MAKALAH KEWAJIBAN LANCAR

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "MAKALAH KEWAJIBAN LANCAR"

Transkripsi

1 MAKALAH KEWAJIBAN LANCAR Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Akuntansi Keuangan Menengah I Dosen Pengampu : Rr. Indah Mustikawati, M.Si.,Ak. Adeng Pustikaningsih, M.Si. Disusun oleh : 1. Nur Rohmah Fithriyaningsih Retno Ekosari S Erna Sulistyaningsih Iqbal Wahyu Perdana PENDIDIKAN AKUNTANSI REGULER (A) PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2010

2 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata ala, karena berkat rahmat-nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Kewajiban Lancar. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Akuntansi Keuangan Menengah. Makalah ini kami buat dengan tujuan agar dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan bagi kami maupun mahasiswa yang lain yang akan membaca atau mempelajari makalah ini. Serta memberi penjelasan yang lebih mendalam mengenai kewajiban lancar. Tidak lupa pula, kami ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masayarakat dan mahasiswa/mahasisiwi dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua. Yogyakarta, Desember 2010 Penyusun

3 DAFTAR ISI Halaman Judul..i Kata Pengantar...ii Daftar Isi...iii Bab I Pendahuluan A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah...2 C. Tujuan....2 Bab II Pembahasan A. Definisi dan Klasifikasi Utang....3 B. Macam-macam Hutang Jangka Pendek 1. Hutang Usaha/Hutang Dagang.4 2. Hutang Usaha dengan Wesel Bagian Lancar Hutang Jangka Panjang.7 4. Kewajiban jangka Pendek yang Diharapkan Didanai Kembali 8 5. Hutang Deviden Uang Muka dari Jaminan dari Pelanggan Pendapatan Belum Terhimpun Hutang PPN Hutang PPh 13 Bab III Penutup...16 Daftar Pustaka..iv

4 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemeriksaan pada sisi kewajiban neraca sebuah perusahaan Jerman Beru AG Corporation, tanggal 31 Maret 2003, memperlihatkan bahwa standar internasional telah mangubah pelaporan informasi keuangan. Antisipasi kerugian berarti bahwa kerugian itu belum terjadi, transaksi yang ditangguhkan berarti bahwa kondisi yang mungkin akan menyebabkan kerugian itu juga belum terjadi. GAAP di Amerika Serikat memberikan panduan mengenai subjek ini. Sebuah perusahaan dapat mengakrualkan sebuah kewajiban untuk sebuah kontijensi hanya jika terjadi kewajiban yang timbul dari kejadian dimasa lalu, jika dimungkinkan terjadi pembayaran, dan jika perusahaan dapat dengan layak mengestimasi kewajiban itu. Singkatnya, di bawah GAAP AS, perusahaan tidak dapat mengakrualkan antisipasi kerugian dimasa depan pada saat ini. Karena IFRS mirip dengan GAAP AS, kewajiban seperti Antisipasi kerugian dari transaksi yang ditangguhkan tidak ada lagi. Jadi ketika kita memeriksa laporan keuangan Beru tahun 2005, kita akan menemukan catatan bahwa perusahaan hanya melaporkan kewajiban yang timbul dari transaksi masa lalu yang dapat diperkirakan dengan layak. Karena itu dalam makalah ini penyusun akan membahas mengenai masalah masalah yang terjadi dalam pelaporan keuangan serta cara-cara menghadapi permasalahan itu, dan juga tidak lupa penyusun membahas mengenai prinsip-prinsip prinsip-prinsip dasar tentang akuntansi dan pelaporan kewajiban lancar. Yang diharapkan dari pembahasan ini semua akan terciptanya sebuah pelaporan yang baik sesuai dengan prinsip-prinsip pelaporan kewajiban lancar.

5 B. Rumusan Masalah 1. Apa definisi dan klasifikasi utang usaha dan non usaha? 2. Apa deskripsi utang usaha non wesel dan utang usaha dengan wesel? 3. Apa deskripsi bagian lancar utang jangka panjang? 4. Apa saja masalah klasifikasi hutang jangka pendek yang diharapkan akan didanai kembali? 4. Apa definisi utang deviden? 5. Apa deskripsi uang muka dari jaminan dari pelanggan? 6. Apa deskripsi pendapatan belum terhimpun? 7. Apa deskripsi utang PPN? 8. Apa deskripsi dari PPh? C. Tujuan 1. Untuk mengetahui definisi dan klasifikasi utang usaha dan non usaha. 2. Untuk mengetahui utang usaha non wesel dan utang usaha dengan wesel. 3. Untuk mengetahui bagian lancer utang jangka pendek. 4. Untuk mengkaji masalah klasifikasi hutang jangka pendek yang diharapkan akan didanai kembali. 5. Untuk mengetahui definisi utang deviden. 6. Untuk menganalisis pendapatan belum terhimpun. 7. Untuk menganalisis utang PPN. 8. Untuk mengetahui deskripsi dari PPh.

6 BAB II PEMBAHASAN A. Definisi dan Klasifikasi Utang Utang (liabilities) menurut FASB didefinisikan sebagai kemungkinan pengorbanan masa depan atas manfaat ekonomi yang muncul dari kewajiban saat ini entitas tertentu untuk mentransfer aktiva atau menyediakan jasa kepada entitas lainnya dimasa depan sebagai hasil dari transaksi atau kejadian masa lalu. Kewajiban memiliki tiga karakteristik utama: 1. Merupakan kewajiban saat ini yang memerlukan penyelesaian dengan kemungkinan transfer masa depan atau penggunaan kas, barang, atau jasa. 2. Merupakan kewajiban yang tidak dapat dihindari. 3. Transaksi atau kejadian lainnnya yang menciptakan kewajiban itu harus telah terjadi. Kewajiban dibagi menjadi kewajiban lancar dan hutang jangka panjang. Utang Usaha Utang usaha (accounts payable), atau hutang dagang (trade accounts payable), merupakan saldo yang terhutang kepada pihak lain atas barang, perlengkapan, atau jasa yang dibeli dengan akun terbuka atau secara kredit. Hutang usaha muncul karena adanya kesenjangan waktu antara penerimaan jasa atau akuisisi hak aktiva dan pembayaran atasnya. Periode perluasan kredit ini biasanya ditemukan dalam persyaratan penjualan (misalnya, 2/10, n /30 atau 1 /10, E.O.M) dan biasanya adalah 30 hingga 60 hari. Utang Non Usaha Utang non usaha adalah utang yang timbul bukan untuk kepentingan operasional perusahaan. Kewajiban Lancar `Kewajiban lancar (current liabilities) adalah kewajiban yang likuidasinya diperkirakan secara layak memerlukan penggunaan sumber daya yang ada yang diklasifikasikan sebagai aktiva lancar, atau penciptaan kewajiban lancar lain.

7 B. Macam-Macam Hutang Jangka Pendek 1. Hutang Usaha atau Hutang Dagang Hutang usaha (accounts payable) atau hutang dagang (trade accounts payable), merupakan saldo yang terhutang kepada pihak lain atas barang, perlengkapan atau jasa yang dibeli secara akun terbuka atau secara kredit. Hutang usaha muncul karena adanya kesenjangan waktu antara penerima jasa atau akuisi hak aktiva dan pembayaran atasnya. Periode pelunasan kredit dapat ditemukan dalam persyaratan penjualan. Contoh soal: Pada tanggal 10 Januari 2007, PT Sejahtera membeli barang dagang secara kredit sebesar $500 dengan syarat 2/10, n/30. Pada tanggal 15 Januari 2007, PT Sejahtera membayar utang sebesar $300. Pada tanggal 9 Februari 2007, PT Sejahtera membayar sisa utangnya. Jurnal: 10/1/2007 Pembelian 500 Utang Dagang /1/2007 Utang Dagang 300 Kas 294 Potongan Pembelian 6 9/2/2007 Utang Dagang 200 Kas 200 Pelaporan dalam laporan laba/rugi: Pembelian 500 Potongan Pembelian 6 Pembelian Netto Utang usaha dengan wesel Wesel bayar (notes payable) adalah janji tertulis utuk membayar sejumlah uang tertentu pada suatu tanggal tertentu di masa depan dan dapat berasal dari pembelian, pembiayaan, atau transaksi lainnya. Dibeberapa industri, wesel diperlukan sebagai bagian dari tranaksi pembelian/penjualan sebagai pengganti perluasan kredit yang normal atau kredit lisan. Wesel dapat diklasifikasikan menjadi wesel jangka pendek atau jangka panjang. Wesel juga dapat diklasifikasikan menjadi wesel dengan bunga atau wesel tanpa

8 bunga. Wesel bayar yang berbunga secara eksplisit menyatakan suatu suku bunga yang disebut suku bunga ditetapkan. Wesel tanpa bunga tidak menyatakan suatu suku bunga eksplisit, tetapi secara implisit mencerminkan suku bunga yang disebut suku bunga efektf atau hasil. Suku bunga efektif adalah suku bunga pasar yang didasarkan atas kas akrual atau ekuivalen kas yang sebenarnya terhutang. Suku bunga efektif digunakan untuk mendiskontokan pembayaran kas masa depan atas suatu hutang menjadi ekuivalen kas yang dipinjam. a. Wesel dengan Bunga Wesel berbunga menetapkan suatu suku bunga. Debitor akan menerima kas, aktiva lain, atau jasa dan membayar kembali jumlah nomial dari wesel tersebut ditambah bunga pada suku bunga ditetapkan atas satu atau lebih tanggal bunga. Contoh: Castle National Bank setuju untuk meminjamkan uang $ kepada Lanscape Co. pada tanggal 1 Maret 2007, jika Lanscape Co. menandatangani sebuah wesel 4 bulan senilai $ dengan bunga 6%. Jurnal penerimaan kas pada tanggal 1 Maret adalah: I Maret Kas Wesel Bayar (untuk mencatat penerbitan wesel 4 bulan dengan bunga 6% kepada Castle National Bank) Jika laporan keuangan disusun setengah tahunan, maka jurnal penyesuaian akan diperlukan untuk mengakui beban bunga dan hutang bunga sebesar $2000 ($ x6%x4/12) pada tanggal 30 Juni. Jurnal penyesuaiannya: 30 Juni Beban bunga 2000 Hutang Bunga (Untuk mengakrualkan bunga selama 4 bulan weel Castle National Bank) Jika Landscape menyusun laporan keuangannya secara bulanan,maka ayat jurnal penyesuaian pada akhir setiap bulan akan menjadi $500($ x6%x1/12).

9 Pada tanggal jatuh tempo (1Jjuli),Lanscape Co.harus membayar nominal wesel ($ ) ditambah nilai bunga sebesar $2000 ($ x6%x4/12). Ayat jurnal untuk mencatat pembayaran wesel dan bunga akrual adalah sebagai berikut: 3. 1 Juli Wesel bayar Hutang bunga Kas (untuk mencatat pembayaran wesel berbunga Castle national Bank dan bunga akrual pada saat jatuh tempo) b. Wesel Tanpa Bunga Dalam wesel tanpa bunga, bunga tetap dibebankan. Pada saat jatuh tempo peminjam diharuskan untuk membayar kembali suatu jumlah yang lebih besar dari kas yang diterima pada tanggal penerbitan. Peminjam menerima kas sebesar nilai sekarang wesel. Nilai sekarang sama dengan nilai nominal wesel pada saat jatuh tempo dikurangi bunga atau diskonto yang dibebankan oleh pemberi pinjaman sesuai dengan persaraan wesel. Bank mengambil honor jasanya dimuka. Contoh: Tanggal 1 Oktober 2009, Lite Company menandatangani sebuah wesel $ tanpa bunga, satu tahun, tetapi hanya menerima tunai $ Jurnal: 1 Oktober 2009 Kas Diskonto atas wesel bayar Wesel bayar (untuk mncatat wesel bayar tanpa bunga1 tahun) Neraca pada tanggal 1 Oktober 2009 Kewajiban lancar Wesel bayar Dikurangi: Diskonto atas wesel bayar 1200

10 Bagian Lancar Utang Jangka Panjang Seluruh atau bagian dari utang obligasi dan utang-utang jangka panjang lainnya yang akan dilunasi kurang dari satu tahun dilaporkan sebagai utang jangka pendek. Utang jangka panjang yang jatuh tempo dalam periode tersebut tetap diakui sebagai utang jangka panjang apabila: a. Ditarik atau dilunasi dengan aktiva yang terakumulasi untuk tujuan tersebut secara layak tidak ditunjukkan sebagai aktiva lancar b. Didanai kembali atau dilunasi dari hasil penerbitan hutang baru, atau c. Dikonversi menjadi modal saham. Dalam hal ini, penggunaan aktiva lancar atau penciptaan kewajiban lancar lainnya tidak terjadi. Oleh karena itu, diklasifikasikan menjadi hutang jangka panjang. Rencana untuk melikuidasi hutang semacam ini harus diungkapkan baik dalam tanda kurung maupun dengan catatan atas laporan keuangan. Jika sebagian dari hutang jangka panjang yang dibayarkan dalam 12 bulan ke depan, perusahaan melaporkan bagian jatuh tempo dari hutang jangka panjang sebagai kewajiban lancar dan sisanya merupakan kewajiban jangka panjang. Kewajiban yang jatuh tempo karena permintaan (ditagih oleh kreditor) atau akan jatuh tempo atas permintaan dalam jangka satu tahun atau siklus operasi harus diklasifikasikan menjadi kewajiban lancar. Kewajiban sering kali dapat ditagih oleh kreditor apabila terdapat pelanggaran atas perjanjian hutang. Jika pelanggaran tersebut dapat diperbaiki (dilunasi) dalam periode tenggang yang biasanya diberikan dalam perjanjian, hutang tersebut dapat diklasifikasikan menjadi hutang tidak lancar. Contoh soal: Perusahaan Maju menerima kredit 3 tahun sebesar Rp ,00. Dari jumlah tersebut, Rp ,00 diantaranya harus dilunasi dalam masa tempo 12 bulan. Info tersebut tersaji di neraca perusahaan seperti berikut: Kewajiban jangka pendek Bagian yang lancar dari utang jangka panjang Rp ,00 Kewajiban jangka panjang

11 Utang kredit Rp ,00 Kurang: Saldo yang jatuh tempo tahun ini (Rp ,00) Rp ,00 4. Kewajiban Jangka Pendek yang Diharapkan untuk Didanai Kembali Beberapa kewajiban jangka pendek diharapkan akan didanai kembali atas dasar jangka panjang dan karena itu, diperkirakan tidak memerlukan penggunaan modal kerja selama tahun berikutnya (atau siklus operasi). SFAS No. 6, Klasifikasi kewajiban jangka pendek yang diperkirakan akan didanai kembali, menetapkan pedoman yang dimaksudkan untuk mencegah penyalahgunaan. Hal itu menyatakan bahwa kewajiban lancar yang diperkirakan akan didanai kembali dapat direfleksikan sebagai kewajiban jangka panjang hanya jika debitor benar-benar bermaksud mendanai kembali hal itu atas dasar kewajiban jangka pendek tertentu dan menunjukkan kemampuan melakukan hal itu baik dengan benar-benar mandanakan kembali atas dasar jangka panjang sebelum laporan keuangan dikeluarkan, maupun memasukannya, dengan niat baik, ke dalam perjanjian pendanaan kembali jangka panjang yang tidak dapat dibatalkan yang didukung oleh pemberi pinjaman yang mampu. Pendanaan kembali juga dapat dicapai dengan mengeluarkan instrumen ekuitas. Menurut SFAS No. 6, kriteria suatu perjanjian pendanaan yang dapat diandalkan untuk mendukung klasifikasi kewajiban jangka pendek sebagai hutang jangka panjang adalah: 1. Perjanjian itu tidak dapat dibatalkan oleh semua pihak (kecuali pelanggaran oleh debitor) dan jangka lebih dari satu tahun sejak tanggal neraca atau dari awal siklus operasi, mana yang lebih lama. 2. Pada tanggal neraca dan tanggal penerbitan, perusahaan tidak boleh melanggar perjanjian itu (kecuali diperoleh suatu pembebasan hutang) 3. Pemberi pinjaman secara keuangan harus mampu menepati perjanjian itu. Kewajiban jangka pendek tidak dapat diklasifikasikan sebagai jangka panjang jika kreditor mampu membatalkan kewajiban keuangan yang mendasarinya. Jika kewajiban jangka pendek harus dikeluarkan dari kewajiban lancar menurut perjanjian, maka pengungkapan catatan kaki akan disyaratkan dan harus mencakup : a. Uraian umum tentang perjanjian keuangan b. Syarat dari kewajiban baru yang akan terjadi.

12 c. Syarat dari setiap sekuritas ekuitas yang akan dikeluarkan. Contoh: Pada tanggal 31 Desember 2010, Alexander Company mempunyai $ hutang jangka pendek atas wesel bayar yang seharusnya tanggal 2 Februari Pada 21 Januari 2011, perusahaan menerbitkan saham, itu saham biasa senilai $36 per saham, menerima $ pendapatan sesudah perantara mengeluarkan uang dan harga lainnya. Pada tanggal 2 Februari 2011, pendapatan dari penjual saham, ditambah dari kas ekstra $ , digunakan untuk menghapuskan hutang $ Pada tanggal 31 Desember 2010 neraca terbit atas tanggal 23 Februari Pembahasan: Menunjukkan bagaimana $ dari hutang jangka pendek harus dipresentasikan pada 31 Des 2010, menunjukkan catatan pengungkapan. Bagian Neraca Hutang Lancar: Wesel bayar $ Long-term debt: Kewajiban jangka panjang : Wesel bayar yang dibiayai kembali $ Total kewajiban $ Utang Deviden Utang dividen yang termasuk dalam utang jangka pendek adalah: a. Dividen yang dibagikan dalam bentuk kas atau aktiva (jika belum dibayar) yang segera akan dilunasi b. Utang dividen skrip yang segera akan dilunasi Contoh soal: Pada tanggal 31 Desember 2010 PT SGM mengumunkan pembagian deviden tunai sebesar Rp 10,00 untuk per lembar saham. Deviden akan dibayar tanggal 15 Januari Dengan anggapan bahwa jumlah saham yang beredar adalah lembar, maka deviden terutang adalah Rp ,00. Jurnal: 31 Desember 2010 Laba ditahan Rp ,00 Utang deviden Rp ,00

13 (mencatat pengumunan deviden tunai) 15 Januari 2011 Utang deviden Rp ,00 Kas Rp ,00 (mencatat pembayaran deviden tunai) Dividen untuk saham prioritas, walaupun jumlahnya sudah pasti, tetapi sebelum tanggal pengumuman belum merupakan kewajiban karena deviden saham preveren yang tertunggak (prefered dividens in arrears) bukan merupakan kewajiban hingga tindakan normal diambil dewan direksi yang mengotorisasi pembagian laba. Namun, jumlah deviden kumulatif yang belum dibayarkan harus diungkapkan dalam suatu catatan atau diugkapkan dalam tanda kurung pada kelompok modal saham. Dividen yang dibagi dalam bentuk saham merupakan elemen modal. 6. Uang Muka dari Jaminan dari Pelanggan Kewajiban lancar perusahaan dapat mencakup deposito kas yang dapat dikembalikan (returnable cash deposits) yang diterima dari pelanggan dan karyawan. Perusahaan dapat menerima deposit dari pelanggan untuk menjamin pelaksanaan kontrak atau jasa atau sebagai jaminan untuk menutup pembayaran kewajiban yang diharapkan di masa depan. Sebagai contoh,perusahaan seperti Alltel Corp. Sering kali mensyaratkan deposito pada peralatan yang digunakan pelanggan untuk menghubungkan internet atau untuk mengakses jasa lainnya. Alltel juga menerima deposito dari pelanggan sebagi jaminan untuk kemungkinan kerusakan atas properti yang ada ditangan pelanggan. Beberapa perusahan mensyaratkan pada karyawan untuk melakukan deposito atas pengembalian kunci atau properti perusahaan lainnya. Deposito juga dapat dilakukan sebagai jaminan dalam kasus ketidaktertagihan atau kemungkinan kerusakan properti. Misalnya,deposito yang diwajibkan oleh perusahaan gas,air,listrik dan prasarana umum lainnya merupakan kewajiban perusahaan tersebut kepada pelanggannya. Karyawan juga dapat melakukan deposito yang dapat dikembalikan untuk meyakinan pengembalian kunci dan properti perusahaan

14 lainnya,atas hak istimewa loker,dan atas keanggotaan klub. Deposito tersebut harus dilaporkan sebagai kewajiban lancar atau jangka panjang tergantung pada waktu yang terlipat antara tanggal deposito dan pengakhiran yang diharapkan dari hubungan itu. Jika uang muka atau deposito itu terkena bunga,suatu ayat jurnal penyesuaian tahunan akan diperlukan untuk mengakrualkan beban bunga dan meninkatkan kewajiban yang berkaitan. 7. Pendapatan Belum Terhimpun (Unlearned Revenue) (Retno) Perusahaan memperhitungkan pendapatan diterima di muka yang diterima sebelum barang dikirimkan atau jasa dilakukan sebagai berikut : 1. Ketika uang muka diterima, Kas didebet dan akun Kewajiban Lancar yang mengidentifikasi sumber pendapatan diterima di muka dikredit 2. Ketika pendapatan diterima, akun Pendapatan Diterima di Muka didebet dan akun Pendapatan yang Diterima dikredit Untuk mencatat penjualan tiket $ 50 untuk 5 jadwal pertandingan Kas Pendapatan Tiket Bola Diterima di Muka Segera setelah setiap pertandingan selesai dicatat sebagai berikut : Pendapatan Tiket Bola Diterima di Muka Pendapatan Tiket Bola Pendapatan Tiket Bola Diterima di Muka merupakan pendapatan diterima di muka dan dilaporkan sebagai kewajiban lancar dalam neraca. Ketika pendapatan diterima, terjadi transfer dari pendapatan diterima di muka ke pendapatan yang telah diterima. 8. Utang PPN Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas : a) Penyerahan Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha; b) Impor Barang Kena Pajak; c) Penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha;

15 d) Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean; e) Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean; atau f) Ekspor Barang Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak. g) Ekspor Barang Kena Pajak tidak berwujud oleh Pengusaha Kena Pajak h) Ekspor Jasa Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak. Siapapun yang membeli barang kena pajak harus membayar PPN yang disebut PPN masukan (persekot pajak/pajak dibayar dimuka) dan pengusaha kena pajak adalah pihak yang wajib memungut PPN. Dari sudut Pengusaha kena pajak, jumlah yang dipungutnya dinamai PPN keluaran yang merupakan titipan pihak ketiga yang harus dibayar ke negara. Jumlah yang harus disetor ke negara adalah selisih PPN Keluaran dan PPN masukan. Dan saat belum dibayarkan, maka jumlah tersebut merupakan utang. Contoh : Pada tanggal 10 November 2010, PT Melati membeli tunai barang kena pajak dengan harga beli $ belum termasuk PPN masukan. Tarif PPN adalah 10% dari harga beli. Jadi, jumlah yang harus dibayar PT. Melati adalah sebagai berikut: Harga $ PPN 10% x $ $9.000 Jumlah yang harus dibayar $ Jurnal: 10/11/2010 Pembelian PPN Masukan Kas Pada tanggal 20 November 2010 PT Melati menjual barang tersebut dengan harga jual belum termasuk PPN $ Tarif PPN 10 % dari harga jual sebelum diperhitunghkan dengan PPN. Jadi harga termasuk PPN adalah $ (10% x $ )= $ Jurnal: 20/11/2010 Kas

16 PPN Keluaran Penjualan Jumlah yang harus disetor ke Negara : PPN Keluaran PPN Masukan Jumlah disetor Pada akhr bulan, PT Melati akan mengkui utang kepada negara dengan menjurnal: 30/11/2010 PPN Keluaran PPN Masukan Utang PPN Pada tanggal 10 Desember, PPN disetor ke kas negara. Jurnal: 10/12/2010 Utang PPN Kas Utang PPh a. Utang PPH Badan Perusahaan berkewajiban membayar membayar pajak penghasilan badan. Mudahnya, yang dikenakan pajak adalah laba perusahaan selama satu tahun. Perhitungan yang dilakukan selalu dilakukan atas dasar laba menurut undang-undang perpajakan, bukan atas dasar laba akuntansi. Perbedaan antara laba kena pajak menurut peraturan pajak dan laba akuntansi menurut prinsip-prinsip akuntansi yang di terima umum kadang-kadang terjadi. Karena perbedaan tersebut maka jumlah utang pajak penghasilan kepada pemerintah dalam tahun tertentu dapat sangat berbeda dari beban pajak penghasilan seperti yang di laporkan pada laporan keuangan. Peraturan pajak dan prinsip akuntansi yang berlaku umum yang di terapkan perusahaan tidak selalu sama dalam mengakui pendapatan dan biaya. Perbedaan pengakuan pendapatan dan biaya tersebut berupa perbedaan yang bersifat sementara dan perbedaan yang bersifat permanen. Perbedaan sementara adalah pendapatan dan biaya yang di akui oleh peraturan pajak pada suatu periode tetapi diakui oleh prinsip akuntansi pada periode yang lain.

17 Misalnya depresiasi aktiva tetap menurut peraturan pajak harus di perhitungkan untuk jangka waktu 2 tahun tetapi menurut prinsip akuntansi yang diterapkan perusahaan yang bersangkutan diperhitungkan untuk jangka waktu 4 tahun. Perbedaan pengakuan biaya depresiasi ini mengakibatkan adanya perbedaan yang bersifat sementara, yaitu pada dua tahun pertama biaya menurut peraturan pajak lebih besar, sehingga laba menurut peraturan pajak lebih rendah. Sebaliknya untuk dua periode terakhir, biaya menurut pajak lebih rendah dan laba menurut pajak lebih tinggi. Perbedaan ini mengakibatkan perlunya alokasi beban pajak antar periodr untuk menyasuaikan biaya pajak yang di akuai dengan jumlah yang di bayar. Beberapa contoh perbedaan sementara antara lain adalah: 1. Pengakuan biaya depresiasi aktiva tetap 2. Amortisasi biaya pendirian yang di tangguhkan pembebananya 3. Penilaian harga pokok persediaan barang Perbedaan permanen adalah perbedaan yang bersifat permanen, yaitu pendapatan dan biaya yang diakui oleh prinsip akuntansi, tetapi tidak diakui oleh peraturan pajak. Misalnya sumbangan yang melebihi jumlah tertentu yang tidak diperbolehkan oleh peraturan pajak untuk dikurangkan pada pendapatan, mengakibatkan jumlah laba suatu periode menurut akuntansi lebih besar daripada jumlah laba menurut pajak. Perbedaan ini bersifat permanen, yang berarti tidak akan tereliminasi pada periode yang akan datang. Sehingga menimbulkan perlunya alokasi beban pajak pada periode yang bersangkutan. Beberapa contoh perbedaan permanen adalah : 1. Sumbangan yang dilakukan perusahaan sampai jumlah tertentu 2. Ganti rugi asuransi kecelakaan 3. Pendapatan yang diperoleh dalam bentuk natura Contoh soal: Pada akhir tahun 2010 PT 507, melaporkan laba sebelum PPH Rp tariff PPH adalah 15%, maka pajaknya Rp Jurnal yang dibuat perusahan pada akhir h\tahun adalah: 31/12/2010 PPH Utang PPH

18 (Mencatat taksiran utang PPH) Pada tanggal 25 Maret 2010, utang PPH dibayar perusahaan. Jurnal : 25/03/2010 Utang PPH Kas (Mencatat penyetoran PPH ke kas negara)

19 BAB III PENUTUP Kewajiban lancar adalah kewajiban yang likuidasinya diperkirakan secara layak memerlukan penggunaan aktiva lancar atau penciptaan kewajiban lancar lainnya. Secara teoritis, kewajiban harus diukur oleh nilai sekarang pengeluaran kas masa depan yang diperlukan untuk melikuidasinya. Dalam praktek, kewajiban lancar biasanya dicatat dalam catatan akuntansi dan dilaporkan dalam laporan keuangan pada nilai penuh jatuh temponya. Terdapat beberapa jenis kewajiban lancar (1) hutang usaha, (2) wesel bayar, (3) jatuh tempo berjalan hutang jangka panjang, (4) hutang dividen, (5) deposito yang dapat dikembalikan, (6) pendapatan diterima di muka, (7) hutang pajak, dan (8) kewajiban yang berhubungan dengan karyawan. Kewajiban jangka pendek dikeluarkan dari kewajiban lancar jika kedua kondisi berikut dipenuhi: (1) perusahaan harus bermaksud untuk mendanai kembali kewajiban atas dasar jangka panjang, dan (2) perusahaan harus menunjukkan kemampuan untuk melaksanakan pendanaan kembali itu. Kewajiban yang berhubungan dengan karyawan adalah: (1) pemotongan gaji; (2) absensi yang dikompensasi; dan (3) perjanjian bonus. Akun kewajiban lancar umumnya disajikan sebagai klasifikasi pertama dalam kelompok kewajiban dan ekuitas pemegang saham pada neraca. Dalam kelompok kewajiban lancar akun-akun itu dapat dicatat menurut jatuh temponya, dalam jumlah yang menurun, atau menurut preferensi likuidasinya. Informasi yang terinci dan bersifat tambahan mengenai kewajiban lancar harus memadai untuk memenuhi persyaratan pengungkapan penuh. Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, karena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.

20 Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman sudi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah dikesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.

21 DAFTAR PUSTAKA Baridwan, Zaki Intermediete Accounting.BPFE. Yogyakarta Kieso, Donald E., dkk Akuntansi Intermediate jilid 2. Penerbit Erlangga. Jakarta. Na`im, Ainun Akuntansi Keuangan II. BPFE. Yogyakarta Sugiri, Slamet Akuntansi Pengantar II. Unit Penerbitan dan Percetakan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN.Yogyakarta

BAB 9 KEWAJIBAN. Setiap perusahaan umumnya memiliki kewajiban atau yang biasa disebut dengan utang yang harus diselesaikan atau dibayar oleh

BAB 9 KEWAJIBAN. Setiap perusahaan umumnya memiliki kewajiban atau yang biasa disebut dengan utang yang harus diselesaikan atau dibayar oleh BAB 9 KEWAJIBAN A. Pengertian Kewajiban Setiap perusahaan umumnya memiliki kewajiban atau yang biasa disebut dengan utang yang harus diselesaikan atau dibayar oleh Kewajiban adalah utang yang harus dibayar

Lebih terperinci

KEWAJIBAN JANGKA PENDEK dan KONTINJENSI

KEWAJIBAN JANGKA PENDEK dan KONTINJENSI KEWAJIBAN JANGKA PENDEK dan KONTINJENSI Definisi utang (liabililties) menurut FASB, concepts No. 3 adalah: Pengorbanan manfaat ekonomi di masa yang akan datang yang mungkin terjadi akibat kewajiban suatu

Lebih terperinci

KEWAJIBAN LANCAR (Current Liabilities)

KEWAJIBAN LANCAR (Current Liabilities) KEWAJIBAN LANCAR (Current Liabilities) PENGERTIAN Pengertian sederhana, kewajiban adalah utang yang harus dibayar oleh perusahaan. Lebih rinci, utang adalah kewajiban suatu perusahaan yang timbul dari

Lebih terperinci

DR. Dudi Rudianto, SE, MSi. Jl. Raya Ekonomi B/16 Komp. YPKP Bandung (022) / Fax (022)

DR. Dudi Rudianto, SE, MSi. Jl. Raya Ekonomi B/16 Komp. YPKP Bandung (022) / Fax (022) CURRENT LIABILITIES By : DR. Dudi Rudianto, SE, MSi. Jl. Raya Ekonomi B/16 Komp. YPKP Bandung (022) 7232288/ 08122488071 Fax (022) 7201756 Email : [email protected] di t Financing Decisions :

Lebih terperinci

Pertemuan: 14 LIABILITIES. (Kewajiban Jangka Pendek dan Kontinjensi)

Pertemuan: 14 LIABILITIES. (Kewajiban Jangka Pendek dan Kontinjensi) Pertemuan: 14 LIABILITIES (Kewajiban Jangka Pendek dan Kontinjensi) Tujuan Pembelajaran 1. Menguraikan sifat, jenis, dan penilaian kewajiban lancar. 2. Menjelaskan klasifikasi kewajiban lancar yang akan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Teoritis 1. Hutang Hutang sering disebut juga sebagai kewajiban, dalam pengertian sederhana dapat diartikan sebagai kewajiban keuangan yang harus dibayar oleh perusahaan

Lebih terperinci

HUTANG JANGKA PENDEK, PROVISI, DAN KONTIJENSI (L. Marthayadi Zikrullah) NIM: A1C012070

HUTANG JANGKA PENDEK, PROVISI, DAN KONTIJENSI (L. Marthayadi Zikrullah) NIM: A1C012070 Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Mataram Tahun 2014 HUTANG JANGKA PENDEK, PROVISI, DAN KONTIJENSI (L. Marthayadi Zikrullah) NIM: A1C012070 1. KEWAJIBAN JANGKA PENDEK Definisi Kewajiban: Kewajiban

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Piutang Istilah piutang mengacu pada sejumlah tagihan yang akan diterima oleh perusahaan (umumnya dalam bentuk kas) dari pihak lain, baik sebagai akibat penyerahan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Koperasi Secara umum koperasi dipahami sebagai perkumpulan orang yang secara sukarela mempersatukan diri untuk berjuang meningkatkan kesejahteraan ekonomi mereka melalui pembentukan

Lebih terperinci

JUMLAH AKTIVA

JUMLAH AKTIVA NERACA 31 DESEMBER 2007 AKTIVA AKTIVA LANCAR Kas dan bank 3 866.121.482 3.038.748.917 Piutang usaha - bersih Hubungan istimewa 2b, 2c, 4, 5, 8 2.635.991.416 328.548.410 Pihak ketiga - setelah dikurangi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Publik (2.12 a). Dalam hal ini piutang adalah termasuk aset yang dimaksud.

BAB II LANDASAN TEORI. Publik (2.12 a). Dalam hal ini piutang adalah termasuk aset yang dimaksud. BAB II LANDASAN TEORI Aset adalah sumber daya yang dikuasai entitas sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh entitas, Standar Akuntansi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. untuk semua hak atau klaim atas uang, barang dan jasa. Bila kegiatan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. untuk semua hak atau klaim atas uang, barang dan jasa. Bila kegiatan BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. PIUTANG USAHA 1. Pengertian Piutang Transaksi paling umum yang menciptakan piutang adalah penjualan barang dagang atau jasa secara kredit. Dalam arti luas piutang digunakan untuk

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. satu periode tertentu. Menurut Sugiyarso dan Winarni (2005:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. satu periode tertentu. Menurut Sugiyarso dan Winarni (2005: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Profitabilitas 2.1.1. Pengertian Profitabilitas Profitabilitas sebagai kemampuan suatu perusahaan untuk memperoleh laba dengan total aktiva, penjualan, maupun hutang jangka

Lebih terperinci

MATERI KE 7 PERUSAHAAN DALAM KESULITAN KEUANGAN

MATERI KE 7 PERUSAHAAN DALAM KESULITAN KEUANGAN MATERI KE 7 PERUSAHAAN DALAM KESULITAN KEUANGAN Perusahaan dapat mengalami kesulitan keuangan karena berbagai sebab antara lain: 1. Mengalami kerugian operasi terus menerus 2. Kredit pelanggan yang mengalami

Lebih terperinci

UTANG JANGKA PENDEK (CURRENT LIABILITIES)

UTANG JANGKA PENDEK (CURRENT LIABILITIES) MODUL KULIAH PENGANTAR AKUNTANSI 2 TATAP MUKA 7 UTANG JANGKA PENDEK (CURRENT LIABILITIES) OLEH UNIVERSITAS MERCU BUANA FAKULTAS EKONOMI PROGRAM KULIAH KARYAWAN JAKARTA 2008 UTANG JANGKA PENDEK (CURRENT

Lebih terperinci

KEWAJIBAN. penyerahan kas, barang, atau jasa. KLASIFIKASI KEWAJIBAN pendek). 2. Kewajiban jangka panjang.

KEWAJIBAN. penyerahan kas, barang, atau jasa. KLASIFIKASI KEWAJIBAN pendek). 2. Kewajiban jangka panjang. KEWAJIBAN PENGERTIAN KEWAJIBAN Kewajiban adalah utang suatu perusahaan yang timbul dari transaksi pada waktu yang lalu dan harus dibayar dengan kas, barang, atau jasa, di masa yang akan datang. KARAKTERISTIK

Lebih terperinci

MAKALAH AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH I

MAKALAH AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH I MAKALAH AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH I INVESTASI JANGKA PENDEK pada INSTRUMEN KEUANGAN Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Akuntansi Keuangan Menengah I Dosen Pengampu : Rr. Indah Mustikawati, M.Si

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Hutang dagang merupakan salah satu variabel bebas yang akan dibahas dalam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Hutang dagang merupakan salah satu variabel bebas yang akan dibahas dalam BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Hutang Dagang Hutang dagang merupakan salah satu variabel bebas yang akan dibahas dalam penelitian ini. Pada hakikatnya hutang dagang berperan signifikan dalam perputaran modal

Lebih terperinci

AKUNTANSI KEWAJIBAN LANCAR DAN PENGGAJIAN

AKUNTANSI KEWAJIBAN LANCAR DAN PENGGAJIAN AKUNTANSI KEWAJIBAN LANCAR DAN PENGGAJIAN Kewajiban adalah salah satu elemen dalam persamaan akuntansi Beberapa jenis kewajiban telah kita kenal pada industri jasa maupun industri dagang yang telah kita

Lebih terperinci

Catatan 31 Maret Maret 2010

Catatan 31 Maret Maret 2010 NERACA KONSOLIDASI ASET Catatan 31 Maret 2011 31 Maret 2010 ASET LANCAR Kas dan setara kas 2f, 3 220.361.019.579 10.981.803.022 Piutang usaha - setelah dikurangi penyisihan piutang ragu-ragu Pihak yang

Lebih terperinci

RENCANA PROGRAM KEGIATAN PERKULIAHAN SEMESTER (RPKPS)

RENCANA PROGRAM KEGIATAN PERKULIAHAN SEMESTER (RPKPS) RENCANA PROGRAM KEGIATAN PERKULIAHAN SEMESTER (RPKPS) Kode / Nama Mata Kuliah : B12.3404 /Akuntansi Keuangan Menengah II Revisi ke : 2 (satu) Satuan Kredit Semester : 3 SKS Tgl revisi : Agustus 2014 Jml

Lebih terperinci

L2

L2 L1 L2 L3 L4 L5 L6 L7 L8 L9 L10 L11 L12 L13 L14 L15 L16 L17 L18 L19 Tabel 4.1 PT KALBE FARMA, Tbk LAPORAN PERUBAHAN MODAL KERJA TAHUN 2006-2007 Dalam Rupiah (Rp) 31 Desember Perubahan Modal Kerja 2006 2007

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Piutang Penjualan barang dan jasa dari perusahaan pada saat ini banyak dilakukan dengan kredit sehingga ada tenggang waktu sejak penyerahan barang dan jasa sampai

Lebih terperinci

BAB XV AKUNTANSI UTANG

BAB XV AKUNTANSI UTANG BAB XV AKUNTANSI UTANG A. PENGERTIAN Jika kita ingat kembali persamaan dasar akuntansi, sisi kiri persamaan akuntansi adalah harta (aktiva) dan sisi kanan terdiri dari utang dan modal. Utang menunjukkan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 7 BAB II LANDASAN TEORI A. Hutang 1. Pengertian Hutang Hutang sering disebut juga sebagai kewajiban, dalam pengertian sederhana dapat diartikan sebagai kewajiban keuangan yang harus dibayar oleh perusahaan

Lebih terperinci

Laporan Keuangan. Laporan Laba/ Rugi. Laporan Perubahan Modal. Neraca. Laporan Arus Kas

Laporan Keuangan. Laporan Laba/ Rugi. Laporan Perubahan Modal. Neraca. Laporan Arus Kas MATERI K.D 1.5 Kompetensi Dasar : 1.5 Menyusun Laporan Keuangan Perusahaan Dagang Kegiatan akhir dari proses akuntansi perusahaan dagang di antaranya adalah membuat laporan keuangan. Secara umum komponen

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PERKULIAHAN STMIK U BUDIYAH INDONESIA SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2013/2014

SATUAN ACARA PERKULIAHAN STMIK U BUDIYAH INDONESIA SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2013/2014 SATUAN ACARA PERKULIAHAN STMIK U BUDIYAH INDONESIA SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2013/2014 Matakuliah Jenjang/Jurusan/Program Studi SKS Dosen Pengasuh : Akuntansi Lanjutan : D3 / Komputerisasi Akuntansi

Lebih terperinci

HUTANG JANGKA PENDEK DAN AKUNTANSI UNTUK GAJI DAN UPAH

HUTANG JANGKA PENDEK DAN AKUNTANSI UNTUK GAJI DAN UPAH HUTANG JANGKA PENDEK DAN AKUNTANSI UNTUK GAJI DAN UPAH Hutang merupakan kewajiban untuk memindahkan harta atau memberikan jasa di masa yang akan datang. Kewajiban tersebut muncul karena adanya transaksi

Lebih terperinci

REKAP SOAL UN SMK AKUNTANSI 2008/ /2010

REKAP SOAL UN SMK AKUNTANSI 2008/ /2010 REKAP SOAL UN SMK Kumpulan Bank Soal UKK Teori Akuntansi AKUNTANSI 2008/2009 2009/2010 1. Definisi akuntansi adalah A. Ilmu pengetahuan yang mempelajari mengenai perhitungan uang perusahaan B. Kegiatan

Lebih terperinci

Analisis Aktivitas Pendanaan

Analisis Aktivitas Pendanaan TUGAS ANALISIS LAPORAN KEUANGAN Prilly Viliariezta Sutanto 1013044 / Akuntansi C Analisis Aktivitas Pendanaan Tinjauan Kewajiban Kewajiban lancar, adalah kewajiban yang pelunasannya diharapkan dapat diselesaikan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Analisis Pengertian analisis menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dikutip oleh Yuniarsih dan Suwatno (2008:98) adalah: Analisis adalah penguraian suatu pokok atas

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah 2.1.1 Pengertian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Sesuai dengan Undang-Undang No.20 tahun 2008 pengertian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)

Lebih terperinci

Subject: Manajemen Keuangan Bisnis I Disusun oleh: Nila Firdausi Nuzula Jurusan Administrasi Bisnis Universitas Brawijaya CASH BUDGET

Subject: Manajemen Keuangan Bisnis I Disusun oleh: Nila Firdausi Nuzula Jurusan Administrasi Bisnis Universitas Brawijaya CASH BUDGET Subject: Manajemen Keuangan Bisnis I Disusun oleh: Nila Firdausi Nuzula Jurusan Administrasi Bisnis Universitas Brawijaya CASH BUDGET Berikut ini adalah beberapa kebijakan PT Jaya terkait penyusunan budget

Lebih terperinci

PERUSAHAAN DALAM KESULITAN KEUANGAN

PERUSAHAAN DALAM KESULITAN KEUANGAN PERUSAHAAN DALAM KESULITAN KEUANGAN Perusahaan dapat mengalami kesulitan keuangan karena berbagai sebab antara lain: 1. Mengalami kerugian operasi terus menerus 2. Kredit pelanggan yang mengalami kemunduran

Lebih terperinci

A. HUTANG OBLIGASI perjanjian obligasi Obligasi berjamin dan tanpa jaminan

A. HUTANG OBLIGASI perjanjian obligasi Obligasi berjamin dan tanpa jaminan A. HUTANG OBLIGASI Hutang jangka panjang memiliki definisi sebagai suatu pengorbanan ekonomi dengan kemungkinan yang sangat besar terjadi di masa depan akibat dari kewajiban masa kini yang belum dibayarkan

Lebih terperinci

JAWABAN SOAL LATIHAN PRAKTIKA AKUNTANSI KEUANGAN II CHAPTER 13 : CURRENT LIABILITIES & CONTINGENCIES

JAWABAN SOAL LATIHAN PRAKTIKA AKUNTANSI KEUANGAN II CHAPTER 13 : CURRENT LIABILITIES & CONTINGENCIES JAWABAN SOAL LATIHAN PRAKTIKA AKUNTANSI KEUANGAN II CHAPTER 13 : CURRENT LIABILITIES & CONTINGENCIES L13-2 : HUTANG USAHA DAN WESEL BAYAR (a) Ayat jurnal : 1/9/2001 Pembelian 50.000 Hutang Usaha 50.000

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Liabilitas Menurut kerangka dasar pengukuran dan pengungkapan laporan keuangan (KDP2LK) adalah utang entitas masa kini yang timbul dari peristiwa masa lalu, penyelesaian

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. perusahaan yang mengajak orang lain untuk membeli barang dan jasa yang ditawarkan

BAB II LANDASAN TEORI. perusahaan yang mengajak orang lain untuk membeli barang dan jasa yang ditawarkan BAB II LANDASAN TEORI II.1. Penjualan II.1.1. Definisi Penjualan Penjualan secara umum memiliki pengertian kegiatan yang dilakukan oleh suatu perusahaan yang mengajak orang lain untuk membeli barang dan

Lebih terperinci

AUDIT SIKLUS AKUISISI MODAL DAN PEMBAYARAN KEMBALI MODAL

AUDIT SIKLUS AKUISISI MODAL DAN PEMBAYARAN KEMBALI MODAL AUDIT SIKLUS AKUISISI MODAL DAN PEMBAYARAN KEMBALI MODAL Siklus akuisisi modal dan pembayaran kembali, berfokus pada akuisisi sumber daya modal melalui utang berbunga dan ekuitas pemilik dan pembayaran

Lebih terperinci

AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH I

AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH I Modul ke: AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH I Laporan Posisi Keuangan Fakultas FEB Angela Dirman, SE., M.Ak Program Studi Akuntansi www.mercubuana.ac.id Content Laporan Posisi Keuangan Tujuan Pembelajaran Mahasiswa

Lebih terperinci

MEMBACA LAPORAN KEUANGAN

MEMBACA LAPORAN KEUANGAN MEMBACA LAPORAN KEUANGAN Denny S. Halim Jakarta, 31 Juli 2008 1 Outline Pengertian Akuntansi Proses Akuntansi Laporan Keuangan Neraca Laporan Rugi Laba Laporan Arus Kas Pentingnya Laporan Keuangan Keterbatasan

Lebih terperinci

LAPORAN POSISI KEUANGAN (NERACA) DAN LAPORAN ARUS KAS

LAPORAN POSISI KEUANGAN (NERACA) DAN LAPORAN ARUS KAS Dosen : Christian Ramos Kurniawan LAPORAN POSISI KEUANGAN (NERACA) DAN LAPORAN ARUS KAS 4-1 Referensi : Donald E Kieso, Jerry J Weygandt, Terry D Warfield, Intermediate Accounting Laporan Posisi Keuangan

Lebih terperinci

Laporan Keuangan - Pada tanggal 31 Desember 2008 dan untuk periode sejak 8 April 2008 (tanggal efektif) sampai dengan 31 Desember 2008

Laporan Keuangan - Pada tanggal 31 Desember 2008 dan untuk periode sejak 8 April 2008 (tanggal efektif) sampai dengan 31 Desember 2008 Daftar Isi Halaman Laporan Auditor Independen 1 Laporan Keuangan - Pada tanggal 31 Desember 2008 dan untuk periode sejak 8 April 2008 (tanggal efektif) Laporan Aset dan Kewajiban Laporan Operasi Laporan

Lebih terperinci

BAB III PEMBAHASAN HASIL PELAKSANAAN KERJA PRAKTEK. Penulis melaksanakan Kuliah Kerja Praktek di PT. Dirgantara

BAB III PEMBAHASAN HASIL PELAKSANAAN KERJA PRAKTEK. Penulis melaksanakan Kuliah Kerja Praktek di PT. Dirgantara BAB III PEMBAHASAN HASIL PELAKSANAAN KERJA PRAKTEK 3.1 Pelaksanaan Kuliah Kerja Preaktek Penulis melaksanakan Kuliah Kerja Praktek di PT. Dirgantara Indonesia Bandung, penulis ditempatkan di Direktorat

Lebih terperinci

Manajemen Keuangan LAPORAN KEUANGAN. Bentuk Bentuk Laporan Keuangan. Idik Sodikin,SE,MBA,MM. Modul ke: Fakultas EKONOMI DAN BISNIS

Manajemen Keuangan LAPORAN KEUANGAN. Bentuk Bentuk Laporan Keuangan. Idik Sodikin,SE,MBA,MM. Modul ke: Fakultas EKONOMI DAN BISNIS Modul ke: 02 Manajemen Keuangan LAPORAN KEUANGAN Bentuk Bentuk Laporan Keuangan Fakultas EKONOMI DAN BISNIS Program Studi Akuntansi Idik Sodikin,SE,MBA,MM Pendahuluan Apa yang yang dimaksud Laporan Keuangan

Lebih terperinci

Tujuan pembelajaran LABA ATAS TRANSAKSI ANTARPERUSAHAAN OBLIGASI

Tujuan pembelajaran LABA ATAS TRANSAKSI ANTARPERUSAHAAN OBLIGASI LABA ATAS TRANSAKSI ANTARPERUSAHAAN OBLIGASI kewajiban entitas pelaporan konsolidasi, Perusahaan umumnya memiliki instrumen utang dari perusahaan afiliasi dan menjustifikasi aktivitas pinjam-meminjam antarperusahaan

Lebih terperinci

LAMPIRAN I SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN TENTANG LAPORAN KEUANGAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO

LAMPIRAN I SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN TENTANG LAPORAN KEUANGAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO LAMPIRAN I SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 29 /SEOJK.05/2015 TENTANG LAPORAN KEUANGAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO - 1 - PEDOMAN PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO YANG MELAKUKAN KEGIATAN

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 5 BAB II LANDASAN TEORI A. Laporan Keuangan 1. Pengertian Laporan Keuangan Laporan keuangan merupakan output dan hasil akhir dari proses akuntansi. Laporan keuangan inilah yang menjadi bahan informasi

Lebih terperinci

Oleh. M. Rezeki Apriliyan, SE., MM.

Oleh. M. Rezeki Apriliyan, SE., MM. Oleh M. Rezeki Apriliyan, SE., MM. Dalam Akuntansi, utang didefinisikan sebagai pengorbanan manfaat ekonomi di masa yang akan datang, yang mungkin terjadi akibat kewajiban suatu badan usaha pada masa kini

Lebih terperinci

SIKLUS AKUNTANSI PERUSAHAAN JASA

SIKLUS AKUNTANSI PERUSAHAAN JASA SIKLUS AKUNTANSI PERUSAHAAN JASA Siklus Akuntansi Transaksi Bukti Transaksi Jurnal Buku Besar Laporan Keuangan Posting Salah satu aktivitas di dalam siklus akuntansi yang cukup menyita waktu dan tenaga

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis terhadap Laporan Arus Kas dan Penyajiannya berdasarkan Metode Tidak Langsung a. Telah diketahui bahwa laporan arus kas merupakan bagian yang tidak terpisahkan

Lebih terperinci

PT MUSTIKA RATU Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

PT MUSTIKA RATU Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN PT MUSTIKA RATU Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL 30 SEPTEMBER 2007 (DENGAN ANGKA PERBANDINGAN UNTUK TAHUN 2006) (MATA UANG INDONESIA) 1 MUSTIKA

Lebih terperinci

BAB II PERSAMAAN AKUNTANSI

BAB II PERSAMAAN AKUNTANSI BAB II PERSAMAAN AKUNTANSI A. Penggolongan Akun / Perkiraan Pengertian Akun / rekening (account) adalah tempat untuk mencatat perubahan setiap laporan yang setiap saat dapat menunjukkan saldo pos tersebut.

Lebih terperinci

JAWABAN SOAL LATIHAN PRAKTIKA AKUNTANSI KEUANGAN II CHAPTER 16 : EKUITAS PEMEGANG SAHAM_LABA DITAHAN

JAWABAN SOAL LATIHAN PRAKTIKA AKUNTANSI KEUANGAN II CHAPTER 16 : EKUITAS PEMEGANG SAHAM_LABA DITAHAN JAWABAN SOAL LATIHAN PRAKTIKA AKUNTANSI KEUANGAN II CHAPTER 16 : EKUITAS PEMEGANG SAHAM_LABA DITAHAN L16-6 : PEMECAHAN SAHAM DAN DIVIDEN SAHAM Nilai nominal saham = $ 10 per lembar Harga perolehan saham

Lebih terperinci

AKTIVA LANCAR Kas dan setara kas 2c,2e,4, Penyertaan sementara 2c,2f,

AKTIVA LANCAR Kas dan setara kas 2c,2e,4, Penyertaan sementara 2c,2f, NERACA KONSOLIDASIAN (UNAUDITED) AKTIVA Catatan 2008 2007 AKTIVA LANCAR Kas dan setara kas 2c,2e,4,43 10.942.829 10.828.433 Penyertaan sementara 2c,2f,43 182.685 188.139 Piutang usaha 2c,2g,5,36,43 Pihak

Lebih terperinci

BAB 7 PENYESUAIAN DAN KOREKSI AKUN

BAB 7 PENYESUAIAN DAN KOREKSI AKUN BAB 7 PENYESUAIAN DAN KOREKSI AKUN A. Kebutuhan Penyesuaian Penentuan besarnya pendapatan dan beban yang harus dilaporkan pada akhir periode akuntansi bisa mengalami kesulitan. Hal ini disebabkan para

Lebih terperinci

AKUNTANSI MULTINASIONAL TRANSLASI LAPORAN KEUANGAN ENTITAS ASING MATERI AKL 1

AKUNTANSI MULTINASIONAL TRANSLASI LAPORAN KEUANGAN ENTITAS ASING MATERI AKL 1 AKUNTANSI MULTINASIONAL TRANSLASI LAPORAN KEUANGAN ENTITAS ASING MATERI AKL 1 Pada saat perusahaan multinasional Indonesia menyusun laporan keuangan untuk pelaporan kepada pemegang sahamnya, perusahaan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2009), laporan keuangan adalah suatu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2009), laporan keuangan adalah suatu BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konstruk, Konsep, dan Variabel Penelitian 2.1.1 Laporan Keuangan 2.1.1.1 Pengertian Laporan Keuangan Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2009), laporan keuangan adalah suatu penyajian

Lebih terperinci

Laporan Arus Kas. Akuntansi Keuangan 2 - Pertemuan 8. Slide OCW Universitas Indonesia Oleh : Nurul Husnah dan Dwi Martani Departemen Akuntansi FEUI

Laporan Arus Kas. Akuntansi Keuangan 2 - Pertemuan 8. Slide OCW Universitas Indonesia Oleh : Nurul Husnah dan Dwi Martani Departemen Akuntansi FEUI Laporan Arus Kas Akuntansi Keuangan 2 - Pertemuan 8 Slide OCW Universitas Indonesia Oleh : Nurul Husnah dan Dwi Martani Departemen Akuntansi FEUI 1 Agenda 1 2 Laporan Arus Kas Latihan dan Pembahasan 3

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Piutang Banyak perusahaan menjual produknya secara kredit agar dapat meningkatkan volume penjualannya, sehingga penerimaan kas pun akan lebih meningkat. Penjualan kredit tidak

Lebih terperinci

Kompetensi Dasar 5.2 Menafsirkan persamaan akuntansi

Kompetensi Dasar 5.2 Menafsirkan persamaan akuntansi Kompetensi Dasar 5.2 Menafsirkan persamaan akuntansi 1. Pengertian dan klasifikasi akun (rekening). Akun merupakan suatu formulir yang digunakan untuk mencatat pengaruh perubahan nilai (penambahan atau

Lebih terperinci

DAFTAR PENYUSUTAN DAN AMORTISASI FISKAL TAHUN PAJAK 2 0 NPWP : NAMA WAJIB PAJAK : BULAN / TAHUN PEROLEHAN HARGA PEROLEHAN (US$)

DAFTAR PENYUSUTAN DAN AMORTISASI FISKAL TAHUN PAJAK 2 0 NPWP : NAMA WAJIB PAJAK : BULAN / TAHUN PEROLEHAN HARGA PEROLEHAN (US$) 2 0 DAFTAR PENYUSUTAN DAN AMORTISASI FISKAL 1B KELOMPOK / JENIS HARTA BULAN / TAHUN PEROLEHAN HARGA PEROLEHAN (US$) NILAI SISA BUKU FISKAL AWAL TAHUN PENYUSUTAN / AMORTISASI KOMERSIAL METODE HARTA BERWUJUD

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK) 8 Suatu perjanjian dari bentuk legalnya mungkin bukan merupakan perjanjian sewa, namun secara substansi dapat mengandung sewa. Untuk

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS SUMBER DAN PENGGUNAAN KAS

BAB III ANALISIS SUMBER DAN PENGGUNAAN KAS BAB III ANALISIS SUMBER DAN PENGGUNAAN KAS 1. Sifat Laporan Sumber Dan Penggunan Kas Sifat laporan perubahan modal kerja adalah memberikan ringkasan transaksi keuangan selama satu periode dengan menunjukan

Lebih terperinci

UTANG ANTARPERUSAHAAN

UTANG ANTARPERUSAHAAN UTANG ANTARPERUSAHAAN Salah satu manfaat dari adanya pengendalian atas perusahaan lain adalah manajemen mempunyai kemampuan untuk mentransfer sumberdaya dari suatu entitas legal ke entitas legal yang lain

Lebih terperinci

LIABILITAS JANGKA PENDEK, PROVISI, KONTIJENSI (PSAK 57)

LIABILITAS JANGKA PENDEK, PROVISI, KONTIJENSI (PSAK 57) LIABILITAS JANGKA PENDEK, PROVISI, KONTIJENSI (PSAK 57) Akuntansi Keuangan 2 - Pertemuan 1 Slide OCW Universitas Indonesia Oleh : Dwi Martani Departemen Akuntansi FEUI 1 Agenda 1 Liabilitas Jangka Pendek

Lebih terperinci

Akuntansi Piutang Dagang TRADE RECEIVABLE

Akuntansi Piutang Dagang TRADE RECEIVABLE Akuntansi Piutang Dagang TRADE RECEIVABLE Pengertian Piutang adalah tagihan kepada individuindividu atau kepada pihak lain. Atau dapat didefinisikan sebagai tagihan kepada pihak lain dalam bentuk uang

Lebih terperinci

PEMAKAI DAN KEBUTUHAN INFORMASI

PEMAKAI DAN KEBUTUHAN INFORMASI LAPORAN KEUANGAN Analisa laporan keuangan merupakan suatu proses analisis terhadap laporan keuangan dengan tujuan untuk memberikan tambahan informasi kepada para pemakai laporan keuangan untuk pengambilan

Lebih terperinci

Modul ke: AUDIT II AUDIT TERHADAP SIKLUS INVESTASI DAN MODAL. Fakultas EKONOMI DAN BISNIS. Yessie, SE, Msi. Program Studi AKUNTANSI

Modul ke: AUDIT II AUDIT TERHADAP SIKLUS INVESTASI DAN MODAL. Fakultas EKONOMI DAN BISNIS. Yessie, SE, Msi. Program Studi AKUNTANSI Modul ke: 11 Afly Fakultas EKONOMI DAN BISNIS AUDIT II AUDIT TERHADAP SIKLUS INVESTASI DAN MODAL Yessie, SE, Msi. Program Studi AKUNTANSI EMPAT KARATERISTIK SIKLUS PEROLEHAN DAN PELUNASAN KEMBALI MODAL

Lebih terperinci

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN ANALISIS LAPORAN KEUANGAN LAPORAN KEUANGAN PENGGUNA LAPORAN KEUANGAN PENGGUNA LAPORAN KEUANGAN ADALAH ANTARA LAIN : 1. INVESTOR 2. KREDITOR 3. PEMASOK 4. KREDITOR USAHA LAIN 5. PELANGGAN 6. PEMERINTAH

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORITIS

BAB II TINJAUAN TEORITIS BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.1 Perputaran Piutang Usaha 2.1.1 Pengertian Piutang Piutang merupakan salah satu jenis aktiva lancar yang dapat berubah menjadi kas (uang tunai). Piutang timbul dari kegiatan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Definisi piutang menurut Standar Akuntansi Keuangan No.9 (revisi 2009)

BAB II LANDASAN TEORI. Definisi piutang menurut Standar Akuntansi Keuangan No.9 (revisi 2009) BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Piutang 2.1.1 Definisi Piutang Definisi piutang menurut Standar Akuntansi Keuangan No.9 (revisi 2009) adalah: Menurut sumber terjadinya, piutang digolongkan dalam dua kategori

Lebih terperinci

PT ASTRA GRAPHIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN. Catatan 2009*) Kas dan setara kas 2d,

PT ASTRA GRAPHIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN. Catatan 2009*) Kas dan setara kas 2d, NERACA KONSOLIDASIAN AKTIVA LANCAR Kas dan setara kas 2d,4 121.433.163.880 119.658.017.889 Deposito berjangka 5 2.135.930.652 2.424.600.790 Piutang usaha 2e (setelah dikurangi penyisihan piutang ragu-ragu

Lebih terperinci

JUMLAH ASET LANCAR

JUMLAH ASET LANCAR LAPORAN POSISI KEUANGAN (NERACA) KONSOLIDASI 30 September 2011 dan 31 Desember 2010 30 September 2011 31Desember 2010 ASET ASET LANCAR Kas dan setara kas 50948250925 80968763439 Investasi 1963117500 2016231750

Lebih terperinci

LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI PT INDO EVERGREEN. UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2011 dan 2010

LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI PT INDO EVERGREEN. UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2011 dan 2010 LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI PT INDO EVERGREEN UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER dan DAFTAR ISI Halaman LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI Laporan Posisi Keuangan... 1. Laporan Laba Rugi Komprehensif...

Lebih terperinci

LAPORAN KEUANGAN (Materi 2)

LAPORAN KEUANGAN (Materi 2) LAPORAN KEUANGAN (Materi 2) Laporan keuangan terdiri dari dua laporan utama dan beberapa laporan yang sifatnya sebagai pelengkap. Laporan utama tersebut adalah : 1. Laporan Perhitungan Rugi-Laba 2. Neraca

Lebih terperinci

Laba bersih. perubahan tertentu pada prinsip akuntansi.

Laba bersih. perubahan tertentu pada prinsip akuntansi. A. Pengertian Laba ditahan Laba ditahan (retained earnings) adalah laba bersih yang tidak dibayarkan sebagai dividen tetapi diakumulasikan selama masa usaha perusahaan dan dilaporkan pada bagian kekayaan

Lebih terperinci

DAFTAR ISTILAH DAN PENUTUP. Istilah yang digunakan dalam Kebijakan Akuntansi Pemerintah Kabupaten Bungo termuat dalam daftar sebagai berikut :

DAFTAR ISTILAH DAN PENUTUP. Istilah yang digunakan dalam Kebijakan Akuntansi Pemerintah Kabupaten Bungo termuat dalam daftar sebagai berikut : Lampiran IV Peraturan Bupati Bungo Nomor 20 Tahun 2014 Tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Kabupaten Bungo DAFTAR ISTILAH DAN PENUTUP I. DAFTAR ISTILAH Istilah yang digunakan dalam Kebijakan Akuntansi

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 1985 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG PAJAK PENGHASILAN 1984 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 1985 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG PAJAK PENGHASILAN 1984 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 1985 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG PAJAK PENGHASILAN 1984 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk lebih memberikan kemudahan dan

Lebih terperinci

KEBIJAKAN AKUNTANSI INVESTASI PADA PEMERINTAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

KEBIJAKAN AKUNTANSI INVESTASI PADA PEMERINTAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT LAMPIRAN PERATURAN GUBERNUR NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG KEBIJAKAN AKUNTANSI INVESTASI PADA PEMERINTAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Bentuk Investasi KEBIJAKAN AKUNTANSI INVESTASI PADA

Lebih terperinci

LAPORAN ARUS KAS AKTIVITAS OPERASI BERHUBUNGAN DENGAN TRANSAKSI YANG MENGHASILKAN LABA BERSIH. Pembayaran kegiatan operasi lainnya

LAPORAN ARUS KAS AKTIVITAS OPERASI BERHUBUNGAN DENGAN TRANSAKSI YANG MENGHASILKAN LABA BERSIH. Pembayaran kegiatan operasi lainnya LAPORAN ARUS KAS Laporan arus kas melaporkan penerimaan dan pengeluaran kas entitas selama periode tertentu dari mana kas datang dan bagaimana dibelanjakannya. Cash flow menjelaskan sebab-sebab dari perubahan

Lebih terperinci

PT ASTRA GRAPHIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN. Catatan 2009*) Kas dan setara kas 2d,

PT ASTRA GRAPHIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN. Catatan 2009*) Kas dan setara kas 2d, NERACA KONSOLIDASIAN AKTIVA LANCAR Kas dan setara kas 2d,4 70.490.918.058 100.111.129.147 Deposito berjangka 5 2.062.615.652 2.179.143.834 Piutang usaha 2e (setelah dikurangi penyisihan piutang ragu-ragu

Lebih terperinci

BAB II JENIS-JENIS MODAL PERUSAHAAN

BAB II JENIS-JENIS MODAL PERUSAHAAN BAB II JENIS-JENIS MODAL PERUSAHAAN A. Tujuan Kompetensi Khusus Setelah mengikuti perkuliahan, diharapkan mahasiswa mampu: Memahami pengertian modal asing Mengetahui penggolongan modal asing Memahami pengertian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Dalam perkembangan ekonomi saat ini, banyak perusahaan yang melakukan penggabungan perusahaan untuk meningkatkan kinerja dan keuntungan mereka. Penggabungan ini dapat

Lebih terperinci

Analisis Kredit. Analisa Laporan Keuangan Kelas CA. Nadia Damayanti Ranita Ramadhani

Analisis Kredit. Analisa Laporan Keuangan Kelas CA. Nadia Damayanti Ranita Ramadhani Analisis Kredit Analisa Laporan Keuangan Kelas CA Nadia Damayanti 115020300111008 Ranita Ramadhani 115020300111037 ANALISIS KREDIT LIKUIDITAS DAN MODAL KERJA Likuiditas adalah kemampuan untuk mengubah

Lebih terperinci

BAB II. Landasan Teori

BAB II. Landasan Teori BAB II Landasan Teori 2.1 Laporan Keuangan Menurut Warren (2008:24) Laporan keuangan adalah merupakan pokok atau hasil akhir dari suatu proses akuntansi yang menjadi bahan informasi bagi para pemakainya

Lebih terperinci

Kewajiban Lancar (Current Liabilities) Sifat Kewajiban Lancar (The Nature of Current Liabilities)

Kewajiban Lancar (Current Liabilities) Sifat Kewajiban Lancar (The Nature of Current Liabilities) Kewajiban Lancar (Current Liabilities) Sifat Kewajiban Lancar (The Nature of Current Liabilities) Current Liabilities merupakan Liabilities yang harus dibayar dengan Current Asset serta jatuh tempo dalam

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 94 TAHUN 2010 TENTANG PENGHITUNGAN PENGHASILAN KENA PAJAK DAN PELUNASAN PAJAK PENGHASILAN DALAM TAHUN BERJALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

P.T. SURYA SEMESTA INTERNUSA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR 30 JUNI 2008 DAN 2007

P.T. SURYA SEMESTA INTERNUSA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR 30 JUNI 2008 DAN 2007 P.T. SURYA SEMESTA INTERNUSA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR 30 JUNI 2008 DAN 2007 P.T. SURYA SEMESTA INTERNUSA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN DAFTAR ISI Halaman

Lebih terperinci

A. PILIHALAH JAWABAN YANG PALING BENAR

A. PILIHALAH JAWABAN YANG PALING BENAR YAYASAN PERGURUAN ISLAM REPUBLIK INDONESIA SMK PIRI 3 YOGYAKARTA KELOMPOK BISNIS DAN MANAJEMEN Proram Keahlian : Akuntansi, Administrasi Perkantoran dan Multimedia Alamat : Jl. MT Haryono 23, Pugeran,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian yang dilakukan adalah penelitian yang didasarkan pada teori yang mendukung dengan perbandingan PSAK 1 dan IAS 1 tentang penyajian laporan keuangan.

Lebih terperinci

PT JEMBO CABLE COMPANY Tbk NERACA 31 Desember 2003 dan 2002 (dalam Ribuan Rupiah, kecuali di nyatakan lain)

PT JEMBO CABLE COMPANY Tbk NERACA 31 Desember 2003 dan 2002 (dalam Ribuan Rupiah, kecuali di nyatakan lain) NERACA 31 Desember 2003 dan 2002 AKTIVA LANCAR K E T E R A N G A N 2003 2002 Kas dan setara kas 5,048,154 5,040,625 Piutang usaha Pihak yang mempunyai hubungan istimewa 19,943,324 21,928,185 Pihak ketiga-setelah

Lebih terperinci

BAB II LAPORAN ARUS KAS

BAB II LAPORAN ARUS KAS 12 BAB II LAPORAN ARUS KAS 2.1. Laporan Arus Kas 2.1.1. Pengertian Laporan Arus Kas Ikatan Akuntansi Indonesia (2009:PSAK No.2) menyatakan bahwa: Laporan arus kas adalah laporan yang memberi informasi

Lebih terperinci

BAB 10 PENUTUPAN BUKU DAN JURNAL PEMBALIK

BAB 10 PENUTUPAN BUKU DAN JURNAL PEMBALIK BAB 10 PENUTUPAN BUKU DAN JURNAL PEMBALIK A. Menjelaskan Kegunaan Jurnal Penutup Akun riil (real account) merupakan akun-akun neraca Setelah jurnal penyesuaian diposting ke buku besar, maka data dalam

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Akuntansi 2.1.1 Pengertian Akuntansi Tinjauan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( 2001 : 1198 ) adalah hasil meninjau, pandangan, pendapat, ( sesudah mempelajari, menyelidiki

Lebih terperinci

I. UMUM II. PASAL DEMI PASAL. Pasal 1. Cukup jelas. Pasal 2

I. UMUM II. PASAL DEMI PASAL. Pasal 1. Cukup jelas. Pasal 2 I. UMUM PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 94 TAHUN 2010 TENTANG PENGHITUNGAN PENGHASILAN KENA PAJAK DAN PELUNASAN PAJAK PENGHASILAN DALAM TAHUN BERJALAN Dengan diundangkannya

Lebih terperinci

PT. BANK OMEGA NERACA PER TANGGAL 31 DESEMBER 20XX

PT. BANK OMEGA NERACA PER TANGGAL 31 DESEMBER 20XX PT. BANK OMEGA NERACA PER TANGGAL 31 DESEMBER 20XX 1. AKTIVA 2. KEWAJIBAN 1.1. K a s 2.1. G i r o 1.2. Giro pada Bank Indonesia 2.2. Kewajiban Segera Lainnya 1.3. Giro pada Bank Lain 2.3. Tabungan 1.4.

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 94 TAHUN 2010 TENTANG PENGHITUNGAN PENGHASILAN KENA PAJAK DAN PELUNASAN PAJAK PENGHASILAN DALAM TAHUN BERJALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

Komponen Laporan Keuangan Lengkap Beserta Contoh dan Penjelasan

Komponen Laporan Keuangan Lengkap Beserta Contoh dan Penjelasan Komponen Laporan Keuangan Lengkap Beserta Contoh dan Penjelasan 03 May, 2014 by Mr. JAK (Seorang Akuntan yang prihatin akan mahalnya biaya pendidikan dan bahan ajar, khususnya terkait dengan bidang Akuntansi,

Lebih terperinci

EKUITAS PEMEGANG SAHAM Mata Kuliah Akuntansi Keuangan 2

EKUITAS PEMEGANG SAHAM Mata Kuliah Akuntansi Keuangan 2 EKUITAS PEMEGANG SAHAM Mata Kuliah Akuntansi Keuangan 2 PENGANTAR Saham preferen Saham preferen merupakan saham yang memiliki banyak keutamaan dibandingkan dengan saham biasa. Saham preferen biasa disebut

Lebih terperinci