IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "IV. HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Tinjauan Umum Lokasi Penggilingan Padi Kelurahan Situ Gede adalah suatu kelurahan yang berada di Kecamatan Bogor Barat. Berdasarkan data monografi Kelurahan Situ Gede pada tahun 2010, Kelurahan Situ Gede mempunyai luas wilayah sebesar Ha. Kelurahan ini dibatasi oleh kali Cisadane disebelah utara, kali Sindang Barang disebelah selatan, Desa Cikarawang disebelah barat, dan Kelurahan Bubulak disebelah timur. Ketinggian tanah di Kelurahan Situ Gede adalah 250 m dari permukaan laut. Suhu udara rata-rata sebesar 24.9 C 25.8 C. Jarak Kelurahan Situ Gede dari pusat pemerintahan Kecamatan sejauh lima km. Jarak dari Kelurahan ke ibukota provinsi sejauh 160 km dan jarak dari kelurahan ke ibukota Negara sejauh 100 km. Sebagian besar tanah di Kelurahan Situ Gede digunakan untuk lahan sawah. Lahan sawah yang terdapat di Kelurahan Situ Gede sebesar 65 Ha. Hal ini yang mendorong sebagian besar besar penduduk kelurahan Situ Gede bekerja sebagai petani atau pun buruh tani. Jumlah penduduk di Kelurahan Situ Gede sebesar 7,941 orang, yang terdiri dari 4,048 orang laki-laki dan 2893 orang perempuan. Jumlah kelompok tani yang berada di Kelurahan Situ Gede sebanyak tiga kelompok. Akan tetapi kelompok tani tani tersebut kurang berjalan, sehingga para petani cenderung mengolah lahan sawahnya sendiri. Salah satu penyebab kurang berjalannya kelompok tani yang terdapat di Kelurahan Situ gede adalah kebanyakan lahan sawah yang terdapat di Kelurahan Situ Gede bukan merupakan lahan milik petani. Petani yang merupakan penduduk Kelurahan Situ Gede hanya sebagai buruh tani yang menyewa lahan sawah. Pemilik lahan sawah hanya datang setiap musim panen atau sesuai perjanjian dengan petani yang menyewa lahan tersebut. Di Kelurahan Situ Gede terdapat dua unit pelayanan jasa penggilingan padi. Penggilingan padi milik bapak Kardi adalah penggilingan padi terbesar dan tertua di Kelurahan Situ Gede, sehingga penulis memilih penggilingan tersebut sebagai lokasi pengamatan. Hal ini dilakukan dengan harapan pengamatan yang dilakukan dapat mewakili unit pelayanan jasa penggilingan padi lain di Kelurahan Situ Gede. Penggilingan padi milik bapak Kardi berdiri tahun 1980 dan lokasi penggilingan termasuk strategis karena dikelilingi oleh sawah. Gambar 2. Penggilingan padi milik Bapak Kardi 15

2 Fasilitas terdapat di penggilingan padi tersebut antara lain bangunan berukuran 4m x 6m, lantai jemur, mesin penggilingan yang berupa huller dan polisher,serta timbangan. Lantai jemur yang terdapat di penggilingan berukuran 6m x 9m yang dapat menampung kg GKP. Untuk menjemur biasanya tidak dikenai biaya karena petani yang menjemur padinya di penjemuran milik penggilingan tersebut akan menggiling padinya di penggilingan ini. Namun ada juga petani yang membawa gabah yang sudah siap digiling menjadi beras. Gambar 3. Lantai Jemur Mesin huller yang terdapat di penggilingan adalah huller model LM 24 buatan china diproduksi tahun 1977 bertenaga 5.5 kw, berat 115 kg, mempunyai putaran 1,050 rpm, dan mempunyai kapasitas giling sebesar 1000 kg GKG/jam. Mesin polisher yang terdapat di penggilingan adalah polisher model N-70F buatan china, bertenaga kw, berat 185 kg, mempunyai putaran rpm, dan berkapasitas 1,100-1,200 kg/jam. Untuk menggerakan huller dan polisher diperlukan dua buah mesin penggerak, yaitu mesin diesel Kubota 8.5 PK untuk menggerakan huller (merk LM 24) sebesar 7.4 PK dan mesin diesel Kubota 16 PK untuk menggerakan polisher (merk N-70 F) sebesar 14 PK. Fasilitas lain yang terdapat di penggilingan adalah timbangan beras yang mempunyai kapasitas menimbang sampai 500 kg. Petani yang menggiling padinya ke penggilingan ini sebagian besar adalah petani yang terdapat disekitar penggilingan. Hanya sedikit petani dari luar kelurahan Situ Gede yang menggiling padinya ke penggilingan ini, biasanya petani yang berasal dari Cikarawang dan Bubulak. Jenis padi yang digiling di penggilingan adalah pandan wangi. Hasil samping penggiliingan yang berupa sekam dan bekatul biasanya diambil secara gratis oleh petani yang bersangkutan atau dibiarkan begitu saja di penggilingan. Jika sekam tertumpuk terus, sekam akan dibuang atau dibakar di sebelah penggilingan. Umumnya petani yang terdapat di Kelurahan Situ Gede menanam padi 2-3 musim dalam setahun. Jadwal tanam petani di Kelurahan Situ Gede biasanya bergilir. Jarak waktu tanam tiap petak sawah antara petani yang satu dengan yang lainnya biasanya berbeda 1-2 minggu. Hal ini dilakukan agar pada saat panen tidak bersamaan dan diharapkan sepanjang tahun ada petak sawah yang panen. Biasanya pada saat panen, petani tidak langsung menggiling padi seluruhnya, tetapi juga ada yang disimpan untuk persediaan makan selama 16

3 musim tanam. Jumlah panen yang tinggi biasanya pada bulan Mei, Juni, Juli, dan pada saat mendekati hari raya Idul Fitri. Perkiraan hari kerja adalah 26 hari dalam satu bulan. Proses penggilingan dimulai dari pemecahan kulit dengan memakai mesin pemecah kulit (huller). Pemecahan kulit biasanya dilakukan sebanyak dua kali. Setelah proses pemecahan kulit dilanjutkan dengan proses pemutihan beras dengan memakai mesin pemutih (polisher). Proses pemecahan kulit dilakukan hanya satu kali dan beras yang diperoleh tidak dipisahkan berdasarkan ukuran beras. Beras kepala, beras patah dan menir yang dihasilkan oleh proses penggilingan seluruhnya ditimbang untuk mengukur besarnya biaya yang dikenakan ke pemilik beras. Rendemen giling rata-rata yang dihasilkan pada unit penggilingan padi adalah 63.76%. Nilai rendemen tersebut terdiri dari beras kepala, beras patah, dan menir yang ikut tercampur. Jika menir tidak dimasukan dalam perhitungan rendemen tersebut, maka nilai rendemen giling yang diperoleh akan lebih rendah lagi. Rendahnya rendemen giling tersebut dipengaruhi karena faktor keadaan mesin-mesin penggilingan yang ada pada penggilingan tersebut sudah melewati nilai ekonomisnya sehingga tidak dapat bekerja secara maksimal. Selain itu varietas padi yang digiling dan kondisi gabah yang akan digiling (kadar air, kemurnian gabah, dan sebagainya) juga mempengaruhi rendemen giling. Kondisi gabah yang baik biasanya terjadi pada musim kemarau, sedangkan pada musim hujan banyak terjadi gabah kosong sehingga rendemen gabah menurun Analisis Biaya dan Kelayakan Finansial Analisis Biaya Setiap usaha yang telah beroperasi pasti mengeluarkan sejumlah biaya untuk menjalankannya dan menjual suatu barang atau jasa untuk memperoleh keuntungan temasuk dalam menjalankan usaha pelayanan jasa pengilinggan padi. Berdasarkan pengamatan harian dan wawancara terhadap pihak-pihak yang terkait dengan usaha penggilingan padi di Kelurahan Situ Gede dapat dianalisis total biaya yang dikeluarkan, penerimaan, biaya pokok penggilingan dan titik impas. Selama usaha penggilingan padi berjalan terdapat sejumlah biaya yang harus dikeluarkan oleh pemilik penggilingan padi antara lain biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya tetap adalah biaya yang secara rutin dikeluarkan setiap tahun dan nilainya relatif sama. Biaya tetap yang terdapat pada usaha penggilingan padi antara lain penyusutan bangunan, lantai jemur, mesin-mesin penggilingan, timbangan, dan pajak bumi dan bangunan (PBB). Pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB) digabung dengan pajak yang dikenakan ke rumah tinggal pemilik penggilingan padi. Pajak yang dikenakan ke penggilingan diasumsikan sebesar 50% dari total biaya pajak. Biaya awal pembangunan bangunan dan lantai jemur diperkirakan sebesar Rp.60,000,000,-. Biaya pembelian mesin huller dan polisher diperkirakan sebesar Rp. 9,800,000,-. 17

4 Gambar 4. Huller Gambar 5. Polisher Untuk menggerakan huller dan polisher dibutuhkan dua mesin penggerak yaitu mesin diesel Kubota 8.5 PK untuk menggerakan huller (merk LM 24) sebesar 7.4 PK dan mesin diesel Kubota 16 PK untuk menggerakan polisher (merk N-70 F) sebesar 14 PK. Gambar 6. Motor Pengerak 18

5 Biaya pembelian timbangan beras 500 kg sebesar Rp. 1,500,000,-. Total biaya tetap yang dikeluarkan oleh penggilingan padi sebesar Rp. 5,041,871,-/tahun. Perhitungan dan nilai biaya tetap yang terjadi terdapat pada Lampiran 2. Gambar 7. Timbangan Beras Biaya tidak tetap adalah biaya yang besarnya berubah-ubah tergantung jumlah jam kerja mesin dan banyaknya produk yang dihasilkan. Biaya tidak tetap mencakup biaya bahan bakar mesin, biaya pelumas, upah tenaga kerja, dan biaya perawatan dan perbaikan mesinmesin penggilingan padi. Mesin-mesin yang terdapat di penggilingan padi ini terdiri dari huller, polisher dan dua mesin penggerak diesel. Mesin penggerak memerlukan bahan bakar berupa solar untuk beroperasi. Harga solar yang digunakan adalah harga solar pada saat dilakukan pengamatan yaitu Rp.4,500,-/liter. Jenis pelumas yang dipakai pada kedua motor ini sama yang berbeda hanya banyaknya penggunaan pelumas dikarenakan perbedaan tenaga motor. Perkiraan pemakaian pelumas untuk motor diesel Kubota 8.5 PK adalah 3 liter/bulan dan motor Kubota 16 PK adalah 6 liter/bulan. Harga pelumas yang dipakai adalah Rp. 20,000,-/liter. Tenaga kerja yang terdapat dipenggilingan padi sebanyak dua orang dan upah masing-masing tenaga kerja sebesar Rp. 20,000,-/hari kerja. Setiap tahun dilakukan pergantian suku cadang dan perawatan motor. Pada huller dan polisher dilakukan pergantian rubber roll. Harga rubber roll adalah Rp. 200,000/set. Pergantian rubber roll ini bergantung pada banyaknya gabah yang digiling. Pergantian dilakukan setiap dua puluh ton gabah digiling. Pada polisher selain dilakukan pergantian rubber roll secara rutin juga dilakukan pergantian ayakan polisher. Harga satu set ayakan polisher adalah Rp. 20, Ayakan polisher diganti setiap 25 ton gabah digiling. Selain itu terdapat beberapa pergantian suku cadang lain. Pergantian diperkirakan dilakukan setiap 25 ton gabah yang digiling dan diperkirakan memerlukan biaya Rp. 350,000,-. Perawatan dan perbaikan motor penggerak juga dilakukan sebanyak dua kali setahun dengan perkiraan sekali perbaikan yaitu Rp. 400,000,- dan upah montir sebesar Rp. 250,000,-. Total biaya tidak tetap yang dikeluarkan penggilingan padi tersebut sebesar Rp. 36, /jam kerja atau Rp. 31,991, /tahun. Perkiraan jumlah gabah yang digiling dan jam kerja mesin penggilingan padi ini dalam setahun berdasarkan pengamatan yang dilakukan selama satu musim tanam. Dalam setahun terdapat 2-3 kali musim tanam dan hasil panen yang dihasilkan per musim tanam relatif sama. Jumlah giling dalam setahun diperkirakan sebesar ton GKG. Upah giling penggilingan padi biasanya berbeda-beda tergantung kebijakan pemilik penggilingan padi. Pada penggilingan milik bapak Kardi dikenakan bayaran sebesar 1 : 10, 19

6 maksudnya untuk 10 kg beras yang dihasilkan dikenakan biaya giling sebesar 1 kg beras. Harga beras yang berlaku adalah harga beras selama penulis melakukan penelitian. Apabila dibayarkan menggunakan uang maka biaya penggilingan sebesar Rp /kg beras yang dihasilkan. Pembayaran dapat dilakukan dengan uang atau beras yang dihasilkan diberikan ke penggilingan. Biasanya petani langsung membayar biaya giling dengan uang, tetapi jika petani tidak mempunyai uang, mereka dapat memberikan beras kepada penggilingan dan beras tersebut dapat diambil kembali jika petani telah memiliki cukup uang untuk melunasi biaya giling. Total biaya yang dikeluarkan oleh penggilingan selama setahun adalah jumlah dari biaya tetap dan biaya tidak tetap selama setahun. Total biaya yang dikeluarkan penggilingan padi tersebut selama setahun sebesar Rp. 37,033, Dari total biaya dan jumlah beras yang dihasilkan selama setahun dapat dihitung biaya pokok tiap satu kilogram beras yang dihasilkan. Biaya giling yang ditetapkan oleh penggilingan harus lebih besar dari biaya pokok tiap satu kilogram beras yang dihasilkan. Hal ini dilakukan agar penggilingan dapat memperoleh keuntungan dari usahanya. Berdasarkan perhitungan didapat biaya pokok tiap kilogram beras yang dihasilkan sebesar Rp Nilai ini lebih kecil dari biaya giling yang ditentukan oleh penggillingan sebesar Rp. 550,-, maka penggilingan dapat memperoleh keuntungan sebesar Rp /kg beras. Titik impas (Break Even Point) adalah saat dimana jumlah penerimaan sama dengan jumlah biaya yang dikeluarkan. Berdasarkan perhitungan titik impas penggilingan padi diperoleh nilai sebesar jam/tahun atau 35, kg GKG/tahun. Jika penggilingan tidak ingin mendapatkan kerugian, penggilingan minimal beroperasi selama jam setahun atau menggiling gabah sebanyak 35, kg GKG/tahun. Perhitungan biaya dan titik impas terdapat pada lampiran Analisis Kelayakan Finansial Analisis kelayakan finansial dilakukan dengan cara perhitungan tiga macam analisis, antara lain dengan cara perhitungan Net Present Value (NPV), Imternal Rate of Return (IRR), dan perhitungan gross B/C ratio. Perhitungan analisis kelayakan finansial menggunakan hasil perhitungan pada analisis biaya, upah penggilingan, dan jumlah gabah yang digiling per tahun pada tingkat bunga 14%/tahun (BNI rate tahun 2010). Dari hasil perhitungan diperoleh nilai net present value (NPV) sebesar Rp. 168,628, , nilai internal rate of return (IRR) sebesar %, dan nilai gross B/C ratio sebesar Bersadarkan hasil tersebut dapat disimpulkan penggilingan padi milik bapak Kardi layak dari segi finansial. Hal ini dikarenakan nilai NPV, IRR, dan gross B/C ratio memenuhi syarat kelayakan finansial, yaitu nilai NPV lebih besar dari nol, nilai IRR lebih besar dari discount rate yang berlaku (14%), dan nilai gross B/C ratio lebih besar dari satu. Perhitungan analisis kelayakan finansial dapat dilihat pada lampiran Analisis Sensitivitas Analisis sensitivitas dilakukan untuk mempelajari kemungkinan terjadinya perubahan pada salah satu komponen biaya. Komponen biaya yang digunakan adalah biayabiaya yang cepat berubah karena pengaruh keadaan sosial, politik, dan ekonomi dan dapat mempengaruhi jumlah biaya yang dikeluarkan serta dapat menimbulkan resiko pada 20

7 penggilingan padi. Untuk studi penelitian ini, komponen biaya yang digunakan untuk perhitungan analisis sensitivitas adalah harga solar, upah tenaga kerja, dan jumlah giling tahunan. Harga solar sangat mudah berubah dikarenakan berkurangnya cadangan minyak bumi dan naiknya harga minyak dunia. Kenaikan harga BBM akan menyebabkan naiknya berbagai macam komoditas di pasaran. Hal ini menimbulkan kenaikan upah tenaga kerja. Perubahan kedua komponen biaya tersebut dapat mempengaruhi biaya operasional penggilingan padi. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis sensitivitas untuk memperkirakan perubahan biaya dan resiko yang mungkin dapat terjadi. Selain itu jumlah giling tahunan juga dapat mempengaruhi kelayakan suatu usaha penggilingan. Apabila terjadi penurunan jumlah giling tahunan, jumlah beras yang dihasilkan juga menurun mengakibatkan pendapatan yang didapat pengilingan akan menurun dan dimungkinkan dapat mengakibatkan penggilingan mengalami kerugian. Analisis sensitivitas dilakukan terhadap beberapa kondisi yang mungkin terjadi antara lain : a. Kenaikan harga bahan bakar solar sebesar 15%, 30%, 45%, dan 60% dari harga yang berlaku (Rp. 4,500/liter). Hasil perhitungan analisis sensitivitas terhadap disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Analisis Sensitivitas Terhadap Kenaikan Harga Solar Kenaikan Gross B/C NPV IRR Titik Impas Harga Solar Ratio (%) (Rp) (%) jam/tahun kg GKG/tahun ,963, , ,298, , ,633, , ,968, , NPV (Rp) dalam satuan juta Gambar 8. Grafik Hubungan NPV dengan Kenaikan Harga Solar 21

8 IRR (%) Gambar 9. Grafik Hubungan IRR dengan Kenaikan Harga Solar Gross B/C Ratio Gambar 10. Grafik Hubungan Gross B/C Ratio dengan Kenaikan Harga Solar Pada tabel dan grafik hubungan NPV dengan kenaikan harga solar dapat diketahui apabila harga bahan bakar solar meningkat akan menurunkan nilai NPV penggilingan padi. Penurunan nilai NPV disebabkan karena kenaikan harga bahan bakar solar menyebabkan meningkatnya biaya yang dikeluarkan penggilingan tersebut dan akibatnya keuntungan yang diperoleh juga berkurang. Akan tetapi kenaikan harga bahan bakar solar tidak mempengaruhi kelayakan penggilingan padi. Hal ini disebabkan nilai NPV yang diperoleh tidak ada yang lebih kecil dari nol. Hal ini berarti apabila terjadi kenaikan harga solar mencapai 60% dari harga normal, pemilik penggilingan padi masih mendapatkan keuntungan dari usaha penggilingan yang didirikan. Kenaikan harga solar juga menurunkan nilai IRR penggilingan padi. Akan tetapi kenaikan harga bahan bakar solar tidak mempengaruhi kelayakan penggilingan padi. Apabila harga solar meningkat sampai 60% dari harga normal, nilai IRR yang dihasilkan masih lebih besar daripada nilai suku bunga yang berlaku (14%). Oleh karena itu, apabila pemilik meminjam uang ke bank untuk mendirikan penggilingannya, pemilik penggilingan mampu membayar bunga pinjamannya dan masih mendapatkan keuntungan dari usaha penggilingannya. 22

9 Selain itu peningkatan harga bahan bakar akan menurunkan nilai gross B/C ratio penggilingan padi. Akan tetapi kenaikan harga bahan bakar solar tidak mempengaruhi kelayakan penggilingan padi. Apabila harga solar meningkat sampai 60% dari harga normal, nilai gross B/C ratio masih lebih besar dari satu. Oleh karena itu, penggilingan padi masih mendapatkan keuntungan meskipun harga bahan bakar solar meningkat hingga 60%. Pada saat terjadi kenaikan harga bahan bakar solar sebesar 60%, jam kerja dan produksi penggilingan masih jauh berada diatas titik impas, sehingga pemilik penggilingan masih mendapatkan keuntungan dari usaha penggilingan tersebut. b. Kenaikan upah tenaga kerja sebesar 20%, 30, 40%, dan 50% dari upah normal (Rp.20,000/orang/hari). Hasil perhitungan analisis sensitivitas terhadap kenaikan upah tenaga kerja disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Analisis Sensitivitas Terhadap Kenaikan Upah Tenaga Kerja Kenaikan Upah NPV IRR Gross B/C Ratio Titik Impas (%) (Rp.) (%) jam/tahun kg GKG/tahun ,106, , ,346, , ,585, , ,824, , NPV (Rp) dalam satuan juta Kenaikan Upah (%) Gambar 11. Grafik Hubungan NPV dengan Kenaikan Upah 23

10 IRR (%) Kenaikan Upah (%) Gambar 12. Grafik Hubungan IRR dengan Kenaikan Upah Gross B/C Ratio Kenaikan Upah (%) Gambar 13. Grafik Hubungan Gross B/C Ratio dengan Kenaikan Upah Pada tabel dan grafik hubungan NPV dengan kenaikan upah dapat diketahui apabila upah tenaga kerja meningkat akan menurunkan nilai NPV penggilingan padi. Akan tetapi kenaikan upah tenaga kerja tidak mempengaruhi kelayakan penggilingan padi. Hal ini disebabkan nilai NPV yang diperoleh tidak ada yang lebih kecil dari nol. Kenaikan upah tenaga kerja juga dapat menurunkan nilai IRR penggilingan padi. Akan tetapi kenaikan upah tenaga kerja tidak mempengaruhi kelayakan penggilingan padi. Hal ini disebabkan nilai IRR yang diperoleh tidak ada yang lebih kecil dari nilai suku bunga yang berlaku (14%). Selain itu kenaikan upah tenaga kerja dapat menurunkan nilai gross B/C ratio penggilingan padi. Akan tetapi kenaikan harga upah tenaga kerja tidak mempengaruhi kelayakan penggilingan padi. Hal ini disebabkan nilai gross B/C ratio yang diperoleh tidak ada yang lebih kecil nol. Pada saat terjadi kenaikan upah tenaga kerja mencapai 50%, jam kerja dan produksi penggilingan masih jauh berada diatas titik impas, sehingga pemilik penggilingan masih mendapatkan keuntungan dari usaha penggilingan tersebut. 24

11 c. Perpaduan kenaikan harga bahan bakar solar sebesar 15%, 30%, 45%, dan 60% dari harga normal (Rp.4,500/liter) dan kenaikan upah tenaga kerja sebesar 50% dari upah normal (Rp.20,000/orang/hari). Hasil perhitungan analisis sensitivitas disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Analisis Sensitivitas Terhadap Kenaikan Upah 50% dan Harga Solar Kenaikan Harga Solar Kenaikan Upah NPV IRR Gross B/C Ratio (%) (%) (Rp) (%) ,159, ,494, ,829, ,164, NPV (Rp) dalam satuan juta Gambar 14. Grafik Hubungan NPV dengan Kenaikan Harga Solar pada Kenaikan Upah 50% IRR (%) Gambar 15. Grafik Hubungan IRR dengan Kenaikan Harga Solar pada Kenaikan Upah 50% 25

12 Gross B/C Ratio Gambar 16. Grafik Hubungan Gross B/C Ratio dengan Kenaikan Harga Solar pada Kenaikan Upah 50% Pada tabel dan grafik hubungan NPV dengan kenaikan harga solar dapat diketahui apabila upah tenaga kerja naik mencapai 50% dari upah normal diikuti kenaikan harga bahan bakar solar mencapai 60% tidak mempengaruhi kelayakan penggilingan padi. Hal ini disebabkan nilai NPV yang diperoleh tidak ada yang lebih kecil dari nol. Hal ini berarti apabila upah tenaga kerja naik mencapai 50% dari upah normal diikuti kenaikan harga bahan bakar solar mencapai 60%, pemilik penggilingan padi masih mendapatkan keuntungan dari usaha penggilingan yang didirikan. Apabila upah tenaga kerja naik mencapai 50% dari upah normal diikuti kenaikan harga bahan bakar solar mencapai 60%, nilai IRR yang dihasilkan masih lebih besar daripada nilai suku bunga yang berlaku (14%). Oleh karena itu, apabila pemilik meminjam uang ke bank untuk mendirikan penggilingannya, pemilik penggilingan mampu membayar bunga pinjamannya dan masih mendapatkan keuntungan dari usaha penggilingannya. Apabila upah tenaga kerja naik mencapai 50% dari upah normal diikuti kenaikan harga bahan bakar solar mencapai 60%, nilai gross B/C ratio masih lebih besar dari satu. Oleh karena itu, penggilingan padi masih mendapatkan keuntungan meskipun upah tenaga kerja naik mencapai 50% dari upah normal diikuti kenaikan harga bahan bakar solar mencapai 60%. d. Penurunan jumlah giling tahunan sebesar 15%, 20%, 25% dan 30%. Hasil perhitungan analisis sensitivitas disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Analisis Sensitivitas Terhadap Penurunan Jumlah Giling Penurunan Gross B/C NPV IRR Jumlah Giling Ratio Titik Impas (%) (Rp) (%) (jam/tahun) (kg GKG/tahun) ,697, , ,054, , ,410, , ,221, ,

13 NPV (Rp) dalam satuan juta Penurunan Jumlah Giling Tahunan (%) Gambar 17. Grafik Hubungan NPV dengan Penurunan Jumlah Giling IRR (%) Penurunan Jumlah Giling Tahunan (%) Gambar 18. Grafik Hubungan IRR dengan Penurunan Jumlah Giling Gross B/C Ratio Penurunan Jumlah Giling Tahunan (%) Gambar 19. Grafik Hubungan Gross B/C Ratio dengan Penurunan Jumlah Giling Pada tabel dan grafik dapat diketahui apabila terjadi penurunan jumlah giling mencapai 30% tidak mempengaruhi kelayakan penggilingan padi. Hal ini disebabkan nilai NPV yang diperoleh tidak ada yang lebih kecil dari nol. Oleh karena itu, meskipun 27

14 terjadi penurunan jumlah giling tahunan mencapai 30%, pemilik penggilingan padi masih mendapatkan keuntungan dari usaha penggilingan yang didirikan. Apabila terjadi penurunan jumlah giling tahunan mencapai 30%, nilai IRR yang dihasilkan masih lebih besar daripada nilai suku bunga yang berlaku (14%). Oleh karena itu, apabila pemilik meminjam uang ke bank untuk mendirikan penggilingannya, pemilik penggilingan mampu membayar bunga pinjamannya dan masih mendapatkan keuntungan dari usaha penggilingannya. Apabila terjadi penurunan jumlah giling tahunan mencapai 30%, nilai gross B/C ratio masih lebih besar dari satu. Penggilingan padi masih mendapatkan keuntungan meskipun terjadi penurunan jumlah giling tahunan mencapai 30%. Pada saat terjadi penurunan jumlah giling tahunan sampai 30% dari jumlah giling normal, jam kerja dan produksi penggilingan masih berada diatas titik impas, sehingga pemilik penggilingan masih mendapatkan keuntungan dari usaha penggilingan tersebut. e. Perpaduan penurunan jumlah giling tahunan sebesar 30% dari jumlah giling normal dengan kenaikan harga bahan bakar solar sebesar 15%, 30%, 45%, dan 60% dari harga normal (Rp.4,500/liter). Hasil perhitungan analisis sensitivitas disajikan pada Tabel 5. Tabel 5. Analisis Sensitivitas Terhadap Penurunan Jumlah Giling Tahunan 30% dengan Kenaikan Harga Solar Penurunan Kenaikan NPV IRR Gross B/C Ratio Jumlah Giling Harga Solar (%) (%) (Rp) (%) ,701, ,636, ,924, ,505, NPV (Rp) dalam satuan juta Gambar 20. Grafik Hubungan NPV dengan Kenaikan Harga Solar pada Penurunan Jumlah Giling 30% 28

15 IRR (%) Gambar 21. Grafik Hubungan IRR dengan Kenaikan Harga Solar pada Penurunan Jumlah Giling 30% Gross B/C Ratio Gambar 22. Grafik Hubungan Gross B/C Ratio dengan Kenaikan Harga Solar pada Penurunan Jumlah Giling 30% Pada tabel dan grafik hubungan NPV dengan kenaikan harga solar dapat diketahui apabila terjadi penurunan jumlah giling tahunan mencapai 30% diikuti kenaikan harga bahan bakar solar mencapai 60% tidak mempengaruhi kelayakan penggilingan padi. Hal ini disebabkan nilai NPV yang diperoleh tidak ada yang lebih kecil dari nol. Hal ini berarti apabila terjadi penurunan jumlah giling tahunan mencapai 30% diikuti kenaikan harga bahan bakar solar mencapai 60%, pemilik penggilingan padi masih mendapatkan keuntungan dari usaha penggilingan yang didirikan. Apabila terjadi penurunan jumlah giling tahunan mencapai 30% diikuti kenaikan harga bahan bakar solar mencapai 60%, nilai IRR yang dihasilkan masih lebih besar daripada nilai suku bunga yang berlaku (14%). Oleh karena itu, apabila pemilik meminjam uang ke bank untuk mendirikan penggilingannya, pemilik penggilingan mampu membayar bunga pinjamannya dan masih mendapatkan keuntungan dari usaha penggilingannya. Apabila terjadi penurunan jumlah giling tahunan mencapai 30% diikuti kenaikan harga bahan bakar solar mencapai 60%, nilai gross B/C ratio masih lebih besar dari satu. Oleh karena itu, penggilingan padi masih mendapatkan keuntungan meskipun jumlah 29

16 giling tahunan menurun sampai 20% diikuti meningkatnya harga bahan bakar solar mencapai 60%. f. Perpaduan penurunan jumlah giling tahunan sebesar 30% dari jumlah giling normal dengan upah tenaga kerja sebesar 20%, 30%, 40%, dan 50% dari upah normal (Rp. 20,000/orang/hari). Hasil perhitungan analisis sensitivitas disajikan pada Tabel 6. Tabel 6. Analisis Sensitivitas Terhadap Penurunan Jumlah Giling Tahunan Sebesar 30% dengan Kenaikan Upah Tenaga Kerja Penurunan Jumlah Giling Kenaikan Upah NPV IRR Gross B/C Ratio (%) (%) (Rp) (%) ,245, ,484, ,724, ,963, NPV (Rp) dalam satuan juta Kenaikan Upah (%) Gambar 23. Grafik Hubungan NPV dengan Kenaikan Upah pada Penurunan Jumlah Giling 30% IRR (%) Kenaikan Upah (%) Gambar 24. Grafik Hubungan IRR dengan Kenaikan Upah pada Penurunan Jumlah Giling 30% 30

17 Gross B/C Ratio Kenaikan Upah (%) Gambar 25. Grafik Hubungan Gross B/C Ratio dengan Kenaikan Upah pada Penurunan Jumlah Giling 30% Pada tabel dan grafik hubungan NPV dengan kenaikan harga solar dapat diketahui apabila terjadi penurunan jumlah giling tahunan mencapai 30% diikuti kenaikan harga upah tenaga kerja mencapai 50% tidak mempengaruhi kelayakan penggilingan padi. Hal ini disebabkan nilai NPV yang diperoleh tidak ada yang lebih kecil dari nol. Hal ini berarti apabila terjadi penurunan jumlah giling tahunan mencapai 30% diikuti kenaikan upah tenaga kerja mencapai 60%, pemilik penggilingan padi masih mendapatkan keuntungan dari usaha penggilingan yang didirikan. Apabila terjadi penurunan jumlah giling tahunan mencapai 30% diikuti kenaikan upah tenaga kerja mencapai 50%, nilai IRR yang dihasilkan masih lebih besar daripada nilai suku bunga yang berlaku (14%). Oleh karena itu, apabila pemilik meminjam uang ke bank untuk mendirikan penggilingannya, pemilik penggilingan mampu membayar bunga pinjamannya dan masih mendapatkan keuntungan dari usaha penggilingannya. Apabila terjadi penurunan jumlah giling tahunan mencapai 30% diikuti kenaikan upah tenaga kerja mencapai 50%, nilai gross B/C ratio masih lebih besar dari satu. Oleh karena itu, penggilingan padi masih mendapatkan keuntungan meskipun jumlah giling tahunan menurun sampai 30% diikuti meningkatnya upah tenaga kerja mencapai 50%. g. Perpaduan penurunan jumlah giling tahunan sebesar 30% dari jumlah giling normal dengan upah tenaga kerja sebesar 40% dan kenaikan harga solar sebesar 15%, 30%, 45%, dan 60% dari harga normal (Rp.4,500/liter). Hasil perhitungan analisis sensitivitas disajikan pada Tabel 7. Tabel 7. Analisis Sensitivitas Terhadap Penurunan Jumlah Giling Tahunan 30% dengan Kenaikan Upah 40%, dan Kenaikan Harga Solar Penurunan Kenaikan Kenaikan Jumlah Giling Upah Solar NPV IRR Gross B/C Ratio (%) (%) (%) (Rp) (%) ,658, ,593, ,019, ,537,

18 15.00 NPV (Rp) dalam satuan juta Gambar 26. Grafik Hubungan NPV dengan Kenaikan Harga Solar Pada Penurunan Jumlah Giling 30% dan Kenaikan Upah 40% IRR (%) Gambar 27. Grafik Hubungan IRR dengan Kenaikan Harga Solar pada Penurunan Jumlah Giling 30% dan Kenaikan Upah 40% Gross B/C Ratio Kenaikan Solar (%) Gambar 28. Grafik Hubungan Gross B/C Ratio dengan Kenaikan Harga Solar pada Penurunan Jumlah Giling 30% dan Kenaikan Upah 40% Pada tabel dan grafik, dapat diketahui apabila terjadi penurunan jumlah giling mencapai 30% diikuti kenaikan upah tenaga kerja sebesar 40% dan kenaikan harga bahan 32

19 bakar solar sebesar 45% menyebabkan usaha penggilingan padi tersebut menjadi tidak layak dari segi finansial. Hal ini disebabkan oleh nilai NPV yang lebih kecil dari nol, nilai IRR yang lebih kecil dari suku bunga yang berlaku (14%), dan nilai gross B/C ratio yang lebih kecil dari satu. Pada keadaan tersebut penggilingan akan mengalami kerugian. Dari hasil perhitungan menggunakan interpolasi didapat NPV bernilai nol pada saat terjadi kenaikan harga solar sebesar 38.15%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan apabila terjadi penurunan jumlah giling tahunan sebesar 30% dan kenaikan upah sebesar 40%, penggilingan akan menjadi tidak layak untuk dijalankan jika diikuti kenaikan harga solar sebesar 38.15% atau lebih. h. Perpaduan penurunan jumlah giling tahunan sebesar 30% dari jumlah giling normal dengan upah tenaga kerja sebesar 50% dan kenaikan harga solar sebesar 15%, 30%, 45%, dan 60% dari harga normal (Rp.4,500/liter). Hasil perhitungan analisis sensitivitas disajikan pada Tabel 8. Tabel 8. Analisis Sensitivitas Terhadap Penurunan Jumlah Giling Tahunan 30% dengan Kenaikan Upah 50%, dan Kenaikan Harga Solar Penurunan Kenaikan Kenaikan Gross B/C NPV IRR Jumlah Giling Upah Solar Ratio (%) (%) (%) (Rp) (%) , ,167, ,233, ,298, NPV (Rp) dalam satuan juta Gambar 29. Grafik Hubungan NPV dengan Kenaikan Harga Solar pada Penurunan Jumlah Giling 30% dan Kenaikan Upah 50% 33

20 IRR (%) Gambar 30. Grafik Hubungan IRR dengan Kenaikan Harga Solar pada Penurunan Jumlah Giling 30% dan Kenaikan Upah 50% Gross B/C Ratio Kenaikan Solar (%) Gambar 31. Grafik Hubungan Gross B/C Ratio dengan Kenaikan Harga Solar pada Penurunan Jumlah Giling 30% dan Kenaikan Upah 50% Pada tabel dan grafik dapat diketahui apabila terjadi penurunan jumlah giling mencapai 30% diikuti kenaikan upah tenaga kerja sebesar 50% dan kenaikan harga bahan bakar solar sebesar 30% menyebabkan usaha penggilingan padi tersebut menjadi tidak layak dari segi finansial. Hal ini disebabkan oleh nilai NPV yang lebih kecil dari nol, nilai IRR yang lebih kecil dari suku bunga yang berlaku (14%), dan nilai gross B/C ratio yang lebih kecil dari satu. Pada keadaan tersebut penggilingan tidak layak untuk dijalankan karena akan memberikan kerugian terhadap pemilik penggilingan. Dari hasil perhitungan menggunakan interpolasi didapat NPV bernilai nol pada saat terjadi kenaikan harga solar sebesar 17.22%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan apabila terjadi penurunan jumlah giling tahunan sebesar 30% dan kenaikan upah sebesar 50%, penggilingan akan menjadi tidak layak untuk dijalankan jika diikuti kenaikan harga solar sebesar 17.22% atau lebih. 34

21 Berdasarkan hasil analisis sensitivitas terhadap kenaikan harga bahan bakar solar, kenaikan upah tenaga kerja, dan penurunan jumlah giling tahunan,serta perpaduan masingmasing komponen tersebut, dapat disimpulkan penggilingan padi menjadi tidak layak untuk dijalankan apabila terjadi kondisi sebagai berikut : 1. Perpaduan penurunan jumlah giling sebesar 30% dengan kenaikan upah tenaga kerja sebesar 40% diikuti kenaikan harga bahan bakar solar sebesar 38.15% atau lebih. 2. Perpaduan penurunan jumlah giling sebesar 30% dengan kenaikan upah tenaga kerja sebesar 50% diikuti kenaikan harga bahan bakar solar sebesar 17.22% atau lebih. 35

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Keadaan Umum Lokasi Penelitian Desa Cihideung Ilir merupakan salah satu desa dari 13 (tiga belas) desa yang terdapat di kecamatan Ciampea, dan wilayahnya masuk dalam Kabupaten

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian dilaksanankan selama 3 bulan, yaitu mulai bulan Mei 2010 sampai dengan bulan Juli 2010. Objek yang dijadikan sebagai lokasi penelitian

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian dilaksanankan selama 3 bulan, yaitu mulai bulan Juli - September 2010. Objek yang dijadikan sebagai lokasi penelitian adalah usaha

Lebih terperinci

BAB V ANALISIS BIAYA PENGERINGAN GABAH MENGUNAKAN PENGERING RESIRKULASI

BAB V ANALISIS BIAYA PENGERINGAN GABAH MENGUNAKAN PENGERING RESIRKULASI BAB V ANALISIS BIAYA PENGERINGAN GABAH MENGUNAKAN PENGERING RESIRKULASI 5.1 PENDAHULUAN Pengembangan usaha pelayanan jasa pengeringan gabah dapat digolongkan ke dalam perencanaan suatu kegiatan untuk mendatangkan

Lebih terperinci

ANALISIS BIAYA DAN KELAYAKAN USAHA PENGGILINGAN PADI DI KELURAHAN SITU GEDE, KECAMATAN BOGOR BARAT SKRIPSI ABDUL HAFIZH INDRAJAYA F

ANALISIS BIAYA DAN KELAYAKAN USAHA PENGGILINGAN PADI DI KELURAHAN SITU GEDE, KECAMATAN BOGOR BARAT SKRIPSI ABDUL HAFIZH INDRAJAYA F ANALISIS BIAYA DAN KELAYAKAN USAHA PENGGILINGAN PADI DI KELURAHAN SITU GEDE, KECAMATAN BOGOR BARAT SKRIPSI ABDUL HAFIZH INDRAJAYA F14061953 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011-1

Lebih terperinci

ANALISIS TEKNIS DAN EKONOMI RICE MILLING UNIT ONE PHASE (STUDI KASUS DI UD. BELEKE MAJU KABUPATEN LOMBOK BARAT NTB)

ANALISIS TEKNIS DAN EKONOMI RICE MILLING UNIT ONE PHASE (STUDI KASUS DI UD. BELEKE MAJU KABUPATEN LOMBOK BARAT NTB) FLYWHEEL: JURNAL TEKNIK MESIN UNTIRTA Homepage jurnal: http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/jwl ANALISIS TEKNIS DAN EKONOMI RICE MILLING UNIT ONE PHASE (STUDI KASUS DI UD. BELEKE MAJU KABUPATEN LOMBOK

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Alat Pengolahan Padi 1.2. Penggilingan Padi

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Alat Pengolahan Padi 1.2. Penggilingan Padi II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Alat Pengolahan Padi Umumnya alat pengolahan padi terdiri dari berbagai macam mesin, yaitu mesin perontok padi, mesin penggiling padi, mesin pembersih gabah, mesin penyosoh beras,

Lebih terperinci

VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL Analisis kelayakan finansial dilakukan untuk mengetahui kelayakan pembesaran ikan lele sangkuriang kolam terpal. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam aspek finansial

Lebih terperinci

IV. DESKRIPSI USAHA PENGOLAHAN TEPUNG UBI JALAR

IV. DESKRIPSI USAHA PENGOLAHAN TEPUNG UBI JALAR IV. DESKRIPSI USAHA PENGOLAHAN TEPUNG UBI JALAR 4.1 Gambaran Umum Kelompok Tani Hurip Kelompok Tani Hurip terletak di Desa Cikarawang Kecamatan Darmaga. Desa Cikarawang adalah salah satu Desa di Kecamatan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Tinjauan Pustaka Penanganan pascapanen adalah tindakan yang dilakukan atau disiapkan agar hasil pertanian siap

Lebih terperinci

An evaluation version of novapdf was used to create this PDF file. Purchase a license to generate PDF files without this notice.

An evaluation version of novapdf was used to create this PDF file. Purchase a license to generate PDF files without this notice. Tempat Pengilingan Ibu Ita Tempat Pengilingan Bapak Hamzah Lokasi Kantor Kelurahan Pedoman Wawancara I. Topik : Upah Pekerja Pengilingan Padi II. Tujuan : Mengetahui Sistem Pengupahan Pekerja Pengilingan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka Penggilingan padi merupakan industri padi tertua dan tergolong paling besar di Indonesia, yang mampu menyerap lebih dari sepuluh juta tenaga kerja, menangani

Lebih terperinci

Mulai. Merancang bentuk alat. Menggambar dan menentukan dimensi alat. Memilih bahan. Mengukur bahan yang akan digunakan

Mulai. Merancang bentuk alat. Menggambar dan menentukan dimensi alat. Memilih bahan. Mengukur bahan yang akan digunakan 52 Lampiran 1.Flow Chart pelaksanaan penelitian. Mulai Merancang bentuk alat Menggambar dan menentukan dimensi alat Memilih bahan Mengukur bahan yang akan digunakan Memotong bahan yang digunakan sesuai

Lebih terperinci

Mulai. Merancang bentuk alat. Menggambar dan menentukan dimensi alat. Memilih bahan. Diukur bahan yang akan digunakan

Mulai. Merancang bentuk alat. Menggambar dan menentukan dimensi alat. Memilih bahan. Diukur bahan yang akan digunakan 38 Lampiran 1. Flow Chart pelaksanaan penelitian. Mulai Merancang bentuk alat Menggambar dan menentukan dimensi alat Memilih bahan Diukur bahan yang akan digunakan Dipotong bahan yang digunakan sesuai

Lebih terperinci

Mulai. Merancang bentuk alat. Menggambar dan. menentukan dimensi. Memilih bahan. Diukur bahan yang akan digunakan

Mulai. Merancang bentuk alat. Menggambar dan. menentukan dimensi. Memilih bahan. Diukur bahan yang akan digunakan 39 Lampiran 1. Flowchart pelaksanaan penelitian. Mulai Merancang bentuk alat Menggambar dan menentukan dimensi Memilih bahan Diukur bahan yang akan digunakan Dipotong bahan yang digunakan sesuai dengan

Lebih terperinci

VIII. ANALISIS FINANSIAL

VIII. ANALISIS FINANSIAL VIII. ANALISIS FINANSIAL Analisis aspek finansial bertujuan untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan dengan membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan.

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Studi Kelayakan 1. Investor 2. Analisis 3. Masyarakat 4. Pemerintah

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Studi Kelayakan 1. Investor 2. Analisis 3. Masyarakat 4. Pemerintah II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Studi Kelayakan Studi kelayakan merupakan bahan pertimbangan dalam mengambil suatu keputusan, apakah menerima atau menolak suatu gagasan usaha yang direncanakan. Pengertian layak

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tulang

BAHAN DAN METODE. Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tulang BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret hingga April 2016 di Laboratorium Keteknikan Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Bahan

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. menganalisis data yang berhubungan dengan penelitian atau mencakup. yang berhubungan dengan tujuan penelitian.

METODE PENELITIAN. menganalisis data yang berhubungan dengan penelitian atau mencakup. yang berhubungan dengan tujuan penelitian. III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Batasan Operasional Konsep dasar dan batasan operasional merupakan pengertian dan petunjuk mengenai variabel yang akan diteliti, serta penting untuk memperoleh

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN. Pada bagian ini akan dijelaskan tentang konsep dan teori yang

KERANGKA PEMIKIRAN. Pada bagian ini akan dijelaskan tentang konsep dan teori yang III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Konseptual Pada bagian ini akan dijelaskan tentang konsep dan teori yang berhubungan dengan penelitian studi kelayakan usaha pupuk kompos pada Kelompok Tani

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian

IV. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Peternakan Maju Bersama, Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan di penggilingan padi Sinar Ginanjar milik Bapak Candran di Desa Jomin Timur, Kecamatan Kota Baru, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Pemilihan

Lebih terperinci

Mulai. Merancang bentuk alat. Menggambar dan menentukan dimensi alat. Memilih bahan. Memotong bahan yang digunakan sesuai dengan dimensi pada gambar

Mulai. Merancang bentuk alat. Menggambar dan menentukan dimensi alat. Memilih bahan. Memotong bahan yang digunakan sesuai dengan dimensi pada gambar 39 Lampiran 1. Flowchart pengerjaan penelitian Mulai Merancang bentuk alat Menggambar dan menentukan dimensi alat Memilih bahan Mengukur bahan yang akan digunakan Memotong bahan yang digunakan sesuai dengan

Lebih terperinci

Mulai. Merancang bentuk alat. Menggambar dan menentukan dimensi alat. Memilih bahan. Diukur bahan yang akan digunakan

Mulai. Merancang bentuk alat. Menggambar dan menentukan dimensi alat. Memilih bahan. Diukur bahan yang akan digunakan Lampiran 1. Flow Chart Pelaksanaan Penelitian Mulai Merancang bentuk alat Menggambar dan menentukan dimensi alat Memilih bahan Diukur bahan yang akan digunakan Dipotong, dibubut dan dikikir bahan yang

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESA PENELITIAN

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESA PENELITIAN TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESA PENELITIAN Tinjauan Pustaka Menurut Tharir (2008), penggilingan padi merupakan industri padi tertua dan tergolong paling besar di Indonesia,

Lebih terperinci

VIII. ANALISIS FINANSIAL

VIII. ANALISIS FINANSIAL VIII. ANALISIS FINANSIAL Analisis finansial bertujuan untuk menghitung jumlah dana yang diperlukan dalam perencanaan suatu industri melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan dengan membandingkan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN. beras yang siap diolah untuk dikonsumsi maupun untuk disimpan sebagai

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN. beras yang siap diolah untuk dikonsumsi maupun untuk disimpan sebagai TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN Tinjauan Pustaka Penanganan pascapanen padi perlu diperhatikan dengan baik. Pemanenan, perontokan, penjemuran, dan penggilingan

Lebih terperinci

ANALISIS SENSITIFITAS FINANSIAL SERAIWANGI

ANALISIS SENSITIFITAS FINANSIAL SERAIWANGI ANALISIS SENSITIFITAS FINANSIAL SERAIWANGI Chandra Indrawanto Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik ABSTRAK Minyak seraiwangi merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia. Sekitar 40% produksi

Lebih terperinci

LAMPIRAN Lampiran 1. Flow chart pelaksanaan penelitian

LAMPIRAN Lampiran 1. Flow chart pelaksanaan penelitian LAMPIRAN Lampiran 1. Flow chart pelaksanaan penelitian Mulai Observasi desain dan rancangan Alat Destilasi bioetanol pada literatur Penyusunan desain dan rancangan Alat Destilasi bioetanol Pemilihan bahan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Penelitian inidilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan Oktober 2016

BAHAN DAN METODE. Penelitian inidilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan Oktober 2016 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian inidilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan Oktober 2016 di Laboratorium Keteknikan Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara,

Lebih terperinci

Lampiran 2. Flowchart perencanaan penelitian. Mulai iii. Menimbang Biji Kedelai. Menyiapkan 2 jenis Mata Pisau yang Akan.

Lampiran 2. Flowchart perencanaan penelitian. Mulai iii. Menimbang Biji Kedelai. Menyiapkan 2 jenis Mata Pisau yang Akan. 43 Lampiran 2. Flowchart perencanaan penelitian Mulai iii Menimbang Biji Kedelai Menyiapkan 2 jenis Mata Pisau yang Akan Digunakan Dihidupkan Alat Pembuat Sari Kedelai Dimasukkan Bahan Kedalam Alat Kondisi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENGARUH SUHU DAN LAMA PENGGORENGAN HAMPA TERHADAP MUTU DAN ORGANOLEPTIK KERIPIK IKAN LEMURU Penelitian tahap satu ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh suhu dan lama penggorengan

Lebih terperinci

Mulai. Merancang bentuk alat. Menggambar dan menentukan dimensi alat. Memilih bahan. Mengukur bahan yang

Mulai. Merancang bentuk alat. Menggambar dan menentukan dimensi alat. Memilih bahan. Mengukur bahan yang 50 Lampiran 1. Flowchart pelaksanaan penelitian Mulai Merancang bentuk alat Menggambar dan menentukan dimensi alat Memilih bahan Mengukur bahan yang Memotong bahan yang digunakan sesuai dengan dimensi

Lebih terperinci

Mulai. Merancang bentuk alat. - Menentukan dimensi alat - Menghitung daya yang diperlukan - Menghitung kecepatan putaran alat Menggambar alat

Mulai. Merancang bentuk alat. - Menentukan dimensi alat - Menghitung daya yang diperlukan - Menghitung kecepatan putaran alat Menggambar alat Lampiran 1. Flowchart penelitian Mulai Merancang bentuk alat - Menentukan dimensi alat - Menghitung daya yang diperlukan - Menghitung kecepatan putaran alat Menggambar alat Memilih bahan yang akan digunakan

Lebih terperinci

6 ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN SURIMI

6 ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN SURIMI 6 ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN SURIMI 6.1 Pendahuluan Industri surimi merupakan suatu industri pengolahan yang memiliki peluang besar untuk dibangun dan dikembangkan. Hal ini didukung oleh adanya

Lebih terperinci

usaha dari segi keuntungan. Analisis finansial dilakukan dengan menggunakan

usaha dari segi keuntungan. Analisis finansial dilakukan dengan menggunakan 34 Roda Mandala Asia Makmur Trass 2.5 35 Rumpin Satria Bangun Trass 1.3 36 Sirtu Pratama Usaha Andesit 1.8 37 Sumber Alfa Prolindo Pasir 4 38 Tarabatuh Manunggal Andesit 16 39 Wiguna Karya II Trass 2.5

Lebih terperinci

VII. ANALISIS FINANSIAL

VII. ANALISIS FINANSIAL VII. ANALISIS FINANSIAL Usaha peternakan Agus Suhendar adalah usaha dalam bidang agribisnis ayam broiler yang menggunakan modal sendiri dalam menjalankan usahanya. Skala usaha peternakan Agus Suhendar

Lebih terperinci

EVALUASI USAHA PENGGILINGAN PADI SUMBER HIDUP DI DESA MARINDI KECAMATAN HARUAI KABUPATEN TABALONG

EVALUASI USAHA PENGGILINGAN PADI SUMBER HIDUP DI DESA MARINDI KECAMATAN HARUAI KABUPATEN TABALONG Jurnal Ekonomi Modernisasi http://ejournal.unikama.ac.id/index.php/jeko JEM 12,2 (2016) 72-82 EVALUASI USAHA PENGGILINGAN PADI SUMBER HIDUP DI DESA MARINDI KECAMATAN HARUAI KABUPATEN TABALONG Gusti Marliani

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Mulai. Merancang bentuk alat. Menggambar dan menentukan dimensi alat. Memilih bahan. Mengukur bahan yang akan digunakan

LAMPIRAN. Mulai. Merancang bentuk alat. Menggambar dan menentukan dimensi alat. Memilih bahan. Mengukur bahan yang akan digunakan LAMPIRAN Lampiran 1.Flowchart pelaksanaan penelitian Mulai Merancang bentuk alat Menggambar dan menentukan dimensi alat Memilih bahan Mengukur bahan yang akan digunakan Memotong bahan yang digunakan sesuai

Lebih terperinci

VII. KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL

VII. KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL VII. KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL Kelayakan aspek finansial merupakan analisis yang mengkaji kelayakan dari sisi keuangan suatu usaha. Aspek ini sangat diperlukan untuk mengetahui apakah usaha budidaya nilam

Lebih terperinci

Mulai. Dirancang bentuk alat. Digambar dan ditentukan ukuran alat. Dipilih bahan. Diukur bahan yang akan digunakan. dirangkai alat.

Mulai. Dirancang bentuk alat. Digambar dan ditentukan ukuran alat. Dipilih bahan. Diukur bahan yang akan digunakan. dirangkai alat. 42 Lampiran 1. Flowchart pelaksanaan penelitian Mulai Dirancang bentuk alat Digambar dan ditentukan ukuran alat Dipilih bahan Diukur bahan yang akan digunakan Dipotong bahan sesuai ukuran yang sudah ditentukan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Tanaman kehutanan adalah tanaman yang tumbuh di hutan yang berumur

III. METODE PENELITIAN. Tanaman kehutanan adalah tanaman yang tumbuh di hutan yang berumur 47 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan

Lebih terperinci

Pengujian alat. Pengukuran parameter. Analisis data. selesai

Pengujian alat. Pengukuran parameter. Analisis data. selesai 47 b a Pengujian alat tidak Uji kelayakan ya Pengukuran parameter Analisis data selesai 48 Lampiran 2. Kapasitas Efektif Alat dan Persentase Bahan Rusak Kapasitas efektif alat menunjukkan produktivitas

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM. dan berpenduduk jiwa dengan luas wilayah 90,58 km 2. Kecamatan Raman. Utara memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut :

GAMBARAN UMUM. dan berpenduduk jiwa dengan luas wilayah 90,58 km 2. Kecamatan Raman. Utara memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut : 44 IV. GAMBARAN UMUM A. Keadaan Umum Wilayah Penelitian 1. Keadaan Umum Kecamatan Raman Utara Kecamatan Raman Utara merupakan bagian wilayah Kabupaten Lampung Timur dan berpenduduk 35.420 jiwa dengan luas

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Perusahaan UD. Kilang Padi Bersama merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang industri pengolahan padi menjadi beras atau penggilingan padi (Rice Milling

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tahun 1984 Indonesia telah dapat berswaswembada beras. Namun, akhir-akhir ini

BAB I PENDAHULUAN. tahun 1984 Indonesia telah dapat berswaswembada beras. Namun, akhir-akhir ini BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Beras merupakan makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia. Sejak tahun 1984 Indonesia telah dapat berswaswembada beras. Namun, akhir-akhir ini muncul berbagai

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL Pada penelitian ini dilakukan analisis kelayakan finansial untuk mengetahui kelayakan pengusahaan ikan lele phyton, serta untuk mengetahui apakah usaha yang dilakukan pada

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tanaman pangan yang antara lain terdiri atas padi, jagung, kedelai, kacang tanah,

I. PENDAHULUAN. Tanaman pangan yang antara lain terdiri atas padi, jagung, kedelai, kacang tanah, 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Tanaman pangan yang antara lain terdiri atas padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, ubi jalar merupakan komoditas pertanian yang paling

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian telah dilakukan di lahan pertanaman padi sawah (Oryza sativa L.) milik

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian telah dilakukan di lahan pertanaman padi sawah (Oryza sativa L.) milik III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian telah dilakukan di lahan pertanaman padi sawah (Oryza sativa L.) milik 6 kelompok tani di Kelurahan Tejosari Kecamatan Metro Timur Kota

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Data dan Instrumentasi 4.3. Metode Pengumpulan Data

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Data dan Instrumentasi 4.3. Metode Pengumpulan Data IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian mengambil tempat di kantor administratif Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Jawa Barat yang berlokasi di Kompleks Pasar Baru Lembang

Lebih terperinci

Mulai. Perancangan bentuk alat. Menggambar dan menentukan dimensi alat. Memilih bahan. Pengukuran bahan yang akan digunakan

Mulai. Perancangan bentuk alat. Menggambar dan menentukan dimensi alat. Memilih bahan. Pengukuran bahan yang akan digunakan Lampiran 1. Flow chart pelaksanaan penelitian Mulai Perancangan bentuk alat Menggambar dan menentukan dimensi alat Memilih bahan Pengukuran bahan yang akan digunakan Dipotong, dibubut, dan dikikir bahan

Lebih terperinci

Mulai. Merancang bentuk alat. Memilih bahan. Diukur bahan yang akan digunakan. Merangkai alat. Pengelasan. Pengecatan

Mulai. Merancang bentuk alat. Memilih bahan. Diukur bahan yang akan digunakan. Merangkai alat. Pengelasan. Pengecatan 45 Lampiran 1. Flowchart penelitian Mulai Merancang bentuk alat Menggambar dan menentukan dimensi alat Memilih bahan Diukur bahan yang akan digunakan Dipotong bahan yang digunakan Merangkai alat Pengelasan

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. dan data yang diperoleh. Penelitian ini disusun sebagai penelitian induktif yaitu

BAB IV METODE PENELITIAN. dan data yang diperoleh. Penelitian ini disusun sebagai penelitian induktif yaitu BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Jenis/Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif karena dalam pelaksanaannya meliputi data, analisis dan interpretasi tentang arti

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM MEKANISASI PERTANIAN

LAPORAN PRAKTIKUM MEKANISASI PERTANIAN LAPORAN PRAKTIKUM MEKANISASI PERTANIAN ACARA V PENGENALAN RICE MILL UNIT Disusun Oleh: Nama : Arif Ardiawan NIM : A1L008062 Rombongan : B Kelompok : 4 KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilakukan di lahan padi sawah irigasi milik Kelompok Tani Mekar

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilakukan di lahan padi sawah irigasi milik Kelompok Tani Mekar 26 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di lahan padi sawah irigasi milik Kelompok Tani Mekar Desa Tulung Balak dengan luas 15 ha yang terletak pada wilayah Kecamatan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris dimana sebagian besar penduduknya bermata

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris dimana sebagian besar penduduknya bermata I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris dimana sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani sehingga sektor pertanian memegang peranan penting sebagai penyedia

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengumpulan Data

METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengumpulan Data IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian dilakukan di Usaha Mi Ayam Bapak Sukimin yang terletak di Ciheuleut, Kelurahan Tegal Lega, Kota Bogor. Lokasi penelitian diambil secara sengaja (purposive)

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA A. Terminologi Pascapanen Padi Pengertian pascapanen padi adalah semua kegiatan yang dilakukan oleh petani dan juga oleh lembaga tata niaga atau swasta, setelah padi dipanen sampai

Lebih terperinci

VII. PEMBAHASAN ASPEK FINANSIAL

VII. PEMBAHASAN ASPEK FINANSIAL VII. PEMBAHASAN ASPEK FINANSIAL 7.1. Proyeksi Arus Kas (Cashflow) Proyeksi arus kas merupakan laporan aliran kas yang memperlihatkan gambaran penerimaan (inflow) dan pengeluaran kas (outflow). Dalam penelitian

Lebih terperinci

Mulai. Merancang bentuk alat. Menggambar dan menentukan dimensi alat. Memilih bahan. Diukur bahan yang akan digunakan

Mulai. Merancang bentuk alat. Menggambar dan menentukan dimensi alat. Memilih bahan. Diukur bahan yang akan digunakan 43 Lampiran 1. Flow chart pelaksanaan penelitian Mulai Merancang bentuk alat Menggambar dan menentukan dimensi alat Memilih bahan Diukur bahan yang akan digunakan Dipotong bahan yang digunakan sesuai dengan

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN 16 III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Usaha pengembangan kerupuk Ichtiar merupakan suatu usaha yang didirikan dengan tujuan untuk memanfaatkan peluang yang ada. Melihat dari adanya peluang

Lebih terperinci

DEPARTEMEN TEKNOLOGI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2008

DEPARTEMEN TEKNOLOGI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2008 PENGEMBANGAN DAN PENGELOLAAN TRAKTOR DALAM PENGOLAHAN TANAH DI KECAMATAN PERBAUNGAN MAKALAH Oleh: TAUFIK RIZALDI, STP, MP. DEPARTEMEN TEKNOLOGI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2008

Lebih terperinci

METODOLOGI. Waktu dan Tempat. Alat dan Bahan. Metode Penelitian

METODOLOGI. Waktu dan Tempat. Alat dan Bahan. Metode Penelitian 15 METODOLOGI Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan selama ±3 bulan dimulai dari Februari sampai April 2013 yang berlokasikan di Kecamatan Majauleng Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan. Alat dan Bahan

Lebih terperinci

IV METODOLOGI PENELITIAN

IV METODOLOGI PENELITIAN IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di sebuah lokasi yang berada Desa Kanreapia Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa, Propinsi Sulawesi Selatan. Pemilihan lokasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Beras merupakan bahan pangan pokok yang sangat strategis dalam tatanan kehidupan dan ketahanan pangan nasional. Kekurangan beras dianggap sebagai ancaman terhadap stabilitas

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil análisis dan pembahasan terhadap kelayakan investasi PT. ABC

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil análisis dan pembahasan terhadap kelayakan investasi PT. ABC BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1. Simpulan Berdasarkan hasil análisis dan pembahasan terhadap kelayakan investasi PT. ABC maka dapat disimpulkan : 1. Berdasarkan instrument-instrument kelayakan investasi menunjukkan

Lebih terperinci

ANALISIS USAHATANI PADI SAWAH DI DESA KEMUNING MUDA KECAMATAN BUNGARAYA KABUPATEN SIAK

ANALISIS USAHATANI PADI SAWAH DI DESA KEMUNING MUDA KECAMATAN BUNGARAYA KABUPATEN SIAK 1 ANALISIS USAHATANI PADI SAWAH DI DESA KEMUNING MUDA KECAMATAN BUNGARAYA KABUPATEN SIAK FARMING ANALYSIS OF PADDY IN KEMUNINGMUDA VILLAGE BUNGARAYA SUB DISTRICT SIAK REGENCY Sopan Sujeri 1), Evy Maharani

Lebih terperinci

METODE PERBANDINGAN EKONOMI. Pusat Pengembangan Pendidikan - Universitas Gadjah Mada

METODE PERBANDINGAN EKONOMI. Pusat Pengembangan Pendidikan - Universitas Gadjah Mada METODE PERBANDINGAN EKONOMI METODE BIAYA TAHUNAN EKIVALEN Untuk tujuan perbandingan, digunakan perubahan nilai menjadi biaya tahunan seragam ekivalen. Perhitungan secara pendekatan : Perlu diperhitungkan

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. berfokus pada bidang penggemukan sapi.sapi yang digemukkan mulai dari yang

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. berfokus pada bidang penggemukan sapi.sapi yang digemukkan mulai dari yang V. HASIL DAN PEMBAHASAN Usaha peternakan sapi di CV. Anugrah farm merupakan peternakan yang berfokus pada bidang penggemukan sapi.sapi yang digemukkan mulai dari yang berbobot 200 kg sampai dengan 300

Lebih terperinci

3 METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Metode Penelitian 3.4 Metode Pengambilan Responden 3.5 Metode Pengumpulan Data

3 METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Metode Penelitian 3.4 Metode Pengambilan Responden 3.5 Metode Pengumpulan Data 19 3 METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian di lapangan dilakukan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu, Sukabumi Jawa Barat. Pengambilan data di lapangan dilakukan selama 1 bulan,

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran Teoritis

III. KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran Teoritis 23 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Pengertian Usahatani Bachtiar Rifai dalam Hernanto (1989) mendefinisikan usahatani sebagai organisasi dari alam, kerja dan modal yang

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. sampai dengan 30 tahun tergantung dengan letak topografi lokasi buah naga akan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. sampai dengan 30 tahun tergantung dengan letak topografi lokasi buah naga akan V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Kelayakan Usahatani Buah Naga Buah naga merupakan tanaman tahunan yang sudah dapat berbuah 1 tahun sampai dengan 1,5 tahun setelah tanam. Buah naga memiliki usia produktif

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Batasan Masalah...

DAFTAR ISI. BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Batasan Masalah... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGAJUAN...i HALAMAN PENGESAHAN...ii HALAMAN PERNYATAAN...iii KATA PENGANTAR...iv DAFTAR ISI...vi DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... x DAFTAR LAMPIRAN...xiii ABSTRAK...xiv

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Beras adalah buah padi, berasal dari tumbuh-tumbuhan golongan rumputrumputan

I. PENDAHULUAN. Beras adalah buah padi, berasal dari tumbuh-tumbuhan golongan rumputrumputan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Beras adalah buah padi, berasal dari tumbuh-tumbuhan golongan rumputrumputan (gramineae) yang sudah banyak dibudidayakan di Indonesia sejak lama. Beras merupakan kebutuhan

Lebih terperinci

VI. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI

VI. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI VI. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI 6.1. Keragaan Usahatani Padi Keragaan usahatani padi menjelaskan tentang kegiatan usahatani padi di Gapoktan Jaya Tani Desa Mangunjaya, Kecamatan Indramayu, Kabupaten

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian Kerangka pemikiran penelitian ini diawali dengan melihat potensi usaha yang sedang dijalankan oleh Warung Surabi yang memiliki banyak konsumen

Lebih terperinci

ANALISIS FINANSIAL AGROINDUSTRI PENYULINGAN AKAR WANGI DI KABUPATEN GARUT, JAWA BARAT

ANALISIS FINANSIAL AGROINDUSTRI PENYULINGAN AKAR WANGI DI KABUPATEN GARUT, JAWA BARAT ANALISIS FINANSIAL AGROINDUSTRI PENYULINGAN AKAR WANGI DI KABUPATEN GARUT, JAWA BARAT Chandra Indrawanto Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik ABSTRAK Minyak akar wangi merupakan salah satu ekspor

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Packing House Packing house ini berada di Desa Hegarmanah, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi. Packing house dibangun pada tahun 2000 oleh petani diatas lahan

Lebih terperinci

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Analisis Aspek Non Finansial 6.1.1. Aspek Pasar Pengkajian aspek pasar merupakan suatu hal yang penting dalam sebuah studi kelayakan, karena pasar berperan penting untuk menentukan

Lebih terperinci

Pendekatan Perhitungan Biaya, Pendapatan & Analisis Kelayakan Usahatani

Pendekatan Perhitungan Biaya, Pendapatan & Analisis Kelayakan Usahatani Pendekatan Perhitungan Biaya, Pendapatan & Analisis Kelayakan Usahatani Pendekatan Analisis biaya dan Pendapatan Pendekatan nominal (nominal approach) Pendekatan nilai yang akan datang (Future value approach)

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN. Menurut Kadariah (2001), tujuan dari analisis proyek adalah :

III. KERANGKA PEMIKIRAN. Menurut Kadariah (2001), tujuan dari analisis proyek adalah : III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Analisis Kelayakan Investasi Pengertian Proyek pertanian menurut Gittinger (1986) adalah kegiatan usaha yang rumit karena penggunaan sumberdaya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Perkembangan Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha pada Tahun * (Miliar Rupiah)

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Perkembangan Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha pada Tahun * (Miliar Rupiah) I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan di Indonesia merupakan salah satu sektor yang telah berperan dalam perekonomian nasional melalui pembentukan Produk

Lebih terperinci

VII. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL

VII. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL VII. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL Analisis finansial dilakukan untuk melihat sejauh mana CV. Usaha Unggas dapat dikatakan layak dari aspek finansial. Penilaian layak atau tidak usaha tersebut dari

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di PT Mekar Unggul Sari, Kabupaten Bogor. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) dengan alasan

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Studi Kelayakan Proyek Proyek merupakan suatu kegiatan untuk membangun sistem yang belum ada. Sistem dibangun dahulu oleh proyek, kemudian dioperasionalkan

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan Proyek Proyek adalah suatu keseluruhan aktivitas yang menggunakan sumber-sumber untuk mendapatkan kemanfaatan (benefit),

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. ini yang dianalisis adalah biaya, benefit, serta kelayakan usahatani lada putih yang

METODE PENELITIAN. ini yang dianalisis adalah biaya, benefit, serta kelayakan usahatani lada putih yang III. METODE PENELITIAN A. Metode Dasar Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis, yang merupakan suatu metode penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan

Lebih terperinci

KEBIJAKAN MENYANGGA ANJLOKNYA HARGA GABAH PADA PANEN RAYA BULAN FEBRUARI S/D APRIL 2007

KEBIJAKAN MENYANGGA ANJLOKNYA HARGA GABAH PADA PANEN RAYA BULAN FEBRUARI S/D APRIL 2007 KEBIJAKAN MENYANGGA ANJLOKNYA HARGA GABAH PADA PANEN RAYA BULAN FEBRUARI S/D APRIL 2007 Pendahuluan 1. Produksi padi di Indonesia mengikuti siklus musim, dimana panen raya dimulai pada bulan Februari sampai

Lebih terperinci

Mulai. Merancang bentuk alat. Menggambar dan menentukan dimensi alat. Memilih bahan. Diukur bahan yang akan digunakan

Mulai. Merancang bentuk alat. Menggambar dan menentukan dimensi alat. Memilih bahan. Diukur bahan yang akan digunakan Lampiran 1. Flow Chart pelaksanaan penelitian. Mulai Merancang bentuk alat Menggambar dan menentukan dimensi alat Memilih bahan Diukur bahan yang akan digunakan Dipotong bahan yang digunakan sesuai dengan

Lebih terperinci

ANALISA BIAYA DAN KELAYAKAN USAHA JASA PERONTOKAN PAD1 DI KABUPATEN SUMATERA BARAT

ANALISA BIAYA DAN KELAYAKAN USAHA JASA PERONTOKAN PAD1 DI KABUPATEN SUMATERA BARAT ANALISA BIAYA DAN KELAYAKAN USAHA JASA PERONTOKAN PAD1 DI KABUPATEN DAERAH TINGKAT I1 PADANG PARIAMAN, SUMATERA BARAT oleh : ZULFALDI F 26.0127 1995 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. ANALISIS BIAYA PRODUKSI Analisis biaya dilakukan mulai dari pemeliharaan tanaman, panen, proses pengangkutan, proses pengolahan hingga pengepakan. 1. Biaya Perawatan Tanaman

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Keadan Umum Lokasi Penelitian 1. Sejarah Singkat Lokasi Penelitian Pada tahun 2003 Desa Salilama dimekarkan menjadi tiga desa, dimana Salilama bagian selatan berdiri menjadi

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Metode Pengambilan Responden 4.3. Desain Penelitian

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Metode Pengambilan Responden 4.3. Desain Penelitian IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Desa Blendung, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi ini ditentukan secara sengaja (purposive)

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Teori Manfaat dan Biaya Dalam menganalisa suatu usaha, tujuan analisa harus disertai dengan definisi-definisi mengenai biaya-biaya dan manfaat-manfaat.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Rumah Makan Sudi Mampir di Kecamatan Bone Pantai Kabupaten Bone Bolango. Waktu penelitian adalah bulan April sampai

Lebih terperinci

ASPEK FINANSIAL Skenario I

ASPEK FINANSIAL Skenario I VII ASPEK FINANSIAL Setelah menganalisis kelayakan usaha dari beberapa aspek nonfinansial, analisis dilanjutkan dengan melakukan analisis kelayakan pada aspek finansial yaitu dari aspek keuangan usaha

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Peternakan Agrifarm, yang terletak di desa Cihideung Udik Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pemilihan lokasi

Lebih terperinci