PENGENALAN SISTEM KENDALI BERBASIS MIKROPROSESOR

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PENGENALAN SISTEM KENDALI BERBASIS MIKROPROSESOR"

Transkripsi

1 KEGIATAN BELAJAR 1 PENGENALAN SISTEM KENDALI BERBASIS MIKROPROSESOR Lembar Informasi Automasi dan Pengendalian Pabrik dan industri modern memerlukan kendali automatik. Kendali automatik memegang peranan penting pada setiap proses dalam pabrik dan industri. Tujuan penerapan kendali automatik pada proses permesinan di industri adalah untuk : Peningkatkan produktivitas Peningkatkan ketelitian Kemudahan pengoperasian Pengurangan keterlibatan tenaga kerja (manusia) Keamanan pekerja Dengan kendali otomatis kualitas sebuah produk atau proses menjadi lebih baik, jumlah atau kuantitas produk menjadi lebih banyak dan lebih teliti, serta tenaga kerja lebih mudah bekerja dan lebih aman dari faktor bahaya resiko kerja. Sebuah sistem kendali dapat dibagi dalam empat bagian konstituen yaitu : Input Controller/Pengendali Processing Output Gambar 1. Element sebuah Sistem Kendali 1

2 Input Sinyal input biasanya dibangkitkan menggunakan sensor atau transduser. Sensor adalah sebuah piranti elektronik yang peka terhadap cahaya, suhu, frekuensi, impedansi listrik, atau tingkat radiasi dan menghasilkan sinyal untuk keperluan pengukuran atau peralatan kendali. Sensor bekerja mengkonversi besaran fisik menjadi sinyal listrik. Transduser didefinisikan sebagai piranti yang bekerja menerima suatu bentuk energi dari suatu sistem dan memancarkan kembali ke bentuk yang berbeda pada sistem lain. Data yang diperoleh dari input merupakan data hasil pengukuran. Data tersebut digunakan sebagai data masukan pada kontroler dalam melakukan proses pengendalian. Bagian Input dari suatu sistem kendali berfungsi menyalurkan informasi besaran yang diukur ke bagian controller (Pengendali). Bergantung jenis transduser informasi yang dihasilkan dapat dalam bentuk discontinuous on/off (binary) atau continuous (analog) seperti Tabel 1. berikut: Tabel 1. Jenis Transduser pada Input 2

3 Processing atau Plant Sistem kendali harus dapat menjalankan proses yang diatur. Plant adalah seperangkat peralatan yang digunakan untuk melakukan suatu operasi tertentu. Obyek fisik dikendalikan menggunakan piranti seperti pompa, motor, relay, pistons, lampu display, dan sebagainya dalam sebuah sistem disebut plant. Motor sebagai salah satu contoh bekerja mengkonversi sinyal listrik menjadi gerakan putar. Secara umum konverter listrik menjadi fisik disebut actuator. Tabel 2. Jenis Peralatan Penggerak Output Bagian Output Bagian output dari suatu sistem kendali adalah hasil dari proses pengendalian berdasarkan nilai acuan atau referensi yang ditetapkan. Dalam sistem kendali berbasis mikroprosesor keluaran hasil pengendalian dapat diukur melalui sensor atau transduser sehingga hasil pengukuran output dapat dibandingkan dengan nilai setting yang ditetapkan. Dalam sistem pendingin misalnya, suhu 18 derajat Celsius merupakan setting output yang harus dicapai oleh sistem kendali. Setelah melalui proses pengendalian hasil pada output diukur apakah sudah sama dengan nilai 3

4 setting 18 derajat atau belum, selanjutnya bagian kontrol dapat melakukan langkah pengaturan sesuai dengan kebutuhannya. Bagian Controller Bagian ini merupakan bagian pokok pengolah sinyal masukan dari bagian input, dan kemudian membangkitkan resultan aksi pada plant. Berdasarkan informasi dari input, sistem kendali otomatis membangkitkan sinyal tanggapan untuk control plant (peralatan yang dikontrol). Ada dua cara yang dapat digunakan untuk mengendalikan peralatan yaitu: Hard-wired control Programmable control Sistem kendali Hard-wired bekerja atas dasar fungsi yang tetap sedangkan kendali Programmable bekerja atas dasar program yang disimpan pada unit memori. Kendali Programmable menggunakan mikroprosesor sebagai komponen utama pengolah sinyal dan pengambil keputusan. Sistem kendali yang menggunakan mikroprosesor sebagai komponen utama pengolah sinyal disebut Sistem Kendali Berbasis Mikroprosesor Dalam implementasinya sebuah mikroprosesor tidak dapat berdiri sendiri. Ia memerlukan unit memori dan unit I/O yang dibangun dalam suatu sistem yang disebut Sistem Mikroprosesor. Dalam perkembangan pemakaiannya sistem mikroprosesor diimplemtasikan dalam sebuah rangkaian terintegrasi yang dikenal dengan sebutan Microcontroller. Secara diagram sistem kendali berbasis Mikroprosesor dapat digambarkan seperti gambar 2. Gambar 2. Bagan Kendali Berbasis Mikroprosesor 4

5 Mikrokontroler disebut juga dengan komputer dalam satu chip adalah jenis peralatan elektronik yang bekerja berdasarkan program untuk tujuan yang sangat umum dan luas. Mikrokontroler adalah sebuah sistem mikroprosesor yaitu sebuah sistem yang memadukan mikroprosesor sebagai Central Processing Unit, Memori, dan Unit Input Output yang didesain dalam sebuah chip. Penggunaan Mikrokontroler sebagai alat kendali sangat memudahkan dan memberi keleluasaan dalam implementasi dan aplikasinya. Mikrokontroler dapat digunakan untuk aplikasi yang sangat variatif karena perubahan pengimplementasiannya cukup dilakukan dengan merubah data atau progam yang diberikannya. Lembar Latihan 1. Sebutkan keuntungan penggunaan sistem otomatis dalam prosespermesinan dalam industri modern! 2. Sebutkan kerugian penggunaan sistem otomatis dalam proses permesinan dalam industri modern! 3. Dibandingkan dengan kendali diskrit, apa kelebihan kendali berbasis mikroprosesor? 4. Jika ingin mengendalikan suhu sebuah ruangan, a. Gambarkan sistem kendalinya dengan menggunakan mikrokontroler! b. Definisikan dan tetapkan komponen : Input, Controller, Plant, dan Outputnya! 5

6 KEGIATAN BELAJAR 2 MIKROPROSESOR DAN MIKROKONTROLER Lembar Informasi Mikroprosesor dan mikrokontroler dikembangkan dari satu ide dasar yang sama, dibuat oleh orang yang sama. Lalu apa perbedaan diantara keduanya. Mikroprosesor Mikroprosesor dalam perkembangan komputer digital disebut sebagai Central Processing Unit (CPU) yang bekerja sebagai pusat pengolah dan pengendalian pada sistem komputer mikro. Sebuah mikroprosesor tersusun dari tiga bagian penting yaitu : Arithmetic Logic Unit (ALU), Register Unit (RU), dan Control Unit (CU) seperti Gambar 3. Gambar 3. Blok diagram Mikroprosesor Untuk membangun fungsi sebagai komputer mikro, sebuah mikroprosesor harus dilengkapi dengan memori, biasanya memori program yang hanya bisa dibaca (Read Only Memory=ROM) dan memori yang bisa dibaca dan ditulisi (Read Write Memory=RWM), decoder memori, osilator, dan sejumlah peralatan input output seperti port data seri dan paralel. Pokok dari penggunaan mikroprosesor adalah untuk mengambil data, membentuk kalkulasi, perhitungan atau manipulasi data, dan 6

7 menyimpan hasil perhitungan pada peralatan penyimpan atau menampilkan hasilnya pada sebuah monitor atau cetak keras. Mikrokontroler Mikrokontroler adalah komputer mikro dalam satu chip tunggal. Mikrokontroler memadukan CPU, ROM, RWM, I/O paralel, I/O seri, counter-timer, dan rangkaian clock dalam satu chip tunggal (Gambar 4). Gambar 4. Diagram Mikrokontroler Sama halnya dengan mikroprosesor, mikrokontroler adalah piranti yang dirancang untuk kebutuhan umum. Penggunaan pokok dari mikrokontroler adalah untuk mengontrol kerja mesin atau sistem menggunakan program yang disimpan pada sebuah ROM. Untuk melihat perbedaan konsep diantara mikroprosesor dan mikrokontroler di bawah ini ditunjukan tabel perbandingan konfigurasi, arsitektur, dan set instruksi diantara mikroprosesor Z-80 CPU dengan mikrokontroler Tabel 3. perbandingan konfigurasi, arsitektur, dan set instruksi 7

8 Sebagai catatan dari tabel ini, jika dilakukan perbandingan tidaklah menunjukkan bahwa satu lebih baik dari lainnya. Kedua rancangan memiliki penekanan tujuan yang berbeda. Survey Mikrokontroler Seperti halnya sebuah mikroprosesor, mikrokontroler juga berkembang dalam rancangan dan aplikasinya. Mikrokontroler berdasarkan jumlah bit data yang dapat diolah dapat dibedakan dalam : Mikrokontroler 4 Bit Mikrokontroler 8 Bit Mikrokontroler 16 Bit Mikrokontroler 32 Bit Mikrokontroler 4 Bit Mikrokontroler 4 bit merupakan mikrokontroler dengan jumlah bit data terkecil. Mikrokontroler jenis ini diproduksi untuk meminimalkan jumlah pin dan ukuran kemasan. Tabel 4. Mikrokontroler 4 bit 8

9 Mikrokontroler 8 Bit Mikrokontroler 8 bit merupakan mikrkontroler yang paling banyak digunakan untuk dalam pekerjaan-pekerjaan perhitungan skala kecil. Dalam komunikasi data, Data ASCII serial juga disimpan dalam ukuran 8 bit. Kebanyakan IC memori dan fungsi logika dibangun menggunakan data 8 bit sehingga interface bus data menjadi sangat mudah dibangun. Penggunaan mikrokontroler 8 bit jauh lebih banyak dibandingkan dengan mikrokontroler 4 bit. Aplikasinya juga sangat pariatif mulai dari aplikasi kendali sederhana sampai kendali mesin berkecepatan tinggi. Tabel 5. Mikrkontroler 8 bit Mikrokontroler 16 Bit Keterbatasan-keterbatasan yang ada pada mikrokontroler 8 bit berkaitan dengan semakin kompleknya pengolahan data dan 9

10 pengendalian serta kecepatan tanggap/respon disempurnakan dengan menggunakan mikrokontroler 16 bit. Salah satu solusinya adalah dengan menaikkan kecepatan clock, dan ukuran data. Mikrokontroler 16 bit digunakan untuk mengatur tangan robot, dan aplikasi Digital Signal Processing (DSP). Tabel 6. Mikrokontroler 16 Bit Pulse Width Modulation (PWM) sangat bermanfaat untuk mengontrol kecepatan motor. Mikrokontroler 32 Bit Mikrokontroler 32 bit ditargetkan untuk aplikasi Robot, Instrumen cerdas, Avionics, Image Processing, Telekomunikasi, Automobil, dan sebainya.program-program aplikasinya bekerja dengan sistem operasi. Lembar Latihan 1. Sebutkan tiga bagian pokok mikroprosesor! 2. Gambarkan blok diagram sebuah mikroprosesor! 3. Sebutkan tiga bagian pokok mikrokontroler! 4. Gambarkan blok diagram sebuah mikrokontroler! 5. Menurut anda apakah benar, mikroprosesor adalah inti dari sebuah mikrokontroler! 10

11 KEGIATAN BELAJAR 3 ARSITEKTUR MIKROKONTROLER ATMEL 89C51 Lembar Informasi Jika anda ingin familier dengan kemampuan sebuah mikrokontroler atau mesin lainnya, maka langkah yang paling efektif yang harus dilakukan adalah menguasai Arsitektur Mikrokontroler tersebut. Arsitektur menurut Ayala adalah rancangan Hardware internal yang berkaitan dengan : tipe, jumlah, dan ukuran register serta rangkaian lainnya. Disamping menguasai hardware, seorang pengembang atau pengguna mikrokontroler harus menguasai set instruksi yang digunakan untuk menyusun dan mengembangkan program. Hardware dan software harus dikuasai dengan baik. Set instruksi adalah vocabulary dan kaidah Grammer dalam menulis program penuh makna. Hardware Mikrokontroler T89C51 Gambar 5. Susunan Pin Mikrokontroler

12 Gambar 6. Arsitektur Pemrograman AT 89C51 Gambar di atas menunjukkan arsitektur AT89C51 dengan gambaran spesifik : CPU 8 bit dengan register A (akumulator) dan register B 16 bit Program Counter (PC) dan Data Pointer (DPTR) 8 bit Program Status Word (PSW) 8 bit Stack Pointer Internal 4 K Plash Memory dan 4 K EEPROM Internal RAM dengan 128 bytes : 4 register bank masing-masing 8 register 16 byte alamat untuk pengalamatan level bit 8 byte memori data untuk keperluan umum 32 pin I/O masing-masing disusun dalam 8 bit per port P0 P bit timer/counter : T0 dan T1 Full duplex serial data receiver/transmitter : SBUF 12

13 Control register : TCON, TMOD,SCON, PCON, IP, dan IE 2 eksternal dan 3 internal sumber interupsi Rangkaian Osilator dan Clock Program Counter dan Data Pointer AT89C51 memiliki dua register 16 bit untuk memegang byte alamat memori yaitu Program Counter (PC) dan Data Poiinter (DPTR). Byte instruksi program di fetch dari lokasi memori yang dialamati oleh PC. Program dalam Plash memori pada chip beralamat 0000h s/d 0FFFh, sedangkan di luar chip beralamat di atas 0FFFh, dengan total alamat FFFFh. PC secara otomatis bertambah satu setelah setiap byte instruksi di fetch. PC satu-satunya tidak memiliki alamat internal Register DPTR dibangun dari dua register 8 bit, DPH dan DPL yang digunakan untuk memegang alamat memori internal dan eksternal. DPTR memiliki dua alamat masing-masing untuk DPH dan DPL. Register A dan B AT 89C51 memiliki 34 register untuk tujuan umum, atau disebut register kerja. Dua diantaranya adalah register A dan register B sebagai inti dari CPU. 32 byte lainnya disusun pada RAM dalam 4 bank yaitu Bank0 s/d Bank3 yang diberi nama R0 s/d R7. Register A paling banyak digunakan oleh CPU untuk operasi Penjumlahan, Pengurangan, Perkalian dan pembagian integer, dan manipulasi Bit Boolean. Flag dan Program Status Word (PSW) Flag disebut juga sebagai bit status yang tercatat dan tersimpan sebagai akibat dari sebuah instruksi pada program. Status ini sangat penting untuk mengetahui keadaan dari suatu proses instruksi sehingga dapat dipakai sebagai dasar pengambilan keputusan. Sebagai suatu 13

14 contoh, misalnya untuk mengetahui isi suatu register apakah nilainya lebih besar dari suatu nilai n maka dapat dilakukan proses pembandingan nilai tersebut dengan sebuah nilai n. Jika status Flag Carry = 1 maka nilai register tersebut lebih kecil dan sebaliknya nilai register tersebut sama atau lebih besar dari n. AT89C51 memiliki empat flag matematik yang mencatat status akibat dari operasi matematik yaitu Carry (C), Auxiliary Carry (AC), Overflow (OV), dan Parity (P). Register PSW susunannya adalah sebagai berikut: CY AC F0 RS1 RS0 OV - P Bit Simbol Fungsi 7 CY Flag Carry ; digunakan untuk aritmatika JUMP, ROTATE, dan Boolean 6 AC Flag Auxiliary Carry digunakan untuk Aritmetika BCD 5 F0 Flag 0 4 RS1 Pemilih Bank bit 1 3 RS0 Pemilih Bank bit 0 RS1 RS0 0 0 : Bank : Bank : Bank : Bank 3 2 OV Flag Overflow : untuk instruksi matematik 1 - Tidak digunakan 0 P Flag Paritas ; 1 = paritas ganjil. 14

15 Memori Internal Secara fungsional sebuah komputer harus memiliki memori untuk menyimpan byte kode program, biasanya dalam sebuah ROM dan sebuah RAM yang digunakan menyimpan data yang sifatnya variabel. AT 89C51 memiliki RAM Internal, Memori Flash, dan EEPROM. RAM Internal Sebanyak 128 byte RAM internal yang secara detail dapat digambarkan seperti gambar berikut: Gambar 7. Organisasi RAM Internal 15

16 Organisasi RAM Internal menunjukkan : byte dari alamat 00h s/d 1Fh digunakan untuk 32 register kerja yang dikelompokkan dalam 4 bank dengan 8 register untuk RAM masing-masing bank. Keempat bank register tersebut diberi nomor Bank 0 s/d Bank 3, dengan masing-masing bank berisi 8 register R0 s/d R7. Tiap-tiap register dapat di alamati baik menggunakan nama registernya atau alamat registernya. Penggunaan dan pemilihan bank dapat diaktifkan melalui RS1 dan RS0 pada PSW. 2. Sebanyak 16 byte mulai alamat 20 s/d 2F dapat di alamati sebagai alamat bit sehingga tiap-tiap byte alamat memiliki 8 bit alamat. Byte alamat 20h memiliki alamat bit 00h s/d 07h dan seterusnya untuk alamat byte diatasnya. Jadi alamat 07h sama dengan bit 7 dari alamat byte 20. Pengalamatan bit yang bermanfaat pada saat menggunakan program yang membutuhkan pencatatan peristiwa biner seperti saklar On atau Off. 3. RAM untuk keperluan umum mulai alamat 30h s/d 7Fh di alamati secara byte. Stack Pointer Stack adalah potongan atau penggalan dengan titik atau Pointer yang sangat efektif sekali digunakan untuk menyimpan byte di RAM menggunakan PUSH dan POP. Stack Pointer (SP) pada AT89C51 adalah register 8 bit. Berbeda dengan operasi stack pada Z-80 CPU, operasi stack pada AT 89C51 dapat digambarkan seperti gambar berikut. Pada saat reset SP diset 07h dan dapat dirubah pada lokasi RAM internal oleh programmer. Pada saat operasi PUSH, SP bertambah satu dan diikuti dengan penyimpanan data. Sebaliknya pada operasi POP, SP berkurang satu dan diikuti pengambilan data. Oleh karena register SP adalah register 8 bit maka batas kemampuan Stack pada AT89C51 maksimum adalah 128 byte. 16

17 Gambar 8. Proses Pembentukan Stack Special Function Register (SFR) Disamping RAM Internal AT89C51 bekerja menggunakan registerregister khusus yang disebut SFR yang dapat dialamati seperti halnya alamat RAM internal menggunakan alamat dari 80h s/d FFh. Beberapa SFR juga dapat dialamati secara bit. Tidak semua diantara alamat 80h s/d FFh digunakan untuk alamat SFR. Tabel 7. Nama dan alamat SFR 17

18 Input Output Port Input Output (I/O) Port merupakan salah satu bagian utama sebagai gambaran kemampuan sebuah mikrokontroler berhubungan dengan dunia luar. AT89C51 memiliki empat buah port masing-masing 8 bit. PORT 0 Port 0 adalah port I/O bi-directional yang juga dapat digunakan sebagai Address Buss orde rendah A0-A7 serta Data buss D0 D7 pada saat dimanfaatkan berhubungan dengan memori eksternal. PORT 1 Port 1 adalah port dengan fungsi tunggal dapat diprogram input maupun output. PORT 2 Port 2 adalah port bidirectional yang juga dapat digunakan sebagai Address buss orde tinggi A8 A15. PORT 3 Port 3 merupakan port I/O yang fungsinya dapat diprogram dibawah kendali latch P3 atau dibawah kendali SFR. Alternatif fungsi dari port 3 adalah sebagai berikut: 18

19 PIN ALTERNATIF PENGGUNANAAN SFR P3.0 -RXD Serial data input SBUF P3.1-TXD Serial Data Output SBUF P3.2-INT0* External Interrupt 0 TCON.1 P3.3-INT1* External Interrupt 1 TCON.3 P3.4-T0 External Timer 0 Input TMOD P3.5-T1 External Timer 1 Input TMOD P3.6-WR* External Memory Write Pulse - P3.7-RD* External Memory Read Pulse - Counter dan Timer Banyak aplikasi mikrokontroler memerlukan penghitungan kejadiankejadian eksternal seperti periode waktu kedatangan kereta api, jumlah pengunjung dalam suatu super market, jumlah liter bensin yang dikeluarkan dari suatu pompa SPBU dan sebagainya. Untuk keperluan tersebut dua buah counter 16 bit T0 dan T1 dapat diprogram masing-masing untuk mencacah Pulsa Clock Internal sebagai Timer atau diprogram untuk mencacah Pulsa Eksternal sebagai Counter. Counter dibagi dalam dua register 8 bit yang disebut TL0 dan TL1 untuk low dan TH0, TH1 untuk high. Semua kerja counter dikendalikan menggunakan bit pada Timer Mode Control Register (TMOD), Timer/Counter Register (TCON), dan perintah program yang diberikan. TCON memuat bit-bit kontrol dan flag untuk timer pada nible atas dan bitbit control dan flag untuk interrupt eksternal TF1 TR1 TF0 TR0 IE1 IT1 IE0 IT0 BIT SIMBOL FUNGSI 7 TF1 Timer 1 Overflow Flag. Set jika perputaran timer dari 19

20 satu ke nol. Reset jika vektor dari prosesor mengeksekusi routin dari layanan interupsi pada lokasi alamat program 001Bh. 6 TR1 Timer 1 RUN Control Bit. Di set 1 menggunakan program dalam menjalankan Timer untuk melakukan cacahan. Clear ke 0 dengan program untuk menghentikan Timer. 5 TF0 Timer 0 Overflow Flag. Set jika perputaran timer dari satu ke nol. Reset jika vektor dari prosesor mengeksekusi routin dari layanan interupsi pada lokasi alamat program 000Bh. 4 TR0 Timer 0 RUN Control Bit. Di set 1 menggunakan program dalam menjalankan Timer untuk melakukan cacahan. Clear ke 0 dengan program untuk menghentikan Timer. 3 IE1 External Interrupt 1. Berlogika 1 jika kondisi bit interupt pada P3.3 (INT1*) berubah dari kondisi 1 ke 0. Berlogika 0 jika vektor dari prosesor untuk routin layanan interupsi beralamat 0013h. 2 IT1 External Interrupt 1 Signal type control bit. Di set 1 menggunakan program untuk mengaktifkan interupsi 1 eksternal agar dapat ditriger menggunakan sinyal Falling edge. Di set 0 menggunakan program untuk mengaktifkan sinyal level rendah pada interupt 1 eksternal. 1 IE0 External Interrupt 0. Berlogika 1 jika kondisi bit interupt pada P3.2 (INT0*) berubah dari kondisi 1 ke 0. Berlogika 0 jika vektor dari prosesor untuk routin layanan interupsi beralamat 0003h. 0 IT0 External Interrupt 0 Signal type control bit. Di set 1 20

21 menggunakan program untuk mengaktifkan interupsi 0 eksternal agar dapat ditriger menggunakan sinyal Falling edge. Di set 0 menggunakan program untuk mengaktifkan sinyal level rendah pada interupt 1 eksternal Gate C/T* M1 M0 Gate C/T* M1 M0 [ Timer 1 ] [ Timer 0 ] BIT SIMBOL FUNGSI 7/3 Gate OR Gate enable bit. Untuk mengontrol RUN/STOP timer. Diset 1 menggunakan program untuk mengaktifkan timer untuk mulai jalan jika bit TR1/0 pada TCON set 1 dan sinyal pada INT1*/0* berlogika 1. Di set 0 menggunakan program untuk mengaktifkan timer untuk mulai jalan jika bit TR1/0 pada TCON = 1. 6/2 C/T* Set 1 menggunakan program untuk membuat timer 1/0 bekerja sebagai counter dengan menghitung pulsa dari input eksternal P3.5 (T1) atau P3.4 (T0). Di set 0 dengan program untuk membuat timer bekerja sebagai timer yang dapat mencacah frekuensi internal. 5/1 M1 Timer/Counter operating Mode Select 1. 4/0 M0 Timer/Counter operating Mode Select 1. M1 M0 Mode

22 Lembar Latihan 1. Berapakah ukuran RAM Internal pada mikrokontroler AT89C51? 2. Berapakah ukuran Plash Memory pada mikrokontroler AT89C51? 3. Sebutkan jumlah stack maksimum yang dapat dibangun pada AT89C51! 4. Gambarkan dan jelaskan kembali status flag pada PSW! 22

23 KEGIATAN BELAJAR 4 SET INSTRUKSI MIKROKONTROLER ATMEL 89C51 Lembar Informasi Alih Data (Moving Data) Data dialihkan di copy dari sumber data Source ke tujuan Destinasi Destinasi disebut lebih awal kemudian baru Source MOVE Destinasi, Source PUSH Source atau POP Destinasi XCH Destinasi, Source Cara Pengalamatan alih data disebut dengan Addressing Modes Immediate addressing mode Register addressing mode Direct addressing mode Indirect Addressing mode Op code Perinatah MOVE mencakup memori : Internal RAM Internal SFR External RAM Internal dan eksternal ROM Tipe atau jenis Op code yang digunakan untuk alih data : MOV MOVX MOVC PUSH dan POP XCH 23

24 ADRESSING MODE 1. Immediate Addressing Mode Cara yang paling sederhana untuk membangkitkan data pada destinasi dengan cara membuat data menjadi bagian dari op code. Pada mnemonic digunakan tanda # Instruksi Data Op Code Next Byte Mnemonic Operasi MOV A, #01h copy data 01h ke Register A MOV R3, #1Ch copy data 1Ch ke Register R3 MOV DPTR,#ABCDh copy data ABCDh ke Register R3 2. Register Addressing Mode Nama register (A, DPTR, R0 R7) digunakan sebagai bagian dari op code mnemonik baik sebagai source atau sebagai destinasi. Mnemonic Operasi MOV A, R0 copy data pada R0 ke register A MOV R5, A copy data pada A ke R5 3. Direct Addressing Mode Penunjukan pengalamatan secara langsung Mnemonic Operasi MOV A, 80h copy data dari Port 0 ke register A MOV A, P0 copy data dari Port 0 ke register A MOV 80h, A copy data dari register A ke Port 0 MOV P0, A copy data dari register A ke Port 0 4. Indirect Addresing Mode Menggunakan register sebagai pencatat atau pemegang alamat aktual yang akan digunakan untuk memindahkan data 24

25 Register itu sendiri bukan alamat Menggunakan R0 dan R1 sebagai Pointer data Menggunakan Mnemonic Operasi MOV copy isi data dari alamat yang dicatat oleh R0 ke register A A copy data yang ada di register A ke alamat yang dicatat oleh R1 copy data dari Port 0 ke alamat yang tercatat oleh R0 Pengalamatan Eksternal menggunakan MVX dan MOVC MOVX (External Data Moves): Digunakan untuk pengalamatan eksternal R0, R1, dan DPTR digunakan untuk hold alamat dari byte data RAM eksternal R0 dan R1 dibatasi pada eksternal RAM alamat 00h FFh, sedangkan DPTR dapat mengalamati maksimum space 0000h-FFFFh. Alih data dari memori eksternal harus ke register A MOVX normalnya digunakan dengan alamat RAM eksternal atau alamat I/O eksternal Mnemonic Operasi MOVX copy isi dari alamat eksternal R1 ke A MOVX copy isi dari alamat eksternal R0 ke A MOVX copy isi dari alamat eksternal DPTR ke A copy data dari A ke alamat eksternal DPTR 25

26 MOVC (Code Memory Read-Only Data Moves) Digunakan alih data dari alamat sumber di ROM eksternal ke register A. Mnemonic Operasi MOVC copy byte kode pada ROM dengan alamat yang dibangun dari data A dengan data DPTR ke Register A MOVC copy byte kode pada ROM dengan alamat yang dibangun dari data A dengan data PC ke Register A Contoh : MOV DPTR, #1234h copy data immediate 1234h ke DPTR MOV A, #56h copy data immediate 56h ke Reg. A MOVC copy data pada alamat 128Ah ke A MOVC copy data pada alamat 4056h ke A jika PC = PUSH dan POP Menggunakan register SP (Stack Pointer) sebagai pencatat alamat Data dialihkan dalam area RAM yang disebut dengan Stack Register SP berisi alamat Stack PUSH mengcopy data dari suatu source ke stack SP ditambah satu sebelum data dicopy ke RAM internal POP mengcopy data dari stack ke suatu destinasi SP diset sama dengan 07h pada saat ada Reset sehingga defaultnya perintah PUSH pertama menulis data ke R0 bank 1 Jika SP mencapai FFh maka rolls over PUSH di atas 7Fh adalah ERROS karena alamat RAM mak 7Fh 26

27 Mnemonic Operasi PUSH add SP ditambah satu, copy data dari suatu alamat ke alamat internal RAM yang tercatat dalam SP POP add SP dikurangi satu, copy data dari alamat internal RAM yang tercatat dalam SP ke suatu alamat Register Contoh: MOV 81h,#30h copy data immediate 30h ke SP MOV R0,#ACh copy data immediate ACh ke Reg R0 PUSH 00h SP=31h, alamat 31 berisi data ACh PUSH 00h SP=32h,alamat 32h berisi data ACh POP 01h SP=31, Register R1 sekarang berisi data ACh POP 80h SP=30h, Port 0 berisi daa Ach Data Exchanges XCH Mnemonic Operasi XCH A,Rr Pertukarkan data byte diantara register Rr dan A XCH A,add Pertukarkan data byte diantara add dan A XCH A,@Rp Pertukarkan data byte diantara A dan data yang ada dimemori yang alamatnya dicatat oleh register Rp. XCHD A,@Rp Pertukarkan data lower nible A dengan data yang ada dimemori yang alamatnya dicatat oleh Rp Contoh: XCH A,R7 Pertukarkan data byte diantara register A dan register R7 27

28 XCH A,F0h XCH XCHD Pertukarkan data byte diantara register A dan register B Pertukarkan data byte diantara register A dan data alamat pada R1 Pertukarkan data lower nible diantara register A dan data alamat pada R1 OPERASI LOGIKA Operator Boolean AT89C51 Mnemonic AND ANL (AND logical) OR ORL (OR logical) XOR XRL (Exclusive OR logical) NOT CPL (complement) RL Rotate byte to Left RLC Rotate byte dan carry-bit to left Operasi Logika Level Byte Contoh: Mnemonic Operasi MOV A,#FFh A = FFh MOV R0,#77h R0 = 77h ANL A,R0 A = 77h MOV 15h, A 15h = 77h CPL A A = 88h ORL 15h,#88h 15h = FFh XRL A, 15h A = 77h XRL A, R0 A = 00h ANL A,15h A = 00h ORL A, R0 A = 77h CLR A A = 00h. 28

29 Operasi Logika Level Bit RAM internal dan SFR dapat dialamati dalam dua mode yaitu mode pengalamatan byte dan mode pengalamatan bit. Mode pengalamatan bit sangat tepat digunakan jika anda hanya membutuhkan pengolahan salah satu bit dari suatu byte sebagai contoh dalam mengontrol register. Pengalamatan bit pada RAM dapat dilihat kembali pada gambar 7 halaman 19, sedangkan pengalamatan bit untuk SFR adalah seperti berikut: SFR Alamat Langsung Alamat Bit A E0h E0h E7h B F0h F0h F7h IE A8h A8h AFh IP B8 B8h BFh P0 80h 80h 87h P1 90h 90h 97h P3 B0h B0h -- B7h PSW D0h D0h D7h TCON 88h 88h 8Fh TMOD 98h 98h 9Fh Dalam operasi Bolean Level Bit Carry Flag ( C ) pada PSW SFR bekerja sebagai destinasi. Mnemonik Operasi ANL C, b AND C dengan bit teralamati ; catat hasilnya di C ANL C,/b AND C dengan komplement dari bit yang teralamati; catat hasilnya di C; bit yang teralamati tidak berubah ORL C, b OR C dengan bit teralamati ; catat hasilnya di C 29

30 ORL C,/b OR C dengan komplement dari bit yang teralamati; catat hasilnya di C; bit yang teralamati tidak berubah CPL C Komplemen flag Carry CPL b Komplemen bit teralamati CLR C Clear flag Carry menjadi 0. CLR b Clear bit teralamati menjadi 0 MOV C, b Copy data pada bit teralamati ke flag Carry MOV b, C Copy data pada flag Carry ke bit teralamati SETB C Set flag Carry menjadi 1 SETB b Set bit teralamati menjadi 1 Contoh : Mnemonik Operasi SETB 00h Bit 0 dari RAM byte 20h = 1 MOV C,00h Carry C = 1 MOV 7Fh,C Bit 7 dari RAM alamat byte 2Fh = 1 ANL C,/00h C = 0; bit 0 dari RAM byte 20h = 1 ORL C,00h C = 1 CPL 7fh Bit 7 dari RAM alamat byte 2Fh = 0 CLR C C = 0 ORL C,/7Fh C = 1; bit 7 dari RAM byte 2Fh = 0 Operasi Rotate dan Swap Rotate data sangat potensial sekali untuk mengolah dan membangkitkan data beraturan tanpa op code khusus. Register A dapat digunakan untuk memutar satu posisi bit dengan melibatkan atau tidak melibatkan Carry. Sedangkan Swap bekerja mempertukarkan nible tinggi dengan nible rendah pada register A. 30

31 Gambar 9. Operasi Rotate dan Swap Contoh : Mnemonik Operasi MOV A, #0A5h A = = A5h RR A A = = D2h RR A A = = 69h 31

32 RR A RR A SWAP A CLR C RRC A RRC A RL A RL A SWAP A A = = B4h A = = 5Ah A = = A5h C = 0; A = = A5h C = 1; A = = 52h C = 0; A = = A9h A = = 53h A = = A6h A = = 6Ah OPERASI ARITMETIKA Aplikasi mikrokontroler sering membutuhkan perhitungan data matematika. Mikrokontroler dirancang tidak sebagai pengolah angka sebagaimana komputer untuk tujuan umum. Pokok dari pengembangan mikrokontroler adalah sebagai piranti kendali peristiwa yang berubah dalam waktu nyata. Kendati demikian op code untuk operasi matematika yang cukup harus disediakan pada setiap mikrokontroler. Pada AT 89C51 ada 24 op code aritmetika yang dikelompokkan menjadi: Mnemonik Operasi INC destinasi Increament destination dengan 1 DEC destinasi Decreament destination dengan 1 ADD/ADDC dest, source Add source ke destinasi tanpa/dengan carry SUBB dest, source Subtract dengan carry, source dari destinasi MUL AB Kalikan isi register A dan B DIV AB Bagi isi register A dengan isi register B DA A Decimal Adjust untuk register A 32

33 FLAG Flag C, AC, dan OV adalah flag aritmetika. Ketiga flag ini set 1 atau 0 secara otomatis, bergantung hasil operasi aritmetika sebelumnya. Mnemonik Instruksi Flag yang terpengaruh ADD C AC OV ADDC C AC OV ANL C,direct C CJNE C CLR C C = 0 CPL C C = C* DA A C DIV C = 0 OV MOV C, direct C MUL C = 0 OV ORL C, direct C RLC C RRC C SETB C C = 1 SUBB C AC OV Increament dan Decreament Mnemonik Instruksi INC A INC Rr INC add INC DPTR DEC A DEC Rr Operasi Tambahkan satu nilai isi register A Tambahkan satu nilai isi register Rr Tambahkan satu nilai data pada alamat langsung Tambahkan satu nilai data pada alamat yang dicatat oleh register Rp Tambahkan satu nilai register 16 DPTR Kurangkan satu nilai isi register A Kurangkan satu nilai isi register Rr 33

34 DEC add Contoh : Mnemonik Instruksi MOV A,#3Ah DEC A MOV R0,#15h MOV 15h,#12h DEC 15h INC R0 MOV 16h, A MOV DPTR,#12FFh INC DPTR DEC 83h Kurangkan satu nilai data pada alamat langsung Kurangkan satu nilai data pada alamat yang dicatat oleh register Rp Operasi A = 3Ah A = 39h R0 = 15h RAM internal alamat 15h = 12h RAM internal alamat 15h = 13h RAM internal alamat 15h = 12h R0 = 16h RAM internal alamat 16h = 39h RAM internal alamat 16h = 3Ah DPTR = 12FFh DPTR = 1300h DPTR = 1200h Penjumlahan Mnemonik Instruksi Operasi ADD A,#n Jumlahkan A dengan data immediate n dan hasilnya disimpan di A ADD A, Rr Jumlahkan A dengan Reg Rr dan hasilnya disimpan di A ADD A,add Jumlahkan A dengan data alamat langsung dan hasilnya disimpan di A ADD A,@Rp Jumlahkan A dengan data alamat yang dicatat Rp dan hasilnya disimpan di A ADDC A,#n Jumlahkan A dengan data immediate n dan carry ; hasilnya disimpan di A 34

35 ADDC A, Rr Jumlahkan A dengan Reg Rr dan Carry ; hasilnya disimpan di A0 ADDC A,add Jumlahkan A dengan data alamat langsung dan Carry ; hasilnya disimpan di A ADDC A,@Rp Jumlahkan A dengan data alamat yang dicatat Rp dan Carry hasilnya disimpan di A Contoh : Mnemonik Instruksi Operasi ADDC A, #1Ch A = 1Ch MOV R5,#0A1h R5 = A1h ADD A, R5 A = BDh; C = 0, OV = 0 ADD A, R5 A = 5Eh; C = 1, OV = 1 ADDC A,#10h A = 6Fh; C = 0, OV = 0 ADDC A,#10h A = 7Fh; C = 0, OV = 0 Pengurangan Mnemonik Instruksi Operasi SUBB A,#n Kurangkan A dengan data immediate n dan carry; hasilnya disimpan di A SUBB A, Rr Kurangkan A dengan Reg Rr dan Carry ; hasilnya disimpan di A SUBB A,add Kurangkan A dengan data alamat langsung dan Carry ; hasilnya disimpan di A SUBB A,@Rp Kurangkan A dengan data alamat yang dicatat Rp dan Carry; hasilnya disimpan di A 35

36 Contoh : Mnemonik Instruksi Operasi MOV 0D0h, #00h Carry = 0 MOV A,#3Ah A = 3Ah MOV 45h,#13h Alamat 45h = 13h SUBB A,45h A = 27h ; C = 0, OV = 0 SUBB A,45h A = 14h ; C = 0, OV = 0 SUBB A,#80h A = 94h ; C = 1, OV = 1 SUBB A,#22h A = 71h ; C = 0, OV = 0 SUBB A,#0FFh A = 72h ; C = 1, OV = 0 Perkalian Mnemonik Instruksi Operasi MOV A, #7Bh A = 7Bh MOV 0F0h,#02h B = 02h MUL AB A = 00h dan B = F6h ; OV = 0 MOV A, #0FEh A = FEh MUL AB A = 14h dan B = F4h; OV = 1 Pembagian Mnemonik Instruksi Operasi MOV A, #0FFh A = FFh (255d) MOV 0F0h,#2Ch B = 2Ch (44d) DIV AB A = 05h dan B = 23h ; 255d=(5x44)+35 DIV AB A = 00h dan B =00h Aritmetika Desimal Mnemonik Instruksi Operasi MOV A, #42h A = 42 BCD ADD A,#13h A = 55h ; C =0 DA A A = 55h ; C =0 36

37 ADD A, #17h A = 6Ch; C = 0 DA A A = 72 BCD; C = 0 ADDC A, #34h A = A6h; C = 0 DA A A = 06 BCD; C =1 ADDC A,#11h A = 18 BCD; C = 0 DA A A = 18 BCD; C = 0 OPERASI JUMP DAN CALL Instruksi Jump dan call adalah kode-kode pengambilan keputusan dalam mengatur pencabangan aliran program berdasarkan perubahan isi Program Counter. Jump merubah isi PC secara permanen sedangkan Call merubah isi PC secara temporer. Jenis-jenis Jump dan Call : Jump on bit condition Compare Bytes and Jump if Not equal Decrement Byte and Jump if Not Zero Call a Subroutine Return from a Subroutine Perintah Jump dan call bekerja mengganti isi PC dengan alamat baru sehingga menyebabkan eksekusi program berlangsung pada alamat baru pada PC. Jump Bit Bekerja berdasarkan status flag carry pada PSW atau status lokasi bit teralamati. Mnemonik Instruksi Operasi JC radd Jump relatif jika carry set 1 JNC radd Jump relatif jika carry reset 0 JB b, radd Jump relatif jika bit teralamati set 1 JNB b, radd Jump relatif jika bit teralamati reset 0 JBC b,radd Jump relatif jika bit teralamati set 1, dan 37

38 clear bit teralamati menjadi 0 Contoh : Alamat Mnemonik Komentar Loop: MOV A, #10h ; A = 10h MOV R0,A ; R0 = 10h Adda: ADD A,R0 ; A = A + R0 JNC Adda : Lompat ke Adda jika carry = 0, terus jika C = 1 MOV A,#10h ; A = 10h Addr: ADD A, R0 ; A = A + R0 JNB 0D7h, Addr ; Lompat ke Addr jika bit carry = 0, terus jika C = 1; JBC 0D7h,Loop ; Lompat ke Loop jika bit carry = 1, dan C = 0 Jump Byte Instruksi yang mengetes byte data Mnemonik Instruksi Operasi CJNE A,add, radd Bandingkan isi register A dengan data suatu alamat langsung; jika tidak sama lompat ke alamat relatif; set carry 1 jika A kurang dari isi alamat langsung n, keadaan lain set cary 0. CJNE A,#n, radd Bandingkan isi register A dengan data immediate n; jika tidak sama lompat ke alamat relatif; set carry 1 jika A kurang dari n,, keadaan lain set cary 0. CJNE Rn,#n, radd Bandingkan isi register Rn dengan data immediate n; jika tidak sama lompat ke alamat relatif; set carry 1 jika Rn kurang dari n, keadaan lain set caryy 0. 38

39 radd Bandingkan isi/data suatu alamat yang dicatat register Rp dengan data immediate n; jika tidak sama lompat ke alamat relatif; set carry 1 jika data pada alamat yang dicatat Rp kurang dari n, keadaan lain set caryy 0 DJNZ Rn,radd Kurangi satu isi register Rn dan lompat ke alamat relatif jika Rn tidak sama nol; Rn=0 kontinyu/lanjut. DJNZ add,radd Kurangi satu isi data alamat lansung add dan lompat ke alamat relatif jika data pada alamat langsung add tidak sama nol; data pada alamat langsung add =0 kontinyu/lanjut. JZ,radd Lompat ke alamat relatif jika A=0 JNZ,radd Lompat ke alamat relatif jika A tidak =0 Jump Tanpa Kondisi Mnemonik Instruksi Operasi JMP@A+DPTR Lompat ke alamat yang dibangun oleh A+DPTR. AJMP sadd Lompat ke alamat absolut range pendek LJMP ladd Lompat ke alamat absolut range panjang SJMP radd Lompat ke alamat relatif range pendek Contoh : Alamat Mnemonik Instruksi Komentar ORG 0100h Mulai: MOV A,#30h ; A = 30h MOV 50h,#00h ;RAM lokasi 50h = 00h Putar: CJNE A,50h, Bawah ; lompat ke bawah A=30h 39

40 Tengah: tidak sama dengan data alamat 50 = 00 SJMP Berikut ; lompat jika (50) = 30 DJNZ 50h, Putar NOP Perintah CALL Digunakan untuk memanggil sub routine layanan program Mnemonik Instruksi Operasi ACALL, sadd Call sub routine alamat pendek add LCALL, ladd Call sub routine alamat panjang add. Lembar Kerja Alat dan Bahan 1. Trainer MPF buah 2. LED... 8 buah 3. Tempat LED... 1 buah Kesehatan dan Keselamatan Kerja 1. Jangan menghubungkan MPF-1 dengan sumber AC 2. Ikuti semua petunjuk dari instruktur 3. Jangan menempatkan MPF-1 di tepi meja (menjaga agar tidak jatuh). Langkah Kerja Program Pengendalian Pembacaan Input 1. Persiapkanlah alat dan bahan yang diperlukan! 2. Hubungkanlah output port A Z-80 ke monitor 8 buah LED display (Delapan buah LED di pasang pada Port 1 dan delapan buah tombol tekan )! 40

41 3. Masukkan program di bawah ini, setelah itu eksekusilah program tersebut lalu amati dan analisis hasil yang terjadi! Program pengendalian pembacaan input, jika tombol SW0 ditekan LED 0 menyala VCC adalah sebagai berikut : ; ; Program Baca Input Port 3 ; Disajikan dengan Penyalaan LED pada Port 1 ; Tombol ditekan LED menyala ; Nama File Modul4.asm ; ORG 0h Mulai: MOV A,P3 ; baca tombol pada Port 3 dan catat di Reg A MOV P1,A ; keluarkan data pada Reg A ke Port 1 SJMP Mulai ; lompat ke label mulai END 4. Kembalikan semua alat dan bahan ketempat semula! 41

42 Lembar Latihan Dengan mengacu pada gambar di lembar kerja kegiatan belajar 4 Buat program pengendalian LED dengan penyalaan berputar mulai dari LED 0 ( Geser kanan ke kiri)! 42

43 LEMBAR EVALUASI A. Pertanyaan Buatlah suatu program menggunakan MPF-1 untuk menjalankan Motor Stepper dengan konsekuensi motor stepper tersebut dapat berputar dua arah yaitu putar kanan dan putar kiri! B. Kriteria Kelulusan Kriteria Kebenaran Langkah Kerja Kebenaran Program Skor (1-10) Bobot Nilai Keterangan 2 4 Kerapian Program/Flow Chart Keselamatan Kerja Kecepatan Kerja WL (Wajib Lulus) > 70 Nilai Akhir 43

44 LEMBAR KUNCI JAWABAN Kunci Jawaban Kegiatan Belajar 1 1. Keuntungan penggunaan sistem otomatis dalam proses permesinan dalam industri modern. a. Lebih teliti b. Lebih akurat c. Lebih konstan d. Lebih aman e. Dapat dikendalikan secara terpusat f. Tidak membutuhkan tenaga dengan keahlian khusus 2. Kerugian penggunaan sistem otomatis dalam proses permesinan dalam industri modern. a. Ketergantungan dengan sistem mutlak artinya jika sistem kendali terganggu proses akan lumpuh. b. Tenaga kerja tidak banyak termanfaatkan 3. Dibandingkan dengan kendali diskrit, kelebihan kendali berbasis mikroprosesor lebih fleksibel, lebih sederhana, lebih murah, lebih mudah dalam pengolahan baik data maupun sinyal. 4. Pengendali suhu sebuah ruangan, a. Gambarkan b. Input menggunakan thermistor atau sensor suhu Controller menggunakan mikrokontroler 8 bit dengan dilengkapi konverter analog ke digital (ADC) dan pengkondisi sinyal. Plant dalam 44

45 kasus ini adalah sistem pendingin atau AC Output berupa suhu terkendali. Kunci Jawaban Kegiatan Belajar 2 1. Tiga bagian pokok sebuah mikroprosesor adalah: ALU, CU, dan RU 2. Gambar blok diagram sebuah Mikroprosesor 3. Empat bagian pokok Mikrokontroler adalah : Mikroprosesor, MU, I/O U, dan Timer Counter 4. Gambar blok diagram sebuah Mikrokontroler 5. Benar, karena mikrokontroler mengaplikasikan unit mikroprosesor sebagai CPU Kunci Jawaban Kegiatan Belajar 3 1. Ukuran RAM internal AT 89C51 adalah 2 7 = 128 Byte 2. Ukuran Plash Memory AT 89C51 adalah 4 Kbyte 45

46 3. Jumlah stack maksimum yang dapat dibangun pada AT 89C51 adalah 2 8 = 256 byte. 4. Status Flag pada PSW dari AT 89C51 CY AC F0 RS1 RS0 OV - P Bit Simbol Fungsi 7 CY Flag Carry ; digunakan untuk aritmatika JUMP, ROTATE, dan Boolean 6 AC Flag Auxiliary Carry : digunakan untuk Aritmetika BCD 5 F0 Flag 0 4 RS1 Pemilih Bank bit 1 3 RS0 Pemilih Bank bit 0 RS1 RS0 0 0 : Bank : Bank : Bank : Bank 3 2 OV Flag Overflow : untuk instruksi matematik 1 - Tidak digunakan 0 P Flag Paritas ; 1 = paritas ganjil. Kunci Jawaban Kegiatan Belajar 4 ; ; Program Lampu nyala bergeser di Port 1 ; Nama File Modul3.asm ; ORG 0h MOV A,# B ;Masukkan data B ke Accumulator Mulai: MOV P1,A ; keluarkan isi Accumulator ke Port 1 ACALL Delay ; panggil sub routine Delay RL A ; Rotate Accumulator left 46

47 ; b7 b6 b5 b4 b 3 b 2 b1 b ; SJMP Mulai ; Lompat ke alamat dg label Mulai ; ; sub routine delay ; Delay: MOV R0,#0FFh ; Isi Register R0 dengan FF Delay1: MOV R1,#0FFh ; Isi Register R1 dengan FF Delay2: DJNZ R1,Delay2 ; Kurangi R1 dengan 1, bila hasil belum ; sama dengan 0 maka lompat ke Delay2 DJNZ R0,Delay1 ; Kurangi R0 dengan 1, bila hasil belum ; sama dengan 0 maka lompat ke Delay1 RET ; Kembali ke alamat setelah perintah ; 'Acall Delay' End Kunci Jawaban Evaluasi Program Menjalankan Motor Stepper ;Pengendalian Motor Stepper ;dengan Z-80 PIO pada Port A Port A EQU 80 KontrolA EQU 82 ORG 1800 LD IX, 1830H Mula LD A, 0FH OUT (Kontrol A) LD A, 33A Awal OUT (PORT A) PUSH AF CALL SCAN1 CP, 1FH JRNZ, Putar Kiri CP, 21 JRZ, Putar Kanan POP AF RLCA/RRCA JP, Awal Putar Kiri LD HL, 1819 LD B, 07 LD (HL), B 47

48 JP, Mula Putar Kanan LD HL, 1819 LD B, 0FH LD (HL), B JP, Mula DB A3 DB 87 A3 2B 48

49 DAFTAR PUSTAKA Ayala, KJ, The 8051 Microcontroller Architectur, Programming, and Aplications, WPC, --- David Lalond, The 8080, 8085, and Z80 Hardware, Software Programming, Interfacing, and Troubleshooting, PHI, 1988 Douglas VH., Microprocessor and Interfacing Programming and Hardware, MCGraw-Hill, 1992 Kuo, BC., Teknik Kontrol Automatik, Alih bahasa Zulpan M, PHI, 1995 Ogata K, Teknik Kontrol Automatik, Erlangga,

Instruction Set Mikrokontroler

Instruction Set Mikrokontroler BAGIAN 1 Instruction Set Mikrokontroler Tujuan Pembelajaran Umum: 1. Mahasiswa mampu mendeskripsikan Instruction Set Mikrokontroler AT89S51 Tujuan Pembelajaran Khusus: 1. Mahasiswa memahami Instruction

Lebih terperinci

Ringkasan Set Instruksi Dan Mode pengalamatan ( Addressing Mode )

Ringkasan Set Instruksi Dan Mode pengalamatan ( Addressing Mode ) Ringkasan Set Instruksi Dan Mode pengalamatan ( Addressing Mode ) Mikroprosessor 8051, sebagaimana terdaftar dalam 8051 set instruction in numerical order memiliki sekumpulan instruksi yang terintegrasi

Lebih terperinci

INSTRUKSI DAN BAHASA PEMOGRAMAN MIKROKONTROLER

INSTRUKSI DAN BAHASA PEMOGRAMAN MIKROKONTROLER INSTRUKSI DAN BAHASA PEMOGRAMAN MIKROKONTROLER Yoyo Somantri dan Erik Haritman Dosen Jurusan Pendidikan Teknik Elektro FPTK Universitas Pendidikan Indonesia Pendahuluan Dalam bab ini akan dibahas tujuan

Lebih terperinci

DESKRIPSI SINGKAT INSTRUKSI-INSTRUKSI PADA AT89S51

DESKRIPSI SINGKAT INSTRUKSI-INSTRUKSI PADA AT89S51 DESKRIPSI SINGKAT INSTRUKSI-INSTRUKSI PADA AT89S51 (Dikemas oleh : Sumarna, Jurdik Fisika, FMIPA, UNY E-mail : [email protected]) No. Instruksi Deskripsi Contoh 1. ADD A,R n Menambahkan isi A dengan isi

Lebih terperinci

Memprogram Port sebagai Output dan Input Sederhana

Memprogram Port sebagai Output dan Input Sederhana BAGIAN 1 Tujuan Pembelajaran Umum: 1. Mahasiswa trampil memprogram Port sebagai Input dan Output sederhana menggunakan bahasa pemrograman assembly Tujuan Pembelajaran Khusus: 1. Mahasiswa memahami Konstruksi

Lebih terperinci

PERTEMUAN SET INSTRUKSI MIKROKONTROLER AT 89C51

PERTEMUAN SET INSTRUKSI MIKROKONTROLER AT 89C51 PERTEMUAN SET INSTRUKSI MIKROKONTROLER AT 89C51 Pendahuluan Dalam materi sebelumnya sudah di bahas untuk menjalankan suatu tugas maka mikrokontroler 89C51 membutuhkan sebuah program yang terdiri dari susunan

Lebih terperinci

BAHASA PEMOGRAMAN AT89S/Cxx (assembly)

BAHASA PEMOGRAMAN AT89S/Cxx (assembly) 1 BAHASA PEMOGRAMAN AT89S/Cxx (assembly) Operand dalam pemograman mikrokontroler adalah data yang tersimpan dalam memory, register dan input/output (I/O). Instruksi yang dikenal secara umum dikelompokan

Lebih terperinci

Gambar 1.1. Diagram blok mikrokontroller 8051

Gambar 1.1. Diagram blok mikrokontroller 8051 1.1. Organisasi Memori Semua divais 8051 mempunyai ruang alamat yang terpisah untuk memori program dan memori data, seperti yang ditunjukkan pada gambar1.1. dan gambar 1.2. Pemisahan secara logika dari

Lebih terperinci

Mengenal bahasa assembly

Mengenal bahasa assembly Mengenal bahasa assembly adiatma [email protected] Abstrak Komputer adalah mesin penghitung elektronik yang cepat dan dapat menerima informasi input digital, kemudian memprosesnya sesuai dengan program

Lebih terperinci

PERTEMUAN. SET INSTRUKSI MIKROKONTROLER AT 89C51 (Lanjutan)

PERTEMUAN. SET INSTRUKSI MIKROKONTROLER AT 89C51 (Lanjutan) PERTEMUAN SET INSTRUKSI MIKROKONTROLER AT 89C51 (Lanjutan) Rotate Perintah Rotate identik dengan Shift register dimana bit-bit dalam byte di geser ke kiri atau kekanan dengan atau tanpa carry. Perintah-perintah

Lebih terperinci

Tabel Perbandingan ROM dan RAM pada beberapa seri ATMEL

Tabel Perbandingan ROM dan RAM pada beberapa seri ATMEL Pendahuluan Mikroprosessor 8051 (Struktur dan Organisasi Memori, SFR ) Tabel Perbandingan ROM dan RAM pada beberapa seri ATMEL A. Organisasi Memori Mikroprosesor 8051 Pada mikrokontroler keluarga MCS51

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Dalam bab ini penulis akan membahas tentang komponen-komponen yang

BAB 2 LANDASAN TEORI. Dalam bab ini penulis akan membahas tentang komponen-komponen yang BAB 2 LANDASAN TEORI Dalam bab ini penulis akan membahas tentang komponen-komponen yang digunakan dalam seluruh unit sistem ini. Agar pembahasan tidak melebar dan menyimpang dari topik utama laporan ini,

Lebih terperinci

Program Studi Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat

Program Studi Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat Program Studi Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat MIKROKONTROLLER MCS-51 Salah satu tipe mikrokontroler arsitektur MCS-51 yang banyak digunakan saat ini adalah

Lebih terperinci

BAB I TUGAS MATA KULIAH SISTEM MIKROPROSESOR DOSEN PEMBERI TUGAS : FATAH YASIN, ST, MT.

BAB I TUGAS MATA KULIAH SISTEM MIKROPROSESOR DOSEN PEMBERI TUGAS : FATAH YASIN, ST, MT. 1 BAB I TUGAS MATA KULIAH SISTEM MIKROPROSESOR DOSEN PEMBERI TUGAS : FATAH YASIN, ST, MT. A. Deskripsi Tugas 1. Jelaskan perbedaan mikroprosesor dan mikrokontroler. 2. Jelaskan mode-mode pengalamatan yang

Lebih terperinci

PETUNJUK PEMROGRAMAN DAN SET INSTRUKSI

PETUNJUK PEMROGRAMAN DAN SET INSTRUKSI Lab Elektronika Industri Mikrokontroler - 1 PETUNJUK PEMROGRAMAN DAN SET INSTRUKSI I. ORGANISASI MEMORI AT89C51 AT89C51 memisahkan antara memori untuk program dan untuk data dalam FLASH dan RAM. Metode

Lebih terperinci

4. Port Input/Output Mikrokontroler MCS-51

4. Port Input/Output Mikrokontroler MCS-51 4. Port Input/Output Mikrokontroler MCS-51 Mikrokontroler MCS-51 memiliki 2 jenis port input/output, yaitu port I/O parallel dan port I/O serial. Port I/O parallel sebanyak 4 buah dengan nama P0,P1,P2

Lebih terperinci

I/O dan Struktur Memori

I/O dan Struktur Memori I/O dan Struktur Memori Mikrokontroler 89C51 adalah mikrokontroler dengan arsitektur MCS51 seperti 8031 dengan memori Flash PEROM (Programmable and Erasable Read Only Memory) DESKRIPSI PIN Nomor Pin Nama

Lebih terperinci

Arsitektur Mikrokontroler

Arsitektur Mikrokontroler BAGIAN 1 Arsitektur Mikrokontroler Tujuan Pembelajaran Umum: 1. Mahasiswa mampu mendeskripsikan Arsitektur Mikrokontroler AT89S51 Tujuan Pembelajaran Khusus: 1. Mahasiswa dapat memahami arsitektur mikrokontroler

Lebih terperinci

Mikrokontroler 89C51 Bagian II :

Mikrokontroler 89C51 Bagian II : Mikrokontroler 89C51 Bagian II : Mikrokontroler 89C51 Mikrokontroler 89C51 merupakan mikrokomputer CMOS 8 bit dengan 4 Kbytes Flash Programmable Memory. Arsitektur 89C51 ditunjukkan pada gambar 2. Accumulator

Lebih terperinci

Menggunakan Bahasa Pemrograman Assembly

Menggunakan Bahasa Pemrograman Assembly BAGIAN 1 Tujuan Pembelajaran Umum: 1. Mahasiswa trampil menggunakan bahasa pemrograman assembly Tujuan Pembelajaran Khusus: 1. Mahasiswa memahami konstruksi program assembly 2. Mahasiswa memahami proses

Lebih terperinci

Lab Elektronika Industri Mikrokontroler - 1 AT89C1051

Lab Elektronika Industri Mikrokontroler - 1 AT89C1051 Lab Elektronika Industri Mikrokontroler - 1 AT89C1051 I. FITUR AT89C1051 Kompatibel dengan produk MCS51 1k byte program flash ROM yang dapa diprogram ulang hingga 1000 kali Tegangan operasi 2.7 volt hingga

Lebih terperinci

TIMER DAN COUNTER MIKROKONTROLER ATMEL

TIMER DAN COUNTER MIKROKONTROLER ATMEL Lab Elektronika Industri Mikrokontroler - 1 TIMER DAN COUNTER MIKROKONTROLER ATMEL I. TIMER DAN COUNTER Timer atau counter pada dasarnya adalah sebuah pencacah. Pencacah itu bisa dipakai sebagai pewaktu

Lebih terperinci

Pengendalian 8 buah Motor oleh DST-51

Pengendalian 8 buah Motor oleh DST-51 Ib2 Pengendalian 8 buah Motor oleh DST-51 Pada aplikasinya, seringkali suatu sistem mikrokontroler digunakan untuk mengendalikan beberapa buah motor secara bersamaan. Berikut ini adalah pengendalian delapan

Lebih terperinci

Laporan Modul 2, EL3006 Timer/Counter dan Interrupt Jongguran Sondang DN ( )/ Kelompok 48/ Jumat, 14 Maret 2008 Asisten: Virgilius

Laporan Modul 2, EL3006 Timer/Counter dan Interrupt Jongguran Sondang DN ( )/ Kelompok 48/ Jumat, 14 Maret 2008 Asisten: Virgilius Laporan Modul 2, EL3006 Timer/Counter dan Interrupt Jongguran Sondang DN (132 05 110)/ Kelompok 48/ Jumat, 14 Maret 2008 Asisten: Virgilius Abstrak pada praktikum kali ini, praktikan diharapkan mampu membuat

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Agar kendaraan lebih teratur dan tidak terlalu padat, biasanya tempat perparkiran ini dibagi

BAB 2 LANDASAN TEORI. Agar kendaraan lebih teratur dan tidak terlalu padat, biasanya tempat perparkiran ini dibagi BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Inteligent Parking System Agar kendaraan lebih teratur dan tidak terlalu padat, biasanya tempat perparkiran ini dibagi menjadi beberapa tempat. Dengan demikian kendaraan yang

Lebih terperinci

PERTEMUAN SET INSTRUKSI MIKROKONTROLER AT 89C51

PERTEMUAN SET INSTRUKSI MIKROKONTROLER AT 89C51 PERTEMUN SET INSTRUKSI MIKROKONTROLER T 89C5 PERTEMUN SET INSTRUKSI MIKROKONTROLER T 89C5 Pendahuluan Dalam materi sebelumnya sudah di bahas untuk menjalankan suatu tugas maka mikrokontroler 89C5 membutuhkan

Lebih terperinci

BAGIAN 1 LINGKUP BELAJAR. Pengetahuan perkembangan mikrokontroler

BAGIAN 1 LINGKUP BELAJAR. Pengetahuan perkembangan mikrokontroler BAGIAN 1 Mikroprosesor, Sistim Deskripsi Kompetensi SUB KRITERIA KOMPETENSI KINERJA 1. Mendeskripsikan Mikroprosesor, Sistim Mikroprosesor, dan Mikrokontroler 1.1. Pemahaman tentang mikroprosesor, sistim

Lebih terperinci

LAMPIRAN D DATA SHEET

LAMPIRAN D DATA SHEET LAMPIRAN D DATA SHEET D-1 D-2 D-3 D-4 D-5 D-6 D-7 D-8 D-9 D-10 D-11 Instruksi-instruksi Keluarga MCS51 A. Operasi Aritmatika 1. ADD ADD A,Rn Tambahkan Akumulator A dengan Rn di mana n = 0 7 dan simpan

Lebih terperinci

Memprogram Interface Motor

Memprogram Interface Motor BAGIAN 1 Tujuan Pembelajaran Umum: 1. Mahasiswa trampil memprogram interface motor Tujuan Pembelajaran Khusus: 1. Mahasiswa memahami dasar-dasar interface motor stepper 2. Mahasiswa memahami pemrograman

Lebih terperinci

INTRUKSI-INTRUKSI BAHASA PEMROGRAMAN ASSEMBLY

INTRUKSI-INTRUKSI BAHASA PEMROGRAMAN ASSEMBLY INTRUKSI-INTRUKSI BAHASA PEMROGRAMAN ASSEMBLY Mubtasir [email protected] Abstrak Program yang ditulis dengan bahasa Assembly terdiri dari label, kode mnemonic dan lain sebagainya, pada umumnya dinamakan

Lebih terperinci

PORT SERIAL MIKROKONTROLER ATMEL AT89C51

PORT SERIAL MIKROKONTROLER ATMEL AT89C51 Lab Elektronika Industri Mikrokontroler - 1 PORT SERIAL MIKROKONTROLER ATMEL AT89C51 I. FISIK AT89C51 Mikrokontroler AT89C51 umumnya mempunyai kemasan 40 pin seperti gambar berikut. AT89C51 telah dilengkapi

Lebih terperinci

PERTEMUAN BAHASA PEMOGRAMAN ASSEMBLER

PERTEMUAN BAHASA PEMOGRAMAN ASSEMBLER PERTEMUAN BAHASA PEMOGRAMAN ASSEMBLER Bahasa merupakan media komunikasi. Manusia dapat berintegrasi dengan baik jika jika memahami apa yang diinginkan oleh orang lain. Pada dasarnya bahasa yang di gunakan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Mikrokontroller AT89C51 Meskipun termasuk tua, keluarga mikrokontroler MCS51 adalah mikrokontroler yang paling populer saat ini. Keluarga ini diawali oleh Intel yang mengenalkan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 7 BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 1 Konveyor Konveyor hanya bergerak ke satu arah saja, konveyor digerakkan dengan motor stepper 12V type. Sinyal keluaran dari motor stepper untuk menggerakkan konveyor dirangkaikan

Lebih terperinci

AKSES MEMORI Menggunakan DT-51 MinSys

AKSES MEMORI Menggunakan DT-51 MinSys AKSES MEMORI Menggunakan DT-51 MinSys Mengakses eksternal memori dan data memori pada DT-51 Minimum sistem. Membuat program untuk penulisan atau pembacaan data pada memori eksternal DT-51 MinSys. Memori

Lebih terperinci

Pendahuluan Mikrokontroler 8051

Pendahuluan Mikrokontroler 8051 Pendahuluan Mikrokontroler 8051 Pokok Bahasan: 1. Mikrokontroler 8051 Arsitektur (Architecture) Timers/Counters Interrupts Komunikasi Serial (Serial Communication) Tujuan Belajar: Setelah mempelajari dalam

Lebih terperinci

Percobaan 5. TIMER/COUNTER Menggunakan DT-51 MinSys

Percobaan 5. TIMER/COUNTER Menggunakan DT-51 MinSys Percobaan 5 TIMER/COUNTER Menggunakan DT-51 MinSys Menggunakan Timer/Counter pada DT-51 Mininum System sebagai timer ataupun sebagai counter. Memanfaatkan Special Fungtion Register (SFR) untuk mengatur

Lebih terperinci

Microcontroller: Bahasa Pemrograman Assembly 8051

Microcontroller: Bahasa Pemrograman Assembly 8051 Microcontroller: Bahasa Pemrograman Assembly 8051 Oleh: Ali Sofyan Kholimi Universitas Muhammadiyah Malang E-Mail / IM: [email protected] Blog: http://kholimi-id.blogspot.com Tujuan Belajar Mendaftar register

Lebih terperinci

MIKROKONTROLER AT89S52

MIKROKONTROLER AT89S52 MIKROKONTROLER AT89S52 Mikrokontroler adalah mikroprosessor yang dirancang khusus untuk aplikasi kontrol, dan dilengkapi dengan ROM, RAM dan fasilitas I/O pada satu chip. AT89S52 adalah salah satu anggota

Lebih terperinci

Memprogram Interupsi AT89S51

Memprogram Interupsi AT89S51 BAGIAN 1 AT89S51 Tujuan Pembelajaran Umum: 1. Mahasiswa trampil memprogram interupsi Tujuan Pembelajaran Khusus: 1. Mahasiswa memahami dasar-dasar interupsi Mikrokontroler AT89S51 2. Mahasiswa memahami

Lebih terperinci

PERTEMUAN MEMORY DAN REGISTER MIKROKONTROLER

PERTEMUAN MEMORY DAN REGISTER MIKROKONTROLER PERTEMUAN MEMORY DAN REGISTER MIKROKONTROLER Memory Program Memory dan Data Memory Memory yang terdapat pada Mikrokontroler 89C51 dipisahkan menjadi 2 bagian yaitu program memory (memori program) dan data

Lebih terperinci

ANTAR MUKA DST-51 DENGAN MODUL AD-0809

ANTAR MUKA DST-51 DENGAN MODUL AD-0809 ANTAR MUKA DST-51 DENGAN MODUL AD-0809 ADC0809 ADC0809 adalah IC pengubah tegangan analog menjadi digital dengan masukan berupa 8 kanal input yang dapat dipilih. IC ADC0809 dapat melakukan proses konversi

Lebih terperinci

Percobaan 5 PENGENALAN MIKROKONTROLER 8051

Percobaan 5 PENGENALAN MIKROKONTROLER 8051 Percobaan 5 PENGENALAN MIKROKONTROLER 8051 I. Tujuan 1. Mempelajari arsitektur mikrokontroller 8051 2. Memahami macam-macam interrupt yang ada pada mikrokontroller 8051 3. Memahami penggunaan I/O port

Lebih terperinci

PORT PARALEL MIKROKONTROLER ATMEL AT89C51

PORT PARALEL MIKROKONTROLER ATMEL AT89C51 Lab Elektronika Industri Mikrokontroler - 1 PORT PARALEL MIKROKONTROLER ATMEL AT89C51 I. FISIK AT89C51 Mikrokontroler AT89C51 umumnya mempunyai kemasan 40 pin seperti gambar berikut. AT89C51 mempunyai

Lebih terperinci

REGISTER-REGISTER Oleh : Sumarna, Jurdik Fisika, FMIPA, UNY

REGISTER-REGISTER Oleh : Sumarna, Jurdik Fisika, FMIPA, UNY REGISTER-REGISTER 8051 Oleh : Sumarna, Jurdik Fisika, FMIPA, UNY E-mail : [email protected] 1. PC (Program Counter) PC dengan ukuran 16 bit menentukan lokasi berikutnya yang akan dieksekusi (dijalankan).

Lebih terperinci

PENGENALAN DASAR MIKROKONTROLER MCS-51 AT89S51/52. DI SUSUN OLEH: RENI NURAENI,ST M.Pd

PENGENALAN DASAR MIKROKONTROLER MCS-51 AT89S51/52. DI SUSUN OLEH: RENI NURAENI,ST M.Pd PENGENALAN DASAR MIKROKONTROLER MCS-51 AT89S51/52 DI SUSUN OLEH: RENI NURAENI,ST M.Pd 1 KEGIATAN BELAJAR 1 MIKROKONTROLLER AT89S51/52 Mikrokontroller 8-bit dengan 4 K Byte, ISP ( In System Programming

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Dalam bidang elektronika, perlahan-lahan peralatan-peralatan manual mulai digantikan

BAB 2 LANDASAN TEORI. Dalam bidang elektronika, perlahan-lahan peralatan-peralatan manual mulai digantikan BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Sistem Pendeteksi dan Pemadam Kebakaran Otomatis Dalam bidang elektronika, perlahan-lahan peralatan-peralatan manual mulai digantikan dengan peralatan elektronik yang dapat bekerja

Lebih terperinci

ARSITEKTUR MIKROKONTROLER AT89C51/52/55

ARSITEKTUR MIKROKONTROLER AT89C51/52/55 ARSITEKTUR MIKROKONTROLER AT89C51/52/55 A. Pendahuluan Mikrokontroler merupakan lompatan teknologi mikroprosesor dan mikrokomputer. Mikrokontroler diciptakan tidak semata-mata hanya memenuhi kebutuhan

Lebih terperinci

Tahun Akademik 2015/2016 Semester I DIG1B3 Konfigurasi Perangkat Keras Komputer

Tahun Akademik 2015/2016 Semester I DIG1B3 Konfigurasi Perangkat Keras Komputer Tahun Akademik 2015/2016 Semester I DIG1B3 Konfigurasi Perangkat Keras Komputer SAP-3 Mohamad Dani (MHM) E-mail: [email protected] Hanya dipergunakan untuk kepentingan pengajaran di lingkungan Telkom

Lebih terperinci

DASAR INPUT/OUTPUT (1) (PORT PPI DAN PORT 1 SEBAGAI OUTPUT)

DASAR INPUT/OUTPUT (1) (PORT PPI DAN PORT 1 SEBAGAI OUTPUT) Percobaan DASAR INPUT/OUTPUT () (PORT PPI DAN PORT SEBAGAI OUTPUT) Menggunakan DT-5 MinSys Mengamati keluaran data berupa nyala LED setelah proses pemindahan data (akses eksternal) dari sebuah register

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 PERANGKAT KERAS 2.1.1 Arsitektur Mikrokontroler AT89S51 Arsitektur AT89S51 sudah memiliki beberapa komponen yang pada masa lalu merupakan chip tersendiri, sub komponen tersebut

Lebih terperinci

SISTEM KOMPUTER.

SISTEM KOMPUTER. SISTEM KOMPUTER Salahuddin, SST Email : [email protected] [email protected]@gmail Web Site : www.salahuddinali.com ELEMEN FUNGSIONAL UTAMA SISTEM KOMPUTER. INTERFACE EXTERNAL UNIT

Lebih terperinci

PERCOBAAN 5 STACK DAN SUBROUTINE. Oleh : Sumarna, Jurdik Fisika, FMIPA, UNY

PERCOBAAN 5 STACK DAN SUBROUTINE. Oleh : Sumarna, Jurdik Fisika, FMIPA, UNY PERCOBAAN 5 STACK DAN SUBROUTINE Oleh : Sumarna, Jurdik Fisika, FMIPA, UNY E-mail : [email protected] Tujuan dari percobaan ini adalah untuk memberikan pengertian mengenai arti stack, dapat menggunakan

Lebih terperinci

AD Channel AD Conversion

AD Channel AD Conversion AD-0809 8 Channel AD Conversion Fitur: - 8 Channel Multiplex Analog Input - 0 5 Volt Analog Input - 4 Interrupt Output Selector - 4 Address Selector - Kompatibel DST-51 Minimum System & SC-51 - Free Running

Lebih terperinci

PEMBUATAN ALAT PRAKTIKUM MIKROKONTROLER (AT89S51)

PEMBUATAN ALAT PRAKTIKUM MIKROKONTROLER (AT89S51) MATERI WORKSHOP PEMBUATAN ALAT PRAKTIKUM MIKROKONTROLER (AT89S51) Dikemas Ulang Oleh : Sumarna JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 15 MARET

Lebih terperinci

Memprogram Interface Display

Memprogram Interface Display BAGIAN 1 Tujuan Pembelajaran Umum: 1. Mahasiswa trampil memprogram interface display Tujuan Pembelajaran Khusus: 1. Mahasiswa memahami dasar-dasar interface display 2. Mahasiswa trampil memprogram interface

Lebih terperinci

Daftar Isi Daftar Isi. I. Pendahuluan A. Pengenalan DT51 Debugger. B. Istilah pada Instruksi MCS-51 1) Program Status Word (PSW).

Daftar Isi Daftar Isi. I. Pendahuluan A. Pengenalan DT51 Debugger. B. Istilah pada Instruksi MCS-51 1) Program Status Word (PSW). Daftar Isi Daftar Isi. i I. Pendahuluan A. Pengenalan DT51 Debugger. 1 B. Istilah pada Instruksi MCS-51 1) Program Status Word (PSW). 2 2) Addressing Modes... 2 3) Daftar Istilah pada Instruksi MCS-51

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEM MIKROPROSESSOR INSTRUKSI PERCABANGAN DAN LOOP

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEM MIKROPROSESSOR INSTRUKSI PERCABANGAN DAN LOOP LAPORAN PRAKTIKUM SISTEM MIKROPROSESSOR INSTRUKSI PERCABANGAN DAN LOOP Disusun oleh Nama : Yudi Irwanto NIM : 021500456 Prodi : Elektronika Instrumentasi Tanggal Praktikum : 28 April 2017 Asisten : Rokhmat

Lebih terperinci

DASAR INPUT/OUTPUT (2) (PORT PPI DAN PORT 1 SEBAGAI INPUT/OUTPUT)

DASAR INPUT/OUTPUT (2) (PORT PPI DAN PORT 1 SEBAGAI INPUT/OUTPUT) PERCOBAAN 2 DASAR INPUT/OUTPUT (2) (PORT PPI DAN PORT 1 SEBAGAI INPUT/OUTPUT) Menggunakan DT-51 MinSys Mengamati keluaran data berupa nyala LED setelah proses pemindahan data (akses eksternal) dari sebuah

Lebih terperinci

TAMPILKAN NADA DTMF DAN DERING TELEPHONE OLEH MODUL DF-88 DAN MODUL DST-51 PADA LCD

TAMPILKAN NADA DTMF DAN DERING TELEPHONE OLEH MODUL DF-88 DAN MODUL DST-51 PADA LCD TAMPILKAN NADA DTMF DAN DERING TELEPHONE OLEH MODUL DF-88 DAN MODUL DST-51 PADA LCD Pada aplikasi-aplikasi menggunakan saluran telephone, proses deteksi nada DTMF maupun sinyal dering seringkali dibutuhkan,

Lebih terperinci

ORGANISASI MEMORI MIKROKONTROLER MCS-51. Yoyo Somantri dan Erik Haritman Dosen Jurusan Pendidikan Teknik Elektro FPTK Universitas Pendidikan Indonesia

ORGANISASI MEMORI MIKROKONTROLER MCS-51. Yoyo Somantri dan Erik Haritman Dosen Jurusan Pendidikan Teknik Elektro FPTK Universitas Pendidikan Indonesia ORGANISASI MEMORI MIKROKONTROLER MCS-51 Yoyo Somantri dan Erik Haritman Dosen Jurusan Pendidikan Teknik Elektro FPTK Universitas Pendidikan Indonesia Pendahuluan Dalam bab ini akan dibahas tujuan perkuliahan,

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. Laporan Tugas Akhir Controller Aktuator Plant/Process. Gambar 2.1 Sistem Kontrol Closed Loop

BAB II DASAR TEORI. Laporan Tugas Akhir Controller Aktuator Plant/Process. Gambar 2.1 Sistem Kontrol Closed Loop BAB II DASAR TEORI 2.1 Sistem Kontrol Sistem kontrol adalah kumpulan suatu alat yang berfungsi untuk memerintah, mengatur dan mengendalikan keadaan suatu sistem. Untuk menunjang suatu sistem kontrol yang

Lebih terperinci

Tahun Akademik 2015/2016 Semester I DIG1B3 Konfigurasi Perangkat Keras Komputer

Tahun Akademik 2015/2016 Semester I DIG1B3 Konfigurasi Perangkat Keras Komputer Tahun Akademik 2015/2016 Semester I DIG1B3 Konfigurasi Perangkat Keras Komputer SAP-2 Mohamad Dani (MHM) E-mail: [email protected] Hanya dipergunakan untuk kepentingan pengajaran di lingkungan Telkom

Lebih terperinci

Arsitektur SAP-2 W BUS ACKNOWLEDGE HEXADECIMAL KEYBOARD ENCODER ACCUMULATOR INPUT PORT 1 ALU FLAGS READY INPUT PORT 2 SERIAL IN PROGRAM COUNTER TMP

Arsitektur SAP-2 W BUS ACKNOWLEDGE HEXADECIMAL KEYBOARD ENCODER ACCUMULATOR INPUT PORT 1 ALU FLAGS READY INPUT PORT 2 SERIAL IN PROGRAM COUNTER TMP W BUS ACKNOWLEDGE HEXADECIMAL KEYBOARD ENCODER 16 ACCUMULATOR INPUT PORT 1 READY SERIAL IN 0 7 INPUT PORT 2 ALU 2 FLAGS PROGRAM COUNTER 16 TMP MAR 16 B 16 64 K MEMORY C Arsitektur SAP-2 MDR OUTPUT PORT

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEM MIKROPROSESSOR STACK DAN SUBROUTINE

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEM MIKROPROSESSOR STACK DAN SUBROUTINE LAPORAN PRAKTIKUM SISTEM MIKROPROSESSOR STACK DAN SUBROUTINE Disusun oleh : Nama : Yudi Irwanto (021500456) Rekan Kerja : Safira Rachmadewi (021500453) Tri Handayani (021500454) Prodi : Elektronika Instrumentasi

Lebih terperinci

Kumpulan instruksi lengkap yang dimengerti

Kumpulan instruksi lengkap yang dimengerti Set Instruksi: 1 Set instruksi? Kumpulan instruksi lengkap yang dimengerti oleh CPU Operasi dari CPU ditentukan oleh instruksiinstruksi yang dilaksanakan atau dijalankannya. Instruksi ini sering disebut

Lebih terperinci

MAKALAH. Timer atau Counter 0 dan 1. Oleh : Rizky Dwi N ( ) Satrio Teguh Yulianto ( ) D3 TEKNIK ELEKTRO JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

MAKALAH. Timer atau Counter 0 dan 1. Oleh : Rizky Dwi N ( ) Satrio Teguh Yulianto ( ) D3 TEKNIK ELEKTRO JURUSAN TEKNIK ELEKTRO MAKALAH Timer atau Counter 0 dan 1 Oleh : Rizky Dwi N (1431110061 ) Satrio Teguh Yulianto (1431110023) D3 TEKNIK ELEKTRO JURUSAN TEKNIK ELEKTRO POLITEKNIK NEGERI MALANG TAHUN 2015/2016 i KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

BAHASA DAN PENGEMBANGAN PROGRAM MIKROPROSESOR

BAHASA DAN PENGEMBANGAN PROGRAM MIKROPROSESOR KEGIATAN BELAJAR 1 BAHASA DAN PENGEMBANGAN PROGRAM MIKROPROSESOR Lembar Informasi Kebanyakan orang berpikir bahwa komputer adalah sebuah peralatan yang sangat komplek, sulit dipelajari, dan dapat berfikir

Lebih terperinci

THERMOMETER DIGITAL DENGAN MODUL DST-51, ADC-0809 DAN LCD 2X16

THERMOMETER DIGITAL DENGAN MODUL DST-51, ADC-0809 DAN LCD 2X16 THERMOMETER DIGITAL DENGAN MODUL DST-51, ADC-0809 DAN LCD 2X16 LCD 2x16 Modul DST-51 Modul ADC-0809 Amplifier LM35 Gambar 1 Blok Diagram Sistem Aplikasi thermometer digital dilakukan dengan melakukan konversi

Lebih terperinci

PERCOBAAN 9 T I M E R/ COUNTER

PERCOBAAN 9 T I M E R/ COUNTER PERCOBAAN 9 T I M E R/ COUNTER TUJUAN 1. Memahami fungsi timer dan counter pada mikrokontroller 2. Memahami rangkaian interface untuk aplikasi timer dan counter 3. Dapat memanfaatkan fungsi counter untuk

Lebih terperinci

OPERATION SYSTEM. Jenis - Jenis Register Berdasarkan Mikroprosesor 8086/8088

OPERATION SYSTEM. Jenis - Jenis Register Berdasarkan Mikroprosesor 8086/8088 OPERATION SYSTEM Nama : Dian Fahrizal Nim : 110170096 Unit : A3 Jenis - Jenis Register Berdasarkan Mikroprosesor 8086/8088 Mikroprosesor 8086/8088 memiliki 4 register yang masing-masingnya terdiri dari

Lebih terperinci

TAKARIR. Akumulator Register yang digunakan untuk menyimpan semua proses aritmatika

TAKARIR. Akumulator Register yang digunakan untuk menyimpan semua proses aritmatika TAKARIR AC (Alternating Current) Adalah sistem arus listrik. Sistem AC adalah cara bekerjanya arus bolakbalik. Dimana arus yang berskala dengan harga rata-rata selama satu periode atau satu masa kerjanya

Lebih terperinci

Pertemuan 10 Arsitektur Mikrokontroler 8051

Pertemuan 10 Arsitektur Mikrokontroler 8051 Pertemuan 10 Arsitektur Mikrokontroler 8051 Learning Outcomes Pada akhir pertemuan ini, diharapkan mahasiswa akan mampu : Menjelaskan arsitektur mikrokontroler 8051 Arsitektur Mikrokontroller 8051 Materi:

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Mikrokontroler AT89S52 termasuk kedalam keluarga MCS-51 merupakan suatu. dua macam memori yang sifatnya berbeda yaitu:

BAB 2 LANDASAN TEORI. Mikrokontroler AT89S52 termasuk kedalam keluarga MCS-51 merupakan suatu. dua macam memori yang sifatnya berbeda yaitu: BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Perangkat Keras 2.1.1 Mikrokontroler AT89S52 Mikrokontroler AT89S52 termasuk kedalam keluarga MCS-51 merupakan suatu mikrokomputer CMOS 8 bit dengan daya rendah, kemampuan tinggi,

Lebih terperinci

Simple As Possible (SAP) - 2. Abdul Syukur

Simple As Possible (SAP) - 2. Abdul Syukur Simple As Possible (SAP) - 2 Abdul Syukur [email protected] http://skurlinux.blogspot.com 053740514 Arsitektur Komputer SAP-2 Persamaan dengan SAP-1 : Sama-sama komputer bit. Kesamaan ini dapat

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM. Praktek Mikroprosesor 1 Job Sheet 2

LAPORAN PRAKTIKUM. Praktek Mikroprosesor 1 Job Sheet 2 LAPORAN PRAKTIKUM Instruksi Aritmatika dan Operasi Logika Praktek Mikroprosesor 1 Job Sheet 2 Nama : DENNY SETIAWAN NIM : 3201311036 Kelas : V B Kelompok : 1 Anggota Kelompok : Denny Setiawan Ranto susilo

Lebih terperinci

BAB VII KOMPUTER SEDERHANA SAP-3 (SIMPLE AS POSSIBLE-3)

BAB VII KOMPUTER SEDERHANA SAP-3 (SIMPLE AS POSSIBLE-3) Tony Darmanto, ST / IV / TI / STMIK Widya Dharma / Hal 1 BAB VII KOMPUTER SEDERHANA SAP-3 (SIMPLE AS POSSIBLE-3) 7.1. Model Pemrograman Komputer SAP-3 adalah komputer 8-bit yang memiliki keselarasan (compatibel)

Lebih terperinci

Alarm Pintu, Harap Pintu Tutup Kembali, Jangan Buka Pintu Lama-lama versi 2

Alarm Pintu, Harap Pintu Tutup Kembali, Jangan Buka Pintu Lama-lama versi 2 Alarm Pintu, Harap Pintu Tutup Kembali, Jangan Buka Pintu Lama-lama versi 2 Kalo sobat pernah jalan-jalan ke sebuah kantor dan lihat di pintu ada tulisan: HARAP PINTU TUTUP KEMBALI atau MOHON PINTU TUTUP

Lebih terperinci

ARSITEKTUR MIKROPROSESOR Z80. Yoyo somantri Dosen Jurusan Pendidikan Teknik Elektro FPTK Universitas Pendidikan Indonesia

ARSITEKTUR MIKROPROSESOR Z80. Yoyo somantri Dosen Jurusan Pendidikan Teknik Elektro FPTK Universitas Pendidikan Indonesia ARSITEKTUR MIKROPROSESOR Z80 Yoyo somantri Dosen Jurusan Pendidikan Teknik Elektro FPTK Universitas Pendidikan Indonesia Pendahuluan Pada bab ini akan dibahas tentang tujuan perkuliahan, arsitektur mikroprosesor

Lebih terperinci

I. Pendahuluan. Mikroprosesor CPU. Gambar 1. Perbedaan Mikrokontroler dengan Mikroprosesor

I. Pendahuluan. Mikroprosesor CPU. Gambar 1. Perbedaan Mikrokontroler dengan Mikroprosesor I. Pendahuluan Mikrokontroler, jika diterjemahkan secara harfiah, berarti pengendali yang berukuran mikro. Sekilas mikrokontroler hampir sama dengan mikroprosesor. Namun mikrokontroler memiliki banyak

Lebih terperinci

PEMROGRAMAN 8085 Kelompok Instruksi Email : [email protected] [email protected]@gmail Web Site : www.salahuddinali.com Kelompok Instruksi Transfer Data MOV MVI transfer data transfer

Lebih terperinci

MODE OPERASI TIMER/COUNTER. Oleh : Sumarna, Jurdik Fisika, FMIPA, UNY

MODE OPERASI TIMER/COUNTER. Oleh : Sumarna, Jurdik Fisika, FMIPA, UNY MODE OPERASI TIMER/COUNTER Oleh : Sumarna, Jurdik Fisika, FMIPA, UNY E-mail : [email protected] 1. Mode 0 : Timer/Counter 13 bit. Gambar berikut menunjukkan konfigurasi operasi timer/counter mode 0. Salah

Lebih terperinci

PERTEMUAN TIMER & COUNTER MIKROKONTROLER 89C51

PERTEMUAN TIMER & COUNTER MIKROKONTROLER 89C51 PERTEMUAN TIMER & COUNTER MIKROKONTROLER 89C51 Pemakaian Timer TIMMER MIKROKONTROLER 89C51 Timer atau pewaktu dan counter atau pencacah adalah jenis pengatur waktu didalam mikrokontroler. Didalam mikrokontroler

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN DAN CARA KERJA ALAT

BAB III RANCANGAN DAN CARA KERJA ALAT BAB III RANCANGAN DAN CARA KERJA ALAT 3.1 Perancangan Alat 3.1.1 Blok Diagram Perancangan Alat Rancangan dan cara kerja alat secara blok diagram yaitu untuk mempermudah dalam menganalisa rangkaian secara

Lebih terperinci

BAB II TEORI DASAR PENUNJANG

BAB II TEORI DASAR PENUNJANG BAB II TEORI DASAR PENUNJANG 2.1 Mikrokontroler AT89S51 Mikrokontroler, sebagai suatu terobosan dari teknologi mikroprosesor dan mikrokomputer, hadir memenuhi kebutuhan pasar (marked need) dan teknologi

Lebih terperinci

ARSITEKTUR KOMPUTER SET INSTRUKSI

ARSITEKTUR KOMPUTER SET INSTRUKSI LOGO ASSALAMU ALAIKUM ARSITEKTUR KOMPUTER SET INSTRUKSI Disajikan Oleh : RAHMAD KURNIAWAN, S.T., M.I.T. TEKNIK INFORMATIKA UIN SUSKA RIAU Karakteristik dan Fungsi Set Instruksi Operasi dari CPU ditentukan

Lebih terperinci

USER MANUAL TRAINER TOMBOL & LED 8 BIT MENGGUNAKAN AT89S51 MATA PELAJARAN:ELEKTRONIKA KENDALI

USER MANUAL TRAINER TOMBOL & LED 8 BIT MENGGUNAKAN AT89S51 MATA PELAJARAN:ELEKTRONIKA KENDALI USER MANUAL TRAINER TOMBOL & LED 8 BIT MENGGUNAKAN AT89S51 MATA PELAJARAN:ELEKTRONIKA KENDALI SISWA TINGKAT XII - ELEKTRONIKA INDUSTRI JURUSAN TEKNIK ELEKTRONIKA INDUSTRI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN SMK

Lebih terperinci

Aplikasi Pengukur Ketinggian Air Mengunakan Modul Sensor InfraRed Object Detector

Aplikasi Pengukur Ketinggian Air Mengunakan Modul Sensor InfraRed Object Detector Aplikasi Pengukur Ketinggian Air Mengunakan Modul Sensor InfraRed Object Detector Pada tempat-tempat penampungan air seringkali diperlukan suatu mekanisme untuk mengetahui ketinggian permukaan air. Seringkali

Lebih terperinci

BAB 3 Pemrograman Zilog Z80 Lanjutan

BAB 3 Pemrograman Zilog Z80 Lanjutan BAB 3 Pemrograman Zilog Z8 Lanjutan Buku: Bahasa Oleh : Setiawardhana Bahasa Assembly (Buku( Komputer 3) oleh : Son Kuswadi Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Pokok Bahasan Addressing Mode? FLAG? Instruksi

Lebih terperinci

PETA MEMORI MIKROPROSESOR 8088

PETA MEMORI MIKROPROSESOR 8088 1. Bagan Dasar µp 8088 PETA MEMORI MIKROPROSESOR 8088 Gambar 1. Bagan Dasar µp 8088 Elemen didalam mikroprosesor adalah : CU (Control Unit) adalah manajer dari semua unit. CU mengatur keselarasan kerja

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DAN HASIL UJI COBA RANGKAIAN

BAB IV ANALISA DAN HASIL UJI COBA RANGKAIAN BAB IV ANALISA DAN HASIL UJI COBA RANGKAIAN 4.1 Prinsip Kerja Rangkaian Rangkaian ini bekerja berdasarkan dua buah sensor yang di pasang secara berdampingan, dengan memanfaatkan Phototransistor sebagai

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 6 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Perangkat Keras 2.1.1 Bahasa Assembly MCS-51 Bahasa yang digunakan untuk memprogram IC mikrokontroler AT89S51 adalah bahasa assembly untuk MCS-51. angka 51 merupakan jumlah instruksi

Lebih terperinci

Simple As Posible 2 (bag-1)

Simple As Posible 2 (bag-1) Simple As Posible 2 (bag-1) (Pertemuan ke-17) Disusun ulang oleh: Andrian Rakhmatsyah Diedit ulang oleh: Endro Ariyanto Prodi S1 Teknik Informatika Fakultas Informatika Universitas Telkom Maret 2016 Arsitektur

Lebih terperinci

Set Instruksi: Set instruksi?

Set Instruksi: Set instruksi? Set Instruksi: 1 Set instruksi? Operasi dari CPU ditentukan oleh instruksiinstruksi yang dilaksanakan atau dijalankannya. Instruksi ini sering disebut sebagai instruksi mesin (machine instructions) atau

Lebih terperinci

AT89S52 8kByte In-System Programmable Mikrokontroler

AT89S52 8kByte In-System Programmable Mikrokontroler Lab Elektronika Industri Mikrokontroler 1 AT89S52 8kByte In-System Programmable Mikrokontroler I. Fitur AT89S52 Kompatibel dengan produk MCS51 Intel 8kByte Flah Memori dengan In-System Programmable (ISP)

Lebih terperinci

PERCOBAAN 3 INSTRUKSI ARITMATIK DAN LOGIK. Oleh : Sumarna, Jurdik Fisika, FMIPA, UNY

PERCOBAAN 3 INSTRUKSI ARITMATIK DAN LOGIK. Oleh : Sumarna, Jurdik Fisika, FMIPA, UNY PERCOBAAN 3 INSTRUKSI ARITMATIK DAN LOGIK Oleh : Sumarna, Jurdik Fisika, FMIPA, UNY E-mail : [email protected] Tujuan dari percobaan ini adalah untuk membiasakan diri dengan berbagai instruksi aritmatik

Lebih terperinci

PERCOBAAN 11 PULSE WIDHT MODULATION

PERCOBAAN 11 PULSE WIDHT MODULATION PERCOBAAN 11 PULSE WIDHT MODULATION TUJUAN: 1. Memahami prinsip dasar PWM 2. Memahami rangkaian Driver Motor DC 3. Memahami pemrograman assembly untuk pengaturan PWM Konsep Dasar PWM Salah satu cara yang

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEM MIKROPROSESSOR APLIKASI DASAR INSTRUKSI ARITMATIKA DAN OPERASI LOGIK

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEM MIKROPROSESSOR APLIKASI DASAR INSTRUKSI ARITMATIKA DAN OPERASI LOGIK LAPORAN PRAKTIKUM SISTEM MIKROPROSESSOR APLIKASI DASAR INSTRUKSI ARITMATIKA DAN OPERASI LOGIK Disusun oleh : Nama : Yudi Irwanto (021500456) Prodi : Elektronika Instrumentasi Tanggal Praktikum : 6 April

Lebih terperinci

Oleh : Hendawan Soebhakti, ST. Program Studi Teknik Elektro Politeknik Batam Juni 2007

Oleh : Hendawan Soebhakti, ST. Program Studi Teknik Elektro Politeknik Batam Juni 2007 Oleh : Hendawan Soebhakti, ST Program Studi Teknik Elektro Politeknik Batam Juni 27 Pokok Bahasan Pendahuluan Arsitektur MCS-5 Operasi Pemindahan Data Operasi Logika Operasi Aritmatika Operasi Percabangan

Lebih terperinci

Teknik Interface Keypad 4x3 ke DST-51

Teknik Interface Keypad 4x3 ke DST-51 Teknik Interface Keypad 4x3 ke DST-51 Keypad 4x3 di sini adalah sebuah keypad matrix dengan susunan empat baris dan tiga kolom dengan sebuah common. R1 R2 R3 R4 1 2 3 4 5 6 7 8 9 * 9 # C1 C2 C3 Gambar

Lebih terperinci