitas dan daya saing dalam mendukung keberhasilan pembangunan. Dalam rangka membangun sumber daya manusia Kabupaten Wonosobo yang berkualitas maka diperlukan upaya upaya untuk meningkatkan kualitas dan cakupan layanan pendidikan, yang mana antara lain dengan meningkatkan jumlah fasilitas pendidikan yang tersebar secara merata dan mencakup seluruh wilayah, meningkatkan kualitas pada fasilitas- fasilitas pendidikan formal dan non formal, meningkatkan kualitas manajemen pengelolaan pendidikan, serta meningkatkan kompetensi dan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. Seperti halnya upaya pengembangan sektor pendidikan, upaya mengoptimalkan kuantitas dan kualitas pelayanan kesehatan juga sejalan dengan upaya menciptakan Sejahtera Untuk Semua. Dalam hal ini peningkatan taraf kesehatan masyarakat menjadi fokus yang ingin dicapai. Taraf kesehatan masyarakat menjadi satu tolak ukur bagi kualitas SDM yang secara langsung berpengaruh terhadap produktivitas penduduk. SDM yang kreatif, inovatif dan kontributif tidak akan berpengaruh signifikan terhadap pembangunan Kabupaten Wonosobo terhadap tanpa didukung oleh taraf kesehatan masyarakat yang tinggi. Untuk mendukung peningkatan taraf kesehatan masyarakat, beberapa upaya peningkatan kuantitas fasilitas kesehatan serta upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan perlu dilakukan. Dijabarkan lebih rinci beberapa upaya untuk mendukung pencapaian misi ini antara lain meningkatkan kuantitas dan kualitas puskesmasdan rumah sakit, menurunkan angka kesakitan penduduk melalui berbagai upaya pemberdayaan dan peningkatan kesadaran masyarakat untuk menjaga pola hidup bersih serta meningkatkan jumlah tenaga medis secara optimal yang melayani seluruh wilayah Kabupaten Wonosobo. Terkait dengan aspek sosial, beberapa upaya yang akan diterapkan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat antara lain dengan peningkatan upaya pemenuhan layanan bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS)serta peningkatan partisipasi masyarakat dalam upaya pengentasan masalah kesejahteraan sosial. Kebijakan Umum untukterwujudnya pertumbuhan yang berkeadilan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan. 1. Akselerasi pembangunan wilayah melalui penyediaan infrastruktur dasar berkualitas. Program Pembangunan Jalan dan Jembatan. 2. Implementasi kebijakan afirmasi (pemihakan) kawasan kurang berkembang. Bab VII - RPJMD Kabupaten Wonosobo VII- 9

230 Program perencanaan Wilayah dan SDA. Program pembangunan infrastruktur perdesaaan. Program peningkatan kapasitas aparatur pemerintah desa. 3. Meningkatkan pemerataan penduduk sesuai dengan pertumbuhan wilayah. Program Pengembangan Wilayah Strategis dan Cepat Tumbuh. 4. Mengembangkan aksesibilitas transportasi yang memadai untuk mengakselerasi pembangunan. Program Pembangunan Jalan san Jembatan. 5. Mengembangkan sistem transportasi yang efisien tataran transportasi lokal (tatralok). Program Pembangunan Prasarana dan Fasilitas Perhubungan. 6. Menyediakan sarana dan prasarana transportasi yang layak. Program peningkatan dan pengamanan lalu lintas berspektif ramah HAM. 7. Menciptakan desa pusat pertumbuhan. Program Perencanaan wilayah dan Sumber Daya Alam. 8. Meningkatkan keterkaitan antar kawasan dalam pembangunan wilayah. Program Pengembangan Wilayah Strategis dan Cepat Tumbuh. 9. Menumbuhkan Wirausaha baru. Program Pengembangan Kewirausahaan dan Keunggulan Kompetitif Usaha Kecil Menengah. 10. Memperluas akses informasi dan peluang kerja. Program Peningkatan Kesempatan Kerja. 11. Meningkatkan kapasitas tenaga kerja terutama bagi masyarakat kelompok rentan. Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja. 12. Meningkatkan kemudahan akses permodalan termasuk berbagai skema kredit untuk usaha mikro dan rumah tangga. Program Pengembangan Sistem Pendukung Usaha Bagi Usaha Mikro Kecil Menengah. 13. Mengembangkan kemitraan dengan dunia usaha dan korporat. Program Pengembangan Industri Kecil dan Menengah. 14. Mereformulasi upaya pemberdayaan masyarakat berbasis kekuatan dan potensi. Program peningkatan keberdayaan masyarakat. 15. Mengembangkan usaha ekonomi produktif desa. Program pengembangan lembaga ekonomi desa. 16. Menerapkan one district one product (ODOP) dan one village one product (OVOP) sebagai basis pengembangan potensi lokal. Program Perencanaan pembangunan ekonomi. Program penyiapan potensi sumberdaya, sarana dan prasarana daerah. 17. Mengoptimalkan dana transfer desa untuk menopang pengembangan ekonomi pedesaan. Program pembinaan dan fasilitasi pengelolaan keuangan desa. 18. Meningkatkan dan memeratakan akses layanan pendidikan formal dan non formal secara berkeadilan. Program Pendidikan Anak Usia Dini Bab VII - RPJMD Kabupaten Wonosobo VII- 10

231 Program Pendidikan Nonformal Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun 19. Meningkatkan mutu layanan pendidikan. Program Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. 20. Meningkatkan kualitas dan kuantitas layanan sekolah inklusi. Program Pendidikan Luar Biasa. 21. Meningkatkan menajemen tata kelola pendidikan. Program Manajemen Pelayanan Pendidikan. 22. Meningkatkan akses dan kualitas layanan pendidikan bagi penduduk usia dewasa. Program Pendidikan Non Formal. 23. Meningkatkan pemerataan akses dan mutu layanan kesehatan dasar dan rujukan. Program Upaya Kesehatan Masyarakat Program peningkatan pelayanan kesehatan anak balita Program Pengadaan Obat dan Perbekalan Kesehatan Program pengadaan, peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas/puskesmas pembantu dan jaringannya Program pengadaan, peningkatan sarana dan prasarana rumah sakit/rumah sakit jiwa/rumah sakit paru-paru/rumah sakit mata 24. Meningkatkan ketersediaan, pemerataan dan mutu tenaga kesehatan. Program Kemitraan peningkatan pelayanan kesehatan. 25. Meningkatkan mutu dan cakupan jaminan kesehatan. Program Standarisasi Pelayanan Kesehatan. Program Pelayanan Kesehatan Penduduk Miskin. 26. Meningkatkan kesadaran perilaku serta kemandirian masyarakat dan keluarga dalam memelihara kesehatan melalui upaya preventif, promotif dan kuratif. Program Pencegahan Penyakit Menular Program Pencegahan Penyakit Tidak Menular Program Perbaikan Gizi Masyarakat Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan masyarakat Program pengawasan dan pengendalian kesehatan makanan Program Pengembangan Lingkungan Sehat 27. Menyelenggarakan perlindungan sosial secara komprehensif. Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial. Program Pembinaan Anak Terlantar. Program Pembinaan Para Penyandang Cacat dan Trauma. Program Pembinaan Panti Asuhan/ Panti Jompo. 28. Memperkuat peran kelembagaan sosial. Program Pemberdayaan Kelembagaan Kesejahteraan Sosial. 29. Membangun sistem penopang bagi penyelenggaraan layanan untuk PMKS. Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunitas Adat Terpencil (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Lainnya. 30. Menurunkan angka kesenjangan antara jumlah rumah terbangun dengan jumlah rumah yang dibutuhkan masyarakat (backlog). Bab VII - RPJMD Kabupaten Wonosobo VII- 11

232 Program pengembangan perumahan. Program perbaikan perumahan akibat bencana alam/sosial. Program Pemberdayaan Komunitas Perumahan. Program pengelolaan areal pemakaman. 31. Manajemen lingkungan dan mempercepat cakupan dan kualitas sanitasi di kawasan pemukiman. Program Lingkungan Sehat Perumahan. 32. Meningkatkan kinerja pengelolaan air minum dan air limbah. Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum dan Air Limbah. 33. Meningkatkan efisiensi pemanfaatan ruang bagi kawasan pemukiman. Program Pengendalian Pemanfaatan Ruang. 34. Meningkatkan kualitas pembangunan infrastruktur. Program pembangunan jalan dan jembatan. Program rehabilitasi/pemeliharaan jalan dan jembatan. Program inspeksi kondisi Jalan dan Jembatan. Program tanggap darurat Jalan dan Jembatan. Program Pembangunan sistem informasi/data base jalan dan jembatan. Program pembangunan saluran drainase/gorong-gorong. Program pembangunan turap/talud/bronjong. Program pembangunan jaringan irigasi. 35. Memperbesar aksesibilitas wilayah. Program Perencanaan Pengembangan Wilayah Strategis dan Cepat Tumbuh. Program pembangunan infrastruktur perdesaan. 36. Meningkatkan jaminan kesejahteraan sosial tenaga kerja. Program Perlindungan Pengembangan Lembaga Ketenagakerjaan. 37. Mengarusutamakan gender dalam pembangunan. Program keserasian kebijakan peningkatan kualitas Anak dan Perempuan. 38. Meningkatkan kapasitas perempuan. Program Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender dan Anak. Program Peningkatan peran serta dan kesetaraan gender dalam pembangunan. 39. Meningkatkan akses dan kualitas hidup, perlindungan, pencegahan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Program Peningkatan Kualitas Hidup dan Perlindungan Perempuan dan Anak. 40. Mengembangkan model pendidikan ramah anak. Program Pendidikan Dasar dan Menengah. 41. Meningkatkan kepastian hukum dan tertib administrasi bagi properti (tanah milik masyarakat). Program Pengembangan Sistem Informasi Pertanahan. 42. Penataan administrasi pertanahan terhadap lahan-lahan aset negara sebagai salah satu sumber daya pembangunan. Program Penataan, Penguasaan, Kepemilikan Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah. Program Penyelesaian konflik- konflik pertanahan. Bab VII - RPJMD Kabupaten Wonosobo VII- 12

233 43. Memperluas akses dan prosedur pelayanan adminduk dan capil. Program Penataan Administrasi Kependudukan. 44. Mendayagunakan data basis kependudukan untuk mendukung layanan publik. Program Pengembangan Data dan Informasi. 45. Meningkatkan kualitas dan pemerataan akses layanan KB. Program Keluarga Berencana. Program pelayanan kontrasepsi. 46. Meningkatkan ketahanan serta kesejahteraan keluarga melalui pemberdayaan dan partisipasi. Program pengembangan bahan informasi tentang pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang anak. Program Pemberdayaan Keluarga. 47. Peningkatan KIE dan peran peer to peer grup remaja dalam peningkatan pengetahuan kesehatan reproduksi dan pencegahan HIV/AIDs. Program kesehatan reproduksi remaja. E. Selain ditopang oleh sumber daya manusia yang berkualitas dan sektor ekonomi yang berdaya saing, untuk menciptakan pembangunan Kabupaten Wonosobo yang berkelanjutan perlu pula ditopang oleh pengelolaan lingkungan hidup dan Sumber daya Alam. Pengelolaan lingkungan hidup di Kabupaten Wonosobo diarahkan pada upaya meminimalkan dampak lingkungan yang timbul akibat kegiatan- kegiatan yang memacu perumbuhan ekonomi. Upaya yang dapat dilakukan untuk memelihara dan mengelola lingkungan hidup antara lain melalui penanggulangan pencemaran lingkungan, baik oleh limbah padat, cair maupun udara. Pengelolaan sumber daya alam diprioritaskan untuk pemanfaatan sumber daya alam secara bertanggung jawab dan sesuai dengan kiadah-kaidah konservasi dan lingkungan hidup guna menjamin keberlanjutan sesuai daya dukung dan daya tampung lingkungan Kabuapten Wonosobo. Upaya- upaya yang dapat dilakukan dalam rangka pemanfaatan sumber daya alam secara bertanggung jawab antara lain diwujudkan melalui keterpaduan rencana pembangunan dengan rencana tata ruang wilayah melalui perencanaan tata ruang secara terintegrasi, mulai dari perencanaan tata ruang, hingga ke pemanfaatan ruang dan pengendalian permanfaatan ruang. Khusus untuk kabupaten Wonosobo, aspek kebencanaan merupakan salah satu komponen yang perlu diakomodir dalam perencanaan pembangunan. Hal tersebut didasari oleh kondisi Kabupaten Wonosobo yang memiliki beberapa potensi bencana tanah longsor yang diakibatkan oleh gerakan tanah maupun potensi bencana gunung berapi. Meninjau historis kebelakang, beberapa bencana cenderung tidak dapat dihindarkan dan menggangu stabilitas pembangunan. Mitigasi berupa pencegahan terjadinya bencana tidak akan menghilangkan seluruh resiko bencana. Berdasarkan hal tersebut, maka upaya terkait penanganan aspek kebencanaan selain mengakomodir upaya mitigasi pelu pula untuk diarahkan pada Bab VII - RPJMD Kabupaten Wonosobo VII- 13

234 upaya adaptasi berupa peningkatan kapasitas kebencanaan masyarakat dan kewaspadaan dini masyarakat. Kebijakan Umum untukterwujudnya prinsip berkelanjutan dan berkesinambungan dalam pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam. 1. Menerapkan kebijakan tata ruang secara berkelanjutan, partisipatif dan berkeadilan. Program Perencanaan Tata Ruang. Program Pemanfaatan Ruang. Program Pengendalian Pemanfaatan Ruang. 2. Mewujudkan Wonosobo sebagai daerah pariwisata/budaya yang didukung pertanian berkelanjutan (agro-eco-culture-tourism). Program pengembangan ekowisata dan jasa lingkungan di kawasankawasan konservasi laut dan hutan. 3. Menerapkan kebijakan pembangunan dengan mempertimbangkan daya dukung dan daya tampung lingkungan untuk menjaga kualitas lingkungan hidup. Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup. Program Rehabilitasi dan Pemulihan Cadangan Sumber Daya Alam. 4. Membangun inisiasi dan kreasi berbasis komunitas untuk pengelolaan LH dan SDA secara berkelanjutan. Program Peningkatan Kualitas dan Akses Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup. Program pengawasan dan penertiban kegiatan rakyat yang berpotensi merusak lingkungan. Program peningkatan pengendalian polusi. Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam. 5. Memperluas cakupan layanan persampahan dan meningkatkan pengelolaan persampahan (pengumpulan, pengangkutan dan pengelolaan akhir). Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Persampahan. 6. Meningkatkan kualitas/praktek pertanian ramah lingkungan. Program peningkatan penerapan teknologi pertanian/perkebunan. Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup. Program pengembangan data/informasi/statistik daerah. 7. Implementasi prinsip Kota hijau dalam kebijakan pembangunan. Program pengelolaan ruang terbuka hijau (RTH). 8. Mewujudkan KLHS sebagai alat kontrol dan pengendali program. Program perencanaan prasarana wilayah dan sumber daya alam. 9. Mewujudkan partisipasi publik dalam perencanaan tata ruang. Program Perencanaan Tata Ruang. 10. Mengembangkan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim serta memperluas upaya pelestarian dan pengeloalaan keaneragaman hayati secara berkelanjutan. Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam. Program Pengembangan, Pengelolaan, dan Konservasi Sungai, Danau dan Sumber Daya Air Lainnya. Bab VII - RPJMD Kabupaten Wonosobo VII- 14

235 11. Mengembangkan dan pemanfaatan energi baru terbarukan. Program pembinaan dan pengembangan bidang ketenagalistrikan. Program pembinaan dan pengawasan bidang pertambangan. 12. Optimalisasi Pemanfaatan sumber- sumber energi alternatif dan teknologi tepat guna dalam pengelolaan energi yang menerapkan prinsip hemat energi. Program pembinaan dan pengembangan bidang energi. 13. Meningkatkan kemampuan adaptasi masyarakat. Program perencanaan pembangunan daerah rawan bencana. Program pencegahan dini dan penanggulangan korban bencana alam. Program kesiapsiagaan dan pengendalian bahaya kebakaran. Program pengawasan dan penertiban kegiatan rakyat yang berpotensi merusak lingkungan. 14. Meningkatkan upaya mitigasi bencana. Program peningkatan mitigasi bencana dan prakiraan iklim. 15. Meningkatkan investasi yang selaras dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Program Peningkatan Promosi dan Kerjasama Investasi. Selain kebijakan umum yang didasarkan pada tujuan yang ingin dicapai sesuai kelima misi embangunan 5 tahunan, pemerintah Kabupaten Wonosobo juga menerapkan kebijakan pendanaan pembangunan kewilayahan dengankonsep Pagu Indikatif Kecamatan. Hal ini dilakukan untuk lebih meningkatkanefesiensi dan efektifitas penyelenggaraan pemerintahan, terutama dalammendorong pencapaian target pembangunan di tiap kecamatan.adapun definisi operasional Pagu Indikatif Kecamatan adalah : 1. Pagu Indikatif Kecamatan (PIK) adalah sejumlah patokan batas anggaranbelanja yang bersifat indikatif untuk menampung usulan program/kegiatanhasil musrenbang kecamatan, program/kegiatan hasil aspirasi masyarakat serta pokok pikiran anggota dewan (Pokir) serta program/kegiatan teknokratis masing-masing SKPD; 2. Mekanisme penyusunan program/kegiatan untuk pagu indikatif kecamatanini dilakukan secara partisipatif melalui musrenbang kecamatan danberdasarkan prioritas dari beberapa program yang diusulkan oleh setiapdesa/kelurahan, yang menjadi prioritas pembangunan wilayah kecamatan, pembahasan anggaran aspirasi dan pokok pikiran anggota dewan dan juga KUA-PPAS; 3. Pelaksanaan program/kegiatannya sendiri dilakukan oleh SKPD terkait,sesuai dengan urusannya, disinkronkan dengan renja SKPD. 4. Jenis Program/kegiatan dibagi dalam 5misi pembangunan Kabupaten Wonosobo dengan proporsi yang berbeda. 5. PIK bukanlah alokasi dana yang diberikan kepada pihak kecamatan,melainkan total besaran dana pembangunan di kecamatan (bottom-up planning)yang dilaksanakan oleh SKPD. PIK menjadi pegangan bagi SKPD dalammenyusun dan merencanakan kegiatan (pembangunan) di kecamatan. Bab VII - RPJMD Kabupaten Wonosobo VII- 15

236 BAB VIII INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS YANG DISERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN Rencana program prioritas merupakan rencana program pembangunan daerah yang menunjang terhadap pencapaian visi, misi, tujuan Kepala Daerah terpilih Tahun dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Program pembangunan daerah mengacu pada Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 dengan mempertimbangkan pemenuhan pelayanan dasar kepada masyarakat sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM). Program pembangunan daerah yang ditetapkan disertai dengan beberapa indikator program yang akan dicapai pada akhir masa periode Kepala Daerah Tahun 2021 dengan mendasarkan pada capaian indikator program Tahun 2015 disertai pagu indikatif program yang merupakan jumlah dana yang tersedia untuk mendanai program prioritas tahunan yang penghitungannya berdasarkan standar satuan harga yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. lndikasi rencana program prioritas Pemerintah Kabupaten Wonosobo berisi program-program baik untuk mencapai visi dan misi pembangunan jangka menengah maupun untuk pemenuhan layanan SKPD dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah. Adapun pagu indikatif sebagai wujud kebutuhan pendanaan adalah jumlah dana yang tersedia untuk penyusunan program dan kegiatan tahunan. Program-program prioritas yang telah disertai kebutuhan pendanaan atau pagu indikatif selanjutnya dijadikan sebagai acuan bagi SKPD dalam penyusunan Rencana Strategis SKPD, termasuk dalam menjabarkannya ke dalam kegiatan prioritas beserta kebutuhan pendanaannya. Program prioritas untuk mendukung pencapaian tujuan pembangunan daerah Kabupaten Wonosobo terbagi ke dalam 6 (enam) urusan wajib pelayanan dasar, 18 (delapan belas) urusan wajib bukan pelayanan dasar, dan 6 (enam) urusan pilihan, 4 (empat) fungsi penunjang dan 4 (empat) urusan lainnya. Pencapaian target kinerja program (outcome) di masing-masing urusan tidak hanya didukung oleh pendanaan yang bersumber dari APBD Kabupaten Wonosobo, tetapi juga dari sumber pendanaan lainnya (APBN, APBD Propinsi, dan Sumber-sumber pendanaan lainnya). Namun demikian, pencantuman pendanaan di dalam Tabel 8.1 hanya yang bersumber dari APBD Kabupaten Wonosobo.

237 TABEL VIII.1 INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS YANG DISERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN URUSAN DAN PROGRAM PEMBANGUNAN (OUTCOME) BELANJA TIDAK LANGSUNG BELANJA LANGSUNG EKS BOP/BM URUSAN WAJIB PELAYANAN DASAR URUSAN PENDIDIKAN TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Indeks Integritas Siswa SMP NA NA Rata - Rata Indeks Nilai Sikap Siswa NA NA Baik Baik Baik Baik Baik 3 Anak Yang Berhadapan Dengan Hukum tingkat APM SD 94,23 94,23 94,91 95,59 95, 87 96,27 96,95 5 APK SD 103,92 103,92 103,24 102,56 101,89 101,18 100,50 6 APM SMP 75,71 75,71 78,24 80,77 83,33 85,83 88,36 7 APK SMP 100,3 100,3 104,42 108,54 112,66 116,78 120,89 8 Angka Putus Sekolah SD 0,08 0,08 0,072 0,064 0,056 0,048 0,04 9 Angka Putus Sekolah SMP 0,27 0,27 0,23 0,19 0,15 0,11 0,07 10 Rasio APK SMP penduduk usia sekolah 20% NA NA 0,2 0,4 0,6 0,7 0,9 penduduk termiskin dibanding 20% terkaya 11 Angka Kelulusan (AL) SD/MI 99,23 99,23 99,38 99,53 99,68 99, Angka Kelulusan (AL) SMP/MTs Angka Melanjutkan (AM) dari SD/MI ke 93,22 93,22 94,57 95,93 97,28 98, Angka Melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke 74,1 74,1 76,67 79,24 81,81 84,38 86,95 SMA/SMK/MA 15 Jumlah Sekolah Ramah Anak NA NA Program Pendidikan Anak Usia Dini Rp Rp Rp Rp Rp Rp Persentase PAUD yang menerapkan kurikulum NA NA 10% 30% 46% 65% 80% pendidikan karakter 2 APK PAUD 37,34 37,34 39,85 42,36 44,87 47,38 49,90 3 Program Pendidikan Non Formal Rp Rp Rp Rp Rp Rp Angka Melek Huruf Penduduk 15 Tahun ke Atas 98,3 98,3 98,64 98,97 99,31 99,7 99,99 4 Program Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Rp Rp Rp Rp Rp Rp Kependidikan INDIKATOR KINERJA PROGRAM 2 Persentase pendidik SD dengan kualifikasi pendidikan S1/D4 dan bersertifikat pendidik KONDISI KINERJA PADA AWAL RPJMD AKHIR PERIODE RPJMD ,12 74,12 79,29 84,47 89,65 94, Persentase pendidik SMP dengan kualifikasi pendidikan S1/D4 dan bersertifikat pendidik 94,07 94,07 95,26 96,44 97,63 98, Program Peningkatan Mutu Layanan Pendidikan Rp Rp Rp Rp Rp persentase SD berakreditasi B 82% 84,60% 87,20% 89,80% 92,40% 95% 2 Persentase SMP/MTs Minimal Berakreditasi B 79% 81% 83,50% 86% 88% 90% 3 Persentase SMA minimal berakreditasi B 80,90% 81,72% 82,40% 83,36% 84,20% 85% 4 Rata-rata Nilai Ujian Sekolah SD 7,12 7,19 7,27 7,3 7,42 7,5 6 Program Pendidikan Luar Biasa Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah Sekolah Inklusi SD Jumlah Sekolah Inklusi SMP Program Manajemen Pelayanan Pendidikan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Persentase Sekolah yang website aktif NA NA 10% 25% 45% 60% 75% 2 Adanya perbub tentang penerbitan ijin NA NA Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia pendidikan Bab VIII - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-2

238 URUSAN DAN PROGRAM PEMBANGUNAN INDIKATOR KINERJA PROGRAM (OUTCOME) 3 Rasio Guru / Murid SD (jumlah guru PNS SD per 1000 murid SD) 4 Rasio Guru / Murid SMP (jumlah guru PNS SMP per 1000 murid SMP) KONDISI KINERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD 2021 AWAL RPJMD 2015 TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP 42,87 42,87 41,29 39,71 38,13 36, URUSAN KESEHATAN Rp Rp Rp Rp Rp Rp Program Upaya Kesehatan Masyarakat Rp Rp Rp Rp Rp Rp Cakupan kunjungan Ibu Hamil K4 89,64 89,64 90,71 91,78 92,86 93, Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani 123,10% 123,10% 118,48% 113,86% 109,24% 104,62% 100% 3 Cakupan Persalinan yang ditolong oleh nakes yang mempunyai kompetensi kebidanan 99,70% 99,70% 99,76% 99,82% 99,88% 99,94% 100% 4 Cakupankunjungan nifas lengkap (KFL) 97,80% 97,80% 98,24% 98,68% 99,12% 99,56% 100% 5 Cakupan kunjungan neonatal lengkap (KNL) 97,83% 97,83% 98,26% 98,69% 99,13% 99,56% 100% 6 Cakupan penjaringan kesehatan anak sekolah 98,29% 98,29% 98,63% 98,97% 99,32% 99,66% 100% 7 Presentase penderita ganguan jiwa bebas pasung 8 Cakupan peduduk yang memiliki jaminan 95% 95% 95,6% 96,20% 96,80% 97,40% 98% 58,76% 58,76% 63% 67,27% 71,52% 75,80% 80% kesehatan 9 Proporsi bebas caries gigi pada usia 6 tahun NA NA 10% 32% 50% 70% 80% 10 Prosentase puskesmas melaksanakan program UKGS 11 Prosentase puskesmas melaksanakan screening gangguan penglihatan dan gangguan 12 Prosentase puskesmas melaksanakan 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% pemeriksaan dan surveilans jamaah haji 2 Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Anak Balita Rp Rp Rp Rp Rp Rp Cakupan Pelayanan Kesehatan Bayi (Kunjungan 99,20% 99,20% 99,18% 99,34% 99,50% 99,66% 100% Bayi) 2 Angka kelangsungan hidup bayi 99,03% 99,03% 99,22% 99,42% 99,61% 99,80% 99,25% 3 Cakupan pelayanan kesehatan anak balita 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 4 Cakupan pelayanan anak balita sakit dengan 97,60% 97,60% 98,08% 98,56% 99,04% 99,52% 100% 3 Program Pengadaan Obat dan Perbekalan Kesehatan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Persentase ketersediaan obat dan vaksin di 90% 90% 92% 94% 96% 98% 100% puskesmas 2 Persentase penggunaan obat rasional di 42% 42% 48,60% 55,20% 61,80% 68,40% 75% puskesmas 3 Rasio kebutuhan : ketersediaan obat NA NA 1:0,6 1:0,7 1: 0,8 1: 0,9 1:1 4 Persentase pelayanan kefarmasian sesuai 41,60% 41,60% 46,68% 51,76% 56,84% 61,92% 67% standar 5 Persentase apotek, toko obat, dan toko alat kesehatan yang memiliki izin. 6 Persentase usaha mikro obat tradisional 90,0% 90,0% 92% 94% 96% 98% 100% 0% 0% 10% 25% 50% 100% (UMOT) berizin. 4 Program pengadaan, peningkatan dan perbaikan Rp Rp Rp Rp Rp Rp sarana dan prasarana puskesmas/puskesmas 1 Ratio bed rawat inap per penduduk 1: : : : : : : Rasio Puskesmas, poliklinik, pustu per satuan penduduk 1: : : : : : : Bab VIII - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-3

239 KONDISI URUSAN DAN KINERJA PADA PROGRAM AKHIR PERIODE RPJMD 2021 AWAL RPJMD PEMBANGUNAN INDIKATOR KINERJA PROGRAM 2015 (OUTCOME) TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP 3 Jumlah puskesmas yang memiliki sarana dan prasarana sesuai standar Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Rumah Sakit Rp Rp Rp Rp Rp Rp Indeks Kepuasan Pelanggan Pelayanan 68,30% 68,30% 72,64% 76,98% 81,32 85,66 90% Kesehatan Rawat Jalan 2 Indeks Kepuasan Pelanggan Pelayanan 83,50% 83,50% 84,80% 86,10% 87,40% 88,70% 90% Kesehatan Rawat Inap 3 Angka Kematian BBLR (1.500gr gr) di 4,50% 4,50% 4,10% 3,70% 3,30% 2,90% 2,50% Rumah Sakit 4 Ketersediaan Obat di Rumah Sakit 98% 98% 98,20% 98,40% 98,60% 98,80% 99% 5 Lama Tunggu Pelayanan Rawat Jalan 75 menit 75 menit 72 menit 70 menit 70 menit 65 menit 60 menit 6 Lama Tunggu Pelayanan Obat 29 menit 29 menit 26 menit 23 menit 21 menit 19 menit 15 menit 6 Program pengadaan, peningkatan sarana dan prasarana rumah sakit/rumah sakit jiwa/rumah sakit paru-paru/rumah sakit mata Rp Rp Rp Rp Rp Rp Bed Occupancy Ratio/ Tingkat pemakaian bed 61,14% 61,14% 63,91% 66,68% 69,46% 72,23% 75% pasien di RS 2 Cakupan Ketersediaan Sarana dan Prasarana 65% 65% 68% 71% 74% 77% 80% Rumah Sakit 3 Cakupan Ketersediaan Fasilitas Gedung Ruang 80% 80% 82% 84% 86% 88% 90% Pelayanan 4 Baku Mutu Limbah Cair: BOD (Bed Occupancy 35,6 gr/lt 35,6 gr/ lt 34,48 gr/ lt 33,36 gr/ lt 32,24 gr/lt 31,12 gr/lt 30 gr/lt Rate) 5 Baku Mutu Limbah Cair: COD (Chemical Oxygen Demand) 91,1 gr/lt 91,1 gr/lt 88,88 gr/lt 86,66 gr/lt 84,44 gr/lt 82,22 gr/lt 80 gr/lt 7 Program Kemitraan peningkatan pelayanan kesehatan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah Puskesmas Yang minimal memiliki lima jenis tenaga kesehatan 2 Rasio dokter per satuan penduduk (per penduduk) 1,6: ,6: ,68: ,76 : ,84 : ,92 : : Program Standarisasi Pelayanan Kesehatan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Cakupan Pelayanan Gawat Darurat level 1 yang NA NA 50% 65% 75% 85% 90% harus diberikan oleh Sarana Kesehatan (Rumah Sakit) di Kab/Kota 2 Cakupan Pelayanan Pasien Masyarakat Miskin 88,40% 88,40% 89,72% 91,04% 92,36% 93,68% 95% di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dasar (Puskesmas/Balai Pengobatan/Praktek bersama dan Perorangan) 3 Jumlah Kecamatan Yang memiliki Minimal Puskesmas Terakreditasi 4 Jumlah Puskesmas Terakreditasi Prosentase kasus gawat darurat yang ditangani 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% dengan SPGDT (Sistem Penanganan Gawat Darurat Terpadu) 6 Prosentase Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang memiliki Ijin Operasional 96,30% 96,30% 97,04% 97,78% 98,52% 99,26% 100% 9 Program Pelayanan Kesehatan Penduduk Miskin Rp Rp Rp Rp Rp Rp Cakupan Jaminan Kesehatan Masyarakat Miskin 88,40% 88,40% 89,72% 91,04% 92,36% 93,68% 95% Bab VIII - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-4

240 URUSAN DAN PROGRAM PEMBANGUNAN INDIKATOR KINERJA PROGRAM (OUTCOME) KONDISI KINERJA PADA AWAL RPJMD AKHIR PERIODE RPJMD 2021 TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP 10 Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Rp Rp Rp Rp Rp Rp Cakupan penemuan dan penanganan 99,4 99,4 99,52 99,64 99,76 99, penderita penyakit TBC BTA 2 Persentase Keberhasilan Pengobatan TB (TSR) 83,27% 83,27% 83,62% 83,97% 84,32% 84,67% 85% 3 Prevalensi HIV (persen) 0.038% 0,04% <0,5% <0,5% < 0,5% < 0,5 % < 0,5% 4 Persentase ODHA yang mendapat pengobatan 74,50% 74,50% 77,60% 80,70% 83,80% 86,90% 90% ARV 5 Cakupan Penemuan Penderita Pneumonia 23,30% 23,30% 24,64% 25,98% 27,32% 28,66% 30% Balita 6 Prsentase kasus DBD ditangani 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 7 Angka kesakitan DBD per penduduk 4,4 4,4 < 25 < 25 < 25 < 25 < 25 8 Persentase penemuan penderita diare 46,70% 46,70% 47,36% 48,02% 48,68% 49,34% 50% 9 Jumlah kematian balita karena diare Persentase anak usia 0-11 bulan yang 98,30% 98,30% 98,34% 98,38% 98,42% 98,46% 98,50% mendapat imunisasi dasar lengkap 11 Cakupan desa/kelurahan Universal Child Immunization (UCI) 12 Penemuan kasus AFP Non polio per penduduk usia < 15 tahun 13 Persentase Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit yang dilakukan penanggulangan < 24 jam 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% % 100% 100% 100% 100% 100% 100% (persen) 14 Angka kesakitan malaria (API/1000 penduduk) 0,02 0,02 < 0,7 < 0,7 < 0,7 < 0,7 < 0,7 15 Persentase penanganan penderita malaria 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 16 Persentase kasus filariasis yang mendapat pengobatan 17 Persentase cakupan penemuan kasus baru 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 82% 82% 84,60% 87,20% 89,80% 92,40% 95% kusta tanpa cacat 18 Persentase kasus kusta yang selesai 83,30% 83,30% 84,64% 85,98% 87,32% 88,66% 90% 11 Program Pencegahan Penyakit Tidak Menular Rp Rp Rp Rp Rp Rp Prevalensi tekanan darah tinggi (persen) 1,19% 1,19% < 23,4% < 23,4% < 23,4% < 23,4% < 23,4% 2 Persentase perempuan usia tahun yang 1,50% 1,50% 2% 2,50% 3% 3,50% 4% dideteksi dini kanker serviks dan payudara 4 Prevalensi obesitas penduduk usia 18+ tahun NA NA < 15,4% < 15,4% < 15,4% < 15,4% < 15,4% (persen) 5 Persentase merokok penduduk usia < 18 Tahun NA NA < 5,9% < 5,9% < 5,9% < 5,9% < 5,9% 6 Persentase Desa/Kel yang melaksanakan 15,47% 15,47% 21,43% 27,40% 33,36% 39,32% 45,28% kegiatan Posbindu PTM 12 Program Perbaikan Gizi Masyarakat Rp Rp Rp Rp Rp Rp Prevalensi ibu hamil kurang energi kronik (KEK) 11,91% 11,91% 11,53% 11,15% 10,77% 10,39% 10% 2 Persentase ibu hamil KEK yang mendapat 70% 70% 75% 75% 75% 75% 75% makanan tambahan 3 Prevalensi ibu hamil Anemia 11% 11% 10% 9% 8% 7% 7% 4 Persentase ibu hamil yang mendapat tablet 90,26% 90,26% 91,81% 92,85% 93,89% 94,93% 98% tambah darah 5 Persentase bayi baru lahir mendapat Inisiasi Menyusui Dini (IMD) 6 Persentase bayi usia kurang dari 6 bulan mendapat ASI Eksklusif NA NA 25% 30% 35% 40% 50% 62,29% 62,29% 63,33% 64,37% 65,42% 66,46% 67,50% Bab VIII - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-5

241 URUSAN DAN PROGRAM PEMBANGUNAN INDIKATOR KINERJA PROGRAM (OUTCOME) 7 Prevalensi bayi dengan Berat Badan Lahir KONDISI KINERJA PADA AWAL RPJMD AKHIR PERIODE RPJMD 2021 TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP 4,71% 4,71% 4,47% 4,22% 3,98% 3,74% 3,50% Rendah (BBLR) 8 Prevalensi kasus balita gizi buruk 0,82% 0,82% 0,78% 0,73% 0,69% 0,64% 0,60% 9 Persentase anak balita gizi buruk yang 100% 100% 100% Rp1 100% 100% 100% 100% mendapatkan perawatan 10 Prevalensi Stunting (pendek dan sangat pendek) pada anak baduta (bawah 2 tahun) (persen) 11 Persentase remaja putri yang mendapat tablet tambah darah 12 Cakupan pemberian makanan pendaping asi balita usia 6-24 tahun dari keluarga miskin 16,85% 16,85% 16,48% 16,11% 15,74% 15,37% 15% NA NA 10% 15% 23% 28% 35% 100% 100% 100% Rp1 100% 100% 100% 100% 13 Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan masya Rp Rp Rp Rp Rp Rp Cakupan desa siaga aktif strata mandiri 5% 5% 6,64% 8,28% 9,92% 11,56% 13,20% 2 Cakupan rumah tangga sehat (persen) 71% 71% 72,80% 74,60% 76,40% 78,20% 80% 3 Prosentase posyandu dengan strata mandiri 20% 20% 22% 24% 26% 28% 30% 14 Program Peningkatan Mutu dan Keamanan Pangan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Persentase makanan di kantin sekolah dan 42% 42% 20% 35% 60% 70% 80% industri rumah tangga yang memenuhi syarat 2 Persentase industri rumah tangga pangan yang memiliki sertifikat produksi pangan (SPP-IRT) 82,50% 82,50% 84% 86% 87,50% 89% 90% 3 Persentase Pengawasan dan Pembinaan Keamanan Pangan 70% 70% 74,20% 78,40% 82,60% 87% 91% 15 Program Pengembangan Lingkungan Sehat Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah desa/kelurahan yang melaksanakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) 2 Jumlah desa ODF Persentase Tempat-Tempat Umum (TTU) yang 70,11% 70,11% 70,90% 71,69% 72,48% 73,27% 90% memenuhi syarat kesehatan 4 Persentase Tempat Pengolahan Makanan (TPM) 45% 45% 50% 55% 60% 65% 70% yang memenuhi syarat kesehatan 5 Pesentase penduduk dengan akses air minum 75,80% 75,80% 80,64% 85,48% 90,32% 95,16% 100% memenuhi syarat kesehatan 6 Persentase penduduk dengan akses jamban 47,95% 47,95% 56,36% 64,77% 73,18% 81,59% 90% 7 Persentase fasilitas pelayanan kesehatan ramah NA NA 50% 65% 75% 85% 100% lingkungan 8 Persentase pengelolaan sampah rumah tangga yang memenuhi syarat kesehatan 55% 55% 58% 61% 64% 67% 70% 16 Program Peningkatan Kesehatan Lansia Rp Rp Rp Rp Rp Rp Cakupan Pelayanan Kesehatan Lansia 99,70% 99,70% 99,75% 99,82% 99,88% 99,90% 100% URUSAN PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG Rp Rp Rp Rp Rp Rp Program pembangunan jalan dan jembatan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rasio panjang jalan kabupaten kondisi baik 57,19% dan sedang 2 Rasio jembatan kondisi baik dan sedang 397 unit / 428 0,930 0,944 0,958 0,972 0,986 1 unit 3 Kejelasan status jalan N/a ada 4 Panjang jalan antar kecamatan dalam kondisi baik dan sedang Bab VIII - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-6

242 URUSAN DAN PROGRAM PEMBANGUNAN INDIKATOR KINERJA PROGRAM (OUTCOME) 5 Tingkat aksesibilitas (panjang Jalan/ Luas wilayah) 6 Panjang jalan kawasan perbatasan dalam kondisi baik dan sedang 7 Tersedianya jalan lingkar untuk meningkatkan aksesibilitas KONDISI KINERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD 2021 AWAL RPJMD 2015 TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP 79, N/A ada 2 Program rehabilitasi/pemeliharaan jalan dan jembatan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Perencanaan rehabilitasi / pemeliharaan jalan / N/a km / tahun jembatan kabupaten 2 panjang jalan yang dilakukan pemeliharaan rutin per tahun 3 Jumlah jembatan kondisi rusak yang N/a km /tahun N/a unit /tahun direhabilitasi per tahun 3 Program inspeksi kondisi Jalan dan Jembatan Rp Rp Rp Rp Rp Rp rasio ruas jalan yang telah dilakukan N/a 50% 65% 60% 65% 70% 75% inspeksi/pemeriksaan rutin 2 rasio jembatan yang telah dilakukan N/a 80% 96% 100% inspeksi/pemeriksaan rutin 4 Program tanggap darurat Jalan dan Jembatan Rp0 Rp Rp Rp Rp Rp rasio Panjang jalan rusak akibat bencana yang N/a 100% 100% 100% 100% 100% 100% direhabilitasi 2 rasio Jumlah jembatan rusak akibat bencana N/a 100% 100% 100% 100% 100% 100% yang direhabilitasi 5 Program Pembangunan sistem informasi/data base jalan dan jembatan Rp0 Rp Rp Rp Rp Rp Tersedianya sistem informasi /data base jalan N/a ada ada ada ada 2 Tersedianya sistem informasi /data base N/a ada ada ada ada jembatan 6 n saluran drainase/gorong-gorong 0 Rp0 Rp Rp Rp Rp Rp Rasio drainase jalan kondisi baik dan sedang 57% 57% 57% 57% 80% 2 rasio drainase lingkungan permukiman kondisi N/a 10% 20% 30% 40% 50% baik dan sedang 7 Program pemeliharaan saluran drainase/gorong-gorong 0 Rp Rp Rp Rp Rp Rp jumlah titik luapan limpasan saluran jalan protokol 8 Program pembangunan jaringan irigasi Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rasio ketersediaan air irigasi untuk pertanian rak 70,49 70,49 70,49 70,49 70,49 70,49 70,49 2 Rasio jaringan irigasi kondisi baik 62,91 62,91 62,91 62,91 62,91 62,91 62,91 9 Program Pembangunan sistem informasi/data base irigasi Rp Rp Rp Rp Rp Rp tersedianya sistem informasi/data base irigasi n/a ada 1 10 Program pembangunan infrastruktur perdesaan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rasio panjang jalan perdesaan status n/a kabupaten kondisi baik 2 Prosentase penduduk berakses air minum 85,34 85,34 85,34 85,34 85, Persentase KK yang mendapatkan akses sanitasi dasar 4 rasio drainase lingkungan permukiman kondisi baik dan sedang 5 Tersedianya standar teknis pembangunan jalan 47,95 47,95 47,95 47,95 47,95 47,95 47,95 n/a ada perdesaan 11 Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Kebinamargaan ,00 Rp Rp Rp Rp Rp Rp Tercukupinya sapras kebinamargaan n/a 60% tercukupi 65% tercukupi 70% tercukupi 80% tercukupi 90% tercukupi 100% tercukupi Bab VIII - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-7

243 KONDISI URUSAN DAN KINERJA PADA PROGRAM AKHIR PERIODE RPJMD 2021 AWAL RPJMD PEMBANGUNAN INDIKATOR KINERJA PROGRAM 2015 (OUTCOME) TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP 12 Program Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Infrastruktur ,00 Rp Rp Rp Rp Rp Rp tersedianya Kelembagaan infrastruktur publik n/a yang memenuhi persyaratan teknis 13 Program Pengembangan, Pengelolaan, dan Konservasi Sungai, Danau da 0 Rp Rp Rp Rp Rp Rp jumlah sungai percontohan bebas sampah n/a persentase panjang sempadan sungai utama n/a 30% 40% 50% 60% 70% 80% berupa ruang terbuka hijau 14 Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum dan Air Limbah Rp Rp Rp Rp Rp Rp Persentase penduduk yang mendapatkan akses 75,8 75, ,00 0, air minum yang aman 2 Persentase satuan permukiman (RW) yang 1,95 1, ,00 0,00 3,75 memiliki IPAL komunal 3 Prosentase penduduk berakses air minum 85,34 85,34 85,34 85,34 85,34 85, persentase desa yang memiliki BPSPAM 45,34 47,03 48,73 50,42 52,12 53,81 55,51 15 Program Pemanfaatan Ruang 0 Rp Rp Rp Rp Rp Rp Tersedia SOP layanan informasi dan ada ada ada ada ada ada ada rekomendasi tata ruang 2 Adanya kebijakan perijinan pemanfaatan ruang Ada ada ada ada ada ada ada 16 Program Pengendalian Pemanfaatan Ruang 0 Rp Rp Rp Rp Rp Rp Ketaatan terhadap RTRW 78,15% 79,29 80,43 81,58 82,72 83, Adanya kebijakan pengendalian pemanfaatan N/a Ada Ada Ada Ada ruang 3 rasio bangunan gedung ber-imb n/a Rasio Bangunan/ Rumah yang tidak sesuai n/a 60% 55% 50% 45% 40% 20% dengan pemanfaatan ruang/ RDTR URUSAN PERUMAHAN RAKYAT DAN KAWASAN PERMUKIMAN Rp Rp Rp Rp Rp Rp Program Lingkungan Sehat Perumahan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Persentase KK yang mendapatkan akses 47,95 47,95 47,95 47,95 47,95 47,95 80,5 sanitasi dasar 2 Persentase KK ber akses sanitasi layak 21,01 21,01 21,01 21,01 21,01 21,01 68 Rp Persentase Kawasan Kumuh 0,795 0,795 0,795 0,795 0, Prosentase luas permukiman yang tertata 2,12 2,12 2,12 2,12 2,12 2, Program Pengembangan Perumahan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rasio Rumah Layak huni 0,885 0,891 0,894 0,899 0,904 0,909 0,914 2 Kekurangan tempat tinggal (backlog) berdasarkan perspektif menghuni Program perbaikan perumahan akibat bencana alam/sosial Rp Rp Rp Rp Rp Rp persentase rumah yang diperbaiki akibat n/a 100% 100% 100% 100% 100% 100% bencana dibanding jumlah rumah yang terkena bencana pada lokasi yang sesuai dengan peruntukan tata ruang 4 Program Pemberdayaan Komunitas Perumahan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Cakupan rumah layak huni terjangkau n/a Program pengelolaan areal pemakaman Rp Rp Rp Rp Rp Rasio tempat pemakaman umum per satuan penduduk URUSAN KETENTRAMAN, KETERTIBAN UMUM DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT Rp Rp Rp Rp Rp Rp Bab VIII - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-8

244 KONDISI URUSAN DAN KINERJA PADA PROGRAM AKHIR PERIODE RPJMD 2021 AWAL RPJMD PEMBANGUNAN INDIKATOR KINERJA PROGRAM 2015 (OUTCOME) TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP 1 Program pendidikan politik masyarakat Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah kegiatan pembinaan politik daerah Jumlah Kegiatan pembinaan terhadap LSM, 2 Ormas dan OKP Tingkat partisipasi pemilih 75,68% 77,19% 78,74% 80,31% 81,92% 83,56% 85,24% 2 Program Perlindungan dan pemenuhan HAM Rp Rp Rp Rp Rp Rp Prosentase kasus pelanggaran HAM yang dilaporkan dan difasilitasi penyelesaiannya N/A 100% 100% 100% 100% 100% 100% Program penegakan peraturan daerah dan peraturan 3 perundang-undangan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah kegiatan penegakan perda Program kemitraan pengembangan wawasan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Frekuensi pertemuan FKUB dengan elemen 1 masyarakat Program pengembangan wawasan kebangsaan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah konflik sosial Rasio tempat ibadah per satuan penduduk Program pemberdayaan masyarakat untuk menjaga 6 ketertiban dan keamanan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Prosentase desa yang menerapkan jimpitan sosial N/A Jumlah kelompok jaga swakarya masyarakat Prosentase FKDM yang aktif 57% 60% 63% 66% 69% 75% 75% Program pemeliharaan kantrantibmas dan 7 pencegahan tindak kriminal Rp Rp Rp Rp Rp Rp Persentase kriminalitas yang tertangani N/A 100% 100% 100% 100% 100% 100% Tingkat penyelesaian pe-langgaran K3 2 (ketertiban, ketentraman, keindahan) di Kabupaten/ Kota N/A 85% 90% 100% 100% 100% 100% 8 Program peningkatan pemberantasan penyakit Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah Penyakit masyarakat (Pekat) Prosentase Pokmas yang aktif 57% 60% 63% 66% 69% 73% 75% Program peningkatan keamanan dan kenyamanan 9 lingkungan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Cakupan patroli pengamanan wilayah/per 1 satuan wilayah Cakupan petugas Perlindungan Masyarakat 2 (Linmas) di Kabupaten/ Kota N/A 75% 80% 85% 90% 95% 100% 3 Jumlah Linmas Prosentase LINMAS terlatih 8,46% 10,15% 12,18% 14,62% 17,54% 21,05% 25,00% 5 Rasio poskamling per penduduk 0, Prosentase Poskamling aktif 45% 50,00% 55,00% 60,50% 66,55% 73,21% 50,00% Prosentase pengaduan masyarakat yang 7 ditindaklanjuti N/A 70% 75,00% 80,00% 88,00% 96,80% 100% 10 Program pencegahan dini dan penanggulangan korban bencana alam Rp Rp Rp Rp Rp Rp Angka kejadian bencana 2 Persentase bencana alam yang dapat n/a 100% 100% 100% 100% 100% 100% ditanggulangi 11 Program kesiapsiagaan dan pengendalian bahaya kebakaran Rp Rp Rp Rp Rp Rp Bab VIII - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-9

245 URUSAN DAN PROGRAM PEMBANGUNAN INDIKATOR KINERJA PROGRAM (OUTCOME) 1 tercapainya respon time pemadam kebakaran 11 menit (SPM) 2 persentase pasar tradisional yang terpasang sistem pemadam kebakaran 3 tercapainya respon time penanggulangan bencana <30 menit KONDISI KINERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD 2021 AWAL RPJMD 2015 TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP n/a kurang 11 menit kurang 11 menit kurang 11 menit kurang 11 menit kurang 11 menit kurang 11 menit 10% 25% 40% 60% 80% 100% n/a kurang dari 30 menit kurang dari 30 menit kurang dari 30 menit kurang dari 30 menit kurang dari 30 menit kurang dari 30 menit URUSAN SOSIAL Rp Rp Rp Rp Rp Rp Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosi Rp Rp Rp Rp Rp Rp Persentase PMKS yang terlayani jaminan sosial 2 Persentase PMKS yang mendapatkan bansos 42,20% 42,20% 46,20% 50,60% 54,80% 59% 63,20% 3 Persentase panti yang menyediakan sarpras kesejahteraan sosial untuk pemenuhan kebutuhan dasar 4 Persentase anak berhadapan dengan hukum yang tertangani 5 Persentase penyandang cacat fisik dan mental serta lanjut usia tidak potensial yang menerima jaminan sosial 6 Persentase PMKS yang menerima program pemberdayaan melalui KUBE atau kelompok sosil ekonomi sejenis lainnya 33,30% 33,30% 38,84% 44,38% 49,92% 55,46% % 100% 100% 100% 100% 100% 100% NA NA 10% 15% 20% 25% 30% 32% 32% 37,60% 43,20% 48,80% 54,50% 60% 2 Program Pembinaan Anak Terlantar Rp Rp Rp Rp Rp Rp Persentase anak terlantar, balita terlantar, ABH, 46,40% 46,40% 52% 57,60% 63,30% 68,80% 74,40% anak dengan kecacatan yang terpenuhi kebutuhan dasarnya 3 Program Pembinaan Para Penyandang Cacat dan Traum Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah penyandang cacat dan trauma yang kebutuhan dasarnya terpenuhi 4 Program Pembinaan Panti Asuhan/ Panti Jompo Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah panti sosial Program Pemberdayaan Kelembagaan Kesejahteraan S Rp Rp Rp Rp Rp Rp Persentase lembaga sosial yang berdaya, 40% 40% 44% 48% 52% 56% 60% efektif dan mandiri 6 Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunitas Adat Rp Rp Rp Rp Rp Rp Terpencil (KAT) dan Penyandang Masalah 1 Presentase PMKS yang memperoleh bantuan sosial untuk pemenuhan kebutuhan dasar 42,84% 42,84% 46,27% 49,70% 53,14% 56,57% 60% 2 Prosentase PMKS mandiri 46,35% 46,35% 50,10% 53,80% 57,50% 61,27% 65 3 Rasio PMKS yang tertangani 98,61% 98,61% 98,71% 98,81% 98,92% 99,02% 99,12% 7 Program Pemberdayaan Keluarga Rp Rp Rp Rp Rp Tingkat Perceraian NA NA Menurun Menurun Menurun Menurun Menurun URUSAN WAJIB NON PELAYANAN DASAR URUSAN TENAGA KERJA Rp Rp Rp Rp Rp Rp Program Pengembangan Hubungan Industrial dan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Peningkatan Jaminan Sosial Tenaga Kerja 1 Jumlah pekerja yang ikut BPJS Persentase sengketa pengusaha pekerja per 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% tahun yang diselesaikan 3 Jumlah perusahaan yang menerapkan syarat NA NA 50% 65% 75% 85% 100% kerja non diskriminatif 4 Angka sengketa pengusaha - pekerja per Bab VIII - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-10

246 URUSAN DAN PROGRAM PEMBANGUNAN INDIKATOR KINERJA PROGRAM (OUTCOME) KONDISI KINERJA PADA AWAL RPJMD AKHIR PERIODE RPJMD 2021 TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP 2 Program Peningkatan Kompetensi dan produktivitas Rp Rp Rp Rp Rp Rp tenaga kerja 1 Jumlah tenaga kerja yang mendapatkan 47% 47% 49,60% 53% 55,90% 58,20% 60% pelatihan berbasis Kompetensi 2 Kualitas tenaga kerja rasio kelulusan S1, S2, S3 229,28 229,28 246,12 262,96 279,8 296, Persentase Pelatihan yang mendapatkan NA NA 5% 15% 23% 30% 35% sertifikat kompetensi 3 Program Peningkatan kesempatan kerja Rp Persentase Pencari Kerja Terdaftar yang 45,43% 45,43% 47,34% 49,24% 51,14% 53,04% 55% ditempatkan 2 Tingkat Pengangguran Terbuka (%) 5,31 5,31 5,24 5,12 5,08 5,01 4,94 3 Jumlah BKK (Bursa Kerja Khusus) Jumlah Perusahaan/ Industri yang menjalin NA NA kerjasama penempatan tenaga kerja 5 Angka partisipasi angkatan kerja 73,9 73,9 74,35 74,8 75,26 75,71 76,17 4 Program Peningkatan Kapasitas Kelembagaan, Sarana Rp Rp Rp Rp Rp Rp dan Pemberdayaan Kelembagaan Pelatihan dan Produktifitas 1 Jumlah Instruktur Bersertifikat Kompetensi NA NA Persentase Lembaga Pelatihan Bersertifikat NA NA 5% 9% 14% 17% 20% Nasional 5 Program Penempatan dan Perluasan Kesempatan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah Wirausaha Baru Pemuda NA NA 5% 9% 15% 18% 20% URUSAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK Rp Rp Rp Rp Rp Rp Program keserasian kebijakan peningkatan kualitas Rp Rp Rp Rp Rp Rp Anak dan Perempuan 1 Persentase anggaran responsif geder 0,13 0,13 3,07 6,01 8,95 11, Jumlah Kebijakan PUG dan PUHA Persentase APBDes Responsife gender dan Persentase OPD yang memiliki anggaran NA NA responsif anak 2 Program Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Persentase pengaduan korban kekerasan anak yang ditangani 2 Persentase pengaduan korban kekerasan 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% terhadap perempuan yang ditangani 3 Jumlah lembaga layanan aktif tingkat desa Jumlah lembaga penyedian layanan PP dan PA Program Peningkatan peran serta dan kesetaraan Rp Rp Rp Rp Rp Rp gender dalam pembangunan 1 Persentase perempuan sebagai tenaga profesion 38,21% 38,21% 38,57 38,93 39,28 39,64 40% 2 Persentase keterwakilan perempuan dalam 4,44% 4,44% 5,24 6,04 6,84 7,64 8,44% parlemen 3 Persentase partispasi perempuan di lembaga 60,74 60,74 60,91 61,08 61,25 61,42 61,59 pemerintahan 4 Program Peningkatan Kualitas Hidup dan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Perlindungan Perempuan dan Anak 1 Rasio KDRT perempuan 4,11 4,11 4,3 4,5 4,64 4,8 5 Bab VIII - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-11

247 URUSAN DAN PROGRAM PEMBANGUNAN INDIKATOR KINERJA PROGRAM (OUTCOME) 2 persentase Jumlah Tenaga Kerja di bawah umur 3 Angka melek huruf perempuan usia 15 th ke KONDISI KINERJA PADA AWAL RPJMD AKHIR PERIODE RPJMD 2021 TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP NA NA 15% 15% 15% 15% 15% 96,49 96,49 97,19 97,89 98,6 99,3 100 atas 4 Prevalensi Kekerasan Terhadap Anak 2,7 2,7 2,86 3,02 3,16 3,34 3,5 5 Jumlah Desa Ramah Anak Jumlah Puskesmas Ramah Anak URUSAN PANGAN Rp Rp Rp Rp Rp Rp Program Peningkatan Ketahanan Pangan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rata-rata konsumsi pangan per kapita Rata-rata konsumsi protein nabati 69, Rata-rata konsumsi protein hewani 39, Rata-rata konsumsi ikan per kapita 13,31 5 Jumlah lumbung pangan Jumlah desa mandiri pangan Program Pengembangan Diversifikasi dan pola 2 konsumsi pangan Rp0 Rp Rp Rp Rp Rp Skor PPH % ketersediaan bahan pangan utama Program Peningkatan Mutu dan keamanan pangan 1 Persentase pengawasan dan pembinaan keamanan pangan 70% 78% 88,30% 89% 90% 90% 91% URUSAN PERTANAHAN Rp Rp Rp Rp Rp Rp Program Pengembangan Sistem Informasi Pertanahan Rp0 Rp Rp Rp Rp Rp Ketersediaan sistem informasi spasial aset 1 tanah daerah ketersediaan sistem informasi pertanahan pada 2 desa/kelurahan Program Penataan, Penguasaan, Kepemilikan N/A N/A N/A N/A Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia 2 Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah Rp Rp Rp Rp Rp Rp Prosentase Luas lahan bersertifikat/prosentase 1 lahan tanah aset daerah yang disertifikatkan 43,91% 47,86% 52,17% 56,86% 61,98% 67,56% 75,00% 3 Program Penyelesaian konflik- konflik pertanahan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Prosentase Penyelesaian kasus tanah negara Tidak ada kasus 1 100% 100% 100% 100% 100% 100% 2 Prosentase Penyelesaian ijin lokasi 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 1 2 URUSAN LINGKUNGAN HIDUP Program pengembangan ekowisata dan jasa lingkungan di kawasan-kawasan konservasi laut dan 1 Jumlah objek destinasi tujuan wisata (ODTW) yang berbasis ekowisata dan jasa lingkungan 2 NSPK pengelolaan pariwisata berbasis Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp0 Rp Rp Rp Rp Rp N/a N/a ada ada ada ada ada lingkungan 3 Jumlah Hutan Wisata N/a jumlah FGD dan Serial Workshop menuju N/a dieng Geopark, Science Park, Techno Park Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup Rp Rp Rp Rp Rp Rp Indeks kualitas air 75% kelas A 80% kelas A 85% kelas A 90% Kelas A Indeks kualitas udara sih diatas baku m Diatas baku mutu Diatas baku mutu Diatas baku mutu Diatas baku mutu Diatas baku mutu Diatas baku mutu Bab VIII - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-12

248 KONDISI URUSAN DAN KINERJA PADA PROGRAM AKHIR PERIODE RPJMD 2021 AWAL RPJMD PEMBANGUNAN INDIKATOR KINERJA PROGRAM 2015 (OUTCOME) TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP 3 Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) N/A 60,15 62,15 64,15 66,15 68,15 68, persentase usaha dan/atau kegiatan yang berdampak besar dan penting yang diawasi 5 Jumlah sentra industri rumah tangga pollutan yang memiliki IPAL Program Rehabilitasi dan Pemulihan Cadangan Sumber Daya Alam 1 Adanya kebijakan Perencanaan dan penyusunan program pembangunan pengendalian sumber daya alam dan lingkungan hidup Program Peningkatan Kualitas dan Akses Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup 1 tersusunnya dokumen rencana perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup kabupaten 2 tersusunnya dokumen status lingkungan hidup kabupaten wonosobo 3 persentase aduan masyarakat di bidang PPLH yang ditangani 4 Adanya Peningkatan peringkat kinerja perusahaan (proper) 5 tersusunya kebijakan pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup N/A Rp0 Rp Rp Rp Rp Rp N/a N/a Ada Ada Ada Ada Ada Rp Rp Rp Rp Rp Rp n/a Ada Ada Ada Ada Ada 1 dokumen dokumen (1 dok per tahun) 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% N/a Ada Ada Ada Ada Ada tersedia 6 Jumlah Monitoring, evaluasi dan pelaporan N/a /tahun 7 Jumlah perusahaan yang dinilai kinerjanya N/a Peningkatan Kualitas dan Akses Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup 9 jumlah jejaring informasi lingkungan antar pusat dan daerah 10 Tingkat peran serta masyarakat dalam Peningkatan Kualitas Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup N/a Ada Ada Ada Ada Ada tersedia N/a N/a Ada Ada Ada Ada Ada ada peran 5 Program pengawasan dan penertiban kegiatan rakyat Rp Rp Rp Rp Rp Rp Persentase lahan terlantar ex. Pertambangan N/a 10% 20% 40% 60% 80% 100% yang terindentifikasi 6 Program peningkatan pengendalian polusi 0 Rp Rp Rp Rp Rp Rp Kualitas udara N/a Diatas baku mutu Diatas baku mutu Diatas baku mutu Diatas baku mutu Diatas baku mutu Diatas baku mutu 2 Kualitas air 80% kelas A 85% kelas A 90% Kelas A Uji Emisi Memiliki persyaratan emisi Memiliki persyaratan emisi Memiliki persyaratan emisi Memiliki persyaratan emisi Memiliki persyaratan emisi 4 Persentase usaha sumbner polutan yang N/a 10% 20% 30% 40% 50% mempunyai IPAL 5 tingkat pemahaman masyarakat tentang N/a 10% 20% 30% 40% 50% 70% pengendalian polusi dan pencemaran 6 teridentifikasinya polusi dan pencemaran N/a 10% 20% 40% 60% Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Rp Rp Rp Rp Rp Rp Persentase luas lahan dan hutan kritis 7,043 6,691 6,356 6,038 5,736 5,449 5,177 Bab VIII - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-13

249 URUSAN DAN PROGRAM PEMBANGUNAN INDIKATOR KINERJA PROGRAM (OUTCOME) 2 Persentase luas lahan kritis pada kawasan budidaya dan lindung diluar hutan KONDISI KINERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD 2021 AWAL RPJMD 2015 TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP 3,786 3,596 3,416 3,246 3,083 2,929 2,783 3 Persentase sumber mata air yang rusak N/a 10% 10% 10% 10% 10% 4 Persentase tutupan vegetasi 74,83% 74,83% 74,83% 74,83% 74,83% 74,83% 74,83% 5 kualitas keanekaragaman hayati dan ekosistem 58 spesies flora fauna status terancam 58 spesies flora fauna status terancam 56 spesies flora fauna status terancam 54 spesies flora fauna status terancam 52 spesies flora fauna status terancam 50 spesies flora fauna status terancam 48 spesies flora fauna status terancam 6 Keberhasilan Pengembangan dan Pengelolaan Kawasan World Heritage (geo heritage Dieng) N/a terbangunnya Geo Heritage Dieng 7 Adanya rencana aksi kota berketahanan, kota 0 ada ada ada ada ada ada tangguh (resilience city) 8 indeks keanekaragaman n/a adanya peta kawasan lindung 0 Ada Ada Ada Ada Ada 10 adanya direktori sebaran mata air N/a Ada Ada Ada 11 Daya tampung dan daya dukung lingkungan N/a DDL < 1 DDL < 1 DDL < 1 DDL < 1 DDL < 1 DDL < 1 8 Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Persentase penanganan sampah 6,94% 60% 2 Rasio tempat pembuangan sampah per satuan 0,3 0,4 0,55 0,6 0,65 0,7 0,8 penduduk 3 Persentase komunitas yang menerapkan asas zero waste ketika menyelenggarakan event publik 4 Persentase rumah tangga yang melakukan n/a 50% 60% 70% 80% 90% 100% n/a 10% 20% 30% 40% 50% 60% praktik pemilahan sampah 5 Persentase bank sampah aktif 10% 20% 30% 40% 50% 60% 6 Kinerja persampahan 6,94 6,94 6,94 6,94 6,94 6,94 6,94 9 Program pengelolaan ruang terbuka hijau (RTH) ,00 Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rasio luas RTH per luas ber HPL/HGB 2 Luas RTH per luas kawasan perkotaan 37,16 37,16 37,16 37,16 37,16 37, Persentase luas RTH milik publik 14% 20 4 Rasio ruang terbuka hijau per satuan luas 12 12,00 12, ,00 12,00 20 wilayah 5 Luasan RTH URUSAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL Rp Rp Rp Rp Rp Rp Program Penataan Administrasi Kependudukan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rasio Kepemilikan KTP elekttronik 88, Rasio kepemilikan akta kelahiran bagi bayi (0-1 99,58 tahun) Rasio kepemilikan akta kelahiran (semua 79,03 penduduk) 81,19 83,35 85,51 87,67 89,83 92,00 4 Rasio kepemilikan akta kematian 10,74 22,28 33,82 45,36 56,9 68, Rasio kepemilikan Kartu Identitas Anak (usia tahun) Program Pengembangan Data/ Informasi Rp Rp Rp Rp Rp Rp Penyediaan Sistem Informasi Admistrasi 1 Kependudukan terintegrasi N/A N/A N/A Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Bab VIII - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-14

250 KONDISI URUSAN DAN KINERJA PADA PROGRAM AKHIR PERIODE RPJMD 2021 AWAL RPJMD PEMBANGUNAN INDIKATOR KINERJA PROGRAM 2015 (OUTCOME) TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP URUSAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN DESA Rp Rp Rp Rp Rp Rp Program peningkatan kapasitas aparatur pemerintah Rp Rp Rp Rp Rp Rp % aparatur pemerintah desa yang mengikuti 1 pelatihan N/A 50% 100% 100% 100% 100% 100% 2 Program pembinaan dan fasilitasi pengelolaan Rp0 Rp Rp Rp Rp Rp % desa yang menyusun APBDes dan menyampaikan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBDes sesuai ketentuan N/A 100% 100% 100% 100% 100% 100% 3 Program Peningkatan Keberdayaan Masyarakat Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah Kelompok Binaan LPM Program Pengembangan Lembaga Ekonomi Desa Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah BUMDes Jumlah BKAD URUSAN PENGENDALIAN PENDUDUK DAN KELUARGA Rp Rp Rp Rp Rp Rp Program Keluarga Berencana Rp Rp Rp Rp Rp Rp Cakupan Penyediaan alat dan obat kontrasepsi 8,81% 8,81% 30% 30% 30% 30% 30,00% untuk memenuhi permintaan masyarakat 30% setiap tahun 2 CPR 80,20 80,20 81,2 82, ,3 85,20 3 Cakupan penyediaan informasi data mikro 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% keluarga di setiap desa/kelurahan 100% setiap 4 Rasio petugas KB /desa 3,10 3,10 2,88 2,66 2,44 2, Prevalensi peserta KB aktif 80,9 80, ,1 81,2 81,3 81,4 6 Age Spesific Fertility Rate (ASFR) Program pelayanan kontrasepsi Rp Rp Rp Rp Rp Rp Unmetneed 7,93 7,93 7,85 7,79 7,71 7,64 7,57 2 Cakupan kepersertaan KB pada PUS keluarga NA NA pra sejahtera 3 Persentase Peserta KB MKJP (Metode 41,08 41,08 41,86 42,65 43,43 44,21 45 Kontrasepsi Jangka Panjang) 4 Drop out KB 18,15 18,15 16,52 14,89 13,26 11, % Kepersertaan KB Pria 2,50 2,50 2,8 3,1 3,4 3,7 4 3 Program pengembangan bahan informasi tentang Rp Rp Rp Rp Rp pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang anak 1 Jumlah Kelompok Bina Keluarga Balita (BKB) Program Pemberdayaan Keluarga Rp Rp Rp Rp Rp Rp % anggota Bina Keluarga Balita (BKB) ber-kb 87,33 87,33 87,34 87,35 87,36 87,37 87,39 2 Jumlah Kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR) yang terbentuk dan terbina 3 Jumlah Kelompok Bina Keluarga Lansis (BKL) yang terbentuk dan terbina NA NA Program kesehatan reproduksi remaja Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rata-rata usia kawin pertama perempuan 16,9 tahun 16,9 tahun 17 tahun 17,3 tahun 17,5 tahun 17,8 tahun 18 tahun 2 Rata-rata usia melahirkan pertama perempuan NA NA % Pasangan Usia Subur (PUS) yang isterinya dibawah usia 20 tahun % 3,26 3,26 3,01 2,76 2,5 2,25 2 URUSAN PERHUBUNGAN Rp Rp Rp Rp Rp Rp Prasarana dan Fasilitas Perhubungan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Bab VIII - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-15

251 URUSAN DAN PROGRAM PEMBANGUNAN INDIKATOR KINERJA PROGRAM (OUTCOME) KONDISI KINERJA PADA AWAL RPJMD AKHIR PERIODE RPJMD 2021 TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP 1 Adanya Perhit LHR secara kontinyu pada jalan protokol/strategis Ada Ada Ada Ada 2 jumlah dermaga penyeberangan waduk kondisi Adanya kegiatan studi perencanaan parkir off street 1 4 jumlah gedung parkir publik yang terbangun n/a 1 Rp persentase spot parkir on street yang tertata 60 60,00 60,00 60,00 60,00 60, jumlah terminal tipe C yang terbangun meliharaan prasarana dan fasilitas LLAJ Rp0 Rp Rp Rp Rp Rp jumlah terminal tipe C yang berfungsi optimal gkatan pelayanan angkutan Rp Rp Rp Rp Rp Rp adanya angkutan kota layak pakai n/a ada ada ada ada ada ada 4 lian dan pengamanan lalu lintas Rp Rp Rp Rp Rp Rp prosentase panjang jalan kabupaten pada 80 80,00 80,00 80,00 80,00 80, jumlah titik blackspot yang tertangani jumlah sekolah di tepi jalan protokol yang terpasang zona selamat sekolah 4 persentase dunia usaha wajib andalalin yang 40 40,00 40,00 40,00 40,00 40,00 40 menyusun dokumen ANDALALIN URUSAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA Rp Rp Rp Rp Rp Rp Program optimalisasi pemanfaatan teknologi Rp Rp Rp Rp Rp Rp Prosentase SKPD yang menerapkan e- 1 2 Government 25% 33% 42% 50% 58% 67% 75% Prosentase interkoneksi internet dan jaringan intranet Kabupaten ke desa, kecamatan dan OPD 30% 37% 43% 50% 57% 63% 75% 3 Jumlah sistem informasi manajemen pemda Prosentase penerapan tata naskah dinas 4 elektronik 75% 79% 83% 87% 92% 96% 100% Program pengembangan komunikasi, informasi dan 2 media massa Rp Rp Rp Rp Rp Rp jumlah media komunikasi publik milik Pemda (website, media cetak, radio, televisi, media sosial) Program kerjasama informasi dan media massa Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah pameran/expo jumlah/kapasitas mitra komunikasi publik Program fasilitasi Peningkatan SDM bidang 4 komunikasi dan informasi Rp0 Rp Rp Rp Rp Rp Prosentase aparatur yang memiliki kompetensi 1 berbasis TIK 25% 38% 50% 63% 75% 88% 100% URUSAN KOPERASI, USAHA KECIL DAN MENENGAH Rp Program Penciptaan Iklim Usaha Kecil Menengah 1 yang Kondusif Rp Rp Rp Rp Rp Rp Prosentase Usaha Mikro dan kecil terhadap UKM (kenaikan) 5% 5% 5% 5% 5% 5% 5% 2 Jumlah tenaga kerja Koperasi Jumlah tenaga kerja UMKM Produktivitas UMKM 8% 10% 11% 12% 13% 14% 15% 4 Penambahan jumlah wirausaha baru Prosentase koperasi terhadap jumlah UMKM 2% 2% 2% 2% 2% 2% 2% 2 Program Pengembangan Kewirausahaan dan Rp0 Rp Rp Rp Rp Rp Bab VIII - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-16

252 KONDISI URUSAN DAN KINERJA PADA PROGRAM AKHIR PERIODE RPJMD 2021 AWAL RPJMD PEMBANGUNAN INDIKATOR KINERJA PROGRAM 2015 (OUTCOME) TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP 1 Jumlah UMKM Aset UMKM (juta) Omset UMKM (juta) Program Pengembangan Sistem Pendukung usaha 3 bagi Usaha Mikro kecil dan menengah Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah UMKM yg mendapat bantuan Jumlah UMKM yg melakukan kemitraan Jml UMKM yg mendapat pelatihan Jml UMKM yg mengikuti magang Jml kop yg mampu mengakses pembiayaan Jml UMKM yg mampu mengakses pembiayaan Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan Koperasi Rp Rp Rp Rp Rp Rp Aset Koperasi (juta) Omset Koperasi (juta) Rasio jumlah koperasi aktif terhadap jumlah koperasi 0,63% 0,62% 0,61% 0,60% 0,59% 0,58% 0,56% URUSAN PENANAMAN MODAL Rp Program Peningkatan Promosi dan Kerjasama Investasi Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah Penyelenggaran Promosi Peluang Investasi Jumlah Kepeminatan Penanaman Modal N/A Program Peningkatan Iklim Investasi dan Realisasi Inve Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah investor (PMDN) Jumlah Nilai investasi (PMDN) 1,37 trilyun 1,5 trilyun 1,8 trilyun 2 trilyun 2 trilyun 2,37 trilyun 3 Rasio Daya serap tenaga Kerja N/A 220 : : : : : : 8 4 Prosentase pelayanan perijinan dan non perijinan bidang penanaman modal melalui PTSP 66,67% 66,67% 83,33% 83,33% 100% 100% 100% 5 Prosentase implementasi SPIPISE 80% 100% 100% 100% 100% 100% 6 Rata-rata lama proses perijinan 7 hari 7 hari 6 hari 6 hari 5 hari 5 hari 4 hari Program Peningkatan Kegiatan Pemantauan, 3 Pembinaan dan Pengawasan Pelaksanaan Penanaman Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah penyelenggaraan bimbingan kegiatan penanaman modal kepada masyarakat dunia 2 usaha Jumlah penyelenggaraan sosialisasi kebijakan penanaman modal kepada masyarakat URUSAN KEPEMUDAAN DAN OLAH RAGA Rp Program Pengembangan dan Keserasian Kebijakan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Dokumen Rencana Aksi NA NA NA Ada Ada Ada Ada 2 Jumlah Organisasi Pemuda yang difasilitasi NA NA dalam bentuk pelatihan manajemen 2 Program Pengembangan Kebijakan dan Manajemen Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah Organisasi Olahraga Rekreasi NA NA Jumlah Komunitas Olah Raga Aktif NA NA Program Pembinaan dan Pemasyarakatan Olah Raga Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah cabang olah raga yang berprestasi tingkat provinsi 2 Jumlah Cabang Olah Raga yang Berprestasi Tingkat Nasional 3 Jumlah Prestasi Olah Raga Bab VIII - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-17

253 URUSAN DAN PROGRAM PEMBANGUNAN INDIKATOR KINERJA PROGRAM (OUTCOME) KONDISI KINERJA PADA AWAL RPJMD AKHIR PERIODE RPJMD 2021 TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP 4 Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Olah Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rasio Gelanggang Olah Raga per Pendudu 1,81 1,81 1,83 1,85 1,864 1,88 1,9 2 Rasio Lapangan Olah Raga per Penduduk 0,0024 0,0024 0,0025 0,0026 0,0028 0,0029 0,0030 URUSAN STATISTIK Rp Rp Rp Rp Rp Rp Program pengembangan data/informasi/statistik Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah publikasi data/dokumen hasil riset/kajian atau produk administrasi yang 1 diakui BPS N/A N/A Ketersediaan PDRB Kabupaten Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia 3 Ketersediaan Buku Wonosobo Dalam Angka Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia 4 Ketersedian Buku Nilai Tukar Petani Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia 5 Ketersediaan Buku Statistik Daerah Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia URUSAN PERSANDIAN Rp0 Rp3 Rp Rp Rp Rp Rp Program pengkajian dan penelitian bidang 1 komunikasi dan informasi Rp0 Rp Rp Rp Rp Rp Rasio perangkat daerah yang yang 1 2 menggunakan persandian untuk mengamankan setiap jenis informasi yang wajib diamankan N/A 0,6 0,7 0,75 0,8 0,85 0,9 Rasio jenis informasi yang diamankan dengan persandian N/A 0,6 0,64 0,69 0,73 0,77 0,8 3 Rasio konten informasi dari setiap jenis informasi yang diamankan dengan persandian N/A 0,6 0,7 0,75 0,8 0,85 0,9 Rasio kegiatan penting daerah yang didukung 4 dengan pengamanan informasi N/A 0,6 0,7 0,8 0,85 0,9 1 URUSAN KEBUDAYAAN Rp Rp Rp Rp Rp Rp Program Pengembangan Nilai Budaya Rp Rp Rp Rp Rp Rp Persentase Pelestarian Nilai - Nilai Tradisi 38% 38% 40,50% 42,80% 46% 47,50% 50 2 Jumlah Penyelenggaraan Festival Seni dan Budaya 3 Jumlah Sarana Penyelenggaraan Seni dan Budaya 4 Jumlah Penulisan Sejarah Lokal NA NA Program Pengelolaan Kekayaan Budaya Rp Rp Rp Rp Rp Persentase Benda/ Cagar Budaya yang 48% 48% 51% 55% 56,80% 58% 60% Dilestarikan 2 Jumlah Sarana Penyelenggaraan Seni dan Budaya 3 Persentase Grup Kesenian Aktif 60% 60% 66% 72% 78% 84% 90% URUSAN PERPUSTAKAAN Rp Rp Rp Rp Rp Rp Program Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan 1 Perpustakaan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumah Perpustakaan Jml Pengunjung perpustakaan Jumlah referensi digital Jumlah pelajar/mahasiswa yang berkunjung URUSAN KEARSIPAN Rp Rp Rp Rp Rp Rp Program penyelamatan dan pelestarian Rp Rp Rp Rp Rp Rp Persentase OPD yang telah melakukan arsip 1 baku 82,50% 86% 90% 93% 96,5 100% 100% Bab VIII - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-18

254 KONDISI URUSAN DAN KINERJA PADA PROGRAM AKHIR PERIODE RPJMD 2021 AWAL RPJMD PEMBANGUNAN INDIKATOR KINERJA PROGRAM 2015 (OUTCOME) TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP Prosentase OPD, Desa/ kelurahan yang dibina 2 dalam pengelolaan arsip dinamis N/A 30% 37,50% 46,88% 58,59% 73,24% 82,00% 2 Program peningkatan kualitas pelayanan informasi Rp Rp Rp Rp Rp Tersedianya sistem arsip elektronik Belum tersedia Belum tersedia Belum tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia 2 Jumlah kegiatan peningkatan kualitas SDM pengelola pengarsipan Program perbaikan sistem administrasi kearsipan Rp Rp Rp Rp Rp Prosentase Pelaksanaan sistem kearsipan sesuai 1 norma, standar, prosedur dan kreteria (NSPK) N/A 25% % URUSAN PILIHAN URUSAN KELAUTAN DAN PERIKANAN Rp Rp Rp Rp Rp Rp Program Pengembangan Budidaya Perikanan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah luas lahan perikanan 2.502, , ,9 2503, , , Jumlah produksi ikan konsumsi (kg) , , , , Jumlah produksi benih ikan (kg) Program Pengembangan Perikanan Tangkap Rp0 Rp0 Rp Rp Rp Rp Produksi Perikanan Tangkap Program Pengembangan Sistem Penyuluhan Perikanan Rp0 Rp0 Rp Rp Rp Rp Rasio anggota kelompok tani ikan terhadap 1 jumlah petani ikan/nelayan N/A 1:5 1;10 1 : 15 1 : 20 1: 25 1:30 4 Program Optimalisasi Pengelolaan dan Pemasaran Perik 1 Pengolahan hasil perikanan (ton) URUSAN PARIWISATA Rp Rp Rp Rp Rp Rp Program Pengembangan Destinasi Pariwisata Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah objek wisata Jumlah wisata agro-eco-culture Jumlah desa wisata Program Pengembangan Pemasaran Pariwisata Rp Rp Rp Rp Rp Rp Prosentase kontribusi sektor pariwisata terhadap PAD 7,62% 8% 9,50% 10% 11,50% 13,70% 15% 2 Jumlah kunjungan wisatawan Jumlah Kunjungan wisatawan nusantara Rata-rata lama tinggal wisatawan 2 2,2 2,4 2,5 2, Program Pengembangan Ekonomi Kreatif Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah komunitas ekonomi kreatif Program Pengembangan Kemitraan Rp0 Rp0 Rp Rp Rp Rp Adanya forum komunikasi antar pelaku wisata Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada URUSAN PERTANIAN Rp Rp Rp Rp Rp Rp Program Peningkatan Produksi Pertanian/Perkebunan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Produksi tanaman pangan (ton) - Padi Jagung Ubi kayu Ubi jalar Produktivitas Tanaman pangan (ton/ha) 5,10 5,12 5,23 5,32 5,36 5,45 5,54 3 Jumlah produksi hortikultura (kw) Jumlah produksi buah-buahan (kw) Jumlah produksi tanaman biofarmaka (kw) Jumlah produksi bunga (tangkai) Jumlah produksi perkebunan (ton) 8.482, Program Peningkatan Penerapan Teknologi Pertanian/p Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah komoditas yang bersertifikat 4 Bab VIII - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-19

255 KONDISI URUSAN DAN KINERJA PADA PROGRAM AKHIR PERIODE RPJMD 2021 AWAL RPJMD PEMBANGUNAN INDIKATOR KINERJA PROGRAM 2015 (OUTCOME) TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP 3 Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Pertan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jangkauan Pemasaran produk pertanian/perkebunan Lokal, regional, Lokal, regional, Lokal, regional, nasional nasional nasional nasional nasional internasional internasional 4 Program Peningkatan Produksi Hasil Peternakan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah Populasi Ternak Besar (ekor) Jumlah Populasi Ternak Kecil (ekor) Jumlah Populasi Unggas (ekor) Jumlah Produksi Telur (ton) Jumlah Produksi Susu (ton) Jumlah Produksi Daging (ton) Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Te Rp Jumlah kasus penyakit ternak Persentase kasus penyakit ternak yang tertangani 99% 99,50% 100% 100% 100% 100% 100% 6 Program Peningkatan Penerapan Teknologi Peternakan 1 % teknologi peternakan yang diterapkan 10% 10% 15% 25% 30% 35% 40% 7 Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Petern Rp0 Rp Rp Rp Rp Rp Jangkauan Pemasaran Produksi Peternakan Lokal, Regional Lokal, Regional Lokal, regional Lokal, regional Lokal, regional nasional nasional 8 Program Peningkatan Kesejahteraan Petani Rp0 Rp Rp Rp Rp Rp Lokal, regional, Lokal, regional, Lokal, regional, nasional, Lokal, regional, Rasio kelompok tani terhadap petani 1 : 30 1 : 35 1 : 40 1 : 45 1 : 47 1 : 50 2 Rasio kelompok tani ternak terhadap peternak 1 : 15 1 : 18 1 : 20 1 : 22 1 : 25 1 : 26 1 : 28 9 Program Pemberdayaan Penyuluh Rp0 Rp Rp Rp Rp Rp Rasio penyuluh terhadap kelompok tani 1 : 6 1 : 6 1 : 5 1 : 5 1 : 4 1 : 4 1 : 3 URUSAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL Rp Rp Rp Rp Rp Rp n Sumberdaya Mineral an dan pengembangan bidang ketenagalistrikan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Persentase dusun yang teraliri listrik 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% (elektrifikasi) 2 Rasio ketersediaan daya listrik N/a 110% 110% 110% 110% 110% 110% 3 Jumlah jenis usaha pemanfaatan langsung N/a 1 2 panas bumi 4 jumlah PLTMH yang terbangun Jumlah desa mandiri energi n/a Program pembinaan dan pengawasan bidang pertambangan 1 Tersedianya kebijakan penertiban izin N/a ada ada ada ada ada pertambangan/pemanfaatan langsung panas bumi mbinaan dan pengembangan bidang energi Rp0 Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah pemanfaatan energi berbasis biogas n/a 2 Adanya upaya Pengembangan energi hijau n/a ada ada ada ada ada ada 3 tersedianya rencana (roadmap) pemanfaatan ada ada ada ada ada ada dan penyediaan energi n/a 4 Jumlah Kampanye hemat energi n/a 2 kali 2 kali 2 kali 2 kali 2 kali 2 kali Program pengawasan dan penertiban kegiatan rakyat Rp Rp Rp Rp Rp Rp yang berpotensi merusak lingkungan 1 Persentase luas lahan rusak 0,022 0,022 0,021 0,020 0,019 0,018 0,017 Lokal, regional, nasional, Lokal, regional, Bab VIII - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-20

256 KONDISI URUSAN DAN KINERJA PADA PROGRAM AKHIR PERIODE RPJMD 2021 AWAL RPJMD PEMBANGUNAN INDIKATOR KINERJA PROGRAM 2015 (OUTCOME) TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP URUSAN PERDAGANGAN Rp Rp Rp Rp Rp Rp Program Perlindungan Konsumen dan Pengamanan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah kelangkaan bahan pokok Jumlah sengketa konsumen yang tertangani Program Peningkatan Efisiensi Perdagangan Dalam Neg Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah UDKM yang telah memiliki ijin Jumlah UDKM Jumlah Agen LPG Jumlah Toko Modern - Lokal Jaringan/waralaba Program Peningkatan Kerjasama Perdagangan Internas Rp0 Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah eksportir Jumlah Negara Tujuan Ekspor Jumlah Komoditas Ekspor Program Peningkatan dan Pengembangan Ekspor Rp Rp Rp Rp Rp Rp Program Peningkatan Infrastruktur Perdagangan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah pasar daerah dengn kondisi baik Program Pembinaan Pedagang Kakilima dan asongan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah pembinaan pedagang kakilima yang sudah dilaksanakan Adanya asosiasi pedagang kakilima belum ada ada ada ada ada ada ada URUSAN PERINDUSTRIAN Rp Rp Rp Rp Rp Rp Program Pengembangan Industri Kecil dan Menengah Rp Rp Rp Rp Rp Rp Pertumbuhan industri (kecil, menengah, besar) 5,35 (%) 5,5 5,65 5,8 5,95 6,1 6,25 2 Kapasitas produksi Industri (kecil, menengah, besar) , , , , , , ,45 3 Jumlah unit usaha industri Jumlah Tenaga kerja sektor industri % IK yang telah memanfaatkan teknologi tepat guna 6,75 7 7,25 7,5 7,75 8 8,26 6 % IKM yang memperoleh sertifikasi good manufacturing product 4 4,2 4,4 4,6 4,8 5 5,2 2 Program Penataan Struktur Industri Rp0 Rp0 Rp Rp Rp Rp Penetapan industri inti/prioritas 1 2 Omset Industri 3 Jumlah sentra industri Jumlah klaster industri Program Pengembangan Sentra-sentra Industri Rp0 Rp0 Rp Rp Rp Rp Jumlah sentra yang telah membentuk asosiasi 2 atau sejenisnya Program Peningkatan Penerapan Standarisasi Produk 4 dan sertifikasi Rp0 Rp0 Rp Rp Rp Rp Jumlah produk yang sudah memiliki sertifikat standar nasional Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah Rp0 Rp0 Rp Rp Rp Rp Jenis Produk Unggulan Daerah yang sudah ber- SK URUSAN TRANSMIGRASI Rp Program Pengembangan Wilayah Transmigrasi Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah Transmigran Swakarsa dan Umum FUNGSI PENUNJANG URUSAN PEMERINTAHAN PERENCANAAN Rp Rp Rp Rp Rp Rp Bab VIII - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-21

257 KONDISI URUSAN DAN KINERJA PADA PROGRAM AKHIR PERIODE RPJMD 2021 AWAL RPJMD PEMBANGUNAN INDIKATOR KINERJA PROGRAM 2015 (OUTCOME) TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP 1 Program Perencanaan Pembangunan Daerah Rp Rp Rp Rp Rp Rp Tersedianya dokumen perencanaan RPJPD, RPJMD dan RKPD yang telah ditetapkan 1 dengan Perda Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia 2 Ketepatan waktu penyusunan RKPD Tepat waktu Tepat waktu Tepat waktu Tepat waktu Tepat waktu Tepat waktu Tepat waktu 3 Indeks LPPD EKPPD 2,7106 2,9106 3,1106 3,3106 3,5106 3,7106 3,88 Presentase OPD menyusun dokumen 4 5 perencanaan tepat waktu 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Prosentase Penjabaran Program RPJMD ke dalam RKPD 85% 90% 100% 100% 100% 100% 100% 6 Prosentase serapan kegiatan dan anggaran 85% 90% 100% 100% 100% 100% 100% 2 Program Pengembangan data/informasi Rp Rp Rp Rp Rp Rp Ketersediaan Data Profil daerah Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia 2 Jumlah aplikasi yang berfungsi Program Perencanaan Sosial Budaya Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah dokumen perencanaan sosial budaya N/A Program Perencanaan Pembangunan Ekonomi Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah dokumen perencanaan ekonomi N/A Program Perencanaan Wilayah dan Sumber Daya Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah dokumen perencanaan Wilayah dan 1 Sumber Daya Alam N/A Jumlah pusat pertumbuhan yang ditetap N/A Tersedianya PWK sebagai salah satu instrumen N/A 3 penetapan anggaran 4 Jumlah masterplan pengendalian sumber daya n/a 1 alam dan lingkungan hidup 5 Tersedianya dokumen KLHS untuk KRP n/a Jumlah dokumen perencanaan Wilayah dan N/A Sumber Daya Alam 2 Program Pengembangan Wilayah Strategis dan Cepat T Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah kawasan perdesaan yang terbentuk 1 2 Jumlah pengembangan kawasan strategis n/a Program perencanaan pembangunan daerah rawan ben Rp Rp Rp Rp Rp Rp Persentase pemetaan detail rawan bencana 13,33 13,33 13,33 13,33 13,33 13,33 13, unit tingkat kecamatan 2 Jumlah EWS (early warning system) yang 2 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2 terpasang dan berfungsi 4 erencanaan Tata Ruang ,00 Rp Rp Rp Rp Rp Rp Tersedianya informasi mengenai rencana tata ada ada ada ada ada ada ruang (RTR) wilayah kabupaten melalui peta analog dan peta digital 2 Jumlah RDTR yang dilegalisasi jumlah kawasan yang di-rtbl-kan Jumlah RTBL yang dilegalisasi jumlah sub BWK prioritas yang disusun RTBL nya 6 Terlaksanakannya revisi Perda RTRW 1 kali 1 1 kali 7 Jumlah RDTR yang telah tersedia peta dasar yang direkomendasi Badan Informasi Geospasial (BIG) 8 Jumlah Survei dan pemetaan untuk penyusunan rencana detail tata ruang Bab VIII - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-22

258 URUSAN DAN PROGRAM PEMBANGUNAN INDIKATOR KINERJA PROGRAM (OUTCOME) 9 prosentase Tingkat Pemahaman masyarakat peraturan perundang-undangan tentang rencana tata ruang KONDISI KINERJA PADA AKHIR PERIODE RPJMD 2021 AWAL RPJMD 2015 TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP N/a 5% 10% 15% 20% 30% 50% KEUANGAN Program peningkatan pengembangan sistem Rp Rp Rp Rp Rp Rp pelaporan capaian kinerja dan keuangan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Opini BPK WDP WDP WDP WTP WTP WTP WTP Prosentase Pelaporan Capaian Kinerja dan 2 Keuangan Tepat Waktu N/A 100% 100% 100% 100% 100% 100% 3 Predikat SAKIP CC CC B B B B B Program Peningkatan dan Pengembangan 2 Pengelolaan Keuangan Daerah Rp Rp Rp Rp Rp Rp %Ketepatan waktu penyampaian laporan 1 2 keuangan dan kinerja berdasarkan PP No 58 Tahun % 100% 100% 100% 100% 100% 100% % Ketepatan waktu penyampaian laparan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% % SKPD yang melaporkan inventaris barang 3 tepat waktu. N/A 70% 75% 80% 85% 90% 100% 4 %Akuntablitas pelaporan aset daerah N/A 70% 75% 80% 85% 90% 100% Program pembinaan dan fasilitasi pengelolaan 3 keuangan kabupaten/ kota Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rasio SILPA terhadap Total Pendapatan Daerah 13,32 11,988 10,7892 9, , , KEPEGAWAIAN, PENDIDIKAN DAN PELATIHAN Rp Rp Rp Rp Rp Rp Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Rp Rp Rp Rp Rp Rp Ketersediaan sistem penilaian kinerja secara 1 terbuka N/A 0 0 Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Prosentase OPD dengan Nilai Indeks Reformasi 2 Birokrasi Baik (Kategori B) N/A 15% 3000% 4500% 60% 75% 80% 2 Program Penataan Kelembagaan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Ketersedian Perda OPD N/A Tersedia 3 Program pembinaan dan pengembangan aparatur Rp Rp Rp Rp Rp Rp Prosentase Pejabat Struktural/ Fungsional yang telah mengikuti Diklat sesuai dengan 1 golongan/ jenjang N/A 100% 100% 100% 100% 100% 100% 2 Jumlah PNS pendidikan S Prosentase penempatan jabatan struktural 3 sesuai dengan kompetensi N/A 50% 60% 70% 80% 90% 100% 4 Program Peningkatan Disiplin Aparatur Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah pelanggaran disiplin yang dilakukan 1 PNS 0, Prosentase Disiplin Pegawai N/A 100% 100% 100% 100% 100% 100% PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN Rp Rp Rp Rp Rp Rp Program pengkajian dan penelitian Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah Dokumen pengkajian dan penelitian N/A Jumlah hasil Krenova yang menjadi juara min 2 TK Provinsi Jateng Tersedianya SIDA N/A 0 0 Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia FUNGSI LAIN PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU Rp Rp Rp Rp Rp Rp Bab VIII - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-23

259 KONDISI URUSAN DAN KINERJA PADA PROGRAM AKHIR PERIODE RPJMD 2021 AWAL RPJMD PEMBANGUNAN INDIKATOR KINERJA PROGRAM 2015 (OUTCOME) TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP TARGET RP 1 Program Peningkatan Pelayanan Publik Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rasio penerapan SPP dan SOP pada OPD Persentase SPM yang tercapai 70% 72,10% 74,26% 76,49% 78,79% 81,15% 85% 3 Prosentase zone integritas yang terbentuk N/A 5% 7,5% 10% 15% 20% 25% Program Peningkatan kemudahan dan akses layanan 2 melalui pelayanan terpadu Rp0 Rp Rp Rp Rp Rp Prosentase unit pelayanan yang melaksanakan 1 layanan sesuai dengan SOP N/A 50% 60% 70% 80% 90% 100% 2 Persentase unit pelayanan publik yang menerapkan unit pengaduan publik N/A 50% 60% 70% 80% 90% 100% 3 Indeks Kepuasan Layanan Masyarakat N/A Rata-rata nilai integritas Pelayanan Publik OPD N/A B B B B B A 5 Jumlah kecamatan yang menerapkan PATEN KERJASAMA DAERAH Rp Rp Rp Rp Rp Rp Program Pengembangan Kemitraan/ Kerjasama Rp Rp Rp Rp Rp Rp Jumlah MOU Jumlah Kerjasama Program Peningkatan Kerjasama Antar Pemerintah 1 Jumlah kerjasama bidang ekonomi PENGAWASAN Rp Rp Rp Rp Rp Rp Program Penataan dan Penyempurnaan kebijakan 1 sistem dan prosedur pengawasan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Prosentase tindak lanjut hasil pemeriksaan 1 aparatur internal dan BPK 71,45% 75,02% 78,77% 82,71% 86,85% 91,19% 100,00% 2 Level APIP Prosentase OPD yang menerapkan SPIP 0% 0% 20% 40% 60% 80% 100 Program Peningkatan Profesionalisme tenaga 2 pemeriksa dan aparatur pengawasan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Prosentase tenaga pemeriksa dan aparatur pengawasan yang mengikuti bintek atau sertifikasi Jabatan Fungsional Auditor 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% HUKUM DAN PENATAAN PERATURAN PERUNDANG- UNDANGAN Rp Rp Rp Rp Rp Rp Program Penataan Peraturan Perundang-undangan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rasio realisasi Propemperda 5/25 6/25 7/25 8/25 9/25 9/25 10/25 2 Prosentase Raperda Yang disetujui DPRD 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Rasio Perda yang dibatalkan terhadap raperda 3 yang ditetapkan menjadi Perda 4 4,32 4,67 5,04 5,44 5,88 6 Prosentase permasalahan hukum yang dapat 4 ditangani 10% 10% 15% 20% 25% 30% 50% 2 Program peningkatan kapasitas lembaga perwakilan Rp Rp Rp Rp Rp Rp Prosentase Raperda inistiatif yang dihasilkan 1 oleh DPRD Bab VIII - RPJMD Kabupaten Wonosobo V-24

260 BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH Penetapan indikator kinerja daerah dimaksudkan untuk memberikan gambaran tentang tingkat pencapaian visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati pada akhir periode masa jabatannya. Tingkat keberhasilan tersebut ditunjukan dari akumulasi pencapaian indikator outcome program pembangunan daerah setiap tahun atau indikator capaian yang bersifat mandiri setiap tahun sehingga kondisi kinerja yang diinginkan pada akhir periode RPJMD dapat dicapai. Indikator kinerja adalah alat untuk mengukur secara spesifik baik secara kuantitatif dan/atau kualitatif tingkat capaian kinerja program dan kegiatan. Dengan demikian indikator kinerja menjadi dasar penilaian kinerja dalam proses perencanaan, pelaksanaan maupun dalam pencapaian tujuan dan sasaran. Indikator tersebut menjadi parameter prioritas pembangunan dan juga sebagai instrumen pemantauan dan evaluasi RPJMD. Target capaian indikator kinerja daerah yang menggambarkan kinerja pemerintah daerah dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah secara umum selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut: Bab IX - RPJMD Kabupaten Wonosobo IX- 1

261 BAB X PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN A. Pedoman Transisi Dengan berakhirnya Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Wonosobo Tahun nantinya maka untuk menjaga keberlanjutan pembangunan pada periode selanjutnya terutama sekali untuk tahun pertama kepemimpinan Kepala Daerah yang baru maka RPJMD ini tetap menjadi acuan dalam penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah dan RAPBD Kabupaten Wonosobo. Sinkronisasi dalam penyusunan RKPD pada tahun transisi juga tidak boleh terlepas dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Wonosobo Tahun dan RPJMN maupun RPJMD Provinsi Jawa Tengah yang digunakan pada masa tersebut. B. Kaidah Pelaksanaan RPJMD Kabupaten Wonosobo disusun untuk digunakan sebagai pedoman bagi pemerintah daerah maupun stakeholder yang berkepentingan terhadap pelaksanaan pembangunan di Kabupaten Wonosobo untuk lima tahun ke depan. Dokumen ini menjadi salah satu acuan bagi OPD dalam mewujudkan Visi dan Misi Kepala Daerah terpilih untuk masa lima tahun ke depan. Selain itu, RPJMD Kabupaten Wonosobo Tahun memuat kebijakan keuangan daerah, strategi pembangunan daerah, kebijkan umum, dan program SKPD, lintas SKPD dan program kewilayah disertai dengan rencana kerja dalam kerangka regulasi dan pendanaan yang bersifat indikatif. Sudah selayaknya OPD berkewajiban mendukung pencapaian target-target yang telah ditetapkan melalui program kegiatan di setiap OPD. Gambaran pencapaian target-terget tersebut akan terlihat pada evaluasi-evaluasi yag dilakukan setiap tahunnya. Dari evaluasi ini akan kelihatan target-terget mana yang telah aman tercapai maupun target-target mana yang sedang dalam proses pencapain maupun target-target yang perlu dorongan dan dukungan untuk pencapaiannya. Guna pencapaian target-target yang telah ditetapkan tersebut maka diperlukan kaidahkaidah pelaksanannya, antara lain : a. Kabupaten berkewajiban untuk melakukan sosialisasi terkait dokumen RPJMD yang telah disusun kepada stakeholder yang terkait. b. Target-target yang telah tercantum didalam RPJMD Kabupaten Wonosobo agar didukung oleh semua OPD maupun stakeholder melalui berbagai program dan kegiatan yang pelaksanaannya dilakukan secara terpadu, konsistensi, transparansi, inovatif, dan rasa tanggung jawab tinggi. Bab X - RPJMD Kabupaten Wonosobo X- 1

262 c. RPJMD Kabupaten Wonosobo menjadi pedoman dan perhatian bagi seluruh OPD dalam penyusunan Renstra. d. Kepala Daerah melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah melaksanakan pengendalian dan evaluasi terhadap hasil pelaksanaan RPJMD. Bab X - RPJMD Kabupaten Wonosobo X- 2

263 BAB XI P E N U T U P Penyelenggaraan pemerintahan daerah dan pembangunan Wonosobo pada periode merupakan tahap ketiga dari pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kabupaten Wonosobo tahun yang menetapkan visi Wonosobo ASRI dan bermartabat. Dalam konteks ini, dokumen Rencana Pembangunan jangka Menengah Daerah ini memiliki arti sangat penting, yaitu agar visi Bersatu untuk Maju, Mandiri dan Sejahtera untuk Semua bisa mengarahkan pencapaian tujuan jangka panjang agar Wonosobo benar-benar aman, sehat, rapi, indah dan bermartabat.. Dokumen RPJMD Kabupaten Wonosobo ini juga menjadi penyelaras antara dokumen rencana jangka panjang, sekaligus sebagai penghubung dengan dokumen jangka pendek dibawahnya. Dokumen ini menjadikan acuan bagi setiap SKPD didalam penyusunan Rencana Strategis dan Rencana Kerjanya. Keselarasan dan kesinambungan diantara dokumen-dokumen yang ada tersebut diharapkan akan menjadikan perencanaan pembangunan di Kabupaten Wonosobo dapat berjalan dan terjaga secara terarah, terpadu, berkelanjutan dan terhindar dari duplikasi-duplikasi dalam Implementasinya di SKPD. Sesuai dengan prinsip berkesinambungan (continuity) dan berkelanjutan (sustainability), modalitas yang sudah tersedia pada waktu Wonosobo mengalami transisi pemerintahan pada tahun 2016 ini juga menjadi salah satu pertimbangan ketika merumuskan kerangka logis RPJMD lima tahun ke depan. Ini dilakukan agar pembangunan Wonosobo lima tahun ke depan tidak terputus dengan periode sebelumnya, karena upaya yang dilakukan dalam masa lima tahunan kepepimpinan Bupati dan Wakil Bupati pada hakekatnya adalah implenentasi dari perencanaan jangka panjang 20 tahunan yang sudah ditetapkan bersama. Selanjutnya, agar dokumen ini memenuhi kaidah perencanaan yang baik, berbagai upaya harmonisasi aspirasi, klarifikasi maupun pendalaman materi, sudah dilakukan. Berbagai pemangku kepentingan sudah dilibatkan dalam proses penyusunan RPJMD melalui bermacam metode. Pendekatan politis, teknokratis maupun partisipatoris sudah dilakukan, termasuk proses pembahasan dengan jajaran DPRD Kabupaten Wonsoobo maupun evaluasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, sehingga akhirnya ditetapkan menjadi Perda Kabupaten Wonosobo tentang RPJMD Tahun Akhirnya, semoga RPJMD ini bisa menjadi acuan bersama bagi segenap elemen pemangku kepentingan dalam penyelenggaraan tata kelola pemeritahan dan proses pembangunan, sehingga terwujud Wonosobo yang bersatu untuk maju, mandiri dan sejahtera untuk semua. Bab XI - RPJMD Kabupaten Wonosobo XI-1

DAFTAR ISI. Daftar Isi... Daftar Tabel...

DAFTAR ISI. Daftar Isi... Daftar Tabel... DAFTAR ISI Daftar Isi... Daftar Tabel... ii iv BAB I Pendahuluan... 1 A. Dasar Hukum... 1 B. Gambaran Umum Daerah... 2 1. Kondisi Geografis Daerah... 2 2. Gambaran Umum Demografis... 4 3. Kondisi Ekonomi...

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KOTA SEMARANG TAHUN

PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KOTA SEMARANG TAHUN PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KOTA SEMARANG TAHUN 2010 2015 PEMERINTAH KOTA SEMARANG TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG

Lebih terperinci

D A F T A R I S I Halaman

D A F T A R I S I Halaman D A F T A R I S I Halaman B A B I PENDAHULUAN I-1 1.1 Latar Belakang I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan I-2 1.3 Hubungan RPJM dengan Dokumen Perencanaan Lainnya I-3 1.4 Sistematika Penulisan I-7 1.5 Maksud

Lebih terperinci

BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN WONOSOBO NOMOR 12 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN WONOSOBO NOMOR 12 TAHUN 2016 TENTANG SALINAN BUPATI WONOSOBO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN WONOSOBO NOMOR 12 TAHUN 2016 TENTANG PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN PERANGKAT DAERAH KABUPATEN WONOSOBO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Halaman. X-ii. RPJMD Kabupaten Ciamis Tahun

DAFTAR ISI. Halaman. X-ii. RPJMD Kabupaten Ciamis Tahun DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... xii DAFTAR GRAFIK... xiii BAB I PENDAHULUAN... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... I-5

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR NOMOR 22 TAHUN 2011 T E N T A N G

PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR NOMOR 22 TAHUN 2011 T E N T A N G Design by (BAPPEDA) Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur Martapura, 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR NOMOR 22 TAHUN 2011 T E N T A N G RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH (RPJM) DAERAH

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN

PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 9 TAHUN 2010 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2011-2015 Diperbanyak oleh: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I-1

BAB I PENDAHULUAN I-1 LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBA BARAT NOMOR : TAHUN 2016 TANGGAL : 2016 TENTANG : PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH KABUPATEN SUMBA BARAT TAHUN 2016 2021 BAB I PENDAHULUAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kabupaten Pati merupakan salah satu dari 35 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah yang mempunyai posisi strategis, yaitu berada di jalur perekonomian utama Semarang-Surabaya

Lebih terperinci

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2016-2021 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Untuk menjalankan tugas dan fungsinya, pemerintah daerah memerlukan perencanaan mulai dari perencanaan jangka panjang, jangka menengah hingga perencanaan jangka pendek

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... Halaman BAB I. PENDAHULUAN... I-1 1.1 Latar Belakang... I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... I-3 1.3 Hubungan Antar Dokumen... I-4

Lebih terperinci

A. GAMBARAN UMUM KABUPATEN WONOSOBO

A. GAMBARAN UMUM KABUPATEN WONOSOBO BAB I PENDAHULUAN A. GAMBARAN UMUM KABUPATEN WONOSOBO 1. Kondisi Geografi Secara geografis Kabupaten Wonosobo terletak antara 7. 11 dan 7. 36 Lintang Selatan (LS), 109. 43 dan 110. 04 Bujur Timur (BT).

Lebih terperinci

SURAKARTA KOTA BUDAYA, MANDIRI, MAJU, DAN SEJAHTERA.

SURAKARTA KOTA BUDAYA, MANDIRI, MAJU, DAN SEJAHTERA. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, mengamanatkan kepada

Lebih terperinci

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR TAHUN

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR TAHUN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR TAHUN 2016-2021 PEMERINTAH KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR TAHUN 2016 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD)

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2015

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2015 Lampiran I Peraturan Bupati Pekalongan Nomor : 15 Tahun 2014 Tanggal : 30 Mei 2014 RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2015 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Dokumen perencanaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan merupakan suatu proses yang dilaksanakan terus-menerus untuk mencapai tingkat kehidupan masyarakat yang sejahtera lahir dan batin. Proses tersebut dilaksanakan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Rancangan Akhir RPJMD Tahun Hal. I LATAR BELAKANG

BAB 1 PENDAHULUAN. Rancangan Akhir RPJMD Tahun Hal. I LATAR BELAKANG BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Provinsi DKI Jakarta merupakan kota dengan banyak peran, yaitu sebagai pusat pemerintahan, pusat kegiatan perekonomian, pusat perdagangan, pusat jasa perbankan dan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SUMEDANG TAHUN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SUMEDANG TAHUN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SUMEDANG TAHUN 2014-2018 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMEDANG, Menimbang

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM

BAB II GAMBARAN UMUM 72 BAB II GAMBARAN UMUM 2. 1 Kabupaten Wonosobo 2.1.1 Letak Geografis Kabupaten Wonosobo yang bersemboyan : Pusakaning Dwi Pujangga Nyawiji dan memiliki Motto: Wonosobo ASRI (Aman, Sehat, Rapi, Indah)

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KOTA PAGAR ALAM TAHUN 2018

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KOTA PAGAR ALAM TAHUN 2018 RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KOTA PAGAR ALAM TAHUN 2018 PEMERINTAH KOTA PAGAR ALAM TAHUN 2017 KATA PENGANTAR Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota Pagar Alam Tahun 2018 disusun dengan mengacu

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2016 BAB I PENDAHULUAN

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2016 BAB I PENDAHULUAN Lampiran I Peraturan Bupati Pekalongan Nomor : 17 Tahun 2015 Tanggal : 29 Mei 2015 RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2016 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemerintah

Lebih terperinci

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 13 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 13 TAHUN 2014 TENTANG BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 13 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN CIAMIS TAHUN 2014-2019 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Hal. Daftar Isi... i Daftar Tabel... v Daftar Gambar... x Daftar Grafik... xi

DAFTAR ISI. Hal. Daftar Isi... i Daftar Tabel... v Daftar Gambar... x Daftar Grafik... xi DAFTAR ISI Hal. Daftar Isi... i Daftar Tabel... v Daftar Gambar... x Daftar Grafik... xi BAB I PENDAHULUAN... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... I-4 1.3. Hubungan RPJMD dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN...I.

BAB I PENDAHULUAN...I. DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GRAFIK... x DAFTAR GAMBAR... xi BAB I PENDAHULUAN... I. 1 1.1 Latar Belakang... I. 1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... I. 9 1.3 Hubungan RKPD dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN : PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR : 54 TAHUN 2008 TANGGAL : 12 SEPTEMBER 2008 TENTANG : RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH (RPJM) DAERAH PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2008-2013

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Undang-Undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) dan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah mengamanatkan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Hal. I - 1

BAB I PENDAHULUAN. Hal. I - 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan daerah yang berkelanjutan merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan dalam mendukung pencapaian target kinerja pembangunan daerah. Untuk itu diperlukan

Lebih terperinci

Lubuklinggau, Mei 2011 BUPATI MUSI RAWAS RIDWAN MUKTI

Lubuklinggau, Mei 2011 BUPATI MUSI RAWAS RIDWAN MUKTI Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat dan rahmat-nya kegiatan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Musi Rawas Tahun 2010-2015 dapat diselesaikan

Lebih terperinci

BAB I 1 BAB I PENDAHULUAN

BAB I 1 BAB I PENDAHULUAN BAB I 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perencanaan Pembangunan Daerah memiliki arti sangat penting dalam penyelenggaraan pemerintahan dan menjadi pedoman dalam pelaksanaan pembangunan. Sesuai dengan

Lebih terperinci

BAB 1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG

BAB 1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2016-2021 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2016-2021 BAB 1. PENDAHULUAN

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 9 TAHUN 2008

LEMBARAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 9 TAHUN 2008 No. 9, 2008-1 - LEMBARAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 9 TAHUN 2008 PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 9 TAHUN 2008 TENTANG URUSAN PEMERINTAHAN YANG MENJADI KEWENANGAN PROVINSI KALIMANTAN

Lebih terperinci

Pendahuluan. Latar Belakang

Pendahuluan. Latar Belakang Pendahuluan Latar Belakang Pembangunan daerah Kabupaten Bangkalan yang dilaksanakan dalam kurun waktu Tahun 2008 2013 telah memberikan hasil yang positif dalam berbagai segi kehidupan masyarakat. Namun

Lebih terperinci

RPJMD KABUPATEN LAMANDAU TAHUN

RPJMD KABUPATEN LAMANDAU TAHUN i BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) berpedoman pada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional,

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR BAB I PENDAHULUAN 1 1

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR BAB I PENDAHULUAN 1 1 DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR ii vi BAB I PENDAHULUAN 1 1 1.1. Latar Belakang 1 1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan 1 2 1.3. Hubungan Antar Dokumen 1 5 1.4. Sistematika Dokumen RKPD 1 6 1.5. Maksud dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perencanaan pembangunan nasional yang bertujuan untuk mendukung

BAB I PENDAHULUAN. perencanaan pembangunan nasional yang bertujuan untuk mendukung LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KOTABARU NOMOR 17 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KOTABARU TAHUN 2016-2021 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang P erencanaan pembangunan

Lebih terperinci

~ 1 ~ BUPATI BONDOWOSO PERATURAN DAERAH KABUPATEN BONDOWOSO NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG

~ 1 ~ BUPATI BONDOWOSO PERATURAN DAERAH KABUPATEN BONDOWOSO NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG ~ 1 ~ BUPATI BONDOWOSO Rancangan : PERATURAN DAERAH KABUPATEN BONDOWOSO NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH (RPJPD) TAHUN 2005-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

BUPATI PACITAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PACITAN NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG

BUPATI PACITAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PACITAN NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG BUPATI PACITAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PACITAN NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG (RPJP) DAERAH KABUPATEN PACITAN TAHUN 2005 2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR 4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Beberapa gambaran umum dari kondisi fisik Kabupaten Blitar yang merupakan wilayah studi adalah kondisi geografis, kondisi topografi, dan iklim.

Lebih terperinci

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH (RPJM) KABUPATEN ACEH SELATAN TAHUN

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH (RPJM) KABUPATEN ACEH SELATAN TAHUN BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN PERATURAN BUPATI KABUPATEN ACEH SELATAN NOMOR 18 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH KABUPATEN ACEH SELATAN TAHUN 2013-2018 1.1. Latar Belakang Lahirnya Undang-undang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. RPJMD Kabupaten Grobogan Tahun I 1

BAB I PENDAHULUAN. RPJMD Kabupaten Grobogan Tahun I 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Pemerintah Pusat memberikan kewenangan yang lebih besar kepada daerah untuk melakukan serangkaian

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU 4.1 Kondisi Geografis Secara geografis Provinsi Riau membentang dari lereng Bukit Barisan sampai ke Laut China Selatan, berada antara 1 0 15 LS dan 4 0 45 LU atau antara

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... i vii xii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... I-2 1.3 Hubungan Antar Dokumen... I-4 1.3.1 Hubungan RPJMD

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Provinsi Lampung merupakan provinsi yang berada di ujung selatan Pulau Sumatera dan merupakan gerbang utama jalur transportasi dari dan ke Pulau Jawa. Dengan posisi

Lebih terperinci

Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851); 3. Undang-Undang Nomor 12

Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851); 3. Undang-Undang Nomor 12 BAB I PENDAHULUAN Berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk republik. Konsekuensi logis sebagai negara kesatuan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA SAWAHLUNTO TAHUN 2009

LEMBARAN DAERAH KOTA SAWAHLUNTO TAHUN 2009 LEMBARAN DAERAH KOTA SAWAHLUNTO TAHUN 2009 PERATURAN DAERAH KOTA SAWAHLUNTO NOMOR 2 TAHUN 2009 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KOTA SAWAHLUNTO TAHUN 2008 2013 DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kawasan perdesaan sebagai basis utama dan bagian terbesar dalam wilayah Kabupaten Lebak, sangat membutuhkan percepatan pembangunan secara bertahap, proporsional dan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG

PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2012-2016 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

RANCANGAN RENCANA PEMBANGUNANN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KOTABARU TAHUN

RANCANGAN RENCANA PEMBANGUNANN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KOTABARU TAHUN RANCANGAN RENCANA PEMBANGUNANN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KOTABARU TAHUN 2016-2021 PEMERINTAH KABUPATEN KOTABARU 2016 Bab I Daftar Isi... i Daftar Tabel... iii Daftar Gambar... ix PENDAHULUAN I-1

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PEKALONGAN NOMOR 8 TAHUN 2011

SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PEKALONGAN NOMOR 8 TAHUN 2011 SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PEKALONGAN NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2011 2016 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PEKALONGAN,

Lebih terperinci

PENDAHULUAN BAB I 1.1. LATAR BELAKANG

PENDAHULUAN BAB I 1.1. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Pelaksanaan pembangunan daerah yang merupakan kewenangan daerah sesuai dengan urusannya, perlu berlandaskan rencana pembangunan daerah yang disusun berdasarkan kondisi

Lebih terperinci

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kota Bekasi Tahun Revisi BAB I PENDAHULUAN

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kota Bekasi Tahun Revisi BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN : PERATURAN DAERAH KOTA BEKASI Nomor : Tanggal : BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional mengamanatkan

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA PAGAR ALAM NOMOR 34 TAHUN 2016

PERATURAN WALIKOTA PAGAR ALAM NOMOR 34 TAHUN 2016 PERATURAN WALIKOTA PAGAR ALAM NOMOR 34 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN WALIKOTA PAGAR ALAM NOMOR 11 TAHUN 2016 TENTANG PENETAPAN RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KOTA PAGAR ALAM TAHUN

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUNINGAN NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KUNINGAN TAHUN

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUNINGAN NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KUNINGAN TAHUN RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUNINGAN NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KUNINGAN TAHUN 2014-2018 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KUNINGAN,

Lebih terperinci

LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN FLORES TIMUR NOMOR : 10 TAHUN 2017 TANGGAL : 20 November 2017 BAB I PENDAHULUAN

LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN FLORES TIMUR NOMOR : 10 TAHUN 2017 TANGGAL : 20 November 2017 BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN FLORES TIMUR NOMOR : 10 TAHUN 2017 TANGGAL : 20 November 2017 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Berdasarkan pasal 3 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem

Lebih terperinci

BUPATI KUDUS PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI KUDUS PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG BUPATI KUDUS PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KUDUS TAHUN 2013-2018 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH PROVINSI BALI TAHUN

PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH PROVINSI BALI TAHUN PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH PROVINSI BALI TAHUN 2013-2018 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

ISI DAN URAIAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA TASIKMALAYA TAHUN BAB I PENDAHULUAN

ISI DAN URAIAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA TASIKMALAYA TAHUN BAB I PENDAHULUAN - 1 - LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA TASIKMALAYA TAHUN 2013-2017 ISI DAN URAIAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG

PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2012-2016 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMANDAU NOMOR 01 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN LAMANDAU TAHUN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMANDAU NOMOR 01 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN LAMANDAU TAHUN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMANDAU NOMOR 0 TAHUN 204 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN LAMANDAU TAHUN 203-208 PEMERINTAH KABUPATEN LAMANDAU PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN. A. Balai Pelaksana Teknis Bina Marga Wilayah Magelang

BAB II DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN. A. Balai Pelaksana Teknis Bina Marga Wilayah Magelang BAB II DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN A. Balai Pelaksana Teknis Bina Marga Wilayah Magelang Balai Pelaksana Teknis Bina Marga atau disingkat menjadi BPT Bina Marga Wilayah Magelang adalah bagian dari Dinas

Lebih terperinci

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN BAB I PENDAHULUAN

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR : TANGGAL : RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2014-2019 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Provinsi Jawa

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BINTAN NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN BINTAN TAHUN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BINTAN NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN BINTAN TAHUN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BINTAN NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN BINTAN TAHUN 20162021 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BINTAN, Menimbang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perencanaan pembangunan daerah merupakan suatu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional. Hal ini dimaksudkan agar perencanaan pembangunan daerah senantiasa

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBA TENGAH NOMOR: 3 TAHUN 2008 TENTANG URUSAN PEMERINTAHAN YANG MENJADI KEWENANGAN KABUPATEN SUMBA TENGAH

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBA TENGAH NOMOR: 3 TAHUN 2008 TENTANG URUSAN PEMERINTAHAN YANG MENJADI KEWENANGAN KABUPATEN SUMBA TENGAH PERATURAN DAERAH NOMOR: 3 TAHUN 2008 TENTANG URUSAN PEMERINTAHAN YANG MENJADI KEWENANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBA TENGAH, Menimbang : a. bahwa dalam rangka memantapkan implementasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) merupakan bagian dari Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), seperti tercantum dalam Undang- Undang Nomor

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Berdasarkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, bahwa penyelenggaraan desentralisasi dilaksanakan dalam bentuk pemberian kewenangan Pemerintah

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN DEMAK

PERATURAN DAERAH KABUPATEN DEMAK PEMERINTAH KABUPATEN DEMAK PERATURAN DAERAH KABUPATEN DEMAK NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN DEMAK TAHUN 2011-2016 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

MEMUTUSKAN : PERATURAN WALIKOTA TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS, FUNGSI, DAN TATA KERJA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH

MEMUTUSKAN : PERATURAN WALIKOTA TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS, FUNGSI, DAN TATA KERJA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH PERATURAN WALIKOTA PADANG NOMOR 88 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS, FUNGSI, DAN TATA KERJA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PADANG,

Lebih terperinci

BUPATI REMBANG PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN REMBANG NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI REMBANG PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN REMBANG NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG BUPATI REMBANG PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN REMBANG NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN REMBANG TAHUN 2016-2021 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

RKPD KABUPATEN LAMANDAU TAHUN 2015

RKPD KABUPATEN LAMANDAU TAHUN 2015 i BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) berpedoman pada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, Undang-Undang

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KENDAL ( Dalam Proses Konsultasi ke Gubernur Jateng )

PEMERINTAH KABUPATEN KENDAL ( Dalam Proses Konsultasi ke Gubernur Jateng ) PERATURAN DAERAH KABUPATEN KENDAL NOMOR 7 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN KENDAL TAHUN 2016-2021 PEMERINTAH KABUPATEN KENDAL ( Dalam Proses Konsultasi ke

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA BOGOR TAHUN 2010 NOMOR 3 SERI E PERATURAN DAERAH KOTA BOGOR NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KOTA BOGOR TAHUN 2010 NOMOR 3 SERI E PERATURAN DAERAH KOTA BOGOR NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG LEMBARAN DAERAH KOTA BOGOR TAHUN 2010 NOMOR 3 SERI E PERATURAN DAERAH KOTA BOGOR NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KOTA BOGOR TAHUN 2010-2014 DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR BAB I PENDAHULUAN 1-1

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR BAB I PENDAHULUAN 1-1 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ii DAFTAR TABEL iv DAFTAR GAMBAR xi I PENDAHULUAN 1-1 1.1 LATAR BELAKANG 1-2 1.2 DASAR HUKUM PENYUSUNAN 1-3 1.3 HUBUNGAN ANTAR DOKUMEN 1-5 1.4 SISTEMATIKA PENULISAN

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2010-2015 DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL.... DAFTAR GAMBAR....

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kota Tasikmalaya dibentuk berdasarkan pada Peraturan Daerah Kota Tasikmalaya nomor 8 tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... i ii vi xi PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PAKPAK BHARAT, Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 12 ayat (1) dan (2)

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PAKPAK BHARAT, Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 12 ayat (1) dan (2) PERATURAN DAERAH KABUPATEN PAKPAK BHARAT NOMOR 3 TAHUN 2008 TENTANG URUSAN PEMERINTAHAN WAJIB DAN PILIHAN YANG MENJADI KEWENANGAN PEMERINTAH KABUPATEN PAKPAK BHARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG

PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG BUPATI SEMARANG PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SEMARANG,

Lebih terperinci

Tabel IV.C.1.1 Rincian Program dan Realisasi Anggaran Urusan Perikanan Tahun 2013

Tabel IV.C.1.1 Rincian Program dan Realisasi Anggaran Urusan Perikanan Tahun 2013 C. URUSAN PILIHAN YANG DILAKSANAKAN 1. URUSAN PERIKANAN Pembangunan pertanian khususnya sektor perikanan merupakan bagian integral dari pembangunan ekonomi, dalam hal ini sektor perikanan adalah sektor

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR NOMOR 01 TAHUN 2008 TENTANG URUSAN PEMERINTAHAN YANG MENJADI KEWENANGAN KABUPATEN LUWU TIMUR

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR NOMOR 01 TAHUN 2008 TENTANG URUSAN PEMERINTAHAN YANG MENJADI KEWENANGAN KABUPATEN LUWU TIMUR PERATURAN DAERAH NOMOR 01 TAHUN 2008 TENTANG URUSAN PEMERINTAHAN YANG MENJADI KEWENANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LUWU TIMUR, Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 12

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUMAS NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2013-2018 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perencanaan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN BUPATI HUMBANG HASUNDUTAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

2.25. Jumlah Anak Balita Hidup dan Jumlah Kasus Kematian Balita di 32 KecamatanTahun II-42 Tabel Jumlah kasus kematian ibu hamil,

2.25. Jumlah Anak Balita Hidup dan Jumlah Kasus Kematian Balita di 32 KecamatanTahun II-42 Tabel Jumlah kasus kematian ibu hamil, LAMPRIAN : PERATURAN DAERAH KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN TAHUN 2014-2019 DAFTAR ISI DAFTAR ISI...

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MOJOKERTO NOMOR 7 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MOJOKERTO NOMOR 7 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN PERATURAN DAERAH KABUPATEN MOJOKERTO NOMOR 7 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2016 2021 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MOJOKERTO, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Karawang Tahun merupakan tahap ketiga dari

BAB I PENDAHULUAN. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Karawang Tahun merupakan tahap ketiga dari BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Karawang Tahun 2016-2021 merupakan tahap ketiga dari pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN WONOGIRI

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN WONOGIRI LEMBARAN DAERAH KABUPATEN WONOGIRI NOMOR : 9 TAHUN 2008 SERI : D NOMOR : 7 PERATURAN DAERAH KABUPATEN WONOGIRI NOMOR 9 TAHUN 2008 TENTANG URUSAN PEMERINTAHAN YANG MENJADI KEWENANGAN PEMERINTAHAN DAERAH

Lebih terperinci

RENCANA STRATEGIS BAPPEDA KOTA BEKASI TAHUN (PERUBAHAN II)

RENCANA STRATEGIS BAPPEDA KOTA BEKASI TAHUN (PERUBAHAN II) RENCANA STRATEGIS BAPPEDA KOTA BEKASI TAHUN 2013-2018 (PERUBAHAN II) B a d a n P e r e n c a n a a n P e m b a n g u n a n D a e r a h y a n g P r o f e s i o n a l, A n d a l d a n K r e d i b e l Untu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. Dalam rangka

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARIMUN NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN KARIMUN TAHUN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARIMUN NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN KARIMUN TAHUN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARIMUN NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN KARIMUN TAHUN 2011 2016 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARIMUN, Menimbang

Lebih terperinci