BAB IV PERANCANGAN SISTEM SUSPENSI
|
|
|
- Hartanti Kusumo
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB IV PERANCANGAN SISTEM SUSPENSI 4.1 BAJA SAE COMPETITION SAE Mini Baja Competition diadakan pertama kali di University of South Carolina tahun 1976 di bawah arahan Dr. John F.Stevens. Kompetisi ini ditujukan untuk mahasiswa teknik yang bertujuan untuk mendesain dan membuat sebuah prototype kendaraan yang mampu melintasi jalan yang susah, dalam semua kondisi cuaca tanpa mengalami kerusakan. Selain mendesain dan membuat kendaraan tersebut, setiap tim juga melakukan tes, promosi, dan balap dengan dibatasi oleh peraturan-peraturan dari SAE. Gambar 4.1. SAE Mini Baja Competition Regulasi Kompetisi Baja SAE Peraturan-peraturan yang mempengaruhi perancangan sistem suspensi kendaraan mini baja antara lain : Konfigurasi Kendaraan Kendaraan harus mempunyai 4 roda atau lebih yang tidak terletak dalam sebuah garis lurus. Kendaraan dengan 3 roda dilarang mengikuti kompetisi. Kendaraan harus mampu membawa satu orang dengan tinggi 190 cm dan berat 113 kg. 39
2 Wheelbase Panjang kendaraan maksimum dari kendaraan mini baja dibatasi sebesar 2743,2 mm. Track width Lebar kendaraan maksimum yang diperbolehkan adalah 1620 mm yang diukur dari titik terlebar dengan roda mengarah ke depan pada ketinggian statis kendaraan. Ground clearance Kendaraan harus mempunyai ground clearance dan traksi yang cukup. All-Terrain Capability Kendaraan harus mampu melewati permukaan jalan yang rusak meliputi rintangan-rintangan seperti batu, pasir, loncatan, batang kayu, lereng yang tinggi, lumpur, permukaan air dangkal, serta di segala macam kondisi cuaca meliputi hujan, salju, dan es. Fastener Grade Requirements Semua fastener yang digunakan dalam sistem yang didesain minimal harus memenuhi standar SAE grade 5, metric grade M8.8 atau spesifikasi militer AN. Keseluruhan peraturan dari Baja SAE Competition 2008 terdapat pada lampiran KONSEP DESAIN Suspensi depan yang dirancang harus memenuhi regulasi dari kompetisi mini baja, kuat, aman, tidak terlalu mahal, serta dapat dimanfaatkan selanjutnya untuk alat simulasi suspensi. Pada skripsi ini suspensi yang dirancang adalah suspensi depan dengan menggunakan tipe double wishbone. Suspensi roda kanan dan kiri diasumsikan simetris maka perancangan yang dilakukan menggunakan model seperempat kendaraan. Pada gambar 4.2, M adalah massa badan kendaraan (massa sprung); m adalah massa unsprung; k s 40
3 adalah konstanta kekakuan pegas; c s adalah konstanta redaman dari peredam kejut (shock breaker); k t adalah konstanta pegas ekivalen dari ban. Gambar 4.2. Model seperempat kendaraan 4.3 EMBODIMENT DESAIN Wheelbase Wheelbase (l) yang direncanakan memiliki panjang 2000 mm. Keuntungan dari wheelbase yang relatif panjang adalah meningkatnya stabilitas, mengurangi perpindahan beban longitudinal dan lebih banyak ruang untuk menempatkan komponen-komponen lainnya Trackwidth Track width pada bagian depan direncanakan antara mm. Keuntungan dari track width yang lebar adalah mengurangi perpindahan beban lateral untuk sejumlah percepatan sentrifugal dan meminimalkan perubahan camber. Hal ini terjadi pada saat kendaraan berbelok. Sedangkan kerugiannya adalah ketika kendaraan melaju pada kecepatan tinggi yang mempengaruhi aerodinamika kendaraan Ground Clearance Berdasarkan regulasi SAE Baja Competition 2008 bagian 20.3, setiap kendaraan harus mempunyai ground clearance yang cukup untuk menghadapi rintangan jalan yang akan dilewati. Dari beberapa gambar kendaraan mini baja yang saya amati, maka ground clearance kendaraan mini baja direncanakan antara cm. Contohnya dapat di lihat gambar di bawah. 41
4 Gambar 4.3. Ground clearance Massa Kendaraan Berdasarkan data massa kendaraan yang mengikuti kompetisi pada Mini Baja East tahun 2006 di Auburn University [lampiran 2], terdapat kisaran massa kendaraan yaitu dari 435 lb sampai dengan 752 lb. Pada perancangan ini, massa kendaraan (m k ) direncanakan sebesar 500 lb (226,8 kg) Titik Pusat Massa Kendaraan Titik pusat massa atau titik berat kendaraan merupakan tempat bekerjanya gaya tarik bumi (gravitasi) terhadap keseluruhan massa kendaraan. Letak titik pusat massa ini tergantung pada geometri kendaraan dan distribusi massa kendaraan. Titik pusat massa kendaraan pada mini baja dipengaruhi oleh berat pengemudi, berat mesin, dan berat rangka. Gambar 4.4. Konfigurasi kendaraan mini baja 42
5 Untuk titik berat mesin, direncanakan bentuk mesin seperti persegi dengan dimensi 50 x 50 x 50 cm dengan bobot 50 kg sedangkan berat pengemudi yang direncanakan memiliki berat 113 kg dan tinggi 190 cm. Untuk berat rangka, rangka yang direncanakan menggunakan material steel AISI 1020 yang memiliki densitas sebesar 0,0079 g/mm 3. Dengan volume dari rangka sebesar 3,9 x 10-3 m 3, maka diketahui berat rangka sebesar 32 kg. Jika dilihat dari struktur rangkanya yang lebih berat pada bagian belakang, maka letak titik berat rangka direncanakan berada 60% dari panjang wheelbase kendaraan dan sejajar dengan titik berat mesin. Dengan konfigurasi kendaraan yang simetris maka titik berat pengemudi mesin, dan rangka direncanakan letaknya di tengah-tengah track width kendaraan atau berada pada sumbu y. Titik berat pengemudi Titik berat mesin Titik berat rangka Gambar 4.5. Titik berat mesin, pengemudi, dan rangka Setelah letak pusat massa masing-masing komponen telah diketahui selanjutnya akan ditentukan letak pusat massa keseluruhan dimana pusat massa ini adalah pusat massa gabungan antara mesin dan pengemudi. Dalam mencari pusat massa total ini dianggap bahwa titik pusat sumbu koordinat x berada pada titik tengah sumbu roda depan rangka dan bidang xz berada pada tengah rangka seperti terlihat pada gambar
6 Gambar 4.6. Titik acuan pada rangka Kemudian dari hasil pengukuran pusat massa masing-masing komponen dari titik pusat sumbu didapat letak pusat massa totalnya pada tabel berikut : Tabel 4.1. Titik pusat massa mini baja Nama Komponen m i X i Y i Z i m i X i m i Y i m i Z i (Kg) (mm) (mm) (mm) (Kgmm) (Kgmm) (Kgmm) Mesin , , , Pengemudi , , , ,6 Rangka , ,12 Total , ,72 Titik berat terhadap sumbu x X m i m X i i ,44 X 1234, 68 mm 195 Titik berat terhadap sumbu y Y m i m Titik berat terhadap sumbu z Z m i Y i m i i Z i 0 44
7 37390,72 Z 191, 75 mm 195 Maka titik pusat massa kendaraan total dari titik sumbu adalah 4.5 DESAIN KOMPONEN SUSPENSI 4.41 Roda Roda memiliki komponen-komponen seperti ban, knuckle, pelek, bearing, dan cakram. Dalam merancang sistem suspensi double wishbone, dimensi dari ban dan knuckle perlu diketahui terlebih dahulu agar selanjutnya dapat menentukan posisi dari control arms. Ban merupakan komponen suspensi yang paling penting dalam kendaraan balap karena komponen ini bersentuhan langsung dengan permukaan jalan. Selain berfungsi untuk menopang berat kendaraan, ban juga melindungi kendaraan dari getaran saat melintasi ketidak rataan permukaan jalan. Terlebih pada SAE Mini Baja Competition yang kondisi permukaan jalannya sangat bervariasi dan tidak rata. Gambar 4.7. Kondisi permukaan jalan kendaraan Terdapat banyak pilihan dalam menentukan ban apa yang digunakan untuk kebutuhan perancangan suspensi. Untuk meminimalkan biaya maka ban yang 45
8 digunakan adalah ban yang terdapat di lab lantai 1 Departemen Teknik Mesin FTUI dengan spesifikasi sebagai berikut : Tipe ban : Tubeless Merek : Dunlop Ukuran : AT 19 x 7-8* Jenis Tapak : KT 945 Made in : Taiwan Knuckle Knuckle merupakan komponen roda yang menjadi tempat mounting dari rod end lengan atas dan lengan bawah pada suspensi double wishbone. Geometrinya akan mempengaruhi posisi dari lengan atas dan lengan bawah. Karena membutuhkan biaya yang besar jika membuat knuckle sendiri, maka dilakukan pembelian knuckle bekas yang pemodelannya dapat dilihat pada gambar 4.8. Gambar 4.8. Pemodelan knuckle Konstruksi Double Wishbone Konstruksi dari double wishbone terdiri dari tiga bagian silinder berlubang atau hollow dan tiga rod end dimana salah satu bagiannya terhubung dengan knuckle. 46
9 Pemilihan Tube Dengan pertimbangan tube yang dirancang mampu untuk menahan pembebanan maka tube harus cukup tebal. Dari software Solidworks 2007 yang digunakan untuk profil tube yang paling tebal adalah dengan diameter luar (D 1 ) = 33.7 mm dan diameter dalam (D 2 ) = 25.7 mm Pemilihan Rod End Rod end berfungsi untuk menyambungkan lengan suspensi dengan knuckle dan bracket yang terdapat pada rangka. Terdapat banyak perusahaan yang memproduksi rod end dengan berbagai macam kualitas. Untuk keperluan desain, rod end yang dipilih disesuaikan dengan knuckle. Spesifikasi rod end yang digunakan adalah dari Aurora Bearing Company AM-M Lengan Suspensi Lengan suspensi tersusun dari beberapa tube yang dilas menjadi lengan atas dan lengan bawah. Gambar 4.9. Konsep awal lengan suspensi Konsep awal untuk lengan adalah lengan atas dan bawah memiliki panjang yang berbeda yaitu 12 in dan 14 in dengan sudut masing-masing 60. Agar bisa lurus dengan rangka maka tube dibengkokkan sepanjang 2 in pada kedua ujungnya yang akan dihubungkan dengan rangka. Pada lengan bawah terdapat bracket yang tersambung dengan pegas dan peredam. Dari beberapa susunan lengan seperti yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya, pada skripsi ini menggunakan susunan lengan paralel yang ke atas. Hal ini ditujukan agar kendaraan memiliki ground clearance yang cukup untuk 47
10 melewati rintangan-rintangan di lintasan balap. Karena bentuk knuckle yang pada bagian ujungnya miring ke arah bawah, maka dilakukan modifikasi dengan memiringkan tube yang tersambung dengan knuckle pada lengan atas dan lengan bawah. Gambar Susunan lengan perancangan Pemilihan Material Lengan Suspensi Pemilihan material dilakukan berdasarkan kebutuhan fungsional dari suspensi dimana material harus mampu menahan beban maksimum yang diberikan. Material tersebut harus memiliki kriteria yield strength dan tensile strength yang tinggi. Gambar Performance indices 48
11 Pada perancangan ini menggunakan metode cost vs performance indices. Dari gambar 4.11, untuk memaksimalkan kekuatan dari material dengan bentuk control arms yang termasuk dalam beam in bending, maka performance indices yang digunakan adalah σ 2/3 f /ρ. Gambar Ashby material selection chart Dengan Ashby materials selection chart, material baja dari engineering alloys merupakan pilihan yang baik. Dari data base material baja pada software Cosmos yang digunakan untuk analisa, maka baja yang digunakan adalah Steel AISI 4340 Normalized. Material ini ini dipilih karena memiliki yield strength yang tinggi, kekerasan, dan sifat mampu pakai yang tinggi dan juga dari segi biaya material ini masih mungkin dijangkau. Berikut adalah material properties dari AISI 4340 : Tabel 4.2. Material properties AISI 4340 Property Name Value Units Elastic modulus 2.05e+011 N/m^2 Shear modulus 8e+010 N/m^2 Mass density 7850 kg/m^3 Tensile strength 1.11e+009 N/m^2 Yield strength 7.1e+008 N/m^2 49
12 Thermal expansion coefficient 1.23e-005 /Kelvin Thermal conductivity 44.5 W/(m.K) Specific heat 475 J/(kg.K) Shock Absorber Dalam pemilihan shock absorber tidak lepas dari pertimbangan maksimum suspension travel. Kendaraan mini baja masuk dalam kategori jenis kendaraan ATV. Dari tabel 4.3 diketahui kisaran suspension travel pada jenis kendaraan ini, yaitu antara 5 10 in. Tabel 4.3. Suspension travel Dengan pertimbangan biaya, perancangan ini menggunakan shock absorber bekas dari motor Yamaha Vega R yang pemodelannya dapat dilihat pada gambar Suspension travel yang direncanakan adalah antara 5 8 in. Gambar Pemodelan shock absorber 50
13 Penempatan komponen Shock absorber pada kendaraan mini baja ditempatkan pada sasis. Posisinya menentukan seberapa besar kompresi pegas yang mampu menahan berputarnya sasis terutama pada saat kendaraan berbelok dan menghantam bump. Karena keterbatasan ruang serta bentuk sasis dari mini baja maka posisi pegas dan peredam kejut yang vertikal tidak dapat digunakan. Sehingga pegas dan peredam kejut yang digunakan pada kendaraan mini baja diletakkan secara miring. Bagian atas dari pegas dan peredam kejut disambungkan pada struktur utama sasis, sedangkan bagian bawahnya disambungkan dengan lengan bawah. Gambar Penempatan shock absorber 4.6 DESAIN SUMMARY Dari komponen-komponen suspensi sebelumnya maka dilakukan assembly pada komponen tersebut sehingga menjadi desain suspensi depan pada kendaraan mini baja. Baut yang digunakan memiliki spesifikasi Hex Bolt Grade AB (ISO M16 x 70 x 38-N) dan murnya memiliki spesifikasi Hexagon Nut ISO 4034-M16-N. Setelah berkali-kali melakukan penyesuaian geometri maka didapatkan desain suspensi depan yang ditunjukkan pada table 4.4. dan gambar
14 Tabel 4.4. Konfigurasi perancangan Suspensi Depan Model Suspensi Double Wishbone Material Lengan Steel AISI 4340 Normalized Sasis 1020 steel, tubular frame Wheelbase 2000 mm Track width 1500 mm Ground Clearance 20 cm Berat Kendaraan 226,8 kg Shocks absorber Yamaha Vega R Ban depan Dunlop AT19 x 7-8* Gambar Hasil perancangan suspensi depan 52
15 BAB V PERHITUNGAN DAN ANALISA 5.1 PERHITUNGAN Kendaraan mini baja seperti kendaraan roda empat lainnya mempunyai distribusi massa pada sumbu roda depan dan belakang. Besarnya distribusi massa tersebut dipengaruhi oleh letak titik berat kendaraan. Gaya tumpuan pada sumbu roda depan (W f ) kendaraan dapat diketahui dengan[5] Dimana, L = wheelbase W = gaya berat kendaraan l 2 = jarak antara sumbu roda belakang dengan titik pusat massa kendaraan h = tinggi titik berat kendaraan F = total tractive effort R r = total rolling resistance Pada kondisi bergerak, kendaraan bekerja bermacam-macam gaya, ada yang menyebabkan kendaraan bergerak dan ada gaya yang menghambat. Gaya yang menghambat terdapat traksi dan gaya resistansi jalan. Dalam kondisi kendaraan tidak bergerak maka kedua gaya tersebut bernilai nol, sehingga 53
16 Gambar 5.1. Bagan penentuan besar massa sprung dan unsprung yang ditumpu tiap roda depan dan belakang [6] Tumpuan Roda Depan Dimana, m d = massa bagian depan p Sehingga, m t m s m us Massa bagian depan : = massa yang ditumpu tiap roda bagian depan = massa sprung = massa unsprung = fraksi massa sprung pada tumpuan tiap roda depan 54
17 Massa yang ditumpu untuk tiap roda : Massa sprung : = 43,4 kg Massa Unsprung = 39,78kg = 3,62 kg Geometri Double Wishbone Dari dimensi ban, knuckle, wheelbase, track width, dan ground clearance yang telah ditentukan sebelumnya maka sistem suspensi yang dirancang memiliki geometri sebagai berikut : Gambar 5.2. Geometri perancangan 55
18 R 1 = 363,64 mm H = 387,81 mm a = 45,02 mm d = 150 mm R 2 = 440,34 mm h = 225,30 mm b = 48,40 mm e = 125,22mm Geometri dari lengan- lengan wishbone memegang peranan penting dalam pengendalian kendaraan. Control arms menentukan lokasi dari instant center, lokasi dari roll center, dan perubahan wheel camber selama suspension travel. Konfigurasi dari lengan juga menentukan bagaimana gaya-gaya akan terdistribusi pada sistem suspensi. Dengan menggunakan persamaan 3.38 s.d dapat diketahui : P 1 = 4,8 x 10-4 U 1 = 0,128 Q 1 = 0,014 V 1 = 4,8 Dengan menggunakan persamaan 3.48 s.d 3.51 dapat diketahui : P 2 = 0,43 U 2 = 43,24 Q 2 = 22,51 V 2 = 2363, Ketinggian Roll Center Ketinggian roll center dapat dihitung dengan menggunakan metode grafis. Posisi roll center juga dapat diketahui dengan memproyeksikan garis antara IC dengan kontak ban diteruskan ke garis pusat kendaraan. Namun dengan konfigurasi lengan yang digunakan maka letak IC menjadi tak terhingga, sehingga roll center didapatkan dengan menggambarkan garis dari garis pusat roda sejajar dengan R 1 atau R 2 sampai menyentuh garis pusat kendaraan. Titik RC tersebut kemudian diukur tingginya dari permukaan jalan. Dengan menggunakan software Solidworks 2007 nilai z R yang didapat adalah 87,15 mm di atas permukaan jalan. Gambar 5.3. Lokasi roll center perancangan 56
19 5.1.3 Defleksi Roda (z) Defleksi yang dialami oleh roda dipengaruhi oleh faktor kondisi permukaan jalan yang dilewati kendaraan mini baja. Gambar 5.4. Permukaan jalan kendaraan Dengan kondisi permukaan seperti gambar 5.3 maka untuk perhitungan dalam skripsi ini, permukaan jalan tersebut mendekati bentuk profil sinusoidal dengan panjang gelombang 5 m. Defleksi roda yang terjadi diasumsikan antara -5 cm sampai +5 cm seperti diilustrasikan pada gambar di bawah. 5m Gambar 5.5. Asumsi defleksi roda Perubahan Camber Perubahan camber dapat diakibatkan oleh miringnya badan kendaraan ketika melewati sebuah putaran dan ketika roda mengalami pergerakan vertikal akibat melewati bump pada permukaan jalan. 57
20 Sudut camber yang terjadi antara defleksi roda (z) dari -5 cm sampai +5cm diplot dalam grafik 5.1 dan dihitung dengan menggunakan persamaan Nilai perhitungannya dapat dilihat pada lampiran Sudut camber vs Defleksi roda 40 Defleksi roda (mm) Sudut camber x 10-2 (deg) Grafik 5.1. Perubahan camber Dari grafik di atas dapat diketahui karakteristik susunan lengan double wishbone yang paralel ke atas yaitu, pada saat bump camber bernilai positif dan pada saat rebound camber bernilai negatif. Perubahan camber pada saat bump lebih besar pada saat rebound, namun nilai perubahannya kecil sekali. Hal ini menunjukkan bahwa suspensi yang dirancang baik karena nilai perubahan camber sangat kecil Perubahan Tapak Ban (tread change) Roda juga mengalami pergerakan secara lateral ke dalam dan keluar ketika kendaraan berjalan. Pergerakan lateral dapat menyebabkan scrubbing pada tapak ban yang mengurangi daya cengkram ban terhadap jalan (adhesi) dan memendekkan umur pakai ban. Perubahan tapak ban ketika roda terdefleksi oleh permukaan jalan dapat dihitung dengan menggunakan persamaan Hasil perhitungan dapat dilihat pada lampiran 3. 58
21 Wheel deflection (mm) Tread change vs Wheel deflection Tread Change x 10-2 (mm) Grafik 5.2. Perubahan tapak ban Dari grafik dapat diketahui perubahan tapak ban terbesar terjadi pada awal ban mulai terdefleksi baik pada saat bump maupun rebound. Setelah itu perubahan yang terjadi nilainya sangat kecil. 5.2 ANALISA Analisa Kegagalan Dalam perancangan suspensi tidaklah terlepas hubungan antara kekuatan suatu elemen komponen suspensi terhadap beban luar yang bekerja padanya. Beban luar ini menyebabkan adanya tegangan dalam pada elemen komponen tersebut. Suatu perancangan yang baik dan aman haruslah didapatkan bahwa tegangan ini tidak akan pernah melampaui batas maksimalnya. Beban pada elemen didefinisikan sebagai gaya-gaya luar yang bekerja padanya sehingga menyebabkan terjadinya efek tegangan dan regangan pada elemen tersebut. Efek tegangan dan regangan tersebut dapat mengakibatkan adanya kegagalan elemen apabila beban yang bekerja padanya jauh diatas batas normal yang diijinkan. Oleh karenanya dalam perancangan, pembebanan sangat mempengaruhi aspek-aspek desain guna menghindari kegagalan tersebut. Lengan suspensi mengalami pembebanan statis maupun dinamis yang disebabkan oleh berat kendaraan maupun pengaruh dari kondisi permukaan jalan. Pada lengan bawah, gaya yang diterima oleh permukaan ban diteruskan menuju 59
22 knuckle kemudian diteruskan kepada rod end bagian bawah dan lengan bawah lalu ke shock absorber yang tertumpu pada lengan bawah. Sedangkan pada lengan atas gaya yang bekerja diteruskan kepada rod end atas lalu menuju lengan atas. Sehingga kondisi pembebanan lengan atas berbeda dengan lengan bawah karena berdasarkan aliran gaya yang bekerja pada suspensi, lengan bawah menerima pembebanan yang lebih besar. Gambar 5.6. Gaya pada sistem suspensi depan Tujuan analisa kegagalan adalah untuk memverifikasi material properties dan ukuran komponen yang dirancang mampu untuk menahan gaya-gaya yang terjadi selama kendaraan mini baja beroperasi. Pada skripsi ini analisa kegagalan menggunakan Maximum Distortion Energy Theory yang juga dikenal dengan Von-Mises Failure Theory. Hal ini karena teori ini lebih konservatif daripada teori kegagalan yang lain, dengan pertimbangan resiko dari kecelakaan pengendara dan kebutuhan dari mini baja yang termasuk ATV Analisa Pembebanan Statik Kendaraan mini baja menerima pembebanan statik dari berat kendaraan yang bekerja pada lengan atas dan bawah. Selanjutnya nilai pembebanan ini akan diaplikasikan sebagai input-an data beban untuk mengetahui hasil analisa kekuatan terhadap pembebanan statik dengan menggunakan software COSMOS. 60
23 Analisa dilakukan pada lengan bawah yang merupakan gaya reaksi dari berat kendaraan Safety factor Pembebanan Statik Untuk pembebanan statik, safety factor yang direncanakan menggunakan cara Puglsey Safety Factor [8] Penjelasan : Tabel 5.1 Safety Factor Characterisics A, B, and C Characteristic B vg g f p A = vg vg C = g f p A = g vg C = g f p A= f vg C = g f p A = p vg C = g f p Dimana: A = kualitas material, pemeliharaan dan inspeksi B = pengontrol beban berlebih pada komponen C = menganalisa keakuratan tegangan 61
24 Tabel 5.2 Safety Factor Characterisics D and E Characteristic E ns s vs D= ns s vs vs = very serious, s = serious, and ns = not serious D = bahaya pada manusia E = dampak ekonomi Adapun proses penghitungan nilai safety factor itu sendiri, dengan cara sebagai berikut : n s = n sx n sy (5.6) Nilai A : dipilih g, karena mini baja dikerjakan dalam workshop bukan dalam pabrik yang memiliki standar pemeliharaan dan inspeksi yang bagus Nilai B : dipilih g, karena beban berlebih pada kendaraan dapat diprediksi oleh tim Nilai C : dipilih f, karena analisa tegangan dilakukan oleh mahasiswa yang dianggap belum cukup ahli dalam menganalisa komponen yang serupa Nilai D : dipilih vs, pemilihan ini didasarkan karena pada pemakaiannya sangat diperlukan untuk keselamatan pengendara Nilai E : dipilih s, karena setiap tim memiliki dana yang terbatas Sehingga didapatkan nilai safety factor = (1,95)(1,4) = 2, Beban dan Tumpuan Gambar 5.7. Free body diagram 62
25 Besarnya pembebanan pada lengan bawah dengan memasukkan safety factor sebesar 2,73 adalah 1161,12 N. Posisi pembebanan maupun tumpuan pada rangka dapat dilihat pada Gambar 5.7. Gambar 5.8. Posisi beban dan tumpuan lengan bawah Pada lengan bawah posisi tumpuan ditunjukkan dengan warna hijau dimana tumpuan ini diteruskan ke rod end dan sasis. Tumpuan ini merupakan tumpuan immovable atau tetap (fixed constrain) dimana dianggap tidak ada pergerakan tumpuan tehadap sumbu x, y maupun z. Pembebanan yang di akibatkan oleh berat kendaraan terdistribusi pada ujung lengan bawah yang ditunjukkan dengan warna pink Proses Meshing Setelah memasukan data-data berupa nilai beban dan posisi pembebanan dan tumpuan, tahap berlanjut kepada proses meshing pada lengan untuk menjadikan lengan ini menjadi suatu elemen hingga. Gambar 5.9. Proses meshing lengan bawah 63
26 Dari proses meshing yang telah selesai dilakukan hasilnya dapat dilihat pada gambar 5.8. Setelah itu dilanjutkan dengan proses prosesor FEA ( Finite Element Analysis) yang memberikan solusi pada permasalahan dan membuat file tambahan yang berisi informasi mengenai defleksi pada tiap node, tegangan pada tiap elemen dan lain-lain. Tabel 5.3. Informasi mesh Mesh Information Mesh Type: Solid mesh Mesher Used: Standard Element Size: mm Tolerance: mm Quality: High Number of elements: Number of nodes: Hasil Analisa Tegangan Von Mises terhadap Pembebanan Statik Allowable stress untuk tension Untuk bending Maka untuk mengatasi tension dan bending diambil σ all = 0,6 S y, sehingga allowable stress adalah 4,26 x 10 8 Pa Gambar Tegangan von mises statik 64
27 Dari hasil analisa dapat dilihat bagian yang mengalami tegangan ditunjukkan dengan memberikan segmentasi warna pada daerah konsentrasi tegangan tersebut. Daerah yang mengalami tegangan tertinggi ditunjukkan oleh warna merah, sedangkan untuk daerah yang mengalami tegangan cukup rendah ditunjukkan dengan warna biru. Nilai von mises stress maksimum pada lengan didapat sebesar 1,01 x 10 8 Pa yang ditunjukkan dengan segmentasi warna orange. Hal ini menjelaskan bahwa lengan bawah yang telah didesain aman untuk pembebanan statis maksimum yang diberikan. Nilai gaya yang bekerja pada lengan bawah ini dapat berkurang karena terdapat shock absorber yang dapat meredam kejutan-kejutan beban sehingga mengurangi stress yang bekerja. Jadi, nilai dari hasil perhitungan tegangan yang dilakukan ini merupakan kondisi untuk tumpuan yang tetap tidak memakai peredam. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan nilai tegangan maksimal yang dapat dihasilkan dengan gaya yang bekerja terhadap lengan. Sehingga dapat diprediksi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi saat nilai tegangan tersebut tercapai, karena nilai tegangan tanpa peredam lebih besar dari pada nilai tegangan yang memakai peredam Analisa Pembebanan Dinamik Untuk pembebanan dinamik posisi beban dan tumpuan pada lengan sama dengan pembebanan statis, hanya saja nilai beban pada masing-masing tempat berubah-ubah. Perubahan nilai beban pada masing-masing posisi beban juga berbeda. Dengan kondisi permukaan bump yang sinusoidal, maka dalam pembebanan dinamik ini perubahan beban diasumsikan mengikuti grafik sinusoidal yang berubah berdasarkan fungsi waktu mengikuti persamaan berikut: Dari persamaan tersebut didapatkan gaya maksimum yang diterima lengan bawah dimana ketika semua berat pada kendaraan mini baja tertumpu dalam satu roda saja sebagai sebuah gaya yang terdistribusi. Beban berubah per 0.5 detik 65
28 dengan kondisi awal (t = 0) merupakan pembebanan statis. Satu periode perubahan beban yaitu selama 2 detik (T = 2 ; f = 0.5 Hz), dan lamanya perubahan beban ini adalah 4 detik. Gambar Berat kendaraan tertumpu pada satu roda Setelah itu nilai pembebanan tersebut dihitung tegangan utamanya dengan menggunakan software Cosmos. Tegangan (MPa) Tegangan vs waktu Waktu (s) Grafik 5.3. Perubahan nilai tegangan maksimum terhadap waktu Dari grafik 5.3 dapat diketahui mean stress (σ m ) 66
29 Dan alternating stress (σ a ) Untuk S e material AISI 4340, maka dari grafik surface finish factor for steel [7] dengan asumsi surface finish dari material polished maka diketahui nilai k f = 1; dari diameter lengan maka k s = 0,8; sedangkan k r, k t, dan k m diasumsikan nilainya 1. Karena beban yang terjadi adalah bending dan tension maka S e = 0,45 S u. Sehingga goodman line 800 Analisa kekuatan fatigue Alternating stress, σ a (MPa) S y S e Goodman line Yield Line 0 S y S ut Mean stress, σ m (MPa) Grafik 5.4. Goodman line Kegagalan fatigue dapat terjadi apabila alternating stress dan mean stress yang timbul terletak di atas Goodman line [3]. Dari grafik 5.4 maka lengan bawah yang dirancang masih dalam kategori aman untuk pembebanan dinamik. 67
30 Safety factor Pembebanan Dinamik Dari goodman line tersebut dapat diketahui safety factornya dengan menggunakan persamaan 2.4. Untuk unnotched beam nilai K f = 1, sehingga safety factor untuk pembebanan dinamik adalah Hasil Analisa Tegangan Von Mises terhadap Pembebanan Dinamik Gambar Tegangan von mises dinamik Untuk pembebanan dinamik analisa tidak cukup jika hanya menggunakan goodman line saja, oleh karena itu diperlukan analisa tegangan von mises pada lengan bawah. Pembebanan yang diberikan adalah pembebanan maksimum sebesar 2222,64 N. Tegangan Von mises maksimum untuk pembebanan dinamik pada rangka terjadi pada sebagian kecil sudut lengan sebesar 194,3 MPa. Sehingga allowable stress untuk pembebanan dinamik adalah 68
31 Kegagalan pada lengan bawah dapat terjadi apabila tegangan von mises maksimal yang timbul lebih besar dari allowable stress. Dengan besar tegangan von mises maksimal sebesar 194,3 MPa yang lebih tinggi dari pada allowable stress 171,5 MPa maka desain lengan bawah yang dirancang masih belum aman untuk pembebanan dinamik Modifikasi Lengan Untuk meminimalkan tegangan yang timbul maka dilakukan modifikasi pada lengan seperti gambar berikut. Terlihat tegangan yang tadinya terpusat pada satu area menjadi menyebar setelah dilakukan modifikasi. Didapatkan tegangan von Mises maksimum sebesar 139,1 MPa. Hal ini menunjukkan bahwa lengan bawah berada pada kondisi aman karena tegangan maksimum yang timbul masih berada dibawah allowable stress pada pembebanan dinamik. Gambar Tegangan von mises setelah modifikasi Diagram S-N Untuk memperkuat analisa maka dilakukan pendekatan yang lain yaitu dengan diagram S-N dari material AISI 4340 berdasarkan ASME Austentic Steel 69
32 Curves ditampilkan. Diagram ini didapatkan dari data base material pada Solidworks Dari diagram tersebut diketahui endurance limit dari material adalah 205 MPa. Jika alternating stress pada komponen memiliki nilai di bawah 205 MPa maka komponen tersebut akan memiliki infinite life. Sehingga pada pembebanan dinamik yang diberikan, alternating stress yang timbul sebesar 155 MPa maka dapat disimpulkan bahwa lengan bawah yang dirancang aman untuk pembebanan dinamik. (a) (b) Gambar Diagram S-N AISI 4340 Normalized (a) linear (b) log-log [9] Diagram S-N dapat ditampilkan secara linear dan log-log. Perbedaannya adalah pada log-log menggunakan logarithmic interpolation (base 10) untuk jumlah cycles dan alternating stressnya Analisa Getaran Kendaraan mini baja mengalami getaran yang terjadi akibat kondisi permukaan jalan. Dengan kondisi permukaan jalan yang berbentuk sinusoidal, jika terjadi getaran sebesar 1 cm maka rasio peredaman dari sistem suspensi untuk meredam getaran tersebut dapat diketahui dengan menggunakan persamaan Selanjutnya nilai kekakuan pegas yang diperlukan dapat diketahui. Diasumsikan kendaraan memiliki kecepatan 50 km/jam ketika melewati permukaan jalan tersebut. 70
33 Dimana X = Amplitudo getaran yang terjadi Y = Amplitudo maksimum r = Rasio peredaman W k c v=50 km/jam 5 m Gambar Analisa getaran Periode getaran sama dengan waktu yang diperlukan kendaraan ketika melewati panjang gelombang 5 m. Frekuensinya adalah Sehingga Untuk amplitudo getaran (X) 1 cm maka Maka 71
34 Nilai kekakuan pegas yang diperlukan untuk kondisi tersebut adalah Rasio peredaman juga didefinisikan sebagai perbandingan antara koefisien peredaman ( c ) dengan koefisien predaman kritis (c cr ) yang merupakan nilai batas antara keadaan overdamped dengan keadaan underdamped. Hubungannya dinyatakan sebagai : Besar c cr dapat dihitung dengan : (5.19) Maka koefisien peredamannya adalah c = r x c cr 72
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Sistem suspensi merupakan bagian yang sangat berperan untuk meningkatkan kenyamanan dalam berkendaraan, karena sistem ini adalah bagian yang menumpu atau menahan berat
BAB III KONSTRUKSI DOUBLE WISHBONE
BAB III KONSTRUKSI DOUBLE WISHBONE Suspensi double wishbone merupakan sebuah mekanisme suspensi bebas yang terdiri dari lengan-lengan (dapat berbentuk silinder berlubang, pipa, maupun batang) yang memiliki
Rancang Bangun Sistem Chassis Kendaraan Pengais Garam
SIDANG TUGAS AKHIR TM091476 Rancang Bangun Sistem Chassis Kendaraan Pengais Garam Oleh: AGENG PREMANA 2108 100 603 JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. ENGINEERING DESIGN Definisi merancang adalah merumuskan suatu konsep dan ide yang baru atau merubah konsep dan ide yang sudah ada tersebut dengan cara yang baru dalam usaha memenuhi
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Perancangan Pada penelitian ini digunakan jenis pendekatan eksperimen desain dengan menggunakan bantuan software yang dapt mensimulasikan pengujian analisis beban statis
BAB III OPTIMASI KETEBALAN TABUNG COPV
BAB III OPTIMASI KETEBALAN TABUNG COPV 3.1 Metodologi Optimasi Desain Tabung COPV Pada tahap proses mengoptimasi desain tabung COPV kita perlu mengidentifikasi masalah terlebih dahulu, setelah itu melakukan
PERANCANGAN TEKNIS BAUT BATUAN BERDIAMETER 39 mm DENGAN KEKUATAN PENOPANGAN kn LOGO
www.designfreebies.org PERANCANGAN TEKNIS BAUT BATUAN BERDIAMETER 39 mm DENGAN KEKUATAN PENOPANGAN 130-150 kn Latar Belakang Kestabilan batuan Tolok ukur keselamatan kerja di pertambangan bawah tanah Perencanaan
ANALISA KEGAGALAN POROS DENGAN PENDEKATAN METODE ELEMEN HINGGA
ANALISA KEGAGALAN POROS DENGAN PENDEKATAN METODE ELEMEN HINGGA Jatmoko Awali, Asroni Jurusan Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Metro Jl. Ki Hjar Dewantara No. 116 Kota Metro E-mail : [email protected]
PERANCANGAN SUSPENSI DEPAN PROTOTIPE CAMPAGNA T-REX CAR
PERANCANGAN SUSPENSI DEPAN PROTOTIPE CAMPAGNA T-REX CAR Febrian [1], Nazaruddin [2], Syafri [3] Laboratorium, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Riau [1] [email protected], [2] [email protected],
ANALISIS STRUKTURAL PERFORMA CHASSIS SAPUANGIN SPEED Oleh : Muhammad Fadlil Adhim
ANALISIS STRUKTURAL PERFORMA CHASSIS SAPUANGIN SPEED 2013 Oleh : Muhammad Fadlil Adhim 2110100703 Latar Belakang Partisipasi ITS Team Sapuangin di ajang Student Formula Japan 2013 BAGIAN YANG ENGINE MENENTUKAN
PerancanganMekanisme UjiKarakteristikSistem Kemudi
PerancanganMekanisme UjiKarakteristikSistem Kemudi oleh M Reza Pahlevi Dosen Pembimbing : Dr. Eng. Unggul Wasiwitono, ST. M Eng. Sc. Page 1 Latar Belakang Page 2 Perumusan Masalah 1. Bagaimana merancang
Sistem suspensi dipasang diantara rangka kendaraan dengan poros roda, supaya getaran atau goncangan yang terjadi tidak di teruskan ke body.
SISTEM SUSPENSI Sistem suspensi dipasang diantara rangka kendaraan dengan poros roda, supaya getaran atau goncangan yang terjadi tidak di teruskan ke body. SPRUNG WEIGHT DAN UNSPRUNG WEIGHT Pada umumnya
Alternatif Material Hood dan Side Panel Mobil Angkutan Pedesaan Multiguna
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, No. 1, (2015) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) E-1 Alternatif Material Hood dan Side Panel Mobil Angkutan Pedesaan Multiguna Muhammad Ihsan dan I Made Londen Batan Jurusan Teknik
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Diagram Alur Proses Perencanaan Proses perencanaan mesin modifikasi camshaft ditunjukkan pada diagram alur pada Gambar 3.1: Mulai Pengamatan dan pengumpulan data Perencanaan
ANALISA PENGARUH BENTUK PROFIL PADA RANGKA KENDARAAN RINGAN DENGAN METODE ELEMEN HINGGA
ANALISA PENGARUH BENTUK PROFIL PADA RANGKA KENDARAAN RINGAN DENGAN METODE ELEMEN HINGGA Didi Widya Utama dan Roby Department of Mechanical Engineering, Universitas Tarumanagara e-mail: [email protected]
STUDI KEKUATAN SPUR GEAR DENGAN PROFIL GIGI ASYMMETRIC INVOLUTE DAN SYMMETRIC INVOLUTE. Disusun oleh Mohamad Zainulloh Rizal
STUDI KEKUATAN SPUR GEAR DENGAN PROFIL GIGI ASYMMETRIC INVOLUTE DAN SYMMETRIC INVOLUTE Disusun oleh Mohamad Zainulloh Rizal 2110100112 STUDI KEKUATAN SPUR GEAR DENGAN PROFIL GIGI ASYMMETRIC INVOLUTE DAN
ANALISIS TEGANGAN, DEFLEKSI, DAN FAKTOR KEAMANAN PADA PEMODELAN FOOTSTEP HOLDER SEPEDA MOTOR Y BERBASIS SIMULASI ELEMEN HINGGA
Available online at Website http://ejournal.undip.ac.id/index.php/rotasi ANALISIS TEGANGAN, DEFLEKSI, DAN FAKTOR KEAMANAN PADA PEMODELAN FOOTSTEP HOLDER SEPEDA MOTOR Y BERBASIS SIMULASI ELEMEN HINGGA Slamet
BAB IV PROSES PERANCANGAN
BAB IV PROSES PERANCANGAN 4.1 Rancangan Teoritis Rancangan teoritis yang ideal perlu ditetapkan sebagai acuan perancangan dan pemilihan bahan. Dengan mempertimbangkan kondisi pembebanan dan spesifikasi
Jurnal Teknika Atw 1
PENGARUH BENTUK PENAMPANG BATANG STRUKTUR TERHADAP TEGANGAN DAN DEFLEKSI OLEH BEBAN BENDING Agung Supriyanto, Joko Yunianto P Program Studi Teknik Mesin,Akademi Teknologi Warga Surakarta ABSTRAK Dalam
PERANCANGAN DAN PENGEMBANGAN CONNECTING ROD DAN CRANKSHAFT MESIN OTTO SATU SILINDER EMPAT LANGKAH BERKAPASITAS 65 CC. Widiajaya
PERANCANGAN DAN PENGEMBANGAN CONNECTING ROD DAN CRANKSHAFT MESIN OTTO SATU SILINDER EMPAT LANGKAH BERKAPASITAS 65 CC Widiajaya 0906631446 Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Indonesia
ANALISIS DEFLEKSI DAN TEGANGAN SHOCK ABSORBER RODA BELAKANG SEPEDA MOTOR YAMAHA JUPITER
ANALISIS DEFLEKSI DAN TEGANGAN SHOCK ABSORBER RODA BELAKANG SEPEDA MOTOR YAMAHA JUPITER R. Bagus Suryasa Majanasastra 1) 1) Dosen Program Studi Teknik Mesin - Universitas Islam 45, Bekasi Email : [email protected]
BAB IV ANALISA DESAIN MEKANIK CRUISE CONTROL
BAB IV ANALISA DESAIN MEKANIK CRUISE CONTROL Pengukuran Beban Tujuan awal dibuatnya cruise control adalah membuat alat yang dapat menahan gaya yang dihasilkan pegas throttle. Untuk itu perlu diketahui
BAB IV HASIL DAN ANALISIS 4.1 HASIL PERHITUNGAN DENGAN SUDUT KEMIRINGAN KEARAH DEPAN
30 BAB IV HASIL DAN ANALISIS 4.1 HASIL PERHITUNGAN DENGAN SUDUT KEMIRINGAN KEARAH DEPAN Tabel 4.2 Kapasitas beban angkat dengan variasi kemiringan sudut ke arah depan. Kemiringan Linde H25D No Sudut ke
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
digilib.uns.ac.id BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tahap Pengujian Simulasi Sebelum melakukan pengujian langkah yang dilakukan dalam simulasi antara lain penentuan pemodelan frame sepeda, penentuan sifat
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Suspensi Suspensi adalah kumpulan komponen tertentu yang dirancang untuk menyerap kejutan dari permukaan jalan yang bergelombang sehingga menambah kenyamanan berkendara
ANALISA SISTEM SUSPENSI KENDARAAN MULTIGUNA PEDESAAN (GEA)
1 ANALISA SISTEM SUSPENSI KENDARAAN MULTIGUNA PEDESAAN (GEA) Amirul Huda dan Unggul Wasiwitono,ST.,M.Eng.Sc,Dr.Eng Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Tugas Akhir ANALISA PENGARUH TEBAL DAN GEOMETRI SPOKE BERBENTUK SQUARE BAN TANPA ANGIN TERHADAP KEKAKUAN RADIAL DAN LATERAL
Tugas Akhir ANALISA PENGARUH TEBAL DAN GEOMETRI SPOKE BERBENTUK SQUARE BAN TANPA ANGIN TERHADAP KEKAKUAN RADIAL DAN LATERAL» Oleh : Rahmad Hidayat 2107100136» Dosen Pembimbing : Dr.Ir.Agus Sigit Pramono,DEA
Analisis Kekuatan dan Deformasi Piston Mesin Bensin-Bio Etanol dan Gas dengan Injeksi Langsung untuk Kendaraan Nasional dengan Simulasi Numerik
Analisis Kekuatan dan Deformasi Piston Mesin Bensin-Bio Etanol dan Gas dengan Injeksi Langsung untuk Kendaraan Nasional dengan Simulasi Numerik Oleh : Moch. Wahyu Kurniawan 219172 Jurusan Teknik Mesin
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu Dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Lab. Mekanika Struktur Jurusan Teknik Mesin Universitas Lampung untuk mensimulasikan kemampuan tangki toroidal penampang
Sumber :
Sepeda motor merupakan kendaraan beroda dua yang ditenagai oleh sebuah mesin. Penggunaan sepeda motor di Indonesia sangat populer karena harganya yang relatif murah. Sumber : http://id.wikipedia.org Rachmawan
BEARING STRESS PADA BASEPLATE DENGAN CARA TEORITIS DIBANDINGKAN DENGAN PROGRAM SIMULASI ANSYS
BEARING STRESS PADA BASEPLATE DENGAN CARA TEORITIS DIBANDINGKAN DENGAN PROGRAM SIMULASI ANSYS TUGAS AKHIR Diajukan untuk melengkapi tugas tugas dan melengkapi syarat untuk menempuh Ujian Sarjana Teknik
PERENCANAAN LAYOUT DAN ANALISIS STABILITAS PADA KENDARAAN HYBRID RODA TIGA HYVI SAPUJAGAD
PERENCANAAN LAYOUT DAN ANALISIS STABILITAS PADA KENDARAAN HYBRID RODA TIGA HYVI SAPUJAGAD Oleh: Bagus Kusuma Ruswandiri 2108100120 Dosen Pembimbing: Prof. Ir. I Nyoman Sutantra, M.Sc., Ph.D. Latar Belakang
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Perencanaan Rangka Mesin Peniris Minyak Proses pembuatan mesin peniris minyak dilakukan mulai dari proses perancangan hingga finishing. Mesin peniris minyak dirancang
Analisa Variable Moment of Inertia (VMI) Flywheel pada Hydro-Shock Absorber Kendaraan
B-542 JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5 No. 2 (2016) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) Analisa Variable Moment of Inertia (VMI) Flywheel pada Hydro-Shock Absorber Kendaraan Hasbulah Zarkasy, Harus Laksana Guntur
Redesign Sistem Peredam Sekunder dan Analisis Pengaruh Variasi Nilai Koefisien Redam Terhadap Respon Dinamis Kereta Api Penumpang Ekonomi (K3)
E33 Redesign Sistem Peredam Sekunder dan Analisis Pengaruh Variasi Nilai Koefisien Redam Terhadap Respon Dinamis Kereta Api Penumpang Ekonomi (K3) Dewani Intan Asmarani Permana dan Harus Laksana Guntur
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN A. Tahapan Penelitian Dalam bab ini akan dijabarkan langkah langkah yang diambil dalam melaksanakan penelitian. Berikut adalah tahapan tahapan yang dijalankan dalam penelitian
RANCANG BANGUN RANGKA MOBIL TIPE URBAN CONCEPT BERPENUMPANG TUNGGAL DENGAN KAPASITAS MAKSIMUM 70 KG
RANCANG BANGUN RANGKA MOBIL TIPE URBAN CONCEPT BERPENUMPANG TUNGGAL DENGAN KAPASITAS MAKSIMUM 70 KG *Andre Krisna Putra 1, Susilo Adi Widyanto 2 1 Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas
III. METODE PENELITIAN
33 III. METODE PENELITIAN Metode penelitian adalah suatu cara yang digunakan dalam penelitian, sehingga pelaksanaan dan hasil penelitian bisa untuk dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Penelitian ini menggunakan
SIDANG TUGAS AKHIR: ANALISA STRUKTUR RANGKA SEPEDA FIXIE DENGAN MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA Andra Berlianto ( )
SIDANG TUGAS AKHIR: ANALISA STRUKTUR RANGKA SEPEDA FIXIE DENGAN MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA Andra Berlianto (2107 100 161) Abstrak Kekuatan rangka merupakan hal utama yang harus diperhatikan dalam
ANALISIS DESAIN MOBILE STAND VOLVO FH16-SST45 MENGGUNAKAN CATIA V5
ANALISIS DESAIN MOBILE STAND VOLVO FH16-SST45 MENGGUNAKAN CATIA V5 Akhmad Faizin, Dipl.Ing.HTL, M.T. Jurusan Teknik Mesin, Politeknik Negeri Malang E-mail: [email protected] ABSTRAK Mobile Stand
ANALISIS DESAIN MOBILE STAND VOLVO FH16-SST45 MENGGUNAKAN CATIA V5
ANALISIS DESAIN MOBILE STAND VOLVO FH16-SST45 MENGGUNAKAN CATIA V5 Akhmad Faizin, Dipl.Ing.HTL, M.T. Jurusan Teknik Mesin, Politeknik Negeri Malang E-mail: [email protected] ABSTRAK Mobile Stand
LAMPIRAN A. Tabel A-1 Angka Praktis Plat Datar
LAMPIRAN A Tabel A-1 Angka Praktis Plat Datar LAMPIRAN B Tabel B-1 Analisa Rangkaian Lintas Datar 80 70 60 50 40 30 20 10 F lokomotif F gerbong v = 60 v = 60 1 8825.959 12462.954 16764.636 22223.702 29825.540
KEMAMPUAN PENYERAPAN ENERGI CRASH BOX MULTI SEGMEN MENGGUNAKAN SIMULASI KOMPUTER
KEMAMPUAN PENYERAPAN ENERGI CRASH BOX MULTI SEGMEN MENGGUNAKAN SIMULASI KOMPUTER Halman 1, Moch. Agus Choiron 2, Djarot B. Darmadi 3 1-3 Program Magister Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya
ANALISA DESAIN STRUKTUR DAN KESTABILAN SUSPENSI PASSIVE PADA SMART PERSONAL VEHICLE 2 RODA
SIDANG TUGAS AKHIR ANALISA DESAIN STRUKTUR DAN KESTABILAN SUSPENSI PASSIVE PADA SMART PERSONAL VEHICLE 2 RODA Disusun oleh Yonathan A. Kapugu (2106100019) Dosen pembimbing Prof. Ir. IN Sutantra, M.Sc.,
Surya Hadi Putranto
TUGAS AKHIR Rancang Bangun Speed Bump dan Analisa Respon Speed Bump Terhadap Kecepatan Kendaraan Dosen Pembimbing : Ir. Abdul Aziz Achmad Surya Hadi Putranto 2105100163 Latar Belakang Dalam kehidupan sehari-hari,
III. METODELOGI. satunya adalah menggunakan metode elemen hingga (Finite Elemen Methods,
III. METODELOGI Terdapat banyak metode untuk melakukan analisis tegangan yang terjadi, salah satunya adalah menggunakan metode elemen hingga (Finite Elemen Methods, FEM). Metode elemen hingga adalah prosedur
Perancangan Konstruksi Turbin Angin di Atas Hybrid Energi Gelombang Laut
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 3, No. 2, (2013) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) G-168 Perancangan Konstruksi Turbin Angin di Atas Hybrid Energi Gelombang Laut Musfirotul Ula, Irfan Syarief Arief, Tony Bambang
PERANCANGAN MEKANISME ALAT ANGKUT KAPASITAS 10 TON TESIS
PERANCANGAN MEKANISME ALAT ANGKUT KAPASITAS 10 TON TESIS Karya tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Universitas Pasundan Bandung AGUS SALEH NPM :128712004 PROGRAM STUDI
ANALISA RANCANGAN DESAIN SHOCK ABSORBER BELAKANG PADA MOTOR YAMAHA JUPITER. Paridawati 1)
ANALISA RANCANGAN DESAIN SHOCK ABSORBER BELAKANG PADA MOTOR YAMAHA JUPITER Paridawati 1) 1) Dosen Program Studi Teknik Mesin - Universitas Islam 45, Bekasi ABSTRAK Shock absorber merupakan komponen penting
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Skema Dan Prinsip Kerja Alat Prinsip kerja mesin pemotong krupuk rambak kulit ini adalah sumber tenaga motor listrik ditransmisikan kepulley 2 dan memutar pulley 3 dengan
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 6, No. 1, (2017) ISSN: ( Print) F 113
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 6, No. 1, (017) ISSN: 337-3539 (301-971 Print) F 113 Pemodelan dan Analisis Pengaruh Perubahan Parameter Orifice Sistem Hidrolik Terhadap Gaya Redam yang Dihasilkan dan Respon Dinamis
PERANCANGAN DAN PENGEMBANGAN CYLINDER BLOCK DAN CRANKCASE MESIN OTTO SATU SILINDER EMPAT LANGKAH BERKAPASITAS 65CC
PERANCANGAN DAN PENGEMBANGAN CYLINDER BLOCK DAN CRANKCASE MESIN OTTO SATU SILINDER EMPAT LANGKAH BERKAPASITAS 65CC Frendy Rian Saputro 96631194 Departemen Teknik Mesin. Fakultas Teknik Universitas Indonesia
BAB IV METODE PENELITIAN
BAB IV METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian eksperimen, Penelitian ini menggunakan baja sebagai bahan utama dalam penelitian. Dalam penelitian ini profil baja
BAB III ANALISIS SISTEM SUSPENSI DEPAN
35 BAB III ANALISIS SISTEM SUSPENSI DEPAN 3.1. Daftar Spesifikasi Kendaraan 1) Spesifikasi Kendaraan Toyota Kijang Innova 2.0 V M/T Tahun 2004 Tabel 3.1. Spesifikasi Kendaraan Toyota Kijang Innova 2.0
MODIFIKASI DESAIN RANGKA SANDARAN KURSI PADA PERANGKAT RENOGRAF TERPADU
MODIFIKASI DESAIN RANGKA SANDARAN KURSI PADA PERANGKAT RENOGRAF TERPADU Muhammad Awwaluddin, Tri Hardjanto, Sanda, Joko Sumanto, Benar Bukit PRFN BATAN, Kawasan Puspiptek Gd 71, Tangerang Selatan - 15310
PEGAS. Keberadaan pegas dalam suatu system mekanik, dapat memiliki fungsi yang berbeda-beda. Beberapa fungsi pegas adalah:
PEGAS Ketika fleksibilitas atau defleksi diperlukan dalam suatu system mekanik, beberapa bentuk pegas dapat digunakan. Dalam keadaan lain, kadang-kadang deformasi elastis dalam suatu bodi mesin merugikan.
METODE PENELITIAN. Model tabung gas LPG dibuat berdasarkan tabung gas LPG yang digunakan oleh
III. METODE PENELITIAN Model tabung gas LPG dibuat berdasarkan tabung gas LPG yang digunakan oleh rumah tangga yaitu tabung gas 3 kg, dengan data: Tabung 3 kg 1. Temperature -40 sd 60 o C 2. Volume 7.3
BAB III PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN DESAIN RANGKA DAN BODY. Perhitungan Kekuatan Rangka. Menghitung Element Mesin Baut.
BAB III PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN DESAIN RANGKA DAN BODY.1 Diagram Alir Proses Perancangan Data proses perancangan kendaraan hemat bahan bakar seperti terlihat pada diagram alir berikut ini : Mulai Perhitungan
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Dari konsep yang telah dikembangkan, kemudian dilakukan perhitungan pada komponen komponen yang dianggap kritis sebagai berikut: Tiang penahan beban maksimum 100Kg, sambungan
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Pemodelan Benda Uji pada Program AutoCAD 1. Penamaan Benda Uji Variasi yang terdapat pada benda uji meliputi diameter lubang, sudut lubang, jarak antar lubang, dan panjang
BAB II DASAR TEORI Suspensi
digilib.uns.ac.id BAB II DASAR TEORI 2. 1. Suspensi Suspensi adalah suatu sistem yang berfungsi meredam kejutan, getaran yang terjadi pada kendaraan akibat permukaan jalan yang tidak rata. Suspensi dapat
TEGANGAN MAKSIMUM DUDUKAN STANG SEPEDA: ANALISIS DAN MODIFIKASI PERANCANGAN
TEGANGAN MAKSIMUM DUDUKAN STANG SEPEDA: ANALISIS DAN MODIFIKASI PERANCANGAN Ridwan Saidi 1, Cokorda Prapti Mahandari 2 1 Pusat Studi Otomotif Universitas Gunadarma Jl. Akses UI Cimanggis Depok. 2 Fakultas
BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN
BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN 3.1 Diagram Alir Proses Perancangan Proses perancangan konstruksi mesin pengupas serabut kelapa ini terlihat pada Gambar 3.1. Mulai Survei alat yang sudah ada dipasaran
PERANCANGAN DAN ANALISIS PEMBEBANAN GERGAJI RADIAL 4 ARAH
PERANCANGAN DAN ANALISIS PEMBEBANAN GERGAJI RADIAL 4 ARAH Michael Wijaya, Didi Widya Utama dan Agus Halim Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Tarumanagara, Jakarta e-mail: [email protected]
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
V. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil rancangan transporter tandan buah segar tipe trek kayu dapat dilihat pada Gambar 39. Transporter ini dioperasikan oleh satu orang operator dengan posisi duduk. Besar gaya
BAB 4 PENGUJIAN LABORATORIUM
BAB 4 PENGUJIAN LABORATORIUM Uji laboratorium dilakukan untuk mengetahui kekuatan dan perilaku struktur bambu akibat beban rencana. Pengujian menjadi penting karena bambu merupakan material yang tergolong
ANALISIS PENGARUH RAKE ANGLE TERHADAP DISTRIBUSI TEGANGAN PADA EXCAVATOR BUCKET TEETH MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA
C.7 ANALISIS PENGARUH RAKE ANGLE TERHADAP DISTRIBUSI TEGANGAN PADA EXCAVATOR BUCKET TEETH MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA Sumar Hadi Suryo 1, Hendrawan Surya Hadijaya 2, Moch. Fihki Fahrizal 3 Department
PERANCANGAN KONSTRUKSI PADA SEGWAY
PERANCANGAN KONSTRUKSI PADA SEGWAY Alvin Soesilo 1), Agustinus Purna Irawan 1) dan Frans Jusuf Daywin 2) 1) Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Tarumanagara, Jakarta 2) Teknik Pertanian
IV. ANALISA PERANCANGAN
IV. ANALISA PERANCANGAN Mesin penanam dan pemupuk jagung menggunakan traktor tangan sebagai sumber tenaga tarik dan diintegrasikan bersama dengan alat pembuat guludan dan alat pengolah tanah (rotary tiller).
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Personal Computer,
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Alat dan Bahan Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Personal Computer, Sofware ANSYS dan perangkat lunak lainnya. Bahan yang digunakan adalah data Concrete
Analisis Kenyamanan serta Redesain Pegas Suspensi Mobil Toyota Fortuner 4.0 V6 SR (AT 4x4)
Analisis Kenyamanan serta Redesain Pegas Suspensi Mobil Toyota Fortuner 4.0 V6 SR (AT 4x4) Puja Priyambada dan I Nyoman Sutantra Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh
BAB 2 LANDASAN TEORI. Metode ini digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi pada
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Metode Kendali Umpan Maju Metode ini digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi pada fenomena berkendara ketika berbelok, dimana dilakukan pemodelan matematika yang
BAB III PEMODELAN STRUKTUR
BAB III Dalam tugas akhir ini, akan dilakukan analisis statik ekivalen terhadap struktur rangka bresing konsentrik yang berfungsi sebagai sistem penahan gaya lateral. Dimensi struktur adalah simetris segiempat
BAB 4 STUDI KASUS. Sandi Nurjaman ( ) 4-1 Delta R Putra ( )
BAB 4 STUDI KASUS Struktur rangka baja ringan yang akan dianalisis berupa model standard yang biasa digunakan oleh perusahaan konstruksi rangka baja ringan. Model tersebut dianggap memiliki performa yang
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Poros Poros merupakan suatu bagian stasioner yang beputar, biasanya berpenampang bulat, dimana terpasang elemen-elemen seperti roda gigi (gear), pulley, flywheel, engkol,
11 Firlya Rosa, dkk;perhitungan Diameter Minimum Dan Maksimum Poros Mobil Listrik Tarsius X3 Berdasarkan Analisa Tegangan Geser Dan Faktor Keamanan
Machine; Jurnal Teknik Mesin Vol. No. 1, Januari 2017 ISSN : 2502-2040 PERHITUNGAN DIAMETER MINIMUM DAN MAKSIMUM POROS MOBIL LISTRIK TARSIUS X BERDASARKAN ANALISA TEGANGAN GESER DAN FAKTOR KEAMANAN Firlya
BAB III ANALISIS KASUS
A. Analisis BAB III ANALISIS KASUS Penulis mengumpulkan data-data teknis pada mobil Daihatsu Gran Max Pick Up 3SZ-VE dalam menganalisis sistem suspensi belakang untuk kerja pegas daun (leaf spring), dimana
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA. Berikut adalah data data awal dari Upper Hinge Pass yang menjadi dasar dalam
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1. Data Data Awal Analisa Tegangan Berikut adalah data data awal dari Upper Hinge Pass yang menjadi dasar dalam analisa tegangan ini, baik perhitungan analisa tegangan
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 7, No. 1 (2018), ( Print)
E27 Rancang Bangun dan Analisis Karakteristik Dinamis Atmospheric Pressure Shock Absorber (APSA) dengan Diameter Silinder 60 mm dan Diameter Orifice 1 mm Pada Kendaraan Angkut Bima Adisetya Putra dan Harus
Pengembangan Dan Studi Karakteristik Prototipe Regenerative Shock Absorber Sistem Hidrolik
ISSN Cetak: 2087-4286; ISSN On Line: 2580-6017 Pengembangan Dan Studi Karakteristik Prototipe Regenerative Shock Absorber Sistem Hidrolik 1 Kadaryono, 2 Mualifi Usman 1,2 Teknik Mesin, Universitas Darul
Desain dan Simulasi Frame dan Bodi Kendaraan Konsep Urban Menggunakan Software CAD
Available online at Website http://ejournal.undip.ac.id/index.php/rotasi Desain dan Simulasi Frame dan Bodi Kendaraan Konsep Urban Menggunakan Software *Agus Mukhtar, Yuris Setyoadi, Aan Burhanuddin Jurusan
SISTEM SUSPENSI & BAN
SISTEM SUSPENSI & BAN SISTEM SUSPENSI URAIAN Sistem suspensi terletak diantara bodi kendaraan dan roda-roda, dan dirancang untuk menyerap kejutan dari permukaan jalan sehingga menambah kenyamanan. Komponen
ANALISA KEGAGALAN LENGAN AYUN ASTREA SUPRA 100 AKIBAT MELEWATI JALAN BERLUBANG
ANALISA KEGAGALAN LENGAN AYUN ASTREA SUPRA 100 AKIBAT MELEWATI JALAN BERLUBANG ANANTA HIKMAH G NRP. 2105100132 Dosen Pembimbing Ir. J. Lubi BAB 1 PENDAHULUAN Bab ini berisi tentang latar belakang dari
Bab II STUDI PUSTAKA
Bab II STUDI PUSTAKA 2.1 Pengertian Sambungan, dan Momen 1. Sambungan adalah lokasi dimana ujung-ujung batang bertemu. Umumnya sambungan dapat menyalurkan ketiga jenis gaya dalam. Beberapa jenis sambungan
Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Mesin ABSTRAKSI
PENGARUH BEBAN DAN TEKANAN UDARA PADA DISTRIBUSI TEGANGAN VELG JENIS LENSO AGUS EFENDI Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Mesin ABSTRAKSI Velg merupakan komponen utama dalam sebuah kendaraan.
STRESS ANALYSIS PADA STAND SHOCK ABSORBERS SEPEDA MOTOR DENGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE INVENTOR 2015
STRESS ANALYSIS PADA STAND SHOCK ABSORBERS SEPEDA MOTOR DENGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE INVENTOR 2015 Asroni Jurusan Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Metro Lampung Jl.Ki Hajar Dewantara No.166 Kota Metro
BAB II LANDASAN TEORI. seperti mesin, suspensi transmisi serta digunakan untuk menjaga mobil agar
7 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Chassis Chassis merupakan komponen utama pada kendaraan yang terbuat dari material kuat seperti besi dan baja, yang di buat dengan struktur dan perhitungan yang presisi
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 2, (2012) ISSN: 2301-9271 1
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 2, (2012) ISSN: 2301-9271 1 Analisa Kestabilan Arah pada Kendaraan Formula Sapu Angin Speed Berdasarkan Variasi Posisi Titik Berat, Kecepatan dan Tes Dinamik Student Formula
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Data-data Umum Jembatan Beton Prategang-I Bentang 21,95 Meter Gambar 4.1 Spesifikasi jembatan beton prategang-i bentang 21,95 m a. Spesifikasi umum Tebal lantai jembatan
ANALISIS PENGARUH TINGKAT REDAMAN SHOCK UPSIDE DOWN PADA KENDARAAN BERMOTOR YAMAHA BYSON 150 CC
ANALISIS PENGARUH TINGKAT REDAMAN SHOCK UPSIDE DOWN PADA KENDARAAN BERMOTOR YAMAHA BYSON 150 CC Dedy Muji Prasetyo, Eko Prasetyo Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Unversitas Pancasila [email protected],
OPTIMASI DESAIN SIRIP PENGUAT PADA BANGKU PLASTIK
OPTIMASI DESAIN SIRIP PENGUAT PADA BANGKU PLASTIK Didi Widya Utama Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Tarumanagara, Jakarta e-mail: [email protected] Abstrak Peningkatan kualitas
METODOLOGI PENELITIAN
III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mekanika Struktur Jurusan Teknik Mesin Universitas Lampung. Penelitian ini dilaksanakan mulai dari bulan
Session 1 Konsep Tegangan. Mekanika Teknik III
Session 1 Konsep Tegangan Mekanika Teknik III Review Statika Struktur didesain untuk menerima beban sebesar 30 kn Struktur tersebut terdiri atas rod dan boom, dihubungkan dengan sendi (tidak ada momen)
Gambar 2.1 ladder frame chassis
4 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Frame Chassis Sasis atau frame chassis atau frame assy dibidang otomotif adalah sebuah rangka pada kendaraan yang berfungsi menopang seluruh komponen kendaraan, dan menjadi
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR
BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Skema Dan Prinsip Kerja Alat Prinsip kerja mesin pencacah rumput ini adalah sumber tenaga motor listrik di transmisikan ke poros melalui pulley dan v-belt. Sehingga pisau
Oleh: Bayu Wijaya Pembimbing: Dr. Ir. Agus Sigit Pramono, DEA
Oleh: Bayu Wijaya 2108100707 Pembimbing: Dr. Ir. Agus Sigit Pramono, DEA Latar Belakang Perumusan Masalah Bentuk, ukuran, dan material dari dudukan winch agar aman saat menarik beban. Bentuk, ukuran, dan
Pengembangan Penyangga Box Mobil Pick Up Multiguna Pedesaan
1 Pengembangan Penyangga Box Mobil Pick Up Multiguna Pedesaan Hulfi Mirza Hulam Ahmad dan Prof. Dr. Ing. Ir. I Made Londen Batan, M.Eng Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi
Analisa Pemasangan Ekspansi Loop Akibat Terjadinya Upheaval Buckling pada Onshore Pipeline
Sidang Tugas Akhir Analisa Pemasangan Ekspansi Loop Akibat Terjadinya Upheaval Buckling pada Onshore Pipeline HARIONO NRP. 4309 100 103 Dosen Pembimbing : 1. Dr. Ir. Handayanu, M.Sc 2. Yoyok Setyo H.,ST.MT.PhD
BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1 Mesin CNC turning
45 BAB II DASAR TEORI 2.1 Mesin CNC Mesin CNC adalah mesin perkakas otomatis yang dapat diprogram secara numerik melalui komputer yang kemudian disimpan pada media penyimpanan. Mesin CNC terdiri dari beberapa
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2013
ANALISIS SIMULASI STRUKTUR CHASSIS MOBIL MESIN USU BERBAHAN BESI STRUKTUR TERHADAP BEBAN STATIK DENGAN MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK ANSYS 14.5 SKRIPSI Skripsi Yang Diajukan Untuk Melengkapi Syarat Memperoleh
